TRADISI TUJUH HARI 
TRADISI MUSLIM ATAU HINDU?
TRADISI SELAMATAN TUJUH HARI, 
BERLANGSUNG SEJAK GENERASI SAHABAT 
orang-orang salaf 
bersedekah makanan 
untuk keluarga yang 
baru meninggal 
selama 7 hari sebagai 
sedekahnya mayit.
TRADISI SELAMATAN TUJUH HARI, 
BERLANGSUNG SEJAK GENERASI SAHABAT 
“Orang Mukmin 
diuji di alam kubur 
selama 7 hari, 
sedangkan orang 
munafiq diuji 
selama 40 hari.”
TRADISI SELAMATAN TUJUH HARI, 
BERLANGSUNG SEJAK GENERASI SAHABAT 
“Orang 
Mukmin 
diuji di alam 
kubur 
selama 7 
hari, 
sedangkan 
orang 
munafiq 
diuji selama 
40 hari.”
TRADISI SELAMATAN TUJUH HARI, 
BERLANGSUNG SEJAK GENERASI SAHABAT 
Tradisi 
selamatan 
tujuh hari 
berlangsun 
g sejak 
generasi 
sahabat 
sampai 
abad ke-10 
Hijriah.
TRADISI MEMBACA AL-QUR’AN DI MAKAM 
SELAMA TUJUH HARI 
Ketika al-Imam Nashr bin Ibrahim al- 
Maqdisi, yang terkenal zuhud, wafat pada 
Selasa 9 Muharram, 490 H, penduduk 
Damaskus membaca al-Qur’an di 
makamnya selama 7 hari, setiap malam 20 
hataman.
TRADISI MEMBACA AL-QUR’AN DI MAKAM 
SELAMA TUJUH HARI 
Ketika al-Imam 
Nashr bin Ibrahim 
al-Maqdisi, yang 
terkenal zuhud, 
wafat pada Selasa 
9 Muharram, 490 
H, penduduk 
Damaskus 
membaca al- 
Qur’an di 
makamnya 
selama 7 hari, 
setiap malam 20 
hataman.
TRADISI TUJUH HARI BERLANGSUNG 
SEJAK MASA NABI ADAM 
Ketika Nabi Adam wafat, 
terjadi gerhana matahari dan 
bulan selama tujuh hari.
TRADISI TUJUH HARI BERLANGSUNG 
SEJAK MASA NABI ADAM 
Ketika Nabi Adam wafat, 
seluruh makhluk menangis 
selama tujuh hari.
TRADISI MADZHAB HANBALI 
Ketika al-Imam Abu Ja’far al-Hasyimi, guru 
besar madzhab Hanbali, wafat tahun 470 H, 
kaum Hanabilah membaca al-Qur’an di 
makamnya sampai hatam 10.000 kali.
HIDANGAN KEMATIAN MENURUT 
MADZHAB SYAFI’I 
Keluarga duka cita 
membuat makanan 
dan mengumpulkan 
orang untuk 
memakannya, 
bid’ah yang tidah 
sunnat.
HIDANGAN KEMATIAN MENURUT 
MADZHAB SYAFI’I 
Keluarga duka cita membuat makanan dan 
mengumpulkan orang untuk memakannya, bid’ah 
yang makruh.
HIDANGAN KEMATIAN MENURUT 
MADZHAB SYAFI’I 
Termasuk bid’ah munkarah dan makruh 
dilakukan, adalah membuat makanan oleh 
keluarga duka cita dan mengumpulkan orang 
untuk menyantapnya.
HIDANGAN KEMATIAN MENURUT 
MADZHAB SYAFI’I 
Keluarga duka cita makruh membuat 
makanan untuk mengumpulkan 
orang berdasarkan hadits Ahmad 
dari Jarir bin Abdullah al-Bajali.
HIDANGAN KEMATIAN MENURUT 
MADZHAB SYAFI’I 
Suguhan makanan dari keluarga duka cita 
seperti tradisi wahsyah, juma’ dan 40 hari 
adalah makruh. Bahkan jika makanan 
tersebut diambilkan dari mahjur atau mayit 
yang punya hutang, maka dihukumi haram.
HIDANGAN KEMATIAN MENURUT 
MADZHAB SYAFI’I 
Ibnu Hajar al-Haitami: “Menggelar 
selamatan kematian, tiga hari, tujuh hari 
dan lainnya, jika dilakukan karena tradisi 
dan untuk menolak fitnah, maka 
diharapkan mendatangkan pahala bagi 
yang menggelarnya.”
HIDANGAN KEMATIAN MENURUT 
MADZHAB SYAFI’I 
Selamatan kematian 
yang telah menjadi ada 
istiadat, boleh dilakukan 
menurut Imam Malik, 
dan pandangan ini 
memberikan keringanan.

dalil Tradisi tujuh hari

  • 1.
    TRADISI TUJUH HARI TRADISI MUSLIM ATAU HINDU?
  • 2.
    TRADISI SELAMATAN TUJUHHARI, BERLANGSUNG SEJAK GENERASI SAHABAT orang-orang salaf bersedekah makanan untuk keluarga yang baru meninggal selama 7 hari sebagai sedekahnya mayit.
  • 3.
    TRADISI SELAMATAN TUJUHHARI, BERLANGSUNG SEJAK GENERASI SAHABAT “Orang Mukmin diuji di alam kubur selama 7 hari, sedangkan orang munafiq diuji selama 40 hari.”
  • 4.
    TRADISI SELAMATAN TUJUHHARI, BERLANGSUNG SEJAK GENERASI SAHABAT “Orang Mukmin diuji di alam kubur selama 7 hari, sedangkan orang munafiq diuji selama 40 hari.”
  • 5.
    TRADISI SELAMATAN TUJUHHARI, BERLANGSUNG SEJAK GENERASI SAHABAT Tradisi selamatan tujuh hari berlangsun g sejak generasi sahabat sampai abad ke-10 Hijriah.
  • 6.
    TRADISI MEMBACA AL-QUR’ANDI MAKAM SELAMA TUJUH HARI Ketika al-Imam Nashr bin Ibrahim al- Maqdisi, yang terkenal zuhud, wafat pada Selasa 9 Muharram, 490 H, penduduk Damaskus membaca al-Qur’an di makamnya selama 7 hari, setiap malam 20 hataman.
  • 7.
    TRADISI MEMBACA AL-QUR’ANDI MAKAM SELAMA TUJUH HARI Ketika al-Imam Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi, yang terkenal zuhud, wafat pada Selasa 9 Muharram, 490 H, penduduk Damaskus membaca al- Qur’an di makamnya selama 7 hari, setiap malam 20 hataman.
  • 8.
    TRADISI TUJUH HARIBERLANGSUNG SEJAK MASA NABI ADAM Ketika Nabi Adam wafat, terjadi gerhana matahari dan bulan selama tujuh hari.
  • 9.
    TRADISI TUJUH HARIBERLANGSUNG SEJAK MASA NABI ADAM Ketika Nabi Adam wafat, seluruh makhluk menangis selama tujuh hari.
  • 10.
    TRADISI MADZHAB HANBALI Ketika al-Imam Abu Ja’far al-Hasyimi, guru besar madzhab Hanbali, wafat tahun 470 H, kaum Hanabilah membaca al-Qur’an di makamnya sampai hatam 10.000 kali.
  • 11.
    HIDANGAN KEMATIAN MENURUT MADZHAB SYAFI’I Keluarga duka cita membuat makanan dan mengumpulkan orang untuk memakannya, bid’ah yang tidah sunnat.
  • 12.
    HIDANGAN KEMATIAN MENURUT MADZHAB SYAFI’I Keluarga duka cita membuat makanan dan mengumpulkan orang untuk memakannya, bid’ah yang makruh.
  • 13.
    HIDANGAN KEMATIAN MENURUT MADZHAB SYAFI’I Termasuk bid’ah munkarah dan makruh dilakukan, adalah membuat makanan oleh keluarga duka cita dan mengumpulkan orang untuk menyantapnya.
  • 14.
    HIDANGAN KEMATIAN MENURUT MADZHAB SYAFI’I Keluarga duka cita makruh membuat makanan untuk mengumpulkan orang berdasarkan hadits Ahmad dari Jarir bin Abdullah al-Bajali.
  • 15.
    HIDANGAN KEMATIAN MENURUT MADZHAB SYAFI’I Suguhan makanan dari keluarga duka cita seperti tradisi wahsyah, juma’ dan 40 hari adalah makruh. Bahkan jika makanan tersebut diambilkan dari mahjur atau mayit yang punya hutang, maka dihukumi haram.
  • 16.
    HIDANGAN KEMATIAN MENURUT MADZHAB SYAFI’I Ibnu Hajar al-Haitami: “Menggelar selamatan kematian, tiga hari, tujuh hari dan lainnya, jika dilakukan karena tradisi dan untuk menolak fitnah, maka diharapkan mendatangkan pahala bagi yang menggelarnya.”
  • 17.
    HIDANGAN KEMATIAN MENURUT MADZHAB SYAFI’I Selamatan kematian yang telah menjadi ada istiadat, boleh dilakukan menurut Imam Malik, dan pandangan ini memberikan keringanan.