HAJI
Oleh: Winda Jubaidah
SUB BAB
 Hakekat Haji
 Mencapai haji mabrur
 Hikmah haji dalam berbagai aspek
 Makna spiritual haji bagi kehidupan sosial.
PENGERTIAN HAJI
Pengertian haji secara etimologis berasal dari qashdu
(maksud, niat, menyengaja), sedangkan kata umrah berarti
ziarah.
Secara terminologis, haji adalah ialah bermaksud
(menyengaja) menuju Baitullah dengan cara dan waktu
yang telah ditentukan.
Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa haji dan
umrah adalah untuk melakukan kewajiban ziarah ke
Baitullah karena Allah
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena
Allah…” (QS. Al-Baqarah [2]: 196).
Artinya: “Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap
Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi
orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke
sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka
ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan
sesuatu) dari seluruh alam.”
(QS. Ali Imran [3]: 97).
Dari ayat al-Qur’an di atas dapat memperkuat
pentingnya niat haji semata-mata karena Allah SWT. Kata
lillah dalam ayat tersebut adalah lam al-ijab wa alilzam
(yang berfaidah mewajibkan dan meniscayakan) ibadah
haji hanya untuk-Nya.
Demikian pula berdasarkan hadis Nabi yang diriwatkan oleh
Imam Bukhari: ‫ال‬ َ‫ل‬ِ‫ئ‬ ُ‫س‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ ُ‫ه‬ْ‫ن‬َ‫ع‬ ُ‫ل‬‫اهل‬ َ‫ي‬ ِ
‫ض‬ َ‫ر‬ َ‫ة‬ َ‫ْر‬‫ي‬ َ‫ر‬ُ‫ه‬ ‫ي‬ِ‫ب‬َ‫أ‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬
‫وسلم‬ ‫عليه‬ ‫هللا‬ ‫صلى‬ ُّ‫ي‬ِ‫ب‬َّ‫ن‬
َّ‫م‬ُ‫ث‬ َ‫ل‬‫ي‬ِ‫ق‬ ِ‫ه‬ِ‫ل‬‫و‬ ُ‫س‬ َ‫ر‬ َ‫و‬ ِ‫ل‬‫اهل‬ِ‫ب‬ ٌ‫ان‬َ‫ي‬‫م‬ِ‫إ‬ َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ ُ‫ل‬ َ
‫ض‬ْ‫ف‬َ‫أ‬ ِ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫ع‬َ‫ل‬‫ا‬ ُّ‫ي‬َ‫أ‬ ْ‫أ‬
َ‫ل‬‫ي‬ِ‫ق‬ ِ‫ل‬‫اهل‬ ِ‫ل‬‫ي‬ِ‫ب‬ َ
‫س‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ٌ‫د‬‫ا‬ َ‫ه‬ ِ‫ج‬ َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ ‫ا‬َ‫ذ‬‫ا‬َ‫م‬
ٌ‫ور‬ُ‫ْر‬‫ب‬َ‫م‬ ٌّ‫ج‬ َ‫ح‬ َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ ‫ا‬َ‫ذ‬‫ا‬َ‫م‬ َّ‫م‬ُ‫ث‬
.
‫البخاري‬ ‫رواه‬ Artinya: Dari Abi Hurairah
radhiyaallahu’anhu, beliau berkata: “Ditanyakan kepada
Rasulullah Saw, amaliah apakah lebih utama (afdhal)?”
Rasulullah Saw menjawab: “Iman kepada Allah”, kemudian
ditanyakan lagi: “lantas apalagi ya Rasulullah?”, Rasulullah
Saw menjawab: “Jihad fi sabilillah”, kemudian ditanyakan lagi:
“Lantas apalagi?”, Rasulullah Saw menjawab: “Haji
mabrur.”(HR. alBukhari). Maktabah Syamela
MENCAPAI HAJI MABRUR
Berdasarkan al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 197,
terdapat 3 larangan yang tidak boleh dilakukan selama
melaksanakan ibadah haji.
Pertama, dilarang melakukan rafas, terkait dengan gairah
dan syahwat.
Kedua, yaitu fusuqo, atau fasik, maksiat.
Ketiga, yaitu jidala atau berbantah-bantahan. Ini
persoalan yang tidak mudah. Selama kurang lebih 44 hari
kita tidak dibolehkan melakukan hal-hal tadi.
Ibadah haji adalah safar ruhani menuju Allah. Sebagai
tamu-tamu Allah harus menjaga adab-adab batiniyah.
Imam al-Ghazali menyebutkan ada beberapa etika dalam
berhaji, di antaranya adalah:
1. Berhaji dengan harta yang halal.
2. Tidak boros dalam membelanjakan hartanya untuk
makan dan minum.
3. Meninggalkan segala macam akhlak yang tercela.
4. Memperbanyak berjalan.
5. Berpakaian sederhana.
6. Bersabar ketika menerima musibah.
10 LANGKAH UNTUK
MENCAPAI HAJI MABRUR
1. Luruskan Niat Untuk Mendapatkan Predikat Haji
Mabrur
Segala sesuatu tergantung pada niatnya. Untuk
mencapai haji yang mabrur, Anda harus meniatkan
diri berangkat haji hanya untuk beribadah pada Allah
SWT. Ibadah haji yang dilakukan harus benar-benar
mencerminkan keikhlasan dan semata-mata untuk
memenuhi panggilan Allah dan hanya mengharap ridho
dari Allah SWT. Jangan sampai Anda salah niat karena
hanya ingin dipanggil “pak haji” ketika pulang dari Tanah
Suci.
2. Menggunakan Harta yang Halal Untuk Biaya Naik Haji
Anda harus menggunakan harta yang halal pada saat Anda
naik haji. Allah tidak akan menerima ibadah seseorang jika
tidak menggunakan jalan yang halal. Karena itu, pastikan
harta yang akan digunakan untuk biaya pergi haji ataupun
untuk perbekalan di Tanah Suci tidak berasal dari harta yang
haram, seperti misalnya hasil korupsi dan juga riba.
3. Beribadah dengan Sikap Ihsan
Beribadah dengan sikap ihsan maksudnya adalah kita
beribadah seperti kita melihat Allah. Karena itu, kita harus
selalu berusaha untuk menghadirkan Allah dalam setiap
tempat dan waktu. Dengan menghadirkan Allah dalam setiap
ibadah kita, niscaya kita akan bisa beribadah dengan lebih
khusyuk dan khidmat.
4. Menjauhkan Diri dari Rafats, Fusuq, dan Jidal
Menjauhi larangan Allah, seperti rafats, fusuq, dan juga
jidal merupakan tips menjadi haji mabrur yang wajib Anda
lakukan. Rafats artinya berbicara tentang hal-hal yang
tidak berguna atau mengatakan kata-kata kotor. Fusuq
adalah perbuatan yang melanggar ketaatan kepada
Allah. Sementara itu, jidal artinya sikap berbantah-
bantahan, bertengkar, atau bahkan baku hantam. Ketika
sifat tercela tersebut harus benar-benar bisa Anda hindari
agar ketika Anda pulang haji, sifat Anda akan semakin
baik dibandingkan sebelumnya.
5. Perbanyak Berbuat Baik Selama Perjalanan Ibadah Haji
Selama di perjalanan atau selama pelaksanaan ibadah haji, Anda
harus memperbanyak berbuat baik kepada sesama dengan cara
bersedekah, menolong orang lain, berbagi perbekalan bersama
jamaah haji yang lain, dan mengalah demi kepentingan orang
yang lebih membutuhkan.
6. Berlaku Sabar dan Banyak Bersyukur
Ibadah haji merupakan ibadah yang berat dan sangat menguras
emosi. Terkadang ada hal-hal yang akan membuat para jamaah
haji merasa lelah. Untuk menyikapi hal-hal semacam itu,
usahakan untuk tetap berlaku sabar dan memperbanyak syukur.
Dengan sabar dan syukur, Allah pasti akan memudahkan urusan
selama berada di Tanah Suci. Selain itu, rahmat Allah akan
datang bila hamba-Nya selalu sabar dan bersyukur.
7. Jangan Berlebihan dalam Berinteraksi dengan Lawan
Jenis
Ketika berada di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji, Anda
harus bisa membatasi diri agar tidak berlebihan bergaul dengan
lawan jenis yang bukan mahram.
8. Merendahkan Diri di Hadapan Allah
Dalam menunaikan ibadah haji, sebisa mungkin Anda berusaha
untuk menjaga keikhlasan dalam beribadah dengan cara
merendahkan diri di hadapan Allah SWT.
9. Menghindari Pungutan Liar
Untuk menghindari sesuatu yang haram selama menjalankan
ibadah haji di Tanah Suci, maka Anda harus berusaha untuk
menghindari pungutan liar yang biasa terjadi pada penambahan
ongkos kendaraan, penambahan biaya hewan untuk dam atau
qurban.
10. Menjalankan Seluruh Rangkaian Ibadah Haji Sesuai
Tuntunan Rasulullah
Dalam menjalankan ibadah haji, kita harus melaksanakannya
sesuai dengan ilmu manasik yang telah diajarkan oleh Rasulullah
SAW. Kita tidak boleh membuat sendiri ataupun hanya ikut-ikutan
dalam menjalankan tata cara ibadah haji.
HIKMAH HAJI DALAM BERBAGAI ASPEK
Hikmah haji yang berkaitan dengan keagamaan ialah sebagai
berikut:
a) Menghapus dosa-dosa kecil dan mensucikan jiwa orang
yang melakukannya.
b) Mendorong seseorang untuk menegaskan kembali
pengakuannya atas keesaan Allah Swt. serta penolakan
terhadap segala macam bentuk kemusyrikan.
c) Mendorong seseorang memperkuat keyakinan tentang
adanya neraca keadilan Tuhan dalam kehidupan di dunia
ini, dan puncak dari keadilan itu diperoleh pada hari
kebangkitan kelak.
d) Mengantar seseorang menjadi hamba yang selalu
mensyukuri nikmat-nikmat Allah Swt. baik berupa harta
dan kesehatan, dan menanamkan semangat ibadah
dalam jiwanya.
Dari segi sosial kemasyarakatan hikmah ibadah haji
antara lain:
 Ketika memulai ibadah haji dengan ihram dari miqat,
pakaian biasa ditinggalkan dan mengenakan pakaian
ihram. Pakaian yang berfungsi sebagai lambang
kesatuan dan persamaan, sehingga hilanglah
perbedaan status sosial yang ada, semua menjadi satu
sebagai hamba-hamba Allah yang merindukan
keridlaan-Nya.
 Ibadah haji dapat membawa orang-orang yang berbeda
suku, bangsa, dan warna kulit menjadi saling kenal
mengenal antara satu sama lain. Ketika itu terjadilah
pertukaran pemikiran yang bermanfaat bagi
pengembangan negara masing-masing baik yang
berhubungan dengan pendidikan, ekonomi, maupun
kebudayaan.
 Mempererat tali Ukhuwah al Islamiyah antara umat
Islam dari berbagai penjuru dunia.
 Mendorong seseorang untuk lebih giat dan
bersemangat berusaha untuk mencari bekal yang
dapat mengantarkan ke Mekah untuk haji.
Semangat bekerja tersebut dapat pula memperbaiki
keadaan ekonominya yang pada gilirannya
bermanfaat untuk orang fakir dan miskin.
 Ibadah haji merupakan ibadah badaniyah yang
memerlukan ketangguhan fisik dan ketahanan
mental. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah haji
dapat memperkuat kesabaran dan ketahanan fisik
seseorang.
MAKNA SPIRITUAL HAJI BAGI KEHIDUPAN
SOSIAL.
 Pertama Ihram, mengandung makna melepaskan dan
membebaskan diri dari lambang material dan ikatan
kemanusiaan, mengosongkan diri dari mentalitas
keduniawian, membersihkan diri dari nafsu serakah angkara
murka, kesombongan serta kesewenang-wenangan. Umat
Islam yang telah memakai pakaian ihram harus berjiwa
stabil, tidak dikendalikan nafsu emosional terhadap material
kekayaan dan harta demikian juga kedudukan, jabatan dan
kehormatan diri.
 Kedua, Thowaf, mengandung isyarat keluar dari
lingkungan manusia yang buas, masuk ke dalam
lingkungan Rabbaniyah yang penuh kasih saying, saling
menghargai dan saling menghormati.
 Ketiga, Sa’i, mengandung isyarat kesediaan
menjalankan tugas san tanggung jawab bagi jamaah haji
kearah hal-hal yang positif dan bermanfaat untuk dirinya
dan orang lain. Artinya, siapapun yang sudah
menjalankan ibadah haji harus bisa mengambil makna
sa’i yang menyimpan makna perlunya perilaku yang
positif baik untuk dirinya maupun orang lain
(masyarakat).
 Keempat, Wuquf, yaitu berhimpunnya umat Islam dari
seluruh pelosok dunia di Arafah. Dengan mengenakan
pakaian sederhana yang melambangkan kesucian,
persatuan, dan kesetaraan, mereka menghidupkan
kembali peristiwa-peristiwa besar keagamaan. Mereka
semua mengikuti ritual yang sama, memperlihatkan
semangat kebersamaan dan persaudaraan yang tidak
akan pernah terjadi kecuali hanya ada dalam peristiwa
besar yang tidak ada tandingannya yaitu ibadah haji.
 Kelima, al-Hulqu/Tahallul (memotong rambut), mengandung
isyarat pembersihan, penghapusan sisa-sisa cara berfikir
yang kotor yang masih berada dalam kelopak kepala
masing-masing manusia. Tahallul berarti mengajarkan
kepada umat manusia yang telah menjalankan ibadah haji
agar bisa memiliki dan mengorbitkan pikiran yang baik dan
positif.
 Ibadah haji bisa dijadikan refleksi persatuan dan persamaan
umat Islam seluruh dunia. Seluruh jamaah haji yang
beragam tersebut melakukan ibadah yang sama. Mereka
tidak saling memusuhi antara satu dengan yang lainnya.

HAJI.pptx

  • 1.
  • 2.
    SUB BAB  HakekatHaji  Mencapai haji mabrur  Hikmah haji dalam berbagai aspek  Makna spiritual haji bagi kehidupan sosial.
  • 3.
    PENGERTIAN HAJI Pengertian hajisecara etimologis berasal dari qashdu (maksud, niat, menyengaja), sedangkan kata umrah berarti ziarah. Secara terminologis, haji adalah ialah bermaksud (menyengaja) menuju Baitullah dengan cara dan waktu yang telah ditentukan. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa haji dan umrah adalah untuk melakukan kewajiban ziarah ke Baitullah karena Allah “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah…” (QS. Al-Baqarah [2]: 196).
  • 4.
    Artinya: “Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. Ali Imran [3]: 97). Dari ayat al-Qur’an di atas dapat memperkuat pentingnya niat haji semata-mata karena Allah SWT. Kata lillah dalam ayat tersebut adalah lam al-ijab wa alilzam (yang berfaidah mewajibkan dan meniscayakan) ibadah haji hanya untuk-Nya.
  • 5.
    Demikian pula berdasarkanhadis Nabi yang diriwatkan oleh Imam Bukhari: ‫ال‬ َ‫ل‬ِ‫ئ‬ ُ‫س‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ ُ‫ه‬ْ‫ن‬َ‫ع‬ ُ‫ل‬‫اهل‬ َ‫ي‬ ِ ‫ض‬ َ‫ر‬ َ‫ة‬ َ‫ْر‬‫ي‬ َ‫ر‬ُ‫ه‬ ‫ي‬ِ‫ب‬َ‫أ‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬ ‫وسلم‬ ‫عليه‬ ‫هللا‬ ‫صلى‬ ُّ‫ي‬ِ‫ب‬َّ‫ن‬ َّ‫م‬ُ‫ث‬ َ‫ل‬‫ي‬ِ‫ق‬ ِ‫ه‬ِ‫ل‬‫و‬ ُ‫س‬ َ‫ر‬ َ‫و‬ ِ‫ل‬‫اهل‬ِ‫ب‬ ٌ‫ان‬َ‫ي‬‫م‬ِ‫إ‬ َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ ُ‫ل‬ َ ‫ض‬ْ‫ف‬َ‫أ‬ ِ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫ع‬َ‫ل‬‫ا‬ ُّ‫ي‬َ‫أ‬ ْ‫أ‬ َ‫ل‬‫ي‬ِ‫ق‬ ِ‫ل‬‫اهل‬ ِ‫ل‬‫ي‬ِ‫ب‬ َ ‫س‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ٌ‫د‬‫ا‬ َ‫ه‬ ِ‫ج‬ َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ ‫ا‬َ‫ذ‬‫ا‬َ‫م‬ ٌ‫ور‬ُ‫ْر‬‫ب‬َ‫م‬ ٌّ‫ج‬ َ‫ح‬ َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ ‫ا‬َ‫ذ‬‫ا‬َ‫م‬ َّ‫م‬ُ‫ث‬ . ‫البخاري‬ ‫رواه‬ Artinya: Dari Abi Hurairah radhiyaallahu’anhu, beliau berkata: “Ditanyakan kepada Rasulullah Saw, amaliah apakah lebih utama (afdhal)?” Rasulullah Saw menjawab: “Iman kepada Allah”, kemudian ditanyakan lagi: “lantas apalagi ya Rasulullah?”, Rasulullah Saw menjawab: “Jihad fi sabilillah”, kemudian ditanyakan lagi: “Lantas apalagi?”, Rasulullah Saw menjawab: “Haji mabrur.”(HR. alBukhari). Maktabah Syamela
  • 6.
    MENCAPAI HAJI MABRUR Berdasarkanal-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 197, terdapat 3 larangan yang tidak boleh dilakukan selama melaksanakan ibadah haji. Pertama, dilarang melakukan rafas, terkait dengan gairah dan syahwat. Kedua, yaitu fusuqo, atau fasik, maksiat. Ketiga, yaitu jidala atau berbantah-bantahan. Ini persoalan yang tidak mudah. Selama kurang lebih 44 hari kita tidak dibolehkan melakukan hal-hal tadi.
  • 7.
    Ibadah haji adalahsafar ruhani menuju Allah. Sebagai tamu-tamu Allah harus menjaga adab-adab batiniyah. Imam al-Ghazali menyebutkan ada beberapa etika dalam berhaji, di antaranya adalah: 1. Berhaji dengan harta yang halal. 2. Tidak boros dalam membelanjakan hartanya untuk makan dan minum. 3. Meninggalkan segala macam akhlak yang tercela. 4. Memperbanyak berjalan. 5. Berpakaian sederhana. 6. Bersabar ketika menerima musibah.
  • 8.
    10 LANGKAH UNTUK MENCAPAIHAJI MABRUR 1. Luruskan Niat Untuk Mendapatkan Predikat Haji Mabrur Segala sesuatu tergantung pada niatnya. Untuk mencapai haji yang mabrur, Anda harus meniatkan diri berangkat haji hanya untuk beribadah pada Allah SWT. Ibadah haji yang dilakukan harus benar-benar mencerminkan keikhlasan dan semata-mata untuk memenuhi panggilan Allah dan hanya mengharap ridho dari Allah SWT. Jangan sampai Anda salah niat karena hanya ingin dipanggil “pak haji” ketika pulang dari Tanah Suci.
  • 9.
    2. Menggunakan Hartayang Halal Untuk Biaya Naik Haji Anda harus menggunakan harta yang halal pada saat Anda naik haji. Allah tidak akan menerima ibadah seseorang jika tidak menggunakan jalan yang halal. Karena itu, pastikan harta yang akan digunakan untuk biaya pergi haji ataupun untuk perbekalan di Tanah Suci tidak berasal dari harta yang haram, seperti misalnya hasil korupsi dan juga riba. 3. Beribadah dengan Sikap Ihsan Beribadah dengan sikap ihsan maksudnya adalah kita beribadah seperti kita melihat Allah. Karena itu, kita harus selalu berusaha untuk menghadirkan Allah dalam setiap tempat dan waktu. Dengan menghadirkan Allah dalam setiap ibadah kita, niscaya kita akan bisa beribadah dengan lebih khusyuk dan khidmat.
  • 10.
    4. Menjauhkan Diridari Rafats, Fusuq, dan Jidal Menjauhi larangan Allah, seperti rafats, fusuq, dan juga jidal merupakan tips menjadi haji mabrur yang wajib Anda lakukan. Rafats artinya berbicara tentang hal-hal yang tidak berguna atau mengatakan kata-kata kotor. Fusuq adalah perbuatan yang melanggar ketaatan kepada Allah. Sementara itu, jidal artinya sikap berbantah- bantahan, bertengkar, atau bahkan baku hantam. Ketika sifat tercela tersebut harus benar-benar bisa Anda hindari agar ketika Anda pulang haji, sifat Anda akan semakin baik dibandingkan sebelumnya.
  • 11.
    5. Perbanyak BerbuatBaik Selama Perjalanan Ibadah Haji Selama di perjalanan atau selama pelaksanaan ibadah haji, Anda harus memperbanyak berbuat baik kepada sesama dengan cara bersedekah, menolong orang lain, berbagi perbekalan bersama jamaah haji yang lain, dan mengalah demi kepentingan orang yang lebih membutuhkan. 6. Berlaku Sabar dan Banyak Bersyukur Ibadah haji merupakan ibadah yang berat dan sangat menguras emosi. Terkadang ada hal-hal yang akan membuat para jamaah haji merasa lelah. Untuk menyikapi hal-hal semacam itu, usahakan untuk tetap berlaku sabar dan memperbanyak syukur. Dengan sabar dan syukur, Allah pasti akan memudahkan urusan selama berada di Tanah Suci. Selain itu, rahmat Allah akan datang bila hamba-Nya selalu sabar dan bersyukur. 7. Jangan Berlebihan dalam Berinteraksi dengan Lawan Jenis Ketika berada di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji, Anda harus bisa membatasi diri agar tidak berlebihan bergaul dengan lawan jenis yang bukan mahram.
  • 12.
    8. Merendahkan Diridi Hadapan Allah Dalam menunaikan ibadah haji, sebisa mungkin Anda berusaha untuk menjaga keikhlasan dalam beribadah dengan cara merendahkan diri di hadapan Allah SWT. 9. Menghindari Pungutan Liar Untuk menghindari sesuatu yang haram selama menjalankan ibadah haji di Tanah Suci, maka Anda harus berusaha untuk menghindari pungutan liar yang biasa terjadi pada penambahan ongkos kendaraan, penambahan biaya hewan untuk dam atau qurban. 10. Menjalankan Seluruh Rangkaian Ibadah Haji Sesuai Tuntunan Rasulullah Dalam menjalankan ibadah haji, kita harus melaksanakannya sesuai dengan ilmu manasik yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Kita tidak boleh membuat sendiri ataupun hanya ikut-ikutan dalam menjalankan tata cara ibadah haji.
  • 13.
    HIKMAH HAJI DALAMBERBAGAI ASPEK Hikmah haji yang berkaitan dengan keagamaan ialah sebagai berikut: a) Menghapus dosa-dosa kecil dan mensucikan jiwa orang yang melakukannya. b) Mendorong seseorang untuk menegaskan kembali pengakuannya atas keesaan Allah Swt. serta penolakan terhadap segala macam bentuk kemusyrikan. c) Mendorong seseorang memperkuat keyakinan tentang adanya neraca keadilan Tuhan dalam kehidupan di dunia ini, dan puncak dari keadilan itu diperoleh pada hari kebangkitan kelak. d) Mengantar seseorang menjadi hamba yang selalu mensyukuri nikmat-nikmat Allah Swt. baik berupa harta dan kesehatan, dan menanamkan semangat ibadah dalam jiwanya.
  • 14.
    Dari segi sosialkemasyarakatan hikmah ibadah haji antara lain:  Ketika memulai ibadah haji dengan ihram dari miqat, pakaian biasa ditinggalkan dan mengenakan pakaian ihram. Pakaian yang berfungsi sebagai lambang kesatuan dan persamaan, sehingga hilanglah perbedaan status sosial yang ada, semua menjadi satu sebagai hamba-hamba Allah yang merindukan keridlaan-Nya.  Ibadah haji dapat membawa orang-orang yang berbeda suku, bangsa, dan warna kulit menjadi saling kenal mengenal antara satu sama lain. Ketika itu terjadilah pertukaran pemikiran yang bermanfaat bagi pengembangan negara masing-masing baik yang berhubungan dengan pendidikan, ekonomi, maupun kebudayaan.
  • 15.
     Mempererat taliUkhuwah al Islamiyah antara umat Islam dari berbagai penjuru dunia.  Mendorong seseorang untuk lebih giat dan bersemangat berusaha untuk mencari bekal yang dapat mengantarkan ke Mekah untuk haji. Semangat bekerja tersebut dapat pula memperbaiki keadaan ekonominya yang pada gilirannya bermanfaat untuk orang fakir dan miskin.  Ibadah haji merupakan ibadah badaniyah yang memerlukan ketangguhan fisik dan ketahanan mental. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah haji dapat memperkuat kesabaran dan ketahanan fisik seseorang.
  • 16.
    MAKNA SPIRITUAL HAJIBAGI KEHIDUPAN SOSIAL.  Pertama Ihram, mengandung makna melepaskan dan membebaskan diri dari lambang material dan ikatan kemanusiaan, mengosongkan diri dari mentalitas keduniawian, membersihkan diri dari nafsu serakah angkara murka, kesombongan serta kesewenang-wenangan. Umat Islam yang telah memakai pakaian ihram harus berjiwa stabil, tidak dikendalikan nafsu emosional terhadap material kekayaan dan harta demikian juga kedudukan, jabatan dan kehormatan diri.
  • 17.
     Kedua, Thowaf,mengandung isyarat keluar dari lingkungan manusia yang buas, masuk ke dalam lingkungan Rabbaniyah yang penuh kasih saying, saling menghargai dan saling menghormati.  Ketiga, Sa’i, mengandung isyarat kesediaan menjalankan tugas san tanggung jawab bagi jamaah haji kearah hal-hal yang positif dan bermanfaat untuk dirinya dan orang lain. Artinya, siapapun yang sudah menjalankan ibadah haji harus bisa mengambil makna sa’i yang menyimpan makna perlunya perilaku yang positif baik untuk dirinya maupun orang lain (masyarakat).
  • 18.
     Keempat, Wuquf,yaitu berhimpunnya umat Islam dari seluruh pelosok dunia di Arafah. Dengan mengenakan pakaian sederhana yang melambangkan kesucian, persatuan, dan kesetaraan, mereka menghidupkan kembali peristiwa-peristiwa besar keagamaan. Mereka semua mengikuti ritual yang sama, memperlihatkan semangat kebersamaan dan persaudaraan yang tidak akan pernah terjadi kecuali hanya ada dalam peristiwa besar yang tidak ada tandingannya yaitu ibadah haji.
  • 19.
     Kelima, al-Hulqu/Tahallul(memotong rambut), mengandung isyarat pembersihan, penghapusan sisa-sisa cara berfikir yang kotor yang masih berada dalam kelopak kepala masing-masing manusia. Tahallul berarti mengajarkan kepada umat manusia yang telah menjalankan ibadah haji agar bisa memiliki dan mengorbitkan pikiran yang baik dan positif.  Ibadah haji bisa dijadikan refleksi persatuan dan persamaan umat Islam seluruh dunia. Seluruh jamaah haji yang beragam tersebut melakukan ibadah yang sama. Mereka tidak saling memusuhi antara satu dengan yang lainnya.