PEMERINTAH KOTA PALANGKA RAYA                                              EDISI 06/TAHUN IV/2012              BADAN PEREN...
Penanggung JawabIr. MuhladunRedakturMartina, SH, M.Si                                                 Daftar Isi   1Penyun...
S     egala puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang                      telah memberikan rahmat dan bimbingan-Ny...
Kerjasama Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kota Palangka Raya dengan                            Jurusan Perikanan...
usaha budidaya perikanan di Kota Palangka               Prasarana      (infrastruktur)     menurutRaya.                   ...
METODE PELAKSANAAN                               dan kimia. Adapun metode pengumpulan baik                                ...
badan air dimana interkasi antara ikan kultur      limpasan banjir (flood-plain). Danau oxbow dandengan lingkungannya sang...
Ada beberapa karakteristik umum danau-      produktivitas ikan di danau-danau Kalimantandanau oxbow di Kalimantan Tengah y...
Tabel 1. Nilai Parameter fisika Kualitas Air di Lokasi Pengamatan                          Kedalaman                      ...
Nilai Beberapa Parimetrik Kualitas pada Beberapa Titik di Sungai Rungan                                         yang Berko...
penangkapan ikan. Vegetasi rivarian ini sangat                         Synbranchiformes,              Rajiformes,menentuka...
Budidaya Ikan Air Tawar                                                               Potensi Lahan Budidaya Perairan Umum...
dalam rangka mencapai tujuan akuakultur.              Struktur Sosial Masyarakat                                          ...
Contoh Sistem Budidaya dan Tipe Akses Tipe Budidaya       Lahan        Perairan         Air        Benih          Pakan   ...
Kerjasama Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan Kota Palangka Raya dengan                   Lembaga Penelitian dan Peng...
pendapatan. Ketiga, bisnis sapi potong cukup      sedangkan sisanya 98% berasal dari luarprospektif dan menjanjikan karena...
Gambar 1. Peternakan pola intensif sapi potong (Bali, PO) di kelurahan Sei Gohong, kecamatan Bukit Batu.Kalimantan Tengah ...
Ruang Lingkup                                              pembangunan pusat perbibitan dan inkubator      Ruang Lingkup k...
Analisis Data                                       kasi sumberdaya manusia dalam mengelola       Pembangunan Pusat Pembib...
topografi, dan iklim dengan kebutuhan dari tipe        Metode Nell Rolinsonpenggunaan lahan yang akan diterapkan, dalam  ...
Potensi ketersediaan pakan sumber                prosentase karkas yang lebih tinggi dibandingkonsentrat di Kota Palangka ...
sapi potong, baik jangka pendek, menengah                   terjadinya    perpindahan      penyakit   antarmaupun jangka p...
Gambar 4. Rencana Tapak     Gambar 5. Peta arahan Areal Bangunan P2IUSP22
Rancangan Fisik Bangunan                           dengan lebar gang way 1 m. Kandang jepit       Sarana dan prasarana yan...
Kualitas suatu bahan pakan ditentukan oleh          jagung, ubi kayu maupun limbah tahu.kandungan zat nutrient atau kompos...
COW CALF PRODUCTION                                                     Waktu Sapih : 180 Hari                            ...
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012

3,354 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
3,354
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
148
Actions
Shares
0
Downloads
93
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka RayaEdisi 06/Tahun IV/2012

  1. 1. PEMERINTAH KOTA PALANGKA RAYA EDISI 06/TAHUN IV/2012 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA JUNI 2012
  2. 2. Penanggung JawabIr. MuhladunRedakturMartina, SH, M.Si Daftar Isi 1Penyunting/Editor Kata Pengantar 2Drs. SernusKristhine Agustine, SE Evaluasi Daya Dukung Sarana dan 3Roysart Alfons, ST, MT, MSc Prasarana Budidaya Perikanan di Wilayah Kota Palangka RayaDesain GrafisNensianie, SP, MSi Studi Kelayakan Pembangunan Pusat 14Vallery Budianto, ST Perbibitan dan Inkubator Usaha Sapi Potong (P2IUSP) di Kota Palangka RayaFotograferImmanuel Yuwana Yakti, ST Kajian Penerapan Standar Pelayanan 30Sekretariat Minimal Pemerintah Kota Palangka RayaEdy Oktora Hanyi, ST (Bidang Kesehatan, Pendidikan Dasar dan Pemerintahan Dalam Negeri) Pengembangan Ekonomi Lokal 44 di Kota Palangka Raya Alamat Redaksi Bappeda Kota Palangka Raya Jl. Tjilik Riwut No. 98 Telp/Fax. 0536-3231542, 3231539email: litbangbappedaplk@gmail.com 1
  3. 3. S egala puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan bimbingan-Nya dalam seluruh proses dari tahap persiapan, penyusunan hingga pencetakan Buletin Litbang edisi keenam ini. Dalam edisi ini Tim Penyusun Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka Rayamenyajikan empat tulisan yanjg merupakan hasil pelaksanaan kegiatan SKPD jajaranPemerintah Kota Palangka Raya. Dua di antaranya merupakan kegiatan yangdilaksanakan oleh Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kota Palangka Rayadalam Tahun Anggaran 2011, sedangkan dua lainnya merupakan kegiatan di BappedaKota Palangka Raya Tahun Anggaran 2011. Kiranya Buletin Litbang Edisi ke-6 ini dapat membangkitkan inspirasi bagi kitasehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pembangunanmasyarakat dan Kota Palangka Raya demi tercapainya tujuan pembangunan nasional. Palangka Raya, Juni 2012 KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA Ir. MUHLADUN Pembina Utama Muda NIP. 19570803 198710 1 0012
  4. 4. Kerjasama Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kota Palangka Raya dengan Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka RayaLATAR BELAKANGS MAKSUD DAN TUJUAN KEGIATAN arana dan prasarana budidaya perikanan merupakan salah satu sub Maksud dan tujuan kegiatan Evaluasi sistem dari program pembangunan Daya Dukung Sarana dan Prasarana Perikananperikanan budidaya. Oleh karena itu di dalam Budidaya di Kota Palangka Raya adalah:perencanaannya, di samping perlu memahami (i) mengidentifikasi kegiatan perikanankonteks pembangunan budidaya perikanan budidaya yang terdapat di Kota Palangka Raya;secara keseluruhan juga perlu mempertim- (ii) melakukan evaluasi kondisi sarana danbangkan berbagai aspek yang dibutuhkan untuk prasarana perikanan budidaya dan melakukanpenyusunan suatu perencanaan yang baik. identifikasi daya dukung wilayah terhadap Usaha budidaya perikanan di Kota pengembangan dan pembangunan prasaranaPalangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah budidaya di Kota Palangka Raya Provinsisangat prospektif. Hal itu karena didukung oleh Kalimantan Tengah; dan (iii) memberikanekologi sumber daya alamnya, pangsa pasar gambaran kelayakan kawasan dari segi teknisyang cukup baik dan hal yang paling penting lahan. Diharapkan pada akhirnya hasil kegiatandari pengembangan usaha ini adalah langsung ini ini dapat memberikan gambaran tentangmenyentuh pada kehidupan masyarakat desa, kondisi perikanan budidaya dan strategikhususnya petani ikan yang dapat meningkat- pengembangan sarana dan prasarana perikanankan pendapatan dan kesejahteraan hidupnya, di Kota Palangka Raya.menciptakan kesempatan kerja serta dapatmemenuhi kebutuhan gizi/protein hewani OUTPUTmasyarakat. Perencanaan sarana dan prasarana Output dari kegiatan ini berupa :budidaya diperlukan agar pembangunan yang (i) Laporan Evaluasi yang memuat analisis studidilakukan dapat secara optimal mendukung identifikasi dan studi aktivitas perikanankegiatan budidaya serta diperolehnya efisiensi budidaya di Kota Palangka Raya, dan (ii) Petabaik pada tahap konstruksi maupun pada saat lokasi sebaran pembudidaya ikan dan sistempengoperasian dan pemeliharaan. Budidaya ikan dalam keramba di Sungai Kahayan 3
  5. 5. usaha budidaya perikanan di Kota Palangka Prasarana (infrastruktur) menurutRaya. pengertian umum adalah suatu bangunan yang digunakan untuk mendukung suatu kegiatanKERANGKA PENDEKATAN tertentu. Bangunan prasarana merupakanPERENCANAAN PRASARANA sesuatu yang tetap dan dalam pengopera- siannya tidak dipindah-pindahkan. DenganBUDIDAYA PERIKANAN demikian yang disebut prasarana perikanan Perencanaan prasarana budidaya budidaya adalah bangunan yang digunakandiperlukan agar pembangunan yang dilakukan untuk mendukung kegiatan perikanan budidayadapat secara optimal mendukung program pem- yang meliputi kegiatan pembudidayaan, kegi-bangunan budidaya baik aspek fisik maupun atan pembenihan, pengolahan dan pemasaranaspek fungsi serta diperolehnya efisiensi baik hasil, pembinaan teknologi dan penangananpada tahap konstruksi maupun pada saat penyakit serta prasarana untuk kegiatanpengoperasian dan pemeliharaannya. lainnya yang termasuk dalam ruang lingkup Dengan demikian perlu pemahaman kegiatan perikanan budidaya.secara keseluruhan mengenai program Sebagai salah satu sub sistem perikananpembangunan perikanan budidaya yang akan budidaya maka kebijaksanaan pengembangandilaksanakan, yang meliputi: prasarana budidaya mengacu kepada kebijakana. Potensi daya dukung wilayah terhadap pembangunan perikanan budidaya yang secara pengembangan budidaya, umum terdiri dari 2 (dua) program yaitub. Sampai sejauh tingkat pengembangan yang intensifikasi dan ekstensifikasi. akan dilaksanakan atau direncanakan, Intensifikasi dari segi prasarana budidaya,c. Dukungan-dukungan pengembangan yang kegiatan intensifikasi didukung melalui telah ada (potensi)’ kegiatan rehabilitasi prasarana baik dalamd. Hambatan-hambatan yang mungkin timbul bentuk penambahan atau perbaikan. Kegiatan dan hal-hal yang merupakan pembatas ini diprioritaskan untuk mengatasi hal-hal yang (constrain), dipandang sangat mendesak yang memerlukane. Prakondisi yang diperlukan agar perbaikan segera. pengembangan dapat dilaksanakan. Ekstensifikasi didukung melalui Gambaran secara keseluruhan tentang pembangunan prasaranabudidaya baik di lokasiprogram pembangunan perikanan budidaya yang mulai berkembang/dikembangkan secara(budidaya air payau, laut, tawar, pembenihan, bertahap maupun pada lokasi yang baru dibukapengolahan, pembinaan) terangkum dalam atau dimanfaatkan.Masterplan yang idealnya disusun baik untuk Secara umum penyusunan masterplanlingkup Kabupaten maupun Propinsi. perikanan budidaya dalam suatu wilayah Kegiatan Pembuatan Master Plan (regional) mengacu kepada kebijakan Peme-mencakup mencakup perencanaan prasarana rintah daerah serta program pengembanganbudidaya agar pembangunan yang dilakukan budidaya yang telah diterapkan. Sebagaidapat secara optimal mendukung kegiatan langkah awal kegiatan pembangunan danbudidaya serta diperolehnya efisiensi baik pada rehabilitasi prasarana budidaya, maka padatahap konstruksi maupun pada saat pengopera- tahap perencanaan harus mengacu pada mastersian dan pemeliharaannya. plan tersebut. Perencanaan prasarana budidaya dibagi dalam 2 (dua) tahapan yaitu tahap planning dan tahap perencanaan teknis rancang bangun (detil desain). Tahap planning sesungguhnya merupa- kan inti dari suatu perencanaan, karena pada tahap ini ditentukan arah pengembangan proyek, serta merupakan acuan bagi pelaksa- naan kegiatan selanjutnya baik pada tahap desain konstruksi serta tahap operasional dan pemeliharaan. Tahap planning ini merupakan kegiatan yang sulit dan bersifat multidisipliner, dimana diperlukan berbagai keahlian baik dalam bidang teknik, ekonomi dan sosial. Keramba di Sungai Kahayan4
  6. 6. METODE PELAKSANAAN dan kimia. Adapun metode pengumpulan baik berupa pengamatan, pengukuran, pengambilan Pengumpulan data primer dilakukan sampel, dan analisis laboratorium. Dalamdengan pengambilan data di lapangan melakukan pengumpulan data akan ditetapkanmenggunakan metode Rapid Rural Appraisal stasiun pengamatan untuk mengefisiensikan(RRA) dan Participatory Rural Appraisal (PRA). dan mengefektifkan dalam memperolehDari analisis data yang dikumpulkan tersebut gambaran keseluruhan dari populasi di lokasiakan tergambar kondisi dan potensi aktual pekerjaan.kegiatan budidaya perikanan di wilayah Analisis data ekosistem dan sumberdayastudi.Begitu juga mengenai faktor pendukung dibedakan menjadi aspek biotik dan aspekdan permasalahan tentang aspek biofisik-kimia, abiotik.Aspek abiotik yang meliputi sifat fisikasosial ekonomi dan budaya, prasarana dan dan kimia akan dikaitkan dengan standar bakusarana penunjang kegiatan budidaya ikan yang kondisi perairan untuk kehidupan biota secarasudah ada, serta kebijakan-kebijakan dan umum.aturan-aturan pemerintah yang berlakuberkaitan dengan kawasan. Kondisi Teknis Budidaya Perikanan Untuk mengetahui kondisi teknisPENGUMPULAN DATA budidaya pada lokasi penelitian dilakukan Secara garis besar kegiatan penelitian pengambilan data primer yaitu dengan caradibagi menjadi 2 komponen utama yaitu yang pengamatan langsung dan melakukanpertama komponen kondisi ekosistem dan wawancara dengan beberapa responden yangsumberdaya alamnya dan kedua kondisi teknis dipilih secara purposive.budidaya yang berhubungan dengan sistem Pengamatan pertama dilakukan padabudidaya yang digunakan, tingkat teknologi sistem budidaya yang berbasiskan daratanyang diterapkan. seperti kolam air tenang dan kolam tadah hujan. Kemudian pengamatan kedua dilakukan padaKondisi Ekosistem dan Sumberdaya sistem budidaya yang berbasiskan air seperti Pengumpulan data ekosistem dan karamba ataukombongan dan sistem budidayasumberdaya disesuaikan dengan jenis lainnya.ekosistemnya. Namun demikian, secara garis Sistem budidaya berbasiskan daratanbesar aspek yang diamati adalah komponen terpisah dari perairan yang menjadi sumber airbiotik baik makro maupun mikro dan sistem ini. Penyaluran air dilakukan dengankomponen abiotik yang meliputi aspek fisika menggunakan saluran atau pipa sedangkan sistem budidaya berbasis air dilakukan padaBudidaya ikan air tawar di Sungai 5
  7. 7. badan air dimana interkasi antara ikan kultur limpasan banjir (flood-plain). Danau oxbow dandengan lingkungannya sangat kuat dan hampir danau backwater di Kalimantan Tengah cukuptidak ada pembatasannya dan umumnya banyak, sejauh ini belum terekam secara pasti,diterapkan pada perairan umum seperti danau, walaupun diperkirakan jumlahnya mungkin diwaduk dan sungai. atas 500 buah terlihat pada peta satelit, tersebar di sepanjang sungai-sungai.KERAGAAN EKOLOGIS PERAIRAN DAN Danau-danau di Kota Palangka Raya padaAKTIVITAS PERIKANAN umumnya bersifat musiman atau oxbow yang terbentuk dari limpasan banjir dan biasanya Danau-danau di wilayah Kalimantan relatif lebih dangkal yang mendapatkan suplaiTengah dapat digolongkan kedalam 3 tipe air dari limpasan banjir air sungai. Karena itudanau yang umumnya terjadi akibat dinamika ukuran danau yang sangat bervariasi denganhidrologi air sungai utama. Danau Sembuluh lokasi yang terpencar-pencar di sepanjangadalah salah satu danau terbesar terletak di DAS sungai Rungan dan Sungai Kahayan di wilayahSeruyan, diprakirakan terjadi akibat pen-Dam- Kalimantan Tengah. Berdasarkan peta satelitan alamiah pada Sungai Rungau, cabang Sungai terlihat bahwa kebanyakan danau di Kaliman-Seruyan. Umumnya danau-danau di DAS tan Tengah berada di sepanjang sungai RunganSeruyan yang cukup besar setelah Danau dan sebagian lagi di Sungai Kahayan denganSembuluh, seperti Danau Papudak dan Danau jumlah keseluruhan sebanyak 110 buah.Seluluk memiliki proses kejadian yang sama. Ekologi danau-danau di Kota PalangkaTipe danau kedua adalah danau oxbow (oxbow Raya dipengaruhi oleh beberapa faktor sepertilake) termasuk danau sungai (fluviatile/river ketersambungan hidrologi dengan sungai,lake) yaitu bagian dari tipe limpasan dataran ukuran dan penyebarannya. Dilihat dari prosessungai (flood-plain) yang mana terjadinya suatu hidrologinya, terdapat tiga tipe ekosistempengisolasian putaran dari lekukan-lekukan danau di daerah ini. Danau tipe pertama adalahsungai (meander) atau sungai tua (mature danau yang betul-betul terisolasi dari sungai.stream). Danau ini sering cukup dalam karena Tipe kedua berupa danau yang bagian hilirnyamenempati segmen dari sungai (Cole1983; Joo tersambung permanen dengan sungai danand Ward 1990). Tipe danau ketiga adalah danau tipe ketiga adalah danau yang bagianbackwater-lake yaitu danau yang terjadi akibat hilirnya tersambung permanen sedangkanterisinya cekungan dibelakang sungai oleh air bagian hulunya hanya tersambung pada saatsungai utama. Danau ini juga termasuk danau naiknya permukaan air sungai saja. Danau-danau oxbow di sepanjang sungai-sungai besar di Kalimantan Tengah6
  8. 8. Ada beberapa karakteristik umum danau- produktivitas ikan di danau-danau Kalimantandanau oxbow di Kalimantan Tengah yang Tengah lebih tinggi, yaitu perbedaan panjangmembedakannya dengan danau-danau tektonik garis pantai (shoreline). Meskipun kecil, tetapibesar yang biasa terdapat di daerah lain di karena jumlahnya yang sangat banyak, makaIndonesia seperti danau Toba di Sumatera, total garis pantai danau-danau di Kalimantandanau Lamongan di Jawa dan danau Bratan di Tengah menjadi sangat panjang. MenurutBali. Ciri yang pertama adalah tingginya Wetzel (2001), semakin panjang garis pantai,fluktuasi muka air antara musim penghujan dan maka semakin luas pula daerah litoral sehinggamusim kemarau yang dapat mencapai 6 m. energi yang disuplai ke danau dari ekosistemKarena ketersambungan danau-danau oxbow terestrial juga menjadi semakin besar. Karenaini dengan sungai-sungai besar, maka tinggi itu danau-danau di daerah kita jauh lebihrendahnya muka air ini pada umumnya sangat produktif dibanding danau-danau besar dandipengaruhi oleh fluktuasi debit air sungai. dalam yang terdapat di pulau-pulau lain diWarna air yang hitam kecoklatan juga Indonesia.merupakan salah satu karakteristik utama Distribusi danau juga merupakan salahsebagian besar danau-danau di Kalimantan satu faktor ekologi yang sangat penting bagiTengah. Hal ini disebabkan oleh rembesan air perairan umum di Kalimantan Tengah. Danaudari lahan gambut yang luasnya mencapai dengan ukuran kecil-kecil dan menyebar dihampir 5 juta hektar di daerah ini. Danau air tengah hamparan hutan yang luas bisahitam ini biasanya memiliki kecerahan air yang diibaratkan sebagai pulau-pulau kecil yangsangat rendah hingga mencapai hanya sekitar berdiri sendiri di tengah Samudera luas. Kondisi30 cm saja. Tipisnya lapisan zona euphotik ini seperti ini dalam ilmu ekologi biasa disebutmenyebabkan rendahnya produktivitas primer sebagai “Fragmentasi habitat”. Habitat yangsebagian besar danau di daerah ini. terfragmentasi biasanya memerlukan ketersam- bungan agar organisme termasuk ikan-ikan dapat bermigrasi dari satu danau ke danau yang N lainnya. Dalam hal ini, keberadaan sungai sangatlah penting sebagai media penghubung antara danau-danau oxbow di Kalimantan Hurung Tengah. Jika fungsi sungai ini terganggu, maka Bat akan terganggu pula pola hidup ikan-ikan yang ada di perairan kita. Sifat fisika dan kimia air di danau khususnya suhu, pH dan oksigen terlarut cukup Bunte Tehang bervariasi. Berdasarkan pengamatan pada tanggal 21 Juli 2011 di beberapa danau oxbow di kawasan Sungai Rungan Kota Palangka Raya ditampilkan pada Tabel 1 dan Tabel 2. Kualitas air Sungai yang diobservasi adalah bagian dari muara Sungai Rungan di Kelurahan Tumbang Rungan hingga di Kelurahan Munggu Baru. Stasiun pengamatan 1 km terdiri dari 8 tempat persis di bagian badan sungai di depan pelabuhan Dermaga KecilSungai yang berfungsi sebagai penghubung antara menuju ke Desa yaitu stasiun A1 di Mungkudanau-danau. Baru, stasiun A2 di Bukit Sua, stasiun A3 di Panjehang, stasiun A4 di Gaung Baru, stasiunA5 di Petuk Bukit, stasiun A6 di Tangkiling, stasiun Ukuran yang kecil-kecil dengan jumlahnya A7 di Marang, stasiun A8 di dekat muara sungaiyang sangat banyak juga merupakan keunikan Rungan.tersendiri danau-danau di Kalimantan Tengah.Jika dibandingkan dengan Danau Toba di Fitoplankton dan Zooplankton PerairanSumatera, misalnya, mungkin total volume air Danaudanau di Kalimantan Tengah tidak terlalu Secara umum, komunitas zooplankton diberbeda atau mungkin bahkan lebih sedikit. kawasan perairan Kota Palangka RayaTetapi ada satu faktor yang membuat Kalimantan Tengah diwakili oleh klas rotifera 7
  9. 9. Tabel 1. Nilai Parameter fisika Kualitas Air di Lokasi Pengamatan Kedalaman (m) Kecerahan Kekeruhan DHL ORP TDS Suhu Titik Sampling (cm) (NTU) (mS/m) (mV) (g/l) (oC)Sungai Rungan 2.6 – 6.2 29 – 49 0 5.6 181 0.05 29.8Danau Takapan 3.9 32 – 52 0 5.4 223 0.04 27.3 – 31.2Danau Rangas 5.1 31 - 39 0 1.12 178 0.02 28 – 31Danau Rawet 2.8 27 - 38 0 5.2 238 0.01 28 – 30Danau Hampapak 3.9 27 - 31 0 1.9 198 0.01 27.5 – 30.2Danau Bajawak 3.9 29,8 0 5.7 199 0.01 28.2 – 29.6Danau Madang 3.6 26,4 0 4.4 221 0.02 28.4 – 29.8Danau Dapur (Cangkir) 3.5 40.5 0 3.2 215 0.01 29.7 - 29.9Danau Marang 2.9 39.7 0 2.1 228 0.01 29.80Danau Pinang 2.1 34 0 4.6 178 0.01 30.12Danau Tundai 1.3 45 0 7.3 208 0.01 29.88Danau Parasiang 2.4 52 0 4.4 234 0.01 31.00Danau Teluk Petak 1.4 50 0 5.2 218 0.01 31.12 Tabel 2. Parameter Biologi dan Kimia Kualitas Air di Lokasi Pengamatan Chl-a DO CO2 Fosfat Nitrat TOM Titik Sampling pH (ug/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l)Sungai Rungan 0,5 4.25 – 6.28 1.18 – 3.10 4.20 0.080 0.020 74.23Danau Takapan 5,6 5.17 -6.15 1.48 -3.11 4.10 0.060 0.020 52.85Danau Rangas 1,7 3.45 – 5.39 1.86 – 3.12 3.45 0.050 0.043 40.33Danau Rawet 1,2 4.58 – 4.90 0.68 – 1.97 6.78 0.050 0.053 40.00Danau Hampapak 4,4 3.94 – 4.75 0.15 – 1.6 5.29 0.042 0.072 44.66Danau Bajawak 6,7 2.17 – 2.97 3.42 – 5.17 5.89 0.046 0.055 35.73Danau Madang 4,2 3.28 – 5.35 3.27 – 3.24 5.19 0.064 0.082 60.29Danau Dapur (Cangkir) 4,6 4.10 – 5.42 1.75 – 3.21 5.98 0.058 0.080 46.91Danau Marang 3,7 3.10 – 3.48 2.61 – 2.79 5.27 0.052 0.065 24.28Danau Pinang 2,4 4.34 – 5.42 2.31 – 3.65 5.78 0.032 0.044 44.47Danau Tundai 2,7 4.50 - 4.68 3.55 – 3.80 5.80 0.050 0.042 50.10Danau Parasiang 2,3 3.80 – 4.52 4.42 – 4.70 6.18 0.040 0.045 34.24Danau Teluk Petak 1,8 4.10 – 5.14 4.36 – 4.88 5.29 0.050 0.030 32.140dan dua subklas dari crustacea yaitu cladocera yang paling banyak ditemukan adalahdan copepoda. Total species zooplankton yang Limnodrillus sp, sedangkan Homochaeta sp jugatelah diidentifikasi dari daerah ini terdiri dari ditemukan namun kelimpahannya rendah.111 species rotifera, 13 genus cladocera dan 2 Selain jenis makrozoobenthos tersebut dispecies copepoda. Klas rotifera didominasi oleh atas, di Sungai Kahayan juga ditemukan jenisgenus Anoraeopsis, Hexarthra, Keratella, jenis lain seperti dari famili Chironomidae yaituLecane, Polyarthra, dan Trichocerca, sedangkan Micropsectra sp (sub famili Tanitarsini) dansubclas cladocera biasanya didominasi oleh Chironomus sp, Parachironomus sp (sub familigenus Alona, Allonela, Bosminopsis dan Chironomini), dari famili Ceratopogonidae yaituOphryoxus. Dua genus copepod cyclopoida yang Leptoconops sp dan jenis dari famili Tipulidaeumum ditemukan diperairan umum di kawasan dan grup Nematoda.Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah adalah Keberadaan organisme benthos padaMesocyclop dan Thermocyclops. danau-danau di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah umumnya menunjukkan jumlah jenisBethos di Perairan Danau dan tingkat kelimpahan individu yang Keberadaan organisme benthos di Sungai cenderung lebih tinggi pada bagian hulu danauKahayan lebihdi dominasi oleh familiTubificidae dibandingkanbagian tengah dan hilir danau.sub kelas Oligochaeta philum Annelida.Jenishewan benthos dari sub kelas Oligochaeta8
  10. 10. Nilai Beberapa Parimetrik Kualitas pada Beberapa Titik di Sungai Rungan yang Berkonektivitas dengan Danau Stasiun A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 BakuMutuJam 10:36 12:45 8:40 16:50 14:55 12:25 10:15 11:31 -Kedalaman (m) 1,3 4,6 3,2 8,6 2,2 3,8 4,2 6,5 -Kecep. arus 0,23 0,21 0,17 0,20 0,24 0,16 0,14 0,14 -(m/det,)Kecerahan (cm) 50 67 61 27 34 36 30 40 -Kekeruhan (NTU) 55 69,5 56,6 74 72,4 90,7 79,9 63,3 5 NTU *Suhu (oC) 28,7 29,6 28,5 31,1 29,7 29,5 29,2 29,8 Normal ± 3oC **/# 6,5 – 8,5*;5 – 9 **.pH 5,72 5,62 5,67 5,34 5,38 5,61 5,57 5,47 6,5 – 8,5#Oksigen Terlarut 4,67 5,82 5,59 5,05 5,83 4,49 5,19 6,08 3,0 mg/l**(mg/l)DHL 2,0 – 150 mS/m 4,2 4 4,1 3,4 4,2 4,9 3,8 3,6(mS/m) (Boyd, 1988)Potensial Redoks 240 238 215 200 220 192 160 225 450 mV(mV)TDS (mg/l) 0,03 0,03 0,03 0,02 0,03 0,03 0,02 0,02 1000 mg/l **TSS (mg/l) 0.04 0.08 0.04 0.24 0.04 0.06 0.05 0.06 25 mg/l ****BOD (mg/l) 7.9 7.0 12.0 4.2 5.1 5.5 6.4 5.1 10 mg/l ****COD (mg/l) 24.6 22.0 37.5 13.1 15.9 17.3 20.1 16.0 20 mg/l ****TOM (mg/l) 7.6 236.4 5.7 135.2 41.7 17.1 70.8 65.7Fosfat (mg/l) 0.150 0.104 0.115 0.162 0.069 0.115 0.069 0.162 0,1 mg/lAmonia (mg/l) 0.04 0.05 0.05 0.08 0.05 0.05 0.05 0.05 0,02 mg/l ***Alkalinitas (mg/l) 201 168 214 140 171 151 176 177 500 mg/l * 0,001 mg/l *Hg (mg/l) <0,00004 <0,00004 <0,00004 <0,00004 <0,00004 <0,00004 <0,00004 <0,00004 0,0005#Pb (mg/l) <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 0,05 mg/l *, 0,1#Fe (mg/l) 0,84 1,27 0,79 2,2 1,16 1,06 1,24 1,01 0,3 mg/l *, 1#Mn (mg/l) <0,003 <0,003 <0,003 <0,003 <0,003 <0,003 <0,003 <0,003 0,1 mg/l *, 0,05#K (mg/l) 1,64 1,27 1,39 0,68 1,73 1,26 1,18 0,79 10 mg/l ****Phenol (mg/l) <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 0,001 mg/l ***/#Minyak-Lemak 0 0 0 0 0 0 0 0 0,01 mg/l ****(mg/l)Keterangan :* Kriteria Kualitas Air Golongan A, PP Nomor 20 Tahun 1990, Tanggal 5 Juni 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air,** Kriteria Kualitas Air Golongan B, PP Nomor 20 Tahun 1990, Tanggal 5 Juni 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air*** Kriteria Kualitas Air Golongan C, PP Nomor 20 Tahun 1990, Tanggal 5 Juni 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air,**** Kadar Maksimum beberapa parameter kualitas air untuk kepentingan air minum dan kehidupan organisme akuatik (UNESCO/WHO/UNEP,1992),#SK. Gubernur KDH Tk. I Kalimantan Tengah , Nomor 3 Tahun 1995, tentang Penetapan Baku Mutu Air di Propinsi Daerah Tingkat I Kalteng(Kategori golongan B).Tanaman Air dan Vegetasi Rivarian pemakanan, asuhan dan pemijahan beberapa Ekosistem DAS Kahayan terdiri dari jenis ikan putihan (white fish). Vegetasi disungai utama, anak-anak sungai, danau dan habitat danau Oxbow didominasi olehrawa banjiran. Habitat Sungai Rungan adalah tumbuhan dari jenis pandan (Pandanus sp.) danvegetasi riparian yang terdiri dari pepohonan/ putat (Schinus sp.), hanya di beberapa lokasihutan, hutan rawang, rumput kumpai, saja ditemukan jenis-jenis rumput-rumputanAlthenanthera sp., Elodea sp., Polygonum sp., (Graminae) dan Polygonum sp.Potamogeton sp., Sagittaria sp., Phragmites sp., Daerah bagian tengah dan hilir sungaiPanicum sp., Paspalum sp., Eleoharis sp., dan yang berhubungan dengan Sungai utama SungaiLudwigia sp., serta eceng gondok (Eichhornia Kahayan beserta daerah rawa banjirannyacrassipes). Habitat ini merupakan habitat merupakan daerah produktif sebagai sentra 9
  11. 11. penangkapan ikan. Vegetasi rivarian ini sangat Synbranchiformes, Rajiformes,menentukan produktivitas perairan sungai dan Tetraodontiformes, Beloniformes,danau serta rawa banjiran karena merupakan Osteoglossiformes, Pleuronectiformes,sumber nutrien allohthounous, sehingga Clupeiformes serta Elopiformes. Jumlah tersebutberfungsi sebagai habitat pemakanan, asuhan dimutakhirkan kembali pada tahun 2008 yaitudan pemijahan ikan. sebanyak 270 jenis yang terdiri dari 39 famili, Berdasarkan Kabupaten di Provinsi KalimantanKeanekaragaman Jenis Ikan Tengah untuk Kota Palangka Raya sebanyak Berdasarkan inventarisasi dan identifikasi 188 spesies, sedangkan berdasarkan daerahyang dilakukan Tim SDI (2006) jumlah ikan aliran sungai DAS Kahayan sebanyak 235yang terdapat di Kalimantan Tengah sebanyak spesies. Potensi ikan hias untuk kota Palangka267 jenis yang terdiri dari ordo Cypriniformes, Raya sebesar 59 spesies. Beberapa spesiesCyprinodontiformes, Perciformes, Siluriformes, ditampilkan pada gambar 2. Leptobarbus hoeveni Puntioplites Barbodes schwanenfeldii Osteochilus Osteochilus Osteochilus haselti Osteochilus microps Amblyrhynchichthys truncatus Barbichthys laevis Rasbora Pangasius djambal Pangasius poly- Pangasius micronemus Laides hexanema Kryptopterus cryptopterus Kryptopterus schilbeides Wallago leerii Belodontichthys dinema Hemybagrus nemurus Mystus micracanthus Bagrichthys macracanthus Chitala lopis Channa micropeltes Channa striata Channa pleurophthalmus Channa melasoma Clarias meladerma Clarias teijsmanni Helostoma temminckii Trichogaster pectoralis Trichogaster trichop- Trichogaster leeri Anabas testudineus Belontia hasselti Prestolepis fasciata Mastacembelus erythrotaenia Monopterus albus Parambasis wolffii Gambar 2. Jenis-jenis Ikan Yang Dominan Tertangkap Di DAS Rungan dan DAS Kahayan10
  12. 12. Budidaya Ikan Air Tawar Potensi Lahan Budidaya Perairan Umum dan Usaha budidaya ikan air tawar yang telah Tingkat Pemanfaatannya di Kota Palangka Rayaberkembang di Kota Palangka Raya jika dilihatwadah atau jenis areal budidaya ikan yang Lahan Budidaya Perairan Umumdigunakan adalah kolam, Keramba dan beje. TingkatBudidaya yang dikembangkan di wilayah Kota No Kecamatan Potensi Existing PemanfaatanPalangka Raya adalah Ikan Patin, Ikan Toman, (Ha) (Ha) (Ha)Ikan Mas, Ikan Nila, Ikan Bawal Tawar dan jenis 1. Pahandut 1.000 3,23 0,32lainnya. 2. Sabangau 2.000 0,44 0,02 3. Jekan Raya 500 0,08 0,02 Produksi Perairan Umum dan Budidaya 4. Bukit Batu 3.500 0,08 0,00 Tahun 2006 s.d. 2010 di Kota Kalangka Raya 5. Rakumpit 3.500 0,18 0,001 10.500 4,01 0,03 Budidaya (ton)No Tahun Kolam Karamba benih ikan yang dihasilkan serta memenuhi kebutuhan benih ikan dan introduksi bagi 1 2006 21,80 863,10 budidaya ikan di wilayah Kota Palangka Raya. 2 2007 26,65 875,30 Kondisi Sosial Ekonomi Perikanan 3 2008 94,80 1.152,25 Nelayan di Kota Palangka Raya umumnya 4 2009 116,82 1.243,18 merupakan penduduk asli.Berdasarkan hasil penggalian data dan analisis literatur dapat 5 2010 574,52 1.913, 57 diidentifikasikan bahwa sebagian besar mereka berasal dari suku Dayak dan Banjar. Bahasa Produksi Budidaya Ikan Berdasarkan Kecamatan yang digunakan dalam keseharian adalah Tahun 2010 di Kota Palangka Raya bahasa Dayak dan Banjar. Pola struktur sosial di nelayan perairan Jenis Usaha No Kecamatan umum Palangka Raya secara umum adalah Kolam Keramba Jumlah kombinasi struktur komunal dan struktur 1. Pahandut 69,39 1.621,70 1.691,08 produksi. Struktur masyarakat komunal 2. Sabangau 209,71 104,64 314,35 menggambarkan pola hubungan sosial 3. Jekan Raya 117,90 89,86 207,76 berdasarkan ikatan ketetanggaan, kekerabatan 4. Bukit Batu 160,12 44,15 204,27 atau keagamaan. 5. Rakumpit 17,41 53,22 70,63 Kesadaran dan perasaan komunal di 574,52 1.913,57 2.488,09 dalam masyarakat lebih diakibatkan perasaan hubungan keluarga. Pola struktur produksi yang Potensi Lahan Budidaya Kolam dan ada di melibatkan perikanan, pertanian, Tingkat Pemanfaatannya di Kota Palangka Raya perkebunan, dan kehutanan. Fakta di lapangan memperlihatkan bahwa tingkat ketergantungan Lahan Budidaya Kolam masyarakat terhadap hasil hutan (kayu dan No Kecamatan Tingkat rotan) masih sangat tinggi. Potensi Existing Pemanfaatan Hal ini ditunjukkan dengan pengakuan (Ha) (Ha) (Ha) beberapa informan bahwa tingkat pendapatan 1. Pahandut 1.000 0,92 0,09 (kehidupan ekonomi) mereka cenderung 2. Sabangau 1.200 7,14 0,60 menurun secara drastis ketika terjadi 3. Jekan Raya 1.500 8,24 0,55 pelarangan penebangan hutan dan menurunnya 4. Bukit Batu 1.200 5,37 0,45 permintaan akan rotan. Sebagian besar 5. Rakumpit 1.100 0,74 0,07 masyarakat berkeinginan membuka hutan 6.000 22,41 0,37 untuk membuat perkebunan sawit atau karet, selain juga munculnya keinginan untuk Untuk menunjang kegiatan budidaya ikan membuka tambak atau kolam.telah dibangun Balai Benih Ikan (BBI) di Pola hubungan produksi ini melibatkanKelurahan Banturung Kecamatan Bukit Batu. secara aktifkeempat cara produksi tersebut.Manfaatnya adalah untuk meningkatkan usaha Secara ringkas struktur sosial masyarakatbudidaya ikan terutama di bidang pembenihan adalah seperti tercantum pada gambar 3.ikan, meningkatkan kualitas dan kuantitas 11
  13. 13. dalam rangka mencapai tujuan akuakultur. Struktur Sosial Masyarakat Tujuan akuakultur adalah memproduksi ikan dan akhirnya mendapatkan keuntungan. Memproduksi ikan berarti mempertahankan Struktur Produksi Struktur Komunal ikan bisa dan tetap hidup, tumbuh, dan berkembangbiak dalam waktu sesingkat  Perikanan  Hubungan mungkin hingga mencapai ukuran pasar dan  Pertanian kekerabatan bisa dijual. Komponen di dalam sistem teknologi  Perkebunan  Ikatan tradisi akuakultur bekerja sinergis sehingga tercipta  Kehutanan lingkungan terkontrol dan optimal bagi upaya mempertahankan kelangsungan hidup ikan s erta m em acu pertum buhan dan Gambar 3. Pola Sosial Nelayan Perairan Umum perkembangbiakan ikan. Sistem usaha budidaya ikan ini harus Biasanya jenis ikan yang dibudidayakanmendapat perhatian karena itu dilakukan merupakan jenis yang banyak laku dipasaran.kegiatan penyusunan pemetaan kawasan usaha Sehingga ikan hasil budidaya dapat segerabudidaya perikanan di Kalimantan Tengah agar terjual, sehingga perputaran modal dan untungdapat disusun kebijakan dan pengelolaan lebih dapat segera diraih.lanjut untuk peningkatan produksi budidaya Keramba dapat dibuat dalam dua bentukyang optimal sesuai dengan daya dukung yaitu; bentuk empat persegi seperti bentuk petilingkungan dan kemampuan teknologi maupun kayu terbuat dari bambu dengan rangka papankapasitas pelaku usaha dalam mengembangkan balokan, dan bentuk bundar panjang sepertisektor perikanan budidaya. bubu penangkap ikan terbuat dari bilah bambu. Ukuran keramba disesuaikan denganSistem Usaha Perikanan Budidaya kebutuhan budidaya ikan. Setelah kerambaKota Palangka Raya dibuat, kemudian keramba diletakkan dalam Sistem teknologi akuakultur didefinisikan sungai, danau atau rawa. Pada perairan sempitsebagai wadah produksi beserta komponen dan tidak dalam, keramba dapat diletakkanlainnya dan teknologi yang diterapkan pada terendam sekira ± 20 – 30 cm di bawahwadah tersebut serta bekerja secara sinergis permukaan air. Dengan posisi keramba, dua sisi Distribusi Aktivitas Perikanan Budidaya di Kecamatan Kota Palangka Raya Aktivitas BudidayaNo Kecamatan Keramba Kolam Desa Komoditas Desa Komoditas Toman, Patin, Bawal, Baung, 1. Pahandut Panarung Panarung Toman Tapah Mas, Bawal, Toman, Patin, Tanjung Pinang - - Gurame Pahandut Bawal, Nila, Patin, Gurame, Mas - - Pahandut Seberang Bawal, Nila, Patin, Mas - - 2. Sabangau - - Sabaru Patin, Gurame, Lele, Nila Kereng Bangkirai Toman Kereng Bangkirai Patin - - Kalampangan Patin, Gurame, Lele, Nila Bereng Patin, Toman - - Bereng Bangkirai Patin, Toman, Jelawat, Baung - - Danau Tundai Biawan - - 3. Jekan Raya Petuk Katimpun Toman, Patin, Bawal - - - - Bukit Tunggal Patin, Gurame, Lele, Biawan, Nila - - Palangka Patin, Gurame, Lele, Biawan - - Menteng Patin, Gurame, Lele, Nila 4. Bukit Batu Kanarakan Patin, Gurame - - - - Sei Gohong Patin, Gurame Tangkiling Toman, Nila, Patin Tangkiling Gurame Banturung Toman, Nila, Patin Banturung Gurame - - Habaring Hurung Gurame, Patin 5. Rakumpit Marang Toman, Betutu - - Panjehang Patin Panjehang Patin, Nila, Mas Pager Jaya Toman - -12
  14. 14. Contoh Sistem Budidaya dan Tipe Akses Tipe Budidaya Lahan Perairan Air Benih Pakan Teknologi Modal Swasta Terbuka Swasta Swasta SwastaWanamina Bersama - Bersama swasta Bersama Negara Bersama Negara Swasta Negara Swasta Terbuka Swasta Swasta Swastaudang Bersama - Bersama swasta Bersama Negara Bersama Negara Swasta Negara Negara SwastaKerang - - Terbuka - Bersama Bersama Bersama Negara Bersama SwastaRumput laut - - Swasta - Bersama Negara Bersama Swasta Swasta SwastaKolam - Swasta swasta Bersama bersama Negara Bersama Negara SwastaKeramba - Swasta swasta Bersama Bersama Bersamamelintang arus dan satu sisi sejajar arus sungai. siapa yang mengontrol akses ke sumberdayaPada perairan yang luas dan dalam keramba tersebut. Rezim kepemilikan dapatdipasang terendam sebagian sehingga sisa yang diklasifikasikan menjadi sumberdaya terbuka,terapung tinggal ±10cm. Dengan posisi sumberdaya milik umum, sumberdaya milikpemasangan, dua sisi melintang dan empat sisi swasta dan sumberdaya milik negara.memanjang. Agar keramba ikan dapat terapung, Sumberdaya terbuka adalah tidak adanya hakpemasangan harus dipadukan dengan benda properti yang didefinisikan berdasarkanyang dapat mengapung seperti drum kosong, kepemilikan bersama.Sumberdaya terbukabatang kayu dan lain-lain. Setelah pemasangan pada hakekatnya tidak ada pengaturan olehkeramba kemudian penaburan benih ikan yang siapapunserta tidak ada regulasi pasar yangsiap di kerambakan. Ini dapat dibeli dan efektif menentukan sumberdaya tersebut.ditanyakan pada penjual bibit ikan atau bisa Sumberdaya milik umum atau sumberdayajuga konsultasi dan beli pada Balai Benih Ikan milik bersama adalah bahwa sumberdayaterdekat. tersebut dipegang secara bersama. Sumberdaya milik swasta cenderung lebih jelas batasannya, lebih mudah dipisahkan dan lebih mudah Sumberdaya dan Tipe Akses dalam Budidaya dialihkan kepada lainnya. Perikanan Skala Kecil Sumberdaya lahan dan air digunakan Tipe Akses sebagai basis yang dikaitkan dengan sektor Sumberdaya Open Milik lainnya.Hubungan tersebut kompetisi dan Swasta Negara Akses Umum pemanfaatan sumberdaya yang tidak sesuai dan Lahan - √ √ √ dapat berdampak negatif bagi keberlanjutan Perairan √ √ √ √ usaha budidaya perikanan skala kecil.Disi lain, Benih √ √ √ √ input benih dan pakan dapat mempengaruhi Pakan - √ √ - keberlanjutan perikanantangkap, dalam kasus Teknologi - - √ √ dimana benih dan pakan diperoleh dari hasil Modal - √ √ √ tangkapan. Sifat pemanfaatan basis sumberdaya alam juga akan mempengaruhi pilihanArahan Pengembangan pengelolaan dan paktek konservasi.Sistem Usaha Perikanan Budidaya Sumber daya yang dimanfaatkan dalambudidaya perikanan skala kecil dapat dikategorikan dalam rezim kepemilikan yangberbeda, dimana rezim kepemilikan akanmenentukan siapa yang memiliki akses dan 13
  15. 15. Kerjasama Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan Kota Palangka Raya dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Pertanian BogorPENDAHULUAN sangat baik, karena jenis sapi potong yang ada di Indonesia memiliki mutu genetik yang tinggi.Latar Belakang Salah satu sektor riil yang dapatP engembangan peternakan di daerah Kalimantan Tengah mempunyai arti yang sangat penting untuk memenuhikebutuhan daging nasional maupun lokal. dijalankan yaitu melalui usaha peternakan, khususnya sapi potong yang merupakan salah satu bidang yang sangat strategis dalam mendukung stabilitas pertumbuhan wilayahMengingat daging merupakan salah satu bahan Kota Palangka Raya karena beberapa alasanpangan hewani yang mempunyai nilai gizi tinggi berikut. Pertama, sapi potong merupakan sum-dan pada saat ini kebutuhan daging masih berdaya alam yang dapat diperbarui kembalibelum dapat dipenuhi oleh Indonesia. Untuk (renewable) sehingga dapat dijamin dari sisimemenuhi kekurangan akan daging sampai saat sustainabilitas-nya. Kedua, ternak sapi potongini pemerintah masih mengimpor daging dalam dalam berbagai pengalaman telah terbuktibentuk ternak hidup, karkas, maupun produk sangat berperan sebagai instrumen dalamolahannya. Peternakan ternak potong di upaya peningkatan pendapatan masyarakatIndonesia mempunyai prospek ekonomi yang kecil serta mengurangi kesenjangan 14
  16. 16. pendapatan. Ketiga, bisnis sapi potong cukup sedangkan sisanya 98% berasal dari luarprospektif dan menjanjikan karena trend daerah, oleh karena itu untuk memenuhipermintaan yang terus meningkat. Elastisitas kebutuhan daging, harus masih mendatangkanpermintaan komoditas ternak terhadap penda- ternak dari luar Kota Palangka Raya.patan umumnya tinggi sehingga permintaan Kebutuhan ternak yang masih belum dapatkomoditas ternak akan sangat sensitif di masa dipenuhi sendiri dari produksi ternak di Kotayang akan datang dengan semakin tingginya Palangka Raya, sedangkan luas wilayah Kotapendapatan masyarakat. Hal ini dapat Palangka Raya masih sangat memungkinkanmendorong investasi baik bagi pengusaha besar untuk dikembangkan, hal ini menunjukkanmaupun peternak rakyat. Keempat, dukungan peluang besar untuk mengembangkan dankebijakan cukup besar karena visi swasemada meningkatkan produksi ternak di Kota Palangkadaging yang dicanangkan pemerintah pada Raya.tahun 2014. Kelima, limbah dari sapi potong Suatu alternatif pengembangan yangberupa manure dapat digunakan sebagai pupuk dapat dilakukan adalah pembangunan sentrakandang yang bermanfaat dalam menyumbang produksi sapi potong melalui usaha pembi-kesuburan tanah di lahan marginal. bitan dan penggemukan sapi yang dikelola Situasi nasional menunjukkan bahwa secara terintegrasi dari hulu ke hilir danpotensi pasar domestik yang sangat besar melibatkan masyarakat peternak berupa Pusatterhadap komoditas daging sapi menyebabkan Perbibitan dan Inkubator Usaha Sapi Potongtimbulnya kesenjangan antara ketersediaan dan (P2IUSP) akan selaras dengan pembangunankebutuhan daging sapi yang terus meningkat pertanian di propinsi tersebut.dari tahun ke tahun. Model integrasi ini dapat mendorong Khusus Kalimantan Tengah, peluang terjadinya diversifikasi penggunaan sumber-pengembangan sapi potong di Kota Palangka daya produksi, efisiensi penggunaan tenagaRaya sangat prospektif. Dari data pemotongan kerja dan komponen produksi, mengurangiternak di Kota Palangka Raya (Tabel 1) terlihat ketergantungan penggunaan input sumberdayabahwa jumlah pemotongan ternak sapi potong dari luar, mengurangi resiko usaha tani, terjadiper tahunnya semakin meningkat, sebaliknya peningkatan pendapatan dan perbaikanpopulasi ternak relatif menurun. Pada tahun lingkungan hidup.2008 tercatat bahwa jumlah pemotongan Pembangunan Pusat Perbibitan Sapiternak sebanyak 4.465 ekor lebih tinggi dari potong yang akan dikembangkan oleh Kotapopulasi ternak yang ada 3.236 ekor. Artinya Palangka Raya memiliki nilai strategis karenaada selisih permintaan sebesar 1.229 ekor, merupakan upaya pemberdayaan masyarakatdengan asumsi semua ternak dipotong. Kerbau sekitar lokasi perusahaan dan sekaligusmasih kekurangan 2 ekor. Hal ini menunjukkan mendukung kebijakan pemerintah dalamKota Palangka Raya masih kekurangan ternak menumbuhkembangkan kawasan agribisnisbesar. Berdasarkan profil UPT rumah potong sapi potong.hewan 2009 menyatakan bahwa populasi sapi Secara spesifik pengembangan Pusatpotong Kota Palangka Raya hanya mampu Perbibitan dan Inkubator Usaha Sapi Potongmenyediakan 2% kebutuhan sapi potong (P2IUSP) di Kota Palangka Raya Provinsi Tabel 1. Permintaan dan Produksi Komoditas Peternbakan Tahun 2008 No Jenis Ternak Populasi Pemotongan*) Kesenjangan 1. Sapi Potong 3.236 4.465 (-) 1.229 2. Kerbau 49 51 (-) 2 3. Kambing 1.703 629 (+) 1.074 4. Domba - - - 5. Babi 11.345 3.491 (+) 7.854 6. Ayam Buras 140.774 469.254 (-) 328.480 7. Ayam Pedaging 1.100.840 978.853 (+) 121.987 8. Itik/unggas lainnya 3.430 21.242 (-) 17.812 15
  17. 17. Gambar 1. Peternakan pola intensif sapi potong (Bali, PO) di kelurahan Sei Gohong, kecamatan Bukit Batu.Kalimantan Tengah dimaksudkan untuk diharapkan dapat merupakan suatu unit yangpemberdayaan masyarakat di Kota Palangka mandiri baik dari segi ekonomisnya maupunRaya. Oleh karena itu, pengembangan kawasan segi tatalaksananya. Hasil produk unit tersebutdilakukan dengan prinsip-prinsip: (1) berbasis akan dipasarkan ke daerah-daerah minussumberdaya lokal; (2) melibatkan masyarakat daging, yaitu kota-kota besar di sekitarnya dansecara partisipatif; (3) berorientasi pasar; di Pulau Jawa.(4) pengelolaan yang efisiensi melaluimanajemen terpadu; (5) kerjasama berbagai Tujuanpihak. Tujuan umum dari kegiatan adalah Sumber daya manusia (SDM) yang mengkaji kelayakan pembangunan Pusatterampil dan tangguh di bidang peternakan Perbibitan dan Inkubator Usaha Sapi Potongsangat diperlukan dalam usaha meningkatkan (P2IUSP) di Kota Palangka Raya Provinsidan mengembangkan peternakan di daerah Kalimantan Tengah.Kalimantan Tengah. Upaya yang dapat dilaku-kan untuk meningkatkan SDM adalah dengan Keluaranmenambah pengetahuan dan ketrampilan di Keluaran yang diharapkan dari hasilbidang peternakan dengan memberikan pela- kegiatan studi kelayakan pembangunan pusattihan dan pendidikan. Oleh karena itu, P2IUSP perbibitan dan inkubator usaha sapi potongini selain sebagai unit usaha peternakan sapi (P2IUSP) di kota Palangka Raya provinsipotong, juga merupakan pusat pendidikan dan Kalimantan Tengah adalah laporan dokumenpelatihan untuk meningkatkan sumber daya kajian kelayakan pembangunan pusatmanusia di bidang peternakan. perbibitan dan inkubator usaha sapi potong Pusat Perbibitan dan Inkubator Usaha (P2IUSP) di kota Palangka Raya provinsiSapi Potong (P2IUSP) yang akan didirikan ini Kalimantan Tengah.16
  18. 18. Ruang Lingkup pembangunan pusat perbibitan dan inkubator Ruang Lingkup kegiatan studi ini adalah : usaha sapi potong (P2IUSP) di kota Palangka1. Lokasi kajian adalah lahan seluas 1.000 Ha di Raya, dapat dilihat pada Gambar 2. Kelurahan Sei Gohong, Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya. Lokasi Studi2. Melakukan kajian terhadap faktor fisik Lokasi kajian terutama di rencana lokasi seperti daya dukung lahan, potensi pakan, peternakan seluas 1.000 Ha di wilayah kondisi sosial ekonomi dan infrastruktur Kelurahan Sei Gohong Kecamatan Bukit Batu pembibitan sapi di kelurahan Sei Gohong, Kota Palangka Raya, dan sebagai daerah Kecamatan Bukit batu, Kota Palngka Raya. penyokong adalah kawasan di sekitar lokasi.3. Melakukan analisis kelayakan teknis dan manajemen Pembangunan Pusat Pembibitan Sumber Data dan Inkubator Usaha Sapi Potong di Data yang digunakan terdiri atas data Kelurahan Sei Gohong, Kecamatan Bukit primer dan data sekunder. Data primer Batu, Kota Palangka Raya. diperoleh melalui survei data lapangan yang4. Membuat “Site Plan” Pusat Pembibitan dan meliputi observasi lapangan dan pengambilan Inkubator Usaha Sapi Potong di Kelurahan sampel, verifikasi data sekunder dan wawan- Sei Gohong, Kecamatan Bukit Batu, Kota cara dengan stakeholder terkait, sedangkan Palangka Raya. data sekunder dilakukan dengan pengumpulan data yang dipublikasikan oleh dinas/lembagaMETODOLOGI pemerintah, seperti BPS, Bappeda dan DinasKerangka Pemikiran Pertanian Perikanan dan Peternakan. Kerangka Pemikiran studi kelayakan Potensi Wilayah : SDA Peran Strategis SDM Situasi Lingkungan Infrastruktur INPUT yang diharapkan Fasilitas Eksternal PROSES Perumusan SWOT Kajian Desain: Pusat perbibitan dan inkubator usaha sapi OUTPUT potong, Kelembagaan, Desain Fasilitas laya- nan, Pilot Percontohan, Workshop PROGRAM DAN KEGIATAN Berkembangnya Program Pembibitan dan OUTCOMES Inkubator Sapi Potong di Kota Palangka Raya, peningkatan populasi sapi potong, peningkatan pendapatan masyarakat.Gambar 2. Kerangka Pemikiran Studi Kelayakan Pembangunan Pusat Perbibitan dan Inkubator Usaha Sapi Potong (P2IUSP) di Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah 17
  19. 19. Analisis Data kasi sumberdaya manusia dalam mengelola Pembangunan Pusat Pembibitan dan P2IUSP, (b) kebijakan dan program pemerintahInkubator Usaha Sapi Potong (P2IUSP) kota, dan (c) ketersediaan alternative sumbermerupakan investasi pemerintah daerah dalam pendanaan untuk pengelolaan P2IUSP.rangka mengembangkan usaha peternakan sapi Oleh karena P2IUSP adalah kelembagaanpotong di Kota Palangka Raya sehingga mening- yang lebih berorientasi dan bersifat publickatkan kesempatan usaha masyarakat yang service dan bukan suatu kelembagaan yangpada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan semata-mata berorientasi keuntungan finansial,masyarakat dan perekonomian daerah. Proyek maka analisis kelayakan ekonomi lebihP2IUSP merupakan proyek yang mendukung ditekankan kepada estimasi manfaat dan nilaiprogram pemerintah yaitu dalam rangka swa- tambah terhadap perekonomian masyarakatsembada daging, yang selama ini kekurangan khususnya dan perekonomian kota Palangkauntuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging Raya pada umumnya. Sebagaimana lazimnyadilakukan dengan impor. Walaupun secara suatu proyek investasi maka pada studi ini juganormatif P2IUSP diharapkan memberikan dilakukan estimasi kebutuhan dana untukmanfaat seperti tersebut di atas, akan tetapi pembangunan P2IUSP sesuai dengan hasiloleh karena menyangkut investasi yang besar, rancangan tapak, fasilitas dan serta analisismaka untuk menjamin dan memberikan kebutuhan dana untuk operasionalisasikeyakinan bahwa implementasi dan kegiatan P2IUSP.operasionalisasi nya sesuai dengan maksud dan Selain faktor kualitas pengelolaan suatutujuan, analisis kelayakan tetap diperlukan. lembaga yang salah satu faktor penentunya Kajian kelayakan dimaksudkan untuk adalah kualitas sumberdaya pengelola, kesinammengidentifikasi dan mengestimasi permasa- -bungan P2IUSP juga ditentukan oleh sejauhlahan, prospek dan risiko pembangunan mana kesinambungan sumber pendanaan untukP2IUSP, serta program atau kegiatan yang membiayai operasionalisasi P2IUSP. Sebagaidiperlukan untuk mengantisipasi dan mengatasi lembaga Public Service maka pendanaannyapermasalahan dan resiko baik pada tahap adalah melalui mekanisme APBN dan APBD,pembangunan maupun pada tahapan yang dapat diduga tidak dapat menutupiimplementasi dan operasionalisasi P2IUSP. seluruh kebutuhan biaya untuk operasionalKelayakan P2IUSP merupakan akumulasi P2IUSP. Untuk mendukung kesinambungankelayakan pada aspek teknis, manajemen dan sumber pendanaan tersebut, maka perlukelembagaan serta ekonomi. dilakukan analisis sejauh mana kegiatan Kelayakan pada aspek teknis/teknologis pembibitan sapi potong dan kegiatan inkubasimencakup analisis terhadap (1) sejauh mana yang dilaksanakan oleh P2IUSP mampu men-kesesuaian lahan atau area yang ada dan generate pendapatan, sehingga bisa mendukungtersedia untuk budidaya sumber pakan dan operasional P2IUSP secara berkesinambunga.hijauan, (2) karateristik tanah dan topografi Analisis skenario cash flow yang dimungkinkanarea untuk penggembalaan sapi, (3) karakte- sesuai dengan bentuk alternatif rancanganristik agroklimat lokasi untuk pembibitan sapi, kelembagaan P2IUSP akan dilakukan.dan (4) sejauh mana ketersediaan dankesesuaian bibit sapi potong ternak yang Analisis Kualitas Tanah dan Kesesuaiandigunakan. Lahan Kelayakan pada aspek manajemen dan Analisis tanah meliputi tekstur tanah, pH,kelembagaan mencakup analisis terhadap unsur hara makro dan mikro, kejenuhan basa(1) sejauh mana dukungan dan kendala aspek (KB) dan kapasitas tukar kation (KTK),sosial-demografi masyarakat terhadap sedangkan analisis air meliputi pH, BOD dankarakteristik usaha budidaya sapi potong serta COD, daya hantar listrik (DHL), total dissolvedprogram seperti apa yang harus dilakukan solid (TDS), dan unsur-unsur dan atau senyawanantinya dalam mengatasi kendala tersebut, (2) bermanfaat dan beracun (Nitrat, nitrit, fosfat, ,sejauh mana kelembagaan yang ada prospektif basa-basa, trace element, dan beberapa logamdalam mengimplementasikan dan mengopera- berat; Cu, Fe, Zn, Mn, Mg, Ca, K, Pb, Mo, B, Cr, Cd,sionalkan P2IUSP, serta (3) rancangan bentuk As dan Hg).kelembagaan seperti apa yang cocok sehingga Daya dukung lahan dikaji dari sisimenjamin efektifitas dan kesinambungan kesesuaian lahan menggunakan pendekatanP2IUSP, dengan mengidentifikasi: perbandingan antara sifat bio-fisik-kimia(a) kebutuhan dan ketersediaan serta kualifi- parameter lahan yang terdiri dari tanah, air,18
  20. 20. topografi, dan iklim dengan kebutuhan dari tipe  Metode Nell Rolinsonpenggunaan lahan yang akan diterapkan, dalam Komponen hijauan yang diukurhal ini untuk tapak pembangunan fisik dan produksinya yaitu rumput alam dan hijauanlahan produksi hijauan makanan ternak. hasil sisa pertanian (HHSP). Sumber hijauanAnalisis ini didasarkan pada kriteria empiris adalah lahan dengan peruntukan pertanianyang telah dikembangkan dikombinasikan tanaman pangan, perkebunan, kehutanan,dengan expert judgement sesuai tekonologi dan padang rumput dan jalan. Variabel yangmanajemen yang akan diterapkan. dilaporkan dalam statistik adalah : a. Padang rumput permanenAnalisis Potensi Penyediaan Hijauan Pakan b. Sawah beraTernak Ruminansia c. Galengan sawah Metode yang digunakan untuk d. Hutan sejenis/hutan produksimenghitung potensi dan pengembangan ternak e. Hutan sekunderruminansia berdasarkan ketersediaan hijauan f. Tegalan/lahan kering/ladangpakan adalah : g. Perkebunan Metode KPPTR (Kapasitas Peningkatan h. Pinggir jalan Populasi Ternak Ruminansia) Rumus yang digunakan adalah : Identifikasi Jenis-Jenis Tanaman Pakan(1) KPPTR (Efektif) = Kapasitas Tampung - Analisis ini bertujuan untuk Populasi Riil mengidentifikasi jenis-jenis hijauan serta(2) Kapasitas Tampung = Potensi Produksi BK potensi hijauan yang dapat digunakan sebagai hijauan di suatu wilayah dibagi dengan pakan ternak yang tumbuh di daerah Kota (365 hari x 6.29 Kg BK) Palangka Raya Kalimantan Tengah.. Jenis(3) PMSL (Potensi Maksimum Sumberdaya tanaman yang diidentifikasi adalah tanaman Lahan) = a LG + b PR + c R rumput, leguminosa, gulma (tanaman Keterangan : pengganggu) dan limbah pertanian. a = 0.8 ST/ha b = 0.5 ST/ha Analisis Potensi Ketersedian Bahan Pakan c = 1.2 ST/ha Konsentrat LG = Lahan garapan Analisis ini bertujuan untuk mengetahui PR = Padang rumput ketersediaan pakan, baik kuantitas, kualitas R = Rawa serta kontinuitasnya. Analisis data dilakukan(4) PMKK (Potensi Maksimum Kepala dengan melihat sumber-sumber penyediaan Keluarga ) = d KK pakan yang berasal dari perkebunan, tanaman Keterangan : d = 3 ST/ha. pangan serta industri pengolah hasil pertanian.(5) KPPTR (SL) = PMSL – POPULASI RIIL Data tersebut diolah dengan menghitung(6) KPPTR (KK) = PMKK – POPULASI RIIL konversi dari luas tanam ke potensi penyediaan(7) KPPTR (E) = KPPTR (SL) limbah baik berupa bahan konsentrat maupun limbah hijauan. Tabel 1. Asumsi Produksi Hijauan Hasil Sisa Pertanian (HHSP) Produksi % % No. Bahan HHSP % BK % dikonsumsi (ton/ha) TDN Prdd 1. Jerami padi 2.5 92.5 10 41.5 0.6 2. Jerami Jagung 10 80.3 10 45,5 2.0 3. Daun singkong 5 26.0 20 14.9 3.6 4. Daun Ubi jalar 15 20.0 40 11.4 2.0 5. Jerami kedelai 3 88.9 40 38.6 1.1 6. Daun kacang tanah 4 90.0 40 39.7 4.7 19
  21. 21. Potensi ketersediaan pakan sumber prosentase karkas yang lebih tinggi dibandingkonsentrat di Kota Palangka Raya dihitung jenis sapi lainnya. Tingkat produksi ternak sapiberdasarkan produksi limbah-limbah lokal di Palangka Raya relatif masih rendah,pengolahan hasil pertanian yang dapat baik dari segi populasi maupun performandimanfaatkan maupun yang potensial dapat individu sapi.dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Potensi Secara umum sapi lokal yang dipeliharapakan ternak sebanding dengan luasan tanaman peternak memiliki produktivitas yang rendahpertanian yang diusahakan. karena ternak hanya mengandalkan pakan dari padang rumput alam. Sapi-sapi tersebutAnalisis Ketersediaan dan Kesesuaian Bibit memiliki ukuran kerangka tubuh yang kecil danSapi Potong dipotong pada umur yang sudah tua (4 – 5 Sesuai dengan salah satu tujuan dari tahun) untuk mencapai bobot potong berkisarP2IUSP adalah menghasilkan bakalan ternak antara 250 – 350 kg. Daging yang dihasilkanpotong maka diperlukan bibit ternak sapi dari sapi tua mempunyai kualitas yang kurangpotong. Bibit ternak adalah blue print mutu, baik, tingkat keempukan dagingnya rendah.dengan demikian calon induk dan pejantan Selama ini sapi lokal yang ada didaerahharus bermutu baik. Pemilihan jenis bangsa cenderung mengalami penurunan populasi dansapi potong yang akan dikembang biakkan mutu genetik. Hal ini diduga terjadi karenaadalah merupakan ternak sapi asli atau lokal belum adanya program pemulia-biakan yang(PO dan Bali) yang umumnya dapat dipelihara terarah. Umumnya para peternak, tidaksecara ekstensif maupun semi-intensif. Sapi- menggunakan pejantan unggul. Praktissapi tersebut memiliki keunggulan beradaptasi perkawinan ternak sapi di padang rumputpada kondisi padang rumput alam tropis. Sapi- terjadi secara alami dan tidak terkontrol dengansapi tersebut lebih tahan terhadap cekaman menggunakan pejantan yang tersedia dipanas, pakan terbatas dan ektoparasit diban- kandang umum. Hal ini dapat menyebabkandingkan dengan sapi-sapi temperate (iklim terjadinya inbreeding yang berakibat padasedang) yang termasuk kedalam kelompok Bos penurunan reproduksi dan produksi ternak.Taurus. Hal ini membuat sapi-sapi asli atau Upaya perbaikan mutu bibit sapi-sapilokal yang akan dibibitkan dalam P2IUSP akan lokal perlu memperhatikan pola pemeliharaan,dapat menjadi komoditas ternak unggulan dan ketersediaan pakan dan fasilitas pendukung.merupakan sumber plasma nutfah yang sangat Perbaikan mutu bibit dapat dilakukan denganpotensial bagi pengembangan peternakan sapi introduksi pejantan unggul, seleksi danpotong dimasa yang akan datang. penambahan sapi bibit, penerapan teknologi Dari jenis sapi asli atau lokal tersebut di inseminasi buatan (IB) dengan menggunakanatas, umumnya jenis sapi bali yang merupakan semen beku.sapi asli Indonesia dapat berkembang denganbaik pada sistem pemeliharaan ekstensif di Analisis SWOTpadang rumput dengan input pakan yang Analisis SWOT bertujuan untukterbatas. Selain itu sapi Bali memiliki menyusun strategi pengembangan peternakan Tabel 2. Matriks SWOT Internal S (Strength) W (Weakness)Eksternal O (Opportunity) Strategi (S-O) Strategi (W-O) Menyusun strategi dengan menggunakan Menyusun strategi untuk memperoleh kekuatan internal untuk memperoleh keuntungan dari peluang yang ada dalam profit dari peluang yang ada mengatasi kelemahan Strategi (S-T) Strategi (W-T) T (Threats) Menyusun strategi dengan memanfaatkan Menyusun strategi dengan cara kekuatan yang ada untuk menghindari meminimalkan kelemahan dan ancaman menghindari ancaman20
  22. 22. sapi potong, baik jangka pendek, menengah terjadinya perpindahan penyakit antarmaupun jangka panjang. Analisis SWOT yang peternakan, membuat kandang dengan luasakan dilakukan merupakan analisis terhadap yang layak sesuai jumlah ternak dan ventilasilingkungan internal dan eksternal, melalui yang baik, membuat kandang isolasi bagi ternakidentifikasi faktor-faktor kekuatan (strength), yang sakit dan kandang karantina bagi ternakkelemahan (weakness), peluang (opportunity), yang sehat. Mengisolasi kandang dari ganguandan ancaman (threats). Dari hasil identifikasi hama dan serangga, merancang kandang agarfaktor-faktor tersebut selanjutnya disusun mudah dibersihkan dan mengunakan bahanstrategi melalui bantuan matriks SWOT (Tabel bangunan yang aman. Akses keluar masuk2). peternakan dirancang agar orang yang tidak berkepentingan tidak sembarangan masuk keRANCANGAN KAWASAN areal peternakan. Rencana tapak peternakanPEMBANGUNAN PUSAT PERBIBITAN sapi potong pembangunan di P2IUSP dapat dilihat pada Gambar 4 dan pada Gambr 5 petaDAN INKUBATOR USAHA SAPI arahan Areal Bangunan P2IUSPPOTONG Bangunan peternakan dirancang untuk memfasilitasi kenyamanan, kesehatan danRancangan Tapak produktivitas ternak. Ventilasi yang baik, Berdasarkan hasil analisis kebutuhan tersedianya pakan dan air dengan kualitas yangruang dan daya dukung lingkungan, ditentukan baik, penerangan dan kenyamanan ternak men-pemanfaatan ruang berupa rencana tapak jadi perhatian untuk meningkatkan performanpemanfaatan ruang. Rencana tapak ini berisi ternak. Area yang terpisah diperlukan untukpanduan dalam perencanaan fisik tata letak mengisolasi ternak yang sakit dan untukbangunan. Pendekatan analisis tapak menya- perawatan ternak.takan sifat, struktur dan potensi tapak tersebut. Pada peta kawasan dibuat pembagianDalam analisis tapak dipertimbangkan hal-hal area berdasarkan fungsi (peruntukan) arealyang terkait dengan tata guna tanah, topografi, dalam menunjang produktivitas sebuahdrainase, tanah, vegetasi, iklim, kondisi yang kawasan peternakan. Lokasi kawasan akanada serta ciri khusus (Gambar 3). dibagi menjadi beberapa fungsi area, yaitu: area Tata letak bangunan diatur dengan lahan kebun rumput, area untuk kandang, areaberdasarkan fungsinya dan jarak antar untuk handling yard, dan area untukbangunan dalam peternakan yang berdekatan pengolahan limbah, area perkantoran, parkir,juga diatur agar tidak menambah resiko taman, mess, dan mesin listrik. Ketentuan:  % Kapling sarana dan prasarana  Standar teknisANALISIS TAPAK (SifatStruktur dan Potensi Tapak): Tata guna tanah ANALISIS KEBUTUHAN Topografi LAHAN Sumber Air Drainase RENCANA PENYUSUNAN KONSEP RENCANA TAPAK Tanah Vegetasi ANALISIS DAYA Iklim DUKUNG TAPAK Kondisi yang ada Ciri khusus Gambar 3. Konsep Pendekatan Analisis Tapak 21
  23. 23. Gambar 4. Rencana Tapak Gambar 5. Peta arahan Areal Bangunan P2IUSP22
  24. 24. Rancangan Fisik Bangunan dengan lebar gang way 1 m. Kandang jepit Sarana dan prasarana yang akan dibangun letaknya berjejer seri dengan kandang kandangpada kawasan P2IUSP adalah kandang, handling penampungan dan gang way. Sapi yang diberiyard, kantor, gudang pakan dan peralatan, Aula perlakuan akan diperlakukan di kandang jepit(bangunan pertemuan), pagar kawasan, unit yang berada dalam handling yard.pengolahan limbah, generator listrik, sumurbor, menara air, pos satpam, mess dan rumah Pagar Kawasanpengelola (kepala dan pegawai). Lokasi kawasan P2IUSP secara fisikKandang dibatasi oleh pagar. Untuk memperkokoh pagar, Kandang bagi ternak sapi potong tanaman gamal (Glyricidia sepium) atau angsanamerupakan sarana yang mutlak harus ada. disarankan untuk ditanam antar tiang pagarKandang merupakan tempat berlindung ternak dengan interval satu meter, sehingga diantaradari hujan, terik matahari, pengamanan ternak dua tiang pagar terdapat 5 tegakan pohonterhadap binatang buas, pencuri, dan kandang gamal. Keuntungan pemanfaatan tanamanjuga merupakan salah satu sarana untuk gamal sebagai pagar adalah daunnya dapatmenjaga kesehatan.. dimanfaatkan sebagai sumber hijauan pakan Beberapa persyaratan yang diperlukan berkualitas tinggi.dalam mendirikan kandang antara lain:(1) memenuhi persyaratan kesehatan ternak, Unit Pengolahan Limbah(2) mempunyai ventilasi yang baik, (3) efisiensi Unit pengolahan limbah akan dibuatdalam pengelolaan (4) melindungi ternak dari berdekatan dengan kandang. Unit ini terdiripengaruh iklim dan keamanan kecurian dari 1 unit biogas dan 1 unit pengolahan dan(5) serta tidak berdampak terhadap lingkungan pembuatan pupuk. Biogas dibangun dengansekitarnya. Konstruksi kandang harus kuat dan sistem kubah atau dengan bahan semen betontahan lama, penataan dan perlengkapan volume 15 m3. Lantai dasar bangunan ditembok.kandang-kandang hendaknya dapat Unit pengolahan pengolahan pupuk. Unit inimemberikan kenyamaman kerja bagi petugas terdiri dari 5 kompartmen, yaitu untuk penam-dalam dalam proses produksi seperti memberi pungan feses segar, pengolahan (dekomposisi)pakan, pembersihan, pemeriksaan birahi dan feses melalui perlakuan biokomposer, danpenanganan kesehatan. penampungan pupuk jadi. Masing-masing Bentuk dan tipe kandang disesuaikan kompartmen dipisahkan dengan sekat tembokdengan lokasi berdasarkan agroekosistemnya, setinggi 70—80 cm. Total luasan yangpola atau tujuan pemeliharaan dan kondisi dibutuhkan untuk unit biogas 20 m2 dan unitfisiologis ternak. Kandang yang diperlukan pengelolaan pupuk 25 m2.dalam kawasan inti adalah kandang induk,kandang beranak, kandang pejantan dan Bangunankandang pembesaran/penggemukan. Luasan  Aula (Bangunan pertemuan/tempatareal yang dibutuhkan untuk kandang kandang pelatihan) luas bangunan ± 80 m2induk dan kandang beranak 1600 m2.  Ruang Kelas, luas bangunan ± 64 m2  Kantor, luas banguan ± 72 m2 Handling Yard Gudang Pakan dan Peralatan, luas bangunan Handling yard dibuat untuk penanganan ± 60 m2ternak. Dalam handling yard beberapa  Bangunan Mesin Listrikperlakuan seperti loading dan unloading ternak  Pos Satpam, luasan yang dibutuhkan ± 3 m2(menurunkan dan menaikkan ternak) penyem-  Mess, luasannya ± 192 m2protan ternak, pemberian vaksin, obat dan  Rumah Kepala dan Pegawai (1 unit rumahvitamin. Selain itu, tata laksana pemeliharaan kepala dan 4 unit rumah pegawai)lainnya seperti pembersihan kuku atau kulit jika  Sumur Borada luka juga dilakukan di kandang jepit pada  Menara Airhandling yard. Fasilitas yang perlu disediakandalam handling yard antara lain loading dan Rancangan Penyediaan Pakan Ternakunloading rump, kandang penampungan dan Salah satu faktor tata laksana pemeliha-kandang jepit dan pintu multi arah serta lorong raan yang penting dan pengaruhnya sangatternak (gang way). Handling yard dibangun besar bagi produktivitas adalah pakan. Selainberada dalam holding ground berdekatan harus berkualitas, pakan juga harus ekonomisdengan kandang. Luas handling yard 50 m2, supaya dapat memberikan keuntungan. 23
  25. 25. Kualitas suatu bahan pakan ditentukan oleh jagung, ubi kayu maupun limbah tahu.kandungan zat nutrient atau komposisi Konsentrat ini dicampur sendiri secara manual.kimianya, serta tinggi rendahnya zat anti-nutrisi Konsentrat yang diberikan sebanyak 1-1,5%yang terkandung di dalamnya. Makanan pokok bobot badan.ternak sapi adalah berupa hijauan makananternak dan pakan penguat (konsentrat) sebagai Rancangan Pengelolaan Sapi Potongtambahan. Sistem Pemeliharaan Sapi Potong Pemeliharaan ternak dilakukan secaraRancangan Penyediaan Hijauan Pakan intensif. Sistem intensif yaitu sistem pemeliha-Ternak raan ternak sapi dengan cara dikandangkan Selama ini rumput lebih banyak secara terus menerus dengan sistem pemberiandigunakan sebagai sumber hijauan makanan pakan secara cut and carry. Pada sistem initernak karena selain lebih murah juga lebih ternak sapi dikandangkan (bangunan kandang)mudah diperoleh. Di samping itu rumput dan peternak setiap hari memberi pakanmempunyai produksi yang lebih tinggi dan lebih hijauan (rumput, jerami) dan pakan tambahan.tahan terhadap tekanan defoliasi (pemotongandan renggutan). Dalam meningkatkan produksi Sistem Produksi Sapi Potongdan produktivitas ternak, ketersediaan dan Usaha peternakan ruminansia besarkontinyuitas hijauan makanan ternak sangat penghasil daging dapat dikelompokkan kediperlukan, untuk itu perlu diwujudkan adanya dalam beberapa program produksi sapi yanglahan yang digunakan sebagai kebun hijauan masing-masing memiliki kekhususan dalammakanan ternak (HMT). Kebun HMT adalah pengelolaannya. Program tersebut antara lainlahan tempat ditanamnya rumput unggul dan produksi anak (cow calf), pembesaran anak sapiatau legume sebagai sumber pakan ternak yang sapihan (stocker) dan penggemukan (finisher).berkualitas. Selain rumput sekali-kali peternak Unit produksi sapi pedaging yang akanjuga memberikan sisa hasil petanian berupa dikembangkan dibagi ke dalam tiga sistemjerami padi atau batang jagung jalar sebagai produksi yaitu :pengganti sebagian hijauan (pada musim 1. Cow calf production (Programpanen) dan dari jenis legume (kacang- Pembibitan/Breeding)kacangan) seperti gamal dan lamtoro. Hijauan Sistem ini untuk menghasilkan bibit penggantiyang diberikan sebanyak 20 – 40 kg/ekor/hari (replacement stock) dan anak sapi bakalan.yang diberikan dua kali sehari (pagi dan sore Dalam sistem ini anak sapi dipelihara bersamahari). Pakan ternak yang ditanam meliputi : induk hingga masa penyapihan selama sekitar Rumput Gajah 180 hari. Output yang dihasilkan dari sistem ini Gamal adalah anak sapi lepas sapih jantan dan betina Lamtoro dengan rataan bobot badan berkisar 60-70 kg. 2. Growing of stocker (Program PembesaranRancangan Penyediaan Pakan Konsentrat Sapi) Konsentrat atau makanan penguat adalah Yakni pemeliharaan secara anak sapi lepassuatu bahan pakan dengan nilai gizi tinggi yang sapih jantan dan betina dipelihara selamadipergunakan bersama bahan pakan lain untuk sekitar 360 hari untuk menghasilkan feedermeningkatkan keserasian gizi dari keseluruhan cattle (sapi bakalan untuk digemukkan) denganpakan yang dimakan. Konsentrat sapi potong bobot hidup berkisar 175-200 kg. Pada sistemtidak selalu berbentuk konsentrat buatan ini juga dipelihara sapi dara sebagaipabrik atau yang dijual di pasaran (konsentrat replacement stock.komersial); namun dapat berupa bahan pakan 3. Fattening (Program Penggemukan Sapi)tunggal atau campuran beberapa bahan pakan Yakni penggemukan sapi secara intensifyang dicampur sendiri. Untuk menekan biaya dalam feedlot selama 180 hari dengan pembe-ransum, pemberian konsentrat dapat rian hijauan dan konsentrat hingga mencapaidikombinasikan dengan bahan pakan limbah bobot potong sekitar 275-317 kg. Sapi hasilagroindustri potensial setempat. Pemanfaatan penggemukan ini memiliki mutu yang lebihbahan pakan setempat dapat menggantikan baik. Dalam sistem ini juga digemukkan sapikonsentrat komersial sampai dengan 75%. betina dan jantan afkir sebelum dijual. Skema Rencana pengadaan konsentrat sapi pola produksi sapi potong yang akan dikem-potong di P2IUSP adalah menggunakan sumber- bangkan di P2IUSP disajikan pada Gambar 6.daya lokal seperti dedak padi, bungkil sawit,24
  26. 26. COW CALF PRODUCTION Waktu Sapih : 180 Hari Berat Sapih : 60-70 Kg Pejantan/Induk Afkir ANAK LEPAS SAPIH GROWING OF STOCKER Pemeliharaan : 360 - 540 hari Berat Akhir : 200 Kg FATTENING SAPI DARA BIBIT Pemeliharaan : 180 hari Bobot Potong : 275-350 kg SAPI SIAP POTONG (jantan, induk afkir, pejantan afkir) Distribusi / Pasar Gambar 6. Pola Produksi Sapi Potong di P2IUSPRencana Produksi Sapi Potong keturunan dari sapi liar yang disebut banteng Rencana produksi sapi potong di P2IUSP (Bos bibos atau Bos Sondaicus) yang telahadalah untuk menghasilkan sapi betina bibit mengalami proses penjinakkan (domestikasi)dan usaha penggemukan/pembesaran. Usaha berabad-abad lamanya. Sapi ini dapatperbibitan sapi potong yang dikembangkan berkembang sangat baik secara ekstensif dimenggunakan bangsa sapi bali sebanyak 50 padang penggembalaan maupun intensifekor sapi induk dan 10 ekor pejantan, sedang- dengan level pemberian pakan rendah hinggakan untuk usaha pembesara/penggemukan sedang. Sapi tersebut memiliki keunggulandilakukan dengan skala 50 ekor yang berasal beradaptasi pada kondisi padang rumput alamdari bakalan jantan hasil perbibitan dan bakalan tropis. Sapi tersebut lebih tahan terhadapdari luar yang dibeli. Usaha pembesaran/ cekaman panas, pakan terbatas dan ektoparasitpenggemukan dilakukan selama 6 bulan. Jadi dibandingkan dengan sapi-sapi temperatedalam setahun ada dua periode. Sapi-sapi (iklim sedang). Selain itu sapi Bali memilikitersebut dipelihara secara intensif dalam prosentase karkas yang lebih tinggi dibandingkandang. Dengan sistem pemeliharaan ini, jenis sapi lainnya. Bobot dewasa sapi jantandiasumsikan rataan tingkat kelahiran anak mencapai 450 kg, sedangkan yang betina 300-sebesar 80%, rasio kelahiran anak jantan dan 400 kg. Upaya perbaikan mutu bibit sapi-sapibetina 1: 1, dan kematian anak 15%. (Tabel 3). lokal perlu memperhatikan pola pemeliharaan, ketersediaan pakan dan fasilitas pendukung.Ketersedian dan Kesesuaian Bibit Sapi Perbaikan mutu bibit dapat dilakukan dengan Berdasarkan pertimbangan peluang introduksi pejantan unggul, seleksi danpasar, penguasaan teknik produksi, penambahan sapi bibit, penerapan teknologiketersediaan bibit, dan kondisi alami daerah inseminasi buatan (IB) dengan menggunakanKalimantan Tengah, maka sapi yang diusaha- semen beku.kan adalah sapi bali. Sapi Bali merupakan 25

×