KARYA MONUMENTAL UMAT ISLAM DALAM
IPTEKS
Disusun Oleh:
KELOMPOK I
IV-E MATEMATIKA
ABDUL RAIS P. 10536 4631 13
MUNAZIA ALIMUS 10536 4627 13
WAODE FITRIA 10536 4629 13
Mata Kuliah :
Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) IV
Dosen :
Dr. Tasmin Tanngareng, M.Ag.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Pemurah,
karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang
diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas “KARYA MONUMENTAL
UMAT ISLAM DALAM IPTEKS”, dalam menyelesaikan tugas mata kuliah Al-
Islam Kemuhammadiyahan (AIK) IV.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai
pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada : Dr. Tasmin Tanngareng, M.Ag. yang telah memberikan
kesempatan dan memberi fasilitas sehingga makalah ini dapat selesai dengan
lancar. Dan terima kasih pula kami ucapkan kepada bapak dan ibu dirumah yang
telah memberikan bantuan materil maupun do’anya, sehingga pembuatan makalah
ini dapat terselesaikan. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu yang membantu pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya dan penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam
pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu penulis menerima
saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan.
Akhir kata penulis sampaikan terimakasih.
Makassar, 10 Maret 2015
Kelompok I
3
DAFTAR ISI
Halaman Judul ................................................................................................. i
Kata Pengantar ................................................................................................ ii
Daftar Isi ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Latar Belakang .................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................... 2
C. Tujuan ................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 3
A. Zaman Kejayaan Islam di Bidang IPTEKS ........................................ 3
B. Sebab-sebab Kemunduran Islam dalam IPTEKS ............................... 7
C. Upaya-upaya Kebangkitan Islam di bidang IPTEKS ......................... 14
BAB III PENUTUP ........................................................................................ 16
A. Simpulan ............................................................................................. 16
B. Saran/Implikasi ................................................................................... 16
Daftar Pustaka ................................................................................................. iv
4
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai umat Islam yang taat dalam memenuhi perintah-perintah
agama Islam sesuai dengan Al-quran dan hadist-hadist, maka wajib
hukumnya bagi umat Islam untuk mennutut ilmu setinggi-tingginya baik
itu ilmu pengetahuan dalam teknologi, sosial, dan agama. Sekarang ini
banyak masyarakat umum yang hanya mengerti bahwa selama ini yang
menemukan pengetahuan-pengetahuan tinggi adalah bangsa Eropa, tetapi
sebenarnya adalah tokoh-tokoh Islam pada masa itu.
Dalam bahasa Arab, pengetahuan digambarkan dengan istilah al-
ilm, diambil dari kata ‘alamah, yang berarti “tanda”, “simbol”, atau
”lambang”, yang dengannya sesuatu itu dapat dikenal. Tapi alamah juga
berarti pengetahuan, lencana, karakteristik, petunjuk dan gejala.
Karenanya ma’lam (ma’alim) berarti juga petunjuk jalan, Dapat dikatakan
bahwa ilmu pengetahuan dianggap dapat menunjukkan jalan menuju
kesejahteraan dan juga menerangi kehidupan umat manusia, yang jika
Berjaya ilmu pengetahuan maka sejahteralah kehidupan pada saat itu,
apabila ilmu pengetahuan tidak berkembang maka kehidupan akan
menjadi tertutup, primitif dan tidak berkembang pula.
Islam pernah mengalami kejayaan di dalam ilmu pengetahuan di
masa lalu, Tokoh-tokoh Islam pada masa itu sangat membawa agama
Islam pada masa kejayaan yang sangat tinggi. Latar belakang penulis
dalam menulis makalah ini adalah untuk memberikan informasi tentang
agama Islam sebagai pelopor dalam ilmu pengetahuan pada masa itu. Pada
peradaban kejayaannya Islam masuk ke Eropa, dan bangsa-bangsa Eropa
yang pada waktu itu sangat primitif, kemudian tertolong dengan
kedatangan tokoh-tokoh Islam tersebut. Itulah bukti kekuatan ilmu
pengetahuan terhadap kesejahteraan umat. Pada masa Napoleon Bonaparte
ke Mesir agama Islam mulai jatuh, dan ilmu pengetahuan-pengetahuan
5
yang sebelumnya ditemukan oleh tokoh-tokoh Islam dilanjutkan oleh
bangsa-bangsa Eropa, sehingga yang terkenal sebagai para penemu adalah
bangsa Eropa. Dan hal ini menandai kemunduran pengembangan ilmu
pengetahuan dalam umat islam.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang diambil adalah :
1. Kapan zaman kejayaan Islam di bidang IPTEKS terjadi?
2. Apa sebab-sebab kemajuan Islam di bidang IPTEKS?
3. Apa sebab-sebab kemunduran Islam di bidang IPTEKS?
4. Bagaimana upaya-upaya kebangkitan kembali umat islam dalam
bidang IPTEKS?
C. Tujuan
Adapun tujuannya adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui zaman kejayaan Islam di bidang IPTEKS terjadi.
2. Mengetahui sebab-sebab kemajuan Islam di bidang IPTEKS.
3. Mengetahui sebab-sebab kemunduran Islam di bidang IPTEKS.
4. Mengetahui upaya-upaya kebangkitan kembali umat islam dalam
bidang IPTEKS.
6
BAB II
PEMBAHASAN
A. Zaman Kejayaan dan Sebab-sebab Kemajuan Umat Islam dalam
Pengembangan IPTEK
Kaum muslimin, pernah memiliki kejayaan di masa lalu. Masa di
mana Islam menjadi trendsenter sebuah peradaban modern. Peradaban
yang dibangun untuk kesejahteraan umat manusia di muka bumi ini. Masa
kejayaan itu bermula saat Rasulullah mendirikan pemerintahan Islam,
yakni Daulah Khilafah Islamiyah di Madinah. Di masa Khulafa as-
Rasyiddin ini Islam berkembang pesat. Sejarawan Barat beraliran
konservatif, W Montgomery Watt menganalisa tentang rahasia kemajuan
peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan
yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama.
Andalusia, yang menjadi pusat ilmu pengetahuan di masa kejayaan
Islam, telah melahirkan ribuan ilmuwan, dan menginsiprasi para ilmuwan
Barat untuk belajar dari kemajuan iptek yang dibangun kaum muslimin.
Terjemahan buku-buku bangsa Arab, terutama buku-buku keilmuan
hampir menjadi satu-satunya sumber-sumber bagi pengajaran di
perguruan-perguruan tinggi Eropa selama lima atau enam abad.
Fakta sejarah menjelaskan antara lain, bahwa Islam pada waktu
pertama kalinya memiliki kejayaan, bahwa ada masanya umat Islam
memiliki tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina di bidang filsafat dan kedokteran,
Ibnu Khaldun di bidang Filsafat dan Sosiologi, Al-jabar dll. Islam telah
7
datang ke Spanyol memperkenalkan berbagai cabang ilmu pengetahuan
seperti ilmu ukur, aljabar, arsitektur, kesehatan, filsafat dan masih banyak
cabang ilmu yang lain lagi.
Kekhilafahan Abbasiyah tercatat dalam sejarah Islam dari tahun
750-1517 M/132-923 H. Diawali oleh khalifah Abu al-’Abbas as-Saffah
(750-754) dan diakhiri Khalifah al-Mutawakkil Alailah III (1508-1517).
Dengan rentang waku yang cukup panjang, sekitar 767 tahun,
kekhilafahan ini mampu menunjukkan pada dunia ketinggian peradaban
Islam dengan pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di
dunia Islam. Di era ini, telah lahir ilmuwan-ilmuwan Islam dengan
berbagai penemuannya yang mengguncang dunia. Sebut saja, al-
Khawarizmi (780-850) yang menemukan angka nol dan namanya
diabadikan dalam cabang ilmu matematika, Algoritma (logaritma). Ada
Ibnu Sina (980-1037) yang membuat termometer udara untuk mengukur
suhu udara. Bahkan namanya tekenal di Barat sebagai Avicena, pakar
Medis Islam legendaris dengan karya ilmiahnya Qanun (Canon) yang
menjadi referensi ilmu kedokteran para pelajar Barat. Tak ketinggalan al-
Biruni (973-1048) yang melakukan pengamatan terhadap tanaman
sehingga diperoleh kesimpulan kalau bunga memiliki 3, 4, 5, atau 18 daun
bunga dan tidak pernah 7 atau 9.
Pada abad ke-8 dan 9 M, negeri Irak dihuni oleh 30 juta penduduk
yang 80% nya merupakan petani. Hebatnya, mereka sudah pakai sistem
irigasi modern dari sungai Eufrat dan Tigris. Hasilnya, di negeri-negeri
Islam rasio hasil panen gandum dibandingkan dengan benih yang disebar
mencapai 10:1 sementara di Eropa pada waktu yang sama hanya dapat
2,5:1. Ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dan pengembangannya
berdampak cukup besar bagi peradaban dan kesejahteraan umat pada masa
itu.
Kecanggihan teknologi masa ini juga terlihat dari peninggalan-
peninggalan sejarahnya. Seperti arsitektur mesjid Agung Cordoba; Blue
Mosque di Konstantinopel; atau menara spiral di Samara yang dibangun
8
oleh khalifah al-Mutawakkil, Istana al-Hamra (al-Hamra Qasr) yang
dibangun di Seville, Andalusia pada tahun 913 M. Sebuah Istana terindah
yang dibangun di atas bukit yang menghadap ke kota Granada. Masa
kejayaan Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahun dan teknologi,
terjadi pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid. Dia adalah khalifah
dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 786. Banyak lahir tokoh
dunia yang kitabnya menjadi referensi ilmu pengetahuan modern. Salah
satunya adalah bapak kedokteran Ibnu Sina atau yang dikenal saat ini di
Barat dengan nama Avicenna.
Sebelum Islam datang, Eropa berada dalam Abad Kegelapan. Tak
satu pun bidang ilmu yang maju, bahkan lebih percaya tahayul. Dalam
bidang kedoteran, misalnya. Saat itu di Barat, jika ada orang gila, mereka
akan menangkapnya kemudian menyayat kepalanya dengan salib. Di atas
luka tersebut mereka akan menaburinya dengan garam. Jika orang tersebut
berteriak kesakitan, orang Barat percaya bahwa itu adalah momen
pertempuran orang gila itu dengan jin. Orang Barat percaya bahwa orang
itu menjadi gila karena kerasukan setan.
a. Kejayaan Islam Masa Dinasti Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah adalah suatu dinasti (Bani Abbas) yang
menguasai daulat (negara) Islamiah pada masa klasik dan
pertengahan Islam. Daulat Islamiah ketika berada di bawah
kekuasaan dinasti ini disebut juga dengan Daulat Abbasiyah. Daulat
Abbasiyah adalah daulat (negara) yang melanjutkan kekuasaan
Daulat Umayyah. Dinamakan Dinasti Abbasiyah karena para
pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas (Bani
Abbas), paman Nabi Muhammad saw. Pendiri dinasti ini adalah
Abu Abbas as-Saffah, nama lengkapnya yaitu Abdullah as-Saffah
ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas.
Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang
diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial ,
dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan pola
9
politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan
Bani Abbas menjadi lima periode:
1. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut
periode pengaruh Persia Pertama.
2. Periode Kedua (232 H/847 M – 234 H/945 M), disebut masa
pengaruh Turki Pertama.
3. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M, masa
kekuasaan Dinasti Buwaih dalam pemerintahan Khilafah
Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia
Kedua.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M/ - 590 H/1194 M), masa
kekuasaan Dinasti Saljuk dalam pemerintahan Khilafah
Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh
Turki Kedua.
5. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa
Khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya
hanya efektif di sekitar kota Bagdad.
Dalam zaman Daulah Abbasiyah, masa meranumlah
kesusasteraan dan ilmu pengetahuan, disalin ke dalam bahasa
Arab, ilmu-ilmu purbakala. Lahirlah pada masa itu sekian banyak
penyair, pujangga, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli hukum, ahli tafsir,
ahli hadits, ahli filsafat, thib, ahli bangunan dan sebagainya.
Zaman ini adalah zaman keemasan Islam, demikian Jarji
Zaidan memulai lukisannya tentang Bani Abbasiyah. Dalam zaman
ini, kedaulatan kaum muslimin telah sampai ke puncak kemuliaan,
baik kekayaan, kemajuan, ataupun kekuasaan. Dalam zaman ini
telah lahir berbagai ilmu Islam, dan berbagai ilmu penting telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Masa Daulah Abbasiyah
adalah masa di mana umat Islam mengembangkan ilmu
pengetahuan, suatu kehausan akan ilmu pengetahuan yang belum
pernah ada dalam sejarah. Kesadaran akan pentingnya ilmu
10
pengetahuan merefleksikan terciptanya beberapa karya ilmiah
seperti terlihat pada alam pemikiran Islam pada abad ke-8 M. yaitu
gerakan penerjemahan buku peninggalan kebudayaan Yunani dan
Persia.
Permulaan yang disebut serius dari penerjemahan tersebut
adalah sejak abad ke-8 M, pada masa pemerintahan Al-Makmun
(813 –833 M) yang membangun sebuah lembaga khusus untuk
tujuan itu, “The House of Wisdom / Bay al-Hikmah”. Dr. Mx
Meyerhof yang dikutip oleh Oemar Amin Hoesin mengungkapkan
tentang kejayaan Islam ini sebagai berikut: “Kedokteran Islam dan
ilmu pengetahuan umumnya, menyinari matahari Hellenisme
hingga pudar cahayanya. Kemudian ilmu Islam menjadi bulan di
malam gelap gulita Eropa, mengantarkan Eropa ke jalan
renaissance. Karena itulah Islam menjadi biang gerak besar, yang
dipunyai Eropa sekarang. Dengan demikian, pantas kita
menyatakan, Islam harus tetap bersama kita.” (Oemar Amin
Hoesin).
Adapun kebijaksanaan para penguasa Daulah Abbasiyah
periode 1 dalam menjalankan tugasnya lebih mengutamakan
kepada pembangunan wilayah seperti: Khalifah tetap keturunan
Arab, sedangkan menteri, gubernur, dan panglima perang diangkat
dari keturunan bangsa Persia. Kota Bagdad sebagai ibukota,
dijadikan kota internasional untuk segala kegiatan ekonomi dan
sosial serta politik segala bangsa yang menganut berbagai
keyakinan diizinkan bermukim di dalamnya, ada bangsa Arab,
Turki, Persia, Romawi, Hindi dan sebagainya.
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu hal yang sangat
mulia dan berharga. Para khalifah dan para pembesar lainnya
membuka kemungkinan seluas-luasnya untuk kemajuan dan
perkembangan ilmu pengetahuan. Pada umumnya khalifah adalah
11
para ulama yang mencintai ilmu, menghormati sarjana dan
memuliakan pujangga.
Kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia diakui
sepenuhnya. Pada waktu itu akal dan pikiran dibebaskan benar-
benar dari belenggu taklid, hal mana menyebabkan orang sangat
leluasa mengeluarkan pendapat dalam segala bidang, termasuk
bidang aqidah, falsafah, ibadah dan sebagainya.
Para menteri keturunan Persia diberi hak penuh untuk
menjalankan pemerintahan, sehingga mereka memegang peranan
penting dalam membina tamadun/peradaban Islam. Mereka sangat
mencintai ilmu dan mengorbankan kekayaannya untuk memajukan
kecerdasan rakyat dan meningkatkan ilmu pengetahuan, sehingga
karena banyaknya keturunan Malawy yang memberikan tenaga dan
jasanya untuk kemajuan Islam.
B. Sebab-Sebab Kemunduran Umat Islam dalam IPTEKS
Saat ini, perkembangan teknologi terus maju dengan pesat.
Perkembangan teknologi sudah masuk ke era digital. Segala hal bisa
menjadi lebih mudah dengan digitalisasi. Seperti yang tertulis pada
Wikipedia, digitalisasi (bahasa Inggris : digitizing), merupakan sebuah
terminology untuk menjelaskan proses alih media dari bentuk tercetak,
audio, maupun video menjadi bentuk digital. Digitalisasi dilakukan untuk
membuat arsip dokumen bentuk digital, untuk fungsi fotokopi, dan untuk
memuat koleksi perpusatakan digital. Digitalisasi memerlukan peralatan
seperti komputer, scanner, operator media sumber dan software
pendukung.
Penemu-penemu peralatan pendukung digitalisasi ini, bukanlah
orang-orang muslim. Sebut saja, penemu komputer adalah seorang laki-
laki Eropa, bernama Charles Babbage. Ia adalah seorang matematikawan
dari Inggris yang pertama kali mengemukakan gagasan tentang komputer
yang dapat diporgram (charlesbabbage.net). Selain itu, bentuk praktis dari
12
komputer, yakni komputer jinjing atau laptop, juga ditemukan oleh warga
Inggris. Adam Osborne, penemu laptop, adalah keturunan Inggris yang
lahir di Thailand.
Berdasarkan dua contoh di atas, dapat kita ketahui bahwa penemu
alat pendukung era digital, bukanlah orang-orang muslim. Orang-orang
muslim tak lagi menjadi pelopor dalam perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi di dunia, tidak seperti pada zaman sebelumnya. Pada zaman
kejayaan Muslim, banyak orang Muslim yang menjadi ilmuwan dan
menemukan suatu perkembangan keilmuwan. Sebagai contoh adalah Al
Khawarizmi, ia adalah seorang muslim penemu konsep matekmatika,
aljabar. Hal ini terekam dalam bukunya yang berjudul “Al-Jabr wa-al
Muqabilah”. Selain aljabar, ia juga pertama kali memperkenalkan konsep
angka menjadi bilangan dari 0-9.
Matematika, merupakan dasar dari teknologi komputer. Namun,
penemu komputer bukanlah orang muslim. Hal ini merupakan salah satu
contoh kalahnya orang-orang muslim dalam perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi saat ini. Orang muslim tak lagi berjaya seperti
zaman dahulu, kalah oleh mereka yang nonmuslim.
Adanya ketimpangan kemampuan umat muslim di era terdahulu
dengan sekarang dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Syakin Arsalan, adalah seorang pemikir asal Libanon (1869-
1946). Arsalan, dalam bukunya Kenapa Islam Terbelakang? Menjelaskan
mengenai apa saja penyebab kemunduran dunia Islam. Menurut Arsalan
terdapat dua penyebab, yakni yang pertama bangsa-bangsa non-Muslim
maju karena mereka tetap berpegang pada tradisi keagamaan mereka
sendiri. Arsalan menyebut dua contoh: Jepang dan Eropa, simbol
kemajuan dunia pada awal abad ke-20. Dua dunia itu maju tanpa harus
mengabaikan tradisi keagamaan mereka. Penjelasan kedua, bangsa-bangsa
itu maju karena kerja keras untuk meraih kemajuan, terutama dalam
bidang ilmu pengetahuan.
13
Selain itu, dalam pandangan Arsalan, kemajuan bangsa-bangsa
Islam hanya bisa dicapai melalui jalan yang sama yang ditempuh oleh
bangsa-bangsa non-Islam, yakni berpegang pada tradisi, serta kerja keras.
Hukum kemajuan berlaku secara “konsisten” bagi bangsa Islam dan non-
Islam. Ada tiga penyakit mental yang dianggap oleh Arsalan sebagai
“biang kerok” kemunduran dunia Islam: pesimisme (tasya’um), rendah
diri (al-istikhdza’) dan cepat putus asa (inqitha’ al-amal). Pada penutup
bukunya, Arsalan mengutip ayat yang dalam pandangannya merupakan
kunci kebangkitan dunia Islam, yakni Al-Ankabut (29):69. Bunyi ayat itu:
wa ‘l-ladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana – mereka yang
berjuang (jihad) di jalanKu, Aku akan menunjukkan mereka jalan-jalan
menuju Aku.“Jihad” adalah kata kunci yang disebut oleh Arsalan. Tetapi,
ini bukanlah jihad dalam pengertian “perang suci” sebagaimana kita
jumpai pada kelompok Islam garis keras. Baginya, jihad adalah kerja keras
dan kesediaan untuk melakukan pengorbanan (al-tadlkhiyah).
Gagasan dari Arsalan ini, telah disampaikan di awal abad 20.
Namun menurut saya masih relevan dengan kondisi Umat Islam saat ini.
Sebenarnya, selain penyebab-penyebab yang telah disebutkan oleh
Arsalan, terdapat satu lagi penyebab kemunduran umat Islam dalam
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yakni umat Islam saat ini
telah jauh dari Kitab Al-quran dan As-sunah.
Umat muslimin saat ini, pada umumnya jauh dari dua sumber
utama kemuliaan mereka, yakni Kitabullah Al-Qur’an dan As-Sunnah An-
Nabawiyyah. Padahal Nabi Muhammad secara gambalang mewasiatkan
agar kita senantiasa berpegang teguh kepada kedua warisan suci tersebut.
Hanya dengan bersikap demikianlah kita tidak bakal menjadi tersesat dari
jalan lurus yang Allah telah berikan bagi orang-orang beriman.
َ‫ر‬ ‫ك‬ْ‫ت‬ُ ‫ف‬ِ ‫ت‬ُ‫ك‬َْ‫َأ‬َ‫ف‬‫ر‬َ‫ف‬ ‫ف‬َِ‫ل‬ َْ‫ت‬‫ت‬‫ض‬َ‫ل‬ ‫ف‬ ‫م‬ َ ‫َت‬‫م‬‫ف‬ْ ‫ت‬َ‫ت‬‫ف‬‫م‬‫ف‬ ‫ك‬ْ‫ت‬‫م‬‫ك‬ُ‫ك‬َ‫ت‬ََ ‫ت‬َ‫ا‬ ‫ِم‬‫و‬ ‫ف‬‫َس‬َ ‫ك‬ََ‫ن‬ ‫ف‬َ‫ك‬ َ‫أ‬‫ك‬‫ا‬
14
Rasulullah bersabda, "Telah aku tinggalkan untuk kalian, dua perkara
yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan
keduanya; Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya." (HR. Malik 1395)
Semestinya kedua perkara ini menjadi rujukan utama kaum
muslimin, baik dalam urusan kecil maupun besar, baik urusan pribadi
maupun bermasyarakat. Kedua perkara ini merupakan sumber kemuliaan
dan kebanggaan kaum muslimin. Jika mereka akrab dengannya, niscaya
mereka menjadi mulia. Jika mereka jauh dari keduanya, niscaya mereka
akan dihinggapi kehinaan sebagaimana yang tampak dewasa ini.
“Andai kata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah
langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami
telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka
berpaling dari kebanggaan itu.” (QS. Al-Mukminun [23] : 71)
Realitasnya, dewasa ini hubungan kaum muslimin umumnya jauh
dari kedua sumber utama ajaran Islam tersebut. Kalaupun ada hubungan
biasanya hanya hubungan parsial. Ada yang hubungannya dengan Al-
Qur’an hanya sebatas tilawah (membacanya). Atau kalaupun ada yang
lebih daripada itu ialah hubungan tahfizh (menghafalkannya). Ini bukan
berarti kita tidak menganggap penting aktifitas tilawah dan tahfizh Al-
Qur’an. Tetapi masalahnya ini tidaklah cukup. Allah tidak menurunkan
Al-Qur’an dengan maksud sebatas itu. Allah menurunkan Al-Qur’an agar
menjadi petunjuk, pedoman hidup bagi ummat Islam, bahkan segenap
umat manusia. Allah menghendaki agar dengan berpedoman kepada Al-
Qur’an ummat manusia keluar dari kegelapan jahiliyah menuju terangnya
hidayah cahaya Islam. Maka sepatutnya kaum muslimin
juga tadabbur (memahami) dan tathbiq (mengamalkan) Al-Qur’anul
Karim.
Tetapi hal di atas tidak terjadi. Malah banyak muslim yang lebih
bangga hidup berpedoman kepada berbagai sumber kebanggaan selain
daripada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Mereka bangga dengan berbagai
15
kitab karya manusia. Ada yang lebih bangga dengan kitab warisan nenek
moyangnya yang bukan Islam. Ada yang membanggakan kitab produk
kaum kuffar Eropa. Ada yang membanggakan kitab lokal-tradisional suku
atau bangsanya yang bukan berpedoman kepada Kitabullah. Dan banyak
lagi lainnya. Padahal Allah sudah memperingatkan apa yang bakal terjadi
jika mereka meninggalkan sumber kebanggaan yang berasal dari Allah
dan Sunnah Nabi Muhammad.
“…dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus,
maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang
demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS.
Al-An’aam [6] : 153)
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
penyebab kemunduran kaum muslin saat ini terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, ada empat hal, yakni rasa pesimis, rendah diri,
cepat putus asa, dan jauh dari kitab suci Al-quran dan As-sunah. Keempat
hal ini alangkah baiknya untuk kita hindari bersama, agar umat muslim
dapat kembali meraih masa kejayaannya, dalam hal ini kejayaan dalam
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam buku karya Wisnu Arya W. yang berjudul Melacak Teori
Einstein dalam Al Qur'an, disebutkan beberapa faktor yang menjadi
penyebab ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) Islam mengalami
kemunduran. Faktor - faktor tersebut, antara lain adalah :
1. Kesadaran orang barat akan arti penting penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi bagi peningkatan kesejahteraan rakyat
sangat tinggi. Oleh karena itu, orang barat ingin mengambil alih
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari umat islam, karena
pada abad ke 9 - abad ke 13 M umat islam dengan menguasai iptek
bisa lebih baik kesejahteraannya dari pada oranga barat, sehingga
mereka berusaha untuk merebut kemajuan iptek dari umat islam.
16
2. Orang barat yang pada umumnya beragama Nasrani, ingin
menunjukan pula bahwa melalui agama Nasrani merekapun dapat
maju dalam bidang iptek sejajar dengan umat islam. Akan tetapi
dalam perkembangan selanjutnya setelah mereka mendapatkan
kemajuan dalam bidang iptek, mereka justru mulai menjauh dari
agama mereka. Mereka menjadi sekuler. Urusan agama berjalan
sendiri, begitu pula dengan iptek. Mereka mungkin menganggap
bahwa agama Nasrani dengan kitab Injil, justru menjadi penghalang
bagi kemajuan iptek. Mungkin hal ini disebabkan kerena banyak
penemuan-penemuan badu dalam bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi yang tidak sesuai dengan ayat-ayat dalam Kitab Injil.
Misalkan tentang terbentuknya alam semesta ini, seperti yang
tertulis dalam Kitab Injil tidak sesuai dengan teori dan kenyataan
yang ada. Peredaran bumi dan planet-planet mengelilingi matahari,
bertentangan dengan teori yang ada dalam Kitab Injil. Ingat ketika
Galileo Galilei mengumumkan teori tentang peredaran bumi dan
planet-planet mengelilingi matahari ditentang oleh gereja, karena
tidak sesuai dengan Bibel. Begitu pula dengan Nicolas Copernicus
mengumumkan teori tentang “heliocentris”, yaitu bumi berputar
mengelilingi matahari dan matahari sebagai pusat peredaran, juga
ditentang oleh gereja. Kedua ilmuan tersebut akhirnya dihukum
mati oleh gereja. Alhamdulillah, hal ini tidak terjadi dalam agama
Islam, karena Al Qur’an selalu sesuai dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi ! bahkan Al Qur’an bisa menjadi sumber
ilmu pengetahuan dan teknologi. Bukankah Al Qur’an diciptakan
oleh yang menciptakan alam semesta ini? jadi selalu akan sesuai !
3. Orang-orang barat yang berjiwa petualang berusaha menemukan
“benua” baru, sehinggga mereka berusaha berlayar denan route
yang tidak lazim, seperti yang dilakukan oleh Amerigo Vespuci dan
Columbus pada tahun 1492 ke benua Amerika. Vasco de Gama
pada tahun 1407 berlayar ke Tanjung Pengaharapan. James Cook
pada tahun 1770 pergi berlayar ke Australia dan New Zealand serta
17
kepulauan Pasifik. Penemuan-penemuan benua baru tersebut ikut
mempengaruhi route perdagangan yang berdampak terhadap
negara-negara Islam pada waktu itu. Route perdagangan yang
semula Syria dan Mesir ramai dikunjungi pedagang-pedagang dari
India dan dari Eropa, setelah penemuan route (benua) baru, Mesir
dan Syria jadi sepi yang mengakibatkan sumber pendapatan negeri-
negeri Islam jadi berkurang banyak.
4. Orang-orang barat sengaja menghancurkan observatorium Islam
yang didirikan oleh Taqi Al Din di Konstantinopel pada tahun 1580,
menjadikan Islam kehilangan sumber pengetahuan dan pengamatan
bintang (astronomi) yang sudah sangat maju pada masa itu.
Ironisnya, pada waktu yang sama sekitar tahun 1580 juga, orang
barat baru pertama kali membangun observatoriumnya oleh Tycho
Brace. Perlu dicatat bahwa Islam telah memiliki observatorium
pertama kali yang dibangun pada tahun 500-an M di Ulugh Beg
(Samarkand). Jadi orang islam sudah lebih dahulu maju 1000 tahun
dari orang barat dalam hal pengerahuan tentang astronomi.
5. Perjanjian perdagangan antara Sultan Sulaiman I (dinasti Utsmani)
dari Turki dan Inggris, yang pada mulanya untuk meringankan
Turki mengimport barang-barang dari Inggris dan negara-negara
Eropa lainnya, tapi lama-kelamaan ekonomi Turki banyak
tergantung pada ekonomi Eropa. Terlebih lagi dengan adanya
revolusi industri di Inggris dan di negara-negara Eropa lainnya,
produk barang jadi dari Eropa makin membanjiri negara-negara
islam dan keadaan ini juga makin mempengaruhi ekonomi negara-
negara islam lainnya.
6. Ketergantungan negara-negara islam terhadap ekonomi Eropa lama
kelamaan menjadi suatu bentuk ketergantungan dalam bidang
pemerintahan. Inilah awal mula pemerintahan kolonialisme barat
terhadap negara-negara islam. Akibat kolonialisme barat, maka
negara-negara islam yang pada mulanya bersatu dari Maroko
sampai ke Pakistan, kemudian terpecah belah menjadi negara-
18
negara kecil berdasarkan feodalisme, kesultanan , kerajaan dan
keemiratan yang antara satu dengan lainnya saling bersaing, bahkan
sampai bermusuhan. Politik pecah belah, devide et impera, telah
melumpuhkan kejayaan islam pada masa lalu.
7. Akibat kolonialisme negara-negara islam yang semula
menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa nasionalnya, mulai
terdesak oleh bahasa penjajah. Keadaan ini sedikit banyak telah
menjauhkan mereka dari Al Qur’an, padahal Al Qur’an adalah juga
sumber ilmu pengetahuan dan teknologi.
8. Akibat kolonialisme stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi
negara-negara islam mulai menurun, padahal stabilitas politik dan
kemakmuran merupakan akar bagi berkembangnya ilmu
pengetahuan dan teknologi. Hal ini lebih diperpapah lagi dengan
munculnya kapitalisme barat.
Faktor-faktor diatas menjadi penyebab utama islam mulai
tertinggal dari orang-orang barat dalam bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi. Di samping itu, ada gejala umat islam mulai
mengenyampingkan ilmu kealaman yang justru sebenarnya banyak
tersurat dan tersirat di dalam Al Qur’an melalui ayat-ayat Kauniyyah.
Padahal orang-orang barat mulai bersemangat mempelajari dan meneliti
ilmu kealaman yang mendasari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Oleh karena itu, dengan paparan di atas diharapkan dapat menggugah
semangat para intelektual muda islam untuk bisa bangkit untu merebut
kembali ilmu pengetahuan dan teknologi yang dulu pernah menjadi
kebanggan umat Islam. Insya’Allah bisa !!!
C. Upaya-Upaya Kebangkitan Kembali Umat Islam dalam IPTEKS
KH Akhmad Kholil Ridwan menyatakan optimismenya bahwa
Islam akan kembali berjaya di muka bumi. Ridwan menyebut saat ini
merupakan momen kebangkitan Islam kembali. ”Seperti janji Allah, 700
tahun pertama Islam berjaya, 700 tahun berikutnya Islam jatuh dan
19
sekarang tengah mengalami periode 700 tahun ketiga menuju kembalinya
kebangkitan Islam,” ujarnya.
Meskipun saat ini umat Islam banyak ditekan, ujar Ridwan, semua
upaya ini justru semakin memperkuat eksistensi Islam. Ini sesuai janji
Allah yang menyatakan bahwa meskipun begitu hebatnya musuh
menindas Islam namun hal ini bukannya akan melemahkan umat Islam.
”Ibaratnya paku, semakin ditekan, Islam akan semakin menancap dengan
kuat,”ujarnya.
Sementara itu, Luthfi menyatakan sistem khilafah Islamiyah masih
relevan diterapkan pada zaman sekarang ini asal dimodifikasi. Ia
mencontohkan konsep pemerintahan yang dianut Iran yang menjadi
modifikasi antara teokrasi (kekuasaan yang berpusat pada Tuhan) dan
demokrasi (yang berpusat pada masyarakat).
Di Iran, kekuasaan tertinggi tidak dipegang parlemen atau
presiden, melainkan oleh Ayatullah atau Imam, yang juga memiliki
Dewan Ahli dan Dewan Pengawas. Sistem pemerintahan Iran ini, menurut
Luthfi, merupakan tandingan sistem pemerintahan Barat. ”Tak heran kalau
Amerika Serikat sangat takut dengan Iran karena mereka bisa menjadi
tonggak peradaban baru Islam.”
Konsep khilafah Islamiyah, kata Luthfi, mengharuskan hanya ada
satu pemerintahan Islami di dunia dan tidak terpecah-belah berdasarkan
negara atau etnis. ”Untuk mewujudkannya lagi saat ini, sangat sulit,” kata
dia.
Sementara Kholil Ridwan menjelaskan ada tiga upaya konkret
yang bisa dilakukan umat untuk mengembalikan kejayaan Islam di masa
lampau. Yang pertama adalah merapatkan barisan. Allah berfirman dalam
QS Ali Imran ayat 103 yang isinya “Dan berpeganglah kalian semuanya
dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.”
20
Upaya lainnya adalah kembali kepada tradisi keilmuan dalam
agama Islam. Dalam Islam, jelasnya, ada dua jenis ilmu, yaitu ilmu fardhu
‘ain dan fardhu kifayah. Yang masuk golongan ilmu fardhu ‘ain adalah Al-
Quran, hadis, fikih, tauhid, akhlaq, syariah, dan cabang-cabangnya.
Sedangkan yang masuk ilmu fardhu kifayah adalah kedokteran,
matematika, psikologi, dan cabang sains lainnya.
Sementara upaya ketiga adalah dengan mewujudkan sistem yang
berdasarkan syariah Islam.
21
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kaum muslimin, pernah memiliki kejayaan di masa lalu. Masa di
mana Islam menjadi trendsenter sebuah peradaban modern. Peradaban
yang dibangun untuk kesejahteraan umat manusia di muka bumi ini. Masa
kejayaan itu bermula saat Rasulullah mendirikan pemerintahan Islam,
yakni Daulah Khilafah Islamiyah di Madinah. Di masa Khulafa as-
Rasyiddin ini Islam berkembang pesat.
Pada masa pemerintahan dinasti Usmaniyah — di Barat disebut
Ottoman — yang kekuatan militernya berhasil memperluas kekuasaan
hingga ke Eropa, yaitu Wina hingga ke selatan Spanyol dan Perancis.
Kekuatan militer laut Usmaniyah sangat ditakuti Barat saat itu, apalagi
mereka menguasai Laut Tengah.
Kejatuhan Islam ke tangan Barat dimulai pada awal abad ke-18.
Umat Islam mulai merasa tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi setelah masuknya Napoleon Bonaparte ke Mesir. Saat itu
Napoleon masuk dengan membawa mesin-mesin dan peralatan cetak,
ditambah tenaga ahli.
Dinasti Abbasiyah jatuh setelah kota Baghdad yang menjadi pusat
pemerintahannya diserang oleh bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu
Khan. Di sisi lain, tradisi keilmuan itu kurang berkembang pada
kekhalifahan Usmaniyah. Tanggal 3 Maret 1924, khilafah Islamiyah resmi
dihapus dari konstitusi Turki. Sejak saat itu tidak ada lagi negara yang
secara konsisten menganut khilafah Islamiyah. Terjadi gerakan
sekularisasi yang dipelopori oleh Kemal At-Taturk, seorang Zionis Turki.
B. Implikasi
Islam merupakan agama yang punya perhatian besar kepada ilmu
pengetahuan. Islam sangat menekankan umatnya untuk terus menuntut
ilmu. Dalam surat Ar-Rahman, Allah menjelaskan bahwa diri-Nya adalah
22
pengajar (‘Allamahu al-Bayan) bagi umat Islam. Dalam agama-agama lain
selain Islam kita tidak akan menemukan bahwa wahyu pertama yang
diturunkan adalah perintah untuk belajar. Kita tahu bahwa ayat pertama
yang diturunkan adalah Surat Al-‘Alaq yang memerintahan kita untuk
membaca dan belajar. Allah mengajarkan kita dengan qalam – yang sering
kita artikan dengan pena. Akan tetapi sebenarnya kata qalam juga dapat
diartikan sebagai sesuatu yang yang dapat dipergunakan untuk mentransfer
ilmu kepada orang lain. Kata Qalam tidak diletakkan dalam pengertian
yang sempit. Sehingga pada setiap zaman kata qalam dapat memiliki arti
yang lebih banyak. Seperti pada zaman sekarang, komputer dan segala
perangkatnya termasuk internet bisa diartikan sebagai penafsiran kata
qalam. Dalam surat Al-‘Alaq, Allah swt memerintahkan kita agar
menerangkan ilmu. Setelah itu kewajiban kedua adalah mentransfer ilmu
tersebut kepada generasi berikutnya. Dalam hal pendidikan, ada dua
kesimpulan yang dapat kita ambil dari firman Allah swt tersebut; yaitu
Pertama, kita belajar dan mendapatkan ilmu yang sebanyak-banyaknya.
Kedua, berkenaan dengan penelitian yang dalam ayat tersebut digunakan
kata qalam yang dapat kita artikan sebagai alat untuk mencatat dan
meneliti yang nantinya akan menjadi warisan kita kepada generasi
berikutnya.
Dalam ajaran Islam – baik dalam ayat Quran maupun hadits,
bahwa ilmu pengetahuan paling tinggi nilainya melebihi hal-hal lain.
Bahkan sifat Allah swt adalah Dia memiliki ilmu yang Maha Mengetahui.
Seorang penyair besar Islam mengungkapkan bahwa kekuatan suatu
bangsa berada pada ilmu. Saat ini kekuatan tidak bertumpu pada kekuatan
fisik dan harta, tetapi kekuatan dalam hal ilmu pengetahuan. Orang yang
tinggi di hadapan Allah swt adalah mereka yang berilmu.
Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad saw menganjurkan kita
untuk menuntut ilmu sampai ke liang lahat. Tidak ada Nabi lain yang
begitu besar perhatian dan penekanannya pada kewajiban menuntut ilmu
sedetail nabi Muhammad saw. Maka bukan hal yang asing jika waktu itu
23
kita mendengar bahwa Islam memegang peradaban penting dalam ilmu
pengetahuan. Semua cabang ilmu pengetahuan waktu itu didominasi oleh
Islam yang dibangun oleh para ilmuwan Islam pada zaman itu yang
berawal dari kota Madinah, Spanyol, Cordova dan negara-negara lainnya.
Itulah zaman yang kita kenal dengan zaman keemasan Islam, walaupun
setelah itu Islam mengalami kemunduran. Di zaman itu, di mana negara-
negara di Eropa belum ada yang membangun perguruan tinggi, negara-
negara Islam telah banyak membangun pusat-pusat studi pengetahun.
Sekarang tugas kita untuk mengembalikan masa kejayaan Islam seperti
dulu melalui berbagai lembaga keilmuan yang ada di negara-negara Islam.
Beginilah kita sekarang sobat. Tapi jangan bersedih, sebab kita
akan kembali mengagungkan kejayaan Islam itu. Yakinlah, kita masih bisa
merebutnya, meski dengan nyawa sebagai tebusannya. Kita lahir ke dunia
ini dengan berlumur darah, maka kenapa musti takut mati dengan
berlumur darah. Syahid di medan tempur.
DAFTAR PUSTAKA
Baiquni, A. 1996. Al Qur’an, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi. Yogyakarta : PT
Dana Bhakti Prima Yasa.
Farhana.2000. Peradaban Islam Masa Dinasti Abbasiyah; Kebangkitan dan
Kemajuan. Jakarta : Media ilmu.
24

KARYA MONUMENTAL UMAT ISLAM DALAM IPTEKS

  • 1.
    KARYA MONUMENTAL UMATISLAM DALAM IPTEKS Disusun Oleh: KELOMPOK I IV-E MATEMATIKA ABDUL RAIS P. 10536 4631 13 MUNAZIA ALIMUS 10536 4627 13 WAODE FITRIA 10536 4629 13 Mata Kuliah : Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) IV Dosen : Dr. Tasmin Tanngareng, M.Ag. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2015
  • 2.
    2 KATA PENGANTAR Puji syukurkami sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas “KARYA MONUMENTAL UMAT ISLAM DALAM IPTEKS”, dalam menyelesaikan tugas mata kuliah Al- Islam Kemuhammadiyahan (AIK) IV. Dalam pembuatan makalah ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : Dr. Tasmin Tanngareng, M.Ag. yang telah memberikan kesempatan dan memberi fasilitas sehingga makalah ini dapat selesai dengan lancar. Dan terima kasih pula kami ucapkan kepada bapak dan ibu dirumah yang telah memberikan bantuan materil maupun do’anya, sehingga pembuatan makalah ini dapat terselesaikan. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang membantu pembuatan makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata penulis sampaikan terimakasih. Makassar, 10 Maret 2015 Kelompok I
  • 3.
    3 DAFTAR ISI Halaman Judul................................................................................................. i Kata Pengantar ................................................................................................ ii Daftar Isi ......................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1 A. Latar Belakang .................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................... 2 C. Tujuan ................................................................................................. 2 BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 3 A. Zaman Kejayaan Islam di Bidang IPTEKS ........................................ 3 B. Sebab-sebab Kemunduran Islam dalam IPTEKS ............................... 7 C. Upaya-upaya Kebangkitan Islam di bidang IPTEKS ......................... 14 BAB III PENUTUP ........................................................................................ 16 A. Simpulan ............................................................................................. 16 B. Saran/Implikasi ................................................................................... 16 Daftar Pustaka ................................................................................................. iv
  • 4.
    4 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Sebagai umat Islam yang taat dalam memenuhi perintah-perintah agama Islam sesuai dengan Al-quran dan hadist-hadist, maka wajib hukumnya bagi umat Islam untuk mennutut ilmu setinggi-tingginya baik itu ilmu pengetahuan dalam teknologi, sosial, dan agama. Sekarang ini banyak masyarakat umum yang hanya mengerti bahwa selama ini yang menemukan pengetahuan-pengetahuan tinggi adalah bangsa Eropa, tetapi sebenarnya adalah tokoh-tokoh Islam pada masa itu. Dalam bahasa Arab, pengetahuan digambarkan dengan istilah al- ilm, diambil dari kata ‘alamah, yang berarti “tanda”, “simbol”, atau ”lambang”, yang dengannya sesuatu itu dapat dikenal. Tapi alamah juga berarti pengetahuan, lencana, karakteristik, petunjuk dan gejala. Karenanya ma’lam (ma’alim) berarti juga petunjuk jalan, Dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan dianggap dapat menunjukkan jalan menuju kesejahteraan dan juga menerangi kehidupan umat manusia, yang jika Berjaya ilmu pengetahuan maka sejahteralah kehidupan pada saat itu, apabila ilmu pengetahuan tidak berkembang maka kehidupan akan menjadi tertutup, primitif dan tidak berkembang pula. Islam pernah mengalami kejayaan di dalam ilmu pengetahuan di masa lalu, Tokoh-tokoh Islam pada masa itu sangat membawa agama Islam pada masa kejayaan yang sangat tinggi. Latar belakang penulis dalam menulis makalah ini adalah untuk memberikan informasi tentang agama Islam sebagai pelopor dalam ilmu pengetahuan pada masa itu. Pada peradaban kejayaannya Islam masuk ke Eropa, dan bangsa-bangsa Eropa yang pada waktu itu sangat primitif, kemudian tertolong dengan kedatangan tokoh-tokoh Islam tersebut. Itulah bukti kekuatan ilmu pengetahuan terhadap kesejahteraan umat. Pada masa Napoleon Bonaparte ke Mesir agama Islam mulai jatuh, dan ilmu pengetahuan-pengetahuan
  • 5.
    5 yang sebelumnya ditemukanoleh tokoh-tokoh Islam dilanjutkan oleh bangsa-bangsa Eropa, sehingga yang terkenal sebagai para penemu adalah bangsa Eropa. Dan hal ini menandai kemunduran pengembangan ilmu pengetahuan dalam umat islam. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang diambil adalah : 1. Kapan zaman kejayaan Islam di bidang IPTEKS terjadi? 2. Apa sebab-sebab kemajuan Islam di bidang IPTEKS? 3. Apa sebab-sebab kemunduran Islam di bidang IPTEKS? 4. Bagaimana upaya-upaya kebangkitan kembali umat islam dalam bidang IPTEKS? C. Tujuan Adapun tujuannya adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui zaman kejayaan Islam di bidang IPTEKS terjadi. 2. Mengetahui sebab-sebab kemajuan Islam di bidang IPTEKS. 3. Mengetahui sebab-sebab kemunduran Islam di bidang IPTEKS. 4. Mengetahui upaya-upaya kebangkitan kembali umat islam dalam bidang IPTEKS.
  • 6.
    6 BAB II PEMBAHASAN A. ZamanKejayaan dan Sebab-sebab Kemajuan Umat Islam dalam Pengembangan IPTEK Kaum muslimin, pernah memiliki kejayaan di masa lalu. Masa di mana Islam menjadi trendsenter sebuah peradaban modern. Peradaban yang dibangun untuk kesejahteraan umat manusia di muka bumi ini. Masa kejayaan itu bermula saat Rasulullah mendirikan pemerintahan Islam, yakni Daulah Khilafah Islamiyah di Madinah. Di masa Khulafa as- Rasyiddin ini Islam berkembang pesat. Sejarawan Barat beraliran konservatif, W Montgomery Watt menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Andalusia, yang menjadi pusat ilmu pengetahuan di masa kejayaan Islam, telah melahirkan ribuan ilmuwan, dan menginsiprasi para ilmuwan Barat untuk belajar dari kemajuan iptek yang dibangun kaum muslimin. Terjemahan buku-buku bangsa Arab, terutama buku-buku keilmuan hampir menjadi satu-satunya sumber-sumber bagi pengajaran di perguruan-perguruan tinggi Eropa selama lima atau enam abad. Fakta sejarah menjelaskan antara lain, bahwa Islam pada waktu pertama kalinya memiliki kejayaan, bahwa ada masanya umat Islam memiliki tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina di bidang filsafat dan kedokteran, Ibnu Khaldun di bidang Filsafat dan Sosiologi, Al-jabar dll. Islam telah
  • 7.
    7 datang ke Spanyolmemperkenalkan berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti ilmu ukur, aljabar, arsitektur, kesehatan, filsafat dan masih banyak cabang ilmu yang lain lagi. Kekhilafahan Abbasiyah tercatat dalam sejarah Islam dari tahun 750-1517 M/132-923 H. Diawali oleh khalifah Abu al-’Abbas as-Saffah (750-754) dan diakhiri Khalifah al-Mutawakkil Alailah III (1508-1517). Dengan rentang waku yang cukup panjang, sekitar 767 tahun, kekhilafahan ini mampu menunjukkan pada dunia ketinggian peradaban Islam dengan pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di dunia Islam. Di era ini, telah lahir ilmuwan-ilmuwan Islam dengan berbagai penemuannya yang mengguncang dunia. Sebut saja, al- Khawarizmi (780-850) yang menemukan angka nol dan namanya diabadikan dalam cabang ilmu matematika, Algoritma (logaritma). Ada Ibnu Sina (980-1037) yang membuat termometer udara untuk mengukur suhu udara. Bahkan namanya tekenal di Barat sebagai Avicena, pakar Medis Islam legendaris dengan karya ilmiahnya Qanun (Canon) yang menjadi referensi ilmu kedokteran para pelajar Barat. Tak ketinggalan al- Biruni (973-1048) yang melakukan pengamatan terhadap tanaman sehingga diperoleh kesimpulan kalau bunga memiliki 3, 4, 5, atau 18 daun bunga dan tidak pernah 7 atau 9. Pada abad ke-8 dan 9 M, negeri Irak dihuni oleh 30 juta penduduk yang 80% nya merupakan petani. Hebatnya, mereka sudah pakai sistem irigasi modern dari sungai Eufrat dan Tigris. Hasilnya, di negeri-negeri Islam rasio hasil panen gandum dibandingkan dengan benih yang disebar mencapai 10:1 sementara di Eropa pada waktu yang sama hanya dapat 2,5:1. Ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dan pengembangannya berdampak cukup besar bagi peradaban dan kesejahteraan umat pada masa itu. Kecanggihan teknologi masa ini juga terlihat dari peninggalan- peninggalan sejarahnya. Seperti arsitektur mesjid Agung Cordoba; Blue Mosque di Konstantinopel; atau menara spiral di Samara yang dibangun
  • 8.
    8 oleh khalifah al-Mutawakkil,Istana al-Hamra (al-Hamra Qasr) yang dibangun di Seville, Andalusia pada tahun 913 M. Sebuah Istana terindah yang dibangun di atas bukit yang menghadap ke kota Granada. Masa kejayaan Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahun dan teknologi, terjadi pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid. Dia adalah khalifah dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 786. Banyak lahir tokoh dunia yang kitabnya menjadi referensi ilmu pengetahuan modern. Salah satunya adalah bapak kedokteran Ibnu Sina atau yang dikenal saat ini di Barat dengan nama Avicenna. Sebelum Islam datang, Eropa berada dalam Abad Kegelapan. Tak satu pun bidang ilmu yang maju, bahkan lebih percaya tahayul. Dalam bidang kedoteran, misalnya. Saat itu di Barat, jika ada orang gila, mereka akan menangkapnya kemudian menyayat kepalanya dengan salib. Di atas luka tersebut mereka akan menaburinya dengan garam. Jika orang tersebut berteriak kesakitan, orang Barat percaya bahwa itu adalah momen pertempuran orang gila itu dengan jin. Orang Barat percaya bahwa orang itu menjadi gila karena kerasukan setan. a. Kejayaan Islam Masa Dinasti Abbasiyah Dinasti Abbasiyah adalah suatu dinasti (Bani Abbas) yang menguasai daulat (negara) Islamiah pada masa klasik dan pertengahan Islam. Daulat Islamiah ketika berada di bawah kekuasaan dinasti ini disebut juga dengan Daulat Abbasiyah. Daulat Abbasiyah adalah daulat (negara) yang melanjutkan kekuasaan Daulat Umayyah. Dinamakan Dinasti Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas (Bani Abbas), paman Nabi Muhammad saw. Pendiri dinasti ini adalah Abu Abbas as-Saffah, nama lengkapnya yaitu Abdullah as-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial , dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan pola
  • 9.
    9 politik itu, parasejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode: 1. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia Pertama. 2. Periode Kedua (232 H/847 M – 234 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki Pertama. 3. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M, masa kekuasaan Dinasti Buwaih dalam pemerintahan Khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia Kedua. 4. Periode Keempat (447 H/1055 M/ - 590 H/1194 M), masa kekuasaan Dinasti Saljuk dalam pemerintahan Khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki Kedua. 5. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa Khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad. Dalam zaman Daulah Abbasiyah, masa meranumlah kesusasteraan dan ilmu pengetahuan, disalin ke dalam bahasa Arab, ilmu-ilmu purbakala. Lahirlah pada masa itu sekian banyak penyair, pujangga, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli hukum, ahli tafsir, ahli hadits, ahli filsafat, thib, ahli bangunan dan sebagainya. Zaman ini adalah zaman keemasan Islam, demikian Jarji Zaidan memulai lukisannya tentang Bani Abbasiyah. Dalam zaman ini, kedaulatan kaum muslimin telah sampai ke puncak kemuliaan, baik kekayaan, kemajuan, ataupun kekuasaan. Dalam zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam, dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Masa Daulah Abbasiyah adalah masa di mana umat Islam mengembangkan ilmu pengetahuan, suatu kehausan akan ilmu pengetahuan yang belum pernah ada dalam sejarah. Kesadaran akan pentingnya ilmu
  • 10.
    10 pengetahuan merefleksikan terciptanyabeberapa karya ilmiah seperti terlihat pada alam pemikiran Islam pada abad ke-8 M. yaitu gerakan penerjemahan buku peninggalan kebudayaan Yunani dan Persia. Permulaan yang disebut serius dari penerjemahan tersebut adalah sejak abad ke-8 M, pada masa pemerintahan Al-Makmun (813 –833 M) yang membangun sebuah lembaga khusus untuk tujuan itu, “The House of Wisdom / Bay al-Hikmah”. Dr. Mx Meyerhof yang dikutip oleh Oemar Amin Hoesin mengungkapkan tentang kejayaan Islam ini sebagai berikut: “Kedokteran Islam dan ilmu pengetahuan umumnya, menyinari matahari Hellenisme hingga pudar cahayanya. Kemudian ilmu Islam menjadi bulan di malam gelap gulita Eropa, mengantarkan Eropa ke jalan renaissance. Karena itulah Islam menjadi biang gerak besar, yang dipunyai Eropa sekarang. Dengan demikian, pantas kita menyatakan, Islam harus tetap bersama kita.” (Oemar Amin Hoesin). Adapun kebijaksanaan para penguasa Daulah Abbasiyah periode 1 dalam menjalankan tugasnya lebih mengutamakan kepada pembangunan wilayah seperti: Khalifah tetap keturunan Arab, sedangkan menteri, gubernur, dan panglima perang diangkat dari keturunan bangsa Persia. Kota Bagdad sebagai ibukota, dijadikan kota internasional untuk segala kegiatan ekonomi dan sosial serta politik segala bangsa yang menganut berbagai keyakinan diizinkan bermukim di dalamnya, ada bangsa Arab, Turki, Persia, Romawi, Hindi dan sebagainya. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu hal yang sangat mulia dan berharga. Para khalifah dan para pembesar lainnya membuka kemungkinan seluas-luasnya untuk kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada umumnya khalifah adalah
  • 11.
    11 para ulama yangmencintai ilmu, menghormati sarjana dan memuliakan pujangga. Kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia diakui sepenuhnya. Pada waktu itu akal dan pikiran dibebaskan benar- benar dari belenggu taklid, hal mana menyebabkan orang sangat leluasa mengeluarkan pendapat dalam segala bidang, termasuk bidang aqidah, falsafah, ibadah dan sebagainya. Para menteri keturunan Persia diberi hak penuh untuk menjalankan pemerintahan, sehingga mereka memegang peranan penting dalam membina tamadun/peradaban Islam. Mereka sangat mencintai ilmu dan mengorbankan kekayaannya untuk memajukan kecerdasan rakyat dan meningkatkan ilmu pengetahuan, sehingga karena banyaknya keturunan Malawy yang memberikan tenaga dan jasanya untuk kemajuan Islam. B. Sebab-Sebab Kemunduran Umat Islam dalam IPTEKS Saat ini, perkembangan teknologi terus maju dengan pesat. Perkembangan teknologi sudah masuk ke era digital. Segala hal bisa menjadi lebih mudah dengan digitalisasi. Seperti yang tertulis pada Wikipedia, digitalisasi (bahasa Inggris : digitizing), merupakan sebuah terminology untuk menjelaskan proses alih media dari bentuk tercetak, audio, maupun video menjadi bentuk digital. Digitalisasi dilakukan untuk membuat arsip dokumen bentuk digital, untuk fungsi fotokopi, dan untuk memuat koleksi perpusatakan digital. Digitalisasi memerlukan peralatan seperti komputer, scanner, operator media sumber dan software pendukung. Penemu-penemu peralatan pendukung digitalisasi ini, bukanlah orang-orang muslim. Sebut saja, penemu komputer adalah seorang laki- laki Eropa, bernama Charles Babbage. Ia adalah seorang matematikawan dari Inggris yang pertama kali mengemukakan gagasan tentang komputer yang dapat diporgram (charlesbabbage.net). Selain itu, bentuk praktis dari
  • 12.
    12 komputer, yakni komputerjinjing atau laptop, juga ditemukan oleh warga Inggris. Adam Osborne, penemu laptop, adalah keturunan Inggris yang lahir di Thailand. Berdasarkan dua contoh di atas, dapat kita ketahui bahwa penemu alat pendukung era digital, bukanlah orang-orang muslim. Orang-orang muslim tak lagi menjadi pelopor dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia, tidak seperti pada zaman sebelumnya. Pada zaman kejayaan Muslim, banyak orang Muslim yang menjadi ilmuwan dan menemukan suatu perkembangan keilmuwan. Sebagai contoh adalah Al Khawarizmi, ia adalah seorang muslim penemu konsep matekmatika, aljabar. Hal ini terekam dalam bukunya yang berjudul “Al-Jabr wa-al Muqabilah”. Selain aljabar, ia juga pertama kali memperkenalkan konsep angka menjadi bilangan dari 0-9. Matematika, merupakan dasar dari teknologi komputer. Namun, penemu komputer bukanlah orang muslim. Hal ini merupakan salah satu contoh kalahnya orang-orang muslim dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini. Orang muslim tak lagi berjaya seperti zaman dahulu, kalah oleh mereka yang nonmuslim. Adanya ketimpangan kemampuan umat muslim di era terdahulu dengan sekarang dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Syakin Arsalan, adalah seorang pemikir asal Libanon (1869- 1946). Arsalan, dalam bukunya Kenapa Islam Terbelakang? Menjelaskan mengenai apa saja penyebab kemunduran dunia Islam. Menurut Arsalan terdapat dua penyebab, yakni yang pertama bangsa-bangsa non-Muslim maju karena mereka tetap berpegang pada tradisi keagamaan mereka sendiri. Arsalan menyebut dua contoh: Jepang dan Eropa, simbol kemajuan dunia pada awal abad ke-20. Dua dunia itu maju tanpa harus mengabaikan tradisi keagamaan mereka. Penjelasan kedua, bangsa-bangsa itu maju karena kerja keras untuk meraih kemajuan, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan.
  • 13.
    13 Selain itu, dalampandangan Arsalan, kemajuan bangsa-bangsa Islam hanya bisa dicapai melalui jalan yang sama yang ditempuh oleh bangsa-bangsa non-Islam, yakni berpegang pada tradisi, serta kerja keras. Hukum kemajuan berlaku secara “konsisten” bagi bangsa Islam dan non- Islam. Ada tiga penyakit mental yang dianggap oleh Arsalan sebagai “biang kerok” kemunduran dunia Islam: pesimisme (tasya’um), rendah diri (al-istikhdza’) dan cepat putus asa (inqitha’ al-amal). Pada penutup bukunya, Arsalan mengutip ayat yang dalam pandangannya merupakan kunci kebangkitan dunia Islam, yakni Al-Ankabut (29):69. Bunyi ayat itu: wa ‘l-ladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana – mereka yang berjuang (jihad) di jalanKu, Aku akan menunjukkan mereka jalan-jalan menuju Aku.“Jihad” adalah kata kunci yang disebut oleh Arsalan. Tetapi, ini bukanlah jihad dalam pengertian “perang suci” sebagaimana kita jumpai pada kelompok Islam garis keras. Baginya, jihad adalah kerja keras dan kesediaan untuk melakukan pengorbanan (al-tadlkhiyah). Gagasan dari Arsalan ini, telah disampaikan di awal abad 20. Namun menurut saya masih relevan dengan kondisi Umat Islam saat ini. Sebenarnya, selain penyebab-penyebab yang telah disebutkan oleh Arsalan, terdapat satu lagi penyebab kemunduran umat Islam dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yakni umat Islam saat ini telah jauh dari Kitab Al-quran dan As-sunah. Umat muslimin saat ini, pada umumnya jauh dari dua sumber utama kemuliaan mereka, yakni Kitabullah Al-Qur’an dan As-Sunnah An- Nabawiyyah. Padahal Nabi Muhammad secara gambalang mewasiatkan agar kita senantiasa berpegang teguh kepada kedua warisan suci tersebut. Hanya dengan bersikap demikianlah kita tidak bakal menjadi tersesat dari jalan lurus yang Allah telah berikan bagi orang-orang beriman. َ‫ر‬ ‫ك‬ْ‫ت‬ُ ‫ف‬ِ ‫ت‬ُ‫ك‬َْ‫َأ‬َ‫ف‬‫ر‬َ‫ف‬ ‫ف‬َِ‫ل‬ َْ‫ت‬‫ت‬‫ض‬َ‫ل‬ ‫ف‬ ‫م‬ َ ‫َت‬‫م‬‫ف‬ْ ‫ت‬َ‫ت‬‫ف‬‫م‬‫ف‬ ‫ك‬ْ‫ت‬‫م‬‫ك‬ُ‫ك‬َ‫ت‬ََ ‫ت‬َ‫ا‬ ‫ِم‬‫و‬ ‫ف‬‫َس‬َ ‫ك‬ََ‫ن‬ ‫ف‬َ‫ك‬ َ‫أ‬‫ك‬‫ا‬
  • 14.
    14 Rasulullah bersabda, "Telahaku tinggalkan untuk kalian, dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya; Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya." (HR. Malik 1395) Semestinya kedua perkara ini menjadi rujukan utama kaum muslimin, baik dalam urusan kecil maupun besar, baik urusan pribadi maupun bermasyarakat. Kedua perkara ini merupakan sumber kemuliaan dan kebanggaan kaum muslimin. Jika mereka akrab dengannya, niscaya mereka menjadi mulia. Jika mereka jauh dari keduanya, niscaya mereka akan dihinggapi kehinaan sebagaimana yang tampak dewasa ini. “Andai kata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS. Al-Mukminun [23] : 71) Realitasnya, dewasa ini hubungan kaum muslimin umumnya jauh dari kedua sumber utama ajaran Islam tersebut. Kalaupun ada hubungan biasanya hanya hubungan parsial. Ada yang hubungannya dengan Al- Qur’an hanya sebatas tilawah (membacanya). Atau kalaupun ada yang lebih daripada itu ialah hubungan tahfizh (menghafalkannya). Ini bukan berarti kita tidak menganggap penting aktifitas tilawah dan tahfizh Al- Qur’an. Tetapi masalahnya ini tidaklah cukup. Allah tidak menurunkan Al-Qur’an dengan maksud sebatas itu. Allah menurunkan Al-Qur’an agar menjadi petunjuk, pedoman hidup bagi ummat Islam, bahkan segenap umat manusia. Allah menghendaki agar dengan berpedoman kepada Al- Qur’an ummat manusia keluar dari kegelapan jahiliyah menuju terangnya hidayah cahaya Islam. Maka sepatutnya kaum muslimin juga tadabbur (memahami) dan tathbiq (mengamalkan) Al-Qur’anul Karim. Tetapi hal di atas tidak terjadi. Malah banyak muslim yang lebih bangga hidup berpedoman kepada berbagai sumber kebanggaan selain daripada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Mereka bangga dengan berbagai
  • 15.
    15 kitab karya manusia.Ada yang lebih bangga dengan kitab warisan nenek moyangnya yang bukan Islam. Ada yang membanggakan kitab produk kaum kuffar Eropa. Ada yang membanggakan kitab lokal-tradisional suku atau bangsanya yang bukan berpedoman kepada Kitabullah. Dan banyak lagi lainnya. Padahal Allah sudah memperingatkan apa yang bakal terjadi jika mereka meninggalkan sumber kebanggaan yang berasal dari Allah dan Sunnah Nabi Muhammad. “…dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’aam [6] : 153) Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penyebab kemunduran kaum muslin saat ini terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ada empat hal, yakni rasa pesimis, rendah diri, cepat putus asa, dan jauh dari kitab suci Al-quran dan As-sunah. Keempat hal ini alangkah baiknya untuk kita hindari bersama, agar umat muslim dapat kembali meraih masa kejayaannya, dalam hal ini kejayaan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam buku karya Wisnu Arya W. yang berjudul Melacak Teori Einstein dalam Al Qur'an, disebutkan beberapa faktor yang menjadi penyebab ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) Islam mengalami kemunduran. Faktor - faktor tersebut, antara lain adalah : 1. Kesadaran orang barat akan arti penting penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi peningkatan kesejahteraan rakyat sangat tinggi. Oleh karena itu, orang barat ingin mengambil alih kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari umat islam, karena pada abad ke 9 - abad ke 13 M umat islam dengan menguasai iptek bisa lebih baik kesejahteraannya dari pada oranga barat, sehingga mereka berusaha untuk merebut kemajuan iptek dari umat islam.
  • 16.
    16 2. Orang baratyang pada umumnya beragama Nasrani, ingin menunjukan pula bahwa melalui agama Nasrani merekapun dapat maju dalam bidang iptek sejajar dengan umat islam. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya setelah mereka mendapatkan kemajuan dalam bidang iptek, mereka justru mulai menjauh dari agama mereka. Mereka menjadi sekuler. Urusan agama berjalan sendiri, begitu pula dengan iptek. Mereka mungkin menganggap bahwa agama Nasrani dengan kitab Injil, justru menjadi penghalang bagi kemajuan iptek. Mungkin hal ini disebabkan kerena banyak penemuan-penemuan badu dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak sesuai dengan ayat-ayat dalam Kitab Injil. Misalkan tentang terbentuknya alam semesta ini, seperti yang tertulis dalam Kitab Injil tidak sesuai dengan teori dan kenyataan yang ada. Peredaran bumi dan planet-planet mengelilingi matahari, bertentangan dengan teori yang ada dalam Kitab Injil. Ingat ketika Galileo Galilei mengumumkan teori tentang peredaran bumi dan planet-planet mengelilingi matahari ditentang oleh gereja, karena tidak sesuai dengan Bibel. Begitu pula dengan Nicolas Copernicus mengumumkan teori tentang “heliocentris”, yaitu bumi berputar mengelilingi matahari dan matahari sebagai pusat peredaran, juga ditentang oleh gereja. Kedua ilmuan tersebut akhirnya dihukum mati oleh gereja. Alhamdulillah, hal ini tidak terjadi dalam agama Islam, karena Al Qur’an selalu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ! bahkan Al Qur’an bisa menjadi sumber ilmu pengetahuan dan teknologi. Bukankah Al Qur’an diciptakan oleh yang menciptakan alam semesta ini? jadi selalu akan sesuai ! 3. Orang-orang barat yang berjiwa petualang berusaha menemukan “benua” baru, sehinggga mereka berusaha berlayar denan route yang tidak lazim, seperti yang dilakukan oleh Amerigo Vespuci dan Columbus pada tahun 1492 ke benua Amerika. Vasco de Gama pada tahun 1407 berlayar ke Tanjung Pengaharapan. James Cook pada tahun 1770 pergi berlayar ke Australia dan New Zealand serta
  • 17.
    17 kepulauan Pasifik. Penemuan-penemuanbenua baru tersebut ikut mempengaruhi route perdagangan yang berdampak terhadap negara-negara Islam pada waktu itu. Route perdagangan yang semula Syria dan Mesir ramai dikunjungi pedagang-pedagang dari India dan dari Eropa, setelah penemuan route (benua) baru, Mesir dan Syria jadi sepi yang mengakibatkan sumber pendapatan negeri- negeri Islam jadi berkurang banyak. 4. Orang-orang barat sengaja menghancurkan observatorium Islam yang didirikan oleh Taqi Al Din di Konstantinopel pada tahun 1580, menjadikan Islam kehilangan sumber pengetahuan dan pengamatan bintang (astronomi) yang sudah sangat maju pada masa itu. Ironisnya, pada waktu yang sama sekitar tahun 1580 juga, orang barat baru pertama kali membangun observatoriumnya oleh Tycho Brace. Perlu dicatat bahwa Islam telah memiliki observatorium pertama kali yang dibangun pada tahun 500-an M di Ulugh Beg (Samarkand). Jadi orang islam sudah lebih dahulu maju 1000 tahun dari orang barat dalam hal pengerahuan tentang astronomi. 5. Perjanjian perdagangan antara Sultan Sulaiman I (dinasti Utsmani) dari Turki dan Inggris, yang pada mulanya untuk meringankan Turki mengimport barang-barang dari Inggris dan negara-negara Eropa lainnya, tapi lama-kelamaan ekonomi Turki banyak tergantung pada ekonomi Eropa. Terlebih lagi dengan adanya revolusi industri di Inggris dan di negara-negara Eropa lainnya, produk barang jadi dari Eropa makin membanjiri negara-negara islam dan keadaan ini juga makin mempengaruhi ekonomi negara- negara islam lainnya. 6. Ketergantungan negara-negara islam terhadap ekonomi Eropa lama kelamaan menjadi suatu bentuk ketergantungan dalam bidang pemerintahan. Inilah awal mula pemerintahan kolonialisme barat terhadap negara-negara islam. Akibat kolonialisme barat, maka negara-negara islam yang pada mulanya bersatu dari Maroko sampai ke Pakistan, kemudian terpecah belah menjadi negara-
  • 18.
    18 negara kecil berdasarkanfeodalisme, kesultanan , kerajaan dan keemiratan yang antara satu dengan lainnya saling bersaing, bahkan sampai bermusuhan. Politik pecah belah, devide et impera, telah melumpuhkan kejayaan islam pada masa lalu. 7. Akibat kolonialisme negara-negara islam yang semula menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa nasionalnya, mulai terdesak oleh bahasa penjajah. Keadaan ini sedikit banyak telah menjauhkan mereka dari Al Qur’an, padahal Al Qur’an adalah juga sumber ilmu pengetahuan dan teknologi. 8. Akibat kolonialisme stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi negara-negara islam mulai menurun, padahal stabilitas politik dan kemakmuran merupakan akar bagi berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini lebih diperpapah lagi dengan munculnya kapitalisme barat. Faktor-faktor diatas menjadi penyebab utama islam mulai tertinggal dari orang-orang barat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Di samping itu, ada gejala umat islam mulai mengenyampingkan ilmu kealaman yang justru sebenarnya banyak tersurat dan tersirat di dalam Al Qur’an melalui ayat-ayat Kauniyyah. Padahal orang-orang barat mulai bersemangat mempelajari dan meneliti ilmu kealaman yang mendasari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, dengan paparan di atas diharapkan dapat menggugah semangat para intelektual muda islam untuk bisa bangkit untu merebut kembali ilmu pengetahuan dan teknologi yang dulu pernah menjadi kebanggan umat Islam. Insya’Allah bisa !!! C. Upaya-Upaya Kebangkitan Kembali Umat Islam dalam IPTEKS KH Akhmad Kholil Ridwan menyatakan optimismenya bahwa Islam akan kembali berjaya di muka bumi. Ridwan menyebut saat ini merupakan momen kebangkitan Islam kembali. ”Seperti janji Allah, 700 tahun pertama Islam berjaya, 700 tahun berikutnya Islam jatuh dan
  • 19.
    19 sekarang tengah mengalamiperiode 700 tahun ketiga menuju kembalinya kebangkitan Islam,” ujarnya. Meskipun saat ini umat Islam banyak ditekan, ujar Ridwan, semua upaya ini justru semakin memperkuat eksistensi Islam. Ini sesuai janji Allah yang menyatakan bahwa meskipun begitu hebatnya musuh menindas Islam namun hal ini bukannya akan melemahkan umat Islam. ”Ibaratnya paku, semakin ditekan, Islam akan semakin menancap dengan kuat,”ujarnya. Sementara itu, Luthfi menyatakan sistem khilafah Islamiyah masih relevan diterapkan pada zaman sekarang ini asal dimodifikasi. Ia mencontohkan konsep pemerintahan yang dianut Iran yang menjadi modifikasi antara teokrasi (kekuasaan yang berpusat pada Tuhan) dan demokrasi (yang berpusat pada masyarakat). Di Iran, kekuasaan tertinggi tidak dipegang parlemen atau presiden, melainkan oleh Ayatullah atau Imam, yang juga memiliki Dewan Ahli dan Dewan Pengawas. Sistem pemerintahan Iran ini, menurut Luthfi, merupakan tandingan sistem pemerintahan Barat. ”Tak heran kalau Amerika Serikat sangat takut dengan Iran karena mereka bisa menjadi tonggak peradaban baru Islam.” Konsep khilafah Islamiyah, kata Luthfi, mengharuskan hanya ada satu pemerintahan Islami di dunia dan tidak terpecah-belah berdasarkan negara atau etnis. ”Untuk mewujudkannya lagi saat ini, sangat sulit,” kata dia. Sementara Kholil Ridwan menjelaskan ada tiga upaya konkret yang bisa dilakukan umat untuk mengembalikan kejayaan Islam di masa lampau. Yang pertama adalah merapatkan barisan. Allah berfirman dalam QS Ali Imran ayat 103 yang isinya “Dan berpeganglah kalian semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.”
  • 20.
    20 Upaya lainnya adalahkembali kepada tradisi keilmuan dalam agama Islam. Dalam Islam, jelasnya, ada dua jenis ilmu, yaitu ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Yang masuk golongan ilmu fardhu ‘ain adalah Al- Quran, hadis, fikih, tauhid, akhlaq, syariah, dan cabang-cabangnya. Sedangkan yang masuk ilmu fardhu kifayah adalah kedokteran, matematika, psikologi, dan cabang sains lainnya. Sementara upaya ketiga adalah dengan mewujudkan sistem yang berdasarkan syariah Islam.
  • 21.
    21 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Kaummuslimin, pernah memiliki kejayaan di masa lalu. Masa di mana Islam menjadi trendsenter sebuah peradaban modern. Peradaban yang dibangun untuk kesejahteraan umat manusia di muka bumi ini. Masa kejayaan itu bermula saat Rasulullah mendirikan pemerintahan Islam, yakni Daulah Khilafah Islamiyah di Madinah. Di masa Khulafa as- Rasyiddin ini Islam berkembang pesat. Pada masa pemerintahan dinasti Usmaniyah — di Barat disebut Ottoman — yang kekuatan militernya berhasil memperluas kekuasaan hingga ke Eropa, yaitu Wina hingga ke selatan Spanyol dan Perancis. Kekuatan militer laut Usmaniyah sangat ditakuti Barat saat itu, apalagi mereka menguasai Laut Tengah. Kejatuhan Islam ke tangan Barat dimulai pada awal abad ke-18. Umat Islam mulai merasa tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi setelah masuknya Napoleon Bonaparte ke Mesir. Saat itu Napoleon masuk dengan membawa mesin-mesin dan peralatan cetak, ditambah tenaga ahli. Dinasti Abbasiyah jatuh setelah kota Baghdad yang menjadi pusat pemerintahannya diserang oleh bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Di sisi lain, tradisi keilmuan itu kurang berkembang pada kekhalifahan Usmaniyah. Tanggal 3 Maret 1924, khilafah Islamiyah resmi dihapus dari konstitusi Turki. Sejak saat itu tidak ada lagi negara yang secara konsisten menganut khilafah Islamiyah. Terjadi gerakan sekularisasi yang dipelopori oleh Kemal At-Taturk, seorang Zionis Turki. B. Implikasi Islam merupakan agama yang punya perhatian besar kepada ilmu pengetahuan. Islam sangat menekankan umatnya untuk terus menuntut ilmu. Dalam surat Ar-Rahman, Allah menjelaskan bahwa diri-Nya adalah
  • 22.
    22 pengajar (‘Allamahu al-Bayan)bagi umat Islam. Dalam agama-agama lain selain Islam kita tidak akan menemukan bahwa wahyu pertama yang diturunkan adalah perintah untuk belajar. Kita tahu bahwa ayat pertama yang diturunkan adalah Surat Al-‘Alaq yang memerintahan kita untuk membaca dan belajar. Allah mengajarkan kita dengan qalam – yang sering kita artikan dengan pena. Akan tetapi sebenarnya kata qalam juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang yang dapat dipergunakan untuk mentransfer ilmu kepada orang lain. Kata Qalam tidak diletakkan dalam pengertian yang sempit. Sehingga pada setiap zaman kata qalam dapat memiliki arti yang lebih banyak. Seperti pada zaman sekarang, komputer dan segala perangkatnya termasuk internet bisa diartikan sebagai penafsiran kata qalam. Dalam surat Al-‘Alaq, Allah swt memerintahkan kita agar menerangkan ilmu. Setelah itu kewajiban kedua adalah mentransfer ilmu tersebut kepada generasi berikutnya. Dalam hal pendidikan, ada dua kesimpulan yang dapat kita ambil dari firman Allah swt tersebut; yaitu Pertama, kita belajar dan mendapatkan ilmu yang sebanyak-banyaknya. Kedua, berkenaan dengan penelitian yang dalam ayat tersebut digunakan kata qalam yang dapat kita artikan sebagai alat untuk mencatat dan meneliti yang nantinya akan menjadi warisan kita kepada generasi berikutnya. Dalam ajaran Islam – baik dalam ayat Quran maupun hadits, bahwa ilmu pengetahuan paling tinggi nilainya melebihi hal-hal lain. Bahkan sifat Allah swt adalah Dia memiliki ilmu yang Maha Mengetahui. Seorang penyair besar Islam mengungkapkan bahwa kekuatan suatu bangsa berada pada ilmu. Saat ini kekuatan tidak bertumpu pada kekuatan fisik dan harta, tetapi kekuatan dalam hal ilmu pengetahuan. Orang yang tinggi di hadapan Allah swt adalah mereka yang berilmu. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad saw menganjurkan kita untuk menuntut ilmu sampai ke liang lahat. Tidak ada Nabi lain yang begitu besar perhatian dan penekanannya pada kewajiban menuntut ilmu sedetail nabi Muhammad saw. Maka bukan hal yang asing jika waktu itu
  • 23.
    23 kita mendengar bahwaIslam memegang peradaban penting dalam ilmu pengetahuan. Semua cabang ilmu pengetahuan waktu itu didominasi oleh Islam yang dibangun oleh para ilmuwan Islam pada zaman itu yang berawal dari kota Madinah, Spanyol, Cordova dan negara-negara lainnya. Itulah zaman yang kita kenal dengan zaman keemasan Islam, walaupun setelah itu Islam mengalami kemunduran. Di zaman itu, di mana negara- negara di Eropa belum ada yang membangun perguruan tinggi, negara- negara Islam telah banyak membangun pusat-pusat studi pengetahun. Sekarang tugas kita untuk mengembalikan masa kejayaan Islam seperti dulu melalui berbagai lembaga keilmuan yang ada di negara-negara Islam. Beginilah kita sekarang sobat. Tapi jangan bersedih, sebab kita akan kembali mengagungkan kejayaan Islam itu. Yakinlah, kita masih bisa merebutnya, meski dengan nyawa sebagai tebusannya. Kita lahir ke dunia ini dengan berlumur darah, maka kenapa musti takut mati dengan berlumur darah. Syahid di medan tempur. DAFTAR PUSTAKA Baiquni, A. 1996. Al Qur’an, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi. Yogyakarta : PT Dana Bhakti Prima Yasa. Farhana.2000. Peradaban Islam Masa Dinasti Abbasiyah; Kebangkitan dan Kemajuan. Jakarta : Media ilmu.
  • 24.