 Beranda
 About
tiara3arza
Jenius itu 1% inspirasi & 99% keringat
Stay updated via RSS
 Tulisan-tulisan Terbaru
o MEMORIAN’t In ANDALAS CITY 2008 – 2011
o RETENSIO PLASENTA
o SOLUSIO PLASENTA
o HIPER EMESIS GRAVIDARUM
o ABORTUS INKOMPLIT
o EFUSI PLEURA
o ANEMIA DALAM KEHAMILAN
o KEHAMILAN SEROTINUS
o DISTOSIA BAHU
o SISTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS
 Kategori
o Uncategorized (15)
Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘kuliah ASKEB 4’
RETENSIO PLASENTA
Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized
Tag:kuliah ASKEB 4
0
. Landasan Teori
2.1 Pengertian
Retensio plasenta (placental retention) merupakan plasenta yang belum lahir dalam setengah
jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta (rest placenta) merupakan tertinggalnya
bagian plasenta dalam rongga rahim yang dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini
(early postpartum hemorrhage) atau perdarahan post partum lambat (late postpartum
hemorrhage) yang biasanya terjadi dalam 6-10 hari pasca persalinan.
Menurut Sarwono Prawirohardjo :
Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau melebihi
waktu 30 menit setelah bayi lahir.
Jenis retensio plasenta :
1) Plasenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga
menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.
2) Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian lapisan
miometrium.
3) Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai/memasuki
miometrium.
4) Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot
hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus .
5) Plasenta inkarserata adalah tertahannya plasenta di dalam kavum uteri, disebabkan oleh
konstruksi ostium uteri.
Sebab-sebabnya plasenta belum lahir bisa oleh karena :
a). plasenta belum lepas dari dinding uterus; atau
b). plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan.
Apabila plasenta belum lahir sama sekali, tidak terjadi perdarahan; jika lepas sebagian, terjadi
perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya.
Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena:
a) Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta adhesiva);
b) Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korialis menembus desidua
sampai miometrium- sampai di bawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta).
c) Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabkan oleh
tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III, sehingga terjadi
lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta
(inkarserasio plasenta).
2.2 Anatomi
Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15 sampai 20 cm dan tebal
lebih kurang 2.5 cm. beratnya rata-rata 500 gram. Tali-pusat berhubungan dengan plasenta
biasanya di tengah (insertio sentralis). Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan
lebih kurang 16 minggu dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uteri. Bila diteliti
benar, maka plasenta sebenarnya berasal dari sebagian besar dari bagian janin, yaitu vili
koriales yang berasal dari korion, dan sebagian kecil dari bagian ibu yang berasal dari
desidua basalis.
Darah ibu yang berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang berada di desidua
basalis. Pada sistole darah disemprotkan dengan tekanan 70-80 mmHg seperti air mancur ke
dalam ruang interviller sampai mencapai chorionic plate, pangkal dari kotiledon-kotiledon
janin. Darah tersebut membasahi semua vili koriales dan kembali perlahan-lahan dengan
tekanan 8 mmHg ke vena-vena di desidua.
Plasenta berfungsi: sebagai alat yang memberi makanan pada janin, mengeluarkan sisa
metabolisme janin, memberi zat asam dan mengeluarkan CO2, membentuk hormon, serta
penyalur berbagai antibodi ke janin.
2.3 Etiologi
A. Etiologi dasar meliputi :
1) Faktor maternal
a. Gravida berusia lanjut
b. Multiparitas
2) Faktor uterus
a. Bekas sectio caesaria, sering plasenta tertanam pada jaringan cicatrix uterus
b. Bekas pembedahan uterus
c. Anorrali dan uterus
d. Tidak efektif kontraksi uterus
e. Pembentukan kontraksi ringan
f. Bekas curetage uterus, yang terutama dilakukan setelah abortus
g. Bekas pengeluaran plasenta secara manual
h. Bekas endometritis
3) Faktor plasenta
a. Plasenta previa
b. Implantasi corneal
c. Plasenta akreta
d. Kelainan bentuk plasenta
2.4 Patofisiologi
Setelah bayi dilahirkan, uterus secara spontan berkontraksi. Kontraksi dan retraksi otot-otot
uterus menyelesaikan proses ini pada akhir persalinan. Sesudah berkontraksi, sel miometrium
tidak relaksasi, melainkan menjadi lebih pendek dan lebih tebal. Dengan kontraksi yang
berlangsung kontinyu, miometrium menebal secara progresif, dan kavum uteri mengecil
sehingga ukuran juga mengecil. Pengecian mendadak uterus ini disertai mengecilnya daerah
tempat perlekatan plasenta.
Ketika jaringan penyokong plasenta berkontraksi maka plasenta yang tidak dapat
berkontraksi mulai terlepas dari dinding uterus. Tegangan yang ditimbulkannya
menyebabkan lapis dan desidua spongiosa yang longgar memberi jalan, dan pelepasan
plasenta terjadi di tempat itu. Pembuluh darah yang terdapat di uterus berada di antara serat-
serat oto miometrium yang saling bersilangan. Kontraksi serat-serat otot ini menekan
pembuluh darah dan retaksi otot ini mengakibatkan pembuluh darah terjepit serta perdarahan
berhenti.
Pengamatan terhadap persalinan kala tiga dengan menggunakan pencitraan ultrasonografi
secara dinamis telah membuka perspektif baru tentang mekanisme kala tiga persalinan.
Kala tiga yang normal dapat dibagi ke dalam 4 fase, yaitu:
1.Fase laten, ditandai oleh menebalnya duding uterus yang bebas tempat plasenta, namun
dinding uterus tempat plasenta melekat masih tipis.
2.Fase kontraksi, ditandai oleh menebalnya dinding uterus tempat plasenta melekat (dari
ketebalan kurang dari 1 cm menjadi > 2 cm).
3.Fase pelepasan plasenta, fase dimana plasenta menyempurnakan pemisahannya dari
dinding uterus dan lepas. Tidak ada hematom yang terbentuk antara dinding uterus dengan
plasenta. Terpisahnya plasenta disebabkan oleh kekuatan antara plasenta yang pasif dengan
otot uterus yang aktif pada tempat melekatnya plasenta, yang mengurangi permukaan tempat
melekatnya plasenta. Akibatnya sobek di lapisan spongiosa.
4. Fase pengeluaran, dimana plasenta bergerak meluncur. Saat plasenta bergerak turun,
daerah pemisahan tetap tidak berubah dan sejumlah kecil darah terkumpul di dalam rongga
rahim. Ini menunjukkan bahwa perdarahan selama pemisahan plasenta lebih merupakan
akibat, bukan sebab. Lama kala tiga pada persalinan normal ditentukan oleh lamanya fase
kontraksi. Dengan menggunakan ultrasonografi pada kala tiga, 89% plasenta lepas dalam
waktu satu menit dari tempat implantasinya.
Tanda-tanda lepasnya plasenta adalah sering ada pancaran darah yang mendadak, uterus
menjadi globuler dan konsistensinya semakin padat, uterus meninggi ke arah abdomen karena
plasenta yang telah berjalan turun masuk ke vagina, serta tali pusat yang keluar lebih panjang.
Sesudah plasenta terpisah dari tempat melekatnya maka tekanan yang diberikan oleh dinding
uterus menyebabkan plasenta meluncur ke arah bagian bawah rahim atau atas vagina.
Kadang-kadang, plasenta dapat keluar dari lokasi ini oleh adanya tekanan inter-abdominal.
Namun, wanita yang berbaring dalam posisi terlentang sering tidak dapat mengeluarkan
plasenta secara spontan. Umumnya, dibutuhkan tindakan artifisial untuk menyempurnakan
persalinan kala tinggi. Metode yang biasa dikerjakan adalah dengan menekan dan
mengklovasi uterus, bersamaan dengan tarikan ringan pada tali pusat.
2.4 Gejala Klinis
a. Anamnesis, meliputi pertanyaan tentang periode prenatal, meminta informasi mengenai
episode perdarahan postpartum sebelumnya, paritas, serta riwayat multipel fetus dan
polihidramnion. Serta riwayat pospartum sekarang dimana plasenta tidak lepas secara
spontan atau timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan.
b. Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis servikalis tetapi
secara parsial atau lengkap menempel di dalam uterus.
2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelepasan Plasenta :
1. Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks; kelemahan dan tidak
efektifnya kontraksi uterus; kontraksi yang tetanik dari uterus; serta pembentukan
constriction ring.
2. Kelainan dari plasenta, misalnya plasenta letak rendah atau plasenta previa; implantasi di
cornu; dan adanya plasenta akreta.
3. Kesalahan manajemen kala tiga persalinan , seperti manipulasi dari uterus yang tidak perlu
sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak ritmik;
pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya yang juga dapat menyebabkan serviks
kontraksi dan menahan plasenta; serta pemberian anestesi terutama yang melemahkan
kontraksi uterus.
2.5 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
a. Komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah yang dilakukan.
b. Multiple organ failure yang berhubungan dengan kolaps sirkulasi dan penurunan perfusi
organ.
c. Sepsis
d. Kebutuhan terhadap histerektomi dan hilangnya potensi untuk memiliki anak selanjutnya
2.6 Prognosis
Prognosis tergantung dari lamanya, jumlah darah yang hilang, keadaan sebelumnya serta
efektifitas terapi. Diagnosa dan penatalaksanaan yang tepat sangat penting.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
1. Hitung darah lengkap: untuk menentukan tingkat hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Hct),
melihat adanya trombositopenia, serta jumlah leukosit. Pada keadaan yang disertai dengan
infeksi, leukosit biasanya meningkat.
2. Menentukan adanya gangguan koagulasi dengan hitung protrombin time (PT) dan
activated Partial Tromboplastin Time (aPTT) atau yang sederhana dengan Clotting Time
(CT) atau Bleeding Time (BT). Ini penting untuk menyingkirkan perdarahan yang disebabkan
oleh faktor lain.
2.8 Diagnosa Banding
Meliputi plasenta akreta, suatu plasenta abnormal yang melekat pada miometrium tanpa garis
pembelahan fisiologis melalui garis spons desidua.
2.9 Pencegahan
a. Pencegahan resiko plasenta adalah dengan cara mempercepat proses separasi dan
melahirkan plasenta dengan memberikan uterotonika segera setelah bayi lahir dan melakukan
penegangan talipusat terkendali. Usaha ini disebut juga penatalaksanaan aktif kala III
b. Mengamati dan melihat kontraksi uterus.
2.10 Penanganan
Penanganan retensio plasenta atau sebagian plasenta adalah:
a. Resusitasi. Pemberian oksigen 100%. Pemasangan IV-line dengan kateter yang
berdiameter besar serta pemberian cairan kristaloid (sodium klorida isotonik atau larutan
ringer laktat yang hangat, apabila memungkinkan). Monitor jantung, nadi, tekanan darah dan
saturasi oksigen. Transfusi darah apabila diperlukan yang dikonfirmasi dengan hasil
pemeriksaan darah.
b. Drips oksitosin (oxytocin drips) 20 IU dalam 500 ml larutan Ringer laktat atau NaCl 0.9%
(normal saline) sampai uterus berkontraksi.
c. Plasenta coba dilahirkan dengan Brandt Andrews, jika berhasil lanjutkan dengan drips
oksitosin untuk mempertahankan uterus.
d. Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta. Indikasi manual plasenta
adalah: Perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc, retensio plasenta setelah 30
menit anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi,
perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir, tali pusat putus.
e. Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat dikeluarkan dengan
tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta. Pada umumnya pengeluaran sisa
plasenta dilakukan dengan kuretase. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati
karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus.
f. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat
uterotonika melalui suntikan atau per oral.
g. Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi
sekunder.
B. KONSEP MANAJEMEN KEBIDANAN
Manajemen kebidanan adalah metode kerja profesi dengan menggunakan langkah pemecahan
masalah sehingga merupakan alur dari pengorganisasian, pemikiran dan langkah-langkah
data suatu urusan yang logis yang menguntungkan baik bagi pasien maupun bidan.
Proses manajemen terdiri dari 7 langkah yang berurutan dimana setiap langkah
disempurnakan secara periode. Proses ini dimulai dengan mengumpulakn data dasar dan
berakhir dengan evaluasi. Langkah tersebut adalah :
1. Pengumpulan
Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang telah diperlukan secara
sistematis untuk mengevaluasi keadaan pasien secara lengkap
2. Interpretasi
Melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa berdasarkan interpretasi
yang benar atas data-data tersebut.
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang di tegakkan bidan dalam lingkup praktek
kabidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan :
1. Diagnosa persalinan
a. Ibu Inpartu
b. Normal atau tidak
c. KU ibu dan janin
3. Antisipasi diagnosa atau masalah potensial
Mengantisipasi masalah atau diagnosa potensial yang mungkin akan terjadi berdasarkan
maslah atau diagnosa yang sudah diidentifikasi
4. Tindakan segera atau kolaborasi
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk di konsulkan
atau ditangani bersama anggota tim anggota kesehatan yang lainnya dengan kondisi pasien
5. Perencanaan
Merencanakan asuhan menyeluruh yang di dukung dengan penjelasan yang sungguh rasional
sebagi dasar untuk mengambil keputusan sesuai dengan langkah sebelumnya.
6. Pelaksanaan
Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efisien dan aman
7. Pengevaluasi
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan, diulangi kembali proses manajemen
yang benar terhadap aspek kehidupan
SOLUSIO PLASENTA
Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized
Tag:kuliah ASKEB 4
0
I. Landasan Teori
1. PENGERTIAN SOLUSIO PLASENTA
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya yang normal pada
uterus, sebelum janin dilahirkan. Definisi ini berlaku pada kehamilan dengan masa gestasi di
atas 22 minggu atau berat janin di atas 500 gram. Proses solusio plasenta dimulai dengan
terjadinya perdarahan dalam desidua basalis yang menyebabkan hematoma retroplasenter.
Hematoma dapat semakin membesar kearah pinggir plasenta sehingga amniokhorion sampai
terlepas, perdarahan akan keluar melalui ostium uteri (perdarahan keluar), sebaliknya apabila
amniokhorion tidak terlepas, perdarahan tertampung dalam uterus (perdarahan tersembunyi).
Penyulit terhadap ibu dalam bentuk:
1. Berkurangnya darah dalam sirkulasi darah
2. Terjadinya penurunan tekanan darah, peningkatan nadi, dan pernafasan
3. Penderita tampak anemis
4. Dapat menimbulkan pembekuan darah
5. Menimbulkan perdarahan postpartum
6. Peningkatan timbunan darah di belakang plasenta yang menyebabkan rahim keras, padat,
dan kaku
7. Menyababkan asfiksia ringan sampai kematian janin dalam rahim
2. PENYEBAB SOLUSIO PLASENTA
Solusio plasenta merupakan keadaan gawat kebidanan yang memerlukan perhatian karena
penyulit yang ditimbulkan terhadap ibu maupun janin.
Penyebab solusio plasenta :
1. Trauma langsung terhadap uterus hamil
• Terjatuh terutama tertelungkup
• Tendangan anak yang sedang digendong
2. Tindakan kebidanan
• Setelah versi luar
• Setelah memecahkan ketuban
• Persalinan anak kedua hamil kembar
3. Tali pusat yang pendek
• Hamil pada usia tua
• Mempunyai tekanan darah tinggi
• Pre-eklampsi atau eklampsia
• Tekanan vena kava inferior yang tinggi
• Kekurangan asam folik
3. GAMBARAN KLINIK SOLUSIO PLASENTA
Tergantung dari seberapa bagian plasenta yang terlepas.
1. Solusio plasenta ringan
a. Terlepasnya plasenta kurang dari ¼ luasnya
b. Tidak memberikan gejala klinik dan ditemukan setelah persalinan
c. Keadaan umum ibu dan janin tidak mengalami gangguan
d. Persalinan berjalan dengan lancar pervaginam
2. Solusio plasenta sedang
a. Terlepasnya plasenta lebih dari ¼ tetapi belum mencapai 2/3 bagian
b. Dapat menimbulkan gejala klinik
• Perdarahan dengan rasa sakit
• Perut terasa tegang
• Gerak janin berkurang
• Palpasi bagian janin sulit diraba
• Auskultasi jantung janin dapat terjadi asfiksia ringan dan sedang
• Pada pemeriksaan dalam ketuban menonjol
• Dapat terjadi gangguan pembekuan darah
3. Solusio plasenta berat
a. Lepasnya plasenta lebih dari 2/3 bagian
b. Terjadi perdarahan disertai rasa nyeri
c. Penyulit pada ibu :
• Terjadi syok dengan tekanan darah menurun , nadi, dan pernafasan meningkat
• Dapat terjadi gangguan pembekuan darah
• Penderita tampak anemis
• Saat dipalpasi janin susah untuk diraba
• Pemerikasaan dalam ketuban tegang dan menonjol
4. DIAGNOSIS SOLUSIO PLASENTA
Diagnosis solusio plasenta dapat ditegakkan dengan melakukan :
a. Anamnesa
• Terjadi perdarahan disertai rasa nyeri
• Terjadi spontan atau karena trauma
• Perut terasa nyeri
• Diikuti penurunan sampai terhentinya gerakan janin dalam rahim
b. Pemeriksaan
1. Pemeriksaan fisik umum
• Keadaan umum penderita tidak sesuai dengan jumlah perdarahan
• Tekanan darah menurun, nadi dan pernafasan meningkat
• Penderita tampak anemis
2. Pemeriksaan khusus
a. Palpasi abdomen
• Perut tegang terus menerus
• Terasa nyeri saat dipalpasi
• Bagian janin sukar ditemukan
b. Auskultasi
• Denyut jantung janin bervariasi dan asfiksia ringan sampai berat
c. Pemeriksaan dalam
• Terdapat pembukaan
• Ketuban tegang dan menonjol
C. pemerikasaan penunjang, dengan ultrasonografi, dijumpai perdarahn antara plasenta dan
dinding abdomen
5. PENANGANAN SOLUSIO PLASENTA
1. Solusio plasenta ringan
• Perut tegang sedikit, perdarahan tidak terlalu banyak
• Keadaan janin masih baik dapat dilakukan penanganan secara konservatif
• Perdarahan berlangsung terus ketegangan makin meningkat dengan janin yang masih baik
dilakukan SC
• Perdarahan yang berhenti dan keadaan baik pada kehamilan premature dilakukan perawatan
inap
2. Solusio plasenta tingkat sedang dan berat
Penanganannya dilakukan di rumah sakit karena dapat membahayakan jiwa penderita.
Tatalaksananya adalah :
• Pemasangan infuse dan transfusi darah
• Memecahkan ketuban
• Induksi persalinan atau dilakukan SC
3. Sikap bidan dalam menghadapi solusio plasenta
• Bidan merupakan tenaga andalan masyarakat untuk dapat memberikan pertolongan
kebidanan, sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun perinatal.
Dalam menghadapi perdarahan pada kehamilan, sikap bidan yang paling utama adalah
melakukan rujukan ke rumah sakit.
Dalam melakukan rujukan diberikan pertolongan darurat :
• Pemasangan infuse
• Tanpa melakukan pemerikasaan dalam
• Diantar petugas yang dapat memberikan pertolongan
• Mempersiapkan donor dari masyarakat atau keluarganya
• Menyertakan keterangan tentang apa yang telah dilakukan untuk memberikan pertolangan
pertama
6. KOMPLIKASI SOLUSIO PLASENTA
1. Penyulit (komplikasi) ibu
a. Perdarahan dapat menimbulkan
• Variasi turunnya tekanan darah sampai keadaan syok
• Perdarahan tidak sesuai dengan keadaan penderita anemis sampai syok
• Kesadaran bervariasi dari baik sampai koma
b. Gangguan pembekuan darah
• Masuknya tromboplasin ke dalam sirkulasi darah menyebabkan pembekuan darah
intravascular dan disertai hemolisis
• Terjadi penurunan fibrinogen sehingga hipofibrinogen dapat menganggu pembekuan darah
c. Oliguria
• Terjadinya sumbatan glomerulus ginjal dan dapat menimbulkan produksi urin makin
berkurang
d. Perdarahan postpartum
• Pada solusio plasenta sedang sampai berat terjadi infiltrasi darah ke otot rahim, sehingga
menganggu kontraksi dan menimbulkan perdarahan karena atonia uteri
• Kegagalan pembekuan darah menambah beratnya perdarahan
2. Penyulit pada janin
Perdarahan yang terimbun di belakang plasenta menganggu sirkulasi dan nutrisi kearah janin
dapat menimbulkan asfiksia ringan sampai berat dan kematian dalam rahim.
Solusio plasenta
Kejadian Hamil tua
Inpartu
Anamnesa Mendadak
Terdapat trauma
Perdarahn dengan nyeri
Keadaan umum Tidak sesuai dengan perdarahan
Anemis, tekanan darah menurun, nadi dan pernafasan meningkat
Disertai pre-eklampsi atau eklampsia
Palpasi abdomen Tegang, nyeri
Bagian janin sulit diraba
DJJ Asfiksia samapai mati tergantung lepasnya plasenta
Pemerikasaan dalam Ketuban tegang menonjol
HIPER EMESIS GRAVIDARUM
Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized
Tag:kuliah ASKEB 4
0
2.1 Konsep Medis
2.1.1 Definisi
2.1.1.1 Definisi kehamilan
a. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal
adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir.
Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3
bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ke tujuh
sampai 9 bulan. (Prawirohardjo. 2002 : 89)
b. Kehamilan adalah mata rantai yang berkesinambungan dan terdiri dari ovulasi pelepasan
ovum, terjadi migrasi spermatozoa dan ovum, terjadi konsepsi dan pertumbuhan zigot, terjadi
nidasi (implantasi) pada uterus, pembentukan plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi
sampai aterm (Manuaba, 1998 : 95)
c. Kehamilan adalah dimulai dari ovulasi sampai partus ialah kira-kira 280 hari (40 minggu),
kehamilan ini disebut kehamilan mature atau cukup bulan dan apabila kehamilan lebih dari
40 minggu disebut post mature dan kehamilan antara 28 – 36 minggu disebut kehamilan
prematur. (Wiknjasastro, 1995 : 125).
2.1.1.2 Definisi Hyperemesis gravidarum
a. Adalah emosi gravidarum yang berat dan berlangsung sampai 4 bulan sehingga pekerjaan
sehari-hari menjadi buruk (Prawiharjo 1999:275)
b. Adalah mual muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan
keadaan umum menjadi buruk, paling sering dijumpai pada kehamilan trimester I terutama
ditemukan pada primigravida (Mansjoer, 1999:259)
c. Adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu
pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk, karena menjadi dehidrasi
(Mochtar, 1998:195)
d. Adalah gejala mual muntah yang berat yang dapat berlangsung sampai 4 bulan yang di
sebabkan karena meningkatnya kadar hormone estrogen dan HCG dalam serum.
(Prawirohardjo,2001 :274)
2.1.2 Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Frekuensi kejadian 2 /1000
kehamilan. Pada tubuh wanita yang hamil terjadi perubahan-perubahan yang cukup besar
yang mungkin merusak keseimbangan di dalam badan.
Faktor predisposisi yang telah dikemukakan oleh beberapa penulis sebagai berikut :
2.1.2.1. Faktor adaptasi dan Hormonal.
Pada wanita hamil yang kekurangan darah lebih sering terjadi hiperemesis gravidarum. Dapat
dimasukan dalam ruang lingkup factor adaptasi adalah wanita hamil dengan anemia, wanita
primigravida, kehamilan ganda, mola hidatidosa, diabetes, akibat peningkatan kadar HCG.
2.1.2.2. Faktor organik.
Karena masuknya vili chorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat
hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu.
2.1.2.3. Faktor Psikologi
Hubungan factor psikologi dengan kejadian hiperemesis gravidarum belum jelas. Besar
kemungkinan bahwa wanita yang menolak hamil, takut kehilangan pekerjaan, keretakan
rumah tangga, diduga dapat menjadi factor kejadian hiperemesis gravidarum.
2.1.2.4. Faktor Alergi
Pada kehamilan, dimana diduga terjadi invasi jaringan vili korialis yang masuk kedalam
peredaran darah ibu, maka factor alergi dianggap dapat menyebabkan kejadian hiperemesis
gravidarum. (Manuaba : 1998; 209-210).
2.1.3 Tingkatan hyperemesis gravidarum
2.1.3.1 Hyperemesis Gravidarum Tingkat I
• Muntah berlangsung terus
• Makan berkurang
• Berat badan menurun
• Kulit dehidrasi, tonusnya lemah
• Nyeri epigastrium
• Tekanan darah turun dan nadi meningkat
• Lidah kering
• Mata tampak cekung
2.1.3.2 Hyperemesis Gravidarum Tingkat II
• Penderita tampak lebih lemah
• Gejala dehidrasi makin tampak, mata cekung, turgor kulit makin kurang, lidah kering dan
kotor.
• Tekanan darah turun, nadi meningkat.
• Berat badan makin menurun
• Mata ikterik
• Terjadinya gangguan buang air besar
• Mulai tampak gejala gangguan kesadaran menjadi apatis.
• Nafas berbau.
2.1.3.3 Hyperemesis Gravidarum Tingkat III
• Muntah berkurang
• Keadaan wanita hamil menurun, tekanan darah turun, nadi meningkat dan suhu naik,
keadaan dehidrasi makin jelas.
• Gangguan faal hati terjadi dengan manifestasi ikterus.
• Gangguan kesadaran dalam bentuk somnolen sampai koma.
(Mochtar, 1998 : 195)
2.1.4 Patofisiologi
Perasaan mual akibat men Ada yang menyatakan bahwa mual dan muntah adalah akibat dari
meningkatnya kadar estrogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama.
Pengaruh fisiologik hormone estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari system saraf pusat
atau akibat berkurangnya pengosongan lambung.
Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda,
bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit
dengan alkalosis hipokloremik. Belum jelas mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi pada
sebagian kecil wanita, tgetapi factor psikologik merupakan factor utama, disamping pengaruh
hormonal
Hiperemesis gravidarum ini bisa mengakibatkan cadangan karbohirat dan lemak habis
terpakai untuk keperluan energy karena oksidasi lemak yang tidak sempurna, terjadilah
ketosis dengan timbulnya asam aseton – asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah.
Kekurangan cairan yamg diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan
dehidrasi, sehingga cairan ekstraselular dan plasma berkurang. Natrium klorida darah
turun,demikian pula klorida air kemih. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi,
sehingga aliran darah kejaringan berkurang hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan
oksigen kejaringan berkurang pula dan tertimbunnya zat metabolic yang toksik. Kekurangan
kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, menambah
frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati, danterganggunya
keseimbangan elektrolit, dapt terjadi robekan pada selaput lendir esophagus dan
lambung,dengan akibat perdarahan gastro intestinal.
Meningkatnya kadar estrogen. Pengaruh estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem
syaraf pusat atau akibat dari pengosongan asam lambung.
Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekresi lewat ginjal
menambah frekuensi muntah-muntah yang berlebihan, yang dapat merusak hati.
Dapat terjadi robekan pada selaput lendir esophalus dan lambung. (Prawihardjo: 277)
2.1.5 Diet Pada Ibu Hamil Dengan Hyperemesis Gravidarum
Makanan yang perlu di hindari adalah lemak dan makanan yang berminyak yang cenderung
menimbulkan rasa mual. Karena itu disarankan untuk tidak mengkonsumsi makanan yang
digoreng. Mentega, margarin , minyak, daging babi asin,saos selada, kue kering, kulit kue tart
dan kuah daging hanya boleh dimakan sedikit. Bawang merah dan putih, merica, cabe, serta
bumbu sebaiknya dihindari. Makanan yang dapat menimbulkan gas (ketimun, brokoli, kol,
bawang, lobak cina dan kacang kering juga tidak boleh disantap. (Arisman, 2004: 23)
2.1.6 Penanganan
2.1.6.1 Beritahu ibu tentang keadaan umum ibu dan keadaan kehamilannya.
2.1.6.2 Lakukan pencegahan dengan memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan
dan kepada ibu-ibu dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut, juga tentang diet
ibu hamil, makan jangan sekaligus banyak, tetapi dalam porsi sedikit-sedikit namun sering
jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi, akan terasa mual dan muntah. Defekasi
hendaknya diusahakan teratur.
2.1.6.3 Berikan terapi obat menggunakan sedative (luminal, stesolid), Vitamin (B1 dan B6),
anti muntah ( mediamer B6, Drammamin, Auopres, Avomin, Torecan), antacid.
2.1.6.4 Anjurkan bagi ibu hamil yang mengalami hiperemis gravidarum tingkat II dan III
harus dirawat inap di rumah sakit.
2.1.6.5 Beritahukan kadang-kadang pada beberapa wanita hanya tidur di rumah sakit saja,
telah banyak mengurangi mual dan muntahnya.
2.1.6.6 Berikan terapi psikologik yaitu pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang
wajar, normal, dan fisiologis, jadi tidak perlu takut dan khawatir. Cari dan coba hilangkan
factor psikologis seperti keadaan social ekonomi dan pekerjaan serta lingkungan.
2.1.6.7 Berikan penambahan cairan yaitu infuse dekstrosa atau glukosa 5% sebanyak 2 – 3
liter dalam 24 jam.
2.1.6.8 Berikan obat-obatan seperti telah dikemukakan diatas.
2.1.6.9 Beritahukan kepada ibu hamil yang menderita hipermesis gravidarum, pada beberapa
kasus dan bila terapi tidak dapat dengan cepat memperbaiki keadaan umum penderita, dapat
dipertimbangkan suatu abortus buatan.
(mochtar, 1998 : 196).
2.1.7 Penatalaksanaan
2.1.7.1 Memberitahukan ibu tentang keadaan umum ibu dan keadaan kehamilannya
2.1.7.2 Melakukan pencegahan dengan memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan
kepada ibu hamil yang menderita hyperemesis gravidarum dengan maksud menghilangkan
factor psikis rasa takut, tentang diet ibu hamil, makan jangan sekaligus banyak tetapi dalam
porsi sedikit namun sering dan jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi karena dapat
merangsang mual dan muntal kembali.
2.1.7.3 Memberikan terapi obat menggunakan sedative (luminal, stesolid), vitamin (B1dan
B6), anti muntah (mediamer B6, dramamamin, auopres, avomin, torecan), antacid.
2.1.7.4 Menganjurkan bagi ibu hamil yang menderita hiperemesis gravidarum tingkat I dan II
harus dirawat inap dirumah sakit.
2.1.7.5 Memberitahukan pada beberapa ibu hamil yang menderita hiperemesis hanya dengan
beristirahat tidur ditempat tidur saja telah dapat membantu mengurangi mual dan muntahnya.
2.1.7.6 Memberikan terapi psikologik yang pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal
yang wajar, normal dan fisiologis jadi tidak perlu takut dan khawatir. Coba hilangkan factor
psikologik seperti keadaan social ekonomi dan pekerjaan serta lingkungan.
2.1.7.7 Memberikan penambahan cairan atau infuse dekstrosa atau glukosa 5 % sebanyak 2 –
3 liter dalam 24 jam. Jika diperlukan.
2.1.7.8 Menganjurkan pemeriksaan kehamilan lebih sering ke dokter.
2.1.7.9 Menjelaskan kepada ibu pentingnya tanda-tanda bahaya kehamilan.
2.1.7.10 Memberitahukan pada ibu hamil yang menderita hiperemesis gravidarum, beberapa
kasus dan bila terapi sudah dapat dengan cepat memperbaiki keadaan umum penderita dapat
dipertimbangkan suatu abortus buatan.
( Diktat Asuhan kebidanan I )
2.1.8 Evaluasi
2.1.8.1 Ibu sudah mengetahui keadaan dirinya dan kehamilannya
2.1.8.2 Ibu sudah tahu cara pencegahannya
2.1.8.3 Ibu telah mendapat terapi obat
2.1.8.4 Ibu bersedia untuk beristirahat
2.1.8.5 Ibu tahun tentang terapi psikologik
2.1.8.6 Ibu akan rajin untuk selalu memeriksakan kehamilannya.
2.1.8.7 Ibu tahu tentang tanda-tanda bahaya kehamilan.
2.1.8.8 Ibu bersedia untuk selalu datang setiap kunjungan ulang berikutnya atau bila ada
keluhan.
2.2 Konsep Asuhan Kebidanan
2.2.1 Pengkajian
2.2.1.1 Identitas
a. Nama Klien
Digunakan untuk membedakan antara klien satu dengan yang lainnya (Manuaba, 1998 : 326)
b. Umur
Digunakan untuk mengetahui masa reproduksi klien beresiko tinggi atau tidak. Wanita hamil
umumnya tidak boleh kurang dari 16 tahun dan lebih dari 35 tahun. (Manuaba, 1998 : 326)
c. Kebangsaan
Sebagian masyarakat beranggapoan bahwa wanita kullit hitam lebih kuat dari pada kulit
putih. (Manuaba, 1998 : 326)
d. Agama
untuk memudahkan dalam memberikan nasehat spiritual sesuai dengan kepercayaan yang
dianut. (Manuaba, 1998 : 326)
e. Pendidikan
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien, sehingga dalam memberikan asuhan
disesuaikan dengan tingkat pengetahuan. (Manuaba, 1998 : 326)
f. Pekerjaan
Untuk mengetahui tingkat ekonomi klien. (Manuaba, 1998 : 326)
g. Alamat
Untuk memudahkan dimana tempat tinggal klien, sehingga memudahkan petugas kesehatan
dalam melakukan kunjungan rumah(Manuaba, 1998 : 326)
2.2.1.2 Anamnesa
Pada tanggal ………………….pukul…………
1. Alasan kunjungan ini
Untuk mengetahui berapa kali ibu memeriksakan kehamilannya.
2. Riwayat Kehamilan
a. Riwayat Mesntruasi
Yang perlu ditanyakan adalah :
menarche untuk mengetahui keadaan alat kelamin dalam normal atau tidak, siklus menstruasi
untuk mengetahui adanya penyakit yang menyertai. Haid terakhir lamanya, banyaknya darah
yang keluar, konsistensinya, teratur tidaknya haid yang digunakan untuk membantu diagnosa
lamanya kehamilan dan untuk memperhitungkan taksiran persalinan.
b. Pergerakan anak
Pada kasus Hyperemesis Gravidarum pergerakan belum dirasakan karena pada kasus ini
terjadi pada trimester I.
c. Tanda- tanda kehamilan
Pada kasus hamil untuk menemukan apakah kehamilan ini diketahui melalui proses
pemeriksaan laboratorium.
d. Keluhan
Pada kasus hyperemesis gravidarum biasanya klien mengeluh mual dan muntah yang
berlebihan.
e. Diet / makan
Makan dan jenis makanan pada kasus hyperemesis gravidarum makanan yang berlemak
merangsang mempengaruhi ibu yang mengakibatkan tidak nafsu makan.
f. Pola eliminasi
Pada kasus hyperemesis gravidarum biasanya pasien BAB mengalami konstipasi dan
BAKnya mengalami oliguri.
g. Aktivitas sehari – hari
Pada kasus hyperemesis gravidarum aktivitanya terganggu karena biasanya badanya terasa
lemah.
h. Imunisasi TT
Untuk mencegah tetatus nenatorum, maka ibu hamil sebaiknya mendapatkan imunisasi TT2
kali dengan interval 4 minggu dari TT1.
i. Kontrasepsi yang pernah digunakan
Untuk mengetahui kontrasepsi apa yang pernah digunakan.
3. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu
Untuk mengetahui masalah atau gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan
melahirkan yang ditanyakan berapa kali itu hamil atau sekarang ini putra yang keberapa.
4. Riwayat Penyakit yang pernah diderita
Karena penyakit yang pernah diderita dapat timbul kembali karena keadaan ibu yang lemah
pada waktu kehamilan atau setelah melahirkan nanti. Pertanyaan yang diajukan nanti adalah
apakah pernah menderita penyakit hepatitis yang bisa menurun pada bayi melalui trans
plasenta, penyakit jantung, paru-paru, diabetes mellitus, gemelli, apakah alergi terhadap
makanan dan obat-obatan, apakah punya kebiasaan merokok dan minum jamu-jamuan.
5. Susunan keluarga yang tinggal dirumah.
Digunakan untuk mengetahui struktur keluarga yang tinggal serumah, serta berapa besar
tanggungan hidup keluarga yang dapat berpengaruh pada kehamilan.
Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, nifas untuk mengetahui
apakah ibu punya keyakinan dengan kehamilan, persalinan, nifas atau tidak.
6. Riwayat kesehatan keluarga.
Karena dalam kehamilan daya tahan tubuh ibu menurun bila ada penyakit yang menular
dapat lekas menular kepada ibu dan mempengaruhi janin.
( Prawirohardjo : 2002 : 278 )
2.2.1.3 Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum Keadaan emosional Kesadaran
2. Tanda-tanda vital Tensi Pulse (nadi) ::::: Pada kasus hiperemesis gravidarum umumnya
lemah.StabilMenurun dari composmentis sampai komaPada kasus hiperemesis gravidarum
100/60 mmHg, normalnya : 120/80 mmHg. Pada kasus hiperemesis gravidarum denyut
nadinya meningkat > 100 x menit.(Prawirohardjo, 2002 : 278)
3. Muka
Kelopak mata : Cekung
Konjungtiva : Pucat
Sklera : Putih
Cloasma gravidarum : ada atau tidak ada.
Oedem : ada atau tidak ada
4. Hidung
Polip : ada atau tidak ada
Pendarahan : ada atau tidak ada
Sekret : ada atau tidak ada
Peradangan : ada atau tidak ada
5. Mulut dan Gigi
Caries : ada atau tidak ada
Gusi : ada pendarahan atau tidak ada
Tonsil : ada pembengkakan atau tidak ada
6. Telinga
Sekret : tidak ada
7. Kelenjar tiroid : tidak ada
8. Kelenjar limfe : tidak ada
9. Dada
Jantung : ictus cordis regular
Paru-paru : tidak ada ronchi dan wheezing
Payudara
- Bentuk : simetris
- Kebersihan : bersih
- Benjolan : tidak ada
- Rasa Nyeri : tidak ada
10. Punggung dan pinggang
Posisi tulang belakang : lordosis
Pinggang nyeri : tidak ada nyeri ketuk
11. Ekstermitas atas dan bawah
Oedema kanan / kiri : tidak ada
Kekakuan sendi dan otot : tidak ada
varises kanan/kiri : tidak ada
Reflek patella : kanan/kiri positif
12. Abdomen
Linea : Tidak ada
Striae : Tidak ada
Pembesaran : sesuai umur kehamilan atau tidak
Benjolan : tidak ada
Konsistensi : lembek
13. TFU
Leopold I
a. Pemeriksa menghadap kearah muka ibu hamil
b. Menentukan tinggi fundus uteri dan bagian dalam fundus
c. Konsistensi uterus
Leopold II
a. Menentukan batas samping rahim kanan dan kiri
b. Menentukan letak punggung janin
Leopold III
a. Menentukan apa yang terdapat dibagian terbawah
b. Untuk menentukan bagian terbawah janin apakah bagian tersebut sudah masuk pintu atas
panggul atau belum ( jika belum bagian terbawah tersebut dapat digoyangkan )
Leopold IV
a. Pemeriksaan menghadap kearah kiri ibu hamil
b. Seberapa jauh bagian terbawah janin masuk pintu atas panggul.
( Mochtar : 1990;92 )
14. Fetus
DJJ : belum terdengar
15. Anogenital
Vagina : Terdapat tanda chadwick, elastisitas bertambah, tidak ada pembengkakan kelenjar
bartolini dan skene.
Anus : Tidak ada haemoroid
2.2.2 Interprestasi Data
DiagnosaDasarMasalahKebutuhan :::: G…P…A…, Gravida….minggu, janin teraba
balotement dengan keadaan ibu hamil mengalami hiperemesis gravidarum tingkat I /ringan.a.
Muntah > 10 x dalam 24 jamb. Mata cekungc. Bibir keringd. Berat badan turune. Tekanan
darah sistole 90-130 mmHg, diastole 60-90 mmHgf. Pernafasan 16-20 x/menitg. Nadi 60-100
x/menith. Suhu 36-37 0CIbu merasa cemas Konseling lebih lanjut
2.2.3 Indentifikasi Diagnosa / Masalah Potensial
Pada langkah ini dapat diidentifikasi diagnosa atau masalah potensial lain berdasarkan
rangkaian masalah atau diagnosa yang sudah teridentifikasi.
Diagnosa potensial
Pada janin : IUGR, Abortus
Pada ibu : Hyperemesis gravidarum sedang / tingkat II
2.2.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
Dalam teori mengatakan bagi penderita hiperemesis gravidarum tingkat I tidak diperlukan
kolaborasi dengan SpOG. (Mochtar, 1998 : 195).
2.2.5 Perencanaan Asuhan secara menyeluruh
2.2.5.1 Kaji ulang keluhan ibu.
2.2.5.2 Berikan konseling tentang tanda bahaya kehamilan → penglihatan menjadi kabur,
kepala pusing, nyeri perut yang hebat, oedema muka, tangan, dan kaki, pendarahan
pervaginam.
2.2.5.3 Anjurkan ibu makan yang tidak merangsang mual dan berminyak.
2.2.5.4 Anjurkan makan sedikit tapi sering
2.2.5.5 Anjurkan banyak minum air.
2.2.5.6 Hindari minuman atau makanan yang asam untuk mengurangi iritasi lambung.
2.2.5.7 Berikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu dengan maksud
menghilangkan factor psikis rasa takut.
2.2.5.8 Berikan terapi obat sedative, vitamin B1 dan B6, anti muntah (Mediamer B6,
Drammamin, Avomin, Torecan); antasida dan anti mulas.
2.2.5.9 Anjurkan pemeriksaan hamil lebih sering.
2.2.5.10 Segera datang bila terjadi keadaan abnormal ( Diktat Asuhan Kebidanan I )
2.2.6 Pelaksanaan
2.2.6.1 Mengkaji ulang keluhan ibu.
2.2.6.2 Memberikan konseling tentang tanda bahaya kehamilan → penglihatan menjadi
kabur, kepala pusing, nyeri perut yang hebat, oedema pada muka, tangan dan kaki,
perdarahan pervaginam.
2.2.6.3 Menganjurkan ibu untuk tidak makan makanan yang berminyak karena dapat
merangsang kembali mual.
2.2.6.4 Menganjurkan ibu makan sedikit tapi sering
2.2.6.5 Menganjurkan banyak minum air.
2.2.6.6 Menghindari minuman atau makanan yang asam untuk mengurangi iritasi lambung.
2.2.6.7 Memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu dengan maksud
menghilangkan factor psikis rasa takut.
2.2.6.8 Memberikan terapi obat sedative, vitamin B1 dan B6, anti muntah (mediamer, B6,
Drammamin, Avopreg, Avomin, Torecan, Antisida dan anti mulas).
2.2.6.9 Menganjurkan pemeriksaan hamil lebih sering.
2.2.6.10 Menganjurkan segera datang bila terjadi keadaan abnormal. ( Diktat Asuhan
Kebidanan I )
2.2.7 Evaluasi
2.2.7.1 Ibu mengerti dan bisa mengulangi konseling yang diberikan.
2.2.7.2 Ibu bersedia untuk tidak makan-makanan yang berminyak
2.2.7.3 Ibu bersedia makan sedikit tapi sering
2.2.7.4 Ibu bersedia banyak minum
2.2.7.5 Ibu bersedia untuk tidak memakan makanan dan meminum-minuman yang asam
2.2.7.6 Ibu tahu dan mengerti tentang keadaan kehamilannya
2.2.7.7 Ibu telah mendapatkan terapi obat
2.2.7.8 Ibu bersedia untuk datang pada kunjungan ulang berikutnya ( Diktat Asuhan
Kebidanan I )
ABORTUS INKOMPLIT
Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized
Tag:kuliah ASKEB 4
0
A. KONSEP ABORTUS SPONTAN
1. Pengertian
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan oleh akibat – akibat tertentu pada atau sebelum
kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di
luar kandungan (Prawirohardjo,2006).
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sebelum janin mampu hidup diluar kandungan
(Nugroho,2010)
Abortus spontan adalah abortus yang terjadi secara alamiah tanpa intervensi dari luar untuk
mengakhiri kehamilan tersebut, terminologi umum untuk masalah ini adalah keguguran
seperti abortus imminens, insipiens, komplit, inkomplit, dan missed abortion. Sedangkan
abortus buatan adalah abortus yang terjadi akibat intervensi tertentu yang bertujuan untuk
mengakhiri proses kehamilan, terminologi untuk keadaan ini adalah pengguguran, aborsi atau
abortus provokatus (Prawirohardjo,2006).
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan, sedangkan abortus inkomplit adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari
kavum uteri dan masih ada yang tertinggal (Manuaba, 2008).
Abortus inkomplit adalah dimana sebagian jaringan hasil konsepsi masih tertinggal di dalam
uterus dimana pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis masih terbuka dan teraba jaringan
dalam kavum uteri atau menonjol pada ostium uteri eksternum, perdarahannya masih terjadi
dan jumlahnya bisa banyak atau sedikit bergantung pada jaringan yang tersisa, yang
menyebabkan sebagian placental site masih terbuka sehingga perdarahan berjalan terus
(Saifuddin, 2002).
Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu, di mana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi
serviks. Abortus insipiens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu, dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil
konsepsi masih berada di dalam uterus (Prawirohardjo,2006)
Abortus imminens adalah abortus yang mengancam, perdarahannya bisa berlanjut beberapa
hari atau dapat berulang. Dalam keadaan ini kehamilan masih mungkin berlanjut atau
dipertahankan. Beberapa kepustakaan menyebutkan beberapa resiko dapat terjadi seperti
prematuritas dan gangguan pertumbuhan janin dalam rahim (Sujiyatini dkk,2009)
Abortus insipiens di diagnosis apabila pada wanita hamil ditemukan perdarahan banyak,
kadang – kadang disertai gumpalan darah disertai nyeri karena kontraksi rahim kuat dan
ditemukan adanya dilatasi servik sehingga jari pemeriksa dapat masuk dan ketuban dapat
diraba. Kadang-kadang perdarahan dapat menyebabkan kematian ibu dan jaringan yang
tertinggal dapat menyebabkan infeksi sehingga evakuasi harus segera dilakukan (Sujiyatini
dkk,2009)
2. Manifestasi klinis
Karena abortus spontan banyak jenisnya maka untuk lebih memudahkan berikut beberapa
macam abortus dan manifestasi klinisnya :
Tabel 2.1 Manifestasi Klinis Abortus (Manuaba,2007)
Jenis abortus Manifestasi klinisnya
Abortus imminen a. Terasa nyeri / kram ringan pada abdomen
b. Disertai perdarahan ringan, encer
c. Perdarahan bercak, dan sedang
d. Pemeriksaan dalam/spekulum:
1) Servik tertutup
2) Hegar positif
3) Piskacek positif
4) Chadwieck positif
e. Pembesaran uterus sesuai usia kehamilan
f. Hasil konsepsi masih dalam uterus
g. Tes kehamilan positif
Abortus insipien
a. Terasa nyeri / kram berat
b. Perdarahan banyak bahkan disertai gumpalan
c. Pemeriksaan dalam :
1) Servik membuka
2) Ketuban menonjol
3) Terasa kontraksi uterus berlanjut
d. Pembesaran uterus sesuai usia kehamilan
e. Belum terjadi ekspulsi hasil konsepsi
f. Tes kehamilan mungkin masih positif
Abortus inkomplit
a. Nyeri hebat
b. Perdarahan banyak
c. Sudah terjadi abortus dengan mengeluarkan jaringan tetapi sebagian masih berada di dalam
uterus
d. Pemeriksaan dalam :
1) Servik masih membuka, mungkin teraba jaringan sisa
2) Perdarahan mungkin bertambah setelah pemeriksaan dalam
e. Pembesaran uterus sesuai usia kehamilan
f. Tes kehamilan mungkin masih positif akan tetapi kehamilan tidak dapat dipertahankan.
Abortus komplit a. Nyeri perut sedikit
b. Ekspulsi total jaringan hasil konsepsi
c. Perdarahan sedikit
d. Pemeriksaan dalam
1) Servik terbuka sedikit terkadang sudah menutup
2) Jaringan kosong
3) Perdarahan minimal
e. Uterus besarnya kecil dari usia kehamilan
f. Tidak ada lagi gejala kehamilan dan tes kehamilan negative
Abortus tertunda (missed abortion) a. Janin sudah meninggal dalam rahim tetapi tidak
dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.
b. Tanpa ada rasa nyeri
c. Perdarahan bisa ada, bisa tidak
d. Payudara terasa mengecil
e. Hilangnya tanda – tanda kehamilan
g. Berat badan ibu menurun
h. Besar uterus lebih kecil dari umur kehamilan
Abortus sepsis a. Disertai rasa nyeri dan panas
b. Perdarahan ringan dari jalan lahir dan berbau
c. Rahim terasa nyeri saat perabaan
d. Adanya tanda – tanda infeksi pada genitalia
Abortus habitualis Abortus spontan yang terjadi 3 kali berturut – turut atau lebih
Gb. 2.1 Kondisi rahim sesuai dengan jenis abortus (Prawirohardjo,2006)
3. Etiologi
Abortus inkomplit merupakan salah satu abortus spontan, banyak faktor penyebab terjadinya
abortus spontan.
Penyebab abortus spontan (Manuaba,2009) :
a. Faktor genetik
1) Kelainan kromosom
Kelainan kromosom yang sering ditemukan pada abortus spontan adalah trisomi, monosomi,
triploid/tetraploid
2) Abortus dua kali karena kelainan kromosom terjadi 80%
3) Sindrom Ehlers – Danlos
Yaitu suatu keadaan membran endometrium sangat rapuh sehingga mudah ruptur atau pecah
(rupture membrane abortus spontan)
b. Faktor hormonal
1) Defisiensi luetal
2) Abortus berulang karena faktor hormonal sekitar 35 – 50%
3) Ibu hamil menderita penyakit hormonal. Seperi diabetes mellitus dan gangguan kelenjar
tyroid
c. Kelainan anatomi uterus
1) Sub mukosa mioma uteri
2) Kelainan kongenital uterus seperti, septum, uterus arkuatus yang berat, terdapat polip uteri
3) Serviks inkompeten
d. Faktor infeksi genitalia interna
1) Toxoplasmosis
2) Sitomegalovirus
3) Rubela
4) Herpes simpleks
5) Infeksi endometrium (klamidia, toksoplasmosis, mycoplasma hominis
e. Intoksikasi agen eksternal
1) Intoksikasi bahan anestesi
2) Kecanduan (alkohol. Perokok, agen lainnya)
f. Postur ibu hamil
1) Kurus, BB kurang dari 40 kg
2) Gemuk, BB diatas 80 kg
g. Faktor paternal
1) Hiperspermatozoa, jumlah sperma lebih dari 250 juta
2) Oligospermatozoa, jumlah sperma kurang dari 20 juta
3) Prinsipnya kekurangan DNA
h. Faktor imunologis
1) Faktor alloimmune
a) Penolakan maternal terhadap hasil konsepsi yang mengadakan implantasi
b) Jika tipe homolog HLA atau antipaternal antibody tinggi, akan berlangsung abortus
c) Kehamilan dipertahankan oleh komponen :
(1) Lokal autoimmune reaksi sehingga menetralkan antipaternal antibody yang dijumpai pada
sebagian ibu hamil
(2) Faktor hormonal dari plasenta yaitu human chorionic gonadotropin dan progesterone
2) Faktor antibody autoimun, terutama :
a) Antibody antiphosfolipid :
(1) Menimbulkan thrombosis, infrak plasenta, perdarahan
(2) Gangguan sirkulasi dan nutrisi menuju janin dan diikuti abortus
(3) Antibody anticardiolipin, dalam lupus anticoagulant (LAC)
(4) Menghalangi terbentuknya jantung janin sehingga akan menyebabkan abortus.
Nugroho juga membagi faktor pencetus terjadinya abortus menjadi dua (Nugroho,2010)
a. Faktor fetal
Sekitar 2/3 dari abortus spontan pada trimester pertama merupakan anomaly kromosom
dengan ½ dari jumlah tersebut adalah trisomi autosom dan sebagian lagi merupakan triploidi,
tetraploidi atau monosomi 45X.
b. Faktor maternal
1) Faktor – faktor endokrin
a) Beberapa gangguan endokrin telah terlibata dalam abortus spontan berulang, termasuk
diantaranya adalah diabetes mellitus tak terkontrol, hipo dan hipertiroid, hiperkresi
luteinizing hormone, insufisiensi korpus luteum atau disfungsi fase luteal dan penyakit
polikistik ovarium
b) Pada perkembangan terbaru peranan hiperandrogenemia dan hiperprolaktinemia telah
dihubungkan dengan terjadinya abortus berulang
2) Faktor – faktor anatomi
a) Anomaly uterus termasuk malformasi kongenital, defek uterus yang di dapat , leiomioma
dan inkompetensia serviks.
b) Meskipun anomali – anomali ini sering dihubungkan dengan abortus spontan, insiden,
klasifikasi dan peranannya dalam etiologi masih belum diketahui secara pasti . Penelitian lain
menunjukkan wanita dengan anomali didapat seperti asherman’s syndrome, adhesi uterus dan
anomali didapat melalui paparan dietilestilbestrol memiliki angka kemungkinan hidup fetus
yang lebih rendah dan meningkatnya angka kejadian abortus.
3) Faktor – faktor immunologi
a) Pada kehamilan normal, system imun maternal tidak bereaksi terhadap spermatozoa atau
embrio, namun 40% pada abortus berulang diperkirakan secara imunologis kehadiran fetus
tidak dapat di terima.
b) Respon imun dapa dipicu oleh beragam faktor endogen dan eksogen, termasuk
pembentukan antobodi antiparental, gangguan autoimun yang mengarah pada pembentukan
antibodi autoimun (antibody antifosfolipid, antibody antinuclear, aktivasi sel B poliklonal),
infeksi, bahan – bahan toksik dan stress.
4) Trombofilia
a) Trombofilia merupakan keadaan hiperkoagulasi yang berhubungan dengan predisposisi
terhadap trombolitik
b) Kehamilan akan mengawali keadaan hiperkoagulasi dan melibatkan keseimbangan antara
jalur prekoagulan dan antikoagulan
c) Trombofilia dapat merupakan kelainan yang herediter atau didapat
d) Terdapat hubungan antara antibodi antifosfolipid yang didapat dan abortus berulang dan
semacam terapi dan kombinasi terapi yang melibatkan heparin dan aspirin telah
direkomendasikan untuk menyokong pemeliharaan kehamilan sampai persalinan.
e) Pada sindrom antifosfolipid, antibodi fosfolipid mempunyai hubungan dengan kejadian
trombisis vena, trombosis arteri, abortus atau trombositopenia. Namun, mekanisme pasti yang
menyebabkan antibodi fosfolipid mengarah ke trombosis masih belum diketahui
f) Pada perkembangan terbaru, beberapa gangguan trombolitik yang herediter atau didapat
telah dihubungkan dengan abortus berulang termasuk faktor V leiden, defisiensi protein
antikoagulan dan antitrombin, hiperhomosistinemia, mutasi genetik protrombin, dan mutasi
homozigot pada gen metileneterhidrofolat reduktase.
5) Infeksi
a) Infeksi – infeksi maternal yang memperlihatkan hubungan yang jelas dengan abortus
spontan termasuk sifilis, parvovirus B19, HIV dan malaria.
b) Brusellosis, suatu penyakit zoonosis yang paling sering menginfeksi manusia melalui
produk susu yang tidak dipasteurisasi juga dapat menyebabkan abortus spontan.
6) Faktor – faktor eksogen
Meliputi bahan – bahan kimia :
a) Gas anestesi
(1) Nitrat oksida dan gas – gas anestesi lainnya diyakini sebagai faktor resiko untuk
terjadinya abortus spontan.
(2) Pada suatu tinjauan oleh Tannebaum dkk, wanita yang bekerja dikamar operasi sebelum
dan selama kehamilan mempunyai kecendrungan 1,5 sampai 2 kali untuk mengalami abortus
spontan.
(3) Pada suatu penelitian meta-analisis yang baru, hubungan antara pekerjaaan maternal yang
terpapar gas anestesi dan resiko abortus spontan digambarkan adalah 1,48 kali dari pada yang
tidak terpapar.
b) Air yang tercemar
(1) Suatu penelitian prospektif di California menemukan hubungan bermakna antara resiko
abortus spontan pada wanita yang terpapar trihalometanan dan terhadap salah satu
turunannya, bromodikhlorometana.
(2) Demikian juga dengan wanita yang tinggal di daerah Santa Clara, daerah yang dengan
kadar bromide pada air permukaan paling tinggi tersebut, memiliki resiko 4 kali lebih tinggi
untuk mengalami abortus spontan.
c) Dioxin
Dioxin telah terbukti menyebabkan kanker pada manusi dan binatang dan menyebabkan
anomali reproduksi pada binatang. Beberapa penelitian pada manusai menunjukkan
hubungan antara dioxin dan abortus spontan.
d) Pestisida
Resiko abortus spontan telah diteliti pada sejumlah kelompok pekerja yang menggunakan
pestisida
7) Gaya hidup merokok dan alkoholisme
Penelitian epidemiologi mengenai merokok tembakau dan abortus spontan menemukan
bahwa merokok dapat sedikit meningkatkan resiko untuk terjadinya abortus spontan. Namun
hubungan antara merokok dan abortus spontan tergantung pada faktor–faktor lain termasuk
konsumsi alkohol, perjalanan reproduksi, waktu gestasi untuk abortus spontan, kariotipe fetal,
dan status sosial ekonomi.
Peningkatan kejadian abortus spontan pada wanita alkoholik mungkin berhubungan dengan
akibat tak langsung dari gangguan terkait alkoholisme.
8) Radiasi
Radiasi ionisasi dikenal menyebabkan gangguan hasil reproduksi termasuk malformasi
kongenital, restriksi pertumbuhan intrauterine dan kematian embrio.
Sedangkan menurut Sarwono hal – hal yang menyebabkan abortus spontan dibagi atas :
(Prawirohardjo,2006)
a. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat.
Kelainan berat biasanya menyebabkan kematian mudigah pada hamil-hamil muda. Faktor-
faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan diantaranya:
1) Kelainan kromosom. Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan ialah trisomi,
poliploidi dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks
2) Lingkungan kurang sempurna. Bila lingkungan di endometrium disekitar tempat
implantasi kurang sempurna, pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi akan terganggu
3) Pengaruh dari luar. Radiasi, virus, obat-obat, dan sebagainya dapat mempengaruhi baik
hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus. Pengaruh ini umumnya
dinamakan pengaruh teratogen.
b. Kelainan plasenta
Endarteritis dapat terjadi pada vili koriales dan menyebabkan oksigenisasi plasenta
terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini
bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun.
c. Penyakit ibu
Biasanya penyakit maternal berkaitan dengan abortus euploidi. Peristiwa abortus tersebut
mencapai puncaknya pada kehamilan 13 minggu, karena pada saat terjadinya abortus lebih
belakangan, pada sebagian kasus dapat ditentukan etiologi abortus yang dapat dikoreksi.
Sejumlah penyakit, kondisi kejiwaan dan kelainan perkembangan pernah terlibat dalam
peristiwa abortus euploidi.
Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria dan lain-lain
dapat menyebakan abortus. Toksin, bakteri, virus, atau plasmodium dapat melalui plasenta
masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin, dan kemudian terjadilah abortus.
Anemia berat, keracunan, laparotomi, peritonitis umum, dan penyakit menahun seperti
brusellosis, mononukleosis, infeksiosa, toksoplasmosis, juga dapat menyebabkan abortus
walaupun lebih jarang.
d. Kelainan traktus genitalis
Retroversio uteri, mioma uteri atau kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan abortus.
Tetapi harus diingat bahwa hanya retroversio uteri gravidi inkarserata atau mioma submukosa
yang memegang peranan penting. Sebab lain abortus dalam trimester ke II adalah servik
inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan pada servik, dilatasi servik berlebihan,
konisasi, amputasi, atau robekan servik yang tidak dijahit.
4. Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis
jaringan sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau
seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus
berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil
konsepsi itu biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi korialis belum menembus desidua
secara mendalam. Pada kehamilan antara 8 sampai 14 minggu villi korialis menembus
desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat
menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu keatas umumnya yang
dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin, disusul beberapa waktu kemudian plasenta.
Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap. Peristiwa abortus ini
menyerupai persalinan dalam bentuk miniature.
Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Ada kalanya kantong
amnion kosong atau tampak di dalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas dan mungkin
pula janin telah mati lama. Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu yang
cepat maka ia dapat diliputi oleh lapisan bekuan darah, isi uterus dinamakan mola kruenta.
Bentuk ini menjadi mola karnosa apaila pigmen darah telah diserap dan dalam sisanya terjadi
organisasi sehingga semuanya tampak seperti daging. Bentuk lain adalah mola tuberose,
dalam hal ini amnion tampak berbenjol – benjol karena terjadi hematoma antara amnion dan
korion.
Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses mumifikasi
diamana janin mengering dan karena cairan amnion berkurang maka ia jadi gepeng (fetus
kompressus). Dalam tingkat lebih lanjut ia menjadi tipis seperti kertas perkamen (fetus
papiraseus)
Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak segera dikeluarkan adalah terjadinya maserasi,
kulit terkupas, tengkorak menjadi lembek, perut membesar karena terisi cairan dan seluruh
janin berwarna kemerah – merahan dan dapat menyebabkan infeksi pada ibu apabila
perdarahan yang terjadi sudah berlangsung lama.(Prawirohardjo,2005),
5. Diagnosa dan Prognosa
Abortus dapat diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang
perdarahan pervaginam setelah mengalami haid terlambat, sering terdapat pula terasa mules.
Kecurigaan tersebut diperkuat dengan ditentukannya kehamilan muda pada pemeriksaan
bimanual dan dengan tes kehamilan secara biologis atau imunologik. Harus diperhatikan
macam dan banyaknya perdarahan, pembukaan servik dan adanya jaringan dalam kavum
uteri atau vagina (Prawirohardjo,2006)
Dugaan abortus diperlukan beberapa kriteria sebagai berikut :
a. Terdapat keterlambatan datang bulan
b. Terjadi perdarahan
c. Disertai sakit perut
d. Dapat diikuti oleh pengeluaran hasil konsepsi
e. Pemeriksaan tes hamil dapat masih positif atau sudah negatif.
Hasil pemeriksaan fisik terhadap penderita bervariasi
a. Pemeriksaan fisik bervariasi tergantung jumlah perdarahan
b. Pemeriksaan fundus uteri :
1) Tinggi dan besarnya fundus tetap dan sesuai usia kehamilan
2) Tinggi dan besarnya sudah mengecil
3) Fundus uteri tidak teraba diatas simfisis
Pemeriksaan dalam :
a. Servik uteri masih tertutup
b. Servik sudah terbuka dan dapat teraba ketuban dan hasil konsepsi dalam kavum uteri atau
pada kanalis servikalis
c. Besarnya rahim atau uterus mengecil
d. Konsistensinya lunak.
(Sujiyatini,2009)
Sebagai kemungkinan diagnosis lain harus dipikirkan yaitu kehamilan ektopik yang
terganggu, mola hidatidosa, kehamilan dengan kelainan pada servik. Untuk penegakan
diagnose disesuaikan dengan gejala klinis masing – masing abortus. Sedangkan untuk
prognosa abortus juga tergantung pada jenis abortus dan kondisi pasien
(Prawirohardjo,2006).
6. Penatalaksanaan
Penanganan umum :
a. Lakukan penilaian awal untuk menentukan kondisi pasien (gawat darurat, komplikasi berat
atau masih cukup stabil)
b. Pada kondisi gawat darurat, segera upayakan stabilisasi pasien sebelum melakukan
tindakan lanjutan (yindakan medic atau rujukan)
c. Penilaian medic untuk menentukan kelaikan tindakan di fasilitas kesehatan setempat atau
dirujuk kerumah sakit.
1) Bila pasien syok atau kondisinya memburuk akibat perdarahan hebat segera atasi
komplikasi tersebut
2) Gunakan jarum infuse besar (16G atau lebih besar) dan berikan tetesan cepat (500 ml
dalam 2 jam pertama) larutan garam fisiologis atau Ringer
d. Periksa kadar Hb, golongan darah dan uji padanan silang (crossmatch)
a. Bila terdapat tanda – tanda sepsis, berikan antibiotic yang sesuai
b. Temukan dan hentikan segera sumber perdarahan
c. Lakukan pemantauan ketat tentang kondisi pasca tindakan dan perkembangan lanjut
(Prawirohardjo,2006)
Tabel 2.2 Penatalaksanaan abortus sesuai dengan jenis abortus (Prawirohardjo,2006)
Jenis abortus Penatalaksanaannya
Abortus imminen a. Tidak diperlukan pengobatan medic yang khusus
b. Istirahat (tirah baring), agar aliran darah ke uterus meningkat dan ransang mekanik
berkurang
c. Anjurkan untuk tidak melakukan aktifitas berlebihan atau melakukan hubungan seksual
d. Bila perdarahan berhenti lakukan asuhan antenatal terjadwal
e. Bila perdarahan berlanjut, nilai kondisi janin melalui tes kehamilan atau USG
Abortus insipiens a. Uterus harus segera dikosongkan untuk menghindari perdarahan yang
banyak atau syok karena rasa mules dan sakit yang hebat
b. Pasang infuse, sebaiknya diertai oksitosin drip untuk mempercepat pengeluaran hasil
konsepsi
c. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilakukan dengan kuretase atau dengan cunam abortus
disusul dengan kerokan
d. Sebelum dilakukan kuretase diberikan antibiotika prifilaksis
e. Bila prosedur evakuasi tidak dapat segera dilakukan atau usia gestasi lebih besar dari 16
minggu, lakukan tindakan pendahuluan dengan :
f. Infuse oksitosin 20 unit dalam 500 ml NS atau RL mulai dengan 8 tetes/menit yang dapat
dinaikkan hingga 40 tetes/menit, sesuai dengan kondisi kontraksi rahim hingga terjadi
pengeluaran hasil konsepsi
1) Ergometrin 0,2 mg IM yang diulangi 15 menit kemudian
2) Misoprostol 400 mg peroral dan apabila masih diperlukan dapat diulangi dengan dosis
yang sam setelah 4 jam dari dosis awal.
Abortus inkomplit
a. Bila disertai syok karena perdarahan segera pasang infuse dengan cairan NaCl fisiologis
atau cairan Ringer Laktat, bila perlu disusul dengan transfuse darah
b. Setelah syok teratasi, lakukan kerokan
c. Pasca tindakan berikan injeksi metal ergometrin maleat intra muscular untuk
mempertahankam kontraksi otot uterus
d. Perhatikan adanya tanda – tanda infeksi
e. Bila tak ada tanda – tanda infeksi berikan antibiotika prifilaksis (ampisilin 500 mg oral atau
doksisiklin 100 mg)
f. Bila terjadi infeksi beri ampisilin I g dan metronidazol 500 mg setiap 8 jam
Abortus komplit a. Tidak memerlukan pengobatan khusus, cukup uterotonika atau kalau
perlu antibiotika
b. Apabila kondisi pasien baik, cukup diberikan tablet ergometrin 3×1 tablet/hari untu 3 hari
c. Apabila pasien mengalami anemia sedang, berikan tablet sulfas Ferosus 600 mg/hari
selama 2 minggu disertai anjuran mengkonsumsi makanan bergizi (susu, sayuran segar, ikan,
daging, telur). Untuk anemi berat berikan transfusi darah
d. Jika infeksi berikan antibiotika profilaksis
Abortus tertunda (missed abortion) a. Karena sering plasenta melekat maka penanganan harus
dirumah sakit
b. Periksa kadar fibrinogen atau test perdarahan dan pembekuan darah sebelum tindakan
kuretase. Bila normal jaringan konsepsi dapat segera dikeluarkan, teapi bila kadarnya rendah
( 7gr/dl (anemia) atau dicurigai adanya infeksi
Tubektomi Segera Sesuai untuk pasangan yang ingin menghentikan fertilitas, jika dicurigai
adanya infeksi, tunda samapi keadaan jelas. Jika Hb kurang dari 7g/dl, tunggu sampai anemia
telah diperbaiki. Sediakan metode alternatif seperti kondom.
B. KONSEP MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA ABORTUS INKOMPLIT
a. langkah I : Pengumpulan Data Dasar
1) Data Subjektif
a) Identitas ibu dan suami yang perlu dikaji adalah nama, umur, agama, suku/bangsa,
pendidikan , pekerjaan, nomor telepon dan alamat. Bertujuan untuk menetapkan identitas
pasien karena mungkin memiliki nama yang sama dengan alamat dan nomor telepon yang
berbeda serta untuk mengetahui faktor resiko yang mungkin terjadi.
b) Keluhan utama , merupakan alasan utama klien untuk datang ke pelayanan kesehatan.
Kemungkinan yang ditemui pada kasus abortus inkomplit ini adalah ibu mengeluhkan bahwa
keluar darah yang banyak dari kemaluannya, darah bergumpal dan berwarna merah segar
yang disertai nyeri hebat pada perut bagian bawah.
c) Riwayat menstruasi yang dikaji adalah menarche, siklus haid, lamanya, banyaknya dan
adanya dismenorrhoe saat haid yang bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis
apakah ibu benar-benar hamil .
d) Riwayat kehamilan sekarang yang dikaji yaitu HPHT, riwayat hamil muda dan tua,
frekuensi pemeriksaan ANC yang bertujuan untuk mengetahui tua kehamilan ibu serta
taksiran persalinan dan resiko yang akan terjadi dari adanya riwayat pada kehamilan.
e) Riwayat penyakit dahulu yang dikaji adalah apakah ibu ada mengalami keguguran
sebelumnya, menderita penyakit jantung, DM, ipertensi, ginjal, asma, TBC, epilepsi dan PMS
serta ada tidaknya ibu alergi baik terhadap obat-obatan ataupun makanan dan pernah transfusi
darah ,atau operasi, serta ada tidaknya kelainan jiwa.
f) Riwayat penyakit keluarga yang dikaji yaitu ada tidaknya keluarga ibu maupun suami yang
menderita penyakit jantung, DM, hipertensi, ginjal, asma, dan riwayat keturunan kembar
yang bertujuan agar dapat mewaspadai apakah ibu juga berkemungkinan menderita penyakit
tersebut.
g) Riwayat perkawinan yang dikaji yaitu umur berapa ibu kawin dan lamanya ibu baru hamil
setelah kawin, yang bertujuan untuk mengetahui apakah ibu memiliki faktor resiko.
h) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu yang dikaji adalah fisiologi jarak
kehamilan dengan persalinan yang minimal 2 tahun, usia kehamilan aterm 37-40 minggu atau
apakah ibu ada mempunyai riwayat abortus, jenis persalinan yang bertujuan untuk
menentukan ukuran panggul dan adanya riwayat persalinan dengan tindakan, sehingga
menunjukkan bahwa 3P telah bekerja sama dengan baik, penyulit yang bertujuan untuk
mengetahui penyulit persalinan yang pernah dialami ibu, nifas yang lalu kemungkinan
adanya keadaan lochea, laktasi berjalan dengan normal atau tidak serta keadaan anak
sekarang.
i) Riwayat keluarga berencana, kemungkinan ibu pernah menggunakan alat –alat kontrasepsi
atau tidak.
j) Makan terkhir bertujuan untuk mengetahui persiapan tenaga ibu untuk persalinan.
k) BAK dan BAB terakhir bertujuan untuk mengetahui apakah ada penghambat saat proses
persalinan berlangsung.
2) Data Objektif
a) Pemeriksaan umum
Secara umum ditemukan gambaran kesadaran umum, dimana kesadaran pasien sangat
penting dinilai dengan melakukan anamnesa. Selain itu pasien sadar akan menunjukkan tidak
adanya kelainan psikologis dan kesadaran umum juga mencakup pemeriksaan tanda-tanda
vital, berat badan, tinggi badan , lingkar lengan atas yang bertujuan untuk mengetahui
keadaan gizi pasien.
b) Pemeriksaan khusus
I. Inspeksi
Periksa pandang yang terpenting adalah mata (konjungtiva dan sklera) untuk menentukan
apakah ibu anemia atau tidak, muka (edema), leher apakah terdapat pembesaran kelenjar baik
kelenjar tiroid maupun limfe sedangkan untuk dada bagaimana keadaan putting susu, ada
tidaknya teraba massa atau tumor, tanda-tanda kehamilan (cloasma gravidarum, aerola
mamae, calostrum), serta dilihat pembesaran perut yang sesuai dengan usia kehamilan, luka
bekas operasi, dan inspeksi genitalia bagian luar serta pengeluaran pervaginam dan
ekstremitas atas maupun bawah serta HIS.
II. Palpasi
Dengan menggunakan cara leopold:
Leopold I :
Untuk menentukan TFU dan apa yang terdapat dibagian fundus (TFU dalam cm) dan
kemungkinan teraba kepala atau bokong lainnya, normal pada fundus teraba bulat, tidak
melenting, lunak yang kemungkinan adalah bokong janin
Leopold II:
Untuk menentukan dimana letaknya punggung janin dan bagian-bagian kecilnya. Pada
dinding perut klien sebelah kiri maupun kanan kemungkinan teraba, punggung, anggota
gerak, bokong atau kepala.
Leopold III:
Untuk menentukan apa yang yang terdapat dibagian bawah perut ibu dan apakah BTJ sudah
terpegang oleh PAP, dan normalnya pada bagian bawah perut ibu adalah kepala.
Leopold IV:
Untuk menentukan seberapa jauh masuknya BTJ ke dalam rongga panggul dan dilakukan
perlimaan untuk menentukan seberapa masuknya ke PAP.
III. Auskultasi
Untuk mendengar DJJ dengan frekuensi normal 120-160 kali/menit, irama teratur atau tidak,
intensitas kuat, sedang atau lemah. Apabila persalinan disertai gawat janin, maka DJJ bisa
kurang dari 110 kali/menit atau lebih dari 160 kali/menit dengan irama tidak teratur.
IV. Perkusi
Pemeriksaan reflek patella kiri dan kanan yang berkaitan dengan kekurangan vitamin B atau
penyakit saraf, intoksikasi magnesium sulfat.
V. Penghitungan TBBJ
Dengan menggunakan rumus (TFU dalam cm – 13) x 155 yang bertujuan untuk mengetahui
taksiran berat badan janin dan dalam persalinan postterm biasanya berat badan janin terjadi
penurunan karena terjadi perubahan anatomik yang besar pada plasenta atau sebaliknya berat
janin terus bertambah karena plasenta masih berfungsi.
VI. Pemeriksaan Dalam
Yang dinilai adalah keadaan servik, pembukaan, keadaan ketuban, presentasi dan posisi,
adanya caput atau moulage, bagian menumbung atau terkemuka, dan kapasitas panggul
(bentuk promontorium, linea innominata, sacrum, dinding samping panggul, spina ischiadica,
coksigis dan arcus pubis > 900).
c) Pemeriksaan Penunjang
I. Darah
Yaitu kadar Hb, dimana Hb normal pada ibu hamil adalah ≥ 11 gr% (TM I dan TM III 11 gr
% dan TM II 10,5 gr %)
Hb ≥ 11 gr% : tidak anemia
Hb 9-10 gr% : anemia ringan
Hb 7-8 gr% : anemia sedang
Hb ≤ 7 gr% : anemia berat
II. Urine
Untuk memeriksa protein urine dan glukosa urine.untuk klien dengan kehamilan dan
persalinan normal protein dan glukosa urine negative.
III. USG
Untuk memeriksa apakah kantong gestasi masih utuh dan cairan amnion masih ada.
b. Langkah II: Interprestasi Data
Data dasar di interprestasikan menjadi masalah atau diagnosa spesifik yang sudah di
identifikasikan. Di dalam interprestasi data, terdapat tiga komponen penting di dalamnya
yaitu:
1) Diagnosa
Diagnosa setiap kala persalinan berbeda dan diagnosa ditetapkan bertujuan untuk mengetahui
apakah ada penyimpangan. Untuk persalinan postterm dapat ditegakkan dengan mengetahui
HPHT serta menetukan taksiran persalinan dan mengetahui gerakan janin pertama kali
dirasakan dan riwayat pemeriksaan ANC lainnya.
2) Masalah
Dapat berupa keluhan utama atau keadaan psikologis ibu, keadaan janin yang memburuk
karena sudah keluarnya sebagian sisa jaringan.
3) Kebutuhan
Di sesuaikan dengan adanya masalah,seperti:
a) Berikan informasi dan konseling untuk mengatasi kecemasan ibu
b) Berikan ibu dukungan psikologis.
c) Kolaborasi dengan dokter untuk tindakan kuretase
c. Langkah III: Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Kemungkinan masalah potensial yang timbul adalah:
1) Infeksi
2) Perdarahan
3) Syok
4) Anemia .
d. Langkah IV : Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera.
Adapun tindakan segera yang dilakukan adalah:
Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik
e. Langkah V:Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh
Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga dapat direncanakan asuhan sesuai
dengan kebutuhan yaitu:
Tindakan yang perlu dilakukan adalah:
1) Memberikan inform consent untuk tindakan kuretase
2) Melakukan pemeriksaan TTV
3) Pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit dengan pemberian infus.
4) Membantu melakukan tindakan kuretase
5) Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi obat-obatan
6) Memberikan dukungan psikologis.
7) Pemenuhan nutrisi dan hidrasi
8) Konseling alat kontrasepsi pasca abortus
f. Langkah VI:Melaksanakan Perencanaan
Perencanaan bisa dilakukan oleh bidan atau dokter dan sebagian oleh klien. Bidan juga
bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan yang telah di rencanakan.
g. Langkah VII:Evaluasi
Merupakan langkah akhir dari proses asuhan kebidanan persalinan,dari hasil pelaksanaan
perencanaan dapat diketahui keefektifan dari asuhan yang telah diberikan dan menunjukkan
perbaikan kondisi apabila banyi ataupun ibu sempat mengalami masalah yang harus segera
ditangani.
h. Pendokumentasian
Pendokumentasian kasus dibuat dalam bentuk matrik dengan menggunakan 7 langkah varney
DAFTAR PUSTAKA
JNPK _KR. 2008. Pelayanan obsetri dan neonatal emergensi dasar (PONED)
Kusmiyati, Dkk. 2009. Perawatan ibu hamil. Yogjakarta : Fitramaya
Nugroho, taufan. 2010. Buku ajar obstetric. Yogjakarta : Nuha Medika
Manuaba. 2007. Pengantar kuliah obstetri. Jakarta : Buku Kedokteran EGC
PPKC. 2002. Pelatihan manajemen asuhan kebidanan. Jakarta
Prawirohardjo, S. 2006. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka
ANEMIA DALAM KEHAMILAN
Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized
Tag:kuliah ASKEB 4
0
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Didunia ini setiap menit perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan
kehamilan dan persalinan, dengan kata lain 1.400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih
dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan. Di
Indonesia 2 orang meninggal setiap jam karena kehamilan, persalinan dan nifas. Setiap menit
20 anak balita meninggal. Dengan kata lain 20.000 anak balita meninggal setiap hari dan 10,6
juta anak balita meninggal setiap tahun. (university of Indonesia “make every mother and
child count” 7 april 2005).
Tingginya angka kesakitan dan kehamilan pada wanita hamil dan bersalin merupakan
masalah yang besar. Dilaporkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia berkisar 334/100.000
kelahiran hidup. (panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal) di Sumbar
AKI 116/100.000 kelahiran hidup, sedangkan AKB 9,96/1000 kelahiran hidup. Dan dipadang
angka kematian ibu 13/100.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi 3,4/1000
kelahiran hidup. (Profil Kesehatan Sumbar).
Didalam rencana Strategi Nasional Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010
disebut kontek rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 dengan misi
menurunkan angka kematian maternal dan neonatal melalui pemantauan system kesehatan
yang menjamin akses terhadap intervensi yang cost effective berdasarkan bukti ilmiah yang
berkualitas, memberdayakan wanita, keluarga dan masyarakat melalui kegiatan
mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir serta menjamin kesehatan maternal dan
neonatal sebagai prioritas program pembangunan nasional.
Selain itu intervensi dalam safe motherhood melakuakn pendekatan dengan mengganggap
semua kehamilan berisiko dan setiap ibu hamil agar mempunyai akses pertolongan
persalianan yang aman. Diperkirakan 15% kehamilan akan mengalami resiko tinggi dan
komplikasi obstetri yang dapat membahayakan kehidupan ibu maupun janinnya bila tidak
ditangani dengan memadai (Buku Acuan Nasional Pelayanan kesehatan Maternal dan
Neonatal, 2000)
Penyebab kematian ibu yang terbanyak disebabkan oleh komplikasi obstetric. Komplikasi
obstetric ini tidak selalu dapat diramalkan sebelumnya. Penyebab kematian ibu dan perinatal
umumnya desebabkan oleh sebab langsung seperti pendarahan, eklampsi, infeksi dan sebab
tidak langsung yaitu rendahnya tingkat pendidikan, sosial ekonomi, terlambatnya mendapat
pertolongan persalinan atau rujukan yang dikenal dengan istilah 3T (Terlambat mengenal
komplikasi, Terlambat membuat keputusan, Terlambat merujuk) dan pertolongan persalinan
oleh dukun yang kurang memperhatikan sterilisasi dan aborsi illegal (Pusdeknakes, 2003)
Seorang bidan baru yang dikatakan profesional jika ia amapu melakukan tugas kebidanan
sesuai standar dan hasil yang memuaskan. Ia terlatih memberikan perawatan dan nasehat
yang diperlukan bagi seorang wanita selam hamil ,persalianan dan nifas. Untuk melakukan
persalinan normal atas tanggung jawab sendiri dan untuk merawat bayi baru lahir. Setiap saat
ia harus mengenali tanda-tanda bahaya yang menandakan keadaan yang abnormal atau
kemungkianan akan timbul keadaan yang abnormal yang mengharuskan melakukan rujukan.
(Pusdiknakes,2003).
Bertolak dari pertanyaan diatas, maka penulis sebagai calon bidan dalam rangka
mempersiapkan diri sebagai seorang bidan yang terampil dan memiliki keahlian diberikan
penugasan untuk melakukan pembinaan pada seorang ibu hamil yang dimulai pada
kehamilan semester III Melalui pembinaan tersebut, penulis dapat memahami bebagai proses
dan perubahan yang terjadi pada ibu selama hamil, sehingga dapat menerapkan asuhan
kebidanan yang tepat dan aman.
B. Batasan Masalah
Dalam penulisan kasus ini penulis membatasi masalah yaitu penerapan manajemen kebidanan
pada Ny.”M” dimulai pada Trimester III pada usia kehamilan 36-37 minggu dengan
kehamilan normal.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan pengalaman serta dapat menerapkan dan mengembangkan pola pikir
ilmiah dalam melaksanakan manajemen kebidanan pada Ny “ M” pada Trimester III dengan
kehamilan normal.
2. Tujuan Khusus
a. Dapat melaksanakan pengkajian data dengan cara wawancara, observasi dan pemeriksaan
pada Ny “M” pada masa kehamilannya.
b. Dapat menegakkan diagnosa, mengkaji masalah dan kebutuhan pada Ny “M”
c. Dapat mengidentifikasi masalah potensi yang mungkin terjadi pada Ny “M”
d. Dapat membuat rencana asuhan pada Ny “M” sebagai dasar untuk melaksanakan asuhan
kebidanan.
e. Dapat melakukan implementasi secara efektif dan ifisien pada Ny “M”
f. Dapat mengevaluasi asuhan yang telah diberikan pada Ny “M”
D. Manfaat Penulisan
1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan pelayanan dengan
menggunakan manejemen asuhan kebidanan sesuai dengan standar profesi
2. Berperan secara profesional sehingga dapat memberikan pelayanan yang berkualitas pada
klien.
3. Mengembangkan kemampuan berfikir dalam menemukan masalah dan dalam mencari
pemecahan masalah tersebut.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
a. LANDASAN TEORI
1. Defenisi Anemia dalam Kehamilan
Anemia adalah kondisi ibu dengan jumlah protein sel darah merah dan zat pewarna merah
pada sel darah kurang dari 12% gram (Winkjosastro,2002) sedangkan Anemia dalam
kehamilan adalah kondisi ibu dengan jumlah protein sel darah merah dan zat pewarna merah
pada sel darah dibawah 11% gram pada usia kehamilan 4-7 bulan (Saifuddin,2002).
Jadi Anemia bukan penyakit kurang darah tapi, kurangnya sel darah merah karena jumlah
protein sel darah merah dan zat pewarna merah pada sel darah yang rendah dalam darah.
2. Jenis – Jenis Anemia dalam Kehamilan
Anemia dalam kehamilan dapat di bagi menjadi:
a. Anemia defesiensi besi (62,3%)
Anemia defisiensi besi adalah Anemia yang terjadi akibat kekurangan bahan pembentuk
protein sel darah merah dalam darah.
Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsure besi dengan makanan,
karena gangguan resorpsi, gangguan penggunaan atau karena terlampau banyk besi keluar
dari badan , misalnya perdarahan.
Diagnosis:
1) Untuk Anemia defesiensi besi yang berat di tandai dengan ciri-ciri yang khas yaitu
mikrisitosis dan hipokromasia
2) Untuk Anemia defesiensi besi yang ringan tidak selalu di tandai dengan cirri-ciri khas ,
banyak yang bersifat normositer dan normokrom
Sifat lain yang khas yaitu :
a) Kadar besi serum rendah
b) Daya ikat besi serum tinggi
c) Protoporfirin eritrisit tinggi
d) Tidak di temukan hemosiderin dalam sum-sum tulang
Prognosis:
Prognosis Anemia defesiensi besi dalam kehamilan umumnya baik bagi ibu dan anak .
Persalinan dapat berlangsung seperti biasa tanpa perdarahan banyak atau komplikasi lain .
anemia berat dalam kehamilan muda yang tidak di obati dapat menyebabkan abortus dan
dalam kehamilan tua dapat menyebabkan partus lama , perdarahan post partum dan infeksi.
Walaupun bayi yang di lahirkan dari ibu yang menderita anemia defesiensi besi tidak
menunjukkan Hb yang rendah, namun cadangan besinya kurang yang barubeberapa bulan
kemudian tampak sebagai anemia infatum.
Pencegahan dan Pengobatan:
Di daerah dengan frekuensi kehamilan yang tinggi sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfat
ferrosus atau glukonas ferrosus, cukup 1 tablet sehari. Selain itu, ibu di beri nasehat untuk
makan lebih banyak protein dan sayur yang banyak mengandung mineral dan vitamin.
b. Anemia megaloblastik (29,0%)
Anemia megaloblastik adalah anemia yang disebabkan karena defesiensi asam folat.
Diagnosis:
Diagnosis anemia megaloblastik dibuat apabila ditemukan megeloblas atau promegaloblas
dalam darah atau sum-sum tulang belakang
Prognosis:
Anemia megaloblastik dalam kehamilan mempunyai prognosis cukup baik . Pengobatan
dengan asam folat hampir selalu berhasil.
Pencegahan dan Pengobatan:
1) Asam folat 15-30 mg per hari
2) Vitamin B12 3×1 tablet per hari
3) Sulfas ferosus 3×1 tablet per hari
4) Pada kasus berat diberikan penambah darah
c. Anemia hipolastik (8,0%)
Anemia hipoplastik yaitu Anemia yang disebabkan oleh penurunan fungsi kerja sumsum
tulang untuk membentuk sel darah merah baru.Pengobatannya yaitu dengan transfuse darah.
d. Anemia hemolitik (0,7%)
Anemia hemolitik adalah Anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah
merah yang lebih cepat dari pembuatanya.
Gejala utamamya adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan,
kelemahan.
Pengobatanya:
Tergantung pada jenis anemia ini serta penyebabnya. Bila disebabkan oleh infeksi maka
infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun pada beberapa jenis
obat-obtan, hal ini tidak memberikan hasil sehingga penambah darah berulang dapat
membantu penderita.
3. Gejala Anemia Pada Ibu Hamil
a. Pucat
b. Sering pusing
c. Lemah, lelah, letih, lesu, lunglai
d. Nafas terengah-engah
e. Nyeri dada
f. Mata berkunang-kunang
g. Lidah luka
h. Nafsu makan turun
i. Mual dan muntah yang berlebihan pada hamil muda
4. Penyebab Anemia dalam Kehamilan
Anemia dalam kehamilan disebabkan oleh kekurangan bahan pembentuk protein sel darah
merah dan perdarahan secara mendadak bahkan tidak jarang keduanya saling berhubungan
(Safuddin,2002). Menurut mochtar (1998) penyebab anemia pada umumnya aadal sebagai
berikut:
a. Kurangnya bahan pembentuk protein sel darah merah dalam makanan yang dikonsumsi,
Kebutuhannya bagi ibu hamil sekitar 1000mg:
1) 500mg untuk meningkatkan jumlah sel darah merah
2) 300mg untuk bayi
3) 200mg untuk mangganti kehilangan bahan pembentuk protein sel darah merah setiap hari
Rata-rata ibu hamil normal perlu menyerap 3,5mg setiap hari atau meyerap 20% yang masuk.
b. Penyerapan bahan pembentuk protein sel darah merah yang tidak sempurna akibat mencret
yang sudah berlangsung lama, pembedahan tertentu pada slauran pencernaan seperti:
lambung. Bahan pembentuk protein sel darah merah diserap dari saluran pencernaan.
Sebagian besar diserap dari usu halus bagian atas terutama usus 12 jari. Bila terjadi gangguan
saluran pencernaan, maka penyerapan dari saluran pencernaan menjadi tidak sempurna. Hal
itu menyebabkan kurangnya jumlah bahan pembentuk protein sel darah merah didalam tubuh
sehingga pembentukan sel darah merah terhambat.
c. Kehilangan darah yang disebabkan oleh perdarahan menstruasi berat, luka, kanker dan
perdarahan pada lambung dan usus akibat tindakan pemberian obat. Kehilangan banyak darah
tersebut menyebabkan terkurasnya cadangan bahan pembentuk protein sel darah merah dalam
tubuh sehingga pembentukan sel darah merah terganggu.
d. Kurang gizi
e. Penyakit-penyakit yang sudah berlangsung lama seperti TBC paru,cacing usus, malaria
5. Faktor Predisposisi Anemia Pada Ibu Hamil
a. Umur kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun
Wanita yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, mempunyai risiko yang
tinggi untuk hamil. Karena akan membahayakan kesehatan dan keselamatan ibu hamil
maupun janinnya, berisiko mengalami pendarahan dan dapat menyebabkan ibu mengalami
anemia.Wintrobe (1987) menyatakan bahwa usia ibu dapat mempengaruhi timbulnya anemia,
yaitu semakin rendah usia ibu hamil maka semakin rendah kadar hemoglobinnya. Muhilal et
al (1991) dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat kecendrungan semakin tua umur
ibu hamil maka presentasi anemia semakin besar. Pada penelitian ini belum menunjukkan
adanya kecendrungan semakin tua umur ibu hamil maka kejadian anemia semakin besar.
Karena 80% ibu hamil berusia tidak berisiko yaitu antara 20 tahun hingga 35 tahun.
b. Paritas
Semakin banyak jumlah kelahiran (paritas), maka akan semakin tinggi angka kejadian anemia
Artinya ibu hamil dengan paritas tinggi mempunyai risiko lebih besar untuk mengalami
anemia dibanding yang paritas rendah
c. Jarak Kehamilan Yang terlalu Dekat
Salah satu penyebab yang dapat mempercepat terjadinya anemia pada wanita adalah jarak
kelahiran pendek. Menurut Kramer (1987) hal ini disebabkan kekurangan nutrisi yang
merupakan mekanisme biologis dan pemulihan factor hormonal dan adanya kecendrungan
bahwa semakin dekat jarak kehamilan, maka akan semakin tinggi angka kejadian anemia.
d. Pengetahuan
Pengetahuan kesehatan reproduksi menyangkut pemahaman tentang pentingnya pemeriksaan
kehamilan, penyuluhan, tanda dan cara mengatasi anemia pada ibu hamil diharapkan dapat
mencegah ibu hamil dari anemia. semakin rendah pengetahuan kesehatan reproduksi, maka
akan semakin tinggi angka kejadian anemia.
e. Pemeriksaan Antenatal Care
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga professional
yaitu Dr Ginekolog dan Bidan serta memenuhi syarat 5 T (TB, BB, Tekanan darah, Tinggi
Fundus, TT, Tablet Fe). Jika pemeriksaan Antenatal Care kurang atau tidak ada sama sekali
maka akan semakin tinggi angka kejadian anemia.
f. Pola makan dan Kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe
Gizi seimbang adalah pola konsumsi makan sehari-hari yang sesuai dengan kebutuhan gizi
setiap individu untuk hidup sehat dan produktif. Agar sasaran keseimbangan gizi dapat
dicapai, maka setiap orang harus menkonsumsi minimal 1 jenis bahan makanan dari tiap
golongan bahan makanan yaitu KH, protein hewani dan nabati, sayuran, buah dan susu.
(Kodyat, 1995).
Kepatuhan menkonsumsi tablet Fe diukur dari ketepatan jumlah tablet yang dikonsumsi,
ketepatan cara menkonsumsi tablet Fe, frekuensi konsumsi perhari. Suplementasi besi atau
pemberian tablet Fe merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah dan
menanggulangi anemia, khususnya anemia kekurangan besi. Suplementasi besi merupakan
cara efektif karena kandungan besinya yang dilengkapi asam folat yang sekaligus dapat
mencegah anemia karena kekurangan asam folat.ibu hamil yang kurang patuh konsumsi
tablet Fe mempunyai risiko untuk mengalami anemia dibanding yang patuh konsumsi tablet
Fe.
6. Akibat Anemia Pada Ibu Hamil
a. Akibat anemia pada usia kehamilan 3 bulan pertama
1) Dapat terjadi keguguran
2) Cacat bawaan
b. Akibat anemia pada usia kehamilan 4-9 bulan
1) Persalinan belum cukup bulan
2) Perdarahan dalam melahirkan
3) Gangguan pertumbuhan bayi dalam kandungan
4) Bayi kekurangan oksigen dalam kandungan sampai menyebabkan kematian
5) Mudah terkena infeksi
c. Akibat anemia saat melahirkan
1) Gangguan kekuatan mengejan
2) Melahirkan berlangsung lama
3) Tertahannya plasenta dan perdarahan saat melahirkan
d. Akibat anemia terhadap bayi
1) Kematian dalam kandungan
2) Cacat bawaan
3) Kecerdasannya rendah
4) Bayi lahir dengan anemia
5) Berat badan bayi lahir kecil
7. Tujuan Pencegahan Anemia Pada Ibu Hamil
Tujuan dari pencegahan anemia selama kehamilan adalah untuk menjaga keseimbangan
jumlah protein sel darah merah dan zat pewarna merah pada sel darah ibu dan untuk
mencegah kekurangan bahan pembentuk protein sela darah merah pada bayi.
8. Pencegahan dan Pengobatan Anemia Pada Ibu Hamil
a. Pemberian tambahan bahan pembentuk protein sel darah merah selama masa kehamilan (±
90 tablet) dalam satu hari 1 tablet ( satu tablet mengandung 60 mg Fe dan 200 πg asam folat )
minum dengan air putih dan jangan minum dengan air kopi atau dengan air the karena akan
menghambat penyerapan. Efek sampingnya yaitu : rasa tidak enak di hulu hati, mual, muntah
dan mencret.
b. Memakan makanan yang banyak mengandung bahan pembentuk protein sel darah merah
seperti :
1) Telur
2) Susu
i. Ibu hamil 0-3 bulan = 1 gelas
ii. Ibu hamil 4-7 bulan = 1 gelas
iii. Ibu hamil 7-9 bulan = 1 gelas
3) Hati
4) Ikan
iv. Ibu hamil 0-3 bulan = 1 ½ potong
v. Ibu hamil 4-7 bulan = 2 potong
vi. Ibu hamil 7-9 bulan = 3 potong
5) Daging
6) Tempe
vii. Ibu hamil 0-3 bulan = 3 potong
viii. Ibu hamil 4-7 bulan = 4 potong
ix. Ibu hamil 7-9 bulan = 5 potong
7) Sayuran yang berwarna hijau tua (kangkung, bayam, daun katuk, daun singkong)
x. Ibu hamil 0-3 bulan = ½ mangkok
xi. Ibu hamil 4-7 bulan = 3 mangkok
xii. Ibu hamil 7-9 bulan = 3 mangkok
8) Buah-buahan (jeruk, jambu biji, pisang, tomat)
xiii. Ibu hamil 0-3 bulan = 2 buah
xiv. Ibu hamil 4-7 bulan = 2 buah
xv. Ibu hamil 7-9 bulan = 2 buah
c. Periksa secepat mungkin apabila terdapat tanda-tanda anemia agara langkah-langkah
pencegahan bisa segera dilakukan
e. KONSEP MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN
1. Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil TM III
Proses manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah agar pelayanan yang
komperhensif dapat tercapai. Proses manajemen terdiri dari tujuh langkah yang berurutan
dimana setiap langkah disempurnakan secar periodic. Proses di mulai dengan pengumpulan
data dasar yang berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tesebut membentuk kerangka
lengkap yang dapat diaplikasikan dalam semua situasi. Akan tetapi, setiap langkah-langkah
dapat dipecah menjadi langkah tertentu dan ini bisa berubah sesuai dengan bagaiman keadaan
pasien. Ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut:
LANGKAH 1: PENGUMPULAN DATA DASAR
A. Anamnesa/ Data Subjektif
a. Identitas isteri dan suami yang perlu di kaji adalah nama,umur, agama, suku, pendidikan,
pekerjaan, no.telp dan alamat. Bertujuan untuk menetapkan identitas pasien karena mungkin
memiliki nama yang sama dengan alamat dan no.telp yang berbeda dan umur juga untuk
mengetahui factor resiko, jika umur ibu 35 tahun ini merupakan umur ynag berisiko bagi ibu
hamil.
Kehamilan resiko tinggi adalah kehamilan yang akan
menyebabkan terjadinya bahaya dan komplikasi yang lebih besar baik terhadap ibu maupun
terhadap janin yang dikandungnya selama masa kehamilan, melahirkan ataupun nifas bila
dibandingkan dengan kehamilan persalinan dan nifas normal (Haryono,2007)
Ibu hamil dengan kehamilan resiko tinggi adalah ibu hamil yang mempunyai resiko atau
bahaya yang lebih besar pada kehamilan/persalinannnya dibandingkan dengan ibu hamil
dengan kehamilan/persalinan normal.
contohnya: Ibu dengan umur kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun
Pada umur ini belum cukup dicapai kematangan fisik, mental dan fungsi dari calon ibu serupa
ini, yang Tentunya menimbulkan keraguan jaminan bagi keselamatan kehamilan yang
dialaminya, dan juga jaminan cinta kasih dan perawatan serta asuhan bagi anak yang akan
dilahirkan..
Pada golongan ibu-ibu muda ini banyak diulas permasalahan dari segi psikiatri dan psikologi
sosial, dan hampir semua ulasan akan menekankan pentingnya usaha khusus untuk
melindungi anak-anak yang akan dilahirkan kemudian.sedangkan,
Pada umur lebih dari 35 tahun perubahan yang terjadi karena proses menjadi tua dari alat-alat
reproduksi dan jalan lahir, cenderung berakibat buruk pada proses kehamilan dan
persalinannya. Pada kelompok tua ini lebih banyak ditemui berbagai kelainan seperti penyulit
persalinan dan kehamilan, demikian pula dari jumlah persen yang ditemui.
b. Keluhan utama
Merupakan alasan utama klien untuk datang ke pelayanan kesehatan. Kemungkinan yang
ditemui pada kehamilan fisiologis pada TM III adalah:
1) Edema pada pergelangan kaki dan tangan
Edema (pembengkakan karena pengumpulan cairan didalam jaringan) dianggap tanda bahaya
kehamilan, tetapi sekarang para dokter mengenali bahwa pembengkan ringan pada
pergelangan kaki dan kaki berkaitan dengan peningkatan pada cairan tubuh yang normal dan
perlu pada kehamilan. Sebenarnya, 75% ibu hamil mengalami edema seperti ini pada suatu
saat dari kehamilannya terutama diakhir hari, di cuaca panas, atau setelah berdiri atau duduk
lama. Kebanyakan ibu hamil mengatakan bahwa edema akan hilang setelah tidur malam.
Cara mengatasinya:
a. Hindari berdiri lama dan duduk terlalu lama
b. Melatih kaki untuk ditekuk ketika duduk dan berdiri
c. Hindari kaos kaki yang ketat atau tali pita yang ketat pada kaki
d. Bantu sistem tubuh untuk membuang produk sisa metabolisme dengan minum air putih
minimal 10 gelas per hari.
2) Frekuensi kemih meningkat
Hal ini terjadi karena tekanan uterus pada kandung kemih, nocturia akibat eksresi sodium
yang menigkat dengan kehilangan air yang wajib dan bersamaan air dan sodium terperangkap
didalam tungkai bawah selama siang hari karena stasis vena, pada malam hari terdapat aliran
kembali vena yang meningkat dengan akibat peningkatan dalam jumlah output air seni.
Cara mengatasi:
a. Miringkan tubuh kedepan saat buang air kecil dan akan membantu mengosongkan kandung
kemih sehingga mengurangi perjalanan kekamar mandi.
b. Jangan kurangi minum di malam hari untuk mengurangi nocturia, kecuali jika nocturia
mengganggu tidur dan menyebabkan keletihan
c. Batasi minum bahan diuretiks alamiah seperti : kopi, teh, cola dengan cafein
d. Ajarkan tanda-tanda UTI posisi yang berbaring miring kekiri dimalam hari untuk
meningkatkan dieresis
3) Sembelit
Sembelit berkaitan dengan setidaknya enam macam kondisi didalam tubuh, yaitu:
a. Rahim yang membesar yang menekan kolon dan rectum sehingga mengganggu ekskresi
b. Peningkatan kadar progesteronmerelaksasikan otot saluran cerna, serta menurunkan
mortalitas
c. Asupan cairan tidak adekuat
d. Diet serat tidak cukup
e. Suplementasi zat besi
f. Kebiasaan defekasi yang buruk
g. Jarang berolahraga dan sering melewatkan satu waktu terutama sarapan
Cara mengatasi:
a. Bangun subuh lalu meminum segelas air jeruk hangat
b. Lakukan gerak badan (harus seizin dokter) setiap hari
c. Minum air setidaknya 8 sampai 10 gelas (2-3 liter) sehari, jumlah inipunharus dicocokan
dengan besaran angka kecukupan energi
d. Memperbanyak makanan yang kaya akan serat, paling tidak setiap pagi harus memakan
sesendok teh tepung serealia
e. Membatasi pemberian suplementasi zat besi menjadi bukan setiap hari, melainkan setiap
dua hari sekali harus ditambah dan dimakan pada hari ketika suplemen tidak diberikan.
4) Nafas sesak (hiperventilasi)
Ibu hamil sering merasakan sesak nafas, hal ini terjadi karena meningkatnya hormon
progesteron yang bekerja pada pusat pernafasan, secara langsung menurunkan co2 dan
meningkatnya o2. Selain itu, hiperventilasi disebabkan oleh uterus yang membesar sehingga
menekan diafragma.
Cara mengatasinya:
a. Mengatur laju pernafasan dengan baik
b. Secara periodik berdiri dan merentangkan lengan diatas kepala serta menarik nafas yang
panjang.
5) Garis-garis pada perut atau peregangan pada perut
Garis-garis diperut juga muncul pada trimester ke-2 tetapi lebih menonjol pada trimester ke-
3. Hal ini disebabkan karena perubahan hormon dan peregangan.
Cara mengatasinya:
a. Menjaga kestabilan berat badan
b. Merawat kelenturan kulit
c. Bagi ibu yang cocok dengan pemakain krim dan bahan pelembab lainya.
d. Goresan peregangan pada ibu hamil secara bertahap akan memudar dan menjadi garis
keperakan beberapa bulan setelah melahirkan.
6) Gatal-gatal
Gatal-gatal terjadi pada ibu hamil disetiap trimester. Gatal-gatal disebabkan karena
hipersensitif terhadap antigen plasenta. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan kompres
dan mandi siram dengan air sejuk, kemudian gunakan cara madi yang oatmeal.
7) Perut kembung
Ibu hamil pada trimester ke-3 sering mengalami perutnya kembung, sehingga ibu merasa
tidak nyaman dengan keadaan seperti itu. Perut kembung sering terjadi karena kemampuan
jarak usus berkurang yang mengarah kepada keterlambatan pengosongan usus. Selain itu
terjadi juga karena tekanan uterus yang membesar terhadap usus besar.
Cara mengatasinya:
a. Hindari makanan yang menghasilkan gas
b. Mengunyah makanan secara sempurna
c. Senam harian secara tertentu
c. Riwayat menstruasi
Yang dikaji adalah menarche,siklus haid, lamanya haid, banyaknya,dan adanya dismenorrhoe
saat haid.
d. Riwayat kehamilan kini
Yang dikaji yaitu:
1) HPHT untuk menentukan perkiraan persalinan menurut Naegle dan juga untuk
menentukan tuanya kehamilan saat ibu datang apakah preterm ( jika usia kehamilan antara
28-39 minggu), aterm (jika usia kehamilan 38-42 minggu), post term (jika usia kehamilan
lebih dari 42 minggu)
2) Keluhan –keluhan umum yang terjadi pada TM I,TM II dan TM III
3) Pergerakan janin
4) Pada primipara biasanya sudah terasa dalam kehamilan 20 minggu dan pada multipara
pada usia kehamilan 16 minggu. Pada kehamilan TM III gerak janin normal dalam 24 jam
sebanyak 20-24 kali
Cara menghitung pergerakan janin:
a) menghitung 1 menit penuh
b) dengan mendengarkan 3×5 detik, kemudian jumlah bunyi jantung dalam 3×5 derik di
kalikan dengan 4.
Misalnya:
5 detik 5 detik 5 detik Kesimpulan
11 12 11 Teratur, frekuensi 136 x/i, anak baik
10 14 9 Tidak tertur,frekuensi 132x/i.asphyksia
8 7 8 Teratur, frekuensi 92x/I,asphyksia
5) Keluhan-keluhan yang pernah dirasakan
Pengkajian ini bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan adanya tanda –tanda bahaya pada
ibu hamil, seperti rasa 5L (lesu, lemah, lelah, letih, lunglai) yang menunjukkan gejala anemia,
mual dan muntah yang lama, nyeri perut, sakit kepala berat dan penglihatan kabur
kemungkinan gejala empending eklampsia. Pengeluaran cairan pervaginam terutama darah
kemungkinan bisa terjadi perdarahan antepartum atau terjadi abortus bisa terjadi solusio
plasenta pada kehamilan trimester III atau. Rasa nyeri/panas waktu BAK, rasa gatal pada
vulva, vagian dan sekitarnya kemungkinan PMS, tegang pada tungkai dan oedema
(tromboplebitis).
6) Imunisasi
Jika ibu tidak pernah mendapatkan imunisasi TT, maka ia harus mendapatkan imunisasi TT
paling sedikit 2 kali selama kehamilan di mulai TM II dan TM III. adapun tujuan imunisasi
tersebut adalah untuk menghindari terjadinya tetanus neonaturum.
e. Pola makan
Tujuan untuk menentukan AKG pada ibu hamil
Contoh: menu ibu hamil (menurut ukuran rumah tangga)
1) Nasi 4 x 200 gr (200 gr = 1 piring ukuran sedang)
2) Lauk 2 x 50 gr (50 gr = 1 potong sebesar kotak korek api)
3) Tempe 4 x 250 gr ( 100 gr = 2 potong sebesar kotak korek api)
4) Sayur 3 x 100 gr ( 100 gr = 1 mangkok sedang)
5) Susu 1 x 250 cc ( 250 cc = 1 gelas ukuran sedang)
6) Buahan 2 x 100 gr ( 100 gr = 1 potong papaya ukuran sedang)
Perubahan pola makan yang dialami (termasuk ngidam, nafsu makan dan lain-lain). Pada TM
III biasanya ibu mengalami peningkatan kebutuhan asupan nutrisi yang berguna untuk
kesehatn ibu dan bayi.
f. Pola eliminasi
1) BAB
Pada kehamilan TM III biasanya ibu hamil mengalami gangguan pencernaan seperti
konstipasi. Hal ini dapat dicegah dengan meningkatkan konsumsi makanan yang berserat
tinggi dan minum air minimal 6-8 gelas sehari. BAB normal yaitu minimal sekali sehari
2) BAK
Pada kehamilan TM III, terjadi penekanan pada vesika urinaria oleh kepala janin sehingga
frekuensi BAK ibu hamil meningkat. Namun, hal ini merupakan sesuatu yang fisiologis.
g. Riwayat kehamilan ,persalinan dan nifas yang lalu
1) Fisiologi jarak kehamilan dengan persalinan yang lalu minimal 2 tahun
2) Usia kehamilan aterm adalah 37 – 40 minggu
3) Jenis persalinan bertujuan untuk menentukan ukuran panggul dan adanya riwayat
persalinan dengan tindakan, sehingga menunjukkan bahwa 3P telah bekerja sama dengan
baik
4) Komplikasi ibu dan bayi bertujuan untuk menentukan komplikasi yang mungkin terjadi
pada persalinan berikutnya
5) Nifas yang lalu kemungkinan keadaan involusi uterus, lochea. Laktasi berjalan dengan
normal atau disertai komplikasi
6) Keadaan anak apakah masih hidup sampai sekarang
h. Riwayat kontrasepsi
Kemungkinan klien pernah menggunakan kontrasepsi atau tidak.
i. Riwayat kesehatan ibu
1) Riwayat kesehatan yang lalu
Kemungkinan klien pernah menderita penyakit jantung, hipertensi, DM, dan pernah
mengalami operasi dinding rahim . adanya riwayat alergi, riwayat transfuse darah dan riwayat
kelainan jiwa
2) Riwayat kesehatan sekarang
Kemungkinan klien sedang menderita penyakit jantung, DM, TBC, PMS dan penyakit
lainnya.
j. Riwayat kesehatan keluarga
Untuk mendeteksi kemungkinan adanya penyakit keturunan, penyakit menular seksual dan
riwayat kehamilan kembar, karena hamil kembar sering bersifat menurun.
k. Keadaan social , ekonomi dan spiritual
Kemungkinan hubungan dengan keluarga, tetangga dan masyarakat , setelah kawin berapa
lama baru hamil untuk melihat kemungkinan tingkatkesuburan klien, kemungkinan ekonomi
yang kurang mencukupi dan kegiatan spiritual yang dilakukan apakah mengganggu
kehamilan ibu.
l. Aktivitas sehari-hari
1) Pekerjaan
Ketidaknyamanan fisik yang di alami oleh ibu hamil TM III berhubungan dengan pengaruh –
pengaruh hormon kehamilan sehingga ibu dianjurkan mengurangi aktifitas kerjanya.
2) Seksualitas
Koitus di anjurkan untuk di hentikan pada 3-4 minggu menjelang persalinan, karena
mengingat usia kehamilan ibu yang semakin tua dan mulai memasuki tahap proses persiapan
persalinan
3) Pola istirahat
Pada ibu hamil minimal pola istirahat / tidur adalah 8 jam / hari’ dimana pada siang hari (1-2
jam) dan pada malam hari (6-7 jam)
B. Data Objektif
Melakukan pengumpulan data melalui pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus serta
pemeriksaan penunjang atau laboratorium
a. Pemeriksaan umum
Secara umum kemungkinan ditemukan gambaran kesadarn umum. Dimana kesadaran klien
sangat penting dinilai denagn melakukan anamnesa. Kesadaran di nilai baik jika klien dapat
menjawab semua pertanyaan. Selain itu, klien yang sadar akan menunjukkan tidak ada
kelainan psikologis. Selain kesadran umum juga mencakup tanda-tanda vital yaitu: tekanan
darah, nadi, pernafasan dan suhu serta TB, BB dan keadaan umum.
b. Pemeriksaan khusus
1) Inspeksi
Periksa pandang yang dimulai dari kepala sampai kaki. Yang perlu diniali adalah
kemungkinan bentuk tubuh yang normal, rambut, mata, muka, bibir, mulut, gigi dan lidah.
Untuk mulut apakah ada karies dentis, stomatitis. Untuk leher apakah terdapat pembesaran
kelenjar , sedangkan untuk payudara apakah simetris kiri dan kanan, keadaan putting susu,
aerola serta ada tidaknya colostrums. Selain itu juga dapat di lihat bagaimana pembesaran
perut yang sesuai dengan usia kehamilan , adanya bekas operasi, inspeksi alat genitalia
seperti ada tidaknya oedema, varices dan pengeluaran pervaginam, dan untuk ekstremitas atas
dan bawah apakah ada kelainan.
2) Palpasi
Dengan menggunakan cara Leopold , kemungkinan yang di temukan adalah:
a) Leopold I : untuk menentukan TFU dan apa yang terdapat pada fundus
TFU dalam cm, pada fundus kemungkinan teraba bagian kepala atau bokong atau lainnya.
Pada kehamilan normal pada fundus teraba kurang bundar, lunak, Dan kurang melenting
yang kemungkinan adalah bokong janin.
Normal TFU pada TM III yaitu:
Usia kehamilan 28 minggu = 3 jari diatas pusat
Usia kehamilan 32 minggu = pertengahan px dan pusat
Usia kehamilan 36 minggu = 3 jari di bawah px
Usia kehamilan 40 minggu = pertengahan px dan pusat
b) Leopold II : untuk menentukan dimana letaknya punggung janin dan dimana letak bagian-
bagian kecilnya
Pada dinding perut klien bagian kanan dan kiri kemungkinan teraba punggung, anggota
gerak, bokong atau kepala.
c) Leopold III : untuk menetukan apa yang terdapat di bagian bawah dan apakah bagian
bawah janin sudah atau belum terpegang oleh PAP
Pada bagian terbawah kemungkinan teraba kepala , bokong atau anggota lainnya
d) Leopold IV : untuk menentukan apa yang menjadi bagian bawah dari janin dan seberapa
jauh masuknya bagian terbawah janin ke dalam rongga panggul
Kemungkinan bagian terbawah janin telah masuk PAP dan di lakukan perlimaan untuk
menentukan seberapa masukknya ke PAP.
3) Auskultasi
Untuk mendengar denyut jantung janin dengan frekuensi normal 120-160 kali per menit,
teratur atau tidak, intensitasnya kuat atau lemah dan punctum maximumnya.
Cara menghitung DJJ:
a) Setiap menit ( 1 menit penuh) misalnya 140 kali per menit
b) Di hitung 3×5 detik secara berurutan kemudian dikali 4, dengan cara ini dapat di ketahui
teratur atau tidaknya DJJ
4) Perkusi
Pemeriksaan reflek patella kanan dan kiri, yang berkaitan denagn kekurangan vitamin B, atau
penyakit saraf , intoksikasi magnesium sulfat.
5) Penghitungan TBBJ
Dengan menggunakan rumus ( TFU dalam cm – 13) x 155, yang bertujuan untuk mengetahui
taksiran berat badan janin
6) Pemeriksaan panggul luar
Untuk menentukan kemungkinan normal pada panggul luar denagn menggunakan jangka
panggul dan pita ukur.
a) Distansia spinarum : 23 cm
yaitu jarak antara spina iliaca anterior superior kiri dan kanan
b) Distansia criatarum :26 cm
yaitu jarak yang terjauh antara crista iliaca kiri dan kanan
c) Conjugate eksterna :18 cm
yaitu jarak antara pinggir atas symphisis dan ujung procesus spinosus ruas tulang lumbal ke
V
d) Ukuran lingkar panggul :80 cm
yaitu dari pinggir atas symphisiske pertengahan antara spina iliaca anterior superior dan
thoracanter mayor sepihak dan kembali melaui tempat-tempat yang sama di pihak yang lain.
c. Pemeriksaan penunjang
1) Darah
Yaitu kadar Hb, dimana Hb normal pada ibu hamil adalah ≥ 11 gr%
Hb ≥11 gr% :tidak anemia
Hb 9-10 gr% :anemia ringan
Hb 7-8 gr% :anemia sedang
Hb ≤7 gr% :anemia berat
2) Urine
Untuk memeriksa protein dan glukosa urine. Untuk klien dengan kehamilan normal protein
dan glukosa urinennya negative(-)
LANGKAH 2:MENGIDENTIFIKASI DIAGNOSA,MASALAH DAN KEBUTUHAN
a. Diagosa pada ibu hamil yaitu: ibu hamil G2P1A0H1 janin hidup, tunggal, intrauterin, letak
kepala/bokong, punggung kanan/kiri, keadaaan jalan lahir normal. KU ibu dan janin baik
b. Masalah : Masalah dapat berupa keluhan utama atau menyangkut masalah nomenklatur
dan non nomenklatur.
c. Kebutuhan:
a) Berikan penjelasan pada ibu tentang keluhan yang dialaminya
b) Anjurkan ibu untuk istirahat
c) Beri ibu terapy obat-obatan
d) Beritahu ibu cara mengkonsumsi tablet Fe
e) ingatkan ibu tentang tanda-tanda persalinan
f) Beritahu ibu untuk mulai mempersiapkan keperluan persalinan
g) Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi
LANGKAH 3:MENGIDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL
Berdasarkan hasil pengumpulan dari data dasar baik subjektif dan objektif kemungkinan
ditemukan adanya masalah potensial atau masalah yang akan terjadi.
LANGKAH 4:IDENTIFIKASI KEBUTUHAN YANG MEMERLUKAN PENANGANAN
SEGERA
Penanganan segera dibutuhkan jika ada masalah potensial yang terjadi.
LANGKAH 5: MERENCANAKAN ASUHAN YANG MENYELURUH
Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga dapat direncanakan asuhan sesuai
dengan kebutuhan yaitu:
• Berikan penjelasan pada ibu tentang keluhan yang dialaminya
• Anjurkan ibu untuk istirahat
• Beri ibu terapy obat-obatan
• Beritahu ibu cara mengkonsumsi tablet Fe
• ingatkan ibu tentang tanda-tanda persalinan
• Beritahu ibu untuk mulai mempersiapkan keperluan persalinan
• Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi
LANGKAH 6:MELAKSANAKAN PERENCANAAN
Dari perencanaan asuhan yang menyeluruh sehingga terlaksananya rencana asuhan yang
diberikan kepada ibu.
LANGKAH 7:EVALUASI
Merupakan langkah akhir dari proses asuhan kebidanan kehamilan normal. Dari hasil
pelaksanaan perencanaan dapat diketahui keefektifan dari asuhan yang telah diberikan.
KEHAMILAN SEROTINUS
Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized
Tag:kuliah ASKEB 4
0
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Angka kematian ibu dan angka kematian bayi merupakan indikator yang paling penting untuk
melakukan penilaian kemampuan suatu negara untuk menyelenggarakan pelayanan
kesehatan, khususnya dalam bidang obstetri. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) dan data Biro Pusat Statistik (BPS) angka kematian ibu dalam kehamilan
dan persalinan di seluruh dunia mencapai 515 ribu jiwa pertahun. Ini berarti seorang ibu
meninggal hampir setiap menit karena komplikasi kehamilan dan persalinannya. Sedangkan
angka kematian bayi di Indonesia pada tahun 2007 2-5 kali lebih tinggi mencapai 34 per 1000
kelahiran hidup atau 2 kali lebih besar dari target WHO yaitu sebesar 15% per kelahiran
hidup (Suprayitno, 2007).
Adapun penyebab kematian perinatal adalah kelainan kongenital, prematuritas, trauma
persalinan, infeksi, gawat janin dan asfiksia neonatorum. Terjadinya gawat janin di sebabkan
oleh induksi persalinan, infeksi pada ibu, perdarahan, insufisiensi plasenta, prolapsus tali
pusat, kehamilan dan persalinan preterm dan postterm. Persalinan postterm menunjukkan
bahwa kehamilan telah melampaui waktu perkiraan persalinan menurut hari pertama
menstruasinya. Ballantyne 1902 seperti dikutip Manuaba, seorang bidan Scotlandia, untuk
pertama kali menyatakan bahwa janin yang terlalu lama dalam kandungan dapat
membahayakan dirinya dan ibunya saat persalinan berlangsung. Kemudian berturu-turut 1950
Clifford mengemukakan tentang sindrom postterm baby, sedangkan 1960 Mc Clure
menyatakan bahwa angka kematian bayi dengan kehamilan postdate semakin meningkat
(Manuaba, 2007).
Menurut WHO persalinan postterm adalah keadaan yang menunjukkan bahwa kehamilan
berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir
menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari. Defenisi ini didasarkan pada
hasil observasi epidemiologi yang membuktikan bahwa persalinan postterm dengan disertai
gawat janin mempunyai kontribusi terhadap out come kesehatan yang buruk atau 10% dari
persalinan adalah persalinan postterm (Hidayat, 2009).
Faktor yang merupakan predisposisi terjadinya persalinan postterm diantaranya faktor ibu
adalah karena hanya sebagian kecil ibu yang mengingat tanggal menstruasi pertamanya
dengan baik dan adanya gangguan terhadap timbulnya persalinan seperti pengaruh esterogen,
oksitosin dan saraf uterus. Banyaknya kasus persalinan postterm di Indonesia yang tidak
dapat ditegakkan secara pasti diperkirakan sebesar 22% (Prawirohardjo, 2008).
Beberapa ahli dapat menyatakan bahwa persalinan preterm akan meningkatkan angka
morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi. Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan
postterm diperlukan deteksi sedini mungkin untuk menghindari kesalahan dalam menentukan
usia kehamilan. Jika taksiran persalinan telah ditentukan pada trimester terakhir atau
berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan bidan harus tetap siaga pada reabilitas taksiran
persalinan tersebut. Data yang terkumpul sering menunjukkan peningkatan resiko lahir mati
seiring peningkatan usia kehamilan lebih dari 40 minggu. Penyebab kematian tidak mudah
dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang pendekatan yang paling tepat guna
mencegah kematian tersebut. (Varney, Helen, 2007).
Bertolak dari pernyataan diatas, maka penulis sebagai calon bidan dalam rangka
mempersiapkan diri sebagai seorang bidan yang terampil dan memiliki keahlian diberikan
penugasan untuk melakukan pembinaan pada seorang ibu bersalin . Melalui pembinaan
tersebut penulis dapat memahami berbagai proses yang terjadi selama ibu hamil dan bersalin,
sehingga dapat menerapkan asuhan kebidanan yang tepat dan aman.
B. Batasan Masalah
Dalam penulisan kasus ini penulis membatasi masalah yaitu penerapan manajemen asuhan
kebidanan pada kasus persalinan postterm.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan pengalaman serta dapat menerapkan dan mengembangkan pola pikir
ilmiah dalam melaksanakan manajemen asuhan kebidanan pada kasus persalinan postterm.
2. Tujuan Khusus
1. Dapat melaksanakan pengkajian data dengan cara wawancara, observasi dan pemeriksaan
pada pada kasus persalinan postterm.
2. Dapat menegakkan diagnosa, mengkaji masalah dan kebutuhan pada kasus persalinan
postterm.
3. Dapat mengidentifikasi masalah potensi yang mungkin terjadi pada kasus persalinan
postterm.
4. Dapat menentukan tindakan segera pada kasus persalinan postterm.
5. Dapat membuat rencana asuhan pada kasus persalinan postterm sebagai dasar untuk
melaksanakan asuhan kebidanan.
6. Dapat melakukan implementasi secara efektif dan efisien pada kasus persalinan postterm.
7. Dapat mengevaluasi asuhan yang telah diberikan pada kasus persalinan postterm.
8. Dapat melakukan pendokumentasian pada kasus persalinan postterm.
D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Penulis
a. Menambah wawasan dan pengetahuan, serta agar penulis dapat melaksanakan manajemen
asuhan kebidanan pada kasus persalinan postterm.
b. Berperan secara profesional sehingga dapat memberikan pelayanan yang berkualitas pada
klien.
c. Mengembangkan kemampuan berfikir dalam menemukan masalah dan dalam mencari
pemecahan masalah tersebut
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Persalinan Postterm
1. Pengertian
Persalinan postterm adalah persalinan melampaui umur hamil 42 minggu dan pada janin
terdapat tanda postmaturitas (Manuaba, 2007).
Definisi standar untuk kehamilan dan persalinan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari
pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan (postdate)
digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan
dan maturitas janin ( Varney Helen, 2007).
Persalinan postterm menunjukkan kehamilan berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau
lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid
rata-rata 28 hari (Prawirohardjo, 2008).
2. Etiologi
Menurut Sarwono Prawirohardjo dalam bukunya (Ilmu Kebidanan, 2008) faktor penyebab
kehamilan postterm adalah :
a. Pengaruh Progesteron
Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian perubahan
endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekuler pada persalinan dan
meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin , sehingga terjadinya kehamilan dan
persalinan postterm adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesteron.
b. Teori Oksitosin
Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan postterm memberi kesan atau
dipercaya bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting dalam menimbulkan
persalinan dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis ibu hamil yang kurang pada usia
kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebabnya.
c. Teori Kortisol/ACTH janin
Dalam teori ini diajukan bahwa sebagai “pemberi tanda” untuk dimulainya persalinan adalah
janin, diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin. Kortisol janin akan
mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi
estrogen, selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. Pada cacat
bawaan janin seperti anansefalus, hipoplasia adrenal janin, dan tidak adanya kelenjar
hipofisis pada janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga
kehamilan dapat berlangsung lewat bulan.
d. Saraf Uterus
Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan kontraksi
uterus. Pada keadaan di mana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti pada kelainan letak,
tali pusat pendek dan bagian bawah masih tinggi kesemuanya diduga sebagai penyebabnya.
e. Heriditer
Beberapa penulis menyatakan bahwa seseorang ibu yang mengalami kehamilan postterm
mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada kehamilan berikutnya.
Mogren (1999) seperti dikutip Cunningham, menyatakan bahwa bilamana seseorang ibu
mengalami kehamilan postterm saat melahirkan anak perempuan, maka besar kemungkinan
anak perempuannya mengalami kehamilan postterm.
3. Diagnosa
Tidak jarang seorang bidan mengalami kesulitan dalam menentukan diagnosis karena
diagnosis ditegakkan berdasarkan umur kehamilan, bukan terhadap kondisi kehamilan.
Diagnosis dapat ditentukan melalui (Prawirohardjo, 2008) :
a. Riwayat Haid
Diagnosis tidak sulit untuk ditegakkan apabila hari pertama haid terakhir (HPHT) diketahui
dengan pasti. Untuk riwayat haid yang dapat dipercaya, diperlukan beberapa kriteria antara
lain,
1) Penderita harus yakin betul dengan HPHT-nya
2) Siklus 28 hari dan teratur
3) Tidak minum pil antihamil setidaknya 3 bulan terakhir
Selanjutnya diagnosis ditentukan dengan menghitung menurut rumus Naegele. Berdasarkan
riwayat haid, seseorang penderita yang ditetapkan sebagai kehamilan dan persalinan postterm
kemungkinan adalah sebagai berikut:
1) Terjadi kesalahan dalam menetukan tanggal haid terakhir atau akibat menstruasi abnormal.
2) Tanggal haid terakhir diketahui jelas, tetapi terjad kelambatan ovulasi.
3) Tidak ada kesalahan menentukan haid terakhir dan kehamilan memang berlangsung lewat
bulan (keadaan ini sekitar 20-30% dari seluruh penderita yang diduga kehamilan postterm).
b. Riwayat Pemerikasaan Antenatal
1) Tes Kehamilan
Bila pasien melakukan tes imunologik sesudah terlambat 2 minggu, maka dapat diperkirakan
kehamilan memang telah berlangsung 6 minggu.
2) Gerak Janin
Gerak janin atau quickening pada umumnya dirasakan ibu pada umur kehamilan 18-20
minggu. Pada primigravida dirasakan sekitar umur kehamilan 18 minggu, sedangkan pada
multigravida pada 16 minggu. Petunjuk umum untuk menentukan persalinan adalah
quickening ditambah 22 minggu pada primigravida atau ditambah 24 minggu pada
multigravida.
3) Denyut Jantung Janin (DJJ)
Dengan stetoskop Laenec DJJ dapat didengar mulai umur 18-20 minggu, sedangkan dengan
Doppler dapat terdengar pada umur kehamilan 10-12 minggu.
Kehamilan dapat dinyatakan sebagai kehamilan postterm bila didapat 3 atau lebih dari 4
kriteria hasil pemeriksaan sebagai berikut:
1) Telah lewat 36 minggu sejak tes kehamilan positif.
2) Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan Doppler.
3) Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerakan janin pertama kali.
4) Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan stetoskop Laennec.
c. Tinggi Fundus Uteri
Dalam trimester pertama pemeriksaan tinggi fundus uteri serial dalam sentimeter dapat
bermanfaat bila dilakukan pemeriksaan secara berulang tiap bulan. Lebih dari 20 minggu,
tinggi fundus uteri dapat menentukan umur kehamilan secara kasar.
d. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
Bila telah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi serial terutama sejak trimester
pertama,hamper dapat dipastikan usia kehamilan. Pada trimester pertamapemeriksaan
panjang kepala-tungging (crown-rump length/CRL) memberikan ketepatan kurang lebih 4
hari dari taksiran persalinan.
e. Pemeriksaan Radiologi
Dapat dilakukan dengan melihat pusat penulangan. Gambaran epifiisis femur bagian distal
paling dini dapat dilihat pada kehamilan 32 minggu, epifisis tibia proksimal terlihat setelah
umur kehamilan 36 minggu dan epifisis kuboid pada kehamilan 40 minggu.
f. Pemeriksaan Laboratorium
1) Kadar lesitin/spinngomielin
Bila lesitin/spinngomielin dalam cairan amniom kadarnya sama, maka umur kehamilan
sekitar 22-28 minggu, lesitin 1,2 kali kadar spingomielin: 28-32 minggu, pada kehamilan
genap bulan rasio menjadi 2:1 . Pemeriksaan ini tidak dapat dipakai untuk menentukan
kehamilan postterm, tetapi hanya digunakan untuk menentukan apakah janin cukup
umur/matang untuk dilahirkan yang berkaitan dengan mencegah kesalahan dalam tindakan
pengakhiran kehamilan.
2) Aktivitas tromboplastin cairan amniom
Hastwell berhasil membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah.
Aktifitas ini meningkat dengan bertambahnya umur kehamilan. Pada umur kehamilan 41-42
minggu ATCA berkisar antara 45-65 detik, pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu
didapatkan ATCA kurang dari 45 detik. Bila didapatkan ATCA antara 42-46 detik
menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung lewat waktu.
3) Sitologi cairan amnion
Pengecatan nile bluesulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. Bila jumlah sel
yang mengandung lemak melebihi 10% maka kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila
50% atau lebih maka umur kehamilan 39 minggu atau lebih.
4) Sitologi vagina
Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik > 20%) mempunyai sensitivitas 75 %.
4. Komplikasi
Kemungkinan komplikasi pada persalinan postterm adalah:
a. Terhadap Ibu
Persalinan postterm dapat menyebabkan distosis karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin
besar, moulding kepala kurang. Maka akan sering dijumpai seperti partus lama, kesalahan
letak, inersia uteri, distosia bahu, robekan luas jalan lahir, dan perdarahan postpartum. Hal ini
akan menaikkan angka mordibitas dan mortalitas (Prawirohardjo, 2006).
b. Terhadap Janin
Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan
pertukaran CO2/O2 sehingga mempunyai risiko asfiksia, hipoksia, hipovolemia, asidosis,
hipoglikemia, hipofungsi adrenal sampai kematian dalam rahim (Saifuddin, 2002).
5. Tanda Bayi Postmatur
Tanda postmatur dapat di bagi dalam 3 stadium (Prawirohardjo, 2008) :
a. Stadium I
Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh dan
mudah mengelupas.
b. Stadium II
Gejala diatas disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit.
c. Stadium III
Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali pusat.
Menurut Manuaba 2007, tanda bayi postmatur adalah:
a. Biasanya lebih berat dari bayi matur ( > 4000 gram).
b. Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur.
c. Rambut lanugo hilang atau sangat kurang.
d. Verniks kaseosa di badan berkurang.
e. Kuku-kuku panjang.
f. Rambut kepala agak tebal.
g. Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel.
6. Penatalaksanaan
Tindakan yang penting dilakukan (Saifuddin, 2002) adalah:
a. Setelah usia kehamilan > 40-42 minggu yang penting adalah monitoring janin sebaik-
baiknya.
b. Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiensi plasenta, persalinan spontan dapat ditunggu
dengan pengawasan ketat.
c. Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah matang boleh
dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa amniotomi.
d. Bila :
1) Riwayat kehamilan yang lalu ada kematian janin dalam rahim.
2) Terdapat hipertensi, pre-eklampsia.
3) Kehamilan ini adalah anak pertama karena infertilitas.
4) Pada kehamilan > 40-42 minggu.
Maka ibu dirawat di rumah sakit :
e. Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada.
1) Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang.
2) Pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi gawat janin.
3) Pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklampsia, hipertensi
menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin.
f. Pada persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat merugikan
bayi, janin postmatur kadang-kadang besar dan kemungkinan diproporsi sefalo-pelvik dan
distosia janin perlu dipertimbangkan. Selain itu janin postmatur lebih peka terhadap sedatif
dan narkosa, jadi pakailah anestesi konduksi.
7. Pertimbangan Persalinan Anjuran
Persalinan anjuran bertujuan untuk dapat (Wiknjosastro, 2000):
a. Merangsang otot rahim berkontraksi, sehingga persalinan berlangsung.
b. Membuktikan ketidakseimbangan antara kepala janin dengan jalan lahir bishop telah
menetapkan beberapa penilaian agar persalinan induksi dapat berhasil seperti yang ditujukan
pada tabel berikut :
Tabel 1.1
Skor Bishop
Keadaan Fisik Nilai Total Nilai
Pembukaan serviks 0 cm perlunakan 0-30%
Konsistensi serviks kaku
Arah serviks ke belakang
Kedudukan bagian terendah -3 0 0
Pembukaan 1-2 cm perlunakan serviks 40-50%
Konsistensi serviks sedang
Arah serviks ke tengah
Kedudukan bagian terendah -2 1 1
Pembukaan 3-4 cm perlunakan 60-70%
Konsistensi serviks lunak
Kedudukan bagian terendah -1-0 2 2
Pembukaan di atas 5 cm perlunakan 80% + 3 3
Persalinan anjuran atau induksi persalinan dapat dilakukan dengan metode (Manuaba, 2007):
a. Metode Stein
Metode Steinsche merupakan metode lama, tetapi masih perlu diketahui, yaitu:
a) Penderita diharapkan tenang pada malam harinya.
b) Pada pagi harinya diberikan enema dengan caster oil atau sabun panas.
c) Diberikan pil kinine sebesar 0,200 gr, setiap jam sampai mencapai dosis 1,200 gr.
d) Satu jam setelah pemberian kinine pertama, disuntikkan oksitosin 0,2 unit/jam sampai
tercapai his yang adekuat.
Persalinan anjuran dengan metode ini di luar rumah sakit berbahaya karena dapat terjadi :
1) Kontraksi rahim yang kuat sehingga dapat mengancam : ketuban pecah saat pembukaan
kecil, ruptura uteri membakat, gawat janin dalam rahim.
2) Kelambatan melakukan rujukan, dapat merugikan penderita.
3) Persalinan anjuran dengan infus pituitrin (sintosinon).
b. Persalinan anjuran dengan infus oksitosin, pituitrin atau sintosinon 5 unit dalam 500 cc
glukosa 5%.
Teknik induksi dengan infus glukosa lebih sederhana, dan mulai dengan 8 tetes, dengan
teknik maksimal 40 tetes/menit. Kenaikan tetesan setiap 15 menit sebanyak 4 sampai 8 tetes
sampai kontraksi optimal tercapai. Bila dengan 30 tetes kontraksi maksimal telah tercapai,
maka tetesan tersebut dipertahankan sampai terjadi persalinan. Apabila terjadi kegagalan,
ulangi persalinan anjuran dengan selang waktu 24 sampai 48 jam.
c. Memecahkan ketuban
Memecahkan ketuban merupakan salah satu metode untuk mempercepat persalinan. Setelah
ketuban pecah, ditunggu sekitar 4 sampai 6 jam dengan harapan kontraksi otot rahim akan
berlangsung. Apabila belum berlangsung kontraksi otot rahim dapat diikuti induksi
persalinan dengan infus glukosa yang mengandung 5 unit oksitosin.
d. Persalinan anjuran dengan menggunakan prostaglandin
Telah diketahui bahwa kontraksi otot rahim terutama dirangsang oleh prostaglandin.
Pemakaian prostaglandin sebagai induksi persalinan dapat dalam bentuk infus intravena
(Nalador) dan pervaginam (prostaglandin vagina suppositoria).
e. Pompa Payudara atau Stimulasi Putting
Beberapa studi skala besar telah mengevaluasi keamanan dan keefektifitasaan stimulasi
payudara sebagai metede induksi persalinan. Namun, efek komulatif dari banyak studi yang
menggunakan pompa payudara atau stimulasi putting manual yang di kombinasi dengan
landasan fisiologi perubahan serviks. Penanganan yang beragam termasuk pompa payudara
listrik otomatis yang menstimulasi masing-masing payudara selama15 menit, diselingi
periode istirahat selama15 menit, stimulasi payudara dengan pijatan lembut menggunakan
kompresan hangat dan lembab salama 1 jam sebanyak 3 kali sehari, stimulasi payudara
selama 45 menit tiga kali sehari dan pijatan lembut pada kedua payudara secara bergantian
selama waktu 3 jam sehari. Kelemahan penelitian ini meliputi kurangnya kepatuhan dalam
melaksanakan intervensi yang di anjurkan, jumlah anggoata sedikit dalam kelompok, kontrol
minim terhadap variabel penting, seperti usia gestasi, dan kriteria intervensi yang tidak dapat
di andalkan. Wanita yang mencoba teknik ini sebaiknya di peringatkan membatasi kontak
dengan puting sehingga tidak terlalu hiperstimulasi uterus.
Tabel 1.2
Bagan Penanganan Kehamilan Postterm
Kriteria Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang umur kehamilannya lebih dari 42
minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir
Kategori Kehamilan postterm tanpa kelainan Kehamilan postterm dengan kelainan
Penilaian
1) Skor Bishop
2) Pemantauan janin
3) Letak janin
1) Skor Bishop >5
2) Baik
3) Normal
1) Skor Bishop 41 minggu (rujuk )
Puskesmas 1) Penilaian umur kehamilan HPHT
2) Riwayat obstetri yang lalu
3) Tinggi fundus uteri
4) Faktor risiko
5) Kehamilan > 41 minggu (rujuk )
Rumah Sakit 1) Penilaian ulang umur kehamilan
2) Penilaian Skor Bishop
3) Pemeriksaan fetal assessment
4) USG
5) NST (kalau perlu CST)
Skor Bishop 5
Anak tidak besar
NST reaktif
Penempatan normal
Lakukan induksi (sambil observasi)
8. Pengelolaan selama persalinan
Selama proses persalinan yang penting di lakukan (Prawirohardjo, 2008) adalah :
a. Pemantauan yang baik terhadap ibu (aktivitas uterus) dan kesejahteraan janin. Pemakaian
continuous electronic fetal monitoring sangat bermanfaat.
b. Hindari penggunaan obat penenang atau analgetika selama persalinan.
c. Awasi jalannya persalinan.
d. Persiapan oksigen dan bedah sesar bila sewaktu-waktu terjadi gawat janin.
e. Cegah terjadinya aspirasi mekonium dengan mengusap wajah neonatus dan dilanjutkan
resusitasi sesuai dengan prosedur pada janin dengan cairan ketuban bercampur mekonium.
f. Segera setelah lahir,bayi harus segera diperiksa terhadap kemungkinan hipoglikemi,
hiovolemi, hipotermi dan polisitemi.
g. Pengawasan ketat terhadap neonatus dengan tanda-tanda posmaturitas.
h. Hati-hati kemungkinan terjadi distosia bahu.
Sedangkan dalam buku acuan nasional pelayaan kesehatan maternal dan neonatal,
pengelolaan intrapartum dapat dilakukan dengan :
a. Pasien tidur miring sebelah kiri.
b. Pergunakan pemantauan elektronik jantung janin.
c. Beri oksigen bila ditemukan keadaan jantung yang abnormal.
d. Perhatikan jalannya persalinan.
e. Segera setelah lahir, bayi harus segera diperiksa terhadap kemungkinan hipoglikemi,
hipovolemi, hipotermi dan polisitemi.
Apabila ditemukan cairan ketuban yang terwarnai mekoneum harus segera dilakukan
resusitasi sebagai berikut :
a. Penghisapan nasofaring dan orofaring posterior secara agresif sebelum dada janin lahir.
b. Bila mekoneum tampak pada pita suara, pemberian ventilasi dengan tekanan positif dan
tangguhkan dahulu sampai trakea telah di intubasi dan penghisapan yang cukup.
c. Intubasi trakea harus dilakukan rutin bila ditemukan mekoneum yang tebal.
B. Gawat Janin
1. Pengertian
Gawat janin adalah keadaan yang terjadi bila janin tidak menerima oksigen yang cukup
sehingga janin mengalami hipoksia (APN, 2008).
Gawat janin adalah keadaan hipoksia janin (Prawirohardjo, 2000).
Indikator gawat janin yaitu:
a. Bradikardi : DJJ 160 kali/menit.
2. Etiologi
Janin yang beresiko tinggi terjadinya kegawatan (APN, 2008) :
a. Janin yang pertumbuhannya terhambat.
b. Janin dari ibu dengan diabetes.
c. Janin preterm dan postterm.
d. Janin dengan kelainan letak..
e. Janin dengan kelinan bawaan / infeksi.
Gawat janin dalam persalinan dapat terjadi bila:
a. Persalinan berlangsung lama.
b. Induksi persalinan dengan oksitosin.
c. Ada perdarahan / infeksi.
d. Insufisiensi plasenta, pretem / eklampsia.
3. Tanda-tanda Gawat Janin
DJJ abnormal (APN, 2008) :
a. DJJ dalam persalinan bervariasi dan kembali normal setelah beberapa waktu, jika tidak
kembali normal menunjukkan adanya hipoksia.
b. Bradikardi terjadi diluar HIS dan tidak menghilang setelah HIS, ini menunjukkan gawat
janin.
c. Takikardi reaksi adanya demam pada ibu, obat-obatan, amnionitis.
d. Bila ibu tidak mengalami takikardi, tapi DJJ > 160 kali / menit, hal ini menunjukkan
hipoksia.
4. Penanganan
Bila terjadi gawat janin dalam persalinan dapat dilakukan (APN, 2008) :
a. Periksa pembukaan serviks.
b. Jika pembukaan serviks masih kecil, segera lakukan rujukan dan apabila pembukaan
serviks sudah lengkap, periksa penurunan kepala.
c. Jika penurunan kepala kurang dari Hodge III, segera lakukan rujukan dan apabila
penurunan kepala berada pada Hodge III-IV dapat dilakukan persalinan pervaginam dengan
ibu diberikan oksigen dan mengatur posisi ibu dalam keadaan Mc Robert.
d. Kala II dipercepat dengan melakukan episiotomi, vacuum ekstraksi, memberikan injeksi
dexamethason dengan tujuan memperbaiki DJJ , serta mengatur posisi ibu dan kristeler.
e. Kontrol DJJ setiap 5 menit.
f. Periksa tekanan darah,nadi,suhu ibu setiap 10 menit.
g. Bradikardi terjadi pada kala II akibat kompresi tali pusat persalinan lancar, tidak perlu
dilakukan tindakan.
C. Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Persalinan Postterm
a. langkah I : Pengumpulan Data Dasar
1) Data Subjektif
a) Identitas ibu dan suami yang perlu dikaji adalah nama, umur, agama, suku/bangsa,
pendidikan , pekerjaan, nomor telepon dan alamat. Bertujuan untuk menetapkan identitas
pasien karena mungkin memiliki nama yang sama dengan alamat dan nomor telepon yang
berbeda serta untuk mengetahui faktor resiko yang mungkin terjadi.
b) Keluhan utama , merupakan alasan utama klien untuk datang ke pelayanan kesehatan.
Kemungkinan yang ditemui pada kasus persalinan postterm ini adalah ibu mengeluhkan
bahwa kehamilannya telah lewat dari taksiran persalinannya.
c) Riwayat menstruasi yang dikaji adalah menarche, siklus haid, lamanya, banyaknya dan
adanya dismenorrhoe saat haid yang bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis
persalinan postterm dari siklus haidnya .
d) Riwayat kehamilan sekarang yang dikaji yaitu HPHT, riwayat hamil muda dan tua,
frekuensi pemeriksaan ANC yang bertujuan untuk mengetahui taksiran persalinan dan resiko
yang akan terjadi dari adanya riwayat pada kehamilan muda maupun tua yang pernah
dialami.
e) Riwayat penyakit dahulu yang dikaji adalah apakah ibu ada menderita penyakit jantung,
DM, ipertensi, ginjal, asma, TBC, epilepsi dan PMS serta ada tidaknya ibu alergi baik
terhadap obat-obatan ataupun makanan dan pernah transfusi darah ,atau operasi, serta ada
tidaknya kelainan jiwa.
f) Riwayat penyakit keluarga yang dikaji yaitu ada tidaknya keluarga ibu maupun suami yang
menderita penyakit jantung, DM, hipertensi, ginjal, asma, dan riwayat keturunan kembar
yang bertujuan agar dapat mewaspadai apakah ibu juga berkemungkinan menderita penyakit
tersebut.
g) Riwayat perkawinan yang dikaji yaitu umur berapa ibu kawin dan lamanya ibu baru hamil
setelah kawin, yang bertujuan untuk mengetahui apakah ibu memiliki faktor resiko.
h) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu yang dikaji adalah fisiologi jarak
kehamilan dengan persalinan yang minimal 2 tahun, usia kehamilan aterm 37-40 minggu atau
apakah ibu ada mempunyai riwayat persalinan postterm, jenis persalinan yang bertujuan
untuk menentukan ukuran panggul dan adanya riwayat persalinan dengan tindakan, sehingga
menunjukkan bahwa 3P telah bekerja sama dengan baik, penyulit yang bertujuan untuk
mengetahui penyulit persalinan yang pernah dialami ibu, nifas yang lalu kemungkinan
adanya keadaan lochea, laktasi berjalan dengan normal atau tidak serta keadaan anak
sekarang.
i) Riwayat keluarga berencana, kemungkinan ibu pernah menggunakan alat –alat kontrasepsi
atau tidak.
j) Makan terkhir bertujuan untuk mengetahui persiapan tenaga ibu untuk persalinan.
k) BAK dan BAB terakhir bertujuan untuk mengetahui apakah ada penghambat saat proses
persalinan berlangsung.
2) Data Objektif
a) Pemeriksaan umum
Secara umum ditemukan gambaran kesadaran umum, dimana kesadaran pasien sangat
penting dinilai dengan melakukan anamnesa. Selain itu pasien sadar akan menunjukkan tidak
adanya kelainan psikologis dan kesadaran umum juga mencakup pemeriksaan tanda-tanda
vital, berat badan, tinggi badan , lingkar lengan atas yang bertujuan untuk mengetahui
keadaan gizi pasien.
b) Pemeriksaan khusus
I. Inspeksi
Periksa pandang yang terpenting adalah mata (konjungtiva dan sklera) untuk menentukan
apakah ibu anemia atau tidak, muka (edema), leher apakah terdapat pembesaran kelenjar baik
kelenjar tiroid maupun limfe sedangkan untuk dada bagaimana keadaan putting susu, ada
tidaknya teraba massa atau tumor, tanda-tanda kehamilan (cloasma gravidarum, aerola
mamae, calostrum), serta dilihat pembesaran perut yang sesuai dengan usia kehamilan, luka
bekas operasi, dan inspeksi genitalia bagian luar serta pengeluaran pervaginam dan
ekstremitas atas maupun bawah serta HIS.
II. Palpasi
Dengan menggunakan cara leopold:
Leopold I :
Untuk menentukan TFU dan apa yang terdapat dibagian fundus (TFU dalam cm) dan
kemungkinan teraba kepala atau bokong lainnya, normal pada fundus teraba bulat, tidak
melenting, lunak yang kemungkinan adalah bokong janin
Leopold II:
Untuk menentukan dimana letaknya punggung janin dan bagian-bagian kecilnya. Pada
dinding perut klien sebelah kiri maupun kanan kemungkinan teraba, punggung, anggota
gerak, bokong atau kepala.
Leopold III:
Untuk menentukan apa yang yang terdapat dibagian bawah perut ibu dan apakah BTJ sudah
terpegang oleh PAP, dan normalnya pada bagian bawah perut ibu adalah kepala.
Leopold IV:
Untuk menentukan seberapa jauh masuknya BTJ ke dalam rongga panggul dan dilakukan
perlimaan untuk menentukan seberapa masuknya ke PAP.
III. Auskultasi
Untuk mendengar DJJ dengan frekuensi normal 120-160 kali/menit, irama teratur atau tidak,
intensitas kuat, sedang atau lemah. Apabila persalinan disertai gawat janin, maka DJJ bisa
kurang dari 110 kali/menit atau lebih dari 160 kali/menit dengan irama tidak teratur.
IV. Perkusi
Pemeriksaan reflek patella kiri dan kanan yang berkaitan dengan kekurangan vitamin B atau
penyakit saraf, intoksikasi magnesium sulfat.
V. Penghitungan TBBJ
Dengan menggunakan rumus (TFU dalam cm – 13) x 155 yang bertujuan untuk mengetahui
taksiran berat badan janin dan dalam persalinan postterm biasanya berat badan janin terjadi
penurunan karena terjadi perubahan anatomik yang besar pada plasenta atau sebaliknya berat
janin terus bertambah karena plasenta masih berfungsi.
VI. Pemeriksaan Dalam
Yang dinilai adalah keadaan servik, pembukaan, keadaan ketuban, presentasi dan posisi,
adanya caput atau moulage, bagian menumbung atau terkemuka, dan kapasitas panggul
(bentuk promontorium, linea innominata, sacrum, dinding samping panggul, spina ischiadica,
coksigis dan arcus pubis > 900).
c) Pemeriksaan Penunjang
I. Darah
Yaitu kadar Hb, dimana Hb normal pada ibu hamil adalah ≥ 11 gr% (TM I dan TM III 11 gr
% dan TM II 10,5 gr %)
Hb ≥ 11 gr% : tidak anemia
Hb 9-10 gr% : anemia ringan
Hb 7-8 gr% : anemia sedang
Hb ≤ 7 gr% : anemia berat
II. Urine
Untuk memeriksa protein urine dan glukosa urine.untuk klien dengan kehamilan dan
persalinan normal protein dan glukosa urine negative.
III. Aktivitas tromboplastin cairan amniom
Pemeriksaan ini membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah.
Aktifitas ini meningkat dengan bertambahnya umur kehamilan. Pada umur kehamilan 41-42
minggu ATCA berkisar antara 45-65 detik, pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu
didapatkan ATCA kurang dari 45 detik. Bila didapatkan ATCA antara 42-46 detik
menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung lewat waktu.
IV. Sitologi cairan amnion
Pengecatan nile bluesulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. Bila jumlah sel
yang mengandung lemak melebihi 10% maka kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila
50% atau lebih maka umur kehamilan 39 minggu atau lebih.
V. Sitologi vagina
Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik > 20%) mempunyai sensitivitas 75 %.
b. Langkah II: Interprestasi Data
Data dasar di interprestasikan menjadi masalah atau diagnosa spesifik yang sudah di
identifikasikan. Di dalam interprestasi data, terdapat tiga komponen penting di dalamnya
yaitu:
1) Diagnosa
Diagnosa setiap kala persalinan berbeda dan diagnosa ditetapkan bertujuan untuk mengetahui
apakah ada penyimpangan. Untuk persalinan postterm dapat ditegakkan dengan mengetahui
HPHT serta menetukan taksiran persalinan dan mengetahui gerakan janin pertama kali
dirasakan dan riwayat pemeriksaan ANC lainnya.
2) Masalah
Dapat berupa keluhan utama atau keadaan psikologis ibu, keadaan janin yang memburuk
karena terjadi gawat janin, nyeri akibat luka episiotomi.
3) Kebutuhan
Di sesuaikan dengan adanya masalah,seperti:
a) Berikan ibu dukungan psikologis.
b) Anjurkan keluarga untuk mendampingi ibu saat persalinan.
c) Lakukan episiotomi untuk mempercepat kala II dan bila terjadi gawat janin.
d) Jahit laserasi akibat episiotomi.
e) Berikan ibu rasa nyaman dengan membersihkan dan mengganti pakaian ibu.
f) Penuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu.
g) Anjurkan ibu untuk istirahat.
c. Langkah III: Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Kemungkinan masalah potensial yang timbul adalah:
1) Terjadinya gawat janin.
2) Distosia bahu.
3) Perdarahan postpartum.
4) Atonia uteri.
5) Anemia .
d. Langkah IV : Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera.
Adapun tindakan segera yang dilakukan adalah:
1) Untuk gawat janin.
I. Atur posisi ibu miring kekiri.
II. Berikan oksigen.
III. Lakukan episiotomi.
IV. Injeksikan dexamethason.
V. Pasang infuse RL jika diperlukan.
VI. Lakukan resusitasi setelah janin lahir.
2) Distosia bahu.
I. Atur posisi ibu dengan MC Robert.
II. Lahirkan bahu janin dalam waktu 60 detik.
III. Lakukan episiotomi luas.
IV. Tarik kepala janin cunam kebawah dan berikan tekanan pada supra simfisis.
3) Perdarahan postpartum.
I. Pasang infuse RL dan oksigen.
II. Periksa laserasi.
III. Jahit laserasi.
IV. Berikan uterotonika.
V. Lakukan manual atau KBI dan KBE pada kasus atonia uteri.
e. Langkah V:Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh
Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga dapat direncanakan asuhan sesuai
dengan kebutuhan yaitu:
a) Kala I
Tindakan yang perlu dilakukan adalah:
1) Melakukan pemeriksaan TTV setiap 2-3 jam.
2) Pemeriksaan DJJ setiap ½ jam dan setiap 5 menit jika terjadi gawat janin.
3) Memperhatikan keadaan kandung kemih agar selalu kosong.
4) Memperhatikan keadaan patologis.
5) Pasien tidak diperkenankan mengedan.
6) Memberikan dukungan psikologis.
7) Menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu seperti suami,keluarga.
8) Mengatur aktivitas dan posisi.
9) Menjaga privasi.
10) Penjelasan tentang kemajuan persalinan.
11) Menjaga kebersihan diri.
12) Mengatasi rasa panas
13) Pemenuhan nutrisi dan hidrasi
b) Kala II
1) Posisi ibu saat meneran (posisi duduk atau setengah duduk, posisi jongkok atau berdiri,
posisi merangkak atau berbaring miring kekiri).
2) Memberikan dukungan pada ibu.
3) Memimpin mengedan.
4) Pemantauan DJJ setiap selesai mengedan.
5) Menolong kelahiran bayi (dengan melakukan episiotomi jika terjadi gawat janin).
6) Periksa tali pusat.
7) Melahirkan bahu.
8) Melahirkan sisa tubuh bayi.
9) Bayi dikeringkan dan dihangatkan seluruh tubuhnya.
10) Melakukan rangsangan taktil.
11) Lakukan resusitasi jika ditemukan bayi asfiksia.
c) Kala III
1) Manajemen aktif kala III (injeksi oksitosin 10 iu secara im, melakukan PTT, massase
fundus uteri)
2) Cara pelepasan plasenta adalah:
I. Secara Schultze
Pelepasan plasenta dimulai dari pertengahan, sehingga plasenta lahir diikuti oleh pengeluaran
darah.
II. Secara Duncan
Pelepasan plasenta dimulai dari daerah tepi, sehingga terjadi perdarahan dan diikuti oleh
pelepasan plasenta.
3) Tanda-tanda pelepasan plasenta
I. Rahim naik disebabkan karena plasenta yang telah lepas jatuh kedalam segmen bawah
rahim atau bagian atas vagina dan mengangkat rahim.
II. Bagian tali pusat yang lahir menjadi lebih panjang.
III. Rahim menjadi lebih bundar bentuknya dan lebih keras.
IV. Keluar darah dengan tiba-tiba.
4) Cara pemeriksaan plasenta sudah lepas, yaitu:
I. Perasat kustner
Dengan Perasat kustner tali pusat diregangkan dengan satu tangan dan tangan lainnya
menekan perut atas symfisis, jika tali pusat masuk, maka plasenta belum lepas.
II. Perasat klein
Ibu disuruh mengejan, sehingga tali pusat ikut serta turun atau memanjang. Bila mengejan
dihentikan dapat terjadi tali pusat tertarik kembali,maka plasenta belum terlepas ataupun
sebaliknya.
III. Perasat strassman
Tali pusat diregangkan dan rahim diketok, bila getarannya sampai pada tali pusat berarti
plasenta belum lepas.
5) Pemeriksaan plasenta dan selaputnya
6) Pemeriksaan laserasi
d) Kala IV
1) Lakukan massase uterus untuk merangsang kontraksi.
2) Evaluasi TFU.
3) Jahit laserasi.
4) Bersihkan ibu dang anti pakaian.
5) Evaluasi KU ibu.
6) Pantau TTV, kandung kemih dan perdarahan setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan
setiap 30 menit dalam satu jam kedua.
7) Pantau suhu ibu selama dua jam pertama
8) Nilai perdarahan, periksa perineum dan vagina setiap 15 menit dalam satu jam pertama
dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua
9) Ajarkan ibu dan keluarga bagaimana menilai kontraksi uterus yang normal
10) Lakukan perawatan bayi dengan memberikan vitamin K dan salep mata
11) Bersihkan peralatan.
12) Penuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu.
13) Anjurkan ibu utuk istirahat.
14) Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya.
15) Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama kala empat persalinan dihalaman
belakang partograf.
e) Langkah V:Melaksanakan Perencanaan
Perencanaan bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian oleh klien bahkan anggota
kesehatan lainnya yang mana bidan berkolaborasi. Bidan juga bertanggung jawab terhadap
terlaksananya rencana asuhan yang telah di rencanakan.
f) Langkah VII:Evaluasi
Merupakan langkah akhir dari proses asuhan kebidanan persalinan,dari hasil pelaksanaan
perencanaan dapat diketahui keefektifan dari asuhan yang telah diberikan dan menunjukkan
perbaikan kondisi apabila banyi ataupun ibu sempat mengalami masalah yang harus segera
ditangani.
g) Pendokumentasian
Pendokumentasian kasus dibuat dalam bentuk matrik dengan menggunakan 7 langkah
varney.
DAFTAR PUSTAKA
Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran :EGC
Prawiroharjo, Sarwono.2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo.
_____. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka
Varney, Helen Dkk.2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.4 vo1. Jakarta.EGC
Wiknjosastro. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo.
APN. 2008. Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta: Institusi DEPKES RI
Blog pada WordPress.com. | The Greyzed Theme.
Ikuti
Follow “tiara3arza”
Get every new post delivered to your Inbox.
Powered by WordPress.com

Beranda

  • 1.
     Beranda  About tiara3arza Jeniusitu 1% inspirasi & 99% keringat Stay updated via RSS  Tulisan-tulisan Terbaru o MEMORIAN’t In ANDALAS CITY 2008 – 2011 o RETENSIO PLASENTA o SOLUSIO PLASENTA o HIPER EMESIS GRAVIDARUM o ABORTUS INKOMPLIT o EFUSI PLEURA o ANEMIA DALAM KEHAMILAN o KEHAMILAN SEROTINUS o DISTOSIA BAHU o SISTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS  Kategori o Uncategorized (15) Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘kuliah ASKEB 4’ RETENSIO PLASENTA Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized Tag:kuliah ASKEB 4 0 . Landasan Teori 2.1 Pengertian Retensio plasenta (placental retention) merupakan plasenta yang belum lahir dalam setengah jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta (rest placenta) merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam rongga rahim yang dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini (early postpartum hemorrhage) atau perdarahan post partum lambat (late postpartum hemorrhage) yang biasanya terjadi dalam 6-10 hari pasca persalinan. Menurut Sarwono Prawirohardjo : Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir. Jenis retensio plasenta : 1) Plasenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis. 2) Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian lapisan miometrium. 3) Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai/memasuki miometrium.
  • 2.
    4) Plasenta perkretaadalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus . 5) Plasenta inkarserata adalah tertahannya plasenta di dalam kavum uteri, disebabkan oleh konstruksi ostium uteri. Sebab-sebabnya plasenta belum lahir bisa oleh karena : a). plasenta belum lepas dari dinding uterus; atau b). plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan. Apabila plasenta belum lahir sama sekali, tidak terjadi perdarahan; jika lepas sebagian, terjadi perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya. Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena: a) Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta adhesiva); b) Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korialis menembus desidua sampai miometrium- sampai di bawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta). c) Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III, sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta). 2.2 Anatomi Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15 sampai 20 cm dan tebal lebih kurang 2.5 cm. beratnya rata-rata 500 gram. Tali-pusat berhubungan dengan plasenta biasanya di tengah (insertio sentralis). Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan lebih kurang 16 minggu dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uteri. Bila diteliti benar, maka plasenta sebenarnya berasal dari sebagian besar dari bagian janin, yaitu vili koriales yang berasal dari korion, dan sebagian kecil dari bagian ibu yang berasal dari desidua basalis. Darah ibu yang berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang berada di desidua basalis. Pada sistole darah disemprotkan dengan tekanan 70-80 mmHg seperti air mancur ke dalam ruang interviller sampai mencapai chorionic plate, pangkal dari kotiledon-kotiledon janin. Darah tersebut membasahi semua vili koriales dan kembali perlahan-lahan dengan tekanan 8 mmHg ke vena-vena di desidua. Plasenta berfungsi: sebagai alat yang memberi makanan pada janin, mengeluarkan sisa metabolisme janin, memberi zat asam dan mengeluarkan CO2, membentuk hormon, serta penyalur berbagai antibodi ke janin. 2.3 Etiologi A. Etiologi dasar meliputi : 1) Faktor maternal a. Gravida berusia lanjut b. Multiparitas 2) Faktor uterus a. Bekas sectio caesaria, sering plasenta tertanam pada jaringan cicatrix uterus b. Bekas pembedahan uterus c. Anorrali dan uterus d. Tidak efektif kontraksi uterus e. Pembentukan kontraksi ringan f. Bekas curetage uterus, yang terutama dilakukan setelah abortus g. Bekas pengeluaran plasenta secara manual h. Bekas endometritis 3) Faktor plasenta a. Plasenta previa b. Implantasi corneal
  • 3.
    c. Plasenta akreta d.Kelainan bentuk plasenta 2.4 Patofisiologi Setelah bayi dilahirkan, uterus secara spontan berkontraksi. Kontraksi dan retraksi otot-otot uterus menyelesaikan proses ini pada akhir persalinan. Sesudah berkontraksi, sel miometrium tidak relaksasi, melainkan menjadi lebih pendek dan lebih tebal. Dengan kontraksi yang berlangsung kontinyu, miometrium menebal secara progresif, dan kavum uteri mengecil sehingga ukuran juga mengecil. Pengecian mendadak uterus ini disertai mengecilnya daerah tempat perlekatan plasenta. Ketika jaringan penyokong plasenta berkontraksi maka plasenta yang tidak dapat berkontraksi mulai terlepas dari dinding uterus. Tegangan yang ditimbulkannya menyebabkan lapis dan desidua spongiosa yang longgar memberi jalan, dan pelepasan plasenta terjadi di tempat itu. Pembuluh darah yang terdapat di uterus berada di antara serat- serat oto miometrium yang saling bersilangan. Kontraksi serat-serat otot ini menekan pembuluh darah dan retaksi otot ini mengakibatkan pembuluh darah terjepit serta perdarahan berhenti. Pengamatan terhadap persalinan kala tiga dengan menggunakan pencitraan ultrasonografi secara dinamis telah membuka perspektif baru tentang mekanisme kala tiga persalinan. Kala tiga yang normal dapat dibagi ke dalam 4 fase, yaitu: 1.Fase laten, ditandai oleh menebalnya duding uterus yang bebas tempat plasenta, namun dinding uterus tempat plasenta melekat masih tipis. 2.Fase kontraksi, ditandai oleh menebalnya dinding uterus tempat plasenta melekat (dari ketebalan kurang dari 1 cm menjadi > 2 cm). 3.Fase pelepasan plasenta, fase dimana plasenta menyempurnakan pemisahannya dari dinding uterus dan lepas. Tidak ada hematom yang terbentuk antara dinding uterus dengan plasenta. Terpisahnya plasenta disebabkan oleh kekuatan antara plasenta yang pasif dengan otot uterus yang aktif pada tempat melekatnya plasenta, yang mengurangi permukaan tempat melekatnya plasenta. Akibatnya sobek di lapisan spongiosa. 4. Fase pengeluaran, dimana plasenta bergerak meluncur. Saat plasenta bergerak turun, daerah pemisahan tetap tidak berubah dan sejumlah kecil darah terkumpul di dalam rongga rahim. Ini menunjukkan bahwa perdarahan selama pemisahan plasenta lebih merupakan akibat, bukan sebab. Lama kala tiga pada persalinan normal ditentukan oleh lamanya fase kontraksi. Dengan menggunakan ultrasonografi pada kala tiga, 89% plasenta lepas dalam waktu satu menit dari tempat implantasinya. Tanda-tanda lepasnya plasenta adalah sering ada pancaran darah yang mendadak, uterus menjadi globuler dan konsistensinya semakin padat, uterus meninggi ke arah abdomen karena plasenta yang telah berjalan turun masuk ke vagina, serta tali pusat yang keluar lebih panjang. Sesudah plasenta terpisah dari tempat melekatnya maka tekanan yang diberikan oleh dinding uterus menyebabkan plasenta meluncur ke arah bagian bawah rahim atau atas vagina. Kadang-kadang, plasenta dapat keluar dari lokasi ini oleh adanya tekanan inter-abdominal. Namun, wanita yang berbaring dalam posisi terlentang sering tidak dapat mengeluarkan plasenta secara spontan. Umumnya, dibutuhkan tindakan artifisial untuk menyempurnakan persalinan kala tinggi. Metode yang biasa dikerjakan adalah dengan menekan dan mengklovasi uterus, bersamaan dengan tarikan ringan pada tali pusat. 2.4 Gejala Klinis a. Anamnesis, meliputi pertanyaan tentang periode prenatal, meminta informasi mengenai episode perdarahan postpartum sebelumnya, paritas, serta riwayat multipel fetus dan polihidramnion. Serta riwayat pospartum sekarang dimana plasenta tidak lepas secara spontan atau timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan. b. Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis servikalis tetapi
  • 4.
    secara parsial ataulengkap menempel di dalam uterus. 2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelepasan Plasenta : 1. Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks; kelemahan dan tidak efektifnya kontraksi uterus; kontraksi yang tetanik dari uterus; serta pembentukan constriction ring. 2. Kelainan dari plasenta, misalnya plasenta letak rendah atau plasenta previa; implantasi di cornu; dan adanya plasenta akreta. 3. Kesalahan manajemen kala tiga persalinan , seperti manipulasi dari uterus yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak ritmik; pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya yang juga dapat menyebabkan serviks kontraksi dan menahan plasenta; serta pemberian anestesi terutama yang melemahkan kontraksi uterus. 2.5 Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi meliputi: a. Komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah yang dilakukan. b. Multiple organ failure yang berhubungan dengan kolaps sirkulasi dan penurunan perfusi organ. c. Sepsis d. Kebutuhan terhadap histerektomi dan hilangnya potensi untuk memiliki anak selanjutnya 2.6 Prognosis Prognosis tergantung dari lamanya, jumlah darah yang hilang, keadaan sebelumnya serta efektifitas terapi. Diagnosa dan penatalaksanaan yang tepat sangat penting. 2.7 Pemeriksaan Penunjang 1. Hitung darah lengkap: untuk menentukan tingkat hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Hct), melihat adanya trombositopenia, serta jumlah leukosit. Pada keadaan yang disertai dengan infeksi, leukosit biasanya meningkat. 2. Menentukan adanya gangguan koagulasi dengan hitung protrombin time (PT) dan activated Partial Tromboplastin Time (aPTT) atau yang sederhana dengan Clotting Time (CT) atau Bleeding Time (BT). Ini penting untuk menyingkirkan perdarahan yang disebabkan oleh faktor lain. 2.8 Diagnosa Banding Meliputi plasenta akreta, suatu plasenta abnormal yang melekat pada miometrium tanpa garis pembelahan fisiologis melalui garis spons desidua. 2.9 Pencegahan a. Pencegahan resiko plasenta adalah dengan cara mempercepat proses separasi dan melahirkan plasenta dengan memberikan uterotonika segera setelah bayi lahir dan melakukan penegangan talipusat terkendali. Usaha ini disebut juga penatalaksanaan aktif kala III b. Mengamati dan melihat kontraksi uterus. 2.10 Penanganan Penanganan retensio plasenta atau sebagian plasenta adalah: a. Resusitasi. Pemberian oksigen 100%. Pemasangan IV-line dengan kateter yang berdiameter besar serta pemberian cairan kristaloid (sodium klorida isotonik atau larutan ringer laktat yang hangat, apabila memungkinkan). Monitor jantung, nadi, tekanan darah dan saturasi oksigen. Transfusi darah apabila diperlukan yang dikonfirmasi dengan hasil pemeriksaan darah. b. Drips oksitosin (oxytocin drips) 20 IU dalam 500 ml larutan Ringer laktat atau NaCl 0.9% (normal saline) sampai uterus berkontraksi. c. Plasenta coba dilahirkan dengan Brandt Andrews, jika berhasil lanjutkan dengan drips
  • 5.
    oksitosin untuk mempertahankanuterus. d. Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta. Indikasi manual plasenta adalah: Perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir, tali pusat putus. e. Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus. f. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral. g. Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi sekunder. B. KONSEP MANAJEMEN KEBIDANAN Manajemen kebidanan adalah metode kerja profesi dengan menggunakan langkah pemecahan masalah sehingga merupakan alur dari pengorganisasian, pemikiran dan langkah-langkah data suatu urusan yang logis yang menguntungkan baik bagi pasien maupun bidan. Proses manajemen terdiri dari 7 langkah yang berurutan dimana setiap langkah disempurnakan secara periode. Proses ini dimulai dengan mengumpulakn data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Langkah tersebut adalah : 1. Pengumpulan Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang telah diperlukan secara sistematis untuk mengevaluasi keadaan pasien secara lengkap 2. Interpretasi Melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data tersebut. Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang di tegakkan bidan dalam lingkup praktek kabidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan : 1. Diagnosa persalinan a. Ibu Inpartu b. Normal atau tidak c. KU ibu dan janin 3. Antisipasi diagnosa atau masalah potensial Mengantisipasi masalah atau diagnosa potensial yang mungkin akan terjadi berdasarkan maslah atau diagnosa yang sudah diidentifikasi 4. Tindakan segera atau kolaborasi Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk di konsulkan atau ditangani bersama anggota tim anggota kesehatan yang lainnya dengan kondisi pasien 5. Perencanaan Merencanakan asuhan menyeluruh yang di dukung dengan penjelasan yang sungguh rasional sebagi dasar untuk mengambil keputusan sesuai dengan langkah sebelumnya. 6. Pelaksanaan Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efisien dan aman
  • 6.
    7. Pengevaluasi Mengevaluasi keefektifandari asuhan yang diberikan, diulangi kembali proses manajemen yang benar terhadap aspek kehidupan SOLUSIO PLASENTA Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized Tag:kuliah ASKEB 4 0 I. Landasan Teori 1. PENGERTIAN SOLUSIO PLASENTA Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya yang normal pada uterus, sebelum janin dilahirkan. Definisi ini berlaku pada kehamilan dengan masa gestasi di atas 22 minggu atau berat janin di atas 500 gram. Proses solusio plasenta dimulai dengan terjadinya perdarahan dalam desidua basalis yang menyebabkan hematoma retroplasenter. Hematoma dapat semakin membesar kearah pinggir plasenta sehingga amniokhorion sampai terlepas, perdarahan akan keluar melalui ostium uteri (perdarahan keluar), sebaliknya apabila amniokhorion tidak terlepas, perdarahan tertampung dalam uterus (perdarahan tersembunyi). Penyulit terhadap ibu dalam bentuk: 1. Berkurangnya darah dalam sirkulasi darah 2. Terjadinya penurunan tekanan darah, peningkatan nadi, dan pernafasan 3. Penderita tampak anemis 4. Dapat menimbulkan pembekuan darah 5. Menimbulkan perdarahan postpartum 6. Peningkatan timbunan darah di belakang plasenta yang menyebabkan rahim keras, padat, dan kaku 7. Menyababkan asfiksia ringan sampai kematian janin dalam rahim 2. PENYEBAB SOLUSIO PLASENTA Solusio plasenta merupakan keadaan gawat kebidanan yang memerlukan perhatian karena penyulit yang ditimbulkan terhadap ibu maupun janin. Penyebab solusio plasenta : 1. Trauma langsung terhadap uterus hamil • Terjatuh terutama tertelungkup • Tendangan anak yang sedang digendong 2. Tindakan kebidanan • Setelah versi luar • Setelah memecahkan ketuban • Persalinan anak kedua hamil kembar 3. Tali pusat yang pendek • Hamil pada usia tua • Mempunyai tekanan darah tinggi • Pre-eklampsi atau eklampsia • Tekanan vena kava inferior yang tinggi • Kekurangan asam folik 3. GAMBARAN KLINIK SOLUSIO PLASENTA Tergantung dari seberapa bagian plasenta yang terlepas.
  • 7.
    1. Solusio plasentaringan a. Terlepasnya plasenta kurang dari ¼ luasnya b. Tidak memberikan gejala klinik dan ditemukan setelah persalinan c. Keadaan umum ibu dan janin tidak mengalami gangguan d. Persalinan berjalan dengan lancar pervaginam 2. Solusio plasenta sedang a. Terlepasnya plasenta lebih dari ¼ tetapi belum mencapai 2/3 bagian b. Dapat menimbulkan gejala klinik • Perdarahan dengan rasa sakit • Perut terasa tegang • Gerak janin berkurang • Palpasi bagian janin sulit diraba • Auskultasi jantung janin dapat terjadi asfiksia ringan dan sedang • Pada pemeriksaan dalam ketuban menonjol • Dapat terjadi gangguan pembekuan darah 3. Solusio plasenta berat a. Lepasnya plasenta lebih dari 2/3 bagian b. Terjadi perdarahan disertai rasa nyeri c. Penyulit pada ibu : • Terjadi syok dengan tekanan darah menurun , nadi, dan pernafasan meningkat • Dapat terjadi gangguan pembekuan darah • Penderita tampak anemis • Saat dipalpasi janin susah untuk diraba • Pemerikasaan dalam ketuban tegang dan menonjol 4. DIAGNOSIS SOLUSIO PLASENTA Diagnosis solusio plasenta dapat ditegakkan dengan melakukan : a. Anamnesa • Terjadi perdarahan disertai rasa nyeri • Terjadi spontan atau karena trauma • Perut terasa nyeri • Diikuti penurunan sampai terhentinya gerakan janin dalam rahim b. Pemeriksaan 1. Pemeriksaan fisik umum • Keadaan umum penderita tidak sesuai dengan jumlah perdarahan • Tekanan darah menurun, nadi dan pernafasan meningkat • Penderita tampak anemis 2. Pemeriksaan khusus a. Palpasi abdomen • Perut tegang terus menerus • Terasa nyeri saat dipalpasi • Bagian janin sukar ditemukan b. Auskultasi • Denyut jantung janin bervariasi dan asfiksia ringan sampai berat c. Pemeriksaan dalam • Terdapat pembukaan • Ketuban tegang dan menonjol
  • 8.
    C. pemerikasaan penunjang,dengan ultrasonografi, dijumpai perdarahn antara plasenta dan dinding abdomen 5. PENANGANAN SOLUSIO PLASENTA 1. Solusio plasenta ringan • Perut tegang sedikit, perdarahan tidak terlalu banyak • Keadaan janin masih baik dapat dilakukan penanganan secara konservatif • Perdarahan berlangsung terus ketegangan makin meningkat dengan janin yang masih baik dilakukan SC • Perdarahan yang berhenti dan keadaan baik pada kehamilan premature dilakukan perawatan inap 2. Solusio plasenta tingkat sedang dan berat Penanganannya dilakukan di rumah sakit karena dapat membahayakan jiwa penderita. Tatalaksananya adalah : • Pemasangan infuse dan transfusi darah • Memecahkan ketuban • Induksi persalinan atau dilakukan SC 3. Sikap bidan dalam menghadapi solusio plasenta • Bidan merupakan tenaga andalan masyarakat untuk dapat memberikan pertolongan kebidanan, sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun perinatal. Dalam menghadapi perdarahan pada kehamilan, sikap bidan yang paling utama adalah melakukan rujukan ke rumah sakit. Dalam melakukan rujukan diberikan pertolongan darurat : • Pemasangan infuse • Tanpa melakukan pemerikasaan dalam • Diantar petugas yang dapat memberikan pertolongan • Mempersiapkan donor dari masyarakat atau keluarganya • Menyertakan keterangan tentang apa yang telah dilakukan untuk memberikan pertolangan pertama 6. KOMPLIKASI SOLUSIO PLASENTA 1. Penyulit (komplikasi) ibu a. Perdarahan dapat menimbulkan • Variasi turunnya tekanan darah sampai keadaan syok • Perdarahan tidak sesuai dengan keadaan penderita anemis sampai syok • Kesadaran bervariasi dari baik sampai koma b. Gangguan pembekuan darah • Masuknya tromboplasin ke dalam sirkulasi darah menyebabkan pembekuan darah intravascular dan disertai hemolisis • Terjadi penurunan fibrinogen sehingga hipofibrinogen dapat menganggu pembekuan darah c. Oliguria • Terjadinya sumbatan glomerulus ginjal dan dapat menimbulkan produksi urin makin berkurang d. Perdarahan postpartum • Pada solusio plasenta sedang sampai berat terjadi infiltrasi darah ke otot rahim, sehingga menganggu kontraksi dan menimbulkan perdarahan karena atonia uteri • Kegagalan pembekuan darah menambah beratnya perdarahan 2. Penyulit pada janin Perdarahan yang terimbun di belakang plasenta menganggu sirkulasi dan nutrisi kearah janin dapat menimbulkan asfiksia ringan sampai berat dan kematian dalam rahim.
  • 9.
    Solusio plasenta Kejadian Hamiltua Inpartu Anamnesa Mendadak Terdapat trauma Perdarahn dengan nyeri Keadaan umum Tidak sesuai dengan perdarahan Anemis, tekanan darah menurun, nadi dan pernafasan meningkat Disertai pre-eklampsi atau eklampsia Palpasi abdomen Tegang, nyeri Bagian janin sulit diraba DJJ Asfiksia samapai mati tergantung lepasnya plasenta Pemerikasaan dalam Ketuban tegang menonjol HIPER EMESIS GRAVIDARUM Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized Tag:kuliah ASKEB 4 0 2.1 Konsep Medis 2.1.1 Definisi 2.1.1.1 Definisi kehamilan a. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ke tujuh sampai 9 bulan. (Prawirohardjo. 2002 : 89) b. Kehamilan adalah mata rantai yang berkesinambungan dan terdiri dari ovulasi pelepasan ovum, terjadi migrasi spermatozoa dan ovum, terjadi konsepsi dan pertumbuhan zigot, terjadi nidasi (implantasi) pada uterus, pembentukan plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm (Manuaba, 1998 : 95) c. Kehamilan adalah dimulai dari ovulasi sampai partus ialah kira-kira 280 hari (40 minggu), kehamilan ini disebut kehamilan mature atau cukup bulan dan apabila kehamilan lebih dari 40 minggu disebut post mature dan kehamilan antara 28 – 36 minggu disebut kehamilan prematur. (Wiknjasastro, 1995 : 125). 2.1.1.2 Definisi Hyperemesis gravidarum a. Adalah emosi gravidarum yang berat dan berlangsung sampai 4 bulan sehingga pekerjaan sehari-hari menjadi buruk (Prawiharjo 1999:275) b. Adalah mual muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum menjadi buruk, paling sering dijumpai pada kehamilan trimester I terutama ditemukan pada primigravida (Mansjoer, 1999:259) c. Adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk, karena menjadi dehidrasi (Mochtar, 1998:195) d. Adalah gejala mual muntah yang berat yang dapat berlangsung sampai 4 bulan yang di sebabkan karena meningkatnya kadar hormone estrogen dan HCG dalam serum. (Prawirohardjo,2001 :274)
  • 10.
    2.1.2 Etiologi Penyebab hiperemesisgravidarum belum diketahui secara pasti. Frekuensi kejadian 2 /1000 kehamilan. Pada tubuh wanita yang hamil terjadi perubahan-perubahan yang cukup besar yang mungkin merusak keseimbangan di dalam badan. Faktor predisposisi yang telah dikemukakan oleh beberapa penulis sebagai berikut : 2.1.2.1. Faktor adaptasi dan Hormonal. Pada wanita hamil yang kekurangan darah lebih sering terjadi hiperemesis gravidarum. Dapat dimasukan dalam ruang lingkup factor adaptasi adalah wanita hamil dengan anemia, wanita primigravida, kehamilan ganda, mola hidatidosa, diabetes, akibat peningkatan kadar HCG. 2.1.2.2. Faktor organik. Karena masuknya vili chorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu. 2.1.2.3. Faktor Psikologi Hubungan factor psikologi dengan kejadian hiperemesis gravidarum belum jelas. Besar kemungkinan bahwa wanita yang menolak hamil, takut kehilangan pekerjaan, keretakan rumah tangga, diduga dapat menjadi factor kejadian hiperemesis gravidarum. 2.1.2.4. Faktor Alergi Pada kehamilan, dimana diduga terjadi invasi jaringan vili korialis yang masuk kedalam peredaran darah ibu, maka factor alergi dianggap dapat menyebabkan kejadian hiperemesis gravidarum. (Manuaba : 1998; 209-210). 2.1.3 Tingkatan hyperemesis gravidarum 2.1.3.1 Hyperemesis Gravidarum Tingkat I • Muntah berlangsung terus • Makan berkurang • Berat badan menurun • Kulit dehidrasi, tonusnya lemah • Nyeri epigastrium • Tekanan darah turun dan nadi meningkat • Lidah kering • Mata tampak cekung 2.1.3.2 Hyperemesis Gravidarum Tingkat II • Penderita tampak lebih lemah • Gejala dehidrasi makin tampak, mata cekung, turgor kulit makin kurang, lidah kering dan kotor. • Tekanan darah turun, nadi meningkat. • Berat badan makin menurun • Mata ikterik • Terjadinya gangguan buang air besar • Mulai tampak gejala gangguan kesadaran menjadi apatis. • Nafas berbau. 2.1.3.3 Hyperemesis Gravidarum Tingkat III • Muntah berkurang • Keadaan wanita hamil menurun, tekanan darah turun, nadi meningkat dan suhu naik, keadaan dehidrasi makin jelas.
  • 11.
    • Gangguan faalhati terjadi dengan manifestasi ikterus. • Gangguan kesadaran dalam bentuk somnolen sampai koma. (Mochtar, 1998 : 195) 2.1.4 Patofisiologi Perasaan mual akibat men Ada yang menyatakan bahwa mual dan muntah adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. Pengaruh fisiologik hormone estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari system saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Belum jelas mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita, tgetapi factor psikologik merupakan factor utama, disamping pengaruh hormonal Hiperemesis gravidarum ini bisa mengakibatkan cadangan karbohirat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energy karena oksidasi lemak yang tidak sempurna, terjadilah ketosis dengan timbulnya asam aseton – asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yamg diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraselular dan plasma berkurang. Natrium klorida darah turun,demikian pula klorida air kemih. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah kejaringan berkurang hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen kejaringan berkurang pula dan tertimbunnya zat metabolic yang toksik. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, menambah frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati, danterganggunya keseimbangan elektrolit, dapt terjadi robekan pada selaput lendir esophagus dan lambung,dengan akibat perdarahan gastro intestinal. Meningkatnya kadar estrogen. Pengaruh estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem syaraf pusat atau akibat dari pengosongan asam lambung. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekresi lewat ginjal menambah frekuensi muntah-muntah yang berlebihan, yang dapat merusak hati. Dapat terjadi robekan pada selaput lendir esophalus dan lambung. (Prawihardjo: 277) 2.1.5 Diet Pada Ibu Hamil Dengan Hyperemesis Gravidarum Makanan yang perlu di hindari adalah lemak dan makanan yang berminyak yang cenderung menimbulkan rasa mual. Karena itu disarankan untuk tidak mengkonsumsi makanan yang digoreng. Mentega, margarin , minyak, daging babi asin,saos selada, kue kering, kulit kue tart dan kuah daging hanya boleh dimakan sedikit. Bawang merah dan putih, merica, cabe, serta bumbu sebaiknya dihindari. Makanan yang dapat menimbulkan gas (ketimun, brokoli, kol, bawang, lobak cina dan kacang kering juga tidak boleh disantap. (Arisman, 2004: 23) 2.1.6 Penanganan 2.1.6.1 Beritahu ibu tentang keadaan umum ibu dan keadaan kehamilannya. 2.1.6.2 Lakukan pencegahan dengan memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan dan kepada ibu-ibu dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut, juga tentang diet ibu hamil, makan jangan sekaligus banyak, tetapi dalam porsi sedikit-sedikit namun sering jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi, akan terasa mual dan muntah. Defekasi hendaknya diusahakan teratur. 2.1.6.3 Berikan terapi obat menggunakan sedative (luminal, stesolid), Vitamin (B1 dan B6), anti muntah ( mediamer B6, Drammamin, Auopres, Avomin, Torecan), antacid. 2.1.6.4 Anjurkan bagi ibu hamil yang mengalami hiperemis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di rumah sakit.
  • 12.
    2.1.6.5 Beritahukan kadang-kadangpada beberapa wanita hanya tidur di rumah sakit saja, telah banyak mengurangi mual dan muntahnya. 2.1.6.6 Berikan terapi psikologik yaitu pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar, normal, dan fisiologis, jadi tidak perlu takut dan khawatir. Cari dan coba hilangkan factor psikologis seperti keadaan social ekonomi dan pekerjaan serta lingkungan. 2.1.6.7 Berikan penambahan cairan yaitu infuse dekstrosa atau glukosa 5% sebanyak 2 – 3 liter dalam 24 jam. 2.1.6.8 Berikan obat-obatan seperti telah dikemukakan diatas. 2.1.6.9 Beritahukan kepada ibu hamil yang menderita hipermesis gravidarum, pada beberapa kasus dan bila terapi tidak dapat dengan cepat memperbaiki keadaan umum penderita, dapat dipertimbangkan suatu abortus buatan. (mochtar, 1998 : 196). 2.1.7 Penatalaksanaan 2.1.7.1 Memberitahukan ibu tentang keadaan umum ibu dan keadaan kehamilannya 2.1.7.2 Melakukan pencegahan dengan memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu hamil yang menderita hyperemesis gravidarum dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut, tentang diet ibu hamil, makan jangan sekaligus banyak tetapi dalam porsi sedikit namun sering dan jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi karena dapat merangsang mual dan muntal kembali. 2.1.7.3 Memberikan terapi obat menggunakan sedative (luminal, stesolid), vitamin (B1dan B6), anti muntah (mediamer B6, dramamamin, auopres, avomin, torecan), antacid. 2.1.7.4 Menganjurkan bagi ibu hamil yang menderita hiperemesis gravidarum tingkat I dan II harus dirawat inap dirumah sakit. 2.1.7.5 Memberitahukan pada beberapa ibu hamil yang menderita hiperemesis hanya dengan beristirahat tidur ditempat tidur saja telah dapat membantu mengurangi mual dan muntahnya. 2.1.7.6 Memberikan terapi psikologik yang pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar, normal dan fisiologis jadi tidak perlu takut dan khawatir. Coba hilangkan factor psikologik seperti keadaan social ekonomi dan pekerjaan serta lingkungan. 2.1.7.7 Memberikan penambahan cairan atau infuse dekstrosa atau glukosa 5 % sebanyak 2 – 3 liter dalam 24 jam. Jika diperlukan. 2.1.7.8 Menganjurkan pemeriksaan kehamilan lebih sering ke dokter. 2.1.7.9 Menjelaskan kepada ibu pentingnya tanda-tanda bahaya kehamilan. 2.1.7.10 Memberitahukan pada ibu hamil yang menderita hiperemesis gravidarum, beberapa kasus dan bila terapi sudah dapat dengan cepat memperbaiki keadaan umum penderita dapat dipertimbangkan suatu abortus buatan. ( Diktat Asuhan kebidanan I ) 2.1.8 Evaluasi 2.1.8.1 Ibu sudah mengetahui keadaan dirinya dan kehamilannya 2.1.8.2 Ibu sudah tahu cara pencegahannya 2.1.8.3 Ibu telah mendapat terapi obat 2.1.8.4 Ibu bersedia untuk beristirahat 2.1.8.5 Ibu tahun tentang terapi psikologik 2.1.8.6 Ibu akan rajin untuk selalu memeriksakan kehamilannya. 2.1.8.7 Ibu tahu tentang tanda-tanda bahaya kehamilan. 2.1.8.8 Ibu bersedia untuk selalu datang setiap kunjungan ulang berikutnya atau bila ada keluhan.
  • 13.
    2.2 Konsep AsuhanKebidanan 2.2.1 Pengkajian 2.2.1.1 Identitas a. Nama Klien Digunakan untuk membedakan antara klien satu dengan yang lainnya (Manuaba, 1998 : 326) b. Umur Digunakan untuk mengetahui masa reproduksi klien beresiko tinggi atau tidak. Wanita hamil umumnya tidak boleh kurang dari 16 tahun dan lebih dari 35 tahun. (Manuaba, 1998 : 326) c. Kebangsaan Sebagian masyarakat beranggapoan bahwa wanita kullit hitam lebih kuat dari pada kulit putih. (Manuaba, 1998 : 326) d. Agama untuk memudahkan dalam memberikan nasehat spiritual sesuai dengan kepercayaan yang dianut. (Manuaba, 1998 : 326) e. Pendidikan Untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien, sehingga dalam memberikan asuhan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan. (Manuaba, 1998 : 326) f. Pekerjaan Untuk mengetahui tingkat ekonomi klien. (Manuaba, 1998 : 326) g. Alamat Untuk memudahkan dimana tempat tinggal klien, sehingga memudahkan petugas kesehatan dalam melakukan kunjungan rumah(Manuaba, 1998 : 326) 2.2.1.2 Anamnesa Pada tanggal ………………….pukul………… 1. Alasan kunjungan ini Untuk mengetahui berapa kali ibu memeriksakan kehamilannya. 2. Riwayat Kehamilan a. Riwayat Mesntruasi Yang perlu ditanyakan adalah : menarche untuk mengetahui keadaan alat kelamin dalam normal atau tidak, siklus menstruasi untuk mengetahui adanya penyakit yang menyertai. Haid terakhir lamanya, banyaknya darah yang keluar, konsistensinya, teratur tidaknya haid yang digunakan untuk membantu diagnosa lamanya kehamilan dan untuk memperhitungkan taksiran persalinan. b. Pergerakan anak Pada kasus Hyperemesis Gravidarum pergerakan belum dirasakan karena pada kasus ini terjadi pada trimester I. c. Tanda- tanda kehamilan Pada kasus hamil untuk menemukan apakah kehamilan ini diketahui melalui proses pemeriksaan laboratorium. d. Keluhan Pada kasus hyperemesis gravidarum biasanya klien mengeluh mual dan muntah yang berlebihan. e. Diet / makan Makan dan jenis makanan pada kasus hyperemesis gravidarum makanan yang berlemak merangsang mempengaruhi ibu yang mengakibatkan tidak nafsu makan. f. Pola eliminasi Pada kasus hyperemesis gravidarum biasanya pasien BAB mengalami konstipasi dan BAKnya mengalami oliguri. g. Aktivitas sehari – hari
  • 14.
    Pada kasus hyperemesisgravidarum aktivitanya terganggu karena biasanya badanya terasa lemah. h. Imunisasi TT Untuk mencegah tetatus nenatorum, maka ibu hamil sebaiknya mendapatkan imunisasi TT2 kali dengan interval 4 minggu dari TT1. i. Kontrasepsi yang pernah digunakan Untuk mengetahui kontrasepsi apa yang pernah digunakan. 3. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu Untuk mengetahui masalah atau gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan yang ditanyakan berapa kali itu hamil atau sekarang ini putra yang keberapa. 4. Riwayat Penyakit yang pernah diderita Karena penyakit yang pernah diderita dapat timbul kembali karena keadaan ibu yang lemah pada waktu kehamilan atau setelah melahirkan nanti. Pertanyaan yang diajukan nanti adalah apakah pernah menderita penyakit hepatitis yang bisa menurun pada bayi melalui trans plasenta, penyakit jantung, paru-paru, diabetes mellitus, gemelli, apakah alergi terhadap makanan dan obat-obatan, apakah punya kebiasaan merokok dan minum jamu-jamuan. 5. Susunan keluarga yang tinggal dirumah. Digunakan untuk mengetahui struktur keluarga yang tinggal serumah, serta berapa besar tanggungan hidup keluarga yang dapat berpengaruh pada kehamilan. Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, nifas untuk mengetahui apakah ibu punya keyakinan dengan kehamilan, persalinan, nifas atau tidak. 6. Riwayat kesehatan keluarga. Karena dalam kehamilan daya tahan tubuh ibu menurun bila ada penyakit yang menular dapat lekas menular kepada ibu dan mempengaruhi janin. ( Prawirohardjo : 2002 : 278 ) 2.2.1.3 Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan Umum Keadaan emosional Kesadaran 2. Tanda-tanda vital Tensi Pulse (nadi) ::::: Pada kasus hiperemesis gravidarum umumnya lemah.StabilMenurun dari composmentis sampai komaPada kasus hiperemesis gravidarum 100/60 mmHg, normalnya : 120/80 mmHg. Pada kasus hiperemesis gravidarum denyut nadinya meningkat > 100 x menit.(Prawirohardjo, 2002 : 278) 3. Muka Kelopak mata : Cekung Konjungtiva : Pucat Sklera : Putih Cloasma gravidarum : ada atau tidak ada. Oedem : ada atau tidak ada 4. Hidung Polip : ada atau tidak ada Pendarahan : ada atau tidak ada Sekret : ada atau tidak ada Peradangan : ada atau tidak ada 5. Mulut dan Gigi Caries : ada atau tidak ada Gusi : ada pendarahan atau tidak ada Tonsil : ada pembengkakan atau tidak ada 6. Telinga Sekret : tidak ada 7. Kelenjar tiroid : tidak ada
  • 15.
    8. Kelenjar limfe: tidak ada 9. Dada Jantung : ictus cordis regular Paru-paru : tidak ada ronchi dan wheezing Payudara - Bentuk : simetris - Kebersihan : bersih - Benjolan : tidak ada - Rasa Nyeri : tidak ada 10. Punggung dan pinggang Posisi tulang belakang : lordosis Pinggang nyeri : tidak ada nyeri ketuk 11. Ekstermitas atas dan bawah Oedema kanan / kiri : tidak ada Kekakuan sendi dan otot : tidak ada varises kanan/kiri : tidak ada Reflek patella : kanan/kiri positif 12. Abdomen Linea : Tidak ada Striae : Tidak ada Pembesaran : sesuai umur kehamilan atau tidak Benjolan : tidak ada Konsistensi : lembek 13. TFU Leopold I a. Pemeriksa menghadap kearah muka ibu hamil b. Menentukan tinggi fundus uteri dan bagian dalam fundus c. Konsistensi uterus Leopold II a. Menentukan batas samping rahim kanan dan kiri b. Menentukan letak punggung janin Leopold III a. Menentukan apa yang terdapat dibagian terbawah b. Untuk menentukan bagian terbawah janin apakah bagian tersebut sudah masuk pintu atas panggul atau belum ( jika belum bagian terbawah tersebut dapat digoyangkan ) Leopold IV a. Pemeriksaan menghadap kearah kiri ibu hamil b. Seberapa jauh bagian terbawah janin masuk pintu atas panggul. ( Mochtar : 1990;92 ) 14. Fetus DJJ : belum terdengar 15. Anogenital Vagina : Terdapat tanda chadwick, elastisitas bertambah, tidak ada pembengkakan kelenjar bartolini dan skene. Anus : Tidak ada haemoroid 2.2.2 Interprestasi Data DiagnosaDasarMasalahKebutuhan :::: G…P…A…, Gravida….minggu, janin teraba balotement dengan keadaan ibu hamil mengalami hiperemesis gravidarum tingkat I /ringan.a. Muntah > 10 x dalam 24 jamb. Mata cekungc. Bibir keringd. Berat badan turune. Tekanan darah sistole 90-130 mmHg, diastole 60-90 mmHgf. Pernafasan 16-20 x/menitg. Nadi 60-100
  • 16.
    x/menith. Suhu 36-370CIbu merasa cemas Konseling lebih lanjut 2.2.3 Indentifikasi Diagnosa / Masalah Potensial Pada langkah ini dapat diidentifikasi diagnosa atau masalah potensial lain berdasarkan rangkaian masalah atau diagnosa yang sudah teridentifikasi. Diagnosa potensial Pada janin : IUGR, Abortus Pada ibu : Hyperemesis gravidarum sedang / tingkat II 2.2.4 Identifikasi Kebutuhan Segera Dalam teori mengatakan bagi penderita hiperemesis gravidarum tingkat I tidak diperlukan kolaborasi dengan SpOG. (Mochtar, 1998 : 195). 2.2.5 Perencanaan Asuhan secara menyeluruh 2.2.5.1 Kaji ulang keluhan ibu. 2.2.5.2 Berikan konseling tentang tanda bahaya kehamilan → penglihatan menjadi kabur, kepala pusing, nyeri perut yang hebat, oedema muka, tangan, dan kaki, pendarahan pervaginam. 2.2.5.3 Anjurkan ibu makan yang tidak merangsang mual dan berminyak. 2.2.5.4 Anjurkan makan sedikit tapi sering 2.2.5.5 Anjurkan banyak minum air. 2.2.5.6 Hindari minuman atau makanan yang asam untuk mengurangi iritasi lambung. 2.2.5.7 Berikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut. 2.2.5.8 Berikan terapi obat sedative, vitamin B1 dan B6, anti muntah (Mediamer B6, Drammamin, Avomin, Torecan); antasida dan anti mulas. 2.2.5.9 Anjurkan pemeriksaan hamil lebih sering. 2.2.5.10 Segera datang bila terjadi keadaan abnormal ( Diktat Asuhan Kebidanan I ) 2.2.6 Pelaksanaan 2.2.6.1 Mengkaji ulang keluhan ibu. 2.2.6.2 Memberikan konseling tentang tanda bahaya kehamilan → penglihatan menjadi kabur, kepala pusing, nyeri perut yang hebat, oedema pada muka, tangan dan kaki, perdarahan pervaginam. 2.2.6.3 Menganjurkan ibu untuk tidak makan makanan yang berminyak karena dapat merangsang kembali mual. 2.2.6.4 Menganjurkan ibu makan sedikit tapi sering 2.2.6.5 Menganjurkan banyak minum air. 2.2.6.6 Menghindari minuman atau makanan yang asam untuk mengurangi iritasi lambung. 2.2.6.7 Memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut. 2.2.6.8 Memberikan terapi obat sedative, vitamin B1 dan B6, anti muntah (mediamer, B6, Drammamin, Avopreg, Avomin, Torecan, Antisida dan anti mulas). 2.2.6.9 Menganjurkan pemeriksaan hamil lebih sering. 2.2.6.10 Menganjurkan segera datang bila terjadi keadaan abnormal. ( Diktat Asuhan Kebidanan I ) 2.2.7 Evaluasi 2.2.7.1 Ibu mengerti dan bisa mengulangi konseling yang diberikan. 2.2.7.2 Ibu bersedia untuk tidak makan-makanan yang berminyak 2.2.7.3 Ibu bersedia makan sedikit tapi sering 2.2.7.4 Ibu bersedia banyak minum 2.2.7.5 Ibu bersedia untuk tidak memakan makanan dan meminum-minuman yang asam 2.2.7.6 Ibu tahu dan mengerti tentang keadaan kehamilannya
  • 17.
    2.2.7.7 Ibu telahmendapatkan terapi obat 2.2.7.8 Ibu bersedia untuk datang pada kunjungan ulang berikutnya ( Diktat Asuhan Kebidanan I ) ABORTUS INKOMPLIT Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized Tag:kuliah ASKEB 4 0 A. KONSEP ABORTUS SPONTAN 1. Pengertian Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan oleh akibat – akibat tertentu pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan (Prawirohardjo,2006). Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sebelum janin mampu hidup diluar kandungan (Nugroho,2010) Abortus spontan adalah abortus yang terjadi secara alamiah tanpa intervensi dari luar untuk mengakhiri kehamilan tersebut, terminologi umum untuk masalah ini adalah keguguran seperti abortus imminens, insipiens, komplit, inkomplit, dan missed abortion. Sedangkan abortus buatan adalah abortus yang terjadi akibat intervensi tertentu yang bertujuan untuk mengakhiri proses kehamilan, terminologi untuk keadaan ini adalah pengguguran, aborsi atau abortus provokatus (Prawirohardjo,2006). Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan, sedangkan abortus inkomplit adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang tertinggal (Manuaba, 2008). Abortus inkomplit adalah dimana sebagian jaringan hasil konsepsi masih tertinggal di dalam uterus dimana pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis masih terbuka dan teraba jaringan dalam kavum uteri atau menonjol pada ostium uteri eksternum, perdarahannya masih terjadi dan jumlahnya bisa banyak atau sedikit bergantung pada jaringan yang tersisa, yang menyebabkan sebagian placental site masih terbuka sehingga perdarahan berjalan terus (Saifuddin, 2002). Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, di mana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks. Abortus insipiens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih berada di dalam uterus (Prawirohardjo,2006) Abortus imminens adalah abortus yang mengancam, perdarahannya bisa berlanjut beberapa hari atau dapat berulang. Dalam keadaan ini kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan. Beberapa kepustakaan menyebutkan beberapa resiko dapat terjadi seperti prematuritas dan gangguan pertumbuhan janin dalam rahim (Sujiyatini dkk,2009) Abortus insipiens di diagnosis apabila pada wanita hamil ditemukan perdarahan banyak, kadang – kadang disertai gumpalan darah disertai nyeri karena kontraksi rahim kuat dan ditemukan adanya dilatasi servik sehingga jari pemeriksa dapat masuk dan ketuban dapat diraba. Kadang-kadang perdarahan dapat menyebabkan kematian ibu dan jaringan yang tertinggal dapat menyebabkan infeksi sehingga evakuasi harus segera dilakukan (Sujiyatini dkk,2009)
  • 18.
    2. Manifestasi klinis Karenaabortus spontan banyak jenisnya maka untuk lebih memudahkan berikut beberapa macam abortus dan manifestasi klinisnya : Tabel 2.1 Manifestasi Klinis Abortus (Manuaba,2007) Jenis abortus Manifestasi klinisnya Abortus imminen a. Terasa nyeri / kram ringan pada abdomen b. Disertai perdarahan ringan, encer c. Perdarahan bercak, dan sedang d. Pemeriksaan dalam/spekulum: 1) Servik tertutup 2) Hegar positif 3) Piskacek positif 4) Chadwieck positif e. Pembesaran uterus sesuai usia kehamilan f. Hasil konsepsi masih dalam uterus g. Tes kehamilan positif Abortus insipien a. Terasa nyeri / kram berat b. Perdarahan banyak bahkan disertai gumpalan c. Pemeriksaan dalam : 1) Servik membuka 2) Ketuban menonjol 3) Terasa kontraksi uterus berlanjut d. Pembesaran uterus sesuai usia kehamilan e. Belum terjadi ekspulsi hasil konsepsi f. Tes kehamilan mungkin masih positif Abortus inkomplit a. Nyeri hebat b. Perdarahan banyak c. Sudah terjadi abortus dengan mengeluarkan jaringan tetapi sebagian masih berada di dalam uterus d. Pemeriksaan dalam : 1) Servik masih membuka, mungkin teraba jaringan sisa 2) Perdarahan mungkin bertambah setelah pemeriksaan dalam e. Pembesaran uterus sesuai usia kehamilan f. Tes kehamilan mungkin masih positif akan tetapi kehamilan tidak dapat dipertahankan. Abortus komplit a. Nyeri perut sedikit b. Ekspulsi total jaringan hasil konsepsi c. Perdarahan sedikit d. Pemeriksaan dalam 1) Servik terbuka sedikit terkadang sudah menutup 2) Jaringan kosong 3) Perdarahan minimal e. Uterus besarnya kecil dari usia kehamilan f. Tidak ada lagi gejala kehamilan dan tes kehamilan negative Abortus tertunda (missed abortion) a. Janin sudah meninggal dalam rahim tetapi tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. b. Tanpa ada rasa nyeri c. Perdarahan bisa ada, bisa tidak d. Payudara terasa mengecil
  • 19.
    e. Hilangnya tanda– tanda kehamilan g. Berat badan ibu menurun h. Besar uterus lebih kecil dari umur kehamilan Abortus sepsis a. Disertai rasa nyeri dan panas b. Perdarahan ringan dari jalan lahir dan berbau c. Rahim terasa nyeri saat perabaan d. Adanya tanda – tanda infeksi pada genitalia Abortus habitualis Abortus spontan yang terjadi 3 kali berturut – turut atau lebih Gb. 2.1 Kondisi rahim sesuai dengan jenis abortus (Prawirohardjo,2006) 3. Etiologi Abortus inkomplit merupakan salah satu abortus spontan, banyak faktor penyebab terjadinya abortus spontan. Penyebab abortus spontan (Manuaba,2009) : a. Faktor genetik 1) Kelainan kromosom Kelainan kromosom yang sering ditemukan pada abortus spontan adalah trisomi, monosomi, triploid/tetraploid 2) Abortus dua kali karena kelainan kromosom terjadi 80% 3) Sindrom Ehlers – Danlos Yaitu suatu keadaan membran endometrium sangat rapuh sehingga mudah ruptur atau pecah (rupture membrane abortus spontan) b. Faktor hormonal 1) Defisiensi luetal 2) Abortus berulang karena faktor hormonal sekitar 35 – 50% 3) Ibu hamil menderita penyakit hormonal. Seperi diabetes mellitus dan gangguan kelenjar tyroid c. Kelainan anatomi uterus 1) Sub mukosa mioma uteri 2) Kelainan kongenital uterus seperti, septum, uterus arkuatus yang berat, terdapat polip uteri 3) Serviks inkompeten d. Faktor infeksi genitalia interna 1) Toxoplasmosis 2) Sitomegalovirus 3) Rubela 4) Herpes simpleks 5) Infeksi endometrium (klamidia, toksoplasmosis, mycoplasma hominis e. Intoksikasi agen eksternal 1) Intoksikasi bahan anestesi 2) Kecanduan (alkohol. Perokok, agen lainnya) f. Postur ibu hamil 1) Kurus, BB kurang dari 40 kg 2) Gemuk, BB diatas 80 kg g. Faktor paternal 1) Hiperspermatozoa, jumlah sperma lebih dari 250 juta 2) Oligospermatozoa, jumlah sperma kurang dari 20 juta 3) Prinsipnya kekurangan DNA h. Faktor imunologis 1) Faktor alloimmune a) Penolakan maternal terhadap hasil konsepsi yang mengadakan implantasi
  • 20.
    b) Jika tipehomolog HLA atau antipaternal antibody tinggi, akan berlangsung abortus c) Kehamilan dipertahankan oleh komponen : (1) Lokal autoimmune reaksi sehingga menetralkan antipaternal antibody yang dijumpai pada sebagian ibu hamil (2) Faktor hormonal dari plasenta yaitu human chorionic gonadotropin dan progesterone 2) Faktor antibody autoimun, terutama : a) Antibody antiphosfolipid : (1) Menimbulkan thrombosis, infrak plasenta, perdarahan (2) Gangguan sirkulasi dan nutrisi menuju janin dan diikuti abortus (3) Antibody anticardiolipin, dalam lupus anticoagulant (LAC) (4) Menghalangi terbentuknya jantung janin sehingga akan menyebabkan abortus. Nugroho juga membagi faktor pencetus terjadinya abortus menjadi dua (Nugroho,2010) a. Faktor fetal Sekitar 2/3 dari abortus spontan pada trimester pertama merupakan anomaly kromosom dengan ½ dari jumlah tersebut adalah trisomi autosom dan sebagian lagi merupakan triploidi, tetraploidi atau monosomi 45X. b. Faktor maternal 1) Faktor – faktor endokrin a) Beberapa gangguan endokrin telah terlibata dalam abortus spontan berulang, termasuk diantaranya adalah diabetes mellitus tak terkontrol, hipo dan hipertiroid, hiperkresi luteinizing hormone, insufisiensi korpus luteum atau disfungsi fase luteal dan penyakit polikistik ovarium b) Pada perkembangan terbaru peranan hiperandrogenemia dan hiperprolaktinemia telah dihubungkan dengan terjadinya abortus berulang 2) Faktor – faktor anatomi a) Anomaly uterus termasuk malformasi kongenital, defek uterus yang di dapat , leiomioma dan inkompetensia serviks. b) Meskipun anomali – anomali ini sering dihubungkan dengan abortus spontan, insiden, klasifikasi dan peranannya dalam etiologi masih belum diketahui secara pasti . Penelitian lain menunjukkan wanita dengan anomali didapat seperti asherman’s syndrome, adhesi uterus dan anomali didapat melalui paparan dietilestilbestrol memiliki angka kemungkinan hidup fetus yang lebih rendah dan meningkatnya angka kejadian abortus. 3) Faktor – faktor immunologi a) Pada kehamilan normal, system imun maternal tidak bereaksi terhadap spermatozoa atau embrio, namun 40% pada abortus berulang diperkirakan secara imunologis kehadiran fetus tidak dapat di terima. b) Respon imun dapa dipicu oleh beragam faktor endogen dan eksogen, termasuk pembentukan antobodi antiparental, gangguan autoimun yang mengarah pada pembentukan antibodi autoimun (antibody antifosfolipid, antibody antinuclear, aktivasi sel B poliklonal), infeksi, bahan – bahan toksik dan stress. 4) Trombofilia a) Trombofilia merupakan keadaan hiperkoagulasi yang berhubungan dengan predisposisi terhadap trombolitik b) Kehamilan akan mengawali keadaan hiperkoagulasi dan melibatkan keseimbangan antara jalur prekoagulan dan antikoagulan c) Trombofilia dapat merupakan kelainan yang herediter atau didapat d) Terdapat hubungan antara antibodi antifosfolipid yang didapat dan abortus berulang dan semacam terapi dan kombinasi terapi yang melibatkan heparin dan aspirin telah direkomendasikan untuk menyokong pemeliharaan kehamilan sampai persalinan.
  • 21.
    e) Pada sindromantifosfolipid, antibodi fosfolipid mempunyai hubungan dengan kejadian trombisis vena, trombosis arteri, abortus atau trombositopenia. Namun, mekanisme pasti yang menyebabkan antibodi fosfolipid mengarah ke trombosis masih belum diketahui f) Pada perkembangan terbaru, beberapa gangguan trombolitik yang herediter atau didapat telah dihubungkan dengan abortus berulang termasuk faktor V leiden, defisiensi protein antikoagulan dan antitrombin, hiperhomosistinemia, mutasi genetik protrombin, dan mutasi homozigot pada gen metileneterhidrofolat reduktase. 5) Infeksi a) Infeksi – infeksi maternal yang memperlihatkan hubungan yang jelas dengan abortus spontan termasuk sifilis, parvovirus B19, HIV dan malaria. b) Brusellosis, suatu penyakit zoonosis yang paling sering menginfeksi manusia melalui produk susu yang tidak dipasteurisasi juga dapat menyebabkan abortus spontan. 6) Faktor – faktor eksogen Meliputi bahan – bahan kimia : a) Gas anestesi (1) Nitrat oksida dan gas – gas anestesi lainnya diyakini sebagai faktor resiko untuk terjadinya abortus spontan. (2) Pada suatu tinjauan oleh Tannebaum dkk, wanita yang bekerja dikamar operasi sebelum dan selama kehamilan mempunyai kecendrungan 1,5 sampai 2 kali untuk mengalami abortus spontan. (3) Pada suatu penelitian meta-analisis yang baru, hubungan antara pekerjaaan maternal yang terpapar gas anestesi dan resiko abortus spontan digambarkan adalah 1,48 kali dari pada yang tidak terpapar. b) Air yang tercemar (1) Suatu penelitian prospektif di California menemukan hubungan bermakna antara resiko abortus spontan pada wanita yang terpapar trihalometanan dan terhadap salah satu turunannya, bromodikhlorometana. (2) Demikian juga dengan wanita yang tinggal di daerah Santa Clara, daerah yang dengan kadar bromide pada air permukaan paling tinggi tersebut, memiliki resiko 4 kali lebih tinggi untuk mengalami abortus spontan. c) Dioxin Dioxin telah terbukti menyebabkan kanker pada manusi dan binatang dan menyebabkan anomali reproduksi pada binatang. Beberapa penelitian pada manusai menunjukkan hubungan antara dioxin dan abortus spontan. d) Pestisida Resiko abortus spontan telah diteliti pada sejumlah kelompok pekerja yang menggunakan pestisida 7) Gaya hidup merokok dan alkoholisme Penelitian epidemiologi mengenai merokok tembakau dan abortus spontan menemukan bahwa merokok dapat sedikit meningkatkan resiko untuk terjadinya abortus spontan. Namun hubungan antara merokok dan abortus spontan tergantung pada faktor–faktor lain termasuk konsumsi alkohol, perjalanan reproduksi, waktu gestasi untuk abortus spontan, kariotipe fetal, dan status sosial ekonomi. Peningkatan kejadian abortus spontan pada wanita alkoholik mungkin berhubungan dengan akibat tak langsung dari gangguan terkait alkoholisme. 8) Radiasi Radiasi ionisasi dikenal menyebabkan gangguan hasil reproduksi termasuk malformasi kongenital, restriksi pertumbuhan intrauterine dan kematian embrio. Sedangkan menurut Sarwono hal – hal yang menyebabkan abortus spontan dibagi atas : (Prawirohardjo,2006)
  • 22.
    a. Kelainan pertumbuhanhasil konsepsi Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat. Kelainan berat biasanya menyebabkan kematian mudigah pada hamil-hamil muda. Faktor- faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan diantaranya: 1) Kelainan kromosom. Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan ialah trisomi, poliploidi dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks 2) Lingkungan kurang sempurna. Bila lingkungan di endometrium disekitar tempat implantasi kurang sempurna, pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi akan terganggu 3) Pengaruh dari luar. Radiasi, virus, obat-obat, dan sebagainya dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus. Pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh teratogen. b. Kelainan plasenta Endarteritis dapat terjadi pada vili koriales dan menyebabkan oksigenisasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun. c. Penyakit ibu Biasanya penyakit maternal berkaitan dengan abortus euploidi. Peristiwa abortus tersebut mencapai puncaknya pada kehamilan 13 minggu, karena pada saat terjadinya abortus lebih belakangan, pada sebagian kasus dapat ditentukan etiologi abortus yang dapat dikoreksi. Sejumlah penyakit, kondisi kejiwaan dan kelainan perkembangan pernah terlibat dalam peristiwa abortus euploidi. Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria dan lain-lain dapat menyebakan abortus. Toksin, bakteri, virus, atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin, dan kemudian terjadilah abortus. Anemia berat, keracunan, laparotomi, peritonitis umum, dan penyakit menahun seperti brusellosis, mononukleosis, infeksiosa, toksoplasmosis, juga dapat menyebabkan abortus walaupun lebih jarang. d. Kelainan traktus genitalis Retroversio uteri, mioma uteri atau kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan abortus. Tetapi harus diingat bahwa hanya retroversio uteri gravidi inkarserata atau mioma submukosa yang memegang peranan penting. Sebab lain abortus dalam trimester ke II adalah servik inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan pada servik, dilatasi servik berlebihan, konisasi, amputasi, atau robekan servik yang tidak dijahit. 4. Patofisiologi Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi itu biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi korialis belum menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan antara 8 sampai 14 minggu villi korialis menembus desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu keatas umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin, disusul beberapa waktu kemudian plasenta. Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap. Peristiwa abortus ini menyerupai persalinan dalam bentuk miniature. Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Ada kalanya kantong amnion kosong atau tampak di dalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas dan mungkin pula janin telah mati lama. Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu yang cepat maka ia dapat diliputi oleh lapisan bekuan darah, isi uterus dinamakan mola kruenta.
  • 23.
    Bentuk ini menjadimola karnosa apaila pigmen darah telah diserap dan dalam sisanya terjadi organisasi sehingga semuanya tampak seperti daging. Bentuk lain adalah mola tuberose, dalam hal ini amnion tampak berbenjol – benjol karena terjadi hematoma antara amnion dan korion. Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses mumifikasi diamana janin mengering dan karena cairan amnion berkurang maka ia jadi gepeng (fetus kompressus). Dalam tingkat lebih lanjut ia menjadi tipis seperti kertas perkamen (fetus papiraseus) Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak segera dikeluarkan adalah terjadinya maserasi, kulit terkupas, tengkorak menjadi lembek, perut membesar karena terisi cairan dan seluruh janin berwarna kemerah – merahan dan dapat menyebabkan infeksi pada ibu apabila perdarahan yang terjadi sudah berlangsung lama.(Prawirohardjo,2005), 5. Diagnosa dan Prognosa Abortus dapat diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang perdarahan pervaginam setelah mengalami haid terlambat, sering terdapat pula terasa mules. Kecurigaan tersebut diperkuat dengan ditentukannya kehamilan muda pada pemeriksaan bimanual dan dengan tes kehamilan secara biologis atau imunologik. Harus diperhatikan macam dan banyaknya perdarahan, pembukaan servik dan adanya jaringan dalam kavum uteri atau vagina (Prawirohardjo,2006) Dugaan abortus diperlukan beberapa kriteria sebagai berikut : a. Terdapat keterlambatan datang bulan b. Terjadi perdarahan c. Disertai sakit perut d. Dapat diikuti oleh pengeluaran hasil konsepsi e. Pemeriksaan tes hamil dapat masih positif atau sudah negatif. Hasil pemeriksaan fisik terhadap penderita bervariasi a. Pemeriksaan fisik bervariasi tergantung jumlah perdarahan b. Pemeriksaan fundus uteri : 1) Tinggi dan besarnya fundus tetap dan sesuai usia kehamilan 2) Tinggi dan besarnya sudah mengecil 3) Fundus uteri tidak teraba diatas simfisis Pemeriksaan dalam : a. Servik uteri masih tertutup b. Servik sudah terbuka dan dapat teraba ketuban dan hasil konsepsi dalam kavum uteri atau pada kanalis servikalis c. Besarnya rahim atau uterus mengecil d. Konsistensinya lunak. (Sujiyatini,2009) Sebagai kemungkinan diagnosis lain harus dipikirkan yaitu kehamilan ektopik yang terganggu, mola hidatidosa, kehamilan dengan kelainan pada servik. Untuk penegakan diagnose disesuaikan dengan gejala klinis masing – masing abortus. Sedangkan untuk prognosa abortus juga tergantung pada jenis abortus dan kondisi pasien (Prawirohardjo,2006). 6. Penatalaksanaan Penanganan umum : a. Lakukan penilaian awal untuk menentukan kondisi pasien (gawat darurat, komplikasi berat atau masih cukup stabil) b. Pada kondisi gawat darurat, segera upayakan stabilisasi pasien sebelum melakukan
  • 24.
    tindakan lanjutan (yindakanmedic atau rujukan) c. Penilaian medic untuk menentukan kelaikan tindakan di fasilitas kesehatan setempat atau dirujuk kerumah sakit. 1) Bila pasien syok atau kondisinya memburuk akibat perdarahan hebat segera atasi komplikasi tersebut 2) Gunakan jarum infuse besar (16G atau lebih besar) dan berikan tetesan cepat (500 ml dalam 2 jam pertama) larutan garam fisiologis atau Ringer d. Periksa kadar Hb, golongan darah dan uji padanan silang (crossmatch) a. Bila terdapat tanda – tanda sepsis, berikan antibiotic yang sesuai b. Temukan dan hentikan segera sumber perdarahan c. Lakukan pemantauan ketat tentang kondisi pasca tindakan dan perkembangan lanjut (Prawirohardjo,2006) Tabel 2.2 Penatalaksanaan abortus sesuai dengan jenis abortus (Prawirohardjo,2006) Jenis abortus Penatalaksanaannya Abortus imminen a. Tidak diperlukan pengobatan medic yang khusus b. Istirahat (tirah baring), agar aliran darah ke uterus meningkat dan ransang mekanik berkurang c. Anjurkan untuk tidak melakukan aktifitas berlebihan atau melakukan hubungan seksual d. Bila perdarahan berhenti lakukan asuhan antenatal terjadwal e. Bila perdarahan berlanjut, nilai kondisi janin melalui tes kehamilan atau USG Abortus insipiens a. Uterus harus segera dikosongkan untuk menghindari perdarahan yang banyak atau syok karena rasa mules dan sakit yang hebat b. Pasang infuse, sebaiknya diertai oksitosin drip untuk mempercepat pengeluaran hasil konsepsi c. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilakukan dengan kuretase atau dengan cunam abortus disusul dengan kerokan d. Sebelum dilakukan kuretase diberikan antibiotika prifilaksis e. Bila prosedur evakuasi tidak dapat segera dilakukan atau usia gestasi lebih besar dari 16 minggu, lakukan tindakan pendahuluan dengan : f. Infuse oksitosin 20 unit dalam 500 ml NS atau RL mulai dengan 8 tetes/menit yang dapat dinaikkan hingga 40 tetes/menit, sesuai dengan kondisi kontraksi rahim hingga terjadi pengeluaran hasil konsepsi 1) Ergometrin 0,2 mg IM yang diulangi 15 menit kemudian 2) Misoprostol 400 mg peroral dan apabila masih diperlukan dapat diulangi dengan dosis yang sam setelah 4 jam dari dosis awal. Abortus inkomplit a. Bila disertai syok karena perdarahan segera pasang infuse dengan cairan NaCl fisiologis atau cairan Ringer Laktat, bila perlu disusul dengan transfuse darah b. Setelah syok teratasi, lakukan kerokan c. Pasca tindakan berikan injeksi metal ergometrin maleat intra muscular untuk mempertahankam kontraksi otot uterus d. Perhatikan adanya tanda – tanda infeksi e. Bila tak ada tanda – tanda infeksi berikan antibiotika prifilaksis (ampisilin 500 mg oral atau doksisiklin 100 mg) f. Bila terjadi infeksi beri ampisilin I g dan metronidazol 500 mg setiap 8 jam Abortus komplit a. Tidak memerlukan pengobatan khusus, cukup uterotonika atau kalau perlu antibiotika b. Apabila kondisi pasien baik, cukup diberikan tablet ergometrin 3×1 tablet/hari untu 3 hari
  • 25.
    c. Apabila pasienmengalami anemia sedang, berikan tablet sulfas Ferosus 600 mg/hari selama 2 minggu disertai anjuran mengkonsumsi makanan bergizi (susu, sayuran segar, ikan, daging, telur). Untuk anemi berat berikan transfusi darah d. Jika infeksi berikan antibiotika profilaksis Abortus tertunda (missed abortion) a. Karena sering plasenta melekat maka penanganan harus dirumah sakit b. Periksa kadar fibrinogen atau test perdarahan dan pembekuan darah sebelum tindakan kuretase. Bila normal jaringan konsepsi dapat segera dikeluarkan, teapi bila kadarnya rendah ( 7gr/dl (anemia) atau dicurigai adanya infeksi Tubektomi Segera Sesuai untuk pasangan yang ingin menghentikan fertilitas, jika dicurigai adanya infeksi, tunda samapi keadaan jelas. Jika Hb kurang dari 7g/dl, tunggu sampai anemia telah diperbaiki. Sediakan metode alternatif seperti kondom. B. KONSEP MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA ABORTUS INKOMPLIT a. langkah I : Pengumpulan Data Dasar 1) Data Subjektif a) Identitas ibu dan suami yang perlu dikaji adalah nama, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan , pekerjaan, nomor telepon dan alamat. Bertujuan untuk menetapkan identitas pasien karena mungkin memiliki nama yang sama dengan alamat dan nomor telepon yang berbeda serta untuk mengetahui faktor resiko yang mungkin terjadi. b) Keluhan utama , merupakan alasan utama klien untuk datang ke pelayanan kesehatan. Kemungkinan yang ditemui pada kasus abortus inkomplit ini adalah ibu mengeluhkan bahwa keluar darah yang banyak dari kemaluannya, darah bergumpal dan berwarna merah segar yang disertai nyeri hebat pada perut bagian bawah. c) Riwayat menstruasi yang dikaji adalah menarche, siklus haid, lamanya, banyaknya dan adanya dismenorrhoe saat haid yang bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis apakah ibu benar-benar hamil . d) Riwayat kehamilan sekarang yang dikaji yaitu HPHT, riwayat hamil muda dan tua, frekuensi pemeriksaan ANC yang bertujuan untuk mengetahui tua kehamilan ibu serta taksiran persalinan dan resiko yang akan terjadi dari adanya riwayat pada kehamilan. e) Riwayat penyakit dahulu yang dikaji adalah apakah ibu ada mengalami keguguran sebelumnya, menderita penyakit jantung, DM, ipertensi, ginjal, asma, TBC, epilepsi dan PMS serta ada tidaknya ibu alergi baik terhadap obat-obatan ataupun makanan dan pernah transfusi darah ,atau operasi, serta ada tidaknya kelainan jiwa. f) Riwayat penyakit keluarga yang dikaji yaitu ada tidaknya keluarga ibu maupun suami yang menderita penyakit jantung, DM, hipertensi, ginjal, asma, dan riwayat keturunan kembar yang bertujuan agar dapat mewaspadai apakah ibu juga berkemungkinan menderita penyakit tersebut. g) Riwayat perkawinan yang dikaji yaitu umur berapa ibu kawin dan lamanya ibu baru hamil setelah kawin, yang bertujuan untuk mengetahui apakah ibu memiliki faktor resiko. h) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu yang dikaji adalah fisiologi jarak kehamilan dengan persalinan yang minimal 2 tahun, usia kehamilan aterm 37-40 minggu atau apakah ibu ada mempunyai riwayat abortus, jenis persalinan yang bertujuan untuk menentukan ukuran panggul dan adanya riwayat persalinan dengan tindakan, sehingga menunjukkan bahwa 3P telah bekerja sama dengan baik, penyulit yang bertujuan untuk mengetahui penyulit persalinan yang pernah dialami ibu, nifas yang lalu kemungkinan adanya keadaan lochea, laktasi berjalan dengan normal atau tidak serta keadaan anak sekarang. i) Riwayat keluarga berencana, kemungkinan ibu pernah menggunakan alat –alat kontrasepsi
  • 26.
    atau tidak. j) Makanterkhir bertujuan untuk mengetahui persiapan tenaga ibu untuk persalinan. k) BAK dan BAB terakhir bertujuan untuk mengetahui apakah ada penghambat saat proses persalinan berlangsung. 2) Data Objektif a) Pemeriksaan umum Secara umum ditemukan gambaran kesadaran umum, dimana kesadaran pasien sangat penting dinilai dengan melakukan anamnesa. Selain itu pasien sadar akan menunjukkan tidak adanya kelainan psikologis dan kesadaran umum juga mencakup pemeriksaan tanda-tanda vital, berat badan, tinggi badan , lingkar lengan atas yang bertujuan untuk mengetahui keadaan gizi pasien. b) Pemeriksaan khusus I. Inspeksi Periksa pandang yang terpenting adalah mata (konjungtiva dan sklera) untuk menentukan apakah ibu anemia atau tidak, muka (edema), leher apakah terdapat pembesaran kelenjar baik kelenjar tiroid maupun limfe sedangkan untuk dada bagaimana keadaan putting susu, ada tidaknya teraba massa atau tumor, tanda-tanda kehamilan (cloasma gravidarum, aerola mamae, calostrum), serta dilihat pembesaran perut yang sesuai dengan usia kehamilan, luka bekas operasi, dan inspeksi genitalia bagian luar serta pengeluaran pervaginam dan ekstremitas atas maupun bawah serta HIS. II. Palpasi Dengan menggunakan cara leopold: Leopold I : Untuk menentukan TFU dan apa yang terdapat dibagian fundus (TFU dalam cm) dan kemungkinan teraba kepala atau bokong lainnya, normal pada fundus teraba bulat, tidak melenting, lunak yang kemungkinan adalah bokong janin Leopold II: Untuk menentukan dimana letaknya punggung janin dan bagian-bagian kecilnya. Pada dinding perut klien sebelah kiri maupun kanan kemungkinan teraba, punggung, anggota gerak, bokong atau kepala. Leopold III: Untuk menentukan apa yang yang terdapat dibagian bawah perut ibu dan apakah BTJ sudah terpegang oleh PAP, dan normalnya pada bagian bawah perut ibu adalah kepala. Leopold IV: Untuk menentukan seberapa jauh masuknya BTJ ke dalam rongga panggul dan dilakukan perlimaan untuk menentukan seberapa masuknya ke PAP. III. Auskultasi Untuk mendengar DJJ dengan frekuensi normal 120-160 kali/menit, irama teratur atau tidak, intensitas kuat, sedang atau lemah. Apabila persalinan disertai gawat janin, maka DJJ bisa kurang dari 110 kali/menit atau lebih dari 160 kali/menit dengan irama tidak teratur. IV. Perkusi Pemeriksaan reflek patella kiri dan kanan yang berkaitan dengan kekurangan vitamin B atau penyakit saraf, intoksikasi magnesium sulfat. V. Penghitungan TBBJ Dengan menggunakan rumus (TFU dalam cm – 13) x 155 yang bertujuan untuk mengetahui taksiran berat badan janin dan dalam persalinan postterm biasanya berat badan janin terjadi penurunan karena terjadi perubahan anatomik yang besar pada plasenta atau sebaliknya berat janin terus bertambah karena plasenta masih berfungsi. VI. Pemeriksaan Dalam
  • 27.
    Yang dinilai adalahkeadaan servik, pembukaan, keadaan ketuban, presentasi dan posisi, adanya caput atau moulage, bagian menumbung atau terkemuka, dan kapasitas panggul (bentuk promontorium, linea innominata, sacrum, dinding samping panggul, spina ischiadica, coksigis dan arcus pubis > 900). c) Pemeriksaan Penunjang I. Darah Yaitu kadar Hb, dimana Hb normal pada ibu hamil adalah ≥ 11 gr% (TM I dan TM III 11 gr % dan TM II 10,5 gr %) Hb ≥ 11 gr% : tidak anemia Hb 9-10 gr% : anemia ringan Hb 7-8 gr% : anemia sedang Hb ≤ 7 gr% : anemia berat II. Urine Untuk memeriksa protein urine dan glukosa urine.untuk klien dengan kehamilan dan persalinan normal protein dan glukosa urine negative. III. USG Untuk memeriksa apakah kantong gestasi masih utuh dan cairan amnion masih ada. b. Langkah II: Interprestasi Data Data dasar di interprestasikan menjadi masalah atau diagnosa spesifik yang sudah di identifikasikan. Di dalam interprestasi data, terdapat tiga komponen penting di dalamnya yaitu: 1) Diagnosa Diagnosa setiap kala persalinan berbeda dan diagnosa ditetapkan bertujuan untuk mengetahui apakah ada penyimpangan. Untuk persalinan postterm dapat ditegakkan dengan mengetahui HPHT serta menetukan taksiran persalinan dan mengetahui gerakan janin pertama kali dirasakan dan riwayat pemeriksaan ANC lainnya. 2) Masalah Dapat berupa keluhan utama atau keadaan psikologis ibu, keadaan janin yang memburuk karena sudah keluarnya sebagian sisa jaringan. 3) Kebutuhan Di sesuaikan dengan adanya masalah,seperti: a) Berikan informasi dan konseling untuk mengatasi kecemasan ibu b) Berikan ibu dukungan psikologis. c) Kolaborasi dengan dokter untuk tindakan kuretase c. Langkah III: Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial Kemungkinan masalah potensial yang timbul adalah: 1) Infeksi 2) Perdarahan 3) Syok 4) Anemia . d. Langkah IV : Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera. Adapun tindakan segera yang dilakukan adalah: Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik e. Langkah V:Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga dapat direncanakan asuhan sesuai dengan kebutuhan yaitu: Tindakan yang perlu dilakukan adalah: 1) Memberikan inform consent untuk tindakan kuretase 2) Melakukan pemeriksaan TTV
  • 28.
    3) Pemenuhan kebutuhancairan dan elektrolit dengan pemberian infus. 4) Membantu melakukan tindakan kuretase 5) Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi obat-obatan 6) Memberikan dukungan psikologis. 7) Pemenuhan nutrisi dan hidrasi 8) Konseling alat kontrasepsi pasca abortus f. Langkah VI:Melaksanakan Perencanaan Perencanaan bisa dilakukan oleh bidan atau dokter dan sebagian oleh klien. Bidan juga bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan yang telah di rencanakan. g. Langkah VII:Evaluasi Merupakan langkah akhir dari proses asuhan kebidanan persalinan,dari hasil pelaksanaan perencanaan dapat diketahui keefektifan dari asuhan yang telah diberikan dan menunjukkan perbaikan kondisi apabila banyi ataupun ibu sempat mengalami masalah yang harus segera ditangani. h. Pendokumentasian Pendokumentasian kasus dibuat dalam bentuk matrik dengan menggunakan 7 langkah varney DAFTAR PUSTAKA JNPK _KR. 2008. Pelayanan obsetri dan neonatal emergensi dasar (PONED) Kusmiyati, Dkk. 2009. Perawatan ibu hamil. Yogjakarta : Fitramaya Nugroho, taufan. 2010. Buku ajar obstetric. Yogjakarta : Nuha Medika Manuaba. 2007. Pengantar kuliah obstetri. Jakarta : Buku Kedokteran EGC PPKC. 2002. Pelatihan manajemen asuhan kebidanan. Jakarta Prawirohardjo, S. 2006. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka ANEMIA DALAM KEHAMILAN Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized Tag:kuliah ASKEB 4 0 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Didunia ini setiap menit perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan persalinan, dengan kata lain 1.400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan. Di Indonesia 2 orang meninggal setiap jam karena kehamilan, persalinan dan nifas. Setiap menit 20 anak balita meninggal. Dengan kata lain 20.000 anak balita meninggal setiap hari dan 10,6 juta anak balita meninggal setiap tahun. (university of Indonesia “make every mother and child count” 7 april 2005). Tingginya angka kesakitan dan kehamilan pada wanita hamil dan bersalin merupakan masalah yang besar. Dilaporkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia berkisar 334/100.000 kelahiran hidup. (panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal) di Sumbar AKI 116/100.000 kelahiran hidup, sedangkan AKB 9,96/1000 kelahiran hidup. Dan dipadang angka kematian ibu 13/100.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi 3,4/1000 kelahiran hidup. (Profil Kesehatan Sumbar). Didalam rencana Strategi Nasional Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010
  • 29.
    disebut kontek rencanapembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 dengan misi menurunkan angka kematian maternal dan neonatal melalui pemantauan system kesehatan yang menjamin akses terhadap intervensi yang cost effective berdasarkan bukti ilmiah yang berkualitas, memberdayakan wanita, keluarga dan masyarakat melalui kegiatan mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir serta menjamin kesehatan maternal dan neonatal sebagai prioritas program pembangunan nasional. Selain itu intervensi dalam safe motherhood melakuakn pendekatan dengan mengganggap semua kehamilan berisiko dan setiap ibu hamil agar mempunyai akses pertolongan persalianan yang aman. Diperkirakan 15% kehamilan akan mengalami resiko tinggi dan komplikasi obstetri yang dapat membahayakan kehidupan ibu maupun janinnya bila tidak ditangani dengan memadai (Buku Acuan Nasional Pelayanan kesehatan Maternal dan Neonatal, 2000) Penyebab kematian ibu yang terbanyak disebabkan oleh komplikasi obstetric. Komplikasi obstetric ini tidak selalu dapat diramalkan sebelumnya. Penyebab kematian ibu dan perinatal umumnya desebabkan oleh sebab langsung seperti pendarahan, eklampsi, infeksi dan sebab tidak langsung yaitu rendahnya tingkat pendidikan, sosial ekonomi, terlambatnya mendapat pertolongan persalinan atau rujukan yang dikenal dengan istilah 3T (Terlambat mengenal komplikasi, Terlambat membuat keputusan, Terlambat merujuk) dan pertolongan persalinan oleh dukun yang kurang memperhatikan sterilisasi dan aborsi illegal (Pusdeknakes, 2003) Seorang bidan baru yang dikatakan profesional jika ia amapu melakukan tugas kebidanan sesuai standar dan hasil yang memuaskan. Ia terlatih memberikan perawatan dan nasehat yang diperlukan bagi seorang wanita selam hamil ,persalianan dan nifas. Untuk melakukan persalinan normal atas tanggung jawab sendiri dan untuk merawat bayi baru lahir. Setiap saat ia harus mengenali tanda-tanda bahaya yang menandakan keadaan yang abnormal atau kemungkianan akan timbul keadaan yang abnormal yang mengharuskan melakukan rujukan. (Pusdiknakes,2003). Bertolak dari pertanyaan diatas, maka penulis sebagai calon bidan dalam rangka mempersiapkan diri sebagai seorang bidan yang terampil dan memiliki keahlian diberikan penugasan untuk melakukan pembinaan pada seorang ibu hamil yang dimulai pada kehamilan semester III Melalui pembinaan tersebut, penulis dapat memahami bebagai proses dan perubahan yang terjadi pada ibu selama hamil, sehingga dapat menerapkan asuhan kebidanan yang tepat dan aman. B. Batasan Masalah Dalam penulisan kasus ini penulis membatasi masalah yaitu penerapan manajemen kebidanan pada Ny.”M” dimulai pada Trimester III pada usia kehamilan 36-37 minggu dengan kehamilan normal. C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk mendapatkan pengalaman serta dapat menerapkan dan mengembangkan pola pikir ilmiah dalam melaksanakan manajemen kebidanan pada Ny “ M” pada Trimester III dengan kehamilan normal. 2. Tujuan Khusus a. Dapat melaksanakan pengkajian data dengan cara wawancara, observasi dan pemeriksaan pada Ny “M” pada masa kehamilannya. b. Dapat menegakkan diagnosa, mengkaji masalah dan kebutuhan pada Ny “M” c. Dapat mengidentifikasi masalah potensi yang mungkin terjadi pada Ny “M” d. Dapat membuat rencana asuhan pada Ny “M” sebagai dasar untuk melaksanakan asuhan kebidanan.
  • 30.
    e. Dapat melakukanimplementasi secara efektif dan ifisien pada Ny “M” f. Dapat mengevaluasi asuhan yang telah diberikan pada Ny “M” D. Manfaat Penulisan 1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan pelayanan dengan menggunakan manejemen asuhan kebidanan sesuai dengan standar profesi 2. Berperan secara profesional sehingga dapat memberikan pelayanan yang berkualitas pada klien. 3. Mengembangkan kemampuan berfikir dalam menemukan masalah dan dalam mencari pemecahan masalah tersebut. BAB II TINJAUAN TEORITIS a. LANDASAN TEORI 1. Defenisi Anemia dalam Kehamilan Anemia adalah kondisi ibu dengan jumlah protein sel darah merah dan zat pewarna merah pada sel darah kurang dari 12% gram (Winkjosastro,2002) sedangkan Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan jumlah protein sel darah merah dan zat pewarna merah pada sel darah dibawah 11% gram pada usia kehamilan 4-7 bulan (Saifuddin,2002). Jadi Anemia bukan penyakit kurang darah tapi, kurangnya sel darah merah karena jumlah protein sel darah merah dan zat pewarna merah pada sel darah yang rendah dalam darah. 2. Jenis – Jenis Anemia dalam Kehamilan Anemia dalam kehamilan dapat di bagi menjadi: a. Anemia defesiensi besi (62,3%) Anemia defisiensi besi adalah Anemia yang terjadi akibat kekurangan bahan pembentuk protein sel darah merah dalam darah. Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsure besi dengan makanan, karena gangguan resorpsi, gangguan penggunaan atau karena terlampau banyk besi keluar dari badan , misalnya perdarahan. Diagnosis: 1) Untuk Anemia defesiensi besi yang berat di tandai dengan ciri-ciri yang khas yaitu mikrisitosis dan hipokromasia 2) Untuk Anemia defesiensi besi yang ringan tidak selalu di tandai dengan cirri-ciri khas , banyak yang bersifat normositer dan normokrom Sifat lain yang khas yaitu : a) Kadar besi serum rendah b) Daya ikat besi serum tinggi c) Protoporfirin eritrisit tinggi d) Tidak di temukan hemosiderin dalam sum-sum tulang Prognosis: Prognosis Anemia defesiensi besi dalam kehamilan umumnya baik bagi ibu dan anak . Persalinan dapat berlangsung seperti biasa tanpa perdarahan banyak atau komplikasi lain . anemia berat dalam kehamilan muda yang tidak di obati dapat menyebabkan abortus dan dalam kehamilan tua dapat menyebabkan partus lama , perdarahan post partum dan infeksi. Walaupun bayi yang di lahirkan dari ibu yang menderita anemia defesiensi besi tidak menunjukkan Hb yang rendah, namun cadangan besinya kurang yang barubeberapa bulan kemudian tampak sebagai anemia infatum.
  • 31.
    Pencegahan dan Pengobatan: Didaerah dengan frekuensi kehamilan yang tinggi sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfat ferrosus atau glukonas ferrosus, cukup 1 tablet sehari. Selain itu, ibu di beri nasehat untuk makan lebih banyak protein dan sayur yang banyak mengandung mineral dan vitamin. b. Anemia megaloblastik (29,0%) Anemia megaloblastik adalah anemia yang disebabkan karena defesiensi asam folat. Diagnosis: Diagnosis anemia megaloblastik dibuat apabila ditemukan megeloblas atau promegaloblas dalam darah atau sum-sum tulang belakang Prognosis: Anemia megaloblastik dalam kehamilan mempunyai prognosis cukup baik . Pengobatan dengan asam folat hampir selalu berhasil. Pencegahan dan Pengobatan: 1) Asam folat 15-30 mg per hari 2) Vitamin B12 3×1 tablet per hari 3) Sulfas ferosus 3×1 tablet per hari 4) Pada kasus berat diberikan penambah darah c. Anemia hipolastik (8,0%) Anemia hipoplastik yaitu Anemia yang disebabkan oleh penurunan fungsi kerja sumsum tulang untuk membentuk sel darah merah baru.Pengobatannya yaitu dengan transfuse darah. d. Anemia hemolitik (0,7%) Anemia hemolitik adalah Anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatanya. Gejala utamamya adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan. Pengobatanya: Tergantung pada jenis anemia ini serta penyebabnya. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun pada beberapa jenis obat-obtan, hal ini tidak memberikan hasil sehingga penambah darah berulang dapat membantu penderita. 3. Gejala Anemia Pada Ibu Hamil a. Pucat b. Sering pusing c. Lemah, lelah, letih, lesu, lunglai d. Nafas terengah-engah e. Nyeri dada f. Mata berkunang-kunang g. Lidah luka h. Nafsu makan turun i. Mual dan muntah yang berlebihan pada hamil muda 4. Penyebab Anemia dalam Kehamilan Anemia dalam kehamilan disebabkan oleh kekurangan bahan pembentuk protein sel darah merah dan perdarahan secara mendadak bahkan tidak jarang keduanya saling berhubungan (Safuddin,2002). Menurut mochtar (1998) penyebab anemia pada umumnya aadal sebagai berikut: a. Kurangnya bahan pembentuk protein sel darah merah dalam makanan yang dikonsumsi,
  • 32.
    Kebutuhannya bagi ibuhamil sekitar 1000mg: 1) 500mg untuk meningkatkan jumlah sel darah merah 2) 300mg untuk bayi 3) 200mg untuk mangganti kehilangan bahan pembentuk protein sel darah merah setiap hari Rata-rata ibu hamil normal perlu menyerap 3,5mg setiap hari atau meyerap 20% yang masuk. b. Penyerapan bahan pembentuk protein sel darah merah yang tidak sempurna akibat mencret yang sudah berlangsung lama, pembedahan tertentu pada slauran pencernaan seperti: lambung. Bahan pembentuk protein sel darah merah diserap dari saluran pencernaan. Sebagian besar diserap dari usu halus bagian atas terutama usus 12 jari. Bila terjadi gangguan saluran pencernaan, maka penyerapan dari saluran pencernaan menjadi tidak sempurna. Hal itu menyebabkan kurangnya jumlah bahan pembentuk protein sel darah merah didalam tubuh sehingga pembentukan sel darah merah terhambat. c. Kehilangan darah yang disebabkan oleh perdarahan menstruasi berat, luka, kanker dan perdarahan pada lambung dan usus akibat tindakan pemberian obat. Kehilangan banyak darah tersebut menyebabkan terkurasnya cadangan bahan pembentuk protein sel darah merah dalam tubuh sehingga pembentukan sel darah merah terganggu. d. Kurang gizi e. Penyakit-penyakit yang sudah berlangsung lama seperti TBC paru,cacing usus, malaria 5. Faktor Predisposisi Anemia Pada Ibu Hamil a. Umur kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun Wanita yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, mempunyai risiko yang tinggi untuk hamil. Karena akan membahayakan kesehatan dan keselamatan ibu hamil maupun janinnya, berisiko mengalami pendarahan dan dapat menyebabkan ibu mengalami anemia.Wintrobe (1987) menyatakan bahwa usia ibu dapat mempengaruhi timbulnya anemia, yaitu semakin rendah usia ibu hamil maka semakin rendah kadar hemoglobinnya. Muhilal et al (1991) dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat kecendrungan semakin tua umur ibu hamil maka presentasi anemia semakin besar. Pada penelitian ini belum menunjukkan adanya kecendrungan semakin tua umur ibu hamil maka kejadian anemia semakin besar. Karena 80% ibu hamil berusia tidak berisiko yaitu antara 20 tahun hingga 35 tahun. b. Paritas Semakin banyak jumlah kelahiran (paritas), maka akan semakin tinggi angka kejadian anemia Artinya ibu hamil dengan paritas tinggi mempunyai risiko lebih besar untuk mengalami anemia dibanding yang paritas rendah c. Jarak Kehamilan Yang terlalu Dekat Salah satu penyebab yang dapat mempercepat terjadinya anemia pada wanita adalah jarak kelahiran pendek. Menurut Kramer (1987) hal ini disebabkan kekurangan nutrisi yang merupakan mekanisme biologis dan pemulihan factor hormonal dan adanya kecendrungan bahwa semakin dekat jarak kehamilan, maka akan semakin tinggi angka kejadian anemia. d. Pengetahuan Pengetahuan kesehatan reproduksi menyangkut pemahaman tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan, penyuluhan, tanda dan cara mengatasi anemia pada ibu hamil diharapkan dapat mencegah ibu hamil dari anemia. semakin rendah pengetahuan kesehatan reproduksi, maka akan semakin tinggi angka kejadian anemia. e. Pemeriksaan Antenatal Care Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga professional yaitu Dr Ginekolog dan Bidan serta memenuhi syarat 5 T (TB, BB, Tekanan darah, Tinggi
  • 33.
    Fundus, TT, TabletFe). Jika pemeriksaan Antenatal Care kurang atau tidak ada sama sekali maka akan semakin tinggi angka kejadian anemia. f. Pola makan dan Kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe Gizi seimbang adalah pola konsumsi makan sehari-hari yang sesuai dengan kebutuhan gizi setiap individu untuk hidup sehat dan produktif. Agar sasaran keseimbangan gizi dapat dicapai, maka setiap orang harus menkonsumsi minimal 1 jenis bahan makanan dari tiap golongan bahan makanan yaitu KH, protein hewani dan nabati, sayuran, buah dan susu. (Kodyat, 1995). Kepatuhan menkonsumsi tablet Fe diukur dari ketepatan jumlah tablet yang dikonsumsi, ketepatan cara menkonsumsi tablet Fe, frekuensi konsumsi perhari. Suplementasi besi atau pemberian tablet Fe merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah dan menanggulangi anemia, khususnya anemia kekurangan besi. Suplementasi besi merupakan cara efektif karena kandungan besinya yang dilengkapi asam folat yang sekaligus dapat mencegah anemia karena kekurangan asam folat.ibu hamil yang kurang patuh konsumsi tablet Fe mempunyai risiko untuk mengalami anemia dibanding yang patuh konsumsi tablet Fe. 6. Akibat Anemia Pada Ibu Hamil a. Akibat anemia pada usia kehamilan 3 bulan pertama 1) Dapat terjadi keguguran 2) Cacat bawaan b. Akibat anemia pada usia kehamilan 4-9 bulan 1) Persalinan belum cukup bulan 2) Perdarahan dalam melahirkan 3) Gangguan pertumbuhan bayi dalam kandungan 4) Bayi kekurangan oksigen dalam kandungan sampai menyebabkan kematian 5) Mudah terkena infeksi c. Akibat anemia saat melahirkan 1) Gangguan kekuatan mengejan 2) Melahirkan berlangsung lama 3) Tertahannya plasenta dan perdarahan saat melahirkan d. Akibat anemia terhadap bayi 1) Kematian dalam kandungan 2) Cacat bawaan 3) Kecerdasannya rendah 4) Bayi lahir dengan anemia 5) Berat badan bayi lahir kecil 7. Tujuan Pencegahan Anemia Pada Ibu Hamil Tujuan dari pencegahan anemia selama kehamilan adalah untuk menjaga keseimbangan jumlah protein sel darah merah dan zat pewarna merah pada sel darah ibu dan untuk mencegah kekurangan bahan pembentuk protein sela darah merah pada bayi. 8. Pencegahan dan Pengobatan Anemia Pada Ibu Hamil a. Pemberian tambahan bahan pembentuk protein sel darah merah selama masa kehamilan (± 90 tablet) dalam satu hari 1 tablet ( satu tablet mengandung 60 mg Fe dan 200 πg asam folat ) minum dengan air putih dan jangan minum dengan air kopi atau dengan air the karena akan menghambat penyerapan. Efek sampingnya yaitu : rasa tidak enak di hulu hati, mual, muntah dan mencret.
  • 34.
    b. Memakan makananyang banyak mengandung bahan pembentuk protein sel darah merah seperti : 1) Telur 2) Susu i. Ibu hamil 0-3 bulan = 1 gelas ii. Ibu hamil 4-7 bulan = 1 gelas iii. Ibu hamil 7-9 bulan = 1 gelas 3) Hati 4) Ikan iv. Ibu hamil 0-3 bulan = 1 ½ potong v. Ibu hamil 4-7 bulan = 2 potong vi. Ibu hamil 7-9 bulan = 3 potong 5) Daging 6) Tempe vii. Ibu hamil 0-3 bulan = 3 potong viii. Ibu hamil 4-7 bulan = 4 potong ix. Ibu hamil 7-9 bulan = 5 potong 7) Sayuran yang berwarna hijau tua (kangkung, bayam, daun katuk, daun singkong) x. Ibu hamil 0-3 bulan = ½ mangkok xi. Ibu hamil 4-7 bulan = 3 mangkok xii. Ibu hamil 7-9 bulan = 3 mangkok 8) Buah-buahan (jeruk, jambu biji, pisang, tomat) xiii. Ibu hamil 0-3 bulan = 2 buah xiv. Ibu hamil 4-7 bulan = 2 buah xv. Ibu hamil 7-9 bulan = 2 buah c. Periksa secepat mungkin apabila terdapat tanda-tanda anemia agara langkah-langkah pencegahan bisa segera dilakukan e. KONSEP MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN 1. Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil TM III Proses manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah agar pelayanan yang komperhensif dapat tercapai. Proses manajemen terdiri dari tujuh langkah yang berurutan dimana setiap langkah disempurnakan secar periodic. Proses di mulai dengan pengumpulan data dasar yang berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tesebut membentuk kerangka lengkap yang dapat diaplikasikan dalam semua situasi. Akan tetapi, setiap langkah-langkah dapat dipecah menjadi langkah tertentu dan ini bisa berubah sesuai dengan bagaiman keadaan pasien. Ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut: LANGKAH 1: PENGUMPULAN DATA DASAR A. Anamnesa/ Data Subjektif a. Identitas isteri dan suami yang perlu di kaji adalah nama,umur, agama, suku, pendidikan, pekerjaan, no.telp dan alamat. Bertujuan untuk menetapkan identitas pasien karena mungkin memiliki nama yang sama dengan alamat dan no.telp yang berbeda dan umur juga untuk mengetahui factor resiko, jika umur ibu 35 tahun ini merupakan umur ynag berisiko bagi ibu hamil. Kehamilan resiko tinggi adalah kehamilan yang akan menyebabkan terjadinya bahaya dan komplikasi yang lebih besar baik terhadap ibu maupun terhadap janin yang dikandungnya selama masa kehamilan, melahirkan ataupun nifas bila dibandingkan dengan kehamilan persalinan dan nifas normal (Haryono,2007)
  • 35.
    Ibu hamil dengankehamilan resiko tinggi adalah ibu hamil yang mempunyai resiko atau bahaya yang lebih besar pada kehamilan/persalinannnya dibandingkan dengan ibu hamil dengan kehamilan/persalinan normal. contohnya: Ibu dengan umur kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun Pada umur ini belum cukup dicapai kematangan fisik, mental dan fungsi dari calon ibu serupa ini, yang Tentunya menimbulkan keraguan jaminan bagi keselamatan kehamilan yang dialaminya, dan juga jaminan cinta kasih dan perawatan serta asuhan bagi anak yang akan dilahirkan.. Pada golongan ibu-ibu muda ini banyak diulas permasalahan dari segi psikiatri dan psikologi sosial, dan hampir semua ulasan akan menekankan pentingnya usaha khusus untuk melindungi anak-anak yang akan dilahirkan kemudian.sedangkan, Pada umur lebih dari 35 tahun perubahan yang terjadi karena proses menjadi tua dari alat-alat reproduksi dan jalan lahir, cenderung berakibat buruk pada proses kehamilan dan persalinannya. Pada kelompok tua ini lebih banyak ditemui berbagai kelainan seperti penyulit persalinan dan kehamilan, demikian pula dari jumlah persen yang ditemui. b. Keluhan utama Merupakan alasan utama klien untuk datang ke pelayanan kesehatan. Kemungkinan yang ditemui pada kehamilan fisiologis pada TM III adalah: 1) Edema pada pergelangan kaki dan tangan Edema (pembengkakan karena pengumpulan cairan didalam jaringan) dianggap tanda bahaya kehamilan, tetapi sekarang para dokter mengenali bahwa pembengkan ringan pada pergelangan kaki dan kaki berkaitan dengan peningkatan pada cairan tubuh yang normal dan perlu pada kehamilan. Sebenarnya, 75% ibu hamil mengalami edema seperti ini pada suatu saat dari kehamilannya terutama diakhir hari, di cuaca panas, atau setelah berdiri atau duduk lama. Kebanyakan ibu hamil mengatakan bahwa edema akan hilang setelah tidur malam. Cara mengatasinya: a. Hindari berdiri lama dan duduk terlalu lama b. Melatih kaki untuk ditekuk ketika duduk dan berdiri c. Hindari kaos kaki yang ketat atau tali pita yang ketat pada kaki d. Bantu sistem tubuh untuk membuang produk sisa metabolisme dengan minum air putih minimal 10 gelas per hari. 2) Frekuensi kemih meningkat Hal ini terjadi karena tekanan uterus pada kandung kemih, nocturia akibat eksresi sodium yang menigkat dengan kehilangan air yang wajib dan bersamaan air dan sodium terperangkap didalam tungkai bawah selama siang hari karena stasis vena, pada malam hari terdapat aliran kembali vena yang meningkat dengan akibat peningkatan dalam jumlah output air seni. Cara mengatasi: a. Miringkan tubuh kedepan saat buang air kecil dan akan membantu mengosongkan kandung kemih sehingga mengurangi perjalanan kekamar mandi. b. Jangan kurangi minum di malam hari untuk mengurangi nocturia, kecuali jika nocturia mengganggu tidur dan menyebabkan keletihan c. Batasi minum bahan diuretiks alamiah seperti : kopi, teh, cola dengan cafein d. Ajarkan tanda-tanda UTI posisi yang berbaring miring kekiri dimalam hari untuk meningkatkan dieresis 3) Sembelit Sembelit berkaitan dengan setidaknya enam macam kondisi didalam tubuh, yaitu: a. Rahim yang membesar yang menekan kolon dan rectum sehingga mengganggu ekskresi b. Peningkatan kadar progesteronmerelaksasikan otot saluran cerna, serta menurunkan
  • 36.
    mortalitas c. Asupan cairantidak adekuat d. Diet serat tidak cukup e. Suplementasi zat besi f. Kebiasaan defekasi yang buruk g. Jarang berolahraga dan sering melewatkan satu waktu terutama sarapan Cara mengatasi: a. Bangun subuh lalu meminum segelas air jeruk hangat b. Lakukan gerak badan (harus seizin dokter) setiap hari c. Minum air setidaknya 8 sampai 10 gelas (2-3 liter) sehari, jumlah inipunharus dicocokan dengan besaran angka kecukupan energi d. Memperbanyak makanan yang kaya akan serat, paling tidak setiap pagi harus memakan sesendok teh tepung serealia e. Membatasi pemberian suplementasi zat besi menjadi bukan setiap hari, melainkan setiap dua hari sekali harus ditambah dan dimakan pada hari ketika suplemen tidak diberikan. 4) Nafas sesak (hiperventilasi) Ibu hamil sering merasakan sesak nafas, hal ini terjadi karena meningkatnya hormon progesteron yang bekerja pada pusat pernafasan, secara langsung menurunkan co2 dan meningkatnya o2. Selain itu, hiperventilasi disebabkan oleh uterus yang membesar sehingga menekan diafragma. Cara mengatasinya: a. Mengatur laju pernafasan dengan baik b. Secara periodik berdiri dan merentangkan lengan diatas kepala serta menarik nafas yang panjang. 5) Garis-garis pada perut atau peregangan pada perut Garis-garis diperut juga muncul pada trimester ke-2 tetapi lebih menonjol pada trimester ke- 3. Hal ini disebabkan karena perubahan hormon dan peregangan. Cara mengatasinya: a. Menjaga kestabilan berat badan b. Merawat kelenturan kulit c. Bagi ibu yang cocok dengan pemakain krim dan bahan pelembab lainya. d. Goresan peregangan pada ibu hamil secara bertahap akan memudar dan menjadi garis keperakan beberapa bulan setelah melahirkan. 6) Gatal-gatal Gatal-gatal terjadi pada ibu hamil disetiap trimester. Gatal-gatal disebabkan karena hipersensitif terhadap antigen plasenta. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan kompres dan mandi siram dengan air sejuk, kemudian gunakan cara madi yang oatmeal. 7) Perut kembung Ibu hamil pada trimester ke-3 sering mengalami perutnya kembung, sehingga ibu merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti itu. Perut kembung sering terjadi karena kemampuan jarak usus berkurang yang mengarah kepada keterlambatan pengosongan usus. Selain itu terjadi juga karena tekanan uterus yang membesar terhadap usus besar. Cara mengatasinya: a. Hindari makanan yang menghasilkan gas b. Mengunyah makanan secara sempurna c. Senam harian secara tertentu
  • 37.
    c. Riwayat menstruasi Yangdikaji adalah menarche,siklus haid, lamanya haid, banyaknya,dan adanya dismenorrhoe saat haid. d. Riwayat kehamilan kini Yang dikaji yaitu: 1) HPHT untuk menentukan perkiraan persalinan menurut Naegle dan juga untuk menentukan tuanya kehamilan saat ibu datang apakah preterm ( jika usia kehamilan antara 28-39 minggu), aterm (jika usia kehamilan 38-42 minggu), post term (jika usia kehamilan lebih dari 42 minggu) 2) Keluhan –keluhan umum yang terjadi pada TM I,TM II dan TM III 3) Pergerakan janin 4) Pada primipara biasanya sudah terasa dalam kehamilan 20 minggu dan pada multipara pada usia kehamilan 16 minggu. Pada kehamilan TM III gerak janin normal dalam 24 jam sebanyak 20-24 kali Cara menghitung pergerakan janin: a) menghitung 1 menit penuh b) dengan mendengarkan 3×5 detik, kemudian jumlah bunyi jantung dalam 3×5 derik di kalikan dengan 4. Misalnya: 5 detik 5 detik 5 detik Kesimpulan 11 12 11 Teratur, frekuensi 136 x/i, anak baik 10 14 9 Tidak tertur,frekuensi 132x/i.asphyksia 8 7 8 Teratur, frekuensi 92x/I,asphyksia 5) Keluhan-keluhan yang pernah dirasakan Pengkajian ini bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan adanya tanda –tanda bahaya pada ibu hamil, seperti rasa 5L (lesu, lemah, lelah, letih, lunglai) yang menunjukkan gejala anemia, mual dan muntah yang lama, nyeri perut, sakit kepala berat dan penglihatan kabur kemungkinan gejala empending eklampsia. Pengeluaran cairan pervaginam terutama darah kemungkinan bisa terjadi perdarahan antepartum atau terjadi abortus bisa terjadi solusio plasenta pada kehamilan trimester III atau. Rasa nyeri/panas waktu BAK, rasa gatal pada vulva, vagian dan sekitarnya kemungkinan PMS, tegang pada tungkai dan oedema (tromboplebitis). 6) Imunisasi Jika ibu tidak pernah mendapatkan imunisasi TT, maka ia harus mendapatkan imunisasi TT paling sedikit 2 kali selama kehamilan di mulai TM II dan TM III. adapun tujuan imunisasi tersebut adalah untuk menghindari terjadinya tetanus neonaturum. e. Pola makan Tujuan untuk menentukan AKG pada ibu hamil Contoh: menu ibu hamil (menurut ukuran rumah tangga) 1) Nasi 4 x 200 gr (200 gr = 1 piring ukuran sedang) 2) Lauk 2 x 50 gr (50 gr = 1 potong sebesar kotak korek api) 3) Tempe 4 x 250 gr ( 100 gr = 2 potong sebesar kotak korek api) 4) Sayur 3 x 100 gr ( 100 gr = 1 mangkok sedang) 5) Susu 1 x 250 cc ( 250 cc = 1 gelas ukuran sedang) 6) Buahan 2 x 100 gr ( 100 gr = 1 potong papaya ukuran sedang) Perubahan pola makan yang dialami (termasuk ngidam, nafsu makan dan lain-lain). Pada TM III biasanya ibu mengalami peningkatan kebutuhan asupan nutrisi yang berguna untuk kesehatn ibu dan bayi.
  • 38.
    f. Pola eliminasi 1)BAB Pada kehamilan TM III biasanya ibu hamil mengalami gangguan pencernaan seperti konstipasi. Hal ini dapat dicegah dengan meningkatkan konsumsi makanan yang berserat tinggi dan minum air minimal 6-8 gelas sehari. BAB normal yaitu minimal sekali sehari 2) BAK Pada kehamilan TM III, terjadi penekanan pada vesika urinaria oleh kepala janin sehingga frekuensi BAK ibu hamil meningkat. Namun, hal ini merupakan sesuatu yang fisiologis. g. Riwayat kehamilan ,persalinan dan nifas yang lalu 1) Fisiologi jarak kehamilan dengan persalinan yang lalu minimal 2 tahun 2) Usia kehamilan aterm adalah 37 – 40 minggu 3) Jenis persalinan bertujuan untuk menentukan ukuran panggul dan adanya riwayat persalinan dengan tindakan, sehingga menunjukkan bahwa 3P telah bekerja sama dengan baik 4) Komplikasi ibu dan bayi bertujuan untuk menentukan komplikasi yang mungkin terjadi pada persalinan berikutnya 5) Nifas yang lalu kemungkinan keadaan involusi uterus, lochea. Laktasi berjalan dengan normal atau disertai komplikasi 6) Keadaan anak apakah masih hidup sampai sekarang h. Riwayat kontrasepsi Kemungkinan klien pernah menggunakan kontrasepsi atau tidak. i. Riwayat kesehatan ibu 1) Riwayat kesehatan yang lalu Kemungkinan klien pernah menderita penyakit jantung, hipertensi, DM, dan pernah mengalami operasi dinding rahim . adanya riwayat alergi, riwayat transfuse darah dan riwayat kelainan jiwa 2) Riwayat kesehatan sekarang Kemungkinan klien sedang menderita penyakit jantung, DM, TBC, PMS dan penyakit lainnya. j. Riwayat kesehatan keluarga Untuk mendeteksi kemungkinan adanya penyakit keturunan, penyakit menular seksual dan riwayat kehamilan kembar, karena hamil kembar sering bersifat menurun. k. Keadaan social , ekonomi dan spiritual Kemungkinan hubungan dengan keluarga, tetangga dan masyarakat , setelah kawin berapa lama baru hamil untuk melihat kemungkinan tingkatkesuburan klien, kemungkinan ekonomi yang kurang mencukupi dan kegiatan spiritual yang dilakukan apakah mengganggu kehamilan ibu. l. Aktivitas sehari-hari 1) Pekerjaan Ketidaknyamanan fisik yang di alami oleh ibu hamil TM III berhubungan dengan pengaruh – pengaruh hormon kehamilan sehingga ibu dianjurkan mengurangi aktifitas kerjanya. 2) Seksualitas Koitus di anjurkan untuk di hentikan pada 3-4 minggu menjelang persalinan, karena
  • 39.
    mengingat usia kehamilanibu yang semakin tua dan mulai memasuki tahap proses persiapan persalinan 3) Pola istirahat Pada ibu hamil minimal pola istirahat / tidur adalah 8 jam / hari’ dimana pada siang hari (1-2 jam) dan pada malam hari (6-7 jam) B. Data Objektif Melakukan pengumpulan data melalui pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus serta pemeriksaan penunjang atau laboratorium a. Pemeriksaan umum Secara umum kemungkinan ditemukan gambaran kesadarn umum. Dimana kesadaran klien sangat penting dinilai denagn melakukan anamnesa. Kesadaran di nilai baik jika klien dapat menjawab semua pertanyaan. Selain itu, klien yang sadar akan menunjukkan tidak ada kelainan psikologis. Selain kesadran umum juga mencakup tanda-tanda vital yaitu: tekanan darah, nadi, pernafasan dan suhu serta TB, BB dan keadaan umum. b. Pemeriksaan khusus 1) Inspeksi Periksa pandang yang dimulai dari kepala sampai kaki. Yang perlu diniali adalah kemungkinan bentuk tubuh yang normal, rambut, mata, muka, bibir, mulut, gigi dan lidah. Untuk mulut apakah ada karies dentis, stomatitis. Untuk leher apakah terdapat pembesaran kelenjar , sedangkan untuk payudara apakah simetris kiri dan kanan, keadaan putting susu, aerola serta ada tidaknya colostrums. Selain itu juga dapat di lihat bagaimana pembesaran perut yang sesuai dengan usia kehamilan , adanya bekas operasi, inspeksi alat genitalia seperti ada tidaknya oedema, varices dan pengeluaran pervaginam, dan untuk ekstremitas atas dan bawah apakah ada kelainan. 2) Palpasi Dengan menggunakan cara Leopold , kemungkinan yang di temukan adalah: a) Leopold I : untuk menentukan TFU dan apa yang terdapat pada fundus TFU dalam cm, pada fundus kemungkinan teraba bagian kepala atau bokong atau lainnya. Pada kehamilan normal pada fundus teraba kurang bundar, lunak, Dan kurang melenting yang kemungkinan adalah bokong janin. Normal TFU pada TM III yaitu: Usia kehamilan 28 minggu = 3 jari diatas pusat Usia kehamilan 32 minggu = pertengahan px dan pusat Usia kehamilan 36 minggu = 3 jari di bawah px Usia kehamilan 40 minggu = pertengahan px dan pusat b) Leopold II : untuk menentukan dimana letaknya punggung janin dan dimana letak bagian- bagian kecilnya Pada dinding perut klien bagian kanan dan kiri kemungkinan teraba punggung, anggota gerak, bokong atau kepala. c) Leopold III : untuk menetukan apa yang terdapat di bagian bawah dan apakah bagian bawah janin sudah atau belum terpegang oleh PAP Pada bagian terbawah kemungkinan teraba kepala , bokong atau anggota lainnya d) Leopold IV : untuk menentukan apa yang menjadi bagian bawah dari janin dan seberapa jauh masuknya bagian terbawah janin ke dalam rongga panggul Kemungkinan bagian terbawah janin telah masuk PAP dan di lakukan perlimaan untuk menentukan seberapa masukknya ke PAP.
  • 40.
    3) Auskultasi Untuk mendengardenyut jantung janin dengan frekuensi normal 120-160 kali per menit, teratur atau tidak, intensitasnya kuat atau lemah dan punctum maximumnya. Cara menghitung DJJ: a) Setiap menit ( 1 menit penuh) misalnya 140 kali per menit b) Di hitung 3×5 detik secara berurutan kemudian dikali 4, dengan cara ini dapat di ketahui teratur atau tidaknya DJJ 4) Perkusi Pemeriksaan reflek patella kanan dan kiri, yang berkaitan denagn kekurangan vitamin B, atau penyakit saraf , intoksikasi magnesium sulfat. 5) Penghitungan TBBJ Dengan menggunakan rumus ( TFU dalam cm – 13) x 155, yang bertujuan untuk mengetahui taksiran berat badan janin 6) Pemeriksaan panggul luar Untuk menentukan kemungkinan normal pada panggul luar denagn menggunakan jangka panggul dan pita ukur. a) Distansia spinarum : 23 cm yaitu jarak antara spina iliaca anterior superior kiri dan kanan b) Distansia criatarum :26 cm yaitu jarak yang terjauh antara crista iliaca kiri dan kanan c) Conjugate eksterna :18 cm yaitu jarak antara pinggir atas symphisis dan ujung procesus spinosus ruas tulang lumbal ke V d) Ukuran lingkar panggul :80 cm yaitu dari pinggir atas symphisiske pertengahan antara spina iliaca anterior superior dan thoracanter mayor sepihak dan kembali melaui tempat-tempat yang sama di pihak yang lain. c. Pemeriksaan penunjang 1) Darah Yaitu kadar Hb, dimana Hb normal pada ibu hamil adalah ≥ 11 gr% Hb ≥11 gr% :tidak anemia Hb 9-10 gr% :anemia ringan Hb 7-8 gr% :anemia sedang Hb ≤7 gr% :anemia berat 2) Urine Untuk memeriksa protein dan glukosa urine. Untuk klien dengan kehamilan normal protein dan glukosa urinennya negative(-) LANGKAH 2:MENGIDENTIFIKASI DIAGNOSA,MASALAH DAN KEBUTUHAN a. Diagosa pada ibu hamil yaitu: ibu hamil G2P1A0H1 janin hidup, tunggal, intrauterin, letak kepala/bokong, punggung kanan/kiri, keadaaan jalan lahir normal. KU ibu dan janin baik b. Masalah : Masalah dapat berupa keluhan utama atau menyangkut masalah nomenklatur dan non nomenklatur. c. Kebutuhan: a) Berikan penjelasan pada ibu tentang keluhan yang dialaminya b) Anjurkan ibu untuk istirahat c) Beri ibu terapy obat-obatan d) Beritahu ibu cara mengkonsumsi tablet Fe e) ingatkan ibu tentang tanda-tanda persalinan
  • 41.
    f) Beritahu ibuuntuk mulai mempersiapkan keperluan persalinan g) Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi LANGKAH 3:MENGIDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL Berdasarkan hasil pengumpulan dari data dasar baik subjektif dan objektif kemungkinan ditemukan adanya masalah potensial atau masalah yang akan terjadi. LANGKAH 4:IDENTIFIKASI KEBUTUHAN YANG MEMERLUKAN PENANGANAN SEGERA Penanganan segera dibutuhkan jika ada masalah potensial yang terjadi. LANGKAH 5: MERENCANAKAN ASUHAN YANG MENYELURUH Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga dapat direncanakan asuhan sesuai dengan kebutuhan yaitu: • Berikan penjelasan pada ibu tentang keluhan yang dialaminya • Anjurkan ibu untuk istirahat • Beri ibu terapy obat-obatan • Beritahu ibu cara mengkonsumsi tablet Fe • ingatkan ibu tentang tanda-tanda persalinan • Beritahu ibu untuk mulai mempersiapkan keperluan persalinan • Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi LANGKAH 6:MELAKSANAKAN PERENCANAAN Dari perencanaan asuhan yang menyeluruh sehingga terlaksananya rencana asuhan yang diberikan kepada ibu. LANGKAH 7:EVALUASI Merupakan langkah akhir dari proses asuhan kebidanan kehamilan normal. Dari hasil pelaksanaan perencanaan dapat diketahui keefektifan dari asuhan yang telah diberikan. KEHAMILAN SEROTINUS Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized Tag:kuliah ASKEB 4 0 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Angka kematian ibu dan angka kematian bayi merupakan indikator yang paling penting untuk melakukan penilaian kemampuan suatu negara untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan, khususnya dalam bidang obstetri. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dan data Biro Pusat Statistik (BPS) angka kematian ibu dalam kehamilan dan persalinan di seluruh dunia mencapai 515 ribu jiwa pertahun. Ini berarti seorang ibu meninggal hampir setiap menit karena komplikasi kehamilan dan persalinannya. Sedangkan angka kematian bayi di Indonesia pada tahun 2007 2-5 kali lebih tinggi mencapai 34 per 1000 kelahiran hidup atau 2 kali lebih besar dari target WHO yaitu sebesar 15% per kelahiran hidup (Suprayitno, 2007). Adapun penyebab kematian perinatal adalah kelainan kongenital, prematuritas, trauma
  • 42.
    persalinan, infeksi, gawatjanin dan asfiksia neonatorum. Terjadinya gawat janin di sebabkan oleh induksi persalinan, infeksi pada ibu, perdarahan, insufisiensi plasenta, prolapsus tali pusat, kehamilan dan persalinan preterm dan postterm. Persalinan postterm menunjukkan bahwa kehamilan telah melampaui waktu perkiraan persalinan menurut hari pertama menstruasinya. Ballantyne 1902 seperti dikutip Manuaba, seorang bidan Scotlandia, untuk pertama kali menyatakan bahwa janin yang terlalu lama dalam kandungan dapat membahayakan dirinya dan ibunya saat persalinan berlangsung. Kemudian berturu-turut 1950 Clifford mengemukakan tentang sindrom postterm baby, sedangkan 1960 Mc Clure menyatakan bahwa angka kematian bayi dengan kehamilan postdate semakin meningkat (Manuaba, 2007). Menurut WHO persalinan postterm adalah keadaan yang menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari. Defenisi ini didasarkan pada hasil observasi epidemiologi yang membuktikan bahwa persalinan postterm dengan disertai gawat janin mempunyai kontribusi terhadap out come kesehatan yang buruk atau 10% dari persalinan adalah persalinan postterm (Hidayat, 2009). Faktor yang merupakan predisposisi terjadinya persalinan postterm diantaranya faktor ibu adalah karena hanya sebagian kecil ibu yang mengingat tanggal menstruasi pertamanya dengan baik dan adanya gangguan terhadap timbulnya persalinan seperti pengaruh esterogen, oksitosin dan saraf uterus. Banyaknya kasus persalinan postterm di Indonesia yang tidak dapat ditegakkan secara pasti diperkirakan sebesar 22% (Prawirohardjo, 2008). Beberapa ahli dapat menyatakan bahwa persalinan preterm akan meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi. Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan postterm diperlukan deteksi sedini mungkin untuk menghindari kesalahan dalam menentukan usia kehamilan. Jika taksiran persalinan telah ditentukan pada trimester terakhir atau berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan bidan harus tetap siaga pada reabilitas taksiran persalinan tersebut. Data yang terkumpul sering menunjukkan peningkatan resiko lahir mati seiring peningkatan usia kehamilan lebih dari 40 minggu. Penyebab kematian tidak mudah dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang pendekatan yang paling tepat guna mencegah kematian tersebut. (Varney, Helen, 2007). Bertolak dari pernyataan diatas, maka penulis sebagai calon bidan dalam rangka mempersiapkan diri sebagai seorang bidan yang terampil dan memiliki keahlian diberikan penugasan untuk melakukan pembinaan pada seorang ibu bersalin . Melalui pembinaan tersebut penulis dapat memahami berbagai proses yang terjadi selama ibu hamil dan bersalin, sehingga dapat menerapkan asuhan kebidanan yang tepat dan aman. B. Batasan Masalah Dalam penulisan kasus ini penulis membatasi masalah yaitu penerapan manajemen asuhan kebidanan pada kasus persalinan postterm. C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk mendapatkan pengalaman serta dapat menerapkan dan mengembangkan pola pikir ilmiah dalam melaksanakan manajemen asuhan kebidanan pada kasus persalinan postterm. 2. Tujuan Khusus 1. Dapat melaksanakan pengkajian data dengan cara wawancara, observasi dan pemeriksaan pada pada kasus persalinan postterm. 2. Dapat menegakkan diagnosa, mengkaji masalah dan kebutuhan pada kasus persalinan postterm. 3. Dapat mengidentifikasi masalah potensi yang mungkin terjadi pada kasus persalinan
  • 43.
    postterm. 4. Dapat menentukantindakan segera pada kasus persalinan postterm. 5. Dapat membuat rencana asuhan pada kasus persalinan postterm sebagai dasar untuk melaksanakan asuhan kebidanan. 6. Dapat melakukan implementasi secara efektif dan efisien pada kasus persalinan postterm. 7. Dapat mengevaluasi asuhan yang telah diberikan pada kasus persalinan postterm. 8. Dapat melakukan pendokumentasian pada kasus persalinan postterm. D. Manfaat Penulisan 1. Bagi Penulis a. Menambah wawasan dan pengetahuan, serta agar penulis dapat melaksanakan manajemen asuhan kebidanan pada kasus persalinan postterm. b. Berperan secara profesional sehingga dapat memberikan pelayanan yang berkualitas pada klien. c. Mengembangkan kemampuan berfikir dalam menemukan masalah dan dalam mencari pemecahan masalah tersebut BAB II LANDASAN TEORITIS A. Persalinan Postterm 1. Pengertian Persalinan postterm adalah persalinan melampaui umur hamil 42 minggu dan pada janin terdapat tanda postmaturitas (Manuaba, 2007). Definisi standar untuk kehamilan dan persalinan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan (postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin ( Varney Helen, 2007). Persalinan postterm menunjukkan kehamilan berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari (Prawirohardjo, 2008). 2. Etiologi Menurut Sarwono Prawirohardjo dalam bukunya (Ilmu Kebidanan, 2008) faktor penyebab kehamilan postterm adalah : a. Pengaruh Progesteron Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekuler pada persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin , sehingga terjadinya kehamilan dan persalinan postterm adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesteron. b. Teori Oksitosin Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan postterm memberi kesan atau dipercaya bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting dalam menimbulkan persalinan dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis ibu hamil yang kurang pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebabnya. c. Teori Kortisol/ACTH janin Dalam teori ini diajukan bahwa sebagai “pemberi tanda” untuk dimulainya persalinan adalah janin, diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin. Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi
  • 44.
    estrogen, selanjutnya berpengaruhterhadap meningkatnya produksi prostaglandin. Pada cacat bawaan janin seperti anansefalus, hipoplasia adrenal janin, dan tidak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan dapat berlangsung lewat bulan. d. Saraf Uterus Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus. Pada keadaan di mana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti pada kelainan letak, tali pusat pendek dan bagian bawah masih tinggi kesemuanya diduga sebagai penyebabnya. e. Heriditer Beberapa penulis menyatakan bahwa seseorang ibu yang mengalami kehamilan postterm mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada kehamilan berikutnya. Mogren (1999) seperti dikutip Cunningham, menyatakan bahwa bilamana seseorang ibu mengalami kehamilan postterm saat melahirkan anak perempuan, maka besar kemungkinan anak perempuannya mengalami kehamilan postterm. 3. Diagnosa Tidak jarang seorang bidan mengalami kesulitan dalam menentukan diagnosis karena diagnosis ditegakkan berdasarkan umur kehamilan, bukan terhadap kondisi kehamilan. Diagnosis dapat ditentukan melalui (Prawirohardjo, 2008) : a. Riwayat Haid Diagnosis tidak sulit untuk ditegakkan apabila hari pertama haid terakhir (HPHT) diketahui dengan pasti. Untuk riwayat haid yang dapat dipercaya, diperlukan beberapa kriteria antara lain, 1) Penderita harus yakin betul dengan HPHT-nya 2) Siklus 28 hari dan teratur 3) Tidak minum pil antihamil setidaknya 3 bulan terakhir Selanjutnya diagnosis ditentukan dengan menghitung menurut rumus Naegele. Berdasarkan riwayat haid, seseorang penderita yang ditetapkan sebagai kehamilan dan persalinan postterm kemungkinan adalah sebagai berikut: 1) Terjadi kesalahan dalam menetukan tanggal haid terakhir atau akibat menstruasi abnormal. 2) Tanggal haid terakhir diketahui jelas, tetapi terjad kelambatan ovulasi. 3) Tidak ada kesalahan menentukan haid terakhir dan kehamilan memang berlangsung lewat bulan (keadaan ini sekitar 20-30% dari seluruh penderita yang diduga kehamilan postterm). b. Riwayat Pemerikasaan Antenatal 1) Tes Kehamilan Bila pasien melakukan tes imunologik sesudah terlambat 2 minggu, maka dapat diperkirakan kehamilan memang telah berlangsung 6 minggu. 2) Gerak Janin Gerak janin atau quickening pada umumnya dirasakan ibu pada umur kehamilan 18-20 minggu. Pada primigravida dirasakan sekitar umur kehamilan 18 minggu, sedangkan pada multigravida pada 16 minggu. Petunjuk umum untuk menentukan persalinan adalah quickening ditambah 22 minggu pada primigravida atau ditambah 24 minggu pada multigravida. 3) Denyut Jantung Janin (DJJ) Dengan stetoskop Laenec DJJ dapat didengar mulai umur 18-20 minggu, sedangkan dengan Doppler dapat terdengar pada umur kehamilan 10-12 minggu. Kehamilan dapat dinyatakan sebagai kehamilan postterm bila didapat 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil pemeriksaan sebagai berikut: 1) Telah lewat 36 minggu sejak tes kehamilan positif.
  • 45.
    2) Telah lewat32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan Doppler. 3) Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerakan janin pertama kali. 4) Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan stetoskop Laennec. c. Tinggi Fundus Uteri Dalam trimester pertama pemeriksaan tinggi fundus uteri serial dalam sentimeter dapat bermanfaat bila dilakukan pemeriksaan secara berulang tiap bulan. Lebih dari 20 minggu, tinggi fundus uteri dapat menentukan umur kehamilan secara kasar. d. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) Bila telah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi serial terutama sejak trimester pertama,hamper dapat dipastikan usia kehamilan. Pada trimester pertamapemeriksaan panjang kepala-tungging (crown-rump length/CRL) memberikan ketepatan kurang lebih 4 hari dari taksiran persalinan. e. Pemeriksaan Radiologi Dapat dilakukan dengan melihat pusat penulangan. Gambaran epifiisis femur bagian distal paling dini dapat dilihat pada kehamilan 32 minggu, epifisis tibia proksimal terlihat setelah umur kehamilan 36 minggu dan epifisis kuboid pada kehamilan 40 minggu. f. Pemeriksaan Laboratorium 1) Kadar lesitin/spinngomielin Bila lesitin/spinngomielin dalam cairan amniom kadarnya sama, maka umur kehamilan sekitar 22-28 minggu, lesitin 1,2 kali kadar spingomielin: 28-32 minggu, pada kehamilan genap bulan rasio menjadi 2:1 . Pemeriksaan ini tidak dapat dipakai untuk menentukan kehamilan postterm, tetapi hanya digunakan untuk menentukan apakah janin cukup umur/matang untuk dilahirkan yang berkaitan dengan mencegah kesalahan dalam tindakan pengakhiran kehamilan. 2) Aktivitas tromboplastin cairan amniom Hastwell berhasil membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah. Aktifitas ini meningkat dengan bertambahnya umur kehamilan. Pada umur kehamilan 41-42 minggu ATCA berkisar antara 45-65 detik, pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan ATCA kurang dari 45 detik. Bila didapatkan ATCA antara 42-46 detik menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung lewat waktu. 3) Sitologi cairan amnion Pengecatan nile bluesulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. Bila jumlah sel yang mengandung lemak melebihi 10% maka kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila 50% atau lebih maka umur kehamilan 39 minggu atau lebih. 4) Sitologi vagina Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik > 20%) mempunyai sensitivitas 75 %. 4. Komplikasi Kemungkinan komplikasi pada persalinan postterm adalah: a. Terhadap Ibu Persalinan postterm dapat menyebabkan distosis karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, moulding kepala kurang. Maka akan sering dijumpai seperti partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu, robekan luas jalan lahir, dan perdarahan postpartum. Hal ini akan menaikkan angka mordibitas dan mortalitas (Prawirohardjo, 2006). b. Terhadap Janin Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga mempunyai risiko asfiksia, hipoksia, hipovolemia, asidosis, hipoglikemia, hipofungsi adrenal sampai kematian dalam rahim (Saifuddin, 2002).
  • 46.
    5. Tanda BayiPostmatur Tanda postmatur dapat di bagi dalam 3 stadium (Prawirohardjo, 2008) : a. Stadium I Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh dan mudah mengelupas. b. Stadium II Gejala diatas disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit. c. Stadium III Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali pusat. Menurut Manuaba 2007, tanda bayi postmatur adalah: a. Biasanya lebih berat dari bayi matur ( > 4000 gram). b. Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur. c. Rambut lanugo hilang atau sangat kurang. d. Verniks kaseosa di badan berkurang. e. Kuku-kuku panjang. f. Rambut kepala agak tebal. g. Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel. 6. Penatalaksanaan Tindakan yang penting dilakukan (Saifuddin, 2002) adalah: a. Setelah usia kehamilan > 40-42 minggu yang penting adalah monitoring janin sebaik- baiknya. b. Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiensi plasenta, persalinan spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat. c. Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah matang boleh dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa amniotomi. d. Bila : 1) Riwayat kehamilan yang lalu ada kematian janin dalam rahim. 2) Terdapat hipertensi, pre-eklampsia. 3) Kehamilan ini adalah anak pertama karena infertilitas. 4) Pada kehamilan > 40-42 minggu. Maka ibu dirawat di rumah sakit : e. Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada. 1) Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang. 2) Pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi gawat janin. 3) Pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklampsia, hipertensi menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin. f. Pada persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat merugikan bayi, janin postmatur kadang-kadang besar dan kemungkinan diproporsi sefalo-pelvik dan distosia janin perlu dipertimbangkan. Selain itu janin postmatur lebih peka terhadap sedatif dan narkosa, jadi pakailah anestesi konduksi. 7. Pertimbangan Persalinan Anjuran Persalinan anjuran bertujuan untuk dapat (Wiknjosastro, 2000): a. Merangsang otot rahim berkontraksi, sehingga persalinan berlangsung. b. Membuktikan ketidakseimbangan antara kepala janin dengan jalan lahir bishop telah menetapkan beberapa penilaian agar persalinan induksi dapat berhasil seperti yang ditujukan pada tabel berikut : Tabel 1.1 Skor Bishop
  • 47.
    Keadaan Fisik NilaiTotal Nilai Pembukaan serviks 0 cm perlunakan 0-30% Konsistensi serviks kaku Arah serviks ke belakang Kedudukan bagian terendah -3 0 0 Pembukaan 1-2 cm perlunakan serviks 40-50% Konsistensi serviks sedang Arah serviks ke tengah Kedudukan bagian terendah -2 1 1 Pembukaan 3-4 cm perlunakan 60-70% Konsistensi serviks lunak Kedudukan bagian terendah -1-0 2 2 Pembukaan di atas 5 cm perlunakan 80% + 3 3 Persalinan anjuran atau induksi persalinan dapat dilakukan dengan metode (Manuaba, 2007): a. Metode Stein Metode Steinsche merupakan metode lama, tetapi masih perlu diketahui, yaitu: a) Penderita diharapkan tenang pada malam harinya. b) Pada pagi harinya diberikan enema dengan caster oil atau sabun panas. c) Diberikan pil kinine sebesar 0,200 gr, setiap jam sampai mencapai dosis 1,200 gr. d) Satu jam setelah pemberian kinine pertama, disuntikkan oksitosin 0,2 unit/jam sampai tercapai his yang adekuat. Persalinan anjuran dengan metode ini di luar rumah sakit berbahaya karena dapat terjadi : 1) Kontraksi rahim yang kuat sehingga dapat mengancam : ketuban pecah saat pembukaan kecil, ruptura uteri membakat, gawat janin dalam rahim. 2) Kelambatan melakukan rujukan, dapat merugikan penderita. 3) Persalinan anjuran dengan infus pituitrin (sintosinon). b. Persalinan anjuran dengan infus oksitosin, pituitrin atau sintosinon 5 unit dalam 500 cc glukosa 5%. Teknik induksi dengan infus glukosa lebih sederhana, dan mulai dengan 8 tetes, dengan teknik maksimal 40 tetes/menit. Kenaikan tetesan setiap 15 menit sebanyak 4 sampai 8 tetes sampai kontraksi optimal tercapai. Bila dengan 30 tetes kontraksi maksimal telah tercapai, maka tetesan tersebut dipertahankan sampai terjadi persalinan. Apabila terjadi kegagalan, ulangi persalinan anjuran dengan selang waktu 24 sampai 48 jam. c. Memecahkan ketuban Memecahkan ketuban merupakan salah satu metode untuk mempercepat persalinan. Setelah ketuban pecah, ditunggu sekitar 4 sampai 6 jam dengan harapan kontraksi otot rahim akan berlangsung. Apabila belum berlangsung kontraksi otot rahim dapat diikuti induksi persalinan dengan infus glukosa yang mengandung 5 unit oksitosin. d. Persalinan anjuran dengan menggunakan prostaglandin Telah diketahui bahwa kontraksi otot rahim terutama dirangsang oleh prostaglandin. Pemakaian prostaglandin sebagai induksi persalinan dapat dalam bentuk infus intravena (Nalador) dan pervaginam (prostaglandin vagina suppositoria). e. Pompa Payudara atau Stimulasi Putting Beberapa studi skala besar telah mengevaluasi keamanan dan keefektifitasaan stimulasi payudara sebagai metede induksi persalinan. Namun, efek komulatif dari banyak studi yang menggunakan pompa payudara atau stimulasi putting manual yang di kombinasi dengan landasan fisiologi perubahan serviks. Penanganan yang beragam termasuk pompa payudara listrik otomatis yang menstimulasi masing-masing payudara selama15 menit, diselingi periode istirahat selama15 menit, stimulasi payudara dengan pijatan lembut menggunakan
  • 48.
    kompresan hangat danlembab salama 1 jam sebanyak 3 kali sehari, stimulasi payudara selama 45 menit tiga kali sehari dan pijatan lembut pada kedua payudara secara bergantian selama waktu 3 jam sehari. Kelemahan penelitian ini meliputi kurangnya kepatuhan dalam melaksanakan intervensi yang di anjurkan, jumlah anggoata sedikit dalam kelompok, kontrol minim terhadap variabel penting, seperti usia gestasi, dan kriteria intervensi yang tidak dapat di andalkan. Wanita yang mencoba teknik ini sebaiknya di peringatkan membatasi kontak dengan puting sehingga tidak terlalu hiperstimulasi uterus. Tabel 1.2 Bagan Penanganan Kehamilan Postterm Kriteria Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang umur kehamilannya lebih dari 42 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir Kategori Kehamilan postterm tanpa kelainan Kehamilan postterm dengan kelainan Penilaian 1) Skor Bishop 2) Pemantauan janin 3) Letak janin 1) Skor Bishop >5 2) Baik 3) Normal 1) Skor Bishop 41 minggu (rujuk ) Puskesmas 1) Penilaian umur kehamilan HPHT 2) Riwayat obstetri yang lalu 3) Tinggi fundus uteri 4) Faktor risiko 5) Kehamilan > 41 minggu (rujuk ) Rumah Sakit 1) Penilaian ulang umur kehamilan 2) Penilaian Skor Bishop 3) Pemeriksaan fetal assessment 4) USG 5) NST (kalau perlu CST) Skor Bishop 5 Anak tidak besar NST reaktif Penempatan normal Lakukan induksi (sambil observasi) 8. Pengelolaan selama persalinan Selama proses persalinan yang penting di lakukan (Prawirohardjo, 2008) adalah : a. Pemantauan yang baik terhadap ibu (aktivitas uterus) dan kesejahteraan janin. Pemakaian continuous electronic fetal monitoring sangat bermanfaat. b. Hindari penggunaan obat penenang atau analgetika selama persalinan. c. Awasi jalannya persalinan. d. Persiapan oksigen dan bedah sesar bila sewaktu-waktu terjadi gawat janin. e. Cegah terjadinya aspirasi mekonium dengan mengusap wajah neonatus dan dilanjutkan resusitasi sesuai dengan prosedur pada janin dengan cairan ketuban bercampur mekonium. f. Segera setelah lahir,bayi harus segera diperiksa terhadap kemungkinan hipoglikemi, hiovolemi, hipotermi dan polisitemi. g. Pengawasan ketat terhadap neonatus dengan tanda-tanda posmaturitas.
  • 49.
    h. Hati-hati kemungkinanterjadi distosia bahu. Sedangkan dalam buku acuan nasional pelayaan kesehatan maternal dan neonatal, pengelolaan intrapartum dapat dilakukan dengan : a. Pasien tidur miring sebelah kiri. b. Pergunakan pemantauan elektronik jantung janin. c. Beri oksigen bila ditemukan keadaan jantung yang abnormal. d. Perhatikan jalannya persalinan. e. Segera setelah lahir, bayi harus segera diperiksa terhadap kemungkinan hipoglikemi, hipovolemi, hipotermi dan polisitemi. Apabila ditemukan cairan ketuban yang terwarnai mekoneum harus segera dilakukan resusitasi sebagai berikut : a. Penghisapan nasofaring dan orofaring posterior secara agresif sebelum dada janin lahir. b. Bila mekoneum tampak pada pita suara, pemberian ventilasi dengan tekanan positif dan tangguhkan dahulu sampai trakea telah di intubasi dan penghisapan yang cukup. c. Intubasi trakea harus dilakukan rutin bila ditemukan mekoneum yang tebal. B. Gawat Janin 1. Pengertian Gawat janin adalah keadaan yang terjadi bila janin tidak menerima oksigen yang cukup sehingga janin mengalami hipoksia (APN, 2008). Gawat janin adalah keadaan hipoksia janin (Prawirohardjo, 2000). Indikator gawat janin yaitu: a. Bradikardi : DJJ 160 kali/menit. 2. Etiologi Janin yang beresiko tinggi terjadinya kegawatan (APN, 2008) : a. Janin yang pertumbuhannya terhambat. b. Janin dari ibu dengan diabetes. c. Janin preterm dan postterm. d. Janin dengan kelainan letak.. e. Janin dengan kelinan bawaan / infeksi. Gawat janin dalam persalinan dapat terjadi bila: a. Persalinan berlangsung lama. b. Induksi persalinan dengan oksitosin. c. Ada perdarahan / infeksi. d. Insufisiensi plasenta, pretem / eklampsia. 3. Tanda-tanda Gawat Janin DJJ abnormal (APN, 2008) : a. DJJ dalam persalinan bervariasi dan kembali normal setelah beberapa waktu, jika tidak kembali normal menunjukkan adanya hipoksia. b. Bradikardi terjadi diluar HIS dan tidak menghilang setelah HIS, ini menunjukkan gawat janin. c. Takikardi reaksi adanya demam pada ibu, obat-obatan, amnionitis. d. Bila ibu tidak mengalami takikardi, tapi DJJ > 160 kali / menit, hal ini menunjukkan hipoksia. 4. Penanganan Bila terjadi gawat janin dalam persalinan dapat dilakukan (APN, 2008) :
  • 50.
    a. Periksa pembukaanserviks. b. Jika pembukaan serviks masih kecil, segera lakukan rujukan dan apabila pembukaan serviks sudah lengkap, periksa penurunan kepala. c. Jika penurunan kepala kurang dari Hodge III, segera lakukan rujukan dan apabila penurunan kepala berada pada Hodge III-IV dapat dilakukan persalinan pervaginam dengan ibu diberikan oksigen dan mengatur posisi ibu dalam keadaan Mc Robert. d. Kala II dipercepat dengan melakukan episiotomi, vacuum ekstraksi, memberikan injeksi dexamethason dengan tujuan memperbaiki DJJ , serta mengatur posisi ibu dan kristeler. e. Kontrol DJJ setiap 5 menit. f. Periksa tekanan darah,nadi,suhu ibu setiap 10 menit. g. Bradikardi terjadi pada kala II akibat kompresi tali pusat persalinan lancar, tidak perlu dilakukan tindakan. C. Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Persalinan Postterm a. langkah I : Pengumpulan Data Dasar 1) Data Subjektif a) Identitas ibu dan suami yang perlu dikaji adalah nama, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan , pekerjaan, nomor telepon dan alamat. Bertujuan untuk menetapkan identitas pasien karena mungkin memiliki nama yang sama dengan alamat dan nomor telepon yang berbeda serta untuk mengetahui faktor resiko yang mungkin terjadi. b) Keluhan utama , merupakan alasan utama klien untuk datang ke pelayanan kesehatan. Kemungkinan yang ditemui pada kasus persalinan postterm ini adalah ibu mengeluhkan bahwa kehamilannya telah lewat dari taksiran persalinannya. c) Riwayat menstruasi yang dikaji adalah menarche, siklus haid, lamanya, banyaknya dan adanya dismenorrhoe saat haid yang bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis persalinan postterm dari siklus haidnya . d) Riwayat kehamilan sekarang yang dikaji yaitu HPHT, riwayat hamil muda dan tua, frekuensi pemeriksaan ANC yang bertujuan untuk mengetahui taksiran persalinan dan resiko yang akan terjadi dari adanya riwayat pada kehamilan muda maupun tua yang pernah dialami. e) Riwayat penyakit dahulu yang dikaji adalah apakah ibu ada menderita penyakit jantung, DM, ipertensi, ginjal, asma, TBC, epilepsi dan PMS serta ada tidaknya ibu alergi baik terhadap obat-obatan ataupun makanan dan pernah transfusi darah ,atau operasi, serta ada tidaknya kelainan jiwa. f) Riwayat penyakit keluarga yang dikaji yaitu ada tidaknya keluarga ibu maupun suami yang menderita penyakit jantung, DM, hipertensi, ginjal, asma, dan riwayat keturunan kembar yang bertujuan agar dapat mewaspadai apakah ibu juga berkemungkinan menderita penyakit tersebut. g) Riwayat perkawinan yang dikaji yaitu umur berapa ibu kawin dan lamanya ibu baru hamil setelah kawin, yang bertujuan untuk mengetahui apakah ibu memiliki faktor resiko. h) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu yang dikaji adalah fisiologi jarak kehamilan dengan persalinan yang minimal 2 tahun, usia kehamilan aterm 37-40 minggu atau apakah ibu ada mempunyai riwayat persalinan postterm, jenis persalinan yang bertujuan untuk menentukan ukuran panggul dan adanya riwayat persalinan dengan tindakan, sehingga menunjukkan bahwa 3P telah bekerja sama dengan baik, penyulit yang bertujuan untuk mengetahui penyulit persalinan yang pernah dialami ibu, nifas yang lalu kemungkinan adanya keadaan lochea, laktasi berjalan dengan normal atau tidak serta keadaan anak sekarang. i) Riwayat keluarga berencana, kemungkinan ibu pernah menggunakan alat –alat kontrasepsi
  • 51.
    atau tidak. j) Makanterkhir bertujuan untuk mengetahui persiapan tenaga ibu untuk persalinan. k) BAK dan BAB terakhir bertujuan untuk mengetahui apakah ada penghambat saat proses persalinan berlangsung. 2) Data Objektif a) Pemeriksaan umum Secara umum ditemukan gambaran kesadaran umum, dimana kesadaran pasien sangat penting dinilai dengan melakukan anamnesa. Selain itu pasien sadar akan menunjukkan tidak adanya kelainan psikologis dan kesadaran umum juga mencakup pemeriksaan tanda-tanda vital, berat badan, tinggi badan , lingkar lengan atas yang bertujuan untuk mengetahui keadaan gizi pasien. b) Pemeriksaan khusus I. Inspeksi Periksa pandang yang terpenting adalah mata (konjungtiva dan sklera) untuk menentukan apakah ibu anemia atau tidak, muka (edema), leher apakah terdapat pembesaran kelenjar baik kelenjar tiroid maupun limfe sedangkan untuk dada bagaimana keadaan putting susu, ada tidaknya teraba massa atau tumor, tanda-tanda kehamilan (cloasma gravidarum, aerola mamae, calostrum), serta dilihat pembesaran perut yang sesuai dengan usia kehamilan, luka bekas operasi, dan inspeksi genitalia bagian luar serta pengeluaran pervaginam dan ekstremitas atas maupun bawah serta HIS. II. Palpasi Dengan menggunakan cara leopold: Leopold I : Untuk menentukan TFU dan apa yang terdapat dibagian fundus (TFU dalam cm) dan kemungkinan teraba kepala atau bokong lainnya, normal pada fundus teraba bulat, tidak melenting, lunak yang kemungkinan adalah bokong janin Leopold II: Untuk menentukan dimana letaknya punggung janin dan bagian-bagian kecilnya. Pada dinding perut klien sebelah kiri maupun kanan kemungkinan teraba, punggung, anggota gerak, bokong atau kepala. Leopold III: Untuk menentukan apa yang yang terdapat dibagian bawah perut ibu dan apakah BTJ sudah terpegang oleh PAP, dan normalnya pada bagian bawah perut ibu adalah kepala. Leopold IV: Untuk menentukan seberapa jauh masuknya BTJ ke dalam rongga panggul dan dilakukan perlimaan untuk menentukan seberapa masuknya ke PAP. III. Auskultasi Untuk mendengar DJJ dengan frekuensi normal 120-160 kali/menit, irama teratur atau tidak, intensitas kuat, sedang atau lemah. Apabila persalinan disertai gawat janin, maka DJJ bisa kurang dari 110 kali/menit atau lebih dari 160 kali/menit dengan irama tidak teratur. IV. Perkusi Pemeriksaan reflek patella kiri dan kanan yang berkaitan dengan kekurangan vitamin B atau penyakit saraf, intoksikasi magnesium sulfat. V. Penghitungan TBBJ Dengan menggunakan rumus (TFU dalam cm – 13) x 155 yang bertujuan untuk mengetahui taksiran berat badan janin dan dalam persalinan postterm biasanya berat badan janin terjadi penurunan karena terjadi perubahan anatomik yang besar pada plasenta atau sebaliknya berat janin terus bertambah karena plasenta masih berfungsi. VI. Pemeriksaan Dalam Yang dinilai adalah keadaan servik, pembukaan, keadaan ketuban, presentasi dan posisi,
  • 52.
    adanya caput ataumoulage, bagian menumbung atau terkemuka, dan kapasitas panggul (bentuk promontorium, linea innominata, sacrum, dinding samping panggul, spina ischiadica, coksigis dan arcus pubis > 900). c) Pemeriksaan Penunjang I. Darah Yaitu kadar Hb, dimana Hb normal pada ibu hamil adalah ≥ 11 gr% (TM I dan TM III 11 gr % dan TM II 10,5 gr %) Hb ≥ 11 gr% : tidak anemia Hb 9-10 gr% : anemia ringan Hb 7-8 gr% : anemia sedang Hb ≤ 7 gr% : anemia berat II. Urine Untuk memeriksa protein urine dan glukosa urine.untuk klien dengan kehamilan dan persalinan normal protein dan glukosa urine negative. III. Aktivitas tromboplastin cairan amniom Pemeriksaan ini membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah. Aktifitas ini meningkat dengan bertambahnya umur kehamilan. Pada umur kehamilan 41-42 minggu ATCA berkisar antara 45-65 detik, pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan ATCA kurang dari 45 detik. Bila didapatkan ATCA antara 42-46 detik menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung lewat waktu. IV. Sitologi cairan amnion Pengecatan nile bluesulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. Bila jumlah sel yang mengandung lemak melebihi 10% maka kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila 50% atau lebih maka umur kehamilan 39 minggu atau lebih. V. Sitologi vagina Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik > 20%) mempunyai sensitivitas 75 %. b. Langkah II: Interprestasi Data Data dasar di interprestasikan menjadi masalah atau diagnosa spesifik yang sudah di identifikasikan. Di dalam interprestasi data, terdapat tiga komponen penting di dalamnya yaitu: 1) Diagnosa Diagnosa setiap kala persalinan berbeda dan diagnosa ditetapkan bertujuan untuk mengetahui apakah ada penyimpangan. Untuk persalinan postterm dapat ditegakkan dengan mengetahui HPHT serta menetukan taksiran persalinan dan mengetahui gerakan janin pertama kali dirasakan dan riwayat pemeriksaan ANC lainnya. 2) Masalah Dapat berupa keluhan utama atau keadaan psikologis ibu, keadaan janin yang memburuk karena terjadi gawat janin, nyeri akibat luka episiotomi. 3) Kebutuhan Di sesuaikan dengan adanya masalah,seperti: a) Berikan ibu dukungan psikologis. b) Anjurkan keluarga untuk mendampingi ibu saat persalinan. c) Lakukan episiotomi untuk mempercepat kala II dan bila terjadi gawat janin. d) Jahit laserasi akibat episiotomi. e) Berikan ibu rasa nyaman dengan membersihkan dan mengganti pakaian ibu. f) Penuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu. g) Anjurkan ibu untuk istirahat. c. Langkah III: Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial Kemungkinan masalah potensial yang timbul adalah: 1) Terjadinya gawat janin.
  • 53.
    2) Distosia bahu. 3)Perdarahan postpartum. 4) Atonia uteri. 5) Anemia . d. Langkah IV : Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera. Adapun tindakan segera yang dilakukan adalah: 1) Untuk gawat janin. I. Atur posisi ibu miring kekiri. II. Berikan oksigen. III. Lakukan episiotomi. IV. Injeksikan dexamethason. V. Pasang infuse RL jika diperlukan. VI. Lakukan resusitasi setelah janin lahir. 2) Distosia bahu. I. Atur posisi ibu dengan MC Robert. II. Lahirkan bahu janin dalam waktu 60 detik. III. Lakukan episiotomi luas. IV. Tarik kepala janin cunam kebawah dan berikan tekanan pada supra simfisis. 3) Perdarahan postpartum. I. Pasang infuse RL dan oksigen. II. Periksa laserasi. III. Jahit laserasi. IV. Berikan uterotonika. V. Lakukan manual atau KBI dan KBE pada kasus atonia uteri. e. Langkah V:Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga dapat direncanakan asuhan sesuai dengan kebutuhan yaitu: a) Kala I Tindakan yang perlu dilakukan adalah: 1) Melakukan pemeriksaan TTV setiap 2-3 jam. 2) Pemeriksaan DJJ setiap ½ jam dan setiap 5 menit jika terjadi gawat janin. 3) Memperhatikan keadaan kandung kemih agar selalu kosong. 4) Memperhatikan keadaan patologis. 5) Pasien tidak diperkenankan mengedan. 6) Memberikan dukungan psikologis. 7) Menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu seperti suami,keluarga. 8) Mengatur aktivitas dan posisi. 9) Menjaga privasi. 10) Penjelasan tentang kemajuan persalinan. 11) Menjaga kebersihan diri. 12) Mengatasi rasa panas 13) Pemenuhan nutrisi dan hidrasi b) Kala II 1) Posisi ibu saat meneran (posisi duduk atau setengah duduk, posisi jongkok atau berdiri, posisi merangkak atau berbaring miring kekiri). 2) Memberikan dukungan pada ibu. 3) Memimpin mengedan. 4) Pemantauan DJJ setiap selesai mengedan. 5) Menolong kelahiran bayi (dengan melakukan episiotomi jika terjadi gawat janin). 6) Periksa tali pusat.
  • 54.
    7) Melahirkan bahu. 8)Melahirkan sisa tubuh bayi. 9) Bayi dikeringkan dan dihangatkan seluruh tubuhnya. 10) Melakukan rangsangan taktil. 11) Lakukan resusitasi jika ditemukan bayi asfiksia. c) Kala III 1) Manajemen aktif kala III (injeksi oksitosin 10 iu secara im, melakukan PTT, massase fundus uteri) 2) Cara pelepasan plasenta adalah: I. Secara Schultze Pelepasan plasenta dimulai dari pertengahan, sehingga plasenta lahir diikuti oleh pengeluaran darah. II. Secara Duncan Pelepasan plasenta dimulai dari daerah tepi, sehingga terjadi perdarahan dan diikuti oleh pelepasan plasenta. 3) Tanda-tanda pelepasan plasenta I. Rahim naik disebabkan karena plasenta yang telah lepas jatuh kedalam segmen bawah rahim atau bagian atas vagina dan mengangkat rahim. II. Bagian tali pusat yang lahir menjadi lebih panjang. III. Rahim menjadi lebih bundar bentuknya dan lebih keras. IV. Keluar darah dengan tiba-tiba. 4) Cara pemeriksaan plasenta sudah lepas, yaitu: I. Perasat kustner Dengan Perasat kustner tali pusat diregangkan dengan satu tangan dan tangan lainnya menekan perut atas symfisis, jika tali pusat masuk, maka plasenta belum lepas. II. Perasat klein Ibu disuruh mengejan, sehingga tali pusat ikut serta turun atau memanjang. Bila mengejan dihentikan dapat terjadi tali pusat tertarik kembali,maka plasenta belum terlepas ataupun sebaliknya. III. Perasat strassman Tali pusat diregangkan dan rahim diketok, bila getarannya sampai pada tali pusat berarti plasenta belum lepas. 5) Pemeriksaan plasenta dan selaputnya 6) Pemeriksaan laserasi d) Kala IV 1) Lakukan massase uterus untuk merangsang kontraksi. 2) Evaluasi TFU. 3) Jahit laserasi. 4) Bersihkan ibu dang anti pakaian. 5) Evaluasi KU ibu. 6) Pantau TTV, kandung kemih dan perdarahan setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua. 7) Pantau suhu ibu selama dua jam pertama 8) Nilai perdarahan, periksa perineum dan vagina setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua 9) Ajarkan ibu dan keluarga bagaimana menilai kontraksi uterus yang normal 10) Lakukan perawatan bayi dengan memberikan vitamin K dan salep mata 11) Bersihkan peralatan. 12) Penuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu. 13) Anjurkan ibu utuk istirahat.
  • 55.
    14) Anjurkan ibuuntuk menyusui bayinya. 15) Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama kala empat persalinan dihalaman belakang partograf. e) Langkah V:Melaksanakan Perencanaan Perencanaan bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian oleh klien bahkan anggota kesehatan lainnya yang mana bidan berkolaborasi. Bidan juga bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan yang telah di rencanakan. f) Langkah VII:Evaluasi Merupakan langkah akhir dari proses asuhan kebidanan persalinan,dari hasil pelaksanaan perencanaan dapat diketahui keefektifan dari asuhan yang telah diberikan dan menunjukkan perbaikan kondisi apabila banyi ataupun ibu sempat mengalami masalah yang harus segera ditangani. g) Pendokumentasian Pendokumentasian kasus dibuat dalam bentuk matrik dengan menggunakan 7 langkah varney. DAFTAR PUSTAKA Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran :EGC Prawiroharjo, Sarwono.2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. _____. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Varney, Helen Dkk.2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.4 vo1. Jakarta.EGC Wiknjosastro. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. APN. 2008. Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta: Institusi DEPKES RI Blog pada WordPress.com. | The Greyzed Theme. Ikuti Follow “tiara3arza” Get every new post delivered to your Inbox. Powered by WordPress.com