See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/26844331
Review: Sintesis Nanomaterial
Article · January 2008
Source: DOAJ
CITATIONS
2
READS
9,743
4 authors, including:
Some of the authors of this publication are also working on these related projects:
Hydrogen Storage View project
CZTS PV View project
Yudistira Virgus
12 PUBLICATIONS   261 CITATIONS   
SEE PROFILE
Khairurrijal Khairurrijal
Bandung Institute of Technology
331 PUBLICATIONS   810 CITATIONS   
SEE PROFILE
All content following this page was uploaded by Khairurrijal Khairurrijal on 12 February 2014.
The user has requested enhancement of the downloaded file.
Jurnal Nanosains & Nanoteknologi ISSN 1979-0880
Vol. 1 No.2, Juli 2008
Review : Sintesis Nanomaterial
Mikrajuddin Abdullah(a)
, Yudistira Virgus, Nirmin, dan Khairurrijal
Laboratorium Sintesis dan Fungsionalisasi Nanomaterial
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganeca 10 Bandung 40132, Indonesia
(a)
E-mail:din@fi.itb.ac.id
Diterima Editor : 17 April 2008
Diputuskan Publikasi : 17 Mei 2008
Abstrak
Pada paper ini akan direview beberapa metode sintesis material nanostruktur yang meliputi nanopartikel, nanotube, dan
komposit nanopartikel
Kata Kunci: nanopartikel, carbon nanotube, komposit nanopartikel, sintesis.
1. Pendahuluan
Pada saat ini, pengembangan nanoteknologi terus
dilakukan oleh para peneliti dari dunia akademik maupun
dari dunia industri. Semua peneliti seolah berlomba untuk
mewujudkan karya baru dalam dunia nanoteknologi.
Salah satu bidang yang menarik minat banyak peneliti
adalah pengembangan metode sintesis nanopartikel.
Nanopartikel dapat terjadi secara alamiah ataupun melalui
proses sintesis oleh manusia. Sintesis nanopartikel
bermakna pembuatan partikel dengan ukuran yang kurang
dari 100 nm dan sekaligus mengubah sifat atau fungsinya.
Orang umumnya ingin memahami lebih mendalam
mengapa nanopartikel dapat memiliki sifat atau fungsi
yang berbeda dari material sejenis dalam ukuran besar
(bulk). Dua hal utama yang membuat nanopartikel
berbeda dengan material sejenis dalam ukuran besar
yaitu: (a) karena ukurannya yang kecil, nanopartikel
memiliki nilai perbandingan antara luas permukaan dan
volume yang lebih besar jika dibandingkan dengan
partikel sejenis dalam ukuran besar. Ini membuat
nanopartikel bersifat lebih reaktif. Reaktivitas material
ditentukan oleh atom-atom di permukaan, karena hanya
atom-atom tersebut yang bersentuhan langsung dengan
material lain; (b) ketika ukuran partikel menuju orde
nanometer, maka hukum fisika yang berlaku lebih
didominasi oleh hukum-hukum fisika kuantum.
Sifat-sifat yang berubah pada nanopartikel
biasanya berkaitan dengan fenomena-fenomena berikut
ini. Pertama adalah fenomena kuntum sebagai akibat
keterbatasan ruang gerak elektron dan pembawa muatan
lainnya dalam partikel. Fenomena ini berimbas pada
beberapa sifat material seperti perubahan warna yang
dipancarkan, transparansi, kekuatan mekanik,
konduktivitas listrik, dan magnetisasi. Kedua adalah
perubahan rasio jumlah atom yang menempati permukaan
terhadap jumlah total atom. Fenomena ini berimbas pada
perubahan titik didih, titik beku, dan reaktivitas kimia.
Perubahan-perubahan tersebut diharapkan dapat menjadi
keunggulan nanopartikel dibandingkan dengan partikel
sejenis dalam keadaan bulk. Para peneliti juga percaya
bahwa kita dapat mengontrol perubahan-perubahan
tersebut ke arah yang diinginkan.
Contoh sederhana bagaimana sifat partikel berubah
jika ukurannya direduksi ke skala nanometer dijumpai
pada titanium dioxide atau titania (TiO2). Dibandingkan
dengan titania ukuran bulk, titania ukuran nano tidak
hanya transparant, tetapi juga sangat efektif untuk
menghalangi radiasi ultraviolet. Karena itu nanopartikel
titania banyak digunakan sebagai tabir surya (sunscreen).
Titania bukan skala nano, walaupun juga menyerap
ultraviolet, namun tidak transparan. Titania berukuran
besar berwarna putih susu dan banyak digunakan sebagai
bahan pemutih pada kosmetik.
Sintesis nanopartikel dapat dilakukan dalam fasa
padat, cair, maupun gas. Proses sintesis pun dapat
berlangsung secara fisika atau kimia. Proses sintesis
secara fisika tidak melibatkan reaksi kimia. Yang terjadi
hanya pemecahan material besar menjadi material
berukuran nanometer, atau pengabungan material
berukuran sangat kecil, seperti kluster, menjadi partikel
berukuran nanometer tanpa mengubah sifat bahan. Proses
sintesis secara kimia melibatkan reaksi kimia dari
sejumlah material awal (precursor) sehingga dihasilkan
material lain yang berukuran nanometer. Contohnya
adalah pembentukan nanopartikel garam dengan
mereaksikan asam dan basa yang bersesuaian.
Secara umum, sintesis nanopartikel akan masuk
dalam dua kelompok besar. Gambar 1 menjelaskan dua
pendekatan besar dalam mensintesis nanopartikel. Cara
pertama adalah memecah partikel berukuran besar
menjadi partikel berukuran nanometer. Pendekatan ini
kadang disebut pendekatan top-down. Pendekatan kedua
adalah memulai dari atom-atom atau molekul-molekul
atau kluster-kluster yang diassembli membentuk partikel
33
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 34
berkuran nanometer yang dikehendaki. Pendekatan ini
disebut bottom-up.
Gambar 1 Dua pendekatan utama sintesis nanopartikel:
top-down dan bottom-up
2. Metode Sintesis Nanomaterial
Banyak metode sintesis nanopartikel yang dibahas
para peneliti seluruh dunia, mulai dari yang sangat
sederhana sampai yang sangat rumit. Dalam review kali
ini kita akan membahas beberapa metode sederhana
sintesis nanopartikel.
2.1 Pemanasan Sederhana dalam Larutan Polimer
Metode ini termasuk metode yang sangat
sederhana dalam membuat partikel berukuran beberapa
puluh nanometer hingga beberapa ratus nanometer.
Umumnya, sintesis nanopartikel membutuhkan waktu
yang sangat lama, beberapa jam hingga puluhan jam.
Metode pemanasan dalam larutan polimer hanya
berlangsung beberapa puluh menit dan tidak diperlukan
peralatan yang terlalu mahal. Merode ini juga dengan
mudah dapat “discale up” untuk membuat partikel dalam
jumlah besar bagi kebutuhan industri. Kita telah
menggunakan metode ini untuk membuat sejumlah
partikel oksida seperti yttria yang didop dengan europium
(material pemancar cahaya merah untuk kebutuhan
display), yttrium-gadolonium aluminium garnet yang
didop cerium (pemancar cahaya biru-kuning), galium
nitrida (pemancar cahaya biru), yttria yang didop
gadolonium (pemancar ultraviolet), seng oksida
(pemancar cahaya hijau-kuning), oksida seng-tembaga-
aluminium sebagai katalis pengubah metanol dan air
menjadi hidrogen, dan ceria yang didop neodimium yang
berpotensi bagi pengembang sel bahan bakar. Metode ini
hanya membutuhkan sebuah oven yang dapat beroperasi
pada suhu pemanasan di atas suhu dekomposisi polimer.
Suhu operasi di atas 500 o
C sudah cukup untuk
mendekomposisi sejumlah polimer.
nanopartikelnanopartikel
atom/kluster
bulk
Top-down:
dipecah
Bottom-up:
digabung, assembli
nanopartikelnanopartikel
atom/kluster
bulk
Top-down:
dipecah
Bottom-up:
digabung, assembli
Secara sederhana, prinsip kerja metode ini adalah
mencampurkan larutan logam nitrat di dalam air dengan
larutan polimer dengan berat molekul tinggi (high
molecular weight polymer, HMWP). Kedua larutan
dicampur dan diaduk secara merata disertai pemanasan
sehingga kandungan air hampir habis dan diperoleh
larutan kental polimer. Di dalam larutan tersebut
diperkirakan ion-ion logam menempel secara merata pada
rantai polimer. Larutan polimer kemudian ditempatkan
dalam krusibel alumina dan dipanaskan pada suhu di atas
suhu dekomposisi polimer. Suhu pemanasan dinaikkan
secara perlahan-lahan. Keberadaan polimer menghindari
pertemuan antar partikel yang terbentuk melalui proses
nukleasi sehingga tidak terjadi agglomerasi. Ketika
polimer telah terdekomposisi kita dapatkan partikel-
partikel yang hampir terpisah satu dengan lainnya. Secara
sederhana diagram alir pembuatan partikel dengan metode
tersebut tampak pada Gbr. 2
ambar 2 Diagram alir pembuatan nanopartikel dengan
ontoh aplikasi metode ini adalah pada pembuatan
partikel cerium dioksida (ceria) yang didop dengan
Logam
nitrat
PEG Air
Campur
T ≅ 100 oC
Pemanasan
T > 600 oC
Nanopartikel
oksida
Logam
nitrat
PEG Air
Campur
T ≅ 100 oC
Pemanasan
T > 600 oC
Nanopartikel
oksida
G
metode pemanasan dalam larutan polimer.
C
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 35
neodim
dengan pemanaskan pada suhu
800 o
ambar 3 Foto SEM sejumlah nanopartikel yang dibuat
engan metode pemanasan sederhana dalam larutan
anopartikel semikonduktor dapat dipersiapkan
sintesis kimiawi dalam larutan homogen.
Sintesi
ntrol ukuran
partike
ium (CeO2:Nd). Material ini merupakan elektrolit
padat yang sangat potensial untuk aplikasi sel bahan bakar
(fuel cell). Cerium nitrat hexahydrate, Ce(NO3)3·6H2O,
dan neodymium nitrate hexahydrate, Nd(NO3)3·6H2O,
dengan perbandingan molaritas yang sesuai dilarutkan
dalam de-ionized water. Polyethylene glycol, H(OCH2-
CH2)nH dan disingkat PEG, dalam jumlah yang cukup
ditambahkan ke dalam larutan disertai pengadukan hingga
diperoleh larutan jernih. Larutan kemudian dipanaskan
pada suhu di atas 100 o
C hingga menjadi kental yang
kemudian dilanjutkan dengan pemanasan di atas suhu
dekomposisi PEG beberapa puluh menit di dalam oven
sehingga dihasilkan partikel dengan ukuran beberapa
puluh nanometer hingga ratusan nanometer. Ukuran
partikel dikontrol dengan mengatur konsentrasi PEG,
mengatur suhu pemanasan, dan mengatur lama waktu
pemanasan dalam oven.
Gambar 3(a) adalah contoh foto SEM partikel
CeO2:Nd yang dihasilkan
C. Ukuran grain yang diperoleh adalah puluhan
nanometer hingga submikron. Dengan menggunakan
metode Scherrer didapat ukuran kristallin sekitar 54 nm.
Nanopartikel lain yang telah dibuat dengan metode
tersebut oleh penulis meliputi Y2O3:Eu, Y2O3:Gd,
(Gd,Y)2Al5O12:Ce, Cu/ZnO/Al2O3, dan Ga2O3. Foto SEM
sebagian partikel tersebut tampak pada Gbr 3.3(a) –(d).
Pada prinsipnya hampir semua oksida logam dengan
ukuran di bawah mikrometer dapat dibuat dengan metode
pemanasan sederhana dalam larutan polimer dengan
menggunakan prekursor nitrat dari logam yang
bersangkutan.
1 µm
c
1 µm
d
1 µm
c
1 µm
d
G
d
polimer: (a) CeO2:Nd, (b) Y2O3:Eu, (c) ZnO, dan (d)
(Gd,Y)2Al5O12:Ce.
2.2 Kolloid
N
dengan cara
600 nm
1 µm
a
b
600 nm
1 µm
a s material dalam bentuk kolloid sebenarnya sudah
lama dilakukan orang, jauh sebelum konsep
nanoteknologi dikenal orang. Sejumlah kolloid dari
nanopartikel dengan ukuran diameter antara 3 – 50 nm
telah berhasil dibuat. Jenis koloid tersebut mencakup
material logam mulia (Au, Ag, Pt, Pd, dan Cu),
semikonduktor (Si, Ge, III-V, II-VI, dan oksida logam),
isolator (mika, SiO2, sejumlah keramik, polimer), dan
material magnetik (Fe2O3, Ni, Co, Fe, FePt).
Namun, ketertarikan pada nanoteknologi memaksa
peneliti untuk memiliki kemampuan mengo
l koloid yang dihasilkan. Hal ini dilatarbelakangi
oleh adanya sifat material yang bergantung pada ukuran.
Usaha ke arah ini ditempuh dengan melakukan deaktivasi
permukaan partikel koloid yang telah dibuat begitu
ukuran sudah mencapai nilai yang dinginkan. Jika tidak
dideaktivasi maka ukuran partikel koloid biasanya akan
terus bertambah selama masih ada sisa atom-atom
prekursor di dalam larutan tersebut. Salah satu cara
deaktivasi yang banyak dilakukan adalah menggunakan
surfactant. Molekul surfaktan akan menempel pada
permukan koloid yang dibuat dan melindungi permukaan
tersebut dari pertambahan atom precursor lebih lanjut
meskipun di dalam koloid masih ada atom-atom precursor
yang belum bereaksi. Gambar 4 adalah ilustrasi
b
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 36
bagaimana membuat koloid dengan ukuran partikel
tertentu menggunakan surfaktan.
Gambar 4 Contoh membuat nanopartikel koloid dengan
ntuk koloid emas, surfaktan yang biasa
diguna
ambar 5 Alkanthiol teradsorpsi di permukaan partikel
erikut ini akan dijelaskan sejumlah metode
sederh
admium Sulfida (CdS)
iasanya berjalan efektif pada
kondis
dapat disentesis
melalu
d(ClO4)2 + Na2S = CdS + 2NaClO4 (1)
ertumbuhan nanopartikel CdS pada reaksi di atas
dihenti
menggunakan surfaktan.
U
kan adalah alkanthiol, yaitu alkena dengan gugus
fungsional thiol (-SH). Rumus umum alkantiol adalah
CnH2n+1-SH. Atom sulfida pada alkantiol “suka”
menempel pada permukaan emas sehingga teradsorpsi di
permukaan emas membentuk lapisan tipis tidak aktif,
seperti diilustrasikan pada Gbr 5. Kehadiran lapisan
tersebut disamping menghentikan pertumbuhan ukuran
partikel lebih lanjut, juga menghindari penggumapan
partikel membentuk aglomerasi yang lebih besar sehingga
koloid emas tetap stabil dalam jangka waktu yang lama.
G
emas karena atom sulfida “suka” pada atom emas.
B
ana untuk mensintesis koloid dari nanopartikel.
C
Reaksi kimia b
i keasaman (pH) tertentu. Pada pH yang sesuai,
reaksi kimia berlangsung cepat sedangkan pada pH yang
tidak sesuai reaksi kimia hampir tidak berlangsung atau
berlangsung sangat lambat. Dengan sifat ini kita pun
dapat mengontrol ukuran partikel koloid melalui
pengontrolan pH larutan. Mula-mula pH diatur sehingga
reaksi berlangsung dan nanopartikel mulai terbentuk.
Begitu ukuran yang dikehendaki tercapai, pH diubah
seketika sehingga reaksi hampir tidak berlangsung dan
ukuran partikel menjadi hampir konstan.
Nanopartikel dari logam sulfida
i reaksi garam logam yang larut dalam air dengan
H2S atau Na2S. Setelah nanopartikel terbentuk, senyawa
penetral natrium metafosfat ditambahkan untuk
menghentikan reaksi pertumbuhan ukuran partikel lebih
lanjut. Sebagai contoh, nanopartikel cadmium sulfida,
CdS, dapat disintesis dengan cara mencampurkan
Cd(ClO4) dengan larutan Na2S. Reaksi tersebut
berlangsung menurut persaman
Prekursor dicampur
Partikel terbentuk,
surfaktan dimasukkan
Surfaktan melindungi
permukaan partikel
Surfaktan
Prekursor dicampur
Partikel terbentuk,
surfaktan dimasukkan
Surfaktan melindungi
permukaan partikel
Surfaktan
Partikel Au 2 nm Partikel Au 4 nmPartikel Au 2 nm Partikel Au 4 nm
C
P
kan dengan cara menaikan pH larutan secara
mendadak. Dengan cara tersebut, tidak terjadi
pertumbuhan ukuran partikel secara berkelanjutan
sehingga hasil akhir yang diperoleh adalah partikel
berukuran nanometer. Jika reaksi tidak dihentikan maka
hasil akhirnya adalah CdS dalam ukuran besar (bukan
nanometer).
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 37
Partikel Titanium Dioksida (TiO2) dan Nanorod
ihasilkan
dengan
iCl4 + 2H2O = TiO2 + 4HCl (2)
Pembentukan nanopartikel TiO2 melalui reaksi di atas
ambar 6 Skematik pembentukan nanopartikel TiO2
ara lain membuat koloid TiO2 sebagai berikut.
Titaniu
kan dengan cara
sol fil
dalam
larutan
ambar 7 Hasil SEM dari template AAM dari atas. Iset
ambar 8 XRD dari nanorod TiO2 yang di-anneal pada
emudian template ini dicelupkan ke dalam
larutan
Partikel koloid dari oksida logam dapat d
cara hidrolisis dari garam tertentu. Sebagai contoh,
nanopartikel TiO2 dapat dihasilkan pada hidrolisis
titanium tetraklorida menurut persamaan reaksi
T
diilustrasikan pada Gbr 6.
G
dengan menggunakan metode hidrolisis garam.
C
m tetraisopropoxide (TTIP), acetylacetone
(ACAC), air deionized dan etil alkohol (EtOH) dicampur
dengan berbagai rasio molaritas, misalnya 1:1:3:20,
1:3:40:70, atau 1:1:275:86. TTIP dilarutkan pada etanol
dengan air dan ACAC. Larutan tersebut kemudian secara
perlahan ditambahkan kepada larutan TTIP/EtOH untuk
membentuk sol-TiO2. Larutan campuran tersebut lalu
diaduk selama 2 jam pada suhu kamar.
Pembentukan nanorod TiO2 dilaku
ling (pemasukkan sol ke lubang berpori) dan
heating-sol-gel-templates (pemanasan template untuk
material sol-gel). Template yang digunakan dapat berupa
anodic alumunim berpori dengan ketebalan beberapa
puluh mikrometer dan diamter poros beberapa ratus
nanometer. Pertama, membran anodic alumunium
(AAMs) dipanaskan di dalam etanol pada suhu 75-77 o
C
selama 10 menit. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan
hydrophilicity (daya ikat) dari pori-pori alumunium
dengan sol-TiO2. Gambar 7 adalah contoh foto SEM
nanorod template untuk membuat nanorod TiO2.
Kemudian template ini dicelupkan ke
sol-TiO2 (pada suhu ruang atau suhu 80 o
C)
dengan waktu pencelupan beberapa puluh menit. Setelah
itu, hasilnya dikeringkan pada suhu ruang selama 24 jam.
Hasil ini lalu diletakkan pada ruang pemanas. Proses
pemanasan berlangsung sebagai berikut. Sampel dijaga
pada suhu 100 o
C selama 8-10 jam dengan tujuan untuk
menguapkan seluruh air yang ada pada sampel. Untuk
pembuatan TiO2 fase anatase, sampel dipanaskan hingga
suhu 400 atau 500 o
C dengan laju 2,5 o
C/menit dan dijaga
pada suhu ini selama 2 jam. Sedangkan untuk pembuatan
TiO2 fase rutile, sampel dipanaskan secara cepat hingga
mencapai suhu 700 o
C untuk menghindari pembentukan
anatase yang biasanaya ada pada fasa suhu yang rendah.
Lalu sampel ini dijaga pada suhu tersebut selama 2 jam
yang kemudian dibiarkan mendingin hingga kembali ke
suhu kamar.
OH- TiCl4
Koloid TiO2
OH- TiCl4
Koloid TiO2
G
adalah penampang samping.
Intensitas(sembarang)
2θ (derajat)
20 30 40 50 60 70 80
Intensitas(sembarang)
2θ (derajat)
20 30 40 50 60 70 80
G
suhu (a) 400 o
C, (b) 500 o
C, (c) 700 o
C.
K
sol-TiO2 (pada suhu ruang atau suhu 80 o
C)
dengan waktu pencelupan beberapa puluh menit. Setelah
itu, hasilnya dikeringkan pada suhu ruang selama 24 jam.
Hasil ini lalu diletakkan pada ruang pemanas. Proses
pemanasan berlangsung sebagai berikut. Sampel dijaga
pada suhu 100 o
C selama 8-10 jam dengan tujuan untuk
menguapkan seluruh air yang ada pada sampel. Untuk
pembuatan TiO2 fase anatase, sampel dipanaskan hingga
suhu 400 atau 500 o
C dengan laju 2,5 o
C/menit dan dijaga
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 38
pada suhu ini selama 2 jam. Sedangkan untuk pembuatan
TiO2 fase rutile, sampel dipanaskan secara cepat hingga
mencapai suhu 700 o
C untuk menghindari pembentukan
anatase yang biasanaya ada pada fasa suhu yang rendah.
Lalu sampel ini dijaga pada suhu tersebut selama 2 jam
yang kemudian dibiarkan mendingin hingga kembali ke
suhu kamar.
Gambar 8 memperlihatkan pola difraksi sinar-X
yang
Zinc o de (ZnO)
erlihatkan sifat-sifat optic, akustik, dan
kelistri
mlah metode sintesis ZnO nanopartikel,
metode
rna koloid ZnO sebelum
disinari
ambar 9 Skema pembuatan ZnO koloid
memperlihatkan fasa anatase dan rutile untuk
sampel yang dipanaskan pada suhu berbeda.
xi
ZnO memp
kan yang menarik dan memiliki sejumlah potensi
aplikasi dalam bidang elektronik, optoelektronik, dan
sensor. Sebagai semikonduktor dengan lebar celah pita
energi besar, ZnO sangat potensial diaplikasi sebagai
elektroda transparan dalam teknologi fotovoltaik, piranti
elektroluminisens, dan material untuk piranti pemancar
ultraviolet.
Dari seju
sol-gel merupakan salah satu metode yang dikenal
luas. Metode ini relatif sederhana dan menghasilkan
koloid ZnO dengan ukuran partikel sekitar 3 nm dalam
waktu beberapa jam. Zinc acetate dihidrat, ZnAc2·2H2O,
dimasukkan ke dalam etanol hingga konsentrasi 0,1 M.
Zinc acetate yang berbentuk bubuk sulit melarut dalam
etanol. Dispersan tersebut dimasukkan dalam perangkat
distilasi kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 78 - 80
o
C (titik didih etanol) disertai pengadukan dengan
magnetic stirrer. Lama-lama bubuk ZnAc2·2H2O melarut
dalam etanol. Distilasi dilakukan hingga volum yang
tersisa dalam flask sekitar 60% volum mula-mula.
Kondensat yang dihasilkan dengan volum sekitar 40%
tidak digunakan. Litium hidroksida hidrat, LiOH·H2O,
dimasukkan ke dalam etanol yang volumnya sama dengan
volum kondensat hasil distlasi yang tidak terpakai (sama
dengan 40% volum awal etanol sebelum distilasi) hinga
tercapai konsentrasi 0,35 M lalu diaduk dengan magnetic
stirrer hingga melarut sempurna. Kedua larutan kemudian
dicampur sambil diaduk di dalam wadah yang diletakkan
dalam lingkungan es sehingga suhunya tidk terlalu tinggi.
Suhu yang rendah tersebut dimaksudkan untuk
menghindari pertumbuhan ukuran patikel yang cepat.
Hasil dari pencampuran adalah koloid ZnO yang
transparan. Jika ditempatkan di bawah lampu UV dengan
panjang gelombang 254 nm atau 365 nm maka koloid
memancarkan cahaya lumininisens hijau kebiruan. Lampu
UV yang digunakan adalah lampu untuk mengecek
keaslian uang kertas yang digunakan para kasir bank.
Lampu tersebut dapat dibeli di toko-toko listrik besar.
Jika ditunggu beberapa lama maka warna koloid berubah
menjadi hijau kekuningan. Gambar skematik proses
lengkap tampak pada Gbr 9.
Gambar 10(a) adalah wa
UV, 10(b) adalah koloid ZnO ketika disinari
dengan UV. Jika tidak disinari UV tampak koloid berupa
larutan transparan. Jika disinari UV tampak koloid
memancarkan warna hijau kekuningan. Gambar 10(c)
adalah foto TEM nanapartikel koloid yang dibuat. Ukuran
partikel koloid sekitar 4 nm.
LiOH•H2O
(CH3COO)2•Zn.2H2O
Koloid ZnO
≈ 3 jam
≈ 80 oC
LiOH•H2O
(CH3COO)2•Zn.2H2O
Koloid ZnO
≈ 3 jam
≈ 80 oC
G
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 39
Gambar 10 (a) koloid ZnO jika tidak disinari UV, dan (b)
koloid ZnO ketika disinari UV, dan (c) foto TEM kolid
ZnO.
Cadmium selenide (CdSe)
CdSe adalah material semikonduktor yang
memancarkan luminisens. Dalam ukuran nanometer,
spektrum luminisens yang dipancarkan partikel
bergantung pada ukuran partikel. Dengan demikian,
pengontrolan ukuran partikel menjadi sangat penting agar
diperoleh spektrum luminisens yang diharapkan. Salah
satu contoh sintesis CdSe nanopartikel dijelaskan secara
ringkas sebagai berikut.
CdSO4.2.5H2O dilarutkan di dalam 1 L air
deionisasi sampai pada konsentrasi 2 mM. Larutan ini lalu
diletakkan pada 2 L tabung reaksi dan diputar dengan
kecepatan 200 rpm. Ketika sedang diputar, 18 mmol 1-
thioglycerol ditambahkan ke larutan dan diputar lagi
selama 5 menit. Lalu amonium sulfida (30 mmol)
ditambahkan secara cepat pada keadaan lingkungan yang
tetap agar tercipta nanopartikel CdSe. Metoda ini
menghasilkan pembentukan nanopartikel yang stabil
walaupun hingga berbulan-bulan.
Hasil dari XRD dapat dilihat pada Gbr 11. di
bawah. Nanopartikel hasil sintesis ini memiliki bentuk
kristal yang baik berupa kubus. Ukuran rata-rata kristalin
yang diprediksi berdasarkan lembar puncak difraksi
sekitar 3,95 nm.
Gambar 11 Pola difraksi sinar-X nanopartikel CdSe.
Bentuk dari nanopartikel ini dapat dilihat hasilnya
dengan menggunakan TEM. Contoh gambar yang
dihasilkan oleh TEM ini dapat dilihat pada Gbr 12.
Bentuk sferis dan ukuran rata-rata sebesar 5 nm cocok
dengan data yang didapat dengan analisis XRD.
Gambar 12 Contoh foto TEM nanopartikel nanopartikel
CdSe.
Partikel Magnetik
Monolithic ultra-porous (suatu batu dengan poros-
poros yang kecil) dan campuran material magnetik yang
sangat ringan dapat diperoleh dengan cara menyebarkan
poros-poros dari silica yang dibentuk dengan proses sol-
gel, yang diawali dengan garam logam anhydrous lalu
diikuti oleh pengeringan pada tekanan yang sangat tinggi.
a
b
c
a
b
c
20 40 50 60 70
2θ (derajat)
30
Intensitas(sembarang)
111
220
311
20 40 50 60 70
2θ (derajat)
30
Intensitas(sembarang)
111
220
311
20 nm20 nm
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 40
Setelah itu, dilakukan analisis sinar-X dan didapat logam
Ni, besi oksida dan Ni-besi dalam bentuk kristal.
Silika basah disiapkan melalui proses hidrolisis
dan kondensasi tetraethoxysilane (TEOS) dengan 2 jenis
asam-basa sebagai katalisator proses sol-gel (katalisnya
adalah hidroklorik dan ammonia). Pada tahap pertama,
pra-polimerisasi dari TEOS didapat melalui reaksi dari
TEOS dengan air dan asam katalis (HCl 1 M) pada
larutan etanol.
Setelah dibiarkan pada suhu 25 o
C selama 1 bulan,
didapat cairan yang viskositasnya tinggi. Pada tahap
kedua, 0,05 M larutan NH3 ditambahkan kepada sol asam.
Setelah 48 jam, gel dari sampel matriks diperoleh. Lalu,
cairan yang mengandung pori-pori dari gel silica diganti
dengan etanol. Dua sampel didapat dengan cara
menyebarkan gel silica melalui larutan alcohol yang
supersaturasi (anhydrous Ni(II) acetylacetonate atau
anhydrous Fe(II) acetylacetonate). Pengeringan dilakukan
pada proses penyebaran ini. Proses pengeringan ini terjadi
pada suhu 260 o
C dan tekanan 131 bar. Setelah 3 jam,
tekanan dikurangi secara perlahan. Aerogel yang didapat
dibiarkan mendingin secara perlahan sampai suhunya
sama dengan suhu kamar.
Gambar 13 (a) Hasil dari difraksi sinar-X dan (b) ZFC
magnetisasi dari nanopartikel cobalt.
Nanopartikel cobalt
Nanopartikel cobalt disintesis dengan cara
dekomposisi yang cepat dari material prekursor
(organometallic) pada larutan yang mengandung
surfaktan pada lingkungan berisi argon. Cobalt carbonyl
[1,58 mmol (0,54 g)] dilarutkan di dalam 3 ml 1,2-
dichlorobenzene (DCB) yang mengandung 0,6 mmol(0,2
ml) asam oleic dan 1,1 mmol (0,34 ml) dioctylamine serta
diaduk selama 15 menit. Struktur kristal dari bahan ini
lalu dikarakterisasi dengan difraksi sinar-X dan TEM.
Sifat magnetik dari bahan ini lalu dipelajari dengan
SQUID (Superconducting Quantum Interface Device).
Pada karakterisasi ini, yang diukur dari bahan tersebut
adalah ZFC (Zero Field Cooled) magnetisasi bahan.
Gambar 13 adalah pola difraksi sinar-X dan ZFC dari
nanopartikel cobalt.
Nanopartikel Co-Au Core-Shell (teras-kulit)
Gambar 14 (a) Hasil dari difraksi sinar-X dan (b) ZFC
magnetisasi dari nanopartikel Co-Au. Inset merupakan 5
K histerisis yang menunjukkan sifat feromagnetik dari
bahan tersebut pada suhu rendah.
Nanopartikel yang belum jadi dapat dijadikan
sebagai inti dari nanopartikel yang akan dibuat. Cobalt
dijadikan sebagai inti sedangkan Au sebagai kulit dari
nanopartikel tersebut. Larutan prekursor teras cobalt [0,5
ml (3 mmol/ml)] dicampur dengan 5 ml toluene dan
diberi semburan gas argon selama 30 menit. Kemudian
larutan 0,01 g HAuCl4, 0,25 ml oleylamine dan 3 ml
toluene dimasukkan ke larutan tersebut pada suhu 85 o
C.
Setelah terjadi reaksi, larutan dijaga pada suhu tersebut
selama 1 jam. Nanopartikel core-shell terbentuk dengan
Suhu (K)
1 10 100 1000
Momen(sembarang)Intensitas(sembarang)
2θ
35 45 555040
221
310
311
Suhu (K)
1 10 100 1000
Momen(sembarang)Intensitas(sembarang)
2θ
35 45 555040
221
310
311
10000-10000 0
Medan (Oe)
M(emu/g)
T = 5 K
2θ
40 50 807060
ε-Co
fcc-Au
0,02
0,2
2
FC
ZFC
0 50 100 150 200 250 300 350
Suhu (K)
H = 20 G
Magnetization(emu/g)Intensitas
Intensitas
40 50
(a)
(b)
10000-10000 0
Medan (Oe)
M(emu/g)
T = 5 K
2θ
40 50 807060
ε-Co
fcc-Au
0,02
0,2
2
FC
ZFC
0 50 100 150 200 250 300 350
Suhu (K)
H = 20 G
Magnetization(emu/g)Intensitas
Intensitas
40 50
(a)
(b)
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 41
ukuran inti 6 nm dan ukuran kulit 1,5 nm. Karakterisasi
dari nanopartikel ini dilakukan dengan cara yang sama
dengan nanopartikel sebelumnya. Gambar 14 adalah pola
difraksi sinar-X dan ZFC dari nanopartikel Co-Au
Reverse Micelle
Cara lain membuat partikel koloid dengan ukuran
nanometer adalah metode reverse micelles. Micelle
adalah partikel koloid berongga yang umumnya berupa
material organik yang terbentuk secara spontan (self
asembli) seperti diilustrasikan pada Gbr 15. Dengan cara
sonifikasi (getaran dengan gelombang bunyi), kation (ion
positif) dipaksa masuk ke dalam rongga micelle (lihat Gbr
16).
Gambar 15 Contoh micelle.
Gambar 16 Sonifikasi memaksa masuk kation ke dalam
rongga micelle.
Kemudian anion (ion negatif) dibuat dalam larutan
yang mengandung micelle. Anion dibiarkan berdifusi ke
dalam rongga micelle yang telah mengandung ion positif
melaui selaput micelle (lihat ilustrasi pada Gbr 3.20).
Rongga micelle jauh lebih permeabel bagi anion
dibandingkan dengan kation, sehingga secara efektif yang
teramati hanya aliran anion dari luar masuk ke dalam
rongga micelle tanpa disertai aliran kation dari rongga
micelle ke luar. Hal ini dapat dilakukan dengan memiliki
material micelle yang tepat. Contonhnya material yang
menghasilkan permeabilitas anion sekitar 100 kali lebih
tinggi daripada kation. Anion yang mengalir masuk
bereaksi dengan kation yang ada dalam rongga micelle
membentuk partikel padatan yang ukurannya dibatasi oleh
ukuran micelle. Membran micelle juga menjadi pembatas
pertumbuhan ukuran partikel lebih lanjut dan menjadi
pelindung partikel dari aglomerasi.
Gambar 17 Difusi anion masuk ke dalam micelle.
Penyusunan Kristal Besar
Nanopartikel semikonduktor yang berukuran lebih
besar dapat disintesis dengan cara menambahkan molekul
lain kepada nanopartikel awal yang berukuran lebih kecil
dan distabilkan dengan ligand organik pada larutan koloid.
Sebagai contoh, telah ditemukan bahwa ukuran dari
kumpulan nanopartikel CdS yang dilapisi dengan ion-ion
thiophenolate dapat membesar jika logam sulfide
ditambahkan ke larutan tersebut.
Pembuatan polimer dari bahan inorganik diketahui
dapat diaplikasikan kepada sintesis kumpulan
nanopartikel semikonduktor yang cukup besar. Sebagai
contoh dari kumpulan nanopartikel pyramid
[Cd20S13(SC6H5)22]8-
mengandung 55 atom cadmium dan
sulfur, kumpulan nanopartikel pyramid
[Cd10S4(SC6H5)16]4-
mengandung 33 atom cadmium dan
sulfur. Jika ditambahkan ion sulfida lima kepada kedua
kumpulan nanopartikel tadi, maka kedua kumpulan
nanopartikel akan bergabung dan membentuk kumpulan
nanopartikel yang lebih besar. Hal ini dapat diilustarikan
pada Gbr. 18.
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 42
Gambar 18 Penggabungan 2 kumpulan nanopartikel
menjadi suatu kumpulan naopartikel yang lebih besar.
Struktur pyramid dari [Cd20S13(SC6H5)22]8-
telah
dikonfirmasi kebenarannya melalui analisis X-ray.
Penambahan terus ion sulfida dapat menghasilkan
kumpulan partikel tetrahedral Cd32S14(SC6H5)36 yang
mengandung 82 atom cadmium dan sulfur.
Kolloid Lain
Nanokristal Zn3P2 dan Cd3P2 dapat disintesis
dengan menginjeksikan phosphine (PH3) ke dalam larutan
yang mengandung garam logam. Pengontrolan ukuran
partikel dilakukan dengan menvariasi konsentrasi
phosphine dan suhu reaksi. Efek ukuran kuantum diamati
dengan jelas pada sample Zn3P2 dan Cd3P2 seperti
ditunjukan oleh warna material yang dihasilkan. Cd3P2
bulk berwarna hitam sedangkan larutan yang mengandung
nanokristal Cd3P2 (diamater sekitar 1,5 nm) tidak
berwarna.
Nanopartikel CdSe dapat disintesis dari larutan
yang mengandung dimethylcadmium (CH3)2Cd (di dalam
tri-n-occtylphosphine TOP) dan trin-octylphosphine
selenide (TOPSe) di dalam tri-n-octylphosphine oxide
(TOPO) panas pada rentang suhu antara 120–300 o
C.
Reaksi ini menghasilkan nanokrsital CdSe yang dicanteli
TOPO. Ukuran partikel dipengaruhi secara dominan oleh
suhu reaksi, di mana partikel yang lebih besar dihasilkan
pada suhu yang lebih tinggi.
Nanopartikel semikonduktor golongan III-V dapat
dibuat melaui reaksi padatan natrium pnictides dengan
halida golongan III pada suhu tinggi dan dalam wadah
tertutup. Nanopartikel GaP dan GaAs dapat dibuat dengan
menggunakan gallium (golongan III) halida dan (Na/K)3E
dengan E = P atau As. Metode ini lebih aman karena
mengghindari penggunaan material beracun seperti
phosphine atau arsine. Nanocrystal InAs dan InP dapat
disintesis melaui reaksi InX3 (X = Cl, Br, I) dengan
As(SiMe3)3 atau P(SiMe3)3.
Koloid semikonduktor InP dapat disintesis melalui
reaksi berikut ini pada suhu antara 150 o
C hingga 280 o
C
menurut persamaan
InCl3 + [(CH3)3Si]3P = InP + 3(CH3)3SiCl (3)
Amine atau tri-n-octylphosphine (TOP), atau tri-n-
octylphosphine oxide (TOPO) digunakan sebagai sebagai
stabilizer untuk menghindari penggumpalan InP. Ukuran
partikel berkisar antara 2,2 sampai 6 nm, bergantung pada
stabilizer yang digunakan. Lebar celah pita energi InP
ukuran bulk adalah 1.35 eV sedangkan nanokristal InP
menghasilkan nilai band gap antara 1.7 eV to 2.4 eV.
Nanokristal InAs juga dibuat dengan metode yang sama
dengan mereaksikan As[(CH3)3Si]3 dan InCl3.
Nanopartikel cobalt dapat dibuat dengan pirolisis
cepat dari prekursor organik Co(CO)8 di dalam atmosfer
argon dan dengan kehadiran surfaktan organik seperti
asam oleic dan asam trioctylphosphonic. Bentuk partikel
yang dihasilkan dapat berupa bola, kubus, atau bentuk
pentagon dengan ukuran antara 3 – 17 nm, bergantung
pada jenis stabuilizer yang digunakan.
Nanopartikel CdTe dapat dibuat dengan mereaksi
Na2Te dengan CdI2 dalam metanol pada suhu –78 o
C.
Diamater partikel yang dibuat berkisar antara 2,2 – 2,5
nm. Nanostructur CoxCu1-x dapat disintesis dengan
mereduksi larutan cobalt dan cupric chloride dalam air
dengan natrium borohydride. Natrium borohydride dapat
digunakan untuk mereduksi tembaga klorida di dalam
tetrahydrofuran (THF) untuk membuat nanopartikel Cu.
2.3 Metode Polyol
Proses polyol adalah cara lain menghasilkan
partikel logam seperti Cu, Ni, dan Co dalam ukuran
nanometer dalam medium bukan air. Dalam metode ini
precursor seperti logam oksida, logam nitrat, dan logam
asestat dilarutkan atau dicampur secara homogen dengan
ethylene glycol atau diethylene glycol kemudian direflux
pada suhu antara 180 - 194 o
C. Selama reaksi tersebut,
precursor direduksi membentuk partikel logam yang
kemudian mengendap di dalam larutan. Partikel CoxCu100-
x (4 ≤ x ≤ 49 at%) dapat disintesis dengan mereaksi cobalt
acetate tetrahydrate dan copper acetate hydrate di dalam
ethylene glycol. Campuran kemudian direflux pada suhu
180–190 o
C selama 2 jam. Partikel yang dihasilkan
mengendap di dalam larutan yang kemudian dikumpulkan
dan dikeringkan. Bubuk nanocrystalline Ni25Cu75 dapat
dibuat dengan mereduksi nikel dan tembaga asetat di
dalam ethylene glycol.
Berikut ini adalah contoh sintesis nanopartiel FePt
dengan metode polyol. Material yang digunakan adaalah
ethylene glycol, ferric acetyl acetonate atau Fe(acac)3, bis-
acetyl acetonate platinum atau Pt(acac)2, N,N-dimetyl
aminoethoxy ethanol atau (CH3)2N(CH2CH2O)3H dan
sodium hydroxyde atau NaOH. Sintesis diawali dengan
membuat prekursor Fe dengan cara melarutkan 369 mg
0,7 nm
+
1 nm
0,7 nm
+
1 nm
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 43
Fe(acac)3, 33 ml sodium hydroxide 0,5 N, dan 1,0 g
dimethylaminoethyleneoxide di dalam 200 mL ethylene
glycol. Larutan tersebut dipanaskan pada suhu 160 o
C
dalam lingkungan argon tekanan atmosfer. Larutan lain
berupa prekursor platina dibuat dengan melarutkan 238
mg Pt(acac)2, 17 mL NaOH, dan 0,5 g amine di dalam
100 mL ethylene glycol dan dipanaskan pada suhu 120 o
C
juga di dalam lingkunan argon tekanan atmosfer. Kedua
larutan kemudian dicampur disertai dengan pengadukan
yang cepat sehingga tercampur secara merata. Warna
tampak berubah dari abu-abu menjadi hitam ketika suhu
dinaikkan hingga 180 o
C. Campuran dipertahankan dalam
kondisi pengadukan pada suhu 198 o
C selama sekitar 2
jam. Untuk menghindari penggumpalan partikel FePt,
sedikit NaOH apat ditambahkan sebagai stabilisator.
NaOH akan mereduksi logam acetylacetonate sehingga
ketersediatan prekursor Fe dan Pt dalam campuran
berkurang. Lebih lanjut, permukaan nanopartikel dapat
dideaktivasi dengan mengadsaorpsi material pelindung
sehingga membentuk lapisan tipis. Untuk maksud ini
material yang dapat digunakan aadalah N,N-dimethyl
aminoethoxy ethanol.
Gambar 19 adalah skema pembuatan nanopartikel
FePt dengan metode polyol. Gambar 20 adalah contoh
foto TEM partikel yang dibuat. Ukuran partikel yang
dibuat sekitar 2 – 3 nm dan hampir seragaam
(monodisperse).
Gambar 19 Skema pembuatan nanopartikel FePt dengan
metode polyol.
Gambar 20 Foto TEM partikel FePt yang dibuat.
FePt memiliki potensi besar pada pengembangan
madia penyimpanan data berkapasitas ultra. Untuk
merealisasikan media penyimpanan data dengan kapasitas
yang lebih tinggi dari yang ada sekarang, ukuran kristallin
material magnetik yang digunakan harus direduksi ke
orde nanometer. Namun, partikel magnetik dengan ukuran
yang sangat kecil tersebut sangat mudah menghasilkan
fluktuasi termal pada momen magnetik di permukaannya.
Karena stabilitas termal adalah parameter yang sangat
penting, partikel magnetik yang memiliki isotropi
magnetik yang besar seperti Co, FePt, CoPt, dan ferrite-
Ba merupakan contoh yang terbaik untuk tujuan tersebut.
Dalam pembuatan media perekam data, sejumlah
partikel digabung membentuk satu grup yang berfungsi
sebagai penyimpan satu bit data. Kualitas perekaman data
yang bermutu dapat dicapai jika interarksi aantar grup
dapat direduksi. Film tipis magnetik yang mengandung
grup partikel yang berukuran sangat kecil, koesivitas
tinggi, magnetisasi rendah, dan kopling magnetic
exchange yang kecil antar gorup terdekat sangat
diperlukan bagi pengembangan media perekam magnetik
dengan kerapatan ultra. Diprediksi bahwa dengan
mengunakan nanopartikel magnetik yang berukuran
sekitar 3 nm (yang hanya mengandung ratusan atom)
maka dapat dibuat media perekam dengan kerapatan 1
Tb/in2
, dengan menyusun partikel-partikel tersebut secara
teratur.
Nanopartikel FePt merupakan kandidat yang baik
bagi pengembangan media perekanan dengan kerapatan
ultra. Secara kimiawi material ini sangat stabil dan
memiliki anisotropi magnetokristallin yang tinggi (~ 6.6
J/cm3
) yang memungkinkan tercapainya stabilitas termal
hingga ukuran partikel sekecil 3 nm. Telah dilaporkan
bahwa koersivitas pada suhu kamar dapat mencapai 9 kOe
dan menjadi dua kali lebih besar pada suhu yang sangat
rendah. Koersivitas dapat dikontrol dengan mudah hanya
dengan mengontrol fraksi atom Fe dan Pt yang menyusun
NaOH, aliran gas Ar
Pelarut:
ethylene
glycol
Fe(acac)3
3- , Pt(acac)2
2-
N,N’-Dimethyl
aminoethoxyethanol
Fe/Pt
Suhu 180 oC
NaOH, aliran gas Ar
Pelarut:
ethylene
glycol
Fe(acac)3
3- , Pt(acac)2
2-
N,N’-Dimethyl
aminoethoxyethanol
Fe/Pt
Suhu 180 oC
10 nm10 nm
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 44
material, dan ini dicapaai hanya dengan mengubah
konsentrasi prekursor pada saat sintesis. Untuk FePt yang
disintesis pada fase cair, koersivitas maupun kristalinitas
dapat diubah dengan melakukan anealing pada suhu
berbeda pada partikel yang baru disintesis. Sun dkk
meramalkan bahwa magnetiksasi nanopartikel FePt
hingga lebih dari sepuluh tahun.
2.4 Metode Spray
Spray adalah pembangkitan droplet-droplet kecil
dari medium fase cair. Contoh spray yang paling kita
kenal adalah parfum, hair spray, cat pilox, obat ati
nyamuk cair, paint brush, dan sebagainya. Ukuran droplet
yang dihasilkan bergantung pada berbagai faktor seperti
viskositas cairan, tegangan peemukaan cairan, ukuran
lubang tempat droplet keluar, dan sebagainya.
Cara menghasilkan droplet spray juga bermacam-
macam. Salah satu yang cukup sederhana adalah
mengalirkan udara berkecapatan tinggi di ujung sebuah
pipa berlubang kecil di mana ujung lain pipa tersebut
tercelup di dalam zat cair. Tekanan yang kecil pada ujung
yang dikenai udara yang mengalir meyebabkan zat cair
dalam wadah terdorong naik menuju ujung pipa yang
dikenai aliran udara. Ketika sampai di ujung pita, aliran
udara yang kencang mengebabkan zat cair terurai menjadi
butir-butir kecil dan terbawa bersama aliran udara.
Cara lain menghasilkan droplet adalah
mengetarkan zar cair menggunakan gelombang ultrasonik.
Cara menghasilkan spray semacam ini banyak dipakai
dalam dunia kedokteran untuk memasukkan obat ke
dalam tubuh pasien lewat sistem pernapasan. Larutan obat
digetarkan dengan gelombang ultrasonik sehingga
membentuk droplet-droplet yang beterbangan di sekitar
permukaan zat cair. Pasien menghirup udara di
permukaan obat melalui selang yang salah satu ujungnya
terhubung ke hidung sehingga droplet yang mengandung
obat tersebut masuk ke dalam sistem pernapasan.
Spray Pirolisis.
Akhir-akhir ini metode spray banyak digunakan
untuk membuat material dalam bentuk partikel berukuran
mikrometer dan submikrometer. Proses yang berlangsung
adalah melakukan reaksi pirolisis pada droplet yang
dihasilkan spray. Pirolisis adalah reaksi kimia pada suhu
tinggi. Jika yang dispray adalah larutan prekursor yang
dapat bereaksi pada suhu tinggi maka dengan metode
spray kita dapat mebuat partikel dengan cepat. Proses
pembentukan partikel hanya berlangsung dalam beberapa
detik. Metode semacam ini sering disebut spray pirolisis.
Spray pirolisis dilakukan pada sebuah reaktor yang
terdiri dari pembangkit droplet yang dikenal pula dengan
nama nebulizer atau atomizer, reaktor berbentuk tabung,
dan penampung partikel. Skema reaktor spray pirolisis
tampak pada Gbr 3.24. Tabung yang digunakan dalam
reaktor harus dari bahan yang bisa tahan hingga suhu
mendekati 1000 o
C. Contoh bahan tersebut adalah
alumina, quartz, dan bisa juga stainless steel.
Droplet yang dihasilkan dialirkan masuk ke dalam
tabung yang telah diset pada suhu tinggi menggunakan
carrier gas (gas pembawa). Jika tidak dikehendaki adanya
reaksi antara prekursor dengan gas pembawa maka pilih
gas pembawa yang inert seperti nitrogen atau argon.
Karena ukuran droplet yang kecil maka dengan segera
pelarut menguap habis ketika baru masuk di sekitar ujung
depan tabung reaktor. Yang tersisa adalah material
prekursor dalam bentuk padatan yang tetap mengalir
bersama carrier gas. Karena berada dalam ruang bersuhu
tinggi maka terjadi reaksi pirolisis pada partikel dan
sebelum meninggalkan tabung reaktor telah terbentuk
partikel hasil reaksi yang diharapkan. Partikel yang
dihasilkan dikumpulkan pada kolektor partikel.
Gambar 21 Skema reaktor spray pirolisis
Ada sejumlah keuntungan membuat partikel
dengan metode spray pirolisis, seperti: (a) Ukuran partikel
yang dihasilkan dapat dikontrol dengan mudah melalui
pengontrolan konsentrasi larutan. Ukuran droplet yang
dihasilkan atomizer hampir tidak dipengaruhi oleh
konsentrasi larutan yang digunakan selama konsentrasi
Ultrasonic
nebulizer
Aliran keluar
Furnace
Trap
Pengontrol
suhu
Larutan
Prekursor
Droplet
Droplet
Memasuki
reaktor
Larutan
menguap
Patikel
padatan
Gas
Pembawa
(gas inert)
Ultrasonic
nebulizer
Aliran keluar
Furnace
Trap
Pengontrol
suhu
Larutan
Prekursor
Droplet
Droplet
Memasuki
reaktor
Larutan
menguap
Patikel
padatan
Gas
Pembawa
(gas inert)
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 45
tersebut belum mengubah secara signifikan tegangan
permukaan maupun viskositas larutan. Makin kecil
konsentrasi larutan maka makin sedikit jumlah zat terlarut
dalam droplet yang menyebabkan makin kecil ukuran
partikel yang dihasilkan; (b) Partikel yang dihasilkan
sangat bulat. Bentuk droplet yang dihasilkan spray selalu
bulat, karena bentuk ini memiliki energi paling kecil.
Dengan asumsi bahwa atom-atom pelarut menguap secara
homogen di semua bagian permukaan droplet maka
selama proses mengecilnya ukuran droplet akibat
penguapan pelarut, bentuk droplet tetap bulat. Pada
akhirnya, bentuk akhir partikel yang dihasilkan pun bulat;
(c) Jika konsentrasi droplet tidak terlalu tinggi maka
setelah terbentuknya partikel, konsentrasi partikel di
dalam aliran gas juga tidak tinggi. Peluang terjadinya
tumbukan yang membuat partikel menyatu sangat kecil.
Akibatnya tidak terjadi aglomerasi pada partikel yang
dihasilkan.
Kristalitas partikel yang dihasilkan dapat dikontro
dengan dua cara: (a) Mengontrol suhu reaktor. Makin
tinggi suhu reaktor maka makin tinggi kristalinitas
partikel yang dihasilkan; (b) Mengontrol laju aliran
carrier gas. Laju aliran cariier gas menentukan berapa
lama partikel berada di dalam reaktor. Makin kecil laju
aliran gas maka makin lama partikel berada di dalam
reaktor. Secara kasar berlaku.
[Waktu dalam reaktor] ∝1/[laju aliran gas] (5)
Makin lama partikel berada dalam reaktor maka makin
lama proses pemanasan yang dialami partikel. Akibatnya
makin baik kristalinitas partikel. Gambar 22 adalah
contoh partikel Y2O3-ZrO2 yang dibuat dengan metode
spray pirolisis. Ukuran rata-rata partikel sekitar ratusan
mm.
Gambar 22 Contoh partikel Y2O3-ZrO2 yang dibuat
dengan metode spray pirolisis.
Contoh lain adalah sintesis nanopartikel TiO2.
Pada sintesis ini digunakan titanium-tetra-isopropoxide
(TTIP) digunakan sebagai pemulai reaksi dan helium
sebagai carrier gas pembawa. Laju aliran gas oksigen
diatur, namun tekanan dan suhu pada tabung reaksi dijaga
tetap 10 mbar dan 1000 o
C. Bubuk titania yang berbentuk
kristal diukur besarnya dengan menggunakan metoda
Scherrer dengan menggunakan difraktometer sinar-X dari
partikel yang dikumpulkan pada batang quartz yang tipis
yang diletakkan pada pusat tabung reaksi secara
horizontal. Pada percobaan ini sendiri, ukuran partikelnya
belum diketahui berapa besarnya.
Filter expansion spray pyrolisis.
Ukuran partikel yang dihasilkan dengan metode
spray pirolisis sangat bergantung pada ukuran droplet.
Ukuran droplet yang dihasilkan dengan berbagai macam
spray biasanya beberapa mikrometer hingga puluhan
mikrometer. Dengan ukuran tersebut biasanya ukuran
partikel yang dihasilkan minimal berorde submikrometer.
Sangat sulir mensintesis partikel dengan ukuran kurang
dari 100 nm dengan metode spray pirolisis.
Agar kita dapat menghasilkan partikel yang lebih kecil
maka ukuran partikel harus dapat direduksi lebih lanjut.
Salah satu metode membuat droplet dengan ukuran lebih
kecil adalah menggunakan gelas berpori yang
dihubungkan dengan tekanan rendah. Metode ini disebut
filter expansion spray pyrolisis.
Droplet yang dihasilkan dari spray diarahkan ke
filter gelas yang mengandung pori-pori yang berukuran
kecil. Di permukaan atas filter gelas terbentuk lapisan
tipis zat cair. Tekanan rendah di bawah menyebabakan
lapisan zat cair turun melalui pori-pori gelas dan keluar di
sisi bawah gelas dengan ukuran yang sangat kecil.
Partikel yang baru saja keluar ditarik ke arah filter meluai
sebuah tabung reaktor bersuhu tinggi yang dihubungan
dengan filter penyaring partikel. Suhu reaktor diatur
sehingga begitu sampai filter kolektor, droplet sudah
berubah menjadi partikel akhir.
5nm
D = 8.9 nm
20nm
(a) 700 o
C
5nm
D = 8.9 nm
20nm
(a) 700 o
C
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 46
Gambar 23 Contoh partikel ITO yang disintesis dengan
metode filter expansion spray pyrolisis pada berbagai
suhu reaktor: (a) 700 o
C, (b) 900 o
C, dan (c) 1100 o
C.
Gambar 23 adalah contoh partikel indium tin oxide
(ITO) yang dibuat dengan metode filter expansion spray
pyrolisis pada berbagai suhu reaktor. Nanopartikel ITO
disintesis dari larutan indium chloride tetrahdrate,
InCl3·4H2O dan tin chloride pentahydrate, SnCl4·5H2O,
dengan total konsentrasi sekitar 0,5 mol/L. Reaktor diset
pada suhu 700 - 1100 o
C dan tekanan 40 Torr.
Nanopartikel ITO dihasilkan dengan diameter rata-rata
sekitar 9 sampai 14 nm, dan diemeter tersebut bergantung
pada suhu reaktor. Semakin tinggi suhu pada proses
sintesis maka ukuran nanopartikel akan semakin besar.
Salt assited spray pyrolsis
Metode ini adalah metode spray pirolisis biasa
dengan memberikan perlakuan akhir pada partikel yang
dihasilkan untuk mendapatkan partikel yang lebih kecil.
Cara yang ditempuh adalah menambahkan garam dengan
konsentrasi sangat tinggi ke dalam prekursor yang akan
dispray. Garam yang ditambahkan adalah garam yang
tidak berekasi dengan prekursor. Di dalam droplet yang
dihasilkan terkandung prekursor dan garam. Saat reaksi
pirolisis berlangsung garam berperan sebagai medium
pemisah partikel-partikel kecil yang terbentuk sehingga
tidak bersentuha membentuk partikel besar (ukuran
mikrometer). Secara singkat dapat dikatakan bahwa yang
keluar dari reaktor adalah partikel-partikel kecil yang
terdistribusi dalam matriks garam. Setelah partikel
dikumpulkan para kolektor, partikel kemudian dicuci
berkali-kali dengan pembersih ultrasonik disertai
sentrifugasi. Tujuannya adalah agar garam terlarut dan
partikel-partikel kecil terlepas dari matriks garam. Proses
pembentukan tersebut dapat diilustrasi pada Gbr 24.
Gambar 25 adalah contoh partikel yang dibuat dengan
metode ini. Berdasarkan foto TEM, ukuran rata-rata
partikel yang dihasilkan sekitar 10 nm.
Gambar 24 Skema pembentukan nanopartikel dengan
metode salt assited spray pyrolsis. Bagian atas adalah
metode spray pirolisis konvensional dan bagian bawah
adalah metode salt asssted spray pyrolisis.
20nm5nm
D = 14.0 nm
20nm5nm
D = 10.3 nm(b) 900 o
C
(b) 1100 o
C
20nm5nm
D = 14.0 nm
20nm5nm
D = 10.3 nm(b) 900 o
C
(b) 1100 o
C
partikel
submikron
nanocrystal
pengeringan
Droplet
prekursor
pencucian
garam
nanopartikel
`
partikel
submikron
nanocrystal
pengeringan
Droplet
prekursor
pencucian
garam
nanopartikel
``
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 47
Gambar 25 Gambar kiri adalah foto SEM partikel yang
dihasilkan dari reaktor spray. Ukuran partikel lebih dari 1
mm. Gambar kanan adalah foto TEM partikel setelah
partikel pada gambar kiri dicuci dan disentrifuge beberapa
kali.
Pembuatan Partikel Berporos dengan Spray Pyrolisis.
Di samping digunakan untuk membuat partikel
padatan, metode spray pirolisis juga dapat digunakan
untuk membuat partikel berporos. Caranya adalah
menambahkan koloid polimer ke dalam prekursor yang
akan dispray. Akibatnya, droplet yang dihasilkan
disamping mengandung prekursor juga mengandung
partikel-partikel polimer. Tabung reaktor minimal harus
dibagi atas dua daerah pemanasan. Daerah pemanasan
pertama diset pada suhu yang tidak terlalu tinggi, sekedar
untuk menguapkan pelarut sehingga didapatikan prekuros
dalam bentuk padat yang di dalamnya terdapat partikel-
partikel polimer. Daerah pemanasan kedua dimaksudkan
untuk melakukan reaksi pirolisis dan mendekomposisi
polimer. Setelah polimer terdekomposisi, lokasi yang
semula ditempati polimer menjadi poros. Gambar 26
adalah ilustrasi proses pembentukan partikel berporos.
Gambar 27 adalah contoh partikel berporos yang
dihasilkan dengan metode ini.
Porositas partikel yang dihasilkan (fraksi volum
poros) dikontrol dengan mengatur perbandingan
konsentrasi partikel polimer terhadap konsentrasi
prekursor. Makin tinggi konsentrasi polimer maka makin
tinggi porositas partikel yang dihasilkan. Ukuran poros
dikontrol dengang menggunakan partikel polimer yang
berukuran berbeda-beda.
Gambar 26 Ilustrasi proses pembentukan partikel
berporos
Carbon Nanotube
Di sini kita akan membahas salah satu metode
sederhana membuat carbon nanotube, yaitu dengan
metode spray pirolisis. Dengan metode spray pirolisis,
carbon nanotubes dapat dibuat pada suhu relative rendah,
sekitar 800 o
C. Proses sintesis mencakup spray ferrocene
[Fe(C5H5)2] dan benzene (C6H6) dalam reactor spray
melalui sebuah tabung gelas quartz menggunakan argon
sebagai gas pembawa. Ferrocene berperan sebagai katalist
yang memungkinkan penyusunan molekul-molekul
Partikel yang keluar
dari reaktor
Dicuci/sentrifuge
beberapa kali
Nanopartikel
Partikel yang keluar
dari reaktor
Dicuci/sentrifuge
beberapa kali
Nanopartikel
Exhaust
Nebulizer
utrasonic
Furnace
Heater
Reaksi pada
suhu tinggi
Pengeringan
pada suhu rendah
spray
Prekursor
dan koloid
Gas
pembawa
Exhaust
Nebulizer
utrasonic
Furnace
Heater
Reaksi pada
suhu tinggi
Pengeringan
pada suhu rendah
spray
Prekursor
dan koloid
Gas
pembawa
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 48
benzene menjadi CNT. Fraksi ferrocene kurang dari 5%
berat. Skema reaksi pembentukan CNT diperlihatkan
pada Gbr. 27. Reaktor yang digunakan sama dengan
reactor spray pirolisis pada Gbr. 21. Panjang reactor
(tabung gelas) sekitar 1 meter dengan diameter dalam
sekitar 1 mm. Aliran gas pembawa sekitar 2 liter/menit.
Gambar 27 Contoh partikel berporos (zirconia) yang
dihasilkan dengan metode spray.
Gambar 28 Skema reaksi pembentukan carbon nanotube.
CNT terbentuk pada dinding quartz gelas. Sintesis
dilakukan selama beberapa puluh menit. CNT dikeluarkan
dengan mendrong menggunakan batang kecil. Untuk
keperluan analisis, sample yang terbentuk didispersi
dalam etnaol dan ditempatkan dalam beberapa menit di
dalam ultrasonic bath (pencuci ultrasonic).
Gambar 29 Contoh foto SEM CNT dalam perbesaran
berbeda.
Gambar 29 adalah contoh foto SEM CNT yang
dibuat pada suhu reaktor 800 o
C. Ukuran dameter CNT
yang dibuat sekitar 20 – 100 nm dengan panjang beberapa
puluh nanometer. Suhu reactor sangat mempengaruhi
pembentukan CNT. Pada suhu di bawah 750 o
C hamper
tidan ada CNT yang terbentuk. Pada suhu 800 o
C,
terbentuk CNT yang cukup panjang, selanjutnya
peningkatan suhu di atas 800 o
C meningkatkan diameter
CNT.
Flame Spray Pyrolsis
Proses pembakaran merupakan salah satu proses
sintesis nanopartikel yang sering digunakan. Pada reaktor
pembakaran ini, energi dari pembakaran digunakan untuk
memicu reaksi kimia untuk memulai penciptaan grup-
grup partikel yang berikutnya berkembang menjadi
nanopartikel melalui proses penumbuhan dari permukaan
dan juga penggumpalan serta penggabungan pada suhu
+
benzene
Carbon nanotube
Fe
ferrocene
+
benzene
Carbon nanotube
Fe
ferrocene
10 µm
2 µm
10 µm
2 µm
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 49
yang t ggi. Pada umumnya, ada dua cara yang biasa
diguna n untuk menghasilkan nanopartikel yaitu flame
spray p
ru saja terbentuk, dan (b)
anopartikel Al2O3 yang dikalsinasi
Gambar 30. (a) Nanopartikel Al2O3. yang baru saja dibuat,
dan (b) nanopartikel Al2O3 yang dikalsinasi.
a. Kondensasi dari uap air akan
enghasilkan partikel berukuran nano yang akan tercipta
i ruangan (chamber). Nanopartikel cerium oksida (CeO2)
kan dihasilkan pada proses ini. Gambar 31 menunjukkan
tode
ame spray hydrolysis.
Gambar 31 Partikel CeO2 yang dibuat dengan metode
flame spray hydrolisis: (a) partikel yang baru dibuat dan
(b) partikel yang dikalsinasi.
in
ka
yrolysis dan flame spray hydrolysis.
Flame spray pyrolysis adalah suatu proses
pembakaran dengan diawali pada fasa gas. Pada sintesis
nanopartikel Al2O3, bubuk alumunium klorida yang
bersifat anhydrous diuapkan dan dimasukkan melalui gas
inert ke dalam pembakaran oxy-ethylene. Proses
pembakaran ini terjadi pada suhu 2000 o
C dimana garam
alumunium klorida berdekomposisi menjadi hidrogen
klorida (HCl) dan alumunium oksida (Al2O3). Cara ini
dapat menghasilkan ukuran partikel Al2O3 sebesar 10-30
nm dan menjadi 40-70 nm ketika dilakukan kalsinasi.
Pada Gbr 30 ditunjukkan hasil TEM partikel Al2O3 yang
dihasilkan dengan metode flame spray pyrolsis: (a)
nanopartikel yng bas
n
Metode flame spray hydrolysis menggunakan
cairan sebagai zat untuk memulai prosesnya. Zat cairan
ini dilalui pada suntikan yang dipompa lalu ukurannya
diperkecil menjadi seperti atom dengan menggunakan
oksigen dan menghasilkan spray yang halus. Hasil
penguapan dan pembakaran dimulai oleh cincin api yang
kecil yang muncul dari pusat nosel. Proses pembakaran
akan menguapkan cairannya dan reaksi pada fasa gas
akan terjadi setelahny
m
d
a
hasil TEM partikel CeO2 yang dibuat dengan me
fl
a
b
a
b
a
b
a
b
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 50
Spray Drying Komposit ZnO-silica
Spray drying adalah metode spray yang tidak
melibatkan reaksi kimia pada prekursor. Yang terjadi
adalah penguapan pelarut sehingga didapatkan partikel
padatan. Jenis material yang dihasilkan sama dengan jenis
material dalam prekursor tanpa terjadi perubahan kimiawi.
Contoh spray drying adalah pembentukan partikel
berukuran besar dengan dimulai dari kolloid. Koloid
mula-mula dispray sehingga terbentuk droplet yang
mengandung partikel-partikel koloid. Saat melewati
reaktor, zar cair menguap dan droplet-droplet
menggumpal menjadi partikel besar berukuran beberapa
mikrometer atau submikrometer. Suhu pembuatan tidak
terlalu tinggi karena sekedar untuk menguapkan pelarut.
Gambar 32 adalah ilustrasi pembentukan partikel
komposit dari koloid.
Gambar 32 ilustrasi pembentukan partikel-komposit.
Masalah yang muncul dengan kolid ZnO yang
dibuat dengan metode sol-gel adalah pergeseran warna
luminisens karena pertumbuhan ukuran partikel. Koloid
baru yang memperlihatkan puncak spektrum luminisens
pana panjang gelombang di bawah 500 nm
memperlihatkan gejala pergeseran merah (red shift)
sebagai akibat pertumbuhan ukuran partikel secara terus
menerus di dalam koloid. Setelah disimpan sekitar 5 hari,
puncak luminisens bergeser ke panjang gelombang sekitar
560 nm. Dalam aplikasi, transformasi ini haris dihindari.
Salah satu cara menghindri pertumbuha ukuran
nanopartikel ZnO yang telah disintesis dengan metode
sol-gel adalah melokasilisasi nanopartikel dalam matriks
host padatan. Salah satu yang munkin adalah nanopartikel
SiO2. Kolloid ZnO yang dibuat dengan metode sol-gel
dengan segera dicampur dengan koloid silica dengan
perbandingan yang sesuai sambil dilakukan pendadukan
selama sekitar 10 menit. Konsentrasi total campuran
diatur dengan menambahkan etanol di dalamnya.
Konsentrasi total campuran akan menentukan ukuran
akhir partikel komposit yang dihasilkan. Sebanyak sekitar
100 mL campuran koloid dimasukkan ke dalam nebulizer
pada peralatan spray drying. Reaktor spray diset pada
suhu sekitar 450 o
C. Gas nitrogen digunakan sebagai gas
pembawa karena bersifat inert dengan laju aliran sekitar 2
L/menit. Partikel komposit yang dihasilkan ditangkap
pada wadah penampung yang dipanaskan pada suhu 200
o
C untuk menghindari kondensasi air pada sampel.
Gambar 33 adalah contoh foto SEM sampel yang
dibuat. Tampak partikel komposit yang berukuran
submikromter sampak micrometer. Partikel tersebut
mengandung nanopoatikel ZnO yang terselip antara
partikel-partikel silica. Karena terkurung dalam matriks
padatan maka tidak ada lagi peluang ZnO untuk saling
bertemu dan membentuk agglomerasi partkel yang lebih
besar. Ukuran ZnO menjadi tetap dan ada akhirnya
mempertahankan sifat luminisens.
Gambar 33 Komposit partikel yang mengandung
nanopartikel silica dan nanopartikel ZnO.
Spray Drying Partikel Silika yang Mengandung
Nanoporos
Metode spray drying dapat digunakan juga untuk
membuat partikel berukuran beberapa micrometer yang
menganung poros yang berkurang nanometer. Inti dari
metode ini sangat sederhana. Kolloid silica dan colloid
Spray
Pengeringan
Partikel
koloid A
Partikel
koloid B
Exhaust
Nebulizer
utrasonic
Furnace
Heater
Gas
pembawa
Spray
Pengeringan
Partikel
koloid A
Partikel
koloid B
Exhaust
Nebulizer
utrasonic
Furnace
Heater
Gas
pembawa
1,5 µm1,5 µm1,5 µm
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 51
polimer yang masing-masing berukuran nanometer dan
terdispersi dalam mediam cair yang sama dicampur secara
homogen. Campuran tersebut kemudian ditempatkan
dalam atomizer seperti eultasonik nebulizer sehingga
terbentuk droplet cairang yang mengandung dua jenis
nanopartikel tersebut. Droplet yang terbentuk dibawa
dengan gas pembawa ke bagian reactor yang bersuhu
sekitar 200 o
C untuk menguapkan cairan sehingga
diperoleh partikel besar yang tersusun oleh dua macam
patikel nanometer. Ukuran partikel besar dapat dikontrol
dengan mudah dengan mengontrol konsentrasi
nanopartikel di dalam campuran. Partikel besar yang
terbentuk kemudian melewati reactor yang bersuhu cukup
tinggi, yaitu di atas suhu dekomposisi polimer sehingga
partikel polimer tedekomposisi. Lokasi partikel polimer
menjadi kosong sehingga diperoleh partikel besar yang
mengandung poros berukuran nanometer. Ukuran poros
dengan mudah dapat dikontrol melalui penggunaan
partikel polimer dengan diameter yang berbeda-beda.
Gambar 34 adalah ilustrasi pembentukan partikel dengan
poros ukuran nanometer.
Gambar 34 Ilustrasi pembentukan partikel dengan poros
ukuran nanometer.
Gambar 35 Partikel dengan poros ukuran nanometer yang
diperoleh dengan menggunakan perbandingan konsentrasi
silica dan polistiren: (a) terlalu besar, (b) terlalu kecil, (c)
perbandingan yang tepat. (d) gambar permukaan partikel
yang dimabil dengan perbesar yang lebih besar.
Gambar 35 adalah contoh partikel berporos yang
dihasilkan dengan menggunakan nanopartikel silica
(SiO2) dan polistriren latex. Suhu reactor untuk
mendekomposisi polistiren sekitar 450 o
C. Gas pembawa
yang digunakan adalah nitrogen dengan laju aliran 1
L/menit. Gambar 35(a) diperoleh dengan menggunakan
konsentrasi polistriren yang terlampau sedikit. Gambar
Pengeringan pada
suhu tinggi
Pengeringan pada
suhu rendah
Spray
Silika
Polistiren
Exhaust
Nebulizer
utrasonic
Furnace
Heater
Gas
pembawa
Pengeringan pada
suhu tinggi
Pengeringan pada
suhu rendah
Spray
Silika
Polistiren
Exhaust
Nebulizer
utrasonic
Furnace
Heater
Gas
pembawa
a
b
c
d
a
b
c
a
b
c
d
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 52
35(b) diperoleh dengan mengunakan polistriren dengan
konsenrasi yang terlalu banyak. Gambar 35(c) adalah
partikel yang diperoleh dengan menggunakan
perbandingan konsentrasi polistiren dan silica yang tepat.
Gambar 33(d) adalah gambar permukan partikel yang
diambil dengan perbesaran yang tinggi. Tampak pada
gmbar bahwa poros tersusun secara teratur dalam
konfigurasi heksagonal. Ini menunjukan bahwa selama
proses pengeringan menjadi partikel bersar terjadi self-
organizasi partikel polistiren membentuk susunan
heksagonal.
Pirolisis Galiun Nitrida
Gambar 36 Diagram alir pembentikan nanopartikel GaN.
Galium nitride (GaN) dan sejumlah matrial
semikonduktor dengan lebar celah energi besar sangat
potensial untuk diaplikasikan sebagai piranti pemancar
cahaya biru, ungu, dan ultraungu dan pada piranti
elektronik berdaya tinggi. LED yang berbasis GaN
memperlihatkan umur pakai (life time) yang sangat lama
dan daya pancaran yang lebih tingi daripada LED yang
telah dikenal sebelumnya. Kombinasi LED biru dari GaN
serta YAG:Ce mempunyai peluang untuk pengembangan
sumber cahaya putih dalam struktur LUCOLED
(luminescence conversion LED).
Salah satu cara membuah logam hidrida adalah
mentransfoemasi oksida logam ke bentuk nitride di bawah
airan ammonia. Reaksi kimia tranformasi tersebut adalah
Ga2O3 + 2NH3 → 2GaN + 3H2O (6)
Agar reaksi transformasi berlangsung cepat maka
penggunaan material awal dalam bentuk nanopartikel
gallium oksida sangat diperlukan. Dan hasil akhir pun
akan berbentuk nanopartikel GaN. Luas permukan yang
besar serta kedalaman penetrasi yang kecil
memungkinkan proses nitridasi dalam waktu yang singkat.
Gambar 37 Bentuk reaktor yang digunakan untuk
membuat GaN.
Salah satu cara mebuat gallium oksida dengan
ukuran nanometer dalam waktu cepat adalah memanaskan
gallium nitrat. Namun, hasil yang diperoleh adalah
gallium oksida ukuran mikrometer. Untuk mendapatkan
gallium oksida ukuran nanometer, ammonia ditambahkan
ke dalam prekusror. Ammonia akan membantu
Pencampuran
pada suhu kamar
Air ultramurni
Prekursor
Ga(NO3)•nH2O
NH3(aq)
Pencampuran
pada suhu kamar
500 – 1000 oC,
1- 10 min
di udara+NH3
Nanopartikel galium oksida
Nanopartikel galium nitrida
500 – 1000 oC,
1- 10 min
di udara
Pencampuran
pada suhu kamar
Air ultramurni
Prekursor
Ga(NO3)•nH2O
NH3(aq)
Pencampuran
pada suhu kamar
500 – 1000 oC,
1- 10 min
di udara+NH3
Nanopartikel galium oksida
Nanopartikel galium nitrida
500 – 1000 oC,
1- 10 min
di udara
exhaust
bubbler
MFC
valve
Ar/N2
Udara
NH3
Furnace listrik
Temperature controller
Reaktor dari tabung quartz
Sampel
exhaust
bubbler
MFC
valve
Ar/N2
Udara
NH3
Furnace listrik
Temperature controller
Reaktor dari tabung quartz
Sampel
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 53
memecahkan mikropartikel gallium oksida menjadi
p
ko
k
g
su
o
le
Gambar 38 (a) Foto SEM dan (b) TEM naopartikel GaN
Contoh foto SEM partikel gallium oksida yang
dibuat pada suhu 800 o
C dengan perbandingan
nat peneliti baik teoretis maupun
ekperim
Gambar 39 Skema peralatan koloidal templating
.
rekursor dibuat dengan mencampurkan koloid polistiren
tex dengan koloid silika dengan perbandingan yang
sesuai. Agar dapat berperan sebagai kristal fotonik,
periode struktur harus mendekati panjang gelombang
cahaya, yaitu beberapa ratus nanometer. Oleh karena itu,
koloid polistiren dengan ukuran atikel beberapa ratus
nanometer harus digunakan. Ukuran partikel koloid silica
yang digunakan lebih baik di bawah 20 nm. Makin kecil
artikel berukuran nanometer. Gallium nitrate
(Ga(NO3)3·nH2O dilarutkan dalam air ultra murni dengan
nsentrasi total Ga sekitar 0,5 mol/L. Ammonia dengan
onsentrasi sekitar 5 mol/L ditambahkan ke dalam larutan
allium nitrat sehingga dihasilkan larutan yang transparan.
Prekursor tersebut kemudian ditempatkan dalam tabung
reactor quartz dan dipanaskan alam aliran udara pada
hu antara 800 – 1100 o
C. Untuk mengkonversi gallium
ksida menjadi gallium nitride, campuran ammonia dan
argon dialirkan di atas sample pada suh sekitar 800 o
C.
Lama waktu pengaliran antra 1 hingga 8 jam. Diagral alir
ngkap sintesis tampak pada Gbr 36. Dan bentuk reaktor
yang digunakan digmbarkan secara skematik pada Gbr 37.
konsentrasi NH3(aq)/Ga(NO)3 = 1 tampak pda Gbr 38(a).
Foto TEM nanopatikel GaN yang dinitridasi pada suhu
800 o
C tampak pada Gbr 38(b). Partikel GaN yang
dihasilkan memperlihatkan puncak luminesens pada
panjang gelombang sekitar 360 nm.
2.5 Kolloid Templating
Material dengan struktur periodik tiga dimensi
menarik mi
entasis dalam decade terakhir. Material ini
potensial digunakan untuk membuah kristal fotonik,
katalis berkemapuan tinggi, pelapisan canggih dan
sejumlah aplikasi lainnya.
Penggunaan bola-bola silika dan polistiren latex
sebagai material awal pembuatan material berporos
dengan struktur tiga dimensi sangatlah menarik. Salah
satu contoh dilaporkan di sini. Metode yang digunakan
adalah “dip coating” koloid sambil dilakukan pemanasan
(a)
P
la
(b)
(a)
Substrat
(glass atau wafer Si)
Poros struktur 3D
Proses
annealing
Heater
Motor
Precursor
Kristal koloid
struktur 3D
Substrat
(glass atau wafer Si)
Poros struktur 3D
Proses
annealing
Heater
Motor
Precursor
Kristal koloid
struktur 3D
(b)
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 54
ukuran partikel silica maka makin baik hasil yang
diperoleh.
Potongan silikon wafer atau kaca dicuci bersih
dengan etanol dan air distilasi di dalam pencuci ultrasonic.
Substrat kemudian dicelupkan ke dalam prekuros
kemudian ditarik perlahan-lahan dengan laju sekitar 1
sampai 10 mm/jam. Heater dipertahan pada suhu sekitar
60 o
C. Pemansan pada suhu yang tidak terlalu tinggi
dimaksudkan untuk menyediakan waktu yang cukup bagi
patikel polistiren untuk melakukan self-oragnisasi
sehingga terbentk penysunan yang teratur. Setelah proses
dip coating selesai, sample dipanaskan pada suhu 400 o
C
sekitar 5 menit untuk mendekomposisi partikel
polistrirten. Skema peralatan yang digunakan tampak
pada Gbr 39.
Gambar 40 adalah foto SEM sample yang dibuat
menggunakan koloid polistriren dengan ukuran patikel
178 nm dan koliod silica dengan ukuran partikel 5 nm.
Gambar 40(a) dan 40(b) dilihat dari atas dengan
perbesaran yang berbeda dan gambar 40(c) dan 40(d)
dilihat dengan sudut kemiringan tertentu. Gambar 40(e)
menunjukan bahwa film yang dibuat memiliki keteraturan
pada daerah yang sangat luas. Gambar 40(f) adalah
patahan film yang menunjukkan bahwa keteraturan tidak
hanya terjadi di permukaan film tetapi juga di alam film.
a
b
2 µm
300 nm
a
b
2 µm
300 nm
c
d
e
2 µm
500 nm
300 nm
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 55
Gambar 40 Foto SEM film yang mengandung poros yang
tersusun secara terorganisasi yang dibuat menggunakan
koloid polistriren dengan ukuran patikel 178 nm dan
koliod silica dengan ukuran partikel 5 nm, (a) – (b)
dilihat dari atas dengan perbesaran berbeda, (d) – (e)
dilihat dari samping dengan perbesaran berbeda, (e)
tampak atas dengan perbesaran kecil, dan (f) tempat
patahan film.
2.6 Nanosphere Lithography
Nanosphere lithography (NSL) yang diawali
dengan deposisi material pada masker kristal koloid yang
terorganisasi (self-organized) telah menarik banyak
perhatian peneliti untuk array nanopartikel pada
permukaan datar. NSL adalah cara fabrikasi yang ideal
untuk menghailkan penyusunan yang teratur dan
mendekati homogen nanopartikel di mana ukuran, bentuk,
maupun periodisitas dapat dikonrrol dengan mudah.
Ukuran dot dapat ditempuh dengan mengontrol lawa aktu
deposisi, jarak antar dot diatur dengan menggunakan
partikel koloid yang berbeda ukuran, dan jenis material
yang dibuat dikontrol dengan mengantur jenis material
sumber. Metode ini juga sangat bersih karena berlangsung
dalam lingkungan vakum atau mndekati vakum.
Salah satu metode NSL yang sekaligus dapat
menghasikan tiga macam struktur yaitu caking yang
tersusun secara teratur, partikel yang tersusun secara
teratur, atau poros yang tersesun secara teratur akan
dibhas di sini. Bentuk akhir dari struktur yang dibuat
bergantung pada post treatment yang dilakukan. Metode
ini memanfatkan templating koloid dan sputtering lama
(over sputtering).
Beberapa microliter koloid polistiren encer
diteretkan di atas permukaan waver silicon. Mula-mula
waver dicuci dengn etanol dan air distilasi di dalam
pencuci ultrasonic beberapa puluh menit untuk
menghilangkan ktotra yang melengket di permukaan.
Tetesan koloid dikeringkan pasa suhu sekitar 40 o
C
hingga seluruh cairan mnguap yang diikuti pengeringan
pada suhu sekitar 100 o
C selama kurang lebih 10 menit
untuk mengikat partikel-patle secara kuat. Pengeringan
pertama pada suhu rendah dilakukan untuk mmberikan
waktu yang ckup bagi partikel koloid melakukan self-
organisasi sehingga membetuk penyusunan yang teratur.
Setelah itu ampel ditempatkan dalam ion sputter dan
dideposisi selama beberapa menit untuk memberuk lpisan
logam yang cukup para permukaan partikel. Jenis target
pada sputter menentukan jenis material yang akan dibuat.
Kemudian sample dipanaskan pada suhu di atas suhu
dekomposisi polistriren. Mekanisme sintesis tampak pada
Gbr 41.
Pemasanan pada suhu di atas suhu dekoposisi
polistriren tetapi di bawah titik leleh logam pelapis
menghasilkan cakang yang tersusun secara teratur.
Pemanasan di atas titik leleh logam menghasilkan
nanopartkel yang tersusun secara teratur. Contoh foto
SEM sampel yang dibuat tampak pada Gbr 42.
f
2 µm
f
2 µm
Cangkang yang terorganisasi
(a) Pemanasan suhu menengah
Pengeringan
Sputtering
Droplet koloid
Wafer Si
Bola polistiren
Cangkang yang terorganisasi
(a) Pemanasan suhu menengah
Cangkang yang terorganisasi
(a) Pemanasan suhu menengah
Pengeringan
Sputtering
Droplet koloid
Wafer Si
Bola polistiren
Pengeringan
Sputtering
Droplet koloid
Wafer Si
Bola polistiren
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 56
Gambar 41 Proses pembuatan cangkang dan partikel
logam yang teroganisasi.
Gambar 42 (a) cangkang dan (b) partikel logam yang
teroganisasi yang dibuat dengan metode koloidal
templating dan over sputtering.
Referensi
[1] W. Budiawan, A. S. Vioktalamo, M. Abdullah, dan
Khairurrijal, J. Sains Materi Indonesia (Edisi Khusus),
180 (2006).
[2] W. Budiawan, A. S. Vioktalamo, M. Abdullah, dan
Khairurrijal, Pertemuan Ilmiah Iptek Bahan 2006
(Serpong, 18-19 Juli 2006).
[3] W. Budiawan, M. Abdullah, and Khairurrijal, Proc.
Int. Conf. Mathematics and Natural Sciences
(Bandung 29-30 November 2006) pp. 1069-1072.
[4] L. Gradon, S. Janeczko, M. Abdullah, F. Iskandar,
and K. Okuyama, AIChE J. 50, 2583 (2004).
[5] F. Iskandar, M. Abdullah, H. Yoden, and K.
Okuyama, J. Appl. Phys. 93, 9237 (2003).
[6] F. Iskandar, M. Abdullah, H. Yoden, and K.
Okuyama, Virt. J. Nanoscale Sci. & Technol. 7, no.
22, June 2 (2003).
[7] F. Iskandar, M. Abdullah, H. Yoden, and K.
Okuyama, J.Sol-Gel Sci. Technol. 29, 41 (2004).
[8] F. Iskandar, M. Abdullah, and K. Okuyama, in
Encyclopedia of Nanoscience and Nanotechnology
(HS.Nalwa, Ed.); American Scientific Publishers,
vol.8, 259 (2004).
[9] F. Iskandar, Mikrajuddin, and K. Okuyama, Nano
Lett. 1, 231 (2001).
[10]F. Iskandar, Mikrajuddin, and K. Okuyama, Nano
Lett. 2, 389 (2002).
[11]Y. Itoh, M. Abdullah, and K. Okuyama, J. Mater. Res.
19, 1077 (2004).
[12]Y. Itoh, T. Ogi, M. Abdullah, F. Iskandar, K.
Okuyama, and Y. Azuma, J. Cryst. Growth 281, 234
(2005).
[13]T. Iwaki, Y. Kakihara, T. Toda, M. Abdullah, and K.
Okuyama, J. Appl. Phys. 94, 6807 (2003).
[14]M. Abdullah and Khairurrijal, Proc. 3rd Kentingan
Physics Forum (Solo, 24 September 2005), pp. 69-70.
[15]M. Abdullah and K. Okuyama, Proc. ITB Eng. Sci.
35B, 81 (2003).
[16]M. Abdullah and K. Okuyama, Proc. ITB Eng. Sci.
36B,140 (2004).
[17]M. Abdullah dan F. Iskandar, Pros. Seminar MIPA
IV-ITB 2004, Bandung, Indonesia, 6-7 Oktober 2004,
pp. 243-247.
[18]M. Abdullah, C. Panatarani, T.-O. Kim and K.
Okuyama, J. Alloys Comp. 377, 298 (2004).
[19]M. Abdullah, F. Iskandar, S. Shibamoto, T. Ogi and
K. Okuyama, Acta Materialia 52, 5151 (2004).
[20]M. Abdullah, F. Iskandar, and K. Okuyama, Proc.
ITB Eng. Sci. 36B, 125 (2004).
[21]M. Abdullah, I. W. Lenggoro, B. Xia, and K.
Okuyama, J. Ceram. Soc. Jpn. 113, 97 (2005).
[22]M. Abdullah, I. W. Lenggoro, F. G. Shi, and K.
Okuyama, Proceeding 47th Meeting of Japan
Academic of Science, Kyoto University, Japan, 29 -
30 October 2003, pp. 199-200).
[23]M. Abdullah, I. W. Lenggoro, K. Okuyama, and F. G.
Shi, J. Phys. Chem. B 107, 1957 (2003).
[24]M. Abdullah, I. W. Lenggoro, K. Okuyama, and S.
Taya, J. Non-Crystalline Sol. 351, 697 (2005).
[25]M. Abdullah, I. W. Lenggoro, and K. Okuyama, in
Encyclopedia of Nanoscience and Nanotechnology
(HS.Nalwa, Ed.); American Scientific Publishers,
(b) Pemansan suhu tinggi
Partikel yang terorganisasi
Cangkang mrlrlah
dan jatuh
(b) Pemansan suhu tinggi
Partikel yang terorganisasi
Cangkang mrlrlah
dan jatuh
300 nm
a
b
2 µm
300 nm
a
b
2 µm
J. Nano Saintek. Vol. 1 No. 2, Jul 2008 57
vol.8, 731 (2004).
[26]M. Abdullah, ITSF Seminar on Science and
Technology Jakarta, February 7, 2007
[27]M. Abdullah, Khairurrijal, A. Waris, W. Sutrisno, I.
Nurhasanah, and A. S. Vioktalamo, Powder Technol.
183, 297 (2008).
[28]M. Abdullah, Khairurrijal, F. Iskandar and K.
Okuyama, in Nanocrystalline Materials: Their
Synthesis-Structure-Property Relationships and
Applications (S.C. Tjong Ed.), Elsevier, 275 (2006).
[29]M. Abdullah, Media Fisika 2, 39 (2003).
[30]M. Abdullah, Prosiding Simposium Mahasiswa
Fisika Nasional ITS-Surabaya (2005).
[31]M. Abdullah, REAKTOR 7, 47 (2003).
[32]M. Abdullah, S. Shibamoto, and K. Okuyama, Opt.
Mater. 26, 95 (2004).
[33]M. Abdullah, T. Morimoto, and K. Okuyama, Adv.
Func. Mater. 13, 800 (2003).
[34]Mikrajuddin, F. Iskandar, K. Okuyama, and F.G. Shi,
J. Appl. Phys. 89, 6431 (2001).
[35]Mikrajuddin, F. Iskandar, and K. Okuyama, Adv.
Mater. 14, 930 (2002).
[36]Mikrajuddin, F. Iskandar, and K. Okuyama, Int.
Symp. Nanoparticles: Aerosols and Materials, Pusan,
Korea, July 5-6 (2001).
[37]Mikrajuddin, F.G. Shi, and K. Okuyama, J.
Electrochem. Soc. 147, 3157 (2000).
[38]Mikrajuddin, Ferry Iskandar, and Khairuddin,
INTEGRAL 8, 19 (2003).
[39]Mikrajuddin, Ferry Iskandar, and Kikou Okuyama,
2nd Kentingan Physics Forum, UNS, Surakarta, July
28 (2003).
[40]Mikrajuddin, I. W. Lenggoro, K. Okuyama, and F.G.
Shi, J. Electrochem. Soc. 149, H107 (2002).
[41]Mikrajuddin, J. Matematika & Sains 8, 1 (2003).
[42]Mikrajuddin, Proc. ITB Sains & Teknologi 35A, 71
(2003).
[43]L. Marlina, M. Abdullah, Khairurrijal, W. Budiawan,
and I. Sriyanti, 2007 Conference on Solid State Ionics
(Serpong, 1-3 August 2007).
[44]L. Marlina, M. Abdullah, dan Khairurrijal, The 3rd
National Seminar on Chemistry and Chemical
Education, Bandung April 11, 2007
[45]I. Nurhasanah, Khairurrijal, M. Abdullah, M.
Budiman, and Sukirno, Int. Conf. Mathematics and
Natural Sciences (Bandung 29-30 November 2006)
pp. 988-990
[46]I. Nurhasanah, Khairurrijal, M. Abdullah, M.
Budiman, and Sukirno, 2007 Conference on Solid
State Ionics (Serpong, 1-3 August 2007).
[47]I. Nurhasanah, M. Abdullah, and Khairurrijal, Int.
Conf. Neutron and X-Ray Scattering (Bandung, 29-
31 July 2007).
[48]K. Okuyama, I. W. Lenggoro, and M. Abdullah, 2004
International Conference for Particle Technology
(Partech2004), Nuremberg, Germany, March 17
(2004).
[49]K. Okuyama, I. W. Lenggoro, and M. Abdullah, 2nd
Asian Particle Technology Symposium, Penang,
Malaysia, December 17-19 (2003).
[50]Okuyama, K., M. Abdullah, F. Iskandar, and I. W.
Lenggoro, Adv. Powder Technol. 17, 587 (2006)
[51]I. Sriyanti, M. Abdullah, Khairurrijal, and L. Marlina,
2007 Conference on Solid State Ionics (Serpong, 1-3
August 2007).
[52]I. Sriyanti, M. Abdullah, dan Khairurrijal, 3rd
National Seminar on Chemistry and Chemical
Education, Bandung April 11, 2007
[53]A.S. Vioktalamo, M. Abdullah, W. Budiawan, and
Khairurrijal, 1st Int.l Conf. Advanced Materials and
Practical Nanotechnology Serpong-Banten (2006).
[54]A.S. Vioktalamo, M. Abdullah, dan S.Z. Bisri, Pros.
Seminar Nasional Kimia Fisik dan Anorganik (2006).
[55]M. Abdullah, Khairurrijal, A. R. Marully, Liherlinah,
dan M. Sanny, J. Nano Saintek. 1, 1 (2008).
[56]M. Abdullah dan Khairurrijal, J. Nano Saintek. 1, 12
(2008).
[57]Liherlinah, M. Sanny, A. R. Marully, M. Abdullah
dan Khairurrijal, J. Nano Saintek. 1, 23 (2008).
[58]M. Abdullah, Khairurrijal, I. Nurhasanah, I. Sriyanti,
dan A. R. Marully, J. Nano Saintek. In press
View publication statsView publication stats

Review sintesis nanomaterial

  • 1.
    See discussions, stats,and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/26844331 Review: Sintesis Nanomaterial Article · January 2008 Source: DOAJ CITATIONS 2 READS 9,743 4 authors, including: Some of the authors of this publication are also working on these related projects: Hydrogen Storage View project CZTS PV View project Yudistira Virgus 12 PUBLICATIONS   261 CITATIONS    SEE PROFILE Khairurrijal Khairurrijal Bandung Institute of Technology 331 PUBLICATIONS   810 CITATIONS    SEE PROFILE All content following this page was uploaded by Khairurrijal Khairurrijal on 12 February 2014. The user has requested enhancement of the downloaded file.
  • 2.
    Jurnal Nanosains &Nanoteknologi ISSN 1979-0880 Vol. 1 No.2, Juli 2008 Review : Sintesis Nanomaterial Mikrajuddin Abdullah(a) , Yudistira Virgus, Nirmin, dan Khairurrijal Laboratorium Sintesis dan Fungsionalisasi Nanomaterial Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung Jalan Ganeca 10 Bandung 40132, Indonesia (a) E-mail:din@fi.itb.ac.id Diterima Editor : 17 April 2008 Diputuskan Publikasi : 17 Mei 2008 Abstrak Pada paper ini akan direview beberapa metode sintesis material nanostruktur yang meliputi nanopartikel, nanotube, dan komposit nanopartikel Kata Kunci: nanopartikel, carbon nanotube, komposit nanopartikel, sintesis. 1. Pendahuluan Pada saat ini, pengembangan nanoteknologi terus dilakukan oleh para peneliti dari dunia akademik maupun dari dunia industri. Semua peneliti seolah berlomba untuk mewujudkan karya baru dalam dunia nanoteknologi. Salah satu bidang yang menarik minat banyak peneliti adalah pengembangan metode sintesis nanopartikel. Nanopartikel dapat terjadi secara alamiah ataupun melalui proses sintesis oleh manusia. Sintesis nanopartikel bermakna pembuatan partikel dengan ukuran yang kurang dari 100 nm dan sekaligus mengubah sifat atau fungsinya. Orang umumnya ingin memahami lebih mendalam mengapa nanopartikel dapat memiliki sifat atau fungsi yang berbeda dari material sejenis dalam ukuran besar (bulk). Dua hal utama yang membuat nanopartikel berbeda dengan material sejenis dalam ukuran besar yaitu: (a) karena ukurannya yang kecil, nanopartikel memiliki nilai perbandingan antara luas permukaan dan volume yang lebih besar jika dibandingkan dengan partikel sejenis dalam ukuran besar. Ini membuat nanopartikel bersifat lebih reaktif. Reaktivitas material ditentukan oleh atom-atom di permukaan, karena hanya atom-atom tersebut yang bersentuhan langsung dengan material lain; (b) ketika ukuran partikel menuju orde nanometer, maka hukum fisika yang berlaku lebih didominasi oleh hukum-hukum fisika kuantum. Sifat-sifat yang berubah pada nanopartikel biasanya berkaitan dengan fenomena-fenomena berikut ini. Pertama adalah fenomena kuntum sebagai akibat keterbatasan ruang gerak elektron dan pembawa muatan lainnya dalam partikel. Fenomena ini berimbas pada beberapa sifat material seperti perubahan warna yang dipancarkan, transparansi, kekuatan mekanik, konduktivitas listrik, dan magnetisasi. Kedua adalah perubahan rasio jumlah atom yang menempati permukaan terhadap jumlah total atom. Fenomena ini berimbas pada perubahan titik didih, titik beku, dan reaktivitas kimia. Perubahan-perubahan tersebut diharapkan dapat menjadi keunggulan nanopartikel dibandingkan dengan partikel sejenis dalam keadaan bulk. Para peneliti juga percaya bahwa kita dapat mengontrol perubahan-perubahan tersebut ke arah yang diinginkan. Contoh sederhana bagaimana sifat partikel berubah jika ukurannya direduksi ke skala nanometer dijumpai pada titanium dioxide atau titania (TiO2). Dibandingkan dengan titania ukuran bulk, titania ukuran nano tidak hanya transparant, tetapi juga sangat efektif untuk menghalangi radiasi ultraviolet. Karena itu nanopartikel titania banyak digunakan sebagai tabir surya (sunscreen). Titania bukan skala nano, walaupun juga menyerap ultraviolet, namun tidak transparan. Titania berukuran besar berwarna putih susu dan banyak digunakan sebagai bahan pemutih pada kosmetik. Sintesis nanopartikel dapat dilakukan dalam fasa padat, cair, maupun gas. Proses sintesis pun dapat berlangsung secara fisika atau kimia. Proses sintesis secara fisika tidak melibatkan reaksi kimia. Yang terjadi hanya pemecahan material besar menjadi material berukuran nanometer, atau pengabungan material berukuran sangat kecil, seperti kluster, menjadi partikel berukuran nanometer tanpa mengubah sifat bahan. Proses sintesis secara kimia melibatkan reaksi kimia dari sejumlah material awal (precursor) sehingga dihasilkan material lain yang berukuran nanometer. Contohnya adalah pembentukan nanopartikel garam dengan mereaksikan asam dan basa yang bersesuaian. Secara umum, sintesis nanopartikel akan masuk dalam dua kelompok besar. Gambar 1 menjelaskan dua pendekatan besar dalam mensintesis nanopartikel. Cara pertama adalah memecah partikel berukuran besar menjadi partikel berukuran nanometer. Pendekatan ini kadang disebut pendekatan top-down. Pendekatan kedua adalah memulai dari atom-atom atau molekul-molekul atau kluster-kluster yang diassembli membentuk partikel 33
  • 3.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 34 berkuran nanometer yang dikehendaki. Pendekatan ini disebut bottom-up. Gambar 1 Dua pendekatan utama sintesis nanopartikel: top-down dan bottom-up 2. Metode Sintesis Nanomaterial Banyak metode sintesis nanopartikel yang dibahas para peneliti seluruh dunia, mulai dari yang sangat sederhana sampai yang sangat rumit. Dalam review kali ini kita akan membahas beberapa metode sederhana sintesis nanopartikel. 2.1 Pemanasan Sederhana dalam Larutan Polimer Metode ini termasuk metode yang sangat sederhana dalam membuat partikel berukuran beberapa puluh nanometer hingga beberapa ratus nanometer. Umumnya, sintesis nanopartikel membutuhkan waktu yang sangat lama, beberapa jam hingga puluhan jam. Metode pemanasan dalam larutan polimer hanya berlangsung beberapa puluh menit dan tidak diperlukan peralatan yang terlalu mahal. Merode ini juga dengan mudah dapat “discale up” untuk membuat partikel dalam jumlah besar bagi kebutuhan industri. Kita telah menggunakan metode ini untuk membuat sejumlah partikel oksida seperti yttria yang didop dengan europium (material pemancar cahaya merah untuk kebutuhan display), yttrium-gadolonium aluminium garnet yang didop cerium (pemancar cahaya biru-kuning), galium nitrida (pemancar cahaya biru), yttria yang didop gadolonium (pemancar ultraviolet), seng oksida (pemancar cahaya hijau-kuning), oksida seng-tembaga- aluminium sebagai katalis pengubah metanol dan air menjadi hidrogen, dan ceria yang didop neodimium yang berpotensi bagi pengembang sel bahan bakar. Metode ini hanya membutuhkan sebuah oven yang dapat beroperasi pada suhu pemanasan di atas suhu dekomposisi polimer. Suhu operasi di atas 500 o C sudah cukup untuk mendekomposisi sejumlah polimer. nanopartikelnanopartikel atom/kluster bulk Top-down: dipecah Bottom-up: digabung, assembli nanopartikelnanopartikel atom/kluster bulk Top-down: dipecah Bottom-up: digabung, assembli Secara sederhana, prinsip kerja metode ini adalah mencampurkan larutan logam nitrat di dalam air dengan larutan polimer dengan berat molekul tinggi (high molecular weight polymer, HMWP). Kedua larutan dicampur dan diaduk secara merata disertai pemanasan sehingga kandungan air hampir habis dan diperoleh larutan kental polimer. Di dalam larutan tersebut diperkirakan ion-ion logam menempel secara merata pada rantai polimer. Larutan polimer kemudian ditempatkan dalam krusibel alumina dan dipanaskan pada suhu di atas suhu dekomposisi polimer. Suhu pemanasan dinaikkan secara perlahan-lahan. Keberadaan polimer menghindari pertemuan antar partikel yang terbentuk melalui proses nukleasi sehingga tidak terjadi agglomerasi. Ketika polimer telah terdekomposisi kita dapatkan partikel- partikel yang hampir terpisah satu dengan lainnya. Secara sederhana diagram alir pembuatan partikel dengan metode tersebut tampak pada Gbr. 2 ambar 2 Diagram alir pembuatan nanopartikel dengan ontoh aplikasi metode ini adalah pada pembuatan partikel cerium dioksida (ceria) yang didop dengan Logam nitrat PEG Air Campur T ≅ 100 oC Pemanasan T > 600 oC Nanopartikel oksida Logam nitrat PEG Air Campur T ≅ 100 oC Pemanasan T > 600 oC Nanopartikel oksida G metode pemanasan dalam larutan polimer. C
  • 4.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 35 neodim dengan pemanaskan pada suhu 800 o ambar 3 Foto SEM sejumlah nanopartikel yang dibuat engan metode pemanasan sederhana dalam larutan anopartikel semikonduktor dapat dipersiapkan sintesis kimiawi dalam larutan homogen. Sintesi ntrol ukuran partike ium (CeO2:Nd). Material ini merupakan elektrolit padat yang sangat potensial untuk aplikasi sel bahan bakar (fuel cell). Cerium nitrat hexahydrate, Ce(NO3)3·6H2O, dan neodymium nitrate hexahydrate, Nd(NO3)3·6H2O, dengan perbandingan molaritas yang sesuai dilarutkan dalam de-ionized water. Polyethylene glycol, H(OCH2- CH2)nH dan disingkat PEG, dalam jumlah yang cukup ditambahkan ke dalam larutan disertai pengadukan hingga diperoleh larutan jernih. Larutan kemudian dipanaskan pada suhu di atas 100 o C hingga menjadi kental yang kemudian dilanjutkan dengan pemanasan di atas suhu dekomposisi PEG beberapa puluh menit di dalam oven sehingga dihasilkan partikel dengan ukuran beberapa puluh nanometer hingga ratusan nanometer. Ukuran partikel dikontrol dengan mengatur konsentrasi PEG, mengatur suhu pemanasan, dan mengatur lama waktu pemanasan dalam oven. Gambar 3(a) adalah contoh foto SEM partikel CeO2:Nd yang dihasilkan C. Ukuran grain yang diperoleh adalah puluhan nanometer hingga submikron. Dengan menggunakan metode Scherrer didapat ukuran kristallin sekitar 54 nm. Nanopartikel lain yang telah dibuat dengan metode tersebut oleh penulis meliputi Y2O3:Eu, Y2O3:Gd, (Gd,Y)2Al5O12:Ce, Cu/ZnO/Al2O3, dan Ga2O3. Foto SEM sebagian partikel tersebut tampak pada Gbr 3.3(a) –(d). Pada prinsipnya hampir semua oksida logam dengan ukuran di bawah mikrometer dapat dibuat dengan metode pemanasan sederhana dalam larutan polimer dengan menggunakan prekursor nitrat dari logam yang bersangkutan. 1 µm c 1 µm d 1 µm c 1 µm d G d polimer: (a) CeO2:Nd, (b) Y2O3:Eu, (c) ZnO, dan (d) (Gd,Y)2Al5O12:Ce. 2.2 Kolloid N dengan cara 600 nm 1 µm a b 600 nm 1 µm a s material dalam bentuk kolloid sebenarnya sudah lama dilakukan orang, jauh sebelum konsep nanoteknologi dikenal orang. Sejumlah kolloid dari nanopartikel dengan ukuran diameter antara 3 – 50 nm telah berhasil dibuat. Jenis koloid tersebut mencakup material logam mulia (Au, Ag, Pt, Pd, dan Cu), semikonduktor (Si, Ge, III-V, II-VI, dan oksida logam), isolator (mika, SiO2, sejumlah keramik, polimer), dan material magnetik (Fe2O3, Ni, Co, Fe, FePt). Namun, ketertarikan pada nanoteknologi memaksa peneliti untuk memiliki kemampuan mengo l koloid yang dihasilkan. Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya sifat material yang bergantung pada ukuran. Usaha ke arah ini ditempuh dengan melakukan deaktivasi permukaan partikel koloid yang telah dibuat begitu ukuran sudah mencapai nilai yang dinginkan. Jika tidak dideaktivasi maka ukuran partikel koloid biasanya akan terus bertambah selama masih ada sisa atom-atom prekursor di dalam larutan tersebut. Salah satu cara deaktivasi yang banyak dilakukan adalah menggunakan surfactant. Molekul surfaktan akan menempel pada permukan koloid yang dibuat dan melindungi permukaan tersebut dari pertambahan atom precursor lebih lanjut meskipun di dalam koloid masih ada atom-atom precursor yang belum bereaksi. Gambar 4 adalah ilustrasi b
  • 5.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 36 bagaimana membuat koloid dengan ukuran partikel tertentu menggunakan surfaktan. Gambar 4 Contoh membuat nanopartikel koloid dengan ntuk koloid emas, surfaktan yang biasa diguna ambar 5 Alkanthiol teradsorpsi di permukaan partikel erikut ini akan dijelaskan sejumlah metode sederh admium Sulfida (CdS) iasanya berjalan efektif pada kondis dapat disentesis melalu d(ClO4)2 + Na2S = CdS + 2NaClO4 (1) ertumbuhan nanopartikel CdS pada reaksi di atas dihenti menggunakan surfaktan. U kan adalah alkanthiol, yaitu alkena dengan gugus fungsional thiol (-SH). Rumus umum alkantiol adalah CnH2n+1-SH. Atom sulfida pada alkantiol “suka” menempel pada permukaan emas sehingga teradsorpsi di permukaan emas membentuk lapisan tipis tidak aktif, seperti diilustrasikan pada Gbr 5. Kehadiran lapisan tersebut disamping menghentikan pertumbuhan ukuran partikel lebih lanjut, juga menghindari penggumapan partikel membentuk aglomerasi yang lebih besar sehingga koloid emas tetap stabil dalam jangka waktu yang lama. G emas karena atom sulfida “suka” pada atom emas. B ana untuk mensintesis koloid dari nanopartikel. C Reaksi kimia b i keasaman (pH) tertentu. Pada pH yang sesuai, reaksi kimia berlangsung cepat sedangkan pada pH yang tidak sesuai reaksi kimia hampir tidak berlangsung atau berlangsung sangat lambat. Dengan sifat ini kita pun dapat mengontrol ukuran partikel koloid melalui pengontrolan pH larutan. Mula-mula pH diatur sehingga reaksi berlangsung dan nanopartikel mulai terbentuk. Begitu ukuran yang dikehendaki tercapai, pH diubah seketika sehingga reaksi hampir tidak berlangsung dan ukuran partikel menjadi hampir konstan. Nanopartikel dari logam sulfida i reaksi garam logam yang larut dalam air dengan H2S atau Na2S. Setelah nanopartikel terbentuk, senyawa penetral natrium metafosfat ditambahkan untuk menghentikan reaksi pertumbuhan ukuran partikel lebih lanjut. Sebagai contoh, nanopartikel cadmium sulfida, CdS, dapat disintesis dengan cara mencampurkan Cd(ClO4) dengan larutan Na2S. Reaksi tersebut berlangsung menurut persaman Prekursor dicampur Partikel terbentuk, surfaktan dimasukkan Surfaktan melindungi permukaan partikel Surfaktan Prekursor dicampur Partikel terbentuk, surfaktan dimasukkan Surfaktan melindungi permukaan partikel Surfaktan Partikel Au 2 nm Partikel Au 4 nmPartikel Au 2 nm Partikel Au 4 nm C P kan dengan cara menaikan pH larutan secara mendadak. Dengan cara tersebut, tidak terjadi pertumbuhan ukuran partikel secara berkelanjutan sehingga hasil akhir yang diperoleh adalah partikel berukuran nanometer. Jika reaksi tidak dihentikan maka hasil akhirnya adalah CdS dalam ukuran besar (bukan nanometer).
  • 6.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 37 Partikel Titanium Dioksida (TiO2) dan Nanorod ihasilkan dengan iCl4 + 2H2O = TiO2 + 4HCl (2) Pembentukan nanopartikel TiO2 melalui reaksi di atas ambar 6 Skematik pembentukan nanopartikel TiO2 ara lain membuat koloid TiO2 sebagai berikut. Titaniu kan dengan cara sol fil dalam larutan ambar 7 Hasil SEM dari template AAM dari atas. Iset ambar 8 XRD dari nanorod TiO2 yang di-anneal pada emudian template ini dicelupkan ke dalam larutan Partikel koloid dari oksida logam dapat d cara hidrolisis dari garam tertentu. Sebagai contoh, nanopartikel TiO2 dapat dihasilkan pada hidrolisis titanium tetraklorida menurut persamaan reaksi T diilustrasikan pada Gbr 6. G dengan menggunakan metode hidrolisis garam. C m tetraisopropoxide (TTIP), acetylacetone (ACAC), air deionized dan etil alkohol (EtOH) dicampur dengan berbagai rasio molaritas, misalnya 1:1:3:20, 1:3:40:70, atau 1:1:275:86. TTIP dilarutkan pada etanol dengan air dan ACAC. Larutan tersebut kemudian secara perlahan ditambahkan kepada larutan TTIP/EtOH untuk membentuk sol-TiO2. Larutan campuran tersebut lalu diaduk selama 2 jam pada suhu kamar. Pembentukan nanorod TiO2 dilaku ling (pemasukkan sol ke lubang berpori) dan heating-sol-gel-templates (pemanasan template untuk material sol-gel). Template yang digunakan dapat berupa anodic alumunim berpori dengan ketebalan beberapa puluh mikrometer dan diamter poros beberapa ratus nanometer. Pertama, membran anodic alumunium (AAMs) dipanaskan di dalam etanol pada suhu 75-77 o C selama 10 menit. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan hydrophilicity (daya ikat) dari pori-pori alumunium dengan sol-TiO2. Gambar 7 adalah contoh foto SEM nanorod template untuk membuat nanorod TiO2. Kemudian template ini dicelupkan ke sol-TiO2 (pada suhu ruang atau suhu 80 o C) dengan waktu pencelupan beberapa puluh menit. Setelah itu, hasilnya dikeringkan pada suhu ruang selama 24 jam. Hasil ini lalu diletakkan pada ruang pemanas. Proses pemanasan berlangsung sebagai berikut. Sampel dijaga pada suhu 100 o C selama 8-10 jam dengan tujuan untuk menguapkan seluruh air yang ada pada sampel. Untuk pembuatan TiO2 fase anatase, sampel dipanaskan hingga suhu 400 atau 500 o C dengan laju 2,5 o C/menit dan dijaga pada suhu ini selama 2 jam. Sedangkan untuk pembuatan TiO2 fase rutile, sampel dipanaskan secara cepat hingga mencapai suhu 700 o C untuk menghindari pembentukan anatase yang biasanaya ada pada fasa suhu yang rendah. Lalu sampel ini dijaga pada suhu tersebut selama 2 jam yang kemudian dibiarkan mendingin hingga kembali ke suhu kamar. OH- TiCl4 Koloid TiO2 OH- TiCl4 Koloid TiO2 G adalah penampang samping. Intensitas(sembarang) 2θ (derajat) 20 30 40 50 60 70 80 Intensitas(sembarang) 2θ (derajat) 20 30 40 50 60 70 80 G suhu (a) 400 o C, (b) 500 o C, (c) 700 o C. K sol-TiO2 (pada suhu ruang atau suhu 80 o C) dengan waktu pencelupan beberapa puluh menit. Setelah itu, hasilnya dikeringkan pada suhu ruang selama 24 jam. Hasil ini lalu diletakkan pada ruang pemanas. Proses pemanasan berlangsung sebagai berikut. Sampel dijaga pada suhu 100 o C selama 8-10 jam dengan tujuan untuk menguapkan seluruh air yang ada pada sampel. Untuk pembuatan TiO2 fase anatase, sampel dipanaskan hingga suhu 400 atau 500 o C dengan laju 2,5 o C/menit dan dijaga
  • 7.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 38 pada suhu ini selama 2 jam. Sedangkan untuk pembuatan TiO2 fase rutile, sampel dipanaskan secara cepat hingga mencapai suhu 700 o C untuk menghindari pembentukan anatase yang biasanaya ada pada fasa suhu yang rendah. Lalu sampel ini dijaga pada suhu tersebut selama 2 jam yang kemudian dibiarkan mendingin hingga kembali ke suhu kamar. Gambar 8 memperlihatkan pola difraksi sinar-X yang Zinc o de (ZnO) erlihatkan sifat-sifat optic, akustik, dan kelistri mlah metode sintesis ZnO nanopartikel, metode rna koloid ZnO sebelum disinari ambar 9 Skema pembuatan ZnO koloid memperlihatkan fasa anatase dan rutile untuk sampel yang dipanaskan pada suhu berbeda. xi ZnO memp kan yang menarik dan memiliki sejumlah potensi aplikasi dalam bidang elektronik, optoelektronik, dan sensor. Sebagai semikonduktor dengan lebar celah pita energi besar, ZnO sangat potensial diaplikasi sebagai elektroda transparan dalam teknologi fotovoltaik, piranti elektroluminisens, dan material untuk piranti pemancar ultraviolet. Dari seju sol-gel merupakan salah satu metode yang dikenal luas. Metode ini relatif sederhana dan menghasilkan koloid ZnO dengan ukuran partikel sekitar 3 nm dalam waktu beberapa jam. Zinc acetate dihidrat, ZnAc2·2H2O, dimasukkan ke dalam etanol hingga konsentrasi 0,1 M. Zinc acetate yang berbentuk bubuk sulit melarut dalam etanol. Dispersan tersebut dimasukkan dalam perangkat distilasi kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 78 - 80 o C (titik didih etanol) disertai pengadukan dengan magnetic stirrer. Lama-lama bubuk ZnAc2·2H2O melarut dalam etanol. Distilasi dilakukan hingga volum yang tersisa dalam flask sekitar 60% volum mula-mula. Kondensat yang dihasilkan dengan volum sekitar 40% tidak digunakan. Litium hidroksida hidrat, LiOH·H2O, dimasukkan ke dalam etanol yang volumnya sama dengan volum kondensat hasil distlasi yang tidak terpakai (sama dengan 40% volum awal etanol sebelum distilasi) hinga tercapai konsentrasi 0,35 M lalu diaduk dengan magnetic stirrer hingga melarut sempurna. Kedua larutan kemudian dicampur sambil diaduk di dalam wadah yang diletakkan dalam lingkungan es sehingga suhunya tidk terlalu tinggi. Suhu yang rendah tersebut dimaksudkan untuk menghindari pertumbuhan ukuran patikel yang cepat. Hasil dari pencampuran adalah koloid ZnO yang transparan. Jika ditempatkan di bawah lampu UV dengan panjang gelombang 254 nm atau 365 nm maka koloid memancarkan cahaya lumininisens hijau kebiruan. Lampu UV yang digunakan adalah lampu untuk mengecek keaslian uang kertas yang digunakan para kasir bank. Lampu tersebut dapat dibeli di toko-toko listrik besar. Jika ditunggu beberapa lama maka warna koloid berubah menjadi hijau kekuningan. Gambar skematik proses lengkap tampak pada Gbr 9. Gambar 10(a) adalah wa UV, 10(b) adalah koloid ZnO ketika disinari dengan UV. Jika tidak disinari UV tampak koloid berupa larutan transparan. Jika disinari UV tampak koloid memancarkan warna hijau kekuningan. Gambar 10(c) adalah foto TEM nanapartikel koloid yang dibuat. Ukuran partikel koloid sekitar 4 nm. LiOH•H2O (CH3COO)2•Zn.2H2O Koloid ZnO ≈ 3 jam ≈ 80 oC LiOH•H2O (CH3COO)2•Zn.2H2O Koloid ZnO ≈ 3 jam ≈ 80 oC G
  • 8.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 39 Gambar 10 (a) koloid ZnO jika tidak disinari UV, dan (b) koloid ZnO ketika disinari UV, dan (c) foto TEM kolid ZnO. Cadmium selenide (CdSe) CdSe adalah material semikonduktor yang memancarkan luminisens. Dalam ukuran nanometer, spektrum luminisens yang dipancarkan partikel bergantung pada ukuran partikel. Dengan demikian, pengontrolan ukuran partikel menjadi sangat penting agar diperoleh spektrum luminisens yang diharapkan. Salah satu contoh sintesis CdSe nanopartikel dijelaskan secara ringkas sebagai berikut. CdSO4.2.5H2O dilarutkan di dalam 1 L air deionisasi sampai pada konsentrasi 2 mM. Larutan ini lalu diletakkan pada 2 L tabung reaksi dan diputar dengan kecepatan 200 rpm. Ketika sedang diputar, 18 mmol 1- thioglycerol ditambahkan ke larutan dan diputar lagi selama 5 menit. Lalu amonium sulfida (30 mmol) ditambahkan secara cepat pada keadaan lingkungan yang tetap agar tercipta nanopartikel CdSe. Metoda ini menghasilkan pembentukan nanopartikel yang stabil walaupun hingga berbulan-bulan. Hasil dari XRD dapat dilihat pada Gbr 11. di bawah. Nanopartikel hasil sintesis ini memiliki bentuk kristal yang baik berupa kubus. Ukuran rata-rata kristalin yang diprediksi berdasarkan lembar puncak difraksi sekitar 3,95 nm. Gambar 11 Pola difraksi sinar-X nanopartikel CdSe. Bentuk dari nanopartikel ini dapat dilihat hasilnya dengan menggunakan TEM. Contoh gambar yang dihasilkan oleh TEM ini dapat dilihat pada Gbr 12. Bentuk sferis dan ukuran rata-rata sebesar 5 nm cocok dengan data yang didapat dengan analisis XRD. Gambar 12 Contoh foto TEM nanopartikel nanopartikel CdSe. Partikel Magnetik Monolithic ultra-porous (suatu batu dengan poros- poros yang kecil) dan campuran material magnetik yang sangat ringan dapat diperoleh dengan cara menyebarkan poros-poros dari silica yang dibentuk dengan proses sol- gel, yang diawali dengan garam logam anhydrous lalu diikuti oleh pengeringan pada tekanan yang sangat tinggi. a b c a b c 20 40 50 60 70 2θ (derajat) 30 Intensitas(sembarang) 111 220 311 20 40 50 60 70 2θ (derajat) 30 Intensitas(sembarang) 111 220 311 20 nm20 nm
  • 9.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 40 Setelah itu, dilakukan analisis sinar-X dan didapat logam Ni, besi oksida dan Ni-besi dalam bentuk kristal. Silika basah disiapkan melalui proses hidrolisis dan kondensasi tetraethoxysilane (TEOS) dengan 2 jenis asam-basa sebagai katalisator proses sol-gel (katalisnya adalah hidroklorik dan ammonia). Pada tahap pertama, pra-polimerisasi dari TEOS didapat melalui reaksi dari TEOS dengan air dan asam katalis (HCl 1 M) pada larutan etanol. Setelah dibiarkan pada suhu 25 o C selama 1 bulan, didapat cairan yang viskositasnya tinggi. Pada tahap kedua, 0,05 M larutan NH3 ditambahkan kepada sol asam. Setelah 48 jam, gel dari sampel matriks diperoleh. Lalu, cairan yang mengandung pori-pori dari gel silica diganti dengan etanol. Dua sampel didapat dengan cara menyebarkan gel silica melalui larutan alcohol yang supersaturasi (anhydrous Ni(II) acetylacetonate atau anhydrous Fe(II) acetylacetonate). Pengeringan dilakukan pada proses penyebaran ini. Proses pengeringan ini terjadi pada suhu 260 o C dan tekanan 131 bar. Setelah 3 jam, tekanan dikurangi secara perlahan. Aerogel yang didapat dibiarkan mendingin secara perlahan sampai suhunya sama dengan suhu kamar. Gambar 13 (a) Hasil dari difraksi sinar-X dan (b) ZFC magnetisasi dari nanopartikel cobalt. Nanopartikel cobalt Nanopartikel cobalt disintesis dengan cara dekomposisi yang cepat dari material prekursor (organometallic) pada larutan yang mengandung surfaktan pada lingkungan berisi argon. Cobalt carbonyl [1,58 mmol (0,54 g)] dilarutkan di dalam 3 ml 1,2- dichlorobenzene (DCB) yang mengandung 0,6 mmol(0,2 ml) asam oleic dan 1,1 mmol (0,34 ml) dioctylamine serta diaduk selama 15 menit. Struktur kristal dari bahan ini lalu dikarakterisasi dengan difraksi sinar-X dan TEM. Sifat magnetik dari bahan ini lalu dipelajari dengan SQUID (Superconducting Quantum Interface Device). Pada karakterisasi ini, yang diukur dari bahan tersebut adalah ZFC (Zero Field Cooled) magnetisasi bahan. Gambar 13 adalah pola difraksi sinar-X dan ZFC dari nanopartikel cobalt. Nanopartikel Co-Au Core-Shell (teras-kulit) Gambar 14 (a) Hasil dari difraksi sinar-X dan (b) ZFC magnetisasi dari nanopartikel Co-Au. Inset merupakan 5 K histerisis yang menunjukkan sifat feromagnetik dari bahan tersebut pada suhu rendah. Nanopartikel yang belum jadi dapat dijadikan sebagai inti dari nanopartikel yang akan dibuat. Cobalt dijadikan sebagai inti sedangkan Au sebagai kulit dari nanopartikel tersebut. Larutan prekursor teras cobalt [0,5 ml (3 mmol/ml)] dicampur dengan 5 ml toluene dan diberi semburan gas argon selama 30 menit. Kemudian larutan 0,01 g HAuCl4, 0,25 ml oleylamine dan 3 ml toluene dimasukkan ke larutan tersebut pada suhu 85 o C. Setelah terjadi reaksi, larutan dijaga pada suhu tersebut selama 1 jam. Nanopartikel core-shell terbentuk dengan Suhu (K) 1 10 100 1000 Momen(sembarang)Intensitas(sembarang) 2θ 35 45 555040 221 310 311 Suhu (K) 1 10 100 1000 Momen(sembarang)Intensitas(sembarang) 2θ 35 45 555040 221 310 311 10000-10000 0 Medan (Oe) M(emu/g) T = 5 K 2θ 40 50 807060 ε-Co fcc-Au 0,02 0,2 2 FC ZFC 0 50 100 150 200 250 300 350 Suhu (K) H = 20 G Magnetization(emu/g)Intensitas Intensitas 40 50 (a) (b) 10000-10000 0 Medan (Oe) M(emu/g) T = 5 K 2θ 40 50 807060 ε-Co fcc-Au 0,02 0,2 2 FC ZFC 0 50 100 150 200 250 300 350 Suhu (K) H = 20 G Magnetization(emu/g)Intensitas Intensitas 40 50 (a) (b)
  • 10.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 41 ukuran inti 6 nm dan ukuran kulit 1,5 nm. Karakterisasi dari nanopartikel ini dilakukan dengan cara yang sama dengan nanopartikel sebelumnya. Gambar 14 adalah pola difraksi sinar-X dan ZFC dari nanopartikel Co-Au Reverse Micelle Cara lain membuat partikel koloid dengan ukuran nanometer adalah metode reverse micelles. Micelle adalah partikel koloid berongga yang umumnya berupa material organik yang terbentuk secara spontan (self asembli) seperti diilustrasikan pada Gbr 15. Dengan cara sonifikasi (getaran dengan gelombang bunyi), kation (ion positif) dipaksa masuk ke dalam rongga micelle (lihat Gbr 16). Gambar 15 Contoh micelle. Gambar 16 Sonifikasi memaksa masuk kation ke dalam rongga micelle. Kemudian anion (ion negatif) dibuat dalam larutan yang mengandung micelle. Anion dibiarkan berdifusi ke dalam rongga micelle yang telah mengandung ion positif melaui selaput micelle (lihat ilustrasi pada Gbr 3.20). Rongga micelle jauh lebih permeabel bagi anion dibandingkan dengan kation, sehingga secara efektif yang teramati hanya aliran anion dari luar masuk ke dalam rongga micelle tanpa disertai aliran kation dari rongga micelle ke luar. Hal ini dapat dilakukan dengan memiliki material micelle yang tepat. Contonhnya material yang menghasilkan permeabilitas anion sekitar 100 kali lebih tinggi daripada kation. Anion yang mengalir masuk bereaksi dengan kation yang ada dalam rongga micelle membentuk partikel padatan yang ukurannya dibatasi oleh ukuran micelle. Membran micelle juga menjadi pembatas pertumbuhan ukuran partikel lebih lanjut dan menjadi pelindung partikel dari aglomerasi. Gambar 17 Difusi anion masuk ke dalam micelle. Penyusunan Kristal Besar Nanopartikel semikonduktor yang berukuran lebih besar dapat disintesis dengan cara menambahkan molekul lain kepada nanopartikel awal yang berukuran lebih kecil dan distabilkan dengan ligand organik pada larutan koloid. Sebagai contoh, telah ditemukan bahwa ukuran dari kumpulan nanopartikel CdS yang dilapisi dengan ion-ion thiophenolate dapat membesar jika logam sulfide ditambahkan ke larutan tersebut. Pembuatan polimer dari bahan inorganik diketahui dapat diaplikasikan kepada sintesis kumpulan nanopartikel semikonduktor yang cukup besar. Sebagai contoh dari kumpulan nanopartikel pyramid [Cd20S13(SC6H5)22]8- mengandung 55 atom cadmium dan sulfur, kumpulan nanopartikel pyramid [Cd10S4(SC6H5)16]4- mengandung 33 atom cadmium dan sulfur. Jika ditambahkan ion sulfida lima kepada kedua kumpulan nanopartikel tadi, maka kedua kumpulan nanopartikel akan bergabung dan membentuk kumpulan nanopartikel yang lebih besar. Hal ini dapat diilustarikan pada Gbr. 18.
  • 11.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 42 Gambar 18 Penggabungan 2 kumpulan nanopartikel menjadi suatu kumpulan naopartikel yang lebih besar. Struktur pyramid dari [Cd20S13(SC6H5)22]8- telah dikonfirmasi kebenarannya melalui analisis X-ray. Penambahan terus ion sulfida dapat menghasilkan kumpulan partikel tetrahedral Cd32S14(SC6H5)36 yang mengandung 82 atom cadmium dan sulfur. Kolloid Lain Nanokristal Zn3P2 dan Cd3P2 dapat disintesis dengan menginjeksikan phosphine (PH3) ke dalam larutan yang mengandung garam logam. Pengontrolan ukuran partikel dilakukan dengan menvariasi konsentrasi phosphine dan suhu reaksi. Efek ukuran kuantum diamati dengan jelas pada sample Zn3P2 dan Cd3P2 seperti ditunjukan oleh warna material yang dihasilkan. Cd3P2 bulk berwarna hitam sedangkan larutan yang mengandung nanokristal Cd3P2 (diamater sekitar 1,5 nm) tidak berwarna. Nanopartikel CdSe dapat disintesis dari larutan yang mengandung dimethylcadmium (CH3)2Cd (di dalam tri-n-occtylphosphine TOP) dan trin-octylphosphine selenide (TOPSe) di dalam tri-n-octylphosphine oxide (TOPO) panas pada rentang suhu antara 120–300 o C. Reaksi ini menghasilkan nanokrsital CdSe yang dicanteli TOPO. Ukuran partikel dipengaruhi secara dominan oleh suhu reaksi, di mana partikel yang lebih besar dihasilkan pada suhu yang lebih tinggi. Nanopartikel semikonduktor golongan III-V dapat dibuat melaui reaksi padatan natrium pnictides dengan halida golongan III pada suhu tinggi dan dalam wadah tertutup. Nanopartikel GaP dan GaAs dapat dibuat dengan menggunakan gallium (golongan III) halida dan (Na/K)3E dengan E = P atau As. Metode ini lebih aman karena mengghindari penggunaan material beracun seperti phosphine atau arsine. Nanocrystal InAs dan InP dapat disintesis melaui reaksi InX3 (X = Cl, Br, I) dengan As(SiMe3)3 atau P(SiMe3)3. Koloid semikonduktor InP dapat disintesis melalui reaksi berikut ini pada suhu antara 150 o C hingga 280 o C menurut persamaan InCl3 + [(CH3)3Si]3P = InP + 3(CH3)3SiCl (3) Amine atau tri-n-octylphosphine (TOP), atau tri-n- octylphosphine oxide (TOPO) digunakan sebagai sebagai stabilizer untuk menghindari penggumpalan InP. Ukuran partikel berkisar antara 2,2 sampai 6 nm, bergantung pada stabilizer yang digunakan. Lebar celah pita energi InP ukuran bulk adalah 1.35 eV sedangkan nanokristal InP menghasilkan nilai band gap antara 1.7 eV to 2.4 eV. Nanokristal InAs juga dibuat dengan metode yang sama dengan mereaksikan As[(CH3)3Si]3 dan InCl3. Nanopartikel cobalt dapat dibuat dengan pirolisis cepat dari prekursor organik Co(CO)8 di dalam atmosfer argon dan dengan kehadiran surfaktan organik seperti asam oleic dan asam trioctylphosphonic. Bentuk partikel yang dihasilkan dapat berupa bola, kubus, atau bentuk pentagon dengan ukuran antara 3 – 17 nm, bergantung pada jenis stabuilizer yang digunakan. Nanopartikel CdTe dapat dibuat dengan mereaksi Na2Te dengan CdI2 dalam metanol pada suhu –78 o C. Diamater partikel yang dibuat berkisar antara 2,2 – 2,5 nm. Nanostructur CoxCu1-x dapat disintesis dengan mereduksi larutan cobalt dan cupric chloride dalam air dengan natrium borohydride. Natrium borohydride dapat digunakan untuk mereduksi tembaga klorida di dalam tetrahydrofuran (THF) untuk membuat nanopartikel Cu. 2.3 Metode Polyol Proses polyol adalah cara lain menghasilkan partikel logam seperti Cu, Ni, dan Co dalam ukuran nanometer dalam medium bukan air. Dalam metode ini precursor seperti logam oksida, logam nitrat, dan logam asestat dilarutkan atau dicampur secara homogen dengan ethylene glycol atau diethylene glycol kemudian direflux pada suhu antara 180 - 194 o C. Selama reaksi tersebut, precursor direduksi membentuk partikel logam yang kemudian mengendap di dalam larutan. Partikel CoxCu100- x (4 ≤ x ≤ 49 at%) dapat disintesis dengan mereaksi cobalt acetate tetrahydrate dan copper acetate hydrate di dalam ethylene glycol. Campuran kemudian direflux pada suhu 180–190 o C selama 2 jam. Partikel yang dihasilkan mengendap di dalam larutan yang kemudian dikumpulkan dan dikeringkan. Bubuk nanocrystalline Ni25Cu75 dapat dibuat dengan mereduksi nikel dan tembaga asetat di dalam ethylene glycol. Berikut ini adalah contoh sintesis nanopartiel FePt dengan metode polyol. Material yang digunakan adaalah ethylene glycol, ferric acetyl acetonate atau Fe(acac)3, bis- acetyl acetonate platinum atau Pt(acac)2, N,N-dimetyl aminoethoxy ethanol atau (CH3)2N(CH2CH2O)3H dan sodium hydroxyde atau NaOH. Sintesis diawali dengan membuat prekursor Fe dengan cara melarutkan 369 mg 0,7 nm + 1 nm 0,7 nm + 1 nm
  • 12.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 43 Fe(acac)3, 33 ml sodium hydroxide 0,5 N, dan 1,0 g dimethylaminoethyleneoxide di dalam 200 mL ethylene glycol. Larutan tersebut dipanaskan pada suhu 160 o C dalam lingkungan argon tekanan atmosfer. Larutan lain berupa prekursor platina dibuat dengan melarutkan 238 mg Pt(acac)2, 17 mL NaOH, dan 0,5 g amine di dalam 100 mL ethylene glycol dan dipanaskan pada suhu 120 o C juga di dalam lingkunan argon tekanan atmosfer. Kedua larutan kemudian dicampur disertai dengan pengadukan yang cepat sehingga tercampur secara merata. Warna tampak berubah dari abu-abu menjadi hitam ketika suhu dinaikkan hingga 180 o C. Campuran dipertahankan dalam kondisi pengadukan pada suhu 198 o C selama sekitar 2 jam. Untuk menghindari penggumpalan partikel FePt, sedikit NaOH apat ditambahkan sebagai stabilisator. NaOH akan mereduksi logam acetylacetonate sehingga ketersediatan prekursor Fe dan Pt dalam campuran berkurang. Lebih lanjut, permukaan nanopartikel dapat dideaktivasi dengan mengadsaorpsi material pelindung sehingga membentuk lapisan tipis. Untuk maksud ini material yang dapat digunakan aadalah N,N-dimethyl aminoethoxy ethanol. Gambar 19 adalah skema pembuatan nanopartikel FePt dengan metode polyol. Gambar 20 adalah contoh foto TEM partikel yang dibuat. Ukuran partikel yang dibuat sekitar 2 – 3 nm dan hampir seragaam (monodisperse). Gambar 19 Skema pembuatan nanopartikel FePt dengan metode polyol. Gambar 20 Foto TEM partikel FePt yang dibuat. FePt memiliki potensi besar pada pengembangan madia penyimpanan data berkapasitas ultra. Untuk merealisasikan media penyimpanan data dengan kapasitas yang lebih tinggi dari yang ada sekarang, ukuran kristallin material magnetik yang digunakan harus direduksi ke orde nanometer. Namun, partikel magnetik dengan ukuran yang sangat kecil tersebut sangat mudah menghasilkan fluktuasi termal pada momen magnetik di permukaannya. Karena stabilitas termal adalah parameter yang sangat penting, partikel magnetik yang memiliki isotropi magnetik yang besar seperti Co, FePt, CoPt, dan ferrite- Ba merupakan contoh yang terbaik untuk tujuan tersebut. Dalam pembuatan media perekam data, sejumlah partikel digabung membentuk satu grup yang berfungsi sebagai penyimpan satu bit data. Kualitas perekaman data yang bermutu dapat dicapai jika interarksi aantar grup dapat direduksi. Film tipis magnetik yang mengandung grup partikel yang berukuran sangat kecil, koesivitas tinggi, magnetisasi rendah, dan kopling magnetic exchange yang kecil antar gorup terdekat sangat diperlukan bagi pengembangan media perekam magnetik dengan kerapatan ultra. Diprediksi bahwa dengan mengunakan nanopartikel magnetik yang berukuran sekitar 3 nm (yang hanya mengandung ratusan atom) maka dapat dibuat media perekam dengan kerapatan 1 Tb/in2 , dengan menyusun partikel-partikel tersebut secara teratur. Nanopartikel FePt merupakan kandidat yang baik bagi pengembangan media perekanan dengan kerapatan ultra. Secara kimiawi material ini sangat stabil dan memiliki anisotropi magnetokristallin yang tinggi (~ 6.6 J/cm3 ) yang memungkinkan tercapainya stabilitas termal hingga ukuran partikel sekecil 3 nm. Telah dilaporkan bahwa koersivitas pada suhu kamar dapat mencapai 9 kOe dan menjadi dua kali lebih besar pada suhu yang sangat rendah. Koersivitas dapat dikontrol dengan mudah hanya dengan mengontrol fraksi atom Fe dan Pt yang menyusun NaOH, aliran gas Ar Pelarut: ethylene glycol Fe(acac)3 3- , Pt(acac)2 2- N,N’-Dimethyl aminoethoxyethanol Fe/Pt Suhu 180 oC NaOH, aliran gas Ar Pelarut: ethylene glycol Fe(acac)3 3- , Pt(acac)2 2- N,N’-Dimethyl aminoethoxyethanol Fe/Pt Suhu 180 oC 10 nm10 nm
  • 13.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 44 material, dan ini dicapaai hanya dengan mengubah konsentrasi prekursor pada saat sintesis. Untuk FePt yang disintesis pada fase cair, koersivitas maupun kristalinitas dapat diubah dengan melakukan anealing pada suhu berbeda pada partikel yang baru disintesis. Sun dkk meramalkan bahwa magnetiksasi nanopartikel FePt hingga lebih dari sepuluh tahun. 2.4 Metode Spray Spray adalah pembangkitan droplet-droplet kecil dari medium fase cair. Contoh spray yang paling kita kenal adalah parfum, hair spray, cat pilox, obat ati nyamuk cair, paint brush, dan sebagainya. Ukuran droplet yang dihasilkan bergantung pada berbagai faktor seperti viskositas cairan, tegangan peemukaan cairan, ukuran lubang tempat droplet keluar, dan sebagainya. Cara menghasilkan droplet spray juga bermacam- macam. Salah satu yang cukup sederhana adalah mengalirkan udara berkecapatan tinggi di ujung sebuah pipa berlubang kecil di mana ujung lain pipa tersebut tercelup di dalam zat cair. Tekanan yang kecil pada ujung yang dikenai udara yang mengalir meyebabkan zat cair dalam wadah terdorong naik menuju ujung pipa yang dikenai aliran udara. Ketika sampai di ujung pita, aliran udara yang kencang mengebabkan zat cair terurai menjadi butir-butir kecil dan terbawa bersama aliran udara. Cara lain menghasilkan droplet adalah mengetarkan zar cair menggunakan gelombang ultrasonik. Cara menghasilkan spray semacam ini banyak dipakai dalam dunia kedokteran untuk memasukkan obat ke dalam tubuh pasien lewat sistem pernapasan. Larutan obat digetarkan dengan gelombang ultrasonik sehingga membentuk droplet-droplet yang beterbangan di sekitar permukaan zat cair. Pasien menghirup udara di permukaan obat melalui selang yang salah satu ujungnya terhubung ke hidung sehingga droplet yang mengandung obat tersebut masuk ke dalam sistem pernapasan. Spray Pirolisis. Akhir-akhir ini metode spray banyak digunakan untuk membuat material dalam bentuk partikel berukuran mikrometer dan submikrometer. Proses yang berlangsung adalah melakukan reaksi pirolisis pada droplet yang dihasilkan spray. Pirolisis adalah reaksi kimia pada suhu tinggi. Jika yang dispray adalah larutan prekursor yang dapat bereaksi pada suhu tinggi maka dengan metode spray kita dapat mebuat partikel dengan cepat. Proses pembentukan partikel hanya berlangsung dalam beberapa detik. Metode semacam ini sering disebut spray pirolisis. Spray pirolisis dilakukan pada sebuah reaktor yang terdiri dari pembangkit droplet yang dikenal pula dengan nama nebulizer atau atomizer, reaktor berbentuk tabung, dan penampung partikel. Skema reaktor spray pirolisis tampak pada Gbr 3.24. Tabung yang digunakan dalam reaktor harus dari bahan yang bisa tahan hingga suhu mendekati 1000 o C. Contoh bahan tersebut adalah alumina, quartz, dan bisa juga stainless steel. Droplet yang dihasilkan dialirkan masuk ke dalam tabung yang telah diset pada suhu tinggi menggunakan carrier gas (gas pembawa). Jika tidak dikehendaki adanya reaksi antara prekursor dengan gas pembawa maka pilih gas pembawa yang inert seperti nitrogen atau argon. Karena ukuran droplet yang kecil maka dengan segera pelarut menguap habis ketika baru masuk di sekitar ujung depan tabung reaktor. Yang tersisa adalah material prekursor dalam bentuk padatan yang tetap mengalir bersama carrier gas. Karena berada dalam ruang bersuhu tinggi maka terjadi reaksi pirolisis pada partikel dan sebelum meninggalkan tabung reaktor telah terbentuk partikel hasil reaksi yang diharapkan. Partikel yang dihasilkan dikumpulkan pada kolektor partikel. Gambar 21 Skema reaktor spray pirolisis Ada sejumlah keuntungan membuat partikel dengan metode spray pirolisis, seperti: (a) Ukuran partikel yang dihasilkan dapat dikontrol dengan mudah melalui pengontrolan konsentrasi larutan. Ukuran droplet yang dihasilkan atomizer hampir tidak dipengaruhi oleh konsentrasi larutan yang digunakan selama konsentrasi Ultrasonic nebulizer Aliran keluar Furnace Trap Pengontrol suhu Larutan Prekursor Droplet Droplet Memasuki reaktor Larutan menguap Patikel padatan Gas Pembawa (gas inert) Ultrasonic nebulizer Aliran keluar Furnace Trap Pengontrol suhu Larutan Prekursor Droplet Droplet Memasuki reaktor Larutan menguap Patikel padatan Gas Pembawa (gas inert)
  • 14.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 45 tersebut belum mengubah secara signifikan tegangan permukaan maupun viskositas larutan. Makin kecil konsentrasi larutan maka makin sedikit jumlah zat terlarut dalam droplet yang menyebabkan makin kecil ukuran partikel yang dihasilkan; (b) Partikel yang dihasilkan sangat bulat. Bentuk droplet yang dihasilkan spray selalu bulat, karena bentuk ini memiliki energi paling kecil. Dengan asumsi bahwa atom-atom pelarut menguap secara homogen di semua bagian permukaan droplet maka selama proses mengecilnya ukuran droplet akibat penguapan pelarut, bentuk droplet tetap bulat. Pada akhirnya, bentuk akhir partikel yang dihasilkan pun bulat; (c) Jika konsentrasi droplet tidak terlalu tinggi maka setelah terbentuknya partikel, konsentrasi partikel di dalam aliran gas juga tidak tinggi. Peluang terjadinya tumbukan yang membuat partikel menyatu sangat kecil. Akibatnya tidak terjadi aglomerasi pada partikel yang dihasilkan. Kristalitas partikel yang dihasilkan dapat dikontro dengan dua cara: (a) Mengontrol suhu reaktor. Makin tinggi suhu reaktor maka makin tinggi kristalinitas partikel yang dihasilkan; (b) Mengontrol laju aliran carrier gas. Laju aliran cariier gas menentukan berapa lama partikel berada di dalam reaktor. Makin kecil laju aliran gas maka makin lama partikel berada di dalam reaktor. Secara kasar berlaku. [Waktu dalam reaktor] ∝1/[laju aliran gas] (5) Makin lama partikel berada dalam reaktor maka makin lama proses pemanasan yang dialami partikel. Akibatnya makin baik kristalinitas partikel. Gambar 22 adalah contoh partikel Y2O3-ZrO2 yang dibuat dengan metode spray pirolisis. Ukuran rata-rata partikel sekitar ratusan mm. Gambar 22 Contoh partikel Y2O3-ZrO2 yang dibuat dengan metode spray pirolisis. Contoh lain adalah sintesis nanopartikel TiO2. Pada sintesis ini digunakan titanium-tetra-isopropoxide (TTIP) digunakan sebagai pemulai reaksi dan helium sebagai carrier gas pembawa. Laju aliran gas oksigen diatur, namun tekanan dan suhu pada tabung reaksi dijaga tetap 10 mbar dan 1000 o C. Bubuk titania yang berbentuk kristal diukur besarnya dengan menggunakan metoda Scherrer dengan menggunakan difraktometer sinar-X dari partikel yang dikumpulkan pada batang quartz yang tipis yang diletakkan pada pusat tabung reaksi secara horizontal. Pada percobaan ini sendiri, ukuran partikelnya belum diketahui berapa besarnya. Filter expansion spray pyrolisis. Ukuran partikel yang dihasilkan dengan metode spray pirolisis sangat bergantung pada ukuran droplet. Ukuran droplet yang dihasilkan dengan berbagai macam spray biasanya beberapa mikrometer hingga puluhan mikrometer. Dengan ukuran tersebut biasanya ukuran partikel yang dihasilkan minimal berorde submikrometer. Sangat sulir mensintesis partikel dengan ukuran kurang dari 100 nm dengan metode spray pirolisis. Agar kita dapat menghasilkan partikel yang lebih kecil maka ukuran partikel harus dapat direduksi lebih lanjut. Salah satu metode membuat droplet dengan ukuran lebih kecil adalah menggunakan gelas berpori yang dihubungkan dengan tekanan rendah. Metode ini disebut filter expansion spray pyrolisis. Droplet yang dihasilkan dari spray diarahkan ke filter gelas yang mengandung pori-pori yang berukuran kecil. Di permukaan atas filter gelas terbentuk lapisan tipis zat cair. Tekanan rendah di bawah menyebabakan lapisan zat cair turun melalui pori-pori gelas dan keluar di sisi bawah gelas dengan ukuran yang sangat kecil. Partikel yang baru saja keluar ditarik ke arah filter meluai sebuah tabung reaktor bersuhu tinggi yang dihubungan dengan filter penyaring partikel. Suhu reaktor diatur sehingga begitu sampai filter kolektor, droplet sudah berubah menjadi partikel akhir. 5nm D = 8.9 nm 20nm (a) 700 o C 5nm D = 8.9 nm 20nm (a) 700 o C
  • 15.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 46 Gambar 23 Contoh partikel ITO yang disintesis dengan metode filter expansion spray pyrolisis pada berbagai suhu reaktor: (a) 700 o C, (b) 900 o C, dan (c) 1100 o C. Gambar 23 adalah contoh partikel indium tin oxide (ITO) yang dibuat dengan metode filter expansion spray pyrolisis pada berbagai suhu reaktor. Nanopartikel ITO disintesis dari larutan indium chloride tetrahdrate, InCl3·4H2O dan tin chloride pentahydrate, SnCl4·5H2O, dengan total konsentrasi sekitar 0,5 mol/L. Reaktor diset pada suhu 700 - 1100 o C dan tekanan 40 Torr. Nanopartikel ITO dihasilkan dengan diameter rata-rata sekitar 9 sampai 14 nm, dan diemeter tersebut bergantung pada suhu reaktor. Semakin tinggi suhu pada proses sintesis maka ukuran nanopartikel akan semakin besar. Salt assited spray pyrolsis Metode ini adalah metode spray pirolisis biasa dengan memberikan perlakuan akhir pada partikel yang dihasilkan untuk mendapatkan partikel yang lebih kecil. Cara yang ditempuh adalah menambahkan garam dengan konsentrasi sangat tinggi ke dalam prekursor yang akan dispray. Garam yang ditambahkan adalah garam yang tidak berekasi dengan prekursor. Di dalam droplet yang dihasilkan terkandung prekursor dan garam. Saat reaksi pirolisis berlangsung garam berperan sebagai medium pemisah partikel-partikel kecil yang terbentuk sehingga tidak bersentuha membentuk partikel besar (ukuran mikrometer). Secara singkat dapat dikatakan bahwa yang keluar dari reaktor adalah partikel-partikel kecil yang terdistribusi dalam matriks garam. Setelah partikel dikumpulkan para kolektor, partikel kemudian dicuci berkali-kali dengan pembersih ultrasonik disertai sentrifugasi. Tujuannya adalah agar garam terlarut dan partikel-partikel kecil terlepas dari matriks garam. Proses pembentukan tersebut dapat diilustrasi pada Gbr 24. Gambar 25 adalah contoh partikel yang dibuat dengan metode ini. Berdasarkan foto TEM, ukuran rata-rata partikel yang dihasilkan sekitar 10 nm. Gambar 24 Skema pembentukan nanopartikel dengan metode salt assited spray pyrolsis. Bagian atas adalah metode spray pirolisis konvensional dan bagian bawah adalah metode salt asssted spray pyrolisis. 20nm5nm D = 14.0 nm 20nm5nm D = 10.3 nm(b) 900 o C (b) 1100 o C 20nm5nm D = 14.0 nm 20nm5nm D = 10.3 nm(b) 900 o C (b) 1100 o C partikel submikron nanocrystal pengeringan Droplet prekursor pencucian garam nanopartikel ` partikel submikron nanocrystal pengeringan Droplet prekursor pencucian garam nanopartikel ``
  • 16.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 47 Gambar 25 Gambar kiri adalah foto SEM partikel yang dihasilkan dari reaktor spray. Ukuran partikel lebih dari 1 mm. Gambar kanan adalah foto TEM partikel setelah partikel pada gambar kiri dicuci dan disentrifuge beberapa kali. Pembuatan Partikel Berporos dengan Spray Pyrolisis. Di samping digunakan untuk membuat partikel padatan, metode spray pirolisis juga dapat digunakan untuk membuat partikel berporos. Caranya adalah menambahkan koloid polimer ke dalam prekursor yang akan dispray. Akibatnya, droplet yang dihasilkan disamping mengandung prekursor juga mengandung partikel-partikel polimer. Tabung reaktor minimal harus dibagi atas dua daerah pemanasan. Daerah pemanasan pertama diset pada suhu yang tidak terlalu tinggi, sekedar untuk menguapkan pelarut sehingga didapatikan prekuros dalam bentuk padat yang di dalamnya terdapat partikel- partikel polimer. Daerah pemanasan kedua dimaksudkan untuk melakukan reaksi pirolisis dan mendekomposisi polimer. Setelah polimer terdekomposisi, lokasi yang semula ditempati polimer menjadi poros. Gambar 26 adalah ilustrasi proses pembentukan partikel berporos. Gambar 27 adalah contoh partikel berporos yang dihasilkan dengan metode ini. Porositas partikel yang dihasilkan (fraksi volum poros) dikontrol dengan mengatur perbandingan konsentrasi partikel polimer terhadap konsentrasi prekursor. Makin tinggi konsentrasi polimer maka makin tinggi porositas partikel yang dihasilkan. Ukuran poros dikontrol dengang menggunakan partikel polimer yang berukuran berbeda-beda. Gambar 26 Ilustrasi proses pembentukan partikel berporos Carbon Nanotube Di sini kita akan membahas salah satu metode sederhana membuat carbon nanotube, yaitu dengan metode spray pirolisis. Dengan metode spray pirolisis, carbon nanotubes dapat dibuat pada suhu relative rendah, sekitar 800 o C. Proses sintesis mencakup spray ferrocene [Fe(C5H5)2] dan benzene (C6H6) dalam reactor spray melalui sebuah tabung gelas quartz menggunakan argon sebagai gas pembawa. Ferrocene berperan sebagai katalist yang memungkinkan penyusunan molekul-molekul Partikel yang keluar dari reaktor Dicuci/sentrifuge beberapa kali Nanopartikel Partikel yang keluar dari reaktor Dicuci/sentrifuge beberapa kali Nanopartikel Exhaust Nebulizer utrasonic Furnace Heater Reaksi pada suhu tinggi Pengeringan pada suhu rendah spray Prekursor dan koloid Gas pembawa Exhaust Nebulizer utrasonic Furnace Heater Reaksi pada suhu tinggi Pengeringan pada suhu rendah spray Prekursor dan koloid Gas pembawa
  • 17.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 48 benzene menjadi CNT. Fraksi ferrocene kurang dari 5% berat. Skema reaksi pembentukan CNT diperlihatkan pada Gbr. 27. Reaktor yang digunakan sama dengan reactor spray pirolisis pada Gbr. 21. Panjang reactor (tabung gelas) sekitar 1 meter dengan diameter dalam sekitar 1 mm. Aliran gas pembawa sekitar 2 liter/menit. Gambar 27 Contoh partikel berporos (zirconia) yang dihasilkan dengan metode spray. Gambar 28 Skema reaksi pembentukan carbon nanotube. CNT terbentuk pada dinding quartz gelas. Sintesis dilakukan selama beberapa puluh menit. CNT dikeluarkan dengan mendrong menggunakan batang kecil. Untuk keperluan analisis, sample yang terbentuk didispersi dalam etnaol dan ditempatkan dalam beberapa menit di dalam ultrasonic bath (pencuci ultrasonic). Gambar 29 Contoh foto SEM CNT dalam perbesaran berbeda. Gambar 29 adalah contoh foto SEM CNT yang dibuat pada suhu reaktor 800 o C. Ukuran dameter CNT yang dibuat sekitar 20 – 100 nm dengan panjang beberapa puluh nanometer. Suhu reactor sangat mempengaruhi pembentukan CNT. Pada suhu di bawah 750 o C hamper tidan ada CNT yang terbentuk. Pada suhu 800 o C, terbentuk CNT yang cukup panjang, selanjutnya peningkatan suhu di atas 800 o C meningkatkan diameter CNT. Flame Spray Pyrolsis Proses pembakaran merupakan salah satu proses sintesis nanopartikel yang sering digunakan. Pada reaktor pembakaran ini, energi dari pembakaran digunakan untuk memicu reaksi kimia untuk memulai penciptaan grup- grup partikel yang berikutnya berkembang menjadi nanopartikel melalui proses penumbuhan dari permukaan dan juga penggumpalan serta penggabungan pada suhu + benzene Carbon nanotube Fe ferrocene + benzene Carbon nanotube Fe ferrocene 10 µm 2 µm 10 µm 2 µm
  • 18.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 49 yang t ggi. Pada umumnya, ada dua cara yang biasa diguna n untuk menghasilkan nanopartikel yaitu flame spray p ru saja terbentuk, dan (b) anopartikel Al2O3 yang dikalsinasi Gambar 30. (a) Nanopartikel Al2O3. yang baru saja dibuat, dan (b) nanopartikel Al2O3 yang dikalsinasi. a. Kondensasi dari uap air akan enghasilkan partikel berukuran nano yang akan tercipta i ruangan (chamber). Nanopartikel cerium oksida (CeO2) kan dihasilkan pada proses ini. Gambar 31 menunjukkan tode ame spray hydrolysis. Gambar 31 Partikel CeO2 yang dibuat dengan metode flame spray hydrolisis: (a) partikel yang baru dibuat dan (b) partikel yang dikalsinasi. in ka yrolysis dan flame spray hydrolysis. Flame spray pyrolysis adalah suatu proses pembakaran dengan diawali pada fasa gas. Pada sintesis nanopartikel Al2O3, bubuk alumunium klorida yang bersifat anhydrous diuapkan dan dimasukkan melalui gas inert ke dalam pembakaran oxy-ethylene. Proses pembakaran ini terjadi pada suhu 2000 o C dimana garam alumunium klorida berdekomposisi menjadi hidrogen klorida (HCl) dan alumunium oksida (Al2O3). Cara ini dapat menghasilkan ukuran partikel Al2O3 sebesar 10-30 nm dan menjadi 40-70 nm ketika dilakukan kalsinasi. Pada Gbr 30 ditunjukkan hasil TEM partikel Al2O3 yang dihasilkan dengan metode flame spray pyrolsis: (a) nanopartikel yng bas n Metode flame spray hydrolysis menggunakan cairan sebagai zat untuk memulai prosesnya. Zat cairan ini dilalui pada suntikan yang dipompa lalu ukurannya diperkecil menjadi seperti atom dengan menggunakan oksigen dan menghasilkan spray yang halus. Hasil penguapan dan pembakaran dimulai oleh cincin api yang kecil yang muncul dari pusat nosel. Proses pembakaran akan menguapkan cairannya dan reaksi pada fasa gas akan terjadi setelahny m d a hasil TEM partikel CeO2 yang dibuat dengan me fl a b a b a b a b
  • 19.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 50 Spray Drying Komposit ZnO-silica Spray drying adalah metode spray yang tidak melibatkan reaksi kimia pada prekursor. Yang terjadi adalah penguapan pelarut sehingga didapatkan partikel padatan. Jenis material yang dihasilkan sama dengan jenis material dalam prekursor tanpa terjadi perubahan kimiawi. Contoh spray drying adalah pembentukan partikel berukuran besar dengan dimulai dari kolloid. Koloid mula-mula dispray sehingga terbentuk droplet yang mengandung partikel-partikel koloid. Saat melewati reaktor, zar cair menguap dan droplet-droplet menggumpal menjadi partikel besar berukuran beberapa mikrometer atau submikrometer. Suhu pembuatan tidak terlalu tinggi karena sekedar untuk menguapkan pelarut. Gambar 32 adalah ilustrasi pembentukan partikel komposit dari koloid. Gambar 32 ilustrasi pembentukan partikel-komposit. Masalah yang muncul dengan kolid ZnO yang dibuat dengan metode sol-gel adalah pergeseran warna luminisens karena pertumbuhan ukuran partikel. Koloid baru yang memperlihatkan puncak spektrum luminisens pana panjang gelombang di bawah 500 nm memperlihatkan gejala pergeseran merah (red shift) sebagai akibat pertumbuhan ukuran partikel secara terus menerus di dalam koloid. Setelah disimpan sekitar 5 hari, puncak luminisens bergeser ke panjang gelombang sekitar 560 nm. Dalam aplikasi, transformasi ini haris dihindari. Salah satu cara menghindri pertumbuha ukuran nanopartikel ZnO yang telah disintesis dengan metode sol-gel adalah melokasilisasi nanopartikel dalam matriks host padatan. Salah satu yang munkin adalah nanopartikel SiO2. Kolloid ZnO yang dibuat dengan metode sol-gel dengan segera dicampur dengan koloid silica dengan perbandingan yang sesuai sambil dilakukan pendadukan selama sekitar 10 menit. Konsentrasi total campuran diatur dengan menambahkan etanol di dalamnya. Konsentrasi total campuran akan menentukan ukuran akhir partikel komposit yang dihasilkan. Sebanyak sekitar 100 mL campuran koloid dimasukkan ke dalam nebulizer pada peralatan spray drying. Reaktor spray diset pada suhu sekitar 450 o C. Gas nitrogen digunakan sebagai gas pembawa karena bersifat inert dengan laju aliran sekitar 2 L/menit. Partikel komposit yang dihasilkan ditangkap pada wadah penampung yang dipanaskan pada suhu 200 o C untuk menghindari kondensasi air pada sampel. Gambar 33 adalah contoh foto SEM sampel yang dibuat. Tampak partikel komposit yang berukuran submikromter sampak micrometer. Partikel tersebut mengandung nanopoatikel ZnO yang terselip antara partikel-partikel silica. Karena terkurung dalam matriks padatan maka tidak ada lagi peluang ZnO untuk saling bertemu dan membentuk agglomerasi partkel yang lebih besar. Ukuran ZnO menjadi tetap dan ada akhirnya mempertahankan sifat luminisens. Gambar 33 Komposit partikel yang mengandung nanopartikel silica dan nanopartikel ZnO. Spray Drying Partikel Silika yang Mengandung Nanoporos Metode spray drying dapat digunakan juga untuk membuat partikel berukuran beberapa micrometer yang menganung poros yang berkurang nanometer. Inti dari metode ini sangat sederhana. Kolloid silica dan colloid Spray Pengeringan Partikel koloid A Partikel koloid B Exhaust Nebulizer utrasonic Furnace Heater Gas pembawa Spray Pengeringan Partikel koloid A Partikel koloid B Exhaust Nebulizer utrasonic Furnace Heater Gas pembawa 1,5 µm1,5 µm1,5 µm
  • 20.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 51 polimer yang masing-masing berukuran nanometer dan terdispersi dalam mediam cair yang sama dicampur secara homogen. Campuran tersebut kemudian ditempatkan dalam atomizer seperti eultasonik nebulizer sehingga terbentuk droplet cairang yang mengandung dua jenis nanopartikel tersebut. Droplet yang terbentuk dibawa dengan gas pembawa ke bagian reactor yang bersuhu sekitar 200 o C untuk menguapkan cairan sehingga diperoleh partikel besar yang tersusun oleh dua macam patikel nanometer. Ukuran partikel besar dapat dikontrol dengan mudah dengan mengontrol konsentrasi nanopartikel di dalam campuran. Partikel besar yang terbentuk kemudian melewati reactor yang bersuhu cukup tinggi, yaitu di atas suhu dekomposisi polimer sehingga partikel polimer tedekomposisi. Lokasi partikel polimer menjadi kosong sehingga diperoleh partikel besar yang mengandung poros berukuran nanometer. Ukuran poros dengan mudah dapat dikontrol melalui penggunaan partikel polimer dengan diameter yang berbeda-beda. Gambar 34 adalah ilustrasi pembentukan partikel dengan poros ukuran nanometer. Gambar 34 Ilustrasi pembentukan partikel dengan poros ukuran nanometer. Gambar 35 Partikel dengan poros ukuran nanometer yang diperoleh dengan menggunakan perbandingan konsentrasi silica dan polistiren: (a) terlalu besar, (b) terlalu kecil, (c) perbandingan yang tepat. (d) gambar permukaan partikel yang dimabil dengan perbesar yang lebih besar. Gambar 35 adalah contoh partikel berporos yang dihasilkan dengan menggunakan nanopartikel silica (SiO2) dan polistriren latex. Suhu reactor untuk mendekomposisi polistiren sekitar 450 o C. Gas pembawa yang digunakan adalah nitrogen dengan laju aliran 1 L/menit. Gambar 35(a) diperoleh dengan menggunakan konsentrasi polistriren yang terlampau sedikit. Gambar Pengeringan pada suhu tinggi Pengeringan pada suhu rendah Spray Silika Polistiren Exhaust Nebulizer utrasonic Furnace Heater Gas pembawa Pengeringan pada suhu tinggi Pengeringan pada suhu rendah Spray Silika Polistiren Exhaust Nebulizer utrasonic Furnace Heater Gas pembawa a b c d a b c a b c d
  • 21.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 52 35(b) diperoleh dengan mengunakan polistriren dengan konsenrasi yang terlalu banyak. Gambar 35(c) adalah partikel yang diperoleh dengan menggunakan perbandingan konsentrasi polistiren dan silica yang tepat. Gambar 33(d) adalah gambar permukan partikel yang diambil dengan perbesaran yang tinggi. Tampak pada gmbar bahwa poros tersusun secara teratur dalam konfigurasi heksagonal. Ini menunjukan bahwa selama proses pengeringan menjadi partikel bersar terjadi self- organizasi partikel polistiren membentuk susunan heksagonal. Pirolisis Galiun Nitrida Gambar 36 Diagram alir pembentikan nanopartikel GaN. Galium nitride (GaN) dan sejumlah matrial semikonduktor dengan lebar celah energi besar sangat potensial untuk diaplikasikan sebagai piranti pemancar cahaya biru, ungu, dan ultraungu dan pada piranti elektronik berdaya tinggi. LED yang berbasis GaN memperlihatkan umur pakai (life time) yang sangat lama dan daya pancaran yang lebih tingi daripada LED yang telah dikenal sebelumnya. Kombinasi LED biru dari GaN serta YAG:Ce mempunyai peluang untuk pengembangan sumber cahaya putih dalam struktur LUCOLED (luminescence conversion LED). Salah satu cara membuah logam hidrida adalah mentransfoemasi oksida logam ke bentuk nitride di bawah airan ammonia. Reaksi kimia tranformasi tersebut adalah Ga2O3 + 2NH3 → 2GaN + 3H2O (6) Agar reaksi transformasi berlangsung cepat maka penggunaan material awal dalam bentuk nanopartikel gallium oksida sangat diperlukan. Dan hasil akhir pun akan berbentuk nanopartikel GaN. Luas permukan yang besar serta kedalaman penetrasi yang kecil memungkinkan proses nitridasi dalam waktu yang singkat. Gambar 37 Bentuk reaktor yang digunakan untuk membuat GaN. Salah satu cara mebuat gallium oksida dengan ukuran nanometer dalam waktu cepat adalah memanaskan gallium nitrat. Namun, hasil yang diperoleh adalah gallium oksida ukuran mikrometer. Untuk mendapatkan gallium oksida ukuran nanometer, ammonia ditambahkan ke dalam prekusror. Ammonia akan membantu Pencampuran pada suhu kamar Air ultramurni Prekursor Ga(NO3)•nH2O NH3(aq) Pencampuran pada suhu kamar 500 – 1000 oC, 1- 10 min di udara+NH3 Nanopartikel galium oksida Nanopartikel galium nitrida 500 – 1000 oC, 1- 10 min di udara Pencampuran pada suhu kamar Air ultramurni Prekursor Ga(NO3)•nH2O NH3(aq) Pencampuran pada suhu kamar 500 – 1000 oC, 1- 10 min di udara+NH3 Nanopartikel galium oksida Nanopartikel galium nitrida 500 – 1000 oC, 1- 10 min di udara exhaust bubbler MFC valve Ar/N2 Udara NH3 Furnace listrik Temperature controller Reaktor dari tabung quartz Sampel exhaust bubbler MFC valve Ar/N2 Udara NH3 Furnace listrik Temperature controller Reaktor dari tabung quartz Sampel
  • 22.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 53 memecahkan mikropartikel gallium oksida menjadi p ko k g su o le Gambar 38 (a) Foto SEM dan (b) TEM naopartikel GaN Contoh foto SEM partikel gallium oksida yang dibuat pada suhu 800 o C dengan perbandingan nat peneliti baik teoretis maupun ekperim Gambar 39 Skema peralatan koloidal templating . rekursor dibuat dengan mencampurkan koloid polistiren tex dengan koloid silika dengan perbandingan yang sesuai. Agar dapat berperan sebagai kristal fotonik, periode struktur harus mendekati panjang gelombang cahaya, yaitu beberapa ratus nanometer. Oleh karena itu, koloid polistiren dengan ukuran atikel beberapa ratus nanometer harus digunakan. Ukuran partikel koloid silica yang digunakan lebih baik di bawah 20 nm. Makin kecil artikel berukuran nanometer. Gallium nitrate (Ga(NO3)3·nH2O dilarutkan dalam air ultra murni dengan nsentrasi total Ga sekitar 0,5 mol/L. Ammonia dengan onsentrasi sekitar 5 mol/L ditambahkan ke dalam larutan allium nitrat sehingga dihasilkan larutan yang transparan. Prekursor tersebut kemudian ditempatkan dalam tabung reactor quartz dan dipanaskan alam aliran udara pada hu antara 800 – 1100 o C. Untuk mengkonversi gallium ksida menjadi gallium nitride, campuran ammonia dan argon dialirkan di atas sample pada suh sekitar 800 o C. Lama waktu pengaliran antra 1 hingga 8 jam. Diagral alir ngkap sintesis tampak pada Gbr 36. Dan bentuk reaktor yang digunakan digmbarkan secara skematik pada Gbr 37. konsentrasi NH3(aq)/Ga(NO)3 = 1 tampak pda Gbr 38(a). Foto TEM nanopatikel GaN yang dinitridasi pada suhu 800 o C tampak pada Gbr 38(b). Partikel GaN yang dihasilkan memperlihatkan puncak luminesens pada panjang gelombang sekitar 360 nm. 2.5 Kolloid Templating Material dengan struktur periodik tiga dimensi menarik mi entasis dalam decade terakhir. Material ini potensial digunakan untuk membuah kristal fotonik, katalis berkemapuan tinggi, pelapisan canggih dan sejumlah aplikasi lainnya. Penggunaan bola-bola silika dan polistiren latex sebagai material awal pembuatan material berporos dengan struktur tiga dimensi sangatlah menarik. Salah satu contoh dilaporkan di sini. Metode yang digunakan adalah “dip coating” koloid sambil dilakukan pemanasan (a) P la (b) (a) Substrat (glass atau wafer Si) Poros struktur 3D Proses annealing Heater Motor Precursor Kristal koloid struktur 3D Substrat (glass atau wafer Si) Poros struktur 3D Proses annealing Heater Motor Precursor Kristal koloid struktur 3D (b)
  • 23.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 54 ukuran partikel silica maka makin baik hasil yang diperoleh. Potongan silikon wafer atau kaca dicuci bersih dengan etanol dan air distilasi di dalam pencuci ultrasonic. Substrat kemudian dicelupkan ke dalam prekuros kemudian ditarik perlahan-lahan dengan laju sekitar 1 sampai 10 mm/jam. Heater dipertahan pada suhu sekitar 60 o C. Pemansan pada suhu yang tidak terlalu tinggi dimaksudkan untuk menyediakan waktu yang cukup bagi patikel polistiren untuk melakukan self-oragnisasi sehingga terbentk penysunan yang teratur. Setelah proses dip coating selesai, sample dipanaskan pada suhu 400 o C sekitar 5 menit untuk mendekomposisi partikel polistrirten. Skema peralatan yang digunakan tampak pada Gbr 39. Gambar 40 adalah foto SEM sample yang dibuat menggunakan koloid polistriren dengan ukuran patikel 178 nm dan koliod silica dengan ukuran partikel 5 nm. Gambar 40(a) dan 40(b) dilihat dari atas dengan perbesaran yang berbeda dan gambar 40(c) dan 40(d) dilihat dengan sudut kemiringan tertentu. Gambar 40(e) menunjukan bahwa film yang dibuat memiliki keteraturan pada daerah yang sangat luas. Gambar 40(f) adalah patahan film yang menunjukkan bahwa keteraturan tidak hanya terjadi di permukaan film tetapi juga di alam film. a b 2 µm 300 nm a b 2 µm 300 nm c d e 2 µm 500 nm 300 nm
  • 24.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 55 Gambar 40 Foto SEM film yang mengandung poros yang tersusun secara terorganisasi yang dibuat menggunakan koloid polistriren dengan ukuran patikel 178 nm dan koliod silica dengan ukuran partikel 5 nm, (a) – (b) dilihat dari atas dengan perbesaran berbeda, (d) – (e) dilihat dari samping dengan perbesaran berbeda, (e) tampak atas dengan perbesaran kecil, dan (f) tempat patahan film. 2.6 Nanosphere Lithography Nanosphere lithography (NSL) yang diawali dengan deposisi material pada masker kristal koloid yang terorganisasi (self-organized) telah menarik banyak perhatian peneliti untuk array nanopartikel pada permukaan datar. NSL adalah cara fabrikasi yang ideal untuk menghailkan penyusunan yang teratur dan mendekati homogen nanopartikel di mana ukuran, bentuk, maupun periodisitas dapat dikonrrol dengan mudah. Ukuran dot dapat ditempuh dengan mengontrol lawa aktu deposisi, jarak antar dot diatur dengan menggunakan partikel koloid yang berbeda ukuran, dan jenis material yang dibuat dikontrol dengan mengantur jenis material sumber. Metode ini juga sangat bersih karena berlangsung dalam lingkungan vakum atau mndekati vakum. Salah satu metode NSL yang sekaligus dapat menghasikan tiga macam struktur yaitu caking yang tersusun secara teratur, partikel yang tersusun secara teratur, atau poros yang tersesun secara teratur akan dibhas di sini. Bentuk akhir dari struktur yang dibuat bergantung pada post treatment yang dilakukan. Metode ini memanfatkan templating koloid dan sputtering lama (over sputtering). Beberapa microliter koloid polistiren encer diteretkan di atas permukaan waver silicon. Mula-mula waver dicuci dengn etanol dan air distilasi di dalam pencuci ultrasonic beberapa puluh menit untuk menghilangkan ktotra yang melengket di permukaan. Tetesan koloid dikeringkan pasa suhu sekitar 40 o C hingga seluruh cairan mnguap yang diikuti pengeringan pada suhu sekitar 100 o C selama kurang lebih 10 menit untuk mengikat partikel-patle secara kuat. Pengeringan pertama pada suhu rendah dilakukan untuk mmberikan waktu yang ckup bagi partikel koloid melakukan self- organisasi sehingga membetuk penyusunan yang teratur. Setelah itu ampel ditempatkan dalam ion sputter dan dideposisi selama beberapa menit untuk memberuk lpisan logam yang cukup para permukaan partikel. Jenis target pada sputter menentukan jenis material yang akan dibuat. Kemudian sample dipanaskan pada suhu di atas suhu dekomposisi polistriren. Mekanisme sintesis tampak pada Gbr 41. Pemasanan pada suhu di atas suhu dekoposisi polistriren tetapi di bawah titik leleh logam pelapis menghasilkan cakang yang tersusun secara teratur. Pemanasan di atas titik leleh logam menghasilkan nanopartkel yang tersusun secara teratur. Contoh foto SEM sampel yang dibuat tampak pada Gbr 42. f 2 µm f 2 µm Cangkang yang terorganisasi (a) Pemanasan suhu menengah Pengeringan Sputtering Droplet koloid Wafer Si Bola polistiren Cangkang yang terorganisasi (a) Pemanasan suhu menengah Cangkang yang terorganisasi (a) Pemanasan suhu menengah Pengeringan Sputtering Droplet koloid Wafer Si Bola polistiren Pengeringan Sputtering Droplet koloid Wafer Si Bola polistiren
  • 25.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 56 Gambar 41 Proses pembuatan cangkang dan partikel logam yang teroganisasi. Gambar 42 (a) cangkang dan (b) partikel logam yang teroganisasi yang dibuat dengan metode koloidal templating dan over sputtering. Referensi [1] W. Budiawan, A. S. Vioktalamo, M. Abdullah, dan Khairurrijal, J. Sains Materi Indonesia (Edisi Khusus), 180 (2006). [2] W. Budiawan, A. S. Vioktalamo, M. Abdullah, dan Khairurrijal, Pertemuan Ilmiah Iptek Bahan 2006 (Serpong, 18-19 Juli 2006). [3] W. Budiawan, M. Abdullah, and Khairurrijal, Proc. Int. Conf. Mathematics and Natural Sciences (Bandung 29-30 November 2006) pp. 1069-1072. [4] L. Gradon, S. Janeczko, M. Abdullah, F. Iskandar, and K. Okuyama, AIChE J. 50, 2583 (2004). [5] F. Iskandar, M. Abdullah, H. Yoden, and K. Okuyama, J. Appl. Phys. 93, 9237 (2003). [6] F. Iskandar, M. Abdullah, H. Yoden, and K. Okuyama, Virt. J. Nanoscale Sci. & Technol. 7, no. 22, June 2 (2003). [7] F. Iskandar, M. Abdullah, H. Yoden, and K. Okuyama, J.Sol-Gel Sci. Technol. 29, 41 (2004). [8] F. Iskandar, M. Abdullah, and K. Okuyama, in Encyclopedia of Nanoscience and Nanotechnology (HS.Nalwa, Ed.); American Scientific Publishers, vol.8, 259 (2004). [9] F. Iskandar, Mikrajuddin, and K. Okuyama, Nano Lett. 1, 231 (2001). [10]F. Iskandar, Mikrajuddin, and K. Okuyama, Nano Lett. 2, 389 (2002). [11]Y. Itoh, M. Abdullah, and K. Okuyama, J. Mater. Res. 19, 1077 (2004). [12]Y. Itoh, T. Ogi, M. Abdullah, F. Iskandar, K. Okuyama, and Y. Azuma, J. Cryst. Growth 281, 234 (2005). [13]T. Iwaki, Y. Kakihara, T. Toda, M. Abdullah, and K. Okuyama, J. Appl. Phys. 94, 6807 (2003). [14]M. Abdullah and Khairurrijal, Proc. 3rd Kentingan Physics Forum (Solo, 24 September 2005), pp. 69-70. [15]M. Abdullah and K. Okuyama, Proc. ITB Eng. Sci. 35B, 81 (2003). [16]M. Abdullah and K. Okuyama, Proc. ITB Eng. Sci. 36B,140 (2004). [17]M. Abdullah dan F. Iskandar, Pros. Seminar MIPA IV-ITB 2004, Bandung, Indonesia, 6-7 Oktober 2004, pp. 243-247. [18]M. Abdullah, C. Panatarani, T.-O. Kim and K. Okuyama, J. Alloys Comp. 377, 298 (2004). [19]M. Abdullah, F. Iskandar, S. Shibamoto, T. Ogi and K. Okuyama, Acta Materialia 52, 5151 (2004). [20]M. Abdullah, F. Iskandar, and K. Okuyama, Proc. ITB Eng. Sci. 36B, 125 (2004). [21]M. Abdullah, I. W. Lenggoro, B. Xia, and K. Okuyama, J. Ceram. Soc. Jpn. 113, 97 (2005). [22]M. Abdullah, I. W. Lenggoro, F. G. Shi, and K. Okuyama, Proceeding 47th Meeting of Japan Academic of Science, Kyoto University, Japan, 29 - 30 October 2003, pp. 199-200). [23]M. Abdullah, I. W. Lenggoro, K. Okuyama, and F. G. Shi, J. Phys. Chem. B 107, 1957 (2003). [24]M. Abdullah, I. W. Lenggoro, K. Okuyama, and S. Taya, J. Non-Crystalline Sol. 351, 697 (2005). [25]M. Abdullah, I. W. Lenggoro, and K. Okuyama, in Encyclopedia of Nanoscience and Nanotechnology (HS.Nalwa, Ed.); American Scientific Publishers, (b) Pemansan suhu tinggi Partikel yang terorganisasi Cangkang mrlrlah dan jatuh (b) Pemansan suhu tinggi Partikel yang terorganisasi Cangkang mrlrlah dan jatuh 300 nm a b 2 µm 300 nm a b 2 µm
  • 26.
    J. Nano Saintek.Vol. 1 No. 2, Jul 2008 57 vol.8, 731 (2004). [26]M. Abdullah, ITSF Seminar on Science and Technology Jakarta, February 7, 2007 [27]M. Abdullah, Khairurrijal, A. Waris, W. Sutrisno, I. Nurhasanah, and A. S. Vioktalamo, Powder Technol. 183, 297 (2008). [28]M. Abdullah, Khairurrijal, F. Iskandar and K. Okuyama, in Nanocrystalline Materials: Their Synthesis-Structure-Property Relationships and Applications (S.C. Tjong Ed.), Elsevier, 275 (2006). [29]M. Abdullah, Media Fisika 2, 39 (2003). [30]M. Abdullah, Prosiding Simposium Mahasiswa Fisika Nasional ITS-Surabaya (2005). [31]M. Abdullah, REAKTOR 7, 47 (2003). [32]M. Abdullah, S. Shibamoto, and K. Okuyama, Opt. Mater. 26, 95 (2004). [33]M. Abdullah, T. Morimoto, and K. Okuyama, Adv. Func. Mater. 13, 800 (2003). [34]Mikrajuddin, F. Iskandar, K. Okuyama, and F.G. Shi, J. Appl. Phys. 89, 6431 (2001). [35]Mikrajuddin, F. Iskandar, and K. Okuyama, Adv. Mater. 14, 930 (2002). [36]Mikrajuddin, F. Iskandar, and K. Okuyama, Int. Symp. Nanoparticles: Aerosols and Materials, Pusan, Korea, July 5-6 (2001). [37]Mikrajuddin, F.G. Shi, and K. Okuyama, J. Electrochem. Soc. 147, 3157 (2000). [38]Mikrajuddin, Ferry Iskandar, and Khairuddin, INTEGRAL 8, 19 (2003). [39]Mikrajuddin, Ferry Iskandar, and Kikou Okuyama, 2nd Kentingan Physics Forum, UNS, Surakarta, July 28 (2003). [40]Mikrajuddin, I. W. Lenggoro, K. Okuyama, and F.G. Shi, J. Electrochem. Soc. 149, H107 (2002). [41]Mikrajuddin, J. Matematika & Sains 8, 1 (2003). [42]Mikrajuddin, Proc. ITB Sains & Teknologi 35A, 71 (2003). [43]L. Marlina, M. Abdullah, Khairurrijal, W. Budiawan, and I. Sriyanti, 2007 Conference on Solid State Ionics (Serpong, 1-3 August 2007). [44]L. Marlina, M. Abdullah, dan Khairurrijal, The 3rd National Seminar on Chemistry and Chemical Education, Bandung April 11, 2007 [45]I. Nurhasanah, Khairurrijal, M. Abdullah, M. Budiman, and Sukirno, Int. Conf. Mathematics and Natural Sciences (Bandung 29-30 November 2006) pp. 988-990 [46]I. Nurhasanah, Khairurrijal, M. Abdullah, M. Budiman, and Sukirno, 2007 Conference on Solid State Ionics (Serpong, 1-3 August 2007). [47]I. Nurhasanah, M. Abdullah, and Khairurrijal, Int. Conf. Neutron and X-Ray Scattering (Bandung, 29- 31 July 2007). [48]K. Okuyama, I. W. Lenggoro, and M. Abdullah, 2004 International Conference for Particle Technology (Partech2004), Nuremberg, Germany, March 17 (2004). [49]K. Okuyama, I. W. Lenggoro, and M. Abdullah, 2nd Asian Particle Technology Symposium, Penang, Malaysia, December 17-19 (2003). [50]Okuyama, K., M. Abdullah, F. Iskandar, and I. W. Lenggoro, Adv. Powder Technol. 17, 587 (2006) [51]I. Sriyanti, M. Abdullah, Khairurrijal, and L. Marlina, 2007 Conference on Solid State Ionics (Serpong, 1-3 August 2007). [52]I. Sriyanti, M. Abdullah, dan Khairurrijal, 3rd National Seminar on Chemistry and Chemical Education, Bandung April 11, 2007 [53]A.S. Vioktalamo, M. Abdullah, W. Budiawan, and Khairurrijal, 1st Int.l Conf. Advanced Materials and Practical Nanotechnology Serpong-Banten (2006). [54]A.S. Vioktalamo, M. Abdullah, dan S.Z. Bisri, Pros. Seminar Nasional Kimia Fisik dan Anorganik (2006). [55]M. Abdullah, Khairurrijal, A. R. Marully, Liherlinah, dan M. Sanny, J. Nano Saintek. 1, 1 (2008). [56]M. Abdullah dan Khairurrijal, J. Nano Saintek. 1, 12 (2008). [57]Liherlinah, M. Sanny, A. R. Marully, M. Abdullah dan Khairurrijal, J. Nano Saintek. 1, 23 (2008). [58]M. Abdullah, Khairurrijal, I. Nurhasanah, I. Sriyanti, dan A. R. Marully, J. Nano Saintek. In press View publication statsView publication stats