Administrasi Pembangunan
Paradigma Neo Klasik 1
BAB 1
PENDAHULUAN
Pertumbuhan dan pembangunan suatu negara diyakini bahwa berjalan seiring dengan
perkembangan jaman dan kebutuhan negara. Pembangunan dilakukan tidak serta merta dalam arti
sempit “membangun” namun juga memiliki arti luas yang dimana pembangunan dilakukan guna
untuk memberikan perubahan yang berarti. Perubahan yang dimaksud adalah tidak hanya
perubahan pada satu sektor saja, namun dapat memperngaruhi pembangunan sektor yang lainnya.
Pembangunan sering diartikan sebagai sesuatu yang mengarah ke arah modernitas dimana
modernitas dianggap membawa kebaikan-kebaikan dan kemajuan bagi suatu negara, terutama
negara yang sedang berkembang.
Setiap bangsa membutuhkan pembangunan, ini merupakan suatu tujuan yang bagi
kebanyakan orang merupakan hal yang wajar yang terjadi dengan sendirinya. Sebagai teori
maupun praktek perubahan sosial yang terencana (planned social change), pembangunan telah
menjadi agenda sentral bagi hampir semua negara berkembang. Sebagai sebuah praksis,
pembangunan tidak diselenggarakan di dalam ruang hampa, tetapi sarat nilai. Kontroversi yang
muncul dalam aktivitas pembangunan seringkali bersumber dari konflik nilai dan kepentingan
yang berbeda. Karena itu dibutuhkan pemahaman konseptual, pengalaman empiric yang memadai,
disertai kepekaan yang tinggi untuk melihat pembangunan sebagai fenomena yang kompleks dan
multifaset. Oleh karena itu, memahami berbagai teori pembangunan, preskripsi , implikasi dan
kritik yang terkandung di dalamnya merupakan hal yang sangat penting.
Kemajuan di bidang ekonomi merupakan unsur yang paling penting dari setiap
pembangunan, namun unsur itu bukanlah satu-satunya yang paling berarti. Ini disebabkan karena
pembangunan tidak semata-mata suatu fenomena ekonomi. Pada akhirnya pembangunan menuntut
kita memusatkan pada perhatian yang lebih daripada sekedar sisi material dan financial dari
kehidupan manusia. Akan tetapi, kemajuan sebuah negara di bidang ekonomi dapat berpengaruh
terhadap bidang yang lain, hal ini disebabkan oleh bidang ekonomi memberikan bagaimana
menjelaskan dan mengatur sebuah pembangunan tersebut agar menjadi sebuah pembangunan yang
berarti bagi sebuah negara dan dapat menciptakan keefektifitsan perekonomian. Pembangunan
oleh karena itu harus dimengerti sebagai suatu proses multidimensional yang melibatkan
reorganisasi dan reorientasi dari seluruh system social dan ekonomi yang ada (Todaro, 1994:138).
Selain masalah-masalah menyangkut peningkatan pendapatan dan produksi, pembangunan
umumnya juga melibatkan perubahan-perubahan yang radikal dalam struktur kelembagaan, social
Administrasi Pembangunan
Paradigma Neo Klasik 2
dan administrasi, dan juga sikap, nilai-nilai dan bahkan adat kebiasan dan kepercayaan. Pada
akhirnya walaupun pembangunan lazimnya didefinisikan adalah konteks nasional, penjabaran atau
perwujudannya yang luas mungkin mempertegas perlunya modifikasi-modifikasi secara mendasar
terhadap system ekonomi dan social dalam lingkup dunia internasional.
Namun menurut Todaro (1994:140), secara umum dapat dikatakan bahwa pembangunan
dalam beberapa tahun terakhir hampir selalu dilihat sebagai suatu fenomena ekonomis dimana
hasil atau perolehan ekonomi yang cepat dan tingkat pertumbuhan Product Nasional Kotor (PNK)
per kapita akan menetes sedikit demi sedikit ke bawah ke masyarakat dalam bentuk terciptanya
lapangan pekerjaan dan kesempatan-kesempatan ekonomis yang lain, atau akan menciptakan
kondisi-kondisi yang sangat diperlukan untuk penyebaran yang lebih luas maslahat-maslahat
ekonomi dan social dari pertumbuhan itu.
Menurut Todaro (1994:138), terdapat Tiga ancangan pokok wacana tentang pembangunan
ekonomi yang telah didominasi oleh tiga arus pemikiran besar, yaitu :
1. Teori-teori „arus pertumbuhan ekonomi‟ tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an
2. Teori-teori „ketergantungan internasional‟ akhir tahun 1960-an dan tahun 1970-an
3. Teori-teori „pasar bebas/Neo Klasik/Neo Ekonomi‟ tahun 1980-an dan tahun 90-an
Keterangan lebih jelasnya mengenai paradigm pembangunan tersebut dapat dilihat dalam
table di bawah ini berdasarkan perspektif Diachronis:
Paradigma Pembangunan
Pertumbuhan
growth
Kesejahteraan
(welfare)
Neo
ekonomi
Struturalis Humanizing
Rostow
Ragnar
Nurkse
Rosestein
Rodan
Hirschman
Bauer
Manggahas
Chenery
Jolly
worneke
Seers
Ulhaq
goulet
Frank
Dos santos
Samin Amir
Arif budiman
Srtua arief
Adi sasosno
Illich
Freire
Ramos
Goulet
Sudjatmoko
korten
Tabel 1: Paradigma-Paradigma Pembangunan menurut Para ahli
Administrasi Pembangunan
Paradigma Neo Klasik 3
Namun Dalam pembahasan mengenai teori-teori ekonomi menurut Todaro, kali ini akan
lebih memfokuskan pembahasan mengenai Teori/ Paradigma Neo Klasik atau Neo
Ekonomi Pasar Bebas.
Administrasi Pembangunan
Paradigma Neo Klasik 4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah munculnya Paradigma Neo Klasik/ Neo Ekonomi Pasar Bebas
Menurut Todaro (1994:39), sejarah munculnya Neo Klasik adalah Dimulai dari arus
pemikiran selama kurun waktu tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an yang terutama berpusat
pada konsep paradigma “tahap pertumbuhan ekonomi” yang berkelanjutan, dengan konsep ini
proses pembangunan dilihat sebagai suatu rangkaian tahapan-tahapan yang berkesinambungan
yang harus dilewati oleh semua Negara yang terlibat di dalamnya. Pada dasarnya konsep ini
merupakan teori ekonomi pembangunan yang terutama menyatakan bahwa jumlah dan
kombinasi yang tepat antara tabungan investasi dan bantuan luar negeri yang semuanya itu
dibutuhkan untuk memungkinkan Negara-negara dunia ketiga memetik keberhasilan ekonomi
melalui suatu jalur pertumbuhan yang dalam sejarahnya sekarang dilalui oleh Negara-negara
yang lebih maju. Dengan demikian pembangunan menjadi sinonim dengan tingkat
pertumbuhan yang cepat sementara tabungan dan investasi yang meningkat adalah mesin dari
pertumbuhan.
Pandangan di atas kemudian sudah mulai bergeser dan digantikan dengan apa yang
disebut arus pemikiran „ketergantunagn internasional‟, teori-teori ketergantungan cenderung
menekankan kendala-kendala kelembagaan eksternal maupun internal yang dihadapi dalam
pembangunan ekonomi suatu Negara seperti ketidakmertaan yang luas dalam hal pemilikan
tanah produksi pertanian, hubungan perdagangan internasional yang tidak adil dan tidak
seimbang dan pengendalian terhadap perangkat-perangkat ekonomi yang sangat penting di
dalam negeri dan dunia internasional oleh sejumlah kecil kelompok elit yang berkuasa di
dalam negeri maupun dalam arti global internasional.
Barulah pada akhirnya Selama tahun 1980-an banyak ekonom (terutama dari Barat)
yang berpendapat bahwa Negara-negara Dunia ketiga membutuhkan lebih banyak pasar bebas
dan campur tangan pemerintah yang lebih sedikit dalam tatanan ekonomi mereka untuk dapat
meningkatkan kemampuan mereka dalam bersaing dan merangsang pertumbuhan serta
pembangunan yang cepat yang berdampak pada munculnya Teori-teori Pasar bebas/ Neo
Klasik/ Neo Ekonomi.
2.2 Paradigma Neo Klasik menurut para Ahli
Administrasi Pembangunan
Paradigma Neo Klasik 5
Menurut Dudley Seers (dalam Todaro, 1994:140), sebagai pemicu munculnya
paradigma Neo klasik, Beliau merupakan Direktur Lembaga Studi Pembangunan pada Sussex
University, Inggris, dalam sambutannya di hadapan kongres dunia kesebelas Masyarakat
Pembangunan Internasional (SID) di New Delhi bulan November 1969 yang kemudian
diterbitkan dengan judul “The Meaning of Development”. Tesis pokoknya adalah bahwa,
dengan mengupayakaan laju pertumbuhan GNP 5 persen sebagai target social pembangunan
sepuluh tahun pertama sebagaimana ditetapkan oleh perserikatan bangsa-bangsa, para pakar
dan perencana pembangunan telah salah dalam membaca paruh kedua abad kedua puluh.
Asumsi bahwa kenaikan pendapatan Nasional cepat atau lambat akan secara otomatis
menghasilkan solusi bagi masalah-masalah social dan politik adalah suatu kesalahan.
Tidak hanya pertumbuhan ekonomi sendiri tidak mampu memecahkan masalah social
dan politik, tipe-tipe pertumbuhan tertentu bahkan bisa menimbulkan masalah. Indicator
ekonomi agregat seperti GNP, oleh karenanya harus ditolak dan digantikan dengan indicator
dis-agregat “apa yang terjadi dengan kemiskinan? apa yang terjadi dengan pengangguran? apa
yang terjadi dengan kesenjangan? jika satu atau dua dari persoalan-persoalan pokok ini
memburuk, terlebih jika ketiga-tiganya adalah naïf untuk mengatakan keberhasilan
“pembangunan”, meskipun pendapatan perkapita meningkat menjadi dua kali (Dudley Seers
dalam Todaro, 1994:140). Sehingga dapat disimpulkan bahwa, dalam Teori Neo Ekonomi ini,
yang menjadi fokus utama adalah Kemiskinan yang kemudian digunakan sebagai tolak ukur
keberhasilan pembangunan . Tolak ukur kemiskinan digunakan untuk menjawab
permasalahan-permasalahan pokok yang tidak dapat diselesaikan dengan adanya teori
Pertumbuhan (Growth) dan teori kesejahteraan.
Pandangan berikutnya dicetuskan oleh Denis Goulet (dalam Todaro 1994:141) yang
memandang pembangunan sebagai sesuatu yang harus dipahami sebagai suatu proses
multidimensi yang melibatkan perubahan-perubahan dalam struktur, sikap dan factor
kelembagaan, juga percepatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidakadilan dan
penghapusan kemiskinan absolute. Pada hakikatnya, pembangunan harus berlangsung pada
suatu tingkat perubahan secara menyeluruh sehingga suatu system social, yang telah
diselaraskan dengan kebutuhan-kebutuhan dan keinginan dasar masing-masing pribadi dan
kelompok yang beraneka ragam dalam system tersebut, akan bergerak menjauhi kondisi hidup
yang secara umum dianggap kurang memuaskan, dan mengarah ke situasi atau kondisi hidup
yang secara material dan spiritual dianggap „lebih baik‟.
2.3 Esensi Pemikiran Neo Klasik atau Neo Pasar Bebas
Administrasi Pembangunan
Paradigma Neo Klasik 6
Menurut Amalia (2007:15), Neo klasik merupakan suatu paradigma yang teorinya
berdasarkan kepada teori klasik yang menitikberatkan pada kegiatan masyarakat dalam jangka
pendek, dan sedikit sekali perhatiannya pada masalah pertumbuhan ekonomi. Kegiatan
masyarakat dalam jangka pendek adalah, kegiatan masyarakat yang berlandaskan kepada
mekanisme pasar.
Mekanisme pasar yang dimaksud disini adalah persaingan pasar bebas, perekonomian
terbuka dan atau swastanisasi yang mengurangi dan bahkan meninggalkan berbagai bentuk
campur tangan oleh pemerintah dalam pembangunan perekonomian. Menurut Todaro dan
Smith (2006:125), Hal ini disebabkan karena konsep paradigma pertumbuhan ekonomi pada
decade 1950-an dan awal 1960-an cenderung memandang proses pembangunan sebagai
serangkaian tahapan pertumbuhan ekonomi yang berurutan, yang pasti akan dialami oleh setiap
Negara yang menjalankan pembangunan, dan pada dasarnya pandangan ini merupakan suatu
bentuk teori ekonomi yang menyoroti pembangunan sebagai paduan dari kuantitas dan
kombinasi tabungan, penanaman modal, dan batuan asing dalam jumlah yang tepat.
Kemudian paradigm ini sudah mulai bergeser dan digantikan dengan paradigma
ketergantungan internasional (teori kesejahteraan) pada decade 1970-an, Menurut Todaro
dan Smith (2006:125-126) Teori-teori ketergantungan cenderung menekankan keberadaan
dan bahaya kendala-kendala institusional, baik yang bersifat internal maupun eksternal yang
kesemuanya berdimensikan politik terhadap pembangunan ekonomi. Perhatian utama pada
teori ini ditunjukkkan pada pentingnya menyusun kebijakan baru untuk menghapuskan
kemiskinan secara total, menyediakan kesempatan kerja yang lebih bervariasi, dan mengurangi
ketimpangan distribusi pendapatan.
Hingga pada akhirnya, pada decade 1980-an dan awal decade 1990-an muncullah
paradigma Neo klasik/ Neo Ekonomi pasar bebas yang menegaskan bahwa kondisi
keterbelakangan Negara-negara berkembang bersumber dari buruknya keseluruhan alokasi
sumber daya yang selama ini bertumpu pada kebijakan-kebijakan pengatuan harga yang
tidak tepat dan adanya campur tangan pemerintah yang berlebihan. Jadi menurut pemikiran
ini apa yang benar-benar dibutuhkan untuk menanggulangi masalah pembangunan bukanlah
reformasi sitem ekonomi internasional, restrukturisasi pola perekonomian dualistik di Negara-
negara berkembang ataupun pembatasan laju pertumbuhan penduduk serendah-rendahnya
melainkan promosi pasar bebas dan perekonomian laissez-faire, artinya campur tangan
pemerintah dalam urusan-urusan ekonomi harus dibatasi dan selanjutnya sebagai keputusan
ekonomi-ekonomi terpenting harus diserahkan pada “keajaiban pasar” dan mekanisme tangan
tidak Nampak atau disebut juga dengan Invisible Hand, seperti penentuan tingkat harga guna
Administrasi Pembangunan
Paradigma Neo Klasik 7
pengalokasian segenap sumber daya dan dalam merangsang pertumbuhan ekonomi (Todaro
dan Smith, 2006:147-148).
Menurut Amalia (2007:16), Asumsi dalam Neo Klasik:
1. Perekonomian berfungsi secara efisien akibat mekanisme pasar
2. Pembangunan ekonomi berjalan secara berlahan dan akan berjalan dengan lancer dan
teratur.
Maksud dari hal diatas adalah, bahwasanya suatu mekanisme pasar dapat mengakibatkan
terbentuknya perekonomian yang efisien karena di dalam mekanisme pasar jumlah barang yang
ditawarkan sama dengan jumlah barang yang diminta sehingga akan tejadi keseimbangan harga
pasar yang kemudian mengakibatkan adanya efisiensi di dalam perekonomian. Serta
pembangunan ekonomi akan dapat berjalan secara perlahan dan akan berjalan dengan lancar dan
teratur karena persaingan pasar bebas akan mendorong masyarakat untuk dapat bersaing secara
bebas di perekonomian yang kemudian akan berdampak pada harga-harga pasar yang secara
umum tidak akan pernah menyimpang sangat jauh sebagai indicator bagi kesempatan investasi
yang produktif sehingga akan dapat merangsang pertumbuhan dan pembangunan secara berlahan
dan tidak pernah berhenti. Walaupun paradigma Neo Klasik lebih menekan kan pada
perekonomian pasar bebas, namun peran/ campur tangan pemerintah tetap diperlukan dalam pasar
bebas untuk mencegah monopoli-monopoli dan untuk menjaga pertahanan Nasional.
2.4 Mahzab Neo Klasik
2.4.1 Mahzab Ekonomi Neo Klasik
Menurut Hidayat, Aceng (2007:14) Esensi pemikiran Ekonomi Neo klasik lahir
dari kebuntuan ekonomi klasik yang tidak mampu menyajikan kerangka teoritis yang kuat
bagaimana kebebasan ekonomi dan intervensi pemerintah yang minim mampu
mendistribusikan kekayaan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Keyakinan
adanya invisible hand tidak ditopang oleh landasan pemikiran teoritis yang jelas. Selain
itu, konsep nilai komoditas yang didasarkan pada nilai kerja bertentangan dengan teori
ekonomi Marxian. Upaya Ricardo mencari nilai intrinsik dari barang mengalami
kebuntuan. Ilmu ekonomi menjadi muram. Sampai akhirnya Willian Stanley Jevon
(Inggeris), Leon Walras (Perancis) dan Carl Menger (Austria) menemukan teori utilitas
marginalis pada waktu yang hampir bersamaan.
Ketiga ekonom ini menolak pendapat bahwa nilai suatu komoditas ditentukan
secara objektif oleh nilai biaya produksi (meliputi nilai kerja). Sebaliknya, mereka
Administrasi Pembangunan
Paradigma Neo Klasik 8
berkeyakinan bahwa nilai komoditas ditentukan secara subjektif oleh konsumen sesuai
dengan kebutuhan dan kesukaannya. Biaya produksi dan tenaga kerja sama sekali tidak
menentukan nilai sutau komoditas. Lebih jauh mereka berpendapat bahwa nilai tersebut
bersifat menurun seiring dengan penuruanan kebutuhan manusia atasnya. Atau pada saat
barang tersebut melimpah maka nilainya menjadi berkurang. Satu gelas air di Padang
Pasir benilai lebih tinggi dibandingkan dengan satu gelas air di Indonesia. Ringkasnya,
harga produk ditentukan oleh konsumen berdasarkan atas banyak atau sedikitnya
persediaan produk tersebut. Penemuan ini telah memecahkan kebuntuan yang telah
membuat Adam Smith dan para ekonom klasik frustrasi. Karena Carl Menger orang
Austria dan ia yang paling dominan dalam mengembankan temuan ini maka temuan ini
disebut aliran/mazhab austria.
Mazhab Austria menghidupkan kembali pemikiran kebebasan alamiah Adam
Smith melalui tiga cara:
Asal usul nilai konsumen. Mazhab ini berkeyakinan bahwa permintaan akhir
konsumen menentukan struktur dan harga proses produksi. Hal ini disebut dengan
teori imputasi (theory of inputation), yaitu utilitas (manfaat) menciptakan input.
Utilitas/biaya marginal, yaitu harga barang ditentukan pada margin – dengan
keuntungan/biaya marginal untuk pembeli dan penjual
Nilai subjektif, nilai barang sepenuhnya ditentukan secara subjektif oleh konsumen
Kemudian muncullah teori-teori dari pemikiran kebebasan alamiah adam smith
tersebut,(dalam Hidayat, 2007:15) teori-teori tersebut yaitu :
1. Teori Imputasi:
Sebelum teori ini lahir, Menger mengklasifikasi barang menjadi tiga macam:
barang konsumen akhir, yaitu barang yang memuaskan kebutuhan konsumen; barang
kedua, yaitu barang yang dibutuhkan dalam proses produksi; dan barang ketiga, yaitu
bahan mentah seperti gandum, kapas, dan bulu domba. Kebutuhan akan barang pemuas
kebutuhan memunculkan kebutuhan atas barang kedu dan ketiga. Hilangnya kebutuhan
manusia atas barang pemuas kebutuhan akan menghilangkan/mengurangi
kebutuhan/permintaan atas barang kedua dan ketiga. Bila semua orang tidak suka roko,
maka kebutuhan akan tembakau, kertas dan bahan tambahan lain akan menurun. Dan
barang-barang itu akan kehilangan nilaninya. Dengan demikian, kebutuhan akan
barang/faktor-faktor produksi akan sangat tergantung pada kebutuhan akhir konsumen.
Administrasi Pembangunan
Paradigma Neo Klasik 9
2. Teori Marginalitas:
Dari kasus rokok atas, lahan dan alat produksi daun tembakau seperti pembajak
tanah dan cangkul kebun, tidak kehilangan nilainya sama sekali. Tapi mengalami
penurunan. Ia akan kembali memiliki nilai guna jika telah kembali dimanfaatkan untuk
kegiatan produksi komoditas lain. Dengan kata lain, nilainya akan terus menurun sampai
menemukan nilai guna alternatif yang lebih baik. Dengan demikian, harga suatu barang
didasarkan pada penggunaan margin atau penggunaan selanjutnya yang lebih baik. Dari
sini kemudian lahir konsep biaya opportuniti (opportunity cost).
3. Teori Nilai Subjektif:
Teori ini hanya menegaskan bahwa nilai intrinsik barang yang dicari-cari ekonom
klasik tidak pernah ada dimuka bumi. Nilai barang bersifat subjektif ditentukan oleh
konsumen akhir. Permintaan konsumenlah yang menaikan dan menurunkan nilai suatu
komoditas.
4. Teori Kapital Eugen Boehm Bawerk:
Pemilik modal (kapitalis) pantas/wajar mengambil keuntungan dengan menetapkan
harga jual lebih tinggi dari ongkos produksi karena dua hal:
Kapitalis harus menunggu sampai ia bisa menggunakan hasil usahanya untuk
kepusan diri sendiri, sementara kaum pekerja langsung menerima upah dan
menggunakannya sesuai dengan kebutuhan mereka
Kaum kapitalis menanggung resiko kerugian atau kebangkrutan dari kapital yang
diinvestasikannya, sementara kaum buruh tidak menghadapi resiko demikian.
Kedua pendapat ini melemahkan tuduhan Marxian yang menganggap kapitalisme
telah mengeksploitasi kaum buruh.
Administrasi Pembangunan
Paradigma Neo Klasik 10
BAB III
KESIMPULAN
Dari Uraian dan penjelasan yang terdapat pada Bab I dan Bab II, maka dapat disimpulkan
bahwa :
Pertumbuhan dan pembangunan merupakan sesuatu yang wajar terjadi di suatu negara.
Bahkan pembangunan dirasa perlu untuk dilakukan seiring dengan perkembangan zaman, dan
telah menjadi sebuah agenda sentral di dalam sebuah Negara, terutama Negara yang sedang
berkembang. Pembangunan sering diartikan sebagai sesuatu yang mengarah ke arah modernitas
dimana modernitas dianggap membawa kebaikan-kebaikan dan kemajuan bagi suatu negara,
terutama negara yang sedang berkembang. Terdapat Tiga ancangan pokok wacana tentang
pembangunan ekonomi yang dikemukakan oleh Todaro (1994:138), yaitu :
1. Teori-teori „arus pertumbuhan ekonomi‟ tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an
Pandangan ini cenderung memandang proses pembangunan sebagai serangkaian tahapan
pertumbuhan ekonomi yang berurutan, yang pasti akan dialami oleh setiap Negara yang
menjalankan pembangunan, yang menyoroti pembangunan sebagai paduan dari kuantitas
dan kombinasi tabungan, penanaman modal, dan batuan asing dalam jumlah yang tepat.
2. Teori-teori „ketergantungan internasional‟ akhir tahun 1960-an dan tahun 1970-an
Perhatian utama pada teori ini ditunjukkkan pada pentingnya menyusun kebijakan baru
untuk menghapuskan kemiskinan secara total, menyediakan kesempatan kerja yang lebih
bervariasi, dan mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan.
3. Teori-teori „pasar bebas/Neo Klasik/Neo Ekonomi‟ tahun 1980-an dan tahun 90-an
Menurut pemikiran ini apa yang benar-benar dibutuhkan untuk menanggulangi masalah
pembangunan bukanlah reformasi sitem ekonomi internasional, restrukturisasi pola
perekonomian dualistik di Negara-negara berkembang ataupun pembatasan laju
pertumbuhan penduduk serendah-rendahnya melainkan promosi pasar bebas dan
perekonomian laissez-faire.
Paradigma Neo Klasik/ Neo Liberalisme/ Neo Ekonomi Pasar Bebas adalah merupakan suatu
paradigma yang lebih menekankan pada kebebasan mekanisme pasar, dengan mengurangi campur
Administrasi Pembangunan
Paradigma Neo Klasik 11
tangan dari pemerintah yang berlebihan. Penghapusan kemiskinan secara total, Penyediaan
kesempatan kerja yang lebih bervariasi, dan Pengurangan ketimpangan distribusi pendapatan
inilah kemudian yang menyebabkan campur tangan pemerintah yang terlalu tinggi dalam
pembangunan perekonomian nasional karena pemerintah ingin menciptakan suatu kondisi
pembangunan Nasional dengan Kesejahteraan masyarakat yang merata, intervensi pemerintah
yang berlebihan inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya ketergantungan Masyarakat
terhadap pemerintah. sehingga masyarakat yang sebenarnaya menjadi penegang kepentingan
terhadap pmbangunan menjadi pasif, dan hanya bergantung kepada kebijakan-kebijakan dan
system yang dibuat oleh pemerintah saja.
Maka Paradigma Neo Klasik/ Neo pasar bebas hadir sebagai upaya untuk merangsang
pertumbuhan dan pembangunan secara berlahan dan berkelanjutan, karena di dalam Paradigma
neo klasik terdapat mekanisme pasar bebas sehingga campur tangan pemerintah dalam urusan-
urusan ekonomi harus dibatasi dan selanjutnya sebagai keputusan ekonomi-ekonomi terpenting
harus diserahkan pada “keajaiban pasar” dan mekanisme tangan tidak Nampak atau disebut juga
dengan Invisible Hand, dengan begitu maka Mayarakat sebagai actor pembangunan akan dapat
menemukan Keseimbangan sendiri di dalam proses pencapaian pembanguna Nasionl, misalnya
seperti penentuan tingkat harga oleh masyarakat sendiri guna pengalokasian segenap sumber
daya yang dimiliki untuk merangsang pembangunan yang berkelanjutan. Walaupun paradigm
neo klasik menekankan pada kebebasan mekanisme pasar, namun peran/ campur tangan
pemerintah juga harus tetap ada dan dibutuhkan sebagai pencegah monopoli-monopoli dan
sebgai pertahanan nasional.

Neo klasik

  • 1.
    Administrasi Pembangunan Paradigma NeoKlasik 1 BAB 1 PENDAHULUAN Pertumbuhan dan pembangunan suatu negara diyakini bahwa berjalan seiring dengan perkembangan jaman dan kebutuhan negara. Pembangunan dilakukan tidak serta merta dalam arti sempit “membangun” namun juga memiliki arti luas yang dimana pembangunan dilakukan guna untuk memberikan perubahan yang berarti. Perubahan yang dimaksud adalah tidak hanya perubahan pada satu sektor saja, namun dapat memperngaruhi pembangunan sektor yang lainnya. Pembangunan sering diartikan sebagai sesuatu yang mengarah ke arah modernitas dimana modernitas dianggap membawa kebaikan-kebaikan dan kemajuan bagi suatu negara, terutama negara yang sedang berkembang. Setiap bangsa membutuhkan pembangunan, ini merupakan suatu tujuan yang bagi kebanyakan orang merupakan hal yang wajar yang terjadi dengan sendirinya. Sebagai teori maupun praktek perubahan sosial yang terencana (planned social change), pembangunan telah menjadi agenda sentral bagi hampir semua negara berkembang. Sebagai sebuah praksis, pembangunan tidak diselenggarakan di dalam ruang hampa, tetapi sarat nilai. Kontroversi yang muncul dalam aktivitas pembangunan seringkali bersumber dari konflik nilai dan kepentingan yang berbeda. Karena itu dibutuhkan pemahaman konseptual, pengalaman empiric yang memadai, disertai kepekaan yang tinggi untuk melihat pembangunan sebagai fenomena yang kompleks dan multifaset. Oleh karena itu, memahami berbagai teori pembangunan, preskripsi , implikasi dan kritik yang terkandung di dalamnya merupakan hal yang sangat penting. Kemajuan di bidang ekonomi merupakan unsur yang paling penting dari setiap pembangunan, namun unsur itu bukanlah satu-satunya yang paling berarti. Ini disebabkan karena pembangunan tidak semata-mata suatu fenomena ekonomi. Pada akhirnya pembangunan menuntut kita memusatkan pada perhatian yang lebih daripada sekedar sisi material dan financial dari kehidupan manusia. Akan tetapi, kemajuan sebuah negara di bidang ekonomi dapat berpengaruh terhadap bidang yang lain, hal ini disebabkan oleh bidang ekonomi memberikan bagaimana menjelaskan dan mengatur sebuah pembangunan tersebut agar menjadi sebuah pembangunan yang berarti bagi sebuah negara dan dapat menciptakan keefektifitsan perekonomian. Pembangunan oleh karena itu harus dimengerti sebagai suatu proses multidimensional yang melibatkan reorganisasi dan reorientasi dari seluruh system social dan ekonomi yang ada (Todaro, 1994:138). Selain masalah-masalah menyangkut peningkatan pendapatan dan produksi, pembangunan umumnya juga melibatkan perubahan-perubahan yang radikal dalam struktur kelembagaan, social
  • 2.
    Administrasi Pembangunan Paradigma NeoKlasik 2 dan administrasi, dan juga sikap, nilai-nilai dan bahkan adat kebiasan dan kepercayaan. Pada akhirnya walaupun pembangunan lazimnya didefinisikan adalah konteks nasional, penjabaran atau perwujudannya yang luas mungkin mempertegas perlunya modifikasi-modifikasi secara mendasar terhadap system ekonomi dan social dalam lingkup dunia internasional. Namun menurut Todaro (1994:140), secara umum dapat dikatakan bahwa pembangunan dalam beberapa tahun terakhir hampir selalu dilihat sebagai suatu fenomena ekonomis dimana hasil atau perolehan ekonomi yang cepat dan tingkat pertumbuhan Product Nasional Kotor (PNK) per kapita akan menetes sedikit demi sedikit ke bawah ke masyarakat dalam bentuk terciptanya lapangan pekerjaan dan kesempatan-kesempatan ekonomis yang lain, atau akan menciptakan kondisi-kondisi yang sangat diperlukan untuk penyebaran yang lebih luas maslahat-maslahat ekonomi dan social dari pertumbuhan itu. Menurut Todaro (1994:138), terdapat Tiga ancangan pokok wacana tentang pembangunan ekonomi yang telah didominasi oleh tiga arus pemikiran besar, yaitu : 1. Teori-teori „arus pertumbuhan ekonomi‟ tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an 2. Teori-teori „ketergantungan internasional‟ akhir tahun 1960-an dan tahun 1970-an 3. Teori-teori „pasar bebas/Neo Klasik/Neo Ekonomi‟ tahun 1980-an dan tahun 90-an Keterangan lebih jelasnya mengenai paradigm pembangunan tersebut dapat dilihat dalam table di bawah ini berdasarkan perspektif Diachronis: Paradigma Pembangunan Pertumbuhan growth Kesejahteraan (welfare) Neo ekonomi Struturalis Humanizing Rostow Ragnar Nurkse Rosestein Rodan Hirschman Bauer Manggahas Chenery Jolly worneke Seers Ulhaq goulet Frank Dos santos Samin Amir Arif budiman Srtua arief Adi sasosno Illich Freire Ramos Goulet Sudjatmoko korten Tabel 1: Paradigma-Paradigma Pembangunan menurut Para ahli
  • 3.
    Administrasi Pembangunan Paradigma NeoKlasik 3 Namun Dalam pembahasan mengenai teori-teori ekonomi menurut Todaro, kali ini akan lebih memfokuskan pembahasan mengenai Teori/ Paradigma Neo Klasik atau Neo Ekonomi Pasar Bebas.
  • 4.
    Administrasi Pembangunan Paradigma NeoKlasik 4 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Sejarah munculnya Paradigma Neo Klasik/ Neo Ekonomi Pasar Bebas Menurut Todaro (1994:39), sejarah munculnya Neo Klasik adalah Dimulai dari arus pemikiran selama kurun waktu tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an yang terutama berpusat pada konsep paradigma “tahap pertumbuhan ekonomi” yang berkelanjutan, dengan konsep ini proses pembangunan dilihat sebagai suatu rangkaian tahapan-tahapan yang berkesinambungan yang harus dilewati oleh semua Negara yang terlibat di dalamnya. Pada dasarnya konsep ini merupakan teori ekonomi pembangunan yang terutama menyatakan bahwa jumlah dan kombinasi yang tepat antara tabungan investasi dan bantuan luar negeri yang semuanya itu dibutuhkan untuk memungkinkan Negara-negara dunia ketiga memetik keberhasilan ekonomi melalui suatu jalur pertumbuhan yang dalam sejarahnya sekarang dilalui oleh Negara-negara yang lebih maju. Dengan demikian pembangunan menjadi sinonim dengan tingkat pertumbuhan yang cepat sementara tabungan dan investasi yang meningkat adalah mesin dari pertumbuhan. Pandangan di atas kemudian sudah mulai bergeser dan digantikan dengan apa yang disebut arus pemikiran „ketergantunagn internasional‟, teori-teori ketergantungan cenderung menekankan kendala-kendala kelembagaan eksternal maupun internal yang dihadapi dalam pembangunan ekonomi suatu Negara seperti ketidakmertaan yang luas dalam hal pemilikan tanah produksi pertanian, hubungan perdagangan internasional yang tidak adil dan tidak seimbang dan pengendalian terhadap perangkat-perangkat ekonomi yang sangat penting di dalam negeri dan dunia internasional oleh sejumlah kecil kelompok elit yang berkuasa di dalam negeri maupun dalam arti global internasional. Barulah pada akhirnya Selama tahun 1980-an banyak ekonom (terutama dari Barat) yang berpendapat bahwa Negara-negara Dunia ketiga membutuhkan lebih banyak pasar bebas dan campur tangan pemerintah yang lebih sedikit dalam tatanan ekonomi mereka untuk dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam bersaing dan merangsang pertumbuhan serta pembangunan yang cepat yang berdampak pada munculnya Teori-teori Pasar bebas/ Neo Klasik/ Neo Ekonomi. 2.2 Paradigma Neo Klasik menurut para Ahli
  • 5.
    Administrasi Pembangunan Paradigma NeoKlasik 5 Menurut Dudley Seers (dalam Todaro, 1994:140), sebagai pemicu munculnya paradigma Neo klasik, Beliau merupakan Direktur Lembaga Studi Pembangunan pada Sussex University, Inggris, dalam sambutannya di hadapan kongres dunia kesebelas Masyarakat Pembangunan Internasional (SID) di New Delhi bulan November 1969 yang kemudian diterbitkan dengan judul “The Meaning of Development”. Tesis pokoknya adalah bahwa, dengan mengupayakaan laju pertumbuhan GNP 5 persen sebagai target social pembangunan sepuluh tahun pertama sebagaimana ditetapkan oleh perserikatan bangsa-bangsa, para pakar dan perencana pembangunan telah salah dalam membaca paruh kedua abad kedua puluh. Asumsi bahwa kenaikan pendapatan Nasional cepat atau lambat akan secara otomatis menghasilkan solusi bagi masalah-masalah social dan politik adalah suatu kesalahan. Tidak hanya pertumbuhan ekonomi sendiri tidak mampu memecahkan masalah social dan politik, tipe-tipe pertumbuhan tertentu bahkan bisa menimbulkan masalah. Indicator ekonomi agregat seperti GNP, oleh karenanya harus ditolak dan digantikan dengan indicator dis-agregat “apa yang terjadi dengan kemiskinan? apa yang terjadi dengan pengangguran? apa yang terjadi dengan kesenjangan? jika satu atau dua dari persoalan-persoalan pokok ini memburuk, terlebih jika ketiga-tiganya adalah naïf untuk mengatakan keberhasilan “pembangunan”, meskipun pendapatan perkapita meningkat menjadi dua kali (Dudley Seers dalam Todaro, 1994:140). Sehingga dapat disimpulkan bahwa, dalam Teori Neo Ekonomi ini, yang menjadi fokus utama adalah Kemiskinan yang kemudian digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan pembangunan . Tolak ukur kemiskinan digunakan untuk menjawab permasalahan-permasalahan pokok yang tidak dapat diselesaikan dengan adanya teori Pertumbuhan (Growth) dan teori kesejahteraan. Pandangan berikutnya dicetuskan oleh Denis Goulet (dalam Todaro 1994:141) yang memandang pembangunan sebagai sesuatu yang harus dipahami sebagai suatu proses multidimensi yang melibatkan perubahan-perubahan dalam struktur, sikap dan factor kelembagaan, juga percepatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidakadilan dan penghapusan kemiskinan absolute. Pada hakikatnya, pembangunan harus berlangsung pada suatu tingkat perubahan secara menyeluruh sehingga suatu system social, yang telah diselaraskan dengan kebutuhan-kebutuhan dan keinginan dasar masing-masing pribadi dan kelompok yang beraneka ragam dalam system tersebut, akan bergerak menjauhi kondisi hidup yang secara umum dianggap kurang memuaskan, dan mengarah ke situasi atau kondisi hidup yang secara material dan spiritual dianggap „lebih baik‟. 2.3 Esensi Pemikiran Neo Klasik atau Neo Pasar Bebas
  • 6.
    Administrasi Pembangunan Paradigma NeoKlasik 6 Menurut Amalia (2007:15), Neo klasik merupakan suatu paradigma yang teorinya berdasarkan kepada teori klasik yang menitikberatkan pada kegiatan masyarakat dalam jangka pendek, dan sedikit sekali perhatiannya pada masalah pertumbuhan ekonomi. Kegiatan masyarakat dalam jangka pendek adalah, kegiatan masyarakat yang berlandaskan kepada mekanisme pasar. Mekanisme pasar yang dimaksud disini adalah persaingan pasar bebas, perekonomian terbuka dan atau swastanisasi yang mengurangi dan bahkan meninggalkan berbagai bentuk campur tangan oleh pemerintah dalam pembangunan perekonomian. Menurut Todaro dan Smith (2006:125), Hal ini disebabkan karena konsep paradigma pertumbuhan ekonomi pada decade 1950-an dan awal 1960-an cenderung memandang proses pembangunan sebagai serangkaian tahapan pertumbuhan ekonomi yang berurutan, yang pasti akan dialami oleh setiap Negara yang menjalankan pembangunan, dan pada dasarnya pandangan ini merupakan suatu bentuk teori ekonomi yang menyoroti pembangunan sebagai paduan dari kuantitas dan kombinasi tabungan, penanaman modal, dan batuan asing dalam jumlah yang tepat. Kemudian paradigm ini sudah mulai bergeser dan digantikan dengan paradigma ketergantungan internasional (teori kesejahteraan) pada decade 1970-an, Menurut Todaro dan Smith (2006:125-126) Teori-teori ketergantungan cenderung menekankan keberadaan dan bahaya kendala-kendala institusional, baik yang bersifat internal maupun eksternal yang kesemuanya berdimensikan politik terhadap pembangunan ekonomi. Perhatian utama pada teori ini ditunjukkkan pada pentingnya menyusun kebijakan baru untuk menghapuskan kemiskinan secara total, menyediakan kesempatan kerja yang lebih bervariasi, dan mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan. Hingga pada akhirnya, pada decade 1980-an dan awal decade 1990-an muncullah paradigma Neo klasik/ Neo Ekonomi pasar bebas yang menegaskan bahwa kondisi keterbelakangan Negara-negara berkembang bersumber dari buruknya keseluruhan alokasi sumber daya yang selama ini bertumpu pada kebijakan-kebijakan pengatuan harga yang tidak tepat dan adanya campur tangan pemerintah yang berlebihan. Jadi menurut pemikiran ini apa yang benar-benar dibutuhkan untuk menanggulangi masalah pembangunan bukanlah reformasi sitem ekonomi internasional, restrukturisasi pola perekonomian dualistik di Negara- negara berkembang ataupun pembatasan laju pertumbuhan penduduk serendah-rendahnya melainkan promosi pasar bebas dan perekonomian laissez-faire, artinya campur tangan pemerintah dalam urusan-urusan ekonomi harus dibatasi dan selanjutnya sebagai keputusan ekonomi-ekonomi terpenting harus diserahkan pada “keajaiban pasar” dan mekanisme tangan tidak Nampak atau disebut juga dengan Invisible Hand, seperti penentuan tingkat harga guna
  • 7.
    Administrasi Pembangunan Paradigma NeoKlasik 7 pengalokasian segenap sumber daya dan dalam merangsang pertumbuhan ekonomi (Todaro dan Smith, 2006:147-148). Menurut Amalia (2007:16), Asumsi dalam Neo Klasik: 1. Perekonomian berfungsi secara efisien akibat mekanisme pasar 2. Pembangunan ekonomi berjalan secara berlahan dan akan berjalan dengan lancer dan teratur. Maksud dari hal diatas adalah, bahwasanya suatu mekanisme pasar dapat mengakibatkan terbentuknya perekonomian yang efisien karena di dalam mekanisme pasar jumlah barang yang ditawarkan sama dengan jumlah barang yang diminta sehingga akan tejadi keseimbangan harga pasar yang kemudian mengakibatkan adanya efisiensi di dalam perekonomian. Serta pembangunan ekonomi akan dapat berjalan secara perlahan dan akan berjalan dengan lancar dan teratur karena persaingan pasar bebas akan mendorong masyarakat untuk dapat bersaing secara bebas di perekonomian yang kemudian akan berdampak pada harga-harga pasar yang secara umum tidak akan pernah menyimpang sangat jauh sebagai indicator bagi kesempatan investasi yang produktif sehingga akan dapat merangsang pertumbuhan dan pembangunan secara berlahan dan tidak pernah berhenti. Walaupun paradigma Neo Klasik lebih menekan kan pada perekonomian pasar bebas, namun peran/ campur tangan pemerintah tetap diperlukan dalam pasar bebas untuk mencegah monopoli-monopoli dan untuk menjaga pertahanan Nasional. 2.4 Mahzab Neo Klasik 2.4.1 Mahzab Ekonomi Neo Klasik Menurut Hidayat, Aceng (2007:14) Esensi pemikiran Ekonomi Neo klasik lahir dari kebuntuan ekonomi klasik yang tidak mampu menyajikan kerangka teoritis yang kuat bagaimana kebebasan ekonomi dan intervensi pemerintah yang minim mampu mendistribusikan kekayaan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Keyakinan adanya invisible hand tidak ditopang oleh landasan pemikiran teoritis yang jelas. Selain itu, konsep nilai komoditas yang didasarkan pada nilai kerja bertentangan dengan teori ekonomi Marxian. Upaya Ricardo mencari nilai intrinsik dari barang mengalami kebuntuan. Ilmu ekonomi menjadi muram. Sampai akhirnya Willian Stanley Jevon (Inggeris), Leon Walras (Perancis) dan Carl Menger (Austria) menemukan teori utilitas marginalis pada waktu yang hampir bersamaan. Ketiga ekonom ini menolak pendapat bahwa nilai suatu komoditas ditentukan secara objektif oleh nilai biaya produksi (meliputi nilai kerja). Sebaliknya, mereka
  • 8.
    Administrasi Pembangunan Paradigma NeoKlasik 8 berkeyakinan bahwa nilai komoditas ditentukan secara subjektif oleh konsumen sesuai dengan kebutuhan dan kesukaannya. Biaya produksi dan tenaga kerja sama sekali tidak menentukan nilai sutau komoditas. Lebih jauh mereka berpendapat bahwa nilai tersebut bersifat menurun seiring dengan penuruanan kebutuhan manusia atasnya. Atau pada saat barang tersebut melimpah maka nilainya menjadi berkurang. Satu gelas air di Padang Pasir benilai lebih tinggi dibandingkan dengan satu gelas air di Indonesia. Ringkasnya, harga produk ditentukan oleh konsumen berdasarkan atas banyak atau sedikitnya persediaan produk tersebut. Penemuan ini telah memecahkan kebuntuan yang telah membuat Adam Smith dan para ekonom klasik frustrasi. Karena Carl Menger orang Austria dan ia yang paling dominan dalam mengembankan temuan ini maka temuan ini disebut aliran/mazhab austria. Mazhab Austria menghidupkan kembali pemikiran kebebasan alamiah Adam Smith melalui tiga cara: Asal usul nilai konsumen. Mazhab ini berkeyakinan bahwa permintaan akhir konsumen menentukan struktur dan harga proses produksi. Hal ini disebut dengan teori imputasi (theory of inputation), yaitu utilitas (manfaat) menciptakan input. Utilitas/biaya marginal, yaitu harga barang ditentukan pada margin – dengan keuntungan/biaya marginal untuk pembeli dan penjual Nilai subjektif, nilai barang sepenuhnya ditentukan secara subjektif oleh konsumen Kemudian muncullah teori-teori dari pemikiran kebebasan alamiah adam smith tersebut,(dalam Hidayat, 2007:15) teori-teori tersebut yaitu : 1. Teori Imputasi: Sebelum teori ini lahir, Menger mengklasifikasi barang menjadi tiga macam: barang konsumen akhir, yaitu barang yang memuaskan kebutuhan konsumen; barang kedua, yaitu barang yang dibutuhkan dalam proses produksi; dan barang ketiga, yaitu bahan mentah seperti gandum, kapas, dan bulu domba. Kebutuhan akan barang pemuas kebutuhan memunculkan kebutuhan atas barang kedu dan ketiga. Hilangnya kebutuhan manusia atas barang pemuas kebutuhan akan menghilangkan/mengurangi kebutuhan/permintaan atas barang kedua dan ketiga. Bila semua orang tidak suka roko, maka kebutuhan akan tembakau, kertas dan bahan tambahan lain akan menurun. Dan barang-barang itu akan kehilangan nilaninya. Dengan demikian, kebutuhan akan barang/faktor-faktor produksi akan sangat tergantung pada kebutuhan akhir konsumen.
  • 9.
    Administrasi Pembangunan Paradigma NeoKlasik 9 2. Teori Marginalitas: Dari kasus rokok atas, lahan dan alat produksi daun tembakau seperti pembajak tanah dan cangkul kebun, tidak kehilangan nilainya sama sekali. Tapi mengalami penurunan. Ia akan kembali memiliki nilai guna jika telah kembali dimanfaatkan untuk kegiatan produksi komoditas lain. Dengan kata lain, nilainya akan terus menurun sampai menemukan nilai guna alternatif yang lebih baik. Dengan demikian, harga suatu barang didasarkan pada penggunaan margin atau penggunaan selanjutnya yang lebih baik. Dari sini kemudian lahir konsep biaya opportuniti (opportunity cost). 3. Teori Nilai Subjektif: Teori ini hanya menegaskan bahwa nilai intrinsik barang yang dicari-cari ekonom klasik tidak pernah ada dimuka bumi. Nilai barang bersifat subjektif ditentukan oleh konsumen akhir. Permintaan konsumenlah yang menaikan dan menurunkan nilai suatu komoditas. 4. Teori Kapital Eugen Boehm Bawerk: Pemilik modal (kapitalis) pantas/wajar mengambil keuntungan dengan menetapkan harga jual lebih tinggi dari ongkos produksi karena dua hal: Kapitalis harus menunggu sampai ia bisa menggunakan hasil usahanya untuk kepusan diri sendiri, sementara kaum pekerja langsung menerima upah dan menggunakannya sesuai dengan kebutuhan mereka Kaum kapitalis menanggung resiko kerugian atau kebangkrutan dari kapital yang diinvestasikannya, sementara kaum buruh tidak menghadapi resiko demikian. Kedua pendapat ini melemahkan tuduhan Marxian yang menganggap kapitalisme telah mengeksploitasi kaum buruh.
  • 10.
    Administrasi Pembangunan Paradigma NeoKlasik 10 BAB III KESIMPULAN Dari Uraian dan penjelasan yang terdapat pada Bab I dan Bab II, maka dapat disimpulkan bahwa : Pertumbuhan dan pembangunan merupakan sesuatu yang wajar terjadi di suatu negara. Bahkan pembangunan dirasa perlu untuk dilakukan seiring dengan perkembangan zaman, dan telah menjadi sebuah agenda sentral di dalam sebuah Negara, terutama Negara yang sedang berkembang. Pembangunan sering diartikan sebagai sesuatu yang mengarah ke arah modernitas dimana modernitas dianggap membawa kebaikan-kebaikan dan kemajuan bagi suatu negara, terutama negara yang sedang berkembang. Terdapat Tiga ancangan pokok wacana tentang pembangunan ekonomi yang dikemukakan oleh Todaro (1994:138), yaitu : 1. Teori-teori „arus pertumbuhan ekonomi‟ tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an Pandangan ini cenderung memandang proses pembangunan sebagai serangkaian tahapan pertumbuhan ekonomi yang berurutan, yang pasti akan dialami oleh setiap Negara yang menjalankan pembangunan, yang menyoroti pembangunan sebagai paduan dari kuantitas dan kombinasi tabungan, penanaman modal, dan batuan asing dalam jumlah yang tepat. 2. Teori-teori „ketergantungan internasional‟ akhir tahun 1960-an dan tahun 1970-an Perhatian utama pada teori ini ditunjukkkan pada pentingnya menyusun kebijakan baru untuk menghapuskan kemiskinan secara total, menyediakan kesempatan kerja yang lebih bervariasi, dan mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan. 3. Teori-teori „pasar bebas/Neo Klasik/Neo Ekonomi‟ tahun 1980-an dan tahun 90-an Menurut pemikiran ini apa yang benar-benar dibutuhkan untuk menanggulangi masalah pembangunan bukanlah reformasi sitem ekonomi internasional, restrukturisasi pola perekonomian dualistik di Negara-negara berkembang ataupun pembatasan laju pertumbuhan penduduk serendah-rendahnya melainkan promosi pasar bebas dan perekonomian laissez-faire. Paradigma Neo Klasik/ Neo Liberalisme/ Neo Ekonomi Pasar Bebas adalah merupakan suatu paradigma yang lebih menekankan pada kebebasan mekanisme pasar, dengan mengurangi campur
  • 11.
    Administrasi Pembangunan Paradigma NeoKlasik 11 tangan dari pemerintah yang berlebihan. Penghapusan kemiskinan secara total, Penyediaan kesempatan kerja yang lebih bervariasi, dan Pengurangan ketimpangan distribusi pendapatan inilah kemudian yang menyebabkan campur tangan pemerintah yang terlalu tinggi dalam pembangunan perekonomian nasional karena pemerintah ingin menciptakan suatu kondisi pembangunan Nasional dengan Kesejahteraan masyarakat yang merata, intervensi pemerintah yang berlebihan inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya ketergantungan Masyarakat terhadap pemerintah. sehingga masyarakat yang sebenarnaya menjadi penegang kepentingan terhadap pmbangunan menjadi pasif, dan hanya bergantung kepada kebijakan-kebijakan dan system yang dibuat oleh pemerintah saja. Maka Paradigma Neo Klasik/ Neo pasar bebas hadir sebagai upaya untuk merangsang pertumbuhan dan pembangunan secara berlahan dan berkelanjutan, karena di dalam Paradigma neo klasik terdapat mekanisme pasar bebas sehingga campur tangan pemerintah dalam urusan- urusan ekonomi harus dibatasi dan selanjutnya sebagai keputusan ekonomi-ekonomi terpenting harus diserahkan pada “keajaiban pasar” dan mekanisme tangan tidak Nampak atau disebut juga dengan Invisible Hand, dengan begitu maka Mayarakat sebagai actor pembangunan akan dapat menemukan Keseimbangan sendiri di dalam proses pencapaian pembanguna Nasionl, misalnya seperti penentuan tingkat harga oleh masyarakat sendiri guna pengalokasian segenap sumber daya yang dimiliki untuk merangsang pembangunan yang berkelanjutan. Walaupun paradigm neo klasik menekankan pada kebebasan mekanisme pasar, namun peran/ campur tangan pemerintah juga harus tetap ada dan dibutuhkan sebagai pencegah monopoli-monopoli dan sebgai pertahanan nasional.