PARADIGMA BARU
PEMBANGUNAN PERDESAAN
Sugeng Budiharsono
Unit Manajemen Strategis, Kemendesa, PDT dan Transmigrasi
Bahan paparan disampaikan pada Kuliah Umum Bersinergi Membangun Desa yang
diselenggarakan oleh PS Agribisnis, Jurisan Agribisnis, Fakultas Pertanian , UNILA pada
tanggal 20 Mei 2020
KENAPA MEMERLUKAN PARADIGMA BARU
• Luas wilayah (darat) perdesaan (diasumsikan sama
dengan luas kabupaten) sebesar 98,56 %
• Jumlah penduduk di perdesaan (diasumsikan sama
dengan luas kabupaten) sebesar 77,10 % dari total
penduduk Indonesia
• Pengembangan perdesaan saat ini tergantung kepada
dana desa dan alokasi dana desa
• PMA dan PMDN di perdesaan lebih besar dari
perkotaan tapi tidak menyentuh “masyarakat desa”
• Lama pendidikan lebih rendah dari perkotaan
• Jumlah penduduk miskin lebih tinggi dari perkotaan
• Korea Selatan dengan membangun perdesaan,
menjadikannya negara maju hanya dalam 60 tahun,
bandingkan dengan Eropa yang memerlukan 350 tahun.
LUAS WILAYAH
Wilayah Total (Km2) Kota Kabupaten
Km2 % Km2 %
Sumatera 476.559,54 11.656,83 2,45 464.902,71 97,55
Jawa 129.489,25 4.000,23 3,09 125.489,02 96,91
Nusa Tenggara 73.864,75 576,85 0,78 73.287,90 99,22
Kalimantan 543.650,07 5.421,80 1,00 538.228,27 99,00
Sulawesi 187.610,71 2.102,79 1,12 185.507,92 98,88
Maluku 94.928,54 2.468,86 2,60 92.459,68 97,40
Papua 418.046,77 1.474,48 0,35 416.572,29 99,65
Indonesia 1924149,63 27.701,84 1,44 1.896.447,79 98,56
Sumber: diolah dari data BPS (2020)
JUMLAH PENDUDUK 2019
No Wilayah Penduduk (Jiwa) Penduduk (%)
Kota Kabupaten Total Kota Kabupaten Total
1 Sumatera 13659757 44973974 58633731 23.30 76.70 100.00
2 Jawa 35587192 115474403 151061595 23.56 76.44 100.00
3 Nusa Tenggara 1709844 8879234 10589078 16.15 83.85 100.00
4 Kalimantan 4109125 12382591 16491716 24.92 75.08 100.00
5 Sulawesi 3910286 15757888 19668174 19.88 80.12 100.00
6 Maluku 888816 2169825 3058641 29.06 70.94 100.00
7 Papua 554486 3784433 4338919 12.78 87.22 100.00
Indonesia 60419506 203422348 263841854 22.90 77.10 100.00
Sumber: diolah dari data BPS (2020)
DANA DESA 2015-2019
Sumber: Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi (2020)
PERKEMBANGAN PMA 2015-2019
68.92
73.49
71.46 70.14 70.98
31.08
26.51
28.54 29.86 29.02
0
10
20
30
40
50
60
70
80
2015 2016 2017 2018 2019
(%)
Perdesaan (%)
Perkotaan (%)
PERKEMBANGAN PMDN
68.03
74.51
68.73 66.82
63.06
31.97
25.49
31.27 33.18
36.94
0
10
20
30
40
50
60
70
80
2015 2016 2017 2018 2019
(%)
Perdesaan
Perkotaan
LAMA SEKOLAH
JUMLAH PENDUDUK MISKIN
PARADIGMA BARU PEMBANGUNAN PERDESAAN
Uraian Paradigma Lama Paradigm Baru
Dasar Teori pembangunan
yang digunakan
Kombinasi antara teori
pembangunan Endogen dan
eksogen
Kombinasi Neo-endogenous growth dan
exogenous growth
Pendekatan pembangunan Sektoral Wilayah dan Berbasis Tempat dan klaster
Perspektif Pembangunan Berbasis Masalah Berbasis Kekuatan
Prinsip pembangunan Tunggal/mandiri hanya
untuk wilayah tersebut
Kelaboratif dan jejaring dengan wilayah
lainnya
Tujuan Pemerataan, pendapatan
pertanian, daya saing
pertanian
Daya saing wilayah pedesaan, penilaian
aset lokal, eksploitasi sumber daya yang
tidak digunakan
Sektor kunci
Pembangunan
Pertanian Berbagai sektor ekonomi pedesaan, tidak
hanya pertanian tapi industri dan jasa
Instrumen Utama
Pembangunan
Subsidi Investasi
Aktor Pembangunan Pemerintah pusat dan
petani
Semua aras pemerintahan (supra nasional,
nasional, regional dan lokal) dan
stakeholder lokal (publik, swasta, LSM,
dll.)
Pendorong pertumbuhan
ekonomi
Harga murah sumber daya Inovasi
Fokus pembangunan Sarana dan prasarana Investasi sumber daya manusia dan
pengembangan kelembagaan
Teknologi Tradisonal/Tepat Guna Teknologi Tinggi dan Digital
Pembangunan Eksogen Pembangunan Endogen Pembangunan Neo-Endogen
Prinsip dasar Skala ekonomi dan
konsentrasi
Memanfaatkan
sumberdaya lokal untuk
pembangunan
berkelanjutan
Mengidentifikasi dan mengeksploitasi
potensi lokal berbasis tempat; keadilan
sosial-spasial
Kekuatan
Dinamis
Kutub pertumbuhan
perkotaan
Inisiatif lokal dan
perusahaan
Jejaring lokal-global dan aliran perkotaan-
perdesaan; Interkoneksi eksternal melalui
tata kelola multi-skalar dan multi-sektoral;
berbasis teknologi digital.
Fungsi wilayah
perdesaan
Produksi makanan dan
produk primer untuk
memperluas ekonomi
perkotaan
Beragamnya ekonomi
layanan
Sebuah mosaic konsumerisme dan
munculnya (kembali) fungsi perdesaan yang
produktif
Masalah
utama
Produktivitas rendah dan
periferalitas
Kapasitas yang terbatas
dari wilayah/kelompok
untuk berpartisipasi
dalam kegiatan ekonomi
Hubungan yang tidak sama antara lokalitas
dan kekuatan eksternal dan kelembagaan;
perubahan iklim dan krisis
Fokus
Pembangunan
Modernisasi pertanian;
mendorong mobilitas
tenaga kerja dan modal
Peningkatan kapasitas;
mengatasi eksklusi
Meningkatkan kapasitas sumber daya
manusia dan kelembagaan lokal untuk
memobilisasi sumber daya internal untuk
menanggapi terhadap tekanan dan peluang
dari luar
Fokus
Penelitian
Ekonomi pertanian;
Model ekonomi Keynesian
dan positifisme
Sosiologi perdesaan dan
geografi perdesaan
Penelitian aksi dan aktif dengan masyarakat;
antar disiplin
Sumber
Pengetahuan
Penelitian dan ahli dari
luar
Masyarakat lokal Keahlian “vernakuler” Berbasis Tempat
PEMBANGUNAN SEKTORAL VS WILAYAH
Tujuan
Pembangunan
Tujuan
Pembangunan
Sektor Terpilih
Daerah
Terpilih
Kebijakan,
Program
dan
Kegiatan
Sektor
Terpilih
Daerah Terpilih
Kebijakan,
Program
dan
Kegiatan
Aras 1
Aras 2
Aras 3
Aras 3
PENDEKATAN
SEKTORAL
PENDEKATAN
WILAYAH
KELEMAHAN PENDEKATAN BERBASIS TEMPAT
• Kebijakan dengan pendekatan wilayah/spasial
secara membabi buta sudah tidak dapat lagi
digunakan, apalagi pendekatan sektoral maupun
multi sektoral.
• Pendekatan spasial yang tidak tepat
lokasi/tempat menyebabkan salah lokus
(tempat), fokus (kegiatan), tempo (waktu),
anggaran, prioritas dan tidak sinergis dengan
lembaga lainnya. Kesalahan ini menyebabkan
banyak hal misalnya lokasi yang dimaksud untuk
dibangun tidak berkembang sesuai dengan tujuan
dan sasaran.
• Pendekatan Wilayah  Pendekatan Berbasis
Tempat
PENDEKATAN BERBASIS TEMPAT
• Pembangunan berbasis tempat adalah
pembangunan memanfaatkan kekuatan
potensi dari sumber daya lokal (dengan cara
pandang Appreciative Inquiry), oleh aktor lokal
secara inklusif dan dunia usaha dengan
fasilitasi dari pemerintah, baik pusat, provinsi
dan kabupaten/kota untuk meningkatkan
daya saing wilayah perdesaan tersebut.
• Menghapus pandangan bahwa wilayah
perkotaanlah sebagai pendorong
pertumbuhan ekonomi, sehingga terjadi bias
perkotaan.
PENDEKATAN KLASTER
UKM
BUMDES/
BUMDES
BERSAMA
KUD
KUB
OPD YANG
BERKAITAN DENGAN
KOMODITAS
UNGGULAN
OPD Lainnya
K/L
CSO
PT/LP
Klaster
lain
KLASTER
UB
PERSPEKTIF PEMBANGUNAN
PRINSI PEMBANGUNAN
• Perubahan pradigma dari competitive advantage menjadi
collaborative advantage.
• Kemitraan berbagai stakeholder dalam klaster
• Kerjasama/jejaring antar klaster dan antar kabupaten atau antar
provinsi untuk meningkatkan collaborative advantage dan
menggapai competitive advantage yang lebih besar.
• Porter
• Barney
• Hoffman
1985
• Kanter
• Huxham
• Dyer
1994
 Ricardo
 Heckscher
-Ohlin
COMPARATIVE
ADVANTAGE
COMPETITIVE
ADVANTAGE
COLLABORATIV
E ADVANTAGE
EVOLUSI KEUNGGULAN
SEKTOR KUNCI PEMBANGUNAN
• Tidak hanya pertanian, namun merupakan
kombinasi antara pertanian dengan industri
pengolahan berbasis pertanian dan atau sektor
jasa, misalnya pariwisata.
• Jangan hanya mengembangkan satu produk
(single product development) karena rentan
keberlanjutannya, sebaiknya banyak produk
(maksimum 5 produk) tapi dalam suatu
integrasi rantai nilai vertikal dan
horisontal.
Asin
Asap
Pindang
Krupuk
Otak-otak
Lainnya
Diolah
Ikan
Segar
Ikan
Hidup
Pemasaran
Ikan
Sarana Produksi
Saprodi
Padi
Beras
Dedak,
sekam
dll
Beras
Tepung
Pemasaran
Wisata
Oleh-oleh
Hotel
Pemasaran
Kuliner
PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN MENDATANG
KLASTER WINE DI KALIFORNIA
Educational, Research, & Trade
Organizations (e.g. Wine Institute,
UC Davis, Culinary Institutes)
Growers/Vineyards
Sources: California Wine Institute, Internet search, California State Legislature. Based on research by MBA
1997 students R. Alexander, R. Arney, N. Black, E. Frost, and A. Shivananda.
Wineries/Processing
Facilities
Grapestock
Fertilizer, Pesticides,
Herbicides
Grape Harvesting
Equipment
Irrigation Technology
Winemaking Equipment
Barrels
Labels
Bottles
Caps and Corks
Public Relations and
Advertising
Specialized Publications
(e.g., Wine Spectator, Trade
Journal)
Food Cluster
Tourism Cluster
California
Agricultural Cluster
State Government Agencies
(e.g., Select Committee on Wine
Production and Economy)
KASUS PENGEMBANGAN KLASTER BOROBUDUR
Tilik Ndeso
Hotel
Restauran
Pertanian
Wisata lainnya
Gerabah
Toko Sovenir
Penampilan
Kesenian
PENDORONG PEMBANGUNAN
TRIPLE HELIX OF INNOVATION
FOKUS PEMBANGUNAN: SDM DAN KELEMBAGAAN
WAKTU
Kesejahteraan,
Teknologi
dan
Globalisasi
ABAD 18 ABAD 19 ABAD 20 ABAD 21
Era
Pertanian
Era
Industrial
Era
Informasi
Era Konsep
dan Kreatif
GELOMBANG EKONOMI
DUNIA
Sumber: Daniel H. Pink, 2005
TEKNOLOGI DIGITAL UNTUK PRODUKSI,
PENGOLAHAN, PEMASARAN DAN INTERKONEKSI
SYARAT PERLU KEBERHASILAN
Rural Economic Development = f(L, I, REM)
RED = Regional Endogenous Development
L = Leadership (pemimpin yang memiliki strong leadership dan komitmen)
I = Institutions (kelembagaan yang baik: peraturan, danorganisasi)
REM = Resource Endownment and Market fit
Inefektif Institutions (I) Efektif
Weak
Leadership
(L)
Strong
I
I
I
L
L L
TERIMA KASIH
CURRICULUM VITAE
1. Nama : Dr. Ir. Sugeng Budiharsono
2. Tempat/tgl lahir : Cirebon, 13 Juli 1960
3. Pendidikan/ short
courses
: Sarjana Pertanian, IPB, 1983
Doktor Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan,
IPB, 1995
Short course on Local Economic Development, ITC ILO, Turin,
Italia, 2009
Short course on Local Governance and Rural Development,
Wageningen University and Research, CDI, Netherlands, 2010
Short course on Market Access for Sustainable Development,
Wageningen University and Research, CDI, Netherlands, 2013
4. Pengalaman
Pekerjaan
: Gerson Lehrman Group Council Member
Dosen pasca sarjana Universitas Indonesia, 2006 – sekarang
dan Institut Pertanian Bogor, 2001 – sekarang, Universitas
Nusa Bangsa, 2015 - sekarang
Chief Technical Advisor for Local Economic Development,
BAPPENAS, 2006-2014
Pengajar pada International short course on Local Economic
Development, Wageningen University and Research CDI The
Netherlands, di Johannesburg, South Africa, 2014.

Paradigma baru pembangunan perdesaan

  • 1.
    PARADIGMA BARU PEMBANGUNAN PERDESAAN SugengBudiharsono Unit Manajemen Strategis, Kemendesa, PDT dan Transmigrasi Bahan paparan disampaikan pada Kuliah Umum Bersinergi Membangun Desa yang diselenggarakan oleh PS Agribisnis, Jurisan Agribisnis, Fakultas Pertanian , UNILA pada tanggal 20 Mei 2020
  • 2.
    KENAPA MEMERLUKAN PARADIGMABARU • Luas wilayah (darat) perdesaan (diasumsikan sama dengan luas kabupaten) sebesar 98,56 % • Jumlah penduduk di perdesaan (diasumsikan sama dengan luas kabupaten) sebesar 77,10 % dari total penduduk Indonesia • Pengembangan perdesaan saat ini tergantung kepada dana desa dan alokasi dana desa • PMA dan PMDN di perdesaan lebih besar dari perkotaan tapi tidak menyentuh “masyarakat desa” • Lama pendidikan lebih rendah dari perkotaan • Jumlah penduduk miskin lebih tinggi dari perkotaan • Korea Selatan dengan membangun perdesaan, menjadikannya negara maju hanya dalam 60 tahun, bandingkan dengan Eropa yang memerlukan 350 tahun.
  • 3.
    LUAS WILAYAH Wilayah Total(Km2) Kota Kabupaten Km2 % Km2 % Sumatera 476.559,54 11.656,83 2,45 464.902,71 97,55 Jawa 129.489,25 4.000,23 3,09 125.489,02 96,91 Nusa Tenggara 73.864,75 576,85 0,78 73.287,90 99,22 Kalimantan 543.650,07 5.421,80 1,00 538.228,27 99,00 Sulawesi 187.610,71 2.102,79 1,12 185.507,92 98,88 Maluku 94.928,54 2.468,86 2,60 92.459,68 97,40 Papua 418.046,77 1.474,48 0,35 416.572,29 99,65 Indonesia 1924149,63 27.701,84 1,44 1.896.447,79 98,56 Sumber: diolah dari data BPS (2020)
  • 4.
    JUMLAH PENDUDUK 2019 NoWilayah Penduduk (Jiwa) Penduduk (%) Kota Kabupaten Total Kota Kabupaten Total 1 Sumatera 13659757 44973974 58633731 23.30 76.70 100.00 2 Jawa 35587192 115474403 151061595 23.56 76.44 100.00 3 Nusa Tenggara 1709844 8879234 10589078 16.15 83.85 100.00 4 Kalimantan 4109125 12382591 16491716 24.92 75.08 100.00 5 Sulawesi 3910286 15757888 19668174 19.88 80.12 100.00 6 Maluku 888816 2169825 3058641 29.06 70.94 100.00 7 Papua 554486 3784433 4338919 12.78 87.22 100.00 Indonesia 60419506 203422348 263841854 22.90 77.10 100.00 Sumber: diolah dari data BPS (2020)
  • 5.
    DANA DESA 2015-2019 Sumber:Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi (2020)
  • 6.
    PERKEMBANGAN PMA 2015-2019 68.92 73.49 71.4670.14 70.98 31.08 26.51 28.54 29.86 29.02 0 10 20 30 40 50 60 70 80 2015 2016 2017 2018 2019 (%) Perdesaan (%) Perkotaan (%)
  • 7.
    PERKEMBANGAN PMDN 68.03 74.51 68.73 66.82 63.06 31.97 25.49 31.2733.18 36.94 0 10 20 30 40 50 60 70 80 2015 2016 2017 2018 2019 (%) Perdesaan Perkotaan
  • 8.
  • 9.
  • 10.
    PARADIGMA BARU PEMBANGUNANPERDESAAN Uraian Paradigma Lama Paradigm Baru Dasar Teori pembangunan yang digunakan Kombinasi antara teori pembangunan Endogen dan eksogen Kombinasi Neo-endogenous growth dan exogenous growth Pendekatan pembangunan Sektoral Wilayah dan Berbasis Tempat dan klaster Perspektif Pembangunan Berbasis Masalah Berbasis Kekuatan Prinsip pembangunan Tunggal/mandiri hanya untuk wilayah tersebut Kelaboratif dan jejaring dengan wilayah lainnya Tujuan Pemerataan, pendapatan pertanian, daya saing pertanian Daya saing wilayah pedesaan, penilaian aset lokal, eksploitasi sumber daya yang tidak digunakan Sektor kunci Pembangunan Pertanian Berbagai sektor ekonomi pedesaan, tidak hanya pertanian tapi industri dan jasa Instrumen Utama Pembangunan Subsidi Investasi Aktor Pembangunan Pemerintah pusat dan petani Semua aras pemerintahan (supra nasional, nasional, regional dan lokal) dan stakeholder lokal (publik, swasta, LSM, dll.) Pendorong pertumbuhan ekonomi Harga murah sumber daya Inovasi Fokus pembangunan Sarana dan prasarana Investasi sumber daya manusia dan pengembangan kelembagaan Teknologi Tradisonal/Tepat Guna Teknologi Tinggi dan Digital
  • 11.
    Pembangunan Eksogen PembangunanEndogen Pembangunan Neo-Endogen Prinsip dasar Skala ekonomi dan konsentrasi Memanfaatkan sumberdaya lokal untuk pembangunan berkelanjutan Mengidentifikasi dan mengeksploitasi potensi lokal berbasis tempat; keadilan sosial-spasial Kekuatan Dinamis Kutub pertumbuhan perkotaan Inisiatif lokal dan perusahaan Jejaring lokal-global dan aliran perkotaan- perdesaan; Interkoneksi eksternal melalui tata kelola multi-skalar dan multi-sektoral; berbasis teknologi digital. Fungsi wilayah perdesaan Produksi makanan dan produk primer untuk memperluas ekonomi perkotaan Beragamnya ekonomi layanan Sebuah mosaic konsumerisme dan munculnya (kembali) fungsi perdesaan yang produktif Masalah utama Produktivitas rendah dan periferalitas Kapasitas yang terbatas dari wilayah/kelompok untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi Hubungan yang tidak sama antara lokalitas dan kekuatan eksternal dan kelembagaan; perubahan iklim dan krisis Fokus Pembangunan Modernisasi pertanian; mendorong mobilitas tenaga kerja dan modal Peningkatan kapasitas; mengatasi eksklusi Meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan lokal untuk memobilisasi sumber daya internal untuk menanggapi terhadap tekanan dan peluang dari luar Fokus Penelitian Ekonomi pertanian; Model ekonomi Keynesian dan positifisme Sosiologi perdesaan dan geografi perdesaan Penelitian aksi dan aktif dengan masyarakat; antar disiplin Sumber Pengetahuan Penelitian dan ahli dari luar Masyarakat lokal Keahlian “vernakuler” Berbasis Tempat
  • 12.
    PEMBANGUNAN SEKTORAL VSWILAYAH Tujuan Pembangunan Tujuan Pembangunan Sektor Terpilih Daerah Terpilih Kebijakan, Program dan Kegiatan Sektor Terpilih Daerah Terpilih Kebijakan, Program dan Kegiatan Aras 1 Aras 2 Aras 3 Aras 3 PENDEKATAN SEKTORAL PENDEKATAN WILAYAH
  • 13.
    KELEMAHAN PENDEKATAN BERBASISTEMPAT • Kebijakan dengan pendekatan wilayah/spasial secara membabi buta sudah tidak dapat lagi digunakan, apalagi pendekatan sektoral maupun multi sektoral. • Pendekatan spasial yang tidak tepat lokasi/tempat menyebabkan salah lokus (tempat), fokus (kegiatan), tempo (waktu), anggaran, prioritas dan tidak sinergis dengan lembaga lainnya. Kesalahan ini menyebabkan banyak hal misalnya lokasi yang dimaksud untuk dibangun tidak berkembang sesuai dengan tujuan dan sasaran. • Pendekatan Wilayah  Pendekatan Berbasis Tempat
  • 14.
    PENDEKATAN BERBASIS TEMPAT •Pembangunan berbasis tempat adalah pembangunan memanfaatkan kekuatan potensi dari sumber daya lokal (dengan cara pandang Appreciative Inquiry), oleh aktor lokal secara inklusif dan dunia usaha dengan fasilitasi dari pemerintah, baik pusat, provinsi dan kabupaten/kota untuk meningkatkan daya saing wilayah perdesaan tersebut. • Menghapus pandangan bahwa wilayah perkotaanlah sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, sehingga terjadi bias perkotaan.
  • 15.
    PENDEKATAN KLASTER UKM BUMDES/ BUMDES BERSAMA KUD KUB OPD YANG BERKAITANDENGAN KOMODITAS UNGGULAN OPD Lainnya K/L CSO PT/LP Klaster lain KLASTER UB
  • 16.
  • 17.
    PRINSI PEMBANGUNAN • Perubahanpradigma dari competitive advantage menjadi collaborative advantage. • Kemitraan berbagai stakeholder dalam klaster • Kerjasama/jejaring antar klaster dan antar kabupaten atau antar provinsi untuk meningkatkan collaborative advantage dan menggapai competitive advantage yang lebih besar. • Porter • Barney • Hoffman 1985 • Kanter • Huxham • Dyer 1994  Ricardo  Heckscher -Ohlin COMPARATIVE ADVANTAGE COMPETITIVE ADVANTAGE COLLABORATIV E ADVANTAGE EVOLUSI KEUNGGULAN
  • 18.
    SEKTOR KUNCI PEMBANGUNAN •Tidak hanya pertanian, namun merupakan kombinasi antara pertanian dengan industri pengolahan berbasis pertanian dan atau sektor jasa, misalnya pariwisata. • Jangan hanya mengembangkan satu produk (single product development) karena rentan keberlanjutannya, sebaiknya banyak produk (maksimum 5 produk) tapi dalam suatu integrasi rantai nilai vertikal dan horisontal.
  • 19.
  • 20.
    KLASTER WINE DIKALIFORNIA Educational, Research, & Trade Organizations (e.g. Wine Institute, UC Davis, Culinary Institutes) Growers/Vineyards Sources: California Wine Institute, Internet search, California State Legislature. Based on research by MBA 1997 students R. Alexander, R. Arney, N. Black, E. Frost, and A. Shivananda. Wineries/Processing Facilities Grapestock Fertilizer, Pesticides, Herbicides Grape Harvesting Equipment Irrigation Technology Winemaking Equipment Barrels Labels Bottles Caps and Corks Public Relations and Advertising Specialized Publications (e.g., Wine Spectator, Trade Journal) Food Cluster Tourism Cluster California Agricultural Cluster State Government Agencies (e.g., Select Committee on Wine Production and Economy)
  • 21.
    KASUS PENGEMBANGAN KLASTERBOROBUDUR Tilik Ndeso Hotel Restauran Pertanian Wisata lainnya Gerabah Toko Sovenir Penampilan Kesenian
  • 22.
  • 23.
    TRIPLE HELIX OFINNOVATION
  • 24.
    FOKUS PEMBANGUNAN: SDMDAN KELEMBAGAAN
  • 25.
    WAKTU Kesejahteraan, Teknologi dan Globalisasi ABAD 18 ABAD19 ABAD 20 ABAD 21 Era Pertanian Era Industrial Era Informasi Era Konsep dan Kreatif GELOMBANG EKONOMI DUNIA Sumber: Daniel H. Pink, 2005
  • 26.
    TEKNOLOGI DIGITAL UNTUKPRODUKSI, PENGOLAHAN, PEMASARAN DAN INTERKONEKSI
  • 27.
    SYARAT PERLU KEBERHASILAN RuralEconomic Development = f(L, I, REM) RED = Regional Endogenous Development L = Leadership (pemimpin yang memiliki strong leadership dan komitmen) I = Institutions (kelembagaan yang baik: peraturan, danorganisasi) REM = Resource Endownment and Market fit Inefektif Institutions (I) Efektif Weak Leadership (L) Strong I I I L L L
  • 28.
  • 29.
    CURRICULUM VITAE 1. Nama: Dr. Ir. Sugeng Budiharsono 2. Tempat/tgl lahir : Cirebon, 13 Juli 1960 3. Pendidikan/ short courses : Sarjana Pertanian, IPB, 1983 Doktor Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan, IPB, 1995 Short course on Local Economic Development, ITC ILO, Turin, Italia, 2009 Short course on Local Governance and Rural Development, Wageningen University and Research, CDI, Netherlands, 2010 Short course on Market Access for Sustainable Development, Wageningen University and Research, CDI, Netherlands, 2013 4. Pengalaman Pekerjaan : Gerson Lehrman Group Council Member Dosen pasca sarjana Universitas Indonesia, 2006 – sekarang dan Institut Pertanian Bogor, 2001 – sekarang, Universitas Nusa Bangsa, 2015 - sekarang Chief Technical Advisor for Local Economic Development, BAPPENAS, 2006-2014 Pengajar pada International short course on Local Economic Development, Wageningen University and Research CDI The Netherlands, di Johannesburg, South Africa, 2014.