MAKALAH 
WAKAF 
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas 
Pada Mata Kuliah Manajemen Zakat dan Wakaf 
Dosen Pengampu: Abdul Hamid, M. A 
Oleh: 
1. Amalia (2013111051) 
2. Khasmita Farkhatunnajah (2013112173) 
3. Eka Widya Rahmawati (2013112187) 
4. Zuhrofial Imaniah (2013112191) 
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH 
JURUSAN SYARIAH 
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) 
PEKALONGAN 
2014
BAB I 
PENDAHULUAN 
2 
A. Latar Belakang Masalah 
Islam merupakan agama yang membebaskan umatnya untuk mencari 
kekayaan, namun Islam juga memperhatikan kemaslahatan umum. Selain itu 
keadilan dan pemerataan harta tidak kalah penting juga dalam Islam. Meskipun 
demikian Islam tetap mengakui hak milik pribadi dan meninggikan derajat orang-orang 
yang bekerja. Hanya saja dalam setiap harta seseorang itu terdapat hak 
orang lain. Oleh karena itu, Islam mengenalkan konsep filantropi yang tidak lain 
tujuannya untuk mensejahterakan antar sesama. 
Konsep filantropi sebenarnya sudah dikenalkan sejak masa Rasulullah.Salah 
satu instrumen filantropi ialah wakaf. Banyak ayat dan hadist yang menegaskan 
pentingnya berderma kepada sesama manusia. Meskipun Al- Quran dan hadist 
tidak secara tegas mengaturnya, namun secara tersirat perintah untuk melakukan 
wakaf ada di dalamnya. 
Masalahnya masyarakat kurang begitu memahami tentang wakaf. Tidak 
sedikit dari mereka yang memahami bahwa cara mereka mendermakan hartanya 
hanya sebatas zakat dan sedekah lainnya.Padahal wakaf pun merupakan sedekah 
sunnah yang juga dianjurkan oleh Nabi saw.Oleh karena itu, penulis ingin 
memberikan sedikit pemahaman tentang wakaf, khususnya bagi kalangan terdidik 
dimana nantinya mereka diharapkan dapat mentransfer pengetahuannya (tentang 
wakaf) kepada masyarakat umumnya. 
B. Rumusan Masalah 
1. Apa yang dimaksud wakaf? 
2. Bagaimana pandangan para ulama fiqih terkait wakaf? 
3. Apa sebenarnya filosofi wakaf? 
4. Apa saja rukun dan syarat wakaf? 
5. Apa saja macam-macam wakaf?
BAB II 
PEMBAHASAN 
3 
A. Definisi Wakaf 
Menurut Adjah Al Alabij kata wakaf berasal dari waqafa (fiil madhi), yaqifu 
(fiil mudhari’) dan waqfan (isim masdar) yang berarti berhenti atau berdiri. 
Wakaf juga dapat berarti menahan, menghentikan atau mengekang. Sedangkan 
menurut arti bahasa wakaf berarti habs atau menahan. Oleh karena itu, dalam 
kitab-kitab Fiqh Mazhab Maliki lebih banyak digunakan kata habs yang artinya 
sama dengan wakaf. 
Menurut Muhammad Daud Ali perkataan wakaf berasal dari kata kerja 
bahasa Arab Waqafa yang berarti menghentikan, berdiam di tempat atau menahan 
sesuatu. Pengertian menghentikan ini jika dihubungkan dengan ilmu tajwid 
mengandung arti menghentikan bacaan, baik seterusnya maupun untuk 
mengambil nafas sementara. Menurut aturannya seorang pembaca diharuskan 
untuk berhenti pada akhir kata di penghujung ayat agar bacaannya sempurna. 
Pengertian wakaf dalam makna berdiam di tempat, dikaitkan dengan wuquf di 
padang Arafah (ketika beribadah haji)1. 
Dalam sumber lain, para ulama berpendapat bahwa wakaf merupakan 
bagian dari perintah untuk melakukan al-khayr (secara harfiah berarti kebaikan). 
Dasarnya adalah firman Allah swt: 
.... 
 
2. 
“...dan berbuatlah kebajikan agar kamu memperoleh kemenangan.” 
Taqiy al-Din Abi Bakr Ibn Muhammad al-Husaini al-Dimasqi menafsirkan 
bahwa perintah untuk melakukan al-khayr berarti perintah untuk melakukan 
wakaf 3. 
 
 
 
1 Abdurrahman, Masalah Perwakafan Tanah Milik dan Kedudukan Tanah Wakaf di Negara Kita 
(Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1994), h.16. 
2QS. Al -Hajj (22): 77. 
3Jaih Mubarok, Wakaf Produktif, cet. ke-1 (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2008), h. 7.
 
.4 
“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan 
(tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat 
untuk ibu-bapak dankarib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban 
atas orang-orang yang bertakwa.” 
Dalam ayat tersebut, kata al-khayr diartikan dengan harta benda. Oleh 
karena itu perintah melakukan al-khayr berarti perintah untuk melakukan ibadah 
bendawi. Dengan demikian, wakaf sebagai ibadah kebendaan berakar pada al-khayr. 
Selanjutnya, wakaf menurut istilah syara’ merupakan sejenis pemberian 
yang pelaksanaannya dilakukan dengan jalan menahan (pemilikan) asal (tahbisul 
ashli), lalu menjadikan manfaatnya berlaku umum. Yang dimaksud tahbisul ashli 
adalah menahan barang yang diwakafkan itu agar tidak diwariskan, dijual, 
dihibahkan, digadaikan, disewakan dan sejenisnya. Sedangkan pemanfaatanya 
sesuai dengan kehendak pemberi wakaf tanpa imbalan5. 
Menurut rumusan Kompilasi Hukum Islam (KHI) wakaf adalah perbuatan 
hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan 
sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya guna 
kepentingan ibadat atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam.6 
Namun para ahli fiqih saling berbeda pendapat dalam mengartikan hakikat 
wakaf lebih rinci baik ditinjau dari aspek kontinyuitas waktu (ikrar), dzat yang 
diwakafkan (benda wakaf), pola pemberdayaan maupun terkait pemanfaatan harta 
wakaf. Berikut ini merupakan pandangan para ulama terkait wacana tersebut. 
1. Imam Abu Hanifah 
Wakaf adalah penahanan benda atas milik orang yang berwakaf dan 
mendermakan (mensedekahkan) manfaatnya untuk tujuan kebaikan pada masa 
sekarang dan masa yang akan datang. 
Menurutnya, suatu harta yang telah diwakafkan tidak terlepas dari 
pemilikan si Waqif bahkan ia boleh menariknya kembali dan ia boleh menjualnya. 
Karena wakaf itu hukumnya jaiz, tidak wajib dan sama halnya dengan pinjam-meminjam 
(‘ariyah).7 Jika si Waqif wafat, maka harta wakaf itu menjadi harta 
warisan bagi ahli warisnya. Jadi yang timbul dari wakaf hanyalah sebatas 
manfaatnya. Misalnya, wakaf buah kelapa. 
4QS. Al -Baqarah (2): 180. 
5Tim Bimas dan Penyelenggaraan Haji DEPAG RI , Paradigma Baru Wakaf di Indonesia (Jakarta: 
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Departemen 
Agama RI, 2007), h. 1. 
6KHI Pasal 25 ayat 1. 
7Abdul Halim, Hukum Perwakafan di Indonesia, cet. ke-1 (Ciputat: Ciputat Press, 2005), h. 9. 
4
5 
2. Imam Malik 
Mazhab ini berpendapat bahwa wakaf itu tidak melepaskan harta yang 
diwakafkan dari kepemilikan Waqif, namun wakaf tersebut mencegah 
Waqifmelakukan tindakan yang dapat melepaskan kepemilikannya atas harta 
tersebut kepada yang lain, dan Waqif berkewajiban menyedekahkan manfaatnya 
serta tidak boleh menarik kembali wakafnya. Wakaf dilakukan untuk masa 
tertentu sesuai dengan keinginan pemilik. Dengan kata lain, pemilik harta 
menahan benda itu dari penggunaan secara pemilikan, tetapi membolehkan 
pemanfaatan hasilnya untuk tujuan kebaikan dan berlaku untuk suatu masa 
tertentu. 
3. Imam Syafi’i dan Ahmad bin Hambal 
Menurut mereka wakaf adalah melepaskan harta yang diwakafkan dari 
kepemilikan Waqif, setelah sempurna prosedur perwakafan. Waqif tidak 
diperbolehkan melakukan apa saja terhadap harta yang diwakafkannya. Jika Waqif 
wafat, maka harta wakaf tidak bisa diwarisi ahli waris. Selain itu, Waqif tidak 
dapat melarang penyaluran sumbangannya tersebut karena manfaat harta yang 
diwakafkan tersebut telah menjadi sedekah bagi mauquf ‘alaih secara mengikat. 
Oleh karena itu mazhab Syafi’i mendefinisikan wakaf adalah: “ Tidak melakukan 
suatu tindakan atas suatu benda, yang berstatus sebagai milik Allah swt, dengan 
menyedekahkan manfaatnya kepada suatu kebajikan (sosial)”. 
4. Mazhab Imamiyah 
Mazhab ini sama dengan mazhab ketiga, hanya saja ia berbeda dari segi 
kepemilikan atas benda yang diwakafkan yaitu menjadi milik mauquf ‘alaih, 
meskipun mauquf ‘alaih tidak berhak melakukan suatu tindakan atas benda wakaf 
tersebut.8 
Demikian merupakan definisi dari para ulama fiqih. Keragaman arti wakaf 
terjadi karena tidak adanya kata wakaf yang eksplisit dalam Al-Quran dan hadist. 
Hal ini menunjukkan bahwa wilayah ijitihadi dalam bidang wakaf lebih besar dari 
pada wilayah tawfiqi. 
B. Filosofi Wakaf 
Wakaf merupakan bagian dari ibadah kebendaan dalam Islam sehingga 
konsep wakaf berhubungan dengan konsep harta dalam Islam.Ibadah bendawi 
dianggap baik oleh semua orang, baik penganut agama maupun orang-orang yang 
tidak beragama. Meskipun demikian, wakaf untuk kepentingan umum secara 
empiris ada dua, yaitu wakaf yang berguna bagi semua orang (baik muslim 
maupun non-muslim), seperti wakaf tanah untuk jalan dan wakaf yang hanya 
dipergunakan oleh umat Islam seperti wakaf untuk masjid9. 
8Tim Bimas dan Penyelenggaraan Haji DEPAG RI, Op. Cit., h. 2-4. 
9Jaih Mubarok, Op. Cit., h.8.
Dalam sebuah hadist, wakaf disebut sebagai sedekah jariyah. Dalam 
perspektif ini wakaf dianggap sebagai bagian dari sedekah. Wakaf merupakan 
sedekah sunnah yang tidak pernah terputus pahalanya walaupun pihak yang 
menyedekahkannya telah meninggal dunia.Hadist Nabi saw. : 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عَنْ ه أَ ن رَسُولَ اَ للَِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : 
) إِذَا مَاتَ اَلِْْنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِ لَّ مِنْ ثلَََثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أوَْ عِلْمٍ 
يُنْتفََعُ بِهِ، أوَْ وَلَدٍ صَالَحٍ يَدْعُو لَهُ ( رَوَاهُ مُسْلِم Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi 
wa Sallam bersabda: "Apabila ada orang meninggal dunia terputuslah 
amalnya kecuali dari tiga hal, yaitu: Sedekah jariyah (yang mengalir), atau 
ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakan untuknya." Riwayat 
Muslim.10 
Awal mula munculnya istilah wakaf memang sulit ditemukan, karena tidak 
ada pernyataan secara tegas dalam buku-buku fiqih. Akan tetapi, secara tidak 
langsung dapat dikatakan bahwa istilah wakaf belum dikenal sebelum Islam lahir. 
Di kalangan fuqaha terdapat dua pendapat siapa yang mempraktikkan 
syari’at wakaf. Pertama, sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi saw. yang 
mempraktikkan wakaf pertama kali, yaitu ketika beliau mewakafkan tanahnya 
untuk dibangun masjid. Argumentasi pendapat ulama ini berdasarkan hadist yang 
diriwayatkan oleh Umar bin Syabah dari ‘Amr bin Sa’ad bin Mu’ad, ia berkata: 
وَرُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ شَبَةْ عَنْ عُمَرَ بْنِ سَعْدِ بْنِ مُعَادٍ قَالَ : سَألَْنَا عَنْ 
أَ ولِ حَبْسٍ فِي الَِّْسْلََمِ فَقَالَ الْمُهَاجِرُوْنَ صَدَقَة عُمَرَ وَ قَالَ الََّْنْصَارُ 
صَدَقَة رَسُوْلِ ا للَِّ صَل ى ا للَُّ عَلَيْهِ وَسَل مِ . 
“Dan diriwayatkan dari Umar bin Syabah, dari Umar bin Sa’ad bin Mu’ad 
berkata: “ Kami bertanya tentang awal mula wakaf dalam Islam? Menurut 
orang-orang Muhajirin adalah wakafnya Umar, sedang menurut orang 
Anshor adalah wakafnya Nabi Muhammad saw.” 
Kedua, sebagian ulama menyatakan, asal mula disyari’atkannya ibadah 
wakaf dalam Islam ialah pada saat Umar bin Khattab menanyakan kepada 
Rasulullah tentang sebidang tanah di Khaibar. Rasulullah menyarankan agar ia 
mewakafkannya dan menyedekahkan hasilnya kepada orang yang membutuhkan , 
10Bulughul Maram, Bab XVII tentang Wakaf, Hadits ke-741. 
6
sedangkan bagi Nadzir (orang yang mengurus wakaf itu) diberi upah 
sekedarnya.11 Berikut ini hadist Nabi saw.: 
حَد ثَنَاقُتَيْبَةٌبْنُسَعِيْدًحَد ثَنَامُحَمّدٌبْنُعَبْدِاللهِالََّنْصَارِيُّحَد ثَنَاابْنُعَوْنِقالََنْبَانِينَافِعٌعَنْابْن عُمَ 
رَرَضِيَاللّهُعَنهُمَاأَنْعُمَرَبْن الْخَط ابِأصَابَأرْضًابِخَيْبَرَ ،فَأتََىالن بِي صَل ىاللّهُعَلَيْهِوَسَل مَيَسْت أمِرُ هُفِيْهَافَقَالَيَارَسُوْلََّللّهأِنِّي أصَُبْت أرَْضًابِخَيْبَرَلَمْ أصُِبْمَالَّ قَط أنْفَس عِ ندِيمِنْهُفَمَاتأَمُرُ 
بِهِقَالَِْنْ شِ ئ تَحَبَسْتأَصَْلَهَاوَتَصَد قْتَبِهَاقَالَفَتَصَد قَبِهَاعُمَرُأَن هُلََيُبَاعُوَ لََّيُوْهَبُوَلََّيُوْرَثُوَ 
تَصَد قَب هَافِيالفُقَرَاءِوَفِيالقُربَىوَفِيالرِّقَابِوَفِيسَبِيْلَِللّهِوَابْنِالس بِيلِوَال يَْفِلََجُنَاحَعَلَىمَ 
نْوَلِيَهَاأَنْيَأكُلَمِنْهَابِالْمَعْرُوْف وَيُطْ عِمَغَيْرَمُتَمَوِّلٍقَالَفَحَد ثْتُبِهِابْنِسِيْرِيْن غَيْرَمَتأَث لٍمَالًَّ . 
“Umar memperoleh sebidang tanah di khaibar, kemudian menghadap nabi. 
Ia mengatakan pada nabi, “saya mempunyai sebidang tanah di khaibar, saya 
belum pernah mendapat harta yang paling saya kagumi seperti itu, maka apakah 
yang engkau perintahkan?” Nabi menjawab: “bila kamu suk a, kamu tahan 
pokoknya; dan kamu sedekahkan hasilnya”. Kemudian Umar sedekah, tidak 
dijual, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan. Umar menyedekahkan pada fakir, 
kerabat, budak belian, sabilillah, ibnu sabil dan tamu, dan tidak berdosa bagi 
orang yang menguasai tanah itu memakan dari hasilnya dengan cara 
sepantasnya, dan memberikan makanan tanpa menyimpan harta untuk dirinya 
sendiri.”(Matan lain: Muslim 3085, Turmudzi 1296, Nasa’i 3546, Abi Daud 
2493, Ibnu Majah 2387, Ahmad 4379). 
7 
C. Rukun dan Syarat Wakaf 
Wakaf dinyatakan sah apabila telah terpenuhi rukun dan syaratnya. Rukun 
wakaf ada empat (4), yaitu: 
1. Waqif(Orang yang mewakafkan) 
Orang yang mewakafkan (Waqif) disyaratkan memiliki kecakapan hukum 
atau kamalulahliyah (legal competent) dalam membelanjakan hartanya. 
Kecakapan bertindak disini meliputi empat (4) kriteria, yaitu: 
a. Merdeka dan pemilik penuh dari harta yang diwakafkan, 
Wakaf yang dilakukan oleh hamba sahaya (budak) tidak sah, karena hamba 
sahaya tidak mempunyai hak milik, dirinya dan apa yang dimilikinya adalah 
kepunyaan tuannya. Namun, abu zahrah mengatakan bahwa para fuqaha 
11Tim Bimas dan Penyelenggaraan Haji DEPAG RI, Op. Cit., h. 8-9.
sepakat, budak itu boleh mewakafkan hartanya bila ada ijin dari tuannya, 
karena ia sebagai wakil darinya. Bahkan Adz-Dzahiri menetapkan bahwa 
budak dapat memiliki sesuatu yang diperoleh dengan jalan waris atau 
tabarru’. Bila ia dapat memiliki sesuatu berarti ia dapat pula membelanjakan 
miliknya itu. 
8 
b. Berakal sehat, 
Wakaf yang dilakukan oleh orang gila tidak sah hukumnya, sebab ia tidak 
berakal, tidak mumayyiz, dan tidak cakap melakukan akad serta tindakan 
lainnya. Demikian juga wakaf orang lemah mental (idiot), berubah akal 
karena faktor usia, sakit atau kecelakaan, hukumnya tidak sah karena 
akalnya tidak sempurna dan tidak cakap untuk menggugurkan hak miliknya. 
c. Dewasa (baligh), 
Wakaf yang dilakukan oleh anak yang belum dewasa (baligh), hukumnya 
tidak sah karena ia dipandang tidak cakap melakukan akad dan tidak cakap 
pula untuk menggugurkan hak miliknya. 
d. Tidak berada di bawah pengampuan. 
Orang yang berada dibawah pengampuan dipandang tidak cakap untuk 
berbuat kebaikan (tabarru’), maka wakaf yang dilakukan hukumnya tidak 
sah. Tetapi berdasarkan istihsan, wakaf orang yang berada di bawah 
pengampuan terhadap dirinya sendiri salama hidupnya hukumnya sah.12 
Menurut pasal 6 UU RI No. 41 tahun 2004 tentang wakaf, syarat Waqif 
perseorangan adalah dewasa, berakal sehat, tidak terhalang melakukan perbuatan 
hukum (tidak di bawah pengampuan), dan pemilik sah harta benda wakaf.13 
Sedangkan Waqif organisasi hanya dapat melakukan wakaf apabila memenuhi 
ketentuan organisasi untuk mewakafkan harta benda wakaf milik organisasi 
sesuai dengan anggaran dasar organisasi yang bersangkutan. Waqif badan hukum 
hanya dapat melakukan wakaf apabila memenuhi ketentuanbadan hukum untuk 
mewakafkan harta benda wakaf milik badan hukum sesuai dengan anggaran dasar 
badan hukum yang bersangkutan.14 
Namun, ada kalanya seseorang mewakafkan hartanya, tetapi wakaf tersebut 
tidak langsung terlaksana dan pelaksanaannya dikaitkan dengan kerelaan orang 
lain. Ada beberapa hukum wakaf yang berkaitan dengan masalah ini: 
a. Orang yang mempunyai hutang, maka hukum wakafnya sebagai berikut: 
12Tim Bimas dan Penyelenggaraan Haji DEPAG RI, Fiqih Wakaf (Jakarta: Direktorat Pemberdayaan 
Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Departemen Agama RI, 2007), h. 21 -23. 
13UU RI No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf, Bab II Pasal 6. 
14Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah, ed. I, cet. ke-1 (Jakarta: Kencana, 2012), h. 
358.
- Jika ia berada di bawah pengampuan karena hutang dan mewakafkan 
seluruh atau sebagian hartanya, sedangkan hutangnya meliputi seluruh harta 
yang dimiliki maka hukum wakafnya sah, tetapi pelaksanaannya tergantung 
pada kerelaan kreditur. Apabila kreditur merelakannya, maka wakaf dapat 
terlaksana sebab para kreditur telah menggugurkan hak mereka untuk 
membatalkan wakaf si debitur, tetapi jika mereka tidak merelakannya, maka 
wakaf tidak dapat dilaksanakan. Apabila hutang si Waqif tidak sampai 
meliputi seluruh harta yang dimiliki, maka wakafnya sah dan dapat 
terlaksana dengan kelebihan harta setelah dikurangi untuk melunasi hutang. 
- Jika ia berada di bawah pengampuan karena hutang ketika sedang 
menderita sakit parah dan mewakafkan seluruh atau sebagian hartanya, 
maka hukum wakafnya sama hukum wakaf orang yang dibawah 
pengampuan karena hutang, yakni wakafnya sah tetapi pelaksanaannya 
tergantung pada kerelaan para kreditur. Apabila setelah si Waqif meninggal 
dan para kreditur merelakannya, maka wakafnya dapat terlaksana, tetapi jika 
kreditur tidak merelakan, maka wakafnya tidak dapat dilaksanakan dan para 
kreditur berhak menuntut pembatalan semua wakaf si Waqif jika hutang si 
Waqif meliputi seluruh harta yang dimiliki, atau membatalkan sebagian 
wakaf sejumlah harta yang digunakan untuk melunasi hutang saja, apabila 
hutangnya tidak meliputi seluruh harta yang dimiliki. 
- Jika dia tidak di bawah pengampuan karena hutang dan mewakafkan 
seluruh atau sebagian hartanya ketika dalam keadaan sehat, maka wakafnya 
sah dan dapat dilaksanakan. Sebab tidak ada hak debitur, yang ada 
tergantung pada hak mereka pada tanggungannya saja. Dan kemungkinan 
bahwa setelah wakaf terjadi si debitur dapat melunasi semua hutangnya 
sebab dia masih sehat dan bisa mencari harta lagi. 
b. Apabila Waqif mewakafkan hartanya ketika sedang sakit parah (sakit yang 
mematikan). Jika ketika mewakafkan harta tersebut dia masih cakap untuk 
melakukan perbuatan baik (tabarru’), maka wakafnya sah dan dapat 
dilaksanakan selama dia masih hidup, sebab selama itu penyakitnya tidak 
bisa dihukumi sebagai penyakit kematian. Tetapi jika kemudian si Waqif 
meninggal karena penyakit yang diderita tersebut maka hukum wakafnya 
sebagai berikut: 
- Jika dia meninggal sebagai debitur, maka hukum wakafnya seperti dalam 
poin (a) sebelumnya. 
- Jika dia meninggal tidak sebagai debitur, maka hukum wakaf yang terjadi 
ketika dia sedang sakit seperti hukumnya wasiat. Yakni jika yang diberi 
wakaf bukan ahli warisnya dan harta yang diwakafkan tidak lebih dari 1/3 
hartanya, maka wakaf terlaksana hanya sebatas sepertiga hartanya saja, 
9
sedangkan selebihnya tergantung pada kerelaan ahli waris, sebab kelebihan 
dari sepertiga harta tersebut adalah hak milik mereka. 
- Jika yang diberi wakaf adalah ahli warisnya, maka pelaksanaan wakaf 
tergantung pada kerelaan ahli waris lainnya yang tidak menerima wakaf, 
baik wakafnya kurang dari sepertiga atau lebih dari harta yang ditinggalkan. 
Jika yang diberi wakaf sebagian ahli waris dan sebagian bukan, maka 
pelaksanaan wakaf yang diberikan kepada ahli waris tergantung pada 
kerelaan ahli waris lainnya, adapun kepada yang bukan ahli waris selama 
harta yang diwakafkan tidak lebih dari sepertiga hartanya maka 
perlaksanaan wakafnya tidak tergantung pada kerelaan ahli waris. 
Maksudnya ialah jika ahli waris (bukan Nadzir) merelakan , maka wakaf 
dapat dilaksanakan dan manfaatnya dapat dibagikan kepada semua 
Mauquf’alaih sesuai dengan syarat yang ada. Tetapi jika mereka tidak 
merelakan, wakaf tersebut tetap dibagikan kepada para Mauquf’alaih sesuai 
dengan syarat yang ada, hanya saja yang menjadi bagian ahli waris 
kemudian dibagikan kepada seluruh ahli waris (yang menjadi Nadzir dan 
yang bukan) sesuai dengan bagian masing-masing sesuai syara’.15 
2. Mauqufbih (barang atau harta yang diwakafkan) 
Syarat sahnya harta yang diwakafkan: 
a. Harta yang diwakafkan harus mutaqawwam yang menurut madzhab Hanafi 
adalah segala sesuatu yang dapat disimpan dan halal digunakan dalam 
keadaan normal (bukan keadaan darurat). Madzhab hanafi memandang tidak 
sah mewakafkan: 
- Sesuatu yang bukan harta, seperti mewakafkan manfaat dari rumah sewaan 
untuk ditempati 
- Harta yang tidak mutaqawwam, seperti buku-buku anti islam, karena dapat 
merusak islam. 
b. Harta yang diwakafkan harus diketahui dengan yakin sehingga tidak akan 
menimbulkan persengketaan. Sebagai contoh pada pernyataan wakaf yang 
berbunyi: ”saya mewakafkan sebagian tanah saya kepada orang-orang di 
kampung saya”, wakaf tersebut tidak sah karena kata sebagian dalam 
pernyataan ini membuat harta yang diwakafkan tidak jelas dan akan 
menimbulkan persengketaan. Para fakih tidak mensyaratkan agar benda 
tidak bergerak yang diwakafkan harus dijelaskan batas dan luasnya, jika 
batas dan luasnya diketahui dengan jelas. 
c. Harta yang diwakafkan milik penuh dan mengikat bagi Waqif ketika 
mewakafkannya. Untuk itu tidak sah mewakafkan sesuatu yang bukan milik 
Waqif, seperti contoh berikut: 
15Tim Bimas dan Penyelenggaraan Haji DEPAG RI, Op. Cit., h.23-26. 
10
1) A mewasiatkan pemberian rumah kepada B. Kemudian B 
mewakafkannya kepada C, sementara A masih hidup. Wakaf ini tidak 
sah, karena syarat sah kepemilikan pada wasiat adalah setelah yang 
berwasiat wafat. 
2) A membeli barang tidak bergerak. Kemudian A mewakafkannya 
kepada C sebelum meregistrasinya. Wakaf ini tidak sah, karena 
kepemilikan pada barang tidak bergerak belum sah secara hukum 
kecuali setelah diregistrasi. 
d. Terpisah bukan milik bersama (musya’). Milik bersama itu ada kalanya 
dapat dibagi, juga ada kalanya tidak dapat dibagi. 
1) Mewakafkan sebagian musya’ yang terdapat pada harta yang dapat 
dibagi. 
Muhammad berpendapat wakaf ini tidak boleh kecuali setelah dibagi 
dan diserahkan kepada yang diberi wakaf, karena menurutnya 
kesempurnaan wakaf mengharuskan penyerahan harta wakaf kepada 
yang diberi wakaf, artinya yang diberi wakaf menerimanya. Abu 
Yusuf berpendapat wakaf ini boleh meskipun belum dibagi dan 
diserahkan kepada yang diberi wakaf, karena menurutnya 
kesempurnaan wakaf tidak menuntut penyerahan harta wakaf kepada 
yang diberi wakaf. 
2) Mewakafkan sebagian musya’ untuk dijadikan masjid atau 
pemakaman tidaklah sah, kecuali apabila bagian yang diwakafkan 
tersebut dipisahkan dan ditetapkan batas-batasnya karena 
kebersamaan kepemilikannya menghambat pemanfaatannya sebagai 
sedekah karena Allah. 
3) Mewakafkan sebagian musya’ yang terdapat pada harta yang tidak 
dapat dibagi. 
Abu Yusuf dan Muhammad sepakat bahwa wakaf ini sah, karena 
kalau harta tersebut dipisah akan merusaknya, sehingga tidak mungkin 
memanfaatkannya menurut yang dimaksud. Untuk menghindari hal 
tersebut, mereka berpendapat boleh mewakafkannya tanpa merubah 
statusnya sebagai harta milik bersama, sedangkan cara 
pemanfaatannya disesuaikan dengan kondisinya. 
e. Syarat-syarat yang ditetapkan Waqif terkait harta wakaf untuk 
mengungkapkan keinginan pengelolaan wakafnya adalah sahih. Syarat yang 
sahih, yaitu semua syarat yang tidak melanggar prinsip wakaf dan tidak 
bertentangan dengan hukum wakaf, tidak menghambat kemashlahatan atau 
Mauquf’alaih dan tidak melanggar syariat. Contoh: 
11
1) Agar memulai penggunaan hasil wakaf untuk memelihara dan 
membangun wakaf itu sendiri. 
2) Agar pengurus yang dipilih adalah orang yang mampu memelihara 
12 
harta wakaf dengan baik.16 
Hukum syarat yang sahih dari Waqif adalah sah dan wajib dilaksanakan 
serta tidak boleh dilanggar, kecuali dalam keadaan darurat atau terdapat maslahah 
yang lebih utama. 
Bentuk-bentuk Benda Wakaf 
Pendapat ulama mengenai bentuk benda wakaf (wakaf benda bergerak dan 
benda tidak bergerak): 
a. Madzhab Hanafi berpendapat bahwa harta yang sah diwakafkan adalah: 
- Benda tidak bergerak karena memiliki sifat kekal dan memungkinkan 
dapat dimanfaatkan terus menerus. 
- Benda bergerak, jika memenuhi beberapa hal: 
Pertama, keadaan harta bergerak itu mengikuti benda tidak bergerak dan 
ini ada dua macam: 
1) Barang tersebut mempunyai hubungan dengan sifat diam di tempat 
dan tetap, misalnya bangunan dan pohon. Menurut ulama Hanafiyah, 
bangunan dan pohon termasuk benda bergerak yang bergantung pada 
benda tidak bergerak, 
2) Benda bergerak yang dipergunakan untuk membantu benda tidak 
bergerak, seperti alat untuk membajak, kerbau, yang dipergunakan 
bekerja. 
Kedua, kebolehan wakaf benda bergerak itu berdasarkan atsar yang 
membolehkan wakaf senjata dan binatang-binatang yang dipergunakan untuk 
perang. Sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Khalid bin Walid pernah 
mewakafkan senjatanyauntuk berperang di jalan Allah. 
Ketiga, wakaf benda bergerak itu mendatangkan pengetahuan seperti wakaf 
kitab-kitab dan mushaf. Menurut ulama Hanafiyah, untuk mengganti benda wakaf 
yang dikhawatirkan tidak kekal adalah memungkinkan kekalnya manfaat. 
Mewakafkan buku dan mushaf yang diambil adalah pengetahuannya, kasusnya 
sama seperti wakaf dinar dan dirham (uang). 
b. Menurut madzhab Syafi’i barang yang diwakafkan haruslah barang 
yang kekal manfaatnya, baik berupa barang tak bergerak, barang bergerak, 
maupun barang milik bersama. Kekal disini tergantung sifat benda itu 
sendiri. 
16Ibid., h. 31-36.
c. Madzhab Maliki berpendapat boleh mewakafkan benda bergerak, karena 
madzhab ini tidak mensyaratkan ta’bid (harus selama-lamanya) pada wakaf, 
bahkan menurut madzhab ini wakaf itu sah meskipun sementara.17 
13 
Kadar harta yang diwakafkan 
Di Mesir, sebelum Undang-Undang Wakaf Mesir (UUWM) belum diterapkan, 
Mesir menggunakan pendapat madzhab Hanafi mengenai kadar harta yang akan 
diwakafkan, yaitu harta yang akan diwakafkan tidak dibatasi dalam jumlah 
tertentu sebagai upaya menghargai keinginan Waqif, berapapun yang ingin 
diwakafkannya. Namun, dengan penerapan pendapat yang demikian dapat 
menimbulkan penyelewengan sebagian Waqif, seperti mewakafkan semua harta 
warisannya kepada kebijakan dan lain-lain tanpa memperhitungkan derita 
keluarga yang ditinggalkan. Dalam UUWM keinginan Waqif untuk mewakafkan 
seluruh hartanya kepada orang lain tidak dibenarkan, kecuali jika ketika Waqif 
wafat tidak mempunyai ahli waris dari keturunannya ayah ibunya, isteri atau 
isteri-isterinya. Apabila ketika Waqif wafat meninggalkan ahli waris dan 
mewakafkan harta kepadanya, maka wakafnya sah dan dapat dilaksanakan. Tetapi 
apabila ketika Waqif wafat meninggalkan ahli waris dan mewakafkan hartanya 
kepada yang bukan ahli warisnya, maka wakafnya tidak dapat dilaksanakan 
kecuali dalam batas 1/3 (sepertiga) dari jumlah harta warisannya, sedangkan 
sisanya sebanyak 2/3 (dua pertiga) diberikan kepada ahli warisnya. Konsep 
pembatasan harta yang ingin diwakafkan oleh seorang Waqif selaras dengan 
peraturan perundangan dalam intruksi presiden RI No.1 tahun 1999 tentang 
Kompilasi Hukum Islam (KHI) bab wasiat, pasal 201.18 
3. Mauqul’alaih(penerima wakaf) 
Yang dimaksud Mauquf’alaih adalah tujuan wakaf (peruntukan wakaf). 
Wakaf merupakan amal manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena 
itu, Mauquf’alaih (yang diberi wakaf) haruslah pihak kebajikan. Para ahli fikih 
sepakat bahwa kebajikan itulah yang membuat wakaf sebagai ibadah yang 
mendekatkan diri manusia kepada Tuhannya. Namun, terdapat perbedaan 
pendapat mengenai jenis ibadah disini: 
a. Madzhab Hanafi 
Madzhab ini mensyaratkan agar Mauquf’alaih (yang diberi wakaf) 
ditujukan untuk ibadah menurut pandangan islam.Karena itu: 
17Ibid. 
18Ibid., h. 39-40.
1) Sah wakaf orang islam kepada syi’ar islam dan pihak kebajikan, 
seperti rumah sakit, tempat penampungan dan sekolah. Sedangkan jika 
wakaf kepada selain syi’ar islam dan pihak kebajikan hukumnya tidak 
sah, seperti wakaf kepada klub judi. 
2) Sah wakaf non muslim kepada pihak kebajikan umum seperti tempat 
ibadah dalam pandangan islam seperti pembangunan masjid, bantuan 
kepada jamaah masjid dan lainnya. Sedangkan kepada selain pihak 
kebajikan umum dan tempat ibadah dalam pandangan agamanya 
seperti pembangunan gereja dan biaya pengurusan gereja hukumnya 
tidak sah. 
14 
b. Madzhab Maliki 
Madzhab ini mensyaratkan agar Mauquf’alaih (peruntukan wakaf) untuk 
ibadat menurut pandangan Waqif. Sah wakaf muslim kepada semua syi’ar islam 
dan badan-badan sosial umum dan tidak sah wakaf non muslim kepada masjid dan 
syi’ar islam. 
c. Madzhab Syafi’i dan Hambali 
Kedua madzhab ini mensyaratkan agar Mauquf’alaih adalah ibadat menurut 
pandangan islam saja, tanpa memandang keyakinan Waqif. Karena itu, sah wakaf 
muslim dan nonmuslim kepada badan-badan sosial seperti penampungan, tempat 
peristirahatan, badan kebajikan dalam islam seperti masjid. Dan tidak sah wakaf 
muslim dan non muslimkepada badan-badan sosial yang tidak sejalan dengan 
islam seperti gereja. 
Pada Pasal 22 dan 23 ditentukan peruntukkan wakaf dalam rangka 
mencapai tujuan dan fungsi wakaf 1 harta benda wakaf hanya dapat 
diperuntukkan bagi:19 
a. Sarana dan kegiatan ibadah 
b. Sarana dan kegiatan pendidikan serta kesehatan 
c. Bantun kepada fakir miskin anak terlantar, yatim piatu, 
beasiswa 
d. Kemajuan dan peningkatan ekonomi umat 
e. Kemajuan kesejahteraan umum lainnya yang tidak 
bertentangan dengan syariah dan peraturan perundang-undangan. 
Ahli fiqih dari madzhab syafi’i, membagi tempat penyaluran wakaf kepada 
dua bagian: 
1) Kepada orang tertentu (satu orang atau jamaah tertentu) 
19UU RI No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf, pasal 22-23.
Syaratnya ialah hendaklah penerima wakaf dapat memiliki harta yang 
diwakafkan kepadanya pada saat pemberian wakaf. Syarat tersebut membuka 
peluang penyaluran wakaf kepada anggota masyarakat yang cukup luas, baik 
individu maupun kelompok. Pembagiannya adalah sebagai berikut: 
a) Wakaf kepada diri sendiri 
Menurut Abu Yusuf , Ibnu Abi Laila, Ibnu Syubramah, sebagian ahli 
madzhab Syafi’i dan Hambali memperbolehkan Waqif mewakafkan kepada 
diri sendiri. Dalilnya ialah bahwa penetapan hak terhadap sesuatu sebagai 
wakaf tidak sama dengan penetapannya sebagai hak milik. Sebagai contoh 
seseorang berwakaf masjid dan ia sholat di masjid tersebut. Setiap Waqif 
dapat memanfaatkan wakafnya, tanpa menjadikannya sebagai syarat. 
Sedangkan menurut pendapat Muhammad, madzhab Maliki, mayoritas 
Syafi’i, dan mayoritas Hambali tidak membolehkannya. Dalil pendapat ini 
ialah bahwa seorang pemilik harta tidak dapat memilikkan apa yang telah 
dimilikinya kepada dirinya sendiri, karena ia telah memilikinya. Membuat 
sesuatu yang telah terjadi adalah mustahil. Penerapan pendapat ini akan 
menutup kemungkianan menjadikan wakaf sebagai tipu daya untuk 
melindungi kekayaan dari peralihan hak milik selama pemiliknya hidup. 
b) Wakaf kepada muslim atau muslimat tertentu, hukumnya adalah sah. 
c) Wakaf kepada non muslim tertentu 
Imam Nawawi mengatakan hukumnya sah jika wakaf kepada kafir dzimi, 
baik dari muslim maupun dari kafir dzimi juga. Sedangkan wakaf kepada kafir 
harbi dan orang murtad dari islam hukumnya tidak sah. 
d) Wakaf kepada pihak yang tidak mempuyai kecakapan untuk memiliki 
Sebagai contoh: 
- Wakaf kepada janin adalah tidak sah, karena janin tidak berhak 
15 
memiliki. 
- Wakaf kepada mayit (orang yang sudah mati) adalah tidak sah, karena 
tidak berhak memiliki. 
- Wakaf kepada hewan 
Para ahli fiqih madzhab syafi’i sepakat tidak sah wakaf kepada hewan yang 
tidak dimiliki orang tertentu, seperti burung yang masih hidup bebas di udara, 
karena hewan tidak dapat menjadi pemiliknya. Namun, jika hewan tersebut 
menjadi milik orang tertentu dan bukan liar, maka wakafnya sah. Walaupun ada 
juga yang berpendapat tidak sah. Maka dari perbedaan pendapat tersebut, Waqif 
dapat menyebutkan dalam pernyataan wakaf bahwa ia memberikan wakaf kepada 
pemiliknya. Dengan cara tersebut, maka makanan hewan dapat diambilkan dari 
harta wakaf. 
2) Kepada orang yang tidak tertentu
Penyaluran wakaf kepada pihak tidak tertentu adalah wakaf yang ditujukan 
untuk umum, bukan kepada pribadi-pribadi tertentu, sebagai contoh kepada pihak 
yang menderita kefakiran secara umum, masjid-masjid, sekolah-sekolah, dan 
sebagainya.20 
16 
4. Sighat Wakaf 
Sighat atau ikrar ialah pernyataan kehendak dari Waqif untuk mewakafkan 
tanah miliknya (pasal 1 angka 3). Sighat harus munjazah, harus menunjukkan 
terjadi dan terlaksananya wakaf seketika setelah sighat ijab diucapkan, diikrarkan 
atau ditulis. Tidak diikuti syarat palsu, syarat yang menodai dasar wakaf atau 
meniadakan hukumnya yaitu kelaziman dan keabadian. Ulama Nakliyah 
membolehkan wakaf diikuti suatu syarat dan tidak diikuti batasan waktu tertentu. 
Ulama Malikiyah berpendapat dibolehkan wakaf selama jangka waktu tertentu. 
Berdasarkan Pasal 17-21 UU Wakaf ditentukan bahwa ikrar wakaf 
dilaksanakan oleh Waqif kepada Nadzir di hadapan PPAIW dengan disaksikan 
oleh dua orang saksi. Ikrar Wakaf dinyatakan secara lisan dan/ atau tulisan serta 
dituangkan dalam akta ikrar wakaf oleh PPAIW.21 Jika Waqif tidak dapat 
melakukannya secara lisan atau tidak dapat hadir maka dapat diwakilkan 
kuasanya dengan surat kuasa yang diperkuat oleh dua orang saksi.22 Untuk dapat 
melakukan ikrar wakaf, Waqif atau kuasanya harus menyerahkan surat bukti 
kepemilikan atas harta benda wakaf kepada PPAIW.23 Saksi dalam ikrar wakaf 
harus memenuhi persyaratan:24 
a. Dewasa 
b. Beragama Islam 
c. Berakal sehat 
d. Tidak terhalang melakukan perbuatan hukum. 
Ikrar wakaf dituangkan dalam akta ikrar wakaf, yang memuat:25 
a. Nama dan identitas Waqif 
b. Nama dan identitas Nadzir 
c. Data dan keterangan harta benda wakaf 
d. Peruntukkan harta benda wakaf 
e. Jangka waktu wakaf. 
Di dalam pelaksanaan wakaf, para fuqaha sepakat bahwa orang yang 
berwakaf, ketika mewakafkan hartanya, harus membuat pernyataan (lafaz sighat). 
20Ibid., h. 46-53. 
21UU RI No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf, Pasal 17. 
22Ibid.,Pasal 18. 
23Ibid.,Pasal 19. 
24Ibid.,Pasal 20. 
25Ibid.,Pasal 21.
Para ulama membedakannya menjadi dua, yaitu lafaz sarih dan ghairu sarih atau 
kinayah. 
Lafaz sarih adalah lafaz yang di dalamnya terkandung kata-kata yang 
menunjuk kepada arti wakaf secara tegas, seperti kata-kata “aku wakafkan”, “aku 
tahan”, “aku jadikan di jalan Allah”. Sedangkan, lafaz ghairu sarih adalah lafaz 
yang mengandung konotasi lebih dari satu, misalnya kata-kata “aku sedekahkan”. 
Kata-kata sedekah itu mengandung arti zakat dan sedekah sunnah lainnya. 
Madzab Syafi’i berpendapat bahwa, suatu wakaf itu tidak sah kecuali 
dengan lafaz sarih dan lafaz kinayah. Akan tetapi, lafaz kinayah seperti kata “saya 
sedekahkan” itu harus diikuti tujuan wakaf yang bersifat umum, seperti fuqara. 
Jadi pernyataan seseorang “aku sedekahkan untuk fakir miskin” telah 
menunjukkan suatu keabsahan wakaf. 
Menurut madzab Hanafi, lafaz sighat itu adakalanya sarih dan adakalanya 
bukan sarih. Menurutnya, wakaf yang dinyatakan dengan sighat kinayah tidak 
sah, kecuali dengan empat syarat: 
a. Niat orang yang berwakaf 
b. Lafaz kinayah harus dipertegas atau diikuti oleh lafaz sarih, maka orang 
harus berkata “aku sedekahkan harta ini sebagai sedekah yang 
diwakafkan atau ditahan”. 
c. Lafaz kinayah itu telah disifati dengan sifat wakaf, seperti perkataan 
“aku sedekahkan harta ini dengan sedekah yang tidak boleh dijual, 
dihibahkan atau diwariskan.” 
d. Lafaz kinayah itu diqarinahkan dengan hukum wakaf, seperti 
pernyataan: “aku sedekahkan tanahku untuk si Fulan.” 
Madzab Hanafi menambahkan bahwa suatu wakaf itu sah juga dengan sikap 
atau perbuatan yang menunjukkan wakaf menurut kebiasaan. Jadi, seseorang tidak 
diharuskan mengucapkan lafaz sighat. 
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ulama sepakat tentang 
perlunya sighat wakaf (sarih atau kinayah). Ikrar wakaf menjadi penting sebagai 
bukti kita telah terikat secara hukum dan tidak berlaku semena-mena terhadap 
harta wakaf.26 
Penetapan peruntukkan wakaf ditentukan oleh Waqif. Jika Waqif tidak 
menetapkan peruntukkan harta wakaf, maka Nadzir dapat menentukannya sesuai 
tujuan dan fungsi wakaf.27 
5. Nadzir 
26Abdurrahman, Op.Cit., h.53-55. 
27Abd. Somad, Hukum Islam Penormaan Prinsip Syariah dalam Hukum Indonesia, cet. ke-1 
(Jakarta: Kencana, 2010), h. 376-378. 
17
Selain syarat dan rukun wakaf yang harus dipenuhi dalam perwakafan, 
kehadiran nadzir sebagai pihak yang diberikan kepercayaan dalam mengelola 
harta wakaf sangatlah penting. Para mujtahid tidak menjadikan nadzir sebagai 
salah satu rukun dan syarat wakaf namun para ulama sepakat bahwa Waqif harus 
menunjuk nadzir wakaf, baik bersifat perseorangan maupun kelembagaan, dengan 
tujuan agar harta wakaf tetap terjaga dan terurus, sehingga harta wakaf itu tidak 
sia-sia, terlebih jika wakaf produktif. Wakaf produktif memerlukan nadzir yang 
mampu melaksanakan tugas-tugasnya secara profesional dan bertanggung jawab 
agar dana wakaf tetap produktif. Berikut ini merupakan persyaratan nazhir 
wakaf:28 
18 
a. Syarat moral: 
1) Paham tentang hukum wakaf dan ZIS (zakat, infak, dan sedekah), baik 
dalam tinjauan syariah maupun perundang-undangan negara RI 
2) Jujur, amanah, dan adil sehingga dapat dipercaya dalam proses 
pengelolaan dan pentasharrufan kepada sasaran wakaf 
3) Tahan godaan, terutama menyangkut perkembangan usaha 
4) Punya kecerdasan, baik emosional maupun spiritual 
b. Syarat manajemen 
1) Mempunyai kapasitas dan kapabilitas yang baik dalam leadership 
2) Mempunyai kecerdasan secara intelektual, sosial, dan pemberdayaan 
3) Profesional dalam bidang pengelolaan harta 
c. Syarat bisnis 
1) Mempunyai ketajaman melihat peluang usaha 
2) Mempunyai kemampuan mengembangkan bisnis 
Menurut pasal 11 UU No. 41 tahun 2004 tentang wakaf, nadzir mempunyai 
tugas: 
a. Melakukan pengadministrasian harta benda wakaf 
b. Mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai dengan tujuan, 
fungsi dan peruntukannya. 
c. Mengawasi dan melindungi harta wakaf 
d. Melaporkan pelaksanaan tugas kepada Badan Wakaf Indonesia.29 
Disamping dibebani tugas yang merupakan kewajiban, nadzir juga diberi 
hak untuk memperoleh penghasilan yang layak sebagai imbalan atas jerih 
payahnya dalam mengelola harta wakaf. Menurut pasal 12 UU No. 41 tahun 2004, 
nazhir berhak menerima imbalan dari hasil bersih atas pengelolaan dan 
pengembangan harta wakaf yang besarnya tidak boleh melebihi 10 % (sepuluh 
28Tim Bimas dan Penyelenggaraan Haji DEPAG RI, Op. Cit., h. 61-63. 
29UU RI No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf, Bab II pasal 11.
persen).30 Pada pasal berikutnya, nadzir pun berhak mendapat pembinaan dari 
Menteri dan Badan Wakaf Indonesia. 
Karena peran yang dimiliki nadzir itulah, maka posisi nadzir menjadi sangat 
penting. Dengan demikian nadzir harus ditetapkan pada saat ikrar wakaf termasuk 
peruntukkan wakaf. Pengaturan demikian ditujukan untuk menertibkan 
perwakafan agar harta wakaf kekal manfaatnya dan secara administratif akan 
lebih baik. Selain itu, pengaturan seperti itu juga untuk menghindari atau 
setidaknya dapat memperkecil terjadinya sengketa yang berakibat hilangnya 
wakaf.31 
19 
D. Macam-macam Wakaf 
Secara umum wakaf terbagi menjadi dua, yaitu wakaf ahli (keluarga atau 
khusus) dan wakaf khayri (umum). Berikut ini akan diuraikan mengenai dua 
macam wakaf tersebut. 
1. Wakaf Ahli (Keluarga) 
Merupakan wakaf yang diperuntukkan khusus kepada orang-orang tertentu, 
seorang atau lebih, keluarga waqif atau bukan. Wakaf ini sah dan dilaksanakan 
oleh kaum muslimin. Yang berhak mengambil manfaat wakaf keluarga adalah 
orang-orang yang tersebut dalam pernyataan wakaf. Persoalan ketika anak 
keturunan Waqif tidak ada lagi yang mampu menggunakan buku-buku wakaf, atau 
anak keturunaannya punah maka harta wakaf itu dikembalikan kepada Allah dan 
digunakan untuk kepentingan yang sesuai dengan ketentuan Allah. Meskipun 
demikian, di Indonesia PP No.28 tahun 1977 secara tegas menyatakan bahwa 
wakaf keluarga tidak termasuk dalam ruang lingkupnya.32 Sehingga perlu 
dipikirkan untuk masa-masa yang akan datang. 
Selain itu, ditinjau dari segi manfaatnya dalam meningkatkan perekonomian 
umat, wakaf keluarga tidak memiliki peranan yang berarti bahkan keberadaannya 
tidak disetujui oleh sebagian fuqaha dan ulama lainnya. Muhammad Jawad 
Mughniyah misalnya, menganggap wakaf ini sebagai bid’ah dan tidak sesuai 
syara’ karena pada dasarnya tujuan wakaf adalah untuk kebajikan umum. 
Penggunaan barang atau harta untuk kepentingannya sendiri adalah suatu 
kewajaran dan tidak dapat diatasnamakan sebagai wakaf. 
Naziroeddin Rachmat mengemukakan bahwa wakaf kekeluargaan bukan 
tujuan yang sebenarnya dalam pembentukan harta-harta wakaf walaupun 
diperbolehkan dengan ukuran-ukuran yang terjadi dalam hadist yang diriwayatkan 
oleh Anas bin Malik, yaitu tanah perkebunan Bairuha yang diserahkan oleh 
30Abd. Somad, Op. Cit. 
31Farid Wadjdy dan Mursyid, Wakaf & Kesejahteraan Umat (Filantropi Islam yang Hampir 
Terlupakan), cet. ke-1 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h. 170. 
32PP RI No. 28 tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik.
Thalhah kepada Nabi untuk tempat peristirahatan. Jadi, Nabi hanya menjadikan 
tanah perkebunan Bairuha sebagai tempat peristirahatan, bukan untuk menumpuk 
kekayaan melainkan untuk keperluan orang banyak. Dengan demikian, sebaiknya 
wakaf keluarga dilebur menjadi wakaf untuk kepentingan orang banyak dengan 
mengganti kerugian kepada orang yang punya wakaf keluarga tersebut. 
2. Wakaf Khayri (Umum) 
Wakaf umum adalah wakaf yang sejak awal manfaatnya diperuntukkan bagi 
kepentingan umum tidak dikhususkan untuk orang-orang tertentu. Misalnya, 
mewakafkan sebidang tanah untuk masjid, sekolah dan rumah sakit. Pengelola 
wakaf untuk jenis ini biasanya diserahkan kepada ahli yang menguasai bidang 
sesuai dengan penggunaan wakaf tersebut. Dasar hukum wakaf khayri atau wakaf 
umum ini, ialah hadist yang menerangkan wakaf Umar bin Khattab. Dalam hadist 
ini disebut “pada jalan Allah”, memerdekakan budak, untuk fakir miskin dan 
untuk orang terlantar. Semua ini berhubungan dengan kepentingan umum. 
Wakaf umum inilah yang perlu digalakkan di Indonesia karena jika dikelola 
dengan baik bukan tidak mungkin kemiskinan di negara kita dapat dientaskan.33 
BAB III 
PENUTUP 
20 
Kesimpulan: 
Wakaf merupakan ibadah kebendaan dalam Islam. Ia merupakan salah satu 
instrumen filantropi, yakni bentuk kedermaan seseorang kepada sesamanya. 
Perintah wakaf memang tidak secara tegas ada dalam Al-Quran maupun Hadist, 
karena itulah wakaf termasuk dalam ranah ijtihad yang penafsirannya akan 
berbeda-beda. Namun, pada intinya wakaf merupakan sejenis pemberian yang 
telah Rasulullah ajarkan, dilakukan dengan cara memisahkan sebagian dari benda 
33Abdurrahman, Op.Cit., h. 59-65.
milik kita yang digunakan untuk kepentingan ibadah dan keperluan umum lainnya 
yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Peruntukan wakaf tidak hanya 
sebatas pada kepentingan peribadatan dan sosial saja, melainkan juga dapat 
diperuntukkan bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat. 
Dalam pelaksanaan wakaf terdapat rukun yang harus terpenuhi antara lain: 
Waqif (pemberi wakaf), Mauquf ‘alaih (penerima wakaf), Mauquf bih (harta 
wakaf), Sighat dan Nadzir (pengelola wakaf). 
Berkaitan dengan jenis-jenis wakaf, secara umum wakaf terbagi menjadi 
dua, yaitu: wakaf ahli (keluarga) dan wakaf khairi (umum). Dari kedua jenis 
wakaf ini, wakaf khairi (umum) lebih diutamakan karena tujuan utama dari wakaf 
adalah untuk kepentingan publik (umum). 
DAFTAR PUSTAKA 
Abdurrahman. 1994. Masalah Perwakafan Tanah Milik dan Kedudukan Tanah 
Wakaf di Negara Kita. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti. 
Bulughul Maram. Bab XVII tentang Wakaf. Hadits ke-741. 
Halim, Abdul dan Mhd. Rasidin (Eds). 2005. Hukum Perwakafan di Indonesia. 
21 
Ciputat: Ciputat Press. 
Halim. 2005. Hukum Perwakafan di Indonesia. Cet. ke-1. Ciputat: Ciputat Press.
Mardani. 2012. Fiqh Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah. Ed. I. Cet. ke-1 . 
22 
Jakarta: Kencana. 
PP RI No. 28 tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik. 
Republik Indonesia. 2004. UU RI No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Sekretariat 
Negara. Jakarta. 
Tim Bimas dan Penyelenggaraan Haji DEPAG RI. 2007. Fiqih Wakaf . Jakarta: 
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan 
Masyarakat Islam, Departemen Agama RI. 
.Paradigma Baru Wakaf di Indonesia. Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf, 
Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Departemen Agama RI. 
Wadjdy, Farid dan Mursyid. 2007. Wakaf & Kesejahteraan Umat (Filantropi 
Islam yang Hampir Terlupakan). Cet. ke-1 . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

wakaf

  • 1.
    MAKALAH WAKAF DiajukanUntuk Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah Manajemen Zakat dan Wakaf Dosen Pengampu: Abdul Hamid, M. A Oleh: 1. Amalia (2013111051) 2. Khasmita Farkhatunnajah (2013112173) 3. Eka Widya Rahmawati (2013112187) 4. Zuhrofial Imaniah (2013112191) PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH JURUSAN SYARIAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN 2014
  • 2.
    BAB I PENDAHULUAN 2 A. Latar Belakang Masalah Islam merupakan agama yang membebaskan umatnya untuk mencari kekayaan, namun Islam juga memperhatikan kemaslahatan umum. Selain itu keadilan dan pemerataan harta tidak kalah penting juga dalam Islam. Meskipun demikian Islam tetap mengakui hak milik pribadi dan meninggikan derajat orang-orang yang bekerja. Hanya saja dalam setiap harta seseorang itu terdapat hak orang lain. Oleh karena itu, Islam mengenalkan konsep filantropi yang tidak lain tujuannya untuk mensejahterakan antar sesama. Konsep filantropi sebenarnya sudah dikenalkan sejak masa Rasulullah.Salah satu instrumen filantropi ialah wakaf. Banyak ayat dan hadist yang menegaskan pentingnya berderma kepada sesama manusia. Meskipun Al- Quran dan hadist tidak secara tegas mengaturnya, namun secara tersirat perintah untuk melakukan wakaf ada di dalamnya. Masalahnya masyarakat kurang begitu memahami tentang wakaf. Tidak sedikit dari mereka yang memahami bahwa cara mereka mendermakan hartanya hanya sebatas zakat dan sedekah lainnya.Padahal wakaf pun merupakan sedekah sunnah yang juga dianjurkan oleh Nabi saw.Oleh karena itu, penulis ingin memberikan sedikit pemahaman tentang wakaf, khususnya bagi kalangan terdidik dimana nantinya mereka diharapkan dapat mentransfer pengetahuannya (tentang wakaf) kepada masyarakat umumnya. B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud wakaf? 2. Bagaimana pandangan para ulama fiqih terkait wakaf? 3. Apa sebenarnya filosofi wakaf? 4. Apa saja rukun dan syarat wakaf? 5. Apa saja macam-macam wakaf?
  • 3.
    BAB II PEMBAHASAN 3 A. Definisi Wakaf Menurut Adjah Al Alabij kata wakaf berasal dari waqafa (fiil madhi), yaqifu (fiil mudhari’) dan waqfan (isim masdar) yang berarti berhenti atau berdiri. Wakaf juga dapat berarti menahan, menghentikan atau mengekang. Sedangkan menurut arti bahasa wakaf berarti habs atau menahan. Oleh karena itu, dalam kitab-kitab Fiqh Mazhab Maliki lebih banyak digunakan kata habs yang artinya sama dengan wakaf. Menurut Muhammad Daud Ali perkataan wakaf berasal dari kata kerja bahasa Arab Waqafa yang berarti menghentikan, berdiam di tempat atau menahan sesuatu. Pengertian menghentikan ini jika dihubungkan dengan ilmu tajwid mengandung arti menghentikan bacaan, baik seterusnya maupun untuk mengambil nafas sementara. Menurut aturannya seorang pembaca diharuskan untuk berhenti pada akhir kata di penghujung ayat agar bacaannya sempurna. Pengertian wakaf dalam makna berdiam di tempat, dikaitkan dengan wuquf di padang Arafah (ketika beribadah haji)1. Dalam sumber lain, para ulama berpendapat bahwa wakaf merupakan bagian dari perintah untuk melakukan al-khayr (secara harfiah berarti kebaikan). Dasarnya adalah firman Allah swt: ....  2. “...dan berbuatlah kebajikan agar kamu memperoleh kemenangan.” Taqiy al-Din Abi Bakr Ibn Muhammad al-Husaini al-Dimasqi menafsirkan bahwa perintah untuk melakukan al-khayr berarti perintah untuk melakukan wakaf 3.    1 Abdurrahman, Masalah Perwakafan Tanah Milik dan Kedudukan Tanah Wakaf di Negara Kita (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1994), h.16. 2QS. Al -Hajj (22): 77. 3Jaih Mubarok, Wakaf Produktif, cet. ke-1 (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2008), h. 7.
  • 4.
     .4 “Diwajibkanatas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dankarib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” Dalam ayat tersebut, kata al-khayr diartikan dengan harta benda. Oleh karena itu perintah melakukan al-khayr berarti perintah untuk melakukan ibadah bendawi. Dengan demikian, wakaf sebagai ibadah kebendaan berakar pada al-khayr. Selanjutnya, wakaf menurut istilah syara’ merupakan sejenis pemberian yang pelaksanaannya dilakukan dengan jalan menahan (pemilikan) asal (tahbisul ashli), lalu menjadikan manfaatnya berlaku umum. Yang dimaksud tahbisul ashli adalah menahan barang yang diwakafkan itu agar tidak diwariskan, dijual, dihibahkan, digadaikan, disewakan dan sejenisnya. Sedangkan pemanfaatanya sesuai dengan kehendak pemberi wakaf tanpa imbalan5. Menurut rumusan Kompilasi Hukum Islam (KHI) wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadat atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam.6 Namun para ahli fiqih saling berbeda pendapat dalam mengartikan hakikat wakaf lebih rinci baik ditinjau dari aspek kontinyuitas waktu (ikrar), dzat yang diwakafkan (benda wakaf), pola pemberdayaan maupun terkait pemanfaatan harta wakaf. Berikut ini merupakan pandangan para ulama terkait wacana tersebut. 1. Imam Abu Hanifah Wakaf adalah penahanan benda atas milik orang yang berwakaf dan mendermakan (mensedekahkan) manfaatnya untuk tujuan kebaikan pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Menurutnya, suatu harta yang telah diwakafkan tidak terlepas dari pemilikan si Waqif bahkan ia boleh menariknya kembali dan ia boleh menjualnya. Karena wakaf itu hukumnya jaiz, tidak wajib dan sama halnya dengan pinjam-meminjam (‘ariyah).7 Jika si Waqif wafat, maka harta wakaf itu menjadi harta warisan bagi ahli warisnya. Jadi yang timbul dari wakaf hanyalah sebatas manfaatnya. Misalnya, wakaf buah kelapa. 4QS. Al -Baqarah (2): 180. 5Tim Bimas dan Penyelenggaraan Haji DEPAG RI , Paradigma Baru Wakaf di Indonesia (Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Departemen Agama RI, 2007), h. 1. 6KHI Pasal 25 ayat 1. 7Abdul Halim, Hukum Perwakafan di Indonesia, cet. ke-1 (Ciputat: Ciputat Press, 2005), h. 9. 4
  • 5.
    5 2. ImamMalik Mazhab ini berpendapat bahwa wakaf itu tidak melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan Waqif, namun wakaf tersebut mencegah Waqifmelakukan tindakan yang dapat melepaskan kepemilikannya atas harta tersebut kepada yang lain, dan Waqif berkewajiban menyedekahkan manfaatnya serta tidak boleh menarik kembali wakafnya. Wakaf dilakukan untuk masa tertentu sesuai dengan keinginan pemilik. Dengan kata lain, pemilik harta menahan benda itu dari penggunaan secara pemilikan, tetapi membolehkan pemanfaatan hasilnya untuk tujuan kebaikan dan berlaku untuk suatu masa tertentu. 3. Imam Syafi’i dan Ahmad bin Hambal Menurut mereka wakaf adalah melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan Waqif, setelah sempurna prosedur perwakafan. Waqif tidak diperbolehkan melakukan apa saja terhadap harta yang diwakafkannya. Jika Waqif wafat, maka harta wakaf tidak bisa diwarisi ahli waris. Selain itu, Waqif tidak dapat melarang penyaluran sumbangannya tersebut karena manfaat harta yang diwakafkan tersebut telah menjadi sedekah bagi mauquf ‘alaih secara mengikat. Oleh karena itu mazhab Syafi’i mendefinisikan wakaf adalah: “ Tidak melakukan suatu tindakan atas suatu benda, yang berstatus sebagai milik Allah swt, dengan menyedekahkan manfaatnya kepada suatu kebajikan (sosial)”. 4. Mazhab Imamiyah Mazhab ini sama dengan mazhab ketiga, hanya saja ia berbeda dari segi kepemilikan atas benda yang diwakafkan yaitu menjadi milik mauquf ‘alaih, meskipun mauquf ‘alaih tidak berhak melakukan suatu tindakan atas benda wakaf tersebut.8 Demikian merupakan definisi dari para ulama fiqih. Keragaman arti wakaf terjadi karena tidak adanya kata wakaf yang eksplisit dalam Al-Quran dan hadist. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah ijitihadi dalam bidang wakaf lebih besar dari pada wilayah tawfiqi. B. Filosofi Wakaf Wakaf merupakan bagian dari ibadah kebendaan dalam Islam sehingga konsep wakaf berhubungan dengan konsep harta dalam Islam.Ibadah bendawi dianggap baik oleh semua orang, baik penganut agama maupun orang-orang yang tidak beragama. Meskipun demikian, wakaf untuk kepentingan umum secara empiris ada dua, yaitu wakaf yang berguna bagi semua orang (baik muslim maupun non-muslim), seperti wakaf tanah untuk jalan dan wakaf yang hanya dipergunakan oleh umat Islam seperti wakaf untuk masjid9. 8Tim Bimas dan Penyelenggaraan Haji DEPAG RI, Op. Cit., h. 2-4. 9Jaih Mubarok, Op. Cit., h.8.
  • 6.
    Dalam sebuah hadist,wakaf disebut sebagai sedekah jariyah. Dalam perspektif ini wakaf dianggap sebagai bagian dari sedekah. Wakaf merupakan sedekah sunnah yang tidak pernah terputus pahalanya walaupun pihak yang menyedekahkannya telah meninggal dunia.Hadist Nabi saw. : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عَنْ ه أَ ن رَسُولَ اَ للَِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ) إِذَا مَاتَ اَلِْْنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِ لَّ مِنْ ثلَََثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أوَْ عِلْمٍ يُنْتفََعُ بِهِ، أوَْ وَلَدٍ صَالَحٍ يَدْعُو لَهُ ( رَوَاهُ مُسْلِم Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila ada orang meninggal dunia terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal, yaitu: Sedekah jariyah (yang mengalir), atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakan untuknya." Riwayat Muslim.10 Awal mula munculnya istilah wakaf memang sulit ditemukan, karena tidak ada pernyataan secara tegas dalam buku-buku fiqih. Akan tetapi, secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa istilah wakaf belum dikenal sebelum Islam lahir. Di kalangan fuqaha terdapat dua pendapat siapa yang mempraktikkan syari’at wakaf. Pertama, sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi saw. yang mempraktikkan wakaf pertama kali, yaitu ketika beliau mewakafkan tanahnya untuk dibangun masjid. Argumentasi pendapat ulama ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Umar bin Syabah dari ‘Amr bin Sa’ad bin Mu’ad, ia berkata: وَرُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ شَبَةْ عَنْ عُمَرَ بْنِ سَعْدِ بْنِ مُعَادٍ قَالَ : سَألَْنَا عَنْ أَ ولِ حَبْسٍ فِي الَِّْسْلََمِ فَقَالَ الْمُهَاجِرُوْنَ صَدَقَة عُمَرَ وَ قَالَ الََّْنْصَارُ صَدَقَة رَسُوْلِ ا للَِّ صَل ى ا للَُّ عَلَيْهِ وَسَل مِ . “Dan diriwayatkan dari Umar bin Syabah, dari Umar bin Sa’ad bin Mu’ad berkata: “ Kami bertanya tentang awal mula wakaf dalam Islam? Menurut orang-orang Muhajirin adalah wakafnya Umar, sedang menurut orang Anshor adalah wakafnya Nabi Muhammad saw.” Kedua, sebagian ulama menyatakan, asal mula disyari’atkannya ibadah wakaf dalam Islam ialah pada saat Umar bin Khattab menanyakan kepada Rasulullah tentang sebidang tanah di Khaibar. Rasulullah menyarankan agar ia mewakafkannya dan menyedekahkan hasilnya kepada orang yang membutuhkan , 10Bulughul Maram, Bab XVII tentang Wakaf, Hadits ke-741. 6
  • 7.
    sedangkan bagi Nadzir(orang yang mengurus wakaf itu) diberi upah sekedarnya.11 Berikut ini hadist Nabi saw.: حَد ثَنَاقُتَيْبَةٌبْنُسَعِيْدًحَد ثَنَامُحَمّدٌبْنُعَبْدِاللهِالََّنْصَارِيُّحَد ثَنَاابْنُعَوْنِقالََنْبَانِينَافِعٌعَنْابْن عُمَ رَرَضِيَاللّهُعَنهُمَاأَنْعُمَرَبْن الْخَط ابِأصَابَأرْضًابِخَيْبَرَ ،فَأتََىالن بِي صَل ىاللّهُعَلَيْهِوَسَل مَيَسْت أمِرُ هُفِيْهَافَقَالَيَارَسُوْلََّللّهأِنِّي أصَُبْت أرَْضًابِخَيْبَرَلَمْ أصُِبْمَالَّ قَط أنْفَس عِ ندِيمِنْهُفَمَاتأَمُرُ بِهِقَالَِْنْ شِ ئ تَحَبَسْتأَصَْلَهَاوَتَصَد قْتَبِهَاقَالَفَتَصَد قَبِهَاعُمَرُأَن هُلََيُبَاعُوَ لََّيُوْهَبُوَلََّيُوْرَثُوَ تَصَد قَب هَافِيالفُقَرَاءِوَفِيالقُربَىوَفِيالرِّقَابِوَفِيسَبِيْلَِللّهِوَابْنِالس بِيلِوَال يَْفِلََجُنَاحَعَلَىمَ نْوَلِيَهَاأَنْيَأكُلَمِنْهَابِالْمَعْرُوْف وَيُطْ عِمَغَيْرَمُتَمَوِّلٍقَالَفَحَد ثْتُبِهِابْنِسِيْرِيْن غَيْرَمَتأَث لٍمَالًَّ . “Umar memperoleh sebidang tanah di khaibar, kemudian menghadap nabi. Ia mengatakan pada nabi, “saya mempunyai sebidang tanah di khaibar, saya belum pernah mendapat harta yang paling saya kagumi seperti itu, maka apakah yang engkau perintahkan?” Nabi menjawab: “bila kamu suk a, kamu tahan pokoknya; dan kamu sedekahkan hasilnya”. Kemudian Umar sedekah, tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan. Umar menyedekahkan pada fakir, kerabat, budak belian, sabilillah, ibnu sabil dan tamu, dan tidak berdosa bagi orang yang menguasai tanah itu memakan dari hasilnya dengan cara sepantasnya, dan memberikan makanan tanpa menyimpan harta untuk dirinya sendiri.”(Matan lain: Muslim 3085, Turmudzi 1296, Nasa’i 3546, Abi Daud 2493, Ibnu Majah 2387, Ahmad 4379). 7 C. Rukun dan Syarat Wakaf Wakaf dinyatakan sah apabila telah terpenuhi rukun dan syaratnya. Rukun wakaf ada empat (4), yaitu: 1. Waqif(Orang yang mewakafkan) Orang yang mewakafkan (Waqif) disyaratkan memiliki kecakapan hukum atau kamalulahliyah (legal competent) dalam membelanjakan hartanya. Kecakapan bertindak disini meliputi empat (4) kriteria, yaitu: a. Merdeka dan pemilik penuh dari harta yang diwakafkan, Wakaf yang dilakukan oleh hamba sahaya (budak) tidak sah, karena hamba sahaya tidak mempunyai hak milik, dirinya dan apa yang dimilikinya adalah kepunyaan tuannya. Namun, abu zahrah mengatakan bahwa para fuqaha 11Tim Bimas dan Penyelenggaraan Haji DEPAG RI, Op. Cit., h. 8-9.
  • 8.
    sepakat, budak ituboleh mewakafkan hartanya bila ada ijin dari tuannya, karena ia sebagai wakil darinya. Bahkan Adz-Dzahiri menetapkan bahwa budak dapat memiliki sesuatu yang diperoleh dengan jalan waris atau tabarru’. Bila ia dapat memiliki sesuatu berarti ia dapat pula membelanjakan miliknya itu. 8 b. Berakal sehat, Wakaf yang dilakukan oleh orang gila tidak sah hukumnya, sebab ia tidak berakal, tidak mumayyiz, dan tidak cakap melakukan akad serta tindakan lainnya. Demikian juga wakaf orang lemah mental (idiot), berubah akal karena faktor usia, sakit atau kecelakaan, hukumnya tidak sah karena akalnya tidak sempurna dan tidak cakap untuk menggugurkan hak miliknya. c. Dewasa (baligh), Wakaf yang dilakukan oleh anak yang belum dewasa (baligh), hukumnya tidak sah karena ia dipandang tidak cakap melakukan akad dan tidak cakap pula untuk menggugurkan hak miliknya. d. Tidak berada di bawah pengampuan. Orang yang berada dibawah pengampuan dipandang tidak cakap untuk berbuat kebaikan (tabarru’), maka wakaf yang dilakukan hukumnya tidak sah. Tetapi berdasarkan istihsan, wakaf orang yang berada di bawah pengampuan terhadap dirinya sendiri salama hidupnya hukumnya sah.12 Menurut pasal 6 UU RI No. 41 tahun 2004 tentang wakaf, syarat Waqif perseorangan adalah dewasa, berakal sehat, tidak terhalang melakukan perbuatan hukum (tidak di bawah pengampuan), dan pemilik sah harta benda wakaf.13 Sedangkan Waqif organisasi hanya dapat melakukan wakaf apabila memenuhi ketentuan organisasi untuk mewakafkan harta benda wakaf milik organisasi sesuai dengan anggaran dasar organisasi yang bersangkutan. Waqif badan hukum hanya dapat melakukan wakaf apabila memenuhi ketentuanbadan hukum untuk mewakafkan harta benda wakaf milik badan hukum sesuai dengan anggaran dasar badan hukum yang bersangkutan.14 Namun, ada kalanya seseorang mewakafkan hartanya, tetapi wakaf tersebut tidak langsung terlaksana dan pelaksanaannya dikaitkan dengan kerelaan orang lain. Ada beberapa hukum wakaf yang berkaitan dengan masalah ini: a. Orang yang mempunyai hutang, maka hukum wakafnya sebagai berikut: 12Tim Bimas dan Penyelenggaraan Haji DEPAG RI, Fiqih Wakaf (Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Departemen Agama RI, 2007), h. 21 -23. 13UU RI No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf, Bab II Pasal 6. 14Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah, ed. I, cet. ke-1 (Jakarta: Kencana, 2012), h. 358.
  • 9.
    - Jika iaberada di bawah pengampuan karena hutang dan mewakafkan seluruh atau sebagian hartanya, sedangkan hutangnya meliputi seluruh harta yang dimiliki maka hukum wakafnya sah, tetapi pelaksanaannya tergantung pada kerelaan kreditur. Apabila kreditur merelakannya, maka wakaf dapat terlaksana sebab para kreditur telah menggugurkan hak mereka untuk membatalkan wakaf si debitur, tetapi jika mereka tidak merelakannya, maka wakaf tidak dapat dilaksanakan. Apabila hutang si Waqif tidak sampai meliputi seluruh harta yang dimiliki, maka wakafnya sah dan dapat terlaksana dengan kelebihan harta setelah dikurangi untuk melunasi hutang. - Jika ia berada di bawah pengampuan karena hutang ketika sedang menderita sakit parah dan mewakafkan seluruh atau sebagian hartanya, maka hukum wakafnya sama hukum wakaf orang yang dibawah pengampuan karena hutang, yakni wakafnya sah tetapi pelaksanaannya tergantung pada kerelaan para kreditur. Apabila setelah si Waqif meninggal dan para kreditur merelakannya, maka wakafnya dapat terlaksana, tetapi jika kreditur tidak merelakan, maka wakafnya tidak dapat dilaksanakan dan para kreditur berhak menuntut pembatalan semua wakaf si Waqif jika hutang si Waqif meliputi seluruh harta yang dimiliki, atau membatalkan sebagian wakaf sejumlah harta yang digunakan untuk melunasi hutang saja, apabila hutangnya tidak meliputi seluruh harta yang dimiliki. - Jika dia tidak di bawah pengampuan karena hutang dan mewakafkan seluruh atau sebagian hartanya ketika dalam keadaan sehat, maka wakafnya sah dan dapat dilaksanakan. Sebab tidak ada hak debitur, yang ada tergantung pada hak mereka pada tanggungannya saja. Dan kemungkinan bahwa setelah wakaf terjadi si debitur dapat melunasi semua hutangnya sebab dia masih sehat dan bisa mencari harta lagi. b. Apabila Waqif mewakafkan hartanya ketika sedang sakit parah (sakit yang mematikan). Jika ketika mewakafkan harta tersebut dia masih cakap untuk melakukan perbuatan baik (tabarru’), maka wakafnya sah dan dapat dilaksanakan selama dia masih hidup, sebab selama itu penyakitnya tidak bisa dihukumi sebagai penyakit kematian. Tetapi jika kemudian si Waqif meninggal karena penyakit yang diderita tersebut maka hukum wakafnya sebagai berikut: - Jika dia meninggal sebagai debitur, maka hukum wakafnya seperti dalam poin (a) sebelumnya. - Jika dia meninggal tidak sebagai debitur, maka hukum wakaf yang terjadi ketika dia sedang sakit seperti hukumnya wasiat. Yakni jika yang diberi wakaf bukan ahli warisnya dan harta yang diwakafkan tidak lebih dari 1/3 hartanya, maka wakaf terlaksana hanya sebatas sepertiga hartanya saja, 9
  • 10.
    sedangkan selebihnya tergantungpada kerelaan ahli waris, sebab kelebihan dari sepertiga harta tersebut adalah hak milik mereka. - Jika yang diberi wakaf adalah ahli warisnya, maka pelaksanaan wakaf tergantung pada kerelaan ahli waris lainnya yang tidak menerima wakaf, baik wakafnya kurang dari sepertiga atau lebih dari harta yang ditinggalkan. Jika yang diberi wakaf sebagian ahli waris dan sebagian bukan, maka pelaksanaan wakaf yang diberikan kepada ahli waris tergantung pada kerelaan ahli waris lainnya, adapun kepada yang bukan ahli waris selama harta yang diwakafkan tidak lebih dari sepertiga hartanya maka perlaksanaan wakafnya tidak tergantung pada kerelaan ahli waris. Maksudnya ialah jika ahli waris (bukan Nadzir) merelakan , maka wakaf dapat dilaksanakan dan manfaatnya dapat dibagikan kepada semua Mauquf’alaih sesuai dengan syarat yang ada. Tetapi jika mereka tidak merelakan, wakaf tersebut tetap dibagikan kepada para Mauquf’alaih sesuai dengan syarat yang ada, hanya saja yang menjadi bagian ahli waris kemudian dibagikan kepada seluruh ahli waris (yang menjadi Nadzir dan yang bukan) sesuai dengan bagian masing-masing sesuai syara’.15 2. Mauqufbih (barang atau harta yang diwakafkan) Syarat sahnya harta yang diwakafkan: a. Harta yang diwakafkan harus mutaqawwam yang menurut madzhab Hanafi adalah segala sesuatu yang dapat disimpan dan halal digunakan dalam keadaan normal (bukan keadaan darurat). Madzhab hanafi memandang tidak sah mewakafkan: - Sesuatu yang bukan harta, seperti mewakafkan manfaat dari rumah sewaan untuk ditempati - Harta yang tidak mutaqawwam, seperti buku-buku anti islam, karena dapat merusak islam. b. Harta yang diwakafkan harus diketahui dengan yakin sehingga tidak akan menimbulkan persengketaan. Sebagai contoh pada pernyataan wakaf yang berbunyi: ”saya mewakafkan sebagian tanah saya kepada orang-orang di kampung saya”, wakaf tersebut tidak sah karena kata sebagian dalam pernyataan ini membuat harta yang diwakafkan tidak jelas dan akan menimbulkan persengketaan. Para fakih tidak mensyaratkan agar benda tidak bergerak yang diwakafkan harus dijelaskan batas dan luasnya, jika batas dan luasnya diketahui dengan jelas. c. Harta yang diwakafkan milik penuh dan mengikat bagi Waqif ketika mewakafkannya. Untuk itu tidak sah mewakafkan sesuatu yang bukan milik Waqif, seperti contoh berikut: 15Tim Bimas dan Penyelenggaraan Haji DEPAG RI, Op. Cit., h.23-26. 10
  • 11.
    1) A mewasiatkanpemberian rumah kepada B. Kemudian B mewakafkannya kepada C, sementara A masih hidup. Wakaf ini tidak sah, karena syarat sah kepemilikan pada wasiat adalah setelah yang berwasiat wafat. 2) A membeli barang tidak bergerak. Kemudian A mewakafkannya kepada C sebelum meregistrasinya. Wakaf ini tidak sah, karena kepemilikan pada barang tidak bergerak belum sah secara hukum kecuali setelah diregistrasi. d. Terpisah bukan milik bersama (musya’). Milik bersama itu ada kalanya dapat dibagi, juga ada kalanya tidak dapat dibagi. 1) Mewakafkan sebagian musya’ yang terdapat pada harta yang dapat dibagi. Muhammad berpendapat wakaf ini tidak boleh kecuali setelah dibagi dan diserahkan kepada yang diberi wakaf, karena menurutnya kesempurnaan wakaf mengharuskan penyerahan harta wakaf kepada yang diberi wakaf, artinya yang diberi wakaf menerimanya. Abu Yusuf berpendapat wakaf ini boleh meskipun belum dibagi dan diserahkan kepada yang diberi wakaf, karena menurutnya kesempurnaan wakaf tidak menuntut penyerahan harta wakaf kepada yang diberi wakaf. 2) Mewakafkan sebagian musya’ untuk dijadikan masjid atau pemakaman tidaklah sah, kecuali apabila bagian yang diwakafkan tersebut dipisahkan dan ditetapkan batas-batasnya karena kebersamaan kepemilikannya menghambat pemanfaatannya sebagai sedekah karena Allah. 3) Mewakafkan sebagian musya’ yang terdapat pada harta yang tidak dapat dibagi. Abu Yusuf dan Muhammad sepakat bahwa wakaf ini sah, karena kalau harta tersebut dipisah akan merusaknya, sehingga tidak mungkin memanfaatkannya menurut yang dimaksud. Untuk menghindari hal tersebut, mereka berpendapat boleh mewakafkannya tanpa merubah statusnya sebagai harta milik bersama, sedangkan cara pemanfaatannya disesuaikan dengan kondisinya. e. Syarat-syarat yang ditetapkan Waqif terkait harta wakaf untuk mengungkapkan keinginan pengelolaan wakafnya adalah sahih. Syarat yang sahih, yaitu semua syarat yang tidak melanggar prinsip wakaf dan tidak bertentangan dengan hukum wakaf, tidak menghambat kemashlahatan atau Mauquf’alaih dan tidak melanggar syariat. Contoh: 11
  • 12.
    1) Agar memulaipenggunaan hasil wakaf untuk memelihara dan membangun wakaf itu sendiri. 2) Agar pengurus yang dipilih adalah orang yang mampu memelihara 12 harta wakaf dengan baik.16 Hukum syarat yang sahih dari Waqif adalah sah dan wajib dilaksanakan serta tidak boleh dilanggar, kecuali dalam keadaan darurat atau terdapat maslahah yang lebih utama. Bentuk-bentuk Benda Wakaf Pendapat ulama mengenai bentuk benda wakaf (wakaf benda bergerak dan benda tidak bergerak): a. Madzhab Hanafi berpendapat bahwa harta yang sah diwakafkan adalah: - Benda tidak bergerak karena memiliki sifat kekal dan memungkinkan dapat dimanfaatkan terus menerus. - Benda bergerak, jika memenuhi beberapa hal: Pertama, keadaan harta bergerak itu mengikuti benda tidak bergerak dan ini ada dua macam: 1) Barang tersebut mempunyai hubungan dengan sifat diam di tempat dan tetap, misalnya bangunan dan pohon. Menurut ulama Hanafiyah, bangunan dan pohon termasuk benda bergerak yang bergantung pada benda tidak bergerak, 2) Benda bergerak yang dipergunakan untuk membantu benda tidak bergerak, seperti alat untuk membajak, kerbau, yang dipergunakan bekerja. Kedua, kebolehan wakaf benda bergerak itu berdasarkan atsar yang membolehkan wakaf senjata dan binatang-binatang yang dipergunakan untuk perang. Sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Khalid bin Walid pernah mewakafkan senjatanyauntuk berperang di jalan Allah. Ketiga, wakaf benda bergerak itu mendatangkan pengetahuan seperti wakaf kitab-kitab dan mushaf. Menurut ulama Hanafiyah, untuk mengganti benda wakaf yang dikhawatirkan tidak kekal adalah memungkinkan kekalnya manfaat. Mewakafkan buku dan mushaf yang diambil adalah pengetahuannya, kasusnya sama seperti wakaf dinar dan dirham (uang). b. Menurut madzhab Syafi’i barang yang diwakafkan haruslah barang yang kekal manfaatnya, baik berupa barang tak bergerak, barang bergerak, maupun barang milik bersama. Kekal disini tergantung sifat benda itu sendiri. 16Ibid., h. 31-36.
  • 13.
    c. Madzhab Malikiberpendapat boleh mewakafkan benda bergerak, karena madzhab ini tidak mensyaratkan ta’bid (harus selama-lamanya) pada wakaf, bahkan menurut madzhab ini wakaf itu sah meskipun sementara.17 13 Kadar harta yang diwakafkan Di Mesir, sebelum Undang-Undang Wakaf Mesir (UUWM) belum diterapkan, Mesir menggunakan pendapat madzhab Hanafi mengenai kadar harta yang akan diwakafkan, yaitu harta yang akan diwakafkan tidak dibatasi dalam jumlah tertentu sebagai upaya menghargai keinginan Waqif, berapapun yang ingin diwakafkannya. Namun, dengan penerapan pendapat yang demikian dapat menimbulkan penyelewengan sebagian Waqif, seperti mewakafkan semua harta warisannya kepada kebijakan dan lain-lain tanpa memperhitungkan derita keluarga yang ditinggalkan. Dalam UUWM keinginan Waqif untuk mewakafkan seluruh hartanya kepada orang lain tidak dibenarkan, kecuali jika ketika Waqif wafat tidak mempunyai ahli waris dari keturunannya ayah ibunya, isteri atau isteri-isterinya. Apabila ketika Waqif wafat meninggalkan ahli waris dan mewakafkan harta kepadanya, maka wakafnya sah dan dapat dilaksanakan. Tetapi apabila ketika Waqif wafat meninggalkan ahli waris dan mewakafkan hartanya kepada yang bukan ahli warisnya, maka wakafnya tidak dapat dilaksanakan kecuali dalam batas 1/3 (sepertiga) dari jumlah harta warisannya, sedangkan sisanya sebanyak 2/3 (dua pertiga) diberikan kepada ahli warisnya. Konsep pembatasan harta yang ingin diwakafkan oleh seorang Waqif selaras dengan peraturan perundangan dalam intruksi presiden RI No.1 tahun 1999 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI) bab wasiat, pasal 201.18 3. Mauqul’alaih(penerima wakaf) Yang dimaksud Mauquf’alaih adalah tujuan wakaf (peruntukan wakaf). Wakaf merupakan amal manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, Mauquf’alaih (yang diberi wakaf) haruslah pihak kebajikan. Para ahli fikih sepakat bahwa kebajikan itulah yang membuat wakaf sebagai ibadah yang mendekatkan diri manusia kepada Tuhannya. Namun, terdapat perbedaan pendapat mengenai jenis ibadah disini: a. Madzhab Hanafi Madzhab ini mensyaratkan agar Mauquf’alaih (yang diberi wakaf) ditujukan untuk ibadah menurut pandangan islam.Karena itu: 17Ibid. 18Ibid., h. 39-40.
  • 14.
    1) Sah wakaforang islam kepada syi’ar islam dan pihak kebajikan, seperti rumah sakit, tempat penampungan dan sekolah. Sedangkan jika wakaf kepada selain syi’ar islam dan pihak kebajikan hukumnya tidak sah, seperti wakaf kepada klub judi. 2) Sah wakaf non muslim kepada pihak kebajikan umum seperti tempat ibadah dalam pandangan islam seperti pembangunan masjid, bantuan kepada jamaah masjid dan lainnya. Sedangkan kepada selain pihak kebajikan umum dan tempat ibadah dalam pandangan agamanya seperti pembangunan gereja dan biaya pengurusan gereja hukumnya tidak sah. 14 b. Madzhab Maliki Madzhab ini mensyaratkan agar Mauquf’alaih (peruntukan wakaf) untuk ibadat menurut pandangan Waqif. Sah wakaf muslim kepada semua syi’ar islam dan badan-badan sosial umum dan tidak sah wakaf non muslim kepada masjid dan syi’ar islam. c. Madzhab Syafi’i dan Hambali Kedua madzhab ini mensyaratkan agar Mauquf’alaih adalah ibadat menurut pandangan islam saja, tanpa memandang keyakinan Waqif. Karena itu, sah wakaf muslim dan nonmuslim kepada badan-badan sosial seperti penampungan, tempat peristirahatan, badan kebajikan dalam islam seperti masjid. Dan tidak sah wakaf muslim dan non muslimkepada badan-badan sosial yang tidak sejalan dengan islam seperti gereja. Pada Pasal 22 dan 23 ditentukan peruntukkan wakaf dalam rangka mencapai tujuan dan fungsi wakaf 1 harta benda wakaf hanya dapat diperuntukkan bagi:19 a. Sarana dan kegiatan ibadah b. Sarana dan kegiatan pendidikan serta kesehatan c. Bantun kepada fakir miskin anak terlantar, yatim piatu, beasiswa d. Kemajuan dan peningkatan ekonomi umat e. Kemajuan kesejahteraan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan syariah dan peraturan perundang-undangan. Ahli fiqih dari madzhab syafi’i, membagi tempat penyaluran wakaf kepada dua bagian: 1) Kepada orang tertentu (satu orang atau jamaah tertentu) 19UU RI No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf, pasal 22-23.
  • 15.
    Syaratnya ialah hendaklahpenerima wakaf dapat memiliki harta yang diwakafkan kepadanya pada saat pemberian wakaf. Syarat tersebut membuka peluang penyaluran wakaf kepada anggota masyarakat yang cukup luas, baik individu maupun kelompok. Pembagiannya adalah sebagai berikut: a) Wakaf kepada diri sendiri Menurut Abu Yusuf , Ibnu Abi Laila, Ibnu Syubramah, sebagian ahli madzhab Syafi’i dan Hambali memperbolehkan Waqif mewakafkan kepada diri sendiri. Dalilnya ialah bahwa penetapan hak terhadap sesuatu sebagai wakaf tidak sama dengan penetapannya sebagai hak milik. Sebagai contoh seseorang berwakaf masjid dan ia sholat di masjid tersebut. Setiap Waqif dapat memanfaatkan wakafnya, tanpa menjadikannya sebagai syarat. Sedangkan menurut pendapat Muhammad, madzhab Maliki, mayoritas Syafi’i, dan mayoritas Hambali tidak membolehkannya. Dalil pendapat ini ialah bahwa seorang pemilik harta tidak dapat memilikkan apa yang telah dimilikinya kepada dirinya sendiri, karena ia telah memilikinya. Membuat sesuatu yang telah terjadi adalah mustahil. Penerapan pendapat ini akan menutup kemungkianan menjadikan wakaf sebagai tipu daya untuk melindungi kekayaan dari peralihan hak milik selama pemiliknya hidup. b) Wakaf kepada muslim atau muslimat tertentu, hukumnya adalah sah. c) Wakaf kepada non muslim tertentu Imam Nawawi mengatakan hukumnya sah jika wakaf kepada kafir dzimi, baik dari muslim maupun dari kafir dzimi juga. Sedangkan wakaf kepada kafir harbi dan orang murtad dari islam hukumnya tidak sah. d) Wakaf kepada pihak yang tidak mempuyai kecakapan untuk memiliki Sebagai contoh: - Wakaf kepada janin adalah tidak sah, karena janin tidak berhak 15 memiliki. - Wakaf kepada mayit (orang yang sudah mati) adalah tidak sah, karena tidak berhak memiliki. - Wakaf kepada hewan Para ahli fiqih madzhab syafi’i sepakat tidak sah wakaf kepada hewan yang tidak dimiliki orang tertentu, seperti burung yang masih hidup bebas di udara, karena hewan tidak dapat menjadi pemiliknya. Namun, jika hewan tersebut menjadi milik orang tertentu dan bukan liar, maka wakafnya sah. Walaupun ada juga yang berpendapat tidak sah. Maka dari perbedaan pendapat tersebut, Waqif dapat menyebutkan dalam pernyataan wakaf bahwa ia memberikan wakaf kepada pemiliknya. Dengan cara tersebut, maka makanan hewan dapat diambilkan dari harta wakaf. 2) Kepada orang yang tidak tertentu
  • 16.
    Penyaluran wakaf kepadapihak tidak tertentu adalah wakaf yang ditujukan untuk umum, bukan kepada pribadi-pribadi tertentu, sebagai contoh kepada pihak yang menderita kefakiran secara umum, masjid-masjid, sekolah-sekolah, dan sebagainya.20 16 4. Sighat Wakaf Sighat atau ikrar ialah pernyataan kehendak dari Waqif untuk mewakafkan tanah miliknya (pasal 1 angka 3). Sighat harus munjazah, harus menunjukkan terjadi dan terlaksananya wakaf seketika setelah sighat ijab diucapkan, diikrarkan atau ditulis. Tidak diikuti syarat palsu, syarat yang menodai dasar wakaf atau meniadakan hukumnya yaitu kelaziman dan keabadian. Ulama Nakliyah membolehkan wakaf diikuti suatu syarat dan tidak diikuti batasan waktu tertentu. Ulama Malikiyah berpendapat dibolehkan wakaf selama jangka waktu tertentu. Berdasarkan Pasal 17-21 UU Wakaf ditentukan bahwa ikrar wakaf dilaksanakan oleh Waqif kepada Nadzir di hadapan PPAIW dengan disaksikan oleh dua orang saksi. Ikrar Wakaf dinyatakan secara lisan dan/ atau tulisan serta dituangkan dalam akta ikrar wakaf oleh PPAIW.21 Jika Waqif tidak dapat melakukannya secara lisan atau tidak dapat hadir maka dapat diwakilkan kuasanya dengan surat kuasa yang diperkuat oleh dua orang saksi.22 Untuk dapat melakukan ikrar wakaf, Waqif atau kuasanya harus menyerahkan surat bukti kepemilikan atas harta benda wakaf kepada PPAIW.23 Saksi dalam ikrar wakaf harus memenuhi persyaratan:24 a. Dewasa b. Beragama Islam c. Berakal sehat d. Tidak terhalang melakukan perbuatan hukum. Ikrar wakaf dituangkan dalam akta ikrar wakaf, yang memuat:25 a. Nama dan identitas Waqif b. Nama dan identitas Nadzir c. Data dan keterangan harta benda wakaf d. Peruntukkan harta benda wakaf e. Jangka waktu wakaf. Di dalam pelaksanaan wakaf, para fuqaha sepakat bahwa orang yang berwakaf, ketika mewakafkan hartanya, harus membuat pernyataan (lafaz sighat). 20Ibid., h. 46-53. 21UU RI No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf, Pasal 17. 22Ibid.,Pasal 18. 23Ibid.,Pasal 19. 24Ibid.,Pasal 20. 25Ibid.,Pasal 21.
  • 17.
    Para ulama membedakannyamenjadi dua, yaitu lafaz sarih dan ghairu sarih atau kinayah. Lafaz sarih adalah lafaz yang di dalamnya terkandung kata-kata yang menunjuk kepada arti wakaf secara tegas, seperti kata-kata “aku wakafkan”, “aku tahan”, “aku jadikan di jalan Allah”. Sedangkan, lafaz ghairu sarih adalah lafaz yang mengandung konotasi lebih dari satu, misalnya kata-kata “aku sedekahkan”. Kata-kata sedekah itu mengandung arti zakat dan sedekah sunnah lainnya. Madzab Syafi’i berpendapat bahwa, suatu wakaf itu tidak sah kecuali dengan lafaz sarih dan lafaz kinayah. Akan tetapi, lafaz kinayah seperti kata “saya sedekahkan” itu harus diikuti tujuan wakaf yang bersifat umum, seperti fuqara. Jadi pernyataan seseorang “aku sedekahkan untuk fakir miskin” telah menunjukkan suatu keabsahan wakaf. Menurut madzab Hanafi, lafaz sighat itu adakalanya sarih dan adakalanya bukan sarih. Menurutnya, wakaf yang dinyatakan dengan sighat kinayah tidak sah, kecuali dengan empat syarat: a. Niat orang yang berwakaf b. Lafaz kinayah harus dipertegas atau diikuti oleh lafaz sarih, maka orang harus berkata “aku sedekahkan harta ini sebagai sedekah yang diwakafkan atau ditahan”. c. Lafaz kinayah itu telah disifati dengan sifat wakaf, seperti perkataan “aku sedekahkan harta ini dengan sedekah yang tidak boleh dijual, dihibahkan atau diwariskan.” d. Lafaz kinayah itu diqarinahkan dengan hukum wakaf, seperti pernyataan: “aku sedekahkan tanahku untuk si Fulan.” Madzab Hanafi menambahkan bahwa suatu wakaf itu sah juga dengan sikap atau perbuatan yang menunjukkan wakaf menurut kebiasaan. Jadi, seseorang tidak diharuskan mengucapkan lafaz sighat. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ulama sepakat tentang perlunya sighat wakaf (sarih atau kinayah). Ikrar wakaf menjadi penting sebagai bukti kita telah terikat secara hukum dan tidak berlaku semena-mena terhadap harta wakaf.26 Penetapan peruntukkan wakaf ditentukan oleh Waqif. Jika Waqif tidak menetapkan peruntukkan harta wakaf, maka Nadzir dapat menentukannya sesuai tujuan dan fungsi wakaf.27 5. Nadzir 26Abdurrahman, Op.Cit., h.53-55. 27Abd. Somad, Hukum Islam Penormaan Prinsip Syariah dalam Hukum Indonesia, cet. ke-1 (Jakarta: Kencana, 2010), h. 376-378. 17
  • 18.
    Selain syarat danrukun wakaf yang harus dipenuhi dalam perwakafan, kehadiran nadzir sebagai pihak yang diberikan kepercayaan dalam mengelola harta wakaf sangatlah penting. Para mujtahid tidak menjadikan nadzir sebagai salah satu rukun dan syarat wakaf namun para ulama sepakat bahwa Waqif harus menunjuk nadzir wakaf, baik bersifat perseorangan maupun kelembagaan, dengan tujuan agar harta wakaf tetap terjaga dan terurus, sehingga harta wakaf itu tidak sia-sia, terlebih jika wakaf produktif. Wakaf produktif memerlukan nadzir yang mampu melaksanakan tugas-tugasnya secara profesional dan bertanggung jawab agar dana wakaf tetap produktif. Berikut ini merupakan persyaratan nazhir wakaf:28 18 a. Syarat moral: 1) Paham tentang hukum wakaf dan ZIS (zakat, infak, dan sedekah), baik dalam tinjauan syariah maupun perundang-undangan negara RI 2) Jujur, amanah, dan adil sehingga dapat dipercaya dalam proses pengelolaan dan pentasharrufan kepada sasaran wakaf 3) Tahan godaan, terutama menyangkut perkembangan usaha 4) Punya kecerdasan, baik emosional maupun spiritual b. Syarat manajemen 1) Mempunyai kapasitas dan kapabilitas yang baik dalam leadership 2) Mempunyai kecerdasan secara intelektual, sosial, dan pemberdayaan 3) Profesional dalam bidang pengelolaan harta c. Syarat bisnis 1) Mempunyai ketajaman melihat peluang usaha 2) Mempunyai kemampuan mengembangkan bisnis Menurut pasal 11 UU No. 41 tahun 2004 tentang wakaf, nadzir mempunyai tugas: a. Melakukan pengadministrasian harta benda wakaf b. Mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai dengan tujuan, fungsi dan peruntukannya. c. Mengawasi dan melindungi harta wakaf d. Melaporkan pelaksanaan tugas kepada Badan Wakaf Indonesia.29 Disamping dibebani tugas yang merupakan kewajiban, nadzir juga diberi hak untuk memperoleh penghasilan yang layak sebagai imbalan atas jerih payahnya dalam mengelola harta wakaf. Menurut pasal 12 UU No. 41 tahun 2004, nazhir berhak menerima imbalan dari hasil bersih atas pengelolaan dan pengembangan harta wakaf yang besarnya tidak boleh melebihi 10 % (sepuluh 28Tim Bimas dan Penyelenggaraan Haji DEPAG RI, Op. Cit., h. 61-63. 29UU RI No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf, Bab II pasal 11.
  • 19.
    persen).30 Pada pasalberikutnya, nadzir pun berhak mendapat pembinaan dari Menteri dan Badan Wakaf Indonesia. Karena peran yang dimiliki nadzir itulah, maka posisi nadzir menjadi sangat penting. Dengan demikian nadzir harus ditetapkan pada saat ikrar wakaf termasuk peruntukkan wakaf. Pengaturan demikian ditujukan untuk menertibkan perwakafan agar harta wakaf kekal manfaatnya dan secara administratif akan lebih baik. Selain itu, pengaturan seperti itu juga untuk menghindari atau setidaknya dapat memperkecil terjadinya sengketa yang berakibat hilangnya wakaf.31 19 D. Macam-macam Wakaf Secara umum wakaf terbagi menjadi dua, yaitu wakaf ahli (keluarga atau khusus) dan wakaf khayri (umum). Berikut ini akan diuraikan mengenai dua macam wakaf tersebut. 1. Wakaf Ahli (Keluarga) Merupakan wakaf yang diperuntukkan khusus kepada orang-orang tertentu, seorang atau lebih, keluarga waqif atau bukan. Wakaf ini sah dan dilaksanakan oleh kaum muslimin. Yang berhak mengambil manfaat wakaf keluarga adalah orang-orang yang tersebut dalam pernyataan wakaf. Persoalan ketika anak keturunan Waqif tidak ada lagi yang mampu menggunakan buku-buku wakaf, atau anak keturunaannya punah maka harta wakaf itu dikembalikan kepada Allah dan digunakan untuk kepentingan yang sesuai dengan ketentuan Allah. Meskipun demikian, di Indonesia PP No.28 tahun 1977 secara tegas menyatakan bahwa wakaf keluarga tidak termasuk dalam ruang lingkupnya.32 Sehingga perlu dipikirkan untuk masa-masa yang akan datang. Selain itu, ditinjau dari segi manfaatnya dalam meningkatkan perekonomian umat, wakaf keluarga tidak memiliki peranan yang berarti bahkan keberadaannya tidak disetujui oleh sebagian fuqaha dan ulama lainnya. Muhammad Jawad Mughniyah misalnya, menganggap wakaf ini sebagai bid’ah dan tidak sesuai syara’ karena pada dasarnya tujuan wakaf adalah untuk kebajikan umum. Penggunaan barang atau harta untuk kepentingannya sendiri adalah suatu kewajaran dan tidak dapat diatasnamakan sebagai wakaf. Naziroeddin Rachmat mengemukakan bahwa wakaf kekeluargaan bukan tujuan yang sebenarnya dalam pembentukan harta-harta wakaf walaupun diperbolehkan dengan ukuran-ukuran yang terjadi dalam hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, yaitu tanah perkebunan Bairuha yang diserahkan oleh 30Abd. Somad, Op. Cit. 31Farid Wadjdy dan Mursyid, Wakaf & Kesejahteraan Umat (Filantropi Islam yang Hampir Terlupakan), cet. ke-1 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h. 170. 32PP RI No. 28 tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik.
  • 20.
    Thalhah kepada Nabiuntuk tempat peristirahatan. Jadi, Nabi hanya menjadikan tanah perkebunan Bairuha sebagai tempat peristirahatan, bukan untuk menumpuk kekayaan melainkan untuk keperluan orang banyak. Dengan demikian, sebaiknya wakaf keluarga dilebur menjadi wakaf untuk kepentingan orang banyak dengan mengganti kerugian kepada orang yang punya wakaf keluarga tersebut. 2. Wakaf Khayri (Umum) Wakaf umum adalah wakaf yang sejak awal manfaatnya diperuntukkan bagi kepentingan umum tidak dikhususkan untuk orang-orang tertentu. Misalnya, mewakafkan sebidang tanah untuk masjid, sekolah dan rumah sakit. Pengelola wakaf untuk jenis ini biasanya diserahkan kepada ahli yang menguasai bidang sesuai dengan penggunaan wakaf tersebut. Dasar hukum wakaf khayri atau wakaf umum ini, ialah hadist yang menerangkan wakaf Umar bin Khattab. Dalam hadist ini disebut “pada jalan Allah”, memerdekakan budak, untuk fakir miskin dan untuk orang terlantar. Semua ini berhubungan dengan kepentingan umum. Wakaf umum inilah yang perlu digalakkan di Indonesia karena jika dikelola dengan baik bukan tidak mungkin kemiskinan di negara kita dapat dientaskan.33 BAB III PENUTUP 20 Kesimpulan: Wakaf merupakan ibadah kebendaan dalam Islam. Ia merupakan salah satu instrumen filantropi, yakni bentuk kedermaan seseorang kepada sesamanya. Perintah wakaf memang tidak secara tegas ada dalam Al-Quran maupun Hadist, karena itulah wakaf termasuk dalam ranah ijtihad yang penafsirannya akan berbeda-beda. Namun, pada intinya wakaf merupakan sejenis pemberian yang telah Rasulullah ajarkan, dilakukan dengan cara memisahkan sebagian dari benda 33Abdurrahman, Op.Cit., h. 59-65.
  • 21.
    milik kita yangdigunakan untuk kepentingan ibadah dan keperluan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Peruntukan wakaf tidak hanya sebatas pada kepentingan peribadatan dan sosial saja, melainkan juga dapat diperuntukkan bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat. Dalam pelaksanaan wakaf terdapat rukun yang harus terpenuhi antara lain: Waqif (pemberi wakaf), Mauquf ‘alaih (penerima wakaf), Mauquf bih (harta wakaf), Sighat dan Nadzir (pengelola wakaf). Berkaitan dengan jenis-jenis wakaf, secara umum wakaf terbagi menjadi dua, yaitu: wakaf ahli (keluarga) dan wakaf khairi (umum). Dari kedua jenis wakaf ini, wakaf khairi (umum) lebih diutamakan karena tujuan utama dari wakaf adalah untuk kepentingan publik (umum). DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman. 1994. Masalah Perwakafan Tanah Milik dan Kedudukan Tanah Wakaf di Negara Kita. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti. Bulughul Maram. Bab XVII tentang Wakaf. Hadits ke-741. Halim, Abdul dan Mhd. Rasidin (Eds). 2005. Hukum Perwakafan di Indonesia. 21 Ciputat: Ciputat Press. Halim. 2005. Hukum Perwakafan di Indonesia. Cet. ke-1. Ciputat: Ciputat Press.
  • 22.
    Mardani. 2012. FiqhEkonomi Syariah: Fiqh Muamalah. Ed. I. Cet. ke-1 . 22 Jakarta: Kencana. PP RI No. 28 tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik. Republik Indonesia. 2004. UU RI No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Sekretariat Negara. Jakarta. Tim Bimas dan Penyelenggaraan Haji DEPAG RI. 2007. Fiqih Wakaf . Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Departemen Agama RI. .Paradigma Baru Wakaf di Indonesia. Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Departemen Agama RI. Wadjdy, Farid dan Mursyid. 2007. Wakaf & Kesejahteraan Umat (Filantropi Islam yang Hampir Terlupakan). Cet. ke-1 . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.