Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Fid

588 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Fid

  1. 1. A. Pendahuluan Seperti apa yang telah kita ketahui, bahwasanya sekarang kita telah hidup dizaman modern atau Di zaman era globalisasi, hal ini telah banyak merubah pola fikirmanusia, sehingga banyak dari mereka saling bersaing dalam bidang IPTEK ataupengetahuan umum. Hal ini menyebabkan akan kelalaian bagi kewajiban mereka masing-masing, dunia agamapun sudah dianggap hal yang tidak terlalu penting bagi mereka.Pada akhirnya mereka lupa bahwa ilmu agam khususnya ilmu hadis juga penting untukbekal kehidupannya agar tidak sesat. Sejak terlahirnya kita kedunia ini, sebenarnya kitasemua telah menyepakati sebuah perjanjian dan sejak memulai sebuah kehidupan kita,maka kita pun telah dikenai sebuah kewajiban-kewajiban, oleh karena itu selain bersaingdalam ilmu umum, masyarakat hendaknya juga bersaing dalam ilmu agama sehinggatujuan kehidupan dapat berjalan dan terlaksana dengan baik (seimbang). Apalagi ilmuagama itu menyangkut tentang fidyah, sebagai hukuman ( denda ) bagi orang yang telahlalai akan kewajibannya. Dalam hal ini, maka diuraikan tentang fidyah. Sehingga kita semua kususnyamasyarakat pada umumnya dapat mengetahui dan memahami dari betapa pentingnyabelajar ilmu hadis khususnya materi fidyah ini. Didalam makalah ini kami akan mencobauntuk menguraikan bagaimana sebenarnya apa fidyah itu, bagimana hukumnya,bagaimana takaran fidyah tersebut, dan apa penyebab terkenainya fidyah sertaB. Pembahasan1. Pengertian Fidyah Fidyah berasal dari bahasa Arab yaitu ‫ فيد ييه‬yang artinya “barang penebus”. Jadiarti keseluruhan dala bahasa Indonesia adalah hukuman yang berupa denda yangdiberikan bagi seseorang sebab ia meninggalkan kewajiban dengan cara memberi makanorang miskin.1 Di dalam definisi yang lain adalah pemberian bahan makanan pokok ataumakanan siap saji kepada orang miskin (fakir atau miskin) karena meninggalkan puasaRamadhan dengan alasan yang dibenarkan oleh syariat. Adapun fidyah yangberhubungan dengan ibadah haji adalah denda/ganti atas tidak ditunaikannya tahallul 1 Dr, Mustafa Kamal, Dkk, Fikih Islam, Jakarta : Citra Karya Mandiri..2000, hlm.23
  2. 2. karena sakit atau ada luka di kepala. Atupun banyak lage kewajiban yang jika kita lalaimaka dikenakan membayar fidyah. Kewajiban ini berkisar pada masalah puasa orangyang meninggalkan kewajiban adalah orang yang berat menjalankan puasa seperti orangtua renta, yang tidak mampu untuk berpuasa, orang sakit, yang kesembuhannya mungkintidak dapat diharapkan lagi, orang yang hamil / menyusui, orang yang meremehkanpenggadaan puasa ramadhan. Adapun hadistnya yang menjelaskan tentang hal ini sebagai berikut :Artinya : “Dan dari ‘atha’, ia mendengar ibnu abbas membaca ayat “dan wajib atas orang-orang yang kuat berpuasa itu membayar fidyah, memberi makan seorang miskin “ makaibnu ‘abbas berkata : ayat ini tidak dimansukh, tetapi terpakai untuk orang yang sudahtdak kuat puasa, maka mereka ini harus memberikan makan seorang miskin setiap harisebagai gantinya .(HR. Bukhari)”22. Hukum Fidyah Dalam ketetapan syari’ah islam sudah dijelaskan bagaiman hukum dari membayarfidyah jika kita telah lalai akan kewajiban kita, adapun dari hukum fidyah adalah wajib.Hal ini berdasarkan ayat al-Qur’an berikut :HHHH HHHH a a a a a a a a al i Artinya:“….Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa)membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin……(Q.S.Al – Baqarah :184 )” Adapun hadistnya yang menerangkan tentang fidyah telah diriwayatkan olehsalamah bin akwa’ ra, yaitu : Artinya : 2 Ust Labib MZ, Bukhari dan Muslim. Jawa Timur : Amanah..1997, hlm.123.
  3. 3. “Diriwayatkan dari salamah bin akwa’ radhiyalluhu ‘anhu, dia telah berkata :ketika turun ayat : wa’alal ladzina yuthiqunahu fidyatun tha’amu miskin = dan diwajibkan bagi orang yang tidak berdaya melakukanya ( berpuasa) agar membayar fidyah( memberi ) makan kepada orang miskin” menyebabkan ada seseorang yang inginberbuka (tidak berpuasa) dan membayar fidyah, sehingga kemudian turunlah ayatberikutnya yang menasakhkannya (HR. Jama’ah kecuali ahmad )” Hadits diatas menerangkan tentang diwajibkannya berpuasa atas orang yangmampu melakukanya. Ketika ayat di atas turun, kata “yuthi qunahu = mampumelakukanya,” mengacaukan pemahaman, sehingga ada orang yang mampu berpuasa,tetapi ingin membayar fidyah sebagai ganti puasa. Namun kemudian turun ayatberikutnya : Artinya : “Maka barang siapa diantara kamu bertemu dengan bulan ramadhan, maka harusberpuasa pada bulan itu”. Dengan adanya hadis dan ayat-ayat sebagai penjelas ini maka semakin jelas dantegas, bahwa yang diperbolehkan membayar fidyah adalah orang yang sudah tidakmampu melakukan puasa. Sedang bagi yang mampu, maka harus berpuasa. Hal inidipertegas dengan hadis berikut : Artinya : “Dan dari abdul rahman bin abi laila, dari mu’adz bin jabal ( meriwayatkan )seperti hadis salamah, tetapi disitu terdapat kalimat sebagai berikut : kemudian allahmenurunkan ayat “ maka barang siapa diantara kamu yang menyaksikan bulan itu, makahendaklah ia berpuasa”, maka allah menetapkan berpuasa bagi orang muqim yang sehatdan memberikan keringanan (rukhshah) kepada orang yang sakit dan musafir sertamembayar fidyah bagi orang yang sudah lanjut usia tidak kuat berpuasa (HR. Ahmad danAbu Daud )”3. Orang-Orang Yang Diwajibkan Untuk Membayar Fidyah 1. Orang yang tua (jompo) laki-laki dan wanita yang merasa berat apabilaberpuasa. Maka ia diperbolehkan untuk berbuka, dan wajib bagi mereka untuk memberi
  4. 4. makan setiap hari kepada satu orang miskin. Ini merupakan pendapat Ali, Ibnu Abbas,Abu Hurairah, Anas, Said bin Jubair, Abu Hanifah, Ats Tsauri dan Auzai.3 2. Orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya. Seperti penyakit yangmenahun atau penyakit ganas, seperti kanker dan yang semisalnya. Telah gugur kewajiban untuk berpuasa dari dua kelompok ini, berdasarkan duahal. Pertama, karena mereka tidak mampu untuk mengerjakannya. Kedua, apa yang telahdiriwayatkan dari Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat fidyah seperti yang telahdijelaskan di muka. Masalah : Apabila orang sakit yang tidak diharapkan sembuh ini, setelah diamembayar fidyah kemudian Allah menakdirkannya sembuh kembali, apa yang harus dialakukan? Jawab : Tidak wajib baginya untuk mengqadha puasa yang telah ia tinggalkan,karena kewajiban baginya ketika itu adalah membayar fidyah, sedangkan dia telahmelaksanakannya. Oleh karena itu, dia telah terbebas dari kewajibannya, sehinggamenjadi gugur kewajibannya untuk berpuasa. Ada beberapa orang yang diperselisihkan oleh para ulama, apakah merekamembayar fidyah atau tidak. Mereka, di antaranya ialah :1. Wanita Hamil Dan Wanita Yang Menyusui. Bagi wanita hamil dan wanita yang menyusui dibolehkan untuk berbuka. Karenajika wanita hamil berpuasa, pada umumnya akan memberatkan dirinya dankandungannya. Demikian pula wanita yang menyusui, jika dia berpuasa, maka akanberkurang air susunya sehingga bisa mengganggu perkembangan anaknya. Dalam hal apakah wajib bagi mereka untuk mengqadha` dan membayar fidyah?Dalam permasalahan ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahlul ilmi. Pendapat Pertama : Wajib bagi mereka untuk mengqadha` dan membayar fidyah.Pada pendapat ini pun terdapat perincian. Apabila wanita hamil dan menyusui khawatirakan dirinya saja, maka dia hanya wajib untuk mengqadha` tanpa membayar fidyah. Danapabila mereka takut terhadap janin atau anaknya, maka dia wajib untuk mengqadha` danmembayar fidyah. 3 Al Mughni, Imam Ibnu Qudamah, Cet. Maktabah Ar Riyadh Al Haditsah, Riyadh, Tahun 1402H.
  5. 5. Dalil dari pendapat ini ialah surat Al Baqarah ayat 185, yaitu tentang keumumanorang yang sakit, bahwasanya mereka diperintahkan untuk mengqadha` puasa ketikamereka mampu pada hari yang lain. Sedangkan dalil tentang wajibnya membayar fidyah,ialah perkataan Ibnu Abbas: ‫َلْ ُرْ ِ ُ َالْ ُبَْى إ َا َا َي َا َل َ أوْ َ ِ ِ َا أفْ َ َتاَ ََطْ َ َ َا‬ ‫ا م ضع و ح ل ذ خ ف ت ع ى لدهم طر وأ عمت‬ "Wanita menyusui dan wanita hamil, jika takut terhadap anak-anaknya, makakeduanya berbuka dan memberi makan". [HR Abu Dawud, dan dishahihkan oleh SyaikhAl Albani dalam Irwaul Ghalil, 4/18]. Makna yang semisal dengan ini, telah diriwayatkan juga dari Ibnu Umar; danatsar ini juga dishahihkan Syaikh Al Albani di dalam Irwa. Ibnu Qudamah berkata,"Apabila keduanya khawatir akan dirinya saja, maka diaberbuka, dan hanya wajib untuk mengqadha`. Dalam masalah ini, kami tidak mengetahuiadanya khilaf di antara ahlul ilmi, karena keduanya seperti orang sakit yang takut akandirinya. Namun, jika keduanya takut terhadap anaknya, maka dia berbuka dan wajibuntuk mengqadha` dan memberi makan kepada seorang miskin untuk setiap hari. Inilahyang diriwayatkan dari Ibnu Umar dan yang mashur dari madzhab Syafii. Pendapat Kedua : Tidak wajib bagi mereka untuk mengqadha, akan tetapi wajibuntuk membayar fidyah. Ini adalah pendapat Ishaq bin Rahawaih. Dalil dari pendapat ini ialah hadits Anas: ِ‫إ ّ الَ َ َعَ ال ّييامَ َ ِ الْ ُبَْى َ الْ ُرْ ِع‬ ‫ن وض ص عن ح ل و م ض‬ "Sesungguhnya Allah menggugurkan puasa dari wanita hamil dan wanita yangmenyusui". [HR Al Khamsah]. Dan dengan mengambil dari perkataan Ibnu Abbas, bahwa wanita hamil danmenyusui, jika takut terhadap anaknya, maka dia berbuka dan memberi makan.Sedangkan Ibnu Abbas tidak menyebutkan untuk mengqadha, namun hanyamenyebutkan untuk memberi makan. Pendapat Ketiga : Wajib bagi mereka untuk mengqadha saja. Dengan dalil, bahwa keduanya seperti keadaan orang yang sakit dan seorang yangbepergian. Pendapat ini menyatakan, Ibnu Abbas tidak menyebutkan untuk mengqadha,karena hal itu sudah maklum, sehingga tidak perlu untuk disebutkan. Adapun hadits"Sesungguhnya Allah menggugurkan puasa dari orang yang hamil dan menyusui", maka
  6. 6. yang dimaksud ialah, bahwa Allah menggugurkan kewajiban untuk berpuasa, akan tetapiwajib bagi mereka untuk mengqadha. Pendapat ini merupakan madzhab Abu Hanifah.Juga pendapat Al Hasan Al Bashri dan Ibrahim An Nakhai. Keduanya berkata tentangwanita yang menyusui dan hamil, jika takut terhadap dirinya atau anaknya, makakeduanya berbuka dan mengqadha (dikeluarkan oleh Al Bukhari dalam Shahih-nya) Menurut Syaikh Ibnu Utsaimin, pendapat inilah yang paling kuat. Beliau (SyaikhIbnu Utsaimin) mengatakan, seorang wanita, jika dia menyusui atau hamil dan khawatirterhadap dirinya atau anaknya apabila berpuasa, maka dia berbuka, berdasarkan haditsAnas bin Malik Al Kabi, dia berkata, Rasulullah telah bersabda: َ ْ‫إ ّ ال َ َ َعَ َنْ الْ ُ َا ِرِ َطْرَ ال ّ َ ِ َ َنْ الْ ُ َِْى َالْ ُرْ ِعِ ال ّو‬ ‫صلة وع حبل و م ض ص م‬ ‫ِن ه وض ع مس ف ش‬ "Sesungguhnya Allah telah menggugurkan dari musafir setengah shalat, dan darimusafir dan wanita hamil atau menyusui (dalam hal, Red) puasa". [HR Al Khamsah, danini lafadz Ibnu Majah. Hadits ini shahih], akan tetapi wajib baginya untuk mengqadhadari hari yang dia tinggalkan ketika hal itu mudah baginya dan telah hilang rasa takut,seperti orang sakit yang telah sembuh. Pendapat ini, juga merupakan fatwa dari Lajnah Daimah, sebagaimana akan kamikutip nash fatwa tersebut dibawah ini. Pertanyaan Yang Ditujukan Kepada Lajnah Daimah. Soal : Wanita hamil atau wanita yang menyusui, jika khawatir terhadap dirinyaatau terhadap anaknya pada bulan Ramadhan dan dia berbuka, apakah yang wajibbaginya? Apakah dia berbuka dan membayar fidyah dan mengqadha? Atau apakah diaberbuka dan mengqadha, tetapi tidak membayar fidyah? Atau berbuka dan membayarfidyah dan tidak mengqadha? Manakah yang paling benar di antara tiga hal ini? Jawab : Apabila wanita hamil, dia khawatir terhadap dirinya atau janin yangdikandungnya jika berpuasa pada bulan Ramadhan, maka dia berbuka, dan wajib baginyauntuk mengqadha saja. Kondisinya dalam hal ini, seperti orang yang tidak mampu untukberpuasa, atau dia khawatir adanya madharat bagi dirinya jika berpuasa. Allah berfirman: َ‫َ َن َا َ ِن ُم ّ ِي ًا أوْ ََى َ َرٍ َ ِ ّ ٌ ّنْ َ ّا ٍ ُ َر‬ ‫فم ك ن م ك مر ض َ عل سف فعدة م أي م أخ‬ "Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka wajib baginya untukmengganti dari hari-hari yang lain".
  7. 7. Demikian pula seorang wanita yang menyusui, jika khawatir terhadap dirinyaketika menyusui anaknya pada bulan Ramadhan, atau khawatir terhadap anaknya jika diaberpuasa, sehingga dia tidak mampu untuk menyusuinya, maka dia berbuka dan wajibbaginya untuk mengqadha saja. Dan semoga Allah memberikan taufiq. 2. Orang Yang Mempunyai Kewajiban Untuk Mengqadha Puasa, Akan TetapiDia Tidak Mengerjakannya Tanpa Udzur Hingga Ramadhan Berikutnya. Pendapat Yang Pertama : Wajib baginya untuk mengqadha dan membayarfidyah. Hal ini merupakan pendapat jumhur (Malik, Syafii, dan Ahmad). Bahkanmenurut madzhab Syafii, wajib baginya untuk membayar fidyah dari jumlah ramadhan-ramadhan yang dia lewati (yakni jika dia belum mengqadha puasa hingga dua Ramadhanberikutnya, maka wajib baginya fidyah dua kali). Dalil dari pendapat ini adalah: Hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkanuntuk memberi makan dan mengqadha bagi orang yang mengakhirkan hingga Ramadhanberikutnya. (HR Ad Daraquthni dan Al Baihaqi). Akan tetapi, hadits ini dhaif, sehinggatidak bisa dijadikan hujjah. Ibnu Abbas dan Abu Hurairah meriwayatkan tentang orang yang mengakhirkanqadha hingga datang Ramadhan berikutnya, mereka mengatakan, agar (orang tersebut,Red) memberi makan untuk setiap hari kepada seorang miskin. Pendapat Kedua : Tidak wajib baginya membayar fidyah, akan tetapi dia berdosa,sebab mengakhirkan dalam mengqadha puasanya. Ini merupakan madzhab Abu Hanifah,dan merupakan pendapat Al Hasan dan Ibrahim An Nakhai. Karena hal itu merupakanpuasa wajib, ketika dia mengakhirkannya, maka tidak wajib membayar denda berupafidyah, seperti dia mengakhirkan ibadah yang harus dikerjakan sekarang atau menundanadzarnya. Berkata Imam Asy Syaukani: "Maka yang dhahir (pendapat yang kuat) adalahtidak wajib (untuk membayar fidyah)". Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin: "Adapun atsar yang diriwayatkan dari Ibnu Abbasdan Abu Hurairah, mungkin bisa kita bawa hukumnya menjadi sunnah, sehingga tidakwajib untuk membayar fidyah. Sehingga, pendapat yang benar dalam masalah ini (ialah),
  8. 8. tidak wajib baginya kecuali untuk berpuasa, meskipun dia berdosa karena mengakhirkandalam menngqadha". Hal ini (berlaku, Red) bagi orang yang mengakhirkan tanpa udzur. Berarti, (bagi)orang yang mengakhirkan mengqadha hingga Ramadhan berikutnya karena udzur,seperti karena sakit atau bepergian, atau waktu yang sangat sempit, maka tidak wajib jugauntuk membayar fidyah. Masalah : Apabila ada orang yang mengalami sakit pada bulan Ramadhan, makadalam masalah ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama : Jika penyakitnya termasuk yang diharapkan untuk sembuh, maka bolehbaginya untuk tidak berpuasa hingga dirinya sembuh. Apabila sakitnya berlanjutkemudian dia mati, maka tidak wajib untuk membayar fidyah. Karena kewajibannyaadalah mengqadha, kemudian mati sebelum mengerjakannya. Kedua : Jika penyakitnya termasuk yang diharapkan untuk sembuh, dan dia tidakberpuasa kemudian dia terbebas dari penyakit itu, namun kemudian mati sebelummengqadhanya, maka diperintahkan untuk dibayarkan fidyah dari hari yang diatinggalkan, diambilkan dari hartanya. Sebab pada asalnya, dirinya mampu untukmengqadha, tetapi karena dia mengakhirkannya hingga mati, maka dibayarkan untuknyafidyah. Ketiga : Jika penyakitnya termasuk yang tidak diharapkan untuk sembuh, makakewajiban baginya untuk membayar fidyah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.4. Jenis dan kadar dari fidyah. Tidak disebutkan di dalam nash Al Qur`an atau As Sunnah tentang kadar danjenis fidyah yang harus dikeluarkan. Sesuatu yang tidak ditentukan oleh nash maka kitakembalikan kepada urf (kebiasaan yang lazim). Oleh karena itu, dikatakan sah dalammembayar fidyah, apabila kita sudah memberikan makan kepada seorang miskin, baikberupa makan siang atau makan malam, ataupun memberikan kepada mereka bahanmakanan sehingga mereka memilikinya. 1 Ukuran Fidyah
  9. 9. Ukuran fidyah adalah satu ukuran sekali makan untuk setiap hari puasa yangditinggalkan tersebut. Ukurannya adalah ½ sha’ atau satu mud.4 Satu Sha jika dikonversikan dengan kilogram adalah antara 2,2 kg atau 2,5 kg,atau 3 kg (perbedaan ini menurut perbedaan tarjih para ulama). Sedangkan satu mudsama dengan 1/4 sha nabawy atau 1/5 sha penduduk Qashim (satu wilayah di SaudiArabia) sekarang. Khusus untuk fidyah untuk haji adalah ada tiga alternatif: 1. Berpuasa 3 hari; 2. Memberi makan 6 orang miskin; 3. Menyembelih hewan ternak. Adapun dalilnya adalah: Firman Allah: ‫َ ّامًا َعْ ُو َاتٍي َ َنْي َانَي ِنْ ُمْي َ ِيضًا أوْ ََى سَيَرٍ َ ِ ّ ٌ ِنْي َ ّامٍي ُ َ َ و ََى اّ ِينَي ُ ِي ُو َهُي‬ ‫َ عل ف فعدة م أي أخر َعل لذ يط ق ن‬ ‫أي م د د فم ك م ك مر‬‫ف ية طع م م ك ن فم تطو خ ر فه خ ر له وأ تص م خ ر لك إ ك ت ت لم ن‬َ ‫ِدْ َ ٌ َ َا ُ ِسْ ِي ٍ َ َنْ َ َ ّعَ َيْ ًا َ ُوَ َيْ ٌ َ ُ ََنْ َ ُو ُوا َيْ ٌ َ ُمْ ِنْ ُنْ ُمْ َعَْ ُو‬ Artinya:“ (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yangsakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyakhari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yangberat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberimakan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan,maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamumengetahui” Dengan turunnya ayat tersebut maka Rasulullah bersabda: “Siapa yang meninggal dunia sedangkan ia memiliki hutang puasa, makahendaklah diberikan makanan kepada seorang miskin per hari untuk orang tersebut.” HR.Ibn Majah dari Ibn Umar, Tirmidzi mengatakan: “Yang shahih/benar tentang hadits IbnUmar adalah mauquf.” Dari Aisyah, ia berkata: “Memberikan makan atas nama orang yang meninggal tersebut sebagai qadha ataspuasa Ramadhannya, dan tidak dipuasakan.” 4 Prof.Dr, Amir Syarifuddin, Garis – Garis Besar Fiqih. Jakarta Prenada Media, 2003,hlm.18
  10. 10. Dan Ibn Abbas ketika ditanya tentang seorang laki-laki yang meninggal,sementara ia memiliki hutang nadzar puasa satu bulan dan hutang puasa Ramadhan 1bulan, maka ia menjawab: “Adapun puasa ramadhan yang terhutang, maka lunasilahdengan membayarkannya dalam bentuk makanan, adapun nadzarnya, maka puasakanlahuntuknya.” HR. Al-Atsram dalan Al-Sunan. Apabila seseorang tidak bisa mengqadha puasanya karena udzur yang dibenarkansyariat, hingga ia meninggal dunia, maka tidak ada beban apapun atasnya. Hal ini karenapuasa adalah hak Allah, ia diwajibkan berdasarkan syariat, akan tetapi ia meninggalsebelum tertunaikan kewajibannya. Maka, siapapun yang diwajibkan dari sesuatusebelum ada kemampuan maka gugurlah kewajiban itu tanpa harus menggantinya, sepertimisalnya juga haji. (Jika seseorang tidak mampu menunaikan haji, walaupun ia rukunIslam kelima, namun seseorang tidak ada kewajiban apapun atas rukun Islam ini kecualikalau memiliki kemampuan. Namun, jika ia meninggal dan belum menunaikan qadha puasa tanpa udzuar,maka hendaklah ditunaikan qadhanya berupa pemberian makan kepada seorang miskinper hari sesuai jumlah hari yang ditinggalkannya. Hal ini berdasarkan hadis Ibn Umar,Aisyah, dan Ibn Abbas. Siapa yang tidak berpuasa ramadhan karena sudah tua-renta, ataupun sakit yangsulit diharapkan kesembuhannya, maka hendaklah ia memberi makan kepada seorangmiskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkannya. Adapun dalil fidyah dalam urusan haji adalah firman Allah:AAAAAA AAAAA d d d d d d d d d d a pu
  11. 11. Artinya:“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan `umrah karena Allah. Jika kamu terkepung(terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudahdidapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempatpenyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (laluia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atauberkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan`umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), wajiblah ia menyembelih) korban yang mudahdidapat. Tetapi jika ia tidak menemukan binatang korban atau tidak mampu), maka wajibberpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulangkembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayarfidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidilharam(orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah danketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.. Q.S. Al-Baqarah: 196.” Dalil kedua adalah hadits ibn Ujrah yang terluka di kepalanya, maka Rasulullahbersabda: “Maka fidyahnya adalah puasa 3 hari, atau memberi makan 6 orang miskin,atau menyembelih kambing”. HR. Muttafaq AlaihApa yang diberikan dan berapa? Tidak ada ketentuan atau batasan yang jelas, maka hal ini kita kembalikan kepadakebiasaan. Anas ibn Malik ketika sudah tua pernah mengumpulkan 30 orang fakir danmemberi mereka makan dengan roti beserta lauknya HR. Bukhari dalam tafsirnya 3/197.Maka jika seseorang memberi makan siang atau makan malam kepada seorang miskin,maka itu sudah cukup untuk disebut sebagai fidyahnya atas puasa yang ia tinggalkan itu.Sebagian ulama mengatakan: “Cara demikian tidak sah, yang benar adalah memberibahan makanan pokok. Oleh karena itu, mereka mengatakan: tidak boleh tidak, harusmemberi dalam bentuk 1 mud gandum atau ½ sha’ bahan makanan pokok. (1 sha’ adalah3 kg; 1 mud adalah ¼ sha’. Lihar detailnya dalam kamus zakat di www.siwakz.net).Sebagian ulama lainnya mengatakan ½ sha’ dari bahan makanan pokok apapun.Apa yang dimaksud dengan ½ sha’? Apakah ½ sha’ ini ukuran yang dikenal menurut masyarakat setempat ataukahmenurut ukuran di zaman Nabi SAW? Jawaban kami adalah: “tidak ada seorang pun
  12. 12. sepengetahuan kami dari seluruh ulama, yang mengatakan ukuran sha’ adalah menurutmasyarakat setempat”. Jadi yang benar adalah menurut ukuran sha’ di zaman Nabi SAW.Dari sini sudah jelas bagaimana ukuran sha’ yang sebenarnya. Sebagian ulama ada yang membolehkan ukuran dengan ukuran sha’ daerahqashim, namun tatkala kami lihat ukurannya, ternyata 1 sha’ daerah qashim lebih banyakdari 1 sha’ zaman Nabi sebanyak 0,25-nya, sebab sha’ kita (Qashim) ternyata 5 mud,sedangkan sha’ nabawy hanya 4 mud. Ketentuan tentang jumlah pembayaran fidyah yaitu, sebanyak setengah sha’ bijigandung atau uang senilai itu. Fidyah, baru boleh dilakukan jika orang yang bersangkutantidak mampu berpuasa sepanjang hidupnya. Adapun fidyah boleh berupa satu mudmakanan yang mengenyangkan untuk setiap hari. Dan banyaknya fidyah disesuaikandengan jumlah puasa yang tidak dilakukan oleh orang tersebut. Pendapat Ulama Tentang Kadar Dan Jenis Fidyah. Berkata Imam An Nawawi: "(Pendapat pertama), kadar (fidyah) ialah satu muddari makanan untuk setiap hari. Jenisnya, seperti jenis makanan pada zakat fithrah. Makayang dijadikan pedoman ialah keumuman makanan penduduk di negerinya. Demikian inipendapat yang paling kuat. Dan ada pendapat yang kedua, yaitu mengeluarkan sepertimakanan yang biasa dia makan setiap hari. Dan pendapat yang ketiga, diperbolehkanuntuk memilih di antara jenis makanan yang ada".5 Imam An Nawawi juga berkata: "Tidak sah apabila membayar fidyah dengantepung, sawiq (tepung yang sangat halus), atau biji-bijian yang sudah rusak, atau (tidaksah) jika membayar fidyah dengan nilainya (uang, Pen.), dan tidak sah juga (membayarfidyah) dengan yang lainnya, sebagaimana yang telah dijelaskan. Fidyah tersebut dibayarkan hanya kepada orang fakir dan miskin. Setiap satu mudterpisah dari satu mud yang lainnya. Maka boleh memberikan beberapa mud dari satuorang dan dari fidyah satu bulan untuk seorang faqir saja". Ukuran Satu Mud. Satu mud adalah seperempat sha. Dan sha yang dimaksud ialah sha nabawi,yaitu sha-nya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Satu sha nabawi sebanding dengan 480(empat ratus delapan puluh) mitsqal dari biji gandum yang bagus. Satu mitsqal, sama 5 Prof. Dr Hasbi, Hukum – Hukum Fikih Islam. Jakarta : Bulan Bintang. 1991, hlm.27
  13. 13. dengan 4,25 gram. Jadi 480 mitsqal seimbang dengan 2040 gram. Berarti satu mudadalah 510 gram. Menurut pendapat Syaikh Abdullah Al Bassam, satu sha nabawi adalah empatmud. Satu mud, sama dengan 625 gram, karena satu sha nabawi sama dengan 3000gram. Berdasarkan ukuran yang telah disebutkan, maka kita bisa memperkirakan bahwasatu mud dari biji gandum bekisar antara 510 hingga 625 gram. Para ulama telahmenjelaskan, fidyah dari selain biji gandum, seperti beras, jagung dan yang lainnyaadalah setengah sha (dua mud). Dan kita kembali kepada ayat, bahwa orang yangmelebihkan di dalam memberi makan kepada orang miskin, yaitu dengan memberikankepada orang miskin lainnya, maka itu adalah lebih baik baginya.5. Bagaimana Cara Membayar Fidyah Cara membayar fidyah bisa dilakukan dengan dua hal.6 Pertama : Memasak atau membuat makanan, kemudian memanggil orang-orangmiskin sejumlah hari-hari yang dia tidak berpuasa, sebagaimana hal ini dikerjakan olehsahabat Anas bin Malik ketika beliau tua. Disebutkan dari Anas bin Malik, bahwasanya beliau lemah dan tidak mampuuntuk berpuasa pada satu tahun. Maka beliau membuatkan satu piring besar dari tsarid(roti). Kemudian beliau memanggil tigapuluh orang miskin, dan mempersilahkan merekamakan hingga kenyang. (Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh AlAlbani dalam Irwaul Ghalil). Kedua : Memberikan kepada orang miskin berupa makanan yang belum dimasak.Para ulama berkata: "Dengan satu mud dari burr (biji gandum), atau setengah sha dariselainnya. Akan tetapi, sebaiknya diberikan sesuatu untuk dijadikan sebagai lauknya daridaging, atau selainnya, sehingga sempurna pengamalan terhadap firman Allah yang telahdisebutkan". 6 Ibid, hlm.121
  14. 14. 6. Waktu membayar fidyah. Adapun waktu membayar fidyah terdapat pilihan. Jika dia mau, maka membayarfidyah untuk seorang miskin pada hari itu juga. Atau jika dia berkehendak, makamengakhirkan hingga hari terakhir dari bulan Ramadhan sebagaimana dikerjakan sahabatAnas ketika beliau tua. Dan tidak boleh mendahulukan fidyah sebelum Ramadhan,karena hal itu seperti mendahulukan puasa Ramadhan pada bulan Syaban.7. Penyebab dikenai denda (Fidyah) Dari semua penjelasan diatas maka terdapat beberapa penjelasa tentang penyebab– penyebab terjadinya fidyah, antara lain :7 a) Tidak mampu berpuasa, orang yang tidak mampu berpuasa wajibmengeluarkan fidyah seperti orang tua renta yang merasa berat berpuasa atau puasa akanmembuatnya menderita kesulitan yang sangat berat orang tua renta yang tidak mampuberpuasa ini boleh berbuka, dan sebagai tebusan, dia harus memberi makan seorangmiskin untuk tiap hari. Adapun tercantum dalam hadist yang diriwayatkan oleh Dar al-Quthni dan al-hakim yang mengatakan : Artinya : “Diberi keringanan orang tua renta untuk berbuka dan memberi makan seorangmiskin untuk setiap harinya dan tidak ada kewajiban qadha atasnya . (HR. Daraquthnidan hakim ) ” Orang tua renta (hamm) menanggung bebanya sendiri. Jika dia tidak mampumemberi makan orang miskin. Dia tidak berkewajiban apapun, hal ini berdasarkan ayatberikut : Artinya : AA r r “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.( QS. 2 : 286”) Orang tua yang tidak mampu berpuasa dan tidak mampu memberi makan ituhendaknya meminta ampun kepada allah dan memohon agar allah menerima dirinya.Maksudnya, agar orang tadi meminta ampunan kepada allah atas ketidakmampuannya 7 Agus Effendi, Puasa dan Itikaf Kajian Berbagai Madzab, Bandung : Remaja Rosda Karya, ,1995, hlm.133.
  15. 15. memenuhi hak allah. Adapun orang sakit yang mati tidak berkewajiban memberi makan.Karena jika pemberian makan itu di wajibkan kepadanya, berarti membebani orang matidengan kewajiban. Lain halnya, jika orang tersebut sebelum kematiannya memilikikemampuan untuk berpuasa tetapi tidak melakukan sampai akhir hayatnya. Kewajibanmemberi makan ini disandarkan kepadanya ketika dia masih hidupb) fidyah diwajibkan atas orang sakit yang kesembuhannya tidak bisa diharapkan. Sebab,sebagaimana telah dijelaskan diatas, orang sakit seperti ini sudah tidak berkewajibanberpuasa lagi. Yakni berdasarkan ayat berikut : e e Artinya : “dia sekali – kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesulitan( Q.S.22 : 78 )” serta berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh imam ahmad ibn hambal yangartinya :“ orang sakit yang tiada diharapkan sembuh, dan orang yang telah sangat tua, tidakdikenankan puasa atasnya, hanya diwajibkan fidyah saban hari satu mud” (HR.Imamahmad )c) Orang yang mengandung atau orang yang sedang hamil Fidyah juga diwajibkan bersamaan dengan qadha kepada perempuan hamil atauperempuan menyusui yang menghawatirkan dirinya ( tanpa anaknya). Telah diriwayatkandari imam ahmad dan asy syafi’I, bahwa apabila wanita hamil dan wanita yang menyusuianaknya itu khawatir atas anaknya saja, dan mereka meninggalkan puasa ( berbuka),maka wajiblah mereka mengqadha dan membayar fidyah. Namun apabila hanya khawatiratas dirinya saja, atau khawatir atas dirinya dan sekaligus anaknya, maka mereka hanyawajib mengqadha’, tidak lainnya .adapun wanita hamil dan wanita yang menyusui makamereka tergolong orang – orang yang mempunyai udzur ( halangan) mendadak yangsewaktu-waktu sirna. Maka mereka di wajibkan mengqadha’ . Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari anas bin malik al- ka’bi berikut : Artinya : “Sesungguhnya allah meletakkan setengah shalat dari musafir serta puasa dariperempuan hamil dan perempuan menyusui. Demi allah, kedua pernyataan ini telah
  16. 16. disabdakan oleh rasulluh SAW, baik salah satunya maupun keduanya. (HR. Anas binmalik Al-Ka’bi )” Artinya : “Dari ikrimah sesungguhnya ibnu ‘abbas berkata : bahwa ayat tersebut ditetapkanuntuk perempuan hamil dan yang sedang menyusui ( HR. Abu Daud )”Adapun wanita hamil dan wanita menyusui, yang keduanya mengkhawatirkan anaknya,boleh berbuka tetapi mereka harus memberi makan fakir miskin.Hal ini dipertegas pada hadist rasulullah SAW yang menyatakan : Artinya : “Sungguh allah ‘azza wa jalla telah membebaskan puasa dan separoh sholat bagiorang yang berpergian, serta membebaskan puasa dari orang yang hamil dan menyusui.(HR.Lima ahli hadist dari anas bin malik ka’bi)” Artinya : “Dari ibnu abbas, bahwa ia berkata, “ditetapkan bagi orang yang mengandung danmenyusui untuk berbuka (tidak puasa) dan sebagai gantinya memberi makan kepadaorang miskin setiap harinya “ (HR. Abu dawud dari ibnu abbas, r.a )” Alasan lainnya, karena mereka membatalkan puasanya demi seseorang yanglemah yang masih berada dalam proses pembentukan oleh karena itu, keduanya wajibmembayar fidyah, seperti halnya orang tua yang sudah renta.d) Orang yang meremehkan pengqadhaan puasa ramadhan. Fidyah bersama qadha juga diwajibkan kepada orang yang meremehkanpengqadhaan puasa ramadhan. Misalnya, orang yang menangguhkan pengqadhaanpuasanya sampai ramadhan berikutnya tiba. Jumlah fidyah ini disesuaikan dengan jumlahpuasa yang ditinggalkan. Pewajiban fidyah kepada orang seperti ini, berdasarkanpengiasan kepada orang yang membatalkan puasa secara sengaja. Keduanya meremehkankesucian puasa. Kafarat tidak diwajibkan kepada orang yang uzurnya terus berlangsung,baik uzur berupa sakit, melakukan perjalanan, gila, mengeluarkan darah haid maupunmengeluarkan darah nifas. Adapun hadisnya antara lain yang artinya “ Anak kecil yangbelum sanggup berpuasa dan orang gila yang terus –menerus, tidak diberatkan puasaatasnya (H.R. Imam Mujtahidin) dan hadis yang artinya “ tidak wajib atas orang gila
  17. 17. mengqadhai puasa yang ketinggalan selama gilanya itu” (H.R Abu Hanifah )8. Pelipat Gandaan Fidyah Fidayah yang ditangguhkan sampai bulan ramadhan berikutnya tiba tidakmelahirkan pelipat gandaan sesuai dengan jumlah penundaan tahunnya. Fidyah itu sepertihalnya budud yang bias dilakukan kapan saja. Sedangkan, menurut pendapat madzabsyafi’I, fidyah yang dipertangguhkan sampai bulan ramadhan berikutnya tiba akanmelahirkan kewajiban baru. Karena, hak-hak material tidak bias dilakukan padasembarang waktu. Adapun ayat Al-Qur’an menerangkan bahwa : AAAA AAAA d d d d d d d d d a pu Artinya: “Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu iaberbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu padahari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika merekatidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapayang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya.Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui..”(Q.S.Al-baqarah : 184 ) Dengan demikian, pengqadhaan puasa boleh dilakukan secara lambat bahkanseseorang boleh melakukan puasa tathawwu’. Sebelum puasa wajibnya selesai di qadha.Dengan kata lain, orang yang menangguhkan pengqadhaan puasanya tidak berkewajibanapa-apa. Lagi pula, pengiasan dalam kafarat tidak bias dilakukan meskipun demikian.C. Kesimpulan Fidyah adalah denda yang diberikan bagi seseorang sebab ia meninggalaknkewajiban dengan cara memberi makan orang miskin. Fidyah Adalah pemberian bahanmakanan pokok atau makanan siap saji kepada orang miskin (fakir atau miskin) karenameninggalkan puasa Ramadhan dengan alasan yang dibenarkan oleh syariat Ukuran
  18. 18. fidyah adalah satu ukuran sekali makan untuk setiap hari puasa yang ditinggalkantersebut. Ukurannya adalah ½ sha’ atau satu mud. Satu Sha jika dikonversikan dengan kilogram adalah antara 2,2 kg atau 2,5 kg,atau 3 kg (perbedaan ini menurut perbedaan tarjih para ulama). Sedangkan satu mudsama dengan 1/4 sha nabawy atau 1/5 sha penduduk Qashim (satu wilayah di SaudiArabia) sekarang. Khusus untuk fidyah untuk haji adalah ada tiga alternatif: 1. Berpuasa 3 hari; 2. Memberi makan 6 orang miskin; 3. Menyembelih hewan ternak.an .Penyebab fidyah diantaranya : - Orang tua renta yang tidak mampu untuk berpuasa - Orang sakit yang kesembuhannya tidak dapat diharapkan - Orang yang mengandung / orang yang sedang hamil - Orang yang merehkan pengqadhaan puasa ramadhan Dari ini semua sudah jelaslah bahwasanya kita sejak lahir sudah dikenai kewajiban-kewajiban, dan jika lalai ada hukumnya tersendiri, salah satunya ialah membayar denda. DAFTAR PUSTAKAAbdul Aziz, Bin, Faisal, Muhtasar Nailul Authar 3 Himpunan Hadits –Hadits Hukum, 1993, Surabaya : Bina Ilmu,
  19. 19. Effendi, Agus, Puasa dan Itikaf Kajian Berbagai Madzab, Bandung : Remaja Rosda Karya, 1995.MZ, Labib, Ust.Bukhari dan Muslim. Jawa Timur : Amanah. 1997.Syarifuddin, Amir, Prof.Dr, Garis – Garis Besar Fiqih. Jakarta : Prenada Media, , 2003.Kamal, Dr, Mustafa, Dkk, Fikih Islam, Jakarta : Citra Karya Mandiri. 2000.Hasbi, Prof. Dr. Hukum – Hukum Fikih Islam. Jakarta : Bulan Bintang, 1991.Ali Ash – Shabuni. Muhammad, Syaikh, Rawai’ul Bayan, Semarang : CV. Asy –Syifa’., 1993.Mansyur, kahar, kh, Bulughul maram. Jakarta : Rineka Cipta, 1992.s. Praja, Juhaya. Prof .dr, Tafsir Hikmah. Bandung : Remaja Rosda Karya. 2000.Mahalli, Mudjab, Ahmad, KH., Hadis-Hadis Mutafaq’ Alaih, Jakarta : Prenada Media, 2003.Al Mughni, Imam Ibnu Qudamah, Cet. Maktabah Ar Riyadh Al Haditsah, Riyadh, Tahun 1402 H.Fat-hul Bari, Al Hafizh Ibnu Hajar. Cet. Dar Al Marifah, Beirut.

×