BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam aktivitas perekonomian suatu negara, konsumsi mempunyai peran
penting d...
dikonsumsi. Bila konsumsi ingin ditingkatkan sedangkan pendapatan tetap maka
terpaksa tabungan yang digunakan maka tabunga...
berbeda-beda menyebabkan keanekaragaman taraf konsumsi suatu masyarakat
atau individu.
Namun, bila dilihat lebih jauh peni...
kesehatan, dan lain sebagainya. Adanya pertumbuhan ekonomi yang tidak disertai
dengan proses pemerataan akan mengakibatkan...
Namun masih ada juga penduduk yang kurang sejahtera dalam hal ini
adalah rumah tangga miskin. Akan tetapi, pola konsumsi m...
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin penulis capai pada penelitian ini adalah untuk
mengetahui perbedaan pola ko...
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teoritis
2.1.1 Pengertian Konsumsi
Dalam makro ekonomi, “Konsumsi adalah jumlah selur...
2.1.2 Pengeluaran Konsumsi rumah Tangga
Pengeluaran konsumsi rumah tangga adalah nilai belanja yang dilakukan oleh
rumah t...
para ahli ekonomi. J.M Keynes dalam tulisan Kamaluddin, 2009 menyatakan
bahwa
Konsumsi seseorang akan tergantung pada ting...
konsumsi seseorang tergantung pada pendapatan permanennya ( pendapatan
yang rutin ia terima setiap periode tertentu ) dan ...
2.2 Konsep Kebutuhan Dasar
Bantuan Luar Negeri memang berhasil meningkatkan ekonomi negara yang
sedang berkembang tapi jur...
tingkat ketiga yang berisi kebutuhan akan barang mewah, kebutuhan tingkat
keempat (quartiary needs) yang berisi akan kebut...
Kebutuhan pokok sebagai kebutuhan esensial sedapat mugkin harus
dipenuhi oleh suatu rumah tangga supaya mereka dapat hidup...
Sumber: BPS Pengeluaran Konsumsi Untuk Penduduk Indonesia Per
Provinsi 200
2.4 Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan merupakan ...
kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial. Kemiskinan
memang merupakan persoalan multidimensional yang tida...
2.4.1 Karakteristik Golongan Miskin
Menurut Zelinsky (1996: 88) karakteristik penduduk dapat dikategorikan
dalam beberapa ...
besar perbandingannya dengan pengeluaran bukan pangan adalah salah satu
karakteristik ekonomi penduduk miskin.
3. Karakter...
kemiskinan di pedesaan sudah sedemikian buruknya dimana keluarga miskin
harus mengkonsumsi porsi yang besar dari pendapata...
kalori 2.100 kalori per kapita perhari dimana paket komoditi kebutuhan dasar
makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi...
Keluarga sejahtera III sudah dapat memenuhi kebutuhan berupa tabungan
keluarga, makan bersama sambil berkomunikasi, rekrea...
bahkan tidak merespons usaha-usaha pihak lain yang membantunya keluar
dari kemiskinan tersebut. 4) Kemiskinan struktural d...
2.5 Perbandingan Pola Konsumsi Pangan dan Non Pangan Rumah Tangga
Kaya dan Miskin
Pola konsumsi atau pola pengeluaran ruma...
Dugaan pertama keynes adalah bahwa kecendrungan mengkonsumsi
marginal adalah antara nol dan satu. Ia menulis bahwa “hukum ...
tangga tidak bergantung pada pendapatan sekarang dari individu, tetapi pada
tingkat pendapatan tertinggi yang pernah dicap...
terjadi penurunan pendapatan. Dengan kata lain, seseorang atau rumah tangga
menurut Duesenberry akan berusaha sedemikian r...
seharusnya terutama bergantung pada pendapatan permanen, kerena konsumen
menggunakan tabungan dan pinjaman untuk melancark...
aliran pendapatan yang ia perkirakan berlaku untuknya. Mengenai sumber
pendapatan, ABM membedakan dua sumber pendapatan ya...
a. Barang kebutuhan pokok, seperti makanan pokok. Perubahan pendapatan
nominal tidak berpengaruh banyak terhadap perubahan...
Dari kurva diatas memperlihatkan hubungan pendapatan dengan barang
yang dalam hal ini adalah beras yang masuk dalam kelomp...
Konsumsi Pangan : Pi x Qi = (Pa.Qa+ Pb.Qb+ Pc.Qc+ Pd.Qd+ Pe.Qe+ Pf.Qf+Ʃ
Pg.Qg+..........................)
Konsumsi Non Pan...
Selanjutnya pendapatan perorangan (personal income) merupakan
pendapatan agregat (yang berasal dari berbagi sumber) yang s...
jasa penggunaanya. Ada dua kelompok asset produktif. Pertama, asset financial
seperti deposito yang menghasilkan pendapata...
kecil dari persentasi pengeluaran untuk bukan makanan. Artinya proporsi alokasi
pengeluaran untuk pangan akan semakin keci...
Upaya pemenuhan konsumsi makanan yang bergizi berkaitan erat dengan
daya beli rumah tangga. Rumah tangga dengan pendapatan...
Miskat (2005) dalam skripsinya menemukan bahwa pola pengeluaran
konsumsi masyarakat Makassar di Kecamatan Tamalanrea rata-...
pendapatan mereka tidak tersisa lagi untuk ditabung. Hal ini membuktikan bahwa
konsumsi seseorang berbanding lurus dengan ...
2.12 Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah seperti yang telah diuraikan dalam bab.I
serta dengan berpedoman kepada keran...
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian
Suatu hal yang sangat penting dalam penelitian adalah menentukan...
lokasi itu yang dianggap mewakili dengan pertimbangan pada lokasi tersebut
terdapat orang kaya dan miskin yang tersebar me...
diatas maka sampel dalam penelitian adalah rumah tangga kaya dan miskin yang
tersebar pada 4 kecamatan. Kemudian pada ting...
=128.864/1+128.864.0,01
=99,96
=100 sampel
Pengambilan sampel adalah dilakukan secara acak sederhana (Simple
Random Sampli...
Untuk membuktikan hipotesis yang telah dikemukakan pada bab
sebelumnya, maka metode analisis yang digunakan dalam peneliti...
c. Tinggi adalah alokasi pola konsumsi pangan lebih besar 60 % dari total
pengeluaran.
3) Konsumsi pangan adalah jumlah pe...
3. Pendapatan tinggi X ≥ Rp.2.134.341,66
Sedangkan pendapatan total rumah tangga kaya dibagi menjadi 3 kelompok
yaitu pend...
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian
4.1. 1 Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk
Kota Makassar seca...
persen dari luas Kota Makassar yang menempati urutan luas wilayah terkecil
kedua dan Kecamatan Bontoala terkecil ketiga de...
penduduk sebesar 137.333 rumah tangga. Kecamatan yang memiliki jumlah
rumah tangga terbesar di kota Makassar adalah kecama...
Kode
Wil
Kecamatan
Penduduk
Laju
Pertumbuhan
Penduduk
Rumah
Tangga
Rata-rata
Anggota
Rumah
Tangga2008 2009 2000-2009
010 M...
(Km2
) k Tangga (Org/Km2
)
Mariso 1.82 1,04 55.431 4.36 13.401 30.457
Mamajang 2.25 1,28 61.294 4.82 16.294 27.242
Tamalat...
utara Kota Makassar yang memiliki jumalah rumah tangga sebanyak 9.842 rumah
tangga dan memiliki persebaran rumah tangga ka...
BIRINGKANAYA 9.842 6.686 1.710
TAMALANREA 5.839 4.261 1.145
Sumber : Makassar Dalam Angka 2010
4.2 Struktur Penduduk Menur...
Pada Tabel 4.2. nampak bahwa jumlah murid TK (usia 4-5 tahun) di Kota
Makassar pada tahun ajar 2009/2010 adalah 13.934 mur...
Berdasarkan tabel 4.3.1 dapat dilihat pola distribusi tingkat pendidikan
formal responden. Dari 100 kepala keluarga rumah ...
4.3.2 Pekerjaan
Lapangan pekerjaan dapat dijadikan sebagai salah satu indikator untuk
melihat perbedaan karakteristik peke...
4.3.3 Tingkat Pendapatan
Perubahan kondisi ekonomi mempengaruhi perilaku masyarakat dalam
menentukan pola konsumsi. Pendap...
Berdasarkan Tabel 4.3.3.1 dapat dilihat pola distribusi responden rumah
tangga kaya dan miskin menurut tingkat pendapaan k...
Tabel 4.3.3.2 Kelompok Pendapatan Anggota Rumah Tangga Berdasarkan
Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun
201...
4.3.3.3 Kelompok Pendapatan Total Rumah Tangga Berdasarkan Rumah
Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011
Beriku...
Rp.15.000.000, sedangkan pendapatan terendah sebesar Rp.3.800.000. Dari data
tersebut menggambarkan bahwa rata-rata pendap...
jumlah tanggungan keluarga yang paling sedikit berada pada kelompok sama
dengan 7 orang per rumah tangga yaitu sebanyak 3 ...
dalam bentuk tambahan tenaga kerja maupun sebagai sumber finansial orang tua
di usia lanjut. Sedangkan pada umumnya orang ...
Tabel 4.4.1 Kelompok Alokasi Pengeluaran untuk Kebutuhan Pangan
Menurut Kategori Rumah Tangga Kaya dan Miskin Di Kota
Maka...
memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan mutu,jumlah dan ragam
baik barang maupun jasa yang dibeli oleh rumah ta...
tersebut. Pada pengeluaran non pangan sebesar Rp. 350.100-500.000 perbulan ,
rumah tangga miskin sebanyak 11 responden ata...
Tabel 4.4.3 Persentasi Rata-rata Pengeluaran Untuk Kebutuhan Pangan
Menurut Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar
...
Alokasi pengeluaran untuk kebutuhan protein hewani yang terdiri dari
daging ,susu, telur, dan ikan pada keluarga miskin me...
4.4.4 Persentasi Rata-rata Pengeluaran Untuk Kebutuhan Non Pangan
Menurut Rumah Tangga Kaya dan Miskin Di Kota Makassar Ta...
melakukan saving adalah untuk membiayai keperluan/konsumsi di masa
mendatang terutama untuk membiayai pendidikan.
Rata-rat...
Berdasarkan Tabel 4.5 dan grafik diatas, dapat dilihat perbandingan pola
konsumsi menurut kategori rumah tangga. Alokasi k...
4.5.1 Hubungan Antara Tingkat pendapatan Total Rumah Tangga Miskin
Terhadap Pola Konsumsi Pangan dan Non Pangan di Kota Ma...
Grafik 2: Hubungan Antara Tingkat pendapatan Total Rumah Tangga
Miskin terhadap Pola Konsumsi Pangan dan Non Pangan di Kot...
dari 60 persen atau sampai sebesar 70 persen dari total pengeluaran dibandingkan
dengan porsi/alokasi konsumsi bukan makan...
Tabel 4.5.2 Hubungan Antara Tingkat pendapatan Total Rumah Tangga
Kaya Terhadap Pola Konsumsi Pangan dan Non Pangan di Kot...
panganya rendah yaitu sebesar 81 persen . Kelompok rumah tangga kaya yang
berpendapatan antara Rp. 4.525.281,62 -Rp.10.058...
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Adapun kesimpulan dan saran pada penelitian ini adalah:
5.1 Kesimpulan:
1) Secara umum porsi ko...
“Studi perbandingan pola konsumsi pangan dan non pangan rumah tangga kaya dan miskin di kota makassar.”
“Studi perbandingan pola konsumsi pangan dan non pangan rumah tangga kaya dan miskin di kota makassar.”
“Studi perbandingan pola konsumsi pangan dan non pangan rumah tangga kaya dan miskin di kota makassar.”
“Studi perbandingan pola konsumsi pangan dan non pangan rumah tangga kaya dan miskin di kota makassar.”
“Studi perbandingan pola konsumsi pangan dan non pangan rumah tangga kaya dan miskin di kota makassar.”
“Studi perbandingan pola konsumsi pangan dan non pangan rumah tangga kaya dan miskin di kota makassar.”
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

“Studi perbandingan pola konsumsi pangan dan non pangan rumah tangga kaya dan miskin di kota makassar.”

1,418 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,418
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
123
Actions
Shares
0
Downloads
33
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

“Studi perbandingan pola konsumsi pangan dan non pangan rumah tangga kaya dan miskin di kota makassar.”

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam aktivitas perekonomian suatu negara, konsumsi mempunyai peran penting di dalamnya serta mempuyai pengaruh yang sangat besar terhadap stabilitas perekonomian. Semakin tinggi tingkat konsumsi, semakin tinggi tingkat perubahan kegiatan ekonomi dan perubahan dalam pendapatan nasional suatu negara. Konsumsi keluarga merupakan salah satu kegiatan ekonomi keluarga untuk memenuhi berbagai kebutuhan barang dan jasa. Dari komoditi yang dikonsusmi itulah akan mempunyai kepuasan tersendiri. Oleh karena itu, konsumsi seringkali dijadikan salah satu indikator kesejahteraan keluarga. Kesejahteraan masyarakat adalah tujuan dan cita-cita suatu negara. (Mizkat,2005) Tingkat kesejahteraan suatu negara merupakan salah satu tolak ukur untuk mengetahui keberhasilan pembangunan di negara tersebut dan konsumsi adalah salah satu penunjangnya. Makin besar pengeluaran untuk konsumsi barang dan jasa, maka makin tinggi tahap kesejahteraan keluarga tersebut. Konsumsi rumah tangga berbeda-beda antara satu dengan lainya dikarenakan pendapatan dan kebutuhan yang berbeda-beda pula. Setiap orang atau keluarga mempunyai skala kebutuhan yang dipengaruhi oleh pendapatan. Kondisi pendapatan seseorang akan mempengaruhi tingkat konsumsinya. Makin tinggi pendapatan makin banyak jumlah barang yang 1
  2. 2. dikonsumsi. Bila konsumsi ingin ditingkatkan sedangkan pendapatan tetap maka terpaksa tabungan yang digunakan maka tabungan akan berkurang. Secara umum dapat dikatakan bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat adalah bersumber dari jumlah kebutuhan yang tidak terbatas. Biasanya manusia merasa tidak pernah merasa puas dengan benda yang mereka peroleh dan prestasi yang mereka capai. Apabila keinginan dan kebutuhan masa lalu sudah dipenuhi maka keinginan yang baru akan muncul. Di negara miskin hal seperti itu memang lumrah. Konsumsi makanan yang masih rendah dan perumahan yang kurang memadai telah mendorong masyarakat untuk mencapai taraf hidup yang lebih tinggi. Di negara kaya sekalipun, seperti Jepang dan Amerika serikat masyarakat masih mempunyai keinginan untuk mencapai kemakmuran yang lebih tinggi dari yang telah mereka capai sekarang ini (Sukirno 2008:6) Pola konsumsi sering digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan. Tingkat kesejahteraan suatu masyarakat dapat pula dikatakan membaik apabila pendapatan meningkat dan sebagian pendapatan tersebut digunakan untuk mengkonsumsi non makanan, begitupun sebaliknya. Pergeseran pola pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga dari makanan ke non makanan dapat dijadikan indikator peningkatan kesejahteraan masyarakat, dengan anggapan bahwa setelah kebutuhan makanan telah terpenuhi, kelebihan pendapatan akan digunakan untuk konsumsi bukan makanan. Oleh karena itu motif konsumsi atau pola konsumsi suatu kelompok masyarakat sangat ditentukan pada pendapatan. Atau secara umum dapat dikatakan tingkat pendapatan yang 2
  3. 3. berbeda-beda menyebabkan keanekaragaman taraf konsumsi suatu masyarakat atau individu. Namun, bila dilihat lebih jauh peningkatan pendapatan tersebut tentu mengubah pola konsumsi anggota masyarakat luas karena tingkat pendapatan yang bervariasi antar rumah tangga sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kemampuan mengelolanya. Dengan perkataan lain bahwa peningkatan pendapatan suatu komunitas selalu diikuti bertambahnya tingkat konsumsi semakin tinggi pendapatan masyarakat secara keseluruhan maka makin tinggi pula tingkat konsumsi. (Sayuti, 1989:46-47). Kemudian hubungan konsumsi dengan pendapatan dijelaskan dalam teori Keynes yang menjelaskan bahwa konsumsi saat ini sangat dipengaruhi oleh pendapatan disposible saat ini. Dimana pendapatan disposible adalah pendapatn yang tersisa setelah pembayaran pajak. Jika pendapatn disposible tinggi maka konsumsi juga naik. Hanya saja peningkatan konsumsi tersebut tidak sebesar peningkatan pendapatan disposibel. Selanjutnya menurut Keynes ada batas konsumsi minimal, tidak tergantung pada tingkat pendapatan yang disebut konsumsi otonom. Artinya tingkat konsumsi tersebut harus dipenuhi walaupun tingkat pendapatan = nol, dan hal ini ditentukan oleh faktor di luar pendapatan, seperti ekspektasi ekonomi dari konsumen, ketersediaan dan syarat-syarat kredit, standar hidup yang diharapkan, distribusi umur, lokasi geografis (Nanga,2001). Kebutuhan hidup manusia selalu berkembang sejalan dengan tuntutan zaman, tidak sekedar untuk memenuhi kebutuhaan hayatinya saja akan tetapi menyangkut kebutuhan lainya seperti kebutuhan pakaian, rumah, pendidikan, 3
  4. 4. kesehatan, dan lain sebagainya. Adanya pertumbuhan ekonomi yang tidak disertai dengan proses pemerataan akan mengakibatkan terjadinya kesenjangan antar keluarga. Di satu pihak rumah tangga dengan pendapatan yang lebih dari cukup cenderung mengkonsumsi secara berlebih di lain pihak rumah tangga miskin tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Kota Makassar sebagai kota metropolitan menurut data yang bersumber dari BPS sudah dapat kita lihat bahwa rata-rata pengeluaran rumah tangga di Kota Makassar selama tahun 2002-2006 meningkat dengan cukup berarti. Pada tahun 2002 rata-rata pengeluaran rumah tangga di Kota Makassar mencapai Rp.1.068.429, kemudian meningkat menjadi Rp.1.976.959 pada tahun 2007. Disamping peningkatan rata-rata pengeluaran, indikasi meningkatnya kesejahteraan masyarakat ditunjukkan dengan terjadinya pergeseran pola konsumsi. Pengeluaran konsumsi makanan di tahun 2002 mencapai 54,83 persen menjadi 51,74 persen untuk konsumsi makanan dan 48,26 persen untuk konsumsi bukan makanan (BPS,2007). Berikut adalah tabel yang memperlihatkan rata-rata pengeluaran rumah tangga tahun 2002-2007 Tabel 1.1 Rata-rata Pengeluaran Rumah Tangga Sebulan Menurut Jenis Pengeluaran Kota Makassar,2002-2007. Jenis pengeluaran 2002 2007 Rata-rata Rata-rata (Rp) (%) (Rp) (%) Pengeluaran Makanan 585.818 54,83% 1.022.956 51,74% Pengeluaran Bukan Makanan 482.611 45,17% 954.003 48,26% Pengeluaran Rumah Tangga 1.068.429 100,00% 1.976.959 100,00% Sumber : BPS Kota Makassar,Susenas 2002-2007 4
  5. 5. Namun masih ada juga penduduk yang kurang sejahtera dalam hal ini adalah rumah tangga miskin. Akan tetapi, pola konsumsi masyarakat makassar tergolong konsumtif. Konsumsi rumah tangga yang tinggi namun dapat diseimbangkan dengan pendapatan yang tinggi merupakan suatu kondisi yang wajar, namun apabila konsumsi yang tinggi dengan pendapatan yang rendah oleh karena ada demonstration effect bisa mengakibatkan masalah perekonomian yang dapat mengurangi tingkat kesejahteraan di suatu negara. Hal tersebut di atas, yang menjadi dasar ketertarikan penulis mengadakan penelitian dengan objek rumah tangga dalam hal ini rumah tangga miskin dan kaya yang dalam kenyataanya mempunyai pendapatan yang jumlahnya berbeda- beda dan pola konsumsinya dapat dikatakan cukup bervariasi. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian yang berjudul “ “Studi Perbandingan Pola Konsumsi Pangan dan Non Pangan Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar.” 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini hanya memasukkan unsur pendapatan sebagai variabel yang mempengaruhi pola konsumsi masyarakat Kota Makassar. Maka dapat dikemukakan masalah pokok penelitian ini adalah terjadinya perbedaan pola konsumsi rumah tangga kaya dan miskin di Kota Makassar . Oleh karena itu pertanyaan penelitian ini adalah 1. Adakah perbedaan pola konsumsi rumah tangga kaya dan miskin di Kota Makassar terhadap konsumsi pangan dan non pangan? 5
  6. 6. 1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang ingin penulis capai pada penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pola konsumsi rumah tangga kaya dan miskin untuk konsumsi pangan dan non pangan di Kota Makassar. 1.4 Kegunaan Penelitian Kegunaan penelitian ini secara umum diharapkan dapat berguna sebagai : a. Bagi peneliti sendiri diharapkan akan dapat mengetahui berbagai macam pola konsumsi dari berbagai lapisan masyarakat. b. Bagi responden diharapkan dapat memberikan bantuan berupa informasi tentang pola konsusmi masing-masing responden sehingga nantinya responden diharapkan dapat mengatur pola konsumsinya. c. Bahan masukan bagi pemerintah terutama dalam rangka mengevaluasi kebijaksanan dan menyusun perencanaan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. d. Sebagai aplikasi ilmiah untuk mengetahui dan membuktikan teori-teori yang berkenaan dengan penulisan ini. e. Sebagai salah satu studi yang diharapkan dapat dijadikan bahan referensi bagi yang ingin melakukan penelitian yang relevan dengan materi dari skripsi ini. 6
  7. 7. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Pengertian Konsumsi Dalam makro ekonomi, “Konsumsi adalah jumlah seluruh pengeluaran perorangan atau negara untuk barang-barang konsumsi selama satu periode tertentu”. Tegasnya konsumsi menyangkut barang-barang yang digunakan habis, dinikmati atau di makan selama periode bersangkutan. Dalam prakteknya banyak barang-barang konsumsi tersebut umumnya mungkin melebihi periode waktu tersebut seperti baju, tas, baju atau mobil. Menurut Mankiw (2000) “ Konsumsi adalah barang atau jasa yang dibeli oleh rumah tangga, konsumsi terdiri dari barang tidak tahan lama (Non Durable Goods) adalah barang yang habis dipakai dalam waktu pendek, seperti makanan dan pakaian. Kedua adalah barang tahan lama (Durable Goods) adalah barang yang memiliki usia panjang seperti mobil, televisi, alat-alat elektronik, ponsel dan lainya. Ketiga, jasa (services) meliputi pekerjaan yang dilakukan untuk konsumen oleh individu dan perusahaan seperti porong rambut dan berobat ke dokter”. Yang dibelanjakan untuk pembelian barang-barang dan jasa guna mendapatkan kepuasan dan memenuhi kebutuhan.” 7
  8. 8. 2.1.2 Pengeluaran Konsumsi rumah Tangga Pengeluaran konsumsi rumah tangga adalah nilai belanja yang dilakukan oleh rumah tangga untuk membeli berbagai jenis kebutuhanya dalam satu tahun tertentu. Pendapatan yang diterima rumah tangga akan digunakan untuk membeli makanan, membiayai jasa angkutan, membayar pendidikan anak, membayar sewa rumah dan membeli kendaraan. Barang-barang tersebut dibeli rumah tangga untuk memenuhi kebutuhanya, dan pembelanjaan tersebut dinamakan konsumsi. (Sukirno,1994:38). Tidak semua transaksi yang dilakukan oleh rumah tangga digolongkan sebagai konsumsi (rumah tangga). Kegiatan rumah tangga untuk membeli rumah digolongkan investasi. Seterusnya sebagai pengeluaran mereka, seperti membayar asuransi dan mengirim uang kepada orang tua (atau anak yang sedang bersekolah) tidak digolongkan sebagai konsumsi karena ia tidak merupakan pembelanjaan terhadap barang atau jasa yang dihasilkan dalam perekonomian ( Sukirno 2004). Pengeluaran konsumsi yang dilakukan oleh seluruh rumah tangga dalam perekonomian tergantung kepada pendapatan yang diterima oleh mereka. Makin besar pendapatan mereka, makin besar pula pengeluaran konsumsi mereka. Sifat penting lainya dari konsumsi rumah tangga adalah hanya sebagian saja dari pendapatan yang mereka terima yang akan digunakan untuk pengeluaran konsumsi (Sukirno,1981:104). Untuk memahami pengeluaran konsumsi, ada baiknya terlebih dahulu memahami beberapa teori tentang pengeluaran konsumsi yang dikemukakan oleh 8
  9. 9. para ahli ekonomi. J.M Keynes dalam tulisan Kamaluddin, 2009 menyatakan bahwa Konsumsi seseorang akan tergantung pada tingkat pendapatan yang telah diterima ( pendapatan aktual atau absolut ) oleh seseorang atau masyarakat. Di dalam teori tersebut Keynes (1969) menjelaskan bahwa jika terjadi kenaikan pendapatan aktual maka kenaikan konsumsi seseorang lebih kecil dari kenaikan pendapatan aktual yang diterima. Hal ini dikarenakan seseorang pasti menyisihkan sebagian pendapatan yang diterimanya untuk tujuan lain yaitu menabung dan membayar hutang. Teori yang dikemukakan oleh Keynes tersebut serupa dengan yang diungkapkan oleh Ando, Modigliani dan Brunberg. Menurut mereka, pengeluaran konsumsi akan tergantung dari siklus hidup seseorang pada saat seseorang belum, bekerja, maka untuk membiayai pengeluaran konsumsinya ia akan disubsidi oleh oleh orang tuannya atau hutang. pada saat sudah bekerja ia akan menyisihkan sebagian pendapatannya guna ditabung untuk membayar utang sebelum ia bekerja dan membiayai konsumsi setelah pensiun, seperti telah disebutkan, ia akan memakai tabungannya untuk membiayai konsumsinya. (Kamaluddin,2009). Sedangkan menurut Milton Friedman ( 1957 ) menyatakan bahwa, 9
  10. 10. konsumsi seseorang tergantung pada pendapatan permanennya ( pendapatan yang rutin ia terima setiap periode tertentu ) dan bukan pada pendapatan transiteori (pendapatan yang tak terduga) Jika ahli ekonomi diatas menyatakan bahwa pengeluaran konsumsi sangat dipengaruhi oleh pendapatan absolut atau pendapatan permanennya, maka sedikit berbeda dengan teori James Dussenberry ( 1949 ) yang menyatakan bahwa, Pengeluaran konsumsi seseorang bukan tergantung dari pendapatan absolute aktualnya tetapi tergantung dari pendapatan relatifnya. (Kamaluddin,2009) Maksud dari teori James Dussenberry tersebut adalah konsumsi seseorang tergantung dari tingkat pendapatannya disbanding atau relatif terhadap pendapatan orang lain. Orang yang pendapatannya lebih rendah akan meniru pola konsumsi orang yang pendapatannya lebih tinggi di sekelilingnya. Karakteristik lain dari pengeluaran konsumsi adalah sekali pengeluaran konsumsi seseorang meningkat, maka tidak mungkin pengeluaran konsumsi tersebut menurun sekalipun pendapatannya menurun. Dari beberapa teori tersebut maka dapat dikatakan bahwa pengeluaran konsumsi merupakan keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhannya di mana pengeluaran tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh pendapatannya tetapi juga lingkungan atau masyarakat sekitar ia tinggal. 10
  11. 11. 2.2 Konsep Kebutuhan Dasar Bantuan Luar Negeri memang berhasil meningkatkan ekonomi negara yang sedang berkembang tapi jurang kemiskinan antar penduduk tetap melebar dengan kata lain strategi pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi belum mampu mengadakan pemerataan pendapatan,mengurangi kemiskinan,dan juga belum dapat menyediakan lapangan pekerjaan yang luas guna mengatasi pengangguran. Kegagalan strategi inilah yang menyebabkan dicarinya strategi baru dan dipilihnya model kebutuhan dasar sebagai dasar upaya pengganti. Kebutuhan dasar merupakan kebutuhan yang sangat penting guna kelangsungan hidup manusia,baik yang terdiri dari kebutuhan atau konsumsi individu maupun kebutuhan pelayanan sosial. Manusia mempunyai kecendrungan untuk tetap hidup serta mempertahankan bakat dan kehidupan sosialnya. Sebagai konsekuensinya mereka harus memenuhi kebutuhan hidupnya baik itu primer maupun sekunder agar hidup layak sesuai dengan harkatnya sebagai anggota masyarakat (Sumardi dan Evers,1989:129). Adapun kehidupan manusia itu bertingkat-tingkat adanya. Pada tingkat pertama primary needs atau kebutuhan primer orang membutuhkan sandang, pangan, papan. Apabila kebutuhan primer ini sudah terpenuhi, maka muncullah dalam pikiran manusia untuk memenuhi secondary needs (kebutuhan tingkat kedua) yang merupakan kebutuhan akan barang-barang perlu, yang antara lain berupa kebutuhan akan sepatu, pendidikan dan sebagainya. Jika keadaan memungkinkan (bertambah kaya ) muncul keinginan untuk memenuhi kebutuhan 11
  12. 12. tingkat ketiga yang berisi kebutuhan akan barang mewah, kebutuhan tingkat keempat (quartiary needs) yang berisi akan kebutuhan barang-barang yang benar- benar mubadzir (yang sebenarnya tidak diperlukan sama sekali) dan seterusnya. Orang atau masyarakat akan sampai pada tingkat kebutuhan tertentu hanya sesudah tingkat kebutuhan sebelumnya terpenuhi. Bagi masyarakat kaya, uang tersedia dengan relatif muda. Bagi masyarakat seperti itu, kebutuhan tersier dan kebutuhan quarter sudah mereka penuhi. Akan tetapi uang masih ada, lalu buat apa? Maka muncullah kebutuhan yang macam-macam seperti kebutuhan untuk berbuat maksiat (Rosyidi 2006:50) 2.3 Konsep dan Urutan Jenis Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Asumsi dasar tentang pola konsumsi rumah tangga atau individu adalah bahwa setiap rumah tangga atau individu tersebut akan memaksimumkan kepuasanya, kesejahteraanya, kemakmuranya, atau kegunaanya. Pola konsumsi itu sendiri adalah jumlah persentase dari distribusi pendapatan terhadap masing-masing pengeluaran pangan, sandang , jasa-jasa serta rekreasi dan hiburan. BPS menyatakan kategori adalah pengeluaran makanan, perumahan, pakaian, barang, jasa, dan pengeluaran non konsumsi seperti untuk usaha dan lain-lain pembayaran. Secara terperinci pengeluaran konsumsi adalah semua pengeluaran untuk makanan, minuman, pakaian, pesta atau upacara, barang-barang lama ,dan lain-lain. Yang dilakukan oleh setiap anggota rumah tangga baik itu di dalam maupun di luar rumah, baik keperluan pribadi maupun keperluan rumah tangga (BPS,2007:10) 12
  13. 13. Kebutuhan pokok sebagai kebutuhan esensial sedapat mugkin harus dipenuhi oleh suatu rumah tangga supaya mereka dapat hidup wajar. Kebutuhan Esensial ini antara lain: makanan, pakaian, perumahan, kesehatan, pendidikan partisipasi, transportasi, perawatan pribadi, rekreasi. Alokasi pengeluaran konsumsi masyarakat secara garis besar dapat digolongkan dalam dua kelompok penggunaan, yaitu pengeluaran untuk makanan, dan pengeluaran untuk bukan makanan. Berikut ini disajikan daftar alokasi pengeluaran masyarakat: 13 A. MAKANAN B. BUKAN MAKANAN 1.Sayur-sayuran 1. Perumahan dan Bahan Bakar 2.Kacang-kacangan 2. Aneka Barang dan Jasa a. Barang Perawatan badan b. Bacaan c. Komunikasi d. Kendaraan bermotor e. Transportasi f. Pembantu Rumah Tangga dan Sopir 3.Buah-buahan 4.Minyak dan Lemak 5.Bahan minuman 6.Bumbu-Bumbuan 7.Bahan Pangan 8.Makanan Jadi 3. Biaya Pendidikan 9.Minuman Beralkohol 4. Kesehatan 10.Tembakau dan Sirih 5. Pakaian,Alas Kaki Tutup Kepala 11.Padi-Padian 6. Barang-barang Tahan Lama 12.Umbi-Umbian 7. Pajak Dan Premi Asuransi 13.Ikan 8. Keperluan Pesta dan upacara 14.Daging 15.Telur dan Susu
  14. 14. Sumber: BPS Pengeluaran Konsumsi Untuk Penduduk Indonesia Per Provinsi 200 2.4 Pengertian Kemiskinan Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang selalu dihadapi oleh manusia. Masalah kemiskinan itu sama tuanya dengan usia kemanusiaan itu sendiri dan implikasi permasalahannya dapat melibatkan keseluruhan aspek kehidupan manusia walaupun seringkali tidak disadari kehadirannya bagi manusia yang bersangkutan. Kemiskinan menurut Rais (1995: 9) adalah kondisi depresiasi terhadap sumber-sumber pemenuhan kebutuhan dasar, sedangkan kesenjangan adalah ketidakmerataan akses terhadap sumber ekonomis yang dimiliki. Substansi kemiskinan (Sudibyo dalam Rais 1995: 11) adalah kondisi depresiasi terhadap sumber-sumber pemenuhan kebutuhan dasar yang berupa sandang, pangan, papan, dan pendidikan dasar. Sedangkan substansi kesenjangan adalah ketidakmerataan akses terhadap sumber daya ekonomis. Masalah kesenjangan adalah masalah keadilan, yang berkaitan dengan masalah sosial. Kemiskinan (Friedmann dalam Suyanto, 1995: 207) adalah ketidaksamaan 14
  15. 15. kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial. Kemiskinan memang merupakan persoalan multidimensional yang tidak saja melibatkan faktor ekonomi tetapi juga faktor sosial dan faktor budaya. Menurut Suparlan (1993: 9) kemiskinan dapat didefinisikan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Standar kehidupan yang rendah ini secara langsung tampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan, kehidupan moral, dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong sebagai orang miskin. Dalam ilmu sosial pemahaman mengenai pengertian kemiskinan dilakukan dengan menggunakan tolak ukur tertentu. Menurut Suparlan (1993: 10) tolak ukur yang pertama adalah tingkat pendapatan per waktu kerja, dengan adanya tolak ukur ini maka jumlah dan siapa-siapa saja yang tergolong sebagai orang miskin dapat diketahui, untuk dijadikan sebagai kelompok sasaran yang diperangi kemiskinannya. Tolak ukur yang kedua adalah tolak ukur kebutuhan relatif perkeluarga yang batasannya dibuat berdasarkan kebutuhan minimal yang harus dipenuhi sebuah keluarga agar dapat melangsungkan kehidupannya secara sederhana tetapi memadai sebagai warga masyarakat yang layak. Tercakup dalam tolak ukur kebutuhan relatif per keluarga ini adalah: kebutuhan-kebutuhan yang berkenan dengan biaya sewa rumah, biaya-biaya untuk memelihara kesehatan dan untuk pengobatan, biaya-biaya untuk menyekolahkan anak-anak, dan biaya untuk sandang yang sewajarnya dan pangan yang sederhana tetapi mencukupi dan memadai. 15
  16. 16. 2.4.1 Karakteristik Golongan Miskin Menurut Zelinsky (1996: 88) karakteristik penduduk dapat dikategorikan dalam beberapa klasifikasi berdasarkan rumah tempat tinggal, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, penggunaan lahan, dan kecukupan gizi serta perawatan kesehatan bisa menjadi indikator peningkatan kehidupan sosial masyarakat. Karakteristik golongan miskin menurut Remi dan Tjiptoherijanto (2002:13) adalah: 1. Karakteristik demografi dari penduduk miskin. Secara umum, rata-rata jumlah anggota rumah tangga miskin di Indonesia adalah 5,8 orang sedangkan yang bukan miskin adalah 4,5 orang. Banyaknya jumlah anggota rumah tangga adalah indikasi yang dominan dalam menentukan miskin atau ketidak-miskinan suatu rumah tangga. Bertambah besarnya jumlah anggota rumah tangga maka bertambah besar pula kecenderungan menjadi miskin. Oleh karena itu dapat diketahui bahwa Keluarga Berencana (KB) memiliki tujuan untuk membatasi jumlah anggota rumah tangga adalah relevan dengan upaya-upaya pengentasan kemiskinan. 2. Karakteristik ekonomi dari penduduk miskin Karakteristik dari ekonomi rumah tangga mencakup informasi atas pekerjaan kepala rumah tangga apakah sebagai karyawan atau sebagai pengusaha atau bahkan sebagai keduanya. Pekerjaan kepala rumah tangga mempengaruhi jumlah pendapatan keluarga. Pola pengeluaran rumah tangga dapat dijadikan indikator kemiskinan. Jumlah pengeluaran rumah tangga untuk pangan sangat 16
  17. 17. besar perbandingannya dengan pengeluaran bukan pangan adalah salah satu karakteristik ekonomi penduduk miskin. 3. Karakteristik dilihat dari pekerjaan kepala rumah tangga. Pekerjaan kepala rumah tangga terbagi menjadi dua jenis yaitu: karyawan/buruh dan pengusaha/majikan. Pekerjaan dengan status karyawan/buruh dalam istilah ini merupakan kepala rumah tangga yang memperoleh upah atau gaji sebagai imbalan atau balas jasa dari pekerjaannya sebagai contoh pegawai negeri, karyawan perusahaan, buruh pabrik, pembantu rumah tangga, pengemudi dengan sistem upah atau gaji. Kepala keluarga yang mempunyai pekerjaan sebagai pengusaha misalnya sebagai pemilik tanah, nelayan yang mempunyai atau menyewa kapal dan lain-lain. Di perkotaan dan pedesaan seperti di Jawa dan Bali, di bagian timur Indonesia, maupun di bagian barat Indonesia lebih banyak kepala rumah tangga miskin yang menjadi pengusaha ketimbang yang menjadi buruh. 4. Karakteristik dari pola konsumsi rumah tangga miskin. Gambaran tentang pola konsumsi makanan dan bukan makanan dari kelompok komunitas (miskin dan bukan miskin), menunjukkan bahwa secara umum porsi konsumsi makanan dari rumah tangga miskin sampai sebesar 70% dibandingkan dengan porsi konsumsi bukan makanan yang hanya 29, 31%. dibandingkan dengan kondisi perkotaan porsi konsumsi makanan rumah tangga miskin lebih besar dibandingkan di pedesaan. Hal ini agak kurang dapat dipercaya mengingat rumah tangga miskin di pedesaan harus mengambil makanan dari tanah mereka. Penjelasan yang paling memungkinkan untuk kondisi ini adalah 17
  18. 18. kemiskinan di pedesaan sudah sedemikian buruknya dimana keluarga miskin harus mengkonsumsi porsi yang besar dari pendapatannya hanya untuk makan. 5. Karakteristik sosial budaya Rata-rata orang miskin di perkotaan berpendidikan lebih tinggi daripada di pedesaan. Hal tersebut mungkin dipengaruhi oleh tingkat pendapatan warga yang tinggal di perkotaan memiliki pendapatan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pendapatan di pedesaan. Selain itu di perkotaan fasilitas pendidikan lebih lengkap dan lebih memadai jika dibandingkan dengan pedesaan. 2.4.2 Kemiskinan Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kemiskinan dikonseptualisasikan sebagai ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Dengan kata lain, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan makanan maupun nonmakanan yang bersifat mendasar. Pengukurannya dilakukan dengan menghitung pengeluaran kebutuhan makanan dan kebutuhan non makanan per kapita per bulan. Singkatnya penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran (makanan dan non makanan) per kapita perbulan dibawah Garis Kemiskinan. Komponen Garis Kemiskinan adalah Garis Kemiskinan makanan dan Garis Kemiskinan Non makanan. Garis Kemiskinan makanan adalah batas minimal kebutuhan dasar makanan yang setara dengan pemenuhan kebutuhan 18
  19. 19. kalori 2.100 kalori per kapita perhari dimana paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur, susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak, lemak dan lain-lain. Garis Kemiskinan Non makanan adalah batas minimal kebutuhan dasar bukan makanan berupa kebutuhan minimum akan perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan dimana paket komoditi kebutuhan dasar bukan makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan. 2.4.3 Kemiskinan Berdasarkan BKKBN BKKBN menerapkan ukuran kemiskinan dengan pendekatan kesejahteraan. Keluarga dapat dibagi dalam beberapa kategori: prasejahtera, sejahtera I, sejahtera II, sejahtera III, dan sejahtera III plus. Keluarga dimasukkan dalam kategori prasejahtera apabila tidak dapat memenuhi satu dari lima syarat berikut: melaksanakan ibadah menurut agamanya, makan dua kali sehari atau lebih, pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan, lantai rumah bukan dari tanah, dan bila anggota keluarga sakit dibawa ke sarana kesehatan. Miskin menurut BKKBN adalah mereka yang termasuk dalam kategori prasejahtera dan sejahtera I. Sedangkan keluarga sejahtera II adalah keluarga yang tidak dapat memenuhi kebutuhan akan tabungan, makan bersama sambil berkomunikasi, rekreasi bersama 6 bulan sekali, menggunakan sarana transportasi. 19
  20. 20. Keluarga sejahtera III sudah dapat memenuhi kebutuhan berupa tabungan keluarga, makan bersama sambil berkomunikasi, rekreasi selama 6 bulan sekali, menggunakan sarana transportasi dan tidak aktif memberikan sumbangan materil secara teratur. Keluarga sejahtera III plus adalah keluarga yang sudah mampu memberikan sumbangan materil secara aktif dan teratur serta aktif sebagai pengurus organisasi kemasyarakatan. 2.4.4 Indikator Kemiskinan Terdapat beberapa indikator kemiskinan yang biasa digunakan, yaitu indikator: 1) Kemiskinan relatif seseorang dikatakan berada dalam kelompok kemiskinan relatif, pertama jika pendapatannya berada di bawah pendapatan di sekitarnya, atau dalam kelompok masyarakat tersebut, ia berada di lapisan paling bawah. Kedua, Bisa jadi meskipun pendapatannya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok, namun karena dibanding masyarakat di sekitarnya, pendapatannya dinilai rendah, ia termasuk miskin. Ketiga, Amerika Serikat menggunakan indikator kemiskinan semacam ini. 2) Kemiskinan absolut. Kemiskinan jenis ini dicirikan sebagai berikut: Pertama, dilihat dari kemampuan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pokok (sandang, pangan, pemukiman, pendidikan dan kesehatan). Kedua, Jika pendapatan seseorang di bawah pendapatan minimal untuk memenuhi kebutuhan pokok, maka ia disebut miskin. Ketiga, Indonesia menggunakan indikator kemiskinan jenis ini. 3) Kemiskinan kultural dikaitkan dengan budaya masyarakat yang “menerima” kemiskinan yang terjadi pada dirinya, 20
  21. 21. bahkan tidak merespons usaha-usaha pihak lain yang membantunya keluar dari kemiskinan tersebut. 4) Kemiskinan struktural dimana kemiskinan yang disebabkan struktur dan sistem ekonomi yang timpang dan tidak berpihak pada si miskin, sehingga memunculkan masalah-masalah struktural ekonomi yang makin meminggirkan peranan orang miskin. 2.4.5 Penggolongan Rumah Tangga Berdasarkan Daya Listrik Menurut Nengah Subadra dalam tulisanya (2008) orang kaya yang umumnya tinggal di rumah-rumah mewah biasanya menggunakan daya listrik yang tinggi (paling sedikit 1.200 watt) untuk keperluan sehari-hari karena semua fasilitas rumahnya seperti lampu, setrika, televisi, kulkas, mesin cuci dan pendingin ruangan menggunakan energi listrik yang sangat banyak. Sedangkan orang miskin hanya menggunakan daya listrik dengan kapasitas 450-900 watt saja karena mereka tidak memiliki alat-alat rumah tangga yang lengkap. Umumnya mereka hanya menggunakan energi listrik untuk penerangan karena mereka memiliki daya bayar yang sangat rendah. Studi Empris memperlihatkan dalam kehidupan sehari-hari, pada umumnya rumah tangga kaya adalah rumah tangga yang memiliki daya listrik yang terpasang >900 watt. Alat listrik yang digunakan adalah AC, kulkas, dispenser, ricecooker, dan alat-alat elektronik lainya. Sementara untuk rumah tangga miskin adalah rumah tangga yang memiliki daya terpasang kurang atau sama dengan 900 watt. 21
  22. 22. 2.5 Perbandingan Pola Konsumsi Pangan dan Non Pangan Rumah Tangga Kaya dan Miskin Pola konsumsi atau pola pengeluaran rumah tangga dapat dijadikan indikator sosial ekonomi rumah tangga sehingga semakin tinggi pengeluaran makanan dari porsi pendapatan maka rumahtangga tersebut dapat dikategorikan miskin. Begitu pula sebaliknya bila porsi pengeluaran untuk bukan makanan tinggi dari pada makanan maka rumah tangga tersebut dikategorikan tidak miskin. Tingkat pendapatan rumah tangga yang semakin tinggi pada umumnya menyebabkan pengeluaran konsumsi untuk bukan makanan akan cenderung semakin besar, karena seluruh kebutuhan untuk konsumsi makanan sudah terpenuhi, demikian pula sebaliknya. Hal ini sesuai dengan Hukum Engel yang menyatakan bahwa bila selera tidak berbeda maka persentase pengeluaran untuk makanan akan menurun dengan meningkatnya pendapatan. Selanjutnya Firman (1990) menambahkan bahwa semakin besar pengeluaran rumah tangga terutama proporsi bukan makanan maka kondisi ekonomi rumah tangga semakin baik. 2.6 Teori Konsumsi 2.6.1 Teori Konsumsi John Maynard Keynes John Maynard keynes (1969) dalam General Theory nya membuat fungsi konsumsi sebagai pusat fluktuasi ekonominya dan teori itu telah memainkan peran penting dalam analisis makro ekonomi sampai saat ini. Keynes membuat dugaan tentang fungsi ekonomi berdasarkan intropeksi dan observasi kasual. 22
  23. 23. Dugaan pertama keynes adalah bahwa kecendrungan mengkonsumsi marginal adalah antara nol dan satu. Ia menulis bahwa “hukum psikologis fundamental, dengan apa kita dinisbikan untuk tergantung pada keyakinan yang besar adalah bahwa manusia diatur, sebagai peraturan atau berdasarkan rata-rata, untuk meningkatkan konsumsi ketika pendapatan mereka naik, tetapi tidak sebanyak kenaikan dalam pendapatan mereka”. Dugaan kedua, keynes menyatakan bahwa rasio konsumsi terhadap pendapatan yang disebut kecendrungan mengkonsumsi rata-rata turun ketika pendapatan naik. Ia percaya bahwa tabungan adalah kemewahan sehingga ia berharap orang kaya menabung proporsi yang lebih tinggi dari pendapatan mereka ketimbang si miskin. Ketiga, Keynes berpendapat bahwa pendapatan merupakan determinan yang penting dan tingkat bunga tidak memiliki peran penting. Keynes mengatakan bahwa pengaruh tingkat bunga terhadap konsumsi hanya sebatas teori. 2.6.2 Teori Konsumsi Dengan Hipotesis Pendapatan Relatif (Relative Income Hipothesis) Teori konsumsi yang dikemukakan oleh James S. Duesenberry (1949), yang dikenal sebagai teori pendapatan relatif tentang konsumsi atau hipotesis pendapatan relatif, lebih menekankan pada pendapatan relatif (relative income) dari pada pendapatan absolute sebagaimana dikemukakan Keynes. Selain itu, teori ini mengatakan bahwa pengeluaran konsumsi dari individu atau rumah 23
  24. 24. tangga tidak bergantung pada pendapatan sekarang dari individu, tetapi pada tingkat pendapatan tertinggi yang pernah dicapai seseorang sebelumnya. Menurut Duesenberry (Nanga,2001) pengeluaran konsumsi seseorang atau rumah tangga bukanlah fungsi dari pendapatan absolute, tetapi fungsi dari posisi relatif seseorang di dalam pembagian pendapatan di dalam masyarakat. Artinya pengeluaran konsumsi individu tersebut tergantung pada pendapatanya relatif terhadap pendapatan individu lainya di dalam masyarakat. Dalam kaitan ini, Duesenberry menyebutkan bahwa ada dua karakteristik penting dari perilaku konsumsi rumah tangga yaitu adanya sifat saling ketergantungan (interpendent) diantara rumah tangga, dan tidak dapat dirubah (irreversibility) sepanjang waktu. Saling ketergantungan disini menjelaskan mengapa rumah tangga yang berpendapatan rendah cenderung memiliki APC yang lebih tinggi daripada rumah tangga yang berpendapatan tinggi. Hal ini terjadi karena rumah tangga yang berpendapatan rendah telah terkena apa yang oleh Duesenberry disebutnya sebagai efek demonstrasi (demonstration effect), dimana masyarakat berpendapatan rendah cenderung meniru atau mengkopi pola konsumsi dari masyarakat sekelilinya yang cenderung menaikkan pengeluaran konsumsinya. Adanya sifat irreversibility dari perilaku konsumsi tersebut telah menyebabkan short-run ratchet effect dari perubahan di dalam pendapatan,dimana seseorang atau rumah tangga lebih mudah untuk meningkatkan pengeluaran konsumsinya kalau terjadi kenaikan pendapatan, tetapi sebaliknya lebih sulit untuk mengurangi pengeluaran konsumsinya. Kalau terjadi kenaikan pendapatan, tetapi sebaliknya lebih sulit untuk mengurangi pengeluaran konsumsinya kalau 24
  25. 25. terjadi penurunan pendapatan. Dengan kata lain, seseorang atau rumah tangga menurut Duesenberry akan berusaha sedemikian rupa untuk mempertahankan standar hidup atau pola konsumsi mereka, dan itu dilakuakn dengan cara mengurangi tabungan. Rumah tangga akan memulai hidup dengan tabungan negatif (dissaving). Hal ini berarti penurunan yang terjadi di dalam pengeluaran konsumsi rumah tangga hanyalah satu penurunan yang bersifat parsial. Pengeluaran konumsi sebagaimana telah dikemukakan adalah bersifat irreversible sepanjag waktu, yang berarti bahwa dengan suatu penurunan di dalam pendapatan, maka pengeluaran konsumsi juga akan mengalami penurunan, namun dalam jumlah yang lebih kecil. Secara singkat adanya sifat irreversibility dari pengeluaran konsumsi rumah tangga itu mempunyai makna bahwa sekali fungsi konsumsi jangka pendek itu bergeser ke atas, maka akan sangat sulit untuk bergeser kembali ke bawah apalagi terjadi penurunan di dalam pendapatan. 2.6.3 Teori Konsumsi Dengan Hipotesis Pendapatan Permanen (Permanent Income hypothesis) Dalam bukunya yang berjudul A Theory of the Consumption Function (1957) Miton Friedman menawarkan hipotesis pendapatan permanen untuk menjelaskan perilaku konsumsi. Hipotesis pendapatan permanen mengemukakan bahwa pengeluaran konsumsi sekarang bergantung pada pendapatan sekarang dan pendapatan yang diperkirakan di masa yang akan datang. Hipotesis juga menekankan bahwa manusia mengalami perubahan acak dan temporer dalam pendapatan mereka dari tahun ke tahun. Friedman beralasan bahwa konsusmi 25
  26. 26. seharusnya terutama bergantung pada pendapatan permanen, kerena konsumen menggunakan tabungan dan pinjaman untuk melancarkan konsumsi dalam menanggapi perubahan transistoris dalam pendapatan. 2.6.4 Teori Konsumsi Dengan Hipotesis Siklus Hidup (Life Cycle Hipothesis) Teori dengan hipotesis ini dikemukakan oleh Albert Ando,Richard Brumberg dan Franco Modigliani. Dalam teori ini membagi pola konsumsi seseorang menjadi tiga bagian, yaitu 1) Usia nol sampai usia kerja, maka konsumsinya dalam kondisi “Dissaving”yaitu konsumsi masih tergantung pada orang lain. 2) Dimulai dari usia kerja (sudah kerja) sampai dengan usia dimana orang tersebut sudah menjelang usia tua (kurang produktif) atau bisa disebut mandiri. 3) Tahap ini seseorang kembali berada dalam kondisi “Dissaving”. Hipoesis siklus hidup memberikan sumbangan penting di dalam memahami Tingkah laku konsumsi masyarakat. Hipotesis ini menunjukkan bahwa konsumsi tidak hanya ditentukan pendapatan masa kini tetapi juga oleh pendapatan yang diramalkan akan diterima di masa depan. Seterusnya ia menunjukkan pula peranan kekayaan dalam mempengaruhi konsumsi. Hipotesis ini juga menerangkan motivasi masyarakat untuk menabung. Ketika muda mereka cenderung untuk menabung hingga masa pensiunanya. Tujuan penting dari penabungan ini adalah untuk membiayai konsumsi di hari tua. Sedangkan dalam karangan Reksoprayitno (1997), ABM (Ando- Brumberg-Modigliani) menggunakan asumsi bahwa konsumen bersikap rasional. Ini berarti bahwa konsumen berusaha untuk memaksimumkan kepuasan dari 26
  27. 27. aliran pendapatan yang ia perkirakan berlaku untuknya. Mengenai sumber pendapatan, ABM membedakan dua sumber pendapatan yaitu tenaga kerja sebagai sumber labour income dan kekayaan sebagai sumber property income. 2.7 Teori Engel Menurut Meiler dan meineres (1997) dalam tesis Farida Milias Tuty , sebagai pelopor dalam penelitian tentang pengeluaran rumah tangga. Penelitian Engel melahirkan empat butir kesimpulan, yang kemudian dikenal dengan hukum Engel. Ke empat butir kesimpulanya yang dirumuskan tersebut adalah : a. Jika Pendapatan meningkat, maka persentasi pengeluaran untuk konsumsi pangan semakin kecil. b. Persentase pengeluaran untuk konsumsi pakaian relatif tetap dan tidak tergantung pada tingkat pendapatan. c. Persentase pengeluaran konsumsi untuk pengeluaran rumah relatif tetap dan tidak tergantung pada tingkat pendapatan. d. Jika pendapatan meningkat, maka persentase pengeluaran untuk pendidikan, kesehatan, rekreasi, barang mewah, dan tabungan semakin meningkat. Menurut Prathama Rahardja dan Mandala Manurung (2000:115) untuk mengetahui suatu barang sebagai kebutuhan pokok atau barang mewah dilakukan dengan menggunakan kurva Engel. Kurva ini mencoba melihat hubungan antara tingkat pendapatan dengan tingkat konsumsi sebagai berikut : 27
  28. 28. a. Barang kebutuhan pokok, seperti makanan pokok. Perubahan pendapatan nominal tidak berpengaruh banyak terhadap perubahan permintaan. Bahkan jika pendapatan terus meningkat,permintan terhadap barang tersebut perubahanya makin kecil dibandingkan dengan perubahan pendapatan. Jika dikaitkan dengan konsep elastisitas, maka elastisitas pendapatan dari kebutuhan pokok makin kecil bila tingkat nominal pendapatan makin tinggi. b. Barang mewah. Kenaikan pendapatan terhadap barang tersebut lebih besar dibandingkan dengan kenaikan tingkat pendapatan. Atau dapat dikatakan bahwa permintaan terhadap barang mewah mempunyai elatisitas yang besar.(Farida Milias) Berikut adalah kuva yang menunjukkan hubungan pendapatan dengan konsumsi Kelompok Pangan 2.7.1 Hubungan Pendapatan Dengan Konsumsi Barang Pokok Untuk Kelompok Pangan 28 Y1 Y2 P2 P1 Px.Qx (B eras) INCOME P0 KAYA (INFERIOR) MISKIN (SUPERIOR) Y30
  29. 29. Dari kurva diatas memperlihatkan hubungan pendapatan dengan barang yang dalam hal ini adalah beras yang masuk dalam kelompok konsumsi makanan. Apabila terjadi peningkatan income dari Y ke Y1 maka penambahan income akan digunakan atau akan dialokasikan untuk membeli beras pada titik P2. Jadi, Untuk golongan rumah tangga miskin menganggap bahwa beras adalah barang superior karena peningkatan pendapatan mengakibatkan bertambahnya proporsi alokasi untuk kebutuhan beras dalam hal ini beras adalah kelompok konsumsi makanan. Dan justru sebaliknya untuk keluarga kaya. Apabila terjadi peningkatan income dari Y1 ke Y3 maka permintaan beras akan berada pada posisi P0. Artinya jika terjadi peningkatan pendapatan untuk rumah tangga kaya, maka proporsi alokasi untuk beras reletive sedikit dibandingkan rumah tangga miskin. Hal ini disebabkan karena sebagian besar pendapatannya dialokasikan untuk keperluan non pangan dan untuk ditabung. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa jika terjadi peningkatan pendapatan maka juga akan terjadi peningkatan konsumsi. Namun, peningkatan pengeluaran konsumsi untuk rumah tangga kaya dan miskin berbeda, pada rumah tangga kaya akan mengakibatkan kenaikan konsumsi pangan namun tidak sebesar proporsi konsumsi pangan pada rumah tangga miskin. Kelompok pengeluaran untuk Konsumsi Pangan dan Non Pangan dapat dilihat pada rumus berikut: 29
  30. 30. Konsumsi Pangan : Pi x Qi = (Pa.Qa+ Pb.Qb+ Pc.Qc+ Pd.Qd+ Pe.Qe+ Pf.Qf+Ʃ Pg.Qg+..........................) Konsumsi Non Pangan: Px x Qx = (Pa.Qa+ Pb.Qb+ Pc.Qc+ Pd.Qd+ Pe.Qe+Ʃ Pf.Qf +Pg.Qg+...............................) 2.8 Pendapatan Menurut Sumitro (1957): Pendapatan merupakan jumlah barang dan jasa yang memenuhi tingkat hidup masyarakat, dimana dengan adanya pendapatan yang dimiliki oleh masyarkat dapat memenuhi kebutuhan dan pendapatan rata-rata yang dimiliki oleh setiap jiwa disebut juga dengan pendapatan perkapita yang menjadi tolak ukur kemajuan atau perkembangan ekonomi. Defenisi pendapatan adalah uang yang diterima oleh perorangan, perusahaan dan organisasi-organisasi lain dalam bentuk upah, gaji, sewa, bunga, komisi,ongkos, dan laba, bantuan, tunjangan pengangguran, pensiun, dan lain sebagainya. Pendapatan adalah total penerimaan uang dan bukan uang seseorang atau rumah tangga selama periode tertentu. Menurut Eugene A. Diulio Ph. D (1993) mengatakan pendapatan sekarang terdiri atas pendapatan permanen dan pendapatan sementara. Pendapatan permanen adalah pendapatan yang diharapkan akan diterima oleh rumah tangga selama beberapa tahun mendatang, sedangkan pendapatan sementara terdiri dari tiap tambahan atau pengeluaran yang tidak terduga terhadap pendapatan permanen. 30
  31. 31. Selanjutnya pendapatan perorangan (personal income) merupakan pendapatan agregat (yang berasal dari berbagi sumber) yang secara actual diterima oleh seseorang atau rumah tangga (Nanga,2001). Menurut Mankiw (2000) pendapatan perorangan adalah jumlah pendapatan yang diterima rumah tangga dan bisnis nonkorporat. Sedangkan menurut Sukirno (2004), pendapatan pribadi dapat diartikan sebagai semua jenis pendapatan, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa memberikan sesuatu kegiatan apa pun, yang diterima oleh penduduk suatu negara. Pendapatan (income) adalah total penerimaan (uang dan bukan uang) seseorang atau suatu rumah tangga selama periode tertentu. Ada tiga sumber penerimaan rumah tangga yaitu: 1)Pendapatan dari gaji dan upah.Gaji dan upah adalah balas jasa terhadap kesediaan menjadi tenaga kerja. Besar gaji atau upah seseorang secara teoritis sangat tergantung dari prodiktivitasnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi produktivitas yaitu :a) Keaahlian (Skill) adalah kemampuan teknis yang dimiliki seseorang untuk mampu menengani pekerjaan yang dipercayakan. Makin tinggi jabatan seseorang, keahlian yang dibutuhkan semakin tinggi, karena itu gaji atau upahnya juga semakin tinggi, b) mutu modal manusia (human capital) adalah kapasitas pengetahuan, keahlian dan kemampuan yang dimiliki seseorang., baik karena bakat bawaan maupun hasil pendidikan dan penelitian, c) Kondisi kerja (Working conditions) adalah lingkungan dimana seseorang bekerja. Bila risiko kegagalan atau kecelakaan makin tinggi, walaupun tingkat keahlian yang dibutuhkan tidak jauh berbeda. 2) Pendapatan dari asset produktif. Asset produktif adalah asset yang memberikan pemasukan atas batas 31
  32. 32. jasa penggunaanya. Ada dua kelompok asset produktif. Pertama, asset financial seperti deposito yang menghasilkan pendapatan bunga, saham, yang menghasilkan deviden dan keuntungan atas modal bila diperjualbelikan. Kedua, asset bukan financial seperti rumah yang memberikan penghasilan sewa. 3) Pendapatan dari pemerintah. Pendapatan dari pemerintah atau penerimaan transfer adalah pendapatan yag diterima bukan sebagai balas jasa input yang diberikan. Atau pembayaran yang dilakukan oleh pemerintah misalnya pembayaran untuk jaminan sosial yang diambil dari pajak yang tidak menyebabkan pertambahan dalam output. 2.9 Pengaruh Pendapatan Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Masliah (1991) dalam penelitianya “Hubungan antara konsumsi dan pendapatan nasional sendiri saling berhubungan. Hal ini didasarkan kondisi yang terjadi bahwa konsumsi tergantung pada persepsi masyarakat terhadap pendapatan permanen (pendapatan masyarakat dalam hidupnya) dari pada pendapatan yang dibelanjakan yang mereka peroleh pada saat ini dalam kondisi ekonomi mengalami kemajuan, konsumsi akan cenderung tertinggal oleh naiknya tingkat pendapatan sementara pada masa ekonomi mengalami kemunduran, tingkat konsumsi tidak akan turun secepat tingkat pertumbuhan pendapatan”. Teori Engel’s yang menyatakan bahwa : “ Semakin tinggi tingkat pendapatan keluarga semakin rendah persentasi pengeluaran untuk konsumsi makanan “ (Sumarwan ,1993). Berdasarkan teori klasik ini, maka keluarga bisa dikatakan lebih sejahtera bila persentasi pengeluaran untuk makanan jauh lebih 32
  33. 33. kecil dari persentasi pengeluaran untuk bukan makanan. Artinya proporsi alokasi pengeluaran untuk pangan akan semakin kecil dengan bertambahnya pendapatan keluarga, karena sebagian besar dari pendapatan tersebut dialokasikan pada kebutuhan non pangan. Berbagai upaya perbaikan gizi biasanya berorientasi pada tingkat pendapatan. Seiring makin meningkatnya pendapatan, maka kecukupan akan makanan dapat terpenuhi. Dengan demikian pendapatan merupakan faktor utama dalam menentukan kualitas dan kuantitas bahan makanan. Besar kecilnya pendapatan rumah tangga tidak lepas dari jenis pekerjaan ayah dan ibu serta tingkat pendidikannya (Soekirman, 1991). Pada rumah tangga dengan pendapatan rendah, 60-80 % dari pendapatannya dibelanjakan untuk makanan. Elastisitas pendapatan untuk makanan yang digambarkan dari persentase perubahan kebutuhan akan makanan untuk tiap 1 % perubahan pendapatan, lebih besar pada rumah tangga yang miskin dibandingkan pada rumah tangga kaya (Soekirman, 1991). Penelitian Crotty, dkk (1989) menunjukkan bahwa pada rumah tangga dengan tingkat pendapatan rendah di Australia mengalokasikan uangnya dalam jumlah yang sedikit untuk bahan makanan seperti gandum, produk susu, buah dan sayuran.Pengeluaran rumah tangga sebagai proksi dari pendapatan mempengaruhi tingkat konsumsi rumah tangga. Semakin besar pengeluaran total mengakibatkan konsumsi energi rumah tangga juga bertambah dengan kata lain apabila pengeluaran total rumah tangga bertambah maka pertambahan tersebut digunakan untuk memenuhi kekurangan konsumsi energi (Arifin danSudaryanto,1991). 33
  34. 34. Upaya pemenuhan konsumsi makanan yang bergizi berkaitan erat dengan daya beli rumah tangga. Rumah tangga dengan pendapatan terbatas, kurang mampu memenuhi kebutuhan makanan yang diperlukan tubuh, setidaknya keanekaragaman bahan makan kurang bisa dijamin karena dengan uang yang terbatas tidak akan banyak pilihan. Akibatnya kebutuhan makanan untuk tubuh tidak terpenuhi (Apriadji, 1986) 2.10 Tinjauan Empiris Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Rahmatia (2004) mengamati pola konsumsi wanita pekerja Sulsel pada umumnya dan Kota Makassar pada khususnya memperoleh hasil bahwa pola konsumsi wanita pekerja SULSEL pada umumnya adalah barang kebutuhan pokok baik barang kebutuhan sehari-hari maupun barang tahan lama yang seharusnya barang Lux. Herni winarti (2007) mengamati tingkat konsumsi pangan rumah tangga nelayan di kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar adalah bahwa proporsi alokasi pengeluaran untuk konsumsi pangan berbanding lurus dengan besarnya pendapatan total keluarga, artinya semakin besar pendapatan total keluarga maka proporsi alokasi untuk konsumsi pangan semakin besar. Selain itu besarnya tanggungan berbanding lurus dengan konsumsi pangan artinya terdapat hubungan yang positif antara besarnya tanggungan dengan tingkat konsumsi pangan walaupun dengan tingkat konsumsi pangan walaupun dengan tingkat konsumsi pangan, dan dengan tingkat koefisien yang kecil. 34
  35. 35. Miskat (2005) dalam skripsinya menemukan bahwa pola pengeluaran konsumsi masyarakat Makassar di Kecamatan Tamalanrea rata-rata dialokasikan untuk kebutuhan Non pangan dibandingkan dengan kebutuhan pangan,dan jenis pekerjaan kepala rumah tangga dan jumlah anggota keluarga berpengaruh terhadap pola pengeluaran konsumsi masyarakat. Elwin (2001) dalam skripsinya Analisis Pola Konsumsi Rumah Tangga Miskin Pasca Kenaikan Harga BBM Di Kota Makassar menemukan bahwa pengeluaran konsumsi rumah tangga miskin pasca kenaikan harga BBM relatif menurun, hal ini disebabkan karena harga barang naik, sedangkan kemampuan konsumsi tidak mampu lagi untuk menjangkaunya. 2.11 Kerangka Konseptual Pola Konsumsi sering digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan. Konsumsi seseorang sangat dipengaruhi oleh pendapatan yang diterimanya. Berdasarkan kurva Engel yaitu tingkat kesejahteraan suatu masyarakat dapat pula dikatakan membaik apabila pendapatan meningkat dan sebagian pendapatan tersebut digunakan untuk mengkonsumsi non makanan, begitupun sebaliknya. Mereka mengalokasikan kelebihan pendapatan mereka pada pengeluaran non makanan dan selebihnya mereka tabung. Namun hal ini begitu berbeda dengan seseorang/rumah tangga yang berpendapatan rendah dalam hal ini adalah rumah tangga miskin dimana penghasilanya pas-pasan, mereka lebih cenderung untuk memprioritaskan pengeluaran mereka untuk konsumsi makanan dan berbagai macam kebutuhan lainya dan terkadang 35
  36. 36. pendapatan mereka tidak tersisa lagi untuk ditabung. Hal ini membuktikan bahwa konsumsi seseorang berbanding lurus dengan pendapatan. Dari gambar 2.11 di bawah ini, dapat dilihat bahwa pola konsumsi dalam penelitian ini diduga dipengaruhi pendapatan. Berdasarkan batasan teoritik serta rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya maka kerangka konseptual dari penelitian ini yaitu 36 Rumah Tangga Miskin Kaya Pendapatan dan pengeluaran Pola konsumsi
  37. 37. 2.12 Hipotesis Berdasarkan perumusan masalah seperti yang telah diuraikan dalam bab.I serta dengan berpedoman kepada kerangka konseptual seperti di atas, maka hipotesis yang dapat dibentuk adalah sebagai berikut : Diduga pola konsumsi rumah tangga kaya adalah lebih banyak porsinya untuk memenuhi kebutuhan non makanan dari pada untuk konsumsi makanan dan sebaliknya pola konsumsi rumah tangga miskin adalah lebih banyak porsinya untuk memenuhi kebutuhan makanan dari pada untuk konsumsi non makanan 37 Gambar 2.11 Keranggka Konseptual Konsumsi Pangan Konsumsi Non Pangan
  38. 38. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Suatu hal yang sangat penting dalam penelitian adalah menentukan waktu dan lokasi penelitian. Pengumpulan data pada penelitian ini berlangsung selama tiga bulan dari bulan maret sampai dengan mei 2011. Kota Makassar saat ini meliputi 14 kecamatan dan 143 Kelurahan. Lokasi penelitian yang dianggap mewakili Kota Makassar berdasarkan penelitian adalah pada sebelah barat kota Makassar diambil adalah Kecamatan Tallo, sebelah utara Kota Makassar adalah Kecamatan Biringkanaya, sebelah Timur Kota makassar adalah Kecamatan Manggala, sebelah Selatan adalah kecamatan Tamalate dimana 38
  39. 39. lokasi itu yang dianggap mewakili dengan pertimbangan pada lokasi tersebut terdapat orang kaya dan miskin yang tersebar merata dan memiliki jumlah rumah tangga paling banyak. 3. 2 Populasi dan Sampel Menurut Anto Dajan (1996) populasi merupakan keseluruhan unsur–unsur yang memiliki satu atau beberapa ciri atau karakteristik yang sama. Populasi dalam penelitian ini adalah semua rumah tangga yang ada di Kota Makassar yang terdiri dari 102551 KK yang tersebar di 4 kecamatan (Tamalate, Tallo, Manggala, Biringkanaya). Adapun sampel adalah sebagian anggota dari populasi yang dipilih dengan menggunakan prosedur tertentu sehingga diharapkan dapat mewakili populasinya (Sugianto,dkk, 1998). Teknik sampling yang digunakan dalam pemilihan lokasi adalah teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling menurut Narbuko dan Achmadi (2001: 116) merupakan suatu teknik yang berdasarkan pada ciri-ciri atau sifat- sifat tertentu yang diperkirakan mempunyai sangkut paut erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat yang spesifik yang dilihat dalam populasi. Sedangkan menurut Sutopo (2002: 36). Pemilihan sampel berdasarkan teknik ini adalah diarahkan pada sumber data yang dipandang memiliki data yang penting yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang diteliti. Ciri-ciri purposive sampling menurut Moleong (2004: 224) adalah sampel tidak dapat ditarik terlebih dahulu, pemilihan sampel secara berurutan, penyesuaian berkelanjutan dari sampel, dan pemilihan sampel berakhir jika sudah terjadi pengulangan. Sesuai dengan pengertian dan ciri-ciri purposive sampling 39
  40. 40. diatas maka sampel dalam penelitian adalah rumah tangga kaya dan miskin yang tersebar pada 4 kecamatan. Kemudian pada tingkat kecamatan dipilih lagi kelurahan yang mewakili dan akhirnya sampai pada unit terkecil yaitu pada tingkat RT. Penentuan jumlah sampel berdasarkan pada rumus slovin sebagai berikut: n= N/1+Ne2 Dimana: 1= konstanta n = ukuran sampel N = Ukuran Populasi e2 = kelonggaran atau ketidaktelitian karena kesalahan pengubah sampel yang dapat ditolerir yakni 1% dengan tingkat kepercayaan 99% . Tabel 3.2 Jumlah Rumah Tangga Menurut Kecamatan Di Kota Makassar Kecamatn Rumah tangga Mariso 13.401 Mamajang 16.294 Tamalate 32.904 Rappocini 28.444 Makassar 15.949 Ujungpandang 7.177 Wajo 11.347 Bontoala 14.140 Ujung tanah 11.331 Tallo 35.618 Panakukang 26.969 Manggala 24.658 Biringkanya 35.684 Tamalanrea 22.498 Jumlah 296.374 Jumlah Sampel (n)= n= N/1+Ne2 40
  41. 41. =128.864/1+128.864.0,01 =99,96 =100 sampel Pengambilan sampel adalah dilakukan secara acak sederhana (Simple Random Sampling) di tingkat Rumah Tangga ( RT ) pada setiap kecamatan sebanyak 100 sampel. Dalam metode ini pengambilan sampel dilakukan secara random,artinya semua populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel,berdasarkan karakteristik yang dimaksud, siapapun, dimana dan kapan saja dapat ditemui yang selanjutnya dijadikan responden. 3.3 Jenis dan Sumber Data Jenis dan sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Data primer yaitu data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung kepada responden dengan menggunakan daftar pertanyaan (kousioner) mengenai karakteristik responden. 2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari instansi-instansi terkait yakni dari Badan Pusat Statistik (BPS) meliputi berbagai data sosial ekonomi penduduk, dan data yang diperoleh dari buku-buku acuan dan berbagai artikel. 3. 4 Model Analisis 3.4.1 Model Analisis Deskriptif Komparatif 41
  42. 42. Untuk membuktikan hipotesis yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode analisis deskriptif untuk mengungkapkan atau menggambarkan mengenai keadaan atau fakta yang akurat dari obyek yang diamati,yaitu rumah tangga kaya dan miskin yang disesuaikan dengan teori atau dalil yang berlaku dan diakui. Baik yang menyangkut data primer dan data sekunder akan dilakukan untuk memperoleh informasi. 3.5 Batasan variabel Untuk lebih mengarahkan dalam pembahasan ini, maka penulis memberikan batasan variabel yang meliputi: 1) Rumah tangga adalah seseorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik dan biasanya tinggal bersama dan makan dari satu dapur. (BPS,2009) 2) Pola konsumsi rumah tangga adalah jumlah pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga untuk membeli berbagai jenis kebutuhanya dalam satu bulan yang diukur dengan satuan rupiah. Pendapatan yang diterima rumah tangga akan digunakan untuk konsumsi pangan dan non pangan. Untuk analisis deskriptif, pola konsumsi dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu : a. Rendah adalah alokasi pola konsumsi pangan sebanyak kurang 50 % dari total pengeluaran b. Sedang adalah alokasi pola konsumsi pangan sebanyak 50 - 60 % daritotal pengeluaran. 42
  43. 43. c. Tinggi adalah alokasi pola konsumsi pangan lebih besar 60 % dari total pengeluaran. 3) Konsumsi pangan adalah jumlah pengeluaran konsumsi rumah tangga yang dikeluarkan setiap bulan untuk kebutuhan bahan makanan, yaitu makanan pokok, protein hewani, sayur-sayuran, buah-buahan, jajanan, dan kelompok kebutuhan lain-lain (teh, kopi, gula, minyak goreng, bumbu-bumbu dapur dan lain-lain) yang diukur dalam rupiah. 4) Konsumsi Non Pangan adalah jumlah pengeluaran konsusmi rumah tangga yang dikeluarkan setiap bulan untuk kebutuhan di luar bahan makanan yaitu berupa sandang, papan, penddikan, kesehatan, transportasi, elektronika, hiburan, minyak tanah, gas, rekening (listrik, telepon, air) dan lain-lain yang diukur dalam rupiah. 5) Menurut Suyastiri pendapatan total keluarga diukur dengan banyaknya akumulasi pendapatan semua anggota keluarga, setelah dikonpersi menjadi per bulan, jadi satuannya adalah rupiah per bulan (Rp/bulan). Pendapatan rumah tangga dibagi menjadi dua macam yaitu pendapatan total rumah tangga kaya dan pendapatan total rumah tangga miskin. Dalam penelitian ini pendapatan total rumah tangga miskin dibagi menjadi 3 kelompok yaitu pendapatan rendah, sedang, tinggi. Rata-rata pendapatan rumah tangga miskin (X) adalah sebesar Rp.1.504.000,00 standar deviasi pendapatan (Sd) adalah sebesar Rp.630.341,66. Sehingga tingkat pendapatan dibagi menjadi: 1. Pendapatan rendah X ≤Rp.873.658,34 2. Pendapatan sedang Rp.873.658,34<X<Rp.2.134.341,66 43
  44. 44. 3. Pendapatan tinggi X ≥ Rp.2.134.341,66 Sedangkan pendapatan total rumah tangga kaya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu pendapatan rendah, sedang, tinggi. Rata-rata pendapatan rumah tangga miskin (X) adalah sebesar Rp.7.292.000,00 standar deviasi pendapatan (Sd) adalah sebesar Rp.2.766.718,38 sehingga tingkat pendapatan dibagi menjadi: 1. Pendapatan rendah X ≤ Rp.4.525.281,62 2. Pendapatan sedang Rp.4.525.281,62<X<Rp.10.058.718,38 3. Pendapatan tinggi X ≥Rp.10.058.718,38 6) Rumah tangga miskin adalah rumah tangga yang dirumahnya terpasang listrik yang memiliki daya kurang dari 900 watt sedangkan rumah tangga kaya adalah rumah tangga yang dirumahnya terpasang listrik yang memiliki daya lebih dari 900 watt. 44
  45. 45. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian 4.1. 1 Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Kota Makassar secara geografis terletak pada posisi 119 0 24’17’38” Bujur Timur -50 8’6’19”Lintang selatan. Luas wilayahnya sekitar 175,77 km 2 atau kira- kira 0,28 % dari luas propinsi Sulawesi Selatan. Luas wilayah Kota Makassar tercatat 175,77 km persegi yang memiliki 14 kecamatan. Posisi Kota Makassar terletak di bagian barat propinsi Sulawesi Selatan dengan batas-batas administrasi sebagai berikut: Sebelah Utara : berbatasan dengan Kabupaten Maros Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kabupaten Gowa Sebelah Timur : berbatasan dengan Kabupaten Maros Sebelah barat : berbatasan dengan Selat Makassar Kecamatan yang memiliki wilayah paling luas adalah kecamatan Biringkanaya dengan luas area adalah 48,22 km2 atau 27,43 persen dari luas kota Makassar. Berikutnya adalah kecamatan Tamalanrea dengan luas wilayah sebesar 31,84 km2 atau 18,11 persen dari luas Kota Makassar dan yang menempati urutan ketiga adalah Kecamatan Manggala 24,14 km2 atau 13,73 persen dari luas kota Makassar. Sedangkan kecamatan yang memiliki luas wilayah paling kecil adalah Kecamatan Mariso dengan luas wilayah sebesar 1.82 km2 atau 1,04 persen dari luas Kota Makassar. Disusul dengan Kecamatan Wajo sebesar 1,99 km2 atau 1,13 45
  46. 46. persen dari luas Kota Makassar yang menempati urutan luas wilayah terkecil kedua dan Kecamatan Bontoala terkecil ketiga dengan luas wilayah sebesar 2,10 km2 atau 1,19 persen dari luas Kota Makassar. Untuk memperjelas penjelasan diatas berikut adalah tabel 4.1.1. berikut Tabel 4.1.1 Luas Wilayah dan Persentase Terhadap Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kota Makassar (km2 ) Kode Wil Kecamatan Luas Area (Km2) Persentase Terhadap Luas Kota Makassar (%) 010 Mariso 1,82 1,04 020 Mamajang 2,25 1,28 030 Tamalate 20,21 11,50 031 Rappocini 9,23 5,25 040 Makassar 2,52 1,43 050 Ujung Pandang 2,63 1,50 060 Wajo 1,99 1,14 070 Bontoala 2,10 1,19 080 Ujung Tanah 5,94 3,38 090 Tallo 5,83 3,32 100 Panakkukang 17,05 9,70 101 Manggala 24,14 13,73 110 Biringkanaya 48,22 27,43 111 Tamalanrea 31,84 18,11 7371 Makassar 175,77 100 Sumber : Kantor Badan Pertahanan Nasional Penduduk kota Makassar tahun 2009 adalah sebesar 1.272.349 jiwa yang terdiri dari 610.270 jiwa laki-laki dan 662.079 jiwa perempuan. Jumlah rumah tangga di kota Makassar tahun 2009 mencapai 296.374 rumah tangga. Dengan kecamatan Tamalate memiliki posisi nomor satu untuk jumlah penduduk terbesar di Kota Makassar yakni sebanyak 154.464 jiwa pada tahun 2009. Sementara kecamatan Rappocini menempati posisi kedua dengan jumlah penduduk sebesar 145.090 jiwa pada tahun 2009, disusul oleh kecamatan Tallo dengan jumlah 46
  47. 47. penduduk sebesar 137.333 rumah tangga. Kecamatan yang memiliki jumlah rumah tangga terbesar di kota Makassar adalah kecamatan Biringkanaya dengan jumlah rumah tangga sebesar 35.684 rumah tangga. disusul dengan kecamatan Tallo dengan jumlah rumah tangga sebesar 35.618 rumah tangga dan kecamatan Tamalate terbesar ketiga dengan jumlah rumah tangga sebesar 32.904 rumah tangga. sedangkan kecamatan dengan jumlah penduduk terkecil dan jumlah rumah tangga terkecil adalah kecamatan Ujung Pandang dengan jumlah penduduk adalah sebesar 29.064 jiwa dan jumlah rumah tangganya adalah sebesar 7.177 rumah tangga. Laju pertumbuhan penduduk di kota Makassar yang paling tinggi untuk periode 2000-2009 adalah kecamatan Biringkanaya dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 3,57 persen per tahun. Sedang kecamatan yang memiliki laju pertumbuhan penduduk terkecil adalah kecamatan Wajo dan kecamatan Mamajang yakni sebesar 0,45 persen per tahun. Berikut adalah tabel yang menunjukkan jumlah penduduk dan jumlah rumah tangga di kota Makassar Tabel 4.1.2 Jumlah Penduduk, Laju Pertumbuhan Penduduk, Rumah Tangga dan Rata-rata Anggota Rumah Tangga Tahun 2009. 47
  48. 48. Kode Wil Kecamatan Penduduk Laju Pertumbuhan Penduduk Rumah Tangga Rata-rata Anggota Rumah Tangga2008 2009 2000-2009 010 Mariso 54.616 55.431 0,93 13.401 4,14 020 Mamajang 60.395 61.294 0,45 16.294 3,76 030 Tamalate 152.197 154.464 2,08 32.904 4,69 031 Rappocini 142.958 145.090 1,62 28.444 5,10 040 Makassar 82.907 84.143 0,54 15.949 5,28 050 Ujung Pandang 28.637 29.064 0,51 7.177 4,05 060 Wajo 35.011 35.533 0,45 11.347 3,13 070 Bontoala 61.809 62.731 1,09 14.140 4,44 080 Ujung Tanah 48.382 49.103 1,21 11.331 4,33 090 Tallo 135.315 137.333 1,94 35.618 3,86 100 Panakkukang 134.548 136.555 1,09 26.929 5,07 101 Manggala 99.008 100.484 2,98 24.658 4,08 110 Biringkanaya 128.731 130.651 3,57 35.684 3,66 111 Tamalanrea 89.143 90.473 1,15 22.498 4,02 Sumber : Makassar dalam angka 2010 Persebaran penduduk antar kecamatan relatif tidak merata. Hal ini nampak dari tabel 4.1.3 dimana kecamatan Tamalate yang memiliki jumlah penduduk terbesar di kota Makassar atau 12,14 persen dari total penduduk namun luas wilayahnya hanya meliputi sekitar 11,50 persen dari total luas wilayah Makassar. Dilihat dari tingkat kepadatan penduduk, nampak pada Tabel 4.1.3. bahwa kecamatan Makassar yang memiliki kepadatan penduduk yang tertinggi yaitu 33.390 jiwa per km2 sedangkan kecamatan Biringkanaya memiliki kepadatan penduduk terendah yaitu 2.709 jiwaperkm2 . Tabel 4.1.3Jumlah Penduduk,Jumlah RumahTanggadan Kepadatan Penduduk MenurutKecamatan diKota Makassar2009 Kecamatan Luas Area % Jumlah Pendudu % Jumlah Rumah Kepadatan Penduduk 48
  49. 49. (Km2 ) k Tangga (Org/Km2 ) Mariso 1.82 1,04 55.431 4.36 13.401 30.457 Mamajang 2.25 1,28 61.294 4.82 16.294 27.242 Tamalate 20.21 11,50 154.464 12.14 32.904 7.643 Rappocini 9.23 5,25 145.090 11.40 28.444 15.719 Makassar 2.52 1,43 84.143 6.61 15.949 33.390 Ujung Pandang 2.63 1,50 29.064 2.28 7.177 11.051 Wajo 1.99 1,14 35.533 2.79 11.347 17.856 Bontoala 2.1 1,19 62.731 4.93 14.140 29.872 Ujung Tanah 5.94 3,38 49.103 3.86 11.331 8.266 Tallo 5.83 3,32 137.333 10.79 35.618 23.556 Panakkukang 17.05 9,70 136.555 10.73 26.929 8.009 Manggala 24.14 13,73 100.484 7.90 24.658 4.163 Biringkanaya 48.22 27,43 130.651 10.27 35.684 2.709 Tamalanrea 31.84 18,11 90.473 7.11 22.498 2.841 Total 175.77 100 1.272.349 100 296.374 7.239 Sumber : Makassar Dalam Angka 2010 Sedangkan untuk jumlah keluarga dirinci menurut kecamatan dan Tahapan keluarga sejahtera di Kota Makassar dapat dilihat pada tabel 4.1.4 berikut:Dari tabel diatas menggambarkan jumlah keluarga dirinci menurut kecamatan dan tahapan keluarga sejahtera di Kota Makassar. Pra Keluarga sejahtera dan Keluarga Sejahtera I adalah tergolong rumah tangga kaya, sedangkan keluarga sejahtera II, keluarga sejahtera III, keluarga sejahtera III Plus adalah tergolong rumah tangga kaya. Kecamatan Tamalate adalah salah satu kecamatan yang terletak di sebelah selatan Kota Makassar, memiliki jumlah rumah tangga 8.624 dan persebaran rumaha tangga kaya dan miskin merata. Kecamatan manggala adalah salah satu kecamatan yang terletak di sebelah timur kota makassar yang memiliki jumlah rumah tangga 3.670. Begitu pula Kecamatan Tallo terletak di sebelah barat Kota Makassar yang memiliki jumlah rumah tangga sebanyak 6.698 rumah tangga dan Kecamatan Biringkanaya terletak disebelah 49
  50. 50. utara Kota Makassar yang memiliki jumalah rumah tangga sebanyak 9.842 rumah tangga dan memiliki persebaran rumah tangga kaya dan miskin merata. Tabel 4.1.4 Jumlah Keluarga Dirinci Menurut Kecamatan dan Tahapan Keluarga Sejahtera di Kota Makassar Kecamatan Jumlah Kepala Keluarga Tahapan Keluarga Sejahtera PRA KELUARGA SEJAHTERA KELUARGA SEJAHTERA I MARISO 11.523 3.951 2.528 MAMAJANG 12.200 2.796 3.121 TAMALATE 31.642 10.031 4.185 RAPPOCINI 28.708 6.500 4.954 MAKASSAR 17.353 6.088 4.020 UJUNG PANDANG 5.881 872 1.055 WAJO 7.088 902 1.365 BONTOALA 10.844 2.946 2.739 UJUNG TANAH 10.614 4.019 2.716 TALLO 26.888 8.181 8.611 PANAKUKKANG 25.766 6.590 3.657 MANGGALA 20.317 4.135 4.141 BIRINGKANAYA 29.609 5.475 5.896 TAMALANREA 16.435 1.478 3.712 Kecamatan Tahapan Keluarga Sejahtera KELUARGA SEJAHTERA II KELUARGA SEJAHTERA III KELUARGA SEJAHTERA III PLUS MARISO 2.863 1.737 444 MAMAJANG 3.473 2.134 676 TAMALATE 8.624 5.685 3.117 RAPPOCINI 7.639 6.637 2.978 MAKASSAR 4.203 1.925 1.117 UJUNG PANDANG 1.980 1.555 419 WAJO 2.074 2.151 596 BONTOALA 2.966 1.555 638 UJUNG TANAH 2.693 1.075 111 TALLO 6.698 2.727 671 PANAKUKKANG 6.464 6.064 2.991 MANGGALA 3.670 3.741 4.630 50
  51. 51. BIRINGKANAYA 9.842 6.686 1.710 TAMALANREA 5.839 4.261 1.145 Sumber : Makassar Dalam Angka 2010 4.2 Struktur Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Sebagai pusat pelayanan pendidikan kota Makassar cukup banyak memiliki sarana dan prasarana pendidikan, mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai ke tingkat Perguruan Tinggi. Menurut data Statistik, pada tahun 2010, di kota Makassar terdapat sebanyak 333 sekolah Taman Kanak- Kanak. Demikian juga jumlah sekolah SD adalah sebanyak 459 sekolah. Prasarana pendidikan SLTP ada sebanyak 171 buah sekolah dan 112 sekolah SLTA. Sedangkan Perguruan tinggi terdiri dari 3 Universitas Negeri dan 1 Institut Negeri, untuk Perguruan Tinggi Swasta terdiri dari 14 Universitas, 26 Sekolah Tinggi, dan 16 Akademi. Tabel 4.2 Jumlah Murid TK, SD, SMP dan SMA di Makassar Tahun Ajar 2009/2010 Pendidikan Jumlah Murid TK 13.934 SD 145.749 SMP 59.101 SMA 65.277 Sumber : Makassar Dalam Angka 2010 51
  52. 52. Pada Tabel 4.2. nampak bahwa jumlah murid TK (usia 4-5 tahun) di Kota Makassar pada tahun ajar 2009/2010 adalah 13.934 murid. Jumlah murid SD (usia 6-12 tahun) pada tahun ajar 2009/2010 adalah 145.749 murid. Sedangkan murid SMP (usia 13-15 tahun) di Kota Makassar adalah sebanyak 59.101 murid. Terakhir untuk jumlah murid SMA(usia 16-18 tahun) di kota Makassar adalah sebesar 65.277 murid. 4.3 Karakteristik Responden 4.3.1 Tingkat Pendidikan Formal Kualitas sumber daya manusia sangat penting perananya dalam proses pembangunan. Salah satu ukuran kualitas sumber daya manusia adalah pendidikan formal yang pernah diikuti atau ditamatkan. Tingkat pendidikan seseorang yang semakin baik akan memberikan dukungan baik secara sosial maupun ekonomi untuk melakukan aktivitas dalam kelangsungan hidupnya. Tingkat pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lamanya pendidikan yang pernah ditempuh oleh kepala keluarga. Tabel 4.3.1 Kelompok Responden Menurut Tingkat Pendidikan Formal Kota Makassar Tahun 2011 Tingkat Pendidikan Kaya Miskin Frekuensi % Frekuensi % SD 0 0 22 44 SLTP 3 6 13 26 SLTA 10 20 15 30 Sarjana 37 74 0 0 Jumlah 50 100 50 100 Sumber : Hasil Olahan Data Primer,2011 52
  53. 53. Berdasarkan tabel 4.3.1 dapat dilihat pola distribusi tingkat pendidikan formal responden. Dari 100 kepala keluarga rumah tangga yang menjadi responden terdapat berbagai jenis pendidikan formal diantaranya Sekolah Dasar, SLTP, SLTA, sarjana. Pada rumah tangga kaya, tidak ada responden yang mengecap pendidikan formal SD sedangkan pada rumah tangga miskin ada 22 responden atau 44 persen yang memilki pendidikan SD, untuk pendidikan SLTP keluarga kaya terdapat 3 responden atau 6 persen sedangkan keluarga miskin terdapat 13 responden atau 26 persen, sedangkan untuk pendidikan SLTA rumah tangga kaya sebanyak 10 responden atau 20 persen sedangkan rumah tangga miskin sebanyak 15 responden atau 30 persen. Kemudian pada rumah tangga kaya lebih banyak mengecap pendidikan pada tingkat sarjana yaitu sebanyak 37 responden atau 74 persen sedangkan pada keluarga miskin tidak terdapat responden yang mengecap pendidikan sarjana. Rata-rata lama bersekolah keluarga miskin adalah 9 tahun. Artinya keluarga miskin rata-rata menyelesaikan studinya pada tingkat SLTP. Sedangkan keluarga kaya rata-rata bersekolah selama 16 tahun. Artinya bahwa rata-rata lama sekolah keluarga kaya adalah telah menyelesaikan studinya pada tingkat sarjana. Kenyataan ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan kepala keluarga. Hal ini ditunjukkan pada tabel di atas bahwa rumah tangga kaya pada umumnya tingkat pendidikanya adalah sarjana. Sedangkan rumah tangga miskin tingkat pendidikanya adalah tamatan SLTP. 53
  54. 54. 4.3.2 Pekerjaan Lapangan pekerjaan dapat dijadikan sebagai salah satu indikator untuk melihat perbedaan karakteristik pekerjaan penduduk perkotaan dan pedesaan. Pekerjaan kepala keluarga di lokasi penelitian mencerminkan karakteristik penduduk perkotaan dimana sebagian besar responden PNS, pegawai swasta, wiraswasta, buruh, dan lain-lain. Tabel 4.3.2 Kelompok Pekerjaan Kepala Rumah Tangga di Kota Makassar Tahun 2011 Pekerjaan Kepala Keluarga Kaya Miskin Frekuensi % Frekuensi % PNS/Pensiunan 19 38 3 6 Pegawai swasta 13 26 2 4 Wiraswasta 18 36 4 8 Buruh 0 0 13 26 Lain 0 0 28 56 Jumlah 50 100 50 100 Sumber : Hasil Olahan Data Primer,2011 Berdasarkan tabel 4.3.2 dapat dilihat pola distribusi responden rumah tangga miskin dan kaya menurut pekerjaanya. Pada rumah tangga miskin, lebih banyak menggeluti kelompok pekerjaan lain-lain yang terdiri dari tukang becak, sopir angkot, tukang bersih-bersih, tukang bengkel, tukang tambal ban, penjual buah-buahan sebanyak 28 responden atau 28 persen. Sedangkan pada rumah tangga kaya tidak ada responden yang bekerja pada kelompok pekerjaan lain-lain. Justru orang kaya lebih banyak bekerja sebagai PNS dan wiraswasta yaitu masing-masing sebanyak 19 dan 18 responden, dan ada juga yang bekerja sebagai kontraktor sebanyak 5 responden. 54
  55. 55. 4.3.3 Tingkat Pendapatan Perubahan kondisi ekonomi mempengaruhi perilaku masyarakat dalam menentukan pola konsumsi. Pendapatan rumah tangga yang terdiri dari pendapatan kepala keluarga dan anggoa keluarga akan mempengaruhi alokasi untuk setiap kebutuhan keluarga. Kebutuhan tersebut terdiri dari kebutuhan untuk konsumsi pangan dan non pangan. Alokasi pola pengeluaran keluarga setidaknya ditentukan oleh prioritas atau pilihan menurut tingkat pemenuhan kebutuhan baik kebutuhan pangan maupun non pangan. 4.3.3.1 Kelompok Pendapatan Kepala Rumah Tangga Berdasarkan Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011 Berikut adalah tabel yang memperlihatkan pendapatan kepala rumah tangga di Kota Makassar Tabel 4.3.3.1 Kelompok Pendapatan Kepala Rumah Tangga Berdasarkan Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011 Pendapatan Kepala Keluarga (Rp/Bulan) Kaya Miskin Frekuensi % Frekuensi % 500.000-1.000.000 0 0 27 54 1.000.100-1.500.000 0 0 14 28 1.500.100-2.000.000 0 0 7 14 2.000.100-2.500.000 0 0 2 4 2.500.100-3.000.000 0 0 0 0 3.000.100-3.500.000 1 2 0 0 3.500.100-4.000.000 3 6 0 0 4.000.100-4.500.000 1 2 0 0 4.500.100-5.000.000 4 8 0 0 5.000.000 + 41 82 0 0 Jumlah 50 100 50 100 Sumber : Hasil Olahan Data Primer,2011 55
  56. 56. Berdasarkan Tabel 4.3.3.1 dapat dilihat pola distribusi responden rumah tangga kaya dan miskin menurut tingkat pendapaan kepala keluarga. Pada rumah tangga kaya kelompok tingkat pendapatan, ternyata paling banyak pada kelompok pendapatan lebih dari Rp. 5.000.000 perbulan yakni sebanyak 41 responden atau 41 persen, kemudian menyusul pada kelompok pendapatan Rp.4.500.100- 5.000.000 sebanyak 4 responden sedangkan untuk rumah tangga miskin kelompok pendapatan kepala keluarga terbanyak adalah Rp.500.000-1.000.000 yaitu sebanyak 27 responden atau 27 persen kemudian menyusul kelompok pendaptan Rp.1.000.100-1 .500.000 sebanyak 17 responden. Dari data diatas menggambarkan bahwa terjadinya perbedaan tingkat pendapatan yang nantinya akan mempengaruhi pola konsumsi. Rumah tangga yang memiliki pendapatan tinggi akan mempunyai kesempatan lebih besar untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu, jumlah dan ragam, baik barang maupun jasa yang akan dibeli rumah tangga. Untuk rumah tangga yang memilki pendapatan rendah, sebagian pendapatanya akan dialokasikan untuk membeli barang kebutuhan primer dan hanya sebagian kecil untuk untuk membeli barang kebutuhan sekunder. 4.3.3.2 Kelompok Pendapatan Anggota Rumah Tangga Berdasarkan Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011 Berikut adalah tabel data pendapatan anggota rumah tangga di Kota Makassar berdasarkan rumah tangga kaya dan miskin di Kota Makassar adalah: 56
  57. 57. Tabel 4.3.3.2 Kelompok Pendapatan Anggota Rumah Tangga Berdasarkan Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011 Pendapatan Anggota Keluarga (Rp/Bulan) Kaya Miskin Frekuesni % Frekuensi % Tidak Bekerja 26 52 27 54 <500.000 3 6 5 10 500.100-1.000.000 1 2 10 20 1.000.100-1.500.000 2 4 3 6 1.500.100-2.000.000 5 1 5 10 2.000.100-2.500.000 4 8 0 0 2.500.100-3.000.000 3 6 0 0 3.000.100-3.500.000 3 6 0 0 3.500.100-4.000.000 3 6 0 0 Jumlah 50 100 50 100 Sumber: Hasil Olahan Data primer,2011 Berdasarkan Tabel 4.3.3.2 dapat dilihat pola distribusi responden menurut pendapatan anggota rumah tangga berdasarkan kategori rumah tangga. Baik rumah tangga kaya dan miskin, anggota rumah tangga yang tidak memiliki pendaptan atau yang tidak bekerja menempati urutan pertama. Artinya bahwa tumpuan satu-satunya keluarga hanya pada kepala keluarga dan masih tergantung pada orang tua. Untuk responden yang mempunyai anggota keluarga dengan pendapatan rendah umumnya mereka bekerja sebagai tukang cuci, tukang becak, tukang bentor ,sopir angkot, tukang tambal ban, tukang bersih-bersih, dan buruh bangunan. Sedangkan untuk anggota rumah tangga kaya, umumnya mereka bekerja sebagai wiraswasta dan PNS, pegawai swasta. 57
  58. 58. 4.3.3.3 Kelompok Pendapatan Total Rumah Tangga Berdasarkan Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011 Berikut adalah tabel kelompok pendapatan total rumah tangga berdasarkan rumah tangga kaya dan miskin di Kota Makassar Tahun 2011 adalah sebagai berikut: Tabel 4.3.3.3 Kelompok Pendapatan Total Rumah Tangga Berdasarkan Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011 Pendapatan Total keluarga (Rp/Bulan) Kaya Miskin Frekuensi % Frekuensi % <1.000.000 0 0 6 12 1.000.100-1.500.000 0 0 29 58 1.500.100-2.000.000 0 0 6 12 2.000.100-2.500.000 0 0 4 8 2.500.100-3.000.000 0 0 3 6 3.000.100-3.500.000 1 2 2 4 3.500.100-4.000.000 1 2 0 0 4.000.100-4.500.000 9 18 0 0 4.500.100-5.000.000 4 8 0 0 5.000.100-5.500.000 2 4 0 0 5.500.100-6.000.000 2 4 0 0 6.000.100 + 31 62 0 0 Jumlah 50 100 50 100 Sumber: Hasil Olahan Data Primer, 2011 Berdasarkan tabel 4.3.3.3 dapat dilihat pola distribusi responden menurut pendapatan total rumah tangga. Pada rumah tangga kaya ada sebanyak 31 responden atau 31 persen yang masuk kelompok pendapatan lebih dari Rp.6.000.100 perbulan. Sedangkan pada keluarga miskin ada 29 respondonden yang masuk kelompok pendapatan Rp.1.000.100-1.500.000 perbulan. Rata-rata pendapatan total dari rumah tangga miskin sebesar Rp 1.504.000 perbulan dengan pendapatan total keluarga terendah sebesar Rp.700.000 serta pendapatan tertinggi sebesar Rp.3.200.000. Sedangkan rata-rata pendapatan total dari rumah tangga kaya adalah sebesar Rp.7.286.000 pendapatan tertinggi sebesar 58
  59. 59. Rp.15.000.000, sedangkan pendapatan terendah sebesar Rp.3.800.000. Dari data tersebut menggambarkan bahwa rata-rata pendapatan total rumah tangga sudah berada di atas Upah Minimum Propinsi (UMP) tahun 2010 sebesar Rp. 1.000.100, namun masih ada keluarga yang mempunyai pendapatan di bawah UMP sebanyak 14 responden. 4.3.4 Jumlah Tanggungan Keluarga Jumlah Tanggungan Keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang terdiri dari; istri, dan anak, serta orang lain yang turut serta dalam keluarga berada atau hidup dalam satu rumah dan makan bersama yang menjadi tanggungan kepala keluarga. Informasi banyaknya anggota keluarga dalam setiap rumah tangga dapat dilihat sebagai berikut. Tabel 4.3.4 Kelompok Jumlah Tanggungan Keluarga Responden Di Kota Makassar Tahun 2011 Jumlah Tanggungan Keluarga Kaya Miskin Jumlah Anak Kaya Miskin Frek % Frek % Frek % Frek % 2 10 20 1 2 1 10 12 0 0 3 12 24 6 14 2 17 34 8 16 4 10 20 10 16 3 12 24 8 16 5 10 20 7 14 4 6 12 17 34 6 5 10 15 30 5 4 8 10 20 7 3 6 11 16 6 1 2 7 14 Jumlah 50 10 0 50 100 jumlah 40 10 0 50 100 Sumber: Hasil Olahan Data Primer,2011 Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah tanggungan keluarga yang paling banyak pada rumah tangga kaya berada pada kelompok sama dengan 3 orang per rumah tangga yaitu sebanyak 12 responden atau 24 persen , kemudian 59
  60. 60. jumlah tanggungan keluarga yang paling sedikit berada pada kelompok sama dengan 7 orang per rumah tangga yaitu sebanyak 3 responden atau 6 persen. Sedangkan pada rumah tangga miskin, jumlah tanggungan keluarga yang paling banyak berada pada kelompok sama dengan 6 orang per rumah tangga yaitu sebanyak 15 responden atau 30 persen, kemudian jumlah tanggungan keluarga yang paling sedikit berada pada kelompok sama dengan 2 orang per rumah tangga yaitu sebanyak 1 responden atau 2 persen. Rata-rata jumlah tanggungan rumah tangga miskin adalah 5,2. Artinya setiap kepala keluarga harus menanggung 5 anggota rumah tangga. Sedangkan rata-rata jumlah tanggungan rumah tangga kaya adalah 3. Artinya setiap kepala keluarga harus menanggung 3 anggota keluarga. Semakin banyak anggota rumah tangga maka semakin besar pengeluaran untuk konsumsi pangan pokok Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah anak yang paling banyak pada rumah tangga kaya yaitu 2 dan 3 orang anak yang dijumpai pada masing-masing rumah tangga yaitu 17 responden (34%) dan 12 responden (24%). Sedangkan jumlah anak yang paling banyak pada rumah tangga miskin yaitu 4 dan 5 orang anak yang dijumpai pada masing-masing rumah tangga yaitu 17 responden (34%) dan 10 responden (20%). Dari data diatas menjelaskan bahwa umumnya rumah tangga kaya memiliki jumlah tanggungan keluarga lebih sedikit dibandingkan rumah tangga miskin dengan kata lain orang miskin memiliki banyak anak dibandingkan orang kaya. Hal ini karena anak bagi masyarakat miskin dipandang sebagai suatu investasi ekonomi yang nantinya diharapkan akan mendatangkan suatu hasil baik 60
  61. 61. dalam bentuk tambahan tenaga kerja maupun sebagai sumber finansial orang tua di usia lanjut. Sedangkan pada umumnya orang kaya, menggangap bahwa jika memiliki anak sedikit ( 2 atau 3 orang) maka mereka bisa disekolahkan sampai setinggi,dibina sebaik mungkin sehingga diharapkan anak-anak mereka akan lebih baik dari orang tuanya. Sehingga nantinya mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan penghasilan yang tinggi juga. 4.4 Pola Pengeluaran Konsumsi Pangan dan Non Pangan Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011 Akibat adanya kendala keterbatasan pendapatan serta keinginan untuk mengkonsumsi barang dan jasa sebanyak-sebanyaknya agar diperoleh kepuasan yang maksimal, maka rumah tangga akan berusaha untuk mengalokasikan pendapatanya sesuai dengan daya guna dari barang dan jasa yang diinginkan. Berikut adalah beberapa pembagian yang memperlihatkan Pola pengeluaran pangan masyarakat. 4.4.1 Kelompok Alokasi Pengeluaran untuk Kebutuhan Pangan Menurut Kategori Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011 Berikut adalah tabel yang memperlihatkan alokasi pengeluarn untuk kebutuhan pangan menurut kategori rumah tangga kaya dan miskin. 61
  62. 62. Tabel 4.4.1 Kelompok Alokasi Pengeluaran untuk Kebutuhan Pangan Menurut Kategori Rumah Tangga Kaya dan Miskin Di Kota Makassar Tahun 2011 Pengeluaran Pangan (Rp/bulan) Miskin Kaya Frekuensi % Frekuensi % ≤500.000 17 34 0 0 500.100-1.000.000 30 60 16 32 1.000.100-1.500.000 3 6 23 46 1.500.100 + 0 0 11 22 Jumlah 50 100 50 100 Sumber ; Hasil Olahan Data Primer,2011 Alokasi pola pengeluaran menurut kategori rumah tangga untuk konsumsi pangan dapat dilihat pada tabel 4.4.1 terlihat secara jelas perbandingan alokasi pola pengeluaran menurut kategori rumah tangga yaitu kaya dan miskin. Untuk pengeluaran pangan sebesar Rp 5.00.000 perbulan kebawah pada keluarga miskin sebanyak 17 responden atau 34 persen sedangkan pada rumah tangga kaya tidak ada responden yang masuk kategori tersebut. Kemudian untuk pengeluaran pangan sebesar Rp.500.100-1.000.000 perbulan, pada rumah tangga miskin sebanyak 30 responden atau 60 persen sedangkan pada keluarga kaya sebanyak 16 responden atau 32 persen. Pengeluaran pangan di atas Rp.1.500.100 perbulan, tidak ada responden pada rumah tangga miskin sedangkan pada rumah tangga kaya sebanyak 11 responden atau 22 persen. Dari data tersebut menggambarkan bahwa rumah tangga miskin mengalokasikan pengeluaran untuk pangan relative lebih sedikit dibanding rumah tanga yang kaya, hal itu terjadi karena keterbatasan angggaran atau biaya yang dimiliki. Perbedaan tingkat pendapatan akan menimbulkan perbedaan pola konsumsi.Rumah tangga kaya yang memiliki pendapatan yang lebih tinggi akan 62
  63. 63. memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan mutu,jumlah dan ragam baik barang maupun jasa yang dibeli oleh rumah tangga.Untuk rumah tangga miskin, sebagian pendapatanya akan dialokasikan untuk membeli barang kebutuhan pokok dan hanya sebagian kecil untuk membeli barang kebutuhan sekunder. 4.4.2 Kelompok Alokasi Pengeluaran untuk Kebutuhan Non Pangan Menurut Kategori Rumah Tangga Miskin dan Kaya Di Kota Makassar Tahun 2011 Berikut adalah alokasi pengeluaran untuk kebutuhan non pangan menurut kategori rumah tangga miskin dan kaya di Kota Makassar Tabel 4.4.2 Kelompok Alokasi Pengeluaran untuk Kebutuhan Non Pangan Menurut Kategori Rumah Tangga Miskin dan Kaya di Kota Makassar Tahun 2011. Pengeluaran Non Pangan (Rp/bulan) Miskin Kaya Frekuensi % Frekuensi % ≤350.000 12 24 0 0 350.100-500.000 11 22 0 0 500.100-1.000.000 25 50 2 4 1.000.100-1.500.000 2 4 9 18 1.500.100 + 0 0 39 78 Jumlah 50 100 50 100 Sumber : Hasil Olahan data Primer,2011 Berdasarkan tabel 4.4.2 dapat dilihat kelompok responden menurut pola alokasi pengeluaran untuk konsumsi non pangan pada rumah tangga miskin dan kaya. Dimana responden kaya terdiri dari 50 responden dan rumah tangga miskin terdiri dari 50 responden. Untuk pengeluaran non pangan sebesar Rp.350.000 perbulan ke bawah, pada rumah tangga miskin sebanyak 12 responden atau 24 %, sedangkan pada rumah tangga kaya kaya tidak ada responden yang masuk kriteria 63
  64. 64. tersebut. Pada pengeluaran non pangan sebesar Rp. 350.100-500.000 perbulan , rumah tangga miskin sebanyak 11 responden atau 22 persen sedangkan rumah tangga kaya tidak ada responden yang masuk kriteria tersebut. Sedangkan untuk pengeluaran non pangan Rp.1.00.100-1.500.000 perbulan, pada rumah tangga miskin sebanyak 2 responden atau 4 persen sedangkan pada rumah tangga kaya sebesar 9 responden atau 18 persen. Pada pengeluaran non pangan diatas Rp.1.500.100 perbulan pada rumah tangga miskin tidak ada responden, sedangkan pada rumah tangga kaya lebih besar pengeluaranya yaitu sebanyak 39 responden atau 78 persen . Rata-rata alokasi pengeluaran pangan untuk rumah tangga miskin sebesar Rp.641.620 perbulan, sedangkan untuk rumah tangga kaya sebesar Rp.1.080.320 perbulan, yang terdistribusi ke dalam ; makanan pokok, protein hewani, potein nabati, sayur-sayuran, buah-buahan, jajanan dan kelompok kebutuhan lain-lain (teh, kopi, gula, minyak goreng, bumbu dapur, dll). Persentasi dan tingkatanya dapat dilihat pada tabel berikut 4.4.3 Persentasi Rata-rata Pengeluaran Untuk Kebutuhan Pangan Menurut Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011 Berikut adalah data rata-rata pengeluran untuk kebutuhan pangan menurut kategori rumah tangga kota makassar tahun 2011 adalah sebagai berikut: 64
  65. 65. Tabel 4.4.3 Persentasi Rata-rata Pengeluaran Untuk Kebutuhan Pangan Menurut Rumah Tangga Kaya dan Miskin di Kota Makassar Tahun 2011 Pangan Miskin Kaya % Urutan % Urutan Makanan Pokok 22,85 1 13,27 5 Protein Hewani 17,39 2 18,12 1 Protein nabati 14,70 3 13,94 4 Sayur-sayuran 13,78 4 12,07 6 Buah-buahan 8,91 7 10,65 7 Jajanan 10,72 6 14,3 3 Lain-lain 11,64 5 17,71 2 Jumlah 100 100 Sumber: Hasil olahan data primer,2011 Berdasarkan tabel di atas ,dapat dilihat perbedaan alokasi dan prioritas pengeluaran untuk kebutuhan pangan pada rumah tangga miskin dan kaya. Pada rumah tangga miskin yang menduduki urutan pertama adalah kebutuhan makanan pokok berupa beras, yaitu sebesar 22,85 persen atau rata-rata sebesar Rp.140.500,00 perbulan. Sedangkan untuk rumah tangga kaya beras menduduki urutan kelima yaitu sebesar 13,27 persen atau rata-rata alokasi anggaranya sebesar Rp.183.400 perbulan. Sementara jenis konsumsi makanan yang relatif kecil pada rumah tangga kaya adalah pada sub kelompok konsumsi buah, sayur, dan beras . Sebagai barang inferior rata-rata keluarga kaya mengkonsumsi buah-buahan Rp.147.200 per keluarga per bulan. Untuk konsumsi sayur juga relatif kecil yang hanya Rp.165.980,dan beras Rp.183.400. Beras bagi rumah tangga miskin merupakan barang superior yang paling banyak diminta oleh rumah tangga miskin. Hal ini karena pendapatanya yang rendah dan banyaknya jumlah tanggungan keluarga sehingga sebagian besar dari pada pendapatan digunakan untuk membeli beras. 65
  66. 66. Alokasi pengeluaran untuk kebutuhan protein hewani yang terdiri dari daging ,susu, telur, dan ikan pada keluarga miskin menempati urutan kedua yaitu sebesar 17,39 persen atau rata-rata sebesar Rp.113.100 perbulan, sedangkan untuk keluarga kaya menempati prioritas utama yaitu sebesar 18,12 persen atau rata-rata sebesar Rp.250.400,00 perbulan. Alokasi pengeluaran untuk kelompok kebutuhan lain-lain yang terdiri dari teh, kopi ,gula, bumbu dapur ,minyak goreng, dan lain-lain pada rumah tangga miskin menduduki uruan kelima sebesar 11,6,4 persen atau rata-rata sebesar Rp.78.980 perbulan, sedang pada rumah tangga kaya menduduki urutan yang kedua sebesar 17,71 persen atau rata-rata sebesar Rp.244.800 perbulan. Karena keterbatasanya anggaran yang dimilki rumah tangga miskin untuk memenuhi kebutuhan panganya maka ia akan berusaha memenuhi kebutuhanya dengan jalan memilih jenis pangan yang relatif murah. Salah satunya adalah beras. Sedangkan pada rumah tangga yang kaya makanan pokok atau beras hanya menduduki prioritas keempat, yang menjadi prioritas utama adalah protein hewani yang terdiri dari daging, susu, ikan dan telur. Hal in terjadi karena mereka memiliki anggaran yang cukup untuk alokasi kebuuhan panganya. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Sediaoetama (1985) bahwa, semakin rendah tingkat ekonomi suatu masyarakat, semakin tinggi persentasi energi yang digunakan berasal dari karbohidrat atau beras, karena energi dari karbohidrat termasuk yang paling murah harganya. Lebih lanjut dikatakan bahwa, masyarakat yang mengalami kemajuan pada sektor ekonomi menunjukkan pergeseran sumber energi dari karbohidrat kearah protein atau lemak. 66
  67. 67. 4.4.4 Persentasi Rata-rata Pengeluaran Untuk Kebutuhan Non Pangan Menurut Rumah Tangga Kaya dan Miskin Di Kota Makassar Tahun 2011 Berikut adalah tabel yang memperlihatkan rata-rata pengeluaran untuk kebutuhan Non Pangan di Kota Makassar. Tabel 4.4.4 Persentasi Rata-rata Pengeluaran Untuk kebutuhan Non Pangan Menurut Rumah Tangga Kaya dan Miskin Di Kota Makassar Tahun 2011 Non Pangan Miskin Kaya % Urutan % Urutan Sandang 6,09 7 10,22 3 Papan 1,11 11 0,79 11 Pendidikan 8,99 5 25,51 1 Kesehatan 1,27 10 3,61 10 Transportasi 17,51 3 10,19 4 Perabotan rumah tangga 4,72 8 8,47 6 Hiburan 6,68 6 9,21 5 Tabungan 1,48 9 11,09 2 Minyak tanah,gas 18,46 1 4,33 9 Rekening(listrik,air,tlp,koran) 15,99 4 8,33 7 Lain-lain 17,71 2 8,21 8 Sumber: Hasil Olahan Data Primer, 2011 Pada tabel 4.4.4 alokasi pengeluaran untuk kebutuhahn non pangan pada rumah tangga miskin yang menduduki urutan pertama yaitu kelompok pengeluaran minyak tanah, gas yaitu sebanyak 18,46 persen atau rata-rata sebesar Rp.115.940,00. Ini menunjukkan bahwa kebtuhan untuk minyak tanah bagi keluarga yang menjadi responden sangat penting karena mereka memasak banyak menggunakan minyak tanah karena rata-rata rumah tangga masih banyak yang menggunakan kompor. Sedangkan pada rumah tangga kaya yang menduduki urutan pertama yaitu biaya pendidikan rata-rata sebesar Rp.965.000 per keluarga per bulan. Menyusul adalah tabungan rata-rata sebesar Rp.419.400 per keluarga per bulan. Sebagian dari pendapatan mereka alokasikan untuk tabungan, alasan 67
  68. 68. melakukan saving adalah untuk membiayai keperluan/konsumsi di masa mendatang terutama untuk membiayai pendidikan. Rata-rata alokasi pengeluaran non pangan pada rumah tangga kaya adalah sebesar Rp 12.419.730,00 perbulan. Sedangkan untuk keluarga miskin hanya sebesar Rp 628.000,00 perbulan 4.5 Perbandingan Pola Konsumsi Rumah Tangga Kaya dan Miskin Terhadap Pangan dan Non Pangan di Kota Makassar Tahun 2011 Untuk melihat informasi mengenai perbandingan pola konsumsi rumah tangga kaya dan rumah tangga miskin di Kota Makassar,dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 4.5 Perbandingan Pola Konsumsi Rumah Tangga Kaya dan Miskin terhadap Pangan dan Non Pangan di Kota Makassar Tahun 2011 Kategori Rumah Tangga Alokasi Pangan (Jumlah) % Rendah (%) Sedang (%) Tinggi (%) Miskin 32% 44% 22% 100 (50) Kaya 88% 8% 4% 100 (50) Jumlah 61 (61) (26) (13) 100 (100) Sumber: Hasil Olahan Data primer,2011 Grafik 1: Perbandingan Pola Konsumsi Rumah Tangga Kaya dan Miskin Terhadap Pangan dan Non Pangan di Kota Makassar Tahun 2011 68
  69. 69. Berdasarkan Tabel 4.5 dan grafik diatas, dapat dilihat perbandingan pola konsumsi menurut kategori rumah tangga. Alokasi konsumsi Pangan pada rumah tangga miskin kurang 50 % dari total pengeluaran rumah tangga sebesar 32%,untuk kategori sedang atau 50-60% alokasi pangan dari total pengeluaran adalah sebesar 44%, untuk kategori alokasi pangan tinggi adalah sebesar 22%. sedangkan pada rumah tangga kaya, alokasi pangan kurang dari 50% dari total pengeluaran rumah tangga adalah sebesar 88 persen, untuk kategori sedang atau 50-60% alokasi pangan dari total pengeluaran adalah sebesar 8 persen, untuk kategori alokasi pangan tinggi yaitu lebih dari 60%, adalah sebesar 4 persen. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang jelas antara alokasi untuk konsumsi pangan pada rumah tangga miskin dan kaya. Makin rendah tingkat kesejahteraan rumah tangga atau makin miskin suatu rumah tangga maka makin condong untuk lebih banyak mengalokasikan pengeluaranya pada kebutuhan pangan dibanding dengan non pangan. Sebaliknya makin tinggi kesejahteraan rumah tangga maka makin cenderung untuk lebih banyak mengalokasikan pengeluaranya pada kebutuhan non pangan. Alokasi pangan untuk rumah tangga miskin berada pada alokasi pangan sedang karena rumah tangga miskin sudah terkena yang dinamakan demonstration effect. Artinya rumah tangga miskin mengikuti pola konsumsi di sekelilingnya sehingga sebagian pendapatanya juga digunakan untuk membeli kebutuhan non pangan. 69
  70. 70. 4.5.1 Hubungan Antara Tingkat pendapatan Total Rumah Tangga Miskin Terhadap Pola Konsumsi Pangan dan Non Pangan di Kota Makasar Tahun 2011 Tinggi rendahnya pendapatan akan mempengaruhi pola konsumsi rumah tangga. Semakin tinggi tingkat pendapatan umumnya konsumsi akan semakin meningkat akan tetapi besarnya tingkat pendapatan tidak selalu sama besar dengan peningkatan konsumsi. Dalam penelitian ini pendapatan rumah tangga miskin dibagi menjadi 3 kelompok yaitu pendapatan sedang, sedang, tinggi. Rata- rata pendapatan rumah tangga miskin ( X) adalah sebesar Rp.1.504.000,00 standar deviasi pendapatan (Sd) adalah sebesar Rp.630.341,66. Sehingga tingkat pendapatan dibagi menjadi: 1. Pendapatan rendah X ≤Rp.873.658,34 2. Pendapatan sedang Rp.873.658,34<X<Rp.2.134.341,66 3. Pendapatan tinggi X ≥ Rp.2.134.341,66 Untuk melihat informasi mengenai hubungan tingkat pendapatan total rumah tangga dengan alokasi pola konsumsi rumah tangga miskin di Kota Makassar, dapat dilihat pada tabel di bawah ini Tabel 4.5.1 Hubungan Antara Tingkat pendapatan Total Rumah Tangga Miskin Terhadap Pola Konsumsi Pangan dan Non Pangan di Kota Makasar Tahun 2011 Tingkat Pendapatan Total Rumah Tangga (Rp) Alokasi pangan Jumlah (%)Rendah (%) Sedang (%) Tinggi (%) X≤ Rp.873.658,34 25% 13% 62% 100 (8) Rp.873.658,34<X<Rp.2.134.341,66 13% 40% 45% 100 (37) X ≥ Rp.2.134.341,66 16% 33% 50% 100 (6) Jumlah 18 19 11 100 (50) Sumber: Hasil Olahan Data primer,2011 70
  71. 71. Grafik 2: Hubungan Antara Tingkat pendapatan Total Rumah Tangga Miskin terhadap Pola Konsumsi Pangan dan Non Pangan di Kota Makasar Tahun 2011 Berdasarkan tabel 4.5.1 dan grafik di atas dapat dilihat hubungan antara tingkat pendapatan total rumah tangga miskin dengan pola konsumsi pangan dan non pangan. Alokasi konsumsi pangan pada kategori tinggi artinya alokasi untuk konsumsi pangan lebih dari 60% dari total pengeluaran rumah tangga, pada rumah tangga miskin , kelompok pendapatan lebih kecil atau sama dengan Rp.873.658,34 perbulan alokasi panganya tinggi yaitu sebesar 62% . Kelompok rumah tangga miskin yang berpendapatan Rp.873.658,34<X<Rp.2.134.341,66 perbulan juga masuk kedalam kategori alokasi pangan tinggi yaitu sebesar 45 persen, pada keluarga yang berpendapatan lebih besar atau sama dengan Rp.2.134.341,66 perbulan memiliki alokasi pangan tinggi yaitu sebesar 50 persen. Berdasarkan dari data tersebut terlihat bahwa secara umum porsi konsumsi makanan dari rumah tangga miskin dapat dikatakan tinggi yaitu rata-rata lebih 71
  72. 72. dari 60 persen atau sampai sebesar 70 persen dari total pengeluaran dibandingkan dengan porsi/alokasi konsumsi bukan makanan yang hanya rata-rata sebesar 29, 31 persen. Dari data diatas dapat dilihat bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan total rumah tangga miskin maka pola konsumsi pangan akan semakin bertambah atau pola konsumsi pangan berbanding lurus dengan besar pendapatan total rumah tangga. Sedangkan pola konsumsi non pangan dapat dilihat bahwa semakin tinggi pendapatan total rumah tangga maka akan semakin berkurang alokasi konsumsi non pangan atau dengan kata lain pola konsumsi non pangan berbanding terbalik dengan pertambahan pendapatan. 4.5.2 Hubungan Antara Tingkat pendapatan Total Rumah Tangga Kaya Terhadap Pola Konsumsi Pangan dan Non Pangan di Kota Makasar Tahun 2011 Dalam penelitian ini pendapatan rumah tangga kaya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu pendapatan sedang, sedang, tinggi. Rata-rata pendapatan rumah tangga miskin ( X) adalah sebesar Rp.7.292.000,00 standar deviasi pendapatan (Sd) adalah sebesar Rp.2.766.718,38 Sehingga tingkat pendapatan dibagi menjadi: 1. Pendapatan rendah X ≤ Rp.4.525.281,62 2. Pendapatan sedang Rp.4.525.281,62<X<Rp.10.058.718,38 3. Pendapatan tinggi X ≥Rp.10.058.718,38 Untuk melihat informasi mengenai hubungan tingkat pendapatan total rumah tangga kaya dengan alokasi pola konsumsi rumah tangga miskin di Kota Makassar,dapat dilihat pada tabel di bawah ini 72
  73. 73. Tabel 4.5.2 Hubungan Antara Tingkat pendapatan Total Rumah Tangga Kaya Terhadap Pola Konsumsi Pangan dan Non Pangan di Kota Makasar Tahun 2011 Tingkat Pendapatan Total Rumah Tangga (Rp) Alokasi Pangan Jumlah (%) Rendah (%) Sedang (%) Tinggi (%) X ≤ Rp. 4.525.281,62 81% 19% 0 100 (16) Rp.4.525.281,62 < X < Rp.10.058.718,38 90% 10% 0 100(11) X ≥ Rp.10.058.718,38 95% 5% 0 100 (23) Jumlah 45 5 0 100 (50) Sumber: Hasil Olahan Data primer,2011 Grafik 3 : Hubungan Antara Tingkat pendapatan Total Rumah Tangga Kaya terhadap Pola Konsumsi Pangan dan Non Pangan di Kota Makasar Tahun 2011 Berdasarkan tabel 4.5.2 dan grafik dapat dilihat hubungan antara tingkat pendapatan total rumah tangga kaya dengan pola konsumsi pangan dan non pangan. Alokasi konsumsi pangan pada kategori rendah artinya alokasi untuk konsumsi pangan kurang dari 50% dari total pengeluaran rumah tangga, sedangkan alokasi pangan pada kategori sedang adalah alokasi pangan antara 50%-60% dari total pengeluaran. Pada rumah tangga kaya, kelompok pendapatan . kurang dari atau sama dengan Rp. 4.525.281,62 perbulan alokasi 73
  74. 74. panganya rendah yaitu sebesar 81 persen . Kelompok rumah tangga kaya yang berpendapatan antara Rp. 4.525.281,62 -Rp.10.058.718,38 perbulan juga masuk kedalam kategori alokasi pangan rendah yaitu sebesar 90 persen, pada keluarga yang berpendapatan lebih besar atau sama dengan Rp.10.058.718,38 perbulan memiliki alokasi pangan rendah yaitu sebesar 95 persen. Sedangkan alokasi pangan tinggi,tidak ada responden rumah tangga kaya yang tergolong dalam kelompok tersebut. Dari data diatas dapat dilihat bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan total rumah tangga kaya maka pola konsumsi pangan akan semakin berkurang atau rendah . Sedangkan pola konsumsi non pangan dapat dilihat bahwa semakin tinggi pendapatan total rumah tangga kaya maka akan semakin bertambah alokasi konsumsi non pangan atau dengan kata lain pola konsumsi non pangan berbandig lurus dengan pertambahan pendapatan artinya jika terjadi kenaikan pendapatan pada rumah tangga kaya maka proporsi alokasi non pangan akan bertambah juga dengan asumsi kebutuhan pangan telah terpenuhi. 74
  75. 75. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Adapun kesimpulan dan saran pada penelitian ini adalah: 5.1 Kesimpulan: 1) Secara umum porsi konsumsi makanan dari rumah tangga miskin dapat dikatakan tinggi yaitu rata-rata lebih dari 60% atau sampai sebesar 70% dari total pendapatan dibandingkan dengan porsi/alokasi konsumsi bukan makanan yang hanya rata-rata sebesar 29, 31%. 2) Semakin tinggi tingkat pendapatan total rumah tangga miskin maka pola konsumsi pangan akan semakin bertambah atau pola konsumsi pangan berbanding lurus dengan besar pendapatan total rumah tangga. 3) Semakin tinggi tingkat pendapatan total rumah tangga kaya maka pola konsumsi pangan akan semakin berkurang atau rendah. Sedangkan semakin tinggi pendapatan total rumah tangga kaya maka akan semakin bertambah alokasi konsumsi non pangan atau dengan kata lain pola konsumsi non pangan berbanding lurus dengan pertambahan pendapatan artinya jika terjadi kenaikan pendapatan pada rumah tangga kaya maka proporsi alokasi non pangan akan bertambah juga dengan asumsi kebutuhan pangan telah terpenuhi. 4) Rata-rata pendapatan total dari rumah tangga miskin sebesar Rp 1.504.000 perbulan dengan pendapatan total keluarga terendah sebesar Rp.700.000 75

×