SlideShare a Scribd company logo
1 of 64
• Konsep pendidikan inklusif di Indonesia merupakan sebuah konsep
yang baru, meskipun pada hakekatnya konsep ini telah lama
diterapkan di negara-negara lain.
• Hal ini menjadi salah satu alasan pelaksanaan pendidikan inklusif
masih terus perlu diperhatikan lebih serius, salah satu hal terpenting
adalah kurikulum yang digunakan
• Berdasarkan pada temuan awal peneliti, menunjukkan bahwa selama
ini sekolah yang diteliti telah melaksanakan kurikulum sekolah inklusif
yang sedikit berbeda dari ketentuan umum yang diberikan
pemerintah
• Mekanisme pelaksanaan tersebut merupakan hasil
pengalaman sekolah dalam melayani PDBK yang sudah
dilakukan jauh sebelum ditunjuk oleh pemerintah.
• Pelaksanaan modifikasi kurikulum sekolah inklusif di SD Negeri 4
Krebet, Jambon, Ponorogo.
• Selanjutnya dari fokus tersebut dirinci menjadi enam subfokus, yaitu:
• Persiapan dalam pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif di SD Negeri 4
Krebet, Jambon, Ponorogo
• Identifikasi dan Asesmen peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) di SD
Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo
• Pembuatan Profil Siswa bagi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) di SD
Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo
• Perencanaan Kurikulum Sekolah Inklusif yang terdiri dari; (a) tim khusus dan
(b) tim umum, di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo
• Pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif di SD Negeri 4 Krebet,
Jambon, Ponorogo
• Evaluasi pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif di SD
Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo
• Secara umum bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan modifikasi
kurikulum sekolah inklusif di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo.
• Secara khusus bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan
rangkaian modifikasi kurikulum di sekolah tsb, yang meliputi tentang:
• Persiapan dalam pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif di SD Negeri 4 Krebet,
Jambon, Ponorogo
• Identifikasi dan Asesmen peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) di SD Negeri 4
Krebet, Jambon, Ponorogo
• Pembuatan Profil Siswa bagi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) di SD Negeri
4 Krebet, Jambon, Ponorogo
• Perencanaan Kurikulum Sekolah Inklusif yang terdiri dari; (a) tim khusus dan (b) tim
umum, di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo
• Pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif di SD Negeri 4 Krebet,
Jambon, Ponorogo
• Evaluasi pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif di SD
Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo
• Penelitian ini hanya dibatasi pada pelaksanaan modifikasi kurikulum
di sekolah inklusif SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo yang
meliputi aspek mekanisme pelaksanaan modifikasi kurikulumnya saja.
Adapun aspek-aspek yang lainnya tidak dibahas atau diabaikan dalam
penelitian ini.
• Kajian Pustaka ini akan dijelaskan hal-hal berikut:
a) konsep dasar sekolah inklusif
b) modifikasi kurikulum sekolah inklusif
c) urgensi pelaksanaan modifikasi kurikulum di sekolah inklusif
d) hasil penelitian yang relevan, dan
e) kerangka berfikir penelitian.
• penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan
pendekatan kualitatif
• Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan
observasi atau Observational Case Studies (Sesuai dengan teori
Bogdan dan Biklen, 2003:55)
Lokasi penelitian ini adalah SD Negeri 4 Krebet yang terletak
di Jl. Sidowayah no. 31 dusun Sidowayah, desa Sidoharjo,
kecamatan Jambon, kabupaten Ponorogo
• Pengumpulan data melalui
observasi, wawancara, dan studi
dokumentasi
• Penelitian dilakukan mulai 29 Juni
hingga 05 Agustus 2015, sesuai
Surat Keterangan No.
423.6/28/405.08.20.18/2015
Sumber: Miles and Huberman
(1994:12)
• HASIL WAWANCARA
Contoh kode yang akan digunakan adalah KS.i1.W1.29-06-2015:48. Kode
tersebut dapat dibaca dengan Sumber data KS (Kepala Sekolah), sebagai i1
(Informan pertama dalam penelitian ini), W1 berarti wawancara pertama
untuk informan tersebut. 29-06-2015 adalah waktu pelaksanaan wawancara,
dan 48 berarti nomor baris dalam transkip wawancara
• HASIL OBSERVASI
Contoh kode yang digunakan adalah F1-5-a-WOS-1-5. hal ini sesuai dengan
kode temuan observasi dengan kode indikator dalam kisi-kisi penelitian
• HASIL STUDI DOKUMENTASI
Contoh kode yang digunakan adalah D.F1.6.c.GPK:01.
D adalah Dokumen, F1.6.c adalah kode indikator. GPK adalah
sumber dokumen, dan 01 adalah nomor urut dokumen
dari sumber tsb.
• Uji kredibilitas (validitas internal), untuk meningkatkan ketekunan di
lapangan, peneliti tinggal sementara selama penelitian berlangsung
di lokasi terdekat sekolah dan tinggal di kediaman salah satu guru
yang berlokasi sekitar 5 km dari sekolah.
• Uji dependabilitas. Dalam penelitian ini terdapat auditor dependent
yaitu dosen pembimbing skripsi, Dr. Karwanto, S.Ag., M.Pd, dan
auditor independent yaitu: Dr. Mudjito, Ak., M.Si., Dr. Budiyanto,
M.Pd., dan Drs. Sujarwanto, M.Pd.
• Uji konfirmability (obyektivitas). Peneliti menyerahkan draft hasil
penelitian kepada KS dan GPK untuk dikoreksi terlebih dahulu pada
06/08/2015.
• Uji transferabilitas
• SD Negeri 4 Krebet, Ponorogo berdiri pada tahun 1977
• Pada 12 Mei 2007 SD Negeri 4 Krebet dinyatakan mendapat akreditasi
B+ (Plus) oleh BAN-SM melalui SK NIS: 100180, NSS: 101051103013,
NSB: 007211790624008, serta NPSN: 20509874
• Akhir 2009, SD Negeri 4 Krebet ditunjuk oleh Dinas Pendidikan
Kabupaten Ponorogo untuk mulai melaksanakan program pendidikan
inklusif sekaligus dinyatakan sebagai Sekolah Inklusif Pertama di
Kabupaten Ponorogo tersebut. Penunjukkan ini ditindaklanjuti
melalui SK yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan setempat dengan
nomor SK: 421/3695/405.08/2012. Penunjukkan yang sama juga pada
dua sekolah lainnya, yakni SD Negeri 4 Karang Patihan
dan SD Negeri 2 Pandak, Balong, Ponorogo.
Terwujudnya insan yang kompetitif berdasarkan IMTAQ.
• Melaksanakan pembelajaran yang kontekstual dan bernuansa PAIKEM.
• Menyiapkan generasi unggul yang memiliki keselarasan di bidang IMTAQ
dan IPTEK.
• Menyiapkan peserta didik yang aktif, kreatif, inovatif, mandiri/memiliki
keterampilan hidup, dan suka bekerja keras.
• Mewujudkan lingkungan inklusif ramah pembelajaran (LIRP).
• Membangun citra sekolah mandiri, serta menjadi idola dan mitra
terpercaya di masyarakat.
• Menyiapkan peserta didik untuk menjadi warga
masyarakat yang bisa menjadi penggerak pembangunan dan
berkarakter.
• ”ABK Bisa, Inklusif Yes”
• Sekolah ini berlokasi di Jalan Sidowayah Nomor 31, dusun
Sidowayah, desa Sidoharjo, kec. Jambon, kabupaten Ponorogo.
Berjarak sekitar 28 km arah barat daya dari pusat pemerintahan
kabupaten Ponorogo
Data Peserta Didik Tahun Ajaran 2014/2015
• Total Peserta didik 200 anak
• Total PDBK 34 anak
Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan Tahun 2015
• Guru 13 orang dan 1 karyawan
• Satu GPK yaitu Budi Cahyono, S.Pd.
• Melihat banyaknya PDBK yang terdata, Kepala Sekolah menilai tidak
cukup jika sekolah hanya memiliki satu GPK, sehingga dikeluarkan
surat keputusan Nomor 800/03/405.08.20.18/2014
yang menugaskan Katimun, S.Pd.I , guru kelas satu
sebagai GPK.
• SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo, menyadari sepenuhnya tentang
pentingnya perhatian khusus bagi perkembangan pendidikan inklusif.
Salah satunya dalam pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif.
• Salah satu bentuk upaya sekolah dengan membuat pedoman
pelaksanaan kurikulum dan berbagai usaha strategis.
• Woolfolk dan Kolter (2009) mendefinisikan pendidikan inklusif sebagai
suatu sistem pendidikan yang mengakomodasi semua anak tanpa
memandang kondisi fisik, intelektual, sosial, emosional, atau kondisi
lainnya.
Sumber: Loreman (2007)
Inclusive School: Seven Pillars of Support
• Kurikulum yang fleksibel dimaknai sebagai upaya melakukan modifikasi
atau penyesuaian dari kurikulum standar nasional yang telah ditetapkan
pemerintah.
• Kurikulum yang dikembangkan di sekolah berdasarkan amanat
Permendikbud Nomor 160 tahun 2014, tanggal 11 Desember 2014
• Adanya keragaman hambatan yang dialami peserta didik yang sangat
bervariatif, mulai dari ringan, sedang, sampai berat, maka dalam
implementasinya kurikulum reguler perlu dilakukan modifikasi
(penyelarasan) sehingga sesuai dengan kebutuhan PDBK.
• “The careful and systematic structuring of appropriate goals for a child
with diverse abilities through the adaptation and modification of the
regular curriculum is viewed by many as an excellent
method of providing an appropriate education while also
allowing for inclusion in a regular class” (Loreman:2005).
PemerintahSekolah
• Lerner dan Johns (2009:56)
• Menurut peneliti enam tahapan yang dilakukan sekolah dapat dikategorikan
dalam tiga hal tahapan menurut Learner dan Johns (2009), yaitu;
• Tahap Referral stage (Pengalihtanganan), di sekolah memiliki tahap persiapan
pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif, identifikasi awal pada saat
penerimaan peserta didik baru, dan pembuatan profil siswa.
• Tahap Assesment Stage (asesmen), di sekolah memiliki tahap identifikasi
lanjutan dan asesmen baik akademik ataupun non akademik yang dibantu
oleh professional kesehatan, serta perencanaan oleh tim khusus dan umum
dalam forum yang menghasilkan dokumen RPP modifikasi ataupun PPI
• Tahap terakhir adalah Instruction Stage (pengajaran), di sekolah
menerjemahkan dengan kegiatan pelaksanaan modifikasi kurikulum sekolah
inklusif dalam konteks pembelajaran, baik dalam seting kelas
inklusif ataupun kelas khusus, serta evaluasi pelaksanaan
sekolah inklusif secara berkala.
• Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan
sekolah dalam rangka menyiapkan pelaksanaan kurikulum sekolah
inklusif bagi seluruh elemen. Keseriusan sekolah dapat dilihat dari
beberapa kegiatan dan usaha sekolah dalam rangka mempersiapkan
pelaksanaan kurikulum tersebut.
• Pendapat Sukmadinata (2001), yang menekankan bahwa untuk
melaksanakan kurikulum sesuai dengan rancangan, dibutuhkan
beberapa persiapan terutama kesiapan pelaksana.
• Sekolah memiliki beberapa kegiatan pra pengalihtanganan kepada
professional, setidaknya ada tiga hal yang dilakukan sekolah dalam
rangka persiapan tersebut, yaitu mempersiapkan tenaga pendidik dan
kependidikan, sarana-prasarana, dan orang tua dari PDBK
• Pertama, pendidik dan tenaga kependidikan dipersiapkan oleh pihak
sekolah melalui kegiatan pelatihan ataupun workshop secara berkala.
• Sumber kegiatan melalui; (1) Pemerintah, dan (2) usaha sekolah dengan
menjalin kerja sama perguruan tinggi negeri, dan lembaga swasta yang
support tentang pendidikan inklusif, serta melalui kerja sama dengan
SLB terdekat sebagai pusat sumber.
• Selain itu, sekolah juga; (a) mengadakan join program dengan institusi
atau perguruan tinggi; (b) mengadakan MoU (kerja sama) dengan pusat
sumber dan lembaga terkait, dan (c) pelatihan internal bagi guru-guru
dan pengenalan karakteristik PDBK secara langsung melalui keterlibatan
langsung dalam setiap kegiatan
• Menurut peneliti, beberapa kegiatan pelatihan yang telah dilakukan
setiap tahun oleh pemerintah merupakan salah satu langkah tanggung
jawab pemerintah dalam mengawal pelaksanaan pendidikan inklusif,
khususnya bagi pemerintah daerah setempat.
• Sedangkan, usaha-usaha sekolah ditujukan untuk dapat mempersiapkan
seluruh elemen dengan sebaik mungkin. Mungkin banyaknya
PDBK yang dimiliki sekolah.
• Hal lain yang dipersiapkan dalam rangka penciptaan “inclusive culture”
adalah dari segi gedung, sarana-prasarana, dan juga atribut di sekolah.
• Rusman (2011:74) berpendapat bahwa mengingat bentuk kurikulum
yang nyata akan dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan pembelajaran
yang akan menguji semua konsep, prinsip, nilai, pengetahuan, metode,
alat, dan kemampuan guru dalam bentuk perbuatan. Sehingga
diperlukan berbagai persiapan yang matang sebelum melaksanakan
kurikulum.
• Pihak SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo juga mempersiapkan
pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif bagi seluruh wali murid,
khususnya wali murid bagi PDBK. Salah satu kegiatan yang dilakukan
adalah sosialisasi pendidikan inklusif kepada seluruh
wali murid pada saat penerimaan siswa baru. Serta
melalui Gerakan Ayo Sekolah.
• Menurut peneliti, sosialiasi yang telah dilakukan ini akan sangat
bermanfaat bagi wali murid. Namun, peneliti melihat hal lain, di daerah
tersebut terdapat sebuah sanggar pendidikan rakyat, namun sudah
non-aktif. Terdapat potensi jika sanggar tersebut dihidupkan kembali.
Salah satu hal positif yang bisa dilakukan adalah pendidikan parenting,
hal tersebut diperuntukkan bagi seluruh wali murid. Melalui sanggar,
orang tua murid lebih leluasa bertanya dan berdiskusi serta berinteraksi
dengan pemateri tentang pendidikan anak. Pihak sekolah harus menjadi
pelopor.
• Pendapat Learner dan Johns (2009) tentang pentingnya prereferral
activities sebelum sekolah memasuki tahap identifikasi dan asesmen.
• Menurut peneliti, langkah sekolah dalam rangka mempersiapkan
pelaksanaan yang berfokus pada penyiapan tenaga
pendidik, sarana dan prasarana, serta wali murid
sudah sangat tepat.
• Pada tahap persiapan ini juga, pihak sekolah telah menyiapkan SDM
tenaga pendidik yang menjadi tim khusus ataupun tim pelaksana dalam
pelaksanaan pendidikan inklusif.
• Pendapat Learner and Johns, (2009:55) menyebutkan perlunya
keberadaan tim pendukung instruksional. “The instructional support
team is a peer group of colleagues to help the classroom teacher
analyze the student’s academic and/or behavior problems and
recommended interventions and accommodations for the classroom”
• Menurut peneliti, keberadaan tim khusus yang memiliki tanggung jawab
tambahan untuk mengelola dan menjadi pioneer dalam pelaksanaan
kurikulum pendidikan inklusif ini sangatlah baik.
• Pendapat Budiyanto, et.all, (2013), identifikasi sebagai suatu usaha
untuk menemukenali anak berkebutuhan khusus, dalam hal ini anak
atau peserta didik yang mengalami kelainan dengan berbagai gejala-
gejala yang menyertainya.
• Assesmen merupakan rangkaian kegiatan mengumpulkan informasi
tentang anak untuk dijadikan pertimbangan dalam pengambilan
keputusan berbagai kegiatan yang mendukung pelayanan bagi PDBK
tersebut.
• Selama ini, sekolah konsen menyoroti lima hal dalam proses identifikasi
dan asesmen, yaitu: (a) aspek kesehatan; (b) aspek akademis; (c) sosial
emosional; (d) aspek kemandirian, dan (c) aspek non akademik.
• Hal ini sesuai dengan pendapat Budiyanto, et.all (2013), bahwa
identifikasi anak berkebutuhan khusus dapat dilakukan berdasarkan
gejala-gejala yang dapat diamati, seperti (1) gejala fisik, (2) gejala
perilaku, dan (3) gejala hasil bejalar
• Menurut Peneliti, secara bahasa memang sedikit terdapat perbedaan,
namun pada praktiknya tiga hal tersebut tidaklah berbeda dengan
penerjemahan pihak sekolah. Gejala fisik diterjemahkan menjadi aspek
kesehatan, gejala perilaku diterjemahkan sebagai aspek sosio
emosional & kemandirian. Gejala hasil belajar dimaknai
sekolah sebagai aspek akademik dan non akademik.
• Menurut peneliti tentang beberapa hal yang dijadikan objek identifikasi
sudah baik, meskipun suatu hasil pengkajian dan pengalaman sekolah.
Namun perlu diketahui, sejak tahun 2013 pemerintah telah menyiapkan
format dokumen tentang identifikasi. Format tersebut dapat dijadikan
sebagai alat identifikasi PDBK pada saat penerimaan siswa baru
• Pendapat Lerner dan Johns (2009) bahwa untuk meningkatkan layanan
kekhususan peserta didik di sekolah inklusif, maka peserta didik
seharusnya diidentifikasi dan diklasifikasikan sesuai dengan jenis dan
tingkat hambatan di dalam kategori pendidikan khusus yang berlaku.
• Sekolah melakukan asesmen saat PSB dan PBM di tahap awal.
• Pendapat Lerner dan Johns (2009:46), bahwa “Assesment is the
process of collecting information about a student that
will be used to form judgment and make decisions
concerning that student”
• Dari kelima hal tersebut sekolah menggolongkan menjadi dua, yakni
identifikasi dan asesmen yang dapat dilakukan sendiri oleh pihak
sekolah dan identifikasi dan asesmen yang dibantu oleh pihak lain, yaitu
professional dan pusat sumber.
• Menurut Loreman (2005), pihak professional tersebut bisa termasuk
dokter, perawat, ataupun keahlian serupa di bidang kesehatan lainnya,
seperti psikolog, psikoterapis, terapis okupasi, terapis bahasa, ataupun
tenaga paraprofesional lainnya.
• Pendapat Loreman (2005), bahwa keterlibatan professional khususnya
bidang kesehatan ini sebaiknya tidak hanya pada kegiatan identifikasi
dan asesmen, namun juga pada tahap selanjutnya hingga akhir, artinya
dilibatkan dalam seluruh rangkaian pelaksanaan kurikulum.
Desain Relasi
Identifikasi dan
Asesmen dalam
Pendidikan
Sumber:
Budiyanto
(2009)
• Dalam identifikasi dan asesmen, pihak sekolah ataupun professional
meminta kerja sama berbagai pihak sebagai informan, di antaranya:
orang tua PDBK, teman main/sejawat, guru di jenjang sebelumnya (TK),
guru kelas, peserta didik, serta jika dibutuhkan tetangga di sekitar
kediaman PDBK.
• Pendapat Lerner dan Johns (2009:56) yang menyatakan bahwa, “The
initial referral of a student for special education evaluation can come
through several sources such as the parent, the teacher, others
professional who have contact with student, or self referral by the
student”
• Pembuatan profil berdasarkan pada kebutuhan sekolah. Salah satu
usaha strategis dengan mendokumentasikan seluruh catatan diri anak
dalam suatu dokumen yang akan dijadikan pedoman pada saat
perencanaan kurikulum modifikasi tersebut, baik kurikulum akademik
ataupun non akademik.
• Menurut Imron, (2011:17) bahwa dalam memanajamen peserta didik
memiliki cakupan ruang lingkup yang cukup luas, yaitu meliputi
pengaturan aktivitas-aktivitas peserta didik sejak yang bersangkutan
masuk ke sekolah hingga yang bersangkutan lulus dari sekolah
tersebut, baik yang berkenaan dengan peserta didik secara langsung,
maupun secara tidak langsung
• Profil siswa dibuat oleh GPK
• Selama ini diketahui bahwa belum ada format khusus yang dibuat
pemerintah.
• Profil siswa memiliki beberapa konten, yaitu data individu yang meliputi
nama, usia, kelas, dan sekolah, kemudian aspek akademik, aspek
kemandirian, aspek kesehatan, aspek sosial-emosional, aspek keluarga,
dan diagnosa sementara.
• Menurut peneliti, langkah sekolah untuk mendokumentasikan catatan-
catatan individu tersebut sangat baik dan perlu dijadikan masukan bagi
sekolah lain.
• Jika dihubungkan dengan pelaksanaan manajemen peserta didik di
sekolah inklusif, berarti pihak sekolah diharuskan untuk mendorong dan
memacu kemandirian peserta didik, khususnya PDBK, serta mengatur
seluruh pembimbingan sebagai upaya melaksanakan manajemen
sekolah sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Profil
siswa dapat dijadikan acuan utama.
• Sekolah memiliki tim khusus yang bertugas untuk memikirkan
perkembangan pendidikan inklusif secara lebih detail.
• Tim khusus ini terdiri dari GPK, pembantu GPK, dan 3 guru kelas, yaitu
wali kelas satu, wali kelas V, dan guru pelajaran pendidikan agama islam.
Dan GPK menjadi coordinator tim khusus tersebut.
• Tugas tim khusus yaitu (1) pengelompokan jenis kekhususan PDBK; (2)
identifikasi tujuan pendidikan setiap PDBK; dan (3) merancang grand
desain modifikasi kurikulum bagi PDBK tersebut
• Menurut Learner and Johns, (2009:55) tersebut bahwa tugas utama tim
ini adalah untuk membantu guru kelas dalam melakukan analisis aspek
akademik ataupun non akademik peserta didik ataupun permasalahan
perilaku peserta didik, serta memberikan rekomendasi mengenai
langkah intervensi dan perilaku selama di dalam kelas.
• Unsur RPP modifikasi atau PPI berdasarkan pada pedoman pemerintah
dan telah sesuai dengan pendapat Gargiulo (2012) tentang unsur
standar dalam PPI atau RPP yang dimodifikasi.
• Menurut Peneliti, dari teori tersebut maka dapat difahami bahwa aspek
current performance (perkembangan terbaru) terdapat dalam unsur
poin (1) identitas siswa (4) kelebihan, (5) kelemahan. Kemudian, special
education and related (pendidikan khusus dan keterkaitan) terdapat
dalam aspek (2) mata pelajaran, dan (3) materi. Kemudian, measuring
program (program yang terukur) terdapat dalam aspek (6) indikator dan
tujuan pembelajaran. Kemudian, unsur transition service/special
service (layanan khusus) terdapat dalam aspek (7) strategi, (8) langkah
kegiatan, dan (9) evaluasi.
• Sehingga, aspek date and place (tanggal dan tempat), dan participation
with a typical student (partisipasi yang perlu diberikan berdasarkan
kekhasan peserta didik) belum terdapat dalam format PPI
yang dirancang oleh tim khusus ini.
• Terdiri dari seluruh warga sekolah yaitu terdiri dari kepala sekolah, GPK, guru
kelas, guru mata pelajaran, dan komite sekolah, serta orang tua.
• Sesuai pendapat Lerner dan Johns (2009:56) yang mengatakan bahwa, “The
initial referral of a student for special education evaluation can come through
several sources such as the parent, the teacher, others professional who have
contact with student, or self referral by the student”.
• Tim umum bekerja secara bersama-sama dalam suatu forum besar yang rutin
dilakukan setiap pergantian tahun ajaran baru
• Sesuai pendapat Lerner dan Johns (2009) bahwa, “The IEP creates an
opportunity for teachers, parents, school administrators,
related service personnel, and students (when appropriate)
to work together to improve educational result for children
with disability”
• Pendapat Rahardja (2015) menjelaskan bahwa penyusunan, pelaksanaan, dan
penilaian PPI menerapkan asas kerjasama dengan melibatkan guru, tutor
sebaya, orang tua siswa, dan GPK.
• Menurut Peneliti, tingkat keakuratan masukan dari orang tua PDBK masih
tergolong rendah, hal ini diakibatkan tingkat pendidikan orang tua. Selain itu,
orang tua PDBK yang berasal dari lokasi yang jauh belum bisa bergabung
dalam proses perencanaan.
• Lerner dan Johns (2009) menjelaskan tentang beberapa peserta yang harus
dilibatkan dalam “the IEP Meeting” setidaknya sebagai berikut: (1) orang tua
PDBK; (2) satu guru regular; (3) satu GPK; (4) pusat sumber terdekat; (5)
individu yang dapat menginterpretasikan hasil evaluasi; (6) individu atau
perwakilan kelompok di luar pihak sekolah; dan (7) peserta didik yang
berkebutuhan khusus tersebut.
• Dari keseluruhan peserta tersebut, menurut peneliti hanya
poin nomor 6 yang belum terlibat dalam perencanaan
modifikasi kurikulum di sekolah yang diteliti.
Pengelolaan Kelas di Sekolah Inklusif di Indonesia
Bidiyanto, et.all (2013).
• seluruh peserta didik belajar secara bersama-sama dalam satu kelas.
Saat ini terdapat sembilan kelas yang diseting sebagai kelas inklusif.
• Budiyanto, et.all (2013) yang menyatakan bahwa di kelas ini PDBK
belajar bersama-sama dengan peserta didik regular
• GPK dan pembantu GPK akan berkolaborasi dengan guru kelas di dalam
kelas pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan ketentuan sekolah,
yaitu pada pelajaran-pelajaran tertentu dan pada saat mendekati UTS
(ujian tengah semester) ataupun UAS (ujian akhir semester).
• Choate (2013:39) berpendapat bahwa semua tenaga pendidik baik guru
regular maupun GPK harus berbagi tanggung jawab dalam
mengakomadasi kebutuhan pembelajaran baik untuk
siswa dengan dan tanpa disabilitas.
• Loreman (2005) berpendapat bahwa “baik di kelas khusus ataupun kelas
inklusif seharusnya terjadi kolaborasi dalam pelaksanaan pembelajaran
antara guru kelas (guru utama) dengan guru bantu (GPK)”.
• Proses interaksi antara guru kelas ataupun guru mata pelajaran dengan
GPK ataupun pembantu GPK tidak hanya terbatas pada proses belajar
mengajar di dalam kelas saja.
• Menurut peneliti, keterbatasan waktu GPK dalam kelas Inklusif karena
regulasi pemerintah yang belum melihat profesionalitas GPK secara utuh
• Menurut peneliti, waktu kolaborasi antar keduanya masih belum
maksimal, juga dikarenakan waktu tugas GPK yang sangat padat
Model kolaborasi instruksional
dalam kelas inklusif
Menurut Gargiulo, R.M. (2012)
Keterangan:
Guru regular Siswa reguler
Guru bantu (GPK) PDBK
• Dikhususkan bagi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) yang
bertempat di ruang sumber
• Penggunaan ruang sumber sebagai fasilitas seting kelas khusus ini sesuai
dengan pendapat Budiyanto, et.all (2013) yang menyatakan bahwa
“kelas khusus ini merupakan salah satu sistem layanan di sekolah inklusif
dengan cara memisahkan di kelas tersendiri dari peserta didik regular.
Sebagian besar pelaksanaan pembelajaran mereka di kelas tersendiri
tersebut”.
• Guru yang mengajar di ruang sumber adalah GPK, dibantu dengan
seorang pembantu GPK.
• Pendapat Gargiulo (2012), model One Teacher, One Observe
(satu guru, satu observasi).
• Pemanfaatan ruang sumber memang masih sangat minim, hal ini
sengaja di lakukan karena pihak sekolah tidak menginkan terlalu lama
memberikan pembelajaran khusus bagi PDBK, apalagi PDBK dengan
kekhususan yang tidak terlalu berat.
• Minimnya pemanfaatan penggunaan ruang suber tersebut, peneliti
melihat salah satunya juga disebabkan oleh minimnya GPK yang ada,
selain minimnya waktu yang tersedia.
• Bagi PDBK yang masih memiliki hambatan dalam pemahaman materi,
pihak sekolah memberikan materi tambahan pada waktu malam hari
setelah waktu maghrib yang berlokasi di kediaman pembantu GPK
• PDBK dibekali melalui berbagai kegiatan vokasional dan
ekstrakurikuler, disediakan untuk melatih sensori kasar
dan kreatifitas
• Menurut Choate (2013), layanan pendukung yang dimaksud adalah (a)
pendukung kurikulum (memilih dan menggunakan strategi
pembelajaran yang memudahkan PDBK dalam menguasai materi
pembelajaran), dan (b) pendukung khusus (memberikan
tambahan sesuai dengan kekhususan yang dimiliki
peserta didik).
• Menurut Peneliti, Salah satu fungsi dari identifikasi dan asesmen
akademik yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya. Peserta didik
diberikan pengarahan tentang minat yang dimiliki, terkhusus bagi PDBK.
Sehingga dalam praktiknya, peneliti mengamati bahwa dalam setiap
kegiatan tersebut terjadi keharmonisan antara peserta didik regular dan
PDBK yang sengaja digabung dan tidak dipisahkan.
• Evaluasi pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif dilakukan secara
berkala di setiap tiga bulan dan per semester.
• Pendapat Scriven (1991) dalam Hasan (2009:58) bahwa kegiatan
evaluasi dalam suatu pelaksanaan kurikulum khususnya di tingkat
satuan pendidikan sangatlah penting, karena evaluasi ini sama
dengan bentuk akuntabilitas terhadap customer (orang tua peserta
didik dan stakeholder ataupun masyarakat dalam arti luas).
• Rusman (2011:99), tujuan evaluasi adalah penyempurnaan kurikulum
dengan cara mengungkapkan proses pelaksanaan kurikulum yang
telah berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan
• Berdasarkan pendapat tersebut, peneliti menyimpulkan
bahwa usaha sekolah secara berkala mengevaluasi
pelaksanaan kurikulum tersebut sudah tepat.
1. Pelaksanaan modifikasi kurikulum sekolah inklusif di SD Negeri 4 Krebet,
Jambon, Ponorogo. terdiri dari enam kegiatan yaitu: 1) persiapan; 2)
identifikasi dan asesmen; 3) pembuatan profil siswa; 4) perencanaan
modifikasi kurikulum yang terdiri dari; (a) tim khusus dan (b) tim umum;
5) pelaksanaan kurikulum; dan 6) evaluasi pelaksanaan kurikulum
sekolah inklusif. Tahap persiapan dalam pelaksanaan modifikasi
kurikulum dan pembuatan profil siswa merupakan salah satu usaha
sekolah secara mandiri. Hal ini belum diatur oleh pemerintah di segala
tingkatannya, sehingga belum ada format khusus.
2. Persiapan dalam pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif ditujukan bagi
tenaga pendidik, sarana dan prasarana, dan wali murid. Persiapan bagi
tenaga pendidik dilakukan melalui pelatihan-pelatihan dari
pemerinthah serta dari usaha sekolah mandiri. Persiapan
segi sarana-prasarana yang aksesibel. Serta, persiapan
bagi wali murid melalui sosialisasi di setiap awal dan
akhir tahun, dan kegiatan “Gerakan Ayo Sekolah”.
3. identifikasi dan asesmen peserta didik dalam segi akademik oleh
sekolah dan non-akademik oleh profesional. Lima hal yang konsen
disoroti pihak sekolah. Informan yang secara aktif dilibatkan adalah:
orang tua PDBK, teman main/sejawat, guru di jenjang sebelumnya (TK),
guru kelas, peserta didik, serta tetangga di sekitar kediaman PDBK.
4. Pembuatan Profil Siswa bagi PDBK dilakukan oleh GPK, berdasarkan
pengalaman yang didapat dari tim HKI. Profil siswa memiliki beberapa
konten, yaitu data individu yang meliputi nama, usia, kelas, dan
sekolah, kemudian aspek akademik, aspek kemandirian, aspek
kesehatan, aspek sosial-emosional, aspek keluarga, dan
diagnosa sementara. Digunakan sebagai dasar perencanaan kurikulum
modifikasi.
5. Perencanaan modifikasi kurikulum terdiri dari tim khusus dan tim
umum. Tim khusus terdiri dari GPK, pembantu GPK, dan 3 guru kelas.
Tim umum terdiri dari seluruh guru dan komite. Tim khusus bertugas
membahas tentang; (1) pengelompokan jenis kekhususan PDBK; (2)
identifikasi tujuan pendidikan setiap PDBK; dan (3) merancang grand
desain modifikasi kurikulum bagi PDBK.
6. Sekolah membagi kelas menjadi dua, yaitu: seting kelas inklusif dan
kelas khusus. Kelas inklusif seperti kelas pada umumnya. Kelas khusus
dikhususkan bagi PDBK, didukung beberapa kegiatan vokasional dan
ekstrakurikuler.
7. Evaluasi pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif dilakukan secara
berkala di setiap tiga bulan dan setiap akhir semester.
• Usaha sekolah melalui join program dinilai sangatlah baik dan dapat mendukung
pelaksanaan kurikulum. Hal tersebut perlu dikembangkan sehingga menjadi salah
satu ciri sekolah inklusif tersebut.
• Pelatihan internal dengan menghadirkan salah satu guru dari pusat sumber
untuk berbagi pengalaman. Sehingga kerja sama dengan pusat sumber dapat
lebih meluas dari awal persiapan hingga evaluasi.
• jika memungkinkan sekolah menginisiasi jalannya kembali sanggar Sekolah
Rakyat Sanguakik yang telah dirintis oleh salah satu pemerhati pendidikan dari
PTN. Melalui sanggar ini, sekolah bisa memberikan materi parenting kepada
setiap warga yang memiliki anak sehingga materi parenting education yang
didapat lebih intens.
• Selama ini penggunaan kelas khusus sangat terbatas, peneliti menyarakan
sekolah untuk menambah waktu PDBK belajar di ruang sumber sesuai dengan
kekhususannya. Setidaknya bisa ditambahkan menjadi tiga kali
dalam seminggu.
• Penyempurnaan draft pedoman pelaksanaan kurikulum sekolah
• Selama ini, menurut pengakuan pihak sekolah, kabupaten Ponorogo belum
memiliki komitmen yang besar untuk mengawal pelaksanaan program
pendidikan inklusif di daerah tersebut. Sehingga, peneliti menyarankan
pemerintah tingkat kabupaten untuk dapat lebih memberikan perhatian lebih
dalam berbagai hal termasuk penyiapan SDM, serta segera menunjuk
koordinator pendidikan inklusif.
• Keberadaan profil siswa sebagaimana yang dibuat oleh SD Negeri 4 Krebet ini
baik untuk diterapkan di seluruh sekolah inklusif karena sangat membantu
sekolah dan guru dalam merancang kurikulum sesuai kekhususan PDBK.
Seharusnya pemerintah membuat format profil siswa yang dapat dilaksanakan
di setiap sekolah inklusif.
• Pemerintah selama ini belum memberikan jabatan GPK sebagai jabatan
professional seperti guru mata pelajaran/guru kelas pada umumnya. Sehingga
GPK juga ditugasi sebagai wali kelas. Meskipun demikian memang
GPK dibantu satu guru honorer muda. (THE END)
Pelaksanaan Kurikulum Modifikasi di Sekolah Inklusif
Pelaksanaan Kurikulum Modifikasi di Sekolah Inklusif

More Related Content

What's hot

Mini Kajian Tindakan (Penceritaan Dan Permainan)
Mini Kajian Tindakan (Penceritaan Dan Permainan)Mini Kajian Tindakan (Penceritaan Dan Permainan)
Mini Kajian Tindakan (Penceritaan Dan Permainan)must2ra86
 
Contoh ulasan jurnal
Contoh ulasan jurnalContoh ulasan jurnal
Contoh ulasan jurnalSayshare
 
Keberkesanan penggunaan kaedah simulasi dapat meningkatkan prestasi pelajar d...
Keberkesanan penggunaan kaedah simulasi dapat meningkatkan prestasi pelajar d...Keberkesanan penggunaan kaedah simulasi dapat meningkatkan prestasi pelajar d...
Keberkesanan penggunaan kaedah simulasi dapat meningkatkan prestasi pelajar d...Cma Usin
 
Proposal tesis eksperimen
Proposal tesis eksperimenProposal tesis eksperimen
Proposal tesis eksperimenFuad Flamboyan
 
Bab i s d bab iv, lampiran - pkp rino kusno
Bab i s d bab iv, lampiran - pkp rino kusnoBab i s d bab iv, lampiran - pkp rino kusno
Bab i s d bab iv, lampiran - pkp rino kusnoSojunghan Dilectus
 
44457716 laporan-penuh
44457716 laporan-penuh44457716 laporan-penuh
44457716 laporan-penuhadib90
 
Bab iii PTK seni rupa BePee NaiNs UNP
Bab iii PTK seni rupa BePee NaiNs UNPBab iii PTK seni rupa BePee NaiNs UNP
Bab iii PTK seni rupa BePee NaiNs UNPBePee NaiNs
 
Slide pembentangan seminar(nor aryani hazirah binti aris d20111048103)
Slide pembentangan seminar(nor aryani hazirah binti aris d20111048103)Slide pembentangan seminar(nor aryani hazirah binti aris d20111048103)
Slide pembentangan seminar(nor aryani hazirah binti aris d20111048103)Aryani Hazirah
 
Laporan Penuh Aktiviti Pengurusan dan Kokurikulum (QSS 4013)
Laporan Penuh Aktiviti Pengurusan dan Kokurikulum (QSS 4013)Laporan Penuh Aktiviti Pengurusan dan Kokurikulum (QSS 4013)
Laporan Penuh Aktiviti Pengurusan dan Kokurikulum (QSS 4013)Zuzan Michael Japang
 
IBSE (Pembelajaran Sains Secara Inkuiri)
IBSE (Pembelajaran Sains Secara Inkuiri)IBSE (Pembelajaran Sains Secara Inkuiri)
IBSE (Pembelajaran Sains Secara Inkuiri)Eliza Mohd Salleh
 

What's hot (20)

Kk seminar utm 08
Kk seminar utm 08Kk seminar utm 08
Kk seminar utm 08
 
skripsi BaB I
skripsi BaB Iskripsi BaB I
skripsi BaB I
 
Bab 1,2,3,4,5
Bab 1,2,3,4,5Bab 1,2,3,4,5
Bab 1,2,3,4,5
 
Disertasi 1(16-10-2010)
Disertasi 1(16-10-2010)Disertasi 1(16-10-2010)
Disertasi 1(16-10-2010)
 
Bahan kbat sains
Bahan kbat sainsBahan kbat sains
Bahan kbat sains
 
Mini Kajian Tindakan (Penceritaan Dan Permainan)
Mini Kajian Tindakan (Penceritaan Dan Permainan)Mini Kajian Tindakan (Penceritaan Dan Permainan)
Mini Kajian Tindakan (Penceritaan Dan Permainan)
 
Contoh ulasan jurnal
Contoh ulasan jurnalContoh ulasan jurnal
Contoh ulasan jurnal
 
Keberkesanan penggunaan kaedah simulasi dapat meningkatkan prestasi pelajar d...
Keberkesanan penggunaan kaedah simulasi dapat meningkatkan prestasi pelajar d...Keberkesanan penggunaan kaedah simulasi dapat meningkatkan prestasi pelajar d...
Keberkesanan penggunaan kaedah simulasi dapat meningkatkan prestasi pelajar d...
 
Kajian tindakan
Kajian tindakanKajian tindakan
Kajian tindakan
 
Proposal tesis eksperimen
Proposal tesis eksperimenProposal tesis eksperimen
Proposal tesis eksperimen
 
Bab i s d bab iv, lampiran - pkp rino kusno
Bab i s d bab iv, lampiran - pkp rino kusnoBab i s d bab iv, lampiran - pkp rino kusno
Bab i s d bab iv, lampiran - pkp rino kusno
 
PdP Cemerlang
PdP CemerlangPdP Cemerlang
PdP Cemerlang
 
Contoh proposal ptk
Contoh proposal ptkContoh proposal ptk
Contoh proposal ptk
 
44457716 laporan-penuh
44457716 laporan-penuh44457716 laporan-penuh
44457716 laporan-penuh
 
Bab iii PTK seni rupa BePee NaiNs UNP
Bab iii PTK seni rupa BePee NaiNs UNPBab iii PTK seni rupa BePee NaiNs UNP
Bab iii PTK seni rupa BePee NaiNs UNP
 
ARTIKEL PTK PQ4R
ARTIKEL PTK PQ4RARTIKEL PTK PQ4R
ARTIKEL PTK PQ4R
 
Slide pembentangan seminar(nor aryani hazirah binti aris d20111048103)
Slide pembentangan seminar(nor aryani hazirah binti aris d20111048103)Slide pembentangan seminar(nor aryani hazirah binti aris d20111048103)
Slide pembentangan seminar(nor aryani hazirah binti aris d20111048103)
 
Laporan Penuh Aktiviti Pengurusan dan Kokurikulum (QSS 4013)
Laporan Penuh Aktiviti Pengurusan dan Kokurikulum (QSS 4013)Laporan Penuh Aktiviti Pengurusan dan Kokurikulum (QSS 4013)
Laporan Penuh Aktiviti Pengurusan dan Kokurikulum (QSS 4013)
 
IBSE (Pembelajaran Sains Secara Inkuiri)
IBSE (Pembelajaran Sains Secara Inkuiri)IBSE (Pembelajaran Sains Secara Inkuiri)
IBSE (Pembelajaran Sains Secara Inkuiri)
 
Bab iii
Bab iiiBab iii
Bab iii
 

Similar to Pelaksanaan Kurikulum Modifikasi di Sekolah Inklusif

1. penjelasan mendikbud kur 2013 kpd nara sumber pelatihan (260613)
1. penjelasan mendikbud kur 2013 kpd nara sumber pelatihan (260613)1. penjelasan mendikbud kur 2013 kpd nara sumber pelatihan (260613)
1. penjelasan mendikbud kur 2013 kpd nara sumber pelatihan (260613)Iepank Iep
 
Penjelasan Kemdikbud kurikulum 2013
Penjelasan Kemdikbud kurikulum 2013Penjelasan Kemdikbud kurikulum 2013
Penjelasan Kemdikbud kurikulum 2013Donny kurnianto
 
UTARI OKTAVIA-SEMINAR PROPOSALpptx.pptx
UTARI OKTAVIA-SEMINAR PROPOSALpptx.pptxUTARI OKTAVIA-SEMINAR PROPOSALpptx.pptx
UTARI OKTAVIA-SEMINAR PROPOSALpptx.pptxRicaSugandi
 
1. penjelasan mendikbud kurikulum 2013
1. penjelasan mendikbud kurikulum 2013 1. penjelasan mendikbud kurikulum 2013
1. penjelasan mendikbud kurikulum 2013 Nia Piliang
 
Penjelasan mendikbud mengenai kurikulum 2013
Penjelasan mendikbud mengenai kurikulum 2013Penjelasan mendikbud mengenai kurikulum 2013
Penjelasan mendikbud mengenai kurikulum 2013PGSD-S1
 
Lesson Study sebagai upaya peningkatan pembelajaran yang dilakukan guru
Lesson Study sebagai upaya peningkatan pembelajaran yang dilakukan guruLesson Study sebagai upaya peningkatan pembelajaran yang dilakukan guru
Lesson Study sebagai upaya peningkatan pembelajaran yang dilakukan gurulutfi251064
 
Laporan pribadi program latihan profesi
Laporan pribadi program latihan profesiLaporan pribadi program latihan profesi
Laporan pribadi program latihan profesiHera Apriyani
 
1. kurikulum 2013
1. kurikulum 20131. kurikulum 2013
1. kurikulum 2013razanputra
 
Sosialisasi IKM Mandiri smpn 4 langkaplancar.pptx
Sosialisasi IKM Mandiri smpn 4 langkaplancar.pptxSosialisasi IKM Mandiri smpn 4 langkaplancar.pptx
Sosialisasi IKM Mandiri smpn 4 langkaplancar.pptxagusriyadi481
 
Skpm 2010 pencerapan pd p guru(std 4)
Skpm 2010   pencerapan pd p guru(std 4)Skpm 2010   pencerapan pd p guru(std 4)
Skpm 2010 pencerapan pd p guru(std 4)Ra'baniah Nor Hamdan
 
Upaya pembaharuan pendidikan nasional
Upaya pembaharuan pendidikan nasionalUpaya pembaharuan pendidikan nasional
Upaya pembaharuan pendidikan nasionalrinoarpa
 
Upaya pembaharuan pendidikan nasional
Upaya pembaharuan pendidikan nasionalUpaya pembaharuan pendidikan nasional
Upaya pembaharuan pendidikan nasionalrinoarpa
 
Materi kuliah i pengembangan kurik 2012
Materi kuliah i pengembangan kurik 2012Materi kuliah i pengembangan kurik 2012
Materi kuliah i pengembangan kurik 2012sadirun
 
Pendekatan, penilaian, model
Pendekatan, penilaian, model Pendekatan, penilaian, model
Pendekatan, penilaian, model bbawor aji
 
TEKNIK PENYUSUNAN RPP. permendikbud 103 tahun 2014.ppt
TEKNIK PENYUSUNAN RPP. permendikbud 103 tahun 2014.pptTEKNIK PENYUSUNAN RPP. permendikbud 103 tahun 2014.ppt
TEKNIK PENYUSUNAN RPP. permendikbud 103 tahun 2014.pptririnindayaniindayan
 
Bidang garapan manajemen pendidikan
Bidang garapan manajemen pendidikanBidang garapan manajemen pendidikan
Bidang garapan manajemen pendidikanIndra Arrohman
 
Draf_Kurikulum_KKNI_PGPAUD_STKIP_BIM.pdf
Draf_Kurikulum_KKNI_PGPAUD_STKIP_BIM.pdfDraf_Kurikulum_KKNI_PGPAUD_STKIP_BIM.pdf
Draf_Kurikulum_KKNI_PGPAUD_STKIP_BIM.pdfAnas Plank Thohir
 

Similar to Pelaksanaan Kurikulum Modifikasi di Sekolah Inklusif (20)

1. penjelasan mendikbud kur 2013 kpd nara sumber pelatihan (260613)
1. penjelasan mendikbud kur 2013 kpd nara sumber pelatihan (260613)1. penjelasan mendikbud kur 2013 kpd nara sumber pelatihan (260613)
1. penjelasan mendikbud kur 2013 kpd nara sumber pelatihan (260613)
 
Penjelasan Kemdikbud kurikulum 2013
Penjelasan Kemdikbud kurikulum 2013Penjelasan Kemdikbud kurikulum 2013
Penjelasan Kemdikbud kurikulum 2013
 
UTARI OKTAVIA-SEMINAR PROPOSALpptx.pptx
UTARI OKTAVIA-SEMINAR PROPOSALpptx.pptxUTARI OKTAVIA-SEMINAR PROPOSALpptx.pptx
UTARI OKTAVIA-SEMINAR PROPOSALpptx.pptx
 
RIPALDO.pptx
RIPALDO.pptxRIPALDO.pptx
RIPALDO.pptx
 
1. penjelasan mendikbud kurikulum 2013
1. penjelasan mendikbud kurikulum 2013 1. penjelasan mendikbud kurikulum 2013
1. penjelasan mendikbud kurikulum 2013
 
Penjelasan mendikbud mengenai kurikulum 2013
Penjelasan mendikbud mengenai kurikulum 2013Penjelasan mendikbud mengenai kurikulum 2013
Penjelasan mendikbud mengenai kurikulum 2013
 
Lesson Study sebagai upaya peningkatan pembelajaran yang dilakukan guru
Lesson Study sebagai upaya peningkatan pembelajaran yang dilakukan guruLesson Study sebagai upaya peningkatan pembelajaran yang dilakukan guru
Lesson Study sebagai upaya peningkatan pembelajaran yang dilakukan guru
 
Laporan pribadi program latihan profesi
Laporan pribadi program latihan profesiLaporan pribadi program latihan profesi
Laporan pribadi program latihan profesi
 
1. kurikulum 2013
1. kurikulum 20131. kurikulum 2013
1. kurikulum 2013
 
Sosialisasi IKM Mandiri smpn 4 langkaplancar.pptx
Sosialisasi IKM Mandiri smpn 4 langkaplancar.pptxSosialisasi IKM Mandiri smpn 4 langkaplancar.pptx
Sosialisasi IKM Mandiri smpn 4 langkaplancar.pptx
 
Skpm 2010 pencerapan pd p guru(std 4)
Skpm 2010   pencerapan pd p guru(std 4)Skpm 2010   pencerapan pd p guru(std 4)
Skpm 2010 pencerapan pd p guru(std 4)
 
9 ls-uppl
9 ls-uppl9 ls-uppl
9 ls-uppl
 
Upaya pembaharuan pendidikan nasional
Upaya pembaharuan pendidikan nasionalUpaya pembaharuan pendidikan nasional
Upaya pembaharuan pendidikan nasional
 
Upaya pembaharuan pendidikan nasional
Upaya pembaharuan pendidikan nasionalUpaya pembaharuan pendidikan nasional
Upaya pembaharuan pendidikan nasional
 
Materi kuliah i pengembangan kurik 2012
Materi kuliah i pengembangan kurik 2012Materi kuliah i pengembangan kurik 2012
Materi kuliah i pengembangan kurik 2012
 
Pendekatan, penilaian, model
Pendekatan, penilaian, model Pendekatan, penilaian, model
Pendekatan, penilaian, model
 
TEKNIK PENYUSUNAN RPP. permendikbud 103 tahun 2014.ppt
TEKNIK PENYUSUNAN RPP. permendikbud 103 tahun 2014.pptTEKNIK PENYUSUNAN RPP. permendikbud 103 tahun 2014.ppt
TEKNIK PENYUSUNAN RPP. permendikbud 103 tahun 2014.ppt
 
Isu Pengurusan Tingkatan Enam Pahang 2009
Isu Pengurusan Tingkatan Enam Pahang 2009Isu Pengurusan Tingkatan Enam Pahang 2009
Isu Pengurusan Tingkatan Enam Pahang 2009
 
Bidang garapan manajemen pendidikan
Bidang garapan manajemen pendidikanBidang garapan manajemen pendidikan
Bidang garapan manajemen pendidikan
 
Draf_Kurikulum_KKNI_PGPAUD_STKIP_BIM.pdf
Draf_Kurikulum_KKNI_PGPAUD_STKIP_BIM.pdfDraf_Kurikulum_KKNI_PGPAUD_STKIP_BIM.pdf
Draf_Kurikulum_KKNI_PGPAUD_STKIP_BIM.pdf
 

More from Ady Setiawan

Presentasi Usulan Maskot dan Slogan UNTAN
Presentasi Usulan Maskot dan Slogan UNTANPresentasi Usulan Maskot dan Slogan UNTAN
Presentasi Usulan Maskot dan Slogan UNTANAdy Setiawan
 
Konsep Sistem Desentralisasi Dalam Pendidikan
Konsep Sistem Desentralisasi Dalam PendidikanKonsep Sistem Desentralisasi Dalam Pendidikan
Konsep Sistem Desentralisasi Dalam PendidikanAdy Setiawan
 
Kepemimpinan Pendidikan
Kepemimpinan PendidikanKepemimpinan Pendidikan
Kepemimpinan PendidikanAdy Setiawan
 
Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas
Fiqih Penguatan Penyandang DisabilitasFiqih Penguatan Penyandang Disabilitas
Fiqih Penguatan Penyandang DisabilitasAdy Setiawan
 
Buku KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri Nahdlatul Ulama)
Buku KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri Nahdlatul Ulama)Buku KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri Nahdlatul Ulama)
Buku KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri Nahdlatul Ulama)Ady Setiawan
 
Pedoman Diklat Berjenjang Bagi Guru PAUD di Daerah 3T
Pedoman Diklat Berjenjang Bagi Guru PAUD di Daerah 3TPedoman Diklat Berjenjang Bagi Guru PAUD di Daerah 3T
Pedoman Diklat Berjenjang Bagi Guru PAUD di Daerah 3TAdy Setiawan
 
Kebijakan Pendidikan Kesetaraan Tahun 2018
Kebijakan Pendidikan Kesetaraan Tahun 2018Kebijakan Pendidikan Kesetaraan Tahun 2018
Kebijakan Pendidikan Kesetaraan Tahun 2018Ady Setiawan
 
Analisis Biaya Pendidikan
Analisis Biaya PendidikanAnalisis Biaya Pendidikan
Analisis Biaya PendidikanAdy Setiawan
 
Konsep Belajar dan Kinerja
Konsep Belajar dan KinerjaKonsep Belajar dan Kinerja
Konsep Belajar dan KinerjaAdy Setiawan
 
Kebijakan Pendidikan yang Unggul
Kebijakan Pendidikan yang UnggulKebijakan Pendidikan yang Unggul
Kebijakan Pendidikan yang UnggulAdy Setiawan
 
Wawancara sebagai Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Kualitatif
Wawancara sebagai Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian KualitatifWawancara sebagai Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Kualitatif
Wawancara sebagai Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian KualitatifAdy Setiawan
 
Promosi, Perpindahan, Demosi, dan PHK dalam Manajemen Sumber Daya Manusia Pen...
Promosi, Perpindahan, Demosi, dan PHK dalam Manajemen Sumber Daya Manusia Pen...Promosi, Perpindahan, Demosi, dan PHK dalam Manajemen Sumber Daya Manusia Pen...
Promosi, Perpindahan, Demosi, dan PHK dalam Manajemen Sumber Daya Manusia Pen...Ady Setiawan
 
Teori dan Fungsi Manajemen
Teori dan Fungsi ManajemenTeori dan Fungsi Manajemen
Teori dan Fungsi ManajemenAdy Setiawan
 
Menyusun Instrumen Penelitian Kuantitatif
Menyusun Instrumen Penelitian KuantitatifMenyusun Instrumen Penelitian Kuantitatif
Menyusun Instrumen Penelitian KuantitatifAdy Setiawan
 
e-Book Senarai Kearifan Gontory Karya Ust. Ahmad Suharto
e-Book Senarai Kearifan Gontory Karya Ust. Ahmad Suhartoe-Book Senarai Kearifan Gontory Karya Ust. Ahmad Suharto
e-Book Senarai Kearifan Gontory Karya Ust. Ahmad SuhartoAdy Setiawan
 
Pendekatan Cost Benefit, Cost Effectiveness, dan Sarpras dalam Perencanaan Pe...
Pendekatan Cost Benefit, Cost Effectiveness, dan Sarpras dalam Perencanaan Pe...Pendekatan Cost Benefit, Cost Effectiveness, dan Sarpras dalam Perencanaan Pe...
Pendekatan Cost Benefit, Cost Effectiveness, dan Sarpras dalam Perencanaan Pe...Ady Setiawan
 
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)Ady Setiawan
 
Analisis Biaya dan Pengeluaran dalam Perencanaan Pendidikan
Analisis Biaya dan Pengeluaran dalam Perencanaan PendidikanAnalisis Biaya dan Pengeluaran dalam Perencanaan Pendidikan
Analisis Biaya dan Pengeluaran dalam Perencanaan PendidikanAdy Setiawan
 
Menentukan Sumber Data Penelitian (Populasi dan Sampel)
Menentukan Sumber Data Penelitian (Populasi dan Sampel)Menentukan Sumber Data Penelitian (Populasi dan Sampel)
Menentukan Sumber Data Penelitian (Populasi dan Sampel)Ady Setiawan
 
Konsep Resistensi dalam Manajemen Perubahan Pendidikan
Konsep Resistensi dalam Manajemen Perubahan PendidikanKonsep Resistensi dalam Manajemen Perubahan Pendidikan
Konsep Resistensi dalam Manajemen Perubahan PendidikanAdy Setiawan
 

More from Ady Setiawan (20)

Presentasi Usulan Maskot dan Slogan UNTAN
Presentasi Usulan Maskot dan Slogan UNTANPresentasi Usulan Maskot dan Slogan UNTAN
Presentasi Usulan Maskot dan Slogan UNTAN
 
Konsep Sistem Desentralisasi Dalam Pendidikan
Konsep Sistem Desentralisasi Dalam PendidikanKonsep Sistem Desentralisasi Dalam Pendidikan
Konsep Sistem Desentralisasi Dalam Pendidikan
 
Kepemimpinan Pendidikan
Kepemimpinan PendidikanKepemimpinan Pendidikan
Kepemimpinan Pendidikan
 
Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas
Fiqih Penguatan Penyandang DisabilitasFiqih Penguatan Penyandang Disabilitas
Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas
 
Buku KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri Nahdlatul Ulama)
Buku KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri Nahdlatul Ulama)Buku KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri Nahdlatul Ulama)
Buku KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri Nahdlatul Ulama)
 
Pedoman Diklat Berjenjang Bagi Guru PAUD di Daerah 3T
Pedoman Diklat Berjenjang Bagi Guru PAUD di Daerah 3TPedoman Diklat Berjenjang Bagi Guru PAUD di Daerah 3T
Pedoman Diklat Berjenjang Bagi Guru PAUD di Daerah 3T
 
Kebijakan Pendidikan Kesetaraan Tahun 2018
Kebijakan Pendidikan Kesetaraan Tahun 2018Kebijakan Pendidikan Kesetaraan Tahun 2018
Kebijakan Pendidikan Kesetaraan Tahun 2018
 
Analisis Biaya Pendidikan
Analisis Biaya PendidikanAnalisis Biaya Pendidikan
Analisis Biaya Pendidikan
 
Konsep Belajar dan Kinerja
Konsep Belajar dan KinerjaKonsep Belajar dan Kinerja
Konsep Belajar dan Kinerja
 
Kebijakan Pendidikan yang Unggul
Kebijakan Pendidikan yang UnggulKebijakan Pendidikan yang Unggul
Kebijakan Pendidikan yang Unggul
 
Wawancara sebagai Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Kualitatif
Wawancara sebagai Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian KualitatifWawancara sebagai Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Kualitatif
Wawancara sebagai Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Kualitatif
 
Promosi, Perpindahan, Demosi, dan PHK dalam Manajemen Sumber Daya Manusia Pen...
Promosi, Perpindahan, Demosi, dan PHK dalam Manajemen Sumber Daya Manusia Pen...Promosi, Perpindahan, Demosi, dan PHK dalam Manajemen Sumber Daya Manusia Pen...
Promosi, Perpindahan, Demosi, dan PHK dalam Manajemen Sumber Daya Manusia Pen...
 
Teori dan Fungsi Manajemen
Teori dan Fungsi ManajemenTeori dan Fungsi Manajemen
Teori dan Fungsi Manajemen
 
Menyusun Instrumen Penelitian Kuantitatif
Menyusun Instrumen Penelitian KuantitatifMenyusun Instrumen Penelitian Kuantitatif
Menyusun Instrumen Penelitian Kuantitatif
 
e-Book Senarai Kearifan Gontory Karya Ust. Ahmad Suharto
e-Book Senarai Kearifan Gontory Karya Ust. Ahmad Suhartoe-Book Senarai Kearifan Gontory Karya Ust. Ahmad Suharto
e-Book Senarai Kearifan Gontory Karya Ust. Ahmad Suharto
 
Pendekatan Cost Benefit, Cost Effectiveness, dan Sarpras dalam Perencanaan Pe...
Pendekatan Cost Benefit, Cost Effectiveness, dan Sarpras dalam Perencanaan Pe...Pendekatan Cost Benefit, Cost Effectiveness, dan Sarpras dalam Perencanaan Pe...
Pendekatan Cost Benefit, Cost Effectiveness, dan Sarpras dalam Perencanaan Pe...
 
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)
 
Analisis Biaya dan Pengeluaran dalam Perencanaan Pendidikan
Analisis Biaya dan Pengeluaran dalam Perencanaan PendidikanAnalisis Biaya dan Pengeluaran dalam Perencanaan Pendidikan
Analisis Biaya dan Pengeluaran dalam Perencanaan Pendidikan
 
Menentukan Sumber Data Penelitian (Populasi dan Sampel)
Menentukan Sumber Data Penelitian (Populasi dan Sampel)Menentukan Sumber Data Penelitian (Populasi dan Sampel)
Menentukan Sumber Data Penelitian (Populasi dan Sampel)
 
Konsep Resistensi dalam Manajemen Perubahan Pendidikan
Konsep Resistensi dalam Manajemen Perubahan PendidikanKonsep Resistensi dalam Manajemen Perubahan Pendidikan
Konsep Resistensi dalam Manajemen Perubahan Pendidikan
 

Recently uploaded

Lokakarya Kepemimpinan Sekolah 1_Mei 2024.pptx
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah 1_Mei 2024.pptxLokakarya Kepemimpinan Sekolah 1_Mei 2024.pptx
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah 1_Mei 2024.pptxHermawati Dwi Susari
 
KISI KISI SAS GENAP-PAI 7- KUMER-2023.doc
KISI KISI SAS GENAP-PAI 7- KUMER-2023.docKISI KISI SAS GENAP-PAI 7- KUMER-2023.doc
KISI KISI SAS GENAP-PAI 7- KUMER-2023.docriska190321
 
MODUL AJAR SENI RUPA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI RUPA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR SENI RUPA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI RUPA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdfAndiCoc
 
MODUL AJAR SENI RUPA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI RUPA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR SENI RUPA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI RUPA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdfAndiCoc
 
Aksi Nyata Pendidikan inklusi-Kompres.pdf
Aksi Nyata Pendidikan inklusi-Kompres.pdfAksi Nyata Pendidikan inklusi-Kompres.pdf
Aksi Nyata Pendidikan inklusi-Kompres.pdfRahayanaDjaila2
 
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah Penggerak 1.pptx
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah Penggerak 1.pptxLokakarya Kepemimpinan Sekolah Penggerak 1.pptx
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah Penggerak 1.pptxDwiNovitaSari70
 
LAPORAN SATUAN PENDIDIKAN 211 sabadolok.docx
LAPORAN SATUAN PENDIDIKAN 211 sabadolok.docxLAPORAN SATUAN PENDIDIKAN 211 sabadolok.docx
LAPORAN SATUAN PENDIDIKAN 211 sabadolok.docxSriHandayaniLubisSpd
 
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdfAndiCoc
 
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdfAndiCoc
 
Analisis Regresi Analisis Regresi dan Korelasi.ppt
Analisis Regresi Analisis Regresi dan Korelasi.pptAnalisis Regresi Analisis Regresi dan Korelasi.ppt
Analisis Regresi Analisis Regresi dan Korelasi.pptRahmaniaPamungkas2
 
Modul Ajar Matematika Kelas 5 Fase C Kurikulum Merdeka [abdiera.com]
Modul Ajar Matematika Kelas 5 Fase C Kurikulum Merdeka [abdiera.com]Modul Ajar Matematika Kelas 5 Fase C Kurikulum Merdeka [abdiera.com]
Modul Ajar Matematika Kelas 5 Fase C Kurikulum Merdeka [abdiera.com]Fathan Emran
 
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdfAndiCoc
 
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR SENI TARI KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdfAndiCoc
 
LK 1 - 5T Keputusan Pemimpin Berdampak.docx
LK 1 - 5T Keputusan Pemimpin Berdampak.docxLK 1 - 5T Keputusan Pemimpin Berdampak.docx
LK 1 - 5T Keputusan Pemimpin Berdampak.docxsarimuliati80
 
PPDB SMAN 1 SURADE - PROV JABAR 2024 / 2025
PPDB SMAN 1 SURADE - PROV JABAR 2024 / 2025PPDB SMAN 1 SURADE - PROV JABAR 2024 / 2025
PPDB SMAN 1 SURADE - PROV JABAR 2024 / 2025Fikriawan Hasli
 
MODUL AJAR SENI MUSIK KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI MUSIK KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR SENI MUSIK KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI MUSIK KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdfAndiCoc
 
PPT TUGAS DISKUSI KELOMPOK 3 KELAS 224 MODUL 1.4.pdf
PPT TUGAS DISKUSI KELOMPOK 3 KELAS 224 MODUL 1.4.pdfPPT TUGAS DISKUSI KELOMPOK 3 KELAS 224 MODUL 1.4.pdf
PPT TUGAS DISKUSI KELOMPOK 3 KELAS 224 MODUL 1.4.pdfssuser8410f71
 
Aksi Nyata Modul 1.3 Visi Guru penggerak
Aksi Nyata Modul 1.3 Visi Guru penggerakAksi Nyata Modul 1.3 Visi Guru penggerak
Aksi Nyata Modul 1.3 Visi Guru penggerakDianPermana63
 
Materi Kimfar Asam,Basa,Buffer dan Garam
Materi Kimfar Asam,Basa,Buffer dan GaramMateri Kimfar Asam,Basa,Buffer dan Garam
Materi Kimfar Asam,Basa,Buffer dan GaramTitaniaUtami
 
AKSI NYATA fASILITATOR pEMBELAJARAN (.pptx
AKSI NYATA fASILITATOR pEMBELAJARAN (.pptxAKSI NYATA fASILITATOR pEMBELAJARAN (.pptx
AKSI NYATA fASILITATOR pEMBELAJARAN (.pptxAkhyar33
 

Recently uploaded (20)

Lokakarya Kepemimpinan Sekolah 1_Mei 2024.pptx
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah 1_Mei 2024.pptxLokakarya Kepemimpinan Sekolah 1_Mei 2024.pptx
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah 1_Mei 2024.pptx
 
KISI KISI SAS GENAP-PAI 7- KUMER-2023.doc
KISI KISI SAS GENAP-PAI 7- KUMER-2023.docKISI KISI SAS GENAP-PAI 7- KUMER-2023.doc
KISI KISI SAS GENAP-PAI 7- KUMER-2023.doc
 
MODUL AJAR SENI RUPA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI RUPA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR SENI RUPA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI RUPA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
MODUL AJAR SENI RUPA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI RUPA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR SENI RUPA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI RUPA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
Aksi Nyata Pendidikan inklusi-Kompres.pdf
Aksi Nyata Pendidikan inklusi-Kompres.pdfAksi Nyata Pendidikan inklusi-Kompres.pdf
Aksi Nyata Pendidikan inklusi-Kompres.pdf
 
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah Penggerak 1.pptx
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah Penggerak 1.pptxLokakarya Kepemimpinan Sekolah Penggerak 1.pptx
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah Penggerak 1.pptx
 
LAPORAN SATUAN PENDIDIKAN 211 sabadolok.docx
LAPORAN SATUAN PENDIDIKAN 211 sabadolok.docxLAPORAN SATUAN PENDIDIKAN 211 sabadolok.docx
LAPORAN SATUAN PENDIDIKAN 211 sabadolok.docx
 
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
Analisis Regresi Analisis Regresi dan Korelasi.ppt
Analisis Regresi Analisis Regresi dan Korelasi.pptAnalisis Regresi Analisis Regresi dan Korelasi.ppt
Analisis Regresi Analisis Regresi dan Korelasi.ppt
 
Modul Ajar Matematika Kelas 5 Fase C Kurikulum Merdeka [abdiera.com]
Modul Ajar Matematika Kelas 5 Fase C Kurikulum Merdeka [abdiera.com]Modul Ajar Matematika Kelas 5 Fase C Kurikulum Merdeka [abdiera.com]
Modul Ajar Matematika Kelas 5 Fase C Kurikulum Merdeka [abdiera.com]
 
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR SENI TARI KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
LK 1 - 5T Keputusan Pemimpin Berdampak.docx
LK 1 - 5T Keputusan Pemimpin Berdampak.docxLK 1 - 5T Keputusan Pemimpin Berdampak.docx
LK 1 - 5T Keputusan Pemimpin Berdampak.docx
 
PPDB SMAN 1 SURADE - PROV JABAR 2024 / 2025
PPDB SMAN 1 SURADE - PROV JABAR 2024 / 2025PPDB SMAN 1 SURADE - PROV JABAR 2024 / 2025
PPDB SMAN 1 SURADE - PROV JABAR 2024 / 2025
 
MODUL AJAR SENI MUSIK KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI MUSIK KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR SENI MUSIK KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI MUSIK KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
PPT TUGAS DISKUSI KELOMPOK 3 KELAS 224 MODUL 1.4.pdf
PPT TUGAS DISKUSI KELOMPOK 3 KELAS 224 MODUL 1.4.pdfPPT TUGAS DISKUSI KELOMPOK 3 KELAS 224 MODUL 1.4.pdf
PPT TUGAS DISKUSI KELOMPOK 3 KELAS 224 MODUL 1.4.pdf
 
Aksi Nyata Modul 1.3 Visi Guru penggerak
Aksi Nyata Modul 1.3 Visi Guru penggerakAksi Nyata Modul 1.3 Visi Guru penggerak
Aksi Nyata Modul 1.3 Visi Guru penggerak
 
Materi Kimfar Asam,Basa,Buffer dan Garam
Materi Kimfar Asam,Basa,Buffer dan GaramMateri Kimfar Asam,Basa,Buffer dan Garam
Materi Kimfar Asam,Basa,Buffer dan Garam
 
AKSI NYATA fASILITATOR pEMBELAJARAN (.pptx
AKSI NYATA fASILITATOR pEMBELAJARAN (.pptxAKSI NYATA fASILITATOR pEMBELAJARAN (.pptx
AKSI NYATA fASILITATOR pEMBELAJARAN (.pptx
 

Pelaksanaan Kurikulum Modifikasi di Sekolah Inklusif

  • 1.
  • 2. • Konsep pendidikan inklusif di Indonesia merupakan sebuah konsep yang baru, meskipun pada hakekatnya konsep ini telah lama diterapkan di negara-negara lain. • Hal ini menjadi salah satu alasan pelaksanaan pendidikan inklusif masih terus perlu diperhatikan lebih serius, salah satu hal terpenting adalah kurikulum yang digunakan • Berdasarkan pada temuan awal peneliti, menunjukkan bahwa selama ini sekolah yang diteliti telah melaksanakan kurikulum sekolah inklusif yang sedikit berbeda dari ketentuan umum yang diberikan pemerintah • Mekanisme pelaksanaan tersebut merupakan hasil pengalaman sekolah dalam melayani PDBK yang sudah dilakukan jauh sebelum ditunjuk oleh pemerintah.
  • 3. • Pelaksanaan modifikasi kurikulum sekolah inklusif di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo. • Selanjutnya dari fokus tersebut dirinci menjadi enam subfokus, yaitu: • Persiapan dalam pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo • Identifikasi dan Asesmen peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo • Pembuatan Profil Siswa bagi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo • Perencanaan Kurikulum Sekolah Inklusif yang terdiri dari; (a) tim khusus dan (b) tim umum, di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo • Pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo • Evaluasi pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo
  • 4. • Secara umum bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan modifikasi kurikulum sekolah inklusif di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo. • Secara khusus bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan rangkaian modifikasi kurikulum di sekolah tsb, yang meliputi tentang: • Persiapan dalam pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo • Identifikasi dan Asesmen peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo • Pembuatan Profil Siswa bagi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo • Perencanaan Kurikulum Sekolah Inklusif yang terdiri dari; (a) tim khusus dan (b) tim umum, di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo • Pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo • Evaluasi pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo
  • 5. • Penelitian ini hanya dibatasi pada pelaksanaan modifikasi kurikulum di sekolah inklusif SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo yang meliputi aspek mekanisme pelaksanaan modifikasi kurikulumnya saja. Adapun aspek-aspek yang lainnya tidak dibahas atau diabaikan dalam penelitian ini.
  • 6. • Kajian Pustaka ini akan dijelaskan hal-hal berikut: a) konsep dasar sekolah inklusif b) modifikasi kurikulum sekolah inklusif c) urgensi pelaksanaan modifikasi kurikulum di sekolah inklusif d) hasil penelitian yang relevan, dan e) kerangka berfikir penelitian.
  • 7.
  • 8. • penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif • Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan observasi atau Observational Case Studies (Sesuai dengan teori Bogdan dan Biklen, 2003:55)
  • 9. Lokasi penelitian ini adalah SD Negeri 4 Krebet yang terletak di Jl. Sidowayah no. 31 dusun Sidowayah, desa Sidoharjo, kecamatan Jambon, kabupaten Ponorogo
  • 10. • Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi • Penelitian dilakukan mulai 29 Juni hingga 05 Agustus 2015, sesuai Surat Keterangan No. 423.6/28/405.08.20.18/2015
  • 11. Sumber: Miles and Huberman (1994:12)
  • 12. • HASIL WAWANCARA Contoh kode yang akan digunakan adalah KS.i1.W1.29-06-2015:48. Kode tersebut dapat dibaca dengan Sumber data KS (Kepala Sekolah), sebagai i1 (Informan pertama dalam penelitian ini), W1 berarti wawancara pertama untuk informan tersebut. 29-06-2015 adalah waktu pelaksanaan wawancara, dan 48 berarti nomor baris dalam transkip wawancara • HASIL OBSERVASI Contoh kode yang digunakan adalah F1-5-a-WOS-1-5. hal ini sesuai dengan kode temuan observasi dengan kode indikator dalam kisi-kisi penelitian • HASIL STUDI DOKUMENTASI Contoh kode yang digunakan adalah D.F1.6.c.GPK:01. D adalah Dokumen, F1.6.c adalah kode indikator. GPK adalah sumber dokumen, dan 01 adalah nomor urut dokumen dari sumber tsb.
  • 13. • Uji kredibilitas (validitas internal), untuk meningkatkan ketekunan di lapangan, peneliti tinggal sementara selama penelitian berlangsung di lokasi terdekat sekolah dan tinggal di kediaman salah satu guru yang berlokasi sekitar 5 km dari sekolah. • Uji dependabilitas. Dalam penelitian ini terdapat auditor dependent yaitu dosen pembimbing skripsi, Dr. Karwanto, S.Ag., M.Pd, dan auditor independent yaitu: Dr. Mudjito, Ak., M.Si., Dr. Budiyanto, M.Pd., dan Drs. Sujarwanto, M.Pd. • Uji konfirmability (obyektivitas). Peneliti menyerahkan draft hasil penelitian kepada KS dan GPK untuk dikoreksi terlebih dahulu pada 06/08/2015. • Uji transferabilitas
  • 14.
  • 15. • SD Negeri 4 Krebet, Ponorogo berdiri pada tahun 1977 • Pada 12 Mei 2007 SD Negeri 4 Krebet dinyatakan mendapat akreditasi B+ (Plus) oleh BAN-SM melalui SK NIS: 100180, NSS: 101051103013, NSB: 007211790624008, serta NPSN: 20509874 • Akhir 2009, SD Negeri 4 Krebet ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo untuk mulai melaksanakan program pendidikan inklusif sekaligus dinyatakan sebagai Sekolah Inklusif Pertama di Kabupaten Ponorogo tersebut. Penunjukkan ini ditindaklanjuti melalui SK yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan setempat dengan nomor SK: 421/3695/405.08/2012. Penunjukkan yang sama juga pada dua sekolah lainnya, yakni SD Negeri 4 Karang Patihan dan SD Negeri 2 Pandak, Balong, Ponorogo.
  • 16. Terwujudnya insan yang kompetitif berdasarkan IMTAQ. • Melaksanakan pembelajaran yang kontekstual dan bernuansa PAIKEM. • Menyiapkan generasi unggul yang memiliki keselarasan di bidang IMTAQ dan IPTEK. • Menyiapkan peserta didik yang aktif, kreatif, inovatif, mandiri/memiliki keterampilan hidup, dan suka bekerja keras. • Mewujudkan lingkungan inklusif ramah pembelajaran (LIRP). • Membangun citra sekolah mandiri, serta menjadi idola dan mitra terpercaya di masyarakat. • Menyiapkan peserta didik untuk menjadi warga masyarakat yang bisa menjadi penggerak pembangunan dan berkarakter.
  • 17. • ”ABK Bisa, Inklusif Yes” • Sekolah ini berlokasi di Jalan Sidowayah Nomor 31, dusun Sidowayah, desa Sidoharjo, kec. Jambon, kabupaten Ponorogo. Berjarak sekitar 28 km arah barat daya dari pusat pemerintahan kabupaten Ponorogo
  • 18. Data Peserta Didik Tahun Ajaran 2014/2015 • Total Peserta didik 200 anak • Total PDBK 34 anak Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan Tahun 2015 • Guru 13 orang dan 1 karyawan • Satu GPK yaitu Budi Cahyono, S.Pd. • Melihat banyaknya PDBK yang terdata, Kepala Sekolah menilai tidak cukup jika sekolah hanya memiliki satu GPK, sehingga dikeluarkan surat keputusan Nomor 800/03/405.08.20.18/2014 yang menugaskan Katimun, S.Pd.I , guru kelas satu sebagai GPK.
  • 19.
  • 20.
  • 21. • SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo, menyadari sepenuhnya tentang pentingnya perhatian khusus bagi perkembangan pendidikan inklusif. Salah satunya dalam pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif. • Salah satu bentuk upaya sekolah dengan membuat pedoman pelaksanaan kurikulum dan berbagai usaha strategis. • Woolfolk dan Kolter (2009) mendefinisikan pendidikan inklusif sebagai suatu sistem pendidikan yang mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, sosial, emosional, atau kondisi lainnya.
  • 22. Sumber: Loreman (2007) Inclusive School: Seven Pillars of Support
  • 23. • Kurikulum yang fleksibel dimaknai sebagai upaya melakukan modifikasi atau penyesuaian dari kurikulum standar nasional yang telah ditetapkan pemerintah. • Kurikulum yang dikembangkan di sekolah berdasarkan amanat Permendikbud Nomor 160 tahun 2014, tanggal 11 Desember 2014 • Adanya keragaman hambatan yang dialami peserta didik yang sangat bervariatif, mulai dari ringan, sedang, sampai berat, maka dalam implementasinya kurikulum reguler perlu dilakukan modifikasi (penyelarasan) sehingga sesuai dengan kebutuhan PDBK. • “The careful and systematic structuring of appropriate goals for a child with diverse abilities through the adaptation and modification of the regular curriculum is viewed by many as an excellent method of providing an appropriate education while also allowing for inclusion in a regular class” (Loreman:2005).
  • 25. • Lerner dan Johns (2009:56)
  • 26. • Menurut peneliti enam tahapan yang dilakukan sekolah dapat dikategorikan dalam tiga hal tahapan menurut Learner dan Johns (2009), yaitu; • Tahap Referral stage (Pengalihtanganan), di sekolah memiliki tahap persiapan pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif, identifikasi awal pada saat penerimaan peserta didik baru, dan pembuatan profil siswa. • Tahap Assesment Stage (asesmen), di sekolah memiliki tahap identifikasi lanjutan dan asesmen baik akademik ataupun non akademik yang dibantu oleh professional kesehatan, serta perencanaan oleh tim khusus dan umum dalam forum yang menghasilkan dokumen RPP modifikasi ataupun PPI • Tahap terakhir adalah Instruction Stage (pengajaran), di sekolah menerjemahkan dengan kegiatan pelaksanaan modifikasi kurikulum sekolah inklusif dalam konteks pembelajaran, baik dalam seting kelas inklusif ataupun kelas khusus, serta evaluasi pelaksanaan sekolah inklusif secara berkala.
  • 27. • Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan sekolah dalam rangka menyiapkan pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif bagi seluruh elemen. Keseriusan sekolah dapat dilihat dari beberapa kegiatan dan usaha sekolah dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan kurikulum tersebut. • Pendapat Sukmadinata (2001), yang menekankan bahwa untuk melaksanakan kurikulum sesuai dengan rancangan, dibutuhkan beberapa persiapan terutama kesiapan pelaksana.
  • 28. • Sekolah memiliki beberapa kegiatan pra pengalihtanganan kepada professional, setidaknya ada tiga hal yang dilakukan sekolah dalam rangka persiapan tersebut, yaitu mempersiapkan tenaga pendidik dan kependidikan, sarana-prasarana, dan orang tua dari PDBK • Pertama, pendidik dan tenaga kependidikan dipersiapkan oleh pihak sekolah melalui kegiatan pelatihan ataupun workshop secara berkala. • Sumber kegiatan melalui; (1) Pemerintah, dan (2) usaha sekolah dengan menjalin kerja sama perguruan tinggi negeri, dan lembaga swasta yang support tentang pendidikan inklusif, serta melalui kerja sama dengan SLB terdekat sebagai pusat sumber.
  • 29. • Selain itu, sekolah juga; (a) mengadakan join program dengan institusi atau perguruan tinggi; (b) mengadakan MoU (kerja sama) dengan pusat sumber dan lembaga terkait, dan (c) pelatihan internal bagi guru-guru dan pengenalan karakteristik PDBK secara langsung melalui keterlibatan langsung dalam setiap kegiatan • Menurut peneliti, beberapa kegiatan pelatihan yang telah dilakukan setiap tahun oleh pemerintah merupakan salah satu langkah tanggung jawab pemerintah dalam mengawal pelaksanaan pendidikan inklusif, khususnya bagi pemerintah daerah setempat. • Sedangkan, usaha-usaha sekolah ditujukan untuk dapat mempersiapkan seluruh elemen dengan sebaik mungkin. Mungkin banyaknya PDBK yang dimiliki sekolah.
  • 30. • Hal lain yang dipersiapkan dalam rangka penciptaan “inclusive culture” adalah dari segi gedung, sarana-prasarana, dan juga atribut di sekolah. • Rusman (2011:74) berpendapat bahwa mengingat bentuk kurikulum yang nyata akan dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan pembelajaran yang akan menguji semua konsep, prinsip, nilai, pengetahuan, metode, alat, dan kemampuan guru dalam bentuk perbuatan. Sehingga diperlukan berbagai persiapan yang matang sebelum melaksanakan kurikulum. • Pihak SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo juga mempersiapkan pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif bagi seluruh wali murid, khususnya wali murid bagi PDBK. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah sosialisasi pendidikan inklusif kepada seluruh wali murid pada saat penerimaan siswa baru. Serta melalui Gerakan Ayo Sekolah.
  • 31. • Menurut peneliti, sosialiasi yang telah dilakukan ini akan sangat bermanfaat bagi wali murid. Namun, peneliti melihat hal lain, di daerah tersebut terdapat sebuah sanggar pendidikan rakyat, namun sudah non-aktif. Terdapat potensi jika sanggar tersebut dihidupkan kembali. Salah satu hal positif yang bisa dilakukan adalah pendidikan parenting, hal tersebut diperuntukkan bagi seluruh wali murid. Melalui sanggar, orang tua murid lebih leluasa bertanya dan berdiskusi serta berinteraksi dengan pemateri tentang pendidikan anak. Pihak sekolah harus menjadi pelopor. • Pendapat Learner dan Johns (2009) tentang pentingnya prereferral activities sebelum sekolah memasuki tahap identifikasi dan asesmen. • Menurut peneliti, langkah sekolah dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan yang berfokus pada penyiapan tenaga pendidik, sarana dan prasarana, serta wali murid sudah sangat tepat.
  • 32. • Pada tahap persiapan ini juga, pihak sekolah telah menyiapkan SDM tenaga pendidik yang menjadi tim khusus ataupun tim pelaksana dalam pelaksanaan pendidikan inklusif. • Pendapat Learner and Johns, (2009:55) menyebutkan perlunya keberadaan tim pendukung instruksional. “The instructional support team is a peer group of colleagues to help the classroom teacher analyze the student’s academic and/or behavior problems and recommended interventions and accommodations for the classroom” • Menurut peneliti, keberadaan tim khusus yang memiliki tanggung jawab tambahan untuk mengelola dan menjadi pioneer dalam pelaksanaan kurikulum pendidikan inklusif ini sangatlah baik.
  • 33. • Pendapat Budiyanto, et.all, (2013), identifikasi sebagai suatu usaha untuk menemukenali anak berkebutuhan khusus, dalam hal ini anak atau peserta didik yang mengalami kelainan dengan berbagai gejala- gejala yang menyertainya. • Assesmen merupakan rangkaian kegiatan mengumpulkan informasi tentang anak untuk dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan berbagai kegiatan yang mendukung pelayanan bagi PDBK tersebut.
  • 34. • Selama ini, sekolah konsen menyoroti lima hal dalam proses identifikasi dan asesmen, yaitu: (a) aspek kesehatan; (b) aspek akademis; (c) sosial emosional; (d) aspek kemandirian, dan (c) aspek non akademik. • Hal ini sesuai dengan pendapat Budiyanto, et.all (2013), bahwa identifikasi anak berkebutuhan khusus dapat dilakukan berdasarkan gejala-gejala yang dapat diamati, seperti (1) gejala fisik, (2) gejala perilaku, dan (3) gejala hasil bejalar • Menurut Peneliti, secara bahasa memang sedikit terdapat perbedaan, namun pada praktiknya tiga hal tersebut tidaklah berbeda dengan penerjemahan pihak sekolah. Gejala fisik diterjemahkan menjadi aspek kesehatan, gejala perilaku diterjemahkan sebagai aspek sosio emosional & kemandirian. Gejala hasil belajar dimaknai sekolah sebagai aspek akademik dan non akademik.
  • 35. • Menurut peneliti tentang beberapa hal yang dijadikan objek identifikasi sudah baik, meskipun suatu hasil pengkajian dan pengalaman sekolah. Namun perlu diketahui, sejak tahun 2013 pemerintah telah menyiapkan format dokumen tentang identifikasi. Format tersebut dapat dijadikan sebagai alat identifikasi PDBK pada saat penerimaan siswa baru • Pendapat Lerner dan Johns (2009) bahwa untuk meningkatkan layanan kekhususan peserta didik di sekolah inklusif, maka peserta didik seharusnya diidentifikasi dan diklasifikasikan sesuai dengan jenis dan tingkat hambatan di dalam kategori pendidikan khusus yang berlaku. • Sekolah melakukan asesmen saat PSB dan PBM di tahap awal. • Pendapat Lerner dan Johns (2009:46), bahwa “Assesment is the process of collecting information about a student that will be used to form judgment and make decisions concerning that student”
  • 36. • Dari kelima hal tersebut sekolah menggolongkan menjadi dua, yakni identifikasi dan asesmen yang dapat dilakukan sendiri oleh pihak sekolah dan identifikasi dan asesmen yang dibantu oleh pihak lain, yaitu professional dan pusat sumber. • Menurut Loreman (2005), pihak professional tersebut bisa termasuk dokter, perawat, ataupun keahlian serupa di bidang kesehatan lainnya, seperti psikolog, psikoterapis, terapis okupasi, terapis bahasa, ataupun tenaga paraprofesional lainnya. • Pendapat Loreman (2005), bahwa keterlibatan professional khususnya bidang kesehatan ini sebaiknya tidak hanya pada kegiatan identifikasi dan asesmen, namun juga pada tahap selanjutnya hingga akhir, artinya dilibatkan dalam seluruh rangkaian pelaksanaan kurikulum.
  • 37. Desain Relasi Identifikasi dan Asesmen dalam Pendidikan Sumber: Budiyanto (2009)
  • 38. • Dalam identifikasi dan asesmen, pihak sekolah ataupun professional meminta kerja sama berbagai pihak sebagai informan, di antaranya: orang tua PDBK, teman main/sejawat, guru di jenjang sebelumnya (TK), guru kelas, peserta didik, serta jika dibutuhkan tetangga di sekitar kediaman PDBK. • Pendapat Lerner dan Johns (2009:56) yang menyatakan bahwa, “The initial referral of a student for special education evaluation can come through several sources such as the parent, the teacher, others professional who have contact with student, or self referral by the student”
  • 39. • Pembuatan profil berdasarkan pada kebutuhan sekolah. Salah satu usaha strategis dengan mendokumentasikan seluruh catatan diri anak dalam suatu dokumen yang akan dijadikan pedoman pada saat perencanaan kurikulum modifikasi tersebut, baik kurikulum akademik ataupun non akademik. • Menurut Imron, (2011:17) bahwa dalam memanajamen peserta didik memiliki cakupan ruang lingkup yang cukup luas, yaitu meliputi pengaturan aktivitas-aktivitas peserta didik sejak yang bersangkutan masuk ke sekolah hingga yang bersangkutan lulus dari sekolah tersebut, baik yang berkenaan dengan peserta didik secara langsung, maupun secara tidak langsung • Profil siswa dibuat oleh GPK
  • 40. • Selama ini diketahui bahwa belum ada format khusus yang dibuat pemerintah. • Profil siswa memiliki beberapa konten, yaitu data individu yang meliputi nama, usia, kelas, dan sekolah, kemudian aspek akademik, aspek kemandirian, aspek kesehatan, aspek sosial-emosional, aspek keluarga, dan diagnosa sementara. • Menurut peneliti, langkah sekolah untuk mendokumentasikan catatan- catatan individu tersebut sangat baik dan perlu dijadikan masukan bagi sekolah lain. • Jika dihubungkan dengan pelaksanaan manajemen peserta didik di sekolah inklusif, berarti pihak sekolah diharuskan untuk mendorong dan memacu kemandirian peserta didik, khususnya PDBK, serta mengatur seluruh pembimbingan sebagai upaya melaksanakan manajemen sekolah sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Profil siswa dapat dijadikan acuan utama.
  • 41.
  • 42. • Sekolah memiliki tim khusus yang bertugas untuk memikirkan perkembangan pendidikan inklusif secara lebih detail. • Tim khusus ini terdiri dari GPK, pembantu GPK, dan 3 guru kelas, yaitu wali kelas satu, wali kelas V, dan guru pelajaran pendidikan agama islam. Dan GPK menjadi coordinator tim khusus tersebut. • Tugas tim khusus yaitu (1) pengelompokan jenis kekhususan PDBK; (2) identifikasi tujuan pendidikan setiap PDBK; dan (3) merancang grand desain modifikasi kurikulum bagi PDBK tersebut
  • 43. • Menurut Learner and Johns, (2009:55) tersebut bahwa tugas utama tim ini adalah untuk membantu guru kelas dalam melakukan analisis aspek akademik ataupun non akademik peserta didik ataupun permasalahan perilaku peserta didik, serta memberikan rekomendasi mengenai langkah intervensi dan perilaku selama di dalam kelas. • Unsur RPP modifikasi atau PPI berdasarkan pada pedoman pemerintah dan telah sesuai dengan pendapat Gargiulo (2012) tentang unsur standar dalam PPI atau RPP yang dimodifikasi.
  • 44. • Menurut Peneliti, dari teori tersebut maka dapat difahami bahwa aspek current performance (perkembangan terbaru) terdapat dalam unsur poin (1) identitas siswa (4) kelebihan, (5) kelemahan. Kemudian, special education and related (pendidikan khusus dan keterkaitan) terdapat dalam aspek (2) mata pelajaran, dan (3) materi. Kemudian, measuring program (program yang terukur) terdapat dalam aspek (6) indikator dan tujuan pembelajaran. Kemudian, unsur transition service/special service (layanan khusus) terdapat dalam aspek (7) strategi, (8) langkah kegiatan, dan (9) evaluasi. • Sehingga, aspek date and place (tanggal dan tempat), dan participation with a typical student (partisipasi yang perlu diberikan berdasarkan kekhasan peserta didik) belum terdapat dalam format PPI yang dirancang oleh tim khusus ini.
  • 45. • Terdiri dari seluruh warga sekolah yaitu terdiri dari kepala sekolah, GPK, guru kelas, guru mata pelajaran, dan komite sekolah, serta orang tua. • Sesuai pendapat Lerner dan Johns (2009:56) yang mengatakan bahwa, “The initial referral of a student for special education evaluation can come through several sources such as the parent, the teacher, others professional who have contact with student, or self referral by the student”. • Tim umum bekerja secara bersama-sama dalam suatu forum besar yang rutin dilakukan setiap pergantian tahun ajaran baru • Sesuai pendapat Lerner dan Johns (2009) bahwa, “The IEP creates an opportunity for teachers, parents, school administrators, related service personnel, and students (when appropriate) to work together to improve educational result for children with disability”
  • 46. • Pendapat Rahardja (2015) menjelaskan bahwa penyusunan, pelaksanaan, dan penilaian PPI menerapkan asas kerjasama dengan melibatkan guru, tutor sebaya, orang tua siswa, dan GPK. • Menurut Peneliti, tingkat keakuratan masukan dari orang tua PDBK masih tergolong rendah, hal ini diakibatkan tingkat pendidikan orang tua. Selain itu, orang tua PDBK yang berasal dari lokasi yang jauh belum bisa bergabung dalam proses perencanaan. • Lerner dan Johns (2009) menjelaskan tentang beberapa peserta yang harus dilibatkan dalam “the IEP Meeting” setidaknya sebagai berikut: (1) orang tua PDBK; (2) satu guru regular; (3) satu GPK; (4) pusat sumber terdekat; (5) individu yang dapat menginterpretasikan hasil evaluasi; (6) individu atau perwakilan kelompok di luar pihak sekolah; dan (7) peserta didik yang berkebutuhan khusus tersebut. • Dari keseluruhan peserta tersebut, menurut peneliti hanya poin nomor 6 yang belum terlibat dalam perencanaan modifikasi kurikulum di sekolah yang diteliti.
  • 47.
  • 48. Pengelolaan Kelas di Sekolah Inklusif di Indonesia Bidiyanto, et.all (2013).
  • 49. • seluruh peserta didik belajar secara bersama-sama dalam satu kelas. Saat ini terdapat sembilan kelas yang diseting sebagai kelas inklusif. • Budiyanto, et.all (2013) yang menyatakan bahwa di kelas ini PDBK belajar bersama-sama dengan peserta didik regular • GPK dan pembantu GPK akan berkolaborasi dengan guru kelas di dalam kelas pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan ketentuan sekolah, yaitu pada pelajaran-pelajaran tertentu dan pada saat mendekati UTS (ujian tengah semester) ataupun UAS (ujian akhir semester). • Choate (2013:39) berpendapat bahwa semua tenaga pendidik baik guru regular maupun GPK harus berbagi tanggung jawab dalam mengakomadasi kebutuhan pembelajaran baik untuk siswa dengan dan tanpa disabilitas.
  • 50. • Loreman (2005) berpendapat bahwa “baik di kelas khusus ataupun kelas inklusif seharusnya terjadi kolaborasi dalam pelaksanaan pembelajaran antara guru kelas (guru utama) dengan guru bantu (GPK)”. • Proses interaksi antara guru kelas ataupun guru mata pelajaran dengan GPK ataupun pembantu GPK tidak hanya terbatas pada proses belajar mengajar di dalam kelas saja. • Menurut peneliti, keterbatasan waktu GPK dalam kelas Inklusif karena regulasi pemerintah yang belum melihat profesionalitas GPK secara utuh • Menurut peneliti, waktu kolaborasi antar keduanya masih belum maksimal, juga dikarenakan waktu tugas GPK yang sangat padat
  • 51. Model kolaborasi instruksional dalam kelas inklusif Menurut Gargiulo, R.M. (2012) Keterangan: Guru regular Siswa reguler Guru bantu (GPK) PDBK
  • 52. • Dikhususkan bagi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) yang bertempat di ruang sumber • Penggunaan ruang sumber sebagai fasilitas seting kelas khusus ini sesuai dengan pendapat Budiyanto, et.all (2013) yang menyatakan bahwa “kelas khusus ini merupakan salah satu sistem layanan di sekolah inklusif dengan cara memisahkan di kelas tersendiri dari peserta didik regular. Sebagian besar pelaksanaan pembelajaran mereka di kelas tersendiri tersebut”. • Guru yang mengajar di ruang sumber adalah GPK, dibantu dengan seorang pembantu GPK. • Pendapat Gargiulo (2012), model One Teacher, One Observe (satu guru, satu observasi).
  • 53. • Pemanfaatan ruang sumber memang masih sangat minim, hal ini sengaja di lakukan karena pihak sekolah tidak menginkan terlalu lama memberikan pembelajaran khusus bagi PDBK, apalagi PDBK dengan kekhususan yang tidak terlalu berat. • Minimnya pemanfaatan penggunaan ruang suber tersebut, peneliti melihat salah satunya juga disebabkan oleh minimnya GPK yang ada, selain minimnya waktu yang tersedia. • Bagi PDBK yang masih memiliki hambatan dalam pemahaman materi, pihak sekolah memberikan materi tambahan pada waktu malam hari setelah waktu maghrib yang berlokasi di kediaman pembantu GPK • PDBK dibekali melalui berbagai kegiatan vokasional dan ekstrakurikuler, disediakan untuk melatih sensori kasar dan kreatifitas
  • 54. • Menurut Choate (2013), layanan pendukung yang dimaksud adalah (a) pendukung kurikulum (memilih dan menggunakan strategi pembelajaran yang memudahkan PDBK dalam menguasai materi pembelajaran), dan (b) pendukung khusus (memberikan tambahan sesuai dengan kekhususan yang dimiliki peserta didik). • Menurut Peneliti, Salah satu fungsi dari identifikasi dan asesmen akademik yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya. Peserta didik diberikan pengarahan tentang minat yang dimiliki, terkhusus bagi PDBK. Sehingga dalam praktiknya, peneliti mengamati bahwa dalam setiap kegiatan tersebut terjadi keharmonisan antara peserta didik regular dan PDBK yang sengaja digabung dan tidak dipisahkan.
  • 55. • Evaluasi pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif dilakukan secara berkala di setiap tiga bulan dan per semester. • Pendapat Scriven (1991) dalam Hasan (2009:58) bahwa kegiatan evaluasi dalam suatu pelaksanaan kurikulum khususnya di tingkat satuan pendidikan sangatlah penting, karena evaluasi ini sama dengan bentuk akuntabilitas terhadap customer (orang tua peserta didik dan stakeholder ataupun masyarakat dalam arti luas). • Rusman (2011:99), tujuan evaluasi adalah penyempurnaan kurikulum dengan cara mengungkapkan proses pelaksanaan kurikulum yang telah berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan • Berdasarkan pendapat tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa usaha sekolah secara berkala mengevaluasi pelaksanaan kurikulum tersebut sudah tepat.
  • 56.
  • 57. 1. Pelaksanaan modifikasi kurikulum sekolah inklusif di SD Negeri 4 Krebet, Jambon, Ponorogo. terdiri dari enam kegiatan yaitu: 1) persiapan; 2) identifikasi dan asesmen; 3) pembuatan profil siswa; 4) perencanaan modifikasi kurikulum yang terdiri dari; (a) tim khusus dan (b) tim umum; 5) pelaksanaan kurikulum; dan 6) evaluasi pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif. Tahap persiapan dalam pelaksanaan modifikasi kurikulum dan pembuatan profil siswa merupakan salah satu usaha sekolah secara mandiri. Hal ini belum diatur oleh pemerintah di segala tingkatannya, sehingga belum ada format khusus. 2. Persiapan dalam pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif ditujukan bagi tenaga pendidik, sarana dan prasarana, dan wali murid. Persiapan bagi tenaga pendidik dilakukan melalui pelatihan-pelatihan dari pemerinthah serta dari usaha sekolah mandiri. Persiapan segi sarana-prasarana yang aksesibel. Serta, persiapan bagi wali murid melalui sosialisasi di setiap awal dan akhir tahun, dan kegiatan “Gerakan Ayo Sekolah”.
  • 58. 3. identifikasi dan asesmen peserta didik dalam segi akademik oleh sekolah dan non-akademik oleh profesional. Lima hal yang konsen disoroti pihak sekolah. Informan yang secara aktif dilibatkan adalah: orang tua PDBK, teman main/sejawat, guru di jenjang sebelumnya (TK), guru kelas, peserta didik, serta tetangga di sekitar kediaman PDBK. 4. Pembuatan Profil Siswa bagi PDBK dilakukan oleh GPK, berdasarkan pengalaman yang didapat dari tim HKI. Profil siswa memiliki beberapa konten, yaitu data individu yang meliputi nama, usia, kelas, dan sekolah, kemudian aspek akademik, aspek kemandirian, aspek kesehatan, aspek sosial-emosional, aspek keluarga, dan diagnosa sementara. Digunakan sebagai dasar perencanaan kurikulum modifikasi.
  • 59. 5. Perencanaan modifikasi kurikulum terdiri dari tim khusus dan tim umum. Tim khusus terdiri dari GPK, pembantu GPK, dan 3 guru kelas. Tim umum terdiri dari seluruh guru dan komite. Tim khusus bertugas membahas tentang; (1) pengelompokan jenis kekhususan PDBK; (2) identifikasi tujuan pendidikan setiap PDBK; dan (3) merancang grand desain modifikasi kurikulum bagi PDBK. 6. Sekolah membagi kelas menjadi dua, yaitu: seting kelas inklusif dan kelas khusus. Kelas inklusif seperti kelas pada umumnya. Kelas khusus dikhususkan bagi PDBK, didukung beberapa kegiatan vokasional dan ekstrakurikuler. 7. Evaluasi pelaksanaan kurikulum sekolah inklusif dilakukan secara berkala di setiap tiga bulan dan setiap akhir semester.
  • 60.
  • 61. • Usaha sekolah melalui join program dinilai sangatlah baik dan dapat mendukung pelaksanaan kurikulum. Hal tersebut perlu dikembangkan sehingga menjadi salah satu ciri sekolah inklusif tersebut. • Pelatihan internal dengan menghadirkan salah satu guru dari pusat sumber untuk berbagi pengalaman. Sehingga kerja sama dengan pusat sumber dapat lebih meluas dari awal persiapan hingga evaluasi. • jika memungkinkan sekolah menginisiasi jalannya kembali sanggar Sekolah Rakyat Sanguakik yang telah dirintis oleh salah satu pemerhati pendidikan dari PTN. Melalui sanggar ini, sekolah bisa memberikan materi parenting kepada setiap warga yang memiliki anak sehingga materi parenting education yang didapat lebih intens. • Selama ini penggunaan kelas khusus sangat terbatas, peneliti menyarakan sekolah untuk menambah waktu PDBK belajar di ruang sumber sesuai dengan kekhususannya. Setidaknya bisa ditambahkan menjadi tiga kali dalam seminggu. • Penyempurnaan draft pedoman pelaksanaan kurikulum sekolah
  • 62. • Selama ini, menurut pengakuan pihak sekolah, kabupaten Ponorogo belum memiliki komitmen yang besar untuk mengawal pelaksanaan program pendidikan inklusif di daerah tersebut. Sehingga, peneliti menyarankan pemerintah tingkat kabupaten untuk dapat lebih memberikan perhatian lebih dalam berbagai hal termasuk penyiapan SDM, serta segera menunjuk koordinator pendidikan inklusif. • Keberadaan profil siswa sebagaimana yang dibuat oleh SD Negeri 4 Krebet ini baik untuk diterapkan di seluruh sekolah inklusif karena sangat membantu sekolah dan guru dalam merancang kurikulum sesuai kekhususan PDBK. Seharusnya pemerintah membuat format profil siswa yang dapat dilaksanakan di setiap sekolah inklusif. • Pemerintah selama ini belum memberikan jabatan GPK sebagai jabatan professional seperti guru mata pelajaran/guru kelas pada umumnya. Sehingga GPK juga ditugasi sebagai wali kelas. Meskipun demikian memang GPK dibantu satu guru honorer muda. (THE END)