Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Manusia homo educandum

4,511 views

Published on

FILSAFAT PENDIDIKAN

Published in: Education
  • DOWNLOAD FULL eBOOK INTO AVAILABLE FORMAT ......................................................................................................................... ......................................................................................................................... 1.DOWNLOAD FULL. PDF eBook here { https://tinyurl.com/y3nhqquc } ......................................................................................................................... 1.DOWNLOAD FULL. EPUB eBook here { https://tinyurl.com/y3nhqquc } ......................................................................................................................... 1.DOWNLOAD FULL. doc eBook here { https://tinyurl.com/y3nhqquc } ......................................................................................................................... 1.DOWNLOAD FULL. PDF eBook here { https://tinyurl.com/y3nhqquc } ......................................................................................................................... 1.DOWNLOAD FULL. EPUB eBook here { https://tinyurl.com/y3nhqquc } ......................................................................................................................... 1.DOWNLOAD FULL. doc eBook here { https://tinyurl.com/y3nhqquc } ......................................................................................................................... ......................................................................................................................... ......................................................................................................................... .............. Browse by Genre Available eBooks ......................................................................................................................... Art, Biography, Business, Chick Lit, Children's, Christian, Classics, Comics, Contemporary, CookeBOOK Crime, eeBOOK Fantasy, Fiction, Graphic Novels, Historical Fiction, History, Horror, Humor And Comedy, Manga, Memoir, Music, Mystery, Non Fiction, Paranormal, Philosophy, Poetry, Psychology, Religion, Romance, Science, Science Fiction, Self Help, Suspense, Spirituality, Sports, Thriller, Travel, Young Adult,
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here

Manusia homo educandum

  1. 1. 10 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia merupakan mahluk yang dapat dididik dan mendidik dengan kemampuannya manusia bisa menciptakan segala hal. Dalam makalah ini saya akan membahas tentang manusia sebagai insane pendidikan. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapatditarik rumusan masalah sebagai berikut : 1.2.1 Bagaimana hubungan hakikat manusia dengan pendidikan ? 1.2.2 Bagaimana gambaran manusia sebagai mahluk yang perlu dididik dan mendidik diri ? 1.2.3 Bagaimanakah manusia yang dapat dididik itu ? 1.3 Tujuan Penulisan Dengan adanya makalah ini saya khususnya dan anda pada umumnya diharapkan mengerti arti dari manusia sebagai insan pendidikan. Semoga makalah ini bermanfaat.
  2. 2. 10 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Hakikat Manusia Dan Kebutuhannya Akan Pendidikan Ada ahli yang mengatakan bahwa manusia sebagai animal educable. Artinya, pada hakikatnya manusia adalah mahluk yang dapat dididik. Disamping itu menurut Lavengel, manusia juga bisa disebut animal educandum yang artinya manusia pada hakikatnya adalah mahluk yang harus dididik, dan homo educandus yang bermakna bahwa manusia merupakan mahluk yang bukan hanya harus dididik tetapi juga harus dan dapat mendidik. Deskripsi diatas mengungkapkan secara jelas bahwa ada mata rantai yang erat antara hakikat manusia dengan garapan pendidikan sebagai salah satu satu usaha sadar untuk lebih memanusiakan manusia. Garapan pendidikan merupakan keharusan mutlak bagi manusia. Pendidikan telah dianngap sebagai salah satu hak asasi manusia yang harus dipenuhi. Persoalannya adalah mengapa garapan pendidikan merupakan suatu keharusan bagi manusia, mengapa manusia harus dididik danharus mendidik. Hal tersebut dapat ditinjau dari beberapa segi sebagai berikut : a. Hakikat Anak Sebagai Manusia Manusia yang lahir dalam keadaan serba lemah. Ia belum dapat berdiri sendiri, belum bisa mencari makan sendiri. Semuanya dalam keadaaan serba bergantung kepada orang lain. Walau demikian dia telah menunjukkan keunikannya kendati dalam takaran yang sederhana. Pada saat ia lahir di dalam kandungan ibunya ia
  3. 3. 10 telah mengekspresikan dirinya dalam bentuk tangis atau gerakan- gerakan tertentu. b. Manusia Dengan Sifat Kemanusiaannya Kegiatan mendidik adalah sifat khas yang dimiliki manusia. Immanuel Kant mengatakan “manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan”. Jadi jika manusia tak dididik maka ia tidak akan menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya. Hal ini telah terkenal luas dan dibenarkan oleh hasil penelitian terhadap ank terlantar yang dalam perkembangannya menjadi anak liar. c. Manusia Sebagai Mahluk Budaya Manusia dengan budi, rasa dan karsanya menciptakan kebudayaan. Agar manusia dapat hidupmenghayati dunia kebudayaaan tadi, manusia patut dilengkapi dengan nilai-nilai atau norma kebudayaan yang sepatutnya disampaikan dalam garapan pendidikan. Dengan demikian pendidikan pada hakikatnya adalah proses yang berkesinambungan yang mengangkat harkat dan martabat manusia dari dunia alam (the world of nature) menuju kehidupan yang bercirikan kebudayaan (the world of culture). Aliran kebudayaan dalam pendidikan ini dipeloporioleh Spranger, yang mengutamakan masalah penyampaian norma, nilai keagamaan, ilmu pengetahuan, serta kesenian. Ragam pemahaman tentang hakikat manusia adalah :
  4. 4. 10 a. Homo Sapiens Pemahaman hakikat manusia sebagai mahluk yang bijaksana dan dapat berfikir atau sebagai animal rationale. Hal ini disebabkan oleh kemampuan manusia yang memiliki akal, fikiran, rasio, daya nalar, cipta, rasa dan karsa. Sehingga manusia mampu mengembangkan dirinyasebagai manusia seutuhnya. b. Homo Faber pemahaman tentang hakikat manusia sebagai mahluk yang berpiranti (perkakas). Manusia dengan akal dan keterampilannya dapat menciptakan atau menghasilkan sesuatu sebagai produsen dan pada pihak lain ia juga menggunakan karya lain (konsumen) untuk kesejahteraan dan kemakmuran hidupnya. c. Homo Religious Pandangan tentang manusia dan hakikat manusia sebagai mahluk yang beragama, manusia diciptakan oleh Tuhan dimuka bumi ini sebagai mahluk yang sempurna. Melalui kesempurnaannya itulah manusia bisa berfikir, bertindak, dan menentukan mana yang baik dan benar. d. Homo Homini Socius Kendati sosok manusia sebagai mahluk individu, mahluk yang memiliki jati diri, yang memiliki ciri pembeda antara yang satu
  5. 5. 10 dengan yang lain, namun pada saat yang bersamaan manusia juga sebagai kawan social bagi mahluk yang lainnya e. Manusia Sebagai Mahkuk Etis Dan Estetis Hakikat manusia pada dasarnya sebagai mahluk yang memiliki kesadaran susila (etika) dalam arti ia dapat memahami norma- norma social dan mampu berbuat sesuai dengan norma dan kaidah etika yang diyakininya. Sedangkan makna estetis yaitu pemahaman tentang hakikat manusia sebagai mahluk yang memiliki rasa keindahan (sense of beauty) dan rasa estetika (sense of estetics). Sosok manusia yang memiliki cita, rasa dan dimensi keindahan estetika lainnya. Jadi, kenapa manusia membutuhkan pendidikan ? a. Anak manusia lahir dengan bermacam-macam potensi b. Agar potensi sebagai modal dasar dapat berkembang maka perlu bantuan, bimbingan, dan pengarahan dari orang-orang yang bertanggung jawab. c. Pendidikan bertujuan membantu mengembangkan potensi kearah yang lebih baik. d. Pendidikan tidak hanya berarti penyampaian pengetahuan tetapi merekomendasikan nilai-nilai.
  6. 6. 10 e. Manusia tidak akan menjadi manusia kalau tidak dibesarkan dalam lingkungan manusia. 2.2 Keharusan Manusia Sebagai Mahluk Yang Perlu Dididik Dan Mendidik Diri Ada berbagai pandangan yang menginterpretasikan manusia sebagai makhluk, baik makhluk social, individual, politik, berakal, berbicara, dan lain- lain. Dalam kajian ini erat kaitannya dengan permasalahan pendidikan yang mengasumsi- kan bahwa manusia harus dididik. Sebagaimana dijelaskan oleh Tatang Syaripudin (2008), dan MI.Soelaeman (1985) bahwa eksistensi manusia terpaut dengan masa lalunya sekaligus mengarah ke masa depan untuk mencapai tujuan hidupnya. Dengan demikian, manusia berada dalam perjalanan hidup, dalam perkembangan dan pengembangan diri. Ia adalah manusia tetapi sekaligus “belum selesai” mewujudkan dirinya sebagai manusia (prinsip historisitas). Bersamaan dengan hal di atas, dalam eksistensinya manusia mengemban tugas untuk menjadi manusia ideal. Sosok manusia ideal merupakan gambaran manusia yang dicita- citakan atau yang seharusnya. Sebab itu, sosok manusia ideal tersebut belum terwujudkan melainkan harus diupayakan untuk diwujudkan (prinsip idealitas). Permasalahan manusia, apakah ia harus dididik dan apakah manusia dapat dididik menyangkut permasalahan antropologi filsafi, yang mempersoalkan hakikat manusia itu sendiri, yaitu apakah manusia sebagai makhluk social, makhluk individual, makhluk ciptaan Tuhan YME, sebagai makhluk yang berakal, atau
  7. 7. 10 sebagai makhluk yang potensial. Persoalan ini akan memunculkan berbagai alternative jawaban dan tindakan manusia, yang salah satunya melalui pendidikan. Permasalahannya adalah apakah dengan tindakan pendidikan semua persoalan kehidupan manusia menjadi lengkap dan sempurna? Oleh karena itu, banyak para filosof yang berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang belum selesai, khususnya para filosof eksistensialisme. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Tatang Syaripudin baik dalam Tesis maupun dalam Landasan Pendidikan (1994, 208) bahwa “Manusia belum selesai menjadi manusia, ia dibebani keharusan untuk menjadi manusia, tetapi ia tidak dengan sendirinya menjadi manusia, untuk menjadi manusia ia perlu dididik dan mendidik diri. “Manusia dapat menjadi manusia hanya melalui pendidikan”, demikian kesimpulan Immanuel Kant dalam teori pendidikannya (Henderson, 1959). Pernyataan tersebut sejalan dengan hasil studi M.J. Langeveld yang memberikan identitas kepada manusia dengan sebutan Animal Educandum (M.J.Langeveld, 1980). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang membutuhkan penyempurnaan sebagai manusia melalui pendidikan, dan kebutuhan untuk mengembangkan dirinya melalui upaya yang terus menerus menggali potensi dengan proses mendidik diri. Dua prinsip ini yang oleh MJ. Langeveld disebut sebagai “Animal educandum dan Animal Educabile”. Selanjutnya Tatang Syaripudin (1994) menyatakan “ada tiga prinsip antropologis
  8. 8. 10 yang menjadi asumsi perlunya manusia mendapatkan pendidikan dan perlu mendidik diri, yaitu : a. prinsip historisitas, b. prinsip idealitas, dan c. prinsip posibilitas/aktualitas. 2.3 Manusia Sebagai Mahluk Yang Dapat Dididik Suatu fakta yang jarang orang mempertanyakan kembali tentang hakikatmanusia apakah harus dididik dan dapat dididik, karena ketidak pedulian orang atau keawaman orang terhadap permasalahan pendidikan. Para ahli pendidikan, kapanpun dan dimanapun akan berorientasi pada landasan filsafat antropologis yang memberikan pandangan tentang potensi-potensi manusia yang dapat dikembangkan melalui upaya pendidikan. Demikian pula, para ahli kedokteran dan fisiologi akan lebih berkonsentrasi pada upaya menyelidiki tentang berbagai rahasia yang ada pada fisik manusia, sehingga mampu menemukan berbagai obat atau metode penyembuhan sakit fisik manusia. Permasalahan apakah manusia akan dapat dididik ? Pertanyaan tersebut menuntut jawaban dengan prinsip-prinsip Antropologis apakah yang melandasinya. Berdasarkan itu, Tatang Syaripudin (1994), mengemukakan lima prinsip antropologis yang melandasi kemungkinan manusia akan dapat dididik, yaitu, prinsip potensialitas, prinsip dinamika, prinsip individualitas, prinsip sosialitas, dan prinsip moralitas. MI. Soelaeman (1984) mengemukakan 3 prinsip,
  9. 9. 10 yaitu ; prinsip, individualitas, sosialitas, dan moralitas. Sementara La Sulo (1994) mengemukakan 4 prinsip, yaitu prinsip individualitas, sosialitas, moralitas, dan prinsip keberagamaan. Prinsip keberagamaan tidak serta merta tercakup dalam prinsip moralitas, sebab ada moral yang bersumber dari filsafat atau bentuk- bentuk moral ilmu pengetahuan. Marilah kita ikuti uraian prinsip-prinsip antropologi yang dikemukakan oleh Tatang Syaripudin dalam Tesis (1994), dan Landasan Pendidikan (2008) berikut ini : a. Prinsip Potensialitas Pendidikan bertujuan agar seseorang menjadi manusia ideal. Sosok manusia ideal tersebut antara lain adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, bermoral/berakhlak mulia, cerdas, berperasaan, berkemauan, mampu berkarya, dst.. Di pihak lain, manusia memiliki berbagai potensi, yaitu: potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, potensi untuk mampu berbuat baik, potensi cipta, rasa, karsa, dan potensi karya. Sebab itu, manusia akan dapat dididik karena ia memiliki potensi untuk menjadi manusia ideal. b. Prinsip Dinamika Ditinjau dari sudut pendidik, pendidikan diupayakan dalam rangka membantu manusia (peserta didik) agar menjadi manusia ideal. Di pihak lain, manusia itu sendiri (peserta didik) memiliki dinamika untuk menjadi manusia ideal. Manusia selalu aktif baik
  10. 10. 10 dalam aspek fisiologik mau-pun spiritualnya. Ia selalu menginginkan dan mengejar sega-la hal yang lebih dari apa yang telah ada atau yang telah dicapainya. Ia berupaya untuk mengaktualisasikan diri agar menjadi manusia ideal, baik dalam rangka interaksi/komunikasinya secara horisontal maupun vertikal.. Karena itu dinamika manusia mengimplikasikan bahwa ia akan dapat didik. c. Prinsip Individualitas Praktek pendidikan merupakan upaya membantu manusia (peserta didik) yang antara lain diarahkan agar ia mampu menjadi dirinya sendiri. Dipihak lain, manusia (peserta didik) adalah individu yang memiliki ke-diri-sendirian (subyektivitas), bebas dan aktif berupaya untuk menjadi dirinya sendiri. Sebab itu, individualitas mengimplikasikan bahwa manusia akan dapat dididik. d. Prinsip Sosialitas Pendidikan berlangsung dalam pergaulan nteraksi / komunikasi) antar sesama manusia (pendidik dan peserta didik). Melalui pergaulan tersebut pengaruh pendidikan disampaikan pendidik dan diterima peserta dididik. Telah Anda pahami, hakikatnya manusia adalah makhluk sosial, ia hidup bersama dengan sesamanya. Dalam kehidupan bersama dengan sesamanya ini akan terjadi huhungan pengaruh timbal balik di mana setiap individu akan
  11. 11. 10 mene-rima pengaruh dari individu yang lainnya. Sebab itu, sosialitas mengimplikasikan bahwa manusia akan dapat dididik. e. Prinsip Moralitas Pendidikan bersifat normatif, artinya dilaksanakan berdasarkan sistem norma dan nilai tertentu. Di samping itu, pendidikan bertujuan agar manusia berakhlak mulia ; agar manusia berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang bersumber dari agama, masyarakat dan budayanya. Di pihak lain, manusia berdimensi moralitas, manusia mampu membedakan yang baik dan yang jahat. Sebab itu, dimensi moralitas mengimplikasikan bahwa manusia akan dapat dididik. f. Prinsip Keberagamaan/religiusitas Bagi umat beragama meyakini bahwa semua yang ada di alam semesta ini adalah diciptakan Tuhan Yang Maha Esa, ini berbeda denga aliran evolusionistik yang berargumen bahwa segala yang ada di dunia ini terjadi dengan sendirinya melalui proses panjang dengan hukum alam. Mereka lupa bahwa evolusi dari binatang tidak semua mencapai kesempurnaan, sementara evolusi manusia menuju ke kesempurnaan. Ada dua atau lebih proses evolusi, dimana ada yang menuju ke kehancuran dan ada yang tidak berevolusi, dan ada yang ke kesempurnaan/ keunggulan.
  12. 12. 10 Atas dasar berbagai asumsi di atas, jelas kiranya bahwa manusia akan dapat dididik, sehubungan dengan ini M.J. Langeveld (1980) memberikan identitas kepada manusia sebagai “Animal Educabile”. Dengan mengacu pada asumsi ini diharapkan kita tetap sabar dan tabah dalam melaksanakan pendidikan. Andaikan saja Anda telah melaksanakan upaya pendidikan, sementara peserta didik belum dapat mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, Anda seyogyanya tetap sabar dan tabah untuk tetap mendidiknya. Dalam konteks ini, Anda justru perlu introspeksi diri, barangkali saja terjadi kesalahan- kesalahan. Demikianlah prinsip-prinsip yang melandasi perlunya anak manusia mendapat bantuan pendidikan, yang tentunya tidak mengabaikan prinsip-prinsip antropologis lainnya selama prinsip tersebut memperkuat kaidah-kaidah pentingnya pendidikan bagi manusia.
  13. 13. 10 BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan Alat peraga adalah alay yang biasa digunakan dalam proses pembelajaran yang bertujuan untum memperjelas maksud dan tujuan suatu hal yang dijelaskan oleh guru. Alat peraga memiliki banyak fungsi dan daya tarik dalam kegiatan belajar mengajar, oleh karena itu penggunaan alat peraga sangat membantu dalam proses belajar, selain karna menggunakannya mudah biaya yang dibutuhkan pun murah. 3.2 Saran Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki saat ini, karena dengan bersyukur bisa menentramkan dan mendamaikan jiwa. Jika apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang kita capai maka bersabarlah dan terus berjuang.
  14. 14. 10 DAFTAR PUSTAKA Wahyudin Dinn, Dkk. (2003). Pengantar Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka. http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEDAGOGIK/195009081981011Y. _SUYITNO/FILSAFAT_PENDIDIKAN_Utama_I.pdf (Diakses tanggal 08 Oktober 20013 )
  15. 15. 10
  16. 16. 10

×