TBC pada anak
Diagnosis
• Diagnosis pasti TB ditegakkan dengan
ditemukannya M. tuberkulosis pada
pemeriksaan sputum atau bilasan lambung,
cairan cerebrospinal, cairan pleura, atau padacairan cerebrospinal, cairan pleura, atau pada
biopsi jaringan.
• pada anak diagnosis sulit ditegakkan karena:
sedikitnya jumlah kuman
Sulitnya pengambilan spesimen (sputum)
Diagnosis TB anak ditentukan berdasarkan:
►Gambaran klinis
►Pemeriksaan penunjang seperti uji tuberkulin,
pemeriksaan laboratorium, dan foto rontgen dada.
►Adanya riwayat kontak dengan pasien TB dewasa BTA
positif, uji tuberkulin positif, dan foto paru yangpositif, uji tuberkulin positif, dan foto paru yang
mengarah pada TB (sugestif TB) merupakan bukti
kuat yang menyatakan anak telah sakit TB.
parameter 0 1 2 3
Kontak Tb Tdk jelas Laporan klrg,BTA- atau
tdk tahu
Kavitas +, BTA tdk
jls
BTA +
Uji tuberkulin negatif Positif(≥10 mm, atau
≥
BB/status gizi BB/TB <90%
BB/U <80%
Klinis gibur,atau
BB/TB <70% atau
BB/U <60%
Deman tnp sebab yg
jelas
≥2 minggu
batuk ≥3 minggu
Pbsran klj limfe
koli,aksila, inguinal
≥1 cm, jmlh>1,tdk nyeri
Pbngkakan tlg/sendi
panggul,lutut,falang
Ada pbgkakan
Foto Ro thorax Normal/ tdk
jelas
Infiltrat,pbsran
klnjr,konsolidasi
segmental/lobar,
atelektasis
Kalsifikasi+
infiltrat
Pbsran
klnjr+infiltrat
►Catatan:
– diagnosis dgn sistem skoring ditegakkan oleh dktr.
– Jika dijumpai skrofuloderma,lgsg didiagnosis tuberkulosis
– BB dinilai saat dtg (moment opname)
– Demam dan batuk tdk ada respon terhadap terapi sesuai baku
– Foto Ro thorax bkn alat diagnostik utama pada TB anak– Foto Ro thorax bkn alat diagnostik utama pada TB anak
– Semua anak dgn reaksi cpt BCG harus dievaluasin dgn sistem skoring
TB anak
– Didiagnosis TB jika jmlh skor ≥6 (skor maksimal 14( cut off point ini
masih bersifat tentatif/sementara, nilai definitif menunggu hasil
penelitian yang sedang dilaksanakan
PENGOBATAN TB PADA ANAK
• Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam
waktu 6 bulan. OAT pada anak diberikan setiap hari, baik pada tahap intensif
maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak.
Dosis OAT Kombipak pada anak
Jenis Obat BB < 10 kg BB 10 – 20 kg BB 20 – 32 kg
Isoniasid 50 mg 100 mg 200 mg
Rifampicin 75 mg 150 mg 300 mg
Pirasinamid 150 mg 300 mg 600 mg
Berat badan (kg) 2 bulan tiap hari
RHZ (75/50/150)
4 bulan tiap hari
RH (75/50)
5-9 1 tablet 1 tablet
10-19 2 tablet 2 tablet
20-32 4 tablet 4 tablet
Dosis OAT KDT pada anak
Keterangan:Keterangan:
Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit
Anak dengan BB 15 – 19 kg dapat diberikan 3 tablet.
Anak dengan BB > 33 kg , dirujuk ke rumah sakit.
Obat harus diberikan secara utuh, tidak boleh dibelah
OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum
diminum
PROFILAKSIS PADA ANAK
• Pada semua anak, terutama balita
yang tinggal serumah atau kontak
erat dengan penderita TB dengan BTA
positif, perlu dilakukan pemeriksaan
menggunakan sistem skoring.
• Bila hasil evaluasi dengan skoring
sistem didapat skor < 5, kepada anaksistem didapat skor < 5, kepada anak
tersebut diberikan Isoniazid (INH)
dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB/hari
selama 6 bulan.
• Bila anak tersebut belum pernah
mendapat imunisasi BCG, imunisasi
BCG dilakukan setelah pengobatan
pencegahan selesai.
Original ISTC 1st ed 2006
ISTC 17 Standard
6 StandardsDiagnosis
9 StandardsTreatment
2 StandardsPublic Health
ISTC in Indonesia
edisi 2
• Standard untuk diagnosis 6
• Standard untuk pengobatan 7
• Standar untuk penanganan tb• Standar untuk penanganan tb
dgn infeksi HIV dan kondisi komorbid lain 4
• Standard untuk kesehatan masyarakat 4
Standard 1
Setiap orang dgn batuk produktif
≥ 2-3 mgg yg tidak jelas penyebabnya harus dievaluasi
untuk tb
Catatan : untuk pasien anak, batuk bukan gejala utama
TB melainkan :
– Penurunan BB atau FTT dlm 2 bulan terakhir
– Demam lebih dari 2 minggu tanpa alasan yang jelas
– Ada kontak dengan Orang dewasa yg menderita TB aktif
Standard 2
• Semua pasien (dewasa, remaja, dan anak) yg diduga
menderita tb paru harus menjalani pemeriksaan
dahak mikroskopik minimal 2 X yg diperiksa di lab yg
kualitasnya terjamin.
• Jika mungkin paling tidak satu spesimen harus
berasal dari dahak pagi hari.
• Catatan : boleh di lakukan bila anak dapat
mengeluarkan Sputum
Standard 3
Semua pasien (dewasa, remaja, dan anak) yg
diduga menderita tb ekstra-paru..
Catatan : pemeriksaan untuk TB paru harus diCatatan : pemeriksaan untuk TB paru harus di
lakukan, con ; pemeriksaan sputum pada pasien
yg mgkn dimlakukan, TST pada anak dan CXR.
ISTC Standar 4
Semua orang dengan temuan foto toraks
diduga tuberkulosis seharusnya menjalani
pemeriksaan dahak secara mikrobiologi
pemeriksaan dahak pada pasien anak bila
14
pemeriksaan dahak pada pasien anak bila
memungkinkan, namun biasanya sulit. TST
harus di lakukan
ISTC Standar 6
Diagnosis tuberkulosis intratoraks (yakni paru,
pleura, dan kelenjar getah bening hilus atau
mediastinum) pada anak dengan gejala namun
sediaan apus dahak negatif seharusnya didasarkan
atas kelainan radiografi toraks sesuai tuberkulosis
dan pajanan kepada kasus tuberkulosis yang
15
atas kelainan radiografi toraks sesuai tuberkulosis
dan pajanan kepada kasus tuberkulosis yang
menular atau bukti infeksi tuberkulosis (uji kulit
tuberkulin positif atau interferon gamma release
assay). Untuk pasien seperti ini, bila tersedia fasiliti
bahan dahak seharusnya diambil untuk biakan
(dengan cara batuk, kumbah lambung, atau induksi
dahak)
Standard untuk Pengobatan
Standard 8
• Semua pasien (termasuk mereka yang terinfeksi HIV)
yang belum pernah diobati harus diberi paduan obat
lini pertama yang disepakati secara internasional
menggunakan obat yang bioavailabilitinya telah
diketahui. Fase awal seharusnya terdiri dari isoniazid,
rifampisin, pirazinamid, dan etambutol.rifampisin, pirazinamid, dan etambutol.
• Untuk anak, Fase inisial harusnya terdiri dari H, R, Z
• Fase Severe di berikan 4-5 obat dengan fase
maintenance lbh lama (9-12 bln)
Standard 10
• Pada pasien tb ekstra- paru dan pada anak, penilaian respons
pengobatan terbaik adalah secara klinis.
• Respon Terapi terhadap TB milier, TB efusi Pleura dan Sputum
(–) dapat di monitor CXR(–) dapat di monitor CXR
STANDAR UNTUK PENANGANAN TB DGN INFEKSI
HIV DAN KONDISI KOMORBID LAINHIV DAN KONDISI KOMORBID LAIN
Standard 16
• Pasien dgn infeksi HIV yg setelah dievaluasi dgn
seksama, tidak menderita tb aktif seharusnya
diobati sebagai infeksi tb laten dgn H selama 6-9
bln.bln.
• IPT( Izoniazid Preventif Therapy) atau INH
Profilaksis pada pasien HIV dengan infeksi tb laten
belum merupakan kebijakan National TB Program
STANDAR UNTUK KESEHATAN MASYARAKAT
Standard 18
• Semua penyelenggara pelayanan untuk pasien tb
seharusnya memastikan bahwa semua orang yg
mempunyai kontak erat dgn pasien tb menular
seharusnya dievaluasi dan ditatalaksana sesuai dgnseharusnya dievaluasi dan ditatalaksana sesuai dgn
rekomendasi internasional. Terutama anakn < 5 tahun
• Semua tenaga medis yang mengobati pasien TB harus
melacak Sumber TB tsb.
Standard 19
• Anak berusia < 5 tahun dan individu semua usia
dengan infeksi HIV yg memiliki kontak erat dgn
pasien tb dan setelah dievaluasi dengan seksama,
tidak menderita tb aktif, harus diobati sebagai infeksi
laten tb dgn INH.laten tb dgn INH.
• IPT untuk pasien (< 5 Tahun dan HIV) dengan kontak
erat yang sedang menjalankan pelaksaan Trial
Program.
Standard 21
• Semua penyelenggaraan pelayanan kesehatan harus melaporkan
kasus tb baru maupun kasus pengobatan ulang serta hasil
pengobatannya ke kantor Dinas Kesehatan setempat sesuai dgn
peraturan hukum dan kebijaksanaan yg berlaku.
• Pelaksanaan pelaporan seharusnya difasilitasi dan
dikoordinasikan oleh dinas kesehatan setempat, sesuai dgn
kesepakatan yg dibuat
• ISTC harus di ketahui dan di laksanaan oleh TB
health care provider termasuk dokter spesialis
anak
• Ada aspek khusus pada pasien TB anak yang
harus di pertimbangkan oleh Spesialis anak
• Diagnosis: TST adl salah 1 pemeriksaan wajib
• Melacak asal Kontak TB dan Manajemen yg baik
sangat penting Terutama anak di bawah 5 Tahun.
Meningkatnya prevalensi HIV membawa
dampak peningkatan insiden serta masalah TB
lainnya misalnya TB diseminata (TB milier),TB
ekstrapulmonal,serta MDR-TB.Di Indonesia
TB pada HIV
ekstrapulmonal,serta MDR-TB.Di Indonesia
peningkatan pengidap HIV positif,terutama
dengan meningkatnya pengguna narkoba,akan
meningkatkan insiden TB.
Infeksi HIV dapat menyulitkan diagnosis dan tatalaksana
karena faktor-faktor berikut:
1. Beberapa penyakit yang erat kaitannya dengan HIV ,
termasuk TB,banyak kemiripan gejala
2. Interpretasi uji tuberkulin kurang dapat dipercaya.Anak
dengan kondisi imunokompromais mungkin
menunjukkan hasil negatif meskipun sebenarnya telahmenunjukkan hasil negatif meskipun sebenarnya telah
terinfeksi TB
3. Anak yang kontak dengan orang tua pengidap HIV
dengan BTA sputum positif mempunyai kemungkinan
terinfeksi TB maupun HIV.Jika hal ini terjadi,dapat
terjadi kesulitan dalam tatalaksana dan mempertahankan
keteraturan pengobatan.
Pendekatan diagnosis TB pada anak dengan HIV
pada prinsipnya sama dengan anak yang tanpa
HIV yaitu :
• Gejala kronik sugestif TB
• Hasil pemeriksaan fisis yang sangat
menunjang TB
• Hasil uji tuberkulin ≥ 5 mm• Hasil uji tuberkulin ≥ 5 mm
• Foto rontgen toraks sugestif TB
• Pemeriksaan Histologi  granuloma spesifik
atau non spesifik  tanpa sel langhans, sel
epiteloid, atau nekrosis perkijuan
Pengobatan
• Pengobatan TB pada anak dengan HIV paling
sedikit 3 macam obat yaitu rifampisin,
isoniazid dan pirazinamid pada 2 bulan
pertama ,diikuti dengan pemberian rifampisin
dan isoniazid.Total lama pemberian OATdan isoniazid.Total lama pemberian OAT
adalah 6-9 bulan .
• Obat keempat yaitu etambutol atau
streptomisin diberikan pada TB diseminata
atau bila terdapat resistensi.
Tatalaksana TB pada anak dengan HIV yang
sedang atau akan mendapatkan pengobtan
antiretroviral harus dilakukan hati-hati dan
memperlihatkan interaksi antar obat –obatmemperlihatkan interaksi antar obat –obat
yang diberikan.
Parameter Pasien non-HIV Pasien HIV
Bentuk dan tempat lesi Di apeks, dalam bentuk
kavitas
-Di mediastinum dan hilus dalam
bentuk adenopati
-Di lobus tengah dan bawah dalam
bentuk lesi tuberkulosis
-Di luar paru dalam bentuk lesi milier
atau tuberkulosis kelenjar
Perbedaan gambaran radiologi TB pada pasien non-HIV dan pasien HIV
Penurunan limfosit T4
ringan
Lesi di lobar atas dan bawah, adenopati
mediastinal, efusi pleura
Penurunan limfosit T4
berat
-Infiltrat paru difus
-Lesi diluar paru lebih banyak
-Prognosis lebih jelek
Pedoman Pengendalian Infeksi
Tbc pada anak
Tbc pada anak
Tbc pada anak
Tbc pada anak
Tbc pada anak
Tbc pada anak
Tbc pada anak
Tbc pada anak
Tbc pada anak
Tbc pada anak
Tbc pada anak
Tbc pada anak
Tbc pada anak
Tbc pada anak
Tbc pada anak

Tbc pada anak

  • 1.
  • 2.
    Diagnosis • Diagnosis pastiTB ditegakkan dengan ditemukannya M. tuberkulosis pada pemeriksaan sputum atau bilasan lambung, cairan cerebrospinal, cairan pleura, atau padacairan cerebrospinal, cairan pleura, atau pada biopsi jaringan. • pada anak diagnosis sulit ditegakkan karena: sedikitnya jumlah kuman Sulitnya pengambilan spesimen (sputum)
  • 3.
    Diagnosis TB anakditentukan berdasarkan: ►Gambaran klinis ►Pemeriksaan penunjang seperti uji tuberkulin, pemeriksaan laboratorium, dan foto rontgen dada. ►Adanya riwayat kontak dengan pasien TB dewasa BTA positif, uji tuberkulin positif, dan foto paru yangpositif, uji tuberkulin positif, dan foto paru yang mengarah pada TB (sugestif TB) merupakan bukti kuat yang menyatakan anak telah sakit TB.
  • 4.
    parameter 0 12 3 Kontak Tb Tdk jelas Laporan klrg,BTA- atau tdk tahu Kavitas +, BTA tdk jls BTA + Uji tuberkulin negatif Positif(≥10 mm, atau ≥ BB/status gizi BB/TB <90% BB/U <80% Klinis gibur,atau BB/TB <70% atau BB/U <60% Deman tnp sebab yg jelas ≥2 minggu batuk ≥3 minggu Pbsran klj limfe koli,aksila, inguinal ≥1 cm, jmlh>1,tdk nyeri Pbngkakan tlg/sendi panggul,lutut,falang Ada pbgkakan Foto Ro thorax Normal/ tdk jelas Infiltrat,pbsran klnjr,konsolidasi segmental/lobar, atelektasis Kalsifikasi+ infiltrat Pbsran klnjr+infiltrat
  • 5.
    ►Catatan: – diagnosis dgnsistem skoring ditegakkan oleh dktr. – Jika dijumpai skrofuloderma,lgsg didiagnosis tuberkulosis – BB dinilai saat dtg (moment opname) – Demam dan batuk tdk ada respon terhadap terapi sesuai baku – Foto Ro thorax bkn alat diagnostik utama pada TB anak– Foto Ro thorax bkn alat diagnostik utama pada TB anak – Semua anak dgn reaksi cpt BCG harus dievaluasin dgn sistem skoring TB anak – Didiagnosis TB jika jmlh skor ≥6 (skor maksimal 14( cut off point ini masih bersifat tentatif/sementara, nilai definitif menunggu hasil penelitian yang sedang dilaksanakan
  • 6.
    PENGOBATAN TB PADAANAK • Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. OAT pada anak diberikan setiap hari, baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak. Dosis OAT Kombipak pada anak Jenis Obat BB < 10 kg BB 10 – 20 kg BB 20 – 32 kg Isoniasid 50 mg 100 mg 200 mg Rifampicin 75 mg 150 mg 300 mg Pirasinamid 150 mg 300 mg 600 mg
  • 7.
    Berat badan (kg)2 bulan tiap hari RHZ (75/50/150) 4 bulan tiap hari RH (75/50) 5-9 1 tablet 1 tablet 10-19 2 tablet 2 tablet 20-32 4 tablet 4 tablet Dosis OAT KDT pada anak Keterangan:Keterangan: Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit Anak dengan BB 15 – 19 kg dapat diberikan 3 tablet. Anak dengan BB > 33 kg , dirujuk ke rumah sakit. Obat harus diberikan secara utuh, tidak boleh dibelah OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum
  • 8.
    PROFILAKSIS PADA ANAK •Pada semua anak, terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif, perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. • Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5, kepada anaksistem didapat skor < 5, kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. • Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG, imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai.
  • 9.
    Original ISTC 1sted 2006 ISTC 17 Standard 6 StandardsDiagnosis 9 StandardsTreatment 2 StandardsPublic Health
  • 10.
    ISTC in Indonesia edisi2 • Standard untuk diagnosis 6 • Standard untuk pengobatan 7 • Standar untuk penanganan tb• Standar untuk penanganan tb dgn infeksi HIV dan kondisi komorbid lain 4 • Standard untuk kesehatan masyarakat 4
  • 11.
    Standard 1 Setiap orangdgn batuk produktif ≥ 2-3 mgg yg tidak jelas penyebabnya harus dievaluasi untuk tb Catatan : untuk pasien anak, batuk bukan gejala utama TB melainkan : – Penurunan BB atau FTT dlm 2 bulan terakhir – Demam lebih dari 2 minggu tanpa alasan yang jelas – Ada kontak dengan Orang dewasa yg menderita TB aktif
  • 12.
    Standard 2 • Semuapasien (dewasa, remaja, dan anak) yg diduga menderita tb paru harus menjalani pemeriksaan dahak mikroskopik minimal 2 X yg diperiksa di lab yg kualitasnya terjamin. • Jika mungkin paling tidak satu spesimen harus berasal dari dahak pagi hari. • Catatan : boleh di lakukan bila anak dapat mengeluarkan Sputum
  • 13.
    Standard 3 Semua pasien(dewasa, remaja, dan anak) yg diduga menderita tb ekstra-paru.. Catatan : pemeriksaan untuk TB paru harus diCatatan : pemeriksaan untuk TB paru harus di lakukan, con ; pemeriksaan sputum pada pasien yg mgkn dimlakukan, TST pada anak dan CXR.
  • 14.
    ISTC Standar 4 Semuaorang dengan temuan foto toraks diduga tuberkulosis seharusnya menjalani pemeriksaan dahak secara mikrobiologi pemeriksaan dahak pada pasien anak bila 14 pemeriksaan dahak pada pasien anak bila memungkinkan, namun biasanya sulit. TST harus di lakukan
  • 15.
    ISTC Standar 6 Diagnosistuberkulosis intratoraks (yakni paru, pleura, dan kelenjar getah bening hilus atau mediastinum) pada anak dengan gejala namun sediaan apus dahak negatif seharusnya didasarkan atas kelainan radiografi toraks sesuai tuberkulosis dan pajanan kepada kasus tuberkulosis yang 15 atas kelainan radiografi toraks sesuai tuberkulosis dan pajanan kepada kasus tuberkulosis yang menular atau bukti infeksi tuberkulosis (uji kulit tuberkulin positif atau interferon gamma release assay). Untuk pasien seperti ini, bila tersedia fasiliti bahan dahak seharusnya diambil untuk biakan (dengan cara batuk, kumbah lambung, atau induksi dahak)
  • 16.
  • 17.
    Standard 8 • Semuapasien (termasuk mereka yang terinfeksi HIV) yang belum pernah diobati harus diberi paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional menggunakan obat yang bioavailabilitinya telah diketahui. Fase awal seharusnya terdiri dari isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol.rifampisin, pirazinamid, dan etambutol. • Untuk anak, Fase inisial harusnya terdiri dari H, R, Z • Fase Severe di berikan 4-5 obat dengan fase maintenance lbh lama (9-12 bln)
  • 18.
    Standard 10 • Padapasien tb ekstra- paru dan pada anak, penilaian respons pengobatan terbaik adalah secara klinis. • Respon Terapi terhadap TB milier, TB efusi Pleura dan Sputum (–) dapat di monitor CXR(–) dapat di monitor CXR
  • 19.
    STANDAR UNTUK PENANGANANTB DGN INFEKSI HIV DAN KONDISI KOMORBID LAINHIV DAN KONDISI KOMORBID LAIN
  • 20.
    Standard 16 • Pasiendgn infeksi HIV yg setelah dievaluasi dgn seksama, tidak menderita tb aktif seharusnya diobati sebagai infeksi tb laten dgn H selama 6-9 bln.bln. • IPT( Izoniazid Preventif Therapy) atau INH Profilaksis pada pasien HIV dengan infeksi tb laten belum merupakan kebijakan National TB Program
  • 21.
  • 22.
    Standard 18 • Semuapenyelenggara pelayanan untuk pasien tb seharusnya memastikan bahwa semua orang yg mempunyai kontak erat dgn pasien tb menular seharusnya dievaluasi dan ditatalaksana sesuai dgnseharusnya dievaluasi dan ditatalaksana sesuai dgn rekomendasi internasional. Terutama anakn < 5 tahun • Semua tenaga medis yang mengobati pasien TB harus melacak Sumber TB tsb.
  • 23.
    Standard 19 • Anakberusia < 5 tahun dan individu semua usia dengan infeksi HIV yg memiliki kontak erat dgn pasien tb dan setelah dievaluasi dengan seksama, tidak menderita tb aktif, harus diobati sebagai infeksi laten tb dgn INH.laten tb dgn INH. • IPT untuk pasien (< 5 Tahun dan HIV) dengan kontak erat yang sedang menjalankan pelaksaan Trial Program.
  • 24.
    Standard 21 • Semuapenyelenggaraan pelayanan kesehatan harus melaporkan kasus tb baru maupun kasus pengobatan ulang serta hasil pengobatannya ke kantor Dinas Kesehatan setempat sesuai dgn peraturan hukum dan kebijaksanaan yg berlaku. • Pelaksanaan pelaporan seharusnya difasilitasi dan dikoordinasikan oleh dinas kesehatan setempat, sesuai dgn kesepakatan yg dibuat
  • 25.
    • ISTC harusdi ketahui dan di laksanaan oleh TB health care provider termasuk dokter spesialis anak • Ada aspek khusus pada pasien TB anak yang harus di pertimbangkan oleh Spesialis anak • Diagnosis: TST adl salah 1 pemeriksaan wajib • Melacak asal Kontak TB dan Manajemen yg baik sangat penting Terutama anak di bawah 5 Tahun.
  • 26.
    Meningkatnya prevalensi HIVmembawa dampak peningkatan insiden serta masalah TB lainnya misalnya TB diseminata (TB milier),TB ekstrapulmonal,serta MDR-TB.Di Indonesia TB pada HIV ekstrapulmonal,serta MDR-TB.Di Indonesia peningkatan pengidap HIV positif,terutama dengan meningkatnya pengguna narkoba,akan meningkatkan insiden TB.
  • 27.
    Infeksi HIV dapatmenyulitkan diagnosis dan tatalaksana karena faktor-faktor berikut: 1. Beberapa penyakit yang erat kaitannya dengan HIV , termasuk TB,banyak kemiripan gejala 2. Interpretasi uji tuberkulin kurang dapat dipercaya.Anak dengan kondisi imunokompromais mungkin menunjukkan hasil negatif meskipun sebenarnya telahmenunjukkan hasil negatif meskipun sebenarnya telah terinfeksi TB 3. Anak yang kontak dengan orang tua pengidap HIV dengan BTA sputum positif mempunyai kemungkinan terinfeksi TB maupun HIV.Jika hal ini terjadi,dapat terjadi kesulitan dalam tatalaksana dan mempertahankan keteraturan pengobatan.
  • 28.
    Pendekatan diagnosis TBpada anak dengan HIV pada prinsipnya sama dengan anak yang tanpa HIV yaitu : • Gejala kronik sugestif TB • Hasil pemeriksaan fisis yang sangat menunjang TB • Hasil uji tuberkulin ≥ 5 mm• Hasil uji tuberkulin ≥ 5 mm • Foto rontgen toraks sugestif TB • Pemeriksaan Histologi  granuloma spesifik atau non spesifik  tanpa sel langhans, sel epiteloid, atau nekrosis perkijuan
  • 29.
    Pengobatan • Pengobatan TBpada anak dengan HIV paling sedikit 3 macam obat yaitu rifampisin, isoniazid dan pirazinamid pada 2 bulan pertama ,diikuti dengan pemberian rifampisin dan isoniazid.Total lama pemberian OATdan isoniazid.Total lama pemberian OAT adalah 6-9 bulan . • Obat keempat yaitu etambutol atau streptomisin diberikan pada TB diseminata atau bila terdapat resistensi.
  • 30.
    Tatalaksana TB padaanak dengan HIV yang sedang atau akan mendapatkan pengobtan antiretroviral harus dilakukan hati-hati dan memperlihatkan interaksi antar obat –obatmemperlihatkan interaksi antar obat –obat yang diberikan.
  • 31.
    Parameter Pasien non-HIVPasien HIV Bentuk dan tempat lesi Di apeks, dalam bentuk kavitas -Di mediastinum dan hilus dalam bentuk adenopati -Di lobus tengah dan bawah dalam bentuk lesi tuberkulosis -Di luar paru dalam bentuk lesi milier atau tuberkulosis kelenjar Perbedaan gambaran radiologi TB pada pasien non-HIV dan pasien HIV Penurunan limfosit T4 ringan Lesi di lobar atas dan bawah, adenopati mediastinal, efusi pleura Penurunan limfosit T4 berat -Infiltrat paru difus -Lesi diluar paru lebih banyak -Prognosis lebih jelek
  • 32.