TITRASI PENGENDAPANTITRASI PENGENDAPAN
ARGENTOMETRIARGENTOMETRI
 Dasar : Reaksi pengendapan dari senyawaDasar : Reaksi pengendapan dari senyawa
ioniionik.k.
 Jika titrant yang digunakan adalah larutan PerakJika titrant yang digunakan adalah larutan Perak
Nitrat (AgNONitrat (AgNO33) maka disebut dengan) maka disebut dengan
Argentometri.Argentometri.
 Kurva Titrasi analogKurva Titrasi analog kurva titrasikurva titrasi reaksi asamreaksi asam
basa.basa. PPerbedaannyaerbedaannya hasil kelarutan endapanhasil kelarutan endapan
disubstitusikan ke dalam harga Ksp nya.disubstitusikan ke dalam harga Ksp nya.
Volume titrant vs pX ( X= anion atau kation)Volume titrant vs pX ( X= anion atau kation)
 Pada bagian ini akan dibahas hanya untukPada bagian ini akan dibahas hanya untuk
ArgentometriArgentometri
 Ada 4 daerah perhitungan pX untuk titrasiAda 4 daerah perhitungan pX untuk titrasi
pengendapan yaitu:pengendapan yaitu:
1.1. pX mula mula : ditentukan dari konsentrasipX mula mula : ditentukan dari konsentrasi
analat.analat.
2.2. pX sebelum Titik Ekivalent : ditentukan daripX sebelum Titik Ekivalent : ditentukan dari
setelah penambahan titrant tetapi belumsetelah penambahan titrant tetapi belum
mencapai ekivalen dgn analat.mencapai ekivalen dgn analat.
3.3. pX Titik Ekivalent : ditentukan saat titikpX Titik Ekivalent : ditentukan saat titik
ekivalent tercapai.ekivalent tercapai.
4.4. pX setelah Titik Ekivalent : ditentukan setelahpX setelah Titik Ekivalent : ditentukan setelah
kelebihan titrant setelah mencapai titikkelebihan titrant setelah mencapai titik
ekivalent.ekivalent.
 Contoh :Contoh :
HHitung pAg dari larutan pada titrasi 50 mitung pAg dari larutan pada titrasi 50 mLL NaCl 0,1 MNaCl 0,1 M
dengan AgNOdengan AgNO33 0,1 M setelah penambahan volume :0,1 M setelah penambahan volume :
0 m0 mLL; b. 20 m; b. 20 mLL; c.; c. 50 m50 mLL; d.60 m; d.60 mLL
(Ksp AgCl = 1,83 x 10(Ksp AgCl = 1,83 x 10-10-10
))..
a.a. Belum ada penambahan titrant AgNOBelum ada penambahan titrant AgNO33
--
, sehingga [Ag, sehingga [Ag++
]=0]=0
dandan pAg tidak dapat ditentukanpAg tidak dapat ditentukan..
b.b. Setelah penambahan 20 mSetelah penambahan 20 mLL AgNOAgNO33 0,1M0,1M
NaCl + AgNONaCl + AgNO33 ↔ AgCl↓ + NaNO↔ AgCl↓ + NaNO33
 Mula mula 5 mmol 2 mmol 0 mmol 0 mmolMula mula 5 mmol 2 mmol 0 mmol 0 mmol
 Reaksi 2 mmol 2 mmol 2 mmol 2 mmolReaksi 2 mmol 2 mmol 2 mmol 2 mmol
 SisaSisa 3 mmol3 mmol 0 mmol0 mmol 2 mmol2 mmol 2 mmol2 mmol
Reaksi yg terjadi : NaCl + AgNO3 ↔ AgCl↓ + NaNO3
AgCl↓ ↔ Ag+
+ Cl-
 Belum mencapai TE,Belum mencapai TE,
[Cl- ][Cl- ]sisasisa = 3 mmol /(50+20)m= 3 mmol /(50+20)mLL = 0,043 M= 0,043 M
 Adanya ClAdanya Cl--
dari NaCl pada pengendapan AgCldari NaCl pada pengendapan AgCl
(pengaruh ion senama)(pengaruh ion senama)
 Ksp AgCl↓ = [Ag+][Cl-]Ksp AgCl↓ = [Ag+][Cl-]
[Ag+] = Ksp / [Cl-][Ag+] = Ksp / [Cl-]
[Ag+] = 1,82x10[Ag+] = 1,82x10-10-10
/ [0,043] = 4,23x10/ [0,043] = 4,23x10-9-9
pAgpAg = -log [4,23x10= -log [4,23x10-9-9
] =] = 8,378,37
c.c. Setelah penambahan 50Setelah penambahan 50 mmLL AgNOAgNO33 0,1M0,1M..
NaCl + AgNONaCl + AgNO33 ↔ AgCl↓ + NaNO↔ AgCl↓ + NaNO33
 Mula mula 5 mmol 5 mmol 0 mmol 0 mmolMula mula 5 mmol 5 mmol 0 mmol 0 mmol
 Reaksi 5 mmol 5 mmol 5 mmol 5 mmolReaksi 5 mmol 5 mmol 5 mmol 5 mmol
 Sisa 0 mmol 0 mmolSisa 0 mmol 0 mmol 5 mmol5 mmol 5 mmol5 mmol
 Titik ekivalen tercapai , [Ag+] = [Cl-]Titik ekivalen tercapai , [Ag+] = [Cl-]
Harga [Ag+] dihitung dari Ksp nya.Harga [Ag+] dihitung dari Ksp nya.
Ksp AgCl↓ = [Ag+][Cl-]Ksp AgCl↓ = [Ag+][Cl-]
[Ag+] =√ Ksp[Ag+] =√ Ksp
[Ag+] = √1,82x10[Ag+] = √1,82x10-10-10
== 1,35 x 101,35 x 10-5-5
pAgpAg = -log [1,35x10= -log [1,35x10-5-5
] =] = 4,874,87
dd.. Setelah penambahan 60 mL AgNOSetelah penambahan 60 mL AgNO3.3.
NaCl + AgNONaCl + AgNO33 ↔ AgCl↓ + NaNO↔ AgCl↓ + NaNO33
 Mula mula 5 mmol 6 mmol 0 mmol 0 mmolMula mula 5 mmol 6 mmol 0 mmol 0 mmol
 Reaksi 5 mmol 5 mmol 5 mmol 5 mmolReaksi 5 mmol 5 mmol 5 mmol 5 mmol
 SisaSisa 00 mmol 1 mmol 5 mmolmmol 1 mmol 5 mmol 5 mmol5 mmol
Melewati TE,Melewati TE,
[Ag+ ][Ag+ ]sisasisa =1 mmol /(50+60)m=1 mmol /(50+60)mLL= 9,091x10= 9,091x10-3-3
MM
pAg =-log[9,091x10-3-3
]= 2,04
 Faktor yang mempengaruhi titik ekivalen:Faktor yang mempengaruhi titik ekivalen:
1.1. Konsentrasi analat dan titrant :Konsentrasi analat dan titrant :
Makin besar konsentrasinya maka makin besar daerahMakin besar konsentrasinya maka makin besar daerah
perubahan pAg (pX) sekitar TE, sehingga makinperubahan pAg (pX) sekitar TE, sehingga makin
mudah menentukan TE.mudah menentukan TE.
2.2. Harga Ksp:Harga Ksp:
Makin kecil harga ksp, maka makin cepat terbentukMakin kecil harga ksp, maka makin cepat terbentuk
endapan, sehingga makin sempurna reaksiendapan, sehingga makin sempurna reaksi
pengendapan dan daerah perubahan pAg sekitar TEpengendapan dan daerah perubahan pAg sekitar TE
makin besar, jadi makin mudah menentukan TE.makin besar, jadi makin mudah menentukan TE.
Pengaruh konsentrasi titrant pada kurva titrasi:
A. 50 mL NaCl 0,05 M dengan AgNO3 0,1 M.
B. 50 mL NaCl 0,005 M dengan AgNO3 0,1 M
Pengaruh kesempurnaan
reaksi pada kurva titrasi.
Untuk setiap kurva, 50 mL
larutan anion 0,05 M yang
dititrasi dengan 0,1M
AgNO3
 Ada tiga bentuk titik akhir yang digunakan untuk titrasiAda tiga bentuk titik akhir yang digunakan untuk titrasi
dengan Perak nitrat (AgNOdengan Perak nitrat (AgNO33) yaitu :) yaitu :
1.1. Indikator KimiaIndikator Kimia
2.2. PotensiometriPotensiometri
3.3. AmperometriAmperometri
Titik akhir yang dihasilkan dengan indikator kimiaTitik akhir yang dihasilkan dengan indikator kimia
biasanya terjadi perubahan warna atau munculnya /biasanya terjadi perubahan warna atau munculnya /
hilangnya turbiditas ( kekeruhan) dari larutan yanghilangnya turbiditas ( kekeruhan) dari larutan yang
dititrasi.dititrasi.
 Ada 3 jenis metode pada titrasi Argentometri yang
berdasarkan indikator kimia yang digunakan.
1. Metode Mohr
2. Metode Volhard
3. Metode Fajans
1. Metode Mohr
Indikator : Ion Kromat (K2CrO4)
Titrant : AgNO3
Tujuan : Menentukan garam garam Halida (secara
langsung).
 Reaksi : Ag+
berlebih + Cl-
↔ AgCl↓ (putih) + Ag+
sisa
 Ag+
sisa + CrO4
=
↔ Ag2CrO4 ↓(merahbata)
 Pengaruh pH :
pH > : terbentuk endapan AgOH
2Ag+
+ 2OH-
↔ 2AgOH↓ ↔ Ag2O↓ + H2O
pH < : CrO4
=
↔ Cr2O7
=
2H+
+ CrO4
=
↔ Cr2O7
=
+ H2O
Dapat mengurangi konsentrasi indikator sehingga sulit timbul
endapan .
Selama titrasi, larutan harus di aduk supaya tidak terjadi
kelebihan titrant lokal, akibatnya akan terjadi pengendapan
indikator sebelum TE.
2. Metode Volhard
 Indikator : Ion Besi III
 Titrant : SCN-
(titrasi langsung)
AgNO3 (titrasi tidak langsung)
 Tujuan : Menentukan ion Ag+
(secara langsung
Menentukan anion (titrasi tidak langsung)
 Reaksi yang terjadi pada titrasi langsung :
Ag+
(analat) + SCN-
berlebih ↔ AgSCN↓ (putih) + SCN-
sisa
SCN-
sisa +Fe 3+
↔ Fe(SCN)2+
(merah)
 Reaksi yang terjadi pada titrasi tidak langsung :
Ag+
(berlebih) + X-
↔ AgX↓ + Ag+
sisa
Ag+
sisa + SCN-
berlebih ↔ AgSCN↓ (putih) + SCN-
sisa
SCN-
sisa +Fe3+
↔ Fe(SCN)2+
(merah)
 Konsentrasi Fe3+
minimum 6,4x10-6
M atau bisa digunakan
konsentrasi 0,01 M.
 Untuk menghindari kesalahan pada metode Volhard, maka
dapat dilakukan langkah sbb:
1. Dihindari penentuan anion X yang kelarutannya besar.
2. Bila kelarutannya besar maka dilakukan isolasi AgX agar
tidak bereaksi dengan ion SCN dengan cara :
a) Endapan AgX disaring, dicuci, filtrat nya dititrasi.
b) Setelah terjadi pengendapan AgX, lalu campuran
ditambah Nitrobenzena sehingga endapan
terbungkus / terisolasi.
c) Bila endapan AgX dapat larut dalam asam kuat
yang encer, maka endapan disaring, lalu
dilarukan dalam asam terus dititrasi.
3. Metode Fajans
 Indikator : indikator adsorpsi ( Fluoresen)
 Titrant : AgNO3
 Tujuan : Menentukan anion
 Reaksi yang terjadi:
Sebelum TE : endapan terdapat dalam lingkungan yang masih ada
kelebihan ion X-
 endapan menyerap X-
. Butiran endapan / koloid
bermuatan negatif, akibatnya ion Fl-
(dari indikator) tidak diserap
Saat TE : Tidak ada kelebihan X-
maupun Ag+
 endapan / koloid
bersifat netral. Ion Fl-
dari indikator tidak diserap.
Sesudah TE : Kelebihan Ag+
, sehingga diserap endapan / koloid
dan bermuatan positif. Ion Fl-
dari indikator akan diserap . Terbentuk
endapan warna merah muda.
 Indikator fluoresen berwarna kuning dan endapan
yang terbentuk kolod. Untuk memudahkan melihat TA
maka :
Endapan putih  merah muda & menggumpal
Endapan keruh  jernih
Endapan kuning hijau  tidak berwarna.

Titrasi Pengendapan

  • 1.
  • 2.
     Dasar :Reaksi pengendapan dari senyawaDasar : Reaksi pengendapan dari senyawa ioniionik.k.  Jika titrant yang digunakan adalah larutan PerakJika titrant yang digunakan adalah larutan Perak Nitrat (AgNONitrat (AgNO33) maka disebut dengan) maka disebut dengan Argentometri.Argentometri.  Kurva Titrasi analogKurva Titrasi analog kurva titrasikurva titrasi reaksi asamreaksi asam basa.basa. PPerbedaannyaerbedaannya hasil kelarutan endapanhasil kelarutan endapan disubstitusikan ke dalam harga Ksp nya.disubstitusikan ke dalam harga Ksp nya. Volume titrant vs pX ( X= anion atau kation)Volume titrant vs pX ( X= anion atau kation)  Pada bagian ini akan dibahas hanya untukPada bagian ini akan dibahas hanya untuk ArgentometriArgentometri
  • 3.
     Ada 4daerah perhitungan pX untuk titrasiAda 4 daerah perhitungan pX untuk titrasi pengendapan yaitu:pengendapan yaitu: 1.1. pX mula mula : ditentukan dari konsentrasipX mula mula : ditentukan dari konsentrasi analat.analat. 2.2. pX sebelum Titik Ekivalent : ditentukan daripX sebelum Titik Ekivalent : ditentukan dari setelah penambahan titrant tetapi belumsetelah penambahan titrant tetapi belum mencapai ekivalen dgn analat.mencapai ekivalen dgn analat. 3.3. pX Titik Ekivalent : ditentukan saat titikpX Titik Ekivalent : ditentukan saat titik ekivalent tercapai.ekivalent tercapai. 4.4. pX setelah Titik Ekivalent : ditentukan setelahpX setelah Titik Ekivalent : ditentukan setelah kelebihan titrant setelah mencapai titikkelebihan titrant setelah mencapai titik ekivalent.ekivalent.
  • 4.
     Contoh :Contoh: HHitung pAg dari larutan pada titrasi 50 mitung pAg dari larutan pada titrasi 50 mLL NaCl 0,1 MNaCl 0,1 M dengan AgNOdengan AgNO33 0,1 M setelah penambahan volume :0,1 M setelah penambahan volume : 0 m0 mLL; b. 20 m; b. 20 mLL; c.; c. 50 m50 mLL; d.60 m; d.60 mLL (Ksp AgCl = 1,83 x 10(Ksp AgCl = 1,83 x 10-10-10 )).. a.a. Belum ada penambahan titrant AgNOBelum ada penambahan titrant AgNO33 -- , sehingga [Ag, sehingga [Ag++ ]=0]=0 dandan pAg tidak dapat ditentukanpAg tidak dapat ditentukan.. b.b. Setelah penambahan 20 mSetelah penambahan 20 mLL AgNOAgNO33 0,1M0,1M NaCl + AgNONaCl + AgNO33 ↔ AgCl↓ + NaNO↔ AgCl↓ + NaNO33  Mula mula 5 mmol 2 mmol 0 mmol 0 mmolMula mula 5 mmol 2 mmol 0 mmol 0 mmol  Reaksi 2 mmol 2 mmol 2 mmol 2 mmolReaksi 2 mmol 2 mmol 2 mmol 2 mmol  SisaSisa 3 mmol3 mmol 0 mmol0 mmol 2 mmol2 mmol 2 mmol2 mmol Reaksi yg terjadi : NaCl + AgNO3 ↔ AgCl↓ + NaNO3 AgCl↓ ↔ Ag+ + Cl-
  • 5.
     Belum mencapaiTE,Belum mencapai TE, [Cl- ][Cl- ]sisasisa = 3 mmol /(50+20)m= 3 mmol /(50+20)mLL = 0,043 M= 0,043 M  Adanya ClAdanya Cl-- dari NaCl pada pengendapan AgCldari NaCl pada pengendapan AgCl (pengaruh ion senama)(pengaruh ion senama)  Ksp AgCl↓ = [Ag+][Cl-]Ksp AgCl↓ = [Ag+][Cl-] [Ag+] = Ksp / [Cl-][Ag+] = Ksp / [Cl-] [Ag+] = 1,82x10[Ag+] = 1,82x10-10-10 / [0,043] = 4,23x10/ [0,043] = 4,23x10-9-9 pAgpAg = -log [4,23x10= -log [4,23x10-9-9 ] =] = 8,378,37 c.c. Setelah penambahan 50Setelah penambahan 50 mmLL AgNOAgNO33 0,1M0,1M.. NaCl + AgNONaCl + AgNO33 ↔ AgCl↓ + NaNO↔ AgCl↓ + NaNO33  Mula mula 5 mmol 5 mmol 0 mmol 0 mmolMula mula 5 mmol 5 mmol 0 mmol 0 mmol  Reaksi 5 mmol 5 mmol 5 mmol 5 mmolReaksi 5 mmol 5 mmol 5 mmol 5 mmol  Sisa 0 mmol 0 mmolSisa 0 mmol 0 mmol 5 mmol5 mmol 5 mmol5 mmol
  • 6.
     Titik ekivalentercapai , [Ag+] = [Cl-]Titik ekivalen tercapai , [Ag+] = [Cl-] Harga [Ag+] dihitung dari Ksp nya.Harga [Ag+] dihitung dari Ksp nya. Ksp AgCl↓ = [Ag+][Cl-]Ksp AgCl↓ = [Ag+][Cl-] [Ag+] =√ Ksp[Ag+] =√ Ksp [Ag+] = √1,82x10[Ag+] = √1,82x10-10-10 == 1,35 x 101,35 x 10-5-5 pAgpAg = -log [1,35x10= -log [1,35x10-5-5 ] =] = 4,874,87 dd.. Setelah penambahan 60 mL AgNOSetelah penambahan 60 mL AgNO3.3. NaCl + AgNONaCl + AgNO33 ↔ AgCl↓ + NaNO↔ AgCl↓ + NaNO33  Mula mula 5 mmol 6 mmol 0 mmol 0 mmolMula mula 5 mmol 6 mmol 0 mmol 0 mmol  Reaksi 5 mmol 5 mmol 5 mmol 5 mmolReaksi 5 mmol 5 mmol 5 mmol 5 mmol  SisaSisa 00 mmol 1 mmol 5 mmolmmol 1 mmol 5 mmol 5 mmol5 mmol Melewati TE,Melewati TE, [Ag+ ][Ag+ ]sisasisa =1 mmol /(50+60)m=1 mmol /(50+60)mLL= 9,091x10= 9,091x10-3-3 MM pAg =-log[9,091x10-3-3 ]= 2,04
  • 7.
     Faktor yangmempengaruhi titik ekivalen:Faktor yang mempengaruhi titik ekivalen: 1.1. Konsentrasi analat dan titrant :Konsentrasi analat dan titrant : Makin besar konsentrasinya maka makin besar daerahMakin besar konsentrasinya maka makin besar daerah perubahan pAg (pX) sekitar TE, sehingga makinperubahan pAg (pX) sekitar TE, sehingga makin mudah menentukan TE.mudah menentukan TE. 2.2. Harga Ksp:Harga Ksp: Makin kecil harga ksp, maka makin cepat terbentukMakin kecil harga ksp, maka makin cepat terbentuk endapan, sehingga makin sempurna reaksiendapan, sehingga makin sempurna reaksi pengendapan dan daerah perubahan pAg sekitar TEpengendapan dan daerah perubahan pAg sekitar TE makin besar, jadi makin mudah menentukan TE.makin besar, jadi makin mudah menentukan TE.
  • 8.
    Pengaruh konsentrasi titrantpada kurva titrasi: A. 50 mL NaCl 0,05 M dengan AgNO3 0,1 M. B. 50 mL NaCl 0,005 M dengan AgNO3 0,1 M
  • 9.
    Pengaruh kesempurnaan reaksi padakurva titrasi. Untuk setiap kurva, 50 mL larutan anion 0,05 M yang dititrasi dengan 0,1M AgNO3
  • 10.
     Ada tigabentuk titik akhir yang digunakan untuk titrasiAda tiga bentuk titik akhir yang digunakan untuk titrasi dengan Perak nitrat (AgNOdengan Perak nitrat (AgNO33) yaitu :) yaitu : 1.1. Indikator KimiaIndikator Kimia 2.2. PotensiometriPotensiometri 3.3. AmperometriAmperometri Titik akhir yang dihasilkan dengan indikator kimiaTitik akhir yang dihasilkan dengan indikator kimia biasanya terjadi perubahan warna atau munculnya /biasanya terjadi perubahan warna atau munculnya / hilangnya turbiditas ( kekeruhan) dari larutan yanghilangnya turbiditas ( kekeruhan) dari larutan yang dititrasi.dititrasi.
  • 11.
     Ada 3jenis metode pada titrasi Argentometri yang berdasarkan indikator kimia yang digunakan. 1. Metode Mohr 2. Metode Volhard 3. Metode Fajans 1. Metode Mohr Indikator : Ion Kromat (K2CrO4) Titrant : AgNO3 Tujuan : Menentukan garam garam Halida (secara langsung).  Reaksi : Ag+ berlebih + Cl- ↔ AgCl↓ (putih) + Ag+ sisa  Ag+ sisa + CrO4 = ↔ Ag2CrO4 ↓(merahbata)
  • 12.
     Pengaruh pH: pH > : terbentuk endapan AgOH 2Ag+ + 2OH- ↔ 2AgOH↓ ↔ Ag2O↓ + H2O pH < : CrO4 = ↔ Cr2O7 = 2H+ + CrO4 = ↔ Cr2O7 = + H2O Dapat mengurangi konsentrasi indikator sehingga sulit timbul endapan . Selama titrasi, larutan harus di aduk supaya tidak terjadi kelebihan titrant lokal, akibatnya akan terjadi pengendapan indikator sebelum TE.
  • 13.
    2. Metode Volhard Indikator : Ion Besi III  Titrant : SCN- (titrasi langsung) AgNO3 (titrasi tidak langsung)  Tujuan : Menentukan ion Ag+ (secara langsung Menentukan anion (titrasi tidak langsung)  Reaksi yang terjadi pada titrasi langsung : Ag+ (analat) + SCN- berlebih ↔ AgSCN↓ (putih) + SCN- sisa SCN- sisa +Fe 3+ ↔ Fe(SCN)2+ (merah)  Reaksi yang terjadi pada titrasi tidak langsung : Ag+ (berlebih) + X- ↔ AgX↓ + Ag+ sisa Ag+ sisa + SCN- berlebih ↔ AgSCN↓ (putih) + SCN- sisa SCN- sisa +Fe3+ ↔ Fe(SCN)2+ (merah)
  • 14.
     Konsentrasi Fe3+ minimum6,4x10-6 M atau bisa digunakan konsentrasi 0,01 M.  Untuk menghindari kesalahan pada metode Volhard, maka dapat dilakukan langkah sbb: 1. Dihindari penentuan anion X yang kelarutannya besar. 2. Bila kelarutannya besar maka dilakukan isolasi AgX agar tidak bereaksi dengan ion SCN dengan cara : a) Endapan AgX disaring, dicuci, filtrat nya dititrasi. b) Setelah terjadi pengendapan AgX, lalu campuran ditambah Nitrobenzena sehingga endapan terbungkus / terisolasi. c) Bila endapan AgX dapat larut dalam asam kuat yang encer, maka endapan disaring, lalu dilarukan dalam asam terus dititrasi.
  • 15.
    3. Metode Fajans Indikator : indikator adsorpsi ( Fluoresen)  Titrant : AgNO3  Tujuan : Menentukan anion  Reaksi yang terjadi: Sebelum TE : endapan terdapat dalam lingkungan yang masih ada kelebihan ion X-  endapan menyerap X- . Butiran endapan / koloid bermuatan negatif, akibatnya ion Fl- (dari indikator) tidak diserap Saat TE : Tidak ada kelebihan X- maupun Ag+  endapan / koloid bersifat netral. Ion Fl- dari indikator tidak diserap. Sesudah TE : Kelebihan Ag+ , sehingga diserap endapan / koloid dan bermuatan positif. Ion Fl- dari indikator akan diserap . Terbentuk endapan warna merah muda.
  • 16.
     Indikator fluoresenberwarna kuning dan endapan yang terbentuk kolod. Untuk memudahkan melihat TA maka : Endapan putih  merah muda & menggumpal Endapan keruh  jernih Endapan kuning hijau  tidak berwarna.