Kelompok 6
Arfik Lujeng P (51414004)
Deni Setiawan (51414009)
Feri Ninggar A (51414018)
Yuliana Urut (51414046)
Zharah Kusuma W (51414047)
Analisis breakeven point yang sering juga disebut dengan istilah
“cost-volume-profit analysis”
Analisis ini sangat penting bagi perusahaan karena hal itu akan
:
1. Memungkinkan perusahaan untuk menentukan tingkat
operasi yang harus dilakukan agar semua operating cost
tertutup.
2. Untuk mengevaluasi tingkat-tingkat penjualan tertentu
dalam hubungannya dengan tingkat keuntungan.
Untuk dapat mengadakan analisa breakeven ini, maka perlu
terlebih dahulu diadakan pembagian biaya sesuai dengan
sifat-sifatnya.
Gambaran biaya menurut sifatnya
Sifat-sifat biaya
• Biaya tetap
Biaya tetap berhubungan dengan waktu (function of time) dan tidak
berhubungan dengan tingkat penjualan, pembayarannya didasarkan pada
periode tertentu dan besarnya sama, misalnya sewa gedung, dll.
• Biaya variable
Biaya ini berhubungan langsung dengan tingkat produksi atau penjualan, karena
besarnya ditentukan oleh berapa besar volume produksi atau penjualan
yang dilakukan misalnya, biaya tenaga kerja langsung, biaya bahan mentah.
• Biaya semivariabel
Biaya semivariabel atau semifixed cost, mempunyai ciri-ciri gabungan antara
biaya tetap dan biaya variable. Contohnya komisi bagi para salesmen yang
jumlahnya tetap sampai pada volume penjualan tertentu dan bertambah
besar pada volume penjualan yang lebih tinggi.
Penentuan Tingkat Break Even Point
Penentuan break even point dapat dilakukan baik dengan
menggunakan persamaan atau dengan menggunakan
pendekatan grafik. Disini break even point diartikan sebagai
suatu tingkat penjualan yang dapat menutup, dengan kata
lain break even point akan tercapai pada tingkat earning
before interest and taxes (EBIT) = 0
dengan menggunakan persamaan :
BEP tercapai pada tingkat EBIT = 0 , maka
Ket : P = harga jual per unit.
X = volume penjualan dalam unit.
V = biaya operasi variable/unit (variable operating cost
per unit)
F = biaya operasi tetap (fixed operating cost)
Latihan
Sebuah perusahaan mempunyai fixed operating cost
sebesar Rp. 250.000,00 dan harga jual produknya sebesar
Rp. 100,00 per unit. Untuk menghasilkan produk tersebut
dikeluarkan variable operating cost sebesar Rp. 50,00 per
unitnya.
Penyelesaian :
Kesimpulan,
Pada tingkat penjualan 5000 unit atau Rp. 500.000,00
(5000 x Rp. 100,00) EBIT yang dicapai adalah 0.
Pendekatan grafik dalam analisa break
even point
Pengaruh perubahan biaya terhadap
Break Even Point
Break even point ini sangat sensitif sekali terhadap
perubahan sejumlah faktor, khususnya a. fixed operating
cost, b. harga jual per unit hasil produksi perusahaan, c.
variabel operating cost per unit.
a. Perubahan Biaya Operasi Tetap
Dengan meningkatkan fixed operating cost maka tingkat break
even point akan meningkat pula, demikian juga halnya kalau
fixed operating cost diturunkan maka tingkat break even point
pun akan bergerak turun ketitik yang lebih rendah.
Apabila fixed operating cost dinaikan Rp. 300.000 , maka break
even pointnya akan menjadi
Pengaruh kenaikan fixed operating cost
terhadap break even point
b. Perubahan harga jual per unit
• Kenaikan harga jual per unit akan menurunkan tingkat break
even point,dan sebaliknya penurunan tingkat harga jual per
unit akan membawa pengaruh terhadap menurunnya break
even point.
Dengan menaikan harga jual per unit dari Rp 100,00 menjadi
Rp 130,00.
Pengaruh kenaikan harga jual per unit terhadap
break even point
c. Perubahan variable operating cost per unit
Meningkatnya variable cost per unit akan meninggikan tingkat
break even point, sedangkan penurunan variable cost unit
akan mempunyai pengaruh yang sebaliknya.
Pengaruh dari kenaikan variabel cost per unit dari Rp 50,00
menjadi Rp 75,00.
Pengaruh kenaikan variabel operating cost thdp
BEP
Analisa Break Even Point dalam Rupiah
Penggunaan analisa break even point dalam rupiah dari
penjualan penting sekali terutama bagi perusahaan-
perusahaan yang mempunyai bermacam-macam produk yang
dijual dengan harga yang berbeda-beda satu sama lain.
BEP tercapai pada tingkat EBIT=0, maka :
Contoh soal :
Perusahaan “ Taruna Ngineng “ mempunyai fixed operating cost
sebesar Rp.100.000,00. volume penjualan sebesar
Rp.800.000,00 dan total variable operating cost adalah
Rp.600.000,00. dengan menggunakan rumus diatas maka
akan di dapatkan hasil sebagai berikut :
Penyelesaian :
Tingkat break even point dari contoh diatas dapat
pula dihitung apabila hanya diketahui :
• Fixed Cost, harga jual per unit dan Variable Operating Cost
per unit. Kalau dalam contoh diatas, misalnya diketahui
bahwa jumlah unit yang terjual adalah sebanyak 10.000
maka harga jual per unit P adalah Rp. 80,00
(800,00/10.000) dan Variable Operating Cost per unit V
sebesar Rp 60,00 (600,00/10.000) dengan demikian apabila
data ini dimasukkan ke dalam formula untuk menghitung
tingkat Break Even Point atas dasar harga jual dan variable
Operating Cost per unit maka akan didapatan hasil sebagai
berikut :
Penyelesaian :
Dengan demikian maka pada tingkat penjualan
Rp 400.000,00 EBIT adalah 0
Perhitungan-perhitungan diatas hanya menunjukkan beberapa
volume penjualan yang harus dicapai sehingga perusahaan
tidak mengalami EBIT yang negatif maupun yang positif.
Untuk menghitung volume penjualan pada tingkat EBIT yang
diinginkan maka jumlah kelebihan EBIT tersebut harus
ditambahkan kedalam jumlah Fixed Cost, dan proses
selanjutnya adalah sama .
CONTOH SOAL
• Perusahaan “ Batu Rea “ menjual produknya dengan harga
Rp.100,00 per unit dan untuk itu perusahaan harus
mengeluarkan Variable Operating Cost Rp.60,00 per unit dan
Fixed Operating Cost sebesar Rp.25.000,00 perusahaan
merencanakan untuk mencapai tingkat EBIT sebesar
Rp.10.000,00. berapakah tingkat penjualan yang harus dicapai
oleh perusahaan ?
Analisa kas break even point
• Analisa ini mengenal adanya perbedaan di antara jumlah
biaya(expenses) dengan pengeluaran kas yang
sesungguhnya. Perbedaan tersebut karena di dalam
komponen fixed cost terdapat biaya-biaya yang tidak
memerlukan pengeluaran uang kas(non cash charges), non
cash ini menyebabkan titik break even dicapai pada tingkat
penjualan yang lebih tinggi (overstated). Oleh karena itu,
dalam analisa kas BEP semua biaya-biaya non cash tersebut
harus dikeluarkan.
Penentuan tingkat kas BEP dapat dilakukan dengan
formula sbb;
CONTOH SOAL
• Perusahaaan “ Angin Renas “ mempunyai fixed operating
cost sebesar Rp.25.000,00 dimana di dalamnya termasuk
non cash charges (depresiasi) sebesar Rp. 15.000,00. Harga
jual per unit dan variabel operating cost dari produknya
masing-masing sebesar Rp.100,00 dan Rp. 50,00.
Berdasarkan data di atas, maka kas break even point dari
perusahaan “ Angin Renas “ adalah :
Grafik break even dan kas break even point
Break even point untuk lebih dari satu macam
produk
Untuk mencari break even point dari dua atau lebih produk
maka perhitungannya sedikit berbeda dengan cara mencari
break even point satu jenis produk, karena adanya variabel
operating cost dan harga jual per unit yang berbeda dari
masing-masing jenis produk.
Contoh Soal
Perusahaan “Tantar Matano “ yang bergerak dalam bidang
produksi “kain batik” dan “Stagen” merencakan perluasan
daerah pemasarannya meliputi wilayah Jawa Timur, Bali,
Lombok, dan Sumbawa. Penjualan kain batik direncanakan
sebesar 25.000 unit a Rp 3.500,00 dan stagen sebesar 15.000
unit a Rp 1.000,00. Variable Operating Cost unstuck masing-
masing jenis produk adalah Rp 2.000,00 per unit kain batik,
dan Rp 600,00 per unit stagen, sedangkan Fixed operating
cost unstuck kedua jenis produk tersebut Rp 28.275.000,00.
hitunglah break even point untuk kedua jenis produk tersebut
baik dalam rupiah maupun dalam unit penjualan.
a.Break Even Point dalam rupiah
b.Break Even Point dalam unit
Jadi break even point tercapai pada titik penjualan sebesar 26.000
unit, masing-masing 16.250 unit untuk kain batik (25/40 x 26.000)
dan 9.750 unit untuk stagen(15/40x 26.000).
Kesimpulan
Untuk lebih jelasnya maka tingkat break even point sebesar 26.000
unit tersebut diuji kebenaranya sebagai berikut :
Kelemahan-kelemahan dalam analisa Break Even
Point
Kelemahan-kelemahan utama dalam break even point antara
lain :
• Asumsi tentang linearity
• Klasifikasi cost
• Jangka waktu penggunaan
TERIMAKASIH

Analisis Break Even Point Lengkap

  • 1.
    Kelompok 6 Arfik LujengP (51414004) Deni Setiawan (51414009) Feri Ninggar A (51414018) Yuliana Urut (51414046) Zharah Kusuma W (51414047)
  • 2.
    Analisis breakeven pointyang sering juga disebut dengan istilah “cost-volume-profit analysis” Analisis ini sangat penting bagi perusahaan karena hal itu akan : 1. Memungkinkan perusahaan untuk menentukan tingkat operasi yang harus dilakukan agar semua operating cost tertutup. 2. Untuk mengevaluasi tingkat-tingkat penjualan tertentu dalam hubungannya dengan tingkat keuntungan. Untuk dapat mengadakan analisa breakeven ini, maka perlu terlebih dahulu diadakan pembagian biaya sesuai dengan sifat-sifatnya.
  • 3.
  • 4.
    Sifat-sifat biaya • Biayatetap Biaya tetap berhubungan dengan waktu (function of time) dan tidak berhubungan dengan tingkat penjualan, pembayarannya didasarkan pada periode tertentu dan besarnya sama, misalnya sewa gedung, dll. • Biaya variable Biaya ini berhubungan langsung dengan tingkat produksi atau penjualan, karena besarnya ditentukan oleh berapa besar volume produksi atau penjualan yang dilakukan misalnya, biaya tenaga kerja langsung, biaya bahan mentah. • Biaya semivariabel Biaya semivariabel atau semifixed cost, mempunyai ciri-ciri gabungan antara biaya tetap dan biaya variable. Contohnya komisi bagi para salesmen yang jumlahnya tetap sampai pada volume penjualan tertentu dan bertambah besar pada volume penjualan yang lebih tinggi.
  • 5.
    Penentuan Tingkat BreakEven Point Penentuan break even point dapat dilakukan baik dengan menggunakan persamaan atau dengan menggunakan pendekatan grafik. Disini break even point diartikan sebagai suatu tingkat penjualan yang dapat menutup, dengan kata lain break even point akan tercapai pada tingkat earning before interest and taxes (EBIT) = 0 dengan menggunakan persamaan : BEP tercapai pada tingkat EBIT = 0 , maka Ket : P = harga jual per unit. X = volume penjualan dalam unit. V = biaya operasi variable/unit (variable operating cost per unit) F = biaya operasi tetap (fixed operating cost)
  • 6.
    Latihan Sebuah perusahaan mempunyaifixed operating cost sebesar Rp. 250.000,00 dan harga jual produknya sebesar Rp. 100,00 per unit. Untuk menghasilkan produk tersebut dikeluarkan variable operating cost sebesar Rp. 50,00 per unitnya. Penyelesaian : Kesimpulan, Pada tingkat penjualan 5000 unit atau Rp. 500.000,00 (5000 x Rp. 100,00) EBIT yang dicapai adalah 0.
  • 7.
    Pendekatan grafik dalamanalisa break even point
  • 8.
    Pengaruh perubahan biayaterhadap Break Even Point Break even point ini sangat sensitif sekali terhadap perubahan sejumlah faktor, khususnya a. fixed operating cost, b. harga jual per unit hasil produksi perusahaan, c. variabel operating cost per unit.
  • 9.
    a. Perubahan BiayaOperasi Tetap Dengan meningkatkan fixed operating cost maka tingkat break even point akan meningkat pula, demikian juga halnya kalau fixed operating cost diturunkan maka tingkat break even point pun akan bergerak turun ketitik yang lebih rendah. Apabila fixed operating cost dinaikan Rp. 300.000 , maka break even pointnya akan menjadi
  • 10.
    Pengaruh kenaikan fixedoperating cost terhadap break even point
  • 11.
    b. Perubahan hargajual per unit • Kenaikan harga jual per unit akan menurunkan tingkat break even point,dan sebaliknya penurunan tingkat harga jual per unit akan membawa pengaruh terhadap menurunnya break even point. Dengan menaikan harga jual per unit dari Rp 100,00 menjadi Rp 130,00.
  • 12.
    Pengaruh kenaikan hargajual per unit terhadap break even point
  • 13.
    c. Perubahan variableoperating cost per unit Meningkatnya variable cost per unit akan meninggikan tingkat break even point, sedangkan penurunan variable cost unit akan mempunyai pengaruh yang sebaliknya. Pengaruh dari kenaikan variabel cost per unit dari Rp 50,00 menjadi Rp 75,00.
  • 14.
    Pengaruh kenaikan variabeloperating cost thdp BEP
  • 15.
    Analisa Break EvenPoint dalam Rupiah Penggunaan analisa break even point dalam rupiah dari penjualan penting sekali terutama bagi perusahaan- perusahaan yang mempunyai bermacam-macam produk yang dijual dengan harga yang berbeda-beda satu sama lain. BEP tercapai pada tingkat EBIT=0, maka :
  • 16.
    Contoh soal : Perusahaan“ Taruna Ngineng “ mempunyai fixed operating cost sebesar Rp.100.000,00. volume penjualan sebesar Rp.800.000,00 dan total variable operating cost adalah Rp.600.000,00. dengan menggunakan rumus diatas maka akan di dapatkan hasil sebagai berikut : Penyelesaian :
  • 17.
    Tingkat break evenpoint dari contoh diatas dapat pula dihitung apabila hanya diketahui : • Fixed Cost, harga jual per unit dan Variable Operating Cost per unit. Kalau dalam contoh diatas, misalnya diketahui bahwa jumlah unit yang terjual adalah sebanyak 10.000 maka harga jual per unit P adalah Rp. 80,00 (800,00/10.000) dan Variable Operating Cost per unit V sebesar Rp 60,00 (600,00/10.000) dengan demikian apabila data ini dimasukkan ke dalam formula untuk menghitung tingkat Break Even Point atas dasar harga jual dan variable Operating Cost per unit maka akan didapatan hasil sebagai berikut :
  • 18.
    Penyelesaian : Dengan demikianmaka pada tingkat penjualan Rp 400.000,00 EBIT adalah 0
  • 19.
    Perhitungan-perhitungan diatas hanyamenunjukkan beberapa volume penjualan yang harus dicapai sehingga perusahaan tidak mengalami EBIT yang negatif maupun yang positif. Untuk menghitung volume penjualan pada tingkat EBIT yang diinginkan maka jumlah kelebihan EBIT tersebut harus ditambahkan kedalam jumlah Fixed Cost, dan proses selanjutnya adalah sama .
  • 20.
    CONTOH SOAL • Perusahaan“ Batu Rea “ menjual produknya dengan harga Rp.100,00 per unit dan untuk itu perusahaan harus mengeluarkan Variable Operating Cost Rp.60,00 per unit dan Fixed Operating Cost sebesar Rp.25.000,00 perusahaan merencanakan untuk mencapai tingkat EBIT sebesar Rp.10.000,00. berapakah tingkat penjualan yang harus dicapai oleh perusahaan ?
  • 21.
    Analisa kas breakeven point • Analisa ini mengenal adanya perbedaan di antara jumlah biaya(expenses) dengan pengeluaran kas yang sesungguhnya. Perbedaan tersebut karena di dalam komponen fixed cost terdapat biaya-biaya yang tidak memerlukan pengeluaran uang kas(non cash charges), non cash ini menyebabkan titik break even dicapai pada tingkat penjualan yang lebih tinggi (overstated). Oleh karena itu, dalam analisa kas BEP semua biaya-biaya non cash tersebut harus dikeluarkan.
  • 22.
    Penentuan tingkat kasBEP dapat dilakukan dengan formula sbb;
  • 23.
    CONTOH SOAL • Perusahaaan“ Angin Renas “ mempunyai fixed operating cost sebesar Rp.25.000,00 dimana di dalamnya termasuk non cash charges (depresiasi) sebesar Rp. 15.000,00. Harga jual per unit dan variabel operating cost dari produknya masing-masing sebesar Rp.100,00 dan Rp. 50,00. Berdasarkan data di atas, maka kas break even point dari perusahaan “ Angin Renas “ adalah :
  • 24.
    Grafik break evendan kas break even point
  • 25.
    Break even pointuntuk lebih dari satu macam produk Untuk mencari break even point dari dua atau lebih produk maka perhitungannya sedikit berbeda dengan cara mencari break even point satu jenis produk, karena adanya variabel operating cost dan harga jual per unit yang berbeda dari masing-masing jenis produk.
  • 26.
    Contoh Soal Perusahaan “TantarMatano “ yang bergerak dalam bidang produksi “kain batik” dan “Stagen” merencakan perluasan daerah pemasarannya meliputi wilayah Jawa Timur, Bali, Lombok, dan Sumbawa. Penjualan kain batik direncanakan sebesar 25.000 unit a Rp 3.500,00 dan stagen sebesar 15.000 unit a Rp 1.000,00. Variable Operating Cost unstuck masing- masing jenis produk adalah Rp 2.000,00 per unit kain batik, dan Rp 600,00 per unit stagen, sedangkan Fixed operating cost unstuck kedua jenis produk tersebut Rp 28.275.000,00. hitunglah break even point untuk kedua jenis produk tersebut baik dalam rupiah maupun dalam unit penjualan.
  • 27.
    a.Break Even Pointdalam rupiah
  • 28.
    b.Break Even Pointdalam unit Jadi break even point tercapai pada titik penjualan sebesar 26.000 unit, masing-masing 16.250 unit untuk kain batik (25/40 x 26.000) dan 9.750 unit untuk stagen(15/40x 26.000).
  • 29.
    Kesimpulan Untuk lebih jelasnyamaka tingkat break even point sebesar 26.000 unit tersebut diuji kebenaranya sebagai berikut :
  • 30.
    Kelemahan-kelemahan dalam analisaBreak Even Point Kelemahan-kelemahan utama dalam break even point antara lain : • Asumsi tentang linearity • Klasifikasi cost • Jangka waktu penggunaan
  • 31.