PENELITIAN PENDIDIKAN FISIKA 
REMEDIASI MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI OPTIK 
MENGGUNAKAN APLIKASI PHET SIMULATION 
DI KELAS X SMA NEGERI 2 PONTIANAK 
Oleh: 
NISA AMALIA WULANDARI 
F03111040 
PROGAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA 
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA 
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN 
UNIVERSITAS TANJUNGPURA 
PONTIANAK 
2014
REMEDIASI MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI OPTIK 
MENGGUNAKAN APLIKASI PHET SIMULATION 
DI KELAS X SMA NEGERI 2 PONTIANAK 
I. PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang 
Salah satu tujuan pembelajaran fisika adalah menguasai pengetahuan, konsep, dan prinsip 
fisika serta mempunyai keterampilan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap 
percaya diri sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai bekal untuk 
melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Dalam pembelajaran fisika diperlukan 
pemahaman konsep yang baik bukan hanya penghafalamn rumus dan teori semata. Namun, pada 
kenyataannya banyak siswa yang hanya sebats menghafal rumus-rumus fisika tanpa memahami 
konsep. Hal ini mengakibatkan siswa cenderung mengalami kesulitan dalam menerapkan materi 
fisika dalam kehidupan sehari-hari. Kesulitan ini dapat menyebabkan siswa mengalami slah 
konsep (miskonsepsi). 
Dalam pembelajaran Fisika, sering kali siswa dihadapkan pada materi atau konsep yang 
bersifat abstrak sehingga sulit dilakukan pengamatan secara langsung. Banyak materi fisika yang 
sulit atau bahkan tidak dapat diamati langsung dalam dunia nyata. Hal ini menyebabkan sebagian 
besar siswa merasa kesulitan dalam memahaminya. Salah satu contoh materi yang bersifat 
abstrak adalah materi Optik. Dalam proses pembelajaran seputar materi Optik, siswa hanya 
sebatas dapat membayangkan tanpa dapat melihat fenomena tersebut secara langsung. Selain itu, 
siswa cenderung pasif, meskipun guru telah berupaya merangsang dengan berbagai pertanyaan 
dan juga adanya pemahaman yang miskonsepsi terhadap materi Optik. 
Untuk mengatasi miskonsepsi siswa terhadap materi optik, siswa harus diajak secara 
langsung untuk melihat dan mengamati fenomena seputar materi Optik secara langsung. 
Dikarenakan materi Optik merupakan materi yang abstrak, maka diperlukan alat bantu atau 
aplikasi yang dapat memperlihatkan bagaimana fenomena-fenomena pada materi Optik terjadi. 
Salah satu ablikasi yang dapat digunakan untuk mengatasi miskonsepsi siswa dan keabstrakan 
materi Optik adalah aplikasi PhET Simulation. Melalui aplikasi ini siswa dapat melihat atau 
menyaksikan fenomena seputar materi Optik secara langsung yang selama ini hanya dapat 
mereka banyangkan. 
B. Masalah Penelitian 
Masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah remediasi menggunakan aplikasi 
PHET Simulation berpengaruh terhadap penurunan jumlah persentase miskonsepsi siswa 
pada materi optik di kelas X SMA Negeri 2 Pontianak ?”. 
C. Tujuan Penelitian 
Tujuan penelitian ini adalah “Mengetahui apakah remediasi menggunakan aplikasi 
PHET Simulation berpengaruh atau tidak terhadap penurunan jumlah persentase 
miskonsepsi siswa pada materi optik di kelas X SMA Negeri 2 Pontianak”. 
D. Manfaat Penelitian 
1. Bagi guru, penelitian ini bermanfaat sebagai referensi untuk meremediasi miskonsepsi siswa 
terutama pada materi Optik. 
2. Bagi peneliti, penelitian ini bermanfaat sebagai sarana untuk mendalami materi Optik. 
3. Bagi siswa, penelitian ini bermanfaat untuk menghindari siswa terhadap miskonsepsi pada 
materi Optik. 
4. Bagi prodi Pendidikan Fisika, penelitian ini bermanfaat sebagai bahan referensi mahasiswa 
dalam proses pembelajaran Optik dan bahan untuk menyelesaikan tugas akhir.
E. Hipotesis Penelitian 
Hipotesis nol (H0) dalam penelitian ini adalah “Remediasi menggunakan aplikasi 
PHET Simulation berpengaruh terhadap penurunan jumlah persentase miskonsepsi siswa 
pada materi optik di kelas X SMA Negeri 2 Pontianak”. 
F. Ruang Lingkup Penelitian 
1. Variable Penelitian 
a. Variabel Bebas 
Menurut Darmadi, variabel bebas adalah aktifitas atau karakteristik yang 
dipercaya membuat adanya perbedaan dalam penelitian. Dalam penelitian ini variabel 
bebas adalah remediasi menggunakan aplikasi PhET Simulation. 
b. Variabel Terikat 
Menurut Malo, variabel terikat adalah variabel yang menjadi fokus dalam 
penelitian kuantitatif. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah penurunan jumlah 
persentase miskonsepsi siswa pada materi Optik di kelas X SMA Negeri 2 
Pontianak. 
c. Variable Kontrol 
Menurut Sugiyono, variabel kontrol merupakan variabel yang dikendalikan atau 
dibuat konstan. Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah : 
1. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes diagnostik berupa test multuple 
choice. 
2. Siswa yang mengikuti remediasi dari awal hingga akhir. 
3. Materi pembelajaran tentang materi Optik khususnya sub materi pembiasan cahaya 
pada cermin cekung. 
4. Guru yang melakukan remediasi. Dalam hal ini guru yang melakukan remediasi adalah 
peneliti sendiri. 
5. Lama tatap muka dalam kegiatan remediasi adalah 2 kali pertemuan (4 jam pelajaran). 
6. Lama tes. Tes yang akan diberikan terdiri dari test awal (pre-test) dan test akhir (post-test) 
dimana masing-masing tes tersebut berlangsung selama 30 menit. 
d. Variabel Ekstrane 
Menurut Nawawi, variabel ekstrane merupakan sejumlah gejala yang tidak 
dapat dikontrol dan tidak dapat pula diperhitungkan atau dieleminir pengaruhnya terhadap 
variabel bebas. Variabel ekstrane dalam penelitian ini adalah tingkat intelegensi, kaktifan, 
dan kedisiplinan siswa serta tingkat sosial ekonomi orang tua siswa. 
2. Definisi Operasional 
a. Remediasi 
Menurut Sutrisno, Kresnadi, dan Kartono remediasi adalah kegiatan yang 
dilaksanakan untuk membetulkan kekeliruan yang dilakukan oleh siswa. Remediasi dalam 
penelitian ini berupa pembelajaran ulang menggunakan PhET Simulation. 
b. Miskonsepsi 
Menurut Sutrisno, Kresnadi, dan Kartono miskonsepsi merupakan konsepsi-konsepsi 
lain yang tidak sesuai dengan konsepsi ilmuwan. Miskonsepsi dalam penelitian 
ini adalah kesalahan atau kekeliruan siswa dalam memahami dan menerapkan konsep pada 
materi pembiasan cahaya pada lensa cekung. Siswa dikatakan mengalami miskonsepsi 
apabila jawaban siswa 3S (salah salah salah) dan 2S1B (salah salah benar). 
c. Aplikasi PhET Simulation 
PhET Simulation merupakan simulasi interaktif fenomena-fenomena 
fisis, yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman dan meningkatkan minat 
mereka terhadap ilmu fisika. Untuk membantu siswa memahami konsep visual,
simulasi PhET meng-animasikan besaran-besaran dengan menggunakan grafis dan 
kontrol intuitif seperti klik dan tarik, penggaris dan tombol. 
Semua simulasi PhET tersedia secara gratis dari situt PhET dan cukup 
mudah digunakan untuk pembelajaran di dalam kelas. Simulasi-simulasi tersebut 
ditulis dengan JAVA dan FLASH, dan dapat dijalankan dengan web browser 
standar asalkan JAVA dan FLASH terpasang pada komputer yang digunakan. 
d. Materi Optik 
Dalam penelitian ini, materi optik yang akan diajarkan di fokuskan pada sub 
materi Pembiasan Cahaya khususnya Pembiasan Cahaya Pada Lensa Cekung yang 
diajarkan di kelas X SMA yang disusun berdasarkan jurnal Iwan Permana Suwarna yang 
berjudul Analisis Miskonsepsi Siswa SMA Kelas X Pada Mata Pelajaran Fisika Melalui 
CRI (Certainty of Response Index) Termodifikasi. 
II. KAJIAN PUSTAKA 
A. Aplikasi PhET 
PhET merupakan simulasi interaktif fenomena-fenomena fisis, berbasis riset yang 
diberikan secara gratis. Dengan aplikasi PhET maka memungkinkan para siswa untuk 
menghubungkan fenomena kehidupan nyata dan ilmu yang mendasarinya, yang akan 
akhirnya memperdalam pemahaman dan meningkatkan minat mereka terhadap ilmu 
fisika. 
Untuk membantu siswa memahami konsep visual, simulasi PhET meng-animasikan 
besaran-besaran dengan menggunakan grafis dan kontrol intuitif seperti klik 
dan tarik, penggaris dan tombol. Dan untuk lebih mendorong eksplorasi kuantitatif, 
simulasi juga menyediakan instrumen pengukuran seperti penggaris, stopwatch, 
voltmeter dan termometer. Pada saat alat-alat ukur digunakan secara interaktif, hasil 
pengukuran akan langsung ditampilkan atau dianimasikan, sehingga secara efektif akan 
menggambarkan hubungan sebab-akibat dan representasi terkait dari sejumlah parameter 
percobaan (seperti misalnya gerak benda, grafik, dan sebagainya). 
B. Remediasi Menggunakan Aplikasi PhET Simulation 
Penelitian ini menggunakan aplikasi Phet Simulation sebagai media pembelajaran. 
PhET Simulation merupakan simulasi interaktif fenomena-fenomena fisis yang berbasis riset 
dengan menganimasikan besaran-besaran. Remediasi dengan menggunakan PhET Simulation 
memungkinkan dan mendorong siswa untuk melakukan eksplorasi dan juga melakukan simulasi 
terhadap materi Optik. Selain itu, dengan menggunakan PhET Simulation, siswa dapat 
menyaksikan fenomena Optik yang selama ini mereka bayangkan melalui Simulasi pada aplikasi 
PhET. 
C. Materi Optik 
1. Pengertian Lensa Cekung 
Lensa cekung adalah lensa yang memiliki struktur permukaan melengkung keluar. 
Lensa cekung juga disebut lensa konkaf atau lensa divergen. Lensa ini bersifat menyebarkan 
cahaya (diverging). Sama seperti lensa cembung, lensa cekung juga memiliki dua titik api 
(titik fokus) yang berada di depan dan di belakang lensa. Namun, berbeda dengan lensa 
cembung, titik fokus aktif f1 berada di depan lensa, dan titik fokus pasif f2 berada di belakang 
lensa. Lensa cekung juga dibagi menjadi beberapa macam yakni : 
1. Cekung-cekung Simetris (Symmetrical Biconcaf Lens) 
2. Cekung-cekung Asimetris (Asymmetrical Biconcaf Lens) 
3. Cekung-Datar (Concaf-Plano)
4. Cekung-cembung (Concaf-convex) 
Gambar 2.1. Dari kiri ke kanan : Symmetrical Biconcaf Lens, 
Asymmetrical Biconcaf Lens, Plano-Konkaf, Convex-concaf. 
2. Sinar Istimewa Lensa Cekung 
Lensa cekung memiliki tiga sinar istimewa yakni sebagai berikut : 
1. Sinar datang sejajar sumbu utama dan dibiaskan seolah-olah dari titik fokus aktif f1. 
2. Sinar datang seolah-olah menuju titik fokus pasif f2 dan dibiaskan sejajar sumbu utama. 
3. Sinar datang melalui pusat optik dan diteruskan tanpa membias. 
Bayangan yang dibentuk oleh lensa cekung selalu bersifat maya, tegak, diperkecil 
dan terletak di ruang antara titik pusat (O) dan titik fokus aktif f1, jika benda terletak di depan 
lensa. Berikut adalah langkah-langkah menggambarkan bayangan pada lensa cekung : 
a. Melukis dua buah sinar utama (biasanya digunakan sinar 1 dan 3). 
b. Sinar selalu datang dari depan lensa dan dibiaskan ke belakang lensa. 
c. Perpotongan kedua buah sinar bias yang dibentuk oleh sinar 1 dan 3 adalah letak bayangan. 
Jika perpotongan didapat dar perpanjangan sinar bias, maka bayangan yang terjadi adalah 
maya dan dilukis dengan garis putus-putus. 
Gambar 2.2. Ilustrasi pembentukan bayangan pada lensa cekung. 
3. Sifat Bayangan 
Berbeda dengan lensa cembung, lensa cekung selalu menghasilkan bayangan 
dengan sifat yang sama. Dengan kata lain, letak benda tidak berpengaruh pada sifat bayangan. 
Hal ini menjadikan sifat bayangan yang dibentuk oleh lensa cekung sangat mudah diprediksi. 
Sifat bayangan nya adalah: 
1. Terletak pada sisi lensa yang sama dengan sisi lensa benda. 
2. Maya. 
3. Tegak. 
4. Diperkecil. 
III. METODE PENELITIAN 
A. Jenis Penelitian 
Penelitian ini menggunakan bentuk penelitian pre-experimental design dengan rancangan 
one group pre-test post-test design. Menurut Creswell, rancangan ini mencakup satu kelompok 
yang diobservasi pada tahap pre-test yang kemuian dilanjutkan dengan treatment dan post-test. 
Rancangan penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Tabel 1 Rancangan Penelitian One Group Pre-tet Post-test 
Kelompok Pre-test Perlakuan Post-test 
Eksperimen O1 X O2 
Gambar 3.1. Bentuk penelitian rancangan one group pre-test post-test design menurut Sugiono. 
Keterangan : 
O1 : Test awal (pre-test) 
O2 : Test akhir (post-test) 
X : Treatment (remediasi menggunakan aplikasi PHET Simulation) 
B. Lokasi dan Subjek Penelitian 
1. Lokasi Penelitian 
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Negeri 2 Pontianak yang beralamat di Jl. 
R.E. Martadinata. SMAN 2 Pontianak dipilih sebagai lokasi penelitian dikarenakan peneliti 
merupakan alumni dari sekolah tersebut dan peneliti juga masih menjalin komunikasi dengan 
baik dengan guru pelajaran Fisika. 
2. Subjek Penelitian 
Pemilihan subjek yang akan turut berpartisipasi dalam penelitian ini dilakukan 
menggunakan teknik intact group, yaitu memilih satu kelas utuh secara acak (random). Kelas 
yang akan dijadikan sampel dipilih secara acak dari empat kelas yaitu kelas X A, X B, X C, 
dan X D. Populasi dari penelitian ini berjumlah 140 orang dimana masing-masing kelas terdiri 
atas 35 orang siswa. Dari ke empat kelas tersebut akan dilakukan cabut undi untuk memilih 
kelas yang akan berbartisipasi dalam penelitian ini. 
C. Teknik dan Alat Pengumpul Data 
1. Teknik Pengumpul Data 
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa tes diagnostik berbentuk 
pilihan ganda. 
2. Alat Pengumpul Data 
Alat pengumpul data pada penelitian ini adalah berupa test awal (pre-test) dan yest 
akhir (post-test) yang paralel dan ekuivalen. Soal yang akan diberikan berupa 10 soal pilihan 
ganda tanpa alasan yang diadopsi dari penelitian yang telah dilakukan oleh Iwan Permana 
Suwarna. Pilihan ganda tanpa lasan dipilih untuk memudahkan peneliti dalam menganalisis 
data. Soal tes kemudian akan di diagnostik menggunakan Certainty of Response Index (CRI) 
yang termodifikasi untuk mengetahui jawaban yang bersifat tebakan. 
D. Validitas dan Reabilitas Tes 
1. Validitas Tes 
Untuk mengetahui validitas tes yang akan digunakan pada penelitian ini, maka soal 
yang akan digunakan akan terlebih dahulu divalidasi oleh 3 orang validator yang terdiri dari 
dua orang dosen prodi pendidikan fisika FKIP UNTAN dan satu orang guru fisika SMAN 2 
Pontianak sehingga soal akan menjadi layak ketika digunakan pada penelitian. 
2. Reabilitas Tes 
Pengujian reabilitas tes dalam penelitian ini menggunakan internal consistency 
reliability dikarenakan peneliti ingin mengetahui konsistensi hasil dari setiap item tes pada tes 
yang sama. Iwan Permana Suwarna telah melakukan uji coba soal sebanyak empat kali yaitu 
di SMAN 87 Jakarta Selatan, SMA Triguna Tanggerang Selatan, SMA Dua Mei Tanggerang 
Selatan, dan SMAN 4 Tanggerang Selatan. 
E. Prosedur Penelitian 
Prosedur yang dilakukan dalam peneliatan pre-eksperimen ini terdiri dari beberapa tahap 
yang meliputi : 
1. Tahap Persiapan 
Langkah-langkah yang dilakukan selama tahap persiapan antara lain :
a. Membuat surat permohonan penelitian dan surat tugas. 
b. Mengadakan observasi ke sekolah. 
c. Menyiapkan skenario penelitian. 
d. Menyiapkan instrumen penelitian berupa soal pre-test dan post-test. 
2. Tahap Pelaksanaan 
Langkah-langkah yang dilakukan selama tahap pelaksanaan antara lain : 
a. Memberikan soal tes awal (pre-test). 
b. Memberikan treatment, yaitu remediasi menggunakan aplikasi PHET Simulation. 
c. Memberikan tes akhir (post-test). 
d. Menganalisis data. 
e. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil analisis data. 
3. Tahap Menyusun Hasil Laporan 
F. Prosedur Analisis Data 
Analisis dalam penelitian ini dilakukan untuk mengrtahui pengaruh remediasi 
menggunakan aplikasi PHET Simulation terhadap penurunan jumlah persentase 
miskonsepsi siswa pada materi optik di kelas X SMA Negeri 2 Pontianak. 
Pada penelitian ini, tes diagnostik digunakan tidak disertai dengan lasan. Namun, 
untuk mengetahui jawaban yang bersifat tebakan, maka jawaban siswa dianalisis dengan 
menggunakan metode Certainty of Response Index (CRI) yang termodifikasi. Dalam perlakuan 
ini, maka siswa dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu siswa yang misonsepsi tidak 
menebak, siswa yang miskonsepsi dengan meneebak, siswa yang tidak miskonsepsi dengan tidak 
menebak, dan siswa yang tidak miskonsepsi dengan menebak. 
Sebelum melakukan analisi data, peneliti akan terlebih dahulu melakukan uji normalitas 
dengan uji Kolmogorov-Smirnov berbantuan Statistical Package for the Sosial Sciences (SPSS) 
bersi 17.0. Uji Kolmogorov-Smirnov dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran data 
berdistribusi normal atau tidak terdistribusi normal.setelah memastikan bahwa sebaran data 
memenuhi asumsi distribusi normal, maka dilakukan analisis data dengan uji statistik parametrik 
yaitu mrnggunakan uji-t. Namun, apabila data tidak terdistribusi secara normal, maka akan 
dilakuakan analisis data dengan uji statistik nonparametrik yaitu uji Wilcoxon. 
DAFTAR PUSTAKA 
Andriana, Elfa dkk. 2013. Remediasi Miskonsepsi Pembiasan Cahaya Pada Lensa Tipis Menggunakan 
Direct Instruction Berbantuan Animasi Flash Media. Jurnal. Pontianak : FKIP UNTAN. 
Dwicahyani, Anindya. (2012). Lensa Cekung. (online). (http://aninonymos.blogspot.com/2012/06/lensa-cekung. 
html, diakses 30 Juni 2014). 
Lestari, W., & Surakarta, S. D. B. Multimedia Pembelajaran Alat-Alat Optik Untuk Meningkatkan 
Prestasi dan Minat Siswa dalam Mata Pelajaran Fisika Kelas X SMA. 
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta. 
Sugiyono. (2008). Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta. 
Sutrisno, Leo, Hery Kresnadi dan Kartono. (2007). Pengembangan Pembelajaran IPA SD. Jakarta : PJJ 
S1 PGSD. 
Suwarna, Permana Iwan. 2009. Analisis Miskonsepsi Siswa SMA Kelas X Pada Mata Pelajaran Fisika 
Melalui CRI (Certainty of Response Index) Termodifikasi. Jurnal. Jakarta : FITK UIN Syarif 
Hidayatullah.

Proposal Penelitian Eksperimen

  • 1.
    PENELITIAN PENDIDIKAN FISIKA REMEDIASI MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI OPTIK MENGGUNAKAN APLIKASI PHET SIMULATION DI KELAS X SMA NEGERI 2 PONTIANAK Oleh: NISA AMALIA WULANDARI F03111040 PROGAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2014
  • 2.
    REMEDIASI MISKONSEPSI SISWAPADA MATERI OPTIK MENGGUNAKAN APLIKASI PHET SIMULATION DI KELAS X SMA NEGERI 2 PONTIANAK I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu tujuan pembelajaran fisika adalah menguasai pengetahuan, konsep, dan prinsip fisika serta mempunyai keterampilan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap percaya diri sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Dalam pembelajaran fisika diperlukan pemahaman konsep yang baik bukan hanya penghafalamn rumus dan teori semata. Namun, pada kenyataannya banyak siswa yang hanya sebats menghafal rumus-rumus fisika tanpa memahami konsep. Hal ini mengakibatkan siswa cenderung mengalami kesulitan dalam menerapkan materi fisika dalam kehidupan sehari-hari. Kesulitan ini dapat menyebabkan siswa mengalami slah konsep (miskonsepsi). Dalam pembelajaran Fisika, sering kali siswa dihadapkan pada materi atau konsep yang bersifat abstrak sehingga sulit dilakukan pengamatan secara langsung. Banyak materi fisika yang sulit atau bahkan tidak dapat diamati langsung dalam dunia nyata. Hal ini menyebabkan sebagian besar siswa merasa kesulitan dalam memahaminya. Salah satu contoh materi yang bersifat abstrak adalah materi Optik. Dalam proses pembelajaran seputar materi Optik, siswa hanya sebatas dapat membayangkan tanpa dapat melihat fenomena tersebut secara langsung. Selain itu, siswa cenderung pasif, meskipun guru telah berupaya merangsang dengan berbagai pertanyaan dan juga adanya pemahaman yang miskonsepsi terhadap materi Optik. Untuk mengatasi miskonsepsi siswa terhadap materi optik, siswa harus diajak secara langsung untuk melihat dan mengamati fenomena seputar materi Optik secara langsung. Dikarenakan materi Optik merupakan materi yang abstrak, maka diperlukan alat bantu atau aplikasi yang dapat memperlihatkan bagaimana fenomena-fenomena pada materi Optik terjadi. Salah satu ablikasi yang dapat digunakan untuk mengatasi miskonsepsi siswa dan keabstrakan materi Optik adalah aplikasi PhET Simulation. Melalui aplikasi ini siswa dapat melihat atau menyaksikan fenomena seputar materi Optik secara langsung yang selama ini hanya dapat mereka banyangkan. B. Masalah Penelitian Masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah remediasi menggunakan aplikasi PHET Simulation berpengaruh terhadap penurunan jumlah persentase miskonsepsi siswa pada materi optik di kelas X SMA Negeri 2 Pontianak ?”. C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah “Mengetahui apakah remediasi menggunakan aplikasi PHET Simulation berpengaruh atau tidak terhadap penurunan jumlah persentase miskonsepsi siswa pada materi optik di kelas X SMA Negeri 2 Pontianak”. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi guru, penelitian ini bermanfaat sebagai referensi untuk meremediasi miskonsepsi siswa terutama pada materi Optik. 2. Bagi peneliti, penelitian ini bermanfaat sebagai sarana untuk mendalami materi Optik. 3. Bagi siswa, penelitian ini bermanfaat untuk menghindari siswa terhadap miskonsepsi pada materi Optik. 4. Bagi prodi Pendidikan Fisika, penelitian ini bermanfaat sebagai bahan referensi mahasiswa dalam proses pembelajaran Optik dan bahan untuk menyelesaikan tugas akhir.
  • 3.
    E. Hipotesis Penelitian Hipotesis nol (H0) dalam penelitian ini adalah “Remediasi menggunakan aplikasi PHET Simulation berpengaruh terhadap penurunan jumlah persentase miskonsepsi siswa pada materi optik di kelas X SMA Negeri 2 Pontianak”. F. Ruang Lingkup Penelitian 1. Variable Penelitian a. Variabel Bebas Menurut Darmadi, variabel bebas adalah aktifitas atau karakteristik yang dipercaya membuat adanya perbedaan dalam penelitian. Dalam penelitian ini variabel bebas adalah remediasi menggunakan aplikasi PhET Simulation. b. Variabel Terikat Menurut Malo, variabel terikat adalah variabel yang menjadi fokus dalam penelitian kuantitatif. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah penurunan jumlah persentase miskonsepsi siswa pada materi Optik di kelas X SMA Negeri 2 Pontianak. c. Variable Kontrol Menurut Sugiyono, variabel kontrol merupakan variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan. Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah : 1. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes diagnostik berupa test multuple choice. 2. Siswa yang mengikuti remediasi dari awal hingga akhir. 3. Materi pembelajaran tentang materi Optik khususnya sub materi pembiasan cahaya pada cermin cekung. 4. Guru yang melakukan remediasi. Dalam hal ini guru yang melakukan remediasi adalah peneliti sendiri. 5. Lama tatap muka dalam kegiatan remediasi adalah 2 kali pertemuan (4 jam pelajaran). 6. Lama tes. Tes yang akan diberikan terdiri dari test awal (pre-test) dan test akhir (post-test) dimana masing-masing tes tersebut berlangsung selama 30 menit. d. Variabel Ekstrane Menurut Nawawi, variabel ekstrane merupakan sejumlah gejala yang tidak dapat dikontrol dan tidak dapat pula diperhitungkan atau dieleminir pengaruhnya terhadap variabel bebas. Variabel ekstrane dalam penelitian ini adalah tingkat intelegensi, kaktifan, dan kedisiplinan siswa serta tingkat sosial ekonomi orang tua siswa. 2. Definisi Operasional a. Remediasi Menurut Sutrisno, Kresnadi, dan Kartono remediasi adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk membetulkan kekeliruan yang dilakukan oleh siswa. Remediasi dalam penelitian ini berupa pembelajaran ulang menggunakan PhET Simulation. b. Miskonsepsi Menurut Sutrisno, Kresnadi, dan Kartono miskonsepsi merupakan konsepsi-konsepsi lain yang tidak sesuai dengan konsepsi ilmuwan. Miskonsepsi dalam penelitian ini adalah kesalahan atau kekeliruan siswa dalam memahami dan menerapkan konsep pada materi pembiasan cahaya pada lensa cekung. Siswa dikatakan mengalami miskonsepsi apabila jawaban siswa 3S (salah salah salah) dan 2S1B (salah salah benar). c. Aplikasi PhET Simulation PhET Simulation merupakan simulasi interaktif fenomena-fenomena fisis, yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman dan meningkatkan minat mereka terhadap ilmu fisika. Untuk membantu siswa memahami konsep visual,
  • 4.
    simulasi PhET meng-animasikanbesaran-besaran dengan menggunakan grafis dan kontrol intuitif seperti klik dan tarik, penggaris dan tombol. Semua simulasi PhET tersedia secara gratis dari situt PhET dan cukup mudah digunakan untuk pembelajaran di dalam kelas. Simulasi-simulasi tersebut ditulis dengan JAVA dan FLASH, dan dapat dijalankan dengan web browser standar asalkan JAVA dan FLASH terpasang pada komputer yang digunakan. d. Materi Optik Dalam penelitian ini, materi optik yang akan diajarkan di fokuskan pada sub materi Pembiasan Cahaya khususnya Pembiasan Cahaya Pada Lensa Cekung yang diajarkan di kelas X SMA yang disusun berdasarkan jurnal Iwan Permana Suwarna yang berjudul Analisis Miskonsepsi Siswa SMA Kelas X Pada Mata Pelajaran Fisika Melalui CRI (Certainty of Response Index) Termodifikasi. II. KAJIAN PUSTAKA A. Aplikasi PhET PhET merupakan simulasi interaktif fenomena-fenomena fisis, berbasis riset yang diberikan secara gratis. Dengan aplikasi PhET maka memungkinkan para siswa untuk menghubungkan fenomena kehidupan nyata dan ilmu yang mendasarinya, yang akan akhirnya memperdalam pemahaman dan meningkatkan minat mereka terhadap ilmu fisika. Untuk membantu siswa memahami konsep visual, simulasi PhET meng-animasikan besaran-besaran dengan menggunakan grafis dan kontrol intuitif seperti klik dan tarik, penggaris dan tombol. Dan untuk lebih mendorong eksplorasi kuantitatif, simulasi juga menyediakan instrumen pengukuran seperti penggaris, stopwatch, voltmeter dan termometer. Pada saat alat-alat ukur digunakan secara interaktif, hasil pengukuran akan langsung ditampilkan atau dianimasikan, sehingga secara efektif akan menggambarkan hubungan sebab-akibat dan representasi terkait dari sejumlah parameter percobaan (seperti misalnya gerak benda, grafik, dan sebagainya). B. Remediasi Menggunakan Aplikasi PhET Simulation Penelitian ini menggunakan aplikasi Phet Simulation sebagai media pembelajaran. PhET Simulation merupakan simulasi interaktif fenomena-fenomena fisis yang berbasis riset dengan menganimasikan besaran-besaran. Remediasi dengan menggunakan PhET Simulation memungkinkan dan mendorong siswa untuk melakukan eksplorasi dan juga melakukan simulasi terhadap materi Optik. Selain itu, dengan menggunakan PhET Simulation, siswa dapat menyaksikan fenomena Optik yang selama ini mereka bayangkan melalui Simulasi pada aplikasi PhET. C. Materi Optik 1. Pengertian Lensa Cekung Lensa cekung adalah lensa yang memiliki struktur permukaan melengkung keluar. Lensa cekung juga disebut lensa konkaf atau lensa divergen. Lensa ini bersifat menyebarkan cahaya (diverging). Sama seperti lensa cembung, lensa cekung juga memiliki dua titik api (titik fokus) yang berada di depan dan di belakang lensa. Namun, berbeda dengan lensa cembung, titik fokus aktif f1 berada di depan lensa, dan titik fokus pasif f2 berada di belakang lensa. Lensa cekung juga dibagi menjadi beberapa macam yakni : 1. Cekung-cekung Simetris (Symmetrical Biconcaf Lens) 2. Cekung-cekung Asimetris (Asymmetrical Biconcaf Lens) 3. Cekung-Datar (Concaf-Plano)
  • 5.
    4. Cekung-cembung (Concaf-convex) Gambar 2.1. Dari kiri ke kanan : Symmetrical Biconcaf Lens, Asymmetrical Biconcaf Lens, Plano-Konkaf, Convex-concaf. 2. Sinar Istimewa Lensa Cekung Lensa cekung memiliki tiga sinar istimewa yakni sebagai berikut : 1. Sinar datang sejajar sumbu utama dan dibiaskan seolah-olah dari titik fokus aktif f1. 2. Sinar datang seolah-olah menuju titik fokus pasif f2 dan dibiaskan sejajar sumbu utama. 3. Sinar datang melalui pusat optik dan diteruskan tanpa membias. Bayangan yang dibentuk oleh lensa cekung selalu bersifat maya, tegak, diperkecil dan terletak di ruang antara titik pusat (O) dan titik fokus aktif f1, jika benda terletak di depan lensa. Berikut adalah langkah-langkah menggambarkan bayangan pada lensa cekung : a. Melukis dua buah sinar utama (biasanya digunakan sinar 1 dan 3). b. Sinar selalu datang dari depan lensa dan dibiaskan ke belakang lensa. c. Perpotongan kedua buah sinar bias yang dibentuk oleh sinar 1 dan 3 adalah letak bayangan. Jika perpotongan didapat dar perpanjangan sinar bias, maka bayangan yang terjadi adalah maya dan dilukis dengan garis putus-putus. Gambar 2.2. Ilustrasi pembentukan bayangan pada lensa cekung. 3. Sifat Bayangan Berbeda dengan lensa cembung, lensa cekung selalu menghasilkan bayangan dengan sifat yang sama. Dengan kata lain, letak benda tidak berpengaruh pada sifat bayangan. Hal ini menjadikan sifat bayangan yang dibentuk oleh lensa cekung sangat mudah diprediksi. Sifat bayangan nya adalah: 1. Terletak pada sisi lensa yang sama dengan sisi lensa benda. 2. Maya. 3. Tegak. 4. Diperkecil. III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan bentuk penelitian pre-experimental design dengan rancangan one group pre-test post-test design. Menurut Creswell, rancangan ini mencakup satu kelompok yang diobservasi pada tahap pre-test yang kemuian dilanjutkan dengan treatment dan post-test. Rancangan penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
  • 6.
    Tabel 1 RancanganPenelitian One Group Pre-tet Post-test Kelompok Pre-test Perlakuan Post-test Eksperimen O1 X O2 Gambar 3.1. Bentuk penelitian rancangan one group pre-test post-test design menurut Sugiono. Keterangan : O1 : Test awal (pre-test) O2 : Test akhir (post-test) X : Treatment (remediasi menggunakan aplikasi PHET Simulation) B. Lokasi dan Subjek Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Negeri 2 Pontianak yang beralamat di Jl. R.E. Martadinata. SMAN 2 Pontianak dipilih sebagai lokasi penelitian dikarenakan peneliti merupakan alumni dari sekolah tersebut dan peneliti juga masih menjalin komunikasi dengan baik dengan guru pelajaran Fisika. 2. Subjek Penelitian Pemilihan subjek yang akan turut berpartisipasi dalam penelitian ini dilakukan menggunakan teknik intact group, yaitu memilih satu kelas utuh secara acak (random). Kelas yang akan dijadikan sampel dipilih secara acak dari empat kelas yaitu kelas X A, X B, X C, dan X D. Populasi dari penelitian ini berjumlah 140 orang dimana masing-masing kelas terdiri atas 35 orang siswa. Dari ke empat kelas tersebut akan dilakukan cabut undi untuk memilih kelas yang akan berbartisipasi dalam penelitian ini. C. Teknik dan Alat Pengumpul Data 1. Teknik Pengumpul Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa tes diagnostik berbentuk pilihan ganda. 2. Alat Pengumpul Data Alat pengumpul data pada penelitian ini adalah berupa test awal (pre-test) dan yest akhir (post-test) yang paralel dan ekuivalen. Soal yang akan diberikan berupa 10 soal pilihan ganda tanpa alasan yang diadopsi dari penelitian yang telah dilakukan oleh Iwan Permana Suwarna. Pilihan ganda tanpa lasan dipilih untuk memudahkan peneliti dalam menganalisis data. Soal tes kemudian akan di diagnostik menggunakan Certainty of Response Index (CRI) yang termodifikasi untuk mengetahui jawaban yang bersifat tebakan. D. Validitas dan Reabilitas Tes 1. Validitas Tes Untuk mengetahui validitas tes yang akan digunakan pada penelitian ini, maka soal yang akan digunakan akan terlebih dahulu divalidasi oleh 3 orang validator yang terdiri dari dua orang dosen prodi pendidikan fisika FKIP UNTAN dan satu orang guru fisika SMAN 2 Pontianak sehingga soal akan menjadi layak ketika digunakan pada penelitian. 2. Reabilitas Tes Pengujian reabilitas tes dalam penelitian ini menggunakan internal consistency reliability dikarenakan peneliti ingin mengetahui konsistensi hasil dari setiap item tes pada tes yang sama. Iwan Permana Suwarna telah melakukan uji coba soal sebanyak empat kali yaitu di SMAN 87 Jakarta Selatan, SMA Triguna Tanggerang Selatan, SMA Dua Mei Tanggerang Selatan, dan SMAN 4 Tanggerang Selatan. E. Prosedur Penelitian Prosedur yang dilakukan dalam peneliatan pre-eksperimen ini terdiri dari beberapa tahap yang meliputi : 1. Tahap Persiapan Langkah-langkah yang dilakukan selama tahap persiapan antara lain :
  • 7.
    a. Membuat suratpermohonan penelitian dan surat tugas. b. Mengadakan observasi ke sekolah. c. Menyiapkan skenario penelitian. d. Menyiapkan instrumen penelitian berupa soal pre-test dan post-test. 2. Tahap Pelaksanaan Langkah-langkah yang dilakukan selama tahap pelaksanaan antara lain : a. Memberikan soal tes awal (pre-test). b. Memberikan treatment, yaitu remediasi menggunakan aplikasi PHET Simulation. c. Memberikan tes akhir (post-test). d. Menganalisis data. e. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil analisis data. 3. Tahap Menyusun Hasil Laporan F. Prosedur Analisis Data Analisis dalam penelitian ini dilakukan untuk mengrtahui pengaruh remediasi menggunakan aplikasi PHET Simulation terhadap penurunan jumlah persentase miskonsepsi siswa pada materi optik di kelas X SMA Negeri 2 Pontianak. Pada penelitian ini, tes diagnostik digunakan tidak disertai dengan lasan. Namun, untuk mengetahui jawaban yang bersifat tebakan, maka jawaban siswa dianalisis dengan menggunakan metode Certainty of Response Index (CRI) yang termodifikasi. Dalam perlakuan ini, maka siswa dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu siswa yang misonsepsi tidak menebak, siswa yang miskonsepsi dengan meneebak, siswa yang tidak miskonsepsi dengan tidak menebak, dan siswa yang tidak miskonsepsi dengan menebak. Sebelum melakukan analisi data, peneliti akan terlebih dahulu melakukan uji normalitas dengan uji Kolmogorov-Smirnov berbantuan Statistical Package for the Sosial Sciences (SPSS) bersi 17.0. Uji Kolmogorov-Smirnov dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran data berdistribusi normal atau tidak terdistribusi normal.setelah memastikan bahwa sebaran data memenuhi asumsi distribusi normal, maka dilakukan analisis data dengan uji statistik parametrik yaitu mrnggunakan uji-t. Namun, apabila data tidak terdistribusi secara normal, maka akan dilakuakan analisis data dengan uji statistik nonparametrik yaitu uji Wilcoxon. DAFTAR PUSTAKA Andriana, Elfa dkk. 2013. Remediasi Miskonsepsi Pembiasan Cahaya Pada Lensa Tipis Menggunakan Direct Instruction Berbantuan Animasi Flash Media. Jurnal. Pontianak : FKIP UNTAN. Dwicahyani, Anindya. (2012). Lensa Cekung. (online). (http://aninonymos.blogspot.com/2012/06/lensa-cekung. html, diakses 30 Juni 2014). Lestari, W., & Surakarta, S. D. B. Multimedia Pembelajaran Alat-Alat Optik Untuk Meningkatkan Prestasi dan Minat Siswa dalam Mata Pelajaran Fisika Kelas X SMA. Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta. Sugiyono. (2008). Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta. Sutrisno, Leo, Hery Kresnadi dan Kartono. (2007). Pengembangan Pembelajaran IPA SD. Jakarta : PJJ S1 PGSD. Suwarna, Permana Iwan. 2009. Analisis Miskonsepsi Siswa SMA Kelas X Pada Mata Pelajaran Fisika Melalui CRI (Certainty of Response Index) Termodifikasi. Jurnal. Jakarta : FITK UIN Syarif Hidayatullah.