1. Alvi Innayah202010550211013
2. Adriyana 202010550211014
3. Fahmi Nur F 202010550211015
Kritik Sastra
Impresionis, dan
Kritik Sastra
Akademik
2.
Menurut Abrams (2011:25)kritik impresionsitik adalah kritik yang berusaha
menggambarkan dengan kata-kata sifat-sifat yang terasa dalam bagian-bagian khusus
karya sastra, dan mengekspresikan tanggapan-tanggapan (impresi) kritikus yang
ditimbulkan secara langsung oleh karya sastra tersebut.
Menurut Eliot (2011:25) kritik impresionistik adalah kritik yang membuat kritikus
menujukkan kesan-kesannya terhadap dalam suatu objek. Ia memberikan tafsiran-
tafsiran untuk mengagungkan pembaca dan untuk menimbulkan kesan yang indah
kepada pembaca. Dalam kritik yang impresionistik kritikus hanya menceritakan kembali
apa yang dibaca dan memberi tafsiran terdapat karya sastra. Jadi, kritikus tidak memberi
penilaian kepada karya sastra itu sendiri.
kritik impresionistik adalah kritik sastra yang meninjau karya sastra berdasarkan kesan-
kesan pokok yang ditangkap oleh kritikus atas karya sastra yang dikritiknya
Kritik Sastra Impresionis
Menggunakan imaji
tentang fakta
menjadibermakna
01 Dapat dengan cepat
membuat pengamat
menduga-duga sesuatu
yang lain lebih dari
sekadar sebuah
bangunan fisik yang
02
Membuat
lingkungan lebih
terlihat dan mudah
diingat
03 Mampu
membangkitkan
analisis objek yang
sebelumnya
tampak sulit
04
Kelebihan Kritik
Impressionistik
Pada sekitar pertengahantahun 1950-1975
timbul kritik sastra corak baru, yaitu kritik sastra
akademik. Istilah kritik sastra akademik
ditujukan pada kritik sastra yang ditulis dalam
pola-pola tertentu antara lain secara format
mengacu pada teknik penulisan ilmiah (TPI),
berpedoman pada teori dan metode tertentu
dalam pengkajiannya, dan menggunakan
bahasa Indonesia ragam ilmiah (baku). Jenis
kritik ini dapat dilihat pada skripsi, tesis,
disertasi, makalah, artikel jurnal, dan sejenisnya.
Kritik sastra ini umumnya ditulis kalangan
akademik seperti mahasiswa, dosen, peneliti di
lembaga lembaga bahasa dan sastra (Lestari,
2012).
Kritik Sastra
Akademik
7.
Kritik Non
Sastra
Akademik
Kritik sastraini tidak terpaku pada format TPI, teori dan
metode -meskipun digunakan- umumnya tidak
dieksplisitkan, dan menggunakan bahasa ilmiah populer.
Jenis-jenis tulisannya berupa esai dan resensi yang
dipublikasikan lewat koran, majalah, atau buku-buku
antologi kritik sastra. Para penulisnya umumnya
sastrawan, wartawan, atau kalangan umum yang tertarik
dan mendalami sastra.
8.
Ciri-ciri Kritik Sastra
Akademik
1.Kritikus kritik sastra akademik umumnya
ditulis kalangan akademik seperti
mahasiswa, dosen, alumnus universitas,
peneliti Pusat Bahasa dan Balai
Penelitian Bahasa.
2. Kritik akademik berupa skripsi, tesis,
disertasi, makalah ilmiah, dan penelitian
ilmiah, yang semuanya itu berupa
pembahasan karya sastra yang konkret
dengan teori dan metode ilmiah.
3. Kritik akademik menggunakan TPI
(Teknik Penulisan Ilmiah) tertentu,
biasanya berupa kritik ilmiah yang
mempergunakan buku petunjuk tertentu
sebagai pedoman
4. Kritik akademik mempergunakan
sistematika ilmiah, misalnya dalam
penyusunan urutan bab dan subbab
secara berjenjang
5. Kritik sastra akademik
mempergunakan penunjukkan
referensi secara akurat pengarang,
nama buku, tahun terbit, penerbitnya,
sampai pada halamannya dinyatakan
secara tepat
6. Dalam kritik akademik, teori dan
metode sastra yang menjadi dasar
kritik (analisis)
7. Kritik sastra akademik
mempergunakan bahasa baku dalam
penulisannya
8. Kritik sastra akademik dicantumkan
daftar pustaka yang dipergunakan
sebagai sumber penunjukkan
pendapat dan teori yang
dipergunakan sebagai
pertanggungjawaban ilmiah.
9.
Persoalan Kritik Sastra
Akademik
2.Kebanyakan
kritik sastra
akademik ditulis
sebagai formalitas
belaka demi
mengejar
kelulusan dll
1. Istilah kritik sastra
akademik sering
ditentangkan oleh
kritik sastra non
akademik
5. Kritik ini hanya berada
di lingkarannya saja,
dalam arti tidak
terpublikasikan secara
luas. Dengan demikian,
tak terjadi sosialisasi dari
pemikiran-pemikiran
yang dihasilkannya.
Akibatnya kontribusinya
pun kurang dirasakan.
3. Keterpakuan pada
format TPI cenderung
menjebak para
penulisnya pada
keterikatan terhadap
rambu-rambu penulisan
4. Penyajiannya yang
kaku membuat kritik
semacam ini terkesan
tertutup sehingga
kurang bisa diterima
masyarakat