I.

MAKSUD DAN TUJUAN
A. MAKSUD
Agar praktikan dapat mampu menguasai cara dan metoda serta menganalisa dan
mengevaluasi hasil proses simultan untuk polyester.
B. TUJUAN
Menghilangkan berbagai macam kotoran alam dan luar pada bahan tekstil secara
cepat dan murah dengan memberikan hasil yang relative baik.

II.

DASAR TEORI
TEORI SERAT
Serat polyester dikembangkan oleh J.R . Whinfield dan J.T. Dickson dari Calico
Printers Association.
Serat ini merupakan pengembangan dari polyester yang telah ditemukan oleh
Carothers.
I.C.I. di Inggris memproduksi serat polyester dengan nama Terylene dan kemudian
du Pont di Amerika pada tahun 1953, juga membuat serat polyester berdasarkan
patent dari Inggris dengan nama Dacron.
Serat polyester adalah serat sintetik yang terbentuk dari molekul polimer polyester
linier dengan susunan paling sedikit 85% berat senyawa dari hidroksi alcohol dan
asam terftalat.
Poliester atau yang dikenal dengan nama Terylene di Inggris ini dibuat dari asam
tereftalat dan etilena glikol. Etilena yang berasal dari penguraian minyak tanah
dioksidasi dengan udara, menjadi etilena oksida yang kemudian dihidrasi menjadi
etilena glikol. Asan tereftalat dibuat dari pra-Xilena yang harus bebas dari isomer
meta dan orto. P-Xilena merupakan bagian dari destilasi minyak tanah dan tidak
dapat dipisahkan dari isomer meta dan orto dengan cara destilasi.

Poliester termasuk ke dalam serat sintetik yang sangat pesat sekali perkembanganya
dan banyak digunakan untuk tekstil. Serat polyester cepat sekali memperoleh
perhatian konsumen oleh karena sifat mudah penanganannya (ease of care),
bersifat cuci pakai (wash and wear), tahan kusut dan awet. Sifat-sifat pakaiannya
lebih sempurna apabila dicampur dengan serat wol atau kapas.
Pebuatan serat poliester
Serat polyester dibuat secara pemintalan leleh dari dua jenis asam terftalat.
Molekul-molekulnya besar dan kaku, sukar dibengkokkan dan mudah kembali

1
kebentuk semula setelah berubah bentuknya. Filamen yang terjadi ditarik dalam
keadaan panas sampai lima kali panjang semula, kecuali filament yang kasar ditarik
dalam keadaan yang dingin. Jika hendak dibikin staple, filamennya dibuat keriting
kemudian dipotong-potong dalam panjang tertentu.
Pencelupannya dapa dilakukan pada suhu dibawah 100°C dengan dibantu zat
penggelembung serat. Zat tersebut akan memudahkan zat warna masuk kedalam
serat.
Serat polyester asli (kecuali kodel 11) dipintal dari senyawa homopolimer, yakni
polimernya terdiri dari pengulangan unit-unit molekul yang serupa atau dari satu
jenis monomer. Tetapi sekarang ada pula yang merupakan kopolimer yakni
polimernya terdiri dari lebih satu jenis monomer.

Sifat-sifat polyester:
Sifat fisika:
Poliester memiliki sifat yang khas, yakni dalam pengerjaan dengan larutan kaudtik
soda bagian kulitnya akan larut, sehingga diperoleh kain, benang atau serat yang
lebih tipis dengan tidak mengubah serat secara hebat. Pengerjaanini membuat
polyester mempunyai sifat pegangan seperti sutera. Pada umumnya kehilangan
berat sebesar 5% dianggap cukup baik.
 Kekuatan dan mulur
Terylene mempunyai kekuatan 4.5 gram/denier sampai 7.5 gram/denier dan
mulur 25% sampai 7.5% tergantung pada jenisnya. Kekuatan dan mulur dalam
keadaan basahnya hampir sama dengan dalam keadaan kering. Kekuatan
polyester dapat tinggi disebabkan karena proses peregangan dingin pada waktu
pemintalannya akan menyebabkan terjadinya pengkristalan molekul dengan
baik, demikian pula berat molekulnya dapat tinggi.
 Elastisitas
Poliester mempunyai elastisitas yang baik sehingga kain polyester tahan kusut.
Jika benang polyester ditarik dan kemudian dilepaskan pemulihan yang terjadi
dlam 1 menit adalah sebagai berikut:
Penarikan 2%.................... pulih 97%
Penarikan 4%.................... pulih 90%

2
Penarikan 8%.................... pulih 80%
 Moisture Regain
Dalam kondisi standard moisture regain polyester hanya 0.4%. Dalam RH 100%
moisture regainnya hanya 0.6-0.8%
 Modulus
Polyester mempunyai modulus yang tinggi. Pada pembeban 0.9 gram/denier
polyester hanya mulur 1% dan pada pembeban 1.75 gram/denier hanya mulur
2%. Modulus yang tinggi menyebabkan polyester pada tegangan kecil di dalam
penggulungan tidak akan mulur.
 Berat jenis
Berat jenis polyester 1.38
 Morfologi
Poliester berbentuk silinder dengan penampang lintang yang bulat.

Sifat kimia
Polyester tahan asam lemah meskipun pada suhu didih dan tahan asam kuat dingin.
Polyester tahan basa lemah tetapi kurang tahan basa kuat. Poliester tahan zat
oksidasi,alcohol,keton,sabun dan zat-zat untuk pencucian kering. Demikian pula
tahan terhadap serangga, jamur dan bakteri, sedangkan terhadap sinar matahari
ketahanannya cukup baik.

Poliester larut dalam meta-kresol panas, trifluoroasetat-orto-khlorofenol, campuran
7 bagian berat trikhlorofenol dan 10 bagian fenol dan campuran 2 bagian berat
tetrakhloroetena dan 3 bagian fenol.

 Zat penggelembung
Polyester akan menggelembungkan dalam larutan 2% asam benzoate asam
salisilat, fenol dan meta-kresol dalam air, disperse ½% monokhlorobenzena, pdikhlorobenzena, tetrahidronaftalena, metilbenzoat dan metal salisilat dalam air,
disperse 0.3% orto-fenil-fenol dan para-fenifenol dalam air.
 Titik leleh

3
Poliester meleleh diudara pada suhu 250°C dan tidak menguning pada suhu
tinggi.
 Sifat biologi
Poliester tahan serangga, jamur dan bakteri
 Tahan sinar
Seperti serat tekstil lainnya, polyester juga berkurang kekuatannya dalam
penyinaran yang lama tetapi tahan sinarnya masih cukup baik dibanding dengan
serat lain. Dibalik kaca tahan sinar polyester lebih baik dari kebanyakan serat.
 Mengkeret
Benang terylena apabila direndam dalam air mendidih akan mengkeret sampai
7% atau lebih.
 Pembakaran.
Poliester meskipun dapat dibakar tetapi karena diikuti oleh pelelehan yang
kemudian akan terlepas jatuh, maka nyala api tidak akan menjalar. Tetapi
apabila dicampur dengan serat lain yang membantu pembakaran, kain campuran
tersebut akan terbakar.
 Heat-set
Dimensi kain polyester dapat distabilkan dengan cara heat-set. Heat-set
dilikukan dengan cara mengerjakan kain dalam dimensi yang telah diatur
(biasanya dalam bentuk lebih) pada suhu 30-40°C lebih tinggi dari suhu
penggunaan kain sehari-hari. Untuk pakaian biasanya pada suhu 220-230°C.

Jenis polyester
Selain polyester biasa yang didalam perdagangan didagangkan dengan nama
Terylena, Dacron, Tetoron, Trivera, dan lainnya. Dikenal juga jenis lainnya yaitu
Dacron jenis 62, Kodel, Vycron, Grilene dan A-Tell.

Penggunaan
Karena sifat-sifatnya yang sangat baik, terutama sifat tahan kusut dan dimensinya
yang stabil, polyester banyak digunakan untuk bahan pakaian dan dasi. Untuk
pakaian ringan/tipis, polyester sangat baik jika dicampur dengan kapas. Selain itu,

4
polyester juga banyak digunakan untuk kain tirai karena ketahanannya terhadap
sinar dibalik kaca baik.
Polyester banyak pula dipergunakan untuk tekstil industri umpama untuk kantung
pencelupan, kaos kaki wanita, pipa pemadam kebakaran, tali-temali, jala, kain layar,
terpal, kain pelindung pada pabrik kimia dan benang ban.
Polyester dipergunakan sebagai ban pengangkut dalam pembuatan kertas, yang
memerlukan ban pengangkut tahan suhu sampai 120 C, lembab dan asam, dan juga
dipergunakan dalam pabrik kimia. Karena polyester lebih tahan suhu tinggi
disbanding dengan serat sintetik lainnya, kecuali Teflon yang sangat mahal
menyebabkan polyester baik dipergunakan sebagai isolasi dalam motor listrik.
Sifat polyester yang tahan asam, membuat polyester baik dipergunakan sebagai
pakaian pelindung dalam pabrik yang banyak memakai asam-basa. Akhir-akhir ini
polyester mulai pula dipergunakan sebagai benang ban.
Tujuan Proses Persiapan Penyempurnaan Simultan
Tujuan dari proses persiapan penyempurnaan simultan adalah untuk menghilangkan
berbagai macam kotoran alam dan luar apada bahan tekstil secara cepat dan murah
dengan memberikan hasil yang relative baik. Proses ini banyak digunakan saat ini
terutama untuk serat sintetik dan campuran, dan serat kapas dan rayon.
Mekanisme proses simultan
Prinsip dari proses simultan adalah adanya kesamaan kondisi proses dan zat yang
digunakan tidak saling mengganggu tujuan masing-masing proses persiapan
penyempurnaan yang dilakukan. Mekanisme prosesnya sama persis dengan proses
yang dilakukan terpisah. Proses simultan banyak dilakukan untuk serat sintetik dan
campurannya karena macam dan jumlah kotoran yang harus dihilangkan tidak
sebanyak pada serat alam,namun demikian proses ini kadang juga dilakukan untuk
serat kapas. Sebagai contoh proses simultan penghilangan kanji-pemasakanpengelantangan. Pada proses ini digunakan zat penghilang kanji oksidator seperti
pemasakan yaitu NaOH selain menyabunkan kotoran sekaligus membantu
menggelembungkan kanji dan mempercepat penguraian oksidator H2O2.
Metoda proses simultan
Perkembangan dalam hal zat kimia/zat pembantu dan permesinan mendorong
berkembangnya metoda proses simultan yang menguntungkan. Proses ini dapat
dilakukan pada mesin jenis kontinyu maupun batch. Kain yang diproses dapat

5
berbentuk open width (terbuka lebar) dan rope (seperti tambang),tergantung mesin
yang tersedia. Variasi proses simultan yang dapat dilakukan antara lain :
1. Penghilangan kanji + Pemasakan simultan,Pengelantangan
2. Penghilangan kanji ,Pemasakan + Pengelantangan simultan
3. Penghilangan kanji + Pemasakan + Pengelantangan simultan
4. Penghilangan kanji + Pemasakan simultan, Pengelantangan + Pemutih

optik

Simultan
5. Penghilangan kanji + Relaksasi + Pemasakan (poliester)
Teori Zat-zat Pembantu
-

NaOH padat
Nama lain dari NaOH

: Sodium Hidroksida
Soda Api
Soda Kostik

Pengerjaan serat kapas dengan larutan NaOH pada konsentrasi lebih dari 18 %
akan memberikan sifat daya penarik air bertambah, lebih berkilau, kekuatan
bertambah.NaOH merupakan zat pokok pada pemasakan serat kapas.
-

Zat Pembasah (Scouring Agent)
Zat pembasah merupakan zat aktif permukaan yang dapat menurunkan
tegangan permukaan. Zat ini dapat menurunkan tegangan permukaan karena
mempunyai sifat hidrofil dan hidropob yang berlawanan.

-

Zat Anti Sadah
Zat anti sadah merupakan zat yang dapa menghilangkan kesadahan, biasanya
digunakan NaSiO3. Zat anti sadah ini dapat menghilangkan kesadahan yang
berasal dari logam-logam yang terdapat pada kain.Selain itu, digunakan sebagai
defcoulating besi dan logam lainnya yang menjadi tempat pemasakan atau
wadah. Dengan adanya karat pada wadah ini ( karena kesadahan ) maka akan
meninggalkan noda-noda hitam pada kain.

6
III.

PERCOBAAN
A. ALAT DAN BAHAN
No.
Alat dan Bahan
Metoda Perendaman
1. Tabung HT-Dyeing / Beaker
2. Pengaduk kaca
3. Kasa + Kaki tiga + Bunsen
4. Timbangan Digital
5. Kain Poliester
6. Pipet volume 1 ml
7. Gelas ukur 100 ml
8. Zat sesuai resep

Jumlah
1 buah
2 buah
1 set

B. RESEP PRAKTEK
Berikut beberapa resep pada proses simultan, adalah sebagai berikut :
Resep proses simultan bahan polyester
Penghilangan kanji + Relaksasi + Pemasakan (polyester) cara perendaman :
NaOH 48oBe
: 2 g/L
Zat penghilang kanji
: 1 g/L
Zat penurun kesadahan : 0,5 g/L
Deterjen / zat pembasah : 1 g/L
Vlot
: 1 : 10-20
Suhu
: 120oC – 130oC
Waktu
: 30 – 60 menit
C. FUNGSI ZAT
- NaOH
: Membantu menggelembung kanji, Zat yang
menghilangkan kotoran berupa lemak, minyak,
mengaktifkan kinerja H2O2
- H2O2
: Zat pengelantang
- Zat pembasah
: Memudahkan kain terbasahi dan air masuk berpenetrasi
ke dalam celah antar benang.
- Zat anti sadah
: Menurunkan kesadahan air, menyabunkan kotoran
minyak
- Zat stabilisator : Mengatur pH, mengikat ion logam Fe, Cu, Mn dan
mencegah penguraian oksidator terlalu cepat.
D. SKEMA PROSES
Skema Proses Perendaman

7
Bahan + resep
o

120 – 130 C

o

30 C

0

10

20

40

E. DIAGRAM ALIR PROSES
Timbang Bahan

Proses Simultan

Pencucian

Pengeringan

Evaluasi

F. PERHITUNGAN KEBUTUHAN ZAT
Proses Simultan dengan Cara Perendaman
Kain A
Berat Bahan Awal
= gram
o
NaOH 48 Be
= 1 g/L x 0,3258 L = 0,3258 g
Zat penghilang kanji
= 1 ml/L x 0,3258 L = 0,3258 ml
Zat penurun kesadahan
= 0,5 ml/L x 0,3258 L = 0,1629 ml
Zat anti crease mark
= 1 ml/L x 0,3258 L = 0,3258 ml
Detergen / Zat Pembasah
= 1 ml/L x 0,3258 L = 0,3258 ml
Vlot
= 1 : 30

8

60 menit
Suhu
Waktu
Larutan
Air (pengencer)

Kain B
Berat Bahan Awal
NaOH 48oBe
Zat penghilang kanji
Zat penurun kesadahan
Zat anti crease mark
Detergen / Zat Pembasah
Vlot
Suhu
Waktu
Larutan
Air (pengencer)

Kain C
Berat Bahan Awal
NaOH 48oBe
Zat penghilang kanji
Zat penurun kesadahan
Zat anti crease mark
Detergen / Zat Pembasah
Vlot
Suhu
Waktu
Larutan
Air (pengencer)

Kain D
Berat Bahan Awal
NaOH 48oBe
Zat penghilang kanji

= 110oC
= 30 menit
= 10,86 x 30 = 325,8 ml = 0,3258 L
= 325,8 ml – 0,3258 ml – 0,1629 ml – 0,3258 ml –
0,3258 ml = 324,6597 ml

= 10,73 gram
= 2 g/L x 0,3219 L = 0,6438 g
= 1 ml/L x 0,3219 L = 0,3219 ml
= 0,5 ml/L x 0,3219 L = 0,16095 ml
= 1 ml/L x 0,3219 L = 0,3219 ml
= 1 ml/L x 0,3219 L = 0,3219 ml
= 1 : 30
= 110oC
= 45 menit
= 10,73 x 30 = 321,9 ml = 0,3219 L
= 321,9 ml – 0,3219 ml – 0,16095 ml – 0,3219 ml –
0,3219 ml = 320,77335 ml

= 10,25 gram
= 2 g/L x 0,3075 L = 0,615 g
= 1 ml/L x 0,3075 L = 0,3075 ml
= 0,5 ml/L x 0,3075 L = 0,15375 ml
= 1 ml/L x 0,3075 L = 0,3075 ml
= 1 ml/L x 0,3075 L = 0,3075 ml
= 1 : 30
= 110oC
= 30 menit
= 10,25 x 30 = 307,5 ml = 0,3075 L
= 307,5 ml – 0,3075 ml – 0,15375 ml – 0,3075 ml –
0,3075 ml = 306,42375 ml

= 10,30 gram
= 2 g/L x 0,3090 L = 0,6180 ml
= 1 ml/L x 0,3090 L = 0,3090 ml

9
Zat penurun kesadahan
Zat anti crease mark
Detergen / Zat Pembasah
Vlot
Suhu
Waktu
Larutan
Air (pengencer)

Kain E
Berat Bahan Awal
NaOH 48oBe
Zat penghilang kanji
Zat penurun kesadahan
Zat anti crease mark
Detergen / Zat Pembasah
Vlot
Suhu
Waktu
Larutan
Air (pengencer)

= 0,5 ml/L x 0,3090 L = 0,1545 ml
= 1 ml/L x 0,3090 L = 0,3090 ml
= 1 ml/L x 0,3090 L = 0,3090 ml
= 1 : 30
= 110oC
= 30 menit
= 10,30 x 30 = 309 ml = 0,3090 L
= 309 ml – 0,3090 ml – 0,1545 ml – 0,3090 ml –
0,3090 ml = 307,9185 ml

= 11,26 gram
= 1 g/L x 0,3378 L = 0,3378 g
= 1 ml/L x 0,3378 L = 0,3378 ml
= 0,5 ml/L x 0,3378 L = 0,1689 ml
= 1 ml/L x 0,3378 L = 0,3378 ml
= 1 ml/L x 0,3378 L = 0,3378 ml
= 1 : 30
= 110oC
= 60 menit
= 11,26 x 30 = 337,8 ml = 0,3378 L
= 337,8 ml – 0,3378 ml – 0,1689 ml – 0,3378 ml –
0,3378 ml = 336,6177 ml

G. DATA PERCOBAAN DAN HASIL EVALUASI
Kain A
Kain B
Berat Bahan 10,91
10,73
Awal
gram
gram
Berat Bahan 10,78
10,25
Akhir
gram
gram
Persentase
1,19 %
4,47 %
Pengurangan
Berat
Waktu Daya 8 detik
6 detik
Serap
NaOH
1 g/L
1 g/L
o
Suhu
110 C
110oC
Waktu
30 menit
45 menit
Vlot

1 : 30

1 : 30

10

Kain C
10,25 gram

Kain D
10,30 gram

Kain E
11,26 gram

9,77 gram

9,81 gram

10,76 gram

4,68 %

4,75 %

4,44 %

2.1 detik

1.7 detik

1.5 detik

2 g/L
110oC
30 menit

2 g/L
110oC
30 menit

2 g/L
110oC
60 menit

1 : 30

1 : 30

1 : 30
Tabel uji kekuatan daya tarik
Rumus :
Kekuatan daya tarik = massa x gravitasi
Dengan gravitasi = 9,8 m/s2
Kekuatan daya mulur =
Dengan jarak = 7,5 cm

Lusi
Kekuatan daya
tarik (kg)

Kekuatuan
daya tarik (N)

30
30
14
18
29

294
294
137,2
176,4
284,2

Kain A
Kain B
Kain C
Kain D
Kain E

Kekuatan
daya mulur
(cm)
8,7
7,5
9,5
10,5
8

Kekuatan
daya mulur
(%)
116
100
126,6
140
106,6

Lusi
X
30
30
14
18
29
∑ = 121

Kain A
Kain B
Kain C
Kain D
Kain E

S2

=

(x–

24,2

–

=
= 58,2 kg
= 58,2 x 9,8
= 570,36 N
S

=
= 23,88 N

11

)
5,8
5,8
-10,2
-6,2
4,8

( x – )2
33,64
33,64
104,04
38,44
23.04
∑ = 232,8
CV

=
=
= 98,67 %

Pakan
Kekuatan
tarik (kg)
26,5
15
21
38
25,5

Kain A
Kain B
Kain C
Kain D
Kain E

Kekuatuan
tarik (N)
259,7
147
205,8
372,4
249,9

Kekuatan
mulur (cm)
8,2
7,2
6
6,2
6,3

Kekuatan
mulur (%)
109,3
96
80
82,6
84

Pakan
X
26,5
15
21
38
25,5
∑ = 126

Kain A
Kain B
Kain C
Kain D
Kain E

S2

=

(x–

25,2

–

=
= 71,825 %
S

=
= 8,47 %

CV

=
=

12

)
1,3
-10,2
-4,2
12,8
0,3

( x – )2
1,69
104,04
17,64
163,84
0,09
∑ = 287,3
= 33,61 %

Sampel Kain untuk menentukan sisa kanji
Simultan Polyester (sebelum)

Kain A

Kain B

Kain C

Kain D

Kain E

Simultan Polyester (setelah)

Kain A

Kain B

Kain C

Kain D

13

Kain E
Grafik Perbandingan Antara Waktu Daya Serap Dengan Waktu Proses

14
Grafik Perbandingan Waktu Daya Serap Bahan dengan Konsentrasi NaOH

15
Grafik Perbandingan Persentase Kekuatan Mulur Lusi dengan Persentase Kekuatan Mulur Pakan

16
Grafik Perbandingan Kekuatan Tarik Lusi dengan Persentase Kekuatan Mulur Lusi

17
Grafik Perbandingan Kekuatan Tarik Pakan dengan Persentase Kekuatan Mulur Pakan

18
IV.

DISKUSI
Dari data percobaan di atas dapat didiskusikan bahwa adanya hasil yang
menunjukan perbedaan daya serap yang di pengaruhi oleh konsentrasi NaOH dan
lamanya waktu proses perendaman. Terlihat pada kain A dan Kain B yang diberikan
konsentrasi NaOH yang sama yaitu 1 ml namun pada kain B waktu perendamannya
lebih lama yaitu 45 menit dari pada kain A yang hanya 30 menit lama prosesnya
menunjukan bahwa daya serap pada kain B lebih cepat daripada kain A, ini
dipengaruhi karena semakin banyak NaOH yang diberikan pada suatu bahan maka
daya serapnya akan semakin cepat. Dan pada hasil percobaan simultan ini terlihat
hasil bahwa pada kain terjadi pengkeretan. Pengkeretan ini disebabkan karena
adanya pemakaian NaOH pada bahan dimana fungsi NaoH disini yaitu tidak hanya
menghilangkan kotoran tapi juga menggembungkan kain sehingga terjadi
pengkeretan.

V.

KESIMPULAN
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan sebagai berikut :
Semakin besar persentase pengurangan berat maka semakin besar sifat daya
serap bahan.
Semakin lama perendaman kainnya maka akan cepat waktu daya serapnya.

19
LAMPIRAN
PENGUJIAN BAN
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan :
1. Buret 50 ml
2. Labu ukur
3. Gelas ukur
4. Gelas kaca
Bahan yang digunakan :
1. Larutan HCl
2. Larutan contoh
3. Larutan Blanko
Apabila contoh uji telah diketahui tidak mengandung kanji atau bahan penyempurnaan
maka dapat langsung dikerjakan pengujian, tetapi kalau contoh uji tersebut
mengandung kanji atau bahan penyempurnaan maka untuk mendapatkan keadaan yang
sama dari seluruh contoh-contoh uji termaksuk bahan pembanding dikerjakan sebagai
berikut :
1. Penghilangan bahan penyempurnaan
Contoh uji bersama-sama dengan bahan pembanding masing-masing paling sedikit 5
g dididihkan dengan pelarut petroleum selama 1 jam dalam Erlenmeyer
berpendingin reflux. Kemudian pengerjaan tersebut diulangi dengan menggunakan
alcohol selama 1 jam dan kemudian dengan menggunakan air suling selama 1 jam.
Untuk pemanasan sebaiknya menggunakan pemanas listrik karena pelarut
petroleum mudah terbakar atau setidaknya digunakan penanggas air.
2. Penghilangan kanji
Contoh uji dan bahan pembanding kemudian dimasukkan ke dalam larutan enzyme
pelarut kanji 3% dalam air suling hingga semua bahan terendam dan dipanaskan
sampai suhu 60oC dan pemanasan dijaga sampai 1 jam. Larutan enzim kemudian
dibuang dan bahan-bahan dicuci. Setelah bahan bebas dari kanji dan bahan-bahan
penyempurnaan kemudian dikerjakan sebagai berikut.
Contoh uji bersama-sama dengan contoh pembanding dididihkan dalam 1 liter
larutan yang mengandung 10 gram sabun netral dan 2 gram natrium karbonat
selama 1 jam. Kemudian dicuci berkali-kali dengan air hangat hingga bebas dari
sabun dan basa ( tes indicator pp), diperas dan dikeringkan dalam tungku pengering
pada suhu 100oC sampai benar-benar kering.
Kemudian contoh uji dan bahan pembanding tersebut dibiarkan dalam suhu kamar
dan masing-masing contoh uji dan bahan pembanding dipotong kecil-kecil untuk
ditimbang.
3. Pengujian

20
-

-

-

-

Dari tiap-tiap contoh uji dan bahan pembanding yang telah dilakukan pengerjaan
pendahuluan ditimbang seberat 2 gram dan masukkan ke dalam Erlenmeyer
tutup asah 250 ml
Kedalam masing-masing Erlenmeyer dimasukkan 30 ml barium hidroksida 0,25 N
dan juga kedalam 2 buah Erlenmeyer kosong untuk pengujian blanko dengan
menggunakan pipet gondok 30 ml.
Setelah penambahan barium hidroksida segera Erlenmeyer tersebut ditutup dan
diletakkan di atas penanggas air pada suhu kamar ( 0-25oC ) selama paling sedikit
2 jam dan sering dikocok-kocok.
Dari hasil titrasi tersebut dapat dihitung perbandingan antara jumlah barium
hidroksida yang diserap oleh contoh uji dengan yang diserap oleh bahan
pembanding. Hasil perbandingan ini dikalikan dengan 100 didapatkan angka
aktivitas barium.

Perhitungan
Angka aktifitas barium =
Keterangan : a
b
c

= titrasi blangko
= titrasi contoh uji
= titrasi pembanding

Hasil Titrasi

Kain A
Kain B
Kain C
Kain D
Kain E
Blanko
Pembanding

V Awal
2,2 ml
36,4 ml
14,6 ml
22,4 ml
36,4 ml
6,1 ml
0,0 ml

Percobaan I
VAkhir
Titrasi I
8,4 ml
6,2 ml
42,2 ml 5,8 ml
20,1 ml 5,5 ml
28,1 ml 5,7 ml
42,0 ml 5,6 ml
14,6 ml 8,5 ml
6,1 ml
6,1 ml

Rumus :

Keterangan :
a = larutan blanko
b = larutan uji (contoh)

21

Percobaan IIte
VAwal
VAkhir
Titrasi II
8,4 ml
14,4 ml 6,0 ml
42,2 ml 48,4 ml 6,2 ml
20,1 ml 26,0 ml 5,9 ml
28,1 ml 33,4 ml 5,3 ml
42,0 ml 47,2 ml 5,2 ml
14,6 ml 21,8 ml 7,2 ml
6,1 ml
12,2 ml 6,1 ml[

Rata-rata
6,1 ml
6,0 ml
5,7 ml
5,5 ml
5,4 ml
7,85 ml
6,1 ml
c = Larutan Pembanding
Diketahui :
Larutan uji contoh :
Kain A = 6,1 ml
Kain B = 6,0 ml
Kain C = 5,7 ml
Kain D = 5,5 ml
Kain E = 5,4 ml
Larutan Blanko (a) = 7,85 ml
Larutan Pembanding (c) = 6,1 ml

Persentase kain BAN
Praktikan
Kain A
Kain B
Kain C
Kain D
Kain E

Nilai BAN (%)
100
105,71
122,86
134,28
140

Grafik persentase kain BAN
160
140
120
100
80
Nilai BAN

60
40
20
0
Kain A

Kain B

Kain C

Kain D

22

Kain E
Grafik hubungan antara nilai BAN terhadap kosentrasi
NaOH
160
140
120
BAN

100
80
28˚Be

60

30˚Be

40
20
0
NaOH

Grafik hubungan antara nilai BAN terhadap suhu
160
140
120

BAN

100
80
15˚C

60

80˚C
40
20
0

Suhu

23
Grafik hubungan antara nilai BAN terhadap waktu
160
140
120

BAN

100
80
30 detik

60

60 detik
40
20
0

Waktu

Grafik hubungan antara nilai BAN dengan bahan kain
160
140
120

BAN

100
80
Kain Greigh

60

Kain Putih
40
20
0

Bahan Kain

Tabel uji kekuatan daya tarik kapas
Rumus :
Kekuatan daya tarik = massa x gravitasi
Dengan gravitasi = 9,8 m/s2
Kekuatan daya mulur =
Dengan jarak = 7,5 cm

24
Lusi
Kekuatan daya
tarik (kg)

Kekuatuan
daya tarik (N)

24
16
18
15
20

235,2
156,8
176,4
147
196

Kain A
Kain B
Kain C
Kain D
Kain E

Kekuatan
daya mulur
(cm)
3,2
3,5
2,9
2,3
1,8

Kekuatan
daya mulur
(%)
42,67
46,67
38,67
30,67
24

Lusi
X
24
16
18
15
20
∑ = 93

Kain A
Kain B
Kain C
Kain D
Kain E

S2

=

(x–

18,6

–

=
= 12,8 kg
= 12,8 x 9,8
= 125,44 N
S

=
= 11,2 N

CV

=
=
= 60,21 %

25

)
5,4
-2,6
-0,6
-3,6
1,4

( x – )2
29,16
6,76
0,36
12,96
1,96
∑ = 51,2
Pakan
Kekuatan
tarik (kg)
15
16,5
18
17
24

Kain A
Kain B
Kain C
Kain D
Kain E

Kekuatuan
tarik (N)
147
161,7
176,4
166,6
235,2

Kekuatan
mulur (cm)
1,7
2,9
2,5
2,7
2,4

Kekuatan
mulur (%)
22,67
38,67
33,33
36
32

Pakan
X
15
16,5
18
17
24
∑ = 90,5

Kain A
Kain B
Kain C
Kain D
Kain E

S2

=

(x–

18,1

)
-3,1
-1,6
-0,1
-1,1
5,9

( x – )2
9,61
2,56
0,01
1,21
34,81
∑ = 48,2

–

=
= 12,05 %
S

=
= 3,47 %

CV

=
=
= 19,17 %

Diskusi
Pada nilai BAN ini, akan terlihat hasil merser dengan kain greigh dan kain putih. Dan pada nilai
BAN ini pengaruh banyaknya konsentrasi NaOH, pengaruh suhu dan waktu proses berpengaruh

26
dalam penilaian BAN. Terlihat bahwa bahan-bahan pada kain putih berada pada kategori
merser lemah, ini disebabkan larutan yang dititrasi tidak sampai 10 ml karena kainnya saat
perendaman 2 jam lebih banyak menyerap air, sehingga mempengaruhi hasil titrasi. Begitupun
pada hasil BAN pada kain grey, menunjukan hasil BAN berada pada kategori merser baik, ini
disebabkan kain greigh memiliki NaOH lebih banyak daripada kain putih, nilai BAN pada kain
greigh lebih tinggi daripada kain putih. Pada kain putih terlihat bahwa kain putih dikategorikan
merser lemah sedangkan pada kain greigh dikategorikan merser kuat. Jadi, semakin tinggi
konsentrasi NaOH, suhu dan waktu prosesnya maka nilai BANnya semakin tinggi. Dan pada
percobaan ini hasil titrasi yang kurang tepat satu tetes tak berwarna akan mempengaruhi hasil
merser.

Kesimpulan
Dari data percobaan dapat disimpulkan bahwa :
Semakin tinggi suhunya maka semakin besar pula nilai BANnya.
Semakin tinggi konsentrasi NaOHnya maka semakin tinggi pula nilai BANnya.
Semakin lama waktu proses yang dibutuhkan maka akan semakin tinggi nilai BANnya.

27
DAFTAR PUSTAKA
M. Ichwan S.Teks, dkk. Pedoman Praktikum Teknologi Persiapan
Penyempurnaan. STTT : Bandung
Ichwan, Muhammad, Wiewiek Eka mulyani, Nono C. Pedoman Praktikum
Teknologi Persiapan penyempurnaan. STT Tekstil. 2004.
8023 Hỏllriegelskreuth. A Bleachers Handbook. Interox Peroxid-Chemie GmbH.
Soeparman,dkk. Teknologi Penyempurnaan Tekstil. ITT. 1977.

28

Simultan polyester

  • 1.
    I. MAKSUD DAN TUJUAN A.MAKSUD Agar praktikan dapat mampu menguasai cara dan metoda serta menganalisa dan mengevaluasi hasil proses simultan untuk polyester. B. TUJUAN Menghilangkan berbagai macam kotoran alam dan luar pada bahan tekstil secara cepat dan murah dengan memberikan hasil yang relative baik. II. DASAR TEORI TEORI SERAT Serat polyester dikembangkan oleh J.R . Whinfield dan J.T. Dickson dari Calico Printers Association. Serat ini merupakan pengembangan dari polyester yang telah ditemukan oleh Carothers. I.C.I. di Inggris memproduksi serat polyester dengan nama Terylene dan kemudian du Pont di Amerika pada tahun 1953, juga membuat serat polyester berdasarkan patent dari Inggris dengan nama Dacron. Serat polyester adalah serat sintetik yang terbentuk dari molekul polimer polyester linier dengan susunan paling sedikit 85% berat senyawa dari hidroksi alcohol dan asam terftalat. Poliester atau yang dikenal dengan nama Terylene di Inggris ini dibuat dari asam tereftalat dan etilena glikol. Etilena yang berasal dari penguraian minyak tanah dioksidasi dengan udara, menjadi etilena oksida yang kemudian dihidrasi menjadi etilena glikol. Asan tereftalat dibuat dari pra-Xilena yang harus bebas dari isomer meta dan orto. P-Xilena merupakan bagian dari destilasi minyak tanah dan tidak dapat dipisahkan dari isomer meta dan orto dengan cara destilasi. Poliester termasuk ke dalam serat sintetik yang sangat pesat sekali perkembanganya dan banyak digunakan untuk tekstil. Serat polyester cepat sekali memperoleh perhatian konsumen oleh karena sifat mudah penanganannya (ease of care), bersifat cuci pakai (wash and wear), tahan kusut dan awet. Sifat-sifat pakaiannya lebih sempurna apabila dicampur dengan serat wol atau kapas. Pebuatan serat poliester Serat polyester dibuat secara pemintalan leleh dari dua jenis asam terftalat. Molekul-molekulnya besar dan kaku, sukar dibengkokkan dan mudah kembali 1
  • 2.
    kebentuk semula setelahberubah bentuknya. Filamen yang terjadi ditarik dalam keadaan panas sampai lima kali panjang semula, kecuali filament yang kasar ditarik dalam keadaan yang dingin. Jika hendak dibikin staple, filamennya dibuat keriting kemudian dipotong-potong dalam panjang tertentu. Pencelupannya dapa dilakukan pada suhu dibawah 100°C dengan dibantu zat penggelembung serat. Zat tersebut akan memudahkan zat warna masuk kedalam serat. Serat polyester asli (kecuali kodel 11) dipintal dari senyawa homopolimer, yakni polimernya terdiri dari pengulangan unit-unit molekul yang serupa atau dari satu jenis monomer. Tetapi sekarang ada pula yang merupakan kopolimer yakni polimernya terdiri dari lebih satu jenis monomer. Sifat-sifat polyester: Sifat fisika: Poliester memiliki sifat yang khas, yakni dalam pengerjaan dengan larutan kaudtik soda bagian kulitnya akan larut, sehingga diperoleh kain, benang atau serat yang lebih tipis dengan tidak mengubah serat secara hebat. Pengerjaanini membuat polyester mempunyai sifat pegangan seperti sutera. Pada umumnya kehilangan berat sebesar 5% dianggap cukup baik.  Kekuatan dan mulur Terylene mempunyai kekuatan 4.5 gram/denier sampai 7.5 gram/denier dan mulur 25% sampai 7.5% tergantung pada jenisnya. Kekuatan dan mulur dalam keadaan basahnya hampir sama dengan dalam keadaan kering. Kekuatan polyester dapat tinggi disebabkan karena proses peregangan dingin pada waktu pemintalannya akan menyebabkan terjadinya pengkristalan molekul dengan baik, demikian pula berat molekulnya dapat tinggi.  Elastisitas Poliester mempunyai elastisitas yang baik sehingga kain polyester tahan kusut. Jika benang polyester ditarik dan kemudian dilepaskan pemulihan yang terjadi dlam 1 menit adalah sebagai berikut: Penarikan 2%.................... pulih 97% Penarikan 4%.................... pulih 90% 2
  • 3.
    Penarikan 8%.................... pulih80%  Moisture Regain Dalam kondisi standard moisture regain polyester hanya 0.4%. Dalam RH 100% moisture regainnya hanya 0.6-0.8%  Modulus Polyester mempunyai modulus yang tinggi. Pada pembeban 0.9 gram/denier polyester hanya mulur 1% dan pada pembeban 1.75 gram/denier hanya mulur 2%. Modulus yang tinggi menyebabkan polyester pada tegangan kecil di dalam penggulungan tidak akan mulur.  Berat jenis Berat jenis polyester 1.38  Morfologi Poliester berbentuk silinder dengan penampang lintang yang bulat. Sifat kimia Polyester tahan asam lemah meskipun pada suhu didih dan tahan asam kuat dingin. Polyester tahan basa lemah tetapi kurang tahan basa kuat. Poliester tahan zat oksidasi,alcohol,keton,sabun dan zat-zat untuk pencucian kering. Demikian pula tahan terhadap serangga, jamur dan bakteri, sedangkan terhadap sinar matahari ketahanannya cukup baik. Poliester larut dalam meta-kresol panas, trifluoroasetat-orto-khlorofenol, campuran 7 bagian berat trikhlorofenol dan 10 bagian fenol dan campuran 2 bagian berat tetrakhloroetena dan 3 bagian fenol.  Zat penggelembung Polyester akan menggelembungkan dalam larutan 2% asam benzoate asam salisilat, fenol dan meta-kresol dalam air, disperse ½% monokhlorobenzena, pdikhlorobenzena, tetrahidronaftalena, metilbenzoat dan metal salisilat dalam air, disperse 0.3% orto-fenil-fenol dan para-fenifenol dalam air.  Titik leleh 3
  • 4.
    Poliester meleleh diudarapada suhu 250°C dan tidak menguning pada suhu tinggi.  Sifat biologi Poliester tahan serangga, jamur dan bakteri  Tahan sinar Seperti serat tekstil lainnya, polyester juga berkurang kekuatannya dalam penyinaran yang lama tetapi tahan sinarnya masih cukup baik dibanding dengan serat lain. Dibalik kaca tahan sinar polyester lebih baik dari kebanyakan serat.  Mengkeret Benang terylena apabila direndam dalam air mendidih akan mengkeret sampai 7% atau lebih.  Pembakaran. Poliester meskipun dapat dibakar tetapi karena diikuti oleh pelelehan yang kemudian akan terlepas jatuh, maka nyala api tidak akan menjalar. Tetapi apabila dicampur dengan serat lain yang membantu pembakaran, kain campuran tersebut akan terbakar.  Heat-set Dimensi kain polyester dapat distabilkan dengan cara heat-set. Heat-set dilikukan dengan cara mengerjakan kain dalam dimensi yang telah diatur (biasanya dalam bentuk lebih) pada suhu 30-40°C lebih tinggi dari suhu penggunaan kain sehari-hari. Untuk pakaian biasanya pada suhu 220-230°C. Jenis polyester Selain polyester biasa yang didalam perdagangan didagangkan dengan nama Terylena, Dacron, Tetoron, Trivera, dan lainnya. Dikenal juga jenis lainnya yaitu Dacron jenis 62, Kodel, Vycron, Grilene dan A-Tell. Penggunaan Karena sifat-sifatnya yang sangat baik, terutama sifat tahan kusut dan dimensinya yang stabil, polyester banyak digunakan untuk bahan pakaian dan dasi. Untuk pakaian ringan/tipis, polyester sangat baik jika dicampur dengan kapas. Selain itu, 4
  • 5.
    polyester juga banyakdigunakan untuk kain tirai karena ketahanannya terhadap sinar dibalik kaca baik. Polyester banyak pula dipergunakan untuk tekstil industri umpama untuk kantung pencelupan, kaos kaki wanita, pipa pemadam kebakaran, tali-temali, jala, kain layar, terpal, kain pelindung pada pabrik kimia dan benang ban. Polyester dipergunakan sebagai ban pengangkut dalam pembuatan kertas, yang memerlukan ban pengangkut tahan suhu sampai 120 C, lembab dan asam, dan juga dipergunakan dalam pabrik kimia. Karena polyester lebih tahan suhu tinggi disbanding dengan serat sintetik lainnya, kecuali Teflon yang sangat mahal menyebabkan polyester baik dipergunakan sebagai isolasi dalam motor listrik. Sifat polyester yang tahan asam, membuat polyester baik dipergunakan sebagai pakaian pelindung dalam pabrik yang banyak memakai asam-basa. Akhir-akhir ini polyester mulai pula dipergunakan sebagai benang ban. Tujuan Proses Persiapan Penyempurnaan Simultan Tujuan dari proses persiapan penyempurnaan simultan adalah untuk menghilangkan berbagai macam kotoran alam dan luar apada bahan tekstil secara cepat dan murah dengan memberikan hasil yang relative baik. Proses ini banyak digunakan saat ini terutama untuk serat sintetik dan campuran, dan serat kapas dan rayon. Mekanisme proses simultan Prinsip dari proses simultan adalah adanya kesamaan kondisi proses dan zat yang digunakan tidak saling mengganggu tujuan masing-masing proses persiapan penyempurnaan yang dilakukan. Mekanisme prosesnya sama persis dengan proses yang dilakukan terpisah. Proses simultan banyak dilakukan untuk serat sintetik dan campurannya karena macam dan jumlah kotoran yang harus dihilangkan tidak sebanyak pada serat alam,namun demikian proses ini kadang juga dilakukan untuk serat kapas. Sebagai contoh proses simultan penghilangan kanji-pemasakanpengelantangan. Pada proses ini digunakan zat penghilang kanji oksidator seperti pemasakan yaitu NaOH selain menyabunkan kotoran sekaligus membantu menggelembungkan kanji dan mempercepat penguraian oksidator H2O2. Metoda proses simultan Perkembangan dalam hal zat kimia/zat pembantu dan permesinan mendorong berkembangnya metoda proses simultan yang menguntungkan. Proses ini dapat dilakukan pada mesin jenis kontinyu maupun batch. Kain yang diproses dapat 5
  • 6.
    berbentuk open width(terbuka lebar) dan rope (seperti tambang),tergantung mesin yang tersedia. Variasi proses simultan yang dapat dilakukan antara lain : 1. Penghilangan kanji + Pemasakan simultan,Pengelantangan 2. Penghilangan kanji ,Pemasakan + Pengelantangan simultan 3. Penghilangan kanji + Pemasakan + Pengelantangan simultan 4. Penghilangan kanji + Pemasakan simultan, Pengelantangan + Pemutih optik Simultan 5. Penghilangan kanji + Relaksasi + Pemasakan (poliester) Teori Zat-zat Pembantu - NaOH padat Nama lain dari NaOH : Sodium Hidroksida Soda Api Soda Kostik Pengerjaan serat kapas dengan larutan NaOH pada konsentrasi lebih dari 18 % akan memberikan sifat daya penarik air bertambah, lebih berkilau, kekuatan bertambah.NaOH merupakan zat pokok pada pemasakan serat kapas. - Zat Pembasah (Scouring Agent) Zat pembasah merupakan zat aktif permukaan yang dapat menurunkan tegangan permukaan. Zat ini dapat menurunkan tegangan permukaan karena mempunyai sifat hidrofil dan hidropob yang berlawanan. - Zat Anti Sadah Zat anti sadah merupakan zat yang dapa menghilangkan kesadahan, biasanya digunakan NaSiO3. Zat anti sadah ini dapat menghilangkan kesadahan yang berasal dari logam-logam yang terdapat pada kain.Selain itu, digunakan sebagai defcoulating besi dan logam lainnya yang menjadi tempat pemasakan atau wadah. Dengan adanya karat pada wadah ini ( karena kesadahan ) maka akan meninggalkan noda-noda hitam pada kain. 6
  • 7.
    III. PERCOBAAN A. ALAT DANBAHAN No. Alat dan Bahan Metoda Perendaman 1. Tabung HT-Dyeing / Beaker 2. Pengaduk kaca 3. Kasa + Kaki tiga + Bunsen 4. Timbangan Digital 5. Kain Poliester 6. Pipet volume 1 ml 7. Gelas ukur 100 ml 8. Zat sesuai resep Jumlah 1 buah 2 buah 1 set B. RESEP PRAKTEK Berikut beberapa resep pada proses simultan, adalah sebagai berikut : Resep proses simultan bahan polyester Penghilangan kanji + Relaksasi + Pemasakan (polyester) cara perendaman : NaOH 48oBe : 2 g/L Zat penghilang kanji : 1 g/L Zat penurun kesadahan : 0,5 g/L Deterjen / zat pembasah : 1 g/L Vlot : 1 : 10-20 Suhu : 120oC – 130oC Waktu : 30 – 60 menit C. FUNGSI ZAT - NaOH : Membantu menggelembung kanji, Zat yang menghilangkan kotoran berupa lemak, minyak, mengaktifkan kinerja H2O2 - H2O2 : Zat pengelantang - Zat pembasah : Memudahkan kain terbasahi dan air masuk berpenetrasi ke dalam celah antar benang. - Zat anti sadah : Menurunkan kesadahan air, menyabunkan kotoran minyak - Zat stabilisator : Mengatur pH, mengikat ion logam Fe, Cu, Mn dan mencegah penguraian oksidator terlalu cepat. D. SKEMA PROSES Skema Proses Perendaman 7
  • 8.
    Bahan + resep o 120– 130 C o 30 C 0 10 20 40 E. DIAGRAM ALIR PROSES Timbang Bahan Proses Simultan Pencucian Pengeringan Evaluasi F. PERHITUNGAN KEBUTUHAN ZAT Proses Simultan dengan Cara Perendaman Kain A Berat Bahan Awal = gram o NaOH 48 Be = 1 g/L x 0,3258 L = 0,3258 g Zat penghilang kanji = 1 ml/L x 0,3258 L = 0,3258 ml Zat penurun kesadahan = 0,5 ml/L x 0,3258 L = 0,1629 ml Zat anti crease mark = 1 ml/L x 0,3258 L = 0,3258 ml Detergen / Zat Pembasah = 1 ml/L x 0,3258 L = 0,3258 ml Vlot = 1 : 30 8 60 menit
  • 9.
    Suhu Waktu Larutan Air (pengencer) Kain B BeratBahan Awal NaOH 48oBe Zat penghilang kanji Zat penurun kesadahan Zat anti crease mark Detergen / Zat Pembasah Vlot Suhu Waktu Larutan Air (pengencer) Kain C Berat Bahan Awal NaOH 48oBe Zat penghilang kanji Zat penurun kesadahan Zat anti crease mark Detergen / Zat Pembasah Vlot Suhu Waktu Larutan Air (pengencer) Kain D Berat Bahan Awal NaOH 48oBe Zat penghilang kanji = 110oC = 30 menit = 10,86 x 30 = 325,8 ml = 0,3258 L = 325,8 ml – 0,3258 ml – 0,1629 ml – 0,3258 ml – 0,3258 ml = 324,6597 ml = 10,73 gram = 2 g/L x 0,3219 L = 0,6438 g = 1 ml/L x 0,3219 L = 0,3219 ml = 0,5 ml/L x 0,3219 L = 0,16095 ml = 1 ml/L x 0,3219 L = 0,3219 ml = 1 ml/L x 0,3219 L = 0,3219 ml = 1 : 30 = 110oC = 45 menit = 10,73 x 30 = 321,9 ml = 0,3219 L = 321,9 ml – 0,3219 ml – 0,16095 ml – 0,3219 ml – 0,3219 ml = 320,77335 ml = 10,25 gram = 2 g/L x 0,3075 L = 0,615 g = 1 ml/L x 0,3075 L = 0,3075 ml = 0,5 ml/L x 0,3075 L = 0,15375 ml = 1 ml/L x 0,3075 L = 0,3075 ml = 1 ml/L x 0,3075 L = 0,3075 ml = 1 : 30 = 110oC = 30 menit = 10,25 x 30 = 307,5 ml = 0,3075 L = 307,5 ml – 0,3075 ml – 0,15375 ml – 0,3075 ml – 0,3075 ml = 306,42375 ml = 10,30 gram = 2 g/L x 0,3090 L = 0,6180 ml = 1 ml/L x 0,3090 L = 0,3090 ml 9
  • 10.
    Zat penurun kesadahan Zatanti crease mark Detergen / Zat Pembasah Vlot Suhu Waktu Larutan Air (pengencer) Kain E Berat Bahan Awal NaOH 48oBe Zat penghilang kanji Zat penurun kesadahan Zat anti crease mark Detergen / Zat Pembasah Vlot Suhu Waktu Larutan Air (pengencer) = 0,5 ml/L x 0,3090 L = 0,1545 ml = 1 ml/L x 0,3090 L = 0,3090 ml = 1 ml/L x 0,3090 L = 0,3090 ml = 1 : 30 = 110oC = 30 menit = 10,30 x 30 = 309 ml = 0,3090 L = 309 ml – 0,3090 ml – 0,1545 ml – 0,3090 ml – 0,3090 ml = 307,9185 ml = 11,26 gram = 1 g/L x 0,3378 L = 0,3378 g = 1 ml/L x 0,3378 L = 0,3378 ml = 0,5 ml/L x 0,3378 L = 0,1689 ml = 1 ml/L x 0,3378 L = 0,3378 ml = 1 ml/L x 0,3378 L = 0,3378 ml = 1 : 30 = 110oC = 60 menit = 11,26 x 30 = 337,8 ml = 0,3378 L = 337,8 ml – 0,3378 ml – 0,1689 ml – 0,3378 ml – 0,3378 ml = 336,6177 ml G. DATA PERCOBAAN DAN HASIL EVALUASI Kain A Kain B Berat Bahan 10,91 10,73 Awal gram gram Berat Bahan 10,78 10,25 Akhir gram gram Persentase 1,19 % 4,47 % Pengurangan Berat Waktu Daya 8 detik 6 detik Serap NaOH 1 g/L 1 g/L o Suhu 110 C 110oC Waktu 30 menit 45 menit Vlot 1 : 30 1 : 30 10 Kain C 10,25 gram Kain D 10,30 gram Kain E 11,26 gram 9,77 gram 9,81 gram 10,76 gram 4,68 % 4,75 % 4,44 % 2.1 detik 1.7 detik 1.5 detik 2 g/L 110oC 30 menit 2 g/L 110oC 30 menit 2 g/L 110oC 60 menit 1 : 30 1 : 30 1 : 30
  • 11.
    Tabel uji kekuatandaya tarik Rumus : Kekuatan daya tarik = massa x gravitasi Dengan gravitasi = 9,8 m/s2 Kekuatan daya mulur = Dengan jarak = 7,5 cm Lusi Kekuatan daya tarik (kg) Kekuatuan daya tarik (N) 30 30 14 18 29 294 294 137,2 176,4 284,2 Kain A Kain B Kain C Kain D Kain E Kekuatan daya mulur (cm) 8,7 7,5 9,5 10,5 8 Kekuatan daya mulur (%) 116 100 126,6 140 106,6 Lusi X 30 30 14 18 29 ∑ = 121 Kain A Kain B Kain C Kain D Kain E S2 = (x– 24,2 – = = 58,2 kg = 58,2 x 9,8 = 570,36 N S = = 23,88 N 11 ) 5,8 5,8 -10,2 -6,2 4,8 ( x – )2 33,64 33,64 104,04 38,44 23.04 ∑ = 232,8
  • 12.
    CV = = = 98,67 % Pakan Kekuatan tarik(kg) 26,5 15 21 38 25,5 Kain A Kain B Kain C Kain D Kain E Kekuatuan tarik (N) 259,7 147 205,8 372,4 249,9 Kekuatan mulur (cm) 8,2 7,2 6 6,2 6,3 Kekuatan mulur (%) 109,3 96 80 82,6 84 Pakan X 26,5 15 21 38 25,5 ∑ = 126 Kain A Kain B Kain C Kain D Kain E S2 = (x– 25,2 – = = 71,825 % S = = 8,47 % CV = = 12 ) 1,3 -10,2 -4,2 12,8 0,3 ( x – )2 1,69 104,04 17,64 163,84 0,09 ∑ = 287,3
  • 13.
    = 33,61 % SampelKain untuk menentukan sisa kanji Simultan Polyester (sebelum) Kain A Kain B Kain C Kain D Kain E Simultan Polyester (setelah) Kain A Kain B Kain C Kain D 13 Kain E
  • 14.
    Grafik Perbandingan AntaraWaktu Daya Serap Dengan Waktu Proses 14
  • 15.
    Grafik Perbandingan WaktuDaya Serap Bahan dengan Konsentrasi NaOH 15
  • 16.
    Grafik Perbandingan PersentaseKekuatan Mulur Lusi dengan Persentase Kekuatan Mulur Pakan 16
  • 17.
    Grafik Perbandingan KekuatanTarik Lusi dengan Persentase Kekuatan Mulur Lusi 17
  • 18.
    Grafik Perbandingan KekuatanTarik Pakan dengan Persentase Kekuatan Mulur Pakan 18
  • 19.
    IV. DISKUSI Dari data percobaandi atas dapat didiskusikan bahwa adanya hasil yang menunjukan perbedaan daya serap yang di pengaruhi oleh konsentrasi NaOH dan lamanya waktu proses perendaman. Terlihat pada kain A dan Kain B yang diberikan konsentrasi NaOH yang sama yaitu 1 ml namun pada kain B waktu perendamannya lebih lama yaitu 45 menit dari pada kain A yang hanya 30 menit lama prosesnya menunjukan bahwa daya serap pada kain B lebih cepat daripada kain A, ini dipengaruhi karena semakin banyak NaOH yang diberikan pada suatu bahan maka daya serapnya akan semakin cepat. Dan pada hasil percobaan simultan ini terlihat hasil bahwa pada kain terjadi pengkeretan. Pengkeretan ini disebabkan karena adanya pemakaian NaOH pada bahan dimana fungsi NaoH disini yaitu tidak hanya menghilangkan kotoran tapi juga menggembungkan kain sehingga terjadi pengkeretan. V. KESIMPULAN Dari hasil percobaan dapat disimpulkan sebagai berikut : Semakin besar persentase pengurangan berat maka semakin besar sifat daya serap bahan. Semakin lama perendaman kainnya maka akan cepat waktu daya serapnya. 19
  • 20.
    LAMPIRAN PENGUJIAN BAN Alat danBahan Alat yang digunakan : 1. Buret 50 ml 2. Labu ukur 3. Gelas ukur 4. Gelas kaca Bahan yang digunakan : 1. Larutan HCl 2. Larutan contoh 3. Larutan Blanko Apabila contoh uji telah diketahui tidak mengandung kanji atau bahan penyempurnaan maka dapat langsung dikerjakan pengujian, tetapi kalau contoh uji tersebut mengandung kanji atau bahan penyempurnaan maka untuk mendapatkan keadaan yang sama dari seluruh contoh-contoh uji termaksuk bahan pembanding dikerjakan sebagai berikut : 1. Penghilangan bahan penyempurnaan Contoh uji bersama-sama dengan bahan pembanding masing-masing paling sedikit 5 g dididihkan dengan pelarut petroleum selama 1 jam dalam Erlenmeyer berpendingin reflux. Kemudian pengerjaan tersebut diulangi dengan menggunakan alcohol selama 1 jam dan kemudian dengan menggunakan air suling selama 1 jam. Untuk pemanasan sebaiknya menggunakan pemanas listrik karena pelarut petroleum mudah terbakar atau setidaknya digunakan penanggas air. 2. Penghilangan kanji Contoh uji dan bahan pembanding kemudian dimasukkan ke dalam larutan enzyme pelarut kanji 3% dalam air suling hingga semua bahan terendam dan dipanaskan sampai suhu 60oC dan pemanasan dijaga sampai 1 jam. Larutan enzim kemudian dibuang dan bahan-bahan dicuci. Setelah bahan bebas dari kanji dan bahan-bahan penyempurnaan kemudian dikerjakan sebagai berikut. Contoh uji bersama-sama dengan contoh pembanding dididihkan dalam 1 liter larutan yang mengandung 10 gram sabun netral dan 2 gram natrium karbonat selama 1 jam. Kemudian dicuci berkali-kali dengan air hangat hingga bebas dari sabun dan basa ( tes indicator pp), diperas dan dikeringkan dalam tungku pengering pada suhu 100oC sampai benar-benar kering. Kemudian contoh uji dan bahan pembanding tersebut dibiarkan dalam suhu kamar dan masing-masing contoh uji dan bahan pembanding dipotong kecil-kecil untuk ditimbang. 3. Pengujian 20
  • 21.
    - - - - Dari tiap-tiap contohuji dan bahan pembanding yang telah dilakukan pengerjaan pendahuluan ditimbang seberat 2 gram dan masukkan ke dalam Erlenmeyer tutup asah 250 ml Kedalam masing-masing Erlenmeyer dimasukkan 30 ml barium hidroksida 0,25 N dan juga kedalam 2 buah Erlenmeyer kosong untuk pengujian blanko dengan menggunakan pipet gondok 30 ml. Setelah penambahan barium hidroksida segera Erlenmeyer tersebut ditutup dan diletakkan di atas penanggas air pada suhu kamar ( 0-25oC ) selama paling sedikit 2 jam dan sering dikocok-kocok. Dari hasil titrasi tersebut dapat dihitung perbandingan antara jumlah barium hidroksida yang diserap oleh contoh uji dengan yang diserap oleh bahan pembanding. Hasil perbandingan ini dikalikan dengan 100 didapatkan angka aktivitas barium. Perhitungan Angka aktifitas barium = Keterangan : a b c = titrasi blangko = titrasi contoh uji = titrasi pembanding Hasil Titrasi Kain A Kain B Kain C Kain D Kain E Blanko Pembanding V Awal 2,2 ml 36,4 ml 14,6 ml 22,4 ml 36,4 ml 6,1 ml 0,0 ml Percobaan I VAkhir Titrasi I 8,4 ml 6,2 ml 42,2 ml 5,8 ml 20,1 ml 5,5 ml 28,1 ml 5,7 ml 42,0 ml 5,6 ml 14,6 ml 8,5 ml 6,1 ml 6,1 ml Rumus : Keterangan : a = larutan blanko b = larutan uji (contoh) 21 Percobaan IIte VAwal VAkhir Titrasi II 8,4 ml 14,4 ml 6,0 ml 42,2 ml 48,4 ml 6,2 ml 20,1 ml 26,0 ml 5,9 ml 28,1 ml 33,4 ml 5,3 ml 42,0 ml 47,2 ml 5,2 ml 14,6 ml 21,8 ml 7,2 ml 6,1 ml 12,2 ml 6,1 ml[ Rata-rata 6,1 ml 6,0 ml 5,7 ml 5,5 ml 5,4 ml 7,85 ml 6,1 ml
  • 22.
    c = LarutanPembanding Diketahui : Larutan uji contoh : Kain A = 6,1 ml Kain B = 6,0 ml Kain C = 5,7 ml Kain D = 5,5 ml Kain E = 5,4 ml Larutan Blanko (a) = 7,85 ml Larutan Pembanding (c) = 6,1 ml Persentase kain BAN Praktikan Kain A Kain B Kain C Kain D Kain E Nilai BAN (%) 100 105,71 122,86 134,28 140 Grafik persentase kain BAN 160 140 120 100 80 Nilai BAN 60 40 20 0 Kain A Kain B Kain C Kain D 22 Kain E
  • 23.
    Grafik hubungan antaranilai BAN terhadap kosentrasi NaOH 160 140 120 BAN 100 80 28˚Be 60 30˚Be 40 20 0 NaOH Grafik hubungan antara nilai BAN terhadap suhu 160 140 120 BAN 100 80 15˚C 60 80˚C 40 20 0 Suhu 23
  • 24.
    Grafik hubungan antaranilai BAN terhadap waktu 160 140 120 BAN 100 80 30 detik 60 60 detik 40 20 0 Waktu Grafik hubungan antara nilai BAN dengan bahan kain 160 140 120 BAN 100 80 Kain Greigh 60 Kain Putih 40 20 0 Bahan Kain Tabel uji kekuatan daya tarik kapas Rumus : Kekuatan daya tarik = massa x gravitasi Dengan gravitasi = 9,8 m/s2 Kekuatan daya mulur = Dengan jarak = 7,5 cm 24
  • 25.
    Lusi Kekuatan daya tarik (kg) Kekuatuan dayatarik (N) 24 16 18 15 20 235,2 156,8 176,4 147 196 Kain A Kain B Kain C Kain D Kain E Kekuatan daya mulur (cm) 3,2 3,5 2,9 2,3 1,8 Kekuatan daya mulur (%) 42,67 46,67 38,67 30,67 24 Lusi X 24 16 18 15 20 ∑ = 93 Kain A Kain B Kain C Kain D Kain E S2 = (x– 18,6 – = = 12,8 kg = 12,8 x 9,8 = 125,44 N S = = 11,2 N CV = = = 60,21 % 25 ) 5,4 -2,6 -0,6 -3,6 1,4 ( x – )2 29,16 6,76 0,36 12,96 1,96 ∑ = 51,2
  • 26.
    Pakan Kekuatan tarik (kg) 15 16,5 18 17 24 Kain A KainB Kain C Kain D Kain E Kekuatuan tarik (N) 147 161,7 176,4 166,6 235,2 Kekuatan mulur (cm) 1,7 2,9 2,5 2,7 2,4 Kekuatan mulur (%) 22,67 38,67 33,33 36 32 Pakan X 15 16,5 18 17 24 ∑ = 90,5 Kain A Kain B Kain C Kain D Kain E S2 = (x– 18,1 ) -3,1 -1,6 -0,1 -1,1 5,9 ( x – )2 9,61 2,56 0,01 1,21 34,81 ∑ = 48,2 – = = 12,05 % S = = 3,47 % CV = = = 19,17 % Diskusi Pada nilai BAN ini, akan terlihat hasil merser dengan kain greigh dan kain putih. Dan pada nilai BAN ini pengaruh banyaknya konsentrasi NaOH, pengaruh suhu dan waktu proses berpengaruh 26
  • 27.
    dalam penilaian BAN.Terlihat bahwa bahan-bahan pada kain putih berada pada kategori merser lemah, ini disebabkan larutan yang dititrasi tidak sampai 10 ml karena kainnya saat perendaman 2 jam lebih banyak menyerap air, sehingga mempengaruhi hasil titrasi. Begitupun pada hasil BAN pada kain grey, menunjukan hasil BAN berada pada kategori merser baik, ini disebabkan kain greigh memiliki NaOH lebih banyak daripada kain putih, nilai BAN pada kain greigh lebih tinggi daripada kain putih. Pada kain putih terlihat bahwa kain putih dikategorikan merser lemah sedangkan pada kain greigh dikategorikan merser kuat. Jadi, semakin tinggi konsentrasi NaOH, suhu dan waktu prosesnya maka nilai BANnya semakin tinggi. Dan pada percobaan ini hasil titrasi yang kurang tepat satu tetes tak berwarna akan mempengaruhi hasil merser. Kesimpulan Dari data percobaan dapat disimpulkan bahwa : Semakin tinggi suhunya maka semakin besar pula nilai BANnya. Semakin tinggi konsentrasi NaOHnya maka semakin tinggi pula nilai BANnya. Semakin lama waktu proses yang dibutuhkan maka akan semakin tinggi nilai BANnya. 27
  • 28.
    DAFTAR PUSTAKA M. IchwanS.Teks, dkk. Pedoman Praktikum Teknologi Persiapan Penyempurnaan. STTT : Bandung Ichwan, Muhammad, Wiewiek Eka mulyani, Nono C. Pedoman Praktikum Teknologi Persiapan penyempurnaan. STT Tekstil. 2004. 8023 Hỏllriegelskreuth. A Bleachers Handbook. Interox Peroxid-Chemie GmbH. Soeparman,dkk. Teknologi Penyempurnaan Tekstil. ITT. 1977. 28