Galvan Yudistira / A24070040


                            UNSUR HARA HIDROPONIK
           KAHAT HARA KALIUM PADA PADI DAN NITROGEN PADA
                                    TOMAT


       A. UNSUR HARA HIDROPONIK


       Salah satu perkembangan teknologi budidaya pertanian yang layak
disebarluaskan adalah teknologi hidroponik. Hal ini disebabkan oleh semakin
langkanya sumberdaya lahan, terutama akibat perkembangan sektor industri dan jasa,
sehingga kegiatan usaha pertanian konvensional semakin tidak kompetitif karena
tingginya harga lahan. Teknologi budidaya pertanian sistem hidroponik memberikan
alternatif bagi para petani yang memiliki lahan sempit atau yang hanya memiliki
pekarangan rumah untuk dapat melaksanakan kegiatan usaha yang dapat dijadikan
sebagai sumber penghasilan yang memadai.
       Perbedaan paling menonjol antara hidroponik dan budidaya konvensional
adalah penyediaan nutrisi tanaman. Pada budidaya konvensional, ketersediaan nutrisi
untuk tanaman sangat tergantung pada kemampuan tanah menyediakan unsur-unsur
hara dalam jumlah cukup dan lengkap. Unsur-unsur hara itu biasanya berasal dari
dekomposisi bahanbahan organik dan anorganik dalam tanah yang terlarut dalam air.
Kekurangan salah satu atau beberapa unsur hara dalam tanah umumnya dipenuhi
dengan pemupukan tambahan. Pada budidaya hidroponik, semua kebutuhan nutrisi
diupayakan tersedia dalam jumlah yang tepat dan mudah diserap oleh tanaman.
Nutrisi itu diberikan dalam bentuk larutan yang bahannya dapat berasal dari bahan
organik maupun anorganik. Pemberian nutrisi melalui permukaan media tanam atau
akar tanaman. Ketersediaan nutrisi dalam bentuk cair itulah yang dipakai sebagai
awal berpijak penerapan budidaya tanaman hidroponik (Siswadi, 2008 dalam
http://www.scribd.com/doc/21326336/Budidaya-Tomat-Hidroponik ).
Jenis hidroponik dapat dibedakan dari media yang digunakan untuk tempat
berdiri tegaknya tanaman. Media tersebut biasanya bebas dari unsur hara (steril),
sementara itu pasokan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dialirkan ke dalam media
tersebut melalui pipa atau disiramkan secara manual. Media tanam tersebut dapat
berupa kerikil, pasir, gabus, arang, zeolit, atau tanpa media agregat (hanya air). Yang
terpenting adalah bahwa media tanam tersebut suci hama sehingga tidak
menumbuhkan           jamur   atau   penyakit   lainya    (Anonim,      2006    dalam
http://www.scribd.com/doc/21326336/Budidaya-Tomat-Hidroponik).
       Pemenuhan kebutuhan nutrisi bisa anda peroleh dengan cara memberi
berbagai macam pupuk khusus hidroponik dengan formulasi tertentu yang banyak
tersedia ditoko-toko pertanian. Dalam fase awal pertumbuhan perlu perawatan secara
rutin, misalnya dipagi hari tanaman perlu dikenakan sinar matahari. Kemudian juga
perlu pemupukan secara rutin dalam setiap dua hingga lima hari sekali. Gunakan
pupuk NPK Grand S 15 sebanyak satu sendok makan untuk kemudian larutkan
kedalam sepuluh liter air. Masukkan larutan pupuk ini kedalam pot dasar sesuaikan
dengan ketersediaan air dalam pot (Anonim, 2007 dalam http://www.scribd.com/doc/
21326336/Budidaya-Tomat-Hidroponik ).
   Menurut Susila (2006), peralatan dasar yang diperlukan untuk memenuhi kriteria
tersebut di atas adalah :
1. Tempat tumbuh tanaman, seperti bak atau kolam penampung, pot, dan bedengan.
Diusahakan agar tempat tumbuh tanaman dijaga kebersihannya secara berkala dengan
membersihkan dan menghilangkan tumbuhan atau tanaman lain yang tidak
diinginkan (terutama dalam bedengan atau kolam penampung).
2. Aerator
Alat ini dipakai untuk tercukupinya oksigen untuk pertukaran udara dalam daerah
perakaran. Kekurangan oksigen akan mengganggu penyerapan air dan nutrisi oleh
akar dan respirasi.
3. Larutan Nutrisi
Larutan nutrisi sebagai sumber pasokan air dan mineral nutrisi merupakan faktor
penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman hidroponik, sehingga harus
tepat dari segi jumlah, komposisi ion nutrisi dan suhu. Unsur hara ini dibagi dua,
yaitu unsur makro (C, H, O, N, P, S, K, Ca, dan Mg) dan mikro ( B, Cl, Cu, Fe, Mn,
Mo, dan Zn). Pada umumnya kualitas larutan nutrisi ini diketahui dengan mengukur
electrical conductivity (EC) larutan tersebut. Semakin tinggi konsentrasi larutan
semakin tinggi arus listrik yang dihantarkan (karena pekatnya kandungan garam dan
akumulasi ion mempengaruhi kemampuan untuk menghantarkan listrik larutan nutrisi
tersebut). Larutan nutrisi dapat dibuat sendiri dengan melarutkan pupuk yang diramu
khusus untuk tanaman hidroponik atau membeli pupuk hidroponik secara komersial.
       (Agoes (2000) dalam http://www.scribd.com/doc/21326336/Budidaya-Tomat-
Hidroponik ), mengatakan bahwa berbeda dengan media tanam tanah yang berfungsi
sebagai tempat tumbuh dan sumber makanan, media tanam air, pasir dan agregat
hanya sebagai tempat tumbuh saja tidak menyediakan makanan bagi tanaman,
sehingga bercocok tanam sistem hidroponik mutlak memerlukan pupuk sebagai
sumber makanan bagi tanaman. Pupuk diberikan dalam bentuk larutan dan harus
mengandung unsur makro (Nitrogen Fosfor, Kalium, Kalsium, Magnesium dan
Belerang) dan unsur mikro (Mangan, Tembaga, Borium, Seng dan Molibdin).
Larutan pupuk dapat dicampur sendiri dengan dosis tertentu sesuai dengan kebutuhan
tanamannya. Bahan yang sering dipakai antara lain amonium sulfat, potasium nitrat,
monocalsium fosfat, magnesium sulfat, iron sulfat, mangan sulfat, bubuk asam boric,
seng sulfat dan tembaga sulfat. Kalau yang lebih praktis pakailah nutrien sudah jadi
seperti Excell dengan dosis pemakaian sudah tertera pada kemasannya
       Pupuk untuk tanaman yang ditanam di tanah juga bisa dipakai berhidroponik,
yang penting pupuk tersebut mudah larut dalam air dan tahan lama dipakai.
Umumnya yang dipakai untuk keperluan berhidroponik adalah pupuk majemuk yang
mengandung unsur hara makro dan mikro sekaligus. Unsur makro berfungsi untuk
menumbuhkan struktur vegetatif dan produksi. Unsur mikro berfungsi sebagai
pelengkap esensial vital bagi rasa, kadar gula, tingkat kemanisan, warna, dan daya
tahan tanaman terhadap gangguan penyakit. Beberapa merek dagang pupuk majemuk
itu antara lain Vitagro, Vitabloom, Gandasil, Hyponex, dan Gromor. Penggemar
hidroponik yang kreatif juga bisa meramu sendiri kebutuhan nutrisi untuk
tanamannya sesuai dengan pupuk buatan yang banyak beredar di pasar. Misal satu
sendok makan pupuk yang dicampur dengan 10 liter air dan ditambah satu tetes
Atonik sebagai pengganti unsur mikro dan unsur esensial lain, sudah bisa dipakai
sumber nutrisi bagi tanaman hias yang dihidroponikkan. Begitu pula satu sendok
makan urea, TSP, dan KCl yang dilarutkan dalam 10 liter air ditambah 3 tetes Atonik
atau   Lauxin    dapat   dipakai    sebagai   sumber   nutrisi   bagi   tanaman    yang
dihidroponikkan. Jika pupuk yang digunakan tidak mudah larut dalam air, larutan itu
sebaiknya dibiarkan dulu satu malam sebelum dipakai (Siswadi, 2008).
       Menurut                     Wijayani               (2005)                  dalam
http://www.scribd.com/doc/21326336/Budidaya-Tomat-Hidroponik , cara budidaya
secara hidroponik dengan membuat formula larutan yang dapat digunakan untuk
berbagai macam tanaman sayuran dan hias, anjurannya adalah N 140-300 ppm, P
31-80 ppm dan K 160-300 ppm, tetapi untuk kebutuhan yang optimal belum
diketahui secara pasti. Lebih memerinci khusus untuk tanaman tomat secara
hidroponik kebutuhan N berkisar 300 ppm, P 80 ppm dan K 200 ppm. Penelitian
yang membandingkan formulasi larutan hara dari bahan kimia murni dengan larutan
hara siap pakai belum banyak dilakukan. Meskipun penggunaan varietas unggul
sering dilaporkan akan meningkatkan hasil tanaman tomat, tetapi pengujian kualitas
buah tomat belum banyak diteliti. Kenyataan bahwa kualitas buah tomat Indonesia
masih rendah mutunya sangat menarik untuk dikaji lebih jauh mengenai bagaimana
meningkatkan kualitas buah tomat dengan pemberian nutrisi yang tepat, disamping
tentu saja harus menggunakan varietas unggul.


       B. KAHAT HARA KALIUM PADA PADI


   Peranan unsur kalium antara lain: a) mendorong pembentukan anakan; b)
meningkatkan ukuran dan berat gabah; c) meningkatkan respon terhadap fosfor; dan
d) memainkan peranan penting dalam proses-proses fisiologi tanaman termasuk
membuka dan menutupnya stomata dan ketahanan terhadap kondisi iklim yang tidak
menguntungkan.
Unsur ini diserap dalam bentuk hampir pada semua proses metabolisme tanaman,
mulai dari proses penyerapan air, transpirasi, fotosintesis, respirasi, sintesa enzim dan
aktifitas enzim. Esensi unsur K adalah sebagai berikut:
    a. K merupakan unsur yang higroskopis ( mudah menyerap air) ini
         menyebabkan air banyak diserap di dalam stomata, tekanan osmotik naik,
         stomata membuka sehingga gas CO2 dapat masuk untuk proses fotosintesis.

    b. K berperan sebagai aktifitas untuk semua kerja enzim terutama pada sintesa
         protein.     (http://darsono-sigit.um.ac.id/wp-content/uploads/2009/04/hara-air-
         laut.doc)

Tabel 10. Bagian Tanaman yang Digunakan untuk Analisis Jaringan Tanaman



 Tanaman        Nitrogen                    Fosfor            Kalium

 Jagung        Batang utama                   Tulang daun     Helai atau tu

              atau tulang daun                dekat tongkol    lang daun de-

                                                              kat tongkol

 Kedelai       Tangkai daun                 Tangkai daun

               bagian atas

 Kentang      Batang atau tang                Tangkai daun    Tangkai daun

              kai daun                         bagian bawah

 Tomat       ..................... " ...................

Sumber:      Ohlrogge    (dalam     Tisdale     dan     Nelson,   1975)  dalam
http://images.soemarno.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SRUHqgoKCtgA
AEWfCes1/UJI%20TANAH%20.DOC?nmid=131711840

        Ada beberapa informasi yang menyatakan bahwa ada beberapa jenis
tanaman tertentu ternyata hubungan antara kadar kalium pada daun di bagian
bawah dengan kadar kalium dalam daun di bagian atas merupakan indikasi
defisiensi atau kecukupan. Kalau kadar kalium pada daun bagian bawah lebih
rendah dari kadar kalium pada daun di bagian atas maka tanaman defisiensi kalium.
Akan tetapi kalau kadar kalium daun di bagian bawah sama atau lebih besar maka
tanaman tidak defisiensi kalium.



          C. KAHAT HARA NIROGEN PADA TOMAT

          Kekurangan unsur nitrogen (N) menyebabkan tajuk daun berwarna hijau
terang, daun tua menguning, kering dan berwarna coklat muda. Tanaman yang
kekurangan N daunnya akan layu dan tampak kuning. Nitrogen merupakan unsur
hara utama bagi pertumbuhan tanaman karena merupakan penyusun dari semua
protein        dan       asam        nukleat       (Lakitan        1993      dalam
http://ayimada006084.files.wordpress.com/2008/11/unsur-hara2.doc



          DAFTAR PUSTAKA


http://www.scribd.com/doc/21326336/Budidaya-Tomat-Hidroponik
http://darsono-sigit.um.ac.id/wp-content/uploads/2009/04/hara-air-laut.doc
http://images.soemarno.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SRUHqgoKCtgA
     AEWfCes1/UJI%20TANAH%20.DOC?nmid=131711840
http://ayimada006084.files.wordpress.com/2008/11/unsur-hara2.doc

Tugas Menara Hara Hidroponik

  • 1.
    Galvan Yudistira /A24070040 UNSUR HARA HIDROPONIK KAHAT HARA KALIUM PADA PADI DAN NITROGEN PADA TOMAT A. UNSUR HARA HIDROPONIK Salah satu perkembangan teknologi budidaya pertanian yang layak disebarluaskan adalah teknologi hidroponik. Hal ini disebabkan oleh semakin langkanya sumberdaya lahan, terutama akibat perkembangan sektor industri dan jasa, sehingga kegiatan usaha pertanian konvensional semakin tidak kompetitif karena tingginya harga lahan. Teknologi budidaya pertanian sistem hidroponik memberikan alternatif bagi para petani yang memiliki lahan sempit atau yang hanya memiliki pekarangan rumah untuk dapat melaksanakan kegiatan usaha yang dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan yang memadai. Perbedaan paling menonjol antara hidroponik dan budidaya konvensional adalah penyediaan nutrisi tanaman. Pada budidaya konvensional, ketersediaan nutrisi untuk tanaman sangat tergantung pada kemampuan tanah menyediakan unsur-unsur hara dalam jumlah cukup dan lengkap. Unsur-unsur hara itu biasanya berasal dari dekomposisi bahanbahan organik dan anorganik dalam tanah yang terlarut dalam air. Kekurangan salah satu atau beberapa unsur hara dalam tanah umumnya dipenuhi dengan pemupukan tambahan. Pada budidaya hidroponik, semua kebutuhan nutrisi diupayakan tersedia dalam jumlah yang tepat dan mudah diserap oleh tanaman. Nutrisi itu diberikan dalam bentuk larutan yang bahannya dapat berasal dari bahan organik maupun anorganik. Pemberian nutrisi melalui permukaan media tanam atau akar tanaman. Ketersediaan nutrisi dalam bentuk cair itulah yang dipakai sebagai awal berpijak penerapan budidaya tanaman hidroponik (Siswadi, 2008 dalam http://www.scribd.com/doc/21326336/Budidaya-Tomat-Hidroponik ).
  • 2.
    Jenis hidroponik dapatdibedakan dari media yang digunakan untuk tempat berdiri tegaknya tanaman. Media tersebut biasanya bebas dari unsur hara (steril), sementara itu pasokan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dialirkan ke dalam media tersebut melalui pipa atau disiramkan secara manual. Media tanam tersebut dapat berupa kerikil, pasir, gabus, arang, zeolit, atau tanpa media agregat (hanya air). Yang terpenting adalah bahwa media tanam tersebut suci hama sehingga tidak menumbuhkan jamur atau penyakit lainya (Anonim, 2006 dalam http://www.scribd.com/doc/21326336/Budidaya-Tomat-Hidroponik). Pemenuhan kebutuhan nutrisi bisa anda peroleh dengan cara memberi berbagai macam pupuk khusus hidroponik dengan formulasi tertentu yang banyak tersedia ditoko-toko pertanian. Dalam fase awal pertumbuhan perlu perawatan secara rutin, misalnya dipagi hari tanaman perlu dikenakan sinar matahari. Kemudian juga perlu pemupukan secara rutin dalam setiap dua hingga lima hari sekali. Gunakan pupuk NPK Grand S 15 sebanyak satu sendok makan untuk kemudian larutkan kedalam sepuluh liter air. Masukkan larutan pupuk ini kedalam pot dasar sesuaikan dengan ketersediaan air dalam pot (Anonim, 2007 dalam http://www.scribd.com/doc/ 21326336/Budidaya-Tomat-Hidroponik ). Menurut Susila (2006), peralatan dasar yang diperlukan untuk memenuhi kriteria tersebut di atas adalah : 1. Tempat tumbuh tanaman, seperti bak atau kolam penampung, pot, dan bedengan. Diusahakan agar tempat tumbuh tanaman dijaga kebersihannya secara berkala dengan membersihkan dan menghilangkan tumbuhan atau tanaman lain yang tidak diinginkan (terutama dalam bedengan atau kolam penampung). 2. Aerator Alat ini dipakai untuk tercukupinya oksigen untuk pertukaran udara dalam daerah perakaran. Kekurangan oksigen akan mengganggu penyerapan air dan nutrisi oleh akar dan respirasi. 3. Larutan Nutrisi Larutan nutrisi sebagai sumber pasokan air dan mineral nutrisi merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman hidroponik, sehingga harus
  • 3.
    tepat dari segijumlah, komposisi ion nutrisi dan suhu. Unsur hara ini dibagi dua, yaitu unsur makro (C, H, O, N, P, S, K, Ca, dan Mg) dan mikro ( B, Cl, Cu, Fe, Mn, Mo, dan Zn). Pada umumnya kualitas larutan nutrisi ini diketahui dengan mengukur electrical conductivity (EC) larutan tersebut. Semakin tinggi konsentrasi larutan semakin tinggi arus listrik yang dihantarkan (karena pekatnya kandungan garam dan akumulasi ion mempengaruhi kemampuan untuk menghantarkan listrik larutan nutrisi tersebut). Larutan nutrisi dapat dibuat sendiri dengan melarutkan pupuk yang diramu khusus untuk tanaman hidroponik atau membeli pupuk hidroponik secara komersial. (Agoes (2000) dalam http://www.scribd.com/doc/21326336/Budidaya-Tomat- Hidroponik ), mengatakan bahwa berbeda dengan media tanam tanah yang berfungsi sebagai tempat tumbuh dan sumber makanan, media tanam air, pasir dan agregat hanya sebagai tempat tumbuh saja tidak menyediakan makanan bagi tanaman, sehingga bercocok tanam sistem hidroponik mutlak memerlukan pupuk sebagai sumber makanan bagi tanaman. Pupuk diberikan dalam bentuk larutan dan harus mengandung unsur makro (Nitrogen Fosfor, Kalium, Kalsium, Magnesium dan Belerang) dan unsur mikro (Mangan, Tembaga, Borium, Seng dan Molibdin). Larutan pupuk dapat dicampur sendiri dengan dosis tertentu sesuai dengan kebutuhan tanamannya. Bahan yang sering dipakai antara lain amonium sulfat, potasium nitrat, monocalsium fosfat, magnesium sulfat, iron sulfat, mangan sulfat, bubuk asam boric, seng sulfat dan tembaga sulfat. Kalau yang lebih praktis pakailah nutrien sudah jadi seperti Excell dengan dosis pemakaian sudah tertera pada kemasannya Pupuk untuk tanaman yang ditanam di tanah juga bisa dipakai berhidroponik, yang penting pupuk tersebut mudah larut dalam air dan tahan lama dipakai. Umumnya yang dipakai untuk keperluan berhidroponik adalah pupuk majemuk yang mengandung unsur hara makro dan mikro sekaligus. Unsur makro berfungsi untuk menumbuhkan struktur vegetatif dan produksi. Unsur mikro berfungsi sebagai pelengkap esensial vital bagi rasa, kadar gula, tingkat kemanisan, warna, dan daya tahan tanaman terhadap gangguan penyakit. Beberapa merek dagang pupuk majemuk itu antara lain Vitagro, Vitabloom, Gandasil, Hyponex, dan Gromor. Penggemar hidroponik yang kreatif juga bisa meramu sendiri kebutuhan nutrisi untuk
  • 4.
    tanamannya sesuai denganpupuk buatan yang banyak beredar di pasar. Misal satu sendok makan pupuk yang dicampur dengan 10 liter air dan ditambah satu tetes Atonik sebagai pengganti unsur mikro dan unsur esensial lain, sudah bisa dipakai sumber nutrisi bagi tanaman hias yang dihidroponikkan. Begitu pula satu sendok makan urea, TSP, dan KCl yang dilarutkan dalam 10 liter air ditambah 3 tetes Atonik atau Lauxin dapat dipakai sebagai sumber nutrisi bagi tanaman yang dihidroponikkan. Jika pupuk yang digunakan tidak mudah larut dalam air, larutan itu sebaiknya dibiarkan dulu satu malam sebelum dipakai (Siswadi, 2008). Menurut Wijayani (2005) dalam http://www.scribd.com/doc/21326336/Budidaya-Tomat-Hidroponik , cara budidaya secara hidroponik dengan membuat formula larutan yang dapat digunakan untuk berbagai macam tanaman sayuran dan hias, anjurannya adalah N 140-300 ppm, P 31-80 ppm dan K 160-300 ppm, tetapi untuk kebutuhan yang optimal belum diketahui secara pasti. Lebih memerinci khusus untuk tanaman tomat secara hidroponik kebutuhan N berkisar 300 ppm, P 80 ppm dan K 200 ppm. Penelitian yang membandingkan formulasi larutan hara dari bahan kimia murni dengan larutan hara siap pakai belum banyak dilakukan. Meskipun penggunaan varietas unggul sering dilaporkan akan meningkatkan hasil tanaman tomat, tetapi pengujian kualitas buah tomat belum banyak diteliti. Kenyataan bahwa kualitas buah tomat Indonesia masih rendah mutunya sangat menarik untuk dikaji lebih jauh mengenai bagaimana meningkatkan kualitas buah tomat dengan pemberian nutrisi yang tepat, disamping tentu saja harus menggunakan varietas unggul. B. KAHAT HARA KALIUM PADA PADI Peranan unsur kalium antara lain: a) mendorong pembentukan anakan; b) meningkatkan ukuran dan berat gabah; c) meningkatkan respon terhadap fosfor; dan d) memainkan peranan penting dalam proses-proses fisiologi tanaman termasuk membuka dan menutupnya stomata dan ketahanan terhadap kondisi iklim yang tidak menguntungkan.
  • 5.
    Unsur ini diserapdalam bentuk hampir pada semua proses metabolisme tanaman, mulai dari proses penyerapan air, transpirasi, fotosintesis, respirasi, sintesa enzim dan aktifitas enzim. Esensi unsur K adalah sebagai berikut: a. K merupakan unsur yang higroskopis ( mudah menyerap air) ini menyebabkan air banyak diserap di dalam stomata, tekanan osmotik naik, stomata membuka sehingga gas CO2 dapat masuk untuk proses fotosintesis. b. K berperan sebagai aktifitas untuk semua kerja enzim terutama pada sintesa protein. (http://darsono-sigit.um.ac.id/wp-content/uploads/2009/04/hara-air- laut.doc) Tabel 10. Bagian Tanaman yang Digunakan untuk Analisis Jaringan Tanaman Tanaman Nitrogen Fosfor Kalium Jagung Batang utama Tulang daun Helai atau tu atau tulang daun dekat tongkol lang daun de- kat tongkol Kedelai Tangkai daun Tangkai daun bagian atas Kentang Batang atau tang Tangkai daun Tangkai daun kai daun bagian bawah Tomat ..................... " ................... Sumber: Ohlrogge (dalam Tisdale dan Nelson, 1975) dalam http://images.soemarno.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SRUHqgoKCtgA AEWfCes1/UJI%20TANAH%20.DOC?nmid=131711840 Ada beberapa informasi yang menyatakan bahwa ada beberapa jenis tanaman tertentu ternyata hubungan antara kadar kalium pada daun di bagian bawah dengan kadar kalium dalam daun di bagian atas merupakan indikasi defisiensi atau kecukupan. Kalau kadar kalium pada daun bagian bawah lebih rendah dari kadar kalium pada daun di bagian atas maka tanaman defisiensi kalium.
  • 6.
    Akan tetapi kalaukadar kalium daun di bagian bawah sama atau lebih besar maka tanaman tidak defisiensi kalium. C. KAHAT HARA NIROGEN PADA TOMAT Kekurangan unsur nitrogen (N) menyebabkan tajuk daun berwarna hijau terang, daun tua menguning, kering dan berwarna coklat muda. Tanaman yang kekurangan N daunnya akan layu dan tampak kuning. Nitrogen merupakan unsur hara utama bagi pertumbuhan tanaman karena merupakan penyusun dari semua protein dan asam nukleat (Lakitan 1993 dalam http://ayimada006084.files.wordpress.com/2008/11/unsur-hara2.doc DAFTAR PUSTAKA http://www.scribd.com/doc/21326336/Budidaya-Tomat-Hidroponik http://darsono-sigit.um.ac.id/wp-content/uploads/2009/04/hara-air-laut.doc http://images.soemarno.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SRUHqgoKCtgA AEWfCes1/UJI%20TANAH%20.DOC?nmid=131711840 http://ayimada006084.files.wordpress.com/2008/11/unsur-hara2.doc