Diterbitkan oleh :
Pusat Penelitian dan Pengembangan PT. Kalbe Farma

Daftar Isi :
2. Editorial
Artikel :

Karya Sriwidodo

3. Akupunktur dan Perkembangannya
6. Sejarah Perkembangan Unit Akupunktur Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo
8. Beberapa Alat Elektronik Yang Dipakai dalam Akupunktur
14. Pengobatan Vitiligo dengan Akupuntur
17. Pengaruh Akupunktur terhadap Nilai Gama Globulin
20. Efek Penusukan Titik San Yin Ciao (IV, 6) terhadap Hiperglikemia pada NIDDM
24. Efek Akupunktur pada Hiperlipoproteinemia
31. Akupunktur Analgesi pada Bedah Beku di Daerah Penis
35. Pengobatan Nyeri Kepala dengan Akupunktur
37. Sonopunktur
Percobaan Awal Pembuatan Antibodi Monoklonal terhadap
"Human Chorionic Gonadotropin" dengan Metoda Hibridoma
43. Imunmodulator
47. Gambaran Preskripsi Obat-obat Benzodiazepin pada Tiga
Rumah Sakit Kelas C di Jawa
50. Dilema pada Hewan Percobaan untuk Pemeriksaan Produk
Biologis
40.

53. Perkembangan : Aplikasi Ceretec pada Scanning Perfusi
Serebral

Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak
selalu merupakan pandangan atau kebijakan
instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis

54.
56.
58.
59.
60.

Hukum & Etika : Tepatkah Tindakan Saudara ?
Humor Ilmu Kedokteran
Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran
Kalender Kegiatan Ilmiah
Abstrak-abstrak
Entah benar tidak, konon pada laman dahulu ada seorang prajurit yang kebetulan
sedang sakit, terkena panah dalam suatu pertempuran. Yang aneh adalah, memang
ia luka karena anak panah itu, tetapi penyakit yang sedang dideritanya malah
sembuh. Maka, dimulailah era pengobatan akupunktur.
Walaupun mekanisme kerja akupunktur itu sampai kini masih membingungkan, tapi mau tidak mau kita akan tercengang dan percaya, bahwa efek penyembuhan yang dilakukan dengan cara menusukkan jarum jarum halus pada titiktitik tertentu di kulit
dengan kedalaman hanya beberapa milimeter - itu ada
dan terbukti. Bahkan, indikasi penggunaannya demikian banyak dan luas, jauh
melebihi yang dapat kita bayangkan semula!
Ada sekian ratus titik pada tubuh kita,
yang tercakup dalam 12 meridian
umum, 12 meridian cabang, dan 8 meridian istimewa, ditambah lagi titik-titik
"ah se", yaitu titik lokal di mana tempat nyeri berada; sehingga dalam menentukan titik-titik penusukan, seorang ahli akupunktur harus juga mempunyai jiwa
seni. Walaupun memang ada patokan titik-titik tertentu untuk suatu penyakit,
tetapi seorang ahli yang berpengalaman akan menentukan sendiri titik-titik
pilihannya berdasarkan hasil. pemeriksaannya dan pengetahuannya mengenai
ilmu akupunktur.
Anehnva lagi, walaupun ilmu ini berasal dari dunia bagian Timur, namun
nyatanya ia menjadi populer lewat dunia Barat. Ini mungkin sekali karena publikasi baik melalui tulisan atau cara-cara lain, dunia Timur tertinggal dari dunia
Barat.
Kini, bermacam peralatan canggih telah diciptakan, sehingga pengobatan
secara akupunktur semakin canggih pula dan
modern. Ada elektrostimulator,
neurometer, dermatron, ultrasound, alat laser; sampai sampai kepada vulpen
akupunktur yang menggunakan baterei dan dapat digunakan sendiri dengan
hanya menempelkan pada kulit. Alat yang praktis dan sederhana ini, katanya
akan dapat menggantikan kedudukan Aspirin, karena ia bebas dari efek samping!
Redaksi

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987
Artikel

Akupunktur dan Perkembangannya
Dr. Dharma K. Widya
Unit Akupunktur Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo,
Jakarta

PENDAHULUAN
Istilah akupunktur berasal dari kata acus yang berarti jarum
dan punctura yang berarti menusuk atau menembus. Akupunktur merupakan suatu cara pengobatan dengan penusukan
titik-titik tertentu di permukaan tubuh untuk mengobati suatu
penyakit. Ia merupakan bagian dari Ilmu Pengobatan Cina dan
telah dikenal sejak kira-kira empat-lima ribu tahun yang lalu.
Hal itu diungkapkan dalam buku "The Yellow Emperors
Classic of Internal Medicine", suatu ensiklopedi Ilmu Pengobatan Cina yang diterbitkan sekitar tahun 770—221 sebelum
Masehi. Bahan jarum yang digunakan mula-mula adalah dari
batu, kemudian berubah dengan digunakannya bahan dari
bambu, tulang, perunggu, dan logam-logam lainnya. Pada saat
ini telah dikembangkan berbagai teknik untuk perangsangan
titik akupunktur sebagai pengganti jarum, seperti Ultrasound,
Laser, dan lain-lain.
Cara pengobatan ini berkembang ke Korea, Jepang dan
negara-negara lain. Wilhelem ten Rhyne, seorang dokter
VOC dalam bukunya mengenai rematik yang diterbitkannya
di London pada tahun 1683 mengungkapkan pengobatan
rematik dengan akupunktur. Engelbert Kampfer, seorang
Jerman, di Jepang mempelajari Ilmu Akupunktur dan menulis tentang akupunktur dalam bukunya yang terbit pada
tahun 1712. Di Perancis dan di Inggris akupunktur dikenal
pula sejak abad XVIII. Pada abad XX ini akupunktur menarik minat kalangan medis di Amerika Serikat, walaupun
sebelumnya telah dikenal dalam kalangan terbatas. Di Indonesia sendiri pada tahun 1963 dibentuk Team Riset Ilmu
Pengobatan Tradisional Timur termasuk akupunktur atas
instruksi Menteri Kesehatan saat itu, Prof. Dr. Satrio. Dan
mulai saat itu pengobatan akupunktur diadakan secara resmi
di Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta.

KONSEP DASAR
Di dalam sejarah perkembangan akupunktur dikenal
beberapa konsep dasar sebagai berikut:

• Yin Yang
Teori ini menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta
ini dapat dibagi dan mempunyai dua aspek yang saling bertentangan tapi saling membentuk, bagaikan dua sisi mata
uang yang paling bertolak belakang tetapi keduanya membentuk suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Yang melambangkan sesuatu yang positif, terang, atas, panas, siang, simpatis, ekstrovert, progresif, akut dan sejenisnya. Sedangkan
Yin melambangkan sesuatu yang negatif, gelap, bawah, dingin,
malam, parasimpatis, introvert, regresif, kronis dan sejenisnya. Panilaian Yin dan Yang tidaklah mutlak. Sesuatu yang
bersifat Yang akan menjadi bersifat Yin bila dibandingkan
dengan sesuatu yang lebih Yang, dan sebaliknya. Di dalam
unsur Yin terdapat Yang, di dalam unsur Yang terdapat
Yin, tiada sesuatu yang bersifat Yin mutlak atau Yang mutlak.
Yin dan Yang membentuk keseimbangan. Hilangnya kesei mbangan antara Yin dan Yang akan menyebabkan timbulnya keadaan abnormal/patologis.

• Lima Unsur/Lima Fase
Teori ini berkembang dari Teori Yin Yang. Dengan menilai
sifat-sifat khusus dari suatu benda dan kuat lemahnya unsur
Yin dan Yang di dalamnya, maka digolongkanlah bendabenda dalam Lima Unsur atau Lima Fase. Disebut Lima Fase
karena melambangkan proses alamiah yang dialami oleh sesuatu benda sejak awal terciptanya sampai termusnah. Kelima
unsur/fase tersebut adalah: Kayu—Api—Tanah—Logam—Air.
Kelimanya membentuk suatu siklus yang saling berhubungan
satu sama lain dan tiap unsur mempunyai hubungan tertentu

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

3
dengan unsur lainnya secara khusus. Penerapan teori ini dalam
pengobatan merupakan suatu hal yang agak kompleks.
• Ci dan Meridian
Yang dimaksud dengan Ci (pada manusia) adalah energi yang
terdapat dalam tubuh manusia yang memberikan "kehidupan"
pada seluruh bagian tubuh tersebut. Selain itu dikenal pula
adanya Ci yang terdapat dalam udara, makanan dan sebagainya. Ci mengalir dalam saluran tertentu dalam tubuh manusia
yang tersusun teratur secara membujur dan melintang yang
disebut meridian. Terdapat 12 meridian umum, 12 meridian
cabang, 8 meridian istimewa dan sebagainya yang kesemuanya membentuk suatu sistem saluran tersendiri dalam tubuh
bagaikan jala yang terjalin erat. Dengan adanya sistem meridian ini maka perangsangan titik akupunktur di permukaan
tubuh dapat disalurkan ke tempat-tempat yang dituju.
MEKANISME KERJA
Di dalam il mu Akupunktur, keadaan sakit terjadi apabila
timbul ketidakseimbangan antara Yin dan Yang dalam tubuh.
Ketidakseimbangan itu dapat berupa suatu ekses (hiperfungsi,
terlalu kuat) atau defisien (hipofungsi, terlalu lemah). Hal itu
dapat disebabkan oleh berbagai penyebab penyakit seperti
keadaan cuaca/udara, gangguan emosi, kebiasaan makanminum yang salah, cara hidup yang keliru, trauma dan sebagainya. Dengan pemeriksaan akupunktur dapat ditentukan
diagnosis, lokasi kelainan, penyebab penyakit dan dengan
demikian dapat pula ditentukan titik-titik dan cara stimulasi
yang diperlukan untuk memulihkan keseimbangan yang terganggu itu. Keadaan yang defisien harus diperkuat dengan
stimulasi ringan dan keadaan yang ekses harus dilemahkan
dengan stimulasi kuat. Terdapat berbagai titik akupunktur
yang mempunyai indikasi khusus untuk maksud tersebut,
selain dikenal pula titik simtomatik untuk menghilangkan
keluhan tertentu.
Berbagai penelitian telah dilakukan dalam kalangan kedokteran modern untuk menyelidiki akupunktur dalam
berbagai aspeknya. Kini telah diketahui bahwa titik akupunktur mempunyai sifat - sifat yang berbeda dengan daerah
kulit di sekitarnya, seperti potensial listrik lebih tinggi, tahanan listrik lebih rendah, daya hantar listrik lebih tinggi, daya
hantar gelombang suara lebih tinggi, mempunyai hubungan
dengan saraf otonom (titik akupunktur disebut pula zone
of autonomic concentration) dan sebagainya. Adanya titik
akupunktur dapat diperlihatkan dengan point detector dari
alat akupunktur listrik. Namun sampai saat ini belum didapatkan keterangan yang memuaskan mengenai mekanisme
kerja akupunktur secara menyeluruh. Berbagai teori telah
dikemukakan untuk mencoba menjelaskan hal itu. Antara
lain dikemukakan bahwa akupunktur bekerja melalui susunan saraf pusat, susunan saraf otonom, refleks kutaneoviseral/visero-kutaneal, mobilisi pertahanan dan regenerasi
jaringan, pelepasan zat-zat neurohumoral, teori stres dan
adaptasi, teori Gate Control dan lain-lain. Akhir-akhir ini
dikemukakan pula teori adanya perangsangan pelepasan
senyawa morfin endogen dalam tubuh sebagai akibat pe4

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

rangsangan titik akupunktur. Hal tersebut menyebabkan
ambang rangsang nyeri meninggi dan menimbulkan efek
analgesi .
INDIKASI DAN KONTRA INDIKASI
Akupunktur telah digunakan untuk mengobati berbagai
penyakit, baik secara tersendiri ataupun bersama cara pengobatan lain. Laporan "The New York State Commision on
Acupuncture" (1974) menyatakan bahwa akupunktur telah
digunakan untuk analgesi dalam berbagai bidang pembedahan dan untuk mengobati berbagai penyakit. Dinyatakan
pula bahwa akupunktur paling efektif untuk pengobatan
spasme otot rangka, spasme otot visera seperti dismenore dan
diare. Keadaan lain yang seringkali dapat diobati dengan
akupunktur adalah neuralgia trigeminal, hipertensi, hipotensi,
bronkitis kronis, asma bronkiale, gejala putus obat dari
penderita ketagihan obat, sakit kepala (migraine dan tension),
artritis (khususnya osteoartritis), insomnia, konstipasi, paralisis
(pasca cardio-vascular accidents), kelainan dengan komponen
fungsional yang menonjol, dan neuralgia post-herpetica,
serta tuli neurogenik. Dikemukakan pula adanya berbagai
efek akupunktur yang menarik. Misalnya peningkatan sel
darah putih dalam sirkulasi darah, penurunan kadar kolesterol dan trigliserida, peningkatan gamma globulin, efek normalisasi pada tekanan darah dan denyut jantung, percepatan
masa persalinan; yang kesemuanya memerlukan penelitian
lebih lanjut.
Selanjutnya laporan itu menyatakan pula bahwa apabila
akupunktur dilakukan oleh seorang dokter atau akupunkturis
yang terlatih dengan baik, dan menguasai anatomi dan neurologi, maka tindakan penusukan akupunktur adalah sangat
aman. Terdapat titik-titik yang telarang untuk ditusuk atau
harus ditusuk dengan sangat hati-hati. Masalah sterilisasi dan
tindakan aseptik pun harus mendapat perhatian untuk mencegah bahaya infeksi. Efek samping yang umum adalah sincope, selain itu dapat terjadi pneumotoraks, hematom, kerusakan saraf, perangsangan saraf, tinitus, anestesi dan gangguan keseimbangan dan eksaserbasi gejala yang ada atau nyeri
yang diobati. Yang terakhir ini biasanya mereda dalam satu
atau dua hari dengan pengobatan tambahan. Namun ada pula
efek samping yang menguntungkan. Tidak jarang seorang
pasien wanita yang berobat untuk migraine melaporkan adanya perbaikan dalam kelainan menstruasinya, atau sebaliknya.
Atau pasien yang diobati untuk nyeri pinggang bawah mendapat perbaikan dalam kebiasaan defekasi atau inkontinensia
urin. Hal itu menunjukkan adanya efek normalisasi dari
fungsi organ pada penusukan akupunktur. Kontra indikasi
akupunktur adalah: kehamilan (dapat menyebabkan abortus
pada kehamilan muda), keadaan di mana akupunktur diketahui tidak akan efektif, pasien yang belum diperiksa secara medis dengan teliti, keganasan, infeksi akut/aktif, keadaan yang
memerlukan tindakan operatif.
Di dalam majalah WHO Edisi Desember 1979, terdapat
daftar dari penyakit-penyakit yang memungkinkan untuk diobati dengan akupunktur, diajukan oleh The WHO Inter-
regional Seminar sebagai berikut :
— Saluran pernapasan atas : sinusitis akut, rinitis akut, common cold, tonsilitis akut.
— Sistem pernapasan: bronkitis akut, asma bronkiale (paling
efektif pada anak-anak dan penderita tanpa komplikasi).
— Kelainan mata: konjungtivitis akut, retinitis sentralis,
miopia (pada anak-anak), katarak (tanpa komplikasi).
— Kelainan mulut nyeri gigi, nyeri pasca pencabutan, gingivitis, faringitis akut dan kronis.
— Kelainan gastro-intestinal spasme esofagus dan kardia,
hiccough, gastroptosis, gastritis akut dan kronis, hiperasiditas gaster, ulkus duodenum kronis (penyembuhan
nyeri), ulkus duodenum akut (tanpa komplikasi), kolitis
akut dan kronis, disentri basiler akut, konstipasi, diare,
ileus paralitik.
— Kelainan neurologik dan muskulo-skeletal: nyeri kepala,
migraine, neuralgia trigeminal, kelumpuhan muka (stadium
awal, yaitu dalam tiga sampai enam bulan), paresis pasca
stroke, neuropati perifer, sekuele poliomielitis (stadium
awal, yaitu dalam enam bulan), penyakit Meniere, disfungsi
kandung kemih neurogenik, enuresis nokturnal, neuralgia
interkostal, sindroma servikobrakial,frozen shoulder, tennis
elbow, skiatika, nyeri pinggang bawah,osteoartritis.
PENUTUP
Akupunktur yang dikenal sejak beberapa ribu tahun yang
lalu ternyata merupakan salah satu cara pengobatan yang
terbukti efektif sampai sekarang. Berbagai penemuan dan penelitian yang berhubungan dengan akupunktur telah dikembangkan. Pada sat ini terdapat berbagai teknik baru dan alatalat listrik yang membantu dalam diagnosis dan terapi, antara

lain:
— Akupunktur telinga, akupunktur kulit kepala, akupunktur
muka, akupunktur hidung, akupunktur tangan, akupunktur
kaki.
— Aquapunktur (injeksi titik akupunktur dengan zat tertentu), elektroakupunktur rangsangan/getaran listrik pada
jarum akupunktur/titik akupunktur), Sonopunktur (stimulasi titik akupunktur dengan ultrasound), Laserpunktur
(stimulasi titik akupunktur dengan sinar Laser).
— Ryodoraku (Nakatani): melihat kelainan pada meridian
dengan pengukuran hantaran listrik pada titik tertentu di
kulit, juga dapat untuk terapi dengan stimulasi listrik pada

reactive electro-permeable point.
— Akabane: pemeriksaan sensitivitas panas pada titik yang terdapat di ujung jari yang merupakan titik akhir meridian;
ketidakseimbangan yang besar antara kiri dan kanan menyatakan adanya ketidakseimbangan meridian/organ yang
bersangkutan.
— Electro-acupuncture According to Voll (EAV): suatu alat
untuk mengetahui kadaan patologis organ-organ dalam
tubuh dengan pengukuran pada titik-titik tertentu dan
dapat pula digunakan untuk terapi.
— Fotografi Kirlian Kirlian : teknik fotografi yang memperlihatkan adanya emisi panas dari titik akupunktur/
meridian.
Sebagai suatu cara pengobatan yang sederhana, murah dan
efektif, akupunktur diharapkan dapat memberikan sumbangannya untuk peningkatan kesehatan masyarakat khususnya
di negara-negara yang sedang berkembang. Dinyatakan dalam
majalah WHO 1979, titik tolak masalahnya kini bukanlah:
"Does acupuncture work?", tetapi ' How can acupuncture

best applied to serve humanity?"

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

5
Sejarah Perkembangan Unit
Akupunktur Rumah Sakit
Cipto Mangunkusumo
Dr. Haryanto Budi

Unit Akupunktur RS. Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Akupunktur merupakan salah satu cabang Ilmu Kedokteran
Timur yang telah lama dikenal di Indonesia, bersama dengan
datangnya perantau Cina ke Indonesia. Namun suatu lembaga
pengobatan akupunktur resmi di Indonesia baru muncul pada
tahun 1963. Pada tahun itu oleh Menteri Kesehatan R.I. dibentuk team riset Ilmu Pengobatan Timur, dengan tujuan meneliti dan mengembangkan pengobatan Timur, antara lain
tentang penggunaan jamu dan akupunktur sebagai sarana peningkatan kesehatan masyarakat. Ditetapkan Rumah Sakit
Umum Pusat di Jakarta sebagai pilot proyek dalam bidang
akupunktur.
Beberapa dokter dari berbagai bidang keahlian di lingkungan FKUI/RSCM mengikuti pendidikan Ilmu Akupunktur di
RSCM. Untuk pertama-kalinya pendidikan tersebut diberikan
oleh team dokter dari Republik Rakyat Cina, di bawah pimpinan Dr. Huang Sien Ming yang datang ke Indonesia atas
undangan Pemerintah R.I. Dalam pengamatan klinik telah dilihat manfaat pengobatan akupunktur dan ternyata sambutan
masyarakat cukup besar. Klinik Akupunktur RSCM ini kemudian berkembang menjadi Sub-bagian Akupunktur dari
bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM. Kepala Sub-bagian
ini adalah Prof. Dr. Oei Eng Tie. Poliklinik pada saat itu bertempat di barak 2 RSCM dengan 3 tempat tidur untuk penderita rawat jalan.
Pada tahun 1966, Direktur RSCM memberi kesempatan
bagi calon dokter lulusan FKUI untuk melamar menjadi
asisten ahli Akupunktur, di samping kesempatan untuk melamar sebagai asisten ahli Pulmonologi dan Kardiologi. Pada
tahun 1967, Sub-bagian Akupunktur FKUI/RSCM berkembang menjadi Bagian Akupunktur RSCM dengan bertempat
di sudut gedung Eykman di sayap kanan kompleks RSCM.
Poliklinik Akupunktur saat itu memiliki 9 tempat tidur untuk
penderita rawat jalan dan dikelola oleh 5 orang dokter.
Sejak tahun 1969, pimpinan
Bagian Akupunktur RSCM
dipercayakan kepada Dr. Juliar Sihlman, setelah beliau mem6

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

perdalam Ilmu Akupunktur selama setahun lebih pada Ludwig
Boltzmann Acupuncture Institute, Vienna. Beliau menyusun
buku sederhana yang memberi petunjuk tentang titik-titik
akupunktur, yang merupakan buku akupunktur pertama
dalam bahasa Indonesia.
Pada tahun 1970, untuk pertama kalinya Bagian Akupunktur RSCM memberikan keterangan keahlian dalam bidang
Ilmu Akupunktur kepada beberapa dokter yang sudah cukup
lama belajar dan bekerja di Bagian Akupunktur RSCM, antara
lain kepada Dr. Tse Ching San, Dr. Erastus Wangsa Saputra,
Dr. Stefanus Wiran dan Dr. Haryanto Budi yang sampai saat
ini semua masih bertugas membina Unit Akupunktur RSCM;
juga kepada Dr. Kiswojo yang kemudian pindah tugas ke ternpat lain.
Menjelang akhir masa jabatan Dr. Juliar Sihlman, yaitu pada
tahun 1971, pimpinan Bagian Akupunktur RSCM dipercayakan kepada Dr. Tse Ching San. Menyadari akan minat penderita untuk berobat akupunktur yang meningkat serta timbulnya minat para dokter untuk mempelajari Ilmu Akupunktur,
Bagian Akupunktur menyiapkan diri dengan menyusun kurikulum pendidikan dokter ahli akupunktur, serta melengkapinya dengan buku-buku ilmiah tentang Ilmu Akupunktur.
Pada tahun 1972, Ilmu Akupunktur menarik perhatian ilmu
Kedokteran Barat setelah kunjungan Presiden Amerika Serikat
ke RRC. Pada tahun itu pula Bagian Akupunktur RSCM untuk
pertama kalinya mendapat kepercayaan dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia, yang mengirimkan 3 orang dokter
untuk dididik menjadi dokter ahli dalam bidang Ilmu Akupunktur. Sejak itu hampir setiap tahun Bagian Akupunktur
RSCM menerima tugas dari Departemen Kesehatan RI untuk
mendidik 3 — 4 orang dokter menjadi dokter ahli akupunktur.
Pada tahun 1973, Bagian Akupunktur RSCM dengan bantuan Departemen Sosial menerbitkan buku tentang llmu Akupunktur yang pert ama di Indonesia. Juga dibuat peta akupunktur dalam tulisan latin dan disusun status poliklinik khusus
pengobatan akupunktur. Pada tahun 1974 dan 1982 telah diilmiah kedokteran. Sebagai sarana penunjang, pada saat ini
lakukan revisi kurikulum pendidikan dokter ahli akupunktur, tersedia lebih dari 200 judul buku ilmiah Ilmu Akupunktur
dan dengan kurikulum ini masa pendidikan adalah 3 tahun. dalam bahasa lnggris , Jerman, Petancis dan Indonesia, serta
Pada tahun 1976, Bagian Akupunktur RSCM pindah ke 80 jilid majalah akupunktur terbitan luar negeri. Pada tahun
1978 pendidikan keahlian dalam bidang akupunktur telah
gedung poliklinik baru di lantai III sayap kanan dengan 11
diakui oleh Majelis Dokter Ahli Ikatan Dokter
Indonesia
tempat tidur untuk penderita rawat jalan.
Pada saat ini Unit Akupunktur RSCM terus melengkapi (MDA IDI).
diri dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan baik
dari Timur maupun dari Barat dalam bidang Ilmu Akupunktur.
Perkembangan Unit Akupunktur RSCM sampai saat ini
Sarana pelayanan masyarakat telah dilengkapi dengan alat- dimungkinkan dengan adanya bantuan, bimbingan serta pemalat mutakhir berupa berbagai jenis jarum akupunktur, ber- binaan dari Departemen Kesehatan, Direksi RSCM, FKUI,
bagai stimulator listrik, Biolaser, Ultrasound, alat Voll dan MDA IDI, serta kerja sama dengan sejawat dari disiplin ilmu
lain-lain. Sarana pelayanan telah pula melayani konsultasi kedokteran lainnya. Namun, sejauh ini dirasakan bahwa Ilmu
sejawat dari disiplin keahlian lain di lingkungan FKUI/RSCM Akupunktur Kedokteran masih belum banyak dikenal oleh
maupun dari luar RSCM. Berbagai kegiatan ilmiah dilakukan, kalangan dokter pada umumnya. Mengingat Akupunktur
baik berupa penelitian di dalam unit sendiri, penelitian bermerupakan salah satu cara pengobatan yang berdaya-guna
sama dengan sejawat disiplin ilmu kedokteran yang lain,
dan berhasil-guna, kiranya perlu lebih ditingkatkan untuk memelalui keikutsertaan dalam seminar/simposium, ceramah, nunjang usaha kesehatan masyarakat sesuai dengan Sistem
penataran, serta melalui penulisan dalam majalah-majalah Kesehatan Nasional.

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

7
Beberapa Alat Elektronik Yang
Dipakai dalam Akupunktur
Dr. Shinta S
Unit Akupunktur Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo,
Jakarta

PENDAHULUAN
lstilah akupunktur berasal dari kata acus dan punctura
yang berarti jarum dan tusuk l ' 2 , jadi pada dasarnya alat yang
dipakai terutama adalah jarum. Jarum dipakai untuk perangsangan titik-titik akupunktur. Selain itu, pada masa sekarang
ini perangsangan dapat pula diberikan secara efektif dengan
berbagai alat seperti Ultrasound (Sonopunktur), Laser, atau
dengan arus listrik (elektroakupunktur).
Perkembangan alat-alat elektronik dalam akupunktur dimulai sejak tahun 1816 di Perancis oleh Louis Berlioz. Pada
tahun 1825, di Perancis elektroakupunktur dipakai untuk
pengobatan gout, rematik dan lain-lain. L.H. Cohen (1875)
mulai memakai elektroakupunktur untuk anestesi operasi
tumor kelenjar di Amerika. Nakatani (1950) menemukan alat
Neurometer yang digunakan untuk mencari lokasi titik
akupunktur dan untuk terapi. Pada tahun 1953 Reinholdt
Voll mengembangkan alat yang disebut EAV (Electroacupuncture According to Voll) yang berguna untuk diagnosis
dan terapi 3,4,5

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, bagian ini mempunyai
prinsip yang sama dengan Ohmmeter atau Ampermeter, sehingga dapat menentukan letak titik akupunktur secara tepat,
sekaligus mengukur besar tahanan listrik dan kekuatan arus
listriknya4,6 .
Prinsip kerja Ohmmeter :
Telah diketahui bahwa tahanan arus listrik suatu benda baru
dapat diukur bila dialirkan arus listrik ke benda tersebut.
Pada Ohmmeter prinsipnya adalah benda dialiri listrik dan
diukur tahanan listriknya (Gambar 1). Sedangkan pada Ampermeter, yang mengukur besar kuat arus, tidak diperlukan
sumber arus listrik karena sumbernya adalah benda yang diukur tersebut.

ELEKTROAKUPUNKTUR
Definisi : Penggunaan arus listrik untuk menstimulasi jarum
akupunktur4,6
• STIMULATOR LISTRIK ("ELECTRICAL ACUPUNCTURE APPARATUS")

Pada dasarnya alat ini terdiri atas dua bagian, yaitu :
Acupoint Detector (untuk mencari lokasi titik akupunktur)
dan Stimulator (untuk perangsangan).
Acupoint Detector
Oleh Volt, Niboyet dan Nogier telah didapatkan bahwa
titik akupunktur mempunyai tahanan listrik yang lebih rendah
daripada tempat lainnya di kulit. Nakatani menyatakan,
titik akupunktur merupakan tempat terbaik untuk menghantarkan arus listrik oleh karena mempunyai sifat konduksi
yang baik7,8 .

8

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

Gambar 1. Ohmmeter

Prinsip pengukuraan titik akupunktur :
Titik akupunktur mempunyai tahanan listrik kulit yang
lebih rendah dibanding jaringan sekitarnya 3 ' 6 ' 8 . Jadi bila titik
akupunktur dialiri listrik, akan terjadi penyimpangan pada
skala Ohmmeter yang lebih kecil bila dibandingkan dengan
penyimpangan yang ditimbulkan oleh jaringan yang bukan
titik akupunktur. Perlu dikemukakan, untuk menentukan
tahanan listrik suatu benda diperlukan kuat arus listrik tertentu. Di sini untuk membedakan titik akupunktur dengan
jaringan sekitarnya diperlukan kuat arus tertentu yang mampu
menembus tahanan listrik keduanya, akan tetapi tidak terlalu
besar. Menurut Nakatani, kuat arus listrik yang dialirkan untuk
mencari titik akupunktur tidak boleh lebih dari 200 U Amper,
karena bila lebih besar akan merusak jaringan 9 .

suatu lempengan elektroda yang berbeda-beda diameternya
tergantung kebutuhan.

Stimulator

Indikasi Elektroakupunktur 4
1) Untuk menghasilkan analgesia untuk operasi
2) Pengobatan kelumpuhan
3) Pengobatan kerusakan saraf karena berbagai sebab
4) Pengobatan pada keadaan-keadaan lain seperti ketergantungan obat dan sebagainya.

Bagian ini digunakan untuk perangsangan titik akupunktur
dan dapat diatur kekuatan, frekuensi serta lama perangsangannya. Arus listrik yang digunakan dapat arus searah (D.C.)
atau arus bolak-balik (A.C.). Arus searah dapat dibedakan
menjadi arus searah tetap (Smooth D.C.) atau arus searah
pulsasi (Pulsating D.C.). Arus bolak-balik merupakan arus
yang berpulsasi dan memiliki gelombang positif dan negatif 4 ' 6 .
Pada arus searah pulsasi dan arus bolak-balik dikenal adanya pembagian jenis gelombang listrik seperti gelombang siku
(square wave), gelombang segi (Spike wave), gelombang
sinusoid dan lain-lain. Dalam pengobatan akupunktur dianjurkan untuk memakai gelombang siku dan gelombang segi.
Gelombang sinusoid kurang dianjurkan karena dapat menimbulkan panas di jaringan sehingga membakar daerah hersangkutan 8 .

Kontra Indikasi Elektroakupunktur 4, 6
1) Terutama penderita gangguan impuls jantung karena di sini
kepekaan jantung terhadap rangsang meninggi, sehingga kemungkinan timbulnya fibrilasi jantung akan meninggi bila
diberikan rangsang listrik.
2) Kehamilan trimester pertama, kusus pada titik-titik tertentu oleh karena dapat mengakibatkan abortus.

• NEUROMETER ("RYODORAKU NAKATANI")
Ryodoraku

merupakan fenomena patologis.

Menurut

Gambar 2. Elektrostimlator type DZ--22

Secara garis besar dapat dikatakan, arus searah tetap (D.C.)
hanya dirasakan pasien pada waktu arus masuk dan keluar
tubuh saja. Selama perangsangan pasien tidak akan merasa
apa-apa. Hal ini disebabkan karena sebagian energi arus diubah
menjadi panas 6 ' 8 ' 9 . Arus bolak-balik dan arus searah pulsasi
ternyata memberikan rangsangan yang cukup dalam tubuh
manusia sehingga jenis arus ini sering dipakai untuk dalam
elektroakupunktur. Dalam penggunaannya dikenal bentuk
rangsang kontinyu, rangsang dense disperse dan rangsang
diskontinyu.
Frekuensi yang digunakan berkisar antara beberapa Herts
(Hz) sampai dengan 10 Khz, disesuaikan dengan maksud perangsangan. Cara merangsang titik akupunktur dapat dilakukan melalui elektroda atau dengan melalui jarum. Bila melalui
jarum, harus diperhatikan mana jarum yang dihubungkan
dengan elektroda positif dan mana yang dengan elektroda
negatif. Bila tidak digunakan jarum, biasanya digunakan

Nakatani mekanismenya dapat diterangkan dengan simpatikoviserokutaneo refleks. Dengan alat ini keadaan abnormal
pada tiap meridian (=ryodoraku) dapat diketahui secara
obyektif dengan pengukuran hantaran listrik pada titik-titik
di kulit.
Bila diberikan stimulasi yang cukup (biasanya dipakai arus
sebesar 200mAmp dan tegangan sebesar 21 Volt) pada titiktitik ukur (REPP = Reactive electro -permeable point), terdapat impuls aferen melalui saraf simpatis dan terjadilah regulasi saraf otonom dari visera. Dengan demikian terjadilah
penyembuhan.
Dalam teori Ryodoraku, Ryodoraku abnormal bila terdapat
peninggian/penurunan hantaran listrik dibandingkan nilai ratarata dari ke-24 Ryodoraku. Pada keadaan normal nilai dari
hantaran listrik kanan dan kiri kurang lebih sama. Adanya
perbedaan yang bermakna menandakan adanya keadaan abnormal yaitu adanya keadaan sakit sesuai dengan teori Yin

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

9
Gambar 3. Neurometer

Yang. Bila suatu titik lemah (hantaran menurun) maka dapat
diperkuat dan demikian sebaliknya sehingga terjadi kesei mbangan kembali antara kiri dan kanan. Dengan demikian
alat ini dapat dipergunakan untuk diagnosis dan terapi.
• ELECTROACUPUNCTURE ACCORDING TO VOLL (EAV)
Alat ini mungkin merupakan perkembangan yang terbaru
dalam akupunktur. Di antara semua alat-alat akupunktur, EAV
merupakan alat yang mempunyai ketepatan tertinggi 3,4,10
Pengukuran dasarnya adalah parameter listrik pada titik
akupunktur yang dikaitkan dengan diagnosis dan terapi. Alat
ini merupakan sistem diagnostik dan terapi yang kompleks.
Alat ini dikembangkan oleh Reinholdt Voll, dan dasar-dasar
pemikiran metode ini dibuat pada tahun 1953. Pada tahun
1955 dengan kerjasamanya dengan Dr. Fritz Werner (seorang
insinyur), dibuat alat yang disebut Diatherapuncture. Alat ini
merupakan tabung hampa udara yang mempergunakan arus
searah (D.C.) yang kecil ± 1 Volt pada titik akupunktur yang
diukur. Pada dasarnya kerja alat ini sama dengan potensiometer dan dapat juga memberikan arus searah yang khas
pada titik akupunktur.
Kemudian dibuat alat yang lebih kompak oleh Pitterling
Electronic di Munich yang disebut sebagai Dermatron. Alat
ini terdiri atas dua bagian, bagian yang pertama merupakan
bagian untuk diagnosis dan bagian yang kedua untuk pengobatan4,5,10
Prinsip dasar
1) Titik-titik tertentu pada meridian tertentu mewakili organorgan tertentu yang sesuai dengan meridian tersebut.
2) Titik akupunktur sedapat mungkin diukur secara langsung,
dengan arus searah 8—10 U Amper dan tegangan ± 1 Volt;
kemampuan titik tersebut menahan arus inilah yang diukur.
Prinsip umum
Tubuh manusia pada umumnya berlaku seperti resistor (alat
tahanan listrik) yang dihubungkan secara paralel pada sebuah
kapasitor (sumber tenaga yaitu organ dalam tubuh). Di sin
yang bertindak sebagai tahanan adalah kulit manusia. Kapasitor merupakan alat listrik untuk menyimpan muatan dan
mempunyai banyak jalan, sehingga kerjanya seperti baterai.
Titik akupunktur dapat dianggap diwakili oleh kapasitor pada
diagram dan bila titik akupunktur dialiri listrik, keadaan ini
sangat mirip dengan baterai (Gambar 4).
10

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

Dikatakan baterai abnormal bila muatannya berlebihan
atau kurang. Pada titik akupunktur hal ini dapat juga terjadi,
hanya ada hal yang menghalangi yaitu tahanan kulit. Menurut
Becker, dengan meminjam istilah potensial, titik akupunktur
merupakan titik di mana muatan listriknya lebih negatif dibanding kulit dan keadaan sekitarnya dalam tubuh. Berdasarkan hal ini alat pengukur dari Dermatron dihubungkan dengan
kutub positif dari alat dan aliran listrik untuk pengukuran berlawanan polaritasnya dengan titik akupunktur. Kekuatan arus
(Watt = Amp X Volt) diatur sedemikian rupa sehingga titik
akupunktur yang normal dapat menahan arus ini dan mempertahankan voltase yang berlawanan (negatif) terhadap arus
kapasitor berhubungan secara paralel
resistor berhubungan secara seri

Gambar 4. Diagram

yang diberikan (positif). Hal ini penting diperhatikan karena
bila arus terlalu rendah, titik yang patologis pun menunjukkan
angka yang stabil. Sebaliknya bila arus terlalu tinggi, semua
titik akupunktur akan menunjukkan angka yang patologis,
sehingga terjadi Indicator Drop.
Pada titik akupunktur yang normal akan didapatkan
deviasi indikator 50 yang kurang lebih sama dengan energi
titik akupunktur (± 0,87 Volt). Hal ini didapatkan bila ada
tahanan antara alat pengukur dan elektrode tanah (arde)
± 95 K Ohm. Pada percobaan-percobaan selanjutnya, disimpulkan bahwa daerah anatomis yang diwakili oleh titik akupunktur dihubungkan oleh meridian ke titik akupunktur yang
diukur dan meridian di sini bertindak sebagai kabel yang
mengandung listrik4,5,10
Penggunaan
1) Diagnosis
Dibuat berdasarkan :
Gambar 5. EAV - Dermatron

a. Jarak dan ketetapan pembacaan
b. Kecepatan dan arah dari Indicator Drop
Menurut Voll tiap faktor ini berhubungan dengan keadaan
patologis yang spesifik. Selanjutnya Voll mengklasifikasikan
faktor-faktor ini ke dalam sub unit, yang masing-masing berhubungan pada gejala tertentu, yaitu :
nilai antara 100 — 90 : terdapat peradangan total
50
: keadaan normal
28 — 20 : terdapat degenerasi yang kuat
Bila angka mula-mula 80 kemudian drop sampai
30 : kemungkinan ada keganasan 3 '4 .
2) Terapi
Frekuensi rendah 0,8—10 Hz selama ± 1 menit dapat digunakan untuk men-charge titik akupunktur, misalnya dengan
a. Gelombang alternating (Alternating relaxation impulse +
diikuti —)
b. Negative saw tooth (spike —)
c. Juga dapat digunakan untuk discharging. Di sini biasanya
dipakai gelombang spike + (Positive saw tooth) 4
ALAT ULTRASOUND (MINISOUND LINDQUIST)
Alat ini terdiri atas :
- Sumber ultrasound
- Stimulator
- Soundhead yang dapat diganti ukurannya sesuai dengan
daerah yang diobati
Prinsip sumber "ultrasound"
Pengobatan dengan ultrasound berdasarkan sifat khas dari
energi yang penetratif. Energi ini merupakan energi mekanis
yang terdiri atas suara frekuensi tinggi yang tidak dapat dideteksi dengan telinga (frekuensi 1 juta Siklus/detik). Dalam
alat ini energi suara ini dibuat sebagai pulsa intermittent 60 X/
detik dengan masa istirahat dan pulsasi yang kira-kira sama.
Hal ini berdasarkan bahwa pengobatan dengan pulsa intermittent dapat dilakukan lebih lama tanpa mengganggu pasien
meskipun timbul panas.

Penggunaannya harus memakai media, sebab ultrasound
tidak dapat menembus udara/hampa udara tetapi dapat melalui benda padat/cair. Dosis yang dipakai sebaiknya dosis
rendah. Lebih baik memakai dosis rendah dengan waktu terapi
yang lebih lama daripada sebaliknya.
Stimulator
Menghasilkan aliran kontraktil yang tidak berpolarisasi
untuk menstimulasi otot-otot dengan persarafan normal.
Pulsa yang dipakai adalah pulsa bifasik dengan lama U detik
dengan frekuensi 1—100 Hz.
Cara Pemakaian
Soundhead diletakkan pada daerah yang dituju, secara
stationer atau bergerak. Bila dilakukan secara bergerak, soundhead digerakkan perlahan membentuk lingkaran - lingkaran
kecil setiap dua detik. Untuk daerah yang luas, soundhead
digerakkan sepanjang daerah yang diobati, dan pengulangan
gerakan dilakukan setiap 60 detik. Lama tiap terapi berkisar
antara 6 - 10 menit disesuaikan dengan keadaan pasien. Untuk
tiap titik dilakukan pengobatan selama 15 detik sampai 60
detik. Dosis dihitung berdasarkan Watt dan waktu. Pada waktu
terapi pasien tidak boleh merasa sakit, bila terdapat perasaan
sakit/tidak enak berarti intensitas yang diberikan terlalu tinggi.
Pada keadaan akut diperlukan ± 5 kali terapi dengan
frekuensi 1—2 X/hari. Sedangkan pada keadaan kronis diperlukan 10—15 kali terapi dengan frekuensi 1—2 hari sekali, dilanjutkan dengan 2—3 minggu kemudian bila terapi berhasil.
Indikasi
Terutama untuk nyeri dan pegal yang berhubungan dengan :
1) Bursitis non spesifik, periartritis, fibrositis, tenosinovitis,
miofasitis dan miositis.
2) Rematoid artritis dan osteoartritis.
3) Neuritis jenis non paralitik seperti brakial neuralgia, skiatika
dan nyeri pasca amputasi.
Kontra Indikasi
1) Proses infeksi akut
Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

11
11,12

2) Lesi ganas
3) Sirkulasi yang kurang baik

Sifat Sinar Laser
1) Monokromatis : suatu sinar dengan panjang gelombang
tunggal sehingga memberi warna murni dan hal ini tidak didapatkan pada sumber sinar lain.
2) Koheren : terdapat hubungan fase gelombang yang tetap
antara bagian-bagiannya sehingga sangat tahan terhadap
gangguan.
3) Paralel : titik sumber sinar kecil dan sinarnya sangat paralel.
11

Jenis Sinar Laser
Berdasarkan jenis zat antara yang digunakan, terbagi atas :
1) Laser padat : Laser mirah dan Laser Nd : mempunyai sifat
yang kompak dan efisiensi yang tinggi.
2) Laser cair : sebagian besar menggunakan cairan berwarna.
3) Laser gas : Laser HeNe, Laser Argon, Laser Krypton.

Gambar 6. Minisound

ALAT LASER
Laser merupakan singkatan dari Light Amplification by
Stimulated Radiation (penguatan sinar oleh emisi radiasi yang
distimulasi). 11 Sinar ini pada masa sekarang sudah digunakan
dalam berbagai bidang klinik seperti oftalmologi, dermatologi,
otorinolaringologi, bedah, obstetri, neurologi, psikiatri, interna
dan terapi akupunktur. Penggunaan dalam terapi akupunktur
dengan output 11,12
rendah telah diperdalam di Eropa sejak 15 tahun terakhir ini

Efek terhadap manusia
Bila radiasi Laser menyentuh permukaan kulit, terjadilah
fenomena fisika yang umum, antara lain : pemantulan, penyerapan, dan pemancaran. Pada manusia, 99% dari radiasi Laser
ini diabsorbsi kulit. Diketahui bahwa Laser HeNe menembus
jaringan secara langsung sedalam 0,8 mm dan tak langsung
8—10 mm. Sebagian besar radiasi Laser setelah diabsorbsi diubah menjadi getaran panas. Efek radiasi ini terhadap jaringan
dapat dibagi dalam beberapa tingkat :
1) Tingkat I dan II : bersifat reversibel, terdiri atas pemanasan
lokal dan dehidrasi jaringan.
2) Tingkat berikutnya : bersifat irreversibel yaitu berupa penggumpalan protein, termolisis dan penguapan.
Pemakaian Laser HeNe 1 mW untuk terapi selama 15—20 detik
hanya akan menyebabkan pemanasan saja.
3) Penghambatan atau perangsangan lokal maupun sistemis.
Hal ini berhubungan dengan hukum biologi Arndt — Schulz,
yaitu :
—
—
—
—

perangsangan lemah akan memacu aktifitas fisiologi
perangsangan sedang membawa efek yang menguntungkan
perangsangan kuat akan menghambat aktifitas fisiologis
perangsangan kuat akan menghentikan aktifitas tersebut.

Gambar 7. Marah Biolaser

12

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987
Penggunaan Laser dalam akupunktur terutama untuk mengurangi nyeri, karena dapat mengurangi spasme. Hal ini mungkin
berhubungan dengan11:
a. Depolarisasi dan repolarisasi serabut-serabut otot yang berkontraksi abnormal.
b. Berkurangnya spasme otot arteriole pada daerah yang diradiasi sehingga terjadi vasodilatasi.
c. Perangsangan elektron pada membrana mitokondria sehingga mempengaruhi proses metabolisme dan transportasi.
Menurut penelitian, umumnya penderita sudah merasakan
adanya perbaikan pada 3x pengobatan yang pertama. Pengobatan dengan Laser maksimal sebanyak 8—10 kali. Pada 2%
penderita ditemui rasa pusing dan mual sesudah pengobatan.
Bila keadaan menetap selama 5—10 menit, pengobatan harus
dihentikan.
KEPUSTAKAAN
1. Beijing College of Traditional Chinese Medicine etc. Essentials of
Chinese Acupuncture. 1st ed. Beijing: Foreign Language Press,
1980;p5.
2. Kusuma A dan Kiswoyo. Teori dan Praktek Ilmu Akupunktur.

Jakarta: PT Gramedia 1978, hal 1.
3. Kao FF and Kao JJ. Recent Advances in Acupuncture Research.
New York: Institute for Advanced Research in Asian Science and
Medicine, 1979;p 63-5.
4. Kenyon JN. Modern Techniques of Acupuncture, A Practical
Scientific Guide to Electro Acupuncture. vol 1, 1st ed. New York:
Thornsons Publishers Inc, 1983; pp 17—61.
5. Leonhardt H and Schuldt H. An Introduction to Electro Acupuncture According to Voll. Mediainisch Literarische Verlagsgesellschaft mbH—Helzen, 1976; pp 8—15.
6. Lee JF and Cheung CS. Current Acupuncture Therapy 1st ed.
Hongkong: Medical Interflow Publishing House, 1978; pp 41-56.
7. OConnor J and Bensku D. Acupuncture, A Comprehensive Text.
Chicago: Eastland Press, 1981; pp 431—3.
8. Tanny M. Electrical Stimulation Acupuncture Therapy. Am J
Acupunct. 1977; 4: 5-12.
9. Makatani Y and Yamashita K. Ryodoraku Acupuncture 1st ed.
Tokyo—Osaka: Ryodoraku Research Institute, 1977.
10. Wernwe FM. Electro Acupuncture Primer on Electro Acupuncture
According to Voll. 1st ed. English. Medizinisch Literarische
Verlagsgesellschaft mbH. Ueizen, 1979.
11. Caspers KH. Stimulation Therapy with Laser Beam. Translated
from Physikalische Medizin and Rehabilitation. 1977; 18: 42645.
12. Kleinkort JA and Foley RA. Laser Acupuncture: Its Use in Physical Therapy. Am J Acupunc, 1984; 12: 51-6.
13. Minisound Instruction Manual, Lindquist Minisound.

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

13
Pengobatan Vitiligo dengan
Akupunktur
Dr. Firdaus Slamat *)
Unit Akupunktur RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

ABSTRAK
Telah dilakukan pengobatan akupunktur pada 20 kasus
vitiligo dari berbagai jenis lesi, umur dan lama menderita sakit.
Akupunktur dilakukan dengan jarum yang diberi rangsang
listrik dengan jenis gelombang bifasik siku, frekuensi 2 Hertz,
selama 20 menit. Penilaian hasil dilakukan setelah penusukan
ke 6, 12, 18 dan 24, terhadap perubahan warna, timbulnya
pulau-pulau repigmentasi dan pengecilan tepi bercak. Hasil
yang didapat adalah perbaikan 90% dan gagal 10%.
PENDAHULUAN
Vitiligo merupakan kelainan kulit yang sudah dikenal sejak
1500 tahun sebelum masehi l . Mosher dan kawan-kawan mengatakan, vitiligo merupakan penyakit kulit yang tergolong
pada kelompok hipomelanosis, dan sering merupakan penyakit keturunan yang bersifat Autosomal Dominant, yang ditandai dengan adanya bercak putih berbatas tegas yang meluas
secara sentrifugal 2 .
Hipotesis terjadinya vitiligo adalah 3-5
1) Hipotesis autodestruktif, yang mengatakan bahwa bahan
atau hasil sampingan pada waktu pembentukan melanin dapat
merusak atau menyebabkan sel melanosit tidak dapat berfungsi.
2) Hipotesis imun, menduga telah terjadi kehilangan pengawasan terhadap sistem imun, sehingga mengakibatkan kerusakan sel melanosit, disfungsi melanosit atau kedua proses
tersebut terjadi bersama-sama.
3) Hipotesis neural, diduga terdapat suatu mediator saraf yang
dapat merusak melanosit atau menghambat produksi melanin.
KLASIFIKASI VITILIGO
1. Menurut etiopatologi dan pemeriksaan imunologis 2 :
a. Autoimun atau vitiligo progresif
b. Segmental (dermatomal)
c. Kemikal (kontak)
*) Penulis saat ini bertugas di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta.

14

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

2. Menurut Koga 3 :
a. Tipe A yang penyebarannya non dermatomal dan ada
kemungkinan penyembuhan dengan pengobatan kortikosteroid.
b. Tipe B yang penyebarannya dermatomal dengan kemungkinan faktor simpatis memegang peranan penting.
Tipe ini memberi respon terhadap inhibitor monoamin
oksidase.
3. Menurut lokalisasi :
a. Lokalisata
b. Generalisata
Dunia kedokteran Barat telah berusaha mencari pengobatan
yang tepat untuk menyembuhkan penyakit ini, namun hasilnya sampai saat ini belum memuaskan. Obat yang biasa diberikan adalah derivat metoksi psoralen.
Salah satu penelitian tentang efek akupunktur terhadap
vitiligo dilakukan pada tahun 1980 oleh Premaratne dengan
hasil yang memuaskan 6 . Dikemukakan bahwa dengan akupunktur akan terjadi pelepasan beberapa zat, antara lain serotonin, histamin, Bradykinin Slow Reacting Substances (SRS)
dan mungkin zat-zat lain yang belum diketahui. Zat-zat ini
merangsang pelepasan faktor kortikotropin (Corticotropin
Releasing Factor = CRF) dan mungkin lain-lain Hypophysis
Releasing Factor. CRF dan zat-zat lain itu dialirkan melalui
pembuluh darah balik ke adenohipofisis . CRF ini selanjutnya
akan merangsang dibentuknya ACTH dan kortikosteroid lainnya7,8 .
Hipotesis yang mengatakan bahwa akupunktur dapat merangsang pelepasan kortikosteroid ini sesuai untuk menanggulangi salah satu jenis vitiligo yang memberi respon terhadap
kortikosteroid, seperti diajukan oleh Koga. Penelitian lain
melaporkan bahwa pada keadaan sistem imunologis yang
terganggu, penusukan akupunktur dapat mempengaruhi susunan sel limfosit B dan T dari susunan yang tidak seimbang
menjadi seimbang 9-11 Mengingat salah satu hipotesis vitiligo
berhubungan dengan gangguan sistem imunologik, kiranya
dapat dijelaskan efek pengobatan vitiligo dengan akupunktur.
BAHAN DAN CARA
Penelitian terhadap penderita vitiligo ini dilakukan di
Unit Akupunktur RSCM Jakarta. Masa penelitian adalah 2
tahun terhitung sejak Januari 1982.
Pada awal penelitian jumlah penderita 40 orang. Yang dimasukkan dalam penelitian adalah 20 orang, sisanya tidak
menyelesaikan seri terapi yang telah ditentukan, atau tidak
menjalani pengobatan secara teratur.
Penderita dikirim dari Bagian Kulit FKUI/RSCM dengan
diagnosis vitiligo. Penderita sudah atau belum pernah diobati
dengan tipe vitiligo generalisata atau lokalisata. Lamanya
penyakit diderita bervariasi.
Alat yang digunakan adalah :
— Jarum akupunktur dari baja tahan karat no. 32 dengan
panjang 1 inci.
— Stimulator listrik tipe 71.1 buatan Cina.
Penderita dibaringkan dengan posisi terlentang, dan dilakukan penusukan dengan jarum akupunktur pada titik-titik
akupunktur yang telah ditentukan. Jarum ditusukkan tegak
lurus, lalu dimanipulasi sampai penderita merasa te ci (sensasi
penjaruman). Jarum kemudian dihubungkan dengan elektroda
dari stimulator listrik selama 20 menit. Jenis gelombang
listrik adalah bifasik siku, dengan frekuensi 2 Hertz dan intensitas sekecil mungkin yang masih dapat dirasa oleh penderita.
Titik-titik akupunktur yang dipergunakan sesuai dengan
penelitian Premaratne yaitu 6 :
— He Ku (II.4)
— Ci Ce (II.11)
— Sing Cien (XII.2)
— San Yin Ciao (IV.6)
Sepasang elektroda dihubungkan dengan titik He Ku (II.4) dan
Ci Ce (II.11) pada sisi tubuh yang sama. Elektroda yang lain
dihubungkan dengan titik Sing Cien (XII.2) dan San Yin Ciao
(IV.6). Penusukan dilakukan sebanyak 2 seri. Masing-masing
seri pengobatan terdiri dari 12 kali kunjungan, dengan jadwal
3 kali seminggu. Setelah seri pengobatan pertama, penderita
diistirahatkan selama 2 minggu untuk kemudian dimulai
dengan seri kedua. Selama penelitian kepada penderita tidak
diberikan obat-obatan baik per oral, topikal maupun parenteral.

HASIL
Tabel I. Distribusi Umur dan Jenis Kelamin
Umur

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

10th - 19th
20 th - 39 th
40th - 49th
50th - 59th
60 th - 69 th

1
3
1
-

4
3
3
3
2

5
6
4
3
2

Jumlah

5

15

20

Penderita perempuan adalah 15 orang yang merupakan 75% dari seluruh penderita.

Tabel II. Lamanya Penyakit diderita Sebelum Pengobatan
Lamanya sakit

1
5
10
15

1
- 5
- 10
- 15
Jumlah

Jumlah

th

4

th
th
th
th

17
7
5
7
40

4 penderita yaitu 10% menderita sakit kurang dari 1 tahun sedangkan
selebihnya yaitu 36 penderita (90%) menderita sakit antara 1 tahun
sampai lebih dari 15 tahun.

Tabel III. Hubungan Antara Jenis Vitiligo dengan Hasil
Jenis Vitiligo

Baik

Perbaikan

Gagal

Jumlah

Lokalisata
Generalisata

—
—

7
11

—
2

7
13

Jumlah

—

18

2

20

Dari 7 penderita Vitiligo Lokalisata, semua mengalami perbaikan. Sedangkan dari 13 penderita Vitiligo Generalisata, 11 orang mengalami
perbaikan.

KRITERIA PENILAIAN HASIL
Penilaian dilakukan 4 kali, yaitu setelah penusukan ke 6,
12, 18 dan 24, dengan kriteria sebagai berikut :
— Baik : Bila tidak terdapat lagi bercak vitiligo.
— Perbaikan : Bila pada bercak-bercak vitiligo terjadi perubahan warna atau timbulnya pulau-pulau repigmentasi atau
terdapat pengecilan dari tepi bercak.
— Gagal : Bila tidak terdapat perubahan sama sekali atau
bercak-bercak bertambah dalam jumlah maupun luasnya.
Perhitungan statistik dilakukan dengan menggunakan rumus
Pearson Chart.

Untuk menilai kemaknaan dari pada perubahan-perubahan setelah penusukan yang ke 24.

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

15
Tabel IV. Hubungan antara Jenis Vitiligo dengan Jenis Perbaikan yang
Terjadi.
Perubahan
warna

Timbul
pulau

Lokalisata
Generalisata

7
11

5
6

Jumlah

18

11

3

Pengecilan Tepi
bercak

Pr
Pr

L

Jm1 5

2
1

Jenis Vitiligo

19
20

G

15

7

+
+

–

_
–

13

18

11

3

Perubahan warna + : artinya ada perubahan warna.
Timbulnya pulau-pulau : + 1 artinya timbul pulau repigmentasi baru
sebanyak 1 buah, + 2 adalah 2 buah, dan + 3 adalah 3 buah.
Pengecilan tepi bercak : dihitung penambahan pigmentasi pada jarak
terpendek bercak vitiligo.

Tabel V. Hubungan Antara Jumlah Penusukan Dengan Hasil

DISKUSI

Jumlah penusukan
Hasil
6x

(%)

12x (%)

Baltic
Perbaikan
Gagal

2
18

–
( 10%)
( 90%)

14
6

–
( 70%)
( 30%)

–
17 ( 85%)
3 ( 15%)

Jumlah

20

(100%)

20

(100%)

20

18x (%)

24x (%)
( 90%)
( 10%)

20

(100%)

–
18
2

(100%)

Pada penusukan ke 24 hasil lebih nyata, yaitu berupa perbaikan sebanyak 90% dan kegagalan sebanyak 10%.
Tabel VI. Hubungan Antara Jenis Perbaikan Dibandingkan Jumlah
Penusukan
Jumlah penusukan
Jenis Perbaikan

(%)

Perubahan warna
Timbul pulau-pulau
Pengecilan tepi bercak

2

12x (%)

(10%)

6x

14
3

–

18x (%)

(70%) 17
(15%) 8
–
1

24x (%)

(85%) 18
(40%) 11
( 5%) 3

(90%)
(55%)
(15%)

Pada penusukan ke 24 terlihat hasil perbaikan yang berupa perubahan
warna, timbul pulau-pulau repigmentasi maupun pengecilan tepi bercak,
lebih nyata.
Perubahan warna : 77 <M <1,03; P <0,05
Timbulnya pulau repigmentasi baru : 33 <M <77; P <0,05
Pengecilan tepi bercak: – 0,006 <M<0,306; P>0,05
Pada penelitian ini ternyata perubahan dalam wama dan timbulnya
pulau repigmentasi baru adalah bermakna (P <0,05), tidak bermakna
(P > 0, 005).
Sedangkan perubahan yang berbentuk pengecilan tepi bercak, tidak
bermakna (P > 0,05).
Tabel VIII. Distribusi Jenis Kelamin, Jenis Vitiligo dan Perbaikan
Jenis
kelamin

Jenis
vitiligo

Lk

Pr

L G

1
2
3
4
5 Lk
6Lk
7
8
9 Lk
10
11 Lk
12
13
14 Lk
15
16
17
18

Pr
Pr
Pr
Pr

G
G

Perbaikan

No.

16

Pr
Pr
Pr
Pr
Pr
Pr
Pr
Pr
Pr

L
G
L
L
L
L
L
G
G
G
G
G
G
G
G
G

Perubahan
warna

Timbulnya
pulau

+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
–
+
+
+
+
+
–

+ 3
+2
–
+2
+3
+2
+2
+3
+3
–
+1
+2
–
+2
–
–

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

Pengecilan
tepi bercak
–
_
+2mm
+6mm
–
–
–
+2mm
–
_
–
–
–
–

Dari penelitian didapat bahwa perbaikan yang terjadi baik
pada vitiligo lokalisata maupun generalisata, bertambah sesuai dengan meningkatnya jumlah penusukan yang dialami
penderita. Pada penelitian ini evaluasi dilakukan sampai penusukan ke-24 (2 seri terapi). Sehubungan dengan hal ini
masih perlu diteliti lebih lanjut apakah penambahan seri akan
juga memperbaiki hasil pengobatan.
Meskipun dalam penelitian ini pengobatan akupunktur
belum dapat memberikan penyembuhan sempurna, namun
adanya perbaikan yang terlihat menunjukkan harapan kemungkinan kesembuhan. Mengingat cara pengobatan konvensional
pun tidak dapat mengobati vitiligo dengan memuaskan, maka
akupunktur dapat dipikirkan sebagai suatu cara pengobatan
alternatif
KESIMPULAN
Pengobatan akupunktur pada vitiligo sebanyak 24 kali
memberi perbaikan berupa perubahan warna dan timbulnya
pulau-pulau yang bermakna (P < 0,05), sedangkan perbaikan
yang berupa pengecilan tepi bercak tidak bermakna (P > 0,05).

KEPUSTAKAAN
1. Fitzpatrick TB. Abnormalities of the melanin pigmentary system.
In: Fitzpatrick, Dermatologi in General Medicine, New York :
M.C. Graw Hill Book Co, 1971; 1591 - 1637.
2. Mosher DB, Fitzpatrick TB, Artone JP. Disorders of melanocyter;
in: Dermatology in general medicine , New York : Mc Graw Hill
Book Company, 1979; pp. 568 - 620.
3. Koga M. Vitiligo a new classification and therapy. Br J Dermatol.
1977; 97 : 255 - 261.
4. Lerner A, Nordlus J. Vitiligo what is it? Is it important? JAMA,
1978; 239: 1183.
5. Morohashi M, Hashimoto K, Newton DE, Ristoivo. Ultrastructural,
studies of vitiligo, Vogt Koyanagi Syndrome and incontinentia
pigmenti achromias. Arch Dermatol. 1977; 113 : 765 - 766.
6. Premaratne ADV. Acupuncture therapy in the treatment of leukoderma. Am J Acup. 1980; 8 : 251 - 231.
7. Kim SS. Acupuncture mode of action in migraine headache.
Am J Acup. 1975; 3 : 110 - 111.
8. Platt HV. Acupuncture a new national defence mobilization and
tissue regeneration and tissue regeneration theory. Am.J Acup.
1974;2:167-174.
9. Sablovic D, Michon C. Effect of acupuncture on human peripheral
T and B lymphocytes. Acupuncture and electro-therapeut. Res Int
J. 1978; 3 : 97 - 107.
10. Chao JZ, Wang ZH, Chao R. Experiment study of effects of
electro acupuncture on cell mediated immune respone of rabbits.
In: Advances in acupuncture and acupuncture anaesthesia. Beijing:
1979;512.
11. Ma ZY, Chong H, Jan ZX. Experimental observation of cellular
immunological function under the influence of acupuncture.
In: Advances in acupuncture and acupuncture anaesthesia, Beijing:
1979; 511.
Pengaruh Akupunktur Terhadap
Nilai Gamaglobulin
Dr. Srikandi Dja'far Said *
Unit Akupunktur RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian pada 24 kasus mengenai pengaruh akupunktur terhadap nilai gamaglobulin. Akupunktur dilakukan dengan stimulasi listrik pada titik He Ku (II.4) dan Cu
San Li (III.36) dengan frekuensi 15 Hertz, tegangan 0,3 —
0,5 Volt selama 15 menit. Dari hasil penelitian, didapat bahwa
akupunktur meninggikan nilai gamaglobulin secara bermakna
(P < 0,05), yaitu 27.68% setelah 6 kali penjaruman dan
44.64% setelah 12 kali penjaruman.
PENDAHULUAN
Gamaglobulin adalah bagian dari sistem protein yang terdapat di dalam Imunoglobulin dalam sistem imunitas tubuh1,2,3
Fungsi imunologik di dalam tubuh diperankan oleh kelompok sel yang mempunyai kemampuan untuk :
1) mengenal antigen
2) memberi respon yang spesifik terhadap antigen
3) membentuk Immunological Memory yang mampu memberi
respon yang cepat, kuat dan tepat terhadap antigen berikutnya.
Kelompok sel tersebut terdiri dari sel limfoid dan sel pembantu, yang satu dengan lain bekerja sama.
Ada lima tipe imunoglobulin tubuh manusia yang dihasilkan oleh sistem imun tubuh, yaitu Ig A, Ig D, Ig E, Ig G, dan
Ig M. Secara umum, imunoglobulin terbentuk dari variasi
empat rantai dasar polipeptida yang masing-masing mengandung ikatan disulfida.
* Penulis saat ini bertugas di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta

Tabel 1. Pola Dasar Molekul Imunoglobulin

Dan Ganong WF, hal 382 4

Empat rantai polipeptida terdiri dari sepasang rantai H (heavy)
dan sepasang rantai L (light). Rantai H untuk tiap-tiap kelas
berbeda dan menentukan karakteristik masing-masing kelas.
Rantai L sendiri dari komponen kappa (K) dan lamda (X),
yang sama pada semua kelas imunoglobulin.
(Lihat Tabel II)
Ig G sering disebut sebagai Gamaglobulin. Ig G merupakan
I munoglobulin yang dominan di dalam tubuh, jumlahnya
80% dari total imunoglobulin. Kadar dalam serum adalah 0,6
g% — 1,6 g%, terutama diproduksi oleh jaringan limfoid di
timus, traktus gastro intestinal, traktus respiratorius dan
Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

17
Tabel II. Sifat Fisik dan Biologi dari Jenis Imunoglobulin Manusia

Jenis

Ig G

Rata-rata
konsentrasi
dalam serum
(mg/100 ml)

1240

RataBerat
S
Molekul 20, w

150,000

rata
survival
T/2 (hari)

7

23

Fungsi biologis

— ikatan komplemen

Rantai Jumlah
H
subjenis

γ

4

α

2

л

2

melalui plasenta
antibodi heterocytotropic
Ig A
Ig M

280
120

170,000

7, 10,
14
890,000
19

6

— antibodi dan sekresi

5

— ikatan komplemen
aglutinasi yang

150,000
196,000

2,8
1,5

— tak diketahui

eksternal

efisien
Ig D
Ig E

3
0,03

7
8

— antibodi reagenik
— antibodi homocytotropic

δ
ε

—
—

dari Bellanti JA, hal. 102 1

traktus urinarius. Ig G dapat melalui plasenta dan mempunyai
kemampuan untuk mengikat komplemen. Ig G berperan dalam
i munitas terhadap sebagian besar organisme yang dapat menimbulkan infeksi termasuk bakteri, virus, parasit dan fungus1,2
PENGARUH AKUPUNKTUR TERHADAP SISTEM IMUN
Omura berdasarkan penelitiannya- mendapatkan bahwa
penusukan pada titik He Ku (II.4) Cu San Li (1II.36) dapat
meninggikan daya tahan tubuh terhadap infeksi, melalui peningkatan nilai gamaglobulin5 .
Peneliti lain, yaitu Rogora juga mendapatkan peningkatan
nilai gamaglobulin yang bermakna dengan akupunktur yang
menggunakan rangsang listrik pada titik yang sama. Namun
mekanisine terjadinya peningkatan nilai gamaglobulin dengan
6
akupunktur belum dapat dijelaskan .
Sablovic dan Michon mendapatkan, pada akupunktur
dengan atau tanpa perangsangan listrik dapat mempengaruhi
komposisi sel limfoid B dan T dari komposisi yang tidak normal menjadi normal. Pada saat yang sama juga terjadi perbaikan gejala klinis 7 .
BAHAN DAN CARA
Telah dilakukan penelitian selama 6 bulan terhitung tanggal
1 Februari 1983 di Poliklinik Pertamina Jasa-Jasa Jakarta.
Kasus adalah penderita yang dikirim oleh dokter poliklinik
setempat dengan gejala daya tahan tubuh melemah, di antaranya penderita rinitis alergika, asma bronkial, urtikaria alergika.
Penderita yang diteliti adalah penderita dewasa yang pada
awal pemeriksaan nilai gamaglobulinnya tidak di atas nilai
normal.
Penderita pada awal penelitian 50 orang. Yang dimasukkan
penilaian sebanyak 24 orang, sisanya tidak dinilai karena nilai
awal gamaglobulin sudah tinggi, atau selama penelitian penderita minum obat atau tidak mengikuti jadwal pengobatan
yang telah ditentukan.
Penderita datang dalam keadaan puasa. Sebelum diakupunktur dilakukan pengambilan darah sebanyak 5 cc di labo18

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

ratorium. Darah dikirim dan diperiksa di laboratorium Mikrobiologi FKUI. Kemudian dalam keadaan berbaring dilakukan
penusukan dengan jarum baja tahan karat pada titik He Ku
(1L4) dan Cu San Li (1II.36). Pada titik He Ku (II.4) dipakai
jarum buatan Cina no. 32 dengan panjang 1 inci dan titik Cu
San Li (1II.36) dipakai jarum no. 32 sepanjang 1 h inci. Penusukan dilakukan sampai terasa sensasi penjaruman (te ci).
Kemudian diberikan rangsang listrik dengan stimulator tipe
711 dengan frekuensi 15 Hertz dan tegangan 0,3 — 0,5 V selama 15 menit. Akupunktur dilakukan sebanyak dua belas
kali, dengan jadwal kunjungan dua hari sekali. Pengambilan
darah diulang setelah kunjungan ke enam dan ke duabelas.
Selama pengobatan dengan akupunktur penderita dilarang
minum obat/vitamin.
Perhitungan statistik dilakukan dengan menggunakan rumus
t dari Fisher, untuk melihat pengaruh akupunktur terhadap

peningkatan nilai gamaglobulin.
HASIL

Tabel IV. Peningkatan Nilai Gamaglobulin sebelum dan sesudah penusukan titik He Ku (II.4) dan Cu San Li (III.36) sebanyak 6 dan 12 kali

Tabel III. Nilai Gamaglobulin sebelum dan sesudah penusukan titik
He Ku (II.4) dan Cu San Li (III.36) sebanyak 6 dan 12 kali

No. P/L Umur Sebelum
(th)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

P
L
L
L
P
P
P
P
P
L
L
P
L
P
L
L
L
L
P
P
P
L
L
P
Jumlah

16
40
35
37
28
18
58
40
45
50
19
18
60
45
38
22
20
62
38
20
43
37
35
25

Akupunktur
(g%)

Sesudah
6 kali
Akupunktur

(g%)

1,26
0,74
1,59
1,34
1,38
0,97
0,77
1,59
1,31
1,00
1,11
1,31
1,49
0,91
1,39
1,20
1,12
1,04
1,24
1,36
1,28
1,25
1,17
1,51

1,37
1,10
1,35
1,37
1,39
1,26
1,45
1,20
1,68
1,67
1,60
1,56
1,60
1,28
1,68
1,35
1,42
1,17
1,46
1,42
1,48
1,60
1,62
1,68

Y29,33
Y 1,22

Q34,76
Q 1,45

Sesudah
12 kali
Akupunktur

(g%)

1,68
1,45
1,06
1,37
1,39
1,39
1,60
1,07
2,02
1,85
1,80
1,56
1,68
1,49
2,39
1,35
1,72
1,30
1,68
1,51
1,68
2,05
1,86
1,75
X38,67
X 1,61

No P/L Umur Sebelum di

(th) Akupunktur
(g%)

Nilai

Naik Turun
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
22

+

P
L
L
P
P
P
P
P
L
P
L
P
L
L
L
L
P
P
P
L
L
P

16
40
37
28
18
58
45
50
19
18
60
45
38
22
20
62
30
20
43
35
35
25

Jumlah

2

kasus, 22 kasus nilai gamaglobulin naik, dan 2 kasus
nilai gamaglobulin turun.
Kenaikan nilai gamaglobulin :
Untuk tingkat kepastian 95%; t = 4,421; db = 23; P < 0,05.
(Lihat Tabel I V)
Dari 24

tabel di atas, tampak kenaikan nilai gamaglobulin sesudah
tusukan ke enam adalah 0,30 gr% yaitu 25,64% dan setelah
tusukan ke duabelas kali kenaikan nilai gamaglobulin adalah
0,49 gr% = 41,88%.
Dari

KESIMPULAN
• Akupunktur pada titik He Ku (I1.4) dan Cu San Li (III.36)
dapat meningkatkan nilai gamaglobulin secara bermakna
(P < 0,05). Peningkatan tersebut adalah 25,64% setelah 6 kali
penusukan dan 41,88% setelah 12 kali penusukan.
• Pada evaluasi terlihat perbaikan daripada keluhan subyektif
maupun gejala -gejala klinis, meskipun pada penelitian ini
belum dilakukan pengamatan khusus terhadap hal-hal tersebut.
• Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat sejauh mana akupunktur dapat mempengaruhi sistem imunologik tersebut, serta meninjau kemungkinan mekanisme kerja
akupunktur pada sistem imun tubuh.

1,26
0,74
1,34
1,38
0,97
0,77
1,31
1,00
1,11
1,31
1,49
0,91
1,39
1,20
1,12
1,04
1,24
1,36
1,28
1,25
1,17
1,51

Σ = 1,17

Sesudah 12 kali
Akupunktur

gr%

g%

%

g%

1,37
1,10
1,37
1,39
1,26
1,45
1,68
1,67
1,60
1,56
1,60
1,28
1,68
1,35
1,42
1,17
1,46
1,42
1,48
1,60
1,62
1,68

Gamaglobulin

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Sesudah 6 kali
Akupunktur

9
5
3
1
30
89
30
67
45
20
8
45
28
13
27
13
20
5
16
30
40
12

1,68
1,45
1,37
1,39
1,36
1,60
2,02
1,85
1,80
1,56
1,68
1,49
2,39
1,35
1,72
1,30
1,68
1,51
1,68
2,05
1,86
1,75

Σ

=

1.4T= 25.64%

%

33
95
3
1
40
108
55
85
70
20
14
64
72
13
45
25
35
18
33
64
60
17

Σ = 1,66 = 41.88%

KEPUSTAKAAN

1. Bellanti JA. Immunology; Asian ed. Tokyo: Igaku Shoin Ltd.
1971; pp 55-119.
2. Aloisi RM. Principle of Imunodiagnostic. London: The CV Mosby
CO, 1979; pp 21-46.
3. Barrett JT. Basic Imunology and Its Medical Application. London:
The CV Mosby Co, 1980; pp 1-27.
4. Ganong WE. Review of Medical Physiology, 7 th ed. California,
Los Altos: Lange Medical Publ. 1975; pp 380-3.
5. Omura Y. Hitorical Aspect of Acupuncture. Acupuncture
Electro-therapeutics Res, Int J 1976;1 : 51-141.
6. Rogora GA et at. Congress Proceedings. Acupuncture Institute,
Viena. 1975;pp 111-4.
7. Sabolovic D Michon C. Effect of Acupuncture on Human Peripheral
T and B Lymphocytes. Acupuncture Electro-therapeutics
research, Int J. 1978; 3 : 97-107.

Untuk segala surat-surat, pergunakan alamat :

Redaksi Majalah Cermin Dunia Kedokteran
P.O.. Box 3105 Jakarta 10002

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

19
Efek Penusukan Titik San Yin Ciao (IV,6)
terhadap Hiperglikemia pada NIDDM
Dr. Ratnawati Latief
Unit Akupunktur RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian pada 20 kasus mengenai pengaruh
akupunktur terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita NIDDM. Akupunktur dilakukan pada titik San Yin
Ciao (IV.6) dan titik kontrol, dengan manipulasi manual
sampai didapatkan sensasi penjaruman; titik ditinggal selama
30 menit dan dimanipulasi setiap 5 menit. Dari hasil penelitian
didapatkan, akupunktur pada titik San Yin Ciao (IV.6) dapat
menurunkan kadar gula darah secara bermakna (p < 0,001)
yaitu 19,20%; sedangkan akupunktur pada titik kontrol tidak
menurunkan kadar gula darah secara bermakna (p > 0,05)
yaitu 4,90%.
PENDAHULUAN
Diabetes melitus adalah suatu penyakit menahun, dan ser,2
.
nantiasa merupakan suatu problema kesehatan yang besar
Seperti diketahui, diabetes melitus menurut WHO dibagi
menjadi :
— Tipe I : "Insulin Dependent Diabetes Mellitus" (IDDM)
— Tipe II : "Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus"
(NIDDM)
— Tipe lain: — Penyakit pankreas
— Penyakit hormon
— Karena obat/kimia
— Kelainan reseptor insulin
— Sindrom genetik
— Lain-lain
Dari beberapa penelitian di luar negeri, ternyata akupunktur juga berkhasiat mengobati diabetes; salah satu penelitian
yang menarik adalah yang dilakukan oleh C. Ionescu Tirgoviste
dan kawan-kawan, bahwa terdapat perbedaan efek akupunktur
pada penderita "Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus"
dengan penderita "Insulin Dependent Diabetes Mellitus".
Dalam penelitiannya dilakukan penusukan pada titik San Yin
Ciao (IV.6) pada penderita NIDDM dan IDDM. Didapatkan
bahwa pada penderita NIDDM penurunan kadar gula darah
20

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

2 jam sesudah penusukan > 10% dari kadar gula darah inisial,
dengan angka keberhasilan 94% dari 47 kasus (penurunan
kadar gula darah sebesar 22,9% yaitu dari 201,2 mg% menjadi
150,5 mg%). Sedangkan pada penderita IDDM penurunan
kadar gula darah < 10%/menetap/meninggi pada 83% dari
30 kasus. Dari 47 kasus NIDDM didapatkan penurunan kadar
gula darah > 20% pada 26 kasus, 15—20% pada 15 kasus,
> 10% pada 5 kasus, < 10%/naik pada 1 kasus.
Dijelaskan, penusukan titik San Yin Ciao (IV.6) menyebabkan dilepaskannya suatu substansi yang merangsang sekresi
insulin, yaitu serotonin; dan mengaktifkan serabut saraf otonom tertentu. Walaupun dijelaskan pula bahwa serotonin
yang dihasilkan tidak khusus hanya pada penusukan San Yin
Ciao (IV.6), karena terjadi pula pada penusukan titik akupunktur lain, selain itu serotonin yang dihasilkan tidak cukup
untuk merangsang sekresi insulin.
Diduga bahwa penusukan titik San Yin Ciao (IV.6) akan
mengaktifkan serabut saraf otonom tertentu dalam sel B
pankreas yang menimbulkan suatu refleks otonom; di mama
i mpuls melalui serabut aferen ke pusat susunan saraf pusat
yang mungkin terletak di nuklei hipotalamus atau korteks
serebri, kemudian melalui serabut eferen otonom menghambat
tonus alfa adrenergik dan merangsang tonus ß adrenergik sehingga menimbulkan sekresi insulin 3 . (Lihat lampiran)
Dijelaskan juga bahwa titik San Yin Ciao (IV.6) pada penelitian ini karena San Yin Ciao terletak pada Meridian Limpapankreas, dan sering digunakan untuk penyakit dengan kelainan pankreas, dan juga merupakan titik yang berfungsi di
bidang endokrin.
Di Indonesia sendiri belum ada penelitian tentang efek
pengobatan akupunktur pada penderita diabetes pada umumnya, maupun penelitian mengenai efek titik San Yin Ciao
(IV.6) terhadap hiperglikemia pada penderita "Non Insulin
Dependent Diabetes Mellitus" pada khususnya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau
tidaknya efek penusukan titik San Yin Ciao (IV.6) terhadap
hiperglikemia pada penderita "Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus", dan apakah penurunan kadar gula darah pada
kelompok yang diteliti bermakna dibandingkan dengan kelompok kontrol.

BAHAN DAN CARA KERJA

Bahan
Penelitian dilakukan di Unit Akupunktur Rumah Sakit Dr.
Cipto Mangunkusumo. Masa penelitian adalah dari bulan
April 1985 sampai dengan Oktober 1985.

• Kriteria Penderita
a. Kriteria Penerimaan
— Jumlah sampel 20 orang
— Diperkirakan putus uji klinik 35%, jumlah semua 20 +
35% X 20 = 27 orang
— Asal sampel : penderita dikirim oleh Bagian Penyakit
Dalam FKUI/RSCM dengan diagnosis NIDDM
— Penderita dengan kadar gula darah puasa I ≥ 140 mg%
— Umur penderita di atas 40 tahun
— Jenis kelamin : laki-laki atau perempuan
— Penderita tidak ada keluhan penyakit lain, dan tekanan
darah normal
— Penderita tidak makan obat antidiabetik paling sedikit
36 jam atau belum diobati dengan obat antidiabetik
b. Kriteria Penolakan
— Penderita perlu pengobatan dengan insulin
— Penderita dengan komplikasi, infeksi atau gangren
— Penderita dengan kadar gula darah puasa > 400 mg%
c. Kriteria Putus Uji Klinik
— Bila hasil kadar gula darah puasa I < 140 mg%
— Bila penderita tidak menyelesaikan program penusukan
untuk titik San Yin Ciao (IV.6) dan titik kontrol
— Penderita tidak mematuhi aturan persiapan yang dianjurkan

• Alat
a. Jarum akupunktur dari baja tahan karat nomor 32, panjang

1,5 inci, buatan Cina.
b. Multipurpose Electro-acupuncture Apparatus tipe DZ-22
buatan Cina.
c. Timer merek Memetic Straigner

• Titik yang dipilih
a. Titik San Yin Ciao (IV.6)
Titik San Yin Ciao (IV.6) merupakan titik nomor 6 pada
Meridian Limpa-pankreas 3,4,5 merupakan perpotongan dari
3 Meridian Yin Kaki (Limpa, Ginjal dan Hati).
Terletak pada 4 jari atau 3 inci di atas maleolus internus,
antara tepi posterior tibia dan m. soleus dan bagian dalamnya berada di m. fleksor digitorum longus pedis; diperdarahi oleh a. dan v. tibialis posterior dan v. safena magna;
dan dipersarafi di bagian permukaan oleh n. kutaneus kruris
medialis dan di sebelah dalam pada bagian posterior oleh

n. tibialis.
Cara penusukan tegak lurus sedalam 0,5—0,9 Cun, sebaiknya arah jarum menuju ke tibia 6,7 .
b. Titik Kontrol
— Titik, bukan titik akupunktur; terletak 1 inci ke atas dan
lateral dari titik San Yin Ciao (IV.6)

Gambar lokasi titik San Yin Ciao (IV.6) dan Titik Kontrol.
(Diambil dari Essentials of Chinese Acupuncture)

Cara Kerja
Sehari sebelum dilakukan penusukan, penderita makan terakhir pukul 22.00 dengan porsi yang biasa dimakan. Keesokan harinya penderita hanya boleh minum air putih satu gelas,
pukul 08.00 dilakukan pemeriksaan kadar gula darah puasa
pertama; kemudian dilakukan penusukan pada penderita yang
masih dalam keadaan puasa. Dua jam sesudah penusukan dilakukan pemeriksaan kadar gula darah puasa kedua.
Pada kunjungan pertama dilakukan penusukan pada titik
San Yin Ciao (IV.6), sedangkan pada kunjungan kedua dilakukan penusukan pada titik kontrol. Jarak waktu penusukan
pertama dan kedua 7 hari; lama penusukan 30 menit dan dilakukan manipulasi setiap 5 menit.
HASIL
Pada penelitian ini telah dilakukan penusukan pada 27 penderita diabetes melitus dari Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
Dari jumlah tersebut, yang dimasukkan dalam penelitian berjumlah 7 orang disebabkan 2 penderita tidak kembali untuk
tindakan pada titik kontrol, 4 penderita hasil kadar gula darah
puasa I pada titik San Yin Ciao (IV.6) < 140 mg%, 1 penderita dengan kadar gula darah puasa I pada titik kontrol
<140mg%.
(Lihat Tabel I, II, III dan IV).
DISKUSI
Di dalam Ilmu Kedokteran Cina pada umumnya dan Ilmu
Akupunktur pada khususnya, diabetes melitus disebut sebagai
"Siao He", dengan gejalanya diterangkan sebagai suatu keadaan di mana San Ciao terserang oleh panas dalam; adanya panas
dalam menimbulkan gangguan keseimbangan cairan. Pada
umumnya pengobatan dilakukan dengan pemulihan fungsi
organ paru-paru, limpa dan ginjal.
C. Ionescu Tirgoviste dan kawan-kawan, dalam penelitiannya melakukan penusukan titik San Yin Ciao (IV.6) pada
NIDDM dan IDDM; ternyata penurunan kadar gula darah seCermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

21
Tabel I. Gambaran kadar gula darah sebelum dan sesudah penusukan
pada titik San Yin Ciao
Kadar gula darah puasa
Sesudah
diakupunktur

(mg%)

No.

Sebelum
diakupunktur

170
180
235
165
130
205
240
140
200
250
155
230
235
275
210
250
255
120
110
150

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
1l.

12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.

X1 = 4845
Jml

X2 = 3905
—

X 1 = 245,25

X2

—

=

1 95,25

Kadar gula darah puasa I (mg%)

+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+

—
—

—
—
—
—

20,93
21,74
14,55
10,81
27,77
14,58
11,11
22,22
23,08
28,57
27,91
17,80
— 0,82
1,85
16,00
28,57
23,88
14,29
31,25
37,50

2

19,20

—
—
—
—
—
+
+
--

—
+
+
+
+
+
+
18

Dan tabel di atas tampak kadar gula darah sebelum penusukan dan sesudah penusukan turun pada 18 kasus (90%), dan naik pada 2 kasus
(10%). Nilai rata-rata kadargula darah sebelum penusukan 242,25 mg%
dan kadar gula darah sesudah penusukan 195,25 mg%. Persentase penurunan kadar gula darah sesudah penusukan sebesar 19,20%.

Tabel II. Gambaran kadar gula darah sebelum dan sesudah penusukan
pada titik kontrol
Kadar gula darah puasa
Sebelum
diakupunktur

Sesudah
diakupunktur

(mg%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.

200
150
255
190
160
170
260
160
260
230
150
205
140
210
240
170
175
150
145
210

190
200
250
160
130
100
305
125
260
205
160
230
165
190
210
150
135
135
130
225

Jml

Y1 = 3830
—
Y1 = 191,50

Nilai gula darah

Y2
—
Y2

=
=

3655
182,75

Turun

Naik

+

Persentase
penurunan

(mg%)

No.

+

—

+
+
—
+

5
— 33,33
1,96
15,79
18,75
41,18
— 17,31
21,88
0,00
10,87
— 6,67
— 12,20
— 17,86
9,52
12,50
11,70
22,86
10,00
10,34
— 7,14

—
+
—

++

—
—
+
—

+
—
—

+
+
+

++

—

+
+
+
+
+
—

—
—
+
13

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

No.

6

4,9

Tetap = 1

d2

d
Titik San Yin Ciao

Titik kontrol

215
230
275
185
180
240
270
180
260
350
215
280
220
270
250
350
335
140
160
240

200
150
255
190
160
170
260
160
260
230
150
205
140
210
240
170
175
150
145
210

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.

Σd

15
80
20
5
20
70
10
20
0
120
65
75
80
60
10
180
160
10
15
30
=

1015

225
6400
400
25
400
4900
100
400
0
14400
4225
5625
6400
3600
100
32400
25600
100
225
900
d2

=

106425

Tabel IV. Persentase penurunan kadar gula darah sesudah penusukan
pada titik San Yin Ciao dan titik kontrol
Persentase penurunan kadar gula darah
Titik

>20%
San Yin Ciao
Kontrol

Dan tabel di atas tampak kadar gula darah sebelum dan sesudah penusukan turun pada 13 kasus (65%), naik pada 6 kasus (30%), tetap
pada 1 kasus (5%). Nilai rata-rata kadar gula darah sebelum penusukan

22

Tabel III. Perbedaan kadar gula darah puasa sebelum penusukan pada
titik San Yin Ciao dan kontrol

(mg%)

215
230
275
189
180
240
270
180
260
350
215
280
220
270
250
350
335
140
160
240

Persentase
penurunan

Nilai gula darah
Turun
Naik

191,50 mg%, dan sesudah penusukan 182,75 mg%. Persentase penurunan kadar gula darah sesudah penusukan pada titik kontrol sebesar
4,9%.

11 kasus
3 kasus

15—20%
2 kasus
2 kasus

> 10%

5 kasus
4 kasus

Naik/ <10%

2 kasus
11 kasus

Dari tabel di atas tampak bahwa :
— Pada penusukan titik San Yin Ciao dengan penurunan kadar gula
darah > 20% pada 11 kasus, <10% atau naik pada 2 kasus.

sudah penusukan titik tersebut pada NIDDM lebih dari 10%,
sedangkan pada IDDM penurunan kadar gula darah kurang
dari 10% atau naik.
Pada penelitian ini dilakukan penusukan titik San Yin Ciao
(IV.6) dan kontrol (1 inci ke atas dan lateral dari titik San
Yin Ciao) pada penderita NIDDM. Alasan dipilihnya titik
San Yin Ciao adalah :
— Terletak pada meridian limpa-pankreas
— Banyak digunakan dalam bidang endokrin
— Merupakan titik perpotongan dari 3 Meridian Yin Kaki
yaitu limpa, ginjal dan hati
— Pada penelitian Tirgoviste penusukan pada titik ini berhasil menurunkan kadar gula darah
Pada penelitian ini jarum yang dipakai adalah jarum baja
tahan karat nomor 32 ukuran 1 inci, dengan maksud penusukan cukup dalam. Sesudah didapatkan sensasi penjaruman (te-ci), jarum ditinggal selama 30 menit dan dimanipulasi
setiap 5 menit untuk mempertahankan rasa sensasi penjaruman agar didapatkan rangsangan sedang sampai kuat, karena
�

pada penderita diabetes melitus limpa dalam keadaan Se.
Pada penusukan titik San Yin Ciao (IV.6) dalam penelitian
ini didapatkan penurunan kadar gula darah lebih dari 10%
pada 90% dari 20 kasus, dan pada penusukan titik kontrol
didapatkan penurunan kadar gula darah lebih dari 10% pada
45% dari 20 kasus; sedangkan Tirgoviste mendapatkan bahwa
penusukan titik San Yin Ciao dapat menurunkan kadar gula
darah lebih dari 10% pada 94% dari 47 kasus.
Dari Tabel I. Gambaran kadar gula darah sebelum dan sesudah penusukan titik San Yin Ciao; tampak kadar gula darah
rata-rata sebelum penusukan 245,25 mg% dan sesudah penusukan 195,25 mg%. Persentase penurunan kadar gula darah
adalah 19,20% dan didapatkan penurunan kadar gula darah
secara bermakna (P < 0,001).
Dari Tabel II. Gambaran kadar gula darah sebelum dan sesudah penusukan titik kontrol; tampak kadar gula darah ratarata setelah penusukan 191,50 mg% dan sesudah penusukan
182,75 mg%. Persentase penurunan kadar gula darah adalah
4,9% dan didapatkan penurunan kadar gula darah secara tidak
bertnakna (P > 0,05).
Tabel III. Perbandingan kadar gula darah puasa sebelum
penusukan titik San Yin Ciao (IV.6) dan kontrol, ternyata
didapatkan perbedaan secara bermakna (P > 0,001). Maka
kemaknaan penurunan kadar gula darah pada titik San Yin
Ciao (IV.6) tidak dapat dibandingkan dengan kemaknaan
penurunan kadar gula darah pada titik kontrol. Jadi pada
penelitian ini hanya dapat dinilai bahwa : penusukan titik
San Yin Ciao (IV.6) dapat menurunkan kadar gula darah
secara sangat bermakna (P < 0,001) dan penurunan kadar gula
darah pada titik keontrol tidak dapat menurunkan kadar gula
darah secara bermakna (P > 0,05). Terdapatnya perbedaan
kadar gula darah puasa sebelum penusukan pada titik San Yin
Ciao (IV.6) dan titik kontrol dapat disebabkan karena : kadar
gula darah sendiri sudah tidak stabil, maka pada penelitian ini
dilakukan disain bersilang, di mana kasus penelitian dan kontrol adalah sama. Tapi ternyata masih didapatkan perbedaan
kadar gula.darah yang menyolok. Kemungkinan lain perbedaan kadar gula puasa pada penderita penelitian dan kontrol
karena terdapat jarak waktu antara penusukan I dan II selama
1 minggu dan penderita sudah mendapat diet.
Tabel IV. Persentase penurunan kadar gula darah sesudah
penusukan pada titik San Yin Ciao (IV.6) dan titik kontrol,
tampak :

• pada penusukan titik San Yin Ciao (IV.6) :
— penurunan kadar gula darah > 20% pada 11 kasus
— penurunan kadar gula darah < 10%/naik pada 2 kasus

• pada penusukan titik kontrol :
— penurunan kadar gula darah > 20% pada 3 kasus
—

penurunan kadar gula darah < 10%/naik pada 11 kasus.

KESIMPULAN
• Penusukan pada titik San Yin Ciao (IV.6) dapat menurunkan kadar gula darah secara bermakna (p < 0,001). Sedangkan penusukan pada titik kontrol yang terletak 1 inci ke atas
dan ke samping dari titik San Yin Ciao (IV.6) penurunan
kadar gula darahnya tidak bermakna.
• Besarnya penurunan kadar gula darah tersebut adalah :
pada titik San Yin Ciao (IV.6) sebesar 19,20%, sedangkan
pada titik kontrol sebesar 4,90%. Nilai rata-rata kadar gula
darah pada titik San Yin Ciao (IV.6) sebelum penusukan

245,25 mg% dan sesudah penusukan 195,25 mg%. Sedangkan
kadar gula darah pada titik kontrol sebelum penusukan 191,50
mg% dan sesudah penusukan 182,75 mg%.
• Persentase penurunan kadar gula darah pada titik :
San Yin Ciao (IV.6) : > 20%
pada 11 kasus
15—20%
pada 2 kasus
> 10%
pada 5 kasus
naik/ < 10%
pada 2 kasus
Kontrol
: > 20%
pada 3 kasus
15—20%
pada 2 kasus
> 10%
pada 4 kasus
naik/ < 10%
pada 11 kasus

KEPUSTAKAAN
1. Utoyo Sukaton. Penanggulangan Diabetes Melitus sebagai Masalah
Kesehatan Masyarakat di Indonesia. Dalam : Simposium Berkala
Diabetes Melitus Bagian/Unit Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM,
Jakarta 1981, 1 - 5.
2. Supartondo. Kriteria Diagnostik Baru untuk Diabetes Melitus.
Dalam : Simposium Berkala Diabetes Melitus Bagian/Unit Ilmu
Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta 1981, 6 - 18.
3. Ionescu-Tirgoviste C, Mincu I. Testing the Pancreatic Reserve by
Acupuncture. Am J Acup 1974; 2 : 95 - 101.
4. Ionescu-Tirgoviste C, Mihalache NE, Sumionescu L, Mincu. The
Hypoglycemia Mechanism of the Acupuncture Point Spleen-Pancreas
6. Am J Acup 1975; 3 : 18- 23.
5. Omura Y. Acupuncture Medicine Its Historical and Clinical Background. Japan Publication Inc. 1982.
6. Anonim. Anatomical Atlas of Chinese Acupuncture Points. Junan,
China: Shandong Science and Technology Press. 1982, 227.
7. Anonim. Essentials of Chinese Acupuncture. 1st. ed. Beijing
Foreign Language Press, 1980, 153.

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

23
Efek Akupunktur pada
Hiperlipoproteinemia
Dr. Syartina Sofyan Iskandar
Unit Akupunktur RS Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta

PENDAHULUAN
Beberapa tahun belakangan ini penelitian-penelitian mengenai
komponen lipid sangat menonjol, karena dihubungkan dengan
korelasinya terhadap penyakit jantung koroner dan penyumbatan pembuluh darah perifer. Hiperlipoproteinemia dijumpai
pada 10% — 20% masyarakat industri dan masyarakat westernized di kota-kota besar . Faktor-faktor risiko untuk terjadinya penyakit jantung koroner yang terutama adalah hiperlipoproteinemia, hipertensi, laki-laki, merokok dan Diabetes
2
Mellitus . Berdasarkan faktor risiko di atas, tampak bahwa
pengenalan lebih awal akan adanya suatu hiperlipoproteinemia
sangat penting untuk mencegah dan menghambat sklerosis
3 '
'
pembuluh jantung dan perifer
Menurut penelitian, penurunan kadar serum kolesterol
sebanyak 15% — 20% dapat menurunkan risiko penyakit
jantung iskemik sebanyak 35% — 60% 5 . Banyak usaha dilakukan untuk menurunkan kadar lemak darah, antara lain melalui
pemberian obat-obatan, diet maupun dengan meningkatkan
latihan jasmani. Dari beberapa penelitian di luar negeri, ternyata akupunktur juga berkhasiat menurunkan beberapa
fraksi lemak secara bermakna5 .
Beberapa keuntungan pengobatan secara akupunktur yaitu
mudah, murah dan tanpa efek samping. Danciu dkk. melakukan akupunktur tanpa diet spesifik ataupun pengobatan hipolipemik 6 . Pemberian obat-obatan biasanya membutuhkan
waktu cukup lama, harganya mahal dan efisiensinya pun masih
diperdebatkan . Diet dan latihan jasmani membutuhkan disiplin diri yang cukup berat.
Di Indonesia sendiri belum ada penelitian tentang efek
akupunktur pada hiperlipoproteinemia.
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui ada
atau tidaknya efek akupunktur terhadap penurunan kadar
kolesterol dan trigliserida darah, sedangkan tujuan penelitian
khusus adalah untuk mengetahui berapa besar penurunan
kadar kolesterol dan trigliserida darah tersebut serta melihat
24

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

besarnya keberhasilan akupunktur pada keadaan hiperlipoproteinemia.
HIPERLIPIDEMIA DAN HIPERLIPOPROTEINEMIA
Hiperlipidemia adalah peninggian kadar lemak di dalam
plasma. Terdapatnya hiperlipidemia, hiperkolesterolemia atau
hipertrigliseridemia tidak dapat memastikan suatu penyakit
tertentu. Hiperlipidemia, seperti halnya demam, hanya merupakan suatu gejala dari kelainan yang dapat berbeda-beda
mekanisme dasar, manifestasi klinik, prognosis dan respons
terhadap pengobatan. Untuk kepentingan diagnosis dan
terapi, keadaan hiperlipidemia harus diterjemahkan sebagai
hiperlipoproteinemia 7 .
`
Nilai lemak plasma dipengaruhi oleh bermacam-macam
faktor, antara lain : suku bangsa, umur, faktor metabolik dan
genetik. Frederickson membuat definisi hiperlipidemia bila
kadar kolesterol 250 mg/dl dan trigliserida 200 mg/dl . Untuk
pedoman kerja dapat dipakai nilai berdasarkan umur, di mana
disebut hiperlipidemia jika individu berumur < 20 tahun
dengan kadar kolesterol total > 200 mg/dl, atau trigliserida
> 140 mg/dl, dan pada umur > 20 tahun dengan kadar kolesterol total > 240 mg/dl atau trigliserida > 200 mg/dl 8 .
PENATALAKSANAAN HIPERLIPOPROTEINEMIA
Karena merupakan salah satu usaha menanggulangi faktor
risiko penyakit jantung koroner, harus dilaksanakan serempak
dengan penanggulangan faktor-faktor risiko yang lain. Keberhasilan sangat tergantung pada kerja sama yang baik antara
dokter, ahli gizi dan penderita.
Bila hiperlipoproteinemia terjadi sekunder akibat penyakit
lain, tindakan utama adalah pengobatan penyakit tersebut.
Sedangkan pada hiperlipoproteinemia primer, terdapat 2 indikasi utama untuk ikut sertanya suatu pengobatan, yaitu :
• Pengobatan akan memperlambat timbulnya aterosklerosis
dan mengurangi komplikasi, misal : infark miokard.
• Indikasi lain yang agak jarang yaitu menghilangkan komplikasi hipertrigliseridemia yang berat, erupsi santoma primer,
nyeri perut, kadang-kadang bersama pankreatitis dan hepatosplenomegali.
Pengobatan perlu diberikan bila kadar kolesterol dan atau
trigliserida lebih dari normal berdasarkan umur 9 .
Diet7,10
Karena lipoprotein plasma secara langsung maupun tak langsung berasal dari apa yang kita makan, tidaklah mengherankan
bila diet akan sangat mempengaruhi kadar lipoprotein. Diet
adalah pengobatan yang terpenting pada hiperlipiproteinemia
primer.
Pada dasarnya sasaran diet adalah menurunkan berat badan
bila penderita terlalu gemuk, dan mempertahankannya dalam
berat badan ideal, serta menurunkan kadar lemak darah dan
mempertahankannya agar tetap dalam batas-batas normal.
Diet harus dijalankan terlebih dahulu sebelum dipergunakan obat-obat. Bila obat-obat perlu diberikan, diet harus tetap

dilaksanakan.
Obat-obatan11
• Nicotinic acid
Dapat menurunkan kadar kolesterol 8—16% dan trigliserida
20—30%. Efek samping banyak, antara lain : gatal-gatal, kemerahan kulit, anoreksia, nausea, vomitus, diare, tukak lambung, hiperurikemia, intoleransi glukosa dan fungsi hati

terganggu.
• Clofibrate
Dapat menurunkan kolesterol 5—15% dan trigliserida 30—40%.
Salah satu efek sampingnya adalah meningkatkan jumlah
sterol fekal yang berhubungan dengan kolelitiasis dan penyakit

traktus biliaris.
• Bile acid sequestrants (Cholestyramine, Colestipol)
Menurunkan kolesterol sebanyak 20—30% dan meningkatkan
trigliserida. Efek sampingnya antara lain adalah konstipasi.

lipoproteinemia yang banyak dijumpai_ (90% dari ke-5 jenis
hiperlipoproteinemia). Akupunktur menormalkan kadar lemak
plasma pada 4 kasus (33,3%), sedangkan pada kasus-kasus
lainnya terdapat penurunan kadar kolesterol dan trigliserida
yang juga bermakna walaupun tetap di atas nilai normal. Pada
4 kasus tampak penurunan kadar kolesterol sedangkan trigliserida meningkat. Hal ini mungkin disebabkan karena penurunan kadar kolesterol dan trigliserida darah ini tidak saling berhubungan yang dapat disebabkan karena efek masing-masing
titik akupunktur yang berlainan.
Ionescu-Tirgoviste dkk. 5 melanjutkan penelitian Danciu
dkk. pada 86 penderita (69 hiperlipoproteinemia primer,
17 sekunder karena Diabeies Mellitus). Penderita-penderita
ini telah mendapatkan diet khusus selama kurang lebih setahun
untuk masing-masing jenis hiperlipoproteinemia (32 tipe IIa,
18 tipe IIb, 4 tipe III, 2 tipe V). Titik-titik yang dipakai sama,
pada 71 kasus dilakukan akupunktur biasa dan pada 15 kasus
dilakukan elektroakupunktur selama 15 menit (frekuensi
8—10 Hz, arus bolak balik). Interval 3—4 hari sebanyak 8—10
kali penusukan. Diet tetap seperti semula dan tidak diberi
obat-obatan. Mereka mendapatkan hasil sebagai berikut :
sangat baik (kadar lipid normal) 22,09%, baik (penurunan
kadar kolesterol dan atau trigliserida yang bermakna (34,88%)
dan gagal (tanpa perubahan atau penurunan kadar kolesterol
dengan peningkatan kadar trigliserida atau sebaliknya) 43,02%.
Tidak jelas perbedaan hasil yang diberikan oleh akupunktur
biasa atau elektroakupunktur. Mereka memakai kelompok
lain (11 kasus), di mana jumlah jarum dan cara penusukan
sama, tapi pada titik-titik yang berbeda (pseudoakupunktur).
Hasil yang didapat adalah juga penurunan kadar kolesterol
dan atau trigliserida darah, tapi tidak bermakna. Mereka juga
melakukan pemeriksaan ulangan setelah 6—18 bulan akupunktur pada 19 kasus, pada 17 kasus hasilnya dapat dipertahankan.

• Probucol
Menurunkan kadar kolesterol sebesar 10—15% dan pengaruh
pada trigliserida bervariasi. Efek samping antara lain : diare,
kembung dan peninggian trigliserida.

• Neomycin
Dapat menurunkan kadar plasma kolesterol sebesar 20—30%.
Efek samping berupa diare dan kejang perut.
BEBERAPA PENELITIAN AKUPUNKTUR DALAM PENGOBATAN HIPERLIPOPROTEINEMIA
Karena efisiensi pengobatan hiperlipoproteinemia masih diperdebatkan, alternatif praktis hanyalah diet. Pada saat ini
dapat ditambahkan akupunktur sehingga hasilnya akan lebih
4
nyata dibandingkan hanya diet saja .
5 melakukan penelitian efek akupunktur pada
Danciu dkk.
12 kasus hiperlipoproteinemia (6 sekunder karena Diabetes
Mellitus, 4 berhubungan dengan obesitas, 2 hiperlipoproteinemia primer) dengan menusuk titik-titik : Ci Cuen (XII.8), San
Yin Ciao (IV.6), Kung Sun (IV.4) dan Cung Wan (XIII.12).
Jarum ditinggal selama 15 menit setelah memperoleh sensasi
penjaruman te-ci. Akupunktur diberikan sebanyak 3—5 kali
dengan interval 3—7 hari, tanpa anjuran diet khusus ataupun
obat-obat hipolipemik. Jenis hiperlipoproteinemia terdiri dari
6 tipe IIa, 3 tipe IIb, 3 tipe IV; yang merupakan kasus hiper-

Gambar 2.

Kemungkinan mekanisme penurunan kadar kolesterol dan
trigliserida darah dengan penusukan titik-titik akupunktur
yang digunakan.
(diambil dari Danciu A. Am J Acupunct 1976; 4 : 337 343).

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

25
Mekanisme penurunan kadar kolesterol dan trigliserida
darah dengan akupunktur masih merupakan hipotesis5,6 . Titik
Ci Cuen (XII.8) yang dikenal sebagai regulator fungsi hati,
akan mempengaruhi sintesis kolesterol dan trigliserida endogen
di hati. Hal ini terjadi sebagian dengan perantaraan stimulasi
sekresi pankreas akibat penusukan titik Kung Sun (IV.4) dan
San Yin Ciao (IV.6). Titik San Yin Ciao (IV.6) bersama-sama
dengan titik Cung Wan (XIII.12) mempengaruhi digesti,
absorbsi dan eliminasi lemak dan karbohidrat yang berasal
dari makanan. Mekanisme ini diduga mungkin berpengaruh
pada hiperlipoproteinemia tipe IIa, di mana tampak hasil yang
cukup memuaskan, sedangkan tipe ini paling resisten terhadap
cara penanggulangan yang lain. Penurunan sintesis trigliserida
endogen mungkin berhubungan dengan titik San Yin Ciao
(IV.6) yang diketahui berpengaruh pada sekresi insulin. Penurunan sekresi insulin terutama pada penderita obesitas dapat
menyebabkan penurunan sintesis trigliserida endogen sehingga
terjadi penurunan kadarnya dalam plasma. Keadaan ini dapat
menjelaskan hasil akupunktur yang baik pada hiperlipoproteinemia tipe IIb, III dan IV. Efek seimbang didapati pada
kira-kira 25% kasus, di mana penurunan kolesterol diikuti
peningkatan trigliserida atau sebaliknya. Ini menunjukkan
penghambatan pada sintesis kolesterol akan meningkatkan
sintesis trigliserida atau sebaliknya.
Titik Kung Sun (IV.4) dalam "Electroacupuncture according to Voll" disebut sebagai titik ukur pankreas atau titik
li mpa-pankreas, dipakai untuk menguji produksi ensim-ensim
untuk metabolisme lemak (esterase dan lipase) 12 .
Zhao Hexi dkk. 13 melakukan penelitian pada 72 kasus hiperlipoproteinemia dengan memakai satu titik yaitu Nei Kuan
(IX.6). Dari 72 kasus tersebut, 52 kasus dengan peningkatan
kolesterol berhasil pada 75,47%, 65 kasus dengan peningkatan
trigliserida berhasil pada 76,92% dan 63 kasus dengan peningkatan beta-lipoprotein berhasil 70,59%. Penurunan tersebut
bermakna (P < 0,001). Batasan hiperlipoproteinemia ditetapkan bila kadar kolesterol ≥ 200 mg%, trigliserida , ≥ 110 mg%
dan beta-lipoproteinemia ≥ 530 mg%. Pada setiap kasus, minimal satu dari fraksi tersebut yang meningkat.
Penusukan kedua titik Nei Kuan (IX.6) dilakukan setiap 2
hari sampai 10 kali, lalu istirahat 3—5 hari, kemudian dilanjutkan 10 kali penusukan lagi. Manipulasi dilakukan sebagai berikut : setelah jarum ditusukkan, jarum diangkat, dan diputar
selama 2 menit. Lama penusukan 20 menit, dilakukan manipulasi yang sama 2 kali.
Menurut para peneliti ini, mekanisme kerja akupunktur di
sini mungkin meregulasi fungsi endokrin dan berbagai jenis
ensim. Penjaruman ini juga akan mempengaruhi sintesis,
absorpsi dan ekskresi kolesterol dan trigliserida di hati dan
saluran pencernaan sehingga menurunkan kadar lemak darah
tersebut.
Omura 14 juga meneliti efek akupunktur pada kadar kolesterol, trigliserida dan fosfolipid, dengan menusuk titik Cu San Li
(III.36) pada 206 penderita. Didapatkan penurunan kadar
lemak darah yang terutama bermakna pada trigliserida dan
fosfolipid, yaitu sebesar 30—60%.

BAHAN DAN CARA KERJA
Bahan
Penelitian dilakukan di Unit Akupunktur RS Dr. Cipto Mangunkusumo atas kerja sama dengan Bagian Kardiologi FKUI/
26

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

RSCM. Masa penelitian adalah dari bulan Maret 1985 sampai
dengan Oktober 1985.
Kriteria penderita yang diteliti :
— Penderita dikirim oleh Bagian Kardiologi FKUI/RSCM
dengan diagnosis hiperlipoproteinemia (kadar kolesterol
total lebih dari 240 mg/dl dan atau kadar trigliserida lebih
dari 200 mg/dl).
— Penderita adalah dewasa laki-laki atau perempuan (lebih
dari 20 tahun), tanpa kelainan kardiologis atau dengan kelainan kardiologis ringan, tidak menderita penyakit-penyakit antara lain : metabolisme, ginjal, hati dan lain-lain yang
berhubungan dengan terjadinya keadaan hiperlipoproteinemia.
— Selama penelitian dan sebulan sebelumnya tidak memakan
obat-obatan hipolipemik, kontrasepsi, kortikosteroid, alkohol dan rokok.
— Penderita harus menyelesaikan 10 kali kunjungan.
— Dilakukan pemeriksaan laboratorium terhadap kadar kolesterol total dan trigliserida darah sebelum dan sesudah akupunktur.
Jumlah penderita yang dikirim untuk penelitian adalah 17
orang, yang memenuhi persyaratan penelitian 16 orang, 1
orang hanya datang 1 kali saja karena penderita sangat takut
dan menolak diakupunktur. Pada 8 kasus dilakukan akupunktur dan pada 8 kasus lagi dilakukan akupunktur dan diet.
Alokasi penderita dilakukan secara acak dengan block simple
random sampling.
Perhitungan statistik dilakukan dengan menggunakan rumus t
dari Fisher untuk melihat penurunan kadar lipoprotein darah.

Cara kerja
1) Pemeriksaan
Sebelum akupunktur dimulai, dibuat catatan data biokimiawi
kadar kolesterol total dan trigliserida darah. Pemeriksaan
lemak darah penderita dilakukan setelah puasa selama 12—16
jam. Kadar kolesterol diukur dengan metoda Chod-Pap dan
trigliserida dengan metoda fully -enzymatic.
2) Alat yang dipakai
Jarum akupunktur yang terbuat dari baja tahan karat nomor
32 ukuran 1 cun (inci) buatan Cina.
3) Cara penusukan
Penderita berbaring dalam keadaan terlentang. Daerah di sekitar titik akupunktur yang ditentukan dibersihkan dengan
kapas alkohol, lalu dilakukan penusukan dengan jarum akupunktur steril pada titik-titik tersebut. Jarum ditusukkan perpendikular sampai mendapat te-ci (sensasi penjaruman), kemudian jarum ditinggal selama 15 menit. Penusukan diberikan
2 kali seminggu sampai mencapai 1 seri (10 kali kunjungan).
Penderita yang termasuk kelompok akupunktur dan diet dikirim ke Bagian Gizi RSCM untuk memperoleh penerangan
mengenai diet yang harus dilakukan.
4) Titik-titik yang dipilih
• Cung Wan (XIII.12) : Terletak di garis tengah perut, di pertengahan fara prosesus xifoideus dan umbilikus. Vaskularisasi
oleh arteri dan vena epigastrika superior. Inervasi oleh nervus
interkostalis VII cabang kutaneus anterior.
• Kung Sun (IV.4) : Terletak di tepi medial kaki pada lekuk
anterior dan inferior dari basis os metatarsal I di kulit pada
batas warna merah dan putih. Vaskularisasi oleh arteri tarsalis
medialis dan jala vena dorsalis kaki. Inervasi oleh nervus sa-
fenus dan cabang nervus peroneus superfisialis.

• San Yin Ciao (IV.6) : Terletak 3 cun tepat di atas puncak
maleolus medialis, di antara tepi posterior tibia dan m. soleus,
bagian yang lebih dalam terletak pada m. fleksor digitorum
longus. Vaskularisasi oleh vena safena magna, arteri dan vena
tibialis posterior. Inervasi di bagian permukaan oleh nervus
kutaneus kruris medialis dan di sebelah dalam pada bagian
posterior oleh nervus tibialis.
• Ci Cuen (XII.8) : Terletak di bagian medial sendi lutut.
Bila lutut dalam keadaan fleksi, titik ini terletak di ujung lekuk
transversal poplitea, pada tepi posterior kondilus medialis
tibia dan pada tepi anterior insersio muskulus semimembranosus dan muskulus semitendinosus. Vaskularisasi oleh vena
safena magna di bagian anterior, dalam perjalanan arteri genu
suprema. Inervasi oleh cabang nervus safenus.

Gambar 1.

Lokasi titik Cung Wan (XIII.12)
(Diambil dari Essentials of Chinese Acupuncture).

Gambar 4.
Gambar 2.

Lokasi titik Kung Sun (IV.4)
(Diambil dari Essentials of Chinese Acupuncture).

Gambar 3.

Lokasi titik San Yin Ciao (IV.6)
(Diambil dari Essentials of Chinese Acupuncture).

Lokasi titik di Cuen (XII.8)
(Diambil dari Essentials of Chinese Acupuncture).

5) Evaluasi
Pada akhir penelitian diadakan evaluasi dengan pemeriksaan
kimia darah kembali dengan cara yang sama seperti sebelumnya.
Evaluasi dilakukan terhadap :
a. Lipoprotein (kolesterol dan trigliserida).
Hasil penelitian
• sangat baik terdapat penurunan kadar kolesterol dan
trigliserida sampai nilai normal (di bawah batas maksimum).
• baik : terdapat penurunan kadar kolesterol dan trigliserida tapi masih di atas nilai normal.
• gagal : tidak terdapat penurunan yang berarti (tetap)
atau terdapat peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida, kolesterol menurun dan trigliserida meningkat,
trigliserida menurun dan kolesterol meningkat.
b. Kolesterol saja.
Hasil penelitian
• sangat baik : terdapat penurunan kadar kolesterol
sampai nilai normal (di bawah batas maksimum).
• baik : terdapat penurunan kadar kolesterol tapi masih di
atas nilai normal.
• gagal : tidak terdapat penurunan atau terdapat peningkatan kadar kolesterol.
c. Trigliserida saja.
Hasil penelitian

• sangat baik : terdapat penurunan kadar trigliserida
Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

27
sampai nilai normal (di bawah batas maksimum).
• baik : terdapat penurunan kadar trigliserida tapi masih
di atas nilai normal.
• gagal : tidak terdapat penurunan atau terdapat pening-

katan kadar trigliserida.
Penelitian dianggap berhasil bila penderita termasuk dalam
penilaian sangat baik dan baik. Juga dilakukan perhitungan
statistik dengan rumus t Fisher untuk melihat efek akupunktur
terhadap kadar kolesterol dan trigliserida.
HASIL PENELITIAN
Tabel I. Gambaran kadar kolesterol total dan trigliserida sebelum dan

sesudah akupunktur serta hasil evaluasi penelitian
Kolesterol total
( mg/dl)

No.

sebelum
akp.

4.

5.
6.
7.
8.

sesudah
akp.

307
290
327
72
280
268
322
284

1.
2.
3.

Trigliserida
(mg/dl)
sebelum
sesudah
akp.
akp.

243
197
267
248
177
235
234
196

356
165
214
172
224
178
236
220

Hasil evaluasi
penelitian

274
104
270
152
145
112
182
300

baik
sangat baik
gagal
baik
sangat baik
sangat baik
sangat baik
gagal

Dari tabel di atas tam pak penurunan kadar kolesterol pada 8 kasus,
pada 5 kasus sampai nilai normal, pada 3 kasus masih di atas nilai
normal. Trigliserida meningkat pada 5 kasus, 1 masih di atas nilai
normal dan pada 2 kasus terjadi peningkatan. Hasil evaluasi penelitian :
sangat baik pada 4 kasus, baik pada 2 kasus dan gagal 2 kasus.
Tabel II. Gambaran kadar kolesterol dan trigliserida sebelum dan sesudah akupunktur dan diet serta hasil evaluasi penelitian

No.

Kolesterol total
( mg/dl)

Trigliserida
( mg/dl)

sebelum
sesudah
sebelum
akp + diet akp + diet akp + diet

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

274
308
270
278
300
273
337
276

218
230
268
198
268
250
232
254

Hasil evaluasi

sesudah
akp + diet

164
180
214
105
237
128
240
168

162
165
197

87
199
124
194
162

sangat baik
sangat baik
gagal
sangat baik
baik
baik
sangat baik
baik

Dari tabel di atas tampak penurunan kadar kolesterol yang meningkat
pada 7 kasus, pada 1 kasus tetap (4 sampai nilai normal, 3 masih di atas
normal). Pada 3 kasus dengan trigliserida yang meningkat, terdapat penurunan sampai nilai normal. Hasil evaluasi penelitian adalah sangat
baik pada 4 kasus, baik pada 3 kasus, gagal 1 kasus.

Tabel III. Hasil penelitian menurut jenis lipoprotein yang meningkat
pada masing-masing kasus
No.

Jenis lipoprotein
yang meningkat

Jumlah
kasus

Hasil penelitian
sangat
baik

1.

2.

kolesterol &
trigliserida
kolesterol
Jumlah

28

baik

gagal

8

3 (37,5%) 2 (25%)

8

5 (62,5%)

3 (37,5%) 0 (0%)

8 (50%)

5 (31,25%) 3 (18,75%)

16

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

3 (37,5%)

Dari tabel di atas tampak penelitian berhasil pada 81,25% dari 16 kasus
hiperlipoproteinemia dengan perincian sebagai berikut : sangat baik
50% (8 kasus), baik 31,25% (5 kasus) dan gagal 18,75% (3 kasus).
Tabel IV. Efek akupunktur pada kadar kolesterol yang meningkat
dengan hasil evaluasirya

No.

Sebelum akupunktur
( mg/dl)

Sesudah akupunktur
(mg/dl)

Hasil evaluasi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.

274
307
290
327
308
270
278
272
300
273
280
337
268
276
322
284

218
243
197
267
230
268
198
248
268
250
224
232
235
254
234
196

sangat baik
baik
sangat baik
baik
sangat baik
gagal
sangat baik
baik
baik
baik
sangat baik
sangat baik
sangat baik
baik
sangat baik
sangat baik

Dari tabel di atas tampak akupunktur berhasil menurunkan kadar kolesterol pada 15 kasus dan pada 1 kasus tetap, dengan evaluasi sangat
baik pada 9 kasus (56,25%), baik pada 6 kasus (37,5%) dan gagal pada
1 kasus (6,25%).
Tabel V. Efek akupunktur pada kadar trigliserida yang meningkat dan
hasil evaluasinya

No.

Sebelum akupunktur
(mg/dl)

Sesudah akupunktur
(mg/dl)

Hasil evaluasi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

356
214
214
237
224
240
236
220

274
270
197
199
145
194
182
300

baik
gagal
sangat baik
sangat baik
sangat baik
sangat baik
sangat baik
gagal

Dan tabel di atas tampak akupunktur berhasil menurunkan kadar trigliserida pada 6 kasus, dengan evaluasi sangat baik pada 5 kasus (62,5%),
baik pada 1 kasus (12,5%) dan gagal pada 2 kasus (25%).
Tabel VI. Nilai rata-rata kolesterol total trigliserida sebelum dan sesudah akupunktur,
sebelum dan sesudah akupunktur dan diet, serta selisihnya

Nilai rata-rata kolesterol total
(mg/dl)
sebelum sesudah selisih %

No.

Tindakan

1.
2.

Akupunktur
Akp + diet

293,7
289,5

223,2
239,7

70,5 24,03
49,8 16,87

Nilai rata-rata trigliserida
(mg/dl)
sebelum sesudah selisih %
220,6
179,5

193,6 27,0 12,23
161,25 18,25 10,16

Dari tabel di atas tampak rata-rata penurunan kadar kolesterol sesudah akupunktur
sebesar 24,03% dengan P <0,001 (t hitung 19,58 dan t tabel 5,408); sesudah akupunktur dan diet rata-rata penurunan sebesar 16,87% dengan P < 0,001 (t hitung
11,19 dan t tabel 5,408). Rata-rata penurunan kadar trigliserida sesudah akupunktur
adalah 12,23% dengan 0,01 <P <0,02 (t hitung 3,44 dan t tabel antara 2,998 dan
3,499); sesudah akupunktur dan diet rata-rata penurunan sebesar 10,16% dengan
P 0,001 (t hitung 9,13, t tabel 5,408).

Tabel VI. Gambaran berat badan, tinggi badan, tensi sebelum dan sesudah akupunktur

No. P/L Umur
(th)

Berat badan (kg)
Sebelum

Sesudah

Tinggi
badan

Tensi (mmHg)

(cm) Sebelum Sesudah

1.

P

60

65

62,5

143

170/90

160/95

2.
3.

L
P

39
52

79
45

78
45

170
155

125/85
130/90

125/85
125/90

4.

L

58

69,5

69

169

170/80

170/80

5.
6.
7.

P
L
P

70
28
48

49,5
49
79,5

50
49
77

151,5 210/100 150/85
154,5 160/90 160/90
162,5 130/90 130/90

8.
9.
10.
11.

L
L
P
P

61
72
65
51

72,5
65
52,5
47,5

71,5
65,5
52
47

166,5
174,5
154
145,5

130/90
150/90
120/80
140/85

12.
13.

L
L

50
43

66
66,5

64
66

160
160

130/80 130/80
165/100 160/90

14.

L

62

72

70,5

165

145/85

145/85

15.
16.

P
L

54
56

60
67,5

58
67

154
163

140/80
130/85

130/80
130/85

130/90
140/95
120/80
135/85

Keluhan subyektif
Sebelum

Sesudah

sukar tidur,
berkurang
terasa berat,
pegal-pegal
tidakjelas
nyeri dada,
berkurang
lekas capai,
perut pedih
dada & badan dosis obat
kurang
dada berat
hilang
tidak jelas
lemas, berhilang
debar-debar
lekas capai
berkurang
sesak nafas
berkurang
nyeri dada
hilang
berkurang
nyeri dada
tangan semutan
nyeri dada
berkurang
sesak nafas,
berkurang
bahu pegal
sakit dada,
berkurang
lekas capai
nyeri dada
berkurang
sakit dada
berkurang

Tindakan
Akp. Akp + Diet
—

+

+
+

—
—

+

—

—
—
—

+
+
+

+
+
+
+

—
+
—
—

—
+

+
—

—

+

—
+

—

+

Dari tabel di atas tampak beberapa kasus berat badan yang lebih dari normal menurun (0,5 — 2,5 kg), tensi menurun sedikit dan gejala subyektif sebagian berkurang sampai hilang.

DISKUSI
Dengan pemakaian titik-titik akupunktur yang sama, hasil penelitian Ionescu-Tirgoviste dkk terhadap hiperlipoproteinemia
adalah berhasil sebesar 56,97% (sangat baik 22,09% dan baik
34,88%) dan gagal 43,02%; sedangkan hasil penelitian di
RSCM terhadap hiperlipoproteinemia adalah berhasil sebesar
81,25% (sangat baik 50% dan baik 31,25%) dan gagal 18,75%
(tabel III); terhadap kolesterol saja keberhasilan yang diperoleh adalah 93,75% dengan perincian sangat baik 56,25% dan
baik 37,5%, gagal 6,25% (tabel I V); terhadap trigliserida keberhasilan 75% dengan perincian sangat baik 62,5% dan baik
12,5%, gagal 25% (tabel V).
Perbedaan hasil ini mungkin disebabkan karena adanya
variabel yang berbeda. Peneliti yang terdahulu juga mengikutsertakan beberapa kasus hiperlipoproteinemia sekunder ka-

rena Diabetes Mellitus, sehingga bila Diabetesnya sendiri
belum teratasi maka kadar trigliserida akan tetap tinggi; dan
ini akan mempengaruhi hasil evaluasi.
Seperti diketahui, penurunan kadar serum kolesterol sebesar 15%—20% dapat menurunkan risiko penyakit jantung
iskemik sebesar 35%—60% 5 . Dengan tindakan akupunktur,
rata-rata penurunan kolesterol total adalah 24,03% dan ratarata penurunan trigliserida adalah 12,23%. Dengan akupunktur
dan diet, rata-rata penurunan kolesterol total adalah 16,87%
dan rata-rata penurunan trigliserida adalah 10,16% (Tabel VI).
Berdasarkan hasil penelitian di atas dan tulisan yang disajikan, dapat disimpulkan bahwa akupunktur pada keadaan
hiperlipoproteinemia dapat menurunkan risiko penyakit
jantung iskemik.
Pada penelitian ini dicoba untuk memisahkan tindakan
Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

29
yang dilakukan, yaitu sebagian dengan akupunktur saja dan
sebagian dengan akupunktur dan diet khusus, hal ini dimaksudkan untuk melihat apakah akupunktur tanpa diet khusus
juga mempunyai efek hipolipemik yang bermakna.
KESIMPULAN DAN SARAN
• Akupunktur mempunyai efek menurunkan kadar kolesterol
dan trigliserida darah pada hiperlipoproteinema dengan keberhasilan 81,25% dari 16 kasus (sangat baik 50%, baik 31,25%
dan gagal 18,75%).
• Akupunktur mempunyai efek menurunkan kadar kolesterol
darah secara bermakna (P < 0,001) dengan hasil penurunan
24,03% sesudah akupunktur dan 16,87% sesudah akupunktur
dan diet; akupunktur juga mempunyai efek menurunkan
kadar trigliserida secara bermakna dengan hasil penurunan
12,23% sesudah akupunktur (P < 0,001) dan 10,16% sesudah
akupunktur dan diet (0,01 < P < 0,02).
• Keberhasilan akupunktur untuk menurunkan kadar kolesterol adalah 93,75% (sangat baik 56,25%, baik 37,5% dan gagal
6,25%), sedangkan kadar trigliserida menurun dengan keberhasilan sebesar 75% (sangat baik 62,5%, baik 12,5%, dan gagal
25%).
• Pada evaluasi terlihat perbaikan dari keluhan subyektif
maupun gejala klinis (tabel VIII) pada beberapa kasus, meskipun pada penelitian ini belum dilakukan pengamatan yang
khusus terhadap hal-hal tersebut.
• Perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk melihat sejauh
manakah akupunktur dapat mempengaruhi fraksi -fraksi lemak
darah yang lain, dan titik akupunktur yang mana yang paling
mempengaruhi kadar lemak darah.
• Melihat hasil penelitian efek akupunktur pada hiperlipoproteinemia tersebut, dapat disimpulkan bahwa akupunktur
dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner. Karena
itu dianjurkan untuk memasukkan akupunktur sebagai salah
satu cara penanggulangan keadaan hiperlipoproteinemia.

Ucapan terima kasih
Pada para dokter Bagian Kardiologi FKU1/RSCM, Ahli Gizi RSCM,
Ahli laboratorium RSCM, atas kerja sama dan bantuannya dalam penelitian ini.

30

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

KEPUSTAKAAN
1. Rifkind BM, Levy RI. Hyperlipidemia, Diagnosis and Therapy.
Grune & Stratton Inc., 1977; 1 - 39.
2. Hurst JW. The Heart. 5th ed. McGraw Hill Book Co., 1982; 951 957.
3. Sokolow M. Clinical Cardiology. 2nd ed. Lange Med Publ, 1981;
126 - 129.
4. Adi Kusuma Aman, Burhanuddin Nasution. Metabolisme dan arti
klinis lipiprotein. Mcdika 1983; 3 : 267 - 274.
5. Ionescu-Tirgoviste C, Phleck-Chhayan, Visinescu R, Danciu A.
Acupuncture and electroacupuncture therapy in the treatment
of hyperlipoproteinemia. Am J Acupunct 1981; 9 : 57 - 62.
6. Danciu A, Ionescu-Tirgiviste C, Georgescu M, Cheta D, Stamoran
M. The treatment of hyperlipoproteinemia by acupuncture. Am J
Acupunct 1976; 4 : 337 - 343.
7. Levy RI, Bonoell M, Ernst ND. Dietary management of hyperlipoproteinemia J A Diet Ass 1971;58 . : 406 - 416.
8. Brown MS, Goldstein JL. The hyperlipoproteinemias and other
disorders of lipid metabolism. In : Principles of Internal Medicine,
th ed McGraw Hill Book€ Kogakusha Ltd., 1983; 547 - 559.
9. Frederickson DS, Levy RI, Lees RS. Fat transport in lipoproteinemia. An integrated approach to mechanism and disorders.
New England J Med 1967; 276 : 1 (34 - 44), 2 (94 - 103), 3 (148 156), 4 (215 - 224), 5 (273 - 281).
10. Spritz N. Diet in the treatment of hyperlipidemia. Am Heart J
1980; 100 : 924 - 927.
11. Samuel P : Drug treatment of hyperlipidemia. Am Heart J 1980;
100 : 573 - 577.
12. Leonhardt H. Fundamentals of electroacupuncture according to
Voll. Medizinisch Literarische Verlagsgesellschaft mBH, 1980;
188.
13. Zhao Hexi, Zhang Ren Li Huanbin, Chang Xingguo. Influence on
hyperlipidemia by needling Neiguan : Clinical analysis of 72 cases.
The second national symposium on acupuncture and mox bastion
and acupuncture anesthesia (abstr.). Beijing, 1984; 13 - 14.
14. Omura Y. Acupuncture effects on cardiovascular and nervous
system. Acupunct & El Their Research 1975; 1 : 51 - 141.
15. Scott PJ. Hyperlipidemia, Current concepts in prevention and
treatment. Medical Progress 1983; 2 : 36 - 41.
16. Omura Y. Historical Aspect of Acupuncture. Acupunct & El
Ther Research 1975; 51 - 141.
17. Meeker LA. Index of Acupuncture. 4th ed. MOD Co., New Mexico
1980 : 61.
18. Anonim. Essencials of Chinese Acupuncture. Foreign Languages
Press, Beijing, China, 1981.
19. Connor JO & Bensky D. Acupuncture, A Comprehensive text.
Eastland Press, Chicago, 1981.
Akupunktur Analgesi pada
Bedah Beku di Daerah Penis
Dr. Husniah R. Th € Akib *, Dr. Petrus Tarusarya **
Unit Akupunktur RS Dr Ciptomangunkusumo, Jakarta
Dr. Gatut Suprodjo
Bagian Ilmu Penvakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
RS Dr. Ciptomangunkusumo, Jakarta

ABSTRAK
Akupunktur analgesi untuk tindakan bedah beku di
daerah penis terhadap penderita kondiloma akuminata telah
dilakukan dengan hasil memuaskan. Analgesi dilakukan
dengan akupunktur listrik pada titik XIV.2, XIV.4, VII.32,
XIII.2 dan Matsui. Stimulator listrik yang digunakan adalah
type DZ 22 dengan frekuensi 200Hz dan 2000 Hz. Induksi
dilakukan selama 20 menit. Akupunktur analgesi ini terutama bermanfaat pada keadaan-keadaan di mana analgesi
dengan obat-obatan tidak dapat dilakukan.
PENDAHULUAN
Akupunktur analgesi pada pembedahan adalah teknik
akupunktur yang diterapkan selama masa prabedah atau
masa bedah untuk mencapai keadaan analgesi .
Akupunktur analgesi sering disebut dengan nama akupunktur anestesi. Penamaan ini kurang tepat, sebab pada pembedahan dengan akupunktur analgesi, penderita sadar sepenuh2, 3 .
nya dan semua sensasi tetap utuh, kecuali nyeri
Sejak dahulu telah diketahui bahwa akupuktur dapat
menanggulangi nyeri. Efek penanggulangan nyeri ini akhirnya
dikembangkan sedemikian rupa, sehingga pada tahun 1958
untuk pertama kali dapat digunakan sebagai analgesi pada
pembedahan. Akupunktur analgesi sangat sederhana pelaksanaannya, ekonomis dan tidak memerlukan alat-alat yang
rumit. Metode ini sangat berguna di daerah perang rural,
daerah yang komunikasinya sulit dan dalam keadaan perang.
*) Penulis saat ini bertugas di Farmakologi klinik RS Dr Citpmangunkusumo.
**) Penulis saat ini bertugas di RS Sintanala.

Akupunktur analgesi aman, tidak ada efek samping dan
lain-lain reaksi yang tidak terduga. Berdasarkan pengamatan
dari jutaan pembedahan, dilaporkan bahwa tidak ada kematian
yang disebabkan oleh akupunktur analgesinya 4 . Akupunktur
analgesi terutama bernilai untuk digunakan pada keadaankeadaan di mana anestesi obat-obatan tidak mungkin dilakukan. Misalnya pada keadaan alergi terhadap obat-obat anestesi,
pada penderita penyakit jantung, ginjal, paru, hati, dan lainlain 6,6
Salah satu keuntungan yang nyata dari penggunaan
akupunktur analgesi adalah pengurangan penggunaan narkotika sebanyak 80% 2 .
Akupunktur analgesi telah pula dilakukan pada neonatus
berumur 2 hari, juga orang tua berumur 90 tahun 5,7.
Pada saat ini, pembedahan dengan akupunktur analgesi
telah diterapkan di seluruh dunia. Di Cina sampai tahun 1979
telah dilakukan 200 jenis pembedahan dengan akupunktur
analgesi pada 2.000.000 penderita8 . Di Australia sejak 1972
telah dilakukan kira-kira 200 jenis pembedahan
dengan
akupunktur analgesi6 . Angka keberhasilan secara umum adalah
90% 5,9,10 .
Sedangkan rasio akupunktur analgesi di Cina
adalah 10% — 30% 2,11 . Pada umumnya di luar Cina akupunktur analgesi hanya dilakukan pada keadaan di mana anestesi
obat-obatan tidak dapat dilakukan 6 . Pelaksanaan akupunktur
analgesi di luar Cina biasanya disertai dengan pemberian
obat-obat tambahan ll . Para pengamat di luar Cina pada
umumnya memandang akupunktur analgesi sebagai suatu
variasi dari metode anestesi 12 .
MEKANISME KERJA AKUPUNKTUR ANALGESI
Banyak pendapat maupun hipotesis yang dikemukakan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

31
Beberapa pendapat mengatakan, pada prinsipnya terjadi
persaingan antara impuls spesifik yang timbul akibat rangsang akupunktur dan impuls nyeri yang timbul karena pembedahan, pada suatu sistem proyeksi non spesifik di otak.
Bila rangsang spesifik akupunktur dapat menyaingi nyeri
yang timbul karena pembedahan, nyeri akan dihambat dan
terjadi analgesi. Pendapat ini berkaitan antara lain teori Gate
Control & Two Gate Control. Teori Gate Control secara
singkat mengemukakan bahwa perangsangan titik akupunktur yang berarti perangsangan serabut besar (yang bermyelin,
berdaya konduksi cepat dan menghantarkan rangsang bukan
nyeri), akan menimbulkan rangsang bukan nyeri yang menghambat rangsang nyeri yang timbul akibat pembedahan,
disuatu gerbang yang terletak di substansia gelatinosa medula
spinalis 13 . Sedangkan menurut Two Gate Control, selain
gerbang di medula spinalis tersebut masih ada lagi gerbang
utama yang terletak di hipotalamus, yang dapat menghambat
nyeri bila titik-titik akupunktur tertentu di daerah muka
dan kepala dirangsang 8 .
Akhir-akhir ini dikemukakan teori endorfin, yang mengatakan bahwa perangsangan titik akupunktur dapat merangsang pelepasan suatu substansi morfin endogen (endorfin) yang mempunyai sifat anti nyeri 14 . Selain teori-teori
ini masih banyak hipotesis lain yang dikemukakan antara
lain teori biolistrik, teori reflexotherapeutical Head, teori
susunan saraf otonom, dan lain-lain. Meskipun telah banyak
hipotesis dikemukakan, namun belum ada satu pun yang
dapat menerangkan mekanisme akupunktur analgesi secara
menyeluruh. Diamati bahwa daerah analgesi yang ditimbulkan oleh akupunktur bersifat unik dan berbeda dengan analgesi yang timbul pada anestesi regional/blok. Karena itu
peran serta sistem meridian tidak dapat diabaikan. Sampai
saat ini, mekanisme kerja akupunktur analgesi masih dianggap
melalui multifaktor.
Pada tahun 1979 dalam seminar interregional WHO
mengenai akupunktur di Beijing disimpulkan secara umum,
akupunktur analgesi lebih efektif untuk pembedahan di daerah
kepala, leher dan dada 15 . Sedangkan analgesi untuk pembedahan abdomen dikatakan lebih sulit dari pada untuk pembedahan di daerah lain16, 17 . Mengenai analgesi untuk pembedahan di daerah penis tidak ada laporan khusus, kecuali
mengenai titik-titik yang digunakan 16
Tindakan bedah beku di daerah penis dikatakan menimbulkan nyeri yang panas dan menyengat, yang berlangsung sampai kira-kira 10 — 15 menit setelah tindakan selesai.
Penelitian akupunktur analgesi di daerah penis ini dilakukan
untuk melihat apakah titik-titik yang dipilih dapat menimbulkan analgesi dengan hasil yang memuaskan. Bila analgesi
berhasil dengan memuaskan, akupunktur pada titik-titik
tersebut dapat digunakan juga untuk pembedahan lain di
daerah ini, terutama bila analgesi dengan obat-obatan tidak
dapat dilakukan.

BAHAN DAN CARA:
Penelitian

32

akupunktur analgesi pada tindakan bedah

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

beku di daerah penis, dilakukan atas kerjasama dengan bagian
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM. Penelitian
dilakukan antara bulan Januari sampai Maret 1983 pada 4
orang penderita. Sebelum dianalgesi, penderita diperiksa
dan didiagnosis terlebih dahulu di bagian Kulit dan Kelamin.
Tindakan bedah beku dan akupunktur analgesi dilakukan
di Unit Akupunktur RSCM.

Alat yang digunakan
Jarum akupunktur : dari baja tahan karat no. 28 dengan panjang 2 inci dan 4 inci, dua buah alat Stimulator listrik tipe
DZ 22.
Titik-titik akupunktur yang digunakan
1.

2.

3.

4.

5.

Ming Men (XIV. 4), terletak di antara prosesus spinosus
vertebra lumbal 2 dan lumbal 3 pada garis median. Titik
ini di lapisan dalam terletak pada cabang posterior N.
Spinalis yang keluar. dari L3 dan di lapisan superfisial
pada cabang kutaneus dari ramus dorsalis N torakalis l2 .
Yao Su (XIV. 2), terletak di bawah vertebra sakralis 4,
dalam hiatus sakralis. Titik ini terletak pada tabang N
sakro-koksigeus.
Modified Ce Liao (VII. 32), terletak 1 jari medial spina
Iliaka posterior superior. Titik ini terletak pada ramus
posterior N. Sakralis 2,3 dan 4.
Ci Ku (XIII. 2), terletap pada batas atas simfisis pubis.
Titik ini di lapisan superfisial terletak pada cabang kutaneus N iliohipogastrika dan di lapisan dalam pada N
iliohipogastrika.
Matsui, terletak 1 inci medial tuberositas ischii. Penjaruman dilakukan bilateral, kecuali untuk titik XIV. 4
dan XIV. 2. Mula-mula penderita dibaringkan dalam
sikap pronasi untuk dilakukan penjaruman pada titik
yang terletak di belakang tubuh. Titik akupunktur ditentukan secara anatomis dan ditegaskan dengan alat
pencari titik dari stimulator DZ 22. Sebelum setiap
penjaruman, titik akupunktur dibersihkan terlebih dahulu
dengan kapas alkohol. Penjaruman dilakukan sampai
tercapai sensasi penjaruman (te ci). Penjaruman titik
VII. 32 dilakukan dengan jarum 4 inci bersudut 15°
dengan kulit, sehingga menyentuh foramina sakralis
posterior 2,3 dan 4. Penjaruman titik XIV. 2 dilakukan
dengan jarum 2 inci, sejajar dengan permukaan tubuh
sedangkan XIV. 4 tegak lurus. Jarum kemudian dihubungkan dengan elektroda DZ 22 kelompok B . kecuali
untuk titik XIX. 2 dan XIV. 4 dengan kelompok A.
Jarum diisolasi dan direkat pada kulit dngan plester. Posisi
penderita dialhkan menjadi supinasi. Mula-mula dilakukan penjaruman titik XIV.2 subkutis. Terakhir penjaruman titik Matsui dilakukan tegak lurus dengan permukaan
tubuh. Semua jarum dihubungkan dengan elektroda DZ
22 kelompok B.

Setelah penjaruman melesai, dimulai perangsangan dengan
arus listrik, saat ini dihitung sebagai awal waktu induksi. Arus
listrik yang digunakan adalah bolak balik (A.C.) dengan jenis
gelombang bifase segi (spike), dan bentuk frekuensi rangsang
kontinyu. Induksi dimulai dengan frekuensi rendah, yang dinaikkan perlahan-lahan sehingga akhirnya mencapai frekuensi
200 Hz untuk elektroda kelompok A dan 2000 Hz untuk
elektroda kelompok B. Intensitas dinaikkan bertahap semaksimal yang dapat ditahan penderita. Induksi dilakukan selama
20 menit. Tindakan bedah beku dimulai bila pada akhir masa
induksi penderita telah merasa analgesi. Bila perasaan ini
belum ada/belum kuat, maka induksi dapat diperpanjang.
Perangsangan listrik terus dilakukan sampai 15 menit setelah
tindakan bedah beku selesai.
Tindakan bedah beku (cryo surgery) dilakukan dengan
menggunakan cairan nitrogen yang disemprotkan 2 siklus
(cairan nitrogen disemprotkan dengan cone pada lesi sampai
daerah freezing 1 mm di luar lesi, dan tindakan ini diulang
2 kali).
Keberhasilan akupunktur analgesi dinilai dengan mengukur nyeri yang timbul. Pengukuran nyeri dilakukan secara
subyektif. Penderita digolongkan ke dalam tingkat I bila tidak
ada nyeri sama sekali. Tingkat II bila nyeri singkat dan ringan
sekali. Tingkat III bila nyeri jelas tapi masih dapat ditahan.
Tingkat IV bila nyeri tidak tertahankan lagi. Akupunktur
analgesi dinyatakan berhasil dengan memuaskan bila penderita termasuk tingkat I, berhasil baik bila termasuk tingkat
II dan gagal bila termasuk tingkat III dan IV.
HASIL DAN PEMBICARAAN
Telah dilakukan akupunktur analgesi untuk tindakan
bedah beku di daerah penis terhadap 4 penderita kondiloma
akuminata. Pada semua penderita masa induksi adalah 20
menit dan analgesi dipertahankan sampai 15 menit setelah
tindakan bedah beku selesai. Lokasi tumor berbeda-beda,
2 intra meatal, 1 di corpus dan 1 di preputium, glans dan
Tabel I.

Karakteristik Penderita dan Keberhasilan

No Umur Lama
(th) sakit

Lokasi Tumor

1

22

1 th

corpus penis

2

31

1 bl

intra meatal

3

23

1 bl

glans penis
corona glandis

4

31

4 bl

intra meatal

Efloresensi Penggo- Hasil
longan
tingkat
nyeri
papel verukosa lentikuler yang
multipel
papel verukosa miller
yang multipc
papel verukosa lentikuler yang
multipel
papel miller
yang multipel

tk_ I

memuaskan

tk. I

memuaskan

tk. I

memuaskan

tk. I

memuaskan

Pada keempat penderita tindakan dapat dilakukan tanpa nyeri sehingga akupunktur analgesi herhasil dengan memuaskan.

corona. Jumlah tumor multiple dan pada kasus terakhir membentuk plakat.
Berdasarkan penelitian, penjaruman pada titik VII.32 berarti merangsang saraf parasimpatis yang mempersarafi organorgan pelvis sehingga dapat menimbulkan efek analgesi di
18
daerah pelvis . Sedangkan titik XIV.2, XIV.4, XIII.2, Matsui
dan daerah tindakan dipersarafi oleh segmen saraf yang sama/
berdekatan dengan segmen saraf yang mempersarafi daerah
pembedahan. Bila ditinjau hipotesis timbulnya analgesi pada
akupunktur antara lain teori Gate Control, terlihat karena daerah tindakan dan titik-titik akupunktur yang digunakan
dipersarafi oleh segmen saraf yang sama/berdekatan, maka
nyeri yang timbul karena tindakan ternyata dapat diatasi
oleh sensasi akupunktur. Selain itu efek endorfm yang dikatakan dapat dirangsang dengan akupunktur tidak dapat
pula diabaikan.
KESIMPULAN
Telah dilakukan akupunktur analgesi pada bedah beku
terhadap 4 penderita dengan kondiloma akuminata di daerah
penis.
Pada semua kasus akupunktur analgesi berhasil dilakukan dengan hasil memuaskan. Penatalaksanaan akupunktur
analgesi meskipun mudah, tetapi memerlukan waktu induksi
yang cukup lama bila dibandingkan dengan analgesi obatobatan, sehingga mungkin kurang praktis untuk dilaksanakan secara rutin di poliklinik. Namun demikian, akupunktur
analgesi masih merupakan suatu metoda alternatif, terutama
pada keadaan di mana anestesi obat-obatan tidak mungkin
dilakukan.
KEPUSTAKAAN
1. Lee F and Cheung CS. Current Acupuncture Therapy. Hongkong:
Medical book Publ, 1978; pp 211-6.
2. Wexu M. The Ear Getaway to Balancing the Body a Modern Guide
to Ear Acupuncture. New York : ASI publ Inc, 1975; pp 171-82.
3. Wen HL and Cheung SYC. Treatment of Drug Addiction by Acupuncture and Electrical Stimulation. Asian J Med. 1973; 9:138-41.
4. Anonim. Essentialas of Chinese Acupuncture. Beijing: Foreign
languages press, 1980; p 416.
5. Lowe WC. Introduction to Acupuncture. USA: Medical Examination publ. 1973.
6. Mayer EH and Bischko J. Experiences with Acupuncture Analgesia
in the Fiels of the Ear, Nose and Throat. Venice: International
Congress series, 1973; p 759.
7. Matsuto. Acupuncture for Physicians. Springfield, Illinois: Charles
C Thomas publ, 1974.
8. Man PL and Chen CH. Acupuncture Analgesia, Theory and Potential Clinical Application, Medical Progress 1975; 2:87-98.
9. Cai D, Lu WJ, Xu GH, Yu AL. The Influence of Different Parameters and Methods of Stimulation on The Effect of Electric
Needling of The Same Nerve; in Advances in Acupuncture and
Acupuncture Anaesthesia. Beijing: The Peoples Medical Publ.
1979; pp 197-8.
10. Shanghai Acupuncture Anaesthesia Coordinating Group. Pathway of Acupuncture at Zusanli upon The Gastrointestinal Function; in Advances in Acupuncture and Acupuncture Anaesthesia.
Beijing: Peoples Medical publ house, 1979; pp 306-7.
Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

33
11. Murphy TM and Binica JJ. Symposium on Pain: Acupuncture
Analgesia and Anaesthesia. Arch Surg 1977; 112:896-902.
12. Pauser G, Benner H, Thomas H. Acupuncture Analgesia Clinical
Experimental Results of the Vienna School; in the second French,
Italian Austrian Congress for Information on Acupuncutre
and Auricular therapy. Vienna 1975; p 39.
13. Melzack R. The Puzzle of Pain. Victoria, Australia: Penguin
Books, 1973.
14. Yang MMP. The Role of Endogenous Ligands, Endorphins, in the
Mechanism of Acupuncture Analgesia; abstract. Department
of Physiology Faculty of Medicine University of Hongkong.

34

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

15. Bannerman RH. Acupuncture, The WHO view, The Magazine of
The World Health Organization. Dec 1979; 24-9.
16. Anonim, The Principle and Practical Use of Acupuncture Anaesthesia. Hongkong: Medicine and Health pubL 1974; pp 96-235.
17. Bonica JJ. Acupuncture Anaesthesia in The Peoples Republic
of China: Implication for American Medicine. JAMA 1974;
229:1371-5.
18. Weng J, Yang H. Peng C, Mao S, Li G. The Application of Modified Ci Liao Point in Acupuncture Anaesthesia for Gynecological
and Obstetrical Operation; in Advances in Acupuncture Anaesthesia. Beijing: Peoples medical publ. 1979; pp 197-8.
Pengobatan Nyeri Kepala dengan
Akupunktur
Dr. Dharma K. Widya
Unit Akupunktur RS. Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

ABSTRAK
Telah dilakukan pengobatan akupunktur pada seorang wanita umur 20 tahun yang menderita nyeri kepala, dan telah
diobati dengan obat-obatan tanpa hasil yang memuaskan.
Pengobatan akupunktur dilakukan dengan penusukan pada
titik-titik di kepala, tubuh dan anggota gerak. Setelah pengobatan pertama, gejala mereda dan menghilang sesudah pengobatan yang keenam. Pengobatan diberikan dua kali seminggu.
Diperkirakan, akupunktur merangsang pelepasan senyawa yang
mirip morfin endogen, mempunyai efek vasodilatasi dan memperbaiki supply oksigen ke dalam jaringan, sehingga mempunyai efek penyembuhan nyeri.
PENDAHULUAN
Sefalgia atau nyeri kepala merupakan suatu keluhan yang
subyektif, tanpa dapat dibuatkan definisinya yang tepat.
Walaupun demikian sefalgia mudah dimengerti, karena hampir
semua orang pernah mengalaminya. Gejala yang banyak dijumpai dalam kehidupan dan praktek kedokteran sehari-hari
ini dapat disebabkan oleh banyak jenis penyakit dan kelainan.
Baik kelainan di dalam otak, tengkorak maupun di luar struktur tersebut1
Seorang ahli nyeri kepala di Amerika Serikat pernah menyatakan, sekitar 85% penduduk pernah menderita nyeri
kepala. Nyeri kepala merupakan salah satu keluhan utama dari
banyak penduduk. Setiap tahun lebih dari 42 juta orang menderita nyeri kepala, dan berjuta-juta di antaranya menderita
nyeri yang begitu hebat sehingga tidak dapat bekerja. Dari
jumlah itu, hanya sekitar 10% yang disebabkan oleh penyakit
organis yang serius 2 .
Penelitian akhir-akhir ini menyatakan, penggunaan akupunktur dalam pengobatan nyeri kepala memberi hasil yang
memuaskan. Ternyata pula pengobatan akupunktur memberikan efek jangka panjang dan lebih dari sekedar plasebo 3 . Kho
pernah melaporkan kesembuhan seorang pasien cluster head-

ache dengan pengobatan akupunktur, setelah cara-cara pengobatan lainnya mengalami kegagalan4 . Khoe mengobati lebih
dari 1000 penderita nyeri kepala tanpa kelainan organis/
penyakit serius dengan akupunktur dan perbaikan nutrisi,
dengan hasil yang baik 2
.
KASUS
Seorang wanita, umur 20 tahun dirujuk dari Bagian Saraf
ke Poli Akupunktur dengan diagnosis sefalgia. Pada saat datang
pasien menyatakan merasa nyeri kepala hebat mual-mual.
Keluhan tersebut diderita setiap hari sejak 2 minggu sebelumnya. Telah berobat ke dokter dan dikatakan masuk angin, lalu
diberi obat. Keluhan mual hilang tetapi nyeri kepala tidak
berkurang. Pasien kemudian berobat ke Bagian Penyakit
Dalam dan diberi obat tetapi keluhan tetap. Pasien lalu dirujuk
ke Bagian Saraf, dan pada pemeriksaan neurologis, foto kepala dan fundus okuli tidak ditemukan kelainan. Pasien diberi
obat dan keluhan hilang setelah makan obat, tetapi setelah
obat habis keluhan timbul lagi (obat yang diberikan pada
kunjungan pertama adalah Nelstan, Lexotan, dan Laroxyl;
pada kunjungan kedua adalah Optalidon dan Tolvon). Akhirnya pasien dirujuk ke Poll Akupunktur.
Nyeri kepala seperti itu telah sering diderita selama dua
tahun terakhir ini. Pada waktu timbul kepala terasa nyeri
hebat, berdenyut-denyut, lama serangan kurang lebih 1 jam
dan waktu timbulnya tidak menentu serta letak nyerinya tidak
dapat ditentukan karena terasa menyeluruh. Keluhan hilang
bila berobat ke dokter, untuk kemudian timbul lagi setelah

1 — 2 minggu.
Selama ini pasien sering merasa kunang-kunang bila bangkit
sesudah jongkok. Selalu merasa sakit pada waktu menstruasi
(dismenorea) sejak menarche. Dua tahun yang lalu pernah
menderita sakit panas selama 3 minggu dan dikatakan dokter
sebagai gejala tifoid.
Pada pemeriksaan fisik, pasien tampak sakit, kesadaran
Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

35
baik, tekanan darah 90/50, nadi 84, suhu afebril. Pasien memakai kacamata yang menurut keterangannya berukuran
Sph -1 dan Sil - 1⁄2 kiri dan kanan. Pada pemeriksaan fisik
lainnya tidak didapatkan kelainan.
Pada pemeriksaan akupunktur, tampak semangat agak
kurang, ekspresi umum tampak sakit. Pada perabaan daerah
kepala tidak ditemukan nyeri tekan pada tempat yang spesifik
karena nyeri kepala bersifat menyeluruh; pada perabaan nadi
didapatkan kelemahan pada nadi ginjal dan jantung. Lain-lain
tidak didapatkan kelainan.
Diagnosis kerja : Sefalgia.
Terapi yang diberikan adalah :
— Alat : jarum baja tahan karat buatan Cina ukuran 1 inci
no. 32.
— Titik yang dipilih :
1. Pai Hui (XIV.20), yang terletak pada garis tengah kepala
5 inci dari garis batas rambut depan.
2. Tay Yang (M-HN-9), yang terletak dalam sebuah lekukan
di dahi yang didapat pada perpotongan garis perpanjangan lengkung alis mata dan garis mendatar dari sudut
mata.
3. He Ku (II.4), yang terletak di antara os metakarpal I
dan II, tepat di pertengahan sisi radial os metakarpal II.
4. Ci Cie (XIII.14), yang terletak pada linea mediana anterior 6 inci di atas umbilikus.
5. Fu Liu (VIII.7), yang terletak 2 inci di atas titik yang
terletak pertengahan tendo achilles dengan maleolus
interna.
Teknik manipulasi penguatan dengan waktu 20 menit.
Terapi direncanakan diberikan 2x/minggu sampai 1 seri yang
terdiri 12 kali terapi.
HASIL
Setelah dilakukan akupunktur pada kunjungan pertama,
nyeri kepala mualnya hilang dan penderita tidak tampak
sakit lagi. 2 jam kemudian timbul nyeri kepala lagi, tapi jauh
lebih ringan yang segera hilang kembali. Hal ini berlangsung
beberapa kali.
Pada kunjungan kedua pasien merasa sakit kepala ringan,
yang segera hilang setelah diakupunktur. Pada kunjungankunjungan selanjutnya s/d kunjungan keenam tidak ada keluhan. Selama itu di rumah keluhan kadang-kadang timbul bila
banyak membaca/belajar, namun hanya sebentar dan ringan,
yang segera hilang setelah beristirahat. Pada kunjungankunjungan berikutnya tidak didapati keluhan-keluhan lagi.
PEMBICARAAN
Nyeri kepala merupakan suatu keadaan yang dapat timbul
karena berbagai sebab. Menurut ilmu akupunktur, keadaan
nyeri kepala terjadi karena adanya ketidak-seimbangan bioenergi (ci) di daerah kepala. Bioenergi tersebut dapat dalam
keadaan ekses (se) atau defisien (si).
Keadaan tidak seimbang dapat terjadi karena berbagai faktor,
yaitu 2 :
— Faktor luar : cuaca, makanan, keracunan, kecelakaan,
trauma, infeksi dan sebagainya.
— Faktor dalam : kelainan pada organ dalam seperti kelainan
pada hati, limpa, ginjal, atau kelainan pada darah (misalnya anemia dan sebagainya).

36

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

Tujuan pengobatan akupunktur adalah menyeimbangkan
kembali keadaan ekses atau defisien tersebut menjadi normal,
hingga dengan demikian keluhan nyeri kepala akan menghilang. Hal tersebut dicapai dengan penusukan/stimulasi pada
titik-titik akupunktur tertentu yang mempunyai efek pada
aliran bioenergi di daerah kepala.
Chen dkk 3 menyimpulkan, pengobatan akupunktur mungkin merangsang pelepasan senyawa yang mirip morfin endogen, mempunyai efek vasodilatasi dan memperbaiki supply
oksigen ke dalam jaringan.
Pada kasus di atas, mengingat pasien dirujuk dari Bagian
Saraf dan telah pula diperiksa di Bagian Penyakit Dalam,
maka diperkirakan bahwa nyeri kepala tersebut bersifat
fungsional dan tidak mempunyai dasar kelainan organis.
Ditinjau dari gejalanya, kemungkinan besar keluhan pasien
ini dapat digolongkan dalam nyeri kepala tegang otot. Rasa
nyeri tersebut biasanya bilateral, lokasinya kadang-kadang
tidak jelas, dapat disertai mual dan vertigo. Menegangnya otot
sering kali menunjukkan adanya ketegangan jiwa. Terapi yang
diberikan pada keadaan ini adalah fisioterapi, terapi medikamentosa dan psikoterapi. Akupunktur termasuk salah satu
cara untuk menghilangkan rasa nyeri tersebut 5 .
Pada pasien ini terapi akupunktur diberikan dengan penusukan pada titik-titik Pai Hui (XIV.20), Tay Yang (M.HN.9),
He Ku (II.4), Ci Cie (XIII.14) dan Fu Liu (VIII.7).
Titik Pai Hui (XIV.20) dan Tay Yang (M.HN.9) dipilih
karena kedua titik yang terletak di kepala ini mempunyai
khasiat untuk nyeri kepala. Titik He Ku (I1.4) yang terletak
di punggung tangan merupakan titik yang berkhasiat untuk
kelainan di daerah muka kepala termasuk nyeri kepala.
Titik Ci Cie (XIII.14) dan Fu Liu (VIII.7) merupakan titik
yang mempunyai efek mempengaruhi fungsi jantung dan
ginjal 6 .
Pengobatan akupunktur pada pasien ini berhasil cukup
baik. Namun untuk mencegah penyakit tersebut kumat kembali, perlu diperhatikan faktor-faktor lain seperti faktor emosi,
faktor lingkungan dan sebagainya, mengingat pasien adalah
seorang remaja yang baru lulus SLA dan harus memikirkan
masa depannya.
Sebagai kesimpulan, akupunktur merupakan salah satu
cara pengobatan yang efektif pada keluhan nyeri kepala yang
fungsional, oleh karena itu dapat dipertimbangkan sebagai
suatu alternatif pengobatan nyeri kepala.
KEPUSTAKAAN
1. Sidiarto Kusumoputro. Diagnosis diferensial dan tatalaksana sefalgia; di Nyeri kepala menahun, Penerbit Universitas Indonesia,
Jakarta 1981: hal. 6.
2. Khoe WH. Headache, treatment with acupuncture and nutrition.
Am J Acup; 1977; 5 : 151.
3. Chen GS, Yeou Cheng Hwang, Seng - Jaw Song. Longterm effect
of acupuncture therapy on headache. Am J Acup 1978; 6 : 23.
4. Kho Hing Gwan. Treatment of cluster headache by acupuncture.
Am J Acup 1977; 5 : 169.
5. Soemarmo Markam : Nyeri kepala tegang otot; di Nyeri kepala
menahun, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta 1981, hal. 23.
6. O'Connor J, Bensku D. Acupuncture a comprehensive text. Chicago: Easland Press, 1981.
Sonopunktur
Dr. Untojo Wibowo *
Unit Akupunktur RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

ABSTRAK
Ultrasound merupakan gelombang suara frekuensi tinggi
yang kini banyak digunakan dalam kedokteran. Pada jaringan,
ultrasound mempunyai efek panas, efek mekanis, dan efek
biologis. Penggunaan ultrasound untuk merangsang titik
akupunktur disebut sonopunktur. Karena karakteristiknya,
ultrasound dapat dianggap menggantikan jarum akupunktur,
sehingga dalam penggunaannya dapat disamakan dengan
jarum akupunktur. Disajikan pula dua buah ilustrasi kasus
pengobatan dengan sonopunktur.
PENDAHULUAN
Gelombang suara, baik yang merambat di udara pada frekuensi yang dapat didengar oleh manusia maupun yang merambat di jaringan tubuh pada frekuensi yang sangat tinggi
mempunyai sifat-sifat dasar yang sama, yaitu merupakan gelombang horisontal yang terjadi atas pergantian pemampatan
dan peregangan dalam medium yang dilaluinya. Dalam praktek, gelombang suara dari frekuensi yang dipakai untuk pengobatan dibangkitkan oleh kristal piezoelectric atau keramik
yang bergerak bila diberikan medan listrik.
Ultrasound pada frekuensi tinggi mempunyai sifat yang
hampir sama dengan cahaya dan mengikuti hukum-hukum
optik, antara lain diabsorbsi, direfleksi dan ditransmisi. Transmisi pada suatu medium ditentukan oleh tahanan dari medium
tersebut. Bila gelombang suara melewati bidang batas antara
dua medium yang berbeda, sebagian gelombang akan diteruskan dan sebagian lagi direfleksikan. Kira-kira 40% dari energi
ultrasound dalam kristal Quartz diteruskan ke air atau ke
jaringan, hanya 0,01% dari Quartz ke udara dan 0,1% dari
udara ke jaringan. Karena itu, lapisan udara antara sumber
tenaga dan jaringan harus dihindarkan agar terjadi penerusan
energi ultrasound ke dalam jaringan secara lebih baik, dan
untuk itu biasanya suatu substansi khusus digunakan sebagai
* Penulis saat ini bertugas di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta.

medium kontak.
Ketika gelombang suara melewati medium, sebagian dari
energinya diabsorpsi menjadi panas di setiap tempat. Besarnya
absorpsi tergantung pada koefisien absorpsi tiap-tiap medium.
Absorpsi otot kira-kira 2 kali dari lemak. Absorpsi dan penetrasi dari gelombang suara dalam jaringan tergantung juga pada
besarnya frekuensi. Makin tinggi frekuensi, makin besar daya
absorpsi dan makin rendah penetrasinya. Sebaliknya, makin
rendah frekuensi makin besar daya penetrasi dan makin rendah
absorpsinya. Dengan memperhatikan hal tersebut, alat ultrasound untuk kedokteran harus mempunyai frekuensi antara
800 — 1000 kilo hertz, yang merupakan suatu bentuk gabungan antara frekuensi rendah dengan daya penetrasi yang baik
serta frekuensi tinggi dengan daya absorpsi yang besar. Seluruh
energi ultrasound yang keluar dari soundhead jenis multikristal
adalah sejajar.

EFEK "ULTRASOUND" PADA JARINGAN
Energi ultrasound yang dipergunakan dalam pengobatan,
dapat dianggap sebagai berkas rangsang mekanis yang dapat
dengan aman mencapai setiap daerah sasaran dalam tubuh
pada intensitas terapi l .
Keuntungan terapi ultrasound dalam pengobatan adalah
pengaruh spesifik yang ditimbulkan oleh ultrasound pada jaringan hidup. Efek spesifik yang bermanfaat tersebut antara
lain :
• Efek panas
Ketika gelombang suara melewati suatu medium, sebagian
energinya diubah menjadi panas pada setiap tempat. Terdapat
peninggian suhu jaringan yang berbanding lurus dengan tenaga
dan waktu yang dipakai, dan berbanding terbalik dengan besarnya jaringan yang di-ultrasound. Timbulnya panas pada jaringan tersebut dapat terjadi pada seluruh volume jaringan, dan dikarakteristikkan secara pasti oleh koefisien absorpsi atau dapat
terjadi secara lebih rumit karena adanya bidang batas yang
dapat ditemukan pada jaringan atau kumpulan jaringan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

37
Dalam proses pemanasan jaringan harus diperhitungkan
pula efek pendinginan dari aliran darah. Ultrasound diabsorpsi
dalam otot 2 kali lebih besar dari pada dalam lemak. Pemanasan yang tinggi timbul pada tulang, otot, tendon, saraf dan
bidang batas antara otot dan lemak. Oleh karena itu, penyakit
yang mengenai jaringan-jaringan tersebut dan bereaksi terhadap panas akan memberikan respon yang baik terhadap ultrasound.

• E fek mekanis
Efek mekanis yang terjadi disebabkan oleh tekanan suara,
dan reaksi mekanis selanjutnya dari jaringan, yaitu kompresi
dan dilatasi, sehingga terjadi reduksi volume dan pergerakan
sel-sel jaringan. Efek ini tidak tergantung pada frekuensi,
tetapi tergantung pada intensitas.
Kekuatan tekanan suara pada jaringan akan menimbulkan
pola tekanan yang mengakibatkan pergerakan bolak balik
dari sel. Arah pergerakan berubah 2 kali pada setiap frekuensi,
sehingga pada frekuensi 1 juta hertz terdapat 2 juta pergantian
arah setiap detik. Perubahan siklus tekanan dari positif ke
negatif tersebut terjadi pada seluruh jaringan yang di-ultrasound, sehingga mengakibatkan terjadinya efek mekanis yang
disebut micro massage.
Getaran mekanis merangsang aliran darah dan kimia darah,
menimbulkan analgesi, mempengaruhi susunan saraf autonom,
serta meninggikan permeabilitas membran sel.

-

• Efek biologis
Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap hasil
reaksi jaringan yang di-ultrasound, yaitu frekuensi, karakteristik dari medan energi ultrasonik (pulsasi atau kontinyu), intensitas (Watt/cm 2 ), anatomi dan fungsi jaringan yang meliputi
ketebalan kulit, lemak, subkutis, jaringan otot, dan struktur
tulang.
Efek terhadap sirkulasi perifer tergantung pada dosis energi
ultrasound. Pada dosis rendah terjadi hiperemi karena stimulasi
dari vasodilator. Bila dosis dinaikkan, terjadi anemi karena
stimulasi dari vasokonstriktor. Bila dosis dinaikkan lagi terjadi
stasis karena paralisis. Koeppen berpendapat, dosis terapi ultrasound adalah pada batas di mana terjadi vasodilatasi dengan
hiperemi, sehingga dapat memperbaiki peredaran darah lokal.
Efek selanjutnya yaitu vasokonstriksi hanya terjadi pada dosis
yang berlebihan. Sedangkan derajat ketiga yang menyebabkan
paralisis sirkulasi tidak mungkin terjadi dalam praktek, karena
dosis yang berlebihan akan menimbulkan nyeri hebat.
Ultrasound berpengaruh terhadap keseimbangan susunan
saraf autonom dengan sedikit menurunkan tonus simpatis dan
menaikkan tonus parasimpatis. Gejala klinis utama dari reaksi
ini adalah relaksasi otot, kelelahan umum dan pusing. Aktifitas susunan saraf autonom dan saraf serebrospinalis sebelum
di-ultrasound merupakan faktor penting yang mempengaruhi
hasil pengobatan. Selain itu, karakteristik anatomi jaringan
yang dikenai oleh energi ultrasound juga memegang peranan
penting, terutama pada ganglia serebrospinalis dan ganglia
autonom.
Efek ultrasound terhadap susunan saraf yaitu mempengaruhi susunan saraf autonom, lewat refleks yang disebabkan
oleh pengaruh langsung terhadap susunan saraf pada daerah
yang dikenal ultrasound, dan direkam sebagai isyarat saraf ke
pusat saraf yang lebih tinggi.
Selain hal-hal tersebut di atas, ultrasound juga mempunyai
38

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

efek :
— menaikkan aktifitas enzim
— menaikkan aktifitas metabolik
— merangsang sintesis protein
— merangsang pertumbuhan jaringan granulasi
— mempercepat penyembuhan luka.
PENGGUNAAN "ULTRASOUND" DALAM AKUPUNKTUR
Penggunaan energi ultrasound untuk merangsang titik akupunktur disebut Sonopunktur. Karakteristik ultrasound yang
berupa berkas dan kemampuannya untuk menembus benda
padat dan cair memungkinkan penggunaan energi ultrasound
untuk merangsang titik akupunktur 2 .
Penggunaan ultrasound dalam akupunktur memberikan beberapa keuntungan, antara lain :
1) Penerimaan penderita lebih mudah, karena tidak adanya
sensasi seperti yang ditimbulkan oleh penusukan jarum.
2) Ultrasound memungkinkan hasil yang lebih baik untuk
yang kurang berpengalaman, karena luas permukaan soundhead
lebih besar dari jarum akupunktur schingga memperkecil
kemungkinan salah lokasi titik akupunktur 3,4 .
Khoe menggunakan ultrasound untuk akupunktur selama
bertahun-tahun dengan soundhead yang dirancang khusus.
Energi ultrasound yang diberikan pada titik akupunktur menembus tubuh sepanjang tempat yang biasanya ditembus oleh
jarum akupunktur. Reaksi jaringan yang terjadi dapat dengan
tepat dikontrol oleh besarnya intensitas dan lamanya waktu
pemakaian. Pada banyak kasus, terdapat hubungan langsung
antara besarnya energi dengan efek terapi. Intensitas rendah
digunakan untuk mengobati daerah teriritasi. Intensitas biasanya antara 0,25 — 0,5 watt/cm 2 dengan waktu terapi antara
30 detik — 2 menit untuk tiap titik akupunktur. Soundhead
diletakkan pada titik akupunktur yang dipilih dengan tekanan
yang ringan tapi mantap. Sekarang telah tersedia soundhead
dengan bermacam-macam ukuran untuk variasi penggunaan
yang luas, misalnya untuk akupunktur tubuh dan akupunktur
telinga. Khoe telah melakukan lebih dari 15.000 kali terapi
sonopunktur dan tidak mendapatkan akibat sampingan yang
timbul bila digunakan dengan dosis yang telah dianjurkan.
Rossman dan kawan-kawan telah menggunakan rangsang
ultrasound pada sistem meridian yang dibandingkan dengan
hasil terapi yang menggunakan jarum akupunktur. Mereka
menyatakan, kedua cara tersebut memberikan hasil yang sama
efektifnya.
Wong dan Ching, berdasarkan pengalamannya juga mendapatkan bahwa penggunaan jarum akupunktur maupun ultrasound memberikan hasil yang sama.
Ultrasound dengan dosis rendah merupakan alat pengobatan yang efektif dan aman sehingga tidak ada kontra indikasi
absolut. Namun perlu diperhatikan beberapa kontra indikasi
khusus, yaitu :
1. Proses keganasan
2. Bila terdapat kelainan jantung, ganglion stellatum tidak
boleh dikenai langsung dengan ultrasound karena dapat
mengakibatkan terjadinya angina pektoris.
3. Bayi, karena dapat terjadi gangguan pertumbuhan tulang.
4. Uterus gravid, meskipun tidak mengakibatkan abortus, tetapi dapat mengakibatkan deformitas tulang janin.

ILUSTRASI KASUS
• Penderita laki-laki 25 th.
Keluhan utama : nyeri pinggang bagian bawah yang terusmenerus sejak 2 bulan yang lalu. Sudah berobat ke dokter,
sakit berkurang bila makan, tetapi kambuh lagi bila obat habis.
Pemeriksaan akupunktur : nyeri tekan pada daerah lateral garis
median setinggi vertebra L 4 — S 1 sampai S 4 — S 5 . Pemeriksaan lain tidak menunjukkan kelainan. Radiologis : vertebra
lumbosacral dan articulatio Coxae : tak ada kelainan.
Diagnosis akupunktur : Lumbago karena kelainan Meridian
Kandung Kemih.
Terapi dengan minisound 600 dengan soundhead berdiameter
0,1 cm 2 .
Titik : Fei Yang (VII.58)
Su Ku (VII.65)
Titik nyeri (ahse point) VII.25, VII.32, VII.33,
VII.34, VII.35.
Teknik perangsangan :
waktu 1⁄2 menit setiap detik, dengan intensitas 1⁄2 watt.
terapi diberikan 3 kali seminggu.
setelah terapi yang ke 6 keluhan hilang.

• Penderita wanita 65 th.
Keluhan utama : nyeri dan kaku leher yang terus-menerus

sejak 4 bulan yang lalu. Leher terasa tertarik yang menjalar
sampai ke bahu dan kepala, bila kepala digelengkan. Sudah
berobat tetapi alergi terhadap obat-obatan yang diberikan.
Pemeriksaan akupunktur : teraba tegangan otot dan nyeri
tekan pada daerah titik XI.20 dan XI.21. Pemeriksaan lain
tidak menunjukkan kelainan.
Radiologis, terlihat penyempitan foramina intervertebra C 4 C6 .
Diagnosis : Stiff neck karena kelainan Meridian Kandung
Empedu.
Terapi dengan minisound 600 dengan soundhead type 61 berdiameter 0,1 cm 2 .
Titik : Kuang Ming (XI.37)
Cu Lin Ci (XI.41)
Titik nyeri (ahse point) XI.20 dan XI.21.
terapi diberikan 3 kali seminggu.
Setelah terapi ke 12 keluhan hilang.

KESIMPULAN
Dalam beberapa tahun belakangan ini ultrasound mulai dipergunakan secara luas dalam bidang akupunktur. Untuk menanggulangi penyakit dengan sonopunktur dapat dipergunakan
2 macam cara, yaitu pertama dengan memperhatikan adanya
absorpsi panas pada jaringan tertentu dan efek mekanis seperti
micro massage; maka dapat dipergunakan formula yang terdiri dari titik-titik akupunktur dekat dan jauh menurut letak
kelainan. Kedua dengan menganggap bahwa energi ultrasonik
dapat menggantikan jarum akupunktur, dapat dipergunakan
cara dialektik dalam memilih titik-titik akupunktur dengan
pemeriksaan akupunktur lengkap.
KEPUSTAKAAN

1. Zach FS, Boynton B, Phillips K, Smith E. Lokalized application
of ultrasound energy. Br J Phys Med 1957; 20 : 175 – 176.
2. Buchtala V. The present state of ultrasonic therapy. Br J Phys
Med. 1952; 15 : 3 – 6.
3. Phillips K, Harriss RR, Robinson LF, Carter EF Sr. Therapeutic
application of ultrasound energy. J Florida M.A. 1956; 43 : 341 –
346.
4. Baner AW. The present position of ultrasonics. Br J Phys Med.
1954; 17 : 97 – 101.
5. Friedland F. Present status of ultrasound in medicine. JAMA.
1976; 163 : 799 – 276.
6. Schwann HP, Carstensen EL. Advantages and limitations of ultrasound in medicine. JAMA. 1952; 149 : 121 – 125.
7. Summer W, Patrick MK. Ultrasonic therapy. A text book for physiotherapists. London : Elsevier, 1964.
8. Stuhlfauth K. Neural effects of ultrasonic waves. Br J Phys Med.
1952;15:10–14.
9. Phillips K, Smith EM, Biro LP, Boynton BL, Zach FS. Technical
and clinical application of ultrasound energy. Br J Phys Med.
1954; 17 : 103 – 108.
10. Dyson M, Frank C, Suckling J. Stimulation of healing of varicose
ulcers by ultrasound. Ultrasonic. 1976; 14 : 232 – 276.
11. Harvey W, Dyson M, Pond JB, Grahame R. The in vitro stimulation of protein synthesis in human fibroblasts by therapeutic
levels of ultrasound. Proc 2nd. Eur Congr on Ultrasonic in Med.
Excerpta Medica International Congress Series. 1975; 363 :
10– 21.
12. Webster DF, Dyson M, Harvey M. Ultrasonically induced stimulation of collagen synthesis in vivo. In Proc 45 h. Ultrasound in
Biol. and Med Sympt. Edited by P. Greguss Visegard, Hungary,
1979; 1 : 135 – 140.

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

39
Percobaan Awal Pembuatan
Antibodi Monoklonal Terhadap
"Human Chorionic Gonadotropin"
Dengan Metoda Hibridoma
Drh. Francisca Nasution
Pusat Penelitian dan Pengembangan PT Kalbe Farma, Jakarta

PENDAHULUAN
Salah satu aplikasi antibodi monoklonal adalah untuk
diagnostik. HCG (Human Chorionic Gonadotropin) adalah
hormon yang dalam jumlah besar terdapat dalam air seni
wanita hamil, terutama dalam 3 bulan pertama kehamilan.
HCG berasal dari jaringan trofoblas yang diekskresikan ke
dalam air seni, dan dapat diisolasi dari plasenta atau air seni
wanita hamil1,2.
Mencit balb C diimunisasi dengan Antigen HCG, sehingga
hibrid yang terbentuk dari limfosit B mencit dan sel mieloma
(NS 1 ), dengan bantuan PEG (polietilen glikol) dapat mempertahankan sifat dari keduanya, yaitu: kemampuan sel-sel
B untuk menghasilkan antibodi spesifik — dalam hal ini
HCG — dan imortalitas se] mieloma3,4 Mieloma tersebut harus
bersifat non secretors, resisten terhadap 8 azaguanine, dan dapat diterima HAT3,4 (hipoksantin aminoptcrin timidin). Hasil
fusi dari NS 1 dan sel imun limpa adalah campuran sel NS 1NS 1 , sel NS 1 -limpa, sel limpa-limpa.

Aminopterin memblokir biosintesa dari purin, pirimidin
dan glisin. Yang terakhir disebutkan dapat diatasi dengan memakai media RPMI 1640. Hipoksantin dan timidin membantu
sel hasil fusi dalam sintesa nukleotida. (Lihat Gambar 1)
Sel NS 1 resisten terhadap 8 azaguanin. Oleh karena itu, sel
tersebut kekurangan enzim hipoksantin guanin fosforibosetransferase (HGPRTase) yang sebenarnya dibutuhkan untuk
biosintesa nukleotida. Sel NS 1 -NS 1 serta sel mieloma NS 1
itu tidak dapat tumbuh karena biosintesa diblokir dengan HAT
medium.
Sel limpa normal dan sel limpa-limpa hasil fusi bersifat
pasif, dan langsung akan terseleksi karena mempunyai potensial tumbuh yang terbatas dalam kultur. Dalam waktu 2
minggu umumnya mereka akan mati.
Dalam hal sel NS 1
limpa (normal antibody producing
cell), maka normal cell akan menyediakan suatu enzim yaitu
HGPRTase yang dibutuhkan oleh fuse partner NS 1 . Selanjutnya sel hibrid akan menggunakan hipoksantin dari luar (dari
medium HAT) untuk kemudian mensintesa nukleotida. Ini
berarti sel dapat tumbuh terus dalam medium HAT.

METODA & MATERI PERCOBAAN
Alat
Tissue culture hood, inkubator CO 2 kultur jaringan, autoklaf, mikroskop, mikroskop inversi, timbangan analitik, alat
pemusing, penangas air, pH meter, tempat penyimpan nitrogen cair, Elisa reader, stop watch, pendingin -70°C, multi
well plate, micro titer plate, drummond pipet aid dan peralatan kultur jaringan lainnya.

Bahan dan Reagen
Mencit balb C, sel mieloma NS 1 , feeder cell, human chorionic gonadotropin, PBS tween, dapar penyalut, peroksidase
konyugat (ortofenilen-diamine), stopping solution, rabbit anti
mouse lg G, media RPMI 1640; complete Freund adjuvant,
media hipoksantin aminopterin timidine, 50% polietilen
40

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987
glikol, foetal bovine serum, 8 azaguanine, DMSO(dimetil sulfoksida) .

Prosedur
Persiapan pertama adalah menumbuhkan dan memelihara
mieloma. Dengan menggunakan media pertumbuhan RPMI
1640, sel mieloma disimpan dalam inkubator 37°C dengan 5%
CO 2 . Biasanya mempunyai waktu ganda sesudah 16 — 24 jam.
Banyaknya sel dihitung dengan hemacytometer dengan memakai vital stain.
Di samping itu dikerjakan juga imunisasi mencit dengan
antigen HCG (1000 IU/kg BB) yang telah diemulsikan dengan
Gambar 2. Cara :

Antigen dan imunisasi

_

complete Frcund adjuvant secara intraperitoneal sebanyak 3 x
suntikan dengan selang waktu 2 minggu. Tahap terakhir yaitu
beberapa hari sebelum fusi, disuntikkan secara intravena. Selanjutnya dilakukan fusi, yaitu dengan 50% polietilen glikol
antara sel mieloma dan sel imun limpa mencit balb C yang
sudah disuntik dengan antigen HCG tadi. Kemudian tambahkan media HAT ke dalam kultur jaringan. Pada tahap ini terjadi proses seleksi sel NS 1 — NS 1, sel NS 1 — limpa dan sel
li mpa — limpa. Untuk proses ini diperlukan waktu ± 2 minggu.
Gambar 3. Mekanisme

Seleksi tes Elisa yang dipakai untuk mengindentifikasi
kultur yang menghasilkan antibodi itu secara metoda tidak
langsung, yaitu dengan memakai orthofenilen diamin sebagai
substrat dan rabbit anti mouse Ig G peroxidasc conjugate 1 :
1000. Serum hasil imunisasi diencerkan l : 200 dengan PBS
Tween. Pembacaan dilakukan dengan Elisa reader pada panjang gelombang 490 nm.
Sel positif kemudian diperbanyak, lalu sebagian disimpan
untuk dibekukan dalam nitrogen cair dengan memakai 10%
DMSO dan sebagian lagi untuk dikloningkan. Pengenceran
yang dipakai untuk kloning adalah 5 cell/well, 1 cell/well dan
0,5 cell/well. Sebelum pengenceran untuk kloning dilakukan,
feeder cell dipersiapkan. Mencit yang tidak distimulasi dan
diimunisasikan diambil sel limpanya untuk ditambahkan sebanyak 1 x 10 c/well dan sebelum hibrid diletakkan di plate.
Sesudah 7 hari koloni akan dilihat dengan mikroskop inversi.
Wells yang mengandung lebih dari satu koloni akan dibuang

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

41
dan supernatan yang menghasilkan satu koloni dites kembali
dengan Elisa.
HASIL
1. Pertumbuhan sel mieloma NS 1 sesudah 44 jam rata-rata
berlipat ganda 5.4 x, sesudah 68 jam = 13.6 x.
2. Secara mikroskopis, hibridoma mulai kelihatan kira-kira
6 - 7 hari setelah fusi.
3. Setelah dilakukan 2 x fusi dan dites dengan Elisa, didapat
hibridoma seperti berikut
pada fusi pertama :
2 well positif
kedua
: 10 well positif
4. Hibrid kemudian disimpan di nitrogen cair. Dua di antaranya sudah dicairkan kembali dan sudah dikloning.
5. Kloning juga sudah berhasil dilakukan, monoklonal biasa
nya bulat dan simetris. supernatan kuning yang diduga
mengandung antibodi yang didapat dari monoklonal tidak/
belum memberi hasil positif dengan tes Elisa.

3. Teknik pelaksanaan agak kasar.
4. Waktu tes Elisa kurang tepat dan cepat.
5. Jumlah sampel kurang banyak.

KEPUSTAKAAN

1.
2.
3.

4.
5.
6.
7.
8.

KESIMPULAN DAN DISKUSI
Dari hasil percobaan telah didapat hasil sampai tahap
kloning; tetapi monoklonal yang dihasilkan tersebut tidak/
belum spesifik terhadap HCG. Ini mungkin disebabkan oleh :
1. Sel hibrid yang didapat tidak stabil.
2. Antigen yang dipakai kurang murni (purified Beta HCG
sangat mahal, US$ 150/100 ug, 1985).

42

Cermin Dunia Kedokteran

No. 44, 1987

9.
10.

Ganong WF. Fisiologi Kedokteran. 1983; pp 360 - 95.
Voller. The Enzym Linked Immunosorbent Assay (ELISA): A
Guide with Abstracts of Microplate Application, 1979; pp 1 - 125.
Chang TW. Monoclonal Antibodies: Preparation by Hybridoma
Method and Application in Biological Research. Academic Press,
1982; pp 263 - 81.
Mishell & Shiibi SM.Selected Methods in Cellular Immunology. San
Francisco: WH Freeman and Co. 1980; pp 351 - 72.
Chereminisoff & Quellette RP. Biotechnology, Techomic Publishing Co. 1976; pp 294 - 307.
Appleton JA. Methods for Production of Monoclonal Antibodies.
Agricultural Res Service 1984; p 50.
Berkow R. The Merck Manual of Diagnosis and Therapy, Merck
Sharp and Dohme Research Lab. 1985; p 1710.
Hurrell JGR. Monoclonal Hybridoma Antibodies. CRC Press,
1985; pp 1 - 57.
Voss EW. Immunochemistry, University of Illinois, 1980; pp 137 52.
Rose. Manual Clinical Laboratory Immunology. Washington DC:
American Society for Microbiology. 1986; pp 99 - 109.

Dibawakan pada Simposium Bioteknologi Indonesia di Universitas
Gajah Mada, Yogyakarta, pada tanggal 17-19 Februari 1987.
Imunomodulator

DR. Mathilda B. Widianto
Jurusan Farmasi Institut Teknologi Bandung, Bandung

PENDAHULUAN
Suatu bidang baru farmakologi yang masih dalam taraf penggalian serta pertentangan adalah pengembangan senyawa yang
dapat menstimulasi respon imun. Dasar pemikirannya adalah,
senyawa semacam ini dapat digunakan untuk meningkatkan
respon imun pasien yang menderita berbagai bentuk penyakit
imunodefisiensi baik yang umum maupun yang selektif. Sejak
zaman dulu sampai zaman modern saat inf, sudah dilakukan
usaha medis yang disebut terapi stimulasi non spesifik. Penanganan yang dulu sering dilakukan, misalnya membuat abses
buatan dengan minyak terpentin, membuat radang korosif
lokal dengan cara dibakar, atau menahan aliran darah. Abadabad berikutnya disadari bahwa dengan menyuntikkan berbagai "zat perangsang", pertahanan terhadap infeksi dapat ditingkatkan. Sebagai contoh disuntikkan darah sendiri, susu,
kasein dan otolisat bakteri. Tampaknya rangsang radang lokal
dapat meningkatkan keseluruhan pertahanan tubuh terhadap
penyakit. Apakah hal ini dapat dibuktikan dengan uji eksperimental pada hewan percobaan?
Fauve melakukan percobaan sebagai berikut: mencit disuntik secara dorsal dengan magnesiumsilikat, suatu iritansia
yang tak bertindak sebagai antigen. Beberapa hari kemudian
hewan tersebut diinfeksi dengan berbagai kuman patogen
antara lain bakteri, ragi juga dengan sel kanker. Berbeda
dengan hewan kontrol, hewan yang diberi granuloma dapat
bertahan hidup.

pun humoral. Pertahanan non spesifik terhadap antigen ini disebut paramunitas, dan zat bersangkutan disebut penginduksi
paraimunitas. Induktor semacam ini biasanya tidak atau sedikit sekali kerja antigennya, malahan sebagian bekerja sebagai mitogen yaitu menaikkan proliferasi sel yang berperan
pada imunitas. Sel tujuan adalah makrofag, granulosit, limfosit T dan B; karena induktor paramunitas ini terutama
menstimulasi mekanisme pertahanan seluler. Mitogen ini dapat
bekerja langsung maupun tak langsung (misalnya melalui
sistem komplemen atau limfosit, melalui produksi interferon atau enzim lisosomal) untuk meningkatkan fagositosis
mikro dan makro (lihat gambar 1). Mekanisme pertahanan
spesifik maupun non spesifik umumnya saling berpengaruh.
Dalam hal ini pengaruh pada beberapa sistem pertahanan
mungkin terjadi, hingga mempersulit penggunaan imunomodulator ini dalam praktek.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN IMUNOMODULATOR?
Imunomodulator adalah senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik. Yang terutama terjadi adalah
induksi non spesifik baik mekanisme pertahanan seluler mau -

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

43
KARAKTERISTIKA IMUNOMODULATOR DAN METODE
PENGUJI
Aktivitas suatu senyawa yang dapat merangsang sistem imun
tidak tergantung pada ukuran molekul tertentu. Efek ini dapat
diberikan baik oleh senyawa dengan berat molekul yang kecil
maupun oleh senyawa polimer. Karena itu usaha untuk mencari senyawa semacam ini hanya dapat dilakukan dengan metode uji imunbiologi saja. Termasuk di sini adalah metode
in vitro dan in vivo, di mana dapat diukur pengaruh senyawa
bersangkutan pada fungsi dan kemampuan sistem mononuklear, demikian pula kemampuan terstimulasi dari limfosit B
dan T. Metode uji yang dapat digunakan dapat dilihat pada
tabel 1.
Tabel 1. Metode uji aktivitas imunomodulator
Metode bersihan karbon ("Carbon—Clearance")
Pengukuran secara spektrofluorometrik laju eliminasi partikel
karbon dari daerah hewan. Ini merupakan ukuran aktivitas
fagositosis.
Uji granulosit
Percobaan in vitro dengan mengukur jumlah sel ragi atau bakteri
yang difagositir oleh fraksi granulosit yang diperoleh dari serum
manusia. Percobaan ini dilakukan di bawah mikroskop.
Bioluminisensi radikal 0 2
Jumlah radikal 0 2 yang dibebaskan akibat kontak mitogen
dengan granulosit atau makrofag, merupakan ukuran besarnya
stimulasi yang dicapai.
Uji transformasi limfosit T
Suatu populasi limfosit T diinkubasi dengan suatu mitogen.
Timidin bertanda ( 3 H) akan masuk ke dalam asam nukleat
limfosit 1. Dengan mengukur laju permbentukan dapat ditentukan besarnya stimulasi dibandingkan dengan fitohemaglutinin
A (PHA) atau konkanavalin A (Con A).

PERSYARATAN IMUNOMODULATOR
Menurut WHO, imunomodulator haruslah memenuhi persyaratan berikut:
— Secara kimiawi murni atau dapat didefinisikan secara kimia.
— Secara biologik dapat diuraikan dengan cepat.
— Tidak bersifat kanserogenik atau ko-kanserogenik.
— Baik secara akut maupun kronis tidak toksik dan tidak
mempunyai efek samping farmakologik yang merugikan.
— Tidak menyebabkan stimulasi yang terlalu kecil ataupun
terlalu besar.
Hanyalah jika kriteria ini dipenuhi dengah hasil positif, barulah
penggunaannya dalam terapi maupun sebagai profilaksis dapat
dipertimbangkan.

Imunomodulator digunakan path:
— Terapi infeksi campuran; infeksi kronis; infeksi yang sudah
resisten terhadap khemoterapetika terutama infeksi yang
disebabkan virus dan bakteri.
— Terapi penyakit ganas.
— Dalam batas tertentu untuk terapi penyakit autoimun .
— Kadang-kadang untuk kompensasi pengobatan dengan sitostatika.

44

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

"Timing" atau saat yang tepat pada pemberian imunomodulator ini penting untuk diperhatikan; kalau tidak, terapi ini tak
berhasil. Variabel penentu lainnya adalah dosis dan cara
applikasi. Induktor paramunitas ini hendaknya dibedakan
dari adjuvan yang sering ditambahkan pada antigen. Penambahan adjuvan dimaksudkan untuk memperkuat kerja imunogen dari antigen, jadi memperkuat reaksi perlawanan yang
spesifik.

Dasar fungsional paramunitas (menurut A. Mayr)
— Terjadinya peningkatan kerja mikrofag dan makrofag serta
pembebasan mediator.
— Menstimulasi limfosit (yang berperan pada imunitas tetapi
belum spesifik terhadap antigen tertentu), terutama mempotensiasi proliferasi dan aktivitas limfosit.
— Mengaktifkan sitotoksisitas spontan.
— Induksi pembentukan interferon tubuh sendiri.
— Mengaktifkan faktor pertahanan humoral non spesifik
(misalnya sistem komplemen properdin-opsonin).
— Pembebasan ataupun peningkatan reaktivitas limfokin
dan mediator atau aktivator lain.
— Memperkuat kerja regulasi prostaglandin.
Beberapa imunomodulator yang sudah diteliti antara lain
ekstrak organ atau darah (misal dari timus dan limpa, ekstrak
embrio); ekstrak bakteri dan jamur (misal lipopolisakarida);
endotoksin; ribosom bakteri; ekstrak tanaman; dekstran;
hormon dan senyawa yang mirip hormon; lipida; protein
dan hasil urai protein; senyawa anorganik; racun dari hewan).

Timosin
Peptida dengan 28 asam amino ini diisolasi dari kelenjar
timus. Pada anak-anak serta awal masa dewasa kadar timosin
tinggi, mulai turun pada usia 30—40 tahun dan rendah pada
usia lanjut. Kadar serum pada defisiensi sel T (sindrom Di
George) rendah. Pada uji in vitro limfosit yang diberi timosin
ternyata jumlah sel akan bertambah. Efek transplantasi timus
fetus pada sindom DiGeorge mungkin disebabkan timosin
ini. Efek samping dapat ditolerir, walaupun kadang-kadang
pada sekitar tempat penyuntikan terjadi reaksi kulit. Hasil
yang didapat cukup memuaskan jika defisiensi sel T ringan,
sedangkan pada kasus yang berat efek tak terlihat.
BCG
Pada beberapa zat dengan karakteristika antigen, stimulasi
efek spesifik dan non spefisik sulit dibedakan. Jika pada saat
bersamaan dan kalau mungkin pada tempat yang sama disuntikkan antigen + adjuvan misal secara SC atau IM, seperti
pada BCG misalnya, maka sistem imunitas spesifik terhadap
mikobakteri akan meningkat. Jika BCG digunakan IV, efek
non spesifik akan lebih menonjol, dan dapat digunakan untuk
membunuh sel tumor atau mencegah perbanyakan bakteri
dan virus. Tempat kerja bersama efek spesifik dan non spesifik
adalah makrofag. Aktivasi makrofag oleh BCG juga akan
meningkatkan laju bersihan (clearance rate) kompleks imun
dari darah. Sel T penting untuk kerja antikanker BCG ini.
Pada hewan yang diberi serum anti T efek imunoterapi BCG
diblokir. Ini dicoba pada melanoma, sarkoma dan leukemia
akut. BCG ternyata juga meningkatkan interferon serum.

Levamizol
Senyawa ini merangsang pematangan sel T pada kondisi
respon imun yang berkurang. Pada sistem imun normal, levamizol tak bekerja. Hasil yang baik diperoleh pada penanganan
poliartritis, sindrom Reiter dan multipel sklerosis; sedangkan penanganan tumor dalam bentuk monoterapi tak bermanfaat. Jika diberikan bersama senyawa sitotoksik, zat
ini berbahaya, pemberiannya harus sedini mungkin pada fase
remisi. Pada pemakaian kronis efek samping yang ditimbulkannya cukup berat yaitu gangguan neurologis (6%), gangguan saluran cerna (5%), reaksi hipersensitif (3%), nausea (13%)
dan kadang-kadang agranulositosis. Karena saat pemilihan
waktu pengobatan yang tepat cukup problematik srta karena
efek sampingnya, senyawa ini jarang digunakan untuk maksud

ini.
Transfer factor
Zat ini merupakan molekul RNA kecil atau peptida (BM sekitar 5000) yang berasal dari sel limfoid manusia. Disamping
meningkatkan respon sel T terhadap antigen, juga senyawa
ini merangsang sistem imun non spesifik dengan mekanisme
yang belum jelas. Efeknya dapat sangat berhasil pada beberapa kasus kandidiasis kronis mukokutan tetapi tak berhasil pada pasien yang menderita imunodefisiensi berat campuran. Banyak yang mengatakan bahwa mungkin juga dapat
digunakan pada penanganan sindrom Wiskott—Aldrich, sarkoma osteogenik dan tbc. Dosis TF didasarkan pada jumlah
9
limfosit yang ada dalam preparat (sekurang-kurangnya 10
limfosit). Sudah ada beberapa penelitian tentang uji aktivitas
biologik, mekanisme kerjanya serta cara pemurnian zat ini.

Interferon
Glikoprotein ini berasal dari leukosit manusia, yang dibentuk
oleh sel tubuh karena berbagai rangsang. Saat ini telah dikenal 3 jenis utama interferon yaitu a, Q, dan y. Alfa interferon (yang dulu disebut interferon leukosit) dibentuk oleh
linfosit dan sel lain sistem limfatik. Ada sekitar 10 macam
a interferon yang telah ditemukan. Beta interferon (dulu
disebut interferon fibroblas) diproduksi oleh fibroblas. Gama
interferon (yang disebut interferon imun) terbentuk dalam
limfoblas setelah adanya pembebasan interleukin 2 akibat
eksposisi antigen. Interferon dapat mengaktifkan enzim
sitoplasma, yang mempengaruhi m—RNA. Diduga terjadi
hal berikut: interferon akan berikatan dengan reseptor spesifik yang terdapat pada permukaan sel dan dapat menginduksi TIP (transfer inhibiting protein) yang bersifat antivirus. Aktivitas interferon sangat tinggi, 1 mg dapat melindungi
10 15 sel. Disamping itu interferon berperan meninggikan aktivitas sitotoksik limfosit T juga menghambat pembelahan sel
seperti sel tumor. Alfa interferon dapat digunakan pada kasus
infeksi virus pada mata dan hidung; efek sampingnya antara
lain gejala yang mirip flu, kadang-kadang nausea, muntah,
leukopenia serta trombositopenia. Beta interferon (Fiblaferon R ) digunakan untuk menanggulangi infeksi virus yang

sulit diobati (misal virus ensefalitis, herpes zoster generalisatus,
virus papiloma dan sebagainya).

Senyawa yang berasal dari tanaman
Asam aristolokhat: pada penelitian ternyata asam ini dapat
meningkatkan aktivitas fagositosis serta dapat pula mengkompensasi pengurangan aktivitas fagositosis akibat kloramfenikol dan tetrasiklin.
Senyawa dengan BM rendah lainnya yang juga mempunyai
efek pada mekanisme pertahanan tubuh adalah N-alkaloida
(sefarantin, tiloforin), terpen (ester diterpen, seskuiterpenlakton tertentu), senyawa fenolik (kleistantin; 2, 3 dihidroksibenzoat; asam klorogenat; asam ferulat, anetol); Iipida (ubikhinon, alkillisofosfolipida).

Senyawa dengan BM tinggi
Lektin: lektin tanaman dapat terikat pada limfosit T dan menyebabkan mitosis limfosit. Dari kelompok ini konkavalin
A mempunyai aktivitas mitogen yang tinggi dan biasanya
digunakan sebagai pembanding pada berbagai uji. Beberapa
lektin bekerja spesifik sitotoksik dengan menginhibisi sintesis
protein intraseluler atau dengan mengaktivasi sel "pembunuh".
Polisakarida: polisakarida yang dapat menstimulasi sistem
i mun ditemukan baik pada tanaman rendah maupun pada
tanaman tinggi, sedikit dalam algea dan Lichenes. Kerjanya
yaitu pada aktivasi makrofag, interferon atau sistem komplemen. Pada percobaan dengan hewan, pemberian polisakarida ini sebagai profilaksis terhadap infeksi Pseudomonas
atau Staphylococcus ternyata memperbesar kemungkinan

hidup hewan bersangkutan.
Dari tanaman tinggi, fraksi polisakarida yang telah diteliti
yaitu dari jenis Calendula, Solidago, Trifolium pratense,
Viscum album, jenis Bryonia dan lain-lain. Baru-baru ini berhasil diisolasi dua heteroglikan asam yang larut air dari Echinacea purpurea (BM 35.000 dan 450.000) yang kemungkinan
bekerja sebagai imunomodulator. Keduanya terdiri dari berbagai gula dalam perbandingan dan ikatan tertentu. Senyawa
ini menstimulasi fagositosis, bekerja kuat pada limfosit T dan
menginduksi produksi interferon. Hubungan struktur-aktivitas polisakarida juga sedang diteliti oleh para ahli. Senyawa
yang kompleks dengan berat molekul yang tinggi lebih berkhasiat daripada senyawa dengan berat molekul yang rendah
dan bangun yang linier.
Beberapa tanaman yang sering digunakan untuk maksud ini
antara lain:
— Chamomilla recutita
— Arnica montana
— Baptisia tinctoria
— Mangifera indica
— Aconitum napelus
— Eupatorium perfoliatum
— Solanum nigrum
dan lain-lain.

KESIMPULAN
Sampai saat ini penggunaan imunomodulator dalam pengCermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

45
obatan masih banyak dipertentangkan. Mungkinkah pula
bahwa obat tradisional yang banyak digunakan, yang kerjanya belum dapat dijelaskan didasarkan pada dasar kerja
i munologik ini ? Bagaimana kita menjelaskan kerja akar
ginseng, kayu guayak dan sebagainya ? Apakah kerja imunologik saponin ? Terapi dengan imunomudulator mungkin
dapat dikembangkan lebih lanjut asal saja ada kriteria yang
jelas, baik tentang cara aplikasi, dosis, keadaan pasien dan
sebagainya. Kemajuan yang sudah dicapai saat ini adalah
bahwa dengan suatu konsep modern tentang paramunitas telah
berhasil dilakukan alih bahasa pemikiran tradisional ke bahasa
ilmiah modern; ini tentu merupakan syarat bagi perkembangan lebih lanjut.
KEPUSTAKAAN

1. Chattopadhyay U, Cjaudhuri L, Ghosal S. Pharm Research, 1986;

46

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

3 : 307-308.
2. Batsford S, Kluthc R, Vogt A. Planta Med, 1980; 29: 234.
3. Clajk WR. The Experimental Foundations of Modern Immunology,
2 nd ed. Canada: John Wiley sons, 1983.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Hansel R. Dysch Ap Ztng, 1984; 124: 54-9.
Wagner H. Dtsch Ap Ztng, 1983; 123: 821-2.
Von Bruchhausen. Dtsch Ap Ztng, 1982; 122: 843-9.
Mose JR. Planta Med, 1963; 11: 72-91.
Ghosal S, Biswas K, Chattopadhyay BK. Phytochem, 1978; 17:
689-694.
Chattopadhyay S, et al. Pharm Reserarch, 1984; 6: 279-282.
Bahr V, Hansel R. Planta Med, 1982;44: 32-3.
Mutschler E. Arzneimittelwirkungen, 5 Aufi. Stuttgart: Wissenschaftliche Verlagsgesellschaft mbH, 1985.
Lawlor GJ, Fischer TJ. Manual of Allergy and Immunology.
Boston: Little Brown Co. 1981.
Scott GM. J Am Med Assoc, 1985; 1, 8: 16.
Gambaran Preskripsi Obat-obat
Benzodiazepin Pada Tiga Rumah Sakit
Kelas C di Jawa
Ellen Wijaya, Nani Sukasediati *, Hertiana Ayati
Puslitbang Farmasi BPPK DepKes RI

PENDAHULUAN
Benzodiasepin adalah sekelompok obat golongan psikotropika yang mempunyai efek antiansietas atau dikenal sebagai
minor tranquilizer, dan psikoleptika. Indikasi kelompok ini
antara lain untuk mengurangi ansietas yang patologis, ketegangan, agitasi, tanpa mempengaruhi fungsi kognitif dan proses
persepsi . Salah satu anggota kelompok ini, diazepam memiliki
efek pelemas otot yang seringkali digunakan untuk keadaan
kejang yang memerlukan pelemas otot rangka. Pada keadaan
tertentu masih digunakan sebagai premedikasi anestesi sebelum
pembedahan.
Penggunaan benzodiazepin dalam pelayanan kesehatan jiwa
belum banyak diungkapkan. Survei pola preskripsi benzodiazepin di Jakarta (1980), mendapatkan ± 10% dari resep apotek
swasta mengandung benzodiazepin2 . Resep apotek swasta
umumnya ditulis oleh dokter praktek swasta yang pola preskripsinya mungkin berbeda dengan dokter rumah sakit atau
puskesmas. Pola penulisan resep benzodiazepin pun dapat berbeda, karena perbedaan tingkat kehidupan sosial dan ekonomi
para pengunjung pelayanan kesehatan tersebut.
Penelitian ini yang dilakukan di apotek rumah sakit, bertujuan mencari gambaran preskripsi benzodiazepin dari apotek
rumah sakit kelas C, yang antara lain merupakan rujukan penderita puskesmas. Penderita yang mengunjungi rumah sakit
ini diandaikan berasal dari masyarakat m enengah bawah yang
tingkat kehidupan mungkin berbeda
dengan pengunjung
praktek dokter swasta.
BAHAN DAN CARA
Sampel adalah resep penderita rawat jalan dari apotek
rumah sakit kelas C, yaitu RSU Tasik, RSU Serang dan RSU
Disajikan pada Kongres Nasional XII/Kongres Ilmiah VI ISFI di Yogyakarta 10—13 November 1986.
* Penyaji makalah

Koja. Resep diambil pada 4 bulan musim 1983 yaitu :
— Januari : musim penghujan
— April
: peralihan musim penghujan dan kemarau
— Juli
: musim kemarau
— Oktober : peralihan musim kemarau dan penghujan
Dari resep-resep tersebut dipisahkan resep yang mengandung
psikotropika, khususnya yang mengandung benzodiazepin.
Data yang dicatat meliputi :
— jenis dan jumlah benzodiazepin yang dipreskripsi
— jenis dokter penulis resep (dokter umum atau dokter
ahli)
— usia penderita
— rejimen terapi yang meliputi lama pemberian, dosis dan
bentuk sediaan
Penelitian ini berupa survei retrospektif. Sampel diambil secara purposive stratified random sampling. Apotek rumah sakit
dan waktu ditetapkan secara purposif, sedangkan resep diambil
secara stratified random sampling.
Data yang telah dicatat kemudian ditabulasi, dihitung prosentasenya dan dianalisa untuk mendapatkan gambaran preskripsi benzodiazepin dari tabel univariat.
HASIL
Pengumpulan sampel pada waktu tersebut mendapatkan
5225 lembar resep rawat jalan. Setelah diklasifikasi , diperoleh
1582 lembar resep psikotropika (30,3%) yang mengandung
1127 item obat golongan psikotropika sediaan tunggal. Sediaan tunggal benzodiazepin diperoleh sebanyak 475 item atau
42,1% dari jumlah item psikotropika (tabel I). Bila dirinci
lebih lanjut, ternyata diazepam merupakan obat yang paling
banyak dipreskripsi (sekitar 60,0%) dan klordiazepoksid menduduki tempat kedua (sebanyak 18,7%) seperti pada tabel II.
Tabel III adalah prosentase jenis keahlian dokter penulis
resep benzodiazepin. Dari seluruh resep benzodiazepin ini,

Cermin Dunia Kedokteran No. 4 4, 1987

47
64,6% ditulis oleh dokter umum dan hanya 12,4% ditulis oleh
ahli kesehatan jiwa, dan 6,3% ditulis oleh ahli penyakit saraf.
Dokter ahli lain yang tercatat sebagai penulis resep benzodiazepin antara lain ahli bedah, ahli kebidanan dan kandungan,
ahli penyakit mata, ahli penyakit kulit dan kelamin serta
dokter gigi.
Tabel I. Distribusi frekuensi 1127 item obat psikotropika yang dipreskripsi pada 3 RS kelas C (1983)
Kelompok psikotropika

A.

B.

C.

n

%

Neuroleptika
turunan fenotiazin
turunan butirofenon

90
13

7,9
1,2

1
475
528

0,1
42,1
46,9

20

1,8

Anxiolitika
turunan meprobamat
turunan benzodiazepin
turunan barbiturat
Antidepresan
Trisiklik
Jumlah

1127

100,0

Tabel II. Distribusi frekuensi preskripsi 475 item turunan benzodiazepin yang dipreskripsi di RS kelas C (1983)
Jenis benzodiazepin

n

%

Klorodiazepoksid

89
288
71
2
17
5
1
2

18,7
60,6
14,9
0,5
3,6
1,1
0,2
0,5

Diazepam
Klobazam
Klorazepat
Lorazepam
Prazepam
Temazepam
Bromazepam
Jumlah

475

100,0

Tabel III. Distribusi prosentase jenis keahlian dokter penulis resep ben-

zodiazepin di 3 RS kelas C (1983)
%

Jenis keahlian dokter
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Dokter umum
Dokter ahli kesehatan jiwa
Dokter ahli kesehatan anak
Dokter ahli penyakit dalam
Dokter ahli penyakit saraf
Lain-lain keahlian

64,6
12,4
0,8
10,5
6,3
5,4
100,0

Jumlah

Tabel IV. Distribusi frekuensi dan prosentase preskripsi benzodiazepin

berdasarkan lama pemberian (1983)
lama pemberian dan % *

klordiazepoksid

diazepam
klobazam
lorazepam
klorazepat
prazepam
temazepam
bromazepam
keseluruhan benzodiazepin

1-3 hari

4-5 hari

> 6 hari

%

Jenis benzodiazepin

%

%

73,4
71,1
65,0
48,5
26,3

26,6
27,3
53,0
42,5
73,7
100
50,0
45,0
31,3

1,6
-

--

50,0
55,0
66,9

9,1
1,4

* Prosentase dihitung dari jumlah masing-masing kelompok
48

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

Tabel V. Dosis harian rata-rata preskripsi benzodiazepin sediaan tunggal, berdasarkan bentuk sediaan (1983)

Jenis benzodiazepin

dosis harian rata-rata (mg)
tablet/kapsul

klordiazepoksid
diazepam
klorazepat
klobazam
prazepam
temazepam
bromazepam

puyer

14,7
17,9
9,4
21,2
11,9
13,4
4,8

8,1
4,6
8,0
12,5
-2,9

Tabel VI. Distribusi prosentase preskripsi jenis benzodiazepin menurut
usia penderita, di 3 RS kelas C (1983)
< 12 th

Jenis benzodiazepin

> 12 th

n
klordiazepoksid

diazepam
klobazam
keseluruhan jenis
benzodiazepin

*

%

n

%

2
20
2
24

2,2
6,9
2,8
5,0

81
242
57
407

91,0
84,0
80,3
85,7

Prosentase dihitung dari Jumlah masing-masing kelompok Jenis.

Beberapa unsur rejimen terapi antara lain lama pemberian
dosis dan bentuk sediaan, dicatat juga dalam survei ini. Lama
pemberian benzodiazepin yang tercatat paling banyak berkisar
antara 1-3 hari, sebanyak 66,9% seperti terlihat pada tabel IV.
Sedangkan dosis harian rata-rata masih berada dalam batas
dosis lazim (tabel V).
Usia para penderita yang menerima obat benzodiazepin diperoleh dari usia yang ditulis oleh dokter pada resep. Tabel VI
memperlihatkan bahwa sebagian besar resep benzodiazepin
ditujukan pada penderita di alas usia 12 tahun (85,7%), dan
hanya sebagian kecil ditujukan untuk anak di bawah usia
12 tahun.

PEMBICARAAN
Pada survei ini diperoleh prosentase resep psikotropika yang
lebih tinggi dari hasil survei sebelumnya (10%). Survei serupa
terhadap obat-obat sedativa pada beberapa apotek swasta di
Medan mengungkapkan, sekitar 17% dari resep umum adalah
resep yang mengandung sedativa 3 . Padahal asumsi sebelumnya
dikatakan, pengunjung rumah sakit kelas C berbeda dengan
pengunjung praktek dokter swasta, dan diharapkan penggunaan psikotropika yang lebih rendah. Namun kenyataannya tidak
demikian. Faktor perkembangan waktu yang diikuti perkembangan tingkat hidup masyarakat mungkin merupakan salah
satu penyebab meningkatnya penggunaan psikotropika. Di
samping itu kemajuan tingkat pengetahuan masyarakat semakin menyadarkan mereka akan pentingnya pelayanan kesehatan masyarakat dan mungkin disertai dengan semakin
baiknya pelayanan kesehatan pemerintah, sehingga tidak ada
perbedaan kelas sosial pengunjung rumah sakit atau praktek
dokter swasta.
Hasil survei ini menjadi semakin menarik karena hampir
setengah dari`seluruh item psikotropika (42,1%) adalah golongan benzodiazepin, dan sebagian besar adalah diazepam
(60,6%). Inipun sesuai dengan survei di Medan bahwa diazepam adalah obat yang paling dipreskripsi di antara golongan
obat sedativa 3 .
Dosis benzodiazepin yang diberikan masih berada dalam
batas dosis lazim yang wajar. Diazepam dengan dosis harian
rata-rata 17,9 mg masih ada dalam batas dosis yang lazim,
5—30 mg/hari. Demikian pula halnya klordiazepoksid, dosis
harian rata-rata sebesar 14,7 mg mendekati dosis yang dianjurkan untuk antiansietas antara 15—25 mg/hari. Klordiazepoksid
adalah benzodiazepin yang banyak dipreskripsi setelah diazepam.
Bila ditinjau dari lama pemberian obat, paling banyak
hanya diberikan selama 5 hari. Di sini tampaknya benzodiazepin tidak dipreskripsi untuk jangka waktu lama, seperti umumnya diberikan pada penderita gangguan jiwa.
Adanya kenyataan bahwa penulis resep sebagian besar adalah dokter umum (64,6%) nampaknya mendukung kemungkinan di atas. Penggunaan oleh ahli kesehatan jiwa justru tidak
banyak. Meskipun demikian, penggunaan oleh dokter umum
bukan berarti tidak rasional. Data diagnosa tidak dicakup pada
survei ini, sehingga tidak dapat diketahui adanya misuse,
abuse dan overuse.
Dari survei pola penggunaan obat di beberapa puskesmas
dan rumah sakit, terungkap bahwa diazepam seringkali dikom4
binasikan dengan beberapa obat untuk mengatasi gejala flu .
Data ini agaknya sejalan dengan yang didapat pada penelitian
ini, di mana preskripsi tersebut ditujukan pada penderita
bukan akibat gangguan jiwa. Dugaan ini ditarik dari kenyataan
di atas bahwa benzodiazepin sebagian besar dipreskripsi oleh
dokter umum, dalam batas dosis terapi yang lazim dan diberikan dalam waktu tidak lebih dari 5 hari. Dari rejimen terapi
ini agaknya yang diharapkan adalah efek sedasi atau ansietas
ringan pada penderita biasa.
Resep yang ditulis oleh ahli kesehatan jiwa mungkin ditujukan untuk menatasi ansietas pada penderita gangguan jiwa.
Sedangkan sebagian kecil yang ditulis oleh ahli penyakit saraf
mungkin juga dimaksudkan untuk hal yang sama. Namun
masih ada kemungkinan lain, yaitu sebagai terapi alternatif
pada kasus epilepsi — karena diazepam khususnya — memiliki
efek pelemas otot rangka, meskipun fenitoin masih merupakan
obat pilihan utama untuk kasus epilepsi l
Sedangkan yang dipreskripsi oleh dokter ahli lain seperti
ahli bedah atau ahli penyakit anak, tidak dapat dipastikan
untuk keadaan atau indikasi apa. Pada premedikasi anestesi
sebelum pembedahan diazepam hanya digunakan pada keada-

an-keadaan tertentu s .
Data tambahan yang menggembirakan adalah bahwa rumah
sakit kelas C yang terpilih, telah memiliki keahlian lebih dari
yang diharuskan. Kenyataan inipun sejalan dengan hasil survei
penggunaan obat esensial di 5 rumah sakit kelas C lainnya, di
Jawa 6 .

KESIMPULAN DAN SARAN
Dari pembicaraan di atas, dapat disimpulkan :
— benzodiazepin yang dipreskripsi mencapai hampir setengah
dari resep psikotropika
— Diazepam dan klordiazepoksid merupakan benzodiazepin
yang paling banyak dipreskripsi
indikasi benzodiazepin lebih mungkin sebagai ansietas
ringan dan sedativa pada penderita bukan akibat gangguan
jiwa, berdasarkan analisa terhadap rejimen terapi
— kemungkinan adanya misuse, abuse ataupun overuse tidak
dapat terlihat karena data diagnosa tidak tercakup. Meskipun demikian, golongan obat ini hendaknya diperhatikan
dengan serius.
— penggunaan benzodiazepin dan psikotropika umumnya
perlu dimonitor dari waktu ke waktu. Survei serupa ini
yang dihubungkan dengan pola penyakit setempat pada saat
itu dapat menjadi indikator kemungkinan penggunaan yang
tidak rasional. Survei penggunaan obat ini yang dikaitkan
langsung dengan diagnosa akan memberikan gambaran yang
lebih nyata akan kemungkinan penyalahgunaan atau penggunasalahan.
KEPUSTAKAAN
1. Santosa OS, Darmansyah I. Psikotropika. Dalam Gan S (ed), Farmakologi dan Terapi Ed 2, Bagian Farmakologi FKUI Jakarta; 1980.
2. Reverger R. Survei pola penulisan resep benzodiazepin di Jakarta.
Majalah Psikiatri, Desember 1980.
3. Datten Bangun dkk. Penggunaan obat-obat sedativa di kodya
Medan, diteliti melalui resep dokter. Bagian Farmakologi FK-USU
Medan. Disajikan pada Konas IKAFI VI, Manado Oktober 1986.
4. Retno Gitawati dkk. Penelitian pola penggunaan obat di rumah sakit
kelas C dan D serta beberapa puskesmas. Puslitbang Farmasi, Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI 1984.
5. Rahardjo K. Bagian Anestesi FKUI/RSCM. Komunikasi pribadi.
6. Nani S dkk. Penggunaan obat esensial beberapa rumah sakit kelas
A, B, C dan puskesmas di Jawa. Puslitbang Farmasi BPPK Depkes

RI 1985.

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

49
Dilema pada Hewan Percobaan
untuk Pemeriksaan Produk Biologis

M. Edhie Sulaksono
Pusat Penelitian Penyakit Menular
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI

PENDAHULUAN
Produk biologis atau tepatnya bahan biologis menurut
WHO dibedakan sesuai dengan asalnya, yaitu yang berasal
dari mikroba (vaksin, reagen diagnosa, antibiotik dan beberapa enzim), dan yang berasal dari hewan atau manusia (sera,
blood product, hormon dan vitamin). Bahan-bahan tersebut
meliputi pula bahan seperti alergen yang digunakan untuk
diagnosa dan terapi. Bahan-bahan biologis tersebut di atas
biasanya digunakan untuk manusia melalui suntikan, dan
setiap obat atau bahan yang akan disuntikkan seharusnya telah
diperiksa dengan teliti agar aman dan memberikan khasiat.
Oleh karenanya, terhadap bahan-bahan tersebut banyak dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan baik terhadap sifat-sifat
fisik maupun kimia, sterilitas, toksisitas (keamanan) maupun
potensinya. Dua pemeriksaan terakhir ini (pemeriksaan toksisitas dan potensi) biasanya melibatkan atau menggunakan
hewan percobaan. Penggunaan hewan percobaan di sini mempunyai tujuan yaitu untuk mendapatkan data secara in-vivo
terhadap efek yang akan terjadi, serta kekuatan yang dimiliki
dari bahan biologis yang diperiksa. Sehubungan dengan ini,
hewan percobaan yang digunakan harus memenuhi beberapa
persyaratan, antara lain :
1) Sedapat mungkin hewan percobaan yang akan digunakan
bebas dari kuman patogen, karena adanya kuman patogen
pada tubuh hewan sangat mengganggu jalannya reaksi pada
pemeriksaan tadi, sehingga dari segi ilmiah hasilnya kurang
dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya, berdasarkan
tingkatan kontaminasi kuman patogen, hewan percobaan digolongkan menjadi hewan percobaan konvensional, specified
pathogen free dan gnotobiotic.
2) Mempunyai kemampuan dalam memberikan reaksi imunitas
yang baik. Hal ini ada hubungannya dengan persyaratan pertama.
3) Kepekaan terhadap sesuatu penyakit. Hal ini menunjukkan
tingkat suseptibilitas hewan terhadap penyakit.
4) Performan atau prestasi hewan percobaan yang dikaitkan
50

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

dengan sifat genetiknya.
Dari keadaan tersebut di atas, timbul beberapa dilema
dalam hal penyediaan hewan percobaan, misalnya penyakit,

lingkungan, seleksi dan pengelolaan.
PENGGUNAAN HEWAN PERCOBAAN UNTUK PEMERIKSAAN BAHAN BIOLOGIS
Karena luasnya penggunaan hewan percobaan yang dapat
melibatkan berbagai disiplin ilmu, di bawah ini akan diuraikan beberapa pemeriksaan yang menggunakan hewan percobaan, antara lain :
1) Pemeriksaan toksisitas (keracunan) atau safety, yang tujuannya adalah untuk mengetahui komponen racun atau batasbatas yang dapat diterima. Pemeriksaan ini dilakukan terhadap
semua jenis bahan biologis.
2) Pemeriksaan potensi, dilakukan untuk menentukan kekuatan atau kemampuan atau potensi suatu produk biologis.
3) Pemeriksaan atau percobaan terhadap adanya substansi
pirogen di dalam bahan biologis (misalnya : cairan infus),
yang tujuannya adalah untuk mengetahui apakah bahan tersebut mengandung substansi pirogen atau tidak. Prosedur pemeriksaan untuk masing-masing negara dapat berbeda satu
sama lainnya.
Untuk pemeriksaan tersebut di atas, WHO menganjurkan
dengan persyaratan minimum. Adapun hewan percobaan
yang sering digunakan untuk pemeriksaan-pemeriksaan di atas
adalah : mencit (laboratory mouse), tikus (laboratory rat),
kelinci dan marmut. Hewan-hewan ini biasanya dipilih berdasarkan beberapa persyaratan, antara lain : sehat, berat tertentu, jenis kelamin tertentu dan digunakan dalam jumlah
tertentu pula. Syarat-syarat tersebut memiliki pengertian yang
luas dan tidak mudah dipenuhi. Oleh karenanya diperlukan
beberapa pemeriksaan atau pengamatan terlebih dahulu terhadap :
1) Hewan percobaan : yaitu meliputi strain yang menyangkut
tentang sifat-sifat khasnya, manajemen pemeliharaan, umur
yang dikaitkan dengan berat badannya, jenis kelamin dan data
fisiologisnya. Dengan demikian jelas bahwa strain hewan percobaan harus sesuai atau cocok dengan tujuan pemeriksaan.
Tiap negara terutama negara maju biasanya mengembangkan
strain hewan sendiri, agar dapat menemukan hewan yang baik
untuk kondisi negara tersebut. Dapat diambil contoh, di
Jepang telah dikembangkan strain lokal di samping memelihara
strain dari luar negeri. Demikian pula di Australia, terdapat
mencit jenis outbred ada 12 strain lokal, kelinci 15 strain
lokal.
2) Lingkungan : yaitu meliputi temperatur ruangan; kelembaban ruangan; tekanan udara; sirkulasi udara; tempat hidupnya
(kandang) baik mengenai ukuran, bahan maupun bentuknya;
bedding (alas kandang); kebisingan suara dan personil yang
menangani; keadaan nutrisinya (makanan dan minuman).
Dengan terciptanya suatu lingkungan yang baik, akan memberikan kesempatan pada hewan percobaan untuk hidup dan
bertumbuh sesuai dengan bakat atau sifat-sifat genetik yang
dimilikinya. Menurut SHORT, D.J dan WOODNOTT, D.P
(1963) dalam bukunya The IAT, Manual of Laboratory
Animal Practice and Techniques, jenis-jenis hewan percobaan
mencit, marmut dan kelinci temperatur ruangan yang direkomendasikan adalah : 22,2°C; 15,5°C dan 12,77°C, sedangkan kelembaban relatif bervariasi antara 45—55% untuk
semua hewan tersebut. Keadaan semacam ini sukar dicapai
terutama untuk daerah dataran rendah.
3) Uji performan atau prestasi hewan percobaan : yaitu untuk
menentukan kemampuan hewan percobaan dalam memberikan
suatu reaksi atau mempertahankan sifat khas dari populasinya.
Untuk pemeriksaan ini diperlukan kepastian kelompok hewan
atau keseragaman genetik, hingga variasi individuil tidak
banyak.
Dari beberapa penjelasan tersebut di atas, dapat ditarik kesi mpulan bahwa penggunaan hewan yang tidak jelas sumbernya atau sistem pemeliharaannya tidak mengikuti aturanaturan tertentu, tetap akan mempersulit dalam memperoleh

kesimpulan dalam pemeriksaan suatu bahan biologis.
MASALAH PENYAKIT
Pada pendahuluan telah dijelaskan bahwa adanya penyakit
hewan percobaan sangat mengganggu jalannya reaksi pada
pemeriksaan bahan biologis, sehingga dari segi ilmiah hasilnya
kurang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya hewan
percobaan yang akan digunakan dalam pemeriksaan-pemeriksaan tadi, sedapat mungkin terhindar dari penyakit. Untuk itu
diperlukan usaha yang dapat menjamin kualitas hewan percobaan.
Usaha-usaha yang harus dilakukan adalah :
1. Pengawasan terhadap penyakit secara periodik terhadap
koloni hewan yang ada.
2. Setiap hewan percobaan yang berasal dari luar terlebih
dahulu harus dikarantinakan.
3. Menangkap dan memeriksa hewan yang ada di luar koloni
(misalnya karena lepas).
4. Melakukan pencatatan rutin untuk setiap kejadian pada
hewan percobaan dengan baik.
5. Segera melakukan tindakan pencegahan apabila dijumpai
kasus penyakit pada hewan percobaan (misalnya hewan
percobaan yang terkena ekto parasit, segera dilakukan

dipping atau dicelupkan ke dalam larutan anti parasit).
SELEKSI HEWAN PERCOBAAN
Seleksi pada hewan percobaan dilakukan terhadap jenis
kelamin, berat badan, physical appearance dan sifat keturunan
agar memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan bahan biologis. Pekerjaan ini sebenarnya memakan waktu, tenaga dan
biaya yang tidak sedikit. Namun karena dampak terhadap
hasil yang diperoleh sangat besar, maka faktor pembiayaan,
tenaga maupun waktu tersebut bukan lagi merupakan masalah.
Dalam melakukan seleksi ini harus benar-benar terencana
untuk jangka panjang menurut aturan yang tertentu dan pengawasan yang ketat, sehingga dalam hal ini diperlukan adanya
sistem pencatatan yang baik. Dalam kegiatan seleksi ini diperlukan personil yang benar-benar menguasai bidangnya, loyal
terhadap pekerjaannya dan jujur dalam melakukan tugasnya.

NUTRISI
Di samping faktor hewan percobaan dan lingkungan, makanan hewan memegang peranan penting khususnya dalam
pemeriksaan ini. Makanan di samping harus mengandung nilai
gizi yang diperlukan untuk tumbuh dan berproduksi, harus
pula dibuat agar hewan menyukai makanan tersebut (ditinjau
dari segi rasa).
MASALAH "STRAIN" HEWAN PERCOBAAN DAN PERTUMBUHAN BERAT BADAN
Di dunia ini telah terbentuk ratusan strain hewan percobaan yang telah memiliki sifat genetik yang khas. Sifat ini terus
dikembangkan sehingga hewan tersebut telah menjadi model
yang baik untuk kepentingan kesejahteraan manusia. Bagi
strain hewan yang mempunyai kemampuan pertumbuhan yang
cepat, sangat baik untuk pemeriksaan yang tolok ukurnya
adalah pertambahan berat badan. Berat badan tidak cukup
dipakai sebagai kriteria bahwa hewan tersebut bisa digunakan
untuk pemeriksaan bahan biologis, tetapi juga pertambahan
berat setiap harinya. Pertambahan berat badan suatu hewan
percobaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor
strain hewan dan makanan. Pertambahan berat badan sendiri
secara sempit dapat digunakan sebagai indikator bagi hewan
yang sehat. Apabila pola pertumbuhan berat badan sudah
dapat diketahui untuk suatu strain hewan, maka dengan sendirinya perubahan pola oleh suatu perlakuan menunjukkan
besarnya pengaruh perlakuan. Bagi hewan yang tidak mendapat perlakuan (hewan kontrol), pertumbuhannya tidak
seperti yang diharapkan (menyimpang dari pola populasinya).
Di sini harus dicari sebab-sebabnya, misalnya apakah ada perbedaan antara faktor lingkungan hewan tempat percobaan
(pemeriksaan) dengan tempat hewan diproduksikan. Untuk
mengatasi ini biasanya pemakai hewan paling tidak harus membuat lingkungan yang sama atau lebih baik dari keadaan semula, yaitu antara keadaan di tempat percobaan dan tempat
asal hewan.
Membuat lingkungan dan manajemen yang baik di tempat
percobaan, lebih sederhana sifatnya daripada memaksakan
hewan untuk menyesuaikan lagi dengan kondisi yang kurang
baik.
Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

51
PENUTUP
Untuk dapat menghasilkan hewan yang berkualitas tinggi
diperlukan kegiatan yang terus menerus, baik dalam pengawasan penyakit, kegiatan reproduksi maupun pengawasan terhadap lingkungan.
Oleh karenanya, menghasilkan hewan percobaan yang baik
merupakan kegiatan yang mempunyai aspek tersendiri dan
cakupan yang luas, baik dalam bentuk konsepsional maupun
teknologi praktisnya.
KEPUSTAKAAN
1. Hafez ESE. Reproduction and Breeding Techniques for Laboratory

52

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

Animals, Philadelphia: Lea dan Febiger, 1970.
2. Maddalena. The John Curtin School of Medical Research. The Australian National University Survey of Laboratory Animals Being
Maintained in Australia, Sutherland: AAEC Research Establishment,
1979.
3. Short DJ and Woodnott DP. The IAT, Manual of Laboratory
Animal Practice and Techniques, 1st ed, London: Crosby Lockwood
Son, 1963.
4. Ufaw. The Ufaw Handbook on the Care and Management of Laboratory Animals, fifth ed, New York: Churchill Livingstone, 1976.
5. WHO Expert Committee on Biological Standardization. Development of a National Control Laboratory for Biological Substances,
twenty second report, Geneva, 1970.
APLIKASI
SEREBAL

CERETEC PADA "SCANNING" PERFUSI

Dalam dua dekade terakhir ini, banyak dilakukan studi mengenai perubahan perfusi serebral pada berbagai keadaan neurologik dengan menggunakan radio isotop. Walaupun demikian, masih banyak ditemukan berbagai masalah dalam perilaku senyawa bertanda, karakteristik fisika dari radio isotop

yang digunakan, serta peralatan yang diperlukan.
Sebagai contoh, studi mengenai perubahan perfusi serebral

sangat penting dilakukan pada luka kepala akut. Beberapa
pendekatan dengan menggunakan radionuklida telah dicoba
dengan, menggunakan peralatan kedokteran nuklir yang
canggih, tetapi masih saja tidak dapat mengatasi masalah,
seperti :
•
Penderita yang dalam keadaan koma, dan dikoneksi
dengan peralatan monitoring jantung-pernafasan dan peralatan
resusitasi, atau penderita memerlukan sedasi yang cukup.
•
Peralatan monitoring pada sisi tempat pembaringan
menggunakan alat eksternal telah dicoba, akan tetapi timbul
masalah baru dalam pengaturan posisi yang tergantung pada
operator, sehingga penggambaran yang diinginkan tidak diperoleh.
•
Pengiriman penderita ke bagian kedokteran nuklir harus
dilakukan dengan perawatan khusus dengan fasilitas resusitasi
yang adekuat. Penderita harus didampingi oleh dokter dan
perawat.
• Tidak tersedianya radiofarmasi yang diperlukan untuk
penelitian perfusi serebral setiap saat.
Dengan ditemukannya X-ray Computerized Tomography,
penggunaan radionuklida dalam penelitian serebral mulai ditinggalkan. Penemuan Iodine—123 dan Iodoamfetamin pada
mulanya menguak harapan baru, tetapi tidak dapat dipakai
secara luas karena waktu paruh yang pendek, kemurnian,

serebral pada luka kepala akut, misalnya akibat kecelakaan
lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas semakin meningkat di berbagai negara dan telah memakan banyak korban. Pada saat
penderita kecelakaan dibawa ke bagian gawat darurat, perhatian utama dari keluarga korban adalah mengenai prognosis
dan tingkat kerusakan intrakranial. Kegunaan X-ray CT hanya
terbatas selama 24 jam dan kurang sensitif, sedangkan penggunaan Ceretec lebih sensitif dibandingkan X-ray CT. Terutama pada pemeriksaan segera setelah kecelakaan dan memberikan gambaran prognosis penderita yang reliabel. Adanya
lesi serebral dapat dideteksi lebih cepat dengan gambaran
yang lebih jelas. Semuanya ini memungkinkan prediksi prognosis yang lebih baik dan lebih cepat.
Dengan ditemukannya Ceretec ini, peranan kedokteran
nuklir di masa mendatang akan semakin besar dalam memprediksi prognosis luka kepala akut. Pada pengembangan
selanjutnya, diharapkan waktu yang diperlukan pada pemeriksaan akan lebih pendek, yaitu dalam waktu 10 menit
sudah diperoleh data dan gambaran perfusi serebral penderita.
VSR
F:I.R.S.T. Reactions No 8, 1987

harga yang mahal dan kontinuitas produksi.
Dua hal yang harus dipenuhi suatu radionuklida agar
dapat dipakai pada scanning serebral, yaitu :
1) Tersedianya alat SPECT (Single Photon Emission Tomography).
2) Radiofarmasi harus memenuhi beberapa persyaratan:
berat molekul rendah, tidak bermuatan, efisiensi penandaan
yang tinggi, stabil in vitro, mampu berdifusi dengan mudah
melalui sawar darah otak, dan efisiensi ekstraksi yang tinggi.
Kedua persyaratan di atas dipenuhi oleh suatu senyawa
radionuklida baru, yaitu Tc—99m d, 1 hexamethyl-propylene
amineoxime, atau Tc—99m d, 1 HM—PAO, atau Ceretec.
Ceretec sedang dikembangkan aplikasinya pada stroke, epilepsi,
demensia, metastasis otak, migraine, dan perdarahan otak sepintas.

Penggunaan Ceretec pada Luka Kepala Akut
Ceretec telah digunakan untuk meneliti perubahan perfusi

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

53
TEPATKAH TINDAKAN SAUDARA ???
Seorang pasien lama, ibu rumah tangga, sarjana, dan bekerja
sebagai staf dari suatu perusahaan datang berkonsultasi. Keluhannya berupa bintik -bintik berisi air di sekitar kemaluan.
Pemeriksaan fisik dan laboratorium menyatakan vesikel tersebut adalah akibat herpes genitalis, sejenis penyakit virus
yang ditularkan melalui hubungan seksual. Setelah diterangkan
kepada nyonya tersebut bahwa penyakit ini adalah herpes
genitalis, maka ditanya apakah suaminya pernah sakit serupa
di alat kemaluannya.
"Dokter, saya sudah lama tidak bersetubuh dengan suami.
Tapi saya memang mempunyai "affair" dengan seorang pria

sekantor saya. Tapi kelihatannya ia "bersih" kok!"
Oleh dokter dijelaskan selanjutnya bahwa tampang bersih
saja bukan jaminan tidak adanya virus herpes di dalam tubuhnya.
Pertanyaan :
A. Perlukah dokter tersebut memberitahu suami nyonya itu
tentang penyakit herpes yang diderita istrinya?
B. Bila nyonya itu meminta dokter untuk menyatakan kepada
"pacar"nya, bahwa nyonya itu terkena herpes genitalis
sebagai persetubuhan dengannya, apakah tindakan saudara?
OLH

Komentar
TANGGAPAN DARI SEGI ETIKA
Masalah yang diajukan masih mirip kasus yang lalu, yaitu
membuka " rahasia jabatan dokter", atas kemauan dokter
sendiri (mungkin untuk pencegahan penularan) dan atas permintaan pasien.
Pertanyaan (A), kiranya mudah dapat dijawab, bahwa
dokter tidak boleh memberi tahu suami tentang herpes yang
diderita istrinya. Mungkin dari segi pencegahan dirasakan
perlunya memberitahu suaminya, namun dari segi etik kedokteran, hal itu tidak dibenarkan apalagi si nyonya telah
mengaku pada dokter tentang affair-nya dengan teman sekerja dan penularan bukan dari suami yang sudah lama tidak
campur.
Tentang pertanyaan (B) pasien minta tolong dokter menceritakan penyakitnya pada "pacarnya", mungkin sekedar
pemberitahuan agar si pacar juga berobat atau mungkin juga
untuk menagih tanggung jawab.
Sebelum mengabulkan permintaan tersebut (yang mungkin bisa dikabulkan), akan lebih baik bila ditanyakan balik
kepada pasien ini. Kenapa tidak dia sendiri yang mencerita-

54

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

kan pada "pacarnya".
Dari pihak dokter, kiranya tetap perlu adanya sikap reserved terhadap kejujuran pasien apa benar affairnya cuma
dengan seorang teman sekantor saja. Sebab bila benar demikian tentunya dia tidak perlu ragu memberitahukan sendiri,
barangkali juga dia tidak perlu membuka rahasia pribadinya
pada dokter.
Sebagai seorang sarjana, tentunya setelah mendapat penjelasan tentang penyakitnya serta jalur penularannya, dia dapat
menarik kesimpulan sendiri.
Disinilah saya kira-clue-nya kenapa dia membuka rahasia
pribadi dan kenapa dia tidak mau berterus terang pada kekasih
gelapnya?
Bagaimana komentar pembaca ?
Dr. H. Masri Rustam
Direktorat Transfusi Darah PMI
Ketua IDI Cabang Jakarta Pusat, Jakarta.

TANGGAPAN DARI SEGI HUKUM KEDOKTERAN

Profesi dokter adalah salah satu profesi yang diwajibkan
menyimpan rahasia pekerjaan yang antara lain tercermin dalam
salah satu kalimat lafal sumpah dokter, yaitu :
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui
karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter.

Lebih lanjut rahasia pekerjaan ini dikukuhkan dengan
adanya sanksi menurut K.U.H. Pidana pasal 322 :
(1) Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib
disimpannya karena jabatan atau pencariannya, baik yang
sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan hukuman
penjara paling lama sembilan bulan atau denda paling
banyak sembilan ribu rupiah.
(2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka
perbuatan itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang
itu.
Di samping sanksi menurut hukum pidana, maka dapat dikenakan sanksi menurut hukum perdata, yaitu yang diatur
dalam K.U.H. Perdata pasal 1365 :

Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena kesalahannya menyebabkan kerugian itu, mengganti kerugian tertersebut.
Namun kewajiban menyimpan rahasia pekerjaan ini
sifatnya tidak mutlak, sehingga dapat dibuka tanpa dikenakan sanksi hukuman, antara lain jika ada suatu dayapaksa
(overmacht), misalnya ditemukan seorang pilot yang menderita epilepsi atau seorang guru S.D. yang menderita TBC

terbuka. Hal ini diatur oleh K.H.U. Pidana pasal 48 :
Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya
paksa, tidak dipidana.
Juga tidak dapat dikenakan sanksi hukuman, jika membuka rahasia pekerjaan itu dilakukan dengan persetujuan si
pasien, karena dengan sendirinya tidak terdapat unsur "me-

langgar hukum".
Dalam persoalan yang kita hadapi, dokter tetap terikat
oleh rahasia pekerjaannya dan di sini juga tidak tampak
adanya unsur dayapaksa, karena pasien mengatakan, bahwa
ia sudah lama tidak bersetubuh dengan suaminya, sehingga
si suami juga tidak mungkin telah ditulari penyakit herpes

'It

genitalis itu. Jadi dokter tidak dapat memberi tahu si suami
tentang penyakit isterinya.
Selanjutnya dokter juga tidak dapat mengatakan kepada
si pacar, bahwa pasiennya telah terkena herpes genitalis,
karena bersetubuh dengan dia. Mengatakan ini berarti kita
tidak menghormati "azas praduga tak bersalah" (presumption of innocense), karena mungkin saja pasien itu mendapat
penyakitnya dari pacar yang lain, tapi malu mengaku kepada
dokter bahwa ia mempunyai banyak pacar.
Kalau kita gegabah menuduh seseorang, mungkin bahkan
kita sendiri yang dituntut dengan melakukan fitnah atau setidak-tidaknya mencemarkan nama baik seseorang.

Dr. Handoko Tjondroputranto
Lembaga Kriminologi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta.

.0

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

55
"AKU MASIH SEPERTI DULU"
Salah seorang pasien rumah sakit jiwa
yang telah dinyatakan sembuh ternyata belum diperkenankan pulang
oleh petugas rumah sakit karena waktu
acara perpisahan pasien tersebut menyanyi "Aku masih seperti dulu."
Ny. Bambang
SARANG BURUNG
Ibu A : Jeng, apa bahasa Inggerisnya
sarang burung ??????
Ibu B : Birds nest, bukan?
Ibu A : (sambil tertawa) : Bukan,
HING'S atau CROCODILE.
(Kedua -duanya adalah merek
celana dalam untuk pria)
OLH
BAGAIKAN SUAMI ISTRI
Di sebuah rumah sakit pendidikan,
sekitar jam 2 malam dokter Badut
masuk ke kamar dokter jaga dengan
badan gontai. Di dalam ruangan itu
ada 2 dokter pria yang sedang berbincang-bincang dan dokter Dewi yang
cantik kelihatan tertidur di tempat
tidur. Dokter Badut langsung saja
menggeser tempat tidur yang masih
kosong ke sebelah dokter Dewi, lalu
dia naik ke ranjang dan merebahkan
diri sambil berkata: "Bagaikan suami
istri."
Ny. Bambang
56

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

INGIN BISA BACA
Dokter spesialis mata yang praktek di PURI DHENTA NIRMALA Salatiga, pernah
dibuat bingung oleh pasiennya. Ceritanya begini :
Seorang pasien laki-laki tua dari lereng gunung Merbabu diberitahu oleh sahabatnya,
kalau dia pakai kaca-mata yang didapatnya setelah memeriksakan dari dokter mata
tersebut, dia dapat baca. Dan kalau tidak memakai kaca mata, dia sama sekali tidak
dapat baca. Pasien tersebut sangat tertarik akan cerita itu. Akhirnya setelah panen
cengkeh, pasien itu memeriksakan matanya, dengan maksud supaya dapat membaca
seperti temannya tersebut. Dokter mata mencobakan bermacam-macam ukuran lensa
dengan sabarnya. Sehingga berpuluh-puluh ukuran lensa telah dikuras habis untuk
dicobakannya. Tetapi, orang tersebut masih juga belum dapat membaca satu huruf
pun, walaupun ukuran hurufnya sudah relatif sangat besar. Sang dokter termenungmenung kebingungan, mencari apakah sebabnya ...............Akhirnya ketahuan, bahwa
pasien tersebut memang ............ BUTA HURUF.
Drg. Haryono
Salatiga

DIKIRA
Seorang dokter yang sudah terkenal sangat berhati-hati dalam "mengelola anggaran
uang" rumah tangganya (pelit bercampur devaluasi?) tiap pergi uang gajinya selalu
dibawanya dalam sebuah kantong uang di sakunya. Habis pulang dari kantor, dengan
loyo ia memberitahukan pada istrinya:
"Waduh mam, uang saya tadi kecopetan di bus yang penuh sesak."
"Lho bagaimana to, kan dompetmu begitu besar, kok dapat kecopetan, apa tidak
terasa ?"
"Ya terasa, ada tangan merogoh-rogoh saku celanaku............... tapi aku kira tanganku
sendiri."
????????????????????

Juvelin
PROFESOR DAN TILANG
Pada suatu ketika seorang profesor
dengan Mercy-birunya mulus meluncur
di sebuah jalanan yang padat dengan
kendaraan. Tapi tiba-tiba seorang
Polisi Lalulintas yang waktu itu kebetulan sedang parkir di pinggir jalan
meniup peluit panjang.
Polisi : "Hormat pak, maaf kami mau
melihat SIM-nya."
Profesor merogoh sakunya sambil mengatakan : "Saya profesor, tadi tergesa berangkat mau menguji mahasiswa dan SIM-nya ketinggalan."
Polisi senyum sambil menanyakan :
"Kalau begitu siapa nama Profesor ?"
Profesor : "Nama saya ? Nama saya ya
ada di SIM saya yang ketinggalan itu!"
????????????

Juvelin

SEMBILAN BULAN LAGI!!
Ke dalam sebuah bis kota yang sudah
penuh masuklah seorang wanita. Wanita tersebut tampak berkeringat, gerah dengan rambut yang kusam. Oleh
karena tidak ada tempat duduk kosong lagi maka ia memohon kepada
seorang pria yang duduk apakah bersedia menyerahkan tempat duduknya
oleh karena ia akan melahirkan. Pria
tersebut agak heran oleh karena tak
terlihat tanda-tanda sama sekali bahwa
wanita itu hamil. Akan tetapi ia rela
memberi tempat duduknya dengan
berkata : Kapan akan melahirkan,
bu?????.
; Oh, nanti sembilan bulan lagi dan sekarang saya cape sekali?????????
OLH

SEMINAR MUDA MUDI
Dalam suatu seminar muda-mudi, dimintakan pendapat para gadis mengenai persiapan apa yang dilakukan
bila akan diajak kencan oleh pacarpacar mereka.
Gadis I :
Lihat-lihat dulu perginya
ke mana. Pilih pakaian
yang sesuai dengan tempat tujuan.
Gadis II : Biasa-biasa saja, tidak ada
persiapan khusus.
Gadis III : Bawa kondom.

Dr. Hendra
Jakarta

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

57
1. Berikut ini adalah indikasi elektroakupunktur, kecuali :
a) pengobatan kelumpuhan
b) pengobatan kerusakan saraf
c) pengobatan rematik pada penderita yang juga mengalami gangguan impuls jantung
d) pengobatan ketergantungan obat
e) untuk menghasilkan analgesia pada operasi"
2. Pada sonopunktur, efek spesifik gelombang ultrasound
yang bermanfaat dapat berupa :
a) efek panas
b) efek mekanis
c) efek biologis
d) semua benar
e) bukan salah satu di atas.
3. Akupunktur dapat meningkatkan daya tahan terhadap
infeksi melalui peningkatan :
a) Ig A
b) Ig D
c) Ig E
d) Ig G
e) Ig M
4. Pengobatan nyeri kepala dengan akupunktur berdasarkan
pada prinsip berikut, kecuali :
a) akupunktur menimbulkan efek vasokonstriksi
b) akupunktur menyeimbangkan kembali ketidak seimbangan bioenergi di daerah kepala
c) akupunktur merangsang pelepasan senyawa yang
mirip morfin endogen
d) akupunktur memperbaiki suplai oksigen ke dalam
jaringan.
5. Pada pengobatan vitiligo dengan akupunktur, dilepaskan
autokoid yang merangsang penglepasan corticotropin
releasing factor, senyawa autokoid tersebut adalah :
a) serotonin
b) histamin
c) bradikinin
d) slow reacting substances
e) semua benar
6. Perangsangan titik akupunktur di permukaan tubuh dapat
disalurkan ke tempat-tempat yang dituju, merupakan

konsep dasar dari :
a)

lima unsur yang terdiri dari kayu-api-tanah-logam-air

b)

58

Yin Yang

c)
d)

ci dan meridian
zone of autonomic concentration
Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

7. Penusukan titik San Yin Ciao merangsang sekresi insulin.
Efek ini terutama disebabkan karena :
a) pelepasan serotonin
b) pengaktifan serat saraf otonom sel B pankreas
c) mempengaruhi digesti dan absorpsi karbohidrat
d) mempengaruhi sintesis trigliserida endogen
8. Persyaratan yang harus dipenuhi hewan percobaan pada
pemeriksaan produk biologis adalah :
a) bebas kuman patogen
b) memberi respon imunitas yang baik
c) peka terhadap suatu penyakit
d) variasi individual minimal
e) semua benar
9. Metoda berikut ini digunakan untuk menguji aktivitas
imunomodulator, kecuali :
a) uji kebersihan karbon
b) uji granulosit
c) uji hematokrit
d) uji bioluminisensi radikal 0 2
e) uji transformasi limfosit T
10. Imunomodulator yang merangsang pematangan sel T pada
kondisi respon imun yang berkurang :
a) timosin
b) α —interferon
c) β —interferon
d) γ —interferon
e) levamizol
Kalender Kegiatan Ilmiah
7th ASIAN AND OCEANIAN CONGRESS OF NEUROLOGY
September 20—24, 1987 Bali Beach Hotel, Bali Indonesia
The 7 th AOCN will be held in Bali Beach Hotel from 20 thru 24 September 1987, succeeded
by a Regional Symposium on Evoked Potentials and Clinical Neurophysiology (RSECN) from
25 thru 26 September 1987.
700 participants are expected from 22 countries.
Secretariat of the Congress will be
RSCM FKUI Dep Neurology
Salemba 6 Jakarta 10430
Indonesia
PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN PERHIMPUNAN GENETIKA MANUSIA INDONESIA
(PGMI) — PERKUMPULAN ANDROLOGI INDONESIA (PANDI)
Tempat
Tanggal
Acara

: Ruang Sidang F. MIPA
Jl. Ir. H. Juanda 4, Bandung
: 24—25 Agustus 1987
: — Hari Pertama
I.
Registrasi peserta
II.
Sambutan-sambutan dan peresmian
III. Simposium "Peranan Genetika dalam Melaksanakan Norma Keluarga Kecil
Bahagia dan Sejahtera".
Pembicara :
1. Prof. Dr MK Tadjudin: "Genetika"
2. Prof Dr Nagar Rasyid: "Manifestasi Klinis Cacad Genetik di YPAC".
3. Prof DR Sumiati Achmad: "Genetika dan lnferilitas".
4. Prof Dr HHB Saanin Dt T Patiaman: "Kelainan Kejiwaan dan Genetika".
5. Prof Dr IGB Amitaba: "Peran Genetika Manusia dalam Membentuk
NKKBS " .
6. Dr Pratiwi Soedarmono PhD: "Metoda Hibridasi sebagai Diagnosa Dini
Kelainan Genetik pada Janin".
IV. Presentasi makalah-makalah bebas.
V.
Rapat Organisasi PGMI.
— Hari Kedua
Registrasi peserta baru.
I.
Sambutan-sambutan dan peresmian.
II.
III. Simposium: "Peranan Andrologi dalam Melaksanakan Norma Keluarga
Kecil Bahagia dan Sejahtera".
Pembicara :
1. Dr Sudradji Sumapradja: "Memasyarakatkan Pemeriksaan Air Mani".
2. Prof Dr Sulaiman Sastrawinata: "Andrologi".
3. Dr Nukman Moeloek: "Kontrasepsi Pria: Masa Kini dan Masa Akan
Datang".
4. Dr Arif Adimoeljo: "Prospek Penelitian dalam Bidang Andrologi dalam
Menunjang NKKBS".
5. Drs Wildan Yatim: "Kemungkinan Epididimis Sasaran Kontrasepsi Pria
Masa Depan".
IV. Pertemuan Ilmiah Tahunan: Presentasi makalah-makalah bebas.
Rapat Organisasi PANDI.
V.

Sekretariat :

Panitia PIT PANDI—PGMI
Lab. Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Jl. Ir. H. Juanda 248, Bandung
Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

59
ABSTRAK -ABSTRAK
MENINGKATNYA POPULARITAS KONDOM
Penjualan kondom di seluruh dunia meningkat
dengan pesat. Dari segi pembeli, justru kaum
wanita yang mengalami peningkatan. Di Amerika
misalnya, para wanitanya menghamburkan 100
juta dolar setiap tahun untuk membeli kondom
(kira-kira 40% dari total 400 juta kondom yang
terjual pertahunnya di sana).
Menurut majalah "Working Women" (Oktober
1985), dan "The New York Times" (5 Januari
1986), kaum wanita membeli kondom dengan
alasan-alasan berikut :
• Tidak seperti beberapa bentuk kontrasepsi
lainnya, kondom itu aman dan tidak mempunyai

intensif. Ini meningkatkan kesempatan Survival
bagi bayi cacat lahir tersebut.
Menurut data survailans cacat lahir yang dilakukan CDC, ditemukan penurunan frekuensi
cacat susunan saraf seperti anensefali dan spina
bifida, tetapi dilain pihak terjadi peningkatan
frekuensi cacat jantung. Selama satu dekade terakhir, cacat susunan saraf dan jantung merupakan penyebab utama kematian karena cacat
lahir.
VSR
FDA Consumer, May 1986

efek samping

TRANSDERMAL OESTROGEN

• Efektif sebagai pencegahan berbagai penyakit
yang ditularkan melalui hubungan seksual
• Mudah didapat, tersebar luas di seluruh dunia,
dan tidak perlu pengawasan dokter.
Bagaimana di Indonesia? Apakah kaum wanitanya, terutama ibu-ibu, tidak malu-malu lagi
membeli kondom di toko obat?

Sediaan transdermal oestrogen dari Ciba-Geigy
yang diberi nama Estraderm TTS telah dipasarkan di Swiss untuk pengobatan defisiensi oestrogen waktu menopause dan gejala-gejalanya seperti gangguan tidur, atropi urogenitalia, gangguan psikologi dan perubahan metabolik.

CACAT LAHIR: PENYEBAB UTAMA KEMATIAN BAYI DAN MORTALITAS PREMATUR
Saat ini, bayi yang lahir cacat dapat hidup lebih
lama dibandingkan keadaan pada satu dekade
yang lalu. Ini disebabkan semakin majunya perkembangan peralatan medis untuk perawatan
intensif bagi bayi lahir cacat. Walaupun demikian, karena mortalitas bayi akibat penyebab
kematian lainnya menurun, cacat lahir menjadi
salah satu penyebab utama kematian bayi.
Menurut "Centers for Disease Control" (CDC)
di Amerika Serikat, cacat lahir berada pada
urutan ke lima dari penyebab mortalitas yang
prematur.
Mortalitas yang prematur diukur berdasarkan
berkurangnya umur (tahun) dari kemampuan
hidup potensial sebelum umur 65. Dalam tahun
1984, cacat lahir berperan sebesar 6% pada
mortalitas prematur. Penyebab mortalitas prematur lainnya yaitu kecelakaan, kanker, pe-

nyakit jantung, bunuh diri.
Pada periode 1980-1982, cacat lahir menurun sebesar 19% pada penduduk kulit putih.
Penurunan ini disebabkan perbaikan dan peningkatan perawatan bayi cacat lahir secara

60

Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987

Plester Estraderm TTS (Transdermal Therapeutic System) tersedia dalam 3 macam kadar
yaitu Estraderm TTS 25, 50 dan 100 yang masing-masing akan melepaskan 25 ug, 50 ug dan
100 ug oestradiol per hari selama 4 hari . Cara
pemakaiannya yaitu dengan cara menempelkan
plester tersebut di bawah pinggang, punggung
atau di perut. Tetapi tidak boleh ditempelkan
pada daerah payudara dan juga tidak boleh ditempelkan pada daerah yang sama dua kali berturut-turut. Plester tersebur harus diganti tiap
3 hari atau 4 hari sekali. Dengan bentuk sediaan
plester ini, efek samping yang biasanya muncul
pada pemberian oestrogen per oral seperti retensi
natrium dan air serta oedema dan naiknya tekanan darah dapat dihindari. Estraderm TTS
yang mengandung hormon fisiologis 17-Q-oestradiol memungkinkan pemberian obat dengan dosis
serendah mungkin.
(SCRIP No. 1062, p.18)

Akupunktur cermin dunia kedokteran

  • 2.
    Diterbitkan oleh : PusatPenelitian dan Pengembangan PT. Kalbe Farma Daftar Isi : 2. Editorial Artikel : Karya Sriwidodo 3. Akupunktur dan Perkembangannya 6. Sejarah Perkembangan Unit Akupunktur Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo 8. Beberapa Alat Elektronik Yang Dipakai dalam Akupunktur 14. Pengobatan Vitiligo dengan Akupuntur 17. Pengaruh Akupunktur terhadap Nilai Gama Globulin 20. Efek Penusukan Titik San Yin Ciao (IV, 6) terhadap Hiperglikemia pada NIDDM 24. Efek Akupunktur pada Hiperlipoproteinemia 31. Akupunktur Analgesi pada Bedah Beku di Daerah Penis 35. Pengobatan Nyeri Kepala dengan Akupunktur 37. Sonopunktur Percobaan Awal Pembuatan Antibodi Monoklonal terhadap "Human Chorionic Gonadotropin" dengan Metoda Hibridoma 43. Imunmodulator 47. Gambaran Preskripsi Obat-obat Benzodiazepin pada Tiga Rumah Sakit Kelas C di Jawa 50. Dilema pada Hewan Percobaan untuk Pemeriksaan Produk Biologis 40. 53. Perkembangan : Aplikasi Ceretec pada Scanning Perfusi Serebral Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis 54. 56. 58. 59. 60. Hukum & Etika : Tepatkah Tindakan Saudara ? Humor Ilmu Kedokteran Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Kalender Kegiatan Ilmiah Abstrak-abstrak
  • 3.
    Entah benar tidak,konon pada laman dahulu ada seorang prajurit yang kebetulan sedang sakit, terkena panah dalam suatu pertempuran. Yang aneh adalah, memang ia luka karena anak panah itu, tetapi penyakit yang sedang dideritanya malah sembuh. Maka, dimulailah era pengobatan akupunktur. Walaupun mekanisme kerja akupunktur itu sampai kini masih membingungkan, tapi mau tidak mau kita akan tercengang dan percaya, bahwa efek penyembuhan yang dilakukan dengan cara menusukkan jarum jarum halus pada titiktitik tertentu di kulit dengan kedalaman hanya beberapa milimeter - itu ada dan terbukti. Bahkan, indikasi penggunaannya demikian banyak dan luas, jauh melebihi yang dapat kita bayangkan semula! Ada sekian ratus titik pada tubuh kita, yang tercakup dalam 12 meridian umum, 12 meridian cabang, dan 8 meridian istimewa, ditambah lagi titik-titik "ah se", yaitu titik lokal di mana tempat nyeri berada; sehingga dalam menentukan titik-titik penusukan, seorang ahli akupunktur harus juga mempunyai jiwa seni. Walaupun memang ada patokan titik-titik tertentu untuk suatu penyakit, tetapi seorang ahli yang berpengalaman akan menentukan sendiri titik-titik pilihannya berdasarkan hasil. pemeriksaannya dan pengetahuannya mengenai ilmu akupunktur. Anehnva lagi, walaupun ilmu ini berasal dari dunia bagian Timur, namun nyatanya ia menjadi populer lewat dunia Barat. Ini mungkin sekali karena publikasi baik melalui tulisan atau cara-cara lain, dunia Timur tertinggal dari dunia Barat. Kini, bermacam peralatan canggih telah diciptakan, sehingga pengobatan secara akupunktur semakin canggih pula dan modern. Ada elektrostimulator, neurometer, dermatron, ultrasound, alat laser; sampai sampai kepada vulpen akupunktur yang menggunakan baterei dan dapat digunakan sendiri dengan hanya menempelkan pada kulit. Alat yang praktis dan sederhana ini, katanya akan dapat menggantikan kedudukan Aspirin, karena ia bebas dari efek samping! Redaksi 2 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987
  • 4.
    Artikel Akupunktur dan Perkembangannya Dr.Dharma K. Widya Unit Akupunktur Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta PENDAHULUAN Istilah akupunktur berasal dari kata acus yang berarti jarum dan punctura yang berarti menusuk atau menembus. Akupunktur merupakan suatu cara pengobatan dengan penusukan titik-titik tertentu di permukaan tubuh untuk mengobati suatu penyakit. Ia merupakan bagian dari Ilmu Pengobatan Cina dan telah dikenal sejak kira-kira empat-lima ribu tahun yang lalu. Hal itu diungkapkan dalam buku "The Yellow Emperors Classic of Internal Medicine", suatu ensiklopedi Ilmu Pengobatan Cina yang diterbitkan sekitar tahun 770—221 sebelum Masehi. Bahan jarum yang digunakan mula-mula adalah dari batu, kemudian berubah dengan digunakannya bahan dari bambu, tulang, perunggu, dan logam-logam lainnya. Pada saat ini telah dikembangkan berbagai teknik untuk perangsangan titik akupunktur sebagai pengganti jarum, seperti Ultrasound, Laser, dan lain-lain. Cara pengobatan ini berkembang ke Korea, Jepang dan negara-negara lain. Wilhelem ten Rhyne, seorang dokter VOC dalam bukunya mengenai rematik yang diterbitkannya di London pada tahun 1683 mengungkapkan pengobatan rematik dengan akupunktur. Engelbert Kampfer, seorang Jerman, di Jepang mempelajari Ilmu Akupunktur dan menulis tentang akupunktur dalam bukunya yang terbit pada tahun 1712. Di Perancis dan di Inggris akupunktur dikenal pula sejak abad XVIII. Pada abad XX ini akupunktur menarik minat kalangan medis di Amerika Serikat, walaupun sebelumnya telah dikenal dalam kalangan terbatas. Di Indonesia sendiri pada tahun 1963 dibentuk Team Riset Ilmu Pengobatan Tradisional Timur termasuk akupunktur atas instruksi Menteri Kesehatan saat itu, Prof. Dr. Satrio. Dan mulai saat itu pengobatan akupunktur diadakan secara resmi di Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta. KONSEP DASAR Di dalam sejarah perkembangan akupunktur dikenal beberapa konsep dasar sebagai berikut: • Yin Yang Teori ini menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini dapat dibagi dan mempunyai dua aspek yang saling bertentangan tapi saling membentuk, bagaikan dua sisi mata uang yang paling bertolak belakang tetapi keduanya membentuk suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Yang melambangkan sesuatu yang positif, terang, atas, panas, siang, simpatis, ekstrovert, progresif, akut dan sejenisnya. Sedangkan Yin melambangkan sesuatu yang negatif, gelap, bawah, dingin, malam, parasimpatis, introvert, regresif, kronis dan sejenisnya. Panilaian Yin dan Yang tidaklah mutlak. Sesuatu yang bersifat Yang akan menjadi bersifat Yin bila dibandingkan dengan sesuatu yang lebih Yang, dan sebaliknya. Di dalam unsur Yin terdapat Yang, di dalam unsur Yang terdapat Yin, tiada sesuatu yang bersifat Yin mutlak atau Yang mutlak. Yin dan Yang membentuk keseimbangan. Hilangnya kesei mbangan antara Yin dan Yang akan menyebabkan timbulnya keadaan abnormal/patologis. • Lima Unsur/Lima Fase Teori ini berkembang dari Teori Yin Yang. Dengan menilai sifat-sifat khusus dari suatu benda dan kuat lemahnya unsur Yin dan Yang di dalamnya, maka digolongkanlah bendabenda dalam Lima Unsur atau Lima Fase. Disebut Lima Fase karena melambangkan proses alamiah yang dialami oleh sesuatu benda sejak awal terciptanya sampai termusnah. Kelima unsur/fase tersebut adalah: Kayu—Api—Tanah—Logam—Air. Kelimanya membentuk suatu siklus yang saling berhubungan satu sama lain dan tiap unsur mempunyai hubungan tertentu Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 3
  • 5.
    dengan unsur lainnyasecara khusus. Penerapan teori ini dalam pengobatan merupakan suatu hal yang agak kompleks. • Ci dan Meridian Yang dimaksud dengan Ci (pada manusia) adalah energi yang terdapat dalam tubuh manusia yang memberikan "kehidupan" pada seluruh bagian tubuh tersebut. Selain itu dikenal pula adanya Ci yang terdapat dalam udara, makanan dan sebagainya. Ci mengalir dalam saluran tertentu dalam tubuh manusia yang tersusun teratur secara membujur dan melintang yang disebut meridian. Terdapat 12 meridian umum, 12 meridian cabang, 8 meridian istimewa dan sebagainya yang kesemuanya membentuk suatu sistem saluran tersendiri dalam tubuh bagaikan jala yang terjalin erat. Dengan adanya sistem meridian ini maka perangsangan titik akupunktur di permukaan tubuh dapat disalurkan ke tempat-tempat yang dituju. MEKANISME KERJA Di dalam il mu Akupunktur, keadaan sakit terjadi apabila timbul ketidakseimbangan antara Yin dan Yang dalam tubuh. Ketidakseimbangan itu dapat berupa suatu ekses (hiperfungsi, terlalu kuat) atau defisien (hipofungsi, terlalu lemah). Hal itu dapat disebabkan oleh berbagai penyebab penyakit seperti keadaan cuaca/udara, gangguan emosi, kebiasaan makanminum yang salah, cara hidup yang keliru, trauma dan sebagainya. Dengan pemeriksaan akupunktur dapat ditentukan diagnosis, lokasi kelainan, penyebab penyakit dan dengan demikian dapat pula ditentukan titik-titik dan cara stimulasi yang diperlukan untuk memulihkan keseimbangan yang terganggu itu. Keadaan yang defisien harus diperkuat dengan stimulasi ringan dan keadaan yang ekses harus dilemahkan dengan stimulasi kuat. Terdapat berbagai titik akupunktur yang mempunyai indikasi khusus untuk maksud tersebut, selain dikenal pula titik simtomatik untuk menghilangkan keluhan tertentu. Berbagai penelitian telah dilakukan dalam kalangan kedokteran modern untuk menyelidiki akupunktur dalam berbagai aspeknya. Kini telah diketahui bahwa titik akupunktur mempunyai sifat - sifat yang berbeda dengan daerah kulit di sekitarnya, seperti potensial listrik lebih tinggi, tahanan listrik lebih rendah, daya hantar listrik lebih tinggi, daya hantar gelombang suara lebih tinggi, mempunyai hubungan dengan saraf otonom (titik akupunktur disebut pula zone of autonomic concentration) dan sebagainya. Adanya titik akupunktur dapat diperlihatkan dengan point detector dari alat akupunktur listrik. Namun sampai saat ini belum didapatkan keterangan yang memuaskan mengenai mekanisme kerja akupunktur secara menyeluruh. Berbagai teori telah dikemukakan untuk mencoba menjelaskan hal itu. Antara lain dikemukakan bahwa akupunktur bekerja melalui susunan saraf pusat, susunan saraf otonom, refleks kutaneoviseral/visero-kutaneal, mobilisi pertahanan dan regenerasi jaringan, pelepasan zat-zat neurohumoral, teori stres dan adaptasi, teori Gate Control dan lain-lain. Akhir-akhir ini dikemukakan pula teori adanya perangsangan pelepasan senyawa morfin endogen dalam tubuh sebagai akibat pe4 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 rangsangan titik akupunktur. Hal tersebut menyebabkan ambang rangsang nyeri meninggi dan menimbulkan efek analgesi . INDIKASI DAN KONTRA INDIKASI Akupunktur telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, baik secara tersendiri ataupun bersama cara pengobatan lain. Laporan "The New York State Commision on Acupuncture" (1974) menyatakan bahwa akupunktur telah digunakan untuk analgesi dalam berbagai bidang pembedahan dan untuk mengobati berbagai penyakit. Dinyatakan pula bahwa akupunktur paling efektif untuk pengobatan spasme otot rangka, spasme otot visera seperti dismenore dan diare. Keadaan lain yang seringkali dapat diobati dengan akupunktur adalah neuralgia trigeminal, hipertensi, hipotensi, bronkitis kronis, asma bronkiale, gejala putus obat dari penderita ketagihan obat, sakit kepala (migraine dan tension), artritis (khususnya osteoartritis), insomnia, konstipasi, paralisis (pasca cardio-vascular accidents), kelainan dengan komponen fungsional yang menonjol, dan neuralgia post-herpetica, serta tuli neurogenik. Dikemukakan pula adanya berbagai efek akupunktur yang menarik. Misalnya peningkatan sel darah putih dalam sirkulasi darah, penurunan kadar kolesterol dan trigliserida, peningkatan gamma globulin, efek normalisasi pada tekanan darah dan denyut jantung, percepatan masa persalinan; yang kesemuanya memerlukan penelitian lebih lanjut. Selanjutnya laporan itu menyatakan pula bahwa apabila akupunktur dilakukan oleh seorang dokter atau akupunkturis yang terlatih dengan baik, dan menguasai anatomi dan neurologi, maka tindakan penusukan akupunktur adalah sangat aman. Terdapat titik-titik yang telarang untuk ditusuk atau harus ditusuk dengan sangat hati-hati. Masalah sterilisasi dan tindakan aseptik pun harus mendapat perhatian untuk mencegah bahaya infeksi. Efek samping yang umum adalah sincope, selain itu dapat terjadi pneumotoraks, hematom, kerusakan saraf, perangsangan saraf, tinitus, anestesi dan gangguan keseimbangan dan eksaserbasi gejala yang ada atau nyeri yang diobati. Yang terakhir ini biasanya mereda dalam satu atau dua hari dengan pengobatan tambahan. Namun ada pula efek samping yang menguntungkan. Tidak jarang seorang pasien wanita yang berobat untuk migraine melaporkan adanya perbaikan dalam kelainan menstruasinya, atau sebaliknya. Atau pasien yang diobati untuk nyeri pinggang bawah mendapat perbaikan dalam kebiasaan defekasi atau inkontinensia urin. Hal itu menunjukkan adanya efek normalisasi dari fungsi organ pada penusukan akupunktur. Kontra indikasi akupunktur adalah: kehamilan (dapat menyebabkan abortus pada kehamilan muda), keadaan di mana akupunktur diketahui tidak akan efektif, pasien yang belum diperiksa secara medis dengan teliti, keganasan, infeksi akut/aktif, keadaan yang memerlukan tindakan operatif. Di dalam majalah WHO Edisi Desember 1979, terdapat daftar dari penyakit-penyakit yang memungkinkan untuk diobati dengan akupunktur, diajukan oleh The WHO Inter-
  • 6.
    regional Seminar sebagaiberikut : — Saluran pernapasan atas : sinusitis akut, rinitis akut, common cold, tonsilitis akut. — Sistem pernapasan: bronkitis akut, asma bronkiale (paling efektif pada anak-anak dan penderita tanpa komplikasi). — Kelainan mata: konjungtivitis akut, retinitis sentralis, miopia (pada anak-anak), katarak (tanpa komplikasi). — Kelainan mulut nyeri gigi, nyeri pasca pencabutan, gingivitis, faringitis akut dan kronis. — Kelainan gastro-intestinal spasme esofagus dan kardia, hiccough, gastroptosis, gastritis akut dan kronis, hiperasiditas gaster, ulkus duodenum kronis (penyembuhan nyeri), ulkus duodenum akut (tanpa komplikasi), kolitis akut dan kronis, disentri basiler akut, konstipasi, diare, ileus paralitik. — Kelainan neurologik dan muskulo-skeletal: nyeri kepala, migraine, neuralgia trigeminal, kelumpuhan muka (stadium awal, yaitu dalam tiga sampai enam bulan), paresis pasca stroke, neuropati perifer, sekuele poliomielitis (stadium awal, yaitu dalam enam bulan), penyakit Meniere, disfungsi kandung kemih neurogenik, enuresis nokturnal, neuralgia interkostal, sindroma servikobrakial,frozen shoulder, tennis elbow, skiatika, nyeri pinggang bawah,osteoartritis. PENUTUP Akupunktur yang dikenal sejak beberapa ribu tahun yang lalu ternyata merupakan salah satu cara pengobatan yang terbukti efektif sampai sekarang. Berbagai penemuan dan penelitian yang berhubungan dengan akupunktur telah dikembangkan. Pada sat ini terdapat berbagai teknik baru dan alatalat listrik yang membantu dalam diagnosis dan terapi, antara lain: — Akupunktur telinga, akupunktur kulit kepala, akupunktur muka, akupunktur hidung, akupunktur tangan, akupunktur kaki. — Aquapunktur (injeksi titik akupunktur dengan zat tertentu), elektroakupunktur rangsangan/getaran listrik pada jarum akupunktur/titik akupunktur), Sonopunktur (stimulasi titik akupunktur dengan ultrasound), Laserpunktur (stimulasi titik akupunktur dengan sinar Laser). — Ryodoraku (Nakatani): melihat kelainan pada meridian dengan pengukuran hantaran listrik pada titik tertentu di kulit, juga dapat untuk terapi dengan stimulasi listrik pada reactive electro-permeable point. — Akabane: pemeriksaan sensitivitas panas pada titik yang terdapat di ujung jari yang merupakan titik akhir meridian; ketidakseimbangan yang besar antara kiri dan kanan menyatakan adanya ketidakseimbangan meridian/organ yang bersangkutan. — Electro-acupuncture According to Voll (EAV): suatu alat untuk mengetahui kadaan patologis organ-organ dalam tubuh dengan pengukuran pada titik-titik tertentu dan dapat pula digunakan untuk terapi. — Fotografi Kirlian Kirlian : teknik fotografi yang memperlihatkan adanya emisi panas dari titik akupunktur/ meridian. Sebagai suatu cara pengobatan yang sederhana, murah dan efektif, akupunktur diharapkan dapat memberikan sumbangannya untuk peningkatan kesehatan masyarakat khususnya di negara-negara yang sedang berkembang. Dinyatakan dalam majalah WHO 1979, titik tolak masalahnya kini bukanlah: "Does acupuncture work?", tetapi ' How can acupuncture best applied to serve humanity?" Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 5
  • 7.
    Sejarah Perkembangan Unit AkupunkturRumah Sakit Cipto Mangunkusumo Dr. Haryanto Budi Unit Akupunktur RS. Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Akupunktur merupakan salah satu cabang Ilmu Kedokteran Timur yang telah lama dikenal di Indonesia, bersama dengan datangnya perantau Cina ke Indonesia. Namun suatu lembaga pengobatan akupunktur resmi di Indonesia baru muncul pada tahun 1963. Pada tahun itu oleh Menteri Kesehatan R.I. dibentuk team riset Ilmu Pengobatan Timur, dengan tujuan meneliti dan mengembangkan pengobatan Timur, antara lain tentang penggunaan jamu dan akupunktur sebagai sarana peningkatan kesehatan masyarakat. Ditetapkan Rumah Sakit Umum Pusat di Jakarta sebagai pilot proyek dalam bidang akupunktur. Beberapa dokter dari berbagai bidang keahlian di lingkungan FKUI/RSCM mengikuti pendidikan Ilmu Akupunktur di RSCM. Untuk pertama-kalinya pendidikan tersebut diberikan oleh team dokter dari Republik Rakyat Cina, di bawah pimpinan Dr. Huang Sien Ming yang datang ke Indonesia atas undangan Pemerintah R.I. Dalam pengamatan klinik telah dilihat manfaat pengobatan akupunktur dan ternyata sambutan masyarakat cukup besar. Klinik Akupunktur RSCM ini kemudian berkembang menjadi Sub-bagian Akupunktur dari bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM. Kepala Sub-bagian ini adalah Prof. Dr. Oei Eng Tie. Poliklinik pada saat itu bertempat di barak 2 RSCM dengan 3 tempat tidur untuk penderita rawat jalan. Pada tahun 1966, Direktur RSCM memberi kesempatan bagi calon dokter lulusan FKUI untuk melamar menjadi asisten ahli Akupunktur, di samping kesempatan untuk melamar sebagai asisten ahli Pulmonologi dan Kardiologi. Pada tahun 1967, Sub-bagian Akupunktur FKUI/RSCM berkembang menjadi Bagian Akupunktur RSCM dengan bertempat di sudut gedung Eykman di sayap kanan kompleks RSCM. Poliklinik Akupunktur saat itu memiliki 9 tempat tidur untuk penderita rawat jalan dan dikelola oleh 5 orang dokter. Sejak tahun 1969, pimpinan Bagian Akupunktur RSCM dipercayakan kepada Dr. Juliar Sihlman, setelah beliau mem6 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 perdalam Ilmu Akupunktur selama setahun lebih pada Ludwig Boltzmann Acupuncture Institute, Vienna. Beliau menyusun buku sederhana yang memberi petunjuk tentang titik-titik akupunktur, yang merupakan buku akupunktur pertama dalam bahasa Indonesia. Pada tahun 1970, untuk pertama kalinya Bagian Akupunktur RSCM memberikan keterangan keahlian dalam bidang Ilmu Akupunktur kepada beberapa dokter yang sudah cukup lama belajar dan bekerja di Bagian Akupunktur RSCM, antara lain kepada Dr. Tse Ching San, Dr. Erastus Wangsa Saputra, Dr. Stefanus Wiran dan Dr. Haryanto Budi yang sampai saat ini semua masih bertugas membina Unit Akupunktur RSCM; juga kepada Dr. Kiswojo yang kemudian pindah tugas ke ternpat lain. Menjelang akhir masa jabatan Dr. Juliar Sihlman, yaitu pada tahun 1971, pimpinan Bagian Akupunktur RSCM dipercayakan kepada Dr. Tse Ching San. Menyadari akan minat penderita untuk berobat akupunktur yang meningkat serta timbulnya minat para dokter untuk mempelajari Ilmu Akupunktur, Bagian Akupunktur menyiapkan diri dengan menyusun kurikulum pendidikan dokter ahli akupunktur, serta melengkapinya dengan buku-buku ilmiah tentang Ilmu Akupunktur. Pada tahun 1972, Ilmu Akupunktur menarik perhatian ilmu Kedokteran Barat setelah kunjungan Presiden Amerika Serikat ke RRC. Pada tahun itu pula Bagian Akupunktur RSCM untuk pertama kalinya mendapat kepercayaan dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia, yang mengirimkan 3 orang dokter untuk dididik menjadi dokter ahli dalam bidang Ilmu Akupunktur. Sejak itu hampir setiap tahun Bagian Akupunktur RSCM menerima tugas dari Departemen Kesehatan RI untuk mendidik 3 — 4 orang dokter menjadi dokter ahli akupunktur. Pada tahun 1973, Bagian Akupunktur RSCM dengan bantuan Departemen Sosial menerbitkan buku tentang llmu Akupunktur yang pert ama di Indonesia. Juga dibuat peta akupunktur dalam tulisan latin dan disusun status poliklinik khusus
  • 8.
    pengobatan akupunktur. Padatahun 1974 dan 1982 telah diilmiah kedokteran. Sebagai sarana penunjang, pada saat ini lakukan revisi kurikulum pendidikan dokter ahli akupunktur, tersedia lebih dari 200 judul buku ilmiah Ilmu Akupunktur dan dengan kurikulum ini masa pendidikan adalah 3 tahun. dalam bahasa lnggris , Jerman, Petancis dan Indonesia, serta Pada tahun 1976, Bagian Akupunktur RSCM pindah ke 80 jilid majalah akupunktur terbitan luar negeri. Pada tahun 1978 pendidikan keahlian dalam bidang akupunktur telah gedung poliklinik baru di lantai III sayap kanan dengan 11 diakui oleh Majelis Dokter Ahli Ikatan Dokter Indonesia tempat tidur untuk penderita rawat jalan. Pada saat ini Unit Akupunktur RSCM terus melengkapi (MDA IDI). diri dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan baik dari Timur maupun dari Barat dalam bidang Ilmu Akupunktur. Perkembangan Unit Akupunktur RSCM sampai saat ini Sarana pelayanan masyarakat telah dilengkapi dengan alat- dimungkinkan dengan adanya bantuan, bimbingan serta pemalat mutakhir berupa berbagai jenis jarum akupunktur, ber- binaan dari Departemen Kesehatan, Direksi RSCM, FKUI, bagai stimulator listrik, Biolaser, Ultrasound, alat Voll dan MDA IDI, serta kerja sama dengan sejawat dari disiplin ilmu lain-lain. Sarana pelayanan telah pula melayani konsultasi kedokteran lainnya. Namun, sejauh ini dirasakan bahwa Ilmu sejawat dari disiplin keahlian lain di lingkungan FKUI/RSCM Akupunktur Kedokteran masih belum banyak dikenal oleh maupun dari luar RSCM. Berbagai kegiatan ilmiah dilakukan, kalangan dokter pada umumnya. Mengingat Akupunktur baik berupa penelitian di dalam unit sendiri, penelitian bermerupakan salah satu cara pengobatan yang berdaya-guna sama dengan sejawat disiplin ilmu kedokteran yang lain, dan berhasil-guna, kiranya perlu lebih ditingkatkan untuk memelalui keikutsertaan dalam seminar/simposium, ceramah, nunjang usaha kesehatan masyarakat sesuai dengan Sistem penataran, serta melalui penulisan dalam majalah-majalah Kesehatan Nasional. Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 7
  • 9.
    Beberapa Alat ElektronikYang Dipakai dalam Akupunktur Dr. Shinta S Unit Akupunktur Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta PENDAHULUAN lstilah akupunktur berasal dari kata acus dan punctura yang berarti jarum dan tusuk l ' 2 , jadi pada dasarnya alat yang dipakai terutama adalah jarum. Jarum dipakai untuk perangsangan titik-titik akupunktur. Selain itu, pada masa sekarang ini perangsangan dapat pula diberikan secara efektif dengan berbagai alat seperti Ultrasound (Sonopunktur), Laser, atau dengan arus listrik (elektroakupunktur). Perkembangan alat-alat elektronik dalam akupunktur dimulai sejak tahun 1816 di Perancis oleh Louis Berlioz. Pada tahun 1825, di Perancis elektroakupunktur dipakai untuk pengobatan gout, rematik dan lain-lain. L.H. Cohen (1875) mulai memakai elektroakupunktur untuk anestesi operasi tumor kelenjar di Amerika. Nakatani (1950) menemukan alat Neurometer yang digunakan untuk mencari lokasi titik akupunktur dan untuk terapi. Pada tahun 1953 Reinholdt Voll mengembangkan alat yang disebut EAV (Electroacupuncture According to Voll) yang berguna untuk diagnosis dan terapi 3,4,5 Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, bagian ini mempunyai prinsip yang sama dengan Ohmmeter atau Ampermeter, sehingga dapat menentukan letak titik akupunktur secara tepat, sekaligus mengukur besar tahanan listrik dan kekuatan arus listriknya4,6 . Prinsip kerja Ohmmeter : Telah diketahui bahwa tahanan arus listrik suatu benda baru dapat diukur bila dialirkan arus listrik ke benda tersebut. Pada Ohmmeter prinsipnya adalah benda dialiri listrik dan diukur tahanan listriknya (Gambar 1). Sedangkan pada Ampermeter, yang mengukur besar kuat arus, tidak diperlukan sumber arus listrik karena sumbernya adalah benda yang diukur tersebut. ELEKTROAKUPUNKTUR Definisi : Penggunaan arus listrik untuk menstimulasi jarum akupunktur4,6 • STIMULATOR LISTRIK ("ELECTRICAL ACUPUNCTURE APPARATUS") Pada dasarnya alat ini terdiri atas dua bagian, yaitu : Acupoint Detector (untuk mencari lokasi titik akupunktur) dan Stimulator (untuk perangsangan). Acupoint Detector Oleh Volt, Niboyet dan Nogier telah didapatkan bahwa titik akupunktur mempunyai tahanan listrik yang lebih rendah daripada tempat lainnya di kulit. Nakatani menyatakan, titik akupunktur merupakan tempat terbaik untuk menghantarkan arus listrik oleh karena mempunyai sifat konduksi yang baik7,8 . 8 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 Gambar 1. Ohmmeter Prinsip pengukuraan titik akupunktur : Titik akupunktur mempunyai tahanan listrik kulit yang lebih rendah dibanding jaringan sekitarnya 3 ' 6 ' 8 . Jadi bila titik akupunktur dialiri listrik, akan terjadi penyimpangan pada skala Ohmmeter yang lebih kecil bila dibandingkan dengan penyimpangan yang ditimbulkan oleh jaringan yang bukan titik akupunktur. Perlu dikemukakan, untuk menentukan tahanan listrik suatu benda diperlukan kuat arus listrik tertentu. Di sini untuk membedakan titik akupunktur dengan jaringan sekitarnya diperlukan kuat arus tertentu yang mampu menembus tahanan listrik keduanya, akan tetapi tidak terlalu besar. Menurut Nakatani, kuat arus listrik yang dialirkan untuk
  • 10.
    mencari titik akupunkturtidak boleh lebih dari 200 U Amper, karena bila lebih besar akan merusak jaringan 9 . suatu lempengan elektroda yang berbeda-beda diameternya tergantung kebutuhan. Stimulator Indikasi Elektroakupunktur 4 1) Untuk menghasilkan analgesia untuk operasi 2) Pengobatan kelumpuhan 3) Pengobatan kerusakan saraf karena berbagai sebab 4) Pengobatan pada keadaan-keadaan lain seperti ketergantungan obat dan sebagainya. Bagian ini digunakan untuk perangsangan titik akupunktur dan dapat diatur kekuatan, frekuensi serta lama perangsangannya. Arus listrik yang digunakan dapat arus searah (D.C.) atau arus bolak-balik (A.C.). Arus searah dapat dibedakan menjadi arus searah tetap (Smooth D.C.) atau arus searah pulsasi (Pulsating D.C.). Arus bolak-balik merupakan arus yang berpulsasi dan memiliki gelombang positif dan negatif 4 ' 6 . Pada arus searah pulsasi dan arus bolak-balik dikenal adanya pembagian jenis gelombang listrik seperti gelombang siku (square wave), gelombang segi (Spike wave), gelombang sinusoid dan lain-lain. Dalam pengobatan akupunktur dianjurkan untuk memakai gelombang siku dan gelombang segi. Gelombang sinusoid kurang dianjurkan karena dapat menimbulkan panas di jaringan sehingga membakar daerah hersangkutan 8 . Kontra Indikasi Elektroakupunktur 4, 6 1) Terutama penderita gangguan impuls jantung karena di sini kepekaan jantung terhadap rangsang meninggi, sehingga kemungkinan timbulnya fibrilasi jantung akan meninggi bila diberikan rangsang listrik. 2) Kehamilan trimester pertama, kusus pada titik-titik tertentu oleh karena dapat mengakibatkan abortus. • NEUROMETER ("RYODORAKU NAKATANI") Ryodoraku merupakan fenomena patologis. Menurut Gambar 2. Elektrostimlator type DZ--22 Secara garis besar dapat dikatakan, arus searah tetap (D.C.) hanya dirasakan pasien pada waktu arus masuk dan keluar tubuh saja. Selama perangsangan pasien tidak akan merasa apa-apa. Hal ini disebabkan karena sebagian energi arus diubah menjadi panas 6 ' 8 ' 9 . Arus bolak-balik dan arus searah pulsasi ternyata memberikan rangsangan yang cukup dalam tubuh manusia sehingga jenis arus ini sering dipakai untuk dalam elektroakupunktur. Dalam penggunaannya dikenal bentuk rangsang kontinyu, rangsang dense disperse dan rangsang diskontinyu. Frekuensi yang digunakan berkisar antara beberapa Herts (Hz) sampai dengan 10 Khz, disesuaikan dengan maksud perangsangan. Cara merangsang titik akupunktur dapat dilakukan melalui elektroda atau dengan melalui jarum. Bila melalui jarum, harus diperhatikan mana jarum yang dihubungkan dengan elektroda positif dan mana yang dengan elektroda negatif. Bila tidak digunakan jarum, biasanya digunakan Nakatani mekanismenya dapat diterangkan dengan simpatikoviserokutaneo refleks. Dengan alat ini keadaan abnormal pada tiap meridian (=ryodoraku) dapat diketahui secara obyektif dengan pengukuran hantaran listrik pada titik-titik di kulit. Bila diberikan stimulasi yang cukup (biasanya dipakai arus sebesar 200mAmp dan tegangan sebesar 21 Volt) pada titiktitik ukur (REPP = Reactive electro -permeable point), terdapat impuls aferen melalui saraf simpatis dan terjadilah regulasi saraf otonom dari visera. Dengan demikian terjadilah penyembuhan. Dalam teori Ryodoraku, Ryodoraku abnormal bila terdapat peninggian/penurunan hantaran listrik dibandingkan nilai ratarata dari ke-24 Ryodoraku. Pada keadaan normal nilai dari hantaran listrik kanan dan kiri kurang lebih sama. Adanya perbedaan yang bermakna menandakan adanya keadaan abnormal yaitu adanya keadaan sakit sesuai dengan teori Yin Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 9
  • 11.
    Gambar 3. Neurometer Yang.Bila suatu titik lemah (hantaran menurun) maka dapat diperkuat dan demikian sebaliknya sehingga terjadi kesei mbangan kembali antara kiri dan kanan. Dengan demikian alat ini dapat dipergunakan untuk diagnosis dan terapi. • ELECTROACUPUNCTURE ACCORDING TO VOLL (EAV) Alat ini mungkin merupakan perkembangan yang terbaru dalam akupunktur. Di antara semua alat-alat akupunktur, EAV merupakan alat yang mempunyai ketepatan tertinggi 3,4,10 Pengukuran dasarnya adalah parameter listrik pada titik akupunktur yang dikaitkan dengan diagnosis dan terapi. Alat ini merupakan sistem diagnostik dan terapi yang kompleks. Alat ini dikembangkan oleh Reinholdt Voll, dan dasar-dasar pemikiran metode ini dibuat pada tahun 1953. Pada tahun 1955 dengan kerjasamanya dengan Dr. Fritz Werner (seorang insinyur), dibuat alat yang disebut Diatherapuncture. Alat ini merupakan tabung hampa udara yang mempergunakan arus searah (D.C.) yang kecil ± 1 Volt pada titik akupunktur yang diukur. Pada dasarnya kerja alat ini sama dengan potensiometer dan dapat juga memberikan arus searah yang khas pada titik akupunktur. Kemudian dibuat alat yang lebih kompak oleh Pitterling Electronic di Munich yang disebut sebagai Dermatron. Alat ini terdiri atas dua bagian, bagian yang pertama merupakan bagian untuk diagnosis dan bagian yang kedua untuk pengobatan4,5,10 Prinsip dasar 1) Titik-titik tertentu pada meridian tertentu mewakili organorgan tertentu yang sesuai dengan meridian tersebut. 2) Titik akupunktur sedapat mungkin diukur secara langsung, dengan arus searah 8—10 U Amper dan tegangan ± 1 Volt; kemampuan titik tersebut menahan arus inilah yang diukur. Prinsip umum Tubuh manusia pada umumnya berlaku seperti resistor (alat tahanan listrik) yang dihubungkan secara paralel pada sebuah kapasitor (sumber tenaga yaitu organ dalam tubuh). Di sin yang bertindak sebagai tahanan adalah kulit manusia. Kapasitor merupakan alat listrik untuk menyimpan muatan dan mempunyai banyak jalan, sehingga kerjanya seperti baterai. Titik akupunktur dapat dianggap diwakili oleh kapasitor pada diagram dan bila titik akupunktur dialiri listrik, keadaan ini sangat mirip dengan baterai (Gambar 4). 10 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 Dikatakan baterai abnormal bila muatannya berlebihan atau kurang. Pada titik akupunktur hal ini dapat juga terjadi, hanya ada hal yang menghalangi yaitu tahanan kulit. Menurut Becker, dengan meminjam istilah potensial, titik akupunktur merupakan titik di mana muatan listriknya lebih negatif dibanding kulit dan keadaan sekitarnya dalam tubuh. Berdasarkan hal ini alat pengukur dari Dermatron dihubungkan dengan kutub positif dari alat dan aliran listrik untuk pengukuran berlawanan polaritasnya dengan titik akupunktur. Kekuatan arus (Watt = Amp X Volt) diatur sedemikian rupa sehingga titik akupunktur yang normal dapat menahan arus ini dan mempertahankan voltase yang berlawanan (negatif) terhadap arus kapasitor berhubungan secara paralel resistor berhubungan secara seri Gambar 4. Diagram yang diberikan (positif). Hal ini penting diperhatikan karena bila arus terlalu rendah, titik yang patologis pun menunjukkan angka yang stabil. Sebaliknya bila arus terlalu tinggi, semua titik akupunktur akan menunjukkan angka yang patologis, sehingga terjadi Indicator Drop. Pada titik akupunktur yang normal akan didapatkan deviasi indikator 50 yang kurang lebih sama dengan energi titik akupunktur (± 0,87 Volt). Hal ini didapatkan bila ada tahanan antara alat pengukur dan elektrode tanah (arde) ± 95 K Ohm. Pada percobaan-percobaan selanjutnya, disimpulkan bahwa daerah anatomis yang diwakili oleh titik akupunktur dihubungkan oleh meridian ke titik akupunktur yang diukur dan meridian di sini bertindak sebagai kabel yang mengandung listrik4,5,10 Penggunaan 1) Diagnosis Dibuat berdasarkan :
  • 12.
    Gambar 5. EAV- Dermatron a. Jarak dan ketetapan pembacaan b. Kecepatan dan arah dari Indicator Drop Menurut Voll tiap faktor ini berhubungan dengan keadaan patologis yang spesifik. Selanjutnya Voll mengklasifikasikan faktor-faktor ini ke dalam sub unit, yang masing-masing berhubungan pada gejala tertentu, yaitu : nilai antara 100 — 90 : terdapat peradangan total 50 : keadaan normal 28 — 20 : terdapat degenerasi yang kuat Bila angka mula-mula 80 kemudian drop sampai 30 : kemungkinan ada keganasan 3 '4 . 2) Terapi Frekuensi rendah 0,8—10 Hz selama ± 1 menit dapat digunakan untuk men-charge titik akupunktur, misalnya dengan a. Gelombang alternating (Alternating relaxation impulse + diikuti —) b. Negative saw tooth (spike —) c. Juga dapat digunakan untuk discharging. Di sini biasanya dipakai gelombang spike + (Positive saw tooth) 4 ALAT ULTRASOUND (MINISOUND LINDQUIST) Alat ini terdiri atas : - Sumber ultrasound - Stimulator - Soundhead yang dapat diganti ukurannya sesuai dengan daerah yang diobati Prinsip sumber "ultrasound" Pengobatan dengan ultrasound berdasarkan sifat khas dari energi yang penetratif. Energi ini merupakan energi mekanis yang terdiri atas suara frekuensi tinggi yang tidak dapat dideteksi dengan telinga (frekuensi 1 juta Siklus/detik). Dalam alat ini energi suara ini dibuat sebagai pulsa intermittent 60 X/ detik dengan masa istirahat dan pulsasi yang kira-kira sama. Hal ini berdasarkan bahwa pengobatan dengan pulsa intermittent dapat dilakukan lebih lama tanpa mengganggu pasien meskipun timbul panas. Penggunaannya harus memakai media, sebab ultrasound tidak dapat menembus udara/hampa udara tetapi dapat melalui benda padat/cair. Dosis yang dipakai sebaiknya dosis rendah. Lebih baik memakai dosis rendah dengan waktu terapi yang lebih lama daripada sebaliknya. Stimulator Menghasilkan aliran kontraktil yang tidak berpolarisasi untuk menstimulasi otot-otot dengan persarafan normal. Pulsa yang dipakai adalah pulsa bifasik dengan lama U detik dengan frekuensi 1—100 Hz. Cara Pemakaian Soundhead diletakkan pada daerah yang dituju, secara stationer atau bergerak. Bila dilakukan secara bergerak, soundhead digerakkan perlahan membentuk lingkaran - lingkaran kecil setiap dua detik. Untuk daerah yang luas, soundhead digerakkan sepanjang daerah yang diobati, dan pengulangan gerakan dilakukan setiap 60 detik. Lama tiap terapi berkisar antara 6 - 10 menit disesuaikan dengan keadaan pasien. Untuk tiap titik dilakukan pengobatan selama 15 detik sampai 60 detik. Dosis dihitung berdasarkan Watt dan waktu. Pada waktu terapi pasien tidak boleh merasa sakit, bila terdapat perasaan sakit/tidak enak berarti intensitas yang diberikan terlalu tinggi. Pada keadaan akut diperlukan ± 5 kali terapi dengan frekuensi 1—2 X/hari. Sedangkan pada keadaan kronis diperlukan 10—15 kali terapi dengan frekuensi 1—2 hari sekali, dilanjutkan dengan 2—3 minggu kemudian bila terapi berhasil. Indikasi Terutama untuk nyeri dan pegal yang berhubungan dengan : 1) Bursitis non spesifik, periartritis, fibrositis, tenosinovitis, miofasitis dan miositis. 2) Rematoid artritis dan osteoartritis. 3) Neuritis jenis non paralitik seperti brakial neuralgia, skiatika dan nyeri pasca amputasi. Kontra Indikasi 1) Proses infeksi akut Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 11
  • 13.
    11,12 2) Lesi ganas 3)Sirkulasi yang kurang baik Sifat Sinar Laser 1) Monokromatis : suatu sinar dengan panjang gelombang tunggal sehingga memberi warna murni dan hal ini tidak didapatkan pada sumber sinar lain. 2) Koheren : terdapat hubungan fase gelombang yang tetap antara bagian-bagiannya sehingga sangat tahan terhadap gangguan. 3) Paralel : titik sumber sinar kecil dan sinarnya sangat paralel. 11 Jenis Sinar Laser Berdasarkan jenis zat antara yang digunakan, terbagi atas : 1) Laser padat : Laser mirah dan Laser Nd : mempunyai sifat yang kompak dan efisiensi yang tinggi. 2) Laser cair : sebagian besar menggunakan cairan berwarna. 3) Laser gas : Laser HeNe, Laser Argon, Laser Krypton. Gambar 6. Minisound ALAT LASER Laser merupakan singkatan dari Light Amplification by Stimulated Radiation (penguatan sinar oleh emisi radiasi yang distimulasi). 11 Sinar ini pada masa sekarang sudah digunakan dalam berbagai bidang klinik seperti oftalmologi, dermatologi, otorinolaringologi, bedah, obstetri, neurologi, psikiatri, interna dan terapi akupunktur. Penggunaan dalam terapi akupunktur dengan output 11,12 rendah telah diperdalam di Eropa sejak 15 tahun terakhir ini Efek terhadap manusia Bila radiasi Laser menyentuh permukaan kulit, terjadilah fenomena fisika yang umum, antara lain : pemantulan, penyerapan, dan pemancaran. Pada manusia, 99% dari radiasi Laser ini diabsorbsi kulit. Diketahui bahwa Laser HeNe menembus jaringan secara langsung sedalam 0,8 mm dan tak langsung 8—10 mm. Sebagian besar radiasi Laser setelah diabsorbsi diubah menjadi getaran panas. Efek radiasi ini terhadap jaringan dapat dibagi dalam beberapa tingkat : 1) Tingkat I dan II : bersifat reversibel, terdiri atas pemanasan lokal dan dehidrasi jaringan. 2) Tingkat berikutnya : bersifat irreversibel yaitu berupa penggumpalan protein, termolisis dan penguapan. Pemakaian Laser HeNe 1 mW untuk terapi selama 15—20 detik hanya akan menyebabkan pemanasan saja. 3) Penghambatan atau perangsangan lokal maupun sistemis. Hal ini berhubungan dengan hukum biologi Arndt — Schulz, yaitu : — — — — perangsangan lemah akan memacu aktifitas fisiologi perangsangan sedang membawa efek yang menguntungkan perangsangan kuat akan menghambat aktifitas fisiologis perangsangan kuat akan menghentikan aktifitas tersebut. Gambar 7. Marah Biolaser 12 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987
  • 14.
    Penggunaan Laser dalamakupunktur terutama untuk mengurangi nyeri, karena dapat mengurangi spasme. Hal ini mungkin berhubungan dengan11: a. Depolarisasi dan repolarisasi serabut-serabut otot yang berkontraksi abnormal. b. Berkurangnya spasme otot arteriole pada daerah yang diradiasi sehingga terjadi vasodilatasi. c. Perangsangan elektron pada membrana mitokondria sehingga mempengaruhi proses metabolisme dan transportasi. Menurut penelitian, umumnya penderita sudah merasakan adanya perbaikan pada 3x pengobatan yang pertama. Pengobatan dengan Laser maksimal sebanyak 8—10 kali. Pada 2% penderita ditemui rasa pusing dan mual sesudah pengobatan. Bila keadaan menetap selama 5—10 menit, pengobatan harus dihentikan. KEPUSTAKAAN 1. Beijing College of Traditional Chinese Medicine etc. Essentials of Chinese Acupuncture. 1st ed. Beijing: Foreign Language Press, 1980;p5. 2. Kusuma A dan Kiswoyo. Teori dan Praktek Ilmu Akupunktur. Jakarta: PT Gramedia 1978, hal 1. 3. Kao FF and Kao JJ. Recent Advances in Acupuncture Research. New York: Institute for Advanced Research in Asian Science and Medicine, 1979;p 63-5. 4. Kenyon JN. Modern Techniques of Acupuncture, A Practical Scientific Guide to Electro Acupuncture. vol 1, 1st ed. New York: Thornsons Publishers Inc, 1983; pp 17—61. 5. Leonhardt H and Schuldt H. An Introduction to Electro Acupuncture According to Voll. Mediainisch Literarische Verlagsgesellschaft mbH—Helzen, 1976; pp 8—15. 6. Lee JF and Cheung CS. Current Acupuncture Therapy 1st ed. Hongkong: Medical Interflow Publishing House, 1978; pp 41-56. 7. OConnor J and Bensku D. Acupuncture, A Comprehensive Text. Chicago: Eastland Press, 1981; pp 431—3. 8. Tanny M. Electrical Stimulation Acupuncture Therapy. Am J Acupunct. 1977; 4: 5-12. 9. Makatani Y and Yamashita K. Ryodoraku Acupuncture 1st ed. Tokyo—Osaka: Ryodoraku Research Institute, 1977. 10. Wernwe FM. Electro Acupuncture Primer on Electro Acupuncture According to Voll. 1st ed. English. Medizinisch Literarische Verlagsgesellschaft mbH. Ueizen, 1979. 11. Caspers KH. Stimulation Therapy with Laser Beam. Translated from Physikalische Medizin and Rehabilitation. 1977; 18: 42645. 12. Kleinkort JA and Foley RA. Laser Acupuncture: Its Use in Physical Therapy. Am J Acupunc, 1984; 12: 51-6. 13. Minisound Instruction Manual, Lindquist Minisound. Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 13
  • 15.
    Pengobatan Vitiligo dengan Akupunktur Dr.Firdaus Slamat *) Unit Akupunktur RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta ABSTRAK Telah dilakukan pengobatan akupunktur pada 20 kasus vitiligo dari berbagai jenis lesi, umur dan lama menderita sakit. Akupunktur dilakukan dengan jarum yang diberi rangsang listrik dengan jenis gelombang bifasik siku, frekuensi 2 Hertz, selama 20 menit. Penilaian hasil dilakukan setelah penusukan ke 6, 12, 18 dan 24, terhadap perubahan warna, timbulnya pulau-pulau repigmentasi dan pengecilan tepi bercak. Hasil yang didapat adalah perbaikan 90% dan gagal 10%. PENDAHULUAN Vitiligo merupakan kelainan kulit yang sudah dikenal sejak 1500 tahun sebelum masehi l . Mosher dan kawan-kawan mengatakan, vitiligo merupakan penyakit kulit yang tergolong pada kelompok hipomelanosis, dan sering merupakan penyakit keturunan yang bersifat Autosomal Dominant, yang ditandai dengan adanya bercak putih berbatas tegas yang meluas secara sentrifugal 2 . Hipotesis terjadinya vitiligo adalah 3-5 1) Hipotesis autodestruktif, yang mengatakan bahwa bahan atau hasil sampingan pada waktu pembentukan melanin dapat merusak atau menyebabkan sel melanosit tidak dapat berfungsi. 2) Hipotesis imun, menduga telah terjadi kehilangan pengawasan terhadap sistem imun, sehingga mengakibatkan kerusakan sel melanosit, disfungsi melanosit atau kedua proses tersebut terjadi bersama-sama. 3) Hipotesis neural, diduga terdapat suatu mediator saraf yang dapat merusak melanosit atau menghambat produksi melanin. KLASIFIKASI VITILIGO 1. Menurut etiopatologi dan pemeriksaan imunologis 2 : a. Autoimun atau vitiligo progresif b. Segmental (dermatomal) c. Kemikal (kontak) *) Penulis saat ini bertugas di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta. 14 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 2. Menurut Koga 3 : a. Tipe A yang penyebarannya non dermatomal dan ada kemungkinan penyembuhan dengan pengobatan kortikosteroid. b. Tipe B yang penyebarannya dermatomal dengan kemungkinan faktor simpatis memegang peranan penting. Tipe ini memberi respon terhadap inhibitor monoamin oksidase. 3. Menurut lokalisasi : a. Lokalisata b. Generalisata Dunia kedokteran Barat telah berusaha mencari pengobatan yang tepat untuk menyembuhkan penyakit ini, namun hasilnya sampai saat ini belum memuaskan. Obat yang biasa diberikan adalah derivat metoksi psoralen. Salah satu penelitian tentang efek akupunktur terhadap vitiligo dilakukan pada tahun 1980 oleh Premaratne dengan hasil yang memuaskan 6 . Dikemukakan bahwa dengan akupunktur akan terjadi pelepasan beberapa zat, antara lain serotonin, histamin, Bradykinin Slow Reacting Substances (SRS) dan mungkin zat-zat lain yang belum diketahui. Zat-zat ini merangsang pelepasan faktor kortikotropin (Corticotropin Releasing Factor = CRF) dan mungkin lain-lain Hypophysis Releasing Factor. CRF dan zat-zat lain itu dialirkan melalui pembuluh darah balik ke adenohipofisis . CRF ini selanjutnya akan merangsang dibentuknya ACTH dan kortikosteroid lainnya7,8 . Hipotesis yang mengatakan bahwa akupunktur dapat merangsang pelepasan kortikosteroid ini sesuai untuk menanggulangi salah satu jenis vitiligo yang memberi respon terhadap kortikosteroid, seperti diajukan oleh Koga. Penelitian lain melaporkan bahwa pada keadaan sistem imunologis yang terganggu, penusukan akupunktur dapat mempengaruhi susunan sel limfosit B dan T dari susunan yang tidak seimbang menjadi seimbang 9-11 Mengingat salah satu hipotesis vitiligo berhubungan dengan gangguan sistem imunologik, kiranya dapat dijelaskan efek pengobatan vitiligo dengan akupunktur.
  • 16.
    BAHAN DAN CARA Penelitianterhadap penderita vitiligo ini dilakukan di Unit Akupunktur RSCM Jakarta. Masa penelitian adalah 2 tahun terhitung sejak Januari 1982. Pada awal penelitian jumlah penderita 40 orang. Yang dimasukkan dalam penelitian adalah 20 orang, sisanya tidak menyelesaikan seri terapi yang telah ditentukan, atau tidak menjalani pengobatan secara teratur. Penderita dikirim dari Bagian Kulit FKUI/RSCM dengan diagnosis vitiligo. Penderita sudah atau belum pernah diobati dengan tipe vitiligo generalisata atau lokalisata. Lamanya penyakit diderita bervariasi. Alat yang digunakan adalah : — Jarum akupunktur dari baja tahan karat no. 32 dengan panjang 1 inci. — Stimulator listrik tipe 71.1 buatan Cina. Penderita dibaringkan dengan posisi terlentang, dan dilakukan penusukan dengan jarum akupunktur pada titik-titik akupunktur yang telah ditentukan. Jarum ditusukkan tegak lurus, lalu dimanipulasi sampai penderita merasa te ci (sensasi penjaruman). Jarum kemudian dihubungkan dengan elektroda dari stimulator listrik selama 20 menit. Jenis gelombang listrik adalah bifasik siku, dengan frekuensi 2 Hertz dan intensitas sekecil mungkin yang masih dapat dirasa oleh penderita. Titik-titik akupunktur yang dipergunakan sesuai dengan penelitian Premaratne yaitu 6 : — He Ku (II.4) — Ci Ce (II.11) — Sing Cien (XII.2) — San Yin Ciao (IV.6) Sepasang elektroda dihubungkan dengan titik He Ku (II.4) dan Ci Ce (II.11) pada sisi tubuh yang sama. Elektroda yang lain dihubungkan dengan titik Sing Cien (XII.2) dan San Yin Ciao (IV.6). Penusukan dilakukan sebanyak 2 seri. Masing-masing seri pengobatan terdiri dari 12 kali kunjungan, dengan jadwal 3 kali seminggu. Setelah seri pengobatan pertama, penderita diistirahatkan selama 2 minggu untuk kemudian dimulai dengan seri kedua. Selama penelitian kepada penderita tidak diberikan obat-obatan baik per oral, topikal maupun parenteral. HASIL Tabel I. Distribusi Umur dan Jenis Kelamin Umur Laki-laki Perempuan Jumlah 10th - 19th 20 th - 39 th 40th - 49th 50th - 59th 60 th - 69 th 1 3 1 - 4 3 3 3 2 5 6 4 3 2 Jumlah 5 15 20 Penderita perempuan adalah 15 orang yang merupakan 75% dari seluruh penderita. Tabel II. Lamanya Penyakit diderita Sebelum Pengobatan Lamanya sakit 1 5 10 15 1 - 5 - 10 - 15 Jumlah Jumlah th 4 th th th th 17 7 5 7 40 4 penderita yaitu 10% menderita sakit kurang dari 1 tahun sedangkan selebihnya yaitu 36 penderita (90%) menderita sakit antara 1 tahun sampai lebih dari 15 tahun. Tabel III. Hubungan Antara Jenis Vitiligo dengan Hasil Jenis Vitiligo Baik Perbaikan Gagal Jumlah Lokalisata Generalisata — — 7 11 — 2 7 13 Jumlah — 18 2 20 Dari 7 penderita Vitiligo Lokalisata, semua mengalami perbaikan. Sedangkan dari 13 penderita Vitiligo Generalisata, 11 orang mengalami perbaikan. KRITERIA PENILAIAN HASIL Penilaian dilakukan 4 kali, yaitu setelah penusukan ke 6, 12, 18 dan 24, dengan kriteria sebagai berikut : — Baik : Bila tidak terdapat lagi bercak vitiligo. — Perbaikan : Bila pada bercak-bercak vitiligo terjadi perubahan warna atau timbulnya pulau-pulau repigmentasi atau terdapat pengecilan dari tepi bercak. — Gagal : Bila tidak terdapat perubahan sama sekali atau bercak-bercak bertambah dalam jumlah maupun luasnya. Perhitungan statistik dilakukan dengan menggunakan rumus Pearson Chart. Untuk menilai kemaknaan dari pada perubahan-perubahan setelah penusukan yang ke 24. Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 15
  • 17.
    Tabel IV. Hubunganantara Jenis Vitiligo dengan Jenis Perbaikan yang Terjadi. Perubahan warna Timbul pulau Lokalisata Generalisata 7 11 5 6 Jumlah 18 11 3 Pengecilan Tepi bercak Pr Pr L Jm1 5 2 1 Jenis Vitiligo 19 20 G 15 7 + + – _ – 13 18 11 3 Perubahan warna + : artinya ada perubahan warna. Timbulnya pulau-pulau : + 1 artinya timbul pulau repigmentasi baru sebanyak 1 buah, + 2 adalah 2 buah, dan + 3 adalah 3 buah. Pengecilan tepi bercak : dihitung penambahan pigmentasi pada jarak terpendek bercak vitiligo. Tabel V. Hubungan Antara Jumlah Penusukan Dengan Hasil DISKUSI Jumlah penusukan Hasil 6x (%) 12x (%) Baltic Perbaikan Gagal 2 18 – ( 10%) ( 90%) 14 6 – ( 70%) ( 30%) – 17 ( 85%) 3 ( 15%) Jumlah 20 (100%) 20 (100%) 20 18x (%) 24x (%) ( 90%) ( 10%) 20 (100%) – 18 2 (100%) Pada penusukan ke 24 hasil lebih nyata, yaitu berupa perbaikan sebanyak 90% dan kegagalan sebanyak 10%. Tabel VI. Hubungan Antara Jenis Perbaikan Dibandingkan Jumlah Penusukan Jumlah penusukan Jenis Perbaikan (%) Perubahan warna Timbul pulau-pulau Pengecilan tepi bercak 2 12x (%) (10%) 6x 14 3 – 18x (%) (70%) 17 (15%) 8 – 1 24x (%) (85%) 18 (40%) 11 ( 5%) 3 (90%) (55%) (15%) Pada penusukan ke 24 terlihat hasil perbaikan yang berupa perubahan warna, timbul pulau-pulau repigmentasi maupun pengecilan tepi bercak, lebih nyata. Perubahan warna : 77 <M <1,03; P <0,05 Timbulnya pulau repigmentasi baru : 33 <M <77; P <0,05 Pengecilan tepi bercak: – 0,006 <M<0,306; P>0,05 Pada penelitian ini ternyata perubahan dalam wama dan timbulnya pulau repigmentasi baru adalah bermakna (P <0,05), tidak bermakna (P > 0, 005). Sedangkan perubahan yang berbentuk pengecilan tepi bercak, tidak bermakna (P > 0,05). Tabel VIII. Distribusi Jenis Kelamin, Jenis Vitiligo dan Perbaikan Jenis kelamin Jenis vitiligo Lk Pr L G 1 2 3 4 5 Lk 6Lk 7 8 9 Lk 10 11 Lk 12 13 14 Lk 15 16 17 18 Pr Pr Pr Pr G G Perbaikan No. 16 Pr Pr Pr Pr Pr Pr Pr Pr Pr L G L L L L L G G G G G G G G G Perubahan warna Timbulnya pulau + + + + + + + + + + + – + + + + + – + 3 +2 – +2 +3 +2 +2 +3 +3 – +1 +2 – +2 – – Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 Pengecilan tepi bercak – _ +2mm +6mm – – – +2mm – _ – – – – Dari penelitian didapat bahwa perbaikan yang terjadi baik pada vitiligo lokalisata maupun generalisata, bertambah sesuai dengan meningkatnya jumlah penusukan yang dialami penderita. Pada penelitian ini evaluasi dilakukan sampai penusukan ke-24 (2 seri terapi). Sehubungan dengan hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut apakah penambahan seri akan juga memperbaiki hasil pengobatan. Meskipun dalam penelitian ini pengobatan akupunktur belum dapat memberikan penyembuhan sempurna, namun adanya perbaikan yang terlihat menunjukkan harapan kemungkinan kesembuhan. Mengingat cara pengobatan konvensional pun tidak dapat mengobati vitiligo dengan memuaskan, maka akupunktur dapat dipikirkan sebagai suatu cara pengobatan alternatif KESIMPULAN Pengobatan akupunktur pada vitiligo sebanyak 24 kali memberi perbaikan berupa perubahan warna dan timbulnya pulau-pulau yang bermakna (P < 0,05), sedangkan perbaikan yang berupa pengecilan tepi bercak tidak bermakna (P > 0,05). KEPUSTAKAAN 1. Fitzpatrick TB. Abnormalities of the melanin pigmentary system. In: Fitzpatrick, Dermatologi in General Medicine, New York : M.C. Graw Hill Book Co, 1971; 1591 - 1637. 2. Mosher DB, Fitzpatrick TB, Artone JP. Disorders of melanocyter; in: Dermatology in general medicine , New York : Mc Graw Hill Book Company, 1979; pp. 568 - 620. 3. Koga M. Vitiligo a new classification and therapy. Br J Dermatol. 1977; 97 : 255 - 261. 4. Lerner A, Nordlus J. Vitiligo what is it? Is it important? JAMA, 1978; 239: 1183. 5. Morohashi M, Hashimoto K, Newton DE, Ristoivo. Ultrastructural, studies of vitiligo, Vogt Koyanagi Syndrome and incontinentia pigmenti achromias. Arch Dermatol. 1977; 113 : 765 - 766. 6. Premaratne ADV. Acupuncture therapy in the treatment of leukoderma. Am J Acup. 1980; 8 : 251 - 231. 7. Kim SS. Acupuncture mode of action in migraine headache. Am J Acup. 1975; 3 : 110 - 111. 8. Platt HV. Acupuncture a new national defence mobilization and tissue regeneration and tissue regeneration theory. Am.J Acup. 1974;2:167-174. 9. Sablovic D, Michon C. Effect of acupuncture on human peripheral T and B lymphocytes. Acupuncture and electro-therapeut. Res Int J. 1978; 3 : 97 - 107. 10. Chao JZ, Wang ZH, Chao R. Experiment study of effects of electro acupuncture on cell mediated immune respone of rabbits. In: Advances in acupuncture and acupuncture anaesthesia. Beijing: 1979;512. 11. Ma ZY, Chong H, Jan ZX. Experimental observation of cellular immunological function under the influence of acupuncture. In: Advances in acupuncture and acupuncture anaesthesia, Beijing: 1979; 511.
  • 18.
    Pengaruh Akupunktur Terhadap NilaiGamaglobulin Dr. Srikandi Dja'far Said * Unit Akupunktur RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta ABSTRAK Telah dilakukan penelitian pada 24 kasus mengenai pengaruh akupunktur terhadap nilai gamaglobulin. Akupunktur dilakukan dengan stimulasi listrik pada titik He Ku (II.4) dan Cu San Li (III.36) dengan frekuensi 15 Hertz, tegangan 0,3 — 0,5 Volt selama 15 menit. Dari hasil penelitian, didapat bahwa akupunktur meninggikan nilai gamaglobulin secara bermakna (P < 0,05), yaitu 27.68% setelah 6 kali penjaruman dan 44.64% setelah 12 kali penjaruman. PENDAHULUAN Gamaglobulin adalah bagian dari sistem protein yang terdapat di dalam Imunoglobulin dalam sistem imunitas tubuh1,2,3 Fungsi imunologik di dalam tubuh diperankan oleh kelompok sel yang mempunyai kemampuan untuk : 1) mengenal antigen 2) memberi respon yang spesifik terhadap antigen 3) membentuk Immunological Memory yang mampu memberi respon yang cepat, kuat dan tepat terhadap antigen berikutnya. Kelompok sel tersebut terdiri dari sel limfoid dan sel pembantu, yang satu dengan lain bekerja sama. Ada lima tipe imunoglobulin tubuh manusia yang dihasilkan oleh sistem imun tubuh, yaitu Ig A, Ig D, Ig E, Ig G, dan Ig M. Secara umum, imunoglobulin terbentuk dari variasi empat rantai dasar polipeptida yang masing-masing mengandung ikatan disulfida. * Penulis saat ini bertugas di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Tabel 1. Pola Dasar Molekul Imunoglobulin Dan Ganong WF, hal 382 4 Empat rantai polipeptida terdiri dari sepasang rantai H (heavy) dan sepasang rantai L (light). Rantai H untuk tiap-tiap kelas berbeda dan menentukan karakteristik masing-masing kelas. Rantai L sendiri dari komponen kappa (K) dan lamda (X), yang sama pada semua kelas imunoglobulin. (Lihat Tabel II) Ig G sering disebut sebagai Gamaglobulin. Ig G merupakan I munoglobulin yang dominan di dalam tubuh, jumlahnya 80% dari total imunoglobulin. Kadar dalam serum adalah 0,6 g% — 1,6 g%, terutama diproduksi oleh jaringan limfoid di timus, traktus gastro intestinal, traktus respiratorius dan Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 17
  • 19.
    Tabel II. SifatFisik dan Biologi dari Jenis Imunoglobulin Manusia Jenis Ig G Rata-rata konsentrasi dalam serum (mg/100 ml) 1240 RataBerat S Molekul 20, w 150,000 rata survival T/2 (hari) 7 23 Fungsi biologis — ikatan komplemen Rantai Jumlah H subjenis γ 4 α 2 л 2 melalui plasenta antibodi heterocytotropic Ig A Ig M 280 120 170,000 7, 10, 14 890,000 19 6 — antibodi dan sekresi 5 — ikatan komplemen aglutinasi yang 150,000 196,000 2,8 1,5 — tak diketahui eksternal efisien Ig D Ig E 3 0,03 7 8 — antibodi reagenik — antibodi homocytotropic δ ε — — dari Bellanti JA, hal. 102 1 traktus urinarius. Ig G dapat melalui plasenta dan mempunyai kemampuan untuk mengikat komplemen. Ig G berperan dalam i munitas terhadap sebagian besar organisme yang dapat menimbulkan infeksi termasuk bakteri, virus, parasit dan fungus1,2 PENGARUH AKUPUNKTUR TERHADAP SISTEM IMUN Omura berdasarkan penelitiannya- mendapatkan bahwa penusukan pada titik He Ku (II.4) Cu San Li (1II.36) dapat meninggikan daya tahan tubuh terhadap infeksi, melalui peningkatan nilai gamaglobulin5 . Peneliti lain, yaitu Rogora juga mendapatkan peningkatan nilai gamaglobulin yang bermakna dengan akupunktur yang menggunakan rangsang listrik pada titik yang sama. Namun mekanisine terjadinya peningkatan nilai gamaglobulin dengan 6 akupunktur belum dapat dijelaskan . Sablovic dan Michon mendapatkan, pada akupunktur dengan atau tanpa perangsangan listrik dapat mempengaruhi komposisi sel limfoid B dan T dari komposisi yang tidak normal menjadi normal. Pada saat yang sama juga terjadi perbaikan gejala klinis 7 . BAHAN DAN CARA Telah dilakukan penelitian selama 6 bulan terhitung tanggal 1 Februari 1983 di Poliklinik Pertamina Jasa-Jasa Jakarta. Kasus adalah penderita yang dikirim oleh dokter poliklinik setempat dengan gejala daya tahan tubuh melemah, di antaranya penderita rinitis alergika, asma bronkial, urtikaria alergika. Penderita yang diteliti adalah penderita dewasa yang pada awal pemeriksaan nilai gamaglobulinnya tidak di atas nilai normal. Penderita pada awal penelitian 50 orang. Yang dimasukkan penilaian sebanyak 24 orang, sisanya tidak dinilai karena nilai awal gamaglobulin sudah tinggi, atau selama penelitian penderita minum obat atau tidak mengikuti jadwal pengobatan yang telah ditentukan. Penderita datang dalam keadaan puasa. Sebelum diakupunktur dilakukan pengambilan darah sebanyak 5 cc di labo18 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 ratorium. Darah dikirim dan diperiksa di laboratorium Mikrobiologi FKUI. Kemudian dalam keadaan berbaring dilakukan penusukan dengan jarum baja tahan karat pada titik He Ku (1L4) dan Cu San Li (1II.36). Pada titik He Ku (II.4) dipakai jarum buatan Cina no. 32 dengan panjang 1 inci dan titik Cu San Li (1II.36) dipakai jarum no. 32 sepanjang 1 h inci. Penusukan dilakukan sampai terasa sensasi penjaruman (te ci). Kemudian diberikan rangsang listrik dengan stimulator tipe 711 dengan frekuensi 15 Hertz dan tegangan 0,3 — 0,5 V selama 15 menit. Akupunktur dilakukan sebanyak dua belas kali, dengan jadwal kunjungan dua hari sekali. Pengambilan darah diulang setelah kunjungan ke enam dan ke duabelas. Selama pengobatan dengan akupunktur penderita dilarang minum obat/vitamin. Perhitungan statistik dilakukan dengan menggunakan rumus t dari Fisher, untuk melihat pengaruh akupunktur terhadap peningkatan nilai gamaglobulin.
  • 20.
    HASIL Tabel IV. PeningkatanNilai Gamaglobulin sebelum dan sesudah penusukan titik He Ku (II.4) dan Cu San Li (III.36) sebanyak 6 dan 12 kali Tabel III. Nilai Gamaglobulin sebelum dan sesudah penusukan titik He Ku (II.4) dan Cu San Li (III.36) sebanyak 6 dan 12 kali No. P/L Umur Sebelum (th) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 P L L L P P P P P L L P L P L L L L P P P L L P Jumlah 16 40 35 37 28 18 58 40 45 50 19 18 60 45 38 22 20 62 38 20 43 37 35 25 Akupunktur (g%) Sesudah 6 kali Akupunktur (g%) 1,26 0,74 1,59 1,34 1,38 0,97 0,77 1,59 1,31 1,00 1,11 1,31 1,49 0,91 1,39 1,20 1,12 1,04 1,24 1,36 1,28 1,25 1,17 1,51 1,37 1,10 1,35 1,37 1,39 1,26 1,45 1,20 1,68 1,67 1,60 1,56 1,60 1,28 1,68 1,35 1,42 1,17 1,46 1,42 1,48 1,60 1,62 1,68 Y29,33 Y 1,22 Q34,76 Q 1,45 Sesudah 12 kali Akupunktur (g%) 1,68 1,45 1,06 1,37 1,39 1,39 1,60 1,07 2,02 1,85 1,80 1,56 1,68 1,49 2,39 1,35 1,72 1,30 1,68 1,51 1,68 2,05 1,86 1,75 X38,67 X 1,61 No P/L Umur Sebelum di (th) Akupunktur (g%) Nilai Naik Turun + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 22 + P L L P P P P P L P L P L L L L P P P L L P 16 40 37 28 18 58 45 50 19 18 60 45 38 22 20 62 30 20 43 35 35 25 Jumlah 2 kasus, 22 kasus nilai gamaglobulin naik, dan 2 kasus nilai gamaglobulin turun. Kenaikan nilai gamaglobulin : Untuk tingkat kepastian 95%; t = 4,421; db = 23; P < 0,05. (Lihat Tabel I V) Dari 24 tabel di atas, tampak kenaikan nilai gamaglobulin sesudah tusukan ke enam adalah 0,30 gr% yaitu 25,64% dan setelah tusukan ke duabelas kali kenaikan nilai gamaglobulin adalah 0,49 gr% = 41,88%. Dari KESIMPULAN • Akupunktur pada titik He Ku (I1.4) dan Cu San Li (III.36) dapat meningkatkan nilai gamaglobulin secara bermakna (P < 0,05). Peningkatan tersebut adalah 25,64% setelah 6 kali penusukan dan 41,88% setelah 12 kali penusukan. • Pada evaluasi terlihat perbaikan daripada keluhan subyektif maupun gejala -gejala klinis, meskipun pada penelitian ini belum dilakukan pengamatan khusus terhadap hal-hal tersebut. • Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat sejauh mana akupunktur dapat mempengaruhi sistem imunologik tersebut, serta meninjau kemungkinan mekanisme kerja akupunktur pada sistem imun tubuh. 1,26 0,74 1,34 1,38 0,97 0,77 1,31 1,00 1,11 1,31 1,49 0,91 1,39 1,20 1,12 1,04 1,24 1,36 1,28 1,25 1,17 1,51 Σ = 1,17 Sesudah 12 kali Akupunktur gr% g% % g% 1,37 1,10 1,37 1,39 1,26 1,45 1,68 1,67 1,60 1,56 1,60 1,28 1,68 1,35 1,42 1,17 1,46 1,42 1,48 1,60 1,62 1,68 Gamaglobulin 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Sesudah 6 kali Akupunktur 9 5 3 1 30 89 30 67 45 20 8 45 28 13 27 13 20 5 16 30 40 12 1,68 1,45 1,37 1,39 1,36 1,60 2,02 1,85 1,80 1,56 1,68 1,49 2,39 1,35 1,72 1,30 1,68 1,51 1,68 2,05 1,86 1,75 Σ = 1.4T= 25.64% % 33 95 3 1 40 108 55 85 70 20 14 64 72 13 45 25 35 18 33 64 60 17 Σ = 1,66 = 41.88% KEPUSTAKAAN 1. Bellanti JA. Immunology; Asian ed. Tokyo: Igaku Shoin Ltd. 1971; pp 55-119. 2. Aloisi RM. Principle of Imunodiagnostic. London: The CV Mosby CO, 1979; pp 21-46. 3. Barrett JT. Basic Imunology and Its Medical Application. London: The CV Mosby Co, 1980; pp 1-27. 4. Ganong WE. Review of Medical Physiology, 7 th ed. California, Los Altos: Lange Medical Publ. 1975; pp 380-3. 5. Omura Y. Hitorical Aspect of Acupuncture. Acupuncture Electro-therapeutics Res, Int J 1976;1 : 51-141. 6. Rogora GA et at. Congress Proceedings. Acupuncture Institute, Viena. 1975;pp 111-4. 7. Sabolovic D Michon C. Effect of Acupuncture on Human Peripheral T and B Lymphocytes. Acupuncture Electro-therapeutics research, Int J. 1978; 3 : 97-107. Untuk segala surat-surat, pergunakan alamat : Redaksi Majalah Cermin Dunia Kedokteran P.O.. Box 3105 Jakarta 10002 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 19
  • 21.
    Efek Penusukan TitikSan Yin Ciao (IV,6) terhadap Hiperglikemia pada NIDDM Dr. Ratnawati Latief Unit Akupunktur RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta ABSTRAK Telah dilakukan penelitian pada 20 kasus mengenai pengaruh akupunktur terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita NIDDM. Akupunktur dilakukan pada titik San Yin Ciao (IV.6) dan titik kontrol, dengan manipulasi manual sampai didapatkan sensasi penjaruman; titik ditinggal selama 30 menit dan dimanipulasi setiap 5 menit. Dari hasil penelitian didapatkan, akupunktur pada titik San Yin Ciao (IV.6) dapat menurunkan kadar gula darah secara bermakna (p < 0,001) yaitu 19,20%; sedangkan akupunktur pada titik kontrol tidak menurunkan kadar gula darah secara bermakna (p > 0,05) yaitu 4,90%. PENDAHULUAN Diabetes melitus adalah suatu penyakit menahun, dan ser,2 . nantiasa merupakan suatu problema kesehatan yang besar Seperti diketahui, diabetes melitus menurut WHO dibagi menjadi : — Tipe I : "Insulin Dependent Diabetes Mellitus" (IDDM) — Tipe II : "Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus" (NIDDM) — Tipe lain: — Penyakit pankreas — Penyakit hormon — Karena obat/kimia — Kelainan reseptor insulin — Sindrom genetik — Lain-lain Dari beberapa penelitian di luar negeri, ternyata akupunktur juga berkhasiat mengobati diabetes; salah satu penelitian yang menarik adalah yang dilakukan oleh C. Ionescu Tirgoviste dan kawan-kawan, bahwa terdapat perbedaan efek akupunktur pada penderita "Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus" dengan penderita "Insulin Dependent Diabetes Mellitus". Dalam penelitiannya dilakukan penusukan pada titik San Yin Ciao (IV.6) pada penderita NIDDM dan IDDM. Didapatkan bahwa pada penderita NIDDM penurunan kadar gula darah 20 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 2 jam sesudah penusukan > 10% dari kadar gula darah inisial, dengan angka keberhasilan 94% dari 47 kasus (penurunan kadar gula darah sebesar 22,9% yaitu dari 201,2 mg% menjadi 150,5 mg%). Sedangkan pada penderita IDDM penurunan kadar gula darah < 10%/menetap/meninggi pada 83% dari 30 kasus. Dari 47 kasus NIDDM didapatkan penurunan kadar gula darah > 20% pada 26 kasus, 15—20% pada 15 kasus, > 10% pada 5 kasus, < 10%/naik pada 1 kasus. Dijelaskan, penusukan titik San Yin Ciao (IV.6) menyebabkan dilepaskannya suatu substansi yang merangsang sekresi insulin, yaitu serotonin; dan mengaktifkan serabut saraf otonom tertentu. Walaupun dijelaskan pula bahwa serotonin yang dihasilkan tidak khusus hanya pada penusukan San Yin Ciao (IV.6), karena terjadi pula pada penusukan titik akupunktur lain, selain itu serotonin yang dihasilkan tidak cukup untuk merangsang sekresi insulin. Diduga bahwa penusukan titik San Yin Ciao (IV.6) akan mengaktifkan serabut saraf otonom tertentu dalam sel B pankreas yang menimbulkan suatu refleks otonom; di mama i mpuls melalui serabut aferen ke pusat susunan saraf pusat yang mungkin terletak di nuklei hipotalamus atau korteks serebri, kemudian melalui serabut eferen otonom menghambat tonus alfa adrenergik dan merangsang tonus ß adrenergik sehingga menimbulkan sekresi insulin 3 . (Lihat lampiran) Dijelaskan juga bahwa titik San Yin Ciao (IV.6) pada penelitian ini karena San Yin Ciao terletak pada Meridian Limpapankreas, dan sering digunakan untuk penyakit dengan kelainan pankreas, dan juga merupakan titik yang berfungsi di bidang endokrin. Di Indonesia sendiri belum ada penelitian tentang efek pengobatan akupunktur pada penderita diabetes pada umumnya, maupun penelitian mengenai efek titik San Yin Ciao (IV.6) terhadap hiperglikemia pada penderita "Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus" pada khususnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya efek penusukan titik San Yin Ciao (IV.6) terhadap
  • 22.
    hiperglikemia pada penderita"Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus", dan apakah penurunan kadar gula darah pada kelompok yang diteliti bermakna dibandingkan dengan kelompok kontrol. BAHAN DAN CARA KERJA Bahan Penelitian dilakukan di Unit Akupunktur Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Masa penelitian adalah dari bulan April 1985 sampai dengan Oktober 1985. • Kriteria Penderita a. Kriteria Penerimaan — Jumlah sampel 20 orang — Diperkirakan putus uji klinik 35%, jumlah semua 20 + 35% X 20 = 27 orang — Asal sampel : penderita dikirim oleh Bagian Penyakit Dalam FKUI/RSCM dengan diagnosis NIDDM — Penderita dengan kadar gula darah puasa I ≥ 140 mg% — Umur penderita di atas 40 tahun — Jenis kelamin : laki-laki atau perempuan — Penderita tidak ada keluhan penyakit lain, dan tekanan darah normal — Penderita tidak makan obat antidiabetik paling sedikit 36 jam atau belum diobati dengan obat antidiabetik b. Kriteria Penolakan — Penderita perlu pengobatan dengan insulin — Penderita dengan komplikasi, infeksi atau gangren — Penderita dengan kadar gula darah puasa > 400 mg% c. Kriteria Putus Uji Klinik — Bila hasil kadar gula darah puasa I < 140 mg% — Bila penderita tidak menyelesaikan program penusukan untuk titik San Yin Ciao (IV.6) dan titik kontrol — Penderita tidak mematuhi aturan persiapan yang dianjurkan • Alat a. Jarum akupunktur dari baja tahan karat nomor 32, panjang 1,5 inci, buatan Cina. b. Multipurpose Electro-acupuncture Apparatus tipe DZ-22 buatan Cina. c. Timer merek Memetic Straigner • Titik yang dipilih a. Titik San Yin Ciao (IV.6) Titik San Yin Ciao (IV.6) merupakan titik nomor 6 pada Meridian Limpa-pankreas 3,4,5 merupakan perpotongan dari 3 Meridian Yin Kaki (Limpa, Ginjal dan Hati). Terletak pada 4 jari atau 3 inci di atas maleolus internus, antara tepi posterior tibia dan m. soleus dan bagian dalamnya berada di m. fleksor digitorum longus pedis; diperdarahi oleh a. dan v. tibialis posterior dan v. safena magna; dan dipersarafi di bagian permukaan oleh n. kutaneus kruris medialis dan di sebelah dalam pada bagian posterior oleh n. tibialis. Cara penusukan tegak lurus sedalam 0,5—0,9 Cun, sebaiknya arah jarum menuju ke tibia 6,7 . b. Titik Kontrol — Titik, bukan titik akupunktur; terletak 1 inci ke atas dan lateral dari titik San Yin Ciao (IV.6) Gambar lokasi titik San Yin Ciao (IV.6) dan Titik Kontrol. (Diambil dari Essentials of Chinese Acupuncture) Cara Kerja Sehari sebelum dilakukan penusukan, penderita makan terakhir pukul 22.00 dengan porsi yang biasa dimakan. Keesokan harinya penderita hanya boleh minum air putih satu gelas, pukul 08.00 dilakukan pemeriksaan kadar gula darah puasa pertama; kemudian dilakukan penusukan pada penderita yang masih dalam keadaan puasa. Dua jam sesudah penusukan dilakukan pemeriksaan kadar gula darah puasa kedua. Pada kunjungan pertama dilakukan penusukan pada titik San Yin Ciao (IV.6), sedangkan pada kunjungan kedua dilakukan penusukan pada titik kontrol. Jarak waktu penusukan pertama dan kedua 7 hari; lama penusukan 30 menit dan dilakukan manipulasi setiap 5 menit. HASIL Pada penelitian ini telah dilakukan penusukan pada 27 penderita diabetes melitus dari Penyakit Dalam FKUI/RSCM. Dari jumlah tersebut, yang dimasukkan dalam penelitian berjumlah 7 orang disebabkan 2 penderita tidak kembali untuk tindakan pada titik kontrol, 4 penderita hasil kadar gula darah puasa I pada titik San Yin Ciao (IV.6) < 140 mg%, 1 penderita dengan kadar gula darah puasa I pada titik kontrol <140mg%. (Lihat Tabel I, II, III dan IV). DISKUSI Di dalam Ilmu Kedokteran Cina pada umumnya dan Ilmu Akupunktur pada khususnya, diabetes melitus disebut sebagai "Siao He", dengan gejalanya diterangkan sebagai suatu keadaan di mana San Ciao terserang oleh panas dalam; adanya panas dalam menimbulkan gangguan keseimbangan cairan. Pada umumnya pengobatan dilakukan dengan pemulihan fungsi organ paru-paru, limpa dan ginjal. C. Ionescu Tirgoviste dan kawan-kawan, dalam penelitiannya melakukan penusukan titik San Yin Ciao (IV.6) pada NIDDM dan IDDM; ternyata penurunan kadar gula darah seCermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 21
  • 23.
    Tabel I. Gambarankadar gula darah sebelum dan sesudah penusukan pada titik San Yin Ciao Kadar gula darah puasa Sesudah diakupunktur (mg%) No. Sebelum diakupunktur 170 180 235 165 130 205 240 140 200 250 155 230 235 275 210 250 255 120 110 150 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 1l. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. X1 = 4845 Jml X2 = 3905 — X 1 = 245,25 X2 — = 1 95,25 Kadar gula darah puasa I (mg%) + + + + + + + + + + + + — — — — — — 20,93 21,74 14,55 10,81 27,77 14,58 11,11 22,22 23,08 28,57 27,91 17,80 — 0,82 1,85 16,00 28,57 23,88 14,29 31,25 37,50 2 19,20 — — — — — + + -- — + + + + + + 18 Dan tabel di atas tampak kadar gula darah sebelum penusukan dan sesudah penusukan turun pada 18 kasus (90%), dan naik pada 2 kasus (10%). Nilai rata-rata kadargula darah sebelum penusukan 242,25 mg% dan kadar gula darah sesudah penusukan 195,25 mg%. Persentase penurunan kadar gula darah sesudah penusukan sebesar 19,20%. Tabel II. Gambaran kadar gula darah sebelum dan sesudah penusukan pada titik kontrol Kadar gula darah puasa Sebelum diakupunktur Sesudah diakupunktur (mg%) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 200 150 255 190 160 170 260 160 260 230 150 205 140 210 240 170 175 150 145 210 190 200 250 160 130 100 305 125 260 205 160 230 165 190 210 150 135 135 130 225 Jml Y1 = 3830 — Y1 = 191,50 Nilai gula darah Y2 — Y2 = = 3655 182,75 Turun Naik + Persentase penurunan (mg%) No. + — + + — + 5 — 33,33 1,96 15,79 18,75 41,18 — 17,31 21,88 0,00 10,87 — 6,67 — 12,20 — 17,86 9,52 12,50 11,70 22,86 10,00 10,34 — 7,14 — + — ++ — — + — + — — + + + ++ — + + + + + — — — + 13 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 No. 6 4,9 Tetap = 1 d2 d Titik San Yin Ciao Titik kontrol 215 230 275 185 180 240 270 180 260 350 215 280 220 270 250 350 335 140 160 240 200 150 255 190 160 170 260 160 260 230 150 205 140 210 240 170 175 150 145 210 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Σd 15 80 20 5 20 70 10 20 0 120 65 75 80 60 10 180 160 10 15 30 = 1015 225 6400 400 25 400 4900 100 400 0 14400 4225 5625 6400 3600 100 32400 25600 100 225 900 d2 = 106425 Tabel IV. Persentase penurunan kadar gula darah sesudah penusukan pada titik San Yin Ciao dan titik kontrol Persentase penurunan kadar gula darah Titik >20% San Yin Ciao Kontrol Dan tabel di atas tampak kadar gula darah sebelum dan sesudah penusukan turun pada 13 kasus (65%), naik pada 6 kasus (30%), tetap pada 1 kasus (5%). Nilai rata-rata kadar gula darah sebelum penusukan 22 Tabel III. Perbedaan kadar gula darah puasa sebelum penusukan pada titik San Yin Ciao dan kontrol (mg%) 215 230 275 189 180 240 270 180 260 350 215 280 220 270 250 350 335 140 160 240 Persentase penurunan Nilai gula darah Turun Naik 191,50 mg%, dan sesudah penusukan 182,75 mg%. Persentase penurunan kadar gula darah sesudah penusukan pada titik kontrol sebesar 4,9%. 11 kasus 3 kasus 15—20% 2 kasus 2 kasus > 10% 5 kasus 4 kasus Naik/ <10% 2 kasus 11 kasus Dari tabel di atas tampak bahwa : — Pada penusukan titik San Yin Ciao dengan penurunan kadar gula darah > 20% pada 11 kasus, <10% atau naik pada 2 kasus. sudah penusukan titik tersebut pada NIDDM lebih dari 10%, sedangkan pada IDDM penurunan kadar gula darah kurang dari 10% atau naik. Pada penelitian ini dilakukan penusukan titik San Yin Ciao (IV.6) dan kontrol (1 inci ke atas dan lateral dari titik San Yin Ciao) pada penderita NIDDM. Alasan dipilihnya titik San Yin Ciao adalah : — Terletak pada meridian limpa-pankreas — Banyak digunakan dalam bidang endokrin — Merupakan titik perpotongan dari 3 Meridian Yin Kaki yaitu limpa, ginjal dan hati — Pada penelitian Tirgoviste penusukan pada titik ini berhasil menurunkan kadar gula darah Pada penelitian ini jarum yang dipakai adalah jarum baja tahan karat nomor 32 ukuran 1 inci, dengan maksud penusukan cukup dalam. Sesudah didapatkan sensasi penjaruman (te-ci), jarum ditinggal selama 30 menit dan dimanipulasi setiap 5 menit untuk mempertahankan rasa sensasi penjaruman agar didapatkan rangsangan sedang sampai kuat, karena
  • 24.
    � pada penderita diabetesmelitus limpa dalam keadaan Se. Pada penusukan titik San Yin Ciao (IV.6) dalam penelitian ini didapatkan penurunan kadar gula darah lebih dari 10% pada 90% dari 20 kasus, dan pada penusukan titik kontrol didapatkan penurunan kadar gula darah lebih dari 10% pada 45% dari 20 kasus; sedangkan Tirgoviste mendapatkan bahwa penusukan titik San Yin Ciao dapat menurunkan kadar gula darah lebih dari 10% pada 94% dari 47 kasus. Dari Tabel I. Gambaran kadar gula darah sebelum dan sesudah penusukan titik San Yin Ciao; tampak kadar gula darah rata-rata sebelum penusukan 245,25 mg% dan sesudah penusukan 195,25 mg%. Persentase penurunan kadar gula darah adalah 19,20% dan didapatkan penurunan kadar gula darah secara bermakna (P < 0,001). Dari Tabel II. Gambaran kadar gula darah sebelum dan sesudah penusukan titik kontrol; tampak kadar gula darah ratarata setelah penusukan 191,50 mg% dan sesudah penusukan 182,75 mg%. Persentase penurunan kadar gula darah adalah 4,9% dan didapatkan penurunan kadar gula darah secara tidak bertnakna (P > 0,05). Tabel III. Perbandingan kadar gula darah puasa sebelum penusukan titik San Yin Ciao (IV.6) dan kontrol, ternyata didapatkan perbedaan secara bermakna (P > 0,001). Maka kemaknaan penurunan kadar gula darah pada titik San Yin Ciao (IV.6) tidak dapat dibandingkan dengan kemaknaan penurunan kadar gula darah pada titik kontrol. Jadi pada penelitian ini hanya dapat dinilai bahwa : penusukan titik San Yin Ciao (IV.6) dapat menurunkan kadar gula darah secara sangat bermakna (P < 0,001) dan penurunan kadar gula darah pada titik keontrol tidak dapat menurunkan kadar gula darah secara bermakna (P > 0,05). Terdapatnya perbedaan kadar gula darah puasa sebelum penusukan pada titik San Yin Ciao (IV.6) dan titik kontrol dapat disebabkan karena : kadar gula darah sendiri sudah tidak stabil, maka pada penelitian ini dilakukan disain bersilang, di mana kasus penelitian dan kontrol adalah sama. Tapi ternyata masih didapatkan perbedaan kadar gula.darah yang menyolok. Kemungkinan lain perbedaan kadar gula puasa pada penderita penelitian dan kontrol karena terdapat jarak waktu antara penusukan I dan II selama 1 minggu dan penderita sudah mendapat diet. Tabel IV. Persentase penurunan kadar gula darah sesudah penusukan pada titik San Yin Ciao (IV.6) dan titik kontrol, tampak : • pada penusukan titik San Yin Ciao (IV.6) : — penurunan kadar gula darah > 20% pada 11 kasus — penurunan kadar gula darah < 10%/naik pada 2 kasus • pada penusukan titik kontrol : — penurunan kadar gula darah > 20% pada 3 kasus — penurunan kadar gula darah < 10%/naik pada 11 kasus. KESIMPULAN • Penusukan pada titik San Yin Ciao (IV.6) dapat menurunkan kadar gula darah secara bermakna (p < 0,001). Sedangkan penusukan pada titik kontrol yang terletak 1 inci ke atas dan ke samping dari titik San Yin Ciao (IV.6) penurunan kadar gula darahnya tidak bermakna. • Besarnya penurunan kadar gula darah tersebut adalah : pada titik San Yin Ciao (IV.6) sebesar 19,20%, sedangkan pada titik kontrol sebesar 4,90%. Nilai rata-rata kadar gula darah pada titik San Yin Ciao (IV.6) sebelum penusukan 245,25 mg% dan sesudah penusukan 195,25 mg%. Sedangkan kadar gula darah pada titik kontrol sebelum penusukan 191,50 mg% dan sesudah penusukan 182,75 mg%. • Persentase penurunan kadar gula darah pada titik : San Yin Ciao (IV.6) : > 20% pada 11 kasus 15—20% pada 2 kasus > 10% pada 5 kasus naik/ < 10% pada 2 kasus Kontrol : > 20% pada 3 kasus 15—20% pada 2 kasus > 10% pada 4 kasus naik/ < 10% pada 11 kasus KEPUSTAKAAN 1. Utoyo Sukaton. Penanggulangan Diabetes Melitus sebagai Masalah Kesehatan Masyarakat di Indonesia. Dalam : Simposium Berkala Diabetes Melitus Bagian/Unit Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta 1981, 1 - 5. 2. Supartondo. Kriteria Diagnostik Baru untuk Diabetes Melitus. Dalam : Simposium Berkala Diabetes Melitus Bagian/Unit Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta 1981, 6 - 18. 3. Ionescu-Tirgoviste C, Mincu I. Testing the Pancreatic Reserve by Acupuncture. Am J Acup 1974; 2 : 95 - 101. 4. Ionescu-Tirgoviste C, Mihalache NE, Sumionescu L, Mincu. The Hypoglycemia Mechanism of the Acupuncture Point Spleen-Pancreas 6. Am J Acup 1975; 3 : 18- 23. 5. Omura Y. Acupuncture Medicine Its Historical and Clinical Background. Japan Publication Inc. 1982. 6. Anonim. Anatomical Atlas of Chinese Acupuncture Points. Junan, China: Shandong Science and Technology Press. 1982, 227. 7. Anonim. Essentials of Chinese Acupuncture. 1st. ed. Beijing Foreign Language Press, 1980, 153. Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 23
  • 25.
    Efek Akupunktur pada Hiperlipoproteinemia Dr.Syartina Sofyan Iskandar Unit Akupunktur RS Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta PENDAHULUAN Beberapa tahun belakangan ini penelitian-penelitian mengenai komponen lipid sangat menonjol, karena dihubungkan dengan korelasinya terhadap penyakit jantung koroner dan penyumbatan pembuluh darah perifer. Hiperlipoproteinemia dijumpai pada 10% — 20% masyarakat industri dan masyarakat westernized di kota-kota besar . Faktor-faktor risiko untuk terjadinya penyakit jantung koroner yang terutama adalah hiperlipoproteinemia, hipertensi, laki-laki, merokok dan Diabetes 2 Mellitus . Berdasarkan faktor risiko di atas, tampak bahwa pengenalan lebih awal akan adanya suatu hiperlipoproteinemia sangat penting untuk mencegah dan menghambat sklerosis 3 ' ' pembuluh jantung dan perifer Menurut penelitian, penurunan kadar serum kolesterol sebanyak 15% — 20% dapat menurunkan risiko penyakit jantung iskemik sebanyak 35% — 60% 5 . Banyak usaha dilakukan untuk menurunkan kadar lemak darah, antara lain melalui pemberian obat-obatan, diet maupun dengan meningkatkan latihan jasmani. Dari beberapa penelitian di luar negeri, ternyata akupunktur juga berkhasiat menurunkan beberapa fraksi lemak secara bermakna5 . Beberapa keuntungan pengobatan secara akupunktur yaitu mudah, murah dan tanpa efek samping. Danciu dkk. melakukan akupunktur tanpa diet spesifik ataupun pengobatan hipolipemik 6 . Pemberian obat-obatan biasanya membutuhkan waktu cukup lama, harganya mahal dan efisiensinya pun masih diperdebatkan . Diet dan latihan jasmani membutuhkan disiplin diri yang cukup berat. Di Indonesia sendiri belum ada penelitian tentang efek akupunktur pada hiperlipoproteinemia. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya efek akupunktur terhadap penurunan kadar kolesterol dan trigliserida darah, sedangkan tujuan penelitian khusus adalah untuk mengetahui berapa besar penurunan kadar kolesterol dan trigliserida darah tersebut serta melihat 24 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 besarnya keberhasilan akupunktur pada keadaan hiperlipoproteinemia. HIPERLIPIDEMIA DAN HIPERLIPOPROTEINEMIA Hiperlipidemia adalah peninggian kadar lemak di dalam plasma. Terdapatnya hiperlipidemia, hiperkolesterolemia atau hipertrigliseridemia tidak dapat memastikan suatu penyakit tertentu. Hiperlipidemia, seperti halnya demam, hanya merupakan suatu gejala dari kelainan yang dapat berbeda-beda mekanisme dasar, manifestasi klinik, prognosis dan respons terhadap pengobatan. Untuk kepentingan diagnosis dan terapi, keadaan hiperlipidemia harus diterjemahkan sebagai hiperlipoproteinemia 7 . ` Nilai lemak plasma dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor, antara lain : suku bangsa, umur, faktor metabolik dan genetik. Frederickson membuat definisi hiperlipidemia bila kadar kolesterol 250 mg/dl dan trigliserida 200 mg/dl . Untuk pedoman kerja dapat dipakai nilai berdasarkan umur, di mana disebut hiperlipidemia jika individu berumur < 20 tahun dengan kadar kolesterol total > 200 mg/dl, atau trigliserida > 140 mg/dl, dan pada umur > 20 tahun dengan kadar kolesterol total > 240 mg/dl atau trigliserida > 200 mg/dl 8 . PENATALAKSANAAN HIPERLIPOPROTEINEMIA Karena merupakan salah satu usaha menanggulangi faktor risiko penyakit jantung koroner, harus dilaksanakan serempak dengan penanggulangan faktor-faktor risiko yang lain. Keberhasilan sangat tergantung pada kerja sama yang baik antara dokter, ahli gizi dan penderita. Bila hiperlipoproteinemia terjadi sekunder akibat penyakit lain, tindakan utama adalah pengobatan penyakit tersebut. Sedangkan pada hiperlipoproteinemia primer, terdapat 2 indikasi utama untuk ikut sertanya suatu pengobatan, yaitu : • Pengobatan akan memperlambat timbulnya aterosklerosis dan mengurangi komplikasi, misal : infark miokard.
  • 26.
    • Indikasi lainyang agak jarang yaitu menghilangkan komplikasi hipertrigliseridemia yang berat, erupsi santoma primer, nyeri perut, kadang-kadang bersama pankreatitis dan hepatosplenomegali. Pengobatan perlu diberikan bila kadar kolesterol dan atau trigliserida lebih dari normal berdasarkan umur 9 . Diet7,10 Karena lipoprotein plasma secara langsung maupun tak langsung berasal dari apa yang kita makan, tidaklah mengherankan bila diet akan sangat mempengaruhi kadar lipoprotein. Diet adalah pengobatan yang terpenting pada hiperlipiproteinemia primer. Pada dasarnya sasaran diet adalah menurunkan berat badan bila penderita terlalu gemuk, dan mempertahankannya dalam berat badan ideal, serta menurunkan kadar lemak darah dan mempertahankannya agar tetap dalam batas-batas normal. Diet harus dijalankan terlebih dahulu sebelum dipergunakan obat-obat. Bila obat-obat perlu diberikan, diet harus tetap dilaksanakan. Obat-obatan11 • Nicotinic acid Dapat menurunkan kadar kolesterol 8—16% dan trigliserida 20—30%. Efek samping banyak, antara lain : gatal-gatal, kemerahan kulit, anoreksia, nausea, vomitus, diare, tukak lambung, hiperurikemia, intoleransi glukosa dan fungsi hati terganggu. • Clofibrate Dapat menurunkan kolesterol 5—15% dan trigliserida 30—40%. Salah satu efek sampingnya adalah meningkatkan jumlah sterol fekal yang berhubungan dengan kolelitiasis dan penyakit traktus biliaris. • Bile acid sequestrants (Cholestyramine, Colestipol) Menurunkan kolesterol sebanyak 20—30% dan meningkatkan trigliserida. Efek sampingnya antara lain adalah konstipasi. lipoproteinemia yang banyak dijumpai_ (90% dari ke-5 jenis hiperlipoproteinemia). Akupunktur menormalkan kadar lemak plasma pada 4 kasus (33,3%), sedangkan pada kasus-kasus lainnya terdapat penurunan kadar kolesterol dan trigliserida yang juga bermakna walaupun tetap di atas nilai normal. Pada 4 kasus tampak penurunan kadar kolesterol sedangkan trigliserida meningkat. Hal ini mungkin disebabkan karena penurunan kadar kolesterol dan trigliserida darah ini tidak saling berhubungan yang dapat disebabkan karena efek masing-masing titik akupunktur yang berlainan. Ionescu-Tirgoviste dkk. 5 melanjutkan penelitian Danciu dkk. pada 86 penderita (69 hiperlipoproteinemia primer, 17 sekunder karena Diabeies Mellitus). Penderita-penderita ini telah mendapatkan diet khusus selama kurang lebih setahun untuk masing-masing jenis hiperlipoproteinemia (32 tipe IIa, 18 tipe IIb, 4 tipe III, 2 tipe V). Titik-titik yang dipakai sama, pada 71 kasus dilakukan akupunktur biasa dan pada 15 kasus dilakukan elektroakupunktur selama 15 menit (frekuensi 8—10 Hz, arus bolak balik). Interval 3—4 hari sebanyak 8—10 kali penusukan. Diet tetap seperti semula dan tidak diberi obat-obatan. Mereka mendapatkan hasil sebagai berikut : sangat baik (kadar lipid normal) 22,09%, baik (penurunan kadar kolesterol dan atau trigliserida yang bermakna (34,88%) dan gagal (tanpa perubahan atau penurunan kadar kolesterol dengan peningkatan kadar trigliserida atau sebaliknya) 43,02%. Tidak jelas perbedaan hasil yang diberikan oleh akupunktur biasa atau elektroakupunktur. Mereka memakai kelompok lain (11 kasus), di mana jumlah jarum dan cara penusukan sama, tapi pada titik-titik yang berbeda (pseudoakupunktur). Hasil yang didapat adalah juga penurunan kadar kolesterol dan atau trigliserida darah, tapi tidak bermakna. Mereka juga melakukan pemeriksaan ulangan setelah 6—18 bulan akupunktur pada 19 kasus, pada 17 kasus hasilnya dapat dipertahankan. • Probucol Menurunkan kadar kolesterol sebesar 10—15% dan pengaruh pada trigliserida bervariasi. Efek samping antara lain : diare, kembung dan peninggian trigliserida. • Neomycin Dapat menurunkan kadar plasma kolesterol sebesar 20—30%. Efek samping berupa diare dan kejang perut. BEBERAPA PENELITIAN AKUPUNKTUR DALAM PENGOBATAN HIPERLIPOPROTEINEMIA Karena efisiensi pengobatan hiperlipoproteinemia masih diperdebatkan, alternatif praktis hanyalah diet. Pada saat ini dapat ditambahkan akupunktur sehingga hasilnya akan lebih 4 nyata dibandingkan hanya diet saja . 5 melakukan penelitian efek akupunktur pada Danciu dkk. 12 kasus hiperlipoproteinemia (6 sekunder karena Diabetes Mellitus, 4 berhubungan dengan obesitas, 2 hiperlipoproteinemia primer) dengan menusuk titik-titik : Ci Cuen (XII.8), San Yin Ciao (IV.6), Kung Sun (IV.4) dan Cung Wan (XIII.12). Jarum ditinggal selama 15 menit setelah memperoleh sensasi penjaruman te-ci. Akupunktur diberikan sebanyak 3—5 kali dengan interval 3—7 hari, tanpa anjuran diet khusus ataupun obat-obat hipolipemik. Jenis hiperlipoproteinemia terdiri dari 6 tipe IIa, 3 tipe IIb, 3 tipe IV; yang merupakan kasus hiper- Gambar 2. Kemungkinan mekanisme penurunan kadar kolesterol dan trigliserida darah dengan penusukan titik-titik akupunktur yang digunakan. (diambil dari Danciu A. Am J Acupunct 1976; 4 : 337 343). Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 25
  • 27.
    Mekanisme penurunan kadarkolesterol dan trigliserida darah dengan akupunktur masih merupakan hipotesis5,6 . Titik Ci Cuen (XII.8) yang dikenal sebagai regulator fungsi hati, akan mempengaruhi sintesis kolesterol dan trigliserida endogen di hati. Hal ini terjadi sebagian dengan perantaraan stimulasi sekresi pankreas akibat penusukan titik Kung Sun (IV.4) dan San Yin Ciao (IV.6). Titik San Yin Ciao (IV.6) bersama-sama dengan titik Cung Wan (XIII.12) mempengaruhi digesti, absorbsi dan eliminasi lemak dan karbohidrat yang berasal dari makanan. Mekanisme ini diduga mungkin berpengaruh pada hiperlipoproteinemia tipe IIa, di mana tampak hasil yang cukup memuaskan, sedangkan tipe ini paling resisten terhadap cara penanggulangan yang lain. Penurunan sintesis trigliserida endogen mungkin berhubungan dengan titik San Yin Ciao (IV.6) yang diketahui berpengaruh pada sekresi insulin. Penurunan sekresi insulin terutama pada penderita obesitas dapat menyebabkan penurunan sintesis trigliserida endogen sehingga terjadi penurunan kadarnya dalam plasma. Keadaan ini dapat menjelaskan hasil akupunktur yang baik pada hiperlipoproteinemia tipe IIb, III dan IV. Efek seimbang didapati pada kira-kira 25% kasus, di mana penurunan kolesterol diikuti peningkatan trigliserida atau sebaliknya. Ini menunjukkan penghambatan pada sintesis kolesterol akan meningkatkan sintesis trigliserida atau sebaliknya. Titik Kung Sun (IV.4) dalam "Electroacupuncture according to Voll" disebut sebagai titik ukur pankreas atau titik li mpa-pankreas, dipakai untuk menguji produksi ensim-ensim untuk metabolisme lemak (esterase dan lipase) 12 . Zhao Hexi dkk. 13 melakukan penelitian pada 72 kasus hiperlipoproteinemia dengan memakai satu titik yaitu Nei Kuan (IX.6). Dari 72 kasus tersebut, 52 kasus dengan peningkatan kolesterol berhasil pada 75,47%, 65 kasus dengan peningkatan trigliserida berhasil pada 76,92% dan 63 kasus dengan peningkatan beta-lipoprotein berhasil 70,59%. Penurunan tersebut bermakna (P < 0,001). Batasan hiperlipoproteinemia ditetapkan bila kadar kolesterol ≥ 200 mg%, trigliserida , ≥ 110 mg% dan beta-lipoproteinemia ≥ 530 mg%. Pada setiap kasus, minimal satu dari fraksi tersebut yang meningkat. Penusukan kedua titik Nei Kuan (IX.6) dilakukan setiap 2 hari sampai 10 kali, lalu istirahat 3—5 hari, kemudian dilanjutkan 10 kali penusukan lagi. Manipulasi dilakukan sebagai berikut : setelah jarum ditusukkan, jarum diangkat, dan diputar selama 2 menit. Lama penusukan 20 menit, dilakukan manipulasi yang sama 2 kali. Menurut para peneliti ini, mekanisme kerja akupunktur di sini mungkin meregulasi fungsi endokrin dan berbagai jenis ensim. Penjaruman ini juga akan mempengaruhi sintesis, absorpsi dan ekskresi kolesterol dan trigliserida di hati dan saluran pencernaan sehingga menurunkan kadar lemak darah tersebut. Omura 14 juga meneliti efek akupunktur pada kadar kolesterol, trigliserida dan fosfolipid, dengan menusuk titik Cu San Li (III.36) pada 206 penderita. Didapatkan penurunan kadar lemak darah yang terutama bermakna pada trigliserida dan fosfolipid, yaitu sebesar 30—60%. BAHAN DAN CARA KERJA Bahan Penelitian dilakukan di Unit Akupunktur RS Dr. Cipto Mangunkusumo atas kerja sama dengan Bagian Kardiologi FKUI/ 26 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 RSCM. Masa penelitian adalah dari bulan Maret 1985 sampai dengan Oktober 1985. Kriteria penderita yang diteliti : — Penderita dikirim oleh Bagian Kardiologi FKUI/RSCM dengan diagnosis hiperlipoproteinemia (kadar kolesterol total lebih dari 240 mg/dl dan atau kadar trigliserida lebih dari 200 mg/dl). — Penderita adalah dewasa laki-laki atau perempuan (lebih dari 20 tahun), tanpa kelainan kardiologis atau dengan kelainan kardiologis ringan, tidak menderita penyakit-penyakit antara lain : metabolisme, ginjal, hati dan lain-lain yang berhubungan dengan terjadinya keadaan hiperlipoproteinemia. — Selama penelitian dan sebulan sebelumnya tidak memakan obat-obatan hipolipemik, kontrasepsi, kortikosteroid, alkohol dan rokok. — Penderita harus menyelesaikan 10 kali kunjungan. — Dilakukan pemeriksaan laboratorium terhadap kadar kolesterol total dan trigliserida darah sebelum dan sesudah akupunktur. Jumlah penderita yang dikirim untuk penelitian adalah 17 orang, yang memenuhi persyaratan penelitian 16 orang, 1 orang hanya datang 1 kali saja karena penderita sangat takut dan menolak diakupunktur. Pada 8 kasus dilakukan akupunktur dan pada 8 kasus lagi dilakukan akupunktur dan diet. Alokasi penderita dilakukan secara acak dengan block simple random sampling. Perhitungan statistik dilakukan dengan menggunakan rumus t dari Fisher untuk melihat penurunan kadar lipoprotein darah. Cara kerja 1) Pemeriksaan Sebelum akupunktur dimulai, dibuat catatan data biokimiawi kadar kolesterol total dan trigliserida darah. Pemeriksaan lemak darah penderita dilakukan setelah puasa selama 12—16 jam. Kadar kolesterol diukur dengan metoda Chod-Pap dan trigliserida dengan metoda fully -enzymatic. 2) Alat yang dipakai Jarum akupunktur yang terbuat dari baja tahan karat nomor 32 ukuran 1 cun (inci) buatan Cina. 3) Cara penusukan Penderita berbaring dalam keadaan terlentang. Daerah di sekitar titik akupunktur yang ditentukan dibersihkan dengan kapas alkohol, lalu dilakukan penusukan dengan jarum akupunktur steril pada titik-titik tersebut. Jarum ditusukkan perpendikular sampai mendapat te-ci (sensasi penjaruman), kemudian jarum ditinggal selama 15 menit. Penusukan diberikan 2 kali seminggu sampai mencapai 1 seri (10 kali kunjungan). Penderita yang termasuk kelompok akupunktur dan diet dikirim ke Bagian Gizi RSCM untuk memperoleh penerangan mengenai diet yang harus dilakukan. 4) Titik-titik yang dipilih • Cung Wan (XIII.12) : Terletak di garis tengah perut, di pertengahan fara prosesus xifoideus dan umbilikus. Vaskularisasi oleh arteri dan vena epigastrika superior. Inervasi oleh nervus interkostalis VII cabang kutaneus anterior. • Kung Sun (IV.4) : Terletak di tepi medial kaki pada lekuk anterior dan inferior dari basis os metatarsal I di kulit pada batas warna merah dan putih. Vaskularisasi oleh arteri tarsalis medialis dan jala vena dorsalis kaki. Inervasi oleh nervus sa-
  • 28.
    fenus dan cabangnervus peroneus superfisialis. • San Yin Ciao (IV.6) : Terletak 3 cun tepat di atas puncak maleolus medialis, di antara tepi posterior tibia dan m. soleus, bagian yang lebih dalam terletak pada m. fleksor digitorum longus. Vaskularisasi oleh vena safena magna, arteri dan vena tibialis posterior. Inervasi di bagian permukaan oleh nervus kutaneus kruris medialis dan di sebelah dalam pada bagian posterior oleh nervus tibialis. • Ci Cuen (XII.8) : Terletak di bagian medial sendi lutut. Bila lutut dalam keadaan fleksi, titik ini terletak di ujung lekuk transversal poplitea, pada tepi posterior kondilus medialis tibia dan pada tepi anterior insersio muskulus semimembranosus dan muskulus semitendinosus. Vaskularisasi oleh vena safena magna di bagian anterior, dalam perjalanan arteri genu suprema. Inervasi oleh cabang nervus safenus. Gambar 1. Lokasi titik Cung Wan (XIII.12) (Diambil dari Essentials of Chinese Acupuncture). Gambar 4. Gambar 2. Lokasi titik Kung Sun (IV.4) (Diambil dari Essentials of Chinese Acupuncture). Gambar 3. Lokasi titik San Yin Ciao (IV.6) (Diambil dari Essentials of Chinese Acupuncture). Lokasi titik di Cuen (XII.8) (Diambil dari Essentials of Chinese Acupuncture). 5) Evaluasi Pada akhir penelitian diadakan evaluasi dengan pemeriksaan kimia darah kembali dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Evaluasi dilakukan terhadap : a. Lipoprotein (kolesterol dan trigliserida). Hasil penelitian • sangat baik terdapat penurunan kadar kolesterol dan trigliserida sampai nilai normal (di bawah batas maksimum). • baik : terdapat penurunan kadar kolesterol dan trigliserida tapi masih di atas nilai normal. • gagal : tidak terdapat penurunan yang berarti (tetap) atau terdapat peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida, kolesterol menurun dan trigliserida meningkat, trigliserida menurun dan kolesterol meningkat. b. Kolesterol saja. Hasil penelitian • sangat baik : terdapat penurunan kadar kolesterol sampai nilai normal (di bawah batas maksimum). • baik : terdapat penurunan kadar kolesterol tapi masih di atas nilai normal. • gagal : tidak terdapat penurunan atau terdapat peningkatan kadar kolesterol. c. Trigliserida saja. Hasil penelitian • sangat baik : terdapat penurunan kadar trigliserida Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 27
  • 29.
    sampai nilai normal(di bawah batas maksimum). • baik : terdapat penurunan kadar trigliserida tapi masih di atas nilai normal. • gagal : tidak terdapat penurunan atau terdapat pening- katan kadar trigliserida. Penelitian dianggap berhasil bila penderita termasuk dalam penilaian sangat baik dan baik. Juga dilakukan perhitungan statistik dengan rumus t Fisher untuk melihat efek akupunktur terhadap kadar kolesterol dan trigliserida. HASIL PENELITIAN Tabel I. Gambaran kadar kolesterol total dan trigliserida sebelum dan sesudah akupunktur serta hasil evaluasi penelitian Kolesterol total ( mg/dl) No. sebelum akp. 4. 5. 6. 7. 8. sesudah akp. 307 290 327 72 280 268 322 284 1. 2. 3. Trigliserida (mg/dl) sebelum sesudah akp. akp. 243 197 267 248 177 235 234 196 356 165 214 172 224 178 236 220 Hasil evaluasi penelitian 274 104 270 152 145 112 182 300 baik sangat baik gagal baik sangat baik sangat baik sangat baik gagal Dari tabel di atas tam pak penurunan kadar kolesterol pada 8 kasus, pada 5 kasus sampai nilai normal, pada 3 kasus masih di atas nilai normal. Trigliserida meningkat pada 5 kasus, 1 masih di atas nilai normal dan pada 2 kasus terjadi peningkatan. Hasil evaluasi penelitian : sangat baik pada 4 kasus, baik pada 2 kasus dan gagal 2 kasus. Tabel II. Gambaran kadar kolesterol dan trigliserida sebelum dan sesudah akupunktur dan diet serta hasil evaluasi penelitian No. Kolesterol total ( mg/dl) Trigliserida ( mg/dl) sebelum sesudah sebelum akp + diet akp + diet akp + diet 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 274 308 270 278 300 273 337 276 218 230 268 198 268 250 232 254 Hasil evaluasi sesudah akp + diet 164 180 214 105 237 128 240 168 162 165 197 87 199 124 194 162 sangat baik sangat baik gagal sangat baik baik baik sangat baik baik Dari tabel di atas tampak penurunan kadar kolesterol yang meningkat pada 7 kasus, pada 1 kasus tetap (4 sampai nilai normal, 3 masih di atas normal). Pada 3 kasus dengan trigliserida yang meningkat, terdapat penurunan sampai nilai normal. Hasil evaluasi penelitian adalah sangat baik pada 4 kasus, baik pada 3 kasus, gagal 1 kasus. Tabel III. Hasil penelitian menurut jenis lipoprotein yang meningkat pada masing-masing kasus No. Jenis lipoprotein yang meningkat Jumlah kasus Hasil penelitian sangat baik 1. 2. kolesterol & trigliserida kolesterol Jumlah 28 baik gagal 8 3 (37,5%) 2 (25%) 8 5 (62,5%) 3 (37,5%) 0 (0%) 8 (50%) 5 (31,25%) 3 (18,75%) 16 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 3 (37,5%) Dari tabel di atas tampak penelitian berhasil pada 81,25% dari 16 kasus hiperlipoproteinemia dengan perincian sebagai berikut : sangat baik 50% (8 kasus), baik 31,25% (5 kasus) dan gagal 18,75% (3 kasus). Tabel IV. Efek akupunktur pada kadar kolesterol yang meningkat dengan hasil evaluasirya No. Sebelum akupunktur ( mg/dl) Sesudah akupunktur (mg/dl) Hasil evaluasi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 274 307 290 327 308 270 278 272 300 273 280 337 268 276 322 284 218 243 197 267 230 268 198 248 268 250 224 232 235 254 234 196 sangat baik baik sangat baik baik sangat baik gagal sangat baik baik baik baik sangat baik sangat baik sangat baik baik sangat baik sangat baik Dari tabel di atas tampak akupunktur berhasil menurunkan kadar kolesterol pada 15 kasus dan pada 1 kasus tetap, dengan evaluasi sangat baik pada 9 kasus (56,25%), baik pada 6 kasus (37,5%) dan gagal pada 1 kasus (6,25%). Tabel V. Efek akupunktur pada kadar trigliserida yang meningkat dan hasil evaluasinya No. Sebelum akupunktur (mg/dl) Sesudah akupunktur (mg/dl) Hasil evaluasi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 356 214 214 237 224 240 236 220 274 270 197 199 145 194 182 300 baik gagal sangat baik sangat baik sangat baik sangat baik sangat baik gagal Dan tabel di atas tampak akupunktur berhasil menurunkan kadar trigliserida pada 6 kasus, dengan evaluasi sangat baik pada 5 kasus (62,5%), baik pada 1 kasus (12,5%) dan gagal pada 2 kasus (25%).
  • 30.
    Tabel VI. Nilairata-rata kolesterol total trigliserida sebelum dan sesudah akupunktur, sebelum dan sesudah akupunktur dan diet, serta selisihnya Nilai rata-rata kolesterol total (mg/dl) sebelum sesudah selisih % No. Tindakan 1. 2. Akupunktur Akp + diet 293,7 289,5 223,2 239,7 70,5 24,03 49,8 16,87 Nilai rata-rata trigliserida (mg/dl) sebelum sesudah selisih % 220,6 179,5 193,6 27,0 12,23 161,25 18,25 10,16 Dari tabel di atas tampak rata-rata penurunan kadar kolesterol sesudah akupunktur sebesar 24,03% dengan P <0,001 (t hitung 19,58 dan t tabel 5,408); sesudah akupunktur dan diet rata-rata penurunan sebesar 16,87% dengan P < 0,001 (t hitung 11,19 dan t tabel 5,408). Rata-rata penurunan kadar trigliserida sesudah akupunktur adalah 12,23% dengan 0,01 <P <0,02 (t hitung 3,44 dan t tabel antara 2,998 dan 3,499); sesudah akupunktur dan diet rata-rata penurunan sebesar 10,16% dengan P 0,001 (t hitung 9,13, t tabel 5,408). Tabel VI. Gambaran berat badan, tinggi badan, tensi sebelum dan sesudah akupunktur No. P/L Umur (th) Berat badan (kg) Sebelum Sesudah Tinggi badan Tensi (mmHg) (cm) Sebelum Sesudah 1. P 60 65 62,5 143 170/90 160/95 2. 3. L P 39 52 79 45 78 45 170 155 125/85 130/90 125/85 125/90 4. L 58 69,5 69 169 170/80 170/80 5. 6. 7. P L P 70 28 48 49,5 49 79,5 50 49 77 151,5 210/100 150/85 154,5 160/90 160/90 162,5 130/90 130/90 8. 9. 10. 11. L L P P 61 72 65 51 72,5 65 52,5 47,5 71,5 65,5 52 47 166,5 174,5 154 145,5 130/90 150/90 120/80 140/85 12. 13. L L 50 43 66 66,5 64 66 160 160 130/80 130/80 165/100 160/90 14. L 62 72 70,5 165 145/85 145/85 15. 16. P L 54 56 60 67,5 58 67 154 163 140/80 130/85 130/80 130/85 130/90 140/95 120/80 135/85 Keluhan subyektif Sebelum Sesudah sukar tidur, berkurang terasa berat, pegal-pegal tidakjelas nyeri dada, berkurang lekas capai, perut pedih dada & badan dosis obat kurang dada berat hilang tidak jelas lemas, berhilang debar-debar lekas capai berkurang sesak nafas berkurang nyeri dada hilang berkurang nyeri dada tangan semutan nyeri dada berkurang sesak nafas, berkurang bahu pegal sakit dada, berkurang lekas capai nyeri dada berkurang sakit dada berkurang Tindakan Akp. Akp + Diet — + + + — — + — — — — + + + + + + + — + — — — + + — — + — + — + Dari tabel di atas tampak beberapa kasus berat badan yang lebih dari normal menurun (0,5 — 2,5 kg), tensi menurun sedikit dan gejala subyektif sebagian berkurang sampai hilang. DISKUSI Dengan pemakaian titik-titik akupunktur yang sama, hasil penelitian Ionescu-Tirgoviste dkk terhadap hiperlipoproteinemia adalah berhasil sebesar 56,97% (sangat baik 22,09% dan baik 34,88%) dan gagal 43,02%; sedangkan hasil penelitian di RSCM terhadap hiperlipoproteinemia adalah berhasil sebesar 81,25% (sangat baik 50% dan baik 31,25%) dan gagal 18,75% (tabel III); terhadap kolesterol saja keberhasilan yang diperoleh adalah 93,75% dengan perincian sangat baik 56,25% dan baik 37,5%, gagal 6,25% (tabel I V); terhadap trigliserida keberhasilan 75% dengan perincian sangat baik 62,5% dan baik 12,5%, gagal 25% (tabel V). Perbedaan hasil ini mungkin disebabkan karena adanya variabel yang berbeda. Peneliti yang terdahulu juga mengikutsertakan beberapa kasus hiperlipoproteinemia sekunder ka- rena Diabetes Mellitus, sehingga bila Diabetesnya sendiri belum teratasi maka kadar trigliserida akan tetap tinggi; dan ini akan mempengaruhi hasil evaluasi. Seperti diketahui, penurunan kadar serum kolesterol sebesar 15%—20% dapat menurunkan risiko penyakit jantung iskemik sebesar 35%—60% 5 . Dengan tindakan akupunktur, rata-rata penurunan kolesterol total adalah 24,03% dan ratarata penurunan trigliserida adalah 12,23%. Dengan akupunktur dan diet, rata-rata penurunan kolesterol total adalah 16,87% dan rata-rata penurunan trigliserida adalah 10,16% (Tabel VI). Berdasarkan hasil penelitian di atas dan tulisan yang disajikan, dapat disimpulkan bahwa akupunktur pada keadaan hiperlipoproteinemia dapat menurunkan risiko penyakit jantung iskemik. Pada penelitian ini dicoba untuk memisahkan tindakan Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 29
  • 31.
    yang dilakukan, yaitusebagian dengan akupunktur saja dan sebagian dengan akupunktur dan diet khusus, hal ini dimaksudkan untuk melihat apakah akupunktur tanpa diet khusus juga mempunyai efek hipolipemik yang bermakna. KESIMPULAN DAN SARAN • Akupunktur mempunyai efek menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida darah pada hiperlipoproteinema dengan keberhasilan 81,25% dari 16 kasus (sangat baik 50%, baik 31,25% dan gagal 18,75%). • Akupunktur mempunyai efek menurunkan kadar kolesterol darah secara bermakna (P < 0,001) dengan hasil penurunan 24,03% sesudah akupunktur dan 16,87% sesudah akupunktur dan diet; akupunktur juga mempunyai efek menurunkan kadar trigliserida secara bermakna dengan hasil penurunan 12,23% sesudah akupunktur (P < 0,001) dan 10,16% sesudah akupunktur dan diet (0,01 < P < 0,02). • Keberhasilan akupunktur untuk menurunkan kadar kolesterol adalah 93,75% (sangat baik 56,25%, baik 37,5% dan gagal 6,25%), sedangkan kadar trigliserida menurun dengan keberhasilan sebesar 75% (sangat baik 62,5%, baik 12,5%, dan gagal 25%). • Pada evaluasi terlihat perbaikan dari keluhan subyektif maupun gejala klinis (tabel VIII) pada beberapa kasus, meskipun pada penelitian ini belum dilakukan pengamatan yang khusus terhadap hal-hal tersebut. • Perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk melihat sejauh manakah akupunktur dapat mempengaruhi fraksi -fraksi lemak darah yang lain, dan titik akupunktur yang mana yang paling mempengaruhi kadar lemak darah. • Melihat hasil penelitian efek akupunktur pada hiperlipoproteinemia tersebut, dapat disimpulkan bahwa akupunktur dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner. Karena itu dianjurkan untuk memasukkan akupunktur sebagai salah satu cara penanggulangan keadaan hiperlipoproteinemia. Ucapan terima kasih Pada para dokter Bagian Kardiologi FKU1/RSCM, Ahli Gizi RSCM, Ahli laboratorium RSCM, atas kerja sama dan bantuannya dalam penelitian ini. 30 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 KEPUSTAKAAN 1. Rifkind BM, Levy RI. Hyperlipidemia, Diagnosis and Therapy. Grune & Stratton Inc., 1977; 1 - 39. 2. Hurst JW. The Heart. 5th ed. McGraw Hill Book Co., 1982; 951 957. 3. Sokolow M. Clinical Cardiology. 2nd ed. Lange Med Publ, 1981; 126 - 129. 4. Adi Kusuma Aman, Burhanuddin Nasution. Metabolisme dan arti klinis lipiprotein. Mcdika 1983; 3 : 267 - 274. 5. Ionescu-Tirgoviste C, Phleck-Chhayan, Visinescu R, Danciu A. Acupuncture and electroacupuncture therapy in the treatment of hyperlipoproteinemia. Am J Acupunct 1981; 9 : 57 - 62. 6. Danciu A, Ionescu-Tirgiviste C, Georgescu M, Cheta D, Stamoran M. The treatment of hyperlipoproteinemia by acupuncture. Am J Acupunct 1976; 4 : 337 - 343. 7. Levy RI, Bonoell M, Ernst ND. Dietary management of hyperlipoproteinemia J A Diet Ass 1971;58 . : 406 - 416. 8. Brown MS, Goldstein JL. The hyperlipoproteinemias and other disorders of lipid metabolism. In : Principles of Internal Medicine, th ed McGraw Hill Book€ Kogakusha Ltd., 1983; 547 - 559. 9. Frederickson DS, Levy RI, Lees RS. Fat transport in lipoproteinemia. An integrated approach to mechanism and disorders. New England J Med 1967; 276 : 1 (34 - 44), 2 (94 - 103), 3 (148 156), 4 (215 - 224), 5 (273 - 281). 10. Spritz N. Diet in the treatment of hyperlipidemia. Am Heart J 1980; 100 : 924 - 927. 11. Samuel P : Drug treatment of hyperlipidemia. Am Heart J 1980; 100 : 573 - 577. 12. Leonhardt H. Fundamentals of electroacupuncture according to Voll. Medizinisch Literarische Verlagsgesellschaft mBH, 1980; 188. 13. Zhao Hexi, Zhang Ren Li Huanbin, Chang Xingguo. Influence on hyperlipidemia by needling Neiguan : Clinical analysis of 72 cases. The second national symposium on acupuncture and mox bastion and acupuncture anesthesia (abstr.). Beijing, 1984; 13 - 14. 14. Omura Y. Acupuncture effects on cardiovascular and nervous system. Acupunct & El Their Research 1975; 1 : 51 - 141. 15. Scott PJ. Hyperlipidemia, Current concepts in prevention and treatment. Medical Progress 1983; 2 : 36 - 41. 16. Omura Y. Historical Aspect of Acupuncture. Acupunct & El Ther Research 1975; 51 - 141. 17. Meeker LA. Index of Acupuncture. 4th ed. MOD Co., New Mexico 1980 : 61. 18. Anonim. Essencials of Chinese Acupuncture. Foreign Languages Press, Beijing, China, 1981. 19. Connor JO & Bensky D. Acupuncture, A Comprehensive text. Eastland Press, Chicago, 1981.
  • 32.
    Akupunktur Analgesi pada BedahBeku di Daerah Penis Dr. Husniah R. Th € Akib *, Dr. Petrus Tarusarya ** Unit Akupunktur RS Dr Ciptomangunkusumo, Jakarta Dr. Gatut Suprodjo Bagian Ilmu Penvakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RS Dr. Ciptomangunkusumo, Jakarta ABSTRAK Akupunktur analgesi untuk tindakan bedah beku di daerah penis terhadap penderita kondiloma akuminata telah dilakukan dengan hasil memuaskan. Analgesi dilakukan dengan akupunktur listrik pada titik XIV.2, XIV.4, VII.32, XIII.2 dan Matsui. Stimulator listrik yang digunakan adalah type DZ 22 dengan frekuensi 200Hz dan 2000 Hz. Induksi dilakukan selama 20 menit. Akupunktur analgesi ini terutama bermanfaat pada keadaan-keadaan di mana analgesi dengan obat-obatan tidak dapat dilakukan. PENDAHULUAN Akupunktur analgesi pada pembedahan adalah teknik akupunktur yang diterapkan selama masa prabedah atau masa bedah untuk mencapai keadaan analgesi . Akupunktur analgesi sering disebut dengan nama akupunktur anestesi. Penamaan ini kurang tepat, sebab pada pembedahan dengan akupunktur analgesi, penderita sadar sepenuh2, 3 . nya dan semua sensasi tetap utuh, kecuali nyeri Sejak dahulu telah diketahui bahwa akupuktur dapat menanggulangi nyeri. Efek penanggulangan nyeri ini akhirnya dikembangkan sedemikian rupa, sehingga pada tahun 1958 untuk pertama kali dapat digunakan sebagai analgesi pada pembedahan. Akupunktur analgesi sangat sederhana pelaksanaannya, ekonomis dan tidak memerlukan alat-alat yang rumit. Metode ini sangat berguna di daerah perang rural, daerah yang komunikasinya sulit dan dalam keadaan perang. *) Penulis saat ini bertugas di Farmakologi klinik RS Dr Citpmangunkusumo. **) Penulis saat ini bertugas di RS Sintanala. Akupunktur analgesi aman, tidak ada efek samping dan lain-lain reaksi yang tidak terduga. Berdasarkan pengamatan dari jutaan pembedahan, dilaporkan bahwa tidak ada kematian yang disebabkan oleh akupunktur analgesinya 4 . Akupunktur analgesi terutama bernilai untuk digunakan pada keadaankeadaan di mana anestesi obat-obatan tidak mungkin dilakukan. Misalnya pada keadaan alergi terhadap obat-obat anestesi, pada penderita penyakit jantung, ginjal, paru, hati, dan lainlain 6,6 Salah satu keuntungan yang nyata dari penggunaan akupunktur analgesi adalah pengurangan penggunaan narkotika sebanyak 80% 2 . Akupunktur analgesi telah pula dilakukan pada neonatus berumur 2 hari, juga orang tua berumur 90 tahun 5,7. Pada saat ini, pembedahan dengan akupunktur analgesi telah diterapkan di seluruh dunia. Di Cina sampai tahun 1979 telah dilakukan 200 jenis pembedahan dengan akupunktur analgesi pada 2.000.000 penderita8 . Di Australia sejak 1972 telah dilakukan kira-kira 200 jenis pembedahan dengan akupunktur analgesi6 . Angka keberhasilan secara umum adalah 90% 5,9,10 . Sedangkan rasio akupunktur analgesi di Cina adalah 10% — 30% 2,11 . Pada umumnya di luar Cina akupunktur analgesi hanya dilakukan pada keadaan di mana anestesi obat-obatan tidak dapat dilakukan 6 . Pelaksanaan akupunktur analgesi di luar Cina biasanya disertai dengan pemberian obat-obat tambahan ll . Para pengamat di luar Cina pada umumnya memandang akupunktur analgesi sebagai suatu variasi dari metode anestesi 12 . MEKANISME KERJA AKUPUNKTUR ANALGESI Banyak pendapat maupun hipotesis yang dikemukakan. Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 31
  • 33.
    Beberapa pendapat mengatakan,pada prinsipnya terjadi persaingan antara impuls spesifik yang timbul akibat rangsang akupunktur dan impuls nyeri yang timbul karena pembedahan, pada suatu sistem proyeksi non spesifik di otak. Bila rangsang spesifik akupunktur dapat menyaingi nyeri yang timbul karena pembedahan, nyeri akan dihambat dan terjadi analgesi. Pendapat ini berkaitan antara lain teori Gate Control & Two Gate Control. Teori Gate Control secara singkat mengemukakan bahwa perangsangan titik akupunktur yang berarti perangsangan serabut besar (yang bermyelin, berdaya konduksi cepat dan menghantarkan rangsang bukan nyeri), akan menimbulkan rangsang bukan nyeri yang menghambat rangsang nyeri yang timbul akibat pembedahan, disuatu gerbang yang terletak di substansia gelatinosa medula spinalis 13 . Sedangkan menurut Two Gate Control, selain gerbang di medula spinalis tersebut masih ada lagi gerbang utama yang terletak di hipotalamus, yang dapat menghambat nyeri bila titik-titik akupunktur tertentu di daerah muka dan kepala dirangsang 8 . Akhir-akhir ini dikemukakan teori endorfin, yang mengatakan bahwa perangsangan titik akupunktur dapat merangsang pelepasan suatu substansi morfin endogen (endorfin) yang mempunyai sifat anti nyeri 14 . Selain teori-teori ini masih banyak hipotesis lain yang dikemukakan antara lain teori biolistrik, teori reflexotherapeutical Head, teori susunan saraf otonom, dan lain-lain. Meskipun telah banyak hipotesis dikemukakan, namun belum ada satu pun yang dapat menerangkan mekanisme akupunktur analgesi secara menyeluruh. Diamati bahwa daerah analgesi yang ditimbulkan oleh akupunktur bersifat unik dan berbeda dengan analgesi yang timbul pada anestesi regional/blok. Karena itu peran serta sistem meridian tidak dapat diabaikan. Sampai saat ini, mekanisme kerja akupunktur analgesi masih dianggap melalui multifaktor. Pada tahun 1979 dalam seminar interregional WHO mengenai akupunktur di Beijing disimpulkan secara umum, akupunktur analgesi lebih efektif untuk pembedahan di daerah kepala, leher dan dada 15 . Sedangkan analgesi untuk pembedahan abdomen dikatakan lebih sulit dari pada untuk pembedahan di daerah lain16, 17 . Mengenai analgesi untuk pembedahan di daerah penis tidak ada laporan khusus, kecuali mengenai titik-titik yang digunakan 16 Tindakan bedah beku di daerah penis dikatakan menimbulkan nyeri yang panas dan menyengat, yang berlangsung sampai kira-kira 10 — 15 menit setelah tindakan selesai. Penelitian akupunktur analgesi di daerah penis ini dilakukan untuk melihat apakah titik-titik yang dipilih dapat menimbulkan analgesi dengan hasil yang memuaskan. Bila analgesi berhasil dengan memuaskan, akupunktur pada titik-titik tersebut dapat digunakan juga untuk pembedahan lain di daerah ini, terutama bila analgesi dengan obat-obatan tidak dapat dilakukan. BAHAN DAN CARA: Penelitian 32 akupunktur analgesi pada tindakan bedah Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 beku di daerah penis, dilakukan atas kerjasama dengan bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM. Penelitian dilakukan antara bulan Januari sampai Maret 1983 pada 4 orang penderita. Sebelum dianalgesi, penderita diperiksa dan didiagnosis terlebih dahulu di bagian Kulit dan Kelamin. Tindakan bedah beku dan akupunktur analgesi dilakukan di Unit Akupunktur RSCM. Alat yang digunakan Jarum akupunktur : dari baja tahan karat no. 28 dengan panjang 2 inci dan 4 inci, dua buah alat Stimulator listrik tipe DZ 22. Titik-titik akupunktur yang digunakan 1. 2. 3. 4. 5. Ming Men (XIV. 4), terletak di antara prosesus spinosus vertebra lumbal 2 dan lumbal 3 pada garis median. Titik ini di lapisan dalam terletak pada cabang posterior N. Spinalis yang keluar. dari L3 dan di lapisan superfisial pada cabang kutaneus dari ramus dorsalis N torakalis l2 . Yao Su (XIV. 2), terletak di bawah vertebra sakralis 4, dalam hiatus sakralis. Titik ini terletak pada tabang N sakro-koksigeus. Modified Ce Liao (VII. 32), terletak 1 jari medial spina Iliaka posterior superior. Titik ini terletak pada ramus posterior N. Sakralis 2,3 dan 4. Ci Ku (XIII. 2), terletap pada batas atas simfisis pubis. Titik ini di lapisan superfisial terletak pada cabang kutaneus N iliohipogastrika dan di lapisan dalam pada N iliohipogastrika. Matsui, terletak 1 inci medial tuberositas ischii. Penjaruman dilakukan bilateral, kecuali untuk titik XIV. 4 dan XIV. 2. Mula-mula penderita dibaringkan dalam sikap pronasi untuk dilakukan penjaruman pada titik yang terletak di belakang tubuh. Titik akupunktur ditentukan secara anatomis dan ditegaskan dengan alat pencari titik dari stimulator DZ 22. Sebelum setiap penjaruman, titik akupunktur dibersihkan terlebih dahulu dengan kapas alkohol. Penjaruman dilakukan sampai tercapai sensasi penjaruman (te ci). Penjaruman titik VII. 32 dilakukan dengan jarum 4 inci bersudut 15° dengan kulit, sehingga menyentuh foramina sakralis posterior 2,3 dan 4. Penjaruman titik XIV. 2 dilakukan dengan jarum 2 inci, sejajar dengan permukaan tubuh sedangkan XIV. 4 tegak lurus. Jarum kemudian dihubungkan dengan elektroda DZ 22 kelompok B . kecuali untuk titik XIX. 2 dan XIV. 4 dengan kelompok A. Jarum diisolasi dan direkat pada kulit dngan plester. Posisi penderita dialhkan menjadi supinasi. Mula-mula dilakukan penjaruman titik XIV.2 subkutis. Terakhir penjaruman titik Matsui dilakukan tegak lurus dengan permukaan tubuh. Semua jarum dihubungkan dengan elektroda DZ 22 kelompok B. Setelah penjaruman melesai, dimulai perangsangan dengan arus listrik, saat ini dihitung sebagai awal waktu induksi. Arus listrik yang digunakan adalah bolak balik (A.C.) dengan jenis
  • 34.
    gelombang bifase segi(spike), dan bentuk frekuensi rangsang kontinyu. Induksi dimulai dengan frekuensi rendah, yang dinaikkan perlahan-lahan sehingga akhirnya mencapai frekuensi 200 Hz untuk elektroda kelompok A dan 2000 Hz untuk elektroda kelompok B. Intensitas dinaikkan bertahap semaksimal yang dapat ditahan penderita. Induksi dilakukan selama 20 menit. Tindakan bedah beku dimulai bila pada akhir masa induksi penderita telah merasa analgesi. Bila perasaan ini belum ada/belum kuat, maka induksi dapat diperpanjang. Perangsangan listrik terus dilakukan sampai 15 menit setelah tindakan bedah beku selesai. Tindakan bedah beku (cryo surgery) dilakukan dengan menggunakan cairan nitrogen yang disemprotkan 2 siklus (cairan nitrogen disemprotkan dengan cone pada lesi sampai daerah freezing 1 mm di luar lesi, dan tindakan ini diulang 2 kali). Keberhasilan akupunktur analgesi dinilai dengan mengukur nyeri yang timbul. Pengukuran nyeri dilakukan secara subyektif. Penderita digolongkan ke dalam tingkat I bila tidak ada nyeri sama sekali. Tingkat II bila nyeri singkat dan ringan sekali. Tingkat III bila nyeri jelas tapi masih dapat ditahan. Tingkat IV bila nyeri tidak tertahankan lagi. Akupunktur analgesi dinyatakan berhasil dengan memuaskan bila penderita termasuk tingkat I, berhasil baik bila termasuk tingkat II dan gagal bila termasuk tingkat III dan IV. HASIL DAN PEMBICARAAN Telah dilakukan akupunktur analgesi untuk tindakan bedah beku di daerah penis terhadap 4 penderita kondiloma akuminata. Pada semua penderita masa induksi adalah 20 menit dan analgesi dipertahankan sampai 15 menit setelah tindakan bedah beku selesai. Lokasi tumor berbeda-beda, 2 intra meatal, 1 di corpus dan 1 di preputium, glans dan Tabel I. Karakteristik Penderita dan Keberhasilan No Umur Lama (th) sakit Lokasi Tumor 1 22 1 th corpus penis 2 31 1 bl intra meatal 3 23 1 bl glans penis corona glandis 4 31 4 bl intra meatal Efloresensi Penggo- Hasil longan tingkat nyeri papel verukosa lentikuler yang multipel papel verukosa miller yang multipc papel verukosa lentikuler yang multipel papel miller yang multipel tk_ I memuaskan tk. I memuaskan tk. I memuaskan tk. I memuaskan Pada keempat penderita tindakan dapat dilakukan tanpa nyeri sehingga akupunktur analgesi herhasil dengan memuaskan. corona. Jumlah tumor multiple dan pada kasus terakhir membentuk plakat. Berdasarkan penelitian, penjaruman pada titik VII.32 berarti merangsang saraf parasimpatis yang mempersarafi organorgan pelvis sehingga dapat menimbulkan efek analgesi di 18 daerah pelvis . Sedangkan titik XIV.2, XIV.4, XIII.2, Matsui dan daerah tindakan dipersarafi oleh segmen saraf yang sama/ berdekatan dengan segmen saraf yang mempersarafi daerah pembedahan. Bila ditinjau hipotesis timbulnya analgesi pada akupunktur antara lain teori Gate Control, terlihat karena daerah tindakan dan titik-titik akupunktur yang digunakan dipersarafi oleh segmen saraf yang sama/berdekatan, maka nyeri yang timbul karena tindakan ternyata dapat diatasi oleh sensasi akupunktur. Selain itu efek endorfm yang dikatakan dapat dirangsang dengan akupunktur tidak dapat pula diabaikan. KESIMPULAN Telah dilakukan akupunktur analgesi pada bedah beku terhadap 4 penderita dengan kondiloma akuminata di daerah penis. Pada semua kasus akupunktur analgesi berhasil dilakukan dengan hasil memuaskan. Penatalaksanaan akupunktur analgesi meskipun mudah, tetapi memerlukan waktu induksi yang cukup lama bila dibandingkan dengan analgesi obatobatan, sehingga mungkin kurang praktis untuk dilaksanakan secara rutin di poliklinik. Namun demikian, akupunktur analgesi masih merupakan suatu metoda alternatif, terutama pada keadaan di mana anestesi obat-obatan tidak mungkin dilakukan. KEPUSTAKAAN 1. Lee F and Cheung CS. Current Acupuncture Therapy. Hongkong: Medical book Publ, 1978; pp 211-6. 2. Wexu M. The Ear Getaway to Balancing the Body a Modern Guide to Ear Acupuncture. New York : ASI publ Inc, 1975; pp 171-82. 3. Wen HL and Cheung SYC. Treatment of Drug Addiction by Acupuncture and Electrical Stimulation. Asian J Med. 1973; 9:138-41. 4. Anonim. Essentialas of Chinese Acupuncture. Beijing: Foreign languages press, 1980; p 416. 5. Lowe WC. Introduction to Acupuncture. USA: Medical Examination publ. 1973. 6. Mayer EH and Bischko J. Experiences with Acupuncture Analgesia in the Fiels of the Ear, Nose and Throat. Venice: International Congress series, 1973; p 759. 7. Matsuto. Acupuncture for Physicians. Springfield, Illinois: Charles C Thomas publ, 1974. 8. Man PL and Chen CH. Acupuncture Analgesia, Theory and Potential Clinical Application, Medical Progress 1975; 2:87-98. 9. Cai D, Lu WJ, Xu GH, Yu AL. The Influence of Different Parameters and Methods of Stimulation on The Effect of Electric Needling of The Same Nerve; in Advances in Acupuncture and Acupuncture Anaesthesia. Beijing: The Peoples Medical Publ. 1979; pp 197-8. 10. Shanghai Acupuncture Anaesthesia Coordinating Group. Pathway of Acupuncture at Zusanli upon The Gastrointestinal Function; in Advances in Acupuncture and Acupuncture Anaesthesia. Beijing: Peoples Medical publ house, 1979; pp 306-7. Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 33
  • 35.
    11. Murphy TMand Binica JJ. Symposium on Pain: Acupuncture Analgesia and Anaesthesia. Arch Surg 1977; 112:896-902. 12. Pauser G, Benner H, Thomas H. Acupuncture Analgesia Clinical Experimental Results of the Vienna School; in the second French, Italian Austrian Congress for Information on Acupuncutre and Auricular therapy. Vienna 1975; p 39. 13. Melzack R. The Puzzle of Pain. Victoria, Australia: Penguin Books, 1973. 14. Yang MMP. The Role of Endogenous Ligands, Endorphins, in the Mechanism of Acupuncture Analgesia; abstract. Department of Physiology Faculty of Medicine University of Hongkong. 34 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 15. Bannerman RH. Acupuncture, The WHO view, The Magazine of The World Health Organization. Dec 1979; 24-9. 16. Anonim, The Principle and Practical Use of Acupuncture Anaesthesia. Hongkong: Medicine and Health pubL 1974; pp 96-235. 17. Bonica JJ. Acupuncture Anaesthesia in The Peoples Republic of China: Implication for American Medicine. JAMA 1974; 229:1371-5. 18. Weng J, Yang H. Peng C, Mao S, Li G. The Application of Modified Ci Liao Point in Acupuncture Anaesthesia for Gynecological and Obstetrical Operation; in Advances in Acupuncture Anaesthesia. Beijing: Peoples medical publ. 1979; pp 197-8.
  • 36.
    Pengobatan Nyeri Kepaladengan Akupunktur Dr. Dharma K. Widya Unit Akupunktur RS. Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta ABSTRAK Telah dilakukan pengobatan akupunktur pada seorang wanita umur 20 tahun yang menderita nyeri kepala, dan telah diobati dengan obat-obatan tanpa hasil yang memuaskan. Pengobatan akupunktur dilakukan dengan penusukan pada titik-titik di kepala, tubuh dan anggota gerak. Setelah pengobatan pertama, gejala mereda dan menghilang sesudah pengobatan yang keenam. Pengobatan diberikan dua kali seminggu. Diperkirakan, akupunktur merangsang pelepasan senyawa yang mirip morfin endogen, mempunyai efek vasodilatasi dan memperbaiki supply oksigen ke dalam jaringan, sehingga mempunyai efek penyembuhan nyeri. PENDAHULUAN Sefalgia atau nyeri kepala merupakan suatu keluhan yang subyektif, tanpa dapat dibuatkan definisinya yang tepat. Walaupun demikian sefalgia mudah dimengerti, karena hampir semua orang pernah mengalaminya. Gejala yang banyak dijumpai dalam kehidupan dan praktek kedokteran sehari-hari ini dapat disebabkan oleh banyak jenis penyakit dan kelainan. Baik kelainan di dalam otak, tengkorak maupun di luar struktur tersebut1 Seorang ahli nyeri kepala di Amerika Serikat pernah menyatakan, sekitar 85% penduduk pernah menderita nyeri kepala. Nyeri kepala merupakan salah satu keluhan utama dari banyak penduduk. Setiap tahun lebih dari 42 juta orang menderita nyeri kepala, dan berjuta-juta di antaranya menderita nyeri yang begitu hebat sehingga tidak dapat bekerja. Dari jumlah itu, hanya sekitar 10% yang disebabkan oleh penyakit organis yang serius 2 . Penelitian akhir-akhir ini menyatakan, penggunaan akupunktur dalam pengobatan nyeri kepala memberi hasil yang memuaskan. Ternyata pula pengobatan akupunktur memberikan efek jangka panjang dan lebih dari sekedar plasebo 3 . Kho pernah melaporkan kesembuhan seorang pasien cluster head- ache dengan pengobatan akupunktur, setelah cara-cara pengobatan lainnya mengalami kegagalan4 . Khoe mengobati lebih dari 1000 penderita nyeri kepala tanpa kelainan organis/ penyakit serius dengan akupunktur dan perbaikan nutrisi, dengan hasil yang baik 2 . KASUS Seorang wanita, umur 20 tahun dirujuk dari Bagian Saraf ke Poli Akupunktur dengan diagnosis sefalgia. Pada saat datang pasien menyatakan merasa nyeri kepala hebat mual-mual. Keluhan tersebut diderita setiap hari sejak 2 minggu sebelumnya. Telah berobat ke dokter dan dikatakan masuk angin, lalu diberi obat. Keluhan mual hilang tetapi nyeri kepala tidak berkurang. Pasien kemudian berobat ke Bagian Penyakit Dalam dan diberi obat tetapi keluhan tetap. Pasien lalu dirujuk ke Bagian Saraf, dan pada pemeriksaan neurologis, foto kepala dan fundus okuli tidak ditemukan kelainan. Pasien diberi obat dan keluhan hilang setelah makan obat, tetapi setelah obat habis keluhan timbul lagi (obat yang diberikan pada kunjungan pertama adalah Nelstan, Lexotan, dan Laroxyl; pada kunjungan kedua adalah Optalidon dan Tolvon). Akhirnya pasien dirujuk ke Poll Akupunktur. Nyeri kepala seperti itu telah sering diderita selama dua tahun terakhir ini. Pada waktu timbul kepala terasa nyeri hebat, berdenyut-denyut, lama serangan kurang lebih 1 jam dan waktu timbulnya tidak menentu serta letak nyerinya tidak dapat ditentukan karena terasa menyeluruh. Keluhan hilang bila berobat ke dokter, untuk kemudian timbul lagi setelah 1 — 2 minggu. Selama ini pasien sering merasa kunang-kunang bila bangkit sesudah jongkok. Selalu merasa sakit pada waktu menstruasi (dismenorea) sejak menarche. Dua tahun yang lalu pernah menderita sakit panas selama 3 minggu dan dikatakan dokter sebagai gejala tifoid. Pada pemeriksaan fisik, pasien tampak sakit, kesadaran Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 35
  • 37.
    baik, tekanan darah90/50, nadi 84, suhu afebril. Pasien memakai kacamata yang menurut keterangannya berukuran Sph -1 dan Sil - 1⁄2 kiri dan kanan. Pada pemeriksaan fisik lainnya tidak didapatkan kelainan. Pada pemeriksaan akupunktur, tampak semangat agak kurang, ekspresi umum tampak sakit. Pada perabaan daerah kepala tidak ditemukan nyeri tekan pada tempat yang spesifik karena nyeri kepala bersifat menyeluruh; pada perabaan nadi didapatkan kelemahan pada nadi ginjal dan jantung. Lain-lain tidak didapatkan kelainan. Diagnosis kerja : Sefalgia. Terapi yang diberikan adalah : — Alat : jarum baja tahan karat buatan Cina ukuran 1 inci no. 32. — Titik yang dipilih : 1. Pai Hui (XIV.20), yang terletak pada garis tengah kepala 5 inci dari garis batas rambut depan. 2. Tay Yang (M-HN-9), yang terletak dalam sebuah lekukan di dahi yang didapat pada perpotongan garis perpanjangan lengkung alis mata dan garis mendatar dari sudut mata. 3. He Ku (II.4), yang terletak di antara os metakarpal I dan II, tepat di pertengahan sisi radial os metakarpal II. 4. Ci Cie (XIII.14), yang terletak pada linea mediana anterior 6 inci di atas umbilikus. 5. Fu Liu (VIII.7), yang terletak 2 inci di atas titik yang terletak pertengahan tendo achilles dengan maleolus interna. Teknik manipulasi penguatan dengan waktu 20 menit. Terapi direncanakan diberikan 2x/minggu sampai 1 seri yang terdiri 12 kali terapi. HASIL Setelah dilakukan akupunktur pada kunjungan pertama, nyeri kepala mualnya hilang dan penderita tidak tampak sakit lagi. 2 jam kemudian timbul nyeri kepala lagi, tapi jauh lebih ringan yang segera hilang kembali. Hal ini berlangsung beberapa kali. Pada kunjungan kedua pasien merasa sakit kepala ringan, yang segera hilang setelah diakupunktur. Pada kunjungankunjungan selanjutnya s/d kunjungan keenam tidak ada keluhan. Selama itu di rumah keluhan kadang-kadang timbul bila banyak membaca/belajar, namun hanya sebentar dan ringan, yang segera hilang setelah beristirahat. Pada kunjungankunjungan berikutnya tidak didapati keluhan-keluhan lagi. PEMBICARAAN Nyeri kepala merupakan suatu keadaan yang dapat timbul karena berbagai sebab. Menurut ilmu akupunktur, keadaan nyeri kepala terjadi karena adanya ketidak-seimbangan bioenergi (ci) di daerah kepala. Bioenergi tersebut dapat dalam keadaan ekses (se) atau defisien (si). Keadaan tidak seimbang dapat terjadi karena berbagai faktor, yaitu 2 : — Faktor luar : cuaca, makanan, keracunan, kecelakaan, trauma, infeksi dan sebagainya. — Faktor dalam : kelainan pada organ dalam seperti kelainan pada hati, limpa, ginjal, atau kelainan pada darah (misalnya anemia dan sebagainya). 36 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 Tujuan pengobatan akupunktur adalah menyeimbangkan kembali keadaan ekses atau defisien tersebut menjadi normal, hingga dengan demikian keluhan nyeri kepala akan menghilang. Hal tersebut dicapai dengan penusukan/stimulasi pada titik-titik akupunktur tertentu yang mempunyai efek pada aliran bioenergi di daerah kepala. Chen dkk 3 menyimpulkan, pengobatan akupunktur mungkin merangsang pelepasan senyawa yang mirip morfin endogen, mempunyai efek vasodilatasi dan memperbaiki supply oksigen ke dalam jaringan. Pada kasus di atas, mengingat pasien dirujuk dari Bagian Saraf dan telah pula diperiksa di Bagian Penyakit Dalam, maka diperkirakan bahwa nyeri kepala tersebut bersifat fungsional dan tidak mempunyai dasar kelainan organis. Ditinjau dari gejalanya, kemungkinan besar keluhan pasien ini dapat digolongkan dalam nyeri kepala tegang otot. Rasa nyeri tersebut biasanya bilateral, lokasinya kadang-kadang tidak jelas, dapat disertai mual dan vertigo. Menegangnya otot sering kali menunjukkan adanya ketegangan jiwa. Terapi yang diberikan pada keadaan ini adalah fisioterapi, terapi medikamentosa dan psikoterapi. Akupunktur termasuk salah satu cara untuk menghilangkan rasa nyeri tersebut 5 . Pada pasien ini terapi akupunktur diberikan dengan penusukan pada titik-titik Pai Hui (XIV.20), Tay Yang (M.HN.9), He Ku (II.4), Ci Cie (XIII.14) dan Fu Liu (VIII.7). Titik Pai Hui (XIV.20) dan Tay Yang (M.HN.9) dipilih karena kedua titik yang terletak di kepala ini mempunyai khasiat untuk nyeri kepala. Titik He Ku (I1.4) yang terletak di punggung tangan merupakan titik yang berkhasiat untuk kelainan di daerah muka kepala termasuk nyeri kepala. Titik Ci Cie (XIII.14) dan Fu Liu (VIII.7) merupakan titik yang mempunyai efek mempengaruhi fungsi jantung dan ginjal 6 . Pengobatan akupunktur pada pasien ini berhasil cukup baik. Namun untuk mencegah penyakit tersebut kumat kembali, perlu diperhatikan faktor-faktor lain seperti faktor emosi, faktor lingkungan dan sebagainya, mengingat pasien adalah seorang remaja yang baru lulus SLA dan harus memikirkan masa depannya. Sebagai kesimpulan, akupunktur merupakan salah satu cara pengobatan yang efektif pada keluhan nyeri kepala yang fungsional, oleh karena itu dapat dipertimbangkan sebagai suatu alternatif pengobatan nyeri kepala. KEPUSTAKAAN 1. Sidiarto Kusumoputro. Diagnosis diferensial dan tatalaksana sefalgia; di Nyeri kepala menahun, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta 1981: hal. 6. 2. Khoe WH. Headache, treatment with acupuncture and nutrition. Am J Acup; 1977; 5 : 151. 3. Chen GS, Yeou Cheng Hwang, Seng - Jaw Song. Longterm effect of acupuncture therapy on headache. Am J Acup 1978; 6 : 23. 4. Kho Hing Gwan. Treatment of cluster headache by acupuncture. Am J Acup 1977; 5 : 169. 5. Soemarmo Markam : Nyeri kepala tegang otot; di Nyeri kepala menahun, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta 1981, hal. 23. 6. O'Connor J, Bensku D. Acupuncture a comprehensive text. Chicago: Easland Press, 1981.
  • 38.
    Sonopunktur Dr. Untojo Wibowo* Unit Akupunktur RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta ABSTRAK Ultrasound merupakan gelombang suara frekuensi tinggi yang kini banyak digunakan dalam kedokteran. Pada jaringan, ultrasound mempunyai efek panas, efek mekanis, dan efek biologis. Penggunaan ultrasound untuk merangsang titik akupunktur disebut sonopunktur. Karena karakteristiknya, ultrasound dapat dianggap menggantikan jarum akupunktur, sehingga dalam penggunaannya dapat disamakan dengan jarum akupunktur. Disajikan pula dua buah ilustrasi kasus pengobatan dengan sonopunktur. PENDAHULUAN Gelombang suara, baik yang merambat di udara pada frekuensi yang dapat didengar oleh manusia maupun yang merambat di jaringan tubuh pada frekuensi yang sangat tinggi mempunyai sifat-sifat dasar yang sama, yaitu merupakan gelombang horisontal yang terjadi atas pergantian pemampatan dan peregangan dalam medium yang dilaluinya. Dalam praktek, gelombang suara dari frekuensi yang dipakai untuk pengobatan dibangkitkan oleh kristal piezoelectric atau keramik yang bergerak bila diberikan medan listrik. Ultrasound pada frekuensi tinggi mempunyai sifat yang hampir sama dengan cahaya dan mengikuti hukum-hukum optik, antara lain diabsorbsi, direfleksi dan ditransmisi. Transmisi pada suatu medium ditentukan oleh tahanan dari medium tersebut. Bila gelombang suara melewati bidang batas antara dua medium yang berbeda, sebagian gelombang akan diteruskan dan sebagian lagi direfleksikan. Kira-kira 40% dari energi ultrasound dalam kristal Quartz diteruskan ke air atau ke jaringan, hanya 0,01% dari Quartz ke udara dan 0,1% dari udara ke jaringan. Karena itu, lapisan udara antara sumber tenaga dan jaringan harus dihindarkan agar terjadi penerusan energi ultrasound ke dalam jaringan secara lebih baik, dan untuk itu biasanya suatu substansi khusus digunakan sebagai * Penulis saat ini bertugas di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta. medium kontak. Ketika gelombang suara melewati medium, sebagian dari energinya diabsorpsi menjadi panas di setiap tempat. Besarnya absorpsi tergantung pada koefisien absorpsi tiap-tiap medium. Absorpsi otot kira-kira 2 kali dari lemak. Absorpsi dan penetrasi dari gelombang suara dalam jaringan tergantung juga pada besarnya frekuensi. Makin tinggi frekuensi, makin besar daya absorpsi dan makin rendah penetrasinya. Sebaliknya, makin rendah frekuensi makin besar daya penetrasi dan makin rendah absorpsinya. Dengan memperhatikan hal tersebut, alat ultrasound untuk kedokteran harus mempunyai frekuensi antara 800 — 1000 kilo hertz, yang merupakan suatu bentuk gabungan antara frekuensi rendah dengan daya penetrasi yang baik serta frekuensi tinggi dengan daya absorpsi yang besar. Seluruh energi ultrasound yang keluar dari soundhead jenis multikristal adalah sejajar. EFEK "ULTRASOUND" PADA JARINGAN Energi ultrasound yang dipergunakan dalam pengobatan, dapat dianggap sebagai berkas rangsang mekanis yang dapat dengan aman mencapai setiap daerah sasaran dalam tubuh pada intensitas terapi l . Keuntungan terapi ultrasound dalam pengobatan adalah pengaruh spesifik yang ditimbulkan oleh ultrasound pada jaringan hidup. Efek spesifik yang bermanfaat tersebut antara lain : • Efek panas Ketika gelombang suara melewati suatu medium, sebagian energinya diubah menjadi panas pada setiap tempat. Terdapat peninggian suhu jaringan yang berbanding lurus dengan tenaga dan waktu yang dipakai, dan berbanding terbalik dengan besarnya jaringan yang di-ultrasound. Timbulnya panas pada jaringan tersebut dapat terjadi pada seluruh volume jaringan, dan dikarakteristikkan secara pasti oleh koefisien absorpsi atau dapat terjadi secara lebih rumit karena adanya bidang batas yang dapat ditemukan pada jaringan atau kumpulan jaringan. Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 37
  • 39.
    Dalam proses pemanasanjaringan harus diperhitungkan pula efek pendinginan dari aliran darah. Ultrasound diabsorpsi dalam otot 2 kali lebih besar dari pada dalam lemak. Pemanasan yang tinggi timbul pada tulang, otot, tendon, saraf dan bidang batas antara otot dan lemak. Oleh karena itu, penyakit yang mengenai jaringan-jaringan tersebut dan bereaksi terhadap panas akan memberikan respon yang baik terhadap ultrasound. • E fek mekanis Efek mekanis yang terjadi disebabkan oleh tekanan suara, dan reaksi mekanis selanjutnya dari jaringan, yaitu kompresi dan dilatasi, sehingga terjadi reduksi volume dan pergerakan sel-sel jaringan. Efek ini tidak tergantung pada frekuensi, tetapi tergantung pada intensitas. Kekuatan tekanan suara pada jaringan akan menimbulkan pola tekanan yang mengakibatkan pergerakan bolak balik dari sel. Arah pergerakan berubah 2 kali pada setiap frekuensi, sehingga pada frekuensi 1 juta hertz terdapat 2 juta pergantian arah setiap detik. Perubahan siklus tekanan dari positif ke negatif tersebut terjadi pada seluruh jaringan yang di-ultrasound, sehingga mengakibatkan terjadinya efek mekanis yang disebut micro massage. Getaran mekanis merangsang aliran darah dan kimia darah, menimbulkan analgesi, mempengaruhi susunan saraf autonom, serta meninggikan permeabilitas membran sel. - • Efek biologis Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap hasil reaksi jaringan yang di-ultrasound, yaitu frekuensi, karakteristik dari medan energi ultrasonik (pulsasi atau kontinyu), intensitas (Watt/cm 2 ), anatomi dan fungsi jaringan yang meliputi ketebalan kulit, lemak, subkutis, jaringan otot, dan struktur tulang. Efek terhadap sirkulasi perifer tergantung pada dosis energi ultrasound. Pada dosis rendah terjadi hiperemi karena stimulasi dari vasodilator. Bila dosis dinaikkan, terjadi anemi karena stimulasi dari vasokonstriktor. Bila dosis dinaikkan lagi terjadi stasis karena paralisis. Koeppen berpendapat, dosis terapi ultrasound adalah pada batas di mana terjadi vasodilatasi dengan hiperemi, sehingga dapat memperbaiki peredaran darah lokal. Efek selanjutnya yaitu vasokonstriksi hanya terjadi pada dosis yang berlebihan. Sedangkan derajat ketiga yang menyebabkan paralisis sirkulasi tidak mungkin terjadi dalam praktek, karena dosis yang berlebihan akan menimbulkan nyeri hebat. Ultrasound berpengaruh terhadap keseimbangan susunan saraf autonom dengan sedikit menurunkan tonus simpatis dan menaikkan tonus parasimpatis. Gejala klinis utama dari reaksi ini adalah relaksasi otot, kelelahan umum dan pusing. Aktifitas susunan saraf autonom dan saraf serebrospinalis sebelum di-ultrasound merupakan faktor penting yang mempengaruhi hasil pengobatan. Selain itu, karakteristik anatomi jaringan yang dikenai oleh energi ultrasound juga memegang peranan penting, terutama pada ganglia serebrospinalis dan ganglia autonom. Efek ultrasound terhadap susunan saraf yaitu mempengaruhi susunan saraf autonom, lewat refleks yang disebabkan oleh pengaruh langsung terhadap susunan saraf pada daerah yang dikenal ultrasound, dan direkam sebagai isyarat saraf ke pusat saraf yang lebih tinggi. Selain hal-hal tersebut di atas, ultrasound juga mempunyai 38 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 efek : — menaikkan aktifitas enzim — menaikkan aktifitas metabolik — merangsang sintesis protein — merangsang pertumbuhan jaringan granulasi — mempercepat penyembuhan luka. PENGGUNAAN "ULTRASOUND" DALAM AKUPUNKTUR Penggunaan energi ultrasound untuk merangsang titik akupunktur disebut Sonopunktur. Karakteristik ultrasound yang berupa berkas dan kemampuannya untuk menembus benda padat dan cair memungkinkan penggunaan energi ultrasound untuk merangsang titik akupunktur 2 . Penggunaan ultrasound dalam akupunktur memberikan beberapa keuntungan, antara lain : 1) Penerimaan penderita lebih mudah, karena tidak adanya sensasi seperti yang ditimbulkan oleh penusukan jarum. 2) Ultrasound memungkinkan hasil yang lebih baik untuk yang kurang berpengalaman, karena luas permukaan soundhead lebih besar dari jarum akupunktur schingga memperkecil kemungkinan salah lokasi titik akupunktur 3,4 . Khoe menggunakan ultrasound untuk akupunktur selama bertahun-tahun dengan soundhead yang dirancang khusus.
  • 40.
    Energi ultrasound yangdiberikan pada titik akupunktur menembus tubuh sepanjang tempat yang biasanya ditembus oleh jarum akupunktur. Reaksi jaringan yang terjadi dapat dengan tepat dikontrol oleh besarnya intensitas dan lamanya waktu pemakaian. Pada banyak kasus, terdapat hubungan langsung antara besarnya energi dengan efek terapi. Intensitas rendah digunakan untuk mengobati daerah teriritasi. Intensitas biasanya antara 0,25 — 0,5 watt/cm 2 dengan waktu terapi antara 30 detik — 2 menit untuk tiap titik akupunktur. Soundhead diletakkan pada titik akupunktur yang dipilih dengan tekanan yang ringan tapi mantap. Sekarang telah tersedia soundhead dengan bermacam-macam ukuran untuk variasi penggunaan yang luas, misalnya untuk akupunktur tubuh dan akupunktur telinga. Khoe telah melakukan lebih dari 15.000 kali terapi sonopunktur dan tidak mendapatkan akibat sampingan yang timbul bila digunakan dengan dosis yang telah dianjurkan. Rossman dan kawan-kawan telah menggunakan rangsang ultrasound pada sistem meridian yang dibandingkan dengan hasil terapi yang menggunakan jarum akupunktur. Mereka menyatakan, kedua cara tersebut memberikan hasil yang sama efektifnya. Wong dan Ching, berdasarkan pengalamannya juga mendapatkan bahwa penggunaan jarum akupunktur maupun ultrasound memberikan hasil yang sama. Ultrasound dengan dosis rendah merupakan alat pengobatan yang efektif dan aman sehingga tidak ada kontra indikasi absolut. Namun perlu diperhatikan beberapa kontra indikasi khusus, yaitu : 1. Proses keganasan 2. Bila terdapat kelainan jantung, ganglion stellatum tidak boleh dikenai langsung dengan ultrasound karena dapat mengakibatkan terjadinya angina pektoris. 3. Bayi, karena dapat terjadi gangguan pertumbuhan tulang. 4. Uterus gravid, meskipun tidak mengakibatkan abortus, tetapi dapat mengakibatkan deformitas tulang janin. ILUSTRASI KASUS • Penderita laki-laki 25 th. Keluhan utama : nyeri pinggang bagian bawah yang terusmenerus sejak 2 bulan yang lalu. Sudah berobat ke dokter, sakit berkurang bila makan, tetapi kambuh lagi bila obat habis. Pemeriksaan akupunktur : nyeri tekan pada daerah lateral garis median setinggi vertebra L 4 — S 1 sampai S 4 — S 5 . Pemeriksaan lain tidak menunjukkan kelainan. Radiologis : vertebra lumbosacral dan articulatio Coxae : tak ada kelainan. Diagnosis akupunktur : Lumbago karena kelainan Meridian Kandung Kemih. Terapi dengan minisound 600 dengan soundhead berdiameter 0,1 cm 2 . Titik : Fei Yang (VII.58) Su Ku (VII.65) Titik nyeri (ahse point) VII.25, VII.32, VII.33, VII.34, VII.35. Teknik perangsangan : waktu 1⁄2 menit setiap detik, dengan intensitas 1⁄2 watt. terapi diberikan 3 kali seminggu. setelah terapi yang ke 6 keluhan hilang. • Penderita wanita 65 th. Keluhan utama : nyeri dan kaku leher yang terus-menerus sejak 4 bulan yang lalu. Leher terasa tertarik yang menjalar sampai ke bahu dan kepala, bila kepala digelengkan. Sudah berobat tetapi alergi terhadap obat-obatan yang diberikan. Pemeriksaan akupunktur : teraba tegangan otot dan nyeri tekan pada daerah titik XI.20 dan XI.21. Pemeriksaan lain tidak menunjukkan kelainan. Radiologis, terlihat penyempitan foramina intervertebra C 4 C6 . Diagnosis : Stiff neck karena kelainan Meridian Kandung Empedu. Terapi dengan minisound 600 dengan soundhead type 61 berdiameter 0,1 cm 2 . Titik : Kuang Ming (XI.37) Cu Lin Ci (XI.41) Titik nyeri (ahse point) XI.20 dan XI.21. terapi diberikan 3 kali seminggu. Setelah terapi ke 12 keluhan hilang. KESIMPULAN Dalam beberapa tahun belakangan ini ultrasound mulai dipergunakan secara luas dalam bidang akupunktur. Untuk menanggulangi penyakit dengan sonopunktur dapat dipergunakan 2 macam cara, yaitu pertama dengan memperhatikan adanya absorpsi panas pada jaringan tertentu dan efek mekanis seperti micro massage; maka dapat dipergunakan formula yang terdiri dari titik-titik akupunktur dekat dan jauh menurut letak kelainan. Kedua dengan menganggap bahwa energi ultrasonik dapat menggantikan jarum akupunktur, dapat dipergunakan cara dialektik dalam memilih titik-titik akupunktur dengan pemeriksaan akupunktur lengkap. KEPUSTAKAAN 1. Zach FS, Boynton B, Phillips K, Smith E. Lokalized application of ultrasound energy. Br J Phys Med 1957; 20 : 175 – 176. 2. Buchtala V. The present state of ultrasonic therapy. Br J Phys Med. 1952; 15 : 3 – 6. 3. Phillips K, Harriss RR, Robinson LF, Carter EF Sr. Therapeutic application of ultrasound energy. J Florida M.A. 1956; 43 : 341 – 346. 4. Baner AW. The present position of ultrasonics. Br J Phys Med. 1954; 17 : 97 – 101. 5. Friedland F. Present status of ultrasound in medicine. JAMA. 1976; 163 : 799 – 276. 6. Schwann HP, Carstensen EL. Advantages and limitations of ultrasound in medicine. JAMA. 1952; 149 : 121 – 125. 7. Summer W, Patrick MK. Ultrasonic therapy. A text book for physiotherapists. London : Elsevier, 1964. 8. Stuhlfauth K. Neural effects of ultrasonic waves. Br J Phys Med. 1952;15:10–14. 9. Phillips K, Smith EM, Biro LP, Boynton BL, Zach FS. Technical and clinical application of ultrasound energy. Br J Phys Med. 1954; 17 : 103 – 108. 10. Dyson M, Frank C, Suckling J. Stimulation of healing of varicose ulcers by ultrasound. Ultrasonic. 1976; 14 : 232 – 276. 11. Harvey W, Dyson M, Pond JB, Grahame R. The in vitro stimulation of protein synthesis in human fibroblasts by therapeutic levels of ultrasound. Proc 2nd. Eur Congr on Ultrasonic in Med. Excerpta Medica International Congress Series. 1975; 363 : 10– 21. 12. Webster DF, Dyson M, Harvey M. Ultrasonically induced stimulation of collagen synthesis in vivo. In Proc 45 h. Ultrasound in Biol. and Med Sympt. Edited by P. Greguss Visegard, Hungary, 1979; 1 : 135 – 140. Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 39
  • 41.
    Percobaan Awal Pembuatan AntibodiMonoklonal Terhadap "Human Chorionic Gonadotropin" Dengan Metoda Hibridoma Drh. Francisca Nasution Pusat Penelitian dan Pengembangan PT Kalbe Farma, Jakarta PENDAHULUAN Salah satu aplikasi antibodi monoklonal adalah untuk diagnostik. HCG (Human Chorionic Gonadotropin) adalah hormon yang dalam jumlah besar terdapat dalam air seni wanita hamil, terutama dalam 3 bulan pertama kehamilan. HCG berasal dari jaringan trofoblas yang diekskresikan ke dalam air seni, dan dapat diisolasi dari plasenta atau air seni wanita hamil1,2. Mencit balb C diimunisasi dengan Antigen HCG, sehingga hibrid yang terbentuk dari limfosit B mencit dan sel mieloma (NS 1 ), dengan bantuan PEG (polietilen glikol) dapat mempertahankan sifat dari keduanya, yaitu: kemampuan sel-sel B untuk menghasilkan antibodi spesifik — dalam hal ini HCG — dan imortalitas se] mieloma3,4 Mieloma tersebut harus bersifat non secretors, resisten terhadap 8 azaguanine, dan dapat diterima HAT3,4 (hipoksantin aminoptcrin timidin). Hasil fusi dari NS 1 dan sel imun limpa adalah campuran sel NS 1NS 1 , sel NS 1 -limpa, sel limpa-limpa. Aminopterin memblokir biosintesa dari purin, pirimidin dan glisin. Yang terakhir disebutkan dapat diatasi dengan memakai media RPMI 1640. Hipoksantin dan timidin membantu sel hasil fusi dalam sintesa nukleotida. (Lihat Gambar 1) Sel NS 1 resisten terhadap 8 azaguanin. Oleh karena itu, sel tersebut kekurangan enzim hipoksantin guanin fosforibosetransferase (HGPRTase) yang sebenarnya dibutuhkan untuk biosintesa nukleotida. Sel NS 1 -NS 1 serta sel mieloma NS 1 itu tidak dapat tumbuh karena biosintesa diblokir dengan HAT medium. Sel limpa normal dan sel limpa-limpa hasil fusi bersifat pasif, dan langsung akan terseleksi karena mempunyai potensial tumbuh yang terbatas dalam kultur. Dalam waktu 2 minggu umumnya mereka akan mati. Dalam hal sel NS 1 limpa (normal antibody producing cell), maka normal cell akan menyediakan suatu enzim yaitu HGPRTase yang dibutuhkan oleh fuse partner NS 1 . Selanjutnya sel hibrid akan menggunakan hipoksantin dari luar (dari medium HAT) untuk kemudian mensintesa nukleotida. Ini berarti sel dapat tumbuh terus dalam medium HAT. METODA & MATERI PERCOBAAN Alat Tissue culture hood, inkubator CO 2 kultur jaringan, autoklaf, mikroskop, mikroskop inversi, timbangan analitik, alat pemusing, penangas air, pH meter, tempat penyimpan nitrogen cair, Elisa reader, stop watch, pendingin -70°C, multi well plate, micro titer plate, drummond pipet aid dan peralatan kultur jaringan lainnya. Bahan dan Reagen Mencit balb C, sel mieloma NS 1 , feeder cell, human chorionic gonadotropin, PBS tween, dapar penyalut, peroksidase konyugat (ortofenilen-diamine), stopping solution, rabbit anti mouse lg G, media RPMI 1640; complete Freund adjuvant, media hipoksantin aminopterin timidine, 50% polietilen 40 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987
  • 42.
    glikol, foetal bovineserum, 8 azaguanine, DMSO(dimetil sulfoksida) . Prosedur Persiapan pertama adalah menumbuhkan dan memelihara mieloma. Dengan menggunakan media pertumbuhan RPMI 1640, sel mieloma disimpan dalam inkubator 37°C dengan 5% CO 2 . Biasanya mempunyai waktu ganda sesudah 16 — 24 jam. Banyaknya sel dihitung dengan hemacytometer dengan memakai vital stain. Di samping itu dikerjakan juga imunisasi mencit dengan antigen HCG (1000 IU/kg BB) yang telah diemulsikan dengan Gambar 2. Cara : Antigen dan imunisasi _ complete Frcund adjuvant secara intraperitoneal sebanyak 3 x suntikan dengan selang waktu 2 minggu. Tahap terakhir yaitu beberapa hari sebelum fusi, disuntikkan secara intravena. Selanjutnya dilakukan fusi, yaitu dengan 50% polietilen glikol antara sel mieloma dan sel imun limpa mencit balb C yang sudah disuntik dengan antigen HCG tadi. Kemudian tambahkan media HAT ke dalam kultur jaringan. Pada tahap ini terjadi proses seleksi sel NS 1 — NS 1, sel NS 1 — limpa dan sel li mpa — limpa. Untuk proses ini diperlukan waktu ± 2 minggu. Gambar 3. Mekanisme Seleksi tes Elisa yang dipakai untuk mengindentifikasi kultur yang menghasilkan antibodi itu secara metoda tidak langsung, yaitu dengan memakai orthofenilen diamin sebagai substrat dan rabbit anti mouse Ig G peroxidasc conjugate 1 : 1000. Serum hasil imunisasi diencerkan l : 200 dengan PBS Tween. Pembacaan dilakukan dengan Elisa reader pada panjang gelombang 490 nm. Sel positif kemudian diperbanyak, lalu sebagian disimpan untuk dibekukan dalam nitrogen cair dengan memakai 10% DMSO dan sebagian lagi untuk dikloningkan. Pengenceran yang dipakai untuk kloning adalah 5 cell/well, 1 cell/well dan 0,5 cell/well. Sebelum pengenceran untuk kloning dilakukan, feeder cell dipersiapkan. Mencit yang tidak distimulasi dan diimunisasikan diambil sel limpanya untuk ditambahkan sebanyak 1 x 10 c/well dan sebelum hibrid diletakkan di plate. Sesudah 7 hari koloni akan dilihat dengan mikroskop inversi. Wells yang mengandung lebih dari satu koloni akan dibuang Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 41
  • 43.
    dan supernatan yangmenghasilkan satu koloni dites kembali dengan Elisa. HASIL 1. Pertumbuhan sel mieloma NS 1 sesudah 44 jam rata-rata berlipat ganda 5.4 x, sesudah 68 jam = 13.6 x. 2. Secara mikroskopis, hibridoma mulai kelihatan kira-kira 6 - 7 hari setelah fusi. 3. Setelah dilakukan 2 x fusi dan dites dengan Elisa, didapat hibridoma seperti berikut pada fusi pertama : 2 well positif kedua : 10 well positif 4. Hibrid kemudian disimpan di nitrogen cair. Dua di antaranya sudah dicairkan kembali dan sudah dikloning. 5. Kloning juga sudah berhasil dilakukan, monoklonal biasa nya bulat dan simetris. supernatan kuning yang diduga mengandung antibodi yang didapat dari monoklonal tidak/ belum memberi hasil positif dengan tes Elisa. 3. Teknik pelaksanaan agak kasar. 4. Waktu tes Elisa kurang tepat dan cepat. 5. Jumlah sampel kurang banyak. KEPUSTAKAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. KESIMPULAN DAN DISKUSI Dari hasil percobaan telah didapat hasil sampai tahap kloning; tetapi monoklonal yang dihasilkan tersebut tidak/ belum spesifik terhadap HCG. Ini mungkin disebabkan oleh : 1. Sel hibrid yang didapat tidak stabil. 2. Antigen yang dipakai kurang murni (purified Beta HCG sangat mahal, US$ 150/100 ug, 1985). 42 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 9. 10. Ganong WF. Fisiologi Kedokteran. 1983; pp 360 - 95. Voller. The Enzym Linked Immunosorbent Assay (ELISA): A Guide with Abstracts of Microplate Application, 1979; pp 1 - 125. Chang TW. Monoclonal Antibodies: Preparation by Hybridoma Method and Application in Biological Research. Academic Press, 1982; pp 263 - 81. Mishell & Shiibi SM.Selected Methods in Cellular Immunology. San Francisco: WH Freeman and Co. 1980; pp 351 - 72. Chereminisoff & Quellette RP. Biotechnology, Techomic Publishing Co. 1976; pp 294 - 307. Appleton JA. Methods for Production of Monoclonal Antibodies. Agricultural Res Service 1984; p 50. Berkow R. The Merck Manual of Diagnosis and Therapy, Merck Sharp and Dohme Research Lab. 1985; p 1710. Hurrell JGR. Monoclonal Hybridoma Antibodies. CRC Press, 1985; pp 1 - 57. Voss EW. Immunochemistry, University of Illinois, 1980; pp 137 52. Rose. Manual Clinical Laboratory Immunology. Washington DC: American Society for Microbiology. 1986; pp 99 - 109. Dibawakan pada Simposium Bioteknologi Indonesia di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, pada tanggal 17-19 Februari 1987.
  • 44.
    Imunomodulator DR. Mathilda B.Widianto Jurusan Farmasi Institut Teknologi Bandung, Bandung PENDAHULUAN Suatu bidang baru farmakologi yang masih dalam taraf penggalian serta pertentangan adalah pengembangan senyawa yang dapat menstimulasi respon imun. Dasar pemikirannya adalah, senyawa semacam ini dapat digunakan untuk meningkatkan respon imun pasien yang menderita berbagai bentuk penyakit imunodefisiensi baik yang umum maupun yang selektif. Sejak zaman dulu sampai zaman modern saat inf, sudah dilakukan usaha medis yang disebut terapi stimulasi non spesifik. Penanganan yang dulu sering dilakukan, misalnya membuat abses buatan dengan minyak terpentin, membuat radang korosif lokal dengan cara dibakar, atau menahan aliran darah. Abadabad berikutnya disadari bahwa dengan menyuntikkan berbagai "zat perangsang", pertahanan terhadap infeksi dapat ditingkatkan. Sebagai contoh disuntikkan darah sendiri, susu, kasein dan otolisat bakteri. Tampaknya rangsang radang lokal dapat meningkatkan keseluruhan pertahanan tubuh terhadap penyakit. Apakah hal ini dapat dibuktikan dengan uji eksperimental pada hewan percobaan? Fauve melakukan percobaan sebagai berikut: mencit disuntik secara dorsal dengan magnesiumsilikat, suatu iritansia yang tak bertindak sebagai antigen. Beberapa hari kemudian hewan tersebut diinfeksi dengan berbagai kuman patogen antara lain bakteri, ragi juga dengan sel kanker. Berbeda dengan hewan kontrol, hewan yang diberi granuloma dapat bertahan hidup. pun humoral. Pertahanan non spesifik terhadap antigen ini disebut paramunitas, dan zat bersangkutan disebut penginduksi paraimunitas. Induktor semacam ini biasanya tidak atau sedikit sekali kerja antigennya, malahan sebagian bekerja sebagai mitogen yaitu menaikkan proliferasi sel yang berperan pada imunitas. Sel tujuan adalah makrofag, granulosit, limfosit T dan B; karena induktor paramunitas ini terutama menstimulasi mekanisme pertahanan seluler. Mitogen ini dapat bekerja langsung maupun tak langsung (misalnya melalui sistem komplemen atau limfosit, melalui produksi interferon atau enzim lisosomal) untuk meningkatkan fagositosis mikro dan makro (lihat gambar 1). Mekanisme pertahanan spesifik maupun non spesifik umumnya saling berpengaruh. Dalam hal ini pengaruh pada beberapa sistem pertahanan mungkin terjadi, hingga mempersulit penggunaan imunomodulator ini dalam praktek. APA YANG DIMAKSUD DENGAN IMUNOMODULATOR? Imunomodulator adalah senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik. Yang terutama terjadi adalah induksi non spesifik baik mekanisme pertahanan seluler mau - Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 43
  • 45.
    KARAKTERISTIKA IMUNOMODULATOR DANMETODE PENGUJI Aktivitas suatu senyawa yang dapat merangsang sistem imun tidak tergantung pada ukuran molekul tertentu. Efek ini dapat diberikan baik oleh senyawa dengan berat molekul yang kecil maupun oleh senyawa polimer. Karena itu usaha untuk mencari senyawa semacam ini hanya dapat dilakukan dengan metode uji imunbiologi saja. Termasuk di sini adalah metode in vitro dan in vivo, di mana dapat diukur pengaruh senyawa bersangkutan pada fungsi dan kemampuan sistem mononuklear, demikian pula kemampuan terstimulasi dari limfosit B dan T. Metode uji yang dapat digunakan dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Metode uji aktivitas imunomodulator Metode bersihan karbon ("Carbon—Clearance") Pengukuran secara spektrofluorometrik laju eliminasi partikel karbon dari daerah hewan. Ini merupakan ukuran aktivitas fagositosis. Uji granulosit Percobaan in vitro dengan mengukur jumlah sel ragi atau bakteri yang difagositir oleh fraksi granulosit yang diperoleh dari serum manusia. Percobaan ini dilakukan di bawah mikroskop. Bioluminisensi radikal 0 2 Jumlah radikal 0 2 yang dibebaskan akibat kontak mitogen dengan granulosit atau makrofag, merupakan ukuran besarnya stimulasi yang dicapai. Uji transformasi limfosit T Suatu populasi limfosit T diinkubasi dengan suatu mitogen. Timidin bertanda ( 3 H) akan masuk ke dalam asam nukleat limfosit 1. Dengan mengukur laju permbentukan dapat ditentukan besarnya stimulasi dibandingkan dengan fitohemaglutinin A (PHA) atau konkanavalin A (Con A). PERSYARATAN IMUNOMODULATOR Menurut WHO, imunomodulator haruslah memenuhi persyaratan berikut: — Secara kimiawi murni atau dapat didefinisikan secara kimia. — Secara biologik dapat diuraikan dengan cepat. — Tidak bersifat kanserogenik atau ko-kanserogenik. — Baik secara akut maupun kronis tidak toksik dan tidak mempunyai efek samping farmakologik yang merugikan. — Tidak menyebabkan stimulasi yang terlalu kecil ataupun terlalu besar. Hanyalah jika kriteria ini dipenuhi dengah hasil positif, barulah penggunaannya dalam terapi maupun sebagai profilaksis dapat dipertimbangkan. Imunomodulator digunakan path: — Terapi infeksi campuran; infeksi kronis; infeksi yang sudah resisten terhadap khemoterapetika terutama infeksi yang disebabkan virus dan bakteri. — Terapi penyakit ganas. — Dalam batas tertentu untuk terapi penyakit autoimun . — Kadang-kadang untuk kompensasi pengobatan dengan sitostatika. 44 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 "Timing" atau saat yang tepat pada pemberian imunomodulator ini penting untuk diperhatikan; kalau tidak, terapi ini tak berhasil. Variabel penentu lainnya adalah dosis dan cara applikasi. Induktor paramunitas ini hendaknya dibedakan dari adjuvan yang sering ditambahkan pada antigen. Penambahan adjuvan dimaksudkan untuk memperkuat kerja imunogen dari antigen, jadi memperkuat reaksi perlawanan yang spesifik. Dasar fungsional paramunitas (menurut A. Mayr) — Terjadinya peningkatan kerja mikrofag dan makrofag serta pembebasan mediator. — Menstimulasi limfosit (yang berperan pada imunitas tetapi belum spesifik terhadap antigen tertentu), terutama mempotensiasi proliferasi dan aktivitas limfosit. — Mengaktifkan sitotoksisitas spontan. — Induksi pembentukan interferon tubuh sendiri. — Mengaktifkan faktor pertahanan humoral non spesifik (misalnya sistem komplemen properdin-opsonin). — Pembebasan ataupun peningkatan reaktivitas limfokin dan mediator atau aktivator lain. — Memperkuat kerja regulasi prostaglandin. Beberapa imunomodulator yang sudah diteliti antara lain ekstrak organ atau darah (misal dari timus dan limpa, ekstrak embrio); ekstrak bakteri dan jamur (misal lipopolisakarida); endotoksin; ribosom bakteri; ekstrak tanaman; dekstran; hormon dan senyawa yang mirip hormon; lipida; protein dan hasil urai protein; senyawa anorganik; racun dari hewan). Timosin Peptida dengan 28 asam amino ini diisolasi dari kelenjar timus. Pada anak-anak serta awal masa dewasa kadar timosin tinggi, mulai turun pada usia 30—40 tahun dan rendah pada usia lanjut. Kadar serum pada defisiensi sel T (sindrom Di George) rendah. Pada uji in vitro limfosit yang diberi timosin ternyata jumlah sel akan bertambah. Efek transplantasi timus fetus pada sindom DiGeorge mungkin disebabkan timosin ini. Efek samping dapat ditolerir, walaupun kadang-kadang pada sekitar tempat penyuntikan terjadi reaksi kulit. Hasil yang didapat cukup memuaskan jika defisiensi sel T ringan, sedangkan pada kasus yang berat efek tak terlihat. BCG Pada beberapa zat dengan karakteristika antigen, stimulasi efek spesifik dan non spefisik sulit dibedakan. Jika pada saat bersamaan dan kalau mungkin pada tempat yang sama disuntikkan antigen + adjuvan misal secara SC atau IM, seperti pada BCG misalnya, maka sistem imunitas spesifik terhadap mikobakteri akan meningkat. Jika BCG digunakan IV, efek non spesifik akan lebih menonjol, dan dapat digunakan untuk membunuh sel tumor atau mencegah perbanyakan bakteri dan virus. Tempat kerja bersama efek spesifik dan non spesifik adalah makrofag. Aktivasi makrofag oleh BCG juga akan meningkatkan laju bersihan (clearance rate) kompleks imun dari darah. Sel T penting untuk kerja antikanker BCG ini. Pada hewan yang diberi serum anti T efek imunoterapi BCG
  • 46.
    diblokir. Ini dicobapada melanoma, sarkoma dan leukemia akut. BCG ternyata juga meningkatkan interferon serum. Levamizol Senyawa ini merangsang pematangan sel T pada kondisi respon imun yang berkurang. Pada sistem imun normal, levamizol tak bekerja. Hasil yang baik diperoleh pada penanganan poliartritis, sindrom Reiter dan multipel sklerosis; sedangkan penanganan tumor dalam bentuk monoterapi tak bermanfaat. Jika diberikan bersama senyawa sitotoksik, zat ini berbahaya, pemberiannya harus sedini mungkin pada fase remisi. Pada pemakaian kronis efek samping yang ditimbulkannya cukup berat yaitu gangguan neurologis (6%), gangguan saluran cerna (5%), reaksi hipersensitif (3%), nausea (13%) dan kadang-kadang agranulositosis. Karena saat pemilihan waktu pengobatan yang tepat cukup problematik srta karena efek sampingnya, senyawa ini jarang digunakan untuk maksud ini. Transfer factor Zat ini merupakan molekul RNA kecil atau peptida (BM sekitar 5000) yang berasal dari sel limfoid manusia. Disamping meningkatkan respon sel T terhadap antigen, juga senyawa ini merangsang sistem imun non spesifik dengan mekanisme yang belum jelas. Efeknya dapat sangat berhasil pada beberapa kasus kandidiasis kronis mukokutan tetapi tak berhasil pada pasien yang menderita imunodefisiensi berat campuran. Banyak yang mengatakan bahwa mungkin juga dapat digunakan pada penanganan sindrom Wiskott—Aldrich, sarkoma osteogenik dan tbc. Dosis TF didasarkan pada jumlah 9 limfosit yang ada dalam preparat (sekurang-kurangnya 10 limfosit). Sudah ada beberapa penelitian tentang uji aktivitas biologik, mekanisme kerjanya serta cara pemurnian zat ini. Interferon Glikoprotein ini berasal dari leukosit manusia, yang dibentuk oleh sel tubuh karena berbagai rangsang. Saat ini telah dikenal 3 jenis utama interferon yaitu a, Q, dan y. Alfa interferon (yang dulu disebut interferon leukosit) dibentuk oleh linfosit dan sel lain sistem limfatik. Ada sekitar 10 macam a interferon yang telah ditemukan. Beta interferon (dulu disebut interferon fibroblas) diproduksi oleh fibroblas. Gama interferon (yang disebut interferon imun) terbentuk dalam limfoblas setelah adanya pembebasan interleukin 2 akibat eksposisi antigen. Interferon dapat mengaktifkan enzim sitoplasma, yang mempengaruhi m—RNA. Diduga terjadi hal berikut: interferon akan berikatan dengan reseptor spesifik yang terdapat pada permukaan sel dan dapat menginduksi TIP (transfer inhibiting protein) yang bersifat antivirus. Aktivitas interferon sangat tinggi, 1 mg dapat melindungi 10 15 sel. Disamping itu interferon berperan meninggikan aktivitas sitotoksik limfosit T juga menghambat pembelahan sel seperti sel tumor. Alfa interferon dapat digunakan pada kasus infeksi virus pada mata dan hidung; efek sampingnya antara lain gejala yang mirip flu, kadang-kadang nausea, muntah, leukopenia serta trombositopenia. Beta interferon (Fiblaferon R ) digunakan untuk menanggulangi infeksi virus yang sulit diobati (misal virus ensefalitis, herpes zoster generalisatus, virus papiloma dan sebagainya). Senyawa yang berasal dari tanaman Asam aristolokhat: pada penelitian ternyata asam ini dapat meningkatkan aktivitas fagositosis serta dapat pula mengkompensasi pengurangan aktivitas fagositosis akibat kloramfenikol dan tetrasiklin. Senyawa dengan BM rendah lainnya yang juga mempunyai efek pada mekanisme pertahanan tubuh adalah N-alkaloida (sefarantin, tiloforin), terpen (ester diterpen, seskuiterpenlakton tertentu), senyawa fenolik (kleistantin; 2, 3 dihidroksibenzoat; asam klorogenat; asam ferulat, anetol); Iipida (ubikhinon, alkillisofosfolipida). Senyawa dengan BM tinggi Lektin: lektin tanaman dapat terikat pada limfosit T dan menyebabkan mitosis limfosit. Dari kelompok ini konkavalin A mempunyai aktivitas mitogen yang tinggi dan biasanya digunakan sebagai pembanding pada berbagai uji. Beberapa lektin bekerja spesifik sitotoksik dengan menginhibisi sintesis protein intraseluler atau dengan mengaktivasi sel "pembunuh". Polisakarida: polisakarida yang dapat menstimulasi sistem i mun ditemukan baik pada tanaman rendah maupun pada tanaman tinggi, sedikit dalam algea dan Lichenes. Kerjanya yaitu pada aktivasi makrofag, interferon atau sistem komplemen. Pada percobaan dengan hewan, pemberian polisakarida ini sebagai profilaksis terhadap infeksi Pseudomonas atau Staphylococcus ternyata memperbesar kemungkinan hidup hewan bersangkutan. Dari tanaman tinggi, fraksi polisakarida yang telah diteliti yaitu dari jenis Calendula, Solidago, Trifolium pratense, Viscum album, jenis Bryonia dan lain-lain. Baru-baru ini berhasil diisolasi dua heteroglikan asam yang larut air dari Echinacea purpurea (BM 35.000 dan 450.000) yang kemungkinan bekerja sebagai imunomodulator. Keduanya terdiri dari berbagai gula dalam perbandingan dan ikatan tertentu. Senyawa ini menstimulasi fagositosis, bekerja kuat pada limfosit T dan menginduksi produksi interferon. Hubungan struktur-aktivitas polisakarida juga sedang diteliti oleh para ahli. Senyawa yang kompleks dengan berat molekul yang tinggi lebih berkhasiat daripada senyawa dengan berat molekul yang rendah dan bangun yang linier. Beberapa tanaman yang sering digunakan untuk maksud ini antara lain: — Chamomilla recutita — Arnica montana — Baptisia tinctoria — Mangifera indica — Aconitum napelus — Eupatorium perfoliatum — Solanum nigrum dan lain-lain. KESIMPULAN Sampai saat ini penggunaan imunomodulator dalam pengCermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 45
  • 47.
    obatan masih banyakdipertentangkan. Mungkinkah pula bahwa obat tradisional yang banyak digunakan, yang kerjanya belum dapat dijelaskan didasarkan pada dasar kerja i munologik ini ? Bagaimana kita menjelaskan kerja akar ginseng, kayu guayak dan sebagainya ? Apakah kerja imunologik saponin ? Terapi dengan imunomudulator mungkin dapat dikembangkan lebih lanjut asal saja ada kriteria yang jelas, baik tentang cara aplikasi, dosis, keadaan pasien dan sebagainya. Kemajuan yang sudah dicapai saat ini adalah bahwa dengan suatu konsep modern tentang paramunitas telah berhasil dilakukan alih bahasa pemikiran tradisional ke bahasa ilmiah modern; ini tentu merupakan syarat bagi perkembangan lebih lanjut. KEPUSTAKAAN 1. Chattopadhyay U, Cjaudhuri L, Ghosal S. Pharm Research, 1986; 46 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 3 : 307-308. 2. Batsford S, Kluthc R, Vogt A. Planta Med, 1980; 29: 234. 3. Clajk WR. The Experimental Foundations of Modern Immunology, 2 nd ed. Canada: John Wiley sons, 1983. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Hansel R. Dysch Ap Ztng, 1984; 124: 54-9. Wagner H. Dtsch Ap Ztng, 1983; 123: 821-2. Von Bruchhausen. Dtsch Ap Ztng, 1982; 122: 843-9. Mose JR. Planta Med, 1963; 11: 72-91. Ghosal S, Biswas K, Chattopadhyay BK. Phytochem, 1978; 17: 689-694. Chattopadhyay S, et al. Pharm Reserarch, 1984; 6: 279-282. Bahr V, Hansel R. Planta Med, 1982;44: 32-3. Mutschler E. Arzneimittelwirkungen, 5 Aufi. Stuttgart: Wissenschaftliche Verlagsgesellschaft mbH, 1985. Lawlor GJ, Fischer TJ. Manual of Allergy and Immunology. Boston: Little Brown Co. 1981. Scott GM. J Am Med Assoc, 1985; 1, 8: 16.
  • 48.
    Gambaran Preskripsi Obat-obat BenzodiazepinPada Tiga Rumah Sakit Kelas C di Jawa Ellen Wijaya, Nani Sukasediati *, Hertiana Ayati Puslitbang Farmasi BPPK DepKes RI PENDAHULUAN Benzodiasepin adalah sekelompok obat golongan psikotropika yang mempunyai efek antiansietas atau dikenal sebagai minor tranquilizer, dan psikoleptika. Indikasi kelompok ini antara lain untuk mengurangi ansietas yang patologis, ketegangan, agitasi, tanpa mempengaruhi fungsi kognitif dan proses persepsi . Salah satu anggota kelompok ini, diazepam memiliki efek pelemas otot yang seringkali digunakan untuk keadaan kejang yang memerlukan pelemas otot rangka. Pada keadaan tertentu masih digunakan sebagai premedikasi anestesi sebelum pembedahan. Penggunaan benzodiazepin dalam pelayanan kesehatan jiwa belum banyak diungkapkan. Survei pola preskripsi benzodiazepin di Jakarta (1980), mendapatkan ± 10% dari resep apotek swasta mengandung benzodiazepin2 . Resep apotek swasta umumnya ditulis oleh dokter praktek swasta yang pola preskripsinya mungkin berbeda dengan dokter rumah sakit atau puskesmas. Pola penulisan resep benzodiazepin pun dapat berbeda, karena perbedaan tingkat kehidupan sosial dan ekonomi para pengunjung pelayanan kesehatan tersebut. Penelitian ini yang dilakukan di apotek rumah sakit, bertujuan mencari gambaran preskripsi benzodiazepin dari apotek rumah sakit kelas C, yang antara lain merupakan rujukan penderita puskesmas. Penderita yang mengunjungi rumah sakit ini diandaikan berasal dari masyarakat m enengah bawah yang tingkat kehidupan mungkin berbeda dengan pengunjung praktek dokter swasta. BAHAN DAN CARA Sampel adalah resep penderita rawat jalan dari apotek rumah sakit kelas C, yaitu RSU Tasik, RSU Serang dan RSU Disajikan pada Kongres Nasional XII/Kongres Ilmiah VI ISFI di Yogyakarta 10—13 November 1986. * Penyaji makalah Koja. Resep diambil pada 4 bulan musim 1983 yaitu : — Januari : musim penghujan — April : peralihan musim penghujan dan kemarau — Juli : musim kemarau — Oktober : peralihan musim kemarau dan penghujan Dari resep-resep tersebut dipisahkan resep yang mengandung psikotropika, khususnya yang mengandung benzodiazepin. Data yang dicatat meliputi : — jenis dan jumlah benzodiazepin yang dipreskripsi — jenis dokter penulis resep (dokter umum atau dokter ahli) — usia penderita — rejimen terapi yang meliputi lama pemberian, dosis dan bentuk sediaan Penelitian ini berupa survei retrospektif. Sampel diambil secara purposive stratified random sampling. Apotek rumah sakit dan waktu ditetapkan secara purposif, sedangkan resep diambil secara stratified random sampling. Data yang telah dicatat kemudian ditabulasi, dihitung prosentasenya dan dianalisa untuk mendapatkan gambaran preskripsi benzodiazepin dari tabel univariat. HASIL Pengumpulan sampel pada waktu tersebut mendapatkan 5225 lembar resep rawat jalan. Setelah diklasifikasi , diperoleh 1582 lembar resep psikotropika (30,3%) yang mengandung 1127 item obat golongan psikotropika sediaan tunggal. Sediaan tunggal benzodiazepin diperoleh sebanyak 475 item atau 42,1% dari jumlah item psikotropika (tabel I). Bila dirinci lebih lanjut, ternyata diazepam merupakan obat yang paling banyak dipreskripsi (sekitar 60,0%) dan klordiazepoksid menduduki tempat kedua (sebanyak 18,7%) seperti pada tabel II. Tabel III adalah prosentase jenis keahlian dokter penulis resep benzodiazepin. Dari seluruh resep benzodiazepin ini, Cermin Dunia Kedokteran No. 4 4, 1987 47
  • 49.
    64,6% ditulis olehdokter umum dan hanya 12,4% ditulis oleh ahli kesehatan jiwa, dan 6,3% ditulis oleh ahli penyakit saraf. Dokter ahli lain yang tercatat sebagai penulis resep benzodiazepin antara lain ahli bedah, ahli kebidanan dan kandungan, ahli penyakit mata, ahli penyakit kulit dan kelamin serta dokter gigi. Tabel I. Distribusi frekuensi 1127 item obat psikotropika yang dipreskripsi pada 3 RS kelas C (1983) Kelompok psikotropika A. B. C. n % Neuroleptika turunan fenotiazin turunan butirofenon 90 13 7,9 1,2 1 475 528 0,1 42,1 46,9 20 1,8 Anxiolitika turunan meprobamat turunan benzodiazepin turunan barbiturat Antidepresan Trisiklik Jumlah 1127 100,0 Tabel II. Distribusi frekuensi preskripsi 475 item turunan benzodiazepin yang dipreskripsi di RS kelas C (1983) Jenis benzodiazepin n % Klorodiazepoksid 89 288 71 2 17 5 1 2 18,7 60,6 14,9 0,5 3,6 1,1 0,2 0,5 Diazepam Klobazam Klorazepat Lorazepam Prazepam Temazepam Bromazepam Jumlah 475 100,0 Tabel III. Distribusi prosentase jenis keahlian dokter penulis resep ben- zodiazepin di 3 RS kelas C (1983) % Jenis keahlian dokter 1. 2. 3. 4. 5. 6. Dokter umum Dokter ahli kesehatan jiwa Dokter ahli kesehatan anak Dokter ahli penyakit dalam Dokter ahli penyakit saraf Lain-lain keahlian 64,6 12,4 0,8 10,5 6,3 5,4 100,0 Jumlah Tabel IV. Distribusi frekuensi dan prosentase preskripsi benzodiazepin berdasarkan lama pemberian (1983) lama pemberian dan % * klordiazepoksid diazepam klobazam lorazepam klorazepat prazepam temazepam bromazepam keseluruhan benzodiazepin 1-3 hari 4-5 hari > 6 hari % Jenis benzodiazepin % % 73,4 71,1 65,0 48,5 26,3 26,6 27,3 53,0 42,5 73,7 100 50,0 45,0 31,3 1,6 - -- 50,0 55,0 66,9 9,1 1,4 * Prosentase dihitung dari jumlah masing-masing kelompok 48 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 Tabel V. Dosis harian rata-rata preskripsi benzodiazepin sediaan tunggal, berdasarkan bentuk sediaan (1983) Jenis benzodiazepin dosis harian rata-rata (mg) tablet/kapsul klordiazepoksid diazepam klorazepat klobazam prazepam temazepam bromazepam puyer 14,7 17,9 9,4 21,2 11,9 13,4 4,8 8,1 4,6 8,0 12,5 -2,9 Tabel VI. Distribusi prosentase preskripsi jenis benzodiazepin menurut usia penderita, di 3 RS kelas C (1983) < 12 th Jenis benzodiazepin > 12 th n klordiazepoksid diazepam klobazam keseluruhan jenis benzodiazepin * % n % 2 20 2 24 2,2 6,9 2,8 5,0 81 242 57 407 91,0 84,0 80,3 85,7 Prosentase dihitung dari Jumlah masing-masing kelompok Jenis. Beberapa unsur rejimen terapi antara lain lama pemberian dosis dan bentuk sediaan, dicatat juga dalam survei ini. Lama pemberian benzodiazepin yang tercatat paling banyak berkisar antara 1-3 hari, sebanyak 66,9% seperti terlihat pada tabel IV. Sedangkan dosis harian rata-rata masih berada dalam batas dosis lazim (tabel V). Usia para penderita yang menerima obat benzodiazepin diperoleh dari usia yang ditulis oleh dokter pada resep. Tabel VI memperlihatkan bahwa sebagian besar resep benzodiazepin ditujukan pada penderita di alas usia 12 tahun (85,7%), dan hanya sebagian kecil ditujukan untuk anak di bawah usia 12 tahun. PEMBICARAAN Pada survei ini diperoleh prosentase resep psikotropika yang lebih tinggi dari hasil survei sebelumnya (10%). Survei serupa terhadap obat-obat sedativa pada beberapa apotek swasta di Medan mengungkapkan, sekitar 17% dari resep umum adalah resep yang mengandung sedativa 3 . Padahal asumsi sebelumnya dikatakan, pengunjung rumah sakit kelas C berbeda dengan pengunjung praktek dokter swasta, dan diharapkan penggunaan psikotropika yang lebih rendah. Namun kenyataannya tidak demikian. Faktor perkembangan waktu yang diikuti perkembangan tingkat hidup masyarakat mungkin merupakan salah satu penyebab meningkatnya penggunaan psikotropika. Di samping itu kemajuan tingkat pengetahuan masyarakat semakin menyadarkan mereka akan pentingnya pelayanan kesehatan masyarakat dan mungkin disertai dengan semakin baiknya pelayanan kesehatan pemerintah, sehingga tidak ada perbedaan kelas sosial pengunjung rumah sakit atau praktek dokter swasta. Hasil survei ini menjadi semakin menarik karena hampir setengah dari`seluruh item psikotropika (42,1%) adalah golongan benzodiazepin, dan sebagian besar adalah diazepam (60,6%). Inipun sesuai dengan survei di Medan bahwa diazepam adalah obat yang paling dipreskripsi di antara golongan obat sedativa 3 .
  • 50.
    Dosis benzodiazepin yangdiberikan masih berada dalam batas dosis lazim yang wajar. Diazepam dengan dosis harian rata-rata 17,9 mg masih ada dalam batas dosis yang lazim, 5—30 mg/hari. Demikian pula halnya klordiazepoksid, dosis harian rata-rata sebesar 14,7 mg mendekati dosis yang dianjurkan untuk antiansietas antara 15—25 mg/hari. Klordiazepoksid adalah benzodiazepin yang banyak dipreskripsi setelah diazepam. Bila ditinjau dari lama pemberian obat, paling banyak hanya diberikan selama 5 hari. Di sini tampaknya benzodiazepin tidak dipreskripsi untuk jangka waktu lama, seperti umumnya diberikan pada penderita gangguan jiwa. Adanya kenyataan bahwa penulis resep sebagian besar adalah dokter umum (64,6%) nampaknya mendukung kemungkinan di atas. Penggunaan oleh ahli kesehatan jiwa justru tidak banyak. Meskipun demikian, penggunaan oleh dokter umum bukan berarti tidak rasional. Data diagnosa tidak dicakup pada survei ini, sehingga tidak dapat diketahui adanya misuse, abuse dan overuse. Dari survei pola penggunaan obat di beberapa puskesmas dan rumah sakit, terungkap bahwa diazepam seringkali dikom4 binasikan dengan beberapa obat untuk mengatasi gejala flu . Data ini agaknya sejalan dengan yang didapat pada penelitian ini, di mana preskripsi tersebut ditujukan pada penderita bukan akibat gangguan jiwa. Dugaan ini ditarik dari kenyataan di atas bahwa benzodiazepin sebagian besar dipreskripsi oleh dokter umum, dalam batas dosis terapi yang lazim dan diberikan dalam waktu tidak lebih dari 5 hari. Dari rejimen terapi ini agaknya yang diharapkan adalah efek sedasi atau ansietas ringan pada penderita biasa. Resep yang ditulis oleh ahli kesehatan jiwa mungkin ditujukan untuk menatasi ansietas pada penderita gangguan jiwa. Sedangkan sebagian kecil yang ditulis oleh ahli penyakit saraf mungkin juga dimaksudkan untuk hal yang sama. Namun masih ada kemungkinan lain, yaitu sebagai terapi alternatif pada kasus epilepsi — karena diazepam khususnya — memiliki efek pelemas otot rangka, meskipun fenitoin masih merupakan obat pilihan utama untuk kasus epilepsi l Sedangkan yang dipreskripsi oleh dokter ahli lain seperti ahli bedah atau ahli penyakit anak, tidak dapat dipastikan untuk keadaan atau indikasi apa. Pada premedikasi anestesi sebelum pembedahan diazepam hanya digunakan pada keada- an-keadaan tertentu s . Data tambahan yang menggembirakan adalah bahwa rumah sakit kelas C yang terpilih, telah memiliki keahlian lebih dari yang diharuskan. Kenyataan inipun sejalan dengan hasil survei penggunaan obat esensial di 5 rumah sakit kelas C lainnya, di Jawa 6 . KESIMPULAN DAN SARAN Dari pembicaraan di atas, dapat disimpulkan : — benzodiazepin yang dipreskripsi mencapai hampir setengah dari resep psikotropika — Diazepam dan klordiazepoksid merupakan benzodiazepin yang paling banyak dipreskripsi indikasi benzodiazepin lebih mungkin sebagai ansietas ringan dan sedativa pada penderita bukan akibat gangguan jiwa, berdasarkan analisa terhadap rejimen terapi — kemungkinan adanya misuse, abuse ataupun overuse tidak dapat terlihat karena data diagnosa tidak tercakup. Meskipun demikian, golongan obat ini hendaknya diperhatikan dengan serius. — penggunaan benzodiazepin dan psikotropika umumnya perlu dimonitor dari waktu ke waktu. Survei serupa ini yang dihubungkan dengan pola penyakit setempat pada saat itu dapat menjadi indikator kemungkinan penggunaan yang tidak rasional. Survei penggunaan obat ini yang dikaitkan langsung dengan diagnosa akan memberikan gambaran yang lebih nyata akan kemungkinan penyalahgunaan atau penggunasalahan. KEPUSTAKAAN 1. Santosa OS, Darmansyah I. Psikotropika. Dalam Gan S (ed), Farmakologi dan Terapi Ed 2, Bagian Farmakologi FKUI Jakarta; 1980. 2. Reverger R. Survei pola penulisan resep benzodiazepin di Jakarta. Majalah Psikiatri, Desember 1980. 3. Datten Bangun dkk. Penggunaan obat-obat sedativa di kodya Medan, diteliti melalui resep dokter. Bagian Farmakologi FK-USU Medan. Disajikan pada Konas IKAFI VI, Manado Oktober 1986. 4. Retno Gitawati dkk. Penelitian pola penggunaan obat di rumah sakit kelas C dan D serta beberapa puskesmas. Puslitbang Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI 1984. 5. Rahardjo K. Bagian Anestesi FKUI/RSCM. Komunikasi pribadi. 6. Nani S dkk. Penggunaan obat esensial beberapa rumah sakit kelas A, B, C dan puskesmas di Jawa. Puslitbang Farmasi BPPK Depkes RI 1985. Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 49
  • 51.
    Dilema pada HewanPercobaan untuk Pemeriksaan Produk Biologis M. Edhie Sulaksono Pusat Penelitian Penyakit Menular Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI PENDAHULUAN Produk biologis atau tepatnya bahan biologis menurut WHO dibedakan sesuai dengan asalnya, yaitu yang berasal dari mikroba (vaksin, reagen diagnosa, antibiotik dan beberapa enzim), dan yang berasal dari hewan atau manusia (sera, blood product, hormon dan vitamin). Bahan-bahan tersebut meliputi pula bahan seperti alergen yang digunakan untuk diagnosa dan terapi. Bahan-bahan biologis tersebut di atas biasanya digunakan untuk manusia melalui suntikan, dan setiap obat atau bahan yang akan disuntikkan seharusnya telah diperiksa dengan teliti agar aman dan memberikan khasiat. Oleh karenanya, terhadap bahan-bahan tersebut banyak dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan baik terhadap sifat-sifat fisik maupun kimia, sterilitas, toksisitas (keamanan) maupun potensinya. Dua pemeriksaan terakhir ini (pemeriksaan toksisitas dan potensi) biasanya melibatkan atau menggunakan hewan percobaan. Penggunaan hewan percobaan di sini mempunyai tujuan yaitu untuk mendapatkan data secara in-vivo terhadap efek yang akan terjadi, serta kekuatan yang dimiliki dari bahan biologis yang diperiksa. Sehubungan dengan ini, hewan percobaan yang digunakan harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain : 1) Sedapat mungkin hewan percobaan yang akan digunakan bebas dari kuman patogen, karena adanya kuman patogen pada tubuh hewan sangat mengganggu jalannya reaksi pada pemeriksaan tadi, sehingga dari segi ilmiah hasilnya kurang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya, berdasarkan tingkatan kontaminasi kuman patogen, hewan percobaan digolongkan menjadi hewan percobaan konvensional, specified pathogen free dan gnotobiotic. 2) Mempunyai kemampuan dalam memberikan reaksi imunitas yang baik. Hal ini ada hubungannya dengan persyaratan pertama. 3) Kepekaan terhadap sesuatu penyakit. Hal ini menunjukkan tingkat suseptibilitas hewan terhadap penyakit. 4) Performan atau prestasi hewan percobaan yang dikaitkan 50 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 dengan sifat genetiknya. Dari keadaan tersebut di atas, timbul beberapa dilema dalam hal penyediaan hewan percobaan, misalnya penyakit, lingkungan, seleksi dan pengelolaan. PENGGUNAAN HEWAN PERCOBAAN UNTUK PEMERIKSAAN BAHAN BIOLOGIS Karena luasnya penggunaan hewan percobaan yang dapat melibatkan berbagai disiplin ilmu, di bawah ini akan diuraikan beberapa pemeriksaan yang menggunakan hewan percobaan, antara lain : 1) Pemeriksaan toksisitas (keracunan) atau safety, yang tujuannya adalah untuk mengetahui komponen racun atau batasbatas yang dapat diterima. Pemeriksaan ini dilakukan terhadap semua jenis bahan biologis. 2) Pemeriksaan potensi, dilakukan untuk menentukan kekuatan atau kemampuan atau potensi suatu produk biologis. 3) Pemeriksaan atau percobaan terhadap adanya substansi pirogen di dalam bahan biologis (misalnya : cairan infus), yang tujuannya adalah untuk mengetahui apakah bahan tersebut mengandung substansi pirogen atau tidak. Prosedur pemeriksaan untuk masing-masing negara dapat berbeda satu sama lainnya. Untuk pemeriksaan tersebut di atas, WHO menganjurkan dengan persyaratan minimum. Adapun hewan percobaan yang sering digunakan untuk pemeriksaan-pemeriksaan di atas adalah : mencit (laboratory mouse), tikus (laboratory rat), kelinci dan marmut. Hewan-hewan ini biasanya dipilih berdasarkan beberapa persyaratan, antara lain : sehat, berat tertentu, jenis kelamin tertentu dan digunakan dalam jumlah tertentu pula. Syarat-syarat tersebut memiliki pengertian yang luas dan tidak mudah dipenuhi. Oleh karenanya diperlukan beberapa pemeriksaan atau pengamatan terlebih dahulu terhadap : 1) Hewan percobaan : yaitu meliputi strain yang menyangkut
  • 52.
    tentang sifat-sifat khasnya,manajemen pemeliharaan, umur yang dikaitkan dengan berat badannya, jenis kelamin dan data fisiologisnya. Dengan demikian jelas bahwa strain hewan percobaan harus sesuai atau cocok dengan tujuan pemeriksaan. Tiap negara terutama negara maju biasanya mengembangkan strain hewan sendiri, agar dapat menemukan hewan yang baik untuk kondisi negara tersebut. Dapat diambil contoh, di Jepang telah dikembangkan strain lokal di samping memelihara strain dari luar negeri. Demikian pula di Australia, terdapat mencit jenis outbred ada 12 strain lokal, kelinci 15 strain lokal. 2) Lingkungan : yaitu meliputi temperatur ruangan; kelembaban ruangan; tekanan udara; sirkulasi udara; tempat hidupnya (kandang) baik mengenai ukuran, bahan maupun bentuknya; bedding (alas kandang); kebisingan suara dan personil yang menangani; keadaan nutrisinya (makanan dan minuman). Dengan terciptanya suatu lingkungan yang baik, akan memberikan kesempatan pada hewan percobaan untuk hidup dan bertumbuh sesuai dengan bakat atau sifat-sifat genetik yang dimilikinya. Menurut SHORT, D.J dan WOODNOTT, D.P (1963) dalam bukunya The IAT, Manual of Laboratory Animal Practice and Techniques, jenis-jenis hewan percobaan mencit, marmut dan kelinci temperatur ruangan yang direkomendasikan adalah : 22,2°C; 15,5°C dan 12,77°C, sedangkan kelembaban relatif bervariasi antara 45—55% untuk semua hewan tersebut. Keadaan semacam ini sukar dicapai terutama untuk daerah dataran rendah. 3) Uji performan atau prestasi hewan percobaan : yaitu untuk menentukan kemampuan hewan percobaan dalam memberikan suatu reaksi atau mempertahankan sifat khas dari populasinya. Untuk pemeriksaan ini diperlukan kepastian kelompok hewan atau keseragaman genetik, hingga variasi individuil tidak banyak. Dari beberapa penjelasan tersebut di atas, dapat ditarik kesi mpulan bahwa penggunaan hewan yang tidak jelas sumbernya atau sistem pemeliharaannya tidak mengikuti aturanaturan tertentu, tetap akan mempersulit dalam memperoleh kesimpulan dalam pemeriksaan suatu bahan biologis. MASALAH PENYAKIT Pada pendahuluan telah dijelaskan bahwa adanya penyakit hewan percobaan sangat mengganggu jalannya reaksi pada pemeriksaan bahan biologis, sehingga dari segi ilmiah hasilnya kurang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya hewan percobaan yang akan digunakan dalam pemeriksaan-pemeriksaan tadi, sedapat mungkin terhindar dari penyakit. Untuk itu diperlukan usaha yang dapat menjamin kualitas hewan percobaan. Usaha-usaha yang harus dilakukan adalah : 1. Pengawasan terhadap penyakit secara periodik terhadap koloni hewan yang ada. 2. Setiap hewan percobaan yang berasal dari luar terlebih dahulu harus dikarantinakan. 3. Menangkap dan memeriksa hewan yang ada di luar koloni (misalnya karena lepas). 4. Melakukan pencatatan rutin untuk setiap kejadian pada hewan percobaan dengan baik. 5. Segera melakukan tindakan pencegahan apabila dijumpai kasus penyakit pada hewan percobaan (misalnya hewan percobaan yang terkena ekto parasit, segera dilakukan dipping atau dicelupkan ke dalam larutan anti parasit). SELEKSI HEWAN PERCOBAAN Seleksi pada hewan percobaan dilakukan terhadap jenis kelamin, berat badan, physical appearance dan sifat keturunan agar memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan bahan biologis. Pekerjaan ini sebenarnya memakan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Namun karena dampak terhadap hasil yang diperoleh sangat besar, maka faktor pembiayaan, tenaga maupun waktu tersebut bukan lagi merupakan masalah. Dalam melakukan seleksi ini harus benar-benar terencana untuk jangka panjang menurut aturan yang tertentu dan pengawasan yang ketat, sehingga dalam hal ini diperlukan adanya sistem pencatatan yang baik. Dalam kegiatan seleksi ini diperlukan personil yang benar-benar menguasai bidangnya, loyal terhadap pekerjaannya dan jujur dalam melakukan tugasnya. NUTRISI Di samping faktor hewan percobaan dan lingkungan, makanan hewan memegang peranan penting khususnya dalam pemeriksaan ini. Makanan di samping harus mengandung nilai gizi yang diperlukan untuk tumbuh dan berproduksi, harus pula dibuat agar hewan menyukai makanan tersebut (ditinjau dari segi rasa). MASALAH "STRAIN" HEWAN PERCOBAAN DAN PERTUMBUHAN BERAT BADAN Di dunia ini telah terbentuk ratusan strain hewan percobaan yang telah memiliki sifat genetik yang khas. Sifat ini terus dikembangkan sehingga hewan tersebut telah menjadi model yang baik untuk kepentingan kesejahteraan manusia. Bagi strain hewan yang mempunyai kemampuan pertumbuhan yang cepat, sangat baik untuk pemeriksaan yang tolok ukurnya adalah pertambahan berat badan. Berat badan tidak cukup dipakai sebagai kriteria bahwa hewan tersebut bisa digunakan untuk pemeriksaan bahan biologis, tetapi juga pertambahan berat setiap harinya. Pertambahan berat badan suatu hewan percobaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor strain hewan dan makanan. Pertambahan berat badan sendiri secara sempit dapat digunakan sebagai indikator bagi hewan yang sehat. Apabila pola pertumbuhan berat badan sudah dapat diketahui untuk suatu strain hewan, maka dengan sendirinya perubahan pola oleh suatu perlakuan menunjukkan besarnya pengaruh perlakuan. Bagi hewan yang tidak mendapat perlakuan (hewan kontrol), pertumbuhannya tidak seperti yang diharapkan (menyimpang dari pola populasinya). Di sini harus dicari sebab-sebabnya, misalnya apakah ada perbedaan antara faktor lingkungan hewan tempat percobaan (pemeriksaan) dengan tempat hewan diproduksikan. Untuk mengatasi ini biasanya pemakai hewan paling tidak harus membuat lingkungan yang sama atau lebih baik dari keadaan semula, yaitu antara keadaan di tempat percobaan dan tempat asal hewan. Membuat lingkungan dan manajemen yang baik di tempat percobaan, lebih sederhana sifatnya daripada memaksakan hewan untuk menyesuaikan lagi dengan kondisi yang kurang baik. Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 51
  • 53.
    PENUTUP Untuk dapat menghasilkanhewan yang berkualitas tinggi diperlukan kegiatan yang terus menerus, baik dalam pengawasan penyakit, kegiatan reproduksi maupun pengawasan terhadap lingkungan. Oleh karenanya, menghasilkan hewan percobaan yang baik merupakan kegiatan yang mempunyai aspek tersendiri dan cakupan yang luas, baik dalam bentuk konsepsional maupun teknologi praktisnya. KEPUSTAKAAN 1. Hafez ESE. Reproduction and Breeding Techniques for Laboratory 52 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 Animals, Philadelphia: Lea dan Febiger, 1970. 2. Maddalena. The John Curtin School of Medical Research. The Australian National University Survey of Laboratory Animals Being Maintained in Australia, Sutherland: AAEC Research Establishment, 1979. 3. Short DJ and Woodnott DP. The IAT, Manual of Laboratory Animal Practice and Techniques, 1st ed, London: Crosby Lockwood Son, 1963. 4. Ufaw. The Ufaw Handbook on the Care and Management of Laboratory Animals, fifth ed, New York: Churchill Livingstone, 1976. 5. WHO Expert Committee on Biological Standardization. Development of a National Control Laboratory for Biological Substances, twenty second report, Geneva, 1970.
  • 54.
    APLIKASI SEREBAL CERETEC PADA "SCANNING"PERFUSI Dalam dua dekade terakhir ini, banyak dilakukan studi mengenai perubahan perfusi serebral pada berbagai keadaan neurologik dengan menggunakan radio isotop. Walaupun demikian, masih banyak ditemukan berbagai masalah dalam perilaku senyawa bertanda, karakteristik fisika dari radio isotop yang digunakan, serta peralatan yang diperlukan. Sebagai contoh, studi mengenai perubahan perfusi serebral sangat penting dilakukan pada luka kepala akut. Beberapa pendekatan dengan menggunakan radionuklida telah dicoba dengan, menggunakan peralatan kedokteran nuklir yang canggih, tetapi masih saja tidak dapat mengatasi masalah, seperti : • Penderita yang dalam keadaan koma, dan dikoneksi dengan peralatan monitoring jantung-pernafasan dan peralatan resusitasi, atau penderita memerlukan sedasi yang cukup. • Peralatan monitoring pada sisi tempat pembaringan menggunakan alat eksternal telah dicoba, akan tetapi timbul masalah baru dalam pengaturan posisi yang tergantung pada operator, sehingga penggambaran yang diinginkan tidak diperoleh. • Pengiriman penderita ke bagian kedokteran nuklir harus dilakukan dengan perawatan khusus dengan fasilitas resusitasi yang adekuat. Penderita harus didampingi oleh dokter dan perawat. • Tidak tersedianya radiofarmasi yang diperlukan untuk penelitian perfusi serebral setiap saat. Dengan ditemukannya X-ray Computerized Tomography, penggunaan radionuklida dalam penelitian serebral mulai ditinggalkan. Penemuan Iodine—123 dan Iodoamfetamin pada mulanya menguak harapan baru, tetapi tidak dapat dipakai secara luas karena waktu paruh yang pendek, kemurnian, serebral pada luka kepala akut, misalnya akibat kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas semakin meningkat di berbagai negara dan telah memakan banyak korban. Pada saat penderita kecelakaan dibawa ke bagian gawat darurat, perhatian utama dari keluarga korban adalah mengenai prognosis dan tingkat kerusakan intrakranial. Kegunaan X-ray CT hanya terbatas selama 24 jam dan kurang sensitif, sedangkan penggunaan Ceretec lebih sensitif dibandingkan X-ray CT. Terutama pada pemeriksaan segera setelah kecelakaan dan memberikan gambaran prognosis penderita yang reliabel. Adanya lesi serebral dapat dideteksi lebih cepat dengan gambaran yang lebih jelas. Semuanya ini memungkinkan prediksi prognosis yang lebih baik dan lebih cepat. Dengan ditemukannya Ceretec ini, peranan kedokteran nuklir di masa mendatang akan semakin besar dalam memprediksi prognosis luka kepala akut. Pada pengembangan selanjutnya, diharapkan waktu yang diperlukan pada pemeriksaan akan lebih pendek, yaitu dalam waktu 10 menit sudah diperoleh data dan gambaran perfusi serebral penderita. VSR F:I.R.S.T. Reactions No 8, 1987 harga yang mahal dan kontinuitas produksi. Dua hal yang harus dipenuhi suatu radionuklida agar dapat dipakai pada scanning serebral, yaitu : 1) Tersedianya alat SPECT (Single Photon Emission Tomography). 2) Radiofarmasi harus memenuhi beberapa persyaratan: berat molekul rendah, tidak bermuatan, efisiensi penandaan yang tinggi, stabil in vitro, mampu berdifusi dengan mudah melalui sawar darah otak, dan efisiensi ekstraksi yang tinggi. Kedua persyaratan di atas dipenuhi oleh suatu senyawa radionuklida baru, yaitu Tc—99m d, 1 hexamethyl-propylene amineoxime, atau Tc—99m d, 1 HM—PAO, atau Ceretec. Ceretec sedang dikembangkan aplikasinya pada stroke, epilepsi, demensia, metastasis otak, migraine, dan perdarahan otak sepintas. Penggunaan Ceretec pada Luka Kepala Akut Ceretec telah digunakan untuk meneliti perubahan perfusi Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 53
  • 55.
    TEPATKAH TINDAKAN SAUDARA??? Seorang pasien lama, ibu rumah tangga, sarjana, dan bekerja sebagai staf dari suatu perusahaan datang berkonsultasi. Keluhannya berupa bintik -bintik berisi air di sekitar kemaluan. Pemeriksaan fisik dan laboratorium menyatakan vesikel tersebut adalah akibat herpes genitalis, sejenis penyakit virus yang ditularkan melalui hubungan seksual. Setelah diterangkan kepada nyonya tersebut bahwa penyakit ini adalah herpes genitalis, maka ditanya apakah suaminya pernah sakit serupa di alat kemaluannya. "Dokter, saya sudah lama tidak bersetubuh dengan suami. Tapi saya memang mempunyai "affair" dengan seorang pria sekantor saya. Tapi kelihatannya ia "bersih" kok!" Oleh dokter dijelaskan selanjutnya bahwa tampang bersih saja bukan jaminan tidak adanya virus herpes di dalam tubuhnya. Pertanyaan : A. Perlukah dokter tersebut memberitahu suami nyonya itu tentang penyakit herpes yang diderita istrinya? B. Bila nyonya itu meminta dokter untuk menyatakan kepada "pacar"nya, bahwa nyonya itu terkena herpes genitalis sebagai persetubuhan dengannya, apakah tindakan saudara? OLH Komentar TANGGAPAN DARI SEGI ETIKA Masalah yang diajukan masih mirip kasus yang lalu, yaitu membuka " rahasia jabatan dokter", atas kemauan dokter sendiri (mungkin untuk pencegahan penularan) dan atas permintaan pasien. Pertanyaan (A), kiranya mudah dapat dijawab, bahwa dokter tidak boleh memberi tahu suami tentang herpes yang diderita istrinya. Mungkin dari segi pencegahan dirasakan perlunya memberitahu suaminya, namun dari segi etik kedokteran, hal itu tidak dibenarkan apalagi si nyonya telah mengaku pada dokter tentang affair-nya dengan teman sekerja dan penularan bukan dari suami yang sudah lama tidak campur. Tentang pertanyaan (B) pasien minta tolong dokter menceritakan penyakitnya pada "pacarnya", mungkin sekedar pemberitahuan agar si pacar juga berobat atau mungkin juga untuk menagih tanggung jawab. Sebelum mengabulkan permintaan tersebut (yang mungkin bisa dikabulkan), akan lebih baik bila ditanyakan balik kepada pasien ini. Kenapa tidak dia sendiri yang mencerita- 54 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 kan pada "pacarnya". Dari pihak dokter, kiranya tetap perlu adanya sikap reserved terhadap kejujuran pasien apa benar affairnya cuma dengan seorang teman sekantor saja. Sebab bila benar demikian tentunya dia tidak perlu ragu memberitahukan sendiri, barangkali juga dia tidak perlu membuka rahasia pribadinya pada dokter. Sebagai seorang sarjana, tentunya setelah mendapat penjelasan tentang penyakitnya serta jalur penularannya, dia dapat menarik kesimpulan sendiri. Disinilah saya kira-clue-nya kenapa dia membuka rahasia pribadi dan kenapa dia tidak mau berterus terang pada kekasih gelapnya? Bagaimana komentar pembaca ? Dr. H. Masri Rustam Direktorat Transfusi Darah PMI Ketua IDI Cabang Jakarta Pusat, Jakarta. TANGGAPAN DARI SEGI HUKUM KEDOKTERAN Profesi dokter adalah salah satu profesi yang diwajibkan menyimpan rahasia pekerjaan yang antara lain tercermin dalam salah satu kalimat lafal sumpah dokter, yaitu : Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter. Lebih lanjut rahasia pekerjaan ini dikukuhkan dengan adanya sanksi menurut K.U.H. Pidana pasal 322 : (1) Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencariannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan hukuman penjara paling lama sembilan bulan atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah. (2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang itu. Di samping sanksi menurut hukum pidana, maka dapat dikenakan sanksi menurut hukum perdata, yaitu yang diatur dalam K.U.H. Perdata pasal 1365 : Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena kesalahannya menyebabkan kerugian itu, mengganti kerugian tertersebut.
  • 56.
    Namun kewajiban menyimpanrahasia pekerjaan ini sifatnya tidak mutlak, sehingga dapat dibuka tanpa dikenakan sanksi hukuman, antara lain jika ada suatu dayapaksa (overmacht), misalnya ditemukan seorang pilot yang menderita epilepsi atau seorang guru S.D. yang menderita TBC terbuka. Hal ini diatur oleh K.H.U. Pidana pasal 48 : Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa, tidak dipidana. Juga tidak dapat dikenakan sanksi hukuman, jika membuka rahasia pekerjaan itu dilakukan dengan persetujuan si pasien, karena dengan sendirinya tidak terdapat unsur "me- langgar hukum". Dalam persoalan yang kita hadapi, dokter tetap terikat oleh rahasia pekerjaannya dan di sini juga tidak tampak adanya unsur dayapaksa, karena pasien mengatakan, bahwa ia sudah lama tidak bersetubuh dengan suaminya, sehingga si suami juga tidak mungkin telah ditulari penyakit herpes 'It genitalis itu. Jadi dokter tidak dapat memberi tahu si suami tentang penyakit isterinya. Selanjutnya dokter juga tidak dapat mengatakan kepada si pacar, bahwa pasiennya telah terkena herpes genitalis, karena bersetubuh dengan dia. Mengatakan ini berarti kita tidak menghormati "azas praduga tak bersalah" (presumption of innocense), karena mungkin saja pasien itu mendapat penyakitnya dari pacar yang lain, tapi malu mengaku kepada dokter bahwa ia mempunyai banyak pacar. Kalau kita gegabah menuduh seseorang, mungkin bahkan kita sendiri yang dituntut dengan melakukan fitnah atau setidak-tidaknya mencemarkan nama baik seseorang. Dr. Handoko Tjondroputranto Lembaga Kriminologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. .0 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 55
  • 57.
    "AKU MASIH SEPERTIDULU" Salah seorang pasien rumah sakit jiwa yang telah dinyatakan sembuh ternyata belum diperkenankan pulang oleh petugas rumah sakit karena waktu acara perpisahan pasien tersebut menyanyi "Aku masih seperti dulu." Ny. Bambang SARANG BURUNG Ibu A : Jeng, apa bahasa Inggerisnya sarang burung ?????? Ibu B : Birds nest, bukan? Ibu A : (sambil tertawa) : Bukan, HING'S atau CROCODILE. (Kedua -duanya adalah merek celana dalam untuk pria) OLH BAGAIKAN SUAMI ISTRI Di sebuah rumah sakit pendidikan, sekitar jam 2 malam dokter Badut masuk ke kamar dokter jaga dengan badan gontai. Di dalam ruangan itu ada 2 dokter pria yang sedang berbincang-bincang dan dokter Dewi yang cantik kelihatan tertidur di tempat tidur. Dokter Badut langsung saja menggeser tempat tidur yang masih kosong ke sebelah dokter Dewi, lalu dia naik ke ranjang dan merebahkan diri sambil berkata: "Bagaikan suami istri." Ny. Bambang 56 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 INGIN BISA BACA Dokter spesialis mata yang praktek di PURI DHENTA NIRMALA Salatiga, pernah dibuat bingung oleh pasiennya. Ceritanya begini : Seorang pasien laki-laki tua dari lereng gunung Merbabu diberitahu oleh sahabatnya, kalau dia pakai kaca-mata yang didapatnya setelah memeriksakan dari dokter mata tersebut, dia dapat baca. Dan kalau tidak memakai kaca mata, dia sama sekali tidak dapat baca. Pasien tersebut sangat tertarik akan cerita itu. Akhirnya setelah panen cengkeh, pasien itu memeriksakan matanya, dengan maksud supaya dapat membaca seperti temannya tersebut. Dokter mata mencobakan bermacam-macam ukuran lensa dengan sabarnya. Sehingga berpuluh-puluh ukuran lensa telah dikuras habis untuk dicobakannya. Tetapi, orang tersebut masih juga belum dapat membaca satu huruf pun, walaupun ukuran hurufnya sudah relatif sangat besar. Sang dokter termenungmenung kebingungan, mencari apakah sebabnya ...............Akhirnya ketahuan, bahwa pasien tersebut memang ............ BUTA HURUF. Drg. Haryono Salatiga DIKIRA Seorang dokter yang sudah terkenal sangat berhati-hati dalam "mengelola anggaran uang" rumah tangganya (pelit bercampur devaluasi?) tiap pergi uang gajinya selalu dibawanya dalam sebuah kantong uang di sakunya. Habis pulang dari kantor, dengan loyo ia memberitahukan pada istrinya: "Waduh mam, uang saya tadi kecopetan di bus yang penuh sesak." "Lho bagaimana to, kan dompetmu begitu besar, kok dapat kecopetan, apa tidak terasa ?" "Ya terasa, ada tangan merogoh-rogoh saku celanaku............... tapi aku kira tanganku sendiri." ???????????????????? Juvelin
  • 58.
    PROFESOR DAN TILANG Padasuatu ketika seorang profesor dengan Mercy-birunya mulus meluncur di sebuah jalanan yang padat dengan kendaraan. Tapi tiba-tiba seorang Polisi Lalulintas yang waktu itu kebetulan sedang parkir di pinggir jalan meniup peluit panjang. Polisi : "Hormat pak, maaf kami mau melihat SIM-nya." Profesor merogoh sakunya sambil mengatakan : "Saya profesor, tadi tergesa berangkat mau menguji mahasiswa dan SIM-nya ketinggalan." Polisi senyum sambil menanyakan : "Kalau begitu siapa nama Profesor ?" Profesor : "Nama saya ? Nama saya ya ada di SIM saya yang ketinggalan itu!" ???????????? Juvelin SEMBILAN BULAN LAGI!! Ke dalam sebuah bis kota yang sudah penuh masuklah seorang wanita. Wanita tersebut tampak berkeringat, gerah dengan rambut yang kusam. Oleh karena tidak ada tempat duduk kosong lagi maka ia memohon kepada seorang pria yang duduk apakah bersedia menyerahkan tempat duduknya oleh karena ia akan melahirkan. Pria tersebut agak heran oleh karena tak terlihat tanda-tanda sama sekali bahwa wanita itu hamil. Akan tetapi ia rela memberi tempat duduknya dengan berkata : Kapan akan melahirkan, bu?????. ; Oh, nanti sembilan bulan lagi dan sekarang saya cape sekali????????? OLH SEMINAR MUDA MUDI Dalam suatu seminar muda-mudi, dimintakan pendapat para gadis mengenai persiapan apa yang dilakukan bila akan diajak kencan oleh pacarpacar mereka. Gadis I : Lihat-lihat dulu perginya ke mana. Pilih pakaian yang sesuai dengan tempat tujuan. Gadis II : Biasa-biasa saja, tidak ada persiapan khusus. Gadis III : Bawa kondom. Dr. Hendra Jakarta Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 57
  • 59.
    1. Berikut iniadalah indikasi elektroakupunktur, kecuali : a) pengobatan kelumpuhan b) pengobatan kerusakan saraf c) pengobatan rematik pada penderita yang juga mengalami gangguan impuls jantung d) pengobatan ketergantungan obat e) untuk menghasilkan analgesia pada operasi" 2. Pada sonopunktur, efek spesifik gelombang ultrasound yang bermanfaat dapat berupa : a) efek panas b) efek mekanis c) efek biologis d) semua benar e) bukan salah satu di atas. 3. Akupunktur dapat meningkatkan daya tahan terhadap infeksi melalui peningkatan : a) Ig A b) Ig D c) Ig E d) Ig G e) Ig M 4. Pengobatan nyeri kepala dengan akupunktur berdasarkan pada prinsip berikut, kecuali : a) akupunktur menimbulkan efek vasokonstriksi b) akupunktur menyeimbangkan kembali ketidak seimbangan bioenergi di daerah kepala c) akupunktur merangsang pelepasan senyawa yang mirip morfin endogen d) akupunktur memperbaiki suplai oksigen ke dalam jaringan. 5. Pada pengobatan vitiligo dengan akupunktur, dilepaskan autokoid yang merangsang penglepasan corticotropin releasing factor, senyawa autokoid tersebut adalah : a) serotonin b) histamin c) bradikinin d) slow reacting substances e) semua benar 6. Perangsangan titik akupunktur di permukaan tubuh dapat disalurkan ke tempat-tempat yang dituju, merupakan konsep dasar dari : a) lima unsur yang terdiri dari kayu-api-tanah-logam-air b) 58 Yin Yang c) d) ci dan meridian zone of autonomic concentration Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 7. Penusukan titik San Yin Ciao merangsang sekresi insulin. Efek ini terutama disebabkan karena : a) pelepasan serotonin b) pengaktifan serat saraf otonom sel B pankreas c) mempengaruhi digesti dan absorpsi karbohidrat d) mempengaruhi sintesis trigliserida endogen 8. Persyaratan yang harus dipenuhi hewan percobaan pada pemeriksaan produk biologis adalah : a) bebas kuman patogen b) memberi respon imunitas yang baik c) peka terhadap suatu penyakit d) variasi individual minimal e) semua benar 9. Metoda berikut ini digunakan untuk menguji aktivitas imunomodulator, kecuali : a) uji kebersihan karbon b) uji granulosit c) uji hematokrit d) uji bioluminisensi radikal 0 2 e) uji transformasi limfosit T 10. Imunomodulator yang merangsang pematangan sel T pada kondisi respon imun yang berkurang : a) timosin b) α —interferon c) β —interferon d) γ —interferon e) levamizol
  • 60.
    Kalender Kegiatan Ilmiah 7thASIAN AND OCEANIAN CONGRESS OF NEUROLOGY September 20—24, 1987 Bali Beach Hotel, Bali Indonesia The 7 th AOCN will be held in Bali Beach Hotel from 20 thru 24 September 1987, succeeded by a Regional Symposium on Evoked Potentials and Clinical Neurophysiology (RSECN) from 25 thru 26 September 1987. 700 participants are expected from 22 countries. Secretariat of the Congress will be RSCM FKUI Dep Neurology Salemba 6 Jakarta 10430 Indonesia PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN PERHIMPUNAN GENETIKA MANUSIA INDONESIA (PGMI) — PERKUMPULAN ANDROLOGI INDONESIA (PANDI) Tempat Tanggal Acara : Ruang Sidang F. MIPA Jl. Ir. H. Juanda 4, Bandung : 24—25 Agustus 1987 : — Hari Pertama I. Registrasi peserta II. Sambutan-sambutan dan peresmian III. Simposium "Peranan Genetika dalam Melaksanakan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera". Pembicara : 1. Prof. Dr MK Tadjudin: "Genetika" 2. Prof Dr Nagar Rasyid: "Manifestasi Klinis Cacad Genetik di YPAC". 3. Prof DR Sumiati Achmad: "Genetika dan lnferilitas". 4. Prof Dr HHB Saanin Dt T Patiaman: "Kelainan Kejiwaan dan Genetika". 5. Prof Dr IGB Amitaba: "Peran Genetika Manusia dalam Membentuk NKKBS " . 6. Dr Pratiwi Soedarmono PhD: "Metoda Hibridasi sebagai Diagnosa Dini Kelainan Genetik pada Janin". IV. Presentasi makalah-makalah bebas. V. Rapat Organisasi PGMI. — Hari Kedua Registrasi peserta baru. I. Sambutan-sambutan dan peresmian. II. III. Simposium: "Peranan Andrologi dalam Melaksanakan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera". Pembicara : 1. Dr Sudradji Sumapradja: "Memasyarakatkan Pemeriksaan Air Mani". 2. Prof Dr Sulaiman Sastrawinata: "Andrologi". 3. Dr Nukman Moeloek: "Kontrasepsi Pria: Masa Kini dan Masa Akan Datang". 4. Dr Arif Adimoeljo: "Prospek Penelitian dalam Bidang Andrologi dalam Menunjang NKKBS". 5. Drs Wildan Yatim: "Kemungkinan Epididimis Sasaran Kontrasepsi Pria Masa Depan". IV. Pertemuan Ilmiah Tahunan: Presentasi makalah-makalah bebas. Rapat Organisasi PANDI. V. Sekretariat : Panitia PIT PANDI—PGMI Lab. Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Jl. Ir. H. Juanda 248, Bandung Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 59
  • 61.
    ABSTRAK -ABSTRAK MENINGKATNYA POPULARITASKONDOM Penjualan kondom di seluruh dunia meningkat dengan pesat. Dari segi pembeli, justru kaum wanita yang mengalami peningkatan. Di Amerika misalnya, para wanitanya menghamburkan 100 juta dolar setiap tahun untuk membeli kondom (kira-kira 40% dari total 400 juta kondom yang terjual pertahunnya di sana). Menurut majalah "Working Women" (Oktober 1985), dan "The New York Times" (5 Januari 1986), kaum wanita membeli kondom dengan alasan-alasan berikut : • Tidak seperti beberapa bentuk kontrasepsi lainnya, kondom itu aman dan tidak mempunyai intensif. Ini meningkatkan kesempatan Survival bagi bayi cacat lahir tersebut. Menurut data survailans cacat lahir yang dilakukan CDC, ditemukan penurunan frekuensi cacat susunan saraf seperti anensefali dan spina bifida, tetapi dilain pihak terjadi peningkatan frekuensi cacat jantung. Selama satu dekade terakhir, cacat susunan saraf dan jantung merupakan penyebab utama kematian karena cacat lahir. VSR FDA Consumer, May 1986 efek samping TRANSDERMAL OESTROGEN • Efektif sebagai pencegahan berbagai penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual • Mudah didapat, tersebar luas di seluruh dunia, dan tidak perlu pengawasan dokter. Bagaimana di Indonesia? Apakah kaum wanitanya, terutama ibu-ibu, tidak malu-malu lagi membeli kondom di toko obat? Sediaan transdermal oestrogen dari Ciba-Geigy yang diberi nama Estraderm TTS telah dipasarkan di Swiss untuk pengobatan defisiensi oestrogen waktu menopause dan gejala-gejalanya seperti gangguan tidur, atropi urogenitalia, gangguan psikologi dan perubahan metabolik. CACAT LAHIR: PENYEBAB UTAMA KEMATIAN BAYI DAN MORTALITAS PREMATUR Saat ini, bayi yang lahir cacat dapat hidup lebih lama dibandingkan keadaan pada satu dekade yang lalu. Ini disebabkan semakin majunya perkembangan peralatan medis untuk perawatan intensif bagi bayi lahir cacat. Walaupun demikian, karena mortalitas bayi akibat penyebab kematian lainnya menurun, cacat lahir menjadi salah satu penyebab utama kematian bayi. Menurut "Centers for Disease Control" (CDC) di Amerika Serikat, cacat lahir berada pada urutan ke lima dari penyebab mortalitas yang prematur. Mortalitas yang prematur diukur berdasarkan berkurangnya umur (tahun) dari kemampuan hidup potensial sebelum umur 65. Dalam tahun 1984, cacat lahir berperan sebesar 6% pada mortalitas prematur. Penyebab mortalitas prematur lainnya yaitu kecelakaan, kanker, pe- nyakit jantung, bunuh diri. Pada periode 1980-1982, cacat lahir menurun sebesar 19% pada penduduk kulit putih. Penurunan ini disebabkan perbaikan dan peningkatan perawatan bayi cacat lahir secara 60 Cermin Dunia Kedokteran No. 44, 1987 Plester Estraderm TTS (Transdermal Therapeutic System) tersedia dalam 3 macam kadar yaitu Estraderm TTS 25, 50 dan 100 yang masing-masing akan melepaskan 25 ug, 50 ug dan 100 ug oestradiol per hari selama 4 hari . Cara pemakaiannya yaitu dengan cara menempelkan plester tersebut di bawah pinggang, punggung atau di perut. Tetapi tidak boleh ditempelkan pada daerah payudara dan juga tidak boleh ditempelkan pada daerah yang sama dua kali berturut-turut. Plester tersebur harus diganti tiap 3 hari atau 4 hari sekali. Dengan bentuk sediaan plester ini, efek samping yang biasanya muncul pada pemberian oestrogen per oral seperti retensi natrium dan air serta oedema dan naiknya tekanan darah dapat dihindari. Estraderm TTS yang mengandung hormon fisiologis 17-Q-oestradiol memungkinkan pemberian obat dengan dosis serendah mungkin. (SCRIP No. 1062, p.18)