KEBIJAKAN PROGRAM
PENANGGULANGAN TBC DI INDONESIA
TUJUAN DAN TARGET PENANGGULANGAN TBC
1. Tujuan
Melindungi kesehatan masyarakat dari penularan TBC agar tidak
terjadi kesakitan, kematian dan kecacatan
2. Target
o Target nasional program penanggulangan TBC adalah eliminasi TBC
pada tahun 2030 dan Indonesia bebas TBC tahun 2050.
o Eliminasi TBC adalah tercapainya cakupan TBC <1/100.000
penduduk.
KOMITMEN GLOBAL, REGIONAL DAN NASIONAL
2020 2025 2030 2050
1. Eliminasi Kusta
2. Pengendalian PTM
3. Bebas ODGJ/pasung
1. Eliminasi Rubella
2. Eliminasi Filaria
3. Eliminasi Schistosomo
4. Eliminasi Rabies
5. Eradikasi Frambusia
6. Eliminasi Campak
7. Eliminasi penularan HIV
dari Ibu ke Anak
1. Eliminasi Malaria
2. Eliminasi TBC
3. Getting to three zero
HIV/AIDS
4. Eliminasi Hepatitis C
1. Indonesia Bebas TBC
3
SITUASI TBC DUNIA
WHO 2017
o Didunia diperkirakan 10.400.000 kasus TBC.
• 3.700.000 (35%) wanita
• 6.700.000 (65%) pria
• 1.030.000 (9,9%) positif HIV - 374.000 (36%)
meninggal.
• 1.040.000 (10%) TB anak - 140.000
meninggal.
• TB Resisten obat - 240.000 meninggal.
INDIA
2.740.000
CINA
889.000
INDONESIA
842.000
FILIPINA
581.000
PAKISTAN
525.000
2
5
POSISI INDONESIA DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS
Indonesia merupakan negara
dengan triple burden TB
untuk insiden TB, insiden TB RO,
dan TB HIV
1
3
4
5
INDIA
135.0000
CINA
73.000
RUSIA
56.000
PAKISTAN
27.000
FILIPINA
27.000
NIGERIA
24.000
INDONESIA
23.000
UKRAINA
20.000
Pada tahun 2016,
Indonesia peringkat 2
di dunia, tahun 2017
menjadi peringkat 3
6
7
8
5
4
1
2
3
TUBERKULOSI
S
TB RO
5
AFRIKA SELATAN
193.000
INDIA
86.000
MOZAMBIQ
66.000
NIGERIA
58.000
TANZANIA
48.000
KENYA
45.000
INDONESIA
36.000
ZAMBIA
36.000
6
7
8
5
4
1
2
3
TB HIV
STRATEGI PENGENDALIAN TBC
1. Penguatan kepemimpinan program di Kab/Kota
2. Peningkatan akses layanan bermutu
3. Pengendalian faktor risiko
4. Peningkatan kemitraan melalui forum koordinasi TBC
5. Peningkatan kemandirian masyarakat
6. Penguatan manajemen program
Penguatan kepemimpinan program di
Kab/Kota
Promosi : Advokasi, komunikasi dan mobilisasi sosial
Regulasi dan peningkatan pembiayaan
Koordinasi dan sinergisme program
Peningkatan akses layanan bermutu
Peningkatan jejaring layanan melalui PPM
Penemuan aktif berbasis keluarga dan masyarakat
Peningkatan kolaborasi layanan (TB-HIV, TB-DM, MTBS, PAL)
Kepatuhan dan kelangsungan pengobatan
Cakupan layanan semesta.
Pengendalian faktor risiko
1. Promosi lingkungan dan hidup sehat.
2. Penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi TB.
3. Pengobatan pencegahan dan imunisasi TBC
4. Memaksimalkan penemuan TB secara dini, mempertahankan cakupan dan
keberhasilan pengobatan yang tinggi.
Peningkatan Kemandirian Masyarakat
1. Peningkatan partisipasi pasien, mantan pasien, keluarga dan masyarakat.
2. Pelibatan peran masyarakat dalam , penemuan kasus, dan dukungan
pengobatan TB
3. Pelibatan masyarakat dalam promosi TBC
4. Pemberdayaan masyarakat melalui Integrasi Layanan TBC di UKBM
Peningkatan Kemitraan TB
• Peningkatan kemitraan melalui forum koordinasi TB pusat
• Peningkatan kemitraan melalui forum TB di daerah
Penguatan Manajemen Program
• SDM
• Logistik
• Regulasi dan pembiayaan
• Sistem informasi
• Penelitian dan pengembangan inovasi program
KEGIATAN PENANGGULANGAN TB
PROMOSI KESEHATAN
SURVEILANS TBC
PENGENDALIAN FAKTOR RESIKO
PENEMUAN DAN PENANGANAN KASUS
TBC
PEMBERIAN KEKEBALAN
PEMBERIAN OBAT PENCEGAHAN
PENEMUAN DAN PENANGANAN KASUS
1. Penemuan kasus
a. Penemuan Kasus TBC aktif
o Investigasi dan pemeriksaan kasus kontak
o Skrining secara massal terutama pada kelompok beresiko
o Skrining pada kondisi situasi khusus
b. Penemuan kasus pasif
o Pemeriksaan pasien yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan
2. Penanganan kasus
Melalui tatalaksana kasus untuk memutus rantai penularan dan pengobatan terdiri atas :
a. Pengobatan dan penangan efek samping
b. Pengawasan kepatuhan menelan obat
c. Pemantauan kemajuan pengobatan dan hasil pengobatan
d. Pelacakan kasus mangkir
PERAN SERTA MASYARAKAT
Melalui cara :
1. Penemuan orang terduga TBC
2. Dukungan pengobatan TBC
3. Pencegahan TBC
4. Mengatasi faktor sosial yang
mempengaruhi
penanggulangan TBC
PERAN DAN KEGIATAN MAASYARAKAT DAN
ORGANISASI KEMASYARAKATAN
PERAN KEGIATAN
Pencegahan TBC Penyuluhan TBC, pelaksanaan KIEuntuk berperilaku hidup
bersih dan sehat, pelatihan kader.
Deteksi dini terduga TBC Membantu pelacakan kontak erat pasien dengan gejala
TBC,pengumpulan dahak terduga TBC, pelatihan kader.
Melakukan rujukan Mendampingi orang terduga TBC untuk memeriksakan diri
kefasilitas layanan kesehatan,
Dukungan/motivasi
Keteraturan pengobatan pasien
TBC
Dukungan motivasi dan sebagai Pengawas Menelan Obat
(PMO), kelompok pasien, diskusi kelompok sebaya.
PERAN DAN KEGIATAN MAASYARAKAT DAN
ORGANISASI KEMASYARAKATAN
PERAN KEGIATAN
Dukungan sosial ekonomi Dukungan transport pasien TBC, nutrisi dan suplemen pasien
TBC, peningkatan ketrampilan pasien TBC guna
meningkatkan penghasilan, memotivasi mantan pasien untuk
dapat mendampingi pasien TBC.
Advokasi Membantu memberi masukan untuk penyusunan bahan
advokasi
Mengurangi stigma. Diseminasi informasi tentang TBC, membentuk kelompok
pendidik sebaya, testimoni pasien TBC.
PRIORITAS KEGIATAN TB 2020
18
• Penyakit menular langsung, disebabkan
oleh kuman (Mycobacterium tuberculosis)
o Bukan penyakit keturunan / kutukan /guna-
guna.
• Dapat menyerang siapa saja
• Bisa disembuhkan
• Sebagian besar menyerang paru-paru
(dapat menyerang tulang, kelenjar, kulit)
TUBERKULOSIS (TBC)
GEJALA TBC PADA ORANG DEWASA
GEJALA TBC ANAK
Batuk > 2
minggu
(bukan gejala
utama)
Berat badan
tidak naik
selama 2
bulan
Anak lesu,
tidak aktif,
tidak nafsu
makan.
PENULARAN TBC
o Penularan melalui
udara.
o Sumber penularan
adalah percikan dahak
penderita.
o Dipengaruhi oleh
jumlah kuman, lama
kontak dan daya tahan
tubuh.
o Penderita HIV/AIDS,
Kencing manis, Usila,
Gizi Buruk, Anak lebih
rentan terkena TBC
o Kuman bertahan
dirungn gelap dan
lembab sampai
beberapa bulan.
o Jumlah kuman yang
keluar :
 Bicara : 0-210
 Batuk : 0-3.500
 Bersin : 4.500-1
juta
GAMBAR MACAM-MACAM TBC
TBC PARU TBC TULANG TBC KULIT
PEMERIKSAAN TBC
PENGOBATAN TBC
• Pengobatan TBC sensitif obat selama
6-8 bulan:
o Tahap awal: 4 jenis obat dan diminum
setiap hari, selama 2-3 bulan.
• Isoniasida (INH)
• Rifampicin (R)
• Pirazinamide (P)
• Ethambutol (E)
o Tahap lanjutan: 2 jenis obat dan
diminum 3 kali perminggu, selama 4-5
bulan.
• Isoniasida (INH)
• Rifampicin (R).
• Adalah kondisi kuman M. Tuberculosis sudah kebal terhadap obat anti
tuberkul0sis (OAT).
• Disebabkan oleh penatalaksanaan yang tidak tepat, misalnya:
oKualitas obat rendah
oPutus minum obat
oPengobatan tidak standard (dosis, jangka waktu, jenis obat)
• Membutuhkan pengobatan 9-24 bulan.
• Segera konsultasi dengan petugas kesehatan
TBC RESISTEN OBAT (TB-RO)
• Adalah penyakit yang diderita oleh seseorang yang dapat
mempercepat atau mempermudah timbulnya penyakit TBC.
1. Infeksi HIV / AIDS
2. Kencing manis / Diabetes mellitus / DM
Tidak harus menunjukkan gejala batuk.
KOMORBID TBC
• Penderita HIV akan mempunyai risiko 20-37 kali dibandingkan dengan
yang tidak terinfeksi HIV.
• Angka kematian ODHA dengan TBC sebesar 36 % (1.030.000 penderita TB
positif HIV - 374.000 meninggal (WHO, 2017).
• Pasien TBC harus diperiksa HIV serta sebaliknya.
• Bagi penderita AIDS yang tidak terbukti sakit TBC diberikan
pengobatan INH.
Infeksi HIV / AIDS
• Penderita DM mempunyai risiko 3 kali lebih tinggi terkena TBC.
• Semua penderita DM harus diperiksa TBC serta sebaliknya.
• Akan membantu proses penyembuhan.
Kencing Manis / Diabetes mellitus / DM
PENGAWAS MINUM OBAT
Adalah seseorang yang secara sukarela mendampingi
pasien TBC menelan obat.
Tugas :
1. Memastikan pasien menelan obat sesuai aturan
2. Mendampingi dan memberikan dukungan moral
3. Mengingatkan pasien TBC untuk mengambil obat
dan periksa ulang dahak sesuai jadwal
4. Menemukan dan mengenali gejala-gejala efek
samping obat dan merujuk ke Sarana Pelayanan
Kesehatan
5. Memberikan penyuluhan tentang TBC kepada
keluarga pasien atau orang yang tinggal serumah
SELESAIKAN MINUM OBAT
Jika minum obat tidak selesai :
1. Penyakit tidak sembuh dan tetap
menularkan ke orang lain
2. Penyakit bertambah parah dan bisa
berakibat kematian
3. Obat Anti TB (OAT) biasa tidak dapat
membunuh kuman, sehingga pasien
tidak bisa disembuhkan, harus
menggunakan penanganan yang lebih
mahal dan waktu pengobatan lebih
lama.
UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN TBC
Imunisasi BCG saat bayi
ETIKA BATUK
o Jika sedang menderita batuk sebaiknya menggunakan masker.
o Tutup mulut dan hidung saat batuk (dengan tisue, sapu tangan atau lengan
bagian dalam).
o Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun.
Strategi Penemuan Kasus TBC
Strategi penemuan pasien TBC di Indonesia dapat dilakukan:
1. Secara pasif dan intensif di fasyankes
Pasif  pada pasien bergejala yang berkunjung
Intensif  pada pasien yang berisiko sakit TBC
2. Secara aktif (kegiatan di luar gedung) dan masif (cakupan seluas mungkin).
Dilakukan pada pasien yang berkunjung ke fasyankes/ dalam
gedung dengan penguatan jejaring layanan
1. Pasif  pada pasien bergejala
2. Intensif  pada pasien yang berisiko sakit TBC antara lain:
ODHA, Diabetes Mellitus, Malnutrisi, Gagal Ginjal, penyakit
keganasan, pemakaian imunosupresan jangka panjang,
(thalasemia dan autoimun), Lansia, anak balita, ibu hamil,
orang dengan riwayat pasien TBC, perokok.
Penemuan Pasif-intensif
Penemuan TBC secara aktif
 Dilakukan di luar fasyankes/gedung oleh petugas kesehatan dibantu
oleh kader kesehatan posyandu, pos TBC desa, posbindu, tokoh
masyarakat, dan tokoh agama, kader organisasi kemasyarakatan,
Babinsa, kelompok dukungan pasien dan kelompok peduli TBC lainnya.
 Kegiatan ini dapat berupa:
1. Investigasi Kontak
2. Penemuan aktif pada kondisi khusus
3. Penemuan aktif di tempat khusus
4. Penemuan aktif melalui pendekatan keluarga dan masyrakat
 Menemukan secara dini pasien TBC dari kelompok resiko tinggi yang
ada di masyarakat.
 Antara lain pada: Anak usia < 5 tahun, orang dengan gangguan sistem
imunitas, malnutrisi, lansia, wanita hamil, asma, perokok dan mantan
pasien TBC
Penemuan Aktif pada Kondisi Khusus
Penemuan Kasus TBC di tempat Khusus
• Dilakukan secara berkala dan atau rutin pada anggota masyarakat yang
bertempat tinggal di wilayah atau tempat yang memiliki akses terbatas ke
layanan kesehatan
• Perlu kolaborasi yang erat antara stakeholder terkait dalam hal
pengorganisasian dan pembiayaan
• Penemuan di tempat khusus mencakup 3 hal antara lain:
 Penemuan pada lingkungan yang mudah terjadi penularan TBC
 Daerah yang sulit mengakses layanan kesehatan, dan
 Daerah yang teridentifikasi sebagai kantung TBC
.
Penemuan pada Lingkungan yang Mudah Terjadi Penularan TB
• Pada daerah yang dihuni/ ditempati banyak orang, kontak yang
lama, ruangan yang tertutup.
• Misalnya Lapas/Rutan, RS Jiwa, Tempat kerja
(perusahaan/pabrik/industri, pertambangan), Sekolah
berasrama, Panti jompo, panti sosial, Daerah kumuh (Kupat
Kumis)
Rutan
sekolah tempat kerja panti jompo
Daerah yang sulit mengakses layanan kesehatan
• Dilakukan di tempat penampungan pengungsi dan DTPK (Daerah Terpencil, Perbatasan dan
Kepulauan).
• Dilakukan oleh petugas kesehatan dibantu kader kesehatan/anggota masyarakat.
• Ada 2 cara yang bisa dilakukan yaitu antara lain:
 Dengan penapisan gejala dan atau faktor risiko TBC, dilanjutkan dengan
pengumpulan dan pengiriman sediaan dahak dari terduga TBC yang ditemukan
selama kegiatan.
 Mendatangkan/mendekatkan layanan TBC termasuk sarana diagnostik TBC ke tengah
masyarakat, misalnya TCM dan mobil X-Ray keliling sesuai jadwal tertentu.
• Hasil diagnosis harus dipastikan pasiennya mendapatkan akses terhadap pengobatan
TBC.
Daerah yang Teridentifikasi Sebagai Kantung TB
• Adalah daerah yang memiliki insiden TBC yang tinggi apabila dibandingkan
dengan angka insidensi TBC Nasional.
• Dilakukan dengan penapisan aktif secara masif yang berarti semua orang yang
tinggal di daerah tersebut setiap 6 bulan sekali akan ditapis sampai tidak
ditemukan kasus TBC pada kegiatan penemuan aktif berkala 2 kali berturut-turut.
• Dilakukan oleh Puskesmas sebagai penanggung jawab Upaya Kesehatan
Masyarakat (UKM) tingkat pertama bekerjasama dengan aparat pemerintahan
setempat
Penemuan Aktif Melalui Pendekatan Keluarga dan Masyarakat
• Memberdayakan anggota keluarga dan masyarakat dengan
memberikan pengetahuan, kemauan dan kemampuan keluarga
dalam penanggulangan TBC.
• Meningkatkan kemampuan keluarga dan masyarakat melakukan
mengidentifikasi/ mengenali gejala, faktor-faktor risiko, cara
mencegah dan dirujuk kemana serta mendapatkan pengobatan.
• Kegiatan ini dapat dilakukan antara lain:
1. Pemantauan Batuk
2. Ketuk Pintu
3. Penyuluhan
TB Paru.pptx

TB Paru.pptx

  • 1.
  • 2.
    TUJUAN DAN TARGETPENANGGULANGAN TBC 1. Tujuan Melindungi kesehatan masyarakat dari penularan TBC agar tidak terjadi kesakitan, kematian dan kecacatan 2. Target o Target nasional program penanggulangan TBC adalah eliminasi TBC pada tahun 2030 dan Indonesia bebas TBC tahun 2050. o Eliminasi TBC adalah tercapainya cakupan TBC <1/100.000 penduduk.
  • 3.
    KOMITMEN GLOBAL, REGIONALDAN NASIONAL 2020 2025 2030 2050 1. Eliminasi Kusta 2. Pengendalian PTM 3. Bebas ODGJ/pasung 1. Eliminasi Rubella 2. Eliminasi Filaria 3. Eliminasi Schistosomo 4. Eliminasi Rabies 5. Eradikasi Frambusia 6. Eliminasi Campak 7. Eliminasi penularan HIV dari Ibu ke Anak 1. Eliminasi Malaria 2. Eliminasi TBC 3. Getting to three zero HIV/AIDS 4. Eliminasi Hepatitis C 1. Indonesia Bebas TBC 3
  • 4.
    SITUASI TBC DUNIA WHO2017 o Didunia diperkirakan 10.400.000 kasus TBC. • 3.700.000 (35%) wanita • 6.700.000 (65%) pria • 1.030.000 (9,9%) positif HIV - 374.000 (36%) meninggal. • 1.040.000 (10%) TB anak - 140.000 meninggal. • TB Resisten obat - 240.000 meninggal.
  • 5.
    INDIA 2.740.000 CINA 889.000 INDONESIA 842.000 FILIPINA 581.000 PAKISTAN 525.000 2 5 POSISI INDONESIA DALAMPENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Indonesia merupakan negara dengan triple burden TB untuk insiden TB, insiden TB RO, dan TB HIV 1 3 4 5 INDIA 135.0000 CINA 73.000 RUSIA 56.000 PAKISTAN 27.000 FILIPINA 27.000 NIGERIA 24.000 INDONESIA 23.000 UKRAINA 20.000 Pada tahun 2016, Indonesia peringkat 2 di dunia, tahun 2017 menjadi peringkat 3 6 7 8 5 4 1 2 3 TUBERKULOSI S TB RO 5 AFRIKA SELATAN 193.000 INDIA 86.000 MOZAMBIQ 66.000 NIGERIA 58.000 TANZANIA 48.000 KENYA 45.000 INDONESIA 36.000 ZAMBIA 36.000 6 7 8 5 4 1 2 3 TB HIV
  • 6.
    STRATEGI PENGENDALIAN TBC 1.Penguatan kepemimpinan program di Kab/Kota 2. Peningkatan akses layanan bermutu 3. Pengendalian faktor risiko 4. Peningkatan kemitraan melalui forum koordinasi TBC 5. Peningkatan kemandirian masyarakat 6. Penguatan manajemen program
  • 7.
    Penguatan kepemimpinan programdi Kab/Kota Promosi : Advokasi, komunikasi dan mobilisasi sosial Regulasi dan peningkatan pembiayaan Koordinasi dan sinergisme program
  • 8.
    Peningkatan akses layananbermutu Peningkatan jejaring layanan melalui PPM Penemuan aktif berbasis keluarga dan masyarakat Peningkatan kolaborasi layanan (TB-HIV, TB-DM, MTBS, PAL) Kepatuhan dan kelangsungan pengobatan Cakupan layanan semesta.
  • 9.
    Pengendalian faktor risiko 1.Promosi lingkungan dan hidup sehat. 2. Penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi TB. 3. Pengobatan pencegahan dan imunisasi TBC 4. Memaksimalkan penemuan TB secara dini, mempertahankan cakupan dan keberhasilan pengobatan yang tinggi.
  • 10.
    Peningkatan Kemandirian Masyarakat 1.Peningkatan partisipasi pasien, mantan pasien, keluarga dan masyarakat. 2. Pelibatan peran masyarakat dalam , penemuan kasus, dan dukungan pengobatan TB 3. Pelibatan masyarakat dalam promosi TBC 4. Pemberdayaan masyarakat melalui Integrasi Layanan TBC di UKBM
  • 11.
    Peningkatan Kemitraan TB •Peningkatan kemitraan melalui forum koordinasi TB pusat • Peningkatan kemitraan melalui forum TB di daerah
  • 12.
    Penguatan Manajemen Program •SDM • Logistik • Regulasi dan pembiayaan • Sistem informasi • Penelitian dan pengembangan inovasi program
  • 13.
    KEGIATAN PENANGGULANGAN TB PROMOSIKESEHATAN SURVEILANS TBC PENGENDALIAN FAKTOR RESIKO PENEMUAN DAN PENANGANAN KASUS TBC PEMBERIAN KEKEBALAN PEMBERIAN OBAT PENCEGAHAN
  • 14.
    PENEMUAN DAN PENANGANANKASUS 1. Penemuan kasus a. Penemuan Kasus TBC aktif o Investigasi dan pemeriksaan kasus kontak o Skrining secara massal terutama pada kelompok beresiko o Skrining pada kondisi situasi khusus b. Penemuan kasus pasif o Pemeriksaan pasien yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan 2. Penanganan kasus Melalui tatalaksana kasus untuk memutus rantai penularan dan pengobatan terdiri atas : a. Pengobatan dan penangan efek samping b. Pengawasan kepatuhan menelan obat c. Pemantauan kemajuan pengobatan dan hasil pengobatan d. Pelacakan kasus mangkir
  • 15.
    PERAN SERTA MASYARAKAT Melaluicara : 1. Penemuan orang terduga TBC 2. Dukungan pengobatan TBC 3. Pencegahan TBC 4. Mengatasi faktor sosial yang mempengaruhi penanggulangan TBC
  • 16.
    PERAN DAN KEGIATANMAASYARAKAT DAN ORGANISASI KEMASYARAKATAN PERAN KEGIATAN Pencegahan TBC Penyuluhan TBC, pelaksanaan KIEuntuk berperilaku hidup bersih dan sehat, pelatihan kader. Deteksi dini terduga TBC Membantu pelacakan kontak erat pasien dengan gejala TBC,pengumpulan dahak terduga TBC, pelatihan kader. Melakukan rujukan Mendampingi orang terduga TBC untuk memeriksakan diri kefasilitas layanan kesehatan, Dukungan/motivasi Keteraturan pengobatan pasien TBC Dukungan motivasi dan sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO), kelompok pasien, diskusi kelompok sebaya.
  • 17.
    PERAN DAN KEGIATANMAASYARAKAT DAN ORGANISASI KEMASYARAKATAN PERAN KEGIATAN Dukungan sosial ekonomi Dukungan transport pasien TBC, nutrisi dan suplemen pasien TBC, peningkatan ketrampilan pasien TBC guna meningkatkan penghasilan, memotivasi mantan pasien untuk dapat mendampingi pasien TBC. Advokasi Membantu memberi masukan untuk penyusunan bahan advokasi Mengurangi stigma. Diseminasi informasi tentang TBC, membentuk kelompok pendidik sebaya, testimoni pasien TBC.
  • 18.
  • 19.
    • Penyakit menularlangsung, disebabkan oleh kuman (Mycobacterium tuberculosis) o Bukan penyakit keturunan / kutukan /guna- guna. • Dapat menyerang siapa saja • Bisa disembuhkan • Sebagian besar menyerang paru-paru (dapat menyerang tulang, kelenjar, kulit) TUBERKULOSIS (TBC)
  • 20.
    GEJALA TBC PADAORANG DEWASA
  • 21.
    GEJALA TBC ANAK Batuk> 2 minggu (bukan gejala utama) Berat badan tidak naik selama 2 bulan Anak lesu, tidak aktif, tidak nafsu makan.
  • 22.
    PENULARAN TBC o Penularanmelalui udara. o Sumber penularan adalah percikan dahak penderita. o Dipengaruhi oleh jumlah kuman, lama kontak dan daya tahan tubuh. o Penderita HIV/AIDS, Kencing manis, Usila, Gizi Buruk, Anak lebih rentan terkena TBC o Kuman bertahan dirungn gelap dan lembab sampai beberapa bulan. o Jumlah kuman yang keluar :  Bicara : 0-210  Batuk : 0-3.500  Bersin : 4.500-1 juta
  • 23.
    GAMBAR MACAM-MACAM TBC TBCPARU TBC TULANG TBC KULIT
  • 24.
  • 25.
    PENGOBATAN TBC • PengobatanTBC sensitif obat selama 6-8 bulan: o Tahap awal: 4 jenis obat dan diminum setiap hari, selama 2-3 bulan. • Isoniasida (INH) • Rifampicin (R) • Pirazinamide (P) • Ethambutol (E) o Tahap lanjutan: 2 jenis obat dan diminum 3 kali perminggu, selama 4-5 bulan. • Isoniasida (INH) • Rifampicin (R).
  • 26.
    • Adalah kondisikuman M. Tuberculosis sudah kebal terhadap obat anti tuberkul0sis (OAT). • Disebabkan oleh penatalaksanaan yang tidak tepat, misalnya: oKualitas obat rendah oPutus minum obat oPengobatan tidak standard (dosis, jangka waktu, jenis obat) • Membutuhkan pengobatan 9-24 bulan. • Segera konsultasi dengan petugas kesehatan TBC RESISTEN OBAT (TB-RO)
  • 27.
    • Adalah penyakityang diderita oleh seseorang yang dapat mempercepat atau mempermudah timbulnya penyakit TBC. 1. Infeksi HIV / AIDS 2. Kencing manis / Diabetes mellitus / DM Tidak harus menunjukkan gejala batuk. KOMORBID TBC
  • 28.
    • Penderita HIVakan mempunyai risiko 20-37 kali dibandingkan dengan yang tidak terinfeksi HIV. • Angka kematian ODHA dengan TBC sebesar 36 % (1.030.000 penderita TB positif HIV - 374.000 meninggal (WHO, 2017). • Pasien TBC harus diperiksa HIV serta sebaliknya. • Bagi penderita AIDS yang tidak terbukti sakit TBC diberikan pengobatan INH. Infeksi HIV / AIDS
  • 29.
    • Penderita DMmempunyai risiko 3 kali lebih tinggi terkena TBC. • Semua penderita DM harus diperiksa TBC serta sebaliknya. • Akan membantu proses penyembuhan. Kencing Manis / Diabetes mellitus / DM
  • 30.
    PENGAWAS MINUM OBAT Adalahseseorang yang secara sukarela mendampingi pasien TBC menelan obat. Tugas : 1. Memastikan pasien menelan obat sesuai aturan 2. Mendampingi dan memberikan dukungan moral 3. Mengingatkan pasien TBC untuk mengambil obat dan periksa ulang dahak sesuai jadwal 4. Menemukan dan mengenali gejala-gejala efek samping obat dan merujuk ke Sarana Pelayanan Kesehatan 5. Memberikan penyuluhan tentang TBC kepada keluarga pasien atau orang yang tinggal serumah
  • 31.
    SELESAIKAN MINUM OBAT Jikaminum obat tidak selesai : 1. Penyakit tidak sembuh dan tetap menularkan ke orang lain 2. Penyakit bertambah parah dan bisa berakibat kematian 3. Obat Anti TB (OAT) biasa tidak dapat membunuh kuman, sehingga pasien tidak bisa disembuhkan, harus menggunakan penanganan yang lebih mahal dan waktu pengobatan lebih lama.
  • 32.
    UPAYA PENCEGAHAN PENULARANTBC Imunisasi BCG saat bayi
  • 33.
    ETIKA BATUK o Jikasedang menderita batuk sebaiknya menggunakan masker. o Tutup mulut dan hidung saat batuk (dengan tisue, sapu tangan atau lengan bagian dalam). o Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun.
  • 34.
    Strategi Penemuan KasusTBC Strategi penemuan pasien TBC di Indonesia dapat dilakukan: 1. Secara pasif dan intensif di fasyankes Pasif  pada pasien bergejala yang berkunjung Intensif  pada pasien yang berisiko sakit TBC 2. Secara aktif (kegiatan di luar gedung) dan masif (cakupan seluas mungkin).
  • 35.
    Dilakukan pada pasienyang berkunjung ke fasyankes/ dalam gedung dengan penguatan jejaring layanan 1. Pasif  pada pasien bergejala 2. Intensif  pada pasien yang berisiko sakit TBC antara lain: ODHA, Diabetes Mellitus, Malnutrisi, Gagal Ginjal, penyakit keganasan, pemakaian imunosupresan jangka panjang, (thalasemia dan autoimun), Lansia, anak balita, ibu hamil, orang dengan riwayat pasien TBC, perokok. Penemuan Pasif-intensif
  • 36.
    Penemuan TBC secaraaktif  Dilakukan di luar fasyankes/gedung oleh petugas kesehatan dibantu oleh kader kesehatan posyandu, pos TBC desa, posbindu, tokoh masyarakat, dan tokoh agama, kader organisasi kemasyarakatan, Babinsa, kelompok dukungan pasien dan kelompok peduli TBC lainnya.  Kegiatan ini dapat berupa: 1. Investigasi Kontak 2. Penemuan aktif pada kondisi khusus 3. Penemuan aktif di tempat khusus 4. Penemuan aktif melalui pendekatan keluarga dan masyrakat
  • 37.
     Menemukan secaradini pasien TBC dari kelompok resiko tinggi yang ada di masyarakat.  Antara lain pada: Anak usia < 5 tahun, orang dengan gangguan sistem imunitas, malnutrisi, lansia, wanita hamil, asma, perokok dan mantan pasien TBC Penemuan Aktif pada Kondisi Khusus
  • 38.
    Penemuan Kasus TBCdi tempat Khusus • Dilakukan secara berkala dan atau rutin pada anggota masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah atau tempat yang memiliki akses terbatas ke layanan kesehatan • Perlu kolaborasi yang erat antara stakeholder terkait dalam hal pengorganisasian dan pembiayaan • Penemuan di tempat khusus mencakup 3 hal antara lain:  Penemuan pada lingkungan yang mudah terjadi penularan TBC  Daerah yang sulit mengakses layanan kesehatan, dan  Daerah yang teridentifikasi sebagai kantung TBC .
  • 39.
    Penemuan pada Lingkunganyang Mudah Terjadi Penularan TB • Pada daerah yang dihuni/ ditempati banyak orang, kontak yang lama, ruangan yang tertutup. • Misalnya Lapas/Rutan, RS Jiwa, Tempat kerja (perusahaan/pabrik/industri, pertambangan), Sekolah berasrama, Panti jompo, panti sosial, Daerah kumuh (Kupat Kumis) Rutan sekolah tempat kerja panti jompo
  • 40.
    Daerah yang sulitmengakses layanan kesehatan • Dilakukan di tempat penampungan pengungsi dan DTPK (Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan). • Dilakukan oleh petugas kesehatan dibantu kader kesehatan/anggota masyarakat. • Ada 2 cara yang bisa dilakukan yaitu antara lain:  Dengan penapisan gejala dan atau faktor risiko TBC, dilanjutkan dengan pengumpulan dan pengiriman sediaan dahak dari terduga TBC yang ditemukan selama kegiatan.  Mendatangkan/mendekatkan layanan TBC termasuk sarana diagnostik TBC ke tengah masyarakat, misalnya TCM dan mobil X-Ray keliling sesuai jadwal tertentu. • Hasil diagnosis harus dipastikan pasiennya mendapatkan akses terhadap pengobatan TBC.
  • 41.
    Daerah yang TeridentifikasiSebagai Kantung TB • Adalah daerah yang memiliki insiden TBC yang tinggi apabila dibandingkan dengan angka insidensi TBC Nasional. • Dilakukan dengan penapisan aktif secara masif yang berarti semua orang yang tinggal di daerah tersebut setiap 6 bulan sekali akan ditapis sampai tidak ditemukan kasus TBC pada kegiatan penemuan aktif berkala 2 kali berturut-turut. • Dilakukan oleh Puskesmas sebagai penanggung jawab Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) tingkat pertama bekerjasama dengan aparat pemerintahan setempat
  • 42.
    Penemuan Aktif MelaluiPendekatan Keluarga dan Masyarakat • Memberdayakan anggota keluarga dan masyarakat dengan memberikan pengetahuan, kemauan dan kemampuan keluarga dalam penanggulangan TBC. • Meningkatkan kemampuan keluarga dan masyarakat melakukan mengidentifikasi/ mengenali gejala, faktor-faktor risiko, cara mencegah dan dirujuk kemana serta mendapatkan pengobatan. • Kegiatan ini dapat dilakukan antara lain: 1. Pemantauan Batuk 2. Ketuk Pintu 3. Penyuluhan

Editor's Notes

  • #6 Indonesia merupakan salah satu negara yang menghadapi triple burden TB untuk insiden TB, insiden TB RO, dan TB HIV. Berdasarkan Global TB Report 2018, Indonesia menduduki peringkat ke-3 untuk insiden, peringkat ke-7 untuk beban TB RO, dan peringkat ke-7 untuk beban TB HIV.
  • #25 Pembacaan tuberculin test: Reading of 0 – 4 mm shows it is a negative result, this means the diagnosis is unlikely to be diagnose. Reading of 5 – 9mm shows it the result is indeterminate A reading of 10 – 14 mm is suggestive that the affected person may be positive for Tuberculosis A reading of more than 15 mm is positive of TB
  • #39 Rutan, RS Jiwa, tempat kerja, asrama, pondok pesantren, sekolah, panti jompo,panti sosial, tempat kerja dan tambang. Penemuan aktif ditempat khusus membutuhkan kolaborasi yang erat antara stakeholder yang terkait. Semua hasil terkait kegiatan penemuan aktif di tempat khusus harus dikelola oleh Puskesmas setempat sebagai penanggung jawab UKM di wilayah tersebut.
  • #40 Rutan, RS Jiwa, tempat kerja, asrama, pondok pesantren, sekolah, panti jompo,panti sosial, tempat kerja dan tambang. Penemuan aktif ditempat khusus membutuhkan kolaborasi yang erat antara stakeholder yang terkait. Semua hasil terkait kegiatan penemuan aktif di tempat khusus harus dikelola oleh Puskesmas setempat sebagai penanggung jawab UKM di wilayah tersebut.