Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Axio

1,108 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Axio

  1. 1. A. Pendahuluan Masalah pendidikan adalah merupakan masalah pertama dan mendasardalam hidup dan kehidupan manusia karena pendidikan merupakan hakekat hidupmanusia. Proses pendidikan berada dan berkembang bersama dengan prosesberkembangnya hidup dan kehidupan manusia. Oleh karena itu hendaknya semuamanusia harus mengutamakan pendidikan agar kehidupannya menjadi lebih baikdi masa mendatang. Dalam kaitannya dengan masalah pendidikan Islam sebagai ilmu terletakpada hakekat (ontologi), dasar-dasar (epitemologi) dan kegunaan (aksiologi) daripendidikan islam itu sebagai suatu kajian ilmu (sains) yang harus dipelajari dandiajarkan agar ilmu pendidikan itu bermanfaat dan berguna untuk membinakehidupan manusia. Pendidikan Islam bersumber pada Al-Qur’an dan hadits adalah untukmembentuk manusia yang seutuhnya yakni manusia yang beriman dan bertaqwakepada Allah SWT dan untuk memelihara nilai-nilai kehidupan sesama manusiaagar dapat menjalankan seluruh kehidupannya sebagaimana yang telahdituntunkan Allah dan Rasul-Nya demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhiratdengan kata lain untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya yaitumemanusiakan manusia sesuai dengan kehendak Allah SWT yang menciptakan-Nya. Manusia adalah makhluk yang selalu merindukan kesempurnaan. Olehkarena itu dengan segala potensi yang dimilikinya manusia berusaha untuk majudan berkembang untuk mencapai kesempurnaan itu. Manusia setiap saatmembutuhkn ilmu dari manapun datangnya, baik dari lingkungan atau alamsemesta dan juga diperlukan pengaruh dari luar yang oleh Slamet Imam Santosodisebutnya dengan istilah pendidikan. Manusia sesuai dengan kodratnya itumenghadapi tiga persoalan yang bersifat universal, dikatakan demikian karenapersoalaan tersebut tidak tergantung pada kurun waktu ataupun latar belakanghistoris kultural tertentu. Persoalan itu menyangkut tata hubungan atar dirinyasebagai mahluk yang otonom dengan realitas lain yang menunjukkan bahwamanusia juga merupakan makhluk yang bersifat dependen. Persoalaan lain 1
  2. 2. menyangkut kenyataan bahwa manusia merupakan makhluk dengan kebutuhanjasmani yang nyaris tak berbeda dengan makhluk lain seperti makan, minum,kebutuhan akan seks, menghindarkan diri dari rasa sakit dan sebagainya tetapijuga sebuah kesadaran tentang kebutuhan yang mengatasinya, menstrandensikankebutuhan jasmaniah, yakni rasa aman, kasih sayang perhatian, yang semuanyamengisyaratkan adanya kebutuhan ruhaniah dan terakhir, manusia menghadapiproblema yang menyangkut kepentiangan dirinya, rahasia pribadi, milik pribadi,kepentingan pribadi, kebutuhan akan kesendirian, namun juga tak dapat disangkanbahwa manusia tidak dapat hidup secara “soliter” melainkan harus “solider” ,hidupnya tak mungkin dijalani sendiri tanpa kehadiran orang lain. Belum lagimanusia dalam konsep Islam mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sangatberat yaitu “Abdul Allah “ (hamba Allah) satu sisi dan sekaligus sebagai“Kholifah fil Ardli” (wakil Allah di muka bumi).B. Pembahasan1. Manusia Perspektif Filsafat Pendidikan Sejarah filsafat bermula di pesisir samudera Mediterania 1 bagian timur,pada abad ke-6 SM. Sejak semula, filsafat ditandai dengan rencana ummatmanusia untuk menjawab persoalan seputar alam, manusia dan Tuhan. Itulahsebabnya, sehingga Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup dari seorangatau masyarakat bangsa. Oleh karena filsafat menjadi kerangka acuan dalammenentukan pola kehidupan warga suatu masyarakat bangsa tersebut. Dengandemikian filsafat sebagai pandangan hidup menyangkut pula tentanghubungannya dengan manusia. Tepatnya adalah pandangan filsafat tentangmanusia dalam kaitan dengan kepentingan pendidikan, sebab upaya yang palingefektif untuk mewariskan nilai-nilai yang termuat dalam pandangan hidupdimaksud adalah melalui pendidikan. Merujuk pada hal itu, maka sebelum membahas bagaimana konsepfilsafat pendidikan tentang manusia itu sendiri, tentunya perlu terlebih dahulu kita 1 Majid Fahry , Sejarah Filsafat Islam (Sebuah Peta Kronologis), Cet. I, Mizan, 2001,Bandung, hal. 1. 2
  3. 3. ketahui bagaimana pandangan Islam tentang konsep manusia itu. Hal inisetidaknya akan membantu pengenalan sosok manusia yang sebenarnya dalamkonsep filsafat pendidikan yakni yang berkaitan dengan manusia sebagai subyeksekaligus merupakan obyek dari pendidikan.2. Konsep Manusia Bentuk dan pola peran seseorang, secara garis besar dapat kita lihat darikedudukan yang ditempatinya. Sedangkan untuk mengetahui hal itu, kita perlutahu akan penamaan yang disandangnya. Begitu pula tentang peran manusia dapatdirujuk antara lain melalui berbagai sebutan yang diberikan pada manusia. Dalam Alqur’an manusia disebut dengan berbagai nama antara lain : al-Basyr, al- Insan, an- Nas, dan konsep Bani Adam yang hal ini sebagai penolakanterhadap teori Darwin tentang evolusi bahwa manusia adalah keturunan dari kera.Adapun pemahaman tentang peran manusia erat kaitannya dengan sebutan yangdisandangnya. a. Konsep Al- Basyr ( ( Manusia dalam konsep al- Basyr, dipandang dari pendekatannya biologis.Sebagai mahluk biologis berarti manusia terdiri atas unsur materi, sehinggamenampilkan sosok dalam bentuk fisik material yaitu berupa tubuh kasar(ragawi).2 Berdasarkan konsep al- Basyr, manusia tak jauh berbeda dengan makhlukbiologis lainnya. Dengan demikian kehidupan manusia terikat kepada kaidah-kaidah prinsip kehidupan biologis lain seperti berkembang biak, mengalami fasepertumbuhan dan perkembangan dalam mencapai tingkat kematangan sertakedewasaan. Manusia memerlukan makan, minum dengan kreteria halal sertabergizi (QS. 16 : 69) untuk hidup dan ia juga butuh akan pasangan hidup melaluijalur pernikahan (QS. 2 : 187) untuk menjaga, melanjutkan proses keturunanya(QS. 17: 23-25). 2 Prof. Dr. H. Jalaludin, Teologi Pendidikan,PT Raja Grafindo Persada, Jakarta , 2001, hal19. 3
  4. 4. b. Konsep Al- Insan ( ) Al- Insan terbentuk dari akar kata Nasiya ( ), Nisyu( ) yang berati lupa, dari kata Insu ( ) artinya senang,jinak,harmonis, dan ada juga dari akar kata Naus ( ) yang mengandung arti“pergerakan atau dinamisme”. Merujuk pada asal kata al- Insan dapat kita pahamibahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi yang positif untuk tumbuh sertaberkembang secara fisik maupun mental spiritual. Di samping itu, manusia jugadibekali dengan sejumlah potensi lain, yang berpeluang untuk mendorong ia kearah tindakan, sikap, serta prilakun negatifdan merugikan.3 c. Konsep An- Nas ( ) Kosa kata An- Nas dalam Al- Qur’an umumnya dihubungkan denganfungsi manusia sebagai makhluk social. Manusia diciptakan sebagai makhlukbermasyarakat, yang berawal dari pasangan laki-laki dan wanita kemudianberkembang menjadi suku dan bangsa untuk saling kenal mengenal “berinterksi”(QS. 49 : 13). Hal ini sejalan dengan teori “strukturalisme” Giddens yangmengatakan bahwa manusia merupakan individu yang mempunyai karakter sertaprinsip berbeda antara yang lainnya tetapi manusia juga merupakan agen socialyang bisa mempengaruhi atau bahkan di bentuk oleh masyarakat dan kebudayaandi mana ia berada dalam konteks sosial. d. Konsep Bani Adam ( ) Manusia sebagai Bani Adam, termaktub di tujuh tempat dalam Al-Qur’an(Muhammad Fuad Abd al- Baqi :1989). Menurut a- Gharib al- Ishfahany, baniberarti keturunan dari darah daging yang dilahirkan. Berkaitan dengan penciptaanmanusia menurut Christyono Sunaryo, bahwa bumi dan dunia ini telah diciptakanAllah SWT jutaan tahun sebelum Nabi Adam AS diturunkan dibumi , 7000 thnyang lalu. Pada waktu itu Allah SWT sudah menciptakan “manusia” (somekind ofhumanoid) jauh sebelum Nabi Adam AS diturunkan : Al Ankabuut – Ayat 19 3 Ibid, hlm, 21. 4
  5. 5. 29:19. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allahmenciptakan (manusia) dari permulaannya , kemudian mengulanginya (kembali) .Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.4 Ayat ini memperlihatkan bahwa kita seharusnya dapat memperhatikanadanya pengulangan kerena memang telah terjadi. Bukan pengulangankebangkitan kembali nanti setelah hari kiamat , karena (pengulangan) kebangkitansetelah kiamat itu belum terjadi , sehingga masih sulit untuk di mengerti oleh yangtidak percaya . Dan banyak ayat-ayat al- Qur’an, data dan kejadian yang menunjangconcept pemikiran ini . Seperti misalnya : Pada saat manusia akan diciptakanAllah SWT untuk menjadi kalifah dibumi, bagaimana para Malaikat mungkinmengetahui bahwa manusia hanya akan membuat kerusakan diatas bumi .Sedangkan Malaikat hanya mengetahui apa-apa yang diberitahukan Allah SWTkepada mereka . Tentunya karena memang mereka pernah mengetahui adanya“manusia” dibumi sebelum Adam AS diciptakan.. Oleh sebab itu Allah SWT selalu menyatakan bahwa : “Manusia (anak-cucuAdam AS ) diciptakan dalam kesempurnaan-nya” . Dalam Injil dikatakanbahwa “Man was created upon the image of God).. Serta banyak kalimat padaTaurat (Perjanjian Lama) yang membedakan antara “anak manusia” dan “anakAllah” , “adanya manusia-manusia yang besar pada saat itu” , bagaimana takutnyaanak-anak Adam yang keluar dari surga dengan adanya ancaman / gangguandiluar, dsb. Apapun yang dikatakan dalam kitab-kitab suci , ilmu pengetahuan ataupunteknologi dapat membuktikan bahwa ada sisa-sisa “manusia” yang telah berumurjutaan tahun. Bahkan teori Darwin pun mengalami kesulitan dalammenghubungkan manusia purba dengan manusia masa kini (The missing-linktheorema). 4 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya, Jakarta: Proyekpengadaan Kitab Suci Al-Quran Departemen Agama RI, 1984/1985 5
  6. 6. 3. Manusia dan Psikologinya Keberadaan manusia dalam dunia ini dilengkapi dengan dua keadaanyakni terdiri dari jasad dan ruh ;artinya, makhluk yang jasadiah serta ruhaniahnyasekaligus. Manusia bukanlah makhluk ruh murni dan bukan jasad murnimelainkan manusia merupakan makhluk secara misterius terdiri dari keduaelemen ini juga yang disebut dengan entitas ketiga yaitu “jati dirinya sendiri”.5Realitas yang mendasari dan prinsip yang menyatukan apa yang kemudiandikenal dengan manusia bukanlah perubahan jasadnya melainkan keruhaniannya. Al- Ghazali dalam memandang jiwa itu tidak terlepas dari empat katayaitu : hati (qalb), roh (ruh), jiwa (nafs), dan akal (a’ql )6. 1. Nafs Kata nafs dating dalam berbagai bentuk baik mufrad atau jama’. Iamenunjukkan manusia sebagai makhluk hidup yang asalnya satu. Dalam al-Qur’an kata Nafs ini menunjukkan pada diri (self) sebagai keseluruhan yang lebihmenyatakan motivasi dan aktifitas hidup manusia. 2. Qalb Menurut Hasan Langgulung kata Qalb yang terdapat al-Qur’ankebanyakan berkisar pada arti perasaan (emosi) dan intelektual pada manusia.Oleh sebab ia merupakan dasar bagi fitrah yang sehat berbagai perasaan baikmengenai cinta atau benci, dan tempat petunjuk, iman, kemauan, sekaligussebagai kontrol terhadap segala aktifitas manusia. 3. Ruh Ruh biasanya menunjukkan aspek suatu hakekat (realitas) yang abstrakyang mempunyai unsur illahi dan berhungan dengan manusia secara khusus. 4. Aql Kata Aql menurut Hasan Langgulung muncul dala al-Qur’an tidak adayang menunjukkan abstrak (masdar) sama sekali melainkan kata kerja dengan 5 Syed M. Naquib Al- Attas, filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, (terj.Wan Mohd NorWan Daud), Mizan, Bandung, Cet. I, 2003, hal. 94. 6 Prof. Dr. Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, PT Al-Husna Zikra, Jakarta,Cet.I, 2000, hal. 302. 6
  7. 7. berbagai bentuknya. Karenanya Aql ini lebih menunjukkan pada aspek pemikiranpada manusia. Seperti QS. Albaqarah : 75, dan 44, al- Anfal : 22, serta al- Mulk :10. Dalam hal ini Al-Attas berpendapat bahwa setiap sebutan ini memiliki duamakna, yang satu merujuk pada aspek-aspek jasadiah ataupun kebinatangan dansatunya merujuk pada aspek keruhaniah. Dengan demikian ketika aspek itubergelut dengan sesuatu yang berkaitan dengan intelektual dan pemahaman, ia(yaitu, ruh manusia) disebut “intelek” ketika mengatur tubuh, ia disebut “jiwa” ,ketika sedang mengalami pencerahan intuisi, ia disebut “hati” dan ketika kembalike dunianya yang abstrak, ia disebut “ruh” pada hakekatnya.ia selalu aktifmemanifestasikan dirinya dalam keadaan apapun.4. Manusia dan Proses Pendidikan Paulo freire, tokoh pendidikan Amerika Latin mengatakan bahwa tujuanakhir dari proses pendidikan adalah memanusiakan manusia (humanisasi), tidakjauh berbeda dengan pandangan diatas M. Arifin berpendapat, bahwa prosespendidikan pada akhirnya berlangsung pada titik kemampuan berkembangnya tigahal yaitu mencerdaskan otak yang ada dalam kepala (head) kedua, mendidikakhlak atau moralitas yang berkembang dalam hati (heart) dan ketiga, adalahmendidik kecakapan/ketrampilan yang pada prinsipnya terletak pada kemampuantangan (hand) selanjutnya populer dengan istilah 3 H’s.7 Berangkat dari artipenting pendidikan ini, Karnadi Hasan memandang bahwa pendidikan bagimasyarakat dipandang sebagai “Human investment” yang berarti secara historisdan filosofis, pendidikan telah ikut mewarnai dan menjadi landasan moral dan etikdalam proses humanisasi dan pemberdayaan jati diri bangsa. Merujuk dari pemikiran tersebut, Pendidikan adalah rajat hidup bagi setiapmanusia. Karena kita sadari bahwa tidak ada seorangpun yang lahir di dunia inidalam keadaan pandai (berilmu). Hal ini membuktikan bahwa segala sesuatu didunia ini merupakan proses berkelanjutan yang tidak asal jadi seperti bayangan 7 Prof. H.M. Arifin, M. Ed., Filsafat Pendidikan Islam,Cet. VI, Remaja Rosdakarya,2000, PT Bumi Aksara, Jakarta, hal. 57. 7
  8. 8. dan impian kita. Berkaitan adanya proses tersebut, penciptaan manusia oleh AllahSWT juga tidaklah sekali jadi. Ada proses penciptaan (khalq), prosespenyempurnaan (taswiyyah), dengan cara memberikan ukuran atau hukumtertentu (taqdir), dan juga di berikannya petunjuk (hidayah). Dengan demikianmenurut Sunnatullah manusia sangat terbuka kemungkinannya untukmengembangkan segala potensi yang dia miliki melalui bimbingan dan tuntunanyang tearah, teratur serta berkesinambungan yang semuanya merupakan prosesdalam rangka penyempurnaan manusia (insan kamil) yang nantinya dapatmemenuhi tugas dari kejadiannya yaitu sebagai Khalifah Fil Ardl.5. Manusia Menurut Filsafat Pendidikan Pemikiran filsafat mencakup ruang lingkupyang berskala makro yaitu:kosmologi, ontology, philosophy of mind, epistimologi, dan aksiologi. Untukmelihat bagaimana sesungguhnya manusia dalam pandangan filsafat pendidikan,maka setidaknya karena manusia merupakan bagian dari alam semesta (kosmos).Berangkat dari situ dapat kita ketahui bahwa manusia adalah ciptaan Allah yangpada hakekatnya sebagai abdi penciptanya (ontology). Agar bisa menempatkandirinya sebagai pengapdi yang setia, maka manusia diberi anugerah berbagaipotensi baik jasmani, rohani, dan ruh (philosophy of mind). Sedangkanpertumbuhan serta perkembangan manusia dalam hal memperoleh pengetahuanitu berlajan secara berjenjang dan bertahap (proses) melalui pengembanganpotensinya, pengalaman dengan lingkungan serta bimbingan, didikan dari Tuhan(epistimologi), oleh karena itu hubungan antara alam lingkungan, manusia, semuamakhluk ciptaan Allah dan hubungan dengan Allah sebagai pencita seluruh alamraya itu harus berjalan bersama dan tidak bisa dipisahkan. Adapun manusiasebagai makhluk dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya insaninya itu,manusia diikat oleh nilai-nilai illahi (aksiologi), sehingga dalam pandangan FPI,manusia merupakan makhluk alternatif (dapat memilih), tetapi ditawarkanpadanya pilihan yang terbaik yakni nilai illahiyat. Dari sini dapat kita simpulkanbahwa manusia itu makhluk alternatif (bebas) tetapi sekaligus terikat (tidak bebasnilai). 8
  9. 9. 6. Manusia Sebagai Abdul Allah Dalam konteks konsep abd Allah, manusia harus menyadari betul akandirinya sebagai abdi. Hal ini berati bahwa manusia harus menempatkan dirinyasebagai yang dimiliki, tunduk dan taat kepada semua ketentuan pemiliknya, yaituallah SWT. Al-Qur’an tidak memandang manusia sebagai makhluk yang terciptasecara kebetulan, atau tercipa dari kumpulan atom, tapi ia diciptakan setelahsebelumnya direncanakan untuk mengemban satu tugas sebagai khalifah di mukabumi ini, sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi (QS.2 :30). Ia dibekali Tuhan dengan potensi dan kekuatan positif untuk mengubahcorak kehidupan di dunia ke arah yang lebih baik. M. Quraisy Shihabmenyimpulkan bahwa kata khalifah itu mencakup dua pengertian :8 1. Orang yangdberi kekuasaan untuk mengelola wilayah, baik luas maupun terbatas. 2. Khalifah memilki potensi untuk mengemban tugasnya, namun juga dapat berbuat kesalahan dan kekeliruan. Beranjak dari pemahaman bahwa ada dua unsur sehungan dengan maknakhalifah yakni unsure intern (mengarah pada hubungan horizontal) yang berkaitandengan manusia, alam raya dan antar manusia dengan alam raya. Dan unsurekstern (kaitannya dengan hubungan vertical) yaitu penugasan Allah kepadamanusia sebagai mandataris Allah dan pada hakekatmnya eksistensi manusiadalam kehidupan ini adalah membangun dan mengelola dunia tempat hidupnya inisesuai dengan kehendak penciptanya. Tugas kekhalifahan tersebut meang sangatberat. Namun status ini menunjukkan arah peran manusia sebagai penguasa dibumi atas petunjuk Allah. Selain itu, dari tugas tersebut menggambarkan bahwaakan kedudukan manusia selaku makhluk ciptaanNya yang paling mulia.7. Tinjauan Aksiologi 8 Dr. M. Quraisy Shihab, Membumikan al-Qur’an,”Fungsi Dan Peran Wahyu DalamKehidupan Masyarakat”, Bandung, Mizan, Cet. XXV, 2003, hal. 158. 9
  10. 10. Aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti "nilai" danlogos yang berarti "teori" . jadi aksiologi adalah "teori tentang nilai"9 Dalam definisi lain, Jujun S. Suriasumantri mengartikankan: aksiologisebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yangdiperoleh.10 Dari dua defenisi tersebut diatas dalam makalah ini akan dibahas kegunaanpendidikan islam sebagai suatu ilmu, serta penerapannya bersama cabang ilmulainnya. Prof. Mohammad Athiyah abrosy dalam kajiannya tentang pendidikanIslam telah menyimpulkan 5 tujuan (kegunaan) yang asasi bagi pendidikan Islamyang diuraikan dalam at tarbiyah al-Islamiyah wa Falsafatuha, yaitu: 1. Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia. Islam menetapkan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam 2. Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi keagamaan saja dan tidak hanya dari segi keduniaan saja, tetapi menaruh perhatian kepada keduanya sekaligus 3. Menumbuhkan ruh ilmiah pada pelajaran dan menuaskan untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu bukan sekedar sebagai ilmu. Dan juga agar menumbuhkan minat pada sains, sastra, kesenian dalam berbagai jenis 4. Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat menguasai profesi tertentu, teknis tertentu dan perusahaan tertentu, supaya ia dapat mencari rezeki dalam hidup dengan mulia disamping memelihara dari segi kerohanian dan keagamaan. 9 Burhanuddin salam, Logika materil; Filsafat Ilmu Pengetahuan (Cet.I,Jakarta: Renekacipta, 1997) h. 168 10 Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer (Cet.II,Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 1998) h. 234 10
  11. 11. 5. Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidikan Islam tidaklah semuanya bersifat agama atau akhlak, atau spirituil semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada segi-segi kemanfaatan pada tujuan- tujuan, kurikulum, dan aktivitasnya. Tidaklah tercapai kesempurnaan manusia tanpa memadukan antara agama dan Ilmu Pengetahuan. Dalam penerapannya sebagai suatu cabang ilmu, pendidikan Islam sebagaisebuah sistem atau bangunan memerlukan dasar, asas, dan prinsip-prinsip bagitegaknya sistem dan bangunan tersebut. Ilmu pendidikan Islam memilikiketerkaitan dengan bidang-bidang ilu lainnya, yakni: psikologi, sejarah, filsafat,sosiologi, budaya, hukum, ilmu pengetahuan dan tekhnologi, manajeman, politik,dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Berbagai disiplin ilmu tersebut sekaligus menjadidasar bagi tegaknya Ilmu Pendidikan Islam itu sendiri. Ajaran Islam tentangbelajar seumur hidup, pendidikan untuk semua, pendidikan yang bermutu,pendidikan yang berorientasi kemasa depan, pendidikan yang seimbang, terbuka,dinamis, progresif, adil, egaliter, dan manusiawi adalah merupakan dasar, asas,prinsip, dan jiwa Ilmu pendidikan Islam.C. Kesimpulan Manusia menurut Islam adalah mahluk ciptaan Allah (QS. 98: 2) dengankedudukan yang melebihi mahluk ciptaan Allah lainnya (QS. 95 : 4). Selain itumanusia sudah dilengkapi dengan berbagai potensi yang dapat dikembangkanantara lain berupa fitrah ketauhidan (QS.15 :29). Dengan fitrah ini diharapkanmanusia dapat hidup sesuai dengan hakekat penciptaannya, yaitu mengabdikepada Allah SWT (QS. 51: 56). Mengacu pada ketentuan ini, maka dalampandangan Islam, meminjam bahasa Jalaludin, manusia pada hakekatnyamerupakan makhluk ciptaan Allah yang terikat dengan “Blue prient” (cetak biru)dalam lakon hidupnya, yaitu menyadari akan dirinya sebagai “Abdul Allah”sekaligus mempunyai tugas sebagai mandataris Allah. 11
  12. 12. DAFTAR PUSTAKAA. Partanto, Pius dan M. Dahlan al-Barry,kamus Ilmiah Populer,Surabaya: Arkola, 1994 12
  13. 13. Achmad Charris Zubair, Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia (Kajian Filsafat Ilmu), Cet. I, Yogyakarta, LESFI, 2002.Arifin, H.M Prof. M.Ed., Filsafat Pendidikan Islam,Cet. VI, Remaja Rosdakarya, PT Bumi Aksara, Jakarta ,2000.Brian Fay, Filsafat Ilmu Sosial Kontemporer, Yogyakarta, Jendela, Cet. I, 2002.Buchori, Muchtar, Ilmu Pendidikan Praktek pendidikan dalam renungan, Cet.I,Jakarta: IKIP Muhammadiyah Press, 1994Christyono Sunaryo, http://www.macsonic.orgDarajat, Zakiah, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, Cet.7, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya, Jakarta: Proyek pengadaan Kitab Suci Al-Quran Departemen Agama RI, 1984/1985H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Cet.I, Jakarta: PT Bumi Aksara, 1991)Hasan Langgulung, Prof. Dr Asas-Asas Pendidikan Islam, PT Al-Husna Zikra, Jakarta, Cet.I, 2000.Jalaludin, Prof. Dr. H, Teologi Pendidikan,PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.Karnadi Hasan “Konsep Pedidikan Jawa”, dalam : Jurnal Dinamika islam dan Budaya Jawa, No 3 tahun 2000, Pusat Pengkajian Islam Strategis, IAIN Walisongo, 2000. 13
  14. 14. Majid Fahry , Sejarah Filsafat Islam (Sebuah Peta Kronologis), Cet. I, Mizan, , Bandung, 2001.Nasution, Harun, Filsafat Agama, Cet.V, Jakarta: Bulan Bintang, 1985Nata, Abuddin, Ilmu Pendidikan Islam dengan pendekatan Multidisipliner, Jakarta: Rajawali Pers, 2009Paulo freire dalam Pendidikan : Kegelisahan Sepanjang Zaman (pilihan Artike lbasis). Sinhunata (ed), Kanisius, 2001 sebagaimana dikutip dalam Resensi Amanat, Edisi 84/Februari 2001.Quraisy Shihab, Dr. M., Membumikan al-Qur’an,”Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat”, Bandung, Mizan, Cet. XXV, 2003.S. Suriasumantri, Jujun, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Cet.II,Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998Salam, Burhanuddin, Logika materil; Filsafat Ilmu Pengetahuan, Cet.I,Jakarta: Reneka cipta, 1997Syed M. Naquib Al- Attas, filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, (terj.Wan Mohd Nor Wan Daud), Mizan, Bandung, Cet. I, 2003.Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Cet.II, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994 14

×