Berpikir dan Menulis Ilmiah
Berpikir Kritis
Elga Dwi Yulianti
Manajemen b2 2016
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SIDOARJO
2016
BERPIKIR KRITIS
BAB 1 : Apakah berpikir kritis itu dan bagaimana kita mengasahnya
Dalam beberapa tahun terakhir, “berpikir kritis” telah menjadi suatu istilah yang sangat
populer dalam dunia pendidikan. Karena banyak alasan, para pendidik menjadi lebih tertarik
mengajarkan keterampilan-keterampilan berpikir dengan berbagai corak daripada
mengajarkan informasi dan isi. Lambat laun, para pendidik mulai meragukan efektifitas
mengajarkan “keterampilan-keterampilan berpikir” karena hampir sebagian besar siswa sama
sekali tidak memahami keterampilan-keteramilan berpikir yang dibicarakan. Akibatnya
banyak pengajar semakin tertarik untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan berpikir
secara langsung dengan penyampaian yang eksplisit dan secara langsung. Keterampilan
tersebut adalah keterampilan berpikir kritis dan diajarkan dengan cara yang jelas bertujuan
memfasilitasi pengalihannya ke bidang dan konteks lain.
Beberapa definisi klasik dari tradisi berpikir kritis
1. John Dewey dan “berpikir reflektif”
John Dewey, seorang filsuf, psikolog, dan edukator berkebangsaan Amerika, secara
luas dipandang sebagai “bapak” tradisi berpikir kritis modern. Ia menamakannya
sebagai “berpikir reflektif” dan mendefinisikannya sebagai :
Pertimbangan yang aktif, presistent (terus-menerus), dan teliti mengenai sebuah
keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja dipandang dari sudut
alasan-alasan yang mendukungnya dan kesimpulan-kesimpulan lanjutan yang menjadi
kecenderungan (Dewey, 1909, hlm. 9)
2. Edward Glaser, mengembangkan gagasan Dewey
Edward Glaser salah seorang dari penulis “watson glaser critical thinking appraisal”.
Glaser mendefinisikan berpikir kritis sebagai :
1. Suatu sikap mau berpikir secara mendalam tentang masalah-masalah dan hal-hal
yang berada dalam jangkauan pengalaman seseorang
2. Pengetahuan tentang metode-metode pemeriksaan dan penalaran yang logis
3. Semacam suatu keterampilan untuk menerapkan metode-metode tersebut.
Berpikir kritis menuntut upaya keras untuk memeriksa setiap keyakinan atau
pengetahuan asumtif berdsarkan bukti pendukungnya dan kesimpulan-kesimpulan lanjutan
yang diakibatkannya (Glaser, 1941, hlm.5)
3.Robert Ennis – definisi yang dipakai secara luas
Berpikir kritis adalah pemikiran yang masuk akal reflektif yang berfokus untuk memutuskan
apa yang mesti dipercaya atau dilakukan (Norris and Ennis, 1989)
4.Richard Paul dan berpikir tentang pikiran anda sendiri
Berpikir kritis adalah mode berpikir mengenai hal substansi atau masalah apa saja dimana si
pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur-
struktur yang melekat dalam pemikiran dan menerapkan standar-standar intelektual padanya
(Paul, Fisherand Nosich, 1993, hlm.4)
Keterampilan penting dalam pemikiran kritis
a. Mengenal masalah
b. Menemukan cara-cara yang dapat dipakai untuk menangani masalah-masalah itu
c. Mengumpulkan dan menyusun informasi yang diperlukan
d. Mengenal asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang tidak dinyatakan
e. Memahami dan menggunakan bahasa yang tepat, jelas, dan khas
f. Menganalisis data
g. Menilai fakta dan mengevalusi pernyataan-pernyataan
h. Mengenal adanya hubungan yang logis antara masalah-masalah
i. Menarik kesimpulan dan kesamaan-kesamaan yang diperlukan
j. Menguji kesamaan-kesamaan dan kesimpulan yang seorang ambil
k. Menyusun kembali pola-pola keyakinan seseorang berdasarkan pengalaman yang
lebih luas
l. Membuat penilaian yang tepat tentang hal-hal dan kualitas-kualitas tertentu dalam
kehidupan sehari-hari
BAB 2 : MENGIDENTIFIKASI ALASAN DAN KESIMPULAN BAHASA
PENALARAN
Menentukan keberadaan penalaran
Pertama-tama harus dipahami kita memakai bahasa untuk banyak maksud disamping
mencoba untuk meyakinkan orang lain akan satu titik pandang. Misalnya, kita melaporkan
peristiwa, mendeskripsikan sesuatu, bercerita, dan masih banyak lagi. Kadang-kadang bahasa
kita dengan jelas memperlihatkan kita hanya menjelaskan suatu keadaan. Debat-debat
parlementer sering kali berisi penalaran tetapi acapkali juga berisi penyelewengan.
Bahasa penalaran
Andaikan seseorang mengatakan kepada anda, “apakah anda sudah mendengar sesuatu
tentang (misalnya, orang inggris, orang irlandia, dan orang skotlandia)? Siapakah mereka
sehingga perlu didengar? Hal ini merupakan jenis bahasa yang secara khusus dipakai oleh
para pengguna bahasa inggris untuk menyampaikan sebuah lelucon. Dengan cara yang sama,
ada kata-kata dan frase-frase tertentu yang orang pakai secara khusus untuk menujukkan
bahwa mereka mengargumentasikan sebuah kasus bahwa mereka mengemukakan alasan-
alasan untuk sebuah kesimpulan. Kata yang begitu jelas orang pakai dalam dalam konteks ini
adalah kata “oleh karena itu”. Misalnya, saya belajar selama beberapa hari, membaca materi
sebanyak itu selama empat kali, menggarisbawahi hal-hal penting dan kemudian
mempelajarinya. Setelah melakukan ini semua mestinya saya mendapat nilai yang baik. Oleh
karena itu, ujian tersebut curang. Tentu saja ada banyak kata-kata lain dalam bahasa inggris
yang digunakan dalam banyak cara yang sama seperti kata “oleh karena itu” termasuk
didalamnya :
Sehingga..., karenanya..., jadi..., sebagai konsekuensinya..., yang
membuktikan/memperlihatkan bahwa..., membenarkan keyakinan/pandangan
bahwa..., saya menyimpulkan bahwa.., darinya kita bisa menarik kesimpulan bahwa...,
berdasarkan hal itu maka..., menunjukkan bahwa..., harus...
Kata-kata ini digunakan untuk memperlihatkan pendapat yang ditunjukkan lewat tanda titik-
titik merupakan kesimpulan untuk alasan-alasan yang telah dikemukakan.
Bagaimana kita sendiri dapat mengungkapkan argumen secara jelas bagi orang lain
Faktor utama keterampilan ini adalah kemampuan memakai bahasa penalaran secara
cepat. Penjelasan-penjelasan yang telah diberikan dan pertanyaan-pertanyaan yang sudah
anda jawab seharusnya sudah sangat membantu anda memahami dan memakai bahasa ini.
BAB 3 MEMAHAMI PENALARAN : BERBAGAI POLA PENALARAN
Alasan yang harus dipakai bersama-sama : Alasan “bersama”
Umumnya, ketika pengarang menyajikan dua atau lebih alasan berdampingan untuk
mendukung kesimpulan, dia melihat masing-masing alasan seperti memberi suatu dekungan
terhadap kesimpulan sendirian bahkan tanpa alasan-alasan lain. Kadang-kadang ketika
seseorang menyajikan beberapa alasan untuk kesimpulan secara berdampingan, alasan-alasan
ini bertujuan untuk memberikan suatu dukungan terhadap kesimpulan tanpa bergantung pada
alasan-alasan lain.
Pola penalaran yang lebih kompleks
Pada umumnya, ketika mempersoalkan sebuah kasus, seseorang akan mempersoalkannya
dengan menggunakan beberapa pola yang lebih sederhana ini dengan menggabungkannya
satu sama lain.
Menarik lebih dari satu kesimpulan
Kadang-kadang penalaran seorang pengarang menuntun dia pada apa yang mungkin
kelihatan sepertinya ada dua (atau barangkali lebih) kesimpulan. Seseorang dengan mudah
dapat membayangkan menarik kesimpulan-kesimpulan yang bervariasi dari kutipan ini.
Mungkin kelihatannya lazim pula untuk menarik kesimpulan lanjutan. Kadang-kadang lazim
untuk menempatkan kesimpulan-kesimpulan seperti itu secara bersama sebagai suatu
kesimpulan, tetapi kadang-kadang mungkin membantu untuk berpikir jernih.
BAB 4 MEMAHAMI PENALARAN : ASUMSI, KONTEKS, DAN PETA BERPIKIR
Asumsi
Ketika seseorang mengajukan argumen, penjelasan, atau jenis penalaran yang serupa, sangat
lazim baginya untuk membiarkan beberapa hal tidak disebutkan, meskipun dia yakin hal-hal
itu benar (atau dapat diterima) dan relevan dengan isunya, atau bahkan sangat penting bagi
isu tersebut. Hampir semua argumen riil (argumen yang digunakan atau sudah digunakan
dengan maksud untuk meyakinkan orang lain akan suatu sudut pandang)membiarkan
beberapa hal tidak disebutkan dalam arti tertentu diasumsikan. Biasanya, ketika kita
menggunakan kata “asumsi”, inilah pengertian yang akan kita maksudkan. Asumsi adalah
keyakinan yang secara jelas diterima atau dianggap benar oleh pembicara atau penulis tetapi
mereka tidak menyatakannya atau membuatnya eksplisit .
Konteks
Argumen, penjelasan, dan sebagainya, selalu dikemukakan dalam suatu konteks dan konteks
itu mengandung segala macam asumsi, pra anggapan, latar belakang keyakinan fakta yang
relevan untuk menafsir apa yang dimaksudkan, aturan tingkah laku, dan lain-lain. Umumnya,
konteks itu mencakup orang-orang yang terlibat, bersama dengan maksud, keyakinan, emosi,
dan kepentingan mereka, dan juga termasuk konteks fisik, sosial, dan historis.
Peta berpikir untuk memahami dan mengevaluasi pemikiran
Kita sudah melihat sejumlah besar nukilan penalaran dan menjelaskan beberapa gagasan
tentang bagaimana cara terbaik untuk memahami dan mengevaluasi gagasan-gagasan itu.
oleh karenanya, kita sudah melihat nukilan-nukilan penalaran sederhana, berpikir tentang
bagaimana menanganinya, mengarahkan perhatian pada beberapa keliruan yang umumnya
kita buat dalam menanggapi penalaran dan melakukan penalaran itu, kemudian menyebutkan
cara-cara yang lebih baik untuk melakukan hal-hal ini dan bagaimana menerapkan cara-cara
ini.
BAB 5 : MENGKLARIFIKASI DAN MENGINTERPRETASI PERNYATAAN DAN
GAGASAN
Proses penalaran sering kali memerlukan klarifikasi. Mungkin, makna istilah-istilah yang
digunakan, atau klaim-klaim yang dibuat, tidak jelas, kabur, tidak tepat atau bermakna ganda.
Agar dapat menilai argumen secara kritis pertama-tama kita harus memahaminya. Hal ini
berarti tidak hanya memahami dengan jelas alasan-alasan, kesimpulan-kesimpulan, dan
asumsi-asumsi yang dipresentasikan, tetapi juga memahami dengan jelas maksud semuanya
ini. Sering kali, dalam contoh-contoh sederhana, hal ini sama sekali tidak menimbulkan
masalah, tetapi dalam contoh-contoh yang lebih kompleks, sangat mengherankan bagaimana
pertanyaan-pertanyaan tentang makna dan interpretasi seringkali muncul.
Ketika anda berhadapan dengan situasi dimana anda merasa tidak jelas dengan apa yang
dimaksudkan seseorang, hal pertama yang harus dilakukan adalah memahami semampu anda
sifat masalah itu dan tujuan menyediakan klarifikasi. Ada banyak berbagai cara untuk
mengklarifikasi gagasan-gagasan, bergantung pada kebutuhan, maka sekarang kita
menjelaskan beberapa dari cara-cara ini dengan contoh-contoh yang sesuai.
1. Sumber-sumber klarifikasi yang mungkin
a. Definisi kamus (menginformasikan pemakaian bahasa)
b. Penjelasan dari ahli yang berwenang dalam bidangnya (menginformasikan
pemakaian khusus)
c. Menentukan makna (menetapkan makna)
2. Cara-cara mengklarifikasi istilah dan gagasan
a. Memberikan ungkapan yang “sinonim”
b. Memberikan kondisi yang perlu dan cukup
c. Mengemukakan contoh yang jelas
d. Menarik kontras
e. Menjelaskan sejarah sebuah ungkapan
Masalah yang menuntut klarifikasi dalam penalaran
Kadang kala, sebuah ungkapan bisa digunakan dalam konteks penalaran menurut cara yang
mengaburkan makna ungkapan yang sesungguhnya dan hal ini dapat menyesatkan pemikir.
Ambiguitas seperti ini dapat menyesatkan dalam penalaran. Oleh karena sedemikian
banyaknya, maka sebagiannya diberi nama khusus (seperti “fallacy of equivocation”) tetapi
kita tidak menguraikan hal ini secara lebih jauh dari sini, kecuali hanya mengatakan
kedwiartian seperti ini terjadi dan sebisa mungkin orang harus tetap berpikir jernih mengenai
apa yang dimaksudkan ketika memikirkan.

Berpikir kritis

  • 1.
    Berpikir dan MenulisIlmiah Berpikir Kritis Elga Dwi Yulianti Manajemen b2 2016 PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SIDOARJO 2016
  • 2.
    BERPIKIR KRITIS BAB 1: Apakah berpikir kritis itu dan bagaimana kita mengasahnya Dalam beberapa tahun terakhir, “berpikir kritis” telah menjadi suatu istilah yang sangat populer dalam dunia pendidikan. Karena banyak alasan, para pendidik menjadi lebih tertarik mengajarkan keterampilan-keterampilan berpikir dengan berbagai corak daripada mengajarkan informasi dan isi. Lambat laun, para pendidik mulai meragukan efektifitas mengajarkan “keterampilan-keterampilan berpikir” karena hampir sebagian besar siswa sama sekali tidak memahami keterampilan-keteramilan berpikir yang dibicarakan. Akibatnya banyak pengajar semakin tertarik untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan berpikir secara langsung dengan penyampaian yang eksplisit dan secara langsung. Keterampilan tersebut adalah keterampilan berpikir kritis dan diajarkan dengan cara yang jelas bertujuan memfasilitasi pengalihannya ke bidang dan konteks lain. Beberapa definisi klasik dari tradisi berpikir kritis 1. John Dewey dan “berpikir reflektif” John Dewey, seorang filsuf, psikolog, dan edukator berkebangsaan Amerika, secara luas dipandang sebagai “bapak” tradisi berpikir kritis modern. Ia menamakannya sebagai “berpikir reflektif” dan mendefinisikannya sebagai : Pertimbangan yang aktif, presistent (terus-menerus), dan teliti mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja dipandang dari sudut alasan-alasan yang mendukungnya dan kesimpulan-kesimpulan lanjutan yang menjadi kecenderungan (Dewey, 1909, hlm. 9) 2. Edward Glaser, mengembangkan gagasan Dewey Edward Glaser salah seorang dari penulis “watson glaser critical thinking appraisal”. Glaser mendefinisikan berpikir kritis sebagai : 1. Suatu sikap mau berpikir secara mendalam tentang masalah-masalah dan hal-hal yang berada dalam jangkauan pengalaman seseorang 2. Pengetahuan tentang metode-metode pemeriksaan dan penalaran yang logis 3. Semacam suatu keterampilan untuk menerapkan metode-metode tersebut.
  • 3.
    Berpikir kritis menuntutupaya keras untuk memeriksa setiap keyakinan atau pengetahuan asumtif berdsarkan bukti pendukungnya dan kesimpulan-kesimpulan lanjutan yang diakibatkannya (Glaser, 1941, hlm.5) 3.Robert Ennis – definisi yang dipakai secara luas Berpikir kritis adalah pemikiran yang masuk akal reflektif yang berfokus untuk memutuskan apa yang mesti dipercaya atau dilakukan (Norris and Ennis, 1989) 4.Richard Paul dan berpikir tentang pikiran anda sendiri Berpikir kritis adalah mode berpikir mengenai hal substansi atau masalah apa saja dimana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur- struktur yang melekat dalam pemikiran dan menerapkan standar-standar intelektual padanya (Paul, Fisherand Nosich, 1993, hlm.4) Keterampilan penting dalam pemikiran kritis a. Mengenal masalah b. Menemukan cara-cara yang dapat dipakai untuk menangani masalah-masalah itu c. Mengumpulkan dan menyusun informasi yang diperlukan d. Mengenal asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang tidak dinyatakan e. Memahami dan menggunakan bahasa yang tepat, jelas, dan khas f. Menganalisis data g. Menilai fakta dan mengevalusi pernyataan-pernyataan h. Mengenal adanya hubungan yang logis antara masalah-masalah i. Menarik kesimpulan dan kesamaan-kesamaan yang diperlukan j. Menguji kesamaan-kesamaan dan kesimpulan yang seorang ambil k. Menyusun kembali pola-pola keyakinan seseorang berdasarkan pengalaman yang lebih luas l. Membuat penilaian yang tepat tentang hal-hal dan kualitas-kualitas tertentu dalam kehidupan sehari-hari BAB 2 : MENGIDENTIFIKASI ALASAN DAN KESIMPULAN BAHASA PENALARAN Menentukan keberadaan penalaran
  • 4.
    Pertama-tama harus dipahamikita memakai bahasa untuk banyak maksud disamping mencoba untuk meyakinkan orang lain akan satu titik pandang. Misalnya, kita melaporkan peristiwa, mendeskripsikan sesuatu, bercerita, dan masih banyak lagi. Kadang-kadang bahasa kita dengan jelas memperlihatkan kita hanya menjelaskan suatu keadaan. Debat-debat parlementer sering kali berisi penalaran tetapi acapkali juga berisi penyelewengan. Bahasa penalaran Andaikan seseorang mengatakan kepada anda, “apakah anda sudah mendengar sesuatu tentang (misalnya, orang inggris, orang irlandia, dan orang skotlandia)? Siapakah mereka sehingga perlu didengar? Hal ini merupakan jenis bahasa yang secara khusus dipakai oleh para pengguna bahasa inggris untuk menyampaikan sebuah lelucon. Dengan cara yang sama, ada kata-kata dan frase-frase tertentu yang orang pakai secara khusus untuk menujukkan bahwa mereka mengargumentasikan sebuah kasus bahwa mereka mengemukakan alasan- alasan untuk sebuah kesimpulan. Kata yang begitu jelas orang pakai dalam dalam konteks ini adalah kata “oleh karena itu”. Misalnya, saya belajar selama beberapa hari, membaca materi sebanyak itu selama empat kali, menggarisbawahi hal-hal penting dan kemudian mempelajarinya. Setelah melakukan ini semua mestinya saya mendapat nilai yang baik. Oleh karena itu, ujian tersebut curang. Tentu saja ada banyak kata-kata lain dalam bahasa inggris yang digunakan dalam banyak cara yang sama seperti kata “oleh karena itu” termasuk didalamnya : Sehingga..., karenanya..., jadi..., sebagai konsekuensinya..., yang membuktikan/memperlihatkan bahwa..., membenarkan keyakinan/pandangan bahwa..., saya menyimpulkan bahwa.., darinya kita bisa menarik kesimpulan bahwa..., berdasarkan hal itu maka..., menunjukkan bahwa..., harus... Kata-kata ini digunakan untuk memperlihatkan pendapat yang ditunjukkan lewat tanda titik- titik merupakan kesimpulan untuk alasan-alasan yang telah dikemukakan. Bagaimana kita sendiri dapat mengungkapkan argumen secara jelas bagi orang lain Faktor utama keterampilan ini adalah kemampuan memakai bahasa penalaran secara cepat. Penjelasan-penjelasan yang telah diberikan dan pertanyaan-pertanyaan yang sudah anda jawab seharusnya sudah sangat membantu anda memahami dan memakai bahasa ini.
  • 5.
    BAB 3 MEMAHAMIPENALARAN : BERBAGAI POLA PENALARAN Alasan yang harus dipakai bersama-sama : Alasan “bersama” Umumnya, ketika pengarang menyajikan dua atau lebih alasan berdampingan untuk mendukung kesimpulan, dia melihat masing-masing alasan seperti memberi suatu dekungan terhadap kesimpulan sendirian bahkan tanpa alasan-alasan lain. Kadang-kadang ketika seseorang menyajikan beberapa alasan untuk kesimpulan secara berdampingan, alasan-alasan ini bertujuan untuk memberikan suatu dukungan terhadap kesimpulan tanpa bergantung pada alasan-alasan lain. Pola penalaran yang lebih kompleks Pada umumnya, ketika mempersoalkan sebuah kasus, seseorang akan mempersoalkannya dengan menggunakan beberapa pola yang lebih sederhana ini dengan menggabungkannya satu sama lain. Menarik lebih dari satu kesimpulan Kadang-kadang penalaran seorang pengarang menuntun dia pada apa yang mungkin kelihatan sepertinya ada dua (atau barangkali lebih) kesimpulan. Seseorang dengan mudah dapat membayangkan menarik kesimpulan-kesimpulan yang bervariasi dari kutipan ini. Mungkin kelihatannya lazim pula untuk menarik kesimpulan lanjutan. Kadang-kadang lazim untuk menempatkan kesimpulan-kesimpulan seperti itu secara bersama sebagai suatu kesimpulan, tetapi kadang-kadang mungkin membantu untuk berpikir jernih. BAB 4 MEMAHAMI PENALARAN : ASUMSI, KONTEKS, DAN PETA BERPIKIR Asumsi Ketika seseorang mengajukan argumen, penjelasan, atau jenis penalaran yang serupa, sangat lazim baginya untuk membiarkan beberapa hal tidak disebutkan, meskipun dia yakin hal-hal itu benar (atau dapat diterima) dan relevan dengan isunya, atau bahkan sangat penting bagi isu tersebut. Hampir semua argumen riil (argumen yang digunakan atau sudah digunakan dengan maksud untuk meyakinkan orang lain akan suatu sudut pandang)membiarkan beberapa hal tidak disebutkan dalam arti tertentu diasumsikan. Biasanya, ketika kita
  • 6.
    menggunakan kata “asumsi”,inilah pengertian yang akan kita maksudkan. Asumsi adalah keyakinan yang secara jelas diterima atau dianggap benar oleh pembicara atau penulis tetapi mereka tidak menyatakannya atau membuatnya eksplisit . Konteks Argumen, penjelasan, dan sebagainya, selalu dikemukakan dalam suatu konteks dan konteks itu mengandung segala macam asumsi, pra anggapan, latar belakang keyakinan fakta yang relevan untuk menafsir apa yang dimaksudkan, aturan tingkah laku, dan lain-lain. Umumnya, konteks itu mencakup orang-orang yang terlibat, bersama dengan maksud, keyakinan, emosi, dan kepentingan mereka, dan juga termasuk konteks fisik, sosial, dan historis. Peta berpikir untuk memahami dan mengevaluasi pemikiran Kita sudah melihat sejumlah besar nukilan penalaran dan menjelaskan beberapa gagasan tentang bagaimana cara terbaik untuk memahami dan mengevaluasi gagasan-gagasan itu. oleh karenanya, kita sudah melihat nukilan-nukilan penalaran sederhana, berpikir tentang bagaimana menanganinya, mengarahkan perhatian pada beberapa keliruan yang umumnya kita buat dalam menanggapi penalaran dan melakukan penalaran itu, kemudian menyebutkan cara-cara yang lebih baik untuk melakukan hal-hal ini dan bagaimana menerapkan cara-cara ini. BAB 5 : MENGKLARIFIKASI DAN MENGINTERPRETASI PERNYATAAN DAN GAGASAN Proses penalaran sering kali memerlukan klarifikasi. Mungkin, makna istilah-istilah yang digunakan, atau klaim-klaim yang dibuat, tidak jelas, kabur, tidak tepat atau bermakna ganda. Agar dapat menilai argumen secara kritis pertama-tama kita harus memahaminya. Hal ini berarti tidak hanya memahami dengan jelas alasan-alasan, kesimpulan-kesimpulan, dan asumsi-asumsi yang dipresentasikan, tetapi juga memahami dengan jelas maksud semuanya ini. Sering kali, dalam contoh-contoh sederhana, hal ini sama sekali tidak menimbulkan masalah, tetapi dalam contoh-contoh yang lebih kompleks, sangat mengherankan bagaimana pertanyaan-pertanyaan tentang makna dan interpretasi seringkali muncul. Ketika anda berhadapan dengan situasi dimana anda merasa tidak jelas dengan apa yang dimaksudkan seseorang, hal pertama yang harus dilakukan adalah memahami semampu anda
  • 7.
    sifat masalah itudan tujuan menyediakan klarifikasi. Ada banyak berbagai cara untuk mengklarifikasi gagasan-gagasan, bergantung pada kebutuhan, maka sekarang kita menjelaskan beberapa dari cara-cara ini dengan contoh-contoh yang sesuai. 1. Sumber-sumber klarifikasi yang mungkin a. Definisi kamus (menginformasikan pemakaian bahasa) b. Penjelasan dari ahli yang berwenang dalam bidangnya (menginformasikan pemakaian khusus) c. Menentukan makna (menetapkan makna) 2. Cara-cara mengklarifikasi istilah dan gagasan a. Memberikan ungkapan yang “sinonim” b. Memberikan kondisi yang perlu dan cukup c. Mengemukakan contoh yang jelas d. Menarik kontras e. Menjelaskan sejarah sebuah ungkapan Masalah yang menuntut klarifikasi dalam penalaran Kadang kala, sebuah ungkapan bisa digunakan dalam konteks penalaran menurut cara yang mengaburkan makna ungkapan yang sesungguhnya dan hal ini dapat menyesatkan pemikir. Ambiguitas seperti ini dapat menyesatkan dalam penalaran. Oleh karena sedemikian banyaknya, maka sebagiannya diberi nama khusus (seperti “fallacy of equivocation”) tetapi kita tidak menguraikan hal ini secara lebih jauh dari sini, kecuali hanya mengatakan kedwiartian seperti ini terjadi dan sebisa mungkin orang harus tetap berpikir jernih mengenai apa yang dimaksudkan ketika memikirkan.