TRANSFER PANAS
PROSES PEMASAKAN PRODUK PANGAN
LUKMAN AZIS
1
PENDAHULUAN
• Transfer panas adalah segala bentuk
proses pengolahan produk pangan
yang melibatkan suhu, baik panas
mapun dingin.
• Transfer panas terjadi disemua proses
jenis proses pengolahan.
• Tujuan transfer panas pada
pengolahan produk pangan: perbaikan
mutu, memperpanjang masa simpan,
non-aktif enzim, merusak anti nutrisi,
membunuh bakteri pembusuk dan
pathogen.
• Contoh proses termal  UHT, HTST
2
KLASIFIKASI PROSES TERMAL
• Proses pengalengan  pengalengan,
pasteurisasi, pemasakan, evaporasi,
ekstruksi dan blansing.
• Penghilangan panas  pendinginan
dan pembekuan.
• Penghilangan air  pengeringan.
3
TEKNIK PENGOLAHAN DENGAN PROSES
TERMAL
• Pengguanaan air panas/ uap air 
pemasakan, blansing, pasteurisasi,
sterilisasi, evaporasi dan ekstruksi.
• Penggunaan udara panas 
pemanggangan, penyangraian dan
pengeringan.
• Penggunaan minyak panas 
penggorengan.
• Penggunaan energy radiasi 
gelombang mikro, radiasi inframerah
dan radiasi ionisasi.
4
1. PEMASAKAN
• Tujuan pemaskaan  meningkatkan cita
rasa, teksture, warna produk pangan.
• Proses pemasakan: perebusan,
pemanggangan, penggorengan,
penyangraian dsb.
• Pemasakan dapat memperpanjang umur
simpan dengan penyimpanan dingin.
• Pendinginan mencegah kontaminasi
kembali.
• Pemasakan  mendistruksi
(menghancurkan)/ menurunkan mikroba
dan menginaktivasi enzim.
• Kekurangan: menurunkan zat gizi pada
produk.
5
2. BLANSING
• Blansing adalah proses pemanasan
suhu sedang.
• Tujuan inaktivasi enzim oksidatif dan
menghilangkan gas pada sel jaringan
bahan.
• Bahan yang di blansing biasanya buah
dan sayur.
• Perubahan yang terjadi berupa cita
rasa, warna, flavour dan nilai gizi.
• Suhu dan lama blansing bergantung
pada jenis dan ukuran sayur dan buah.
6
3. STERILISASI
• Sterilisasi  proses destruksi/
mematikan microorganism.
• Sterilisasi dilakukan pada suhu 121˚C
• Tidak semua mikroba mati pada suhu
ini, namun mikroba pembusuk dan
pathogen sudah turun jumlahnya.
• Pengemasan vakum dan pH controlled
 mencegah peryumbuhan mikroba
pembusuk dan pathogen.
• Sterilisasi biasa dilakukan pada produk
komersial (Sterilisasi komersial)
7
4. PASTEURISASI
• Pasteurisasi dilakukan pada suhu sedang
pada produk pangan.
• Suhu pasteurisasi yang digunakan < 100˚C.
• Tujuan: membunuh mikroba vegetative
(pathogen dan inaktivasi enzim).
• Pasteurisasi tidak membunuh semua
mikroba karena suhu yang digunakan.
• Perlu dilakukan proses lanjutan setelah
pasteurisasi: pengawetan, pengemasan
atm, control pH, control Aw.
• Sifat sensori dan gizi hampir tidak
berubah.
8
5. PENGGORENGAN
• Penggorengan merupakan proses
dehidrasi (pengambilan air) dari
bahan, baik keseluruhan maupun
sebagian.
• Menggunakan lemak/ minyak sebagai
media pindah panas.
• Keuntungan penggorengan: perubahan
rasa dan tekstur, pelapisan (lapisan
renyah pada nugget), pembentukan
warna, penambahan minyak,
kepraktisan, blansing, inaktivasi/
destruksi mikroba, pindah panas.
9
6. PENYANGRAIAN
• Penyangraian merupakan proses
pindah panas tanpa media maupun
dengan media (pasir).
• Tujuan penyangraian: inaktivasi enzim
mikroba, senyawa anti nutrisi,
membentuk aroma, membentuk cita
rasa dan membentuk tekstur.
• Di Industri pangan  penyangraian
dilakukan dengan menghembusaka
gas/ udara panas pada silinder yang
berputar (industry kopi dan coklat).
10
7. PEMANGGANGAN
• Pemanggangan adalah proses pindah
panas melalui: radiasi, konveksi dan
konduksi.
• Jenis dan rancangan oven sangat
menentukan proses yang paling
dominan.
• Perubahan yang terjadi saat
pemanggangan: pembentukan
senyawa cita rasa, aroma,
mengembangan volume,
pembentukan kulit (crust), inaktivasi
mikroba dan enzim, koagulasi protein
dan gelatinisasi sebagian pati.
11
8. PROSES TERMAL YANG LAIN
• Jenis proses termal lain: evaporasi,
ekstruksi, pengolahan gelombang
mikro dan inframerah dan
pengeringan.
• Evaporasi merupakan pemanasan
dimana air dalam bahan diuapkan
dibawah tekanan 1 atm (vakum).
• Tujuan mengentalkan produk,
meningkatkan padatan total,
menurunkan Aw, meningkatkan warna
dan aroma.
12
• Pemanasan dengan gelombang mikro
dan inframerah  panas dari
gelombang 2540 dan 952 MHz.
• Kedalaman penetrasi panas pada
produk pangan bergantung pada kadar
air untuk proses gelombang mikro dan
sifat permukaan dalam mengabsorbsi
energy untuk inframerah.
• Gelombang mikro  pemanasan
kembali, pemasakan, thawing,
pengeringan, penyangraian dan
pembentukan sifat renyah.
13
• Pengeringan merupakan proses
pemanasan pada kondisi terkontrol.
• Tujuan  menguapkan air dalam
produk.
• Perubahan yang terjadi: tekstur dan
nilai gizi produk menurun
• Kelebihan: daya simpan lebih panjang.
14
EFEK PROSES TERMAL
Aktivitas Mikroba
• Menurunkan/ mengilangkan ativitas
mikroba sampai pada jumlah yang
dapat diterima
• Proses pasteurisasi, produk harus
disimpan pada suhu dingin sampai
pada waktu tertentu.
• Proses sterilisasi, produk relative stabil.
15
Aktivitas Enzim
• Enzim peroksidase, lipoksigenase dan
pektinesterase  indicator dalam
kecukupan proses termal.
• Suhu inaktivasi enzim lebih tinggi
dibandingkan suhu inaktivasi mikroba.
16
Nilai nutrisi
• Proses blansing menurunkan kadar nutrisi
hingga 40% untuk mineral dan vitamin, 35
untuk gula, 20% untuk protein/ asam
amino.
• Senyawa toksik juga akan turun, senyawa
toksik larut dalam air dan rusah pada suhu
tinggi.
• Proses sterilisasi  meningkatkan daya
cerna (denaturasi protein, gelatinisasi pati)
• Sterilisasi mudah merusak vitamin dan
protein.
17
Sifat Organoleptik
• Perubahan yang terjadi karena reaksi
kimia diakibatkan kondisi panas yang
terjadi pada bahan. Contoh: Reaksi
Maillard dan karmelisasi.
• Intensitas perubahan bergantung pada
lama proses pemasakan serta suhu
yang digunakan.
• Proses pemasakan yang berlebihan 
overcooked (tidak disukai konsumen).
18
OPTIMALISASI MUTU
• Penggunaan proses termal  memperpanjang masa
simpan produk yung mudah rusak namun menurunkan
gizi.
• Kehilangan zat: disengaja, tidak disengaja atau dpt
dihindari dan tidak dapat dihindari.
• Disengaja  mengupas kulit buah sehingga gizinya
berkurang.
• Tidak disengaja  pencucian, pengirisan dan
penggilingan dapat menurunkan zat gizi
• Tidak dapat dihindari  proses pemasakan yang harus
dilakukan karena bahan tidak dpt dikonsumsi jika tidak
di masak terebih dahulu.
19
20

3. transfer panas

  • 1.
    TRANSFER PANAS PROSES PEMASAKANPRODUK PANGAN LUKMAN AZIS 1
  • 2.
    PENDAHULUAN • Transfer panasadalah segala bentuk proses pengolahan produk pangan yang melibatkan suhu, baik panas mapun dingin. • Transfer panas terjadi disemua proses jenis proses pengolahan. • Tujuan transfer panas pada pengolahan produk pangan: perbaikan mutu, memperpanjang masa simpan, non-aktif enzim, merusak anti nutrisi, membunuh bakteri pembusuk dan pathogen. • Contoh proses termal  UHT, HTST 2
  • 3.
    KLASIFIKASI PROSES TERMAL •Proses pengalengan  pengalengan, pasteurisasi, pemasakan, evaporasi, ekstruksi dan blansing. • Penghilangan panas  pendinginan dan pembekuan. • Penghilangan air  pengeringan. 3
  • 4.
    TEKNIK PENGOLAHAN DENGANPROSES TERMAL • Pengguanaan air panas/ uap air  pemasakan, blansing, pasteurisasi, sterilisasi, evaporasi dan ekstruksi. • Penggunaan udara panas  pemanggangan, penyangraian dan pengeringan. • Penggunaan minyak panas  penggorengan. • Penggunaan energy radiasi  gelombang mikro, radiasi inframerah dan radiasi ionisasi. 4
  • 5.
    1. PEMASAKAN • Tujuanpemaskaan  meningkatkan cita rasa, teksture, warna produk pangan. • Proses pemasakan: perebusan, pemanggangan, penggorengan, penyangraian dsb. • Pemasakan dapat memperpanjang umur simpan dengan penyimpanan dingin. • Pendinginan mencegah kontaminasi kembali. • Pemasakan  mendistruksi (menghancurkan)/ menurunkan mikroba dan menginaktivasi enzim. • Kekurangan: menurunkan zat gizi pada produk. 5
  • 6.
    2. BLANSING • Blansingadalah proses pemanasan suhu sedang. • Tujuan inaktivasi enzim oksidatif dan menghilangkan gas pada sel jaringan bahan. • Bahan yang di blansing biasanya buah dan sayur. • Perubahan yang terjadi berupa cita rasa, warna, flavour dan nilai gizi. • Suhu dan lama blansing bergantung pada jenis dan ukuran sayur dan buah. 6
  • 7.
    3. STERILISASI • Sterilisasi proses destruksi/ mematikan microorganism. • Sterilisasi dilakukan pada suhu 121˚C • Tidak semua mikroba mati pada suhu ini, namun mikroba pembusuk dan pathogen sudah turun jumlahnya. • Pengemasan vakum dan pH controlled  mencegah peryumbuhan mikroba pembusuk dan pathogen. • Sterilisasi biasa dilakukan pada produk komersial (Sterilisasi komersial) 7
  • 8.
    4. PASTEURISASI • Pasteurisasidilakukan pada suhu sedang pada produk pangan. • Suhu pasteurisasi yang digunakan < 100˚C. • Tujuan: membunuh mikroba vegetative (pathogen dan inaktivasi enzim). • Pasteurisasi tidak membunuh semua mikroba karena suhu yang digunakan. • Perlu dilakukan proses lanjutan setelah pasteurisasi: pengawetan, pengemasan atm, control pH, control Aw. • Sifat sensori dan gizi hampir tidak berubah. 8
  • 9.
    5. PENGGORENGAN • Penggorenganmerupakan proses dehidrasi (pengambilan air) dari bahan, baik keseluruhan maupun sebagian. • Menggunakan lemak/ minyak sebagai media pindah panas. • Keuntungan penggorengan: perubahan rasa dan tekstur, pelapisan (lapisan renyah pada nugget), pembentukan warna, penambahan minyak, kepraktisan, blansing, inaktivasi/ destruksi mikroba, pindah panas. 9
  • 10.
    6. PENYANGRAIAN • Penyangraianmerupakan proses pindah panas tanpa media maupun dengan media (pasir). • Tujuan penyangraian: inaktivasi enzim mikroba, senyawa anti nutrisi, membentuk aroma, membentuk cita rasa dan membentuk tekstur. • Di Industri pangan  penyangraian dilakukan dengan menghembusaka gas/ udara panas pada silinder yang berputar (industry kopi dan coklat). 10
  • 11.
    7. PEMANGGANGAN • Pemangganganadalah proses pindah panas melalui: radiasi, konveksi dan konduksi. • Jenis dan rancangan oven sangat menentukan proses yang paling dominan. • Perubahan yang terjadi saat pemanggangan: pembentukan senyawa cita rasa, aroma, mengembangan volume, pembentukan kulit (crust), inaktivasi mikroba dan enzim, koagulasi protein dan gelatinisasi sebagian pati. 11
  • 12.
    8. PROSES TERMALYANG LAIN • Jenis proses termal lain: evaporasi, ekstruksi, pengolahan gelombang mikro dan inframerah dan pengeringan. • Evaporasi merupakan pemanasan dimana air dalam bahan diuapkan dibawah tekanan 1 atm (vakum). • Tujuan mengentalkan produk, meningkatkan padatan total, menurunkan Aw, meningkatkan warna dan aroma. 12
  • 13.
    • Pemanasan dengangelombang mikro dan inframerah  panas dari gelombang 2540 dan 952 MHz. • Kedalaman penetrasi panas pada produk pangan bergantung pada kadar air untuk proses gelombang mikro dan sifat permukaan dalam mengabsorbsi energy untuk inframerah. • Gelombang mikro  pemanasan kembali, pemasakan, thawing, pengeringan, penyangraian dan pembentukan sifat renyah. 13
  • 14.
    • Pengeringan merupakanproses pemanasan pada kondisi terkontrol. • Tujuan  menguapkan air dalam produk. • Perubahan yang terjadi: tekstur dan nilai gizi produk menurun • Kelebihan: daya simpan lebih panjang. 14
  • 15.
    EFEK PROSES TERMAL AktivitasMikroba • Menurunkan/ mengilangkan ativitas mikroba sampai pada jumlah yang dapat diterima • Proses pasteurisasi, produk harus disimpan pada suhu dingin sampai pada waktu tertentu. • Proses sterilisasi, produk relative stabil. 15
  • 16.
    Aktivitas Enzim • Enzimperoksidase, lipoksigenase dan pektinesterase  indicator dalam kecukupan proses termal. • Suhu inaktivasi enzim lebih tinggi dibandingkan suhu inaktivasi mikroba. 16
  • 17.
    Nilai nutrisi • Prosesblansing menurunkan kadar nutrisi hingga 40% untuk mineral dan vitamin, 35 untuk gula, 20% untuk protein/ asam amino. • Senyawa toksik juga akan turun, senyawa toksik larut dalam air dan rusah pada suhu tinggi. • Proses sterilisasi  meningkatkan daya cerna (denaturasi protein, gelatinisasi pati) • Sterilisasi mudah merusak vitamin dan protein. 17
  • 18.
    Sifat Organoleptik • Perubahanyang terjadi karena reaksi kimia diakibatkan kondisi panas yang terjadi pada bahan. Contoh: Reaksi Maillard dan karmelisasi. • Intensitas perubahan bergantung pada lama proses pemasakan serta suhu yang digunakan. • Proses pemasakan yang berlebihan  overcooked (tidak disukai konsumen). 18
  • 19.
    OPTIMALISASI MUTU • Penggunaanproses termal  memperpanjang masa simpan produk yung mudah rusak namun menurunkan gizi. • Kehilangan zat: disengaja, tidak disengaja atau dpt dihindari dan tidak dapat dihindari. • Disengaja  mengupas kulit buah sehingga gizinya berkurang. • Tidak disengaja  pencucian, pengirisan dan penggilingan dapat menurunkan zat gizi • Tidak dapat dihindari  proses pemasakan yang harus dilakukan karena bahan tidak dpt dikonsumsi jika tidak di masak terebih dahulu. 19
  • 20.