Dokumen ini membahas tradisi selamatan tujuh hari dalam konteks Islam dan Hindu, mencatat bahwa tradisi ini berasal dari generasi sahabat dan melibatkan pembacaan Al-Qur'an di makam. Beberapa madzhab seperti Syafi'i menganggap hidangan kematian sebagai bid'ah yang makruh, sementara ada pandangan yang memperbolehkannya jika dilakukan untuk menolak fitnah. Terdapat juga diskusi mengenai praktik dan makna dari tradisi-tradisi yang berkaitan dengan kematian dan uji di alam kubur.