Successfully reported this slideshow.
Masih Bertumpu Pada   Sang PeloporSurvei Serikat Pekerja di Perusahaan Media      Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indone...
Masih Bertumpu Pada Sang PeloporKETERANGAN UMUM SURVEI    Metode riset              Survei    Wilayah survei            Ja...
KATA PENGANTAR Konsolidasi Serikat Pekerja Media:   “Too little, but not too late”          SELAMA satu dekade ini, kita m...
Masih Bertumpu Pada Sang Peloporpekerja pun seperti enggan muncul  kendati kesempatan secara legal sudahterbuka. Misalkan,...
Kata Pengantar           Konflik ketenagakerjaan sebagai imbas dari ketidakjelasan aturankerja hingga masalah kesejahteraa...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor           Survei ini juga menelaah tingkat keaktifan serikat, efektivitas penyelesaianmas...
RINGKASAN EKSEKUTIF1.	 Latar belakang        Survei ini ingin menggambarkan bagaimana penilaian jurnalisterhadap kehadiran...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor3.	 Metode penelitian          Survei ini dilakukan dengan menggunakan pertanyaan terstruk...
Ringkasan Eksekutif        serikat pekerja di media tempat mereka bekerja selama ini.    b.	 Selain mengatakan perlu membe...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor               mereka bekerja. Sedangkan yang menjawab puas atau sangat               puas...
Ringkasan Eksekutif        serikat pekerja maupun yang tidak memiliki serikat pekerja        menilai, kesepakatan kerja se...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor               responden (60%) menilai upah yang mereka dapatkan dari               perusa...
DAFTAR ISIRingkasan Eksekutif                                            7Daftar Isi                                      ...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor          B.	 Dukungan terhadap pembentukan serikat pekerja             72Bab 5 	 Permasal...
Daftar Isi        E.	 Frekuensi pertemuan serikat pekerja                    108        F.	 Persepsi terhadap aktivitas se...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor16
DAFTAR GRAFIKGrafik 	 2.1	    Jenis kelamin                                      46Grafik 	 2.2	    Usia responden        ...
Masih Bertumpu Pada Sang PeloporGrafik 	 3.16	       Bentuk dukungan direksi/manajemen terhadap 			                   seri...
Daftar GrafikGrafik 	 6.5	    Aspek yang menjadi prioritas perjuangan serikat 			               pekerja                   ...
Masih Bertumpu Pada Sang PeloporGrafik 	 11.3	       Penilaian jam kerja ideal dalam sehari              154Grafik 	 11.4	...
DAFTAR TABELTabel 	 1.1	   Komposisi media dan responden survei 				             kuantitatif                              ...
Masih Bertumpu Pada Sang PeloporTabel 	 8.2	         Aspek dalam kesepakatan bersama (tidak ada 			                   seri...
Daftar TabelTabel 	 10.15	 Penilaian terhadap fasilitas yang diterima (tidak 			               ada serikat)               ...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor24
Bab 1                       PendahuluanA. Latar belakang penelitian        Siang itu, Kamis, 13 Maret 2010, mestinya menja...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor          Reaksi manajemen seperti perkiraan Budi dan kawan-kawan.Manajemen meminta pekerj...
Bab 1 Pendahuluanmengaku lega. Selama ini, pimpinan PT MIU selalu sesumbarbahwa perusahaan tidak bisa dikalahkan karena me...
Masih Bertumpu Pada Sang Peloporsatu per satu bawahannya. Hal yang sama dilakukan pimpinan unit art(seni) di Indosiar. Pes...
Bab 1 Pendahuluanserikat pekerja sebagai salah satu pemangku kepentingan yang mestinya bisadiajak bersama-sama membangun p...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor          umumnya dilakukan ketika serikat pekerja sedang memperjuangkan          hak-hak ...
Bab 1 Pendahuluan         memenuhi syarat 50%+1 dari total pekerja, kadang malah tidak         mau berunding karena di dal...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopormelalui serikat pekerja. Lewat serikat pekerja dukungan internal bisadigalang sehingga pos...
Bab 1 Pendahuluan1.	 Problem ”kelas” yang belum tuntas	   Selama ini mayoritas jurnalis masih mengidentifikasikan dirinya ...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor          belum banyaknya contoh kemenangan yang berhasil diraih serikat          pekerja ...
Bab 1 Pendahuluan    mengembangkan ekspansi bisnis. Contohnya, selain menerbitkan    media, perusahaan tersebut juga memil...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor          wajah-wajah lama. Tanpa adanya kaderisasi, cepat atau lambat akan          membu...
Bab 1 PendahuluanB. Tujuan penelitian         Survei ini ingin mendapatkan data mengenai penilaian jurnalisterhadap serika...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor          diharapkan akan dilakukan oleh serikat pekerja media.     d.	 Kepuasan terhadap ...
Bab 1 Pendahuluan        hanya memperjuangkan kesejahteraan jurnalis ataukah juga        memperjuangkan hal lain misalnya ...
Masih Bertumpu Pada Sang Peloporklaster ini dipakai karena dua kondisi. Pertama, tidak tersedia kerangkasampel (sampling f...
Bab 1 Pendahuluan  17.     Kantor Berita Radio 68 H        4  18.     Smart FM Jakarta                4                   ...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor          Karena daftar nama tidak tersedia, penarikan sampel acak sederhana(simple random...
Bab 1 Pendahuluan    diambil diklasifikasikan ke dalam media yang mempunyai serikat    pekerja dan media yang tidak mempun...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor44
Bab 2                  Profil RespondenRESPONDEN yang menjadi sampel dalam survei ini didesain menjadi duakelompok respond...
Masih Bertumpu Pada Sang Peloporserikat pekerja dengan media yang tidak memiliki serikat pekerja.                         ...
Bab 2 Profil Responden                                    Grafik 2.2 Usia Responden      Base: Ada Serikat Pekerja & Tidak...
Masih Bertumpu Pada Sang PeloporC. Pendidikan          Sementara untuk tingkat pendidikan, sebagian besar responden(80%) a...
Bab 2 Profil Responden                                   Grafik 2.5 Lama Bekerja     Base: Ada Serikat Pekerja & Tidak Ada...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor                 Grafik 2.6 Keanggotaan di Organisasi Jurnalis      Base: Ada Serikat Peke...
Bab 3      Keberadaan Serikat PekerjaA. Keberadaan serikat pekerja di tempat kerja        Seluruh responden dalam survei i...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor                        Grafik 3.1 Keberadaan Serikat Pekerja      Base: Ada Serikat Peker...
Bab 3 Keberadaan Serikat Pekerja          Sementara media yang belum terdapat serikat pekerja, menurutresponden, karena ti...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor     memulainya sampai sekarang belum ada yang menggerakkan. Apalagi, membentuk     serika...
Bab 3 Keberadaan Serikat PekerjaB. Persepsi terhadap keberadaan serikat pekerja         Persepsi responden terhadap kebera...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor                         Grafik 3.5 Alasan Serikat Pekerja Penting      Base: Ada Serikat ...
Bab 3 Keberadaan Serikat Pekerja               Grafik 3.6 Alasan Serikat Pekerja Tidak Penting      Base: Ada Serikat Peke...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor          Lebih jauh ditanyakan pula kepada mereka yang menjadi anggotaserikat pekerja, me...
Bab 3 Keberadaan Serikat Pekerja              Grafik 3.9 Lama Menjadi Anggota Serikat Pekerja                             ...
Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor           Grafik 3.10 Sistem Keanggotaan dalam Serikat Pekerja                           ...
Bab 3 Keberadaan Serikat Pekerja          Grafik 3.11 Sistem Keanggotaan dalam Serikat Pekerja      Base: Ada Serikat Peke...
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Masih bertumpu pada sang pelopor
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Masih bertumpu pada sang pelopor

559 views

Published on

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Masih bertumpu pada sang pelopor

  1. 1. Masih Bertumpu Pada Sang PeloporSurvei Serikat Pekerja di Perusahaan Media Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia 1
  2. 2. Masih Bertumpu Pada Sang PeloporKETERANGAN UMUM SURVEI Metode riset Survei Wilayah survei Jakarta, Aceh, Medan, Bandung, Surakarta, Lampung, dan Palu 192 responden survei Total responden 27 responden indepth interview Teknik sampling Cluster random samping Error sampling +/- 6,62% pada interval kepercayaan 95,0% Pengambilan data Februari-Maret 2010 Desain riset & Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kuesioner Analisa data Sigma Research Indonesia Laporan akhir Sigma Research IndonesiaMasih Bertumpu Pada Sang Pelopor: Survei Serikat Pekerja di Perusahaan MediaEditor: Winuranto AdhiTim Penyusun: Jajang Jamaludin, Asep Komarudin, Winuranto AdhiTim Survei: Sigma Reseach IndonesiaDesain: Robby EeborIlustrator Cover dan Isi: Imam YuniantoCetakan Pertama: Mei 2010Penerbit: Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Jl. Kembang Raya No.6 Kwitang-Senen Jakarta Pusat 10420 – Indonesia Tel. +62 21 3151214, Fax. +62 21 3151261 www.ajiindonesia.orgDidukung oleh:@Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia - 20102
  3. 3. KATA PENGANTAR Konsolidasi Serikat Pekerja Media: “Too little, but not too late” SELAMA satu dekade ini, kita menyimak ironi dari pertumbuhanserikat pekerja media di Indonesia. Dari segi jumlah, tak ada pertumbuhandramatis, meskipun pertumbuhan industri media di Indoensia mengalamibooming setelah reformasi. Secara kualitatif, kita belum menemukan serikatpekerja media yang punya posisi tawar kuat di hadapan pengusaha media.   Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyimak sejumlah serikatpekerja media masih kehilangan arah perjuangan, meskipun keberadaannyasudah dicatatkan pada Dinas Tenaga Kerja (Disnaker).  Kita kerap menemukanserikat pekerja tidak dibangun dengan sistem manajemen yang baik. Misalnya,mengakomodir keanggotaan dengan sistem stelsel pasif (seluruh karyawanotomatis menjadi anggota),  tidak mampu menghimpun iuran anggota, hinggatidak bisa menunjukkan kemampuannya dalam bernegosiasi.  Serikat seperti tidak tahu apa yang harus diperbuat, bahkan untukmempertahankan keberadaannya pun sulit. Akibatnya, konsolidasi serikatpekerja media kerap  berjalan di tempat, involutif, dan perlahan digerus olehagresifitas modal pemilik media.  Mungkin karena terlalu lama kata “buruh” absen pada Indonesiadi bawah rezim Suharto, maka kesadaran berserikat bagi buruh dan rakyat 3
  4. 4. Masih Bertumpu Pada Sang Peloporpekerja pun seperti enggan muncul  kendati kesempatan secara legal sudahterbuka. Misalkan, untuk soal penamaan, ada kecenderungan memakainama lebih “akomodatif ”.   Ini sekedar contoh, barangkali menghindari kecurigaan darimanajemen, para aktivis serikat pekerja media “melembutkan” namaorganisasinya agar terdengar lebih “bersahabat”.   Para pekerja Tempo,misalnya, memilih nama Dewan Karyawan Tempo (DeKaT), pekerja diKompas menggunakan nama Perkumpulan Karyawan Kompas (PKK),pekerja Indosiar memakai nama Serikat Karyawan (Sekar) Indosiar,pekerja majalah Swa memakai nama Forum Karyawan Swa (FKS),pekerja Hukumonline.com memilih nama WorkerHOLic, pekerja di SoloPos menggunakan Ikatan Karyawan Solo Pos (Ikaso), atau pekerja BisnisIndonesia memakai nama Kerukunan Warga Karyawan Bisnis Indonesia. Tak ada yang salah memang, isi dan semangat tentu jauh lebihpenting dari sekedar nama. Tapi, ada yang harus dicermati selaku organisasi berwatak ”serikatpekerja”, bahwa   jurnalis dan pekerja media harus mau mengevaluasidiri.  Perjuangan pekerja media di tahun 2010 ini kian terasa berat. Kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massalbermunculan di sejumlah media.  Jika pada kurun November 2008-April2009, AJI mencatat hanya ada 100 pekerja media yang dipecat, di tahun inidata tersebut kian melonjak tajam. Berdasarkan data AJI Indonesia, PHK massal dan skorsingbernuansa union busting melanda sedikitnya 200 pekerja stasiun teveIndosiar, PHK massal juga dialami 144 pekerja koran Berita Kota pascadiakuisisi Kelompok Kompas Gramedia (KKG), PHK massal terhadap 50-an pekerja Suara Pembaruan dan grup media kelompok Lippo lainnya, jugaPHK massal atas 40-an pekerja stasiun teve Antv.4
  5. 5. Kata Pengantar Konflik ketenagakerjaan sebagai imbas dari ketidakjelasan aturankerja hingga masalah kesejahteraan juga mulai bermunculan. Hal ini,misalnya, terjadi di Koran Jakarta—hingga berujung pada pemogokan kerjasebagian kecil wartawannya.  Di sejumlah daerah kasus seperti ini juga terjadi. Mei 2009 silam,60 pekerja harian Aceh Independen juga menjadi korban PHK massal. DiKendari, sejumlah wartawan Kendari TV juga mengalami nasib serupa.  Untuk itulah, melaui Survei Serikat Pekerja di Perusahan Mediaberjudul ”Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor” ini, AJI Indonesia inginmemberikan gambaran terbaru kondisi serikat pekerja media di Indonesia.   Survei ini dilakukan di tujuh kota Jakarta, Aceh, Medan, Lampung,Bandung, Surakarta, dan Palu dengan melibatkan 192 responden dan27 responden indepth interview, berhasil mengungkap sejumlah hal yangharus diperhatikan oleh serikat pekerja media. Hasilnya, antara lain, cukupkondusif:        “Sebagian besar (83.7%) responden, misalnya, menegaskan perlunya serikat pekerja di media mereka. Dukungan atas pembentukan serikat pekerja media juga dinyatakan mayoritas responden (97.1%), dan sebanyak 82.8% responden mengatakan tertarik untuk bergabung menjadi anggota serikat pekerja. Hanya 3.25% responden saja yang menyatakan tidak tertarik bergabung dalam serikat pekerja. Bahkan, banyak pula responden yang menegaskan keinginannya untuk bisa menjadi pelopor (organisatoris) dalam pendirian serikat pekerja di perusahan media yang belum memiliki serikat”.  5
  6. 6. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor  Survei ini juga menelaah tingkat keaktifan serikat, efektivitas penyelesaianmasalah yang ditanganinya, serta berbagai aspek yang mestinya diperjuangkanoleh serikat pekerja media. Termasuk tentang Perjanjian Kerja Bersama, hinggakepemilikan saham kolektif.  Tak hanya itu, survei pun berusaha memotret besaranupah yang diterima jurnalis, kondisi kerja, hingga kondisi di ruang redaksi.     Mencermati kian intensifnya industri pers, termasuk kemajuanteknologi informasi yang bisa mengubah relasi industrial antara pemodal danpekerja, maka serikat pekerja media harus segera berbenah diri.  Pada soalkonvergensi media misalnya, serikat pekerja media semestinya telah bersiapdengan konsep baru hubungan industrial, dengan mempertimbangkankesejahteraan pekerja tak dirugikan. Memang masih banyak soal internal maupun eksternal yang harussegera diperbaiki. Butuh usaha ekstra, tapi belum telat memperbaiki danmembangun kekuatan yang masih terserak di dalam.  Banyak pencapaian bisakita lakukan dengan memperbaiki  berbagai kelemahan.  Kita tak ingin semakintertinggal ketika mesin kapitalisme media bergerak, dan serikat pekerja menjadi“too little, and too late” dalam menanggapi problem hubungan industrial. Semoga hasil survei ini menjadi suatu alat kita ke arah konsolidasibaru guna memperbaiki kondisi serikat pekerja.   Jakarta, April 2010    Nezar Patria Ketua Umum AJI Indonesia6
  7. 7. RINGKASAN EKSEKUTIF1. Latar belakang Survei ini ingin menggambarkan bagaimana penilaian jurnalisterhadap kehadiran serikat pekerja di perusahaan media. Survei menyertakanjurnalis dari media yang memiliki serikat pekerja dan jurnalis dari mediayang tidak memiliki serikat pekerja. Dari survei ini akan didapatkan databagaimana pandangan jurnalis terhadap kehadiran serikat pekerja. Untukjurnalis dari media yang memiliki serikat pekerja akan ditanyakan tingkatkepuasan mereka terhadap kehadiran serikat pekerja, termasuk harapandan peran apa saja yang diharapkan dapat dilakukan oleh serikat pekerja dimedianya. Sementara untuk jurnalis dari media tidak atau belum memilikiserikat pekerja akan ditanyakan apakah mereka juga mempunyai keinginanmembentuk serikat pekerja, termasuk hambatan apa saja yang dihadapisehingga serikat pekerja belum terbentuk, dan lain sebagainya.2. Tujuan penelitian Secara umum, tujuan dari survei ini adalah ingin mendapatkan datamengenai penilaian jurnalis terhadap serikat pekerja, baik di media yangsudah memiliki serikat pekerja maupun di media yang tidak atau belummemiliki serikat pekerja. Selanjutnya, ingin diketahui pula penilaian umumdari kalangan jurnalis terhadap serikat pekerja, peran yang harus diembandi dalamnya, kepuasan terhadap manajemen perusahaan dan serikat pekerjamedia terkait. 7
  8. 8. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor3. Metode penelitian Survei ini dilakukan dengan menggunakan pertanyaan terstruktur(kuesioner). Survei bersifat eksploratif, artinya berusaha menggambarkansebanyak mungkin pendapat jurnalis atas berbagai isu yang terkait denganserikat pekerja. Populasi dari survei ini adalah semua jurnalis yang bekerjadi tujuh kota di Indonesia. Jurnalis dalam survei ini didefinisikan sebagaiindividu yang bekerja mencari, mengolah, dan mempublikasikan beritadi suatu media. Ketujuh kota tersebut adalah Jakarta, Aceh, Medan,Lampung, Bandung, Surakarta, dan Palu. Adapun teknik penarikansampel yang digunakan dalam survei ini adalah teknik acak klaster (clusterrandom sampling). Jumlah sampel dalam survei sebanyak 192 respondensurvei dan 27 responden indepth interview. Wawancara secara mendalamdilakukan secara langsung (face to face interviews), dengan cara pewawancaramendatangi langsung responden yang terpilih.4. Temuan penelitian Temuan penelitian yang diperoleh dirangkum dalam poin-poinberikut ini: 1. Keberadaan serikat pekerja a. Persepsi responden terhadap keberadaan serikat pekerja di perusahaan media sebagian besar menilai sangat penting. b. Sebagian besar responden dari media yang memiliki serikat pekerja menjawab, manajemen mendukung keberadaan serikat pekerja di perusahaan media. 2. Pembentukan serikat pekerja a. Sebagian besar (83.7%) responden menjawab perlu hadirnya8
  9. 9. Ringkasan Eksekutif serikat pekerja di media tempat mereka bekerja selama ini. b. Selain mengatakan perlu membentuk serikat pekerja, sebagian besar responden (97.1%) juga menyatakan mendukung terhadap pembentukan serikat pekerja di media tempat mereka bekerja. c. Banyak responden yang menyatakan bersedia menjadi pelopor (organisatoris) pembentukan serikat pekerja. d. Sebagian besar responden (82.8%) mengatakan tertarik untuk masuk dan bergabung menjadi anggota serikat pekerja. Hanya 3.25% responden yang tidak tertarik.3. Permasalahan pekerja dan penyelesaiannya oleh serikat pekerja a. Sebagian besar responden (80% lebih) tidak pernah mempunyai masalah, baik itu yang disampaikan ke serikat pekerja atau ke pihak manajemen. b. Masalah yang sering dialami oleh pekerja media adalah masalah upah dan asuransi. c. Bagi mereka yang pernah mempunyai masalah dan meminta serikat pekerja untuk membantu mengatasi masalah, sebagian besar merasa puas (58.3%) dengan kerja advokasi yang dilakukan serikat pekerja.4. Perjuangan serikat pekerja a. Dari media yang memiliki serikat pekerja, 60% responden melihat serikat pekerja di tempat mereka bekerja aktif dalam memperjuangkan kesejahteraan dan kepentingan pekerja. b. Sebanyak 36.0% responden menyatakan merasa tidak puas dan sangat tidak puas dengan kerja serikat pekerja di tempat 9
  10. 10. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor mereka bekerja. Sedangkan yang menjawab puas atau sangat puas tidak ada separuhnya atau hanya 49.0% responden. c. Sebanyak 31% responden menilai perjuangan serikat pekerja dirasakan manfaatnya oleh semua pekerja media. Lalu 24% responden menilai manfaatnya dirasakan sebagian besar pekerja dan 15% dirasakan hanya sebagian kecil pekerja media. d. Aspek yang perlu diperjuangkan serikat pekerja menurut sebagian besar responden adalah masalah upah atau kesejahteraan (63%), lalu masalah pemutusan hubungan kerja (57%), disusul asuransi dan tunjangan kesehatan (47%), dan status kerja (44%). 5. Aktivitas serikat pekerja a. Sebesar 51.5% responden melihat serikat pekerja di tempat mereka bekerja aktif mengadakan kegiatan. Sementara yang menjawab seriklat pekerja tidak aktif sebesar 31.3%. b. Serikat pekerja paling banyak mengadakan kegiatan kurang dari sekali setiap bulan (28.3%). c. Hanya 26.3% responden yang menyatakan serikat pekerja di tempat mereka bekerja pernah mengadakan pelatihan internal untuk meningkatkan kemampuan pekerja dan anggotanya. d. Sebagian besar responden (68.8%) menjawab tidak ada iuran bulanan, hanya 31.3% responden yang menjawab ada iuran bulanan untuk serikat pekerja di tempat mereka bekerja. 6. Perjanjian Kerja Bersama (PKB) a. Sebagian besar responden, baik dari kelompok yang memiliki10
  11. 11. Ringkasan Eksekutif serikat pekerja maupun yang tidak memiliki serikat pekerja menilai, kesepakatan kerja sebaiknya dilakukan secara kolektif dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB). b. Gaji adalah hal yang dianggap paling perlu diatur dalam PKB (91.9%), sedangkan masalah panjangnya durasi jam kerja adalah hal yang paling tinggi diabaikan responden (9.1%).7. Kepemilikan saham bersama a. Sebagian besar responden, baik dari kelompok responden dari media yang memiliki serikat maupun responden dari media yang tidak mempunyai serikat pekerja menganggap perlu serikat pekerja memperjuangkan kepemilikan saham secara kolektif di perusahaan media. b. Ada sejumlah isu berkaitan dengan saham kolektif ini. Pertama, soal saham minimum bagi pekerja sebesar 20%. Kedua, adanya wakil pekerja dalam jajaran direksi di perusahaan media.8. Upah dan fasilitas kerja a. Di media yang memiliki serikat pekerja sebagian besar reponden (71.7%) mengatakan, mereka mendapatkan honor di luar upah bulanan. Namun di media yang tidak memiliki serikat pekerja lebih banyak responden (58.1%) yang mengaku tidak mendapatkan honor di luar upah. b. Terkait upah, meski semua responden menerimanya setiap bulan namun hanya sekitar 30% responden saja yang menilai upah tersebut baik atau sangat baik. Sekitar separuh responden menilai upah yang mereka terima setiap bulannya biasa saja. c. Temuan yang juga cukup mengagetkan, ternyata separuh lebih 11
  12. 12. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor responden (60%) menilai upah yang mereka dapatkan dari perusahaan tempatnya bekerja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 9. Kondisi kerja dan beban kerja a. Di atas 40% kelompok responden dari media yang memiliki serikat menilai aturan-aturan seperti status pekerja, cuti, PHK dan hak cipta sudah baik. Kecuali aturan mengenai jenjang karier yang lebih banyak dinilai biasa saja oleh responden (47.4%). b. Yang menarik dari riset ini, ternyata tidak ada perbedaan beban kerja di perusahaan responden dari media yang memiliki serikat dengan perusahaan responden dari media yang tidak mempunyai serikat pekerja.12
  13. 13. DAFTAR ISIRingkasan Eksekutif 7Daftar Isi 13Daftar Grafik 17Daftar Tabel 21Bab 1 Pendahuluan 25 A. Latar belakang penelitian 25 B. Tujuan penelitian 37 C. Metode penelitian 39 D. Sampel dan responden 39Bab 2 Profil Responden 45 A. Usia dan jenis kelamin 45 B. Bidang pekerjaan 47 C. Pendidikan 48 D. Lama bekerja 48 E. Keanggotaan di organisasi jurnalis 49Bab 3 Keberadaan Serikat Pekerja di Perusahaan Media 51 A. Keberadaan serikat pekerja di tempat kerja 51 B. Persepsi terhadap keberadaan serikat pekerja 55 C. Keanggotaan serikat pekerja 57 D. Dukungan direksi/manajemen terhadap keberadaan serikat pekerja 63 E. Hubungan serikat pekerja dengan manajemen 66Bab 4 Pembentukan Serikat Pekerja 71 A. Persepsi terhadap pembentukan serikat pekerja 71 13
  14. 14. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor B. Dukungan terhadap pembentukan serikat pekerja 72Bab 5 Permasalahan Pekerja dan Penyelesaiannya oleh Serikat Pekerja 77 A. Permasalahan/keluhan pekerja di tempat kerja 77 B. Cara penyelesaian masalah 79 C. Serikat pekerja sebagai tempat menyampaikan keluhan 80 D. Kepuasan terhadap tindakan yang dilakukan serikat 80 pekerja 80 E. Kecepatan respons serikat pekerja terhadap keluhan pekerja 81 F. Keberhasilan serikat pekerja dalam menyeleasikan masalah 82 G. Penilaian terhadap penyelesaian masalah oleh serikat pekerja 85Bab 6 Perjuangan Serikat Pekerja 85 A Keaktifan perjuangan serikat pekerja 85 B. Kepuasan terhadap perjuangan serikat pekerja 86 C. Penilaian terhadap manfaat perjuangan serikat pekerja 88 D. Aspek yang diperjuangkan serikat pekerja 89 E. Penilaian terhadap efektivitas perjuangan serikat pekerja 95Bab 7 Aktivitas Serikat Pekerja 97 A. Penilaian terhadap keaktifan serikat pekerja 97 B. Aktivitas serikat pekerja 99 C. Pertemuan serikat pekerja 105 D. Iuran dalam serikat pekerja 10714
  15. 15. Daftar Isi E. Frekuensi pertemuan serikat pekerja 108 F. Persepsi terhadap aktivitas serikat pekerja 110 G. Keaktifan pekerja dalam aktivitas serikat pekerja 112Bab 8 Perjanjian Kerja Bersama 115 A. Penilaian terhadap Perjanjian Kerja Bersama 115 B. Aspek dalam Perjanjian Kerja Bersama 118Bab 9 Kepemilikan Saham Kolektif 121 A. Penilaian terhadap kepemilikan saham kolektif 122 B. Aspek yang perlu diperjuangkan pada kepemilikan saham kolektif 125Bab 10 Pendapatan dan Fasilitas Kerja 129 A. Upah 130 B. Upah dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari 139 C. Pendapatan sampingan 145Bab 11 Kondisi Kerja dan Beban Kerja 147 A. Aturan kerja 147 B. Beban kerja 150 C. Berita yang tidak dimuat 157 D. Kondisi ruang redaksi 160Bab 12 Kesimpulan Dan Rekomendasi 163 A. Kesimpulan 163 B. Rekomendasi 167 15
  16. 16. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor16
  17. 17. DAFTAR GRAFIKGrafik 2.1 Jenis kelamin 46Grafik 2.2 Usia responden 47Grafik 2.3 Posisi/jabatan di media 47Grafik 2.4 Pendidikan 48Grafik 2.5 Lama bekerja 49Grafik 2.6 Keanggotaan di organisasi jurnalis 50Grafik 2.7 Keanggotaan di organisasi jurnalis 50Grafik 3.1 Keberadaan serikat pekerja 52Grafik 3.2 Alasan serikat pekerja ada di perusahaan media 52Grafik 3.3 Alasan serikat pekerja tidak ada di perusahaan media 53Grafik 3.4 Persepsi terhadap keberadaan serikat pekerja 54Grafik 3.5 Alasan serikat pekerja penting 56Grafik 3.6 Alasan serikat pekerja tidak penting 57Grafik 3.7 Keanggotaan di serikat pekerja 57Grafik 3.8 Alasan masuk serikat pekerja 58Grafik 3.9 Lama keanggotaan di serikat pekerja 59Grafik 3.10 Sistem keanggotaan dalam serikat pekerja 60Grafik 3.11 Sistem keanggotaan dalam serikat pekerja 61Grafik 3.12 Keharusan menjadi anggota serikat pekerja 62Grafik 3.13 Alasan setuju 62Grafik 3.14 Alasan tidak setuju 63Grafik 3.15 Dukungan direksi/manajemen 64 17
  18. 18. Masih Bertumpu Pada Sang PeloporGrafik 3.16 Bentuk dukungan direksi/manajemen terhadap serikat pekerja 65Grafik 3.17 Direksi/manajemen tidak mendukung serikat pekerja 66Grafik 3.18 Mendukung serikat pekerja atau direksi 69Grafik 4.1 Pembentukan serikat pekerja 72Grafik 4.2 Dukungan pembentukan serikat pekerja 72Grafik 4.3 Kesediaan menjadi pelopor 73Grafik 4.4 Minat menjadi anggota serikat pekerja 74Grafik 4.5 Alasan berminat menjadi anggota 74Grafik 4.6 Alasan tidak berminat menjadi anggota serikat pekerja 75Grafik 4.7 Dukungan pekerja 76Grafik 5.1 Permasalahan pekerja media 78Grafik 5.2 Permasalahan pekerja media 78Grafik 5.3 Permasalahan pekerja media 79Grafik 5.4 Cara menyelesaikan masalah 79Grafik 5.5 Apakah disampaikan ke serikat pekerja 80Grafik 5.6 Penilaian kepuasan terhadap tindakan serikat pekerja 81Grafik 5.7 Kecepatan respons serikat pekerja 82Grafik 5.8 Keberhasilan serikat pekerja 83Grafik 6.1 Keaktifan perjuangan serikat pekerja 86Grafik 6.2 Keanggotaan di organisasi jurnalis 87Grafik 6.3 Manfaat perjuangan serikat pekerja 89Grafik 6.4 Aspek yang diperjuangkan serikat pekerja 9018
  19. 19. Daftar GrafikGrafik 6.5 Aspek yang menjadi prioritas perjuangan serikat pekerja 94Grafik 6.6 Efektivitas perjuangan serikat pekerja 95Grafik 6.7 Alasan perjuangan serikat pekerja tidak efektif 96Grafik 7.1 Keaktifan serikat pekerja 98Grafik 7.2 Alasan serikat pekerja tidak aktif 98Grafik 7.3 Frekuensi aktivitas serikat pekerja 99Grafik 7.4 Iuran serikat pekerja 108Grafik 7.5 Persepsi terhadap kegiatan serikat pekerja 111Grafik 7.6 Keaktifan pekerja pada kegiatan serikat pekerja 113Grafik 8.1 Penilaian terhadap kesepakatan kerja 116Grafik 8.2 Alasan kesepakatan kerja dibuat individual 117Grafik 8.3 Alasan kesepakatan kerja dibuat kolektif 118Grafik 9.1 Apakah perlu saham kolektif 123Grafik 9.2 Alasan tidak perlu saham kolektif 124Grafik 9.3 Keanggotaan di organisasi jurnalis 125Grafik 10.1 Upah 133Grafik 10.2 Apakah upah yang diterima sesuai dengan beban kerja 137Grafik 10.3 Apakah upah mencukupi kebutuhan hidup sehari- hari 140Grafik 10.4 Apakah mempunyai pekerjaan sampingan 145Grafik 10.5 Lebih besar upah atau pendapatan hasil pekerjaan sampingan 146Grafik 11.1 Rata-rata jam kerja dalam sehari 152Grafik 11.2 Rata-rata hari kerja dalam seminggu 153 19
  20. 20. Masih Bertumpu Pada Sang PeloporGrafik 11.3 Penilaian jam kerja ideal dalam sehari 154Grafik 11.4 Penilaian rata-rata hari kerja ideal dalam seminggu 155Grafik 11.5 Penilaian atas beban kerja 155Grafik 11.6 Apakah punya kesempatan beraktivitas di luar pekerjaan 156Grafik 11.7 Apakah pernah membuat berita yang tidak disukai 157Grafik 11.8 Apakah pernah membuat berita dan tidak dimuat 158Grafik 11.9 Alasan berita yang tidak dimuat 15820
  21. 21. DAFTAR TABELTabel 1.1 Komposisi media dan responden survei kuantitatif 40Tabel 1.2 Komposisi media dan responden indepth interview 41Tabel 3.1 Hal yang terdapat di perusahaan media 67Tabel 3.2 Hal yang terdapat di perusahaan media 67Tabel 5.1 Penyelesaian masalah oleh serikat pekerja 84Tabel 6.1 Keberhasilan perjuangan serikat pekerja 91Tabel 6.2 Kepuasan terhadap perjuangan serikat pekerja atas aspek kesejahteraan pekerja 93Tabel 7.1 Aktivitas yang dilakukan serikat pekerja 100Tabel 7.2 Aktivitas yang dilakukan serikat pekerja 101Tabel 7.3 Penilaian aktivitas yang dilakukan serikat pekerja 102Tabel 7.4 Pernah mengikuti aktivitas serikat pekerja 103Tabel 7.5 Penilaian manfaat mengikuti aktivitas serikat pekerja 104Tabel 7.6 Pertemuan yang dilakukan serikat pekerja 106Tabel 7.7 Keikutsertaan pekerja dalam pertemuan serikat pekerja 107Tabel 7.8 Frekuensi pertemuan serikat pekerja membahas masalah pekerja 110Tabel 7.9 Frekuensi keikutsertaan dalam pertemuan tentang masalah pekerja 109Tabel 8.1 Aspek dalam kesepakatan bersama (ada serikat) 118 21
  22. 22. Masih Bertumpu Pada Sang PeloporTabel 8.2 Aspek dalam kesepakatan bersama (tidak ada serikat) 119Tabel 9.1 Aspek yang diperjuangkan dalam kepemilikan saham (ada serikat) 126Tabel 9.2 Aspek yang diperjuangkan dalam kepemilikan saham (tidak ada serikat) 128Tabel 10.1 Upah 130Tabel 10.2 Penilaian atas upah (ada serikat) 132Tabel 10.3 Penilaian atas upah (tidak ada serikat) 132Tabel 10.4 Rata-rata upah berdasarkan posisi/jabatan 133Tabel 10.5 Upah berdasarkan wilayah 134Tabel 10.6 Upah berdasarkan posisi/jabatan 134Tabel 10.7 Upah berdasarkan kelompok umur 135Tabel 10.8 Upah berdasarkan pendidikan terakhir 135Tabel 10.9 Upah berdasarkan lama bekerja 136Tabel 10.10 Penilaian kesesuian gaji dengan beban kerja berdasarkan jenis kelamin, umur, jabatan, lama bekerja dan wilayah 137Tabel 10.11 Penilaian apakah upah mencukupi 142Tabel 10.12 Penilaian apakah upah mencukupi berdasarkan jenis kelamin, umur, jabatan, lama bekerja dan wilayah 142Tabel 10.13 Tunjangan kerja 142Tabel 10.14 Penilaian terhadap fasilitas yang diterima (ada serikat) 14322
  23. 23. Daftar TabelTabel 10.15 Penilaian terhadap fasilitas yang diterima (tidak ada serikat) 144Tabel 11.1 Aturan kerja (ada serikat) 148Tabel 11.2 Penilaian aturan kerja (ada serikat) 153Tabel 11.3 Aturan kerja (tidak ada serikat) 154Tabel 11.4 Beban kerja (ada serikat) 153Tabel 11.5 Beban kerja (tidak ada serikat) 154Tabel 11.6 Tindakan redaktur atas berita yang tidak dimuat (ada serikat) 159Tabel 11.7 Tindakan redaktur atas berita yang tidak dimuat (tidak ada serikat) 160Tabel 11.8 Kondisi ruang redaksi (ada serikat) 161Tabel 11.9 Kondisi ruang redaksi (tidak ada serikat) 162 23
  24. 24. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor24
  25. 25. Bab 1 PendahuluanA. Latar belakang penelitian Siang itu, Kamis, 13 Maret 2010, mestinya menjadi titik balikyang memberi harapan bagi Budi Laksono, Ketua Serikat Pekerja SuaraPembaruan.  Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Jakarta memutuskankasus pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh PT Media Interaksi Utama(MIU) terhadap Budi tidak sah dan batal demi hukum. Budi, yang sudah mengabdi selama 18 tahun di Suara Pembaruan,dipecat tak lama setelah mendirikan serikat pekerja di kantornya. Sejumlahpekerja Suara Pembaruan sepakat membentuk serikat pekerja untukmengantisipasi berbagai rencana manajemen, setelah terjadi perubahanstatus kepemilikan perusahaan tersebut. 25
  26. 26. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor Reaksi manajemen seperti perkiraan Budi dan kawan-kawan.Manajemen meminta pekerja yang menjadi pengurus serikat untukmemilih, bergabung dengan serikat pekerja atau tetap dengan perusahaan.Tak ayal, mereka yang memilih aktif di serikat pekerja mendapat sanksi.Ada yang diturunkan jabatannya dari redaktur menjadi reporter, ada pulayang diturunkan gajinya. Yang paling sial, ya, Budi. Ia dipecat dari SuaraPembaruan. Budi dan kawan-kawan sempat mengadukan perlakuanmanajemen kepada Dinas Tenaga Kerja Jakarta Timur. Mediasi di Dinasmemenangkan Budi dan rekan-rekannya, serta meminta perusahaan kembalimempekerjakan Budi. Namun, perusahaan tidak mematuhi rekomendasiDinas Tenaga Kerja, sampai akhirnya kasus ini bergulir masuk ke PengadilanHubungan Industrial. Saat membacakan putusannya, Ketua Majelis Hakim PHI Jakarta,Sapawi, menyatakan,  hubungan kerja antara PT MIU dengan Budi belumputus. Budi harus dipekerjakan kembali seperti semula sebagai wartawanharian sore Suara Pembaruan.“Tindakan PHK tidak sah secara hukum,” ujarSapawi yang didampingi dua hakim anggota, Juanda Pangaribuan dan M.Sinufa Zebua. Menurut hakim, pemecatan sepihak Budi bertentangan denganketentuan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentangKetenagakerjaan. Selain meminta Budi dipekerjakan kembali, MajelisHakim menghukum PT MIU agar membayar gaji Budi sejak Maret 2009dan membayar uang paksa (dwangsom) sebesar Rp 200 ribu per hari jikamanajemen Suara Pembaruan melalaikan putusan tersebut. Menanggapi putusan Majelis Hakim, Budi Laksono26
  27. 27. Bab 1 Pendahuluanmengaku lega. Selama ini, pimpinan PT MIU selalu sesumbarbahwa perusahaan tidak bisa dikalahkan karena memiliki banyakuang. “Ternyata masih ada keadilan di negeri ini yang tidakbisa dibeli. Putusan ini mematahkan arogansi perusahaan,” ujar Budi. Perjuangan panjang Budi di jalur hukum memang telahmembuahkan hasil. Tapi, upaya Budi untuk memperoleh haknya tampaknyamasih harus memakan waktu panjang. Pasalnya, perusahaan tempat diabekerja berkukuh bahwa pemberhentian itu sudah sesuai peraturan.“Kami akan mengajukan kasasi,” kata pengacara Suara Pembaruan, AndiSimangunsong seperti dikutip majalah Tempo edisi 29 Maret-4 April 2010. Kasus serupa juga terjadi di stasiun televisi Indosiar. Denganalasan perusahaan terus merugi, manajemen memecat sepihak sekitar200 pekerjanya. Manajemen juga menskorsing pekerja yang berunjuk rasasaat Indosiar merayakan ulang tahun pada Januari lalu. Saat itu, merekamemprotes kebijakan perusahaan yang tidak menaikkan gaji pekerja sejak2004. Juru bicara perusahaan, Gufron Sakaril, mengatakan perusahaannyatengah melakukan efisiensi dengan restrukturisasi usaha dan bisnis. Untuk menuntut hak dan merespons kebijakan perusahaan, pada21 April 2008, sekitar 750 orang karyawan Indosiar mendeklarasikanberdirinya Serikat Karyawan (Sekar) Indosiar. Tapi, tak lama setelah Sekarberdiri, perusahaan menyokong pendirian serikat pekerja tandingan, SerikatKaryawan (Sekawan) Indosiar. Sejak saat itu pula, upaya pengembosan atas serikat pekerja versipekerja terus terjadi. Manajer bidang pengamanan (security), misalnya,secara terang-terangan meminta anak buahnya tidak bergabung denganSekar. Pada saat hampir bersamaan, pimpinan unit pemeliharaan memanggil 27
  28. 28. Masih Bertumpu Pada Sang Peloporsatu per satu bawahannya. Hal yang sama dilakukan pimpinan unit art(seni) di Indosiar. Pesannya sama: agar pekerja bergabung dengan serikatyang disokong perusahaan. Akibatnya bisa ditebak. Satu per satu anggotaSekar mundur teratur. Terakhir, pekerja Indosiar yang bertahan di Sekartingal 300-an orang. Namun, semua itu tak menyurutkan langkah aktivis Sekaruntuk memperjuangkan kesejahteraan anggotanya. Berkali-kali merekamengajukan permohonan agar perusahaan menyesuaikan gaji karyawan,paling tidak sesuai laju inflasi tahunan yang jika diakumulasi dari 2004hingga 2008 saja sudah mencapai 52,82 persen. Namun, semua itu takmembuahkan hasil. Pada 7 Januari 2010, aktivis Sekar mengadukan kasusnyakepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar.Setelah itu, mereka mengadukan kasusnya ke Komisi NasionalHak Asasi  Manusia dan Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat.Selain menolak pemecatan sepihak, mereka pun kembali menyuarakanpentingnya peningkatan kesejahteraan dan perbaikan kondisi kerja.Dari lembaga negara dan lembaga kuasi negara itulah para aktivis Sekarmendapatkan dukungan. Meskipun, perkembangan terakhir sampai laporanini ditulis, Ketua Sekar, Dicky Irawan; Sekretaris Sekar , Yanri Silitonga, danseluruh pengurus Sekar menerima skorsing dari manajemen. Dalihnya, paraaktivis Sekar tidak mau menandatangani surat pemutusan hubungan kerja. Dua kasus paling anyar ini menunjukkan betapa upaya pekerjamemperjuangkan hak-haknya melalui serikat pekerja tidaklah mudah. Pihakperusahaan umumnya masih alergi dengan keberadaan serikat pekerja, takterkecuali di perusahaan media. Perusahaan kebanyakan belum menganggap28
  29. 29. Bab 1 Pendahuluanserikat pekerja sebagai salah satu pemangku kepentingan yang mestinya bisadiajak bersama-sama membangun perusahaan demi kesejahteraan bersama.Akibatnya, pintu untuk dialog, berunding, atau berembuk kerap dikuncisebelum pernah dibuka. Divisi Serikat Pekerja Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesiamencatat sejumlah pola bagaimana perusahaan mencoba mematahkanperjuangan pekerja media melalui serikat pekerja: 1. Menghalang-halangi pekerja untuk bergabung di dalam serikat Sering ditemui manajemen melarang pekerjanya untuk bergabung di dalam serikat. Selalu dipropagandakan, serikat pekerja tukang menuntut, membuat hubungan kerja tidak harmonis, dan lain sebagianya. Intinya, ada upaya untuk memberi stigma bahwa serikat pekerja adalah perongrong perusahaan. 2. Mengintimidasi Jika penghalang-halangan tidak berhasil, upaya lanjutan yang sering dilakukan adalah mengintimidasi pekerja. Saat bergabung dalam serikat, pekerja diancam tidak mendapatkan kenaikan gaji, tidak mendapatkan bonus, tunjangan, tidak naik pangkat, diputus kontrak kerjanya, dan lain sebagainya. Bahkan dijumpai pula ada perusahaan yang menggunakan aparat kepolisian untuk menakut- nakuti agar pekerjanya di bagian security tidak bergabung menjadi anggota serikat.  3. Memutasi pengurus atau anggota serikat Untuk memecah kekuatan serikat, sering pula dilakukan tindakan mutasi atau pemindahan kerja secara sepihak. Kasus semacam ini 29
  30. 30. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor umumnya dilakukan ketika serikat pekerja sedang memperjuangkan hak-hak pekerja. Tak tanggung-tanggung, kadang mutasi dilakukan hingga ke luar pulau. Tujuannya jelas, selain untuk melemahkan serikat juga untuk menghancurkan mental pekerja-karena ia juga akan jauh dengan keluarganya. 4.    Memutus hubungan kerja Ini cara lama tapi masih menjadi tren hingga sekarang. Anggota serikat yang sering menjadi korban dari modus ini adalah yang berstatus karyawan kontrak. Dengan risiko hukum kecil dan biaya murah (tidak perlu mengeluarkan pesangon gede), tindakan ini kerap dijadikan pilihan favorit pihak manajemen. Dampaknya, pekerja tidak berani lagi untuk bergabung dalam serikat pekerja dan lambat-laun serikat pun menjadi gembos. 5. Membentuk serikat boneka Upaya ini dilakukan untuk menandingi keberadaan serikat pekerja sejati. Tujuannya agar pekerja menjadi bingung, mau memilih serikat yang mana. Serikat boneka ini umumnya dikendalikan penuh oleh manajemen, termasuk orang-orang yang menjadi pengurusnya. Cara mengenali serikat model ini sangat gampang. Biasanya mereka mendapatkan kemudahan dalam menjalankan aktivitasnya, sementara serikat sejati selalu dihambat saat akan melakukan aktivitas. Tak terkecuali tidak mendapatkan izin untuk melakukan rapat di kantor. 6. Menolak diajak berunding PKB Saat diajak berunding dalihnya macam-macam. Kadang manajemen beralasan mau mengecek dulu apakah anggota serikat sudah30
  31. 31. Bab 1 Pendahuluan memenuhi syarat 50%+1 dari total pekerja, kadang malah tidak mau berunding karena di dalam perusahaan terdapat dua serikat pekerja. Padahal kita tahu serikat yang satu adalah serikat boneka yang selalu membeo kepada perusahan. Semua itu bertujuan agar pekerja tidak memiliki Perjanjian Kerja Bersama (PKB). 7. Membuat peraturan perusahaan sepihak Walaupun sudah ada serikat pekerja tapi tetap tidak diakui keberadaannya. Bahkan, kalau perlu manajemen membuat pernyataan palsu kepada Dinas atau Kementerian Tenaga Kerja bahwa di perusahaannya tidak terdapat serikat pekerja. Sehingga dengan demikian peraturan perusahaan pun langsung disahkan dan diberlakukan. Berbagai tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai union busting (pemberangusan serikat pekerja). Menurut pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Buruh, “Barang siapa menghalang-halangi aktivitas yang terkait dengan serikat pekerja, dapat dikenai sanksi pidana penjara paling singkat satu tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100 juta, dan paling banyak Rp 500 juta.”   Bayangkan saja, jika berjuang secara kolektif lewat serikat pekerjasaja menemui banyak kendala, apalagi jika pekerja berjuang secara individual.Manajemen akan dengan mudah mematahkan dan menyingkirkan individu-individu yang mereka anggap rewel dan tidak memiliki basis dukungan. Betapapun banyak kendalanya, upaya meningkatkan kesejahteraanpekerja secara keseluruhan akan lebih efektif dilakukan secara kolektif 31
  32. 32. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopormelalui serikat pekerja. Lewat serikat pekerja dukungan internal bisadigalang sehingga posisi tawar pun bisa terkerek lebih tinggi. Hal lain yang perlu dicatat, perjuangan lewat serikat pekerja bukanperjuangan liar.Undang-undang menjamin ruang perjuangan tersebut.Karena itu, sepanjang berada dalam koridor undang-undang, upaya paraaktivis serikat pekerja kerap mendapat dukungan dari pihak luar, sepertiparlemen dan Komnas HAM. Perkembangan positif lain, saat ini di Indonesia sudah berdiriFederasi Serikat Pekerja Media Independen, wadah yang secara khususmenghimpun serikat pekerja di sektor media massa. Keberadaan federasiyang pendiriannya difasilitasi AJI ini mestinya bisa menambah daya ungkitperjuangan serikat pekerja serta memperkuat solidaritas kepada sesamapekerja media. Dalam kasus Indosiar dan Suara Pembaruan, misalnya,Federasi ini memberi dukungan penuh kepada serikat pekerja. Namun, harus diakui, pertumbuhan serikat pekerja media diIndonesia masih sangat lamban, bahkan jika dibandingkan serikat pekerjadi sektor industri lainnya. Hingga saat ini, tercatat hanya 27 media yangmempunyai serikat pekerja. Jumlah ini sangat sedikit dibandingkan denganjumlah media cetak dan elektronik di seluruh Indonesia yang berjumlah2.314. Rinciannya sebanyak 1.008 media cetak, 1.297 radio, 79 stasiuntelevisi, dan belum lagi belasan media online yang terus bertumbuh. Divisi Serikat Pekerja AJI Indonesia juga mengidentifikasi sejumlahfaktor yang menyebabkan lambannya pertumbuhan serikat pekerja sektormedia tersebut, yakni:32
  33. 33. Bab 1 Pendahuluan1. Problem ”kelas” yang belum tuntas Selama ini mayoritas jurnalis masih mengidentifikasikan dirinya sebagai kelompok profesional dan eksklusif. Mereka merasa enggan untuk dikelompokkan menjadi bagian dari kelas buruh. Latar belakang pendidikan tinggi, kemudahan akses dalam kerja-kerja jurnalistik, penampilan yang keren dan mentereng adalah beberapa faktor yang membuat kalangan jurnalis makin membenamkan dirinya sebagai kelas white collar.2. Masih bertumpu pada jurnalis Dalam kepengurusan sebuah serikat pekerja media, jurnalis masih dianggap sebagai kelompok “kasta brahmana”. Poros sebuah serikat kerap ditumpukan sepenuhnya kepada kelompok ini. Sementera pekerja pada bagian lain (administrasi, percetakan, sirkulasi, marketing, sopir, dll) kerap menempatkan dirinya sebagai kelompok kasta di bawahnya.  Karena itu, dalam pemilihan pengurus, mayoritas anggota kerap terilusi untuk menempatkan jurnalis sebagai tumpuan kekuatan di dalam serikat. Mereka menunggu kepemimpinan dari divisi redaksi atau jurnalis. Padahal, idealnya, komposisi kepengurusan serikat pekerja media berasal dari semua lini produksi sehingga kekuatan solidaritasnya bisa lebih maksimal dan merata.3. Stigma negatif serikat pekerja Kerap dilekatkan cap: serikat pekerja-termasuk aktivisnya-adalah tukang bikin kisruh di perusahaan, suka menuntut dan membuat disharmoni hubungan kerja. Kerap digambarkan aktivis serikat juga cenderung jeblok di dalam pekerjaannya. Di samping itu 33
  34. 34. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor belum banyaknya contoh kemenangan yang berhasil diraih serikat pekerja media membuat mayoritas pekerja media enggan untuk bergabung dalam sebuah serikat. Mereka menganggap belum ada manfaat konkret berjuang melalui serikat. 4. Lemah secara manajemen dan organisasional Tak adanya rapat reguler, minimnya perumusan agenda dan program, hingga lemahnya administrasi keuangan serikat pekerja media membuat mayoritas anggota mengalami demoralisasi. Mereka merasa tidak memperoleh keuntungan bergabung dalam sebuah serikat pekerja. Hal ini tak hanya menyebabkan matinya serikat, tapi juga merontokkan mental pekerja media. 5. Sanksi dari manajemen Sanksi yang kerap terjadi pada aktivis maupun anggota serikat pekerja media adalah mutasi dan penghambatan jenjang karier. Terkadang manajemen juga memutus kontrak kerja orang-orang yang teridentifikasi menjadi anggota serikat. Hal ini kian membuat pekerja media menjadi takut untuk bergabung dalam sebuah serikat. 6.  Rendahnya pembelaan dan solidaritas di dalam serikat Minimnya pengalaman dan kemampuan bernegosiasi sering membuat pengurus serikat pekerja media menghindari terlibat konflik secara langsung dengan manajemen. Akibatnya ketika ada anggota yang mengadukan masalah, pengurus serikat tak mampu membantu dan mengadvokasi anggotanya. 7. Terpisah dalam teritori tertentu Hal ini sering dijumpai pada perusahaan media yang sukses34
  35. 35. Bab 1 Pendahuluan mengembangkan ekspansi bisnis. Contohnya, selain menerbitkan media, perusahaan tersebut juga memiliki percetakan sendiri. Lokasi unit usaha pun dibuat berjauhan. Pemisahan teritori unit usaha ini menyebabkan pekerja di bagian redaksi dan percetakan tidak mampu bersatu dan cenderung memilih mendirikan serikat sendiri-sendiri. Padahal jika kedua basis ini disatukan dalam sebuah serikat, tentunya akan melahirkan kekuatan besar.  Apalagi unit percetakan media adalah jantung produksi dari perusahaan media (cetak).8. Tuntutan kerja tinggi Tuntutan ekspansi perusahaan sering berimbas pada tuntutan kerja yang semakin tinggi. Situasi seperti ini membuat lemahnya konsolidasi dan kerja-kerja organisasi. Tanpa militansi yang tinggi dari para aktivisnya, kisah sukses serikat pekerja media hanya akan menjadi tinggal cerita.9. Bimbang atas pilihan loyalitas Pekerja media sering merasa bimbang: harus loyal kepada perusahaan atau kepada serikat pekerja. Jika organisasi serikat kuat memegang teguh fungsinya, tentu kebimbangan seperti ini akan dengan mudah bisa dijawab.  Sebaliknya bila organisasinya lemah maka dengan sedikit propaganda hitam saja bisa dipastikan pekerja media akan menjauhi bahkan meninggalkan serikat.10. Lemahnya kaderisasi Ini problem usang yang tak kunjung terpecahkan penyelesaiannya. Tidak banyak muncul kader-kader baru. Dapat dipastikan, dalam forum-forum serikat pekerja media, yang sering muncul adalah 35
  36. 36. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor wajah-wajah lama. Tanpa adanya kaderisasi, cepat atau lambat akan membuat serikat pekerja mati.   Dari pemetaan problem di atas terlihat bahwa di luar sikapmanajemen media yang masih kurang terbuka dengan serikat pekerja,kehadiran dan keaktifan serikat pekerja juga ditentukan oleh kalangan jurnalisdan pekerja media sendiri. Apakah serikat pekerja memang dianggap sebagaikebutuhan oleh jurnalis atau tidak. Hingga saat ini, belum ada penelitianyang secara empiris menunjukkan bagaimana jurnalis menilai kehadiranserikat pekerja. Apakah jurnalis menganggap serikat pekerja penting. Jikapenting, apa harapan mereka terhadap kehadiran serikat pekerja. Danapabila dirasakan tidak penting, apa alasannya, dan sebagainya. Survei ini ingin menggambarkan bagaimana penilaian jurnalisterhadap kehadiran serikat pekerja. Agar ada perbandingan, survei inimenyertakan jurnalis dari media yang memiliki serikat pekerja juga jurnalisdi media yang tidak atau belum mempunyai serikat pekerja. Dari survei iniakan didapatkan data bagaimana pandangan jurnalis terhadap serikat pekerja.Untuk jurnalis di media yang memiliki serikat pekerja, akan ditanyakankepuasan mereka terhadap kehadiran serikat pekerja. Harapan dan peranapa yang diharapkan akan dilakukan oleh serikat pekerja. Sementara untukjurnalis di media yang tidak terdapat serikat pekerja akan ditanyakan apakahmereka mempunyai keinginan membentuk serikat pekerja di medianya. Daridua sisi sudut pandang ini setidaknya akan semakin memperluas penelitiantentang survei pekerja media ini.36
  37. 37. Bab 1 PendahuluanB. Tujuan penelitian Survei ini ingin mendapatkan data mengenai penilaian jurnalisterhadap serikat pekerja, baik dari jurnalis yang medianya memiliki serikatpekerja maupun yang belum atau tidak terdapat serikat pekerja. Detailinformasi yang digali dalam survei ini adalah sebagai berikut:1. Media yang mempunyai serikat pekerja a. Penilaian umum terhadap serikat pekerja. Bagaimana pendapat jurnalis terhadap serikat pekerja; apakah serikat pekerja memang dibutuhkan oleh jurnalis; apakah menurut jurnalis setiap media seharusnya mempunyai serikat pekerja. b. Peran serikat pekerja. Bagaimana pendapat jurnalis mengenai peran yang sebaiknya dijalankan oleh serikat pekerja; apakah sebaiknya serikat pekerja hanya memperjuangkan kesejahteraan jurnalis atau juga memperjuangkan hal lain, misalnya melakukan advokasi terhadap pekerja, peningkatan profesionalisme pekerja dan sebagainya; setuju atau tidak menjalin hubungan dengan serikat pekerja lain (misalnya, dalam bentuk federasi serikat pekerja media) ataukah serikat pekerja media sebaiknya hanya mengurusi masalah internal di medianya masing-masing. c. Penilaian terhadap serikat pekerja media di tempat kerja. Apakah responden mengetahui adanya serikat pekerja; apakah mengetahui kegiatan-kegiatan serikat pekerja; bagaimana penilaian terhadap serikat pekerja di media masing-masing; apakah serikat pekerja sudah menjalankan peran sesuai dengan harapan; apa harapan terhadap peran serikat pekerja media; peran apa yang 37
  38. 38. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor diharapkan akan dilakukan oleh serikat pekerja media. d. Kepuasan terhadap serikat pekerja media di tempat kerja. Seberapa puas dengan kinerja serikat pekerja di media masing- masing; bagaimana kepuasan jurnalis dengan perjuangan yang telah dilakukan oleh serikat pekerja; dan sebagainya.2. Media yang tidak atau belum mempunyai serikat pekerja a. Penilaian umum terhadap serikat pekerja. Bagaimana pendapat jurnalis terhadap serikat pekerja; apakah serikat pekerja memang dibutuhkan oleh jurnalis; apakah menurut jurnalis setiap media seharusnya mempunyai serikat pekerja. b. Hambatan membentuk serikat pekerja. Apakah jurnalis menginginkan adanya serikat pekerja di media tempat mereka bekerja; mengapa hingga saat ini belum ada serikat pekerja media di tempat mereka bekerja; apakah pernah ada upaya untuk membentuk serikat pekerja; apakah ada hambatan dari manajemen yang membatasi pembentukan serikat pekerja. c. Kepentingan jurnalis. Jika saat ini belum ada serikat pekerja, bagaimana kepentingan jurnalis dan pekerja lainnya selama ini diperjuangkan; bagaimana mekanisme yang biasa dilakukan jika terjadi konflik antara jurnalis dengan manajemen media; bagaimana konflik itu selama ini diselesaikan; misalnya apakah ada forum antara pekerja dan manajemen untuk menyelesaikan konflik yang mungkin terjadi. d. Peran serikat pekerja. Jika nantinya terdapat serikat pekerja di tempat mereka bekerja, peran apa yang diharapkan dijalankan oleh serikat pekerja; apakah sebaiknya serikat pekerja38
  39. 39. Bab 1 Pendahuluan hanya memperjuangkan kesejahteraan jurnalis ataukah juga memperjuangkan hal lain misalnya melakukan advokasi terhadap semua pekerja, peningkatan profesionalisme jurnalis dan sebagainya; apakah setuju atau tidak menjalin hubungan dengan serikat pekerja lain (misalnya, dalam bentuk federasi serikat pekerja media) ataukah serikat pekerja media sebaiknya hanya mengurusi internal di media masing-masing.C. Metode penelitian Survei ini dilakukan dengan menggunakan pertanyaan terstruktur(kuesioner). Survei ini bersifat eksploratif, berusaha menggambarkansebanyak mungkin berbagai masalah berdasarkan pendapat jurnalis.Populasi dari survei ini adalah semua jurnalis yang bekerja di tujuh kota diIndonesia, yakni Jakarta, Aceh, Medan, Lampung, Bandung, Surakarta, danPalu. Jurnalis dalam survei ini didefinisikan sebagai individu yang bekerjamencari, mengolah dan mempublikasikan berita di suatu media. Pekerjaadministrasi atau staf keuangan di satu media tidak dimasukkan dalamsurvei ini. Seorang jurnalis freelance juga tidak dimasukkan dalam survei.Wawancara dilakukan secara langsung (face to face interviews), di manapewawancara mendatangi langsung responden terpilih. Untuk menjaminwawancara dilakukan secara benar, dilakukan spot check, sebanyak 20% darijumlah sampel.D. Sampel dan responden Teknik penarikan sampel yang dipakai dalam survei ini adalahteknik acak klaster (cluster random sampling). Teknik penarikan sampel acak 39
  40. 40. Masih Bertumpu Pada Sang Peloporklaster ini dipakai karena dua kondisi. Pertama, tidak tersedia kerangkasampel (sampling frame) yang bisa dijadikan sebagai dasar dalam penarikansampel acak (random). Kerangka sampel yang dimaksud adalah sebuahdaftar yang memuat nama-nama jurnalis di semua media yang ada di tujuhkota yang menjadi wilayah survei ini. Jumlah sampel dalam survei ini adalahsebanyak 192 responden survei dan 27 responden indepth interview. Denganjumlah sampel sebesar ini, tingkat kesalahan (sampling error) dalam survei iniadalah ± 6,62% pada interval kepercayaan 95,0%. Artinya derajat perbedaanantara 95,0% hasil survei dengan populasi diperkirakan plus minus 6,62%. Tabel 1.1 Komposisi Media dan Responden Survei Kuantitatif Media Memiliki Serikat Pekerja Media Tanpa Serikat Pekerja Wilayah Dki Jakarta (= 124 Responden) 1. Kompas 4 19. Rakyat Merdeka 4 2. Republika 4 20. Indo Pos 4 3. Bisnis Indonesia 4 21. Sinar Harapan 4 4. Jakarta Post 4 22. Pos Metro* - 5. Warta Kota 4 23. Pos Kota 4 6. Kontan 4 24. Media Indonesia 4 7. Koran Tempo 4 25. Berita Kota 4 8. Swa Sembada 4 26. Gatra 4 9. Suara Pembaruan 4 27. Sctv 4 10. Antv 4 28. Trans Tv 4 11. Tpi 4 29. Metro Tv 4 12. Rcti 4 30. Tv One 4 13. Indosiar 4 31. Delta Fm 4 14. Detik.Com 4 32. Sonora Fm 4 15. Hukumonline.Com 4 16. Kantor Berita Antara 440
  41. 41. Bab 1 Pendahuluan 17. Kantor Berita Radio 68 H 4 18. Smart FM Jakarta 4 Wilayah Bandung (= 8 Responden) 1. Pikiran Rakyat Bandung 4 2. Tribun Jabar 4 Wilayah Surakarta (= 8 Responden) 1. Solo Pos 4 2. Radar Surakarta 4 Wilayah Medan (= 28 Responden) 1. Sumut Post 4 5. Waspada 4 2. Medan Bisnis 4 6. Sinar Indonesia Baru 4 3. Analisa 4 7. Medan Pos 4 4. Smart FM Medan 4 Wilayah Lampung (= 8 Responden) 1. Lampung TV 4 2. Lampung Pos 4 Wilayah Palu (= 8 Responden) 1. Harian Mercusuar Palu 4 2. Radar Sulteng 4 Wilayah Aceh (= 8 Responden) 1. Harian Aceh Independen 4 2. Serambi Indonesia 4 Total 7 Kota (= 192 Responden) Media Memiliki SP (= 108 Reponden) Media Tidak Ada SP (= 84 Reponden)*Harian Pos Metro yang awalnya ditargetkan disurvei ternyata sudah tidak terbit lagi. Tabel 1.2 Komposisi Media dan Responden “Indepth Interview” No. Kota Wilayah Media Memiliki SP Media Tidak Ada SP 1. DKI Jakarta 8 5 2. Banda Aceh 2 2 3. Medan 1 1 4. Lampung 1 1 5. Bandung 1 1 6. Surakarta 1 1 7. Palu 1 1 Total 15 12 41
  42. 42. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor Karena daftar nama tidak tersedia, penarikan sampel acak sederhana(simple random sampling) tidak bisa dipakai. Kedua, kalaupun daftar namajurnalis itu tersedia masih diragukan akurasinya. Di samping tidak memuatnama semua jurnalis, daftar itu acapkali tidak up to date. Karena tiadanyadaftar nama jurnalis tersebut, maka penarikan sampel klaster adalahalternatif penarikan sampel yang mungkin dilakukan. MEDIA X $ $ $ $ $ $ MEDIA Z $ $ MEDIA Y Sesuai dengan namanya, penarikan sampel ini didasarkan padagugus (klaster). Asumsinya, individu adalah bagian dari gugus atau klastertertentu. Kerangka sampel berupa daftar nama individu memang tidaktersedia, tetapi daftar kelompok (gugus) itu pasti tersedia. Karena itu yangdilakukan oleh peneliti adalah menarik sampel dari gugus atau klaster itu.Kemudian dari gugus itu ditarik individu. Dalam survei ini, gugus yangdimaksud adalah media tempat jurnalis bekerja. Dan daftar nama media ditujuh kota pasti tersedia. Adapun tahapan penarikan sampel klaster adalahsebagai berikut: 1. Memilih Primary Sampling Unit (PSU) media Peneliti memilih media di masing-masing kota. Media yang42
  43. 43. Bab 1 Pendahuluan diambil diklasifikasikan ke dalam media yang mempunyai serikat pekerja dan media yang tidak mempunyai serikat pekerja. Dengan cara ini diharapkan bisa dibuat perbandingan penilaian jurnalis yang bekerja di media yang terdapat serikat pekerja dan yang tidak mempunyai serikat pekerja. Untuk media yang mempunyai serikat pekerja diambil semua sebagai sampel. Total terdapat 27 media di tujuh kota yang mempunyai serikat pekerja. Sementara untuk media yang tidak mempunyai serikat pekerja diambil sampel 23 media. Sehingga total ada 50 media di tujuh kota yang diambil sebagai sampel. Media yang terpilih itu ditempatkan sebagai Primary Sampling Unit (PSU).2. Mendata jurnalis di PSU terpilih dan memilih secara acak (random) wartawan yang akan menjadi sampel Setelah PSU terpilih, pewawancara (interviewer) mendatangi masing-masing PSU tersebut. Pewawancara mendata nama semua jurnalis yang ada di media terpilih.3. Mengambil secara acak (random) jurnalis di media sampel Dengan menggunakan lembar yang telah disediakan, pewawancara memilih secara random (acak) jurnalis yang terpilih sebagai sampel. Jumlah responden yang diambil di masing-masing media ditetapkan sebanyak empat orang jurnalis. 43
  44. 44. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor44
  45. 45. Bab 2 Profil RespondenRESPONDEN yang menjadi sampel dalam survei ini didesain menjadi duakelompok responden. Pertama, kelompok yang memiliki serikat pekerja,yakni responden yang bekerja sebagai pekerja tetap di perusahaan mediayang terdapat serikat pekerja. Kedua, kelompok yang tidak memilikiserikat pekerja, yaitu mereka yang bekerja sebagai pekerja tetap diperusahaan media yang tidak memiliki serikat pekerja.A. Usia dan jenis kelamin Secara keseluruhan, responden dalam survei ini lebih banyak laki-laki (85%) dibandingkan dengan perempuan (15%). Tidak ada perbedaansignifikan perbandingan jenis kelamin responden di media yang memiliki 45
  46. 46. Masih Bertumpu Pada Sang Peloporserikat pekerja dengan media yang tidak memiliki serikat pekerja. Grafik 2.1 Jenis Kelamin Base: Ada Serikat Pekerja & Tidak Ada Serikat Pekerja (N= 192) Perempuan , 15.0% Laki-laki, 85.0% Ada Serikat Pekerja Tidak Ada Serikat Pekerja 86.0% 83.9% 14.0% 16.1% Laki-laki Perempuan“Jenis kelamin responden” Terkait usia, sebagian besar responden berada dalam rentang usiaantara 26-35 tahun, baik di media yang memiliki serikat pekerja maupunyang tidak memiliki serikat pekerja. Hanya sebagian kecil responden yangtergolong berusia tua maupun di bawah 25 tahun.46
  47. 47. Bab 2 Profil Responden Grafik 2.2 Usia Responden Base: Ada Serikat Pekerja & Tidak Ada Serikat Pekerja (N= 192) Ada Serikat Pekerja Tidak Ada Serikat Pekerja 57.1% 44.0% 34.0% 22.0% 12.0%11.0% 10.0%8.8% 0.0% 1.1% 26-35 tahun 36-45 tahun 46-55 tahun 17-25 tahun 56-65 tahun“Usia responden”B. Bidang pekerjaan Responden dalam survei ini sebagian besar bekerja sebagaireporter/fotografer. Posisi atau jabatan responden yang juga cukup banyakdalam survei ini adalah redaktur. Paling sedikit adalah sebagai koordinatorreportase. Grafik 2.3 Posisi/Jabatan di Media Base: Ada Serikat Pekerja & Tidak Ada Serikat Pekerja Ada Serikat Pekerja Tidak Ada Serikat Pekerja 59.8% Reporter/fotografer 76.3% Penanganggung jawab rubrik 10.3% 1.1% 4.6% Koordinator reportase 1.1% 23.0% Redaktur 11.8% 2.3% Redaktur pelaksana 9.7%“Jabatan/posisi Anda di media?” 47
  48. 48. Masih Bertumpu Pada Sang PeloporC. Pendidikan Sementara untuk tingkat pendidikan, sebagian besar responden(80%) adalah sarjana. Selebihnya, rata di antara mereka yang lulusan SLTA,akademi dan pascasarjana. Grafik 2.4 Pendidikan Base: Ada Serikat Pekerja & Tidak Ada Serikat Pekerja (N= 192) Ada Serikat Pekerja Tidak Ada Serikat Pekerja 80.0%82.8% 7.0% 7.5% 7.0% 8.6% 6.0% 1.1% Tamat Sarjana Tamat SLTA Tamat Tamat Pasca Akademi Sarjana ( S2)“Pendidikan terakhir”D. Lama kerja Di media yang memiliki serikat pekerja, responden dalam surveiini paling banyak (27%) telah bekerja lebih dari 10 tahun. Sementaradi media yang tidak memiliki serikat pekerja, responden paling banyak(22.8%) adalah mereka yang bekerja 3-4 tahun. Responden paling sedikitadalah responden yang bekerja kurang dari satu tahun. Artinya sebagianbesar responden sudah cukup lama bekerja di media tempat mereka bekerjasekarang ini.48
  49. 49. Bab 2 Profil Responden Grafik 2.5 Lama Bekerja Base: Ada Serikat Pekerja & Tidak Ada Serikat Pekerja (N= 192) Ada Serikat Pekerja Tidak Ada Serikat Pekerja Lebih dari 10 tahun 27.0% 21.7% 3-4 tahun 19.0% 22.8% 5-6 tahun 15.0% 12.0% 1-2 tahun 14.0% 14.1% 9-10 tahun 13.0% 5.4% 7-8 tahun 12.0% 18.5% Kurang dari 1 tahun 0.0% 5.4%“Lama kerja”E. Keanggotaan di organisasi jurnalis Hal yang sangat menarik untuk diketahui dari profil respondendalam survei ini adalah apakah mereka juga menjadi anggota di organisasijurnalis. Apakah ada perbedaan antara mereka yang bekerja di media yangmemiliki serikat pekerja dengan mereka yang bekerja di media yang tidakmemiliki serikat pekerja. Ternyata di media yang ada serikat pekerja lebihbanyak yang menjadi anggota organisasi jurnalis, meskipun separuh darimereka menyatakan tidak aktif. Sementara di media yang tidak ada serikatpekerja sebagian besar (55.4%) jurnalis tidak menjadi anggota organisasijurnalis. 49
  50. 50. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor Grafik 2.6 Keanggotaan di Organisasi Jurnalis Base: Ada Serikat Pekerja & Tidak Ada Serikat Pekerja (N= 192) Ada Serikat Pekerja Tidak Ada Serikat Pekerja 55.4% 39.0% 31.5% 28.0% 28.0% 9.8% 5.0% 3.3% Tidak menjadi Ya, anggota Anggota, tidak Tidak tahu / anggota aktif aktif tidak jawab“Apakah Anda anggota organisasi jurnalis?“ Responden di media yang memiliki serikat pekerja yang menjadianggota organisasi jurnalis, sebagian besar (52.7%) adalah anggota dariAliansi Jurnalis Independen (AJI). Sementara responden di media yangtidak memiliki serikat pekerja, yang menjadi anggota organisasi jurnalissebagian besar (54.8%) dari mereka adalah anggota Persatuan WartawanIndonesia (PWI). Grafik 2.7 Keanggotaan di Organisasi Jurnalis Base: Ada Serikat Pekerja & Tidak Ada Serikat Pekerja (N= 192) Ada Serikat Pekerja Tidak Ada Serikat Pekerja Aliansi Jurnalis Independen (AJI) 52.7% 19.0% Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 27.3% 54.8% Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) 3.6% 7.1% Karyawan Jurnalis Indonesia (KJI) 3.6% 4.8% PWI Reformasi 1.8% 2.4% Forum Komunikasi Serikat Pekerja Media Indonesia 1.8% (FKSPMI) 0.0% Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI) 1.8% 2.4% Pewarta Foto Indonesia (PFI) 1.8% 0.0% Asosiasi Jurnalis Asia (AJA) 1.8% 0.0% Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) 1.8% 0.0% Siwo 0.0% 2.4% PRSSNI 0.0% 4.8% Lainnya, (sebutkan) 5.5% 7.1%“Apakah Anda anggota organisasi jurnalis?“50
  51. 51. Bab 3 Keberadaan Serikat PekerjaA. Keberadaan serikat pekerja di tempat kerja Seluruh responden dalam survei ini mengetahui keberadaan serikatpekerja di perusahaan tempat mereka bekerja. Dalam penelitian ini, 51.8%responden bekerja di perusahaan media yang terdapat serikat pekerja.Selebihnya (48.2%) bekerja di media yang tidak memiliki serikat pekerja. 51
  52. 52. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor Grafik 3.1 Keberadaan Serikat Pekerja Base: Ada Serikat Pekerja & Tidak Ada Serikat Pekerja (N= 192) Ada, 51.8% Tidak ada, 48.2%“Sepengetahuan Anda, apakah ada serikat pekerja di tempat Anda bekerja?” Keberadaan serikat pekerja di perusahaan tempat respondenbekerja, menurut mereka, karena merupakan aspirasi dari pekerja. Hanya3.2% responden yang menyatakan bahwa keberadaan serikat pekerja karenadibentuk oleh manajemen/direksi perusahaan. Grafik 3.2 Alasan Serikat Pekerja Ada di Perusahaan Media Base: Ada Serikat Pekerja Aspirasi dari pekerja 60.0% Aspirasi pekerja tapi didukung oleh direksi 30.5% Dibentuk oleh direksi atau pemilik perusahaan 3.2% Tidak tahu/tidak jawab 6.3%“Menurut Anda, apa alasan serikat pekerja didirikan di media Anda?” 52
  53. 53. Bab 3 Keberadaan Serikat Pekerja Sementara media yang belum terdapat serikat pekerja, menurutresponden, karena tidak ada orang atau pelopor yang menggerakkan(38.1%). Alasan kedua adalah tidak diperbolehkan oleh manajemen/direksi (26.2%). Dan alasan lain menurut mereka adalah tidak ada pekerjayang berminat. Grafik 3.3 Alasan Serikat Pekerja Tidak Ada di Perusahaan Media Base: Ada Serikat Pekerja Tidak ada orang yang 38.1% menggerakkan Tidak diperbolehkan 26.2% oleh direksi Tidak ada pekerja 3.6% yang berminat Lainnya (sebutkan) 2.4% Tidak tahu/tidak jawab 31.0%”Mengapa dimedia tempat Anda bekerja tidak ada serikat pekerja? Alasan Tidak Ada Serikat Pekerja di Perusahaan Media Dari hasil wawancara mendalam terhadap sejumlah jurnalis di media yang tidak memiliki serikat pekerja, diketahui beberapa alasan mengapa di media mereka tidak ada serikat pekerja. Hal itu, mulai karena ditentang oleh pihak manajemen hingga tidak ada karyawan yang menggerakkan. Meskipun ide untuk membentuk serikat pekerja selalu ada, hal itu sulit terealisasi karena sering berbenturan dengan pihak manajemen yang menentang pembentukan serikat pekerja. ”Selama ini hubungan manajemen dengan pekerja cukup harmonis, kalau ada masalah pasti bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik. Karyawan– terutama bagian redaksi–memang pernah memiliki pemikiran untuk membentuk serikat pekerja. Tapi sampai sekarang, ya, begini-begini saja, belum tercapai program itu. Persoalannya, membentuk serikat kerja enggak gampang. Perlu koordinasi, diskusi, dan harus menyusun rencana-rencana program. Dan, untuk 53
  54. 54. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor memulainya sampai sekarang belum ada yang menggerakkan. Apalagi, membentuk serikat pekerja ditentang manajemen.” (Laki-laki, Redaktur, Jakarta) ”Usia koran ini memang sudah lama, sekitar 35 tahun. Tapi selama itu pula tidak pernah ada serikat pekerja. Masalahnya perusahaan memang sama sekali tidak menginginkan adanya serikat pekerja. Dari sisi bisnis, keberadaan serikat pekerja dianggap merugikan perusahaan karena seluruh karyawan akan memperoleh 20% saham perusahaan. Ini yang tidak diinginkan manajemen.” (Laki-laki, Redaktur, Jakarta) ”Dari awal memang tidak ada serikat pekerja. Ada pertentangan antara kepentingan manajemen dan karyawan. Di satu sisi, manajemen sangat tidak berkenan atas hadirnya serikat pekerja, sementara di sisi karyawan, pembentukan serikat pekerja mengundang perlawanan terhadap manajemen. Pasti akan berhadapan dengan manajemen. Dan rencana pendirian serikat pekerja ditolak manajemen.” (Laki-laki, Redaktur, Jakarta) ”Enggak ada serikat pekerja. Banyak alasannya. Pertama, dari pihak manajemen memang tidak menginginkan ada serikat pekerja. Jauh-jauh hari, karyawan pernah berencana untuk membentuk serikat pekerja, namun hal ini ditentang keras oleh manajemen. Bentuk reaksi manajemen adalah dengan memanggil karyawan yang akan membentuk serikat pekerja. Jelas, ada intimidasi dari manajemen agar tidak membentuk serikat pekerja. Akhirnya enggak jadi. Kedua, kekompakan antar karyawan kurang. Kita semua tahu, kalau membentuk serikat pekerja akan berbenturan dengan manajemen. Karyawan juga takut akan mendapatkan sanksi dari manajemen jika membentuk serikat pekerja. Karena kondisi ini, sampai sekarang media ini enggak pernah punya serikat pekerja.” (Laki-laki, Redaktur, Jakarta) ”Sejak awal berdiri, media ini memang tidak memiliki serikat pekerja. Karena karyawannya tidak punya niat untuk membentuk serikat pekerja.” (Laki-laki, Redaktur, Jakarta) ”Sepertinya semua karyawan tahu kalau serikat pekerja adalah sesuatu yang ’tabu’ bagi manajemen. Karyawan akan dicap oposisi oleh manajemen. Karena itu, media ini tidak punya serikat pekerja.” (Laki-laki, Redaktur, Jakarta)54
  55. 55. Bab 3 Keberadaan Serikat PekerjaB. Persepsi terhadap keberadaan serikat pekerja Persepsi responden terhadap keberadaan serikat pekerja sebagianbesar menilai sangat penting. Responden dari media yang tidak memilikiserikat pekerja sebagian besar (54.8%) tetap menilai keberadaan serikatpekerja sangatlah penting. Tidak ada responden yang menilai keberadaanserikat pekerja tidak penting sama sekali. Meskipun kecil, ada 9.7% respondendari media yang tidak memiliki serikat pekerja menilai keberadaan serikatpekerja kurang penting. Grafik 3.4 Persepsi terhadap Keberadaan Serikat Pekerja Base: Ada Serikat Pekerja & Tidak Ada Serikat Pekerja (N= 192) Ada Serikat Pekerja Tidak Ada Serikat Pekerja 86.0% Sangat penting 54.8% 11.0% Cukup penting 33.3% 2.0% Kurang penting 9.7% 0.0% Tidak penting 0.0% 1.0% Tidak tahu/tidak jawab 2.2%”Menurut penailaian Anda, apakah serikat pekerja di perusahaan media sangat penting,cukup penting, kurang penting atau tidak penting sama sekali?” Alasan mereka menganggap penting keberadaan serikat pekerjamedia sebagian besar karena serikat pekerja memperjuangkan hak dankesejahteraan pekerja. Alasan lain yang cukup banyak dikemukakanresponden adalah dengan adanya serikat pekerja, para pekerja memilikiposisi tawar dengan perusahaan dan ketika mengalami sengketa ada yangmelindungi. 55
  56. 56. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor Grafik 3.5 Alasan Serikat Pekerja Penting Base: Ada Serikat Pekerja & Tidak Ada Serikat Pekerja (N= 192) Ada Serikat Pekerja Tidak Ada Serikat Pekerja 40.8% Memperjuangkan hak-hak pekerja 42.7% 28.6% Memperjuangkan kesejahteraan pekerja 24.4% 16.3% Memiliki posisi tawar dengan perusahaan media 11.0% 9.2% Mendapat perlindungan saat mengalami sengketa 14.6% 4.1% Solidaritas sesama pekerja media 7.3% 1.0% Tidak tahu/tidak jawab 0.0%“Mengapa serikat pekerja sangat penting atau cukup penting di perusahaan media?” Separuh responden (50%) dari media yang memiliki serikat pekerjayang menjawab keberadaan serikat pekerja kurang penting beralasan, serikatpekerja tidak efektif dalam memperjuangkan kesejahteraan pekerja, danseparuh lagi beranggapan kondisi kesejahteraan sudah baik sehingga tidakperlu diperjuangkan oleh serikat pekerja. Sementara responden dari mediayang tidak memiliki serikat pekerja sebagian besar (72.7%) menganggap,serikat pekerja kurang penting karena kepentingan mereka sudah diurus olehbagian umum atau personalia di perusahaan media. Alasan kedua (27.3%),serikat pekerja tidak akan efektif dalam memperjuangkan kesejahteraanpekerja.56
  57. 57. Bab 3 Keberadaan Serikat Pekerja Grafik 3.6 Alasan Serikat Pekerja Tidak Penting Base: Ada Serikat Pekerja & Tidak Ada Serikat Pekerja (N= 192) Ada Serikat Pekerja Tidak Ada Serikat Pekerja Tidak akan efektif dalam memperjuangkan 50.0% kesejahteraan pekerja 27.3% Kondisi kesejehtaraan sudah baik, tidak 50.0% perlu diperjuangkan 0.0% Sudah diurus oleh bagian umum atau 0.0% personalia di perusahaan 72.7%“ Mengapa keberadaan serikat pekerja kurang penting atau tidak penting sama sekali diperusahaan media?”C. Keanggotaan serikat pekerja Mereka yang bekerja di media yang memiliki serikat pekerjaditanyakan apakah menjadi anggota serikat pekerja. Sebagian besar (83.%)responden menjadi anggota serikat pekerja di tempat mereka bekerja.Hanya 17% responden saja yang menyatakan tidak menjadi anggota serikatpekerja di tempat mereka bekerja. Grafik 3.7 Keanggotaan di Serikat Pekerja Base: Ada Serikat Pekerja Tidak, 17.0% Ya, 83.0%“Apakah Anda menjadi anggota serikat pekerja di media Anda?” 57
  58. 58. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor Lebih jauh ditanyakan pula kepada mereka yang menjadi anggotaserikat pekerja, mengapa bergabung dalam serikat pekerja. Sebagian besarresponden (51.0%) mengatakan, mereka masuk dan bergabung denganserikat pekerja karena kesadaran sendiri. Selebihnya karena diajak olehteman (17.8%) dan diwajibkan oleh perusahaan (14.6%). Fakta ini tentunyacukup menarik. Berkesadaran sendiri bergabung dalam serikat bisa diartikansebagai bentuk dukungan langsung terhadap keberadaan serikat pekerja. Grafik 3.8 Alasan Masuk Serikat Pekerja Base: Ada Serikat Pekerja Diwajibkan Diajak oleh oleh teman, perusahaan, 17.8% 14.6% Lainnya, 4.2% Kesadaran sendiri, 51.0%“Alasan Anda bergabung serikat pekerja?” Dari pertanyaan berapa lama bergabung menjadi anggota serikatpekerja, ternyata paling banyak adalah mereka yang belum lama menjadianggota serikat pekerja. Jika dihubungkan dengan profil lama merekabekerja di perusahaan media saat ini, paling banyak kedua adalah merekayang bekerja 3-4 tahun. Hal ini berarti sesuai antara berapa lama merekabekerja dengan berapa lama mereka menjadi anggota serikat pekerja.Responden yang menjadi anggota serikat pekerja lebih dari 10 tahun berartimereka juga sudah bekerja di perusahaan itu lebih dari 10 tahun.58
  59. 59. Bab 3 Keberadaan Serikat Pekerja Grafik 3.9 Lama Menjadi Anggota Serikat Pekerja Base: Ada Serikat Pekerja L ama menjadi anggota s erikat pekerja (tahun) 22.2% 14.8% 13.6% 11.1% 9.9% 6.2% 6.2% 4.9% 3.7% 2.5% 2.5% 2.5% <1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > 10“Sudah berapa tahun Anda menjadi anggota serikat pekerja di media sekarang?” Dilihat dari sistem keanggotaan dalam serikat pekerja tempatresponden bekerja, 41.8% responden menjawab berdasarkan sistem stelselaktif. Artinya anggota serikat pekerja adalah mereka yang mendaftar menjadianggota, pekerja tidak otomatis menjadi anggota serikat pekerja media. Halini berkaitan dari hasil sebelumnya yang menyatakan bahwa sebagian besarjurnalis menjadi anggota serikat pekerja karena kesadaran sendiri. Artinya,serikat pekerja memang tidak memaksakan kepada pekerja untuk menjadianggota serikat pekerja. Hanya mereka yang tertarik dan mau mendaftarsajalah yang menjadi anggota serikat pekerja. Sebesar 30.1% responden menjawab sistem keanggotaan serikatpekerja di tempat mereka bekerja adalah stelsel pasif, yaitu setiap pekerja yangbekerja di media itu akan secara otomatis menjadi anggota serikat pekerja.Sistem ini bisa jadi berkaitan dengan cara jurnalis menjadi anggota serikatpekerja, yakni karena diwajibkan. Jadi tanpa mendaftar, ketika mereka bekerjadi media itu, mereka secara otomatis akan menjadi anggota serikat pekerja. 59
  60. 60. Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor Grafik 3.10 Sistem Keanggotaan dalam Serikat Pekerja Base: Ada Serikat Pekerja Stelsel Aktif, 41.8% Stelsel Tidak Pasif, tahu/tidak 30.1% jawab, 28.1%“Bagaimana sistem keanggotaan serikat pekerja di media Anda, stelsel pasif atau stelselaktif?” Responden dari media yang memiliki serikat pekerja sebagianbesar (59%) menilai, sebaiknya sistem keanggotaan serikat adalah stelselaktif. Sementara responden (21.3%) dari media yang tidak memiliki serikatpekerja menilai, sistem keanggotaan dalam serikat pekerja sebaiknya jugastelsel aktif. Sebesar 29% responden dari media yang memiliki serikatpekerja dan 19.1% responden dari media yang tidak memiliki serikat pekerjamenilai, sistem keanggotaan dalam serikat pekerja sebaiknya stelsel pasif.60
  61. 61. Bab 3 Keberadaan Serikat Pekerja Grafik 3.11 Sistem Keanggotaan dalam Serikat Pekerja Base: Ada Serikat Pekerja & Tidak Ada Serikat Pekerja (N= 192) Ada Serikat Pekerja Tidak Ada Serikat Pekerja 59.0% Stelsel Aktif 21.3% 29.0% Stelsel Pasif 19.1% Tidak tahu/tidak 12.0% jawab 59.6%“Menurut Anda, sebaiknya sistem keanggotaan serikat pekerja media berupa stelsel pasifatau stelsel aktif?” Menyambung pertanyaan sebelumnya menarik untuk diketahuibagaimana penilaian responden jika di tempat mereka bekerja setiap pekerjasecara otomatis menjadi anggota serikat pekerja. Ternyata lebih banyak yangsetuju jika setiap pekerja secara otomatis atau diwajibkan menjadi anggotaserikat pekerja. Hal ini tentunya berlawanan jika dibandingkan denganhasil sebelumnya di mana lebih banyak responden yang menilai sistemkeanggotaan serikat pekerja sebaiknya adalah stelsel aktif, bukan stelselpasif. Artinya meskipun lebih banyak mereka yang menilai sebaiknya sistemkeangotaan stelsel aktif, namun jika diharuskan menjadi anggota serikatmereka setuju dengan cara tersebut. Sebesar 35% responden dari media yang memiliki serikat pekerjadan 33.3% responden dari media tidak memiliki serikat pekerja menyatakan,tidak setuju jika setiap pekerja diwajibkan menjadi anggota serikat pekerja. 61

×