BAHAN AJAR
MATA KULIAH BERMAIN DAN PERMAINAN ANAK USIA DINI
SEMESTER DUA
PROGRAM STUDI PGPAUD
OLEH:
MASRIQON, M.Pd
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP PGRI METRO
Play is real. It is vital. It helps children
learn about their world naturally.
Children use play to test ideas, discover
relationships, abstract information, express
their feelings and ideas, define themselves,
and develop peer relationship. (1993:1).
Materi 1
Hakikat Bermain
engalaman pada anak dapat diberikan melalui kegiatan bermain, dimana
dunianya anak adalah bermain. Permainan harus didesain sesuai dengan aspek
yang akan dikembangkan sesuai usia per-kembangan anak. Apa arti bermain
untuk anak usia dini? Untuk orang dewasa mungkin bermain tidak penting,
namun untuk anak-anak bermain adalah kegiatan yang ingin ia lakukan setiap
saat. Menurut Stone bermain adalah :
(Bermain adalah nyata. Bermain adalah vital. Bermain membantu anak belajar
dunianya secara alami. Anak-anak menggunakan bermain untuk ide-ide tes,
berhubungan penemu, informasi abstrak, mengungkapkan
perasaan dan ide-idenya, menggambarkan mereka sendiri, dan berhu-bungan
perkembangan teman sebaya).
A. Tujuan kegiatan bermain
Tujuan belajar melalui bermain pada anak usia dini adalah diarahkan untuk
mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan
dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, termasuk siap mengikuti pendidikan
di sekolah dasar Yuliani (2010:72).
Tujuan belajar dikembangkan berdasarkan kompe-tensi dasar, hasil belajar dan
indikator dari lima bidang peng-embangan, yaitu pengembangan perilaku, kognitif,
P
berbahasa, fisik dan seni. Implementasi dari pengembang-an seluruh bidang
pengembangan tersebut didasarkan pada kebutuhan dan perkembangan anak dan
dalam pelaksanaannya bersifat fleksibel, yaitu disesuaikan dengan situasi dan kondisi
sosial budaya setempat. Pencapaian kompetensi dasar perlu dilakukan melalui kegiatan
dan suasana bermain yang menyenangkan (joyfull learning).
B. Metode kegiatan bermain
Berhubungan dengan metode dalam kegiatan bermain, Wolfgang dalam Yuliani
(2010:73) berpendapat bahwa dalam metode inilah yang memberikan kebebasan pada
anak-anak untuk berbuat sesuai keinginan sehingga dari perilaku anak tersebutlah akan
lahir kurikulum secara alamiah. Contoh perilaku tersebut saat anak bermain baju-
bajuan, membangun balok, melukis, dan kegiatan serupa lainnya.
Sesi 2
MANFAAT BERMAIN DAN PERMAINAN
Mengapa Bermain Penting untuk dikembangkan?
Bagi siapa bermain itu penting dilakukan?
Berdasarkan perspektif psikologi, menurut aliran psikoanalisa, Sigmund Freud,
perkembangan pada masa dini kanak-kanak, khususnya dalam rentang 5 tahun
pertamanya, memiliki pengaruh kuat terhadap kepribadian di masa dewasa. Oleh
karena itu, pada awa kehidupan manusia, perlu dikembangkan kepribadiannya secara
optimal. Hasil penelitian di bidang neurologi yang dilakukan Benyamin S. Bloom,
seorang ahli pendidikan memperlihatkan, bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada
anak usia 0-4 tahun mencapai 50 %, hingga usia 8 tahun mencapai 80 %. Artinya
apabila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang optimal
maka perkembangan otak anak tidak akan berkembang secara maksimal. Semakin
dini penanganan dan bentuk-bentuk rangsangan yang dilakukan orang tua/ pendidik
terhadap anaknya maka hasilnya akan semakin baik. Sebaliknya, semakin lama
(lambat) anak mendapatkan penanganan dan bentuk-bentuk rangsangan yang baik,
maka semakin buruk hasilnya. Perkembangan kepribadian pada anak ini, lebih cocok
dikembangkan melalui aktivitas bermain. Karena menurut piaget, seorang ahli dalam
perkembangan kognitif, anak anak usia 2-7 tahun berada dahap tahap praorerasional
yang di tandai dengan pemikiran sebagai berikut :
• Berpikir secara konkrit, dimana anak belum daat memahami atau memikirkan hal-
hal yang bersifat abstrak (seperti cinta dan keadailan)
• Realisme, yaitu kecenderungan yang kuat untuk menanggapi segala sesuatu sebagai
hal yang riil atau nyata
• Egosentris, yaitu melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandangnya sendiri dan
tidak mudah menerima penjelasan dari si lain
• Kecenderungan untuk berpikir sederhana dan tidak mudah menerima sesuatu yang
majemuk
• Animisme, yaitu kecenderungan untuk berpikir bahwa semua objek yang ada
dilingkungannya memiliki kualitas kemanusiaan sebagaimana yang dimiliki anak
• Sentrasi, yaitu kecenderungan untuk mengkonsentrasikan dirinya pada satu aspek
dari suatu situasi
• Anak usia dini dapat dikatakan memiliki imajinasi yang sangat kaya dan imajinasi ini
yang sering dikatakan sebagai awal munculnya bibit kreativitas pada anak.
Dapat disimpulkan bahwa anak usia dini adalah anak yang berusia 2 – 6 tahun, yang
berada pada tahap perkembangan awal masa kanak-kanak, yang memiliki
karakteristik berpikir konkrit, realisme, sederhana, animism, sentrasi, dan memiliki
daya imajinasi yang kaya. Oleh karena itu, pada tahap ini, perlu dikembangkan seluruh
totalitas kepribadian anak melalui aktivitas bermain karena bermain merupakan suatu
kegiatan yang menyenangkan dan spontan sehingga hal ini memberikan rasa aman
secara psikologis pada anak.
Mengapa bermain pada anak perlu dikembangkan?
Berdasarkan perspektif psikologi, menurut Erik Erikson, bermain berfungsi memelihara
ego anak-anak. Hal ini dapat dipahami karena anak yang sedang bermain merasakan
senang sehingga terpaksa ia harus mempertahankan kesenangannya itu atau
sebaliknya ia akan memelihara egonya secara proporsional, sehingga menimbulkan
rasionalitas dan tenggang rasa terhadap anak lainnya. Semakin intens pengalaman itu
dilalui anak akan semakin kuat juga interaksi sosialnya dalam proses sosialisasi
tersebut. Peran bermain dalam perkembangan sosial anak misalnya, menurut
pandangan psikoanalisis adalah untuk mengatasi pengalaman traumatik dan keluar
dari rasa frustasi. Tampaknya Freud melihatnya dalam pengalaman lahir. Dalam
peristiwa kelahiran seorang bayi menyiratkan kesan tidak enak, trauma dan mungkin
juga frustasi keluar dari rahim ibunya, sehingga anak akan merasa tenang dalam
dekapan ibunya, dan bermain menyebabkan anak ceria dan menimbulkan kreatifitas.
Menurut para ahli perkembangan kognitif, bermain mempunyai arti penting
tersendiri.Menurut Piaget, peran bermain terhadap perkembangan sosial anak adalah
untuk memperaktikkan dan melakukan konsolidasi konsep-konsep serta keterampilan
yang telah dipelajari sebelumnya. Menurut Vygotsky, bermain dapat memajukan
berpikir abstrak dan dengan belajar ia akan dapat mengatur dirinya.
Sedangkan dalam perspektif sosiologi, seperti yang dikemukakan oleh Mildred Farten,
menyatakan bahwa kegiatan bermain merupakan sarana sosialisasi. Dengan bermain
kadar interaksi sosialnya akan meningkat. Kadar interaksi sosial tersebut dimulai dari
bermain sendiri dan dilanjutkan dengan bermain secara bersama. Karena itu dalam
konteks ini akan tampak, bahwa anak yang dibiasakan bermain akan lebih mudah
menerima kehadiran orang lain dan berinteraksi dengan orang lain. Semakin banyak
ia disosialisasikan dengan orang lain, maka akan semakin mudah ia berinteraksi
dengan dan menerima (kehadiran) orang lain. Sedangkan menurut menurut buku
‘Games Therapy untuk Kecerdasan Bayi dan Balita’ yang ditulis oleh Psikolog Effiana
Yuriastien, dkk ada 9 manfaat bermain bagi anak
1. Memahami diri sendiri dan mengembangkan harga diri
Ketika bermain, anak akan menentukan pilihan-pilihan. Mereka harus memilih apa
yang akan dimainkan. Anak juga memilih di mana dan dengan siapa mereka bermain.
Semua pilihan itu akan membantu terbentuknya gambaran tentang diri mereka dan
membuatnya merasa mampu mengendalikan diri. Permainan memotong kertas,
mengatur letak atau mewarnai misalnya dapat dilakukan dalam beragam bentuk.
Tidak ada batasan yang harus diikuti.Identitas dan kepercayaan diri dapat
berkembang tanpa rasa ketakutan akan kalah atau gagal. Pada saat anak menjadi
semakin dewasa dan identitasnya telah terbentuk dengan lebih baik, mereka akan
semakin mampu menghadapi tantangan permainan yang terstruktur, bertujuan dan
lebih dibatasi oleh aturan-aturan.
2. Menemukan apa yang dapat mereka lakukan dan mengembangkan kepercayaan
diri.
Permainan mendorong berkembangnya keterampilan, fisik, sosial dan intelektual.
Misalnya perkembangan keterampilan sosial dapat terlihat dari cara anak mendekati
dan bersama dengan orang lain, berkompromi serta bernegosiasi.
Apabila anak mengalami kegagalan saat melakukan suatu permainan, hal itu akan
membantu mereka menghadapi kegagalan dalam arti sebenarnya dan mengelolanya
pada saat mereka benar-benar harus bertanggungjawab.
3. Melatih mental anak
Ketika bermain, anak berimajinasi dan mengeluarkan ide-ide yang tersimpan di
dalam dirinya. Anak mengekspresikan pengetahuan yang dia miliki sekaligus
mendapatkan pengetahuan baru.
Orangtua akan dapat semakin mengenal anak dengan mengamati saat bermain.
Bahkan, lewat permainan (terutama bermain pura-pura) orangtua juga dapat
menemukan kesan-kesan dan harapan anak terhadap orangtua serta keluarganya.
4. Meningkatkan daya kreativitas dan membebaskan anak dari stres
Kreativitas anak akan berkembang melalui permainan. Ide-ide yang orisinil akan
keluar dari pikiran mereka, walaupun kadang terasa abstrak untuk orangtua.
Bermain juga dapat membantu anak untuk lepas dari stres kehidupan sehari-hari.
Stres pada anak biasanya disebabkan oleh rutinitas harian yang membosankan.
5. Mengembangkan pola sosialisasi dan emosi anak
Dalam permainan kelompok, anak belajar tentang sosialisasi. Anak mempelajari nilai
keberhasilan pribadi ketika berhasil memasuki suatu kelompok. Ketika anak
memainkan peran ‘baik’ dan ‘jahat’, hal ini membuat mereka kaya akan pengalaman
emosi. Anak akan memahami perasaan yang terkait dari ketakutan dan penolakan
dari situasi yang dia hadapi.
6. Melatih motorik dan mengasah daya analisa anak
Melalui permainan, anak dapat belajar banyak gal. Di antaranya melatih kemampuan
menyeimbangkan antara motorik halus dan kasar. Hal ini sangat mepengaruhi
perkembangan psikologisnya.
Permainan akan memberi kesempatan anak untuk belajar menghadapi situasi
kehidupan pribadi sekaligus memecahkan masalah. Anak-anak akan berusaha
menganalisa dan memahami persoalan yang terdapat dalam setiap permainan.
7. Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan anak
Kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain, seringkali
dapat dipenuhi dengan bermain. Anak yang tidak mampu mencapai peran pemimpin
dalam kehidupan nyata, mungkin akan memperlohen pemenuhan keinginan itu
dengan menjadi pemimpin tentara saat bermain.
8. Standar moral
Walaupun anak belajar di rumah dan sekolah tentang apa yang dianggap baik dan
buruk oleh kelompok, tidak ada pemaksaan standar moral selain dalam kelompok
bermain.
9. Mengembangkan otak kanan anak
Bermain memiliki aspek-aspek yang menyenangkan dan membuka kesempatan
untuk menguji kemampuan dirinya berhadapan dengan teman sebaya serta
mengembangkan perasaan realistis akan dirinya. Dengan begitu, bermain memberi
kesempatan pada anak untuk mengembangkan otak kanan, kemampuan yang
mungkin kurang terasah baik di sekolah maupun di rumah.
Daftar Rujukan
Corey,G.2003.Teori dan Praktek Konseling &Psikoterapi.Terjemah oleh
E.Koeswara.Bandung:Refika Aditama
Sumber : https://sababjalal.wordpress.com/2013/10/09/definisi-bermain-dan-
pentingnya-bermain-bagi-anak/
TAHAPAN PERKEMBANGAN BERMAIN
1. Tahapan umum
Agar dapat meberi bimbingan kepada anak TK dengan sebaik baiknya, guru perlu
mengetahui bahwa pada umumnya anak akan melalui tingkatan-tingkatan atau
tahap-tahap bermain sebagai berikut:
1. Tahap manipulatif
Pada umumnya tahap ini dapat dilihat pada anak usia 2 sampai 3 tahun.
Dengan alat-alat atau benda yang ia pegang, anak melakukan penyelidikan
dengan cara membolak-balik, meraba-raba, bahkan menjatuhkan lalu
melempar dan memungut kembali, meraba-raba dan sebagainya. Anak-anak
melakukan hal ini untuk mengetahui apa yang dapat diperbuatnya dengan
benda-benda atau alat tersebut. kegiatan bermain ini jangan dianggap tidak
ada manfaatnya karena selain anak-anak dapat mengenal sifat dan fungsinya,
mereka juga memperoleh pengalaman dan keterampilan manipulatif yang
diperlukan untuk melangkah ke tahap berikutnya.
Contoh permainan pada tahap manipulatif ini yaitu:
 Bermain dengan plastiasin atau tanah liat
2. Tahap simbolis
Peralihan dari tahap manipulatif ke tahap simbolis hampir tidak terlihat karena
anak yang sudah sampai pada tahap simbolis kadang-kadang kembali lagi
melakukan kegiatan seperti yang dilakukan pada tahap manipulatif. Anak yang
berada pada tahap ini kadang-kadang berbicara sendiri tentang apa yang
dibuatnya sesuai dengan fantasinya atau hal-hal yang pernah dilihat di
lingkungannya. Seperti anak yang bermain dengan balok-balok, terdengar
berucap “ini mobil papaku”. Pada umumnya anak yang berada pada tahap
simbolis adalah anak yang berumur 3-4 tahun.
3. Tahap eksplorasi
Pada tahap ini anak sering bermain sendiri, ia lebih senang tidak berteman
dalam bermain. Di bak pasir misalnya, ia melakukan penyelidikan dan
penemuan tentang sifat pasir kering, pasir basah serta alat-alat pelengkap yang
digunakannya seperti mengoyak pasir, menyendok, dan menuangkan pasir
kedalam wadah dan sebagainya. Kegiatan bermain ini dilakukan berulang-ulang
dengan hati yang riang, walaupun sepintas tampaknya kegiatan ini tidak berarti
tetapi anak yang berada dalam tahap eksplorasi ini mulai memperoleh
penemuan-penemuan besar tentang sifat pasir basah, pasir kering dan
memupuk keterampilan manipulatif dari kesibukan yang dilakukannya.
4. Tahap eksperimen
Setelah anak-anak memperoleh pengalaman baru dalam tahap-tahap
sebelumnya, mereka mulai melakukan percobaan-percobaan, yang berarti
mereka memasuki tahap eksperimen. Perhatian mulai tertuju pada kegiatan
bentuk dan ukuran, menyamakan bentuk dan ukuran, serta memilih bentuk-
bentuk tertentu yang akan digunakan dalam membuat kue dari pasir misalnya.
Pada tahap ini anak-anak pada umumnya berusia 4-5 tahun.
5. Tahap dapat dikenal
Anak usia 5 sampai 6 tahun pada umumnya telah mencapai tahapan bermain
yaitu, membangun bentuk-bentuk yang realistis, bentuk-bentuk yang sudah
dikenal atau dilihat anak dalam kehidupannya sehari-hari. Bentuk-bentuk yang
dibuatnya sudah dapat dimengerti oleh orang lain yang melihatnya, karena
sudah mendekati bentuk-bentuk yang sesungguhnya. Misalnya membentuk
beberapa jenis hewan tiruan dengan plastisin lalu mempergunakan berbagai-
bagai alat pelengkap, seperti ranting dan daun-daunan, mobil-mobilan untuk
membuat hasil karyanya tampak lebih realistis, sering juga anak-anak yang
berada pada tahap bermain ini membuat sesuatu bersama, mereka belajar
menentukan apa yang akan dibuatnya, merundingkan apa yang akan
diperlukan, alat-alat pelengkap yang akan dipakai, membagi tugasnya masing-
masing dan bertanggung jawab pula atas berhasilnya kegiatan yang mereka
lakukan bersama. Anak usia 5-6 tahun di TK yang duduk di kelompok B
diharapkan sudah melewati tahap-tahap bermain dari tahap manipulatif sampai
tahap dapat dikenal. Pengalaman-pengalaman serta latihan-latihan pada tahap
sebelumnya merupakan pembuka jalan untuk sampai pada tahap dapat
dikenal.
Jadi, setelah mengenal kelima tahapan bermain anak perlu kita ketahui bahwa
setiap anak berkembang sesuai dengan kecepatannya sendiri.
2. Perkembangan kegiatan bermain
Selain tahapan bermain yang merupakan penggolongan tahap bermain secara
umum, yang sering digunakan guru TK dalam melakukan pengamatan perilaku
bermain anak dan penilaian, akan diuraikan pula perkembangan bermain dalam
kaitannya dengan perkembangan kognitif menurut Jean Piaget dan teori Milderd
Partern yang mengaitkan perkembangan bermain anak dengan perkembangan
sosialnya.
a. Pandangan Jean Piaget (1962)
dalam usia dini Anak-anak akan melampaui tahap perkembangan bermain kognitif
mulai dari bermain sensori motor atau bermain yang berhubungan dengan alat-
alat panca indra sampai memasuki tahap tertinggi bermain yaitu bermain yang ada
aturan bermainnya, dimana anak dituntut menggunakan nalar. Jean Piaget
mengemukakan tahap-tahap perkembangan bermain sejalan dengan
perkembangan kognitif anak, yaitu:
 Sensori motor play (lahir sampai dengan 1.5-2tahun)
Pembawaan sejak lahir berupa mengisap dan menangis merupakan kegiatan
refleks ketika ia belajar mula-mula tentang dunianya. Dalam tahap ini anak belajar
melalui skema-skema alat panca indranya, anak mulai belajar mengkooerdinasikan
fungsi-fungsi penglihatan dan gerak (seperti melihat benda yang menarik
kemudian merebutnya) dilakukan berulang-ulang karena merasa senang dapat
melakukannya. Anak juga mulai belajar menggeser hambatan-hambatan yang ada
untuk mendapatkan sesuatu benda yang menarik perhatiannya.
 Simbolic play (bermain simbolis)
Anak usia 2-7 tahun berada pada tahap perkembangan ini. Bermain simbolis
merupakan ciri-ciri tahap pra operasional dan yang terjadi adalah sebagai
berikut:
 Secara bertahap anak mulai makin berbahasa dengan kata-kata baru, sering
bertanya dan menjawab pertanyaan.
 Anak-anak ingin sekali belajar dan tidak henti-hentinya bereksplorasi, yang
memanipulasi benda-benda serta bereksperimen dengan lingkungannya agar
dapat mempelajari lebih banyak hal lagi
 Anak mulai dapat menggunakan berbagai benda sebagai simbol atau pengganti
benda-benda lain dan bermain pura-pura seperti balok bisa jadi telepon atau
jadi ayam goreng ketika pura-pura masak.
 Dalam perkembangannya kegiatan bermain simbolis ini akan semakin bersifat
konstruktif, dalam arti lebih mendekati kenyataan, merupakan latihan berfikir
dan mengarahkan anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya
 Permainan games dengan aturan yang berhubungan dengan prilaku sosial
(social play game with roles)
Tahap permainan ini dilakukan anak-anak berusia antara 8-11 tahun yang
dikenal juga dengan kongkrit operasional. Anak-anak dapat menggunakan
nalarnya dalam kegiatan bermain
 Games dengan aturan dan olahraga (usia 11 tahun ke atas)
Bermain termasuk salah satu bagian dari olahraga. Olehkarena itu, kegiatan
inin masih sangat digemari dan diminati anak-anak. Bila kita kagi tahap-tahap
bermain yang dikemukakan oleh Piaget akan terlihat bahwa bermain yang
tadinya dilakukan karena kesenangan bermainnya itu, secara bertahap
mengalami perubahan yaitu dari rasa senang berubah dan bergeser tujuannya
menjadi rasa ingin berkompetisi untuk mendapatkan suatu prestasi, menjadi
pemenang.
b. Pandangan Parten
Menurut Parten yang meneliti kegiatan bermain sebagai sarana sosialisasi anak,
terdapat enam tahapan perkembangan bermain yang dapat dilihat dan diamati
ketika anak-anak melakukan kegiatan bermain. Dia juga mengungkapkan adanya
perkembangan bermain dari tingkat sederhana sampai tingkat yang tinggi.
Tabel. Tingkat perkembangan bermain sosial
unoccupied
Mengamati kegiatan oranglain.
Bermain dengan tubuhnya, naik turun
tangga, berjalan kesana kemari tanpa
tujuan, bila tidak ada hal yang
menarik perhatiannya.
Onlookers (berperilaku seperti
penonton/pengamat)
Mengamati, bertanya dan berbicara
dengan anak lain, tetapi tidak ikut
bermain. Berdiri dari kejauhan untuk
melihat dan mendengarkan anak-anak
lain atau bercakap-cakap.
Bermain Solitaire (bermain sendiri)
Bermain sendiri dan tidak terlibat
dengan anak-anak lain. Bermain
dengan mainannya sendiri merupakan
tujuannya.
Bermain Paralel
Bermain berdampingan atau
berdekatan dengan anak lain
menggunakan alat, tetapi bermain
sendiri. Tidak menggunakan alat-alat
bersama, hanya berdampingan
dengan anak lain, tidak bermain
dengannya.
Bermain Associative
Bermain dengan anak-anak lain
dengan jenis permainan yang sama.
Terjadi percakapan dan tanya jawab
serta saling meminjam alat permainan,
tetapi tidak terlibat dalam kerjasama,
misalnya dalam kegiatan menggunting
bentuk-bentuk gambar.
Bermain Kooperatif(group play)
Bermain bersama melakukan suatu
proyek bersama, misalnya dalam
permainan drama, permainan
konstruktif, membangun dengan balok
sebuah kota atau melakukan
permainan bersama yang ada unsur
kalah menang, bermain di bak
pasiratau bermain bola kaki yang
sederhana, petak umpat dan lain-lain.
c. Pandangan Hurlock
Menurutnya perkembangan bermain terjadi melalui tahapan sebagai berikut
1) Tahap eksplorasi
Bila anak diberikan benda atau alat yang baru dikenalnya,pertama-tama mereka
mencari tahu,mengamati,menyelidiki apa yang dapat dilakukan benda atau alat
tersebut. Benda diraih mulailah tanganya membolak-balik,menekan-nekan bahkan
dijatuhkan dan dipungut kembali diamati lagi,kemudian ditinggalkan dan anak
berpindah mencoba benda atau alat yang lain.
2) Tahap alat permain (toy stage)
Pada tahap ini pengamatan dengan seksama terhadap benda-benda/alat
permainan tetap masih berlansung untuk mencari kemungkinan –kemungkinan
cara memainkannya. Usia prasekolah anak bermain dengan mainan dan
mengangap dapat berkomunikasi dengannya seperti dengan manusia ,anak
bercakap-cakap de ngan boneka yang dianggapnya teman sekolahnya.
3) Tahap bermain (play stage)
Di tahap ini anak sudah tahu berbagai jenis permainan bersama maupun sendiri
dengan alat permainan seperti bermain games,elektronik,bermain ular tangga dan
lain-lain.
4) Tahap melamun (daydream stage)
Pada tahap ini anak sudah merasa besar dan tidak cocok lagi dengan bermain
mobil-mobilan atau bermain dengan boneka,kecuali boneka empuk dan lucu untuk
dipeluk-peluk dikamar sambil mengkhayal dan melamun.
d. Smilansky (1968) dan Shefatya (1990)
Teori ini merupakan adaptasi tahapan perkembangan permainan kognitif dari
Piaget dan membagi perkembangan bermain kognitif anak atas 4 kategori ,yaitu:
1) Bermain fungsional
Ciri-cirinya adalah sederhana,menyenangkan dengan gerakan berulang-ulang
menggunkan alat atau tanpa alat,oleh anak usia samapai 2 tahun. Kegiatan
bermain ini mendominasi 2 tahun pertama perkemabangan anak. Melalui bermain
fungsional anak mulai merasa yakin dan mampu akan tubuh mereka.
Bermain fungsional menjadi bermain konstruktif ketika anak hamya memasukkan
jari-jarinya kedalam mangkok berisi cat finger painting,berubah kekegiatan
menggambar suatu bentuk atau ganti menyusun dan membongkar balok-balok.
2) Bermain membangun (konstruktif)
Anak-anak menciptakan sesuatu menurut suatu rencana yang tersusun
sebelumnya. Kegiatan semacam ini mendominasi selama tahun prasekolah dan
dapat diamati terutama pada saat bermain membangun balok diarea balok.
Bermain konstruktif,merupakan bentuk permainan aktif dimana anak membangun
sesuatu dengan mempergunakan bahan atau alat permaianan yang ada. Semula
bersifat reproduktif, artinya anak hanya mereproduksi objek yang dilihatnya sehari-
hari atau mencontoh gambar atau bentuk yang diberikan. Namun, dengan
berkembangnya imajinasi anak mulai menciplak bentuk-bentuk secara orisinal
sesuai dengan kreativitasnya masing- masing.
3) Bermain Khayal (dramatic play)
Dalam bermain dramatisasi anak-nak menirukan tindakan-tindakan yang
dihubungkan dengan sesuatu perlengkapan tertentu,berlajar berperan seolah-olah
mereka adalah seseorang atau sesuatu yang tidaj asaing lagi bagi mereka.
Kegiatan bermain ini mulai muncul pada anak usia prasekolah yang disebut juga
tahun emasnya bermain pura-pura pada anak di TK sering muncul diarea Keluarga
atau rumah tannga diman tersedia alat-alat bermain serta perlengkapan lainnya.
4) Bermain dengan aturan
Ini berarti dalam kegiatan bermain ada aturan bermainnya seperti dalam bermain
“ular tangga” atau permainan kelompok diluar seperti bermain “sapu tangan”,
“tikus dan singa” dan sebagainya. Jenis permainan seperti ini mengembangkan
koordinasi fisik anak,menghaluskan keterampilan sosial dan berbahasa serta
membangaun konsep kerja sama dan kompetisi atau lomba.
DAFTAR PUSTAKA
Montolalu, B.E.F. 2005. Bermain dan permainan anak. Jakarta: universitas terbuka
http://www.bersamadakwah.com/2013/04/bunda-beginilah-tahapan-bermain-
anak.html
http://www.slideshare.net/b_triwaluyo/bermain-dankreativitasanakusiadini-
15006694
http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Anak/Amati-Perkembangan-Bermain-
Anak-Anda
download at https://mellyhandayanicyrus.wordpress.com/2015/05/16/tahapan-
perkembangan-bermain/ on April 08, 2020
Sesi 4
JENIS-JENIS KEGIATAN BERMAIN UNTUK ANAK
Jenis-jenis kegiatan bermain bisa membuat anak asyik sekaligus merangsang perkembangannya.
Dalam bermain anak menggunakan alat permainan sesuai dengan kebutuhan anak, begitu pula
jenis kegiatan bermain sesuai dengan usia perkembangan anak. Ada berbagai jenis kegiatan
bermain anak diantaranya adalah sebagai berikut:
 Tactile Play/bermain dengan tangan. Merupakan kegiatan bermain yang meningkatkan
keterampilan jari jemari anak serta membantu anak memahami dunia sekitarnya melalui
alat perabaan dan penglihatannya.
Tactile Play
 Functional Play. Permainan yang mengutamakan gerakan motorik kasar/otot besar.
Functional Play
 Constructive Play/membangun. Permainan yang mengutamakan anak untuk membangun
atau membentuk bangunan dengan media balok, lego dan sebagainya.
Constructive Play
Tugas 1
MK Bermain dan Permainan
Jenis kegiatan bermain
1. Tactile Play/bermain dengan tangan.
2. Functional Play
3. Constructive Play/membangun
4. Creative Play/Bermain Kreatif.
5. Symbolic/Dramatic Play/bermain simbolik
6. Play Games.
Buatlah analisis permainan yang cocok untuk perkembangan anak usia 2-4 tahun
Note: Ketik dalam Microsoft Word
PENILAIAN TENGAH SEMESTER
Sesi 6
Mata kuliah : Bermain dan permainan
Semester : 2
Prodi : PGPAUD
Dosen : Masriqon, S.Pd., M.Pd
Pertanyaan:
1. sebutkan dan jelaskan teori bermain menurut 3 ahli
2. sebutkan aspek yang dapat dikembangan dalam permainan anak.
3. sebutkan dan jelaskan permainan tradisional yang anda ketahui
4. bagaimana cara anda mengembangan kemampuan bahasa menggunakan
permainan edukatif.
kerjakan dalam kertas folio bergaris, sertakan nama, NIM, semester, mata kuliah.
Scan atau foto tugas anda dan buat dalam bentuk pdf. Kirim ke WA pribadi saya.
Terima kasih
BERMAIN SAMBIL BELAJAR
Sesi 7
Belajar sembari bermain menjadi salah satu metode belajar yang efektif dan cukup menarik
terutama di kalangan anak-anak. Melalui metode pembelajaran yang satu ini, siswa menjadi
lebih aktif dan kreatif. Belajar sembari bermain juga merupakan metode yang tidak
membosankan, karena menyediakan media pembelajaran serta cara mengajar yang cukup
menyenangkan. Metode belajar sambil menjadi salah satu metode yang sebaiknya
diperhitungkan oleh para guru dalam mendidik anak didik mereka. Berikut adalah beberapa
alasan kenapa metode ini sebaiknya diperhitungkan dan layak di jalankan.
1. Siswa bisa belajar sekaligus bermain dalam waktu yang bersamaan
Ada kalanya siswa merasa bosan dengan cara mengajar yang monoton. Hal ini membuat
mereka tidak lagi tertarik dengan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Akibatnya, siswa
mudah merasa jenuh dan kosentrasi yang tidak lagi terfokus pada pelajaran.
Melalui metode belajar sambil bermain, peserta didik mampu belajar seiring dengan kegiatan
bermain. Melalui permainan, siswa bisa memahami ide serta konsep baru dalam proses belajar
mereka. Alhasil, siswa akan mampu memahami materi yang diberikan oleh guru melalui sudut
pandang yang belum mereka kenal sebelumnya.
Metode belajar sambil bermain, juga membuat siswa mampu melakukan kemungkinan dan
percobaan-percobaan tertentu dengan variabel yang baru.
2. Guru dapat mengajak siswa belajar melalui permainan yang mereka buat
Keuntungan yang kedua, adalah guru bisa membuat siswa belajar melalui kegiatan bermain
yang telah mereka atur sedemikian rupa. Melalui permainan yang menyenangkan, siswa
dengan sendirinya akan mengikuti proses belajar sambil bermain yang dilakukan oleh guru.
3. Siswa bisa belajar beberapa jenis keterampilan penting
Belajar sambil bermain, bukan hanya menambah pengetahuan siswa melainkan juga
menambah ketampilan siswa dalam beberapa hal. Melalui metode belajar sambil bermain,
siswa bisa menambah ketrampilan mereka dalam berpikir secara kritis, sportivitas, kerjasama
dengan kelompok, dan menambah kreativitas.
Contoh belajar sambil bermain
Tepuk nama
Tujuan dilakukannya kegiatan belajar sambil bemain yang satu ini adalah untuk menciptakan
suasana yang akrab antar siswa serta membangun konsentrasi. Cara melakukan permainan ini
adalah yang berikut ini.
 Siswa membantu sebuah lingkaran yang besar
 Penddidik mengajak siswa untuk berkonsentrasi lalu menjelaskan aturan permainan
setahap demi setahap
 Ajak semua siswa untuk melakukan gerakan melakukan tepukan secara teratur dan
berirama.
 2 kali tepukan di paha dan dua tepukan di depan dada
 Lakukan tepukan tersebut selama beberapa menit dengan irama yang teratur
 Seluruh siswa yang berkumpul, menyuarakan irama yang disesuakan dengan tepukan
ma-ri ki-ta ma-in te-puk na-ma kon-sen-tra-si mu-lai
 Mulai dengan menepuk paha 2 kali lalu tepukan tangan di depan dada juga 2 kali
 Beri jeda pada saat menyampaikan aturan
 Selanjutnya, siswa pertama menyebutkan nama hanya dengan 2 suku kata. Lanjutkan
dengan jeda lalu saat tepukan di depan dada dimulai, siswa yang selanjutnya
menyebutkan namanya
 Lakukan kegiatan ini secara bergilir hingga kembali ke peserta yang pertama
 Nama yang diucapkan tiap siswa harus berbeda dan jika ada yang sama, maka siswa
akan dihukum sesuai dengan kesepakatan
Permainan di atas, merupakan jenis permainan yang sebaiknya dilakukan pada kelompok
baru yang masih asing satu dengan yang lain. Sehingga, permainan ini juga membuat siswa
bisa mengenal satu dengan yang lainnya.
Belajar sambil bermain merupakan metode balajar yang cukup menyenangkan untuk
dilakukan. Dalam hal ini guru bisa membuat keadaan kelas menjadi lebih hidup dengan
metode pembelajaran tersebut. Selamat mencoba
5 MANFAAT BERMAIN SAMBIL BELAJAR BAGI ANAK USIA DINI
Perlu diketahui, anak usia 3 hingga 6 tahun atau usia PAUD lebih sering suka bermain. Namun
jangan salah, materi pendidikan anak usia dini itu memang diarahkan untuk bermain sambil
belajar. Melalui metode bermain sambil belajar ini diharapkan dapat mendukung anak untuk
tumbuh serta mandiri dan memiliki kontrol atas lingkungannya. Melalui bermain pula, anak
dapat menemukan hal baru. Mereka bisa bereksplorasi, meniru, dan mempraktikan kehidupan
sehari-hari sebagai sebuah langkah dalam membangun ketrampilan untuk menolong dirinya
sendiri.
Dirangkum dari laman Ruang Guru PAUD Kemdikbud RI, berikut manfaat bermain bagi anak
usia dini yang wajib diketahui orangtua:
1. Pengenalan perasaan Pengenalan perasaan termasuk untuk perkembangan emosi. Melalui
bermain anak dapat belajar menerima, berekspresi dan mengatasi masalah dengan cara yang
positif. Dari bermain itu pula juga memberikan kesempatan pada anak untuk mengenal diri
mereka sendiri dan mengembangkan pola perilaku yang memuaskan dalam hidup.
2. Pengenalan tentang orang lain Bermain memberikan jalan bagi perkembangan sosial anak
ketika berbagi dengan anak lain. Dengan bermain bisa jadi sarana yang paling utama bagi
pengembangan kemampuan bersosialisasi dan memperluas empati terhadap orang lain serta
mengurangi sikap egosentrisme. Barmain dapat menumbuhkan dan meningkatkan rasa
sosialisasi anak. Melalui bermain anak dapat belajar perilaku prososial seperti menunggu
giliran, kerja sama, saling membantu, dan berbagi. 3. Pengenalan berbagai gerak Manfaat dari
pengenalan ini untuk membantu memaksimalkan perkembangan fisik. Bermain dapat memacu
perkembangan perseptual motorik pada beberapa area, yaitu:
 Koordinasi mata-tangan atau mata-kaki, seperti saat menggambar, menulis, manipulasi
objek, mencari jejak secara visual, melempar, menangkap, menendang.
 Kemampuan motorik kasar, seperti gerak tubuh ketika berjalan, melompat, berbaris,
meloncat, berlari, berjingkat, berguling-guling, merayap dan merangkak.
 Kemampuan bukan motorik kasar (statis) seperti menekuk, meraih, bergiliran, memutar,
meregangkan tubuh, jongkok, duduk, berdiri, bergoyang.
 Manajemen tubuh dan kontrol seperti menunjukkan kepekaan tubuh, kepekaan akan
tempat, keseimbangan, kemampuan untuk memulai, berhenti, mengubah petunjuk.
4. Komunikasi berkembang
Dengan bermain, dapat jadi alat untuk belajar kemampuan berbahasa anak. Melalui komunikasi
inilah anak dapat memperluas kosakata dan mengembangkan daya penerimaan mereka.
Disamping itu, melalui komunikasi anak bisa berinteraksi dengan anak-anak lain dan orang
dewasa pada situasi bermain spontan.
5. Keterampilan berfikir Materi keterampilan berpikir merupakan materi yang diberikan
sebagai tujuan untuk mengembangkan aspek kognitif anak. Selama bermain, anak menerima
pengalaman baru, memanipulasi bahan dan alat, berinteraksi dengan orang lain dan mulai
merasakan dunia mereka. Dengan bermain, tentu dapat jadi sarana menyediakan kerangka kerja
anak untuk mengembangkan pemahaman tentang diri mereka sendiri, orang lain, dan
lingkungan.
Referensi:
https://www.websitependidikan.com/2016/07/pengertian-dan-contoh-metode-belajar-sambil-
bermain.html
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "5 Manfaat Bermain Sambil Belajar bagi
Anak Usia Dini", https://edukasi.kompas.com/read/2020/02/04/17443741/5-manfaat-bermain-
sambil-belajar-bagi-anak-usia-dini. Penulis : Albertus Adit. Editor : Yohanes Enggar
Harususilo
BERMAIN DAN PERMAINAN
SESI 8
SESI INI SILAHKAN ANDA BUAT RPPH DENGAN KETENTUAN SEBAGAI BERIKUT:
1. BUATLAH PERENCANAAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN HARIAN (RPPH) DENGAN
MENGGUNAKAN PERMAINAN
2. RPPH UNTUK SATU KALI PERTEMUAN
3. STRATEGI PEMBELAJARAN
4. MEDIA PEMBELAJARAN
5. LEMBAR PENILAIAN
BERMAIN DAN PERMAINAN
SESI 9
Buatlah video pembelajaran tanpa anak, dengan memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Buat video pembelajaran sesuia dengan RPPH yang anda buat pada sesi 8 (apabila tidak sesuai
silahkan buat kembali)
2. Siapkan media (alat) bermain yang akan digunakan
3. Praktikan kegiatan pembelajaran meliputi:
a. Pembukaan (salam, berdo’a, atau sapaan)
b. Tema dan sub tema
c. Bahan (alat) main
d. Aspek yang dikembangkan/tujuan pembelajaran
e. Kegiatan main/pembelajaran
f. Penutup (salam)
4. Video diupload pada youtube (contoh bisa lihat link
http://paudstkippgrimetrolampung.blogspot.com/p/blog-page_62.html
5. Kirimkan link video ke EDLINK dan via japri (WA)
6. Durasi video 4-5 menit
7. Diberi nama video sesuai materi dan media yang digunakan
Catatan:
a. Berpakaian yang rapi dan sopan (dilarang pakai jeans dan T-shirt)
b. Suara jelas

Bahan ajar bermain dan permainan

  • 1.
    BAHAN AJAR MATA KULIAHBERMAIN DAN PERMAINAN ANAK USIA DINI SEMESTER DUA PROGRAM STUDI PGPAUD OLEH: MASRIQON, M.Pd SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP PGRI METRO
  • 2.
    Play is real.It is vital. It helps children learn about their world naturally. Children use play to test ideas, discover relationships, abstract information, express their feelings and ideas, define themselves, and develop peer relationship. (1993:1). Materi 1 Hakikat Bermain engalaman pada anak dapat diberikan melalui kegiatan bermain, dimana dunianya anak adalah bermain. Permainan harus didesain sesuai dengan aspek yang akan dikembangkan sesuai usia per-kembangan anak. Apa arti bermain untuk anak usia dini? Untuk orang dewasa mungkin bermain tidak penting, namun untuk anak-anak bermain adalah kegiatan yang ingin ia lakukan setiap saat. Menurut Stone bermain adalah : (Bermain adalah nyata. Bermain adalah vital. Bermain membantu anak belajar dunianya secara alami. Anak-anak menggunakan bermain untuk ide-ide tes, berhubungan penemu, informasi abstrak, mengungkapkan perasaan dan ide-idenya, menggambarkan mereka sendiri, dan berhu-bungan perkembangan teman sebaya). A. Tujuan kegiatan bermain Tujuan belajar melalui bermain pada anak usia dini adalah diarahkan untuk mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, termasuk siap mengikuti pendidikan di sekolah dasar Yuliani (2010:72). Tujuan belajar dikembangkan berdasarkan kompe-tensi dasar, hasil belajar dan indikator dari lima bidang peng-embangan, yaitu pengembangan perilaku, kognitif, P
  • 3.
    berbahasa, fisik danseni. Implementasi dari pengembang-an seluruh bidang pengembangan tersebut didasarkan pada kebutuhan dan perkembangan anak dan dalam pelaksanaannya bersifat fleksibel, yaitu disesuaikan dengan situasi dan kondisi sosial budaya setempat. Pencapaian kompetensi dasar perlu dilakukan melalui kegiatan dan suasana bermain yang menyenangkan (joyfull learning). B. Metode kegiatan bermain Berhubungan dengan metode dalam kegiatan bermain, Wolfgang dalam Yuliani (2010:73) berpendapat bahwa dalam metode inilah yang memberikan kebebasan pada anak-anak untuk berbuat sesuai keinginan sehingga dari perilaku anak tersebutlah akan lahir kurikulum secara alamiah. Contoh perilaku tersebut saat anak bermain baju- bajuan, membangun balok, melukis, dan kegiatan serupa lainnya.
  • 4.
    Sesi 2 MANFAAT BERMAINDAN PERMAINAN Mengapa Bermain Penting untuk dikembangkan? Bagi siapa bermain itu penting dilakukan? Berdasarkan perspektif psikologi, menurut aliran psikoanalisa, Sigmund Freud, perkembangan pada masa dini kanak-kanak, khususnya dalam rentang 5 tahun pertamanya, memiliki pengaruh kuat terhadap kepribadian di masa dewasa. Oleh karena itu, pada awa kehidupan manusia, perlu dikembangkan kepribadiannya secara optimal. Hasil penelitian di bidang neurologi yang dilakukan Benyamin S. Bloom, seorang ahli pendidikan memperlihatkan, bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0-4 tahun mencapai 50 %, hingga usia 8 tahun mencapai 80 %. Artinya apabila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang optimal maka perkembangan otak anak tidak akan berkembang secara maksimal. Semakin dini penanganan dan bentuk-bentuk rangsangan yang dilakukan orang tua/ pendidik terhadap anaknya maka hasilnya akan semakin baik. Sebaliknya, semakin lama (lambat) anak mendapatkan penanganan dan bentuk-bentuk rangsangan yang baik, maka semakin buruk hasilnya. Perkembangan kepribadian pada anak ini, lebih cocok dikembangkan melalui aktivitas bermain. Karena menurut piaget, seorang ahli dalam perkembangan kognitif, anak anak usia 2-7 tahun berada dahap tahap praorerasional yang di tandai dengan pemikiran sebagai berikut : • Berpikir secara konkrit, dimana anak belum daat memahami atau memikirkan hal- hal yang bersifat abstrak (seperti cinta dan keadailan) • Realisme, yaitu kecenderungan yang kuat untuk menanggapi segala sesuatu sebagai hal yang riil atau nyata • Egosentris, yaitu melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandangnya sendiri dan tidak mudah menerima penjelasan dari si lain
  • 5.
    • Kecenderungan untukberpikir sederhana dan tidak mudah menerima sesuatu yang majemuk • Animisme, yaitu kecenderungan untuk berpikir bahwa semua objek yang ada dilingkungannya memiliki kualitas kemanusiaan sebagaimana yang dimiliki anak • Sentrasi, yaitu kecenderungan untuk mengkonsentrasikan dirinya pada satu aspek dari suatu situasi • Anak usia dini dapat dikatakan memiliki imajinasi yang sangat kaya dan imajinasi ini yang sering dikatakan sebagai awal munculnya bibit kreativitas pada anak. Dapat disimpulkan bahwa anak usia dini adalah anak yang berusia 2 – 6 tahun, yang berada pada tahap perkembangan awal masa kanak-kanak, yang memiliki karakteristik berpikir konkrit, realisme, sederhana, animism, sentrasi, dan memiliki daya imajinasi yang kaya. Oleh karena itu, pada tahap ini, perlu dikembangkan seluruh totalitas kepribadian anak melalui aktivitas bermain karena bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan spontan sehingga hal ini memberikan rasa aman secara psikologis pada anak. Mengapa bermain pada anak perlu dikembangkan? Berdasarkan perspektif psikologi, menurut Erik Erikson, bermain berfungsi memelihara ego anak-anak. Hal ini dapat dipahami karena anak yang sedang bermain merasakan senang sehingga terpaksa ia harus mempertahankan kesenangannya itu atau sebaliknya ia akan memelihara egonya secara proporsional, sehingga menimbulkan rasionalitas dan tenggang rasa terhadap anak lainnya. Semakin intens pengalaman itu dilalui anak akan semakin kuat juga interaksi sosialnya dalam proses sosialisasi tersebut. Peran bermain dalam perkembangan sosial anak misalnya, menurut pandangan psikoanalisis adalah untuk mengatasi pengalaman traumatik dan keluar dari rasa frustasi. Tampaknya Freud melihatnya dalam pengalaman lahir. Dalam peristiwa kelahiran seorang bayi menyiratkan kesan tidak enak, trauma dan mungkin juga frustasi keluar dari rahim ibunya, sehingga anak akan merasa tenang dalam dekapan ibunya, dan bermain menyebabkan anak ceria dan menimbulkan kreatifitas. Menurut para ahli perkembangan kognitif, bermain mempunyai arti penting
  • 6.
    tersendiri.Menurut Piaget, peranbermain terhadap perkembangan sosial anak adalah untuk memperaktikkan dan melakukan konsolidasi konsep-konsep serta keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya. Menurut Vygotsky, bermain dapat memajukan berpikir abstrak dan dengan belajar ia akan dapat mengatur dirinya. Sedangkan dalam perspektif sosiologi, seperti yang dikemukakan oleh Mildred Farten, menyatakan bahwa kegiatan bermain merupakan sarana sosialisasi. Dengan bermain kadar interaksi sosialnya akan meningkat. Kadar interaksi sosial tersebut dimulai dari bermain sendiri dan dilanjutkan dengan bermain secara bersama. Karena itu dalam konteks ini akan tampak, bahwa anak yang dibiasakan bermain akan lebih mudah menerima kehadiran orang lain dan berinteraksi dengan orang lain. Semakin banyak ia disosialisasikan dengan orang lain, maka akan semakin mudah ia berinteraksi dengan dan menerima (kehadiran) orang lain. Sedangkan menurut menurut buku ‘Games Therapy untuk Kecerdasan Bayi dan Balita’ yang ditulis oleh Psikolog Effiana Yuriastien, dkk ada 9 manfaat bermain bagi anak 1. Memahami diri sendiri dan mengembangkan harga diri Ketika bermain, anak akan menentukan pilihan-pilihan. Mereka harus memilih apa yang akan dimainkan. Anak juga memilih di mana dan dengan siapa mereka bermain. Semua pilihan itu akan membantu terbentuknya gambaran tentang diri mereka dan membuatnya merasa mampu mengendalikan diri. Permainan memotong kertas, mengatur letak atau mewarnai misalnya dapat dilakukan dalam beragam bentuk. Tidak ada batasan yang harus diikuti.Identitas dan kepercayaan diri dapat berkembang tanpa rasa ketakutan akan kalah atau gagal. Pada saat anak menjadi semakin dewasa dan identitasnya telah terbentuk dengan lebih baik, mereka akan semakin mampu menghadapi tantangan permainan yang terstruktur, bertujuan dan lebih dibatasi oleh aturan-aturan. 2. Menemukan apa yang dapat mereka lakukan dan mengembangkan kepercayaan diri. Permainan mendorong berkembangnya keterampilan, fisik, sosial dan intelektual. Misalnya perkembangan keterampilan sosial dapat terlihat dari cara anak mendekati
  • 7.
    dan bersama denganorang lain, berkompromi serta bernegosiasi. Apabila anak mengalami kegagalan saat melakukan suatu permainan, hal itu akan membantu mereka menghadapi kegagalan dalam arti sebenarnya dan mengelolanya pada saat mereka benar-benar harus bertanggungjawab. 3. Melatih mental anak Ketika bermain, anak berimajinasi dan mengeluarkan ide-ide yang tersimpan di dalam dirinya. Anak mengekspresikan pengetahuan yang dia miliki sekaligus mendapatkan pengetahuan baru. Orangtua akan dapat semakin mengenal anak dengan mengamati saat bermain. Bahkan, lewat permainan (terutama bermain pura-pura) orangtua juga dapat menemukan kesan-kesan dan harapan anak terhadap orangtua serta keluarganya. 4. Meningkatkan daya kreativitas dan membebaskan anak dari stres Kreativitas anak akan berkembang melalui permainan. Ide-ide yang orisinil akan keluar dari pikiran mereka, walaupun kadang terasa abstrak untuk orangtua. Bermain juga dapat membantu anak untuk lepas dari stres kehidupan sehari-hari. Stres pada anak biasanya disebabkan oleh rutinitas harian yang membosankan. 5. Mengembangkan pola sosialisasi dan emosi anak Dalam permainan kelompok, anak belajar tentang sosialisasi. Anak mempelajari nilai keberhasilan pribadi ketika berhasil memasuki suatu kelompok. Ketika anak memainkan peran ‘baik’ dan ‘jahat’, hal ini membuat mereka kaya akan pengalaman emosi. Anak akan memahami perasaan yang terkait dari ketakutan dan penolakan dari situasi yang dia hadapi. 6. Melatih motorik dan mengasah daya analisa anak Melalui permainan, anak dapat belajar banyak gal. Di antaranya melatih kemampuan menyeimbangkan antara motorik halus dan kasar. Hal ini sangat mepengaruhi
  • 8.
    perkembangan psikologisnya. Permainan akanmemberi kesempatan anak untuk belajar menghadapi situasi kehidupan pribadi sekaligus memecahkan masalah. Anak-anak akan berusaha menganalisa dan memahami persoalan yang terdapat dalam setiap permainan. 7. Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan anak Kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain, seringkali dapat dipenuhi dengan bermain. Anak yang tidak mampu mencapai peran pemimpin dalam kehidupan nyata, mungkin akan memperlohen pemenuhan keinginan itu dengan menjadi pemimpin tentara saat bermain. 8. Standar moral Walaupun anak belajar di rumah dan sekolah tentang apa yang dianggap baik dan buruk oleh kelompok, tidak ada pemaksaan standar moral selain dalam kelompok bermain. 9. Mengembangkan otak kanan anak Bermain memiliki aspek-aspek yang menyenangkan dan membuka kesempatan untuk menguji kemampuan dirinya berhadapan dengan teman sebaya serta mengembangkan perasaan realistis akan dirinya. Dengan begitu, bermain memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan otak kanan, kemampuan yang mungkin kurang terasah baik di sekolah maupun di rumah. Daftar Rujukan Corey,G.2003.Teori dan Praktek Konseling &Psikoterapi.Terjemah oleh E.Koeswara.Bandung:Refika Aditama Sumber : https://sababjalal.wordpress.com/2013/10/09/definisi-bermain-dan- pentingnya-bermain-bagi-anak/
  • 9.
    TAHAPAN PERKEMBANGAN BERMAIN 1.Tahapan umum Agar dapat meberi bimbingan kepada anak TK dengan sebaik baiknya, guru perlu mengetahui bahwa pada umumnya anak akan melalui tingkatan-tingkatan atau tahap-tahap bermain sebagai berikut: 1. Tahap manipulatif Pada umumnya tahap ini dapat dilihat pada anak usia 2 sampai 3 tahun. Dengan alat-alat atau benda yang ia pegang, anak melakukan penyelidikan dengan cara membolak-balik, meraba-raba, bahkan menjatuhkan lalu melempar dan memungut kembali, meraba-raba dan sebagainya. Anak-anak melakukan hal ini untuk mengetahui apa yang dapat diperbuatnya dengan benda-benda atau alat tersebut. kegiatan bermain ini jangan dianggap tidak ada manfaatnya karena selain anak-anak dapat mengenal sifat dan fungsinya, mereka juga memperoleh pengalaman dan keterampilan manipulatif yang diperlukan untuk melangkah ke tahap berikutnya. Contoh permainan pada tahap manipulatif ini yaitu:  Bermain dengan plastiasin atau tanah liat 2. Tahap simbolis Peralihan dari tahap manipulatif ke tahap simbolis hampir tidak terlihat karena anak yang sudah sampai pada tahap simbolis kadang-kadang kembali lagi melakukan kegiatan seperti yang dilakukan pada tahap manipulatif. Anak yang berada pada tahap ini kadang-kadang berbicara sendiri tentang apa yang dibuatnya sesuai dengan fantasinya atau hal-hal yang pernah dilihat di lingkungannya. Seperti anak yang bermain dengan balok-balok, terdengar berucap “ini mobil papaku”. Pada umumnya anak yang berada pada tahap simbolis adalah anak yang berumur 3-4 tahun. 3. Tahap eksplorasi Pada tahap ini anak sering bermain sendiri, ia lebih senang tidak berteman dalam bermain. Di bak pasir misalnya, ia melakukan penyelidikan dan penemuan tentang sifat pasir kering, pasir basah serta alat-alat pelengkap yang digunakannya seperti mengoyak pasir, menyendok, dan menuangkan pasir kedalam wadah dan sebagainya. Kegiatan bermain ini dilakukan berulang-ulang dengan hati yang riang, walaupun sepintas tampaknya kegiatan ini tidak berarti tetapi anak yang berada dalam tahap eksplorasi ini mulai memperoleh penemuan-penemuan besar tentang sifat pasir basah, pasir kering dan memupuk keterampilan manipulatif dari kesibukan yang dilakukannya. 4. Tahap eksperimen Setelah anak-anak memperoleh pengalaman baru dalam tahap-tahap sebelumnya, mereka mulai melakukan percobaan-percobaan, yang berarti mereka memasuki tahap eksperimen. Perhatian mulai tertuju pada kegiatan bentuk dan ukuran, menyamakan bentuk dan ukuran, serta memilih bentuk- bentuk tertentu yang akan digunakan dalam membuat kue dari pasir misalnya. Pada tahap ini anak-anak pada umumnya berusia 4-5 tahun.
  • 10.
    5. Tahap dapatdikenal Anak usia 5 sampai 6 tahun pada umumnya telah mencapai tahapan bermain yaitu, membangun bentuk-bentuk yang realistis, bentuk-bentuk yang sudah dikenal atau dilihat anak dalam kehidupannya sehari-hari. Bentuk-bentuk yang dibuatnya sudah dapat dimengerti oleh orang lain yang melihatnya, karena sudah mendekati bentuk-bentuk yang sesungguhnya. Misalnya membentuk beberapa jenis hewan tiruan dengan plastisin lalu mempergunakan berbagai- bagai alat pelengkap, seperti ranting dan daun-daunan, mobil-mobilan untuk membuat hasil karyanya tampak lebih realistis, sering juga anak-anak yang berada pada tahap bermain ini membuat sesuatu bersama, mereka belajar menentukan apa yang akan dibuatnya, merundingkan apa yang akan diperlukan, alat-alat pelengkap yang akan dipakai, membagi tugasnya masing- masing dan bertanggung jawab pula atas berhasilnya kegiatan yang mereka lakukan bersama. Anak usia 5-6 tahun di TK yang duduk di kelompok B diharapkan sudah melewati tahap-tahap bermain dari tahap manipulatif sampai tahap dapat dikenal. Pengalaman-pengalaman serta latihan-latihan pada tahap sebelumnya merupakan pembuka jalan untuk sampai pada tahap dapat dikenal. Jadi, setelah mengenal kelima tahapan bermain anak perlu kita ketahui bahwa setiap anak berkembang sesuai dengan kecepatannya sendiri. 2. Perkembangan kegiatan bermain Selain tahapan bermain yang merupakan penggolongan tahap bermain secara umum, yang sering digunakan guru TK dalam melakukan pengamatan perilaku bermain anak dan penilaian, akan diuraikan pula perkembangan bermain dalam kaitannya dengan perkembangan kognitif menurut Jean Piaget dan teori Milderd Partern yang mengaitkan perkembangan bermain anak dengan perkembangan sosialnya. a. Pandangan Jean Piaget (1962) dalam usia dini Anak-anak akan melampaui tahap perkembangan bermain kognitif mulai dari bermain sensori motor atau bermain yang berhubungan dengan alat- alat panca indra sampai memasuki tahap tertinggi bermain yaitu bermain yang ada aturan bermainnya, dimana anak dituntut menggunakan nalar. Jean Piaget mengemukakan tahap-tahap perkembangan bermain sejalan dengan perkembangan kognitif anak, yaitu:  Sensori motor play (lahir sampai dengan 1.5-2tahun) Pembawaan sejak lahir berupa mengisap dan menangis merupakan kegiatan refleks ketika ia belajar mula-mula tentang dunianya. Dalam tahap ini anak belajar melalui skema-skema alat panca indranya, anak mulai belajar mengkooerdinasikan fungsi-fungsi penglihatan dan gerak (seperti melihat benda yang menarik kemudian merebutnya) dilakukan berulang-ulang karena merasa senang dapat melakukannya. Anak juga mulai belajar menggeser hambatan-hambatan yang ada untuk mendapatkan sesuatu benda yang menarik perhatiannya.
  • 11.
     Simbolic play(bermain simbolis) Anak usia 2-7 tahun berada pada tahap perkembangan ini. Bermain simbolis merupakan ciri-ciri tahap pra operasional dan yang terjadi adalah sebagai berikut:  Secara bertahap anak mulai makin berbahasa dengan kata-kata baru, sering bertanya dan menjawab pertanyaan.  Anak-anak ingin sekali belajar dan tidak henti-hentinya bereksplorasi, yang memanipulasi benda-benda serta bereksperimen dengan lingkungannya agar dapat mempelajari lebih banyak hal lagi  Anak mulai dapat menggunakan berbagai benda sebagai simbol atau pengganti benda-benda lain dan bermain pura-pura seperti balok bisa jadi telepon atau jadi ayam goreng ketika pura-pura masak.  Dalam perkembangannya kegiatan bermain simbolis ini akan semakin bersifat konstruktif, dalam arti lebih mendekati kenyataan, merupakan latihan berfikir dan mengarahkan anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya  Permainan games dengan aturan yang berhubungan dengan prilaku sosial (social play game with roles) Tahap permainan ini dilakukan anak-anak berusia antara 8-11 tahun yang dikenal juga dengan kongkrit operasional. Anak-anak dapat menggunakan nalarnya dalam kegiatan bermain  Games dengan aturan dan olahraga (usia 11 tahun ke atas) Bermain termasuk salah satu bagian dari olahraga. Olehkarena itu, kegiatan inin masih sangat digemari dan diminati anak-anak. Bila kita kagi tahap-tahap bermain yang dikemukakan oleh Piaget akan terlihat bahwa bermain yang tadinya dilakukan karena kesenangan bermainnya itu, secara bertahap mengalami perubahan yaitu dari rasa senang berubah dan bergeser tujuannya menjadi rasa ingin berkompetisi untuk mendapatkan suatu prestasi, menjadi pemenang. b. Pandangan Parten Menurut Parten yang meneliti kegiatan bermain sebagai sarana sosialisasi anak, terdapat enam tahapan perkembangan bermain yang dapat dilihat dan diamati ketika anak-anak melakukan kegiatan bermain. Dia juga mengungkapkan adanya perkembangan bermain dari tingkat sederhana sampai tingkat yang tinggi. Tabel. Tingkat perkembangan bermain sosial unoccupied Mengamati kegiatan oranglain. Bermain dengan tubuhnya, naik turun tangga, berjalan kesana kemari tanpa tujuan, bila tidak ada hal yang menarik perhatiannya. Onlookers (berperilaku seperti penonton/pengamat) Mengamati, bertanya dan berbicara dengan anak lain, tetapi tidak ikut
  • 12.
    bermain. Berdiri darikejauhan untuk melihat dan mendengarkan anak-anak lain atau bercakap-cakap. Bermain Solitaire (bermain sendiri) Bermain sendiri dan tidak terlibat dengan anak-anak lain. Bermain dengan mainannya sendiri merupakan tujuannya. Bermain Paralel Bermain berdampingan atau berdekatan dengan anak lain menggunakan alat, tetapi bermain sendiri. Tidak menggunakan alat-alat bersama, hanya berdampingan dengan anak lain, tidak bermain dengannya. Bermain Associative Bermain dengan anak-anak lain dengan jenis permainan yang sama. Terjadi percakapan dan tanya jawab serta saling meminjam alat permainan, tetapi tidak terlibat dalam kerjasama, misalnya dalam kegiatan menggunting bentuk-bentuk gambar. Bermain Kooperatif(group play) Bermain bersama melakukan suatu proyek bersama, misalnya dalam permainan drama, permainan konstruktif, membangun dengan balok sebuah kota atau melakukan permainan bersama yang ada unsur kalah menang, bermain di bak pasiratau bermain bola kaki yang sederhana, petak umpat dan lain-lain. c. Pandangan Hurlock Menurutnya perkembangan bermain terjadi melalui tahapan sebagai berikut 1) Tahap eksplorasi Bila anak diberikan benda atau alat yang baru dikenalnya,pertama-tama mereka mencari tahu,mengamati,menyelidiki apa yang dapat dilakukan benda atau alat tersebut. Benda diraih mulailah tanganya membolak-balik,menekan-nekan bahkan dijatuhkan dan dipungut kembali diamati lagi,kemudian ditinggalkan dan anak berpindah mencoba benda atau alat yang lain. 2) Tahap alat permain (toy stage) Pada tahap ini pengamatan dengan seksama terhadap benda-benda/alat permainan tetap masih berlansung untuk mencari kemungkinan –kemungkinan cara memainkannya. Usia prasekolah anak bermain dengan mainan dan
  • 13.
    mengangap dapat berkomunikasidengannya seperti dengan manusia ,anak bercakap-cakap de ngan boneka yang dianggapnya teman sekolahnya. 3) Tahap bermain (play stage) Di tahap ini anak sudah tahu berbagai jenis permainan bersama maupun sendiri dengan alat permainan seperti bermain games,elektronik,bermain ular tangga dan lain-lain. 4) Tahap melamun (daydream stage) Pada tahap ini anak sudah merasa besar dan tidak cocok lagi dengan bermain mobil-mobilan atau bermain dengan boneka,kecuali boneka empuk dan lucu untuk dipeluk-peluk dikamar sambil mengkhayal dan melamun. d. Smilansky (1968) dan Shefatya (1990) Teori ini merupakan adaptasi tahapan perkembangan permainan kognitif dari Piaget dan membagi perkembangan bermain kognitif anak atas 4 kategori ,yaitu: 1) Bermain fungsional Ciri-cirinya adalah sederhana,menyenangkan dengan gerakan berulang-ulang menggunkan alat atau tanpa alat,oleh anak usia samapai 2 tahun. Kegiatan bermain ini mendominasi 2 tahun pertama perkemabangan anak. Melalui bermain fungsional anak mulai merasa yakin dan mampu akan tubuh mereka. Bermain fungsional menjadi bermain konstruktif ketika anak hamya memasukkan jari-jarinya kedalam mangkok berisi cat finger painting,berubah kekegiatan menggambar suatu bentuk atau ganti menyusun dan membongkar balok-balok. 2) Bermain membangun (konstruktif) Anak-anak menciptakan sesuatu menurut suatu rencana yang tersusun sebelumnya. Kegiatan semacam ini mendominasi selama tahun prasekolah dan dapat diamati terutama pada saat bermain membangun balok diarea balok. Bermain konstruktif,merupakan bentuk permainan aktif dimana anak membangun sesuatu dengan mempergunakan bahan atau alat permaianan yang ada. Semula bersifat reproduktif, artinya anak hanya mereproduksi objek yang dilihatnya sehari- hari atau mencontoh gambar atau bentuk yang diberikan. Namun, dengan berkembangnya imajinasi anak mulai menciplak bentuk-bentuk secara orisinal sesuai dengan kreativitasnya masing- masing. 3) Bermain Khayal (dramatic play) Dalam bermain dramatisasi anak-nak menirukan tindakan-tindakan yang dihubungkan dengan sesuatu perlengkapan tertentu,berlajar berperan seolah-olah mereka adalah seseorang atau sesuatu yang tidaj asaing lagi bagi mereka. Kegiatan bermain ini mulai muncul pada anak usia prasekolah yang disebut juga tahun emasnya bermain pura-pura pada anak di TK sering muncul diarea Keluarga atau rumah tannga diman tersedia alat-alat bermain serta perlengkapan lainnya.
  • 14.
    4) Bermain denganaturan Ini berarti dalam kegiatan bermain ada aturan bermainnya seperti dalam bermain “ular tangga” atau permainan kelompok diluar seperti bermain “sapu tangan”, “tikus dan singa” dan sebagainya. Jenis permainan seperti ini mengembangkan koordinasi fisik anak,menghaluskan keterampilan sosial dan berbahasa serta membangaun konsep kerja sama dan kompetisi atau lomba. DAFTAR PUSTAKA Montolalu, B.E.F. 2005. Bermain dan permainan anak. Jakarta: universitas terbuka http://www.bersamadakwah.com/2013/04/bunda-beginilah-tahapan-bermain- anak.html http://www.slideshare.net/b_triwaluyo/bermain-dankreativitasanakusiadini- 15006694 http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Anak/Amati-Perkembangan-Bermain- Anak-Anda download at https://mellyhandayanicyrus.wordpress.com/2015/05/16/tahapan- perkembangan-bermain/ on April 08, 2020
  • 15.
    Sesi 4 JENIS-JENIS KEGIATANBERMAIN UNTUK ANAK Jenis-jenis kegiatan bermain bisa membuat anak asyik sekaligus merangsang perkembangannya. Dalam bermain anak menggunakan alat permainan sesuai dengan kebutuhan anak, begitu pula jenis kegiatan bermain sesuai dengan usia perkembangan anak. Ada berbagai jenis kegiatan bermain anak diantaranya adalah sebagai berikut:  Tactile Play/bermain dengan tangan. Merupakan kegiatan bermain yang meningkatkan keterampilan jari jemari anak serta membantu anak memahami dunia sekitarnya melalui alat perabaan dan penglihatannya. Tactile Play  Functional Play. Permainan yang mengutamakan gerakan motorik kasar/otot besar. Functional Play  Constructive Play/membangun. Permainan yang mengutamakan anak untuk membangun atau membentuk bangunan dengan media balok, lego dan sebagainya. Constructive Play
  • 16.
    Tugas 1 MK Bermaindan Permainan Jenis kegiatan bermain 1. Tactile Play/bermain dengan tangan. 2. Functional Play 3. Constructive Play/membangun 4. Creative Play/Bermain Kreatif. 5. Symbolic/Dramatic Play/bermain simbolik 6. Play Games. Buatlah analisis permainan yang cocok untuk perkembangan anak usia 2-4 tahun Note: Ketik dalam Microsoft Word
  • 17.
    PENILAIAN TENGAH SEMESTER Sesi6 Mata kuliah : Bermain dan permainan Semester : 2 Prodi : PGPAUD Dosen : Masriqon, S.Pd., M.Pd Pertanyaan: 1. sebutkan dan jelaskan teori bermain menurut 3 ahli 2. sebutkan aspek yang dapat dikembangan dalam permainan anak. 3. sebutkan dan jelaskan permainan tradisional yang anda ketahui 4. bagaimana cara anda mengembangan kemampuan bahasa menggunakan permainan edukatif. kerjakan dalam kertas folio bergaris, sertakan nama, NIM, semester, mata kuliah. Scan atau foto tugas anda dan buat dalam bentuk pdf. Kirim ke WA pribadi saya. Terima kasih
  • 18.
    BERMAIN SAMBIL BELAJAR Sesi7 Belajar sembari bermain menjadi salah satu metode belajar yang efektif dan cukup menarik terutama di kalangan anak-anak. Melalui metode pembelajaran yang satu ini, siswa menjadi lebih aktif dan kreatif. Belajar sembari bermain juga merupakan metode yang tidak membosankan, karena menyediakan media pembelajaran serta cara mengajar yang cukup menyenangkan. Metode belajar sambil menjadi salah satu metode yang sebaiknya diperhitungkan oleh para guru dalam mendidik anak didik mereka. Berikut adalah beberapa alasan kenapa metode ini sebaiknya diperhitungkan dan layak di jalankan. 1. Siswa bisa belajar sekaligus bermain dalam waktu yang bersamaan Ada kalanya siswa merasa bosan dengan cara mengajar yang monoton. Hal ini membuat mereka tidak lagi tertarik dengan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Akibatnya, siswa mudah merasa jenuh dan kosentrasi yang tidak lagi terfokus pada pelajaran. Melalui metode belajar sambil bermain, peserta didik mampu belajar seiring dengan kegiatan bermain. Melalui permainan, siswa bisa memahami ide serta konsep baru dalam proses belajar mereka. Alhasil, siswa akan mampu memahami materi yang diberikan oleh guru melalui sudut pandang yang belum mereka kenal sebelumnya. Metode belajar sambil bermain, juga membuat siswa mampu melakukan kemungkinan dan percobaan-percobaan tertentu dengan variabel yang baru. 2. Guru dapat mengajak siswa belajar melalui permainan yang mereka buat Keuntungan yang kedua, adalah guru bisa membuat siswa belajar melalui kegiatan bermain yang telah mereka atur sedemikian rupa. Melalui permainan yang menyenangkan, siswa dengan sendirinya akan mengikuti proses belajar sambil bermain yang dilakukan oleh guru. 3. Siswa bisa belajar beberapa jenis keterampilan penting Belajar sambil bermain, bukan hanya menambah pengetahuan siswa melainkan juga menambah ketampilan siswa dalam beberapa hal. Melalui metode belajar sambil bermain, siswa bisa menambah ketrampilan mereka dalam berpikir secara kritis, sportivitas, kerjasama dengan kelompok, dan menambah kreativitas. Contoh belajar sambil bermain Tepuk nama Tujuan dilakukannya kegiatan belajar sambil bemain yang satu ini adalah untuk menciptakan suasana yang akrab antar siswa serta membangun konsentrasi. Cara melakukan permainan ini adalah yang berikut ini.  Siswa membantu sebuah lingkaran yang besar  Penddidik mengajak siswa untuk berkonsentrasi lalu menjelaskan aturan permainan setahap demi setahap
  • 19.
     Ajak semuasiswa untuk melakukan gerakan melakukan tepukan secara teratur dan berirama.  2 kali tepukan di paha dan dua tepukan di depan dada  Lakukan tepukan tersebut selama beberapa menit dengan irama yang teratur  Seluruh siswa yang berkumpul, menyuarakan irama yang disesuakan dengan tepukan ma-ri ki-ta ma-in te-puk na-ma kon-sen-tra-si mu-lai  Mulai dengan menepuk paha 2 kali lalu tepukan tangan di depan dada juga 2 kali  Beri jeda pada saat menyampaikan aturan  Selanjutnya, siswa pertama menyebutkan nama hanya dengan 2 suku kata. Lanjutkan dengan jeda lalu saat tepukan di depan dada dimulai, siswa yang selanjutnya menyebutkan namanya  Lakukan kegiatan ini secara bergilir hingga kembali ke peserta yang pertama  Nama yang diucapkan tiap siswa harus berbeda dan jika ada yang sama, maka siswa akan dihukum sesuai dengan kesepakatan Permainan di atas, merupakan jenis permainan yang sebaiknya dilakukan pada kelompok baru yang masih asing satu dengan yang lain. Sehingga, permainan ini juga membuat siswa bisa mengenal satu dengan yang lainnya. Belajar sambil bermain merupakan metode balajar yang cukup menyenangkan untuk dilakukan. Dalam hal ini guru bisa membuat keadaan kelas menjadi lebih hidup dengan metode pembelajaran tersebut. Selamat mencoba 5 MANFAAT BERMAIN SAMBIL BELAJAR BAGI ANAK USIA DINI Perlu diketahui, anak usia 3 hingga 6 tahun atau usia PAUD lebih sering suka bermain. Namun jangan salah, materi pendidikan anak usia dini itu memang diarahkan untuk bermain sambil belajar. Melalui metode bermain sambil belajar ini diharapkan dapat mendukung anak untuk tumbuh serta mandiri dan memiliki kontrol atas lingkungannya. Melalui bermain pula, anak dapat menemukan hal baru. Mereka bisa bereksplorasi, meniru, dan mempraktikan kehidupan sehari-hari sebagai sebuah langkah dalam membangun ketrampilan untuk menolong dirinya sendiri. Dirangkum dari laman Ruang Guru PAUD Kemdikbud RI, berikut manfaat bermain bagi anak usia dini yang wajib diketahui orangtua: 1. Pengenalan perasaan Pengenalan perasaan termasuk untuk perkembangan emosi. Melalui bermain anak dapat belajar menerima, berekspresi dan mengatasi masalah dengan cara yang positif. Dari bermain itu pula juga memberikan kesempatan pada anak untuk mengenal diri mereka sendiri dan mengembangkan pola perilaku yang memuaskan dalam hidup. 2. Pengenalan tentang orang lain Bermain memberikan jalan bagi perkembangan sosial anak ketika berbagi dengan anak lain. Dengan bermain bisa jadi sarana yang paling utama bagi pengembangan kemampuan bersosialisasi dan memperluas empati terhadap orang lain serta mengurangi sikap egosentrisme. Barmain dapat menumbuhkan dan meningkatkan rasa
  • 20.
    sosialisasi anak. Melaluibermain anak dapat belajar perilaku prososial seperti menunggu giliran, kerja sama, saling membantu, dan berbagi. 3. Pengenalan berbagai gerak Manfaat dari pengenalan ini untuk membantu memaksimalkan perkembangan fisik. Bermain dapat memacu perkembangan perseptual motorik pada beberapa area, yaitu:  Koordinasi mata-tangan atau mata-kaki, seperti saat menggambar, menulis, manipulasi objek, mencari jejak secara visual, melempar, menangkap, menendang.  Kemampuan motorik kasar, seperti gerak tubuh ketika berjalan, melompat, berbaris, meloncat, berlari, berjingkat, berguling-guling, merayap dan merangkak.  Kemampuan bukan motorik kasar (statis) seperti menekuk, meraih, bergiliran, memutar, meregangkan tubuh, jongkok, duduk, berdiri, bergoyang.  Manajemen tubuh dan kontrol seperti menunjukkan kepekaan tubuh, kepekaan akan tempat, keseimbangan, kemampuan untuk memulai, berhenti, mengubah petunjuk. 4. Komunikasi berkembang Dengan bermain, dapat jadi alat untuk belajar kemampuan berbahasa anak. Melalui komunikasi inilah anak dapat memperluas kosakata dan mengembangkan daya penerimaan mereka. Disamping itu, melalui komunikasi anak bisa berinteraksi dengan anak-anak lain dan orang dewasa pada situasi bermain spontan. 5. Keterampilan berfikir Materi keterampilan berpikir merupakan materi yang diberikan sebagai tujuan untuk mengembangkan aspek kognitif anak. Selama bermain, anak menerima pengalaman baru, memanipulasi bahan dan alat, berinteraksi dengan orang lain dan mulai merasakan dunia mereka. Dengan bermain, tentu dapat jadi sarana menyediakan kerangka kerja anak untuk mengembangkan pemahaman tentang diri mereka sendiri, orang lain, dan lingkungan. Referensi: https://www.websitependidikan.com/2016/07/pengertian-dan-contoh-metode-belajar-sambil- bermain.html Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "5 Manfaat Bermain Sambil Belajar bagi Anak Usia Dini", https://edukasi.kompas.com/read/2020/02/04/17443741/5-manfaat-bermain- sambil-belajar-bagi-anak-usia-dini. Penulis : Albertus Adit. Editor : Yohanes Enggar Harususilo
  • 21.
    BERMAIN DAN PERMAINAN SESI8 SESI INI SILAHKAN ANDA BUAT RPPH DENGAN KETENTUAN SEBAGAI BERIKUT: 1. BUATLAH PERENCANAAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN HARIAN (RPPH) DENGAN MENGGUNAKAN PERMAINAN 2. RPPH UNTUK SATU KALI PERTEMUAN 3. STRATEGI PEMBELAJARAN 4. MEDIA PEMBELAJARAN 5. LEMBAR PENILAIAN
  • 22.
    BERMAIN DAN PERMAINAN SESI9 Buatlah video pembelajaran tanpa anak, dengan memperhatikan hal-hal berikut ini: 1. Buat video pembelajaran sesuia dengan RPPH yang anda buat pada sesi 8 (apabila tidak sesuai silahkan buat kembali) 2. Siapkan media (alat) bermain yang akan digunakan 3. Praktikan kegiatan pembelajaran meliputi: a. Pembukaan (salam, berdo’a, atau sapaan) b. Tema dan sub tema c. Bahan (alat) main d. Aspek yang dikembangkan/tujuan pembelajaran e. Kegiatan main/pembelajaran f. Penutup (salam) 4. Video diupload pada youtube (contoh bisa lihat link http://paudstkippgrimetrolampung.blogspot.com/p/blog-page_62.html 5. Kirimkan link video ke EDLINK dan via japri (WA) 6. Durasi video 4-5 menit 7. Diberi nama video sesuai materi dan media yang digunakan Catatan: a. Berpakaian yang rapi dan sopan (dilarang pakai jeans dan T-shirt) b. Suara jelas