Cahyo Hasanudin, M.Pd.
Kritik Terapan dalam Kritik
Sastra Indonesia Modern
Pertemuan ke-11
PADA SUATU HARI NANTI
(Sapardi Djoko Damono)
Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati
Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun disela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari
Kritik Sastra Terapan Pada Periode Balai Pustaka atau
periode (1920-1932)
Kritik sastra para redaktur Balai Pustaka didasari teori
sastra yang berdasarkan pada aturan-aturan umum
untuk buku yang akan diterbitkan, yaitu aturan tidak
boleh melanggar moral masyarakat, agama, dan politik
Pemerintah Hindia Belanda. Jadi, kritiknya bertipe
pragmatik.
Oleh karena itu, Belenggu yang dianggap melanggar
kesusilaan masyarakat ditolak sama sekali, tidak peduli
secara literer, secara estetik mungkin bernilai sangat
tinggi
Kritik Sastra Terapan Pada Periode Balai Pustaka atau
periode (1920-1932)
Salah asuhan yang masih mengandung nilai pendidikan,
sesuai dengan tujuan pendidikan, naskah Salah Asuhan
versi pertama (versi asli) harus diubah, padahal secara
literer berdasarkan kriteria estetik bernilai tinggi
ditinjau dari segi gaya bahasa dan gaya ceritanya, begitu
juga ditinjau dari segi ekstra estetik mungkin bernilai
tinggi berhubung menggambarkan kehidupan manusia
dengan watak-watak senyatanya, segala baik buruknya
hingga dapat menimbulkan kontemplasi pembaca akan
“nasib manusia”.
 kritik sastra Balai Pustaka bertipe pragmatik seperti
halnya kritik Muhammad Yamin.
Kritik Sastra Terapan Pada Periode Balai Pustaka atau
periode (1920-1932)
Kritik terapan periode Balai Pustaka atau periode 1920-
1933 adalah bertipe pragmatik, impresionistik, judisial,
bermetode deduktif, dan penilaiannya absolut,
menomorsatukan tujuan pendidikan (sebagian kriteria
ekstra estetik)
di atas kriteria ekstra estetik yang lain dan kriteria
estetik. Akan tetapi, kritik pragmatik itu juga
menunjukkan penilaian secara estetik yang menilai
karya Abdoel Moeis itu secara literer bernilai tinggi,
terutama pertimbangan St. Pamuntjak dan redaktur
yang menolak pertimbangan O’brien.
Kritik Sastra Terapan Pada Periode Pujangga Baru atau
periode (1933-1942)
Pada umumnya, kritik terapan pada periode Pujangga
Baru yang bersifat impresionistik hanya menanggapi hal-
hal yang pokok yang terutama menarik perhatian
kritikus
kurang adanya analisis menyeluruh pada unsur (norma)
karya sastra, dan penilaian yang absolut, menunjukkan
pandangan yang berat sebelah, maka kritik terapan
mereka belum dapat menunjukkan makna karya sastra
yang dikritiknya secara maksimal, bahkan kadang terlalu
dangkal karena pandangan yang kurang luas.
Hal seperti ini tampak misalnya pada kasus Belenggu,
yang secara “beramai-ramai” dikritik mereka, lebih-lebih
kritik yang memberi nilai sangat negatif pada Belenggu.
Kritik Sastra Terapan Pada Periode Angkatan 45
1. Kritik Sastra Terapan Kelompok Angkatan 45 (Periode
1942-1955)
 Kritik terapan para tokoh Angkatan 45 berjenis
(bercorak) judisial, yaitu kritik yang
mempertimbangkan atau memberi penilaian kepada
karya sastra yang dikritik dengan sandaran kriteria
tertentu
 Kriteria terapan Angkatan 45 terutama ditulis oleh H.B.
Jassin yang merupakan kritikus utama Angkatan 45.
 Di samping itu, kritik sastra yang berwibawa lainnya
ditulis oleh Chairil Anwar dan Asrul Sani
Kritik Sastra Terapan Pada Periode Angkatan 45
2. Kritik Sastra Terapan Kelompok Lekra (Periode 1950-
1965)
 Corak kritik terapan kelompok Lekra hampir sama
dengan kritik terapan kelompok Angkatan 45, yaitu
esaistis dan impresionistik
 Kriteria penilaiannya tegas, mutlak, sesuai dengan
paham yang dianut realisme sosialis dan “seni untuk
rakyat”, “politik adalah panglima”.
 Kritik sastra Revolusioner yang merupakan varian Lekra
tidak berbeda kritiknya dengan Lekra, berorientasi
pragmatik politik, menolak humanisne universal dan
paham “seni untuk seni” yang merupakan paham
borjuis.
Kritik Sastra Terapan Pada Periode 1956-1975
1. Kelompok Kritikus Sastrawan
 Corak kritik terapan para sastrawan periode 1956-1976
itu pada umumnya seperti kritik terapan Angkatan 45:
esaistis, impresionistik, judisial, tanpa analisis ataupun
kalau ada analisis tidak mendalam dan merenik
mengenai semua norma sastranya. Penilaiannya
berdasarkan keseimbangan bentuk dan isi atau
penggabungan kriteria estetik dan ekstra estetik
bersama-sama secara padu.
Kritik Sastra Terapan Pada Periode 1956-1975
2. Kelompok Kritikus Akademik
 Dalam kritik akademik taraf pertama, para kritikus
akademik itu, karya sastra dianalisis, secara terpisah-
pisah, hingga jaringan hubungan pada umumnya
menjadi hilang. Karya sastra tidak lain hanya kumpulan
frgmen
 Kemesraanya menjadi hilang, berakibat makna karya
sastra tidak tertangkap secara penuh atau sebanyak-
banyaknya, bahkan nilai seninya sebagai karya sastra
menjadi hilang
 Para kritikus akademik aliran kritik sastra Rawamangun
itu kemudian menyebut aliran kritiknya sebagai
strukturalisme.
Kritik Sastra Terapan Pada Periode 1956-1975
3. Kritik Terapan Kritik Sastra Metode Ganzheit
 Metode Ganzheit lebih mampunyai pola atau metode
pembicaraan yang tertentu daripada kritik para
sastrawan lainnya yang lebih bersifat mana suka dan
esaistik, membicarakan masalah yang kebetulan
menarik perhatiannya, tidak menyeluruh
 Contoh Metode Ganzheit adalah kritik terapan
Goenawan dan Arief Budiman.
 Goenawan di antara para sastrawan yang menulis kritik
sastra paling menonjol dan cemerlang
 Goenawan pertama kali tampil dalam forum sastra
sebagai esais (kritikus), baru kemudian ia terkenal
sebagai penyair
Kritik Sastra Terapan Pada Periode 1976-1988
1. Kritik Sastra Terapan yang Dihasilkan Kritikus
Sastrawan
 Kritik sastra terapan bertipe ekspresif (meskipun
mementingkan pembicaraan karya sastranya sendiri)
 Coraknya impresionistik, membicarakan kesan-kesan
pokok karya sastra yang dikritiknya, dan corak kritiknya
judisial dengan memberikan penilaian baik dan buruk
 Jarang sekali ada analisis struktur instrinsik
 Kritiknya dikenakan pada cerpen, novel, dan kumpulan
sajak
 Kritiknya tidak berdasar pada teori sastra dan metode
kritik sastra tertentu, tetapi berdasar kelaziman yang
bersifat mana suka
Kritik Sastra Terapan Pada Periode 1976-1988
2. Kritik Sastra Terapan dengan Metode Ilmiah Taraf
Pertama
 Kritik sastra terapan sesunguhnya sama corak, wujud,
dan sifatnya dengan kritik sastra terapan dengan
metode ilmiah pada periode 1956-1975 yang berupa
skripsi sarjana yang diterbitkan pada tahun 1960-an
 Kritik terapan ini tidak didasari teori kritik sastra
tertentu dan metodenya yang khusus menurut sistem
yang konsekuen
 Digunakan metode ilmiah dengan teknik penulisan
ilmiah yang umum
Kritik Sastra Terapan Pada Periode 1976-1988
3. Kritik Sastra Terapan dengan Metode Ilmiah Taraf Kedua
 Bersifat ilmiah dengan dilandasi teori sastra atau kritik
sastra tertentu dengan metode khusus
 Kritik terapan berupa esai (artikel, kritik), makalah, karya
penelitian sastra, skripsi sarjana, dan disertasi
 Teori sastra (teori kritik sastra) tertentu itu berupa teori
sastra atau kritik sastra yang mempunyai metode sendiri
dan sistem sendiri yang harus dilaksanakan secara
konsekuen untuk memahami karya sastra.
 Teori sastra (teori kritik sastra) tertentu misalnya
strukturalisme, semiotik, intertekstual, estetika resepsi, dan
soiologi sastra (di antaranya teori strukturalisme genetik)
Kritik Sastra Terapan Pada Periode 1976-1988
3a. Kritik Sastra dengan Teori Strukturalisme
 Pertama kali, dalam pendahuluan dikemukakan teori
strukturalisme dengan mengutip pendapat ahli sastra
 Bab selanjutnya, karya sastra dianalisis dan dicari atau
ditunjukkan hubungan antarunsurnya dan efek-efek
apa yang ditimbulkan oleh hubungan antar unsur itu
 Bab III berupa penilaian. Penilaian itu didasarkan pada
jumlah satuan-satuan pada tiap kode itu
 Bab IV adanya simpulan berdasarkan analisis dan
penilaiannya yang ada pada pokoknya
Kritik Sastra Terapan Pada Periode 1976-1988
3b. Kritik Sastra dengan Teori dan Metode Intertekstual
 Kritik intertekstual ini untuk memahami makna karya sastra
dengan melihat hubungannya dengan karya sastra (teks)
lain
 Pada mulanya dikemukakan teori hubungan intertekstual
sebagai dasar analisis, kemudian secara perbandingan
dijajarkan atau dipertentangkan struktur dan unsur-unsur
karya sastra tersebut
 Contoh karya yang pernah diintertekstual berdasarkan
struktur cerita dari masalahnya (emansipasi) roman Siti
Nurbaya, Layar Terkembang, dan belenggu.
 Siti Nurbaya merupakan hipogram Layar Terkembang dan
Belenggu. Layar Terkembang merupakan hipogram
Belenggu
Kritik Sastra Terapan Pada Periode 1976-1988
3c. Kritik Sastra Terapan dengan Teori dan Metode Sosiologi
Sastra
 Dapat dikatakan Sapardi Djoko Damono adalah kritikus
yang pertama kali mempergunakan teori dan metode
sosiologi sastra secara ilmiah.
 Dalam pendahuluan bukunya Novel Sastra Indonesia
Sebelum Perang (1979: 3-6), dikemukakan teori dan
metode sosiologi sastra sebagai landasan kritiknya
 Ia mengutip pendapat Grebstein dan Swingewood tentang
kaitan novel dengan masyarakat , maka untuk dapat
memahami novel harus ditinjau lingkungan, kebudayaan,
dan peradaban yang mendasarinya
 Ia juga mengutip teori Lucien Goldmann dan Lowenthal
sebagai dasar analisisnya yang sosiologis yang berhubungan
dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang mendasari
karya sastra.

7. kritik terapan dalam krititik sastra indonesia modern

  • 1.
    Cahyo Hasanudin, M.Pd. KritikTerapan dalam Kritik Sastra Indonesia Modern Pertemuan ke-11
  • 2.
    PADA SUATU HARINANTI (Sapardi Djoko Damono) Pada suatu hari nanti Jasadku tak akan ada lagi tapi dalam bait-bait sajak ini kau takkan kurelakan sendiri Pada suatu hari nanti Suaraku tak terdengar lagi Tapi di antara larik-larik sajak ini Kau akan tetap kusiasati Pada suatu hari nanti Impianku pun tak dikenal lagi Namun disela-sela huruf sajak ini Kau takkan letih-letihnya kucari
  • 3.
    Kritik Sastra TerapanPada Periode Balai Pustaka atau periode (1920-1932) Kritik sastra para redaktur Balai Pustaka didasari teori sastra yang berdasarkan pada aturan-aturan umum untuk buku yang akan diterbitkan, yaitu aturan tidak boleh melanggar moral masyarakat, agama, dan politik Pemerintah Hindia Belanda. Jadi, kritiknya bertipe pragmatik. Oleh karena itu, Belenggu yang dianggap melanggar kesusilaan masyarakat ditolak sama sekali, tidak peduli secara literer, secara estetik mungkin bernilai sangat tinggi
  • 4.
    Kritik Sastra TerapanPada Periode Balai Pustaka atau periode (1920-1932) Salah asuhan yang masih mengandung nilai pendidikan, sesuai dengan tujuan pendidikan, naskah Salah Asuhan versi pertama (versi asli) harus diubah, padahal secara literer berdasarkan kriteria estetik bernilai tinggi ditinjau dari segi gaya bahasa dan gaya ceritanya, begitu juga ditinjau dari segi ekstra estetik mungkin bernilai tinggi berhubung menggambarkan kehidupan manusia dengan watak-watak senyatanya, segala baik buruknya hingga dapat menimbulkan kontemplasi pembaca akan “nasib manusia”.  kritik sastra Balai Pustaka bertipe pragmatik seperti halnya kritik Muhammad Yamin.
  • 5.
    Kritik Sastra TerapanPada Periode Balai Pustaka atau periode (1920-1932) Kritik terapan periode Balai Pustaka atau periode 1920- 1933 adalah bertipe pragmatik, impresionistik, judisial, bermetode deduktif, dan penilaiannya absolut, menomorsatukan tujuan pendidikan (sebagian kriteria ekstra estetik) di atas kriteria ekstra estetik yang lain dan kriteria estetik. Akan tetapi, kritik pragmatik itu juga menunjukkan penilaian secara estetik yang menilai karya Abdoel Moeis itu secara literer bernilai tinggi, terutama pertimbangan St. Pamuntjak dan redaktur yang menolak pertimbangan O’brien.
  • 6.
    Kritik Sastra TerapanPada Periode Pujangga Baru atau periode (1933-1942) Pada umumnya, kritik terapan pada periode Pujangga Baru yang bersifat impresionistik hanya menanggapi hal- hal yang pokok yang terutama menarik perhatian kritikus kurang adanya analisis menyeluruh pada unsur (norma) karya sastra, dan penilaian yang absolut, menunjukkan pandangan yang berat sebelah, maka kritik terapan mereka belum dapat menunjukkan makna karya sastra yang dikritiknya secara maksimal, bahkan kadang terlalu dangkal karena pandangan yang kurang luas. Hal seperti ini tampak misalnya pada kasus Belenggu, yang secara “beramai-ramai” dikritik mereka, lebih-lebih kritik yang memberi nilai sangat negatif pada Belenggu.
  • 7.
    Kritik Sastra TerapanPada Periode Angkatan 45 1. Kritik Sastra Terapan Kelompok Angkatan 45 (Periode 1942-1955)  Kritik terapan para tokoh Angkatan 45 berjenis (bercorak) judisial, yaitu kritik yang mempertimbangkan atau memberi penilaian kepada karya sastra yang dikritik dengan sandaran kriteria tertentu  Kriteria terapan Angkatan 45 terutama ditulis oleh H.B. Jassin yang merupakan kritikus utama Angkatan 45.  Di samping itu, kritik sastra yang berwibawa lainnya ditulis oleh Chairil Anwar dan Asrul Sani
  • 8.
    Kritik Sastra TerapanPada Periode Angkatan 45 2. Kritik Sastra Terapan Kelompok Lekra (Periode 1950- 1965)  Corak kritik terapan kelompok Lekra hampir sama dengan kritik terapan kelompok Angkatan 45, yaitu esaistis dan impresionistik  Kriteria penilaiannya tegas, mutlak, sesuai dengan paham yang dianut realisme sosialis dan “seni untuk rakyat”, “politik adalah panglima”.  Kritik sastra Revolusioner yang merupakan varian Lekra tidak berbeda kritiknya dengan Lekra, berorientasi pragmatik politik, menolak humanisne universal dan paham “seni untuk seni” yang merupakan paham borjuis.
  • 9.
    Kritik Sastra TerapanPada Periode 1956-1975 1. Kelompok Kritikus Sastrawan  Corak kritik terapan para sastrawan periode 1956-1976 itu pada umumnya seperti kritik terapan Angkatan 45: esaistis, impresionistik, judisial, tanpa analisis ataupun kalau ada analisis tidak mendalam dan merenik mengenai semua norma sastranya. Penilaiannya berdasarkan keseimbangan bentuk dan isi atau penggabungan kriteria estetik dan ekstra estetik bersama-sama secara padu.
  • 10.
    Kritik Sastra TerapanPada Periode 1956-1975 2. Kelompok Kritikus Akademik  Dalam kritik akademik taraf pertama, para kritikus akademik itu, karya sastra dianalisis, secara terpisah- pisah, hingga jaringan hubungan pada umumnya menjadi hilang. Karya sastra tidak lain hanya kumpulan frgmen  Kemesraanya menjadi hilang, berakibat makna karya sastra tidak tertangkap secara penuh atau sebanyak- banyaknya, bahkan nilai seninya sebagai karya sastra menjadi hilang  Para kritikus akademik aliran kritik sastra Rawamangun itu kemudian menyebut aliran kritiknya sebagai strukturalisme.
  • 11.
    Kritik Sastra TerapanPada Periode 1956-1975 3. Kritik Terapan Kritik Sastra Metode Ganzheit  Metode Ganzheit lebih mampunyai pola atau metode pembicaraan yang tertentu daripada kritik para sastrawan lainnya yang lebih bersifat mana suka dan esaistik, membicarakan masalah yang kebetulan menarik perhatiannya, tidak menyeluruh  Contoh Metode Ganzheit adalah kritik terapan Goenawan dan Arief Budiman.  Goenawan di antara para sastrawan yang menulis kritik sastra paling menonjol dan cemerlang  Goenawan pertama kali tampil dalam forum sastra sebagai esais (kritikus), baru kemudian ia terkenal sebagai penyair
  • 12.
    Kritik Sastra TerapanPada Periode 1976-1988 1. Kritik Sastra Terapan yang Dihasilkan Kritikus Sastrawan  Kritik sastra terapan bertipe ekspresif (meskipun mementingkan pembicaraan karya sastranya sendiri)  Coraknya impresionistik, membicarakan kesan-kesan pokok karya sastra yang dikritiknya, dan corak kritiknya judisial dengan memberikan penilaian baik dan buruk  Jarang sekali ada analisis struktur instrinsik  Kritiknya dikenakan pada cerpen, novel, dan kumpulan sajak  Kritiknya tidak berdasar pada teori sastra dan metode kritik sastra tertentu, tetapi berdasar kelaziman yang bersifat mana suka
  • 13.
    Kritik Sastra TerapanPada Periode 1976-1988 2. Kritik Sastra Terapan dengan Metode Ilmiah Taraf Pertama  Kritik sastra terapan sesunguhnya sama corak, wujud, dan sifatnya dengan kritik sastra terapan dengan metode ilmiah pada periode 1956-1975 yang berupa skripsi sarjana yang diterbitkan pada tahun 1960-an  Kritik terapan ini tidak didasari teori kritik sastra tertentu dan metodenya yang khusus menurut sistem yang konsekuen  Digunakan metode ilmiah dengan teknik penulisan ilmiah yang umum
  • 14.
    Kritik Sastra TerapanPada Periode 1976-1988 3. Kritik Sastra Terapan dengan Metode Ilmiah Taraf Kedua  Bersifat ilmiah dengan dilandasi teori sastra atau kritik sastra tertentu dengan metode khusus  Kritik terapan berupa esai (artikel, kritik), makalah, karya penelitian sastra, skripsi sarjana, dan disertasi  Teori sastra (teori kritik sastra) tertentu itu berupa teori sastra atau kritik sastra yang mempunyai metode sendiri dan sistem sendiri yang harus dilaksanakan secara konsekuen untuk memahami karya sastra.  Teori sastra (teori kritik sastra) tertentu misalnya strukturalisme, semiotik, intertekstual, estetika resepsi, dan soiologi sastra (di antaranya teori strukturalisme genetik)
  • 15.
    Kritik Sastra TerapanPada Periode 1976-1988 3a. Kritik Sastra dengan Teori Strukturalisme  Pertama kali, dalam pendahuluan dikemukakan teori strukturalisme dengan mengutip pendapat ahli sastra  Bab selanjutnya, karya sastra dianalisis dan dicari atau ditunjukkan hubungan antarunsurnya dan efek-efek apa yang ditimbulkan oleh hubungan antar unsur itu  Bab III berupa penilaian. Penilaian itu didasarkan pada jumlah satuan-satuan pada tiap kode itu  Bab IV adanya simpulan berdasarkan analisis dan penilaiannya yang ada pada pokoknya
  • 16.
    Kritik Sastra TerapanPada Periode 1976-1988 3b. Kritik Sastra dengan Teori dan Metode Intertekstual  Kritik intertekstual ini untuk memahami makna karya sastra dengan melihat hubungannya dengan karya sastra (teks) lain  Pada mulanya dikemukakan teori hubungan intertekstual sebagai dasar analisis, kemudian secara perbandingan dijajarkan atau dipertentangkan struktur dan unsur-unsur karya sastra tersebut  Contoh karya yang pernah diintertekstual berdasarkan struktur cerita dari masalahnya (emansipasi) roman Siti Nurbaya, Layar Terkembang, dan belenggu.  Siti Nurbaya merupakan hipogram Layar Terkembang dan Belenggu. Layar Terkembang merupakan hipogram Belenggu
  • 17.
    Kritik Sastra TerapanPada Periode 1976-1988 3c. Kritik Sastra Terapan dengan Teori dan Metode Sosiologi Sastra  Dapat dikatakan Sapardi Djoko Damono adalah kritikus yang pertama kali mempergunakan teori dan metode sosiologi sastra secara ilmiah.  Dalam pendahuluan bukunya Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang (1979: 3-6), dikemukakan teori dan metode sosiologi sastra sebagai landasan kritiknya  Ia mengutip pendapat Grebstein dan Swingewood tentang kaitan novel dengan masyarakat , maka untuk dapat memahami novel harus ditinjau lingkungan, kebudayaan, dan peradaban yang mendasarinya  Ia juga mengutip teori Lucien Goldmann dan Lowenthal sebagai dasar analisisnya yang sosiologis yang berhubungan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang mendasari karya sastra.