INFERTILITAS
Oleh : Siska Dhewi, SKM., M.Kes
FKM UNISKA 2023
PENDAHULUAN
 Fertilitas : Kemampuan untuk memberikan keturunan
yang diukur dengan bayi lahir hidup.
 Fekunditas : Kemampuan untuk bereproduksi. Fekunditas dari
pasangan 'normal' adl 20-15%, dengan kemungkinan
kumulatif 85-90% untuk menjadi hamil dlm jangka waktu
12 bulan
 Infertilitas : Ketidakmampuan untuk hamil setelah 12 bln
hubungan seksual yang sering tanpa kontrasepsi.
Infertilitas primer
mengacu pada pasangan yang tidak pernah
mencapai kehamilan
Infertilitas sekunder
menunjukkan setidaknya pernah terjadi
satu pembuahan sebelumnya.
Infertilitas di Indonesia
Kejadian Infertilitas yaitu sekitar 10-
15% atau 4-6juta pasangan dari
39,8 juta pasangan usia subur dan
memerlukan pengobatan
infertilitas untuk akhirnya bias
mendapatkan keturunan
INSIDENSI
• Sebanyak 10-15%
pasangan menikah usia
subur dianggap infertil.
• Prevalensi infertilitas
tetap konstan, tetapi
jumlah kunjungan
pasangan 'tidak subur'
ke dokter telah naik tiga
kali lipat selama 20
tahun belakangan ini.
• Epidemi infertilitas
terutama berhubungan
dengan penundaan
kehamilan .
FAKTOR RISIKO
• Fekunditas pada wanita
memuncak pada usia 25
tahun dan mengalami
penurunan setelah usia
tersebut
• Kebiasaan merokok,
penyalahgunaan obat,
dan pajanan dalam
pekerjaan dan
lingkungan menurunkan
tingkat fekunditas
PENILAIAN AWAL (1)
1) Pemeriksaan infertilitas dasar diindikasikan jika pasangan
telah mencoba untuk hamil selama ≥ 1 tahun. Pada
beberapa kasus, mungkin akan lebih baik untuk memulai
evaluasi lebih awal
2) Infertilitas merupakan kondisi yang bersifat unik dan
menimbulkan pengaruh psikologis dan emosional yg
jelas. Sebagian besar pasangan memandang 'kegagalan'
mereka untuk mencapai kehamilan sebagai krisis
kehidupan ketika mereka merasa tidak berdaya
3) Tujuan utama dari evaluasi infertilitas adalah memperoleh
pendekatan rasional terhadap diagnosis, menghasilkan
suatu penilaian akurat mengenai kemajuan saat itu, serta
prognosisnya, serta mendidik pasangan mengenai
fisiologi reproduksi
PENILAIAN AWAL (2)
1. Anamnesis. Keterangan rinci yang diperlukan mencakup
usia pasangan, kehamilan sebelumnya dan lama
pasangan mencoba untuk mencapai pembuahan. Riwayat
seksual sangat penting, berfokus pada frekuensi dan
waktu berhubungan seksual.
2. Pemeriksaan fisik. Ciri-ciri kelainan endokrin (hirsutisme,
galaktorea, tiromegali) atau patologi ginekologis (fibroid)
mungkin ditemukan
3. Pemeriksaan laboratorium. Hitung darah lengkap,
urinalisis, papanicolaou smear, dan glukosa darah puasa
mungkin akan memperlihatkan penyakit yang
mendasarinya
PEMERIKSAAN DASAR
• Penyebab
umum
infertilitas
dievaluasi
dengan cara:
 dokumentasi
ovulasi
 analisis semen
 evaluasi
kepatenan tuba
 laparaskopi
diagnostik (jika
diindikasikan)
PENYEBAB INFERTILITAS (1)
FAKTOR WANITA(50%)
1.Faktor ovarium (anovulasi) (20%)
• Anamnesis : amenorea sekunder, menstruasi
tidak teratur
• Pemeriksaan fisik: obesitas, hirsutisme,
galaktorea
• Pemeriksaan skrining. Perangkat urin telah
tersedia untuk mendeteksi secara akurat lonjakan
LH dipertengahan siklus, mengidikasikan adanya
ovulasi. Metode lain mencakup pencatatan suhu
tubuh basal harian atau pengukuran konsentrasi
progesteron fase luteal
• Pengobatan : induksi ovulasi
PENYEBAB INFERTILITAS (2)
2. Faktor tuba dan peritoneum (20%)
• Anamnesis. Infeksi panggul atau kehamilan ektopik sebelumnya
mungkin menunjukkan adanya perlengketan panggul. Dismenorea
sekunder atau nyeri panggul yang bersifat siklik harus menimbulkan
kecurugaan adanya endometriosis. Meskipun demikian, tidak
terdapat faktor risiko yang dapat diidentifikasi pada 50% pasien.
• Pemeriksaan fisik : stigmata endometriosis
• Pemeriksaan skrining. Histerosalpingogram memerlukan tindakan
penyuntikan zat warna radio-opak melalui serviks ke dalam uterus
dengan tumpahan zat ke dalam rongga peritoneum.
Histerosalpingogram menilai patensi tuba dan juga menilai bentuk
rongga uterus.Hysterosalpingo contrast sonography (HyCoSy)
adalah metode lain yang lebih jarang digunakan. Laparoskopi
dengan pembilasan tuba (tubal lavage) merupakan pemeriksaan
diagnostik 'baku emas' karena dapat menyingkirkan kemungkinan
perlengketan dan endometriosis.
• Pengobatan : Pembedahan / fertilisasi in vitro
PENYEBAB INFERTILITAS (3)
3. Faktor serviks (10%)
• Anamnesis. Riwayat pembedahan serviks (biopsi konus,
kauter), infeksi atau pajanan dietilstilbestrol (DES) in utero
• Pemeriksaan fisik: abnormalitas serviks, lesi
• Pemeriksaan skrining. Tak ada satupun pemeriksaan
skrining yang dapat diandalkan. Meskipun demikian,
pemeriksaan setelah berhubungan seksual merupakan
metode historis untk mengevaluasi interaksi mukus serviks
dengan sperma. Mukus dari saluran endoservikal diperiksa
setelah hubungan seksual dilakukan.
• Pengobatan: inseminasi intrauterus (IIU)
PENYEBAB INFERTILITAS (4)
Faktor Pria (35%)
1. Anamnesis: cedera testis, infeksi genitourinaria,
kemoterapi, gondongan setelah masa puber
2. Pemeriksaan fisik: hipospadia, varikokel, kriptorkisme
(testis kecil), kelainan penis.
3. Pemeriksaan skrining. Analisis semen merupakan
pemeriksaan skrining primer untuk infertilitas pria. Beberapa
sampel harus dianalisis selama periode 1-3 bulan karena
adanya fluktuasi individual
4. Pengobatan: koreksi pembedahan terhadap varikokel;
fertilisasi in vitro dengan atau tanpa injeksi sperma
intrasitoplasmik (ISIS) atau inseminasi donor
PENYEBAB INFERTILITAS (5)
Infertilisasi yang tidak dapat
dijelaskan (10-15%)
• Anamnesis: Istri dapat
berovulasi dan memiliki
oviduk paten; suami
memiliki setidaknya 20 juta
sperma motil pada ejakulasi
• Pemeriksaan fisik dan
skrining : normal
• Pengobatan : induksi
ovulasi dan IIU dengan
sampel sperma segar yang
baru di ejakulasi
PENYEBAB INFERTILITAS (6)
Prognosis
• 50% pasangan akan berhasil mencapai kehamilan
dari seluruh pasangan yang memiliki penyebab yang
dapat diidentifikasi
• 60% pasangan dengan infertilitas yang tidak dapat
dijelaskan dan tidak menerima terapi akan
mengalami pembuahan dalam waktu 3-5 tahun
• Keputusan tersulit yang harus duputuskan oleh
pasangan adalah kapan mereka harus menghentikan
intervensi dan mempertimbangkan untuk
mengadopsi anak.
 Infertilitas
 Infertilitas

Infertilitas

  • 1.
    INFERTILITAS Oleh : SiskaDhewi, SKM., M.Kes FKM UNISKA 2023
  • 2.
    PENDAHULUAN  Fertilitas :Kemampuan untuk memberikan keturunan yang diukur dengan bayi lahir hidup.  Fekunditas : Kemampuan untuk bereproduksi. Fekunditas dari pasangan 'normal' adl 20-15%, dengan kemungkinan kumulatif 85-90% untuk menjadi hamil dlm jangka waktu 12 bulan  Infertilitas : Ketidakmampuan untuk hamil setelah 12 bln hubungan seksual yang sering tanpa kontrasepsi. Infertilitas primer mengacu pada pasangan yang tidak pernah mencapai kehamilan Infertilitas sekunder menunjukkan setidaknya pernah terjadi satu pembuahan sebelumnya.
  • 3.
    Infertilitas di Indonesia KejadianInfertilitas yaitu sekitar 10- 15% atau 4-6juta pasangan dari 39,8 juta pasangan usia subur dan memerlukan pengobatan infertilitas untuk akhirnya bias mendapatkan keturunan
  • 4.
    INSIDENSI • Sebanyak 10-15% pasanganmenikah usia subur dianggap infertil. • Prevalensi infertilitas tetap konstan, tetapi jumlah kunjungan pasangan 'tidak subur' ke dokter telah naik tiga kali lipat selama 20 tahun belakangan ini. • Epidemi infertilitas terutama berhubungan dengan penundaan kehamilan .
  • 5.
    FAKTOR RISIKO • Fekunditaspada wanita memuncak pada usia 25 tahun dan mengalami penurunan setelah usia tersebut • Kebiasaan merokok, penyalahgunaan obat, dan pajanan dalam pekerjaan dan lingkungan menurunkan tingkat fekunditas
  • 6.
    PENILAIAN AWAL (1) 1)Pemeriksaan infertilitas dasar diindikasikan jika pasangan telah mencoba untuk hamil selama ≥ 1 tahun. Pada beberapa kasus, mungkin akan lebih baik untuk memulai evaluasi lebih awal 2) Infertilitas merupakan kondisi yang bersifat unik dan menimbulkan pengaruh psikologis dan emosional yg jelas. Sebagian besar pasangan memandang 'kegagalan' mereka untuk mencapai kehamilan sebagai krisis kehidupan ketika mereka merasa tidak berdaya 3) Tujuan utama dari evaluasi infertilitas adalah memperoleh pendekatan rasional terhadap diagnosis, menghasilkan suatu penilaian akurat mengenai kemajuan saat itu, serta prognosisnya, serta mendidik pasangan mengenai fisiologi reproduksi
  • 7.
    PENILAIAN AWAL (2) 1.Anamnesis. Keterangan rinci yang diperlukan mencakup usia pasangan, kehamilan sebelumnya dan lama pasangan mencoba untuk mencapai pembuahan. Riwayat seksual sangat penting, berfokus pada frekuensi dan waktu berhubungan seksual. 2. Pemeriksaan fisik. Ciri-ciri kelainan endokrin (hirsutisme, galaktorea, tiromegali) atau patologi ginekologis (fibroid) mungkin ditemukan 3. Pemeriksaan laboratorium. Hitung darah lengkap, urinalisis, papanicolaou smear, dan glukosa darah puasa mungkin akan memperlihatkan penyakit yang mendasarinya
  • 8.
    PEMERIKSAAN DASAR • Penyebab umum infertilitas dievaluasi dengancara:  dokumentasi ovulasi  analisis semen  evaluasi kepatenan tuba  laparaskopi diagnostik (jika diindikasikan)
  • 9.
    PENYEBAB INFERTILITAS (1) FAKTORWANITA(50%) 1.Faktor ovarium (anovulasi) (20%) • Anamnesis : amenorea sekunder, menstruasi tidak teratur • Pemeriksaan fisik: obesitas, hirsutisme, galaktorea • Pemeriksaan skrining. Perangkat urin telah tersedia untuk mendeteksi secara akurat lonjakan LH dipertengahan siklus, mengidikasikan adanya ovulasi. Metode lain mencakup pencatatan suhu tubuh basal harian atau pengukuran konsentrasi progesteron fase luteal • Pengobatan : induksi ovulasi
  • 10.
    PENYEBAB INFERTILITAS (2) 2.Faktor tuba dan peritoneum (20%) • Anamnesis. Infeksi panggul atau kehamilan ektopik sebelumnya mungkin menunjukkan adanya perlengketan panggul. Dismenorea sekunder atau nyeri panggul yang bersifat siklik harus menimbulkan kecurugaan adanya endometriosis. Meskipun demikian, tidak terdapat faktor risiko yang dapat diidentifikasi pada 50% pasien. • Pemeriksaan fisik : stigmata endometriosis • Pemeriksaan skrining. Histerosalpingogram memerlukan tindakan penyuntikan zat warna radio-opak melalui serviks ke dalam uterus dengan tumpahan zat ke dalam rongga peritoneum. Histerosalpingogram menilai patensi tuba dan juga menilai bentuk rongga uterus.Hysterosalpingo contrast sonography (HyCoSy) adalah metode lain yang lebih jarang digunakan. Laparoskopi dengan pembilasan tuba (tubal lavage) merupakan pemeriksaan diagnostik 'baku emas' karena dapat menyingkirkan kemungkinan perlengketan dan endometriosis. • Pengobatan : Pembedahan / fertilisasi in vitro
  • 11.
    PENYEBAB INFERTILITAS (3) 3.Faktor serviks (10%) • Anamnesis. Riwayat pembedahan serviks (biopsi konus, kauter), infeksi atau pajanan dietilstilbestrol (DES) in utero • Pemeriksaan fisik: abnormalitas serviks, lesi • Pemeriksaan skrining. Tak ada satupun pemeriksaan skrining yang dapat diandalkan. Meskipun demikian, pemeriksaan setelah berhubungan seksual merupakan metode historis untk mengevaluasi interaksi mukus serviks dengan sperma. Mukus dari saluran endoservikal diperiksa setelah hubungan seksual dilakukan. • Pengobatan: inseminasi intrauterus (IIU)
  • 13.
    PENYEBAB INFERTILITAS (4) FaktorPria (35%) 1. Anamnesis: cedera testis, infeksi genitourinaria, kemoterapi, gondongan setelah masa puber 2. Pemeriksaan fisik: hipospadia, varikokel, kriptorkisme (testis kecil), kelainan penis. 3. Pemeriksaan skrining. Analisis semen merupakan pemeriksaan skrining primer untuk infertilitas pria. Beberapa sampel harus dianalisis selama periode 1-3 bulan karena adanya fluktuasi individual 4. Pengobatan: koreksi pembedahan terhadap varikokel; fertilisasi in vitro dengan atau tanpa injeksi sperma intrasitoplasmik (ISIS) atau inseminasi donor
  • 14.
    PENYEBAB INFERTILITAS (5) Infertilisasiyang tidak dapat dijelaskan (10-15%) • Anamnesis: Istri dapat berovulasi dan memiliki oviduk paten; suami memiliki setidaknya 20 juta sperma motil pada ejakulasi • Pemeriksaan fisik dan skrining : normal • Pengobatan : induksi ovulasi dan IIU dengan sampel sperma segar yang baru di ejakulasi
  • 15.
    PENYEBAB INFERTILITAS (6) Prognosis •50% pasangan akan berhasil mencapai kehamilan dari seluruh pasangan yang memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi • 60% pasangan dengan infertilitas yang tidak dapat dijelaskan dan tidak menerima terapi akan mengalami pembuahan dalam waktu 3-5 tahun • Keputusan tersulit yang harus duputuskan oleh pasangan adalah kapan mereka harus menghentikan intervensi dan mempertimbangkan untuk mengadopsi anak.