GEFIE & TIMDSHENKD
MEKANIKA
E3AHA N
_11LICJ 1 ECJISI KEEMPAT
EDISI KE-4
MEKANIKA
BAHAN
JILID 1
JAMES M. GERE
Profesor Emeritus Stanford University
STEPHEN P. TIMOSHENKO (1878-1972)
Mantan Dosen Stanford University
�
PENERRIT ERL4NGGA
Jl. H. Baping Raya No. 100
Ciracas, Jakarta 1 3740
e-mail: mahameru@rad.net.id
(Anggota IKAPI)
/
DAFTAR ISI
Pengantar ix
Simbol xm
Huruf Yunani xvi
TARIK TEKAN DAN GESER 1
1 .1
1 .2
1 .3
1 .4
1 .5
1 .6
1 .7
1 .8
Pengantar
Tegangan dan Regangan Normal 3
Besaran Mekanis Bahan 9
Elastisitas, Plastisitas, dan Rangkak 1 8
Elastisitas Linier, hukum Hooke, dan Rasio Poisson
Tegangan dan Regangan Geser 26
Tegangan Izin dan Beban Izin 35
Desain untuk Beban Aksial dan Geser Langsung
Soal-soal 44
ELEMEN STRU KTUR YANG DIBEBANI SECARA AKSIAL
2.1 Pengantar 60
20
40
60
2.2 Perubahan Panjang pada Elemen Struktur yang Dibebani Secara
Aksial 61
2.3 Perubahan Panjang Batang yang Tidak Seragam 68
2.4 Struktur Statis Tak Tentu 74
2.5 Efek Termal 84
2.6 Tegangan pada Potongan Miring 9 1
2.7 Energi Regangan 100
*2.8 Beban Kejut 1 11
*2.9 Beban Berulang dan Fatik 120
*2.1 0 Konsentrasi Tegangan 1 23
*2.1 1 Perilaku Nonlinier 1 28
*2.1 2 Analisis Elastoplastis 134
Soa/-soal 138
*Asterik menandai bagian opsional
vi Daftar /si
TORSI 167
3.1 Pengantar 167
3.2 Deformasi Torsional Batang Lingkaran 1 68
3.3 Batang Lingkaran dari Bahan yang Elastis Linier 171
3.4 Torsi Tak Seragam 180
3.5 Tegangan dan Regangan pacta Geser Murni 1 86
3.6 Hubungan antara Modulus Elastisitas E dan G 1 92
3.7 Penyaluran Daya oleh Batang Lingkaran 193
3.8 Elemen Struktur Torsional Statis Tak Tentu 197
3.9 Energi Regangan pacta Kondisi Torsi dan Geser Murni 200
3.1 0 Tabung Berdinding Tipis 207
*3.1 1 Konsentrasi Tegangan dalam Keadaaan Torsi 214
*3.1 2 Torsi Nonlinear pacta Batang Lingkaran 216
Soal-soal 220
GAYA GESER DAN MOMEN LENTUR
4.1 Pengantar 236
236
4.2 Jenis-jenis Balok, Beban, dan Reaksi 236
4.3 Gaya Geser dan Momen Lentur 240
4.4 Hubungan antara Beban, Gaya Geser, dan Momen Lentur 246
4.5 Diagram Gaya Geser dan Momen Lentur 250
Soal-soal 258
5 I TEGANGAN Dl BALOK (TOPIK DASA R)
5.1 Pengantar 266
266
5.2 Lentur Murni dan Lentur Tak Seragam 267
5.3 Kelengkungan Balok 267
5.4 Regangan Longitudinal di Balok 269
5.5 Tegangan Normal di Balok (Bahan Elastis Linier) 272
5.6 Desain Balok terhadap Tegangan Lentur 281
5.7 Balok Nonprismatis 288
5.8 Tegangan Geser di Balok dengan Penampang Persegi Panjang 291
5.9 Tegangan Geser di Balok dengan Penampang Lingkaran 300
5.1 0 Tegangan Geser di Badan Ba1ok yang mempunyai Flens 30I
5.1 1 Balok Tersusun dan Aliran Geser 306
5.1 2 Balok dengan Beban Aksial 309
5.1 3 Konsentrasi Tegangan pacta Kondisi Lentur 3 15
Soal-soal 317
......___.6 I TEGANGAN Dl BALOK (TOPI K LANJUT)
6.1
6.2
6.3
6.4
6.5
Pendahuluan 340
Balok Komposit 340
Metode Penampang Tertransformasi
Balok Simetris Ganda dengan Beban Miring
Lentur pacta Balok Tak Simetris 358
340
348
352
•f
Mekanika Bahan vii
6.6 Konsep Pusat Geser 365
6.7 Tegangan Geser di Balok dengan Penampang Terbuka di Dinding
Tipis 367
6.8 Pusat Geser Penampang Terbuka Berdinding Tipis 373
6.9 Lentur Elastoplastis 380
6.1 0 Lentur Nonlinier 388
Soal-soal 395
R eferensi dan Catatan Sejarah 410
Lampiran A Sistem dan Faktor Konversi
A.1
A.2
A.3
A.4
A.5
Sistem Satuan
Satuan SI
418
419
Satuan Umum Amerika Serikat
Satuan Temperatur 427
Konversi anta�;a Satuan
Lampiran B Pemecahan Soal
B.1 Jenis Soal 431
425
428
431
B.2 Langkah-langkah Pemecahan Soal 432
B.3 Homogenitas Dimensional 433
B.4 Angka Penting 434
B.5 Pembulatan Bilangan 436
Lampiran C R umus-rumus Matematika
Lampiran D Besaran Luas Bidang
Lampiran E Besaran Profil Baja Struktural
Lampiran F Besaran Kayu Struktural
Lampiran G Defleksi dan Kemiringan Balok
Lampiran H Besaran Bahan 460
Jawab Soal 465
437
441
453
418
447
454
-
PENGANTAR
Dengan mengambil mata kuliah mekanika bahan, mahasiswa mempelajari
topik teknik dasar sekaligus juga mengembangkan kemampuan analitis
dan pemecahan masalah. Selama persiapan Edisi Keempat ini, penulis
selalu mengingat tujuan-tujuan tersebut. Fakta-fakta dan teori-teori
mekanika disajikan sedemikian rupa sehingga mudah dalam proses belajar
mengajar, dengan pembahasan yang mendalam dan contoh yang banyak,
supaya mahasiswa dapat segera menguasai suatu pokok bahasan. Selain
itu, penekanan diberikan pada bagaimana menganalisis sistem mekanis
dan struktural, dan banyak soal yang mengharuskan mahasiswa melakukan
pemikiran orisinal.
Buku ini meliputi semua topik dasar mengenai mekanika bahan, yang
disajikan pada level yang cocok untuk mahasiswa teknik tingkat dua dan
tiga. Topik-topik utama adalah analisis dan desain elemen struktural yang
mengalami tarik, tekan, torsi, dan lentur, termasuk konsep-konsep dasar
seperti tegangan, regangan, perilaku elastis, perilaku inelastis, dan energi
regangan. Topik-topik lain yang menarik adalah transformasi tegangan
dan regangan, pembebanan gabungan, konsentrasi tegangan, defleksi balok,
dan stabilitas kolom. Topik-topik yang lebih khusus adalah efek termal,
pembebanan dinamis, elemen nonprismatis, balok dua bahan, pusat geser,
bejana tekan, dan balok statis tak tentu. Untuk kelengkapan dan rujukan
kerja, topik-topik dasar seperti gaya geser, momen lentur, pusat berat, dan
momen inersia juga disajikan di dalam buku ini.
Buku ini membahas materi yang jauh lebih banyak daripada yang
dapat dibahas dalam satu mata kuliah sehingga dosen mempunyai
kesempatan untuk memilih topik yang menurutnya paling mendasar dan
relevan. Topik-topik lanjut di dalam suatu subbab diberi kode bintang (*).
Dosen juga dapat memanfaatkan ratusan soal baru (dengan total lebih dari
1100 soal) yang tersedia sebagai pekerjaan rumah dan diskusi keas. Soa­
soal diletakkan di akhir setiap bab agar mudah dicari dan tidak menyela
penyajian suatu bab. (Soal yang sangat sulit atau panjang diberi kode satu
atau lebih tanda bintang di dekat nomor soal.)
Baik Sistem Satuan lntemasional (SI) atau U.S. Customary System
(USCS) digunakan dalam contoh-contoh dan soa-soal numerik.
Mekanika Bahan ix
Pembahasan tentang kedua sistem dan tabel faktor konversi diberikan
dalam lampiran. Untuk soal-soal dengan solusi numerik, soal bernomor
ganjil menggunakan satuan uses dan soal bernomor genap menggunakan
satuan SI. Satu-satunya pengecualian adalah pada soal dan contoh yang
melibatkan tabel besaran untuk profil baja strnktural karena tabel untuk
profil ini hanya tersedia dalam satuan uses. Jawaban soal dicantumkan
di bagian belakang buku ini, sehingga mahasiswa dapat memeriksa hasil
pekerjaannya.
Rujukan dan catatan sejarah juga dikumpulkan di bagian belakang
buku ini. Rujukan dan catatan ini terdiri atas sumber asli pokok bahasan
dan catatan biografis mengenai insinyur, ilmuwan, dan matematikawan
pelopor yang menemukan pokok bahasan mekanika bahan. Indeks nama
yang terpisah akan mempermudah pencarian masing-masing tokoh sejarah
ini. Buku ini dirampungkan dengan indeks subjek yang dipersiapkan secara
ekstensif dan hati-hati sehingga setiap topik, konsep, kata kunci, atau
definisi dapat ditemukan dengan cepat.
Edisi Keempat dari Mekanika Bahan ini telah ditulis ulang secara
hati-hati dengan diskusi yang diperluas, tokoh-tokoh barn, contoh-contoh
dan soal-soal barn, serta banyak pernbahan dalam pengaturannya agar
buku ini lebih berguna di dalam ruangan kelas. Semua pernbahan dalam
pengaturan dan penyajian ini diajukan oleh para dosen dan mahasiswa
yang telah mengenal baik Edisi Ketiga.
Usaha yang keras telah dilakukan dalam memeriksa dan membaca ulang
teks agar dapat menghilangkan kesalahan, namun apabila pembaca
menemukannya, betapapun kecilnya, beritahulah penulis di Department
of Civil Engineering, Stanford University, Stanford, California 94305-
4020, U.S.A. (email jgere@ci-ve.stanford.edu), atau kontaklah penerbit
(semua surat akan dibalas).
• Penghargaan
Edisi pertama buku ini, diterbitkan pada tahun 1972 dan ditulis o1eh penulis
sekarang, mernpakan pengembangan dari buku terdahulu yang disusun
oleh Profesor Stephen P. Timoshenko (1878-1972), yang menggunakan
judul Strength of Materials. Timoshenko adalah perintis yang paling
dihormati dalam bidang mekanika terapan. Melalui penelitian dan buku­
bukunya, ia merevolusi cara pengajaran mekanika, bukan hanya di Amerika
Serikat melainkaQ juga di selurnh dunia. (Pembaca dapat menemukan
biografi ringkas dari Timoshenko di dalam rnjukan pertama di bagian
belakang buku ini.)
Penulis menyadari bahwa untuk menyampaikan penghargaan kepada
semua orang yang berkontribusi dalam penyusunan buku ini adalah sesuatu
yang tidak mungkin. Penulis hanya bisa menyampaikan penghargaan
kepada mantan dosen Stanford penulis, termasuk raksasa-raksasa mekanika,
Wilhelm Fliigge, James Norman Goodier, Mikl6s Hetenyi, Nicholas J.
Hoff, dan Donovan H. Young. Penulis juga menghargai kolega Stanford­
khususnya Tom Kane, Anne Kiremidjian, Helmut Krawinkler, Kincho
Law, Peter Pinsky, Haresh Shah, Sheri Sheppard, Allison Smith, dan
almarhum Bill Weaver-yang telah membahas filosofi pendidikan dan
mekanika dengan penulis pada banyak kesempatan. Selain itu, banyak
X Pengantar
komentar dan ide yang berguna yang disumbangkan oleh Thalia Anagnos
dari San Jose State University, John Burgess dari University of Hawaii,
dan Aron Zaslavsky dari Technion.
Penelaah berikut ini telah membaca kesel uruhan Edisi Keempat dalam
bentuk konsep dan telah memberikan baik komentar umum maupun khusus
untuk perubahan dan perbaikan. Saran-saran mereka terbukti sangat
berguna, dan penulis sangat menghargai telaahan dan ketelitian mereka.
Terima kasih penulis sampaikan kepada: Majid R. Chitsaz dari Pennsyl­
vania State University; Robert D. Cook dari Uniwrsit;. of Wisconsin­
Madison; Janak Dave dari University of Cincinnati; Sergey Drabkin dari
Polytechnic University of New York; Raghu Echempati dari Cni'ersity of
Mississippi; Harvey Lipkin dari Georgia Institute of Technolog;.: Douglas
Nims dari University of Toledo; Douglas B. Rigby dari Hong Kong
University of Science adn Technology; dan P.D. Scarlatos dari Florida
Atlantic University.
Selain itu, penelaah berikut ini telah memberikan komentar terhadap
Edisi Ketiga dalam telaah sebelum perbaikan. Saran-saran mereka sangat
menentukan dalam pembe ntukan Edisi Keempat, dan penulis sangat
menghargai ide-ide mereka. Terima kasih penulis sampaikan kepada: Hojjat
Adeli dari Ohio State University; Kevyan Ahdut dari Uni ersity of the
District of Columbia; John B. Brunski dan Robert H. P. Dunn, keduanya
dari Rensselaer Polytechnic Institute; Ted A. Conway dari University of
Akron; Xiaomin Deng dari University of So uth Carolina; Arya
Ebrahimpour dari Pennsylvania S tate University; M. Elgaaly dan Anisur
Rahman, keduanya dari Drexel University; Ahmed lbrahim dari State
University of New York at Farmi ngdale: Norman F. Knight dan
Ramamurthy Prabhakaran, keduanya dari Old Dominion University;
Gladius Lewis dari University of Memphis. Zhong Ming Liang dari Purdue
University; E.L. Parker dari Valley Forge Military Colege; Edwin Powers
dari Catonsville Community College: Charles Rondeau dari Jamestown
Community College; Michael Schwartz dari University of St. Thomas;
Sheri Sheppard dari Stanford; R. Sierakowski dari Ohio S tate University;
L.T.D. Topoleski dari University of Maryland at Baltimore; Morteza
Torkamani dari University of Pittsburgh, dan Manoochehr Zoghi dari
University of Dayton.
Pen ulis dibantu dalam pengolahan kata (word processing) dan
persiapan naskah, pembacaan ulang oleh Due Wong, yang telah bekerja
dengan perhatian dan ketelitian penuh. Selain itu, mahasiswa pascasarjana
berikut ini telah memberikan bantuan keahliannya dalam membaca ulang
dan menyiapkan solusi soal: Yih-Lin Shelley Cheng, Krista Marie
Donaldson, Denise M. Fennell, Jamie Hsieh, Peter I. Huang, Chao-Hua
(Eric) Lin, Angela Chia-Lin Teng, dan May Min-Chiao Wong.
Penyuntingan dan produksi dilaksanakan secara trampil dan efisien
oleh staf PWS Publishing Company, termasuk Jonathan Plant, Mary
Thomas Stone, dan Helen M. Walden. Penulis secara khusus berterima
kasih pada Mary Thomas Stone, yang merupakan penyunting untuk buku
ini dan memberikan komentar, pandangan, dan bantuan yang jauh melebihi
yang penulis duga. Semangat bekerja sama dan bersahabat yang ditunjukkan
oleh semuanya di PWS menjadikan pekerjaan ini suatu kebahagiaan.
Akhirnya, penulis sangat menghargai kesabaran dan dorongan yang
diberikan oleh keluarga penulis, khususnya istri penulis, Jani ce, di seluruh
proyek ini.
Mekanika Bahan xi
Kepada masing-masing orang baik ini, penulis dengan gembira
menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya.
James 11. Gere
• Alat Bantu Tambahan
Edisi Keempat menyertakan juga disket 3.5" yang mengandung program
komputer yang berguna dan mudah-Mathcad™ Engine 5.0 for Win­
dows©-dan sekumpulan lembar kerja untuk memecahkan soal-soal
mekanika bahan. Lembar ker
ja tersebut diperiksa silang terhadap contoh­
contoh dan soal-soal teks yang sesuai dengan ikon bergambar disket. Ikon
ini menunjukkan jenis soal atau contoh yang sesuai dengan Jembar kerja
tersebut. Semua soal dan contoh di dalam teks dimaksudkan untuk
dipecahkan sesuai pilihan dosen dan mahasiswa dan tidak didesain untuk
perangkat hitung tertentu.
Juga tersedia paket baru yang unik berupa buku kerja dan CD-ROM,
Visual Mechanics. Dikembangkan di University of Washington oleh Ore­
gory R. Miller dan Stephen C. Cooper, paket ini terdiri atas CD-ROM
dengan dua program (disebut Dr. Beam dan Dr. Stress), dan sebuah buku
pegangan dengan lembar kelja, latihan, dan contoh-contoh, yang terpusat
pada lentur balok dan analisis kondisi tegangan. Perangkat lunak dan
bahan instruksional pendukungnya memberikan mahasiswa laboratorium
virtual yang mudah dipakai untuk memvisualisasikan perilaku balok,
memahami model matematika, dan mengeksplorasi teori mekanika bahan
dan metode desain.
Kedua alat bantu yang didasarkan atas perangkat lunak ini ditujukan
sebagai pelengkap; buku teks ini dapat digunakan dengan efektif secara
tersendiri.
Instructor's Solution Manual dengan solusi lengkap untuk semua
soal tersedia untuk pengguna buku ini.
PWS Publishing Company
,..
SIMBOL
A
A,.
Aw
a, b, c
c
c
D
d
E
E,
E,
e
F
f
fr
G
g
H
h
l,, /v' /:
/<1, /�'�
/n,
ld'l
t,
/1, l2
J
K
Luas/area/daerah
Luas sayap (jlens)
Luas badan (web)
Dimensi (ukuran), jarak
Pusat berat (centroid), konstanta integral, gaya tekan
Jarak dari sumbu netral ke permukaan luar balok
Diameter
Diameter, dimensi , ukuran jarak (distance)
Modulus elastisitas
Modulus elastisitas reduksi
Modulus elastisitas tangensial
Eksentrisitas, dimensi (ukuran), jarak, perubahan volume satuan
(dilatasi)
Gaya
Aliran geser, faktor bentuk untuk lentur plastis, tleksibilitas,
frekuensi (Hz)
Fleksibilitas torsional batang
Modulus elastisitas dalm kondisi geser
Percepatan gravitasi
Tinggi, jarak, gaya, reaksi, tenaga kuda
Tinggi, dimensi (ukuran)
Momen inersia (atau momen kedua) dari sebuah luas bidang
Momen inersia terhadap sumbu x, y, dan z
Momen inersia terhadap sumbu x1 dan y1 (sumbu diputar)
Perkalian (produk) inersia terhadap sumbu xy
Perkalian (produk) inersia terhadap sumbu x1y1 (sumbu diputar)
Momen inersia polar
Momen inersia utama
Konstanta torsi
Faktor konsentrasi tegangan, modulus eastisitas padat (bulk),
faktor panjang efektif untuk sebuah kolom
n
0
0'
p
pizin
per
pp
pr
pt
P,.
p
Q
q
R
r
s
s
V
v', v", dst.
w
w
X, y, Z
Xc, Ye' Zc
X, y, 'Z
z
Mekanika Bahan xiii
Konstanta pegas, kekakuan, simbol untuk {PIEl
Kekakuan torsional sebuah batang
Panjang jarak
Panjang efektif sebuah kolom
Logaritma natural (basis e)
Logaritma umum (basis 10)
Momen lentur, kopel, massa
Momen plastis untuk sebuah balok
Momen luluh untuk sebuah balok
Momen per satuan panjang, massa per satuan panjang
Gaya aksial
faktor keamanan, bilangan bulat, putaran per meni t (rpm)
Pusat koordinat
Pusat kelengkungan
Gaya, beban terpusat, daya
Beban izin (atau kerja izin)
Beban kritis untuk sebuah kolom
Beban plastis untuk sebuah struktur
Beban modulus-reduksi untuk sebuah kolom
Beban modulus tangensial untuk sebuah kolom
Beban luluh untuk sebuah struktur
Tekanan (gaya per satuan luas)
Gaya beban terpusat, momen pertama sebuah bidang
Intensitas beban terdistribusi (gaya per satuan jarak)
Reaksi; jari-jari (radius)
Jari-jari (radius), jari-jari girasi (gyration) �PIEl
Modulus potongan penampang sebuah balok, pusat geser
Jarak, jarak di sepanjang sebuah garis lengkung
Gaya tarik; momen puntir atau momen putar (torque), temperatur
Momen putar (torque) plastis
Momen putar (torque) luluh
Tebal; waktu; intensitas torque
Tebal sayap (jlens)
Tebal badan (web)
Energi regangan
Densitas energi regangan (energi regangan per satuanvolume)
Modulus resistansi
Modulus ketangguhan
Gaya geser; volume
defleksi sebuah balok; kecepatan
dv/dx, d2v!d:2
, dst.
Gaya; berat; usaha (kerja)
Beban per luas satuan (gaya per satuan luas)
Sumbu persegi panjang
Sumbu persegi panjang
Koordinat pusat berat
Modulus plastis penampang sebuah balok
xiv Simbol
a
f3
{3R
g
'Yrv' 1·z' Yzx
'Yrlvl
Yo
0, /}.
11T
o
p
o
y
c
ex, cy, cz
eo
£1, £2, £3
t:'
er
()
V
p
(J
(J(J
(JP (J2' (J3
(Jizin
(Jcr
(Jpl
(Jr
(JT
(Ju
(Jr
r
rxlvl
Sudut, koefisien ekspansi panas, rasio nondimensional
Sudut, rasio nondimensional, konstanta pegas, kekakuan
Kekakuan putar sebuah pegas
Regangan geser, densitas/rapat berat (berat per satuan volume)
Regangan geser pada bidang xy, y.:, dan zx
Regangan geser terhadap sumbu x1y1 (sumbu diputar)
Regangan geser untuk sumbu miring
Defleksi, pelepasan, perpanjangan sebuah batang atau pegas
Beda temperatur
Pelepasan statis
Pelepasan luluh
Regangan normal
Regangan geser dalam arah x, y, dan z
Regangan normal untuk sumbu miring
Regangan normal utama
Regangan lateral
Regangan luluh
Sudut-sudut rotasi sumbu balok, laj u puntiran sebuah batang
dalam keadaan torsi (sudut puntir per satuan panjang )
Sudut terhadap sebuah bidang utama atau terhadap sebuah sumbu
utama
Sudut terhadap sebuah bidang tegangan geser maksimum
Kelengkungan (K" = lip)
Jarak
Rasio Poisson
Jari-jari radius kelengkungan, jarak radial dalam koordinat po­
lar, massa jenis (massa per satuan volume)
Tegangan normal
Tegangan normal pacta bidang yang tegak lurus terhadap sumbu
x, y, dan z
Tegangan normal pacta bidang yang tegak lurus terhadap sumbu
x1y1 (sumbu diputar)
Tegangan normal pacta bidang miring
Tegangan normal utama
Tegangan sisi (atau tegangan kerja)
Tegangan kritis untuk sebuah kolom (acr = Pc/A)
Tegangan limit-proposal
Tegangan sisa (residual)
Tegangan termal
Tegangan ultimate
Tegangan luluh
Tegangan geser
Tegangan geser pacta bidang yang tegak lurus terhadap sumbu
x, y, z, dan bekerja sejajar sumbu y, z, dan x
Tegamgam geser pacta sebuah bidang yang tegak lurus terhadap
sumbu x1 dan yang bekerja sejajar sumbu y1 (sumbu diputar)
Tegangan geser pacta sebuah bidang miring
Tegangan izin (atau tegangan kerja) pacta kondisi geser
•
r
u
tegangan ultimate pada kondisi geser
ry tegangan luluh pada kondisi geser
Mekanika Bahan XV
cp sudut, sudut puntir sebuah batang pada kondisi torsi
IJ' sudut, sudut rotasi
w kecepatan sudut (angular), frekuensi sudut (angular) (w = 27if)
) -
Tanda asteriks dicantumkan pada nomor subbab untuk menandai
bahwa subbab tersebut membahas suatu topik lanjut. Soal-soal
yang sangat sulit, yang rumit pemecahannya, bisa saja ditandai
dengan lebih dari satu tanda asteriks ini.
Huruf Yunani
A a Alpha N V Nu
B {3 Beta �
� Xi
r r Gamma 0 0 Omicron
L1 8 Delta II 7r Pi
E € Epsilon p p Rho
z s Zeta L a Sigma
H 1} Eta T r Tau
e () Theta y V Upsilon
I Iota (/> cp Phi
K K: Kappa X X Chi
A A- Lambda IJ' If/ Psi
M J1 Mu Q Q) Omega
1
-
TARIK,
TEKAN,
DAN GESER
PENGANTAR MEKANI KA BAHAN
Mekanika bahan actalah cabang dari mekanika terapan yang membahas
perilaku bencta pactat yang mengalami berbagai pembebanan. Nama-nama
lain untuk bictang ilmu ini actalah kekuatan bahan ctan mekanika benda
yang dapat berdeformasi. Bencta pactat yang ctitinjau ctalam buku ini
meliputi batang (bars) ctengan beban aksial, poros (shafts) yang mengalami
torsi, balok (beams) yang mengalami lentur, ctan kolom (columns) yang
mengalami tekan.
Tujuan utama mekanika bahan actalah untuk menentukan tegangan
(stress), regangan (strain) ctan peralihan (displacement) pada struktur ctan
komponen-komponennya akibat beban-beban yang bekerja pactanya.
Apabila kita ctapat memperoleh besaran-besaran ini untuk semua harga
beban hingga mencapai beban yang menyebabkan kegagalan, maka kita
akan ctapat mempunyai gambaran lengkap mengenai perilaku mekanis
pacta struktur tersebut. Pemahaman perilaku mekanis sangat penting untuk
ctesain yang aman bagi semua jenis struktur, baik itu berupa pesawat
terbang ctan antena, gectung ctan jembatan, mesin ctan motor, maupun
kapal laut dan pesawat luar angkasa. ltulah sebabnya mekanika bahan
actalah materi ctasar pacta begitu banyak cabang ilmu teknik. Statika ctan
ctinamika juga penting, tetapi keduanya terutama membahas gaya ctan
gerak yang berkaitan ctengan partikel ctan bencta tegar. Dalam mekanika
bahan kita melangkah lebih jauh dengan mempelajari tegangan ctan
regangan cti ctalam bencta nyata, yaitu bencta ctengan ctimensi terbatas yang
bercteformasi akibat pembebanan. Untuk menentukan tegangan ctan
regangan, kita menggunakan besaran-besaran fisik material selain juga
berbagai aturan ctan konsep teoretis.
Analisis teoretis ctan basil eksperimen mempunyai peranan yang sama
pentingnya cti ctalam mekanika bahan. Seringkali kita menggunakan teori
untuk menurunkan rumus ctan persamaan untuk memprectiksi perilaku
mekanis, tetapi semua ini tictak ctapat ctigunakan ctalam desain praktis
kecuali apabila besaran fisik ctari material diketahui. Besaran seperti ini
hanya ctapat diperoleh ctari basil eksperimen yang cermat cti laboratorium.
Lebih jauh lagi, banyak masalah praktis yang tictak ctapat ctiterangkan
ctengan analisis teoretis saja, dan ctalam kasus seperti ini pengujian fisik
merupakan keharusan.
2 Bab 1 Tarik. Tekan. dan Geser
Riwayat perkembangan mekanika bahan merupakan kombinasi yang
menarik antara teori dan eksperimen-teori telah menunj ukkan jalan ke
hasil eksperimen yang berguna, begitu pula sebaliknya. Orang-orang
terkenal seperti Leonardo da Yinci ( 1452 - 15 19) dan Galileo Galilei
( 1564 - 1642) telah melakukan eksperimen untuk menentukan kekuatan
kawat, batang, dan balok, meskipun mereka tidak mengembangkan teori
yang memadai (berdasarkan standar masa kini) untuk menjelaskan hasil
pengujian mereka. Sebaliknya, matematikawan temama Leonhard Euler
(1707- 1 783) mengembangkan teori matematis tentang kolom (column)
dan menghitung beban kritis sebuah kolom pada tahun 17-+4. jauh sebelum
adanya bukti eksperimental untuk memperlihatkan signifikansi hasilnya.
Tanpa adanya pengujian yang memadai untuk mendukung hasilnya, teori
Euler sempat tidak digunakan selama lebih dari I 00 tahun. sekalipun saat
ini teori tersebut merupakan dasar untuk desain dan analisis hampir semua
kolom.·
Dalam mempelajari mekanika bahan, pembaca akan mendapatkan
bahwa usaha yang dibutuhkan terbagi atas dua bagian. yaitu: pertama,
memahami pengembangan logis konsep-konsepnya, dan kedua. menerap­
kan konsep-konsep tersebut ke dalam situasi praktis. Bagian pertama
tercapai dengan mempelajari penurunan rumus, pembahasan dan contoh­
contoh yang ada di setiap bab sedangkan bagian kedua tercapai dengan
memecahkan soal-soal di akhir setiap bab. Beberapa soal menggunakan
angka (numerik) dan lainnya menggunakan simbol (aljabar).
Keuntungan darisoal numerik adalah bahwa semua besarannya terlihat
jelas di setiap tahap perhitungan sehingga memberikan kesempatan untuk
menilai apakah harga numerik tersebut masuk aka! atau tidak. Keuntungan
utama dari soal simbolik adalah bahwa hasilnya berupa rumus yang serba
guna. Suatu rumus menunjukkan variabel-variabel yang mempengaruhi
hasil akhir; sebagai contoh, kadang-kadang suatu besaran tidak muncul di
dalam solusi, suatu fakta yang tidak terlihat jelas dalam solusi numerik.
Selain itu, solusi aljabar menunj ukkan bagaimana masing-masing variabel
mempengaruhi hasil, seperti ketika satu variabel muncul di pembilang
dan variabel lain muncul di penyebut. Lebih jauh lagi, solusi simbolik
memberikan kesempatan untuk mengecek dimensi pada setiap tahap
perhitungan. Akhirnya, alasan paling penting untuk memecahkan secara
aljabar adalah untuk mendapatkan rumus umum yang dapat digunakan
pada berbagai soal yang berbeda. Sebaliknya, solusi numerik hanya berlaku
pada satu set kondisi. Karena seorang insinyur harus terbiasa dengan kedua
jenis solusi tersebut, maka di dalam buku ini disajikan perpaduan antara
soal numerik dan soal simbolik.
Soal-soal numerik mengharuskan pembaca bekerja dengan satuan
pengukuran yang khusus. Agar sesuai dengan kondisi di dalam praktek,
buku ini menggunakan Sistem Internasional (SI) dan Sistem Umum
Amerika Serikat (USCS). Pembahasan mengenai kedua sistem ini diberikan
dalam Lampiran A yang meliputi banyak tabel yang berguna termasuk
tabel faktor konversi.
Semua soal terdapat di akhir setiap bab, dengan nomor soal yang
menunj ukkan subbab asal soal-soal tersebut. Untuk soal-soal yang
membutuhkan solusi numerik, soal yang bemomor ganjil mempunyai satuan
USCS dan soal yang bernomor genap mempunyai satuan SI. Satu-satuny<,l
d;trl I -�
1�1,l�:rl rnc�.1111�,1 h:dro�ll 111ll�rr d;rrr ll·nn:ud1• .. l:trl Ci:drk1l ll'I,LII):tl p.tdtr I�L'I I 1 �
Gambar 1-1 Elemen struktur yang
mengalami beban aksial. (Batang
penderek mengalami tarik dan
batang roda pendaratan mengalami
tekiln.)
Mekanika Bahan 3
kekecualian adalah soal-soal yang melibatkan profil baja struktural yang
umum diperdagangkan karena besaran dari profil ini ditabelkan dalam
Lampiran E hanya dalam satuan USCS.
Teknik-teknik penyelesaian soal dibahas secara rinci dalam Lampiran
B. Selain memuat daftar prosedur rekayasa yang baik, Lampiran B juga
memuat bagian-bagian tentang homogenitas dimensional dan angka
penting. Topik-topik ini secara spesifik penting karena setiap persamaan
harus homogen secara dimensional dan setiap hasil numerik harus
dinyatakan dengan sejumlah angka penting yang tepat. Di dalam buku ini,
hasil numerik akhir biasanya dinyatakan dengan tiga angka penting apabila
suatu bilangan dimulai dengan angka 2 sampai 9, dan dengan empat angka
penting apabila suatu bilangan dimulai dengan angka I. Harga-harga antara
(intermediate value) biasanya dicatat dengan digit tambahan untuk meng­
hindari hilangnya ketelitian numeris akibat pembulatan bilangan.
TEGANGAN DAN REGANGAN NORMAL
Konsep paling dasar dalam mekanika bahan adalah tegangan dan
regangan. Konsep ini dapat diilustrasikan dalam bentuk yang paling men­
dasar dengan meninjau sebuah batang prismatis yang mengalami gaya
aksial. Batang pris matis adalah sebuah elemen struktural lurus yang mem­
punyai penampang konstan di seluruh panjangnya, dan gaya aksial adalah
beban yang mempunyai arah sama dengan sumbu elemen, sehingga meng­
akibatkan terjadinya tarik atau tekan pada batang. Contoh-contohnya diper­
lihatkan dalam Gambar 1-1, di mana batang penderek tarik (tow bar)
merupakan sebuah elemen prismatis yang mengalami tarik dan batang
roda untuk pendaratan adalah elemen yang mengalami tekan. Contoh­
contoh lainnya adalah elemen di rangka batang pada jembatan, batang­
batang penghubung pada mesin mobil dan sepeda, kolom di gedung, dan
flens tarik di pesawat terbang kecil.
Untuk keperluan pembahasan, kita akan meninjau batang penderek
dalam Gambar 1-1 dan mengisolasi salah satu segmennya sebagai benda
bebas (Gambar 1-2a). Sewaktu menggambar diagram benda bebas ini,
kita abaikan berat batang dan kita asumsikan bahwa gaya yang aktif
hanyalah gaya aksial P di ujung-ujungnya. Selanjutnya kita tinjau dua
kondisi batang tersebut, yang pertama sebelum beban diterapkan (Gambar
l-2b) dan yang kedua sesudah beban diterapkan (Gambar 1-2c). Perhatikan
bahwa panjang semula dari batang ditunjukkan dengan huruf L dan
pertambahan panjangnya ditunjukkan dengan huruf Yunani 8 (delta).
Tegangan internal di batang akan terlihat apabila kita membuat sebuah
potongan imajiner melalui batang pada bagian mn (Gambar l -2c). Karena
Batang Penderek Tarik
4 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
P�
�
--------�
( ++P
(::t)
( ()
Ill
P.{
�
--
--
--'�'--
�C++P
I " I
-L+Ii
(c)
Gambar 1-2 Batang prismatis
yang mengalami tarik (a) diagram
benda bebas dari segmen batang,
(b) segmen batang sebelum di­
bebani, (c) segmen batang sesudah
dibebani, dan (d) tegangan normal
pada batang.
potongan ini diambil tegak lurus sumbu longitudinal batang, maka disebut
potongan melintang (penampang). Sekarang kita isolasi bagian dari batang
di kiri potongan melintang mn sebagai benda bebas (Gambar l-2d). Di
ujung kanan dari benda bebas ini (potongan mn) ditunjukkan aksi yang
diberikan oleh bagian yang dihilangkan dari batang tersebut (yaitu bagian
di kanan potongan mn) terhadap bagian sisanya. Aksi ini terdiri atas gaya
terdistribusi kontinu yang bekerja pada seluruh penarnpang. Intensitas gaya
(yaitu gaya per satuan luas) disebut tegangan dan diberi notasi huruf
¥unani a (sigma). Jadi, gaya aksial P yang bekerja di penampang adalah
resultan dari tegangan yang terdistribusi kontinu. (Gaya resultan
ditunjukkan dengan garis putus-putus di dalam Gambar l-2d.)
Dengan mengasumsikan bahwa tegangan terbagi rata di seluruh
potongan mn (Gambar l-2d), kita dapat melihat bahwa resultannya hams
sama dengan intensitas a dikalikan dengan luas penampang A dari batang
tersebut. Dengan demikian, kita mendapatkan rumus berikut untuk
menyatakan besar tegangan:
p
A
(1-1)
Persamaan ini memberikan intensitas tegangan merata pada batang
prismatis yang dibebani secara aksial dengan penampang sembarang.
Apabila batang ini ditarik dengan gaya P, maka tegangannya adalah
tegangan tarik (tensile stress); apabila gayanya mempunyai arah
sebaliknya, sehingga menyebabkan batang tersebut mengalami tekan, maka
terjadi tegangan tekan (compressive stress). Karena tegangan ini
mempunyai arah yang tegak lurus permukaan potongan, maka tegangan
ini disebut tcgangan normal (normal stress). Jadi, tegangan normal dapat
berupa tarik atau tekan. Selanjutnya, di dalam Subbab 1.6, kita akan
menjumpai jenis tegangan lainnya, yang disebut tegangan geser, yang
bekerja sejajar terhadap permukaan potongan.
Apabila konvensi tanda untuk tegangan normal dibutuhkan, biasanya
tegangan tarik didefinisikan bertanda positif dan tegangan tekan bertanda
negatif.
Karena tegangan normal a diperoleh dengan membagi gaya aksial
dengan luas penampang, maka satuannya adalah gaya per satuan luas.
Jika satuan uses digunakan, maka tegangan biasanya dinyatakan dalam
pound per inci kuadrat (psi) atau kip per inci kuadrat (ksi).
'
Sebagai
contoh, misalkan batang dalam Gambar 1-2 mempunyai diameter d sebesar
2,0 in. dan beban P mempunyai besar 6 kips. Dengan demikian, tegangan
di batang adalah
p p
a = - = --- =
A mi2 /4
6 k
= 1,9 1 ksi (atau 1910 psi)
7r(2,0 ini I4
Di dalam contoh ini tegangan adalah tarik dan bertanda positif.
Apabila satuan SI digunakan, gaya dinyatakan dalam newton (N) dan
luas dalam meter kuadrat (m2). Dengan demikian, tegangan mempunyai
satuan newton per meter kuadrat (N/m2), yang disebut juga pascal (Pa).
Tetapi, pascal adalah satuan yang sedernikian kecilnya sehingga dibutuhkan
pengali yang besar, maka biasanya digunakan megapascal (MPa). Untuk
.
Sdlll Kip <llau kilopound, 'Wlla JLngan 1000 lh
p
G ambar 1 -3 Batang pendel
dari baja yang mengalami beban
tarik, P.
Mekanika Bahan 5
mengilustrasikan bahwa satu pascal memang kecil, kita hanya perlu
mengingat bahwa 1 psi kira-kira sama dengan 7000 pascal. Sebagai contoh
numerik, tegangan yang dibahas dalam paragraf sebelum ini ( 1 ,91 ksi)
ekivalen dengan 13,2 MPa yang sama dengan 13,2 x 106 pascal. Meskipun
tidak diharuskan dalam SI, pembaca kadang-kadang menjumpai tegangan
dinyatakan dalam satuan newton per milimeter kuadrat (N/mm2), yang
sama dengan MPa.
Persamaan cr =PIA hanya berlaku jika tegangan terbagi rata di seluruh
penampang batang. Kondisi ini terjadi jika gaya aksial P bekerja melalui
pusat berat penampang, sebagaimana ditunjukkan di bagian lain dari subbab
ini. Apabila beban P tidak bekerja di pusat berat, maka lentur batang akan
terjadi, dan analisis yang lebih rumit dibutuhkan (lihat Subbab 5.12 dan
1 1 .5). Namun, di dalam buku ini (sebagaimana juga dijumpai di dalam
praktek) dianggap bahwa gaya aksial diterapkan di pusat berat penampang,
kecuali apabila dinyatakan tidak demikian.
Kondisi tegangan merata yang ditunjukkan dalam Gambar l-2d terjadi
di seluruh panjang batang kecuali di dekat ujung-ujungnya. Distribusi
tegangan di ujung batang bergantung pada bagaimana beban P disalurkan
ke batang, Jika beban tersebut terbagi rata di ujungnya, maka pola tegangan
di ujung akan sama dengan di seluruh bagian lainnya. Sekalipun demikian,
beban sangat mungkin disalurkan melalui sendi atau baut, yang menyebab­
kan terjadinya tegangan yang sangat terlokalisasi yang disebut konsentrasi
tegangan. Salah satu kemungk:inannya adalah dengan menggunakan batang
pendel seperti terlihat dalam Gambar 1-3. Dalam hal ini beban P disalurkan
ke batang tersebut melalui sendi yang melalui lubang (atau mata) di ujung­
ujung batang. Jadi, gaya-gaya di dalam gambar tersebut sebenarnya
merupakan resultan dari tekanan tumpu antara sendi dan batang pendel,
dan distribusi tegangan di sekitar 1ubang cukup rumit. Sekalipun demik:ian,
apabila kita bergerak menjauhi ujung ke arah tengah batang, distribusi
tegangan akan secara gradual mendekati distribusi yang rata sebagaimana
terlihat dalam Gambar l-2d.
Sebagai petunjuk praktis, rumus cr = PIA dapat digunakan dengan
ketelitian yang baik untuk sembarang titik di dalam batang prismatis,
yaitu setidaknya sejauh mungk:in dari konsentrasi tegangan sebagai dimensi
lateral terbesar dari batang tersebut. Dengan perkataan lain, distribusi
tegangan di dalam Gambar 1-2d terbagi rata pada jarak d atau lebih besar
dari ujung-ujungnya, dimana d adalah diameter batang dan distribusi
tegangan di batang pendel (Gambar 1-3) terbagi rata pada jarak b atau
lebih besar dari ujung yang diperbesar, dengan b adalah lebar batang.
Pembahasan yang lebihrinci tentang konsentrasi tegangan yang diakibatkan
oleh beban aksial diberikan dalam Subbab 2. 10.
Tentu saja, meskipun tegangan tidak terbagi rata, persamaan cr =PIA
masih tetap berguna karena persamaan ini memberikan tegangan normal
rata-rata di suatu penampang.
• Regangan Normal
Sebagaimana telah diamati, suatu batang lurus akan mengalami perubahan
panjang apabila dibebani secara aksia1, yaitu menjadi panjang jika
mengalami tarik dan menjadi pendekjika mengalami tekan. Sebagai contoh,
tinjau kembali batang prismatis dalam Gambar 1-2. Perpanjangan 8 dari
batang ini (Gambar 1-2c) adalah hasil kumulatif dari perpanjangan semua
elemen bahan di seluruh volume batang. Asumsikan bahwa bahan tersebut
6 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
sama di mana pun di dalam batang. Selanjutnya, jika kita meninjau setengah
bagian dari batang (panjangnya L/2), bagian ini akan mempunyai
perpanjangan yang sama dengan /5/2, dan jika kita meninjau seperempat
bagian dari batang, bagian ini akan mempunyai perpanjangan yang sama
dengan /5/4. Dengan cara yang sama, satu satuan panjang dari batang
tersebut akan mempunyai perpanjangan yang sama dengan 1/L kali
perpanjangan total 8. Dengan proses ini kita akan sampai pada konsep
perpanjangan per satuan panjang, atau rcgangan, yang diberi notasi huruf
Yunani e (epsilon) dan dihitung dengan persamaan
e = o
L
(1 -2)
Jika batang tersebut mengalami tarik, maka regangannya disebut rcgangan
tarik, yang menunjukkan perpanjangan bahan. Jika batang tersebut meng­
alami tekan, maka regangannya adalah regangan tckan dan batang tersebut
memendek. Regangan tarik biasanya bertanda positif dan regangan tekan
bertanda negatif. Regangan e disebut regangan normal karena regangan
ini berkaitan dengan tegangan normal.
Karena merupakan rasio antara dua panjang, maka regangan normal
ini merupakan hcsaran tak herdimensi, artinya regangan tidak mempunyai
satuan. Dengan demikian, regangan dinyatakan hanya dengan suatu
bilangan, tidak bergantung pada sistem satuan apapun. Harga numerik
dari regangan biasanya sangat kecil karena batang yang terbuat dari bahan
struktural hanya mengalami perubahan panjang yang kecil apabila dibebani.
Sebagai contoh, tinjau batang baja yang mempunyai panjang L sama dengan
2,0 m. Apabila dibebani tarik yang cukup besar, batang tersebut dapat
memanjang sebesar 1,4 mm, yang berarti regangannya
e = §_ = 1•4 mm
= 0,0007 = 700 x 1 0--{)
L 2,0 m
Dalam praktek, satuan o dan L kadang-kadang disertakan dalam regangan,
dan regangan ditulis dalam bentuk seperti mm/m, .urnlm, dan in./in. Sebagai
contoh, regangan e pacta ilustrasi di atas dapat ditulis dengan 700 .urnlm
atau 700 x 10� in./in. Kadang-kadang regangan juga dinyatakan dalam
persen, khususnya jika regangan tersebut besar. (Di dalam contoh di atas,
regangan adalah 0,07%.)
• Regangan dan Tegangan Uniaksial
Definisi tegangan normal dan regangan normal semata-mata didasarkan
atas tinjauan statika dan geometris saja, yang berarti bahwa persamaan (I­
I) dan (1-2) dapat digunakan untuk berbagai beban besar berapapun dan
berbagai jenis material (bahan). Persyaratan utama adalah bahwa deformasi
batang adalah sama di seluruh volumenya, yang pada gilirannya
mengharuskan batang tersebut prismatis, beban bekerja melalui pusat berat
penampang dan bahannya homogen (yaitu, sama di seluruh bagian dari
batang tersebut). Keadaan tegangan dan regangan yang dihasilkan disebut
tegangan uniaksial dan regangan. Pembahasan lebih lanjut tentang
tegangan uniaksial, termasuk juga tegangan dan regangan pada batang
yang bukan longitudinal, diberikan dalam subbab 2.6. Kita juga akan
menganalisis keadaan tegangan yang lebih rumit, seperti tegangan biaksial
dan tegangan bidang, di dalam Bab 7.
(,1)
(bi
Gambar 1 -4 Distribusi tegangan
tcrbagi rata di suatu batang
prismatis: (a) gaya aksial P, dan (b)
penampang melintang batang
Mekanika Bahan 7
• Garis Kerja Gaya Aksial untuk Distribusi Tegangan Terbagi Rata
Di seluruh pembahasan terdahulu tentang tegangan dan regangan di batang
prismatis, kita asumsikan bahwa tegangan normal CJ mempunyai distribusi
terbagi rata di seluruh penampang. Sekarang kita akan menunjukkan bahwa
kondisi ini terpenuhi jika garis kerja gaya aksial melalui pusat berat
penampang melintang.
Tinjaulah batang prismatis yang mempunyai bentuk penampang
sembarang yang mengalami gaya aksial P yang menyebabkan terjadinya
tegangan terbagi rata (Gambar l-4a). Juga, misalkan p1 adalah titik pada
CJ penampang di mana garis kerja gaya memotong penampang (Gambar
l-4b). Kita buat sistem sumbu xy pada bidang penampang dan eatat
koordinat titik p1 dengan x dan y. Untuk menentukan koordinat ini, kita
amati bahwa momen M, dan M, dari gaya P masing-masing terhadap
sumbu x dan y, harus sama dengan momen yang berkaitan dengan tegangan
terbagi rata.
Momen dari gaya P adalah
(a,b)
di mana momen dipandang positif apabila vektomya (dengan menggunakan
aturan tangan kanan) bekerja dalam arah positif sumbunya.*
Momen dari tegangan yang terdistribusi diperoleh dengan meng­
integrasikannya di seluruh penampang A. Gaya diferensial yang bekerja
pada suatu elemen luas dA (Gambar l-4b) sama dengan CJdA. Momen dari
gaya tersebut terhadap sumbu x dan y adalah masing-masing aydA dan
-CJXdA, yang mana x dan y menunjukkan koordinat elemen dA. Momen
total diperoleh dengan mengitegrasikannya terhadap luas penampang; jadi,
kita peroleh
(c,d)
Pemyataan ini memberikan momen yang dihasilkan oleh tegangan CJ.
Selanjutnya, kita samakan momen M, dan M, yang diperoleh dari
gaya P (Persamaan a dan b) dengan momen yang diperoleh dari tegangan
yang terdistribusi (Persamaan c dan d):
Py= Iay dA Px = -Im dA
Karena tegangan CJ terbagi rata, maka kita ketahui bahwa nilainya konstan
di seluruh penampang A dan dapat diletakkan di luar tanda integrasi. Juga,
kita ketahui bahwa tegangan sama dengan PIA. Dengan demikian, kita
peroleh rumus berikut untuk koordinat titik p;:
- I0)' dA
' = �
-
- X = I0)' dA ( 1-3a,b)
A A
Persamaan ini sama dengan persamaan yang mendefinisikan koordinat
pusat berat suatu area (lihat Pers. 12-3a dan b). Dengan demikian, kita
sekarang telah sampai pada sebuah kesimpulan penting. Untuk memperoleh
tarik atau tekan yang terbagi rata pada suatu batang prismatis, gaya
':'Untuk mcmvisualisasikan aturan tangtm kanan, hayangan hahwa rcmhaca rncmcgang .'lulllhu
Lkngan tangan kanan �cdcmiki'-ln hinggJ jari-j�ui pcmhac:.r mclipal di sch.itar sumhu Lcr�chuL Jan jcmpol
lllL'nunjuJ... posili! Jari "llllrhu Sclanjutnycr, mn111cn aJalah posilil jika hckcrjtrlcrhcrdap sumhu dalam arah
yang sama dcngan jw i-jar i pcmhaca
B Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
aksial harus beker
ja melalui pusat berat penampang. Sebagaimana telah
diuraikan sebelum ini, kita selalu mengasumsikan bahwa kondisi ini
terpenuhi, kecuali jika secara eksplisit dinyatakan tidak demikian.
Contoh berikut ini mengilustrasikan perhitungan tegangan dan
regangan pada batang prismatis. Dalam contoh pertama, kita mengabaikan
berat batang dan dalam contoh kedua kita memasukkannya. (Agar sesuai
dengan buku-buku praktek pada umumnya, kita selalu mengabaikan berat
suatu struktur apabila memecahkan suatu soal, kecuali apabila diinstruksi­
kan untuk memasukkannya.)
• Contoh 1-1
5- H
Gambar 1 -5 Contoh 1 - 1 . Tiang
aluminium berlubang yang meng­
alami tekan
Sebuah tiang pendek berupa tabung 1ingkaran berlubang dari aluminium memikul
beban tekan sebesar 54 kips (Gambar 1-5). Diameter dalam dan luar dari tabung
tersebut masing-masing adalah d1 = 3,6 in dan d2 = 5,0 in. dan panjangnya adalah
40 in. Perpendekan tiang akibat beban tersebut diukur sebesar 0,022 in. Tentukanlah
tegangan dan regangan tekan di tiang tersebut. (Abaikan berat tiang itu sendiri dan
asumsikan bahwa tiang tersebut tidak menekuk akibat beban tersebut.)
Solusi
Asumsikan bahwa beban tekan bekerja di pusat tabung berlubang sehingga kita
dapat menggunakan persamaan s = PIA (Pers. 1 - 1 ) untuk menghitung tegangan
normal. Gaya Psama dengan 54 k (atau 54000 lb), dan luas penampang melintang
A adalah
A = %(dff - d�) = %[(5,0 in.)2
- (3,6 in.)2
]
Dengan demikian, tegangan tekan di tiang ada1ah
a =
!!_ =
54.000 lb = 5710 psi
A 9,456 in.2
Regangan tekan (dari Persamaan 1 -2) adalah
E =
§_ = 0·02- in. = 550 X 10-6
L 40 m.2
-
Jadi, tegangan dan regangan di tiang telah dihitung.
9,456 in.2
-
Catatan: Sebagaimana telah diterangkan sebelum ini, regangan merupakan
besaran yang tak berdimensi dan tidak ada satuan yang dibutuhkan. Namun untuk
kejelasan, satuan juga sering digunakan. Dalam contoh ini, E dapat saja ditulis
sebesar 550 X I 0"6 in./in. atau 550 ,uin./in.
• Contoh 1-2
Suatu batang baja berpenampang lingkaran yang panjangnya L dan berdiameter d
dibebani W di ujung hawnhnya ( amhru 1 -6). (a) Dapatkan rumu lmtuk tegangan
maksimum amak> di batang tcr ·ebut dengan rnemperhitungkan b 'r.ll �cndiri batang
tersebut. (b) Hitunglah tegangan maksimum jtkn L = 40 10, t1 = mm, dan W =
1,5 kN.
L
d
-.. -
Gambar 1-6 Contoh l-2. Batang
bulat dari baja yang memikul beban
w.
Solusi
Mekanika Bahan 9
(a) Gaya aksial maksimum F'""*' di batang terjadi di ujung alas dan sama dengan
berat W ditambah berat W0 dari batang itu sendiri. Berat sendiri batang sama
dengan berat jenis y baja dikalikan volume batang V, atau
% = y1 = y
AL ( l-4)
dengan A adalah luas penampang batang. Dengan demikian, rumus untuk tegangan
maksimum (dari Persamaan 1-1) menjadi
a
=
Fmaks = W + y
AL =
W + "
"
maks
A A A 1
'-- ( 1 -5 ) ..
(b) Untuk menghitung tegangan maksimum, k.itamasukkan harga-harga numerik
ke dalam persamaan di atas. Luas penampang melintang sama dengan ruP/4,
dengan d = 8 mm, dan beratjenis baja y= 77,0 k.N/m3 (dari Tabel H- 1 di Lampiran
H). Jadi
1 •5 kN
+ (77,0 k.N/m3)(40 m)
n-(8 mm)2 /4
= 29,84 MPa + 3. 1 I MPa = 33,0 MPa ..
Di dalam contoh ini, beratbatang berkontribusi secara signifikan terhadap tegangan
maksimum dan sebaiknya tidak diabaikan.
BESARAN MEKANIS BAHAN
Untuk mendesain mesin dan struktur agar keduanya berfungsi secara me­
madai kita harus memahami perilaku mekanis dari material (bahan) yang
digunakan. Biasanya, satu-satunya cara untuk menentukan bagaimana suatu
bahan berperilaku apabila mengalami pembebanan adalah dengan
melakukan eksperimen di laboratorium. Prosedur yang biasa a�alah dengan
meletakkan benda uji kecil dari material tersebut pacta mesin penguji,
menerapkan beban, dan selanjutnya mengukur deformasinya (seperti
misalnya perubahan panjang dan perubahan diameter). Hampir semua
laboratorium pengujian bahan diperlengkapi dengan mesin-mesin yang
mampu membebani benda uji dengan berbagai cara, termasuk pembebanan
statik dan dinamik, baik tarik maupun tekan.
Mcsin uji tarik tipikal ditunjukkan dalam Gambar 1-7. Benda uji
dipasang di antara kedua penjepit besar dari mesin uji dan selanjutnya
dibebani tarik. Alat pengukur akan mencatat deformasi, sementara sistem
kontrol otomatis serta pengolah data (di kiri foto) membuat tabel dan
grafik dari hasil pengujian.
Foto yang lebih detail dari benda uji tarik ditunjukkan dalam Gambar
1 -8. Ujung benda uji bundar mempunyai penampang yang lebih besar di
dekat penjepit agar kegagalan tidak akan terjadi di dekat penjepit. Suatu
kegagalan di ujung tidak dapat menghasilkan informasi yang diharapkan
tentang bahan karena distribusi tegangan di dekat penjepit tidak terbagi
rata sebagaimana telah dibahas dalam Subbab 1 .2. Pacta benda uji yang
didesain dengan baik, kegagalan akan terjadi di bagian prismatis dari
benda uji di mana distribusi tegangan terbagi rata dan batang tersebut
10 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
Gambar 1 ·7 Mesin uji tarik
dengan sistem pengolahan data
(Atas izin MTS System Corpora­
tion)
hanya mengalami tarik murni. Situasi ini ditunjukkan dalam Gambar 1 -8,
di mana benda uji baja baru saja terputus akibat dibebani. Alat di kiri,
yang dihubungkan oleh dua buah lengan ke benda uji, adalah extensom­
cter untuk mengukur perpanjangan selama pembebanan.
Agar hasil pengujian dapat dibandingkan, maka dimensi benda uji
dan metode penerapan beban telah distandarisasi. Organisasi pembuat
standar yang paling utama adalah American Society for Testing and Ma­
terials (ASTM), suatu badan teknis nasional yang menerbitkan spesifikasi
dan standar untuk bahan dan pengujian. Organisasi lain yang sejenis di
Amerika Serikat adalah American Standards Association (ASA), dan
National Institute of Standards and Institute (NIST), yang sebelumnya
bernama National Bureau o
f Standards (NBS). Organisasi serupa ada di
negara-negara lain.
Benda uji tarik menurut standar ASTM mempunyai diameter 0,505
in. dan panjang terukur 2,0 in. di antara tanda-tanda pengukuran, yang
merupakan titik-titik di mana lengan extensometer dipasang ke benda uji
(Gambar l -8). Selama benda uji ditarik, beban aksial diukur dan dicatat,
baik secara otomatis atau dengan membacanya dari dial. Perpanjangan di
seluruh panjang terukur diukur secara simultan baik dengan menggunakan
pengukur mekanis seperti terlihat dalam Gambar 1-8 atau dengan meng­
gunakan pengukur regangan tahanan elektris. Di dalam uji statik, beban
diterapkan perlahan-lahan dan laju pembebanan yang teliti bukan
merupakan ha! yang penting karena tidak mempengaruhi perilaku benda
Gambar 1 -8 Benda uji tarik
tipikal dengan extensometer yang
terpasang padanya; benda uji baru
saja terputus karena tarik (Atas izin
MTS System Corporation)
I
Mekanika Bahan 1 1
Pnnjang
terukur
uji. Tetapi, dalam uji dinamis beban diterapkan secara cepat dan kadang­
kadang dengan cara siklus. Karena sifat beban dinamis mempengaruhi
besaran bahan, maka laju pembebanan perlu juga dicatat.
llji tekan pada metal biasanya dilakukan pacta benda uji kecil yang
berbentuk kubus atau silinder. Kubus biasanya mempunyai sisi 2,0 in. dan
silinder biasanya mempunyai diameter sekitar 1 in. dan panjangnya I
sampai 1 2 in. Besarnya beban yang diterapkan dan besarnya perpendekan
benda uji dapat diukur. Perpendekan sebaiknya diukur di seluruh panjang
terukur yang kurang dari panjang total dari benda uji agar tidak ada efek
ujung.
Beton diuji tekan pada setiap proyek konstruksi yang penting untuk
menjamin bahwa kekuatan yang dibutuhkan telah dicapai. Benda uji
menurut standar ASTM mempunyai diameter 6 in dan panjang 1 2 in,
serta mempunyai umur 28 hari (umur beton merupakan ha! yang penting
karena beton meningkat kekuatannya apabila mengering). Benda uji serupa
yang agak lebih kecil digunakan dalam melakukan uji tekan pada batuan
(Gambar 1 -9).
• Diagram Tegangan-Regangan
Hasil-hasil pengujian biasanya bergantung pacta ukuran benda uji. Karena
sangat kecil kemungkinannya bahwa kita menggunakan struktur yang
ukurannya sama dengan ukuran benda uji, maka kita perlu menyatakan
1 2 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
Gambar 1 -9 Benda uji batuan
yang diuji tekan. (Atas izin MTS
System Corporation)
hasil pengujian dalam bentuk yang dapat diterapkan pada elemen struktur
yang berukuran berapapun. Cara sederhana untuk mencapai tujuan ini
adalah dengan mengkonversikan hasil pengujian tersebut ke tegangan dan
regangan.
Tegangan aksial er pada benda uji dihitung dengan membagi beban
aksial P dengan luas penampang A (lihat Persamaan l-1 ). Jika luas awal
benda uji digunakan dalam perhitungan, maka tegangan yang diperoleh
disebut tcgangan nominal (nama lainnya adalah tegangan konvensional
dan tegangan teknik). Harga tegangan aksial yang lebih eksak, yang disehut
tcgangan scbenarn� a, dapat dihitung dengan menggunakan luas penam­
pang batang sebenarnya pada saat kegagalan terjadi. Karena luas aktual
dalam pengujian tarik selalu lebih kecil daripada luas awal (sebagaimana
diilustrasikan dalam Gambar 1-8), maka tegangan sebenarnya selalu lebih
besar daripada tegangan nominal.
Regangan aksial rata-rata £ pada benda uji diperoleh dengan membagi
perpanjangan yang diukur 8antara tanda-tanda pengukuran dengan panjang
terukur L (lihat Gambar 1 -8 dan Persamaan J -2). Jika panjang terukur
awal digunakan dalam perhitungan (misalnya 2,0 in.), maka didapatkan
rcgangan normal . Karenajarak antara tanda-tandapengukuran bertambah
pada saat beban tarik diterapkan, maka kita dapat menghitung regangan
Gambar 1 - 1 0 Diagram tegangan­
regangan untuk baja struktural
tipikal yang mengalami tarik (tidak
berskala)
Mekanika Bahan 1 3
sebenarnya (atau regangan a/ami) pacta setiap harga beban dengan
menggunakan jarak aktual antara tanda-tanda pengukuran. Dalam keadaan
l
arik, regangan sebenarnya selalu lebih kecil daripada regangan normal.
Sekalipun demikian, untuk penggunaan dalam bidang teknik, tegangan
nominal dan regangan nominal sudah cukup memadai, sebagaimana akan
diuraikan dalarn bagian lain subbab ini.
Sesudah melakukan uji tarik atau tekan dan menentukan tegangan
dan regangan pacta berbagai taraf beban, kita dapat memplot diagram
tegangan versus regangan. Diagram tegangan-regangan seperti ini
merupakan karakteristik dari bahan yang diuji dan memberikan informasi
penting tentang besaran mekanis dan jenis perilaku.*
Bahan pertama yang akan kita bahas adalah baja struktural, yang
juga dikenal dengari baja lunak atau baja karbon rendah. Baja struktural
adalah salah satu bahan metal yang paling banyak digunakan untuk gedung,
jembatan, crane, kapal, menara, kendaraan, dan berbagai jenis struktur
lain. Diagram tegangan-regangan untuk baja struktural tipikal yang
mengalami tarik ditunjukkan dalam Gambar 1-10. Regangan diplot pada
sumbu horizontal dan tegangan pacta sumbu vertikal. (Untuk menunjukkan
semua hal penting dari bahan ini, sumbu regangan dalam Gambar 1-10
digambar tanpa skala.)
Diagram tersebut dimulai dengan garis lurus dari pusat sumbu 0 ke
titik A, yang berarti bahwa hubungan antara tega.ngan dan regangan pacta
daerah awal ini bukan saja linier melainkan juga proporsional.•• Melewati
titik A, proporsionalitas antara tegangan dan regangan tidak acta lagi; jadi
tegangan di A disebut limH proporsional. Untuk baja berkarbon rendah,
limit ini berada pacta selang 30 sampai 50 ksi (210 sampai 350 MPa),
tetapi baja berkekuatan tinggi (dengan kandungan karbon lebih tinggi
ditambah unsur paduan lain) dapat mempunyai batas proporsional lebih
dari 80 ksi (550 MPa). Kemiringan garis lurus dari 0 ke A disebut modu­
lus clastisitas. Karena kemiringan mempunyai satuan tegangan dibagi
Tegangan
ultiHoatc
..
Tegangan
luluh -----..
Limit / AA
proporsional /'
c
u ......... __.....,
_
_
_
Daerah
linier
Luluh atau Strain
plastisitas hardening
sempurna
£'
.
- - ·
Necking
·I )iagt dill lc�<lll�:ln-r cg<tllt!-<111 di 1 i Illi-; olcll J:1C11h Hl'rlll Ju l l r ( 1 6.'1--i-· I 70.� ) dan I V Polll'l'k·l ( 1 7�X-
1 Kh71: l i hlll 1{,· 1 1 --1;
J )ud  <ll l;ilk·i Li i"l'l"'ll l /JI O,'JOI 111111.'1 j l l, a r ;J>.;ru <l!lld l ;l h-l'li ll<lll)a h:on-.;lt�ll l kn:;a11 tk�mr kltill, '>Ualu
luh1111_::.111 j)l l lf'( )J , inn:d dar1;1{ clinv<�tak;rn tk'H.�dll "i�o.'hll;tll �.tl i' 1 u 1 u" ! '-lll.!,.' lll�ltl l u 1 pll.'<llll)'il !;Jillllll
hu hu H.
C<� Il p1 0j)l l! ..,lllll�ll l HI�l� �ann LiL'Il!;i.lll l tuhllll�illl /i11in k-..kiJ'Uil huhun�an p1 11)10I "ion;tl ;ublall
li ltll'l ...,L·h�i l i � n : a L1Ja� -..LI<liu he nilI k.IJ L
'Il;t ..;u;tl1 JH,hungan ) �Ill� dilly;tl<tk;_ln dLJJ!:,!-�l l l ga1 1" l u J u " y;tn� 1 1d<1�
n �;._·l;.dui l i l i � JHt-...11 �u.l.t!ah J ' nit'J IL'I<Ij'l liLbk JlH'J•I ' I � IOita l SL"I)ulan ·hc<IMIHIJIg !ang:-.un {' lliL'InptHl  <11 <11 1
"'-1111<1 deu�an prop( 1 '-IOilal I Rei I :" I
,..
1 4 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
Daerah
fraktur
Beban
Beban
Daerah
necking
Gambar 1 -1 1 Necking pada
batang baja lunak yang mengalami
tarik
regangan, maka modulus elastisitas mempunyai satuan yang sama dengan
tegangan. (Modulus elastisitas dibahas lebih lanjut di Subbab 1 .5.)
Dengan meningkatnya tegangan hingga melewati limit proporsional,
maka regangan mulai meningkat secara lebih cepat lagi untuk setiap per­
tambahan tegangan. Dengan demikian, kurva tegangan-regangan
mempunyai kemiringan yang berangsur-angsur semakin kecil, sampai pada
titik B kurva tersebut menjadi horizontal (lihat Gambar 1-10). Mulai dari
titik ini, terjadi perpanjangan yang cukup besar pada benda uji tanpa
adanya pertambahan gaya tarik (dari B ke C). Fenomena ini disebut luluh
dari bahan, dan titik B disebutlitik luluh. Tegangan yang berkaitan dengan
ini disebut tegangan luluh dari baja. Di daerah antara B dan C, bahan ini
menjadi plastis semJmrna , yang berarti bahwa bahan ini berdeformasi
tanpa adanya pertambahan beban. Perpanjangan benda uji baja lunak pada
daerah plastis sempuma pada umumnya 10 sampai 1 5 kali perpanjangan
yang terjadi di daerah linier (antara awalnya pembebanan dan limit
proporsional). Adanya regangan yang sangat besar di daerah plastis (dan
setelah itu) adalah alasan mengapa diagram tersebut diplot tidak berskala.
Sesudah mengalami regangan besar yang terjadi selama peluluhan di
daerah BC, baja mulai mengalami pengerasan regang ( stra i n hardening/ .
Selama itu, bahan mengalami perubahan dalam struktur kristalin, yang
menghasilkan peningkatan resistensi bahan tersebut terhadap deformasi
lebih lanjut. Perpanjangan benda uji di daerah ini membutuhkan
peningkatan beban tarik, sehingga diagram tegangan-regangan mempunyai
kemiringan positif dari C ke D. Beban tersebut pada akhimya mencapai
harga maksimumnya, dan tegangan pada saat itu (di titik D) disebut
tegangan ultimate . Penarikan batang lebih lanjut pada kenyataannya akan
disertai dengan pengurangan beban dan akhimya terjadi putus/patah di
suatu titik seperti titik E pada Gambar 1-10.
Tegangan luluh dan tegangan ultimate dari suatu bahan disebut juga
masing-masing kekuatan luluh dan kekuatan ultimatl' h.l'lmatan adalah
sebutan umum yang merujuk pada kapasitas suatu struktur untuk menahan
beban. Sebagai contoh, kekuatan luluh dari suatu balok adalah besarnya
beban yang dibutuhkan untuk terjadinya luluh di balok tersebut, dan
kekuatan ultimate dari suatu rangka batang adalah beban maksimum yang
dapat dipikulnya, yaitu beban gagal. Tetapi, dalam melakukan uji tarik
untuk suatu bahan, kita definisikan kapasitas pikul beban dengan tegangan
di suatu benda uji, bukannya beban total yang bekerja pada benda uji.
Karena itu, kekuatan bahan biasanya dinyatakan dalam tegangan.
Apabila suatu benda uji ditarik, terjadi juga kontrak.si lateral ,
sebagaimana telah disebutkan sebelum ini. Pengurangan luas penampang
yang ditimbulkannya cukup kecil terhadap perhitungan tegangan hingga
sekitar titik C dalam Gambar 1- 10, tetapi melewati titik tersebut,
pengurangan luas mulai mengubah bentuk kurva. Di sekitar tegangan
ultimate, pengurangan luas menjadi sangat nyata dan neckin�; (pembentuk­
an leher) pada batang tersebut terjadi (lihat Gambar 1-8 dan 1 - 1 1 ). Jika
luas aktual penampang di bagian yang mengecil dari leher ini digunakan
untuk menghitung tegangan, maka kurva lq�angan-regan�an sehenarn.' a
(garis putus CE · dalam Gambar 1 - 10) akan diperoleh. Beban total yang
dapat dipikul batang tersebut memang berkurang sesudah tegangan ulti­
mate tercapai (sebagaimana ditunjukkan dengan kurva DE), tetapi reduksi
ini adalah akibat berkurangnya luas batang dan bukan karena berkurangnya
kekuatan bahan itu sendiri. Pada kenyataannya, bahan menahan peningkatan
rr (ksi)
80
/)1
-
60
-111
c / I I k
.
20 , 6 II
0 I
0,05 0, I 0 0, I 5 0,20 0,25 0,30
I'
Gambar 1-12 Diagram tegangan­
regangan untuk baja struktural
tipikal yang mengalami tarik
(digambar berskala)
30
20
!ll l-+--+--+----+---;
IJ
0,05 0,I0 0,15 0,20 0,25
I'
Gambar 1 -1 3 Diagram tegangan­
'egangan untuk senyawa aluminium
rr
lj:A-----
1 '
j./ - 0,002 offset
aIL__
_
_
_
_
I'
Gambar 1 -1 4 Tegangan luluh
sembarang yang ditentukan dengan
metode offset
Mekanika Bahan 1 5
tegangan sebenamya hingga terjadi kegagalan (titik E'). Karena hampir
semua struktur diharapkan berfungsi pada tegangan di bawah limit
proporsional, maka k urva tegangan-regangan konvcnsional OABCDE,
yang didasarkan atas luas penampang awal benda uji dan yang mudah
untuk dihitung, memberikan informasi yang cukup baik untuk digunakan
dalam desain teknik.
Diagram dalam Gambar 1-10 menunjukkan karakteristik umum dari
kurva tegangan-regangan untuk baja 1unak, tetapi proporsinya tidak realistis
karena, sebagaimana telah disebutkan, regangan yang terjadi dari B ke C
mungkin lebih daripada sepuluh kali regangan yang terjadi dari 0 ke A.
Se1ain itu, regangan dari C ke E beberapa kali lebih besar daripada dari
B ke C. Hubungan yang benar ditunjukkan da1am Gambar 1-12, yang
menunjukkan diagram tegangan-regangan untuk baja lunak yang digambar
berskala. Di dalam gambar ini, regangan dari titik no! ke titik A sedemikian
kecilnya dibandingkan dengan regangan dari titik A ke titik E sehingga
regangan tersebut tidak terlihat, dan bagian awal dari diagram ini nampak
seperti garis vertikal.
Adanya titik lu1uh yang je1as yang diikuti dengan regangan plastis
merupakan karakteristik penting dari baja struktural yang kadang-kadang
digunakan dalam desain (lihat, sebagai contoh, pembahasan perilaku
elastoplastis dalam Subbab 2.12, 3.12, dan 6.9). Metal seperti baja struktural
yang mengalami regangan permanen besar sebelum kegagalan terjadi di­
kelompokkan ke dalambahan yang daktil (ulct). Sebagai contoh, daktilitas
(keuletan) adalah sifatyang memungkinkan suatu batang baja untuk dibeng­
kokkan membentuk busur lingkaran tanpa putus atau ditarik menjadi kawat
tanpa mengalami kerusakan. Keunggulan yang diharapkan dari bahan yang
daktil adalah bahwa distorsi nyata dapat terjadi jika beban menjadi terlalu
besar, sehingga memberikan kesempatan untuk melakukan sesuatu sebelum
patah (fraktur) aktual terjadi. Selain itu, bahan yang berperilaku daktil
mampu menyerap sejumlah besar energi regangan sebelum mengalami
fraktur.
Baja struktural adalah paduan besi yang mengandung sekitar 0,2%
karbon, sehingga disebut dengan baja karbon rendah. Dengan bertambahnya
kadar karbon, baja menjadi kurang daktil tetapi menjadi lebih kuat
(mempunyai tegangan luluh dan tegangan ultimate lebih tinggi). Besaran
fisik bajajuga dipengaruhi oleh perlakuan panas yang dialaminya, adanya
metal lain, dan proses pembuatan seperti pengerokan. Material lain yang
berperilaku secara daktil (pada kondisi tertentu) meliputi aluminium,
tembaga, magnesium, timbal, molybdenum, nikel, perunggu, brons monel
metal, nilon, dan teflon.
Meskipun bahan-bahan tersebut mempunyai daktilitas yang cukup
besar, paduan aluminium pada umumnya tidak mempunyai titik luluh
yangjelas, sebagaimana ditunjukkan dalam kurva tegangan-regangan dalam
Gambar 1-13. Sekalipun demikian, bahan ini mempunyai daerah linier
awal dengan limit proporsional yang terlihatjelas. Paduan yang diproduksi
untuk maksud struktural mempunyai limit proporsional dalam selang 10
sampai 60 ksi (70 sampai 410 MPa) dan tegangan ultimate dalam selang
20 sampai 80 ksi (140 sampai 550 MPa).
Apabila suatu bahan seperti aluminium tidak mempunyai titik luluh
yang jelas dan mengalami regimgan besar sesudah limit proporsional
dilampaui, tegangan luluh arbiter dapat ditentukan dengan metode t�{
f
­
set. Suatu garis lurus ditarik pada kurva tegangan-regangan yang sejajar
,.
16 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
a (psi)
3000 �-,--,
0 4
E
6 8
Gambar 1 - 1 5 Kurva tegangan­
regangan untuk dua jenis karet yang
mengalami tarik
8
0 E
Gambar 1 -1 6 Diagram tegangan­
regangan tipikal untuk bahan getas
yang menunjukkan limit propor­
sional (titik A) dan tegangan fraktur
(titik B)
dengan bagian linier awal dari kurva tersebut (Gambar 1 -14) tetapi
mempunyai offset regangan standar tertentu, misalnya 0,002 (atau 0,2%).
Perpotongan garis offset dan kurva tegangan-regangan (titik A dalam
gambar ini) didefinisikan sebagai tegangan luluh. Karena tegangan ini
ditentukan dengan aturan yang opsional dan bukan merupakan besaran
fisik bahan sebenamya, maka ha! ini harus dibedakan dengan tegangan
luluh sebenamya dengan cara menyebutnya legangan l u l u h l�f.let. Untuk
bahan seperti aluminium, tegangan luluh offset terletak sedikit di atas
limit proporsional. Dalam ha! baja struktural, dengan adanya transisi
mendadak dari daerah linier ke daerah plastis, tegangan o
ffset pada dasamya
sama dengan tegangan luluh dan limit proporsional.
Karet mempunyai hubungan linier antara tegangan dan regangan
sampai regangan yang relatif besar (dibandingkan dengan metal). Regangan
pada limit proporsional dapat sebesar 0, 1 atau 0,2 (10% atau 209c). Setelah
limit proporsional, perilakunya bergantung pada jenis karet (Gambar 1 -
15). Beberapa jenis karet akan inemanjang sangat besar tanpa mengalami
kegagalan, hingga panjangnya dapat mencapai beberapa kali panjang
semula. Bahan tersebut pada dasamya mempunyai tahanan yang meningkat
jika dibebani, dan kurva tegangan-regangannya jelas berarah ke atas.
Pembaca dapat dengan mudah mengamati perilaku seperti ini dengan
menarik karet gelang dengan tangan. (Perhatikan bahwa meskipun karet
dapat mengalami regangan sangat besar, bahan ini bukanlah bahan daktil
karena regangannya tidak permanen.)
Daktilitas bahan yang mengalami tarik dapat dilihat dengan mengamati
perpanjangan bahan dan reduksi luas pada penampang di mana fraktur
terjadi. Pcrscntase pcrpanjangan didefinisikan sebagai
Lr - Le>
Persentase perpanjangan = · Lo ( 100) (1-6)
dengan L0 adalah panjang terukur awal dan L
r
adalah jarak antara tanda­
tanda pengukuran pada saat fraktur. Karena perpanjangan tidak sama di
seluruh panjang benda uji tetapi terpusat di daerah di mana terjadi neck­
ing, maka persentase perpanjangan bergantung pada panjang terukur.
Dengan demikian, dalam menyatakan persentase perpanjangan, panjang
terukur harus diketahui. Untuk panjang terukur 2 in, baja dapat mempunyai
perpanjangan dalam selang 3% sampai 40%, bergantung pada komposisi;
dalam ha! baja struktural, dengan harga yang umum adalah 20% atau
30%. Perpanjangan paduan aluminium bervariasi dari 1 % sampai 45%,
bergantung pada komposisi dan perawatannya.
Pcrsentasc redu ksi luas menunjukkan besamya necking yang terjadi dan
didefinisikan sebagai
�l ·- AJ
Persentase reduksi luas = Ao (I 00) (1-7)
dengan A0 adalah luas penampang melintang awal dan A1adalah luas akhir
pada penampang fraktur. Untuk baja struktural, reduksi ini sekitar 50%.
Bahan yang gaga! karena tarik pada harga regangan yang relatif rendah
disebut bahan yang getas. Contohnya adalah beton, batu, besi tuang, kaca,
keramik, dan berbagai paduan metalik. Bahan yang getas akan gaga! hanya
dengan sedikit perpanjangan sesudah limit proporsional (tegangan di titik
A dalam Gambar 1 -16) dilampaui. Selain itu, reduksi luas tidak signifikan,
dan tegangan fraktur nominal (titik B) akan sama dengan tegangan ulti
a (ksi)
so ,---,---,---,-,-,
0 0,8
e
Gambar 1-17 Diagram tegangan­
regangan untuk tembaga yang
mengalami tekan
Mekanika Bahan 1 7
mate sebenarnya. Baja berkadar karbon tinggi mempunyai tegangan luluh
tinggi - kadang-kadang melebihi 1 00 ksi (700 MPa) - tetapi berperilaku
getas dan fraktur selalu terjadi pada perpanjangan yang hanya beberapa
persen.
Kaca biasa merupakan bahan getas yang hampir ideal karena bahan
ini menunjukkan tidak adanya daktilitas sedikitpun. Kurva tegangan­
regangan untuk kaca yang mengalami tarik pacta dasarnya adalah garis
lurus, dengan kegagalan muncul sebelum luluh terjadi. Tegangan
ultimatenya sekitar 10000 psi (70 MPa) untuk beberapa jenis kaca plat,
tetapi ada variasi yang cukup besar, bergantung pacta jenis kaca, ukuran
benda uji, dan adanya cacat mikroskopis. Serat kaca dapat mempunyai
kekuatan yang sangat tinggi, dan tegangan ultimatenya dapat melebihi
1.000.000 psi (7 GPa).
Banyak jenis plastik yang digunakan untuk maksud struktural karena
bahan ini ringan, tahan karat, dan mempunyai insulasi elektrikal yang
baik. Sifat mekanisnya sangat bervariasi. dimana beberapa jenis plastik
bersifat getas dan 1ainnya bersifat daktil. Dalam mendesain dengan plastik,
perlu diingat bahwa besarannya sangat dipengaruhi perubahan temperatur
dan berjalannya waktu. Sebagai contoh, tegangan tarik ultimate beberapa
jenis plastik dapat menjadi tinggal setengahnya apabila temperatumya
meningkat dari 50°F ke 120°F. Juga, plastik yang dibebani dapat meregang
secara gradual dengan bertambahnya waktu sampai bahan itu tidak dapat
berfungsi lagi. Sebagai contoh, sebuah batang yang terbuat dari polivinil
khlorida yang mengalami beban tarik yang semula menghasilkan regangan
0,005 dapat mengalarni regangan sebesar dua kalinya setelah seminggu,
meskipun beban tersebut konstan. (Fenomena ini, dikenal dengan rangkak,
dibahas pacta bagian berikut.)
Tegangan tarik ultimate untuk plastik pada umumnya ada dalam selang
2 sampai 50 ksi ( 1 4 sampai 350 MPa) dan berat jenisnya bervariasi dari
50 sampai 90 lb/ft3 (8 sampai 1 4 kN/m3). Ada sejenis nilon yang mem­
punyai tegangan ultimate sebesar 12 ksi (80 MPa) dan beratnya hanya 70
lb/fe ( 1 1 kN/m3), yang berarti hanya 12% lebih berat daripada air. Karena
ringannya, maka rasio kekuatan terhadap berat untuk bahan nilon kurang
lebih sama dengan baja struktural (lihat Soal 1 .3-6).
Bahan yang diperkuat filamen terdiri atas bahan dasar (atau matriks)
dengan kandungan serat dan filamen yang berkekuatan tinggi. Komposit
yang dihasilkannya mempunyai kekuatan yang jauh lebih tinggi di­
bandingkan bahan dasarnya. Sebagai contoh, penggunaan serat kaca dapat
meningkatkan kekuatan hingga dua kali kekuatan matriks plastik. Komposit
banyak digunakan dalam pesawat terbang, perahu, roket, dan pesawat luar
angkasa di mana kekuatan tinggi dan bobot yang ringan dibutuhkan.
Kurva tegangan-regangan untuk bahan yang mengalarni tekan berbeda
dengan yang mengalami tarik. Metal daktil seperti baja, aluminium, dan
tembaga mempunyai limit proporsional untuk tekan yang sangat dekat
dengan untuk tarik, dan daerah awal pacta kurva tegangan-regangan tarik
dan tekan pada dasarnya sama. Tetapi, setelah luluh terjadi, perilakunya
berbeda. Dalam pengujian tarik, benda uji memanjang, necking dapat
muncul dan fraktur pada akhimya terjadi. Apabila bahan ditekan, sisinya
akan membesar dan akan berbentuk seperti gentong karena gesekan antara
benda uji dan plat ujung mencegah ekspansi lateral. Dengan bertambah­
nya beban, sisi benda uji akan semakin membesar dan semakin
meningkatkan tahanannya terhadap perpendekan lebih lanjut (yang berarti
r
1 8 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
bahwa kurva tegangan-regangan menjadi sangat curam). Karakteristik ini
diilustrasikan dalam Gambar 1-17, yang memperlihatkan diagram tegangan­
regangan tekan untuk tembaga. Karena luas penampang aktual dari benda
uji tekan lebih besar daripada luas awal, maka tegangan sebenarnya pada
pengujian tekan akan lebih kecil daripada tegangan nominal.
Bahan getas yang dibebani tekan pada umumnya mempunyai daerah
linier awal yang diikuti dengan daerah di mana perpendekannya bertambah
dengan laju yang lebih besar daripada bebannya. Kurva tegangan-regangan
untuk tekan dan tarik seringkali mempunyai bentuk yang serupa, tetapi
tegangan ultimatenya dalam keadaan tekan jauh lebih besar daripada ke­
adaan tarik. Juga, tidak seperti bahan daktil, yang membesar tengahnya apa­
bila ditekan, bahan getas secara aktual akan pecah pada beban maksimum.
Tabel besaran mekanis untuk beberapa bahan diberikan dalam
Lampiran H di belakang buku ini. Data di dalam tabel tersebut merupakan
data tipikal bahan dan dapat digunakan untuk memecahkan soal-soal dalam
buku ini. Sekalipun demikian, besaran bahan dan kurva tegangan-regangan
sangat bervariasi, bahkan untuk bahan yang sama, karena berbedanya
proses pembuatan, komposisi kimiawi, cacat internal, temperatur, dan
berbagai faktor lain. Karena itu, data yang diperoleh dari Lampiran H
(atau tabel-tabel lain yang serupa) sebaiknya tidak digunakan untuk tujuan
rekayasa atau desain yang khusus. Sebagai gantinya, pembuat bahan atau
penyalumya perlu dimintai informasi tentang produk khusus tersebut.
ELASTISITAS, PLASTISITAS, DAN RANGKAK
Kurva tegangan-regangan menunjukkan perilaku bahan teknik apabila
bahan tersebut dibebani tarik atau tekan, sebagaimana dibahas pada subbab
sebelum ini. Untuk melangkah lebih jauh, mari kita tinjau apa yang terjadi
apabila beban dihilangkan dan bahan tersebut tak berbeban. Anggap,
sebagai contoh, bahwa kita menerapkan beban tarik pada benda uji sedemi­
kian hingga tegangan dan regangan berjalan dari titik pusat 0 ke titik A
pada kurva tegangan-regangan dalam Gambar 1 - 1 8a. Anggap pula bahwa
apabila beban itu dihilangkan, maka bahan akan benar-benar mengikuti
kurva yang sama dan kembali ke asal 0. Sifat bahan seperti ini, yaitu dapat
kembali ke dimensi semula selama beban dihilangkan, disebut elastisitas,
dan bahan itu sendiri disebut elastis. Catat bahwa kurva tegangan-regangan
dari 0 ke A tidak harus linier agar bahan dapat disebut elastis.
Sekarang misalkan kita membebani bahan yang sama ini hingga taraf
yang lebih tinggi, sehingga titik B dalam kurva tegangan-regangan tercapai
(Gambar l - 1 8b). Apabila dari titik B beban dihilangkan, maka bahan
tersebut akan mengikuti garis BC pada kurva tersebut. Garis penghilangan
beban ini sejajar dengan bagian awal dari kurva pemberian beban; artinya
garis BC sejajar dengan garis singgung dari kurva tegangan-regangan di
titik pusat. Ketika titik C dicapai, maka beban tersebut telah benar-benar
hilang, namun regangan residual, atau regangan permanen, yang
dinyatakan dengan garis OC, tetap ada pada bahan. Akibatnya, batang
yang diuji ini akan lebih panjang daripada sebelum dibebani. Perpanjangan
residual batang ini disebut set yang permanen (permanent set). Dari
regangan total OD yang terjadi sela:na pembebanan dari titik 0 ke B,
regangan CD telah diperoleh l<embali secara elastis dan regangan OC
tetap ac'_a sebagai regangan pemtanen. .!adi, selama penghilangan beban,
(J I F
.§ A E
,§'
�
o//
�� {:_ .§
,§'
� �
$�
� "'
<l;
E
Elastis Plastik
(a)
(J
F
B
C D
0 1---�� E
Regangan Pemulihan
residual elastis
(b)
Gambar 1-18 Diagram tegangan­
regangan yang mengilustrasikan: (a)
perilaku elastis, dan (b) perilaku
elastis sempurna
F
Gambar 1-19 Pembebanan kem­
bali pada bahan dan meningkatnya
,
limit proporsional dart elastis
Mekanika Bahan • 1 9
batang akan sebagian kemba1i ke bentuk semu1a, dan bahan ini disebut
elastis sebagian.
Di antara titik A dan B pada kurva tegangan-regangan (Gambar 1-
18b), pasti ada sebuah titik di mana bahan sebelumnya elastis, dan sesudah­
nya elastis sebagian. Untuk mencari titik tersebut, kita bebani bahan hingga
mencapai tegangan yang telah dipilih untuk kemudian menghilangkan
beban tersebut. Jika tidak ada set yang permanen (artinya perpanjangan
batang tersebut kembali ke nol), maka bahan itu e1astis penuh sampai
harga tegangan yang dipilih. Proses pembebanan dan penghilangan beban
ini diulangi terns untuk tegangan yang lebih besar. Akhimya, akan diperoleh
tegangan yang menyebabkan sebagian regangannya tidak dapat pulih pada
saat penghilangan beban. Dengan menggunakan prosedur ini, tegangan
pada limit atas dari daerah elastis dapat dihitung, misalnya, tegangan di
titik E dalam Gambar 1-18a dan b. Tegangan di titik ini dikenal sebagai
limit elastis dari suatu bahan.
Banyak bahan, termasuk hampir semua metal. yang mempunyai daerah
linier di awal kurva tegangan-regangannya (sebagai contoh, lihat Gambar
1-10 dan 1-13). Tegangan di limit atas daerah linier ini merupakan limit
proporsional. Limit elastis ini biasanya sama dengan, atau sedikit di atas,
limit proporsional. Dengan demikian, untuk sebagian besar bahan kedua
limit tersebut dianggap mempunyai nilai numerik yang sama. Pada baja
lunak, tegangan luluhnya juga sangat dekat dengan limit proporsiona1
sehingga untuk praktisnya, tegangan luluh, limit elastis, dan limit
proporsional diasumsikan sama. Tentu saja, situasi ini tidak berlaku untuk
semua bahan. Karet adalah contoh nyata untuk bahan yang tetap bersifat
elastis meskipun limit proporsionalnya telah dilampaui.
Karakteristik suatu bahan yang mana bahan itu dapat mengalami
regangan inelastis melewati regangan pada limit elastis disebut plastisitas.
Jadi, pada kurva tegangan-regangan dalam Gambar 1-lSa, kita mempunyai
daerah elastis yang diikuti dengan daerah plastis. Apabila deformasi besar
terjadi pada bahan daktil yang dibebani hingga daerah p1astis, maka bahan
ini disebut mengalami aliran plastis.
Jika suatu bahan masih berada dalam daerah elastis, bahan tersebut
dapat dibebani, dihilangkan bebannya, dan dibebani lagi tanpa adanya
perubahan signifikan pada perilakunya. Tetapi, apabila dibebani hingga
daerah plastis, struktur internal bahan tersebut akan berubah dan besaran
bahannya juga berubah. Sebagai contoh, kita telah mengamati bahwa ada
regangan permanen di benda uji sesudah penghilangan beban dari daerah
plastis (Gambar 1-18b). Sekarang bayangkan bahwa bahan ini dibebani
kembali sesudah penghilanganbebantersebut (Gambar 1-19). Pembebanan
yang baru ini dimu1ai di titik C pada diagram dan terus mengarah ke atas
hingga titik B, titik di mana penghilangan beban dimulai pada siklus
pembebanan pertama. Bahan tersebut selanjutnya mengikuti diagram
tegangan-regangan hingga titik F. Jadi, untuk pembebanan kedua, kita
dapat membayangkan bahwa kita mempunyai kurva tegangan-regangan
dengan titik pusat di titik C.
Selama pembebanan kedua, bahan berperilaku elastis linier dari C ke
B, dengan kemiringan garis CB sama dengan kemiringan garis singgung
kurva pembebanan semula di titik asal 0. Limit proporsional sekarang
ada di titik B, yang merupakan tegangan yang lebih besar daripada limit
elastis semula (titik E). Jadi, dengan meregangkan bahan seperti baja atau
aluminium hingga ke daerah inelastis atau plastis, besaran material berubah
Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
- daerah elastis linier bertambah, limit proporsional meningkat, dan limit
elastis membesar. Tetapi, daktilitas berkurang karena pada "bahan baru"
tersebut besarnya luluh yang melewati limit elastis (dari B ke F) lebih
kecil daripada bahan semula (dari E ke F).
*
• Rangkak
Perpanjangan
(a)
to
Waktu
(b)
Gambar 1 -20 Rangkak pada
batang yang mengalami beban
konstan
Kawat
(a)
Tegangan
Waktu
(b)
Gambar 1 -21 Relaksasi tegangan
pada sebuah kawat pada kondisi
regangan konstan
Diagram tegangan-regangan yang dibahas sebelum ini diperoleh dari uji
tarik yang melibatkan pembebanan dan penghilangan beban secara statik
pada benda uji, dan berlalunya waktu tidak masuk ke dalam pembahasan.
Namun, apabila dibebani untuk waktu yang cukup lama, beberapa bahan
mengalami regangan tambahan dan disebut mengalarni rangkak. Fenomena
ini dapat muncul dengan berbagai cara. Sebagai contoh, anggap bahwa
batang vertikal (Gambar l -20a) dibebani perlahan-lahan oleh gaya P,
sehingga menimbulkan perpanjangan sebesar 80. Asumsikan bahwa pem­
bebanan dan perpanjangan tetjadi selama selang waktu t0(Gambar l -20b).
Setelah waktu t0, bebannya tetap konstan. Tetapi, akibat terjadinya rangkak,
batang tersebut secara gradual memanjang, seperti terlihat dalam Gambar
l -20b, meskipun bebannya tidak berubah. Perilaku ini terjadi pada banyak
bahan, meskipun kadang-kadang perubahan itu terlalu kecil untuk
diperhatikan.
Sebagai contoh kedua untuk masalah rangkak, tinjaulah kawat yang
diregangkan antara dua tumpuan yang tak dapat dipindahkan sedemikian
hingga kawat itu mempunyai tegangan tarik s0 (Gambar 1-21). Di sini
pun, waktu selama kawat tersebut dibebani diberi notasi t0• Dengan
berjalannya waktu, tegangan di kawat akan berkurang secara gradual,
hingga akhimya mencapai harga konstan, meskipun tumpuan di ujung­
ujungnya tidak bergerak. Proses ini, yang merupakan manifestasi lain dari
rangkak, disebut relaksasi bahan.
Rangkak biasanya lebih penting pada temperatur tinggi dibandingkan
dengan pada temperatur biasa, sehingga hal ini harus selalu ditinjau pada
desain mesin, tanur, dan struktur lain yang beroperasi pada temperatur
tinggi untuk waktu yang lama. Bahan-bahan seperti baja, beton, dan kayu
akan mengalarni rangkak sedikit bahkan pada temperatur biasa. Sebagai
contoh, rangkak beton pada periode waktu lama dapat menimbulkan
permukaan yang tidak merata pada lantai jembatan. Salah satu cara untuk
mengatasinya adalah dengan membuatlawan lendut (camber) pada lantai
tersebut, yang merupakan peralihan awal ke atas bidang horizontal
sedemikian hingga apabila rangkak tetjadi, bentang tersebut akan turun
hingga ke posisi yang sama.
ELASTISITAS LINIER, HUKUM HOOKE, DAN RASIO POISSON
Banyak bahan struktural, termasukjuga sebagian besar metal, kayu, plastik,
dan keramik, berperilaku elastis dan linier ketika dibebani pertama kali.
Akibatnya, kurva tegangan-regangan dimulai dengan garis lurus yang
melewati titik asalnya. Salah satu contoh adalah kurva tegangan-regangan
untuk baja struktural (Gambar 1-10), di mana daerah dari titik asal 0
*Studi mengenai perilaku bahan pada berbagai kondisi pembebanan merupakan cabang penting
dari mekanika terapan. Untuk informasi teknik yang lebih rinci, carilah buku yang khusus membahas
masalah ini.
Mekanika Bahan 21
hingga limit proporsional (titik A) adalah linier dan elastis. Contoh lain
adalah daerah di bawah limit proporsional dan limit elastis pacta diagram
untuk aluminium (Gambar 1-13), karet (Gambar 1-15), dan tembaga
(Gambar 1-17). Apabila suatu bahan berperilaku elastis dan juga mem­
punyai hubungan linier antara tegangan dan regangan, bahan ini disebut
elastis linier. Perilaku seperti ini sangat penting di dalam rekayasa karena
alasan yang sangat jelas--dengan mendesain struktur dan mesin agar
berfungsi pacta daerah ini, kita dapat menghindari deformasi permanen
akibat luluh.
Hubungan linier antara tegangan dan regangan untuk suatu batang
yang mengalami tarik atau tekan sederhana dinyatakan dengan persamaan
( 1-8)
dengan a adalah tegangan aksial, £ adalah regangan aksial, dan E adalah
konstanta proporsionalitas yang dikenal dengan modulus elastisitas bahan
tersebut. Modulus elastisitas adalah kemiringan kurva tegangan-regangan
di dalam daerah elastis linier, sebagaimana telah disebutkan dalam Subbab
1.3. Karena regangan tidak mempunyai dimensi, maka satuan untuk E
sama dengan satuan untuk tegangan. Satuan tipikal untuk E adalah psi
atau ksi pacta satuan uses dan pascal (atau kelipatan darinya) dalam
satuan SI.
Persamaan a = E£ dikenal sebagai hukum Hooke, untuk mengenang
ilmuwan Inggris terkenal Robert Hooke (1635-1703). Hooke adalah orang
pertama yang menyelidiki secara ilmiah besaran elastis beberapa bahan,
dan ia menguji bahan-bahan seperti metal, kayu, batu, dan tulang. la
mengukur perpanjangan kawat yang memikul gaya berat dan mengamati
bahwa perpanjangannya "selalu mempunyai proporsi yang sama dengan
berat material yang membentuk kawat tersebut" (Ref. 1-6). Jadi, Hooke
membangun hubungan linier antara beban dan perpanjangan yang
ditimbulkannya.
Persamaan (1-8) sebenarnya merupakan versi yang sangat terbatas
dari hukum Hooke karena persamaan ini hanya menghubungkan tegangan
dan regangan longitudinal yang terjadi pacta tarik atau tekan sederhana
pacta suatubatang (tegangan uniaksia[). Untuk membahas keadaan tegangan
yang lebih rumit, seperti yang biasa dijumpai pacta sebagian besar struktur
dan mesin, kita harus menggunakan persamaan hukum Hooke yang lebih
rumit (lihat Subbab 7.5 dam 7.6).
Modulus elastisitas mempunyai harga yang relatif besar untuk bahan
yang sangat kaku, seperti metal struktural. Baja mempunyai modulus
elastisitas sekitar 30000 ksi (210 GPa); untuk aluminium, harganya sekitar
10600 ksi (73 GPa). Bahan yang lebih fleksibel mempunyai modulus
elastisitas lebih rendah - untuk plastik sekitar 100 sampai 2000 ksi (0,7
sampai 14 GPa). Beberapa harga E yang representatifdicantumkan dalam
Tabel H-2, Lampiran H. Untuk sebagian besar bahan, harga E pacta kondisi
tekan hampir sama dengan pacta kondisi tarik.
Modulus elastisitas sering disebut modulus Young, mengambil nama
ilmuwan Inggris lain, Thomas Young (1773-1829). Dalam kaitannya
dengan penyelidikan tarik dan tekan pacta batang prismatis, Young
memperkenalkan ide "modulus elastisitas." Tetapi, modulus yang ia maksud
tidak sama dengan yang kita gunakan dewasa ini karena besaran itu
merupakan besaran yang berasal dari batang dan bahan (Ref. 1-7).
22 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
• Rasio Poisson
(a)
(b)
Gambar 1 -22 Perpanjangan aksial
dan kontraksi lateral pada suatu
batang yang mengalami tarik: (a)
batang sebelum pembebanan, dan
(b) batang sesudah pembebanan.
(Deformasi batang digambar secara
dibesarkan).
Apabila suatu batang prismatis dibebani tarik, perpanjangan aksialnya
disertai dengan kontraksi lateral (yaitu kontraksi tegak lurus arah beban).
Perubahan bentuk ini ditunjukkan dalam Gambar l-22, di mana bagian (a)
menunjukkan batang sebelum pembebanan dan bagian (b) menunjukkan
batang setelah pembebanan. Dalam bagian (b), garis putus menunjukkan
bentuk batang sebelum pembebanan.
Kontraksi lateral dengan mudah dapat diibaratkan seperti menarik
suatu karet gelang. tetapi pada metal perubahan dimensi lateral ini (dalam
daerah elastis linierJ biasanya terlalu kecil untuk bisa dilihat. Sekalipun
demikian, hal ini dapat dideteksi dengan alat ukur yang sensitif.
Regangan lateral di setiap titik pada suatu batang sebanding dengan
regangan aksial di titik tersebutjika bahannya elastis linier. Agar regangan
lateral sama di seluruh panjang batang, maka kondisi tambahan harus ada.
Pertama, gaya aksial harus konstan di seluruh panjang batang sedemikian
hingga regangan aksial konstan. Kedua, bahannya harus homogen, artinya
bahan tersebut harus mempunyai komposisi yang sama (sehingga besaran
elastisnya sama) di setiap titik. Tentu saja, kita telah mengasumsikan
bahwa bahan tersebut homogen sehingga tegangan dan regangan akan
konstan di seluruh batang (lihat Subbab 1 .2). Namun perlu diingat bahwa
mempunyai material yang homogen tidak berarti besaran elastisnya sama
di segala arah. Sebagai contoh, modulus elastisitas dapat berbeda dalam
arah aksial dan lateral. Dengan demikian, kondisi ketiga yang harus
dipenuhi agar regangan lateral seragam adalah bahwa besaran elastis harus
sama di semua arah yang tegak lurus sumbu longitudinal. Bahan, baik
yang isotropik atau ortotropik (lihat definisi yang diberikan pada pragraf
berikut ini) memenuhi kondisi tersebut.Apabila ketiga kondisi dipenuhi,
sebagaimana sering dijumpai, maka regangan lateral di suatu batang yang
mengalami tarik seragam akan sama di setiap titik di batang dan sama
dalam semua arah lateral.
Bahan yang mempunyai besaran yang sama dalam semua arah (aksial,
lateral, dan di antaranya) disebut isotropik. Jika besarannya berbeda pada
berbagai arah, maka bahan tersebut disebut anisotropik (atau aelotropik).
Kasus khusus dari anisotropik terjadi jika besaran pada arah tertentu sama
di seluruh bahan dan besaran di semua arah yang tegak lurus arah tersebut
sama (tetapi berbeda dengan besaran pertama tadi) maka bahan itu disebut
ortotropik. Plastik yang diperkuat dengan serat danbeton bertulang dengan
batang tulangan baja adalah contoh bahan komposit yang memperlihatkan
perilaku ortotropik.
Rasio regangan lateral e' terhadap regangan aksial £ dikenal dengan
rasio Poisson dan diberi notasi huruf Yunani v (nu); jadi,
( l -9)
yang dapat ditulis
( l -10)
Untuk suatu batang yang mengalami tarik, regangan aksial adalah positif
dan regangan lateral negatif(karena lebar batang berkurang). Untuk tekan,
kita mempunyai situasi sebaliknya, dengan batang menjadi lebih pendek
Gambar 1-23 Perubahan bentuk
elemen yang dipotong dari sebuah
batang yang mengalami tarik.
(Bentuk semula ditunjukkan dengan
garis putus; bentuk terdeformasi
ditunjukkan dengan garis padat.)
Mekanika Bahan 23
(regangan aksial negatif) dan lebih lebar (regangan lateral positif). Dengan
demikian, untuk bahan biasa, rasio Poisson selalu mempunyai harga positif.
(Perhatikan bahwa dalam menggunakan persamaan 1-9 dan 1-10, kita
harus selalu mengingat bahwa persamaan tersebut berlaku hanya pacta
batang yang mengalami tegangan uniaksial; yaitu batang yang hanya
mengalami tegangan normal a dalam arah aksial.)
Rasio Poisson diberi nama untuk mengenang matematikawan Perancis
terkenal Simeon Denis Poisson (1781-1840), yang berupaya menghitung
rasio dengan menggunakan teori molekul bahan (Ref. 1-8). Untuk bahan
isotropik, Poisson mendapatkan v = 1/4. Perhitungan yang lebih mutakhir
yang didasarkan atas model struktur atomik yang lebih baik menghasilkan
v = 113. Kedua harga ini cukup mendekati harga-harga aktual yang diukur,
yang ada dalam selang 0,25 sampai 0,35 untuk sebagian besar metal dan
beberapa bahan lain. Bahan yang mempunyai rasio Poisson sangat kecil
antara lain gabus, yang mempunyai harga v pacta dasarnya nol, dan beton,
dengan v antara 0,1 sampai 0,2. Limit atas teoretis untuk rasio Poisson
adalah 0,5, sebagaimana diterangkan dalam pembahasan berikut tentang
perubahan volume. Karet mempunyai v yang mendekati harga batas ini.
Tabel rasio Poisson untuk berbagai bahan di dalam daerah elastis
linier diberikan dalam Lampiran H (lihat Tabel H-2). Pacta sebagian besar
keperluan, rasio Poisson dapat diasumsikan sama untuk kondisi tarik dan
tekan.
Apabila regangan di suatu bahan menjadi besar, rasio Poissonnya
berubah. Sebagai contoh, pacta baja struktural rasio ini menjadi hampir
0,5 apabila luluh plastis teijadi. Jadi, rasio Poisson akan tetap konstan
hanya di daerah elastis linier. Dari tinjauan yang lebih umum, rasio antara
regangan lateral dan regangan aksial sering disebut rasio kontraksi. Tentu
saja, dalam kasus khusus perilaku elastis linier, rasio kontraksi sama dengan
rasio Poisson.
• Perubahan Volume
Karena dimensi suatu batang yang mengalami tarik atau tekan berubah
jika beban diterapkan (Gambar 1 -22), maka volume batang berubah juga.
Perubahan volume dapat dihitung dari regangan aksial dan lateral sebagai
berikut. Kita ambil sebagian kecil elemen suatu bahan isotropik yang
dipotong dari batang yang mengalami tarik (Gambar l -23). Bentuk semula
y
z
24 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
dari elemen ini (yang ditunjukkan dengan garis putus) adalah paralele­
pipedum (balok) persegi panjang dengan sisi a, b, dan c masing-masing
dalam arah x, y, z.
*
Sumbu x diambil dalam arah longitudinal batang,
yang merupakan arah tegangan normal a yang diakibatkan oleh gaya
aksial. Bentuk terdeformasi dari elemen ditunjukkan dengan garis padat.
Perpanjangan elemen dalam arah pembebanan adalah ae, yang mana
e adalah regangan aksial. Karena regangan lateral adalah -ve (lihat
Persamaan 1-IO), maka dimensi lateral berkurang sebesar bve dalam arah
y dan eve dalam arah z. Jadi, dimensi akhir dari elemen ini adalah a(l
+ e), b(l - ve), dan c(1 - ve); dengan demikian, volume akhir elemen adalah
V1 = abc(l + e)( 1 - ve)(1 - ve) = V0(1 + e)(l - ve)(l - ve) (1-1 1)
di mana V0 adalah volume semula abc.
Apabila hasil di sisi kanan Persamaan (1-1 1) dibuka, maka kita akan
mendapatkan suku-suku yang meliputi kuadrat dan pangkat tiga dari
regangan aksial e. Dalam hal e yang sangat kecil dibandingkan dengan
kesatuannya, maka kuadrat dan pangkat tiga darinya akan dapat diabaikan
dibandingkan e itu sendiri dan dapat dihilangkan dari persamaan tersebut.
Volume akhirnya menjadi
(1-12)
dan perubahan volumenya adalah
(1-13)
Perubahan volume satuan e didefinisikan sebagai perubahan volume
dibagi dengan volume semula
e =
�V a
- = e(1 - 2v) = - (1 - 2v)
V0 E
Besaran e juga dikenal dengan dilatasi.
(1-14)
Persamaan perubahan volume di atas dapat juga digunakan untuk
tekan, yang mana regangan aksial e bertanda negatif dan volume batang
berkurang.
Dari persamaan untuk dilatasi (Persamaan 1-14), kita lihat bahwa
harga rasio Poisson maksimum yang mungkin untuk bahan biasa adalah
0,5 karena harga berapapun yang lebih besar akan berarti bahwa dilatasi
e menjadi negatif dan volume berkurang apabila bahan tersebut mengalami
tarik, yang secara fisik jarang tetjadi. Sebagaimana telah disebutkan, untuk
sebagian besar bahan v berharga sekitar 114 atau 113 di daerah elastis
linier, yang berarti bahwa perubahan volume satuan ada dalam selang
d3 sampai E/2.
Contoh berikut ini mengilustrasikan perhitungan perubahan dimen­
sional pada batang prismatis.
*Paralelepipedum adalah prisma yang dasarnya adalah paralelogram; jadi, suatu paralelepipedum
mempunyai enam muka, masing-masing berupa paralelograrn. Muka-muka yang saling berhadapan adalah
sejajar dan berupa paralelogram yang identik. Paralelepipedum persegi panjang mempunyai enarn sisi
yang berbentuk persegi panjang
Mekanika Bahan 25
• Contoh 1 -3
Gambar 1 -24 Contoh 1-3. Pipa
baja yang mengalami tekan
Sebuah pipa dengan panjang L = 4,0 ft, diameter luar d2 = 6,0 in dan diameter
dalam d1 = 4,5 in dibebani gaya aksial tekan P= 140 k (Gambar 1-24). Bahan ini
mempunyai modulus elastisitas E = 30.000 ksi dan rasio Poisson v = 0,30.
Untuk pipa tersebut, tentukanlah besaran berikut: (a) perpendekan 8, (b)
regangan lateral £, (c) pertambahan diameter luar &12 dan pertambahan diameter
dalam D.dl' (d) pertambahan tebal dinding pipa D.t, (e) pertambahan volume bahan
D.V, dan (f) dilatasi e.
Solusi
Luas penampang melintang A dan tegangan longitudinal a ditentukan sebagai
berikut.
A = �(d; - dn = �[(6,o in.)2 - (4,5 in.)2] = 12,37 in.2
p 140 k .
8 = - - = 2 = -1 1 ,32 ks1 (tekan)
A 12,37 in.
Karena tegangan jauh di bawah tegangan luluh (lihat Tabel H-3), Lampiran H),
maka bahan berperilaku elastis linier dan regangan aksial dapat dihitung dari
hukum Hooke:
a
£ =
E
-1 1,32 ksi
= _377,3 x 10-6
30.000 ksi
(a) Dengan telah diketahuinya regangan aksial, kita sekarang dapat
menghitung perubahan panjang pipa (lihat Persamaan 1-2):
y = t:L = (-377,3 X 10-6)(4,0 ft)(12 in./ft) = -0,01 8 in. ..
Tanda negatif untuk 8 menunjukkan perpendekan pipa.
(b) Regangan lateral dihitung dari rasio Poisson (lihat Persamaan 1-10):
£! = -VE = -(0,30)(-377,3 X 10-6) = 1 13,2 X 10-6 ..
Tanda positif untuk E! menunjukkan pertambahan dimensi lateral, sebagaimana
diharapkan untuk kondisi tekan.
(c) Pertambahan diameter luar sama dengan regangan lateral dikalikan
diameter
M2 = E!d2 = ( 1 1 3,2 x 10-6)(6,0 in.) = 0,000679 in.
Dengan cara yang sama, pertambahan diameter dalam adalah
M1 = E!d1 = (1 13,2 x 10-6)(4,5 in.) = 0,000509 in.
..
..
(d) Pertambahan tebal dinding diperoleh dengan cara yang sama seperti
pertambahan diameter; jadi,
D.t = Eft = (1 13,2 x 10-6)(0,75 in.) = 0,000085 in. ..
Hasil-hasil ini dapat diverifikasi dengan mencatat bahwa pertambahan tebal dinding
sama dengan
D.t =
D.d
z ; M
1 = �(0,000679 in. - 0,000509 in.) = 0,000085 in.
sebagaimana diharapkan. Catat bahwa untuk kondisi tekan, ketiga besaran ini
bertambah (diameter luar, diameter dalam, dan tebal).
26 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
(e) Perubahan volume bahan dihitung dari Persamaan (1-13):
LlV = V0E( I - 2v) = ALE(1 - 2v)
= (12,37 in.2)(4,0 ft)(1 2 in./ft)(-377,3 x 10"6)(1 - 0,60)
= --0,0896 in.3 ..
Perubahan volume ini negatif yang menunjukkan pengurangan volume, sebagaimana
diharapkan untuk kondisi tekan.
(f) Akhirnya, dilatasi adalah (Persamaan 1-14)
e = E(l - 2v) = (-377,3 X 10-6)(1 - 0,60) = --0,00015
yang berarti reduksi 0,015% pada volume bahan.
..
Catatan: Hasil numerik yang dipero1eh dalam contoh ini mengilustrasikan
bahwa perubahan dimensional pada bahan struktural yang mengalami kondisi
pembebanan normal sangat kecil. Meskipun kecil, perubahan dimensi dapat
merupakan ha! yang penting pada beberapajenis analisis (rnisalnya analisis struktur
statis tak tertentu) dan dalam penentuan tegangan dan regangan secara
eksperimental.
TEGANGAN DAN REGANGAN GESER
Pada subbab terdahulu, kita membahas pengaruh tegangan normal yang
diakibatkan beban aksial yang bekerja pada batang lurus. Tegangan ini
disebut "tegangan normal" karena bekerja dalam arah yang tegak lurus
permukaan bahan. Sekarang kita akan meninjau jenis lain dari tegangan
yang disebut tegangan geser yang bekerja dalam arah tangensial terhadap
permukaan bahan.
Sebagai ilustrasi tentang aksi tegangan geser, tinjaulah sambungan
dengan baut seperti terlihat dalam Gambar l -25a. Sambungan ini terdiri
atas batang datar A, pengapit C, dan baut B yang menembus lubang di
batang dan pengapit. Akibat aksi beban tarikP, batang dan pengapit akan
menekan baut dengan cara tumpu (bearing), dan tegangan kontak, yang
disebut tegangan tumpu (bearing stresses), akan timbul. Selain itu, batang
dan pengapit cenderung menggeser baut, dan kecenderungan ini ditahan
oleh tegangan geser pada baut.
Untuk memperjelas aksi tumpu dan tegangan geser, mari kita lihat
sambungantersebut dari samping (Gambar 1-25b). Dengan sudut pandang
ini kita menggambar diagram benda-bebas dari baut (Gambar 1-25c).
Tegangan tumpu yang diberikan oleh pengapit ke baut ada di bagian kiri
dari diagram benda bebas dan diberi label 1 dan 3. Tegangan dari batang
ada di bagian kanan dan diberi label 2. Distribusi aktual tegangan tumpu
sulit ditentukan sehingga biasa diasumsikan bahwa tegangan ini terbagi
rata. Berdasarkan atas asumsi terbagi rata, kita dapat menghitung tegangan
tumpu rata-rata ab dengan membagi gaya tumpu total Fb dengan luas
tumpu Ab:
(1-15)
Gambar 1-25 Sambungan dengan
baut di mana bautnya dibebani
geser ganda
(b)
(a)
:1:
(c)
Mekanika Bahan 27
V
______..
Cl)
m ,
n
1: I m n
p ' q
______..
V
id) (e)
Luas tumpu didefinisikan sebagai luas proyeksi dari permukaan tumpu
yang melengkung. Sebagai contoh, tinjau tegangan tumpu yang berlabel
1 . Luas proyeksi Ab di mana tegangan tersebut bekerja adalah persegi
panjang yang mempunyai tinggi sama dengan tebal pengapit dan lebar
sama dengan diameter baut. Selain itu, gaya tumpu Fb yang dinyatakan
dengan tegangan berlabel 1 sama dengan P/2. Luas yang sama dan gaya
yang sama berlaku untuk tegangan yang berlabel 3.
Sekarang tinjau tegangan tumpu antara batang datar dan baut (tegangan
yang berlabel 2). Untuk tegangan ini, luas tumpu Ab adalah persegi panjang
dengan tinggi sama dengan tebal batang datar dan lebar sama dengan
diameter baut. Gaya tumpunya sama dengan beban P.
Diagram benda bebas dalam Gambar 1-25c menunjukkan bahwa ada
kecenderungan untuk menggeser baut di sepanjang penampang mn dan
pq. Dari diagram benda bebas mnpq dari baut (lihat Gambar 1-25d), kita
lihat bahwa gaya geser V bekerja pada permukaan potongan dari baut.
Pada contoh ini, ada dua bidang geser mn dan pq), sehingga baut ini
dikatakan mengalami geser ganda (atau dua irisan). Dalam geser ganda,
masing-masing gaya geser sama dengan setengah dari beban total yang
disalurkan oleh baut, artinya V = P/2. Gaya geser adalah resultan dari
tegangan geser yang terdistribusi di seluruh penampang melintang mn dan
ditunjukkan dalam Gambar 1-25e. Tegangan ini bekerja sejajar permukaan
potongan. Distribusi pasti dari tegangan ini tidak diketahui, tetapi jumlah
terbesar di dekat pusat dan menjadi nol di lokasi tertentu pada tepinya.
Sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 1-25e, tegangan geser biasanya
diberi notasi huruf Yunani r (tau).
Sambungan dengan menggunakan bautyang mengalami geser tunggal
(atau satu irisan) ditunjukkan dalam Gambar l -26a, yang mana beban
aksial P pada batang metal disalurkan ke flens kolom baja melalui sebuah
baut. Potongan kolom (Gambar 1-26b) menunjukkan hubungan ini secara
rinci. Juga, sebuah sketsa baut (Gambar 1-26c) distribusi tegangan tumpu
yang diasumsikan yang bekerja pada baut. Sebagaimana telah disebutkan,
distribusi aktual tegangantumpujauh lebih rumit dibandingkan yang terlihat
r 28 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
Gambar 1 -26 Sarnbungan dengan
rnenggunakan baut dirnana bautnya
dibebani geser tunggal
(a)
(b) (c) (d)
dalam gambar tersebut. Selain itu, tegangan tumpu juga terjadi terhadap
kepala baut dan terhadap mur. Jadi, Gambar 1 -26c bukanlah diagram
benda bebas-hanya tegangan tumpu ideal yang ditunjukkan dalam gambar
tersebut.
Dengan memotong melalui baut di potongan mn kita memperoleh
distribusi tegangan tumpu sebagaimana terlihat dalam Gambar 1-26d.
Diagram ini meliputi gaya geser V (sama dengan beban P) yang bekerja
pada penampang melintang baut. Seperti telah disebutkan, gaya geser ini
adalah resultan dari tegangan geser yang bekerja terhadap luas penampang
melintang baut.
Deformasi baut yang dibebani hingga mendekati kegagalan pada geser
tunggal terlihat dalam Gambar 1-27 (bandingkan dengan Gambar l-26c).
Dalam pembahasan terdahulu tentang sambungan yang menggunakan
baut, kita mengabaikan gesekan antara elemen-elemen yang berhubungan.
Adanya gesekan berarti bahwa sebagian dari beban dipikul oleh gaya
geser, sehingga mengurangi beban pada baut. Karena gesekan tidak dapat
diandalkan dan sulit untuk diestimasi, maka biasanya di dalam praktek
diabaikan dalam perhitungan.
Tegangan geser rata-rata pada penampang baut diperoleh dengan
membagi gaya geser total V dengan luas A dari penampang melintang di
mana gaya tersebut bekerja, sebagai berikut:
(l-16)
Dalam contoh Gambar 1-26, gaya geser V sama dengan beban P dan luas
A adalah luas penampang melintang baut. Sementara dalam contoh Gambar
1-25, gaya geser V sama dengan P/2.
Gambar 1 -27 Kegagalan baut
secara geser tunggal Beban
Mekanika Bahan 29
Dari Persamaan (1-16) kita lihat bahwa tegangan geser, seperti
tegangan normal, menunjukkan intensitas gaya, atau gaya per satuan luas.
Jadi, satuan untuk tegangan geser sama dengan satuan untuk tegangan
normal, yaitu psi atau ksi dalam satuan USCS dan pascal dalam satuan SI.
Susunan pembebanan yang terlihat dalam Gambar 1-25 dan 1-26
adalah contoh geser langsung (atau geser sederhana) di mana tegangan
geser dihasilkan oleh aksi langsung dari gaya-gaya dalam upaya memotong
bahan. Geser langsung terjadi pada desain sambungan yang menggunakan
baut, sendi, paku keling, kunci, las, atau !em. Tegangan geser juga timbul
secara tidak langsung apabila elemen struktur mengalami tarik, torsi, dan
lentur, sebagaimana dibahas masing-masing pada Subbab 2.6, 3.3, dan
5.8.
• Kesamaan Tegangan Geser Pada Bidang-Bidang Yang
Tegak Lurus
Gambar 1 -28 Elemen kecil dari
bahan yang mengalami tegangan
dan regangan geser
z
Untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap tentang aksi tegangan geser,
mari kita tinjau elemen kecil dari suatu bahan berbentuk paralelepipedum
persegi panjang yang mempunyai sisi a, b, dan c masing-masing dalam
arah x, y, dan z (Gambar l-28a). Muka depan dan belakang dari elemen
ini tidak bertegangan. Sekarang asumsikan bahwa tegangan geser r terbagi
rata di seluruh muka atas, yang mempunyai luas ac. Agar elemen berada
dalam keseimbangan dalam arah x, maka gaya geser total rac di muka
atas harus diimbangi oleh gaya geser yang sama besar tetapi berlawanan
arah di muka bawah. Karena luas muka atas dan bawah sama, maka
tegangan geser di kedua muka tersebut sama.
p Tb
1 )' '
z
s r
(a) (b)
30 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
Gaya r
"'
yang bekerja di muka atas dan bawah (Gambar l-28a)
membentuk kopel dengan momen terhadap sumbu z sebesar rabc
' searah
jarum jam dalam gambar tersebut.* Kesetimbangan elemen tersebut
mengharuskan bahwa momen ini diimbangi oleh momen yang sama tetapi
berlawanan arah yang berasal dari tegangan geser yang bekerja di muka
samping elemen. Dengan menuliskan tegangan geser di muka samping
sebagai r
l
' kita lihat bahwa gaya-gaya geser vertikal sama dengan r
1b,.
Gaya-gaya ini membentuk kopel yang berlawanan arah dengan momen
r
1abc" Dari kesetimbangan momen terhadap sumbu z, kita lihat bahwa rabc
sama dengan rtahc' atau r
1
= r. Dengan demikian, besar tegangan geser
pada keempat muka elemen tersebut sama, seperti terlihat dalam Gambar
1-28a.
Ringkasnya, kita sampai pacta observasi umum berikut:
I. Tegangan geser pacta muka yang berhadapan (dan sejajar) dari suatu
elemen sama besar dan berlawanan arah.
2. Tegangan geser di muka yang bersebelahan (dan tegak lurus) dari
suatu elemen sama besar dan mempunyai arah sedemikian hingga
tegangan-tegangan tersebut saling menuju atau saling menjauhi garis
perpotongan kedua muka tersebut.
Observasi ini diperoleh untuk elemen yang hanya mengalami tegangan
geser (tanpa tegangan normal), seperti terlihat dalam Gambar l -28a.
Keadaan tegangan seperti ini disebut geser murni dan dibahas lebih rinci
pacta Subbab 3.5. Tetapi, untuk hampir semua tujuan, kesimpulan terdahulu
masih berlaku, meskipun tegangan normal bekerja di masing-masing muka
elemen. Alasannya adalah karena tegangan normal di muka yang
berhadapan pacta elemen kecil biasanya sama besar dan berlawanan arah;
jadi tidak mengubah persamaan keseimbangan yang digunakan untuk
menghasilkan kesimpulan sebelumnya.
• Regangan Geser
Tegangan geser yang bekerja pacta suatu elemen bahan (Gambar l -28a)
disertai regangan geser. Sebagai bantuan untuk memvisualisasikan
regangan ini, kita perhatikan bahwa tegangan geser tidak mempunyai
kecenderungan untuk memperpanjang atau memperpendek elemen dalam
arahx, y, dan z - dengan perkataan lain, panjang sisi elemen tidak berubah.
Gantinya, tegangan gesermenyebabkanperubahan bentuk elemen (Gambar
l-28b). Elemen semula, yang berupa paralelepipedum persegi panjang,
berdeformasi menjadi paralelepipedum miring,'' dan muka depan dan
belakang menjadi rhomboids.*' '
Karena deformasi ini, maka sudut antara muka samping berubah.
Sebagai contoh, sudut di titik q dan s, yang sebelum deformasi sebesar n/
2, akan berkurang sebesar y menjadi n/2 - y (Gambar 1-28b). Pada saat
yang sama, sudut di titik p dan r bertambah B/2 + y. Sudut r merupakan I
ukuran distorsi, atau perubahan bentuk, dari elemen dan disebut regangan
geser. Karena regangan geser merupakan sudut, maka ia dinyatakan dalam
derajat atau radian.
* Kopel terdiri atas dua gaya sejajar sarna besar tetapi berlawanan arah.
** Sudut miring dapat berupa sudut lancip atau tumpul. tetapi tidak sudut siku.
*** Rhomboid adalah paralelogram dengan sudut rniring dan keempat sisinya tidak sama. (Rhombus
adalah paralelorgrarn dengan sudut rniring dan keempat sisinya sama).
Mekanika Bahan 31
• Konvensi Tanda untuk Tegangan dan Regangan Geser
Sebagai suatu pertolongan dalam menetapkan perjanjian tanda untuk
tegangan dan regangan geser, kita membutuhkan skema untuk meng­
identifikasi berbagai muka dari elemen tegangan (Gambar 1-28). Dengan
demikian, kita akan merujuk pacta muka yang berorientasi ke arah positif
dari sumbu-sumbu sebagai muka positif dari elemen. Dengan perkataan
lain, muka positif mempunyai arah normal ke luar dalam arah positif
sumbu koordinat. Muka yang berlawanan dengan ini adalah muka negatif.
Jadi, dalam Gambar 1-28a, muka kanan, atas, dan depan adalah masing­
masing muka positif x, y, dan z, dan muka-muka lawannya adalah muka
x, y, dan z yang negatif.
Dengan menggunakan terminologi yang diuraikan dalam paragraf
sebelum ini, kita dapat menyatakan perjanjian tanda untuk tegangan geser
dengan cara berikut. Tegangan geser yang beker
japada muka positifdari
elemen adalah positifjika ia beker
ja dalam arah positif dari salah satu
sumbu koordinat dan negatifjika ia bekerja dalam arah negatif dari
sumbu. Tegangan geser yang beker
ja pada muka negatifdari suatu elenzen
adalah positifjika ia beker
ja dalam arah negatifdari sunzbu dan negatif
jika ia beker
ja dalam arah positif. Jadi, semua tegangan geser yang terlihat
dalam Gambar 1-28a adalah positif.
Perjanjian tanda untuk regangan geser adalah sebagai berikut.
Regangan geser pada suatu elemen adalah positifjika sudut antara dua
nzuka positif (atau dua muka negatif) berkurang. Regangan akan negatif
jika sudut antara dua muka positif (atau dua muka negatij) bertambah.
Jadi, semua regangan geser dalam Gambar 1-28b adalah positif, dan kita
lihat bahwa tegangan geser positif disertai oleh regangan geser positif.
• Hukum Hooke untuk Geser
Besaran bahan untuk geser dapat ditentukan secara eksperimental dari uji
geser langsung atau dari uji torsi. Uji torsi dilakukan dengan memuntir
tabung lingkaran berlubang, sehingga menghasilkan keadaan geser mumi,
sebagaimana akan diuraikan dalam Subbab3.5. Dari basil pengujian ini,
kita dapat memplot kurva tegangan-regangan untuk geser (yaitu dia­
gram tegangan geser r versus regangan geser }1. Diagram ini mempunyai
bentuk sama dengan diagram uji tarik ((J' versus E) untuk bahan yang
sama, meskipun besamya berbeda.
Dari kurva tegangan-regangan, kita dapat memperoleh besaran bahan
seperti limit proporsional, modulus elastisitas, tegangan luluh, dan tegangan
ultimate. Besaran-besaran dalam kondisi geser ini biasanya setengah dari
besaran dalam kondisi tarik. Sebagai contoh, tegangan luluh untuk baja
struktural yang mengalami geser adalah 0,5 sampai 0,6 kali tegangan
luluh dalam kondisi tarik.
Untuk banyak bahan, bagian awal dari kurva tegangan-regangan
adalah garis lurus yang melalui titik asal, sebagaimana terjadi pacta kasus
tarik. Untuk daerah elastis linier ini, tegangan geser dan regangan gesemya
sebanding sehingga kita mempunyai persamaan berikut untuk hukum
Hooke pada kondisi geser:
(1-17)
yang mana G adalah modulus elastisitas geser (disebut juga modulus
rigiditas). Modulus geser G mempunyai satuan yang sama dengan modu­
lus tarik, E, psi atau ksi dalam satuan USCS dan pascal dalam satuan SI.
3
1-21
g tek
1gala
gan c
1ih be
�esar
m lu
u ke 1
likalil
.ompc
ya tu
disalu
dan
1as tu
kan d
•aut m
Jenan
�gal).
ang b
32 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
Untuk baja lunak, harga tipikal G adalah 1 1.000 ksi atau 75 GPa; untuk
paduan aluminium, harga tipikalnya adalah 4000 ksi atau 28 GPa. Harga­
harga lainnya dicantumkan dalam Tabel H-2, Lampiran H.
Modulus elastisitas untuk kasus tarik dan kasus geser dihubungkan
dengan persamaan berikut:
(1-18)
di mana v adalah rasio Poisson. Hubungan ini, yang diturunkan dalam
Subbab 3.6, menunjukkan bahwa £, G, dan v bukanlah besaran-besaran
elastis bahan yang independen. Karena rasio Poisson untuk bahan biasa
ada di antara nol dan setengah, kita lihat dari Persamaan (1-18) bahwa G
harus dari sepertiga sampai setengah E.
Contoh berikut ini mengilustrasikan beberapa analisis tipikal yang
melibatkanpengaruh geser. Contoh l-4 berkenaan dengan tegangan tumpu
dan geser di suatu sendi dan baut. Contoh 1-5 berkaitan dengan tegangan
geser pada plat berlubang, dan Contoh l-6 meliputi pencarian tegangan
geser dan regangan geser pada landasan elastomeric bearing yang
mengalami gaya geser horizontal.
• Contoh 1 -4
Sebuah batang dari baja yang merupakan pengekang dari sebuah kapal menyalurkan
gaya tekan P = 54 kN ke dek dari sebuah tiang (lihat Gambar 1-29a). Batang
tekan ini mempunyai penampang bujur sangkar berlubang dengan tebal dinding t
= 12 mm (Gambar 1-29b), dan sudut e antara batang dan horizontal adalah 40".
Sebuah sendi yang menembus batang tersebut menyalurkan gaya dari batang tekan
kedua plat buhul G yang dilas ke plat landasan B. Empat baut angkur
menghubungkan plat landasan ke dek. Diameter sendi adalah d
p
in = 18 mm, tebal
plat buhul adalah tc = 15 mm, tebal plat landasan adalah t8 = 8 mm, dan diameter
baut angkur ada1ah dbolt = 12 mm.
Tentukan tegangan-tegangan berikut: (a) tegangan tumpu antara batang tekan
dengan sendi, (b) tegangan geser di sendi, (c) tegangan tumpu antara sendi dan
plat buhul, (d) tegangan tumpu antara baut angkur dan plat landasan, dan (e)
tegangan geser di baut angkur. (Abaikan gesekan antara plat landasan dan dek.)
Solusi
(a) Tegangan tumpu antara batang tekan dan sendi. Harga rata-rata
tegangan tumpu antara batang tekan dan sendi dapat dihitung dengan membagi
gaya di batang tekan dengan luas tumpu antara batang tekan dan sendi. Luas
tersebut sama dengan dua kali tebal batang tekan (karena tumpu terjadi di dua
lokasi) dikalikan diameter sendi (lihat Gambar 1-29b). Jadi, tegangan tumpu adalah
P 54 kN
ahi =
2tdpin
= 2(12 mm)(1 8 mm)
= 125 MPa ..
Tegangan ini tidak berlebihan untuk sebuah batang tekan yang terbuat dari baja
karena tegangan luluhnya mungkin lebih besar daripada 200 MPa (lihat Tabel H-
3, Lampiran H).
Gambar 1 -29 Contoh 1 -4.
(a) Hubungan sendi antara batang
tekan S dan plat landasan B. (b)
Potongan melintang yang melalui
batang tekan S.
Mekanika Bahan 33
Sendi
(a) (b)
(b) Tegangan geser di sendi. Sebagaimana terlihat dalam Gambar l-29b,
sendi tersebut cenderung tergeser di dua bidang. yaitu bidang antara batang tekan
dan plat buhul. Dengandemikian, tegangan geser rata-rata di sendi (yang mengalami
geser ganda) sama dengan beban total yang diterapkan ke sendi dibagi dengan dua
kali luas penampang:
p
r . = -
....,-
-
pm 2m
:
F 14
pm
54 kN
106 MPa ..
2;r(l 8 mm)2 14
Sendi biasanya terbuat dari baja berkekuatan tinggi (tegangan luluhnya lebih besar
daripada 340 MPa) dan dapat dengan mudah menahan tegangan geser sebesar ini
(tegangan luluh karena geser biasanya tidak kurang dari 50% tegangan luluh
karena tarik).
(c) Tegangan tumpu antara sendi danplat buhul. Sendi menumpu ke plat
buhul di dua lokasi, sehingga luas tumpunya dua kali tebal plat buhul dikalikan
diameter sendi; jadi,
54 kN
..
100 MPa
2(15 mm)(l 8 mm)
yang lebih kecil daripada tegangan tumpu batang tekan.
(d) Tegangan tumpu antara baut angkur dan plat landasan. Komponen
vertikal gaya P (lihat Gambar l -29a) disalurkan ke tiang dengan adanya tumpu
langsung antara plat landasan dan tiang. Namun, komponen horizontalnya disalurkan
melalui baut angkur. Tegangan tumpu rata-rata antara plat landasan dan baut
angkur sama dengan komponen horizontal dari gaya P dibagi dengan luas tumpu
empat baut. Luas tumpu untuk satu baut sama dengan tebal plat dikalikan diam­
eter baut. Dengan demikian, tegangan tumpunya adalah
(54 kN)(cos 40°) = 108 MPa
4(8 mm)(12 mm)
..
(e) Tegangan geser di baut angkur. Tegangan geser rata-rata di baut angkur
sama dengan komponen horizontal dari gaya P dibagi dengan luas penampang
total empat baut (perhatikan bahwa setiap baut mengalami geser tunggal). Jadi,
r
_ Pcos 40° _ (54 kN)(cos 40°)
= 1 19 MPa
bolt -
4mt;olt I4 - 4;r( 12 mm)2 I4
..
Gesekan antara plat landasan dan tiang dapat saja mengurangi beban yang bekerja
di baut angkur.
34 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
• Contoh 1 -5
Gambar 1 -30 Contoh 1 -5 .
Membuat lubang pada plat baja
Sebuah pelubang (pembuat lubang) pada plat baja terlihat dalam Gambar l -30a.
Asumsikan bahwa pelubang yang diameternya 0,75 in itu digunakan untuk
melubangi plat yang tebalnya 1/4 in, seperti terlihat dalam Gambar 1 -30b. Jika
gaya P = 28.000 lb dibutuhkan untuk itu, berapakah tegangan geser rata-rata di
plat tersebut dan tegangan tekan rata-rata di pelubang?
p
j_ 0 .
t = ,25 m.
T
(a) (b)
Solusi
Tegangan geser rata-rata di plat dihitung dengan membagi gaya P dengan luas
geser plat. Luas geser A, sama dengan keliling lubang dikalikan tebal plat, atau
A, = ndt = n(0,75 in.)(0,25 in) = 0,5890 in.2
di mana d adalah diameter pelubang, dan t adalah tebal plat. Dengan demikian,
tegangan geser rata-rata di plat adalah
p 28.000 lb
r -
- - = 47.500 psi
cata-rata -
A,
-
0,5890 in.Z
Tegangan tekan rata-rata di pelubang adalah
p p 28.000 lb
a = -- = -- = = 63.400 psi
c
�unch nd2 I4 7r(O,75 in.i /2
di mana Apunch adalah luas penampang pelubang.
Catatan. Analisis ini sangat diidealisasi karena kita mengabaikan efek kejut
yang terjadi apabila suatu pelubang menembus plat. (Peninjauan efek ini
membutuhkan metode analisis lanjut di luar ruang lingkup mekanika bahan.)
• Contoh 1-6
Sebuah bantalan yang biasa digunakan untuk memikul mesin dan gelagarjembatan
terdiri atas bahan yang bersifat elastis linier (biasanya elastomer, seperti karet)
yang dilapisi oleh plat baja (Gambar l -3la). Asumsikan bahwa tebal elastomer
adalah h, dimensi plat adalah a x b, dan bantalan ini mengalami gaya geser
horizontal V.
(a)
(b)
Gambar 1 -31 Contoh 1 -6.
Bantalan yang mengalami geser
Mekanika Bahan 35
Turunkanlah rumus tegangan geser rata-rata r
,.,•.,.,.di elastomer dan peralihan
horizontal d di plat (Gambar 1-31b).
Solusi
Asumsikan bahwa tegangan geser di elastomer terbagi rata di seluruh volume.
Dengan demikian, tegangan geser di setiap bidang horizontal yang melalui elas­
tomer sama dengan gaya geser V dibagi dengan luas bidang (Gambar 1-31 a):
V
r = -
rata-rata
ab
Tegangan gesemya (dari hukum Hooke untuk geser) adalah
(1-19) ..
( 1-20)
di mana G, adalah momen bahan elastomerik. Akhimya. peralihan horizontal d
sama dengan h tan ( (dari Gambar 1 -3lb):
d = h tan r = h tan (_

_
'
_ )
�abG, )
( 1 -21) ..
Di dalam praktek, umumnya regangan geser ( adalah sudut yang kecil sehingga
tan ydapat diganti dengan y,
hV
d = hy =
abG,
( 1-22) ..
Persamaan ( 1 -2 1 ) dan ( 1-22) memberikan hasil pendekatan untuk peralihan hori­
zontal plat karena keduanya berdasarkan asumsi bahwa tegangan dan regangan
geser konstan di seluruh volume bahan elastomerik. Pada kenyataannya, tegangan
geser adalah nol di tepi-tepi bahan (karena tidak ada tegangan geser di muka
vertikal yang bebas), sehingga deformasi bahan akan lebih rumit daripada yang
terlihat dalam Gambar 1-3 1b. Sekalipun demikian, jika panjang a dari plat cukup
besar dibandingkan dengan tebal h dari elastomer, maka hasil di atas sudah memadai
untuk tujuan desain.
-·
1·•
7 I TEGANGAN IZIN DAN BEBAN IZIN
Rekayasa dapat dengan bebas didefinisikan sebagai penerapan ilmu untuk
tujuan umum dalam hidup. Untuk memenuhi misi tersebut, insinyur
mendesain sangat banyak obyek untuk melayani kebutuhan masyarakat.
Kebutuhan ini meliputi perumahan, pertanian, transportasi, komunikasi,
dan berbagai aspek kehidupan modem lain. Faktor-faktor yang perlu
ditinjau dalam desain meliputi kegunaan, kekuatan, tampilan, ekonomi,
dan proteksi lingkungan. Dalam mempelajari mekanika bahan, desain utama
yang diperhatikan adalah kekuatan, yaitu kapasitas obyek untuk memikul
atau menyalurkan beban. Obyek yang harus menahan beban meliputi
bangunan, mesin, containers, truk, pesawat terbang, kapal, dan sebagainya.
Untuk mudahnya, kita akan merujuk semua obyek tersebut sebagai
struktur; jadi, suatu struktur adalah setiap obyek yang harus memikul
atau menyalurkan beban.
36 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
Jika kegagalan struktural harus dihindari, maka beban yang dapat
dipikul suatu struktur harus lebih besar daripada beban yang akan
dialaminya pada masa pakai. Kemampuan suatu struktur untuk menahan
beban disebut kekuatan, jadi kriteria terdahulu dapat ditulis ulang sebagai
berikut. Kekuatan aktual suatu struktur harus melebihi kekuatan yang
dibutuhkan. Rasio kekuatan aktual terhadap kekuatan yang dibutuhkan
disebut faktor keamanan n:
Faktor keamanan =
Kekuatan aktual
Kekuatan yang dibutuhkan
(1-23)
Tentu saja, faktor keamanan harus lebih besar daripada 1,0 jika kegagalan
ingin dihindari. Bergantung pada situasinya, digunakan faktor keamanan
dengan harga sedikit di atas 1 ,0 hingga 10.
Penggunaan faktor keamanan di dalam desain bukanlah ha! yang
sederhana karena baik kekuatan maupun kegagalan mempunyai arti yang
beragam. Kekuatan dapat diukur dengan kapasitas pikul beban suatu
struktur, atau dapat diukur dengan tegangan di bahan. Kegagalan dapat
berarti fraktur dan kolaps lengkap dari suatu struktur atau dapat pula
berarti bahwa deformasinya telah sedemikian besar sehingga struktur
tersebut tidak dapat lagi berfungsi sebagaimana diharapkan. Jenis kegagalan
yang terakhir ini dapat saja terjadi pada beban yang jauh lebih kecil
daripada taraf beban yang menyebabkan kolaps aktual.
Penentuan faktor keamanan harus juga memperhitungkan hal-hal
seperti: probabilitas kelebihan behan secara tak terduga pada suatu struktur
oleh beban yang melebihi beban desain; jenis beban (statik atau dinamik);
apakah beban itu diterapkan sekali saja atau berulang; seberapa akurat
beban diketahui; kemungkinan kegagalan fatik (lihat Subbab 2.9); ketidak­
tepatan konstruksi; variabilitas kualitas pekerjaan; variasi besaran bahan;
cacat akibat korosi atau pengaruh lingkungan Jainnya; ketelitian metode
analisis; apakah kegagalan gradual (sehingga ada peringatan terlebih
dahulu) atau tiba-tiba (tanpa peringatan), konsekuensi kegagalan (kerusakan
kecil atau kerusakan parah) dan tinjauan lainnya. Jika faktor keamanan
terlalu kecil, maka kecenderungan gaga! akan lebih besar dan struktur
tersebut akan tidak dapat diterima; jika faktor tersebut terlalu besar, maka
struktur tersebut akan boros bahan dan mungkin juga tidak cocok untuk
fungsinya (misalnya, struktur menjadi terlalu berat).
Karena kerumitan dan ketidaktentuan itu, maka faktorkeamanan harus
ditentukan berdasarkan probabilitas. Faktor keamanan biasanya ditetapkan
oleh kelompok insinyur yang berpengalaman yang menuliskan standar
dan spesifikasi yang dapat digunakan oleh perencana dan kadang-kadang
ditetapkan sebagai hukum yang berlaku. Ketentuan dalam standar dan
spesifikasi ditujukan untuk memberikan taraf keamanan yang masuk akal
tanpa adanya biaya yang berlebihan.
Faktor keamanan didefinisikan dan diterapkan dengan berbagai cara.
Untuk sebagian besar struktur, bahannya harus berada dalam daerah elastis
linier untuk mencegah terjadinya deformasi permanen apabila beban
dihilangkan. Pada kondisi ini, faktor keamanan ditetapkan berdasarkan
Juluhnya struktur. Luluh mulai terjadi apabila tegangan luluh tercapai di
suatu titik sembarang di dalam struktur. Maka, dengan menerapkan faktor
keamanan terhadap tegangan luluh (atau kekuatan Juluh), kita mendapatkan
tegangan izin (atau tegangan ker
ja) yang tidak boleh dilampaui di manapun
di dalam struktur. Jadi,
Mekanika Bahan 37
T
. . Tegangan luluh
egangan lZlll =
Faktor keamanan
atau, untuk tarik dan geser, masing-masing adalah
( 1-24)
( l-25a,b)
di mana o:v dan '!"
Y adalah tegangan luluh dan n1 dan n2 adalah faktor
keamanan. Dalam desain gedung, faktor keamanan tipikal untuk luluh
karena tarik adalah 1 ,67; jadi baja lunak yang mempunyai tegangan luluh
36 ksi mempunyai tegangan izin 21,6 ksi.
Kadang-kadang faktor keamanan diterapkan pada tegangan ultimate,
bukannya pada tegangan luluh. Metode ini cocok untuk bahan yang getas,
seperti beton dan beberapa jenis plastik, dan untuk bahan yang tegangan
luluhnya tidak terdefinisi dengan jelas, seperti kayu dan baja berkekuatan
tinggi. Dalam hal ini, tegangan izin tarik dan geser adalah
(Jizin ( l-26a,b)
yang mana o:" dan '!"" adalah tegangan ultimate (atau kekuatan ultimate).
Faktor keamanan terhadap kekuatan ultimate dari suatu bahan biasanya
lebih besar daripada yang didasarkan atas kekuatan luluh. Untuk baja
lunak, faktor keamanan sebesar 1 ,67 terhadap luluh sebanding dengan
faktor keamanan sebesar kira-kira 2,8 terhadap kekuatan ultimate.
Dalam desain pesawat terbang, biasanya digunakan sebutan margin
keamanan, bukannya faktor keamanan. Margin keamanan didefinisikan
sebagai faktor keamanan dikurangi satu:
Margin keamanan = n - I ( 1-27)
Margin keamanan sering dinyatakan dalam persen, di mana harga di atas
dikalikan dengan 100. Jadi, suatu struktur yang mempunyai kekuatan
ultimate 1 ,75 kali kekuatan yang dibutuhkan mempunyai faktor keamanan
sebesar I ,75 dan margin keamanan sebesar 0,75 (atau 75%). Apabila
margin keamanan berkurang menjadi no! atau lebih kecil, maka struktur
itu akan (dapat dianggap) gaga!
• Beban izin
Sesudah tegangan izin ditetapkan untuk struktur dan bahan tertentu, beban
izin pada struktur dapat ditetapkan. Hubungan antara beban izin dan
tegangan izin bergantung pada jenis struktur. Dalam bab ini kita hanya
memperhatikan jenis-jenis struktur yang mendasar saja, yaitu batang yang
mengalami tarik atau tekan, dan sendi (atau baut) yang mengalami geser
langsung dan tumpu. Pada struktur-struktur tersebut tegangan mempunyai
distribusi yang terbagi rata (atau paling tidak dapat diasumsikan terbagi
rata) pada suatu area. Sebagai contoh, dalam ha! suatu batang yang
mengalami tarik, tegangannya mempunyai distribusi terbagi rata di
potongan melintang asalkan gaya aksial resultannya bekerja melalui pusat
berat penampang. Hal yang sama juga berlaku untuk tekan asalkan
batangnya tidak mengalami tekuk. Dalam hal sendi yang mengalami geser,
kita hanya meninjau tegangan geser rata-rata di potongan melintang, yang
ekivalen dengan mengasumsikan bahwa tegangan geser mempunyai
38 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
distribusi terbagi rata. Dengan cara yang sama, kita hanya meninjau harga
rata-rata untuk tegangan tumpu yang bekerja di luas proyeksi dari sendi.
Dengan demikian, dalam keempat kasus di atas, beban izin (juga
disebutbeban yang diperbolehkan atau beban aman) sama dengan tegangan
izin dikalikan dengan luas di mana beban tersebut bekerja:
Beban izin = (Tegangan izin) (Luas) ( 1 -28)
Untuk batang yang mengalami tarik dan tekan langsung (tidak acta tekuk),
persamaan di atas menjadi
pizin = <Jizin A (1-29)
di mana <Yizin adalah tegangan normal izin dan A adalah luas penampang
batang. Jika batang tersebut mempunyai lubang, maka luas neto biasanya
digunakan apabila batang tersebut mengalami tarik. Luas neto adalah luas
penampangbruto dikurangi luas yang hilang karena adanya lubang. Untuk
tekan, luas bruto dapat digunakanjika lubang tersebut terisi oleh baut atau
sendi yang dapat menyalurkan tegangan tekan.
Untuk sendi yang mengalami geser langsung, Persamaan (1-28)
menjadi
(1-30)
di mana rizin adalah tegangan geser izin dan A adalah luas di mana tegangan
geser bekerja. Jika sendi tersebut mengalami geser tunggal, maka luasnya
adalah luas potongan melintang sendi, danuntuk geserganda, maka luasnya
adalah dua kali luas potongan melintang sendi.
Akhimya, beban izin untuk tumpu adalah
(1-31)
di mana <r
h adalah tegangan tumpu izin dan Ab adalah luas proyeksi dari
sendi atau permukaan lain di mana tegangan tumpu tersebut bekerja.
Contoh berikut ini mengilustrasikan bagaimana beban izin ditentukan
jika tegangan izin untuk bahan diketahui.
• Contoh 1-7
Sebuah batang baja yang berfungsi sebagai penggantung dan memikul mesin berat
di suatu gedung pabrik terpasang pada suatu tumpuan dengan sambungan yang
menggunakan baut seperti terlihat dalam Gambar 1 -32. Bagian utama dari
penggantung ini mempunyai penampang persegi panjang dengan lebar b1 == 1,5 in.
dan tebal t == 0,5 in. Di sambungannya, penggantung ini diperbesar hingga lebamya
menjadi b2 == 3,0 in. Baut, yang menya1urkan beban dari penggantung kedua plat
buhul, mempunyai diameter d == 1 ,0 in.
Tentukan harga yang diizinkan untuk beban tarik P di penggantung yang
didasarkan atas tinjauan berikut: (a) Tegangan izin di bagian utama dari
penggantung adalah 1 6.000 psi, (b) Tegangan izin di penggantung di potongan
melintang yang melalui baut adalah 1 1 .000 psi. (Tegangan izin di potongan tersebut
lebih kecil karena adanya konsentrasi tegangan di sekitar baut.) (c) Tegangan
tumpu izin di antara penggantung dan baut adalah 26.000 psi. (d) Tegangan geser
izin di baut adalah 6.500 psi. (Catatan: Faktor keamanan untuk tarik, tumpu, dan
geser telah diperhitungkan dalam menentukan tegangan izin.)
Gambar 1-32 Contoh 1-7. Peng­
gantung vertikal yang mengalami
beban tarik P: (a) tampak depan
sambungan baut, dan (b) tampak
samping sambungan
Penggantung
� p
(a)
Solusi
Mekanika Bahan 39
= l,O in.
t=0,5 in.
�p
(b)
(a) Beban izin P1 yang didasarkan atas tegangan di bagian utama
penggantung sama dengan tegangan izin tarik dika1ikan 1uas penampang
penggantung (Gambar 1-29):
PI = o;,;nA = aizinblt = (16.000 psi)(1 ,5 in. X 0,5 in.) = 12.000 1b
Beban yang 1ebih besar daripada ini akan menyebabkan ke1ebihan tegangan pada
penggantung; artinya, tegangan aktua1 akan me1ebihi tegangan izin sehingga
mengurangi faktor keamanan.
(b) Di potongan melintang yang melalui baut, kita harus membuat
perhitungan yang sama tetapi dengan tegangan izin yang berbeda dan luas yang
berbeda pu1a. Luas penampang neto, yaitu 1uas yang tersisa dengan adanya lubang
di batang tersebut, sama dengan lebar neto dikalikan teba1nya. Lebar neto sama
dengan 1ebar bruto b2 dikurangi diameter 1ubang d. Jadi, persamaan untuk beban
izin P2 di potongan ini ada1ah
p
2
=
o;,;nA = o;,;n(bz - d)t
= ( 1 1 .000 psi)(3,0 in. - 1 ,0 in.)(0,5 in.) = 1 1 .000 lb
(c) Luas tumpu antara penggantung dan baut ada1ah proyeksi dari 1uas
kontak aktual. Luas proyeksi ini sama dengan diameter baut dika1ikan dengan
teba1 bpenggantung sehingga beban izin yang didasarkan atas tumpu (Persamaan
1-3 1 ) adalah
P3 = abA = abdt = (26.000 psi)(l ,0 in.)(0,5 in.) = 13.000 1b
(d) Akhimya, beban izin P4yang didasarkan atas geser di baut sama dengan
tegangan geser izin dikalikan 1uas geser (Persamaan 1 -30). Luas geser ini sama
dengan dua kali 1uas baut karena baut tersebut mengalami geser ganda; jadi:
P4 = r;,;"A = r;,;"(2)(wf/4) = (6.500 psi)(2)(n')(1,0 in.)2/4 = 10.200 1b
40 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
Dengan membandingkan keempat hasil di atas, kita lihat bahwa harga beban
terkecil adalah
Beban ini, yang didasarkan atas geser di baut, merupakan beban tarik izin di
penggantung.
DESAIN UNTUK BEBAN AKSIAL DAN GESER LANGSUNG
Di ctalam subbab sebelum ini kita membahas penentuan beban izin untuk
struktur secterhana ctan pacta subbab-subbab sebelumnya kita telah melihat
bagaimana mencari tegangan, regangan, ctan cteformasi pacta batang.
Penentuan besaran-besaran ini ctikenal ctengan analisis. Di ctalam konteks
mekanika bahan, analisis terctiri atas penentuan respons ctari struktur
terhactap beban, perubahantemperatur, ctan aksi-aksi fisik lainnya. Berctasar­
kan respons ctari suatu struktur, kita menghitung tegangan, regangan, ctan
cteformasi yang ctiakibatkan oleh beban. Respons juga merujuk ke kapasitas
pikul beban ctari suatu struktur; beban izin pacta suatu struktur merupakan
salah satu bentuk ctari respons. Suatu struktur ctisebut diketahui apabila
kita mempunyai cteskripsi fisik lengkap suatu struktur, yaitu apabila kita
mengetahui semua besaran. Besaran suatu struktur meliputi jenis-jenis
elemen struktur ctan bagaimana elemen-elemen tersebut tersusun, ctimensi
semua elemen struktur, jenis tumpuan, cti mana letaknya, material yang
ctigunakan, ctan besaran bahan. Jacti, ctalam menganalisis suatu struktur,
besaran diketahui dan respons harus dicari.
Proses sebaliknya ctisebut desain. Dalam menctesain suatu struktur,
kita harus menentukan besaran suatu struktur sedemikian hingga struktur
tersebut dapat memikul beban yang ada dan berfungsi sebagaimana
diharapkan. Sebagai contoh, salah satu masalah ctesain yang umum adalah
menentukan ukuran elemen struktur untuk memikul beban yang ctiketahui.
Menctesain suatu struktur biasanya merupakan proses yang jauh lebih
panjang ctan lebih sulit ctibanctingkan ctengan menganalisisnya-memang,
menganalisis suatu struktur, biasanya lebih ctari satu kali, pacta umumnya
merupakan bagian tipikal ctari proses ctesain.
Di ctalam subbab ini kita akan membahas ctesain ctalam bentuk yang
paling menctasar ctengan cara menghitung ukuran yang ctibutuhkan untuk
elemen tarik ctan tekan selain juga sencti ctan baut yang ctibebani geser.
Dalam kasus-kasus tersebut proses ctesain cukup langsung. Dengan
mengetahui beban-beban yang harus ctisalurkan ctan tegangan izin di bahan,
kita dapat menghitung luas elemen yang dibutuhkan dari hubungan umum
sebagai berikut (bandingkan dengan Persamaan 1-28):
Luas yang dibutuhkan = Beban yang di�a�urkan
Tegangan tzm
(1-32)
Persamaan ini dapat diterapkan pada setiap struktur yang mempunyai
tegangan yang terbagi rata pada suatu area. (Penggunaan persamaan ini
untuk mencari ukuran suatu batang yang mengalami tarik dan ukuran baut
yang mengalarni geser diilustrasikan ctalam Contoh 1-8.)
Selain tinjauan kekuatan, sebagaimana terlihat dalam Persamaan
(1-32), desain suatu struktur juga dapat meliputi kekakuan dan stabilitas.
Mekanika Bahan 41
Kekakuan merujuk kepada kemampuan suatu struktur untuk menahan
perubahan bentuk (misalnya, untuk menahan perpanjangan, lenturan, atau
puntiran), dan stabilitas merujuk kepada kemampuan suatu struktur untuk
menahan tekuk pada tegangan tekan. Pembatasan pada kekakuan kadang­
kadang diperlukan untuk mencegah deformasi berlebihan, seperti defleksi
besar pada suatu balok yang dapatmempengaruhi kinerjanya. Tekuk adalah
tinjauan utama dalam desain kolom, yang merupakan elemen struktur
tekan langsing (Bab 1 1).
Bagian lain dari proses desain adalah optimisasi, yang merupakan
pekerjaan mendesain struktur terbaik agar memenuhi tujuan tertentu, seperti
berat minimum. Sebagai contoh, mungkin ada banyak struktur yang dapat
memikul beban yang diberikan, tetapi pada situasi tertentu struktur yang
terbaik adalah yang teringan. Tentu saja, tujuan semacam berat minimum
biasanya harus seimbang dengan pertimbangan umum, termasuk nilai
estetika, ekonomis, lingkungan, politis, dan aspek-aspek teknis dari suatu
proyek desain khusus.
Dalam menganalisis atau mendesain suatu struktur, kita merujuk
kepada gaya-gaya yang bekerja padanya sebagai beban atau reaksi. Beban
adalah gaya aktifyang bekerja pada suatu struktur akibat beberapa sebab
ekstemal, seperti gravitasi atau tekanan air. Reaksi adalah gayapasifyang
timbul di tumpuan suatu struktur-besar dan arahnya ditentukan oleh
struktur itu sendiri. Jadi, reaksi harus dihitung sebagai bagian dari analisis,
sedangkan beban telah diketahui sebelumnya.
Dalam menggambarkan diagram benda bebas, sebaiknya reaksi
dibedakan dengan gaya-gaya lain yang bekerja. Cara umum yang biasa
dilakukan adalah dengan menggunakan simbol garis panah yang dicoret
untuk gaya reaksi. Konvensi ini diilustrasikan dalam contoh berikut dan
di bagian lain dalam buku ini.
• Contoh 1-8
Gambar 1 -33 Contoh 1-8.
Rangka batang dua batang ABC
yang memikul papan tanda yang
beratnya W
Rangka batang dua batang ABC yang terlihat dalam Gambar 1-33 mempunyai
tumpuan sendi di titik A dan C, yang betjarak 2,0 m satu sama lain. Batang AB
dan BC adalah batang baja yang dihubungkan oleh sendi di titik B. Panjang batang
42 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
Gambar 1 -34 Diagram benda
bebas untuk Contoh 1-8
2.0m
I
ReH �
�W
c&RillE�W
D
fEGEillE�illEillE�LiliHL��
o
8
.,
tJ
---0,8 m ---1�--- 1,8 m -----+t-�"-+<
Re Rev �
2,7 kN 2,7 kN 0,4 m
(a)
(b)
BC adalah 3,0 m. Sebuah papan tanda yang beratnya 5,4 kN digantungkan pada
batang BC di titik D dan E, yang masing-masing terletak di 0,8 m dan 0,4 m dari
ujung-ujung batang.
Tentukanlah luas penampang yang dibutuhkan untuk batang AB dan diam­
eter yang dibutuhkan untuk sendi di titik C jika tegangan izin tarik dan geser
masing-masing adalah 1 25 MPa dan 45 MPa. (Catatan: Sendi di tumpuan
mengalami geser ganda. Juga, abaikan berat batang AB dan BC.)
Solusi
Reaksi, gaya-gaya di batang, dan gaya geser di sendi. Gaya tarik FA8 di batang
AB dan gaya geser Vc yang bekerja di sendi di C dapat diperoleh dari
kesetimbangan. Kita mulai dengan diagram benda bebas seluruh rangka batang
(Gambar 1 -34a). Pada diagram tersebut kita lihat semua gaya di rangka batang
tersebut, yaitu beban-beban dari berat papan tanda dan gaya reaksi yang diberikan
oleh tumpuan sendi di A dan C. Setiap reaksi ditunjukkan dengan komponen
horizontal dan vertikal, dengan reaksi resultan ditunjukkan dengan garis putus.
(Perhatikan penggunaan tanda panah yang dicoret untuk membedakan reaksi dan
beban.)
Komponen horizontal RAH dari reaksi di tumpuan A diperoleh dengan
menjumlahkan momen terhadap titik C sebagai berikut (momen berlawanan jarum
jam diberi tanda positif):
RAH(2,0 m) - (2,7 kN)(0,8 m) - (2,7 kN)(2,6 m) = 0
Dengan memecahkan persamaan ini kita peroleh
RAH = 4,590 kN
Mekanika Bahan 43
Berikutnya, kita jumlahkan gaya-gaya dalam arah horizontal dan memperoleh
RCH = RAH = 4,590 kN
Untuk mendapatkan komponen vertikal dari reaksi di tumpuan C, kita perlu
diagram benda bebas elemen struktur BC, seperti terlihat dalam Gambar l -34b.
Dengan menjumlahkan momen terhadap joint B kita peroleh komponen reaksi
yang dicari:
LMc = 0 -Rcv(3,0 m) + (2,7 kN)(2,2 m) + (2,7 kN)(0,4 m) = 0
Rev = 2,340 kN
Sekarang kita kembali ke diagram benda bebas keseluruhan rangka batang
(Gambar 1 -34a) dan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah vertikal untuk
mendapatkan komponen vertikal RAv dari reaksi di A.:
RAV + Rev - 2,7 kN - 2,7 ki = 0
Rev = 3,060 kN
Dengan diketahuinya komponen vertikal dan horizontal dari reaksi di A, maka kita
dapat menghitung reaksi itu sendiri:
Karena kita akan mengabaikan berat sendiri batang AB, maka gaya reaksi ini sama
dengan gaya tarik FA8 pada batang tersebut:
FAB = 5,516 kN
Gaya geser Vc yang bekerja di sendi di C sama dengan reaksi Re (Gambar
1 -34a). Gaya ini diperoleh dari komponen RcH dan Rev sebagai berikut
Jadi, kita sekarang telah mendapatkan gaya tarik FA8 di batang AB dan gaya geser
Vc yang bekerja di sendi di C.
Luas yang dibutuhkan. Luas yang dibutuhkan untuk batang AB dihitung
dengan membagi gaya tarikdengan tegangan izin, asalkan tegangan dapat dianggap
terbagi rata di penampangnya (lihar Persamaan 1-32):
A = F
AB
AB
(Jizin
5,5 16 kN
= 44 1 mm2
1 25 MPa
' •
Batang AB harus didesain dengan luas penampang melintang sama atau lebih
besar daripada 44,1 mm2 agarmampumemikul berat papan tanda, yang merupakan
satu-satunya beban yang kita tinjau. Sebagai contoh, jika batang ini berpenampang
lingkaran, diameter yang dihitung harus sedikitnya 7,50 mm, sehingga diameter 8
atau 10 mm dapat digunakan. (Di dalam praktek, beban lain selain berat papan
perlu ditinjau sebelum mengambil keputusan akhir tentang ukuran batang. Beban­
beban yang mungkin penting meliputi beban angin, beban gempa, berat sendiri
orang yang bekerja pada rangka batang atau papan tanda, dan berat rangka batang
itu sendiri.
Luas yang dibutuhkan untuk sendi di C (mengalami geser ganda) adalah
A . = � = 5,152 kN
= 57,2 mm2
pm 2rizin 2(45 MPa)
dan diameter yang dibutuhkan adalah:
d
p
m �4�in /;r = 8,54 mm
r 44 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
SOAL-SOAL BAB 1 I
Sebuah sendi yang diametemya tidak kurang dari ini dibutuhkan untuk memikul
berat papan tanda agar tegangan geser izin tidak dilampaui.
Catatan: Dalam contoh ini, kita secara sengaja mengabaikan berat sendiri
rangka batang di dalam perhitungan. Sekalipun demikian. setelah ukuran elemen
struktur diketahui, maka beratnya dapat dihitung dan dimasukkan ke dalam dia­
gram benda bebas dalam Gambar 1 -34. Untuk mencari reaksi, berat tersebut dapat
dipandang sebagai beban terpusat yang bekerja di titik tengah setiap batang,
meskipun kita ketahui bahwa berat terdistribusi di sepanjang sumbu suatu batang.
Apabila berat batang dimasukkan, maka desain batang AB menjadi lebih
rumit karena batang ini bukan lagi merupakan batang yang mengalami tarik
sederhana, melainkan balok yang mengalami kombinasi lentur dan tarik. Situasi
yang sama juga terjadi pada batang BC. Pada batang BC, bukan hanya berat
sendiri batang, melainkan juga berat sendiri papan tanda menyebabkan batang
tersebut mengalami kombinasi lentur dan tekan. Desain elemen struktur semacam
ini ditunda hingga kita mempelajari tegangan-tegangan yang terjadi pada balok
(Bab 5).
TEGANGAN DAN REGANGAN NORMAL dimensi yang ditunjukkan dalam gambar diukur tegak
lurus garis kerja gaya P.)
1 .2-1 Sebuah batang metal ABC yang mempunyai dua
penampang yang berbeda dibebani oleh gaya aksial P
(lihat gambar). Bagian AB dan BC masing-masing adalah
penampang lingkaran dengan diameter 1,75 in. dan 1,25
in.. Jika tegangan normal di bagian AB adalah 5000 psi,
berapakah tegangan normal a8c di bagian BC?
1 .2-2 Hitunglah tegangan tekan ac di batang piston
(lihat gambar) jika gaya P = 40 N diterapkan di pedal
rem. (Catat bahwa garis kerja gaya P sejajar batang
piston. Juga, diameter batang piston adalah 5 mm, dan

225 mm
)-p
1 .2-3 Sebuah tabung aluminium lingkaran yang pan­
jangnya L = 20,0 in. dibebani gaya tekan P (lihat gambar).
Diameter luar dan dalam masing-masing adalah 2,4 in.
dan 2,0 in. Sebuah pengukur regangan diletakkan di luar
batang untuk mengukur besarnya regangan normal dalam
arah longitudinal. (a) Jika regangan normalnya adalah E
= 570 x 10-6, berapakah perpendekan 8 dari batang
tersebut? (b) Jika tegangan tekan di batang diharapkan
sebesar 6 ksi, berapakah seharusnya beban P?
Pengukur regangan
f+-����- L = 20 in. �-�-+
1 .2-4 Penampang melintang suatu pedestal beton yang
dibebani terbagi rata secara tekan ditunjukkan dalam
gambar. (a) Tentukan tegangan tekan rata-rata ac di beton
jika besar beban 1 1,5 MN. (b) Tentukan koordinat
.X dan y di titik di mana beban resultan harus bekerja
agar menghasilkan tegangan normal terbagi rata.
-
�
I
1,2 m
1al. o.s m .1 o,4 m , X
1 .2-5 Sebuah kawat baja ABC yang memikul lampu di
titik tengahnya terpasang pacta tumpuan yang mempunyai
jarak 5 ft satu sama lain (lihat gambar). Panjang kawat
adalah 6 ft dan diametemya adalah 20 mil (diameter
kawat biasa dinyatakan dalam mil; satu mil sama dengan
0,001 in.) Jika lampu tersebut mempunyai berat 13 lb,
berapakah tegangan tarik a, di kawat?
1.2-6 Sebuah dinding penahan tanah ditopang oleh
batang kayu pada sudut 30°dan ditumpu oleh blok beton,
seperti terlihat pada bagian (a) dalam gambar. Batang
penopang mempunyai jarak konstan sebesar 3 m. Untuk
maksud analisis, dinding dan penopang diidealisasikan
seperti terlihat pada bagian (b) dalam gambar, dengan
dasar dari dinding dan kedua ujung batang penopang
diasumsikan sendi. Tekanan tanah ke dinding
diasumsikan berbentuk segitiga, dan gaya resultan di
sepanjang 3 m dinding adalah F = 1 90 kN. Jika setiap
(a) (b)
tanah
dinding penahan
Mekanika Bahan 45
penopang mempunyai penampang bujur sangkar, 150 x
1 50 mm, berapakah tegangan tekan ac
di batang
penopang?
1 .2-7 Sebuah keretaberoda yang beratnya 16 k apabila
terisi penuh ditarik perlahan-lahan pada jalur yang mir­
ing dengan menggunakan kabel baja (lihat gambar).
Kabel ini mempunyai luas penampang efektif 0,471 in2
dan sudut miring 31o . Berapakah tegangan tarik a, pada
kabel?
1 .2-8 Sebuah susunan kabel dan batang tekan ABC
(lihat gambar) memikul beban vertikal P = 12 kN. Kabel
tersebut mempunyai luas penampang efektif sebesar 160
mm2 dan batang tekan tersebut mempunyai luas 340 mm2•
(a) Hitunglah tegangan normal aA8 dan a8c di kabel
batang tekan, dan tunjukkan apakah masing-masing tarik
atau tekan. (b) Jika kabel memanjang 1 , 1 mm, berapakah
regangannya? (c) Jika batang tekan itu memendek 0,37
mm, berapakah regangannya?
1,5 m
1
1
1,5 m
I
�
-1JJ O
._
v
_
_
_
2,0 m-1
p
1 .2-9 Sebuah struktur untuk menarik pipa ke luar dari
tanah ditunjukkan dalam gambar. Sebuah kabel ABC
terpasang pada pipa di A ke rangka kaku di C. Kabel
keduaBDE dijepitkan ke kabel pertama di B dan dipasang
ke rangka tersebut di E. Akhimya, seseorang menarik
46 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
dalam arah vertikal ke bawah pacta kabel kedua di titik
D dengan gaya Q. Panjang masing-masing kabel adalah
sedemikian hingga AB vertikal, BD horizontal, BC mir­
ing dengan sudut kecil a terhadap vertikal, dan DE miring
dengan sudut kecil f3 terhadap horizontal. Kedua kabel
mempunyai luas penampang yang sama, A,. (a) Dapatkan
:umus untuk menghitung gaya angkat P dan tegangan
:ank maksimum CJ8c dan CJDE masing-masing di kabe1
ABC dan BDE. (b) Hitung1ah gaya angkat P dan
:.:gangan maksimum untuk data sebagai berikut: Q =
: 20 lb. a = 6°, f3 = 8°, dan A, = 0,1 19 in2•
1 .2-10 Sebuah pompa menggerakkan piston ke atas
dan ke bawah di da1am air (lihat gambar). Batang pompa
mempunyai diameter d = 20 mm dan panjang L = 1 10
m. Batang tersebut terbuat dari baja yang mempunyai
beratjenis y= 77,0 kN/m3• Gaya tahanan yang berkaitan
dengan piston selama bergerak ke bawah adalah 900 N
dan selama bergerak ke atas adalah 1 0.800 N. Tentukan
tegangan tarik dan tekan maksimum di batang pompa
akibat efek gabungan dari gaya tahanan dan berat batang.
(Catat bahwa untuk mudahnya, kita mengabaikan tinjauan
lain seperti 1entur batang pompa dan efek-efek dinamis.)
/
/
I
1 .2-1 1 Sebuah plat beton bertulang berbentuk bujur
sangkar dengan sisi 8 ft dan teba1 9 in. diangkat dengan
menggunakan empat kabel yang terpasang di pojok­
pojoknya, seperti ter1ihat dalam gambar. Kabel ini
terpasang ke penggantung di suatu titik yang terletak 5
ft di atas permukaan atas plat. Kabel-kabel tersebut
mempunyai luas penampang efektif A = 0, 1 2 in2•
Tentukan tegangan tarik di kabel, CJ
,
. (Berat plat beton
adalah 1 50 lbtfe.)
bertulang
*1 .2-12 Sebuah batang lingkaran ACB dengan panjang
total 2L (lihat gambar) berotasi terhadap sebuah sumbu
melalui titik tengah C dengan kecepatan sudut konstan
m (radian per detik). Bahan batang mempunyai berat
jenis y (a) Turunkan rumus untuk tegangan tarik CJ
x
di
batang sebagai fungsi dari jarak x dari titik tengah C. (b)
Berapakah tegangan tarik maksimum (Jmak,?
A I, : c�) • .
.
.
·
. . · ls 0
_/
I
+---- L _
_
___
___,.
___
_
.
_
· L _____j'
BESARAN MEKANIS DAN DIAGRAM
TEGANGAN-REGANGAN
1 .3-1 Sebuah kawat baja panjang yang tergantung
da1am arah vertika1 di da1am sebuah sumur kering harus
memiku1 berat sendiri (lihat gambar). (a) Berapakah
panjang terbesar (feet) yang dapat dimilikinya tanpa
terjadi luluh, apabila tegangan luluh baja diketahui 36
ksi? (b) Jika kawat yang sama digantung dari kapal di
!aut, berapakah panjang yang terbesar? (Berat jenis baja
dan air !aut tersedia di dalam Tabel H-1 , Lampiran H.)
1 .3-2 Tiga bahan yang berbeda A, B, dan C diuji tarik
dengan menggunakan benda uji yang mem-punyai di­
ameter 1 2 mm dan panjang terukur 50 mm (lihat gambar).
Pada saat gaga!, jarak antara tanda-tanda pengukur adalah
masing-masing 54,1 ; 63,0; dan 70,6 mm. Juga, diameter
penampang pada saat gaga! masing-masing adalah 1 1,50;
9,46; dan 6,01 mm. Tentukan persen perpanjangan dan
persen reduksi luas di masing-masing benda uji, lalu
dengan menggunakan penilaian pembaca sendiri,
tentukan apakah bahan ini getas atau daktil.
1 .3-3 Sebuah struktur terdiri atas tiga batang berujung
sendi dibebani gaya P (lihat gambar). Sudut antarabatang
miring dan horizontal adalah a = 50°. Regangan aksial
di batang tengahdiukursebesar0,049. Tentukan tegangan
tarik di batang tepi jika terbuat dari senyawa aluminium
yang mempunyai kurva tegangan-regangan seperti terlihat
dalam Gambar 1-13.
1 .3-4 Sebuah benda uji dari plastik metakrilat diuji tarik
pada temperatur kamar (lihat gambar), sehingga meng­
hasilkan data tegangan-regangan yang terlihat dalam
tabel. Plotlahkurva tegangan-regangan dan tentukan limit
proporsionalnya, modulus elastisitas (yaitu kemiringan
bagian awal dari kurva tegangan-regangan), dan tegangan
luluh pada offset 0,2%. Apakah bahan ini getas atau
daktil?
Mekanika Bahan 47
Data Tegangan-Regangan Untuk Soal 1 .3-4
Tegangan (MPa) Regangan
8,0 0,0032
1 7,5 0,0073
25,6 0,01 1 1
31, l 0,01 29
39,8 0,01 63
44.0 0,0184
48,2 0,0209
53.9 0,0260
58. 1 0,0331
62.0 0,0429
62. 1 Fraktur
1 .3-5 Data yang ditunjukkan dalam tabel berikut
diperoleh dari uji tarik pada baja yang berkekuatan tinggi.
Benda ujinya mempunyai diameter 0.505 in. dan panjang
terukur 2,00 in. (lihat gambar). Perpanjangan total antara
tanda-tanda pengukuran pada saat fraktur adalah 0,1 2
in. dan diameter minimumnya adalah 0,42 in. Plotlah
kurva tegangan-regangan nominal untuk baja ini dan
tentukanlah limit proporsionalnya, modulus elastisitas
(kemiringan bagian awal dari kurva tegangan-regangan),
tegangan luluh pada offset 0,! %, tegangan ultimate,
persen perpanjangan pada 2,00 in., dan persen reduksi
luas.
Data Uji Tarik Untuk Soal 1 .3-5
Beban (lb) Perpanjangan (in.)
1 .000 0,0002
2.000 0,0006
6.000 0,0019
10.000 0,0033
1 2.000 0,0039
1 2.900 0,0043
1 3.400 0,0047
1 3.600 0,0054
1 3.800 0,0063
14.000 0,0090
14.400 0,0102
1 5.200 0,01 30
1 6.800 0,0230
1 8.400 0,0336
20.000 0,0507
22.400 0,1 108
22.600 fraktur
1 .3-6 Rasio kekuatan-berat dari suatu bahan struktural
didefinisikan sebagai kapasitas pikul beban dibagi dengan
beratnya. Untuk bahan yang mengalami tarik, kita
menggunakan tegangan tarik karakteristik (sebagaimana
48 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
diperoleh dari kurva tegangan-regangan) sebagai ukuran
kekuatan. Sebagai contoh, baik tegangan luluh maupun
tegangan ultimate dapat digunakan, bergantung pada
penggunaannya. Jadi, rasio kekuatan-beban R,;w untuk
bahan yang mengalami tarik didefinisikan sebagai
a
Rslw =
Y
di mana a adalah tegangan karakteristik dan y adalah
berat jenis. Catat bahwa rasio ini mempunyai satuan
panjang.
Dengan menggunakan tegangan a" sebagai param­
eter kekuatan, hitunglah rasio kekuatan-berat (dalam
satuan meter) untuk masing-masing bahan: senyawa alu­
minium 6061 -T6, Douglas-fir, nilon, baja struktural
ASTM-A572, dan senyawa aluminium. (Dapatkan
besaran material dari Tabel H-1 dan H-3 dalam Lampiran
H. Jika pada tabel didapatkan suatu interval, ambillah
harga rata-ratanya.
1 .3-7 Besaran mekanis suatu bahan struktural tersedia
pada banyak buku rujukan dan laporan-laporan.
Kunjungilah perpustakaan dan carilah diagram tegangan­
regangan untuk bahan struktura1 pilihan pembaca,
misalnya aluminium, tembaga, fiberglass, magnesium,
monel, nilon, atau titanium. Diagram ini dapat dalam
satuan USCS atau SI. (a) Buatlah fotokopi dari diagram
tersebut dan gunakanlah untuk menentukan sebanyak
mungkin besaran bahan. (b) Berdasarkan atas informasi
dari bagian (a) ditambah dengan bacaan-bacaan lain,
tulislah deskripsi sebanyak satu halaman untuk bahan­
bahan tersebut.
ELASTISITAS DAN PLASTISITAS
1 .4-1 Sebuah batang yang terbuat dari baja struktural
yang mempunyai kurva tegangan-regangan seperti terlihat
dalam gambar mempunyai panjang 4 ft. Tegangan luluh
baja ini adalah 42 ksi dan kemiringan bagian linier awal
dari kurva tegangan-regangan (modulus elastisitas) adalah
30 x I03 ksi. Batang ini dibebani secara aksial sampai
memanjang 0,2 in. dan selanjutnya bebannya dihilangkan.
Bagaimanakah panjang akhir batang dibandingkan
dengan panjang semula? (Petunjuk: Gunakan konsep
yang diilustrasikan dalam Gambar 1 - 1 8.)
u (ksi)
40
30
(
I
V
20
0
0,002 0,004 0,006
1 .4-2 Sebuah batang yang panjangnya 1,5 m terbuat
dari baja struktural yang mempunyai kurva tegangan­
regangan seperti terlihat dalam gambar. Tegangan luluh
baja ini adalah 250 MPa dan kemiringan bagian linier
awal dari kurva tegangan-regangan (modulus elastisitas)
adalah 200 GPa. Batang ini dibebani secara aksial sampai
memanjang 7,5 mm, untuk selanjutnya beban dihilang­
kan. Bagaimanakah panjang akhir batang dibandingkan
dengan panjang semula? (Petunjuk: Gunakan konsep
yang diilustrasikan dalam Gambar 1 - 1 8.)
u (MPa)
300 '
0
V I
j_
Ii
V I
200
100
0,002 0,004 0,006
1 .4-3 Sebuah batang dari aluminium mempunyai
panjang L = 4 ft dan luas penampang A = 0,75 in2•
Bahan aluminium tersebut mempunyai kurva tegangan­
regangan seperti terlihat dalam Gambar 1-13 pada Subbab
1 .3. Batang ini dibebani oleh gaya P == 24 k dan
selanjutnya beban dihilangkan. (a) Berapakah pemulihan
regangan elastis jika kemiringan kurva tegangan-regangan
(modulus elastisitas) adalah 10 x 106 psi? (b) Berapakah
regangan residualnya? (c) Berapakah set permanennya?
(d) Jika batang tersebutdibebani kembali, berapakah limit
proporsionalnya?
*1 .4-4 Sebuah batang bundar yang mempunyai
panjang 3 m dan diameter 10 mm terbuat dari senyawa
aluminium yang hubungan tegangan-regangannya dapat
dinyatakan dengan persamaan
- _a
__ + l __Q__
[ ( )9]
e - 70.000 1 7 270
di mana adalam MPa. Bentuk kurva tegangan-regangan
ditunjukkan dalam gambar. Batang ini dibebani dengan
gaya tarik P = 20 kN, lalu beban tersebut dihi1angkan.
Berapakah set permanen batang ini?
(J
*1 .4-5 Sebuah batang bundar yang mempunyai
panjang 5 ft dan diameter 0,25 in. terbuat dari senyawa
aluminium yang hubungan tegangan-regangannya dapat
dinyatak:an dengan persamaan
e
=
w�oo[1+ i(�Y]
di mana a dalam ksi. Bentuk kurva tegangan-regangan
ditunjukkan dalam gambar. Batang ini dibebani dengan
gaya tarik P = 2,8 k lalu beban tersebut dihilangkan.
Berapak:ah set permanen batang ini?
HUKUM HOOKE DAN RASIO POISSON
1 .5-1 Sebuah batang bundar dari baja berkekuatan
tinggi yang mempunyai modulus elastisitas E = 29 x 106
psi dan rasio Poisson v = 0,29 ditekan dengan gaya ak:sial
P (lihat gambar). Sebelum beban diterapkan, diameter
batang tersebut tepat 2,000 in. Jika pada saat dibebani
diameter batang tersebut tidak: boleh melebihi 2,001 in.,
berapak:ah beban izin P?
2 in.
p -�p
1 .5-2 Sebuah batang prismatis dengan penampang
lingkaran dibebani gaya tarik P = 1 20 kN (lihat gambar).
Batang ini mempunyai panjang L = 3,0 m dan diameter
d = 30 mm. Batang ini terbuat dari senyawa aluminium
(2014-T6) dengan modulus elastisitas E = 73 GPa dan
rasio Poisson v = 1/3. Hitunglah perpanjangan 8,
berkurangnya diameter M, dan berkurangnya volume
LlV pada batang tersebut.
p
P= 120 kN
1 .5-3 Sebuah kawat baja berkekuatan tinggi yang
diametemya 118 in. memanjang 1,41 in. apabila sepanjang
50 ft dari kawat tersebut dibebani gaya 850 lb. (a)
Berapak:ah modulus elastisitas E baja ini? (b) Jika diam­
ete( kawat berkurang sebesar 0,000085 in., berapak:ah
rasio Poisson? (c) Berapak:ah perubahan volume satuan
untuk baja?
Mekanika Bahan 49
1 .5-4 Sebuah batang bundar yang diametemya 10 mm
terbuat dari senyawa aluminium 7075-T6. Apabila batang
tersebut memanjang akibat gaya ak:sial P, diametemya
berkurang 0,016 mm. Carilah besar beban P tersebut
dan dilatasi batang.
1 .5-5 Sebuah batang dari metal monel (panjang 8 in.,
diameter 1 /4 in.) dibebani secara aksial oleh gaya tarik
1500 lb (lihat gambar). (b) Dengan menggunak:an data
dalam Tabel H-2, Lampiran H, tentukanlah pertambahan
panjang dan pengurangan diameter batang tersebut. (b)
Tentukan pertambahan volume batang dan dilatasinya.
1 .5-6 Sebuah uji tarik dilakukan pada spesimen
perunggu yang diametemya 10 mm dengan menggunak:an
panjang pengukuran 50 mm (lihat gambar). Apabila
beban tarik P mencapai harga 20 kN, jarak antara tanda­
tanda pengukuran bertambah 0,1 22 mm. (a) Berapak:ah
modulus elastisitas E perunggu? (b) Jika diametemya
berkurang 0,00830 mm, berapakah rasio Poisson? (c)
Berapak:ah dilatasi batang ini?
lO mm
p
*1 .5-7 Sebuah batang prismatis dibebani tarik oleh
gaya ak:sial. Carilah rasio Poisson untuk bahan ini jika
rasio perubahan volume satuan terhadap perubahan satuan
luas penampang adalah -2/3.
*1 .5-8 Sebuah plat yang panjangnya L dan lebamya b
mengalami tegangan tarik terbagi rata a di kedua
ujungnya (lihat gambar). Bahan plat ini mempunyai
modulus elastisitas E dan rasio Poisson v. (a) Sebelum
tegangan diterapkan, kemiringan garis diagonal OA
adalah b/L. Berapak:ah kemiringannya apabila tegangan
a bekerja? (b) Berapak:ah perubahan satuan luas muka
plat? (c) Berapak:ah perubahan satuan luas penampang?
t
b
t
50 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
*1 .5-9 Turunkan rumus untuk pertambahan volume AV
pada batang prismatis yang mempunyai panjang L dan
tergantung secara vertikal akibat berat sendiri (W = berat
total batang).
REGANGAN DAN TEGANGAN GESER
1 .6-1 Beban vertikal P yang bekerja di roda sebuah
crane adalah 1 3.000 lb (lihat gambar). Berapakah
tegangan geser rata-rata r,.,a-rata di as yang diameternya
1 ,25 in.
1 .6-2 Sebuah blok kayu diuji geser langsung dengan
menggunakan rangka pengujian dan benda uji seperti
terlihat dalam gambar. Beban P menghasilkan geser di
benda uji di sepanjang bidang AB. Tinggi h bidang AB
adalah 50 mm dan lebarnya (dalam arah tegak lurus
bidang gambar) adalah 100 mm. Jika beban P = 1 6 kN,
berapakah tegangan geser rata-rata r
,..,
_,.,. di kayu
tersebut?
Pengujian rangka
1 .6-3 Dua garis yang saling tegak lurus terdapat pacta
suatu blok bahan. Apabila b1ok tersebut dibebani geser,
maka garis-garis tersebut membentuk sudut 89,75°.
Berapakah regangan geser di bahan? Jika modulus
elastisitas adalah 10.600.000 psi dan rasio Poisson adalah
1/3, berapakah tegangan geser di bahan?
1 .6-4 Sebuah breket siku yang mempunyai tebal t = 1 8
mm dihubungkan pacta flens sebuah kolom dengan baut
yang berdiameter 1 6 mm seperti terlihat dalam gambar.
Beban yang terbagi rata bekeija di muka atas dari breket
dengan tekanan p = 2,0 MPa. Muka atas dari breket ini
mempunyai panjang L = 200 mm dan lebar b = 70 mm.
Tentukan tekanan tumpu a, antara breket siku dan baut­
baut dan tegangan geser rata-rata r
r
otHata di baut. (Abaikan
gesekan antara breket dan kolom.)
Tampak Samping Tampak Depan
1 .6-5 Tiga plat baja, masing-masing mempunyai tebal
3/4 in., dihubungkan dengan dua paku keling 5/8 in.
seperti terlihat dalam gambar. (a) Jika beban P = 1 6,0 k,
berapakah tegangan tumpu maksimum a, pacta paku
keling? (b) Jika tegangan geser ultimate (tegangan rata-
P/2...
11(
--
-.,
P/2...
11(
-.-
-
d
rata) di paku keling adalah 32 ksi, berapakah gaya Pult
dibutuhkan untuk menyebabkan paku keling gagal secara
geser? (Abaikan friksi antar plat.)
1 .6-6 Sebuah rangkaACD terdiri atas pipa vertikal CD
dan penopang AB yang terdiri atas dua batang datar (lihat
gambar). Rangka ini ditumpu oleh hubungan yang
menggunakan baut di titik A dan C yang jaraknya 2 in.
satu sama lain. Penopang ini terpasang pada pipa di titik
B ( 1 m di atas titik C) dengan menggunakan baut yang
berdiameter 1 8 mm. Beban horizontal P bekerja di titik
D (2 m di ats titik C). Jika beban P = 12 kN, berapakah
tegangan geser rata-rata 't"rata-rala di baut di B?
Potongan X-X
1 .6-7 Sebuah baut khusus yang mempunyai diameter
d = 0,50 in. menembus lubang di sebuah plat baja (lihat
gambar). Kepala baut yang berbentuk heksagonal
menumpu langsung pada plat baja. Diameter lingkaran
luar dari heksagonal adalah D = 0,80 in. (yang berarti
bahwa setiap sisi heksagonal mempunyai panjang 0,40
in.). Juga, tebal t tiap kepala baut adalah 0,25 in. Untuk
maksud perhitungan, asumsikan bahwa gaya tarik P di
baut adalah 1000 lb. (a) Tentukan tegangan tumpu rata­
rata ub antara kepala heksagonal baut dan plat. (b)
Tentukan tegangan geser rata-rata 't"rata·ratadi kepala baut.
1 .6-8 Sebuah plat baja yang berdimensi 2,5 x 1 ,2 x
0,1 m digantung dengan menggunakan kabel dan clevis
di setiap ujungnya (lihar gambar). Sendi yang melalui
clevises mempunyai diameter 18 mm dan terletak pada
jarak 2 m satu sama lain. Setiap setengah kabel
Mekanika Bahan 51
membentuk sudut 32° dengan vertikal. Untuk kondisi
ini, tentukanlah tegangan geser rata-rata 't"rata-rata di sendi
dan tegangan tumpu ub antara plat baja dan sendi.
1 .6-9 Torsi sebesar T0 = 75 k-in disalurkan antara dua
batang berflens dengan empat baut yang berdiameter 3/
4 in. (lihat gambar). Berapakah tegangan geser rata-rata
't"
rata-rata
di masing-masing baut jika diameter d lingkaran
baut adalah 6 in.?
1 .6-1 0 Sebuah banta1an elastomerik yang terdiri atas
dua plat baja yang melekat pada e1astomer khloropren
(khloropren adalah karet buatan) mengalami gaya geser
V pada saat diuji beban statik (lihat gambar). Bantalan
tersebut mempunyai dimensi a = 1 20 mm dan b =
150 mm, serta elastomer tersebut mempunyai tebal t =
52 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
.!(1 mm. Apabila gaya V sama dengan 5,4 kN, plat atas
'emyata beralih secara lateral 6,0 mm terhadap plat
bawah. Berapakah modulus elastisitas geser G khloro­
pren?
1 .6-1 1 Sebuah hubungan fleksibel yang terdiri atas
bantalan karet (tebal t = 0.5 in.) yang melekat pada plat
baja terlihat dalam gambar. Bantalan tersebut mempunyai
panjang 8,0 in. dan lebar 6,0 in. (a) Carilah regangan
geser rata-rata Yrata-rata di karet jika gaya P = 3400 lb dan
modulus geser untuk karet adalah G = 1 20 psi. (b) Carilah
peralihan horizontal relatif 8antara plat tengah dan plat­
plat luar.
p
2
....._
p
2
Potongan X-X
1 .6-1 2 Sebuah rantai sepeda terdiri atas sederetan links
masing-masing panjangnya sekitar 1 2 mm antara pusat
sendi (lihat gambar). Untuk soal ini, pembaca harus
menelaah rantai sepeda dan mengamati dengan baik
konstruksi links. Perhatikan sendi melintang. yang akan
kita asumsikan mempunyai diameter 2,5 mm. Sekarang
pembaca harus membuat dua pengukuran: ( I ) panjang
lengan engkol (crank arm), dan (2) jari-jari roda rantai.
(a) Dengan menggunakan dimensi ini, hitung1ah gaya
tarik T di rantai akibat gaya 800 N yang diterapkan di
satu pedal. (b) Hitunglah tegangan geser rata-rata rra,a-mta
di sendi.
2,5 mm
*1 .6-13 Lekatan antarabatang tulangan dan beton diuji
dengan "uji tarik lepas" suatu batang yang tertanam di
dalam beton (lihat gambar). Sebuah gaya tarik P
diterapkan di ujung batang, yang mempunyai diameter d
dan panjang penanaman L. (a) Asumsikan bahwa
tegangan geser (atau tegangan lekatan) antara batang
tulangan dan beton mempunyai distribusi terbagi rata di
seluruh panjang L. Selanjutnya, jika P = 4000 lb, d = 0,5
in., dan L = 1 2 in., berapakah tegangan geser rata-rata
r,.,•.,.ta yang terjadi antara baja dan beton? (b) Dalam
kenyataannya tegangan lekatan antara baja dan beton ·
selalu lebih kecil di dekat permukaan dan terbesar di
ujung interior batang. Dengan demikian, untuk
mendapatkan hasil yang sedikit lebih baik (tapi tetap
masih belum begitu akurat), asumsikan bahwa tegangan
geser r dapat dinyatakan dengan persamaan
r =
rmaks (4L3 - 9u? + 6x3)
4/J
di mana rmaks adalah tegangan geser maksimum dan
jarak x diukur dari ujung interior batang ke arah per­
mukaan beton. Kemudian, jika P = 4000 lb, d = 0,5 in.,
dan L = 1 2 in., berapakah tegangan geser maksimum
rmaks ?
*1 .6-14 Sebuah tuas digunakan untuk memuntir batang
bulat dengan menggunakan kunci bujur sangkar yang
pas pada slot di batang bulat, seperti terlihat dalam
gambar. Batang bulat tersebut mempunyai diameter d,
kunci tersebut mempunyai penampang bujur sangkar
yang dimensinya b x b, dan panjang kunci adalah c.
Kunci tersebut setengahnya masuk di tuas dan
setengahnya lagi di batang (jadi slot di sama dengan bl
Kunci
L -----�-1
2. Turunkan rumus untuk tegangan geser rata-rata r
cata-rata
di kunci tersebut jika beban P diterapkan pada jarak L
dari pusat batang. (Petunjuk: Abaikan pengaruh gesek­
an, asumsikan bahwa tekanan tumpu antara kunci dan
tuas mempunyai distribusi terbagi rata, dan gambarlah
diagram benda bebas tuas.)
*1 .6-1 5 Rangka batang ABCDEFGH yang terlihat
dalam gambar merupakan bagian dari jembatan kayu di
atas sungai kecil. Rangka batang tersebut mempunyai
tinggi h dan panjang panel b, dengan dimensi keduanya
sama. Batang pada rangka batang tersebut yang bertemu
di titik buhul H ditunjukkan secara rinci pada bagian
kedua dalam gambar tersebut. Sebuah baut yang
diametemya d = 1,5 in. menghubungkan batang-batang
di titik buhul tersebut. Kita hanya akan meninjau
pengaruh satu beban pada rangka batang yaitu beban P
= I k yang bekerja di titik tengah (karena beban ini
mempunyai harga satu, maka tegangan akibat beban yang
besamya berapapun dapat diperoleh dengan perkalian).
(a) Berapakah gaya geser maksimum Vmaks di baut di
titik buhul H? (b) Berapakah tegangan geser rata-rata
r
rata-rata
di baut di potongan yang mengalami gaya geser
maksimum?
B c D
A
*1 .6-16 Sebuah struktur peredam kejut yang terlihat
dalam gambar digunakan untuk menumpu peralatan yang
mahal. Struktur ini terdiri atas tabung baja dengan diam­
eter dalam b, batang baja dengan diameter d yang
memikul beban P, dan silinder karet berlubang (tingginya
h) yang melekat pada tabung dan batang tersebut. (a)
Dapatkan rumus untuk peralihan ke bawah r dari batang
akibat beban P, dengan mengasumsikan bahwa G adalah
Mekanika Bahan 53
modulus elastisitas geser karet dan tabungbajadan batang
adalah kaku.
BEBAN IZIN
Tabung baja
Batang
baja
1 .7-1 Sebuah struktur penarik di dek perahu layar
terdiri atas batang bengkok yang dibaut di kedua
ujungnya, seperti terlihat dalam gambar. Diameter db
baut adalah 1/4 in., diameter d plat-antara adalah 7/8 in,
dan tebal t dekfiberglass adalah 3/8 in. Jika tegangan
geser izin fiberglass adalah 300 psi dan tekanan tumpu
izin antara plat-antara dan fiberglass adalah 550 psi,
berapakah beban izin P,i" di tali penarik?
1 .7-2 Sebuah batang aluminium AB terpasang pada
suatutumpuan dengan sendi yang berdiameter d = 16 mm
(lihat gambar). Batang ini mempunyai tebal t = 1 5 mm
dan Jebar b = 40 mm. Jika tegangan tarik izin batang
adalah 125 MPa dan tegangan geser izin di sendi adalah
75 MPa, carilah harga izin beban tarik P.
t - - b
J B
�p
r
54 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
1 .7-3 Sebuah hubungan dengan menggunakan baut
antara tiga elemen struktur kayu terlihat dalam gambar.
Apabila baut tersebut dikencangkan, kayunya akan
mengalarni tekan lateral, dan bautnya mengalami tarik.
Tegangan tarik izin di baut yang berdiameter 114 in
adalah 1 6.000 psi dan tegangan tumpu izin antara plat­
antara yang berdiameter 1,0 in. dan kayu adalah 400 psi.
Berapakah gaya tarik izin maksimum T di baut?
1 .7-4 Sebuah gelagar memanjang kapal terpasang di
dasar suatu tiang dengan menggunakan hubungan sendi
(lihat gambar). Gelagar tersebut berupa tabung baja yang
mempunyai diameter luar d2 = 80 mm dan diameter
dalam d1 = 70 mm. Sendi baja tersebut mempunyai di­
ameter d = 25 mm, dan kedua plat yang menghubungkan
gelagar ke sendi mempunyai tebal t = 12 mm. Tegangan
izinnya adalah sebagai berikut: tegangan tekan di gelagar:
75 MPa, tegangan geser di sendi: 50 MPa, dan tegangan
tumpu antara sendi dan plat penghubung: 120 MPa.
Tentukanlah gaya tekan izin P;z;n di gelagar.
Tiang
1 .7-5 Sebuah kawat baja panjang yang digantung pada
balon memikul berat W di ujung bawahnya (lihat
gambar). Kawat tersebut mempunyai diameter 1/16 in.
dan panjang 250 ft. Berapakah berat maksimum Wmak,
yang dapat dengan aman dipikul jika tegangan luluh
untuk kawat adalah a,. = 50 ksi dan margin keamanan
terhadap luluh yang digunakan adalah 1 ,5? (Masukkan
berat kawat dalam perhitungan.)
1 .7-6 Berapakah besar gaya jepit maksimum yang
mungkin ada pada tang yang terlihat dalam gambar jika
ukuran a = 95 mm, b = 40 mm, dan tegangan geser
ultimate di sendi yang berdiameter 5 mm adalah 310
MPa? Berapakah harga P yang diizinkan jika faktor
keamanan sebesar 3 terhadap kegagalan sendi digunakan?
1 .7-7 Dua batang datar yang dibebani tarik oleh gaya
P disambung dengan menggunakan dua plat penyambung
persegi panjang dan dua paku keling yang berdiameter
5/8 in. (lihat gambar). Batang tersebut mempunyai lebar
b = 1 ,0 in. (kecuali di sambungan, di mana batang lebih
lebar) dan tebal t = 0,4 in. Batang tersebut terbuat dari
baja yang mempunyai tegangan ultimate tarik sebesar
60 ksi. Tegangan ultimate geser dan tumpu untuk paku
keling adalah masing-masing 25 ksi dan 80 ksi.
Tentukanlah beban izin P;z;n jika faktor keamanan sebesar
2,5 terhadap beban ultimate digunakan. (Tinjaulah tarik
di batang, geser di palm keling, dan tumpu antara paku
keling dan batang. Abaikan friksi antar plat.)
b = l,O in.
Plat penyambung
 t = 0,4 in.
1 .7-8 Sebuah tiang silinder yang mempunyai diameter
luard2 = 90 mm dan diameter dalam d1 = 78 mm ditopang
oleh dua kabel yang dilengkapi dengan wartel (lihat
gambar). Kabel tersebut dikencangkan dengan
memutarkan wartel, sehingga menimbulkan tarik di kabel
dan tekan di tiang. Kedua kabel mempunyai sudut 60°
dengan tanah. Tegangan tekan izin di tiang (untuk
mencegah tekuk) adalah a
,
= 1 0.0 MPa. Kabel didesain
untukbeban ultimate 29 kN dan faktor keamanan sebesar
3 terhadap beban ultimate dibutuhkan pada kabel.
Berapakah gaya izin maksimum Tmaks yang dapat timbul
di kabel dengan mengencangkan wartel?
1 .7-9 Piston pada sebuah mesin dihubungkan oleh
batang penghubung AB ke tuas BC (lihat gambar). Pis­
ton tersebut bergeser tanpa friksi di dalam silinder dan
mengalami gaya P (yang dianggap konstan) pada saat
bergerak ke kanan dalam gambar. Batang penghubung,
yang mempunyai luas penampang A dan panjang L,
terpasang di kedua ujung dengan menggunakan sendi.
Tuas berotasi terhadap poros di C dengan sendi di B
yang bergerak dengan lingkaran denganjari-jari R. Poros
di C, yang ditumpu oleh landasan, memberikan momen
tahanan M terhadap tuas. (a) Dapatkan rumus untuk gaya
Mekanika Bahan 55
izin maksimum Pizin yang didasarkan atas tegangan tekan
a
c
di batang penghubung. (b) Hitunglah gaya P,zin untuk
data berikut: a
,
= 22 ksi, A = 0,10 in.2, dan R = 0,28L.
Piston Batang penghubung
1 .7-1 0 Sebuah batang metal AB yang beratnya W
digantung dengan sistem kawat baja yang tersusun seperti
terlihat dalam gambar. Diameter kawat adalah 2 mm,
dan tegangan luluh baja adalah 450 MPa. Tentukan berat
izin maksimum Wmah untuk faktor keamanan I,9 terhadap
luluh.
0,75 m 0,75 m
r------1-
I,75 m-r------1
' 1 ,75 m
1
n
d
�
-
-
-
�
w
�
�
�
��
IT
m
A B
1 .7-1 1 Rangka batang yang dihubungkan sendi dalam
gambar memikul tiga beban vertikal yang besarnya
masing-masing 3 k. Selain itu, beban horizontal P beketja
ke arah kanan di titik buhul C. Batang AB mempunyai
luas penampang 3,13 in.2 dan tegangan izin tekan adalah
1 2.000 psi. Dengan hanya meninjau tegangan di batang
AB, berapakah beban izin P?
56 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
1 .7-12 Sebuah batang yang berpenampang lingkaran
(diameter d) mempunyai lubang ber diameter d/4 yang
dibor dalam arah lateral menembus bagian tengah batang
(lihat gambar). Tegangan tarik rata-rata izin di potongan
melintang neto batang adalah aizin· (a) Dapatkan rumus
untuk beban tarik izin Pizin yang dapat dipikul batang ini.
(b) Hitunglah harga Pizin jika batang ini terbuat dari
perunggu yang berdiameter d = 30 mm dan aizin = 75
MPa. (Petunjuk: Gunakan rumus Kasus 15 dalam
Lampiran D.)
1 .7-13 Sebuah batang bundar yang berdiameter d1 =
2,25 in. mempunyai lubang dengan diameter d2 = 1,125
in. yang dibor melalui tengahnya (lihat gambar). Sebuah
sendi baja menembus lubang tersebut dan terpasang ke
tumpuan. Tentukan beban tarik izin maksimum Pizin di
batang jika tegangan luluh untuk geser di sendi adalah
rY = 17.000 psi, tegangan luluh tarik di batang adalah a,
= 36.000 psi, dan faktor keamanan sebesar 2,0 terhadap
luluh dibutuhkan. (Petunjuk: Gunakan rumus untuk Kasus
15 dalam Lampiran D.)
*1 .7-1 4 Sebuah tali fleksibel yang panjangnya L, = I ,4
m diikat ke tumpuan di titik-titik A dan B (lihat gambar).
Titik-titikA dan B mempunyai ketinggian yang berbeda,
dengan titik B lebih rendah daripada titik A. Jarak hori­
zontal L antara kedua tumpuan sama dengan 1 ,2 m Beban
P yang menggantung dari sebuah roda yang dapat
bergerak tanpa gesekan di sepanjang tali sampai berada
dalam posisi keseimbangan di C. Jika tali tersebut
mempunyai kekuatan putus S = 160 N, dan jika faktor
keamanan n = 2,5 diperlukan, berapakah beban izin P?
DESAIN TERHADAP BEBAN AKSIAL DAN
GESER LANGSUNG
1 .8-1 Sebuah elemen tekan di rangka batang gedung
harus dapat menyalurkan gaya aksial P = 34 k (lihat
gambar). Tebal dinding batang pipa tersebut adalah 0,375
in. Berapakah diameter luar minimum yang diperlukan
dmin jika tegangan tekan izin adalah 9000 psi?
�
p
p
...--
1 .8-2 Sebuah bantalan baja yang memikul mesin dan
peralatan berat terletak pada empat tiang besi tuang yang
pendek dan berlubang (lihat gambar). Setiap tiang
tersebut didesain terhadap beban tekan sebesar 280 kN.
Kekuatan tekan izin besi tuang tersebut 350 MPa.
Perencana memutuskan untuk mendesain tiang tersebut
dengan tebal dinding t sebesar I 0 mm dan faktor
keamanan 4,0 dengan menggunakan kekuatan ultimate.
Hitunglah diameter luar dmin yang dibutuhkan untuk tiang.
1 .8-3 Sebuah tabung aluminium yang berfungsi sebagai
penopang di badan dari sebuah pesawat terbang kecil
(lihat gambar) harus menahan gaya tekan P = 580 lb.
Untuk mencegah tekuk lokal dinding tabung, rasio di­
ameter luar d terhadap tebal t dinding tidak boleh
melebihi 1 0. Selain itu, agar berat batang tekan
seminimum mungkin, luas penampang harus sekecil
mungkin, yang berarti bahwa tegangan tekan harus sama
dengan tegangan izin sebesar 2000 psi. Berapakah di­
ameter luar terbesar yang diizinkan dmaks?
1 .8-4 Sebuah perahu digantung pada dua batang
lengkung di kapal, seperti terlihat dalam gambar. Sendi
yang melalui masing-masing batang memikul dua katrol,
satu di setiap sisi batang. Kabel yang terpasang di perahu
melewati katrol dan tergulung pada dongkrak yang dapat
menaikkan dan menurunkan perahu. Bagian bawah dari
kabel adalah vertikal dan bagian atasnya membentuk
sudut a = 1 8" dengan horizontal. Gaya tarik di masing­
masing kabel adalah T = 8,0 kN apabila perahu tersebut
diisi penuh. Berapakah diameter minimum dmin sendi yang
menembus batang Iengkung berdasarkan atas tegangan
geser izin 28 MPa?
Batang lengkung T T
1 .8-5 Sebuah balok horizontal AB yang dipikul oleh
batang tekan miring CD memikul beban P = 2600 lb di
D
Balok AB
�--'
Batang tekan CD
'
Baut
Mekanika Bahan 57
posisi yang terlihat dalam gambar. Batang tekan, yang
terdiri atas dua batang, disambung ke balok dengan baut
yang menembus ketiga batang yang bertemu di titik
hubung C. Jika tegangan geser izin baut adalah 1 3.500
psi, berapakah diameter baut minimum yang diperlukan
dmin?
1 .8-6 Dua batang yang berpenampang persegi panjang
dan masing-masing mengalami beban tarik P = 3 1 kN
disambung dengan satu baut AB (lihat gambar). Tegangan
geser izin di baut adalah 90 MPa dan tegangan tumpu
izin antara baut dan batang adalah 1 50 MPa. Jika tebal
batang t adalah 1 5 mm, tentukan diameter baut mini­
mum dmin· yang diperlukan.
A
p
B
1 .8-7 Sebuah silinder yang bertekanan mempunyai plat
penutup yang dikencangkan dengan baut baja (lihat
gambar). Tekanan p gas di silinder adalah 280 psi, di­
ameter dalam silinder D = 1 0 in., dan diameter baut db
adalah 0,5 in. Jika tegangan tarik izin di baut adalah
10.000 psi, carilah banyaknya n baut yang diperlukan
untuk mengencangkan plat penutup ini.
Plat penutup
1 .8-8 Sebuah kotak untuk mengangkut pekerja dan
barang-barang pada lokasi pelaksanaan pekerjaan
diangkut dengan menggunakan crane (lihat gambar).
Lantai kotak tersebut adalah persegi panjang dengan
dimensi 2,4 m kali 3,6 m. Setiap kabel di pojok kotak
tersebut mempunyai panjang 4,2 m dan terpasang di
58 Bab 1 Tarik, Tekan, dan Geser
pojok. Massa kotak dan isinya dibatasi oleh ketentuan
sebesar 4800 kg. Tentukan1ah luas penampang yang
diperlukan Ar di setiap kabe1 jika kekuatan putus kabe1
adalah 580 MPa dan faktor keamanan 3,5 terhadap
kegaga1an digunakan.
1 .8-9 Sebuah batang yang berpenampang persegi
panjang dan mempunyai lebar 2 in. serta tebal l/4 in.
mengalami beban aksial P (lihat gambar). Sebuah lubang
dengan diameter d dibor hingga menembus batang
tersebut untuk digunakan tumpuan sendi. Tegangan tarik
izin di potongan melintang neto batang adalah 20 ksi,
dan tegangan geser izin di sendi adalah 1 1 ,5 ksi. (a)
Tentukanlah diameter sendi dm agar P dapat maksimum.
(b) Tentukan harga beban maksimum Pma'-' tersebut.
p
p
1 .8-1 0 Sebuah kolom baja dari penampang lingkaran
yang berlubang terletak pada p1at landasan baja lingkaran
dan bantalan beton (lihat gambar). Kolom tersebut
mempunyai diameter d = 250 mm dan memikul beban
P == 750 kN. (a) Jika tegangan izin kolom adalah 55
MPa, berapakah tebal minimum yang diperlukan t?
Berdasarkan atas hasil tersebut, pilihlah tebal ko1om.
(Pilih tebal yang merupakan bilangan genap seperti 1 0,
12, 14, . . ., dalam satuan mm.) (b) Jika tegangan tumpu
izin di bantalah beton adalah 1 1.5 MPa, berapakah di­
ameter minimum yang diperlukan D untuk plat landasan
jika plat tersebut didesain terhadap beban izin P;,;n yang
dapat dipiku1 oleh kolom yang tebalnya telah dipilih?
Berdasarkan atas hasil tersebut. pilihlah diameter untuk
plat landasan. (Pilih tebal yang merupakan bilangan
genap, dalam satuan mm.)
p
Kolom
-- d ----+1
i
I
*1 .8-1 1 Sebuah 1engan prismatis yang panjangnya L
berotasi pada permukaan horizontal yang halus terhadap
sumbu vertikal yang melalui titik C dengan kecepatan
sudut konstan OJ (lihat gambar). Sebuah massa M1
terpasang di ujung bandul. Dengan menggunakan notasi
p untuk rapat massa bahan bandul dan a, untuk tegangan
tarik izin. turunkanlah rumus untuk luas penampang
lengan A yang diperlukan.
WA
c;;� -,j
' '
' '
L �1
�L
*1 .8-12 Sebuah batang datar yang lebamya b = 50 mm
dan teba1nya t = 6 mm dibebani tarik oleh gaya P (lihat
gambar). Batang tersebut terpasang ke tumpuan dengan
menggunakan sendi yang diametemya d yang menembus
1ubang yang berukuran sama di batang tersebut. Jarak
antara lubang dan ujung batang adalah h = 25 mm.
Tegangan tarik izin di potongan melintang neto dari
batang (di sepanjang bidang ab dan cd) adalah a1 = 1 12
MPa, tegangan geser izin di sendi adalah r2 = 64 MPa,
dan tegangan geser izin di batang di sepanjang bidang
eb danfc ada1ah r3 = 43 MPa. (Kegagalan di sepanjang
bidang eb danfc disebut "tear out. ") (a) Tentukan diam-
eter sendi dm agar beban P dapat maksimum. (b) Tentukan
harga beban pmaks yang berkaitan dengan diameter
tersebut.
e
f p
p
*1 .8-1 3 Dua batang identik AC dan BC harus memikul
beban vertikal P (lihat gambar). Jarak L antar tumpuan
tidak dapat diubah, sedangkan sudut e dapat diubah
dengan cara mengubah panjang batang. Kita mengamati
bahwa apabila sudut e menjadi lebih kecil, batang
tersebut menjadi lebih pendek tetapi luas penampangnya
menjadi lebih besar (karena gaya aksial yang bekerja
lebih besar). Sebaliknya, jika sudut emenjadi lebih besar,
maka batang menjadi lebih panjang dan luasnya menjadi
lebih kecil. Jadi, kita lihat bahwa berat struktur (yang
sebanding dengan volume) merupakan fungsi dari sudut
e. Tentukanlah sudut e sedemikian hingga struktur
mempunyai berat minimum tanpa melampaui tegangan
tarik izin pada batang. (Catatan: Berat batang sangat
kecil dibandingkan dengan gaya P dan dapat diabaikan.)
**1 .8-1 4Duabatang AC dan BC yang terbuat dari bahan
yang sama harus memikul beban vertikal P (lihat
gambar). Panjang L batang horizontal tidak dapat diubah,
tetapi sudut 2 dapat diubah-ubah dengan cara memindah­
kan tumpuan A dalam arah vertikal dan mengubah
panjang batang AC agar sesuai dengan posisi baru
tumpuan A. Tegangan izin di batang sama untuk tarik
Mekanika Bahan 59
dan tekan. Kita mengamati bahwa apabila sudut 2
berkurang, maka batang AC menjadi lebih pendek, tetapi
luas penampang kedua batang tersebut akan bertambah
(karena gaya aksialnya lebih besar). Efek sebaliknya
teijadi jika sudut e bertambah. Jadi, kita lihat bahwa
berat struktur ini (yang sebanding dengan volume)
bergantung pada sudut e. Tentukanlah sudut esedemikian
hingga strukturtersebut mempunyai berat minimum tanpa
melebihi tegangan izin di batang. (Catatan: Berat batang
jauh lebih kecil dibandingkan dengan gaya P sehingga
dapat diabaikan.)
***1 .8-15 Sebuah batang prismatis AB yang panjangnya
L dan mempunyaiberat W = 2.390 lb dipikul pada sudut
45" oleh batang baja tekan CD yang panjangnya U2
(lihat gambar). Batang tekan tersebutdiletakkan sedemi­
kian hingga gaya tekan yang dialaminya seminimum
mungkin. Tentukan luas penampang yang diperlukan A,
pada batang tekan jika tegangan tekan izin adalah aizin =
700 psi. (Abaikan berat batang tekan, dan asumsikan
kondisi sendi di titik A, C, dan D.) (Petunjuk: Misalkan
f3 adalah sudut antara batang tekan dan horizontal, yaitu
sudut ACD. Kemudian, nyatakan gaya tekan FcD di
batang tekan dalam sudut f3. Selanjutnya, carilah harga
f3 yang menghasilkan FcD minimum. Akhimya, dengan
diketahuinya harga f3, tentukanlah FCD dan luas A, yang
diperlukan.)
2
-
ELEMEN STRUKTUR
YANG DIBEBANI
SECARA AKSIAL
-·
2·•
1 I PENGANTAR
Komponen struktur yang hanya mengalami tarik atau tekan dikenal sebagai
elemen struktur yang dibebani secara aksial. Batang solid dengan sumbu
longitudinal lurus adalah jenis yang paling urnurn digun<>hn namun kabel
dan pegas koil juga dapat memikul beban aksial. Cc 1toh batang
yang dibebani secara aksial adalah elemen pada ran mg, batang
penghubung pada mesin, jeruji pada roda sepeda, kolom di gedung, dan
batang tekan di penopang mesin pesawat terbang. Perilaku tegangan­
regangan di elemen seperti ini telah dibahas pada Bab 1, di mana kitajuga
telah mendapatkan persamaan untuk tegangan yang bekerja pada
penampang (er = PIA) dan regangan di arah longitudinal (E = 0/L).
Di dalam bab ini kita tinjau beberapa aspek lain pada elemen struktur
yang dibebani secara aksial, dimulai dengan penentuan perubahan panjang
yang diakibatkan oleh beban (Subbab 2.2 dan 2.3). Perhitungan perubahan
panjang merupakan bagian yang sangat penting dalam analisis rangka
batang statis tak tentu, suatu topik yang diperkenalkan pada Subbab 2.4.
Perubahan panjang juga harus dihitung apabila peralihan suatu struktur
perlu dikontrol, apakah itu karena alasan estetika atau alasan fungsional.
Dalam Subbab 2.5, kitamembahas efek temperatur terhadap panjang batang
dan konsep tegangan-regangan termal. Tinjauan umum tegangan di batang
yang dibebani secara aksial dibahas dalam Subbab 2.6, di mana kita
membahas tegangan padapotongan miring (untuk membedakannya dengan
potongan melintang) dari suatu batang. Meskipun hanya tegangan normal
yang bekerja di suatu potongan melintang (penampang) dari batang yang
dibebani secara aksial, pada potongan miring ada tegangan normal dan
tegangan geser.
Selanjutnya kita membahas beberapa topik penting lain tentang
mekanika bahan, yang disebut energi regangan (Subbab 2.7), beban kejut
(Subbab 2.8), fatik (Subbab 2.9), konsentrasi tegangan (Subbab 2. 10), dan
perilaku nonlinier (Subbab 2.1 1 dan 2.12). Sekalipun masalah-masalah ini
dibahas dalam konteks elemen dengan beban aksial, pembahasannya
memberikan dasar untuk menerapkan konsep yang sama pada elemen
struktural lainnya, seperti batang yang mengalami tarsi dan balok yang
mengalami lentur.
Gambar 2-1 Pegas yang meng­
alami beban aksial P
---
Gambar 2-2 Perpanjangan pegas
yang dibebani secara aksial
f
J_ r:
-
::.
()
-��
/Jl
�--,
-
rn �
r
k 'P
I
--
ti'
r -
( -
r�
i.
"--- ·
Mekanika Bahan 61
PERUBAHAN PANJANG PADA ELEMEN STRUKTUR YANG
DIBEBANI SECARA AKSIAL
Dalam menentukan perubahan panjang elemen struktur yang dibebani
secara aksial, akan lebih mudah kalau dimulai dengan pegas koil (Gambar
2-1 ). Jenis pegas seperti ini banyak digunakan pada berbagai jenis mesin
dan peralatan-misalnya ada beberapa lusin pada sebuah mobil. Apabila
beban diterapkan di sepanjang sumbu pegas, seperti terlihat dalam Gambar
2-1, pegas tersebut akan memanjang atau memendek bergantung pada
arah beban. Jika beban bekerja menjauhi pegas, maka pegas akan
memanjang dan kita katakan bahwa pegas mengalami beban tarik. Jika
beban bekerja ke arah pegas, maka pegas akan memendek dan kita katakan
bahwa pegas tersebut mengalami tekan. Perlu diingat bahwa dalam
terrninologi ini, masing-masing koil dari pegas tidak mengalami tarik atau
tekan langsung, melainkan mengalami torsi (atau puntir) dan geser
langsung. Sekalipun demikian, perpanjangan atau perpendekan menyeluruh
suatu pegas analog dengan perilaku batang yang mengalami tarik atau
tekan, sehingga terminologi yang sama kita gunakan.
Perpanjangan suatu pegas ditunjukkan dalam Gambar 2-2. di mana
bagian atas dari gambar menunjukkan pegas pada saat panjangnya
merupakan panjang alami L Guga disebut panjang tak bertegangan,
panjang rileks, atau panjang bebas), dan bagian bawah dari gambar
menunjukkan efek penerapan beban tarik. Akibat aksi gaya P, pegas
tersebut memanjang sebesar 8 dan panjang akhirnya menjadi L + 8. Jika
bahan dari pegas tersebut elastis linier, maka beban dan perpanjangan
akan sebanding:
(2-la,b)
di mana k dan f adalah konstanta proporsionalitas. Konstanta k disebut
kekakuan pegas dan didefinisikan sebagai gaya yang menghasilkan
perpanjangan satuan, artinya k = P/8. Dengan cara sama, konstanta f
disebut fleksibilitas dandidefinisikan sebagai perpanjangan yang dihasilkan
oleh beban sebesar satu, artinyaf= 8/P. Meskipun dalam pembahasan ini
kita menggunakan pegas tersebut untuk tarik, jelaslah bahwa Persamaan
(2-1a) dan (2-1b) juga berlaku pada pegas yang mengalami tekan.
Dari pembahasan di atas, jelas bahwa kekakuan dan fleksibilitas pegas
merupakan kebalikan satu sama lainnya:
� - p ll ')
e$-·;_;;;¥-'}·.,.
. " . ,, (2-2a,b)
Fleksibilitas pegas dapat dengan mudah ditentukan dengan mengukur
perpanjangan yang dihasilkan dengan beban yang diketahui, dan kekakuan
dapat dihitung dari Persamaan (2-2a). Sebutan lain untuk kekakuan dan
fleksibilitas suatu pegas masing-masing adalah konstanta pegas dan
kesesuaian pegas.
Besaran pegas yang diberikan oleh Persamaan (2-1) dan (2-2) dapat
digunakan dalam analisis dan desain berbagai alat mekanis terrnasuk'pegas
seperti terlihat dalam Contoh 2-1 .
62 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
• Batang Prismatis
Gambar 2-3 Batang prismatis
yang mempunyai penampang
lingkaran
Penampang solid
Penampang berlubang
Penampang terbuka berdinding tipis
Gambar 2-4 Penampang elemen
struktur yang khas
Gambar 2-5 Perpanjangan batang
prismatis yang mengalami tarik
'
Batang yang dibebani secara aksial selalu memanjang akibat beban tarik
dan memendek akibat beban tekan, sebagaimana terjadi juga pada pegas.
Untuk menganalisis perilaku ini, tinjaulah batang prismatis yang terlihat
dalam Gambar 2-3. Batang prismatis adalah elemen struktur yang
mempunyai sumbu longitudinal lurus dan penampang konstan di seluruh
panjangnya. Meskipun kita sering menggunakan batang berpenampang
lingkaran di dalam ilustrasi, kita harus ingat bahwa elemen struktur
mungkin mempunyai penampang yang bukan lingkaran seperti terlihat
dalam Gambar 2-4.
Perpanjangan 8pada suatu batang prismatis yang mengalami beban
tarik P terlihat dalam Gambar 2-5. Jika beban bekerja melalui pusat berat
penampang ujung, maka tegangan normal terbagi rata di penampang yang
jauh dari ujung dapat dinyatakan dengan rumus a = PIA, di mana A
adalah luas penampang. Selain itu, jika batang tersebut terbuat dari bahan
yang homogen, maka regangan aksialnya adalah £ = 8/L, di mana 8 adalah
perpanjangan dan L adalah panjang batang. Asumsikan bahwa bahannya
elastis linier yang berarti bahwa hukum Hooke berlaku. Selanjutnya,
tegangan dan regangan longitudinal dapat dihubungkan dengan persamaan
a = Et:, di mana E adalah modulus elastisitas. Dengan menggabungkan
hubungan-hubungan dasar ini, maka kita dapat menghitung perpanjangan
batang:
(2-3)
Persamaan ini menunjukkan bahwa perpanjangan berbanding langsung
dengan beban P dan panjang L dan berbanding terbalik dengan modulus
elastisitas E serta luas penampang A. Hasil kali EA dikenal sebagai rigiditas
aksial suatu batang.
Meskipun Persamaan (2-3) diturunkan untuk elemen struktur yang
mengalami tarik, namun persamaan tersebut berlaku juga untuk elemen
struktur yang mengalarni tekan, di mana 8 menunjukkan perpendekan
batang. Biasanya kita dapat mengetahui dengan cepat apakah suatU elemen
struktur menjadi lebih panjang atau lebih pendek; namun, ada kalanya
dibutuhkan perjanjian tanda (misalnya, untuk menganalisis batang statis
tak tentu). Dalam hal seperti itu, perpanjangan biasanya bertanda positif
dan perpendekan bertanda negatif.
Perubahan panjang suatu batang biasanya sangat kecil dibandingkan
panjangnya, khususnya jika bahannya berupa metal struktural, misalnya
baja atau aluminium. Sebagai contoh, tinjaulah batang tekan aluminium
yang panjangnya 75,0 in dan mengalami tegangan tekan 7000 psi. Jika
modulus elastisitasnya 10.500 ksi, maka perpendekan batang tekan ini
(dari Persamaan 2-3 dengan PIA digantikan dengan a) adalah 8 = 0,050
in. Dengan demikian, rasio perubahan panjang terhadap panjang semula
adalah 0,05175, atau 111500, dan panjang akhimya adalah 0,999 kali
panjang semula. Pada kondisi seperti ini, kita dapat menggunakan panjang
semula suatu batang (bukan panjang akhir) dalam perhitungan.
Kekakuan dan fleksibilitas suatu batang prismatis didefinisikan dengan
cara yang sama seperti pada pegas. Kekakuan adalah gaya yang dibutuhkan
Mekanika Bahan 63
untuk menghasilkan perpanjangan satuan, atau P/8, dan fleksibilitas adalah
perpanjangan akibat beban satuan, atau 8/P. Jadi, dari Persamaan (2-3),
kita lihat bahwa kekakuan dan fleksibilitas suatu batang prismatis masing­
masing adalah
(2-4a,b)
Kekakuan dan fleksibilitas suatu elemen struktural, termasuk yang diberikan
dengan Persamaan (2-4a) dan (2-4b), mempunyai peran khusus dalam
analisis struktur besar dengan menggunakan metode yang berorientasi
komputer.
• Kabel
Gambar 2-6 Susunan tipikal
strand dan wire pada kabel baja
'
Kabel digunakan untuk menyalurkan gaya tarik besar, sebagai contoh,
untuk menarik dan mengangkat benda berat, menaikkan elevator, dan
memikul jembatan gantung. Tidak seperti pegas dan batang prismatis,
kabel tidakdapat menahan tarik. Selain itu, kabel hanya mempunyai sedikit
tahanan terhadap lentur sehingga sangat mudah menjadi berbentuk
lengkung, bukannya lurus. Sekalipun demikian, kabel biasanya dipandang
sebagai elemen struktur yang dibebani secara aksial karena hanya
mengalami gaya tarik. Karena gaya tarik di kabel mempunyai arah di
sepanjang sumbunya, maka gaya-gayanya dapat bervariasi, baik arah
maupun besamya, bergantung pada konfigurasi kabel dan lokasi potongan
yang ditinjau.
Kabel terbuat dari sejumlah besar kawat yang dijalin secara teratur.
Ada banyak jalinan kabel yang masing-masing bergantung pada tujuan
penggunaannya. Salah satu yang umum terlihat dalam Gambar 2-6, yang
dibentuk oleh enam strand yang dijalin secara helikal di sekeliling strand
tengah. Setiap strand terdiri atas banyak kawat kecil, yang juga dijalin
secara helikal. Karena itulah, kabel sering juga disebut sebagai tali kawat.
Luas penampang kabel sama dengan luas penampang total masing­
masing kawat, yang disebut luas efektif atau luas metalik. Luas ini lebih
kecil daripada luas Jingkaran yang mempunyai diameter yang sama dengan
kabel karena ada ruang antara masing-masing kawat. Sebagai contoh, luas
penampang aktual (luas efektif) suatu kabel yang berdiameter 1 ,0 in
hanyalah 0,471 in2, sedangkan luas lingkaran yang berdiameter 1,0 in.
adalah 0,785 in2
.
Jika dibebani tarik, perpanjangan suatu kabel lebih besar daripada
perpanjangan batang solid dari bahan dan luas penampang metalik yang
sama karena kawat "mengencang" seperti yang terjadi pada serat pada tali
rami. Jadi, modulus elastisitas (disebut modulus efektif) suatu kabel lebih
kecil daripada modulus bahan pembentuk kabel. Modulus efektif kabel
baja sekitar 20.000 ksi (140 GPa), di mana baja sendiri mempunyai modulus
sekitar 30.000 ksi (210 GPa). Dalam menentukan perpanjangan kabel dari
Persamaan (2-3), modulus efektif harus digunakan untuk E dan luas efektif
harus digunakan untuk A.
Di dalam praktek, dimensi melintang dan besaran kabel lainnya
diperoleh dari pabrik kabel yang bersangkutan. Dalam memecahkan soal­
soal dalam buku ini (dan jelas bukan untuk aplikasi teknik), dicantumkan
r
64 Bab 2 E/emen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Tabel 2-1 yang memuat besaran suatu jenis kabel. Perhatikan bahwa kolom
terakhir dalam tabel tersebut memuat kekuatan putus, atau beban ultimit.
Beban izin diperoleh dengan menerapkan suatu faktor keamanan yang
mempunyai harga dari 3 sampai 10, bergantung pada bagaimana kabel
tersebut akan digunakan. Masing-masing kawat pada kabel biasanya terbuat
dari baja yang berkekuatan tinggi, dan tegangan tarik yang dihitung pada
beban putus dapat setinggi 20.000 + 0 psi (1400 MPa).
Tabel 2-1 Besaran Kabel Baja
Diameter Berat Luas Kekuatan
nominal kira-kira efektif Putus
(in.) (lb/ft) (in
2
) (!b)
0,50 0,42 0,1 19 23.100
0,75 0,95 0,268 5 1.900
1 ,00 1,67 0,471 91.300
1,25 2,64 0,745 144.400
1,50 3,83 1 ,08 209.000
1 ,75 5,24 1 ,47 285.000
2,00 6,84 1 ,92 372.000
Contoh berikut ini menggambarkan cara menganalisis suatu peralatan
sederhana yang terdiri atas pegas-pegas dan batang-batang. Solusinya
membutuhkan penggunaan diagram benda bebas, persamaan keseimbangan,
dan persamaan untuk perubahan panjang. Soal-soal di akhir bab dapat
digunakan sebagai contoh tambahan.
• Contoh 2-1
Sebuah rangka kaku ABC yang berbentuk L terdiri atas batang horizontal AB
(panjang b = 1 1,0 in) dan batang vertikal BC (panjang c = 9,5 in) ditahan di titik
B, seperti terlihat dalam Garnbar 2-7a. Titik B tersebut terhubung pada rangka luar
BCD yang terletak di atas bangku laboratorium. Posisi penunjuk di C dikontrol
oleh sebuah pegas (kekakuan k = 4,2 lb/in.) yang terpasang pada batang berulir.
Posisi batang berulir dapat disesuaikan dengan cara memutar mur. Pitch pada
uliran (yaitu jarak dari satu ulir ke ulir berikutnya) adalah p = 1/16 in, yang berarti
bahwa satu putaran penuh dari mur akan menggerakkan batang sama besarnya.
Pada awalnya, mur diputar hingga penunjuk di ujung batang BC tepat berada di
atas tanda referensi rangka luar.
Jika suatu benda yang beratnya W = 2 lb diletakkan pada penggantung di A,
berapa putaran mur yang dibutuhkan untuk membawa penunjuk kembali ke posisi
tanda? (Deformasi bagian-bagian metal dapat diabaikan karena biasanya kecil
dibandingkan perubahan panjang pegas.)
(a)
Gambar 2-7 Contoh 2-1. Rangka
ABC yang berbentuk L yang ber­
tumpuan di B
Solusi
Mekanika Bahan 65
w
------ b ------•1
w
F
c
(b)
Pemeriksaan alat ini menunjukkan bahwa bobot W yang bekerja ke bawab akan
menyebabkan penunjuk C bergerak ke kanan. Apabila penunjuk bergerak ke kanan,
maka pegas akan memanjang sejauh tertentu yang dapat dihitung dari gaya F yang
beketja di pegas. Gaya F dapat dihitung dari diagram benda bebas rangka dalam
Gambar 2-7b. Perhatikan bahwa reaksi di titik B ditunjukkan dengan garis panab
yang dicoret (lihat pembahasan tentang reaksi di akhir Subbab 1 .8).
Dengan mengambil momen terhadap titik B,
F = Wb
c
(a)
Perpanjangan oyang berkaitan dengan gaya tersebut (dari Persamaan 2-l a) adalah
(b)
Untuk mengembalikan penunjuk ke posisi tanda, kita hams memutarkan mur agar
batang berulir dapat bergerak ke kiri sedemikian hingga besarnya gerakan sama
dengan perpanjangan pegas. Karena setiap satu putaran mur menggerakkan batang
sejauh sama dengan pitch p, maka gerakan total batang akan sama dengan np, di
mana n adalah banyaknya putaran. Jadi
np = O =
Wb
ck
sehingga kita mendapatkan rumus untuk banyaknya putaran mur:
Wb
n = -
ckp
(c)
(d) •
Untuk mendapatkan hasil numerik, kita memasukkan data yang ada ke dalam
Persamaan (d), sebagai berikut
Wb (2 lb)( l l ,O in.) """'"
n = - = = 8,8 putaran ._
ckp (9,5 in.)(4,2 lb/in.)(l/l6 in.)
Hasil ini menunjukkan bahwa jika kita memutar mur sampai 8,8 putaran, maka
batang berulir akan bergerak ke kiri sejauh sama dengan perpanjangan pegas yang
diakibatkan oleh beban 2 lb, sehingga mengembalikan penunjuk ke tanda referensi.
66 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
• Contoh 2.2
Suatu struktur yang terlihat dalam Gambar 2-8a terdiri atas balok horizontal ABC
yang ditumpu oleh dua batang vertikal BD dan CE. Batang CE mempunyai sendi
di kedua ujungnya tetapi batang BD adalah jepit di pondasi di ujung bawahnya.
Jarak dari A ke B adalah 450 mm dan dari B ke C adalah 225 mm. Batang BD
dan CE mempunyai panjang masing-masing 480 mm dan 600 mm. Batang-batang
ini terbuat dari baja yang mempunyai modulus elastisitas E = 205 GPa. Dengan
mengasumsikan bahwa balok ABC adalah kaku, carilah beban izin maksimum
Pmaks jika peralihan di titik A dibatasi I ,0 mm.
Solusi
Untuk mencari peralihan titik A, kita perlu mengetahui peralihan titik B dan C.
Dengan demikian, kita harus mencari perubahan panjang batang BD dan CE,
dengan menggunakan persamaan umum 8 = PUEA (Persamaan 2-3). Kita mulai
dengan mencari gaya-gaya di batang dari diagram benda bebas (Gambar 2-8b).
Karena batang CE mempunyai sendi di kedua ujungnya, maka ini merupakan
elemen "dua-gaya" dan hanya menyalurkan gaya vertikal FCE
ke balok. Sedangkan
batang BD dapat menyalurkan baik gaya vertikal maupun gaya horizontal. Dari
keseimbangan balok ABC di arah horizontal, kita melihat bahwa gaya-gaya hori­
zontal haruslah no!.
Dua persamaan keseimbangan lainnya memungkinkan kita menyatakan gaya
FBD dan FCE
dalam beban P. Jadi, dengan mengambil momen terhadap titik B dan
menjumlahkan gaya-gaya dalam arah vertikal, maka kita dapatkan
FeE = 2P (e)
Perhatikan bahwa gaya FCE
bekerja ke bawah di batang ABC dan gaya FBD bekerja
ke atas. Dengan demikian, elemen struktur CEmengalami tarik dan elemen struktur
BD mengalami tekan.
Perpendekan elemen BD adalah
s: FBDLBD
0
BD :=
EABD
=
(3 P)(480 mm)
= 6 887 p x 10--6 mm (P = newton) (f)
(205 GPa)(l020 mm2) '
Perhatikan bahwa perpendekan 8
BD dinyatakan dalam mm asalkan beban P
dinyatakan dalam newton. Dengan cara sama, perpanjangan elemen CE adalah
8
CE =
F
CELCE
EAcE
=
(2 ?)(600 mm)
= 1 1,26 P x 10
--6
mm
(205 GPa)(520 mm2 )
(P = newton) (g)
Peralihan di sini pun dinyatakan dalam mm asalkan beban P dinyatakan dalam
newton. Dengan diketahuinya perubahan panjang kedua batang, maka kita dapat
mencari peralihan di titik A.
Diagram peralihan yang menunjukkan posisi relatif titik A, B, dan C
ditunjukkan dalam Gambar 2-8c. Garis ABC menunjukkan posisi awal ketiga titik.
Sesudah beban Pdikeljakan, elemen BD memendek sebesar 8
BD dan titik B bergerak
ke B'. Selain itu, elemen CE memanjang sebesar 8CE, dan titik C bergerak ke C'.
Karena balok ABC diasumsikan kaku, maka titik A � B', dan C' terletak pada
sebuah garis lurus.
Agar lebih jelas, semua peralihan digambar dengan sangat dibesarkan. Pada
kenyataannya garis ABC berotasi dengan sudut yang sangat kecil ke posisi baru
A 'B'C' (lihat Catatan 2 di akhir contoh ini).
Gambar 2-8 Contoh 2-2. Balok
horizontal ABC yang ditumpu oleh
dua batang vertikal
Mekanika Bahan 67
p
450 mm 225 mm
600 mm
D
120 mmT--''--------- E
(a)
FeE
450 mm 225 mm
(b)
A" �- B" c
- - - - - - - - - - - - -
A : ()CE
c
{)A
A'
I 450 mm 225 mm
(c)
Dengan menggunakan segitiga yang sama, kita sekarang dapat mencari hubungan
antara peralihan di titik A, B, dan C. Dari segitiga A J1 "C'dan B'B"C'kita peroleh
A'A" B'B" 8A + DcE 8BD + DcE
-- = -- atau = -E
"--
-.!d2..
A"C' B"C' 450 + 225 225
(h)
di mana semua suku dinyatakan dalam mm. Dengan memasukkan 8BD dan 8cE
dari Persamaan (f) dan (g) didapatkan
8A + 1 1,26? X 10-6 _ 6,887P X 10-6 + 1 1,26? X 10-6
450 + 225 225
Akhimya, kita substitusikan 8A dengan harga batas sebesar 1,0 mm dan kita
pecahkan persamaan tersebut untuk mendapatkan beban P. Hasilnya adalah
P = Pmaks = 23.200 N (atau 23,2 kN)
Apabila beban mencapai harga ini, maka peralihan ke bawah di titik A adalah
l ,O mm.
68 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Catatan 1: Karena struktur ini berpelilaku secara elastis Jinier, maka peralihan
akan sebanding dengan besamya beban. Misalnya, jika bebannya setengah Pmaks'
artinya jika P = 1 1 ,6 kN, maka peralihan titik A ke bawah adalah 0,5 mm.
Catatan 2: Untuk menyelidiki kebenaran bahwa garis ABC berotasi dengan
sudut yang sangat kecil. kita dapat menghitung sudut rotasi adali diagram peralihan
(Gambar 2-8c) sebagai belikut:
A'A" 8A + 8CE
tan a = -- = --'-'---""'"'
A"C' 675 mm
(i)
Peralihan �� titik A ada1ah 1 .0 mm. dan perpanjangan DcE batang CE didapat dari
(g) dengan memasukkan P = 23.200 N; hasi1nya adalah 8CE = 0,261 mm. Dengan
demikian, dari Persamaan (il kita peroleh
tan a =
1 ,0 mm + 0.261 mm = 1,261 mm
= 0,001868
675 mm 675 mm
di mana a = 0,1 1°. Sudut ini sedemikian k.eci1nya sehingga jika kita mencoba
untuk menggambar diagram peralihan dengan ska1a, kita tidak dapat membedakan
antara galis semula ABC dan garis yang telah berotasi A 'B'C'. Jadi, dalam bekerja
dengan diagram peralihan. kita biasanya dapat memandang peralihan sebagai
besaran yang sangat kecil sehingga dapat menyederhanakan geometri. Dalam contoh
ini, kita dapat mengasumsikan bahwa titik A, B, dan C bergerak hanya dalam arah
vertikal, sedangkan jika peralihan sangat besar, maka kita mungkin harus
memandang titik-titik tersebut bergerak pada alur yang lengkung.
L_ ------------------------------------------------
PERUBAHAN PANJANG BATANG YANG TIDAK SERAGAM
Apabila suatu batang prismatis dari bahan elastis linier dibebani hanya di
ujung-ujungnya, maka kita dapat memperoleh perubahan panjangnya dari
persamaan 8 = PUEA, sebagaimana diterangkan dalam subbab sebelum
ini. Di dalam subbab ini kita akan melihat bagaimana persamaan yang
sama dapat digunakan untuk situasi yang lebih umum.
Tinjaulah, sebagai contoh, suatu batang prismatis yang dibebani oleh
satu atau lebih beban aksial yang bekerja pada titik-titik antara di sepanjang
sumbunya (Gambar 2-9a). Kita dapat menentukan perubahan panjang
batang ini dengan secara aljabar menjumlahkan perpanjangan dan
perpendekan masing-masing segmen. Prosedurnya adalah sebagai berikut:
(l) Identifikasikan segmen-segmen batang ini (segmen AB, BC, dan CD)
masing-masing sebagai segmen 1 , 2, dan 3. (2) Tentukan gaya aksial
internal N1, N2, dan N3 di masing-masing segmen dari diagram benda
bebas dalam Gambar 2-9b, c, dan d. Perhatikan bahwa gaya aksial inter­
nal diberi notasi N untuk membedakannya dengan beban luar P. Dengan
menjumlahkan gaya-gaya dalam arah vertikal, kita dapat memperoleh
ekspresi berikut untuk gaya aksial
Dalam menulis persamaan di atas, kita menggunakan perjanjian tanda
yang telah disebutkan dalam subbab sebelum ini (gaya aksial internal
Gambar 2-9 (a) Batang dengan
beban luar yang bekerja di titik-titik
antara. (b), (c), dan (d) diagram
benda bebas yang menunjukkan
gaya aksial internal N1 , N2• dan N3'
Gambar 2-1 0 Batang yang terdiri
atas segmen-segmen prismatis yang
mempunyai gaya aksial berbeda, di­
mensi berbeda, dan bahan berbeda.
Mekanika Bahan 69
bertanda positifjika tarik, dan negatif jika tekan). (3) Tentukan perubahan
panjang masing-masing segmen dari Persamaan (2-3):
8
-
NtLt
1
- EA
8 -
N3L:3
3 - EA
di mana Ll' L2, dan L3 adalah panjang masing-masing segmen dan EA
adalah rigiditas aksial batang. (4) Jumlahkan 81' 82, dan 83 untuk
mendapatkan perubahan panjang batang secara keseluruhan:
8 = 81 + 82 + 83
Seperti telah diuraikan, perubahan panjang harus dijumlahkan secara
aljabar, dengan perpanjangan bertanda positif dan perpendekan bertanda
negatif.
t
I
Lz
l
-�
r D D
(a) (b) (c) (d)
Metode yang sama dapat digunakan jika batang terdiri atas beberapa
segmen prismatis, yang masing-masing mempunyai gaya aksial berbeda,
dimensi berbeda, dan bahan berbeda (Gambar 2-10). Perubahan panjang
dapat diperoleh dari persamaan
(2-5)
di mana subskrip i adalah indeks penomoran untuk berbagai segmen batang
dan n adalah banyak total segmen. Ingat bahwa Ni bukanlah beban ekstemal
melainkan gaya aksial internal di segmen i.
Kadang-kadang gaya aksial Ndan luas penampang A bervariasi secara
kontinu di sepanjang sumbu batang, seperti digambarkan dengan batang
tak prismatis dalam Gambar 2-l la. Batang ini tidak hanya mempunyai
penampang yang bervariasi secara kontinu, melainkan juga mempunyai
gaya aksial yang bervariasi secara kontinu (karena bebannya terdistribusi
di sepanjang sumbunya). Beban aksial yang terdistribusi dapat ditimbulkan
oleh gaya sentrifugal, gaya gesekan, atau oleh berat batang jika posisinya
r·
-
70 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Gambar 2-1 1 Batang dengan luas
penampang yang bervariasi dan
gaya aksial yang bervariasi.
c
(a) (b) (c)
vertikal. Pada kondisi-kondisi tersebut kita tidak dapat lagi menggunakan
Persamaan (2-5) untuk menghitung perubahan panjang. Sebagai gantinya,
kita harus menentukan perubahan panjang elemen diferensial dari batang
(Gambar 2-1 la) dan mengintegrasikan di seluruh panjang batang.
Kita memilih elemen diferensial pada jarak x dari ujung kiri batang
(Gambar 2-1 la). Gaya aksial internal N(x) yang bekerja di penampang ini
(Gambar 2-1 1b) dapat ditentukan dari keseimbangan dengan menggunakan
segmen AC atau segmen CB sebagai benda bebas. Pada umumnya, gaya
ini merupakan fungsi dari x. Juga, dengan mengetahui dimensi batang,
kita dapat mengekspresikan luas A(x) sebagai fungsi dari x. Perpanjangan
do pada elemen diferensial (Gambar 2-1 lc) dapat dihitung dari persamaan
o = PUEA dengan memasukkan N(x) untuk P, dx untuk L, dan A(x)
untuk A, sebagai berikut:
do =
N(x)dx
EA(x)
Perpanjangan batang secara keseluruhan dapat dihitung dengan
mengintegrasi persamaan di seluruh panjang:
(2-6)
Jika ekspresi untuk N(x) dan A(x) tidak begitu rumit, maka integrasi ini
dapat dilakukan secara analitis dan rumus untuk o dapat diperoleh, seperti
digambarkan dalam Contoh 2-4. Namun, jika integrasi formal sulit atau
tidak mungkin, maka metode numerik untuk mengevaluasi integral harus
digunakan.
Persamaan (2-5) dan (2-6) hanya berlaku pada batang yang terbuat
dari bahan yang elastis linier, seperti terlihat dengan adanya modulus
elastisitas E di dalam rumusnya. Juga, rumus o = PUEA diturunkan dengan
menggunakan asumsi bahwa distribusi tegangan terbagi rata di setiap
penampang (karena distribusi tersebut berdasarkan atas rumus <J = PIA).
Asumsi ini berlaku untuk batang prismatis tetapi tidak berlaku untuk batang
yang meruncing sehingga Persamaan (2-6) memberikan basil yang baik
untuk batang yang meruncing hanya jika sudut antara sisi-sisi batang
kecil. Sebagai ilustrasi,jika sudut antara sisi-sisi adalah 20°, maka tegangan
yang dihitung dari persamaan <J = PIA (pada penampang yang dipilih
secara bebas) adalah 3% lebih kecil daripada tegangan eksak di penampang
yang sama yang dihitung dengan metode lain yang lebih lanjut. Untuk
Mekanikct Bahan 71
sudut yang lebih kecil, galat (error) ini lebih kecil. Dengan demikian, kita
dapat mengatakan bahwa Persamaan (2-6) cukup memadai jika sudut
peruncingan kecil. Jika sudut tersebut besar, maka metode analisis yang
lebih akurat dibutuhkan (Ref. 2-1).
Contoh berikut ini menggambarkan penentuan perubahan panjang
batang yang tak prismatis.
• Contoh 2-3
Gambar 2-1 2 Contoh 2-3.
Perubahan panjang batang yang
tidak prismatis (batang ABC)
'
Sebuah batang baja vertikal ABC ditumpu di ujung atasnya dan dibebani oleh
gaya P1 di ujung bawahnya (Gambar 2-l2a). Sebuah balok horizontal BDE
dihubungkan dengan batang vertikal tersebut dengan menggunakan sendi di titik
hubung B dan balok tersebut ditumpu di titik D. Balok tersebut memikul beban
P2 di ujung E.
Bagian atas dari batang vertikal (segmenAB) mempunyai panjang L1 = 20,0
in. dan luas penampang A 1 = 0,25 in
2
; bagian bawahnya ( segmen BC) mempunyai
panjang L� = 30,0 in. dan luas A2 = 0,16 in
2
. Modulus elastisitas E baja adalah
29,0 x 10 psi. Bagian kiri dan kanan balok BDE mempunyai panjang masing­
masing a = 28 in. dan b = 25 in.
Hitunglah peralihan vertikal Oc di titik Cjika beban P1 = 2250 lb dan beban
P2 = 5800 lb. (abaikan berat batang dan balok.)
(a)
Solusi
1-------
a-�+---- b-------+1
C fa -· · �
:'fiJ'T H ! Tiiilt)
tRD
(b)
c
(c)
Gaya aksial di batang ABC. Dari Gambar 2-12a, kita lihat bahwa peralihan vertikal
titik C sama dengan perubahan panjang batang ABC. Dengan demikian, kita harus
mencari gaya aksial di kedua segmen batang. Gaya aksial N1 di segmen bawah
sama dengan beban P1. Gaya aksial N2 di segmen atas dapat dicari jika kita
mengetahui gaya yang diberikan oleh balok ke batang. Gay.t ini dapat diperoleh
dari diagram benda bebas balok (Gambar 2-1 2b), di mana gaya yang bekerja di
balok (dari batang vertikal) diberi notasi P3 dan reaksi vertikal di tumpuan D
diberi notasi RD. Tidak ada gaya horizontal yang bekerja antara batang dan balok,
sebagaimana dapat kita lihat pada diagram benda bebas batang vertikal (Gambar
2-12c). Dengan demikian, tidak ada reaksi horizontal di tumpuan D.
72 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Dengan mengambil momen terhadap titik D untuk diagram benda bebas
balok (Gambar 2-12b), maka
p
3
=
P2b
=
(5800 lb)(25,0 in) = 5179 lb
a 28,0 in
Gaya ini bekerja ke bawah pada balok dan ke atas pada batang vertikal (Gambar
2-1 2c).
Sekarang kita dapat menentukan reaksi ke bawah tumpuan batang di A
(Gambar 2-1 2c):
RA = P3 - P1 = 5179 lb - 2150 lb = 3029 lb
Bagian atas dari batang vertikal (segmen AB) mengalami gaya aksial tekan N1 yang
sama dengan RA, yaitu 3029 lb. Bagian bawah (segmen BC) memikul gaya tarik
aksial N2 sama dengan PI' yaitu 2250 lb. (Sebagai alternatif, kita dapat memperoleh
hasil yang sama dengan menggunakan diagram benda bebas keseluruhan struktur,
bukannya diagram benda bebas BDE.)
Perubahan panjang. Dengan menggunakan perjanjian tanda positif untuk
tarik, Persamaan (2-5) menghasilkan
8 =
� N;L;
=
N1� +
N2Lz
L-J E;A; EA1 EA2
i=l
_
__,
(�
-=-
30
:..:
2
:_:_
9
7
Ib
::.c
)_c:
(2
::...:
0
..:..
,0
=--I
=
·n""
.)
-----o-
+ (2250 lb)(32,0 in.)
(29,0 x 106 psi)(0,25 in.2 ) (29, 0 x 106 psi)(0,16 in.Z)
-0,0084 in. + 0,0155 in. = 0,0071 in.
di mana 8 adalah perubahan panjang di batang ABC. Karena 8 positif, maka
batang tersebut memanjang. Peralihan titik C sama dengan perubahan panjang
batang.
De = 0,0071 in.
Peralihan ini ke bawah.
• Contoh 2-4
Sebuah batang AB yang agak meruncing yang mempunyai penampang lingkaran
dan panjang L (Gambar 2-13a) ditumpu di ujung B dan mengalami beban tarik P
di ujung bebas A. Diameter batang di ujung A dan B masing-masing adalah dA dan
dB. Tentukanlah perpanjangan batang ini akibat beban P.
B I x -------.
0�---����re��-�A
------L------.
I: L,
.-
LB
_
_
_
L----
Gamba r 2 - 1 3 Contoh 2-4
Perubahan panjang batang yang
meruncing dan mempunyai pe­
nampang lingkaran.
Solusi
Batang yang dianalisis dalam contoh ini mempunyai gaya aksial konstan (sama
dengan beban P) di seluruh panjangnya. Namun, luas penampang bervariasi secara
kontinu dari satu ujung ke ujung lainnya. Dengan dernikian, kita hams menggunakan
integrasi (lihat Persamaan 2-6) untuk menentukan perubahan panjang.
Mekanika Bahan 73
Luas penampang. Langkah pertama dalam penyelesaian soal ini adalah mendapatkan
ekspresi untuk luas penampang A(x) di sembarang penampang batang. Untuk itu,
kita harus menggunakan titik awal koordinat x. Salah satu kemungkinan adalah
dengan menempatkan titik awal koordinat di ujung bebas A dari batang. Namun,
integrasi yang akan dilakukan akan sedikit lebih mudah kalau kita memilih titik
awal koordinat dengan meneruskan sisi-sisi batang yang meruncing hingga bertemu
di titik 0, seperti terlihat dalam Gambar 2- 13b.
Jarak LA dan L8 dari titik awal 0 ke ujung A dan B mempunyai rasio
LA =
dA
LB dB
(a)
yang diperolehdari segitiga sebangun dalam Gambar 2- 13b. Dari segitiga sebangun
juga kita dapat memperoleh rasio diameter d(x) di jarak x dari titik awal terhadap
diameter dA di ujung kecil batang:
atau (b)
Dengan demikian, luas penampang melintang pada jarak x dari titik awal adalah
2 7rd2 2
A(x) =
7r[d(x)] =
�
4 4L:4
(c)
Perubahan panjang. Kita sekarang memasukkan ekspresi untuk A(x) ke dalam
Persamaan (2-6) dan mendapatkan perpanjangan 8:
(d)
Dengan melakukan integrasi (lihat Lampiran C untuk rumus-rumus integrasi) dan
memasukkan batas-batasnya, kita dapatkan
Ekspresi untuk o dapat disederhanakan dengan mengingat bahwa
Jadi, persamaan untuk 8 menjadi
(e)
Akhimya, kita masukkan LiL8 = dA/d8 (lihat Persamaan a) dan kita dapatkan
8 =
(2-7) ..
Rumus ini memberikan perpanjangan batang yang meruncing dengan penampang
lingkaran. Dengan memasukkan harga-harga numerik, kita dapat menentukan
perubahan panjang untuk suatu batang.
Catatan 1 : Kesalahan yang umum terjadi adalah mengasumsikan bahwa
perpanjangan suatu batang yang meruncing dapat ditentukan dengan menghitung
perpanjangan batang prismatis yang mempunyai luas penampang sama dengan
luas penampang di potongan tengah batang yang meruncing tersebut. Dengan
memperhatikan Persamaan (2-7) terlihat jelas bahwa hal ini tidaklah benar.
74 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
B
Gambar 2-14 Batang statis
tertentu
B
Gambar 2-15 Batang statis tak
tentu
Catatan 2: Rumus untuk batang yang meruncing (Persamaan 2-7) dapat
disederhanakan menjadi kasus khusus batang prismatis dengan memasukkan dA =
d8 = d. Hasilnya adalah
yang kita ketahui memang benar adanya.
Rumus umum seperti Persamaan (2-7) harus dicek sejauh mungkin dengan
menyelidiki apakah rumus tersebut akan tereduksi menjadi rumus yang benar
untuk kasus-kasus yang lebih sederhana. Jika reduksi tersebut tidak memberikan
hasil yang benar, maka rumus semula mengandung kesalahan. Jika hasil yang
benar diperoleh, maka rumus semula masih mungkin tidak benar tetapi keyakinan
kita meningkat. Dengan perkataan lain jenis pengecekan seperti ini merupakan
kondisi perlu tetapi belum cukup untuk menyelidiki kebenaran rumus semula.
STRUKTUR STATIS TAK TENTU
Pegas, batang, dan kabel yang kita bahas sejauh ini mempunyai kondisi
penting yang sama-reaksi dan gaya-gaya internalnya dapat ditentukan
cukup dengan menggunakan diagram benda bebas dan persamaan
keseimbangan. Jenis struktur seperti ini disebut statis tertentu. Kita perlu
mengingat khususnya bahwa gaya-gaya pada struktur statis tertentu dapat
diperoleh tanpa harus mengetahui besaran bahan. Tinjaulah, sebagai contoh,
batang AB yang terlihat dalam Gambar 2-14. Perhitungan untuk gaya
aksial internal di kedua bagian batang, selain juga untuk reaksi R di dasar,
tidak bergantung pada bahan pembentuk batang tersebut.
Kebanyakan struktur lebih rumit daripada batang yang ada pada
Gambar 2- !4, dan reaksi serta gaya internalnya tidak dapat diperoleh
dengan statika saja. Situasi ini digambarkan dalam Gambar 2-15, yang
menunjukkan sebuah batang AB yang terjepit di kedua ujung. Sekarang
ada dua reaksi vertikal (RA dan R8) tetapi hanya satu persamaan
keseimbangan yang dapat digunakan, yaitu persamaan yang menjumlahkan
gaya-gaya dalam arah vertikal. Kar�na persamaan ini mengandung dua
anl!_, maka persamaan tersebut tidak cukup untuk mencari reaksi. Struktur
seperti ini dikelompokkan ke dalam struktur statis tak tentu. Untuk
menganalisis struktur seperti ini kita harus melengkapi persamaan
keseimbangan dengan persamaan tambahan yang berkaitan dengan
peralihan struktur.
Untuk melihat bagaimana struktur statis tak tentu dianalisis, tinjaulah
contoh dalam Gambar 2-16a. Batang prismatis AB terjepit di tumpuan
kaku di kedua ujungnya dan secara aksial dibebani P di titik tengah C.
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, RA dan R8 tidak dapat diperoleh
dari statika saja karena hanya ada satu persamaan keseimbangan:
(a)
Persamaan tambahan diperlukan untuk memecahkan kedua reaksi yang
belum diketahui tersebut.
Persamaan tambahan dimaksud didasarkan atas pengamatan bahwa
sebuah batang dengan kedua ujungnya terjepit tidak berubah panjangnya.
Jika kita memisahkan batang tersebut dari tumpuannya (Gambar 2-16b),
kita dapatkan bahwa batang tersebut bebas di kedua ujungnya dan dibebani
B
(a) (b)
Gambar 2-1 6 Analisis batang
statis tak tentu
Mekanika Bahan 75
oleh tiga gaya, RA, R8, dan P. Ketiga gaya ini menyebabkan batang tersebut
berubah panjang sebesar DAB' yang harus sama dengan nol:
DAB = 0 (b)
Persamaan ini, yang disebut persamaan keserasian (kompatibilitas),
menunjukkan fakta bahwa perubahan panjang batang harus serasi dengan
kondisi tumpuan.
Untuk memecahkan Persamaan (a) dan (b), kita harus menyatakan
persamaan keserasian dalam gaya yang belum diketahui RA dan R8.
Hubungan antara gaya-gaya yang bekerja di batang dan perubahan panjang
dikenal dengan hubungan gaya-peralihan. Hubungan ini mempunyai
berbagai bentukbergantung padabesaran bahan. Jika bahantersebutbersifat
elastis linier, maka persamaan D = PUEA dapat digunakan untuk
memperoleh hubungan gaya-peralihan.
Asumsikan bahwa batang dalam Gambar 2-16 mempunyai luas
penampang A dan terbuat dari bahan dengan modulus E. Selanjutnya,
perubahan panjang segmen atas dan bawah batang masing-masing adalah
D -
RAa
Ae -
EA
(c,d)
di mana tanda minus menunjukkan perpendekan batang. Hubungan gaya­
peralihan sekarang digabungkan agar menghasilkan perubahan panjang
keseluruhan batang:
DAB = DAe + Den = i: - ;:
Jadi, persamaan keserasian (Persamaan b) menjadi
(e)
yang mengandung kedua reaksi sebagai anu.
Langkah terakhir untuk menganalisis batang statis tak tentu adalah
dengan memecahkan secara simultan persamaan keseimbangan (Persamaan
a) dan persamaan keserasian (Persamaan e). Hasilnya adalah
R
_ Pb
A, -
L
R _ Pa
B -
L
(2-8a,b)
Dengan diketahuinya reaksi, maka semua gaya dan peralihan dapat
ditentukan. Sebagai contoh, misalkan kita ingin mencari peralihan ke bawah
De titik C. Peralihan ini sama dengan perpanjangan segmen AC:
D _
D
_ RAa _ Pab
e - Ae -
EA - LEA
(2-9)
Juga, kita dapat memperoleh tegangan di kedua segmen batang secara
langsung dari gaya aksial internal (misalnya <YAe = RA/A = PhiAL).
Sebagai rangkuman, kita lihat dari contoh ini bahwa analisis struktur
statis tak tentu meliputi penyusunan dan pemecahan persamaan ke­
seimbangan dan persamaan keserasian. Persamaan keseimbangan meng­
hubungkan beban yang bekerja di struktur dengan gaya-gaya yang belum
diketahui (yang mungkin berupa reaksi atau gaya dalam), dan persamaan
keserasian menunjukkan kondisi peralihan pada struktur tersebut.
76 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksiaf
Persamaan keserasian dinyatakan dalam gaya-gaya yang belum diketahui
dengan mensubstitusikan hubungan gaya-peralihan. Akhimya, persamaan
keseimbangan dan keserasian dipecahkan secara simultan untuk
mendapatkan gaya-gaya yang belum diketahui.
Dalam literatur teknik, berbagai sebutan digunakan untuk kondisi
yang dinyatakan dengan keseimbangan, keserasian, dan persamaan gaya­
peralihan. Persamaan keseimbanganjuga dikenal dengan persamaan statika
atau kinetik; persamaan keserasian kadang-kadang disebut persamaan
geometris, persamaan kinematis, atau persamaan deformasi konsisten; dan
hubungan gaya-peralihan sering disebut hubungan konstitutif (karena
hubungan ini berkaitan dengan konstitusi, atau besaran fisik bahan).
Untuk struktur yang relatif sederhana yang dibahas dalam bab ini,
metode analisis di atas sudah memadai. Tetapi, pendekatan yang lebih
formal dibutuhkan untuk struktur yang Jebih rumit. Dua metode yang
umum digunakan, yaitu metodefleksibilitas dan metode kekakuan, dibahas
secara rinci pada berbagai buku tentang analisis struktur (Ref. 2-2).
Meskipun metode-metode ini biasanya digunakan untuk struktur rumit
dan besar yang membutuhkan solusi ratusan atau bahkan kadang-kadang
ribuan persamaan simultan, metode-metode tersebut masih didasarkan atas
konsep-konsep yang diuraikan di atas, yaitu persamaan keseimbangan,
persamaan keserasian, dan hubungan gaya-peralihan.*
Contoh berikut ini menggambarkan metodologi untuk menganalisis
struktur statis tak tentu yang terdiri atas elemen-elemen yang dibebani
secara aksial. Contoh kedua dan ketiga juga menggambarkan penggunaan
diagram peralihan dalam menyusun persamaan keserasian.
• Contoh 2-5
Sebuah silinder baja lingkaran solid S terletak di dalam tabung tembaga lingkaran
berlubang C (Gambar 2-17a dan b). Silinder dan tabung tersebut ditekan di antara
dua plat kaku dari sebuah mesin uji dengan gaya tekan P. Silinder baja tersebut
mempunyai luas penampang As dan modulus elastisitas Es. Tabung tembaga
mempunyai luas Ac dan modulus elastisitas Ec. Keduanya mempunyai panjang L.
Tentukanlah besaran-besaran berikut: (a) gaya tekan Ps di silinder baja dan
pc di tabung tembaga; (b) tegangan tekan as dan ac; serta (c) perpendekan 8
keduanya.
Solusi
(a) Gaya tekan di silinder baja dan tabung ternbaga. Kita mulai dengan melepaskan
plat atas dari struktur ini untuk mengekspos gaya Ps dan Pc yang masing-masing
bekerja di silinder baja dan tabung tembaga (Gambar 2-17c). Gaya P, adalah
resultan dari tegangan terbagi rata yang bekerja di penampang silinder baja, dan
gaya Pc adalah resultan dari tegangan terbagi rata yang bekerja di penampang
tabung tembaga.
*Dari tinjauan sejarah, kelihatannya Euler padatahun 1774 adalah orang pertama yang menganalisis
sistem statis tak tentu; ia meninjau masalah meja kaku dengan empat kakinya ditumpu pada pondasi
elastis (Ref. 2-3 dan 2-4). Analisis selanjutnya dilakukan oleh matematikawan dan insinyur Perancis
L.M.H.Navier, yang pada tahun 1825 menyatakan bahwa reaksi statis tak tentu dapat dicari hanya dengan
memperhitungkan elastisitas struktur (Ref. 2-5). Navier juga menganalisis rangka batang statis tak tentu.
Gambar 2 - 1 7 Contoh 2-5.
Analisis struktur statis tak tentu
(a)
(c)
Mekanika Bahan 77
A,
(b)
r
(d)
Persamaan keseimbangan. Diagram benda bebas plat atas ditunjukkan dalam
Gambar 2-1 7d. Plat ini mengalami gaya P dan gaya-gaya tekan P,. dan P, yang
belum diketahui; jadi, persamaan keseimbangannya adalah
P, + Pc - P = 0 (f)
Persamaan ini, yang merupakan satu-satunya persamaan keseimbangan nontrivial
yang tersedia, mengandung dua anu. Dengan demikian, dapat kita simpulkan
bahwa struktur ini statis tak tentu.
Persamaan keserasian. Karena plat ujung adalah kaku, maka silinder baja
dan tabung tembaga harus memendek sama besar. Dengan menuliskan perpendekan
bagian-bagian baja dan tembaga masing-masing dengan 8, dan 8c, kita dapatkan
persamaan keserasian sebagai berikut:
(g)
Hubungan gaya-peralihan. Perubahan panjang silinder dan tabung dapat diperoleh
dari persamaan umum 8= PUEA. Dengan demikian, di dalam contoh ini, hubungan
gaya-peralihan adalah:
78 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
(h,i)
Dengan memasukkan hubungan ini ke dalam persamaan keserasian Persamaan
(g), maka
Persamaan ini memberikan kondisi keserasian yang dinyatakan dalam gaya-gaya
yang belum diketahui.
Solusi persamaan. Sekarang kita selesaikan persamaan keseimbanga dan
keserasian (Persamaan f dan j) dan mendapatkan gaya-gaya aksial di silinder baja
dan tabung tembaga:
(2-lOa,b) ..
Persamaan di atas menunjukkan bahwa gaya tekan di bagian baja dan tembaga
masing-masing berbanding langsung dengan kekakuan aksial dan berbanding
terbalik dengan jumlah kekakuannya.
(b) Tegangan tekan di silinder baja dan tabung tembaga. Dengan mengetahui
gaya-gaya aksial, maka kita dapat memperoleh tegangan tekan di kedua bahan:
(2-l l a,b) ..
Perhatikan bahwa tegangan sebanding dengan modulus elastisitas masing-masing
bahan. Dengan demikian, bahan yang "lebih kaku" mempunyai tegangan yang
lebih besar.
(c) Perpendekan struktur. Perpendekan 8keseluruhan strukturdapatdiperoleh
dari Persamaan (b) atau Persamaan (i). Jadi, dengan memasukkan gaya-gaya (dari
Persamaan 2-1 Oa dan b), kita peroleh:
(2-1 2) ..
Hasil ini menunjukkan bahwa perpendekan struktur sama dengan beban total dibagi
dengan jumlah kekakuan kedua bagian (ingat dari Persamaan 2-4a bahwa kekakuan
batang yang dibebani secara aksial adalah k = EA/L).
• Contoh 2-6
Sebuah batang kaku AB mempunyai sendi di ujung A dan ditumpu oleh dua kawat
(CD dan EF) di titik-titik D dan F (Gambar 2-1 8a). Sebuah beban vertikal P
bekerja di ujung B dari batang tersebut. Batang tersebut mempunyai panjang 3b
dan kawat CD dan EF mempunyai panjang masing-masing L1 dan L2. Juga, kawat
CD mempunyai diameter d1 dan modulus elastisitas E1; kawat EF mempunyai
diameter d2 dan modulus elastisitas E2.
(a) Dapatkan rumus untuk beban izin P jika tegangan izin di kawat CD dan
EF masing-masing adalah a1 dan a2. (abaikan berat sendiri batang.)
(b) Hitunglah beban izin P untuk kondisi berikut. Kawat CD terbuat dari
aluminium dengan modulus elastisitas E1 = 72 GPa, diameter d1 = 4,0 mm, dan
panjang L1 = 0,40 m. Kawat EF terbuat dari magnesium dengan modulus elastisitas
E2 = 45 GPa, diameter d2 = 3,0 mm, dan panjang L2 = 0,30 m. Tegangan izin di
kawat aluminium dan magnesium adalah masing-masing a1 = 200 MPa, dan a2
= 1 75 MPa.
Gambar 2-1 8 Contoh 2-6
Analisis struktur statis tak tentu
Solusi
Mekanika Bahan 79
Persamaan keseimbangan. Kita mulai analisis dengan menggambar diagram benda
bebas batang AB (Gambar 2-1 8b). Di dalam diagram ini T1 dan T2 adalah gaya
tarik yang belum diketahui pada kawat-kawat dan RH dan Rv adalah komponen
reaksi dalam arah masing-masing horizontal dan vertikal di tumpuan. Kita lihat
dengan mudah bahwa struktur ini statis tak tentu karena ada empat gaya yang
belum diketahui (T1, T2, RH, dan Rv) tetapi hanya ada satu persamaan keseimbangan
independen. Dengan mengambil momen terhadap titik A (dengan perjanjian tanda
positif untuk momen yang searah jarum jam) maka
LMA = Q (k)
Dua persamaan lainnya, yang diperoleh dengan menjumlahkan gaya-gaya dalam
arah horizontal dan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah vertikal, tidak dapat
digunakan untuk mencari T1 dan T2.
(a)
(b)
B'
(c)
Persamaan keserasian. Untuk mendapatkan persamaan yang berkaitan dengan
peralihan, kita amati bahwa beban P tidak dapat berotasi terhadap tumpuan sendi
di A, sehingga menyebabkan kawat memanjang. Peralihan yang diakibatkan ha!
ini ditunjukkan dalam diagram peralihan dalam Gambar 2-18c, di mana garis AB
menunjukkan posisi semula batang kaku dan garis AB'menunjukkan posisi setelah
berotasi. Peralihan 81 dan 82 adalah perpanjangan kawat. Karena peralihan ini
sangat kecil, maka batang tersebut berotasi dengan sudut yang sangat kecil pula
(di dalam gambar ditunjukkan dengan sangat diperbesar) dan kita dapat melakukan
perhitungan dengan asumsi bahwa titik D, F, dan B bergerak ke arah vertikal ke
bawah (bukan mengikuti alur lengkungan).
Karenajarak horizontal AD dan DF sama, maka kita mendapatkan hubungan
geometris antara kedua perpanjangan sebagai berikut:
(I)
80 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Hubungan gaya-peralihan. Karena kawat berperilaku elastis linier, maka
perpanjangannya dapat dinyatakan dalam gaya yang belum diketahui T1 dan T2
dengan menggunakan rumus berikut
di mana A1 dan A
2
masing-masing adalah luas penampang kawat CD dan EF; jadi
A
- 7rd� A
- mli
� -
4 z -
4
Untuk memudahkan penulisan persamaan, kita gunakan notasi berikut untuk
fleksibilitas kawat (lihat Persamaan 2-4b):
A - 7rd�
I
-
4
(m,n)
Dengan demikian, hubungan gaya-peralihan menjadi
Dengan memasukkan rumus ini ke dalam persamaan keserasian (Persamaan I)
maka
(o)
Sekarang kita telah mendapatkan rersamaan keserasian yang dinyatakan dalam
gaya-gaya yang belum diketahui.
Solusi persamaan. Persamaan keseimbangan (Persamaan k) dan persamaan
keserasian (Persamaan o) mengandung gaya-gaya T1 dan T2 sebagai besaran yang
belum diketahui. Dengan memecahkan kedua persamaan tersebut secara simultan
kita peroleh
3f2P
1J = -
-"-"-
-
4.iJ + fz
(p,q)
Dengan diketahuinya gaya-gaya T1 dan T2, maka kita dapat dengan mudah mencari
perpanjangan kawat dari hubungan gaya-peralihan.
(a) Beban izin P. Karena analisis statis tak tentu telah diselesaikan dan gaya­
gaya di kawat telah diketahui maka kita dapat menentukan harga beban P yang
diizinkan. Tegangan cr1 di kawat CD dan tegangan cr
2
di kawat EF dapat dihitung
langsung dari gaya-gayanya (Persamaan p dan q):
Dari persamaan pertama di atas, kita hitung gaya izin P1 yang didasarkan atas
tegangan izin cr1 untuk kawat aluminium:
p, _ <r1A1(4.fJ + /
2
) p, = <rJAJ(4.fJ + fz )
I
-
3fz
I 3fz
(r) •
Dengan cara yang sama, persamaan kedua kita dapatkan gaya izin P2 yang
didasarkan atas tegangan izin kawat magnesium:
p _ <TzAz(4iJ + fz)
2
-
6fi
(s) •
Yang terkecil di antara kedua harga ini merupakan beban izin maksimum Pizin·
(b) Perhitungan numerik untuk beban izin. Dengan menggunakan data yang
ada dan persamaan-persamaan di atas, kita peroleh harga-harga numerik sebagai
berikut:
n(4,0 mm)2
4
1 2,57 mm2
Mekanika Bahan 81
n(3,0 mm)z
= 7,069 mmz
4
0•40 m
= 0,4420 x 10-6 miN
(72 GPa)(12,57 mm2 )
0•30 m
= 0,9431 x 10-6 miN
(45 GPa)(7,069 mm2 )
Juga, tegangan izinnya adalah
a1 = 200 MPa a2 = 175 MPa
Dengan memasukkan harga-harga di atas ke dalam Persamaan (r) dan (s) maka
PI = 2,41 kN P2 = 1 ,26 kN
Hasil pertama didasarkan atas tegangan izin a1 di kawat aluminium dan yang
kedua didasarkan atas tegangan izin a2 di kawat magnesium. Beban izin adalah
yang terkecil di antara kedua harga tersebut:
Pizin = 1,26 kN
Pada taraf beban ini tegangan di magnesium adalah 175 MPa (yaitu tegangan
izinnya) dan tegangan di aluminium adalah ( 1,26/2,41)(200 MPa) = 105 MPa.
Sebagaimana diduga, tegangan ini lebih kecil daripada tegangan izin 200 MPa.
• Contoh 2-7
Sebuah batang kakuADB yang panjangnya 2b mempunyai sendiuntuk memikulnya
di A dan ditahan oleh dua kawat miring CD dan CB (Gambar 2-19a). Kawat­
kawat ini terpasang di tumpuan di titik C, yang terletak pada jarak vertikal b di
atas titik A. Kedua kawat terbuat dari bahan yang sama dan mempunyai diameter
yang sama.
Tentukanlah gaya tarik T1 dan T2 di kawat CD dan CB akibat beban vertikal
P yang bekerja di ujung batang.
Solusi
Persamaan keseimbangan. Diagram benda bebas batang AB (Gambar 2-19b)
menunjukkan bahwa ada empat gaya anu, yaitu gaya tarik T1 dan T2 di kawat­
kawat dan dua komponen reaksi (RH dan Ry) di tumpuan sendi. Karena hanya ada
tiga persamaan keseimbangan independen, maka struktur ini adalah statis tak
tentu. Kita dapat memperoleh persamaan keseimbangan yang hanya mengandung
T1 dan T2 sebagai anu dengan menjumlahkan momen terhadap titik A:
LMA = 0 bT1 sin a1 + 2bT2 sin U-z - 2bP = 0
di mana al dan az adalah sudut antara kawat dan batang.
Dari geometri struktur (Gambar 2-19a) kita lihat bahwa
. CA b 1
Sill at =
CD
=
b{i =
{i
. CA b
Sill a2 =
CB
=
b.)S
I
.J5
Dengan memasukkan harga-harga ini ke dalam Persamaan (t) kita peroleh
_Il_
+
2Tz =
2P
{i .J5
yang merupakan bentuk akhir dari persamaan keseimbangan.
(t)
(u)
(v)
Persamaan keserasian. Persamaan keserasian dapat diperoleh dengan
meninjau peralihan titik-titik D dan B. Untuk itu, kita menggambarkan diagram
peralihan seperti terlihat dalam Gambar 2-19c. Garis AB menunjukkan posisi
82 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Gambar 2-1 9 Contoh 2-7.
Analisis struktur statis tak tentu.
-
,b
1
---- b -------- b -----+1
c (a)
(b)
B"
(c)
D B
IY'
B"
D'
(d) (e)
semula dari batang AB dan garis AB'menunjukkan posisi setelah berotasi. Karena
sudut rotasi batang AB sangat kecil, maka peralihan 81 dan 82 di titik D dan B,
dapat dipandang sebagai peralihan vertikal yang kecil. Karena jarak dari A ke B
dua kali jarak dari A ke D, maka kita lihat bahwa
82 = 281 (w)
yang merupakan persamaan keserasian.
Hubungan gaya-peralihan. Sekarang kita membutuhkan hubungan antara
gaya T1 dan T2 dan peralihan vertikal 81 dan 82 masing-masing di titik D dan B.
Mekanika Bahan 83
Kita mulai dengan meninjau kawat CD, yang berotasi dari posisi semula CD ke
posisi akhir CD' (Gambar 2-19c). Kita gambarkan DD"yang tegak lurus dari titik
D ke garis CD'. Karena peralihan dan sudut berubah sangat kecil, maka kita dapat
mengasumsikan bahwajarak CD"sama denganjarak CD. (artinya, busur lingkaran
DD" dengan titik C sebagai pusatnya tidak dapat dibedakan dengan garis DD'�)
Segitiga peralihan DD'D" dalam Gambar 2-19c digambar ulang agar lebih
jelas di Gambar 2-19d. Jarak DD' adalah peralihan vertikal 81 titik D dan jarak
D'D"adalah perpanjangan 8cv kawat CD. Sudut a1 terlihat dalam segitiga sebagai
sudut D'DD'� Untuk membuktikan ini, kita perhatikan bahwa garis DD' adalah
tegak lurus garis AB, dan garis DD" tegak lurus garis CD (untuk sudut rotasi
yang kecil). Dengan demikian, dari segitiga peralihan DD'D" kita peroleh
5: 5: 0 8I
UcD = UI Sin (XI = ---;=
-.J2
Persamaan ini memberikan hubungan geometri antara perpanjangan kawat CD
dan peralihan ke bawah titik D.
Perpanjangan 8cvpada kawat CD dihubungkan dengan gaya di kawat tersebut
dengan hubungan gaya-peralihan:
8 - � Lcv - �b-fi
cv - � - �
di mana Lcv = b .fi adalah panjang kawat CD. Dengan menggabungkan dua
persamaan terakhir untuk 8cv kita dapatkan
8 =
2b�
I EA
(x)
Dengan cara yang sama, kita dapat menghubungkan peralihan 82 dengan
perpanjangan 8c8 pada kawat CB (lihat Gambar 2-19e) dan mendapatkan
8 _
5bT2
(y)
2 - EA
Persamaan (x) dan (y) adalah hubungan gaya-peralihan yang memberikan peralihan
titik-titik D dan B yang dinyatakan dalam gaya anu di kawat.
Dengan memasukkan 81 dan 82 dari hubungan gaya-peralihan ke dalam
persamaan keserasian (Persamaan w) maka
(z)
yang merupakan persamaan keserasian yang dinyatakan dalam gaya anu.
Solusi persamaan. Pada langkah terakhir dalam contoh ini kita memecahkan
persamaan keseimbangan (Persamaan v) dan keserasian (Persamaan z) secara
simultan. Hasilnya adalah
T, _ IO.JiOP
I - g-fi + 5
-/5 = 1,406? T2 =
4� = 1 125P
5
' •
Jadi, kita mendapatkan gaya tarik di kawat dengan menganalisis struktur statis tak
tentu.
Dengan diketahuinya gaya tarik di kawat, maka kita dapat dengan mudah
menentukan semua gaya dan peralihan. Sebagai contoh, reaksi di tumpuan A
dapat diperoleh dari persamaan keseimbangan dan peralihan 8I dan 82 dapat
diperoleh dari Persamaan (x) dan (y)
Catatan: Dalam contoh ini, solusi akhir untuk gaya-gaya tidak melibatkan
rigiditas aksial EA dari kawat. (Fakta ini nyata di dalam solusi simbolik tetapi
tidak terlihat nyata di dalam solusi numerik.) Sebabnya adalah bahwa kedua kawat
mempunyai rigiditas aksial yang sama, sehingga besaran EA saling meniadakan
di dalam solusi. Jika setiap kawat mempunyai rigiditas yang berbeda, maka masing­
masing rigiditas tersebut akan muncul di dalam rumus ekspresi akhir.
84 Bab 2 Elemen Struktur yang Oibebani Secara Aksial
A B
Gambar 2-20 Blok bahan yang
mengalami peningkatan temperatur
EFEK TERMAL
Beban luar bukanlah satu-satunya sumber tegangan dan regangan di suatu
struktur. Perubahan temperatur menyebabkan ekspansi atau kontraksi
bahan, sehingga teljadi regangan termal dan tegangan termal. Ilustrasi
sederhana tentang ekspansi termal ditunjukkan dalam Gambar 2-20, di
mana suatu blok bahan tidak dikekang sehingga bebas berekspansi. Apabila
bahan tersebut dipanaskan, setiap elemen di bahan tersebut mengalami
regangan termal di segala arah, sehingga dimensi blok tersebut bertambah.
Jika kita mengambil pojok A sebagai titik referensi yang tetap dan
memisalkan sisi AB pada garis yang sama, maka blok tersebut akan
mempunyai bentuk seperti garis yang putus.
Pada kebanyakan bahan, regangan termal ET sebanding dengan
perubahan temperatur !J.T; jadi,
(2-1 3)
di mana a adalah besaran bahan yang disebut koefisien ekspansi termal.
Karenaregangan merupakan besaran yang tak berdimensi, maka koefisien
ekspansi termal mempunyai satuan yang sama dengan kebalikan perubahan
temperatur. Dalam satuan SI, dimensi a dapat dinyatakan dalam 1/K
(kebalikan kelvin) atau l/°C (kebalikan derajat Celcius). Harga a untuk
kedua kasus sama karena perubahan secara numerik sama untuk Kelvin
dan derajat Celcius. Dalam satuan USCS, dimensi a adalah 1/°F (kebalikan
derajat Fahrenheit).* Harga a yang khas dicantumkan dalam Tabel H-4
dalam Lampiran H.
Jika perjanjian tanda untuk regangan termal dibutuhkan, kita biasanya
mengasumsikan bahwa ekspansi bertanda positif dan kontraksi bertanda
negatif.
Untuk menunjukkan pentingnya regangan termal, kita akan meng­
hitung regangan termal dengan regangan yang diakibatkan beban dengan
cara berikut. Misalkan kita mempunyai batang yang dibebani secara aksial
dengan regangan longitudinal yang diberikan oleh persamaan E = CJIE, di
mana CJ adalah tegangan dan E adalah modulus elastisitas. Kemudian
misalkan kita mempunyai batang identik yang mengalami perubahan
temperatur !J.T, yang berarti bahwa batang tersebut mempunyai regangan
yang dihitung dengan Persamaan (2-1 3). Dengan menyamakan kedua
regangan maka haruslah CJ = Ea(!J.T). Dari persamaan ini kita dapat
menghitung tegangan aksial cr yang menghasilkan regangan yang sama
dengan akibat perubahan temperatur !J.T. Sebagai contoh, tinjaulah suatu
batang baja tahan karat dengan E = 30 X 106 psi dan a = 9,6 X 10-6/°F.
Perhitungan sederhana dari persamaan untuk cr menunjukkan bahwa
perubahan temperatur sebesar 100°F menghasilkan regangan yang sama
dengan tegangan 29.000 psi. Tegangan ini masih di bawah tegangan izin
bahan ini. Jadi, perubahan temperatur yang relatif wajar menghasilkan
regangan yang sama besar dengan regangan yang diakibatkan oleh taraf
beban biasa, yang menun'jukkan bahwa efek temperatur dapat merupakan
hal penting di dalam desain.
*Untuk pembahasan satuan temperatur dan skala. lihat Subbab A.4 pacta Lampiran A.
Gambar 2-21 Pertambahan
panjang suatu batang prismatis
akibat peningkatan temperatur
seragam (Persamaan 2-14)
A
Gambar 2-22 Rangka batang
statis tertentu dengan perubahan
temperatur seragam di setiap batang
Mekanika Bahan 85
Bahan struktural biasa akan memuai jika ctipanaskan ctan menyusut
jika ctictinginkan sehingga peningkatan temperatur akan menimbulkan
regangan termal yang bertancta positif. Regangan termal biasanya ctapat
balik, artinya elemen tersebut akan kembali ke bentuk semula jika tempe­
ratumya ctikembalikan ke temperatur semula. Namun, acta beberapa pactuan
metal khusus yang belakangan ini ctikembangkan yang tictak berperilaku
seperti biasa. Untuk selang temperatur tertentu pacta pactuan semacam ini
akan menyusut jika ctipanaskan ctan memuai jika ctictinginkan. Air juga
merupakan bahan yang tictak biasa ctari tinjauan termal-air memuai jika
ctipanaskan ctari temperatur 4°C ctan juga memuai jika ctictinginkan cti
bawah 4°C. Jacti, air mempunyai berat jenis maksimum pacta 4°C.
Sekarang kita kembali ke blok bahan yang terlihat ctalam Gambar 2-
20. Kita asumsikan bahwa bahan ini isotropis ctan homogen, ctan bahwa
peningkatan temperatur f..T actalah seragam cti seluruh blok. Kita ctapat
menghitung bertambahnya ctimensi manapun ctari blok ini ctengan
mengalikan ctimensi semula ctengan regangan termal. Sebagai contoh, jika
salah satu ctimensi actalah L, maka ctimensi tersebut·akan bertambah sebesar
(2- 14)
Persamaan (2-14) actalah hubungan temperatur-peralihan, yang analog
ctengan hubungan gaya-peralihan yang telah ctibahas ctalam subbab sebelum
ini. Hubungan ini ctapat ctigunakan untuk menghitung perubahan panjang
elemen struktur yang mengalami perubahan temperatur seragam, seperti
perpanjangan 8T pacta batang prismatis yang terlihat ctalam Gambar 2-21 .
(Dimensi transversal pacta batang ini juga berubah, tetapi perubahan ini
tictak ctitunjukkan ctalam gambar tersebut karena biasanya tictak
menimbulkan pengaruh terhactap gaya aksial cti batang tersebut.)
AT
���3@_ _ 0
---->- l o 1--
T
Di ctalam pembahasan tentang regangan termal, kita berasumsi bahwa
strukturnya tictak mempunyai kekangan ctan ctapat berekspansi atau
berkontraksi ctengan bebas. Konctisi-konctisi ini acta kalau suatu bencta
terletak pacta permukaan yang tak bergesekan atau tergantung pacta ruang
terbuka. Pacta kasus seperti ini tictak acta tegangan yang ctihasilkan oleh
perubahan temperatur seragam cti seluruh bencta, sectangkan perubahan
temperatur yang tictak seragam ctapat menimbulkan regangan internal.
Untuk struktur yang mempunyai tumpuan yang mencegah ekspansi ctan
kontraksi, tegangan termal akan timbul meskipun perubahan temperatur
cti seluruh struktur seragam.
Untuk menggambarkan icte-icte cti atas tentang efek termal, tinjaulah
rangka batang ABC yang terctiri atas ctua batang ctalam Gambar 2-22 ctan
asumsikan bahwa temperatur batang AB berubah f..T1, ctan temperatur
batang BC berubah f..T2. Karena rangka batang ini statis tertentu, maka
kectua batang tersebut bebas memanjang atau memenctek, yang menye­
babkan terjactinya peralihan cti B. Sekalipun ctemikian, tictak acta tegangan
pacta kectua batang ctan tictak acta reaksi cti tumpuan. Kesimpulan ini berlaku
86 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Gambar 2-23 Rangka batang
statis tak tentu yang mengalami
perubahan temperatur
secara umum pada struktur statis tertentu; jadi, perubahan temperatur
di elemen struktur menimbulkan regangan termal (dan perubahan panjang)
tanpa adanya tegangan.
Suatu struktur statis tak tentumungkin saja menghasilkan tegangan
temperatur, bergantung pada karakter struktur tersebut dan bagaimana
perubahan temperatur itu terj adi. Untuk menggambarkan beberapa
kemungkinan, tinjaulah rangka batang statis tak tentu yang terlihat dalam
Gambar 2-23. Karena tumpuan struktur ini memungkinkan titik hubung D
bergerak dalam arah horizontal, maka tidak ada tegangan yang timbul
apabila keseluruhan rangka batang ini dipanaskan secara seragam. Semua
batang akan memanjang yang sebanding dengan panjang semula, dan
rangka batang ini akan menjadi sedikit lebih besar. Namun, jika sebagian
(tidak semua) batang dipanaskan, maka tegangan termal akan timbul karena
adanya susunan statis tak tentu dari batang-batang ini mencegah
perpanjangan bebas. Untuk menggambarkan kondisi ini, bayangkan bahwa
. hanya satu batang yang dipanaskan. Karena batang ini menjadi panjang,
maka batang ini akan menjumpai tahanan dari batang lain, dan akibatnya
timbul tegangan pada setiap batang.
Analisis struktur statis tak tentu dengan perubahan temperatur
didasarkan atas konsep-konsep yang dibahas dalam subbab sebelum ini,
yaitu persamaan keseimbangan, persamaan keserasian, dan hubungan
peralihan. Perbedaan utama adalah bahwa kita sekarang menggunakan
hubungan temperatur-peralihan (Persamaan 2-14) selain juga hubungan
gaya-peralihan (seperti 8 = PUEA) dalam melakukan analisis. Contoh
berikut menggambarkan prosedurnya secara rinci.
• Contoh 2-8
Gambar 2-24 Contoh 2-8. Batang
statis tak tentu dengan peningkatan
temperatur tegangan l!.T
Sebuah batang prismatis AB yang panjangnya L ditahan oleh tumpuan yang tak
dapat bergerak (Gambar 2-24a). Jika temperatur batang ini ditingkatkan secara
seragam sebesar !lT, berapakah tegangan termal (Jr yang timbul di batang?
(Asumsikan bahwa batang ini terbuat dari bahan yang elastis linier.)
ilT L
(a) (b) (c)
Solusi
Mekanika Bahan 87
Karena temperatur meningkat, maka batang akan berusaha untuk memanjang tetapi
ditahan oleh tumpuan kaku di A dan B. Dengan demikian, reaksi RA dan RB akan
timbul di kedua tumpuan, dan batang tersebut akan mengalami tegangan tekan
seragam.
Persamaan keseimbangan. Gaya-gaya yang bekerja di batang ini hanyalah
reaksi di kedua ujung seperti terlihat dalam Gambar 2-24a. Dengan demikian,
keseimbangan gaya dalam arah vertikal adalah
(a)
Karena ini adalah satu-satunya persamaan keseimbangan nontrivial, dan karena
persamaan ini mengandung dua anu, maka kita lihat bahwa struktur ini adalah
statis tak tentu dan persamaan tambahan dibutuhkan.
Persamaan keserasian. Persamaan keserasian menunjukkan fakta bahwa
perubahan panjang batang adalah no! (karena tumpuannya tidak bergerak):
D
AB = 0 (b)
Untuk menentukan perubahan panjang ini, kita membuang tumpuan atas dari
batang tersebut dan mendapatkan batang yang terjepit di ujung bawah dan bebas
di ujung atas (Gambar 2-24b dan c). Apabila hanya perubahan temperatur yang
bekerja (Gambar 2-24b), maka perpanjangan batang adalah 87 dan jika hanya RA
yang bekerja, maka batang akan memendek sebesar 8R (Gambar 2-24c). Jadi,
perubahan panjang neto adalah DAB = Or - 8R, dan persamaan keserasian menjadi
DAB = 87 - 8R = 0 (c)
Hubungan peralihan. Pertambahan panjang batang akibat perubahan
temperatur ll.T ditentukan oleh hubungan temperatur-peralihan (Persamaan 2-14):
(d)
di mana a adalah koefisien ekspansi termal. Pengurangan panjang akibat gaya RA
dihitung dengan hubungan gaya-peralihan:
8 -
RAL
R
-
EA
(e)
di mana E adalah modulus elastisitas dan A adalah luas penampang. Dengan
memasukkan hubungan peralihan (d) dan (e) ke dalam Persamaan (c) kita dapatkan
bentuk akhir persamaan keserasian:
(f)
Pemecahan persamaan. Sekarang kita pecahkan persamaan keseimbangan dan
keserasian (Persamaan a dan f) untuk mendapatkan reaksi RA dan RB:
(2-15)
Dari hasil-hasil ini kita peroleh tegangan termal a7 pada batang:
(2-16) •
Tegangan ini adalah tegangan tekan jika temperatur batang meningkat.
Catatan 1 : Di dalam contoh ini, reaksi tidak bergantung pada panjang batang
dan tegangan tidak bergantung pada panjang dan Iuas penampang (Iihat Persamaan
2-15 dan 2-16). Jadi, sekali lagi kita lihat kegunaan solusi simbolik karena hal-hal
penting pada perilaku batang seperti ini tidak terlihat pada solusi numerik.
Catatan 2: Dalam menentukan perpanjangan termal suatu batang (Persamaan
d), kita berasumsi bahwa bahan adalah homogen dan bahwa peningkatan temperatur
88 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksia/
adalah seragam di seluruh volume batang. Juga, dalam menentukan pengurangan
panjang akibat gaya reaksi (Persamaan e), kita berasumsi bahwa bahan bersifat
elastis Iinier. Pembatasan ini harus selalu diingat di dalam menuliskan hubungan
temperatur-peralihan dan gaya-peralihan.
Catatan 3: Batang pada contoh ini mempunyai peralihan longitudinal nol,
bukan hanya di ujung-ujung yang terjepit, melainkan juga di setiap potongan.
Jadi, tidak ada regangan aksial pacta batang ini, dan kita mempunyai situasi khusus
di mana ada tegangan longitudinal tetapi tidak ada regangan longitudinal. Tentu
saja, ada regangan transversal di batang yang ditimbulkan oleh perubahan
temperatur dan tekan aksial.
• Contoh 2-9
Gambar 2-25 Contoh 2-9.
Susunan selongsong dan baut
dengan peningkatan temperatur
seragam llT
Sebuah selongsong berbentuk tabung lingkaran yang panjangnya L diletakkan
di sekeliling sebuah baut dan dan terletak di antara plat-plat antara di setiap
ujungnya (Gambar 2-25a). Mur diputar sampai susunan tersebut kencang.
Selongsong dan baut terbuat dari bahan yang berbeda dan mempunyai luas
penampang yang berbeda pula. (a) Jika temperatur keseluruhan susunan meningkat
sebesarllT, berapakah tegangan a,
dan ab yang masing-masing timbul di selongsong
dan baut? (b) Berapakah peningkatan opanjang L selongsong dan baut? (Asumsikan
bahwa koefisien ekspansi termal a, untuk selongsong lebih besar daripada koefisien
ab untuk baut.)
Mur Plat antara Selongsong Kepala baut
(a) 1+-------- L --------..
(b)
(c)
Solusi
Karena selongsong dan baut terbuat dari bahan yang berbeda, maka perpanjangan
masing-masing bahan tersebut akan berbeda kalau dipanaskan dan diperbolehkan
berekspansi secara bebas. Namun, apabila keduanya ditahan bersama oleh suatu
Mekanika Bahan 89
susunan, maka ekspansi bebas tidak dapat terjadi, dan tegangan termal akan timbul
di kedua bahan. Untuk mencari tegangan ini, kita menggunakan konsep yang
sama pada analisis statis tak tentu-persamaan keseimbangan, keserasian, dan
hubungan peralihan. Kita perlu melepaskan elemen-elemen struktur ini agar dapat
memformulasikan persamaan-persamaan tersebut.
Cara mudah untuk memotong struktur ini adalah dengan menghilangkan
kepala baut, sehingga selongsong dan baut dapat berekspansi dengan bebas akibat
perubahan temperatur b.T (Gambar 2-25b). Perpanjangan pada selongsong dan
baut akibat ha! ini diberi notasi masing-masing 81 dan 82, dan hubungan temperatur­
peralihan untuk ini adalah
(g)
Karena as Jebih besar daripada ab, maka perpanjangan 81 akan lebih besar daripada
82, seperti terlihat dalam Gambar 2-25b.
Gaya-gaya aksial di selongsong dan baut harus sedemikian hingga gaya­
gaya tersebut memperpendek selongsong dan memperpanjang baut sampai panjang
akhir keduanya sama. Gaya-gaya ini terlihat dalam Gambar 2-25c, di mana Ps
menunjukkan gaya tekan di selongsong dan Pb menunjukkan gaya tarik di baut.
Perpendekan 83 selongsong dan perpanjangan 84 baut adalah
83 =
P,L
84
= PbL
(h)
E,As EbAb
di mana E�s dan E0b adalah rigiditas masing-masing bahan. Persamaan (h)
adalah hubungan beban-peralihan.
Sekarang kita dapat menuliskan persamaan keserasian yang menyatakan
fakta bahwa perpanjangan akhir 8 sama untuk selongsong dan baut. Perpanjangan
selongsong adalah 81 - 83 dan perpanjangan baut adalah 82 + 8�; jadi,
8 = � - � = � + � w
Dengan memasukkan hubungan temperatur-peralihan dan beban-peralihan
(Persamaan g dan h) ke dalam persamaan akan menghasilkan
8 = aJ!:lT)L -
P,L
E,A,
yang dapat ditulis dengan
P,L PbL
-- + -- = a,(b.T)L - ab(b.T)L
E,A, EbAb
(j)
(k)
yang merupakan bentuk akhir persamaan keserasian. Perhatikan bahwa persamaan
ini mengandung gaya-gaya P, dan Ph sebagai anu.
Persamaan keseimbangan diperoleh dari Gambar 2-25c, yang merupakan
diagram benda bebas dari bagian yang tersisa sesudah kepala baut dihilangkan.
Dengan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah horizontal, maka
(1)
yang menyatakan fakta nyata bahwa gaya tekan di selongsong sama dengan gaya
tarik di baut.
Sekarang kita pecahkan persamaan keseimbangan dan keserasian secara simul­
tan (Persamaan k dan 1) dan mendapatkan gaya aksial di selongsong dan baut:
p
=
p
h = (a, - ab)(!:lT)E,A,EbAb
s E,A, + EbAb
(2-17)
Dalam menurunkan persamaan ini, kita berasumsi bahwa temperatur meningkat
dan bahwa koefisien as lebih besar daripada koefisien ab. Pada kondisi ini, PS
adalah gaya tekan di selongsong dan Pb adalah gaya tarik di baut.
Hasilnya akan berbeda jika temperatur meningkat tetapi koefisien a, kurang
dari koefisien ab. Pada kondisi ini, ada celah yang terbuka di antara kepala baut
dan selongsong dan tidak ada tegangan di masing-masing komponen.
90 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
(a) Tegangan di selongsong dan baut. Persamaan untuk tegangan er
, dan erb
masing-masing di selongsong dan baut dapat diperoleh dengan membagi gaya
dengan luasnya:
er, =
P, (a, - ab )(tlT)EsEbAb
(2-1 8a) •
A, E,As + EbAb
P. (a, - ab)(tlT)E,EbAs
erb = i =
E,A, + EbAb
(2-18b) •
Ab
Pada kondisi yang diasumsikan, tegangan er, di selongsong adalah tekan dan
tegangan erb di baut adalah tarik. Menarik dicatat bahwa tegangan ini tidak
bergantung pada panjang susunan elemen dan besamya berbanding terbalik dengan
luasnya (artinya erjerb = A,JA,.)
(b) Pertambahanpanjang selongsong dan baut. Perpanjangan masing-masing
elemen dapat diperoleh dengan memasukkan P, atau Pb dari Persamaan (2-17) ke
dalam Persamaan (j),
0 =
(a5E,A, + abEbAb )(tlT)L
ESAS + EbAb
(2-19) •
Dengan adanya rumus-rumus di atas, kita dapat dengan mudah menghitung gaya,
tegangan, dan peralihan setiap elemen untuk data numerik yang diketahui.
Catatan: Sebagai pengecekan parsial untuk hasil-hasil ini, kita dapat melihat
jika Persamaan (2- 17), (2-1 8), dan (2-19) susut menjadi harga yang diketahui
untuk kasus sederhana. Sebagai contoh, misalkan bahwa baut bersifat kaku sehingga
tidak dipengaruhi oleh perubahan temperatur. Kita dapat merepresentasikan situasi
ini dengan menetapkan ab = 0 dan membiarkan Eb menjadi besar seka1i yang
berarti membuat susunan di mana selongsong ditahan di antara tumpuan-tumpuan
kaku. Dengan memasukkan harga-harga ab dan Eb ke dalam Persamaan (2-17),
(2-18a) dan (2-19), kita dapatkan
0 = 0
Hasil-hasil ini cocok dengan yang ada di Contoh 2-8 yang meninjau suatu batang
yang ditahan oleh tumpuan kaku di kedua ujungnya (bandingkan Persamaan 2-1 5
dan 2-16, dan dengan Persamaan b).
Sebagai kasus khusus lainnya, misalkan bahwa selongsong dan baut terbuat
dari bahan yang sama. Karena itu kedua bagian akan berekspansi dengan bebas
dan akan memanjang sama besar jika temperatur berubah. Tidak ada gaya dan
tegangan yang akan timbul. Untuk melihat apakah persamaan yang diturunkan
dapat memprediksi perilaku ini, kita akan mengasumsikan bahwa kedua bagian
mempunyai besaran a, E, dan A. Dengan memasukkan harga-harga ini ke dalam
Persamaan (2-17), (2- 18), dan (2-19), maka
8 = a(llT)L
yang merupakan hasil yang diharapkan.
Sebagai kasus khusus ketiga, misalkan kita membuang selongsong sedemikian
hingga hanya baut yang tertinggal. Baut itu selanjutnya bebas berekspansi dan
tidak ada gaya atau tegangan yang akan timbul. Kita dapat merepresentasikan
kasus ini dengan menuliskan A, = 0 di dalam Persamaan (2-17), (2-18b), dan (2-
19), yang menghasilkan
Pb = 0 erb = 0 8 = ab(llT)L
Sekali lagi, ini merupakan hasil yang diharapkan.
Sebagaimana telah disebutkan di akhir Subbab 2.3, penyelidikan suatu kasus
khusus tidak cukup untuk meyakini kebenaran suatu rumus umum. Namun, ini
tentu saja acta gunanya. Jika suatu kasus khusus dapat diverifikasi, kita
meningkatkan keyakinan akan hasil yang diperoleh. Jika kasus khusus tidak cocok,
maka ha! ini berarti bahwa rumus umum mempunyai kesalahan.
Mekanika Bahan 91
-·
2·•
6 I TEGANGAN PADA POTONGAN MIRING
Gambar 2·26 Batang prismatis
yang mengalami tarik yang me­
nunjukkan tegangan yang bekerja
pada potongan melintang mn (a)
batang dengan gaya aksial P, (b)
tampak tiga dimensi batang yang
dipotong yang menunjukkan
tegangan normal, dan (c) tampak
dua dimensi
Pada pembahasan sebelumnya, tentang tarik dan tekan pada elemen struktur
yang dibebani secara aksial, tegangan yang kita tinjau hanyalah tegangan
normal yang bekerja di potongan melintang. Tegangan ini ditunjukkan
dalam Gambar 2-26, di mana kita meninjau batang AB yang mengalami
gaya aksial P. Jika batang tersebut dipotong pada potongan melintang
tengah oleh bidang mn (yang tegak lurus sumbu x), kita akan memperoleh
diagram benda bebas seperti terlihat dalam Gambar 2-26b. Tegangan
normal yang beketja di seluruh potongan tersebut dapat dihitung dengan
menggunakan rumus ax = PIA asalkan distribusi tegangan terbagi secara
merata di seluruh luas potongan melintang. Sebagaimana diuraikan dalam
Bab 1 , kondisi ini ada jika batang tersebut prismatis, bahannya homogen,
gaya aksial P bekerja di pusat berat penampang, dan potongan melintang
terletak cukup jauh dari lokasi pemusatan tegangan. Tentu saja, tidak ada
tegangan geser yang beketja di potongan melintang, karena potongan ini
tegak lurus sumbu longitudinal batang.
Untuk mudahnya, kita biasanya menunjukkan tegangan di gambar
tampak 2 dimensi batang tersebut (Gambar 2-26c) bukannya gambar
tampak 3 dimensi (Gambar 2-26b). Namun, apabila bekerja dengan gambar
dua dimensi kita tidak boleh lupa bahwa batang mempunyai tebal yang
tegak lurus dengan bidang gambar. Dimensi ketiga ini harus ditinjau dalam
membuat penurunan rumus dan perhitungan.
Cara yang paling berguna untuk menunjukkan tegangan di batang 2-
26 adalah dengan mengisolasi elemen kecil dari bahan, sedemikian rupa
sehingga elemen yang berlabel C dalam Gambar 2-26c, dan selanjutnya
menunjukkan tegangan yang beketja di semua muka elemen. Elemen seperti
(a)
(b)
A n
(c)
92 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Gambar 2-27 Elemen tegangan
di titik C dari batang yang dibebani
secara aksial yang terlihat dalam
Gambar 2-26c: (a) tampak tiga
dirnensi dari elemen, dan (c) tarnpak
dua dimensi dari elemen
ini disebut elemen tegangan. Elemen tegangan di titik C merupakan blok
tegangan kecil (tidak peduli apakah ini berupa kubus atau paralelepipedum)
dengan muka sebelah kanan terletak pacta potongan mn. Dimensi setiap
elemen tegangan diasumsikan sangat kecil, tetapi demi kejelasan kita
menggambarkan elemen dengan skala yang besar. seperti terlihat dalam
Gambar 2-27a.
Dalam hal ini, tepi-tepi elemen mempunyai arah sejajar dengan sumbu
x, y, dan z, dan satu-satunya tegangan adalah tegangan normal crx yang
bekerja pada sisi x (ingat bahwa sisi x sejajar punya gaya normal yang
sejajar dengan sumbu x). Kita biasanya menggambar tampak dua dimensi
elemen tersebut (Gambar 2-27b) bukannya tampak tiga dimensi, karena
cara itu lebih enak.
Elemen tegangan dalam Gambar 2-27 memberikan hanya tampak
sebagian dari tegangan yang bekerja pacta batang yang dibebani secara
aksial. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih rumit, kita perlu
memeriksa tegangan yang bekerja pacta potongan miring, seperti potongan
yang dipotong oleh bidang pq dalam Gambar 2-28a. Karena tegangan
sama di seluruh bagian batang, tegangan yang bekerja di seluruh potongan
miring harus mempunyai distribusi terbagi rata, seperti terlihat di dia­
gram benda bebas dalam Gambar 2-28b (tampak tiga dimensi) dan Gambar
2-28c (tampak dua dimensi). Dari keseimbangan benda bebas, kita ketahui
bahwa resultan tegangan harus sama dengan gaya horizontal P. (Resultan
ini digambar dengan garis putus dalam Gambar 2-28b dan 2-28c).
Mula-mula kita membutuhkan skema untuk menetapkan orientasi
potongan miring pq. Metode standar untuk ini adalah menetapkan sudut
e antara sumbu x dan normal n dalam potongan (Gambar 2-29a). Jadi,
sudut e untuk potongan miring yang ditunjukkan dalam gambar kira-kira
30°. Sebaliknya, potongan mn (Gambar 2-26a) mempunyai sudut 8 yang
sama dengan no! (karena normal penampang ini adalah sumbu x). Contoh
lain, tinjaulah elemen tegangan (Gambar 2-27). Sudut 8 untuk muka kanan
adalah 0, untuk muka atas adalah 90° (potongan longitudinal batang),
untuk muka kiri adalah 180°, dan untuk muka bawah adalah 270° (atau
-90°).
Sekarang kita kembali ke tujuan mencari tegangan yang bekerja di
potongan pq (Gambar 2-29b). Sebagaimana telah disebutkan, resultan
tegangan ini adalah gaya P yang bekerja di arah x. Resultan ini dapat
Gambar 2-28 Batang prismatis
yang mengalami tarik yang me­
nunjukkan tegangan yang bekerja
di potongan pq yang miring: (a)
batang dengan gaya aksial P. (b)
tampak tiga dimensi dari batang
yang dipotong yang menunjukkan
tegangan, dan (c) tampak dua
dimensi.
(a)
(b)
(c)
Mekanika Bahan 93
B
diuraikan atas dua komponen, gaya normal N yang berarah tegak lurus
bidang miring pq dan gaya geser V yang berarah tangensial padanya. Jadi
komponen gaya tersebut adalah
N = P cos () V = P sin () (2-20a,b)
Berkaitan dengan gaya N dan V ada tegangan normal dan tegangan geser
yang mempunyai distribusi terbagi rata di seluruh potongan melintang
(Gambar 2-29c dan d). Tegangan normal ini sama dengan gaya normal N
dibagi luas potongan, dan tegangan geser tersebut sama dengan gaya geser
V dibagi dengan luas potongan. Jadi, kedua tegangan tersebut adalah
(J
di mana A1 adalah luas potongan miring:
A
A� = -­
cos ()
(2-2l a,b)
(2-22)
Seperti biasa, A menunjukkan luas potongan batang. Tegangan a dan r
bekerja dengan arah seperti terlihat dalam Gambar 2-29c dan d, artinya
mempunyai arah masing-masing sama dengan gaya normal N dan gaya
geser V.
Hingga saat ini kita perlu menetapkan perjanjian tanda dan notasi
untuk tegangan yang bekerja pada potongan miring. Kita akan mengguna­
kan subskrip () yang menunjukkan bahwa tegangan yang bekerja pada
94 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Gambar 2-29 Batang prismatis
yang mengalami tarik yang
A,
A /
cos ()
P '
V

 q
(c)
V
=
--x,-
menunjukkan tegangan yang A
bekerja pada potongan miring pq
Gambar 2-30 Perjanjian tanda
untuk tegangan yang bekerja pada
potongan miring. (Tegangan normal
adalah positif apabila tarik dan
tegangan geser adalah positif
apabila menghasilkan rotasi yang
berlawanan jarum jam.)
I
 q
A, = -
A-
cos () (d)
potongan yang miring ctengan suctut () (Gambar 2-30), seperti juga k:ita
menggunakan subskrip x untuk menunjukkan bahwa tegangan bekerja
pacta potongan yang sejajar sumbu x (lihat Gambar 2-26). Tegangan nor­
mal a6 bertancta positifjika tarik ctan tegangan geser r6 actalah positifjika
menghasilkan rotasi bahan berlawanan jarum jam, seperti terlihat ctalam
Gambar 2-30.
Untuk sebuah batang yang mengalami tarik, gaya normal N meng­
hasilkan tegangan normal positif a6 (lihat Gambar 2-29c) ctan tegangan
geser V menghasilkan tegangan geser negatif r6 (lihat Gambar 2-29ct).
Tegangan-tegangan ini ctinyatakan ctengan persamaan berikut (lihat
Persamaan 2-20, 2-21, ctan 2-22):
N P 2
ae = - = - cos 8
A1 A
re = -� = -
p sin () cos 8
A1 A
Dengan menggunakan notasi a
x = PIA, cti mana a
x actalah tegangan nor­
mal pacta penampang, juga ctengan menggunakan hubungan trigonometri
Gambar 2-31 Graflk tegangan nor­
mal CJ9 dan -r9 versus sudut 8 dari
potongan miring (lihat Gambar 2-
30 dan Persamaan 2-23a dan b)
cos
2
8 = ko + cos28)
kita peroleh
Mekanika Bahan 95
sin() cos() = k(sin28)
(2-23a)
(2-23b)
Persamaan-persamaan ini memberikan tegangan normal dan geser yang
bekerja pada potongan yang berarah miring dengan sudut e.
Perlu diketahui bahwa Persamaan (2-23a) dan (2-23b) diturunkan
hanya dari statika sehingga keduanya tidak bergantung pada bahan. Jadi,
keduanya berlaku untuk bahan apapun, apakah tinier atau nonlinier, elastis
atau inelastis.
Bagaimana tegangan bervariasi untuk kemiringan bidang potongan
ditunjukkan dalam Gambar 2-31. Sumbu horizontal dinyatakan dalam sudut
() yang bervariasi dari -90° sampai +90°, dan sumbu vertikal memberikan
tegangan G8 dan re- Perhatikan bahwa tanda positif () diukur berarah
berlawanan jarum jam dari sumbu x (Gambar 2-30) dan sudut negatif
diukur searah jarum jam.
Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut, tegangan normal
G8 sama dengan G
x jika () = 0. Selanjutnya, jika 0bertambah atau berkurang,
tegangan normal akan mengecil sampai menjadi nol pada () = ±90° karena
tidak ada tegangan normal di potongan yang sejajar dengan sumbu
longitudinal. Tegangan normal maksimum terjadi pada () = 0 dan
besarnya adalah
(2-24)
Juga, kitalihatbahwajika () = ±45°, maka tegangan normal adalah setengah
harga maksimurnnya.
Tegangan geser r8 berharga nol pada penampang batang (() = 0) dan
juga pada potongan longitudinal (() = ±90°). Di antara kedua batas tersebut,
tegangan bervariasi seperti terlihat dalam gambar tersebut, hingga men-
96 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksia/
Gambar 2-32 Tegangan normal
dan geser yang bekerja pada elemen
tegangan yang berorientasi (} = 0°
dan (} = 45° umuk batang yang
mengalami tarik
capai harga positif terbesar pacta e = --45° ctan harga negatif terbesar pacta
() = +45°. Kectua tegangan geser maksimum ini mempunyai besar yang
sama yaitu
(2-25)
tetapi masing-masing memutar elemen ke arah yang berlawanan.
Tegangan maksimum cti batang yang mengalami tarik ctitunjukkan
ctalam Gambar 2-32. Kectua elemen tegangan ini ctipilih-elemen A
berorientasi pacta e = oo ctan elemen B berorientasi pacta e = 45°. Elemen
A mempunyai tegangan normal maksimum (Persamaan 2-24) ctan elemen
B mempunyai tegangan geser maksimum (Persamaan 2-25). Untuk elemen
A (Gambar 2-32b), tegangan yang acta hanyalah tegangan normal
maksimum (tictak acta tegangan geser cti muka ini).
)'
(a)
2 2
(b) (c)
Dalam kasus elemen B (Gambar 2-32c), baik tegangan normal maupun
tegangan geser bekerja pacta semua muka (kecuali, pacta muka ctepan ctan
belakang elemen). Tinjau, sebagai contoh, muka cti 45° (muka kanan atas).
Di muka ini tegangan normal ctan geser (ctari Persamaan 2-23a ctan b)
actalah CJ/2 ctan -CJ/2. Jacti, tegangan normal actalah tarik (positif) ctan
tegangan geser bekerja searah jarum jam (negatif) terhactap elemen.
Tegangan cti muka lainnya ctiperoleh ctengan cara sama ctengan
memasukkan () = 1 35°, --45° ctan -135° ke ctalam Persamaan (2-23a ctan
b). Jacti. ctalam kasus khusus untuk elemen yang berorientasi e = 45° ini,
tegangan noirnal cti keempat muka actalah sama (sama ctengan CJ)2) ctan
keempat tegangan geser mencapai besar maksimum (sama ctengan CJ)2).
Beban
t
Beban
Gambar 2-33 Kegagalan geser
di sepanjang bidang blok kayu 45°
yang dibebani tekan
Beban
t
Beban
Gambar 2-34 Jalur gelincir (atau
jalur Luders) pada benda uji baja
yang dipoles dibebani tarik
Mekanika Bahan 97
Juga, perhatikan bahwa tegangan geser yang bekerja pada bidang-bidang
yang tegak lurus mempunyai besar yang samadan mempunyai arah menuju,
atau meninggalkan, garis perpotongan bidang-bidang, sebagaimana dibahas
dengan rinci dalam Subbab 1 .6.
Jika suatu batang dibebani tekan, bukannya tarik, maka tegangan ax
akan berupa tekan dan akan mempunyai harga negatif. Karena itu, semua
tegangan yang bekerja di elemen tegangan akan mempunyai arah yang
berlawanan dengan untuk batang yang mengalami tarik. Tentu saja,
Persamaan (2-23a dan b) masih dapat digunakan untuk perhitungan dengan
memasukkan ax sebagai besaran negatif.
Meskipun tegangan geser maksimum di batang yang dibebani secara
aksial hanyalah setengah dari tegangan normal maksimum, tegangan geser
dapat menyebabkan kegagalan jika bahannya jauh lebih lemah terhadap
geser dibandingkan terhadap tarik. Sebuah contoh yang menunjukkan
kegagalan geser terlihat dalam Gambar 2-33, yang menunjukkan sebuah
blok kayu yang telah dibebani tekan dan gagal karena tetjadi geser di
sepanjang bidang 45°. Jenis perilaku seperti ini tetjadi pada baja lunak
yang dibebani tarik. Selama uji tarik pada batang datar dari baja berkarbon
rendah dengan permukaan yang dipoles, jalur gelincir (slip bandsJ terlihat
pada sisi-sisi batang pada 45° dengan sumbu (Gambar 2-34). Jalur ini
menunjukkan bahwa bahan tersebut gagal secara geser di sepanjang bidang­
bidang di mana tegangan geser mencapai maksimum. Jalur seperti ini
pertama kali diamati oleh G. Piobert pada tahun 1842 dan W. Ltiders pada
tahun 1 860 (lihat Ref. 2-6 dan 2-7), dan dewasa ini jalur tersebut disebut
Jalur Liiders atau lalur Piobert. Jalur ini mulai terlihat jika tegangan
luluh di batang tercapai (titik B dalam Gambar 1-10).
Keadaan tegangan yang dijelaskan dalam subbab ini disebut tegangan
uniaksial, karena alasan yang sudah jelas, yaitu batang tersebut mengalami
tarik mumi atau tekan pada satu arah saja. Orientasi elemen tegangan
yang paling penting untuk tegangan uniaksial adalah e = 0 dan e = 45°
(Gambar 2-32); yang disebut pertama mempunyai tegangan normal
maksimum dan yang disebut terakhir mempunyai tegangan geser
maksimum. Jika potongan di batang mempunyai sudut lainnya, maka
tegangan yang bekerja di muka-muka elemen tegangan dapat ditentukan
dari Persamaan 2-23a dan b), seperti digambarkan dalam Contoh 2-10 dan
2-1 1 berikut ini. Tegangan uniaksial adalah kasus khusus dari keadaan
tegangan yang lebih umum yang dikenal dengan tegangan bidang, yang
dibahas dengan rinci dalam Bab 7.
• Contoh 2-1o
Sebuah batang prismatis yang mempunyai luas penampang A = 1 200 mm
2
ditekan
dengan gaya aksial P = 90 kN (Gambar 2-35a). Tentukanlah tegangan yang bekerja
di potongan miring pq yang dipotong melalui batang dengan sudut e = 25°. (b)
Tentukan keadaan tegangan secara lengkap untuk e = 2SO dan tunjukkan tegangan
di elemen tegangan yang diarahkan dengan benar.
98 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
(a)
(b)
Gambar 2-35 Contoh 2-10.
Tegangan pada potongan miring
(c)
Solusi
(a) Untuk mendapatkan tegangan yang bekerja pada potongan pada sudut 6
= 25°, mula-mula kita hitung tegangan normal a
x yang bekerja pada potongan
melintang:
p
C1 = --
X
A
90 kN
= - 75 MPa
1200 mm
2
di mana tanda minus menunjukkan bahwa tegangan adalah tekan. Selanjutnya,
kita hitung tegangan normal dan geser dari Persamaan (2-23a dan b) dengan (J =
25°, sebagai berikut:
a9 = ax cos
2
8 = (-75 MPa)(cos 25°)2
= -61 , 1 MPa ..
r9 = -ax sin 8 cos 8 = (75 MPa)(sin 25°)(cos 25°) = 28,7 MPa ..
Tegangan ini ditunjukkan bekerja pada potongan miring dalam Gambar 2-35b.
Perhatikan bahwa tegangan normal a9 adalah negatif (tekan) dan tegangan geser
r9 adalah positif (berlawanan jarum jam).
(b) Untuk menentukan keadaan tegangan yang lengkap, kita perlu mencari
tegangan yang bekerja di semua muka elemen tegangan yang berorientasi 25°
(Gambar 2-35c). Muka ab, di mana (J = 25°, mempunyai orientasi sama dengan
bidang miring dalam Gambar 2-35b. Dengan demikian, tegangannya sama dengan
yang dituliskan di atas.
Tegangan di muka sebaliknya cd adalah sama dengan yang ada di muka ab,
yang dapat diverifikasi dengan memasukkan (J = 25° + 1 80° = 205° ke dalam
Persamaan (2-23a dan b).
Untuk muka be kita masukkan (J = 25° - 90° = -65° ke dalam Persamaan
(2-23a dan b) dan mendapatkan
a9 = -13,4 MPa 1:9 = -28,7 MPa
Tegangan-tegangan yang sama ini juga berlaku di muka sebaliknya, ad,
sebagaimana dapat diverifikasi dengan memasukkan (J = 25° + 90° = 1 15° ke
dalam Persamaan (2-23a dan b). Catat bahwa tegangan normal ini adalah tekan
dan tegangan geser mempunyai arah berlawanan jarum jam.
Keadaan tegangan secara lengkap ditunjukkan denganelemen tegangan dalam
Gambar 2-35c. Sketsa seperti ini merupakan cara yang sangat baik untuk
menunjukkan arah tegangan dan orientasi bidang di mana tegangan tersebut bekerja.
Mekanika Bahan 99
• Contoh 2-1 1
Gambar 2-36 Contoh 2- 1 1 .
Tegangan pada potongan miring
Sebuah batang yang mempunyai penampang bujursangkar dengan sisi b harus
memikul beban P = 8000 lb (Gambar 2-36a). Dua bagian batang dihubungkan
oleh joint berlem (dikenal dengan scarf joint) di sepanjang bidang pq, yang
membentuk sudut a = 40° dengan vertikal. Batang ini terbuat dari plastik struktural
yang mempunyai tegangan izin tekan dan geser masing-masing 1 100 psi dan 600
psi. Selain itu, tegangan izin di joint yang berlem adalah 750 psi untuk tekan dan
500 psi untuk geser. Tentukanlah lebar minimum b untuk batang.
a = 40°
f3 = 50°
9 = -{3 = -50°
(a) (b)
Solusi
Untuk mudahnya, kita putar batang ini menjadi horizontal (Gambar 2-36b) yang
cocok dengan gambar yang digunakan dalam menurunkan persamaan untuk
tegangan di potongan miring (lihat Gambar 2-29 dan 2-30). Dengan posisi batang
seperti ini, kita lihat bahwa normal n terhadap bidang joint berlem (bidang pq)
membentuk sudut f3 = 90° - a, atau 50°, dengan sumbu batang. Karena sudut (}
didefinisikan positif jika berlawanan jarum jam (Gambar 2-30), kita simpulkan
bahwa (} = -50° untuk joint berlem.
Luas penampang batang mempunyai kaitan dengan beban P dan tegangan
a
x
di penampang dengan persamaan
(a)
Dengan demikian, untuk memperoleh luas yang dibutuhkan, mula-mula kita harus
menentukan harga a
x yang berkaitan dengan masing-masing dari empat tegangan
izin. Selanjutnya, harga terkecil dari a
x
akan menentukan luas yang dibutuhkan.
Harga a
x
diperoleh dengan menyusun kembali Persamaan (2-23a dan b) sebagai
berikut:
a =
X
sin (} cos (}
(2-26a,b)
Sekarang kita akan menerapkan persamaan-persamaan di atas kejointberlem dan
ke plastik.
1 00 Bab 2 Elemen Struktur yang Oibebani Secara Aksial
(a) Harga crx yang didasarkan atas tegangan i::in di joint berlem. Untuk
tekan di joint berlem kita ketahui CTe = -750 psi dan 8 = -50°. Dengan
memasukkannya ke dalam Persamaan (2-26a) kita dapatkan
er =
-750 psi
= - 1 8 1 5 psi
X (COS -50°)2
(b)
Untuk geser dijoint berlem kita ketahui tegangan izin 500 psi. Sekalipun demikian,
tidak begitujelas apakah r
e
adalah +500 psi ataukah -500 psi. Salah satu pendekatan
ada1ah dengan memasukkan kedua harga tersebut ke dalam Persamaan (2-26b)
dan selanjutnya memilih harga crx yang negatif. Harga er
,
lainnya akan positif
(tarik) dan tidak berlaku untuk batang ini, yang mengalami tekan. Pendekatan lain
adalah dengan memeriksa batang itu sendiri (Gambar 2-36b) dan mengamati dari
arah beban bahwa tegangan geser akan berarah jarum jam terhadap bidang pq'
yang berarti bahwa tegangan geser negatif. Dengan demikian, kita masukkan r
e
= -500 psi dan e = -50° ke dalam Persamaan (2-26b) dan mendapatkan
() =
X
-500 psi
= -1015 psi
(sin -50°)(cos -50°)
(c)
(b) Harga er
,
berdasarkan atas tegangan izin di plastik. Tegangan tekan
maksimum di p1astik terjadi di potongan melintang. Dengan demikian, karena
tegangan izin tekan adalah 1 100 psi, maka kita langsung mengetahui bahwa
crx = -1 100 psi (d)
Tegangan geser maksimum di bidang terjadi pada arah 45° dan secara numerik
sama dengan cr)2 (lihat Persamaan 2-25). Karena tegangan geser izin adalah 600
psi, maka
crx = -1200 psi (e)
Hasil yang sama dapat diperoleh dari Persamaan (2-26b) dengan memasukkan re
= 600 psi dan e = 45°.
(c) Lebar minimum batang. Dengan membandingkan keempat harga crx
(Persamaan b, c, d, dan e), kita lihat bahwa yang terkecil ada1ah crx = -1015 psi.
Dengan demikian, harga ini menentukan desainnya. Dengan memasukkannya ke
dalam Persamaan (a), dan dengan menggunakan harga numerik, maka kita peroleh
luas yang dibutuhkan
A =
8000 1b
= 7,88 in.z
1015 psi
Karena batang ini mempunyai penampang bujursangkar (A = b
2
), maka lebar
minimum adalah
bmin =
.JA = �7,88 in.
2 = 2,8 1 in. ..
Setiap 1ebar yang lebih besar daripada bmin akan menjamin bahwa tegangan izin
tidak dilampaui. Sebagai contoh, kita dapat memilih b = 3,0 in.
ENERGI REGANGAN
Energi regangan adalah konsep dasar di dalam mekanika terapan, dan
prinsip energi regangan banyak digunakan untuk mencari respons mesin
dan struktur terhadap beban statik maupun dinamik. Di dalam subbab ini
kita meninjau topik energi regangan dalam bentuk yang paling sederhana
dengan hanya meninjau elemen struktur yang dibebani secara aksial yang
mengalami beban statik. Elemen struktur yang lebih rumit dibahas pada
bab-bab lain-batang yang mengalami torsi dibahas di Subbab 3.9 dan
Gambar 2-37 Batang prismatis
yang mengalami beban statis.
p
Gambar 2-38 Diagram beban­
peralihan
Mekanika Bahan 1 01
balok yang mengalami lentur dibahas di Subbab 9.8. Selain itu, penggunaan
energi regangan dalam kaitan dengan beban dinamik diuraikan dalam
subbab berikutnya (Subbab 2.8) dan dalam Subbab 9. 10.
Untuk menggambarkan ide dasar. tinjaulah batang prismatis yang
panjangnya L yang mengalami gaya tarik P (Gambar 2-37). Kita asumsikan
bahwa beban diterapkan secara perlahan-lahan, sedemikian hingga beban
tersebut bertambah dari nol ke harga maksimumnya P. Beban seperti ini
disebut beban statik karena tidak ada efek dinamik ataupun inersia akibat
gerakan. Batang ini secara perlahan-lahan memanjang pada saat beban
diterapkan, hingga akhimya mencapai perpanjangan maksimum 8 pada
saat yang sama dengan beban mencapai harga maksimum P. Dengan
demikian, beban dan perpanjangan harus tetap tak berubah.
Selama proses pembebanan, beban P bergerak perlahan-lahan melalui
jarak 8 dan melakukan sejumlah usaha. Untuk mengevaluasi usaha ini,
kita ingat dari mekanika dasar bahwa gaya konstan melakukan usaha
sama dengan hasil kali gaya dan jarak yang ditempuhnya. Dalam kasus
kita, besar gaya bervariasi dari nol ke harga maksimum P. Untuk
mendapatkan usaha yang dilakukan oleh beban akibat kondisi ini, kita
perlu mengetahui bagaimana beban tersebut berubah. Informasi ini
diberikan dengan diagram beban-peralihan, sepeni terlihat dalam Gambar
2-38. Pada diagram ini sumbu vertikal menujukkan beban aksial dan sumbu
horizontal menunjukkan perpanjangan batang. Bentuk kurva ini bergantung
pada besaran bahan.
Kita gunakan notasi P1 untuk harga beban berapapun antara no! dan
harga maksimum P, dan mencatat perpanjangan di batang tersebut dengan
81• Lalu, pertambahan dP1 pada beban akan menghasilkan peningkatan
do1 pada perpanjangan. Usaha yang dilakukan oleh beban selama
peningkatan perpanjangan adalah hasil kali beban dan jarak yang dilampaui,
artinya usaha sama dengan P1do1• Usaha ini dinyatakan dalam gambar
tersebut dengan luas yang di arsir gelap di bawah kurva beban-peralihan.
Usaha total yang dilakukan oleh beban pada saat meningkat dari nol ke
harga maksimum P adalah jumlah dari semua strip elemental:
w = fo�do1 (2-27)
Dalam tinjauan geometrik, usaha yang dilakukan oleh beban sama dengan
luas di bawah kurva beban-peralihan.
Apabila beban memperpanjang batang, maka timbul regangan. Adanya
regangan ini menambah taraf energi batang itu sendiri. Dengan demikian,
besaran baru, yang disebut energi regangan, didefinisikan sebagai energi
yang diserap oleh batang selama proses pembebanan. Dari prinsip
konservasi energi, kita ketahui bahwa energi ini sama dengan usaha yang
dilakukan oleh beban asalkan tidak ada energi yang ditambahkan atau
dikurangi di dalam batang panas. Dengan demikian,
(2-28)
di mana U adalah simbol untuk energi regangan. Kadang-kadang energi
regangan disebut dengan usaha dalam untuk membedakannya dengan
usaha luar yang dilakukan oleh beban.
102 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
p
B
Energi
regangan
inelastis
Energi
regangan
elastis
D c 8
Gambar 2-39 Energi regangan
elastis dan inelastis
p
T
p
_
j01 8 --1
0
Gambar 2-40 Diagram beban­
peralihan untuk batang dari bahan
elastis Jinier
Usaha dan energi dinyatakan dalam satuan yang sama. Dalam SI, satuan
usaha dan energi adalah dalam joule (J), yang sama dengan satu newton
meter ( 1 J = 1 Nm). Dalam satuan USCS, usaha dan energi dinyatakan
dalam foot-pound (ft-lb), foot-kip (ft-k), inci-pound (in.-lb), dan inci-kip
(in.-k).*
Jika gaya P (Gambar 2-37) secara perlahan-lahan dihilangkan dari
batang, maka batang tersebut akan memendek. Jika limit elastis bahan
tidak dilampaui, maka batang akan kembali ke panjang semula. Jika limit
ini terlampaui, maka set permanen akan tertinggal (lihat Subbab 1 .4).
Jadi, semua atau sebagian dari energi regangan akan terpulihkan menjadi
usaha. Perilaku ini ditunjukkan dalam diagram beban-peralihan dalam
Gambar 2-39. Selama pembebanan, usaha yang dilakukan oleh beban
sama dengan luas di bawah kurva (luas OABCDO). Jika beban dihilangkan,
maka diagram beban-peralihan mengikuti garis BD jika titik B ada di luar
limit elastis dan perpanjangan permanen OD tetap tersisa. Jadi, energi
regangan yang terpulihkan selama penghilangan beban, yang disebut energi
regangan elastis, dinyatakan dengan segitiga yang diarsir gelap (BCD).
Luas OABDO menunjukkan energi yang hilang dalam proses merubah
bentuk batang secara permanen. Energi ini dikenal dengan energi regangan
inelastis.
Kebanyakan struktur didesain dengan harapan bahwa bahan akan
tetap di dalam selang elastis pada kondisi layanan yang biasa. Untuk
batang yang mengalami tarik, beban pada saat tegangan di bahan mencapai
limit elastis dinyatakan dengan titik A di kurva beban-peralihan (Gambar
2-39). Selama beban masih di bawah harga ini, semua energi regangan
akan dapat pulih selama penghilangan beban dan tidak ada perpanjangan
permanen yang tersisa. Jadi, batang ini akan beraksi sebagai pegas elastis,
yang menyimpan dan melepaskan energi apabila beban diterapkan dan
dihilangkan.
• Perilaku Elastis Linier
Sekarang kita asumsikan bahwa bahan pembentuk batang mengikuti hukum
Hooke sedemikian hingga kurva beban-peralihan adalah garis lurus
(Gambar 2-40). Jadi, energi regangan U yang disimpan di batang tersebut
(sama dengan usaha W yang dilakukan oleh beban) adalah
(2-29)
yang merupakan luas segthga yang digelapkan OAB dalam gambar
tersebut.** Selanjutnya, kita ketahui bahwa hubungan antara beban P dan
perpanjangan
8
untuk bahan elastis linier dinyatakan dengan persamaan
8
=
PL
EA
(2-30)
* Faktor-faktor konversi untuk ketja dan energi diberikan dalam Lampiran A, Tabel A-5.
* * Prinsip babwa kerja oleh beban luar sama dengan energi regangan (untuk kasus perilaku elastis
linier) pertama kali dinyatakan oleh insinyur Perancis B.P.E. Clapeyron (1799-1864) dan dikenal dengan
teorema Clapeyron (Ref. 2-8).
Gambar 2-41 Batang yang terdiri
atas segmen-segmen prismatis yang
mempunyai luas penampang dan
gaya aksial yang berbeda-beda
n
== L
�J
p
Gambar 2-42 Batang non­
prismatis dengan gaya aksial yang
bervariasi
Mekanika Bahan 1 03
Dengan menggabungkan persamaan ini dengan Persamaan (2-29), kita
dapat menyatakan energi regangan pada batang elastis linier dalam bentuk
sebagai berikut
(2-3 1a,b)
Persamaan pertama menyatakan energi regangan sebagai fungsi dari beban
dan yang kedua menyatakannya sebagai fungsi dari perpanjangan. Dari
persamaan pertama kita lihat bahwa memperbesar panjang suatu batang
akan meningkatkan energi regangan meskipun bebannya tidak berubah
(karena lebih banyak bahan yang diregangkan oleh beban). Sebaliknya,
meningkatkan modulus elastisitas atau luas penampang akan mengurangi
energi regangan karenaregangan di batang berkurang. Ide ini digambarkan
dalam Contoh 2-12 dan 2-13.
Persamaan energi regangan yang analog dengan Persamaan (2-31a)
dan (2-3 1b) dapat ditulis untuk pegas elastis linier dengan mengganti ke­
kakuan EA/L dari batang prismatis dengan kekakuan k suatu pegas. Jadi,
(2-32a,b)
Tentu saja, rumus-rumus ini ekivalen asalkan P = ko untuk suatu pegas.
Energi regangan total U pada suatu batang yang terdiri atas beberapa
segmen sama dengan jumlah energi regangan dari masing-masing segmen.
Sebagai contoh, energi regangan suatu batang yang terlihat dalam Gambar
2-41 sama dengan energi regangan segmen AB ditambah energi regangan
segmen BC. Konsep ini dinyatakan dalam bentuk umum dengan persamaan
sebagai berikut
(2-33)
di mana U; adalah energi regangan segmen i dari batang dan n adalah
banyaknya segmen. (Hubungan ini berlaku apakah bahan berperilaku linier
maupun nonlinier.)
Sekarang kita asumsikan bahwa bahan dari batang ini elastis linier
dan bahwa gaya aksial konstan di dalam setiap segmen. Kita dapat
menggunakan Persamaan (2-3 1a) untuk mendapatkan .energi regangan
segmen, dan Persamaan (2-33) menjadi
(2-34)
di mana N; adalah gaya aksial yang bekeija di segmen i dan L;, E;, dan
A; adalah besaran segmen i. (Penggunaan persamaan ini digambarkan
dalam Contoh 2-12 dan 2-1 3 di akhir subbab ini.)
Kita dapat memperoleh energi regangan pada batang nonprismatis
dengan gaya aksial yang bervariasi secara kontinu (Gambar 2-42) dengan
menerapkan Persamaan (2-3 1a) untuk elemen diferensial (ditunjukkan
dengan bagian yang digelapkan dalam gambar) dan selanjutnya meng­
integrasikan di seluruh panjang batang
104 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksiaf
c
f
'
' , '
n'! p
'
'
f
Gambar 2-43 Struktur yang
memikul beban tunggal P
U =
fL [N(x)]
2
dx
Jo 2EA(x)
(2-35)
Di dalam persamaan ini, N(x) dan A(x) adalah gaya aksial dan luas
penampang pada jarak x dari ujung batang. (Contoh 2-14 menggambarkan
penggunaan persamaan ini.)
Rumus untuk energi regangan di atas (Persamaan 2-3 1 sampai 2-35)
menunjukkan bahwa energi regangan bukanlah merupakan fungsi linier
dari beban, meskipun bahannya bersifat elastis linier. Jadi, perlu diingat
bahwa kita tidak dapat memperoleh energi regangan suatu struktur yang
memikul lebih dari satu beban dengan menggabungkan energi regangan
yang diperoleh dari masing-masing beban secara terpisah. Dalam hal
batang nonprismatis yang terlihat dalam Gambar 2-41, energi regangan
total bukanlah merupakan jumlah dari energi regangan akibat beban P1
yang bekerja sendiri dan energi regangan akibat beban P2 yang bekerja
sendiri. Untuk itu, kita harus menghitung energi regangan dengan semua
beban yang bekerja secara simultan, sebagaimana akan ditunjukkan dalam
Contoh 2-14.
Meskipun kita hanya meninjau elemen tarik di dalam pembahasan
energiregangan, semua konsep dan persamaan berlaku sama dengan elemen
tekan. Karena kerja yang dilakukan oleh beban aksial adalah positif, tak
peduli apakah beban menyebabkan tarik atau tekan, maka energi regangan
selalu merupakan besaran positif. Fakta ini juga nyata dalam rumus untuk
energi regangan pada batang elastis linier (seperti Persamaan 2-3 1 a dan 2-
3 1b). Rumus-rumus ini selalu positif karena beban dan perpanjangan
dikuadratkan.
Energi regangan adalah bentuk dari energi potensial (atau "energi
posisi") karena energi ini bergantung pada lokasi relatif partikel-partikel
elemen yang membentuk elemen struktur. Apabila suatu batang atau pegas
mengalami tekan, maka partikel-partikelnya akan semakin rapat; apabila
ditarik, jarak antara partikel akan bertambah. Dalam kedua kasus tersebut
energi regangan elemen struktur akan bertambah dibandingkan dengan
energi regangan pada posisi tak dibebani.
• Peralihan yang Disebabkan oleh Beban Tunggal
Peralihan suatu struktur elastis linier yang memikul hanya satu beban
dapat ditentukan dari energi regangannya. Untuk menggambarkan metode
ini, tinjaulah rangka batang dua batang (Gambar 2-43) yang dibebani oleh
gaya vertikal P. Tujuan kita adalah untuk menentukan peralihan vertikal
8 di joint B di mana beban tersebut diterapkan.
Apabila diterapkan perlahan-lahan pada rangkabatang tersebut, beban
P melakukan usaha pada saat ia bergerak melalui peralihan vertikal 8.
Namun, ia tidak melakukan usaha pada saat bergerak ke arah lateral, yaitu
ke samping. Dengan demikian, karena diagram beban-peralihan adalah
linier (lihat Persamaan 2-29 dan Gambar 2-40), maka energi regangan U
yang disimpan dalam struktur tersebut sama dengan kerja yang dilakukan
oleh beban, yaitu
u w
Po
2
Mekanika Bahan 1 05
sehingga kita dapatkan
(2-36)
Persamaan ini menunjukkan bahwa pada kondisi khusus tertentu,
sebagaimana disebutkan di bawah ini, peralihan suatu struktur dapat
ditentukan secara langsung dari energi regangan.
Kondisi yang harus dipenuhi agar Persarnaan (2-36) berlaku adalah:
(1) struktur harus berperilaku elastis linier, dan (2) hanya satu beban yang
bekerja pada struktur. Lebih jauh lagi, satu-satunya peralihan yang dapat
ditentukan adalah peralihan yang berkaitan dengan beban itu sendiri
(artinya, peralihan tersebut harus dalam arah beban dan harus di titik di
mana beban itu bekerja). Dengan dernikian, metode untuk mencari peralihan
sangat terbatas dalam penerapannya dan bukan merupakan indikator yang
baik dari pentingnya prinsip energi regangan di dalam mekanika struktur.
Sekalipun demikian, metode ini memberikan pengantar pada penggunaan
energi regangan. (metode ini digambarkan dalarn Contoh 2- 15.)
• Rapat Energi-Regangan
Pada banyak situasi akan lebih mudah jika menggunakan besaran yang
disebut rapat energi-regangan, yang didefinisikan sebagai energi regangan
per volume satuan bahan. Rumus untuk rapat energi regangan bagi bahan
yang elastis linier dapat diperoleh dari rumus untuk energi regangan batang
prismatis (Persamaan 2-3 1a dan b). Karena energi regangan suatu batang
terdistribusi secara merata di seluruh volumenya, maka kita dapat
menentukan energi regangan dengan membagi energi regangan total U
dengan volume batang AL. Jadi, rapat energi regangan, yang ditulis dengan
u, dapat ditulis dalam bentuk:
p2
u = --
2EA
2 (2-37a,b)
Jika kita mengganti PIA dengan tegangan er dan 8/L dengan regangan e,
maka
(2-38a,b)
Persamaan-persamaan ini memberikan rapat energi regangan pada bahan
elastis linier yang dinyatakan dalam tegangan normal er dan regangan
normal e.
Persarnaan (2-38a dan b) mempunyai interpretasi geometri sederhana.
Keduanya sama dengan luas cre/2 dari segitiga di bawah kurva tegangan­
regangan untuk bahan yang mengikuti hukum Hooke (er = Ee). Dalam
situasi yang lebih umum di mana bahan tidak mengikuti hukum Hooke,
rapat energi-regangan masih sama dengan luas di bawah kurva tegangan­
regangan, tetapi luas tersebut harus dievaluasi pada masing-masing kasus
khusus.
Rapat energi-regangan mempunyai satuan energi dibagi dengan
volume. Satuan SI adalah joule per meter kubik (J/m3) dan satuan USCS
adalah ft-lb/ft3, lb-inlin3, dan satuan-satuan lain yang serupa. Karena semua
r
106 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
satuan ini dapat susut menjadi satuan tegangan (ingat bahwa 1 J = 1 N.m,
maka kita dapat juga menggunakan satuan seperti pascal (Pa) dan psi
untuk rapat energi-regangan.
Rapat energi regangan untuk bahan yang mengalami tegangan hingga
mencapai limit proporsionalnya disebut modulus resiliensi ur. Ini dapat
dihitung dengan memasukkan limit proporsional aP1 ke dalam Persamaan
(2-38a):
2
u = O"pl
r
2E
(2-39)
Sebagai contoh, bahan baja lunak yang mempunyai a
P1 = 30.000 psi dan
E = 30 x 106 psi mempunyai modulus resiliensi ur = 15 psi (atau 103 kPa).
Catatbahwa modulus resiliensi sama dengan luas di bawahkurva tegangan­
regangan sampai limit proporsional. Resiliensi menunjukkan kemampuan
bahan untuk menyerap dan melepaskan energi di dalam selang elastis.
Besaran lain, yang disebut ketangguhan (toughness), mengandung
arti kemampuan suatu bahan untuk menyerap energi tanpa mengalami
fraktur. Modulus yang berkaitan dengan itu, disebut modulus ketangguhan
u1, adalah rapat energi regangan apabila suatu bahan mengalami tegangan
hingga titik kegagalan. Ini sama dengan luas di bawah keseluruhan kurva
tegangan-regangan. Semakin tinggi modulus ketangguhan, semakin besar
kemampuan bahan itu untuk menyerap energi tanpa gagal. Harga modu­
lus ketangguhan yang tinggi merupakan hal yang penting apabila suatu
bahan mengalami beban kejut (lihat Subbab 2.8)
Rumus untuk rapat energi regangan (Persamaan 2-37 sampai 2-39)
diturunkan untuk tegangan uniaksial, artinya untuk bahan yang hanya
mengalami tarik atau tekan. Rumus energi regangan untuk keadaan
tegangan yang lebih umum dibahas di dalam Bab 7.
• Contoh 2-12
Tiga batang bundar yang mempunyai panjang yang sama (L), tetapi bentuk yang
berbeda, terlihat dalam Gambar 2-44. Batang pertama mempunyai diameter d di
seluruh panjangnya, yang kedua mempunyai diameter d pada 1/5 dari panjangnya,
dan yang ketiga mempunyai diameter dpada 1/15 dari panjangnya. Di bagian lain,
batang kedua dan ketiga mempunyai diameter 2d. Ketiga batang ini mengalami
beban aksial P yang sama.
Hitunglah besarnya energi regangan yang disimpan pada masing-masing
batang, dengan menganggap perilaku elastis linier. (Abaikan efek-efek konsentrasi
tegangan dan berat batang.)
Solusi
(a) Energi regangan U1 pada batang pertama. Energi regangan batang
pertama diperoleh Iangsung dari Persamaan (2-3l a):
di mana A = 7tlP/4.
p2L
U1 =
2EA
(a) •
(b) Energi regangan U2padabatangkedua. Energi regangan diperoleh dengan
menjumlahkan energi regangan di ketiga segmen batang (lihat Persamaan 2-34).
Gambar 2-44 Contoh 2-12.
Perhitungan energi regangan
Mekanika Bahan 107
1
�·. ·
2d
L
_j_
p
(a) (b) (c)
Jadi,
U = � N?Li =
P2(L/5) + P2(4L/5)
= P:L
2 {;;2EiAi 2EA 2£(4A.) SEA
(b) ..
yang hanya 40% dari energi regangan pada batang pertama. Jadi, memperbesar
luas penampang pada sebagian dari panjang sangat mengurangi besamya energi
regangan yang dapat disimpan pada batang.
(c)Energi regangan U3 pada batang ketiga dengan menggunakan Persamaan
(2-34) kita dapatkan
U =
iNi2Li
=
P2 (LI5) + P2 (14L/15)
=
3P2L =
3U1
3 i=l 2E;Ai 2EA 2£(4A) 20EA 10 (c) ..
Sekarang energi regangan berkurang sampai menjadi 30% energi regangan batang
pertama.
Catatan: Dengan membandingkan hasil-hasil ini, kita lihat bahwa energi
regangan berkurang apabila sebagian dari batang dengan luas yang lebih besar
bertambah. Sejum1ah kerja yang sama yang diberikan pada ketiga batang akan
menghasilkan tegangan yang terbesar pada batang yang ketiga karena batang ketiga
mempunyai kapasitas serap energi yang paling sedikit. Jika daerah yang mempunyai
diameter d lebih kecil lagi, maka kapasitas serap energinya akan lebih berkurang
lagi. Dengan demikian, kita simpulkan bahwa dibutuhkan sedikit kerja untuk
menghasilkan tegangan tarik besar di suatu batang dengan takikan, dan semakin
sempit takikan, semakin parah pula kondisinya. Apabila bebannya adalah dinamik
dan kemampuan untuk menyerap energi merupakan ha! penting, maka adanya
takikan akan sangat merusak.
Dalam ha! beban statik, tegangan maksimum akan lebih penting dibandingkan
dengan kemampuan untuk menyerap energi. Dalam contoh ini, ketiga batang
mempunyai tegangan maksimum PIA (asalkan konsentrasi tegangan dapat diredam),
sehingga ketiga batang mempunyai kapasitas pikul beban apabila beban diterapkan
secara statis.
• Contoh 2-13
Silinder dan kepala silinder untuk mesin udara yang terkompresi dijepit dengan
baut melalui flens dari silindemya (Gambar 2-45a). Detail dari baut ditunjukkan
da1am bagian (b) dari gambar tersebut. Diameter d tangkai baut adalah 0,500 in
dan diameter akar d, dari bagian berulir adalah 0,406 in. Grip g dari baut adalah
1 ,50 in dan bagian berulir mempunyai jarak t = 0,25 in ke dalam grip. Akibat aksi
siklus tekanan rendah dan tinggi di ruang, pada akhimya baut dapat putus.
1 08 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Untuk mengurangi kemungkinan baut gaga!, perencana menyarankan dua
kemungkinan modifikasi: (a) Dengan menggunakan mesin, perkecil ukuran diam­
eter tangkai baut hingga sama dengan diameter bagian berulir dr, seperti terlihat
dalam Gambar 2-46a. (b) Gantilah setiap pasang baut dengan satu baut panjang,
seperti terlihat dalam Gambar 2-46b. Baut yang panjang adalah sama dengan baut
semula (Gambar 2-45b) kecuali bahwa grip baut ini bertambah dengan jarak L =
1 3,5 in.
Bandingkan kapasitas penyerapan-energi ketiga konfigurasi baut: ( I ) baut
semula, (2) baut dengan diameter tangkai yang direduksi, (3) baut panjang.
(Asumsikan perilaku elastis linier dan abaikan pengaruh konsentrasi tegangan.)
Silinder

�
'1Ji:l Ruang Piston
Gambar 2-45 Contoh 2- 13. (a)
Silinder dengan piston dan baut
penjepit, dan (b) Detail satu baut
Gambar 2-46 Contoh 2- 1 3.
Modifikasi yang disarankan untuk
baut: (a) Baut dengan diameter yang
direduksi, dan (b) baut dengan
panjang yang ditambah
(a) (b)
(a)
(b)
Solusi
(1) Baut semula. Baut semula dapat diidealisasikan sebagai batang yang
terdiri alas dua segmcn (Gambar 2-45b). Segmen kiri mempunyai panjang g - t
dan diameter d, dan segmcn kanan mempunyai panjang t dan diameter dr. Energi
regangan satu baut yang mengalami beban tarik P dapat diperoleh dengan
menjumlahkan energi regangan kedua segmen (Persamaan 2-34):
" 2 L
, 2
_ " N; ; _ P" (g - t) P t
ul - £....-- - + --
i=l
2E;A; 2 EA5 2 EAr
(d)
di mana As adalah luas penampang tangkai baut, dan Ar adalah luas penampang
baut di akar uliran; jadi,
Mekanika Bahan 109
Jrd2
A = ­
s
4
A = Jrd;
'
4
(e)
Dengan memasukkan rumus ini ke dalam Persamaan (d), kita dapatkan rumus
berikut untuk energi regangan satu dari empat baut semula:
2P2(g - tJ 2P2t
V - + --
I
-
7rEd2 i!Ed;
(f)
(2) Baut dengan diameter tangkai mng tereduksi. Baut ini dapat
diidealisasikan sebagai batang prismatis dengan panjang g dan diameter dr (Gambar
2-46a). Dengan demikian, energi regangan satu baut (!ihat Gambar 2-31 a) adalah
V
- p2g - 2P:g
2 -
2EA,
-
nEd;
Rasio energi regangan untuk kasus ( 1 ) dan (2) adalah
Vz = gd2
VI (g - t)d; + td2
atau, dengan memasukkan harga-harga numerik.
(g)
(h)
V2 =
( 1 ,50 in.)(0,500 in.)
2
= I 40 ..
VI ( 1 ,50 in. - 0,25 in.)(0,406 in.)2 + (0.25 in. )(0.500 in.2
·
Jadi, dengan menggunakan baut yang diameter tangkainya berkurang akan diperoleh
peningkatan 40% pada energi regangan yang dapat diserap oleh baut. Jika
diimplementasikan, skema ini dapat mengurangi banyaknya kegagalan yang
disebabkan oleh beban kejut.
(3) Baut panjang. Perhitungan untuk baut panjang (Gambar 2-46b) sama
dengan untuk baut semula, tetapi grip g diganti dengan grip L. Dengan demikian,
energi regangan untuk baut panjang (bandingkan dengan Persamaan t) adalah
2P2(L - t) 2P2t
v3 = + --
nEd2 nEd; (i )
Karena satu baut panjang menggantikan dua baut semula, maka kita harus
membandingkan energi regangan dengan mengambil rasio V3 terhadap 2V1, sebagai
berikut
.!:!.J..._ =
(L - t)d; + td2
2V1 2(g - t)d; + 2td2
Dengan memasukkan harga-harga numerik maka
v3 (1 3,5 in. - 0,25 in.)(0,406 in.)2 + (0,25 in.)(0,500 in.)2
= 4,18 ..
2VI
= 2(1 ,50 in. - 0,25 in.)(0,406 inl + 2(0,25 in.)(0,500 in.)2
Jadi, penggunaan baut panjang akan meningkatkan kapasitas serap energi sebesar
3 18% dan mendapatkan faktor keamanan yang lebih besar dari tinjauan energi
regangan.
Catatan: Dalam mendesain baut, perencana harus meninjau tegangan tarik
maksimum, tegangan tumpu maksimum, konsentrasi tegangan, dan ha1-hal lainnya.
• Contoh 2-1 4
Tentukan energi regangan pada batang prismatis yang tergantung pada ujung
atasnya. Tinjaulah beban berikut: (a) berat sendiri batang, dan (b) berat batang
ditambah beban P di ujung bawah. (Asumsikan peri1aku elastis 1inier.)
1 10 Bab 2 E/emen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
T
t T
I
I X
X
I
l L
_L_
-
t
j r
dx
(a) (b)
Gambar 2-47 Contoh 2-14. (a)
Batang tergantung yang memikul
berat sendiri. dan (b) batang ter­
gantung yang memikul berat sendiri
dan beban tambahan P
Solusi
(a) Energi regangan akibat berat sendiri batang (Gambar 2-47a). Batang ini
mengalami gaya aksial yang bervariasi, di ujung bawah adalah no! dan di ujung
atas adalah maksimum. Untuk menentukan besarnya gaya aksial, kita tinjau elemen
yang panjangnya dx (ditunjukkan dengan digelapkan pada gambar) pada jarak x
dari ujung atas. Gaya aksial internal N(x) yang bekerja pada elemen ini sama
dengan berat batang di bawah elemen
N(x) = y
A(L - x) (k)
di mana yadalah berat jenis bahan dan A adalah luas penampang batang. Dengan
memasukkan Persamaan (2-35) dan mengintegrasinya, maka energi-regangan to­
tal adalah
U = f
L [N(x)]2 dx =
[L[y
A(L - x)]2 dx =
y2AL3
o 2EA(x) Jo 2EA 6£
(2-40) •
Hasil yang sama dapat diperoleh dari rapat energi-regangan. Di sembarang
jarak x dari tumpuan, tegangannya adalah
er = N(x)
= y(L - x)
A
sehingga energi regangan (Persamaan 2-38a) adalah
az yz(L _ x)z
u = - =
2£ 2E
(l)
(m)
Energi regangan total dapat diperoleh dengan mengintegrasi u di seluruh volume
batang
U = fu dV = f
L
u(A dx)
=
l
L y2A(L - xf dx
0 0 2£
yang cocok dengan Persamaan (2-40).
yzAL3
6E
(n)
(b) Energi regangan akibat berat batang ditambah beban P (Gambar 2-
47b). Dalam kasus ini gaya aksial N(x) yang bekerja pada elemen adalah
N(x) = y
A(L - x) + P (o)
(bandingkan dengan Persamaan k). Dari Persamaan (2-35) kita dapatkan
U = fL [y
A(L - x) + P]2dx
=
y2AIJ
J PL2
+ P2L
(2_41) •
)0 2EA 6E 2E 2EA
Catatan: Suku pertama dalam rumus ini sama dengan energi regangan pada
batang yang tergantung dan dibebani berat sendiri saja (Persamaan 2-40), dan
suku terakhir sama dengan energi regangan suatu batang yang hanya mengalami
gaya aksial P (Persamaan 2-3 la). Namun, suku yang tengah mengandung y dan
P, yang menunjukkan bahwa energi tersebut bergantung pada berat batang dan
besamya beban yang bekerja. Jadi, contoh ini menggambarkan bahwa energi
regangan suatu batang yang mengalami dua beban tidak sama dengan jumlah
energi regangan yang diperoleh dari masing-masing beban yang bekerja secara
terpisah.
• Contoh 2-1 5
Tentukan peralihan vertikal 88 di joint B dari rangka batang yang terlihat dalam
Gambar 2-48. Perhatikan bahwa beban yang bekerja pada rangka batang hanyalah
rangka batang dengan beban vertikal P dijoint B. Asumsikan bahwa kedua batang
dari rangka batang ini mempunyai rigiditas aksial EA yang sama.
Gambar 2·48 Contoh 2- 15.
Peralihan rangka batang yang me­
mikul beban tunggal P
*2.8 1
Mekanika Bahan 1 1 1
Solusi
Karena hanya ada satu beban yang beketja pada rangka batang ini, maka kita
dapat mencari peralihan yang berkaitan dengan beban tersebut dengan menyamakan
ketja yang dilakukan beban tersebut dengan energi regangan pada batang-batang.
Namun, untuk mendapatkan energi regangan kita harus mengetahui gaya-gaya
pada batang (lihat Persamaan 2-31a).
Dari keseimbangan gaya yang beketja pada joint B kita lihat bahwa gaya
aksial F di masing-masing batang adalah
F =
_
_
P_
2 cos f3 (p)
Juga, dari geometri rangka batang kita lihat bahwa panjang setiap batang adalah
L1 = H!cos {3, di mana H adalah tinggi rangka batang dan f3 adalah sudut yang
ditunjukkan dalam gambar.
Sekarang kita dapat memperoleh energi regangan kedua batang:
U =
(2/2� = p2H
2EA 4EA cos3 f3
Ketja yang dilakukan beban P adalah
W = PoB
2
(q)
di mana oB adalah peralihan ke bawahjoint B. Dengan menyamakan U dan Wdan
menyelesaikan oB, kita dapatkan
(2-42) ..
Persamaan ini memberikan peralihan vertikaljointB padarangkabatang. Perhatikan
bahwa kita memperoleh peralihan dengan menggunakan keseimbangan dan energi
regangan-kita tidak menggunakan diagram peralihan di joint B.
BEBAN KEJUT
Beban dapat dikelompokkan sebagai statik atau dinamik bergantung pada
apakah beban itu tetap konstan atau bervariasi terhadap waktu. Beban
statik diterapkan perlahan-lahan sedemikian hingga tidak menyebabkan
efek dinamik atau getaran pada struktur. Beban bertarnbah perlahan-lahan
dari nol hingga mencapai harga maksimurnnya, sehingga tetap konstan.
Beban dinamik dapat mempunyai berbagai bentuk-beberapa beban
diterapkan dan dihilangkan secara tiba-tiba (beban kejut), ada pula yang
berjangka waktu lama dan berubah-ubah secara kontinu terhadap waktu
(beban yang berfiuktuasi). Beban kejut dihasilkan apabila dua benda
bertumbukan atau apabila benda jatuh dan mengenai suatu struktur. Beban
....
1 1 2 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Gambar 2-49 Beban kejut pada
batang prismatis AB ak:ibatjatuhnya
benda dengan massa M (a) (b)
yang berfluktuasi dihasilkan oleh mesin yang berputar, lalu lintas, angin,
gelombang air, gempa bumi, dan proses pembuatan di pabrik.
Sebagai contoh bagaimana suatu struktur merespon beban dinamik,
kita akan membahas kejut yang terjadi akibat jatuhnya benda ke suatu
batang prismatis (Gambar 2-49). Sebuah massa M, yang mula-mula dalam
keadaan diam, jatuh dari tinggi h ke sayap di ujung bawah batang AB.
Apabila massa tersebut menumbuk sayap, maka batang akan mulai
memanjang, sehingga menimbulkan tegangan dan regangan aksial di
batang. Pacta selang waktu yang sangat singkat, mungkin hanya beberapa
milidetik, sayap akan bergerak ke bawah dan mencapai posisi peralihan
maksimum. Dengan demikian, batang akan memendek, lalu memanjang,
lalu memendek lagi yang berarti batang bergetar secara longitudinal dan
ujung batang bergerak ke atas dan bawah. Getaran ini analog dengan yang
terjadi apabila suatu pegas ditarik dan kemudian dilepaskan. Getaran batang
akan berhenti karena efek redaman, dan batang akan diam dengan massa
M akan terletak pacta sayap.
Respons suatu batang terhadap massa yang jatuh tentu saja sangat
rumit, dan analisis lengkap dan akurat membutuhkan penggunaan teknik
matematika lanjut. Sekalipun demikian, kita dapat membuat analisis pen­
dekatan dengan menggunakan konsep energi regangan. (Subbab 2.7) dan
membuat beberapa asumsi yang menyederhanakan.
Kita mulai dengan meninjau energi suatu sistem sesaat sebelum massa
dilepaskan (Gambar 2-49a). Energi potensial massa terhadap elevasi sayap
adalah Mgh, di mana g adalah percepatan gravitasi.* Energi potensial ini
dikonversikan menjadi energi kinetik pacta saat massa jatuh. Pacta saat
massa menumbuk sayap, energi potensialnya terhadap elevasi sayap adalah
nol dan energi kinetiknya adalah Mv
2
!2 di mana v = ...}2gh adalah
kecepatannya.** Setelah tumbukan terjadi, energi kinetik massa di­
transformasikan menjadi energi regangan batang yang meregang. Sebagian
energi terdisipasi menjadi panas atau menjadi deformasi plastis yang
terlokalisasi pacta massa dan sayap. Sebagian kecil masih sebagai energi
kinetik dari massa, yang mungkin bergerak ke bawah lebih jauh lagi
(selama masih kontak dengan sayap) atau memantul ke atas.
* Dalam satuan SI, percepatan gravitasi g = 9,81 rn!detik2; dalam satuan USCS, g = 32,2 ft/detik2.
Untuk harga yang lebih akurat atau untuk pembahasan tentang massa dan berat, lihat Lampiran A.
** Dalam dunia teknik, kecepatan biasanyadipandang sebagai besaran vektor. Namun, karena energi
kinetik merupakan besaran skalar, maka k:ita akan menggunakan sebutan "kecepatan" yang berarti
besarnya kecepatan atau kelajuan.
Mekanika Bahan 1 1 3
Untuk membuat analisis yang disederhanakan dari situasi yang
sebenamya rurnit, kita akan mengidealisasikan perilaku ini dengan membuat
asumsi-asumsi sebagai berikut. Pertama, kita asumsikan bahwa massa dan
sayap mempunyai konstruksi sedemikian hingga massa "menempel" ke
sayap dan bergerak ke bawah bersama-sama (dengan perkataan lain, massa
tidak memantul). Perilaku ini lebih mungkin terjadi apabila massa tersebut
jauh lebih besar dibandingkan massa batang. Kedua, kita abaikan semua
energi yang hilang dan asumsikan bahwa energi kinetik dari massa yang
jatuh berubah seluruhnya menjadi energi regangan batang. Asumsi ini
konservatif dalam arti bahwa ini akan memprediksi tegangan yang lebih
besar di batang dibandingkan dengan yang diprediksi apabila kita
memperhitungkan kehilangan energi. Ketiga. kita abaikan semua perubahan
energi potensial pada batang itu sendiri (akibat gerakan vertikal elemen
batang), dan kita abaikan adanya energi regangan di batang akibat berat
sendirinya. Kedua efek ini sangat kecil. Keempat. kita asumsikan bahwa
tegangan di batang tetap berada dalam daerah elastis linier. Akhimya, kita
anggap bahwa distribusi tegangan di seluruh batang sama dengan apabila
batang tersebut dibebani secara statis oleh gaya di ujung bawah, artinya
tegangan terbagi rata di seluruh volume batang. Kondisi ini hanya
merupakan pendekatan karena dalam kenyataannya gelombang tegangan
longitudinal akan menjalar melalui batang, sehingga menyebabkan variasi
dalam distribusi tegangan.
Berdasarkan atas asumsi-asumsi di atas. kita dapat menghitung
perpanjangan maksimum dan tegangan tarik maksimum yang dihasilkan
oleh beban kejut. (lngat bahwa kita mengabaikan berat sendiri batang dan
mencari tegangan akibat massa yang jatuh saja.)
• Perpanjangan Maksimum pada Batang
Perpanjangan maksimum 8maks (Gambar 2-49b) dapat diperoleh dari prinsip
konservasi energi dengan menyamakan energi potensial yang hilang pada
saatjatuhnya massa dengan energi regangan yang timbul di batang. Energi
potensial yang hilang adalah W(h + 8maks), di mana W = Mg adalah berat
massa dan (h + 8maks) adalah jarak yang dilalui pada saat massa tersebut
bergerak. Energi regangan batang adalah EA&maks/2L, di mana EA adalah
rigiditas aksial, dan L adalah panjang batang (lihat Persamaan 2-3 1b).
Jadi, kita mendapatkan persamaan berikut:
W(h + 8 ) =
EA8�aks
maks
2L
(2-43)
Persamaan ini adalah kuadratik dalam 8maks dan dapat dipecahkan untuk
mencari akar positif yaitu
8 =
WL +
[(WL)2
+ 2h(WL)]112
maks
EA EA EA (2-44)
Catat bahwa perpanjangan maksimum batang bertambah jika berat massa
atau tinggi jatuh bertambah. Perpanjangan akan hilang jika kekakuan EA/
L bertambah.
Persamaan di atas dapat ditulis dalam bentuk yang lebih sederhana
dengan menggunakan notasi
WL
EA (2-45)
1 1 4 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
di mana 851 adalah perpanjangan batang akibat berat benda yang jatuh
pada kondisi pembebanan statik. Persamaan (2-44) menjadi
(2-46)
Dari persamaan ini kita lihat bahwa perpanjangan batang akibat beban
kejut jauh lebih besar daripada jika beban yang sama diterapkan secara
statik. Sebagai contoh, rnisalkan bahwa tinggi h adalah 40 kali peralihan
statik 851; perpanjangan maksimum akan menjadi 10 kali perpanjangan
statik.
Apabila tinggi h besar dibandingkan dengan perpanjangan statik, maka
kita dapat mengabaikan suku pertama dan kedua pada bagian kanan
Persamaan (2-46) dan mendapatkan
� /M 2L
8 i2h8 = J_
v _
maks = ' st V EA
(2-47)
di mana M = Wig dan v = -, 2gh adalah kecepatan massa yang jatuh
apabila massa tersebut menumbuk sayap. Persamaan ini dapat pula
diperoleh secara langsung dari Persamaan (2-43) dengan mengabaikan
8maks di bagian kanan persamaan dan mencari 8maks· Dengan diabaikannya
suku-suku tsb, maka harga 8maks yang dihitung dari Persamaan (2-47)
selalu lebih kecil daripada yang dihitung dari Persamaan (2-46).
• Tegangan Maksimum di Batang
Tegangan maksimum dapat dihitung dengan mudah dari perpanjangan
maksimum karena kita menganggap bahwa distribusi tegangan terbagi
merata di seluruh panjang batang. Dari persamaan umum 8 = PUEA =
aUE, kita ketahui bahwa
E8maks
(Jmaks = --
L- (2-48)
Dengan memasukkan Persamaan (2-44), kita peroleh persamaan berikut
untuk tegangan tarik maksimum:
a = W
+ (W)2
+ 2WhE
[
]112
maks A A AL
Dengan menggunakan notasi
w
(Jst = A
Mg £851
= - = --
A L
(2-49)
(2-50)
di mana CJ51 adalah tegangan apabila beban bekerja secara statik, maka
kita dapat menulis Persamaan (2-49) dalam bentuk
(. 2 2hE )"2
(Jmaks = (J st + f st + L(Jst (2-5 1)
Persamaan ini analog dengan Persamaan (2-46) dan sekali lagi
menunjukkan bahwa beban kejut menghasilkan efek yang lebih besar
daripada apabila beban yang sama diterapkan secara statik.
Dengan meninjau kasus di mana tinggi h adalah besar dibandingkan
dengan perpanjangan batang (bandingkan dengan Persamaan 2-47), kita
peroleh
Mekanika Bahan 1 1 5
_ �2hEcr,1 _ Wv2£
(2_52)
(jmaks -
L - �--;:z;-
Dari hasil ini kita lihat bahwa peningkatan energi kinetik Mv212 pada
massa yang jatuh akan memperbesar tegangan, sedangkan pertambahan
volume AL pada batang akan mengurangi tegangan. Situasi ini berbeda
dengan tarik statik batang, di mana tegangan tidak bergantung pada panjang
L dan modulus elastisitas E.
Persamaan-persamaan di atas untuk perpanjangan maksimum dan
tegangan maksimum berlaku hanya pada saat sayap batang ada di posisi
terbawah. Sesudah perpanjangan maksimum tercapai di batang, batang
akan bergetar secara aksial sampai menjadi diam pada perpanjangan statik.
Sejak itu, perpanjangan dan tegangan mempunyai harga yang diberikan
dengan Persamaan (2-45) dan (2-50).
• Faktor Kejut
Rasio respons dinamik suatu struktur terhadap respons statik (untuk beban
yang sama) disebut faktor kejut. Sebagai contoh. faktor kejut untuk
perpanjangan batang dalam Gambar 2-49 adalah rasio antara perpanjangan
maksimum (Persamaan 2-44, 2-46, atau 2-47) terhadap perpanjangan statik
(Persamaan 2-45):
Faktor kejut =
8maks
8,1
(2-53)
Faktor ini menunjukkan berapa kali perpanjangan statik diperbesar akibat
efek dinamik suatu kejut.
Persamaan yang analog dengan Persamaan (2-53) dapat ditulis untuk
faktor kejut lain, misalya faktor kejut untuk tegangan di batang (rasio
O'maks terhadap 0'81). Apabila suatu massa jatuh melalui tinggi yang sangat
besar, maka faktor kejut dapat sangat besar, misalnya 100 atau lebih.
• Beban yang Diterapkan secara Tiba-tiba
Suatu kasus khusus dari kejut terjadi apabila suatu beban diterapkan tiba­
tiba dengan kecepatan awal. Untuk menjelaskan jenis pembebanan seperti
ini, tinjau lagi batang prismatis vertikal yang terlihat dalam Gambar 2-49
dan asumsikan bahwa massa yang menggelincir direndahkan perlahan­
lahan sampai menyentuh sayap. Selanjutnya massa secara tiba-tiba
dilepaskan. Meskipun dalam hal ini tidak ada energi kinetik pada awal
ekstensi batang, perilaku ini berbeda dengan beban statik pada batang.
Pada kondisi beban statik, beban dilepas perlahan-lahan dan keseimbangan
selalu ada antara beban yang diterapkan dan gaya tahanan di batang.
Namun, tinjaulah apa yang terjadi apabila massa dilepaskan tiba-tiba
dari titik kontaknya dengan flens. Mula-mula perpanjangan batang dan
tegangan di batang adalah nol, tetapi massa bergerak ke bawah akibat aksi
dari berat sendiri. Selama gerakan ini, batang memanjang dan gaya
tahanannya secara bertingkat bertambah. Gerakan ini terus terjadi sampai
pada saat gaya tahanan tepat sama dengan W, berat massa. Pada saat itu
perpanjangan batang adalah 8sr Namun, massa sekarang mempunyai energi
kinetik, yang diperoleh selama bergerak ke bawah sejauh 081• Dengan
dernikian, massa terus bergerak ke bawah sampai kecepatannya dinolkan
1 1 6 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
oleh gaya tahanan di batang. Perpanjangan maksimum untuk kondisi ini
diperoleh dari Persamaan (2-46) dengan menetapkan h sama dengan nol;
jadi,
(2-54)
Dari persamaan ini kita lihat bahwa beban yang diterapkan tiba-tiba
menyebabkan perpanjangan dua kali lebih besar dibandingkan perpanjangan
yang disebabkan oleh beban yang sama yang diterapkan secara statik.
Jadi, faktor kejut adalah 2.
Sesudah perpanjangan maksimum 2051 dicapai, ujung batang akan
bergerak ke atas dan memulai serangkaian getaran ke atas dan ke bawah,
akhimya berhenti pada kondisi perpanjangan statik yang dihasilkan oleh
berat sendiri massa.
*
• Kehi langan Energi dan Efek lnelastis
Analisis di atas didasarkan atas asumsi bahwa tidak ada energi yang hilang
selama kejut. Nyatanya, kehilangan energi selalu terjadi selama kejut,
dengan sebagian besar didisipasikan dalam bentuk panas dan deformasi
lokal bahan. Karena kehilangan ini, energi kinetik suatu sistem sesaat
sesudah suatu kejut lebih kecil daripada sebelum kejut. Akibatnya, lebih
sedikit energi yang dikonversikan menjadi energi regangan batang
dibandingkan yang kita asumsikan sebelum ini. Karena itu, peralihan aktual
di ujung batang dalam Gambar 2-49 lebih kecil daripada yang diprediksi
dengan analisis sederhana yang kita lakukan.
Kita juga telah berasumsi bahwa tegangan di batang tetap berada
dalam limit proporsional. Jika tegangan maksimum melebihi limit ini,
maka analisis menjadi lebih rumit karena perpanjangan batang tidak lagi
proporsional dengan gaya aksial. Faktor-faktor lain yang perlu ditinjau
adalah efek-efek gelombang tegangan, redaman, dan ketidaksempumaan
pada permukaan kontak. Dengan demikian, kita tidak boleh lupa bahwa
semua rumus di dalam subbab ini didasarkan atas kondisi yang sangat
diidealisasikan dan hanya memberikan pendekatan kasar mengenai kondisi
yang sebenamya (biasanya agak mengabaikan perpanjangan).
Bahan yang menunjukkan keuletan besar selewat limit proporsional
biasanya memberikan tahanan jauh lebih besar terhadap beban kejut
dibandingkan dengan bahan getas. Juga, batang dengan takikan, lubang,
dan bentuk-bentuk konsentrasi tegangan lainnya (lihat Subbab 2.9 dan
2.10) sangat lemah terhadap kejut-sedikit kejut saja dapat menyebabkan
fraktur, meskipun bahan itu sendiri ulet pada pembebanan statik.
• Contoh-contoh
Perhitungan perpanjangan maksimum dan tegangan maksimum yang
disebabkan oleh beban kejut pada batang vertikal digambarkan dalam
Contoh 2-16. Contoh-contoh lainnya (Contoh 2-17 dan 2-1 8) meng­
gambarkan bagaimana prinsip konservasi energi dapat digunakan dalam
analisis jenis lain masalah kejut. Ketiga contoh itu, ditambah soal-soal di
akhir bab ini, didasarkan atas asumsi-asumsi dan idealisasi yang telah
disebutkan sebelum ini.
*Persamaan (2-54) pertama kali didapati oleh matematikawan dan ilmuwan Perancis J.V. Poncelet
(1788-1867); lihar Ref. 2-9.
d = 15 mm
M = 20 kg
Mekanika Bahan 1 1 7
• Contoh 2-1 6
.}II
L = 2,0 m
--r II
h =
T
mml
Sebuah batang baja prismatis (E = 210 GPa) yang panjangnya L = 2,0 m dan
diametemya d = 15 mm tergantung secara vertikal pada tumpuan di ujung atasnya
(Gambar 2-50). Sebuah benda dengan massa M = 20 kg jatuh dari ketinggian h
= ! 50 mm ke sayap di ujung bawah batang tanpa memantul kembali. (a) Hitunglah
perpanjangan maksimum batang akibat kejut dan tentukan faktor kejutnya. (b)
Hitunglah tegangan tarik maksimum dan faktor kejutnya.
Solusi
Karena susunan batang dan benda yang jatuh dalarn contoh ini sesuai dengan
Gambar 2-49, kita dapat menggunakan persamaan yang telah diturunkan sebelum
ini (Persamaan 2-43 sampai 2-52).
(a) Perpanjangan maksimum. Perpanjangan yang dihasilkan oleh jatuhnya
benda dapat ditentukan secara 1angsung dari Persarnaan (2-46). Langkah pertama
adalah menentukan perpanjangan statik pada batang akibat berat benda. Karena
berat benda adalah Mg, maka kita hitung sebagai berikut:
0
=
WL =
MgL =
(20,0 kg)(9,81 rnls: 11 2.0 �! = O,Ol06 mm
st
EA EA (210 GPa)(n/4)t l5 mmr
Gambar 2-50 Contoh 2- 1 6. Perpanjangan dimasukkan ke dalam Persamaan (2-46) untuk mendapatkan
Beban kejut pada batang vertikal perpanjangan maksimum
Omaks = 8,t + (OZ,t + 2h8,/12
= 0,0106 mm + [(0,0106 mm)2 +
2(1 50 mm)(0,0106 mm)]112
= 1,79 mm ..
Karena tinggi jatuh sangat besar dibandingkan perpanjangan statik, maka kita
memperoleh hasil yang hampir sama dengan menghitung perpanjangan maksimum
dari Persamaan (2-47):
8maks = �2h8st = [2(1 50 mm)(0,0106 mm)]112 = 1,78 mm ..
Faktor kejut sama dengan rasio perpanjangan maksimum terhadap perpanjangan
statik:
Faktor kejut =
8maks
8,t
1,79 mm
= 169
0,0106 mm
..
Hasil ini menunjukkan bahwa efek dari beban yang dikerjakan secara dinamik
dapat sangat besar dibandingkan dengan efek beban yang sama yang diterapkan
secara statik.
(b) Tegangan tarik maksimum. Tegangan maksimum yang dihasilkan oleh
jatuhnya benda diperoleh dari Persamaan (2-48) sebagai berikut:
a =
E8maks
=
(210 GPa)(1,79 mm) =
188 MPa
maks
L 2,0 mm
Tegangan ini dapat dibandingkan dengan tegangan statik, yaitu
a
"
=
w
=
Mg =
(20 kg)(9,81 rn/s2)
= 1,1 1 MPa
A A (n/4)(15 mm)2
..
Rasio a
maks terhadap a,1 adalah 188/1,11 = 1 69, yang merupakan faktor kejut yang
sama dengan untuk perpanjangan. Hasil ini sesuai dengan yang diharapkan karena
tegangan sebanding langsung dengan perpanjangannya (lihat Persamaan 2-48 dan
2-50).
1 1 8 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Gambar 2-51 Contoh 2- 17.
Beban kejut pada batang horizontal
• Contoh 2-1 7
Batang horizontal AB yang panjangnya L ditumbuk di ujung bebasnya oleh blok
berat yang massanya M yang bergerak dalam arah horizontal dengan kecepatan v
(Gambar 2-5 1). (a) Tentukan perpendekan maksimum 8maks pada batang akibat
kejut dan tentukan faktor kejutnya. (b) Tentukan tegangan tekan maksimum O"maks
dan faktor kejutnya. (Misalkan EA menunjukkan rigiditas aksial batang tersebut.)
Solusi
Pembebanan di batang pada contoh ini berbeda dengan beban pada Gambar 2-49
dan 2-50. Dengan demikian, kita harus membuat analisis barn yang didasarkan
atas konservasi energi.
(a) Perpendekan maksimum batang. Untuk analisis ini kita menggunakan
asumsi yang sama seperti yang telah disebutkan sebelum ini. Jadi, k.ita mengabaikan
semua kehilangan energi dan berasumsi bahwa energi kinetik blok yang bergerak
diubah seluruhnya menjadi energi regangan batang.
Energi kinetik blok pada saat tumbukan terjadi adalah Mv
2/2. Energi regangan
batang pada saat blok mencapai perpendekan maksimum adalah EA52makJ2L,
sebagaimana diberikan oleh Persamaan (2-31b). Dengan demikian, kita dapat
menulis persamaan berikut untuk konservasi energi:
Dengan demik.ian 8maks adalah
(2-55)
(2-56) ..
Persamaan ini sama dengan Persamaan (2-47), yang telah kita antisipasi
sebelumnya.
Untuk mendapatkan faktor kejut, kita harus mengetahui peralihan statik ujung
batang. Dalam hal ini peralihan statik adalah perpendekan batang akibat berat
blok yang diterapkan sebagai beban tekan di batang
Jadi, faktor kejut adalah
8 = WL = MgL
'' EA EA
Faktor kejut =
8maks =
}EAv2
8,, Mg2L
(2-57)
(2-58) ..
Dalam situasi realistis, harga yang ditentukan dari persamaan ini mungkin jauh
lebih besar daripada l .
(b) Tegangan tekan maksimum di batang. Tegangan maksimum di batang
diperoleh dari perpendekan maksimum dengan menggunakan persamaan
u =
E8maks = E �Mv2L = �Mv2E
maks
L L EA AL
yang sama dengan Persamaan (2-52).
(2-59) ..
Tegangan statik u,, di batang sama dengan W/A atau Mg/A, yang (dengan
kombinasi Persamaan 2-59) dapat menghasilkan faktor kejut yang sama dengan
sebelumnya (Persamaan 2-58).
Mekanika Bahan 1 1 9
• Contoh 2-1 8
untuk kabel
Gambar 2-52 Contoh 2- 18. El­
evator yang tiba-tiba berhenti
Sebuah elevator yang beratnya W dipikul oleh kabel yang tergulung pacta drum
yang berputar (Gambar 2-52). Elevator dan kabel bergerak ke bawah dengan
kecepatan konstan v. Berapakah tegangan tarik maksimum yang dihasilkan di
kabel apabila drum tiba-tiba terkunci? (Misalkan EA adalah rigiditas aksial kabel
dan L adalah panjang kabel yang diekspos pacta saat drum terkunci.)
Solusi
Analisis kabel dan elevator sangat berbeda dengan semua analisis yang disebutkan
di atas karena kita tidak dapat secara benar mengasumsikan bahwa kabel tidak
bertegangan sebelum drum terkunci. Dalam pembahasan serta contoh-contoh
sebelum ini, kita berasumsi bahwa batang-batang tidak bertegangan karena batang­
batang tersebut belum terkena gaya yang berasal dari benda yang akan
menumbuknya. Dengan demikian, batang-batang belum mempunyai energi
regangan sebelum kejut terjadi. Sebaliknya, karena kabel dalam contoh ini memikul
berat elevator, maka sejumlah besar energi telah ada sebelum drum dibebani.
Dengan demikian, kita hams menulis persamaan untuk konservasi energi yang
cocok dengan kondisi baru ini.
Seperti dalam analisis sebelum ini, kita akan konserYatif apabila kita berasumsi
bahwa tidak ada kehilangan energi pada saat drum terkunci. Karena itu energi
total sistem (yang terdiri atas energi kinetik, potensial. dan regangan), sesaat
sebelum terkunci harus sama dengan energi total pacta saat elevator berada dalam
keadaan diam.
Energi total suatu sistem sesaat sebelum drum terkunci.
(a) Energi kinetik. Sebelum terkunci, energi kinetik elevator yang bergerak
adalah
K.E. =
Wv2
2g
(a)
Kita akan mengabaikan energi kinetik kabel dan drum yang berputar karena jauh
lebih kecil daripada energi kinetik elevator.
(b) Energipotensial. Energi potensial elevator akan ditentukan terhadap posisi
terendahnya (artinya, posisi elevator apabila kabel mencapai perpanjangan terbesar).
Misalkan 81 adalah jarak tempuh elevator ke bawah sesudah drum terkunci. Jarak
ini tidak sama dengan perpanjangan maksimum kabel karena kabel telah mempunyai
perpanjangan statik 8" akibat berat elevator:
8 =
WL
" EA
(2-60)
Perpanjangan maksimum 8maks kabel adalah 8,1 ditambah 81 sehingga perpanjangan
tambahan 81 akibat terkunci adalah 8maks - 8,1. Perpanjangan ini sama dengan
peralihan ke bawah � elevator sesudah drum mengunci. Akibatnya, energi potensial
elevator sebelum terkunci adalah
(b)
Untuk memudahkan analisis, kita akan mengabaikan energi potensial kabel karena
jauh lebih kecil dibandingkan energi potensial elevator.
(c) Energi regangan. Energi regangan kabel sebelum terkunci (dari Persamaan
2-3l b) adalah
S.E. =
EA8;;
2L
(c)
(d) Energi total. Dengan menggabungkan rumus (a), (b), dan (c), kita dapatkan
energi total sistem sebelum terkunci:
Wv2 EA8,�
lg + W(8maks - 8,, ) + 2L
di mana 8,, diberikan oleh Persamaan (2-60).
(d)
1 20 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
*2.9 1
Energi total sistem pada saat kabel mempunyai perpanjangan maksimum.
Sesudah drum terkunci, kabel memanjang, dan mencapai perpanjangan
maksimum 8maks· Pada saat itu, elevator tidak mempunyai energi kinetik karena
kecepatannya no!. Energi potensialnya juga no! karena elevator ada di posisi
terendah (peralihan ke bawah sama dengan q). Jadi yang perlu dihitung hanyalah
energi regangan kabel. Karena kabel mempunyai perpanjangan maksimum, maka
energi regangannya adalah
S.E. =
EA8!ah
2L
(e)
Besaran ini menunjukkan energi regangan sistem sesudah kabel terkunci dan el­
evator ada di titik terendah.
Konservasi energi. Dengan menggunakan prinsip konservasi energi dan
menyamakan energi total sebelum dan sesudah penguncian drum (rumus d dan e),
kita dapatkan
EA8!aks
2L
(2-61)
Persamaan ini dapat dipecahkan untuk mendapatkan perpanjangan maksimum 8maks
pada kabel dengan cara berikut. Mula-mula, kita perhatikan dari Persamaan (2-60)
bahwa W = EA8jL. Kemudian kita masukkan rumus untuk W ke dalam suku
kedua dari Persamaan (2-61) dan menyusunnya sehingga
atau
Wv2
+
EA8,1
(8 _ 8 ) =
EA (8z -8 z )
2g [ maks st
2[
maks st
Wv2 EA 8 8 2
2g
=
2[
( maks - st )
Selanjutnya kita pecahkan persamaan ini untuk mendapatkan perpanjangan
maksimum kabel:
Akhimya, kita dapatkan tegangan tarik maksimum di kabel
a .
=
E8maks =
W(1 + r;;zEAJ = a (1 + r;;zEAJ
maks
L A f
iiVL " fiw£
di mana ast = WIA.
(2-62)
(2-63) ..
Faktor kejut, yang merupakan suku dalam kurung dalam Persamaan (2-62)
dan (2-63) mungkin jauh lebih besar daripada satu, yang menunjukkan bahwa
perpanjangan dinamik dan tegangan dinamik di kabel dapat jauh lebih besar
daripada besaran statiknya.
Sebagai kasus khusus dari contoh ini, perhatikan bahwa jika kecepatan v =
0, maka faktor kejut adalah 1 dan Persamaan (2-62) dan (2-63) memberikan harga
statiknya.
BEBAN BERULANG DAN FATIK
Perilaku suatu struktur bergantung bukan hanya pada sifat bahan melainkan
juga pada karakter beban. Ada situasi di mana beban adalah statis-beban
dikerjakan secara perlahan-lahan, bekerja untuk jangka waktu lama, dan
berubah secara perlahan-lahan. Beban lain ada yang bersifat dinamis-
Bo�i(M&
!
Waktu
(a)
Beban i
0�
(b)
B•b'
J
��
W
aktu
(c)
Gambar 2·53 Jenis-jenis beban
berulang: (a) beban yang bekerja
pada satu arah saja, (b) beban ber­
ganti atau berubah arah, dan (c)
beban berfluktuasi yang bervariasi
di sekitar harga rata-rata
Gambar 2-54 Kegagalan fatik
suatu batang yang dibebani ber­
ulang secara tarik; retak menyebar
secara gradual di penampang
sampai fraktur teijadi tiba-tiba (Atas
izin MTS Systems Corporation)
Mekanika Bahan 1 21
contohnya adalah beban kejut yang bekerja tiba-tiba (Subbab 2.8) dan
beban berulang yang terjadi sejurnlah besar siklus.
Pola khas beban berulang ditunjukkan dalarn Gambar 2-53. Garnbar
pertarna (a) menunjukkan beban yang diterapkan, dihilangkan, dan
diterapkan lagi, selalu bekerja dalarn arah yang sarna. Gambar kedua (b)
menunjukkan beban berganti yang berubah arah setiap siklus pembebanan,
dan garnbar ketiga (c) menggambarkan beban berfluktuasi yang bervariasi
di sekitar hargarata-rata. Beban berulang biasanya berkaitan dengan mesin,
turbin, generator, propeler, bagian-bagian pesawat, bagian-bagian mobil,
dan sebagainya. Beberapajenis struktur ini mengalarnijutaan (atau bahkan
milyaran) siklus pembebanan selarna masa gunanya.
Suatu struktur yang mengalami beban dinarnik cenderung gagal pada
tegangan yang lebih rendah dibandingkan dengan beban yang sarna yang
diterapkan secara statik, khususnya bila beban berulang sebanyak sejumlah
besar siklus. Pada kasus seperti ini, kegagalan biasanya disebabkan oleh
fatik atau fraktur progresif. Contoh terkenal kegagalan fatik adalah
peristiwa memberikan tegangan pada klip (penjepit kertas) logam hingga
mencapai titik putusnyadengan berulang kali melenturkannya bolak-balik.
Sebetulnyajika klip dilenturkan hanya sekali, dia tidak akan putus. Tetapi
bila dia dilenturkan ke arah sebaliknya, dan jika keseluruhan siklus
pembebanan diulang beberapa kali, akhirnya klip akan putus. Fatik dapat
didefinisikan sebagai rusaknya bahan akibat siklus tegangan dan regangan
yang berulangkali, yang menyebabkan terjadinya retak progresif dan pada
akhimya menghasilkan fraktur.
Pada kegagalan fatik yang khas, retak rnikroskopik terbentuk di titik
di mana ada tegangan tinggi (biasanya di pemusatan tegangan, yang
dibahas di subbab berikut) dan secara perlahan-lahan membesar karena
beban diberikan secara berulang-ulang. Apabila retak menjadi sedemikian
besar sehingga bahan yang tersisa tidak dapat menahan beban, maka fraktur
tiba-tiba pada bahan terjadi (Garnbar 2-54). Tergantung pada sifat bahan,
jumlah siklus untuk menghasilkan kegagalan fatik bisa bervariasi dari
hanya sedikit saja sarnpai ratusan juta siklus.
Sebagaimana telah disebutkan, besamya beban yang menyebabkan
kegagalan fatik lebih kecil daripada beban yang dapat ditahan secara statis.
Untuk menentukan beban gagal, pengujian bahan harus dilakukan. Dalarn
hal beban berulang, bahan diuji pada berbagai taraf tegangan dan banyaknya
siklus hingga gagal dihitul).g. Sebagai contoh, suatu benda uji dari suatu
bahan diletakkan pada mesin uji fatik dan dibebani berulang pada tegangan
tertentu, katakanlah Oi· Siklus pembebanan diteruskan sarnpai kegagalan
1 22 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Tegangan
gaga!
cr
�
0
t
Limit fatik
Banyaknya n siklus higga
gaga!
Gambar 2-55 Kurva ketahanan,
atau diagram S-N, yang me­
nunjukkan limit fatik
Gambar 2-56 Diagram S-N yang
khas untuk baja dan aluminium
pada pembebanan berganti
terjadi, dan banyak n siklus pembebanan hingga gagal dicatat. Pengujian
ini diulang untuk tegangan yang berbeda, katakanlah a2• Jika a2 lebih
besar daripada a1, maka banyaknya siklus hingga gagal akan lebih kecil.
Jika a2 lebih kecil daripada ai' maka bilangan tersebut akan lebih besar.
Akhirnya, data yang digunakan untuk memplot kurva ketahanan, atau
diagram S-N, di mana tegangan gagal (S) diplot versus banyaknya (N)
siklus hingga gagal (Gambar 2-55). Sumbu vertikal biasanya berskala
linier dan sumbu horizontal biasanya merupakan skala logaritma.
Kurva ketahanan seperti terlihat dalam Gambar 2-55 menunjukkan
bahwa semakin kecil tegangan, semakin banyak siklus yang menyebabkan
kegagalan. Untuk beberapa bahan, kurva tersebut mempunyai asimtot
horizontal sebagai limit fatik atau limit ketahanan. Apabila limit itu ada,
maka limit itu adalah batas: untuk tegangan yang lebih kecil daripada itu
kegagalan fatik tidak akan teljadi, tak peduli berapa kali beban berulang.
Bentuk yang tepat dari kurva ketahanan bergantung pacta banyak faktor,
termasuk besaran bahan, geometri benda uji, kecepatan pengujian, pola
pembebanan, dan kondisi permukaan benda uji. Banyak sekali basil
pengujian fatik, yang terbuat dari banyak sekali bahan dan komponen
struktural, telah dilaporkan dalam berbagai literatur teknik.
Diagram S-N yang khas untuk baja dan aluminium ditunjukkan dalam
Gambar 2-56. Ordinatnya adalah tegangan gagal, yang dinyatakan dalam
persentase tegangan ultimit untuk bahan dan absisnya adalahjumlah siklus
pada saat kegagalan terjadi. Perhatikan bahwa banyak siklus diplot pada
skala logaritma. Kurva untuk baja menjadi horizontal pada sekitar 107
siklus, dan limit fatis sekitar 50% dari tegangan tarik ultimate untuk
pembebanan statik biasa. Limit fatik untuk aluminium tidak secara jelas
terdefinisi tetapi harga yang khas untuk limit fatik adalah tegangan pacta
5 x 108 siklus, atau sekitar 25% dari tegangan ultimate.
Tegangan gaga!
(persen dari
tegangan
tarik ultimate)
Banyaknya n siklus hingga gaga!
Karena kegagalan fatik biasanya mulai dengan retak mikroskopik
pacta titik tegangan tinggi yang terlokalisasi (artinya pacta konsentrasi
tegangan), kondisi permukaan bahan sangat penting. Benda uji yang sangat
dipoles mempunyai limit ketahanan yang lebih tinggi. Permukaan kasar,
khususnya yang ada di konsentrasi tegangan di sekitar lubang atau takikan,
Mekanika Bahan 1 23
sangat menurunkan limit ketahanan. Korosi, yang berarti pembentukan
permukaan tak teratur, mempunyai efek yang sama. Untuk baja, korosi
biasa dapat mengurangi limit fatik sebanyak lebih dari 50%.
*2·1 0
I KONSENTRASI TEGANGAN
Dalam menentukan tegangan pacta batang yang dibebani secara aksial,
kita biasanya menggunakan rumus dasar CJ = PIA, di mana P adalah gaya
aksial di batang dan A adalah luas penampang. Rumus ini didasarkan atas
asumsi bahwa distribusi tegangan terbagi rata di seluruh penampang. Pada
kenyataannya, batang sering mempunyai lubang, takikan, uliran, maupun
bentuk-bentuk perubahan geometri yang menimbulkan pola distribusi yang
tidak terbagi rata. Diskontinuitas geometri menyebabkan tegangan tinggi
pacta daerah yang sangat kecil pacta batang, dan tegangan tinggi ini disebut
konsentrasi tegangan. Diskontinuitas itu sendiri dikenal sebagai peningkat
tegangan (Stress raisers).
Konsentrasi tegangan juga muncul di titik pembebanan. Sebagai
contoh, suatu beban terpusat jarang terdistribusi secara merata pacta suatu
penampang. Yang mungkin terjadi adalah beban tersebut bekerja pada
daerah yang sangat kecil dan menghasilkan tegangan tinggi pada daerah
di sekitar titik kerja gaya. Contohnya adalah beban yang diterapkan melalui
sambungan sendi, di mana beban diterapkan pada daerah tumpu sendi
tersebut.
Tegangan yang ada pada konsentrasi tegangan dapat ditentukan baik
dengan metode-metode eksperimental, maupun dengan metode-metode
analisis lanjut, termasuk metode elemen hingga (
finite element). Hasil­
hasil penelitian untuk banyak kasus yang menarik telah tersedia dalam
banyak literatur teknik (sebagai contoh, Ref 2-10 dan 2-1 1 ). Data
konsentrasi tegangan yang khas diberikan dalam subbab ini dan dalam
Subbab 3.1 1 dan 5.13.
• Prinsip Saint-Venant
(J = .!....
bt
p
CJ =-
bt
Gambar 2-57 Distribusi tegangan
di dekat ujung batang suatu pe­
nampang persegi panjang (lebar b,
tebal t) yang mengalami beban
terpusat Pyang bekerja di area kecil
Untuk menggambarkan karakteristik konsentrasi tegangan, tinjaulah
tegangan pacta batang yang berpenampang persegi panjang (lebar b, tebal
t) yang mengalami beban terpusat P di ujungnya (Gambar 2-57). Tegangan
puncak langsung di bawah beban mungkin beberapa kali tegangan rata­
rata P!bt, bergantung pacta daerah di mana beban tersebut diterapkan.
Sekalipun demikian, tegangan maksimum berkurang dengan cepat apabila
kita menjauhi titik penerapan beban, seperti terlihat dalam kurva tegangan­
regangan dalam gambar tersebut. Pacta lokasi sejauh b .dari ujung batang,
distribusi tegangan sudah hampir terbagi rata, dan tegangan maksimum
hanya beberapapersen lebih besar daripada tegangan rata-rata. Pengamatan
ini benar untuk kebanyakan pemusatan tegangan, seperti lubang dan
takikan. Jadi, kita dapat membuat pemyataan umum bahwa rumus CJ = PI
A memberikan tegangan aksial hanya jika penampang batang sedikitnya
sejauh b dari lokasi beban terpusat atau diskontinuitas bentuk, di mana b
adalah dimensi lateral terbesar dari batang (misalnya lebar atau diameter).
Pernyataan di atas mengenai tegangan pacta batang prismatis
merupakan bagian dari pengamatan umum yang dikenal dengan prinsip
Saint-Venant. Dengan sedikit kekecualian, prinsip ini berlaku untuk benda
elastis linier. Untuk memahami prinsip Saint-Venant, bayangkan bahwa
1 24 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Gambar 2-58 Ilustrasi prinsip
Saint-Venant: (a) sistem beban
tepusat yang bekerja pada daerah
kecil di suatu batang, dan (b) sistem
yang ekivalen secara statik
kita mempunyai benda dengan sistem pembebanan yang bekerja pada
bagian kecil dari permukaannya. Sebagai contoh, misalkan kita mempunyai
batang prismatis yang lebarnya b yang mengalami sistem beberapa beban
terpusat yang bekerja di ujungnya (Gambar 2-58a). Untuk mudahnya,
asumsikan bahwa beban adalah simetris dan hanya mempunyai resultan
vertikal. Selanjutnya, tinjau sistem beban yang berbeda tetapi ekivalen
secara statis, yang bekerja pada daerah kecil yang sama dari batang
("Ekivalen secara statis" berarti bahwa kedua sistem gaya mempunyai
resultan gaya yang sama dan resultan momen yang sama.) Sebagai contoh,
beban yang terdistribusi secara merata yang terlihat dalam Gambar 2-58b
ekivalen secara statis dengan sistem beban terpusat yang terlihat dalam
Gambar 2-58a. Prinsip Saint-Venant menyatakan bahwa tegangan di benda
yang disebabkan oleh kedua sistem pembebanan ini sama, asalkan kita
menjauh dari daerah yang dibebani dengan jarak sedikitnya sama dengan
dimensi terbesar dari daerah yang dibebani Garak b pada contoh ini). Jadi,
distribusi tegangan yang terlihat dalam Gambar 2-57 adalah ilustrasi dari
prinsip Saint-Venant. Tentu saja, "prinsip" ini bukan merupakan hukum
mekanika yang teliti melainkan pengamatan common-sense yang didasarkan
atas pengalaman praktis dan teoretis.
*
(a) (b)
Prinsip Saint-Venant mempunyai sangat banyak arti penting yang
praktis di dalam desain dan analisis batang, balok, dan struktur lain yang
umum dijumpai dalam mekanika bahan. Karena efek konsentrasi tegangan
terlokalisasi, maka kita dapat menggunakan semua rumus tegangan standar
(seperti cr = PIA) di penampang yang cukup jauhnya dari sumber
pemusatan. Di dekat sumber, tegangan bergantung pada detail dari beban
tersebut dan batang elemen struktur. Selain itu, rumus-rumus yang berlaku
pada keseluruhan elemen, seperti rumus untuk perpanjangan, peralihan,
dan energi regangan memberikan basil yang memadai meskipun ada
pemusatan tegangan. Penjelasannya terdapat dalam fakta bahwa konsentrasi
*Prinsip Saint-Venant diberi nama seperti itu untuk menghargai Barre de Saint-Venant (1797-
1886), seorang matematikawan dan elastikawan Perancis yang terkenal (Ref. 2-1 2). Prinsip ini berlaku
secara umum pada batang solid dan balok tetapi tidak untuk penampang terbuka berdinding tipis. Untuk
pembabasan tentang pembatasan prinsip Saint-Venant, Iibat Ref. 2-13.
Mekanika Bahan 1 25
tegangan selalu terlokalisasi dan mempunyai sedikit pengaruh terhadap
perilaku menyeluruh dari elemen struktur.
• Faktor Konsentrasi-Tegangan
Gambar 2-59 Distribusi tegangan
di batang datar dengan lubang
lingkaran
Sekarang kita tinjau beberapa kasus khusus mengenai konsentrasi tegangan
yang disebabkan oleh adanya diskontinuitas bentuk suatu batang. Kita
mulai dengan sebuah batang yang mempunyai penampang persegi panjang
dan mempunyai lubang lingkaran serta mengalarni gaya tarik P (Gambar
2-59a). Batang ini relatif tipis dengan lebar b jauh lebih besar dibandingkan
tebal t. Juga, lubangnya mempunyai diameter d.
P +--
(a)
P +--
(b)
Tegangan normal yang bekerja pada potongan melintang yang melalui
lubang mempunyai distribusi seperti terlihat dalam Gambar 2-59b.
Tegangan maksimum amaks terjadi di tepi-tepi lubang dan dapatjauh lebih
besar dibandingkan tegangan nominal a = P/ct pada potongan melintang
yang sama. (Perhatikan bahwa et adalah luas neto di potongan melintang
yang melalui lubang.) lntensitas konsentrasi tegangan biasanya dinyatakan
dengan rasio tegangan maksimum terhadap tegangan nominal, yang disebut
faktor konsentrasi tegangan K:
(2-64)
Untuk suatu batang yang mengalami tarik, tegangan nominal adalah
tegangan rata-rata yang didasarkan atas luas penampang neto. Pada kasus­
kasus lain, berbagai tegangan lainmungkin digunakan. Jadi, apabila faktor
konsentrasi tegangan digunakan, maka perlu diketahui dengan baik
bagaimana tegangan nominal didefinisikan.
Suatu grafik faktor konsentrasi tegangan K untuk sebuah batang
dengan lubang terlihat dalam Gambar 2-60. Jika lubang ini kecil sekali,
maka faktor K sama dengan 3, yang berarti bahwa tegangan maksimum
adalah tiga kali tegangan nominal. Apabila lubangnya menjadi lebih besar
dibandingkan dengan lebar batang, maka K menjadi lebih kecil dan efek
adanya konsentrasi tidak begitu parah. Dari prinsip Saint-Venant kita
1 26 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Gambar 2-60 Faktor konsentrasi­
tegangan K untuk suatu batang
pipih dengan lubang lingkaran.
Gambar 2-61 Faktor konsentrasi­
tegangan K pada batang datar
dengan shoulder fillet. Garis ter­
putus untuk fillet seperernpat
lingkaran.
ketahui bahwa pada jarak sama dengan lebar b menjauhi lubang pada
salah satu arah aksial, distribusi tegangan praktis sudah terbagi rata dan
sama dengan P dibagi luas penampang bruto (a = Plbt), tak peduli
berapapun ukuran lubang.
K
K = crma�<.
Cfmaks
(Jnom
p
t = ketebalan
et
1,5 �--------�--------�--------�--------�--------�
0 0,1 0,2
d
b
0,3 0,4 0,5
Faktor konsentrasi tegangan untuk dua kasus lain yang menarik terlihat
dalam Gambar 2-61 dan 2-62. Kedua grafik ini adalah masing-masing
untuk batang datar dan batang lingkaran, yang berkurang secara drastis
membentuk bahu (shoulder). Untuk mengurangi efek konsentrasi tegangan,
fillet digunakan untuk memperlembut sudut di pojok di mana terjadi
perubahan penampang.* Tanpa adanyafillet, faktor konsentrasi tegangan
akan sangat besar, seperti terlihat di sebelah kiri masing-masing gambar
di mana K mendekati tak hingga bila jari-jarifillet R mendekati no!. Pada
kedua kasus, tegangan maksimum terjadi di bagian yang lebih kecil dari
batang di daerah filler.
**
K
K = crmak>
Cfmaks
e
p
�
p
Cfnom = -
et
1,5 L___::__L____j__-=::::±:::::,_____::r::::::::::==::b,_,_ _j
0 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,30
B.
e
*Suatu fillet adalah permukaan cekung yang
0
dibentuk apabila dua permukaan lain bertemu,
Tujuannya adalah untuk membundarkan suatu sudut yang semula tajam.
** Faktor konsentrasi tegangan yang diberikan dalam grafik adalah faktor teoretis untuk batang dari
bahan elastis linier. Grafik-grafik diplot dari rumus yang diberikan dalam Ref. 2-10.
Gambar 2-62 Faktor konsentrasi­
tegangan K pada batang bundar
dengan shoulder fillet. Garis ter­
putus untuk fillet seperempat
lingkaran.
K K = crrr.ah
(j"ll�
Mekanika Bahan 1 27
p
(}nom = niJ2 /4
I
1 ,5 L---�--L-------�------��------�-----L��--�
0 0,05 0,10 0,15 0.20 0,25 0,30
R
D
I
• Desain Terhadap Konsentrasi Tegangan
Karena adanya kemungkinan tetjadinya kegagalan fatik, konsentrasi tegang­
an khususnya penting apabila suatu elemen struktur mengalami beban
berulang. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, retak mulai tetjadi di
titik di mana terjadi tegangan tinggi dan menjalar secara gradual melalui
bahan apabila beban terus berulang. Dalam desain praktek, limit fatik
(Gambar 2-55) dipandang sebagai tegangan ultimate untuk bahan apabila
banyaknya siklus sangat besar. Tegangan izin diperoleh dengan menerap­
kan faktor keamanan terhadap tegangan ultimate ini. Kemudian, tegangan
puncak di konsentrasi tegangan dibandingkan dengan tegangan izin.
Pada banyak situasi, penggunaan harga teoretis penuh untuk faktor
konsentrasi tegangan terlalu berlebihan. Pengujian fatik pada benda uji
dengan konsentrasi tegangan biasanya menghasilkan kegagalan pada level
tegangan nominal yang lebih tinggi dibandingkan dengan membagi limit
fatik dengan K. Dengan perkataan lain, suatu elemen struktur yang meng­
alarni beban berulang tidak sesensitif konsentrasi tegangan seperti yang
diindikasikan oleh K. Dengan demikian, faktor konsentrasi tegangan yang
direduksi sering digunakan.
Jenis lain beban dinarnik, seperti beban kejut, juga membutuhkan
diperhitungkannya faktor konsentrasi tegangan. Jika informasi yang lebih
baik tak tersedia, sebaiknya digunakan faktor konsentrasi tegangan penuh.
Elemen struktur yang mengalami temperatur rendah juga sangat mungkin
gagal di konsentrasi tegangan sehingga pada kasus tersebut perlu diberikan
perhatian khusus.
Pentingnya konsentrasi tegangan apabila suatu elemen struktur
mengalami beban statik bergantung pada jenis bahan. Dengan bahan ulet,
seperti baja struktural, konsentrasi tegangan seringkali dapat diabaikan.
Hal ini disebabkan karena bahan di titik tegangan maksimum (seperti di
sekitar lubang) akan luluh dan aliran plastis akan terjadi, sehingga
mengurangi intensitas konsentrasi tegangan dan menyebabkan distribusi
tegangan mendekati terbagi rata. Sebaliknya, pada bahan getas (seperti
kaca) konsentrasi tegangan akan tetap ada sampai terjadinya fraktur.
Dengan demikian, kita dapat menarik kesimpulan umum bahwa dengan
beban statis dan bahan ulet, efek konsentrasi tegangan tidak begitu penting,
tetapi dengan beban statik dan bahan getas, faktor konsentrasi tegangan
penuh sebaiknya ditinjau.
---
1 28 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
*2'1 1
I PERILAKU NONLJNIER
(a)
(b)
Plastis sempuma
Linierelastis
E
(c)
(d)
Gambar 2·63 Tipe-tipe perilaku
bahan yang diidealisasikan: (a)
kurva tegangan-regangan nonlinier
elastis, (b) kurva tegangan-regangan
nonlinier biasa, (c) kurva tegangan­
regangan nonlinier elastoplastis, (d)
kurva tegangan-regangan bilinier
Hingga saat ini, pembahasan kita hanya berkenaan utamanya dengan
elemen dan struktur yang terdiri atas bahan yang mengikuti hukum Hooke.
Sekarang kita akan meninjau perilaku elemen struktur yang dibebani secara
aksial apabila tegangannya melebihi limit proporsional. Pada kasus-kasus
tersebut tegangan, regangan, dan peralihan bergantung pada bentuk kurva
tegangan-regangan di daerah selewat limit proporsional (lihat beberapa
kurva tegangan-regangan yang khas pada Subbab 1 .3).
Untuk maksud analisis dan desain, kita sering menggantikan kurva
tegangan-regangan aktual suatu bahan dengan kurva tegangan-regangan
yang diidealisasi, yang dapat dinyatakan sebagai fungsi matematis.
Beberapa contoh ditunjukkan dalam Gambar 2-63. Diagram pertama
(Gambar 2-63a) terdiri atas dua bagian, daerah elastis linier awal yang
diikuti dengan daerah nonlinier yang didefinisikan dengan ekspresi
matematis yang cocok. Perilaku paduan aluminium kadang-kadang dapat
dinyatakan secara akurat dengan kurva seperti ini, sedikitnya di daerah
sebelum regangan menjadi sangat besar (bandingkan Gambar 2-63a dengan
Gambar 1-13). Pada contoh kedua (Gambar 2-63b), satu ekspresi matematis
digunakan untuk keseluruhan kurva tegangan-regangan. Ekspresi seperti
ini yang sangat dikenal adalah hukum tegangan-regangan Ramberg-Osgood,
yang akan diuraikan lebih rinci (lihat Persamaan 2-67 dan 2-68).
Diagram tegangan-regangan yang digunakan untuk baja struktural
ditunjukkan dalam Gambar 2-63c. Karena baja mempunyai daerah elastis
linier yang diikuti dengan daerah luluh yang nyata (lihat kurva tegangan­
regangan dalam Gambar 1-10 dan 1-12), perilakunya dapat dinyatakan
dengan dua garis lurus. BahanTnraiasumsikan mengikuti hukum Hooke
hingga tegangan luluh av. Sesudah tegangan ini, bahan tersebut akan luluh
pada tegangan konstan. Peri1aku yang disebut terakhir ini disebut plastisitas
sempurna. Daerah plastis sempuma akan terus hingga regangan mencapai
10 sampai 20 kali lebih besar daripada regangan luluh. Suatu bahan yang
mempunyai kurva tegangan-regangan seperti ini disebut bahan elasto­
plastis (atau bahan elastis-plastis).
Akhimya, pada saat regangan menjadi sangat besar, kurva tegangan­
regangan untuk baja meningkat di atas tegangan luluh akibat pengerasan
regang (strain hardening), seperti diuraikan dalam Subbab 1 .3. Namun,
pada saat strain hardening dimulai, peralihan sudah sedemikian besarnya
sehingga struktur akan menjadi tidak bermanfaat. Akibatnya, analisis
struktur baja yang didasarkan atas diagram elastoplastis seperti terlihat
dalam Gambar 2-63c dengan diagram tarik dan tekan dianggap sama
adalah hal yang umum dilakukan. Analisis yang dilakukan dengan asumsi
ini disebut analisis elastoplastis, atau singkatnya analisis plastis, dan
diuraikan dalam subbab berikut.
Gambar 2-63d menunjukkan diagram tegangan-regangan yang terdiri
atas dua garis yang mempunyai kerniringan yang berbeda, yang disebut
diagram tegangan-regangan bilinier. Perhatikan bahwa di kedua bagian
diagram tersebut hubungan antara tegangan dan regangan adalah linier,
tetapi hanya pada bagian pertama saja tegangan sebanding dengan tegangan
(mengikuti hukum Hooke). Diagram yang diidealisasikan ini dapat
digunakan untuk merepresentasikan bahan dengan strain hardening atau
sebagai pendekatan untuk diagram dengan bentuk nonlinier lain seperti
terlihat dalam Gambar 2-63a dan b.
Mekanika Bahan 1 29
• Perubahan Panjang Batang
Gambar 2-64 Perubahan panjang
suatu batang meruncing yang terdiri
atas bahan yang mempunyai kurva
tegangan-regangan nonlinier.
Perpanjangan atau perpendekan suatu batang dapat ditentukan jika kurva
tegangan-regangan bahan diketahui. Untuk menggambarkan prosedur
umum, kita akan meninjau batang yang meruncing AB yang terlihat dalam
Gambar 2-64a. Baik luas penampang maupun gaya aksial bervariasi di
sepanjang batang, dan bahannya mempunyai kurva tegangan-regangan
nonlinier (Gambar 2-64b). Karena batang ini statis tertentu, maka kita
dapat menentukan gaya aksial di semua penampang dari tinjauan
keseimbangan saja. Kemudian, kita dapat mencari tegangan dengan cara
membagi gaya dengan luas penampang, dan kita dapat mencari regangan
dari kurva tegangan-regangan. Akhimya, kita dapat menentukan perubahan
panjang dari regangan, sebagaimana diuraikan dalam paragraf berikut ini.
Perubahan panjang suatu elemen dx dari suatu batang (Gambar 2-64a)
adalah e dx, di mana e adalah regangan pada jarak x dari ujung. Dengan
mengintegrasi rumus ini dari satu ujung batang ke ujung lainnya, kita
peroleh perubahan panjang batang:
(2-65)
di mana L adalah panjang batang. Jika regangan dinyatakan dengan rumus
analitis, maka Persamaan (2-65) dapat diintegrasikan dengan rumus
matematika sehingga rumus perubahan panjang dapat diperoleh. Jika
tegangan dan regangan dinyatakan secara numerik, artinya suatu tabel
harga-harga numerik, kita dapat melakukan langkah-langkah sebagai
berikut. Kita dapat membagi batang menjadi segmen-segmen kecil &,
menentukan tegangan dan regangan rata-rata untuk setiap segmen, dan
selanjutnya menghitung perpanjangan seluruh batang dengan menjumlah­
kan perpanjangan masing-masing segmen. Proses ini ekivalen dengan
mengevaluasi integral dalam Persamaan (2-65) secara numerik.
(a)
e
(b)
130 Bab 2 E/emen Struktur yang Dibebani Secara Aksiaf
Jika regangan di seluruh panjang batang seragam, sebagaimana yang
terjadi pacta batang prismatis dengan gaya aksial konstan, integrasi
Persamaan (2-65) menghasilkan perubahan panjang
0 = eL (2-66)
yang sesuai dengan Persamaan 1 -2 dalam Subbab 1 .2.
• Hukum Tegangan-Regangan Ramberg-Osgood
Gambar 2-65 Kurva tegangan­
regangan untuk paduan aluminium
menggunakan persamaan Ramberg­
Osgood.
Kurva tegangan-regangan untuk beberapa metal, termasuk aluminium dan
magnesium, dapat secara akurat dinyatakan dengan persamaan Ramberg­
Osgood:
E (J ((J )m
Eo = cro + a cro (2-67)
Dalam persamaan ini cr dan E masing-masing adalah tegangan dan
regangan, dan E0, cr0, a, dan m adalah konstanta bahan (yang diperoleh
dari uji tarik). Bentuk altematif dari persamaan ini adalah
E = (J + (Joa(_Q_)m
E E cr0 (2-68)
di mana E = crJE0 adalah modulus elastisitas bagian awal dari kurva
tegangan-regangan.
*
Grafik untuk Persamaan (2-68) diberikan dalam Gambar 2-65 untuk
paduan aluminium dengan konstanta-konstanta E = 10 x 106 psi, cr0 =
38.000 psi, a=317, dan m=10. Persamaan untuk kurva tegangan-regangan
ini adalah
E - cr + -- _cr
_
_
1
( )10
-
10 X 106 614,0 38.000
(2-69)
di mana crmempunyai satuan psi. Perhitungan perubahan panjang batang
dengan menggunakan Persamaan (2-69) untuk hubungan tegangan­
regangan digambarkan dalam Contoh 2-1 9.
er (psi)
50.000
40.000
V
I
I
I
30.000
20.000
10.000
1/
0
-
l-----
y--
/
0,010
£ =
Paduan aluminium
E = 10 X 106 psi
(J
10 X 106 I ( r
+ (J �
614,0 38.000
er = psi
I I I
0,020 0,030
e
*Hukum Tegangan-regangan Ramberg-Osgood disajikan dalam Ref. 2-14.
Mekanika Bahan 1 31
• Struktur Statis Tak Tentu
Jika suatu struktur adalah statis tak tentu dan bahan berperilaku nonlinier,
maka tegangan, regangan, dan peralihan dapat dicari dengan cara
memecahkan persamaan-persamaan umum yang telah diuraikan dalam
Subbab 2.4 untuk struktur elastis linier. yaitu persamaan keseimbangan,
persamaan keserasian, dan hubungan gaya-peralihan (atau hubungan
tegangan-regangan ekivalen). Perbedaan utama adalah bahwa hubungan
gaya-peralihan sekarang adalah nonlinier, yang berarti bahwa solusi analitis
tidak dapat diperoleh kecuali pada beberapa situasi yang sangat sederhana.
Pada umumnya, persamaan-persamaan harus dipecahkan secara numerik,
baik dengan menggunakan program komputer. arau dengan melakukan
perhitungan manual yang sangat rumit (sebagaimana digambarkan dalam
Contoh 2-20).
Soal 2. 1 1-9 sampai 2. 1 1-14 di akhir bab ini meliputi struktur statis
tak tentu dengan karakteristik bahan nonlinier.
• Contoh 2-1 9
A
B
pl
l
L
�L
2
_j
Gambar 2-66 Contoh 2- 1 9.
Perpanjangan suatu batang dari
bahan nonlinier dengan meng­
gunakan persamaan Ramberg­
Osgood.
Sebuah batang prismatis AB yang panjangnya L = 86 in dan mempunyai luas
penampang A = 0,75 in2 memikul dua beban terpusat P1 = 24 k dan P2 = 6 k,
seperti terlihat dalam Gambar 2-66. Bahan batang ini adalah paduan aluminium
yang mempunyai kurva tegangan-regangan nonlinier yang mengikuti persamaan
Ramberg-Osgood (Persamaan 2-69):
t:
- a + 1 ( a )w
- 10 X 106 614,0 38.000
di mana a mempunyai satuan psi. (Hubungan tegangan-regangan ditunjukkan
secara grafis dalam Gambar 2-65.)
Tentukanlah peralihan 88 ujung bawah batang akibat kondisi sebagai berikut:
(a) beban P1 bekerja sendiri, (b) P2 bekerja sendiri, dan (c) P1 dan P2 bekerja
bersama-sama.
Solusi
(a) Peralihan akibat beban P1 yang bekerja sendiri. Beban P1 menimbulkan
tegangan tarik terbagi rata di seluruh panjang batang sama dengan P/A atau
32.000 psi. Dengan memasukkan harga ini ke hubungan tegangan-regangan maka
t: = 0,003492. Dengan demikian, perpanjangan batang sama dengan peralihan di
B adalah (lihat Persamaan 2-66):
88 = t:L = (0,003492)(86 in.) = 0,300 in. •
(b) Peralihan akibat beban P1 yang bekerja sendiri. Tegangan di setengah
bagian atas batang adalah PiA atau 8.000 psi, dan tidak ada tegangan di setengah
bawahnya. Dengan melakukan perhitungan seperti bagian (a), maka kita dapatkan
perpanjangan sebagai berikut:
88 = t:U2 = (0,000800)(43 in.) = 0,034 in. •
(c) Peralihanakibatbeban P1 dan P2• yang bekerja bersama-sama. Tegangan
di setengah bawah batang adalah P/A dan di setengah bawah adalah (P1 + P2)/
A. Tegangannya adalah 32.000 psi dan 40.000 psi, dan regangannya adalah 0,003492
dan 0,006720 (dari persamaan Ramberg-Osgood). Dengan demikian, perpanjangan
batang adalah
88 = (0,003492)(43 in.) + (0,006720)(43 in.)
= 0,15 in. + 0,289 in. = 0,439 in. •
.,
132 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Ketiga harga OB yang dihitung menggambarkan prinsip penting mengenai struktur
yang terbuat dari bahan yang berperilaku tidak linier. Pada struktur nonlinier,
peralihan yang dihasilkan oleh dua(atau lebih) bebanyang bekerja secara simultan
tidak sama dengan jumlah dari peralihan yang dihasilkan oleh masing-masing
beban yang beker
ja secara terpisah.
• Contoh 2-20
Gambar 2-67 Contoh 2-20.
Analisis nonlinier suatu struktur
statis tak tentu.
P (kN)
0 20 40
o (mm)
60
Sebuah batang kaku horizontal AB yang panjangnya 3b ditahan oleh dua kabel
identik dan memikul beban Q = 20 kN di ujung B (Gambar 2-67). Hubungan
beban-peralihan untuk kabel dinyatakan dengan persamaan hiperbolik sebagai
berikut:
p
= 1,30
1 + 0,0260 o :s; o s 60 mm (P = kN, o = mm) (2-70)
di mana P adalah gaya aksial di kabel (satuan kN) dan 8 adalah perpanjangan
(satuan mm). Hubungan gaya-peralihan ini ditunjukkan secara grafis dalam Gambar
2-68. (Kurva ini adalah segmen hiperbola.)
Tentukan gaya aksial F1 dan F2 masing-masing di kabel 1 dan 2, perpanjangan
01 dan 82 masing-masing di kabel I dan 2, dan peralihan ke bawah OB di titik B.
Solusi
CD 0
B
1--b-1--b-1--b-l
Q = 20 kN
Karena struktur ini statis tak tentu, maka kita harus memformulasikan persamaan
keseimbangan, persamaan keserasian, dan hubungan beban-peralihan. Selanjutnya,
persamaan-persamaan ini dapat dipecahkan untuk mendapatkan gaya-gaya dan
peralihan yang belum diketahui pada struktur tersebut.
Persamaan keseimbangan. Dari keseimbangan batang AB kita peroleh
persamaan berikut:
F1(b) + Fi2b) - Q(3b) = 0
atau F1 + 2F2 = 3Q = 60 kN (a)
Gaya-gaya F1 dan F2 adalah anu di dalam persamaan ini (perhatikan bahwa gaya­
gaya dinyatakan dalam satuan kN).
Persamaan keserasian. Pada saat beban Q diterapkan pada struktur, batang
AB akan berotasi terhadap sendi A. Karena batang ini diasumsikan kaku, maka
peralihan ke bawah di setiap titik sebanding dengan jaraknya dari A. Jadi,
perpanjangan 82 pada kabel 2 adalah dua kali perpanjangan 81 pada kabel 1 :
02 = 28, (b)
Gambar 2-68 Kurva beban- dan peralihan ke bawah titik B adalah tiga kali perpanjangan kabel 1 :
peralihan (pers. 2-70) untuk kabel
dalam contoh 2-20. OB = 381 (c)
Mekanika Bahan 1 33
Hubungan beban-peralihan. Hubungan antara gaya anu (F1 dan F2) dan
perpanjangan kabel (01 dan o2) diperoleh dari persamaan beban-peralihan
(Persamaan 2-70), sebagai berikut:
F. - 1,301
I
-
1 + 0,02601
1,302
F: = ---'---"--
! + 0,02682
(d,e)
Di dalam kedua persamaan di atas, F1 dan F2 dinyatakan dalam satuan kN dan 01
dan 02 dinyatakan dalam satuan mm.
Solusi persamaan. Sekarang kita dapat memecahkan kelima persamaan
(Persamaan a, b, c, d, dan e) untuk mencari Iima besaran anu Fl' F2, 01, 02, dan
OB. Dengan menggunakan program komputer untuk menyelesaikannya, kita
dapatkan hasil-hasil sebagai berikut
F1 = 14,66 kN F2 = 22,67 kJ
-.;
01 = 15,95 mm 02 = 31,91 mm OB = 47.86 mm
•
•
Jadi, semua besaran anu telah diperoleh dan analisis struktur statis tak tentu telah
se1esai. (Perhatikan bahwa peralihan 01 dan 02 ada di dalam selang di mana
Persamaan 2-70 berlaku.)
Solusipersamaan alternatif. Di dalam contoh ini, kita dapat menggabungkan
beberapa persamaan dan mereduksi solusinya menjadi persamaan kuadrat.
Prosedurnya adalah sebagai berikut. Mu1a-mula, kita masukkan F1 dan F2 dari
Persamaan (d) dan (e) ke dalam Persamaan (a), mendapatkan persamaan dengan
01 dan 02 sebagai anu. Lalu, kita substitusi 02 yang dinyatakan dalam 01 dengan
menggunakanPersamaan (b). Hasilnya adalahpersamaanberikut yang mengandung
o1 sebagai satu-satunya anu:
_
__:.
1,
_
30
....!...
1 --=-
+
5,201
= 3Q = 60
1 + 0,02601 1 + 0,05281
(t)
Berikutnya, kita kalikan setiap suku di dalam persamaan ini dengan hasil kali dari
penyebutnya. Lalu, dengan menyusun dan mengumpulkan beberapa suku, kita
dapatkan persamaan kuadrat sebagai berikut:
0,12168o; + 1 ,8201 - 60 = 0 (g)
Dengan menggunakan rumus persamaan kuadrat, kita dapatkan 81 = 1 5,95 mm,
sama dengan yang telah dipero1eh di atas.
Anu yang lain dapat dicari dengan mudah. Perpanjangan kabel 2 (dari
Persamaan b) dan peralihan titik B (dari Persamaan c) adalah
82 = 281 = 31,90 mm oB = 301 = 47,85 mm
Juga, gaya tarik F1 dan F2 di kabel dihitung dari Persamaan (d) dan (e):
F;
=
1'381
= 14,66 kN
l + 0,02681
F -
1,382
2 - 1 + 0,02682
Jadi, semua besaran didapatkan dan analisisnya telah selesai.
22,67 kN
Catatan 1: Untuk praktisnya, semua hasil di atas sebaiknya dibulatkan dengan
dua angka penting, yang merupakan ketelitian data semula (lihat, misalnya,
Persamaan 2-70).
Catatan 2: Karena perilaku nonlinier kabel, kita tidak dapat mencari gaya
dan peralihan untuk harga beban Q lainnya dengan proporsi lain, sebagaimana
biasa dilakukan pada struktur linier. Pada struktur nonlinier ini, kelima persamaan
harus dipecahkan lagi, dengan Persamaan (a) diubah sesuai dengan harga beban
yang barn.
Catatan 3: Contoh ini menggambarkan bagaimana gaya-gaya dan peralihan
pada suatu struktur statis taktentu dapat dihitung dari ketiga konsepdasar mekanika
bahan, yaitu persamaan keseimbangan (yang didasarkan atas prinsip-prinsip statika),
persamaan keserasian (berdasarkan atas prinsip-prinsip geometri), dan hubungan
beban-peralihan (yang didasarkan atas besaran bahan).
134 8ab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
*2"1 2
I ANALISIS ELASTOPLASTIS
Gambar 2-69 Analisis elasto­
plastis suatu struktur statis tak tentu
Di dalam subbab sebelum ini kita telah membahas perilaku struktur apabila
tegangan di bahan melebihi limit proporsional. Sekarang kita akan meninjau
bahan yang sangat penting dalam desain teknik yaitu baja, yang merupakan
metal struktural yang paling banyak digunakan. Baja lunak (atau baja
struktural) dapat dimodelkan sebagai bahan elastoplastis (lihat diagram
tegangan-regangan dalam Gambar 2-63c). Suatu bahan elastoplastis pada
awalnya berperilaku secara elastis linier dengan modulus elastisit!LS E.
Sesudah luluh plastis mulai, regangan akan meningkat pada taraf tegahgan
yang kurang lebih konstan, yang disebut tegangan luluh cr
y
. Regangan
pada saat dimulainya luluh dikenal dengan regangan luluh £Y.
Di dalam subbab ini kita akan membahas analisis struktur statis tak
tentu dengan bahan elastoplastis. Untuk menggambarkan perilaku struktur
seperti ini, kita akan menggunakan susunan sederhana seperti terlihat dalam
Gambar 2-69a. Struktur ini terdiri atas tiga batang baja yang memikul
beban P yang bekerja melalui plat kaku. Kedua batang tepi mempunyai
panjang Ll' dan batang tengah mempunyai panjang L2, serta ketiga batang
mempunyai luas penampang yang sama A. Diagram tegangan-regangan
untuk baja diidealisasikan seperti terlihat dalam Gambar 2�69b, dan modu­
lus elastisitas di daerah elastis linier adalah E= cr
jt:
y
- •··
Plat kaku
/
(a) (b)
Seperti yang biasa dilakukan pada struktur statis tak tentu, kita akan
memulai analisis dengan persamaan keseimbangan dan keserasian. Dari
keseimbangan plat kaku di dalam arah vertikal kita peroleh
(a)
di mana F1 dan F2 adalah gaya-gaya aksial di batang-batang tepi. Karena
plat bergerak ke bawah sebagai benda tegar, pada saat beban diterapkan,
maka persamaan keserasiannya adalah
(b)
di mana 81 dan 82 masing-masing adalah perpanjangan batang tepi dan
batang tengah. Karena hanya bergantung pada keseimbangan dan geometri,
maka kedua persamaan di atas berlaku untuk semua taraf beban P, tidak
p
Mekanika Bahan 1 35
peduli apakah regangan ada di daerah elastis linier atau di daerah plastis.
Apabila beban P kecil, maka tegangan di batang lebih kecil daripada
tegangan luluh av dan bahan tersebut mengalami tegangan di dalarn daerah
elastis linier. Dengan demikian, hubungan gaya-peralihan antara gaya
batang dan perpanjangannya adalah
8 -
Fi�
1 - EA
8- = Fz�
- EA
(c)
Dengan memasukkan ini ke dalam persarnaan keserasian (Persamaan b),
maka
FILl = FzLz (d)
Dengan memecahkan secara simultan Persarnaan (a) dan (d), maka
F. -
p�
I - � + 2�
(2-71 a,b)
Jadi, kita sekarang mendapatkan gaya-gaya di batang pada daerah elastis
linier. Tegangannya adalah
a] = Fi =
p�
A A(� + 2� )
F PL1
.-T - _1._ - ----'---
v2 - -
A A(� + 2� l
(2-72a,b)
Persamaan-persarnaan di atas untuk gaya dan tegangan berlaku asalkan
tegangan di ketiga batang masih di bawah tegangan luluh a,.
Dengan meningkatnya beban P, tegangan di batang menirigkat sarnpai
tegangan luluh dicapai di salah satu batang. Sekarang asumsikan bahwa
batang-batang tepi lebih daripada batang tengah, seperti terlihat dalarn
Gambar 2-69a:
(e)
Dengan demikian, batang tengah mengalarni tegangan yang lebih tinggi
dibandingkan batang tepi (lihat Persarnaan 2-72a dan b) dan akan mencapai
tegangan luluh terlebih dahulu. Apabila hal ini tetjadi, maka gaya di
batang tengah adalah F2 = aYA. Besarnya beban P pada saat tegangan
luluh pertarna kali dicapai di salah satu batang disebut beban luluh PY.
Kita dapat menentukan Pv dengan menetapkan F2 sarna dengan ayA di
Persarnaan (2-71b) dan menghitung beban:
PY = aYA(l +
2
() (2-73)
Selarna beban P lebih kecil daripada Py, struktur berperilaku secara elastis
linier dan gaya-gaya di batang dapat dihitung dari Persarnaan (2-71a dan b).
B
Peralihan ke bawah pada batang kaku akibat beban luluh, yang disebut
c
peralihan luluh 8y, sarna dengan perpanjangan batang tengah pada saat
tegangan mencapai tegangan luluh ay pertarna kali:
Gambar 2·70 Diagram beban­
peralihan untuk struktur statis tak
tentu yang ditunjukkan dalam
gambar 2-69a.
8 -
F2Lz -
a2Lz -
aYLz (2-74)
y - EA - � - �
Hubungan antara beban P dan peralihan ke bawah 8 batang kaku
ditunjukkan dalarn diagram beban-peralihan dalam Garnbar 2-70. Perilaku
struktur sarnpai beban luluh PY ditunjukkan dengan garis OA.
Dengan bertambahnya beban, maka gaya F1 di batang tepi luar
bertarnbah, tetapi gaya F2 di batang tengah tetap konstan sebesar ayA
karena batang ini sekarang plastis sempuma (lihat Garnbar 2-69b). Apabila
1 36 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
gaya F1 mencapai harga <JvA, maka batang tepi juga luluh sehingga struktur
tidak dapat memikul beban tambahan apapun. Ketiga batang akan
memanjang secara plastis pada taraf beban konstan, yang disebut beban
plastis PP. Beban plastis yang ditunjukkan dengan titik B pada diagram
beban-peralihan (Gambar 2-70), dan garis horizontal BC menunjukkan
daerah deformasi plastis kontinu tanpa adanya penambahan beban.
Beban plastis PP dapat dihitung dari keseimbangan statis (Persamaan a)
dengan diketahuinya
Jadi, dari keseimbangan kita dapatkan
pp = 3<Jy4
(f)
(2-75)
Peralihan plastis oP tepat pada saat beban mencapai beban plastis PP
sama dengan perpanjangan batang tepi pada saat mencapai tegangan luluh.
Dengan demikian,
(2-76)
Dengan membandingkan oP dan o
y
, kitalihat bahwa rasio peralihan plastis
terhadap peralihan luluh adalah
op �
- = -
oy �
Juga, rasio beban plastis terhadap beban luluh adalah
pp 3�
- = --"---
pv � + 2�
(2-77)
(2-78)
Sebagai contoh, jika L1 = 1 ,5L2, maka rasionya adalah O/OY = 1 ,5 dan P/
Pv = 917 = 1 ,29. Pada umumnya, rasio peralihan lebih besar daripada rasio
bebannya, sehingga daerah yang plastis sebagian AB pada dengan beban­
peralihan (Gambar 2-70) selalu mempunyai kemiringan yang lebih kecil
dibandingkan dengan di daerah elastis OA. Tentu saja, daerah plastis penuh
BC mempunyai kemiringan terkecil (nol).
Untuk memahami mengapa grafik beban-peralihan adalah linier di
daerah plastis parsial (garis AB) dan mempunyai kemiringan lebih kecil
daripada di daerah elastis linier, tinjaulah hal berikut. Di daerah plastis
parsial dari struktur, batang tepi masih berperilaku elastis linier. Dengan
demikian, perpanjangannya merupakan fungsi linier dari beban. Karena
perpanjangannya sama dengan peralihan ke bawah plat kaku, maka
peralihan plat kaku juga harus merupakan fungsi linier dari beban. Akibat­
nya, kita mempunyai garis lurus antara titik A dan B. Namun, kemiringan
dari diagram beban-peralihan di daerah ini lebih kecil daripada di daerah
linier awal karena batang tengah mengalarni luluh secara plastis dan hanya
batang tepi yang dapat memberikan tahanan tambahan terhadap peningkatan
beban. Ini berarti kekakuan struktur telah berkurang.
Dari pembahasan yang berkaitan dengan Persamaan (2-75), kita lihat
bahwa perhitungan beban plastis PP membutuhkan hanya statika, karena
semuaelemen struktur telah luluh dan gaya aksialnya diketahui. Sebaliknya,
perhitungan beban luluh PY membutuhkan analisis statis tak tentu, yang
berarti persamaan keseimbangan, keserasian, dan gaya-peralihan harus
dipecahkan.
Mekanika Bahan 1 37
Sesudah beban plastis PP tercapai, struktur akan terus berdeformasi
seperti terlihat dengan garis BC pacta diagram beban-peralihan dalarn
Garnbar 2-70. Pacta akhimya strain hardening terjadi dan struktur akan
marnpu memikul beban tambahan. Tetapi, adanya peralihan yang sangat
besar biasanya berarti struktur sudah tidak lagi berguna, dan begitu pula
beban plastis PP dipandang sebagai beban gaga!.
Diskusi di atas berkaitan dengan perilaku struktur apabila beban
diterapkan untuk pertarna kali. Jika beban dihilangkan sebelum beban
luluh dicapai, maka struktur akan berperilaku secara elastis dan kembali
ke kondisi semula. Narnun, jika beban luluh telah dilampaui, sebagian
dari struktur akan mempertahankan set yang permanen apabila beban
dihilangkan, jadi menimbulkan kondisi tegangan awal. Akibatnya, struktur
tersebut akan mempunyai tegangan residual (sisa) meskipun belum ada
beban yang bekerja. Jika beban diterapkan sekali lagi. maka struktur akan
berperilaku secara berbeda.
• Contoh 2-21
Gambar 2-71 Contoh 2-2 1 .
Analisis elastoplastis pada suatu
struktur statis tak tentu.
Struktur yang terlihat dalam Gambar 2-71a terdiri atas balok horizontal AB
(diasumsikan kaku) yang dipikul oleh dua batang identik (batang 1 dan 2) yang
terbuat dari bahan elastoplastis. Batang-batang ini mempunyai panjang L. dan Juas
penampang A, dan bahannya mempunyai tegangan luluh a
y, regangan luluh f.v,
dan modulus elastisitas E = CJ/£Y. Balok ini mempunyai panjang 3b dan memikul
beban P di ujung B.
(a) Tentukanlah beban luluh P, dan peralihan luluhnya 8Y di titik B. (b)
Tentukan beban plastis PP dan peralihan plastisnya 8P di titik B. (c) Gambarlah
diagram beban-peralihan yang menghubungkan beban P dan peralihan 88 di titik B.
tF1 tF:
p
6
PP
= S py : n c
0 py '
'
B
p
(a) (b)
Solusi
Persamaan keseimbangan. Karena struktur ini statis tak tentu, maka kita mulai
dengan persamaan keseimbangan dan keserasian. Dengan meninjau keseimbangan
balok AB, kita mengambil momen terhadap titik A dan mendapatkan
I MA = 0 Fl(b) + Fz(2b) - P(3b) = 0
di mana F1 dan F2 masing-masing adalah gaya-gaya aksial di batang I dan 2.
Persamaan ini dapat disederhanakan menjadi
(g)
Persamaan keserasian. Persamaan keserasian didasarkan atas geometri
struktur. Akibat bekerjanyabeban P, balok kaku berotasi terhadap titikA, sehingga
138 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
SOAL-SOAL BAB 2 I
peralihan ke bawah di setiap titik di sepanjang balok sebanding dengan jaraknya
dari titik A. Jadi, persamaan keserasian adalah
(h)
dimana 82 adalah perpanjangan batang 2 dan 81 adalah perpanjangan batang l .
(a) Beban luluh dan peralihan luluh. Jika beban P kecil dan tegangan-tegangan
pada bahan berada dalam daerah elastis linier, hubungan antara gaya-peralihan
kedua batang adalah
8 - F.,L
I - EA
8 =
F2L
2 EA
(i)
Dengan menggabungkan persamaan-persamaan di atas dengan kondisi keserasian
(Persamaan h), maka
FzL
= 2
F.,L
atau F2 = 2F., (j)
EA EA
Sekarang dengan memasukkannya ke persamaan keseimbangan (Persamaan g),
kita dapatkan
F.
_ 3P
I -
5
F,
=
6P
- 5
(k)
Batang 2, yang mempunyai gaya lebih besar, akan mencapai tegangan luluh terlebih
dahulu. Pada saat itu, gaya di batang 2 adalah F2 = ay4. Dengan memasukkan
harga ini ke dalam Persamaan (k) maka beban luluh P
Y
adalah
_ 5a
_
,A
P,. -
. 6
(I) •
Perpanjangan batang 2 (dari yang kedua dalam Persamaan i) adalah 82 = apE
sehingga peralihan luluh di titik B adalah
_
382 _
3a>L
8 - - - --
(m) •
y
6 2E
P
Y
dan 8Y
ditunjukkan dalam diagram beban-peralihan (Gambar 2-71b).
(b) Beban plastis dan peralihan plastis. Pada saat beban plastis PP dicapai,
kedua batang akan meregang pada taraf tegangan luluh dan gaya-gaya F1 dan F2
akan sama dengan ay4. Dari keseimbangan (Persamaan g), beban plastis adalah
PP = ay4 (n) •
Pada taraf beban ini, batang kiri (batang 1) barn saja mencapai tegangan luluh
sehingga perpanjangannya (dari yang pertama dalam Persamaan i) adalah 81 =
apE dan peralihan plastis titik B adalah
3a L
8 = 381 =
_
Y_ (o) •
P E
Rasio beban plastis terhadap beban luluh (lihat Persamaan n dan 1) adalah 6/5, dan
rasio peralihan plastis terhadap peralihan luluh (lihat Persamaan o dan m) adalah
2. Harga-harga ini juga ditunjukkan dalam diagram beban-peralihan.
(c) Diagram beban-peralihan. Perilaku beban-peralihan struktur secara
lengkap diplot dalam Gambar 2-71 b. Perilaku ini elastis linier pada daerah dari 0
ke A, plastis sebagian dari A ke B, dan plastis penuh dari B ke C.
Lembar :':/e:'. PERUBAHAN PANJANG PADA
Ke�ia a ELEMEN STRUKTUR VANG DIBEBANI
SECARA AKSIAL
2.2-1 Sebuah kawat baja dan kawat tembaga mem­
punyai panjang sama dan memikul beban sama P (lihat
gambar). Modulus elastisitas untuk baja dan tembaga
masing-masing adalah Es = 29 x 106 psi dan Ec = 1 8 x
106. (a) Jika kedua kawat mempunyai diameter sama,
berapakah rasio perpanjangan kawat tembaga terhadap
perpanjangan kawat baja? (b) Jika kawat memanjang
sama besar. berapakah rasio diameter kawat tembaga
terhadap diameter kawat baja?
Kawat baja
__-- Kawat tembaga
....-------
p
p
2.2-2 Sebuah benda berat sedang diangkat dari dasar
!aut dengan menggunakan kapal tarik (lihat gambar).
Kabel baja mempunyai modulus elastisitas efektif sama
dengan 140 GPa, dan bebannya menimbulkan tegangan
di kabel sama dengan 290 MPa. Jika bagian kabel yang
dibebani mempunyai panjang 90 m, berapakah
perpanjangan kabel pada saat benda diangkat?
2.2-3 Sebuah kabel baja dengan diameter 1,0 in (lihat
Tabel 2- 1 ) digunakan dalam konstruksi untuk
mengangkat potongan jembatan yang beratnya 12 ton,
seperti terlihat dalam gambar. Kabel ini mempunyai
modulus elastisitas efektif E = 20 x 106 psi. (a) Jika
kabel mempunyai panjang 45 ft, berapakah kabel itu
akan memanjang pada saat beban tersebut diangkat? (b)
Jika kabel itu dicanangkan untuk beban maksimum 15
Mekanika Bahan 1 39
ton, berapakah faktor keamanan terhadap kegaga1an
kabel?
2.2-4 Sebuah katup pengaman di bagian atas tangki
yang mengandung uap bertek.anan p mempunyai lubang
pembuangan dengan diameter d (lihat gambar). Katup
ini didesain untuk melepaskan uap pada saat tekanan
mencapai harga PmaL· Jik.a panjang alami pegas L dan
kekakuannya adalah k. berapaseharusnya diameter katup?
(Nyatakan hasilnya sebaga.i rumus untuk h).
2.2-5 Peralatan yang terlihat dalam gambar terdiri atas
penunjuk ARC yang dipikul oleh pegas yang berkekakuan
k. Pegas ini terletak padajarak b dari ujung sendi. Peralat­
an ini disesua.ikan sedemikian hingga agar apabila tidak
ada beban P, penunjuk menunjukkan angka no! pada
skala sudut. Pada jarak x berapa beban harus diletakkan
agar penunjuk akan menunjukkan 2° pada skala? Guna­
kan data berikut: k = 8,0 lb/in, b = 8 in, dan P = 3 lb.
1+------- b ------�
1 40 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksia/
22-6 Sebuah batang seragam AB yang beratnya W =
:.5 ' dipikul oleh dua pegas, seperti terlihat dalam
p
..
:
nbar. Pegas di kiri mempunyai kekakuan k1 = 300 NI
m dan panjang alami L1 = 250 mm. Besaran untuk pegas
kanan adalah k2 = 400 N/m dan L2 = 200 mm. Jarak
antara pegas adalah L = 350 mm, dan pegas di kanan
digantung pada tumpuan yang berjarak h = 80 mm di
bawah titik tumpuan untuk pegas kiri. Pada jarak x
berapakah dari pegas kiri beban P = 1 8 ! harus di­
letakkan agar batang ini terletak horizontal·?
h
w
A B
I
p
I
b�L�------1
2.2-7 Sebuah baja mutu tinggi dengan diameter d = 0,5
in dan modulus elastisitas E = 30 x 1 06 psi harus
menyalurkan beban P = 6100 lb (lihat gambar). (a) Jika
panjang L batang adalah 1 4,50 ft, berapakah panjang
akhir? (b) Berapakah rasio panjang batang terhadap
pertambahan panjang? (c) Jika pertambahan panjang
dibatasi pada 0,15 in, berapakah beban maksimum Pmaks
yang diizinkan?
2.2-8 Sebuah kawat aluminium yang mempunyai di­
ameter d = 2 mm dan modulus elastisitas E = 75 GPa
mengalami beban tarik P (lihat gambar). (a) Jika kawat
ini memanjang 2,25 mm jika dibebani tarik 175 N, berapa
panjang L kawat? (b) Jika perpanjangan izin maksimum
adalah 3,0 mm, tegangan izin tarik adalah 60 MPa, dan
panjang kawat adalah 3,8 m, berapa beban izin Pmaks?
2.2-9 Sebuah batang panjang dari tembaga persegi
panjang yang mengalami beban tarik P digantung pada
tumpuan sendi dengan tiang baja (lihat gambar). Batang
tembaga mempunyai panjang 26 ft, luas penampang
6,5 in2, dan modulus elastisitas Ec = 1 5 x 106 psi. Masing­
masing tiang baja mempunyai tinggi 35 in, luas penam­
pang 8,4 in2, dan modulus elastisitas E, = 29 x 106 psi.
(a) Tentukan peralihan ke bawah 8di ujung bawah batang
tembaga akibat beban P = 85 k. (b) Berapakah beban
izin maksimum Pmaks jika peralihan 8 dibatasi pada
0,30 in.?
/ Tiang baja
Batang
/�
tembaga
2.2-10 Rangka batang ABC yang terlihat dalam gambar
mempunyai bentang L = 3 m dan terbuat dari pipa baja
:ang mempunyai luas penampang A = 3540 mm2 dan
modulus elastisitas E = 200 GPa. Sebuah beban P bekerja
dalarn arah horizontal ke kanan di titik hubung C. (a)
Jika P = 620 kN, berapa peralihan horizontal titik hubung
B? (bi Berapa beban izin maksimum Pmaks jika peralihan
titik hubung B dibatasi pada 1 ,0 mm?
2.2-1 1 Sebuah kolom Iingkaran berlubang dari baja (£
= 30.000 ksi) mengalami beban tekan P, seperti terlihat
dalam gambar. Kolom ini mempunyai panjang L = 8,2 ft
dan diameter d = 8,0 in. Beban P = l l0 k. Jika tegangan
Gambar untuk Soal 2.2- 1 1 dan 2.2-1 2
tekan izin adalah 8,1 ksi dan perpendekan izin untuk
kolom adalah 0.025 in, berapakah tebal dinding yang
dibutuhkan?
2.2-12 Sebuah kolom lingkaran berlubang dari baja (E
= 210 GPa) mengalami beban tekan P, seperti terlihat
dalam gambar. Kolom ini mempunyai panjang L = 2,5
m dan diameter d = 200 mm. Beban P = 490 kN. Jika
tegangan tekan izin adalah 56 MPa dan perpendekan
izin untuk kolom adalah 0,6 mm, berapakah tebal dinding
t yang dibutuhkan?
2.2-13 Balok kaku horizontalABCD dipikul oleh batang
vertikal BE dan CF dan dibebani oleh gaya vertikal P1
= lOO k dan P2 = 90 k yang masing-masing bekerja di
titik A dan D (lihat gambar). Batang BE dan CF terbuat
dari baja (E = 29,5 x 1 06 psi) dan luas penampang A8E
= 22,1 in
2
dan AcF = 1 8,3 in
2
. Jarak antara titik-titik
pada batang ditunjukkan dalam gambar. Tentukan per­
alihan vertikal 8A dan 8D masing-masing di titik A dan D.
2.2-14 Sebuah plat setengah 1ingkaran ACBD yang
beratnya W = 500 N dan jari-jarinya R = 1 ,0 m ditumpu
di titik A, B, dan D oleh tiga kawat identik (lihat gambar).
Titik C ada di pusat busur lingkaran ADB dan jari-jari
CD tegak lurus diameter AB. Setiap kawat mempunyai
modulus elastisitas E = 210 GPa, diameter d = 2 mm,
dan panjang L = 1,2 m. Asumsikan bahwa plat ini kaku.
Beban P = 3W diletakkan pada jari-jari CD di titik p
Mekanika Bahan 1 41
yang berjarak x dari titik C. Berapakah jarak x agar plat
tersebut mempunyai kemiringan 0,1° (di sepanjang garis
CD) akibat aksi gabungan gaya P dan berat W?
...,l_x 1t
�:��·I BATANG TAK SERAGAM
2.3-1 Perhatikan balok dan batang yang terlihat dalam
Gambar 2-12a pada Contoh 2-3, dan memperhatikan
bahwa beban P1 dan P: bekerja masing-masing di titik
C dan E. Dengan menga'>umsikan bahwa kedua bagian
batang vertikalABC terbuat dari bahan yang sama, carilah
rumus untuk rasio P.;P1 sedemikian hingga peralihan
vertikal titik C akan no!. (�� atakan hasilnya di dalam
luas penampang A1 dan A:· sena dimensi Ll' L2, dan a,
dan b seperti terlihat dalarn garnbar tersebut.)
2.3-2 Sebuahbatang bajaA.D (}ihat garnbar) mempunyai
luas penampang 260 mm2 dan dibebani gaya P1 = 12 kN,
P2 = 8 kN, dan P3 = 6 kc
�. Panjang masing-masing
segmen batang adalah a = 1,5 m. b = 0.6 m, dan c =
0,9 m. (a) Dengan mengasumsikan bahwa modulus
elastisitas E = 210 GPa, hitunglah perubahan panjang
batang, Apakah batang ini memanjang atau memendek?
(b) Berapakah P3 harus dibesarkan agar ujung D batang
tidak bergerak apabila beban bekerja?
2.3-3 Sebuah pipayang mempunyai modulus elastisitas
E = 30 x 106 psi dibebani gaya PI' P2, dan P3 (lihat
gambar). Pipa ini mempunyai panjang 1 2 ft, dan jarak
antara titik-titik beban ada1ah a = b = 3 ft, dan c = 6 ft.
Bebannya adalah P1 = 4 k, P2 = 3 k, dan P3 = 3 k, dan
luas penampang pipa adalah 2,8 in
2
. (a) Hitunglah
peralihan 88, De, dan 8D di titik-titik beban. (b) Tentukan
jarak x dari tumpuan kiri ke penampang di mana
peralihannya no!.
2.3-4 Sebuah gedung dua tingkat mempunyai kolom
baja AB di lantai pertama dan BC di kolom kedua (lihat
gambar) (lihat gambar). Beban atap P1 sama dengan
400 kN dan beban lantai bawahnya adalah P2 = 720 kN.
��
a=3,75 m
J
r
a=3,75 m
J
142 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Setiap kolom mempunyai panjang a = 3,75 m. Luas
penampang kolom Jantai pertama dan kedua masing­
masing adalah 1 1.000 mm2 dan 3.900 mm2• (a) Dengan
menganggap bahwa E = 206 GPa, tentukan peralihan ke
bawah De titik C akibat beban P1 dan P2, (b) Berapa
beban tambahan P0 yang dapat diletakkan di puncak
kolom (titik C) jika peralihan ke bawah titik C tidak
boleh melebihi 4,0 mm?
2.3-5 Sebuah batang prismatis AD mengalami beban
Pp P2, dan P3 yang bekerja di titik B, C. dan D. seperti
terlihat dalam gambar. Setiap segmen batang mempunyai
panjang 20 in. Batang ini mempunyai luas penampang A
= 1 ,40 in2 dan terbuat dari tembaga dengan E = 17.000
ksi. (a) Tentukan peralihan 60 di ujung bebas batang.
(b) Berapakah seharusnya beban P3 jika peralihan di
titik D dikehendaki menjadi setengah dari harga semu1a?
2.3-6 Batang ABC terdiri atas dua bahan dan mem­
punyai panjang total I m dan diameter 50 mm (lihat
gambar). Bagian AB adalah baja (E, = 210 GPa) dan
bagian BC adalah aluminium (Ea = 70 GPa). Batang ini
mengalami gaya tarik 1 10 kN. (a) Tentukan panjang L1
dan L2 untuk masing-masing bagian agar kedua bagian
mempunyai perpanjangan yang sama. (b) Berapakah
perpanjangan total o batang?
2.3-7 Sebuah batang yang panjangnya 8 ft mempunyai
diameterpenampang d1 = 0,75 in di setengah panjangnya,
dan d2 = 0,50 in di setengah panjang Jainnya (lihat
gambar). (a) Berapakah perpanjangan batang akibat beban
tarik P = 5000 lb? (b) Jika volume bahan yang sama
digunakan untuk membuatbatang dengan diameter d dan
panjang 8 ft, berapakah perpanjangan batang ini akibat
beban P yang sama? (Asumsikan E = 30 x 106 psi.)
2.3-8 Sebuah batang ABC yang panjangnya L terdiri
atas dua bagian yang panjangnya sama tetapi diametemya
berbeda (lihat gambar). Segmen AB mempunyai diam-
eter d1 = 100 mm dan segmen BC mempunyai diameter
d2 = 60 mm. Kedua segmen mempunyai panjang U2 =
0,6 m. Sebuah lubang longitudinal yang diameternya d
dibor menembus segmen AB hingga setengah dari
panjangnya (jarak U4 = 0,3 m). Batang ini terbuat dari
plastik yang mempunyai modulus elastisitas E = 4,0 GPa.
Beban tekan P = 1 10 kN bekerja di ujung batang. Jika
perpendekan batang dibatasi pada 8,0 mm, berapakah
diameter lubang maksimum d yang diizinkan?
2.3-9 Sebuah tiang baja, yang dipancang ke dalam
tanah, memikul beban P dengan cara gesekan di sepan­
jang sisi-sisinya (lihat gambar). Friksi gayafper panjang
satuan tiang dianggap mempunyai distribusi terbagi rata
di seluruh permukaan tiang. Tiang ini mempunyai
panjang L, luas penampang A, dan modulus elastisitas
E. (a) Turunkan rumus untuk perpendekan 0 dari tiang
yang dinyatakan dalam P, L, E, dan A. (b) Gambarlah
diagram yang menunjukkan bagaimana tegangan tekan
ac bervariasi di seluruh panjang tiang.
f L
J
2.3-10 Sebuah kabel baja panjang AB memiku1 beban
P = 22,0 kN di ujung bawahnya (lihat gambar). Panjang
kabel L = 450 m dan berat per satuan panjang ada1ah w
= 6,1 N/m. Regangan di tengah tinggi kabel diukur
T l�
L
B J
dengan strain gage dan diperoleh besarnya 0,00223. (a)
Berapakah regangan EA di ujung atas kabel? (b) Berapa
regangan t:8 di ujung bawah kabel? (c) Berapa per­
panjangan 8 kabel?
2.3-1 1 Sebuah batang prismatis AB yang panjangnya
L, luas penampangnya A, modulus elastisitasnya E, dan
beratnya W digantung secara vertikal dan dibebani berat
sendiri (lihat gambar). (a) Turunkan rumus untuk
peralihan ke bawah 8c di titik C, yang terletak di jarak
c dari ujung bawah batang. (b) Berapa perpanjangan 88
keseluruhan batang? (c) Berapa rasio r perpanjangan
setengah bagian atas batang terhadap perpanjangan
setengah bagian bawahnya?
A
-�L
I
__
t
c
I
_LB
2.3-12 Sebuah tiang beton AB yang mempunyai pe­
nampang bujursangkar dan tinggi L meruncing dari
bawah ke atas (lihat gambar). Penampang di atas dan
bawah mempunyai lebar masing-masing b dan 2b. (a)
Dapatkan rumus untuk perpendekan 8 tiang ini akibat
beban tekan P (abaikan berat sendiri tiang). (b) Hitunglah
perpendekannya jika L = 4 m, b = 0,8 m, P = 1 800 kN,
dan modulus elastisitas beton adalah 24 GPa.
T
2b
_1
f--2b-l
*2.3-13 Sebuah tiang kayu yang memikul kepala tiang
mengalami gaya gesekan f per panjang satuan tiang di
bagian panjangnya yang tertanam di dalam tanah (lihat
gambar). Intensitas gaya gesekan bervariasi secara linier
terhadap jarak y dari dasar tiang, artinyaf = cy, di mana
c adalah konstanta. Panjang tiang yang tertanam adalah
L1 dan bagian atas tiang mempunyai panjang L2 juga,
beban di tiang adalah P, luas penampangnya adalah A,
Mekanika Bahan 1 43
dan modulus elastisitas nya adalah E. (a) Turunkan rumus
untuk menghitung perpendekan 8 tiang yang dinyatakan
dalam P, L1, L2• E, dan A. (b) Gambarlah diagram yang
menunjukkan bagaimana tegangan tekan ac bervariasi
di seluruh panjang tiang.
T
I
t
T
l
r
�f=cy
*2.3-14 Sebuah batang kerucut panjang, langsing yang
berpenampang lingkaran dan mempunyai panjang L, serta
diameter dasar d digantung dalam arah vertikal dan
mengalami beban akibat berat sendiri, seperti terlihat
dalam bagian (a) pada gambar. Batang ini mempunyai
berat W dan modulus elastisitas E. (a) Turunkan rumus
untuk menghitung perpanjangan oc batang kerucut. (b)
Jika volume bahan yang sama digunakan dalam batang
prismatis dengan penampang lingkaran dan panjang L
[lihat bagian (b) pada gambar], berapakah perpan­
jangannya?
(a) (b)
*2.3-1 5 Sebuah cakram (disk) kaku dengan jari-jari R
berputar dengan kelajuan sudut konstan m terhadap
sumbu yang melalui pusatnya C (lihat gambar). Enam
pisau prismatis identik, yang masing-masing mempunyai
panjang L, terpasang dengan arah radial ke luar dari disk
tersebut. Bahan pisau mempunyai modulus elastisitas E
dan rapat massa p (massa per unit volum). Tentukan
perpanjangan o pisau ini akibat efek sentrifugal.
1 44 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
**2.3-16 Sebuah tiang aluminium yang meruncing AB
dengan penampang lingkaran berlubang dan panjang L
ditekan oleh beban P (lihat gambar). Diameter luar di
atas dan bawah tiang adalah dA dan d8, dan tebal dinding
adalah t. Turunkan rumus untuk perpendekan tiang.
di mana E adalah modulus elastisitas.
p
**2.3-1 7 Kabel utama dari jembatan gantung [lihat
bagian (a) dari gambar] mengikuti kurva yang mendekati
parabola karena beban utama di kabel adalah berat dek
jembatan, yang mempunyai intensitas seragam di
sepanjang horizontal. Dengan demikian, kita dapat
menyatakan daerah tengah AOB dari kabel utama [lihat
(a)
(b)
bagian (b) pada gambar] sebagai kabel parabolik yang
ditumpu di titik A dan B dan memikul beban terbagi rata
dengan intensitas q pada bidang horizontal. Bentang kabel
adalah L, sag-nya h, serta rigiditas aksial adalah EA, dan
pusat koordinat ada di tengah bentang. (a) Turunkan
rumus untuk perpanjangan 8 kabel AOB yang terlihat
dalam bagian (b) gambar tersebut. (b) Hitunglah
perpanjangan 8 bentang tengah dari kabel utama pada
Golden Gate Bridge, di mana dimensi dan besarannya
adalah L = 4.200 ft, h = 470 ft, q = 12.700 lb/ft, dan E
= 28.800.000 ksi. Kabel ini terdiri atas 27.572 kabel
paralel dengan diameter 0,196 in. (Petunjuk: Tentukan
gaya tarik T di sembarang titik dari kabel dari diagram
benda bebas dari kabel; 1alu, tentukan perpanjangan
elemen kabel yang panjangnya d5; akhimya, integrasikan
di sepanjang kurva kabel untuk mendapatkan persamaan
perpanjangan 8.)
STRUKTUR STATIS TAK TENTU
2.4-1 Sebuah struktur yang terdiri atas inti perunggu
dan pipa aluminium mengalami gaya tekan P (lihat
gambar). Panjang pipa aluminium dan inti perunggu
adalah 14,0 in., diameter inti adalah 1,0 in., dan dia­
meter luar pipa adalah I ,6 in. Juga, modulus e1astisitas
aluminium dan perunggu masing-masing adalah I 0,5 x
106 psi dan 15,0 x 106 psi. (a) Jika panjang struktur ini
berkurang 0,1% apabila dibebani P, berapa besar beban
P tersebut? (b) Berapa beban izin maksimum Pmaks jika
tegangan izin di aluminium dan perunggu masing-masing
adalah 12.000 psi dan 1 8.000 psi?
2.4-2 Sebuah struktur terdiri atas inti perunggu (dia­
meter d1 = 6,0 mm), dan pipa baja (diameter dalam d2
= 7,0 mm, diameter luar d3 = 9 mm). Sebuah beban P
menekan struktur yang mempunyai panjang L = 85 mm
ini. Modulus elastisitas perunggu dan baja masing-masing
adalah 100 GPa dan 200 GPa. (a) Berapa beban P yang
akan memendekkan struktur ini 0,1 mm? (b) Jika
tegangan izin baja adalah 1 80 MPa dan tegangan izin di
perunggu adalah 140 MPa, berapabeban tekan izin Pizin?
Cangkang baja
Inti perunggu
2.4-3 Sebuah kolom beton bertulang dengan penampang
lingkaran dan panjang L = 12 ft memikul beban tekan P
= 200 k (lihat gambar). Kolom ini mempunyai delapan
batang tulangan, masing-masing mempunyai diameter
efektif 1,0 in. Batang-batang dikekang oleh sengkang
lingkaran untuk mencegahnya menekuk ke luar. Luas
efektif beton mempunyai diameter de = 1 3 in, seperti
terlihat dalam gambar (bagian luar dari beton dapat pecah
sehingga tidak dipandang efektif dalam memikul beban).
Asumsikan bahwa modulus elastisitas baja adalah 29 x
106 psi dan untuk beton adalah 3,6 x 106 psi. (a)
Hitunglah tegangan a
s
dan <Y
e di baja dan beton. (b)
Hitunglah perpendekan 8 di kolom. (Petunjuk: Dalam
menghitung luas beton, abaikan luas yang ditempati oleh
delapan tulangan baja.)
- d ­
e
2.4-4 Tiga batang prismatis, dua dari bahan A dan satu
dari bahan B, menyalurkan beban P (lihat gambar). Kedua
Mekanika Bahan 145
batang luar (bahan A) adalah identik. Luas penampang
batang tengah (bahan B) adalah 50% lebih besar daripada
luas penampang satu batang luar. Juga, modulus
elastisitas bahan A adalah duakali bahan B. Berapa fraksi
dari beban P yang disalurkan oleh batang tengah? (b)
Berapakah rasio tegangan di batang tengah terhadap
batang luar? (c ) Berapa rasio regangan batang tengah
terhadap regangan batang luar?
2.4-5 Tiga kabel baja digabungkan bersama untuk
memikul beban 12 k (lihat gambar). Diameter kabel
tengah adalah 3/4 in dan diameter masing-masing kabel
tepi adalah 1/2 in. Tarik di kabel disesuaikan sedemikian
hingga masing-masing kabel hanya memikul sepertiga
dari beban, maksudnya 4 k. Kemudian. beban diperbesar
9 k hingga beban totalnya 2 1 k. t a) Berapa persen dari
beban total yang dipikul oleh kabel tengah? (b) Berapa
tegangan am dan a0 masing-masing di kabel baja tengah
dan tepi? (Catatan: Lihat Tabel 2-1 di Subbab 2.2 untuk
besaran-besaran kabel.)
2.4-6 Sebuah batang ACB yang mempunyai dua luas
penampang yang berbeda A1 dan A2 ditahan antara dua
tumpuan kaku A dan B (lihat gambar). Sebuah beban P
bekerja di titik C, yang berjarak b1 dari ujung A dan
berjarak b2 dari ujung B. (a) Dapatkan rumus untuk reaksi
RA dan R8masing-masing di tumpuan A dan B, akibat
1 40 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
beban P. (b) Dapatkan rumus untuk peralihan ke bawah
8cdi titik C.
F bl
J
II
I
b2
I
B ____!_
2.4-7 Pipa aluminium dan baja yang terlihat dalam
gambar dikekang di tumpuan kaku A dan B dan di C
pacta pertemuan kedua pipa. Panjang pipa aluminium
dua kali panjang pipa baja. Dua beban yang sama dan
simetris P bekerja di plat C. (a) Dapatkan rumus untuk
tegangan aksial 0"
0 dan 0"
5 masing-masing di pipa alu­
minium dan baja. (b) Hitunglah tegangan untuk data
berikut: P = 1 2 k, luas penampang pipa aluminium Aa =
8,92 in
2
, luas penampang pipa baja As = 1 ,03 in
2
, modu­
lus elastisitas aluminium Ea = 10 x 106 psi dan modulus
elastisitas baja Es = 29 x 106 psi.
2L
c
¥ Pipa
aluminium
2.4-8 Batang berbeban aksialABCD yang terlihat dalam
gambar ditahan antara tumpuan-tumpuan kaku. Batang
tersebut mempunyai luas penampang A0 dari A ke C dan
2A0 dari C ke D. (a) Dapatkan rumus untuk reaksi RA
dan Rv di ujung-ujung batang. (b) Tentukan peralihan
88dan Ocdi titik B dan C. (c) Gambarlah diagram di
mana absisnya adalahjarak x dari tumpuan kiri dan ordi-
natnya adalah peralihan horizontal titik yang ber­
sangkutan di batang.
2.4-9 Sebuah batangAB dengan kedua ujungnya terjepit
dan mempunyai dua luas penampang yang berbeda
dibebani oleh dua beban P yang sama besar tetapi
berlawanan arah, seperti terlihat dalam gambar. Luas
penampang di dekat ujung adalah A1, dan di tengah
adalah A2. (a) Tentukan reaksi R4dan R8di kedua ujung
batang. (b) Tentukan gaya aksial tekan F di bagian tengah
batang. (c) Pacta kondisi bagaimana tegangan tekan di
tengah batang secara numerik sama dengan tegangan
tarik di ujung batang?
2.4-10 Sebuah batang komposit dengan penampang
bujursangkar dan dimensi 2b x 2b terbuat dari dua bahan
yang berbeda dengan modulus elastisitas E1 dan E2 (lihat
gambar). Kedua bagian batang mempunyai dimensi
potongan melintang yang sama. Batang tersebut memikul
beban P yang bekeija melalui plat ujung kaku. Garis kerja
beban ini mempunyai eksentrisitas e sedemikian hingga
setiap bagian batang mengalami tegangan tekan terbagi
rata. (a) Tentukan gaya aksial P1 dan P2 di kedua bagian
batang. (b) Tentukan eksentrisitas e beban. (c) Tentukan
rasio tegangan a1 dan a2 di kedua bagian batang.
2.4-1 1 Tiga kabel vertikal dengan diameter yang sama
dan dari bahan yang sama memikul balok horizontal
kaku di titik A, B, dan C (lihat gambar). Kabel B dan C
mempunyai panjang h dan kabel A mempunyai panjang
2h. Tentukan jarak x antara kabel A dan B sedemikian
T
2h
1
T
h
1
hingga balok akan tetap horizontal apabila beban P
bekeija di titik tengah.
2.4-12 Sebuah benda tegar AB yang beratnya W di­
gantung pacta kawat vertikal yang beijarak satu sama
lain sama. dua dari baja dan satu dari aluminium (lihat
gambar). Kawat-kawat ini memikul beban P yang bekeija
di titik tengah blok. Diameter kawat baja adalah 2 mm,
dan diameter kawat aluminium adalah 4 mm. Berapa
beban P yang dapat dipikul jika tegangan izin di kawat
baja adalah 220 MPa dan di kawat aluminium adalah 80
MPa? (Asumsikan W = 800 N, E5 = 210 GPa, dan Ea =
70 GPa.)
s A s
A
2.4-13 Sebuah batang kaku horizontal AB yang mem­
punyai berat W = 7.200 lb dipikul oleh tiga batang
lingkaran langsing (lihat gambar). Dua batang tepi terbuat
dari aluminium (E1 = lO x 106 psi) dengan diameter d1
= 0,4 in. dan panjang L1 = 40 in. Batang tengah adalah
magnesium (E2 = 6,5 x 106 psi) dengan diameter d2 dan
panjang L2. Tegangan izin di aluminium dan magnesium
masing-masing adalah 24.000 psi dan 13.000 psi. Jika
dikehendaki agar ketiga batang dibebani hingga mencapai
harga izinnya, berapa diameter d2 dan panjang L2 pada
batang tengah?
2.4-14 Sebuah batang baj a ABC (E = 200 GPa)
mempunyai luas penampang A1 dari A ke B dan luas
penampang A2 dari B ke C (lihat gambar). Batang ini
dipikul di ujung A dan mengalami beban P yang sama
dengan 40 kN di ujung C. Sebuah pipa baja lingkaran
BD dengan luas penampang A3 memikul batang tersebut
Mekanika Bahan 1 47
di B. Tentukan peralihan Oc di ujung bawah batang akibat
beban P, dengan beranggapan bahwa pipa tersebut pas
benar di B apabila tidak ada beban. (Asumsikan L1 =
2L3 = 250 mm. L: = 225 mm, A1 = 2A3 = 960 mm
2
, dan
A2 = 300 mm=. )
A �-
.
-
2.4-1 5 Sebuah batang kaku A.B yang panjangnya L
dihubungkan ke dinding dengan menggunakan sendi di
A dan dipikul oleh dua kawat vertikal yang terpasang di
titik C dan D (lihat gambar). Kawat-kawat ini mempunyai
luas penampang A yang sama dan terbuat dari bahan
yang sama pula (modulus elastisitas E), tetapi kawat D
mempunyai panjang dua kali kawat C. (a) Carilah gaya
tarik Tc dan TD
di kawat akibat beban vertikal P yang
bekeija di ujung B. (b) Carilah peralihan ke bawah 88di
ujung B.
c
t
h
I
� " �
_
l _
b-=-
-
L
-
_
-
_ .I l:
2.4-16 Sebuah batang kaku ABCD ditumpu sendi di
titik B dan ditumpu dua pegas di A dan D (lihat gambar).
Pegas di A dan D mempunyai kekakuan k1 = 15 kN/m
dan k2 = 35 kN/m. Beban P bekerja di titik C. Jika sudut
b= 500 mm
k1 = 15 kN/m
1 48 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
r-��� batang akibat aksi beban P dibatasi 2°, berapa
:cian izin maksimum Pmaks?
2.4-17 Tiga pegas yang identik dan berjarak sama me­
mikul batang kaku horizontal ABC (lihat gambar). Beban
P bekerja pada jarak x dari titik A. (a) Plotlah grafik
yang menunjukkan bagaimana gaya FA, F8, dan Fe di
ketiga pegas bervariasi terhadap jarak x. (Misalkan x
bervariasi dari 0 hingga 2L.) (b) Untuk harga x berapakah
ketiga pegas mengalami tekan? (c) Untuk x berapakah
pegas di A mengalami tarik?
2.4-18 Sebuah batang kaku AB dipikul oleh dua kabel
CE dan BD seperti terlihat dalam gambar. Kabel-kabel
ini identik kecuali panjangnya-kabel BD mempunyai
panjang h dan kabel CD mempunyai panjang 1,5h (yang
berarti panjang batang adalah L = h -J5). Tentukan gaya
tarik T8D dan TeE di kabel akibat bebas P yang bekerja
di titik F.
Th
1
2.4-19 Sebuah batang kaku BD mempunyai ujung sendi
di B dan dipikul oleh kabel AC dan AD (lihat gambar).
Panjang batang adalah 3b dan titik A berada pada 1 ,5b
di atas titik B. Beban P bekerja ke bawah di ujung D dari
batang. (a) Tentukan gaya tarik TAe dan TAD di kabel­
kabel. (b) Tentukan peralihan ke bawah 8D di titik D.
T
1,5b
l
2.4-20 Sebuah rangka persegi panjang yang lebarnya
7b dan tingginya 3b (lihat gambar) mempunyai tumpuan
sendi di C dan ditumpu di A dan D oleh kawat-kawat
vertikal yang identik. Rangka ini dibebani gaya P yang
bekerja di B. Diameter kawat adalah 2 mm. Jika tegangan
tarik di kawat akibat beban P tidak dapat melebihi
220 MPa, berapa beban izin maksimum Pmaks? (Abaikan
deformasi rangka.)
2.4-21 Sebuah batang kaku EDB ditumpu sendi di titik
E dan ditahan oleh dua kabel AB dan CD (lihat gambar).
Kedua kabel adalah sama, kecuali panjangnya. Beban P
bekerja di ujung B dari batang. Tentukan gaya tarik di
kabel dan sudut rotasi batang.
T
3b
+
6b
l
�--- 1--4b----1 p
*2.4-22 Sebuah batang trimetalik ditekan secara seragam
oleh gaya aksial P yang bekerja melalui plat kaku (lihat
gambar). Batang ini terdiri atas inti baja lingkaran yang
(a) (b)
dikelilingi oleh tabung perunggu dan tabung tembaga.
lnti baja mempunyai diameter 10 mm, tabung perunggu
mempunyai diameter luar 1 5 mm, dan tabung tembaga
mempunyai diameter luar 20 mm. Modulus elastisitas
masing-masing bahan adalah Es = 210 GPa, Eb = 1 00
GPa, dan Ec = 1 20 GPa. Hitunglah tegangan tekan as,
ab, dan a, di baja, perunggu, dan tembaga, apabila beban
P sama dengan 1 2 kN.
EFEK TERMAL
2.5-1 Rei kereta api dilas di ujung-ujungnya (untuk
membentuk rei kontinu sehingga menghilangkan suara
apabila roda melewati sambungan rei) pacta temperatur
50°F. Berapa tegangan tekan a yang dihasilkan pacta
saat rei tersebut diipanaskan oleh matahari hingga l 20°F
jika koefisien ekspansi termal a adalah 6,5 x 1 0-6/oF
dan modulus elastisitas E = 29 x 1 06 psi?
2.5-2 Sebuah pipa uap yang diameternya 1 50 mm
terletak di dalam alur pacta temperatur 1 3°C. Apabila
uap melewati pipa tersebut, temperaturnya meningkat
l 20°C. (a) Berapa pertambahan t.d di diameter pipa jika
pipa tersebut bebas berekspansi dalam semua arah? (b)
Berapa tegangan aksial adi dalam pipajika alur menahan
pipa tersebut sedemikian rupa sehingga pipa tersebut me­
manjang hanya sepertiga dari perpanjangan kalau pipa
tersebut bebas berekspansi? (Catatan: Pipa terbuat dari
baja dengan modulus elastisitas E = 200 GPa dan
koefisien ekspansi termaJ a = 12 X 10-6/0C.)
2.5-3 Sebuah pipa aluminium mempunyai panjang
190 ft pacta temperatur 65°F. Pipa baja di dekatnya pacta
temperatur yang sama mempunyai panjang 0,25 in lebih
panjang daripada pipaaluminium.Pactatemperatur berapa
(dalam derajat Fahrenheit) perbedaan panjang keduanya
0,50 in.? (Asumsikan bahwa koefisien ekspansi termal
aluminium dan baja masing-masing adalah aa = 1 3 x
1 0-6/oF dan as = 6,5 X I0-6/°F.)
2.5-4 Peralatan yang terlihat dalam gambar ini terbuat
dari batang wolfram AC dan batang magnesium BD yang
terpasang di penunjuk CDP dengan sendi di C dan D.
Misalkan koefisien muai termal untuk magnesium dan
wolfram dinyatakan dengan am dan ar Turunkan rumus
untuk peralihan vertikal 8(positif ke atas) titik P akibat
pertambahan temperatur seragam t.T. Dapatkah alat ini
digunakan sebagai termometer?
C
r-- a-ro----b----1
)�
! � p
L !:J.T !:J.T
l�
A B
Mekanika Bahan 1 49
2.5-5 Sebuah silinder baja solid S diletakkan di dalam
tabung tembaga C yang mempunyai panjang sama (lihat
gambar). Koefisien ekspansi termal ac untuk tembaga
lebih besar daripada koefisien as untuk baja. Sesudah
dirakit, silinder dan tabung ditekan di antara plat-plat
kaku dengan gaya P. Dapatkan rumus untuk peningkatan
temperatur t.T yang akan menyebabkan semua beban
dipikul oleh tabung tembaga.
I .
i
.. .::J
I J
i I
' ;
! .
;
:c s :c
I
2.5-6 Sebuah batang AB yang panjangnya L ditahan di
antara tumpuan-tumpuan kaku dan dipanaskan secara
tidak seragam sehingga peningkatan temperatur t.Tpacta
jarak x dari ujung A dinyatakan dengan rumus t.T =
t.T1Y?!L2, di mana !':..T1 adalah peningkatan temperatur di
ujung B dari batang (lihat gambar). Tentukanlah tegangan
tekan ac di batang (Asumsikan bahwa bahan ini mem­
punyai modulus elastisitas E dan koefisien ekspansi
termal a.
0
A B
f+-��--- L�����+i
2.5-7 Sebuah batang baja bundar yang diameternya
0,375 in. ditahan secara pas (tetapi tanpa tegangan awal)
di antara dindingkaku oleh susunan seperti terlihat dalam
gambar. Hitunglah penurunan temperatur t.T (derajat
Fahrenheit) yang menimbulkan tegangan geser rata-rata
di baut yang diameternya 0,25 in. menjadi 7500 psi.
(Untuk baja, gunakan a, = 6,5 x 1 0-6/oF dan E, = 30 x
106 psi.)
Baut dengan diameter 0,25 in.
/
0,375 in.
1 50 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
2.5-8 Sebuah batang baja bundar AB (diameter d1 =
1 5 mm, panjang L1 = 1 100 mm) mempunyai selubung
perunggu (diameter luar d2 = 21 mm, panjang L2 = 400
mm) yang pas benar seperti terlihat dalam gambar.
Hitunglah perpanjangan total 8 batang baja akibat
peningkatan temperatur l'lT = 350°C. (Besaran bahan
adalah sebagai berikut: untuk baja as = 12 x 1 0-D/'C dan
Es = 210 GPa, untuk perunggu ab = 20 x 1 0-".t�c dan
Eb = 1 10 GPa)
B
L2_____________.
�------------- £� --------------__.
2.5-9 Sebuah batang plastik ACB yang mempunyai dua
penampang lingkaran solid ditahan di antara tumpuan­
tumpuan kaku seperti terlihat dalam gambar. Diameter
di bagian kiri dan kanan masing-masing adalah 2,0 in
dan 3,0 in. Panjangnya masing-masing adalah 9 in. dan
1 2 in. Juga, modulus elastisitas E = 860 ksi dan koefisien
ekspansi termal a adalah 60 X w-6/°F. Batang ini
mengalami peningkatan temperatur seragam sebesar
50°F. Hitunglah besaran berikut: (a) gaya tekan P di
batang; (b) tegangan tekan maksimum ac; dan (c)
peralihan Octitik C.
1--·-9 in.------1---12 in. -----�
2.5-1 0 Sebuah batang nonprismatis ACB yang panjang­
nya L ditahan di antara dua tumpuan kaku (lihat gambar).
Setengah bagian kiri dari batang tersebut mempunyai
luas penampang A1 dan setengah sisanya mempunyai
luas penampang A2. Modulus elastisitasnya adalah E dan
koefisien ekspansi termalnya adalah a. Dengan meng­
anggap bahwa batang ini mengalami peningkatan
temperatur l'lTdan bahwaA2 > A1, turunkan rumus untuk:
(a) gaya tekan P di batang, dan (b) peralihan Oc titik C
(positif berarti peralihan tersebut berarah ke kiri).
I L . L I
1+----- - -1----- - �-
1 2 2
2.5-1 1 Sebuah selubung perunggu terletak pas di se­
keliling baut baja (lihat gambar) dan mur dikencangkan
sampai pas benar. Baut tersebut mempunyai diameter 3/
8 in., dan selubungnya mempunyai diameter dalam dan
luar masing-masing 1 3/32 in. dan 5/8 i11. Hitunglah
peningkatan temperatur l'lT yang dibutuhkan untuk
menghasilkan tegangan tekan 3500 psi d· selubung.
(Gunakan besaran bahan sebagai berikut: untuk perunggu,
ah = 1 1 X w·�t°F dan Eh = 1 5 X 1 06 psi; untuk baja, as
= 6.5 X 10-6/oF dan Eh = 30 x 106 psi.
Selubung perunggu
Baut baja
2.5-12 Sebuah batang lingkaran solid yang diametemya
pas di dalam tabung tembaga mempunyai panjang yang
sama dengan tabung tersebut (lihat gambar). Diameter
luar tabung tembaga adalah 50 mm dan diameter
dalamnya adalah 45 mm. Diameter batang aluminium
adalah 42 mm. Pacta setiap ujung rakitan, sendi metal
dengan diameter 8 mm dapat melewati susunan batang­
tabung tadi dengan sudut siku terhadap sumbu batang.
Carilah tegangan geser rata-rata di sendi jika temperatur­
nya ditingkatkan 20°C. (Untuk aluminium, Ea = 70 GPa
dan aa = 23 x 10-6/oC; untuk tembaga, Ec = 1 20 GPa
dan ac = 17 X 10-6/oC.
Senz Selubung perunggu
�tMwxbi'"'wrmt¥tL4f.$ "Wh:.*»wWmww1
b...g"blti�;:..;[lt�:l�;;}£ill,.E#::dl
Batang aluminium
2.5-13 Sebuah batang kaku ABCD mempunyai sendi
di ujung A dan ditumpu oleh dua kabel di titik B dan C
(lihat gambar). Kabel di B mempunyai diameter dB =
0,5 in. dan kabel di C mempunyai diameter de = 0,75 in.
Sebuah beban P bekerja di ujung D dari batang. Berapa
beban izin p jika temperatur meningkat sejauh 100°F
dan setiap kabel diharuskan untuk mempunyai faktor
keamanan sedikitnya 5 terhadap putus? (Catatan: Kabel­
kabel mempunyai modulus elastisitas efektif E = 20 x
106 psi dan koefisien ekspansi termal a = 6,5 X I0-6fOF.
Besaran lain untuk kabel dapat diperoleh dalam Tabel
2. I , Subbab 2.2.)
2.5-14 Sebuah plat segitiga mempunyai sendi di C dan
ditahan oleh dua kawat horizontal di titik A dan B (lihat
gambar). Setiap kawat mempunyai rigiditas aksial EA =
540 kN dan koefisien ekspansi terma1 a = 23 X I Q-6/0C.
(a) Jika heban ertikal P = 2,2 kN bekerja di titik D,
berapakal< �aya ta�"ik TA dan TB di kawat A dan B? (b)
Jika, sementara beban P bt:�"'rja, temperaturkedua kawat
ditingkatkan 1CXFC. berapa gaya TA dan T8? (c) Berapa
peningkatan temperatur D.T yang akan menyebabkan
kawat B menJadi kendor?
-
�b
b
-
·
p
-------2b ------�
TEGANGAN Dl POTONGAN MIRING
2.6-1 Sebuah batang baja dengan penampang bujur­
sangkar (1 ,5 in. x 1,5 in.) memikul beban tarik P (lihat
gambar). Tegangan izin tarik dan geser masing-masing
ada1ah 1 8.000 psi. dan 1 1.000 psi. Tentukan beban izin
maksimum Pmaks·
2.6-2 Sebuah batang baja bundar dengan diameter d
mengalami gaya tarik P = 80 kN (lihat gambar).
Tegangan izin tarik dan geser masing-masing adalah
1 20 MPa dan 55 MPa. Tentukan diameter izin minimum
dmin batang ini?
p
' .
�d
2.6-3 Bata standar yang mempunyai dimensi 8 in. x
4 in. x 2,5 in. ditekan dalam arah memanjang dalam
Mekanika Bahan 1 51
suatu mesin uji (lihat gambar). Jika tegangan ultimate
untuk bata adalah 1 100 psi dan tegangan tekan ultimate­
nya ada1ah 3800 psi. berapa gaya Pmaks dibutuhkan untuk
memecahkan bata ini�
2.6-4 Sebuah kawat perunggu dengan diameter d = 2
mm ditarik antara dua tumpuan kaku sedemikian hingga
gaya tariknya adalah T = 140 N (lihat gambar). Berapa
penurunan temperatur izin maksimum D.T jika tegangan
geser izin di kawat adalah 80 MPa? (Koefisien ekspansi
termal untuk kawat adalah 19.5 x 10-6/oC dan modulus
elastisitasnya adalah 1 05 GPa.)
2.6-5 Sebuah kawat baja dengan diameter d = 1/16 in.
ditarik antara tumpuan-tumpuan kaku dengan gaya tarik
awal T = 45 lb (lihat gambar 1. 1 a) Jika temperatur
diturunkan 50°F, berapa tegangan geser maksimum rmaks
di kawat? (b) Jika tegangan geser izin adalah 1 8.000
MPa, berapa penurunan temperatur izin maksimum?
(Asumsikan bahwa koefisien ekspansi termal adalah 6,5
X w-6/°F dan modulus elastisitas adalah 30 X I 06 psi.)
2.6-6 Sebuah batang baja yang diametemya 20 mm
mengalami beban tarik P = 25 kN (lihat gambar). (a)
Berapa tegangan normal maksimum amaks di batang? (b)
Berapa tegangan geser maksimum rmaks? (c) Gambarlah
elemen tegangan yang berorientasi 45° terhadap sumbu
batang dan tunjukkan semua tegangan yang bekerja di
setiap muka elemen tegangan tersebut.
2.6-7 Selama uji tarik pada benda uji baja lunak (lihat
gambar), ekstensiometer menunjukkan perpanjangan
sebesar 0,00150 in. pada panjang terukur 2 in. Asumsikan
bahwa baja ini mengalami tegangan yang masih di bawah
limit proporsionalnya dan bahwa modulus elastisitas E
= 29 x 106 psi. (a) Berapa tegangan normal maksimum
amaks di benda uji? (b) Berapa tegangan geser maksimum
rmah? (c) Gambarlah elemen tegangan yang berorientasi
45° terhadap sumbu batang dan tunjukkan semua
tegangan yang bekerja di setiap muka elemen tegangan
tersebut.
2.6-8 Sebuah elemen struktur tekan di rangka batang
terbuat dari profil baja bersayap lebar (lihat gambar).
Luas penampang a = 6640 mm
2
dan beban aksial P =
152 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
-HO kN. Tentukan tegangan normal dan geser yang
bekerja di semua muka elemen tegangan yang terletak
di badan balok dan berorientasi pada: (a) sudut () = 0°,
(b) sudut () = 22,5°, dan (c) sudut () = 45°. Pada setiap
kasus, tunjukkan tegangannya.
2.6-9 Sebuah batang plastik yang diametemya d = 1 ,0
in. ditekan pada alat uji oleh gaya P = 25 lb yang bekerja
seperti terlihat dalam gambar. Tentukan tegangan nor­
mal dan geser yang bekerja di semua muka elemen
tegangan yang berorientasi: (a) sudut () = 0". (b) sudut
() = 22,5°, dan (c) sudut () = 45°. Pada setiap kasus,
tunjukkan tegangannya.
2.6-10 Dua buah papan digabungkan dengan meng­
gunakan !em di sepanjang scarf joint seperti terlihat
dalam gambar. Untuk mudahnya, sudut a di antara bidang
joint dan muka-muka di papan harus sebesar 45° atau
kurang. Akibat beban tarik P, tegangan normal di papan
adalah 4,9 MPa. (a) Berapa tegangan normal dan geser
yang bekerja dijoint yang dilem jika a = 20°? (b) Jika
tegangan geser izin di joint adalah 2,25 MPa, berapa
harga izin terbesar untuk sudut a? (c) Untuk sudut a
berapa tegangan geser di joint berlem secara numerik
besarnya dua kali tegangan normal di joint?
2.6-1 1 Sebuah batang tembaga ditahan secara pas
(batang tanpa tegangan awal) di antara dua tumpuan kaku
(lihat gambar). Tegangan izin di bidang miring pq, untuk
8 = 53,1 3°, ditetapkan sebesar 7500 psi (tekan) dan 4500
psi (geser). (a) Berapa peningkatan temperatur izin
maksimum f:..T jika tegangan izin di bidang pq tidak
boleh dilampaui? (Asumsikan a = 9,4 x 10-6/oF dan E
= 18 x 106 psi.) (b) Jika temperatur meningkat sejauh
maksimum yang diizinkan. berapa tegangan di bidang
pq?
p
2.6-12 Sebuah batang plastik ditahan secara pas (batang
tanpa tegangan awal) di antara dua tumpuan kaku (lihat
gambar) pada temperatur kamar (20°C). Pada saat
temperatur batang ditingkatkan 70°C. tegangan tekan di
bidang miringpq menjadi 12,0 MPa. (a) Berapa tegangan
geser di bidang pq? (Asumsikan a = 100 x 10-6/oc dan
E = 3,0 GPa.) b) Gambarlah elemen tegangan yang
berorientasi bidang pq dan tunjukkan semua tegangan
yang bekerja di semua muka elemen.
2.6-13 Sebuah batang perunggu lingkaran yang
diametemya d terdiri atas dua segmen yang disambung
pada bidang pq sehingga membentuk sudut a = 36°
dengan sumbu batang (lihat gambar). Tegangan izin di
perunggu adalah 13.000 psi untuk tarik dan 7000 psi
untuk geser. Padajoint yang disambung, tegangan izinnya
adalah 6000 psi untuk tarik dan 3000 psi untuk geser.
Jika batang ini harus menahan gaya tarik P = 7000 lb,
berapa diameter minimum yang diperlukan dmin pada
batang?
p
q
2.6-14 Sebuah batang prismatis mengalami gaya aksia1
yang menghasilkan tegangan tekan 56 MPa di bidang
yang membentuk sudut () = 30° (lihat gambar). Tentukan
tegangan yang bekerja di semua muka dari elemen
tegangan padasudut () = 60° dan tunjukkan tegangannya.
2.6-15 Sebuah batang prismatis mengalami gaya aksial
yang menghasilkan tegangan tarik u0 = 10,4 ksi dan
tegangan geser r0 = -5,2 ksi pada bidang miring tertentu
(lihat gambarl. Tentukan tegangan yang bekeija di semua
muka dari elemen tegangan yang berorientasi 8 = 50°
dan tunjukkan tegangan pada sketsa elemen tersebut.
2.6-16 Pada sisi-sisi elemen tegangan yang dipotong
dari batang yang mengalami tekan uniaksial bekerja
tegangan normal 60 MPa dan 20 MPa, seperti terlihat
dalam gambar. (a) Tentukan sudut 8 dan tegangan geser
r
w
(b) Berapa tegangan normal maksimum amaks dan
tegangan geser maksimum r
maks
pada bahan?
20 MPa a
0 = 60 MPa
�·:::';0·
*2.6-17 Tegangan normal di bidang pq dari batang
prismatis yang mengalami tarik (lihat gambar) adalah
8220 psi. Pada bidang rs, yang membentuk sudut f3 =
30° dengan bidang pq, tegangannya adalah 3290 psi.
Tentukan tegangan normal maksimum amaks dan tegangan
geser maksimum r
maks
pada batang ini.
*2.6-1 8 Sebuah elemen struktur tarik akan dibuat dari
dua potong plastik yang dilem di sepanjang bidang pq
(lihat gambar). Untuk mudahnya, sudut 8harus di antara
25° dan 45°. Tegangan izin di joint yang dilem untuk
tarik dan geser masing-masing adalah 1 3,5 MPa dan 9
MPa. (a) Tentukan sudut 8 agar batang ini dapat memikul
beban P terbesar. (Asumsikan bahwa kekuatanjoint yang
dilem menentukan desain.) (b) Tentukan beban izin
Mekanika Bahan 1 53
maksimum pmak< jika luas penampang batang adalah
600 mm
2
•
p
ENERGI REGANGAN
Soal untuk Subbab 2. -:- dis<!esaikan dengan menganggap
bahwa bahan berperilaki< "·!astis tinier.
2.7-1 Sebuah kolom baja up tingkat di dalam sebuah
gedung memikul beban atar dan lantai seperti terlihat
dalam gambar. Tinggi tingkat H adalah 10,5 ft, luas
penampang kolom adalah 1 5 .-l in:. dan modulus
e1astisitas baja adalah 29 x 10' psi. Hirunglah energi
regangan U pada kolom dengan menganggap P1 = 41 k
dan P2 = P3 = 62 k.
p
;w a W(
H
H
l
I
H
l
2.7-2 Sebuah batang dengan penampang lingkaran yang
mempunyai dua diameter yang berbeda d dan 2d
ditunjukkan dalam gambar. Setiap segmen dari batang
ini mempunyai panjang U2 dan modulus elastisitas bahan
adalah E. (a) Dapatkan rumus untuk energi regangan U
di batang akibat beban P. (b) Hitunglah energi regangan
jika beban P = 27 kN, panjang L = 600 mm, bahan
adalah perunggu dengan E = 1 05 GPa, dan diameter d
= 40 mm.
..
1 54 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
2.7-3 Sebuah batang AD dengan panjang L, luas
penampang A, dan modulus elastisitas E mengalami
beban SP, 3P, dan P yang bekerja di titik B, C, dan D
ilihat gambar). Segmen AB, BC, dan CD mempunyai
panjang U6, U2, dan U3. (a) Dapatkan rumus untuk
energi regangan U pada batang. (b) Hitunglah energi
regangan jika P = 5 k, L = 48 in., A = 2,76 in
2
, dan
bahan adalah aluminium dengan E = 1 0,4 x 106 psi.
p
2.7-4 Batang ABC yang terlihat dalam gambar dibebani
gaya P yang bekerja di ujung C dan oleh gaya Q yang
bekerja di titik tengah B. Batang ini mempunyai rigiditas
konstan EA. (a) Tentukan energi regangan U1 batang
apabila beban P bekerja sendiri (Q = 0). (b) Tentukan
energi regangan U2 apabila gaya-gaya P dan Q secara
simultan bekerja pada batang.
I
Q p
. . �
A B C
� � ----�� ----1
2.7-5 Rangka batang ABC yang terlihat dalam gambar
memikul beban horizontal P1 = 2000 lb dan beban
vertikal P, = 4000 lb. Kedua batang mempunyai luas
penampang A = 2,00 in
2
dan terbuat dari baja dengan E
= 29 x 106 psi. (a) Tentukan energi regangan U1 pada
rangka batang apabila beban P1 bekerja sendiri (P2 = 0).
(b) Tentukan energi regangan U2 apabila beban P2 bekelja
sendiri (P1 = 0). (c) Tentukan energi regangan U apabila
kedua beban bekerja simultan.
T
32 in.
l .m.J�
'c
,______________
�
<-------- 60 in.----.
2.7-6 Sebuah batang yang bentuknya kerucut lingkaran
mempunyai panjang L dan diameter d di tumpuan. Batang
ini digantung secara vertikal dan memikul berat sendiri
(lihat gambar). Turunkan rumus untuk energi regangan
U pada batang ini. (Misalkan y = berat jenis dan E =
modulus elastisitas bahan.)
1
I
L
- l
2.7-7 Rangka batang ABC yang terlihat dalam gambar
mengalami beban horizontal P di joint B. Setiap batang
mempunyai luas penampang A dan modulus elastisitas
E. 1 a1 Tentukan energi regangan U pada rangka batang
ini jika f3 = 60°. (b) Tentukan peralihan horizontal 88 di
joint B dengan menyamakan energi regangan rangka
batang dan kelja yang dilakukan oleh beban.
----L ---
2.7-8 Rangka batang ABCD yang terlihat dalam gambar
memikul beban vertikal P di joint D. Semua batang
mempunyai rigiditas aksial EA. (a) Tentukan energi
regangan U rangka batang. (b) Tentukan peralihan
vertikal 8vjoint D dengan menyamakan energi regangan
rangka batang dan kelja yang dilakukan oleh beban.
p
�----L�-----
2.7-9 Struktur statis tak tentu yang terlihat dalam
gambar terdiri atas batang horizontal AB, yang dianggap
kaku, dipikul oleh Iima pegas yang berjarak sama. Dua
pegas tepi mempunyai kekakuan 2k dan tiga pegas tengah
mempunyai kekakuan k. Pada saat bertegangan, ujung
bawah semua pegas terletak di sepanjang garis horizon­
tal. Batang AB, yang mempunyai berat W, menyebabkan
pegas memanjang sebesar 8. (a) Tentukan energi
regangan total U dari pegas yang dinyatakan dalam
peralihan batang ke bawah 8.(b) Hitunglah peralihan 8
dengan menyamakan energi regangan pegas dengan kerja
yang dilakukan berat W. (c) Tentukan gaya-gaya F1dan
F2 masing-masing di pegas tengah dan tepi.
2.7-1 0 Sebuah batang nonprismatis AB dari penampang
lingkaran mengalami beban Pdi ujung bebasnya, seperti
terlihat dalam gambar. Diameter di ujung-ujung adalah
d1 dan d2,panjangnya adalah L, dan modulus elastisitas
adalah E. (a) Tentukan energi regangan Ubatang ini. (b)
Tentukan perpanjangan 8batang dengan menyamakan
energi regangan dan kerja yang dilakukan oleh beban.
A
+-------- L -----�
2.7-1 1 Batang nonprismatis AB dari penampang persegi
panjang dan panjang L dibebani P(lihat gambar). Lebar
batang bervariasi secara linier dari b2di ujung A ke b1
di ujung B. Tebal tkonstan. (a) Tentukan energi regangan
Ubatang. (b) Tentukan perpanjangan 8batang dengan
menyamakan energi regangan dan kerja yang dilakukan
oleh beban P.
p
+-------
L _
_
_
_
_
__.
2.7-1 2 Sebuah batang ACB berotasi dengan kelajuan
sudut konstan m terhadap sumbu yang melalui C (lihat
gambar). Tentukan energi regangan Ubatang akibat efek
sentrifugal (Misalkan L = panjang setiap lengan batang,
Mekanika Bahan 1 55
A = luas penampang, E = modulus elastisitas , dan p =
rapat massa.)
2.7-1 3 Beban tekan Pdisalurkan melalui plat kaku ke
tiga batang dari paduan magnesium yang identik kecuali
bahwa pada awalnya batang tengah sedikit lebih pendek
daripada dua batang lainnya (lihat gambar). Dimensi dan
besaran susunan ini adalah sebagai berikut: panjang L =
2,5 ft, luas penampang setiap batang A = 4,91 in2, modu­
lus elastisitas E = 6.5 x I 06 psi, dan celah s= 0,05 in.
(a) Hitunglah beban P: yang diperlukan untuk menutup
celah. (b) Tentukan peralihan ke bawah 8 plat kaku,
apabila P = 150 k. (c 1 Hitung energi regangan total U
ketiga batang apabila P= ! 50 k. (d) Terangkan mengapa
energi regangan Utidak sama dengan P8/2. (Petunjuk:
Gambarlah diagram beban-peralihan.)
L
' ;
I
j
I I j
i
I
f
I
i I
2.7-14 Sebuah blok B didorong ke tiga pegas dengan
gaya P (lihat gambar). Pegas tengah mempunyai
kekakuan k1 dan pegas tepi mempunyai kekakuan
masing-masing k2.Pada awalnya, pegas tak mempunyai
tegangan dan pegas tengah sedikit lebih panjang daripada
pegas tepi (perbedaan panjang ditunjukkan dengan s).
(a) Gambarlah diagram gaya-peralihan dengan beban P
sebagai ordinat dan peralihan s blok sebagai absis. (b)
Dari diagram tersebut, tentukan energi regangan U1 di
pegas apabila x = 2s. (c) Jelaskan mengapa energi
regangan U1 tidak sama dengan P0/2 di mana 8= 2s.
2.7-1 5 RangkabatangABC yang terlihat dalam gambar
memikul beban vertikal P di titik hubung B. Batang AB
dan BC adalah identik dengan modulus elastisitas E dan
luas penampang A. Sudut (3 dapat divariasikan dengan
mengubah panjang kedua batang, batang di titik hubung
B harus tetap pada jarak L dari dinding vertikal.
(a) Hitunglah energi regangan U di rangka batang. (b)
1 56 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
Tentukan sudut f3 agar energi regangan menjadi mini­
mum. (c) Tentukan energi regangan minimum. (d)
Tentukan peralihan vertikal 88 di titik hubung B.
B
p
*2.7-16 Beban vertikal P dipikul oleh rangka batang
statis tak tentu ABCD (lihat gambar). Semua batang
terbuat dari bahan yang sama (modulus elastisitas E)
dan mempunyai luas penampang A yang sama. (a)
Tentukan energi regangan U di rangka batang yang
dinyatakan dalam peralihan vertikal 8Dtitik hubung D.
(b) Tentukan peralihan 8D.(c) Tentukan gaya-gaya FAD•
F8D, dan FCDdi masing-masing rangka batang.
**2.7-17 Sebuah kabel yang berperilaku elastis linier
mempunyai panjang sebelum bertegangan L0 = 30 in.
dan kekakuan k = 0,8 lb/in. Kabel ini terpasang pada
dua titik, yang jaraknya b = 15 in. satu sama lain dan
ditarik di titik tengah oleh gaya P = 18 lb (lihat gambar).
(a) Berapa energi regangan U yang disimpan dalam
kabel? (b) Berapa peralihan 8cdi titik di mana beban P
bekerja? (c) Bandingkan energi regangan U dengan
besaran P8J2. (Catatan: perpanjangan kabel tidak kecil
dibandingkan panjang semula.)
BEBAN KEJUT
Soa/-soal dalam Subbab 2.8 diselesaikan berdasarkan
asumsi dan idealisasi yang diuraikan dalam teks
' khususnya, tidak ada energi yang hilang selama kejut
terjadi dan bahan berperilaku elastis tinier).
2.8-1 Sebuah cincin yang beratnya W = 1 50 lb jatuh
dari ketinggian h = 2 in ke flens di bawah batang vertikal
langsing i lihat gambar). Batang tersebut mempunyai
panjang L = 4 ft, luas penampang A = 0,75 in
2
, dan
modulus elastisitas E = 30 x 1 06 psi. Hitunglah besaran­
besaran sebagai berikut: (a) peralihan ke bawah maksi­
mum pada tlens. (b) tegangan tarik maksimum pada
batang. ( C J faktor kejut.
2.8-2 Pecahkan soal sebelum ini jika cincin mempunyai
massa M = 80 kg. tinggi h = 0,5 m, dan panjang L =
3 in., luas penampang A = 350 mm
2
, dan modulus
elastisitas E = 170 GPa.
Cincin
Batang bundar
�
Flens (sayap)
- I
l L
_fj
2.8-3 Sebuah bola karet (berat W = I oz) terpasang
pada tali karet ke papan kayu (lihat gambar). Panjang
alami tali L0 = 1 2 in., luas penampang adalahA = 0,0025
in2, dan modulus elastisitas E = 300 psi. Sesudah dipukul
dengan papan kayu, bola menarik tali hingga panjangnya
menjadi L1 =40 in. Berapa kecepatan v bola pada saat
meninggalkan papan? (Asumsikan perilaku elastis linier
pada tali karet, dan abaikan energi potensial akibat
perubahan ketinggian bola.)
2.8-4 Sebuah blok yang beratnya W = 5 N jatuh di
dalam silinder dari tinggi h = 200 mm ke pegas yang
mempunyai kekakuan k = 90 N/m (lihat gambar). (a)
Tentukan perpendekan maksimum pegas akibat kejut,
dan (b) tentukan faktor kejut.
2.8-5 Pecahkan soal sebelum ini jika blok mempunyai
berat W = 1 lb, h = 1 2 in., dan k = 0,5 lb/in.
2.8-6 Sebuah bumper untuk gerbong tambang terbuat
dari pegas dengan kekakuan k = 176 kN/m (lihat gambar).
Jika sebuah gerbong yang beratnya 1 4 kN melaju dengan
kecepatan v = 8 km/jam pada saat menumbuk pegas,
berapa perpendekan maksimum pegas?
2.8-7 Sebuah bumper di ujung rei kereta api mempunyai
konstanta pegas k = 35.000 lb/in. (lihat gambar). Peralihan
maksimum d di ujung plat tumbukan yang dapat terjadi
adalah 1 ,5 ft. Berapa kecepatan maksimum v yang dapat
dimilik.i gerbong yang beratnya W = 1 05.000 lb tanpa
Mekanika Bahan 1 57
merusakkan tiang bumper apabila gerbong tersebut
menabraknya?
2.8-8 Sebuah kabe1 dengan pengekang di ujung bawah
tergantung secara vertikal pacta ujung atasnya (lihat
gambar). Kabel tersebut mempunyai panjang L = 1 2 m,
luas penampang efektif A = -W mm2, dan modulus
e1astisitas efektif E = 1 30 GPa. Sebuah eretan (slider)
dengan massa M = 40 kg jatuh dari tinggi h ke pengekang
tersebut. Jika tegangan izin di kabel pada beban kejut
adalah 500 MPa, berapa tinggi izin maksimum h?
Lif
�
"'.
.
Kabel
� -·
L
�
�h
Pengekang
�
2.8-9 Pecahkan soal sebelum ini jika eretan mempunyai
berat W = 1 00 lb, L = 50 ft, A = 0,065 in2, E = 20 x 1 06
psi, dan tegangan izin adalah 70 ksi.
2.8-1 0 Sebuah benda dengan berat W terletak di atas
sebuah dinding dan tersambung ke tali yang sangat
fleksibel dan mempunyai 1uas penampang A dan modu­
lus elastisitas E (lihat gambar). Ujung lain dari tali itu
tersambung dengan dinding. Benda tersebut didorong
hingga jatuh bebas hingga sepanjang tali. (a) Turunkan
rumus untuk faktor kejut. (b) Hitunglah faktor kejutjika
1 58 5ao 2 Eiemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
:-.:-::...::.:. tcrs.ebut, apabila digantung secara statis, mem­
�811Jang tali sebesar 2,5% dari panjang semula.
2.8- 1 1 Sebuah benda dengan berat W = 4500 lb jatuh
.:.m ketinggian h = I ft ke tiang kayu vertikal yang
mempunyai panjang L = 18 ft, diameter d = 1 2 in.. dan
modulus elastisitas E = 1,5 x 1 06 psi (lihat gambar).
Tentukan perpendekan maksimum tiang, tegangan tekan
maksimum di tiang, dan faktor kejut.
4.500 lb
-p= I ft
d = 12 io.
-
.
L = 18 ft
2.8-1 2 Plat ujung dari silinder yang bertekanan dijepit
ke flens dengan menggunakan enam baut seperti terlihat
pada bagian (a) dalam gambar. Panjang grip baut adalah
b1• Akibat gaya yang bervariasi terhadap waktu F(t) yang
Plat ujung
(a)
(b)
melakukan kerja Wdalam meregangkan baut,baut meng­
alami tegangan tarik maksimum 0'1• Sekarang misalkan
bahwa sambungan ini diabaikan sedemikian hingga grip
pada baut bertambah b2, seperti terlihat pada bagian (b)
dalam gambar. Gaya F(t) melak:ukan kerja W yang sama
banyak dalam meregangkan baut dan menghasilkan
tegangan tarik maksimum yang sama dengan 0'2.Jika b2
= 5b1' berapakah rasio tegangan acla1? (Catatan: Baut
yang mengalami beban dinamik seringkali didesain
dengan grip yang panjang untuk memanfaatkan kondisi
tegangan yang lebih dikehendaki.J
2.8-1 3 Seorang peloncat yang beratnya 125 lb meloncat
dari jembatan dengan memakai tali elastis panjang yang
mempunyai rigiditas aksial EA = 480 lb (lihat gambar).
Jika titik loncatan adalah 200 ft di atas muka air, dan jika
dikehendaki jarak bersih 30 ft antara peloncat dan muka
air, berapa panjang L dari tali yang hams digunakan?
2.8-1 4 Sebuah batang prismatis AB yang panjangnya L
dipikul di titik tengah C oleh pegas dengan kekakuan k
(lihat gambar). Sebuah benda dengan massa M jatuh ke
ujung B batang tersebut dari ketinggian h. Dengan
menggunakan asumsi bahwa batang AB adalah kaku,
turunkan rumus berikut untuk peralihan maksimum 88
titik B akibat kejut benda yang jatuh:
8 = 4Mg
[l + (I +
�)112]
B
k 2Mg
2.8-1 5 Sebuah batang kaku AB yang beratnya W = 2 lb
dan mempunyai panjang L= 12 in, mempunyai sendi di
ujung A dan ditumpu di B oleh tali nilon BC (lihat gam­
bar). Tali ini mempunyai luas penampang A = 0,04 in
2
,
panjang b = 9 in. dan modulus elastisitas E = 300 ksi.
Jika batang ini diangkat hingga tinggi maksimum dan
selanjutnya dilepaskan, berapa tegangan maksimum di
tali?
� '
-
,
_
_
_
I
cl
b
-
�
*2.8-16 Batang prismatis yang terlihat dalam gambar
mempunyai panjang L = 2,0 m, diameter d = 15 mm,
dan modulus elastisitas E = 210 GPa. Sebuah pegas
dengan kekakuan k = 1 ,0 MN/m dipasang di ujung
batang. Sebuah benda dengan massa M = 20,0 kg
dijatuhkan dari tinggi h = 1 50 mm ke pegas tersebut.
Tentukan perpanjangan maksimum 8maks dari batang,
tegangan tarik maksimum amaks di batang, dan faktor
kejut. Bandingkan hasilnya dengan yang diperoleh dalam
Contoh 2-16 Subbab 2.8 untuk batang yang sama, tanpa
pegas (lihat Gambar 2-50).
Pipa
d --+
L
t
h
��j_
�-'4'!"-----, ___
t
KONSENTRASI TEGANGAN
Soal-soal untuk Subbab 2. 10 diselesaikan dengan
meninjau faktor konsentrasi tegangan dan meng­
asumsikan perilaku elastis linier.
2.1 0-1 Batang datar yang ditunjukkan dalam bagian (a)
dalam gambar mengalami gaya tarik P = 4,0 k. Setiap
Mekanika Bahan 1 59
batang mempunyai tebal t = 0,375 in. (a) Untuk batang
dengan lubang lingkaran, tentukan tegangan maksimum
untuk diameter lubang d = 1 in. dan d= 2 in. jika lebar
b = 6,0 in. (b I Cntuk batang bertangga dengan shoulder
fillets (gambar b 1 tentukan tegangan maksimumnya jika
jari-jari fillet R = 0.25 in. dan R = 0,5 in. dan lebar
batang adalah b = -+.0 in. dan c = 2,5 in.
p
._
p
._
b
ib)
p
__.
p
__.
2.1 0-2 Batang datar yang ditunjukkan dalam bagian (a)
dalam gambar mengalami gaya tarik P = 8,0 kN. Setiap
batang mempunyai tebal t = 6 mm. (a) Untuk batang
dengan lubang lingkaran, tentukan tegangan maksimum
untuk diameter lubang d = 12 mm dan d = 20 mm jika
lebar b = 60.0 mm. (b) Untuk batang bertangga dengan
shoulderfillets(gambarb) tentukan tegangan maksimum­
nya jika jari-jari fillet R= 6,0 mm dan R= 10 mm dan
lebar batang adalah b = 60,0 mm dan c = 40 mm.
2.1 0-3 Sebuah batang datar dengan lebar b dan tebal t
mempunyai lubang dengan diameter dyang menembus­
nya (lihat gambar). Lubang tersebut dapat mempunyai
diameter yang cukup di batang tersebut. Berapa beban
tarik izin maksimum Pmaks jika tegangan tarik bahan
adalah a1?
p
._
p
__.
2.1 0-4 Sebuah batang perunggu bundar dengan dia­
meter d1 = 20 mm mempunyai ujung lebih besar dengan
diameter d2 = 26 mm (lihat gambar). Panjang segmen
batang adalah L1= 0,3 m dan L2 = 0,1 m. Fillets berupa
I d2 td2
: t •
r
·, ... dl {
�
. �
· �
. . . �
L'l_!_
,..,.,,""'"'"''">47*'.,,.
.
.¥''''' m·;;.,�·':'·•--•···'"''d"''Ij
I�L2-I----- L� -I�L2-I
160 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
�perempat lingkaran digunakan di pertemuan kedua
�gmen batang dan modulus elastisitas perunggu adalah
E = 100 GPa. Jika batang tersebut memanjang 0. 1 2 mm
akibat beban tarik P, berapa tegangan maksimum amak'
pada batang?
2.1 0-5 Pecahkan soal sebelum ini untuk batang dengan
metal monel yang mempunyai besaran sebagai bcrikut:
d1 = 1,0 in., d2 = 1 ,4 in., L1 = 20,0 in., L2 = 5.0 in.. dan
E = 25 x 106 psi. Juga, batang akan memanjang 0.00-+0
in. apabila beban tarik diterapkan.
2.1 0-6 Sebuah batang prismatis yang diametem: a d0 =
20 mm sedang dibandingkan dengan batang bertangga
(nonprismatis) yang mempunyai diameter <.ama (d1 =
20 mm) yang membesar di daerah tengah menjadi
berdiameter d2 = 24 mm (lihat gambar 1. Jari-jari fillets
di batang bertangga adalah 2,0 mm. 1 a 1 .-pakah mem­
perbesar batang di daerah tengah membuatnya lebih kuat
daripadabatang prismatis? Tunjukkan jawaban ini dengan
menentukan beban izin maksimum P1 untuk batang
prismatis dan beban izin maksimum P2 untuk batang
yang membesar, dengan menganggap bahwa tegangan
izin untuk bahan adalah 1 10 MPa. (b) Berapakah seharus­
nya diameter batang prismatis d0 agar didapatkan beban
izin maksimum yang sama dengan batang bertangga?
2.1 0-7 Sebuah batang datar bertangga dengan lubang
(lihat gambar) mempunyai lebar b1 = I,6 in., b2 = 2,0 in.,
dan b3 = 1 ,4 in. Juga, tebal t = 0,25 in., diameter lubang
d = 0,7 in., danfillets adalah seperempat lingkaran yang
mempunyaijari-jari terbesar yang cukup. (a) Jika tegang­
an izin adalah 6000 psi, berapa beban izin maksimum
Pmaks? (b) Asumsikan bahwa dikehendaki untuk
p
....,_
p
____.
meningkatkan beban izin tanpamerubah tebal t atau lebar
b2. Jika hanya satu dimensi yang dapat diubah (b1, b3,
atau d), dimensi mana yang akan diubah? Apakah akan
dibesarkan atau dikecilkan?
2.1 0-8 Pecahkan soal sebelum ini dengan menggunakan
dimensi b1 = 75 mm, b2 = 1 00 mm, b3 = 65 mm, t =
1 5 mm, dan d = 30 mm. Juga. gunakan tegangan izin
40 MPa.
2.1 0-9 Sebuah batang datar dengan lubang (lihat gam­
bar) mempunyai lebar b = 2,4 in. dan c = I ,6 in. Fillets
mempunyai jari-jari sama dengan 0,2 in. Berapa dia­
meter dmaks lubang terbesar yang dapat dibuat pada batang
ini tanpa mengurangi kapasitas pikul beban�
p
....,_
PERILAKU NONLINIER (PERUBAHAN PANJANG
BATANG)
2.1 1 -1 Sebuah batang AB yang panjangnya L dan berat
jenisnya y digantung secara vertikal dan memikul berat
sendiri (lihat gambar). Hubungan tegangan-regangan
untuk bahan dinyatakan dengan persamaan Ramberg­
Osgood (Persamaan 2-68):
E =
�
+
aaa (�)m
E E la0
Turunkan rumus berikut
8 = yL
2
+
aaaL ( yL)m
2E (m + 1)E la0
yang menyatakan perpanjangan batang.
2.1 1 -2 Sebuah batang prismatis yang panjangnya L =
1 ,8 m dan luas penampangnya A = 480 mni dibebani
gaya P1 = 30 kN dan P2 = 60 kN (lihat gambar). Batang
ini terbuat dari paduan magnesium yang mempunyai
kurva tegangan-regangan yang mengikuti persamaan
Ramberg-Osgood:
a 1 ( a
)10
£
= -+5.000
+ 618 170
(a = MPa)
di mana a mempunyai satuan MPa. (a) Hitunglah
peralihan Oc di ujung batang apabila hanya ada beban
P1. (b) Hitunglah peralihan apabila hanya beban P2 yang
bekerja. (cJ Hitunglah peralihan apabila kedua beban
bekeija bersama.
----
2
f -----
t--
2.1 1 -3 Sebuah kawat yang digantung yang mempunyai
panjang L = 8 ft dan diameter d = 0,0625 in. memikul
beban P di ujung bawah (lihat gambar). Kawat ini terbuat
dari paduan tembaga yang mempunyai hubungan
tegangan-regangan hiperbolik:
a = 1
1
!·
0�g;£ 0 :::; £ :::; 0,03 (a = ksi)
(a) Gambarlah diagram tegangan-regangan untuk bahan
ini. (b) Jika perpanjangan kawat dibatasi pada 0,75 in.
dan tegangan maksimum dibatasi pada 40 ksi, berapa
beban izin P?
d---1L
_l
p
2.1 1 -4 Sebuah rangka batang yang terdiri atas dua
batang ABC yang memikul beban P = 60 kN (lihat
gambar) terbuat dari bahan yang mempunyai diagram
tegangan-regangan seperti tergambar. Setiap batang
mempunyai luas penampang A = 265 mm
2
dan jarak
antara tumpuan adalah L = 3,0 m. Tentukan peralihan
vertikal oB di titik B pada rangka batang.
1-----------L ---
B
p
200
��:]
1-- __j__
CJ (MPa) I
/
/ i
I !
1 00
I
I
I
I
0
/V
I
u.005
E
Mekanika Bahan 1 61
IJ::=
/,_...I --
i
' _j�
i
i
I
0,010
2.1 1 -5 Dua batang identik AB dan BC memikul beban
vertikal P (lihat gambar1. Kcdua batang ini terbuat dari
paduan aluminium yang mempunyai be>aran yang dapat
didekati dengan diagram re zangan -regangan bilinier
seperti terlihat dalam gambar. Luas penampang setiap
batang adalah 2,0 in2 dan tinggi h adalah 75 in. Hitunglah
peralihan vertikal OB titik B untuk harga-harga beban
sebagai berikut: P = 8 k. 1 6 k. 2-+ k, 32 k, dan 40 k. Dari
hasil-hasil ini, plotlah diagram beban-peralihan untuk
struktur ini.
(J
1 2.000
psi
0
p
E
2.1 1 -6 Sebuah batang kaku AB, yang berujung sendi di
A ditumpu oleh kawat CD dan dibebani gaya P di ujung
B (lihat gambar). Kawat ini terbuat dari baja mutu tinggi
yang mempunyai modulus elastisitas E = 210 GPa dan
tegangan luluh ay = 820 MPa. Panjang kawat adalah L
= 1 m dan diametemya adalah d = 3 mm. Diagram
tegangan-regangan untuk baja didefinisikan dengan
rumus pangkat yang dimodifikasi sebagai berikut:
1 62 BaD 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
a = Et: 0 � a � ay
a = av(!:J a � aY
, a1 Dengan beranggapan bahwa n = 0,2, hitunglah
peralihan 88 di ujung batang akibat beban P. Arnbil harga
P dari 2 sampai 6 kN dengan pertambahan 0...1 k.'. 1 b 1
Plotlah diagram beban-peralihan yang menunjukkan P
versus 88"
c
-
.
L
D
L-2b ---l---b------1 p
2.1 1 -7 Sebuah benda dengan massa M = 1 ,6 slug
terpasang di ujung batang langsing yang berotasi dengan
kelajuan sudut tinggi terhadap sumbu yang melalui titik
C (lihat gambar). Batang ini mempunyai panjang efektif
L = 40 in. dan luas penampang A = 0,10 in2• Bahan ini
adalah paduan magnesium yang mempunyai hubungan
tegangan-regangan yang memenuhipersamaan Ramberg­
Osgood (Persamaan 2-68):
di mana E = 6,5 x 106 psi, a0 = 25.000 psi dan a =
317, dan m = 10. Berapa kelajuan sudut izin maksimum
n (putaran per menit) jika perpanjangan batang dibatasi
0,2 in.? (Abaikan massa batang itu sendiri.)
 /'
/
L '
/
/
2.1 1 -8 Sebuah batang bundar panjang yang digantung
secara vertikal dibebani P di ujung bawahnya (lihat
gambar). Bahannya mempunyai kurva tegangan-regang­
an bilinier seperti terlihat dalam gambar, di mana E1
dan E menunjukkan kemiringan kedua bagian pada
diagra:U. Carilah perpanjangan 8 batang akibat berat
sendiri dan gaya P jika berat jenis y = 28 kN/m.l, luas
penampang A = 960 mm2• panjang L = 360 m. dan
beban P = 92 kN.
()
PERILAKU NONLINIER (STRUKTUR STATIS TAK
TENTU)
*2.1 1 -9 Sistem statis tak tentu yang terlihat dalam
gambar ini terdiri atas batang kaku horizontal ABCD
yang ditumpu oleh dua pegas identik di titik A dan C.
Pegas mempunyai hubungan gaya-peralihan nonlinier
yang dinyatakan dengan persamaan hiperbolik sebagai
berikut:
F = 608
I + 1,28 0 � 8 � 2.5 in. (F = lb, 8 = in.)
di mana F adalah gaya aksial di pegas (satuan pound)
dan 8 adalah perubahan panjang pegas (dapat berupa
perpanjangan atau perpendekan, dalam satuan in.). Juga,
beban P sama dengan 35 lb dan segmen batang
mempunyai panjang a = 1 5 in, b = 10 in., dan c = 10 in.
(a) Gambarlah diagram beban-peralihan untuk salah satu
pegas. (b) Hitunglah gaya-gaya FA dan Fc di pegas di A
dan C, perubahan panjang 8A dan 8c dari pegas. serta
sudut rotasi e dari batang.
p
I
l----a--�--b--�c
*2.1 1 -1 0 Pecahkan soal sebelum ini dengan beban P =
1 50 N, panjang segmen a = 400 mm, h = 300 mm, dan
c = 370 mm, dan hubungan gaya-peralihan adalah
F -
10,88
0 � 8 � 60 mm (F = N, 8 = mm)
-
1 + 0,0488
di mana F adalah gaya aksial di pegas (satuan newton)
dan 8adalah perubahan panjang pegas (satuan mm).
*2.1 1-1 1 Sistem statis tak tentu yang terlihat dalam
gambar terdiri atas batang kaku dengan berat W = 750
lb yang dipikul oleh tiga kawat. Kawat tepi mempunyai
diameter d1 = lOO mils dan panjang L1 = 26 in.; kawat
tengah mempunyai diameter d2 = lOO mil dan panjang
L2 = 20 in. Kawat ini terbuat dari paduan magnesium
yang mempunyai hubungan tegangan-regangan yang
memenuhi persamaan pangkat tiga:
a = (2£ X 1 06)(3 - 1 50£ + 2500�) 0 � £ � O,Q2
di mana a adalah tegangan (satuan psi) dan £ adalah
regangan. Untuk regangan yang lebih besar daripada 0,02,
tegangan adalah 40.000 psi. (a) Gambarlah diagram
tegangan-regangan untuk bahan ini. (b) Tentukan
peralihan ke bawah 8batang ini serta gaya, tegangan,
dan regangan di kawat.
CD CD
w
*2. 1 1 -1 2 Pecahkan soal sebelum ini dengan mengguna­
kan berat W = 3 kN, diameter kawat d1 = d2 = 2,5 mm,
panjang L1 = 650 mm dan L2 = 500 mm, dan persamaan
tegangan-regangan adalah
a = 1 4.000£ (3 - 1 50£ + 2500�) 0 � £ � O,Q2
di mana a adalah tegangan (satuan MPa) dan £ adalah
regangan. Untuk regangan yang lebih besar daripada 0,02,
tegangannya adalah 280 MPa.
*2.1 1-13 Sistem statis tak tentu yang seperti dalam
gambar terdiri atas batang AB yang dipikul oleh dua
kawat. Kawat 1 mempunyai d1 = 150 mil dan kawat 2
mempunyai diameter d2 = 200 mil. Kedua kawat
mempunyai panjang L = 35 in. Kawat ini terbuat dari
paduan aluminium yang mempunyai kurva tegangan­
regangan yang dinyatakan dengan persamaan Ramberg­
Osgood:
CD
B
L-b--J--b�lp
Mekanika Bahan 1 63
10 = a I ( a
)20
1 0 X 1 06
+ 307,0 76.000
(a = psi)
di mana amempunyai satuan psi. Beban P sama dengan
3000 lb. (a) Gambarlah diagram tegangan-regangan untuk
bahan. (b) Tentukan gaya F1 dan F2 masing-masing di
kawat 1 dan 2, perpanjangan 81 dan 82kedua kawat, dan
tegangan serta regangan di kedua kawat.
*2.1 1-14 Pecahkan soal sebelum ini dengan mengguna­
kan P = 1 3 kN, diameter kawat d1 = 4,0 mm dan d2 =
5,0 mm, panjang kawat L = 0.8 m, dan kurva tegangan­
regangan paduan aluminium mempunyai hubungan:
e = _a
_
_
+ -
1
- ...!!...._r (a = MPa)
70.000 3 1 -+. 1 s20 .
di mana a adalah tegangan 1 ,;aruan :1Pa) dan £ adalah
regangan.
ANALISIS ELASTOPLASTIS
Soal-soal untuk Subbab 2. 1 2 dise/esaikan dengan
menganggap bahwa bahan ada/ah elastoplastis dengan
tegangan luluh a, regangan luluh £,, dan modulus
elastisitas adalah E di daerah elastis linier.
2.1 2-1 Sebuah batang kaku horizontal AB yang me­
mikul beban P digantung dengan menggunakan Iima
kawat yang terletak simetris, masing-masing dengan luas
penampang A Oihat gambar). Kawat-kawat ini disambung
ke permukaan lengkung yangjari-jarinya R. (a) Tentukan
beban plastis P
P
jika bahan untuk kawat adalah elasto­
plastis dengan tegangan luluh a
y
. (b) Bagaimana PP harus
diubah agar batang AB adalah fleksibel, bukannya kaku?
(c) Bagaimana PP harus diubah apabila jari-jari R di­
perbesar?
2.1 2-2 Sebuah batang bertangga (nonprismatis) ACB
ditahan di antara tumpuan kaku dan dibebani oleh gaya
aksial P di tengah tinggi (lihat gambar). Diameter untuk
kedua bagian batang adalah d1 = 20 mm dan d2 = 25 mm,
L L
--- 2 --- <----2 ---�
r
1 64 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial
� �ahan ini adalah elastoplastis dengan tegangan luluh
c. = :::...,5 MPa. (a) Tentukan beban luluh PY. (b) Tentukan
Xban plastis PP.
2.1 2-3 Batang ABCD yang berat totalnya W = 900 lb
digantung pada posisi horizontal dengan menggunakan
tiga kawat baja yang tersusun seperti terlihat dalam
gambar. Setiap kawat mempunyai diameter d = 0.242 in.
dan baja adalah bahan elastoplastis dengan tegangan luluh
a, = 40.000 psi. Berapa beban P yang dapat menyebab­
kan sistem ini kolaps akibat luluhnya kawat-kawat?
I
p
w
�- h -I- h -I---
2.1 2-4 Sebuah batang baja yang mempunyai penam­
pang lingkaran AB dengan diameter d = 1 2 mm ditarik
secara kencang di antara dua tumpuan sedemikian hingga
pada awalnya tegangan tarik di batang adalah 50 MPa
(lihat gambar). Gaya aksial P selanjutnya dikerjakan di
batang pada lokasi C. (a) Tentukan beban plastis PPjika
bahan ini elastoplastis dengan tegangan luluh a
y
= 250
MPa. (b) Bagaimana PP berubah jika tegangan tarik awal
diperbesar menjadi 100 MPa?
B
2.1 2-5 Beban P dipikul oleh balok horizontal yang di­
tumpu oleh empat kawat yang tersusun secara simetris
seperti terlihat dalam gambar. Setiap batang mempunyai
luas penampang A dan terbuat dari bahan elastoplastis
dengan tegangan luluh a
,
. Dapatkan rumus untuk beban
plastis PP.
·
2.12-6 Lima batang, masing-masing mempunyai dia­
meter 1 0 mm, memikul beban P seperti terlihat dalam
gambar. Tentukan beban plastis PP jika bahan ini
elastoplastis dengan tegangan luluh a
,
= 290 MPa.
I--h -+-- h ---..1---- h � h ----.1
2.1 2-7 Sebuah batang kaku ACB ditumpu sendi di C
dan dibebani oleh gaya P di ujung B (lihat gambar).
Tiga kawat identik yang terbuat dari bahan elastoplastis
(tegangan luluh a, dan modulus elastisitas E) memikul
batang. Setiap kawat mempunyai luas penampang A dan
panjang L. (a) Tentukan beban luluh Pv dan peralihan
luluh 8> di titik B. (b) Tentukan bebari plastis PP dan
peralihan 8P di titik B apabila bebannya tepat mencapai
harga PP . (c) Gambarlah diagram beban-peralihan yang
menunjukkan beban P versus peralihan 88 titik B.
A
-
t
L
1
-
c
· ··
I I p
- a -----.1+----- a -------.......-- a _____..,.,..__.___ a --------+-1
2.1 2-8 RangkabatangABCD (lihat gambar) terbuat dari
tiga batang baja (bahan elastoplastis) yang masing-masing
mempunyai luas penampang A dan tegangan luluh a
y
.
Tentukan harga izin beban P dengan menggunakan faktor
keamanan n terhadap beban plastis.
p
*2.1 2-9 Struktur yang terlihat dalam gambar terdiri atas
batang kaku horizontal AB yang ditumpu oleh dua kawat
baja, satu panjangnya L dan lainnya panjangnya 2L.
Kedua kawat mempunyai luas penampang A dan terbuat
dari bahan elastoplastis dengan tegangan luluh a
y
dan
modulus elastisitas E. Beban vertikal P bekerja di ujung
B dari batang tersebut. (a) Tentukan beban luluh PY dan
peralihan 8, di titik B. (b) Tentukan beban plastis PP dan
peralihan 8
P titik B. (c) Gambarlah diagram beban­
peralihan dengan beban P sebagai ordinal dan peralihan
88 di titik B sebagai absis.
1
ClJ 2L
I
+-----2b ---l+-- b -l- b -lp
*2.1 2-1 0 Dua kabel, masing-masing mempunyai pan­
jang L kira-kira 40 m, memikul wadah yang terisi dengan
berat W (lihat gambar). Kabelnya, yang mempunyai 1uas
penampang efektifA = 48,0 mm2 dan modulus e1astisitas
efektif E = 1 60 GPa, adalah identik, kecua1i bahwa satu
Mekanika Bahan 165
kabel 1ebih panjang daripada lainnya apabi1a digantung
dan secara terpisah belum dibebani. Perbedaan panjang­
nya adalah d = 100 mm. Kabel-kabe1 ini terbuat dari
baja yang mempunyai diagram tegangan-regangan
e1astop1astis dengan a, = 500 MPa. Asumsikan bahwa
berat Wsecara perlahan-1ahan ditambah dengan menam­
bahkan bahan ke dalam wadah. (a) Tentukan berat Wy
yang pertama kali menghasilkan luluh di kabe1 yang lebih
pendek. Juga, tentukan perpanjangan 8
Y pada kabel yang
1ebih pendek. (b) Tentukan berat WP yang menghasilkan
luluh pada kedua kab.:l. Juga tentukan perpanjangan 8
P
dari kabe1 yang lebih pendek, apabila beban W tepat
mencapai WP. (c) Buatlah diagram beban-peralihan yang
menunjukkan berat W sebagai ordinal dan elongasi 8 di
kabel yang lebih pendek sebagai absis. (Petunjuk: Dia­
gram beban-pera1ihan bukan merupakan garis 1urus
tunggal di daerah 0 � W � lr . 1
2.1 2-1 1 Sebuah tabung lingkaran berlubang T yang
panjangnya L = 15 in. ditekan secara seragam oleh gaya
P yang bekerja mela1ui p1at kaku (lihat gambar). Dia­
meter 1uar dan da1am tabung masing-masing adalah 3,0
in. dan 2,75 in. Batang lingkaran solid konsentris B yang
diametemya 1,5 in terletak di dalam tabung. Apabila
tidak ada beban. ada daerah kosong c = 0,010 in. antara
batang B dan plat kaku. Batang dan tabung terbuat dari
baja yang mempunyai diagram tegangan-regangan
dengan E = 29 x 103 ksi dan a
y
= 36 ksi. (a) Tentukan
beban 1uluh P, dan perpendekan 8
Y pada tabung. (b)
Tentukan beban plastis PP dan perpendekan 8
P tabung
tersebut. (c) Gambar1ah diagram beban-peralihan yang
menunjukkan P sebagai ordinal dan perpendekan 8
sebagai absis. (Petunjuk: Diagram beban-peralihan bukan
merupakan garis lurus di daerah 0 � P � PY.)
T
1 66 Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksiaf
**2.1 2-1 2 Tiga batang baja, yang tersusun secara sime­
tris, memikul beban P (Iihat gambar). Luas penampang
batang vertikal adalah dua kali batang miring. Dengan
menganggap perilaku elastoplastis, tentukan sudut f3
sedemikian hingga rasio beban plastis PP terhadap beban
luluh PY mencapai harga maksimum.
7
,,.....,
. . .
'
- -
.
� /
//
3
-
(a)
(b)
Gambar 3-1 Torsi pacta obeng
akibat puntir T yang ctiberikan pacta
pegangan obeng
TORSI
PENGANTAR
Dalam Bab 1 dan 2 kita telah membahas perilaku jenis elemen struktur
yang paling sederhana yaitu batang lurus yang mengalami beban aksial.
Sekarang kita meninjau jenis perilaku yang sedikit lebih rumit yaitu torsi.
Torsi di sini mengandung arti puntir yang terjadi pada batang lurus apabila
batang tersebut dibebani momen (atau torsi) yang cenderung menghasilkan
rotasi terhadap sumbu longitudinal batang. Sebagai contoh, apabila pembaca
memutar obeng (Gambar 3-la), tangan pembaca memberikan torsi T ke
obeng (Gambar 3- lb). Contoh lain batang-batang yang mengalami torsi
adalah batang penggerak, batang as, batang baling-baling, batang
pengendali, dan batang bor.
Kasus pembebanan torsional yang diidealisasikan terlihat dalam
Gambar 3-2a, yang menunjukkan sebuah batang lurus yang dipikul di satu
ujung dan dibebani oleh dua pasang gaya sama besar dan berlawanan
arah. Pasangan yang pertama terdiri atas gaya P1 yang bekerja di dekat
titik tengah batang dan pasangan yang kedua terdiri atas gaya P2 yang
bekerja di ujung. Setiap pasang gaya ini membentuk kopel yang cenderung
memuntir batang terhadap sumbu longitudinalnya. Seperti kita ketahui
dari statika, momen kopel merupakan hasil kali dari salah satu gaya dan
jarak tegak lurus antara garis kerja gaya-gaya; jadi kopel pertama
mempunyai momen T1 = P1d1 dan yang kedua mempunyai momen T2 =
P2d2. Satuan untuk momen pada USCS adalah (lb-ft) dan (lb-in); satuan
SI adalah (N.m).
Untuk mudahnya, kita sering menyatakan momen kopel dengan vektor
dalam bentuk panah berkepala ganda (Gambar 3-2b). Panah ini berarah
tegak lurus bidang yang mengandung kopel, sehingga dalam hal ini kedua
panah sejajar dengan sumbu batang. Arah momen ditunjukkan dengan
aturan tangan kanan untuk vektor momen yaitu dengan menggunakan
tangan kanan, empat jemari selain jempol dilipat untuk menunjukkan
momen sehingga jempol akan menunjuk ke arah vektor. Representasi
momen yang lain adalah dengan menggunakan panah lengkung yang
mempunyai arah rotasi (Gambar 3-2c). Kedua cara ini umum digunakan,
dan keduanya juga digunakan dalam buku ini. Pilihannya bergantung pada
kemudahan dan selera seseorang.
1 68 BaD 3 Tarsi
(a)
(b)
(c)
Gambar 3-2 Batang yang meng­
alami torsi yang diberikan oleh
momen T1 dan T2
Gambar 3-3 Deformasi batang
lingkaran akibat torsi murni
Momen yang menghasilkan puntir pada suatu batang, seperti momen
T1 dan T2 dalam Gambar 3-2, disebut momen torsi atau momen puntir.
Batang silindris yang menyalurkan daya melalui rotasi disebut poros/as
(shaft); sebagai contoh. dri�·e shaft (poros kemudi) pacta mobil atau pro­
peller shaft (poros baling-baling) pada kapal laut. Kebanyakan poros, baik
yang solid maupun tabung. mempunyai penampang melintang berbentuk
lingkaran.
Di dalam bab ini. kita mulai dengan mengembangkan rumus-rumus
untuk deformasi dan tegangan di batang lingkaran yang mengalami torsi.
Selanjutnya, kita menganalisis keadaan tegangan yang dikenal dengan
geser murni dan mendapatkan hubungan antara besaran elastisitas E dan
G yang masing-masing adalah untuk tarik dan untuk geser. Berikutnya,
kita menganalisis poros yang mengalami puntir dan menentukan daya
yang disalurkannya. Akhimya, kita membahas beberapa topik tambahan
yang berkaitan dengan torsi yaitu elemen struktur statis tak tentu. energi
regangan, tabung berdinding tipis pada penampang yang bukan lingkaran,
konsentrasi tegangan. dan perilaku nonlinier.
DEFORMASI TORSIONAL BATANG LINGKARAN
Kita mulai pembahasan tentang torsi dengan meninjau batang prismatis
berpenampang lingkaran yang dipuntir oleh torsi T yang bekerja di ujung­
ujungnya (Gambar 3-3). Karena setiap penampang batang adalah identik,
dan karena setiap penampang tersebut mengalami torsi internal T, maka
kita dapat mengatakan bahwa batang ini mengalami torsi murni. Dari
tinjauan simetri. dapat dibuktikan bahwa penampang batang tidak berubah
bentuk pacta saat berotasi terhadap sumbu longitudinal. Dengan perkataan
lain, semua penampang tetap datar dan berbentuk lingkaran dan semua
jari-jari tetap lurus. Selain itu, jika sudut rotasi antara satu ujung batang
dan ujung lainnya kecil, maka panjang batang maupun jari-jarinya tidak
berubah.
Untuk menggambarkan deformasi batang, bayangkan bahwa ujung
kiri batang yang terlihat dalam Gambar 3-3 mempunyai posisi tetap. Lalu,
akibat aksi torsi T, ujung kanan akan berotasi (terhadap ujung kiri) dengan
sudut kecil </J yang dikenal dengan sudut puntir. Karena rotasi ini, maka
garis longitudinal pq di permukaan batang akan menjadi lengkungan helikal
pq
'
, di mana q
'
adalah posisi titik q sesudah penampang ujung berotasi
sebesar </J. Sudut puntir berubah di sepanjang sumbu batang, dan pada

/ f!i(x)
L --������--+
Gambar 3-4 Deformasi suatu
elemen sepanjang dx yang dipotong
dari sebuah batang yang mengalami
torsi
Mekanika Bahan 1 69
suatu penampang sembarang sudut tersebut mempunyai harga lf> (x) yang
berharga antara nol di ujung kiri dan lf> di ujung kanan. Jika setiap
penampang batang mempunyai jari-jari yang sama dan mengalami puntir
yang sama (torsi mumi), maka sudut l/>(x) akan bervariasi secara linier
terhadap ujung-ujungnya.
Sekarang tinjaulah elemen batang antara dua penampang yang
jaraknya satu sama lain dx(Gambar 3-+aJ. Elemen ini ditunjukkan terisolasi
di dalam Gambar 3-4b. Di permukaan luarnya kita identifikasi elemen
kecil abed, dengan sisi-sisi ab dan cd yang semula sejajar sumbu longi­
tudinal. Selama terjadi puntir pada batang. penampang kanan berotasi
terhadap penampang kiri dengan sudut puntir kecil dlf>, sehingga titik b
dan c masing-masing bergerak ke b' dan c'. Panjang sisi elemen, yang
sekarang elemen ab'c'd, tidak berubah selama rotasi kecil ini. Namun,
sudut-sudut di pojok tidak lagi sama dengan 90°. Jadi, elemen ini ada
dalam keadaan geser murni (lihat Subbab 1.6 J. dan besar regangan geser
Ymaks (Gambar 3-4b) sama dengan berkurangnya sudut di titik a, yang
berarti berkurangnya sudut bad. Dari gambar tersebut. kita lihat bahwa
berkurangnya sudut adalah
Ymaks
bb'
ab
di mana Ymaks dinyatakan dalam radian, bb' adalah jarak yang dilalui
gerakan titik b, dan ab adalah panjang elemen (sama dengan dx). Apabila
r menunjukkan jari-jari batang, maka kita dapat menyatakan jarak pb'
sebagai rdlf>, di mana dlf> juga dinyatakan dalam radian. Jadi, persamaan
di atas dapat ditulis menjadi
Ymaks
r dlf>
dx
(a)
Persamaan ini menghubungkan regangan geser di permukaan luar batang
dengan sudut puntir.
Besaran dlf>ldx adalah besarnya perubahan sudut puntir lf> terhadap
jarak x yang diukur di sepanjang sumbu batang. Kita akan menuliskan dlf>l
(a)
Ymaks y
�dx-1 �dx-1
(b) (c)
1 70 Bab 3 Tarsi
Y
maks
dx dengan menggunakan simbol e dan menyebut e sebagai sudut puntir
per panjang satuan, atau laju puntiran:
(3-1)
Dengan menggunakan notasi ini, kita dapat menuliskan persamaan untuk
regangan geser di permukaan luar (Persamaan a) sebagai berikut:
(3-2)
Pada umumnya, baik 1/J maupun e bervariasi terhadap x di sepanjang
sumbu batang. Namun, pada kasus khusus berupa torsi mumi, laju puntiran
adalah konstan dan sama dengan sudut puntir total i/J dibagi dengan panjang
L batang, jadi 8 = 1/JL. Dengan demikian, untuk torsi mumi saja, kita
dapatkan
(3-3)
Persamaan ini dapat diperoleh secara langsung dari Gambar 3-3 dengan
melihat bahwa jarak qq
'
sama dengan ri/J dan bahwa sudut Ymaks adalah
sudut antara garis-garis pq dan pq
'
, yaitu sudut qpq
'
. Jadi, ri/J =
YmaksL.
Regangan geser di bagian dalam (interior) batang dapat diperoleh
dengan menggunakan metode yang sama dengan yang digunakan untuk
mendapatkan regangan geser Ymaks di permukaan. Karena jari-jari penam­
pang batang tetap lurus dan tak terdistorsi selama mengalami puntir, maka
kita dapat melihat bahwa pembahasan di atas untuk elemen abed di per­
mukaan luar (Gambar 3-4b) juga berlaku untuk elemen serupa yang terletak
pada permukaan silinder dalam yang berjari-jari p (Gambar 3-4c). Jadi,
elemen interior juga mengalami geser dengan regangan geser yang di­
nyatakan dengan persamaan (bandingkan dengan Persamaan 3-2 dan 3-3):
(3-4)
Persamaan ini menunjukkan bahwa regangan geser pada batang lingkaran
bervariasi secara linier terhadap jarak radial p dari pusat, dengan regangan
berharga nol di pusat dan mencapai maksimum di permukaan terluar.
Tinjauan pembahasan di atas akan menunjukkan bahwa persamaan
untuk regangan geser (Persamaan 3-1 sampai 3-4) berlaku pada batang
tabung lingkaran (Gambar 3-5) dan pada batang lingkaran. Gambar 3-5
menunjukkan variasi linier pada tegangan geser antara regangan maksimum
Y
min di permukaan luar dan regangan minimum di permukaan dalam. Regangan
minimum berhubungan dengan regangan maksimum melalui persamaan
rl
Ymin = -ymaks
r2
(3-5)
Gambar 3-5 Variasi regangan
geser pada tabung Iingkaran
di mana r1 dan r2 masing-masing adalahjari-jari dalam dan luar penampang
tabung.
Mekanika Bahan 171
Akhirnya, kita rnengamati bahwa persamaan-persamaan di atas untuk
regangan pada batang hanya didasarkan atas tinjauan geometri. Dengan
demikian, persamaan-persamaan tersebut berlaku untuk sembarang bahan,
entah yang berperilaku elastis maupun inelastis, linier maupun tidak linier.
Namun, persamaan-persamaan tersebut terbatas pada batang yang
mempunyai sudut puntir kecil dan regangan kecil.
-·
3·•
3 1 BATANG LINGKARAN DARI BAHAN YANG ELASTIS LINIER
Gambar 3-6 Tegangan geser pada
batang lingkaran yang mengalami
torsi
Karena kita telah menyelidiki regangan geser pada batang lingkaran yang
mengalami torsi (Gambar 3-4 dan 3-5 ). maka kita sudah siap untuk
menentukan arah dan besar tegangan gesernya. Arab tegangan dapat
ditentukan dengan mudah seperti terlihat dalam Gambar 3-6a. Kita lihat
bahwa torsi T cenderung untuk memutarkan ujung kanan batang berlawanan
jarum jam apabila dilihat dari kanan sehingga tegangan geser r bekerja
dalam arah seperti terlihat dalam gambar tersebut.
Untuk jelasnya, elemen tegangan di sisi batang (Gambar 3-6a)
diperbesar dalam Gambar 3-6b, di mana regangan geser dan tegangar
geser ditunjukkan. Sebagaimana telah diuraikan dalam Subbab 2.6, kita
biasanya menggambar elemen tegangan dalam dua dimensi, seperti terliha
dalam Gambar 3-6b, tetapi kita harus selalu ingat bahwa elemen teganga:
sebenarnya adalah benda tiga dimensi dengan suatu ketebalan yang tega:
lurus bidang gambar.
(a)
(b) (c)
Besar tegangan geser dapat ditentukan dari hubungan tegangan­
regangan untuk bahan pembentuk batang tersebut. Jika bahannya elastis
linier, maka kita dapat menggunakan hukum Hooke untuk geser (lihat
Persamaan 1-17):
r = Gy (3-6)
di mana G adalah modulus geser elastisitas dan y adalah regangan geser
yang dinyatakan dalam radian. Dengan menggabungkan persamaan ini
dengan persamaan untuk regangan geser (Persamaan 3-2 dan 3-4), kita
dapatkan
(3-7a,b)
r
1 72 Bab 3 Torsi
Gambar 3·7 Tegangan geser
longitudinal dan transversal pada
batang lingkaran
Gambar 3-8 Tegangan tarik dan
tekan yang bekerja pada elemen
tegangan yang berorientasi 45°
terhadap sumbu longitudinal
Gambar 3-9 Penentuan resultan
tegangan geser yang bekerja pada
suatu penampang
di mana rmaks adalah tegangan geser di permukaan luar batang Gari-jari r),
r adalah tegangan geser di titik interior Gari-jari p), dan () adalah laju
puntiran (perhatikan bahwa () mempunyai satuan radian per satuan panjang).
Persamaan ini menunjukkan bahwa tegangan geser bervariasi secara linier
terhadap jarak dari pusat batang, sebagaimana digambarkan dengan
tegangan segitiga dalam Gambar 3-6c. (Variasi linier pacta tegangan ini
merupakan konsekuensi dari hukum Hooke. Jika hubungan tegangan­
regangannya tidak linier. maka metode analisis lain dibutuhkan sebagai­
mana akan dibahas dalam Subbab 3.1 .2.)
Tegangan geser yang bekerja di bidang penampang disertai dengan
tegangan geser yang besarnya sama yang bekerja pacta bidang longitudi­
nal (Gambar 3-7). Kesimpulan ini berasal dari fakta bahwa tegangan geser
yang sama selalu acta pacta bidang-bidang yang saling tegak lurus, seperti
diterangkan dalam Subbab 1 .6. Jika bahan batang lemah terhadap geser
pacta arah longitudinal dibandingkan dengan pacta bidang penampang,
seperti yang tetjadi pacta kayu dengan serat yang berarah sumbu batang,
maka retak pertama akibat torsi akan muncul pacta permukaan dalam arah
longitudinal.
Keadaan geser mumi di permukaan batang (Gambar 3-6b) adalah
ekivalen dengan tegangan tarik dan tekan yang sama yang bekerja di
suatu elemen yang berorientasi 45°. sebagaimana diterangkan dalam Subbab
3.5. Dengan demikian, elemen persegi panjang dengan sisi-sisi 45° terhadap
sumbu batang akan mengalarni tegangan tarik dan tekan, seperti terlihat
dalam Gambar 3-8. Jika bahan batang yang mengalami torsi adalah bahan
yang lemah terhadap tarik dibandingkan dengan terhadap geser, maka
kegagalan akan terjadi secara tarik di sepanjang spiral yang miringnya
45° terhadap sumbu batang. Pembaca dapat mengamati hal ini dengan
memuntir sepotong kapur.
• Rumus Torsi
Langkah selanjutnya dalam analisis kita adalah menentukan hubungan
antara tegangan geser dan torsi T. Setelah ini diperoleh, kita akan dapat
menghitung tegangan dan regangan di suatu batang akibat sekumpulan torsi.
Distribusi tegangan geser yang bekerja pacta suatu penampang
ditunjukkan dalam Gambar 3-6c dan 3-7. Karena tegangan ini bekerja
secara kontinu di sekeliling penampang, maka resultannya membentuk
momen-yaitu momen yang sama dengan torsi T yang beketja pacta batang.
Untuk menentukan resultan ini, kita tinjau elemen luas dA yang terletak
pacta jarak radial p dari sumbu batang (Gambar 3-9). Gaya geser yang
bekerja di elemen ini sama dengan r dA, di mana r adalah tegangan geser
pacta radius p. Momen dari gaya ini terhadap sumbu batang sama dengan
gaya dikalikan jarak dari pusat, atau rp dA. Dengan memasukkan tegangan
geser r dari Persamaan (3-7b), kita dapat menyatakan momen elemental
sebagai
dM = rp dA =
rmaks
p
2
dA
r
Momen resultan (yang sama dengan puntir T) adalah perjumlahan momen
elemental di seluruh luas penampang:
T =
JdM =
rmaks
Jpz
dA =
rmaks
I
A r A r
P (3-8)
Mekanika Bahan 1 73
di mana
(3-9)
adalah momen inersia polar untuk penampang lingkaran. Untuk lingkaran
dengan jari-jari r dan diameter d, momen inersia polar adalah
(3-10)
seperti yang diberikan pada Lampiran D. Kasus 9. Perhatikan bahwa
momen inersia mempunyai satuan panjang pangkat empat.
*
Rumus untuk tegangan geser maksimum dapat diperoleh dengan
menyusun kembali Persamaan (3-8) sebagai berikut:
(3-11)
Persamaan ini, yang dikenal dengan rumus torsi, menunjukkan bahwa
tegangan geser sebanding dengan puntir T yang bekerja dan berbanding
terbalik dengan momen inersia polar JP.
Satuan tipikal yang digunakan pada rumus torsi adalah sebagai berikut.
Dalam SI, puntir T biasanya dinyatakan dalam newton meter (N.m), jari­
jari r dalam meter (m), momen inersia JP dalam (m4), dan tegangan geser
r dalam (Pa). Jika USCS digunakan, T sering dinyatakan dalam (lb-ft)
atau (lb-in), r dalam inci (in.), JP dalam in.
4, dan r dalam poundlin2 (psi).
Dengan memasukkan r = d/2 dan JP = ntl'/32 ke dalam rumus torsi,
kita dapatkan rumus berikut untuk tegangan maksimum:
(3-12)
Persamaan ini berlaku hanya pada batang yang_mempunyai penampang
lingkaran solid, sedangkan rumus torsi (Persamaan 3-1 1) berlaku untuk
batang solid maupun tabung lingkaran, sebagaimana akan diterangkan
ber�kut�i. Persamaan (3-1 2) menunjukkan bahwa tegangan geser
berbanding terbalik dengan diameter (atau jari-jari) pangkat tiga. Jadi,
jika diameter menjadi dua kali, maka tegangan akan berkurang dengan
faktor delapan.
Dengan mengetahui besarnya torsi dan diameter batang, kita dapat
menggunakan rumus torsi standar (Persamaan 3-1 1) atau versi altematifnya
(Persamaan 3-12) untuk menghitung tegangan geser maksimum. Jika
tegangan geser izin diberikan, maka kita dapat menggunakan Persamaan
(3-12) untuk mendapatkan puntir izin (jika diameter diketahui) atau dia­
meter yang dibutuhkan (jika torsi diketahui). Ide ini digambarkan dalam
Contoh 3-1 dan 3-2 di akhir subbab ini.
*Momen inersia polar dibahas di bab 12 subbab 12.6
174 Bab 3 Tarsi
Tegangan geser pada jarak p dari pusat batang adalah
r = E._ r = Tp
maks I
r P
(3-13)
yang diperoleh dengan menggabungkan Persamaan (3-7b) dengan rumus
torsi (Persamaan 3- 1 1 ). Sekali lagi, kita lihat bahwa tegangan geser
bervariasi secara linier terhadap jarak radial dari pusat batang.
• Sudut Puntir
Sudut puntir suatu batang yang terbuat dari bahan elastis linier dapat
dihubungkan dengan torsi T yang bekerja. Dengan menggabungkan
Persamaan (3-7a) dengan rumus torsi, kita dapatkan
(3-14)
yang menunjukkan bahwa laju puntiran 8 sebanding dengan torsi T dan
berbanding terbalik dengan hasil kali GIP, yang dikenal dengan rigiditas
torsional batang tersebut. Untuk sebuah batang yang mengalami torsi
mumi, sudut puntir total lfJ sama dengan laju puntiran dikalikan panjang
batang (artinya-
l/J-�=lf[)�acti�-�-·· ·
· -
(3-15)
di mana lfJ dinyatakan dalam radian. Penggunaan persamaan-persamaan
ini dalamanalisis dan desain Ci!gambarkan dalam Contoh 3-1 dan 3-2.
Besaran GI /L disebut kekakuan torsional batang, yaitu tarsi yang
diperlukan untuk menghasilkan satu sudut rotasi. Fleksibiltl
a
s
torsional
adalah kebalikan dari kekakuan, atau UGI , dan didefinisikan sebagai
sudut rotasi yang dihasilkan oleh tarsi satuan. Jadi, kita mempunyairumus
berikut:
L
fr =
GIp
(3- l6a,b)
Besaran ini analog dengan kekakuan aksial k = EA/L, dan fleksibilitas
aksial f = UEA dari suatu batang yang mengalami tarik atau tekan
(bandingkan dengan Persamaan 2-4a dan 2-4b). Kekakuan dan fleksibilitas
merupakan sesuatu yang penting dalam analisis struktural, khususnya
apabila struktumya besar dan rumit sedemikian hingga metode analisis
yang berorientasi komputer digunakan.
Persamaan untuk sudut puntir (Persamaan 3-15) dapat digunakan
untuk menentukan modulus elastisitas geser G untuk bahan. Dengan
melakukan uji tarsi pada batang lingkaran, kita dapat mengukur sudut
puntir lfJ yang dihasilkan oleh tarsi T yang diketahui. Selanjutnya G dapat
dihitung dari Persamaan (3-15).
• Tabung Lingkaran
Tabung lingkaran lebih efisien dibandingkan dengan batang solid dalam
menahan beban torsional. Seperti kita ketahui, tegangan geser pada batang
r ,
t �
Gambar 3-10 Tabung lingkaran
yang mengalami tarik
Mekanika Bahan 1 75
lingkaran solid mencapai maksimum di tepi luar dari penampang dan
berharga nol di pusat. Dengan demikian, sebagian besar bahan pada batang
solid mengalami tegangan yang sangat jauh lebih kecil daripada tegangan
geser maksimum. Selain itu, tegangan di dekat pusat penampang mem­
punyai lengan momen p yang lebih kecil dalam menentukan momen torsi.
Sebaliknya, pada tabung berlubang, sebagian besar bahan ada di dekat
tepi luar penampang di mana tegangan geser dan lengan momen adalah
yang terbesar (Gambar 3-10). Jadi, jika reduksi berat dan penghematan
bahan merupakan hal penting, maka disarankan penggunaan tabung
lingkaran. Sebagai contoh, batang penggerak. batang propeller, dan batang
pembangkit biasanya mempunyai penampang lingkaran berlubang.
Analisis torsi pada tabung lingkaran hampir identik dengan pada
batang solid. Rumus dasar yang sama untuk tegangan geser masih dapat
digunakan (misalnya, Persamaan 3-7a dan 3-7b 1. Tentu saja, jarak radial
p dibatasi dalam selang r1 sampai r2, di mana r1 adalah jari-jari dalam dan
r2 adalah jari-jari luar dari batang (Gambar 3-101.
Hubungan antara torsi T dan tegangan maksimum masih dapat
dinyatakan dengan Persamaan (3-8), tetapi batas-batas integrasi untuk
momen inersia polar (Persamaan 3-9) adalah p = r1 dan p = r2• Dengan
demikian, momen inersia polar untuk penampang tabung adalah
(3- 17)
Jika tebal dinding t (Gambar 3-10) kecil dibandingkan dengan jari-jari,
maka rumus pendekatan berikut ini (lihat Lampiran D. Kasus 22) dapat
digunakan untuk momen inersia polar
., Trd3t
I "" 2Trrt = --
P
4
(3-1 8)
Dalam persamaan ini, besaran r dan d masing-masing adalah jari-jari rata­
rata dan diameter rata-rata. Sebagai ukuran ketelitian Persamaan (3-1 8),
kita perhatikan bahwa jika tebal t lebih kecil daripada seperempat dari
jari-jari luar (tlr2 < 1/4), kesalahan pada rumus pendekatan kurang dari
2%.
Rumus torsi (Persamaan 3-1 1) dapat digunakan untuk tabung lingkaran
dari bahan elastis linier asalkan JP dihitung dengan Persamaan (3-17) atau,
jika layak, Persamaan (3- 1 8). Komentar yang sama berlaku untuk
persamaan umum untuk tegangan geser (Persamaan 3-13), persamaan untuk
laju puntiran dan sudut puntir (Persamaan 3-14 dan 3-1 5), dan persamaan
untuk kekakuan dan fleksibilitas (Persamaan 3- 16a dan 3-16b).
Distribusi tegangan geser pada suatu tabung terlihat dalam Gambar
3-10. Dari gambar tersebut, kita lihat bahwa tegangan rata-rata di tabung
tipis hampir sama besar dengan tegangan maksimum. Ini berarti bahwa
batang berlubang lebih efisien dalam penggunaan bahan dibandingkan
dengan batang solid, sebagaimana ditunjukkan dalam Contoh 3-2 dan 3-3.
Dalam mendesain tabung lingkaran untuk menyalurkan torsi, kita
harus melihat bahwa tebal t cukup besar untuk mencegah terjadinya tekuk
pada dinding tabung. Sebagai contoh, harga maksimum rasio jari-jari
terhadap tebal, misalnya (rit)maks = 10 atau 20, dapat ditetapkan. Tinjauan
desain lain meliputi faktor-faktor lingkungan dan keawetan, yang mungkin
juga mempengaruhi persyaratan tebal dinding minimum. Topik ini dibahas
dalam mata kuliah dan buku-buku tentang desain mekanis.
1 76 Bab 3 Torsi
Gambar 3-1 1 Contoh 3-1
• Pembatasan
Persamaan yang diturunkan dalam subbab ini dibatasi pada batang yang
mempunyai penampang lingkaran (baik solid maupun berlubang) yang
berperilaku elastis linier. Dengan perkataan lain, beban harus sedemikian
hingga tegangannya tidak melebihi limit proporsional bahan. Selain itu,
persamaan untuk tegangan hanya berlaku pada bagian-bagian batang yang
jauh dari konsentrasi tegangan (seperti lubang dan perubahan bentuk secara
tiba-tiba) dan jauh dari penampang di mana beban diterapkan. (Konsentrasi
tegangan untuk masalah torsi dibahas dalam Subbab 3.1 1 .)
Akhirnya, adalah penting untuk menekankan bahwa persamaan untuk
torsi pada batang lingkaran dan tabung tidak dapat digunakan untuk batang
dengan bentuk lain. Batang yang bukan lingkaran, seperti batang persegi
panjang dan batang yang mempunyai penampang I, berperilaku sangat
berbeda dengan batang lingkaran. Sebagai contoh, penampang seperti ini
tidak tetap datar dan tegangan maksimumnya tidak terletak di jarak terjauh
dari titik tengah penampang. Jadi, batang seperti ini membutuhkan metode
analisis yang lebih lanjut seperti yang disajikan dalam buku-buku tentang
teori elastisitas dan mekanika bahan lanjut.•
• Contoh 3-1
Sebuah batang baja solid dengan penampang lingkaran (Gambar 3-1 1) mempunyai
diameter d = 1,5 in, panjang L= 54 in., dan modulus elastisitas geser G = 1 1,5
x 106 psi. Batang ini menga1ami torsi T yang bekerja di ujung-ujungnya. (a) Jika
torsi ini besamya T = 250 lb-ft, berapa tegangan geser maksimum di batang ini?
Berapa sudut puntir antara kedua ujung? (b) Jika tegangan geser izin adalah 6000
psi dan sudut puntir izin adalah 2,5°, berapa torsi izin maksimum?
T
....
Solusi
(a) Karena batang ini mempunyai penampang Iingkaran solid, kita dapat mencari
tegangan geser maksimum dari Persamaan (3-12) sebagai berikut:
r = 16T = 16(250 lb-ft)(12 in./ft) = 4530 si
maks 7rd3
7r(1,5 in.)3 P
Dengan cara sama, sudut puntir diperoleh dari Persamaan (3-1 5) dengan momen
inersia polar yang dihitung dengan Persamaan (3-10):
I =
7rd4
=
7r(1•5 in.)4
= 0 4970 in.4
p
32 32
'
(/! = TL
=
(250 lb-ft)(12 in./ft)((54 in.)
= 0 02834 rad = 1 62o •
GIP (1 1,5 x 106 psi)(0,4970 in.4 )
' '
Jadi, analisis batang yang menga1ami aksi torsi ini sudah selesai.
*Teori tarsi untuk batang lingkaran diawali dengan penelitian oleh ilmuwan Perancis termashur
C.A. de Coulomb (1 736-1806); pengembangan lebih lanjut dilakukan oleh Thomas Young dan A. Duleau
(Ref. 3-1). Teori tarsi umum (untuk batang berbentuk sembarang) diberikan oleh ahli elastisitas paling
terkenal sepanjang masa, Barre de Saint-Venant (1797-1886); lihat Ref. 3-2.
(a)
t = d2
10
(b)
Gambar 3-12 Contoh 3-2
Mekanika Bahan 1 77
(b) Torsi izin maksimum ditentukan dengan tegangan geser izin atau dengan
sudut puntir izin. Dengan dimulai dari tegangan geser, kita menyusun kembali
Persamaan (3-1 2) dan menghitung sebagai berikut:
T1 =
n
d:�izin =
1
�(1,5 in.)3(6000 psi) = 3980 1b-in. = 331 lb-ft
Momen torsi yang lebih besar daripada harga ini akan menyebabkan tegangan
geser yang me1ebihi tegangan izin sebesar 6000 psi.
Dengan menggunakan Persamaan (3-15 l yang telah disusun kembali, kita
dapat menghitung torsi yang didasarkan atas sudut puntir:
Glplf>izin .(1 1,5 X 106 psi)(0,4970 in." )(2,S0)(7r rad/180°)
T2 = --
L- =
54 in.
= 461 8 lb-in. = 385 lb-ft
Momen torsi yang lebih besar daripada T2 akan menyebabkan dilampauinya sudut
puntir izin.
Torsi izin maksimum adalah yang terkecil di antara T1 dan T2:
Tmaks = 331 lb-ft
Dalam contoh ini, tegangan geser izin menghasilkan kondisi yang membatasi.
• Contoh 3-2
Sebuah batang baja akan dibuat dengan entah dengan penampang lingkaran solid
atau dengan penampang lingkaran berlubang (Gambar 3-1 2). Batang ini harus
menyalurkan torsional sebesar 1200 N.m tanpamelebihi tegangan geser izin sebesar
40 MPa dan laju puntir izin 0,75°/m. (Modulus geser elastisitas bahan baja adalah
78 GPa.)
(a) Tentukan diameter d0 untuk batang solid. (b) Tentukan diameter luar d2
untuk batang berlubang jika tebal t untuk batang ditentukan sebesar 1/10 dari
diameter 1uar. (c) Tentukan rasio diameter (artinya, rasio d/d0) dan rasio berat
batang berpenampang berlubang terhadap yang mempunyai penampang solid.
Solusi
(a) Batang solid. Diameter d0 ditentukan dari tegangan geser izin atau dari
laju puntir izin. Dalam hal tegangan geser izin, kita susun kembali Persamaan (3-
12) dan kita dapatkan
d
3 _ 16T
0 -
1l'iizin
16(1200 N.m) = 1 52 8 X w-6 m3
n(40 MPa)
'
sehingga
d0 = 0,0535 m = 53,5 mm
Dalam hal laju puntir izin, kita mulai dengan membagi momen inersia polar yang
dibutuhkan (lihat Persamaan 3-14):
I = _
T
_ =
1200 N·m
= 1 175 X w-9 m4
P GO,zm (78 GPa)(0,75°/m)(7r rad/180°)
Karena momeninersiapolar sama dengan mf/32, maka diameter yang dibutuhkan
adalah
atau
d0 = 0,0588 m = 58,8 mm
1 78 Bab 3 Torsi
Dengan membandingkan kedua harga d0, kita lihat bahwa laju puntiran menentukan
desain dan diameter yang dibutuhkan untuk batang solid yaitu
d0 = 58,8 mm ..
Dalam desain praktis, kita akan memilih diameter yang sedikit lebih besar daripada
harga d0 yang dihitung: sebagai contoh, 60 mm.
(b) Batang berlubang. Sekali lagi, diameter yang diperlukan didasarkan atas
tegangan geser izin, atau laju puntir izin. Kita mulai dengan memberi notasi
diameter luar dari batang sebagai d2 dan diameter dalam adalah
dl = d2 - 2t = d2 - 2(0,1d2) = 0,8d:
Jadi. momen inersia polar (Persamaan 3-17) adalah
7r
4 4
7r[ 4 4] 7r 4
4
IP
=
32
<d2 - dl ) =
32
d2 - (0,8d2) =
32
(0,5904d: ) = 0.05796d2
Dalam ha! tegangan geser izin, kita menggunakan rumus torsi (Persamaan 3-1 1)
sebagai berikut:
r. . = Tr = _
T..:...
(d
-=.
2_
12
...:..
)
7
!Zifl
Ip 0,05796di
T
0,1 1 59di
Dengan menyusun kembali persamaan di atas, kita dapatkan
d3 _
T
2 -
0,1 1 59 r
izin
1200 N·m
= 258 8 x 1 0_6 m3
0,1 159(40 MPa) '
Dari sini kita peroleh d2 sebesar
d2 = 0,0637 m = 63,7 mm
yang merupakan diameter luar yang diperlukan berdasarkan tinjauan tegangan geser.
Dalam ha1 laju puntir izin, kita gunakan Persamaan (3-14) dengan (} diganti
dengan (}izin dan JP diganti dengan rumus yang dipero)eh sebe)umnya; jadi,
sehingga
(} =
T
!Zln
G(0,05796di)
di = �--�
T
--�-
0,05796 G(}izin
__
_
_
_
_
..:.
1 2
=-c
O
:...:
O
:....:N
:...:....:.
·m
:.:....__
_
_
_ = 20,28 X w-6 m4
0,05796(78 GPa)(O,75°/m)(n rad/1 80°)
Dari sini kita peroleh d2 sebesar
d2 = 0,0671 m = 67, 1 mm
yang merupakan diameter perlu berdasarkan tinjauan laju puntiran.
Dengan membandingkan kedua harga d2, kita lihat bahwa laju puntiran
menentukan dalam desain dan diameter luar yang diperlukan untuk penampang
berlubang adalah
d2 = 67,1 mm ..
Diameter dalam yang diperlukan d1 sama dengan 0,8d2, atau 53,7 mm. (Sebagai
nilai praktis, kita mungkin memilih d2 = 70 mm dan d1 = 0,8d2 = 56 mm.)
(c) Rasio diameter dan berat. Rasio diameter luar penampang berlubang
terhadap diameter penampang solid (dengan menggunakan harga yang telah
dihitung) adalah
:!:1_
=
67,1 mm = 1 14
d0 58,8 mm ' ..
Karena berat batang adalah sebanding dengan luas penampang, kita dapat
menyatakan rasio berat batang berlubang terhadap berat batang solid sebagai berikut:
Gambar 3-1 3 Contoh 3-3
wberlubang
W.oiid
Mekanika Bahan 1 79
Aberlubang _ Jr(d; - d� )/4 di - d�
Asolid
-
7rf15 f4 d5
(67,1 mm)2 - (53
;
7 mm)2
= 0,47
(58,8 mm)-
Hasil ini menunjukkan bahwa batang berlubang hanya menggunakan 47% bahan
dibandingkan dengan batang solid, sedangkan diametemya hanya sekitar 14%
lebih besar.
Catatan: Contoh ini menggambarkan bagaimana cara menentukan ukuran
yang diperlukan untuk batang solid atau batang berlubang apabila tegangan izin
dan 1aju puntir izin diketahui. Contoh inijuga menggambarkan fakta bahwa batang
berlubang lebih efisien dalam penggunaan bahan dibandingkan batang solid.
• Contoh 3.3
Sebuah poros berlubang dan poros solid yang terbuat dari bahan yang sama
mempunyai panjang sama dan jari-jari luar R sama (Gambar 3-13). Jari-jari dalam
untuk batang berlubang adalah 0.6R. (a) Dengan menganggap bahwa kedua poros
mengalami torsi yang sama, bandingkan tegangan geser, sudut puntir, dan berat
keduanya. (b) Tentukan rasio kekuatan terhadap berat untuk kedua poros.
0,6R
(a) (b)
Solusi
(a) Perbandingan tegangan, sudut puntir, dan berat. Tegangan geser
maksimum, yang dinyatakan dengan rumus torsi (Persamaan 3-1 1), sebanding
dengan li/P asalkan momen torsi dan jari-jarinya sama. Untuk poros berlubang
kita dapatkan
.trR4
JP = 2
.tr(0,6R)4
= 0,4352 .tr�
2
dan untuk poros solid,
.trR4
I = -
= 0 5 .tr�
p
2
,
Dengan demikian, rasio /31 antara tegangan geser maksimum di poros berlubang
terhadap tegangan geser maksimum di poros solid adalah
f3 - rH - 0,5.trR4
1 15
I - -;; - 0,4352.trR4 = ,
di mana subskrip H dan S masing-masing merujuk ke penampang berlubang (hol­
low) dan solid.
Sudut puntir (Persamaan 3-15) sebanding dengan 1//p karena torsi T, panjang
L, dan modulus geser elastisitas G sama untuk kedua poros. Dengan demikian,
rasionya sama dengan rasio untuk tegangan geser:
f3 if'H 0,5.trR4
1 15
2
=
"""f; = 0,4352.trR4 = '
1 80 Bab 3 Tarsi
Berat poros sebanding dengan luas penampangnya; dengan demikian, berat poros
solid sebanding dengan nR2 dan berat poros berlubang sebanding dengan
nR2 - n(0,6R)2 = 0,64 nR2
Dengan demikian, rasio berat batang berlubang terhadap berat batang solid adalah
[3,
=
WH =
0,64n
2
R2
= O,M
-
W
5 nR
..
Dari rasio di atas kita sekali lagi melihat keuntungan penggunaan penampang
berlubang. Dalam contoh ini. batang berlubang mempunyai tegangan 15% lebih
besar. sudut rotasi 1 50C lebih besar dibandingkan pada batang solid tetapi
mempunyai berat 36'7
c lebih ringan.
(b) Rasio kekuatan terhadap berat. Efisiensi relatif suatu struktur kadang­
kadang diukur dengan rasio kekuatan terhadap berat, yang didefinisikan untuk
batang yang mengalami torsi sebagai torsi izin dibagi dengan beratnya. Torsi izin
untuk batang berlubang adalah
'T'
H =
rmakJp
=
rmaks (0,4352nR" )
0 4352 R'
' ,
R R
= , n - rmak,
dan untuk batang solid adalah
rmakJp rmaks(0,5nR
4
) - 0 5 R
3
Ts = -
-
R- =
R
- , n rmab
Berat batang sama dengan luas penampang dikalikan dengan panjang L dikalikan
dengan berat jenis y dari bahan:
Jadi, rasio kekuatan terhadap beratSH dan S5 masing-masing untuk batang berlubang
dan solid adalah
S = !..tt_ = 0 68 rmaks R
H WH
,
yL
S = !i_ = 0.5
rmaksR
s Ws yL ..
Dalam contoh ini, rasio kekuatan terhadap berat pada batang berlubang adalah
36% lebih besar dibandingkan rasio kekuatan terhadap berat untuk batang solid,
yang menunjukkan sekali lagi efisiensi batang berlubang. Untuk batang yang
lebih tipis, persentasenya akan lebih besar; untuk batang yang lebih tebal,
persentasenya akan berkurang.
-·
3·•
4 I TORSI TAK SERAGAM (NONUNIFORM TORSION)
Sebagaimana diterangkan dalam Subbab 3.2, tarsi murni merujuk ke torsi
pada batang prismatis yang mengalami torsi yang bekerja hanya di ujung­
ujungnya. Torsi tak seragam berbeda dengan torsi mumi dalam hal batang
tidak harus prismatis, dan torsinya dapat bekerja di mana pun di sepanjang
sumbu batang. Batang yang mengalami torsi tak seragam dapat dianalisis
dengan menerapkan rumus-rumus torsi mumi pada segmen-segmen ter­
hingga dari batang dan selanjutnya menjumlahkan masing-masing hasilnya,
atau dengan menerapkan rumus-rumus untuk elemen diferensial dari batang
dan selanjutnya mengintegrasikannya. Untuk menggambarkan prosedur
ini, kita akan meninjau tiga kasus torsi tak seragam. Kasus lain dapat
ditangani dengan cara-cara yang serupa dengan yang diuraikan di sini.
Tl T2 T3 T4
�:u:,.f;;;;t!;tf:!J
I 8 1. Ci D ,
! I I
1-LAB -�1.- Lac �k·Lc!l ->-i
(a)
(c)
Tl
rc.. :.:: ::.l:'��
A
(d)
Gambar 3-14 Batang yang meng­
alami torsi tak seragam (Kasus I )
Mekanika Bahan 1 81
Kasus 1. Batang yang mengandung segmen-segmen prismatis dengan
tarsi kanstan di seluruh masing-masing segmen (Gambar 3-14). Batang·
yang terlihat pada bagian (a) dalam gambar tersebut mempunyai dua di­
ameter yang berbeda dan dibebani oleh torsi yang bekerja di titik A, B,
C, dan D. Akibatnya, kita membagi batang ini menjadi segmen-segmen
sedemikian hingga setiap segmen adalah prismatis dan mengalami torsi
konstan. Dalam contoh ini, ada tiga segmen seperti ini yaitu AB, BC, dan
CD. Setiap segmen mengalarni torsi murni sehingga semua rumus yang
diturunkan dalam subbab sebelum ini dapat diterapkan pada setiap segmen
secara terpisah.
Langkah pertama dalam analisis adalah menentukan besar dan arah
torsi internal di setiap segmen. Biasanya torsi dapat ditentukan secara
cepat, tetapi jika perlu, torsi dapat diperoleh dengan cara memotong batang,
menggambar diagram benda bebas, dan memecahkan persamaan ke­
seimbangan. Proses ini digambarkan dalam bagian (b). (c), dan (d) gambar
tersebut. Potongan pertama dilakukan sembarang di dalam segmen CD,
sehingga terlihat torsi internal TcD· Dari diagram benda bebas (Gambar 3-
14b) kita lihat bahwa TcD sama dengan -T1 - T2 + Ty Dari diagram
berikut kita melihat bahwa T8c sama dengan -T1 - T2, dan dari yang
terakhir kita dapatkan bahwa TAB = -T1• Jadi,
(a,b,c)
Setiap torsi ini adalah konstan di seluruh panjang segmen.
Di dalam mencari tegangan geser di setiap segmen, kita hanya
membutuhkan besarnya torsi internal ini karena arah tegangan tidak
diperlukan. Namun, dalam mencari sudut puntir keseluruhan batang, kita
perlu mengetahui arah puntir di setiap segmen dalam menggabungkan
sudut puntir dengan benar. Dengan demikian, kita perlu menetapkan
perjanjian tanda untuk torsi internal. Aturan mudah dalam banyak hal
adalah sebagai berikut: Tarsi internal bertanda pasitif jika vektarnya
berarah meninggalkan patangan dan negatifjika vektarnya berarah menuju
patangan. Jadi, semua torsi internal yang terlihat dalam Gambar 3-14b, c,
dan d digambarkan dengan arah positifnya. Jika torsi yang dihitung (dari
Persamaan a, b, atau c) ternyata mempunyai harga positif, maka ini berarti
bahwa torsi bekeija pada arah yang diasumsikan; jika torsi mempunyai
tanda negatif, maka ia bekerja dalam arah sebaliknya.
Tegangan geser maksimum di setiap segmen batang dapat dihitung
langsung dari rumus torsi (Persamaan 3-1 1 ) dengan menggunakan dimensi
penainpang dan torsi internal. Sebagai contoh, tegangan maksimum di
segmen BC (Gambar 3- 14) diperoleh dengan menggunakan diameter
segmen tersebut dan torsi T8c yang dihitung dari Persamaan (b). Tegangan
maksimum di keseluruhan batang adalah tegangan terbesar di antara
tegangan-tegangan yang dihitung untuk ketiga segmen.
Sudut puntir untuk setiap segmen diperoleh dari Persamaan (3- 15),
sekali lagi dengan menggunakan dimensi dan torsi yang benar. Sudut
puntir total di satu ujung batang terhadap ujung lainnya diperoleh dengan
penjumlahan sebagai berikut
(3-19)
di mana ljJ1 adalah sudut puntir untuk segmen 1 , ljJ2 adalah sudut untuk
segmen 2, dan sebagainya, dan n adalah banyak total segmen. Karena
setiap sudut puntir diperoleh dari Persamaan (3-15), maka kita dapat
menulis rumus umum
1 82 Bab 3 Torsi
Gambar 3-15 Batang yang meng­
alami torsi tak seragam (Kasus 2)
t
�w
��
ALx� l-dx IB
1- L I
(a)
(b)
Gambar 3-16 Batang yang meng­
alami torsi tak seragam (Kasus 3)
(3-20)
di mana subskrip i adalah indeks penomoran untuk berbagai segmen.
Untuk segmen i dari batang. Ti adalah torsi internal (yang diperoleh dari
keseimbangan, seperti digambarkan dalam Gambar 3-14b, c, dan d), Li
adalah panjangnya, dan Gi adalah modulus geser, dan !pi adalah momen
inersia polar. Momen torsi (dan sudut puntir yang terkait) dapat mempunyai
tanda positif dan dapat pula bertanda negatif. Dengan menjurnlahkan secara
aljabar sudut-sudut puntir untuk semua segmen, kita dapatkan sudut puntir
total 1/J antara ujung-ujung batang. Proses ini akan digambarkan dalam
Contoh 3-4.
Kasus 2. Batang dengan penampang yang berubah secara kantinu
dan mengalami tarsi kanstan (Gambar 3-15). Apabila torsi adalah konstan,
maka tegangan geser maksimum di batang solid selalu teljadi di penampang
yang mempunyai diameter terkecil, seperti terlihat dalam Persamaan (3-
1 2). Selain itu, pengamatan ini biasanya berlaku untuk batang tabung.
Dengan demikian, dengan menerapkan rumus torsi di penampang yang
terkecil, kita dapat dengan cepat mencari tegangan maksimum di batang.
Untuk mencari sudut puntir, kita tinjau elemen yang panjangnya dx
padajarak x dari satu ujung batang (Gambar 3-15 ). Sudut rotasi diferensial
dt/J untuk elemen ini adalah
(d)
di mana IpCx) adalah momen inersia polar penampang pada jarak x dari
ujung. Sudut puntir untuk keseluruhan batang adalah jumlah dari sudut
rotasi diferensial:
(3-21)
Jika rumus untuk momen inersia polar IpCx) tidak begitu rumit, maka
integral ini dapat dihitung secara analitis (lihat Contoh 3-5); dalam kasus
lain persamaan tersebut harus dipecahkan secara numerik.
Kasus 3. Batang dengan penampang yang bervariasi secara kantinu
dan mengalami tarsi yang bervariasi secara kantinu pula (Gambar 3-16).
Batang yang ditunjukkan dalam bagian (a) gambar tersebut mengalami
tarsi terdistribusi dengan intensitas t per jarak satuan di sepanjang sumbu
batang. Karena itu, torsi internal T(x) bervariasi secara kontinu di sepanjang
sumbu (Gambar 3-16b). Torsi internal dapat dievaluasi dengan bantuan
diagram benda bebas dan suatu persamaan keseimbangan. Seperti pada
kasus 2, momen inersia polar lpCx) dapat dihitung dari dimensi penampang
batang.
Sudut puntir untuk batang dalam Gambar 3-16a dapat diperoleh
dengan cara yang sama dengan yang diuraikan dalam Kasus 2. Satu-satu­
nya perbedaan adalah bahwa torsi, seperti momen inersia polar, juga
bervariasi di sepanjang sumbu. Akibatnya, persamaan untuk sudut puntir
menjadi
Mekanika Bahan 1 83
(3-22)
Integral ini dapat dihitung secara analitis pada beberapa kasus, tetapi
biasanya ini harus dihitung secara numerik.
• Pembatasan
Analisis yang diuraikan dalam subbab ini berlaku untuk batang yang terbuat
dari bahan elastis linier dengan penampang lingkaran (baik yang solid
maupun yang berlubang). Selain itu, tegangan yang ditentukan dari rumus
torsi berlaku pada daerah batang yang jauh dari konsentrasi tegangan,
yang merupakan tegangan lokal yang tinggi yang terjadi apabila diameter
berubah secara drastis, dan apabila torsi terpusat diterapkan (lihat Subbab
3. 1 1). Namun, konsentrasi tegangan mempunyai sedikit pengaruh terhadap
sudut puntir sehingga persamaan untuk cp biasanya berlaku.
Akhimya, kita harus selalu mengingat bahwa rumus torsi dan rumus
untuk sudut puntir diturunkan untuk batang prismatis. Kita dapat dengan
aman menerapkannya pada batang yang mempunyai penampang yang
bervariasi hanya jika perubahan diameter adalah kecil dan gradual. Sebagai
patokan sederhana, rumus yang diberikan di sini adalah memadai apabila
sudut antara sisi-sisi batang kurang dari 10°.
• Contoh 3-4
Gambar 3-1 7 Contoh 3-4
(a)
Gambar 3-1 8 Diagram benda
bebas untuk Contoh 3-4
Sebuah batang baja solid ABCDE (Gambar 3-17) yang mempunyai diameter d =
30 mm berputar dengan bebas di ujung-ujung A dan E. Batang ini digerakkan
dengan gigi di C, yang menerapkan tarsi T2 = 450 N.m dalam arah seperti terlihat
dalam gambar tersebut. Gigi di B dan D digerakkan oleh batang tersebut dan
mempunyai tarsi penahan masing-masing T1 = 275 N.m dan T3 = 1 75 N.m yang
bekerja dalam arah yang berlawanan dengan tarsi T2. Segmen BC dan CD masing­
masing mempunyai panjang L1 = 500 mm dan L2 = 400 mm, dan modulus geser
G = 80 GPa.
Tentukan tegangan geser maksimum di setiap bagian batang dan sudut puntir
antara gigi B dan D.
Solusi
Setiap segmen batang adalah prismatis dan mengalami tarsi konstan. (Kasus 1).
Dengan demikian, langkah pertama dalam analisis adalah menentukan tarsi yang
bekerja di setiap segmen, lalu mendapatkan tegangan geser dan sudut puntir.
Tarsi yang beker
ja di setiap segmen. Tarsi di segmen ujung (AB dan DE) adalah
nol karena kita mengabaikan gesekan apapun. Dengan demikian, segmen ujung
tidak mempunyai tegangan dan tidak mempunyai sudut puntir.
Tarsi TcD di segmen CD diperoleh dengan membuat potongan yang melalui
segmen dan membuat diagram benda bebas, seperti terlihat dalam Gambar 3-1 8a.
Tarsi diasumsikan positif artinya vektomya berarah meninggalkan potongan. Dari
keseimbangan diagram benda bebas kita peroleh
TcD = T2 - T1 = 450 N·m - 275 N·m = 175 N·m
Tanda positif pacta hasil ini berarti bahwa TcD bekerja sesuai dengan arah pasitif
yang diasumsikan.
Tarsi di segmen BC diperoleh dengan cara serupa, dengan menggunakan
diagram benda bebas dalam Gambar 3-1 8b:
'
184 8ab 3 Torsi
TBe = -T1 = -275 N·m
Perhatikan bahwa torsi mempunyai tanda negatif, yang berarti bahwa arahnya
berlawanan dengan arah yang ditunjukkan dalam gambar.
Tegangan geser. Tegangan geser maksimum di segmen BC dan CD diperoleh
dari bentuk rumus torsi yang dimodifikasi (Persamaan 3-12); jadi,
16TBe
"Be
=
-
-
3-
1ril
16TeD
rev = -
-
3
-
1ril
16(275 N·m)
= 5 1,9 MPa
n(30 mm)3
16(175 N·m)
= 33,0 MPa
n(30 mm)3
..
..
Karena arah tegangan geser tidak menarik untuk diketahui pada contoh ini, maka
kita hanya memperhatikan harga mutlak dari torsi dalam perhitungan berikut ini.
Sudutpuntir. Sudut puntir 1/JBD antara gigi B dan D adalahjumlah aljabar dari
sudut puntir untuk segmen-segmen batang, sebagaimana dinyatakan dalam
Persamaan (3-19); jadi,
1/JBD = 1/JBe + 1/Jev
Dalam menghitung sudut puntir individual, kita membutuhkan momen inersia
penampang:
I =
1ril4
= n(30 mm)4
= 79,520 mm4
p
32 32
Sekarang kita dapat menentukan sudut puntir, sebagai berikut:
1/JBc = TBcL1 = (-275 N·m)(500 mm)
= _0,0216 rad
GIP (80 GPa)(79.520 mm4)
1/Jcv = TcvL2 =
(175 N·m)(500 mm) = 0 01 10 rad
GIP (80 GPa)(79.520 mm4) '
Perhatikan bahwa da1am contoh ini sudut puntir mempunyai arah yang berlawanan.
Dengan menjumlahkan secara aljabar, kita dapatkan sudut puntir total:
..
1/JBD = 1/JBe + 1/Jev = -0,0216 + 0,01 10 = -0,0106 rad = -0,61° •
Tanda negatif berarti bahwa gigi D berputar searah jarum jam (apabila dipandang
dari ujung kanan batang) terhadap gigi B. Namun, untuk tujuan tertentu biasanya
hanya harga mutlak sudutpuntir yang dibutuhkan sehingga kita dapat mengatakan
bahwa sudut puntir antara B dan D adalah 0,61°. Sudut puntir antara kedua ujung
batang ini kadang-kadang disebut wind-up.
Catatan: Prosedur yang digambarkan dalam contoh ini dapat digunakan untuk
batang yang mempunyai segmen-segmen dengan diameter yang berbeda-beda atau
bahan yang berbeda-beda, asalkan dimensi dan besarannya tetap konstan di da1am
segmen.
Hanya efek torsi yang ditinjau dalam contoh ini dan di dalam soal-soal di
akhir bab ini. Efek lentur ditinjau nanti, mulai dari Bab 4.
• Contoh 3-5
Sebuah batang AB yang meruncing (nonprismatis) dengan penampang lingkaran
solid dipuntir oleh torsi T yang bekerja di ujung-ujungnya (Gambar 3-19). Diam­
eter batang bervariasi secara linier dari dA di ujung kiri hingga dB di ujung kanan.
(a) Tentukan tegangan geser maksimum di batang. (b) Turunkan rumus untuk
sudut puntir batang. (Asumsikan bahwa dB ;::: dA.)
Mekanika Bahan 1 85
B Solusi
Gambar 3-19 Contoh 3-5. Batang
nonprismatis yang mengalami torsi
(a) Tegangan geser. Karena tegangan geser maksimum di setiap penampang
dinyatakan dengan rumus torsi yang dimodiflkasi (Persamaan 3-12), kita mengetahui
segera bahwa tegangan geser maksimum di batang terjadi pada penampang yang
mempunyai diameter terkecil, yaitu di ujung A (lihat Gambar 3-19):
'fmaks
l6T
Jrd�
•
(b) Sudut puntir. Karena torsi adalah konstan dan momen inersia polar
bervariasi secara kontinu terhadap jarak x dari ujung A (Kasus 2), kita akan
menggunakan Persamaan (3-21 ) untuk menentukan sudut puntir. Kita mulai dengan
menulis rumus untuk diameter d pada jarak x dari ujung A:
d - d
d = dA +
B A X
L (3-23)
di mana L adalah panjang batang. Kita sekarang dapat menulis rumus untuk
momen inersia polar:
I (x) = Jrd = ..!!..._ dA + 8 A r I
4
(
d - d �
P 32 32 L . ) (3-24)
Dengan memasukkan rumus ini ke dalam Persamaan (3-21), kita dapatkan rumus
untuk sudut puntir:
iL Tdx 32T iL dx
0 GIP(x)
=
nG 0 -
(
--
d
-=
8
:..:..
-
-
dA
---:-
)7
4

dA + ---"--L�"-x
(3-25)
Untuk mengevaluasi integral dalam persamaan ini, kitaperhatikan bahwa bentuknya
adalah
f dx
(a + bx)
4
di mana
(e,f)
Dengan bantuan tabel integral (lihat Lampiran C), kita dapatkan
f(a +�x)4 =
3b(a + bx)
3
Integral ini dievaluasi pada contoh ini dengan memasukkan x batas-batas 0 dan L
dan memasukkan a dan b yang ada dalam persamaan (e) dan (f). Jadi, integral
Persamaan (3-25) sama dengan
(g)
Dengan mengganti integral di dalam Persamaan (3-25) dengan rumus ini, kita
dapatkan
(3-26) •
yang merupakan rumus sudut puntir pacta batang nonprismatis yang meruncing.
Bentuk persamaan yang lebih mudah adalah
(3-27)
di mana
'
1 86 Bab 3 Tarsi
Gambar 3-20 Tegangan yang
bekerja pada elemen yang dipotong
dari batang yang mengalami torsi
(geser murni)
nd4
I - A
pA - TI
(3-28)
Besaran f3 adalah rasio diameter kedua ujung dan lpA adalah momen inersia polar
di ujung A.
Dalam kasus khusus penampang prismatis, kita mempunyai f3 = 1 dan
Persamaan (3-27) menghasilkan if> = TUGJpA sebagaimana diharapkan. Untuk harga
f3 yang lebih besar daripada I , sudut rotasi berkurang karena diameter terbesar di
ujung B menghasilkan peningkatan kekakuan torsional (dibandingkan dengan batang
prismatis 1.
TEGANGAN DAN REGANGAN PADA GESER MURNI
Apabila suatu batang lingkaran, baik yang solid maupun yang berlubang,
mengalami torsi, maka tegangan geser akan terjadi di bidang-bidang
penampang dan longitudinal, sebagaimana diterangkan dalam Subbab 3.3.
Sekarang kita tinjau secara rinci tegangan dan regangan yang dihasilkan
selama puntir suatu batang. Kita mulai dengan elemen tegangan abed
yang dipotong antara dua penampang dan antara dua bidang longitudinal
(Gambar 3-20a dan b). Elemen ini berada dalam geser murni (pure shear)
karena tegangan yang bekerja padanya hanyalah tegangan geser di keempat
muka (lihat pembahasan geser mumi di Subbab 1.6).
(a) (b)
Arah tegangan geser bergantung pada arah torsi T yang bekerja.
Dalam pembahasan ini, kita asumsikan bahwa torsi akan memutarkan
ujung kanan batang searah jarum jam apabila dilihat dari kanan (Gambar
3-20a) sehingga tegangan geser yang bekerja pada elemen mempunyai
arah seperti terlihat dalam gambar tersebut. Keadaan tegangan seperti ini
terjadi pada elemen yang dipotong dari interior batang, kecuali bahwa
besar tegangan geser lebih kecil karena jarak radial ke elemen lebih kecil.
Seperti yang akan kita lihat pada paragraf berikut, arah torsi dipilih
sedemikian hingga tegangan gesemya adalah positif.
• Tegangan pada Potongan Miring
Gambar dua dimensi elemen tegangan yang mengalami geser mumi terlihat
dalam Gambar 3-21a. Sebagaimana diterangkan dalam Subbab 2.6, kita
biasanya menggambar hanya tinjauan dua dimensi elemen tegangan tetapi
kita harus selalu ingat bahwa elemen ini mempunyai dimensi ketiga
(ketebalan) dalam arah tegak lurus bidang gambar. Dalam gambar dua
dimensi, sumbu .xy mempunyai orientasi sejajar sisi-sisi elemen, dengan
..
Gambar 3-21 Analisis tegangan
pada bidang miring: (a) elemen
yang mengalami geser murni, (b)
tegangan yang bekerja pada elemen
tegangan segitiga, dan (c) gaya­
gaya yang bekerja pada elemen
tegangan segitiga (diagram benda
bebas)
Mekanika Bahan 1 87
sumbu x sejajar dengan sumbu longitudinal batang. Dengan demikian,
semua tegangan yang terlihat dalam Gambar 3-2la adalah tegangan positif
menurut peijanjian tanda untuk tegangan geser, yang telah diterangkan
dalam Subbab 1 .6 dan diulang di sini. Tegangan geser yang bekerja pada
muka positif suatu elemen adalah positif jika bekeija dalam arah positif
dari satu sumbu koordinat dan negatifjika bekeija dalam arah negatif dari
suatu sumbu. Sebaliknya, tegangan geser yang bekeija pada muka negatif
dari suatu elemen adalah positifjika bekeija dalam arah negatif dari satu
sumbu koordinat dan negatif jika bekeija dalam arah positif suatu sumbu.
't 't
(a) (b)
1A0 tan 6
(b)
Kita sekarang membuat potongan dari elemen tegangan bidang
(Gambar 3-2la) sedemikian hingga kita dapatkan elemen tegangan
berbentuk segitiga yang satu mukanya berorientasi sudut () terhadap sumbu
x (Gambar 3-21b). Tegangan normal cr8 dan tegangan geser r8 bekerja
pada bidang miring ini dan ditunjukkan dalam arah positif di dalam gambar
tersebut. (lngat dari pembahasan tentang elemen tegangan dalam Subbab
2.6 bahwa tegangan normal cr8adalah positifjika berupa tarik dan tegangan
geser r8 adalah positif jika menghasilkan rotasi bahan dalam arah
berlawanan jarum jam.) Muka horizontal dan vertikal elemen dalam
Gambar 3-2lb mempunyai tegangan geser r yang bekerja padanya, dan
muka depan dan belakang tidak mengalami tegangan.
Tegangan yang bekeija pada muka miring dapat ditentukan dari ke­
seimbangan elemen segitiga. Gaya-gaya yang bekeija pada ketiga muka
samping dapat diperoleh dengan mengalikan tegangan dengan luas di
mana tegangan tersebut bekerja. Sebagai contoh, gaya di muka kiri sama
dengan rA0 di mana A0 adalah luas muka samping vertikal. Gaya ini
bekerja dalam arah y negatif dan ditunjukkan dalam diagram benda bebas
dalam Gambar 3-21c. Karena tebal elemen dalam arah z konstan, kita
lihat bahwa luas muka bawah adalah A0 tan () dan luas muka miring
adalahA0 sec 8. Dengan mengalikan tegangan dengan luas di mana tegang­
an tersebut bekerja, maka akan diperoleh gaya di setiap muka elemen
(Gambar 3-2lc).
Kita sekarang dapat menuliskan dua persamaan keseimbangan untuk
elemen, satu dalam arah cr8 dan satu lagi dalam arah r(J' Dalam menuliskan
kedua persamaantersebut, gaya-gaya yang bekeija di muka kiri dan bawah
harus diuraikan ke dalam komponen dalam arah cr8dan r(J' Jadi, persamaan
pertama, yang diperoleh dengan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah cr8
adalah
atau
cr8A0 sec () = rA0 sin () + rA0 tan () cos ()
cr8 = 2r sin () cos () (3-29a)
1 88 Bab 3 Tarsi
Gambar 3-22 Grafik tegangan
normal CJ8 dan tegangan geser r8
versus sudut bidang miring (}
Gambar 3-23 Elemen tegangan
yang berorientasi sudut e = 0 dan e
= 45° untuk geser mumi
Persamaan kectua ctiperoleh ctengan menjumlahkan gaya-gaya dalam
arah re:
atau
reAo sec 8 = rA0 cos 8 - rA0 tan 8 sin 8
re = r(cos2 8 - sin2 8) (329b)
Kedua persamaan m1 dapat ditulis dalam bentuk yang lebih secterhana
dengan menggunakan rumus trigonometri (lihat Lampiran C):
sin 28 = 2 sin 8 cos 8 cos 28 = cos2 8 - sin2 8
Dengan demikian. persamaan untuk CJe dan re menjadi
(3-30a,b)
Persamaan (3-30a dan b) memberikan tegangan normal dan geser yang
bekerja pada sembarang bidang miring yang dinyatakan dalam tegangan
geser T yang bekerja pacta bidang X dan y (Gambar 3-2 la) ctan sudut 8
yang mendefinisikan orientasi bidang miring (Gambar 3-2lb).
Bagaimana tegangan CJe dan re. berubah terhadap orientasi bidang
miring ditunjukkan dalam grafik pada Gambar 3-22, yang merupakan plot
Persamaan (3-30a dan b). Kita lihat bahwa untuk 8 = 0, yang merupakan
muka kanan dari elemen tegangan dalam Gambar 3-21 a, grafik tersebut
menghasilkan CJe = 0 dan re· = r, sebagaimana diharapkan. Untuk muka
atas elemen (8 = 90°), kita ctapatkan CJe = 0 dan re = -r. Tanda minus
untuk tegangan geser berarti bahwa tegangan tersebut bekerja dalam arah
re negatif, artinya tegangan tersebut bekerja ke kanan dari muka ab
(Gambar 3-2la). Perhatikan bahwa tegangan geser yang terbesar secara
numerik terjacti pada bictang-bictang ini.
Dari grafik terlihat bahwa tegangan normal CJe mencapai harga
maksimum pacta 8 = 45°. Pada suctut tersebut, tegangan actalah positif
(tarik) dan sama secara numerik dengan tegangan geser r. Juga, CJe mem­
punyai harga minimum (yang merupakan tekan) pacta 8 = -45°. Pada
kedua sudut 45° ini, tegangan geser r8 sama dengan nol. Jadi, pada suatu
elemen tegangan yang berorientasi 45° (Gambar 3-23b) bekerja tegangan
tarik dan tekan yang sama dan saling tegak lurus, dan tidak acta tegangan
geser. Perhatikan bahwa tegangan normal yang terlihat dalam Gambar 3-
23b berkaitan ctengan elemen yang mengalami geser murni yang
ctiakibatkan oleh tegangan geser yang bekerja dalam arah seperti terlihat
ctalam Gambar 3-23a. Jika tegangan geser yang bekerja pacta elemen ctalam
Gambar 3-23a mempunyai arah sebaliknya, maka tegangan normal yang
bekerja pacta bidang 45° juga akan berubah arah.
T
r
(a) (b)
Gambar 3-24 Kegagalan torsi
pada bahan getas di mana tarik me­
nyebabkan retak di sepanjang
permukaan spiral 45°
Mekanika Bahan 1 89
Jika suatu elemen tegangan mempunyai sudut orientasi bukan 45°,
maka tegangan normal dan tegangan geser akan ada di muka miring tersebut
(lihat Persamaan 3-30). Elemen tegangan yang mengalami kondisi yang
lebih umum ini dibahas secara rinci dalam Bab 7.
Persamaan-persamaan yang diturunkan dalam subbab ini berlaku untuk
elemen tegangan pada kasus geser murni, apakah elemen tersebut
merupakan potongan dari suatu batang yang mengalami torsi atau dari
elemen struktural lainnya. Juga, karena Persamaan (3-30) diturunkan hanya
dari keseimbangan, maka persamaan tersebut berlaku untuk sembarang
bahan, apakah elastis linier maupun bukan.
Adanya tegangan tarikmaksimum pada bidang yang membentuk sudut
45° dengan sumbu x (Gambar 3-23b) menjelaskan mengapa batang yang
mengalami torsi yang terbuat dari bahan yang getas dan lemah terhadap
tarik akan gaga! dengan retak di sepanjang permukaan spiral 45° (Gambar
3-24). Sebagaimana disebutkan dalam Subbab 3.3. jenis kegagalan seperti
ini dapat dengan mudah ditunjukkan dengan memuntir sepotong kapur
yang ada di dalam kelas.
• Regangan pada Geser Murni
Gambar 3-25 Regangan pada
geser mumi: (a) distorsi geser suatu
elemen yang berorientasi e = 0, dan
(b) distorsi suatu elemen yang
berorientasi e = 45°
Sekarang kita tinjau regangan yang ada pada elemen yang mengalami
geser mumi. Sebagai contoh, tinjaulah elemen yang mengalami geser
mumi yang terlihat dalam Gambar 3-23a. Regangan gesemya ditunjukkan
dalam Gambar 3-25a, di mana deformasi digambarkan dengan sangat
diperbesar. Regangan geser y adalah perubahan sudut antara dua garis
yang semula saling tegak lurus, sebagaimana telah dibahas dalam Subbab
1.6. Jadi, berkurangnya sudut di pojok kiri bawah elemen adalah regangan
geser y(diukur dalam radian), Perubahan yang sama juga terjadi di pojok
kanan atas, di mana sudut berkurang, dan di kedua pojok lain, di mana
sudutnya bertambah. Namun, panjang sisi-sisi elemen, termasuk ketebalan
tegak lurus bidang kertas, tidak berubah pada saat deformasi geser ini
terjadi. Dengan demikian, elemen berubah bentuk dari persegi panjang
T
(a) (b)
1 90 Bab 3 Torsi
(Gambar 3-23a) menjadijajaran genjang (Gambar 3-25a). Perubahan bentuk
ini disebut distorsi geser.
Jika bahan bersifat elastis linier, maka regangan geser untuk elemen
yang berorientasi () = 0 (Gambar 3-25a) berkaitan dengan regangan geser
menurut hukum Hooke pada masalah geser:
(3-31 )
di mana, seperti biasa, simbol G menunjukkan modulus geser elastisitas.
Selanjutnya, tinjau regangan yang teijadi di elemen yang berorientasi
() = 45° (Gambar 3-25b). Tegangan tarik yang bekeija pada sudut 45°
cenderung memperpanjang elemen dalam arah tersebut. Karena adanya
efek Poisson, maka tegangan tersebut cenderung memperpendek ukuran
dalam arah yang tegak lurus (arah di mana () = 135° atau --45°). Serupa
dengan itu, tegangan tekan yang bekerja pada 135° cenderung untuk mem­
perpendek elemen dalam arah tersebut dan memperpanjang dalam arah
45°. Perubahan dimensional ini terlihat dalam Gambar 3-25b, di mana
garis putus menunjukkan elemen semula. Karena tidak ada distorsi geser,
maka elemen tetap berbentuk persegi panjang meskipun dimensinya telah
berubah.
Jika suatu bahan bersifat elastis linier dan mengikuti hukum Hooke,
maka kita dapat memperoleh persamaan yang menghubungkan regangan
dengan tegangan untuk elemen pada () = 45° (Gambar 3-25b). Tegangan
tarik O'maks yang bekerja pada () = 45° menimbulkan regangan normal
positif dalam arah tersebut yang sama dengan O'maks/E. Karena O'maks = -r,
maka kita juga dapat menyatakan regangan ini sebagai -r/£. Tegangan
O'maks juga menimbulkan regangan negatif dalam arah tegak lurus, yang
sama dengan -v-r!E, di mana v adalah rasio Poisson. Serupa dengan itu,
tegangan O'min = --r (pada () = 135°) menimbulkan regangan negatif yang
sama dengan --r/E dalam arah tersebut dan regangan positif dalam arah
tegak lurus (arah 45°) yang sama dengan v-r!E. Dengan dernikian, regangan
normal dalam arah 45° adalah
'r V'r 'r
Cmaks =
E
+ E =
E(l + v) (3-32)
yang bertanda positif (berarti perpanjangan). Regangan dalam arah tegak
lurus adalah regangan negatif yang besarnya sama. Dengan perkataan
lain, geser mumi menimbulkan perpanjangan dalam arah 45° dan per­
pendekan dalam arah 1 35°. Regangan ini konsisten dengan bentuk elemen
yang berdeformasi dalam Gambar 3-25a karena diagonal 45° telah
memanjang dan diagonal 135° telah memendek.
Di dalam subbab berikut kita akan menggunakan geometri elemen
yang telah berdeformasi untuk menghubungkan regangan geser y(Gambar
3-25a) dengan regangan normal emaks dalam arah 45° (Gambar 3-25b).
Dari geometri tersebut kita akan mendapatkan hubungan sebagai berikut
(3-33)
Persamaan ini, bersama dengan Persamaan (3-31), dapat digunakan untuk
menghitung regangan geser maksimum dan regangan normal maksimum
dalam torsi mumi apabila tegangan geser -r diketahui.
Mekanika Bahan 1 91
• Contoh 3.6
Gambar 3-26 Contoh 3-4.
Tabung lingkaran yang mengalami
torsi
Gambar 3-27 Elemen tegangan
dan regangan untuk tabung dalam
Contoh 3-6
Sebuah tabung lingkaran yang mempunyai diameter luar 80 mm dan diameter
dalam 60 mm mengalami torsi T = 4.0 k..
"-'.m (Gambar 3-26). Tabung ini terbuat
dari bahan paduan aluminium 7075-T6. (a) Tentukan tegangan geser, tekan, dan
tarik maksimum di tabung tersebut dan tunjukkan tegangan-tegangan tersebut
pada sketsa elemen tegangan dengan orientasi yang benar. (b) Tentukan regangan
maksimum di tabung tersebut.
Solusi
(a) Tegangan maksimum. Harga-harga maksimum dari ketiga tegangan (tarik,
tekan, dan geser) secara numerik adalah sama namun ketiganya bekerja pada
bidang yang berbeda. Besamya dapat dihitung dari rumus torsi:
= Tr = (4000 N·m)(0.040 m 1
= � 8 2 MP
rmaks - . a
· 1P �[co,080 m)4 - (0,060 m i" ]
Tegangan geser maksimum bekerja di bidang potongan melintang dan longitudi­
nal, seperti terlihat pada elemen tegangan dalam Gambar 3-27a, di mana sumbu
x adalah sejajar dengan sumbu longitudinal batang tabung.
Tegangan tarik dan tekan maksimum adalah
a1 = 58,2 MPa ac = -58,2 MPa
Tegangan-tegangan ini terjadi pada bidang yang membentuk sudut 45° dengan
sumbu x (Gambar 3-27b).
(b) Regangan maksimum. Regangan geser maksimum di dalam tabung dapat
diperoleh dari Persamaan (3-31 ). Modulus geser elastisitas yang diperoleh dari
Tabel H-2, Lampiran H, adalah G = 27 GPa. Dengan demikian, regangan geser
maksimum adalah
=
rmaks =
58,2 MPa =
O 0022
Ymaks
G 27 GPa '
Regangan ini mempunyai arah seperti terlihat dalam Gambar 3-27c.
!r =
maks
58,2 MPa
(a) (b)
(c) (d)
1 92 Bab 3 Torsi
Besar regangan normal maksimum (dari Persamaan 3-33) adalah
£
=
Ymaks =
0 001 1
maks
2
'
Jadi, regangan tarik dan tekan maksimum adalah
£1 = 0,001 1 ec = -0,00 1 1
Regangan-regangan ini digambarkan dalam Gambar 3-27d untuk elemen dengan
sisi-sisi satu satuan.
-��3'1116 1 HUBUNGAN ANTARA MODULUS ELASTISITAS E DAN G
Gambar 3-28 Geometri elemen
yang berdeformasi akibat geser
mumi
Hubungan penting antara E dan G dapat diperoleh dari persamaan­
persamaan yang telah diturunkan dalam subbab sebelum ini. Untuk itu,
tinjaulah elemen tegangan abed yang terlihat dalam Gambar 3-28a. Muka
depan dari elemen ini diasumsikan sebagai bujur sangkar dengan panjang
setiap sisi ditulis sebagai h. Apabila elemen ini mengalami geser mumi
dengan tegangan r, muka depan berdistorsi menjadi jajaran genjang
(Gambar 3-28b) dengan sisi-sisi yang panjangnya h dan dengan regangan
geser y = riG. Karena distorsi ini maka diagonal bd memanjang dan
diagonal ac memendek. Panjang diagonal bd sama dengan panjang semula
.f2h dikalikan faktor 1 + emaks' di mana emaks adalah regangan normal
dalam arah 45°; jadi,
(a)
Panjang ini dapat dihubungkan dengan regangan geser ydengan meninjau
geometri elemen yang telah berdeformasi (Gambar 3-28b).
r
�
rj
d �
r
(a) (b)
b
'r
b
!!_ _ I_
4 2
d !maks =
Ktmaks
(c)
Untuk mendapatkan hubungan geometris, tinjau segitiga abd (Gambar
3-28c) yang menyatakan setengah dari jajaran genjang yang ditunjukkan
dalam Gambar 3-28b. Sisi bd dari segitiga mempunyai panjang Lbd
(Persamaan a), dan sisi lainnya mempunyai panjang h. Sudut adb dari
segitiga ini sama dengan setengah sudut adc dari jajaran genjang, atau
n/4 - y/2. Sudut abd pacta segitiga sama. Jadi, sudut dab pacta segitiga
sama dengan n/2 + y. Sekarang dengan menggunakan rumus cosinus (lihat
Lampiran C) untuk segitiga abd kita dapatkan
L!d = h2 + h2 - 2h2 eo{% + y)
Dengan memasukkan Lbd dari Persamaan (a) dan menyederhanakannya
kita dapatkan
Mekanika Bahan 193
(1 + emaks)2 = 1 - cos (� + r)
Dengan menyederhanakan suku di sebelah kiri, dan juga memperhatikan
bahwa cos (7r/2 + n = -sin y, kita dapatkan
1 + 2t:maks + e�aks = 1 + sin r
Karena emaks dan y merupakan regangan yang sangat kecil, maka kita
dapat mengabaikan e2maks dibandingkan dengan 2 emaks dan kita dapat
menggantikan sin y dengan y: Rumus yang dihasilkan adalah
y
emaks = 2 (3-34)
yang menunjukkan hubungan yang telah disebutkan dalam Subbab 3.5
dalam Persamaan (3-33).
Regangan geser yyang terlihat dalam Persamaan (3-34) sama dengan
riG dengan hukum Hooke (Persamaan 3-31 ) dan regangan normal t:maks
sama dengan 'l(1 + v)IE dengan Persamaan (3-32). Dengan memasukkan
keduanya ke dalam Persamaan (3-34) kita peroleh
(3-35)
Kita lihat bahwa E, G, dan v bukan merupakan besaran yang independen
pada bahan elastis linier. Jika dua di antaranya diketahui, maka yang
ketiga dapat dihitung dari Persamaan (3-35). Harga khas untuk E, G, dan
v dicantumkan dalam Tabel H-2, Lampiran H.*
PENYALURAN DAYA OLEH BATANG LINGKARAN
Penggunaan batang (poros) lingkaran yang paling penting adalah untuk
menyalurkan daya mekanis dari satu alat atau mesin ke lainnya, seperti
pada batang penggerak pacta suatu mobil, batang propeller pada suatu
kapal laut, atau as sepeda. Daya disalurkan melalui gerakan berputar pacta
batang, dan besar daya yang disalurkan bergantung pacta besar torsi dan
laju rotasi. Masalah desain yang umum adalah menentukan ukuran yang
dibutuhkan untuk batang sedemikian rupa sehingga batang tersebut dapat
menyalurkan besar daya yang ditetapkan pacta laju rotasional yang
ditentukan tanpa melebihi tegangan izin bahan.
Bayangkan bahwa batang yang digerakkan motor (Gambar 3-29)
berputar pada laju sudut w, yang diukur dalam radian per detik (rad/s).
Batang tersebut menyalurkan torsi T ke mesin (tidak ditunjukkan dalam
gambar) yang akan melakukan kerja. (Torsi yang terlihat dalam gambar
adalah torsi yang dikenakan pada batang oleh mesin.) Pada umumnya,
kerja W yang dilakukan oleh torsi yang besarnya konstan adalah sama
dengan basil kali torsi dan sudut rotasi yang dilaluinya, yaitu
(3-36)
di mana '¥ adalah sudut rotasi yang dinyatakan dalam radian.
*Persamaan (3-35) diturunkan pertamakali olehPoisson dengan menggunakanharga 1/4 untuk
v, lihatRef. 3-3.
r
1 94 Bat! 3 Torsi
Gambar 3-29 Batang yang
:::oenyalurkan torsi konstan T pada
!aju sudut ro
Daya adalah laju perubahan kerja, atau
p
=
dW
= T
dlJI
dt dt
(3-37)
di mana P adalah simbol untuk daya dan t menunjukkan waktu. Laju
perubahan d'f'
!dt dari peralihan sudut lJI adalah laju sudut w, sehingga
persamaan sebelum ini menjadi
P = Tw (w = rad/s) (3-38)
Rumus ini, yang dikenal pada fisika dasar, memberikan daya yang
disalurkan dengan memutarkan sebuah batang dengan torsi konstan T.
Satuan yang digunakan dalam Persamaan (3-38) adalah sebagai
berikut. Jika torsi T dinyatakan dalamnewton meter, maka daya dinyatakan
dalam watt (W). Satu watt sama dengan satu newton meter per detik (atau
satu joule per detik). Jika T dinyatakan dalam pound feet, maka daya
dinyatakan dalam feet-pound per detik.*
Laju sudut sering dinyatakan dalam frekuensi f dari suatu rotasi,
yang menunjukkan banyak putaran per satuan waktu. Satuan frekuensi
adalah hertz (Hz), yang sama dengan satu putaran per detik (detik-1).
Karena satu putaran berarti 2n rad, maka kita dapatkan
w = 2nf (w = rad/s, f = Hz = s-') (3-39)
Dengan demikian, rumus untuk daya (Persamaan 3-38) menjadi
P = 2n
fT (f = Hz = s-1) (3-40)
Satuan lain yang umum digunakan adalah banyak putaran per menit (rpm),
yang diberi notasi n. Dengan demikian, kita juga mempunyai hubungan
sebagai berikut:
dan
n = 60f
p
=
2nnT
60
(n = rpm)
(3-41)
(3-42)
Dalam Persamaan (3-40) dan (3-42), besaran P dan T mempunyai satuan
yang sama dengan yang ada di dalam Persamaan (3-38); artinya, P
mempunyai satuan watt jika T mempunyai satuan newton meter dan P
mempunyai satuan lb/detik jika T mempunyai satuan pound-feet.
Dalam praktek di AS, daya sering dinyatakan dalam tenaga kuda
(hp), suatu satuan yang sama dengan 550 ft-lb/s. Dengan demikian, tenaga
kuda H yang disalurkan oleh batang yang berputar adalah
*Lihat Tabel A-I, Lampiran A tentang satuan kerja dan daya.
Gambar 3-30 Contoh 3-7
Mekanika Bahan 1 95
H =
2nnT
60(550)
2nnT
33.000
(n = rpm, T = lb-ft, H = hp) (3-43)
Satu tenaga kuda sama dengan sekitar 746 watt.
Persamaan di atas menghubungkan antara torsi yang beketja pada
batang dan daya yang disalurkan oleh batang. Apabila torsi diketahui,
maka kita dapat menentukan tegangan geser, regangan geser, sudut puntir,
dan besaran lain yang dikehendaki dengan metode yang diuraikan dalam
Subbab 3.2 sampai 3.5. Contoh berikut ini menggambarkan beberapa
prosedur untuk menganalisis batang yang berputar.
• Contoh 3-7
Sebuah motor yang menggerakkan batang baja lingkaran solid menyalurkan 40 hp
ke gigi di B (Gambar 3-30). Tegangan geser izin untuk baja adalah 6000 psi. (a)
Berapa diameter d yang diperlukan untuk batang tersebut jika akan dioperasikan
pada 500 rpm? (b) Berapa diameter d yang diperlukan jika batang tersebut
dioperasikan pada 4000 rpm?
Solusi
(a) Motor yang beroperasipada 500 rpm. Dengan diketahuinya tenaga kuda
dan laju rotasi, kita dapatmencari Tyang bekerja padabatang dengan menggunakan
Persamaan (3-43). Dengan memecahkan persamaan tersebut untuk mencari T,
maka
T =
3
0��H = �����64��; = 420,2 lb-ft = 5042 !b-in.
Torsi ini disalurkan oleh batang dari motor ke gigi.
Tegangan geser maksimum di batang dapat diperoleh dari rumus torsi yang
dimodifikasi (Persamaan 3-12):
Dengan memecahkan persamaan tersebut untuk mencari diameter d, dan juga
memasukkan rizin untuk rmaks• kita dapatkan
sehingga
d3 = 16T
=
16(5042 !b-in.) =
4,280 in.3
nrizin 7r(6000 psi)
d = 1,62 in. •
Diameter batang hams sedikitnya sebesar ini agar tegangan geser izin tidak
dilampaui.
(b) Motor yang beroperasi pada 4000 rpm. Dengan mengikuti prosedur
yang sama dengan di bagian (a) kita dapatkan
196 Ba!J 3 Torsi
Motor
Gambar 3-31 Contoh 3-8
T = 33.000H = 33.000(40 hp)
= 52 52 lb-f = 6::0 3 lb-·
27rn 27r(4000 rpm) ' t - ' m.
cf = 1 6T 16(630,3 !b-in.) 3
7r(6000 psi)
= 0,5350 in.
d = 0,81 in.
yang besamya setengah dari diameter yang didapatkan pacta bagian (a).
..
Contoh ini menunjukkan bahwa semakin besar laju rotasi, akan semakin
kecil ukuran batang yang diperlukan (untuk daya yang sama dan tegangan izin
yang sama).
• Contoh 3-8
Batang baja solid ABC yang diameternya 50 mm (Gambar 3-3 1 a) digerakkan di
A oleh motor yang menyalurkan 50 kW ke batang pacta 1 0 Hz. Gigi di B dan C
menggerakkan mesin yang membutuhkan daya sebesar masing-masing 35 kW dan
1 5 kW. Bandingkan tegangan geser maksimum rmaks di batang dan sudut puntir
cf!Ac antara motor di A dan gigi di C. (Gunakan G = 80 GPa.)
J .o m -r l- 1 .2 m l TA = 796 N·m TB = 557 N·m Tc = 239 N·m
c
Solusi
Tarsi yang beker
ja pada batang. Kita mulai analisis dengan menentukan torsi
yang diterapkan pactabatang oleh motor dan kedua gigi. Karena motor memberikan
50 kW pacta 10 Hz, maka akan terjadi torsi TA di ujung A dari batang (Gambar
3-31 b) yang dapat kita hitung dengan Persamaan (3-40).
T
p 50 kW
- 796 N
A =
27rf =
27r(IO Hz)
- ·m
Dengan cara sama, kita dapat menghitung torsi TB dan Tc yang diterapkan oleh
gigi ke batang:
p
27rf
T - ___!_
c -
27rf
35 kW = 557 N·m
27r(10 Hz)
1 5 kW
- 239 N
27r(IO Hz)
- ·m
Torsi ini ditunjukkan dalam diagram benda bebas batang (Gambar 3-3 1 b).
Perhatikan bahwa torsi yang diterapkan oleh gigi adalah berlawanan arah dengan
torsi yang diterapkan oleh motor. (Jika kita berpikir bahwa TA sebagai "beban"
yang diterapkan ke batang oleh motor, maka torsi TB dan Tc adalah "reaksi" gigi.)
Torsi internal di kedua segmen batang diperoleh dengan menggunakan dia­
gram benda bebas dalam Gambar 3-31 b:
TAB = 796 N·m TBc = 239 N·m
Kedua torsi internal ini bekerja dengan arah yang sama sehingga sudut puntir di
segmen AB dan BC saling menjumlahkan dalam mencari sudut puntir total.
Mekanika Bahan 1 97
(Jelasnya, kedua torsi adalah positif menurut perjanjian tanda yang diuraikan dalam
Subbab 3.4.)
Tegangan geser dan sudutpuntir. Tegangan geser dan sudut puntir di segmen
AB dari batang diperoleh dengan cara biasa dari Persamaan (3- 12) dan (3-1 5):
TAB = I 6TAB
=
1 6(796 N·n;) =
32,4 MPa
1rd3 7r(SO mm(
=
T
ABLAB =
(796 N·m)( 1 .0 m)
1/JAB
GI
( 7r ' - 4
P (SO GPa) 32 /)Q mm)
Besaran tersebut untuk segmen BC adalah
r =
16T
Bc = 1 6(239 N·m)
= 9 7 MPa
BC
1rd3 7r(50 mm)3 '
= 0,01 62 rad
1/J - TBcLBc
- _
_,
(=-
23
'-"
9
-'
N
7-"'
·m
::.c
)
�
( l
'-"
,2
::....::.:c
m"-
) - = 0.0058 rad
BC - GIP
- (80 GPa>(;)csomm)4
Jadi, tegangan geser maksimum di batang terjadi di segmen AB dan sama dengan
rmaks = 32,4 MPa •
Juga, sudut puntir total antara motor di A dan gigi di C adalah
1/JAc = 1/JAB + 1/JBc = 0,01 62 rad + 0,0058 rad = 0,0220 rad =
1 ,26° •
Sebagaimana telah diterangkan, baik gigi maupun batang berputar pada arah yang
sama sehingga sudut puntir saling memperbesar.
ELEMEN STRUKTUR TORSIONAL STATIS TAK TENTU
Batang yang dibahas pada subbab-subbab sebelumnya dalam bab ini adalah
statis tertentu karena semua torsi internal dan semua reaksi dapat diperoleh
dari diagram benda bebas dan persamaan keseimbangan. Jika kekangan
lain, seperti tumpuan jepit, ditambahkan ke batang, maka persamaan ke­
seimbangan tidak lagi memadai untuk menentukan torsi. Batang demikian
disebut statis tak tentu. Elemen torsional seperti ini dapat dianalisis dengan
menggunakan persamaan keseimbangan yang dilengkapi dengan persamaan
keserasian yang berkaitan dengan peralihan rotasional. Jadi, metode umum
untuk menganalisis elemen torsional statis tak tentu sama dengan yang
diuraikan dalam Subbab 2-4 untuk batang statis tak tentu dengan beban
aksial.
Langkah pertama adalah menuliskan persamaan keseimbangan
(equations o
f equilibrium) dengan menggunakan diagram benda bebas
yang diperoleh dari situasi fisik yang diketahui. Besaran anu di dalam
persamaan keseimbangan adalah torsi, apakahtorsi internal atau torsi reaksi.
Langkah kedua di dalam analisis adalah memformulasikan persamaan
keserasian (equations compatibility) yang didasarkan atas kondisi fisik
yang berkaitan dengan sudut puntir. Dengan demikian, persamaan
keserasian mengandung sudut puntir sebagai anu. Langkah ketiga adalah
menghubungkan sudut puntirdengan torsi dengan menggunakan hubungan
torsi-peralihan (torque-displacement relations) seperti 1/J = TUGIP.
Sesudah memasukkan hubungan ini ke dalam persamaan keserasian, maka
akan didapatkan persamaan dengan torsi sebagai anu. Dengan demikian,
198 Bab 3 Torsi
(a)
(b)
(c)
Piat
ujung
A
·Jtri:E=�;;a;m=� B T2
---...
Tabung (2)
(d)
Gambar 3-32 Batang statis tak
tentu yang mengalami torsi
langkah terakhir adalah menyelesaikan secara simultan persamaan
keseimbangan dan keserasian untuk mendapatkan torsi.
Untuk menggambarkan metode solusi ini, kita akan menganalisis
batang komposit AB yang terlihat dalam Gambar 3-23a dan b. Batang ini
dijepit di ujung A dan dibebani torsi T di ujung B, Batang ini terdiri atas
batang solid di dalam tabung, di mana batang solid dan tabung tersebut
digabungkan pada plat ujung kaku di B. Untuk mudahnya, kita akan
memberikan notasi batang solid dan tabung (serta besaran-besarannya)
masing-masing sebagai bahan 1 dan 2. Sebagai contoh, diameter batang
solid diberi notasi d1 dan diameter luar tabung diberi notasi d2• Ada celah
kecil di antara batang dan tabung sehingga diameter dalam dari tabung
sedikit lebih besar daripada d1•
Apabila torsi Tditerapkan pada ujung batang, maka plat ujung berotasi
dengan sudut kecil </J dan torsi T1 dan T2 timbul di batang solid dan tabung
(lihat Gambar 3-32c dan d, yang menunjukkan batang solid dan tabung
yang dipisahkan satu sama lain). Dari keseimbangan kita ketahui bahwa
jumlah torsi sama dengan beban yang bekerja sehingga persamaan
keseimbangan adalah
(a)
Karena persamaan ini mengandung dua anu (T1 dan T2), maka kita lihat
bahwa batang komposit AB (Gambar 3-32a) adalah statis tak tentu.
Untuk mendapatkan persamaan kedua, kita harus meninjau peralihan
rotasional batang solid dan tabung. Misalkan sudut puntir batang solid
(Gambar 3-32c) diberi notasi </J1 dan sudut puntir tabung diberi notasi </J2
(Gambar 3-32d). Kedua sudut ini harus sama karena batang solid dan
tabung terhubung di plat ujung dan berotasi bersama; jadi, persamaan
keserasian adalah
(b)
Sudut </J1 dan </J2 berhubungan dengan torsi T1 dan T2 dengan hubungan
torsi-peralihan, di mana untuk bahan elastis linier diperoleh dari persamaan
</J = TUG/
P
. Jadi,
(c,d)
di mana G1 dan G2 adalah modulus geser elastisitas dari bahan dan I
P
1 dan
I
P
2 adalah momen inersia polar dari masing-masing penampang.
Apabila rumus-rumus untuk </J1 dan </J2 dimasukkan ke dalam
Persamaan (b), maka persamaan keserasian menjadi
T.,L T2L
-- = --
(e)
Sekarang kita mempunyai dua persamaan (Persamaan a dan e) dengan
dua anu sehingga kita dapat memecahkannya untuk menghitung T1 dan
T2• Hasilnya adalah
[ G2lp2 )
T
2 = T
G I +
G I (3-44a,b)
I pi 2 p2
Dengan diketahuinya kedua torsi ini, bagian penting dari analisis statis tak
tentu telah selesai. Semua besaran lain, seperti tegangan dan sudut puntir,
dapat diperoleh dengan menggunakan harga torsi ini.
Mekanika Bahan 199
Pembahasan di atas menggambarkan metodologi umum untuk
menganalisis sistem statis tak tentu yang mengalami torsi. Dala ontoh
berikut, pendekatan yang sama digunakan untuk menga · sis sebuah
batang yang terjepit di kedua ujungnya.
Catatan: Di dalam semua soal dan contoh subbab ini kita mengasum­
sikan bahwa batang terbuat dari bahan elastis linier. Sekalipun demikian,
metodologi umum ini juga dapat diterapkan pada batang dari bahan
nonlinier-perubahan satu-satunya adalah hubungan torsi-peralihan.
• Contoh 3.9
(a)
(b)
B
(c)
(d)
Gambar 3-33 Contoh 3-9. Batang
statis tak tentu
Batang ACB yang terlihat dalam Gambar 3-33a dan b dijepit di kedua ujungnya
dan dibebani torsi T0 di titik C. Segmen AC dan CB dari batang ini masing-masing
mempunyai diameter dAdan dB,panjang LAdan LBserta momen inersia polar lpA
dan lpB·Bahan untuk batang ini sama di kedua segmen. Turunkan rumus untuk (a)
torsi reaksi TAdan TBdi kedua ujung, (b) tegangan geser maksimum TAcdan TcB
di masing-masing segmen batang, dan (c) sudut rotasi c!!c di penampang di mana
beban T0 diterapkan.
Solusi
Persamaan keseimbangan. Beban T0 menimbulkan reaksi TAdan TB di kedua
ujung jepit, seperti terlihat dalam Gambar 3-33a dan b. Kedua gambar ini merupakan
diagram benda bebas untuk batang karena semua torsi (baik beban maupun reaksi)
digambarkan. Jadi, dari keseimbangan batang kita peroleh
(f)
Karena ada dua anu di dalam persamaan ini (dan tidak ada persamaan keseimbangan
lain yang berguna), maka batang ini adalah statis tak tentu.
Persamaan keserasian. Sekarang kita memisahkan batang dari tumpuan di
ujung B dan mendapatkan batang yang terjepit di ujung A dan berujung bebas di
B (Gambar 3-33c dan d). Apabila hanya beban T0 yang bekerja pada batang ini,
maka beban ini menimbulkan sudut puntir di ujung B yang diberi notasi I/J1 (Gambar
3-33c). Begitu pula apabila torsi reaksi TB bekerja sendiri, maka torsi ini akan
menimbulkan sudut puntir I/J2 (Gambar 3-33d). Sudut puntir di ujung B di batang
semula sama dengan jumlah dari I/J1 dan I/J2 yaitu nol. Dengan demikian, persamaan
keserasian adalah
(g)
Perhatikan bahwa I/J1 dan I/J2 diasumsikan positif dalam arah yang terlihat dalam
gambar tersebut.
Persamaan torsi-peralihan. Sudut puntir I/J1 dan I/J2 dapat dinyatakan dalam
torsi T0 dan T8 dengan memperhatikan Gambar 3-33c dan d, serta dengan
menggunakan persamaan 1/J = TUGIP. Persamaannya adalah sebagai berikut:
1/JI =
ToLA 1/Jz = -TBLA - TaLB (h,i)
GlpA GlpA GlpB
Tanda minus muncul di dalam Persamaan (i) karena TB menghasilkan rotasi yang
berlawanan dengan arah positif yang diasumsikan dalam Gambar 3-33d.
Sekarang kita masukkan sudut puntir (Persamaan h dan i) ke dalam persamaan
keserasian (Persamaan g) dan kita dapatkan
T0LA _ TBLA _ TBLB = 0
GlpA GlpA GlpB
atau (j)
200 Bab 3 Torsi
Solusi persamaan. Persamaan di atas dapat diselesaikan untuk mendapatkan
torsi T8, yang selanjutnya dapat dimasukkan ke dalam persamaan keseimbangan
(Persamaan f) untuk mendapatkan torsi TA. Hasilnya adalah
[ LA /pB
J
TB ==
To
L I + L I
(3-45a,b) ..
B pA A pB
Jadi, torsi reaksi di ujung-ujung batang telah diperoleh dan bagian analisis statis
tak tentu telah selesai.
Sebagai kasus khusus, perhatikan bahwa jika batang ini prismatis (IpA == IpB
== JP), maka hasil di atas dapat disederhanakan menjadi
T - T
aLn T
- T
aLA (3-46a,b)
A -
L n
-
L
di mana L adalah panjang total batang. Persamaan-persamaan ini analog dengan
reaksi pada batang yang dibebani secara aksial dengan dua ujung dijepit (lihat
Persamaan 2-8a dan 2-8b).
Tegangan geser maksimum. Tegangan geser maksimum di setiap bagian
batang diperoleh secara langsung dari rumus torsi:
Dengan memasukkan Persamaan (3-45a) dan (3-45b) maka
(3-47a,b) •
Dengan membandingkan hasil kali LEflA dan LAd8, kita dapat segera menentukan
segmen mana yang mengalami tegangan lebih besar.
Sudut rotasi. Sudut rotasi C/Jc di penampang C sama dengan sudut puntir
segmen batang manapun karena kedua segmen berotasi dengan sudut yang sama
di penampang C. Dengan demikian, kita memperoleh
TALA T8L8 T0LAL8
C/Jc == -- + -- == -
-
---"-
-"-
-
"-
-
-
GipA GlpB G(L8/pA + LA/p8 )
(3-48) ..
Di dalam kasus khusus batang prismatis (IpA == IpB == JP), sudut rotasi di penampang
di mana beban diterapkan adalah
,. == T
aLALB
'I'C
GLIp
(3-49)
Contoh ini menggambarkan bukan hanya analisis batang statis tak tentu
melainkan juga penentuan tegangan dan sudut rotasi. Perhatikan juga bahwa hasil
yang diperoleh dalam contoh ini berlaku untuk batang yang mempunyai segmen
solid atau tabung.
ENERGI REGANGAN PADA KONDISI TORSI DAN GESER
MURNI
Pacta saat beban bekerja pacta suatu struktur, kerja ctilakukan oleh beban
ctan energi regangan timbul cti ctalam struktur, sebagaimana telah ctibahas
secara rinci dalam Subbab 2.7 untuk batang yang mengalami beban aksial.
Di ctalam pembahasan berikut ini kita akan menggunakan konsep ctasar
yang sama ctalam menentukan energi regangan suatu batang yang
mengalami torsi.
Gambar 3-34 Batang prismatis
yang mengalami torsi mumi
Torsi A
Gambar 3-35 Diagram torsi­
rotasi untukbatang yang mengalami
torsi mumi (bahan elastis linier)
Mekanika Bahan 201
Tinjaulah batang prismatis AB yang mengalami torsi mumi akibat
aksi torsi T (Gambar 3-34). Pada saat beban diterapkan secara statis,
batang tersebut terpuntirdanujung bebas berotasi dengan sudut e. Sekarang
asumsikan bahwa bahan batang adalah elastis linier dan mengikuti hukum
Hooke. Selanjutnya, hubungan antara torsi yang bekerja dan sudut puntir
juga linier, seperti terlihat pada diagram torsi-rotasi dalam Gambar 3-35
dan sebagaimana ditunjukkan dalam rumus 1/J = TUGI
P
. Kerja W yang
dilakukan oleh torsi pada saat berotasi dengan sudut 1/J adalah sama dengan
luas di bawah kurva torsi-rotasi. Selain itu, dari prinsip konservasi energi
kita ketahui bahwa energi regangan batang sama dengan kerja yang
dilakukan oleh beban, asalkan tidak ada energi yang masuk atau hilang
dalam bentuk panas. Dengan dernikian, kita dapatkan persamaan berikut
untuk energi regangan U pada batang:
(3-50)
Persamaan ini analog dengan persamaan U = W = P/512 untuk batang yang
mengalami beban aksial (lihat Persamaan 2-29).
Dengan menggunakan persamaan 1/J = TUGJ
P kita dapat menyatakan energi
regangan dalam bentuk:
(3-51a,b)
Rumus pertama dinyatakan dalam beban dan rumus kedua dinyatakan
dalam sudut puntir. Sekali lagi, perhatikan adanya analogi dengan
persamaan untuk batang yang mengalami beban aksial (lihat Persamaan
2-31a dan b).
Satuan SI untuk kerja dan energi adalahjoule (J), yang sama dengan
satu newton meter (1 J = 1 N.m). Satuan dasar USCS untuk ini adalah
foot-pound (ft-lb), tetapi satuan lain, seperti inch-pound (in-lb) dan inch­
kip (in-k), umum juga digunakan.
• Torsi Tak Seragam
Jika sebuah batang mengalami torsi tak seragam (diuraikan dalam Subbab
3.4), kita membutuhkan rumus tambahan untuk energi regangan. Dalam
kasus tersebut di manabatang terdiri atas segmen-segmen prismatis dengan
torsi konstan di setiap segmen (lihat Gambar 3-14a da1am Subbab 3.4),
kita dapat menentukan energi regangan di setiap segmen dan menjumlah­
kannya untuk mendapatkan energi regangan batang:
n
U =
Lp; (3-52)
i=l
di mana U; adalah energi regangan segmen i dan n adalah banyaknya
segmen. Sebagai contoh, jika kita gunakan Persamaan (3-51a) untuk men­
dapatkan masing-masing energi regangan, makapersamaan di atas menjadi
U =
i T/L;
i=l 2G;lp;
(3-53)
202 Bab 3 Torsi
di mana T; adalah torsi internal di segmen i dan L;, G;, dan Ip; adalah
besaran torsional segmen tersebut.
Jika penampang batang atau torsi internal bervariasi di sepanjang
sumbunya, sebagaimana digambarkan dalam Gambar 3-15 dan 3-16 dalam
Subbab 3.4, kita dapat memperoleh energi regangan total dengan mula­
mula menentukan energi regangan suatu elemen dam selanjutnya meng­
integrasikannya di sepanjang sumbunya. Untuk elemen yang panjangnya
dx, energi regangannya adalah (lihat Persamaan 3-5 1a):
dU =
[T(x)]2dx
2G/P(x)
di mana T(x) adalah torsi internal yang bekerja pada elemen dan fix)
adalah momen inersia polar penampang elemen tersebut. Dengan demikian,
total energi regangan batang adalah
U =
fL[T(x)]2 dx
Jo 2GIP(x)
(3-54)
Sekali lagi, kemiripan rumus untuk energi regangan pada kondisi torsi
dan beban aksial terlihat jelas (bandingkan Persamaan 3-53 dan 3-54
dengan Persamaan 2-34 dan 2-35 pada Subbab 2.7).
Penggunaan persamaan di atas untuk torsi tak seragam digambarkan
dalam contoh berikut ini. Di dalam Contoh 3-10 energi regangan didapatkan
untuk batang yang mengalami torsi murni dengan segmen-segmen
prismatis, dan di dalam Contoh 3-1 1 dan 3-12 energi regangan diperoleh
untuk batang dengan torsi yang bervariasi dan dimensi penampang yang
bervariasi pula. Selain itu, Contoh 3-12 menunjukkan bagaimana, pada
kondisi yang sangat terbatas, sudut puntir suatu batang dapat ditentukan
dari energi regangan. (Untuk pembahasan yang lebih rinci mengenai metode
ini, termasuk pembatasannya, lihat "'Peralihan Yang Disebabkan Oleh Satu
Beban" dalam Subbab 2.7.)
Dalam mengevaluasi energi regangan kita harus ingat bahwa persama­
an yang diturunkan dalam subbab ini hanya berlaku untuk batang-batang
dari bahan elastis linier dengan sudut puntir kecil. Juga, kita harus ingat hal
penting yang disebutkan dalam Subbab 2.7, yaitu energi regangan suatu
strukturyang memikul lebih dari satu beban tidak dapat diperoleh dengan
menjumlahkan energi regangan yang diperoleh untuk beban individual
yang beker
ja secara terpisah. Hal ini ditunjukkan dalam Contoh 3-10.
• Rapat Energi Regangan dalam Kondisi Geser Murni
Karena elemen individual dari suatu batang mengalami tegangan pada
kondisi geser murni, maka rumus untuk energi regangan yang berkaitan
dengan tegangan geser perlu diketahui. Kita mulai analisisnya dengan
meninjau elemen kecil bahan yang mengalami tegangan geser r di muka
samping (Gambar 3-36a). Supaya mudah, kita akan mengasumsikan bahwa
muka depan elemen adalah bujursangkar, dengan setiap sisi mempunyai
panjang h. Meskipun gambar tersebut hanya menunjukkan gambar dua
dimensi dari elemen, kita ketahui bahwa elemen tersebut sebenamya adalah
tiga dimensi dengan ketebalan t tegak lurus bidang gambar. Akibat aksi
tegangan geser, elemen akan terdistorsi sedemikian rupa sehingga muka
depan menjadi jajaran genjang, seperti terlihat dalam Gambar 3-36b.
Perubahan sudut di setiap pojok elemen adalah regangan geser y.
Gambar 3-36 Elemen dalam
kondisi geser murni
Mekanika Bahan 203
Gaya geser V yang bekerja di muka samping elemen (Gambar 3-36c)
diperoleh dengan mengalikan tegangan dengan luas ht di mana tegangan
tersebut bekerja:
V = rh t (a)
Gaya-gaya ini menimbulkan kerja pada saat elemen berubah bentuk dari
bentuk semula (Gambar 3-36a) ke bentuk terdistorsi (Gambar 3-36b).
Untuk menghitung kerja ini kita harus menentukanjarak relatifyang dilalui
gaya geser. Hal ini dapat dengan mudah dicari jika elemen dalam Gambar
3-36c diputar sebagai benda tegar sampai dua mukanya menjadi horizon­
tal, seperti terlihat dalam Gambar 3-36d. Selama rotasi benda tegar, kerja
neto yang dilakukan oleh gaya V adalah nol karena gaya-gaya tersebut
adalah sepasang, sama besar, dan berlawanan arah sehingga membentuk
kopel.
r
l
(a) (b)
(b)
Seperti terlihat dalam Gambar 3-36d, muka atas dari elemen beralih
secara horizontal dengan jarak o (relatif terhadap muka bawah) pada saat
gaya geser meningkat secara gradual dari nol sampai harga akhir V.
Peralihan o sama dengan hasil kali regangan geser y (yang merupakan
sudut kecil) dan dimensi vertikal elemen:
(b)
Jika kita asumsikan bahwa bahan adalah elastis linier dan mengikuti hukum
Hooke, maka kerja yang dilakukan oleh gaya V sama dengan V&'l, yang
juga merupakan energi regangan yang disimpan di dalam elemen:
u = w =
vo
2
(c)
Perhatikan bahwa gaya-gaya yang bekerja pada muka samping elemen
(Gambar 3-36d) tidak bergerak di sepanjang garis kerjanya sehingga gaya­
gaya tersebut tidak melakukan kerja. Dengan memasukkan Persamaan (a)
dan (b) ke dalam Persamaan (c), maka kita dapatkan total energi regangan
elemen:
204 Bab 3 Tarsi
(a)
(b)
(c)
Gambar 3-37 Contoh 3-10
Karena volume elemen adalah h
2
t, maka rapat energi regangan u (yaitu
energi regangan per volume satuan) adalah
u =
ry
2
(d)
Akhimya, kita masukkan hukum Hooke pada kondisi geser (r = Gy) dan
kita dapatkan persamaan berikut untuk rapat energi regangan pada kondisi
geser murni:
(3-55a,b)
Kedua persamaan ini mempunyai bentuk yang sama dengan persamaan
untuk kondisi tegangan uniaksial (Persamaan 2-38a dan b dalam Subbab
2.7).
Satuan SI untuk rapat energi regangan adalah joule per meter kubik
(J/m3), dan satuan uses adalah pound-inci/in3 (atau satuan lain yang
serupa). Karena satuan ini sama dengan satuan untuk tegangan, maka kita
dapat pula menyatakan rapat energi regangan dalam pascal (Pa) atau psi.
Dalam Subbab 3.10 kita akan menggunakan persamaan untuk rapat
energi regangan yang dinyatakan dalam tegangan geser (Persamaan 3-
55a) untuk menentukan sudut puntir pada tabung berdinding tipis yang
mempunyai bentuk penampang sembarang.
• Contoh 3-10
Sebuah batang lingkaran solid AB yang panjangnya Ldijepit pada satu ujung dan
bebas pada ujung lainnya (Gambar 3-37). Tiga kondisi pembebanan akan ditinjau.
(a) torsi T" yang bekerja pada ujung bebas, (b) torsi Tb yang bekerja di titik tengah
batang. dan (c) torsi Ta dan Th yang bekerja secara simultan. Untuk setiap kasus
pembebanan, dapatkanlah rumus untuk energi regangan yang disimpan di batang.
Kemudian hitunglah energi regangan untuk data sebagai berikut: T = 1 00 N.m,
Th = 1 50 N.m, L= 1 ,6 m, G = 80 GPa, dan /" = 79,52 x 1 03 mm
"4.
Solusi
(a) Tarsi Ta yang beker
ja di ujung bebas (Gambar 3-37a). Pada kasus ini
energi regangan diperoleh secara 1angsung dari Persamaan (3-51 a):
(e) •
(b) Tarsi Tb yang beker
ja di titik tengah (Gambar 3-37b). Apabila torsi bekcrja
di titik tengah, kita terapkan Persamaan (3-5 1 a) di segmen AC dari batang tersebut:
(f) •
(c) Tarsi Ta dan Tb beker
ja secara simultan (Gambar 3-37c). Pada saat
kedua beban bekerja pada batang, maka torsi di segmen CB adalah Ta dan torsi
di segmen AC adalah Ta + Tb. Jadi energi regangannya (dari Persamaan 3-53)
adalah
Gambar 3-38 Contoh 3- 1 1
Mekanika Bahan 205
(g) ..
Perbandingan Persamaan (e), (f), dan (g) menunjukkan bahwa energi regangan
yang dihasilkan oleh kedua beban yang bekerja secara simultan tidak sama dengan
jumlah energi regangan yang dihasilkan oleh beban yang bekerja secara terpisah.
Sebagaimana disebutkan dalam Subbab 2.�. penyebabnya adalah karena energi
regangan adalah fungsi kuadratik dari beban. bukan fungsi linier.
(d) Hasil numeris. Dengan memasukkan data yang diberikan dalam Persamaan
(e), kita peroleh
T2L ( 1 00 N·m)2 1 1 .6 m 1
U = _
a - = = 1,26 J
a
2GJP 2(80 GPa)(79,52 X 10' mm" I
..
Ingat bahwa satu joule sama dengan satu ne·ton meter 1 I J = I N.m.)
Dengan melakukan ha! yang sama untuk Per;camaan ' f1 dan (g). kita dapatkan
uh = 2,83 1
Uc = I ,26 J + 1 ,89 I + 2.83 I = 5.98 J
..
..
Perhatikan bahwa suku tcngah, yang meliputi ha,il kali kedua beban. mempunyai
kontribusi penting terhadap energi regangan dan tidak dapat diabaikan.
• Contoh 3-1 1
Sebuah batang prismatis AB yang dijepit pada satu ujung dan bebas di ujung
lainnya dibebani oleh torsi yang terdistribusi dengan intensitas t konstan per satuan
panjang di scpanjang sumbu batang (Gambar 3-38). (a) Turunkan rumus untuk
cnergi regangan batang. (b) Hitunglah energi regangan batang berlubang yang
digunakan untuk mengebor tanah jika datanya adalah sebagai berikut: t = 480 !b­
in/in, L = 1 2 ft, G = 1 1,5 x 1 06 psi, dan JP = 1 7, 1 8 in4.
Solusi
(a) Energi regangan batang. Langkah pertama dalam solusi adalah
menentukan torsi internal T(x)yang bekerja pada jarak xdari ujung bebas batang
(Gambar 3-38). Torsi ini sama dengan torsi total yang bekerja pada segmen batang
dari x= 0 sampai x = x;jadi,
T(x) = tx (h)
Dengan memasukkan persamaan ini ke dalam Persamaan (3-54), kita dapatkan
U = fL[T(x)fdx = _
1_f�tx)zdx = t2
L3
0 2GJP 2GIP 0 6GJP
(3-56) ..
yang memberikan energi rcgangan yang disimpan dalam batang.
(b) Hasil numeris. Untuk menghitung energi regangan batang, kita masukkan
data yang ada ke dalam Persamaan (3-56):
U -
-
t2
L
3
_
-
(480 lb-in./in.)2(144 in.)3
---'-
-
-
----,
,--
-'----'�
-
--'-;-
=
580 in.-lb •
6GJP 6(1 1,5 X 1 06 psi)(l7,18 in.4 )
Contoh ini menggambarkan penggunaan integrasi untuk menghitung energi
regangan suatu batang yang mengalami beban terdistribusi.
206 Bab 3 Tarsi
Gambar 3·39 Contoh 3-12.
' Batang yang meruncing yang meng­
alami torsi
• Contoh 3.12
Sebuah batang AB yang meruncing dengan penampang lingkaran solid mempunyai
tumpuan di satu ujung dan dibebani torsi T di ujung lainnya (Gambar 3-39).
Diameter batang bervariasi secara linier dari dA di ujung kiri sampai d8 di ujung
kanan. Tentukan sudut rotasi 1/JA di ujung A dari batang dengan menyamakan
energi regangan dengan kerja yang dilakukan oleh beban.
Solusi
Dari prinsip konservasi energi kita ketahui bahwa kerja yang dilakukan oleh
torsi sama dengan energi regangan batang; jadi, W = U. Kerja dihitung dengan
menggunakan persamaan
(i)
dan energi regangan U dihitung dengan Persamaan (3-54).
Untuk menggunakan Persamaan (3-54) kita membutuhkan rumus torsi T(x)
dan momen inersia polar fix). Torsi adalah konstan di sepanjang sumbu batang
dan sama dengan beban T, dan momen inersia polar adalah
IP(x) = �[d(x)t
di mana d(x) adalah diameter batang pada jarak x dari ujung A. Dari geometri
pada gambar, kita lihat bahwa
(j)
sehingga
(k)
Sekarang kita dapat memasukkannya ke dalam Persamaan (3-54), sebagai berikut:
Integral di dalam rumus ini dapat diintegrasi dengan menggunakan tabel integrasi
di dalam Lampiran C. Namun, kita telah mengevaluasi integral ini dalam Contoh
3-5 Subbab 3.4 (lihat Persamaan g pada contoh tersebut) dan telah mendapatkan
bahwa
fL dx L ( 1 1
J
Jo (dA
+ d8 �dA
X
r =
3(dB - dA ) d� - d�
Dengan demikian, energi regangan batang yang meruncing adalah
(3-57)
Dengan menyamakan energi regangan ini dengan kerja yang dilakukan oleh torsi
(Persamaan i) serta menghitung 1/JA, maka kita dapatkan
32T2L ( 1 1 )
1/JA =
31CG(d8 - dA)l d� - d�
(3-58) •
Persamaan ini, yang sama dengan Persamaan (3-26) dalam Contoh 3-5 Subbab
3.4 memberikan sudut rotasi di ujung A dari batang yang meruncing.
Mekanika Bahan 207
Perhatikan bahwa metode yang digunakan dalam contoh ini untuk mencari
sudut rotasi hanya cocok apabila batang mengalami beban tunggal, dan hanya jika
sudut yang yang dicari adalah yang berkaitan dengan beban tersebut. Bilamana
tidak, kita hams mencari peralihan sudut dengan menggunakan metode biasa yang
diuraikan dalam Subbab 3.3, 3.4, dan 3.8.
3·1 0
I TABUNG BERDINDING TIPIS
Teori torsi yang diuraikan dalam subbab sebelum ini berlaku pada batang
solid dan berlubang dengan penampang lingkaran. Bentuk lingkaran adalah
bentuk yang efisien untuk menahan torsi sehingga paling banyak digunakan,
khususnya pada mesin-mesin. Sekalipun demikian. pada struktur ringan,
seperti pesawat udara dan pesawat ruang angkasa. tabung berdinding tipis
dengan penampang nonlingkaran sering dibutuhkan untuk menahan torsi.
Dalam subbab ini, kita akan menganalisis elemen struktural seperti ini.
Untuk mendapatkan rumus yang berlaku untuk berbagai bentuk,
tinjaulah tabung berdinding tipis dengan bentuk penampang sembarang
(Gambar 3-40a). Tabung ini berbentuk silindris-artinya semua penampang
adalah identik dan sumbu longitudinalnya adalah garis lurus. Tebal t dari
dinding tidak harus konstan, tetapi dapat bervariasi di sekeliling penampang.
Namun, tebal tersebut harus kecil dibandingkan dengan lebar total tabung.
Tabung ini mengalami torsi mumi akibat torsi T yang bekerja di ujung­
ujungnya.
• Tegangan Geser
Gambar 3-40 Tabung berdinding
tipis dengan penampang sembarang
Tegangan geser r yang bekerja pada penampang tabung digambarkan
dalam Gambar 3-40b, yang menunjukkan suatu elemen dari tabung yang
dipotong di antara dua penampang yang mempunyai jarak dx satu sama
lain. Tegangan-tegangan bekerja sejajar dengan tepi penampang dan
y
(a)
1-dx--1
(b) (c) (d)
208 8ab 3 Torsi
Gambar 3-41 Penampang tabung
berdinding tipis
"mengalir" di sekeliling penampang. Juga, intensitas tegangan bervariasi
sedemikian sedikitnya dalam arah tebal tabung (karena tabung tersebut
diasumsikan tipis) sehingga kita dapat mengasumsikan rkonstan di dalam
arah tersebut. Namun, jika tebal t tidak konstan, maka intensitas tegangan
akan bervariasi apabila kita mengelilingi penampang, dan bagaimana cara
variasinya harus ditentukan dari keseimbangan.
Untuk menentukan besar tegangan geser, kita akan meninjau elemen
persegi panjang abed dengan mengambil dua potongan longitudinal ab
dan ed (Gambar 3-40a dan b). Elemen ini diisolasi sebagai benda bebas
dalam Gambar 3-40c. Pada muka penampang be bekerja tegangan geser
r seperti terlihat dalam Gambar 3-40b. Kita asumsikan bahwa tegangan
ini bervariasi intensitasnya apabila kita bergerak di sepanjang penampang
dari b ke e; dengan demikian, tegangan geser di b diberi notasi rh dan
yang di e diberi notasi re. Seperti kita ketahui dari keseimbangan, tegangan
geser identik bekerja dalam arah yang berlawanan pada muka penampang
yang berlawanan ad, dan tegangan geser yang besarnya sama juga bekerja
di muka longitudinal ab dan ed. Jadi, tegangan geser konstan yang bekelja
pada muka ab dan ed masing-masing sama dengan rb dan re.
Tegangan yang bekerja di muka longitudinal ab dan ed menimbulkan
gaya Fb dan Fe (Gambar 3-40d). Gaya-gaya ini diperoleh dengan mengali­
kan tegangan dengan luas di mana tegangan tersebut bekerja:
Fb = rbtbdx Fe = rctcdx
di mana tb dan tc masing-masing adalah tebal tabung di titik b dan e (lihat
Gambar 3-40d). Selain itu, gaya F1 dihasilkan oleh tegangan yang bekerja
di muka be dan ad. Dari keseimbangan elemen dalam arah longitudinal
(arah x), kita lihat bahwa Fb = Fe, atau
rbtb = rete
Karena lokasi potongan longitudinal ab dan ed dipilih sembarang, maka
dari persamaan di atas terlihat bahwa hasil kali tegangan geser 't dan tebal
tabung t akan sama di setiap titik pacta penampang. Hasil kali ini dikenal
dengan aliran geser dan diberi notasi huruff.
(3-59)
Hubungan ini menunjukkan bahwa tegangan geser terbesar terjadi di mana
tebal tabung adalah yang terkecil, begitu pula sebaliknya. Di daerah di
mana tebalnya konstan, tegangan geser juga konstan.
Langkah selanjutnya dalam analisis adalah menghubungkan aliran
geser f (dan juga tegangan geser r) dengan torsi T yang bekerja pacta
tabung. Untuk itu, tinjaulah penampang tabung, seperti terlihat dalam
Gambar 3-41. Garis median (disebutjuga garispusat) dari dinding tabung
ditunjukkan dengan garis putus di dalam gambar. Kita tinjau elemen luas
yang panjangnya ds (diukur di sepanjang garis median) dan tebal t. Jarak
s yang mendefinisikan lokasi elemen diukur di sepanjang garis median
dari titik referensi yang dipilih sembarang.
Gaya geser total yang bekerja pada elemen yang luasnya f ds, dan
momen akibat gaya ini terhadap titik sembarang 0 di dalam tabung, adalah
dT = rf ds
di mana r adalah jarak tegak lurus dari titik 0 ke garis kerja gaya f ds.
(Perhatikan bahwa garis kelja gaya f ds adalah tangen terhadap garis
Gambar 3-42 Tabung lingkaran
berdinding tipis
Gambar 3-43 Tabung persegi
panjang berdinding tipis
Mekanika Bahan 209
median penampang di elemen ds.) Torsi total T yang dihasilkan oleh
tegangan geser diperoleh dengan mengintegrasikan di sepanjang garis
median penampang:
rL�
T = f
J/ ds (a)
di mana Lm menunjukkan panjang garis median. Integral dalam Persamaan
(a) mungkin sulit dipecahkan dengan cara-cara formal matematika, tetapi
untungnya mudah dipecahkan dengan menggunakan interpretasi geometri
sederhana. Besaran rds menunjukkan dua kali luas segitiga yang digelapkan
dalam Gambar 3-41. (Perhatikan bahwa segitiga tersebut mempunyai
panjang dasar ds dan tinggi yang sama dengan r.) Dengan demikian,
integral tersebut menunjukkan dua kali luas An, yang dibatasi oleh garis
median penampang:
rLm
Jo
r ds = 2Am (b)
Dari Persamaan (a) kita ketahui T = 2fAm sehingga aliran geser adalah
T
f =
2Am
(3-60)
Sekarang kita dapat mengeliminasi aliran geserfantara Persamaan (3-59)
dan (3-60) dan mendapatkan rumus torsi untuk tabung berdinding tipis:
(3-61)
Karena r dan Am adalah besaran penampang, maka tegangan geser r dapat
dihitung dari Persamaan (3-61) untuk sembarang tabung berdinding tipis
yang mengalami torsi T yang diketahui. (lngat: Luas Am adalah luas yang
dibatasi oleh garis median, bukan luas penampang tabung.)
Untuk menggambarkan penggunaan rumus torsi, tinjaulah tabung
lingkaran berdinding tipis (Gambar 3-42) yang tebalnya t dan jari-jarinya
r ke garis median. Luas yang dibatasi oleh garis median adalah
Am = n? (3-62)
sehingga tegangan geser (konstan di sekeliling penampang) adalah
r = �
2nr"t
(3-63)
Rumus ini cocok dengan tegangan yang diperoleh dari rumus torsi standar
(Persamaan 3-1 1) apabila rumus standar diterapkan pada tabung lingkaran
dengan dinding tipis dengan menggunakan rumus pendekatan JP "" 2n?t
(Persamaan 3-1 8).
Sebagai ilustrasi kedua, tinjaulah tabung persegi panjang berdinding
tipis (Gambar 3-43) yang mempunyai tebal t1 di samping dan t2 di atas
dan bawah. Juga, tinggi dan lebar (yang diukur ke garis median dari
penampang) masing-masing adalah h dan b. Luas di dalam garis median
adalah
(3-64)
sehingga tegangan geser di sisi vertikal dan horizontal masing-masing
adalah
r
210 Bab 3 Torsi
T
rhoris =
2t bh
2
(3-65a,b)
Jika t2 lebih besar daripada t1, maka tegangan geser maksimum akan
terjadi di sisi vertikal penampang.
• Energi Regangan dan Konstanta Torsi
Energi regangan tabung berdinding tipis dapat ditentukan dengan mula­
mula mencari energi regangan suatu elemen dan selanjutnya mengintegrasi­
kan di seluruh volume batang. Tinjaulah elemen tabung yang mempunyai
luas t ds pada penampang (lihat elemen dalam Gambar 3-41) dan panjang
dx (lihat elemen dalam Gambar 3-40). Volume elemen seperti ini, yang
bentuknya sama dengan elemen abed dalam Gambar 3-40a, adalah t ds
dx. Karena elemen tabung berada dalam keadaan geser mumi, maka rapat
energi regangan pada elemen tersebut adalah r/2G, seperti dinyatakan
dengan Persamaan (3-55a). Energi regangan total pada elemen sama dengan
rapat energi regangan dikalikan dengan volume:
2 2 2
!
2
dU = � t ds dx = :I.._!_ ds
dx = -- ds
dx
2G 2G t 2G t
di mana kita telah menggantikan rt dengan aliran geserf(suatu konstanta).
Energi regangan total pada tabung diperoleh dengan mengintegrasikan dV
di seluruh volume tabung. Jadi, ds diintegrasi dari 0 sampai Lm di sekeliling
garis median dan dx diintegrasi di sepanjang sumbu tabung dari 0 sampai
L, di mana L adalah panjang tabung. Dengan demikian,
V = fdv = t- fL"' ds rL
dx
lG Jo t Jo
Perhatikan bahwa tebal t dapat bervariasi di sekeliling garis median dan
harus tetap bersama ds di dalam tanda integral. Karena integral terakhir
sama dengan panjang Ldari tabung, maka persamaan untuk energi regangan
menjadi
V =
f2L fLm ds
2G Jo t
Dengan memasukkan aliran geser dari Persamaan (3-60), kita dapatkan
/"., T2L fLm ds
lV � --
-
--,... 8GA,;. o t
(3-66)
sebagai persamaan untuk energi regangan pada tabung yang dinyatakan
dalam torsi T.
Rumus di atas untuk energi regangan dapat ditulis dalam bentuk
yang lebih sederhana dengan menggunakan besaran baru penampang yang
disebut konstanta torsi. Untuk tabung berdinding tipis, konstanta torsi
tyang diberi notasi huruf f) didefinisikan sebagai berikut:
(3-67)
Mekanika Bahan 21 1
Dengan menggunakan notasi ini. persamaan untuk energi regangan
(Persamaan 3-66) menjadi
(3-68)
yang mempunyai bentuk sama dengan persamaan untuk energi regangan
pada batang lingkaran (lihat Persamaan 3-5 1 a). Satu-satunya perbedaan
adalah bahwa konstanta torsi 1 telah menggantikan momen inersia polar
J
P
. Perhatikan bahwa konstanta torsi mempunyai satuan panjang pangkat
empat.
Dalam kasus khusus penampang yang mempunyai tebal konstan t,
rumus untuk 1 (Persamaan 3-67) menjadi
:,
.
:
.
.
.
'"!:
·.•J••.:_·····
4t
A;
.··.·· .
• ,... Lm. (3-69)
Untuk setiap bentuk penampang, kita dapat menghitung 1 dari Persamaan
(3-67) atau dari Persamaan (3-69).
Sebagai ilustrasi, tinjau lagi tabung lingkaran berdinding tipis dalam
Gambar 3-42. Karena tebalnya konstan, maka kita gunakan Persamaan (3-
69) dan memasukkan Lm = 2nr dan A, = n?: hasilnya adalah
1 = 2 n?t (3-70)
yang merupakan rumus pendekatan untuk momen inersia polar (Persamaan
3- 18). Jadi dalam ha! tabung lingkaran berdinding tipis, momen inersia
polar sama dengan konstanta torsi.
Sebagai ilustrasi kedua, kita akan menggunakan tabung persegi
panjang dalam Gambar 3-43. Untuk penampang ini kita ketahui Am = bh
sehingga integral Persamaan (3-67) adalah
Jadi, konstanta torsi adalah
btl + ht2
(3-7 1 )
Konstanta torsi untuk penampang lain dapat diperoleh dengan cara sama.
• Sudut Puntir
Sudut puntir f/> untuk tabung berdinding tipis dengan bentuk penampang
sembarang (Gambar 3-44) dapat ditentukan dengan menyamakan kerja W
yang dilakukan oleh beban torsi T dan energi regangan V dalam tabung.
Jadi, -
·  "
W = V atau
Tf/J T
2L
2 2G1
yang menghasilkan persamaan untuk sudut puntir:
Gambar 3-44 Sudut puntir rp
untuk tabung berdinding tipis
(3-72)
Sekali lagi. kita amati bahwa persamaan mempunyai bentuk sama dengan
persamaan pada batang lingkaran (lihat Persamaan 3- 1 5) tetapi dengan
momen inersia polar diganti dengan konstanta tarsi. Besaran GJ disebut
rigiditas torsional tabung.
• Pembatasan
Rumus-rumus yang diturunkan dalam subbab ini berlaku untuk elemen
prismatis yang mempunyai bentuk tabung tertutup dengan dinding tipis.
Jika penampang tersebut berdinding tipis tetapi terbuka, sepcrti bentuk I
dan C, maka teori yang dikembangkan di sini tidak berlaku. Untuk
menekankan ha! ini, bayangkan bahwa kita mengambil tabung berdinding
tipis dan membelahnya dalam aruh memanjang sehingga penampang
tersebut menjadi penampang terbuka. maka tegangan geser dan sudut puntir
akan meningkat, tahanan torsional berkurang. dan rumus yang diturunkan
dalam subbab ini tidak dapat digunakan.
Beberapa rumus yang diberikan dalam subbab ini terbatas pada bahan
elastis linier-sebagai contoh. setiap per�amaan yang mengandung modu­
lus geser elastisitas G ada dalam kategori ini. Namun, persamaan untuk
aliran geser dan tegangan geser (Persamaan 3-60 dan 3-6 1 ) didasarkan
atas keseimbangan dan tetap berlaku. tidak peduli bagaimanapun sifat
bahannya. Seluruh teori merupakan penclekatan dan rnenjadi kurang akurat
apabila tebal dincling t bertambah.
*
Tinjauan penting dalarn desain elemen �truktur berdinding tipis aclalah
kemungkinan dincling tersebut menekuk. Sernakin tipis suatu clinding clan
semakin panjang tabungnya, akan semakin besar kemungkinan terjadinya
tekuk. Dalam ha! tabung nonlingkaran, pengkaku dan diafragma sering
cligunakan untuk mempertahankan bentuk tabung clan mencegah terjaclinya
tekuk lokal. Dalam semua pembahasan dan soal-soal, kita asumsikan bahwa
tekuk telah dicegah.
,-----�-- --- -----
---- ----· ----
-------------------- - · - ------- --- ------- --- - -------- - -
--- - --
-----
• Contoh 3-1 3
Bandingkanlah tegangan geser maksimum pada tabung lingkaran (Garnbar 3-45)
yang dihitung dengan teori pendekatan untuk tabung berdinding tipis dengan
tegangan yang dihitung dengan teori torsi eksak. (Anggap hahwa tahung mempunyai
tehal konstan t clan radius r ke garis median penampang.)
"Tcori torsi untuk tabung berdinding tipis yang diuraikan dalam subbab mi dikcmbangkan oleh
R. Bredt. seorang insinyur Jerman yang menyajikannya pada tahun l g96 !Ref. 3-4).
Gambar 3-45 Contoh 3- 1 3
Gambar 3-46 Contoh 3- 1 4
Mekanika Bahan 21 3
Solusi
Tegangan geser yang diperoleh dari tc:ori pendekatan untuk tabung herdinding
tipis 1 Persamaan 3-63) adalah
di mana hubungan
telah digunakan.
T T
r1 = '2itr:..r 2:rr�f32
.
f3
(c)
(d)
Tegangan maksimum yang diperokh dar: rumus torsi yang lcbih akurat
(Persamaan 3- 1 1 ) adalah
di mana
T(r + t/2 1
JP
Sesudah membuka tanda kurung, rumus di atas akan menjadi
1
=
nrt
(4r
2 + ,.
2
)
p
2
dan rumus untuk tegangan geser (Persamaan e) menjadi
_ T(2r + 1)
TJ - 7 �
- nrt( 4r" + r" )
T(2j3 + l )
nt3j3(4{f + l)
Jadi, rasio T/r2 antara tegangan geser adalah
(e)
(g)
4/32 + I
2/3(2/3 + l )
(3-73) ..
yang hcrgantung hanya pada rasio /3.
Untuk harga f3 sama dengan 5, 1 0. dan 20. kita dapatkan dari Persamaan (3-
73) harga T/r2 masing-masing 0,92; 0,95: dan 0.98. Jadi, kita lihat bahwa rumus
pendckatan untuk tegangan geser rnemberikan basil yang sedikit lehih kccil
dibandingkan dengan yang diperoleh dari rumus cksak. Ketelitian mmus pendekatan
akan mcningkat jika tebal dinding tabung scrnakin tipis. Untuk tebal mcndckati
no!, f3 mendekati tak hingga, yang berarti rasio r/r2 menjadi t .
------··· -----
----------------- ------ ---- ---- ------ ------ ----
• Contoh 3-1 4
Sebuah tabung lingkaran dan tabung hujursangkar (Gamhar 3-46) tcrbuat dari
bahan sama dan mengalami torsi sarna. Kedua tabung mempunyai panjang sama,
teba! dinding sama, dan luas penampang sama. Berapa rasio tegangan geser dan
sudut puntir antara kedua tabung tersehut'l (Abaikan efek konsentrasi tcgangan di
pojok tabung hujursangkar.)
- --�'
l..c -----
- -- h -----�!
214 Bab 3 Tarsi
Solusi
Tabung lingkaran. Untuk tabung lingkaran. luas A,1 yang dibatasi oleh garis
median penampang adalah
A,1 = n?
di mana r adalah radius garis median. Juga, konstanta torsi (Persamaan 3-70) dan
luas penampang adalah
A1 = 2nrt
Tahung hujursangkar. Untuk tabung bujursangkar, luas penampang adalah
A2 = 4bt
di mana b adalah panjang satu sisi, yang diukur di sepanjang garis median. Karena
1uas penampang kedua tabung sama, maka haruslah h = nr/2. Juga, konstanta torsi
(Persamaan 3-7 1 ) dan luas yang dibatasi oleh garis median penampang adalah
A = b
2
= n2rc
m
2 4
Rasio. Rasio r/r2 antara tegangan geser di tabung lingkaran dan di tabung
bujursangkar adalah (lihat Persamaan 3-6 1 )
2.!_ =
Am
2 = n2r2 14
= !!... = 0 785
r2 A,1 nr2 4 '
Rasio sudut puntir (lihat Persamaan 3-72) adalah
J 3 3 "
!h._ = __1_ = n r t/8
= !!.:.._ = 0 6 1 7
</>2 11 2nr3t 1 6 '
(h) ..
(i) ..
Hasil ini menunjukkan bahwa tabung lingkaran tidak hanya mempunyai tegangan
geser yang lebih kecil dibandingkan tabung bujursangkar, tetapi juga memberikan
kekakuan 1ebih besar terhadap rotasi.
*3·11 I KONSENTRASI TEGANGAN DALAM KEADAAN TORSI
Dalam subbab-subbab sebelumnya dalam bab ini, kita telah membahas
tegangan pacta elemen struktur torsional dengan menganggap bahwa
distribusi tegangan bervariasi secara halus dan kontinu. Asumsi ini berlaku
asalkan tidak ada perubahan mendadak pada bentuk batang (tidak ada
lubang, takikan, sudut tajam, dan sebagainya) dan asalkan bahwa daerah
yang ditinjau cukup jauh dari titik pembebanan. Jika kondisi yang
mengganggu itu temyata ada maka tegangan lokal yang besar akan terjadi
pada daerah di sekitar diskontinuitas. Dalam praktek konsentrasi tegangan
ditangani dengan menggunakan faktor konsentrasi tegangan,
sebagaimana diuraikan dalam Subbab 2. 10.
Efek konsentrasi tegangan dikekang pada daerah kecil di sekitar
diskontinuitas, sesuai dengan prinslp Saint-Venant (lihat Subbab 2.10).
Sebagai contoh, tinjaulah batang bertangga yang terdiri atas dua segmen
yang mempunyai diameter berbeda (Gambar 3-47). Segmen yang lebih
besar mempunyai diameter D2 dan segmen yang lebih kecil mempunyai
diameter D1 • Pertemuan antara kedua segmen ini membentuk "tangga"
atau "bahu" berupa fillet dengan radius R. Tanpa adanya fillet, faktor
konsentrasi tegangan teoretis akan menjadi besar tak hingga karena adanya
Gambar 3-47 Batang bertangga
yang mengalami torsi
Mekanika Bahan 21 5
sudut belokan 90° yang sangat mendadak. Tentu saja tegangan yang
besarnya tak hingga tak mungkin terjadi. Bahan di pojok tersebut akan
berdeformasi dan melepaskan sebagian konsentrasi tegangan. Situasi seperti
ini sangat berbahaya pada beban dinamis, sehingga dalam desain yang
baik, suatu fillet selalu dibutuhkan. Semakin besar radius fillet, akan
semakin kecil tegangannya.
Pada jarak dari bahu kira-kira sama dengan diameter D2 (rnisalnya,
pada potonganA-A dalam Gambar 3--+7 a) tegangan geser torsional praktis
tidak dipengaruhi oleh adanya diskontinuitas. Dengan demikian, tegangan
maksimum r2 pada jarak yang cukup jauh di kiri bahu dapat diperoleh
dari rumus torsi dengan menggunakan D2 sebagai diameter (Gambar 3-
47b). Komentar umum yang sama berlaku di potongan C-C, yang jaraknya
D1 (atau lebih besar) dari ujung fillet. karena diameter D1 kurang dari
diameter D2, maka tegangan maksimum r1 di potongan C-C (Gambar 3-
47d) lebih besar daripada tegangan r2.
R = jari-jarijillet
(a)
-
1 [' -
t
tmaks
-
t
'tl
r =0
Dl Dl
l__
!
1_
Potongan A-A Potongan B-B Potongan C-C
(b) (c) (d)
Efek konsentrasi tegangan terbesar ada di potongan B-B yang berada
tepat di ujung fillet. Di potongan ini, tegangan maksimumnya adalah
rmaks = Krnom = K Tr = K(16�)
JP nDl
(3-74)
Dalam persamaan ini, K adalah faktor konsentrasi tegangan dan rnom (sama
dengan r1) adalah tegangan geser nominal, yaitu tegangan geser di bagian
batang yang lebih kecil. Harga faktor K diplot dalam Gambar 3-48 sebagai
fungsi dari rasio R/D1 • Kurva-kurva diplot untuk berbagai harga rasio D/
D1• Perhatikan bahwajika radius fillet R menjadi sangat kecil dan transisi
dari satu diameter ke diameter lainnya mendadak, maka harga K menjadi
cukup besar. Sebaliknya, jika R besar, maka harga K mendekati 1,0 dan
efek konsentrasi tegangan menjadi hilang. Kurva putus-putus dalam
Gambar 3-48 adalah untuk kasus khusus berupafillet seperempat lingkaran
penuh, yang berarti bahwa D2 = D1 + 2R. (Catatan: Soal 3.1 1-1 sampai
3.1 1-5 memberikan latihan mendapatkan harga K dari Persamaan 3-48.)
21 6 Bab 3 Tarsi
Gambar 3-48 Faktor konsentrasi
tegangan K untuk batang bertangga
yang mengalami torsi. (Garis putus
adalah untuk fillet berupa
seperempat lingkaran penuh.)
2,00
K
J_ I___
0 0,10
_j
0,20
Ada banyak kasus lain tentang konsentrasi tegangan pada batang
lingkaran seperti batang dengan keyway dan batang dengan lubang, yang
dapat dipelajari pada berbagai literatur teknik (lihat, misalnya, Ref. 2-10
dan 2- 1 1).
Sebagaimana yang telah diterangkan dalam Subbab 2. 10, konsentrasi
tegangan adalah penting untuk bahan getas yang mengalami beban statis
dan untuk sebagian besar bahan yang mengalami beban dinamis. Kegagalan
fatik merupakan ha! utama dalam de5ain batang dan sumbu yang berputar
(lihat Subbab 2.9 untuk pembahasan singkat tentang fatik). Faktor
konsentrasi tegangan K yang diberikan dalam subbab ini didasarkan atas
perilaku elastis linier bahan. Uji fatik telah menunjukkan bahwa faktor ini
konservatif, dan kegagalan pada bahan daktil biasanya terjadi pada kondisi
beban yang lebih besar dibandingkan dengan yang diprediksi dengan
menggunakan faktor teoretis.
*3.12 1 TORSI NONLINIER PADA BATANG LINGKARAN
Persamaan-persamaan yang diturunkan pada subbab-subbab sebelum ini
untuk menghitung tegangan geser di batang lingkaran hanya sah jika bahan
mengikuti hukum Hooke. Dalam subbab ini kita akan meninjau perilaku
batang apabila tegangan geser melebihi limit proporsional dan hukum
Hooke tidak berlaku lagi.
Analisisnya didasarkan atas persamaan-persamaan untuk deformasi
batang lingkaran, yaitu persamaan untuk regangan geser ydan laju puntir
() (Persamaan 3-1 sampai 3-5). Semua persamaan ini didasarkan atas
geometri batang yang telah berdeformasi sehingga berlaku untuk sembarang
bahan, apakah mengikuti hukum Hooke atau tidak. Khususnya, regangan
geser pada jarak p dari sumbu batang (lihat Gambar 3-4c) dinyatakan
dengan Persamaan (3-4), yang ditulis ulang di sini:
y = p() (3-75)
Juga, regangan geser maksimum (dari Persamaan 3-3) adalah
Y
maks = r8 (3-76)
di mana r adalah radius batang lingkaran solid atau radius luar tabung
lingkaran.
Gambar 3-49 Torsi nonlinier
pada batang lingkaran: (a) diagram
tegangan-regangan geser, dan (b)
distribusi tegangan geser yang
bekerja pada penampang
Mekanika Bahan 21 7
Sekarang kita asumsikan bahwa diagram tegangan-regangan untuk
bahan diketahui (Gambar 3-49a). Lalu, untuk harga laju puntir 8 yang
diketahui kita dapat mencari tegangan geser r di setiap titik pada batang.
Prosedumya dimulai dengan mencari regangan geser dari Persamaan (3-
75) atau Persamaan (3-76) dan selanjutnya mendapatkan tegangan geser
dari kurva tegangan-regangan. Dengan meninjau harga-harga radius p
kita dapat memperoleh distribusi tegangan geser di seluruh bagian
penampang (Gambar 3-49b). Karena regangan geser bertambah secara
linier terhadap radius p, maka diagram tegangan geser mempunyai bentuk
yang sama dengan diagram tegangan-regangan itu sendiri.
0 Y
maks y
(a) (b)
Torsi T yang berkaitan dengan harga laju puntir e adalah resultan momen
dari tegangan geser yang bekerja di penampang. Untuk mendapatkan torsi
ini, kita tinjau elemen berbentuk cincin pada jarak p dari pusat dan
mempunyai tebal dp (Gambar 3-49b). Torsi elemental dT yang dihasilkan
oleh tegangan geser yang bekerja di elemen yang berbentuk cincin adalah
dT = p1(2np dp) = 2n{ir dp
sehingga torsi total adalah
T = fo2np2r dp (3-77)
Dari Persamaan (3-75) kita peroleh p = y/8 dan dp = dy/8. Dengan
memasukkan kedua hubungan ini ke dalam Persamaan (3-77) dan
mengubah batas atas integrasi menjadi Y
maks yang berkaitan dengan variabel
independen baru y, maka
2;r iy"'"" 2
T =
-
ry dy
e3 o
Persamaan ini menghubungkan torsi T dan laju puntir 8.
(3-78)
Untuk memudahkan penyelesaian Persamaan (3-78), kita lihat bahwa
integral di sisi kanan mempunyai interpretasi geometri sederhana. Ini adalah
momen inersia terhadap sumbu vertikal (yaitu sumbu r) untuk area di
bawah kurva tegangan-regangan (Gambar 3-49a). Area ini terletak di antara
pusat 0 dan regangan geser Y
maks· Jadi, kita dapat menuliskan Persamaan
(3-78) dalam bentuk
T =
2n I
e3 r
(3-79)
di mana I, adalah momen inersia untuk area yang ditetapkan, yang
dievaluasi terhadap sumbu r.
21 8 Bab 3 Tarsi
Gambar 3-50 Hubungan antara
torsi T dan laju puntir ()
Gambar 3-51 Torsi pada batang
lingkaran solid dari bahan elas­
toplastis
Prosedur untuk melakukan perhitungan adalah sebagai berikut.
Diketahui sebuah batang lingkaran solid dengan radius yang diketahui
dan kurva tegangan-regangan yang diketahui. Dari sini, kita asumsikan
harga laju puntir e. Selanjutnya kita menghitung Ymaks dari Persamaan (3-
76) dan menentukan (entah secara analitis ataukah secara numerik) momen
inersia /r dari kurva tegangan-regangan (Gambar 3-49a). Lalu, kita hitung
torsi T dari Persamaan 1 3-79). Dengan mengulangi prosedur ini untuk
berbagai harga e maka kita peroleh suatu kurva yang menunjukkan
hubungan antara T dan e iGambar 3-50). Dengan menggunakan kurva
tersebut, kita dapat memperoleh e untuk suatu harga T yang diketahui.
Lalu, dengan e yang telah diketahui, regangan, tegangan, dan sudut puntir
dapat juga ditentukan untuk suatu harga T yang diketahui.
Banyak variasi dari prosedur umum ini yang dapat dilakukan,
bergantung pada informasi apa yang diketahui dan besaran apayang dicari.
Beberapa kemungkinan digambarkan dalam soal-soal di akhir bab ini.
Meskipun Persamaan 1 3-77), (3-78), dan (3-79) diturunkan untuk
batang lingkaran solid. semuanya dapat diterapkan pada tabung lingkaran
dengan mengubah batas bawah integral dari nol menjadi harga yang benar
untuk tabung yang bersangkutan.
• Bahan Elastoplastis
Jika bahan batang mempunyai tegangan luluh -r
y yang jelas, diagram
tegangan-regangan dapat diidealisasikan seperti terlihat dalam Gambar 3-
5 1 a. Diagram tersebut terdiri atas dua garis lurus, garis pertama
menunjukkan perilaku elastis linier dan garis kedua menunjukkan perilaku
plastis sempuma (dibahas dalam Subbab 2. 1 1 dan 2.12). Perilaku batang
bergantung pada besar regangan geser maksimum di batang. Jika regangan
maksimum kurang dari regangan luluh r, maka bahan mengikuti hukum
Hooke dan rumus-rumus yang diturunkari dalam subbab-subbab terdahulu
dapat digunakan. Jika regangan maksimum lebih besar daripada regangan
luluh, maka sebagian bahan berada dalam keadaan plastis dan analisis
elastoplastis dibutuhkan. Jenis analisis seperti ini diuraikan berikut ini.
Apabila regangan di permukaan luar melebihi regangan luluh, maka
distribusi tegangan di penampang akan terdiri atas dua bagian, seperti
terlihat dalam Gambar 3-51b. Luluh mulai terjadi pada permukaan terluar
dari batang dan bergerak secara progresif ke arah dalam apabila beban
terns meningkat. "Inti" bahan di bagian tengah tetap dalam daerah elastis
linier. Jika regangan menjadi sangat besar, maka daerah luluh akan
mendekati pusat batang dan distribusi tegangan akan mendekati distribusi
seragam seperti terlihat dalam Gambar 3-51c. Torsi T
P
pada saat ini disebut
torsi plastis dan dapat dihitung dari Persamaan (3-77):
0 �
(a) (b) (c)
r II
r I
I
0
Gambar 3-52 Diagram tegangan­
regangan untuk batang pada kondisi
torsi elastoplastis
Gambar 3-53 Hubungan torsi­
rotasi untuk batang lingkaran solid
dari bahan elastoplastis (Persamaan
3-85)
ir , 2nr3T .
T
P
= 2np-r, dp = Y
0 3
Mekanika Bahan 21 9
(3-80)
Apabila harga tarsi ini dicapai. maka puntiran batang lebih lanjut akan
terjadi tanpa adanya peningkatan torsi. Pada akhimya, efek strain har­
dening akan terlihat dan tegangan yang lebih besar dari r, akan timbul.
Torsi luluh T, pada saat luluh mulai terjadi di batang
.
diperoleh dari
rumus tarsi (Persainaan 3-12) dengan menggantikan rmaks dengan r,:
'
T
_ nd· r, _ n r :._
y - ---u;- - �
(3-81)
Dengan membandingkan Persamaan (3-801 dan 1 3-8 1 l, kita lihat bahwa
rasia tarsi plastis terhadap tarsi luluh adalah
4
3
(3-82)
yang menunjukkan bahwa sesudah luluh mulai terjadi di batang, hanya
dengan meningkatkan tarsi sebesar sepertiganya, batang tersebut akan
mencapai kapasitas limit pikul bebannya.
Hubungan antara tarsi yang bekerja T dan laju puntir (} dapat diperoleh
dari Persamaan (3-79) dengan menggunakan diagram tegangan-regangan
geser (Gambar 3-52) dan menentukan mamen inersia area yang digelapkan
terhadap sumbu r. (Perhatikan bahwa regangan Y
maks adalah regangan geser
maksimum di batang, yaitu regangan di permukaan luar.) Hasil penurunan
yang panjang ini, yang diberikan dalam latihan Saal 3.12-6 adalah
nrv
3 '
T =
683 (4Ymaks - Y), ) (Y
maks 2 Yy dan T,. S T S 7�,) (3-83)
Persamaan ini dapat ditulis dalam bentuk yang lebih berguna dengan
menggunakan substitusi sebagai berikut. Pertama, kita substitusikan ry =
2T/nr3 (dari Persamaan 3-81); kedua, kita substitusikan Y
maks = re
(Persamaan 3-76); dan akhimya, kita masukkan r,. = r8Y, di mana (JY
adalah laju puntir pada saat luluh mulai terjadi di batang; jadi
TV
(Jy =
GIp
(3-84)
Dengan tiga substitusi di atas, Persamaan (3-83) menjadi hubungan torsi­
rotasi yang kita cari, yaitu:
0 2 3 4
220 52: 3 Tarsi
: 1 1 1T1JJ,,
0 r
(a)
a �Trr
(b)
(3-85)
Grafik untuk persamaan ini ditunjukkan dalam Gambar 3-53. Perhatikan
bahwa jika e menjadi semakin besar, maka torsi T akan mendekati torsi
plastis T
P
.
• Tegangan Residual
Jika suatu batang dibebani torsi hingga melebihi limit elastisnya. dan
selanjutnya beban dihilangkan, maka tegangan residual akan tertinggal
pada batang tersebut. Untuk menggambarkan hal ini, tinjau batang lingkaran
solid dari bahan elastoplastis yang dihebani oleh torsi plastis TP. Distribusi
tegangan untuk ini terlihat dalam Gambar 3-5 1c. Sekarang misalkan bahwa
torsi dihilangkan. Selama proses penghilangan beban, bahan akan mengikuti
garis lurus pada kurva tegangan-regangan (garis a-a dalam Gambar 3-
5 1a), yang sejajar dengan garis lurus semula yang merepresentasikan hukum
Hooke. Jadi, tegangan yang dihasilkan selama penghilangan beban dapat
diperoleh dari persamaan untuk perilaku elastis linier (Persamaan 3-1 1
sampai 3-13).
Superposisi dari tegangan geser yang dihasilkan selama pembebanan
dan selama penghilangan beban ditunjukkan dalam Gambar 3-54. Tegangan
yang dicapai selama pembebanan ditunjukkan dalam bagian (a) gambar
tersebut, yang sama dengan diagram tegangan dalam Gambar 3-5 1 c. Torsi
yang berkaitan dengan ini adalah T
P
= 2nr'rJ3 (Persamaan 3-80). Torsi
yang sama juga direpresentasikan dengan diagram tegangan pada kondisi
penghilangan beban dalam Gambar 3-54b. kecuali bahwa sekarang torsi
bekerja dalam arah yang berlawanan dan perilakunya adalah elastis linier.
Tegangan maksimumnya adalah rmaks = T
P
r!I
P
yang menjadi rmaks = 4rj3
jika kita substitusikan harga T
P dan J
P
. Tegangan residual di batang, yang
diperoleh dengan menjumlahkan tegangan akibat pembebanan dan akibat
penghilangan beban, terlihat dalam Gambar 3-54c. Di pusat batang,
tegangan residual adalah
Gambar 3-54 Tegangan sisa rl = r2 (3-86)
dalam torsi (bahan elastoplastik) dan di tepi luar penampang tegangan residual adalah
(3-87)
yang berlawanan arah dengan tegangan r1 (Gambar 3-54c). Prosedur yang
sama untuk menentukan tegangan residual dapat digunakan untuk dia­
gram tegangan-regangan dengan bentuk lain.
SOAL-SOAL BAB 3 I
DEFORMASI TORSIONAL
3.2-1 Sebuah tabung lingkaran aluminium yang dibebani
torsi murni akibat T (lihat gambar) mempunyai radius
luar r2 'ama dengan dua kali radiu s dalam r 1 •
(a) Jika rcgangan gcser maksimum di tabung adalah
400 X I o-<J rad, berapa regangan geser )'] pada permukaan
dalam? (b) Jika laju puntir izin maksimum adalah 0, 1 5°/
ft dan regangan gcser maksimum dipertahankan sebesar
400 x I 0-6 dengan menyesuaikan torsi T,berapa radius
luar minimum yang diperlukan (r2)min'?
T
j-<------- - - L ..
3.2-2 Sebuah tabung baja lingkaran yang panjangnya L
= 0,9 m dibebani oleh torsi T (lihat gambar). (a) Jika
jari-jari dalam tabung ini adalah r1 = 40 mm, berapa
regangan geser y1 di permukaan dalam jika sudut puntir
antara kedua ujung adalah 0.5°? (b) Jika regangan geser
izin maksimum adalah 0.0005 rad dan sudut puntir
dipertahankan 0,5° dengan mcnyesuaikan torsi T, bcrapa
radius luar izin maksimum (r2)mak,?
3.2-3 Selesaikan soal sebelum ini dengan menggunakan
panjang L = 50 in., jari-jari dalam r1 = I ,5 in., sudut
puntir adalah 0,6°, dan regangan geser izin adalah 0,0004
radian.
BATANG LINGKARAN DAN TABUNG
3.3-1 Selama mclcpaskan roda untuk mengganti ban,
scorang pengemudi memberikan gaya P = 25 lb di ujung­
ujung lcngan kunci roda (lihat gambar). Kunci roda
terbuat dari baja dengan modulus geser elastisitas G =
1 1 ,4 x I 06 psi. Panjang setiap lengan kunci roda adalah
9.0 in, dan penampangnya adalah lingkaran solid dengan
diameter d = 0,5 in. (a) Tentukan tegangan geser
maksimum di lengan yang memutarkan mur (lengan A).
(b) Tentukan sudut puntir (dalam derajat) lengan tersebut.
d = 0,5 in.
Mekanika Bahan 221
3.3-2 Sebuah batang aluminium dengan penampang
lingkaran solid dipuntir oleh torsi T yang bekerja di
ujung-ujungn> a t lihat gambar). Dimensi dan modulus
gescr elastisita' adalah sebagai herikut: L = I ,2 m: d =
30 mm; dan G = 2� GPa. (a) Tentukan kekakuan tor­
sional batang teN�hut. (h) Jika sudut puntir batang adalah
4°, bcrapa tegangan geser maksimum? Berapa rcgangan
geser maksimurn .'
!- ----
3.3-3 Sebuah batang haja lmgkann 'olid dengan dia­
meter d = 0,678 in. dan rnodulu< £eser dasti,itas G = 1 2
x 106 psi mengalarni torsi mumI �lihat gambar). Batang
ini mengalami tcgangan ge,er rnaksimurn 7 1 00 psi
apabila sudut puntirn] a 2.5 ( a) Berapakah panjang
batang tersebufJ (h) Scrapa kekakuan torsional batang?
3.3-4 Batang baja dari suatu kunci soket mempunyai
diameter 8 mm dan panjang 200 mm (lihat gamhar).
Jika tegangan geser izin adalah 60 MPa, berapa torsi
izin maksimurn Tma'-· yang dapat diberikan melalui kunci
soket"J Dengan sudut C/J berapakah (dalam derajat) batang
tersebut akan terpuntir akibat aksi torsi maksimum?
( Asum'>ikan G = 78 GPa dan abaikan lcntur batang.)
= 8 mm
- - L = 200 mm _____..
3.3-5 Sebuah batang aluminium dari penampang ling­
karan solid (diameter 1 ,0 in. dan panjang 3,0 ft) dipuntir
pada mesin uji sampai satu ujung berotasi dengan sudut
go terhadap ujung lainnya. Untuk sudut puntir sebesar
ini, torsi yang diukur adalah T = 1 27 lb-ft. Hitunglah
tcgangan geser maksimum rmab di batang, modulus geser
elastisitas G, dan regangan geser maksimum Ymab·
3.3-6 Sebuah tabung lingkaran aluminium dibebani torsi
T di kedua ujungnya (lihat gambar). Panjang batang
adalah 0,5 m, dan diameter dalam dan luar masing­
masing adalah 30 mm dan 40 mm. Dengan pengukuran
dapat ditentukan bahwa sudut puntir adalah 3,57° apabila
torsi tcrscbut adalah 600 N.m. Hitunglah tcgangan geser
maksimum rmaks di tabung, modulus geser elastisitas G,
dan regangan geser maksimum J';11aks·
I
0.5 m --------1
3.3-7 Tiga cakram lingkaran identik A, B, dan C dilas
ke ujung-ujung tiga batang lingkaran identik (lihat
gambar). Batang-batang terschut terletak di bidang yang
sama dan ketiga cakram terletak di bidang-bidang yang
tegak lurus sumhu batang. B atang-batang dilas di
perpotongannya sehingga membentuk hubungan kaku.
Setiap batang mempunyai diameter d1 = 0,5 in. dan setiap
cakram mempunyai diameter d2 = 3,0 in. Gaya P1, P2,
dan P3 menghasilkan torsi yang bekerja pacta cakram A,
B, dan C. Jika P1 = 28 lb, berapa tegangan geser
maksimum rmah di masing-masing batang?
3.3-8 Sebuah batang baja berlubang mempunyai dia­
meter luar d2 = 1 00 mm dan diameter dalam d1 = 60 mm
(lihat gambar). B aja ini mempunyai modulus geser
elastisitas G = 80 GPa. Untuk torsi yang diterapkan
sebesar 6,0 kN.m, tentukan besaran sebagai berikut: (a)
tegangan geser r2 di permukaan luar, (b) tegangan geser
r1 di permukaan dalam, dan (c) laju puntir f) (sudut puntir
d1 = 60 mm
d, = mm
per panjang satuan). Juga. gambarlab diagram yang
menunjukkan bagaimana tegangan geser bervariasi besar­
nya di sepanjang garis radial penampang.
3.3-9 Sebuah batang propeller terbuat dari batang baja
solid yang diameternya 4,0 in. Tegangan geser izin adalah
6500 psi, dan laju puntir izin adalah 0,2°/ft. Dengan
menganggap bahwa modulus geser elastisitas adalah G
= I 1 .5 x 1 06 psi, tentukan tarsi maksimum Tmaks yang
dapat ditcrapkan pacta batang tersebut.
3.3-1 0 As bajaberbentuk bundar dari sebuah dongkrak
besar mengalami torsi sebesar 2,5 kN.m. Berapa diam­
eter perlu minimum dmin jika tegangan geser izin adalah
60 MPa, dan laju puntir izin adalah 0,75°/m? (Asumsikan
bahwa modulus geser elastisitas adalah 75 GPa.)
3.3-1 1 Sebuah batang horizontal ABC dari penampang
lingkaran solid (lihat gambar) ditahan di ujung A, ditumpu
di landasan C, dan dibebani oleh gaya vertikal P di ujung
lengan horizontal BD. Jarak dari A ke B adalah L = 1 5,0
in. dan panjang lengan BD adalah h = 4,0 in. Batang
tersebut terbuat dari baja yang mempunyai modulus geser
G = 1 1,3 x 106 psi. Pengukuran menunjukkan bahwa
regangan adalah 637,5 X w-6 rad dan titik D bergerak
ke bawah 0, 1 02 in. Berapa diameter d batang dan berapa
besar beban P? (Abaikan lentur batang dan tinjau efek
torsi saja.)
3.3-12 Sebuah batang perunggu yang diametemya d =
30 mm dibebani torsi T1, seperti terlihat pacta bagian (a)
dalam gambar. Tegangan geser izin di perunggu adalah
80 MPa. (a) Berapa torsi izin maksimum T1? (b) Jika
(a)
(b)
sebuah lubang yang diametemya 1 5 mm dibor secara
longitudinal melalui batang, seperti terlihat pada bagian
(b) dalam gambar, berapa torsi izin maksimum T2? (c)
Berapa persen pengurangan torsi dan persen pengurangan
berat akibat adanya lubang?
3.3-1 3 Sebuah tabung aluminium yang berlubang yang
digunakan pada struktur atap mempunyai diameter luar
d2 = 4,0 in. dan diameter dalam d1 = 3,5 in. (lihat
gambar). Tabung ini mempunyai panjang 8,0 ft dan alu­
minium mempunyai modulus geser G = 4,0 x I 06 psi.
(a) Jika tabung ini dipuntir dengan torsi mumi oleh torsi
yang bekerja di ujung-ujungnya, berapa sudut puntir C/J
apabila tegangan geser maksimum adalah 8.000 psi? (b)
Berapa diameter d yang dibutuhkan untuk batang solid
(lihat gambar) untuk menahan torsi yang sama dengan
tegangan maksimum yang sama? (c) Berapa rasio berat
tabung berlubang terhadap berat batang solid?
3.3-1 4 Sebuah batang lingkaran berlubang dan batang
lingkaran solid (lihat gambar) dari bahan yang sama akan
didesain untuk menyalurkan torsi sama dengan tegangan
geser maksimum sama. Diameter dalam dari batang
berlubang adalah 0,85 kali diameter luar, yaitu d1 =
0,85d2• (a) Tentukan rasio antara diameter luar d2 batang
berlubang terhadap diameter d batang solid. (b) Tentukan
rasio /31 antara berat batang berlubang terhadap berat
batang solid. (c) Tentukan rasio /32 antara kekakuan tor­
sional batang berlubang terhadap kekakuan torsi batang
solid.
3.3-1 5 Sebuah batang lingkaran solid (diameter d =
1,5 in.) yang digunakan sebagai batang generator akan
diganti dengan batang berlubang yang diameter luamya
d2 = 1 ,75 in. (lihat gambar). Batang berlubang harus
menyalurkan torsi yang sama dengan tegangan geser
maksimum yang sama. (a) Berapa diameter dalam izin
maksimum d1 padabatang berlubang? (b) Untuk maksud
pembuatan, diameter dalam harus merupakan bilangan
bulat kali 1/8 inch. Pilihlah diameter dalam terbesar d0
yang dapat diterima. Lalu, tentukan rasio /31 untuk berat
batang berlubang terhadap berat batang solid dan rasio
/32 antara kekakuan torsi batang berlubang terhadap
kekakuan torsional batang solid.
3.3-1 6 Sebuah batang lingkaran solid dengan radius r2
mengalami torsi T (lihat gambar). Radius r1 membagi
penampang atas daerah dalam (radius dari 0 sampai r1)
dan daerah luar (radius dari r1 sampai r2). Daerah dalam
Mekanika Bahan 223
menyalurkan torsi T1 dan daerah luar menyalurkan torsi
T2, di mana T1 + T2 = T. (a) Turunkan rumus untuk rasio
T2/T antara torsi yang disalurkan oleh daerah luar
terhadap torsi total. (b) Buatlah grafik antara rasio TzlT
versus rasio r/r:. (c) Jika r1 = rz12, berapa persen torsi
total yang disalurkan oleh area luar? (d) Jika r1 membagi
penampang atas dua area yang sama, berapa persen torsi
total yang disalurkan oleh area luar?
T
*3.3-1 7 Sebuah tabung lingkaran dengan radius r1 dan
radius r2 mengalami torsi yang dihasilkan oleh gaya­
gaya P = 1 200 lb (lihat gambar). Gaya-gaya tersebut
mempunyai garis kerja pada jarak b = 4,0 in. dari tepi
luar tabung. Jika tegangan geser di tabung adalah 7500
psi dan radius dalam r1 = 1 ,00 in., berapa radius luar
izin minimum r2?
p
p
TORSI TAK SERAGAM
3.4-1 Sebuah batang bertangga ABC yang terdiri atas
dua segmen lingkaran solid mengalami torsi T1 dan T2
yang bekerja dalam arah yang berlawanan, seperti terlihat
dalam gambar. Bagian besar dari batang mempunyai
diameter d1 = 2,25 in. dan panjang L1 = 30 in.; segmen
yang kecil mempunyai diameterd2 = 1,75 in. dan panjang
L2 = 20 in. Bahan batang ini adalah baja dengan modu-
224 Bab 3 Tarsi
ius gc:ser G = 1 1 x 1 06 psi. Jika torsi adalah T1 = 20.000
!b-in dan T2 = 8.000 !b-in, hitunglah: (a) tegangan geser
maksimum rmaks di batang, dan (b) sudut rotasi C/Jc (dalam
dc:rajat) di ujung C.
4
B I C
1+--- L, ___
_
J_____ L2 ___ __
J
3.4-2 Sebuah tabung lingkaran dengan diameter luar d3
= 70 mm dan diameter dalam d2 = 60 mm dilas di ujung
kanan ke plat tetap dan di ujung kiri ke plat ujung kaku
(lihat gambar). Sebuah batang lingkaran solid dengan
diameter d1 = 40 mm ada di dalam, dan konsentris
dengan, tabung. Batang ini menembus lubang di plat
tetap dan dilas ke plat ujung. Batang ini panjangnya I ,0
m dan tabung mempunyai panjang setengah panjang
batang. Sebuah torsi T = 1 .000 N.m bekerja di ujung A
batang. Juga, baik batang maupun tabung terbuat dari
paduan aluminium dengan modulus geser elastisitas G =
27 GPa. (a) Tentukan tegangan geser maksimum di
batang dan di tabung. (b) Tentukan sudut puntir (dalam
derajat) di ujung A batang.
Tabung
Batang
3.4-3 Sebuah batang bertangga (nonprismatis) ABCD
yang terdiri atas tiga segmen lingkaran solid rnengalami
tiga torsi seperti terlihat dalam gambar. Panjang setiap
segmen adalah 24,0 in. dan diameternya adalah 3,0 in.,
2,5 in., dan 2,0 in. Bahan batang adalah baja dengan
modulus geser elastisitas G = 1 1 ,6 x I 03 ksi. (a) Hitunglah
tegangan geser maksirnum r;naks di batang. (b) Hitunglah
sudut puntir rfin (dalam derajat) di ujung D.
12,0k-in. 9.0k-in.

9,0k-in.
t
2,0in.
G
t , B •
� �· ·t' ''"'�D
11+--- 24in.---1+----- 24 in.---
1
,+----- 24 in.--1
3.4-4 Sebuah batang lingkaran solid ABC terdiri atas
dua segmen seperti terlihat dalam gambar. Satu segmen
mempunyai diameter d1 = 50 mm dan panjang L1 = 1 ,25
m; segmen lainnya mempunyai diameter d2 = 40 mm
dan panjang L2 = I ,0 m. Berapa torsi izin Tizin jika
tegangan geser tidak boleh melebihi 30 MPa dan sudut
puntir antara kedua ujung batang tidak dapat melebihi
I ,5°? (Asumsikan G = 80 GPa.)
3.4-5 Sebuah tabung berlubang AE yang terbuat dari
metal monel rnengalarni Iima beban torsi yang bekerja
dalam arah seperti terlihat dalam gambar. Besar torsi
adalah T1 = 1 .000 !b-in.. T2 = T4 = 500 lb-in., dan T3 =
T5 = 800 !b-in. Tabung ini rnernpunyai diameter luar d2
= 1 ,0 in. Tegangan geser izin adalah 1 2.000 psi dan laju
puntir izin adalah 2°/ft. Tentukan diameter dalam izin
maksimum d1 pada tabung.
T1 =
800 !b-in.
75 =
800 !b-in.
A B c D E
d2 = 1,0 in.
3.4-6 Sebuah batang ABC (lihat gambar) terdiri atas
batang solid dengan diameter d dari A ke B dan batang
berlubang dengan diameter luar I ,25d dan diameterdalam
d dari B ke C. Kedua batang mempunyai panjang L =
0,3 m. Torsi diterapkan ke batang melalui gigi di A, B,
dan C. Torsi tersebut adalah T1 = 1 20 N.m, T2 = 270
A B C
i L = 0,3 m '
1 L = 0.3 m 1
i+------- -
---- .-! I..____ --·- - �-----.1
N.m, dan T3 = 150 N.m bekerja dalam arah seperti terlihat
dalam gambar. Batang terbuat dari baja yang mempunyai
modulus elastisitas geser sama dengan 80 GPa. (a) Berapa
diameter perlu djika tegangan geser izin adalah 40 MPa?
(b) Berapa diameter perlu d jika sudut puntir antara dua
gigi dibatasi 1 ,0°?
3.4-7 Empat gigi terpasang pada batang lingkaran dan
menyalurkan torsi seperti terlihat dalam gambar. (a)
Berapa diameter perlu d untuk batang jika tegangan geser
izin adalah I 0.000 psi? (b) Berapa diameter d diperlu
jika batang mempunyai lubang dengan diameter dalam
1 ,0 in.?
8.000 !b-in.
19.000 lb-in.
D
3.4-8 Sebuah batang dengan penampang lingkaran solid
yang mempunyai dua diameter berbeda ditunjukkan
dalam bagian pertama dalam gambar. Sebuah batang
tabung prismatis yang terbuat dari bahan yang sama,
dan mempunyai panjang sama, serta mempunyai
kekakuan torsional ditunjukkan pada bagian kedua dari
gambar. Tentukan diameter luar d batang berlubang jika
tebal dinding t sama dengan d/10.
I+ ------ 1.2 m----�---- -- 0,9 m ----1
3.4-9 Perhatikan batang yang meruncing (nonprismatis)
dalam Gambar 3- 1 9 dan dianalisis dalam Contoh 3-5.
Untuk rasio dJdA berapakah sudut puntir akan menjadi
setengah dari sudut puntir batang prismatis yang
diameternya dA?
Mekanika Bahan 225
3.4-10 Batang nonprismatis yang terlihat dalam gambar
3- 1 9 dan dianalisis dalam Contoh 3-5 mengalami torsi T
= 2100 N.m. Batang tersebut mempunyai panjang L =
2,5 m dan terbuat dari paduan aluminium yang mem­
punyai modulus geser G = 27 GPa. Tegangan geser izin
batang ini adalah 52 MPa dan sudut puntir izin adalah
2,5°. Jika diameter di ujung B adalah dua kali diameter
di ujung A, berapa diameter perlu dA di ujung A?
3.4-1 1 Sebuah tabung AB yang meruncing dengan
penampang lingkaran berlubang ditunjukkan dalam
gambar. Tabung tersebut mempunyai tebal dinding
konstan t dan panjang L. Diameter rata-rata di kedua
ujung adalah dA dan d8 = 2d4. Momen inersia polar
dapat dinyatakan dengan rumus pendekatan JP "' rcdh/4
(Persamaan 3-1 8). Turunkanlah rumus untuk sudut puntir
tabung ini apabila mengalami torsi T yang hekerja di
kedua ujungnya.
3.4-1 2 Sebuah batang prismatis AB dengan penampang
lingkaran solid (diameter d dan panjang L) dijepit di
ujung kiri dan bebas di ujung kanan (lihat gambar).
Batang ini dibebani oleh torsi yang terdistribusi dengan
intensitas konstan t per panjang satuan. (a) Berapa
tegangan geser maksimum di batang ini? (b) Berapa sudut
puntir di ujung B?
3.4-1 3 Sebuah batang prismatis AB dengan penampang
lingkaran solid (lihat gambar) dibebani oleh torsi yang
terdistribusi dengan intensitas t(x) per panjang satuan
yang bervariasi linier dari harga maksimum tA di ujung
A ke nol di B. Batang ini dijepit di ujung A dan bebas
di ujung B. Diameternya adalah d dan panjangnya adalah
L. (a) Berapa tegangan geser maksimum di batang? (b)
Berapa sudut puntir di ujung B'?
226 Bab 3 Torsi
*3.4-1 4 Sebuah batang lingkaran horizontal dengan
diameter d dan panjang L ditumpu di ujung A dan bebas
di ujung B (Iihat gambar). Sebuah sayap horizontal
terpasang di samping batang. Sayap ini mempunyai
panjang yang bervariasi secara linier dari nol di ujung B
ke panjang maksimum HA di ujung A. Berat total sayap
adalah W. (a) Berapategangan geser maksimum di batang
akibat torsi? (b) berapa sudut puntir di ujung B? (Catatan:
Sayap juga menghasilkan lentur pada batang, namun
lentur tidak mempunyai pengaruh terhadap sudut puntir.)
GESER MURNI
3.5-1 Sebuah batang lingkaran solid dengan diameter d
= 2,0 in. (lihat gambar) dipuntir pada suatu mesin uji
sampai torsi mencapai harga T = 1 1 .000 lb-in. Pada harga
torsi ini, pengukur regangan yang berorientasi 45°
terhadap sumbu batang memberikan bacaan e = 305 x
10-6. Tentukan modulus geser G bahan.
Pengukurregangan
; •l•2i" / T • I LOOO ib� ill.
.
:
�3f-
3.5-2 Sebuah batang berlubang dengan diameter luar
d-:. = 80 mm dan diameter dalam d1 = SO mm (lihat
garnbar) terbuat dari aluminium yang mempunyai modu­
lus geser G = 27 GPa. Apabila batang ini mengalami
torsi T = 4,0 kN.m, berapa harga regangan geser
maksimum Ymaks dan regangan normal maksimum emaks?
T
3.5·3 Sebuah tabung baja (G = 1 1 ,S x 106 psi) mem­
punyai diameter luar d2 = 2,0 in. dan diameter dalam d1
= 1 ,5 in. (lihat gambar). Pada saat dipuntir oleh torsi T,
tabung tersebut mengalami regangan normal maksimum
170 x I 0-6. Berapa besar torsi T yang diterapkan?
3.5-4 Sebuah tabung aluminium (G = 2 8 GPa)
mempunyai diameter luar d2 = 100 mm dan diameter
dalam d1 = SO mm. (lihat gamhar). Pada saat dipuntir
oleh torsi T, tabung tersebut mengalami regangan nor­
mal maksimum 6SO x 1 0-6. Berapa besar torsi T yang
diterapkan?
3.5-5 Sebuah batang lingkaran solid dari baja (G = 1 1 ,6
x 103 ksi) menyalurkan torsi T = 4,0 k-in. Tegangan izin
tarik, tekan, dan geser adalah masing-masing 1 2 ksi, 9
ksi, dan 8 ksi. Juga, regangan tarik izin maksimum adalah
300 x 10-6. Tentukan diameter minimum d yang diperlu­
kan pada batang tersebut.
3.5-6 Sebuah batang baja lingkaran berlubang (G = 80
GPa) yang dipuntir oleh torsi T menghasilkan regangan
geser maksimum Ymaks = 639 x 1 0-6 rad. Batang tersebut
mempunyai jari-jari luar dan dalam masing-masing
75 mm dan 60 mm. Berapa regangan tarik maksimum di
batang? Berapa tegangan tarik maksimum di hatang?
Berapa besar torsi T yang diterapkan?
3.5-7 Regangan normal dalam arah 4S0 pacta permukaan
sebuah tabung lingkaran (lihat gambar) adalah 880 x
10-6 apabila torsi T = 7SO !b-in. Tabung ini terbuat dari
paduan tembaga dengan G = 6,2 x 106 psi. Jika diameter
luar d2 tabung adalah 0,8 in., berapa diameter dalam d1?
Pengukurregangan
/
�d2 = 0,8 in. / T = 750 lb- in.
•
:
f :��;:�W--
PENYALURAN DAVA
3.7-1 Sebuah batang generator di dalam hydroelectric
plant kecil berputar pada 1 20 rpm dan menghasilkan
50 hp (Jihat gambar). (a) Jika diameter batang adalah d
= 3,0 in., berapa tegangan geser maksimum rmab di
batang? (b) Jika tegangan geser dibatasi pada 4000 psi,
berapa seharusnya diameter d untuk batang tersebut?
3.7-2 Sebuah motor menggerakkan batang pada 1 2 Hz
dan menghasilkan daya 20 kW (lihat gambar). (a) Jika
batang mempunyai diameter d sebesar 30 mm, berapa
tegangan geser maksimum rmaks di batang? (b) Jika
tegangan geser izin maksimum adalah 40 MPa, berapa
diameter d yang diperlukan untuk batang tersebut?
120Hz
3.7-3 Sebuah batang propeller dari sebuah kapal mem­
punyai diameter luar 1 4 in. dan diameter dalam 1 0 in.
sepe1ti terlihat dalam gambar. Batang ini dirancang untuk
tegangan geser maksimum 9000 psi. (a) Jika batang ini
berputar pada 500 rpm, berapa tenaga kuda (hp) yang
dapat disalurkan tanpa melebihi tegangan izin? (b) Jika
laju rotasional batang dijadikan dua kali tetapi persyaratan
daya tidak berubah, apa yang terjadi pada tegangan geser
di batang?
3.7-4 Batang penggerak untuk sebuah truk (diameter
luar 60 mm dan diameter dalam 40 mm) berputar pada
2500 rpm (lihat gambar). (a) Jika batang tersebut
Mekanika Bahan 227
menyalurkan ! 50 kW, berapa tegangan geser maksimum
di batang? (b) Jika tegangan geser izin adalah 35 MPa,
berapa daya maksimum yang dapat disalurkan?
3.7-5 Sebuah batang lingkaran berlubang untuk pompa
akan dide,ain dengan diameter dalam sama dengan 0,8
kali diameter luar. Batang tersebut harus menyalurkan
400 hp pada 800 rpm tanpa melebihi tegangan gescr izin
6000 psi. Tentukan diameter luar minimum d yang
diperlukan.
3.7-6 Sebuah batang tabung yang akan didesain untuk
digunakan pacta l·�ka'l kon-;truksi harus menyalurkan
1 20 kW pada 1 0 Hz. Diameter dalam batang direncana­
kan 3/4 kali diameter luar. Jika tegangan geser izin di
batang adalah 45 �1Pa. berapa diameter Juar minimum d
yang diperlukan?
3.7-7 Scbuah batang prc>pel!a dengan penampang
lingkaran solid dan diameter d disambung dcngan
menggunakan selongsong dari bahan yang sama (lihat
gambar). Selongsong tersebut berukuran pas dengan
bagian-b:�gian yang disambungnya. Berapa diameter luar
d1 dari selongsong tersebut agar sambungan dapat
menyalurkan daya sama seperti batang solid?
3.7-8 Berapa daya maksimum yang dapat disalurkan
oleh batang propeller berlubang (diameter luar 50 mm,
diameter dalam 40 mm, dan modulus geser elastisitas 80
GPa) yang berputar pada 600 rpm jika tegangan geser
izin adalah 1 00 MPa dan laju puntir izin adalah 3°/m?
3.7-9 Sebuah motor memberikan 275 hp pada 1000 rpm
ke ujung sebuah batang (lihat gambar). Gigi di B dan C
masing-masing mengambil 1 25 dan 1 50 hp. Tentukan
diameter d yang diperlukan pada batang jika tegangan
geser izin adalah 7500 psi dan sudut puntir antara motor
dan gigi C dibatasi 1 ,5°. (Asumsikan G = 1 1 ,5 x 1 06 psi,
L1 = 6 ft, dan L2 = 4 ft.)
Motor
1 1
L�--1 1..---Lz
3.7-1 0 Sebuah batang ABC yang terlihat dalam gambar
digerakkan oleh motor yang memberikan daya 300 kW
pada laj u 32 Hz. Gigi di B dan C masing-masing
mengambil 1 20 dan 1 80 kW. Panjang kedua bagian
r
'
228 3a= 3 Tors1
- �- ; �.lh L1 = 1 ,5 m dan L2 = 0,9 m. Tentukan
_ .:c_:-:-r.-.;;::- .; � ang diperlukan pada batang jika tegangan
� : -<"7 :..c:n adalah 50 MPa, sudut puntir antara titik A dan
_- �:.lh -+,0° dan G = 75 GPa.
ELEMEN STRUKTUR TORSI STATIS TAK TENTU
3.8-1 Sebuah batang lingkaran solid dengan ujung jepit
Jibebani torsi 3T0 dan 1�J pada lokasi yang terlihat dalam
gambar. Dapatkan rumus untuk sudut puntir maksimum
batang. (Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-46a dan b dari
Contoh 3-9 untuk mendapatkan torsi reaksi. l
L L '
4 �- 2 -- -�1
3.8-2 Sebuah batang lingkaran solid dengan ujung-ujung
jepit dibebani dua torsi T0 yang berlawanan arah seperti
tcrlihat dalam gambar. Dapatkan rumus untuk torsi reaksi
TA dan T1J' sudut puntir maksimum rf>maks• dan sudut puntir
rf>o pada potongan tengah batang. (Petunjuk: Gunakan
Pcrsamaan 3-46a dan b pada Contoh 3-9 untuk men­
dapatkan torsi reaksi.)
3.8-3 Sebuah batang baja berlubang ACB yang mcm­
punyai diameter luar 2 in. dan diameter dalam I ,5 in.
ditahan terhadap rotasi di ujung A dan B (lihat gambar).
Gaya horizontal P diterapkan di ujung-ujung lengan
vcrtikal. Tcntukan harga izin untuk gaya P jika tegangan
geser izin di batang adalah 4800 psi. (Petunjuk: Gunakan
Persamaan 3-46a dan b pada Contoh 3-9 untuk men­
dapatkan torsi reaksi.)
3.8-4 Sebuah batang lingkaran solid AB dengan dia­
meter d dijepit di kedua ujungm a (lihat gambar). Schuah
cakram (disk) lingkaran dipasang ke batang tcrsebut pada
lokasi seperti tergamhar. Berapa sudut puntir izin terbesar
rf>pada disk jika tegangan geser izin adalah r,7,0'? (Asumsi­
kan hahwa a > b. Juga, gunakan persamaan 3-46a dan
h dari Contoh 3-9 untuk mendapatkan torsi reaksi.)
Cakram
LJ
i
!- a - - �I !�- b -
3.8-5 Sebuah batang haja solid ACB yang ditahan secara
kaku di kedua ujungnya mempunyai dua diameter yang
berheda (lihat gambar). Dengan menganggap bahwa
tegangan gcser izin maksimum adalah 9000 psi, tentukan
torsi izin Tizin yang dapat diterapkan di titik C (Petunjuk:
Gunakan Persamaan 3-45a dan b dati Contoh 3-9 untuk
mendapatkan torsi reaksi.)
0,6�5 in. 0,75 in.
� B
I i T
11..-- 8,0 in.-----..�1 �------ J 6 in. ··------ -.l ,-
3.8-6 Sebuah hatang bcrtangga dengan penampang
lingkaran solid (lihat gambar) ditahan terhadap rotasi di
kedua ujungnya. Jika tegangan iz.in geser adalah 55 MPa,
berapa torsi izin Tizin yang dapat diterapkan pada batang
ini di C? (Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-45a dan b
dari Contoh 3-9 untuk mendapatkan torsi reaksi.)
40 mm
I
T ' . t
1�- 0,2 m J.__ _____ 0,5 m __ __ __
J
3.8-7 Sebuah batang lingkaran AB dengan kedua ujung­
nya terjepit mempunyai lubang di setengah panjangnya
(lihat gambar). Diameter lubang adalah 3/4 dari diameter
luar batang. Pada jarak x herapakah dari ujung kiri suatu
1-- x -- ------ ..1
torsi T hams diterapkan agar torsi reaksi di tumpuan
akan sama?
3.8-8 Sebuah tabung berlubang AB yang panjangnya L
dan rigiditas torsionalnya GIP secara kaku ditumpu di
ujung A (lihat gamhar). Di ujung B sebuah batang hori­
zontal yang panjangnya 2c dilas ke tabung tersebut. Di
dekat ujung-ujung batang horizontal ada dua pegas
identik, masing-masing mempunyai kekakuan pegas k
(gaya per peralihan satuan). Panjang celah antara ujung­
ujung pegas dan ujung-ujung batang adalah h. Pegas
ditarik, dipasang ke ujung-ujung batang, dan selanjutnya
dilepaskan, sehingga menyebabkan batang dan tabung
berotasi dengan sudut kecil {3. Dapatkan rumus untuk
torsi T di tabung. (Abaikan lentur batang.)
3.8-9 Sebuah batang lingkaran AB yang panjangnya L
dijepit di kedua ujung dan dihebani oleh torsi yang
terdistrihusi t(x) yang bervariasi secara linier dengan
intensitas dari no! di ujung A hingga t0 di ujung B (lihat
gambar). Dapatkan rumus untuk menghitung torsi ujung
jepit TA dan Tw
B
_____
J
3.8-1 0 Sebuah batang baja solid dengan diameter
50 mm ditutupi oleh tabung haja dengan diameter luar
75 mm dan diameter dalam 60 mm (lihat gambar). Batang
dan tabung tersebut ditahan secara kaku di ujung A dan
digabungkan ke plat ujung kaku di B. Batang gabungan,
yang panjangnya 750 mm, dipuntir oleh torsi T =
2000 N.m yang bekerja di ujung B. (a) Tentukan tegangan
geser maksimum r, dan rb di tabung dan batang. (b)
Mekanika Bahan 229
Tentukan sudut rotasi <fi plat kaku, dengan menganggap
hahwa modulus geser baja adalah G = 80 GPa. (c) Tentu­
kan kekakuan torsional kT hatang gabungan tersebut.
(Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-44a dan b untuk
mencari tarsi. 1
T�bung
"
----��- ��----��
' ---- -,i
1.------ --- ----- '75(1 :r1m -------,-
-�-
/����
[ �- ( :'0 :nm
j��
+- ·
I �J
1 166-
m
-;;
I
�75 mm-+
Plat ujung
3.8-1 1 Sebuah batang baja solid dengan diameter 2,0 in.
ditutupi oleh tabung baja dengan diameter luar 3,0 in.
dan diameter dalam 2,5 in. (lihat gambar). Batang dan
tahung tersebut ditahan secara kaku di ujung A dan
digabungkan ke plat ujung kaku di B. Batang gabungan,
yang panjangnya 26 in. ini dipuntir oleh torsi T = 20 k­
in. yang bekcrja di ujung B. (a) Tentukan tegangan geser
maksimum r, dan rh di tabung dan batang. (b) Tentukan
sudut rotasi </! plat kaku, dengan menganggap bahwa
modulus geser baja adalah G = 1 1 ,5 x I 06 psi. (c) Tentu­
kan kekakuan torsional kT batang gabungan terscbut.
(Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-44a dan b untuk
mcncari torsi.)
1----- 26 in. ---' Plat
ujung
3.8-1 2 Sebuah batang gabungan terdiri atas tabung baja
di luar inti perunggu yang sedemikian pas sehingga ke­
duanya beraksi sebagai satu unit dalam mengalami torsi
(lihat gambar). Modulus geser elastisitas baja adalah G,
= 75 GPa dan perunggu ada1ah Gh = 39 GPa. Diameter
luar adalah d1 = 25 mm untuk inti dan d1 = 40 mm
untuk tabung. Asumsikan bahwa torsi T = 900 N.m
beraksi di batang. (a) Tentukan tegangan geser r
Q
di
baja pada radius luar 20 mm, tegangan geser r,1 di haja
pada radius dalam 1 2,5 mm, dan tegangan geser r
h1
di
perunggu pada radius luar sebesar 1 2,5 mm. Gambarlah
grafik yang menunjukkan bagaimana tegangan geser
bervariasi di sepanjang garis radial dari pusat batang ke
230 Bab 3 Tarsi
�rmukaan luar. (b) Tentukan regangan geser y,2, y11,
Jan Y
bt di lokasi-lokasi yang disebutkan dalam bagian
' a1. Gambarlah grafik yang menunjukkan bagaimana
regangan geser bervariasi di sepanjang garis radial dari
pusat batang ke permukaan luar. (Petunjuk: Gunakan
Persamaan 3-44a dan b untuk mencari torsi.)
Tabungbaja
Intibaja
3.8-13 Sebuah batang selongsong baja terletak pas di
luar inti perunggu sehingga menjadi batang gabungan
yang panjangnya 30 in., seperti terlihat dalam gambar.
Diameter luar selongsong dan inti masing-masing adalah
2,4 in. dan 2,0 in. Modulus geser elastisitas baja dan
perunggu adalah G, = 1 1 .500 ksi dan Gb = 5.600 ksi.
Batang ini mengalami torsi T = 20,0 k-in. (a) Tentukan
tegangan geser maksimum rs dan rh yang masing-masing
terjadi di bagian baja dan perunggu. (b) Tentukan sudut
puntir <fi batang gabungan. (c) Tentukan kekakuan tor­
sional kT batang gabungan. (Petunjuk: Gunakan
Persamaan 3-44a dan b untuk mencari torsi.)
T= 20,0k-in. Selongsongbaja
Inti tembaga
3.8-1 4 Sebuah batang gabungan dibentuk dari dua
bahan, selongsong luar dari baja (G, = 80 GPa) dan inti
perunggu (Gh = 36 GPa), seperti terlihat dalam gambar.
Diameter luar kedua bagian ini masing-masing adalah
75 mm dan 60 mm. Dengan menganggap bahwa tegangan
geser izin ada1ah T
s = 65 MPa dan Tb = 25 MPa, masing-
Selongsongbaja
Batangbundar
tembaga
masing di baja dan di perunggu, tentukan tors1 IZill
maksimum Tizin yang dapat diterapkan pada batang
tersebut. (Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-44a dan b
untuk mencari torsi.)
3.8-15 Sebuah tabung baja S terletak pas di luar tabung
aluminium A sehingga membentuk batang gabungan
dengan diameter 3 in., 5 in., dan 6 in. (lihat gambar).
Tegangan geser izin di baja dan aluminium adalah r, =
9.0 ksi dan r
a
= 4,0 ksi. Tentukan tarsi izin Ti7in yang
dapat diterapkan pada batang ini dengan menganggap
bahwa G, = 1 1.600 ksi dan Ga = 4.000 ksi. (Petunjuk:
Gunakan Persamaan 3-44a dan b untuk mencari torsi.)
I ! I
! 1+-- 3 in ___.!
I
i I
5
• • I
1 - m. ---+1
�- 6 in.------+
� 5
--- A
*3.8-1 6 Sebuah batang AB yang diametemya d1 mem­
punyai dua sayap lingkaran dengan diameter d2, seperti
terlihat pada bagian (a) dalam gambar. Torsi T0 bekerja
di ujung batang. Pada saat beban tarsi tersebut bekerja,
selongsong dari bahan yang sama dan mempunyai di­
ameter luar d, serta diameter dalam d2 terletak pas di
luar sayap. seperti terlihat pada bagian (b) dalam gambar.
Selanjutnya tarsi T0 dihilangkan. Dengan menganggap
bahwa sayap adalah kaku, turunkan rumus untuk meng­
hitung tegangan geser maksimum rmak' di selongsong.
Selongsong
��""""�
(b)
ENERGI REGANGAN DALAM KONDISI TORSI
3.9-1 Sebuah batang 1ingkaran solid dari tembaga (G =
6,0 x 106 psi) dengan panjang L = 2,0 ft dan diameter
d = 1 ,5 in. mengalami torsi mumi oleh torsi T yang
bekeija di ujung-ujungnya. (a) Hitunglah energi regangan
U yang disimpan di batang apabila tegangan geser
maksimumnya adalah 3000 psi. (b) Dari energi regangan
tersebut, hitunglah sudut puntir if!.
3.9-2 Sebuah batang lingkaran solid dari baja (G =
80 GPa) dengan panjang L = 1 , 8 m dan diameter d =
75 mm mengalami torsi murni oleh torsi T yang bekerja
di ujung-ujungnya. (a) Hitunglah energi regangan U yang
disimpan di batang apabila tegangan geser maksimumnya
adalah 55 MPa. (b) Dari energi regangan tersebut,
hitunglah sudut puntir if!.
3.9-3 Batang bertangga yang terlihat dalam gambar
mempunyai panjang L = 100 in., diameter d2 = 2,0 in.
dan diameter d1 = l ,5 in. Bahannya adalah baja dengan
G = 1 1 ,8 x 106 psi. Tentukan energi regangan U batang
ini apabila sudut puntirnya adalah 3,0°.
' dz d
:.e���B"��;;."....,...
1+--� 1�---� I
3.9-4 Batang bertangga yang terlihat dalam gambar
mempunyai panjang L = 1 ,2 m, diameter d2 = 30 mm,
dan diameter d1 = 25 mm. Bahannya ada1ah perunggu
dengan G = 40 GPa. Tentukan energi regangan U batang
ini apabila sudut puntirnya adalah 0,060 rad.
3.9-5 Sebuah batang lingkaran yang panjangnya L
dijepit di satu ujung dan bebas di ujung lainnya (lihat
gambar). Batang ini dibebani oleh torsi T di ujung bebas
dan oleh torsi yang terdistribusi kontinu dengan intensitas
konstan t per panjang satuan di sepanjang sumbu batang.
(a) Berapa energi regangan U1 di batang ini apabila beban
T bekerja sendiri? (b) Berapa energi regangan U2 apabila
beban t bekerja sendiri? (c) Berapa energi regangan U3
apabila beban tersebut bekerja bersama?
3.9-6 Turunkan rumus untuk menghitung energi
regangan U suatu batang lingkaran yang terlihat dalam
gambar. Intensitas t torsi bervariasi secara linier dari no!
di ujung bebas ke harga maksimum t0 di tumpuan.
Mekanika Bahan 231
3.9-7 Turunkan rumus untuk menghitung energi
regangan U pada batang lingkaran statis tak tentu yang
terlihat dalam gambar. (Petunjuk: Gunakan Persamaan
3-46a dan b pada Contoh 3-9. Subbab 3.8 untuk
mendapatkan torsi reaksi.)
3.9-8 Sebuah batang bertangga statis tak tentu ACB
dijepit di ujung A dan B dan dibebani torsi T di C (lihat
gambar). Kedua segmen batang terbuat dari bahan yang
sama, mempunyai panjang LA dan LB, serta mempunyai
momen inersia polar lpA dan lps· Tentukan sudut rotasi
if! penampang di C dengan menggunakan energi regangan.
(Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-51 b untuk menentukan
energi regangan U yang dinyatakan dalam <j>. Kemudian
samakan energi regangan tersebut dengan kerja yang
dilakukan oleh beban T. Bandingkan hasilnya dengan
Persamaan 3-48 dalam Contoh 3-9, Subbab 3.8.)
3.9-9 Sebuah tabung berlubang dan berdinding tipis AB
dengan bentuk kerucut mempunyai tebal konstan t dan
diameter rata-rata dA dan d8 di ujung-ujungnya (lihat
gambar). (a) Tentukan energi regangan U tabung tersebut
apabila mengalami torsi murni oleh torsi T. (b) Tentukan
sudut puntir if!. (Catatan: Gunakan rumus pendekatan JP
232 5a= 3 Tarsi
= ."':.:': � unruk cincin lingkaran tipis; lihat Kasus 22
:..:.:.::..-n Larnpiran D.)
B
---- L -�--�1
*3.9-10 Sebuah tabung lingkaran berlubang A terpasang
secara pas di luar bagian ujung batang lingkaran B, seperti
terlihat qalam gambar. Ujung jauh kedua batang adalah
jepit. Pacta awalnya. sebuah lubang yang melalui batang
B membentuk sudut f3 dengan garis yang melalui dua
lubang di batang A. Batang B dipuntir sampai kedua
lubang segaris, dan sebuah sendi diletakkan menembus
lubang tersebut. Apabila batang B dilepaskan dan sistem
tersebut kembali ke keseimbangan, berapa energi
regangan U di kedua batang tersebut? (Misalkan IpA dan
IP8 adalah momen inersia polar batang A dan B. Panjang
L dan modulus geser elastisitas G sama untuk kedua
batang.)
1+ - -- --- L --____.�._____----
L
---- -�I
 f3 1- ­
/ .
*3.9-1 1 Sebuah roda gila <flywheel) yang terpasang di
ujung sebuah batang yang diameternya d berputar dengan
n putaran per menit (lihat gambar). Jika tumpuan di A
tiba-tiba berhenti, berapa sudut puntir maksimum batang?
Berapa tegangan geser maksimum batang? (Misalkan L
= panjang batang, G = modulus geser elastisitas, dan /m
= momen inersia massa rodagaya terhadap sumbu batang.
Juga. abaikan gesekan di tumpuan B dan C dan abaikan
massa batang.) Petunjuk: Samakan energi kinetik roda
gila yang berputar dengan energi regangan batang.
TABUNG BERDINDING TIPIS
3.1 D-1 Sebuah tabung lingkaran berlubang yang mem­
pun� ai diameter dalam 10 in. dan tebal dinding I in.
i lihat gambar) mengalami torsi T = 1200 k-in. Tentukan
tegangan geser maksimum di tabung dengan mengguna­
kan: (a) teori pendekatan tabung berdinding tipis, dan
ib) teori torsi eksak. Apakah teori pendekatan memberi­
kan hasil konservatif atau tidak?
3.1 0-2 Sebuah batang lingkaran solid yang mempunyai
diameter d akan diganti dengan tabung perscgi panjang
yang mempunyai dimensi penampang d x 2d pada garis
mediannya (lihat gambar). Tentukan tebal perlu tmin untuk
tabung tersebut agar tegangan geser maksimum di tabung
tidak akan melebihi tegangan geser maksimum di batang
lingkaran solid.
3.1 0-3 Sebuah tabung Jingkaran berdinding tipis dan
batang lingkaran solid dari bahan sama, dengan luas
penampang sama, serta mempunyai panjang sama, meng­
alami torsi. Berapa rasio energi regangan U1 di tabung
terhadap energi regangan U2 di batang solid jika tegangan
geser maksimum di keduanya sama? (Untuk tabung,
gunakan teori pendekatan untuk batang berdinding tipis.)
3.1 0-4 Sebuah tabung aluminium berdinding tipis
dengan penampang persegi panjang ditunjukkan dalam
gambar. (a) Tentukan tegangan geser di tabung akibat
tor�i T= 60 N.m. (b) Tentukan sudut puntir jika panjang
tabung adalah 0,25 m dan G = 26 GPa.
�3 mm
i
I
20 mm
1
r------ 50 mm----+
1
3.1 0-5 Sebuah tabung baja berdinding tipis yang mem­
punyai penampang elips mengalami torsi T = 25 k-in.
Tentukan tegangan geser r dan laju puntir ejika G = 12
x 106 psi, t = 0,2 in, a = 3 in, dan b = 2 in. (Catatan:
Lihat Lampiran D, Kasus 16, untuk besaran-besaran
elips.)
3.1 0-6 Hitunglah tegangan geser r dan sudut puntir c/J
untuk tabung baja (G = 76 GPa), yang mempunyai
penampang seperti terlihat dalam gambar. Tabung
tersebut mempunyai panjang L = 1 ,0 m dan mengalami
torsi T = 10 kN.m.
r = 50 50 mm
3.1 0-7 Momen torsi T diterapkan pada tabung ber­
dinding tipis yang mempunyai penampang berbentuk
heksagonal dengan tebal dinding konstan t dan panjang
sisi b (lihat gambar). Turunkan rumus untuk tegangan
geser r dan laju puntir e.
Mekanika Bahan 233
3.1 0-8 Sebuah tabung aluminium (G = 28 GPa) dengan
penampang bujursangkar (lihat gambar) dengan dimensi
luar 50 mm x 50 mm harus menahan torsi T = 300 N.m.
Hitunglah tebal dinding perlu minimum t jika tegangan
geser izin adalah 20 MPa dan laju puntir izin e adalah
0,025 rad/m.
3.1 0-9 Bandingkan sudut puntir I/J1 untuk tabung
lingkaran berdinding tipis (lihat gambar) yang dihitung
dari teori pendekatan untuk batang berdinding tipis
dengan sudut puntir cp2 yang dihitung dari teori torsi
eksak untuk batang lingkaran. Nyatakan rasio c/J/c/J2 dalam
besaran tak berdimensi f3 = rlt. Hitunglah rasio sudut
puntir untuk f3 = 5, 10, dan 20. Apa kesimpulan tentang
ketelitian teori pendekatan yang dapat ditarik dari hasil
tersebut?
3.1 0-1 0 Penampang sebuah tabung yang mempunyai
tebal dinding variabel tditunjukkan dalam gambar. Garis
median penampang adalah lingkaran dengan radius r,
dan tebalnya dinyatakan dengan persamaan
t = t0(1 + sin�)
di mana t0 adalah tebal di potongan di mana e = 0. Jika
tabung mengalami torsi T, berapa tegangan geser
maksimum rmaks' tegangan geser minimum rmin' dan
sudut puntir c/J?
y
234 Bab 3 Torsi
3.10-1 1 Sebuah tabung tipis dengan penampang lingkar­
an dihat gambar) yang mempunyai diameter dalam 4 in.
rnengalami torsi 45.000 lb.in. Jika tegangan geser izin
adalah 6.000 psi, tentukan tebal dinding yang diperlukan
r dengan menggunakan (a) teori pendekatan untuk tabung
berdinding tipis, dan (b) teori torsi eksak untuk batang
lingkaran.
3.1 0-1 2 Sebuah tabung persegi panjang berdinding tipis
mempunyai tebal seragam t dan dimensi dx b pada garis
median penampang (lihat gambar). Bagaimana tegangan
geser di tabung bervariasi terhadap rasio f3 = a/b jika
panjang total Lm garis median penampang dan torsi T
tetap konstan? Dari hasil tersebut, tunjukkan bahwa
tegangan geser akan terkecil jika tabung tersebut adalah
bujursangkar (/3 = I).
� t
t
Ib
1
�---- a -
-
-
-
-
..1
3.1 0-1 3 Ulangi soal sebelum ini untuk laju puntir e dan
selanjutnya tunjukkan bahwa laju puntir akan terkecil
jika tabung adalah bujursangkar (/3 = 1).
*3.10-14 Sebuah tabung berdinding tipis, panjang, dan
meruncing AB dari penampang lingkaran (lihat gambar)
mengalami torsi T. Tabung tersebut mempunyai panjang
Ldan tebal dinding konstan t. Diameter ke garis median
penampang di ujung A dan B adalah dA dan d8. Turunkan
+---- L ----...1
rumus untuk menghitung sudut puntir tabung l/J.
(Petunjuk: Jika sudut peruncingan kecil, kita dapat
memperoleh hasil pendekatan dengan menerapkan rumus
tabung prismatis berdinding tipis pada elemen diferensial
dari tabung yang meruncing, untuk selanjutnya meng­
integrasikannya di sepanjang sumbu.)
KONSENTRASI TEGANGAN PADA KONDISI
TORSI
Soal-soal untuk Subbab 3. 1 1 dipecahkan dengan
meninjau faktor konsentrasi tegangan.
3.1 1-1 Sebuah batang bertangga yang terdiri atas
segmen lingkaran solid dengan diameter DJ = 2,0 in.
dan D2 = 2,4 in. (lihat gambar) mengalarni torsi T. Radius
fillet adalah R = 0,1 in. Jika tegangan geser izin adalah
1 2.000 psi, berapa torsi izin maksimum Tmaks?
Gambar Soal 3.1 1. 1 sampai 3.1 1 -5
T
�
3.1 1 -2 Sebuah batang bertangga dengan diameter DJ =
40 mm dan D2 = 60 mm memikul torsi T = 1 100 N.m
(lihat gambar). Jika tegangan geser izin adalah 120 MPa,
berapa radius terkecil Rmin yang dapat digunakan untuk
fillet?
3.1 1 -3 Sebuah fillet seperempat lingkaran penuh di­
gunakan di bahu batang bertangga yang mempunyai
diameter D2 = 1 ,0 in. (lihat gambar). Torsi T = 500 !b­
in. bekerja di batang ini. Tentukan tegangan geser
maksimum'tmax di batang untuk radius sebagai berikut:
DJ = 0,7; 0,8; dan 0,9 in. Plot grafik yang menunjukkan
hubungan rmaks versus DJ.
3.1 1 -4 Sebuah batang bertangga yang terlihat dalam
gambar diharuskan menyalurkan daya 600 kW pada 400
rpm. Batang tersebut mempunyai fillet seperempat
lingkaran penuh, dan diameter terkeci1 DJ = 100 mm.
Jika tegangan geser izin ada1ah 100 MPa, berapa dia­
meter perlu D2? Apakah diameter ini merupakan batas
bawah atau atas untuk D2?
3.1 1 -5 Sebuah batang bertangga (lihat gambar) mem­
punyai diameter D2 = 1.5 in. dan fillet seperempat ling­
karan penuh. Tegangan geser izin adalah 15.000 psi dan
beban T = 4800 lb-in. Berapa diameter izin terkecil DJ?
TORSI TAK SERAGAM
3.1 2-1 Sebuah batang dengan penampang lingkaran
solid terbuat dari bahan yang mengikuti hukum Hooke
(r = G1J. Turunkan persamaan untuk laju puntir (l/J =
TIG/P) dengan
'
menggunakan Persamaan (3-78) untuk
torsi nonlinier.
3.1 2·2 Sebuah batang lingkaran solid (radius r) yang
mengalami torsi T terbuat dari bahan dengan kurva
tegangan-regangan geser yang dinyatakan dengan
persamaan rn = By, di mana n dan B adalah konstanta
(lihat gambar). (a) Tmunkan rumus torsi untuk tegangan
geser rmaks di tepi luar penampang. (b) Selidiki kebenaran
rumus tersebut untuk kasus elastis linier (rmaks = Tr//P)
di mana n = I .
r
0 y
3.1 2-3 Turunkan rumus untuk rasio torsi plastis TP
terhadap torsi luluh TY untuk tabung lingkaran (lihat
gambar) jika tabung tersebut terbuat dari bahan
elastoplastis (lihat diagram tegangan-regangan pada
Gambar 3-5la). Plotlah grafik rasio T/TY versus rasio
r/r2.
3.1 2-4 Sebuah batang lingkaran solid yang mempunyai
diameter d = 60 mm terbuat dari bahan elastoplastis
dengan G = 76 GPa dan r,. = 125 MPa. Hitunglah laju
puntir ()jika torsi T = 6,0 kN.m bekerja pada batang.
Mekanika Bahan 235
3.1 2-5 Sebuah batang lingkaran solid dengan diameter
d = !.5 in. terbuat dari bahan elastoplastis dengan G =
1 1 .0 x I 06 P'i dan r,. = 1 8.000 psi. Hitunglah laju puntir
() jika torsi T = 1 160 lb-ft bekerja pacta batang.
*3.1 2-6 Denpn menggunakan diagram tegangan­
regangan untuk bahan e1astoplastis pada Gambar 3-52,
turunkan Persamaan 13-83) untuk menghitung torsi T.
*3.1 2-7 Sebuah batang 1ingkaran berlubang mempunyai
diameter da1am d1 = 3 in. dan diameter luar d2 = 6 in.
(lihat gambar). Batang tersebut terbuat dari baja yang
mempunyai diagram tepngan-regangan geser clas­
toplastis (lihat Gambar 3-5 1a) dengan r, = 24.000 psi
dan Y.. = 0,002. (a) Berapa torsi T yang bekerja di batang
yang
·
akan menghasi1kan regangan geser maksimum Ymaks
= 0,003 di batang tersebut'1 1 bl Berapa torsi p1astis TP?
(c) Berapa regangan geser maksimum Yp apabila torsi
tepat mencapai harga torsi plastis T
r·:
d2 = 6 in.
*3.1 2-8 Sebuah batang lingkaran solid dengan radius r
= 40 mm terbuat dari bahan yang mempunyai diagram
tegangan-regangan seperti terlihat dalam gambar.
Hitunglah tegangan geser maksimum rmaks di batang jika
torsi T = 6 kN.m.
rv = 40 MPa -- - - - - - -
0 y
4
-
Gambar 4-1 Contoh balokyang
dibebani gaya lateral
GAYA GESER DAN
MOMEN LENTUR
PENGANTAR
Elemen struktural biasanya dikelompokkan menurut jenis-jenis beban yang
dipikulnya. Sebagai contoh, batang yang dibebani secara aksial memikul
gaya-gaya yang mempunyai vektor di sepanjang sumbu batang dan batang
dalam keadaan tarsi memikul torsi (atau kopel) yang mempunyai vektor
momen di sepanjang sumbu. Dalam bab ini, kita mulai mempelajari balok
(Gambar 4- l), yang merupakan elemen struktur yang mengalami beban
lateral, yaitu gaya-gaya atau momen yang vektomya tegak lurus sumbu
batang.
Balok yang terlihat dalam Gambar 4-1 dikelompokkan sebagai struktur
planar karena terletak di satu bidang. Jika semua beban bekerja di bidang
yang sama, dan jika semua defleksi (yang ditunjukkan dengan garis putus)
terjadi di bidang tersebut, maka kita menyebut bidang tersebut dengan
bidang lentur (plane of bending).
Di dalam bab ini kita membahas gaya geser dan momen lentur di
balok, dan kita akan menunjukkan bagaimana besaran-besaran tersebut
berkaitan satu sama lain dan dengan beban. Mencari gaya geser dan momen
lentur merupakan langkah penting dalam mendesain suatu balok. Kita
biasanya perlu mengetahui bukan hanya harga maksimum dari besaran­
besaran tersebut, tetapi juga bagaimana besaran-besaran tersebut bervariasi
di sepanjang sumbu. Apabila gaya geser dan momen lentur telah diketahui,
maka kita dapat mencari tegangan, regangan, dan defleksi, sebagaimana
dibahas dalam Bab 5, 6, dan 9.
JENIS-JENIS BALOK, BEBAN, DAN REAKSI
B alok biasanya dideskripsikan berdasarkan bagaimana balok tersebut
ditumpu. Sebagai contoh, suatu balok dengan tumpuan sendi (pin sup­
port) di satu ujung dan tumpuan rol (roller support) di ujung lainnya
(Gambar 4-2a) disebut balok bertumpuan sederhana atau balok
sederhana. Ciri penting pada tumpuan sendi adalah bahwa tumpuan ini
mencegah translasi di ujung suatu balok tetapi tidak mencegah rotasinya.
Jadi, ujung A dari balok dalam Gambar 4-2a tidak dapat bergerak dalam
P,l,
q,
- t/2 q,rrrr�-
j'·F ·� "-:-=�,
� i-a-,..i �- b- _,..
'
,
M, fR I
A
'•- �-- ---- L ----- ,...,
(b)
(c)
Gambar 4-2 Jenis-jenis balok:
(a) balok sederhana, (b) balok
kantilever, dan (c) balok dengan
overhang (ovcrstek)
Mekanika Bahan 237
arah horizontal atau vertikal tetapi sumbu batang dapat herotasi dalam
bidang gambar. Karena itu, tumpuan sendi dapat memberikan reaksi berupa
gaya dengan komponen horizontal dan vertikal (HA dan H8), tetapi tidak
dapat memberikan reaksi berupa momen.
Di ujung B dari balok (Gambar -1--2al. tumpuan rol mencegah translasi
dalam arah vertikal tetapi tidak dalam arah horizontal, sehingga tumpuan
ini dapat menahan gaya vertikal (R8l tetapi tidak gaya horizontal. Tentu
saja. sumbu balok bebas berputar di B seperti juga di A. Reaksi vertikal
di tumpuan rol dan tumpuan sendi dapat beraksi ke atas atau ke bawah,
dan reaksi di tumpuan sendi dapat berarah ke kiri atau ke kanan. Di dalam
gambar-gambar, reaksi ditunjukkan dengan panah yang dicoret untuk
membedakannya dengan beban, sebagaimana telah diterangkan sebelum
ini di dalam Subbab 1.8.
B alok yang terlihat dalam Gambar 4-2b. yang dijepit di satu ujung
dan bebas di ujung lainnya, disebut balok kantilever I cantilever beam).
Di tumpuan jepit (clamped supprot) balok tidak dapat bertranslasi maupun
berotasi, sedangkan di ujung bebas balok tersebut dapat bertranslasi dan
berotasi. Dengan demikian, baik reaksi gaya maupun momen dapat ada di
tumpuan jepit.
Contoh ketiga dalam gambar adalah balok dengan overhang (bagian
overstek) (Gambar 4-2c). Balok ini ditumpu sederhana di titik A dan B
(artinya, balok mempunyai tumpuan sendi di A dan tumpuan rol di B)
tetapi ada bagian yang menerus (overstek) di atas tumpuan B. Bagian
overstek ini mirip dengan balok kantilever tetapi dalam hal ini sumbu
balok dapat berotasi di titik B.
Dalam menggambar balok, kita identifikasikan tumpuan dengan simbol
konvensional, seperti terlihat dalam Gambar 4-2. Simbol ini menunjukkan
bagaimana balok ditahan, sehingga simbol ini sekaligus juga menunjukkan
bagaimana perilaku reaksi yang berupa gaya dan momen. Sekalipun
demikian, simbol tersebut tidak menunjukkan konstruksifisik secara aktual.
Sebagai contoh, tinjau struktur yang terlihat dalam Gambar 4-3. Bagian
(a) dari gambar tersebut menunjukkan sebuah balok sayap lebar yang
ditumpu oleh dinding beton dan ditahan oleh baut angkur yang menembus
lubang slot di flens hawah dari halok tersebut. Konstruksi ini menahan
balok terhadap gerakan vertikal (baik ke atas atau pun ke bawah) tetapi
tidak mencegah gerakan horizontal. Juga, tahanan terhadap rotasi sumbu
longitudinal balok adalah kecil dan biasanya dapat diabaikan. Dengan
demikian. tumpuan seperti ini biasanya direpresentasikan sebagai rol, seperti
terlihat dalam bagian (b) gambar tersebut.
Contoh kedua (Gambar 4-3c) adalah sambungan balok ke kolom di
mana balok terpasang di flens kolom dengan menggunakan siku yang
dibaut. Tumpuan seperti ini biasanya diasumsikan menahan balok terhadap
gerakan horizontal dan vcrtikal tetapi tidak menahan rotasi (tahanan
terhadap rotasi sangat kecil karena siku dan kolom dapat melentur). Jadi,
sambungan ini cenderung direpresentasikan schagai mnpuan scndi pada
balok (Ga�bar 4-3d).
Contoh terakhir (Gambar 4-3e) adalah tiang metal yang dilas ke plat
landasan yang diangkur ke pir beton yang tertanam di tanah. Karena dasar
dari tiang ini dikckang penuh terhadap translasi dan rotasi, maka ini dapat
dipandang sebagai tumpuan jepit (Gambar 4-3f).
Menyatakan struktur ril dengan model yanfi diidealisasikan, sebagai­
mana diilustrasikan dengan balok dalam Gambar 4.2, merupakan aspek
238 5a: .!. Ga_va Geser dan Momen Leritur
Dindingbeton
(a)
angkur
Platlandasan
Balok
Et{�
�
(b)
penting dalam dunia teknik. Model hams cukup sederhana untuk menunjuk­
kan perilaku aktual struktur dengan ketelitian yang cukup memadai. Tentu
saja, setiap model merupakan pendekatan terhadap kenyataan. Sebagai
contoh, tumpuan aktual suatu balok tidak pernah benar-benar rigid karena
selalu ada sedikit translasi di tumpuan sendi dan sedikit rotasi di tumpuan
jepit. Juga, tumpuan tidak pernah benar-benar bebas gesekan, sehingga
selalu ada sedikit tahanan terhadap rotasi di tumpuan rol. Pada umumnya,
terutama pada balok statis tertentu, penyimpangan dari kondisi ideal hanya
berpengaruh sedikit terhadap aksi balok dan dapat dengan aman diabaikan.
• Jenis-jenis Beban
Plat
landasan
Pirbeton
(C)
(d)
Gambar 4-3 Balokyangditumpu
padadinding: (a)konstruksi aktual,
dan (b) representasi sebagai
tumpuan rol. Sambungan balok ke
kolom: (c) sambungan aktual, dan
(d) representasi sebagai tumpuan
sendi. Tiang yang diangkur ke pir
betcn: (e) konstruksi aktual,dan (f)
representasi sebagai tumpuanjepit
Beberapa jenis beban yang bekerja di balok diilustrasikan dalam Gambar
4-2. Apabila suatu beban bekeija pacta area yang sangat kecil, maka beban
tersebut dapat diidealisasikan sebagai beban terpusat, yang merupakan
gaya tunggal. Contohnya adalah beban Pl' P2, P3' dan P4 dalam gambar
tersebut. Apabila suatu beban tersebar pada sumbu balok, maka ini
merupakan beban terdistribusi, seperti beban q dalam bagian (a) dari
gambar tersebut. Beban terdistribusi dinyatakan dengan intensitasnya,
yang mempunyai satuan gaya per jarak satuan (sebagai contoh, newton
per meter atau pound per feet). Beban terdistribusi terbagi rata, atau
beban terbagi rata mempunyai intensitas konstan q per jarak satuan
(Gambar 4-2a). Beban yang berubah mempunyai intensitas yang berubah
terhadapjarak di sepanjang sumbu balok; misalnya, beban yang bervariasi
secara linier dalam Gambar 4-2b mempunyai intensitas yang bervariasi
secara linier dari q1 ke q2• Beban lain dari beban adalah kopel, yang
diilustrasikan sebagai kopel dari momen M1 yang bekeija di bagian overstek
dari balok (Gambar 4-2c).
Sebagaimana disebutkan dalam Subbab 4. 1, kita asumsikan di dalam
pembahasan ini bahwa beban bekerja di bidang gambar, yang berarti bahwa
semua gaya harus mempunyai vektor di dalam bidang gambar dan semua
kopel harus mempunyai vektor momen tegak lurus bidang gambar. Selain
itu, balok tersebut harus simetris terhadap bidang tersebut, yang berarti
bahwa setiap penampang balok harus mempunyai sumbu simetri vertikal.
Pada kondisi ini, balok akan berdefleksi hanya di bidang lentur (bidang
gambar).
• Reaksi
Mencari reaksi biasanya merupakan langkah pertama dalam analisis suatu
balok. Apabila reaksi telah diketahui, gaya geser dan momen lentur dapat
diperoleh, seperti yang akan diuraikan dalam bagian lain bab ini. Jika
suatu balok ditumpu secara statis tertentu, maka semua reaksi dapat
diperoleh dari diagram benda bebas dan persamaan keseimbangan.
Sebagai contoh, kita akan menentukan reaksi balok sederhana AB
dalam Gambar 4-2a. Balok ini dibebani oleh gaya miring ?1, gaya vertikal
P2, dan beban terdistribusi dengan intensitas q. Kita mulai dengan
memperhatikan bahwa balok tersebut mempunyai tiga reaksi anu: gaya
horizontal H_4 di tumpuan sendi, gaya vertikal RA di tumpuan sendi, dan
gaya vertikal R8 di tumpuan rol. Untuk suatu struktur planar (bidang),
seperti balok ini, kita ketahui dari statika bahwa kita dapat menulis tiga
persamaan keseimbangan independen. Jadi, karena ada tiga reaksi anu
dan tiga persamaan, maka balok ini statis tertentu.
Mekanika Bahan 239
Persamaan keseimbangan horizontal adalah
yang menghasilkan
Hasil ini dapat saja diperoleh dengan pengamatan secara cepat tanpa harus
menuliskan persamaan keseimbangan.
Untuk mencari reaksi vertikal RA dan R8, kita tulis persamaan
keseimbangan momen terhadap titik B dan A , dengan menggunakan
perjanjian tanda positif untuk momen berlawanan arah jarum jam.
"£M8 = 0 - RAL + (P1 sin a)(L - a) + P2(L - b) + qc
2
!2 = 0
"£MA = 0 R� - (P1 sin a)(a) - P2b - qc(L - c/2) = 0
Dengan memecahkan kedua persamaan di atas kita peroleh
(fl sin a)(L - a) P
2 (L- b) qc
2
�
�
-
-'-
'----
-'- + + -
L L 2L
R
_ (fl sin a)(a) P
2b 2..
qc
--'
('-
L_
-
_
cl
_
2
_:_
)
8 -
L
+ -
L
- +
L
Sebagai pengecekan apakah hasil ini benar, kita tulis persamaan
keseimbangan dalam arah vertikal dan akan terbukti bahwa hasil ini sudah
benar.
Sebagai contoh kedua, tinjau balok kantilever dalam Gambar 4-2b.
Bebannya terdiri atas gaya miring P3 dan beban terdistribusi secara linier.
Beban terdistribusi ini mempunyai diagram trapesium dengan intensitas
yang bervariasi dari q1 ke q2• Reaksi di tumpuan jepit adalah gaya hori­
zontal HA, gaya vertikal RA, dan kopel MA. Keseimbangan gaya dalam
arah horizontal menghasilkan
H - 5?-;
A -
13
dan keseimbangan dalam arah vertikal menghasilkan
R =
12?-; + (ql + q2 )b
A 1 3 2
Dalam mencari reaksi ini kita perlu mengingat fakta bahwa resultan dari
beban terdistribusi sama dengan luas diagram beban trapesium.
Reaksi momen MA di tumpuan jepit diperoleh dari persamaan
keseimbangan momen. Dalam contoh ini kita akan menjumlahkan momen
terhadap titik A untuk mengeliminasi HA dan RA dari persamaan momen.
Juga, untuk mencari momen akibat beban terdistribusi, kita membagi
trapesium menjadi dua segitiga, seperti terlihat dengan garis putus dalam
Gambar 4-2b. Setiap segitiga beban dapat diganti dengan suatu resultan,
yang merupakan gaya yang besamya sama dengan luas segitiga, dan
mempunyai garis kerja yang melalui pusat berat segitiga. Jadi, momen
terhadap titik A akibat segitiga beban bagian bawah adalah
240 Bab 4 Gaya Geser dan Momen Lentur
di mana q1bl2 adalah gaya resultan (sama dengan luas diagram beban
segitiga) dan L - 2b/3 adalah lengan momen (terhadap titik A) akibat
resultan tersebut.
Momen di bagian segitiga atas diperoleh dengan prosedur yang sama,
dan persamaan akhir keseimbangan momen (berlawananjarum jam adalah
positif) adalah
M =
(12P,) a_ q1b(L_ 2b)_ q2b(L_ !?_) = O
A 13 2 3 2 3
sehingga
Karena persamaan ini memberikan hasil positif, maka momen reaksi MA
bekerja dalam arah sama dengan yang diasumsikan, yaitu berlawanan
jarum jam. (Rumus untuk RA dan MA dapat dicek dengan menjumlahkan
momen terhadap titik B dan membuktikan bahwa persamaan keseimbangan
tersebut akan susut menjadi suatu identitas.)
Balok dengan overstek (Gambar 4-2c) memikul gaya vertikal P4dan
kopel momen M1•Karena tidak ada gaya horizontal yang bekerja di balok,
maka reaksi horizontal di tumpuan sendi tidak ada dan kita tidak perlu
memunculkannya dalam diagram benda bebas. Dalam menarik kesimpulan
ini, kita menggunakan persamaan keseimbangan dalam arah horizontal.
Dengan demikian, hanya ada dua persamaan keseimbangan independen -
yaitu dua persamaan momen, atau satu persamaan momen plus persamaan
untuk keseimbangan vertikal. Misalkan kita memilih untuk menulis dua
persamaan momen, yang pertama adalah momen terhadap titik B dan
yang kedua adalah momen terhadap titik A, sebagai berikut (momen
berlawanan jarum jam adalah positif):
l.M8 = 0 -RAL + P/L - a) + M1 = 0
'L:MA = 0 - P4a + R� + M1 = 0
Dengan demikian, reaksinya adalah
Sekali lagi, perjumlahan gaya-gaya dalam arah vertikal dapat digunakan
untuk megecek kebenaran hasil ini.
Pembahasan di atas mengambarkan bagaimana reaksi pada balok
statis tertentu dihitung dari persamaan keseimbangan. Kita sengaja menggu­
nakan contoh-contoh dengan simbol, bukannya contoh numerik, agar terli­
hat jelas bagaimana masing-masing
.
langkah dilakukan. (Di dalam contoh­
contoh lain kita kadang-kadang mengabaikan perhitungan reaksi karena
langkahnya pada dasarnya sama dengan yang telah dijelaskan di sini.)
-·
4·•
3 I GAYA GESER DAN MOMEN LENTUR
Pada saat suatu balok dibebani oleh gaya atau kopel, tegangan dan regangan
akan terjadi di seluruh bagian interior balok. Untuk menentukan tegangan
dan regangan ini, mula-mula kita harus mencari gaya internal dan kopel
At:r:_�·�
1----x-1
(a)
c...:;.;.;__�=""""= '"M
1- x---.l v
(b)
(c)
Gambar 4-4 Gayageser V dan
momen lenturMdi suatubalok
Mekanika Bahan 241
internal yang bekerja pada balok. Sebagai ilustrasi bagaimana besaran
internal ini diperoleh, tinjau balok kantilever AB yang dibebani oleh gaya
P di ujung bebas (Gambar 4-4a). Kita memotong balok tersebut di potongan
melintang mn yang terletak pada jarak x dari ujung bebas dan mengisolasi
bagian kiri dari balok sebagai benda bebas (Gambar 4-4b). Benda bebas
ini dipertahankan berada dalam keseimbangan oleh gaya P dan tegangan
yang bekerja di penampang. Tegangan-tegangan ini mewakili aksi bagian
sebelah kanan balok pada bagian kirinya: yang kita ketahui adalah bahwa
resultan dari tegangan ini harus sedemikian hingga mempertahankan
keseimbangan benda bebas.
Dari statika, kita ketahui bahwa resultan dari tegangan yang bekerja
di penampang adalah gaya geser V dan momen lentur M (Gambar 4-4b).
Karena beban P berarah transversal terhadap sumbu balok, maka tidak
ada gaya aksial di penampang. Baik gaya geser maupun momen lentur
bekerja di bidang balok, artinya vektor gaya geser terletak di bidang gambar
dan vektor momen lentur adalah tegak lurus bidang gambar.
Gaya geser dan momen lentur, seperti gaya aksial di batang dan torsi
intenal di batang, merupakan resultan dari tegangan yang terdistribusi di
suatu penampang. Dengan demikian, besaran-besaran ini dapat disebut
resultan tegangan.
Resultan tegangan pada balok statis tertentu dapat dihitung dari
persamaan keseimbangan. Dalam hal balok kantilever dalam Gambar 4-
4a, kita menggunakan diagram benda bebas dalam Gambar 4-4b. Dengan
menjumlahkan gaya-gaya dalam arah vertikal dan mengambil momen
terhadap potongan, kita dapatkan
'i.Pvert = 0 P - V = 0 atau V = P
'LM = 0 M - Px = 0 atau M = Px
di mana x adalah jarak dari ujung bebas balok ke potongan di mana V dan
M dihitung. Jadi, dengan menggunakan diagram benda bebas dan dua
persamaan keseimbangan, maka kita dapat menghitung gaya geser dan
momen lentur dengan mudah.
• Perjanjian Tanda
Sekarang kita tinjau perjanjian tanda untuk gaya geser dan momen lentur.
Gaya geser dan momen lentur biasa diasumsikan bertanda positif jika
bekerja dalam arah seperti terlihat dalam Gambar 4-4b. Perhatikan bahwa
gaya geser tersebut cenderung untuk memutar bahan searah jarum jam
dan momen lentur cenderung menekan bagian atas balok dan menarik
bagian bawahnya. Juga, untuk di potongan tersebut, gaya geser bekerja ke
bawah dan momen lentur bekerja berlawanan jarum jam.
Aksi resultan tegangan yang sama terhadap bagian kanan balok
ditunjukkan dalam Gambar 4-4c. Arah kedua besaran sekarang
kebalikannya - gaya geser bekerja ke atas dan momen lentur bekerja
searah jarum jam. Sekalipun demikian, gaya geser cenderung memutarkan
bahan searah jarum jam dan momen lentur tetap menyebabkan tekan di
bagian atas dan tarik di bagian bawah balok.
Dengan demikian, kita harus mengingat bahwa tanda aljabar resultan
tegangan ditentukan dengan bagaimana resultan tersebut mengubah bentuk
bahan di mana resultan tersebut bekerja, bukan dengan arahnya di dalam
ruang. Dalam hal balok, gaya geser positif bekerja searah jarum jam
242 Bab 4 Gaya Geser dan Momen Lentur
Gambar 4-5 Perjanjian tanda
untukgayageser V dan rnornen
lenturM
(a)
)
M
Gambar 4-6 Deforrnasi (digarnbar
dengan sangatdibesarkan) suatu
balok yangdiakibatkan oleh: (a)
gayageser, dan (b) momen lentur
LEMBAR
KERJA
3
•
terhadap bahan (Gambar 4-4b dan c) dan gaya geser negatif bekerja
berlawananjarumjam terhadap bahan. Juga, momen lentur positif menekan
bagian atas balok (Gambar 4-4b dan c) dan momen lentur negatif menekan
bagian bawah.
Untuk memperjelas perjanjian tanda ini, gaya geser positif dan negatif
maupun momen lentur positif dan negatif ditunjukkan dalam Gambar
4-5. Gaya dan momen seperti terlihat bekerja pada elemen balok yang
dipotong antara dua penampang yang jaraknya berdekatan satu sama lain.
Deformasi suatu elemen yang diakibatkan oleh gaya geser positif
dan negatif maupun momen lentur positif dan negatif terlihat dalam Gambar
4-6. Kita lihat bahwa gaya geser positif cenderung mengubah bentuk
elemen dengan muka kanan bergerak ke bawah relatif terhadap muka kiri,
dan seperti telah disebutkan, momen lentur positif menekan (dan
memperpendek) bagian atas dan menarik bagian bawah balok.
Perjanjian tanda untuk resultan tegangan disebut perjanjian tanda
deformasi karena didasarkan atas bagaimana bahan berdeformasi. Sebagai
contoh, kita telah menggunakan perjanjian tanda deformasi pada kasus
gaya aksial di suatu batang. Kita telah menyatakan bahwa gaya aksial
yang menyebabkan perpanjangan (yaitu tarik) di suatu batang adalah positif
dan gaya aksial yang menyebabkan perpendekan (yaitu tekan) adalah
negatif. Jadi, tanda untuk gaya aksial bergantung pada bagaimana bahan
berdeformasi, bukan bergantung pada arahnya di dalam ruang.
Sebaliknya, dalam menuliskan persamaan keseimbangan kita meng­
gunakan perjanjian tanda statika di mana gaya-gaya adalah positif atau
negatif bergantung pada arahnya di sepanjang sumbu koordinat. Sebagai
contoh, jika kita menjumlahkan gaya-gaya dalam arah y, maka gaya-gaya
yang bekerja dalam arah positif sumbu y dianggap positif dan gaya-gaya
yang bekerja dalam arah negatif dianggap negatif. Sebagai contoh, tinjau
Gambar 4-4b, yang merupakan diagram benda bebas bagian dari bagian
balok kantilever. Bayangkan bahwa kita akan menjumlahkan gaya-gaya
dalam arah vertikal dan bahwa sumbu y adalah positif ke atas. Dengan
demikian, beban P diberi tanda positif dalam persamaan keseimbangan
karena beraksi ke atas. Namun, gaya geser V (yang merupakan gaya geser
positij) diberi tanda negatif karena bekerja ke bawah (yaitu dalam arah
negatif sumbu y). Contoh ini menunjukkan perbedaan antara perjanjian
tanda deformasi yang digunakan untuk gaya geser dan perjanjian tanda
statika yang digunakan dalam persamaan keseimbangan.
Contoh berikut mengilustrasikan cara-cara menangani perjanjian tanda
dan menentukan gaya geser serta momen lentur di balok. Prosedur
umumnya terdiri atas pembuatan diagram benda bebas dan pemecahan
persamaan keseimbangan.
Contoh 4-1
Sebuah balok sederhana AB memikul dua beban, gaya P dan kopel M0, yang
bekerja seperti terlihat dalam Gambar 4-7a. Carilah gaya geser V dan momen
lentur M di balok di penampang yang terletak pada (a) dekat di sebelah kiri titik
tengah balok, dan (b) dekat di sebelah kanan titik tengah balok.
Solusi
Reaksi. Langkah pertama dalam analisis balok ini adalah mencari reaksi RA dan
R8 di tumpuan. Dengan mengambil momen terhadap ujung B dan A kita peroleh
(c)
Gambar 4-7 Contoh4-1 . Gaya
geserdan momen lenturpada
baloksederhana
LEMBAR
KERJA
3
Mekanika Bahan 243
dua persamaan keseimbangan, sehingga
R _ 3P _
M0
A - 4 L
p Mo
RB = - + -
4 L
(a)
(a) GaYa geser dan momen lentur di sebelah kiri titik tengah. Kita potong balok
di potongan melintang sedikit di kiri titik tengah dan menggambar diagram benda
bebas salah satu bagian balok. Dalam contoh ini, kita pilih setengah kiri balok
sebagai bcnda bcbas (Gambar 4-7b). Benda bcbas ini ditahan dalam kcseimbangan
oleh beban P, reaksi RA, dan dua resultan tegangan anu yaitu gaya geser V dan
momen lentur M, yang kcduanya ditunjukkan dalam arah positif (lihat Gambar 4-
5). Kopel M0 tidak bekerja di benda beba-, ini karena balok ini dipotong sedikit
di kiri lokasi kopel tersebut. Dengan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah vertikal
kita peroleh
'i.F = 0
vert
yang menghasilkan gaya geser:
p Mo
V = RA -- p = - - -
4 L
(b) ..
Hasil ini membuktikan bahwa apabila P dan M0 bekerja dalam arah seperti terlihat
dalam Gambar 4-7a, maka gaya geser (di lokasi yang dipilih) adalah negatif dan
bekcrja dalam arah berlawanan dengan arah positif yang diasumsikan dalam Gambar
4-7b.
Dcngan mcngambil momen terhadap sumbu yang melalui penampang di
mana balok dipotong (lihat Gambar 4-7b) maka
'i. M = O
di mana momen berlawanan jarum jam diambil positif. Dengan memecahkan
persamaan tersebut untuk mcndapatkan momen lentur M, kita pcroleh
M = R (!::_)- P(!::_) = PL - Mo
A 2  4 8 2 (C) ..
Momen lentur M dapat positif atau ncgatif, bergantung pada besar bcban P dan
M0. Jika positiL maka momen tersebut bckerja dalam arah seperti terlihat dalam
gambar; jika negatif, momen terscbut bekerja dalam arah kebalikannya.
(b) Gaya geser dan momen lentur di sebelah kanan titik tengah. Dalam hal
ini kita potong balok di penampang sedikit di sebclah kanan titik tengah dan
menggambar diagram benda bebas bagian balok ke kiri (Gambar 4-7c). Perbcdaan
antara diagram ini dan yang tadi adalah bahwa kopel M0 sekarang bckerja di
benda bcbas. Dari dua persamaan keseimbangan, yang pertama untuk gaya dalam
arah vertikal dan yang kcdua untuk momen tcrhadap sumbu yang melalui potongan,
kita pcroleh
V = _!_ - Mo
4 L
(d,e) ..
Hasil ini mcnunjukkan bahwa apabila potongan digeser dari kiri ke kanan kopel
M0, maka gaya geser tidak berubah (karena gaya vertikal yang bekerja di benda
bebas tidak bcrubah) tetapi momcn lemur bcrtambah sccara aljabar sebesar M0
(bandingkan Pcrsamaan c dan c).
Contoh 4-2
Scbuah balok kantilever yang bebas di ujung A dan dijepit di ujung B mengalami
beban terdistribusi yang bervariasi sccara linier q (Gambar 4-8a). Intensitas
maksimum bcban terjadi di tumpuanjepit dan sama dengan q0. Carilah gaya geser
V dan momen lentur M pacta jarak x dari ujung bebas balok.
r
244 Bab 4 Gaya Geser dan Momen Lentur
Gambar 4-8 Contoh 4-2. Gaya
geser dan momen lcntur di balok
kantilever
Solusi
Gaya geser. Kita potong halok pada jarak x dari ujung kiri dan isolasi bagian
halok tersehut sehagai henda hehas (Gamhar 4-8b). Pada benda hebas ini bekerja
hehan terdistribusi q,gaya geser V. dan momen lentur M. Bcsaran anu (V dan Ml
diasumsikan positif.
lntensitas heban terdistribusi pada jarak xdari ujung adalah
q = CfoX
L (4- 1 )
Dengan dcmikian, beban ke bawah total pada benda hehas, yang sama dengan
luas diagram beban segitiga ( Gambar 4-8b), adalah
)
_!_[ q"X • I X ) = !f.oX-
2  L 2L
Dari persamaan kcseimhangan dalam arah vertikal kita dapatkan
V = - Lj,JX-
2 L
(4-2a) ..
Di ujung bebas (x= 0) gaya geser adalah nol. dan di ujung jepit B (x = L)gaya
geser mempunyai harga maksimum:
-qoL
2
(4-2b)
yang secara numerik sama dengan beban ke bawah total pada balok. Tanda ncgatif
dalam Persamaan (4-2a) dan (4-2b) mcnunjukkan bahwa ga; a geser hekcrja dalam
arah berlawanan dengan yang terlihat dalam Gambar 4-Sb.
Momen lentur. Untuk mencari momen lentur M di balok (Gamhar 4-8b), kita
tulis persamaan keseimbangan momen terhadap sumbu yang melalui penampang.
Dengan mengingat bahwa momen dari beban segitiga sama dengan luas diagram
beban dikalikan jarak dari pusat beratnya kc sumbu momen, maka kita mendapatkan
persamaan keseimbangan berikut (momen yang berlawanan dengan arah putaran
jarum jam adalah positit):
I M = 0
sehingga
M + _!_(qox)(x)(�)= 0
2 L 3
3
lvf = - qox
6L (4-3a) ..
Di ujung bebas balok (x= 0), momen lentur adalah no!, dan di ujung jepit (x =
L). momen tersebut mempunyai harga numerik terbesar:
2
M . = - qoL
maks
6
(4-3b)
Tanda negatif dalam Persamaan (4-3a) dan (4-3b) menunjukkan bahwa momen
lentur bekerja dalam arah berlawanan dengan yang terlihat dalam Gambar 4-Sb.
-----------· -- -------- -- --- - -- ----- --- - --- -- - -- - - ------- -
LEMBAR
KERJA
3
A Contoh 4-3
Sebuah balok sederhana dcngan overstek ditumpu di titik A dan B (Gambar 4-9a).
Beban terbagi rata dengan intensitas q= 200 lb/ft bekcrja di seluruh panjang balok
dan behan terpusat P = 14 k bekerja di titik 9 ft dari tumpuan kiri. Panjang
bentang ada1ah 24 ft dan panjang overstek adalah 6 ft. Hitunglah gaya geser V dan
momen lentur lvl di potongan D yang terletak di 15 ft dari tumpuan kiri.
Gambar 4-9 Contoh 4-3. Gaya
geser dan momen lentur di suatu
balok dengan overstek (overhang)
Solusi
l-e:--- 9 ft _ .., p = 1-+ k
I
t
A 6lLU1 I I l : ,
!..::::. D
�··
1 5 ft ·
----·-+
·------ 24 ft --·
1a1
1 1 4 k
200 lb/ft t (
-llJTIJ�� )
A -
· ��� .. :b:j �
..,;,;..
D V
t l l k
(b)
(c)
Mekanika Bahan 245
Reaksi. Kita mulai dengan menghitung reaksi R4 dan RB dari persamaan
keseimbangan untuk seluruh balok yang dipandang sebagai benda bebas. Jadi,
dengan mengambil momen terhadap tumpuan di B dan A, kita peroleh
Gaya geser dan momen !entur di potongan D. Sekarang kita membuat
potongan di D dan membuat diagram benda bebas bagian kiri balok (Gambar 4-
9b). Dalam menggambar diagram ini, kita asumsikan bahwa resultan tegangan
anu V dan M adalah positif. Persamaan keseimbangan untuk benda bebas adalah
sebagai berikut:
1 1 k - 1 4 k - (0,200 k/ft)(l 5 ft) -- V = 0
-( 1 1 k)(l 5 ft) + ( 14 k)(6 ft) + (0,200 k/ft)( 1 5 ft)(7,5 ft) + M = 0
di mana gaya ke atas dianggap positif di persamaan pertarna dan momen berlawanan
jamm jam dianggap positif dalam persarnaan kedua. Dengan memecahkan kedua
persamaan tersebut kita peroleh
V = -6 k M = 58,5 k-ft ..
Tanda negatif untuk V bcrarti bahwa gaya geser adalah negati f, artinya arahnya
berlawanan dengan arah yang terlihat dalam Gambar 4-9b. Tanda positif untuk M
berarti bahwa momen lentur bekerja dalam arah seperti terlihat dalarn garnhar.
Diagram benda bebas altematif Metode penyelesaian lainnya adalah dengan
mendapatkan V dan M dari diagram benda bebas bagian 'ebelah kanan balok
246 3a= 4 Gaya Geser dan Momen Lentur
(Gambar 4-9c). Dalam menggambarkan diagram benda bebas, kita asumsikan
bahwa gaya geser anu dan momen lentur anu adalah positif. Kedua persamaan
keseimbangan adalah:
LFvert = 0 V + 9 k - (0,200 k/ft)(1 5 ft) = 0
LMv = 0 --.if + (9 k)(9 ft) ·- (0,200 k/ft)( l 5 ft)(7,5 ft) = 0
sehingga
V = -6 k M = 58,5 k-ft
yang sama dengan yang telah diperoleh sebelum ini. Pada umumnya, pemilihan
diagram benda bebas yang akan digunakan bergantung pada sclera setiap individu.
4.4
I HUBUNGAN ANTARA BEBAN, GAYA GESER, DAN
-- MOMEN LENTUR
et (b)
et (c)
Gambar 4-10 Elemen suatubalok
yangdigunakanuntukmenurunkan
hubungan antarabeban, gayageser,
dan momen Jentur. (Semua beban
dan resultan tegangan ditunjukkan
dalamarahpositif.)
Kita akan mendapatkan hubungan penting antara beban, gaya geser, dan
momen lentur di balok. Hubungan ini cukup berguna dalam menyelidiki
gaya geser dan momen lentur di seluruh panjang balok dan khususnya ber­
guna dalam membuat diagram gaya geser dan momen lentur (Subbab 4.5).
Sebagai suatu cara untuk mendapatkan hubungan tersebut, kita tinjau
elemen balok yang dipotong antara dua penampang yang terletak sejauh
dx satu sama lain (Gambar 4- 10). Beban yang bekerja di permukaan atas
dari elemen dapat berupa beban terbagi rata, beban terpusat, atau kopel,
seperti terlihat masing-masing dalam Gambar 4-1 Oa, b, dan c. Perjanjian
tanda untuk beban tersebut adalah sebagal berikut. Beban terdistribusi
dan beban terpusat adalah positifapabila bekerja ke bawah di balok dan
negatifjika bekerja ke atas. Kopel yang bekerja sebagai beban di balok
adalah positifjika berlawanan arah jarum jam dan negatifjika searah
jarum jam. Jika perjanjian tanda lain digunakan, perubahan yang harus
dilakukan hanyalah tanda dari suku-suku yang muncul dalam persamaan
yang diturunkan berikut ini.
Gaya geser dan momen lentur yang bekerja di sisi-sisi elemen
ditunjukkan dalam arah positif dalam Gambar 4-1 0. Pada umumnya, gaya
geser dan momen lentur bervariasi di sepanjang sumbu balok. Dengan
demikian, harganya di muka kanan elemen dapat berbeda dengan harga di
muka kiri. Dalam hal beban terdistribusi (Gambar 4- lOa), pertambahan V
dan M kecil sekali sehingga dapat kita tulis sebagai dV dan dM. Resultan
tegangan di muka kanan adalah V + dV dan M + dM. Dalam hal beban
terpusat (Gambar 4- lOb) atau kopel (Gambar 4-lOc) pertambahan mungkin
terhingga sehingga diberi notasi V1 dan lv/1. Resultan tegangan untuk ini
di muka kanan adalah V + V1 dan M + M1.
Untuk setiap jenis pembebanan kita dapat menulis dua persamaan
keseimbangan untuk elemen-satu untuk persamaan keseimbangan gaya
dalam arah vertikal dan satu untuk keseimbangan momen. Persamaan
pertama memberikan hubungan antara beban dan gaya geser, dan persamaan
kedua memberikan hubungan antara gaya geser dan momen lentur.
• Beban Terdistribusi (Gambar 4-10a)
Jenis pertama dari pembebanan adalah beban terdistribusi dengan intensitas
q, seperti terlihat dalam Gambar 4-l Oa. Keseimbangan gaya dalam arah
vertikal (gaya ke atas adalah positif) menghasilkan
I.F = 0
vert.
atau
Mekanika Bahan 247
V - qdx - (V + dV) = 0
= -q (4-4)
Dari persamaan ini kita lihat bahwa laju perubahan gaya geser di setiap
titik pada sumbu balok sama dengan negatif dari intensitas beban
terdistribusi di titik yang sama. (Catatan: Jika perjanjian tanda untuk
beban terdistribusi dibalik, sehingga q adalah positif ke atas bukan ke
bawah, maka tanda minus dihapus dari persamaan tersebut.)
Hubungan yang berguna sudah sangat jelas dari Persamaan (4-4).
Sebagai contoh, jika tidak ada beban terdistribusi di segmen balok (artinya,
jika q = 0), maka dV!
dx = 0 dan gaya geser adalah konstan di bagian
balok yang itu. Juga, jika beban terdistribusi adalah seragam di seluruh
bagian balok (q = konstan), maka dV
!dx juga konstan dan gaya geser
berubah secara linier di bagian balok tersebut.
Untuk mendemonstrasikan Persamaan (4-4), tinjau balok kantilever
dengan beban yang bervariasi secara linier yang telah kita bahas dalam
Contoh 4-2 di dalam subbab sebelum ini (lihat Gambar 4-8). Beban di
balok (dari Persamaan 4-1 ) adalah
yang bertanda positif karena bekerja ke bawah. Juga, gaya geser (dari
Persamaan 4-2a) ada!ah
2
V = - qox
2L
Dengan mengambil turunan dV
!dx maka
dV
=
.!!_(_q0x
2
)= _ q0x
= -q
dx dx l 2L L
yang cocok dengan Persamaan (4-4).
Hubungan penting mengenai gaya geser di dua potongan yang berbeda
pada suatu balok dapat diperoleh dengan mengintegrasikan Persamaan (4-
4) di sepanjang sumbu balok. Untuk mendapatkan hubungan ini, kita
kalikan kedua sisi Persamaan (4-4) dengan dx dan selanjutnya kita
gintegrasikan diantara dua titik A dan B di sumbu balok; jadi,
(a)
di mana kita asumsikan bahwa x bertambah pada saat kita bergerak dari
titik A ke titik B. Sisi kiri dari persamaan ini sama dengan perbedaan ( V8
- VA) antara gaya geser di A dan di B. Integral di sisi kanan menunjukkan
luas diagram pembebanan antara A dan B, yang pada gilirannya sama
dengan besar resultan beban terdistribusi yang bekerja di antara titik A
dan B. Jadi, dari Persamaan (a) kita dapatkan
248 Bab 4 Gaya Geser dan Momen Lentur
VB -VA = -rq dx
= - (luas diagram pembebanan antara A dan B) (4-5)
Dengan perkataan lain, perubahan gaya geser antara dua titik sepanjang
sumbu balok sama dengan negatif dari total beban ke bawah antara titik­
titik tersebut. Luas diagram pembebanan dapat positif (jika q bekerja ke
bawah) atau negatif (jika q bekerja ke atas).
Karena Persamaan ( 4-4) diturunkan untuk elemen balok yang
mengalami hanya beban terdistribusi (atau tidak ada beban sama sekali),
kita tidak dapat menggunakan Persamaan (4-4) di titik di mana beban
terpusat bekerja (karena intensitas beban q tidak didefinisikan untuk beban
terpusat). Untuk alasan yang sama. kita tidak dapat menggunakan Per­
samaan (4-5) jika beban terpusat P bekerja di balok antara titik A dan B.
Sekarang tinjau keseimbangan momen di elemen balok yang terlihat
dalam Gambar 4-lOa. Dengan menjurnlahkan momen terhadap sumbu di
sisi kiri elemen (sumbu tersebut tegak lurus bidang gambar), dan meng­
anggap momen berlawananjarumjam sebagai momen positif, kita dapatkan
2.. M = 0 -M - q dx (�x ) - (V + dV)dx + M + dM = 0
Dengan mengabaikan hasil kali antara diferensial (karena dapat diabaikan
dibandingkan dengan suku-suku lainnya), kita dapatkan hubungan sebagai
berikut:
(4-6)
Persamaan ini menunjukkan bahwa laju perubahan momen lentur di setiap
titik pada sumbu balok sama dengan gaya geser di titik yang sama. Sebagai
contoh, jika gaya geser adalah nol di suatu daerah balok, maka momen
lentur adalah konstan di daerah yang sama.
Persamaan (4-6) berlaku hanya di daerah di mana beban terdistribusi
(atau tidak ada beban) bekerja di balok. Di titik di mana beban terpusat
bekerja, perubahan mendadak (atau diskontinuitas) pada gaya geser terjadi
dan turunan dM/dx tidak terdefinisi di titik tersebut.
Dengan menggunakan balok kantilever dalam Gambar 4-8 sebagai
contoh, kita ingat bahwa momen lentur (Persamaan 4-3a) adalah
Jadi, turunan dM!dx adalah
2
M = -
qox
6L
dM = .!!..._(-q0x
3
J
= _ q0x
2
dx dx 6L 2L
yang sama dengan gaya geser di balok (lihat Persamaan 4-2a).
Dengan mengintegrasikan Persamaan (4-6) antara dua titik A dan B
di sumbu balok maka
(b)
Mekanika Bahan 249
Integral di sisi kiri persamaan ini sama dengan perbedaan (M8 - MA)
antara momen lentur di B dan A. L'ntuk menginterpretasikan integral di
sisi kanan, kita perlu meninjau V sebagai fungsi dari x dan membayangkan
diagram gaya geser yang menunjukkan variasi V terhadap x. Selanjutnya
kita lihat bahwa integral di sisi kanan menunjukkan luas di bawah dia­
gram gaya geser di antara A dan B. Dengan demikian, kita dapat
menyatakan Persamaan (b) sebagai berikut:
M8 - MA = s:V dx
= (luas diagram gaya geser di antara A dan B) (4-7)
Persamaan ini berlaku juga pada kasus beban terpusat yang bekerja di
balok di antara titik A dan B. Namun, ini tidak berlaku jika ada kopel yang
bekerja di antara A dan B. Suatu kopel menghasilkan perubahan mendadak
dalam momen lentur, dan sisi kiri dari Persamaan (b) tidak dapat diintegrasi
melalui diskontinuitas tersebut.
• Beban Terpusat (Gambar 4-1 0b)
Sekarang tinjau beban terpusat P yang bekerja di elemen balok (Gambar
4-l Ob). Dari keseimbangan gaya dalam arah vertikal kita peroleh
V - P - (V + V1) = 0 atau V1 = -P (4-8)
Hasil ini berarti bahwa perubahan mendadak pada gaya geser terjadi di
titik di mana beban terpusat bekerja. Pada saat kita bergerak dari kiri ke
kanan melalui titik bekerjanya beban, maka gaya geser berkurang dalam
jumlah yang sama besar dengan beban terpusat ke bawah P.
Dari keseimbangan momen terhadap muka kiri elemen (Gambar 4-
lOb), kita peroleh
-M - P(d
;)- (V + V1)dx + M + M1 = 0
atau
M1 = P (d
;)+ V dx + V1 dx
Karena panjang dx dari suatu elemen sangat kecil, maka kita lihat dari
persamaan ini bahwa pertambahan momen M1 juga kecil sekali. Jadi,
momen lentur tidak berubah pada saat kita bergerak melalui titik
bekerjanya beban terpusat.
Meskipun momen lentur tidak berubah di lokasi beban terpusat, laju
perubahan (dM!dx) mengalami perubahan mendadak. Di sisi kiri elemen
(Gambar 4-1 Ob), laju perubahan momen lentur (lihat Persamaan 4-6) adalah
dM!dx = V. Di sisi kanan, laju perubahannya adalah dM!dx = V + V1 = V­
P. Dengan demikian, di titik bekerjanya beban terpusat P, lajuperubahan
dM!dx berkurang secara mendadak sebesar P
• Beban Dalam Bentuk Kopel (Gambar 4-10c)
Kasus terakhir yang akan ditinjau adalah beban dalam bentuk kopel M0
(Gambar 4-l Oc). Dari keseimbangan elemcn dalam arah vertikal, kita
dapatkan V1 = 0, yang menunjukkan bahwa gaya geser tidak berubah di
titik bekerjanya kopel.
250 Bab 4 Gaya Geser dan Momen Lentur
Keseimbangan momen terhadap sisi kiri elemen menghasilkan
-M + M0 - (V + V1)dx + M + M1 = 0
Dengan mengabaikan suku-suku yang mengandung diferensial (karena
dapat jauh lebih kecil dibandingkan suku lainnya), kita peroleh
(4-9)
Persamaan ini menunjukkan bahwa momen lentur berkurang sebesar M0
apabila kita beijalan dari kiri ke kanan melalui titik bekerjanya beban.
Jadi, momen lentur berubah secara mendadak di titik bekerjanya kopel.
Persamaan (4-4) sampai (4-9) berguna dalam membuat diagram
momen lentur dan gaya geser di balok secara lengkap, sebagaimana dibahas
dalam subbab berikut ini.
-·
4·•
5 I DIAGRAM GAYA GESER DAN MOMEN LENTUR
Dalam mendesain suatu balok, kita biasanya perlu mengetahui bagaimana
gaya geser dan momen lentur bervariasi di seluruh panjang balok. Salah
satu yang penting adalah harga maksimum dan minimum dari besaran­
besaran ini. lnformasi seperti ini diberikan dengan grafik di mana gaya
geser dan momen lentur diplot sebagai ordinat dan jarak x di sepanjang
sumbu balok diplot sebagai absis. Grafik seperti ini disebut diagram
gaya geser dan momen lentur. Untuk lebih menjelaskan diagram tersebut,
kita akan membahas secara rinci bagaimana diagram tersebut dibuat dan
diinterpretasikan untuk ketiga kondisi pembebanan dasar-beban terpusat,
beban terbagi rata, dan beberapa beban terpusat. (Kasus kopel yang bekeija
sebagai beban pada balok diilustrasikan dalam Contoh 4-7.)
• Beban Terpusat
Kita mulai dengan balok sederhana AB yang memikul beban terpusat P
(Gambar 4-1 1 a). Beban P bekerja padajarak a dari tumpuan kiri dan jarak
b dari tumpuan kanan. Dengan meninjau seluruh balok sebagai benda
bebas, kita dapat langsung menentukan reaksi balok dari keseimbangan;
hasilnya adalah
R
_ Pb
A -
L
R
_ Pa
B -
L
(4-lOa,b)
Kita sekarang memotong balok di sebelah di kiri beban P dan pada jarak
x dari tumpuan di A. Lalu kita gambarkan diagram benda bebas bagian
kiri dari balok (Gambar 4- 1 1 b). Dari persamaan keseimbangan untuk
diagram benda bebas ini, kita peroleh gaya geser V dan momen lentur M
di jarak x dari tumpuan:
Pb
V = RA = ­
L
(0 < x < a) (4- l l a,b)
Rumus ini hanya berlaku untuk bagian balok di kiri beban P.
Selanjutnya, kita potong balok ini di kanan beban P (artinya di daerah
a < x < L) dan juga menggambar diagram benda bebas untuk bagian kiri
balok (Gambar 4-llc). Dari persamaan keseimbangan untuk benda bebas
ini, kita peroleh rumus berikut untuk gaya geser dan momen lentur:
(a)
R4
(b)
.
lP
�-----a-----� M
Ag===: -.... . · ·· -- -• -•-··.•· • :7 �:)
- I
t----x--1
(c)
(d)
(e)
_ Pa
L
Gambar 4-11 Diagram gaya geser
dan momen lentur untuk balok
sederhana dengan beban terpusat.
Mekanika Bahan 251
Pb Pa
V = RA - P = - - P = - (a < x < L)
L L
Pbx
M = RAx - P(x - al = - - P(x - a)
L
Pa
= --(L - x)
L
(a < x < L)
(4-1 2a)
(4- 12b)
Perhatikan bahwa rumus-rumus ini berlaku hanya di bagian kanan balok.
Persamaan untuk gaya geser dan momen lentur (Persamaan 4- 1 1 dan
4-1 2) diplot di bawah gambar balok. Gambar -+- l l d adalah diagram gaya
geser dan Gambar 4-l le adalah diagram momen /entur.
Dari diagram pertama kita lihat bahwa gaya geser di ujung A dari
balok (x = 0) sama dengan reaksi RA. Gaya geser ini tetap konstan sampai
di lokasi beban P (x = a). Di titik tersebut, gaya geser berkurang mendadak
sebesar beban P. Di bagian kanan balok, gaya geser juga konstan tapi
secara numerik sama dengan reaksi di B.
Seperti terlihat dalam diagram kedua, momen lentur di bagian kiri
balok bertambah secara linier dari nol di tumpuan ke Pab!L di lokasi
beban terpusat (x = a). Di bagian kanan, momen lentur juga merupakan
fungsi linier dari x, yang bervariasi dari Pab!L, di x = a ke nol di tumpuan
(x = L). Jadi, momen lentur maksimum adalah
Pab
Mmaks = L (4-1 3)
dan terjadi di bawah beban terpusat.
Dalam mendapatkan rumus gaya geser dan momen lentur di kanan
beban P (Persamaan 4-12a dan b), kita meninjau keseimbangan bagian
kiri dari balok (Gambar 4-llc). Pada benda bebas ini bekerja gaya RA dan
P selain juga V dan M. Dalam contoh ini akan sedikit lebih mudah kalau
kita tinjau bagian kanan balok sebagai benda bebas, karena di bagian ini
hanya ada satu gaya (R8) yang muncul di dalam persamaan keseimbangan
(selain juga V dan M). Tentu saja, hasilnya sama saja.
Karakteristik tertentu pada diagram gaya geser dan momen lentur
(Gambar 4-l ld dan e) sekarang terlihat. Kita perhatikan bahwa kemiringan
dV!dx dari diagram gaya geser adalah nol di daerah 0 < x < a dan a < x
< L, yang sesuai dengan persamaan dV!d.x = -q (Persamaan 4-4). Juga, di
dalam daerah ini kemiringan dM/dx dari diagram momen lentur sama
dengan V (Persamaan 4-6). Di titik bekerjanya beban P ada perubahan
mendadak pada diagram gaya geser (sama dengan besar beban P) serta
perubahan kemiringan pada diagram momen lentur. Di kiri beban P,
kemiringan pada diagram momen adalah positif dan sama dengan Pb!L;
di kanan, kemiringannya adalah negatif dan sama dengan -PaiL.
Sekarang tinjaulah luas diagram gaya geser. Apabila kita bergerak
dari x = 0 ke x = a, luas diagram gaya geser adalah (Pb!L)a, atau Pab/L.
Besaran ini menunjukkan pertambahan momen lentur antara kedua titik
tersebut (lihat Persamaan 4-7). Dari x = a ke x = L, luas diagram gaya
geser adalah -Pab/L, yang berarti bahwa dalam daerah ini momen lentur
berkurang sebesar itu. Dengan demikian, momen lentur adalah nol di
ujung B dari balok, sebagaimana diduga.
Jika momen lentur di kedua ujung balok adalah nol, seperti yang
biasa terjadi dalam kasus balok sederhana, maka luas diagram gaya geser
252 3a.:: 4 Gaya Geser dan Momen Lentur
RA RB
(a)
qL
2
- qL
2
(b)
(c)
Gambar 4-1 2 Diagram gaya
geser dan momen lentur untuk
balok scderhana dengan beban
terbagi rata
antara ujung-ujung balok haruslah nol asalkan tidak ada kopel yang bekerja
di balok (lihat pembahasan dalam Subbab 4.4 di bawah Persamaan 4-7).
Seperti telah disebutkan. harga maksimum dan minimum untuk gaya
geser dan modulus elastisitas lentur dibutuhkan dalam mendesain balok.
Untuk balok sederhana dengan satu beban terpusat, gaya geser maksimum
terjadi di ujung balok yang terdekat dengan heban terpusat tersebut dan
momen lentur maksimum terjadi di bawah beban itu sendiri.
• Beban Terbagi Rata
Suatu balok sederhana dengan beban terdistribusi terbagi rata dengan
intensitas konstan q terlihat dalam Gambar 4-1 2a. Karena balok ini beserta
bebannya simetris, maka kita dapat segera melihat bahwa masing-masing
reaksi (RA dan R8) sama dengan qL/2. Dengan demikian, gaya geser dan
momen lentur pada jarak x dari ujung kiri adalah
V = R - qx =
qL
- qx (4- 1 4a)
A
2
M = R x - qx (�) =
qL>:
-
qx
2
A
2 2 2
(4-14b)
Kedua persamaan ini. yang berlaku di seluruh panjang balok, diplot sebagai
diagram gaya geser dan momen lentur dalam Gambar 4-1 2h dan c.
Diagram gaya geser terdiri atas garis lurus miring yang mempunyai
ordinat di x = 0 dan x = L sama secara numerik dengan reaksi. Kemiringan
garis adalah -q sebagaimana diharapkan dari Persamaan (4-4). Diagram
momen lentur merupakan kurva parabolik yang simetris terhadap titik
tengah balok. Di setiap potongan kemiringan diagram momen lentur sama
dengan gaya geser (lihat Persamaan 4-6):
dM
=
_!!:____(qLx _ qx�J
=
qL _
qx = V
dx dx 2 2 ) 2
Harga maksimum untuk momen lentur terjadi di titik tengah halok; dengan
demikian, kita substitusikan x = L/2 ke dalam rumus untuk M sehingga
qL
2
Mmaks. = -
8
-
seperti terlihat dalam gambar tersebut.
(4- 1 5)
Diagram intensitas behan (Gambar 4- 1 2a) mempunyai luas qL, dan
menurut Persamaan (4-5) gaya geser V harus berkurang sebesar ini pada
saat kita bergerak di sepanjang balok dari A ke B. Kita dapat melihat
bahwa pada contoh ini ini memang demikian; gaya geser berkurang dari
qL/2 ke -qL/2.
Luas diagram gaya geser antara x = 0 dan x = L/2 adalah qL
2
!8, dan
kita lihat bahwa luas ini menunjukkan hertambahnya momen lentur antara
kedua titik tersebut (Persamaan 4-7). Dengan cara sama, momen lentur
berkurang sebesar qL
2
18 di daerah antara x = L/2 dan x = L.
• Beberapa Beban Terpusat
Jika beberapa beban terpusat bekerja di balok sedcrhana (Gambar 4-13a),
rumus untuk menghitung gaya geser dan momen lentur dapat ditentukan
untuk setiap segmen balok antara bahwa titik hekerjanya beban. Lagi-lagi.
L ----- -- - J
(a)
(h)
(c)
Gambar 4-1 3 Diagram gaya
gcscr dan momen lentur untuk
balok sederhana dengan beberapa
heban tcrpusat
Mekanika Bahan 253
dengan menggunakan diagram benda bebas bagian ki1i balok dan mengukur
jarak x dari ujung A, kita peroleh persamaan berikut ini untuk segmen
pertama balok:
V = R.4
Untuk segmen kedua, kita dapatkan
(0 < x < a1J (4-16a,b)
(4-17a,b)
Untuk segmen ketiga dari balok. akan lehih mudah bila kita meninjau
bagian kanan balok bukannya yang kiri. karena di kanan bebannya lebih
sedikit. Jadi, kita peroleh
V = -R8 + P3
M = R8(L - x) - PlL - b3 - x)
Akhimya, untuk segmen keempat dari balok. kita peroleh
M = RsCL - x) (a3 < x < L J
(4- 1 8a)
(4- l Sb)
c -+-1 9a,b)
Persamaan (4-1 6) sampai (4-1 9) dapat digunakan untuk membuat dia­
gram gaya geser dan momen lentur (Gambar 4-1 3b dan c).
Dari diagram gaya geser kita perhatikan bahwa gaya geser adalah
konstan di setiap segmen balok dan bcrubah secara mendadak di setiap
titik beban, dengan besar perubahan sama dengan besar beban. Juga,
momen lentur di setiap segmen adalah fungsi linier dari x. Dengan
demikian, bagian diagram momen lentur merupakan garis lurus yang
miring. Untuk membantu menggambar garis-garis lurus tersebut, kita
dapatkan momen lentur di bawah beban terpusat dengan mcmasukkan x
= a 1 , x = a2
, dan x = a3 masing-masing ke dalam Pcrsamaan (4-1 6b), (4-
l 7b), dan (4- l Sb) sehingga kita peroleh momen lentur sebagai berikut:
(4-20a,b,c)
Dengan diketahuinya harga-harga ini, kita dapat langsung membuat dia­
gram momen lentur dengan menghubungkan titik-titik terscbut dengan
menarik garis-garis lurus.
Di setiap diskontinuitas gaya gescr, ada perubahan kemiringan dM/
dx pada diagram momen lentur. Juga, perubahan momen lentur antara dua
titik beban sama dengan luas diagram gaya geser antara dua titik tersebut
(lihat Persamaan 4-7). Sebagai contoh, pcrubahan momen lentur antara
beban P1 dan P2 adalah M2 - M1. Dengan menggunakan Persamaan (4-20a
dan b), kita peroleh
M2 - Ml = (RA - Pl)(a2 - a3)
yang merupakan luas diagram gaya geser persegi panjang antara x = a1
dan x = a2.
Momen lentur maksimum di balok yang dibcbani hanya olch beban­
beban terpusat harus terjadi di bawah salah satu beban, atau pada reaksi.
Untuk membuktikan ini, ingat bahwa kemiringan diagram momen lentur
sama dengan gaya geser. Dengan demikian, apabila momen lentur mencapai
harga maksimum atau minimum, maka turunan dM/dx (yang berarti juga
gaya geser) harus berubah tanda. Namun, di balok yang hanya dibebani
secara terpusat, gaya geser dapat berubah tanda hanya di lokasi beban.
2S4 5a:: .! Gaya Geser dan Momen Lentur
Jika, pacta saat kita menyusuri sepanjang sumbu x, gaya geser bembah
dari positif ke negatif (seperti terlihat dalam Gambar 4- 1 3b), maka
kemiringan diagram momen lentur juga berubah dari positif ke negatif.
Dengan demikian, kita hams mempunyai momen lentur maksimum di
penampang ini. Sebaliknya, pembahan gaya geser dari negatif ke positif
menunjukkan momen lentur minimum. Secara teoretis, diagram gaya geser
dapat memotong sumbu horizontal di beberapa titik, meskipun ke­
mungkinannya kecil. Di titik perpotongan tersebut terjadi maksimum atau
minimum lokal pada diagram momen lentur. Harga semua maksimum dan
minimum lokal harus ditentukan untuk mendapatkan momen lentur
maksimum dan minimum di suatu balok.
Perhatikan bahwa kita menggunakan sebutan "maksimum" dan "mini­
mum" dengan arti umum "terbesar" dan "terkecil." Dengan demikian. kita
dapat menyebut "momen lentur maksimum di suatu balok" tak peduli
apakah diagram momen lentur bempa fungsi halus, kontinu (seperti terlihat
dalam Gambar 4- 1 2c) atau berupa garis-garis lurus (seperti terlihat dalam
Gambar 4- 1 3c).
• Komentar Umum
LEMBAR
KERJA
3
Momen lentur maksimum positif dan negatif di suatu balok dapat terjadi
di lokasi-lokasi sebagai berikut: ( 1 ) penampang di mana beban terpusat
diterapkan dan gaya geser berubah tanda (lihat Gambar 4-1 1 dan 4- 1 3),
(2) penampang di mana gaya geser sama dengan nol (lihat Gambar 4- 1 2),
(3) titik tumpuan di mana terdapat reaksi vertikal, dan (4) penampang di
mana kopel diterapkan. Pembahasan dan contoh-contoh di dalam subbab
ini mengilustrasikan semua kemungkinan tersebut.
Apabila beberapa beban bekerja pacta balok, maka diagram gaya
geser dan momen lentur dapat diperoleh dengan superposisi (atau
penjumlahan) diagram yang diperoleh untuk setiap beban yang bekerja
secara terpisah. Sebagai contoh, diagram gaya geser daam Gambar 4- 1 3b
pacta dasamya merupakan jumlah tiga diagram, masing-masing berbentuk
seperti pacta Gambar 4-1 1 d untuk beban tunggal terpusat. Kita dapat
membuat komentar analog untuk diagram momen lentur pacta Gambar 4-
1 3c. Superposisi diagram gaya geser maupun momen lentur dapat dilakukan
karena gaya geser dan momen lentur pacta balok statis tertentu merupakan
fungsi linier dari beban yang bekerja.
Telah tersedia program komputer untuk membuat diagram gaya geser
dan momen lentur. Setelah Anda mengembangkan pemahamannya tentang
diagram dengan melakukan penyusunannya secara manual, Anda semesti­
nya merasa aman untuk menggunakan program komputer. Pengalaman
yang diperoleh dengan menggambar secara manual memungkinkan kita
mengenal kesalahan-kesalahan - seperti yang disebabkan oleh pemasukan
data yang salah ke dalam suatu program komputer.
Contoh 4-4
Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk suatu balok sederhana dengan
beban terbagi rata yang intensitasnya q yang bekerja di sebagian bentang seperti
terlihat dalam (Gambar 4-14a.)
q
A
..A'
.
.·
.
: 1 tllJ n ·�
. ·
.
·
·
.
B
·
.
.
·•' I I .'
t·:l_t�
(a)
(b)
Gambar 4-14 Contoh 4-4. Balok
sederhanadenganbebanterbagi rata
di sebagianbentang
Solusi
Mekanika Bahan 255
Reaksi. Kita mulai analisis dengan menentukan reaksi balok dari diagram benda
bebas seluruh balok (Gambar 4-14a). Hasilnya adalah
R _ qb(b+ 2c)
A - 2L R _ qb(b + 2a)
B -
2L
(4-21 a,b)
Gaya geser dan momen lentur. Cntuk mendapatkan gaya geser dan momen
lentur di seluruh bentang balok, kita harus meninjau tiga segmen balok secara
individual. Untuk setiap segmen kita potong balok tersebut sehingga terlihat gaya
geser V dan momen lentur M. Ini digambar dalam diagram benda bebas yang
mengandung besaran anu V dan M. Lalu. kita jumlahkan gaya-gaya dalam arah
vertikal untuk mendapatkan gaya geser dan mengambil momen terhadap penampang
yang dipotong untuk mendapatkan momen lentur. Hasil-hasil untuk ketiga segmen
adalah sebagai berikut:
V = RA M = RAx (0 < x < a 1
V = RA -q(x-a) M = RAx- q(x; a)2
(a < x < a + b)
(a + b < x < L)
(4-22a,b)
(4-23a,b)
(4-24a,b)
Persamaan-persamaan ini memberikan gaya geser dan momen lentur di setiap
potongan melintang balok. Sebagai kontrol atas hasil-hasil ini, kita dapat
menerapkan Persamaan (4-4) untuk gaya-gaya geser dan Persamaan (4-6) untuk
momen lentur sehingga akan terbukti bahwa persamaan-persamaan tersebut memang
sudah benar.
Sekarang kita membuat diagram gaya geser dan momen lentur (Gambar 4-
1 4b dan c) dari Persamaan (4-22) sampai (4-24). Diagram gaya geser ini terdiri
atas garis lurus horizontal di masing-masing daerah yang tak dibebani pada balok
dan garis lurus miring dengan kemiringan negatif di daerah yang dibebani, seperti
diharapkan dari persamaan dV/dx = -q. Diagram momen lentur terdiri atas dua
garis lurus miring di bagian balok yang tak dibebani, dan kurva parabolik di
bagian yang dibebani. Garis miring mempunyai kemiringan masing-masing sama
dengan RA dan -R8, sebagaimana diharapkan dari Persamaan dM/dx = V. Juga,
masing-masing garis miring ini adalah garis singgung pacta kurva parabolik di
titik di mana garis tersebut berpotongan dengan kurva parabolik. Kesimpulan ini
berasal dari fakta bahwa tidak ada perubahan mendadak pada besar gaya geser di
titik-titik tersebut. Jadi, dari persamaan dM/dx = V, kita lihat bahwa kemiringan
diagram momen lentur tidak berubah secara mendadak di titik-titik tersebut.
Momen lentur maksimum. Momen maksimum terjadi pada 1okasi di mana
gaya geser sama dengan no!. Titik ini dapat diperoleh dengan menuliskan gaya
geser V (dari Persamaan 4-23a) sama dengan no! dan memecahkan harga x,yang
akan kita tulis dengan x1• Hasilnya adalah
b
x1 = a +
2L(b + 2c) (4-25)
Sekarang kita masukkan x1 ke dalam rumus untuk momen lentur (Persamaan 4-
23b) dan memecahkan momen maksimum. Hasilnya adalah
qb 2
Mmaks. = SL
2 (b + 2c) (4aL + 2bc + b ) (4-26)
Momen lentur maksimum terjadi di dalam daerah beban terbagi rata.
Kasus khusus. Jika beban terbagi rata secara simetris diletakkan di balok (a
= c), lalu kita peroleh hasil sederhana sebagai berikut dari Persamaan (4-25) dan
(4-26)
M =
qb(2L- b)
maks. S (4-27a,b)
Jika beban terbagi rata menyebar hingga seluruh bentang, maka b= L dan Mmaks
= qL
2
!8, yang cocok dengan Gambar 4-12 dan Persamaan (4-15).
256 Bab 4 Gaya Geser dan Momen Lentur
o �
�
�
--
,,��
�
�
V �"------·"--�
�
""'.
(b)
(c)
LEMBAR
KERJA
4
Gambar 4-15 Contoh 4-5. Balok
kantilever dengan dua beban
terpusat
LEMBAR
KERJA
3
Contoh 4-5
Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok kantilever dengan dua
beban terpusat (Gambar 4- 1 5a).
Solusi
Reaksi. Dari diagram benda bebas keseluruhan balok kita mendapatkan reaksi
vertikal R8 (positif jika ke atas) dan reaksi momen M8 (positif jika searah jarum
jam):
(a,b)
Gaya geser dan momen lentur. Kita mendapatkan gaya geser dan momen
lentur dengan memotong baluk di kedua segmen, menggambar diagram benda
bebasnya, dan memecahkan persamaan keseimbangan. Jarak x diambil dari ujung
kiri balok. Dengan demikian, kita peroleh
(0 < x < a)
(a < x < L)
(c,d)
(e,f)
Diagram gaya geser dan momen lentur ditunjukkan dalam Gambar 4- 15b dan c.
Gaya geser ini konstan di antara beban dan mencapai harga numerik maksimum di
tumpuan, di mana nilai numeriknya sama dengan rcaksi vertikal RB (Persamaan a).
Diagram momen lentur terdiri atas dua garis lurus miring, yang masing­
masing mempunyai kemiringan sama dengan gaya geser di masing-masing segmen
balok. Momen lentur maksimum terjadi di tumpuan dan secara numerik sama
dengan reaksi momen M8 (Persamaan b). Ini juga sama dengan luas selumh
diagram gaya geser, sebagaimana diharapkan dari Persamaan (4-7).
Contoh 4-6
Balok kantilever AB yang memikul beban terbagi rata dengan intensitas konstan
q ditunjukkan dalam Gambar 4- 1 6a. Buatlah diagram gaya geser dan momen
lentur untuk halok ini.
Solusi
Reaksi. Reaksi RB dan M8 di tumpuanjepit diperoleh dari persamaan keseimbangan
untuk keseluruhan balok. Jadi,
M
- qL2
B -
2
(4-28a,b)
Gaya geser dan momen lentur. Besaran-besaran m1 diperoleh dengan
memotong balok pada jarak x dari ujung bebas, menggambar diagram benda
bebas bagian kiri balok, dan memecahkan pcrsamaan keseimhangan. Dcngan cara
tersehut kita peroleh
V = -qx
2
M = _ '1!_
2
(4-29a,b)
Diagram gaya geser dan momen lcntur diperoleh dengan mcmplot persamaan­
persamaan tersebut (lihat Garnbar 4- 1 6h dan c). Perhatikan bahwa kemiringan
diagram gaya gcser sama dcngan -q (lihat Persamaan 4-4) dan kemiringan dia­
gram momen lentur sama dengan V (lihat Persamaan 4-6).
Harga maksirnum gaya geser dan momen lentur terjadi di tumpuan jepit di
mana x = L:
q
�-- -+ X
��--- L --- -----1
RB
(a)
vmak' = -ql
qL2
!vi = - -
mab. 2
Mekanika Bahan 257
(4-30a,b)
Harga-harga ini konsisten dengan harga reaksi R8 dan M8 (Persamaan 4-28a dan
b).
Solusi alternatif. Sebagai ganti dari penggunaan diagram benda bebas dan
persamaan keseimbangan, kita dapat menentukan gaya geser dan momen lentur
dengan mengintegrasikan hubungan diferensial antara beban, gaya geser, dan
momen lentur. Gaya geser V pada jarak x dari ujung bebas A diperoleh dari beban
dengan mengintegrasikan Persamaan (4-5 ). sebagai berikut:
V - VA = V - 0 = V = - fq dx = -qx (g)
-qL yang cocok dengan hasil sebelum ini (Persamaan -i-29a).
(b)
M
(c)
- qi}
2
Gambar 4-1 6 Contoh 4-6. Balok
kantilever dengan beban terbagi
rata
Momen lentur M pada jarak x dari ujung diperoleh dari gaya geser dengan
mengintegrasikan Persamaan (4-7):
M - MA = M - 0 = M = IVdx = r-qx dx = -
q
;:
yang cocok dengan Persamaan 4-29b.
(h)
Mengintegrasikan hubungan diferensial dalam contoh ini cukup mudah karena
pola beban adalah kontinu dan tidak ada beban terpusat atau kopel di daerah yang
diselidiki. Jika beban terpusat atau kopel ada, maka ada diskontinuitas pada dia­
gram Vdan M sehinggakita tidak dapat mengintegrasikan Persamaan (4-5) melewati
beban terpusat dan tidak dapat mengintegrasikan Persamaan (4-7) melewati kopel
(lihat Subbab 4-4).
�-�---�------------------------------- �--�- ----- ---
·
-----------
1 LEMBAR
KERJA
4
Sebuah balok ABC dengan overstek di sebelah kiri terlihat dalam Gambar 4-1 7a.
Balok ini mengalami beban terbagi rata dengan intensitas q = I ,0 k/ft di overstek
AB dan kopel berlawanan jarum jam M0 = 1 2,0 k-ft yang bekerja di tengah
tumpuan B dan C. Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok ini.
Solusi
Reaksi. Kita dapat dengan mudah menghitung reaksi R8 dan Re dari diagram
benda hebas keseluruhan balok (Gambar 4- 1 7a). Dengan melakukan hal ini, kita
dapatkan bahwa R8 berarah ke atas dan Re berarah ke bawah, seperti terlihat
dalam gambar. Harga numeriknya adalah
R8 = 5,25 k R,
= l ,25 k
Gaya geser. Gaya geser sama dengan no] di ujung bebas balok dan sama
dengan --qb (atau -4,0 k) sedikit di kiri tumpuan B. Karena beban ini terdistribusi
terbagi rata, maka kemiringan diagram geser akan konstan dan sama dengan -q
(dari Persamaan 4-4). Dengan demikian. diagram geser merupakan garis lurus
miring dengan kemiringan negatif di daerah dari A kc B (Gambar 4- 1 7b).
Karena tidak ada beban terdistribusi atau terpusat antara tumpuan, maka
diagram gaya geser adalah horizontal di daerah ini. Gaya geser sama dengan
reaksi Re, atau 1 .25 k, seperti terlihat dalam gambar. (Perhatikan bahwa gaya
geser tidak beruhah di titik bekerjanya kopel, M0.)
Gaya geser yang terbesar secara numerik terjadi sedikit di kiri tumpuan B
dan sama dengan --4,0 k.
Momen lentur. Momen lentur adalah nol di ujung bebas dan berkurang pacta
saat kita bergerak ke kanan sampai mencapai tumpuan B. Kemiringan diagram
momen, yang sama dengan harga gaya gcscr (dari Persamaan 4-6). adalah nol di
I
258 Ba.b 4 Gaya Geser dan Momen Lentur
?!t·1
�
4F��=8ft��=8ft�r
RB Re
(a)
+1,25
(b)
-10,0
(c)
Gambar 4-17 Contoh4-7. Ba1ok
denganoverstek
SOAL-SOAL BAB 4 I
ujung bebas dan --4,0 k di lokasi sedikit di kiri tumpuan B. Di daerah ini diagram
tersebut berbentuk parabolik (tingkat-dua), dengan vertex di ujung balok. Momen
di titik B adalah
MB = -
qb2 = _.!_ (1,0 k/ft)(4,0 ft)
2
= -8,0 k-ft
2 2 '
yang juga sama dengan luas diagram gaya geser antara A dan B (lihat Persamaan
4-7).
Kemiringan diagram momen lentur dari B ke C sama dengan gaya geser,
atau I ,25 k. Dengan demikian, momen lentur sedikit di kiri kopel M0 adalah
-8,0 k-ft + (1,25 k)(8,0 ft) = 2,0 k-ft
seperti terlihat dalam diagram. Tentu saja, kita dapat memperoleh hasil yang sama
dengan memotong balok di penampang sedikit di kiri kopel, dengan menggambar
diagram benda bebas dan memecahkan persamaan keseimbangan momen.
Momen lentur berubah secara mendadak di titik bekerjanya momen M0
sebagaimana telah diterangkan dalam pembahasan Persamaan (4-9). Karena kopel
bekerja berlawanan jarum jam maka momen berkurang sebesar M0. Jadi, momen
di lokasi sedikit di kanan kopel M0 adalah
2,0 k-ft - 12,0 k-ft = -10,0 k-ft
Dari titik ini ke tumpuan C, diagram ini kembali berupa garis lurus dengan
kemiringan sama dengan 1,25 k. Dengan demikian, momen lentur di tumpuan
adalah
-10,0 k-ft + (1 ,25 k)(8,0 ft) = 0
sebagaimana diharapkan.
Harga maksimum dan minimum dari momen lentur terjadi di lokasi gaya
geser berubah tanda dan di lokasi kopel bekerja. Dengan membandingkan titik­
titik tertinggi dan terendah pada diagram momen, kita lihat bahwa momen lentur
terbesar secara numerik sama dengan -10,0 k-ft dan terjadi sedikit di kanan kopel
Mo.
4.3-1 Tentukan gaya geser V dan momen lentur M di
titik tengah balok sederhana AB yang terlihat dalam
gambar.
4.3-2 Hitunglah gaya geser V dan momen lentur M di
penampang yang terletak 0,5 m dari tumpuan jepit A
pada balok kantilever AB yang terlihat dalam gambar.
t
4 k 2k/ft
1:;�
�''"' "'""JLWJJ�
---.·._··.•
.
B
·
..
7 I I I
1- 5ft_.I l-10ft------,
1--------20ft -
A
rkN 1.5k/ft
,..•.•.••.•..•_I•••J. .l...i..
J...!...t:Jl]dB
I
.
I
�-1 m-�1m_.l---2 m---1
4.3-3 Tentukan gaya geser V dan momen lentur M di
titik tengah balok yang mempunyai overstek (lihat
gambar).
!p jp
·' :· ····:: . .:.:,z: · · :.j
I - � I
�- a-1---�b_ __:I:_a--+1
4.3-4 Carilah gaya geser V dan momen lentur M di titik
tengah balok sederhana AB yang terlihat dalam gambar.
4.3-5 Carilah gaya geser V dan momen lentur M di
penampang yang terletak 1 6 ft dari ujung kiri A dari
balok yang mempunyai overstek pada gambar ini.
4.3-6 Balok ABC yang terlihat dalam gambar ditumpu
sederhana di A dan B dan mempunyai overstek dari B ke
C. Beban ini terdiri atas kopel M0 = 4 kN-m yang bekerja
di ujung A dan beban terpusat P = 8 kN yang bekerja di
ujung oerstek. Tentukan gaya geser V dan momen lentur
M di penampang yang terletak di 3,0 dari tumpuan kiri.
M0 = 4 kN·m
Y
i
l
---- 4 m -- +l m
= 8 kN
4.3-7 Seseorang yang beratnya 225 lb berdiri di titik
tengah sebuah batang kayu yang panjangnya 1 6 ft (lihat
gambar). Berapa momen lentur di batang kayu akibat
berat orang tersebut?
Mekanika Bahan 259
4.3-8 Sebuah balok AB yang ditumpu sederhana
memikul beban terdistribusi trapesium (lihat gambar).
Intensitas beban bervariasi secara linier dari 50 kN/m di
tumpuan A ke 30 kN/m di tumpuan B. Hitunglah gaya
geser V dan momen lentur .W di titik tengah balok.
50 kN/m
IJ!IllllninrrJO k N/m
2f��J�.�
�
'
1•----�-- --- 3 m -------
�
4.3-9 Sebuah batang lengkung ABC mengalami beban
dalam bentuk dua gaya sama besar dan berlawanan arah
P, seperti terlihat dalam gambar. Sumbu batang
membentuk setengah l ingkaran dengan jari-jari r.
Tentukan gaya aksial V, dan momen lentur M yang bekerja
di penampang yang didefinisikan dengan sudut e.
B�,,
: �-�
A 0 C
M
N
�
: fYfe
�
A
4.3-1 0 Rangka ABC yang terlihat dalam gambar terletak
di tumpuan sendi di C dan tumpuan rol di A. Behan
terbagi rata dengan intensitas q bekerja di bagian AB dan
beban segi tiga dengan intensitas maksimum 2q bekerja
di bagian BC. (a) Dapatkan rumus untuk momen lentur
M di bagian AB pada jarak x dari tumpuan A. (b) Dari
rumus ini, tentukan momen lentur maksimum M di
. maks
bag1an AB.
��---------
� I
1+- --- 2b--�----1
2'60 5E2 4 Gaya Geser dan Momen Lentur
.! 3- ' i S�t>uah balok ABCD dengan lengan C£ ditumpu
_
balok scdcrhana di A dan D (lihat gambar).
' _ - - -'-'
" kabel yang melalui katrol kecil terpa,ang di £.
'-.::.:_ ujung kabel terpasang di balok di titik B. Berapakah
;<· :1 P di kabcl jika momen kntur di balok sedikit di kiri
::uk C secara numerik sama dengan 4R k-in.?
E
' ·
,
,
i
'
.. - - 6 n -1� 6 n -,...- - 6 rt --1
4.3-1 2 Balok ABCD dibebani oleh gaya W = 27 kN
dcngan susunan yang terlihat dalam gambar. Kabel
tersebut melewati katrol tak bcrgesekan di B dan tcrpasang
di £. Hitunglah gaya aksial N. gaya gescr V, dan momcn
lentur M di penampang C. yang terletak sedikit di kiri
lcngan vertikal.
E
W = 27 kN
4.3-1 3 B alok ABCD dipertahankan berada dal am
kescimbangan oleh bcban terdistribusi tcrbagi rata dcngan
intensitas q1 dan lh (lihat gambar). Carilah gaya geser V
dan momen lentur M di (a) titik B. dan (b) titik tengah
balok (Asumsikan a = 3 ft, h = 8 ft, dan q1 = 3.500 lb/
ft.)
q,
AFftifHif:HfjcDf�"
I
(I _______,...:� ------- {J -
I
-- ..i.._.__ a -- -..I
4.3-14 B alok ABCD yang terlihat dalam gambar
mempunyai overstck di kiri dan kanan dan memikul behan
tcrdistribusi terbagi rata dengan intcnsitas yang bervariasi
secar·a linicr. Untuk rasio aiL bcrapakah gaya geser V
akan sclalu no! di titik tengah balok'!
q,
�J r --· -IJ
-- : -1-n rlJJ
l'TT I
A t���-11�-��.:::.:h!-=:--�-==-�D
I -� B �c
!,....: --- a -- -.-i
,
�-- - -- L - - _ _ ___.....______ a -·--_.1
*4.3-1 5 Sebuah balok ABC dcngan ovcrstek (lihat
gambar) memikul beban terpusat P = 16 k di ujung kiri
dan hchan tcrbagi rata dcngan intensita:; q di seluruh
panjangnya. Dikctahui bahwa gaya gcscr dan momcn
lentur di penampang X-X masing-masing sama dengan -
34 k dan -90 k-ft. Carilah gaya geser V dan momen
lentur M di penampang Y-Y.
I 4 ft i
..,.
__
._,1.._ ---
i
10 ft -- ..!,-<---- - ..,
10 ft
*4.3-16 Centrifitge yang terlihat dalam gamhar herputar
dalam bidang horizontal (bidang xy) pacta permukaan
halus terhadap sumbu ; (yang hcrarah vertikal) dcngan
percepatan sudut ex. Masing--masing lengan mempunyai
berat w per panjang satuan dan memikul berat W= 2,5 wL
di ujungnya. Turunkan rumus untuk gaya geser rnaksi­
mum dan momen lentur maksimum di lengan, dengan
menganggap h = L/9 dan c = L/1 0.
LEMBAR
KERJA
3 & 4
w
DIAGRAM GAYA GESER DAN MOMEN LENTUR
Dalam memecahkan Soa/ 4.5- 1 sampai 4.5-38, gamharlah
diagram gaya geser dan mmnen lentur secara herskala
dan tuniukkan semua ordinat kritis termasuk harga
maksimum dan minimum.
4.5-1 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur
untuk balok sederhana AB yang memikul dua beban
terpusat (lihat gambar).
�-==--=r c- . _r__�
:,._______ a --------..
·
1 ..__ __ a _____..,
1..
-
---- -- - L - --- -- -..1
4.5-2 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentrur
untuk balok kantilever AB yang memikul beban terbagi
rata dengan intcnsitas q di setcngah panjang (lihat
gambar).
4.5-3 Sebuah balok sederhana AB mengalami momen
kopel sebesar M0 yang bekerja pada jarak a dari tumpuan
kiri (lihat gambar). Gambarlah diagram gaya geser dan
momen lentur untuk balok ini.
Mo
E��=-==--===--��B
� I @
[..: - - - -- a -- - ---•1 -
•
I
[+- L --- - --- -�..]
4.5-4 Balok sederhana AB yang terlihat dalam gambar
mengalami beban terpusat P dan kopel M1 = PL/4 yang
bekerja di posisi seperti tergambar. Gambarlah diagram
gaya gcser dan momen lentur untuk balok ini.
4.5-5 Sebuah halok yang ditumpu sederhana ABC
rnemikul beban vertikal P melalui breket BDE (lihat
garnhar). Garnharlah diagram gaya geser dan momen
lentur halok ini.
Mekanika Bahan 261
_ __
b
. I l L
--.
-+ --··-- i_____.,l.,.__ 2
-
-- ------->,i
j..:- -- - - -- - - - L--- - - ·- - - --
-
-->-.
4.5-6 Sebuah balok. sedc:rhana AB rnemikul heban terbagi
rata dengan intensitas q = 5.0 kN/rn di sebagian bentang
(lihat gamhar). Dengan menganggap hahwa L = I 0 m, a
= 4 rn, dan b = 2 m. gambarL!h diagram gaya gcscr dan
momcn lentur untuk balok. 111 1 .
q = �.O k..
' m
-TT -
' * � ' ' ' .
���.:_���"------------_B
1•--a = 4 m ---___.,: �-- --•
a = 2 tn
[..:--- ----- L = I0 m ___________..:
4.5-7 Sebuah balok. sederhana AB memikul kopel M1
dan 2M1 yang bekcrja di titik-titik scpertiga scperti terlihat
dalam gambar. Gambarlah diagram gaya geser dan
momen lentur untuk balok ini.
4.5-8 Sebuah balok sederhana AB dengan overstek BC
dihebani dua gaya P dan kopel Pa dengan menggunakan
susunan sepcrti tergamhar. Gambarlah diagram gaya geser
dan momen lcntur untuk balok ABC.
1 --���--�--�
�
� 1==- ------ ----
�·--'Ye V
� -- ll 1J;B
-�
- L
1+-- a ---�..- - a - - -·�------a ---..
, a -
4.5-9 Balok kantilevcr AB memikul beban terpusat dan
kopel, seperti terlihat dalam gambar. Gambarlah diagram
gaya geser dan momen lcntur untuk balok ini.
- 5 ft -- - -->-[
262 Bao 4 Gaya Geser dan Momen Lentur
4.5-10 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur
--�-"� balok ABC (lihat gambar). Balok ini dibebani W =
: _ . ' L
" yang bekerja melalui sebuah kabel. Kabel ini
�..:i�wati katrol di C dan tersambung ke lengan vertikal
JI D.
-
� --
1 ,2 m
W= 10,0kN
4.5-1 1 Gambarlah diagram gaya geser dan momen
Ientur untuk balok sederhana pada Soal 4.3-1 .
4.5-1 2 Buatlah diagram gaya geser dan momen Ientur
untuk balok kantilever pada Soal 4.3-2.
4.5-13 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur
untuk balok dengan overstek pada Soal 4.3-3.
4.5-1 4 Buatlah diagram gaya geser dan momen lcntur
untuk balok sederhana pada Soal 4.3-4.
4.5-1 5 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur
untuk balok dengan overstek pada Soal 4.3-5.
4.5-1 6 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur
untuk balok dengan overstek pada Soal 4.3-6.
4.5-1 7 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur
untuk balok kantilever AB dengan beban yang bervariasi
linier dengan intensitas maksimum q0 (lihat gambar).
qo
A �;OJL[[JJIIJ
I L -------.j
4.5-18 Sebuah balok dengan dua overstek sama
memikul beban terbagi rata dengan intesitas q (lihat
gambar). Jarak antara tumpuan adalah a dan panjang
total adalah L. Carilah jarak a sedemikian hingga momen
lentur maksimum di balok mempunyai harga numerik
sekecil mungkin. Buatlah diagram gaya geser dan momen
lentur untuk kondisi ini.
4.5-1 9 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur
untuk balok dengan overstek yang terlihat dalam gambar.
4.5-20 sampai 4.5-30 Buatlah diagram gaya geser dan
momen lentur untuk balok yang terlihat dalam gambar.
4kN/m
�f)I I � Llll
_i
,. A .
I
-��---2 m___·��---- 2 m _____
��
Soal. 4.5-20
2300lb
--- 6 n ---.1--- 6 ft __:I
Soal. 4.5-21
qo
p0Wl01
, .?.
..•.:':V·.
:<?/..
:;.
·
:.,:..
1- --------L -1
Soal. 4.5-22
2000lb/ft
�bh
�-
-
-·
- I
1�----9 ft-----...
1-3ft :r
Soal. 4.5-23
1IIu�4fJ1�_-__
- I _
-
-
��--- '=---
1--- £___::'
1·····
' 2 2
Soal. 4.5-24
p = 30 lb
A B
�· - t"40io-1•�-�= 40 in.--=t
Soal. 4.5-25
5 kN/m 10kN 5 kN/m
�·� :Ull.
��2 m�l-- ��nk:i�2 m���- 2 m-1
Soak 4.5-26
360lb/ft
�IJJIDJdc
� �
I
�
�� 6ft --
-+
�- 4ft�-
-+!
Soal. 4.5-27
10,6kN/m
'ItuilliDJJlii"'
L 4,2m •£ i[c- 4,2m
___;
1.2m
Soal. 4.5-28
1000lb/ft 1 10 k
if!lJ!lljiUJ i de
� l - 1
!+---- 24ft-
-----+-
8 ft -+- 8 ft -1
Soal. 4.5-29
q = 3 kN/m 1 P= 8 kN
�J) i i [kl '
Soal. 4.5-30
Mekanika Bahan 263
4.5-31 BalokABCD mempunyai dua overstek sama dan
memikul beban segitiga simetris (lihat gambar). Tentukan
jarak b antara tumpuan sedemikian hingga momen lentur
di titik tengah balok adalah no!. Gambarlah diagram gaya
geser dan momen lentur untuk kondisi ini.
qo
ll ;ll[!Jl��
A ��· � :=f���D
)+--- L ._
4.5-32 Balo!;: ABC yang terlihat dalam gambar terdiri
atas segmen kantilever AB yang disambung ke bentang
sederhana BC dengan menggunakan sendi di B. Sendi
ini dapat menyalurkan gaya tetapi tidak dapat
menyalurkan momen lentur. Buatlah diagram gaya geser
dan momen lentur untuk keseluruhan balok.
q
4.5-33 BalokABCD memikul beban terdistribusi dengan
intensitas yang bervariasi linier (lihat gambar). Buatlah
diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok ini.
A �IIilllii�
"
D
·
· · ·· · ··�·
· · · · · · · : d ·
f w+:/ c� '
J.-l.-�·---�L -----[�l._J
4 .
4 .
4.5-34 Balok ABCDE yang terlihat dalam gambar
mempunyai tumpuan sederhana di A, C, dan E dan sendi
di D. Beban sebesar 4 kN bekerja di ujung breket yang
disambung dengan balok di B, dan beban sebesar 2 kN
bekerja di titik tengah segmen DE. Buatlah diagram gaya
geser dan momen lentur untuk balok ini. (Perhatikan
bahwa sendi di D dapat menyalurkan gaya geser tetapi
tidak momen lentur.)
264 Bab 4 Gaya Geser dan Momen Lentur
4.5-35 Diagram gaya geser untuk balok sederhana
.::::-.:c::;Jkkan dalam gambar. Tentukan pembebanan di
:-� �" dan gambarlah diagram momen lentur dengan
:-c:oe:Jgasumsikan bahwa tidak ada kopel yang bekerja
-.ct-agai beban di balok ini. (Perhatikan bahwa gaya geser
'Tiempunyai satuan pound.)
+4000
V
(lb)
I
· ---
Io ft- - -1� s ft -.�sft��
o
4.5-36 Diagram gaya geser untuk sebuah balok
ditunjukkan dalam gambar. Dengan mengasumsikan
bahwa tidak ada kopel yang bekerja sebagai beban pada
balok ini, gambarlah diagram momen lenturnya.
(Perhatikan bahwa gaya geser mempunyai satuan kN.)
+22.0
V
kN)
1,5m
-16,5 1
6.0m---k-•1
I,Sm
+8.0
4.5-37 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur
untuk balok scderhana dengan beban segitiga (intensitas
maksimum q0) yang bekerja di 3/4 bentang L (lihat
gambar).
4.5-38 Sebuah balok AB mcmikul beban terpusat P dan
2P seperti terlihat dalam gambar. Balok ini terletak di
atas pondasi yang memberikan reaksi terdistribusi
terhadap balok. Dengan menganggap bahwa reaksi
terdistribusi dengan intensitas yang bervariasi secara linicr
dari A ke B, tentukan intensitas qA
dan q8 masing-masing
di ujung A dan B. Juga, buatlah diagram gaya geser dan
mornen Jentur untuk balok ini.
4.5-39 Dua beban P sarna besar rnempunyai jarak tetap
satu sama lain d (lihat garnbar). Kombinasi beban ini
dapat terletak pada jarak x dari turnpuan kiri balok
sederhana AB. (a) Untuk jarak x berapakah gaya geser di
balok akan rnaksirnurn? Berapa gaya geser maksirnum
VMak< (b) Turunkan rumus untuk jarak x yang akan
rnenghasilkan rnornen Jentur rnaksimurn Mmaks di balok.
Juga. dapatkan rurnus untuk Mmaks'
!.__
_ _
_ -· -
L -�--· ---- -----�1
4.5-40 Sebuah halok sederhana AB rnernikul dua beban
terpusat P dan 2P yang jaraknya satu sama lain d (lihat
garnbar). Kcdua beban ini dapat terletak pada jarak x
berapapun dari ujung kiri balok. Tentukan jarak x untuk
(a) gaya gescr maksirnurn di balok. dan (b) rnornen lentur
maksirnurn di balok. Asurnsikan P = 7,5 kN, d = 1 ,6 m,
dan L = 8 m. Juga, tentukan gaya geser maksimum Vmaks.
dan momen lentur rnaksirnum Mmah.
p
I
!- -- - ---- -- L - -- - �I
4.5-41 Tiga bcban roda Wl ' W2, dan W3 bergcrak
melintasi balok sederhana seperti terlihat dalam gambar.
Tcntukan posisi roda, yang didefinisikan dengan jarak x
dari ujung A, agar menghasilkan momen lentur maksimum
di balok, dengan mengasumsikan bahwa wl = 4 k, dan
w2 = w3 = 1 6 k. Juga, tentukan momen lentur maksirnum
Mmaks.
· -- - - - 80 ft
*4.5-42 Sebuah dinding penahan kecil dengan tinggi 2,4
m terbuat dari papan kayu vertikal ABC, seperti terlihat
dalam gambar. Papan ini mempunyai lebar 125 mm dan
ditumpu sederhana di B dan C masing-masing oleh balok
baja horizontal dan dinding pondasi beton. Balok baja
terletak pada 0,6 m dari atas dinding. Tekanan tanah ke
dinding diasumsikan bervariasi secara linier dari no! di
atas (titik A) ke p = 1 8 kPa di bawah (titik C). Hitunglah
momen lentur maksimum Mmaks. di papan.
Papan kayu
0,6 m
!
Balok
Papan
kayu
I
_
L
Mekanika Bahan 265
maksimum untuk beberapa harga n (n = 1 , 2, 3, 4, . . . ).
(c) Bandingkan hasil ini dengan momen lentur maksimum
di balok akibat beban terdistribusi terbagi rata dengan
intensitas q sedemikian hingga qL = P.
i
-------1-­
L , L
n+1 n+1 n + l
,:�
1 -
1--z-1
1------- L -------..
1 25 mm **4.5-44 Sebuah balok ABC yang panjangnya L memikul
m beban terdistribusi segitiga dengan intensitas maksimum
q0 seperti terlihat dalam gambar. Balok ini ditumpu
sederhana di titik B dan C, dengan C di ujung kanan dan
B di sembarang jarak a yang diinginkan. (a) Tentukan
rasio aiL sedemikian hingga momen lenturterbesar secara
numerik di balok adalah minimum. (b) Berapa momen
Tampak atas lentur maksimum di balok pada kondisi tersebut?
Tampak samping
**4.5-43 Beban di balok sederhana terdiri atas n gaya
yang berjarak sama (lihat gambar). Beban total adalah P
sehingga setiap gaya sama dengan Pin. Panjang balok
adalah L; jadi jarak antara beban adalah U(n + 1). (a)
Turunkan rumus umum untuk momen lentur maksimum
di balok. (b) Dari rumus tersebut, tentukan momen lentur
-
+--- a ---��1.__
_
---- b -�---1
+----- -·
L -------- .
5
-
s.1 1
(a)
(b)
Gambar 5-1 Lentur pada balok
kantilever: (a) balok dengan
beban, dan (b) kurva defleksi
TEGANGAN Dl BALOK
(TOPIK DASAR)
PENGANTAR
Di dalam bab-bab sebelum ini kita telah melihat bagaimana beban-beban
yang bekerja di balok menimbulkan aksi (atau resultan tegangan) dalam
bentuk gaya geser dan momen lentur. Di dalam bab ini kita melangkah
lebih jauh dan menyelidiki tegangan dan regangan yang berkaitan dengan
gaya geser dan momen lentur. Dengan mengetahui tegangan dan regangan,
kita akan dapat menganalisis dan merancang balok yang mengalami
berbagai kondisi pembebanan.
Pembebanan yang bekerja pada balok menyebabkan balok melentur
sehingga sumbunya yang terdeformasi berbentuk lengkungan. Sebagai
contoh, tinjaulah balok kantilever AB yang mengalami beban P di ujung
bebas (Gambar 5-la). Sumbu yang semula lurus akan melentur membentuk
lengkungan (Gambar 5-lb), yang disebut kurva defleksi (lendutan) balok
tersebut.
Sebagai acuan, kita membuat sistem sumbu koordinat (Gambar
5-lb) dengan pusatnya terletak di titik yang cocok di sumbu longitudinal
balok. Di dalam ilustrasi ini, kita meletakkan pusat di tumpuan jepit.
Sumbu x positif mempunyai arah ke kanan, dan sumbu y positif berarah
ke atas. Sumbu z, yang tidak ditunjukkan dalam gambar, mengarah ke
luar (artinya, menuju orang yang mclihat), sehingga ketiga sumbu ini
membentuk sistem koordinat tangan kanan.
Balok yang ditinjau dalam bab ini (seperti yang dibahas di dalam
Bab 4) diasumsikan simetris terhadap bidang xy, yang berarti bahwa sumbu
y merupakan sumbu simetri penampang. Selain itu, semua beban harus
bekerja di bidang xy. Dengan demikian, def1eksi lentur terjadi di bidang
ini juga, yang disebut dengan bidang lentur (plane of bending). Jadi,
kurva def1eksi yang terlihat dalam Gambar 5-lb merupakan kurva bidang
yang terletak pada bidang lentur.
Defleksi suatu balok di sembarang titik di sepanjang sumbunya
merupakan peralihan titik tersebut dari posisi semula, diukur dalam arah
y. Kita beri def1eksi ini notasi v untuk membedakannya dengan koordinat
y itu sendiri (lihat Gambar 5-lb).
*
(a)
(b)
Gambar 5-2 Balok sederhana
yang mengalami lentur murni (M
= M,) -
(a)
Gambar 5-3 Balok kantilever
yang mengalami lentur murni (M
= -M2)
Mekanika Bahan 267
LENTUR MURNI DAN LENTUR TAK SERAGAM
Dalam menganalisis suatu balok, seringkali dibutuhkan pembedaan antara
lentur mumi dan lentur tak seragam. Lentur murni (pure bending)
mengandung arti lentur pada suatu balok akibat momen lentur konstan.
Dengan demikian, lentur mumi terjadi hanya di daerah balok di mana
gaya geser adalah no! (karena V = dMMc lihat Persamaan 4-6). Sebaliknya,
lentur tak seragam (nonuniform bendingI mengandung arti lentur yang
disertai dengan adanya gaya geser, yang berani bahwa momen lentur
berubah pada saat kita menyusuri sepanjang sumbu balok.
Sebagai contoh lentur mumi, tinjaulah balok sederhana AB yang
dibebani dua kopel M1 yang mempunyai besar sama dan bekerja dalam
arah yang berlawanan (Gambar 5-2a). Beban ini menghasilkan momen
lentur konstan M = M1 di seluruh panjang balok. seperti terlihat pada
diagram momen lentur di bagian (b) dalam gambar tersebut. Perhatikan
bahwa gaya geser V adalah nol di semua penampang balok.
Ilustrasi lain untuk momen lentur ditunjukkan dalan1 Gambar 5-3a, di
mana balok kantilever AB mengalami kopel searah jarum jam M2 di ujung
bebas. Tidak ada gaya geser di balok ini dan momen lentur M adalah
konstan di seluruh panjangnya. Momen lentur adalah negatif (M = -M2),
seperti terlihat dengan diagram momen lentur di bagian (b) gambar tersebut.
Balok yang dibebani secara simetris dalam Gambar 5-4a merupakan
contoh balok yang sebagian mengalami lentur mumi dan sebagian lainnya
mengalami lentur tak seragam (Gambar 5-4b dan c). Daerah tengah balok
mengalami lentur mumi karena gaya geser adalah nol dan momen lentur
adalah konstan. Bagian-bagian balok di dekat ujung mengalami lentur tak
seragam karena gaya geser ada dan momen lentur bervariasi.
Di dalam dua subbab berikut ini kita akan menyelidiki regangan dan
tegangan di balok yang mengalami hanya momen mumi. Untungnya, kita
sering dapat menggunakan hasil-hasil yang diperoleh untuk lentur murni
bahkan apabila gaya geser ada, sebagaimana diterangkan dalam Subbab 5.8.
KELENGKUNGAN BALOK
Ketika beban bekerja di suatu balok, sumbu longitudinal balok tersebut
akan berubah bentuk menjadi lengkungan seperti telah digambarkan
sebelum ini dalam Gambar 5-l . Regangan dan tegangan di balok ini
sebanding dengan kelengkungan (curvature) dari kurva defleksi.
Untuk menggambarkan konsep kelengkungan, tinjau lagi balok
kantilever yang mengalami beban P yang bekerja di ujung bebas (Gambar
5-5a). Kurva deformasi balok ini ditunjukkan dalam Gambar 5-5b. Untuk
tujuan analisis, kita identifikasikan dua titik m1 dan m2 pada kurva defleksi.
Titik m1 dipilih di jarak sembarang x dari sumbu y dan titik m2 terletak pada
jarak kecil ds lebih jauh di kurva tersebut. Di masing-masing titik tersebut
kita menarik garis yang tegak lurus garis singgung kurva defleksi, artinya
tegak lurus (normal) kurva itu sendiri. Kedua garis normal ini berpotongan
di titik 0', yang merupakan pusat kelengkungan dari kurva defleksi.
*Di dalam mekanika terapan, simbol tradisional untuk peralihan dalam arah x, y, dan z masing-
masing adalah u, �� dan w.
268 Bab 5 T
egangan Di Balok (T
opik Oasar)
r r
(a)
p
V
(b) -P
0
(c)
Gambar 5-4 Balok sederhana
dengan daerah tengah mengalami
lentur murni dan daerah ujung
mengalami lentur tak seragam
A r
'-C:�---'"'"-'�illl! B
(a)
(b)
Gambar 5-5 Kelengkungan balok
yang melentur: (a) balok dengan
beban, dan (b) kurva defleksi
Karena balok pada umumnya mempunyai defleksi sangat kecil dan kurva
defleksinya hampir mendatar, maka titik 0' biasanya terletak sangat jauh
dari balok dibandingkan dengan yang terlihat dalam gambar tersebut.
Jarak m1 0' dari kurva tersebut ke pusat kelengkungan disebut radius
kelengkungan p (huruf Yunani rho), dan kelengkungan K (huruf Yunani
kappa) didefinisikan sebagai kebalikan dari radius kelengkungan. Jadi,
(5-1 )
Kelengkungan adalah ukuran seberapa tajam suatu balok melentur. Jika
beban di balok kecil, maka balok akan hampir lurus, radius kelengkungan
akan sangat besar, dan kelengkungan akan kecil. Jika beban ditingkatkan,
besar lentur akan meningkat. radius kelengkungan akan menjadi lebih
kecil, dan kelengkungan akan menjadi lebih besar.
Dari geometri segitiga Oln1m2 (Gambar 5-5b) kita peroleh
p d8 = ds (a)
di mana d8 (diukur dalam radian) adalah sudut sangat kecil antara garis­
garis normal dan ds adalah jarak sangat kecil di sepanjang kurva antara
titik m1 dan m2• Dengan menggabungkan Persamaan (a) dengan Persamaan
(5- l ) kita peroleh
1 48
K == - = -
p ds
(5-2)
Persamaan ini diturunkan dalam buku-buku kalkulus dasar dan berlaku
untuk sembarang kurva, tidak peduli seberapa besar kelengkungannya.
Jika kelengkungan konstan di sepanjang kurva, maka radius kelengkungan
juga akan konstan dan kurva tersebut akan merupakan busur lingkaran.
Defleksi suatu balok biasanya sangat kecil dibandingkan dengan
panjangnya (tinjau, sebagai contoh, defleksi rangka struktural dari sebuah
mobil atau balok di sebuah gedung. Defleksi kecil berarti bahwa kurva
defleksi harnpir datar. Karena itu, jarak ds di sepanjang kurva dapat
ditetapkan sama dengan proyeksi horizontal dx (lihat Gambar 5-5b). Pada
kondisi khusus seperti ini persamaan kelengkungan menjadi
(5-3)
Baik kelengkungan maupun radius kelengkungan merupakan fungsi dari
jarak x yang diukur di sepanjang sumbu x. Posisi 0' yang merupakan
pusat kelengkungan juga bergantung pada jarak x.
Dalarn Subbab 5.5 kita akan melihat bahwa kelengkungan di suatu
titik pada sumbu balok bergantung pada lentur murni di titik tersebut dan
besaran balok itu sendiri (bentuk penampang dan jenis bahan). Dengan
demikian, jika balok tersebut prismatis dan bahan adalah homogen, maka
kelengkungan akan bervariasi terhadap momen Jentur. Dengan demikian,
! }
L
0
i
I
Kelengkungan
Positip
(a)
�
Kelengkungan
negatip
--- X
L___ _ __ - ---- X
()
(b)
Gambar 5-6 Perjanjian tanda
untuk kelengkungan Positive cur­
vatun;
Gambar 5-7 Deforrnasi balok
yang mengalami lentur murni
Mekanika Bahan 269
suatu balok yang mengalami lentur mumi akan mempunyai kelengkungan
konstan dan suatu balok yang mengalami lentur tak seragam akan
mempunyai kelengkungan yang ber'ariasi.
Perjanjian tanda untuk kelengkungan bergantung pada orientasi
sumbu koordinat. Jika sumbu x ad::tlah positif kc kanan dan sumbu y
adalah positif ke atas, seperti terlihat dalam Gambar 5-6, maka
kelengkungan adalah positif apabila balok tersebut cekung ke atas (atau
cembung ke bawah) dan pusat kelengkungan ada di atas balok. Sebaliknya,
kelengkungan adalah negatif jika balok cekung ke bawah (atau cembung
ke atas) dan pusat kelengkungan ada di bJ ah balok.
Di dalam subbab berikut ini kita akan melihat bagaimana regangan
longitudinal di suatu balok yang melentur ditentukan dari kelengkungan,
dan di dalam Bab 9 kita akan melihat bagaimam kelengkungan herkaitan
dengan defleksi balok.
REGANGAN LONGITUDINAL 01 BALOK
Regangan longitudinal di suatu balok dapat diperoleh dengan menganalisis
kelengkungan suatu balok beserta deformasinya. Untuk itu, tinjaulah bagian
ab dari suatu balok yang mengalami lentur mumi akibat momen positif M
(Gambar 5-7a). Kita asumsikan bahwa balok tersebut mula-mula
mempunyai sumbu longitudinal lurus (sumbu x dalam gambar) dan bahwa
penampangnya simetris terhadap sumbu _!::, seperti terlihat dalam Gambar
5-7b.
l y
i
o '
(a) (b)
p;
n
(c)
270 ::;.a:; � Tegangan Di Balok (T
opik Dasar)
Akibat aksi momen lentur tersebut, balok berdefleksi dalam bidang
xy (bidang lenturan), dan sumbu longitudinalnya melentur menjadi kurva
busur lingkaran (kurva ss dalam Gambar 5-7c). Balok ini melentur cekung
ke atas, yang merupakan kelengkungan positif (Gambar 5-6a).
Potongan melintang balok, seperti potongan mn danpq dalam Gambar
5-7a, tetap datar dan normal terhadap sumbu longitudinal (Gambar 5-7c).
Fakta bahwa penampang balok yang mengalami lemur mumi tetap datar
merupakan ha! mendasar dalam teori balok yang sering digunakan sebagai
asumsi. Kita dapat juga menyebutnya teorema, karena dapat dibuktikan
secara sederhana dengan menggunakan alasan rasional yang didasarkan
atas simetri (Ref. 5- l). Hal mendasar adalah bahwa simetri suatu balok
dan pembebanannya (Gambar 5-7a dan b) mengandung arti bahwa semua
elemen balok (seperti elemen mpqn) harus berdeformasi secara identik,
yang hanya mungkin jika penampang tetap datar selama melentur (Gambar
5-7c). Kesimpulan ini berlaku untuk balok dengan bahan apapun, apakah
elastis atau inelastis, linier atau nonlinier. Tentu saja, besaran bahan, seperti
juga dimensinya, harus simetris terhadap bidang lentur. (Catatan: Meskipun
bidang penampang yang meng<:llami lentur mumi tetap datar, deformasi
dalam bidang tersebut tetap ada. Deformasi ini akibat efek rasio Poisson,
sebagaimana diterangkan di akhir pembahasan ini.)
Karena adanya defom1asi lentur seperti terlihat dalam Gambar 5-7c,
penampang mn danpq berputar satu sama lain terhadap sumbu yang tegak
lurus bidang xy. Garis longitudinal pada bagian cembung (yang bawah)
dari balok memanjang. sedangkan bagian cekungnya (atas) dari balok
memendek. Jadi, bagian bawah balok mengalami tarik dan bagian atas
mengalami tekan. Antara bagian atas dan bawah balok terdapat permukaan
dengan garis longitudinal yang tidak berubah panjangnya. Permukaan ini,
yang ditunjukkan dengan garis putus ss dalam Gambar 5-7a dan c, disebut
permukaan netral balok. Perpotongannya dengan bidang penampang
disebut sumbu netral penarnpang; sebagai contoh, sumbu z adalah sumbu
netral untuk penampang dalam Gambar 5-7b.
Bidang-bidang yang mengandung penampang mn dan pq di dalam
balok yang berdeformasi (Gambar 5-7c) berpotongan di garis yang melalui
pusat kelengkungan 0� Sudut antara kedua bidang ini disebut de, dan
jarak dari O'ke permukaan netral ss adalah radius kelengkungan p. Jarak
awal dx antara kedua bidang ini (Gambar 5-7a) tidak berubah di permukaan
netral (Gambar 5-7c) sehingga pde = dx. Namun, semua garis longitudi­
nal antara kedua bidang tersebut memanjang atau memendek sehingga
menimbulkan regangan normal ex.
Untuk mengevaluasi regangan normal, tinjaulah garis longitudinal
khas efyang terletak di dalam balok di antara bidang mn dan pq (Gambar
5-7 a). Kita tunjukkan garis efdengan jarak y dari sumbu netral di balok
yang semula lurus. Jadi, kita sekarang menganggap bahwa sumbu x terletak
di sepanjang permukaan netral balok yang tak berdeformasi. Tentu saja,
manakala balok berdefleksi, permukaan netral hergerak bersama balok,
tetapi sumbu x tetap pada posisinya. Garis longitudinal efdi balok yang
berdefleksi (Gambar 5-7c) tetap terletak pada jarak y yang sama dari
permukaan netral. Jadi, panjang L1 dari garis ef sesudah lentur terjadi
adalah
L1 = (p - v) de = dx - l_dx
p
Mekanika Bahan 271
di mana kita telah memasukkan de = dxlp. Karena panjang semula garis
�fadalah dx, maka perpanjangannya adalah
L
1 - dx, atau -y dxlp. Regangan
longitudinal sama dengan perpanjangan dibagi dengan panjang semula
dx; dengan demikian,
=
(5-4)
di mana 1 adalah kelengkungan.
Persamaan di atas menunjukkan bahwa regangan longitudinal di suatu
balok sebanding dengan kelengkungan dan berYariasi secara linier terhadap
jarak y dari permukaan netral. Apabila titik yang ditinjau ada di atas
permukaan netral, maka jarak y adalah positif. Jika kelengkungan juga
positif (seperti terlihat dalam Gambar 5-7c), maka e, akan merupakan
regangan negatif, yang menunjukkan perpendekan. Sebaliknya, jika titik
yang ditinjau ada di bawah permukaan netral, maka jarak y akan negatif
dan, jika kelengkungan adalah positif, maka regangan e
<
juga akan positif,
yang menunjukkan perpanjangan. Perhatikan bahwa perjanjian tanda untuk
e
x
sama dengan yang digunakan untuk regangan normal di bab-bab sebelum
ini, yaitu perpanjangan adalah positif dan perpendekan adalah negatif.
Persamaan (5-4) untuk regangan normal di suatu balok diturunkan
hanya dari tinjauan geometri balok yang berdeformasi - besaran bahan
tidak masuk dalam pembahasan. Dengan demikian, regangan di suatu
balok yang mengalami lentur murni bervariasi secara linier terhadap
jarak dari permukaan netral, tidak peduli bagaimanapun bentuk kurva
tegangan-regangan bahan.
Langkah selanjutnya di dalam analisis kita, yaitu mencari tegangan
dari regangan, membutuhkan penggunaan kurva tegangan-regangan.
Langkah ini diuraikan dalam subbab berikut untuk bahan elastis linier dan
di dalam Subbab 6.9 dan 6. 1 0 untuk bahan nonlinier.
Regangan longitudinal di suatu balok disettai dengan regangan trans­
versal (yaitu regangan normal dalam arah y dan z) karena efek rasio
Poisson. Namun, tidak acta tegangan transversal karena balok bebas
berdeformasi dalam arah lateral. Kondisi tegangan ini analog dengan batang
prismatis yang mengalami tarik atau tekan, sehingga elemen di balok
yang mengalami lentur mumi berada dalam keadaan tegangan uniaksial.
• Contoh 5-1
Sebuah balok baja yang ditumpu sederhana AB (Gambar 5-8a) yang panjangnya
L = 16 ft dibebani kopel M0 hingga membentuk busur lingkaran dengan defleksi
ke bawah 8 di titik tengah (Gambar 5-8b). Pengukuran menunjukkan bahwa
regangan normal longitudinal (perpanjangan) di pennukaan bawah balok adalah
0,00125, yang merupakan regangan leleh baja. Juga, jarak dari permukaan bawah
balok ke permukaan netral adalah 6,0 in. Tentukan radius kelengkungan p,
kelengkungan K
, dan defleksi 8 pacta balok ini.
Solusi
Kelengkungan. Karena kita telah mengetahui regangan longitudinal di permukaan
bawah balok (ex = 0,001 25), dan karena kitajuga mengetahui jarak dari pennukaan
:
272 Bab 5 T
egangan Di Balok (T
opik Oasar)
,,
(�
A ==
MO
s')
· ······· �
+----�----1
(a)
�
o
'
/I
I I 
,�J I L/-:
11y/p�----e-t
_ 8�
.
I 
A�x
I � 1--W
(b)
Gambar 5-8 Contoh 5-1. Balok
yang mengalami lentur murni
bawah ke sumbu netral (y = -6,0 in.), maka kita dapat menggunakan Persamaan
(5-4) untuk menghitung radius kelengkungan dan kelengkungan. Dengan menyusun
Persamaan (5-4) dan memasukkan harga-harga numerik, maka
p = -L = - -6 i�5
= 4800 in. = 400 ft
£, 0,00 1 _
1 = _.!_ = 0 0025 n-1
p
' ..
Hasil ini menunjukkan bahwa radius kelengkungan sangat besar, dan kelengkungan
sangat kecil, meskipun regangan bahan telah mencapai harga yang besar (dalam
ha! ini regangan leleh).
Defleksi. Sebagaimana telah disebutkan dalam Subbab 5.3, momen lentur
konstan (lentur mumi) menimbulkan kelengkungan konstan di seluruh panjang
balok. Dengan demikian, kurva defleksi adalah busur lingkaran. Dari Gambar
5-8b, k.ita lihat bahwa jarak dari pusat kelengkungan 0' ke titik tengah C' dari
balok yang berdefleksi adalah radius kelengkungan p, dan jarak dari O'ke titik C
di sumbu x adalah p cos 8, di mana 8 adalah sudut BO'C. Ini menghasilkan rumus
defleksi di titik tengah balok sebagai berikut:
8= p(l - cos 8) (5-5)
Dari kurva yang hampir datar, kita dapat asumsikan bahwa jarak antara tumpuan
sama dengan panjang balok itu sendiri. Dengan demik.ian, dari segitiga BOC kita
dapatkan
sin 8 =
L/2
p
Dengan memasukkan harga-harga numerik kita peroleh
sin 8 =
06 ft)(1 2 in./ft)
= 0 0200
2(4800 in.)
'
dan 8 = 0,0200 rad = 1,146°
(5-6)
Perhatikan bahwa untuk tujuan praktis k.ita dapat menganggap sin e dan e (radian)
secara numerik sama karena e merupakan sudut yang sangat kecil.
Sekarang kita masukkan ke dalam Persamaan (5-5) untuk mendapatkan
defleksi
8 = p(l - cos 8) = (4800 in.)(l - 0,999800) = 0,960 in.
Defleksi ini sangat kecil dibandingkan dengan panjang balok, sebagaimana
terlihat dengan rasio panjang bentang terhadap defleksi:
!::._
=
( 1 6 ft)(1 2 in./ft) = 200
8 0,960 in.
I_
Jadi, kita telah memastikan bahwa kurva defleksi hampir datar sekalipun regangan
cukup besar. Tentu saja, dalam Gambar 5-8b defleksi balok digambarkan sangat
besar agar lebih jelas.
Catatan: Metode untuk menghitung defleksi balok yang diuraikan di sini
hanya mempunyai sedikit nilai praktek karena dibatasi hanya pacta lentur murni,
yang menghasilkan bentuk defleksi busur lingkaran. Metode lain yang lebih berguna
untuk mencari kurva defleksi disajikan dalam Bab 9.
------------------
5.5 1 TEGANGAN NORMAL Dl BALOK (BAHAN ELASTIS LINIER)
Di dalam subbab sebelum ini kita telah menyelidiki regangan longitudinal
E< pada suatu balok yang mengalami lentur mumi (lihat Persamaan 5-4
dan Gambar 5-7). Karena elemen longitudinal dari suatu balok hanya
mengalami tarik atau tekan, maka kita dapat menggunakan kurva tegangan-
Gambar 5-9 Tegangan normal di
suatu balok dari bahan elastis
linier: (a) tampak samping balok
yang menunjukkan distribusi
tegangan normal, dan (b) penam­
pang balok yang menunjukkan
sumbu z sebagai sumbu netral
penampang.
Mekanika Bahan 273
regangan bahan tersebutuntuk menentukan tegangan kalau kita mengetahui
regangan. Tegangan bekerja di seluruh bagian penampang dari suatu balok
dan intensitasnya bervariasi bergantung pacta bentuk diagram tegangan­
regangan dan dimensi penampang. Karena arah x adalah longitudinal
(Gambar 5-7a), maka kita menggunakan simbol ()
x
untuk menunjukkan
tegangan tersebut.
Hubungan tegangan-regangan yang paling umum dijumpai dalam
teknik adalah persamaan untuk bahan elastis linier. Untuk bahan seperti
ini, kita substitusikan hukum Hooke untuk tegangan uniaksial (() = Et:) ke
dalam Persamaan (5-4) dan mendapatkan
;;:; -Ery (5-7)
Persamaan ini menunjukkan bahwa tegangan normal yang bekerja di
penampang bervariasi secara linier terhadap jarak y dari permukaan netral.
Distribusi tegangan ini terlihat dalam Gambar 5-9a untuk kasus di mana
momen lentur M adalah positif dan balok melentur dengan kelengkungan
positif. Apabila kelengkungan adalah positif, maka tegangan {)< adalah
negatif (tekan) di atas permukaan netral dan positif (tarik) di bawahnya.
Di dalam gambar, tegangan tekan ditunjukkan dengan panah yang
menunjuk ke arah penampang dan tegangan tarik ditunjukkan dengan
panah yang menjauhi penampang.
y i Y
(a) (b)
Agar Persamaan (5-7) mempunyai nilai praktis, maka kita harus
meletakkan pusat koordinat sedemikian rupa sehingga kita dapat
menentukan jarak y. Dengan perkataan lain kita harus menentukan lokasi
sumbu netral penampang. Kita juga harus memperoleh hubungan antara
kelengkungan dan momen lentur - agar kita dapat memasukkannya ke
dalam Persamaan (5-7) dan memperoleh persamaan yang menghubungkan
antara tegangan dan momen lentur. Kedua tujuan ini dapat dicapai dengan
menentukan resultan tegangan ()
x
yang bekerja pacta penampang.
Pacta umumnya, resultan tegangan normal terdiri atas dua resultan
tegangan: ( 1) gaya yang bekerja dalam arah x, dan (2) kopel lentur yang
bekerja terhadap sumbu z. Namun, gaya aksial adalah nol apabila suatu
balok mengalami lentur mumi. Dengan demikian, kita dapat menuliskan
persamaan-persamaan statika berikut: ( 1 ) gaya resultan dalam arah x sama
dengan nol, dan (2) momen resultan sama dengan momen lentur M.
Persamaan pertama menghasilkan lokasi sumbu netral dan yang kedua
memberikan hubungan momen-kelengkungan.
274 Bab 5 T
egangan Di Balok (T
opik Dasar)
• Lokasi Sumbu Netral
Untuk mendapatkan persamaan statika yang pertama, kita tinjau elemen
dengan area dA di dalam penampang (Gambar 5-9b). Elemen ini terletak
pada jarak y dari sumbu netral, sehingga tegangan crx yang bekerja di
elemen dapat dinyatakan dengan Persamaan (5-7). Gaya yang bekerja di
elemen sama dengan crx dA dan merupakan gaya tekan untuk y positif.
Karena tidak ada gaya resultan yang bekerja pada penampang, maka in­
tegral crx dA di seluruh luas penampang A harus sama dengan nol; jadi,
persamaan statika yang pertama adalah
LcrxdA = -LE 1()1 dA = 0 (a)
Karena kelengkungan 1<: dan modulus elastisitas E merupakan konstanta
yang bukan nol di suatu penampang balok yang melentur, maka keduanya
tidak dilibatkan dalam proses integrasi daerah penampang melintang.
Dengan demikian, kita dapat menuliskan
(5-8)
Persamaan statika ini menyatakan bahwa momen pertama dari suatu luas
penampang yang dievaluasi terhadap sumbu z, adalah not. Dengan
perkataan lain, sumbu z harus melalui pusat berat penampang.* Karena
sumbu z juga merupakan sumbu netral, maka kita dapat menarik kesimpulan
sebagai berikut. Sumbu netral selalu melewatipusat beratsuatupenampang
apabila bahannya mengikuti hukum Hooke dan tidak ada gaya aksial
yang bekerja dipenampang tersebut. Kesimpulan ini membuat kita mudah
menentukan posisi sumbu netral.
Sebagaimana telah diuraikan dalam Subbab 5.1, pembahasan kita
terbatas pada balok dengan sumbu y adalah sumbu simetri. Karena itu,
sumbu y juga melewati pusat berat. Dengan demikian, kita mempunyai
kesimpulan tambahan sebagai berikut: pusat sumbu koordinat 0 (Gambar
5-9b) terletak di pusat berat penampang.
Karena sumbu y adalah sumbu simetri penampang, maka sumbu y
merupakan sumbu utama (lihat Bab 12, Subbab 12.9, untuk pembahasan
tentang sumbu utama). Karena sumbu z tegak lurus sumbu y, maka sumbu
tersebut juga merupakan sumbu utama. Jadi, apabila suatu balok dari
bahan elastis linier mengalami lentur murni, maka sumbu y dan z
merupakan sumbu berat.
• Hubungan Momen Kelengkungan
Persamaan statika yang kedua menyatakan bahwa resultan momen dari
tegangan normal crx yang bekerja pada seluruh penampang sama dengan
momen lentur M (Gambar 5-9a). Elemen gaya crx dA yang bekerja pada
elemen seluas dA (Gambar 5-9b) ada di arah positif dari sumbu x apabila
crx positif dan ada di arah negatif apabila crx negatif. Karena elemen dA
terletak di atas sumbu netral, maka tegangan positif crx yang bekerja pada
elemen tersebut menghasilkan elemen momen yang sama dengan crx ydA.
Elemen momen ini bekerja berlawanan arah dengan momen lentur positif
M yang terlihat dalam Gambar 5-9a. Dengan demikian, pertambahan dM
pada momen lentur adalah
*Pusat berat dan momen pertama dari suatu luas dibahas dalam Bab 12.
y
+M Momen
lentur
+M
�...
.
po
.
sitif
...
�
. � )
Kelengkungan
positif
L_______________ X
0
I Y
Momen
lentur
( , ..
negatif
.
, '
��..,/
-M Kelengkungan -
M
negatif
L--------------- X
0
Gambar 5-10 Hubungan antara
tanda momen lentur dan tanda
kelengkungan
Mekanika Bahan 275
dM = -ary dA
Integral dari semua momen elemental di seluruh penampang A harus sama
dengan momen lentur:
M = -faxydA
A
atau, dengan memasukkan ax dari Persamaan (5-7),
M = -LicE/ dA = KEL/dA
(b)
(5-9)
Persamaan ini menghubungkan kelengkungan suatu balok dengan momen
lentur M.
Karena integral di dalam persamaan di atas merupakan besaran
penampang, maka akan lebih mudah jika persamaan tersebut ditulis dalam
bentuk:
M = K£1 (5-10)
di mana
(5-11)
Integral ini adalah momen inersia dari daerah penampang terhadap sumbu
z (yaitu terhadap sumbu netral). Momen inersia selalu positif dan
mempunyai dimensi panjang pangkat empat; sebagai contoh, satuan uses
yang khas adalah in.4 dan satuan SI yang khas adalah mm4 di dalam
perhitungan balok.*
Sekarang Persamaan (5-10) dapat disusun kembali untuk menyatakan
kelengkungan dalam momen lentur di balok:
(5-12)
Ini dikenal sebagai persamaan momen-kelengkungan. Persamaan (5-12)
menunjukkan bahwa kelengkungan sebanding dengan momen lentur M
dan berbanding terbalik dengan besaran El, yang disebut rigiditas lentur
suatu balok. Rigiditas lentur merupakan ukuran tahanan suatu balok
terhadap lentur; artinya semakin besar rigiditas lentur, akan semakin kecil
kelengkungan yang terjadi akibat momen lentur.
Dengan membandingkan perjanjian tanda untuk momen lentur
(Gambar 4-5) dengan yang untuk kelengkungan (Gambar 5-6), kita lihat
bahwa momen lenturpositifmenghasilkan kelengkunganpositifdan momen
lentur negatifmenghasilkan kelengkungan negatif (lihat Gambar 5-10).
• Rumus Lentur
Karena kita telah menentukan lokasi sumbu netral dan telah mendapatkan
hubungan momen-kelengkungan, maka kita dapat menentukan tegangan
yang dinyatakan dalam momen lentur. Dengan memasukkan rumus
kelengkungan (Persamaan 5-12) ke dalam rumus tegangan ax (Persamaan
5-7), maka kita peroleh
*Momen inersia dari suatu luas dibahas dalam Bab 12.
,..
276 Bab 5 T
egangan Di Balok (T
opik Oasar)
Tegangan tekan
7 0 1
'vlomen
lentur
positif
+M �
--- ) J.
02
Tegangan tarik
(a)
(5- 1 3 )
Persamaan ini, yang disebut rumus lentur, menunjukkan hahwa tegangan
sebanding dengan momen lentur M dan berbanding terbalik dengan momen
inersia I penampang. Juga. tegangan bervariasi secara linier terhadap jarak
y dari sumbu netraL sebagaimana telah diamati sebelum ini. Tegangan
yang dihitung dengan rumus ini disebut tegangan lentur.
Jika momen lentur di suatu balok adalah positif. maka tegangan lentur
akan positif (tarik) di bagian penampang di mana r adaiah negatif. artinya
di bagian bawah balok. Tegangan di bagian atas balok ak,m negatif (tekan) .
Jika momen lentur adalah negatif, maka tegangan akan sebaliknya.
Hubungan ini ditunjukkan dalam Gambar 5-1 1 .
I Y
!
• Tegangan Maksimum di Suatu Penampang
Tegangan tarik
- -�
/ Mmnen
lentur
ncgatip
Tegangan tekan
(b)
Gambar 5-1 1 Hubungan antara
tanda untuk momen lentur dan
arah tcgangan normal: la) momen
lentur positif. dan lb) momcn
lentur negatif
Tegangan lentur tarik dan tekan maksimum yang bekerja di suatu
penampang terjadi c!i titik yang terletak paling jauh dari surnbu netral.
Kita tulis c1 dan c2 masing-masing ac!alah jarak c!ari sumbu netral ke
elernen ekstrirn dalam arah positif dan negatif (lihat Gambar 5-9b dan 5-
1 1). Kemudian tegangan normal maksimum cr1 Jan 0'2 (dari rumus lentur)
adalah
(5- l 4a,b)
di mana
(5- 1 5a,b)
Besaran SI dan s2 c!ikenal dengan sebutan modulus penampang. Dari
Persarnaan (5- 1 5a dan b) kita lihat bahwa modulus penampang mempunyai
dimensi panjang pangkat tiga (sebagai contoh, in.3 atau mm3). Perhatikan
bahwa jarak c1 dan c2 ke tepi atas dan bawah balok selalu merupakan
besaran positif.
Keuntungan dari menyatakan tegangan rnaksimum dalam modulus
penampang ada1ah karena setiap bagian modulus penampang menggabung­
kan besaran-besaran penampang yang relevan ke dalam besaran tunggal.
Jadi besaran ini dapat dibuat tabelnya dan dimasukkan dalam buku-buku
pegangan, yang dapat memudahkan perancang dalam membuat desain
suatu balok. (Desain suatu ba1ok dengan menggunakan modulus penampang
diuraikan dalam subbab selanjutnya.)
Jika suatu penampang balok adalah simetris terhadap sumbu z dan
terhadap sumbu y (penampang simetris ganda), maka c1 = c2 = c dan
tegangan tarik dan tekan maksimum secara numerik sama:
Me M
(5- 1 6)
cr, = -0'2 --
I s
di mana
S = !_ (5- 1 7 )
c
I
!---
b
2
b
(a)
y
d
(b)
Mekanika Bahan 277
adalah satu-satunya modulus potongan untuk penampang. Untuk suatu
balok dengan penampang persegi panjang dengan lebar h dan tinggi h
(Gambar 5- 1 2a). momen inersia dan modul us penampang adalah
(5- 1 8a.b)
lJntuk penampang lingkaran dengan dtamcter d (Gambar 5- 1 2h). besaran­
besaran tersebut adalah
ir.d4
! ;::;·. -
. . · .
­
.
64
nd3
S = -
32
(5- 1 9a.b)
Besaran penampang simetris ganda, sepeni penampang tabung. dapal
diperoleh secara langsung dari rumus-rumus di ata'.
Momen inersia untuk berbagai bidang datar dic:mtumkan dalam
Lampiran D sebagai rujukan yang memudahkan. Cntuk hentuk penampang
lain. kita harus menentukan lokasi sumbu netral. mom en mer,ia. d:.m modu­
lus penampang dengan perhitungan langsung yang menggunakan cara­
cara yang diuraikan dalam Bab 1 2. (Prosedur umum ini digambarb.n
dalam Contoh 5-4.) Dimensi dan besaran profil baja standar dan balok
kayu dicantumkan dalam Lampiran E dan F dan dalam bany ak buku-buku
teknik, sebagaimana diterangkan secara lebih rinci dalam wbbab berikut.
• Pembatasan
Gambar 5-1 2 Bentuk penampang Analisis yang diuraikan dalam subbab ini adalah untuk lentur mumi balok
simetris ganda prismatis yang terbuat dari bahan ela�tis l inier dan homogen. Jika suatu
balok mengalami lentur tak seragam, maka gaya geser akan menimbulkan
wa1ping (atau distorsi ke luar hidang) pada penampang. Jadi, pada kasus
tersebut suatu penampang yang datar sebelum lentur tidak lagi datar setelah
melentur. W
mping akibat deformasi gcser sangat menyulitkan kita dalam
mempelajari perilaku balok. Sekalipun demikian, penelitian-penelitian
secara teliti menunjukkan bahwa perhitungan tegangan normal dari rumus
lentur tidak begitu dipengaruhi adanya tegangan geser berikut warping
yang ditimbulkannya (Ref. 2- J , hal 42 dan 48). Jadi, kita dapat tetap
menggunakan teori lentur murni untuk perhitungan tegangan normal di
halok yang mengalami lentur tak seragam.*
Rumus lentur memberikan hasil yang hanya akurat di daerah balok
di mana distribusi tegangan tidak terganggu oleh pcrubahan bentuk balok
atau diskontinuitas pembebanan. Sebagai contoh. rumus lentur tidak dapat
digunakan di dekat tumpuan balok atau di dekat behan terpusat.
Ketidakteraturan seperti ini menimbulkan tegangan lokal, atau konsentrasi
tegangan, yang jauh l ebih besar daripada tegangan yang diperoleh dari
rumus lentur (lihat Subbab 5 . 1 3).
*Teori balok dimulai oleh Galileo Galilei (I 564-1642), yang mcnyelidiki pcrilaku berbagai jenis
balok. Pcnelitiannya dalam bidang mekanika bahan diuraikan dalam bukunya yang tcrkenal Two New
Scienc es. yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1 638 (Ref. 5-2) Meskipun Galilc<> melakukon banyak
penemuan tentang balok, ia tidak mendapatkan distribusi tegangan yang kita gunakan dcwasa ini.
Perkembangan lebih lanjut tentang teori balok dilakukan olch Mariotte, Jacob Bernoulli, Euler, Parent.
Saint-Venant. dan lain-lain (Ref. .
'-3).
278 Bab 5 T
egangan Di Balok (T
opik Dasar)
Gambar 5-13 Contoh 5-2.
Kawat yang dibengkokkan di
sekeliling sebuah drum
• Contoh 5-2
Sebuah kawat baja berkekuatan tinggi dengan diameter d dibengkokkan di sekeliling
drum dengan jari-jari R0 (Gambar 5-13). Tentukan momen lentur M dan tegangan
lentur maksimum cr
maks
di kawat, dengan menganggap d = 4 mm dan R0 = 0,5 m.
(Kawat baja ini mempunyai modulus elastisitas E = 200 GPa dan limit proporsional
cr
P1
= 1 200 MPa.)
Solusi
Langkah pertama di dalam contoh ini adalah menentukan radius kelengkungan p
kawat yang melentur. Selanjutnya, dengan mengetahui p. kita dapat mencari momen
lentur dan tegangan maksimumnya.
Radius kelengkungan. Radius kelengkungan suatu kawat yang melentur adalah
jarak dari pusat drum ke sumbu netral penampang kawat:
(5-20)
Momen lentur. Momen lentur di kawat dapat diperoleh dari hubungan momen­
kelengkungan (Persamaan 5-1 2):
M = El = 2£1
p 2Ra + d (5-21)
di mana I adalah momen inersia penampang kawat. Dengan mensubstitusikan I
yang dinyatakan dalam diameter d (Persamaan 5-1 9a), kita peroleh
nEd4
M = --.--,----
32(2Ra + d)
(5-22)
Hasil ini diperoleh tanpa meninjau tanda momen lentur karena arah lentur telah
jelas terlihat di dalam gambar.
Tegangan /entur maksimum. Tegangan tarik dan tekan maksimum. yang sama
secara numerik, diperoleh dari rumus lentur (Persamaan 5-16). Namun, karena
kita hanya tertarik pada besar tegangan maksimum, maka kita dapat mengabaikan
tanda dalam Persamaan (5-16) dan menuliskan rumus berikut:
M
O"maks = S
di mana S adalah modulus penampang untuk penampang lingkaran. Dengan
mensubstitusikan M dari Persamaan (5-22) dan S dari Persamaan (5-19b), kita
peroleh
Ed
amaks =
_
2
_
Ra
_
_
+
_
d
_ (5-23)
Hasil yang sama dapat diperoleh secara langsung dari Persamaan (5-7) dengan
mengganti y dengan d/2 dan mensubstitusikan p dari Persamaan (5··20).
Dari Gambar 5-1 3 kita dengan mudah dapat melihat bahwa tegangan adalah
tekan di bagian bawah (atau bagian dalam) dari kawat dan tarik di bagian atas
(atau luar) dari kawat.
Harga numerik. Sekarang kita masukkan data bahan ke dalam Persamaan (5-
22) dan (5-23) dan mempero1eh hasil sebagai berikut:
nEd4
M = ----
32(2R0 + d)
(Jmaks
Ed
2!?,; + d
n(200 GPa)(4 mm)4
= 5 01 N·m
32[2(0,5 m) + 4mm] '
(200 GPa)(4 mm) = 797 MPa
2(0,5 m) + 4mm
Perhatikan bahwa cr
mak'
lebih kecil daripada limit proporsional kawat baja, sehingga
perhitungannya sah.
Mekanika Bahan 279
Catatan: Karena jari-jari drum jauh lebih besar dibandingkan dengan diameter
kawat, maka kita dapat dengan aman mengabaikan d dibandingkan dengan 2R0
pada penyebut di dalam rumus untuk M dan rmaks· Selanjutnya Persamaan (5-22)
dan (5-23) menghasilkan
M = 5,03 N·m amaks = 800 MPa
Hasil ini ada pada sisi konservatifdan berbeda kurang dari 1% dengan harga yang
lebih teliti.
• Contoh 5-3
L 9 ft_j
I � q = 1,s k/ft
iU
UJ!!l�
I L == 22 ft _I
� �
V +23,6
I
--I
I
(a)
b = 8,75 in
(b)
Sebuah balok sederhana AB dengan panjang bentang L = 22 ft (Gambar 5-14a)
memikul beban terbagi rata dengan intensitas q = I ,5 k!ft dan beban terpusat P =
1 2 k. Beban terbagi rata tersebut meliputi juga berat sendiri balok. Beban terpusat
bekerja di titik 9,0 ft dari ujung kiri balok. Balok ini terbuat dari kayu lapis (glued
laminated wood) dan mempunyai penampang dengan lebar b = 8.75 in. dan tinggi
h = 27 in. (Gambar 5-1 4b). Tentukan tegangan tarik dan tekan maksimum di balok
ini akibat lentur.
Solusi
Momen lentur maksimum. Kita mulai analisisnya dengan membuat diagram gaya
geser dan momen lentur (Gambar 5-14c dan d), dengan menggunakan cara-cara
yang telah diuraikan dalam Bab 4. Karena balok ini prismatis, maka tegangan
lentur maksimum teijadi di penampang dengan momen lentur terbesar, yang terletak
di lokasi di mana tanda gaya geser berubah. Jadi, momen maksimum adalah
Mmaks = 152 k-ft
Modulus penampang. Selanjutnya, kita hitung modulus penampang dengan
menggunakan Persamaan (5-1 8b):
S = b�1 = 7;(8,75 in.)(27 in.)
2
= 1063 in.3
T
egangan maksimum. Akhimya, kita tentukan tegangan tarik dan tekan maksimum
a1 dan ac dari Persamaan (5-16):
(c) -2 1 ,4
a1
M ( 152 k-ft)(l 2 in./ft)
= 1 720 si ..-
= a2 = S =
1 063 in.
3 p ..._
+152
(d)
Gambar 5-1 4 Contoh 5-3.
Tegangan di balok sederhana
ac = a1 = -
M = -I 720 psi
s
Karena momen lentur adalah positif, maka tegangan tarik maksimum (a1) terjadi
di bawah balok dan tegangan tekan (a) terjadi di atas.
L_
__
__
__
__
__
__
__
__
__
__
__
__
_
_
__
__
__
__
_
_
__
__
_________________________________
• Contoh 5-4
Balok ABC yang terlihat dalam Gambar 5-15a mempunyai tumpuan sederhana di
A dan B dan overstek dari B ke C. Beban terbagi rata dengan intensitas q = 3,0
kN/m bekerja di seluruh panjang balok tersebut. Balok ini terbuat dari tiga plat
baja (tebal t = 1 2 mm) yang dilas membentuk penampang kanal dengan lebar b
= 300 mm dan tinggi h = 80 mm (Gambar 5-15b). Untuk menentukan besaran
penampang, kita abaikan fillets dan !as, dan asumsikan bahwa penampang terdiri
atas beberapa persegi panjang, seperti terlihat dalam gambar.
280 Bab 5 T
egangan Di Balok (Topik Dasar)
Tentukanlah tegangan tarik dan tekan maksimum di balok ini akibat beban
tersebut.
• Solusi
q = 3.0k/ft
A�
---�1IlJ I l � : : :Jc
...... I � B I
.... J�mi:
I
I•
3.0 m . 1 .5 m-1
(a)
b =300mm
�
V
l. j· •1
�"i;;l
_l] h
t=l2 mm
t=I2 mm
(b)
(c)
+1 .898 kN.m
-3.375kN.m
(d)
Gambar 5-1 5 Contoh 5-4.
Tegangan di suatu balok dengan
overstek
. i Y
) J i cl t= l2 mm
' . � t
ir==I��::':=:::;:==::I:,l
··· ..•.. 1-
---.----
.,_
h =
f.l-1= 12 mm
b = 300mm
Gambar 5-16 Penampang balok
yang dibahas dalam Contoh 5-4
Momen lentur. Tegangan tarik dan tekan maksimum selalu terjadi di penampang
di mana momen lentur mempunyai harga terbesar. Untuk menentukan penampang
tersebut, kita membuat diagram gaya geser dan momen lentur (Gambar 5-1 5c dan
d), dengan menggunakan cara-cara yang telah disebutkan dalam Bab 4. Perhatikan
bahwa momen positif maksimum dan negatif maksimum terjadi di penampang di
mana gaya geser berubah tanda. Kedua momen tersebut masing-masing adalah
1 898 kN-m dan -3.375 kN-m.
Sumbu netral penampang. Kita menentukan posisi sumbu netral (sumbu z)
dengan menentukan pusat berat penampang, seperti terlihat dalam Gambar 5-1 6.
Dengan menggunakan cara-cara yang diuraikan dalam Bab 1 2 Subbab 12.3, kita
membagi penampang ini menjadi tiga persegi panjang yang luasnya masing-masing
A 1, A2, dan A3. Lalu kita menetapkan sumbu referensi Z-Z di tepi atas penampang,
dan kita tulis jarak dari sumbu Z-Z ke pusat berat area A 1 dan A2 masing-masing
dengan y1 dan y2. Jadi, perhitungan untuk menetapkan pusat berat penampang
kanal adalah sebagai berikut
Area 1 :
Area 2:
Area 3:
y1 = t/2 = 6 mm
h = h/2 = 40 mm
A1 = (b - 2t)(t) = (276 mm)(l 2 mm)
= 3312 mm2
A2 = ht = (80 mm)(1 2 mm)
= 960 mm2
A3 = A2
LY;A;
=
yiAI + 2YzA2
IA; A1 + 2A2
= (6 mm)(331 2 mm
2
) + 2(40 mm)(960 mm2)
= 18 48 mm
3312 mm2 + 2(960 mm2 )
'
c2 = h - c1 = 80 mm - 18,48 mm = 61 ,52 mm
Jadi, posisi sumbu netral (sumbu z) telah ditentukan.
Momen inersia. Untuk menghitung tegangan dari rumus lentur kita harus
menentukan momen inersia penampang terhadap sumbu netral. Perhitungan ini
membutuhkan teorema sumbu sejajar (lihat Bab 1 2, Subbab 1 2.5).
Dimulai dengan area A1, kita peroleh momen inersia /_ terhadap sumbu z
,,
dari persamaan
(c)
Di dalam persamaan ini, Iz
,
adalah momen inersia area A1 terhadap sumbu beratnya
sendiri:
1 3 1 3 4
Iz
,
= T2(b - 2t)(t)· = T2 (276 mm)(l 2 mm) = 39,744 mm
dan d1 adalah jarak dari sumbu berat area A 1 ke sumbu z:
d1 = c1 - t/2 = 1 8,48 mm - 6 mm = 12,48 mm
Dengan demikian, momen inersia area A1 terhadap sumbu z (dari Persamaan c)
adalah
/_ = 39,744 mm4 + (33 1 2 mm2)(12,48)2 = 555.600 mm4
,,.
Dengan melakukan ha! yang sama untuk A2 dan A3, kita peroleh
/z
2
= Iz, = 956.600 mm4
Mekanika Bahan 281
Jadi, momen inersia penampang /z terhadap pusat beratnya adalah
lz =
I,, + 1,2 + I,, = 2.469 x 106 mm4
Modulus penampang. Modulus penampang untuk bagian atas dan bawah
balok masing-masing adalah
I
S. = ....L.. = 40.1 00 mm
3
(lihat Persamaan 5-1 5a dan b). Dengan telah diketahuinya besaran-besaran
penampang, maka kita dapat menghitung tegangan maksimum dari Persamaan 5-
14a dan b).
Tegangan maksimum. Di penampang di mana terjadi momen lentur
maksimum, tegangan tarik terbesar terjadi di bawah balok (a2) dan tegangan tekan
terbesar terjadi di atas (a1). Jadi, dari Persamaan (5-14bJ dan (5- 14a) kita dapatkan
a, = a =
M =
1 ,898 kN·m = 47,3 MPa
2 52 40. 1 00 mm3
1,898 kN·m
= _14•2 MPa
1 33.600 mm3
Dengan cara sama, tegangan terbesar di penampang di mana momen negatif
maksimum terjadi adalah
_ _ M _
-3,375 kN·m _
25 3 MP
a, - a - - - - - a
1
51 1 33.600 mm3 '
ac =
a =
M =
-3,375 kN·m =
-84 2 MPa
2 52 40.1 00 mm
3 '
Perbandingan antara keempat tegangan ini menunjukkan bahwa tegangan tarik
terbesar di balok adalah 47,3 MPa dan terjadi di bawah ba1ok di penampang
dengan momen lentur positif maksimum; jadi,
(a1)maks. :=
47,3 MPa
Tegangan tekan terbesar adalah -84,2 MPa dan terjadi di bawah balok di penampang
dengan momen negatif maksimum:
(aJmaks = -84,2 MPa ..
Jadi, kita telah menentukan tegangan maksimum akibat beban terbagi rata yang
bekerja di balok.
DESAIN BALOK TERHADAP TEGANGAN LENTUR
Proses mendesain balok membutuhkan peninjauan banyak faktor, termasuk
jenis struktur (pesawat terbang, mobil, jembatan, gedung, dan lain-lain),
bahan yang digunakan, dan biaya yang harus dikeluarkan. Namun, dari
tinjauan kekuatan, pacta akhirnya peninjauan itu bertujuan memilih bentuk
dan ukuran balok sedemikian hingga tegangan aktual di balok tidak
melebihi tegangan izin bahan. Di dalam pembahasan berikut ini, kita akan
meninjau hanya tegangan lentur (yaitu, tegangan yang diperoleh dari rumus
lentur, Persamaan 5-13). Selanjutnya, kita akan meninjau efek tegangan
geser (Subbab 5.8, 5.9, dan 5.10), dan konsentrasi tegangan (Subbab 5.13).
Dalam mendesain suatu balok untuk menahan tegangan lentur, kita
biasanya mulai dengan menghitung modulus penampang yang diperlukan.
282 Bab 5 T
egangan Di Balok (T
opik Dasar)
Gambar .5-1 7 Mengelas tiga
plat baja besar menjadi
penampang solid tunggal (Atas
izin Lincoln Electric Company)
Sebagai contoh, jika balok mempunyai penampang simetris ganda dan
tegangan izin yang sama untuk tarik dan tekan, kita dapat menghitung
modulus yang diperiukan dengan membagi momen lentur maksimum
dengan tegangan lentur izin untuk bahan (lihat Persamaan 5-16):
(5-24)
Tegangan izin didasarkan atas besaran bahan dan faktor keamanan yang
dikehendaki. Untuk menjamin bahwa tegangan tidak di1ampaui, kita harus
memilih suatu balok yang menghasilkan modulus penampang sedikitnya
sebesar yang diperoleh dari Persamaan (5-24).
Jika suatu penampang bukan simetris ganda, atau jika tegangan izin
untuk tarik dan tekan berbeda, kita mungkin perlu menentukan dua modu­
lus penampang yang diperlukan - satu berdasarkan atas tarik dan lainnya
berdasarkan tekan. Selanjutnya kita harus menggunakan balok yang
memenuhi kedua kriteria.
Untuk meminimumkan berat dan menghemat bahan, kita biasanya
memilih suatu balok yang mempunyai luas penampang paling kecil tetapi
masih tetap memenuhi modulus penampang yang diperlukan (dan juga
memenuhi semua persyaratan desain lainnya).
Balok dapat mempunyai berbagai bentuk dan ukuran untuk memenuhi
berbagai tujuan. Sebagai contoh, balok baja besar difabrikasi dengan
mengelasnya (Gambar 5-17), balok aluminium biasa dibuat berupa tabung
lingkaran atau persegi panjang, kayu umumnya dipotong dan dilem untuk
memenuhi persyaratan khusus, dan balok beton bertulang biasa dicor
dengan bentuk yang dikehendaki dengan menggunakan cetakan. Selain
itu, balok baja, aluminium, plastik, dan kayu dapat dipesan dalam bentuk
dan ukuran standar dari katalog yang diberikan oleh penyalur dan produsen.
Bentuk-bentuk yang tersedia antara lain sayap lebar. I, siku, kanal, persegi
panjang, dan tabung.
• Balok Dengan Bentuk Dan Ukuran Standar
Dimensi dan besaran berbagai jenis balok dicantumkan dalam buku-buku
teknik. Sebagai contoh, bentuk dan ukuran balok baja struktural
distandarisasi oleh American Institute ofSteel Construction (AISC), yang
menerbitkan manual yang berisi besaran-besaran penampang (Ref. 5-4).
Tabel di manual AISC memuat dimensi penampang dan besaran-besaran
penting lain seperti berat perfootpanjang, luas penampang, momen inersia,
dan modulus penampang. Besaran balok aluminium dan kayu juga
ditabelkan serta tersedia pada publikasi oieh Aluminum Association (Ref.
5.5) dan American Forest and Paper Association (Ref. 5-6). Tabel balok
baja dan balok kayu diberikan dalam buku ini untuk digunakan dalam
memecahkan soal-soal (lihat Lampiran E dan F).
Profil baja struktural diberi notasi seperti W 30 x 2 1 1 , yang berarti
bahwa penampang tersebut adalah profil W (juga disebut profil sayap
lebar) dengan tinggi nominal 30 in. dan berat 2 1 1 lb per ft panjang (lihat
Tabel E-1 , Lampiran E). Notasi analog digunakan untuk profil S (juga
disebut balok I) dan profil C (juga disebut kanai), seperti terlihat dalam
Tabel E-2 dan E-3. Profil siku, atau profil L, diberi notasi dengan panjang
z
(a)
ly A
=r£'1
z_j0 Ih
=pJ
(c)
(b)
1
Y Flens
I
(d)
Gambar 5-18 Bentuk-bentuk
penampang balok
Mekanika Bahan 283
kedua kaki dan tebalnya (lihat Tabel E-4 dan E-5). Sebagai contoh,
L8 x 6 x 1 menunjukkan siku dengan kaki yang tidak sama, satu kaki
panjangnya 8 in dan kaki lainnya mempunyai panjang 6 in., dengan tebal
1 in. Semua profil baja struktural standar dibuat dengan pengerolan (roll­
ing), suatu proses di mana sebongkah baja panas dilewatkan bolak-balik
antara penggiling rolls sampai mempunyai bentuk yang dikehendaki.
Penampang struktural aluminium biasanya dibuat dengan proses
ekstrusi, suatu proses di mana bongkahan aluminium panas didorong
melalui cetakan profil. Karena cetakan mudah dibuat serta bahannya mudah
dikerjakan, maka balok aluminium dapat dibuat dalam bentuk apapun
yang dikehendaki. Bentuk standar seperti balok sayap lebar, balok I, kanal,
siku, tabung, dan profil lain ditabelkan dalam Alwninum Construction
Manual (Ref. 5-5). Selain itu, profil tidak standar juga dapat dipesan.
Hampir semua balok kayu mempunyai penampang persegi panjang
dan diberi notasi dimensi nominal seperti -+ x 8 1 in. ). Dimensi ini
menunjukkan ukuran kasar penampang kayu. Dimensi bersih (atau dimensi
aktual) balok kayu lebih kecil daripada dimensi nominal jika sisi-sisi
kasar telah diamplas agar halus. Jadi, balok kayu 4 x 8 mempunyai dimensi
aktual 3,5 x 7,25 in. sesudah diamplas. Tentu saja, dimensi bersih kayu
yang diamplas digunakan dalam perhitungan teknik. Dengan demikian,
dimensi bersih berikutbesaran-besarannya dicanturnkan dalam Lampiran F.
• Efisiensi Relatif Berbagai Bentuk Balok
Salah satu tujuan dalam mendesain balok ialah untuk menggunakan bahan
seefisien mungkin di dalam semua batasan yang berasal dari fungsi,
penampilan, biaya pelaksanaan, dan sebagainya. Dari tinjauan kekuatan
saja, efisiensi lentur bergantung terutama pada bentuk penampang. Balok
yang paling efisien adalah yang menggunakan bahan sejauh mungkin dari
sumbu netral. Semakin jauh suatu bahan dari sumbu netral, akan semakin
besar modulus penampangnya - dan semakin besar modulus penampang,
akan semakin besar pula momen lentur yang dapat ditahan (untuk suatu
kondisi tegangan izin).
Sebagai ilustrasi, tinjaulah penampang berbentuk persegi panjang
dengan lebar b dan tinggi h (Gambar 5-18a). Modulus penampang (dari
Persamaan 5-18b) adalah
S =
bh2
=
Ah
= 0 167 Ah
6 6
, (5-25)
di mana A menunjukkan luas penampang. Persamaan ini menunjukkan
bahwa penampang persegi panjang dengan luas yang ditentukan menjadi
lebih efisien apabila tinggi h dibesarkan (dan lebar b dikurangi untuk
membuat luasnya konstan). Tentu saja, acta batas praktek dalam
memperbesar tinggi, karena balok menjadi tidak stabil secaralateral apabila
rasio tinggi terhadap lebar terlalu besar. Jadi, suatu balok dengan
penampang persegi panjang yang sangat tinggi akan gaga! karena tekuk
lateral (ke samping), bukan karena tidak cukupnya kekuatan bahan.
Selanjutnya, bandingkan penampang lingkaran solid dengan diam­
eter d (Gambar 5-1 8b) dengan penampang bujursangkar yang luasnya
sama. Sisi h dari bujursangkar yang mempunyai luas sama dengan lingkaran
adalah h = (d/2) -fii . Modulus penampang untuk masing-masing bentuk
penampang adalah (dari Persamaan 5-18b dan 5-19b)
284 Bab 5 T
egangan Di Balok (T
opik Dasar)
sbujur sangkar
slingkaran
sehingga kita dapatkan
3 7
=
!!___
= 7r'V;
ra
= 0,1 160d3
6 48
nd3
= 0 0982d3
32
,
shuiur sanobr
· . e ' = [,[8
slmgkaran
(5-26a,b)
(5-27)
Hasil ini menunjukkan bahwa suatu balok berpenampang bujursangkar
lebih efisien dalam menahan lentur dibandingkan balok berpenampang
lingkaran yang luasnya sama. Alasannya, tentu saja, bahwa lingkaran
mempunyai bahan yang relatif lebih banyak di dekat sumbu netral. Bahan
ini mengalami tegangan yang lebih kecil, dan oleh karena itu tidak
berkontribusi banyak pada kekuatan balok.
Bentuk penampang ideal untuk balok yang luas penampangnya
ditentukan A dan tingginya juga ditentukan h akan diperoleh dengan
meletakkan setengah luas pada jarak h/2 di atas sumbu netral dan setengah
lainnya di jarak h/2 di bawah sumbu netraL seperti terlihat dalam Gambar
5-18c. Untuk bentuk ideal ini, kita dapatkan
l
S = - = 0 5Ah
h/2
' (5-28a,b)
Limit teoretis ini didekati dalam praktek dengan penampang sayap lebar
dan penampang I, di mana sebagian besar bahan ada di sayap (Gambar 5-
1 8d). Karena harus ada sebagian bahan di badan, maka kondisi ideal tidak
pemah bisa diwujudkan. Jadi, untuk balok sayap lebar standar, modulus
penampangnya kira-kira
S "' 0,35 Ah (5-29)
yang jauh lebih besar daripada modulus penampang untuk penampang
persegi panjang yang luas dan tingginya sama (lihat Persamaan 5-25).
Alasan yang jelas adalah karena balok sayap Jebar mempunyai paling
banyak bahan di sayap, padajarak terjauh yang mungkin dari sumbu netraL
Keunggulan lain suatu balok sayap Jebar adalah lebar yang lebih
besar sehingga mempunyai kestabilan lebih besar terhadap tekuk ke
samping, dibandingkan dengan balok persegi panjang dengan tinggi dan
modulus penampang sama. Sebaliknya, dalam prakteknya ada limit
mengenai tipisnya suatu badan dari balok sayap lebar. Jika badan terlalu
tipis, maka badan tersebut akan mudah mengalami tekuk atau mungkin
mengalami kelebihan tegangan geser, suatu topik yang dibahas pada Subbab
5. 1 0.
Contoh-contoh berikut ini menggambarkan proses pemilihan balok
berdasarkan atas tegangan izin. Di dalam contoh-contoh tersebut hanya
pengaruh tegangan lentur (yang diperoleh dari rumus lentur) yang ditinjau.
Catatan: Dalam menyelesaikan contoh-contoh dan soal-soal yang
membutuhkan pemilihan balok dari tebal dalam lampiran, kita meng­
gunakan aturan sebagai berikut: Jika beberapa pilihan tersedia di dalam
tabel, pilih balok yang paling ringan yang akan memberikan modulus
penampang yang diperlukan.
Gambar 5-1 9 Contoh 5-5.
Desain .suatu balok kayu yang
ditumpu sedcrhana
L�---
P = l 2 kN
Mekanika Bahan 285
• Contoh 5-5
Sebuah balok kayu yang ditumpu scdcrhana dengan bentang L = I 2 fl memikul
beban terbagi rata q = 420 lb/ft ( Gambar 5 - 1 9). Tegangan lentur izin adalah 1 800
psi, berat kayu adalah 35 lb/ft
'
, dan b:llok tersebut dipikul dalam arah lateral
terhadap tekuk ke samping. Pilihlah ukuran yang memadai untuk balok tersebut
dari label dalam Lampiran F.
Solusi
Karena kita belum mengetahui berapa herat b�Jiok. maka kita akan melakukan
perhitungan dengan cara coha-coba sebagai berikut: 1 I 1 Hitung modulus penampang
yang diperlukan berdasarkan atas heban terbagi rata yang diketahui. (2) Pilih
ukuran coba untuk balok. (3) Tambahkan berat balol dengan beban terhagi rata
dan hitung modulus penampang baru yang dibutuhkan. 1 -+ 1 Cek apakah balok yang
telah dipilih tersebut masih memadai. Jika tidak, pilih halok : ang lehih bcsar dan
ulangi prosesnya.
( 1 ) Momen lentur maksimum di balok terjadi di titik tengah ( lihat Persamaan
4- 1 5):
M =
qL2
=
(420 lb/ft)( 1 2 ft)2 ( 1 2 in./ft)
= 90 72() lb-
·
maks.
8 8
• 111.
Modulus penampang yang diperlukan adalah (Persamaan 5-24)
S =
Mmaks
=
90.720 lh-in.
= 50,40 in.3
O'izin 1 800 psi
(2) Dari tabel dalam Lampiran F kita lihat hahwa balok yang paling ringan
yang memberikan modulus penampang sedikitnya 50,40 in3 terhadap sumbu 1 - 1
adalah balok 3 x 1 2 (dimensi nominal). Balok ini mempunyai modulus penampang
sama dcngan 52,73 in.3 dan berat 6,8 lb/ft.
(3) Beban terbagi rata di balok menjadi 426,8 lb/ft, dan modulus penampang
yang diperlukan adalah
S = (50 40 in.3 ) (426,8 lb/ft )= 5 1 22 in.3
,
420 lb/ft
'
(4) Balok yang telah dipilih sebelum ini mempunyai modulus pcnampang
52,73 in3. yang lebih besar daripada modulus yang diperlukan 5 1 ,22 in3.
Dengan demikian, balok 3 x 1 2 in. telah memadai. •
Catatan: Jika berat jenis kayu bukan 35 lb/ft3, kita dapat memperoleh bcrat
balok per foot panjang dengan mengalikan harga kolom terakhir dalam Lampiran
F dengan rasio antara berat jcnis aktual dan 35 lb/ft3.
• Contoh 5-6
Sebuah tiang vertikal yang tingginya 2,5 m harus memikul beban lateral P = 1 2
k N d i ujung atasnya (Gambar 5-20). Ada dua rencana yang diusulkan - tiang kayu
solid dan tabung aluminium berlubang. (a) Berapakah diameter minimum d1 yang
diperlukan pada tiang kayu jika tegangan lentur izin di kayu adalah 1 5 MPa? (b)
h = 2.5 m Berapa diameter luar minimum yang diperlukan d2 untuk tabung aluminium jika
(a) (b)
Gambar 5-20 Contoh S-6. (a)
Tiang kayu solid, dan (b) tabung
alumunium
tebal dinding adalah 1/8 dari diameter luar dan tegangan lentur izin di aluminium
adalah 50 MPa?
Solusi
Momen lentur maksimum. Momen maksimum terjadi di dasar tiang dan sama
dengan bcban P dikalikan dengan tinggi h; jadi,
Mmaks = Ph = ( 1 2 kN)(2,5 m) = 30,0 kN·m
286 Bab 5 T
egangan Oi Balok (T
opik Dasar)
(a) Tiang kayu. Modulus penampang yang diperlukan 51 untuk tiang kayu (lihat
Persamaan 5-19b dan 5-24) adalah
1rd13 = Mmaks _ 30.0 kN·m 3 6 3
SI = 32 <Yizin
- 15 MPa = 0,0020 m = 2 X 10 mm
Dengan memecahkan diametemya, ldta peroleh
d1 = 273 mm
Diameter yang dipilih untuk tiang kayu hams sama atau lebih besar daripada 273
mm agar tegangan izin tidak terlampaui.
(b) Tabung aluminium. Untuk menentukan modulus penampang 52 pada
tabung, mula-mula kita hams menentukan momen inersia 12 penampang (lihat
Persamaan 5-17). Tebal dinding tabung adalah di8 sehingga diameter dalam adalah
d2 -di4 = 0,75d2. Jadi, momen inersia (lihat Persamaan 5-1 9a) adalah
I = �[di - (0,75dd] = 0,03356di
Modulus penampang sekarang diperoleh sebagai berikut:
s
- 1
2 - 0,03356di = 0 06712d3
2 - c
- d2!2 '
2
Modulus penampang yang diperlukan diperoleh dari Persamaan (5-24):
S2
=: Mmaks =
30,0kN·m
= 0,0006 m3 = 600 X 103 mm3
<Yizm 50 MPa
Dengan menyamakan kedua rumus untuk modulus penampang, kita dapat
menghitung diameter luar yang diperlukan:
d = (600 x l03 mm.J )I/13
= 208 mm ...
2
0,06712
Diameter dalamnya adalah 0,75(208 mm) = 156 mm.
• Contoh 5-7
q = 2,000 lb/ft q = 2,000 lb/ft
F'lTITTI m�B
.. . I I
lL
I •
r---12ft-------k3 ft�6fti
RA Rs
-17.140
Gambar 5-21 Contoh 5-7.
Desain suatu balok sederhana
dengan beban terbagi rata parsial
Balok sederhana AB dengan panjang bentang 21 ft harus memikul beban terbagi
rata q = 2000 lb/ft yang terdistribusi di sepanjang balok secara tidak penuh seperti
terlihat dalam Gambar 5-21. Dengan meninjau beban terbagi rata dan berat balok,
dan juga dengan menggunakan tegangan izin lentur sebesar 18000 psi, pilihlah
balok baja stmktural dengan bentuk sayap lebar untuk memikul beban tersebut.
Solusi
Di dalam contoh ini kita menyelesaikan sebagai berikut: (1) Cari momen lentur
maksimum di balok aldbat beban terbagi rata. (2) Dengan mengetahui momen
maksimum, ldta mencari modulus penampang yang diperlukan. (3) Pilih balok
sayap lebar coba-coba dari Tabel E-1 di Lampiran E dan mendapatkan berat
balok. (4) Dengan mengetahui beratnya, kita menghitung momen lentur yang barn
dan modulus penampang yang baru. (5) Tentukan apakah balok yang dipilih masih
memadai. Jika tidak, pilih balok baru dan ulangi prosesnya sampai ukuran balok
yang memadai diperoleh.
Momen lenturmaksimum. Untuk memudahkan pencarian lokasi momen lentur
maksimum, kita buat diagram gaya geser (Gambar 5-21) dengan menggunakan
cara-cara yang telah diuraikan dalam Bab 4. Sebagai bagian dari proses tersebut,
kita tentukan reaksi di tumpuan:
RA == 18.860 lb RB = 17.140 lb
Jarak x1 dari tumpuan kiri ke penampang dengan gaya geser no! diperoleh dari
persamaan
Mekanika Bahan 287
V = RA-qx1 = 0
yang berlaku dalam selang 0 :5. x:5. 12 ft. Dengan memecahkan X
p
kita peroleh
X =
RA = 18.860 lb
= 9.430 ft
1 q 2.000 lb/ft
yang lebih kecil daripada 1 2 ft sehingga perhitungan ini sah.
Momen lentur maksimum terjadi di penampang di mana gaya geser sama
dengan nol; dengan demik:ian,
M R qx;: = 88.920 lb-ft
maks
= Axl - 2
Modulus penampang yang diperlukan. Modulus penampang yang diperlukan
(hanya berdasarkan atas beban q) diperoleh dari Persamaan (5-24):
S =
Mmaks =
(88.920 lb-ft)(l 2 in./ft) = 59.3 in.
'
aizin 18.000 psi
Balok coba-coba. Sekarang kita gunakan Tabel E- 1 dan kita pilih balok
sayap lebar teringan yang mempunyai modulus penampang yang lebih besar
daripada 59,3 in.3 Balok paling ringan yang modulus penampangnya memenuhi
adalah W 1 2 x 50 dengan S = 64,7 in.3 Balok ini mempunyai berat 50 lb/ft. (lngat
bahwa tabel da1am Lampiran E hanya sebagian saja dari yang tersedia jadi balok
yang lebih ringan mungkin saja ada.)
Sekarang kita menghitung ulang reaksi, momen lenturmaksimum, dan modu­
lus penampang yang diperlukan dengan balok yang dibebani oleh beban terbagi
rata q dan berat sendirinya. Akibat beban kombinasi ini reaksinya ada1ah
RA = 19.380 lb R8= 17.670 lb
dan jarak ke penampang dengan geser no1 menjadi
x1 = 9,455 ft
Momen lentur maksimum bertambah menjadi 91.600 1b-ft dan modulus penampang
yang dibutuhkan adalah
S =
Mmaks = (91 .600 lb-ft)(l 2 in./ft)
= 61,1 in.3
aizin 1 8.000 psl
Jadi, kita lihat bahwa balok W12 x 50 dengan modulus penampang S = 64,7
in.3 sudah memadai. •
Jika modulus penampang yang dibutuhkan me1ebihi yang dimiliki balok W
1 2 x 50, maka balok baru dengan modulus penampang lebih besar akan dibutuhkan
dan prosesnya harus diulangi.
• Contoh 5-8
Sebuah tanggul kayu sementara terbuat dari papan-papan horizontal A yang dipikul
oleh tiang-tiang kayu B yang tertanam di tanah sedemikian hingga berlaku sebagai
balok kantilever (Gambar 5-22). Tiang mempunyai penampang bujursangkar
(dimensi b x b) dan betjarak satu sama lain s = 0,8 m, as ke as. Asumsikan bahwa
ketinggian muka air di belakang tanggul sama dengan tinggi total tunggal h = 2.0
m. Tentukan dimensi b minimum yang diperlukan untuk tiang jika tegangan lentur
izin di kayu adalah aizin = 8.0 MPa.
Solusi
Setiap tiang mengalami beban terdistribusi segitiga yang diakibatkan oleh tekanan
air terhadap tiang. Akibatnya, diagram pembebanan untuk setiap tiang adalah
288 BaD 5 T
egangan Di Ba/ok (T
opik Dasar)
(a) Tampak atas (b) Tampak
samping
��·� qo
(c) Diagram pembebanan
I
Gambar 5-22 Contoh 5-8.
Tanggul kayu dengan papan
I
horizontal A yang ditumpu oleh
g B
segitiga (Gambar 5-22c). lntensitas maksimum beban q0 di tiang sama dengan
tekanan air di kedalaman h dikalikan dengan jarak s antartiang:
(a)
di mana yadalah berat jenis air. Perhatikan bahwa q0 mempunyai satuan gaya per
satuan jarak. ymempunyai satuan gayaper satuan volume, dan h serta s mempunyai
satuan panjang.
Karena setiap tiang merupakan balok kantilever, maka momen lentur
maksimum terjadi di dasar dan dinyatakan dengan rumus berikut
M =
q0h(!.!..)=
}'fl3
s
maks 2 3 6
(b)
Dengan dernikian, modulus penampang yang diperlukan (Persamaan 5-24) adalah
(c)
Untuk suatu balok dengan penampang bujursangkar, modulus penampang adalah
S = b3/6 (lihat Persamaan 5-1 8b). Dengan memasukkan rumus untuk S ini ke
dalam Persamaan (c), maka kita dapatkan rumus untuk dimensi minimum
b
dari
tiang
(d) ..
Harga-harga numerik. Sekarang kita substitusikan harga-harga numerik ke
dalam Persamaan (d) dan mendapatkan
b3
=
<9•8 1 kN/m3)(2,0 m)3(0,8 m) =
0,007848 m3 =
7,848 x 1 06 mm3
8,0 MPa
sehingga
b
= 199 mm
Jadi, dimensi minimum
b
yang diperlukan untuk tiang adalah 199 mm. Setiap
dimensi yang lebih besar, misalnya 200 mm, akan menjamin hahwa tegangan
lentur aktual akan lebih kecil daripada tegangan izin.
-·
5·•
7 I BALOK NONPRISMATIS
Teori balok yang dibahas dalam bab ini diturunkan untuk balok prismatis,
yaitu balok lurus yang mempunyai penampang sama di seluruh panjangnya.
Balok nonprismatis biasanya digunakan untuk mengurangi berat dan
memperbaiki tampilan. Balok seperti ini dapat dijumpai pada mobil,
pesawat terbang, mesin, gedung, jembatan, dan banyak aplikasi Jainnya
(Gambar 5-23). Rumus lentur (Persamaan 5-1 3) memberikan harga akurat
yang cukup baik untuk tegangan lentur pada balok nonprismatis apabila
perubahan penampang adalah gradual, seperti terlihat pacta contoh-contoh
dalam Gambar 5-23.
Sekarang tinjaulah bagaimana tegangan lentur bervariasi apabila kita
berjalan di sepanjang sumbu balok. Pada balok prismatis, modulus
penampang S merupakan konstanta sehingga tegangan bervariasi secara
sebanding langsung dengan momen lentur M (karena cr = MIS). Namun,
pada balok nonprismatis, modulus penampang juga bervariasi di sepanjang
sumbu. Dengan demikian, kita tidak dapat mengasumsikan bahwa tegangan
Gambar 5-23 Contoh balok
nonprismatis: (a) lampu jalan, (b)
jembatan dengan balok dan tiang
yang meruncing, (c) batang roda
di pesawat udara, dan (d)
pemegang kunci
r
i
(a)
�� �
-;::o- �'
""'
Mekanika Bahan 289
(b)
l e 1
maksimum terjadi di penampang dengan momen lentur maksimum.
Kadang-kadang tegangan tersebut terjadi di mana saja, sebagaimana
digambarkan dalam contoh berikut.
• Contoh 5-9
Gambar 5-24 Contoh 5-9. Balok
kantilever yang meruncing dengan
penampang lingkaran
Sebuah balok kantilever yang meruncing (nonprismatis) AB dengan penampang
lingkaran solid memikul beban P di ujung bebas (Gambar 5-24). Diameter d8 di
ujung besar adalah dua kali diameter dA di ujung kecil:
dB =
2
dA
Tentukan tegangan lentur a8 di tumpuan jepit dan tegangan lentur maksimum
(Jmaks·
Solusi
Jika sudut peruncingan balok kecil, maka tegangan lentur yang diperoleh dari
rumus lentur akan berbeda sedikit dari harga eksaknya. Sebagai pedoman dalam
meninjau ketelitian, kita ingat bahwa jika sudut antara garis AB (Gambar 5-24)
dan sumbu longitudinal balok adalah sekitar 20°, maka galat dalam perhitungan
tegangan normal dari rumus lentur adalah sekitar 10%. Tentu saja, apabila sudut
peruncingan tersebut berkurang, galat akan berkurang pula.
Moduluspenampang. Modulus penampang di sembarang potongan melintang
balok dapat dinyatakan sebagai fungsi dari jarak x yang diukur di sepanjang
sumbu balok. Karena modulus penampang bergantung pada diameter (Persamaan
5-19b), maka kita mula-mula hams menyatakan diameter dalam x sebagai berikut:
290 Bab 5 T
egangan Di Balok (Topik Dasar)
(5-30)
di mana dx adalah diameter pada jarak x dari ujung bebas. Dengan demikian,
modulus penampang di jarak x dari ujung bebas adalah
(5-31 )
Tegangan lentur. Karena momen lentur sama dengan Px, maka tegangan normal
maksimum di sembarang penampang dinyatakan dalam persamaan
M 32P
x
al =
_.£ = _
_
_
-=.
=-:....
:..:....__
_
___,
S
x 7r[dA + (dB - dA )(XfL)]3 (5-32)
Kita dapat melihat pada balok ini dengan mudah bahwa tegangan a1 adalah tarik
di bagian atas dan tekan di bagian bawah balok.
Perhatikan bahwa Persamaan (5-30), (5-31), dan (5-32) berlaku untuk
sembarang harga dA dan dB asalkan sudut peruncingan kecil. Dalam pembahasan
berikut ini, kita tinjau kasus di mana dB = 2dA.
T
egangan maksimum di tumpuanjepit di mana dB = 2dA. Tegangan maksimum
di penampang dengan momen lentur terbesar (ujung B dari balok) dapat diperoleh
dari Persamaan (5-32) dengan memasukkan x = L dan dB = 2dA; hasilnya adalah
4PL
aB = --
3
JrdA
(a) •
Tegangan maksimum di balok apabila dB = 2dA. Tegangan maksimum di
penampang yang terletak pada jarak x dari ujung (Persamaan 5-32) untuk kasus
di mana dB = 2dA adalah
32Px
a -
-.,...:...=..:.-'-'--
,
1 -
Jrdl(1 + x/ L)3 (b)
Untuk menentukan lokasi penampang yang mempunyai tegangan lentur terbesar
di balok ini, kita perlu mencari harga x yang membuat a1 maksimum. Dengan
mengambil turunan da/dx dan menyamakan dengan no!, kita dapat memecahkan
harga x yang membuat a1 maksimum; hasilnya adalah
L
X = -
2
Tegangan maksimumnya, yang diperoleh dengan memasukkan s = L/2 ke dalam
Persamaan (b), adalah
a = 1 28PL
= 4 741
PL
maks
27 Jrdl ' Jrdl
(c)
Di dalam contoh ini, tegangan maksimum terjadi di titik tengah balokdan besarnya
19% 1ebih besar daripada tegangan di ujung jepit.
Catatan: Jika peruncingan balok berkurang, maka penampang dengan
tegangan normal maksimum bergerak dari titik tengah ke arah tumpuan jepit.
Untuk sudut peruncingan sangat kecil, tegangan maksimum terjadi di ujung B.
• Contoh 5-1 0
Sebuah balok kantilever yang panjangnya L akan didesain untuk memikul beban
terpusat P di ujung bebas (Gambar 5-25). Penampang balok adalah persegi panjang
dengan lebar konstan b. Untuk membantu perencana dalam mendesain balok
tersebut, perencana perlu mengetahui seberapa tinggi balok yang diidealkan perlu
divariasikan agar tegangan normal maksimum di setiap penampang akan sama
dengan tegangan izin aizin· (Balok yang memenuhi kondisi ini disebut balok
Gambar 5-25 Contoh 5-1 0.
Balok bertegangan penuh yang
mempunyai tegangan normal
maksimum konstan (bentuk teoritis
dengan tegangan geser diabaikan)
Mekanika Bahan 291
bertegangan penuh atau balok dengan kekuatan konstan.) Dengan hanya meninjau
tegangan lentur yang diperoleh dari rumus lentur, tentukan tinggi balok tersebut.
Solusi
Momen lentur dan modulus penampang pada jarak x dari ujung bebas balok
adalah
M = Px
5
=
hh;
6
di mana hx adalah tinggi balok pada jarak x. Dengan menggunakan rumus lentur,
kita peroleh
M Px 6Px
(J. . = -
= -- = --
-
IZIO
s bh;/6 bh;
Dengan memecahkan tinggi balok, kita peroleh
h = r6Px
x � baizin
Di ujung bebas balok, (x = L), tingginya h8 adalah
hs = �L
� baizin
(d)
(e) ..
(f)
sehingga kita dapat menyatakan tinggi hx dalam bentuk sebagai berikut:
h, = hs�£ (g) ..
Persamaan terakhir ini menunjukkan bahwa tinggi balok yang bertegangan penuh
bervariasi terhadap akar x. Dengan demikian, balok yang diidealkan mempunyai
bentuk parabolik seperti terlihat dalam Gambar 5-25.
Catatan: Di ujung yang dibebani dari balok (x = 0) tinggi teoretis adalah no!
karena tidak ada momen lentur di titik tersebut. Tentu saja, balok dengan bentuk
seperti ini tidak praktis karena tidak dapat memikul gaya geser di dekat ujung
balok. Sekalipun demikian, dengan mengetahui besaran balok yang bertegangan
penuh dapat merupakan alat bantu bagi perencana dalam mendesain struktur untuk
tegangan maksimum konstan (dan berat minimum). Contoh terkenal suatu struktur
dengan penampang yang bervariasi yang didesain untuk mempertahankan tegangan
maksimum (di dalam limit praktis) adalah pegas daun, seperti yang umum dijumpai
pada mobil dan truk.
5.8
I TEGANGAN GESER Dl BALOK DENGAN PENAMPANG
-- PERSEGI PANJANG
Apabila suatu balok mengalami lentur mumi, satu-satunya resultan tegangan
yang ada adalah momen lentur dan tegangan yang ada hanyalah tegangan
normal yang bekerja pada penampang. Namun, kebanyakan balok
mengalami beban yang menghasilkan momen lentur dan gayageser (lentur
tak seragam). Pacta kasus seperti ini, tegangan normal dan tegangan geser
timbul di dalam balok. Tegangan normal dihitung dari rumus lentur (lihat
Subbab 5.5), asalkan balok terbuat dari bahan elastis linier. Tegangan
geser dibahas di dalam subbab ini dan dua subbab setelah ini.
Tinjaulah suatu balok dengan penampang persegi panjang (lebar b
dan tinggi h) yang mengalami gaya geser positif V (Gambar 5-26a).
r
292 3a:: 5 T
egangan Di Balok (T
opik Dasar)
(a)
�
n 't �'
�
'
111
(b) (c)
Gambar 5-26 Tegangan geser di
suatu balok dengan penampang
persegi panjang
(a)
(b)
Gambar 5-27 Lentur pada dua
balok yang terpisah
Tegangan gescr r yang bekerja di penampang dapat diasumsikan bekerja
sejajar dengan gaya geser. yaitu, sejajar dengan sisi-sisi vertikal penampang.
Juga dapat diasumsikan bahwa tegangan geser mempunyai distribusi terbagi
rata di seluruh lebar balok, meskipun tegangan tersebut bervariasi terhadap
tingginya. Dengan menggunakan kedua asumsi ini. kita dapat menentukan
intensitas tegangan geser di setiap titik di penampang.
Untuk maksud analisis, kita isolasi elemen kecil mn dari balok
(Gambar 5-26a) dengan memotong antara dua penampang yang berdekatan
dan antara dua bidang horizontal. Berdasarkan asumsi kita, tegangan geser
r yang bekerja di muka depan elemen ini adalah vertikal dan terdistribusi
terbagi rata dari satu sisi balok ke sisi lainnya. Juga. dari pembahasan
tegangan geser pada Subbab 1 .6, kita ketahui bahwa tegangan geser yang
bekerja di satu sisi elemen selalu disertai tegangan geser yang besarnya
sama dan bekerja tegak lurus muka elemen tersebut (lihat Gambar 5-26b
dan c). Jadi, ada tegangan geser horizontal yang bekerja antara lapisan
horizontal balok sebagaimana juga tegangan geser vertikal yang bekerja
di penampang. Di setiap titik pada balok, tegangan-tegangan geser yang
saling melengkapi ini mempunyai harga yang sama.
Kesamaan tegangan geser horizontal dan vertikal yang bekerja pada
suatu elemen ini menghasilkan kesimpulan penting tentang tegangan geser
di puncak dan dasar balok. Jika kita bayangkan bahwa elemen mn (Gambar
5-26a) terletak di atas atau bawah, maka kita lihat bahwa tegangan geser
horizontal harus nol karena tidak ada tegangan di permukaan terluar balok.
Karena itu, tegangan geser vertikal juga harus nol di lokasi terscbut; dengan
perkataan lain r = 0 di mana y = ± h/2.
Adanya tegangan geser horizontal di suatu balok dapat ditunjukkan
dengan eksperimen sederhana. Letakkan dua balok persegi panjang yang
identik pada tumpuan sederhana dan bebani dengan gaya P, seperti terlihat
dalam Gambar 5-27a. Jika friksi antara balok kecil, maka balok akan
melentur secara independen (Gambar 5-27b). Setiap balok akan mengalami
tekan di atas dan tarik di bawah sumbu netralnya masing-masing. Dengan
demikian, permukaan bawah balok atas akan bergcser terhadap permukaan
atas balok bawah.
Sekarang bayangkan bahwa dua balok dilekatkan di sepanjang
permukaan kontak sehingga keduanya menjadi balok solid tunggal. Apabila
balok ini dibebani, tegangan geser horizontal harus terjadi di sepanjang
permukaan yang dilekatkan untuk mencegah geseran seperti terlihat dalam
Gambar 5-27b. Karena adanya tegangan geser ini, maka balok solid tunggal
selalu jauh lebih kaku dan lebih kuat daripada dua balok yang terpisah.
• Penurunan Rumus Geser
Kita sekarang siap untuk menurunkan rumus untuk tegangan geser r di
balok persegi panjang. Namun, daripada mengevaluasi tegangan geser
vertikal yang bekerja pada penampang, adalah lebih mudah untuk
mengevaluasi tegangan geser horizontal yang bekerja antara lapisan-lapisan
balok. Tentu saja, tegangan geser vertikal mempunyai besar yang sama
dengan tegangan geser horizontal.
Dengan mengingat prosedur ini, kita tinjau sebuah balok yang
mengalami lentur tak seragam (Gambar 5-28a). Kita ambil dua penampang
yang berdekatan mn dan m1n1 yang jaraknya satu sama lain dx, dan
mengisolasi elemen mm1n1n. Momen lentur dan gaya geser yang bekerja
Gambar 5-28 Tegangan
geser di sualu balok dengan
penampang persegi panjang
Mekanika Bahan 293
di muka kiri elemen masing-masing diberi notasi Mdan V Karena momen
lentur dan gaya geser dapat bervariasi apabila kita berjalan di sepanjang
sumbu balok, maka besaran tersehut di muka kanan diberi notasi M + dM
dan V + dV.
Karena adanya momen lentur dan gaya geser (Gambar 5-28a), maka
elemen tersebut mengalami tegangan normal dan geser di kedua muka
penampang. Namun, hanya tegangan nom1al yang dibutuhkan di dalam
penurunan berikut sehingga hanya tegangan normal yang ditunjukkan dalam
Gambar 5-28b. Di penampang mn dan m , n ; tegangan normal masing­
masing adalah,
(1,f -'- d.f ) y
I
(a.b)
sebagaimana diberikan oleh rumus lentur (Persamaan 5-13 ). Di dalam
rumus ini, y adalah jarak dari sumbu netral dan I adalah momen inersia
penampang terhadap sumbu netral.
Selanjutnya, kita tinjau subelemen mm1p1p dengan mele·atkan bidang
horizontal pp1 melalui elemen mm1n1n (Gambar 5-28b). Bidang pp1 berada
pada jarak y1 dari permukaan netral balok. Subelemen ditunjukkan secara
terpisah dalam Gambar 5-28c. Kita ingat bahwa muka paling atasnya
merupakan bagian dari permukaan atas balok sehingga disini bebas
tegangan. Di muka paling bawahnya (yang sejajar dengan permukaan
netral dan mempunyai jarak y1 darinya) bekerja tegangan geser horizontal
r yang ada pada level balok tersebut. Muka potongan melintangnya mp
dan m1p1 mengalami tegangan lentur 0'1 dan cr2 yang diakibatkan oleh
momen lentur. Tegangan geser vertikal juga bekerja di muka penampang;
namun, tegangan ini tidak mempengaruhi kesetimbangan subelemen dalam
arah horizontal (arah x), sehingga tidak ditampilkan dalam Gambar 5-28c.
Tampak samping balok
(a)
dx _ _ _ _ ,
Tampak samping
subelemen
(c)
Tampak samping elemen
(b)
dx
- - - - - -
�___Q______j
Potongan melintang
(penampang) balok
(d)
294 Bab 5 T
egangan Di Balok (T
opik Dasar)
, _ _ _ _ t}!_ _ _ _ ,
Gambar 5-29 Sebagian dari
diagram benda bebas subelemen
yang memperlihatkan semua gaya
horizontal
Jika momen lentur di potongan mn dan m1n1 (Gambar 5-28b) sama
(artinya, jika balok ini mengalami lentur mumi), maka tegangan normal
a1 dan a2 yang bekerja di sisi mp dan m1p1 dari subelemen (Gambar 5-
28c) juga akan sama. Pada kondisi ini, subelemen akan berada dalam
kesetimbangan akibat aksi tegangan normal saja sehingga tegangan geser
r yang bekerja di muka bawah pp1 akan hilang. Kesimpulan ini jelas
sekali karena balok yang mengalami lentur mumi tidak mempunyai gaya
geser sehingga tidak ada tegangan geser.
Jika momen lentur bervariasi di sepanjang sumbu x (lentur tak
seragam), maka kita dapat menentukan tegangan geser r yang bekerja di
muka bawah subelemen (Gambar 5-28c) dengan meninjau kesetimbangan
elemen dalam arah x. Kita mulai dengan mengidentifikasi elemen yang
luasnya dApada penampang dengan jarak ydari sumbu netral (Gambar 5-
28d). Gaya yang bekerja di elemen ini adalah adA, di mana a adalah
tegangan normal yang diperoleh dari rumus lentur. Jika elemen luas ini
terletak di muka kiri mp dari subelemen (di mana momen lentumya adalah
M), maka tegangan normal dinyatakan dengan Persamaan (a) sehingga
elemen gaya adalah
a1dA =-MydA
I
Perhatikan bahwa kita hanya menggunakan harga mutlak dalam persamaan
ini karena arah tegangan sudah jelas dari gambar. Penjumlahan elemen­
elemen gaya yang bekerja di luas muka mp dari subelemen memberikan
gaya horizontal total F1 yang bekerja di muka tersebut:
(c)
Perhatikan bahwa integrasi ini dilakukan pada bagian yang digelapkan
dari penampang yang terlihat dalam Gambar 5-28d, yaitu pada daerah
dari penampang dari y = y1 sampai y = h/2. Gaya F1 ditunjukkan dalam
Gambar 5-29 pada diagram benda bebas parsial dari subelemen (gaya
vertikal telah dihilangkan).
Dengan cara sama, kita dapatkan bahwa gaya total F2 yang bekerja
di muka kanan m1p1 dari subelemen (Gambar 5-29) adalah
Fz = JO"zdA = JCM +/M)ydA (d)
Dengan mengetahui gaya-gaya F1 dan F2, kita dapat menentukan gaya
horizontal F3 yang bekerja di muka bawah subelemen.
Karena subelemen berada dalam kesetimbangan, maka kita dapat
menjumlahkan gaya-gaya di dalam arah x dan mendapatkan
F3 = Fz - Fl (e)
atau F3 = seM +/M)ydA- s�ydA = scd�)ydA
Besaran dMdan I di suku terakhir dapat dipindahkan ke luar tanda inte­
gral karena keduanya merupakan konstanta di setiap penampang dan tidak
dilibatkan dalam integrasi. Jadi, rumus untuk gaya F3 menjadi
dMf
F3 =
I ydA (5-33)
Mekanika Bahan 295
Jika tegangan geser r terdistribusi terbagi rata di seluruh lebar b dari
balok, maka gaya F3 adalah
(5-34)
di mana b dx adalah luas muka bawah dari subelemen.
Dengan menggabungkanPersamaan (5-33) dan (5-34) dan memecah­
kan tegangan geser r, kita dapatkan
r =
dM(J...)f'ltA
dx lb -
(5-35)
Besaran dM!dx sama dengan gaya geser V (lihat Persamaan 4-6) sehingga
persamaan di atas menjadi
(5-36)
Integral dalam persamaan ini dievaluasi di seluruh bagian yang digelapkan
dari penampang (Gambar 5-28d), seperti telah dijelaskan. Jadi, integral
ini merupakan momen pertama dari area yang digelapkan terhadap sumbu
netral (sumbu z). Dengan perkataan lain integral iniadalah momenpertama
(statis momen) dari luaspotongan melintang di atas leveldimana tegangan
geser r sedang dihitung. Momen pertama ini biasanya diberi simbol Q:
Q = fydA (5-37)
Dengan notasi ini, rumus untuk tegangan geser menjadi
(5-38)
Rumus ini, yang dikenal sebagai rumus geser, dapat digunakan untuk
menentukan tegangan geser r di setiap titik pada suatu penampang dari
balok persegi panjang. Perhatikan bahwa untuk suatu penampang yang
spesifik, gaya geser V, momen inersia /, dan lebar b adalah konstanta.
Namun momen pertama Q (dan juga tegangan geser r) bervariasi terhadap
jarak y1 dari sumbu netral.
Jika level di mana tegangan geser akan dihitung ada di atas sumbu
netral, seperti terlihat dalam Gambar 5-28d, adalah wajar untuk
mendapatkan Q dengan menghitung momen pertama (statis momen) dari
bagian penampang di atas level tersebut (bagian yang digelapkan dalam
gambar tersebut). Namun, sebagai altematif, kita dapatmenghitung momen
pertama dari luas bagian penampang sisanya, yaitu luas di bawah area
yang digelapkan. Momen pertamanya sama dengan negatif dari Q.
Penjelasannya terletak pada kenyataan bahwa momen pertama seluruh
luas penampang terhadap sumbu netral sama dengan nol (karena sumbu
netral melalui pusat berat). Dengan demikian, harga Q untuk area di bawah
level y1 sama dengan negatif dari Q untuk area di atas level tersebut.
Untuk mudahnya, kita biasanya menggunakan area di atas level y1 apabila
titik yang dicari tegangan gesemya ada di bagian atas balok. Sebaliknya,
kita menggunakan area di bawah level y1 apabila titik tersebut ada di
bagian bawah balok.
Lebih jauh lagi, kita biasanya tidak peduli dengan perjanjian tanda
untuk V dan Q. Sebaliknya, kita menganggap semua suku di dalam rumus
r
296 BaD 5 T
egangan Di Balok (Topik Dasar)
I
geser sebagai besaran positif dan menentukan arah tegangan geser dengan
tinjauan langsung karena tegangan bekerja di arah yang sama dengan
gaya geser V itu sendiri. Prosedur untuk menentukan tegangan geser ini
diuraikan pada Contoh 5-1 1 .
:�
!!__ , 0--+-L--x
4 j
• Distribusi Tegangan Geser di Balok Persegi Panjang
1
J Sekarang kita siap untuk menentukan distribusi tegangan geser di suatu
__t___ �
� -----
balok dengan penampang persegi panjang (Gambar 5-30a). Momen pertama
I•
b
� Q dari bagian penampang yang digelapkan diperoleh dengan mengalikan
(a) luas dengan jarak titik beratnya ke sumbu netral:
-.-------
1 h
1:
I 2
{
(b)
Gambar 5-30 Distribusi tegangan
geser di suatu balok dengan
penampang persegi panjang: (a)
potongan melintang balok, dan (b)
diagram yang menunjukkan
distribusi tegangan geser secara
parabolik di seluruh tinggi balok.
(h )( h/2-Y1 ) b(h2 2)
Q = b 2 - Y1 Y1 + z = 2 4 -Y1 (f)
Tentu saja, hasil yang sama ini dapat diperoleh dari integrasi dengan
menggunakan Persamaan (5-37):
f fh/2 b(h2 2)
Q = ydA=
y
1 ybdy= 2 4 -Y1
Dengan memasukkan rumus untuk Q ke dalam rumus geser (Persamaan
5-38), kita dapatkan
(5-39)
Rumus ini menunjukkan bahwa tegangan geser di balok persegi panjang
bervariasi secara kuadratik terhadap jarak y1dari sumbu netral. Jadi, jika
diplot di seluruh tinggi balok, r bervariasi seperti terlihat dalam Gambar
5-30b. Perhatikan bahwa tegangan geser adalah nol ketika y1 = ± h/2.
Harga maksimum dari tegangan geser terjadi di sumbu netral (y1 =
0) di mana momen pertama Q mencapai harga maksimumnya. Dengan
substitusi y1 = 0 ke dalam Persamaan (5-39), kita dapatkan
(5-40)
di mana A = bhadalah luas penampang. Jadi, tegangan geser maksimum
di balok dengan penampang persegi panjang adalah 50% lebih besar
daripada tegangan geser rata-rata (yang sama dengan VIA).
Perhatikan sekali lagi bahwa persamaan di atas untuk tegangan geser
dapat digunakan untuk menghitung tegangan geser yang bekerja di
penampang atau tegangan geser horizontal yang bekerja di antara lapisan­
lapisan balok.*
• Pembatasan
Rumus-rumus untuk tegangan geser yang dibahas dalam subbab ini
mempunyai batasan-batasan yang sama dengan rumus lentur, yaitu rumus
*Analisis tegangan geser yang dibahas dalam subbab ini dikembangkan oleh insinyur Rusia D.J.
Jourawski: lihat Ref. 5-7 dan 5-8.
Mekanika Bahan 297
yang digunakan untuk menurunkan rumus tegangan geser. Jadi, rumus
untuk tegangan geser hanya berlaku untuk balok dari bahan elastis linier
dengan defleksi kecil.
Dalam hal balok persegi panjang, ketelitian rumus geser bergantung
pacta rasio tinggi terhadap lebar penampang. Rumus ini dapat dipandang
eksak untuk balok yang sangat sempit (tinggi h jauh lebih besar daripada
lebar b). Namun, rumus ini menjadi kurang akurat apabila b bertambah
relatifterhadap h. Sebagai contoh, apabila suatu balok adalah bujursangkar
(b = h), maka tegangan geser maksimum sebenarnya adalah 13% lebih
besar dibandingkan dengan harga yang dihasilkan Persamaan (5-40).
(Untuk pembahasan lebih lengkap tentang pembatasan rumus geser, lihat
Ref. 5-9.)
Kesalahan yang umum dilakukan adalah menerapkan rumus geser
(Persamaan 5-38) pacta bentuk-bentuk penampang di mana rumus tersebut
tidak berlaku. Sebagai contoh, rumus ini tidak berlaku untuk penampang
berbentuk segitiga atau setengah lingkaran. Cntuk menghindari
penyalahgunaan rumus tersebut, kita perlu mengingat asumsi berikut yang
mendasari penurunan rumus tersebut: (1) Tepi-tepi penampang harus sejajar
sumbu y (sehingga tegangan geser bekerja sejajar sumbu y), dan (2)
tegangan geser harus terbagi rata di seluruh lebar penampang. Asumsi ini
dapat dipenuhi hanya pacta kasus-kasus khusus seperti yang telah dibahas
di subbab ini dan di dua subbab setelah ini.
Akhimya, rumus geser berlaku hanya untuk balok prismatis. Jika
suatu baloktidak prismatis (misalnyajikabalok meruncing), maka tegangan
geser akan berbeda dengan yang dihitung dengan rumus yang diberikan
di sini (lihat Ref. 5-9 dan 5-10).
• Efek Regangan Geser
Gambar 5·31 Pembengkokan
(warping) penampang balok akibat
regangan geser
Karena tegangan geser r bervariasi secara parabolik di seluruh tinggi
balok persegi panjang, maka regangan geser y= riG juga bervariasi secara
parabolik. Sebagai akibat dari regangan geser ini, penampang balok yang
semula merupakan permukaan datar akan menjadi tidak datar lagi (terjadi
warping). Perubahan bentuk ini ditunjukkan dalam Gambar 5-31, di mana
potongan mn danpq, yang semula datar, telah menjadi permukaan lengkung
mini dan piqi, dengan regangan geser maksimum terjadi di permukaan
netral. Di titik-titik mppi' ni' dan q1 regangan geser adalah nol, sehingga
kurva m1n1 dan p1q1 menjadi tegak lurus permukaan atas dan bawah dari
balok.
Jika gaya geser V adalah konstan di sepanjang sumbu balok, pem­
bengkokan (warping) akan sama di setiap penampang. Dengan demikian,
perpanjangan dan perpendekan elemen longitudinal akibat momen lentur
tidak dipengaruhi oleh regangan geser, dan distribusi tegangan normal
akan sama seperti pacta lentur mumi. Terlebih lagi, penyelidikan rinci
dengan menggunakan metode analisis lanjut menunjukkan bahwa warp­
ing penampang akibat regangan geser tidak mempengaruhi regangan lon­
gitudinal secara substansial bahkan sewaktu gaya geser bervariasi secara
kontinu di seluruh panjangnya. Jadi, pacta hampir semua kondisi rumus
lentur (Persamaan 5-13) dapat saja digunakan untuk lentur tak seragam,
meskipun rumusnya diturunkan untuk lentur mumi.
298 Bab 5 T
egangan Di Balok (Topik Dasar)
l- L = 3 ft--�
(a)
H
b = 1.0 in.
(b)
____... 450 psi
3�
i
!
t3�60 psi
450 psi �
(c)
Gambar 5-32 Contoh 5-1 1 . (a)
Balok sederhana dengan beban
terbagi rata. (b) potongan
melintang (penampang) balok,
dan (c) elemen tegangan yang
menunjukkan tegangan normal
dan geser di titik C.
• Contoh 5-1 1
Sebuah balok metal dengan bentang L = 3 ft ditumpu sederhana di titik A dan B
(Gambar 5-32a). Beban terbagi rata di balok (termasuk beratnya sendiri) adalah
q = 1 60 lb/in. Penampang balok adalah persegi panjang (Gambar 5-32b) dengan
lebar b = I in. dan tinggi h = 4 in. Balok ini secara memadai ditumpu terhadap
tekuk ke samping.
Tentukan tegangan normal ac dan tegangan geser re di titik C, yang terletak
1 in. di bawah tepi atas balok dan 8 in. dari tumpuan kanan. Gambarlah tegangan­
tegangan ini pada suatu elemen tegangan di titik C.
Solusi
Gaya geser dan momen lentur. Gaya geser Vc dan momen lentur Me di potongan
yang melalui titik C dapat dihitung dengan menggunakan cara-cara yang telah
diuraikan dalam Bab 4. Hasilnya adalah
Me = 17,92:0 !b-in. Vc = -1600 lb
Tanda untuk besaran-besaran ini didasarkan atas perjanjian tanda standar untuk
momen lentur dan gaya geser (lihat Gambar 4-5).
Momen inersia. Momen inersia penampang terhadap sumbu netral (sumbu z
dalam Gambar 5-32b) adalah
I = �� =
1
�(1,0 in.)(4,0 in} = 5,333 in.4
Tegangan normal di titik C. Tegangan normal di titik C diperoleh dari rumus
lentur (Persamaan 5-1 3) dengan jarak y dari sumbu netral sama dengan 1 ,0 in.;
jadi,
_ My _ (17.920 lb-in.)(I ,O in.) _
3360
.
ae - -- - 4 - - ps1
I 5,333 in.
Tanda negatif menunjukkan bahwa tegangan adalah tekan, sebagaimana diharapkan.
Tegangan geser di titik C. Untuk mendapatkan tegangan geser di titik C kita
perlu mengevaluasi momen pertama (statis momen) Qc bagian penampang di atas
titik C (Gambar 5-32b). Momen pertama ini sama dengan hasil kali luas (yang
ditulis Ac) dan jarak pusat berat (ditulis Ye) dari sumbu z; jadi,
Ac = ( 1 ,0 in.)(l ,O in.) = 1 ,0 in.
2
Ye = 1 ,5 in. Qc = AeYe = 1 ,5 in.3
Sekarang kita masukkan harga-harga di atas ke dalam rumus geser (Persamaan 5-
38) dan mendapatkan besar tegangan geser:
_ VeQe _ (1600 lb)(1 ,5 in.3) _
450
.
re - ---n;- - (5,333 in.4)(1,0 in.)
- psi
Arah tegangan ini dapat diperoleh dengan mudah karena tegangan tersebut bekerja
dalam arah sama dengan gaya geser. Di dalam contoh ini, gaya geser bekerja ke
atas di bagian kiri balok bila balok dipotong melalui titik C. Cara terbaik untuk
menunjukkan arah tegangan normal dan geser adalah dengan menggambar elemen
tegangan sebagai berikut.
Elemen tegangan di titik C. Elemen tegangan, yang terlihat dalam Gambar
5-32c, dipotong dari sisi balok di titik C (Gambar 5-32a). Tegangan tekan ac =
3360 psi bekerja di muka penampang dari elemen dan tegangan geser re = 450
psi bekerja di muka atas dan bawah selain juga di muka penampang.
• Contoh 5-1 2
Sebuah balok kayu AB yang memikul dua beban terpusat P (Gambar 5-33a)
mempunyai penampang persegi panjang dengan lebar b = I 00 mm dan tinggi
h = 1 50 mm (Gambar 5-33b). Jarak dari UJung-ujung balok ke lokasi beban adalah
(a)
z
I
(b)
Gambar 5-33 Contoh 5 - 1 2.
B alok kayu dengan beban
terpusat
Mekanika Bahan 299
a = 0,5 m. Tentukan harga beban izin maksimum Pmaks jika tegangan izin lentur
adalah Oizin = 1 1 MPa (untuk tarik dan tekan) dan tegangan izin untuk geser
horizontal adalah rizin = 1 ,2 MPa. (Abaikan berat sendiri balok.)
Catatan: Balok kayu jauh lebih lemah dalam geser horizontal (geser sejajar
serat kayu longitudinal) dibandingkan geser tegak lurus serat (geser di potongan
melintang). Dengan demikian, tegangan izin untuk geser tegak lurus serat tidak
dibutuhkan dalam contoh ini.
Solusi
Gaya geser maksimum terjadi di tumpuan dan momen lentur maksimum terjadi di
seluruh daerah antara kedua beban. Harganya adalah
Juga, modulus penampang S dan luas penampang A masing-masing adalah
bh2
S = - A = bh
6
Tegangan normal dan geser di balok diperoleh dari rumus lentur dan geser
(Persamaan 5-16 dan 5-40):
a . _
Mmaks _ 6Pa r _ 3Vmaks _ }_!_
maks - S
-
bh2 maks -
2A
-
2bh
Dengan demikian, harga izin beban P maksimum untuk lentur dan geser masing­
masing adalah
2
P. -
aizinbh
lentur -
6a
Dengan memasukkan harga-harga numerik ke dalam rumus-rumus di atas, kita
dapatkan
fientur
(1 1 MPa)( IOO mm)(150 mm)
2
= 8,25 kN
6(0,5 m)
= 2(1 ,2 MPa)(l OO mm)(1 50 mm) = 12 0 kN
3
,
Jadi, tegangan lentur menentukan desain, dan beban izin maksimum adalah
pmaks = 8,25 kN
Analisis lebih rumit pada balok ini mengharuskan berat sendiri balok diper­
hitungkan, jadi mengurangi beban izin.
Catatan: Di dalam contoh ini, tegangan normal maksimum dan tegangan
geser maksimum tidak terjadi di lokasi sama di balok - tegangan normal mencapai
maksimum di daerah tengah balok di tepi atas dan bawah penampang, dan tegangan
geser mencapai maksimum di dekat tumpuan di sumbu netral penampang. Untuk
sebagian besar balok, tegangan lentur (bukan tegangan geser) menentukan beban
izin.
Meskipun kayu bukan merupakan bahan homogen dan seringkali tidak
menunjukkan perilaku elastis linier, kita masih dapatmemperoleh hasil pendekatan
dari rumus lentur dan geser. Hasil pendekatan ini biasanya memadai dalam
mendesain balok kayu.
I
TEGANGAN GESER Dl BALOK DENGAN PENAMPANG
5.9
LINGKARAN
Bila suatu balok mempunyai penampang lingkaran (Gambar 5-34), kita
tidak dapat lagi mengasumsikan bahwa tegangan geser bekerja sejajar
sumbu y. Sebagai contoh, kita dapat dengan mudah membuktikan bahwa
di titik m (di tepi penampang) tegangan geser rharus bekerja menyinggung
tepi. Observasi ini berasal dari fakta bahwa permukaan luar balok tidak
300 Sac 5 T
egangan Di Balok (Topik Dasar)
y
q
Gambar 5-34 Tegangan geser
yang bekerja di penampang balok
yang berbentuk lingkaran
; y
Gambar 5-35 Penampang
lingkaran berlubang
mengalami tegangan, sehingga tegangan geser yang bekerja di penampang
tidak dapat mempunyai komponen dalam arah radial.
Meskipun tidak ada cara sederhana untuk mencari tegangan geser
yang bekerja di seluruh bagian penampang, kita dapat segera menentukan
tegangan geser di sumbu netral (di mana terjadi tegangan terbesar) dengan
mengambil asumsi penyederhanaan tentang distribusi tegangan. Kita
asumsikan bahwa tegangan bekerja sejajar dengan sumbu y dan mempunyai
intensitas konstan di seluruh lebar balok (dari titik ke p titik q dalam
Gambar 5-34). Karena asumsi ini sama dengan yang digunakan dalam
menurunkan rumus geser r = VQ!Ib (Persamaan 5-38), maka kita dapat
menggunakan rumus geser tersebut untuk menghitung tegangan di sumbu
netral.
Untuk menggunakan rumus geser, kita membutuhkan besaran berikut
untuk penampang lingkaran yang mempunyai radius r:
I = :4
Q = Ay = (n
;2
)(�:J =
2;
3
h = 2r (5-41 a,b)
Rumus untuk momen inersia I diambil dari Kasus 9 dalam Lampiran D
dan rumus untuk momen pertama (statis momen) Q didasarkan atas rumus
untuk setengah lingkaran (Kasus 1 1 , Lampiran D). Dengan memasukkan
rumus-rumus ini ke dalam rumus geser, kita peroleh
V
Q V(2r
3
I3) = 4V = 4V
fmab :=' J
b f (1P'4!4)(2t) 37rr2 3A
(5-42)
di mana A = n? adalah luas penampang. Rumus ini menunjukkan bahwa
tegangan geser maksimum di balok lingkaran sama dengan 4/3 kali
tegangan geser rata-rata VIA.
Jika suatu balok mempunyai penampang lingkaran berlubang
(Gambar 5-35), kitajuga dapat mengasumsikan dengan ketelitian memadai
bahwa tegangan geser di sumbu netral adalah sejajar dengan sumbu y dan
terdistribusi terbagi rata di seluruh bagian penampang. Dengan demikian,
kita dapat kembali menggunakan rumus geser untuk mencari tegangan
maksimum. Besaran yang dibutuhkan untuk penampang lingkaran
berlubang adalah
I = �h4 - r]
4
) Q = �h' - In b = 2(12 - r] ) (5-43a,b,c)
di mana r1 dan r2 masing-masing adalahjari-jari dalam dan luar penampang.
Dengan demikian, tegangan geser maksimum adalah
di mana
rmaks =
VQ
=
4V (ri +/2 'i � r12
J
lb 3A r2 + ljk
A = n(r2
2
- lj2
)
(5-44)
adalah luas penampang. Perhatikan bahwa jika r1 = 0, Persamaan (5-44)
akan berkurang menjadi Persamaan (5-42) untuk balok lingkaran solid.
Meskipun teori di atas untuk tegangan geser di balok dengan
penampang lingkaran adalah pendekatan, teori tersebut memberikan hasil
yang berbeda hanya beberapa persen dari yang diperoleh dengan
menggunakan teori elastisitas eksak (lihat Ref. 5-9 dan 5- 10). Karena itu,
Persamaan (5-42) dan (5-44) dapat digunakan untuk menentukan tegangan
geser maksimum di balok lingkaran pada keadaan biasa.
Mekanika Bahan 301
5.1 0 I TEGANGAN GESER Dl BADAN BALOK YANG
MEMPUNYAI FLENS
(a)
Apabila suatu balok clengan profit sayap (flens) lebar (Gambar 5-36a)
mengalami gaya geser clan momen lentur (lentur tak seragam), maka
tegangan normal clan geser akan terjacli cli potongan melintangnya.
Distribusi tegangan geser cli balok �ayap lebar lebih rumit claripacla cli
balok persegi panjang. Sebagai contoh. tegangan gescr cli flens suatu balok
clapat bekerja pacla arah vertikal clan horizontal (arah y clan z), sepcrti
yang clitunjukkan oleh panah kecil clalam Gambar 5-36b. Tegangan geser
horizontal, yang jauh lebih besar claripada tegangan geser vertikal, dibahas
lebih lanjut dalam Subbab 6.7.
Tegangan geser di baclan balok tlem kbar bekerja hanya di arah
vertikal, dengan tegangan terbesar terjacli cli -,umhu netral. Tegangan ini
dapat diperoleh dengan cara yang sama clengan yang kita gunakan dalam
mencari tegangan geser cli balok persegi panjang.
• Tegangan Geser di Badan
(h)
Gambar 5-36 (a) Balok dengan
bentuk 'ayap lcbar, dan (b) arah
tegangan geser yang bekerja di
suatu penampang
Gambar 5-37 Tegangan geser di
badan balok sayap lebar. (a)
Penampang balok, dan (b) distribusi
tegangan geser vertikal di hadan
Kita mulai analisisnya clengan menentukan tegangan geser pacta le'el ef
cli dalam baclan suatu balok sayap lebar (Gambar 5-37aJ. Kita akan
membuat asumsi yang sama seperti yang kita gunakan untuk balok persegi
panjang; yaitu, kita asumsikan bahwa tegangan geser bekerja sejajar sumbu
y clan terclistribusi terbagi rata cli seluruh tebal badan. Karena itu, rumus
gcser r = VQ/Jb masih clapat berlaku. Narnun. lehar g sekarang aclalah
tebal haclan1; clan luas yang cligunakan clalam menghitung momen pertama
Q aclalah d�erah anta�a garis/
e"
ljclan tcpi atas penampang (ditunjukkan
clengan daerah yang cligelapkan clalam Gambar 5-37a).
Dalam mencari momen pertama Q untuk claerah yang digelapkan.
kita akan mcngabaikan pcngaruh fillets kecil cli pertemuan badan clan
tlens (titik h clan c clalam Gambar 5-37a). Kesalahan akibat mengabaikan
luas fillets tersebut sangat kecil . Selanjutnya kita akan membagi claerah
yang digelapkan menjacli clua persegi panjang. Persegi panjang pertama
aclalah tlens atas itu sencliri, yang mempunyai luas
A = i!!._ _ ':J_j
I � 2 2 )
(a)
cli mana b adalah lebar tlens, h aclalah tinggi total balok, clan h 1 adalah jarak
antara tepi dalam keclua flens. Persegi panjang keclua aclalah bagian clari
baclan antara e(dan tlens. yaitu persegi panjang ef
cb, yang mempunyai luas
! Y
(a) (h)
l
302 Bab 5 T
egangan Di Balok (Topik Dasar)
(b)
di mana t adalah tebal badan dan y1 adalah jarak dari sumbu netral ke
level ef
Momen pertama dari luas A1 danA2 dievaluasi terhadap sumbu netral,
diperoleh dengan mengalikan kedua luas tersebut denganjarak dari masing­
masing pusat beratnya ke sumbu z. Dengan menambahkan momen pertama
tersebut kita dapatkan momen pertama Q dari daerah gabungan:
Q
_
A
(h1 h/2 - h1 12 ) A ( -'
h1
,_
1_
2_
-_.::
y
_,_
·1 )
- I 2
+
2
+ 2 YJ +
2
Dengan memasukkan A 1 dan A2 dari Persamaan (a) dan (b) dan
menyederhanakannya, kita peroleh
(5-45)
Dengan demikian, tegangan geser r di badan balok pada jarak y1 dari
sumbu netral adalah
VQ V [ 2 2 2 2
]
r = -
=
- b(h - h1 ) + t(h1 -- 4y1
It 8It
di mana momen inersia penampang adalah
I =
bh3
-
(b - t)h{ = _!_(bh3 - bh3 + th3)
12 1 2 ]2 I
I
(5-46)
(5-47)
Karena semua besaran dalam Persamaan (5-46) adalah konstanta kecuali
y" maka kita lihat bahwa r bervariasi secara kuadratik di seluruh tinggi
dari badan, seperti terlihat dalam Gambar 5-37b. Perhatikan bahwa variasi
tegangan yang digambar hanyalah untuk badan, tidak mencakup flens.
Alasannya sederhana-Persamaan (5-46) tidak dapat digunakan untuk
menentukan tegangan geser vertikal di tlens balok (lihat pembahasan yang
berjudul "Pembatasan" di subbab ini).
• Tegangan Geser Maksimum dan Minimum
Tegangan geser maksimum di dalam badan dari balok sayap lebar terjadi
pada sumbu netral, di mana y1 = 0. Tegangan geser minimum terjadi di
mana badan bertemu flens (y1 = ± h/2). Tegangan ini, yang diperoleh dari
Persamaan (5-46), adalah
V 2 2 2
rmaks = -(bh - bhl + th, )
8It
rmin (5-48a,b)
Baik rmaks maupun rmin diberi label pada grafik dalam Gambar 5-37b.
Untuk balok sayap lebar yang khas, tegangan maksimum di badan adalah
10% sampai 60% lebih besar daripada tegangan minimum.
Meskipun tidak terlihat jelas dari pembahasan di atas, tegangan rmaks
yang diberikan dengan Persamaan (5-48a) bukan saja merupakan tegangan
geser terbesar di badan, tetapi juga merupakan tegangan geser terbesar di
manapun di balok tersebut.
Mekanika Bahan 303
• Gaya Geser di Badan
Gaya geser vertikal yang dipikul oleh badan saja dapat ditentukan dengan
mengalikan luas diagram tegangan geser (Gambar 5-37b) dengan tebal
badan t. Diagram tegangan geser terdiri atas dua bagian, persegi panjang
dengan luas h1 rmin dan segmen parabolik dengan luas
2
3(h,)(rmaks - rmin)
Dengan menjumlahkan kedua luas ini, mengalikannya dengan tebal badan
t, dan menggabungkannya, maka kita dapatkan gaya geser total di badan:
- th,
v
badan - 3 (2rmaks + rmin) (5-49)
Untuk balok dengan proporsi yang khas, gaya geser di badan adalah 90%
sampai 98% dari gaya geser total V yang bekerja di penampang; sisanya
dipikul oleh geser di kedua sayap.
Karena badan menahan sebagian besar gaya geser, maka perencana
sering menghitung harga pendekatan tegangan geser maksimum dengan
membagi gaya geser total dengan luas badan. Hasilnya adalah tegangan
geser rata-rata di badan, dengan mengasumsikan bahwa badan memikul
semua gaya geser:
(5-50)
Untuk balok sayap lebar yang khas, tegangan rata-rata yang dihitung dengan
cara ini adalah sekitar 10% (lebih atau kurang) dari tegangan geser
maksimum yang dihitung dari Persamaan (5-48a). Jadi, Persamaan (5-50)
menyediakan cara sederhana dalam mengestimasi tegangan geser
maksimum.
Catatan: Tegangan geser rata-rata yang diperoleh dari Persamaan (5-
50) tidak sama dengan tegangan geser rata-rata yang diperoleh apabila
tegangan (yang ditunjukkan dalam Gambar 5-37b) dihitung dari rumus
geser r = VQ/Ib. Perbedaannya berasal dari kenyataan bahwa rumus geser
memperhitungkan luas flens, sedangkan Persamaan (5-50) tidak. Karena
itulah •
rata-rata dari Persamaan (5-50) dapat lebih besar atau lebih kecil
daripada •
maks yang dihitung dari rumus geser.
• Contoh
Sebagai ilustrasi dari perhitungan tegangan geser, tinjaulah balok sayap
lebar dengan profil W 12 x 35 yang mengalami gaya geser V = 10.000 lb.
Dimensi potongan melintang balok (lihat dalam Gambar 5-37a dan Tabel
E-1 , Lampiran E) adalah sebagai berikut:
B = 6,56 in.; t = 0,30 in.; h = 12,50 in.; h1 = 1 1 ,46 in
Momen inersia penampang (dari Persamaan 5-47) adalah
1 3 3 3 . 4
I =
12
(bh - bh1 + th1 ) = 283 m.
Momen inersia yang tercantum dalam Tabel E-1 adalah 285 in4, yang
sedikit lebih besar daripada harga yang dihitung di atas karena ini meliputi
luas fillets.
304 Bab 5 T
egangan Di Balok (T
opik Dasar)
Untuk menentukan tegangan geser maksimum dan mimmum, kita
masukkan harga-harga besaran bahan ke dalam Persamaan (5-48a dan b)
dan mendapatkan:
V 2 2 2 .
rmaks =
8/t
(bh - bh, + th, ) = 2990 psi
Vb 2 2 ·
'l" · = -(h - h1 ) = 2410 pSI
nun 8/t
Dalam hal ini, rasio rmaks terhadap rmin adalah 1 ,24, artinya tegangan
maksimum di badan adalah 24% lebih besar daripada tegangan minimum.
Tegangan geser rata-rata di badan balok (dari Persamaan 5-50) adalah
rrata-rata = 1::._ = 2910 psi
th,
yang hanya 3% lebih kecil daripada tegangan maksimum. Jadi, tegangan
rata-rata (apabila dihitung dengan Persamaan 5-50) adalah pendekatan
yang mudah diperoleh untuk tegangan maksimum dan umumnya cukup
memadai.
Gaya geser di badan (Persamaan 5-49) adalah
vbadan =
th,
(2rmaks + rmin) = 9610 lb
3
yang berarti bahwa badan dari balok ini menahan 96% dari gaya geser
total.
• Pembatasan
Teori geser elementer yang disajikan dalam subbab ini memadai untuk
menentukan tegangan geser vertikal di badan dari balok sayap lebar.
Namun, dalam menyelidiki tegangan geser vertikal di sayap, kita tidak
dapat mengasumsikan bahwa tegangan geser adalah konstan di seluruh
lebar penampang, yaitu di seluruh lebar sayap b (Gambar 5-37a). Jadi,
kita tidak dapat menggunakan rumus geser untuk menentukan tegangan
tersebut.
Untuk menekankan hal ini, tinjaulah pertemuan badan dan flens atas
(y1 = h/2), di mana lebar penampang berubah secara mendadak dari t
menjadi b. Tegangan geser di permukaan bebas ab dan cd (Gambar 5-37a)
harus sebesar nol, sedangkan tegangan geser di badan di garis be adalah
rmin· Pengamatan ini menunjukkan bahwa distribusi tegangan geser di
pertemuan badan dan sayap cukup rumit dan tidak dapat diselidiki dengan
metode-metode elementer. Analisis tegangan menjadi lebih rumit dengan
adanya fillets di pojok b dan c. Fillets dibutuhkan untuk mencegah
terjadinya tegangan yang terlalu besar, tetapi juga mengubah distribusi
tegangan di badan.
Jadi, kita simpulkan bahwa rumus geser tidak dapat digunakan untuk
menentukan tegangan geser vertikal di flens. Namun, rumus geser memang
memberikan hasil yang baik untuk tegangan geser yang bekerja secara
horizontal di flens (Gambar 5-36b), sebagaimana dibahas kemudian dalam
Subbab 6.7.
Metode yang diuraikan untuk menentukan tegangan geser di badan
dari balok sayap lebar dapat juga digunakan untuk penampang lain yang
mempunyai badan yang tipis. Contoh berikut ini menggambarkan prosedur
untuk balok T.
Gambar 5-38 Contoh 5-13.
Tegangan geser di badan balok T
Mekanika Bahan 305
• Contoh 5-1 3
Sebuah balok yang mempunyai penampang berbentuk T (Gambar 5-38a) mengalami
gaya geser vertikal V = 10.000 lb. Dimensi penampang adalah b = 4 in., t = 1 ,0
in., h = 8,0 in., dan h1 = 7,0 in. Tentukan tegangan geser r1 di bagian atas badan
(level nn) dan tegangan geser maksimum rmaks· (Abaikan luas fillets.)
y
z -
....I..._
_
_
_
h = 8,0 in.
h1 = 7,0 in.
(a) (b)
Solusi
Lokasi sumbu netral. Sumbu netral balok T ditentukan letaknya dengan menghitung
jarak c1 dan c2 dari atas dan bawah balok ke pusat berat penampang (Gambar 5-
38a). Mula-mula, kita membagi penampang atas dua persegi panjang, bagian flens
(sayap) dan badan (lihat garis putus-putus dalam Gambar 5-38a). Selanjutnya kita
menghitung momen pertama Qaa dari kedua persegi panjang tersebut terhadap
garis aa di bagian bawah balok. Jarak c2 sama dengan Qaa dibagi dengan 1uas A
dari keseluruhan penampang (lihat Bab 12, Subbab 1 2.3, untuk metode penentuan
lokasi pusat berat luas gabungan). Perhitungannya adalah sebagai berikut:
Qaa 54,5 in.3
= 4 955
.
Cz = A = 2 ' m.
1 1,0 in.
c1 = h - c2 = 3,045 in.
Momen inersia. Momen inersia I dari keseluruhan penampang (terhadap
sumbu netral) dapat diperoleh dengan menentukan momen inersia Iaa terhadap
garis aa di bawah balok lalu menggunakan teorema sumbu sejajar (lihat Subbab
1 2.5):
Perhitungannya adalah sebagai berikut:
I = bh3
_
(b - t)hi =
339 67 1
·n.4 2 4
, Ac2 = 270,02 in.
aa
3 3
I = 69,65 in.4
Tegangan geser di atas badan. Untuk mendapatkan tegangan geser r1 di atas
badan (di sepanjang garis nn) kita perlu menghitung momen pertama Q1 dari area
di atas level nn. Momen pertama ini sama dengan area tlens dikalikan jarak dari
sumbu netral ke pusat berat flens:
306 Bab 5 T
egangan Di Balok (Topik Dasar)
QI = b(h - hi) (cl -
h�hi)
= (4 in.)(l in.)(3,045 in. - 0,5 in.) = 10,18 in?
Tentu saja, kitamendapatkan hasil yang samajika kita menghitung momen pertama
(statis momen) dari area di bawah level nn:
Q1 = th1 (C2 - i)= ( 1 in.)(7 in.)(4,955 in. - 3,5 in.) = 10, 1 8 in?
Dengan memasukkan ini ke dalam rumus geser, kita peroleh
_ VQ1 _ ( 10.000 lb)(I O,l 8 in.3
) _
1460
.
r1 - It -
(69,65 in.4)(1 in.)
- psi
Tegangan ini terjadi berupa tegangan geser vertikal yang bekerja di penampang
dan berupa tegangan geser horizontal yang bekerja di bidang horizontal antara
flens dan badan.
T
egangan geser maksimum. Tegangan geser maksimum terjadi di badan di
sumbu netral. Dengan demikian, kita menghitung momen pertama Qmaks dari area
di bawah sumbu netral:
Qmaks = tc2
(c
�) = (I in.)(4,955 in.>(4
•
95
�in.
) = 1 2,28 in.
3
Sebagaimana telah disebutkan sebelum ini, kita dapat memperoleh hasil yang
sama jika kita menghitung momen pertama dari area di atas sumbu netral, tetapi
perhitungan dengan cara ini akan sedikit lebih lama.
Dengan memasukkan angka-angka ini ke dalam rumus geser, kita peroleh
VQmaks (10.000 lb)(1 2,28 in.3
)
I 6
.
r - --
- 7 O ps1
maks -
It
-
(69,65 in.4 )(1 in.)
yang merupakan tegangan geser maksimum di balok.
Distribusi parabolik tegangan geser ditunjukkan dalam Gambar 5-38b.
5·11 I BALOK TERSUSUN DAN ALIRAN GESER
.. .
(a)
(b) (c)
Gambar 5·39 Potongan melin­
tang balok tersusun: (a) kotak
kayu, (b) balok glulam (kayu lapis
yang dilem), dan (c) girder pelat
Balok tersusun dibuat dari dua atau lebih bagian bahan yang digabungkan
untuk membentuk balok tunggal. Balok seperti ini dapat mempunyai
berbagai bentuk untuk memenuhi kebutuhan arsitektural atau struktural
dan untuk memberikan penampang yang lebih besar daripada yang biasanya
tersedia. Gambar 5-39 menunjukkan beberapa balok berpenampang
tersusun. Bagian (a) dari gambar ini menunjukkan balok boks kayu yang
terbuat dari dua papan, yang berfungsi sebagai flens, dan dua badan kayu
lapis. Bagian-bagian ini digabungkan satu sama lain dengan paku, sekrup,
atau lem sedemikian rupa sehingga beraksi sebagai satu unit tunggal.
Balok boks dapat juga terbuat dari bahan lain, termasuk baja, plastik, dan
komposit.
Contoh kedua adalah balok berlapis berlem (glulam beam) yang
terbuat dari papan-papan yang dilem satu sama lain untuk membentuk
balok yang jauh lebih besar daripada yang dapat dipotong dari sebuah
pohon sebagai elemen struktur tunggal. Balok glulam banyak digunakan
dalam konstruksi bangunan gedung kecil.
Contoh ketiga adalah girder plat baja yang umumnya digunakan untuk
jembatan dan bangunan-bangunan besar. Girder ini, terdiri dari tiga buah
Mekanika Bahan 307
plat baja yang disambung dengan pengelasan, dapat dibuat dalam ukuran
yang jauh lebih besar daripada yang saat ini tersedia dengan plens lebar
yang biasa ataupun balok-1.
Balok tersusun harus didesain sedemikian rupa sehingga balok
berperilaku sebagai elemen struktur tunggal. Karena itu, perhitungan desain
meliputi dua tahap. Dalamtahap pertama, balok didesain seolah-olah terbuat
dari satu bagian, dengan memperhitungkan baik tegangan lentur maupun
geser. Dalam tahap kedua, sambungan antara bagian-bagian (seperti paku,
baut, lasan, dan lem) didesain untuk menjamin bahwa balok memang
berperilaku sebagai satu kesatuan tunggal. Khususnya, sambungannya harus
cukup kuat untuk menyalurkan gaya geser horizontal yang bekerja antara
bagian-bagian balok. Untuk mendapatkan gaya-gaya ini, kita menggunakan
konsep aliran geser.
• Aliran Geser (Shear Flow)
(a)
I I
I
dx
I
c _ _ _ I
(b)
dx l
(c)
X
Gambar 5-40 Gaya geser tegang­
an geser horizontal di sebuah
balok. Gambar-gambar ini diulang
dari Gambar 5-28 dan 5-29
Untuk mendapatkan rumus gaya geser horizontal yang bekerja antara
bagian-bagian balok, kita kembali meninjau penurunan rumus geser (lihat
Gambar 5-28 dan 5-29 dalam Subbab 5.8). Dalam penurunan tersebut,
kita memotong elemen mm1n1n dari suatu balok (Gambar 5-40a) dan
meninjau keseimbangan horizontal subelemen mm1p1p (Gambar 5-40b).
Dari keseimbangan horizontal subelemen tersebut, kita dapatkan gaya F3
(Gambar 5-40c) yang bekerja di permukaan bawah:
F
3 =
d
7fydA (5-51)
Persamaan ini diulang dari Persamaan (5-33) dari Subbab 5.8.
Sekarang kita definisikan besaran baru yang disebut aliran geser f
Aliran geser adalah gaya geser horizontal per satuan jarak di sepanjang
sumbu longitudinal dari balok. Karena gaya F3 bekerja di sepanjang jarak
dx, maka gaya geser per satuan jarak sama dengan F3 dibagi dx; jadi,
f =
F3
=
dM
(.
!
.)fydA
dx dx I
Dengan mengganti dM/dx dengan gaya geser Vdan menulis integral dengan
Q, kita dapatkan rumus aliran geser:
f =
VQ
I
(5-52)
Persamaan ini memberikan aliran geser yang bekerja di bidang horizontal
pp1 yang ditunjukkan dalam Gambar 5-40a. Besaran V, Q, dan I mempunyai
arti yang sama dengan yang digunakan dalam rumus geser.
Jika tegangan geser di bidang pp1 terdistribusi terbagi rata,
sebagaimana kita asumsikan untukbalok persegi panjang dan balok sayap
lebar, aliran geser f akan sama dengan rb. Dalam kasus tersebut, rumus
aliran geser akan menjadi rumus geser (Persamaan 5-38). Namun,
penurunan Persamaan (5-51 ) untuk gayaF3 tidak melibatkan asumsi apapun
tentang distribusi tegangan geser di balok. Sebaliknya, gaya F3 diperoleh
hanya dari keseimbangan horizontal subelemen (Gambar 5-40c). Dengan
demikian, kita sekarang dapat menginterpretasikan subelemen dan gaya
F3 dalam bentuk yang lebih umum daripada sebelumnya.
Subelemen dapat berupa sebarang blok prismatis antara potongan
melintang mn dan m1n1 (Gambar 5-40a). Subelemen ini tidak harus
308 Bab 5 T
egangan Di Balok (T
opik Dasar)
a a
z ----l'tfO
(a)
z ----fMO
(b)
c d
z 0
(c)
Gambar 5-41 Luas yang di­
gunakan dalam menghitung
momen pertama Q
diperoleh dengan membuat potongan horizontal tunggal (seperti pp1)
melalui balok. Juga, karena gaya F3 adalah gaya geser horizontal total
yang bekerja antara subelemen dan bagian lain dari balok, maka gaya ini
dapat terdistribusi di sisi-sisi manapun dari subelemen, tidak hanya di
permukaan bawah. Komentar yang sama ini berlaku untuk aliran geserf,
karena ini hampir serupa dengan gaya F3 per satuan jarak.
Sekarang kita kembali ke rumus aliran geserf= VQ/1 (Persamaan 5-
52). Besaran V dan I mempunyai arti sebagaimana biasa dan tidak
dipengaruhi oleh pemilihan subelemen. Namun, momen pertama Q adalah
besaran dari muka potongan melintang subelemen. Untuk menggambarkan
bagaimana Q ditentukan, kita akan meninjau tiga contoh khusus tentang
balok tersusun (Gambar 5-41).
• Daerah yang Digunakan Untuk Menghitung Momen Pertama Q
Contoh pertama balok tersusun adalah girder plat baja yang dilas (Gambar
5-4l a). Las harus dapat menyalurkan gaya geser horizontal yang bekerja
antara sayap dan badan. Di sayap atas, gaya geser horizontal (per satuan
jarak di sepanjang sumbu balok) adalah aliran geser di sepanjang permuka­
an kontak aa. Aliran geser ini dapat dihitung dengan mengambil Q sebagai
momen pertama dari luas potongan melintang di atas permukaan kontak
aa. Dengan perkataan lain, Q adalahmomen pertama dari luas flens (terlihat
digelapkan dalam Gambar 5-41a), yang dihitung terhadap sumbu netral.
Sesudah menghitung aliran geser, kita dapat secara langsung menentukan
jumlah las yang diperlukan untuk menahan gaya geser, karena kekuatan
las biasanya ditetapkan dalam gaya per satuan jarak di sepanjang las.
Contoh kedua adalah balok sayap lebar yang diperkuat dengan profil
kanal yang dikeling ke masing-masing flens (Gambar 5-4lb). Gaya geser
horizontal yang bekerja antara setiap kanal dan balok utama harus
disalurkan oleh paku keling. Gaya ini dihitung dari rumus aliran geser
dengan menggunakan Q sebagai momen pertama keseluruhankanal (terlihat
digelapkan dalam gambar). Aliran geser yang diperoleh adalah gaya lon­
gitudinal per satuan jarak yang bekerja di sepanjang permukaan kontak
bb, dan paku keling harus mempunyai ukuran dan jarak longitudinal yang
memadai untuk menahan gaya ini.
Contoh terakhir adalah balok boks kayu dengan dua flens dan dua
badan yang disambung oleh paku atau sekrup (Gambar 5-4l e). Gaya geser
horizontal total antara flens atas dan badan adalah aliran geseryang bekerja
di sepanjang permukaan kontak cc dan dd, dan karenanya, momen pertama
Q dihitung untuk flens atas (daerah yang digelapkan). Dengan kata lain,
aliran geser yang dihitung dari rumusf = VQ/1 adalah aliran geser total
di sepanjang semua permukaan kontak yang mengelilingi area yang
digunakan untuk menghitung Q. Dalam hal ini, aliran geserfditahan oleh
aksi gabungan dari paku-paku kedua sisi balok, yaitu baik pada cc maupun
dd, sebagaimana digambarkan dalam contoh berikut.
• Contoh 5-14
Balok boks kayu (Gambar 5-42) terbuat dari dua papan, masing-masing mempunyai
potongan melintang 40 mm x 1 80 mm, yang berfungsi sebagai flens dan dua
badan kayu lapis, yang tebalnya 1 5 mm. Tinggi total balok adalah 280 mm. Kayu
lapis ini disambung ke flens dengan menggunakan sekrup kayu yang mempunyai
Gambar 5-42 Contoh 5-14.
Balok kotak (boks) kayu
Potongan melintang
(a)
Mekanika Bahan 309
Tampak samping
(b)
beban izin geser F = 1 1 00 N untuk satu sekrup. Jika gaya geser V yang bekerja
di penampang adalah 10,5 kN, tentukan jarak longitudinal izin maksimum sekrup
s (Gambar 5-42b).
Solusi
Aliran geser. Gaya geser horizontal yang disalurkan antara flens atas dan kedua
badan dapat diperoleh dari rumus aliran geserf = VQ/I, di mana Q adalah momen
pertama dari luas flens tersebut. Untuk mendapatkan momen pertama, kita kalikan
luas At dari flens dengan jarak d
t
dari pusat beratnya ke sumbu netral:
At = 40 mm x 180 mm = 7200 mm2 d
t
= 120 mm
Q = A;Jt = (7200 mm2)(120 mm) = 864 x 103 mm3
Momen inersia keseluruhan penampang terhadap sumbu netral sama dengan momen
inersia persegi panjang yang luar dikurangi momen inersia "lubang" (persegi
panjang dalam):
1 1
I = }2 (210 mm)(280 mm)3 - 12(180 mm)(200 mm)3 = 264,2 x 106 mm4
Dengan memasukkan V, Q, dan I ke dalam rumus aliran geser (Persamaan 5-52),
kita peroleh
!=
VQ
=
(10.500 N)(864 x 10
3
mm3) =
34 3 N/mm
I 264,2 x 106 mm4
'
yang merupakan gaya geser per mm panjang yang harus disalurkan antara flens
dan kedua badan.
Jarak sekrup. Karenajarak longitudinal sekrup adalah s, dan karena ada dua
garis sekrup (satu di masing-masing sisi flens), maka kapasitas beban sekrup
adalah 2F per jarak s di sepanjang balok. Dengan demikian, kapasitas sekrup per
jarak satuan di sepanjang balok adalah 2F/s. Dengan menyamakan 2F/s dengan
aliran geser f dan memecahkan jarak s, kita dapatkan
s =
2F
=
2( 1 100 N)
= 64 1 mm
f 34,3 N/mm
'
Harga s ini adalahjarak izin maksimum antara sekrup, berdasarkan atas beban izin
per sekrup. Setiap jarak yang lebih besar daripada 64,1 mm akan menyebabkan
sekrup kelebihan beban. Untuk memudahkan pembuatan, dan agar aman, jarak s
= 60 mm akan dipilih.
5·1 2
I BALOK DENGAN BEBAN AKSIAL
Elemen struktural sering mengalami aksi simultan beban lentur ctan beban
aksial. Ini teijacti, sebagaicontoh, pactarangkapesawat, kolom pacta gectung,
mesin, bagian-bagian kapal, ctan pesawat luar angkasa. Jika elemen struktur
31 0 Bab 5 T
egangan Di Balok (T
opik Dasar)
8:l
(c)
(a)
(b)
8:l
(d)
Q p
+- --;llf:
:L- �s
8:l 8:l 8:l
(e) (f) (g)
Gambar 5-43 Tegangan normal
di balok kantilever yang
mengalami beban lentur dan
beban aksial: (a) balok dengan
beban P yang bekerja di ujung
bebas, (b) resultan tegangan yang
bekerja di potongan melintang
pada jarak x dari tumpuan, (c)
tegang-an tarik akibat gaya aksial
N yang bekerja sendiri, (d)
tegangan tarik dan tekan akibat
momen Jentur M yang bekerja
sendiri, dan (e), (f), (g) distri-busi
tegangan akhir yang mungkin
akibat efek gabungan N dan M
tidak terlalu ramping, maka tegangan gabungan dapat diperoleh dengan
superposisi tegangan lentur dan tegangan aksial.
Untuk melihat bagaimana hal ini dicapai, tinjau balok kantileveryang
terlihat dalam Gambar 5-43a. Satu-satunya beban di balok adalah gaya
miring P yang bekerja melalui pusat berat penampang terakhir. Beban ini
dapat diuraikan menjadi dua komponen, beban lateral Q dan beban aksial
S. Kedua beban ini menghasilkan resultan tegangan dalam bentuk momen
lentur M, gaya geser V, dan gaya aksial N di seluruh bagian balok (Gambar
5-43b). Pacta potongan melintang yang khas, jarak x dari tumpuan, resultan
tegangan ini adalah
M = Q(L - x) V = -Q N = S
di mana L adalah panjang balok. Tegangan yang berkaitan dengan masing­
masing resultan tegangan ini dapat ditentukan di sembarang titik pacta
penampang dengan menggunakan rumus yanag tepat (a = -My/1, r = VQ/
lb, dan a = N/
A).
Karena baik gaya aksial N maupun momen lentur M menimbulkan
tegangan normal, maka kita perlu menggabungkan tegangan tersebut untuk
mendapatkan distribusi tegangan akhir. Gaya aksial (apabila bekerja sendiri)
menghasilkan distribusi tegangan terbagi rata a = NIA di seluruh bagian
penampang, sebagaimana ditunjukkan oleh diagram tegangan dalam
Gambar 5-43c. Dalam contoh khusus ini, tegangan aadalah tarik, sebagai­
mana ditunjukkan dengan tanda positif di dalam diagram.
Momen lentur menghasilkan tegangan yang bervariasi secara linier a
= -My// (Gambar 5-43d) dengan tekan di bagian atas balok dan tarik di
bagian bawah. Jarak y diukur dari sumbu z, yang melalui pusat berat
penampang.
Distribusi akhir tegangan normal diperoleh dengan menggabungkan
tegangan-tegangan yang dihasilkan oleh gaya aksial dan momen lentur,
sebagai berikut:
(5-53)
Perhatikan bahwa N adalah positif apabila menimbulkan tarik dan M adalah
positif menurut perjanjian tanda momen lentur (momen lentur positif
menghasilkan tekan di bagian atas balok dan tarik di bagian bawah). Juga,
sumbu y adalah positif ke atas. Selama kita menggunakan perjanjian tanda
ini dalam Persamaan (5-53), tegangan normal a akan positif untuk tarik
dan negatif untuk tekan.
Distribusi tegangan akhir bergantung pacta harga aljabar relatif dari
suku-suku dalam Persamaan (5-53). Untuk contoh ini, ketiga kemungkinan
ditunjukkan dalam Gambar 5-43e, f, dan g. Jika tegangan lentur di atas
balok (Gambar 5-43d) secara numerik lebih kecil daripada tegangan aksial
(Gambar 5-43c), keseluruhan penampang akan mengalami tarik, seperti
terlihat dalam Gambar 5-43e. Jika tegangan lentur di atas sama dengan
tegangan aksial, maka distribusinya akan segitiga (Gambar 5-43f), dan
jika tegangan lentur secara numerik lebih besar daripada tegangan aksial,
maka sebagian penampang tersebut akan mengalami tekan dan sisanya
mengalami tarik (Gambar 5-43g). Tentu saja, jika gaya aksial adalah gaya
tekan, atau jika momen lentur berlawanan arah, distribusi tegangan akan
berubah juga.
Kapan saja beban aksial da'l lentur bekerja bersamaan, maka sumbu
netral (y.1itu garis di penampang di mana tegangan normal sama dengan
Mekanika Bahan 31 1
nol) tidak lagi melalui pusat berat penampang. Seperti terlihat dalam
Gambar 5-43e, f, dan g, berturut-turut, sumbu netral dapat berada di luar,
di tepi, atau di dalam penampang.
Penggunaan Persamaan (5-53) untuk menentukan tegangan di balok
dengan beban aksial digambarkan dalam Contoh 5-15.
• Beban Aksial Eksentris
Beban aksial eksentris adalah gaya aksial yang tidak bekerja melalui
pusat berat penampang. Contohnya terlihat dalam Gambar 5-44a, di mana
balok kantilever AB mengalami beban tarik P yang bekerja pada jarak e
dari sumbu x (sumbu x melalui pusat berat penampang). Jarak e, yang
�
+1
:--- x disebut eksentrisitas beban, adalah positif di arah positif sumbu y.
(a)
(b)
(c)
8
(d)
Gambar 5-44 (a) Balok
kantilever dengan beban aksial
eksentris P, (b) beban P dan Pe
ekivalen, (c) potongan melintang
balok, dan (d) distribusi tegangan
normal di potongan melintang
Beban eksentris P secara statis ekivalen dengan beban aksial P yang
bekerja di sepanjang sumbu x dan momen lentur Pe yang bekerja terhadap
sumbu z (Gambar 5-44b). Perhatikan bahwa momen Pe adalah momen
lentur negatif.
Tampak potongan melintang balok (Gambar 5-44c) menunjukkan
sumbu y dan z melalui pusat berat C penampang. Beban eksentris P
berpotongan dengan sumbu y, yang merupakan sumbu simetri.
Karena gaya aksial N di sembarang penampang sama dengan P, dan
karena momen lentur M sama dengan -Pe, maka tegangan normal di
sembarang titik di batang (dari Persamaan 5-53) adalah
(5-54)
di mana A adalah luas penampang dan I adalah momen inersia terhadap
sumbu z. Distribusi tegangan yang diperoleh dari Persamaan (5-54), untuk
kasus di mana P dan e positif, terlihat dalam Gambar 5-44d.
Posisi sumbu netral nn (Gambar 5-44c) dapat diperoleh dari Persamaan
(5-54) dengan mengatur tegangan Cf sama dengan nol dan memecahkan
koordinat y, yang sekarang kita sebut y0• Hasilnya adalah
I
Yo = -­
Ae (5-55)
Koordinat y0 diukur dari sumbu z (yang merupakan sumbu netral akibat
lentur mumi) ke garis nn yang bertegangan nol (sumbu netral akibat
beban lentur dan aksial). Karena y0 adalah positif dalam arah sumbu y (ke
atas dalam Gambar 5-44c), maka ini diberi label -y0 apabila digambarkan
ke bawah dalam gambar.
Dari Persamaan (5-55) kita lihat bahwa sumbu netral terletak di bawah
sumbu z apabila e positif dan di atas sumbu z apabila e negatif. Jika
eksentrisitas berkurang, makajaraky0 bertambah dan sumbu netral bergerak
menjauhi pusat berat. Limitnya, apabila e mendekati nol, adalah beban
bekerja di pusat berat, sumbu netral terletak pacta jarak tak hingga, dan
distribusi tegangan terbagi rata. Jika eksentrisitas bertambah, maka jarak
y0 berkurang dan sumbu netral bergerak menuju pusat berat. Limit lain
terjadi apabila e menjadi sangat besar, berarti beban bekerja pada jarak
tak hingga, sumbu netral melalui pusat berat, dan distribusi tegangan
sama dengan yang terdapat pada kasus lentur mumi.
Beban aksial eksentris dianalisis pada beberapa soal di akhir bab ini
(lihat Soal 5.12-13 sampai 5.12-19).
31 2 Bab 5 T
egangan Di Balok (Topik Dasar)
(a)
y
(b)
Gambar 5-45 Beban tekan P
yang bekerja di kolom persegi
panjang
• lnti Penampang
Jika beban aksial bekerja dengan eksentrisitas kecil, maka sumbu netral
dapat berada di luar balok, sebagaimana diterangkan dalam bab sebelum
ini. Pada saat ini terjadi, tegangan normal akan mempunyai tanda sama di
seluruh penampang, dan balok akan seluruhnya mengalami tarik atau
seluruhnya mengalarni tekan.
Kondisi ini penting, sebagai contoh, apabila beban tekan bekerja di
bahan yang sangat lemah terhadap tarik, seperti beton, batu, atau keramik.
Pada bahan tersebut kita harus yakin bahwa beban menghasilkan hanya
tekan di penampang. Untuk melihat bagaimana ini dicapai, tinjau contoh
dalam Gambar 5-45a. Di dalam contoh ini, beban aksial tekan P bekerja
dengan eksentrisitas e di kolom persegi panjang dengan lebar b dan tinggi
h. Apabila e kecil, maka sumbu netral nn terletak di luar kolom dalam
arah y (Gambar 5-45b) dan seluruh penampang mengalami tekan. Apabila
beban bergerak dalam arah y positif dan eksentrisitas e bertambah, maka
sumbu netral bergerak mendekati tepi penampang. Pada saat sumbu netral
mencapai tepi penampang (y0 = -h/2, atau -y0 = -h/2), distribusi tegangan
menjadi segitiga tetapi seluruhnya masih berupa tekan. Dengan semakin
meningkatnya e, sumbu netral akan bergerak ke dalam penampang dan
bagian dari kolom ini sekarang berada dalam keadaan tarik.
Harga maksimum dari eksentrisitas agar semua kolom mengalami
tekan terjadi apabila sumbu netral berada di tepi penampang, yaitu pada
saat y0 sama dengan -h/2. Harga eksentrisitas e1 tersebut diperoleh dari
Persamaan (5-55):
I
--- =
A(-h/2)
bh3/12
(bh)(h/2)
h
6
(5-56)
Jadi, selama eksentrisitas lebih kecil daripada h/6, seluruh penampang
akan mengalarni tekan. (lngat bahwa hasil ini berlaku hanya pada balok
dengan penampang persegi panjang.)
Analisis yang sama dapat dilakukan untuk beban tekan yang bekerja
di sepanjang sumbu y negatif. Dalam hal ini, sumbu netral ada di sisi
kolom di mana y adalah positif dan harga eksentrisitas yang membatasi
adalah e1 = -h/6.
Dengan demikian, kita sampai pada kesimpulan berikut: Jika beban
P diterapkan pada sumbu y dengan eksentrisitas antara h/6 dan -h/6,
maka seluruh penampang akan mengalami tekan. Karena selang harga ini
menandakan bahwa P terletak di dalam sepertiga tinggi h, maka kalimat
tersebut dikenal dengan aturan sepertiga tengah. Aturan ini berlaku hanya
pada penampang persegi panjang; untuk penampang berbentuk lain,
eksentrisitas yang membatasi akan mempunyai harga yang berbeda.
Analisis yang sama dengan yang disebutkan di atas dapat dilakukan
untuk kolom persegi panjang dalam Gambar 5-45 apabila beban P bekerja
disebuah titik pada sumbu z. Selanjutnya kita dapatkan bahwa seluruh
kolom mengalarni tekan selama bebannya bekerja dengan eksentrisitas
antara b/6 dan -b/6. Jadi, kita simpulkan bahwa ada daerah kecil yang
mengelilingi pusat berat C sedemikian rupa sehingga seluruh elemen
struktur berada dalam keadaan tekan selama beban bekerja di dalam daerah
tersebut. Daerah ini disebut inti atau kern dari penampang. Dengan
pertolongan aturan sepertiga tengahdan beberapa analisis tambahan, adalah
mungkin untuk membuktikan bahwa inti persegi panjang adalah rhombus
1- b �
Gambar 5-46 Inti penampang
persegi panjang
Mekanika Bahan 31 3
dengan diagonal yang panjangnya h/3 dan b/3 (Gambar 5-46).* Inti dari
bentuk penampang lainnya ditentukan dalam Soal 5.12-20 sampai 5.12-24
di akhir bab ini.
• Pembatasan
Analisis terdahulu mengenai balok dengan beban aksial didasarkan atas
asumsi bahwa momen lentur dapat dihitung tanpa meninjau defleksi balok.
Dengan perkataan lain, dalam menentukan momen lentur M untuk di­
gunakan dalam Persamaan (5-53), kita harus dapat menggunakan dimensi
semula dari balok-dimensi sebelum terjadinya deformasi atau defleksi.
Penggunaan dimensi semula adalah sah asalkan balok relatif kaku terhadap
lentur, supaya defleksi yang terjadi sangat kecil.
Jadi, dalam menganalisis suatu balok dengan beban aksial, adalah
penting untuk membedakan antara balok gemuk, yang relatif pendek
sehingga mempunyai tahanan besar terhadap lentur. dan balok langsing,
yang relatif panjang sehingga sangat fleksibel. Dalam hal balok gemuk,
defleksi lateralnya sedemikian kecil sehingga tidak ada efek signifikan ter­
hadap garis kerja gaya aksial. Akibatnya, momen lentur tidak akan bergan­
tung pada defleksi dan tegangan dapat diperoleh dari Persamaan (5-53).
Dalam hal balok langsing, defleksi lateral (meskipun kecil) cukup
besar untuk mengubah garis kerja gaya aksial. Apabila hal ini terjadi,
momen lentur tambahan, yang sama dengan hasil kali gaya aksial dan
defleksi lateral, muncul di setiap penampang. Dengan perkataan lain ada
interaksi, antara efek aksial atau kopel dan efek lentur. Jenis perilaku ini
dibahas dalam Bab 1 1 mengenai kolom.
Pembedaan antara balok gemuk dan balok langsing jelaslah tidak
tepat. Pada umumnya, satu-satunya cara untuk mengetahui apakah efek
interaksi penting adalah dengan menganalisis balok dengan atau tanpa
interaksi dan memperhatikan apakah hasilnya sangat berbeda. Namun,
prosedur ini mungkin membutuhkan perhitungan yang cukup panjang.
Karenanya, sebagai pedoman praktis, kita biasanya memandang sebuah
balok dengan rasio panjang terhadap tinggi sebesar 10 atau kurang sebagai
balok gemuk. Hanya balok gemuklah yang ditinjau dalam contoh-contoh
dan soal-soal dalam bab ini.
Contoh 5-1 5
Sebuah balok tabung ACB yang panjangnya L = 60 in. ditumpu sendi di ujung­
ujungnya dan dibebani oleh gaya miring P di tengah-tinggi (Gambar 5-47a). Jarak
dari titik bekerjanya beban P ke sumbu longitudinal tabung adalah d = 5,5 in.
Penampang tabung ini adalah bujursangkar (Gambar 5-47b) dengan dimensi luar
b = 6,0 in., luas A = 20,0 in.2, dan momen inersia I = 86,67 in.4 Tentukan tegangan
tarik dan tekan maksimum di balok akibat beban P = 1000 lb.
Solusi
Balok dan pembebanan. Kita mulai dengan menyatakan balok dan bebannya dalam
bentuk yang diidealkan untuk maksud analisis (Gambar 5-48a). Karena tumpuan
di ujung A menahan baik peralihan horizontal maupun vertikal, maka ini direpre­
sentasikan sebagai tumpuan sendi. Tumpuan di B mencegah peralihan vertikal te­
tapi tidak menahan peralihan horizontal, sehingga ditunjukkan sebagai tumpuan
rol.
*Konsep tentang inti suatu penampang diperkena1kan o1eh insinyur Perancis J.A.C. Bresse pada
tahun 1854; 1ihat Ref. 5-12.
l
31 4 Bab 5 T
egangan Di Balok (Topik Dasar)
� = 30 in. ; = 30 in.
y
Gambar 5-47 Contoh 5-15
V 329 lb
(a)
(b)
!"''' , , ,
''I
0
''
l ,
l
-171 lb
(c)
9870 !b-in.
M
0
�n.
(d)
Gambar 5-48 Solusi Contoh 5-15.
(a) Balok dan pembebanan yang
diidealisasi, (b) diagram gaya
aksial, (c) diagram gaya geser, dan
(d) diagram momen lentur
_j_
z b = 6 in.
-1 1- t
b = 6 in.
(a) (b)
Beban miring P diuraikan atas komponen horizontal Ph dan vertikal Pv.
Ph = P sin 60° = (1000 lb)(sin 60°) = 866 lb
Pv = P cos 60° = ( 1000 lb)(cos 60°) = 500 lb
Komponen horizontal Ph dipindahkan ke sumbu balok dengan menambahkan
momen M0 (Gambar 5-48a):
M0 = Phd = (866,0 lb)(5,5 in.) = 4760 !b-in.
Perhatikan bahwa beban Ph, Pv, dan M0 yang bekerja di titik tengah C dari balok
secara statis ekivalen dengan beban P semula.
Reaksi dan resu/tan tegangan. Reaksi balok (Rh, RA, dan R8) ditunjukkan
dalam Gambar 5-48a. Juga, diagram gaya aksial N, gaya geser V, dan momen
lentur M ditunjukkan dalam Gambar 5-48b, c, dan d. Semua besaran ini diperoleh
dari diagram benda bebas dan persamaan kesetimbangan dengan menggunakan
cara-cara yang telah diuraikan dalam Bab 4.
Tegangan di balok. Tegangan tarik maksimum di balok terjadi di bawah
balok (y = -3,0 in.) sedikit di kiri titik tengah C. Kita sampai pada kesimpulan ini
dengan mengingat bahwa di titik ini pada balok tegangan tarik akibat gaya aksial
menambah tegangan tarik akibat momen Jentur terbesar. Jadi, dari Persamaan (5-
53), kita dapatkan
N
_
My 866 lb
A I 20,0 in.2
(9870 lb-in.)(-3,0 in.)
86,67 in.4
= 43 psi + 342 psi = 385 psi
Tegangan tarik maksimum terjadi di atas balok (y = 3,0 in.) di kiri titik C atau di
atas balok di kanan titik C. Kedua tegangan ini dihitung sebagai berikut:
'
N
_
My 866 lb
A I 20,0 in.2
(9870 lb-in.)(-3,0 in.)
86,67 in.4
= 43 psi - 342 psi = -299 psi
=
N _ My = 0 _ (51 10 lb-in.)(3,0 in.)
= _177 psi
A I 86,67 in.4
Jadi, tegangan tekan maksimum adalah
(aclmaks = -299 psi
dan terjadi di atas balok di kiri titik C.
Contoh ini menunjukkan bagaimana tegangan normal di suatu balok akibat
gabungan antara lentur dan beban aksial dapat ditentukan. Tegangan geser yang
bekerja di penampang balok (akibat gaya geser V) dapat ditentukan secara
independen dari tegangan normal, sebagaimana telah dibahas sebelum ini di dalam
bab ini. Nanti, di dalam Bab 7, kita akan melihat bagaimana menentukan tegangan
di bidang miring apabila kita mengetahui tegangan normal dan tegangan geser
yang bekerja di bidang-bidang penampang.
Mekanika Bahan 315
*5·13 I KONSENTRASI TEGANGAN PADA KONDISI LENTUR
M M
( )
(a)
M M
( )
(b)
Gambar 5-49 Distribusi
tegangan di sebuah balok yang
mengalami lentur murni dengan
lubang lingkaran di sumbu netral.
(Balok ini mempunyai penampang
persegi panjang dengan tinggi h
dan tebal b.)
Rumus lentur dan geser yang dibahas dalam subbab-subbab terdahulu di
dalam bab ini belaku untuk balok tanpa lubang, takikan, atau perubahan
dimensi mendadak. Manakala diskontinuitas seperti ini ada, tegangan lokal
yang tinggi akan terjadi. Konsentrasi tegangan seperti ini dapat menjadi
sangat penting pada elemen struktur yang terbuat dari bahan getas atau
yang mengalami beban dinamis. (Lihat Bab 2, Subbab 2. 10 untuk
pembahasan tentang kondisi di mana konsentrasi tegangan merupakan hal
penting.)
Untuk ilustrasi, dua kasus konsentrasi tegangan di balok dibahas di
dalam subbab ini. Kasus pertama adalah balok dengan penampang persegi
panjang dengan 1ubang di sumbu netral (Gambar 5-49). Balok ini
mempunyai tinggi h dan tebal b (tegak lurus bidang gambar) dan mengalarni
lentur mumi akibat aksi momen lentur M. Apabila diameter d lubang
adalah kecil dibandingkan dengan tinggi h, maka distribusi tegangan di
potongan melintang yang melalui lubang kurang lebih seperti terlihat dalam
Gambar 5-49a. Di titik B pada tepi lubang, tegangannya jauh lebih besar
daripada tegangan yang dapat ada di titik tersebut seandainya tidak ada
lubang. (Garis putus-putus di dalam gambar tersebut menunjukkan distribusi
tegangan tanpa lubang.) Namun, apabila kita berjalan menuju tepi luar
balok (menuju titikA), distribusi tegangan bervariasi secara linier terhadap
jarak dari sumbu netral dan hanya sedikit dipengaruhi oleh adanya lubang.
Apabila lubangnya relatif besar, maka pola tegangan kurang lebih
seperti terlihat da1am Gambar 5-49b. Ada peningkatan tegangan di titik B
dan hanya sedikit perubahan tegangan di titik A dibandingkan dengan
distribusi tegangan di balok tanpa lubang (sekali lagi, ini ditunjukkan
dengan garis putus-putus). Tegangan di titik C lebih besar daripada tegangan
di A tetapi lebih kecil daripada tegangan di B.
Penyelidikan lebih da1am telah menunjukkan bahwa tegangan di tepi
lubang (titik B) kurang lebih dua kali tegangan nominal di titik tersebut.
Tegangan nominal dihitung dari rumus lentur dengan cara standar, yaitu,
CJ = My//, di mana y adalah jarak d/2 dari sumbu netra1 ke titik B dan I
adalah momen inersia penampang neto di lokasi lubang. Jadi, kita
mempunyai rumus pendekatan berikut untuk tegangan di titik B:
(5-57)
Di tepi luar balok (di titik C), tegangan kurang lebih sama dengan tegangan
nominal (bukan tegangan aktual) di titik A (di mana y = h/2):
(5-58)
Pacta dua persamaan terakhir ini kita lihat bahwa rasio CJsfCJc kurang lebih
sebesar 2d/h. Jadi kita simpulkan bahwa apabila rasio d!h antara diameter
terhadap tinggi balok melebihi 1/2, maka tegangan terbesar terjadi di titik
B. Apabila d!h kurang dari 1/2, maka tegangan terbesar terjadi di titik C.
Kasus kedua yang akan kita bahas adalah balok persegi panjang
dengan takik (Gambar 5-50). Ba1okpacta gambar tersebut mengalarni lentur
mumi dan mempunyai tinggi h dan tebal b (tegak 1urus bidang gambar).
316 Bab 5 T
egangan Di Balok (Topik Dasar)
Gambar 5-50 Faktor konsentrasi
tegangan K untuk balok bertakikan
dengan penampang persegi panjang
yang mengalami lentur murni (h =
tinggi balok, b = tebal balok, tegak
lurus bidang gambar). Garis putus
adalah untuk takikan setengah
lingkaran (h = h1 + 2R).
Juga, tinggi neto balok (yaitu, jarak antara dasar masing-masing takikan)
adalah h1 dan radius di dasar masing-masing takikan adalah R. Tegangan
maksimum untuk balok ini terjadi di dasar takikan dan dapat jauh lebih
besar daripada tegangan nominal di titik yang sama. Tegangan nominal
dihitung dari rumus lentur dengan y = h/2 dan I = bhf/12; jadi,
My 6M
(] = - = --
nom
I bh2
I
(5-59)
Tegangan maksimum sama dengan faktor konsentrasi tegangan K dikalikan
tegangan nominal:
K
<Jmaks = Kanom (5-60)
1 ,5 �------J-------�------�----�--L-------J--=�--�
0 0,05 0, 10 0, 15
R
71;
0,20 0,25 0,30
Faktor konsentrasi tegangan K diplot dalam Gambar 5-50 untuk beberapa
harga rasio hlh1 • Perhatikan bahwa apabila takikan menjadi "lebih tajam,"
yaitu rasio R/h1 menjadi lebih kecil, faktor konsentrasi tegangan akan
meningkat.*
Efek konsentrasi tegangan terjadi di daerah kecil di sekitar lubang
dan takikan, sebagaimana diterangkan dalam pembahasan prinsip Saint­
Venant dalam Subbab 2.10. Padajarak sama yang dengan atau lebih besar
dari lubang atau takikan, efek konsentrasi tegangan dapat diabaikan dan
rumus biasa untuk tegangan dapat digunakan.
*Gambar 5-50 dip1ot dari rumus yang diberikan da1am Ref. 2-10, yang mengandung rumus untuk
banyak jenis lain konsentrasi tegangan. Untuk data tambahan tentang konsentrasi tegangan termasuk
rumus-rumus dan grafik-grafik, lihat Ref. 2-11.
SOAL-SOAL BAB 5 I
._J , x n
LEMBAR • X +
KE�JA REGANGAN LONGITUDINAL Dl BALOK
5.4-1 Tentukan regangan normal maksimum £maks
yang
timbul di kawat baja dengan diameter d = 1116 in., apabila
kawat tersebut dibengkokkan di sekeliling drum silindris
dengan radius r = 24 in. (lihat gambar).
5.4-2 Sebuah kawat tembaga yang mempunyai diam­
eter d = 4 mm dibengkokkan menjadi lingkaran dan
ditahan dengan ujung-ujungnya saling menyentuh (lihat
gambar). Jika regangan izin maksimum di tembaga ada1ah
£
maks
= 0,0033, berapa panjang terpendek L kawat yang
dapat digunakan?
L == Panjang
5.4-3 Sebuah pipa polietilen dengan diameter luar 4 in.
didesain untuk menyalurkan buangan kimiawi. Pipa itu
diletakkan dalam parit yang membentuk belokan
seperempat lingkaran 90° (lihat gambar). Bagian pipa
yang melengkung mempunyai panjang 32 ft. Tentukan
regangan tekan maksimum £
maks
di pipa.
Mekanika Bahan 31 7
5.4-4 Sebuah balok kantilever AB dibebani kopel M0
di ujung bebas (lihat gambar). Panjang balok adalah L =
1 ,2 m dan regangan normal longitudinal di permukaan
atas adalah 0,0008. Jarak dari permukaan atas balok ke
permukaan netral adalah 50 mm. Hitunglah radius
kelengkungan p, kelengkungan 1(
, dan defleksi vertikal 8
di ujung balok.
5.4-5 Sebuah plat baja yang panjangnya L = 36 in. dan
tebal t = 0,4 in. dibengkokkan oleh kopel M0 (lihat
gambar). Defleksi 8di titik tengah plat (diukur dari garis
yang menghubungkan titik-titik ujungnya) diketahui 0,29
in. Tentukan regangan normal longitudinal £ di permukaan
atas plat tersebut.
5.4-6 Sebuah batang dengan penampang persegi
panjang dibebani dan ditumpu seperti terlihat dalam
gambar. Jarak antara tumpuan adalah L = 1,5 m dan
tinggi batang ini adalah h = 120 mm. Defleksi 8 di titik
tengah diukur 2,5 mm. Berapa regangan normal
maksimum £ di atas dan bawah batang ini?
TEGANGAN NORMAL Dl BALOK
5.5-1 Sebuah kawat baja (E = 30 x 106 psi) dengan
diameter d = 1/32 in. dibengkokkan di sekeliling katrol
yang berjari-jari r = 9,75 in. (lihat gambar). (a) Berapa
,
31 8 Bab 5 T
egangan Di Balok (Topik Dasar)
�p.::�.lll maksimum crmaks di kawat? (b) Apakah tegangan
�umbah atau berkurang jika radius katrol bertambah?
5.5-2 Sebuah plat tipis dari tembaga keras (£ = 1 13
GPa) yang mempunyai panjang L = 2 m dan tebal t = 2
mm dibengkokkan menjadi berbentuk lingkaran dan
ditahan dengan ujung-ujungnya saling menyentuh (lihat
gambar). (a) Hitunglah tegangan lentur maksimum umaks
di plat tersebut. (b) Apakah tegangan tersebut bertambah
jika tebal plat bertambah?
5.5-3 Sebuah batang baja berkekuatan tinggi (£ = 28 x
106 psi) yang mempunyai tebal t = 0,06 in. dan panjang
L = 14 in. dibengkokkan oleh kopel M0 menjadi busur
lingkaran dengan sudut pusat a = 67,8° (lihat gambar).
(a) Berapa tegangan lentur maksimum umaks di batang
tersebut? (b) Apakah tegangan bertambah atau berkurang
jika sudut pusatnya bertambah?
'f'--a�,�
5.5-4 Sebuah balok kayu yang ditumpu sederhana AB
dengan panjang bentang L = 3,5 m memikulbeban terbagi
rata dengan intensitas q = 6,4 kN/m (lihat gambar).
Hitunglah tegangan lentur maksimum umaks akibat beban
q jika balok mempunyai penampang persegi panjang
dengan lebar b = 1 50 mm dan tinggi h = 280 mm.
q
�I l l I I
h
____l
L_L ________________
5.5-5 Sebuah ayunan yang beratnya 3 lb/ft panjang
dinaiki oleh dua anak, yang masing-masing beratnya 90
lb (lihat gambar). Pusat berat setiap anak ada di 8 ft dari
titik tengah. Papan tersebut mempunyai panjang 19 ft,
lebar 8 in., dan tebal I ,5 in. Berapa tegangan lentur
maksimum di papan?
5.5-6 Sebuah as gerobak angkutan AB dibebani seperti
terlihat dalam gambar, dengan gaya P yang menunjukkan
beban dari gerobak dan gaya R yang menunjukkan beban
rei (disalurkan melalui roda). Diameter as adalah d = 80
mm, panjang roda adalah L = 1,45 in., dan jarak antara
beban adalah b = 200 mm. Hitunglah tegangan lentur
maksimum umaks di as jika P = 9,3 kN.
_L
0 d
T
5.5-7 Setiap girder dari jembatan angkat (lihat gambar)
mempunyai panjang 170 ft dan ditumpu sederhana di
ujung-ujungnya. Beban desain untuk setiap girder adalah
beban terbagi rata dengan intensitas 1 ,2 k/ft. Girder
terbuat dari plat baja yang dilas sehingga berbentuk I
dan mempunyai modulus penampang S = 2800 in.
3
Berapakah tegangan lentur maksimum umaks di girder
akibat beban terbagi rata?
5.5-8 Balok horizontal ABC dari pompa pengeboran
minyak mempunyai penampang seperti terlihat dalam
gambar. Jika gaya pompa vertikal yang bekerja di ujung
C adalah 38 kN, dan jika jarak dari garis kerja gaya
tersebut ke titik B adalah 4,5 m, berapa tegangan lentur
maksimum di balok tersebut akibat gaya pompa?
�I
200 mm
5.5-9 Selama pelaksanaan jembatan jalan raya, girder
utama dikantileverkan dari satu tiang ke tiang di
sebelahnya (lihat gambar). Setiap girder mempunyai
panjang kantilever 170 ft dan penampang berbentuk I
dengan dimensi seperti terlihat dalam gambar. Beban di
setiap girder (selama pelaksanaan) diasumsikan 750 lb/
ft, yang termasuk berat girder. Tentukan tegangan lentur
maksimum di girder akibat beban tersebut.
96 in.
�I
24 in.
5.5-1 0 Sebuah pipa fiberglass diangkat oleh crane
dengan menggunakan susunan seperti terlihat dalam
gambar. Diameter luar pipa adalah 1 50 mm, tebalnya 6
mm, dan berat jenisnya 1 8 kN/m3• Panjang pipa adalah
L = 13 m dan jarak antara titik angkat adalah s = 4 m.
Tentukan tegangan lentur maksimum di pipa akibat berat
sendirinya.
Mekanika Bahan 31 9
L
5.5-11 Sebuah bantalan rei dibebani dua beban terpusat,
masing-masing besarnya P = 40 k, seperti terlihat dalam
gambar. Reaksi q dari ballast diasumsikan terdistribusi
terbagi rata di panjang bantalan, yang mempunyai dimensi
penampang b = 12 in. dan h = 10 in. Hitunglah tegangan
lentur maksimum O'maks di bantalan akibat beban total P,
dengan mengasumsikan L = 57 in. dan a = 19,5 in.
p p
5.5-1 2 Sebuah tanggul yang tingginya h = 2,4 m terbuat
dari balok kayu vertikal AB yang tebalnya t = 160 mm,
seperti terlihat dalam gambar. Anggap bahwa balok
tersebut ditumpu sederhana di atas dan bawah. Tentukan
tegangan lentur maksimum O'maks di balok, dengan
mengasumsikan bahwa berat jenis air adalah y = 9,81
kN/m3.
320 Bab 5 T
egangan Di Ba/ok (T
opik Dasar)
T
h
B
5.5-13 Dapatkan rumus untuk tegangan normal
maksimum amaks (akibat momen lentur oleh momen M)
pada balok yang mempunyai penampang sebagai berikut
(lihat gambar): (a) inti lingkaran yang diametemya d
dengan sudut f3 = 45°, dan (b) heksagon dengan sisi-sisi
yang panjangnya b.
(a) (b)
5.5-1 4 Dapatkan rumus untuk tegangan tarik maksimum
a, (akibat momen lentur positif M) pada balok yang
mempunyai penampang sebagai berikut (lihat gambar):
(a) setengah lingkaran yang diameternya d, dan (b)
trapesium isosceles dengan alas b1 = b dan b2 = 3b/2,
dan tinggi h.
(a) (b)
5.5-15 Balok sederhana AB dengan panjang bentang L =
24 ft mengalami dua beban roda yang bekerja pacta jarak
d = 5 ft (lihat gambar). Setiap roda menyalurkan beban
P = 3 k, dan gerobak di atas roda dapat berada pacta po­
sisi manapun di balok. Tentukan tegangan lentur maksi­
mum amaks akibat beban roda jika balok adalah balok I
yang mempunyai modulus penampang S = 16,2 in.3
+---- L ---�
;r_
-I-
5.5-16 Sebuah jembatan penyeberangan di atas pipa di
pabrik kimia dipikul oleh dua rangkafiberglass, seperti
terlihat pada bagian (a) dalam gambar. Setiap rangka
mempunyai bentang L = 5,46 m dan tinggi h = 0,82 m
[lihat bagian (b) pada gambar]. Kemiringan batang mir­
ing pada rangka adalah 2 banding 3. Potongan melintang
dari rangka berbentuk I dengan lebar l OO mm dan tinggi
150 mm, sertatebal 10 mm [lihat bagian (c) dari gambar].
Tentukan tegangan lentur maksimum di potongan tengah
rangka akibat beban terbagi rata q = 2,9 kN/m yang
bekerja di bagian horizontal dari rangka.
(a)
q = 2,9kN/m 10mm
3
�2 150
I. L = 5,46m
-I 100mm
(b) (c)
5.5-1 7 Sebuah balok kantilever AB yang dibebani oleh
beban terbagi rata dan beban terpusat (lihat gambar),
terbuat dari penampang kanal. Carilah tegangan tarik
maksimum a, dan tegangan tekan maksimum ac jika
penampang mempunyai dimensi yang tergambar dan
momen inersia terhadap sumbu z (sumbu netral) adalah
I = 2,81 in.4 (Catatan: Beban terbagi rata menunjukkan
berat balok.)
230lb
l 20lb/ft
A ���:5�-�-}�2�B
5.5-1 8 Sebuah balok kantilever AB dengan penampang
segitiga mempunyai panjang L = 0,8 m, lebar b = 80
mm, dan tinggi h = 120 mm (lihat gambar). Balok ini
terbuat dari perunggu yang beratnya 85 kN/m3. (a)
Tentukan tegangan tarik maksimum 0'
1 dan tegangan tekan
maksimum ac akibat berat sendiri balok. (b) Jika lebar b
menjadi dua kali, apa yang terjadi pada tegangan? (c)
Jika tinggi menjadi dua kali, apa yang terjadi pada
tegangan?
A B
L
5.5-1 9 Balok ABC dengan overstek dari B ke C memikul
beban terbagi rata 200 lb/ft di seluruh panjangnya (lihat
gambar). Balok ini mempunyai penampang kanal dengan
dimensi seperti terlihat dalam gambar. Momen inersia
terhadap sumbu z (sumbu netral) sama dengan 5,14 in.4
Hitunglah tegangan tarik maksimum a1 dan tegangan
tekan maksimum ac akibat beban terbagi rata.
(200 lb/ft
f.Ll J I �) De
I. 1 0 ft '"·1:·' 5 ft ·I
_10.674in
UJ2.496in
5.5-20 Sebuah rangka ABC berjalan dalam arah hori­
zontal dengan percepatan a0 (lihat gambar). Dapatkan
rumus untuk tegangan maksimum amaks di lengan vertikal
AB, yang mempunyai panjang L, tebal t, dan rapat
massa p.
A
ao = percepatan
Mekanika Bahan 321
5.5-21 Sebuah balok penampang T dipikul dan dibebani
seperti terlihat dalam gambar. Penampangnya mempunyai
lebar b = 2,5 in., tinggi h = 3 in., dan tebal t = 0,5 in.
Tentukan tegangan tarik dan tekan maksimum di balok
ini.
P = lOOO lb
5.5-22 Sebuah balok kantilewr AB dengan penampang
persegi panjang mempunyai lubang longitudinal yang
dibor di seluruh panjangnya (lihat gambar). Balok ini
memikul beban P = 600 N. Penampang ini mempunyai
lebar 25 mm dan tinggi 50 mm, serta lubangnya mem­
punyai diameter 10 mm. Carilah tegangan lentur di atas
balok, di atas lubang, dan di bawah balok.
*5.5-23 Tanggul kecil yang tingginya h = 6 ft terbuat
dari balok kayu vertikal AB, seperti terlihat dalam gambar.
Balok kayu, yang mempunyai tebal t = 2,5 in., ditumpu
sederhana oleh balok baja horizontal di A dan B. Buatlah
grafik yang menunjukkan tegangan lentur maksimum
amaks di balok kayu versus tinggi d dari air di atas
tumpuanbawah di B. Plotlah tegangan amak> (psi) sebagai
ordinat dan tinggi d (ft) sebagai absis. (Catatan: Berat
jenis y air adalah 62,4 lb/ft3.)
Balok
T
d
- -· - --- · -· - -- - · - -
.....
.. Tampak samping
/ Balok
kayu
Tampak atas
322 Bab 5 T
egangan Di Balok (T
opik Dasar)
DESAIN BALOK
5.6-1 Sebuah breketfiberglass ABCD dengan potongan
mdintang lingkaran solid mempunyai bentuk dan dimensi
-.eperti terlihat dalam gambar. Beban vertikal P = 8 lb
bekeija di ujung bebas D. Tentukan diameter izin mini­
mum dmin dari breket jika tegangan lentur izin di bahan
adalah 3500 psi dan b = 1,5 in. (Abaikan berat sendiri
breket.)
Sb
B•l
aA
':if � t
. ,
2b
D c
l
I "»
l J
P f 2b -I
5.6-2 Penampang jembatan rei ditunjukkan dalam
gambar. Jembatan ini mempunyai girder baja longitudi­
nal yang memikul bantalan kayu. Girder ini ditahan
terhadap tekuk lateral oleh bresing diagonal, seperti
terlihat dengan garis putus. Jarak girder adalah s1 = 0,8
m danjarakrei adalah s
2
= 0,6 m. Beban yang disalurkan
oleh setiap rei ke satu bantalan adalah P = 1 8 kN.
Potongan bantalan, yang ditunjukkan dalam bagian (b)
gambar tersebut mempunyai lebar b = 120 mm dan tinggi
d. Tentukan harga minimum d berdasarkan atas tegangan
lentur izin I0 MPa di bantalan. (Abaikan berat bantalan
itu sendiri.)
p p
5.6-3 Balok kantilever yang panjangnya L = 6 ft me­
mikul beban terbagi rata dengan intensitas q = 250 lb/ft
dan beban terpusat P = 3000 lb (lihat gambar). Hitunglah
modulus penampang yang diperlukan Sjika Oizin = 16.000
psi. Selanjutnya pilihlah balok sayap lebar yang memadai
(profil W) dari Tabel E-1 , Lampiran E, dan hitung ulang
S dengan memperhitungkan berat balok. Pilihlah ukuran
balok yang baru jika diperlukan.
P = 3000 lb
q = 250 lb/ft
�
5.6-4 Balok sederhana yang panjangnya L = 1 5 ft
memikul beban terbagi rata dengan intensitas q = 900 lb/
ft dan beban terpusat P = 8000 lb (lihat gambar). Dengan
mengasumsikan a. . = 1 8.000 psi, hitunglah modulus
penampang yang dl��rlukan S. Lalu pilihlah balok sayap
lebar 12 in. (profil W) dari Tabel E-1, Lampiran E, dan
hitung ulang S dengan memperhitungkan berat balok.
Pilihlah balok 12 in. yang baru jika diperlukan.
P = 8000 lb
7.5 ft�
I
5.6-5 Sebuah balok sederhana AB dibebani seperti
terlihat dalam gambar. Hitunglah modulus penampang
yang diperlukan S jika amaks = 1 6.000 psi, L = 24 ft, P
= 2000 lb, dan q = 300 lb/ft. Lalu, pilihlah balok I yang
memadai (profil S) dari Tabel E-2, Lampiran E, dan hitung
ulang S dengan mempcrhitungkan berat balok. Pilih
ukuran balok baru jika perlu.
, r ,
� ,.fD!k
1. + .1.+ .I.+ .1.+ .1
5.6-6 Sebuah jembatan ponton (lihat gambar) terbuat
dari dua balok kayu longitudinal yang membentang antara
ponton yang berdekatan dan memikul balok lantai trans­
versal, yang disebut papan. Untuk maksud desain,
asumsikan beban lantai yang seragam sebesar 10 kPa
bekeija di seluruh papan. (Beban ini termasuk berat papan
dan balok.) Juga, asumsikan bahwa papan mempunyai
panjang 2,4 m dan balok ditumpu sederhana dengan
bentang 3,6 m. Tegangan lentur izin di kayu adalah 17,5
MPa. Jika balok mempunyai penampang bujursangkar,
berapa lebar perlu minimum bmin?
5.6-7 Sebuah sistem lantai di gedung kecil terdiri atas
papan kayu yang dipikul oleh balok anak yang lebarnya
(lebar nominal) 2 in. denganjarak satu sama lain s (diukur
as ke as, lihat gambar). Panjang bentang L setiap balok
adalah 10,5 ft, jarak s antara balok adalah 16 in., dan
tegangan lentur izin di kayu adalah 1200 psi. Beban lantai
terbagi rata adalah 100 lb/ft
2
, yang termasuk berat sistem
lantai itu sendiri. Hitunglah modulus penampang yang
diperlukan S untuk balok anak dan pilihlah ukuran balok
anak yang memadai (kayu yang telah diamplas) dari
Lampiran E, dengan mengasumsikan bahwa setiap balok
anak dapat dinyatakan sebagai balok yang memikul beban
terbagi rata.
5.6-8 Balok anak yang memikul lantai papan (lihat
gambar) mempunyai penampang aktual 40 mm x 1 80
mm dan mempunyai panjang bentang L = 4,0 m. Beban
lantai adalah 2,4 kPa yang sudah termasuk berat balok
anak dan lantai. Hitunglah jarak izin maksimum s antara
balok anak jika tegangan lentur izin adalah 8,5 MPa.
(Asumsikan bahwa setiap balok anak dapat dinyatakan
sebagai balok sederhana yang memikul beban terbagi
rata.)
5.6-9 Sebuah balok ABC dengan overstek dari B ke C
mempunyai penampang C 10 x 30 (lihat gambar). Balok
tersebut memikul berat sendiri (30 lb/ft) ditambah beban
terbagi rata dengan intensitas q yang bekerja di overstek.
Tegangan izin tarik dan tekan masing-masing adalah 20
ksi dan 1 2 ksi. Tentukan beban terbagi rata izin q . jika
jarak L sama dengan 4,0 ft.
lzm
Mekanika Bahan 323
q
A
,£;"
5.6-10 Batang yang disebut trape�e bar di kamar rumah
sakit memungkinkan seorang pasien berolah raga selama
berada di atas tempat tidur (lihat gambar). Batang tersebut
panjangnya 2,I m dan mempunyai penampang berbentuk
oktagon (segi delapan) teratur. Beban desain adalah 1 100
N yang bekerja di titik tengah batang, dan tegangan lentur
izin adalah 160 MPa. Tentukan lebar minimum s batang
tersebut. (Asumsikan bahwa ujung-ujung batang adalah
tumpuan sederhana dan bahwa berat batang dapat
diabaikan.)
5.6-11 Gerobak dua as yang merupakan bagian dari crane
pada laboratorium uji bergerak perlahan-lahan melintasi
balok sederhanaAB (lihat gambar). Beban yang disalurkan
ke balok dari as depan adalah 2,4 k dan dari as belakang
adalah 4,8 k. Berat balok itu sendiri dapat diabaikan. (a)
Tentukan modulus penampang perlu minimum S untuk
balok tersebut jika tegangan lentur izin adalah 1 8 ksi,
panjang balok adalah 16 ft, dan jarak antara as adalah 5
ft. (b) Pilihlah balok I (profil S) yang memadai dari Tabel
E-2, Lampiran E.
�----------- 16 ft ----------�
324 Bab 5 Tegangan Di Balok (T
opik Dasar)
5.6-12 Sebuah balok kantilever AB dengan penampang
-=.::� dan panjang L = 500 mm memikul beban P =
):(' � yang bekerja di ujung bebas (lihat gambar). Balok
:ru terbuat dari baja dengan tegangan lentur izin 80 MPa.
Tentukan diameter perlu drnin balok ini dengan meninjau
pengaruh berat sendiri balok.
k---------L----------�
5.6-1 3 Sebuah balok ABCD (lihat gambar) ditumpu di
titik A, B, dan D dan mempunyai sambungan (dinyatakan
dengan sambungan sendi di titik C. Jarak a = 8 ft dan
balok adalah profil sayap lebar W 1 6 x 57 dengan
tegangan lentur izin 16.000 psi. Carilah beban terbagi
rata izin q yang dapat bekerja di atas balok tersebut,
dengan memperhitungkan berat sendiri balok.
5.6-1 4 Sebuah balkon yang terbuat dari kayu dipikul
oleh tiga balok kantilever identik (lihat gambar). Setiap
balok mempunyai panjang L = 2,1 m, lebar b, dan tinggi
h = 4b/3. Dimensi lantai balkon adalah L1 x L2, dengan
L2 = 2,5 m. Beban desain adalah 5,5 kPa yang bekerja
di seluruh luas lantai. (Beban ini sudah terrnasuk semua
beban kecuali berat balok kantilever, yang mempunyai
berat jenis y = 5,5 kN/m3.) Tegangan lentur izin di
kantilever adalah 15 MPa. Dengan menganggap bahwa
kantilever tengah memikul 50% dari beban dan setiap
kantilevertepi memikul 25% dari beban, tentukandimensi
b dan h yang diperlukan.
5.6-1 5 Sebuah balok yang mempunyai penampang
sayap lebar tak simetris (lihat gambar) mengalami momen
lentur negatif yang bekerja terhadap sumbu z. Tentukan
lebar b sayap atas agar tegangan di permukaan atas dan
bawah balok akan mempunyai rasio 4:3.
y
b
l
I I
1 .25 in
16 in ---- -
]�'"
z c
1 .5 in
I. 16 in JT
5.6-1 6 Sebuah balok yang mempunyai penampang
berbentuk kanal (Iihat gambar) mengalarni momen lentur
yang bekelja terhadap sumbu z. Hitunglah tebal t kanal
ini agar tegangan lentur di atas dan bawah balok tersebut
mempunyai rasio 7:3.
y
-1 �
z ---�===!==::i! rmm
��.1 -
5.6-1 7 Tentukan rasio berat ketiga balok yang mem­
punyai panjang sama, terbuatdari bahan sama, mengalarni
momen lentur maksimum sama, dan mengalami tegangan
lentur maksimum sama, apabila penampangnya adalah:
(1) persegi panjang dengan tinggi sama dengan dua kali
lebar, (2) bujursangkar, dan (3) lingkaran (lihat gambar).
T
h=2b
j_
�b�
I
a
_1
�a�
5.6-1 8 Penampang balok persegi panjang yang mem­
punyai lebar b dan tinggi hditunjukkan dalam bagian (a)
dalam gambar. Karena alasan yang tak diketahui oleh
perencana, diharuskan menambah proyeksi struktural dari
lebar b/9 dan tinggi d di atas dan bawah dari balok [lihat
bagian (b) dari gambar]. Berapa harga d agar kapasitas
momen lentur balok ini bertambah? Berapa harga d agar
kapasitas momen Ientur balok ini berkurang?
--
�
d
I lh
- d
�� ��
(a) (b)
5.6-1 9 Papan AD yang panjangnya L = 30 in., lebamya
b = 12 in. dan tebalnya t = 0,5 in. dipikul oleh breket di
B dan C [lihat bagian (a) dari gambar]. Breket tersebut
dapat disesuaikan dan dapat diletakkan di posisi yang
dikehendaki antara kedua ujung papan. Beban terbagi
rata dengan intensitas q, yang termasuk berat sendiri
papan, bekerja di papan [lihat bagian (b) dari gambar].
Tentukan beban izin maksimum q jika tegangan lentur
izin di papan adalah aizin = 830 psi.
(a)
q
Ai.l:f) ! IJ� .ID
(b)
5.6-20 Sebuah balok baja ABC ditumpu sederhana di A
dan B dan mempunyai overstek BC yang panjangnya L
= 150 mm (lihat gambar). Balok ini memikul beban
terbagi rata dengan intensitas q = 3,5 kN/m di seluruh
panjang 450 mm. Penampang balok ini adalah persegi
panjang dengan lebar b dan tinggi 2b. Tegangan lentur
izin di baja adalah aizin = 60 MPa dan berat jenisnya y
= 77,0 kN/m3. (a) Dengan mengabaikan berat balok,
hitunglah lebar perlu b untuk penampang persegi panjang
tersebut. (b) Dengan memperhitungkan berat balok, hitung
lebar b.
Mekanika Bahan 325
5.6-21 Plat baja (disebut coverplate) yang mempunyai
dimensi melintang 4,0 in. x 0,5 in. dilas di sepanjang
flens atas sebuah balok dengan profil sayap lebar W 1 2
x 35 (lihat gambar). Berapa persen peningkatan modulus
penampang dibandingkan dengan profil sayap lebar itu
sendiri?
/4,0x 0,5 in. plat baja
-
vW I2 d5
r=JL
5.6-22 Sebuah balok aluminium mempunyai penampang
simetri ganda seperti terlihat pada bagian (b) dalam
gambar. Untuk analisis lentur, fillets dan pojok-pojok
lengkung dapat diabaikan, seperti terlihat dalam bagian
(b). Penampang tersebut mempunyai dimensi b = 220
mm, h = 200 mm, h1 = 80 mm, t1 = t2 = 10 mm, dan t3
= 20 mm. (a) Apakah balok ini akan lebih kuat apabila
melentur terhadap sumbu 1-1 sebagai sumbu netral,
ataukah terhadap sumbu 2-2? (b) Berapa rasio f3 antara
modulus penampang yang lebih besar terhadap yang lebih
kecil?
Bentuk aktual Bentuk yang diidealisasi
(a) (b)
5.6-23 Tekanan air bekeija terhadap panel miring ABC
yang berfungsi sebagai penahan (lihat gambar). Panel ini
ditahan di titik B, yang tingginya h di atas dasar, dan
menekan terhadap dasar di A apabila level muka air tidak
terlalu tinggi (perhatikan bahwa panel akan berputar
terhadap sendi di B jika tinggi d dari air melebihi tinggi
maksimum tertentu dmaksl· Panel ini mempunyai tebal t
dan miring dengan sudut a terhadap horizontal. Turunkan
rumus untuk tebal perlu minimum tmin panel tersebut
jika tegangan lentur maksimum di panel tidak boleh
melebihi tegangan izin aizin· (Perhatikan bahwa tegangan
maksimum di panel terjadi apabila tinggi air mencapai
tinggi maksimum dmaks· Dalam menurunkan rumus, tinjau
saja pengaruh lentur di panel, abaikan berat panel, dan
anggap berat jenis air adalah rl
326 Bao 5 T
egangan Di Balok (T
opik Dasar)
5.6-24 Sebuah balok dengan penampang bujursangkar
(a = panjang masing-masing sisi) melentur dalam bidang
diagonalnya (lihat gambar). Dengan membuang sebagian
kecil bahan di atas dan bawah pojoknya, seperti terlihat
dengan bagian yang digelapkan dalam gambar, kita dapat
meningkatkan modulus penampang dan mendapatkan
balok yang lebih kuat, meskipun luas penampangnya
berkurang. (a) Tentukan rasio f3 yang mendefinisikan luas
yang harus dibuang agar kita memperoleh penampang
yang paling kuat terhadap lentur. (b) Berapa persen
modulus penampang bertambah apabila luas tersebut
dibuang?
y
5.6-25 Sebuah dinding penahan yang tingginya 5 ft
terbuat dari papan-papan kayu yang tebalnya 3 in.
(dimensi aktual) yang ditumpu oleh tiang kayu vertikal
berdiameter 1 2 in. (dimensi aktual) seperti terlihat dalam
gambar. Tekanan tanah lateral adalah p1 = 100 lb/ft
2
di
atas dinding dan p2 = 400 lb/ft
2
di bawah. Dengan meng­
asumsikan bahwa tegangan izin di kayu adalah 1200 psi,
hitunglah jarak izin maksimum s antar tiang. (Petunjuk:
Perhatikan jarak tiang dapat ditentukan oleh kapasitas
pikul beban papan dan tiang. Anggap papan beraksi
sebagai balok kantilever yang mengalami beban ter­
distribusi trapesium dan anggap papan beraksi sebagai
balok sederhana antara tiang-tiang. Agar berada pada sisi
aman, asumsikan bahwa tekanan di papan bawah adalah
terbagi rata dan sama dengan tekanan minimum.)
.. �� 3 in
5 ft
BALOK NONPRISMATIS
diameter
1 2 in.
- "
y
p2 = 400 lb/ft2
3 in
Tampak atas
5.7-1 Sebuah balok ABC ditahan di C dan terletak di
atas B (lihat gambar). Potongan melintang adalah
lingkaran dengan diameter konstan dB antara B dan C
dan diameter dA di ujung bebas A. Antara titik A dan B,
diameter bervariasi secara linier terhadap jarak x. Beban
terpusat P bekerja di ujung A. Pada jarak x berapa dari
ujung bebas tegangan lentur maksimum akibat beban P
terjadi jika dsfdA = 2,25? Berapa besar amaks tegangan
lentur maksimum? Berapa rasio antara tegangan maksi­
mum terhadap tegangan terbesar aB di titik B?
c
0
'·::-
dB
L
5.7-2 Balok kantilever yang meruncing AB yang
panjangnya L mempunyai penampang bujursangkar dan
memikul beban terpusat P di ujung bebas (lihat gambar).
Lebar dan tinggi balok bervariasi secara linier dari hA di
ujung bebas hingga hB di ujung jepit. Tentukan jarak x
dari ujung bebas ke penampang di mana tegangan lentur
maksimum jika hB = 2,5hA. Berapa besar tegangan lentur
maksimum amaks? Berapa rasio antara tegangan
maksimum tersebut terhadap tegangan terbesar aB di
tumpuan?
p
5.7-3 Sebuah papan tanda yang tinggi ditumpu oleh
dua balok vertikal yang terdiri atas tabung lingkaran
berdinding tipis yang meruncing (lihat gambar). Di dalam
analisis, setiap balok dianggap sebagai balok kantilever
AB yang panjangnya L = 25 ft yang mengalami beban
lateral P = 500 lb di ujung bebas. Tabung tersebut
mempunyai tebal konstan t = 0,375 in. dan diameter
rata-rata dA = 3,5 in. dan dB = 10,5 in. masing-masing di
ujung A dan B. Karena tebalnya kecil dibandingkan
dengan diameter, maka momen inersia di setiap
penampang dapat diperoleh dari rumus I = mh/8 (lihat
Kasus 22, Lampiran D), sehingga modulus penampang
dapat dihitung dengan menggunakan rumus S = mPt/4.
Pada jarak x berapakah dari ujung bebas tegangan lentur
maksimum terjadi? Berapa besar tegangan lentur
maksimum amaks tersebut? Berapa rasio antara tegangan
maksimum terhadap tegangan terbesar aB di tumpuan?
!p= 500 lb
�
Jl dB= 10.5 in
5.7-4 Sebuah balok kantilever yang meruncing AB dan
mempunyai penampang persegi panjang mengalarni beban
terpusat P = 400 N dan kopel M0 = 160 N.m yang bekerja
di ujung bebas (lihat gambar). Lebar b balok adalah
konstan dan sama dengan 25 mm, tetapi tingginya
bervariasi secara linier dari hA = 50 mm di ujung yang
dibebani ke hB = 75 mm di tumpuan. Pada jarak x berapa
dari ujung bebas tegangan lentur maksimum amaks terjadi?
Berapa besar tegangan maksimum amaks tersebut? Berapa
rasio antara tegangan maksimum dan tegangan terbesar
aB di tumpuan?
--r
hB =
75 mm
___t__
-+J r-
b = 25 mm
Mekanika Bahan 327
*5.7-5 Jeruji dari sebuah roda gila dimodelkan sebagai
balok yang terjepit di satu ujung dan dibebani oleh beban
P dan kopel M0 di ujung lainnya (lihat gambar).
Penampang jeruji tersebut berbentuk elips dengan sumbu
major dan minor (tinggi dan lebar) yang ukurannya seperti
terlihat dalam gambar. Dimensi penampang bervariasi
secara linier dari ujung A ke ujung B. Dengan hanya
meninjau pengaru lentur akibat beban P dan M0, tentukan
besaran berikut. (a) tegangan lentur maksimum aA di
ujung A; (b) tegangan lentur maksimum aB di B; (c)
jarakdariA ke penampang bertegangan lenturmaksimum
x; dan (d) besar tegangan lentur maksimum amaks·
**5.7-6 Tinjau balok kantilever yang meruncing dengan
penampang lingkaran seperti terlihat dalam Gambar 5.24
dalam Subbab 5.7. (a) Dengan hanya meninjau pengaruh
lentur akibat beban P, tentukan rasio dJ!dA antara diam­
eter kedua ujung sedemikian hingga volume (dan juga
berat) balok adalah minimum. (Asumsikan bahwa tegang­
an lzin lentur adalah o;zin·) (b) Turunkan rumus untuk
volume minimum Vmin· (c) Carilah rasio antara volume
minimum Vmin dan volume balok prismatis (dB = dA).
BALOK BERTEGANGAN PENUH
Soal 5.7-7 sampai 5.7-10 berkaitan dengan balok ber­
tegangan penuh dengan penampang persegi panjang.
Tinjaulah tegangan lentur yang diperoleh dari rumus
lentur saja dan abaikan berat balok.
5.7-7 Sebuah balok kantilever AB yang mempunyai
penampang persegi panjang dengan lebar konstan dan
tinggi yang bervariasi hx mengalami beban terbagi rata
dengan intensitas q (lihat gambar). Bagaimanakah tinggi
hx harus bervariasi sebagai fungsi dari x (diukur dari
ujung bebas balok) agar balok tersebut menjadi
bertegangan penuh? (Nyatakan hx dalam tinggi hB di ujung
jepit balok tersebut.)
328 Bab 5 T
egangan Di Balok (T
opik Dasar)
q
1 1 1 1 1 1 1 1
X I
L
·I
DJ
-lb -
5.7-8 Sebuah balok kantilever AB yang mempunyai
penampang persegi panjang dengan lebar bervariasi bx
dan tinggi bervariasi hx mengalami beban terbagi rata
dengan intensitas q (lihat gambar). Jika lebar bervariasi
secara linier terhadap x menurut Persamaan bx = bJJC!L,
bagaimanakah hx sebagai fungsi dari x agar menjadi balok
bertegangan penuh? (Nyatakan h, dalam tinggi h8 di ujung
jepit balok )
q
I l l l l r riJ
A
X
L
5.7-9 Sebuah balok kantilever AB yang mempunyai
penampang persegi panjang dengan tinggi konstan h dan
lebar bervariasi bx mengalami beban terpusat P di ujung
bebas (lihat gambar). Bagaimanakah lebar bx harus
bervariasi sebagai fungsi dari x agar menjadi balok
bertegangan penuh? (Nyatakan bx dalam lebar b8 di ujung
jepit balok.)
�
_l_
I_ ____J
l
ba '
5.7-1 0 Sebuah balok sederhanaAB yang memikul beban
terpusat P (lihat gambar) mempunyai penampang persegi
panjang dengan lebar konstan b dan tinggi bervariasi hx.
Beban terpusat dapat bekerja di manapun pada bentang
balok. Bagaimanakah hx harus bervariasi sebagai fungsi
dari x (diukur dari titik tengah balok) agar berat balok
minimum? (Nyatakan hx sebagai fungsi dari h1 di titik
tengah balok.)
TEGANGAN GESER PADA BALOK PERSEGI
PANJANG
5.8-1 Tegangan geser r pada balok persegi panjang
dinyatakan dengan Persamaan (5-39):
r = �(� - Y�J
di mana V adalah gaya geser, I adalah momen inersia
penampang, h adalah tinggi balok, dan y1 adalah jarak
dari sumbu netral ke titik di mana tegangan geser sedang
dihitung (lihat Gambar 5-30). Dengan mengintegrasikan
persamaan tersebut di seluruh luas penampang, buktikan
bahwa resultan dari tegangan geser sama dengan gaya
geser V.
5.8-2 Hitunglah tegangan geser maksimum rmaks dan
tegangan lentur maksimum <Jmaks pada balok kayu yang
ditumpu sederhana (lihat gambar) yang memikul beban
terbagi rata 25 kN/m (termasuk berat balok) jika
panjangnya adalah 1,75 m dan penampangnya adalah
persegi panjang dengan lebar 200 mm dan tinggi 250
mm.
r 25kN/m
Jzsomm
1--1
200mm
1----1 .75 m---�
5.8-3 Dua balok kayu, masing-masing dengan penam­
pang bujursangkar (3,5 in. x 3,5 in. dimensi aktual) dilem
hingga membentuk balok solid dengan dimensi 3,5 in. x
7,0 in. (lihat gambar). Balok tersebut ditumpu sederhana
dengan bentang 6 ft. Berapa beban maksimum Pmaks yang
dapat bekerja di titik tengah jika tegangan geser izin di
bagian yang dilem adalah 200 psi? (Masukkan pengaruh
berat sendiri balok dengan menganggap berat kayu 0,02
lb/in3.)
5.8-4 Sebuah balok kantilever yang panjangnya L = 2
m memikul beban P = l O kN (lihat gambar). Balok
tersebut terbuat dari kayu dengan dimensi penampang
150 mm x 200 mm. Hitunglah tegangan geser akibat
beban P di titik yang terletak di 25 mm, 50 mm, 75 mm,
dan 1 00 mm dari muka atas balok. Dari hasil-hasil
tersebut, plotlah grafik yang menunjukkan distribusi
tegangan geser dari atas ke bawah balok.
}oomm
r---1
150mm
5.8-5 Sebuah balok sederhana yang panjangnya L = 16
in. dan dimensi penampangnya b = 0,5 in. dan h = 2 in.
(lihat gambar) memikul beban terbagi rata dengan
intensitas q = 200 lb/in., termasuk berat sendiri balok.
Hitunglah tegangan geser di balok (di penampang dengan
Mekanika Bahan 329
gaya geser maksimum) pada titikyang terletak di 114 in.,
112 in., 3/4 in., dan l in. dari permukaan atas balok. Dari
perhitungan ini, plotlah grafik yang menunjukkan
distribusi tegangan geser dari atas ke bawah balok.
5.8-6 Sebuah balok dengan penampang persegi panjang
(lebar b dan tinggi h) memikul beban terdistribusi terbagi
rata di sepanjang bentang L. Tegangan izin lentur dan
geser masing-masing adalah <Jizin dan rizin· (a) Jika balok
ini ditumpu sederhana, berapa panjang bentang L0
maksimum agar tegangan geser, bukan tegangan lentur,
menentukan beban izin? (b) Jika balok tersebut adalah
kantilever, berapa panjang L0 maksimum agar tegangan
geser menentukan beban izin, bukannya tegangan lentur?
5.8-7 Sebuah balok kayu lapis yang terletak pada
tumpuan sederhana terdiri atas tiga papan 2 in. x 4 in.
(dimensi aktual) yang membentuk balok solid 4 in. x 6
in., seperti terlihat dalam gambar. Tegangan geser izin di
bagian lem adalah 50 psi dan tegangan lentur izin di
kayu adalah 1600 psi. Jika balok tersebut mempunyai
panjang 6 ft, berapa beban izin P yang bekerja di titik
tengah balok? (Abaikan berat sendiri balok.)
5.8-8 Dalam Contoh 5-8 Subbab 5.6, kita telah meng­
analisis tiang kayu vertikal B yang memikul tanggul kecil
(lihat Gambar 5-22). Hanya tegangan lentur yang ditinjau
dalam contoh tersebut. Dengan demikian, sekarang kita
meninjau tegangan geser. Jika tegangan geser izin di tiang
adalah rizin = 0,9 MPa, berapa dimensi perlu b tiang
tersebut?
5.8-9 Sebuah balok kayu AB yang terletak pada
tumpuan sederhana dengan panjang bentang sama dengan
9 ft mengalami beban terbagi rata dengan intensitas 120
lb/ft yang bekerja di seluruh panjang balok dan beban
terpusat sebesar 8800 lb yang bekerja di titik 3 ft dari
tumpuan kanan (lihat gambar). Tegangan izin lentur dan
geser masing-masing adalah 2500 psi dan 150 psi. (a)
330 Bab 5 T
egangan Di Balok (Topik Dasar)
;);;n label dalam Lampiran F, pilihlah balok yang paling
:-
...:lg:::.n yang dapat memikul beban (abaikan berat sendiri
:-,.j01i: 1. (b) Dengan memperhitungkan berat balok (berat
. =:us = 35 lb/ft3), selidiki apakah balok yang telah dipilih
:=rsebut memadai, atau jika tidak pilihlah balok barn.
8800 lb 3 ft
9 ft I
------,
5.8-10 Sebuah balok plastik lapis dengan penampang
bujursangkar terdiri atas tiga plat yang dilem, masing­
masing dengan penampang 10 mm x 30 mm (lihat
gambar). Balok tersebut mempunyai berat total 3.2 N
dan ditumpu oleh bentang dengan panjang L =
320 mm.
Dengan meninjau berat balok, hitunglah beban izin
maksimum P yang dapat diletakkan di titik tengah jika:
(a) tegangan geser izin di bagian Iem adalah 0,3 MPa,
dan (b) tegangan Ientur izin di plastik adalah 8 MPa.
5.8-1 1 Sebuah balok kayu yang terletak di atas tumpuan
sederhana dengan penampang persegi panjang dan
bentang 4 ft memikul beban terpusat P di titik tengah
selain berat sendiri (lihat gambar). Penampangnya
mempunyai dimensi nominal 6 in. x 10 in. (lihat Lampiran
F untuk dimensi aktual dan berat balok). Hitunglah harga
izin maksimum untuk beban P jika: (a) tegangan lentur
izin adalah 1250 psi. dan (b) tegangan geser izin adalah
140 psi.
_L
£
�
=> �
--_.._,.............._..............,......
A
I
r- -2 ft-- t- 2 ft --1
*5.8-1 2 Sebuah balok kayu ABC dengan tumpuan
sederhana di A dan B dan overstek BC mempunyai tinggi
h = 280 mm (lihat gambar). Panjang bentang utama balok
adalah L = 3,6 m dan panjang overstek adalah L/3 = 1 ,2
m. Balok tersebut memikul beban terpusat 3P = 15 kN
di titik tengah bentang utama dan beban P = 5 kN di
ujung bebas overstek. Kayu tersebut mempunyai berat
jenis y = 5,5 kN/m3. (a) Tentukan lebar perlu b ber­
dasarkan atas tegangan lentur izin 8,2 MPa. (b) Tentukan
lebar perlu b berdasarkan atas tegangan geser izin sebesar
0,7 MPa.
L
2
L
]h-
280 mm
b �
**5.8-13 Sebuah plaiform kayu bujursangkar, 8 ft X 8 ft,
terletak di atas dinding bata yang tebalnya 6 in. (lihat
gambar). Dek dari plaiform ini terdiri atas papan-papan
dengan tebal nominal 2 in. (tebal aktual 1 ,5 in.; lihat
Lampiran F) yang terletak di atas dua balok yang
panjangnya 8 ft. Balok tersebut mempunyai dimensi
nominal 4 in. x 6 in. (dimensi aktual 3,5 in. x 5,5 in.)
dan ditumpu di ujung-ujungnya oleh dinding. Struktur
tersebut didesain untuk memikul beban terdistribusi
terbagi rata w (lb/ft2) yang bekerja di seluruh permukaan
atas dari plaiform. Tegangan izin lentur untuk papan dan
balok adalah 2400 psi dan tegangan geser izinnya adalah
100 psi. Dalam menganalisis papan, diasumsikan bahwa
reaksi terdistribusi terbagi rata di permukaan atas balok,
dan dalam menganalisis balok. diasumsikan bahwa
reaksinya terdistribusi terbagi rata di luas bidang kontak­
nya dengan dinding. Berat papan dan balok diperhitung­
kan dalam analisis, dan berat jenis kayu diambil y= 30
lb/ft3. (a) Tentukan beban izin w1, w
2
, w3, dan w
4
(lb/ft
2
)
berdasarkan atas parameter masing-masing sebagai
berikut: (1) tegangan lentur di papan, (2) tegangan geser
di papan, (3) tegangan lentur di balok, dan (4) tegangan
geser di balok. (b) Mana di antara harga-harga tersebut
yang menjadi beban izin w
izin
di plaiform? (Petunjuk:
Hati-hati dalam menentukan diagram pembebanan,
khususnya perhatikan bahwa reaksi adalah terdistribusi,
bukan terpusat. Juga, perhatikan bahwa tegangan geser
maksimum terjadi di muka dalam dari tumpuan.)
TEGANGAN GESER Dl BALOK LINGKARAN
5.9-1 Sebuah tiang kayu dengan penampang lingkaran
solid (d = diameter) mengalami gaya horizontal P = 500
lb (lihat gambar). Panjang tiang adalah L = 6 ft, dan
tegangan izin di kayu adalah 2100 psi untuk lentur dan
150 psi untuk geser. Tentukan diameter perlu minimum
untuk tiang berdasarkan atas: (a) tegangan lentur izin,
dan (b) tegangan geser izin.
p -.
-I
d
L
l
5.9-2 Sebuah jembatan kayu sederhana di pedalaman
terdiri atas dua balok sejajar dengan papan-papan yang
tegak 1urus padanya (lihat gambar). Balok tersebut adalah
Douglas-fir dengan diameter rata-rata 300 mm. Sebuah
truk bergerak perlahan-lahan melintasijembatan tersebut,
yang bentangnya 2,5 m. Asumsikan bahwa berat truk
terdistribusi rata antara kedua balok. Karenajarak antara
as pada truk tersebut ada1ah 2,5 m, maka hanya satu as
roda yang ada di jembatan setiap saat. Jadi, beban roda
di satu balok akan ekivalen dengan beban terpusat W
yang bekerja di sembarang posisi sepanjang bentang.
Selain itu, berat satu balok dan papan-papan yang
dipikulnya ekivalen dengan beban terbagi rata 850 N/m
yang bekerja di balok. Tentukan beban roda izin
maksimum W berdasarkan atas: (a) tegangan lentur izin
7,5 MPa, dan (b) tegangan geser izin sebesar 0,8 MPa.
, I W 850 N/m
rx-. /
1------- 2,5 m
*5.9-3 Sebuah papan tanda dipikul o1eh dua tiang alu­
minium dengan penampang lingkaran berlubang, seperti
terlihat dalam gambar. Tiang didesain untuk menahan
tekanan angin sebesar 75 lb/ft
2
terhadap seluruh luas
Mekanika Bahan 331
papan tanda. Dimensi tiang dan papan tanda adalah h1 =
20 ft, h2 = 5 ft, dan b = 10 ft. Untuk mencegah tekuk di
dinding tabung tiang, tebal t ditetapkan sebagai 1110 dari
diameter luar d. (a) Tentukan diameter perlu minimum
tiang berdasarkan atas tegangan lentur izin sebesar 7500
psi pada aluminium. (b) Tentukan diameter perlu mini­
mum berdasarkan atas tegangan geser izin sebesar 2000
psi.
Beban
angin
{er
t=d/10
*5.9-4 Pecahkan soal sebelum ini apabila dimensinya
adalah h1 = 6,0 m, h2 = 1,5 m, b = 3,0 m, dan t = d/10.
Tekanan angin desain adalah 3,6 kPa, dan tekanan izin
di aluminium adalah 50 MPa untuk lentur dan 14 MPa
untuk geser.
TEGANGAN GESER Dl BALOK DENGAN FLENS
5.1 0-1 sampai 5.1 0-6 Sebuah ba1ok sayap lebar (lihat
gambar) yang mempunyai penampang sebagaimana
diuraikan di bawah ini menga1ami gaya geser V. Dengan
menggunakan dimensi penampang, hitunglah momen
inersia dan selanjutnya tentukan besaran-besaran berikut:
(a) Tegangan geser maksimum rmaks di badan. (b)
Tegangan geser minimum rmin di badan. (c) Tegangan
geser rata-rata rrata-rata (yang diperoleh dengan membagi
gaya geser dengan luas badan) dan rasio rmak/Trata-rata·
(d) Gaya geser Vbactan yang dipikul di badan dan rasio
Vbactan/V. (Catatan: Abaikan fillets di pertemuan badan
dan sayap dalam menghitung besaran penampang.)
y
z
l---L-J
TT
ll
332 Bab 5 T
egangan Di Balok (Topik Dasar)
5.1 0..1 Dimensi penampang: b = 8 in., t = 0,4 in., h =
: : m.. h1 = 10,7 in., dan V = 20.000 lb.
5.10..2 Dimensi penampang: b = 1 60 mm, t = 8 mm, h
= 3(X) mm, h1 = 274 mm, dan V = 50 kN.
5.1 D-3 Profil sayap lebar, W 8 x 28 (lihat Tabel E- 1 ,
Lampiran E); V = 10 k.
5.1 0-4 Dimensi penampang: b = 220 mm, t = 12 mm.
h = 600 mm, h 1 = 570 mm, dan V = 200 kN.
5.1 0-5 Profil sayap lebar, W 24 x 94 (lihat Tabel E- 1 .
Lampiran E), V = 5 0 k.
5.10-6 Dimensi penampang: b = 1 20 mm, t = 7 mm, h
= 350 mm, h1 = 330 mm, dan V = 60 kN.
5.10-7 Balok kantilever AB yang panjangnya L = 6 ft
memikul beban terbagi rata dengan intensitas q yang
meliputi berat balok (lihat gambar). Balok ini adalah baja
profil sayap lebar W 10 x 30 (lihat Tabel E-1 , Lampiran
E). Hitung1ah beban izin maksimum q berdasarkan atas:
(a) tegangan lentur izin Oizin = 1 8 ksi, dan (b) tegangan
geser izin rizin = 9 ksi. (Catatan: Dapatkan momen inersia
dan modulus penampang balok dari Tabel E-1 .)
5.1 0-8 Girder jembatan AB pada bentang sederhana
yang panjangnya L = 1 2 m memiku1 beban terbagi rata
dengan intensitas q termasuk berat girder (lihat gambar).
Girder tersebut terdiri atas tiga plat yang dilas untuk
membentuk penampang seperti tergambar. Tentukan
beban izin maksimum q berdasarkan atas: (a) tegangan
lentur izin <Jizin = 90 MPa, dan (b) tegangan geser izin
rizin = 50 MPa.
1 800 mm
l,
1---11 mm
450 mm
5.1 0-9 Sebuah balok sederhana dengan overstek me­
mikul beban terbagi rata dengan intensitas q = 1 200 lb/
ft dan beban terpusat P = 3000 lb (lihat gambar).
Tegangan izin lentur dan geser masing-masing adalah 1 8
ksi dan 1 1 ksi. Pilhlah dari Tabel E-2, Lampiran E, balok
I (profil S) yang paling ringan yang dapat memikul beban
tersebut. (Catatan: Beban terbagi rata q termasuk berat
sendiri balok. Petunjuk: Pilih balok berdasarkan atas
tegangan lentur dan selanjutnya hitung tegangan geser
maksimum. Jika balok tersebut kelebihan tegangan geser,
maka pilih balok yang lebih besar dan ulangi.)
5.1 Q-1 0 Sebuah balok baja kotak berlubang dengan
penampang persegi panjang ditunjukkan dalam gambar.
Tentukan gaya geser izin V yang dapat bekeija di balok
jika tegangan geser izin adalah 40 MPa.
10
20
! mm
�
11  fl
! O mm 450 mm
5.10-11 Sebuah balok baja sayap 1ebar (W 16 x 77)
diperkuat dengan dua plat penguat, masing-masing
lebarnya 6 in. dan tebalnya 1 /2 in. (lihat gambar).
Tentukan gaya geser izin maksimum Vyang dapat bekeija
di balok ini jika tegangan geser izin adalah 6000 psi.
/ W 16 x 77
5.10-12 Balok T yang tergambar mempunyai dimensi
penampang sebagai berikut: b = 220 mm, t = 1 5 mm, h
= 300 mm, dan h1 = 275 mm. Balok ini mengalami gaya
geser V = 70 kN. Tentukan tegangan geser maksimum
rmaks di badan balok.
y
z-.-----I'IC
b
5.10-13 Hitunglah tegangan geser maksimum rmaks di
badan balok T yang terlihat dalam gambar jika b = 10
in., t = 0,6 in., h = 8 in., h1 = 7 in., dan gaya geser V =
6000 lb.
*5.1 0-14 Sebuah balok I tak simetris (lihat gambar)
mempunyai dimensi penampang sebagai berikut: b1 =
150 mm, b2 = 250 mm, t = 10 mm, h = 320 mm, dan t1
= 20 mm. Balok ini mengalami gaya geser V = 70 kN.
(a) Hitunglah tegangan geser maksimum rmaks dan mini­
mum rmin di badan balok. (b) Hitunglah tegangan geser
rata-rata rrata-rata di badan dengan membagi V dengan
luas badan dan hitunglah rasio rmak/rrata-rata· (c) Hitunglah
gaya geser vbadan yang dipikul badan dan hitunglah rasio
Vbacta/V.
BALOK TERSUSUN
5.1 1-1 Sebuah balok kayu berbentuk I pre
f
abricated
yang berfungsi sebagai balok lantai mempunyai
penampang seperti terlihat dalam gambar. Beban izin
geser untuk balok berlem antara badan dan sayap adalah
70 lb/in. dalam arah longitudinal. Tentukan gaya geser
izin maksimum Vmaks untuk balok ini.
y
_
1<>,75 in.
::.
z 0
l··
0,625 in.
I· 5 in.
•l lo,75 in.
Mekanika Bahan 333
5.1 1 -2 Sebuah girder baja yang dilas dengan dimensi
penampang seperti terlihat dalam gambar terdiri atas dua
plat sayap 250 mm x 25 mm dan plat badan 600 mm x
1 5 mm. Plat dilas satu sama lain dengan empat !as sudut
secara kontinu di sepanjang girder. Setiap !as sudut
mempunyai beban izin geser sebesar 500 kN/m. Hitunglah
gaya geser izin maksimum Vmaks untuk girder ini.
t e�
z -
-
-
'
·
. OO mm
, 0
--.--
.250 mm.I 1 25 mm
5.1 1 -3 Sebuah girder baja yang dilas dengan dimensi
penampang seperti terlihat dalam gambar terdiri atas dua
plat sayap 1 6 in. x 1 in. dan plat badan 60 in. x 3/8 in.
Plat dilas satu sama lain dengan empat !as sudut secara
kontinu di sepanjang girder. Jika girder ini mengalami
gaya geser 250 kips, berapa gaya F (per in. panjang !as)
harus ditahan oleh setiap !as?
y
_E in.
��
z----1
3 .
sm.
0 60 in.
5.11 -4 Sebuah balok boks dari kayu terdiri atas dua
papan 250 mm x 40 mm dan dua papan 250 mm x 25
mm (lihat gambar). Papan tersebut dipaku dengan jarak
longitudinal s = 100 mm. Jika setiap paku mempunyai
gaya geser izin F = 750 N, berapa gaya geser izin
maksimum Vmaks?
I. 250 mm
334 Bao 5 T
egangan Di Balok (Topik Dasar)
5.11-5 Sebuah balok boks yang terdiri atas empat papan
u:•u Jengan ukuran 6 in. x 1 in. (dimensi aktual)
.iltunjukkan dalam gambar. Papan disambung satu sama
lain oleh sekrup dengan beban izin geser F = 210 lb per
sekrup. Hitunglahjarak longitudinal izin maksimum smaks
antara sekrup jika gaya geser V adalah 1150 lb.
5.11 -6 Dua boks kayu (balok A dan B) mempunyai
dimensi luar sama (200 mm x 360 mm), dan tebal sama
(t = 20 mm), seperti terlihat dalam gambar. Kedua balok
disambung dengan paku, dengan beban geser izin 250 N.
Balok-balok tersebut didesain terhadap gaya geser V =
3,2 kN. (a) Berapakah jarak longitudinal maksimum sA
untuk paku di balok A? (b) Berapa jarak longitudinal
maksimum s8 sumbu untuk paku di balok B? (c) Balok
manakah yang efisien dalam menahan gaya geser?
z
t
2
=_
O mm
®
k---
y
1
I
0
360
mm
l
z
I
2
®
=
O mm
y
[!.
0
�·
T
360
mm
1
5.11 -7 Balok T yang terlihat dalam gambar difabrikasi
dengan cara mengelas dua plat baja. Jika beban izin
masing-masing !as adalah 2,4 k/in. dalam arah longitu­
dinal, berapa gaya geser izin maksimum V?
IY
0.5 in.
-�,
_r
z �---+!il c
5.1 1 -8 Sebuah balok berpenampang T dibentuk dengan
memaku dua papan yang mempunyai dimensi seperti
tergambar. Jika gaya geser total V yang bekerja di
penampang adalah 872 N dan setiap paku dapat memikul
gaya geser 400 N, berapa jarak paku izin maksimum s?
5.1 1 -9 Sebuah balok baja terdiri atas profil sayap lebar
W 16 x 77 dan dua plat pengaku 10 in. x 1/2 in. (lihat
gambar). Beban izin geser di setiap baut adalah 2,8 kips.
Berapajarak baut s yang diperlukan dalam arah longitu­
dinal jika gaya geser V =
40 kips?
y
5.1 1 -1 0 Sebuah balok tersusun terdiri atas profil sayap
lebar W 12 x 50 dan dua profil kanal C 12 x 30 (lihat
gambar). Balok dan kanal disambung satu sama lain oleh
baut yang betjarak 7,5 in. dalam arah longitudinal. Berapa
gaya geser izin V jika setiap baut dapat memikul geser
2,4 kips?
y C 1 2 X 30
C 12 X 30
BALOK DENGAN BEBAN AKSIAL
Dalam memecahkan soal-soal untuk Subbab 5. 12,
asumsikan bahwa momen lentur tidak dipengaruhi oleh
adanya defleksi lateral.
5.1 2-1 Pada saat mengebor, kita memberikan gaya P =
25 lb di pegangan bor (lihat gambar). Diameter crank
arm adalah d = 7/1 6 in. dan o
ff
set lateralnya adalah b =
4.875 in. Tentukan tegangan tarik dan tegangan
maksimum a, dan a
c
di bagian crank.
5.1 2-2 Sebuah tiang aluminium untuk penerang jalan
mempunyai berat 2300 N dan memikul lengan yang
beratnya 330 N (lihat gambar). Pusat berat lengan adalah
1,2 m dari sumbu tiang. Diameter luar tiang (di dasar)
adalah 225 mm dan tebalnya adalah 18 mm. Tentukan
tegangan tarik dan tekan maksimum a, dan a
c
di tiang
(di dasamya) akibat semua beban mati.
1 .2 m
l w2 = 2300 N
1 8 mm
�
225 mm
5.1 2-3 Sebuah rangka kaku ABC dibentuk dengan
mengelas dua pipa baja di B (lihat gambar). Setiap pipa
mempunyai luas penampang A = 16,1 in.2, momen inersia
I = 212 in.4, dan diameter luar d = 10,75 in. Carilah
tegangan tarik dan tekan maksimum a, dan ac
di rangka
akibat beban P = 3200 lb jika L = 6,0 ft dan H = 4,5 ft.
B
A
I. )I I(
L .I
L
5.1 2-4 Sebuah batang berbentuk busur lingkaran ABC
dengan radius r = 300 mm dibebani gaya P = 1,6 kN
(lihat gambar). Penampang batang adalah persegi panjang
Mekanika Bahan 335
dengan tinggi h dan tebal t. Jika tegangan tarik izin di
batang adalah 80 MPa dan tinggi h = 30 mm, berapa
tebal perlu minimum tmin?
pt(
5.1 2-5 Sebuah pohon palem yang terletak miring dengan
sudut sekitar 60° mempunyai berat I000 lb (lihat gambar).
Berat pohon dapat diuraikan menjadi dua gaya resultan,
yaitu gaya P1 = 900 lb yang bekerja di titik 12 ft dari
dasar, dan gaya P2 = 100 lb yang bekerja di puncak
pohon yang panjangnya 30 ft. Diameter di dasar pohon
kira-kira 14 in. Hitunglah tegangan tarik dan tekan
maksimum a, dan ac
di dasar pohon akibat beratnya.
5.1 2-6 Sebuah tiang vertikal dijepit di dasar dan ditarik
di puncaknya oleh kabel yang mengalami gaya tarik T
(lihat gambar). Kabel ini terpasang di permukaan di luar
tiang dan membentuk sudut a = 28° terhadap vertikal.
Tiang ini mempunyai panjang L = 2,0 m dan penampang
lingkaran berlubang dengan diameter luar d2 = 250 mm
dan diameter dalam d1 = 200 mm. Tentukan gaya tarik
izin Tizin di kabel jika tegangan tekan izin di tiang alu­
minium adalah 80 MPa.
T-
1
T
. ,
336 Bab 5 T
egangan Di Balok (T
opik Dasar)
5.1 2·7 Karena penurunan (settlement) pondasi, sebuah
:J:lC'Ilara lingkaran menjadi miring dengan sudut a terhadap
·. �rukal (lihat gambar). Inti struktural menara adalah
srlinder lingkaran dengan tinggi h, diameter luar d2, dan
diameter dalam d1. Untuk memudahkan analisis, asumsi­
kan bahwa berat menara terdistribusi terbagi rata di
seluruh tingginya. Turunkan rumus sudut izin maksimum
a jika diharapkan tidak ada tegangan tarik di menara.
5.1 2·8 Sebuah batang baja dengan penampang lingkaran
solid mengalami gaya tarik aksial T= 26 kN dan momen
lentur M = 2,7 kN.m (lihat gambar). Berdasarkan atas
tegangan tarik izin sebesar 125 MPa, tentukan diameter
perlu dbatang tersebut. (Abaikan berat batang itu sendiri.)
5.1 2-9 Sebuah cerobong bata silinder dengan tinggi H
mempunyai berat w = 825 lb/ft tinggi (lihat gambar).
Diameter dalam dan luar masing-masing adalah d1 = 3 ft
dan d2 = 4 ft. Tekanan angin terhadap sisi cerobong adalah
p = 10 lb/ft2 bidang proyeksi. Tentukan tinggi maksimum
H jika dikehendaki tidak ada tarik di cerobong bata ini.
5.12-10 Sebuah dinding beton polos (tanpa tulangan
baja) terletak pada pondasi yang memadai dan berfungsi
sebagai tanggul kecil (lihat gambar). Tinggi dinding
adalah h = 2 m dan tebal dinding adalah t = 0,3 m. (a)
Tentukan tegangan tarik dan tekan maksimum 0"
1 dan O"c
di dasar dinding apabila muka air mencapai puncak (d =
h). Asumsikan beton polos mempunyai berat jenis Ye =
23 kN/m3. (b) Tentukan tinggi muka air izin maksimum
dmaks jika dikehendaki tidak ada tarik di beton tersebut.
14
5.1 2-1 1 Sebuahflying buttress menyalurkan beban P =
5400 lb, yang bekerja pada sudut 60° terhadap horizon­
tal, ke puncak kolom vertikal AB (lihat gambar). Kolom
vertikal mempunyai tinggi h = 16 ft dan penampang
persegi panjang dengan tebal t = 5 ft dan lebar b = 3 ft
(tegak lurus bidang gambar). Batu yang digunakan untuk
konstruksi ini mempunyai berat y = 165 lb/ft3. Berapa
berat W yang diperlukan untuk bagianpedestal dan patung
di atas kolom vertikal (yaitu, di atas potongan A) agar
tidak terjadi tegangan tarik di kolom vertikal?
*5.1 2-12 Sebuah batang lingkaran solid AB dengan di­
ameter d = 125 mm disendi di tumpuan B dan terletak
pada permukaan vertikal ha!us di ujung A (lihat gambar).
Batang tersebut mempunyai panjang L = 2 m dan terbuat
dari baja (beratjenis r= 77,0 kN!m Jika sudut inklinasi
adalah a = 75°, berapa tegangan tekan maksimum O"
maks
di batang tersebut? (Petunjuk: Tentukan tegangan tekan
di potongan melintang yang terletak pada jarak x, yang
diukur di sepanjang sumbu batang, dari tumpuan B. Lalu,
ambil turunan terhadap x, dan tentukan lokasi penampang
yang mempunyai tegangan maksimum.)
;
BEBAN AKSIAL EKSENTRIS
5.1 2-1 3 Dua kabel, masing-masing memikul gaya tarik
P = 1200 lb, dibaut ke blok baja (lihat gambar). Blok
tersebut mempunyai tcbal t = 1 in. dan lebar b = 3 in. (a)
Jika diameter d kabel adalah 0,25 in., berapa tarik
maksimum dan tegangan tekan a,dan a, di blok tersebut?
(b) Jika diameter kabel diperbesar (tanpa merubah gaya
P), apa yang terjadi pada tegangan tarik dan tekan
· maksimum?
b�
p , I p
..___
�
____.
IlL
'
, (
I
5.1 2-1 4 Sebuah tiang lingkaran dan tiang perscgi
panjang ditekan oleh beban-bcban yang menghasilkan
gaya resultan P yang bekerja di tepi penampang (lihat
gambar). Diameter tiang lingkaran dan tinggi tiang persegi
panjang sama. (a) Untuk lebar b drui tiang persegi panjang
berapakah tegangan tarik maksimum akan sama di kedua
tiang? (b) Pada kondisi yang disebutkan dalam bagian
(a). tiang manakah yang mengalami tegangan tekan lebih
besar?
p
5.1 2-1 5 Sebuah batang AB memikul beban P yang
bekerja di pusat berat penampang ujung (lihat gambar).
Mekanika Bahan 337
Di daerah tengah dari batang, luas penampangnya
dikurangi dengan membuang setengah dari batang. (a)
Jika penampang ujung adalah bujursangkar dengan sisi­
sisi h, berapa tegangan tarik maksimum dan tekan
maksimum a, dan a,, di potongan mn di dalam daerah
yang luasnya berkurang·? (b) Jika penampang ujung adalah
l ingkaran dengan diameter b, berapakah tegangan
maksimum a, dan a,·>
"
�----- �
-- �- --1 ..
I
1 1
[ h
L
·--
,,
,,
2 1 a 1
Ill 11
lz
J
--- ,
si �,
I,
!
lp
1
-- -
,
(b)
5.1 2-1 6 Sebuah kolom pendek dari profil sayap lebar
mengalami beban tekan yang menyebabkan gaya resultan
P = 60 kN yang bekerja di titik tengah satu sayap (lihat
gambar). (a) Tentukan tegangan tarik maksimum amuk'
dan tekan maksimum amin di kolom tersebut. (b) Tentukan
lokasi sumbu netral akibal kondisi beban ini.
I'
/
--.----
rt1 1 1l
1
1200
mm
i
1 2 111111 .1
iI
_I__ ___
�1 60 1 1111�
5.1 2-1 7 Sebuah kolom pendek dari profil sayap lebar
W I0 x 30 mengalami beban tekan yang menyebabkan
gaya resultan P = 1 2 k yang bekerja di titik tengah satu
sayap (lihat gambar). (a) Tentukan tegangan tarik
maksimum amak> dan tekan maksimum amin di kolom
tersebut. (b) Tentukan lokasi sumbu netral akibat kondisi
beban ini.
3J8 Bab 5 T
egangan Di Balok (Topik Dasar
)
P = l�k /Y
r)
.I
E�
5.1 2-1 8 Balok T yang terlihat dalam gambar mengalami
gaya tekan P yang garis kerjanya melalui titik tengah
flens. (a) Tentukan persamaan sumbu netral kondisi
pembebanan ini. (b) Jika tegangan izin tarik dan tekan
masing-masing adalah 100 MPa dan 60 MPa, carilah
beban izin maksimum Pmale<·
l .t n
un
�--re
tl mm
5.1 2-1 9 Sebuah kolom pendek dari profil C 8 X 1 1,5
mengalami gaya tekan aksia1 P yang garis kerjanya
melalui titik tengah badan (lihat gambar). (a) Tentukan
persamaan untuk sumbu netral akibat kondisi pembebanan
ini. (b) Jika tegangan izin tarik dan tekan adalah 10.000
psi dan 8000 psi, carilah beban izin maksimum Pmaks'
I ·'· C 8 X 1 1,5
I
r
� �
c
INTI DARI PENAMPANG
5.1 2-20 Sebuah penampang lingkaran berlubang dengan
radius dalam r1 dan radius luar r2 seperti terlihat dalam
gambar. (a) Tentukan radius r
e
untuk inti penampang. (b)
5.1 2-21 Tentukan inti untuk profil baja struktural
W 10 x 30 (lihat gambar).
c
5.1 2-22 Tentukan inti untuk profil baja struktural
W 1 2 x 87 (lihat gambar).
5.1 2-23 Penampang bujursangkar berlubang simetris
ganda yang terlihat dalam gambar mempunyai dimensi
luar b dan diameter dalam c. Tentukan inti penampang
irli.
'
5 . 1 2-24 Penampang cerobong bujursangkar (b =
panjang setiap sisi) dengan lubang lingkaran yang her­
diameter d ditunjukkan dalam gambar. Berapa diameter
terkecil d (dinyatakan dalam b) agar intinya terletak di
dalam lubang?
/
� c b
Dari hasil bagian (a), dapatkan radius re untuk penampang KONSENTRASl TEGANGAN
lingkaran solid. (c) Dari hasil bagian (a), dapatkan radius
r
e
untuk inti penampang dengan harga r1 mendekati r2 Soal-soal untuk Subbab 5. 1 3 dipecahkan dengan
dan penampangnya menjadi cincin lingkaran tipis. meninjau faktor konsentrasi tegangan.
5.1 3-1 Balok yang terlihat dalam gambar mengalami
momen lentur M = 2100 lb-in. Setiap balok mempunyai
penampang persegi panjang dengan tinggi h = I ,5 in.
dan lebar b = 0.375 in. (tegak lurus bidang gambar). (a)
Untuk balok dengan lubang di tengah-tinggi, tentukan
tegangan maksimum untuk diameter lubang d = 0,25;
0,50; 0,75, dan 1 ,00 in. (b) Untuk balok dengan dua
takikan identik (di dalam tinggi h1 = 1,25 in.) tentukan
tegangan maksimum untuk jari-jari takikan R = 0,05,
0, 10, 0,15, dan 0,20 in.
(al
(b)
5.1 3-2 Balok yang terlihat dalam gambar mengalami
momen lentur M = 250 N.m. Setiap b�lok mempunyai
penampang persegi panjang dengan tinggi h = 44 mm
dan lebar b = 10 mm (tegak lurus bidang gambar). (a)
Untuk balok dengan lubang di tengah-tinggi, tentukan
tegangan maksimum untuk diameter lubang d = I 0, 16,
22, dan 28 mm. (b) Untuk balok dengan dua takikan
Mekanika Bahan 339
identik (di dalam tinggi h1 = 40 mm.) tentukan tegangan
maksimum untuk jari-jari takikan R = 2, 4, 6, dan 8 mm.
5.1 3-3 Sebuah balok persegi panjang dengan penam­
pang setengah lingkaran, seperti terlihat pacta bagian (a)
dalam gambar, mempunyai dimensi h = 0,88 in. dan h1
= 0,80 in. Tegangan lentur izin maksimum di balok metal
adalah O'maks = 60 ksi, dan momen lentur adalah M = 600
lb-in. Tentukan ebar izin minimum bmin balok ini.
5.1 3-4 Balok persegi panjang dengan takikan setengah
lingkaran, seperti terlihat pada bagian (b) dalam gambar,
mempunyai dimensi h = 1 20 mm dan h1 = 100 mm.
Tegangan lentur izin maksimum di balok plastik adalah
O'maks = 6 MPa, dan momen lentur adalah M = 150 N.m.
Tentukan lebar izin minimum bmin balok ini.
5.1 3-5 Sebuah balok persegi panjang dengan takikan
dan lubang (lihat gambar) mempunyai dimensi h = 5,5
in., h1 = 5 in., dan lebar b = 1,6 in. Balok ini mengalami
momen lentur M = 130 k-in., dan tegangan lentur izin di
bahan (baja) adalah amaks = 42.000 psi. (a) Berapa ra­
dius terkecil Rmin yang harus digunakan di takikan? (b)
Berapa diameter dmaks dari lubang terbesar perlu dibor di
tengah-tinggi balok?
6
-
6.2 1
TEGANGAN Dl BALOK
(TOPIK LANJUT)
PENGANTAR
Di dalam bab ini kita teruskan tinjauan kita tentang lentur di balok dengan
mempelajari beberapa topik khusus, termasuk analisis balok komposit
(yaitu balok dengan lebih dari satu bahan), balok dengan beban miring,
balok tak simetris, tegangan geser di balok berdinding tipis, pusat geser,
lentur elastoplastis, dan lentur nonlinier. Topik-topik ini didasarkan atas
topik dasar yang telah dibahas dalam Bab 5-seperti kelengkungan,
tegangan normal di balok (termasuk rumus lentur), dan tegangan geser di
balok. Selanjutnya, dalam Bab 9 dan 1 0, kita akan membahas dua topik
tambahan mengenai hal-hal penting di dalam desain balok-defleksi balok
dan balok statis tak tentu.
BALOK KOMPOSIT
Balok yang terdiri atas lebih dari satu bahan disebut balok komposit.
Contoh-contohnya adalah balok bimetalik (digunakan di termostat), pipa
yang dilapisi plastik, dan balok kayu dengan plat penguat baja (Gambar
6-l ). Banyak jenis lain dari balok komposit yang telah dikembangkan
beberapa tahun terakhir, terutama untuk menghemat bahan dan mengurangi
berat. Sebagai contoh, balok sandwich banyak digunakan di industri
penerbangan dan angkasa luar, di mana bobot yang ringan, kekuatan tinggi,
dan rigiditas merupakan syarat yang dikehendaki. Benda-benda yang di­
kenal sehari-hari seperti pintu, panel dinding, rak buku, dan kotak card­
board juga merupakan benda-benda yang dibuat dengan gaya sandwich.
Balok sandwich yang khas (Gambar 6-2) terdiri atas dua muka tipis dari
bahan berkekuatan relatif tinggi (seperti aluminium) yang dipisahkan oleh
sebuah inti tebal dari bahan berkekuatan relatif rendah. Karena bagian
muka mempunyai jarak terbesar dari sumbu netral (di mana tegangan lentur
terbesar), maka bagian tersebut berfungsi seperti flens pada balok I. Inti
berfungsi sebagai pengisi dan memberikan dukungan pada muka, serta
menstabilkannya terhadap kerut atau tekuk. Plastik atau foam ringan, se­
bagaimana juga honeycomb dan corrugation, sering digunakan pada inti.
(a)
(h)
(c)
Gambar 6-1 Contoh-contoh
balok komposit: (a) balok
bimetalik, (b) pipa baja yang
d1lapisi plastik, dan (c) balok
kayu yang diperkual pial baj�1
Gambar 6-2 Balok sand11 ich
dengan (a) inti plaslik, (b) inti
honeycomb, dan (c) inti
corrugated
Mekanika Bahan 341
• Regangan dan Tegangan
Regangan pacta balok komposit ditentukan dari aksioma dasar yang sama
dengan yang digunakan untuk mencJ.ri regangan di balok dengan satu
bahan, yaitu penampang harus tetap datar selama melentur. Aksioma ini
berlaku untuk lentur mumi, tidak bergantung pada sifat bahan (lihat Subbab
5.4). Dengan demikian, regangan longitudinal F
.x pacta balok komposit
akan bervariasi secara linier dari atas ke bawah balok, seperti dinyatakan
dalam Persamaan (5-4), yang ditulis ulang di sini
'
Ex
= -�
= - K
p
(6- l)
Di dalam persamaan ini, y adalah jarak dari sumbu netral, p adalah radius
kelengkungan, dan K adalah kelengkungan.
Dengan menggunakan distribusi regangan linier yang dinyatakan
dengan Persamaan (6-1 ), kita dapat menentukan regangan dan tegangan di
sembarang balok komposit. Untuk menunjukkan bagaimana hal ini
dilakukan, tinjau balok komposit yang terlihat dalam Gambar 6-3a dan 6-
3b. Balok ini terdiri atas dua bagian - dalam gambar tersebut diberi label
I dan 2 - yang secara aman dilekatkan sedemikian rupa sehingga dapat
berfungsi sebagai balok solid tunggal. Seperti pacta pembahasan balok
sebelum ini (Bab 5), kita asumsikan bahwa bidang X)' adalah bidang simetri
dan bahwa bidang xz adalah bidang netral balok. Namun, sumbu netral
(sumbu z) tidak melalui pusat ber<lt penampang apabila balok terbuat dari
dua bahan yang berbeda.
Jika balok dilenturkan dengan kelengkungan positif, maka regangan
£X akan bervariasi seperti terlihat dalam Gambar 6-3c, di mana EA adalah
regangan tekan di atas balok (dinyatakan dengan huruf A), E8 adalah
regangan tarik di bawah (dinyatakan dengan huruf B), dan Ec adalah
regangan di pemmkaan kontak (dinyatakan dengan huruf C). Tegangan
normal yang bekerja di penampang dapat diperoleh dari regangan dengan
menggunakan hubungan tegangan-regangan untuk kedua bahan. Kita
asumsikan bahwa kedua bahan berperilaku secara elastis linier sehingga
hukum Hooke untuk tegangan uniaksial berlaku. Dengan demikian,
tegangan di bahan diperoleh dengan mengalikan regangan dengan masing­
masing modulus elastisitas. Dengan menuliskan modulus elastisitas untuk
bahan I dan 2 masing-masing sebagai £1 dan £2, dan juga mengasumsikan
bahwa £2 > £1, maka kita peroleh diagram tegangan seperti terlihat dalam
Gambar 6-3d. Tegangan tekan di atas dan bawah balok adalah O'
A = E1 E
A
dan tegangan tarik di bawah adalah 0'8 = E2E8. Di permukaan kontak,
tegangan di kedua bahan berbeda karena masing-masing modulusnya
berbeda. Di bahan I tegangannya adalah 0'1 c = E 1 Ec dan di bahan 2
adalah 0'2c = E2Ec
(:1) 1nl ( I: I
3 ;l 2 Bab 6 T
egangan Di Balok (T
opik Lanjut)
Gambar 6-3 (a) Balok komposit
dengan dua bahan, (b) penampang
balok, (c) distribusi regangan Ex di
seluruh tinggi balok, dan (d)
distribusi tegangan CJ
, di balok
untuk kasus E, > £,
1'
A E.4 CJA = EIEA
�
"';t--
L-
8 Es
0B = E2EB
(b) (c) (d)
Dengan menggunakan hukum Hooke ctan Persamaan (6-1), kita ctapat
menyatakan tegangan normal pacta jarak y ctari sumbu netral ctalam
kelengkungan:
(6-2a,b)
cti mana <Jx1 actalah tegangan cti bahan 1 ctan <Jt2actalah tegangan cti bahan
2. Dengan bantuan persamaan ini, kita ctapat menentukan lokasi sumbu
netral ctan memperoleh hubungan momen-kelengkungan.
• Sumbu Netral
Posisi sumbu netral ctiperoleh ctari konctisi bahwa gaya aksial resultan cti
penampang actalah nol (lihat Subbab 5.5); ctengan ctemikian,
iax1dA + J2ax2dA = 0
cti mana ctipahami bahwa integral pertama ctievaluasi pacta seluruh luas
penampang bahan 1 dan integral kectua ctievaluasi pacta seluruh luas
penampang bahan 2. Dengan mengganti ax1 ctan ax2 cti ctalam persamaan
sebelum ini ctengan rumusnya masing-masing ctari Persamaan (6-2a) ctan
(6-2b), kita peroleh
-iEl/()idA- LE2/()idA = 0
Karena konstan cti setiap penampang, maka kelengkungan tictak masuk ke
ctalam integrasi ctan ctapat dihilangkan ctari persamaan cti atas; jacti,
(6-3)
Integral ctalam persamaan ini menyatakan momen pertama untuk kedua
bagian luas penampang terhactap sumbu netral. (Seanctainya acta lebih ctari
.-/t-
.
0 f
1
II
T
,
I
Gambar 6-4 Penampang simetri
ganda
Mekanika Bahan 343
dua bahan - suatu kondisi yang jarang terjadi - maka dibutuhkan tambahan­
tambahan suku dalam persamaan ini.)
Persamaan (6-3) adalah bentuk umum dari persamaan analog untuk
balok dengan satu bahan (Persamaan 5-8). Detail mengenai prosedur untuk
menentukan lokasi sumbu netral dengan bantuan Persamaan (6-3)
digambarkan dalam c�mtoh 6-1 .
Jika penampang suatu balok adalah simetris ganda, seperti dalam
kasus balok kayu dengan plat penguat baja di atas dan bawah (Gambar 6-
4), maka sumbu netral terletak di tengah-tinggi penampang dan Persamaan
(6-3) tidak diperlukan.
• Hubungan Momen-kelengkungan
Hubungan momen-kelengkungan untuk balok komposit (Gambar 6-3) dapat
ditentukan dari kondisi bahwa resultan momen dari tegangan lentur sama
dengan momen lentur M yang bekerja di penampang. Dengan mengikuti
langkah-langkah sama untuk balok dari satu bahan (lihat Persamaan 5-9
sampai 5-12), dan juga menggunakan Persamaan (6-2a) dan (6-2b), kita
dapatkan
M = -f�xydA = -lax1ydA - lax2ydA
= IC£1 f/dA + IC£2 f/dA
Persamaan ini dapat ditulis ulang dalam bentuk yang lebih sederhana
(6-4)
di mana 11 dan 12 adalah momen inersia terhadap sumbu netral (sumbu z)
dari bagian penampang bahan 1 dan bahan 2. Perhatikan bahwa I = 11 +
12, di mana I adalah momen inersia seluruh daerah penampang di dekat
sumbu netral.
Sekarang Persamaan (6-4) dapat disesuaikan untuk mendapatkan
kelengkungan yang dinyatakan dalam momen lentur:
(6-5)
Persamaan ini adalah hubungan momen-kelengkungan untuk balok dari
dua bahan (bandingkan dengan Persamaan 5-1 2 untuk balok dengan satu
bahan). Penyebut di sebelah kanan adalah ri�i<iih
l'- i(
·ntw untuk balok
komposit tersebut.
• Tegangan Normal
Tegangan normal (atau tegangan lentur) di balok tersebut diperoleh dengan
memasukkan rumus untuk kelengkungan (Persamaan 6-5) ke dalam rumus
untuk ax1 dan ax2 (Persamaan 6-2a) dan (6-2b); jadi,
(6-6a,b)
344 Bab 6 T
egangan Di Balok (T
opik Lanjut)
• f
0
,, lt
Gambar 6-5 Penampang balok
sandwich yang mempunyai dua
sumbu simetri (penampang
sirnetris ganda)
Rumus ini, dikenal dengan rumus lentur untuk balok komposit, memberikan
tegangan normal di bahan 1 dan 2. Jika kedua bahan mempunyai modulus
elastisitas sama (£1 = £2 = E), maka kedua persamaan akan menjadi
rumus lentur untuk balok dengan satu bahan (Persamaan 5-1 3).
Analisis balok komposit, dengan menggunakan Persamaan (6-3)
sampai (6-6), digambarkan dalam Contoh 6-1 dan 6-2 di akhir subbab ini.
• Teori Pendekatan untuk Lentur dan Balok Sandwich
Balok sandwich yang mempunyai penampang simetris ganda dan terdiri
atas dua bahan elastis linier (Gambar 6-5) dapat dianalisis untuk lentur
dengan menggunakan Persamaan (6-5) dan (6-6), seperti diuraikan di atas.
Namun, kita dapat juga mengembangkan teori pendekatan untuk lentur
pacta balok sandwich dengan menggunakan beberapa asumsi penyederhana­
an. Jika bahan di daerah muka (bahan 1) mempunyai modulus elastisitas
yang jauh lebih besar dibandingkan bahan inti (bahan 2), maka tegangan
normal di inti dapat diabaikan dan dapat diasumsikan bahwa kedua muka
menahan semua tegangan lentur longitudinal. Asumsi ini ekivalen dengan
menyebutkan bahwa modulus elastisitas £2 di inti adalah no!. Pacta kondisi
ini, rumus lentur untuk bahan 2 (Persamaan 6-6b) memberikan O"x2 = 0
(sebagaimana diharapkan), dan rumus lentur untuk bahan 1 (Persamaan 6-
6a) memberikan
My
(J'xl
= --
· (6-7)
/I
yang lebih kecil daripada rumus lentur biasa (Persamaan 5-1 3). Besaran
/1 adalah momen inersia kedua muka yang dievaluasi terhadap sumbu
netral; jadi,
(6-8)
di mana b adalah lebar balok, h adalah tinggi total balok, dan he adalah
tinggi iRti. Perhatikan bahwa h, = h - 2t, di mana t adalah tebal masing­
masing muka.
Tegangan normal maksimum di balok sandwich terjadi di alas dan
bawah penampang di mana y = h/2 dan y = -h/2. Jadi, dari Persamaan
(6-7), kita peroleh
Mh
(J'bawah = -
2/1
(6-9a,b)
Jika momen lentur M positif, maka muka atas ada dalam keadaan tekan
dan muka bawah mengalami tarik.
Jika kedua muka adalah tipis dibandingkan dengan tebal inti (yaitu
jika t kecil dibandingkan dengan h), maka kita dapat mengabaikan
tegangan geser di muka dan mengasumsikan bahwa inti memikul semua
tegangan geser. Pacta kondisi ini, tegangan geser rata-rata dan regangan
geser rata-rata di inti masing-masing adalah
V V
(J' - y -
rata-rata -
bh rata-rata - bh G
(,' c c
(6-lOa,b)
di mana V adalah gaya geser yang bekerja di penampang dan Gc adalah
modulus elastisitas geser untuk bahan inti. (Meskipun tegangan geser
maksimum dan regangan geser maksimum lebih besar daripada harga
rata-ratanya, harga rata-rata sering digunakan di dalam desain.)
1. ;{1 u
I I :
f� :
.., .
<>
I"
Gambar 6-6 Balok beton
hertulang dengan batang tulangan
utama dan sengkang vertikal
, ,
A
I ��� l 6 111.
c
Mekanika Bahan 345
• Pembatasan
Di dalam seluruh pembahasan di atas mengenai balok komposit, kita
berasumsi bahwa kedua bahan mengikuti hukum Hooke dan bahwa kedua
bagian balok telah secara memadai dilekatkan satu sama lain sehingga
dapat beraksi sebagai kesatuan utuh. Jadi, analisis kita sangatlah
diidealisasikan dan hanya merepresentasikan langkah awal dalam
memahami perilaku balok komposit dan bahan komposit. Metode-metode
untuk mempelajari bahan nonhomogen dan nonlinier, tegangan ikat antara
bagian-bagiannya, tegangan geser pada penampang, tekuk pada muka,
dan hal-hal lain dibahas dalam buku-buku referensi yang berkaitan dengan
konstruksi komposit.
Balok beton bertulang adalah salah satu jenis konstruksi komposit
yang paling kompleks (Gambar 6-6), dan perilakunya sangat berbeda
dengan balok komposit yang dibahas dalam subbab ini. Seton adalah bahan
yang kuat terhadap tekan tetapi sangat lemah terhadap tarik. Akibatnya,
kekuatan tariknya biasanya diabaikan sama sekali. Pada kondisi tersebut,
rumus-rumus yang diberikan dalam subbab ini tidak berlaku. Selain itu,
balok beton bertulang tidak didesain berdasarkan perilaku elastis linier,
melainkan dengan metode desain yang lebih realistis (berdasarkan atas
kapasitas pikul beban, bukan tegangan izin). Karena desain beton bertulang
merupakan hal yang sangat khusus, maka kita tidak membahasnya di sini.
• Contoh 6-1
Sebuah ba1ok komposit (Gambar 6-7) dibuat dari balok kayu (dimensi aktua1
4,0 in. x 6,0 in.) dan plat penguat baja (lebar 4,0 in. dan 1ebar 0,5 in.). Kayu dan
baja tersebut dihubungkan dengan baik sehingga dapat beraksi sebagai balok
tunggal. Balok ini mengalami momen lentur positif M = 60 k-in. Hitung1ah tegangan
tarik dan tekan terbesar di kayu ini (bahan 1 ) dan tegangan maksimum dan mini­
mum di baja (bahan 2) jika £1 = 1 500 ksi dan £2 = 30.000 ksi.
Solusi
1'·,1l-j 05 in
Sumbu netral. Langkah pertama da1am analisis adalah menentukan lokasi sumbu
netral penampang ini. Untuk itu, kita tuliskan jarak dari sumbu netral ke atas dan
bawah balok masing-masing sebagai h1 dan h2. Untuk mendapatkan jarak-jarak
ini, kita gunakan Persamaan (6-3). Integral di dalam persamaan tersebut dievaluasi
dengan mengambil momen penama dari area 1 dan 2 terhadap sumbu z sebagai
berikut:
. ,
B '
� '-o--
� m "1
Gambar 6-7 Contoh 6- 1 . Balok
komposit antara kayu dan baja
iydA = y1A1 = (h1 - 3 in.)(4 in. x 6 in.) = (h1 - 3 in.)(24 in.2)
f!
dA = )i2A2 = -(6.25 in. - h 1)(4 in. x 0,5 in.) = (h1 - 6,25 in.)(2 in.2)
di mana A1 dan A2 adalah luas bagian 1 dan 2 dari penampang, y1 dan y2 adalah
koordinat v masing-masing pusat berat bagian tersebut, dan h1 mempunyai satuan
inci.
Dengan memasukkan rumus-rumus di atas ke dalam Persamaan (6-3), kita
peroleh Persamaan untuk menentukan lokasi sumbu netral, scbagai berikut:
E, iydA + E2 LydA = 0
Atau ( 1 500 ksi)(h1 - 3 in.)(24 in.2) + (30.000 ksi)(h1 - 6,25 in.)(2 in.2) = 0
Dengan memecahkan persamaan ini, kita peroleh jarak h1 dari sumbu netra1 ke
atas balok:
346 Bab 6 T
egangan Di Balok (T
opik Lanjut)
h1 = 5,031 in.
Juga, jarak h2 dari sumbu netral ke bawah balok adalah
h2 = 6,5 in. - h1 = 1 ,469 in.
Jadi, posisi sumbu netral telah ditentukan.
Momen inersia. Momen inersia /1 dan !2 untuk area A1 dan A2 terhadap
sumbu netral dapat diperoleh dengan menggunakan teorema sumbu sejajar (lihat
Subbab 12.5 dalam Bab 12). Untuk area l (Gambar 6-7), kita dapatkan
I
/1 = ]2(4 in.)(6 in.)3 + (4 in.)(6 in.)(h1 - 3 in.i = 1 7 1 ,0 in.4
Dengan cara sama, untuk area 2 kita peroleh
12 = 1�(4 in.)(O,S in.)3 + (4 in.)(0,5 in.)(h2 - 0,25 in.)2 = 3,01 in.4
Untuk mengecek kondisi ini, kita dapat menentukan momen inersia I untuk
keseluruhan luas penampang terhadap sumbu z sebagai berikut:
I = .!.c4 in.)h� + .!.c4 in.)fli = 1 69,8 + 4,2 = 174,0 in 4
3 3
yang cocok dengan jumlah /1 dan /2.
Tegangan normal. Tegangan di bahan
1
dan 2 dihitung dari rumus lentur
untuk balok komposit �Persamaan 6-6a dan b). Tegangan tekan terbesar di bahan
I terjadi di atas balok (A) di mana y = h1 = 5,031 in. Dengan menuliskan tegangan
ini sebagai alA' dan dengan menggunakan Persamaan (6-6a), kita dapatkan
E, IJ
+
£2/2
(60 k-in.)(5,031 in.)(l500 ksi)
= -1 3 1 0 si ..
(1500 ksi)(l 7 l ,O in.4) + (30.000 ksi)(3,01 in.4 
p
Tegangan tarik terbesar di bahan I terjadi di bidang kontak antara kedua bahan
(C) di mana y = -(h2 - 0,5 in.) = -0,969 in. Dengan melakukan perhitungan yang
serupa dengan di atas, kita peroleh
(60 k -in. )(-0.969 in. )( 1 500 k:i )
= 25 1 si
( nKl ki )( l 7 1 .0 m.
4
l + (30.000 k�i)f 3.0 1 in.J )
P
Jadi, kita telah mendapatkan tegangan tarik dan tekan terbesar di kayu ini.
Plat baja (bahan 2) terletak di bawah sumbu netral, sehingga seluruhnya
mengalami tarik. Tegangan tarik maksimum terjadi di bawah balok (B) di mana
y = -h2 = -1,469 in. Jadi, dari Persamaan (6-6b) kita peroleh
M(-h2 )E2
EI /I +
£2!2
_
_
_,
(_
60
_
k
_
-i
_
n-'-
.)(
-'-
-
--:
li-
,4
_
6�
9-
in
_.
.)
'""
(3
_
0
_
.o
_
o
_
O
_
k
_
s-'-
i)_
--,- = 7620 psi
(1500 ksi)(l71,0 in.4 ) + (30.000 ksi)(3,01 in 4)
Tegangan tarik minimum di bahan 2 terjadi di bidang kontak (C) di mana y = -
0,969 in. Jadi
(60 k-in.)( .969 1 11.)(30.000 J...si)
5030 ·
. , . 4 = _ pSI
( 1 500 J...si)( 1 7 1 .0 in.
1
) (30.000 J...sJ )( ,, ,O J i n . l
Tegangan ini adalah tegangan maksimum dan minimum di baja.
Catatan: Di bidang kontak rasio tegangan di baja terhadap tegangan di kayu
adalah
a2c
=
5030 psi
= 20
a1c 25 1 psi
Mekanika Bahan 347
yang sama dengan rasio Ei£1 antara masing-masing modulus elastisitas,
sebagaimana diharapkan. Meskipun regangan di baja dan kayu sama di bidang
kontak, tegangannya berbeda karena berbedanya modulus elastisitas.
• Contoh 6-2
: �
-
-
-' O
!l��
1. b = 200 mm .I
" =
I SO mm
h=
160mm
i
t = mm
Gambar 6-8 Contoh 6-2.
Penampang balok sandwich yang
mempunyai muka paduan
alumunium dan inti plastik
Sebuah balok sandwich yang mempunyai muka aluminium dan inti plastik (Gambar
6-8) mengalami momen lentur M = 3,0 kN.m. Tebal muka tersebut adalah t =
5
mm dan modulus elastisitas adalah £1 = 72 GPa. Tinggi inti plastik adalah he =
150 mm dan modulus elastisitasnya adalah £2 = 800 MPa. Dimensi total balok ini
adalah h = 160 mm dan b = 200 mm. Tentukan tegangan tank dan tekan maksimum
di muka dan inti dengan menggunakan: (a) teori umum untuk balok komposit, dan
(b) teori pendekatan untuk balok sandwich.
Solusi
Sumbu netral. Karena penampang ini simetris ganda, maka sumbu netral terletak
di tengah-tinggi (lihat sumbu z di Gambar 6-8).
Momen inersia. Momen inersia /1 untuk muka aluminium adalah
!1 = ..!!_(h3 - h
3
) =
200 mm
[(160 mm)3 - (150 mm)3] = 12,017 x 1 06 mm4
1 2
'
12
dan momen inersia /2 inti plastik adalah
!
2 = ..!!_(h:) =
200 mm
(150 mm)3 = 56,250 x 106 mm4
12 12
(a) Tegangan normal yang dihitung dari teori umum untuk balok komposit.
Untuk menghitung tegangan ini, kita gunakan Persamaan (6-6a dan b). Sebagai
catatan awal, kita akan mengevaluasi suku-suku di pembilang dalam persamaan­
persamaan tersebut (yaitu, rigiditas lentur balok komposit):
EJ1 + Ei2 = (72 GPa)(l 2,01 7 X 1 06 mm4) + (800 MPa)(56,250 x 106 mm4)
= 91 0.200 N·m2
Tegangan tarik dan tekan maksimum di muka aluminium diperoleh dari Persamaan
(6-6a):
= + M(h/2)(£1 )
- Et/t
+
£2 /2
_
+ (3,0 kM·m)(80 mm)(72 GPa)
- -
910.200 N·m2
= ±19,0 MPa
Besaran terkait untuk inti plastik (dari Persamaan 6-6b) adalah
= + M(hJ2)(£2 )
£] /]
+
£2/2
=
+ (3,0 kM·m)(75 mm)(800 GPa)
910.200 N·m2
= ±0,198 MPa
..
..
Tegangan maksimum di muka aluminium adalah 96 kali lebih besar daripada te­
gangan maksimum di inti. lni tidak mengherankan, mengingat bahwa modulus
elastisitas aluminium adalah sekitar 90 kali lebih besar daripada modulus
elastisitas plastik.
(b) T
egangan normal yang dihitung dari rumus pendekatan untuk balok
sandwich. Di dalam teori pendekatan, kita mengabaikan tegangan normal di inti
dan mengasumsikan bahwa muka memikul keseluruhan momen lentur. Dengan
demikian, tegangan tarik dan tekan maksimum di muka dapat diperoleh dari
Persamaan (6-7), sebagai berikut:
r
348 Bab 6 T
egangan Di Balok (Topik Lanjut)
6.3 1
(b)
Gambar 6-9 Balok komposit
dengan dua bahan: (a)
penampang aktual, dan (b)
penampang tertransformasi yang
mcngandung hanya bahan I
= + My
= + M(//2)
-
/1
- /1
= +(3,0 kM·m)(80 mm)
1 2,017 x 106 mm4 = ±20,0 MPa ..
Sebagaimana diharapkan, teori ini konservatif dan memberikan tegangan yang
sedikit lebih besar di muka aluminium daripada yang dihitung dengan teori umum
untuk balok komposit.
METODE PENAMPANG TERTRANSFORMASI
Metode penampang tertransformasi adalah prosedur alternatif untuk
menganalisis tegangan lentur pada balok komposit. Metode ini didasarkan
atas teori dan persamaan yang telah dikembangkan dalam subbab sebelum
ini sehingga mempunyai pembatasan yang sama (misalnya, hanya berlaku
untuk bahan elastis linier) dan memberikan hasil sama. Meskipun metode
penampang tertransformasi tidak mengurangi langkah-langkah perhitungan,
banyak perencana yang menganggap bahwa metode ini memberikan cara
mudah untuk memvisualisasikan dan mengorganisasikan perhitungan.
Metode ini terdiri atas transformasi penampang suatu balok komposit
menjadi penampang ekivalen balok imajiner yang terdiri atas hanya satu
bahan. Penampang baru ini disebut penampang tertransformasi .
Selanjutnya, balok imajiner dengan penampang tertransformasi dianalisis
dengan cara biasa untuk balok dengan satu bahan. Sebagai langkah akhir,
tegangan di balok tertransformasi diubah menjadi tegangan di balok semula.
Jika balok tertransformasi harus ekivalen dengan balok semula, maka
sumbu netralnya harus terletakdi lokasiyang sama dan kapasitas tahanan
momennya harus sama. Untuk membuktikan bagaimana kedua persyaratan
ini dipenuhi, tinjau kembali balok komposit yang terdiri atas dua bahan
(Gambar 6-9a). Sumbu netral penampang diperoleh dari Persamaan (6-
3), yang ditulis ulang di sini:
EliydA + E2I!dA = 0 (6- 1 1)
Di dalam persamaan ini, integralnya menunjukkan momen pertama dari
kedua bagian penampang terhadap sumbu netral. Sekarang kita gunakan
notasi
(6-12)
di mana n adalah rasio modular. Dengan menggunakan notasi ini, kita
dapat menulis ulang Persamaan (6-1 1) dalam bentuk
f
?
dA
+
f
i
n dA = 0 (6-13)
Karena Persamaan (6- l l ) dan (6-1 3) ekivalen, maka persamaan di atas
membuktikan bahwa sumbu netral tidak berubah jika setiap elemen luas
dA di bahan 2 dikalikan dengan faktor n, asalkan koordinat y untuk setiap
e1emen luas tidak berubah. Dengan demikian, kita dapat membuat
penampang baru yang terdiri atas dua bagian: ( I ) area 1 dengan dimensi
Mekanika Bahan 349
tak diubah, dan (2) area 2 dengan lebamya (yaitu, dimensi sejajar sumbu
netral) dikalikan dengan n. Penampang baru ini (penampang teitransfor­
masi) ditunjukkan dalam Gambar 6-9b untuk kasus di mana E2 > E1
(sehingga n > 1). Sumbu netralnya berada pada posisi yang sama dengan
sumbu netral di balok semula. (Perhatikan bahwa semua dimensi yang
tegak lurus sumbu netral tetap sama.)
Karena tegangan di bahan (untuk regangan yang diketahui) sebanding
dengan modulus elastisitas (er = E£), kita lihat bahwa mengalikan lebar
bahan 2 dengan n = EiE1 sama saja dengan mentransformasikannya
menjadi bahan 1 . Sebagai contoh, anggap n = 10. Karena itu area bagian
2 dari penampang sekarang adalah 10 kali lebih lebar daripada sebelumnya.
Jika kita bayangkan bahwa bagian balok ini sekarang adalah bahan 1,
maka kita lihat bahwa ia akan memikul gaya sama dengan sebe1umnya
karena modulus elastisitas berkurang dengan faktor sebesar 10 (dari E2 ke
£1) pada saat yang sama area tersebut diperbesar dengan faktor 10. Jadi,
penampang baru (penampang tertransformasi) hanya terdiri atas bahan I.
Hubungan momen-kelengkungan untuk balok tertransformasi harus
sama dengan hubungan untuk balok semula. Untuk membuktikan bahwa
ini memang demikian, kita perhatikan bahwa tegangan di balok tertransfor­
masi (karena balok ini hanya terdiri atas bahan 1) dinyatakan dengan
Persamaan (5-7) dalam Subbab 5.5:
Dengan menggunakan persamaan ini, dan juga dengan mengikuti prosedur
sama seperti untuk balok dengan satu bahan (lihat Subbab 5.5), kita dapat
memperoleh hubungan momen-kelengkungan untuk balok tertransformasi:
M = -J�·-" cL4. = - J1cr,y dA - J2cr..y dA
= £1K"l_/dA + £1 K"lr!dA = 1C(E1 !1 + E2n/2 )
atau (6-14)
Persamaan m 1 sama dengan Persamaan (6-4), sehingga terbukti bahwa
hubungan momen-kelengkungan untuk balok tertransformasi sama dengan
untuk balok semula.
Karena balok tertransformasi hanya terdiri atas satu bahan, maka
tegangan lentur dapat diperoleh dari rumus lentur standar (Persamaan 5-
13). Jadi, tegangan normal di balok yang tertransformasi menjadi bahan
1 (Gambar 6-9b) adalah
(6-15)
di mana I r adalah momen inersia penampang tertransformasi terhadap
sumbu netral. Dengan memasukkannya ke dalam persamaan ini, kita dapat
menghitung tegangan di setiap titik dari balok tertransformasi.
(Sebagaimana diterangkan di bawah ini, tegangan di balok tertransformasi
sama dengan tegangan di balok semula pada bagian balok semula yang
3 50 Bab 6 T
egangan Di Balok (T
opik Lanjut)
terdiri atas bahan 1 ; namun, di bagian balok semula yang mengandung
bahan 2, tegangannya berbeda dengan tegangan di balok tertransformasi.)
Kita dapat dengan mudah membuktikan kebenaran Persamaan (6-15)
dengan memperhatikan bahwa momen inersia penampang tertransformasi
(Gambar 6-9b) berkaitan dengan momen inersia penampang semula
(Gambar 6-9a) dengan hubungan berikut:
(6-16)
Dengan mensubstitusikan persamaan untuk ITke dalam Persamaan (6-1 5)
kita peroleh
(a)
yang sama dengan Persamaan (6-6a), sehingga terbukti bahwa tegangan
di bahan l di balok semula sama dengan tegangan di bagian sama pacta
balok tertransformasi.
Sebagaimana disebutkan di atas, tegangan di bahan 2 pacta balok
semula tidak sama dengan tegangan di bagian yang sama pacta balok
tertransformasi. Tegangan di balok tertransformasi (Persamaan 6-15) harus
dikalikan dengan rasio modular n untuk mendapatkan tegangan di bahan
2 pacta balok semula:
Mv
O"x2 = - -
- ll
Ir
(6-17)
Kita dapat menyelidiki kebenaran rumus ini dengan memperhatikan bahwa
apabila Persamaan (6-16) untuk IT disubstitusikan ke dalam Persamaan
(6-17), kita dapatkan
(b)
yang sama dengan Persamaan (6-6b).
Di dalam pembahasan metode penampang tertransformasi kita telah
memilih untuk mentransformasikan balok semula menjadi balok imajiner
yang hanya terdiri atas bahan 1 . Kita dapat saja memilih untuk
mentransformasikan menjadi balok dengan bahan 2. Dalam hal ini,
tegangan di balok semula di bahan 2 akan sama dengan tegangan di
bagian sama pacta balok tertransformasi. Sedangkan tegangan di bahan 1
pacta balok semula harus dihitung dengan mengalikan tegangan di bagian
sama pacta balok tertransformasi dengan rasio modular n, yang dalam hal
ini didefinisikan sebagai n = E/E2.
Adalah suatu hal yang mungkin untuk mentransformasikan balok
semula menjadi bahan dengan modulus elastisitas sembarang E, di mana
semua bagian balok harus ditransformasikan menjadi bahan fiktif. Tentu
saja, perhitungannya akan lebih sederhana jika kita mentransformasikan
ke salah satu dari bahan semula. Akhimya, dengan sedikit usaha kita
dapatmemperluas metode penampang tertransformasi untuk balok komposit
yang terdiri atas lebih dari dua bahan.
Gambar 6-1 0 Contoh 6-3.
Balok komposit pada Contoh 6- I
dianalisis dengan metode
penampang tertransformasi: (a)
balok semula, dan (b) penampang
tertransformasi (bahan I )
Mekanika Bahan 351
• Contoh 6-3
Sebuah balok komposit yang terlihat dalam Gambar 6-1 Oa dibentuk dari balok
kayu (dimensi aktual 4,0 in. x 6,0 in.) dan plat penguat baja (lebar 4,0 in. dan
tebal 0,5 in.). Balok ini mengalami momen lentur positif M = 60 k-in. Dengan
menggunakan metode penampang tertransformasi, hitunglah tegangan tarik dan
tekan terbesar di kayu tersebut (bahan 1) dan tegangan maksimum dan minimum
di baja (bahan 2) jika £1 = 1500 ksi dan £2 = 30.000 ksi. (Catatan: Ini adalah
balok yang sama dengan yang telah dianalisis sebelum ini di dalam Contoh 6-1
Subbab 6.2.)
IT' ." ,I�
I _. in. I
.-- - A
• 1- ........ ---r
-:-
J
" I ./ 6 111.
hi 6 m.
'
1
'
0
.
h
'
:.r..._
•
0.5 In•
"� i
0
('
t
I. 80 in.
H..l 1
),
i',-j:. • 4 tn. 18 0 � .
.. Ill.
' 1)
(a) (b)
Solusi
Penampang tertransformasi. Kita akan mentransfonnasikan balok semula menjadi
balok dari bahan 1, yang berarti bahwa rasio modular didefinisikan sebagai
n =
£2 = 30.000 ksi = 20
£1 1 500 ksi
Bagian balok yang terbuat dari kayu (bahan I ) tidak diubah tetapi bagian yang
terbuat dari baja (bahan 2) mempunyai lebar yang dikalikan dengan rasio modular.
Jadi, lebar bagian balok ini menjadi
n(4 in.) = 20(4 in.) = 80 in.
di dalam penampang tertransformasi (Gambar 6-1 Ob).
Sumbu netral. Karena balok tertransformasi terdiri atas hanya satu bahan,
maka sumbu netral melewati pusat berat penampang. Dengan demikian, dengan
mengambil tepi atas penampang sebagai garis referensi, dan dengan jarak Y; diukur
positif ke bawah, kita dapat menghitung jarak h1 ke pusat berat sebagai berikut:
(3 in.)(4 in.)(6 in.) + (6,25 in.)( RO in.)(0.5 in. )
(4 in.)(6 in.) + (80 in.(0.5 in. )
322,0 in.
3
= 5 031 .
3 ' 111.
64,0 in.
Juga, jarak h2 dari tepi bawah penampang ke pusat berat adalah
h2 = 6,5 in. - h 1 = 1 ,469 in.
Jadi, lokasi sumbu netral telah ditentukan.
Momen inersia penampang tertransformasi. Dengan menggunakan teorema
sumbu·sejajar (lihat Subbab 1 2.5 pada Bab 12), kita dapat menghitung momen
inersia lr untuk keseluruhan penampang terhadap sumbu netral sebagai berikut:
352 Bab 6 T
egangan Di Balok (T
opik Lanjut)
:
1 1
rr..
r(,
Gambar 6-11 Balok dengan
beban lateral yang bekerja di
bidang simetri
IT =
1
� (4 in.)(6 in.)3 + (4 in.)(6 in.)(h1 - 3 in.)2
+ _!__(80 in.)(0,5 in.)3 + (80 in.)(0,5 in.)(h2 - 0,25 in}
1 2
= 1 7 1 ,0 in 4 + 60,3 in.4 = 231 ,3 in.4
Tegangan normal di kavu (hahan 1). Tegangan di balok tertransformasi (Gambar
6- I Ob) di atas penampang (A) dan di bidang kontak antara kedua bagian (C) sama
dengan yang ada di balok semula (Gambar 6-1 Oa). Tegangan ini dapat dihitung
dari rumus entur (Persamaan 6-1 5), sebagai berikut:
My (60 k-in.)(5,03 1 in.)
1 31 0
.
= - - = = - pSi
IT 23 1 ,3 in.4
_ My =
_ (60 1--in.)( U.96l) 1 11. ) = 251 psi
IT 2J 1 .3 in.1
lni adalah tegangan tarik dan tekan terbesar di kayu (bahan I ) di ba1ok semu1a.
Tegangan cr1A
adalah tekan dan tegangan cr1c adalah tarik.
Teganga11 normal di haja. (bahan 2). Tegangan maksimum dan minimum di
p1at baja diperoleh dengan mengalikan tegangan yang bersangkutan di balok
tertransformasi dengan rasio modular n (Persamaan 6- 1 7). Tegangan maksimum
terjadi di tepi bawah penampang (B) dan tegangan minimum terjadi di bidang
kontak (C).
My
= --n =
IT
Mv
= - -
·
n =
IT
(60 k-in.)(-1 ,469 in.)
(20) = 7620 psi
23 1 .3 in.4
(60 k-in.)(-0,9
4
69 in.)
(20) = 5030 psi
23 1 ,3 in.
Kedua tegangan ini adalah tarik.
Perhatikan bahwa tegangan yang dihitung dengan metode penampang
tertransformasi cocok dengan yang diperoleh pada Contoh 6- 1 dengan penerapan
angsung rumus balok komposit.
BALOK SIMETRIS GANDA DENGAN BEBAN MIRING
Di ctalam pembahasan sebelum ini mengenai lentur, kita meninjau balok
yang memiliki bictang simetri longitudinal (bictang xy ctalam Gambar 6-
1 1 ) ctan memikul beban lateral yang bekerja pacta bidang tersebut. Pacta
konctisi tersebut, tegangan lentur dapat diperoleh dari rumus lentur
(Persamaan 5-13) asalkan bahannya bersifat homogen ctan elastis linier.
Di dalam subbab ini, kita akan memperluas ide tersebut ctan meninjau apa
yang terjacti apabila balok mengalami beban yang tidak beraksi pacta bictang
simetri, yaitu beban miring (Gambar 6-12). Kita akan membatasi
pembahasan cti sini pactabalok yang mempunyai penampang simetris gancta,
yaitu bictang xy dan xz adalah bidang simetri. Juga, beban miring harus
bekerja melalui pusat berat penampang untuk menghinctari terpuntirnya
balok terhadap sumbu longitudinal.
Kita akan menentukan tegangan lentur di balok yang terlihat dalam
Gambar 6-1 2 dengan menguraikan beban miring menjadi ctua komponen,
masing-masing bekerja pacta bidang simetri. Karena itu, tegangan lentur
dapat dihitung dari rumus lentur untuk setiap komponen beban yang bekerja
secara terpisah, dan tegangan akhir dapat diperoleh dengan superposisi
masing-masing tegangan.
Mekanika Bahan 353
• Perjanjian Tanda untuk Momen Lentur
Sebagai ha! awal, kita akan menetapkan perjanjian tanda untuk momen
lentur yang bekerja di penampang suatu balok.* Untuk itu. kita potong
balok tersebut dan kita tinjau sehuah penampang yang khas (Gambar 6-
1 3). Momen lentur M,. dan M: yang bekerja terhadap sumbu y dan z
dinyatakan sebagai vektor dengan menggunakan panah berkepala ganda.
Momen adalah positif jika vektomya searah dengan arah positif sumbu
yang bersangkutan, dan aturan tangan kanan untuk vektor memberikan
arah rotasinya (ditunjukkan dengan panah lengkung di dalam gambar).
Jadi, momen lentur positif M, menghasilkan tekan di sisi kanan ba1ok (sisi
z negatif) dan tarik di sisi kiri (sisi z positifJ. Begitu pula, momen positif
Gambar 6-1 2 B�lok simetris M_ menghasilkan tekan di bagian atas balok (di mana y adalah positif) dan
g�ndil dengan bebiln miring ta;ik di bagian bawah (di mana y adalah negatif). Juga, perlu diingat
bahwa momen 1entur yang terlihat dalam Gambar 6- 13 bekerja pada muka
x positif dari segmen balok, yaitu, di muka yang mempunyai normal ke
luar arah positif sumbu x.
I ' • Tegangan Lentur
Gambar 6-1 3 Pcrjanjian tanda
untuk momen lentur M, dan M.
Gambar 6-1 4 Penampang b�lok
yang mengalami momen lentur
M, dan M.
Tegangan normal yang berkaitan dengan momen lentur M'" dan M: yang
bekerja secara terpisah diperoleh dari rumus lentur (Persamaan 5- 1 3).
Tegangan ini digabungkan untuk menghasilkan tegangan yang dihasilkan
oleh kedua momen yang bekerja secara simu1tan. Sebagai contoh, tinjaulah
tegangan di sebuah titik pada penampang yang mempunyai koordinat
positif y dan z (titik A dalam Gambar 6- 14). Momen positif My
menimbulkan tarik di titik tersebut dan momen positif M: menyebahkan
tekan; jadi, tegangan normal di titik A ada1ah
M,z
_
Mzy
I'" '-
(6- 1 8)
di mana I, dan /: ada1ah momen inersia penampang terhadap sumbu y dan
z. Dengan menggunakan persamaan tersebut kita dapat mencari tegangan
normal di sembarang titik pada penampang dengan memasukkan harga­
harga aljabar dengan benar.
• Sumbu Netral
11
Persamaan sumhu netral dapat ditentukan dengan menyamakan tegangan
normal 0", (Persamaan 6- 1 8) dengan no]:
M,. M_
-
·
-z - -
· v
1,. [_ .
0 (6- 19)
Persamaan ini menunjukkan bahwa sumbu netral 1111 adalah garis lurus
yang melewati pusat berat C (Gambar 6- 14). Sudut f3 antara sumbu netral
dan sumbu z ditentukan sebagai berikut:
, 1 ,d1 IC�dll�.lll lhll l l ltil J.111 1_-!l'�l'l d1 "ua1u h.llnk. ht<l,,tll}<l -.,ud�th jcl.t-.. dcngtlll lllL'Il lll l.lll h.d,�� d.tll
j1L
'Illhch�IIWil ll)�l -..r h 1 ng;;c1 k l l�l '>L'I I Il�!k.all dtq1dl llll'nglutu n.� IL'g<tng:lll Llcn�an lllL'Il�:lhaih:.lll pc1 i<�n ji.l n
l.lnlLI �..bn h,m  ,1 lllL il��url.l � . lll hdl �.l lllut b h. n , ,t ' dlllllll �1 1 1 .1111 lllL'Illll llll�,lll ru llHI'- U ll1lllll l- 1 u pl' l l u
llll'l1.�.!..'lllltil-.ll1 f'l'l l:lll l l < � ll landti lllllllh. llll
'll,
� h i ndtl l l h.l·hin.�llll.�.lll lLd:llll llll'll�!-'ll lltlk.;ul rl'L'-.IIll.I:Hl
3 5 � Bab 6 T
egangan Di Balok (T
opik Lanjut)
,.
(il)
:
(b)
Gambar 6-1 5 Balok simetris
ganda dengan beban miring P
yang bekerja pada sudut 8
terhadap sumbu y positif
(6-20)
Bergantung pada besar dan arah momen lentur, sudut {3 dapat bervariasi
ctari -90° sampai +90°. Dengan mengetahui orientasi sumbu netral kita
ctapat menentukan titik-titik di penampang cti mana tegangan normalnya
terbesar. (Karena tegangan bervariasi secara linier terhactapjarak ctari sumbu
rietral, maka tegangan maksimum terjacti cti titik yang terletak paling jauh
ctari sumbu netral.)
• Hubungan antara Sumbu Netral dan Kem iringan Beban
Sebagaimana baru saja kita lihat, orientasi sumbu netral terhactap sumbu
z ctitentukan ctengan momen lentur ctan momen inersia (Persamaan 6-20).
Sekarang kita ingin menentukan orientasi sumbu netral relatif terhactap
sudut kemiringan beban yang bekerja cti balok. Untuk itu, kita akan
menggunakan balok kantilever yang terlihat ctalam Gambar 6-lSa sebagai
contoh. Balok ini ctibebani oleh gaya P yang bekerja cti bidang penampang
ujung ctan miring ctengan sudut e terhactap sumbu y positif. Orientasi
khusus beban ini ctipilih karena ini berarti bahwa kectua momen lentur (Mv
ctan Mz) actalah positif apabila e cti antara 0 ctan 90°.
.
11
Beban P ctapat ctiuraikan menjacti komponen P cos 8 ctalam arah y
positif ctan P sin e ctalam arah z negatif. Dengan ctemikian, momen lentur
M" ctan Mz (Gambar 6-lSb) yang bekerja pacta penampang yang terletak
pacta jarak x ctari tumpuan jepit actalah
M
Y = (P sin 8)(L - x) Mz = (P cos 8)(L - x) (6-2la,b)
cti mana L actalah panjang balok. Rasio antara kectua momen ini actalah
M"
-
· = tan e
M_
(6-22)
yang menunjukkan bahwa vektor momen resultan M acta cti suctut e ctengan
sumbu z (Gambar 6-15b). Karena itu, momen resultan terjacti berarah
tegak lurus bictang longitudinal yang menganctung gaya P.
Suctut {3 antara sumbu netral nn dan sumbu z (Gambar 6-15b) ctiperoleh
ctari Persamaan (6-20):
MJ. I
tan {3 = --
' = ...L tan e
M2/Y IY
(6-23)
yang menunjukkan bahwa suctut {3 pacta umumnya tidak sama ctengan
suctut e. Jacti, kecuali pada kasus-kasus khusus, sumbu netral tidak tegak
lurus bidang longitudinal yang mengandung beban.
Pengecualian ctari aturan umum ini terjadi pacta tiga kasus khusus:
( I ) Apabila beban terletak cti bictang xy (e = 0 atau 1 80°), yang berarti
bahwa sumbu z actalah sumbu netral. (2) Apabila beban terletak cti bictang
xz ce = ±90°), yang berarti bahwa sumbu y adalah sumbu netral. (3)
Apabila momen inersia utama sama, yaitu apabila /" = lz. Dalam hal ini,
semua sumbu yang melalui pusat berat actalah sumbu
·
utan1a dan semuanya
mempunyai momen inersia sama. Bidang pembebanan, tictak pectuli ke
mana pun arahnya, selalu merupakan bictang utama, dan sumbu netral
selalu tegak lurus pactanya. (Situasi ini terjacti pacta penampang
Pemnup
(a)
Gambar 6-1 6 Contoh 6-4. Balok
kayu dengan penampang persegi
panjang yang berfungsi sebagai
gording
Mekanika Bahan 355
bujursangkar, lingkaran, dan penampang tertentu lainnya, sebagaimana
diuraikan dalam Subbab 12.9 Bab 12.)
Fakta bahwa sumbu netral tidak selalu tegak lurus bidang beban
dapat sangat mempengaruhi tegangan di balok, khususnyajika rasio antara
kedua momen inersia utama sangat besar. Pada kondisi ini tegangan di
balok sangat sensitif terhadap perubahan kecil pada arah beban dan
ketidakteraturan pada kelurusan balok itu sendiri. Karakteristik balok seperti
ini digambarkan dalam Contoh 6-5.
Contoh 6·4
Sebuah balok kayu AB dengan penampang persegi panjang berfungsi sebagai
gording atap (Gambar 6-16a dan b) ditumpu sederhana oleh batang-batang tepi
atas dari dua rangka batang yang berdekatan. Balok tersebut memikul herat penutup
atap dan bahan-bahan atap lainnya, ditambah beratnya sendiri dan beban tambahan
yang mempengaruhi atap (misalnya beban angin, salju, dan gempa). Dalam contoh
ini, kita hanya akan meninjau pengaruh beban terdistribusi terbagi rata q = 3,0 kN/
m yang bekerja di arali vertikal melalui pusat berat penampang (Gambar 6-1 6c).
Beban tersebut bekerja di seluruh panjang balok dan termasuk berat balok. Batang
atas dari rangka batang mempunyai kemiringan I banding 2 (a = 26,57°), dan
balok mempunyai lebar b = 1 00 mm, tinggi h = 150 mm, dan bentang L = I ,6 m.
Tentukan tegangan tarik dan tekan maksimum di balok ini dan tentukan
lokasi sumbu netral.
(h) (c)
Solusi
_Lj i
2
�u = 26.57°
Beban dan momen lentur. Beban terbagi rata q yang bekerja di arah vertikal dapat
diuraikan menjadi dua komponen daam arah y dan z (Gambar 6-1 7a):
qY = q cos a q, = q sin a (6-24a,b)
Momen lentur maksimum terjadi di titik tengah balok dan diperoleh dari rumus
umum M = qL2/8; jadi,
2
M = q, L
'
8
qL
2
sin a
8
L2 2
M =
!!..::...__ =
qL cos a
l
8 8
(6-25a,b)
Kedua momen ini positif karena vektornya ada di arah positif sumbu y dan z
(Gambar 6- 1 7b).
Momen inersia. Momen inersia penampang terhadap sumbu y dan z adalah
hb3
hh'
1 = - I = - (6-26a,b)
I
1 2 z
12
T
efi£mgan lentur. Tegangan di potongan tengah balok diperoleh dari Persamaan (6-
1 8) dengan momen lentur yang dihitung dari Persamaan (6-25) dan momen inersia
dihitung dari Persamaan (6-26):
356 Bab 6 Tegangan Di Balok (T
opik Lanjut)
Gambar 6-1 7 Solusi untuk
Conloh 6-4 (a) Komponen dari
beban terbagi rata, dan (b) momen
lentur yang bekerja di penampang
/J
'
"
.
�
A
11
,,,, !b)
M,z M.v
ax =
-
·- - �
·-
· =
1, I,
qe sin a qL2 cos a
8 hh311 2 z
=
8 hb311 2 y
(6-27)
Tegangan di sembarang titik pada penampang dapat ditentukan dari persamaan ini
dengan memasukkan koordinat y dan z titik tersebut.
Dari orientasi penampang serta arah beban dan momen lentur (Gambar
6- 17), jelaslah bahwa tegangan tekan maksimum terjadi di titik D (di mana y =
h/2 dan z
= -b/2) dan tegangan tarik maksimum terjadi di titik E (di mana y =
-h/2 dan z = b/2). Dengan memasukkan koordinal ini ke dalam Persamaan (6-27)
dan menyederhanakannya, maka kita peroleh rumus-rumus untuk tegangan
maksimum dan minimum di balok tersebut:
_ _ 3qL
2
(sin a cos a )
CJE - -CJo -
4bh -
h
- + -
h
- (6-28) ..
Harga-harga numerik. Tegangan tarik dan tekan maksimum dapat dihitung
dari persamaan di atas dengan memasukkan data yang diketahui:
q = 3,0 kN/m L = I ,6 m b = 1 00 mm h = 1 50 mm a = 26,57°
Hasilnya adalah
..
Sumhu netral. Selain mencari tegangan di balok, seringkali sumbu netral
perlu dicari lokasinya. Persamaan garis diperoleh dengan menetapkan tegangan
(Persamaan 6-27) sama dengan nol:
si�2
a z - c�s
z
a
Y = 0 (6-29)
Sumbu netral ditunjukkan dalam Gambar 6- 17b sebagai garis nn. Sudut {3 dari
sumbu z ke sumbu netral diperoleh dari Persamaan (6-29) sebagai berikut:
y h2
tan {3 = -- 2 tan a (6-30)
z
b
Dengan memasukkan harga-harga numerik, kita dapatkan
h2
tan {3 = 2 tan a =
b
( 1 50 mm)2
(tan 26,57°) = I ,1 25
( 1 00 mm)2
Karena sudut {3 tidak sama dengan sudut a, maka sumbu netral akan miring
terhadap bidang pembebanan (yang vertikal).
Dari orientasi sumbu netral (Gambar 6-17b), kita lihat bahwa titik D dan E
adalah yang terjauh dari sumbu netral, yang menegaskan asumsi kita bahwa
tegangan maksimum tetjadi di titik-titik tersebut. Bagian balok di atas dan di
kanan sumbu netral mengalami tekan, dan bagian di kiri dan bawah sumbu netral.
·
mengalami tarik.
Mekanika Bahan 357
• Contoh 6-5
Gambar 6-1 8 Contoh 6-5. Balok
kantilever dengan momen inersia I
jauh lebih besar dari pada /,
Sebuah balok kantilever yang panjangnya 12 ft (Gambar 6-1 8a) terbuat dari profil
S 24 x 80 (lihat Tabel E-2 Lampiran E untuk dimensi dan besaran balok ini).
Beban P = 10 k bekerja dalam arah vertikal di ujung balok tersebut. Karena balok
tersebut sangat sempit dibandingkan tingginya (Gambar 6-1 8b), maka momen
inersianya terhadap sumbu z jauh lebih besar dibandingkan momen inersianya
terhadap sumbu y.
'
P = 10 k
11
� = -1 1
: r C
11
(a) Tentukan tegangan lentur maksimum di balok ini jika sumbu y dari
penampang adalah vertikal sehingga sebidang dengan beban P (Gambar 6-1 8a).
(b) Tentukan tegangan lentur maksimum jika balok ini miring dengan sudut
kecil a = I o terhadap beban P (Gambar 6- 1 8b). (Kemiringan kecil dapat disebabkan
oleh ketidaksempurnaan dalam: pembualan balok, pemasangan balok, atau per­
gerakan tumpuannya.)
Solusi
(a) Tegangan lentur maksimum apabila heban sebidang dengan sumhu y.
Jika balok dan beban sebidang, maka sumbu :: adalah sumbu netral dan tegangan
maksimum di balok (pada tumpuannya) diperoleh dari rumus lentur:
a
_ My _ PL(h/2)
mab - !, -
f,
di mana M = PL adalah momen lentur di tumpuan, h adalah tinggi balok, dan /_
adalah momen inersia terhadap sumbu z. Dengan memasukkan harga-harga numerik,
kita dapatkan
_ ( 10 k)( l 2f t )( l :! m./ft)( 1 2.00 in. ) _ 8230 .·
amaks - ') • j
- psi
_JOO tn.
Tegangan ini adalah tarik di atas ba1ok dan tekan di bawah balok.
(b) Teganga11 lentur maksimum apabila beba11 miring terhadap sumbu y.
Sekarang kita asumsikan bahwa balok ini mempunyai kemiringan kecil (Gambar
6-1 8b), sehingga sudul antara sumbu y dan beban adalah a = 1°.
Komponen beban P adalah P cos a dalam arah y negatif dan P sin a dalam
arah z positif. Dengan demikian, momen lentur di tumpuan adalah
M,, = - (P sin a)L = - (I 0 k)(sin 1 °)( 1 2 ft)( 12 in./ft) = -25, 1 3 k-in.
M
,
= - (P cos a)L = - ( 1 0 k)(cos 1°)( 1 2 ft)( l 2 in./ft) = -1440 k-in.
Sudut f3 yang memberikan orientasi kepada sumbu netral 1111 diperoleh dari
Persamaan (6-20):
358 Bab 6 Tegangan Di Balok (Topik Lanjut)
6.5 1
tan f3 = l'. =
MJ, = (-25, 1 3 k-in)(2 100 in.
�
) =
0 8684 f3 =
41 o
z MJ, (- 1-+40 k-in.)(42.2 in.� l
'
Perhitungan ini menunjukkan bahwa sumbu netral mempunyai sudut kemiringan
41 • dari sumbu z meskipun bidang beban hanya miring I · dari sumbu y. Sensitivitas
posisi sumbu netral terhadap sudut beban merupakan konsekuensi dari besarnya
rasio l!fy·
Dari posisi sumbu netral (Gambar 6-1 8b), kita lihat bahwa tegangan
maksimum di balok terjadi di titik A dan B, yang terletak di jarak terjauh dari
sumbu netral. Koordinat titik A adalah
ZA = - 3,50 in. yA = 1 2,0 in.
Dengan demikian, tegangan tarik di titik A (lihat Persamaan 6-1 8) adalah
(-25,1 3 k-in.)(-3,50 in.) (-1440 k-in.)( l2,0 in.)
42,2 in.4 2 1 00 in.4
= 2080 psi + 8230 psi = 1 0.31 0 psi
Tegangan di B mempunyai besar sama tetapi berupa tegangan tekan:
a8 = -1 0.3 1 0 psi
..
..
Tegangan ini 25% lebih besar daripada tegangan amaks = 8230 psi untuk balok
sama dengan beban yang benar-benar sebidang. Selain itu, beban miring
menimbulkan defleksi lateral dalam arah z, sedangkan beban yang sebidang tidak.
Contoh ini menunjukkan bahwa balok dengan 1, jauh lebih besar daripada /"
dapat menimbulkan tegangan besar jika balok atau beban menyimpang, meskipun
sedikit, dari bidang yang direncanakan. Dengan demikian, balok seperti ini perlu
digunakan secara hati-hati, karena sangat mungkin mengalarni kelebihan tegangan
dan mengalami lentur dan tekuk ke arah lateral (ke samping). Pencegahannya
adalah dengan cara memberikan tumpuan lateral pada balok tersebut sehingga
dapat mencegah lentur ke samping. Sebagai contoh, balok lantai kayu di gedung
diturnpu secara lateral dengan memasang penghubung antara balok-balok tersebut.
LENTUR PADA BALOK TAK SIMETRIS
Di dalam pembahasan sebelum ini mengenai lentur, kita asumsikan bahwa
balok mempunyai penampang dengan sedikitnya satu sumbu simetri.
Sekarang kita akan abaikan pembatasan tersebut dan meninjau balok dengan
penampang tak simetris. Kita mulai dengan menyelidiki balok yang
mengalami lentur mumi, dan selanjutnya di dalam Subbab 6.6, 6.7 dan
6.8 kita akan meninjau pengaruh beban-beban lateral. Seperti pada
pembahasan sebelum ini, diasumsikan bahwa balok terbuat dari bahan
elastis Iinier.
Misalkan bahwa suatu balok yang mempunyai penampang tak simetris
mengalami momen lentur M yang bekerja di penampang ujung (Gambar
6-19a). Kita ingin mengetahui tegangan di balok dan posisi sumbu netral.
Sayangnya, pada tahap analisis ini tidak ada cara langsung untuk
menentukan besaran-besaran tersebut. Dengan demikian, kita akan
menggunakan pendekatan tidak langsung-kita tidakmulai dengan momen
lentur dan mencoba menemukan sumbu netral, tetapi kita akan mulai
dengan sumbu netral yang diasumsikan dan mencari momen lentumya.
'
M ' ,
�-'
(a)
- 1'.
-"I
(b)
Gambar 6-1 9 Balok dengan
penampang tak simetris
Mekanika Bahan 359
Kita mulai dengan membuat dua sumbu yang saling tegak lurus
(sumbu y dan z) di titik yang dipilih sembarang di bidang penampang
(Gambar 6-19b). Kedua sumbu tersebut mungkin mempunyai orientasi
sembarang, tetapi untuk mudahnya kita akan mengambil orientasi tersebut
horizontal dan vertikal. Selanjutnya, kita asumsikan bahwa balok tersebut
melentur sedemikian hingga sumbu z adalah sumbu netral penampang.
Dengan demikian, balok akan berdefleksi dalam bidang .xy, yang menjadi
bidang lentur. Pada semua kondisi ini, tegangan normal yang bekerja di
elemen dengan luas dAyang terletak pada jarak y dari sumbu netral (lihat
Gambar 6-19b dan Persamaan 5-7 dalam Bab 5) adalah
(6-31 )
Tanda negatif diperlukan karena bagian dari balok di atas sumbu z (sumbu
netral) mengalami tekan apabila kelengkungannyapositif. (Perjanjian tanda
untuk kelengkungan apabila balok ditentukan di bidang �}' ditujukan dalam
Gambar 6-20a.)
Gaya-gaya yang bekerja di elemen luas dA adalah a,dA, dan gaya
resultan yang bekerja di seluruh penampang adalah integral dari gaya
elemental ini di seluruh luas penampang A. Karena balok ini mengalami
lentur mumi, maka gaya resultan harus sama dengan no!; jadi,
f�xdA =-tEKyY dA = 0
Modulus elastisitas dan kelengkungan adalah konstanta pada setiap
penampang, sehingga
(6-32)
Persamaan ini menunjukkan bahwa sumbu z (sumbu netral) melalui pusat
berat C penampang.
Sekarang kita asumsikan bahwa balok ini melentursedemikian hingga
sumbu y adalah sumbu netral dan bidang xz adalah bidang lentur. Jadi,
tegangan normal yang bekerja di elemen luas dA (Gambar 6-1 9b) adalah
(6-33)
Perjanjian tanda untuk kelengkungan K2 di dalam bidang xz ditunjukkan
dalam Gambar 6-20b. Tanda negatif dibutuhkan dalam Persamaan (6-33)
karena kelengkungan positif di bidang xz menimbulkan tekan di elemen
dA. Gaya resultan untuk kasus ini adalah
LaxdA = -LEKzzdA = 0
sehingga
Lz dA = O (6-34)
dan sekali lagi, kita lihat bahwa sumbu netral harus melalui pusat berat.
Jadi, kita telah mengetahui bahwa pusat sumbu y dan z untuk balok tak
simetris harus terletak di pusat berat C.
Sekarang tinjaulah resultan momen dari tegangan ax. Sekali lagi kita
asumsikan bahwa lentur terjadi dengan sumbu z sebagai sumbu netral, di
mana tegangan a,dihitung dengan Persamaan (6-31). Momen lentur Mz
dan M. terhadap sumbu z dan y (Gambar 6-21), adalah
360 Bab 6 T
egangan Di Balok (Topik Lanjut)
J
I �lengkungan
positif K,.
l_
________
X
0
(a)
J
l_----�c�:_i·t�f�::_
n___
•t
0
(b)
Gambar 6-20 Perjanjian tanda
untuk kelengkungan K", dan K"
,
masing-masing dalam bidang xr
_ dan x�
(
I
D
M_ D
Gambar 6-21 Momen lentur M,
dan M, yang masing-masing
bekerja lerhadap sumbu y dan z
Mz = - LcrxydA = K"yEL/dA = K", E/2
M, = fcrxzdA = -K",.Ef yzdA = -K""El,._
-
A
- A
(6-35a)
(6-35b)
Di dalam persamaan di atas, I, adalah momen inersia penampang terhadap
sumbu z dan /" adalah hasil kali inersia terhadap sumbu y dan z. *
Dari Persamaan (6-35a) dan (6-35b) kita dapat menarik kesimpulan
sebagai berikut: ( 1 ) Jika sumbu z mempunyai arah sembarang dan melalui
pusat berat, maka sumbu tersebut akan merupakan sumbu netral hanya
jika momen M, dan Mz bekerja terhadap sumbu y ctan z ctan hanya jika
kectua momen tersebut mempunyai rasio yang memenuhi Persamaan (6-
35a) dan (6-35b). (2) Jika sumbu z ctipilih sebagai sumbu utama, maka
hasil kali inersia lyz sama dengan nol ctan satu-satunya momen lentur
actalah Mz. Dalam hal ini, sumbu z actalah sumbu netral ctan lentur terjacti
cti bictang -D·, momen M2 bekerja di bictang yang sama. Jacti, momen terjacti
dengan cara analog ctengan pacta balok simetris.
Singkatnya, suatu balok tak simetris akan melentur ctengan cara umum
sama seperti pacta balok simetris asalkan sumbu z actalah sumbu berat
utama ctan satu-satunya momen lentur actalah momen M, yang bekerja
terhactap sumbu yang sama.
Jika sekarang kita asumsikan bahwa sumbu y actalah sumbu netral,
kita akan sampai pacta kesimpulan serupa. Tegangan crx dinyatakan ctengan
Persamaan (6-33) ctan momen lenturnya actalah
M,. = fer ,zdA = -K"zEf z
2
dA = -K"zEJ" (6-36a)
-
A A
-
Mz. = -LcrxydA = -K"zELyz dA = K"2Elvz (6-36b)
cti mana /" actalah momen inersia terhadap sumbu y. Sekali lagi kita amati
bahwajika sumbu netral (di ctalam hal ini sumbu y) berorientasi sembarang,
maka momen M
Y ctan Mz harus acta. Namun, jika sumbu y merupakan
sumbu utama, satu-satunya momen actalah M,, ctan kita mempunyai lentur
biasa cti ctalam bictang xz. Dengan ctemikian, kita ctapat menyatakan bahwa
balok tak simetris melentur ctengan cara umum yang sama seperti balok
simetris apabila sumbu y actalah sumbu berat utama ctan satu-satunya
momen lentur actalah M, yang bekerja terhactap sumbu tersebut.
Pengamatan lebih l�mjut-karena sumbu y ctan z sating tegak lurus,
kita ketahui bahwa jika salah satu adalah sumbu utama, maka sumbu
lainnya secara otomatis actalah sumbu utama juga.
Kita sekarang sampai pada kesimpulan penting berikut: Apabila suatu
balok tak simetris mengalami lentur murni. maka bidang di manu momen
lentur beker
ja akan tegak lurus permukaan netral hanyajika sumbu y dan
z adalah sumbu pusat berat utama penampang dan momen lentur beker
ja
di salah satu bidang utama (bidang xy atau xz). Dalam kasus itu, bictang
utama cti mana momen lentur bekerja menjacti bictang lentur ctan teori
lentur biasa (termasuk rumus lentur) berlaku.
Dengan adanya kesimpulan ini, kita sekarang menctapatkan metocte
langsung untuk mencari tegangan cti balok tak simetris yang mengalami
momen lentur yang bekerja ctalam arah sembarang.
Ha�il kali incrsia dihaha" di dalam Subhab 1 2 7 Bah 1 2
Mekanika Bahan 361
• Prosedur untuk Menganalisis Balok Tak Simetris

)
1/
Gambar 6-22 Penampang Lak
simetris dcngan momcn lentur M
yang di uraikan menjadi komponen
M, dan M, yang masing-masing
bekerja terhadap sumbu berat
utama
Kita sekarang akan menguraikan prosedur umum untuk menganalisis balok
tak simetris yang mengalami momen lentur M (Gambar 6-22). Kita mulai
dengan menentukan lokasi pusat berat C penampang dan menetapkan satu
set sumbu utama di titik tersebut (sumbu y dan z di dalam gambar.)*
Selanjutnya, momen lentur M diuraikan menjadi komponen M, dan Me,
positif dalam arah seperti terlihat dalam gambar tersebut. Komponen
tersebut adalah
M, = M sin (J M_ = M cos (J (6-37a,b)
di mana (J adalah sudut antara vektor momen M dan sumbu z (Gambar 6-
22). Karena setiap komponen bekerja dalam bidang utama, maka terjadi
lentur mumi di bidang yang sama. Jadi, rumus biasa untuk lentur mumi
berlaku, dan kita dapat langsung mencari tegangan akibat momen M, dan
M
z
yang beraksi secara terpisah. Tegangan lentur yang diperoleh dari
momen yang bekerja secara terpisah tersebut selanjutnya disuperposisikan
untuk mendapatkan tegangan yang dihasilkan oleh momen lentur semula
M. (Perhatikan bahwa prosedur umum ini sama dengan yang diuraikan
dalam subbab sebelum ini untuk menganalisis balok simetri ganda dengan
beban miring.)
Superposisi tegangan lentur untuk mendapatkan tegangan resultan di
sembarang titik pada penampang dinyatakan dengan Persamaan (6-18):
o:
= Myz _ M:Y
= (M sin ())z
x
I
Y Iz I,.
(M cos ())y
I_
di mana y dan z adalah koordinat titik yang ditinjau.
(6-38)
Juga, persamaan untuk sumbu netral nn (Gambar 6-22) diperoleh
dengan menetapkan o:, sama dengan nol dan menyederhanakannya:
sin () cos ()
-- z - --y
Iv lz
(6-39)
Sudut f3 antara sumbu netral dan sumbu z dapat diperoleh dari persamaan
di atas sebagai berikul:
y I
tan f3 = - = .....;_ tan ()
z I, (6-40)
Persamaan ini menunjukkan bahwa pada umumnya sudut f3 dan e tidak
sama, sehingga sumbu netral pada umumnya tidak tegak lurus bidang di
mana momen M bekerja. Kekecualian adalah pada tiga kasus khusus yang
dijelaskan dalam subbab sebelum ini (Subbab 6.4) di dalam pembahasan
setelah Persamaan (6-23).
Di dalam subbab ini kita telah memusatkan pembahasan kita pada
balok tak simetris. Tentu saja, balok simetris adalah kasus istimewa dari
balok tak simetris sehingga pembahasan di dalam subbab ini juga berlaku
untuk balok simetris. Jika suatu balok adalah simetri� tunggal, maka sumbu
simetri adalah salah satu sumbu berat utama dari penampang tersebut;
sumbu berat utama lainnya tegak lurus sumbu simetri di pusat berat. Jika
suatu balok simetris ganda, maka kedua sumbu simetris adalah sumbu
berat utama.
Secara lebih rinci, pembahasan pada subbab ini berlaku hanya untuk
lentur mumi, yang berarti bahwa tidak ada gaya geser yang bekerja di
''Sumhu ulama dihahas di Suhhah 1 2 8 dan 1 2 Y F!ah 12
362 Bab 6 T
egangan Di Balok (T
opik Lanjut)
penampang. Apabila gaya geser ada, maka ada kemungkinan bahwa balok
tersebut terpuntir terhadap sumbu longitudinalnya. Namun, puntir tersebut
dapat dihindari apabila gaya geser bekeija melalui pusat geser, yang dibahas
pacta subbab setelah ini.
Contoh-contoh berikut ini menggambarkan analisis balok yang mem­
punyai satu sumbu simetri dan tidak mempunyai sumbu simetri sama sekali.
• Contoh 6-6
C !O x 1 5.3
M = 15 k-in.
c
a = JO"
L
IJ
Gambar 6-23 Contoh 6-6.
Penampang kanal yang mengalami
momen lentur M yang bekerja
pada sudut (} terhadap sumbu z
11 _'
c =
0,643 in.
I
(
M,
� t
• c
 M�
IJ
Gambar 6-24 Solusi untuk
Contoh 6-6
"
Sebuah profil kanal (C 10 x 15,3) menga1ami momen lentur M = 15 k-in. yang
berorientasi pada sudut (J = I oa terhadap sumbu z (Gambar 6-23a). Hitunglah
tegangan lentur aA dan a
8 masing-masing di titik A dan B, dan tentukan posisi
sumbu netral.
Solusi
Besaran penampang. Pusat berat C terletak di sumbu simetri (sumbu z) padajarak
c = 0,634 in.
dari tepi luar badan profil (Gambar 6-24).* Sumbu y dan z adalah sumbu berat
utama dengan momen inersia
I
Y
= 2,28 in.4 I, = 67,4 in.4
Juga, koordinat titik A dan B adalah sebagai berikut:
38):
YA = 5,00 in. zA = -2,600 in. + 0,634 in. = -1,966 in.
y8 = -5,00 in. z8 = 0,634 in.
Momen lentur. Momen lentur terhadap sumbu y dan z (Gambar 6-24) adalah
Mv = M sin (J = (15 k-in.)(sin 10°) = 2,605 k-in.
M, = M cos (J = ( 1 5 k-in.)(cos 10°) = 14,77 k-in.
T
egangan lentur. Sekarang kita hitung tegangan di titik A dari Persamaan (6-
M,.zA _ M,yA
1,. I,
(2,605 k-in.)(-1,966 in.) (1 4,77 k-in.)(5,00 in.)
2,28 in.4 67,4 in.4
= -2246 psi - 096 psi = -3340 psi
Dengan perhitungan serupa, kita dapatkan tegangan di titik B:
Mvz8 M_y8
0"8 = -
·- - -
-
-
/)' I,
(2,605 k-in.)(0,634 in.) (14,77 k-in.)(-5,00 in.)
2.28 in.4 67.4 in.4
= 724 psi + 1096 psi = 1 820 psi ..
Tegangan-tegangan ini adalah tegangan tarik dan tekan maksimum di balok.
Sumbu netral. Sudut f3 yang menunjukkan lokasi sumbu netral (Persamaan
6-40) diperoleh sebagai berikut:
1 67 4 in.4
tan f3 = .:.>... tan (J = ' 4 tan 10° = 5,212 f3 = 79,1°
/v 2,28 in.
Sumbu netral nn ditunjukkan dalam Gambar 6-24, dan kita lihat bahwa titikA dan
B terletak di jarak terjauh dari sumbu netral, jadi hal ini memastikan bahwa O"
A
dan a8 adalah tegangan-tegangan terbesar di balok tersebut.
Mekanika Bahan 363
Di dalam contoh ini, sudut f3 antara sumbu z dan sumbu netral jauh lebih
besar daripada sudut (} (Gambar 6-24) karena rasio I/fy besar. Sudut f3 bervariasi
dari 0 sampai 79,1° apabila sudut (} bervariasi dari 0 sampai 10°. Sebagaimana
dibahas sebelum ini dalam Contoh 6-5 Subbab 6.4, balok dengan rasio 1/f, besar
sangat sensitif terhadap arah pembebanan. Jadi, pada balok seperti ini perlu
diberikan tumpuan lateral untuk mencegah detleksi lateral yang berlebihan.
2
• Contoh 6-7
L 6 x 4 x �
M = 10 k-in.
c
-- I
2
Gambar 6-25 Contoh 6-7. Profil
siku tak sama kaki (penampang tak
simetris) yang mengalami momen
lentur M yang bekerja terhadap
sumbu l - 1
�
2
e = 23,7"
y
A
/. .
Sebuah profil siku dengan kaki tak sama (l 6 x 4 x 1/2) ditunjukkan dalam
Gambar 6-25. Siku ini mengalami momen lentur M = 1 0 k-in dengan vektor
momen yang berarah sepanjang sumbu 1 - 1 , yang sejajar dengan kaki pendek
profil siku tersebut. Tentukan tegangan tarik dan tekan maksimum di siku ini.
Solusi
Besaran penampang. Pusat berat C dari profil siku ini (Gambar 6-26) terletak
pada jarak c = 0,987 in. dari tepi luar kaki panjang profil tersebut dan jarak d =
1 ,99 dari tepi Juar kaki pendeknya.* Sumbu berat utama ditunjukkan sebagai
sumbu 3-3 dan 4-4 di Tabel E-5 Lampiran tersebut; narnun, kita akan menggunakan
label sumbu y dan z agar konsisten dengan pembahasan kita sebelum ini. Sudut
(} antara sumbu 2-2 dan sumbu y (Gambar 6-26) sama dengan sudut antara sumbu
2-2 dan 3-3 dalam Tabel E-5; jadi,
tan (} = tan a = 0,400 (} = 23,7°
Karena di dalam contoh ini vektor momen M mempunyai arah sepanjang sumbu
1-1, maka sudut antara sumbu z dan vektor M juga sama dengan e.
Momen inersia utama JY dan /z dapat diperoleh dari data dalam Tabel E-5.
Tabel tersebut memberikan radius girasi terhadap sumbu 3-3 (sumbu-y); dengan
demikian,
1, = 122 = A?
min = (4,75 in.2)(0,870 in.)2 = 3,60 in.4
Momen inersia utama (I) diperoleh dari kenyataan bahwa jumlah momen inersia
untuk semua pasangan sumbu yang saling tegak lurus adalah konstanta (lihat
Persamaan 1 2-29 dalam Bab 12):
sehingga
Iz = Ill + I22 - I,. = 1 7,4 in.4 + 6,27 in.4 - 3,60 in.4 = 20,1 in.4
Jika tabel besaran penampang tidak tersedia, maka orientasi sumbu utama dan
besar momen inersia utama perlu dihitung dengan menggunakan persamaan
transformasi yang diberikan dalam Subbab 1 2.9 Bab 12.
Ill=67.8° M
 ,
I •
f) = 2J.__7"�
Orientasi sumbu netral. Sudut f3 antara sumbu z dan sumbu netral nn
---------.:-- 1 ditentukan sebagai berikut (lihat Persamaan 6-40):
2
Garnbar 6-26 Solusi untuk
Contoh 6-7
11
tan f3 = lz tan (} =
20,1 in.: tan 23,7° = 2,45
IY 3,60 in.
f3 = 67,8°
Dengan memperhatikan Gambar 6-26, kita lihat bahwa titik B terletak paling jauh
dari sumbu netral di sisi tarik balok (di bawah dan di kiri sumbu netral). Dengan
demikian, terjadi tegangan tarik maksimum di B. Tegangan tekan maksimum terjadi
di suatu lokasi di permukaan lengkung dekat titik A. Namun, penentuan lokasi
titik secara akurat ini tidak penting (perhitungan kita hanya berlaku hingga dua
atau tiga angka penting), sehingga kita akan menganggap tegangan di A sebagai
tegangan tekan maksimum agar praktis.
364 Bab 6 T
egangan Di Balok (Topik Lanjut)
:
�
.
d, CQS 8
-
-�
I
d, sin e
1,
'
P_

..-�
J2: e yp

-�--�--�-
� I
.,.
e .
2
(a)
(b)
Gambar 6-27 Koordinat titik P
terhadap sumbu-sumbu rz apabila
koordinat terhadap sumbu-sumbu
1 -2 diketahui (Pcrsamaan 6-4 1 )
Koordinat titikA dun B . Koordinat titik A dan B dibutuhkan untuk menentukan
tegangan. Meskipun koordinat titik-titik tersebut terhadap sumbu 1 - 1 dan 2-2
telah diperoleh dari data dalam Tabel E-5, koordinatnya terhadap sumbu v dan :
lebih sulit untuk ditentukan.
Untuk mudahnya, kita akan menurunkan rumus umum untuk menghitung
koordinat tersebut. Di dalam Gambar 6-27a ditunjukkan dua set sumbu (sumbu 1 -
2 dan sumbu yz) dengan sudut () di antaranya. Titik P mempunyai koordinat d1
dan d2 yang diketahui terhadap sumbu 1 -2, dan kita akan menentukan koordinat
Yp dan Zp terhadap sumbu y:. Kita dapat memperoleh rumus yang diharapkan
untuk hubungan geometris yang terlihat dalam Gambar 6-27b. Kita mulai dengan
koordinat YP· yang sama dengan jarak Ps ditambah jarak qr. Jarak Ps (dari segitiga
Psq) sama dengan d1 cos (), dan jarak qr (dari segitiga qCr) sama dengan d1 sin
e. Dengan cara sama, kita lihat bahwa koordinat Zp sama dengan jarak Cr dikurangi
jarak qs. Jarak Cr (dari segitiga qCr) sama dengan d1 cos (), dan jarak qs (dari
segitiga Psq) sama dengan d1 sin e. Jadi, kita mempcroleh rumus berikut untuk
koordinat -"p dan zp:
(6-4 1 a,b)
Dengan mengetahui koordinat d1 dan d2 dari suatu titik terhadap sumbu 1 -2, kita
dapat menggunakan persamaan ini untuk mendapatkan koordinat Yp dan Zp tcrsebut
sumbu rz.
Sekarang tinjau kemba1i profil siku dalam Gambar 6-26. Koordinat titik A
terhadap sumbu 1 -2 dapat diperoleh dengan menggunakan dimcnsi yang diberikan
dalam Tabel E-5:
d1 = c = 0,987 in. d2 = 6,00 in. - d = 6,00 in. - 1 ,90 in. = 4,01 in.
Koordinat y dan ::: untuk titik A sekarang diperoleh dari Persamaan (6-41 a) dan (6-
41 b):
YA = (0,987 in.)(sin 23.7°) + (4,01 in.)(cos 23,7°) = 4.07 in.
zA = (0,987 in.)(cos 23,7°) - (4,01 in.)(sin 23, 17°) = -0,7 1 in.
Dengan cara sama. kita dapatkan untuk titik B koordinat scbagai herikut:
d1 = c = 0,987 in. d2 = -d = -1 .99 in.
y8 = (0,987 in.)(sin 23,7°) + (-1 ,99 in.)(cos 23,7°) = -1 ,43 in.
::.8 = (0.987 in.)(cos 23,7°) - (-1 ,99 in.)(sin 23,7°) = 1,70 in.
Metode alternatif untuk mencari koordinat titik A dan B adalah dcngan memhuat
gambar profil siku tersebut secara berskala berikut sumbu-sumbunya dan mengukur
jarak yang dicari.
Tegangan /entur di titik A dan B. Komponen momen M tcrhadap sumhu y
dan ::: (lihat Gamhar 6-26) adalah
M, = M sin() = ( 1 0 k-in.)(sin 23,7°) = 4,02 k-in
M, = M cos() = ( 1 0 k-in.)(cos 23,7°) = 9, 1 6 k-in.
Dengan dcmikian, tegangan di titik A (dari Persamaan 6-38) adalah
M,zA _ M,yA
l, /_
(4,02 k-in.)(-0,71 in.) (9, 1 6 k-in.)(4,07 in.)
3,60 in_4 20,1 in.�
= -793 psi - 1 855 psi = -2650 psi ..
yang merupakan tegangan tekan maksimum di profil terscbut. Dcngan cara
perhitungan sama kita peroleh tegangan di titik 8:
p
(b)
6.6 1
p
Gambar 6-28 Balok kantilever
dengan penampang simetris
tunggal: (a) balok dengan beban,
dan (b) penampang balok yang
menunjukkan pusat berat C dan
pusat geser S
Mekanika Bahan 365
(4,02 k-in.)(-0,70 in.) (9,16 k-in.)(-1,43 in.)
3,60 in.� 20,1 in.4
= 1 898 psi + 652 psi = 2550 psi
yang merupakan tegangan tarik maksimum di profil tersebut.
Jadi, kita telah menentukan tegangan tarik dan tekan maksimum di profil
siku tak simetris akibat momen lentur M. Prosedur umum yang sama dapat
digunakan untuk profil lain yang tak simetns.
KONSEP PUSAT GESER
Di dalam semua subbab sebelum ini kita telah meninjau tegangan lentur
di balok yang mengalami berbagai kondisi khusus. Sebagai contoh, dalam
Subbab 6.4 kita telah meninjau balok tak simetris dengan beban miring,
dan di dalam Subbab 6.5 kita telah meninjau balok tak simetris. Namun,
beban lateral yang bekerja di suatu balok selain menimbulkan gaya geser
juga momen lentur, sehingga di dalam subbab ini dan dua subbab setelah
ini kita akan mempelajari pengaruh-pengaruh geser.
Di dalam Bab 5 kita telah mempelajari bagaimana menentukan
tegangan geser di balok apabila beban bekerja di bidang simetri, dan kita
telah menurunkan rumus geser untuk menghitung tegangan geser di profil­
profil balok tertentu. Sekarang kita kan mempelajari tegangan geser pada
·balok apabila beban lateral bekerja di bidang yang bukan merupakan
bidang simetri. Kita akan mendapati bahwa beban harus bekerja di titik
khusus di penampang, yang disebut pusat geser, jika balok tersebut
diharapkan melentur saja tanpa puntir.
Tinjaulah balok kantilever dengan penampang simetris tunggal yang
memikul beban P di ujung bebas (Gambar 6-28a). Sebuah balok yang
mempunyai penampang seperti terlihat dalam Gambar (6-28b) disebut
balok I tak seimbang. Balok berbentuk I, apakah seimbang atau tidak,
biasanya dibebani pacta bidang simetri (bidang xz), tetapi di dalam hal ini
garis kerja gaya P tegak lurus bidang tersebut. Karena pusat koordinat
diambil di pusat berat C penampang, dan karena sumbu z adalah sumbu
simetri penampang, maka sumbu y dan z adalah sumbu titik berat utama.
Asumsikan bahwa akibat aksi beban P balok tersebut melentur dengan
bidang xz sebagai bidang netral, yang berarti bahwa bidang xy adalah
bidang lentur. Pada kondisi demikian, ada dua resultan tegangan di
penampang antara balok (Gambar 6-28b): momen lentur M0 yang bekerja
terhadap sumbu z dan mempunyai vektor momen di arah negatif sumbu
z, dan gaya geser yang besamya P bekerja dalam arah y negatif. Untuk
balok dan pembebanan yang diketahui, baik M0 maupun P merupakan
besaran yang diketahui.
Tegangan normal yang bekerja di penampang mempunyai resultan
berupa momen lentur M0, dan tegangan geser mempunyai resultan gaya
geser (sebesar P). Jika bahan mengikuti hukum Hooke, maka tegangan
normal bervariasi secara linier terhadapjarak dari sumbu netral (sumbu z)
dan dapat dihitung dari rumus lentur. Karena tegangan geser yang bekerja
di penampang ditentukan dari tegangan normal berdasarkan tinjauan
366 Bab 6 T
egangan Di Balok (T
opik Lanjut)
I'
p p
Gambar 6-29 Balok simetris
tunggal dengan beban P
diterapkan di titik A
p
(a)
p
(b)
Gambar 6-30 (a) Balok
simetris ganda dengan beban P
yang bekerja melalui pusat berat
(dan pusat geser), dan (b) balok
simetris tunggal dengan beban P
yang bekerja melalui pusat geser
::
s
p
Gambar 6-31 Balok tak simetris
dengan beban P yang bekerja
melalui pusat geser S
keseimbangan (lihat penurunan rumus geser dalam Bab 5), maka distribusi
tegangan geser di penampang juga dapat ditentukan. Resultan tegangan
geser ini adalah gaya vertikal yang sama besar dengan gaya P dan
mempunyai garis kerja melalui sebuah titik S yang terletak di sumbu z
(Gambar 6-28b). Titik ini dikenal dengan pusat gescr (juga disebut pusat
lentur) penampang.
Singkatnya, dengan mengasumsikan bahwa sumbu z adalah sumbu
netral, kita dapat menentukan bukan hanya tegangan normal tetapi juga
distribusi tegangan geserdan posisi gaya geser resultan. Dengan demikian,
kita sekarang mengetahui bahwa beban P yang diterapkan di ujung balok
(Gambar 6-28a) harus bekerja melalui sebuah titik khusus (pusat geser)
jika lentur diharapkan terjadi dengan sumbu z sebagai sumbu netral.
Jika beban diterapkan di titik lain pada sumbu z (katakanlah di titik
A dalam Gambar 6-29), beban ini dapat secara statika diganti dengan
sebuah sistem ekivalen yang terdiri atas gaya P yang bekerja di pusat
geser dan torsi T. Gaya yang bekerja di pusat geser tersebut menghasilkan
lentur terhadap sumbu z. Dengan demikian, sekarang kita mengetahui
bahwa beban lateral yang beker
ja di suatu balok akan menghasilkan
lentur tanpa puntir hanyajika beban tersebut beker
ja melalui pusat geser.
Pusat geser (seperti juga pusat berat) terletak di sumbu simetri,
sehingga pusat geser S dan pusat berat C akan berimpit untuk pcnampa ng
simetris ganda (Gambar 6-30a). Sebuah beban P yang bekerja melalui
pusat berat menimbulkan lentur terhadap sumbu y dan z tanpa torsi, dan
tegangan lentumya dapat diperoleh dengan menggunakan metode yang
telah diuraikan dalam Subbab 6.4 untuk balok simetris ganda.
Jika sebuah balokmempunyai pcnampang simetris tun)_!;gal (Gambar
6-30b), maka pusat berat dan pusat geser terletak di sumbu simetri. Beban
P yang bekerja melalui pusat geser dapat diurail.can menjadi komponen­
komponen dalam arah y dan z. Komponen dalam arah y akan menghasilkan
lentur dalam bidang xy dengan sumbu z sebagai sumbu netral, dan
komponen dalam arah z akan menghasilkan lentur (tanpa torsi) dalam
bidang xz dengan sumbu y sebagai sumbu netral. Tegangan lentur yang
dihasilkan oleh komponen-komponen tersebut dapat disuperposisikan untuk
mendapatkan tegangan yang diakibatkan beban semula.
Akhimya, jika sebuah balok mempunyai pcnampang tak simetris
(Gambar 6-31), analisis lentur dilakukan seperti berikut ini (asalkan beban
bekerja melalui pusat geser). Mula-mula, tentukan lokasi pusat berat C
penampang dan tentukan orientasi sumbu beratutamay dan z. Lau, uraikan
beban tersebut menjadi komponen-komponen (yang bekerja di pusat geser)
dalam arah y dan z dan tentukan momen lentur MY dan Mz terhadap sumbu
berat. Akhimya, hitunglah tegangan lentur dengan menggunakan metode
yang telah diuraikan dalam Subbab 6.5 untuk balok tak simetris.
Karena kita telah mengetahui arti penting pusat geser dan pengguna­
annya dalam analisis, maka wajarlah bila kita bertanya "Bagaimana kita
menentukan lokasi pusat geser?" Untuk profil simetris ganda jawabannya
tentu saja sederhana, yaitu di pusat berat. Untuk profil simetris tunggal,
pusat geser terletak di sumbu simetri, tetapi lokasi yang pasti di sumbu
tersebut tidak mudah ditentukan. Menentukan lokasi pusat geser lebih
sulit lagi jika penampangnya tidak simetris. Dalam kasus tersebut,
dibutuhkan metode lanjut di luar ruang lingkup buku ini. (Beberapa buku
pegangan teknik memuat rumus-rumus untuk menentukan pusat geser,
misalnya lihat Ref. 2-10.)
Mekanika Bahan 367
Balok denganpenampang terbuka berdiruling tipis, seperti balok sayap
lebar, kanal, siku, T, dan Z, adalah kasus-kasus khusus. Profil-profil tersebut
bukan saja banyak digunakan di dalam struktur, tetapi juga lemah terhadap
tarsi. Akibatnya, penentuan lokasi pusat geser merupakan hal yang penting.
Penampang seperti ini ditinjau dalam dua subbab berikut-di Subbab 6.7
kita membahas bagaimana mencari tegangan geser di balok berpenampang
tersebut di atas, dan di dalam Subbab 6.8 kita tunjukkan bagaimana
menentukan pusat gesernya.
6.7 1 TEGANGAN GESER 01 BALOK DENGAN PENAMPANG
....._____. TER B U KA BERDINDING TIPIS
Distribusi tegangan geser di balok persegi panjang, balok lingkaran, dan
di badan balok dengan flens telah dibahas dalam Subbab 5.8, 5.9, dan
5. 10, dan kita telah menurunkan rumus geser (Persamaan 5-38) untuk
menghitung tegangan:
-r = VQ
lb
(6-42)
Di dalam rumus ini, V menunjukkan gayageseryang bekeija di penampang,
I adalah momen inersia penampang (terhadap sumbu netral), b adalah
lebar balok di lokasi di mana tegangan geser dihitung, dan Q adalah
momen pertama (statis momen) bagian penampang di luar lokasi di mana
tegangan sedang dihitung.
Sekarang kita akan meninjau tegangan geser pada kelompok balok
khusus yang disebut pcnampang terhuka llcrdinding tipis. Balok seperti
ini dibedakan karena dua karakteristik: (1) tebal dinding yang kecil di­
bandingkan dengan tinggi dan lebar penampang, dan (2) penampangnya
terbuka, seperti dalam kasus balok I atau balok kanal, bukan tertutup,
seperti dalam kasus balok boks berlubang. Contoh-contoh penampang
terbuka berdinding tipis terlihat dalam Gambar 6-32. Balok seperti ini
juga disebut potnngan struktural atau potongan protil.
� Balok yung. kha>
I [::--.J L 'lL 1
dengun penumpang terhuka
herdinding tipb (ht�lol.. suyap
lehur atau bnlok I. balok kannl.
profil >tku. protil Z. d:111 balo'- T)
Kita dapat menentukan tegangan geser di balok berdinding tipis
penampang terbuka dengan menggunakan cara sama yang digunakan dalam
menurunkan rumus geser (Persamaan 6-42). Untuk mempertahankan
penurunan selama mungkin, kita akan meninjau sebuah balok yang
mempunyai garis tengah penampang mm dengan bentuk sembarang
(Gambar 6-33a). Sumbu y dan z adalah sumbu berat utama penampang
dan beban P bekeija sejajar sumbu y dan melalui pusat geser S (Gambar
6-33b). Dengan demikian, lentur akan terjadi di bidang xy dengan sumbu
z sebagai sumbu netral. Pada kondisi ini, kita dapat memperoleh tegangan
normal di sembarang titik di ba1ok dari rumus lentur:
= -
M,y
erx (6-43)
I,
368 Bab 6 T
egangan Di Balok (Topik Lanjut)
Gambar 6-33 Tegangan geser di
balok berpenampang terbub
herdinding tipis. (Sumbu y dan z.
adalah sumbu berat utama.)
di mana M, adalah momen lentur terhadap sumbu z (positif seperti
didefinisikan dalam Subbab 6.4 dan Gambar 6-13) dan y adalah koordinat
titik yang ditinjau.
�
tl
� u h
/
('
-" "' .. '
I'
Sekarang tinjau elemen volume abed yang dipotong antara dua
potongan melintang dengan jarak dx satu sama lain (Gambar 6-33a).
Perhatikan bahwa elemen mulai di tepi potongan melintang dan mempunyai
panjang s yang diukur sepanjang geser pusat mm. Untuk menentukan
tegangan geser, kita isolasikan elemen tersebut seperti terlihat dalam
Gambar 6-33c. Resultan untuk tegangan normal yang bekerja pada sisi ad
adalah gaya F1 dan untuk yang bekerja pada sisi be adalah gaya F2.
Karena F1 punya momen lentur yang lebih besar daripada F2, maka
tegangan normal yang bekerja pada sisi ad lebih besar daripada yang
bekerja pada sisi be, sehingga F1 lebih besar daripada F2. Maka, tegangan
geser r harus bekerja sepanjang sisi ed agar elemen mencapai ke­
setimbangan. Kerja tegangan geser ini paralel pada permukaan atas dan
bawah elemen dan harus disertai dengan tegangan geser komplementer
yang bekerja pada sisi penampang melintang ad dan be, sebagaimana
yang ditunjukkan pada gambar.
Untuk menghitung tegangan-tegangan geser ini, kita jumlahkan gaya­
gaya dalam arah x untuk elemen abed (Gambar. 6-33c), maka,
(a)
di mana t adalah ketebalan penampang pada sisi ed elemen. Dengan kata
lain, t adalah ketebalan penampang pada jarak s dari ujung yang bebas
(Gambar 6-33b). Selanjutnya, kita peroleh per�amaan untuk gaya F1 dengan
menggunakan Persamaan (6-43):
fl
=
i�xdA = - M,1
1·� dA
o I, u
(b)
di mana dA adalah elemen luas pada sisi ad dari volume abed, y adalah
koordinat pada elemen dA, dan M,1 adalah momen lentur pada penampang.
Persamaan yang analog diperoleh untuk gaya F2:
(c)
Mekanika Bahan 369
dengan memasukkan nilai F1 dan F2 untuk pers. (a), kita mendapatkan
-r
= (Mz2 - Mzt )_
1
_ fsydA (d)
dx lzt )0
Jumlah (Mz1 - Mz2)/dx adalah nilai perubahan dM/dx momen lentur dan
besarnya sama dengan gaya geser yang bekerja pada penampang (lihat
pers. 4-6).
dM
dx
=
M - M
z2 zl = V
dx y
(e)
Gaya geser VY paralel dengan sumbu y dan positif dalam arah negatif
sumbu y,yang artinya, positif dalam arah gaya P (gambar 6-33). Konvensi
ini konsisten dengan perjanjian tanda yang diberlakukan sebelumnya di
Bab 4 (lihat gambar 4-5 untuk per
janjian tanda gaya geser).
Dengan memasukkan Persamaan (e) ke Persamaan (d), kita dapatkan
persamaan berikut untuk tegangan geser -r:
r = �:ts;ydA (6-44)
Persamaan ini memberikan tegangan geser di sembarang titik di penampang
pada jarak s dari tepi bebas. Integral di sisi kanan menunjukkan bahwa
momen pertama terhadap sumbu z (sumbu netral) penampang dari s = 0
sampai s = s. Dengan menuliskan momen pertama ini sebagai Q2, kita
dapat menulis persamaan untuk tegangan geser r dalam bentuk yang
lebih sederhana
(6-45)
yang analog dengan rumus geser standar (Persamaan 6-42). Tegangan
geser mempunyai arah di sepanjang garis pusat penampang dan sejajar
dengan tepi-tepi penampang. Lebih jauh lagi, kita dapat mengasumsikan
bahwa tegangan tersebut mempunyai intensitas konstan di seluruh tebal
dinding t, yang merupakan asumsi sah apabila tebal tersebut kecil.
(Perhatikan bahwa tebal dinding tidak harus konstan tetapi dapat bervariasi
sebagai fungsi dari jarak s.)
Aliran geser di sembarang titik pada penampang sama dengan hasil
kali tegangan geser dan tebal di titik tersebut, yaitu
(6-46)
Karena Vy dan Iz adalah konstanta, maka aliran geser berbanding lurus
dengan Qz. Di tepi atas dan bawah penampang, Qz adalah nol dan
karenanya, aliran geser adalah nol. Aliran geser bervariasi secara kontinu
antara titik-titik ujung ini, dan mencapai harga maksimum di mana Qz
adalah maksimum, yang terjadi di sumbu netral.
Sekarang bayangkan bahwabalok dalamGambar 6-33 melentur akibat
beban yang bekerja seja
jar sumbu z dan melalui pusat geser. Balok ini
akan melentur dalam bidang xz dan sumbu y akan merupakan sumbu
r
370 Bab 6 T
egangan Di Balok (Topik Lanjut)
netral. Dalam hal ini kita dapat mengulangi jenis analisis yang sama dan
sampai pada rumus berikut untuk tegangan geser dan aliran geser
(bandingkan dengan Persamaan 6-45 dan 6-46):
(6-47a,b)
Di dalam persamaan-persamaan ini, Vz adalah gaya geser sejajar sumbu
z dan Qv adalah momen pertama terhadap sumbu y.
Sin.gkatnya, kita telah menurunkan rumus untuk tegangan geser di
balok dengan penampang terbuka berdinding tipis dengan ketentuan bahwa
gaya harus bekerja melalui pusat geser dan harus seja
jar salah satu sumbu
berat utama. Jika gaya geser tersebut miring terhadap sumbu y dan z
(tetapi masih melalui pusat geser), maka gaya tersebut dapat diuraikan
menjadi komponen-komponen sejajar sumbu utama. Lalu, dua analisis
terpisah dapat dilakukan, dan hasilnya disuperposisikan.
Untuk menggambarkan penggunaan rumus tegangan geser, kita akan
meninjau tegangan geser di balok sayap lebar. Selanjutnya, di dalam Subbab
6.8 kita akan menggunakan rumus tegangan geser untuk menentukan lokasi
pusat geser beberapa balok berdinding tipis dengan penampang terbuka.
• Tegangan Geser di Balok Sayap Lebar
Kita akan menyelidiki tegangan geser di balok sayap lebar dalam Gambar
6-34a. Balok ini dibebani oleh gaya P yang bekerja di bidang badan, jadi
melalui pusat geser, yang berimpit dengan pusat berat penampang. Dimensi
penampang ditunjukkan dalam Gambar 6-34b, di mana kita perhatikan
bahwa b adalah lebar flens, h adalah tinggi antara garis pusat flens, tr
adalah tebal flens, dan tw adalah tebal badan.
Kita mulai dengan meninjau tegangan geser di potongan bb di bagian
kanan flens atas (Gambar 6-34b). Karena jarak s mempunyai pusat di tepi
penampang (titik a), maka luas potongan di antara titik a dan potongan bb
adalah st1 Juga, jarak dari pusat berat area ke sumbu netral adalah h/2,
sehingga momen pertama Qz sama dengan st1hl2. Jadi, tegangan geser r
1
di flens di potongan bb (dari Persamaan 6-45) adalah
P(stfh/2) shP
rf = //r
= 2/
z
(6-48)
Arah tegangan ini dapat ditentukan dengan mempela
jari gaya-gaya yang
bekerja di elemen A, yang dipotong dari flens antara titik a dan potongan
bb (lihat Gambar 6-34a dan b). Elemen tersebut digambar dengan skala
yang lebih besar dalam Gambar 6-34c agar gaya dan tegangan yang bekerja
padanya dapat terlihat jelas. Kita dengan mudah dapat mengetahui bahwa
gaya F1 lebih besar daripada gaya F2, karena momen lentumya lebih
besar di muka belakang elemen dibandingkan dengan di muka depan. Jadi
tegangan geser di muka kiri elemen A harus bekerja menuju pembaca jika
elemen tersebut harus berada dalam kesetimbangan. Dari pengamatan
tersebut jelaslah bahwa tegangan geser di muka depan elemen A harus
bekerja menuju ke kiri.
Sekarang tinjau kembali Gambar 6-34b, Kita lihat bahwa kita telah
menentukan dengan lengkap besar dan arah tegangan geser di potongan
z
Gambar 6-34 Tegangan geser
di balok sayap lebar
Mekanika Bahan 371
y
b
z _
_
d
_r
---'---lf.
M
C
d
�
X
__,,.L;}o;-- tw h/2
_l���
!l b/2 ·I·
b/2 ·I
(a) (b)
'tz
(c) (d)
bb, yang dapat terletak di antara titik a dan pertemuan flens dan badan.
Jadi, tegangan geser di seluruh bagian kanan atas flens adalah horizontal,
beker
ja ke kiri, dan mempunyai besar yang dinyatakan dalam Persamaan
(6-48). Seperti terlihat dari persamaan tersebut, tegangan geser bertambah
secara linier terhadap jarak s. Variasi tegangan ditunjukkan secara grafis
dalam Gambar 6-34d, dan kita lihat bahwa tegangan bervariasi dari nol di
titik a (di mana s = 0) sampai ke harga maksimum r1 di s = b/2:
Aliran gesemya adalah
bhP
r, =
4/
z
(6-49)
(6-50)
Perhatikan bahwa kita telah menghitung tegangan geser dan aliran geser
di pertemuan garis pusat flens dan badan, dengan menggunakan hanya
dimensi garis pusat penampang di dalam perhitungan. Prosedur pendekatan
ini menyederhanakan perhitungan dan cukup memadai untuk penampang
berdinding tipis.
Dengan mulai pada titik c di bagian kiri flens atas (Gambar 6-34b)
dan mengukur s ke arah kanan, kita dapat mengulangi jenis analisis yang
sama. Kita akan mendapatkan bahwa besar tegangan geser juga dinyatakan
dengan Persamaan (6-48) dan (6-49). Namun, dengan memotong elemen
372 Bab 6 T
egangan Di Balok (Topik Lanjut)
B (Gambar 6-34a) dan meninjau keseimbangannya, kita dapatkan bahwa
tegangan geser di penampang sekarang bekerja ke arah kanan, seperti
terlihat dalam Gambar 6-34d.
Langkah berikutnya adalah menentukan tegangan geser yang bekerja
di badan. Dengan meninjau potongan horizontal di atas badan (di pertemuan
flens dan badan), kita dapatkan bahwa momen pertama terhadap sumbu
netral adalah Qz = btjz/2, sehingga persamaan tegangan geser adalah
bhtfP
'r2
=
2ft
(6-51)
z w
Aliran geser yang berkaitan dengan ini adalah
bhtfP
/2 = 'r2tw = 'if­
z
(6-52)
Perhatikan bahwa aliran geser /
2 sama dengan dua kali aliran geser /1,
sesuai dengan yang diharapkan, karena aliran geser di dua buah setengah
flens atas bergabung menghasilkan aliran geser di atas badan.
Tegangan geser di badan bekerja ke bawah dan bertambah besar
sampai mencapai sumbu netral, Di potongan dd, yang terletak di jarak r
dari sumbu netral (Gambar 6-34b), tegangan geser rw di badan dihitung
sebagai berikut:
= btrh + (!!_
r)(t )
(h/2
+
r) =
btrh + �(h
2
_
r
2 )
Qz
2 2
w
2 , 2 2 4
-r = (btrh + !!!__ _
r
2 )_!_
w
tw 4 2/z
(6-53)
Apabila r = h/2, maka persamaan ini akan menjadi Persamaan (6-51), dan
jika r = 0, ini akan menghasilkan tegangan geser maksimum:
(6-54)
Sekali lagi perlu diingat bahwa kita telah melakukan semua perhitungan
ini berdasarkan atas dimensi garis pusat penampang. Karena alasan ini,
maka tegangan geser di badan suatu balok sayap lebar yang dihitung dari
Persamaan (6-53) dapat sedikit berbeda dengan yang diperoleh dari analisis
lebih eksak yang ada di Bab 5 (lihat Persamaan 5-46 Subbab 5. 10).
Tegangan geser di badan bervariasi secara parabolik, seperti terlihat
dalam Gambar 6-34d, meskipun variasi tersebut tidak besar. Rasio -rmaks
terhadap -r2 adalah
(6-55)
Sebagai contoh, jika kita mengambil harga yang khas h = 2b dan tf = 2tw,
rasio tersebut adalah -rmalclr = 1,25.
Sebagai langkah akhir, kita dapat menyelidiki tegangan geser di flens
bawah dengan menggunakanmetode yang sama dengan yang kita gunakan
untuk flens atas. Kita akan mendapatkan bahwa besar tegangan akan sama
dengan di flens atas, tetapi arahnya seperti terlihat dalam Gambar 6-34d.
Dari Gambar 6-34d, kita lihat bahwa tegangan geser di penampang
"mengalir'' dari tepi paling luar flens atas, turun melalui badan, dan akhirnya
6.8 1
Mekanika Bahan 373
berarah ke luar tepi flens bawah. Karena aliran ini selalu kontinu di
sembarangpenampang struktural, maka ini dapat berfungsi sebagai metode
konvensional dalam menentukan arah tegangan. Sebagai contoh, jika gaya
geser bekerja ke bawah pada balok dalam Gambar 6-34a, kita ketahui
langsung bahwa aliran geser di badanjuga hams berarah ke bawah. Dengan
mengetahui arah aliran geser di badan ini, kita juga mengetahui arah
aliran geser di flens karena aliran geser hams kontinu. Menggunakan cara
sederhana ini untuk mendapatkan arah tegangan geser lebih mudah daripada
memvisualisasikan arah-arah gaya yang bekerja di elemen seperti A
(Gambar 6-34c) yang dipotong dari balok.
Resultan dari semua tegangan geser yang bekerja di penampang
jelaslah merupakan gaya vertikal karena tegangan horizontal di flens tidak
menghasilkan resultan. Tegangan geser di badan mempunyai resultan R,
yang dapat diperoleh dengan mengintegrasikan tegangan geser di seluruh
tinggi badan, sebagai berikut:
J
rh/2
R = -r dA = 2Jo nw
dr
Dengan substitusi dari Persamaan (6-53), kita dapatkan
R = 2t
rh/2(btrh
+
_if_- ,2)(_!!__)dr =
(btr + !!_)h
2
twP
(6
-
56)
w Jo tw 4 2lz tw 6 2Iz
Momen inersia /z dapat dihitung sebagai berikut (dengan menggunakan
dimensi garis pusat):
(6-57)
di mana suku pertama adalah momen inersia badan dan suku kedua adalah
momen inersia flens. Apabila rumus untuk Iz disubstitusikan ke dalam
Persamaan (6-56), kita peroleh R = P, yang menunjukkan bahwa resultan
dari tegangan geser yang bekerja di penampang sama dengan bebannya.
Selain itu, garis kerja resultan ini ada di bidang badan sehingga resultan
tersebut melalui pusat geser.
Analisis di atas menunjukkan bagaimana tegangan geser di penampang
terbuka berdinding tipis dapat diperoleh. Hasil ini juga memberikan
gambaran lebih lengkap tentang tegangan geser yang bekerja di penampang
balok I atau sayap lebar (ingat bahwa di dalam pembahasan sebelum ini
di Bab 5, kita hanya menyelidiki tegangan geser di badan). Contoh-contoh
tambahan diberikan dalam subbab berikut, di mana tegangan geser di
profil kanal dan profil siku ditentukan sebagai bagian dari proses penentuan
pusat geser.
PUSAT GESER PENAMPANG TERBUKA BERDINDING TIPIS
Di Subbab 6.7 kita telah mengembangkan metode-metode untuk mencari
tegangan geser di penampang terbuka berdinding tipis. Sekarang kita akan
menggunakan metode-metode tersebut untuk menentukan lokasi pusat geser
beberapa bentuk penampang balok. Hanya balok dengan penampang
simetris tunggal dan tak simetris yang ditinjau karena kitatelah mengetahui
bahwa pusat geser penampang simetris ganda terletak di pusat berat.
374 Bab 6 T
egangan Di Balok (T
opik Lanjut)
Prosedur untuk menentukan lokasi pusat geser terdiri atas dua bagian
utama: pertama, mengevaluasi tegangan geser yang bekerja di penampang
apabila lentur terjadi terhadap salah satu sumbu utama, dan kedua,
menentukan resultan dari tegangan tersebut. Pusat geser terletak di garis
keJja resultan tersebut. Dengan meninjau lentur terhadap kedua tegangan
utama, kita dapat menentukan posisi pusat geser.
Seperti di Subbab 6.7, kita akan menggunakan hanya dimensi garis
pusat dalam menurunkan rumus-rumus dan melakukan perhitungan.
Prosedur ini cukup memadai jika baloknya berdinding tipis, artinya, jika
tebal balok kecil dibandingkan dengan dimensi lain penampang.
• Profil Kanal
y
tr
tw 1
z c
±
tr
l
r-- b-H
(a)
Gambar 6-35 Pusat geser S dari
sebuah profil kanal
Balok pertama yang dianalisis adalah profil kanal simetris tunggal (Gambar
6-35a). Dari pembahasan dalam Subbab 6.6 kita ketahui dengan mudah
bahwa pusat geser ada di sumbu simetri (sumbu z). Untuk mendapatkan
posisi pusat geser di sumbu z, kita asumsikan bahwa balok melentur ter­
hadap sumbu z sebagai sumbu netral, dan selanjutnya kita tentukan garis
kerja gaya geser resultan VY yang beker
ja sejajar sumbu y. Pusat gesemya
terletak di perpotongan garis keJja V
y
dan sumbu z. (Perhatikan pusat
sumbu-sumbu ada di pusat berat C, sehingga sumbu y dan z adalah sumbu
berat utama.)
y
s
z � c
'+
c
Fz -
'tz F3 vy
'tl
(b) (c) (d)
Berdasarkan atas pembahasan di Subbab 6.7, kita simpulkan bahwa
tegangan geser di kanal bervariasi secara linier di dalam flens dan secara pa­
rabolik di badan (Gambar 6-35b). Kita dapat mencari resultan dari te­
gangan-tegangan tersebut jika kita mengetahui tegangan maksimum r1 di
flens, tegangan r2 di atas badan, dan tegangan maksimum rmaks di badan.
Untuk memperoleh tegangan r1 di flens, kita gunakan Persamaan (6-45)
dengan Q, sama dengan momen pertama dari luas flens terhadap sumbu z:
btfh
Qz = -
2-
(a)
di mana b adalah lebar flens, t1 adalah tebal flens, dan h adalah tinggi
balok. (Perhatikan sekali lagi bahwa dimensi b dan h diukur di sepanjang
garis pusat penampang.) Jadi, tegangan r1 di flens adalah
VYQZ bhVY
r
' =
Tt
f
= ----rr-
z z
di mana lz adalah momen inersia terhadap sumbu z.
(6-58)
Mekanika Bahan 375
Tegangan t'2 di atas badan diperoleh dengan cara sama tetapi dengan
tebal sama dengan tebal badan, bukan teoal flens:
VyQz btrhV
Y
t'2 = -- = --
liw 2twlz
Juga, di sumbu netral, momen pertama area ini adalah
Dengan dernikian, tegangan n'aksimum adalah
VYQZ (btf h JhVY
t'maks = T/ = -
t- + 4 2/
z w w z
(6-59)
(b)
(6-60)
Tegangan 'ti dan r2 di setengah bawah badan sama dengan tegangan terkait
di setengah atasnya (Gambar 6-35b).
Gaya geser horizontal F1 di setiap flens (Gambar 6-35c) dapat
diperoleh dari diagram tegangan segitiga. Setiap gaya sama dengan luas
segitiga tegangan dikalikan dengan tebal flens:
(t'1b J hb�v
FJ = 2 (tf ) = 4/z (6-61 )
Gaya vertikal F2 di badan harus sama dengan gaya geser VY, karena
gaya-gaya di flens tidak mempunyai komponen vertikal. Sebagai peme­
riksaan, kita dapat melihat bahwa F2 = Vy dengan meninjau diagram
tegangan parabolik pada Gambar 6-35b. Diagram ini terdiri atas dua
bagian-persegi panjang dengan luas r2 h dan segmen luas parabolik
2
3(t'maks - t'
z )h
Jadi, gaya geser F2, sama dengan luas diagram tegangan dikalikan tebal
badan tw, adalah
2
F2 =t'2htw + 3(t'maks - t'2 )htw
Dengan memasukkan rumus untuk r2 dan t'maks (Persamaan 6-59 dan 6-
60) ke dalam rumus di atas, kita dapatkan
_ (twh3 bh
2
tt )VY
F2 - ----u- + -
2
- T
z
Akhimya, kita perhatikan bahwa rumus untuk momen inersia
t h3 bh
2
t
I
w r
z = ----u- + -
2
-
(c)
(6-62)
; mana kita sekali lagi dengan menggunakan dimensi garis pusat. Dengan
·: ';nasukkan rumus untuk Iz ke dalam Persamaan (c) untuk F2, kita peroleh
� = � �
sebagaimana diharapkan.
Ketiga gaya yang bekerja di penampang (Gambar 6-35c) mempunyai
resultan VY yang berpotongan dengan sumbu z di pusat geser S (Gambar
6-35d). Jadi, momen dari ketiga gaya tersebut terhadap sembarang titik di
376 Bab 6 T
egangan Di Balok (T
opik Lanjut)
penampang harus sama dengan momen dari gaya V
Y
terhadap titik yang
sama. Hubungan momen tersebut memberikan persamaan yang meng­
hasilkan posisi pusat geser. Sebagai ilustrasi, momen dari ketiga gaya
(Gambar 6-35c) adalah F1h - F2e, di mana e adalah jarak dari garis pusat
badan ke pusat geser, dan momen dari gaya resultan V
Y
adalah nol (Gambar
6-35d). Dengan menyamakan momen-momen tersebut kita peroleh
(6-63)
Dengan memasukkan F1 dari Persamaan (6-61 ) dan F2 dari Persamaan
(d), dan memecahkan e, kita peroleh
b
2
h
2
tr
e =
4/
z
(6-64)
Apabila rumus untuk Iz (Persamaan 6-62) disubstitusikan, Persamaan (6-
64) menjadi
3b2t
e =
r
htw + 6btf
Jadi, kita telah menentukan posisi pusat geser penampang kanal.
(6-65)
Sebagaimana diterangkan dalam Subbab 6.6, suatu balok kanal akan
mengalami lentur tanpa puntir apabila dibebani oleh gaya yang bekerja
melalui pusat geser, Jika beban tersebut bekerja sejajar sumbu y tetapi
tidak melalui pusat geser (misalnya jika beban beker
ja di bidang badan),
maka beban tersebut dapat diganti dengan sistem gaya yang secara statis
ekivalen, yaitu yang terdiri atas beban yang melalui pusat geser dan kopel
puntir. Jadi, kita mempunyai kombinasi lentur dan torsi pada balok tersebut.
Jika beban beker
ja di sepanjang sumbu z, maka kita mempunyai lentur
sederhana terhadap sumbu y. Jika beban beker
ja dalam arah miring melalui
pusat geser, maka beban tersebut dapat diganti dengan beban yang ekivalen
secara statis yang bekerja sejajar sumbu y dan z.
• Profil Siku
Gambar 6-36 Pusat geser untuk
profil siku sama kaki
y
z
(a)
Profil berikutnya yang akan ditinjau adalah profil siku sama kaki (Gambar
6-36a), di mana setiap kaki siku mempunyai panjang b dan tebal t. Sumbu
z adalah sumbu simetri dan pusat sumbu koordinat ada di pusat berat C;
dengan demikian, sumbu y dan z adalah sumbu berat utama.
y y y
(b) (c) (d)
Mekanika Bahan 377
Untuk menentukan lokasi pusat geser, kita akan mengikuti prosedur
umum sama seperti yang telah digunakan pada profil kanal, karena kita
akan menentukan distribusi tegangan geser sebagai bagian dari analisis.
Namun, sebagaimana akan terlihat nanti, pusat geser profil siku dapat
ditentukan dengan inspeksi.
Kita mulai dengan mengasumsikan bahwa penampang mengalami
gaya geser VY yang bekerja sejajar sumbu y. Lalu, kita menggunakan
Persamaan (6-45) untuk mendapatkan tegangan geser di masing-masing
kaki siku. Untuk itu, kita membutuhkan momen pertama dari area
penampang antara titik a di tepi luar balok (Gambar 6-36b) dan potongan
bb yang terletak pada jarak s dari titik a. Area ini sama dengan st dan
jarak pusat beratnya dari sumbu netral adalah
b - s/2
-12
Jadi, momen pertama dari area ini adalah
Q = st(b - s/2 )
z -12
(6-66)
Dengan mensubstitusikan ke dalam Persamaan (6-45), kita dapatkan rumus
berikut untuk tegangan geser pada jarak s dari tepi penampang
� =
V;�z =
/�{b -
f)
z z
(6-67)
Momen inersia Iz dapat diperoleh dari Kasus 24 Lampiran D dengan f3 =
45°:
I = 21 = 2(tb3 )= tb3
z BB
6 3
(6-68)
Dengan memasukkan rumus untuk Iz ke dalam Persamaan (6-67) kita
dapatkan
(6-69)
Rumus ini memberikan tegangan geser di sembarang titik sepanjang kaki
siku. Tegangan tersebut bervariasi secara kuadratik terhadap s, seperti
terlihat dalam Gambar 6-36c.
Harga maksimum dari tegangan terjadi di perpotongan kaki-kaki siku
dan diperoleh dari Persamaan (6-69) dengan memasukkan s = b:
3Y
� =
y
maks 2bt-Jl
(6-70)
Gaya geser F di masing-masing kaki (Gambar 6-36d) sama dengan luas
diagram tegangan parabolik (Gambar 6-36c) dikalikan dengan tebal t kaki:
2 Vy
F = 3(�maksb)(t) = -J2 (6-71)
Karena komponen horizontal dari gaya F saling meniadakan, maka hanya
komponen vertikal yang tertinggal. Setiap komponen vertikal sama dengan
Fl-fi atau VY12 sehingga gaya vertikal resultan sama dengan gaya geser
lj.
378 Bab 6 T
egangan Di Balok (T
opik Lanjut)
Gambar 6-37 Pusat geser dari
penampang yang terdiri atas dua
persegi panjang tipis yang
berpotongan
(a) (b)
Gambar 6·38 Pusat geser profil
Z berdinding tipis
Karena gaya resultan melalui titik perpotongan garis kerja kedua
gaya F (Gambar 6-36d), maka kita lihat bahwa gaya geser S terletak di
perpotongan dari kedua kaki profil siku tersebut.
• Penampang yang Terdiri atas Dua Persegi Panjang Sempit yang
Berpotongan
Di dalam pembahasan sebelum ini mengenai profil siku, kita telah
mengevaluasi tegangan geser dan gaya-gaya di kaki profil siku untuk
menggambarkan metodologi umum dalam menganalisis penampang terbuka
berdinding tipis. Namun, jika tujuan utama adalah menentukan pusat geser,
maka tegangan geser dan gaya-gaya tersebut tidak perlu dievaluasi
(Persamaan 6-69 dan 6-7 1). Karena tegangan geser sejajar dengan garis
pusat kaki (Gambar 6-36b), maka kita akan dapat mengetahui secara
langsung bahwa resultannya adalah dua gaya F (Gambar 6-36d). Resultan
dari kedua gaya ini adalah satu gaya yang melalui titik potongnya. Dengan
demikian, titik tersebutmerupakan pusat geser. Jadi, kita dapat menentukan
lokasi pusat geser dari profil siku sama kaki dengan argumentasi sederhana,
tanpa perlu melakukan perhitungan.
Argumentasi yang sama juga berlaku untuk semua penampang yang
terdiri atas dua persegi panjang tipis yang saling berpotongan (Gambar 6-
37). Dalam hal ini resultan tegangan geser adalah gaya-gaya yang
berpotongan di perpotongan masing-masing persegi panjang. Dengan
demikian, pusat geser S terletak di titik tersebut.
• Profil Z
Sekarang kita akan menentukan lokasi pusat geser dari profil Z yang
mempunyai dinding tipis (Gambar 6-38a). Profil ini tidak mempunyai
sumbu simetri tetapi simetris terhadap pusat berat C (lihat Subbab 12.2
dalam Bab 12 untuk pembahasan simetri terhadap sebuah titik). Sumbu
y dan z adalah sumbu utama yang melalui pusat berat.
Kita mulai dengan mengasumsikan bahwa gaya geser VY beketja seja
jar
dengan sumbu y dan menyebabkan lentur terhadap sumbu z sebagai sumbu
netral. Karena itu, tegangan geser di flens dan badan akan berarah seperti
terlihat dalam Gambar 6-38a. Dari tinjauan simetri, kita simpulkan bahwa
gaya F1 di dua flens harus sama (Gambar 6-38b). Resultan dari ketiga
gaya yang bekelja di penampang (F1 di flens, dan F2 di badan) harus
sama dengan gaya geser VY. Gaya F1 mempunyai resultan 2F1 yang bekelja
melalui pusat berat dan seja
jar dengan flens. Gaya ini berpotongan dengan
gaya F2 di pusat berat C sehingga kita simpulkan bahwa garis kerja gaya
geser Vv melalui pusat berat.
Jika balok mengalami gaya geser Vz yang sejajar sumbu z, maka kita
akan sampai pada kesimpulan serupa, bahwa gaya geser bekerja melalui
pusat berat. Karena pusat geser terletak di perpotongan garis kelja kedua
Gambar 6-39 Contoh 6-8. Pusat
geser suatu penampang setengah
lingkaran berdinding tipis
Mekanika Bahan 379
gaya geser, maka kita simpulkan bahwa pusat geser profil Z berhimpit
dengan pusat beratnya.
Kesimpulan ini berlaku untuk setiap profil Z yang simetris terhadap
pusat berat, yaitu setiap profil Z yang mempunyai flens identik (lebar dan
tebal sama). Namun perlu diingat bahwa tebal badan tidak harus sama
dengan tebal flens.
Lokasi pusat geser untuk berbagai profil struktural lain diberikan
dalam soal-soal di akhir bab ini.*
Contoh 6-8
Sebuah penampang setengah lingkaran berdinding tipis dengan radius r dan tebal
t terlihat dalam Gambar 6-39a. Tentukan jarak e dari pusat lingkaran 0 ke pusat
geser S.
(a) (b)
Solusi
Kita ketahui secara langsung bahwa pusat geser terletak di sumbu simetri (sumbu
z). Untuk menentukan posisi eksaknya, kita asumsikan bahwa balok ini melentur
akibat gaya geser VY yang bekeija sejajar sumbu y dan menghasilkan lentur terhadap
sumbu z sebagai sumbu netral (Gambar 6-39b).
Langkah pertama adalah menentukan pusat tegangan geser T yang bekeija di
penampang (Gambar 6-39b). Kita tinjau potongan bb yang didefinisikan dengan
jarak s yang diukur sepanjang garis pusat penampang dari titik a. Sudut tengah
yang dibatasi oleh titik a dan potongan bb ditulis dengan notasi e. Dengan dernikian,
jarak s sama dengan re, di mana r adalah radius garis pusat dan e dinyatakan
dalam radian. Untuk mengevaluasi momen pertama dari area penampang antara
titik a dan potongan bb, kita identifikasikan elemen luas dA (terlihat digelapkan
dalam gambar) dan integrasikan sebagai berikut:
Qz = Jy dA = L9
(r cos <P)(tr d<P) = r2t sin e (e)
di mana <P adalah sudut terhadap elemen luas dan t adalah tebal penampang. Jadi,
tegangan geser T di potongan bb adalah
VyQz Vyr2 sin e
T = -- = -'----:--
-
// /
z (f)
*Penentuan pusat geser pertama kali dilakukan oleh Timoshenko pada tahun 1913 (Ref. 6-1).
Untuk perkembangan sejarah mengenai konsep pusat geser, lihat Ref. 6-1 sampai 6-6.
380 Bab 6 T
egangan Di Balok (Topik Lanjut)
Dengan memasukkan /2 = n?t/2 (lihat Kasus 23 dalam Lampiran D), kita dapatkan
2Vv sin 0
'l' = -'------ (6-72)
Apabila 0 = 0 atau 0 = n, maka rumus ini memberikan 'l' = 0, sebagaimana
diharapkan. Apabila 0 = 1C/2, maka didapatkan tegangan geser maksimum.
Resultan tegangan geser harus sama dengan gaya geser VY. Dengan demikian,
momen M0 dari tegangan geser terhadap pusat 0 harus sama dengan momen dari
gaya vy terhadap titik yang sama:
(g)
Untuk mengevaluasi M0, kita mulai dengan memperhatikan bahwa tegangan geser
'l' yang bekerja di elemen luas dA (Gambar 6-39b) adalah
2 V sin </>
'l' = -'-
Y _
_
nrt
sebagaimana diperoleh dari Persamaan (6-72). gaya yang berkaitan dengan ini
adalah r dA, dan momen dari gaya ini adalah
2V sin </> dA
dM0 = r('l'dA) = �Y
'---
-
7rt
Karena dA = trd</>, rumus ini menjadi
2rV sin</> d</>
dM = ---'y'------
o 7r
Dengan demikian, momen yang dihasilkan oleh tegangan geser tersebut adalah
J
1" 2rV
Y
sin </> d</> 4rV
Y
M = dM = = --
o 0
0 7r 7r
Dari Persamaan (g) diperoleh bahwa jarak e ke pusat geser adalah
(h)
Mo 4r
e = -- = - "" I 27r
V n
' (6-73) •
y
Hasil ini menunjukkan bahwa pusat geser S terletak di luar penampang setengah
lingkaran.
·
Catatan: Jarak dari pusat busur lingkaran 0 ke pusat berat penampang C
(Gambar 6-39a) adalah 2r/n(dari Kasus 23 Lampiran D), yang merupakan setengah
darijarak e. Jadi, pusat beratterletak di antarapusat geser dan pusat busur lingkaran.
Lokasi pusat geser pada kasus yang lebih umum dari penampang lingkaran
berdinding tipis, ditentukan dalam Soal 6.8- 12.
-·
6·•
9 1 LENTUR ELASTOPLASTIS
Di dalam semua pembahasan sebelum ini mengenai lentur, kita telah
berasumsi bahwa balok terbuat dari bahan yang mengikuti hukum Hooke
(bahan elastis linier). Sekarang kita akan meninjau lentur pada balok apabila
tegangan telah melebihi limit proporsional bahan. Apabila ini terjadi,
distribusi tegangan tidak lagi linier tetapi bervariasi menurut bentuk kurva
tegangan-regangan. Di dalam subbab ini kita akan menganalisis balok
dengan bahan elastoplastis, dan di dalam subbab setelah ini kita akan
meninjau lebih banyak bentuk umum kurva tegangan-regangan.
Bahan elastoplastis telah dibahas sebelum ini pada saat kita
menganalisis batang yang dibebani secara aksial dan batang yang
Gambar 6-40 Diagram tegangan­
regangan yang diidealisasi untuk
bahan elastoplastis
z
X
Gambar 6-41 Balok dari bahan
elastoplastis yang mengalami
momen lentur positif M
z
(a) (b)
Gambar 6-42 Distribusi tegangan
di balok dari bahan elastoplastis
Mekanika Bahan 381
mengalami torsi (lihat Subbab 2.12 dan 3. 12). Sebagaimana diterangkan
dalam subbab tersebut, bahan elastoplastis mengikuti hukum Hooke sampai
tegangan luluh O'
Y
dan selanjutnya luluh secara plastis pada kondisi tegangan
konstan (lihat diagram tegangan-regangan dalam Gambar 6-40). Dari
gambar tersebut, kita lihat bahwa bahan elastoplastis mempunyai daerah
elastisitas linier di antara daerah-daerah yang mempunyai plastisitas
sempurna. Di seluruh subbab ini, kita akan mengasumsikan bahwa bahan
mempunyai tegangan luluh O'
Y
sama dan regangan luluh e
y
sama dalam
kondisi tarik dan kondisi tekan.
Baja struktural adalah contoh terbaik untuk bahan elastoplastis karena
bahan ini mempunyai titik luluh yang terdefinisi jelas dan mengalami
regangan besar selama luluh. Asumsi plastisitas sempurna sesudah tegangan
luluh dicapai mengandung arti bahwa kita mengabaikan efek pengerasan
regang (strain hardening). Karena pengerasan regang memberikan
peningkatan kekuatan, maka asumsi ini berada di sisi aman.
Mari kita tinjau sebuah balok dari bahan elastoplastis yang mengalami
momen lentur M yang menyebabkan lentur dalam bidang xy (Gambar 6-
41). Apabila momen lentur tersebut kecil, maka tegangan maksimum di
balok akan lebih kecil daripada tegangan luluh a
y
, sehingga balok berada
dalam kondisi yang sama dengan sebuah balok yang mengalami lentur
elastis biasa dengandistribusi tegangan linier, seperti terlihat dalam Gambar
6-42b. Pada kondisi ini, sumbu netral yang melalui pusat berat penampang
dan tegangan normal diperoleh dari rumus lentur (a = -My/f). Karena
momen lentur adalah positif, tegangan adalah tekan di atas sumbu z dan
tarik di bawahnya. Kondisi ini terus ada sampai tegangan di balok di titik
terjauh dari sumbu netral mencapai tegangan luluh a
y
, baik tarik maupun
tekan (Gambar 6-42c). Momen lentur di balok apabila tegangan maksimum
tepat mencapai tegangan luluh, yang disebut momen luluh M
Y
, dapat
diperoleh dari rumus lentur:
(6-74)
di mana c adalah jarak ke titik paling jauh dari sumbu netral dan S adalah
modulus penampangnya.
cr
1· y ·1
� �� I· cry ·I
(c) (d) (e) (f)
Jika kita sekarang memperbesar momen lentur hingga di atas momen
luluh MY, maka regangan di balok akan terus membesar dan regangan
maksimum akan melebihi regangan luluh e
y
. Namun, karena kondisinya
luluh plastis sempurna, maka tegangan maksimum akan tetap konstan dan
382 Bab 6 T
egangan Di Balok (Topik Lanjut)
Gambar 6-43 Lokasi sumbu
netral dan penentuan momen
plastis MP pada kondisi plastis
penuh
sama ctengan a
y
, seperti terlihat ctalam Gambar 6-42ct. Perhatikan bahwa
ctaerah luar balok telah mengalami plastis penuh sectangkan ctaerah inti
tengah (ctisebut inti elastis) tetap elastis linier. Jika sumbu z bukan sumbu
simetri (penampang simetris tunggal), maka sumbu netral akan menjauhi
pusat berat apabila momen luluh terlampaui. Perubahan letak lokasi sumbu
netral tictaklah besar, ctan ctalam hal penampang trapesium (Gambar 6-42),
perubahan ini terlalu kecil untuk ctapat terlihat ctalam gambar. Jika
penampang actalah simetris gancta, maka sumbu netral melalui pusat berat
bahkan pacta saat momen luluh terlampaui.
Apabila momen lentur meningkat lebih lanjut, ctaerah plastis membesar
ctan bergerak ke ctalam ke arah sumbu netral sampai konctisi yang terlihat
ctalam Gambar 6-42e cticapai. Pacta tahap ini regangan maksimum cti balok
(cti jarak teijauh ctari sumbu netral) mungkin sebesar 10 sampai 15 kali
regangan luluh ey ctan inti elastis hampir tictak acta lagi. Jacti, untuk
praktisnya, balok tersebut ctipanctang telah mencapai kapasitas tahanan
momen ultimatenya, ctan kita ctapat mengictealkan ctistribusi tegangan ul­
timate sebagai terctiri atas ctua bagian persegi panjang (Gambar 6-42t).
Momen lentur yang berkaitan ctengan ctistribusi tegangan yang
ctiictealisasikan ini, yang ctisebut momen plastis M
P
, menunjukkan momen
maksimum yang ctapat ctipikul oleh bahan elastoplastis.
Untuk mencari momen plastis M
P
, kita mulai ctengan menentukan
lokasi sumbu netral penampang pacta konctisi plastis penuh. Untuk itu,
tinjau penampang yang terlihat ctalam Gambar 6-43a ctan rnisalkan sumbu
z actalah sumbu netral. Setiap titik cti penampang cti atas sumbu netral
mengalami tegangan tekan a
y (Gambar 6-43b), ctan setiap titik cti bawah
sumbu netral mengalami tegangan tarik a
y
. Gaya tekan resultan C sama
ctengan ay ctikali luas penampang A1 cti atas sumbu netral (Gambar 6-43a),
ctan gaya tarik resultan T sama ctengan a
y ctikali luas A2 cti bawah sumbu
netral. Karena gaya resultan yang bekeija cti penampang actalah nol, maka,
T = C atau A1 = A2 (a)
Karena luas total penampang A sama ctengan A1 + A2, maka kita lihat
bahwa
(6-75)
Dengan ctemikian, pacta konctisi plastis penuh, sumbu netral membagi
penampang atas dua luas yang sama. Karena itu, lokasi sumbu netral
untuk momen plastis M
P
ctapat berbecta ctengan lokasi sumbu netral untuk
lentur elastis linier. Sebagai contoh, ctalam hal penampang trapesium yang
(a)
Mekanika Bahan 383
lebih sempit di atasnya dibandingkan dengan di bawahnya (Gambar 6-
43a), sumbu netral untuk lentur plastis mumi berada sedikit di bawah
sumbu netral untuk lentur elastis linier.
Karena momen plastis M
P
adalah resultan momen dari tegangan yang
bekerja di penampang, maka momen tersebut dapat dicari dengan
mengintegrasi tegangan di seluruh luas penampang A (Gambar 6-43a):
M
P
= -J oydA = - J (-av )ydA - J a ydA
A � . � y
_ -
avA(yi + Y2 )
= <1,(y1A1 ) - <1,(-Y2A2 ) = . 2
di mana y adalah koordinat (positif ke atas) elemen luas dA dan y1 dan y2
masing-masing adalah jarak dari sumbu netral ke pusat berat c1 (untuk A1)
dan c2 (untuk A2).
Cara yang lebih mudah untuk mendapatkan momen plastis adalah
dengan mengevaluasi momen terhadap sumbu netral dari gaya-gaya C
dan T (Gambar 6-43b):
M
P
= C.Yi + Ty2
Dengan menggantikan T dan C dengan a.f./2, kita peroleh
(6-76)
Prosedur untuk setiap balok khusus adalah membagi penampangnya
menjadi dua luas yang sama, menentukan lokasi pusat berat masing-masing
luas tersebut, dan selanjutnya menggunakan Persamaan (6-76) untuk
menghitung M
P
.
Rumus untuk momen plastis dapat ditulis ulang dalam bentuk yang
sama dengan untuk momen luluh (Persamaan 6-74), sebagai berikut:
(6-77)
di mana
(6-78)
adalah modulus plastis (atau modulus penampang plastis) untuk suatu
penampang. Modulus plastis diinterpretasikan sebagai momen pertama
(yang dievaluasi terhadap sumbu netral) dari luas bagian penampang di
atas sumbu netral ditambah momen pertama dari luas di bawah sumbu
netral.
Rasio antara momen plastis terhadap momen luluh semata-mata me­
rupakan fungsi dari bentuk penampang dan disebut faktor bentuk f.
(6-79)
Faktor ini merupakan ukuran kekuatan cadangan pada balok sesudah luluh
pertama kali terjadi. Nilainya akan terbesar apabila sebagian besar bahan
/
I
384 Bab 6 T
egangan Di Balok (T
opik Lanjut)
Gambar 6-44 Penampang
persegi panjang
terletak di dekat sumbu netral (contohnya, suatu balok yang mempunyai
penampang lingkaran solid), dan akan terkecil apabila sebagian besar bahan
jauh dari sumbu netral (contohnya, balok yang mempunyai penampang
sayap lebar). Hargajuntuk penampang persegi panjang, sayap lebar, dan
lingkaran diberikan di bagian lain subbab ini. Bentuk penampang lain
ditinjau dalam soal-soal di akhir bab ini.
• Balok dengan Penampang Persegi Panjang
Sekarang kita akan menentukan besaran suatu balok yang mempunyai
penampang persegi panjang (Gambar 6-44) apabila bahan bersifat
elastoplastis. Modulus penampang adalah S = bh216, sehingga momen
luluhnya (Persamaan 6-74) adalah
(] bh2
M = -
Y_
_
y 6
di mana b adalah lebar dan hadalah tinggi penampang.
(6-80)
Karena penampang ini simetris ganda, maka sumbu netral melalui
pusat berat bahkan jika balok tersebut dibebani hingga mencapai daerah
plastis. Dengan demikian, jarak ke pusat berat area di atas dan dibawah
sumbu netral adalah
- - h
YI
= y2 = 4
Dengan demikian, modulus plastisnya (Persamaan 6-78) adalah
z
= A(.yi + Y2) = bh(!!_ !!_) = bh2
2 2 4
+
4 4
dan momen plastisnya adalah (Persamaan 6-77)
(] bh2
M = -
Y_
_
p 4
(b)
(6-81)
Akhimya, faktor bentuk untuk penampang persegi panjang adalah
MP z
3
J =
My
=
s
=
2
(6-82)
yang berarti bahwa momen plastis untuk balok persegi panjang adalah
50% lebih besar daripada momen luluh.
Selanjutnya, kita tinjau tegangan di balok persegi panjang apabila
momen lentur M lebih besar daripada momen luluh tetapi belurn mencapai
momen plastis. Bagian luar dari balok akan berada pada tegangan luluh
ay dan bagian dalam (inti elastis) akan mempunyai distribusi tegangan
yang bervariasi secara linier (Gambar 6-45a dan b). Daerah plastis penuh
digelapkan dalam Gambar 6-45a, dan jarak dari sumbu netral ke tepi luar
inti elastis dinyatakan dengan e.
Tegangan yang bekerja di penampang mempunyai resultan gaya Cl'
C2, Ti' dan T2, seperti terlihat dalam Gambar 6-45c. Gaya C1 dan T1 di
daerah plastis masing-masing sama dengan tegangan luluh dikalikan dengan
luas bagian penampang:
(c)
(a)
Gambar 6-45 Distribusi tegangan
di balok berpenampang persegi
panjang dengan inti elastis (My �
M � Mp)
<ly
I" .I
-e
I. <ly
.I
(b)
h
2
h
2
Mekanika Bahan 385
1--.,_-+-Cl
.,_-+- Cz
1-----"�_.Tz
___.1
_
_
_
_ f---+-�Tl
(c)
Gaya C2 dan T2 di inti elastis masing-masing sama dengan luas diagram
tegangan dikali lebar balok b:
a e
c2 =T2 =+b (d)
Jadi, momen lentur (lihat Persamaan 6-45c) adalah
M=C1 (�+ e)+ C2 (�e)=ai(�-e)(�+ e)+
a
�
be(�e)
(6-83)
Persamaan ini berlaku untuk MY.s; M.s; MP.Perhatikan bahwa jika e =
h/2, maka persamaan tersebut menghasilkan M= MY, dan jika e = 0,
persamaan tersebut menghasilkan M=3Mj2.yang merupakan momen
plastis MP.
Persamaan (6-83) dapat digunakan untuk menentukan momen lentur
apabila dimensi inti elastis diketahui. Namun, persyaratan yang lebih umum
adalah menentukan ukuran inti elastis apabila momen lentur diketahui.
Dengan demikian, kita akan memecahkan Persamaan (6-83) untuk e yang
dinyatakan dalam momen lentur:
e=h t(t- ;:) (6-84)
Sekali lagi, kita perhatikan bahwa kondisi yang membatasi adalah: apabila
M=MY,maka persamaan tersebut memberikan e=h/2,dan jika M=MP
=3Mj2.persamaan tersebut menghasilkan e= 0, yang merupakan kondisi
plastis penuh.
• Balok dengan Profil Sayap Lebar
Untuk balok sayap lebar simetris ganda (Gambar 6-46), modulus plastis
Z (Persamaan 6-78) dihitung dengan mengambil momen pertama terhadap
sumbu netral dari luas satu flens dan setengah atas badan, dan kemudian
mengalikannya dengan 2.Hasilnya adalah
Z =2[(btc{�- t�)+ (tw)(�-tc)(�)(�-tc)]
=btf(h - tf)+ tw(�-tfr (6-85a)
386 8ab 6 Tegangan Di Balok (Topik Lanjut)
Gambar 6-46 Penampang balok
sayap lebar
z
Gambar 6-47 Contoh 6-9.
Penampang balok lingkaran
(bahan elastoplastis)
z
Gambar 6-48 Solusi untuk
Contoh 6-9
yang dapat ditulis dalam bentuk altematif
(6-85b)
Sesudah menghitung modulus plastis dari Persamaan (6-85a atau b), kita
dapat memperoleh momen plastis M
P dari Persamaan (6-77).
Harga Z untuk profil sayap lebar yang secara komersial tersedia
dicantumkan dalam manual dari AISC (Ref. 5-4). Faktor bentuk f untuk
balok sayap lebar secara tipikal berada dalam selang 1 , 1 sampai 1,2,
bergantung pada proporsi penampang.
Balok elastoplastis dengan profil lain dapat dianalisis dengan cara
yang sama dengan yang diuraikan di atas untuk balok persegi panjang dan
sayap lebar (lihat contoh-contoh berikut dan soal-soal di akhir bab ini).
• Contoh 6-9
Tentukan momen luluh, modulus plastis, momen plastis, dan faktor bentuk untuk
sebuah balok berpenampang lingkaran dengan diameter d (Gambar 6-47).
Solusi
Perhatikan bahwa karena penampang adalah simetris ganda, maka sumbu netral
akan melalui pusat lingkaran untuk keadaan elastis linier dan elastoplastis.
Momen luluh M
Y
diperoleh dari rumus lentur (Persamaan 6-74) sebagai
berikut:
(6-86) ..
Modulus plastis Zdiperoleh dari Persamaan (6-78) di manaA adalah luas lingkaran
dan 5 dan y2adalahjarak pusat berat c1 dan c2 untuk dua buah setengah lingkaran
(Gambar 6-48). Jadi, dari Kasus 9 dan 10 dalam Lampiran D, kita peroleh
rrd2 - - 2d
A = -
4- YI = Yz 3n
(e,f)
Sekarang dengan memasukkan ini ke dalam Persamaan (6-78) untuk modulus
plastis, kita peroleh
z
=
A(.Y1 + Yz) =
d3
2 6
Dengan demikian, momen plastis M
P
(Persamaan 6-77) adalah
a d3
M = a Z = -
Y-
P Y 6
dan faktor bentuk (Persamaan 6-79) adalah
M
f = -
p = � "' 1 70
M 3n '
y
(g)
(6-87) ..
(6-88) ..
basil ini menunjukkan bahwa momen lentur maksimum untuk balok lingkaran
dengan bahan elastoplastis sekitar 70% lebih besar daripada momen lentur apabila
balok mulai luluh.
V
I
z- ___jc hi lh
�l
1.1+--�
b& -----+�.1_1
Gambar 6-49 Contoh 6-10.
Penampang balok kotak
berlubang (bahan elastoplastis)
Gambar 6-50 Solusi Contoh
6-10
Mekanika Bahan 387
• Contoh 6-10
Sebuah balok boks berlubang simetris (Gambar 6-49) dari bahan elastoplastis (ay
= 220 MPa) mengalami momen lentur M yang besarnya sedemikian hingga flens
mengalami luluh tetapi badan tetap elastis linier. Tentukan besar momen M jika
dimensi penampang adalah b = 1 50 mm, b1 = 1 30 mm, h = 200 mm, dan h1 = 160
mm.
Solusi
Penampang ba1ok dan distribusi tegangan normal masing-masing ditunjukkan da1am
Gambar 6-SOa dan b. Dari gambar tersebut, kita lihat bahwa tegangan di badan
bertambah secara linier terhadap jarak dari sumbu netral dan tegangan di flens
sama dengan tegangan luluh ay. Dengan demikian, momen Jentur M yang bekerja
di penampang terdiri atas dua bagian: (1) momen M1 yang berkaitan dengan inti
elastis, dan (2) momen M2 yang dihasilkan oleh tegangan luluh a,. di flens.
Momen Jentur yang dikontribusi oleh inti diperoleh dari rumus Jentur (Persamaan
6-74) dengan modulus penampang dihitung untuk badan saja; jadi,
dan
y
z c
1.1+-
1,-"-'-
b&--.1��1
(a)
(b - b1 )h;
s
=
6
F
hi h
(b)
h+hi
2
(h)
(i)
Untuk mendapatkan momen yang dikontribusi oleh flens, kita perhatikan bahwa
gaya resultan F di setiap flens (Gambar 6-SOb) sama dengan tegangan luluh
dikalikan dengan luas flens:
(h - h
)
F = ayb -
2
-
1
(j)
Gaya di flens atas adalah tekan dan gaya di flens bawah adalah tarikjika momen
lentur M adalah positif. Kedua gaya tersebut secarabersama menghasilkan momen
lentur M2:
= (h + h1
)-
ayb(h2 - h12 )
M2 F 2 - 4
Jadi, momen total yang bekerja di penampang adalah
a
M "' M1 + M2 = 1� {3bh2 - (b + 2b1 )h;)
(k)
(6-89) •
388 Bab 6 T
egangan Di Balok (T
opik Lanjut)
cr
<lj - - - - - - - - - __, .
-
Dengan memasukkan harga-harga numerik, kita peroleh
M = 138 kN·m
Catatan: Momen luluh MY dan momen plastis MP untuk balok di contoh ini
mempunyai harga sebagai berikut (ditentukan dalam Soal 6.9-14):
MY = 122 kN·m MP = 147 kN·m
Momen lentur M ada di antara kedua harga tersebut, sebagaimana diharapkan.
6"1 0
I LENTUR NONLINIER
Di dalam subbab sebelum ini kita telah membahas kasus khusus bahan
elastoplastis, suatu idealisasi yang merepresentasikan secara sangat dekat
perilaku baja struktural. Sekarang, kita akan meninjau bahan yang
mempunyai kurva tegangan-regangan lebih umum (Gambar 6-51). Pada
awalnya, kita akan mengasumsikan bahwa bahan mempunyai kurva
tegangan-regangan yang sama dalam kondisi tarik dan tekan (kurva
tegangan-regangan simetris), dan selanjutnya kita akan meninjau bahan
dengan kurva tak simetris. Juga, kita akan membatasi analisisnya pada
balok dengan penampang persegi panjang, sehingga menyederhanakan
'-----------£ perhitungan dengan tetap menggambarkan prinsip-prinsip umum analisis
€]
nonlinier.
Gambar 6-51 Kurva tegangan-
regangan nonlinier • Balok dengan Penampang Persegi Panjang dan Kurva
Gambar 6-52 Balok persegi
panjang yang mengalami lentur
nonlinier: (a) penampang balok
dengan sumbu netral melalui
pusat berat, (b) regangan di
balok, dan (c) tegangan di balok
Tegangan-Regangan Simetris
Apabila suatu penampang balok adalah simetris ganda dan kurva tegangan­
regangan sama untuk kondisi tarik dan tekan, maka kita dapat segera
mengetahui bahwa sumbu netral untuk lentur melalui pusat berat
penampang, seperti terlihat untuk penampang persegi panjang dalam
Gambar 6-52a. Selain itu, kita ketahui bahwa regangan di suatu balok
yang mengalami lentur mumi bervariasi secara linier di seluruh tinggi
balok, tidak bergantung pada bagaimana sifat bahan (lihat Subbab 5.4).
Dengan demik:ian, regangan di balok dalam Gambar 6-52a akan bervariasi
seperti terlihat dalam Gambar 6-52b apabila balok tersebut mengalami
momen Ientur positif (tekan di setengah atas balok dan tarik di setengah
bawah). Regangan akan nol di sumbu netral dan sama dengan e1 di atas
dan bawah balok.
z
I. b .I
(a) (b) (c)
Mekanika Bahan 389
Tegangan di suatu balok diperoleh dari regangannya dengan
menggunakan hubungan tegangan-regangan. Karena regangan bervariasi
secara linier terhadapjarak dari sumbu netral, maka distribusi tegangan di
seluruh tinggi balok (Gambar 6-52c) mempunyai bentuk sama dengan
kurva tegangan-regangan itu sendiri (Gambar 6-51). Tegangan maksimum
<11 di balok berkaitan dengan regangan e1 di kurva tegangan-regangan.
Sekarang kita akan menentukan momen lentur M yang bekerja di
penampang. Kita mulai dengan mengidentifikasikan elemen tipis dari
daerah yang terletak di jarak y dari sumbu netral (Gambar 6-52a). Elemen
tersebut mempunyai lebar bdan tinggi dy, sehingga luasnya adalah bdy.
Gaya yang bekerja di daerah ini sama dengan ab dy, dan momen dari
gaya tersebut terhadap sumbu z adalah aby dy. Jadi, momen lentur adalah
ih/2
M = 2 0 aby dy (a)
Hanya harga mutlak digunakan dalam persamaan ini dan persamaan­
persamaan berikut ini karena arah tegangan dan arah momen lentur selalu
sudah jelas. Sebagai contoh, kita ketahui bahwa momen lentur positif
menghasilkan tegangan tekan di bagian atas balok dan tegangan tarik di
bagian bawahnya.
Tegangan a yang muncul dalam Persamaan (a) ditentukan dari kurva
tegangan-regangan sehingga merupakan fungsi dari regangan e. Namun,
integrasinya dilakukan terhadap variabel y. Karena itu, kita perlu melakukan
perubahan variabel supaya dapat melakukan integrasi. Kita dapat meng­
hubungkan variabel e dan y dengan mengamati bahwa regangan e pada
jarak y dari sumbu netral (Gambar 6-52b) adalah
sehingga
he
y = u
1
(b)
(c,d)
Dengan mensubstitusikan persamaan-persamaan ini ke dalam Persamaan
(a), danjuga mengubah limit atas integrasi dari h/2 menjadi harga regangan
e1 yang berkaitan, maka,
atau
ih/2 r'l ( he )(hde )
M = 2 o aby dy = 2b
Jo
a
2el 2el
(6-90a)
Persamaan ini menghubungkan regangan maksimum e1 di balok dengan
momen lentur M, asalkan tegangan a diketahui sebagai fungsi dari
regangan e.
Persamaan (6-90a) dapat diberikan interpretasi geometris sederhana.
Integralnya merupakan momen pertama (statis momen) dari daerah di
bawah kurva tegangan-regangan (Gambar 6-51) dari e = 0 sampai e = el'
yang dievaluasi terhadap sumbu vertikal (sumbu tegangan). Jadi,
M =
bh2Q
2e
2 s (6-90b)
I
di mana Q. adalah momen pertama yang baru saja diterangkan.
-
390 Bab 6 Tegangan Di Balok (T
opik Lanjut)
<J=Ee
(Jl
------
Gambar 6-53 Diagram
tegangan-regangan untuk bahan
elastis linier
(J
Gambar 6-54 Kurva tegangan­
regangan nonlinier dengan
besaran berbeda untuk kondisi
tarik dan tekan
Jika hubungan tegangan-regangan cukup sederhana untuk dinyatakan
secara analitis, maka adalah suatu hal yang mungkin untuk mendapatkan
rumus momen pertama Q
,
. Dalam hal tersebut, Persamaan (6-90b) menjadi
rumus yang menghubungkan momen lentur M dan regangan maksimum
c1. Kita kemudian dapat mensubstitusikan hubungan tegangan-regangan
dan mendapatkan rumus yang menghubungkan momen dengan tegangan
maksimum a1• Hubungan terakhir ini merupakan rumus lentur untuk balok
persegi panjang dari bahan nonlinier. Ilustrasi rumus tersebut diberikan
kemudian dalam Contoh 6-l l .
Namun, jika hubungan tegangan-regangan lebih rumit dan tidak dapat
diintegrasikan secara analitis, atau jika hubungan tegangan-regangan
dinyatakan secara numerik, maka momen pertama Q, harus dievaluasi
secara numerik. Prosedumya adalah memilih harga regangan maksimum
cp menentukan harga Q, dari kurva tegangan-regangan, dan kemudian
mengevaluasi M dari Persamaan (6-90b). Hasilnya merupakan harga
tunggal dari M yang terkait dengan regangan maksimum yang telah dipilih.
Dengan mengulangi perhitungan ini untuk berbagai harga regangan, maka
hubungan antara M dan c1 diperoleh sebagai tabel dari harga-harga numerik.
Karena tegangan dan regangan dihubungkan oleh kurva tegangan-regangan,
maka kitajuga dapat memperoleh tabel harga yang menghubungkan antara
M dan tegangan maksimum a1• Akhimya, grafik M versus c1 dan M
versus a1 dapat diplot dari tabel data tersebut. (Perhatikan bahwa grafik
M versus a1 dapat menggantikan rumus lentur.)
Sebagai kasus khusus, tinjau balok dari bahan elastis linier yang
mempunyai hubungan tegangan-regangan (Gambar 6-53)
a = Ec
Momen pertama Q, adalah
- al cl (2cl )- al e�
Q
,
-
2 3 - 3
sehingga momen lentumya adalah
M = bh
2
= bh
2
(al e� )=
aibh
2
= a
s
2£
2 Q
, 2£
2
3 6 I
I I
(e)
(f)
(g)
di mana S adalah modulus penampang. Persamaan ini merupakan rumus
lentur yang sudah kita kenal untuk balok persegi panjang dari bahan
elastis linier.
• Balok dengan Penampang Persegi Panjang dan Kurva
Tegangan-Regangan Tak Simetris
Sekarang tinjaulah apa yang terjadi apabila bagian tarik dan tekan dari
kurva tegangan-regangan berbeda (Gambar 6-54). Kita segera mengenali
bahwa sumbu netral tidak lagi melewati pusat berat penampang (Gambar
6-55a). Distribusi regangan linier mempunyai bentuk seperti terlihat dalam
Gambar 6-55b, di mana £1 adalah regangan tekan di atas balok dan £2
adalah regangan tarik di bawah balok. Distribusi tegangan (Gambar 6-
55c) mempunyai bentuk sama dengan kurva tegangan-regangan.
Untuk menentukan lokasi sumbu netral, kita menggunakan persyaratan
bahwa gaya resultan yang bekerja di penampang haruslah nol. Sekali lagi
Gambar 6-55 Balok persegi
panjang yang mengalarni lentur
nonlinier: (a) penampang balok,
(b) regangan di balok, dan (c)
tegangan di balok
Mekanika Bahan 391
T
I. b
.I
(a) (b) (c)
kita meninjau elemen luas yang mempunyai lebar b dan tinggi dy (Gambar
6-55a), dan kita perhatikan bahwa gaya yang bekerja di elemen ini adalah
CJb dy. Jika kita mengintegrasikan gaya ini di setengah atas balok, maka
kita akan mendapatkan gaya tekan resultan C(Gambar 6-55c):
ihl
c = 2 0 CJb dy (h)
di mana h1 adalah jarak dari sumbu netral ke atas balok. (Seperti telah
disebutkan, hanya harga mutlak yang digunakan di sini dan persamaan­
persamaan lainnya karena arah tegangan dan gaya dapat diketahui dengan
inspeksi.)
Dengan 1nengikuti langkah-langkah yang sama dengan yang digunakan
dalam menurunkan Persamaan (6-90a), kita dapat mengubah variabelnya
dari y menjadi e dengan menggunakan persamaan-persamaan berikut (lihat
Gambar 6-55b):
(i,j,k)
Dengan demikian, gaya tekan Cadalah
(6-91a)
Integral terakhir ini adalah luas Ac antara bagian tekan dalam kurva
tegangan-regangan dan sumbu regangan (Gambar 6-54). Jadi, bentuk
alternatif dari persamaan di atas adalah
C=
bhi
A
ei
c (6-91b)
Luas Ac dapat dievaluasi secara analitis atau numerik, bergantung pada
bagaimana kurva tegangan-regangan didefinisikan.
Gaya tarik resultan Tdi bagian bawah balok diperoleh dengan cara
sama. Namun, untuk mudahnya kita sekarang mengambil koordinat y'
dalam arah y negatif (Gambar 6-55a), dan mengidentifikasi elemen luas
b dy'. Gaya di elemen ini adalah CJb dy' sehingga gaya Tadalah
rhz
T=
J
o CJb dy' (1)
392 Bab 6 Tegangan Di Ba/ok (Topik Lanjut)
di mana � adalahjarak dari sumbu netral ke bawah balok. Untuk mengubah
variabel, kita menggunakan hubungan berikut (lihat Gambar 6-55b):
e =
e L y
'
=
hze
dy' =
hzde
2 ���
hz e2 e2
Jadi, gaya tarik T adalah
(6-92a)
Sekali lagi kita lihat bahwa integral di atas mempunyat mterpretasi
geometris sederhana-interpretasi ini adalah luas A1 antara bagian tarik
dari kurva tegangan-regangan dan sumbu regangan (Gambar 6-54). Jadi,
bh2
T = -A (6-92b)
ez r
Karena kita telah memperoleh rumus untuk gaya C dan T, maka kita dapat
menentukan lokasi sumbu netral.
Persyaratan bahwa gaya resultan bekerja di penampang adalah nol
menghasilkan rumus berikut:
Dari distribusi regangan linier (Gambar 6-55b), kita lihat bahwa
!l =
h2
ei ez
sehingga Persamaan (p) akan susut menjadi
Ac = Ar
(p)
(6-93)
(6-94)
Dengan perkataan lain, sumbu netral terletak sedemikian rupa sehingga
luas tekan pada diagram tegangan-regangan sama dengan luas tarik
(Gambar 6-54). Jadi, untuk setiap e1 yang diasumsikan, kita dapat menen­
tukan harga ez terkait dari Persamaan (6-94) dan kurva tegangan-regangan.
Dengan mengetahui e1 dan ez, maka kita dapat memperoleh rasio
antara h1 dan h2 dari Persamaan (6-93). Selain itu, kita ketahui bahwa
(6-95)
Dengan demikian, kita dapat memperoleh h1 dan h2 dengan memecahkan
secara simultan Persamaan (6-93) dan (6-95); hasilnya adalah
(6-96a,b)
Singkatnya, sumbu netral dapat ditentukan lokasinya dengan mengasumsi
harga regangan e1, mencari regangan ez dari Persamaan (6-94) dan kurva
tegangan-regangan, dan selanjutnya mencari h1 dan h2 dari Persamaan (6-
96).
Langkah berikutnya adalah mencari momen lentur Myang bekerja di
penampang. Kita akan memisahkan momen menjadi dua bagian: momen
Mc yang dihasilkan oleh tegangan tekan dan momen M1 yang dihasilkan
oleh tegangan tarik. Untuk mendapatkan momen Mc, kita tinjau kembali
Mekanika Bahan 393
elemen luas b dy yang terletak pada jarak y dari sumbu netral (Gambar
6-55a). Gaya yang bekerja di elemen adalah CJb dy, dan momen terhadap
sumbu netral adalah CJby dy; jadi,
M
C
=
s:�
CJby dy
Dengan memasukkan Persamaan (j) dan (k), dan mengubah batas atasnya,
kita dapatkan
M =
r'rb(h
1e)(h1de)=
bhf
rrede
c
Jo e1 e1 e� Jo
Dengan melakukan cara sama untuk tegangan tarik, kita peroleh
rho
M
t
=
Jo -CJby'dy'
Dengan memasukkan Persamaan (n) dan (o), maka dihasilkan
(q)
(r)
(6-97a)
Integral pertama menunjukkan momen pertama dari luas Ac yang dievaluasi
terhadap sumbu tegangan (Gambar 6-54), dan integral kedua menunjukkan
momen pertama dari luas A1 yang dievaluasi terhadap sumbu yang sama.
Dengan memberikan notasi Qc dan Q1 untuk masing-masing momen
pertama tersebut, maka persamaan di atas menjadi
bh
2
bh;
M = -
1
Q + - Q
2 c -
2
- t
el e2
(6-97b)
Dari Persamaan (6-93) kita Iihat bahwa dua fraksi di dalam persamaan di
atas adalah sama; maka,
bh
2
bh
2
M = -
1 (Q + Q1 )
=
-;f--(Q + Q1 ) (6-98)
e
2 c
e -
c
1 2
Jadi, kita sekarang mempunyai persamaan untuk menentukan momen lentur
di balok, dengan mengasumsikan bahwa kita telah menentukan lokasi
sumbu netral, dan menentukan fp �. hp dan h2• Yang tersisa tinggallah
menentukan momen pertama Qc dan Q1 dari diagram tegangan-regangan
dan memasukkannya ke dalam Persamaan (6-98).
Detail prosedur di atas bergantung pada bagaimana informasi
tegangan-regangan. Jika kurva tegangan-regangan dapat dinyatakan dalam
bentuk analitis sederhana, maka kita dapat menurunkan rumus untuk
menentukan lokasi sumbu netral dan menghubungkan momen lentur dengan
tegangan maksimum. Prosedur ini digambarkan dalam Contoh 6-1 1 . Bila
tidak, maka solusinya harus dilakukan secara numerik dimana kita meng­
hitung harga M (dari Persamaan 6-98) untuk setiap harga e1yang diasumsi­
kan. Karena kita mengetahui harga �. a1 , dan a2 yang terkait dengan
masing-masing harga el' maka kita secara otomatis mempunyai hubungan
antara momen lentur M dan tegangan maksimum dan minimum.
(
394 Bab 6 T
egangan Di Balok (T
opik Lanjut)
I. b .I
(a)
(J
(b)
Gambar 6-56 Contoh 6-1 1.
Balok persegi panjang dengan
diagram tegangan-regangan yang
terdiri atas dua garis lurus
Gambar 6-57 Solusi Contoh 6-
1 1 : (a) lokasi sumbu netral, (b)
diagram tegangan-regangan, (c)
distribusi regangan, dan (d)
distribusi tegangan
z
(a)
• Contoh 6-1 1
Sebuah balok dengan penampang persegi panjang dengan lebar b dan tinggi h,
(lihat Gambar 6-56a) terbuat dari bahan yang mempunyai diagram tegangan­
regangan yang terdiri atas dua garis lurus (Gambar 6-56b). Modulus elastisitas
untuk tekan dan tarik masing-masing adalah E1 dan E2. Dengan mengasumsikan
bahwa balok ini mengalami momen lentur positif M yang bekerja terhadap sumbu
z, tentukan lokasi sumbu netral dan tegangan tarik dan tekan maksimum di balok.
Solusi
Sumbu netral. Sumbu netral terletak padajarak h1 dari atas balok danjarak h2 dari
bawahnya (Gambar 6-57a). Kita dapat mencari jarak-jarak ini dari fakta bahwa
bagian tekan dan tarik pada diagram tegangan-regangan (Gambar 6-57b) harus
mempunyai luas sama; jadi,
a e
A =A atau -
1-
1
c I
2
(s)
di mana e1 dan t2 masing-masing adalah regangan di atas dan bawah balok (Gambar
6-57c), dan a1 dan a2 adalah tegangan maksimumnya (Gambar 6-57d). Persamaan
untuk diagram tegangan-regangan adalah
at = EieJ
sehingga Persamaan (s) menjadi
e
atau -
1
e2
Jarak h1 dan h2 diperoleh dari Persamaan (6-96a dan b):
h h TE;
I; = -:-------:--
" "'2
1 + e2 /e1
.[£;+ JE;
hf£:
(t,u)
(v)
(6-99a) •
(6-99b)
•
jadi, posisi sumbu netral telah ditentukan. Perhatikan bahwa jika E1 lebih besar
daripada E2, maka jarak h2 lebih besar daripada h1•
Tegangan maksimum. Untuk mendapatkan hubungan antara momen lentur
dan tegangan, kita mulai dengan mengevaluasi momen pertama di kedua bagian
diagram tegangan-regangan (lihat Gambar 6-57b):
(J
=A (�)= (�)(�)=�
QC C
3 2 3 3
Q,
2
azF::z
3
E2
(J
2
- - - - - - - - - - - -
'
E2
E
- - - - - crl
I
(b)
(w)
(x)
(d)
SOAL-SOAL BAB 6
BALOK BETON
Mekanika Bahan 395
Dengan memasukkan ke dalam Persamaan (6-98) akan kita peroleh
bhl
2
bhl
2
2 2
M = -
2-(Qc + Q, ) = --
2 (C11EI + C12E2 )
El 3£1
Dengan menggantikan a2 dengan a1E/E2 (dari Persamaan s), dan dengan
menggunakan Persamaan (v) untuk rasio E/Ez. kit�apatkan
a1bh1
2
( f£:
J
3M( J£;
J
M = --
3
- 1 + r;;:;- atau a1 = -2
- � rz;;-·
'I) E2 bh1 -v E1 + -v E2
Akhimya, kita masukkan Persamaan (6-99a) untuk mendapatkan
Dengan cara sama, kita dapat mencari tegangan a2:
(y,z)
(6-IOOa) ..
(6-100b) ..
Persamaan (6-lOOa) dan (6-100b) adalah rumus lentur untuk balok persegi panjang
yang terbuat dari bahan dengan modulus elastisitas tekan E1 dan modulus elastisitas
tarik E2• Tegangan a1 adalah tegangan tekan maksimum, dan tegangan a
2
adalah
tegangan tarik maksimum.
Kasus khusus: Jika modulus elastisitas tekan dan tarik sama (E1 = E2), maka
Persamaan (6-99) dan (6-100) menjadi
sebagaimana diharapkan.
h
2
6M M
bh
2 =
s
1-----------------
Dalam memecahkan soal-soal untuk Subbab 6.2,
asumsikan bahwa komponen-komponen dari balok
dilekatkan atau disambung dengan alat penyambung
dengan baik. Juga, pastikan bahwa teori balok komposit
yang diuraikan dalam subbab ini digunakan.
z
J
_jO.
lOin.
0.50in.
IO.lOin.
6.2-1 Sebuah balok komposit yang terdiri atas muka
fiberglass dan inti particle board mempunyai potongan
melintang seperti terlihat dalam gambar. Lebar balok
adalah 2,0 in., tebal muka adalah 0,10 in., dan tebal inti
adalah 0,50 in. Balok ini mengalami momen lentur 500
lb-in. yang bekerja terhadap sumbu z. Carilah tegangan
maksimum amuka dan ainti di muka dan di inti, jika modu­
lus elastisitasnya masing-masing 4 x 10
6
psi dan 1,5 x
10
6
psi.
1--
1 ------------�2�.0�in�·--------�1
.. .
6.2-2 Sebuah balok kayu dengan dimensi 200 x 300
mm diperkuat di sampingnya dengan menggunakan plat
yang tebalnya 12 mm (lihat gambar). Modulus·elastisitas
untuk baja dan kayu masing-masing adalah Es = 204
GPa dan Ew = 8,5 GPa. Juga, tegangan izinnya masing­
masing adalah as = 140 MPa dan aw = 10 MPa. Hitunglah
momen Ientur izin maksimum Mmaks apabila balok
tersebut melentur terhadap sumbu z.
396 Bab 6 T
egangan Di Balok (T
opik Lanjut)
6.2-3 Sebuah balok boks berlubang terdiri atas badan
dari kayu lapis Douglas-firdan sayap pinus seperti terlihat
dalam gambar. Kayu lapis mempunyai tebal I in. dan
lebar 12 in; flens berukuran aktual 2 in. x 4 in. Modulus
elastisitas untuk kayu lapis adalah 1.600.000 psi dan untuk
pinus adalah 1 .200.000 psi. Jika tegangan izin adalah
2100 psi untuk kayu lapis dan 1800 psi untuk pinus,
carilah momen lentur izin Mmaks apabila balok ini
melentur terhadap sumbu z.
6.2-4 Sebuah tabung bundar baja dengan diameter luar
d dan inti aluminium dengan diameter d/2 dilekatkan
satu sama lain hingga membentuk balok komposit seperti
tergambar. Turunkan rumus untuk menghitung momen
lentur izin M yang dapat dipikul oleh balok berdasarkan
atas tegangan izin a
.
di baja. (Asumsikan bahwa modu­
lus elastisitas untuk baja dan aluminium masing-masing
adalah E, dan Ea.)
6.2-5 Sebuah balok sederhana dengan bentang 12 ft
memikul beban terbagi rata dengan intensitas 1000 lb/ft
(lihat gambar). Balok tersebut terdiri atas elemen struktur
kayu (penampang 4 in. x 1 1 ,5 in.) yang diperkuat dengan
plat baja yang tebalnya 0,25 in. di atas dan bawah.
Modulus elastisitas untuk baja dan kayu masing-masing
adalah Es = 30 X 106 psi dan Ew = 1 ,5 x 106. Hitunglah
tegangan maksimum a
.
di plat baja dan tegangan
maksimum a
w
di elemen struktur kayu akibat beban ter­
bagi rata tersebut.
6.2-6 Sebuah pipa baja yang dalamnya dilapisi plastik
mempunyai bentuk penampang seperti terlihat dalam
gambar. Pipa baja mempunyai diameter luar d3 = 100
mm dan diameter dalam d2 = 94mm. Plastik mempunyai
diameter d1 = 82 mm. Modulus elastisitas baja adalah 75
kali modulus plastik. Tentukan momen lentur Mizin izin
jika tegangan izin di baja adalah 35 MPa dan di plastik
adalah 0,50 MPa.
z
6.2-7 Penampang balok sandwich yang terdiri atas
muka aluminium dan inti f
oam seperti terlihat dalam
gambar. Lebarbalok b adalah 8,0 in., tebal muka 0,25 in.,
dan tinggi he inti adalah 5,5 in. (tinggi total h = 6,0 in.).
Modulus elastisitas untuk muka aluminium dan intif
oam
masing-masing adalah 10,5 x 106 psi dan 12.000 psi.
Momen lentur M = 40 k-in. beketja terhadap sumbu z.
Tentukan tegangan maksimum di muka dan inti dengan
menggunakan: (a) teori umum untuk balok komposit,
dan (b) teori pendekatan untuk balok sandwich.
z
h
6.2-8 Penampang balok sandwich yang terdiri atas
muka fiberglass dan inti plastik ringan seperti terlihat
dalam gambar. Lebar b balok adalah 50 mm, tebal t muka
adalah 4 mm, dan tinggi he inti adalah 92 mm (tinggi
total h = 100 mm). Modulus elastisitas fiberglass dan
plastik masing-masing adalah 75 GPa dan 1 200 MPa.
Momen lentur M = 275 N·m bekerja terhadap sumbu z.
Tentukan tegangan maksimum di muka dan inti dengan
menggunakan: (a) teori umum untuk balok komposit,
dan (b) teori pendekatan untuk balok sandwich.
6.2-9 Sebuah balok bimetalik digunakan pada saklar
pengontrol temperatur dari plat aluminium dan tembaga
yang dilekatkan satu sama lain (lihat gambar). Lebar balok
adalah 1 in. dan setiap plat mempunyai tebal 111 6 in.
Akibat aksi momen lentur M = 12 !b-in. yang bekerja
terhadap sumbu z, berapa tegangan maksimum CT0 dan ere
masing-masing di aluminium dan tembaga? (Asumsikan
bahwa E0 = 10.500.000 psi, dan Ec = 16.800.000 psi.)
z
y
1 .
1 6 m.
*
L--1in.---�-�In.
6.2-10 Sebuahbalok komposit yang ditumpu sederhana
dengan bentang 3 m memikul beban terbagi rata dengan
intensitas q = 3,2 kN/m (lihat gambar). Balok ini terbuat
dari kayu dengan lebar 100 mm dan tinggi 150 mm,
yang diperkuat di sisi bawah oleh p1at baja dengan tebal
8 mm dan lebar 100 mm. Carilah tegangan lentur
maksimum CTw dan CT
s masing-masing di kayu dan baja
akibat beban terbagi rata tersebutjika modulus elastisitas
kayu dan baja masing-masing adalah Ew = 10 GPa dan
Es = 210 GPa.
q = 3.2 kN/m
�----- 3 m------�
Mekanika Bahan 397
METODE PENAMPANG TERTRANSFORMASI
Dalam memecahkan soal-soal untuk Subbab 6.3,
asumsikan bahwa komponen-komponen balok dengan
baik dilekatkan satu sama lain atau dengan menggunakan
alat penyambung.
6.3-1 Sebuah balok kayu dengan lebar 8 in. dan tinggi
1 2 in. diperkuat di atas dan bawah oleh plat baja yang
tebalnya 0,5 in. (lihat gambar). Carilah momen lentur
izin Mmaks terhadap sumbu z jika tegangan izin di kayu
adalah 1050 psi dan di baja adalah 1 8.000 psi. (Asumsikan
bahwa rasio modulus elastisitas baja dan kayu adalah
20.)
z
6.3-2 Sebuah balok sederhana dengan bentang 3,2 m
memikul beban terbagi rata dengan intensitas 48 kN/m.
Penampang balok merupakan boks berlubang dengan
flens kayu dan plat samping baja, seperti terlihat dalam
gambar. Flens kayu mempunyai penampang 75 mm x
100 mm. dan platbaja mempunyai tinggi 300 mm. Berapa
tebal t plat baja yang diperlukan jika tegangan izin adalah
1 20 MPa untuk baja dan 6,5 MPa untuk kayu?
(Asumsikan bahwa modulus elastisitas untuk baja dan
kayu masing-masing adalah 210 GPa dan 10 GPa, dan
abaikan berat balok.)
6.3-3 Sebuah balok sederhana yang bentangnya 16 ft
mernikul beban terbagi rata dengan intensitas q. Balok
ini mempunyai penampang S 8 x 1 8,4 (berbentuk I) yang
diperkuat dengan kayu yang secara baik dilekatkan ke
sayap balok (lihat penampang pada gambar). Balok kayu
ini mempunyai tinggi 2 in. dan lebar 4 in. Modulus elas-
398 Bab 6 T
egangan Di Balok (T
opik Lanjut)
tisitas baja adalah 20 kali modulus elastisitas kayu. Jika
tegangan izin di baja dan kayu masing-masing adalah
16.000 psi dan 1200 psi, berapa beban izin qizin?
S 8 X l 8 . 4
Z ---11111
6.3-4 Ba1ok komposit yang terlihat dalam gambar
ditumpu sederhana dan memikul beban terbagi rata total
sebesar 40 kN/m pada panjang bentang 5 m. Balok ini
terdiri atas elemen struktur kayu dengan penampang
dengan dimensi 1 50 mm x 250 mm, dan dua plat baja
dengan dimensi penampang 50 mm x 1 50 mm. Tentukan
tegangan maksimum a:, dan aw di baja dan kayu, jika
modulus elastisitas masing-masing adalah Es = 209 GPa
dan Ew = 1 1 GPa.
40 kN/m
1{ 6{ l l 1
I S m---+1
_j_
1so mm
250 mm
_j_50 mm
� �
!50 mm
6.3-5 Penampang sebuah balok terdiri atas empat plat
strip aluminium yang diselang-seling dengan plastik
ringan seperti terlihat dalam gambar. Balok ini mem­
punyai lebar b = 3,0 in., strip aluminium mempunyai tebal
t = 0,1 in., dan segmen plat mempunyai tinggi d = 1 ,2
in. dan 3d = 3,6 in. Tinggi total balok adalah h = 6,4 in.
MGIR!lus elastisitas untuk aluminium dan plastik masing­
m� adalah Ea = 1 1 x 106 psi dan E
P
= 440 x 103 psi.
Tent'lftcan tegangan maksimum aa dan a:
P di aluminium
dan plastik, akibat momen lentur sebesar 10 k-in.
z
I· b ·I
6.3-6 Pecahkan soal sebelum ini jika balok mempunyai
lebar b = 75 mm, strip aluminium mempunyai tebal t =
3 mm, segmen plastik mempunyai tinggi d = 40 mm dan
3d = 120 mm, dan tinggi total balok adalah h = 212 mm.
Juga, modulus elastisitas adalah Ea = 75 GPa, dan E
P
=
3 GPa. Tentukan tegangan maksimum aa dan a:P di alu­
minium dan plastik akibat momen lentur sebesar 1,0
kN.m.
6.3-7 Sebuah balok komposit terbuat dari kayu yang
diperkuat dengan plat baja mempunyai dimensi
penampang seperti terlihat dalam gambar. Balok ini
ditumpu sederhana dengan panjang bentang 1 2 ft dan
memikul beban terbagi rata dengan intensitas q = 275 lb/
ft. Hitunglah tegangan lentur maksimum as dan aw
masing-masing di baja dan kayu, akibat beban terbagi
rata jika EJEw = 20.
z
6.3-8 Penampang balok komposit yang terbuat dari alu­
minium dan baja ditunjukkan dalam gambar. Modulus
elastisitasnya masing-masing adalah Ea = 75 GPa dan Es
= 200 GPa. Akibat aksi momen lentur yang menghasilkan
tegangan maksimum sebesar 50 MPa di aluminium,
berapa tegangan maksimum as di baja?
Alumunium
Steel
40 mm
L
H
30 mm
6.3-9 Sebuah balok komposit terbuat dari balok kayu
yang lebamya 6 in. dan tingginya 8 in., dan diperkuat di
sisi bawah dengan plat baja berukuran 0,5 in. x 6 in.
(lihat gambar). Modulus elastisitas untuk kayu adalah Ew
= 1,2 x 106 psi dan untuk baja adalah Es = 30 x 106 psi.
Carilah momen lentur izin Mizin di balok jika tegangan
izin di kayu adalah aw = 1 500 psi dan di baja ada1ah a:,
= 15.000 psi.
z
6.3-10 Penampang strip bimetalik terlihat dalam gambar.
Dengan mengasumsikan bahwa modulus elastisitas untuk
masing-masing metal A dan B adalah EA = 196 GPa dan
E8 = 105 GPa, tentukan modulus penampang terkeci1
untuk balok ini. (Ingat bahwa modulus penampang sama
dengan momen lenturdibagi tegangan lentur maksimum.)
Pada bahan di manakah tegangan maksimum teljadi?
y
z
1- IO mm-j
-r-
3 mm
+-
3 mm
__i_____
6.3-11 Sebuah balok sayap lebar W 12 x 50 dan segmen
beton dengan tebal 4 in. (lihat gambar) secara bersama
menahan momen lentur positif sebesar 100 k-ft. Balok
dan plat beton tersebut dihubungkan dengan penghubung
geser (shear connection) yang dilas ke balok baja.
(Penghubung ini menahan geser horizontal di permukaan
kontak.) Modulus elastisitas baja dan beton mempunyai
rasio 12 banding 1. Tentukan tegangan maksimum a,
dan o:c masing-masing di baja dan beton.
]4in.
6.3-12 Sebuah balok kayu diperkuat dengan kanal alu­
minium seperti terlihat dalam gambar. Balok ini mem­
punyai penampang dengan dimensi 150 mm x 250 mm,
dan kanal tersebut mempunyai tebal seragam 6 mm. Jika
tegangan izin di kayu dan aluminium masing-masing
adalah 8 MPa dan 40 MPa, dan jika rasio modulus
elastisitasnya 1 banding 6, berapa momen lentur izin
maksimum untuk balok ini?
Mekanika Bahan 399
150 mm
I" .I
r -1
216 mm
L
250 mm
J
40 mm
_L_ 6 mm
I
162 mm {1
I
ill(
6.3-13 Sebuah balok kayu 6 in. x 8 in. diperkuat dengan
plat baja 0,5 in. x 6 in. pada bagian bawahnya dan batang
baja 1 in. x 2 in. pada bagian atasnya (lihat gambar).
Jika tegangan izin kayu dan baja masing-masing adalah
2000 psi dan 1 6.000 psi, dan jika ratio modulus
elastisitasnya adalah 1 berbanding 20, berapa kali momen
lentur izin maksimum untuk balok tersebut?
1 in.
z 8in.
I 6in.
•
BALOK DENGAN BEBAN MIRING
Dalam memecahlwn soal untuk Subbab 6.4, gambarlah
penampangyang memperlihatlwn sumbu netraldan lolwsi
titik-titik di mana tegangan dicari.
6.4-1 Sebuah balok dengan penampang persegi panjang
memikul beban miring P yang mempunyai garis kelja di
sepanjang garis diagonal pada penampang (lihat gambar).
Buktikan bahwa sumbu netralnya terletak pada diagonal
lainnya.
z ---
p
400 Bab 6 T
egangan Di Ba/ok (Topik Lanjut)
6.4-2 Sebuah balok kayu dengan penampang persegi
panjang (lihat gambar) ditumpu sederhana pada bentang
yang panjangnya L. Sumbu longitudinal balok terletak
horizontal, dan penampang tersebut miring dengan sudut
a. Beban di balok merupakan beban terbagi rata vertikal
dengan intensitas q yang bekerja melalui pusat berat C.
Tentukanlah orientasi sumbu netral dan hitunglah
tegangan tarik maksimum O'maks jika b = 75 mm, h = 150
mm, L = 3,0 m, a = 30°, dan q = 2,0 kN/m.
6.4-3 Pecahkan soal sebelum ini untuk data berikut:
b = 6 in., h = 8 in., L = lO ft, tan a = l/3, dan q = 200 lb/
ft.
6.4-4 Sebuahba1ok sayap lebar yang ditumpu sederhana
dengan bentang L memikul beban terpusat P yang beke1ja
melalui pusat berat C di titik tengah bentang (lihat
gambar). Balok ini terletak pada tumpuan yang miring
dengan sudut a dengan horizontal. Tentukanlah orientasi
sumbu netral dan hitunglah tegangan maksimum di pojok
luar penampang (titik A, 8, D, dan E) akibat beban P.
Data untuk balok ini adalah sebagai berikut: profil W 10
x 30, L =8,5 ft, P = 5 k, dan a = 26,57°.
y
p
E
z
6.4-5 Pecahkan soal sebelum ini dengan menggunakan
data sebagai berikut: profil W 8 x 21, L = 8 ft, P = 3,8 k,
dan a = 20°.
6.4-6 Sebuah balok kanti1ever kayu dengan penampang
persegi panjang dan panjang L memikul beban miring P
di ujung bebas (lihat gambar). Tentukan orientasi sumbu
netral dan hitunglah tegangan tarik maksimum O'maks
akibatbeban P. Data untuk balok sebagai berikut: b = 75
mm, h = 150 mm, L = 1,5 m, P = 800 N, dan a = 36°.
I. b
.I
6.4-7 Pecahkan soal sebelum ini untuk balok kantilever
dengan data sebagai berikut: b = 4 in., h = 8 in., L = 6 ft,
P = 500 lb, dan a = 45°.
6.4-8 Sebuah balok baja dengan profil I (lihat gambar)
ditumpu sederhana di ujung-ujungnya. Dua momen lentur
yang sama besar dan berlawanan arah M0 bekerja di
ujung-ujung balok tersebut sedemikian hingga balok
tersebut mengalami lentur murni. Momen tersebut bekerja
di bidang mm, yang berorientasi pada sudut a dengan
bidang xy. Tentukan orientasi sumbu netral dan hitunglah
tegangan tarik maksimum O'maks akibat momen M0• Data
untuk balok adalah sebagai berikut: profil S 8 x 18,4, M0
= 30 k-in., dan a = 30°.
6.4-9 Sebuah balok kantilever dengan penampang sayap
lebar dan panjang L memikul beban miring P di ujung
bebas (lihat gambar). Tentukan orientasi sumbu netral
dan hitunglah tegangan tarik maksimum O'
maks akibat
beban P. Data untuk balok adalah sebagai berikut: profil
W 10 x 45, L = 6 ft, P = 2,5 k, dan a = 55°.
y
6.4-10 Pecahkan soal sebelum ini dengan menggunakan
data berikut: profil W 8 x 35, L = 6 ft, P = 2,0 k, dan a
= 60°.
6.4-11 Sebuah balok kantilever dengan profil W 1 2 x
14 dan panjang L = 9 ft memikul beban agak miring P
= 500 lb di ujung bebas (lihat gambar). (a) Plotlah grafik
tegangan CTA di titik A sebagai fungsi dari sudut
kemiringan a. (b) Plotlah grafik sudut {3, yang
menunjukkan sumbu netral nn, sebagai fungsi dari sudut
a. (Dalam memplot grafik, gunakan harga a dari 0
°
sampai 10°.)
y
n
n
LENTUR BALOK TAK SIMETRIS
Dalam memecahkan soal-soal untuk Subbab 6.5,
gambarlah sketsa penampang yang menunjukkan
orientasisumbu netral dan lokasi titik di mana tegangan
dicari.
6.5-1 Sebuah balok dengan profil kanal mengalami
momen lentur M yang vektomya membentuk sudut (J
dengan sumbu z (lihat gambar). Tentukan orientasi sumbu
netral dan hitunglah tegangan tarik maksimum a, dan
tegangan tekan maksimum CTc di balok tersebut. Guna­
kan data berikut: profil C 8 x 1 1 ,5, M = 20 k-in.,
tan (J = 1/3.
y
M
Mekanika Bahan 401
6.5-2 Pecahkan soal sebelum ini dengan menggunakan
data profil C 6 x 13 dengan M = 5,0 k-in. dan (J = 15°.
6.5-3 Sebuah profil siku sama kaki mengalami momen
lentur M dengan vektor yang berarah sepanjang sumbu
1-1, seperti terlihat dalam gambar. Tentukan orientasi
sumbu netral dan hitunglah tegangan tarik maksimum a,
dan tegangan tekan maksimum CT
c
jika siku tersebut adalah
L 6 x 6 x 3/4 dan M = 20 k-in.
M
I -
2
2
6.5-4 Pecahkan soal sebelum ini dengan menggunakan
data: L 4 x 4 x 112 dengan M = 6,0 k-in.
*6.5-5 Sebuah penampang balok mempunyai bentuk
segitiga sama sisi dengan panjang sisi b (lihat gambar).
Balok ini mengalami momen lentur M yang vektomya
membentuk sudut (J dengan sumbu z. (a) Tentukan sumbu
netralnya. (b) Turunkan rumus untuk tegangan CTA, a8,
dan CTc di titik A, B, dan C yang dinyatakan dalam M, b,
dan 9. (c) Plotlah grafik tegangan tarik maksimum CT1
sebagai fungsi dari sudut (J untuk harga (J yang bervariasi
dari 0 sampai 90°. Gunakan ordinat grafik berupa besaran
nondimensional CTmaksb3!32M.
y
B
c
*6.5-6 Sebuah balok dengan penampang setengah
lingkaran dengan radius r mengalami momen lentur M
yang vektomya membentuk sudut (Jdengan sumbu z (lihat
gambar). Tentukan tegangan tarik maksimum a, dan
tegangan tekan maksimum CT
c
di balok tersebut untuk (J
= 0,45°, dan 90°.
l
402 Bab 6 T
egangan Di Balok (Topik Lanjut)
*6.5-7 Sebuah profil siku tak sama kaki mengalami
momen lentur M dengan sumbu netral berarah sepanjang
sumbu 1-1, seperti terlihat dalam gambar. Tentukan orien­
tasi sumbu netral dan hitunglah tegangan tarik maksimum
a, dan tegangan tekan maksimum a
c
di balok ini jika
siku tersebut adalah L 8 x 6 x 1 dan M = 25 k-in.
2
I
c
2
*6.5-8 Pecahkan soal sebelum ini dengan mengguna­
kan data profil siku L 7 x 4 x 1/2 dengan momen
M = 1 5 k-in.
TEGANGAN GESER Dl BALOK BERDINDING
TIPIS
Dalam menyelesaikan soal-soal untuk Subbab 6. 7,
asumsikan bahwa penampang mempunyai dinding tipis
dan gunakan dimensi garis pusat dalam menentukan
semua perhitungan dan penurunan rumus.
6.7-1 Sebuah ba1ok sederhana dengan profil sayap 1ebar
memikul beban terbagi rata dengan intensitas q = 3,0 k/
ft di bentang yang panjangnya L =!0 ft (lihat gambar).
Dimensi penampang adalah h = 10,5 in., b = 7 in., dan
tr = tw = 0,4 in. (a) Hitung1ah tegangan geser maksimum
rmaks di potongan A-A yang terletak pada jarak d = 2,0 ft
dari ujung balok. (b) Hitunglah tegangan geser r8 di titik
B pada potongan tersebut. Titik B ter1etak pada jarak a
= 2,0 in. dari tepi flens bawah.
y
q
A�
6.7-2 Pecahkan soal sebelum ini dengan menggunakan
data berikut: L = 3 m., q = 40 kN/m, = 260 mm, b = 170
mm, t1 = 1 2 mm, tw = 10 mm d = 0,6 m, dan a = 60 mm.
6.7-3 Sebuah balok yang mempunyai penampang
simetris ganda dalam gambar ini mengalami gaya geser
P = 4,0 k yang bekerja mela1ui pusat berat dan sejajar
dengan sumbu y. (a) Hitunglah tegangan geser maksimum
rmaks· (b) Berapa fraksi gaya geser P yang ditahan oleh
setiap luas persegi panjang dalam penampang ini?
y
0.45 0.30 0.30 0.45
in. in. in. in.
-1cr- 1 r-i1 r-1 r___
���••• 4.0 in.
r--
=
J
4.0 in.
P = 4k
6.7-4 Sebuah balok T mengalami gaya geser P yang
bekerja me1alui pusat geser S yang sejajar sumbu y (lihat
gambar). Flens mempunyai lebar b dan tebal t. Selidikilah
tegangan geser yang bekerja di penampang, sebagai
berikut: (a) Dapatkan rumus untuk tegangan geser maksi­
mum rmaks· (b) Plotlah grafik yang menunjukkan tegangan
geser r bervariasi pada tinggi flens. (c) Tunjukkan bahwa
resu1tan tegangan geser sama dengan P.
b/2
_l_
jY
6.7-5 Sebuah balok sayap lebar simetris tunggal meng­
alami gaya geser P yang bekerja melalui pusat geser S
yang sejajar dengan sumbu y (lihat gambar). Turunkan
rumus untuk tegangan geser maksimum rmaks di balok
ini dengan mengasumsikan bahwa b1 > b2.
y
p
6.7-6 Sebuah profil siku sama kaki memikul gaya geser
P yang bekerja melalui pusat geser S dan sejajar sumbu
y yang merupakan sumbu simetri (Iihat gambar). Setiap
kaki siku tersebut mempunyai panjang garis pusat b dan
tebal t. Selidikilah tegangan geser yang bekerja di penam­
pang tersebut, sebagai berikut: (a) Turunkan rumus untuk
tegangan geser maksimum rmaks di profil siku. (b) Plotlah
grafik yang menggambarkan bagaimana tegangan geser
r bervariasi di sepanjang garis pusat penampang. (c)
Tunjukkan bahwa resultan tegangan ini sama dengan P.
y
6.7-7 Sebuah balok dengan penampang kanal
mengalami gaya geser P = 12 k yang bekerja di sepanjang
sumbu y, yang merupakan sumbu simetri (lihat gambar),
Dimensi penampang ada1ah h = 1 8 in, b = 6 in., dan t =
l in. Selidikilah tegangan geser yang bekerja di penam­
pang tersebut, sebagai berikut: (a) Hitunglah tegangan
geser maksimum rmaks· (b) Plotlah grafik yang meng­
gambarkan bagaimana tegangan geser r bervariasi di
sepanjang tinggi b flens dan di seluruh panjang badan h.
(c) Tunjukkan bahwa resultan tegangan ini sama dengan
beban P.
y
h
--r= � t
b
z
�
t s
p
Mekanika Bahan 403
6.7-8 Pecahkan soal sebelum ini jika P = 20 kN dan
dimensi penampang adalah h = 225 mm, b = 90 mm, dan
t = 20 mm.
*6.7-9 Sebuah balok I tak seimbang diletakkan seperti
tergambar dan mengalami gaya geser P = 20 k yang
bekerja dalam arah sumbu y, yang merupakan sumbu
simetri (lihat gambar). Dimensi penampang adalah h =
16 in., b = 9 in., b1 = 6 in., b2 = 3 in., t1 = 1 in., dan t.,.
= 0,75 in. Selidikilah tegangan geser yang bekerja di
penampang sebagai berikut: (a) Hitunglah tegangan geser
maksimum rmaks· (b) Plotlah grafik yang menunjukkan
bagaimana tegangan geser r bervariasi di seluruh tinggi
flens b dan panjang badan h. (c) Tunjukkan bahwa
resultan tegangan geser sama dengan P.
I Y
I h
IT jw
z c
_j_ __!_
b T
LL
T s
'r-1 r p --1 r tr
*6.7-10 Selesaikan soal sebelum ini jika P = 120 kN
dan dimensi penampang adalah h = 300 mm, b = 160
mm, b1 = 120 mm, b2 = 40 mm, Lf-= 20 mm, dan tw =
15 mm.
PUSAT GESER PENAMPANG TERBUKA
BERDINDING TIPIS
Dalam menentukan lokasi pusat geser di dalam soal­
soal untuk Subbab 6.8, asumsikan bahwa penampang
berdinding tipis dan gunakan dimensi garis pusat untuk
semua perhitungan dan penurunan rumus.
6.8-1 Hitunglah jarak e dari garis pusat badan profil
kanal C 12 x 20,7 ke pusat geser S (lihat gambar).
(Catatan: Untuk tujuan analisis, anggaplah flens sebagai
persegi panjang dengan tebal t1 sama dengan tebal flens
rata-rata yang diberikan dalam Tabel E-3, Lampiran E.)
y
404 Bab 6 T
egangan Di Balok (Topik Lanjut)
6.8-2 Hitunglah jarak e dari garis pusat badan profil
i.;;ma] C 8 x 18,75 ke pusat geser S (lihat garnbar). Untuk
:-JJuan analisis, anggaplah flens sebagai persegi panjang
dengan tebal t
1 sama dengan tebal flens rata-rata yang
diberikan dalam Tabel E-3, Lampiran E.)
6.8-3 Penampang balok sayap lebar tak seimbang
ditunjukkan dalam gambar. Turunkan rumus untukjarak
h1 dari garis pusat satu flens ke pusat geser S:
t2b�h
hi = 3 3
tl bl + t2 b2
Juga, cek rumus ini untuk kasus balok T (b2 = t2 = 0) dan
balok sayap lebar seimbang (t2 = t1 dan b2 = b1).
tz
,---- {
ll 4
bl
-
H .._
z
Is 'C
'------
h . I h
2
T
h
6.8-4 Penampang balok sayap lebar tak seimbang
ditunjukkan dalarn gambar. Turunkan rumus berikut untuk
jarak e dari garis pusat badan ke pusat geser S:
3tf (b; - b1
2
)
e = -:-
-
-'-::c-=-
:-:-
--'-
--:---:-
htw + 6t1 (b1 + b2 )
Juga, cek rumus untuk kasus khusus profil kanal (b1 = 0
dan b2 = b) dan balok simetris ganda (b1 = b2 = b/2).
y lr
lw
J2
z
s
�e-t
�
r
lr
· •
�b��
I
-
bz�
6.8-5 Penampang balok kanal dengan flens ganda dan
tebal konstan di seluruh penampang ditunjukkan dalam
gambar. Turunkan rumus berikut ini untuk jarak e dari
garis pusat badan ke pusat geser S:
y
z
s c
Ihi h
2
e---1 �
1
6.8-6 Penampang tabung lingkaran bercelah dengan
tebal konstan ditunjukkan dalam gambar. Buktikan bahwa
jarak e dari pusat lingkaran ke pusat garis S sama dengan
2r.
y
6.8-7 Penarnpang tabung bujursangkar bercelah dengan
tebal konstan ditunjukkan dalarn garnbar. Turunkan rumus
berikut untuk jarak e dari pojok penampang ke pusat
geser S:
b
e = --
z.,fi
y
6.8-8 Penampang tabung persegi panjang bercelah
dengan tebal konstan ditunjukkan dalam gambar.
Turunkan rumus berikut untuk jarak e dari garis pusat
dinding tabung ke pusat geser S:
b(2h + 3b)
e =
2(h + 3b)
y
i
h/2
s
-1 e ,___ c
z
h/2
1
b/2 b/2
6.8-9 Sebuah penampang berbentuk U dengan tebal
konstan ditunjukkan dalam gambar. Turunkan rumus
berikut untuk jarak e dari pusat setengah lingkaran ke
pusat geser S:
2(2r2 + b2 + nbr)
e =
4b + m-
Juga, plotlah grafik yang menunjukkan bagaimana jarak
e (dinyatakan dalam rasio tak berdimensi e/r) bervariasi
sebagai fungsi dari rasio blr. (Misalkan selang blr dari 0
sampai 2.)
y
b
-1
s
*6.8-10 Turunkan rumus berikut untukjarak e dari garis
pusat dinding ke pusat geser S untuk penampang C
dengan tebal konstan seperti terlihat dalam gambar:
3bh2 (b + 2a) - 8ba3
e = --=
-
-
-
--'-
-
-
--'--
---,-
-
-
-
h2 (h + 6b + 6a) + 4a2 (2a - 3h)
Juga, cek rumus tersebut untuk kasus profil kanal (a = 0)
dan tabung persegi panjang bercelah (a = h/2).
y
Mekanika Bahan 405
*6.8-11 Turunkan rumus berikut untukjarak e dari garis
pusat dinding ke pusat geser S untuk penampang topi
dengan tebal konstan seperti terlihat dalam gambar:
3bh2 (b + 2a) - 8ba3
e = --=
-
-
-
--'-
-
-
--'--
--=
-
-
-
-
h2 (h + 6b + 6a) + 4a2 (2a + 3h)
Juga, cek rumus tersebut untuk kasus profil kanal (a =
0).
y a
I
h/2
s
c-+
z
l e h/2
*6.8-12 Sebuah penampang dengan bentuk busur
lingkaran dengan tebal konstan ditunjukkan dalam
gambar. Turunkan rumus berikut untukjarak e dari pusat
busur ke pusat geser S:
2r(sin f3 - f3 cos /3)
e = -
-:::---=--
-::-----::--'-
/3 - sin f3 cos f3
di mana f3 dalam radian. Juga, plotlah grafik yang me­
nunjukkan bagaimana e bervariasi untuk harga f3 dari 0
sampai n.
y
LENTUR ELASTOPLASTIS
Soal-soal untuk Subbab 6.9 dipecahkan dengan
menggunakan asumsi bahwa bahannya elastoplastis
dengan tegangan luluh a
y.
6.9-1 Turunkan faktor bentuk f untuk penampang
dengan bentuk trapesium ganda yang mempunyai dimensi
seperti terlihat dalam gambar.
,
)
406 Bab 6 T
egangan Di Balok (Topik Lanjut)
y
6.9-2 (a) Turunkan faktor bentuk f untuk penampang
lingkaran berlubang yang mempunyai radius dalam r1
dan radius luar r2 (lihat gambar). (b) Jika penampang
sangat tipis, berapakah faktor bentuknya?
y
Z-
6.9-3 Sebuah balok kantilever dengan panjang L = 60
in. memikul beban terbagi rata dengan intensitas q (lihat
gambar). Balok ini terbuat dari baja (O"
Y
= 40 ksi) dan
mempunyai penampang persegi panjang dengan lebar b
= 4,0 in. dan tinggi h = 6,0 in. Berapa intensitas beban
q yang akan menghasilkan kondisi plastis penuh pada
balok ini?
'
.
l.
t
}:
:·,�'
I·
q
lJ 1 1 J L,l,J z
1
h =6.0 in
l
LJ
L = 60 in I
•
b = 4.0 in
6.9-4 Sebuah balok dengan penampang persegi panjang
mempunyai lebar 50 mm dan tinggi 80 mm (lihat
gambar). Tegangan luluh baja adalah 210 MPa. (a) Berapa
persen bagian 1uas penampang yang ditempati oleh inti
elastis jika balok tersebut mengalami momen lentur
sebesar 13,0 kN·m yang bekerja terhadap sumbu z? (b)
Berapa besar momen lentur yang akan menyebabkan 50%
dari penampang mengalami luluh?
6.9-5 Hitunglah faktor bentukfuntuk balok sayap lebar
yang seperti terlihat dalam gambar jika h = 12,0 in., b =
6,0 in., t1 = 0,6 in., dan tw = 0,4 in.
y
z -----t: C h
I.
6.9-6 Pecahkan soal untuk balok sayap lebar sebelum
ini dengan h = 400 mm, b = 160 mm, t1 = 12 mm, dan
tw = 8 mm.
6.9-7 Tentukan modulus penampang S , modulus plastis
Z, dan faktor bentuk f untuk balok sayap lebar W 12 x
87. (Catatan: Dapatkan besaran balok dengan melakukan
perhitungan menggunakan dimensi penampang yang
diberikan dalam Tabel E-1 , Lampiran E.)
6.9-8 Pecahkan soal sebelum ini untuk balok sayap
lebar W 10 x 60.
6.9-9 Tentukan momen luluh M
Y
dan momen plastis
M
P
untuk balok sayap lebar W 16 x 77 jika O"
Y
= 36 ksi.
(Catatan: semua besaran ba1ok dengan melakukan
perhitungan menggunakan dimensi penampang yang
diberikan dalam Tabel E-1, Lampiran E.)
6.9-10 Pecahkan soal sebelum ini untuk balok sayap
lebar W 8 x 2 1 .
6.9-11 Sebuah balok boks berlubang dengan tinggi h =
16 in., lebar b = 8 in., dan tebal dinding konstan t = 0,75
in. terlihat dalam gambar. Balok ini terbuat dari baja
dengan tegangan luluh O"
Y
= 32 ksi. Tentukan momen
luluh M
Y
dan momen plastis M
P
.
y
z
6.9-12 Pecahkan soal sebelum ini untuk balok boks
dengan dimensi h = 0,4 in., b = 0,2 in., dan t = 20 mm.
Tegangan luluh baja yang digunakan adalah 230 MPa.
6.9-13 Sebuah balok boks berlubang dengan tinggi h =
9,0 in., tinggi dalam hi = 7,5 in., lebar b = 5,0 in., dan
lebar dalam bi = 4,0 in. ditunjukkan dalam gambar.
Dengan mengasumsikan bahwa balok tersebut terbuat dari
baja dengan tegangan luluh ay = 33 ksi, hitunglah momen
luluh M
Y
dan momen plastis M
P
.
y
���Sll
I
Z---ft���J
b
6.9-14 Pecahkan soal sebelum ini untuk balok boks
dengan dimensi h =200 mm, hi = 160 mm, b = 150 mm,
dan bi = 130 mm. Asumsikan bahwa balok ini terbuat
dari baja dengan tegangan luluh ay = 220 MPa.
6.9-15 Balok boks berlubang yang terlihat dalam gambar
mengalami momen lentur M yang besarnya sedemikian
rupa sehingga flens mengalami luluh tetapi bagian badan
tetap elastis linier. (a) Hitunglah besar momen M jika
dimensi penampang adalah h = 14 in., hi = 12,5 in., b =
8 in., dan b1 = 7 in. Juga, tegangan luluhnya adalah a,.
= 42 ksi. (b) Berapa persen momen M dihasilkan oleh
inti elastis?
6.9-16 Pecahkan soal sebelum ini untuk balok boks
dengan dimensi h = 400 mm, h1 = 360 mm, b = 200 mm,
dan b1 = 160 mm, dengan tegangan luluh a, = 220 MPa.
6.9-17 Sebuah balok sayap lebar W 12 x 50 mengalami
momen lentur M yang besamya sedemikian hingga flens
luluh dan badan tetap elastis linier. (a) Hitunglah besar
momen M jika tegangan luluh ay = 36 ksi. (b) Berapa
persen momen M dihasilkan inti elastis?
Mekanika Bahan 407
6.9-18 Pecahkan soal sebelum ini untuk balok sayap
lebar jika tinggi balok adalah 210 mm, lebar flens
130 mm, tebal flens adalah 10 mm, tebal badan adalah
6,5 mm, dan tegangan luluh adalah 200 MPa.
6.9-19 Sebuah balok simetris tunggal berpenampang T
(lihat gambar) mempunyai dimensi penampang b = 6 in.,
a = 8 in., tw = 1,5 in., dan t1 = 1,5 in. Hitunglah modulus
plastis Z dan faktor bentuk f
I Y
I y
.
6.9-20 Pecahkan soal sebelum ini untuk balok T dengan
dimensi b = 140 mm, a = 200 mm, tw = 20 mm, dan t1
= 25 mm.
6.9-21 Sebuah balok sayap lebar dengan penampang
tak seimbang mempunyai dimensi seperti terlihat dalam
gambar. Tentukan momen plastis M
P
jika ay = 36 ksi.
y
I lO inJ
I i _L
L ccz cccc: 0,5 in
z -----t'111lu 7 in
0,5 in---> ·I--
r::::;:::z;z;;;;:22;:;;[Z[3-.--0,5 in
�
;·--5_
i_
n_�
·l I
6.9-22 Tentukan momen plastis M
P
untuk balok yang
mempunyai penampang seperti terlihat dalam gambarjika
aY = 210 MPa.
408 Bab 6 T
egangan Di Balok (Topik Lanjut)
LENTUR NONLINIER
6.1 0.1 Sebuah balok persegi panjang dari plastik
struktural mempunyai lebar 3,0 in. dan tinggi 6,0 in.
!lihat gambar) dan mengalami momen lentur positif M.
Diagram tegangan untuk plastik ini direpresentasikan
dengan dua garislurus dan mempunyai modulus elastisitas
tekan E1 = 2,8 x 106 psi, dan modulus elastisitas tarik
adalah E2 = 1,5 x 106 psi. Jika tegangan izin maksimum
untuk tarik dan tekan masing-masing adalah 900 psi dan
1200 psi, berapa momen lentur izin Mizin?
cr
1. 3 in .I
6.10-2 Sebuah balok kantilever dengan penampang
persegi panjang dan panjang L memikul beban ter­
distribusi dengan intensitas q (lihat gambar). Bahan balok
mempunyai modulus elastisitas E1 untuk tekan dan E2
untuk tarik. Harga numeriknya adalah sebagai berikut: L
= 1,0 in., q = 12,0 kN/m, b = 60 mm, h = 140 mm, E1
= 200 GPa, dan E2 = 70 GPa. Tentukan tegangan tarik
maksimum a, dan tegangan tekan maksimum er
e.
cr
P= '
w..<).I. ..l......l,,l
I· L .I
6.10-3 Pecahkan soal sebelum ini untuk kondisi berikut:
L = 3,0 ft, q = 75 lb/in, b = 2,5 in., h = 6,0 in., E1 = 24
x 106 psi, dan Ec = 18 x 106 psi.
6.10-4 Sebuah balok dengan penampang persegi
panjang terbuat dari bahan yang direpresentasikan dengan
diagram tegangan-regangan bilinier seperti terlihat dalam
gambar. Modulus elastisitasnya adalah E1 dan E2 dan
sifatnya sama untuk tarik dan tekan. Data numerik berikut
berlaku untuk balok ini: b = 40 mm, h = 120 mm, E1 =
70 GPa, E2 = 30 GPa, dan av = 160 MPa. Jika tegangan
maksimum di balok ini adal<ih amaks = 200 MPa, berapa
momen lentur M?
6.10-5 Pecahkan soal sebelum ini dengan menggunakan
data berikut: b = 2,0 in., h = 6,0 in., E1 = 10 x 106 psi,
E2 = 4 x 106 psi, a
y
= 24.000 psi, dan amaks = 30.000 psi.
6.10-6 Sebuah balok dengan penampang persegi panjang
(lebar b, tinggi h) terbuat dari bahan dengan kurva
tegangan-regangan tarik (lihat gambar) yang dinyatakan
dengan persamaan:
di mana B1 dan B2 adalah konstanta dan Emaks = Bl2B2•
Kurva tegangan-regangan untuk tekan sama dengan untuk
tarik. Turunkan rumus untuk momen lentur M jika
regangan di atas dan bawah balok sama c1 •
cr
6.10-7 Hubungan tegangan-regangan untuk bahan suatu
balok (lihat gambar) diasumsikan mempunyai bentuk a
= BE!', di mana B dan n adalah konstanta (0 � n � 1).
Kurva tegangan-regangan untuk tekan sama dengan untuk
tarik. Penampang balok adalah persegi panjang dengan
lebar b dan tinggi h. (a) Turunkan rumus berikut untuk
tegangan maksimum di balok akibat momen lentur M:
a1 =
�c(n ;2 }
di mana c = h/2 dan I = bh3!1 2. (b) Turunkan rumus
berikut untuk tegangan adi balok padajarak y dari sumbu
netral:
_!!___ = (�)n
(Jl h
Juga,plotlah graflk: yang menunjukkan distribusi tegangan
di balok untuk berbagai harga n. (Plotlah grafik dalam
bentuk tak berdimensi, a/a1 versus 2y!h, dan pilihlah n
= 1, 0,5; 0,25, dan 0.)
O < n < l
L-------�------------E
6.10-8 Distribusi tegangan di penampang balok persegi
panjang yang mempunyai lebar b dan tinggi h dinyatakan
dengan persamaan
_Q:_ = 1 - (1 -
2y )m
0'1 h
di mana 0'adalah tegangan padajaraky dari sumbu netral,
0'
1
adalah tegangan di atas dan bawah balok, dan m adalah
konstanta (m � 1 ). Distribusi tegangan sama untuk bagian
tarik dan tekan balok (lihat gambar). (a) Turunkan rumus
berikut untuk momen lentur M yang bekerja di penam­
pang tersebut:
M
0'
1 / [ 3m(m + 3)
J
= -
c
-
2(m + 1)(m + 2)
(m � 1)
di mana c = h/2 dan I = bh3112. (b) Plotlah grafik yang
menunjukkan distribusi tegangan di balok ini untuk
berbagai harga m (Plotlah grafik tersebut dalam bentuk
tak berdimensi, 0'/0'
1
versus 2y/h, dan pilihlah m = 1 , 2,
4, 10.)
6.10-9 Sebuah balok dengan penampang persegi panjang
(lebar b = 2,0 in., dan tinggi h = 4,5 in., terbuat dari baja
mutu tinggi dengan diagram tegangan-regangan yang
Mekanika Bahan 409
didefinisikan dengan datanumerik yang tercantum dalam
tabel ini. Diagram ini sama untuk tarik dan tekan. Hitung­
lah harga momen lentur M jika tegangan maksimum di
balok adalah 105 ksi.
Data tegangan-regangan untuk Soal 6.10-9
Tegangan (ksi) Regangan
0 0
70 0,0024
75 0,0030
80 0,0038
90 0,0063
100 0,0105
1 10 0,0170
1 20 0,0274
*6.10-10 Tentukan tegangan maksimum O'maks di balok
dalam Soal 6.10-4 jika momen Ientur M = 1 8 kN-m.
*6.1 0-11 Tentukan tegangan maksimum O'maks di balok
dalam Soal 6.10-5 jika momen lentur M = 320 k-in.
**6.10-12 Sebuah balok dengan penampang persegi
panjang (lebar b = 25 mm dan tinggi h = 75 mm) terbuat
dari bahan yang mempunyai kurva tegangan-regangan
yang diidealisasikan tak simetris seperti terlihat dalam
gambar. Kerniringan garis-garis tersebut adalah E
1
= 6,5
GPa, dan £2 = 2,85 GPa, dan regangan luluh tarik adalah
EY = 0,0022. Berapakah momen lentur M di balok ini jika
tegangan tarik maksimum adalah 20 MPa?
a
,
-
REFERENSI DAN
CATATAN SEJ ARAH
1-1 Timoshenko, S. P., History of Strength of Mate­
rials, Dover Publications, Inc., New York, 1983 (semu1a
diterbitkan oleh McGraw-Hill book Co., Inc., New York,
1953).
Catatan: Stephen P. Timoshenko (1 878- 1972)
adalah ilmuwan, insinyur, dan guru yang terkenal.
Dilahirkan di Russia, ia tiba di Amerika Serikat tahun
1922. la adalah peneliti di Westinghouse Research Labo­
ratory, profesor di University of Michigan, dan belakang­
an profesor di Stanford University, di mana ia pensiun
pada tahun 1 944. Timoshenko membuat banyak
kontribusi, baik teoretis maupun eksperimental, di dalam
mekanika terapan, dan ia menulis dua belas buku teks
perintis yang memberikan revolusi di dalam pengajaran
mekanika di Amerika Serikat. Buku-buku tersebut, yang
diterbitkan sebanyak Iima edisi dan diterjemahkan ke 35
bahasa, mencakup bahan-bahan tentang statika, dinamika,
mekanika bahan, getaran, teori struktural, stabilitas,
elastisitas, p1at, dan cangkang.
1 -2 Todhunter, I. dan Pearson, K., A History of the
Theory of Elasticity and of the Strength of Materials,
Jilid I dan II, Dover Publications, Inc., New York, 1960
(semula diterbitkan oleh Cambridge University Press
pada tahun 1 886 dan 1893). Catatan: Isaac Todhunter
(1 820-1884) dan Karl Pearson ( 1857-1936) adalah
matematikawan Inggris dan pendidik. Pearsonkhususnya
dikenal karena kontribusi orisinalnya dalam statistika.
1-3 Love, A. E. H., A Treatise on the Mathematical
Theory of Elasticity, 4th Ed., Dover Publications, Inc.,
New York, 1944 (semula diterbitkan oleh Cambridge
University Press pada tahun 1927); lihat "Pendahuluan
Sejarah" di halaman 1 -3 1 . Catatan: Augusts Edward
Hough Love (1863-1940) adalah ahli e1astisitas Inggris
yang mengajar di Oxford University. Penelitian penting
yang dilakukannya meliputi analisis gelombang permuka­
an seisrnik, yang sekarang disebut gelombang Lovetoleh
para ahli geofisika.
1 -4 Jacob Bemoulli (1654-1705), juga dikenal dengan
nama James, Jacques, dan Jakob, adalah anggota keluarga
matematikawan dan ilmuwan terkenal dari Basel, Swiss.
la menghasilkan karya yang berkaitan dengan kurva
elastis pada balok. Bernoulli juga mengembangkan
koordinat polar dan menjadi terkenal karena karyanya di
teori probabilitas, geometri analitis, dan cabang-cabang
ilmu lain. Jean Victor Poncelet (1788-1 867) adalah or­
ang Perancis yang berjuang di kampanye Napoleon
melawan Rusia. la sempat dipenjara, dan belakangan
kembali ke Perancis untuk meneruskan pekeijaannya di
dalam bidang matematika. Kontribusi utama darinya di
dalam bidang matematika adalah geometri, dan di dalam
bidang mekanika, ia sangat terkenal karena karyanya di
dalam besaran bahan dan dinamika. (Untuk karya Ber­
noulli dan Poncelet yang berkaitan dengan diagram
tegangan-regangan, lihat Ref. 1-1, halaman 88, dan Ref.
1-2, Jilid 1 , halaman 10, 533, dan 873.)
1-5 James dan James, Mathematics Dictionary, Van
Nostrand Reinhold, New York (edisi terakhir).
1 -6 Robert Hooke (1635-1703) adalah ilmuwan Inggris
yang melakukan banyak eksperimen dengan benda elastis,
dan mengembangkan perbaikan dalam benda-benda kecil.
lajuga memformulasikan hukum gravitasi secara terpisah
dari Newton. Sesudah mendirikan Royal Society of Lon­
don pada tahun 1662, Hooke diangkat sebagai kurator
pertama. (Untuk asal-usul hukum Hooke, lihat Ref. 1-1,
halaman 17-20, dan Ref. 1-2, Jilid I, halaman 5.)
1-7 Thomas Young (1773-1829) adalah ilmuwan Inggris
yang menjadi perintis di dalam bidang optik, bunyi, kejut,
dan bidang-bidang lainnya. (Untuk informasi mengenai
karyanya dalam bidang bahan, lihat Ref. 1-1, halaman
90-98, dan Ref. 1-2, Jilid I, halaman 80-86.)
1-8 Simeon Denis Poisson (1781-1840) adalah mate­
matikawan Perancis. la memberikan banyak kontribusi
di dalambidang matematika dan mekanika, dan namanya
juga dikenal bukan hanya karena rasio Poisson. Sebagai
contoh, kita mempunyai persamaan Poisson pada
persamaan diferensial dan distribusi Poisson pada teori
probabilitas. Berdasarkan atas teorinya sendiri mengenai
perilaku bahan, ia menghitung regangan lateral suatu
batang yang mengalami tarik dan mendapatkan bahwa
besarnya seperempat dari regangan longitudinal. (Untuk
informasi mengenaiteorinya di dalam perilaku mekanika,
lihat Ref. 1-1, halaman 1 1 1-1 14; Ref. 1-2, Jilid I, halaman
208-318; dan Ref. 1-3, halaman 13.)
2-1 Timoshenko, S.P, dan Goodier, J.N., Theory ofElas­
ticity, 3rd Ed., McGraw-Hill Book Co., Inc., New York,
1970 (lihat halaman 1 1 0). (Catatan: James Norman
Goodier (1905-1969) sangat terkenal karena kontribusi
penelitiannya di dalam teori elastisitas, stabilitas, pen­
jalaran gelombang pada padatan, dan cabang-cabang lain
mekanika terapan. Dilahirkan di Inggris, ia belajar di
Cambridge University dan University of Michigan. la
adalah profesor di Comell University dan belakangan di
Stanford University, di mana ia mengetuai program
mekanika terapan.
2-2 Weaver, W., Jr., dan Gere, J.M., Matrix Analysis of
Framed Structures, 3rd Ed., Van Nostrand Reinhold Co.,
New York, 1990. Catatan: Metode fleksibilitas dan
kekakuan untuk menganalisis struktur statis tak tentu
dengan metode-metode komputer disajikan di dalam buku
ini.
2-3 Leonhard Euler ( 1707- 1783) adalah matematikawan
Swiss, mungkin merupakan matematikawan terbesar
sepanjang masa. Ref. 1 1-2 memberikan informasi
mengenai kehidupan dan karya-karyanya (lihat Ref. 1-1,
halaman 36, dan Ref. 2-4, halaman 650, mengenai
karyanya tentang struktur statis tak tentu.
2-4 Oravas, G. A., dan McLean L., "Historical Devel­
opment of Energetical Principles in Elastomechanics,"
Applied Mechanics Reviews, Vol. I, Jilid 19, No. 8,
Agustus 1966, halaman 647-658, dan Vol. II, Jilid 19,
Nomor 1 1 , November 1966, halaman 919-933.
2-5 Louis Marie Henri Navier ( 1785-1836), matemati­
kawan dan insinyur Perancis, adalah salah seorang
pembangun teori elastisitas matematis. la berkontribusi
di dalam teori balok, plat, dan cangkang, di dalam teori
getaran, dan di dalam teori fluida viskos (Lihat Ref. 1-
1, halaman 75; Ref. 1 -2, Jilid 1, halaman 146; dan Ref.
2-4, halaman 652, untuk analisisnya di dalam struktur
statis tak tentu.)
2-6 Piobert, G., Morin, A.J., Diction, I., "Commission
des Principes du Tir," Memorial de l'Artillerie, Jilid 5,
1 842, halaman 501-552. Catatan: Makalah ini meng­
uraikan eksperimen yang dilakukan dengan menembak­
kan proyektil artileri ke plat besi. Di halaman 505 di­
tunjukkan deskripsi penandaan yang merupakan pita slip.
Deskripsi tersebut cukup singkat, dan tidak ada indikasi
bahwa para peneliti tersebut memasukkan penandaan
tersebut sebagai kontribusi di dalam karakteristik bahan.
Guillaume Piobert (1793-1871) adalah jendral Perancis
sekaligus juga matematikawan yang melakukan banyak
studi mengenai balistik; pada saat makalah ini ditulis, ia
adalah kapten di dalam artileri.
2-7 L.ders, W., "Ueber die Ausserung der elasticitat an
stahlartigen Eisenstaben und Stahlstaben, und iiber eine
beim Biegen solcher Stabe beobachtete Molecular-
Mekanika Bahan 41 1
bewegung," Dingier's Polytechnisches Journal, Vol. 155,
1 860, halaman 1 8-22. Catatan: Makalah ini menguraikan
serta mengilustrasikan dengan jelas pita yang muncul di
permukaan spesimen baja yang dipoles selama meng­
alami leleh. Tentu saja, pita ini hanya merupakan
manifestasi permukaan dari zona tiga dimensi yang
mungkin seharusnya diidentifikasi sebagai "wedges"
bukan sebagai pita. Sekalipun demikian, sebutan pita
L.ders biasanya digunakan untuk penandaan, meskipun
kadang-kadang disebut juga pita Piobert.
2-8 Benoit Paul Emile Clapeyron (1799-1 864) ada1ah
insinyur struktur dan perencana jembatan Perancis yang
terkenal; ia mengajar teknik di Ecole des Ponts et
Chaussees di Paris. Teorema C1apeyron, yang menyatakan
bahwa keija yang dilakukan oleh beban luar yang bekeija
pada benda elastis linier sama dengan energi regangan,
pertama kali diterbitkan pada tahun 1833. (Lihat Ref. 1-
1 , halaman 1 1 8 dan 288, Ref. 1-2, Jilid 1 , halaman 578;
dan Ref. 1-2, Jilid II, halaman 418.)
2-9 Poncelet menyelidiki getaran longitudinal pada
suatu batang akibat beban kejut (lihat Ref. 1-1, halaman
88). Ref. 1 -4 memberikan informasi tambahan mengenai
kehidupan dan karya-karyanya.
2-1 0 Roark, R.J., dan Young, W.C., Formulasfor Stress
and Strain, 6th Ed., McGraw-Hill Book Co., Inc., New
York, 1989.
2-1 1 Peterson, R.E., Stress Concentration Factors, John
Wiley and Sons, Inc., New York, 1974.
2-12 Barre de Saint-Venant (1797-1886) dikenal secara
umum sebagai ahli elastisitas paling terkemuka sepanjang
masa. Dilahirkan di dekat Paris, ia belajar sebentar di
Ecole Polytechnique dan belakangan lulus dari Ecole
des Ponts et Chaussees. Karir profesionalnya belakangan
sangat terbengkalai karena penolakannya, dalam masalah
politik, untuk bergabung dengan teman sekolahnya dalam
mempertahankan Paris pada bulan Maret 1 814, sesaat
sebelum ditinggalkan oleh Napoleon. Akibatnya ia lebih
dikenal di negara-negara lain dibandingkan dengan di
Perancis. Sebagian dari kontribusinya yang terkena1
adalah formulasi persamaan-persamaan dasar dan
pengembangan teori eksak mengenai lentur dan torsi. la
juga mengembangkan teori untuk deformasi plastis dan
getaran. Nama panjangnya adalah Adehmar Jean Claude
Barre, Count de Saint-Venant. (Lihat Ref. 1-1, halaman
229-242; Ref. 1-2, Jilid I, halaman 833-872; Jilid II,
Vol. I, halaman 1 -286; Jilid II, Vol. II, halaman 1 -5 1 ;
dan Ref. 2-1 , halaman 39-40.)
2-13 Zaslavsky, A., "A note on Saint-Venant's prin­
ciple," Israel Journal of Technology, Vol. 20, 1982,
halaman 143-144.
2-14 Ramberg, W.A., dan Osgood, W.R., "Description
of stress-strain curves by three parameters,! National Ad­
visory Committee for Aeronautics, Technical Note No.
902, Juli 1943.
1
41 2 REFERENSI DAN CAT
AT
AN SEJARAH
3-1 Hubungan antara torsi dan sudut puntir di dalam
'usus batang lingkaran secara benar dikemukakan pada
tahun 1784 oleh Charles Augustin de Coulomb (1736-
1806l, ilmuwan Perancis (lihat Ref. 1-1, halaman 51-
53. 82, dan 92, dan Ref. 1-2, Jilid I, halaman 69). Cou­
lomb memberikan kontribusi di dalam elektrisitas dan
magnetisme, viskositas fluida, friksi, lenturbalok, dinding
penahan tanah dan pelengkung, torsi dan getaran tor­
sional, dan banyak bidang lainnya (Ref. 1-1, halaman
47-54). Thomas Young (Ref. 1-6) mengamati bahwa torsi
yang bekerja diimbangi oleh tegangan geser di
penampang dan bahwa tegangan geser sebanding dengan
jarak dari sumbunya. Insinyur Perancis Alphonse J. C.
B. Duleau (1789-1832) melakukan pengujian pada
batang yang mengalarni torsi dan juga mengembangkan
teori untuk batang berpenampang lingkaran (lihat Ref.
1-1, halaman 82).
3-2 Catatan penting dari Saint-Venant mengenai torsi
yang diterbitkan dalam tahun 1855, diuraikan di dalam
Ref. 1-1, halaman 229-237, dan Ref. 1-2, Jilid II, Vol. II,
halaman 1-51. (LihatRef. 2-12 untuk informasi mengenai
kehidupan dan karya-karya Saint-Venant.)
3-3 Untuk tambahan informasi mengenai Poisson, lihat
Ref. 1-1, halaman 216 dan Ref. 1-7.
3-4 Bredt, R., "Kritische Bemerkungen zur Drehung­
selastizitat," Zeitschrift des Vereines Deutscher
lngenieure, Vol. 40, 1896, halaman 785-790, dan 813-
817. Catatan: Rudolph Bredt (1842-1900) adalah insinyur
Jerman yang belajar di Karlsruhe dan Zurich. Selanjutnya
ia bekerja di Crewe, Inggris, di pabrik kereta api, di
mana ia mempelajari desain dan konstruksi cranes.
Pengalamannya memberikan dasar pada karya
selanjutnya sebagai pembuat crane di Jerman. Teorinya
mengenai torsi dikembangkan dalam kaitan dengan
desain crane balok boks.
5-1 Bukti bahwa penampang suatu balok yang meng­
alarni momen lentur mumi akan tetap datar dapat di­
peroleh di dalam makalah oleh Fazekas, G. A., "A note
on the bending of Euler beams," Journal ofEngineering
Education, Vol. 57, No. 5, Januari 1967. Bukti tersebut
juga dapat diperoleh di dalam buku-buku mengenai
mekanika bahan, seperti buku oleh F. P. Beer dan E. R.
Johnston, Jr.; S. H. Crandall, N. C. Dahl, dan T. J.
Lardner; dan I. H. Shames. Keabsahan teorema telah lama
dikenal, dan telah digunakan oleh banyak peneliti awal
seperti Jacob Bemoulli (Ref. 1-4) dan
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf
Mekanika Bahan jilid 1.pdf

Mekanika Bahan jilid 1.pdf

  • 1.
    GEFIE & TIMDSHENKD MEKANIKA E3AHAN _11LICJ 1 ECJISI KEEMPAT
  • 2.
    EDISI KE-4 MEKANIKA BAHAN JILID 1 JAMESM. GERE Profesor Emeritus Stanford University STEPHEN P. TIMOSHENKO (1878-1972) Mantan Dosen Stanford University � PENERRIT ERL4NGGA Jl. H. Baping Raya No. 100 Ciracas, Jakarta 1 3740 e-mail: mahameru@rad.net.id (Anggota IKAPI) /
  • 3.
    DAFTAR ISI Pengantar ix Simbolxm Huruf Yunani xvi TARIK TEKAN DAN GESER 1 1 .1 1 .2 1 .3 1 .4 1 .5 1 .6 1 .7 1 .8 Pengantar Tegangan dan Regangan Normal 3 Besaran Mekanis Bahan 9 Elastisitas, Plastisitas, dan Rangkak 1 8 Elastisitas Linier, hukum Hooke, dan Rasio Poisson Tegangan dan Regangan Geser 26 Tegangan Izin dan Beban Izin 35 Desain untuk Beban Aksial dan Geser Langsung Soal-soal 44 ELEMEN STRU KTUR YANG DIBEBANI SECARA AKSIAL 2.1 Pengantar 60 20 40 60 2.2 Perubahan Panjang pada Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial 61 2.3 Perubahan Panjang Batang yang Tidak Seragam 68 2.4 Struktur Statis Tak Tentu 74 2.5 Efek Termal 84 2.6 Tegangan pada Potongan Miring 9 1 2.7 Energi Regangan 100 *2.8 Beban Kejut 1 11 *2.9 Beban Berulang dan Fatik 120 *2.1 0 Konsentrasi Tegangan 1 23 *2.1 1 Perilaku Nonlinier 1 28 *2.1 2 Analisis Elastoplastis 134 Soa/-soal 138 *Asterik menandai bagian opsional
  • 4.
    vi Daftar /si TORSI167 3.1 Pengantar 167 3.2 Deformasi Torsional Batang Lingkaran 1 68 3.3 Batang Lingkaran dari Bahan yang Elastis Linier 171 3.4 Torsi Tak Seragam 180 3.5 Tegangan dan Regangan pacta Geser Murni 1 86 3.6 Hubungan antara Modulus Elastisitas E dan G 1 92 3.7 Penyaluran Daya oleh Batang Lingkaran 193 3.8 Elemen Struktur Torsional Statis Tak Tentu 197 3.9 Energi Regangan pacta Kondisi Torsi dan Geser Murni 200 3.1 0 Tabung Berdinding Tipis 207 *3.1 1 Konsentrasi Tegangan dalam Keadaaan Torsi 214 *3.1 2 Torsi Nonlinear pacta Batang Lingkaran 216 Soal-soal 220 GAYA GESER DAN MOMEN LENTUR 4.1 Pengantar 236 236 4.2 Jenis-jenis Balok, Beban, dan Reaksi 236 4.3 Gaya Geser dan Momen Lentur 240 4.4 Hubungan antara Beban, Gaya Geser, dan Momen Lentur 246 4.5 Diagram Gaya Geser dan Momen Lentur 250 Soal-soal 258 5 I TEGANGAN Dl BALOK (TOPIK DASA R) 5.1 Pengantar 266 266 5.2 Lentur Murni dan Lentur Tak Seragam 267 5.3 Kelengkungan Balok 267 5.4 Regangan Longitudinal di Balok 269 5.5 Tegangan Normal di Balok (Bahan Elastis Linier) 272 5.6 Desain Balok terhadap Tegangan Lentur 281 5.7 Balok Nonprismatis 288 5.8 Tegangan Geser di Balok dengan Penampang Persegi Panjang 291 5.9 Tegangan Geser di Balok dengan Penampang Lingkaran 300 5.1 0 Tegangan Geser di Badan Ba1ok yang mempunyai Flens 30I 5.1 1 Balok Tersusun dan Aliran Geser 306 5.1 2 Balok dengan Beban Aksial 309 5.1 3 Konsentrasi Tegangan pacta Kondisi Lentur 3 15 Soal-soal 317 ......___.6 I TEGANGAN Dl BALOK (TOPI K LANJUT) 6.1 6.2 6.3 6.4 6.5 Pendahuluan 340 Balok Komposit 340 Metode Penampang Tertransformasi Balok Simetris Ganda dengan Beban Miring Lentur pacta Balok Tak Simetris 358 340 348 352
  • 5.
    •f Mekanika Bahan vii 6.6Konsep Pusat Geser 365 6.7 Tegangan Geser di Balok dengan Penampang Terbuka di Dinding Tipis 367 6.8 Pusat Geser Penampang Terbuka Berdinding Tipis 373 6.9 Lentur Elastoplastis 380 6.1 0 Lentur Nonlinier 388 Soal-soal 395 R eferensi dan Catatan Sejarah 410 Lampiran A Sistem dan Faktor Konversi A.1 A.2 A.3 A.4 A.5 Sistem Satuan Satuan SI 418 419 Satuan Umum Amerika Serikat Satuan Temperatur 427 Konversi anta�;a Satuan Lampiran B Pemecahan Soal B.1 Jenis Soal 431 425 428 431 B.2 Langkah-langkah Pemecahan Soal 432 B.3 Homogenitas Dimensional 433 B.4 Angka Penting 434 B.5 Pembulatan Bilangan 436 Lampiran C R umus-rumus Matematika Lampiran D Besaran Luas Bidang Lampiran E Besaran Profil Baja Struktural Lampiran F Besaran Kayu Struktural Lampiran G Defleksi dan Kemiringan Balok Lampiran H Besaran Bahan 460 Jawab Soal 465 437 441 453 418 447 454
  • 6.
    - PENGANTAR Dengan mengambil matakuliah mekanika bahan, mahasiswa mempelajari topik teknik dasar sekaligus juga mengembangkan kemampuan analitis dan pemecahan masalah. Selama persiapan Edisi Keempat ini, penulis selalu mengingat tujuan-tujuan tersebut. Fakta-fakta dan teori-teori mekanika disajikan sedemikian rupa sehingga mudah dalam proses belajar mengajar, dengan pembahasan yang mendalam dan contoh yang banyak, supaya mahasiswa dapat segera menguasai suatu pokok bahasan. Selain itu, penekanan diberikan pada bagaimana menganalisis sistem mekanis dan struktural, dan banyak soal yang mengharuskan mahasiswa melakukan pemikiran orisinal. Buku ini meliputi semua topik dasar mengenai mekanika bahan, yang disajikan pada level yang cocok untuk mahasiswa teknik tingkat dua dan tiga. Topik-topik utama adalah analisis dan desain elemen struktural yang mengalami tarik, tekan, torsi, dan lentur, termasuk konsep-konsep dasar seperti tegangan, regangan, perilaku elastis, perilaku inelastis, dan energi regangan. Topik-topik lain yang menarik adalah transformasi tegangan dan regangan, pembebanan gabungan, konsentrasi tegangan, defleksi balok, dan stabilitas kolom. Topik-topik yang lebih khusus adalah efek termal, pembebanan dinamis, elemen nonprismatis, balok dua bahan, pusat geser, bejana tekan, dan balok statis tak tentu. Untuk kelengkapan dan rujukan kerja, topik-topik dasar seperti gaya geser, momen lentur, pusat berat, dan momen inersia juga disajikan di dalam buku ini. Buku ini membahas materi yang jauh lebih banyak daripada yang dapat dibahas dalam satu mata kuliah sehingga dosen mempunyai kesempatan untuk memilih topik yang menurutnya paling mendasar dan relevan. Topik-topik lanjut di dalam suatu subbab diberi kode bintang (*). Dosen juga dapat memanfaatkan ratusan soal baru (dengan total lebih dari 1100 soal) yang tersedia sebagai pekerjaan rumah dan diskusi keas. Soa­ soal diletakkan di akhir setiap bab agar mudah dicari dan tidak menyela penyajian suatu bab. (Soal yang sangat sulit atau panjang diberi kode satu atau lebih tanda bintang di dekat nomor soal.) Baik Sistem Satuan lntemasional (SI) atau U.S. Customary System (USCS) digunakan dalam contoh-contoh dan soa-soal numerik.
  • 7.
    Mekanika Bahan ix Pembahasantentang kedua sistem dan tabel faktor konversi diberikan dalam lampiran. Untuk soal-soal dengan solusi numerik, soal bernomor ganjil menggunakan satuan uses dan soal bernomor genap menggunakan satuan SI. Satu-satunya pengecualian adalah pada soal dan contoh yang melibatkan tabel besaran untuk profil baja strnktural karena tabel untuk profil ini hanya tersedia dalam satuan uses. Jawaban soal dicantumkan di bagian belakang buku ini, sehingga mahasiswa dapat memeriksa hasil pekerjaannya. Rujukan dan catatan sejarah juga dikumpulkan di bagian belakang buku ini. Rujukan dan catatan ini terdiri atas sumber asli pokok bahasan dan catatan biografis mengenai insinyur, ilmuwan, dan matematikawan pelopor yang menemukan pokok bahasan mekanika bahan. Indeks nama yang terpisah akan mempermudah pencarian masing-masing tokoh sejarah ini. Buku ini dirampungkan dengan indeks subjek yang dipersiapkan secara ekstensif dan hati-hati sehingga setiap topik, konsep, kata kunci, atau definisi dapat ditemukan dengan cepat. Edisi Keempat dari Mekanika Bahan ini telah ditulis ulang secara hati-hati dengan diskusi yang diperluas, tokoh-tokoh barn, contoh-contoh dan soal-soal barn, serta banyak pernbahan dalam pengaturannya agar buku ini lebih berguna di dalam ruangan kelas. Semua pernbahan dalam pengaturan dan penyajian ini diajukan oleh para dosen dan mahasiswa yang telah mengenal baik Edisi Ketiga. Usaha yang keras telah dilakukan dalam memeriksa dan membaca ulang teks agar dapat menghilangkan kesalahan, namun apabila pembaca menemukannya, betapapun kecilnya, beritahulah penulis di Department of Civil Engineering, Stanford University, Stanford, California 94305- 4020, U.S.A. (email jgere@ci-ve.stanford.edu), atau kontaklah penerbit (semua surat akan dibalas). • Penghargaan Edisi pertama buku ini, diterbitkan pada tahun 1972 dan ditulis o1eh penulis sekarang, mernpakan pengembangan dari buku terdahulu yang disusun oleh Profesor Stephen P. Timoshenko (1878-1972), yang menggunakan judul Strength of Materials. Timoshenko adalah perintis yang paling dihormati dalam bidang mekanika terapan. Melalui penelitian dan buku­ bukunya, ia merevolusi cara pengajaran mekanika, bukan hanya di Amerika Serikat melainkaQ juga di selurnh dunia. (Pembaca dapat menemukan biografi ringkas dari Timoshenko di dalam rnjukan pertama di bagian belakang buku ini.) Penulis menyadari bahwa untuk menyampaikan penghargaan kepada semua orang yang berkontribusi dalam penyusunan buku ini adalah sesuatu yang tidak mungkin. Penulis hanya bisa menyampaikan penghargaan kepada mantan dosen Stanford penulis, termasuk raksasa-raksasa mekanika, Wilhelm Fliigge, James Norman Goodier, Mikl6s Hetenyi, Nicholas J. Hoff, dan Donovan H. Young. Penulis juga menghargai kolega Stanford­ khususnya Tom Kane, Anne Kiremidjian, Helmut Krawinkler, Kincho Law, Peter Pinsky, Haresh Shah, Sheri Sheppard, Allison Smith, dan almarhum Bill Weaver-yang telah membahas filosofi pendidikan dan mekanika dengan penulis pada banyak kesempatan. Selain itu, banyak
  • 8.
    X Pengantar komentar danide yang berguna yang disumbangkan oleh Thalia Anagnos dari San Jose State University, John Burgess dari University of Hawaii, dan Aron Zaslavsky dari Technion. Penelaah berikut ini telah membaca kesel uruhan Edisi Keempat dalam bentuk konsep dan telah memberikan baik komentar umum maupun khusus untuk perubahan dan perbaikan. Saran-saran mereka terbukti sangat berguna, dan penulis sangat menghargai telaahan dan ketelitian mereka. Terima kasih penulis sampaikan kepada: Majid R. Chitsaz dari Pennsyl­ vania State University; Robert D. Cook dari Uniwrsit;. of Wisconsin­ Madison; Janak Dave dari University of Cincinnati; Sergey Drabkin dari Polytechnic University of New York; Raghu Echempati dari Cni'ersity of Mississippi; Harvey Lipkin dari Georgia Institute of Technolog;.: Douglas Nims dari University of Toledo; Douglas B. Rigby dari Hong Kong University of Science adn Technology; dan P.D. Scarlatos dari Florida Atlantic University. Selain itu, penelaah berikut ini telah memberikan komentar terhadap Edisi Ketiga dalam telaah sebelum perbaikan. Saran-saran mereka sangat menentukan dalam pembe ntukan Edisi Keempat, dan penulis sangat menghargai ide-ide mereka. Terima kasih penulis sampaikan kepada: Hojjat Adeli dari Ohio State University; Kevyan Ahdut dari Uni ersity of the District of Columbia; John B. Brunski dan Robert H. P. Dunn, keduanya dari Rensselaer Polytechnic Institute; Ted A. Conway dari University of Akron; Xiaomin Deng dari University of So uth Carolina; Arya Ebrahimpour dari Pennsylvania S tate University; M. Elgaaly dan Anisur Rahman, keduanya dari Drexel University; Ahmed lbrahim dari State University of New York at Farmi ngdale: Norman F. Knight dan Ramamurthy Prabhakaran, keduanya dari Old Dominion University; Gladius Lewis dari University of Memphis. Zhong Ming Liang dari Purdue University; E.L. Parker dari Valley Forge Military Colege; Edwin Powers dari Catonsville Community College: Charles Rondeau dari Jamestown Community College; Michael Schwartz dari University of St. Thomas; Sheri Sheppard dari Stanford; R. Sierakowski dari Ohio S tate University; L.T.D. Topoleski dari University of Maryland at Baltimore; Morteza Torkamani dari University of Pittsburgh, dan Manoochehr Zoghi dari University of Dayton. Pen ulis dibantu dalam pengolahan kata (word processing) dan persiapan naskah, pembacaan ulang oleh Due Wong, yang telah bekerja dengan perhatian dan ketelitian penuh. Selain itu, mahasiswa pascasarjana berikut ini telah memberikan bantuan keahliannya dalam membaca ulang dan menyiapkan solusi soal: Yih-Lin Shelley Cheng, Krista Marie Donaldson, Denise M. Fennell, Jamie Hsieh, Peter I. Huang, Chao-Hua (Eric) Lin, Angela Chia-Lin Teng, dan May Min-Chiao Wong. Penyuntingan dan produksi dilaksanakan secara trampil dan efisien oleh staf PWS Publishing Company, termasuk Jonathan Plant, Mary Thomas Stone, dan Helen M. Walden. Penulis secara khusus berterima kasih pada Mary Thomas Stone, yang merupakan penyunting untuk buku ini dan memberikan komentar, pandangan, dan bantuan yang jauh melebihi yang penulis duga. Semangat bekerja sama dan bersahabat yang ditunjukkan oleh semuanya di PWS menjadikan pekerjaan ini suatu kebahagiaan. Akhirnya, penulis sangat menghargai kesabaran dan dorongan yang diberikan oleh keluarga penulis, khususnya istri penulis, Jani ce, di seluruh proyek ini.
  • 9.
    Mekanika Bahan xi Kepadamasing-masing orang baik ini, penulis dengan gembira menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya. James 11. Gere • Alat Bantu Tambahan Edisi Keempat menyertakan juga disket 3.5" yang mengandung program komputer yang berguna dan mudah-Mathcad™ Engine 5.0 for Win­ dows©-dan sekumpulan lembar kerja untuk memecahkan soal-soal mekanika bahan. Lembar ker ja tersebut diperiksa silang terhadap contoh­ contoh dan soal-soal teks yang sesuai dengan ikon bergambar disket. Ikon ini menunjukkan jenis soal atau contoh yang sesuai dengan Jembar kerja tersebut. Semua soal dan contoh di dalam teks dimaksudkan untuk dipecahkan sesuai pilihan dosen dan mahasiswa dan tidak didesain untuk perangkat hitung tertentu. Juga tersedia paket baru yang unik berupa buku kerja dan CD-ROM, Visual Mechanics. Dikembangkan di University of Washington oleh Ore­ gory R. Miller dan Stephen C. Cooper, paket ini terdiri atas CD-ROM dengan dua program (disebut Dr. Beam dan Dr. Stress), dan sebuah buku pegangan dengan lembar kelja, latihan, dan contoh-contoh, yang terpusat pada lentur balok dan analisis kondisi tegangan. Perangkat lunak dan bahan instruksional pendukungnya memberikan mahasiswa laboratorium virtual yang mudah dipakai untuk memvisualisasikan perilaku balok, memahami model matematika, dan mengeksplorasi teori mekanika bahan dan metode desain. Kedua alat bantu yang didasarkan atas perangkat lunak ini ditujukan sebagai pelengkap; buku teks ini dapat digunakan dengan efektif secara tersendiri. Instructor's Solution Manual dengan solusi lengkap untuk semua soal tersedia untuk pengguna buku ini. PWS Publishing Company
  • 10.
    ,.. SIMBOL A A,. Aw a, b, c c c D d E E, E, e F f fr G g H h l,,/v' /: /<1, /�'� /n, ld'l t, /1, l2 J K Luas/area/daerah Luas sayap (jlens) Luas badan (web) Dimensi (ukuran), jarak Pusat berat (centroid), konstanta integral, gaya tekan Jarak dari sumbu netral ke permukaan luar balok Diameter Diameter, dimensi , ukuran jarak (distance) Modulus elastisitas Modulus elastisitas reduksi Modulus elastisitas tangensial Eksentrisitas, dimensi (ukuran), jarak, perubahan volume satuan (dilatasi) Gaya Aliran geser, faktor bentuk untuk lentur plastis, tleksibilitas, frekuensi (Hz) Fleksibilitas torsional batang Modulus elastisitas dalm kondisi geser Percepatan gravitasi Tinggi, jarak, gaya, reaksi, tenaga kuda Tinggi, dimensi (ukuran) Momen inersia (atau momen kedua) dari sebuah luas bidang Momen inersia terhadap sumbu x, y, dan z Momen inersia terhadap sumbu x1 dan y1 (sumbu diputar) Perkalian (produk) inersia terhadap sumbu xy Perkalian (produk) inersia terhadap sumbu x1y1 (sumbu diputar) Momen inersia polar Momen inersia utama Konstanta torsi Faktor konsentrasi tegangan, modulus eastisitas padat (bulk), faktor panjang efektif untuk sebuah kolom
  • 11.
    n 0 0' p pizin per pp pr pt P,. p Q q R r s s V v', v", dst. w w X,y, Z Xc, Ye' Zc X, y, 'Z z Mekanika Bahan xiii Konstanta pegas, kekakuan, simbol untuk {PIEl Kekakuan torsional sebuah batang Panjang jarak Panjang efektif sebuah kolom Logaritma natural (basis e) Logaritma umum (basis 10) Momen lentur, kopel, massa Momen plastis untuk sebuah balok Momen luluh untuk sebuah balok Momen per satuan panjang, massa per satuan panjang Gaya aksial faktor keamanan, bilangan bulat, putaran per meni t (rpm) Pusat koordinat Pusat kelengkungan Gaya, beban terpusat, daya Beban izin (atau kerja izin) Beban kritis untuk sebuah kolom Beban plastis untuk sebuah struktur Beban modulus-reduksi untuk sebuah kolom Beban modulus tangensial untuk sebuah kolom Beban luluh untuk sebuah struktur Tekanan (gaya per satuan luas) Gaya beban terpusat, momen pertama sebuah bidang Intensitas beban terdistribusi (gaya per satuan jarak) Reaksi; jari-jari (radius) Jari-jari (radius), jari-jari girasi (gyration) �PIEl Modulus potongan penampang sebuah balok, pusat geser Jarak, jarak di sepanjang sebuah garis lengkung Gaya tarik; momen puntir atau momen putar (torque), temperatur Momen putar (torque) plastis Momen putar (torque) luluh Tebal; waktu; intensitas torque Tebal sayap (jlens) Tebal badan (web) Energi regangan Densitas energi regangan (energi regangan per satuanvolume) Modulus resistansi Modulus ketangguhan Gaya geser; volume defleksi sebuah balok; kecepatan dv/dx, d2v!d:2 , dst. Gaya; berat; usaha (kerja) Beban per luas satuan (gaya per satuan luas) Sumbu persegi panjang Sumbu persegi panjang Koordinat pusat berat Modulus plastis penampang sebuah balok
  • 12.
    xiv Simbol a f3 {3R g 'Yrv' 1·z'Yzx 'Yrlvl Yo 0, /}. 11T o p o y c ex, cy, cz eo £1, £2, £3 t:' er () V p (J (J(J (JP (J2' (J3 (Jizin (Jcr (Jpl (Jr (JT (Ju (Jr r rxlvl Sudut, koefisien ekspansi panas, rasio nondimensional Sudut, rasio nondimensional, konstanta pegas, kekakuan Kekakuan putar sebuah pegas Regangan geser, densitas/rapat berat (berat per satuan volume) Regangan geser pada bidang xy, y.:, dan zx Regangan geser terhadap sumbu x1y1 (sumbu diputar) Regangan geser untuk sumbu miring Defleksi, pelepasan, perpanjangan sebuah batang atau pegas Beda temperatur Pelepasan statis Pelepasan luluh Regangan normal Regangan geser dalam arah x, y, dan z Regangan normal untuk sumbu miring Regangan normal utama Regangan lateral Regangan luluh Sudut-sudut rotasi sumbu balok, laj u puntiran sebuah batang dalam keadaan torsi (sudut puntir per satuan panjang ) Sudut terhadap sebuah bidang utama atau terhadap sebuah sumbu utama Sudut terhadap sebuah bidang tegangan geser maksimum Kelengkungan (K" = lip) Jarak Rasio Poisson Jari-jari radius kelengkungan, jarak radial dalam koordinat po­ lar, massa jenis (massa per satuan volume) Tegangan normal Tegangan normal pacta bidang yang tegak lurus terhadap sumbu x, y, dan z Tegangan normal pacta bidang yang tegak lurus terhadap sumbu x1y1 (sumbu diputar) Tegangan normal pacta bidang miring Tegangan normal utama Tegangan sisi (atau tegangan kerja) Tegangan kritis untuk sebuah kolom (acr = Pc/A) Tegangan limit-proposal Tegangan sisa (residual) Tegangan termal Tegangan ultimate Tegangan luluh Tegangan geser Tegangan geser pacta bidang yang tegak lurus terhadap sumbu x, y, z, dan bekerja sejajar sumbu y, z, dan x Tegamgam geser pacta sebuah bidang yang tegak lurus terhadap sumbu x1 dan yang bekerja sejajar sumbu y1 (sumbu diputar) Tegangan geser pacta sebuah bidang miring Tegangan izin (atau tegangan kerja) pacta kondisi geser
  • 13.
    • r u tegangan ultimate padakondisi geser ry tegangan luluh pada kondisi geser Mekanika Bahan XV cp sudut, sudut puntir sebuah batang pada kondisi torsi IJ' sudut, sudut rotasi w kecepatan sudut (angular), frekuensi sudut (angular) (w = 27if) ) - Tanda asteriks dicantumkan pada nomor subbab untuk menandai bahwa subbab tersebut membahas suatu topik lanjut. Soal-soal yang sangat sulit, yang rumit pemecahannya, bisa saja ditandai dengan lebih dari satu tanda asteriks ini. Huruf Yunani A a Alpha N V Nu B {3 Beta � � Xi r r Gamma 0 0 Omicron L1 8 Delta II 7r Pi E € Epsilon p p Rho z s Zeta L a Sigma H 1} Eta T r Tau e () Theta y V Upsilon I Iota (/> cp Phi K K: Kappa X X Chi A A- Lambda IJ' If/ Psi M J1 Mu Q Q) Omega
  • 14.
    1 - TARIK, TEKAN, DAN GESER PENGANTAR MEKANIKA BAHAN Mekanika bahan actalah cabang dari mekanika terapan yang membahas perilaku bencta pactat yang mengalami berbagai pembebanan. Nama-nama lain untuk bictang ilmu ini actalah kekuatan bahan ctan mekanika benda yang dapat berdeformasi. Bencta pactat yang ctitinjau ctalam buku ini meliputi batang (bars) ctengan beban aksial, poros (shafts) yang mengalami torsi, balok (beams) yang mengalami lentur, ctan kolom (columns) yang mengalami tekan. Tujuan utama mekanika bahan actalah untuk menentukan tegangan (stress), regangan (strain) ctan peralihan (displacement) pada struktur ctan komponen-komponennya akibat beban-beban yang bekerja pactanya. Apabila kita ctapat memperoleh besaran-besaran ini untuk semua harga beban hingga mencapai beban yang menyebabkan kegagalan, maka kita akan ctapat mempunyai gambaran lengkap mengenai perilaku mekanis pacta struktur tersebut. Pemahaman perilaku mekanis sangat penting untuk ctesain yang aman bagi semua jenis struktur, baik itu berupa pesawat terbang ctan antena, gectung ctan jembatan, mesin ctan motor, maupun kapal laut dan pesawat luar angkasa. ltulah sebabnya mekanika bahan actalah materi ctasar pacta begitu banyak cabang ilmu teknik. Statika ctan ctinamika juga penting, tetapi keduanya terutama membahas gaya ctan gerak yang berkaitan ctengan partikel ctan bencta tegar. Dalam mekanika bahan kita melangkah lebih jauh dengan mempelajari tegangan ctan regangan cti ctalam bencta nyata, yaitu bencta ctengan ctimensi terbatas yang bercteformasi akibat pembebanan. Untuk menentukan tegangan ctan regangan, kita menggunakan besaran-besaran fisik material selain juga berbagai aturan ctan konsep teoretis. Analisis teoretis ctan basil eksperimen mempunyai peranan yang sama pentingnya cti ctalam mekanika bahan. Seringkali kita menggunakan teori untuk menurunkan rumus ctan persamaan untuk memprectiksi perilaku mekanis, tetapi semua ini tictak ctapat ctigunakan ctalam desain praktis kecuali apabila besaran fisik ctari material diketahui. Besaran seperti ini hanya ctapat diperoleh ctari basil eksperimen yang cermat cti laboratorium. Lebih jauh lagi, banyak masalah praktis yang tictak ctapat ctiterangkan ctengan analisis teoretis saja, dan ctalam kasus seperti ini pengujian fisik merupakan keharusan.
  • 15.
    2 Bab 1Tarik. Tekan. dan Geser Riwayat perkembangan mekanika bahan merupakan kombinasi yang menarik antara teori dan eksperimen-teori telah menunj ukkan jalan ke hasil eksperimen yang berguna, begitu pula sebaliknya. Orang-orang terkenal seperti Leonardo da Yinci ( 1452 - 15 19) dan Galileo Galilei ( 1564 - 1642) telah melakukan eksperimen untuk menentukan kekuatan kawat, batang, dan balok, meskipun mereka tidak mengembangkan teori yang memadai (berdasarkan standar masa kini) untuk menjelaskan hasil pengujian mereka. Sebaliknya, matematikawan temama Leonhard Euler (1707- 1 783) mengembangkan teori matematis tentang kolom (column) dan menghitung beban kritis sebuah kolom pada tahun 17-+4. jauh sebelum adanya bukti eksperimental untuk memperlihatkan signifikansi hasilnya. Tanpa adanya pengujian yang memadai untuk mendukung hasilnya, teori Euler sempat tidak digunakan selama lebih dari I 00 tahun. sekalipun saat ini teori tersebut merupakan dasar untuk desain dan analisis hampir semua kolom.· Dalam mempelajari mekanika bahan, pembaca akan mendapatkan bahwa usaha yang dibutuhkan terbagi atas dua bagian. yaitu: pertama, memahami pengembangan logis konsep-konsepnya, dan kedua. menerap­ kan konsep-konsep tersebut ke dalam situasi praktis. Bagian pertama tercapai dengan mempelajari penurunan rumus, pembahasan dan contoh­ contoh yang ada di setiap bab sedangkan bagian kedua tercapai dengan memecahkan soal-soal di akhir setiap bab. Beberapa soal menggunakan angka (numerik) dan lainnya menggunakan simbol (aljabar). Keuntungan darisoal numerik adalah bahwa semua besarannya terlihat jelas di setiap tahap perhitungan sehingga memberikan kesempatan untuk menilai apakah harga numerik tersebut masuk aka! atau tidak. Keuntungan utama dari soal simbolik adalah bahwa hasilnya berupa rumus yang serba guna. Suatu rumus menunjukkan variabel-variabel yang mempengaruhi hasil akhir; sebagai contoh, kadang-kadang suatu besaran tidak muncul di dalam solusi, suatu fakta yang tidak terlihat jelas dalam solusi numerik. Selain itu, solusi aljabar menunj ukkan bagaimana masing-masing variabel mempengaruhi hasil, seperti ketika satu variabel muncul di pembilang dan variabel lain muncul di penyebut. Lebih jauh lagi, solusi simbolik memberikan kesempatan untuk mengecek dimensi pada setiap tahap perhitungan. Akhirnya, alasan paling penting untuk memecahkan secara aljabar adalah untuk mendapatkan rumus umum yang dapat digunakan pada berbagai soal yang berbeda. Sebaliknya, solusi numerik hanya berlaku pada satu set kondisi. Karena seorang insinyur harus terbiasa dengan kedua jenis solusi tersebut, maka di dalam buku ini disajikan perpaduan antara soal numerik dan soal simbolik. Soal-soal numerik mengharuskan pembaca bekerja dengan satuan pengukuran yang khusus. Agar sesuai dengan kondisi di dalam praktek, buku ini menggunakan Sistem Internasional (SI) dan Sistem Umum Amerika Serikat (USCS). Pembahasan mengenai kedua sistem ini diberikan dalam Lampiran A yang meliputi banyak tabel yang berguna termasuk tabel faktor konversi. Semua soal terdapat di akhir setiap bab, dengan nomor soal yang menunj ukkan subbab asal soal-soal tersebut. Untuk soal-soal yang membutuhkan solusi numerik, soal yang bemomor ganjil mempunyai satuan USCS dan soal yang bernomor genap mempunyai satuan SI. Satu-satuny<,l d;trl I -� 1�1,l�:rl rnc�.1111�,1 h:dro�ll 111ll�rr d;rrr ll·nn:ud1• .. l:trl Ci:drk1l ll'I,LII):tl p.tdtr I�L'I I 1 �
  • 16.
    Gambar 1-1 Elemenstruktur yang mengalami beban aksial. (Batang penderek mengalami tarik dan batang roda pendaratan mengalami tekiln.) Mekanika Bahan 3 kekecualian adalah soal-soal yang melibatkan profil baja struktural yang umum diperdagangkan karena besaran dari profil ini ditabelkan dalam Lampiran E hanya dalam satuan USCS. Teknik-teknik penyelesaian soal dibahas secara rinci dalam Lampiran B. Selain memuat daftar prosedur rekayasa yang baik, Lampiran B juga memuat bagian-bagian tentang homogenitas dimensional dan angka penting. Topik-topik ini secara spesifik penting karena setiap persamaan harus homogen secara dimensional dan setiap hasil numerik harus dinyatakan dengan sejumlah angka penting yang tepat. Di dalam buku ini, hasil numerik akhir biasanya dinyatakan dengan tiga angka penting apabila suatu bilangan dimulai dengan angka 2 sampai 9, dan dengan empat angka penting apabila suatu bilangan dimulai dengan angka I. Harga-harga antara (intermediate value) biasanya dicatat dengan digit tambahan untuk meng­ hindari hilangnya ketelitian numeris akibat pembulatan bilangan. TEGANGAN DAN REGANGAN NORMAL Konsep paling dasar dalam mekanika bahan adalah tegangan dan regangan. Konsep ini dapat diilustrasikan dalam bentuk yang paling men­ dasar dengan meninjau sebuah batang prismatis yang mengalami gaya aksial. Batang pris matis adalah sebuah elemen struktural lurus yang mem­ punyai penampang konstan di seluruh panjangnya, dan gaya aksial adalah beban yang mempunyai arah sama dengan sumbu elemen, sehingga meng­ akibatkan terjadinya tarik atau tekan pada batang. Contoh-contohnya diper­ lihatkan dalam Gambar 1-1, di mana batang penderek tarik (tow bar) merupakan sebuah elemen prismatis yang mengalami tarik dan batang roda untuk pendaratan adalah elemen yang mengalami tekan. Contoh­ contoh lainnya adalah elemen di rangka batang pada jembatan, batang­ batang penghubung pada mesin mobil dan sepeda, kolom di gedung, dan flens tarik di pesawat terbang kecil. Untuk keperluan pembahasan, kita akan meninjau batang penderek dalam Gambar 1-1 dan mengisolasi salah satu segmennya sebagai benda bebas (Gambar 1-2a). Sewaktu menggambar diagram benda bebas ini, kita abaikan berat batang dan kita asumsikan bahwa gaya yang aktif hanyalah gaya aksial P di ujung-ujungnya. Selanjutnya kita tinjau dua kondisi batang tersebut, yang pertama sebelum beban diterapkan (Gambar l-2b) dan yang kedua sesudah beban diterapkan (Gambar 1-2c). Perhatikan bahwa panjang semula dari batang ditunjukkan dengan huruf L dan pertambahan panjangnya ditunjukkan dengan huruf Yunani 8 (delta). Tegangan internal di batang akan terlihat apabila kita membuat sebuah potongan imajiner melalui batang pada bagian mn (Gambar l -2c). Karena Batang Penderek Tarik
  • 17.
    4 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser P� � --------� ( ++P (::t) ( () Ill P.{ � -- -- --'�'-- �C++P I " I -L+Ii (c) Gambar 1-2 Batang prismatis yang mengalami tarik (a) diagram benda bebas dari segmen batang, (b) segmen batang sebelum di­ bebani, (c) segmen batang sesudah dibebani, dan (d) tegangan normal pada batang. potongan ini diambil tegak lurus sumbu longitudinal batang, maka disebut potongan melintang (penampang). Sekarang kita isolasi bagian dari batang di kiri potongan melintang mn sebagai benda bebas (Gambar l-2d). Di ujung kanan dari benda bebas ini (potongan mn) ditunjukkan aksi yang diberikan oleh bagian yang dihilangkan dari batang tersebut (yaitu bagian di kanan potongan mn) terhadap bagian sisanya. Aksi ini terdiri atas gaya terdistribusi kontinu yang bekerja pada seluruh penarnpang. Intensitas gaya (yaitu gaya per satuan luas) disebut tegangan dan diberi notasi huruf ¥unani a (sigma). Jadi, gaya aksial P yang bekerja di penampang adalah resultan dari tegangan yang terdistribusi kontinu. (Gaya resultan ditunjukkan dengan garis putus-putus di dalam Gambar l-2d.) Dengan mengasumsikan bahwa tegangan terbagi rata di seluruh potongan mn (Gambar l-2d), kita dapat melihat bahwa resultannya hams sama dengan intensitas a dikalikan dengan luas penampang A dari batang tersebut. Dengan demikian, kita mendapatkan rumus berikut untuk menyatakan besar tegangan: p A (1-1) Persamaan ini memberikan intensitas tegangan merata pada batang prismatis yang dibebani secara aksial dengan penampang sembarang. Apabila batang ini ditarik dengan gaya P, maka tegangannya adalah tegangan tarik (tensile stress); apabila gayanya mempunyai arah sebaliknya, sehingga menyebabkan batang tersebut mengalami tekan, maka terjadi tegangan tekan (compressive stress). Karena tegangan ini mempunyai arah yang tegak lurus permukaan potongan, maka tegangan ini disebut tcgangan normal (normal stress). Jadi, tegangan normal dapat berupa tarik atau tekan. Selanjutnya, di dalam Subbab 1.6, kita akan menjumpai jenis tegangan lainnya, yang disebut tegangan geser, yang bekerja sejajar terhadap permukaan potongan. Apabila konvensi tanda untuk tegangan normal dibutuhkan, biasanya tegangan tarik didefinisikan bertanda positif dan tegangan tekan bertanda negatif. Karena tegangan normal a diperoleh dengan membagi gaya aksial dengan luas penampang, maka satuannya adalah gaya per satuan luas. Jika satuan uses digunakan, maka tegangan biasanya dinyatakan dalam pound per inci kuadrat (psi) atau kip per inci kuadrat (ksi). ' Sebagai contoh, misalkan batang dalam Gambar 1-2 mempunyai diameter d sebesar 2,0 in. dan beban P mempunyai besar 6 kips. Dengan demikian, tegangan di batang adalah p p a = - = --- = A mi2 /4 6 k = 1,9 1 ksi (atau 1910 psi) 7r(2,0 ini I4 Di dalam contoh ini tegangan adalah tarik dan bertanda positif. Apabila satuan SI digunakan, gaya dinyatakan dalam newton (N) dan luas dalam meter kuadrat (m2). Dengan demikian, tegangan mempunyai satuan newton per meter kuadrat (N/m2), yang disebut juga pascal (Pa). Tetapi, pascal adalah satuan yang sedernikian kecilnya sehingga dibutuhkan pengali yang besar, maka biasanya digunakan megapascal (MPa). Untuk . Sdlll Kip <llau kilopound, 'Wlla JLngan 1000 lh
  • 18.
    p G ambar 1-3 Batang pendel dari baja yang mengalami beban tarik, P. Mekanika Bahan 5 mengilustrasikan bahwa satu pascal memang kecil, kita hanya perlu mengingat bahwa 1 psi kira-kira sama dengan 7000 pascal. Sebagai contoh numerik, tegangan yang dibahas dalam paragraf sebelum ini ( 1 ,91 ksi) ekivalen dengan 13,2 MPa yang sama dengan 13,2 x 106 pascal. Meskipun tidak diharuskan dalam SI, pembaca kadang-kadang menjumpai tegangan dinyatakan dalam satuan newton per milimeter kuadrat (N/mm2), yang sama dengan MPa. Persamaan cr =PIA hanya berlaku jika tegangan terbagi rata di seluruh penampang batang. Kondisi ini terjadi jika gaya aksial P bekerja melalui pusat berat penampang, sebagaimana ditunjukkan di bagian lain dari subbab ini. Apabila beban P tidak bekerja di pusat berat, maka lentur batang akan terjadi, dan analisis yang lebih rumit dibutuhkan (lihat Subbab 5.12 dan 1 1 .5). Namun, di dalam buku ini (sebagaimana juga dijumpai di dalam praktek) dianggap bahwa gaya aksial diterapkan di pusat berat penampang, kecuali apabila dinyatakan tidak demikian. Kondisi tegangan merata yang ditunjukkan dalam Gambar l-2d terjadi di seluruh panjang batang kecuali di dekat ujung-ujungnya. Distribusi tegangan di ujung batang bergantung pada bagaimana beban P disalurkan ke batang, Jika beban tersebut terbagi rata di ujungnya, maka pola tegangan di ujung akan sama dengan di seluruh bagian lainnya. Sekalipun demikian, beban sangat mungkin disalurkan melalui sendi atau baut, yang menyebab­ kan terjadinya tegangan yang sangat terlokalisasi yang disebut konsentrasi tegangan. Salah satu kemungk:inannya adalah dengan menggunakan batang pendel seperti terlihat dalam Gambar 1-3. Dalam hal ini beban P disalurkan ke batang tersebut melalui sendi yang melalui lubang (atau mata) di ujung­ ujung batang. Jadi, gaya-gaya di dalam gambar tersebut sebenarnya merupakan resultan dari tekanan tumpu antara sendi dan batang pendel, dan distribusi tegangan di sekitar 1ubang cukup rumit. Sekalipun demik:ian, apabila kita bergerak menjauhi ujung ke arah tengah batang, distribusi tegangan akan secara gradual mendekati distribusi yang rata sebagaimana terlihat dalam Gambar l-2d. Sebagai petunjuk praktis, rumus cr = PIA dapat digunakan dengan ketelitian yang baik untuk sembarang titik di dalam batang prismatis, yaitu setidaknya sejauh mungk:in dari konsentrasi tegangan sebagai dimensi lateral terbesar dari batang tersebut. Dengan perkataan lain, distribusi tegangan di dalam Gambar 1-2d terbagi rata pada jarak d atau lebih besar dari ujung-ujungnya, dimana d adalah diameter batang dan distribusi tegangan di batang pendel (Gambar 1-3) terbagi rata pada jarak b atau lebih besar dari ujung yang diperbesar, dengan b adalah lebar batang. Pembahasan yang lebihrinci tentang konsentrasi tegangan yang diakibatkan oleh beban aksial diberikan dalam Subbab 2. 10. Tentu saja, meskipun tegangan tidak terbagi rata, persamaan cr =PIA masih tetap berguna karena persamaan ini memberikan tegangan normal rata-rata di suatu penampang. • Regangan Normal Sebagaimana telah diamati, suatu batang lurus akan mengalami perubahan panjang apabila dibebani secara aksia1, yaitu menjadi panjang jika mengalami tarik dan menjadi pendekjika mengalami tekan. Sebagai contoh, tinjau kembali batang prismatis dalam Gambar 1-2. Perpanjangan 8 dari batang ini (Gambar 1-2c) adalah hasil kumulatif dari perpanjangan semua elemen bahan di seluruh volume batang. Asumsikan bahwa bahan tersebut
  • 19.
    6 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser sama di mana pun di dalam batang. Selanjutnya, jika kita meninjau setengah bagian dari batang (panjangnya L/2), bagian ini akan mempunyai perpanjangan yang sama dengan /5/2, dan jika kita meninjau seperempat bagian dari batang, bagian ini akan mempunyai perpanjangan yang sama dengan /5/4. Dengan cara yang sama, satu satuan panjang dari batang tersebut akan mempunyai perpanjangan yang sama dengan 1/L kali perpanjangan total 8. Dengan proses ini kita akan sampai pada konsep perpanjangan per satuan panjang, atau rcgangan, yang diberi notasi huruf Yunani e (epsilon) dan dihitung dengan persamaan e = o L (1 -2) Jika batang tersebut mengalami tarik, maka regangannya disebut rcgangan tarik, yang menunjukkan perpanjangan bahan. Jika batang tersebut meng­ alami tekan, maka regangannya adalah regangan tckan dan batang tersebut memendek. Regangan tarik biasanya bertanda positif dan regangan tekan bertanda negatif. Regangan e disebut regangan normal karena regangan ini berkaitan dengan tegangan normal. Karena merupakan rasio antara dua panjang, maka regangan normal ini merupakan hcsaran tak herdimensi, artinya regangan tidak mempunyai satuan. Dengan demikian, regangan dinyatakan hanya dengan suatu bilangan, tidak bergantung pada sistem satuan apapun. Harga numerik dari regangan biasanya sangat kecil karena batang yang terbuat dari bahan struktural hanya mengalami perubahan panjang yang kecil apabila dibebani. Sebagai contoh, tinjau batang baja yang mempunyai panjang L sama dengan 2,0 m. Apabila dibebani tarik yang cukup besar, batang tersebut dapat memanjang sebesar 1,4 mm, yang berarti regangannya e = §_ = 1•4 mm = 0,0007 = 700 x 1 0--{) L 2,0 m Dalam praktek, satuan o dan L kadang-kadang disertakan dalam regangan, dan regangan ditulis dalam bentuk seperti mm/m, .urnlm, dan in./in. Sebagai contoh, regangan e pacta ilustrasi di atas dapat ditulis dengan 700 .urnlm atau 700 x 10� in./in. Kadang-kadang regangan juga dinyatakan dalam persen, khususnya jika regangan tersebut besar. (Di dalam contoh di atas, regangan adalah 0,07%.) • Regangan dan Tegangan Uniaksial Definisi tegangan normal dan regangan normal semata-mata didasarkan atas tinjauan statika dan geometris saja, yang berarti bahwa persamaan (I­ I) dan (1-2) dapat digunakan untuk berbagai beban besar berapapun dan berbagai jenis material (bahan). Persyaratan utama adalah bahwa deformasi batang adalah sama di seluruh volumenya, yang pada gilirannya mengharuskan batang tersebut prismatis, beban bekerja melalui pusat berat penampang dan bahannya homogen (yaitu, sama di seluruh bagian dari batang tersebut). Keadaan tegangan dan regangan yang dihasilkan disebut tegangan uniaksial dan regangan. Pembahasan lebih lanjut tentang tegangan uniaksial, termasuk juga tegangan dan regangan pada batang yang bukan longitudinal, diberikan dalam subbab 2.6. Kita juga akan menganalisis keadaan tegangan yang lebih rumit, seperti tegangan biaksial dan tegangan bidang, di dalam Bab 7.
  • 20.
    (,1) (bi Gambar 1 -4Distribusi tegangan tcrbagi rata di suatu batang prismatis: (a) gaya aksial P, dan (b) penampang melintang batang Mekanika Bahan 7 • Garis Kerja Gaya Aksial untuk Distribusi Tegangan Terbagi Rata Di seluruh pembahasan terdahulu tentang tegangan dan regangan di batang prismatis, kita asumsikan bahwa tegangan normal CJ mempunyai distribusi terbagi rata di seluruh penampang. Sekarang kita akan menunjukkan bahwa kondisi ini terpenuhi jika garis kerja gaya aksial melalui pusat berat penampang melintang. Tinjaulah batang prismatis yang mempunyai bentuk penampang sembarang yang mengalami gaya aksial P yang menyebabkan terjadinya tegangan terbagi rata (Gambar l-4a). Juga, misalkan p1 adalah titik pada CJ penampang di mana garis kerja gaya memotong penampang (Gambar l-4b). Kita buat sistem sumbu xy pada bidang penampang dan eatat koordinat titik p1 dengan x dan y. Untuk menentukan koordinat ini, kita amati bahwa momen M, dan M, dari gaya P masing-masing terhadap sumbu x dan y, harus sama dengan momen yang berkaitan dengan tegangan terbagi rata. Momen dari gaya P adalah (a,b) di mana momen dipandang positif apabila vektomya (dengan menggunakan aturan tangan kanan) bekerja dalam arah positif sumbunya.* Momen dari tegangan yang terdistribusi diperoleh dengan meng­ integrasikannya di seluruh penampang A. Gaya diferensial yang bekerja pada suatu elemen luas dA (Gambar l-4b) sama dengan CJdA. Momen dari gaya tersebut terhadap sumbu x dan y adalah masing-masing aydA dan -CJXdA, yang mana x dan y menunjukkan koordinat elemen dA. Momen total diperoleh dengan mengitegrasikannya terhadap luas penampang; jadi, kita peroleh (c,d) Pemyataan ini memberikan momen yang dihasilkan oleh tegangan CJ. Selanjutnya, kita samakan momen M, dan M, yang diperoleh dari gaya P (Persamaan a dan b) dengan momen yang diperoleh dari tegangan yang terdistribusi (Persamaan c dan d): Py= Iay dA Px = -Im dA Karena tegangan CJ terbagi rata, maka kita ketahui bahwa nilainya konstan di seluruh penampang A dan dapat diletakkan di luar tanda integrasi. Juga, kita ketahui bahwa tegangan sama dengan PIA. Dengan demikian, kita peroleh rumus berikut untuk koordinat titik p;: - I0)' dA ' = � - - X = I0)' dA ( 1-3a,b) A A Persamaan ini sama dengan persamaan yang mendefinisikan koordinat pusat berat suatu area (lihat Pers. 12-3a dan b). Dengan demikian, kita sekarang telah sampai pada sebuah kesimpulan penting. Untuk memperoleh tarik atau tekan yang terbagi rata pada suatu batang prismatis, gaya ':'Untuk mcmvisualisasikan aturan tangtm kanan, hayangan hahwa rcmhaca rncmcgang .'lulllhu Lkngan tangan kanan �cdcmiki'-ln hinggJ jari-j�ui pcmhac:.r mclipal di sch.itar sumhu Lcr�chuL Jan jcmpol lllL'nunjuJ... posili! Jari "llllrhu Sclanjutnycr, mn111cn aJalah posilil jika hckcrjtrlcrhcrdap sumhu dalam arah yang sama dcngan jw i-jar i pcmhaca
  • 21.
    B Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser aksial harus beker ja melalui pusat berat penampang. Sebagaimana telah diuraikan sebelum ini, kita selalu mengasumsikan bahwa kondisi ini terpenuhi, kecuali jika secara eksplisit dinyatakan tidak demikian. Contoh berikut ini mengilustrasikan perhitungan tegangan dan regangan pada batang prismatis. Dalam contoh pertama, kita mengabaikan berat batang dan dalam contoh kedua kita memasukkannya. (Agar sesuai dengan buku-buku praktek pada umumnya, kita selalu mengabaikan berat suatu struktur apabila memecahkan suatu soal, kecuali apabila diinstruksi­ kan untuk memasukkannya.) • Contoh 1-1 5- H Gambar 1 -5 Contoh 1 - 1 . Tiang aluminium berlubang yang meng­ alami tekan Sebuah tiang pendek berupa tabung 1ingkaran berlubang dari aluminium memikul beban tekan sebesar 54 kips (Gambar 1-5). Diameter dalam dan luar dari tabung tersebut masing-masing adalah d1 = 3,6 in dan d2 = 5,0 in. dan panjangnya adalah 40 in. Perpendekan tiang akibat beban tersebut diukur sebesar 0,022 in. Tentukanlah tegangan dan regangan tekan di tiang tersebut. (Abaikan berat tiang itu sendiri dan asumsikan bahwa tiang tersebut tidak menekuk akibat beban tersebut.) Solusi Asumsikan bahwa beban tekan bekerja di pusat tabung berlubang sehingga kita dapat menggunakan persamaan s = PIA (Pers. 1 - 1 ) untuk menghitung tegangan normal. Gaya Psama dengan 54 k (atau 54000 lb), dan luas penampang melintang A adalah A = %(dff - d�) = %[(5,0 in.)2 - (3,6 in.)2 ] Dengan demikian, tegangan tekan di tiang ada1ah a = !!_ = 54.000 lb = 5710 psi A 9,456 in.2 Regangan tekan (dari Persamaan 1 -2) adalah E = §_ = 0·02- in. = 550 X 10-6 L 40 m.2 - Jadi, tegangan dan regangan di tiang telah dihitung. 9,456 in.2 - Catatan: Sebagaimana telah diterangkan sebelum ini, regangan merupakan besaran yang tak berdimensi dan tidak ada satuan yang dibutuhkan. Namun untuk kejelasan, satuan juga sering digunakan. Dalam contoh ini, E dapat saja ditulis sebesar 550 X I 0"6 in./in. atau 550 ,uin./in. • Contoh 1-2 Suatu batang baja berpenampang lingkaran yang panjangnya L dan berdiameter d dibebani W di ujung hawnhnya ( amhru 1 -6). (a) Dapatkan rumu lmtuk tegangan maksimum amak> di batang tcr ·ebut dengan rnemperhitungkan b 'r.ll �cndiri batang tersebut. (b) Hitunglah tegangan maksimum jtkn L = 40 10, t1 = mm, dan W = 1,5 kN.
  • 22.
    L d -.. - Gambar 1-6Contoh l-2. Batang bulat dari baja yang memikul beban w. Solusi Mekanika Bahan 9 (a) Gaya aksial maksimum F'""*' di batang terjadi di ujung alas dan sama dengan berat W ditambah berat W0 dari batang itu sendiri. Berat sendiri batang sama dengan berat jenis y baja dikalikan volume batang V, atau % = y1 = y AL ( l-4) dengan A adalah luas penampang batang. Dengan demikian, rumus untuk tegangan maksimum (dari Persamaan 1-1) menjadi a = Fmaks = W + y AL = W + " " maks A A A 1 '-- ( 1 -5 ) .. (b) Untuk menghitung tegangan maksimum, k.itamasukkan harga-harga numerik ke dalam persamaan di atas. Luas penampang melintang sama dengan ruP/4, dengan d = 8 mm, dan beratjenis baja y= 77,0 k.N/m3 (dari Tabel H- 1 di Lampiran H). Jadi 1 •5 kN + (77,0 k.N/m3)(40 m) n-(8 mm)2 /4 = 29,84 MPa + 3. 1 I MPa = 33,0 MPa .. Di dalam contoh ini, beratbatang berkontribusi secara signifikan terhadap tegangan maksimum dan sebaiknya tidak diabaikan. BESARAN MEKANIS BAHAN Untuk mendesain mesin dan struktur agar keduanya berfungsi secara me­ madai kita harus memahami perilaku mekanis dari material (bahan) yang digunakan. Biasanya, satu-satunya cara untuk menentukan bagaimana suatu bahan berperilaku apabila mengalami pembebanan adalah dengan melakukan eksperimen di laboratorium. Prosedur yang biasa a�alah dengan meletakkan benda uji kecil dari material tersebut pacta mesin penguji, menerapkan beban, dan selanjutnya mengukur deformasinya (seperti misalnya perubahan panjang dan perubahan diameter). Hampir semua laboratorium pengujian bahan diperlengkapi dengan mesin-mesin yang mampu membebani benda uji dengan berbagai cara, termasuk pembebanan statik dan dinamik, baik tarik maupun tekan. Mcsin uji tarik tipikal ditunjukkan dalam Gambar 1-7. Benda uji dipasang di antara kedua penjepit besar dari mesin uji dan selanjutnya dibebani tarik. Alat pengukur akan mencatat deformasi, sementara sistem kontrol otomatis serta pengolah data (di kiri foto) membuat tabel dan grafik dari hasil pengujian. Foto yang lebih detail dari benda uji tarik ditunjukkan dalam Gambar 1 -8. Ujung benda uji bundar mempunyai penampang yang lebih besar di dekat penjepit agar kegagalan tidak akan terjadi di dekat penjepit. Suatu kegagalan di ujung tidak dapat menghasilkan informasi yang diharapkan tentang bahan karena distribusi tegangan di dekat penjepit tidak terbagi rata sebagaimana telah dibahas dalam Subbab 1 .2. Pacta benda uji yang didesain dengan baik, kegagalan akan terjadi di bagian prismatis dari benda uji di mana distribusi tegangan terbagi rata dan batang tersebut
  • 23.
    10 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser Gambar 1 ·7 Mesin uji tarik dengan sistem pengolahan data (Atas izin MTS System Corpora­ tion) hanya mengalami tarik murni. Situasi ini ditunjukkan dalam Gambar 1 -8, di mana benda uji baja baru saja terputus akibat dibebani. Alat di kiri, yang dihubungkan oleh dua buah lengan ke benda uji, adalah extensom­ cter untuk mengukur perpanjangan selama pembebanan. Agar hasil pengujian dapat dibandingkan, maka dimensi benda uji dan metode penerapan beban telah distandarisasi. Organisasi pembuat standar yang paling utama adalah American Society for Testing and Ma­ terials (ASTM), suatu badan teknis nasional yang menerbitkan spesifikasi dan standar untuk bahan dan pengujian. Organisasi lain yang sejenis di Amerika Serikat adalah American Standards Association (ASA), dan National Institute of Standards and Institute (NIST), yang sebelumnya bernama National Bureau o f Standards (NBS). Organisasi serupa ada di negara-negara lain. Benda uji tarik menurut standar ASTM mempunyai diameter 0,505 in. dan panjang terukur 2,0 in. di antara tanda-tanda pengukuran, yang merupakan titik-titik di mana lengan extensometer dipasang ke benda uji (Gambar l -8). Selama benda uji ditarik, beban aksial diukur dan dicatat, baik secara otomatis atau dengan membacanya dari dial. Perpanjangan di seluruh panjang terukur diukur secara simultan baik dengan menggunakan pengukur mekanis seperti terlihat dalam Gambar 1-8 atau dengan meng­ gunakan pengukur regangan tahanan elektris. Di dalam uji statik, beban diterapkan perlahan-lahan dan laju pembebanan yang teliti bukan merupakan ha! yang penting karena tidak mempengaruhi perilaku benda
  • 24.
    Gambar 1 -8Benda uji tarik tipikal dengan extensometer yang terpasang padanya; benda uji baru saja terputus karena tarik (Atas izin MTS System Corporation) I Mekanika Bahan 1 1 Pnnjang terukur uji. Tetapi, dalam uji dinamis beban diterapkan secara cepat dan kadang­ kadang dengan cara siklus. Karena sifat beban dinamis mempengaruhi besaran bahan, maka laju pembebanan perlu juga dicatat. llji tekan pada metal biasanya dilakukan pacta benda uji kecil yang berbentuk kubus atau silinder. Kubus biasanya mempunyai sisi 2,0 in. dan silinder biasanya mempunyai diameter sekitar 1 in. dan panjangnya I sampai 1 2 in. Besarnya beban yang diterapkan dan besarnya perpendekan benda uji dapat diukur. Perpendekan sebaiknya diukur di seluruh panjang terukur yang kurang dari panjang total dari benda uji agar tidak ada efek ujung. Beton diuji tekan pada setiap proyek konstruksi yang penting untuk menjamin bahwa kekuatan yang dibutuhkan telah dicapai. Benda uji menurut standar ASTM mempunyai diameter 6 in dan panjang 1 2 in, serta mempunyai umur 28 hari (umur beton merupakan ha! yang penting karena beton meningkat kekuatannya apabila mengering). Benda uji serupa yang agak lebih kecil digunakan dalam melakukan uji tekan pada batuan (Gambar 1 -9). • Diagram Tegangan-Regangan Hasil-hasil pengujian biasanya bergantung pacta ukuran benda uji. Karena sangat kecil kemungkinannya bahwa kita menggunakan struktur yang ukurannya sama dengan ukuran benda uji, maka kita perlu menyatakan
  • 25.
    1 2 Bab1 Tarik, Tekan, dan Geser Gambar 1 -9 Benda uji batuan yang diuji tekan. (Atas izin MTS System Corporation) hasil pengujian dalam bentuk yang dapat diterapkan pada elemen struktur yang berukuran berapapun. Cara sederhana untuk mencapai tujuan ini adalah dengan mengkonversikan hasil pengujian tersebut ke tegangan dan regangan. Tegangan aksial er pada benda uji dihitung dengan membagi beban aksial P dengan luas penampang A (lihat Persamaan l-1 ). Jika luas awal benda uji digunakan dalam perhitungan, maka tegangan yang diperoleh disebut tcgangan nominal (nama lainnya adalah tegangan konvensional dan tegangan teknik). Harga tegangan aksial yang lebih eksak, yang disehut tcgangan scbenarn� a, dapat dihitung dengan menggunakan luas penam­ pang batang sebenarnya pada saat kegagalan terjadi. Karena luas aktual dalam pengujian tarik selalu lebih kecil daripada luas awal (sebagaimana diilustrasikan dalam Gambar 1-8), maka tegangan sebenarnya selalu lebih besar daripada tegangan nominal. Regangan aksial rata-rata £ pada benda uji diperoleh dengan membagi perpanjangan yang diukur 8antara tanda-tanda pengukuran dengan panjang terukur L (lihat Gambar 1 -8 dan Persamaan J -2). Jika panjang terukur awal digunakan dalam perhitungan (misalnya 2,0 in.), maka didapatkan rcgangan normal . Karenajarak antara tanda-tandapengukuran bertambah pada saat beban tarik diterapkan, maka kita dapat menghitung regangan
  • 26.
    Gambar 1 -1 0 Diagram tegangan­ regangan untuk baja struktural tipikal yang mengalami tarik (tidak berskala) Mekanika Bahan 1 3 sebenarnya (atau regangan a/ami) pacta setiap harga beban dengan menggunakan jarak aktual antara tanda-tanda pengukuran. Dalam keadaan l arik, regangan sebenarnya selalu lebih kecil daripada regangan normal. Sekalipun demikian, untuk penggunaan dalam bidang teknik, tegangan nominal dan regangan nominal sudah cukup memadai, sebagaimana akan diuraikan dalarn bagian lain subbab ini. Sesudah melakukan uji tarik atau tekan dan menentukan tegangan dan regangan pacta berbagai taraf beban, kita dapat memplot diagram tegangan versus regangan. Diagram tegangan-regangan seperti ini merupakan karakteristik dari bahan yang diuji dan memberikan informasi penting tentang besaran mekanis dan jenis perilaku.* Bahan pertama yang akan kita bahas adalah baja struktural, yang juga dikenal dengari baja lunak atau baja karbon rendah. Baja struktural adalah salah satu bahan metal yang paling banyak digunakan untuk gedung, jembatan, crane, kapal, menara, kendaraan, dan berbagai jenis struktur lain. Diagram tegangan-regangan untuk baja struktural tipikal yang mengalami tarik ditunjukkan dalam Gambar 1-10. Regangan diplot pada sumbu horizontal dan tegangan pacta sumbu vertikal. (Untuk menunjukkan semua hal penting dari bahan ini, sumbu regangan dalam Gambar 1-10 digambar tanpa skala.) Diagram tersebut dimulai dengan garis lurus dari pusat sumbu 0 ke titik A, yang berarti bahwa hubungan antara tega.ngan dan regangan pacta daerah awal ini bukan saja linier melainkan juga proporsional.•• Melewati titik A, proporsionalitas antara tegangan dan regangan tidak acta lagi; jadi tegangan di A disebut limH proporsional. Untuk baja berkarbon rendah, limit ini berada pacta selang 30 sampai 50 ksi (210 sampai 350 MPa), tetapi baja berkekuatan tinggi (dengan kandungan karbon lebih tinggi ditambah unsur paduan lain) dapat mempunyai batas proporsional lebih dari 80 ksi (550 MPa). Kemiringan garis lurus dari 0 ke A disebut modu­ lus clastisitas. Karena kemiringan mempunyai satuan tegangan dibagi Tegangan ultiHoatc .. Tegangan luluh -----.. Limit / AA proporsional /' c u ......... __....., _ _ _ Daerah linier Luluh atau Strain plastisitas hardening sempurna £' . - - · Necking ·I )iagt dill lc�<lll�:ln-r cg<tllt!-<111 di 1 i Illi-; olcll J:1C11h Hl'rlll Ju l l r ( 1 6.'1--i-· I 70.� ) dan I V Polll'l'k·l ( 1 7�X- 1 Kh71: l i hlll 1{,· 1 1 --1; J )ud <ll l;ilk·i Li i"l'l"'ll l /JI O,'JOI 111111.'1 j l l, a r ;J>.;ru <l!lld l ;l h-l'li ll<lll)a h:on-.;lt�ll l kn:;a11 tk�mr kltill, '>Ualu luh1111_::.111 j)l l lf'( )J , inn:d dar1;1{ clinv<�tak;rn tk'H.�dll "i�o.'hll;tll �.tl i' 1 u 1 u" ! '-lll.!,.' lll�ltl l u 1 pll.'<llll)'il !;Jillllll hu hu H. C<� Il p1 0j)l l! ..,lllll�ll l HI�l� �ann LiL'Il!;i.lll l tuhllll�illl /i11in k-..kiJ'Uil huhun�an p1 11)10I "ion;tl ;ublall li ltll'l ...,L·h�i l i � n : a L1Ja� -..LI<liu he nilI k.IJ L 'Il;t ..;u;tl1 JH,hungan ) �Ill� dilly;tl<tk;_ln dLJJ!:,!-�l l l ga1 1" l u J u " y;tn� 1 1d<1� n �;._·l;.dui l i l i � JHt-...11 �u.l.t!ah J ' nit'J IL'I<Ij'l liLbk JlH'J•I ' I � IOita l SL"I)ulan ·hc<IMIHIJIg !ang:-.un {' lliL'InptHl <11 <11 1 "'-1111<1 deu�an prop( 1 '-IOilal I Rei I :" I
  • 27.
    ,.. 1 4 Bab1 Tarik, Tekan, dan Geser Daerah fraktur Beban Beban Daerah necking Gambar 1 -1 1 Necking pada batang baja lunak yang mengalami tarik regangan, maka modulus elastisitas mempunyai satuan yang sama dengan tegangan. (Modulus elastisitas dibahas lebih lanjut di Subbab 1 .5.) Dengan meningkatnya tegangan hingga melewati limit proporsional, maka regangan mulai meningkat secara lebih cepat lagi untuk setiap per­ tambahan tegangan. Dengan demikian, kurva tegangan-regangan mempunyai kemiringan yang berangsur-angsur semakin kecil, sampai pada titik B kurva tersebut menjadi horizontal (lihat Gambar 1-10). Mulai dari titik ini, terjadi perpanjangan yang cukup besar pada benda uji tanpa adanya pertambahan gaya tarik (dari B ke C). Fenomena ini disebut luluh dari bahan, dan titik B disebutlitik luluh. Tegangan yang berkaitan dengan ini disebut tegangan luluh dari baja. Di daerah antara B dan C, bahan ini menjadi plastis semJmrna , yang berarti bahwa bahan ini berdeformasi tanpa adanya pertambahan beban. Perpanjangan benda uji baja lunak pada daerah plastis sempuma pada umumnya 10 sampai 1 5 kali perpanjangan yang terjadi di daerah linier (antara awalnya pembebanan dan limit proporsional). Adanya regangan yang sangat besar di daerah plastis (dan setelah itu) adalah alasan mengapa diagram tersebut diplot tidak berskala. Sesudah mengalami regangan besar yang terjadi selama peluluhan di daerah BC, baja mulai mengalami pengerasan regang ( stra i n hardening/ . Selama itu, bahan mengalami perubahan dalam struktur kristalin, yang menghasilkan peningkatan resistensi bahan tersebut terhadap deformasi lebih lanjut. Perpanjangan benda uji di daerah ini membutuhkan peningkatan beban tarik, sehingga diagram tegangan-regangan mempunyai kemiringan positif dari C ke D. Beban tersebut pada akhimya mencapai harga maksimumnya, dan tegangan pada saat itu (di titik D) disebut tegangan ultimate . Penarikan batang lebih lanjut pada kenyataannya akan disertai dengan pengurangan beban dan akhimya terjadi putus/patah di suatu titik seperti titik E pada Gambar 1-10. Tegangan luluh dan tegangan ultimate dari suatu bahan disebut juga masing-masing kekuatan luluh dan kekuatan ultimatl' h.l'lmatan adalah sebutan umum yang merujuk pada kapasitas suatu struktur untuk menahan beban. Sebagai contoh, kekuatan luluh dari suatu balok adalah besarnya beban yang dibutuhkan untuk terjadinya luluh di balok tersebut, dan kekuatan ultimate dari suatu rangka batang adalah beban maksimum yang dapat dipikulnya, yaitu beban gagal. Tetapi, dalam melakukan uji tarik untuk suatu bahan, kita definisikan kapasitas pikul beban dengan tegangan di suatu benda uji, bukannya beban total yang bekerja pada benda uji. Karena itu, kekuatan bahan biasanya dinyatakan dalam tegangan. Apabila suatu benda uji ditarik, terjadi juga kontrak.si lateral , sebagaimana telah disebutkan sebelum ini. Pengurangan luas penampang yang ditimbulkannya cukup kecil terhadap perhitungan tegangan hingga sekitar titik C dalam Gambar 1- 10, tetapi melewati titik tersebut, pengurangan luas mulai mengubah bentuk kurva. Di sekitar tegangan ultimate, pengurangan luas menjadi sangat nyata dan neckin�; (pembentuk­ an leher) pada batang tersebut terjadi (lihat Gambar 1-8 dan 1 - 1 1 ). Jika luas aktual penampang di bagian yang mengecil dari leher ini digunakan untuk menghitung tegangan, maka kurva lq�angan-regan�an sehenarn.' a (garis putus CE · dalam Gambar 1 - 10) akan diperoleh. Beban total yang dapat dipikul batang tersebut memang berkurang sesudah tegangan ulti­ mate tercapai (sebagaimana ditunjukkan dengan kurva DE), tetapi reduksi ini adalah akibat berkurangnya luas batang dan bukan karena berkurangnya kekuatan bahan itu sendiri. Pada kenyataannya, bahan menahan peningkatan
  • 28.
    rr (ksi) 80 /)1 - 60 -111 c /I I k . 20 , 6 II 0 I 0,05 0, I 0 0, I 5 0,20 0,25 0,30 I' Gambar 1-12 Diagram tegangan­ regangan untuk baja struktural tipikal yang mengalami tarik (digambar berskala) 30 20 !ll l-+--+--+----+---; IJ 0,05 0,I0 0,15 0,20 0,25 I' Gambar 1 -1 3 Diagram tegangan­ 'egangan untuk senyawa aluminium rr lj:A----- 1 ' j./ - 0,002 offset aIL__ _ _ _ _ I' Gambar 1 -1 4 Tegangan luluh sembarang yang ditentukan dengan metode offset Mekanika Bahan 1 5 tegangan sebenamya hingga terjadi kegagalan (titik E'). Karena hampir semua struktur diharapkan berfungsi pada tegangan di bawah limit proporsional, maka k urva tegangan-regangan konvcnsional OABCDE, yang didasarkan atas luas penampang awal benda uji dan yang mudah untuk dihitung, memberikan informasi yang cukup baik untuk digunakan dalam desain teknik. Diagram dalam Gambar 1-10 menunjukkan karakteristik umum dari kurva tegangan-regangan untuk baja 1unak, tetapi proporsinya tidak realistis karena, sebagaimana telah disebutkan, regangan yang terjadi dari B ke C mungkin lebih daripada sepuluh kali regangan yang terjadi dari 0 ke A. Se1ain itu, regangan dari C ke E beberapa kali lebih besar daripada dari B ke C. Hubungan yang benar ditunjukkan da1am Gambar 1-12, yang menunjukkan diagram tegangan-regangan untuk baja lunak yang digambar berskala. Di dalam gambar ini, regangan dari titik no! ke titik A sedemikian kecilnya dibandingkan dengan regangan dari titik A ke titik E sehingga regangan tersebut tidak terlihat, dan bagian awal dari diagram ini nampak seperti garis vertikal. Adanya titik lu1uh yang je1as yang diikuti dengan regangan plastis merupakan karakteristik penting dari baja struktural yang kadang-kadang digunakan dalam desain (lihat, sebagai contoh, pembahasan perilaku elastoplastis dalam Subbab 2.12, 3.12, dan 6.9). Metal seperti baja struktural yang mengalami regangan permanen besar sebelum kegagalan terjadi di­ kelompokkan ke dalambahan yang daktil (ulct). Sebagai contoh, daktilitas (keuletan) adalah sifatyang memungkinkan suatu batang baja untuk dibeng­ kokkan membentuk busur lingkaran tanpa putus atau ditarik menjadi kawat tanpa mengalami kerusakan. Keunggulan yang diharapkan dari bahan yang daktil adalah bahwa distorsi nyata dapat terjadi jika beban menjadi terlalu besar, sehingga memberikan kesempatan untuk melakukan sesuatu sebelum patah (fraktur) aktual terjadi. Selain itu, bahan yang berperilaku daktil mampu menyerap sejumlah besar energi regangan sebelum mengalami fraktur. Baja struktural adalah paduan besi yang mengandung sekitar 0,2% karbon, sehingga disebut dengan baja karbon rendah. Dengan bertambahnya kadar karbon, baja menjadi kurang daktil tetapi menjadi lebih kuat (mempunyai tegangan luluh dan tegangan ultimate lebih tinggi). Besaran fisik bajajuga dipengaruhi oleh perlakuan panas yang dialaminya, adanya metal lain, dan proses pembuatan seperti pengerokan. Material lain yang berperilaku secara daktil (pada kondisi tertentu) meliputi aluminium, tembaga, magnesium, timbal, molybdenum, nikel, perunggu, brons monel metal, nilon, dan teflon. Meskipun bahan-bahan tersebut mempunyai daktilitas yang cukup besar, paduan aluminium pada umumnya tidak mempunyai titik luluh yangjelas, sebagaimana ditunjukkan dalam kurva tegangan-regangan dalam Gambar 1-13. Sekalipun demikian, bahan ini mempunyai daerah linier awal dengan limit proporsional yang terlihatjelas. Paduan yang diproduksi untuk maksud struktural mempunyai limit proporsional dalam selang 10 sampai 60 ksi (70 sampai 410 MPa) dan tegangan ultimate dalam selang 20 sampai 80 ksi (140 sampai 550 MPa). Apabila suatu bahan seperti aluminium tidak mempunyai titik luluh yang jelas dan mengalami regimgan besar sesudah limit proporsional dilampaui, tegangan luluh arbiter dapat ditentukan dengan metode t�{ f ­ set. Suatu garis lurus ditarik pada kurva tegangan-regangan yang sejajar
  • 29.
    ,. 16 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser a (psi) 3000 �-,--, 0 4 E 6 8 Gambar 1 - 1 5 Kurva tegangan­ regangan untuk dua jenis karet yang mengalami tarik 8 0 E Gambar 1 -1 6 Diagram tegangan­ regangan tipikal untuk bahan getas yang menunjukkan limit propor­ sional (titik A) dan tegangan fraktur (titik B) dengan bagian linier awal dari kurva tersebut (Gambar 1 -14) tetapi mempunyai offset regangan standar tertentu, misalnya 0,002 (atau 0,2%). Perpotongan garis offset dan kurva tegangan-regangan (titik A dalam gambar ini) didefinisikan sebagai tegangan luluh. Karena tegangan ini ditentukan dengan aturan yang opsional dan bukan merupakan besaran fisik bahan sebenamya, maka ha! ini harus dibedakan dengan tegangan luluh sebenamya dengan cara menyebutnya legangan l u l u h l�f.let. Untuk bahan seperti aluminium, tegangan luluh offset terletak sedikit di atas limit proporsional. Dalam ha! baja struktural, dengan adanya transisi mendadak dari daerah linier ke daerah plastis, tegangan o ffset pada dasamya sama dengan tegangan luluh dan limit proporsional. Karet mempunyai hubungan linier antara tegangan dan regangan sampai regangan yang relatif besar (dibandingkan dengan metal). Regangan pada limit proporsional dapat sebesar 0, 1 atau 0,2 (10% atau 209c). Setelah limit proporsional, perilakunya bergantung pada jenis karet (Gambar 1 - 15). Beberapa jenis karet akan inemanjang sangat besar tanpa mengalami kegagalan, hingga panjangnya dapat mencapai beberapa kali panjang semula. Bahan tersebut pada dasamya mempunyai tahanan yang meningkat jika dibebani, dan kurva tegangan-regangannya jelas berarah ke atas. Pembaca dapat dengan mudah mengamati perilaku seperti ini dengan menarik karet gelang dengan tangan. (Perhatikan bahwa meskipun karet dapat mengalami regangan sangat besar, bahan ini bukanlah bahan daktil karena regangannya tidak permanen.) Daktilitas bahan yang mengalami tarik dapat dilihat dengan mengamati perpanjangan bahan dan reduksi luas pada penampang di mana fraktur terjadi. Pcrscntase pcrpanjangan didefinisikan sebagai Lr - Le> Persentase perpanjangan = · Lo ( 100) (1-6) dengan L0 adalah panjang terukur awal dan L r adalah jarak antara tanda­ tanda pengukuran pada saat fraktur. Karena perpanjangan tidak sama di seluruh panjang benda uji tetapi terpusat di daerah di mana terjadi neck­ ing, maka persentase perpanjangan bergantung pada panjang terukur. Dengan demikian, dalam menyatakan persentase perpanjangan, panjang terukur harus diketahui. Untuk panjang terukur 2 in, baja dapat mempunyai perpanjangan dalam selang 3% sampai 40%, bergantung pada komposisi; dalam ha! baja struktural, dengan harga yang umum adalah 20% atau 30%. Perpanjangan paduan aluminium bervariasi dari 1 % sampai 45%, bergantung pada komposisi dan perawatannya. Pcrsentasc redu ksi luas menunjukkan besamya necking yang terjadi dan didefinisikan sebagai �l ·- AJ Persentase reduksi luas = Ao (I 00) (1-7) dengan A0 adalah luas penampang melintang awal dan A1adalah luas akhir pada penampang fraktur. Untuk baja struktural, reduksi ini sekitar 50%. Bahan yang gaga! karena tarik pada harga regangan yang relatif rendah disebut bahan yang getas. Contohnya adalah beton, batu, besi tuang, kaca, keramik, dan berbagai paduan metalik. Bahan yang getas akan gaga! hanya dengan sedikit perpanjangan sesudah limit proporsional (tegangan di titik A dalam Gambar 1 -16) dilampaui. Selain itu, reduksi luas tidak signifikan, dan tegangan fraktur nominal (titik B) akan sama dengan tegangan ulti
  • 30.
    a (ksi) so ,---,---,---,-,-, 00,8 e Gambar 1-17 Diagram tegangan­ regangan untuk tembaga yang mengalami tekan Mekanika Bahan 1 7 mate sebenarnya. Baja berkadar karbon tinggi mempunyai tegangan luluh tinggi - kadang-kadang melebihi 1 00 ksi (700 MPa) - tetapi berperilaku getas dan fraktur selalu terjadi pada perpanjangan yang hanya beberapa persen. Kaca biasa merupakan bahan getas yang hampir ideal karena bahan ini menunjukkan tidak adanya daktilitas sedikitpun. Kurva tegangan­ regangan untuk kaca yang mengalami tarik pacta dasarnya adalah garis lurus, dengan kegagalan muncul sebelum luluh terjadi. Tegangan ultimatenya sekitar 10000 psi (70 MPa) untuk beberapa jenis kaca plat, tetapi ada variasi yang cukup besar, bergantung pacta jenis kaca, ukuran benda uji, dan adanya cacat mikroskopis. Serat kaca dapat mempunyai kekuatan yang sangat tinggi, dan tegangan ultimatenya dapat melebihi 1.000.000 psi (7 GPa). Banyak jenis plastik yang digunakan untuk maksud struktural karena bahan ini ringan, tahan karat, dan mempunyai insulasi elektrikal yang baik. Sifat mekanisnya sangat bervariasi. dimana beberapa jenis plastik bersifat getas dan 1ainnya bersifat daktil. Dalam mendesain dengan plastik, perlu diingat bahwa besarannya sangat dipengaruhi perubahan temperatur dan berjalannya waktu. Sebagai contoh, tegangan tarik ultimate beberapa jenis plastik dapat menjadi tinggal setengahnya apabila temperatumya meningkat dari 50°F ke 120°F. Juga, plastik yang dibebani dapat meregang secara gradual dengan bertambahnya waktu sampai bahan itu tidak dapat berfungsi lagi. Sebagai contoh, sebuah batang yang terbuat dari polivinil khlorida yang mengalami beban tarik yang semula menghasilkan regangan 0,005 dapat mengalarni regangan sebesar dua kalinya setelah seminggu, meskipun beban tersebut konstan. (Fenomena ini, dikenal dengan rangkak, dibahas pacta bagian berikut.) Tegangan tarik ultimate untuk plastik pada umumnya ada dalam selang 2 sampai 50 ksi ( 1 4 sampai 350 MPa) dan berat jenisnya bervariasi dari 50 sampai 90 lb/ft3 (8 sampai 1 4 kN/m3). Ada sejenis nilon yang mem­ punyai tegangan ultimate sebesar 12 ksi (80 MPa) dan beratnya hanya 70 lb/fe ( 1 1 kN/m3), yang berarti hanya 12% lebih berat daripada air. Karena ringannya, maka rasio kekuatan terhadap berat untuk bahan nilon kurang lebih sama dengan baja struktural (lihat Soal 1 .3-6). Bahan yang diperkuat filamen terdiri atas bahan dasar (atau matriks) dengan kandungan serat dan filamen yang berkekuatan tinggi. Komposit yang dihasilkannya mempunyai kekuatan yang jauh lebih tinggi di­ bandingkan bahan dasarnya. Sebagai contoh, penggunaan serat kaca dapat meningkatkan kekuatan hingga dua kali kekuatan matriks plastik. Komposit banyak digunakan dalam pesawat terbang, perahu, roket, dan pesawat luar angkasa di mana kekuatan tinggi dan bobot yang ringan dibutuhkan. Kurva tegangan-regangan untuk bahan yang mengalarni tekan berbeda dengan yang mengalami tarik. Metal daktil seperti baja, aluminium, dan tembaga mempunyai limit proporsional untuk tekan yang sangat dekat dengan untuk tarik, dan daerah awal pacta kurva tegangan-regangan tarik dan tekan pada dasarnya sama. Tetapi, setelah luluh terjadi, perilakunya berbeda. Dalam pengujian tarik, benda uji memanjang, necking dapat muncul dan fraktur pada akhimya terjadi. Apabila bahan ditekan, sisinya akan membesar dan akan berbentuk seperti gentong karena gesekan antara benda uji dan plat ujung mencegah ekspansi lateral. Dengan bertambah­ nya beban, sisi benda uji akan semakin membesar dan semakin meningkatkan tahanannya terhadap perpendekan lebih lanjut (yang berarti
  • 31.
    r 1 8 Bab1 Tarik, Tekan, dan Geser bahwa kurva tegangan-regangan menjadi sangat curam). Karakteristik ini diilustrasikan dalam Gambar 1-17, yang memperlihatkan diagram tegangan­ regangan tekan untuk tembaga. Karena luas penampang aktual dari benda uji tekan lebih besar daripada luas awal, maka tegangan sebenarnya pada pengujian tekan akan lebih kecil daripada tegangan nominal. Bahan getas yang dibebani tekan pada umumnya mempunyai daerah linier awal yang diikuti dengan daerah di mana perpendekannya bertambah dengan laju yang lebih besar daripada bebannya. Kurva tegangan-regangan untuk tekan dan tarik seringkali mempunyai bentuk yang serupa, tetapi tegangan ultimatenya dalam keadaan tekan jauh lebih besar daripada ke­ adaan tarik. Juga, tidak seperti bahan daktil, yang membesar tengahnya apa­ bila ditekan, bahan getas secara aktual akan pecah pada beban maksimum. Tabel besaran mekanis untuk beberapa bahan diberikan dalam Lampiran H di belakang buku ini. Data di dalam tabel tersebut merupakan data tipikal bahan dan dapat digunakan untuk memecahkan soal-soal dalam buku ini. Sekalipun demikian, besaran bahan dan kurva tegangan-regangan sangat bervariasi, bahkan untuk bahan yang sama, karena berbedanya proses pembuatan, komposisi kimiawi, cacat internal, temperatur, dan berbagai faktor lain. Karena itu, data yang diperoleh dari Lampiran H (atau tabel-tabel lain yang serupa) sebaiknya tidak digunakan untuk tujuan rekayasa atau desain yang khusus. Sebagai gantinya, pembuat bahan atau penyalumya perlu dimintai informasi tentang produk khusus tersebut. ELASTISITAS, PLASTISITAS, DAN RANGKAK Kurva tegangan-regangan menunjukkan perilaku bahan teknik apabila bahan tersebut dibebani tarik atau tekan, sebagaimana dibahas pada subbab sebelum ini. Untuk melangkah lebih jauh, mari kita tinjau apa yang terjadi apabila beban dihilangkan dan bahan tersebut tak berbeban. Anggap, sebagai contoh, bahwa kita menerapkan beban tarik pada benda uji sedemi­ kian hingga tegangan dan regangan berjalan dari titik pusat 0 ke titik A pada kurva tegangan-regangan dalam Gambar 1 - 1 8a. Anggap pula bahwa apabila beban itu dihilangkan, maka bahan akan benar-benar mengikuti kurva yang sama dan kembali ke asal 0. Sifat bahan seperti ini, yaitu dapat kembali ke dimensi semula selama beban dihilangkan, disebut elastisitas, dan bahan itu sendiri disebut elastis. Catat bahwa kurva tegangan-regangan dari 0 ke A tidak harus linier agar bahan dapat disebut elastis. Sekarang misalkan kita membebani bahan yang sama ini hingga taraf yang lebih tinggi, sehingga titik B dalam kurva tegangan-regangan tercapai (Gambar l - 1 8b). Apabila dari titik B beban dihilangkan, maka bahan tersebut akan mengikuti garis BC pada kurva tersebut. Garis penghilangan beban ini sejajar dengan bagian awal dari kurva pemberian beban; artinya garis BC sejajar dengan garis singgung dari kurva tegangan-regangan di titik pusat. Ketika titik C dicapai, maka beban tersebut telah benar-benar hilang, namun regangan residual, atau regangan permanen, yang dinyatakan dengan garis OC, tetap ada pada bahan. Akibatnya, batang yang diuji ini akan lebih panjang daripada sebelum dibebani. Perpanjangan residual batang ini disebut set yang permanen (permanent set). Dari regangan total OD yang terjadi sela:na pembebanan dari titik 0 ke B, regangan CD telah diperoleh l<embali secara elastis dan regangan OC tetap ac'_a sebagai regangan pemtanen. .!adi, selama penghilangan beban,
  • 32.
    (J I F .§A E ,§' � o// �� {:_ .§ ,§' � � $� � "' <l; E Elastis Plastik (a) (J F B C D 0 1---�� E Regangan Pemulihan residual elastis (b) Gambar 1-18 Diagram tegangan­ regangan yang mengilustrasikan: (a) perilaku elastis, dan (b) perilaku elastis sempurna F Gambar 1-19 Pembebanan kem­ bali pada bahan dan meningkatnya , limit proporsional dart elastis Mekanika Bahan • 1 9 batang akan sebagian kemba1i ke bentuk semu1a, dan bahan ini disebut elastis sebagian. Di antara titik A dan B pada kurva tegangan-regangan (Gambar 1- 18b), pasti ada sebuah titik di mana bahan sebelumnya elastis, dan sesudah­ nya elastis sebagian. Untuk mencari titik tersebut, kita bebani bahan hingga mencapai tegangan yang telah dipilih untuk kemudian menghilangkan beban tersebut. Jika tidak ada set yang permanen (artinya perpanjangan batang tersebut kembali ke nol), maka bahan itu e1astis penuh sampai harga tegangan yang dipilih. Proses pembebanan dan penghilangan beban ini diulangi terns untuk tegangan yang lebih besar. Akhimya, akan diperoleh tegangan yang menyebabkan sebagian regangannya tidak dapat pulih pada saat penghilangan beban. Dengan menggunakan prosedur ini, tegangan pada limit atas dari daerah elastis dapat dihitung, misalnya, tegangan di titik E dalam Gambar 1-18a dan b. Tegangan di titik ini dikenal sebagai limit elastis dari suatu bahan. Banyak bahan, termasuk hampir semua metal. yang mempunyai daerah linier di awal kurva tegangan-regangannya (sebagai contoh, lihat Gambar 1-10 dan 1-13). Tegangan di limit atas daerah linier ini merupakan limit proporsional. Limit elastis ini biasanya sama dengan, atau sedikit di atas, limit proporsional. Dengan demikian, untuk sebagian besar bahan kedua limit tersebut dianggap mempunyai nilai numerik yang sama. Pada baja lunak, tegangan luluhnya juga sangat dekat dengan limit proporsiona1 sehingga untuk praktisnya, tegangan luluh, limit elastis, dan limit proporsional diasumsikan sama. Tentu saja, situasi ini tidak berlaku untuk semua bahan. Karet adalah contoh nyata untuk bahan yang tetap bersifat elastis meskipun limit proporsionalnya telah dilampaui. Karakteristik suatu bahan yang mana bahan itu dapat mengalami regangan inelastis melewati regangan pada limit elastis disebut plastisitas. Jadi, pada kurva tegangan-regangan dalam Gambar 1-lSa, kita mempunyai daerah elastis yang diikuti dengan daerah plastis. Apabila deformasi besar terjadi pada bahan daktil yang dibebani hingga daerah p1astis, maka bahan ini disebut mengalami aliran plastis. Jika suatu bahan masih berada dalam daerah elastis, bahan tersebut dapat dibebani, dihilangkan bebannya, dan dibebani lagi tanpa adanya perubahan signifikan pada perilakunya. Tetapi, apabila dibebani hingga daerah plastis, struktur internal bahan tersebut akan berubah dan besaran bahannya juga berubah. Sebagai contoh, kita telah mengamati bahwa ada regangan permanen di benda uji sesudah penghilangan beban dari daerah plastis (Gambar 1-18b). Sekarang bayangkan bahwa bahan ini dibebani kembali sesudah penghilanganbebantersebut (Gambar 1-19). Pembebanan yang baru ini dimu1ai di titik C pada diagram dan terus mengarah ke atas hingga titik B, titik di mana penghilangan beban dimulai pada siklus pembebanan pertama. Bahan tersebut selanjutnya mengikuti diagram tegangan-regangan hingga titik F. Jadi, untuk pembebanan kedua, kita dapat membayangkan bahwa kita mempunyai kurva tegangan-regangan dengan titik pusat di titik C. Selama pembebanan kedua, bahan berperilaku elastis linier dari C ke B, dengan kemiringan garis CB sama dengan kemiringan garis singgung kurva pembebanan semula di titik asal 0. Limit proporsional sekarang ada di titik B, yang merupakan tegangan yang lebih besar daripada limit elastis semula (titik E). Jadi, dengan meregangkan bahan seperti baja atau aluminium hingga ke daerah inelastis atau plastis, besaran material berubah
  • 33.
    Bab 1 Tarik,Tekan, dan Geser - daerah elastis linier bertambah, limit proporsional meningkat, dan limit elastis membesar. Tetapi, daktilitas berkurang karena pada "bahan baru" tersebut besarnya luluh yang melewati limit elastis (dari B ke F) lebih kecil daripada bahan semula (dari E ke F). * • Rangkak Perpanjangan (a) to Waktu (b) Gambar 1 -20 Rangkak pada batang yang mengalami beban konstan Kawat (a) Tegangan Waktu (b) Gambar 1 -21 Relaksasi tegangan pada sebuah kawat pada kondisi regangan konstan Diagram tegangan-regangan yang dibahas sebelum ini diperoleh dari uji tarik yang melibatkan pembebanan dan penghilangan beban secara statik pada benda uji, dan berlalunya waktu tidak masuk ke dalam pembahasan. Namun, apabila dibebani untuk waktu yang cukup lama, beberapa bahan mengalami regangan tambahan dan disebut mengalarni rangkak. Fenomena ini dapat muncul dengan berbagai cara. Sebagai contoh, anggap bahwa batang vertikal (Gambar l -20a) dibebani perlahan-lahan oleh gaya P, sehingga menimbulkan perpanjangan sebesar 80. Asumsikan bahwa pem­ bebanan dan perpanjangan tetjadi selama selang waktu t0(Gambar l -20b). Setelah waktu t0, bebannya tetap konstan. Tetapi, akibat terjadinya rangkak, batang tersebut secara gradual memanjang, seperti terlihat dalam Gambar l -20b, meskipun bebannya tidak berubah. Perilaku ini terjadi pada banyak bahan, meskipun kadang-kadang perubahan itu terlalu kecil untuk diperhatikan. Sebagai contoh kedua untuk masalah rangkak, tinjaulah kawat yang diregangkan antara dua tumpuan yang tak dapat dipindahkan sedemikian hingga kawat itu mempunyai tegangan tarik s0 (Gambar 1-21). Di sini pun, waktu selama kawat tersebut dibebani diberi notasi t0• Dengan berjalannya waktu, tegangan di kawat akan berkurang secara gradual, hingga akhimya mencapai harga konstan, meskipun tumpuan di ujung­ ujungnya tidak bergerak. Proses ini, yang merupakan manifestasi lain dari rangkak, disebut relaksasi bahan. Rangkak biasanya lebih penting pada temperatur tinggi dibandingkan dengan pada temperatur biasa, sehingga hal ini harus selalu ditinjau pada desain mesin, tanur, dan struktur lain yang beroperasi pada temperatur tinggi untuk waktu yang lama. Bahan-bahan seperti baja, beton, dan kayu akan mengalarni rangkak sedikit bahkan pada temperatur biasa. Sebagai contoh, rangkak beton pada periode waktu lama dapat menimbulkan permukaan yang tidak merata pada lantai jembatan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan membuatlawan lendut (camber) pada lantai tersebut, yang merupakan peralihan awal ke atas bidang horizontal sedemikian hingga apabila rangkak tetjadi, bentang tersebut akan turun hingga ke posisi yang sama. ELASTISITAS LINIER, HUKUM HOOKE, DAN RASIO POISSON Banyak bahan struktural, termasukjuga sebagian besar metal, kayu, plastik, dan keramik, berperilaku elastis dan linier ketika dibebani pertama kali. Akibatnya, kurva tegangan-regangan dimulai dengan garis lurus yang melewati titik asalnya. Salah satu contoh adalah kurva tegangan-regangan untuk baja struktural (Gambar 1-10), di mana daerah dari titik asal 0 *Studi mengenai perilaku bahan pada berbagai kondisi pembebanan merupakan cabang penting dari mekanika terapan. Untuk informasi teknik yang lebih rinci, carilah buku yang khusus membahas masalah ini.
  • 34.
    Mekanika Bahan 21 hinggalimit proporsional (titik A) adalah linier dan elastis. Contoh lain adalah daerah di bawah limit proporsional dan limit elastis pacta diagram untuk aluminium (Gambar 1-13), karet (Gambar 1-15), dan tembaga (Gambar 1-17). Apabila suatu bahan berperilaku elastis dan juga mem­ punyai hubungan linier antara tegangan dan regangan, bahan ini disebut elastis linier. Perilaku seperti ini sangat penting di dalam rekayasa karena alasan yang sangat jelas--dengan mendesain struktur dan mesin agar berfungsi pacta daerah ini, kita dapat menghindari deformasi permanen akibat luluh. Hubungan linier antara tegangan dan regangan untuk suatu batang yang mengalami tarik atau tekan sederhana dinyatakan dengan persamaan ( 1-8) dengan a adalah tegangan aksial, £ adalah regangan aksial, dan E adalah konstanta proporsionalitas yang dikenal dengan modulus elastisitas bahan tersebut. Modulus elastisitas adalah kemiringan kurva tegangan-regangan di dalam daerah elastis linier, sebagaimana telah disebutkan dalam Subbab 1.3. Karena regangan tidak mempunyai dimensi, maka satuan untuk E sama dengan satuan untuk tegangan. Satuan tipikal untuk E adalah psi atau ksi pacta satuan uses dan pascal (atau kelipatan darinya) dalam satuan SI. Persamaan a = E£ dikenal sebagai hukum Hooke, untuk mengenang ilmuwan Inggris terkenal Robert Hooke (1635-1703). Hooke adalah orang pertama yang menyelidiki secara ilmiah besaran elastis beberapa bahan, dan ia menguji bahan-bahan seperti metal, kayu, batu, dan tulang. la mengukur perpanjangan kawat yang memikul gaya berat dan mengamati bahwa perpanjangannya "selalu mempunyai proporsi yang sama dengan berat material yang membentuk kawat tersebut" (Ref. 1-6). Jadi, Hooke membangun hubungan linier antara beban dan perpanjangan yang ditimbulkannya. Persamaan (1-8) sebenarnya merupakan versi yang sangat terbatas dari hukum Hooke karena persamaan ini hanya menghubungkan tegangan dan regangan longitudinal yang terjadi pacta tarik atau tekan sederhana pacta suatubatang (tegangan uniaksia[). Untuk membahas keadaan tegangan yang lebih rumit, seperti yang biasa dijumpai pacta sebagian besar struktur dan mesin, kita harus menggunakan persamaan hukum Hooke yang lebih rumit (lihat Subbab 7.5 dam 7.6). Modulus elastisitas mempunyai harga yang relatif besar untuk bahan yang sangat kaku, seperti metal struktural. Baja mempunyai modulus elastisitas sekitar 30000 ksi (210 GPa); untuk aluminium, harganya sekitar 10600 ksi (73 GPa). Bahan yang lebih fleksibel mempunyai modulus elastisitas lebih rendah - untuk plastik sekitar 100 sampai 2000 ksi (0,7 sampai 14 GPa). Beberapa harga E yang representatifdicantumkan dalam Tabel H-2, Lampiran H. Untuk sebagian besar bahan, harga E pacta kondisi tekan hampir sama dengan pacta kondisi tarik. Modulus elastisitas sering disebut modulus Young, mengambil nama ilmuwan Inggris lain, Thomas Young (1773-1829). Dalam kaitannya dengan penyelidikan tarik dan tekan pacta batang prismatis, Young memperkenalkan ide "modulus elastisitas." Tetapi, modulus yang ia maksud tidak sama dengan yang kita gunakan dewasa ini karena besaran itu merupakan besaran yang berasal dari batang dan bahan (Ref. 1-7).
  • 35.
    22 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser • Rasio Poisson (a) (b) Gambar 1 -22 Perpanjangan aksial dan kontraksi lateral pada suatu batang yang mengalami tarik: (a) batang sebelum pembebanan, dan (b) batang sesudah pembebanan. (Deformasi batang digambar secara dibesarkan). Apabila suatu batang prismatis dibebani tarik, perpanjangan aksialnya disertai dengan kontraksi lateral (yaitu kontraksi tegak lurus arah beban). Perubahan bentuk ini ditunjukkan dalam Gambar l-22, di mana bagian (a) menunjukkan batang sebelum pembebanan dan bagian (b) menunjukkan batang setelah pembebanan. Dalam bagian (b), garis putus menunjukkan bentuk batang sebelum pembebanan. Kontraksi lateral dengan mudah dapat diibaratkan seperti menarik suatu karet gelang. tetapi pada metal perubahan dimensi lateral ini (dalam daerah elastis linierJ biasanya terlalu kecil untuk bisa dilihat. Sekalipun demikian, hal ini dapat dideteksi dengan alat ukur yang sensitif. Regangan lateral di setiap titik pada suatu batang sebanding dengan regangan aksial di titik tersebutjika bahannya elastis linier. Agar regangan lateral sama di seluruh panjang batang, maka kondisi tambahan harus ada. Pertama, gaya aksial harus konstan di seluruh panjang batang sedemikian hingga regangan aksial konstan. Kedua, bahannya harus homogen, artinya bahan tersebut harus mempunyai komposisi yang sama (sehingga besaran elastisnya sama) di setiap titik. Tentu saja, kita telah mengasumsikan bahwa bahan tersebut homogen sehingga tegangan dan regangan akan konstan di seluruh batang (lihat Subbab 1 .2). Namun perlu diingat bahwa mempunyai material yang homogen tidak berarti besaran elastisnya sama di segala arah. Sebagai contoh, modulus elastisitas dapat berbeda dalam arah aksial dan lateral. Dengan demikian, kondisi ketiga yang harus dipenuhi agar regangan lateral seragam adalah bahwa besaran elastis harus sama di semua arah yang tegak lurus sumbu longitudinal. Bahan, baik yang isotropik atau ortotropik (lihat definisi yang diberikan pada pragraf berikut ini) memenuhi kondisi tersebut.Apabila ketiga kondisi dipenuhi, sebagaimana sering dijumpai, maka regangan lateral di suatu batang yang mengalami tarik seragam akan sama di setiap titik di batang dan sama dalam semua arah lateral. Bahan yang mempunyai besaran yang sama dalam semua arah (aksial, lateral, dan di antaranya) disebut isotropik. Jika besarannya berbeda pada berbagai arah, maka bahan tersebut disebut anisotropik (atau aelotropik). Kasus khusus dari anisotropik terjadi jika besaran pada arah tertentu sama di seluruh bahan dan besaran di semua arah yang tegak lurus arah tersebut sama (tetapi berbeda dengan besaran pertama tadi) maka bahan itu disebut ortotropik. Plastik yang diperkuat dengan serat danbeton bertulang dengan batang tulangan baja adalah contoh bahan komposit yang memperlihatkan perilaku ortotropik. Rasio regangan lateral e' terhadap regangan aksial £ dikenal dengan rasio Poisson dan diberi notasi huruf Yunani v (nu); jadi, ( l -9) yang dapat ditulis ( l -10) Untuk suatu batang yang mengalami tarik, regangan aksial adalah positif dan regangan lateral negatif(karena lebar batang berkurang). Untuk tekan, kita mempunyai situasi sebaliknya, dengan batang menjadi lebih pendek
  • 36.
    Gambar 1-23 Perubahanbentuk elemen yang dipotong dari sebuah batang yang mengalami tarik. (Bentuk semula ditunjukkan dengan garis putus; bentuk terdeformasi ditunjukkan dengan garis padat.) Mekanika Bahan 23 (regangan aksial negatif) dan lebih lebar (regangan lateral positif). Dengan demikian, untuk bahan biasa, rasio Poisson selalu mempunyai harga positif. (Perhatikan bahwa dalam menggunakan persamaan 1-9 dan 1-10, kita harus selalu mengingat bahwa persamaan tersebut berlaku hanya pacta batang yang mengalami tegangan uniaksial; yaitu batang yang hanya mengalami tegangan normal a dalam arah aksial.) Rasio Poisson diberi nama untuk mengenang matematikawan Perancis terkenal Simeon Denis Poisson (1781-1840), yang berupaya menghitung rasio dengan menggunakan teori molekul bahan (Ref. 1-8). Untuk bahan isotropik, Poisson mendapatkan v = 1/4. Perhitungan yang lebih mutakhir yang didasarkan atas model struktur atomik yang lebih baik menghasilkan v = 113. Kedua harga ini cukup mendekati harga-harga aktual yang diukur, yang ada dalam selang 0,25 sampai 0,35 untuk sebagian besar metal dan beberapa bahan lain. Bahan yang mempunyai rasio Poisson sangat kecil antara lain gabus, yang mempunyai harga v pacta dasarnya nol, dan beton, dengan v antara 0,1 sampai 0,2. Limit atas teoretis untuk rasio Poisson adalah 0,5, sebagaimana diterangkan dalam pembahasan berikut tentang perubahan volume. Karet mempunyai v yang mendekati harga batas ini. Tabel rasio Poisson untuk berbagai bahan di dalam daerah elastis linier diberikan dalam Lampiran H (lihat Tabel H-2). Pacta sebagian besar keperluan, rasio Poisson dapat diasumsikan sama untuk kondisi tarik dan tekan. Apabila regangan di suatu bahan menjadi besar, rasio Poissonnya berubah. Sebagai contoh, pacta baja struktural rasio ini menjadi hampir 0,5 apabila luluh plastis teijadi. Jadi, rasio Poisson akan tetap konstan hanya di daerah elastis linier. Dari tinjauan yang lebih umum, rasio antara regangan lateral dan regangan aksial sering disebut rasio kontraksi. Tentu saja, dalam kasus khusus perilaku elastis linier, rasio kontraksi sama dengan rasio Poisson. • Perubahan Volume Karena dimensi suatu batang yang mengalami tarik atau tekan berubah jika beban diterapkan (Gambar 1 -22), maka volume batang berubah juga. Perubahan volume dapat dihitung dari regangan aksial dan lateral sebagai berikut. Kita ambil sebagian kecil elemen suatu bahan isotropik yang dipotong dari batang yang mengalami tarik (Gambar l -23). Bentuk semula y z
  • 37.
    24 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser dari elemen ini (yang ditunjukkan dengan garis putus) adalah paralele­ pipedum (balok) persegi panjang dengan sisi a, b, dan c masing-masing dalam arah x, y, z. * Sumbu x diambil dalam arah longitudinal batang, yang merupakan arah tegangan normal a yang diakibatkan oleh gaya aksial. Bentuk terdeformasi dari elemen ditunjukkan dengan garis padat. Perpanjangan elemen dalam arah pembebanan adalah ae, yang mana e adalah regangan aksial. Karena regangan lateral adalah -ve (lihat Persamaan 1-IO), maka dimensi lateral berkurang sebesar bve dalam arah y dan eve dalam arah z. Jadi, dimensi akhir dari elemen ini adalah a(l + e), b(l - ve), dan c(1 - ve); dengan demikian, volume akhir elemen adalah V1 = abc(l + e)( 1 - ve)(1 - ve) = V0(1 + e)(l - ve)(l - ve) (1-1 1) di mana V0 adalah volume semula abc. Apabila hasil di sisi kanan Persamaan (1-1 1) dibuka, maka kita akan mendapatkan suku-suku yang meliputi kuadrat dan pangkat tiga dari regangan aksial e. Dalam hal e yang sangat kecil dibandingkan dengan kesatuannya, maka kuadrat dan pangkat tiga darinya akan dapat diabaikan dibandingkan e itu sendiri dan dapat dihilangkan dari persamaan tersebut. Volume akhirnya menjadi (1-12) dan perubahan volumenya adalah (1-13) Perubahan volume satuan e didefinisikan sebagai perubahan volume dibagi dengan volume semula e = �V a - = e(1 - 2v) = - (1 - 2v) V0 E Besaran e juga dikenal dengan dilatasi. (1-14) Persamaan perubahan volume di atas dapat juga digunakan untuk tekan, yang mana regangan aksial e bertanda negatif dan volume batang berkurang. Dari persamaan untuk dilatasi (Persamaan 1-14), kita lihat bahwa harga rasio Poisson maksimum yang mungkin untuk bahan biasa adalah 0,5 karena harga berapapun yang lebih besar akan berarti bahwa dilatasi e menjadi negatif dan volume berkurang apabila bahan tersebut mengalami tarik, yang secara fisik jarang tetjadi. Sebagaimana telah disebutkan, untuk sebagian besar bahan v berharga sekitar 114 atau 113 di daerah elastis linier, yang berarti bahwa perubahan volume satuan ada dalam selang d3 sampai E/2. Contoh berikut ini mengilustrasikan perhitungan perubahan dimen­ sional pada batang prismatis. *Paralelepipedum adalah prisma yang dasarnya adalah paralelogram; jadi, suatu paralelepipedum mempunyai enam muka, masing-masing berupa paralelograrn. Muka-muka yang saling berhadapan adalah sejajar dan berupa paralelogram yang identik. Paralelepipedum persegi panjang mempunyai enarn sisi yang berbentuk persegi panjang
  • 38.
    Mekanika Bahan 25 •Contoh 1 -3 Gambar 1 -24 Contoh 1-3. Pipa baja yang mengalami tekan Sebuah pipa dengan panjang L = 4,0 ft, diameter luar d2 = 6,0 in dan diameter dalam d1 = 4,5 in dibebani gaya aksial tekan P= 140 k (Gambar 1-24). Bahan ini mempunyai modulus elastisitas E = 30.000 ksi dan rasio Poisson v = 0,30. Untuk pipa tersebut, tentukanlah besaran berikut: (a) perpendekan 8, (b) regangan lateral £, (c) pertambahan diameter luar &12 dan pertambahan diameter dalam D.dl' (d) pertambahan tebal dinding pipa D.t, (e) pertambahan volume bahan D.V, dan (f) dilatasi e. Solusi Luas penampang melintang A dan tegangan longitudinal a ditentukan sebagai berikut. A = �(d; - dn = �[(6,o in.)2 - (4,5 in.)2] = 12,37 in.2 p 140 k . 8 = - - = 2 = -1 1 ,32 ks1 (tekan) A 12,37 in. Karena tegangan jauh di bawah tegangan luluh (lihat Tabel H-3), Lampiran H), maka bahan berperilaku elastis linier dan regangan aksial dapat dihitung dari hukum Hooke: a £ = E -1 1,32 ksi = _377,3 x 10-6 30.000 ksi (a) Dengan telah diketahuinya regangan aksial, kita sekarang dapat menghitung perubahan panjang pipa (lihat Persamaan 1-2): y = t:L = (-377,3 X 10-6)(4,0 ft)(12 in./ft) = -0,01 8 in. .. Tanda negatif untuk 8 menunjukkan perpendekan pipa. (b) Regangan lateral dihitung dari rasio Poisson (lihat Persamaan 1-10): £! = -VE = -(0,30)(-377,3 X 10-6) = 1 13,2 X 10-6 .. Tanda positif untuk E! menunjukkan pertambahan dimensi lateral, sebagaimana diharapkan untuk kondisi tekan. (c) Pertambahan diameter luar sama dengan regangan lateral dikalikan diameter M2 = E!d2 = ( 1 1 3,2 x 10-6)(6,0 in.) = 0,000679 in. Dengan cara yang sama, pertambahan diameter dalam adalah M1 = E!d1 = (1 13,2 x 10-6)(4,5 in.) = 0,000509 in. .. .. (d) Pertambahan tebal dinding diperoleh dengan cara yang sama seperti pertambahan diameter; jadi, D.t = Eft = (1 13,2 x 10-6)(0,75 in.) = 0,000085 in. .. Hasil-hasil ini dapat diverifikasi dengan mencatat bahwa pertambahan tebal dinding sama dengan D.t = D.d z ; M 1 = �(0,000679 in. - 0,000509 in.) = 0,000085 in. sebagaimana diharapkan. Catat bahwa untuk kondisi tekan, ketiga besaran ini bertambah (diameter luar, diameter dalam, dan tebal).
  • 39.
    26 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser (e) Perubahan volume bahan dihitung dari Persamaan (1-13): LlV = V0E( I - 2v) = ALE(1 - 2v) = (12,37 in.2)(4,0 ft)(1 2 in./ft)(-377,3 x 10"6)(1 - 0,60) = --0,0896 in.3 .. Perubahan volume ini negatif yang menunjukkan pengurangan volume, sebagaimana diharapkan untuk kondisi tekan. (f) Akhirnya, dilatasi adalah (Persamaan 1-14) e = E(l - 2v) = (-377,3 X 10-6)(1 - 0,60) = --0,00015 yang berarti reduksi 0,015% pada volume bahan. .. Catatan: Hasil numerik yang dipero1eh dalam contoh ini mengilustrasikan bahwa perubahan dimensional pada bahan struktural yang mengalami kondisi pembebanan normal sangat kecil. Meskipun kecil, perubahan dimensi dapat merupakan ha! yang penting pada beberapajenis analisis (rnisalnya analisis struktur statis tak tertentu) dan dalam penentuan tegangan dan regangan secara eksperimental. TEGANGAN DAN REGANGAN GESER Pada subbab terdahulu, kita membahas pengaruh tegangan normal yang diakibatkan beban aksial yang bekerja pada batang lurus. Tegangan ini disebut "tegangan normal" karena bekerja dalam arah yang tegak lurus permukaan bahan. Sekarang kita akan meninjau jenis lain dari tegangan yang disebut tegangan geser yang bekerja dalam arah tangensial terhadap permukaan bahan. Sebagai ilustrasi tentang aksi tegangan geser, tinjaulah sambungan dengan baut seperti terlihat dalam Gambar l -25a. Sambungan ini terdiri atas batang datar A, pengapit C, dan baut B yang menembus lubang di batang dan pengapit. Akibat aksi beban tarikP, batang dan pengapit akan menekan baut dengan cara tumpu (bearing), dan tegangan kontak, yang disebut tegangan tumpu (bearing stresses), akan timbul. Selain itu, batang dan pengapit cenderung menggeser baut, dan kecenderungan ini ditahan oleh tegangan geser pada baut. Untuk memperjelas aksi tumpu dan tegangan geser, mari kita lihat sambungantersebut dari samping (Gambar 1-25b). Dengan sudut pandang ini kita menggambar diagram benda-bebas dari baut (Gambar 1-25c). Tegangan tumpu yang diberikan oleh pengapit ke baut ada di bagian kiri dari diagram benda bebas dan diberi label 1 dan 3. Tegangan dari batang ada di bagian kanan dan diberi label 2. Distribusi aktual tegangan tumpu sulit ditentukan sehingga biasa diasumsikan bahwa tegangan ini terbagi rata. Berdasarkan atas asumsi terbagi rata, kita dapat menghitung tegangan tumpu rata-rata ab dengan membagi gaya tumpu total Fb dengan luas tumpu Ab: (1-15)
  • 40.
    Gambar 1-25 Sambungandengan baut di mana bautnya dibebani geser ganda (b) (a) :1: (c) Mekanika Bahan 27 V ______.. Cl) m , n 1: I m n p ' q ______.. V id) (e) Luas tumpu didefinisikan sebagai luas proyeksi dari permukaan tumpu yang melengkung. Sebagai contoh, tinjau tegangan tumpu yang berlabel 1 . Luas proyeksi Ab di mana tegangan tersebut bekerja adalah persegi panjang yang mempunyai tinggi sama dengan tebal pengapit dan lebar sama dengan diameter baut. Selain itu, gaya tumpu Fb yang dinyatakan dengan tegangan berlabel 1 sama dengan P/2. Luas yang sama dan gaya yang sama berlaku untuk tegangan yang berlabel 3. Sekarang tinjau tegangan tumpu antara batang datar dan baut (tegangan yang berlabel 2). Untuk tegangan ini, luas tumpu Ab adalah persegi panjang dengan tinggi sama dengan tebal batang datar dan lebar sama dengan diameter baut. Gaya tumpunya sama dengan beban P. Diagram benda bebas dalam Gambar 1-25c menunjukkan bahwa ada kecenderungan untuk menggeser baut di sepanjang penampang mn dan pq. Dari diagram benda bebas mnpq dari baut (lihat Gambar 1-25d), kita lihat bahwa gaya geser V bekerja pada permukaan potongan dari baut. Pada contoh ini, ada dua bidang geser mn dan pq), sehingga baut ini dikatakan mengalami geser ganda (atau dua irisan). Dalam geser ganda, masing-masing gaya geser sama dengan setengah dari beban total yang disalurkan oleh baut, artinya V = P/2. Gaya geser adalah resultan dari tegangan geser yang terdistribusi di seluruh penampang melintang mn dan ditunjukkan dalam Gambar 1-25e. Tegangan ini bekerja sejajar permukaan potongan. Distribusi pasti dari tegangan ini tidak diketahui, tetapi jumlah terbesar di dekat pusat dan menjadi nol di lokasi tertentu pada tepinya. Sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 1-25e, tegangan geser biasanya diberi notasi huruf Yunani r (tau). Sambungan dengan menggunakan bautyang mengalami geser tunggal (atau satu irisan) ditunjukkan dalam Gambar l -26a, yang mana beban aksial P pada batang metal disalurkan ke flens kolom baja melalui sebuah baut. Potongan kolom (Gambar 1-26b) menunjukkan hubungan ini secara rinci. Juga, sebuah sketsa baut (Gambar 1-26c) distribusi tegangan tumpu yang diasumsikan yang bekerja pada baut. Sebagaimana telah disebutkan, distribusi aktual tegangantumpujauh lebih rumit dibandingkan yang terlihat
  • 41.
    r 28 Bab1 Tarik, Tekan, dan Geser Gambar 1 -26 Sarnbungan dengan rnenggunakan baut dirnana bautnya dibebani geser tunggal (a) (b) (c) (d) dalam gambar tersebut. Selain itu, tegangan tumpu juga terjadi terhadap kepala baut dan terhadap mur. Jadi, Gambar 1 -26c bukanlah diagram benda bebas-hanya tegangan tumpu ideal yang ditunjukkan dalam gambar tersebut. Dengan memotong melalui baut di potongan mn kita memperoleh distribusi tegangan tumpu sebagaimana terlihat dalam Gambar 1-26d. Diagram ini meliputi gaya geser V (sama dengan beban P) yang bekerja pada penampang melintang baut. Seperti telah disebutkan, gaya geser ini adalah resultan dari tegangan geser yang bekerja terhadap luas penampang melintang baut. Deformasi baut yang dibebani hingga mendekati kegagalan pada geser tunggal terlihat dalam Gambar 1-27 (bandingkan dengan Gambar l-26c). Dalam pembahasan terdahulu tentang sambungan yang menggunakan baut, kita mengabaikan gesekan antara elemen-elemen yang berhubungan. Adanya gesekan berarti bahwa sebagian dari beban dipikul oleh gaya geser, sehingga mengurangi beban pada baut. Karena gesekan tidak dapat diandalkan dan sulit untuk diestimasi, maka biasanya di dalam praktek diabaikan dalam perhitungan. Tegangan geser rata-rata pada penampang baut diperoleh dengan membagi gaya geser total V dengan luas A dari penampang melintang di mana gaya tersebut bekerja, sebagai berikut: (l-16) Dalam contoh Gambar 1-26, gaya geser V sama dengan beban P dan luas A adalah luas penampang melintang baut. Sementara dalam contoh Gambar 1-25, gaya geser V sama dengan P/2.
  • 42.
    Gambar 1 -27Kegagalan baut secara geser tunggal Beban Mekanika Bahan 29 Dari Persamaan (1-16) kita lihat bahwa tegangan geser, seperti tegangan normal, menunjukkan intensitas gaya, atau gaya per satuan luas. Jadi, satuan untuk tegangan geser sama dengan satuan untuk tegangan normal, yaitu psi atau ksi dalam satuan USCS dan pascal dalam satuan SI. Susunan pembebanan yang terlihat dalam Gambar 1-25 dan 1-26 adalah contoh geser langsung (atau geser sederhana) di mana tegangan geser dihasilkan oleh aksi langsung dari gaya-gaya dalam upaya memotong bahan. Geser langsung terjadi pada desain sambungan yang menggunakan baut, sendi, paku keling, kunci, las, atau !em. Tegangan geser juga timbul secara tidak langsung apabila elemen struktur mengalami tarik, torsi, dan lentur, sebagaimana dibahas masing-masing pada Subbab 2.6, 3.3, dan 5.8. • Kesamaan Tegangan Geser Pada Bidang-Bidang Yang Tegak Lurus Gambar 1 -28 Elemen kecil dari bahan yang mengalami tegangan dan regangan geser z Untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap tentang aksi tegangan geser, mari kita tinjau elemen kecil dari suatu bahan berbentuk paralelepipedum persegi panjang yang mempunyai sisi a, b, dan c masing-masing dalam arah x, y, dan z (Gambar l-28a). Muka depan dan belakang dari elemen ini tidak bertegangan. Sekarang asumsikan bahwa tegangan geser r terbagi rata di seluruh muka atas, yang mempunyai luas ac. Agar elemen berada dalam keseimbangan dalam arah x, maka gaya geser total rac di muka atas harus diimbangi oleh gaya geser yang sama besar tetapi berlawanan arah di muka bawah. Karena luas muka atas dan bawah sama, maka tegangan geser di kedua muka tersebut sama. p Tb 1 )' ' z s r (a) (b)
  • 43.
    30 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser Gaya r "' yang bekerja di muka atas dan bawah (Gambar l-28a) membentuk kopel dengan momen terhadap sumbu z sebesar rabc ' searah jarum jam dalam gambar tersebut.* Kesetimbangan elemen tersebut mengharuskan bahwa momen ini diimbangi oleh momen yang sama tetapi berlawanan arah yang berasal dari tegangan geser yang bekerja di muka samping elemen. Dengan menuliskan tegangan geser di muka samping sebagai r l ' kita lihat bahwa gaya-gaya geser vertikal sama dengan r 1b,. Gaya-gaya ini membentuk kopel yang berlawanan arah dengan momen r 1abc" Dari kesetimbangan momen terhadap sumbu z, kita lihat bahwa rabc sama dengan rtahc' atau r 1 = r. Dengan demikian, besar tegangan geser pada keempat muka elemen tersebut sama, seperti terlihat dalam Gambar 1-28a. Ringkasnya, kita sampai pacta observasi umum berikut: I. Tegangan geser pacta muka yang berhadapan (dan sejajar) dari suatu elemen sama besar dan berlawanan arah. 2. Tegangan geser di muka yang bersebelahan (dan tegak lurus) dari suatu elemen sama besar dan mempunyai arah sedemikian hingga tegangan-tegangan tersebut saling menuju atau saling menjauhi garis perpotongan kedua muka tersebut. Observasi ini diperoleh untuk elemen yang hanya mengalami tegangan geser (tanpa tegangan normal), seperti terlihat dalam Gambar l -28a. Keadaan tegangan seperti ini disebut geser murni dan dibahas lebih rinci pacta Subbab 3.5. Tetapi, untuk hampir semua tujuan, kesimpulan terdahulu masih berlaku, meskipun tegangan normal bekerja di masing-masing muka elemen. Alasannya adalah karena tegangan normal di muka yang berhadapan pacta elemen kecil biasanya sama besar dan berlawanan arah; jadi tidak mengubah persamaan keseimbangan yang digunakan untuk menghasilkan kesimpulan sebelumnya. • Regangan Geser Tegangan geser yang bekerja pacta suatu elemen bahan (Gambar l -28a) disertai regangan geser. Sebagai bantuan untuk memvisualisasikan regangan ini, kita perhatikan bahwa tegangan geser tidak mempunyai kecenderungan untuk memperpanjang atau memperpendek elemen dalam arahx, y, dan z - dengan perkataan lain, panjang sisi elemen tidak berubah. Gantinya, tegangan gesermenyebabkanperubahan bentuk elemen (Gambar l-28b). Elemen semula, yang berupa paralelepipedum persegi panjang, berdeformasi menjadi paralelepipedum miring,'' dan muka depan dan belakang menjadi rhomboids.*' ' Karena deformasi ini, maka sudut antara muka samping berubah. Sebagai contoh, sudut di titik q dan s, yang sebelum deformasi sebesar n/ 2, akan berkurang sebesar y menjadi n/2 - y (Gambar 1-28b). Pada saat yang sama, sudut di titik p dan r bertambah B/2 + y. Sudut r merupakan I ukuran distorsi, atau perubahan bentuk, dari elemen dan disebut regangan geser. Karena regangan geser merupakan sudut, maka ia dinyatakan dalam derajat atau radian. * Kopel terdiri atas dua gaya sejajar sarna besar tetapi berlawanan arah. ** Sudut miring dapat berupa sudut lancip atau tumpul. tetapi tidak sudut siku. *** Rhomboid adalah paralelogram dengan sudut rniring dan keempat sisinya tidak sama. (Rhombus adalah paralelorgrarn dengan sudut rniring dan keempat sisinya sama).
  • 44.
    Mekanika Bahan 31 •Konvensi Tanda untuk Tegangan dan Regangan Geser Sebagai suatu pertolongan dalam menetapkan perjanjian tanda untuk tegangan dan regangan geser, kita membutuhkan skema untuk meng­ identifikasi berbagai muka dari elemen tegangan (Gambar 1-28). Dengan demikian, kita akan merujuk pacta muka yang berorientasi ke arah positif dari sumbu-sumbu sebagai muka positif dari elemen. Dengan perkataan lain, muka positif mempunyai arah normal ke luar dalam arah positif sumbu koordinat. Muka yang berlawanan dengan ini adalah muka negatif. Jadi, dalam Gambar 1-28a, muka kanan, atas, dan depan adalah masing­ masing muka positif x, y, dan z, dan muka-muka lawannya adalah muka x, y, dan z yang negatif. Dengan menggunakan terminologi yang diuraikan dalam paragraf sebelum ini, kita dapat menyatakan perjanjian tanda untuk tegangan geser dengan cara berikut. Tegangan geser yang beker japada muka positifdari elemen adalah positifjika ia beker ja dalam arah positif dari salah satu sumbu koordinat dan negatifjika ia bekerja dalam arah negatif dari sumbu. Tegangan geser yang beker ja pada muka negatifdari suatu elenzen adalah positifjika ia beker ja dalam arah negatifdari sunzbu dan negatif jika ia beker ja dalam arah positif. Jadi, semua tegangan geser yang terlihat dalam Gambar 1-28a adalah positif. Perjanjian tanda untuk regangan geser adalah sebagai berikut. Regangan geser pada suatu elemen adalah positifjika sudut antara dua nzuka positif (atau dua muka negatif) berkurang. Regangan akan negatif jika sudut antara dua muka positif (atau dua muka negatij) bertambah. Jadi, semua regangan geser dalam Gambar 1-28b adalah positif, dan kita lihat bahwa tegangan geser positif disertai oleh regangan geser positif. • Hukum Hooke untuk Geser Besaran bahan untuk geser dapat ditentukan secara eksperimental dari uji geser langsung atau dari uji torsi. Uji torsi dilakukan dengan memuntir tabung lingkaran berlubang, sehingga menghasilkan keadaan geser mumi, sebagaimana akan diuraikan dalam Subbab3.5. Dari basil pengujian ini, kita dapat memplot kurva tegangan-regangan untuk geser (yaitu dia­ gram tegangan geser r versus regangan geser }1. Diagram ini mempunyai bentuk sama dengan diagram uji tarik ((J' versus E) untuk bahan yang sama, meskipun besamya berbeda. Dari kurva tegangan-regangan, kita dapat memperoleh besaran bahan seperti limit proporsional, modulus elastisitas, tegangan luluh, dan tegangan ultimate. Besaran-besaran dalam kondisi geser ini biasanya setengah dari besaran dalam kondisi tarik. Sebagai contoh, tegangan luluh untuk baja struktural yang mengalami geser adalah 0,5 sampai 0,6 kali tegangan luluh dalam kondisi tarik. Untuk banyak bahan, bagian awal dari kurva tegangan-regangan adalah garis lurus yang melalui titik asal, sebagaimana terjadi pacta kasus tarik. Untuk daerah elastis linier ini, tegangan geser dan regangan gesemya sebanding sehingga kita mempunyai persamaan berikut untuk hukum Hooke pada kondisi geser: (1-17) yang mana G adalah modulus elastisitas geser (disebut juga modulus rigiditas). Modulus geser G mempunyai satuan yang sama dengan modu­ lus tarik, E, psi atau ksi dalam satuan USCS dan pascal dalam satuan SI. 3 1-21 g tek 1gala gan c 1ih be �esar m lu u ke 1 likalil .ompc ya tu disalu dan 1as tu kan d •aut m Jenan �gal). ang b
  • 45.
    32 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser Untuk baja lunak, harga tipikal G adalah 1 1.000 ksi atau 75 GPa; untuk paduan aluminium, harga tipikalnya adalah 4000 ksi atau 28 GPa. Harga­ harga lainnya dicantumkan dalam Tabel H-2, Lampiran H. Modulus elastisitas untuk kasus tarik dan kasus geser dihubungkan dengan persamaan berikut: (1-18) di mana v adalah rasio Poisson. Hubungan ini, yang diturunkan dalam Subbab 3.6, menunjukkan bahwa £, G, dan v bukanlah besaran-besaran elastis bahan yang independen. Karena rasio Poisson untuk bahan biasa ada di antara nol dan setengah, kita lihat dari Persamaan (1-18) bahwa G harus dari sepertiga sampai setengah E. Contoh berikut ini mengilustrasikan beberapa analisis tipikal yang melibatkanpengaruh geser. Contoh l-4 berkenaan dengan tegangan tumpu dan geser di suatu sendi dan baut. Contoh 1-5 berkaitan dengan tegangan geser pada plat berlubang, dan Contoh l-6 meliputi pencarian tegangan geser dan regangan geser pada landasan elastomeric bearing yang mengalami gaya geser horizontal. • Contoh 1 -4 Sebuah batang dari baja yang merupakan pengekang dari sebuah kapal menyalurkan gaya tekan P = 54 kN ke dek dari sebuah tiang (lihat Gambar 1-29a). Batang tekan ini mempunyai penampang bujur sangkar berlubang dengan tebal dinding t = 12 mm (Gambar 1-29b), dan sudut e antara batang dan horizontal adalah 40". Sebuah sendi yang menembus batang tersebut menyalurkan gaya dari batang tekan kedua plat buhul G yang dilas ke plat landasan B. Empat baut angkur menghubungkan plat landasan ke dek. Diameter sendi adalah d p in = 18 mm, tebal plat buhul adalah tc = 15 mm, tebal plat landasan adalah t8 = 8 mm, dan diameter baut angkur ada1ah dbolt = 12 mm. Tentukan tegangan-tegangan berikut: (a) tegangan tumpu antara batang tekan dengan sendi, (b) tegangan geser di sendi, (c) tegangan tumpu antara sendi dan plat buhul, (d) tegangan tumpu antara baut angkur dan plat landasan, dan (e) tegangan geser di baut angkur. (Abaikan gesekan antara plat landasan dan dek.) Solusi (a) Tegangan tumpu antara batang tekan dan sendi. Harga rata-rata tegangan tumpu antara batang tekan dan sendi dapat dihitung dengan membagi gaya di batang tekan dengan luas tumpu antara batang tekan dan sendi. Luas tersebut sama dengan dua kali tebal batang tekan (karena tumpu terjadi di dua lokasi) dikalikan diameter sendi (lihat Gambar 1-29b). Jadi, tegangan tumpu adalah P 54 kN ahi = 2tdpin = 2(12 mm)(1 8 mm) = 125 MPa .. Tegangan ini tidak berlebihan untuk sebuah batang tekan yang terbuat dari baja karena tegangan luluhnya mungkin lebih besar daripada 200 MPa (lihat Tabel H- 3, Lampiran H).
  • 46.
    Gambar 1 -29Contoh 1 -4. (a) Hubungan sendi antara batang tekan S dan plat landasan B. (b) Potongan melintang yang melalui batang tekan S. Mekanika Bahan 33 Sendi (a) (b) (b) Tegangan geser di sendi. Sebagaimana terlihat dalam Gambar l-29b, sendi tersebut cenderung tergeser di dua bidang. yaitu bidang antara batang tekan dan plat buhul. Dengandemikian, tegangan geser rata-rata di sendi (yang mengalami geser ganda) sama dengan beban total yang diterapkan ke sendi dibagi dengan dua kali luas penampang: p r . = - ....,- - pm 2m : F 14 pm 54 kN 106 MPa .. 2;r(l 8 mm)2 14 Sendi biasanya terbuat dari baja berkekuatan tinggi (tegangan luluhnya lebih besar daripada 340 MPa) dan dapat dengan mudah menahan tegangan geser sebesar ini (tegangan luluh karena geser biasanya tidak kurang dari 50% tegangan luluh karena tarik). (c) Tegangan tumpu antara sendi danplat buhul. Sendi menumpu ke plat buhul di dua lokasi, sehingga luas tumpunya dua kali tebal plat buhul dikalikan diameter sendi; jadi, 54 kN .. 100 MPa 2(15 mm)(l 8 mm) yang lebih kecil daripada tegangan tumpu batang tekan. (d) Tegangan tumpu antara baut angkur dan plat landasan. Komponen vertikal gaya P (lihat Gambar l -29a) disalurkan ke tiang dengan adanya tumpu langsung antara plat landasan dan tiang. Namun, komponen horizontalnya disalurkan melalui baut angkur. Tegangan tumpu rata-rata antara plat landasan dan baut angkur sama dengan komponen horizontal dari gaya P dibagi dengan luas tumpu empat baut. Luas tumpu untuk satu baut sama dengan tebal plat dikalikan diam­ eter baut. Dengan demikian, tegangan tumpunya adalah (54 kN)(cos 40°) = 108 MPa 4(8 mm)(12 mm) .. (e) Tegangan geser di baut angkur. Tegangan geser rata-rata di baut angkur sama dengan komponen horizontal dari gaya P dibagi dengan luas penampang total empat baut (perhatikan bahwa setiap baut mengalami geser tunggal). Jadi, r _ Pcos 40° _ (54 kN)(cos 40°) = 1 19 MPa bolt - 4mt;olt I4 - 4;r( 12 mm)2 I4 .. Gesekan antara plat landasan dan tiang dapat saja mengurangi beban yang bekerja di baut angkur.
  • 47.
    34 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser • Contoh 1 -5 Gambar 1 -30 Contoh 1 -5 . Membuat lubang pada plat baja Sebuah pelubang (pembuat lubang) pada plat baja terlihat dalam Gambar l -30a. Asumsikan bahwa pelubang yang diameternya 0,75 in itu digunakan untuk melubangi plat yang tebalnya 1/4 in, seperti terlihat dalam Gambar 1 -30b. Jika gaya P = 28.000 lb dibutuhkan untuk itu, berapakah tegangan geser rata-rata di plat tersebut dan tegangan tekan rata-rata di pelubang? p j_ 0 . t = ,25 m. T (a) (b) Solusi Tegangan geser rata-rata di plat dihitung dengan membagi gaya P dengan luas geser plat. Luas geser A, sama dengan keliling lubang dikalikan tebal plat, atau A, = ndt = n(0,75 in.)(0,25 in) = 0,5890 in.2 di mana d adalah diameter pelubang, dan t adalah tebal plat. Dengan demikian, tegangan geser rata-rata di plat adalah p 28.000 lb r - - - = 47.500 psi cata-rata - A, - 0,5890 in.Z Tegangan tekan rata-rata di pelubang adalah p p 28.000 lb a = -- = -- = = 63.400 psi c �unch nd2 I4 7r(O,75 in.i /2 di mana Apunch adalah luas penampang pelubang. Catatan. Analisis ini sangat diidealisasi karena kita mengabaikan efek kejut yang terjadi apabila suatu pelubang menembus plat. (Peninjauan efek ini membutuhkan metode analisis lanjut di luar ruang lingkup mekanika bahan.) • Contoh 1-6 Sebuah bantalan yang biasa digunakan untuk memikul mesin dan gelagarjembatan terdiri atas bahan yang bersifat elastis linier (biasanya elastomer, seperti karet) yang dilapisi oleh plat baja (Gambar l -3la). Asumsikan bahwa tebal elastomer adalah h, dimensi plat adalah a x b, dan bantalan ini mengalami gaya geser horizontal V.
  • 48.
    (a) (b) Gambar 1 -31Contoh 1 -6. Bantalan yang mengalami geser Mekanika Bahan 35 Turunkanlah rumus tegangan geser rata-rata r ,.,•.,.,.di elastomer dan peralihan horizontal d di plat (Gambar 1-31b). Solusi Asumsikan bahwa tegangan geser di elastomer terbagi rata di seluruh volume. Dengan demikian, tegangan geser di setiap bidang horizontal yang melalui elas­ tomer sama dengan gaya geser V dibagi dengan luas bidang (Gambar 1-31 a): V r = - rata-rata ab Tegangan gesemya (dari hukum Hooke untuk geser) adalah (1-19) .. ( 1-20) di mana G, adalah momen bahan elastomerik. Akhimya. peralihan horizontal d sama dengan h tan ( (dari Gambar 1 -3lb): d = h tan r = h tan (_ _ ' _ ) �abG, ) ( 1 -21) .. Di dalam praktek, umumnya regangan geser ( adalah sudut yang kecil sehingga tan ydapat diganti dengan y, hV d = hy = abG, ( 1-22) .. Persamaan ( 1 -2 1 ) dan ( 1-22) memberikan hasil pendekatan untuk peralihan hori­ zontal plat karena keduanya berdasarkan asumsi bahwa tegangan dan regangan geser konstan di seluruh volume bahan elastomerik. Pada kenyataannya, tegangan geser adalah nol di tepi-tepi bahan (karena tidak ada tegangan geser di muka vertikal yang bebas), sehingga deformasi bahan akan lebih rumit daripada yang terlihat dalam Gambar 1-3 1b. Sekalipun demikian, jika panjang a dari plat cukup besar dibandingkan dengan tebal h dari elastomer, maka hasil di atas sudah memadai untuk tujuan desain. -· 1·• 7 I TEGANGAN IZIN DAN BEBAN IZIN Rekayasa dapat dengan bebas didefinisikan sebagai penerapan ilmu untuk tujuan umum dalam hidup. Untuk memenuhi misi tersebut, insinyur mendesain sangat banyak obyek untuk melayani kebutuhan masyarakat. Kebutuhan ini meliputi perumahan, pertanian, transportasi, komunikasi, dan berbagai aspek kehidupan modem lain. Faktor-faktor yang perlu ditinjau dalam desain meliputi kegunaan, kekuatan, tampilan, ekonomi, dan proteksi lingkungan. Dalam mempelajari mekanika bahan, desain utama yang diperhatikan adalah kekuatan, yaitu kapasitas obyek untuk memikul atau menyalurkan beban. Obyek yang harus menahan beban meliputi bangunan, mesin, containers, truk, pesawat terbang, kapal, dan sebagainya. Untuk mudahnya, kita akan merujuk semua obyek tersebut sebagai struktur; jadi, suatu struktur adalah setiap obyek yang harus memikul atau menyalurkan beban.
  • 49.
    36 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser Jika kegagalan struktural harus dihindari, maka beban yang dapat dipikul suatu struktur harus lebih besar daripada beban yang akan dialaminya pada masa pakai. Kemampuan suatu struktur untuk menahan beban disebut kekuatan, jadi kriteria terdahulu dapat ditulis ulang sebagai berikut. Kekuatan aktual suatu struktur harus melebihi kekuatan yang dibutuhkan. Rasio kekuatan aktual terhadap kekuatan yang dibutuhkan disebut faktor keamanan n: Faktor keamanan = Kekuatan aktual Kekuatan yang dibutuhkan (1-23) Tentu saja, faktor keamanan harus lebih besar daripada 1,0 jika kegagalan ingin dihindari. Bergantung pada situasinya, digunakan faktor keamanan dengan harga sedikit di atas 1 ,0 hingga 10. Penggunaan faktor keamanan di dalam desain bukanlah ha! yang sederhana karena baik kekuatan maupun kegagalan mempunyai arti yang beragam. Kekuatan dapat diukur dengan kapasitas pikul beban suatu struktur, atau dapat diukur dengan tegangan di bahan. Kegagalan dapat berarti fraktur dan kolaps lengkap dari suatu struktur atau dapat pula berarti bahwa deformasinya telah sedemikian besar sehingga struktur tersebut tidak dapat lagi berfungsi sebagaimana diharapkan. Jenis kegagalan yang terakhir ini dapat saja terjadi pada beban yang jauh lebih kecil daripada taraf beban yang menyebabkan kolaps aktual. Penentuan faktor keamanan harus juga memperhitungkan hal-hal seperti: probabilitas kelebihan behan secara tak terduga pada suatu struktur oleh beban yang melebihi beban desain; jenis beban (statik atau dinamik); apakah beban itu diterapkan sekali saja atau berulang; seberapa akurat beban diketahui; kemungkinan kegagalan fatik (lihat Subbab 2.9); ketidak­ tepatan konstruksi; variabilitas kualitas pekerjaan; variasi besaran bahan; cacat akibat korosi atau pengaruh lingkungan Jainnya; ketelitian metode analisis; apakah kegagalan gradual (sehingga ada peringatan terlebih dahulu) atau tiba-tiba (tanpa peringatan), konsekuensi kegagalan (kerusakan kecil atau kerusakan parah) dan tinjauan lainnya. Jika faktor keamanan terlalu kecil, maka kecenderungan gaga! akan lebih besar dan struktur tersebut akan tidak dapat diterima; jika faktor tersebut terlalu besar, maka struktur tersebut akan boros bahan dan mungkin juga tidak cocok untuk fungsinya (misalnya, struktur menjadi terlalu berat). Karena kerumitan dan ketidaktentuan itu, maka faktorkeamanan harus ditentukan berdasarkan probabilitas. Faktor keamanan biasanya ditetapkan oleh kelompok insinyur yang berpengalaman yang menuliskan standar dan spesifikasi yang dapat digunakan oleh perencana dan kadang-kadang ditetapkan sebagai hukum yang berlaku. Ketentuan dalam standar dan spesifikasi ditujukan untuk memberikan taraf keamanan yang masuk akal tanpa adanya biaya yang berlebihan. Faktor keamanan didefinisikan dan diterapkan dengan berbagai cara. Untuk sebagian besar struktur, bahannya harus berada dalam daerah elastis linier untuk mencegah terjadinya deformasi permanen apabila beban dihilangkan. Pada kondisi ini, faktor keamanan ditetapkan berdasarkan Juluhnya struktur. Luluh mulai terjadi apabila tegangan luluh tercapai di suatu titik sembarang di dalam struktur. Maka, dengan menerapkan faktor keamanan terhadap tegangan luluh (atau kekuatan Juluh), kita mendapatkan tegangan izin (atau tegangan ker ja) yang tidak boleh dilampaui di manapun di dalam struktur. Jadi,
  • 50.
    Mekanika Bahan 37 T .. Tegangan luluh egangan lZlll = Faktor keamanan atau, untuk tarik dan geser, masing-masing adalah ( 1-24) ( l-25a,b) di mana o:v dan '!" Y adalah tegangan luluh dan n1 dan n2 adalah faktor keamanan. Dalam desain gedung, faktor keamanan tipikal untuk luluh karena tarik adalah 1 ,67; jadi baja lunak yang mempunyai tegangan luluh 36 ksi mempunyai tegangan izin 21,6 ksi. Kadang-kadang faktor keamanan diterapkan pada tegangan ultimate, bukannya pada tegangan luluh. Metode ini cocok untuk bahan yang getas, seperti beton dan beberapa jenis plastik, dan untuk bahan yang tegangan luluhnya tidak terdefinisi dengan jelas, seperti kayu dan baja berkekuatan tinggi. Dalam hal ini, tegangan izin tarik dan geser adalah (Jizin ( l-26a,b) yang mana o:" dan '!"" adalah tegangan ultimate (atau kekuatan ultimate). Faktor keamanan terhadap kekuatan ultimate dari suatu bahan biasanya lebih besar daripada yang didasarkan atas kekuatan luluh. Untuk baja lunak, faktor keamanan sebesar 1 ,67 terhadap luluh sebanding dengan faktor keamanan sebesar kira-kira 2,8 terhadap kekuatan ultimate. Dalam desain pesawat terbang, biasanya digunakan sebutan margin keamanan, bukannya faktor keamanan. Margin keamanan didefinisikan sebagai faktor keamanan dikurangi satu: Margin keamanan = n - I ( 1-27) Margin keamanan sering dinyatakan dalam persen, di mana harga di atas dikalikan dengan 100. Jadi, suatu struktur yang mempunyai kekuatan ultimate 1 ,75 kali kekuatan yang dibutuhkan mempunyai faktor keamanan sebesar I ,75 dan margin keamanan sebesar 0,75 (atau 75%). Apabila margin keamanan berkurang menjadi no! atau lebih kecil, maka struktur itu akan (dapat dianggap) gaga! • Beban izin Sesudah tegangan izin ditetapkan untuk struktur dan bahan tertentu, beban izin pada struktur dapat ditetapkan. Hubungan antara beban izin dan tegangan izin bergantung pada jenis struktur. Dalam bab ini kita hanya memperhatikan jenis-jenis struktur yang mendasar saja, yaitu batang yang mengalami tarik atau tekan, dan sendi (atau baut) yang mengalami geser langsung dan tumpu. Pada struktur-struktur tersebut tegangan mempunyai distribusi yang terbagi rata (atau paling tidak dapat diasumsikan terbagi rata) pada suatu area. Sebagai contoh, dalam ha! suatu batang yang mengalami tarik, tegangannya mempunyai distribusi terbagi rata di potongan melintang asalkan gaya aksial resultannya bekerja melalui pusat berat penampang. Hal yang sama juga berlaku untuk tekan asalkan batangnya tidak mengalami tekuk. Dalam hal sendi yang mengalami geser, kita hanya meninjau tegangan geser rata-rata di potongan melintang, yang ekivalen dengan mengasumsikan bahwa tegangan geser mempunyai
  • 51.
    38 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser distribusi terbagi rata. Dengan cara yang sama, kita hanya meninjau harga rata-rata untuk tegangan tumpu yang bekerja di luas proyeksi dari sendi. Dengan demikian, dalam keempat kasus di atas, beban izin (juga disebutbeban yang diperbolehkan atau beban aman) sama dengan tegangan izin dikalikan dengan luas di mana beban tersebut bekerja: Beban izin = (Tegangan izin) (Luas) ( 1 -28) Untuk batang yang mengalami tarik dan tekan langsung (tidak acta tekuk), persamaan di atas menjadi pizin = <Jizin A (1-29) di mana <Yizin adalah tegangan normal izin dan A adalah luas penampang batang. Jika batang tersebut mempunyai lubang, maka luas neto biasanya digunakan apabila batang tersebut mengalami tarik. Luas neto adalah luas penampangbruto dikurangi luas yang hilang karena adanya lubang. Untuk tekan, luas bruto dapat digunakanjika lubang tersebut terisi oleh baut atau sendi yang dapat menyalurkan tegangan tekan. Untuk sendi yang mengalami geser langsung, Persamaan (1-28) menjadi (1-30) di mana rizin adalah tegangan geser izin dan A adalah luas di mana tegangan geser bekerja. Jika sendi tersebut mengalami geser tunggal, maka luasnya adalah luas potongan melintang sendi, danuntuk geserganda, maka luasnya adalah dua kali luas potongan melintang sendi. Akhimya, beban izin untuk tumpu adalah (1-31) di mana <r h adalah tegangan tumpu izin dan Ab adalah luas proyeksi dari sendi atau permukaan lain di mana tegangan tumpu tersebut bekerja. Contoh berikut ini mengilustrasikan bagaimana beban izin ditentukan jika tegangan izin untuk bahan diketahui. • Contoh 1-7 Sebuah batang baja yang berfungsi sebagai penggantung dan memikul mesin berat di suatu gedung pabrik terpasang pada suatu tumpuan dengan sambungan yang menggunakan baut seperti terlihat dalam Gambar 1 -32. Bagian utama dari penggantung ini mempunyai penampang persegi panjang dengan lebar b1 == 1,5 in. dan tebal t == 0,5 in. Di sambungannya, penggantung ini diperbesar hingga lebamya menjadi b2 == 3,0 in. Baut, yang menya1urkan beban dari penggantung kedua plat buhul, mempunyai diameter d == 1 ,0 in. Tentukan harga yang diizinkan untuk beban tarik P di penggantung yang didasarkan atas tinjauan berikut: (a) Tegangan izin di bagian utama dari penggantung adalah 1 6.000 psi, (b) Tegangan izin di penggantung di potongan melintang yang melalui baut adalah 1 1 .000 psi. (Tegangan izin di potongan tersebut lebih kecil karena adanya konsentrasi tegangan di sekitar baut.) (c) Tegangan tumpu izin di antara penggantung dan baut adalah 26.000 psi. (d) Tegangan geser izin di baut adalah 6.500 psi. (Catatan: Faktor keamanan untuk tarik, tumpu, dan geser telah diperhitungkan dalam menentukan tegangan izin.)
  • 52.
    Gambar 1-32 Contoh1-7. Peng­ gantung vertikal yang mengalami beban tarik P: (a) tampak depan sambungan baut, dan (b) tampak samping sambungan Penggantung � p (a) Solusi Mekanika Bahan 39 = l,O in. t=0,5 in. �p (b) (a) Beban izin P1 yang didasarkan atas tegangan di bagian utama penggantung sama dengan tegangan izin tarik dika1ikan 1uas penampang penggantung (Gambar 1-29): PI = o;,;nA = aizinblt = (16.000 psi)(1 ,5 in. X 0,5 in.) = 12.000 1b Beban yang 1ebih besar daripada ini akan menyebabkan ke1ebihan tegangan pada penggantung; artinya, tegangan aktua1 akan me1ebihi tegangan izin sehingga mengurangi faktor keamanan. (b) Di potongan melintang yang melalui baut, kita harus membuat perhitungan yang sama tetapi dengan tegangan izin yang berbeda dan luas yang berbeda pu1a. Luas penampang neto, yaitu 1uas yang tersisa dengan adanya lubang di batang tersebut, sama dengan lebar neto dikalikan teba1nya. Lebar neto sama dengan 1ebar bruto b2 dikurangi diameter 1ubang d. Jadi, persamaan untuk beban izin P2 di potongan ini ada1ah p 2 = o;,;nA = o;,;n(bz - d)t = ( 1 1 .000 psi)(3,0 in. - 1 ,0 in.)(0,5 in.) = 1 1 .000 lb (c) Luas tumpu antara penggantung dan baut ada1ah proyeksi dari 1uas kontak aktual. Luas proyeksi ini sama dengan diameter baut dika1ikan dengan teba1 bpenggantung sehingga beban izin yang didasarkan atas tumpu (Persamaan 1-3 1 ) adalah P3 = abA = abdt = (26.000 psi)(l ,0 in.)(0,5 in.) = 13.000 1b (d) Akhimya, beban izin P4yang didasarkan atas geser di baut sama dengan tegangan geser izin dikalikan 1uas geser (Persamaan 1 -30). Luas geser ini sama dengan dua kali 1uas baut karena baut tersebut mengalami geser ganda; jadi: P4 = r;,;"A = r;,;"(2)(wf/4) = (6.500 psi)(2)(n')(1,0 in.)2/4 = 10.200 1b
  • 53.
    40 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser Dengan membandingkan keempat hasil di atas, kita lihat bahwa harga beban terkecil adalah Beban ini, yang didasarkan atas geser di baut, merupakan beban tarik izin di penggantung. DESAIN UNTUK BEBAN AKSIAL DAN GESER LANGSUNG Di ctalam subbab sebelum ini kita membahas penentuan beban izin untuk struktur secterhana ctan pacta subbab-subbab sebelumnya kita telah melihat bagaimana mencari tegangan, regangan, ctan cteformasi pacta batang. Penentuan besaran-besaran ini ctikenal ctengan analisis. Di ctalam konteks mekanika bahan, analisis terctiri atas penentuan respons ctari struktur terhactap beban, perubahantemperatur, ctan aksi-aksi fisik lainnya. Berctasar­ kan respons ctari suatu struktur, kita menghitung tegangan, regangan, ctan cteformasi yang ctiakibatkan oleh beban. Respons juga merujuk ke kapasitas pikul beban ctari suatu struktur; beban izin pacta suatu struktur merupakan salah satu bentuk ctari respons. Suatu struktur ctisebut diketahui apabila kita mempunyai cteskripsi fisik lengkap suatu struktur, yaitu apabila kita mengetahui semua besaran. Besaran suatu struktur meliputi jenis-jenis elemen struktur ctan bagaimana elemen-elemen tersebut tersusun, ctimensi semua elemen struktur, jenis tumpuan, cti mana letaknya, material yang ctigunakan, ctan besaran bahan. Jacti, ctalam menganalisis suatu struktur, besaran diketahui dan respons harus dicari. Proses sebaliknya ctisebut desain. Dalam menctesain suatu struktur, kita harus menentukan besaran suatu struktur sedemikian hingga struktur tersebut dapat memikul beban yang ada dan berfungsi sebagaimana diharapkan. Sebagai contoh, salah satu masalah ctesain yang umum adalah menentukan ukuran elemen struktur untuk memikul beban yang ctiketahui. Menctesain suatu struktur biasanya merupakan proses yang jauh lebih panjang ctan lebih sulit ctibanctingkan ctengan menganalisisnya-memang, menganalisis suatu struktur, biasanya lebih ctari satu kali, pacta umumnya merupakan bagian tipikal ctari proses ctesain. Di ctalam subbab ini kita akan membahas ctesain ctalam bentuk yang paling menctasar ctengan cara menghitung ukuran yang ctibutuhkan untuk elemen tarik ctan tekan selain juga sencti ctan baut yang ctibebani geser. Dalam kasus-kasus tersebut proses ctesain cukup langsung. Dengan mengetahui beban-beban yang harus ctisalurkan ctan tegangan izin di bahan, kita dapat menghitung luas elemen yang dibutuhkan dari hubungan umum sebagai berikut (bandingkan dengan Persamaan 1-28): Luas yang dibutuhkan = Beban yang di�a�urkan Tegangan tzm (1-32) Persamaan ini dapat diterapkan pada setiap struktur yang mempunyai tegangan yang terbagi rata pada suatu area. (Penggunaan persamaan ini untuk mencari ukuran suatu batang yang mengalami tarik dan ukuran baut yang mengalarni geser diilustrasikan ctalam Contoh 1-8.) Selain tinjauan kekuatan, sebagaimana terlihat dalam Persamaan (1-32), desain suatu struktur juga dapat meliputi kekakuan dan stabilitas.
  • 54.
    Mekanika Bahan 41 Kekakuanmerujuk kepada kemampuan suatu struktur untuk menahan perubahan bentuk (misalnya, untuk menahan perpanjangan, lenturan, atau puntiran), dan stabilitas merujuk kepada kemampuan suatu struktur untuk menahan tekuk pada tegangan tekan. Pembatasan pada kekakuan kadang­ kadang diperlukan untuk mencegah deformasi berlebihan, seperti defleksi besar pada suatu balok yang dapatmempengaruhi kinerjanya. Tekuk adalah tinjauan utama dalam desain kolom, yang merupakan elemen struktur tekan langsing (Bab 1 1). Bagian lain dari proses desain adalah optimisasi, yang merupakan pekerjaan mendesain struktur terbaik agar memenuhi tujuan tertentu, seperti berat minimum. Sebagai contoh, mungkin ada banyak struktur yang dapat memikul beban yang diberikan, tetapi pada situasi tertentu struktur yang terbaik adalah yang teringan. Tentu saja, tujuan semacam berat minimum biasanya harus seimbang dengan pertimbangan umum, termasuk nilai estetika, ekonomis, lingkungan, politis, dan aspek-aspek teknis dari suatu proyek desain khusus. Dalam menganalisis atau mendesain suatu struktur, kita merujuk kepada gaya-gaya yang bekerja padanya sebagai beban atau reaksi. Beban adalah gaya aktifyang bekerja pada suatu struktur akibat beberapa sebab ekstemal, seperti gravitasi atau tekanan air. Reaksi adalah gayapasifyang timbul di tumpuan suatu struktur-besar dan arahnya ditentukan oleh struktur itu sendiri. Jadi, reaksi harus dihitung sebagai bagian dari analisis, sedangkan beban telah diketahui sebelumnya. Dalam menggambarkan diagram benda bebas, sebaiknya reaksi dibedakan dengan gaya-gaya lain yang bekerja. Cara umum yang biasa dilakukan adalah dengan menggunakan simbol garis panah yang dicoret untuk gaya reaksi. Konvensi ini diilustrasikan dalam contoh berikut dan di bagian lain dalam buku ini. • Contoh 1-8 Gambar 1 -33 Contoh 1-8. Rangka batang dua batang ABC yang memikul papan tanda yang beratnya W Rangka batang dua batang ABC yang terlihat dalam Gambar 1-33 mempunyai tumpuan sendi di titik A dan C, yang betjarak 2,0 m satu sama lain. Batang AB dan BC adalah batang baja yang dihubungkan oleh sendi di titik B. Panjang batang
  • 55.
    42 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser Gambar 1 -34 Diagram benda bebas untuk Contoh 1-8 2.0m I ReH � �W c&RillE�W D fEGEillE�illEillE�LiliHL�� o 8 ., tJ ---0,8 m ---1�--- 1,8 m -----+t-�"-+< Re Rev � 2,7 kN 2,7 kN 0,4 m (a) (b) BC adalah 3,0 m. Sebuah papan tanda yang beratnya 5,4 kN digantungkan pada batang BC di titik D dan E, yang masing-masing terletak di 0,8 m dan 0,4 m dari ujung-ujung batang. Tentukanlah luas penampang yang dibutuhkan untuk batang AB dan diam­ eter yang dibutuhkan untuk sendi di titik C jika tegangan izin tarik dan geser masing-masing adalah 1 25 MPa dan 45 MPa. (Catatan: Sendi di tumpuan mengalami geser ganda. Juga, abaikan berat batang AB dan BC.) Solusi Reaksi, gaya-gaya di batang, dan gaya geser di sendi. Gaya tarik FA8 di batang AB dan gaya geser Vc yang bekerja di sendi di C dapat diperoleh dari kesetimbangan. Kita mulai dengan diagram benda bebas seluruh rangka batang (Gambar 1 -34a). Pada diagram tersebut kita lihat semua gaya di rangka batang tersebut, yaitu beban-beban dari berat papan tanda dan gaya reaksi yang diberikan oleh tumpuan sendi di A dan C. Setiap reaksi ditunjukkan dengan komponen horizontal dan vertikal, dengan reaksi resultan ditunjukkan dengan garis putus. (Perhatikan penggunaan tanda panah yang dicoret untuk membedakan reaksi dan beban.) Komponen horizontal RAH dari reaksi di tumpuan A diperoleh dengan menjumlahkan momen terhadap titik C sebagai berikut (momen berlawanan jarum jam diberi tanda positif): RAH(2,0 m) - (2,7 kN)(0,8 m) - (2,7 kN)(2,6 m) = 0 Dengan memecahkan persamaan ini kita peroleh RAH = 4,590 kN
  • 56.
    Mekanika Bahan 43 Berikutnya,kita jumlahkan gaya-gaya dalam arah horizontal dan memperoleh RCH = RAH = 4,590 kN Untuk mendapatkan komponen vertikal dari reaksi di tumpuan C, kita perlu diagram benda bebas elemen struktur BC, seperti terlihat dalam Gambar l -34b. Dengan menjumlahkan momen terhadap joint B kita peroleh komponen reaksi yang dicari: LMc = 0 -Rcv(3,0 m) + (2,7 kN)(2,2 m) + (2,7 kN)(0,4 m) = 0 Rev = 2,340 kN Sekarang kita kembali ke diagram benda bebas keseluruhan rangka batang (Gambar 1 -34a) dan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah vertikal untuk mendapatkan komponen vertikal RAv dari reaksi di A.: RAV + Rev - 2,7 kN - 2,7 ki = 0 Rev = 3,060 kN Dengan diketahuinya komponen vertikal dan horizontal dari reaksi di A, maka kita dapat menghitung reaksi itu sendiri: Karena kita akan mengabaikan berat sendiri batang AB, maka gaya reaksi ini sama dengan gaya tarik FA8 pada batang tersebut: FAB = 5,516 kN Gaya geser Vc yang bekerja di sendi di C sama dengan reaksi Re (Gambar 1 -34a). Gaya ini diperoleh dari komponen RcH dan Rev sebagai berikut Jadi, kita sekarang telah mendapatkan gaya tarik FA8 di batang AB dan gaya geser Vc yang bekerja di sendi di C. Luas yang dibutuhkan. Luas yang dibutuhkan untuk batang AB dihitung dengan membagi gaya tarikdengan tegangan izin, asalkan tegangan dapat dianggap terbagi rata di penampangnya (lihar Persamaan 1-32): A = F AB AB (Jizin 5,5 16 kN = 44 1 mm2 1 25 MPa ' • Batang AB harus didesain dengan luas penampang melintang sama atau lebih besar daripada 44,1 mm2 agarmampumemikul berat papan tanda, yang merupakan satu-satunya beban yang kita tinjau. Sebagai contoh, jika batang ini berpenampang lingkaran, diameter yang dihitung harus sedikitnya 7,50 mm, sehingga diameter 8 atau 10 mm dapat digunakan. (Di dalam praktek, beban lain selain berat papan perlu ditinjau sebelum mengambil keputusan akhir tentang ukuran batang. Beban­ beban yang mungkin penting meliputi beban angin, beban gempa, berat sendiri orang yang bekerja pada rangka batang atau papan tanda, dan berat rangka batang itu sendiri. Luas yang dibutuhkan untuk sendi di C (mengalami geser ganda) adalah A . = � = 5,152 kN = 57,2 mm2 pm 2rizin 2(45 MPa) dan diameter yang dibutuhkan adalah: d p m �4�in /;r = 8,54 mm
  • 57.
    r 44 Bab1 Tarik, Tekan, dan Geser SOAL-SOAL BAB 1 I Sebuah sendi yang diametemya tidak kurang dari ini dibutuhkan untuk memikul berat papan tanda agar tegangan geser izin tidak dilampaui. Catatan: Dalam contoh ini, kita secara sengaja mengabaikan berat sendiri rangka batang di dalam perhitungan. Sekalipun demikian. setelah ukuran elemen struktur diketahui, maka beratnya dapat dihitung dan dimasukkan ke dalam dia­ gram benda bebas dalam Gambar 1 -34. Untuk mencari reaksi, berat tersebut dapat dipandang sebagai beban terpusat yang bekerja di titik tengah setiap batang, meskipun kita ketahui bahwa berat terdistribusi di sepanjang sumbu suatu batang. Apabila berat batang dimasukkan, maka desain batang AB menjadi lebih rumit karena batang ini bukan lagi merupakan batang yang mengalami tarik sederhana, melainkan balok yang mengalami kombinasi lentur dan tarik. Situasi yang sama juga terjadi pada batang BC. Pada batang BC, bukan hanya berat sendiri batang, melainkan juga berat sendiri papan tanda menyebabkan batang tersebut mengalami kombinasi lentur dan tekan. Desain elemen struktur semacam ini ditunda hingga kita mempelajari tegangan-tegangan yang terjadi pada balok (Bab 5). TEGANGAN DAN REGANGAN NORMAL dimensi yang ditunjukkan dalam gambar diukur tegak lurus garis kerja gaya P.) 1 .2-1 Sebuah batang metal ABC yang mempunyai dua penampang yang berbeda dibebani oleh gaya aksial P (lihat gambar). Bagian AB dan BC masing-masing adalah penampang lingkaran dengan diameter 1,75 in. dan 1,25 in.. Jika tegangan normal di bagian AB adalah 5000 psi, berapakah tegangan normal a8c di bagian BC? 1 .2-2 Hitunglah tegangan tekan ac di batang piston (lihat gambar) jika gaya P = 40 N diterapkan di pedal rem. (Catat bahwa garis kerja gaya P sejajar batang piston. Juga, diameter batang piston adalah 5 mm, dan 225 mm )-p 1 .2-3 Sebuah tabung aluminium lingkaran yang pan­ jangnya L = 20,0 in. dibebani gaya tekan P (lihat gambar). Diameter luar dan dalam masing-masing adalah 2,4 in. dan 2,0 in. Sebuah pengukur regangan diletakkan di luar batang untuk mengukur besarnya regangan normal dalam arah longitudinal. (a) Jika regangan normalnya adalah E = 570 x 10-6, berapakah perpendekan 8 dari batang tersebut? (b) Jika tegangan tekan di batang diharapkan sebesar 6 ksi, berapakah seharusnya beban P? Pengukur regangan f+-����- L = 20 in. �-�-+ 1 .2-4 Penampang melintang suatu pedestal beton yang dibebani terbagi rata secara tekan ditunjukkan dalam gambar. (a) Tentukan tegangan tekan rata-rata ac di beton jika besar beban 1 1,5 MN. (b) Tentukan koordinat .X dan y di titik di mana beban resultan harus bekerja agar menghasilkan tegangan normal terbagi rata.
  • 58.
    - � I 1,2 m 1al. o.sm .1 o,4 m , X 1 .2-5 Sebuah kawat baja ABC yang memikul lampu di titik tengahnya terpasang pacta tumpuan yang mempunyai jarak 5 ft satu sama lain (lihat gambar). Panjang kawat adalah 6 ft dan diametemya adalah 20 mil (diameter kawat biasa dinyatakan dalam mil; satu mil sama dengan 0,001 in.) Jika lampu tersebut mempunyai berat 13 lb, berapakah tegangan tarik a, di kawat? 1.2-6 Sebuah dinding penahan tanah ditopang oleh batang kayu pada sudut 30°dan ditumpu oleh blok beton, seperti terlihat pada bagian (a) dalam gambar. Batang penopang mempunyai jarak konstan sebesar 3 m. Untuk maksud analisis, dinding dan penopang diidealisasikan seperti terlihat pada bagian (b) dalam gambar, dengan dasar dari dinding dan kedua ujung batang penopang diasumsikan sendi. Tekanan tanah ke dinding diasumsikan berbentuk segitiga, dan gaya resultan di sepanjang 3 m dinding adalah F = 1 90 kN. Jika setiap (a) (b) tanah dinding penahan Mekanika Bahan 45 penopang mempunyai penampang bujur sangkar, 150 x 1 50 mm, berapakah tegangan tekan ac di batang penopang? 1 .2-7 Sebuah keretaberoda yang beratnya 16 k apabila terisi penuh ditarik perlahan-lahan pada jalur yang mir­ ing dengan menggunakan kabel baja (lihat gambar). Kabel ini mempunyai luas penampang efektif 0,471 in2 dan sudut miring 31o . Berapakah tegangan tarik a, pada kabel? 1 .2-8 Sebuah susunan kabel dan batang tekan ABC (lihat gambar) memikul beban vertikal P = 12 kN. Kabel tersebut mempunyai luas penampang efektif sebesar 160 mm2 dan batang tekan tersebut mempunyai luas 340 mm2• (a) Hitunglah tegangan normal aA8 dan a8c di kabel batang tekan, dan tunjukkan apakah masing-masing tarik atau tekan. (b) Jika kabel memanjang 1 , 1 mm, berapakah regangannya? (c) Jika batang tekan itu memendek 0,37 mm, berapakah regangannya? 1,5 m 1 1 1,5 m I � -1JJ O ._ v _ _ _ 2,0 m-1 p 1 .2-9 Sebuah struktur untuk menarik pipa ke luar dari tanah ditunjukkan dalam gambar. Sebuah kabel ABC terpasang pada pipa di A ke rangka kaku di C. Kabel keduaBDE dijepitkan ke kabel pertama di B dan dipasang ke rangka tersebut di E. Akhimya, seseorang menarik
  • 59.
    46 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser dalam arah vertikal ke bawah pacta kabel kedua di titik D dengan gaya Q. Panjang masing-masing kabel adalah sedemikian hingga AB vertikal, BD horizontal, BC mir­ ing dengan sudut kecil a terhadap vertikal, dan DE miring dengan sudut kecil f3 terhadap horizontal. Kedua kabel mempunyai luas penampang yang sama, A,. (a) Dapatkan :umus untuk menghitung gaya angkat P dan tegangan :ank maksimum CJ8c dan CJDE masing-masing di kabe1 ABC dan BDE. (b) Hitung1ah gaya angkat P dan :.:gangan maksimum untuk data sebagai berikut: Q = : 20 lb. a = 6°, f3 = 8°, dan A, = 0,1 19 in2• 1 .2-10 Sebuah pompa menggerakkan piston ke atas dan ke bawah di da1am air (lihat gambar). Batang pompa mempunyai diameter d = 20 mm dan panjang L = 1 10 m. Batang tersebut terbuat dari baja yang mempunyai beratjenis y= 77,0 kN/m3• Gaya tahanan yang berkaitan dengan piston selama bergerak ke bawah adalah 900 N dan selama bergerak ke atas adalah 1 0.800 N. Tentukan tegangan tarik dan tekan maksimum di batang pompa akibat efek gabungan dari gaya tahanan dan berat batang. (Catat bahwa untuk mudahnya, kita mengabaikan tinjauan lain seperti 1entur batang pompa dan efek-efek dinamis.) / / I 1 .2-1 1 Sebuah plat beton bertulang berbentuk bujur sangkar dengan sisi 8 ft dan teba1 9 in. diangkat dengan menggunakan empat kabel yang terpasang di pojok­ pojoknya, seperti ter1ihat dalam gambar. Kabel ini terpasang ke penggantung di suatu titik yang terletak 5 ft di atas permukaan atas plat. Kabel-kabel tersebut mempunyai luas penampang efektif A = 0, 1 2 in2• Tentukan tegangan tarik di kabel, CJ , . (Berat plat beton adalah 1 50 lbtfe.) bertulang *1 .2-12 Sebuah batang lingkaran ACB dengan panjang total 2L (lihat gambar) berotasi terhadap sebuah sumbu melalui titik tengah C dengan kecepatan sudut konstan m (radian per detik). Bahan batang mempunyai berat jenis y (a) Turunkan rumus untuk tegangan tarik CJ x di batang sebagai fungsi dari jarak x dari titik tengah C. (b) Berapakah tegangan tarik maksimum (Jmak,? A I, : c�) • . . . · . . · ls 0 _/ I +---- L _ _ ___ ___,. ___ _ . _ · L _____j' BESARAN MEKANIS DAN DIAGRAM TEGANGAN-REGANGAN 1 .3-1 Sebuah kawat baja panjang yang tergantung da1am arah vertika1 di da1am sebuah sumur kering harus memiku1 berat sendiri (lihat gambar). (a) Berapakah panjang terbesar (feet) yang dapat dimilikinya tanpa
  • 60.
    terjadi luluh, apabilategangan luluh baja diketahui 36 ksi? (b) Jika kawat yang sama digantung dari kapal di !aut, berapakah panjang yang terbesar? (Berat jenis baja dan air !aut tersedia di dalam Tabel H-1 , Lampiran H.) 1 .3-2 Tiga bahan yang berbeda A, B, dan C diuji tarik dengan menggunakan benda uji yang mem-punyai di­ ameter 1 2 mm dan panjang terukur 50 mm (lihat gambar). Pada saat gaga!, jarak antara tanda-tanda pengukur adalah masing-masing 54,1 ; 63,0; dan 70,6 mm. Juga, diameter penampang pada saat gaga! masing-masing adalah 1 1,50; 9,46; dan 6,01 mm. Tentukan persen perpanjangan dan persen reduksi luas di masing-masing benda uji, lalu dengan menggunakan penilaian pembaca sendiri, tentukan apakah bahan ini getas atau daktil. 1 .3-3 Sebuah struktur terdiri atas tiga batang berujung sendi dibebani gaya P (lihat gambar). Sudut antarabatang miring dan horizontal adalah a = 50°. Regangan aksial di batang tengahdiukursebesar0,049. Tentukan tegangan tarik di batang tepi jika terbuat dari senyawa aluminium yang mempunyai kurva tegangan-regangan seperti terlihat dalam Gambar 1-13. 1 .3-4 Sebuah benda uji dari plastik metakrilat diuji tarik pada temperatur kamar (lihat gambar), sehingga meng­ hasilkan data tegangan-regangan yang terlihat dalam tabel. Plotlahkurva tegangan-regangan dan tentukan limit proporsionalnya, modulus elastisitas (yaitu kemiringan bagian awal dari kurva tegangan-regangan), dan tegangan luluh pada offset 0,2%. Apakah bahan ini getas atau daktil? Mekanika Bahan 47 Data Tegangan-Regangan Untuk Soal 1 .3-4 Tegangan (MPa) Regangan 8,0 0,0032 1 7,5 0,0073 25,6 0,01 1 1 31, l 0,01 29 39,8 0,01 63 44.0 0,0184 48,2 0,0209 53.9 0,0260 58. 1 0,0331 62.0 0,0429 62. 1 Fraktur 1 .3-5 Data yang ditunjukkan dalam tabel berikut diperoleh dari uji tarik pada baja yang berkekuatan tinggi. Benda ujinya mempunyai diameter 0.505 in. dan panjang terukur 2,00 in. (lihat gambar). Perpanjangan total antara tanda-tanda pengukuran pada saat fraktur adalah 0,1 2 in. dan diameter minimumnya adalah 0,42 in. Plotlah kurva tegangan-regangan nominal untuk baja ini dan tentukanlah limit proporsionalnya, modulus elastisitas (kemiringan bagian awal dari kurva tegangan-regangan), tegangan luluh pada offset 0,! %, tegangan ultimate, persen perpanjangan pada 2,00 in., dan persen reduksi luas. Data Uji Tarik Untuk Soal 1 .3-5 Beban (lb) Perpanjangan (in.) 1 .000 0,0002 2.000 0,0006 6.000 0,0019 10.000 0,0033 1 2.000 0,0039 1 2.900 0,0043 1 3.400 0,0047 1 3.600 0,0054 1 3.800 0,0063 14.000 0,0090 14.400 0,0102 1 5.200 0,01 30 1 6.800 0,0230 1 8.400 0,0336 20.000 0,0507 22.400 0,1 108 22.600 fraktur 1 .3-6 Rasio kekuatan-berat dari suatu bahan struktural didefinisikan sebagai kapasitas pikul beban dibagi dengan beratnya. Untuk bahan yang mengalami tarik, kita menggunakan tegangan tarik karakteristik (sebagaimana
  • 61.
    48 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser diperoleh dari kurva tegangan-regangan) sebagai ukuran kekuatan. Sebagai contoh, baik tegangan luluh maupun tegangan ultimate dapat digunakan, bergantung pada penggunaannya. Jadi, rasio kekuatan-beban R,;w untuk bahan yang mengalami tarik didefinisikan sebagai a Rslw = Y di mana a adalah tegangan karakteristik dan y adalah berat jenis. Catat bahwa rasio ini mempunyai satuan panjang. Dengan menggunakan tegangan a" sebagai param­ eter kekuatan, hitunglah rasio kekuatan-berat (dalam satuan meter) untuk masing-masing bahan: senyawa alu­ minium 6061 -T6, Douglas-fir, nilon, baja struktural ASTM-A572, dan senyawa aluminium. (Dapatkan besaran material dari Tabel H-1 dan H-3 dalam Lampiran H. Jika pada tabel didapatkan suatu interval, ambillah harga rata-ratanya. 1 .3-7 Besaran mekanis suatu bahan struktural tersedia pada banyak buku rujukan dan laporan-laporan. Kunjungilah perpustakaan dan carilah diagram tegangan­ regangan untuk bahan struktura1 pilihan pembaca, misalnya aluminium, tembaga, fiberglass, magnesium, monel, nilon, atau titanium. Diagram ini dapat dalam satuan USCS atau SI. (a) Buatlah fotokopi dari diagram tersebut dan gunakanlah untuk menentukan sebanyak mungkin besaran bahan. (b) Berdasarkan atas informasi dari bagian (a) ditambah dengan bacaan-bacaan lain, tulislah deskripsi sebanyak satu halaman untuk bahan­ bahan tersebut. ELASTISITAS DAN PLASTISITAS 1 .4-1 Sebuah batang yang terbuat dari baja struktural yang mempunyai kurva tegangan-regangan seperti terlihat dalam gambar mempunyai panjang 4 ft. Tegangan luluh baja ini adalah 42 ksi dan kemiringan bagian linier awal dari kurva tegangan-regangan (modulus elastisitas) adalah 30 x I03 ksi. Batang ini dibebani secara aksial sampai memanjang 0,2 in. dan selanjutnya bebannya dihilangkan. Bagaimanakah panjang akhir batang dibandingkan dengan panjang semula? (Petunjuk: Gunakan konsep yang diilustrasikan dalam Gambar 1 - 1 8.) u (ksi) 40 30 ( I V 20 0 0,002 0,004 0,006 1 .4-2 Sebuah batang yang panjangnya 1,5 m terbuat dari baja struktural yang mempunyai kurva tegangan­ regangan seperti terlihat dalam gambar. Tegangan luluh baja ini adalah 250 MPa dan kemiringan bagian linier awal dari kurva tegangan-regangan (modulus elastisitas) adalah 200 GPa. Batang ini dibebani secara aksial sampai memanjang 7,5 mm, untuk selanjutnya beban dihilang­ kan. Bagaimanakah panjang akhir batang dibandingkan dengan panjang semula? (Petunjuk: Gunakan konsep yang diilustrasikan dalam Gambar 1 - 1 8.) u (MPa) 300 ' 0 V I j_ Ii V I 200 100 0,002 0,004 0,006 1 .4-3 Sebuah batang dari aluminium mempunyai panjang L = 4 ft dan luas penampang A = 0,75 in2• Bahan aluminium tersebut mempunyai kurva tegangan­ regangan seperti terlihat dalam Gambar 1-13 pada Subbab 1 .3. Batang ini dibebani oleh gaya P == 24 k dan selanjutnya beban dihilangkan. (a) Berapakah pemulihan regangan elastis jika kemiringan kurva tegangan-regangan (modulus elastisitas) adalah 10 x 106 psi? (b) Berapakah regangan residualnya? (c) Berapakah set permanennya? (d) Jika batang tersebutdibebani kembali, berapakah limit proporsionalnya? *1 .4-4 Sebuah batang bundar yang mempunyai panjang 3 m dan diameter 10 mm terbuat dari senyawa aluminium yang hubungan tegangan-regangannya dapat dinyatakan dengan persamaan - _a __ + l __Q__ [ ( )9] e - 70.000 1 7 270 di mana adalam MPa. Bentuk kurva tegangan-regangan ditunjukkan dalam gambar. Batang ini dibebani dengan gaya tarik P = 20 kN, lalu beban tersebut dihi1angkan. Berapakah set permanen batang ini? (J
  • 62.
    *1 .4-5 Sebuahbatang bundar yang mempunyai panjang 5 ft dan diameter 0,25 in. terbuat dari senyawa aluminium yang hubungan tegangan-regangannya dapat dinyatak:an dengan persamaan e = w�oo[1+ i(�Y] di mana a dalam ksi. Bentuk kurva tegangan-regangan ditunjukkan dalam gambar. Batang ini dibebani dengan gaya tarik P = 2,8 k lalu beban tersebut dihilangkan. Berapak:ah set permanen batang ini? HUKUM HOOKE DAN RASIO POISSON 1 .5-1 Sebuah batang bundar dari baja berkekuatan tinggi yang mempunyai modulus elastisitas E = 29 x 106 psi dan rasio Poisson v = 0,29 ditekan dengan gaya ak:sial P (lihat gambar). Sebelum beban diterapkan, diameter batang tersebut tepat 2,000 in. Jika pada saat dibebani diameter batang tersebut tidak: boleh melebihi 2,001 in., berapak:ah beban izin P? 2 in. p -�p 1 .5-2 Sebuah batang prismatis dengan penampang lingkaran dibebani gaya tarik P = 1 20 kN (lihat gambar). Batang ini mempunyai panjang L = 3,0 m dan diameter d = 30 mm. Batang ini terbuat dari senyawa aluminium (2014-T6) dengan modulus elastisitas E = 73 GPa dan rasio Poisson v = 1/3. Hitunglah perpanjangan 8, berkurangnya diameter M, dan berkurangnya volume LlV pada batang tersebut. p P= 120 kN 1 .5-3 Sebuah kawat baja berkekuatan tinggi yang diametemya 118 in. memanjang 1,41 in. apabila sepanjang 50 ft dari kawat tersebut dibebani gaya 850 lb. (a) Berapak:ah modulus elastisitas E baja ini? (b) Jika diam­ ete( kawat berkurang sebesar 0,000085 in., berapak:ah rasio Poisson? (c) Berapak:ah perubahan volume satuan untuk baja? Mekanika Bahan 49 1 .5-4 Sebuah batang bundar yang diametemya 10 mm terbuat dari senyawa aluminium 7075-T6. Apabila batang tersebut memanjang akibat gaya ak:sial P, diametemya berkurang 0,016 mm. Carilah besar beban P tersebut dan dilatasi batang. 1 .5-5 Sebuah batang dari metal monel (panjang 8 in., diameter 1 /4 in.) dibebani secara aksial oleh gaya tarik 1500 lb (lihat gambar). (b) Dengan menggunak:an data dalam Tabel H-2, Lampiran H, tentukanlah pertambahan panjang dan pengurangan diameter batang tersebut. (b) Tentukan pertambahan volume batang dan dilatasinya. 1 .5-6 Sebuah uji tarik dilakukan pada spesimen perunggu yang diametemya 10 mm dengan menggunak:an panjang pengukuran 50 mm (lihat gambar). Apabila beban tarik P mencapai harga 20 kN, jarak antara tanda­ tanda pengukuran bertambah 0,1 22 mm. (a) Berapak:ah modulus elastisitas E perunggu? (b) Jika diametemya berkurang 0,00830 mm, berapakah rasio Poisson? (c) Berapak:ah dilatasi batang ini? lO mm p *1 .5-7 Sebuah batang prismatis dibebani tarik oleh gaya ak:sial. Carilah rasio Poisson untuk bahan ini jika rasio perubahan volume satuan terhadap perubahan satuan luas penampang adalah -2/3. *1 .5-8 Sebuah plat yang panjangnya L dan lebamya b mengalami tegangan tarik terbagi rata a di kedua ujungnya (lihat gambar). Bahan plat ini mempunyai modulus elastisitas E dan rasio Poisson v. (a) Sebelum tegangan diterapkan, kemiringan garis diagonal OA adalah b/L. Berapak:ah kemiringannya apabila tegangan a bekerja? (b) Berapak:ah perubahan satuan luas muka plat? (c) Berapak:ah perubahan satuan luas penampang? t b t
  • 63.
    50 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser *1 .5-9 Turunkan rumus untuk pertambahan volume AV pada batang prismatis yang mempunyai panjang L dan tergantung secara vertikal akibat berat sendiri (W = berat total batang). REGANGAN DAN TEGANGAN GESER 1 .6-1 Beban vertikal P yang bekerja di roda sebuah crane adalah 1 3.000 lb (lihat gambar). Berapakah tegangan geser rata-rata r,.,a-rata di as yang diameternya 1 ,25 in. 1 .6-2 Sebuah blok kayu diuji geser langsung dengan menggunakan rangka pengujian dan benda uji seperti terlihat dalam gambar. Beban P menghasilkan geser di benda uji di sepanjang bidang AB. Tinggi h bidang AB adalah 50 mm dan lebarnya (dalam arah tegak lurus bidang gambar) adalah 100 mm. Jika beban P = 1 6 kN, berapakah tegangan geser rata-rata r ,.., _,.,. di kayu tersebut? Pengujian rangka 1 .6-3 Dua garis yang saling tegak lurus terdapat pacta suatu blok bahan. Apabila b1ok tersebut dibebani geser, maka garis-garis tersebut membentuk sudut 89,75°. Berapakah regangan geser di bahan? Jika modulus elastisitas adalah 10.600.000 psi dan rasio Poisson adalah 1/3, berapakah tegangan geser di bahan? 1 .6-4 Sebuah breket siku yang mempunyai tebal t = 1 8 mm dihubungkan pacta flens sebuah kolom dengan baut yang berdiameter 1 6 mm seperti terlihat dalam gambar. Beban yang terbagi rata bekeija di muka atas dari breket dengan tekanan p = 2,0 MPa. Muka atas dari breket ini mempunyai panjang L = 200 mm dan lebar b = 70 mm. Tentukan tekanan tumpu a, antara breket siku dan baut­ baut dan tegangan geser rata-rata r r otHata di baut. (Abaikan gesekan antara breket dan kolom.) Tampak Samping Tampak Depan 1 .6-5 Tiga plat baja, masing-masing mempunyai tebal 3/4 in., dihubungkan dengan dua paku keling 5/8 in. seperti terlihat dalam gambar. (a) Jika beban P = 1 6,0 k, berapakah tegangan tumpu maksimum a, pacta paku keling? (b) Jika tegangan geser ultimate (tegangan rata- P/2... 11( -- -., P/2... 11( -.- - d
  • 64.
    rata) di pakukeling adalah 32 ksi, berapakah gaya Pult dibutuhkan untuk menyebabkan paku keling gagal secara geser? (Abaikan friksi antar plat.) 1 .6-6 Sebuah rangkaACD terdiri atas pipa vertikal CD dan penopang AB yang terdiri atas dua batang datar (lihat gambar). Rangka ini ditumpu oleh hubungan yang menggunakan baut di titik A dan C yang jaraknya 2 in. satu sama lain. Penopang ini terpasang pada pipa di titik B ( 1 m di atas titik C) dengan menggunakan baut yang berdiameter 1 8 mm. Beban horizontal P bekerja di titik D (2 m di ats titik C). Jika beban P = 12 kN, berapakah tegangan geser rata-rata 't"rata-rala di baut di B? Potongan X-X 1 .6-7 Sebuah baut khusus yang mempunyai diameter d = 0,50 in. menembus lubang di sebuah plat baja (lihat gambar). Kepala baut yang berbentuk heksagonal menumpu langsung pada plat baja. Diameter lingkaran luar dari heksagonal adalah D = 0,80 in. (yang berarti bahwa setiap sisi heksagonal mempunyai panjang 0,40 in.). Juga, tebal t tiap kepala baut adalah 0,25 in. Untuk maksud perhitungan, asumsikan bahwa gaya tarik P di baut adalah 1000 lb. (a) Tentukan tegangan tumpu rata­ rata ub antara kepala heksagonal baut dan plat. (b) Tentukan tegangan geser rata-rata 't"rata·ratadi kepala baut. 1 .6-8 Sebuah plat baja yang berdimensi 2,5 x 1 ,2 x 0,1 m digantung dengan menggunakan kabel dan clevis di setiap ujungnya (lihar gambar). Sendi yang melalui clevises mempunyai diameter 18 mm dan terletak pada jarak 2 m satu sama lain. Setiap setengah kabel Mekanika Bahan 51 membentuk sudut 32° dengan vertikal. Untuk kondisi ini, tentukanlah tegangan geser rata-rata 't"rata-rata di sendi dan tegangan tumpu ub antara plat baja dan sendi. 1 .6-9 Torsi sebesar T0 = 75 k-in disalurkan antara dua batang berflens dengan empat baut yang berdiameter 3/ 4 in. (lihat gambar). Berapakah tegangan geser rata-rata 't" rata-rata di masing-masing baut jika diameter d lingkaran baut adalah 6 in.? 1 .6-1 0 Sebuah banta1an elastomerik yang terdiri atas dua plat baja yang melekat pada e1astomer khloropren (khloropren adalah karet buatan) mengalami gaya geser V pada saat diuji beban statik (lihat gambar). Bantalan tersebut mempunyai dimensi a = 1 20 mm dan b = 150 mm, serta elastomer tersebut mempunyai tebal t =
  • 65.
    52 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser .!(1 mm. Apabila gaya V sama dengan 5,4 kN, plat atas 'emyata beralih secara lateral 6,0 mm terhadap plat bawah. Berapakah modulus elastisitas geser G khloro­ pren? 1 .6-1 1 Sebuah hubungan fleksibel yang terdiri atas bantalan karet (tebal t = 0.5 in.) yang melekat pada plat baja terlihat dalam gambar. Bantalan tersebut mempunyai panjang 8,0 in. dan lebar 6,0 in. (a) Carilah regangan geser rata-rata Yrata-rata di karet jika gaya P = 3400 lb dan modulus geser untuk karet adalah G = 1 20 psi. (b) Carilah peralihan horizontal relatif 8antara plat tengah dan plat­ plat luar. p 2 ....._ p 2 Potongan X-X 1 .6-1 2 Sebuah rantai sepeda terdiri atas sederetan links masing-masing panjangnya sekitar 1 2 mm antara pusat sendi (lihat gambar). Untuk soal ini, pembaca harus menelaah rantai sepeda dan mengamati dengan baik konstruksi links. Perhatikan sendi melintang. yang akan kita asumsikan mempunyai diameter 2,5 mm. Sekarang pembaca harus membuat dua pengukuran: ( I ) panjang lengan engkol (crank arm), dan (2) jari-jari roda rantai. (a) Dengan menggunakan dimensi ini, hitung1ah gaya tarik T di rantai akibat gaya 800 N yang diterapkan di satu pedal. (b) Hitunglah tegangan geser rata-rata rra,a-mta di sendi. 2,5 mm *1 .6-13 Lekatan antarabatang tulangan dan beton diuji dengan "uji tarik lepas" suatu batang yang tertanam di dalam beton (lihat gambar). Sebuah gaya tarik P diterapkan di ujung batang, yang mempunyai diameter d dan panjang penanaman L. (a) Asumsikan bahwa tegangan geser (atau tegangan lekatan) antara batang tulangan dan beton mempunyai distribusi terbagi rata di seluruh panjang L. Selanjutnya, jika P = 4000 lb, d = 0,5 in., dan L = 1 2 in., berapakah tegangan geser rata-rata r,.,•.,.ta yang terjadi antara baja dan beton? (b) Dalam kenyataannya tegangan lekatan antara baja dan beton · selalu lebih kecil di dekat permukaan dan terbesar di ujung interior batang. Dengan demikian, untuk mendapatkan hasil yang sedikit lebih baik (tapi tetap masih belum begitu akurat), asumsikan bahwa tegangan geser r dapat dinyatakan dengan persamaan r = rmaks (4L3 - 9u? + 6x3) 4/J di mana rmaks adalah tegangan geser maksimum dan jarak x diukur dari ujung interior batang ke arah per­ mukaan beton. Kemudian, jika P = 4000 lb, d = 0,5 in., dan L = 1 2 in., berapakah tegangan geser maksimum rmaks ? *1 .6-14 Sebuah tuas digunakan untuk memuntir batang bulat dengan menggunakan kunci bujur sangkar yang pas pada slot di batang bulat, seperti terlihat dalam gambar. Batang bulat tersebut mempunyai diameter d, kunci tersebut mempunyai penampang bujur sangkar yang dimensinya b x b, dan panjang kunci adalah c. Kunci tersebut setengahnya masuk di tuas dan setengahnya lagi di batang (jadi slot di sama dengan bl Kunci L -----�-1
  • 66.
    2. Turunkan rumusuntuk tegangan geser rata-rata r cata-rata di kunci tersebut jika beban P diterapkan pada jarak L dari pusat batang. (Petunjuk: Abaikan pengaruh gesek­ an, asumsikan bahwa tekanan tumpu antara kunci dan tuas mempunyai distribusi terbagi rata, dan gambarlah diagram benda bebas tuas.) *1 .6-1 5 Rangka batang ABCDEFGH yang terlihat dalam gambar merupakan bagian dari jembatan kayu di atas sungai kecil. Rangka batang tersebut mempunyai tinggi h dan panjang panel b, dengan dimensi keduanya sama. Batang pada rangka batang tersebut yang bertemu di titik buhul H ditunjukkan secara rinci pada bagian kedua dalam gambar tersebut. Sebuah baut yang diametemya d = 1,5 in. menghubungkan batang-batang di titik buhul tersebut. Kita hanya akan meninjau pengaruh satu beban pada rangka batang yaitu beban P = I k yang bekerja di titik tengah (karena beban ini mempunyai harga satu, maka tegangan akibat beban yang besamya berapapun dapat diperoleh dengan perkalian). (a) Berapakah gaya geser maksimum Vmaks di baut di titik buhul H? (b) Berapakah tegangan geser rata-rata r rata-rata di baut di potongan yang mengalami gaya geser maksimum? B c D A *1 .6-16 Sebuah struktur peredam kejut yang terlihat dalam gambar digunakan untuk menumpu peralatan yang mahal. Struktur ini terdiri atas tabung baja dengan diam­ eter dalam b, batang baja dengan diameter d yang memikul beban P, dan silinder karet berlubang (tingginya h) yang melekat pada tabung dan batang tersebut. (a) Dapatkan rumus untuk peralihan ke bawah r dari batang akibat beban P, dengan mengasumsikan bahwa G adalah Mekanika Bahan 53 modulus elastisitas geser karet dan tabungbajadan batang adalah kaku. BEBAN IZIN Tabung baja Batang baja 1 .7-1 Sebuah struktur penarik di dek perahu layar terdiri atas batang bengkok yang dibaut di kedua ujungnya, seperti terlihat dalam gambar. Diameter db baut adalah 1/4 in., diameter d plat-antara adalah 7/8 in, dan tebal t dekfiberglass adalah 3/8 in. Jika tegangan geser izin fiberglass adalah 300 psi dan tekanan tumpu izin antara plat-antara dan fiberglass adalah 550 psi, berapakah beban izin P,i" di tali penarik? 1 .7-2 Sebuah batang aluminium AB terpasang pada suatutumpuan dengan sendi yang berdiameter d = 16 mm (lihat gambar). Batang ini mempunyai tebal t = 1 5 mm dan Jebar b = 40 mm. Jika tegangan tarik izin batang adalah 125 MPa dan tegangan geser izin di sendi adalah 75 MPa, carilah harga izin beban tarik P. t - - b J B �p
  • 67.
    r 54 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser 1 .7-3 Sebuah hubungan dengan menggunakan baut antara tiga elemen struktur kayu terlihat dalam gambar. Apabila baut tersebut dikencangkan, kayunya akan mengalarni tekan lateral, dan bautnya mengalami tarik. Tegangan tarik izin di baut yang berdiameter 114 in adalah 1 6.000 psi dan tegangan tumpu izin antara plat­ antara yang berdiameter 1,0 in. dan kayu adalah 400 psi. Berapakah gaya tarik izin maksimum T di baut? 1 .7-4 Sebuah gelagar memanjang kapal terpasang di dasar suatu tiang dengan menggunakan hubungan sendi (lihat gambar). Gelagar tersebut berupa tabung baja yang mempunyai diameter luar d2 = 80 mm dan diameter dalam d1 = 70 mm. Sendi baja tersebut mempunyai di­ ameter d = 25 mm, dan kedua plat yang menghubungkan gelagar ke sendi mempunyai tebal t = 12 mm. Tegangan izinnya adalah sebagai berikut: tegangan tekan di gelagar: 75 MPa, tegangan geser di sendi: 50 MPa, dan tegangan tumpu antara sendi dan plat penghubung: 120 MPa. Tentukanlah gaya tekan izin P;z;n di gelagar. Tiang 1 .7-5 Sebuah kawat baja panjang yang digantung pada balon memikul berat W di ujung bawahnya (lihat gambar). Kawat tersebut mempunyai diameter 1/16 in. dan panjang 250 ft. Berapakah berat maksimum Wmak, yang dapat dengan aman dipikul jika tegangan luluh untuk kawat adalah a,. = 50 ksi dan margin keamanan terhadap luluh yang digunakan adalah 1 ,5? (Masukkan berat kawat dalam perhitungan.) 1 .7-6 Berapakah besar gaya jepit maksimum yang mungkin ada pada tang yang terlihat dalam gambar jika ukuran a = 95 mm, b = 40 mm, dan tegangan geser ultimate di sendi yang berdiameter 5 mm adalah 310 MPa? Berapakah harga P yang diizinkan jika faktor keamanan sebesar 3 terhadap kegagalan sendi digunakan? 1 .7-7 Dua batang datar yang dibebani tarik oleh gaya P disambung dengan menggunakan dua plat penyambung persegi panjang dan dua paku keling yang berdiameter 5/8 in. (lihat gambar). Batang tersebut mempunyai lebar b = 1 ,0 in. (kecuali di sambungan, di mana batang lebih lebar) dan tebal t = 0,4 in. Batang tersebut terbuat dari baja yang mempunyai tegangan ultimate tarik sebesar 60 ksi. Tegangan ultimate geser dan tumpu untuk paku keling adalah masing-masing 25 ksi dan 80 ksi. Tentukanlah beban izin P;z;n jika faktor keamanan sebesar 2,5 terhadap beban ultimate digunakan. (Tinjaulah tarik
  • 68.
    di batang, geserdi palm keling, dan tumpu antara paku keling dan batang. Abaikan friksi antar plat.) b = l,O in. Plat penyambung t = 0,4 in. 1 .7-8 Sebuah tiang silinder yang mempunyai diameter luard2 = 90 mm dan diameter dalam d1 = 78 mm ditopang oleh dua kabel yang dilengkapi dengan wartel (lihat gambar). Kabel tersebut dikencangkan dengan memutarkan wartel, sehingga menimbulkan tarik di kabel dan tekan di tiang. Kedua kabel mempunyai sudut 60° dengan tanah. Tegangan tekan izin di tiang (untuk mencegah tekuk) adalah a , = 1 0.0 MPa. Kabel didesain untukbeban ultimate 29 kN dan faktor keamanan sebesar 3 terhadap beban ultimate dibutuhkan pada kabel. Berapakah gaya izin maksimum Tmaks yang dapat timbul di kabel dengan mengencangkan wartel? 1 .7-9 Piston pada sebuah mesin dihubungkan oleh batang penghubung AB ke tuas BC (lihat gambar). Pis­ ton tersebut bergeser tanpa friksi di dalam silinder dan mengalami gaya P (yang dianggap konstan) pada saat bergerak ke kanan dalam gambar. Batang penghubung, yang mempunyai luas penampang A dan panjang L, terpasang di kedua ujung dengan menggunakan sendi. Tuas berotasi terhadap poros di C dengan sendi di B yang bergerak dengan lingkaran denganjari-jari R. Poros di C, yang ditumpu oleh landasan, memberikan momen tahanan M terhadap tuas. (a) Dapatkan rumus untuk gaya Mekanika Bahan 55 izin maksimum Pizin yang didasarkan atas tegangan tekan a c di batang penghubung. (b) Hitunglah gaya P,zin untuk data berikut: a , = 22 ksi, A = 0,10 in.2, dan R = 0,28L. Piston Batang penghubung 1 .7-1 0 Sebuah batang metal AB yang beratnya W digantung dengan sistem kawat baja yang tersusun seperti terlihat dalam gambar. Diameter kawat adalah 2 mm, dan tegangan luluh baja adalah 450 MPa. Tentukan berat izin maksimum Wmah untuk faktor keamanan I,9 terhadap luluh. 0,75 m 0,75 m r------1- I,75 m-r------1 ' 1 ,75 m 1 n d � - - - � w � � � �� IT m A B 1 .7-1 1 Rangka batang yang dihubungkan sendi dalam gambar memikul tiga beban vertikal yang besarnya masing-masing 3 k. Selain itu, beban horizontal P beketja ke arah kanan di titik buhul C. Batang AB mempunyai luas penampang 3,13 in.2 dan tegangan izin tekan adalah 1 2.000 psi. Dengan hanya meninjau tegangan di batang AB, berapakah beban izin P?
  • 69.
    56 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser 1 .7-12 Sebuah batang yang berpenampang lingkaran (diameter d) mempunyai lubang ber diameter d/4 yang dibor dalam arah lateral menembus bagian tengah batang (lihat gambar). Tegangan tarik rata-rata izin di potongan melintang neto batang adalah aizin· (a) Dapatkan rumus untuk beban tarik izin Pizin yang dapat dipikul batang ini. (b) Hitunglah harga Pizin jika batang ini terbuat dari perunggu yang berdiameter d = 30 mm dan aizin = 75 MPa. (Petunjuk: Gunakan rumus Kasus 15 dalam Lampiran D.) 1 .7-13 Sebuah batang bundar yang berdiameter d1 = 2,25 in. mempunyai lubang dengan diameter d2 = 1,125 in. yang dibor melalui tengahnya (lihat gambar). Sebuah sendi baja menembus lubang tersebut dan terpasang ke tumpuan. Tentukan beban tarik izin maksimum Pizin di batang jika tegangan luluh untuk geser di sendi adalah rY = 17.000 psi, tegangan luluh tarik di batang adalah a, = 36.000 psi, dan faktor keamanan sebesar 2,0 terhadap luluh dibutuhkan. (Petunjuk: Gunakan rumus untuk Kasus 15 dalam Lampiran D.) *1 .7-1 4 Sebuah tali fleksibel yang panjangnya L, = I ,4 m diikat ke tumpuan di titik-titik A dan B (lihat gambar). Titik-titikA dan B mempunyai ketinggian yang berbeda, dengan titik B lebih rendah daripada titik A. Jarak hori­ zontal L antara kedua tumpuan sama dengan 1 ,2 m Beban P yang menggantung dari sebuah roda yang dapat bergerak tanpa gesekan di sepanjang tali sampai berada dalam posisi keseimbangan di C. Jika tali tersebut mempunyai kekuatan putus S = 160 N, dan jika faktor keamanan n = 2,5 diperlukan, berapakah beban izin P? DESAIN TERHADAP BEBAN AKSIAL DAN GESER LANGSUNG 1 .8-1 Sebuah elemen tekan di rangka batang gedung harus dapat menyalurkan gaya aksial P = 34 k (lihat gambar). Tebal dinding batang pipa tersebut adalah 0,375 in. Berapakah diameter luar minimum yang diperlukan dmin jika tegangan tekan izin adalah 9000 psi? � p p ...-- 1 .8-2 Sebuah bantalan baja yang memikul mesin dan peralatan berat terletak pada empat tiang besi tuang yang pendek dan berlubang (lihat gambar). Setiap tiang tersebut didesain terhadap beban tekan sebesar 280 kN. Kekuatan tekan izin besi tuang tersebut 350 MPa. Perencana memutuskan untuk mendesain tiang tersebut dengan tebal dinding t sebesar I 0 mm dan faktor keamanan 4,0 dengan menggunakan kekuatan ultimate. Hitunglah diameter luar dmin yang dibutuhkan untuk tiang. 1 .8-3 Sebuah tabung aluminium yang berfungsi sebagai penopang di badan dari sebuah pesawat terbang kecil (lihat gambar) harus menahan gaya tekan P = 580 lb. Untuk mencegah tekuk lokal dinding tabung, rasio di­ ameter luar d terhadap tebal t dinding tidak boleh melebihi 1 0. Selain itu, agar berat batang tekan seminimum mungkin, luas penampang harus sekecil mungkin, yang berarti bahwa tegangan tekan harus sama
  • 70.
    dengan tegangan izinsebesar 2000 psi. Berapakah di­ ameter luar terbesar yang diizinkan dmaks? 1 .8-4 Sebuah perahu digantung pada dua batang lengkung di kapal, seperti terlihat dalam gambar. Sendi yang melalui masing-masing batang memikul dua katrol, satu di setiap sisi batang. Kabel yang terpasang di perahu melewati katrol dan tergulung pada dongkrak yang dapat menaikkan dan menurunkan perahu. Bagian bawah dari kabel adalah vertikal dan bagian atasnya membentuk sudut a = 1 8" dengan horizontal. Gaya tarik di masing­ masing kabel adalah T = 8,0 kN apabila perahu tersebut diisi penuh. Berapakah diameter minimum dmin sendi yang menembus batang Iengkung berdasarkan atas tegangan geser izin 28 MPa? Batang lengkung T T 1 .8-5 Sebuah balok horizontal AB yang dipikul oleh batang tekan miring CD memikul beban P = 2600 lb di D Balok AB �--' Batang tekan CD ' Baut Mekanika Bahan 57 posisi yang terlihat dalam gambar. Batang tekan, yang terdiri atas dua batang, disambung ke balok dengan baut yang menembus ketiga batang yang bertemu di titik hubung C. Jika tegangan geser izin baut adalah 1 3.500 psi, berapakah diameter baut minimum yang diperlukan dmin? 1 .8-6 Dua batang yang berpenampang persegi panjang dan masing-masing mengalami beban tarik P = 3 1 kN disambung dengan satu baut AB (lihat gambar). Tegangan geser izin di baut adalah 90 MPa dan tegangan tumpu izin antara baut dan batang adalah 1 50 MPa. Jika tebal batang t adalah 1 5 mm, tentukan diameter baut mini­ mum dmin· yang diperlukan. A p B 1 .8-7 Sebuah silinder yang bertekanan mempunyai plat penutup yang dikencangkan dengan baut baja (lihat gambar). Tekanan p gas di silinder adalah 280 psi, di­ ameter dalam silinder D = 1 0 in., dan diameter baut db adalah 0,5 in. Jika tegangan tarik izin di baut adalah 10.000 psi, carilah banyaknya n baut yang diperlukan untuk mengencangkan plat penutup ini. Plat penutup 1 .8-8 Sebuah kotak untuk mengangkut pekerja dan barang-barang pada lokasi pelaksanaan pekerjaan diangkut dengan menggunakan crane (lihat gambar). Lantai kotak tersebut adalah persegi panjang dengan dimensi 2,4 m kali 3,6 m. Setiap kabel di pojok kotak tersebut mempunyai panjang 4,2 m dan terpasang di
  • 71.
    58 Bab 1Tarik, Tekan, dan Geser pojok. Massa kotak dan isinya dibatasi oleh ketentuan sebesar 4800 kg. Tentukan1ah luas penampang yang diperlukan Ar di setiap kabe1 jika kekuatan putus kabe1 adalah 580 MPa dan faktor keamanan 3,5 terhadap kegaga1an digunakan. 1 .8-9 Sebuah batang yang berpenampang persegi panjang dan mempunyai lebar 2 in. serta tebal l/4 in. mengalami beban aksial P (lihat gambar). Sebuah lubang dengan diameter d dibor hingga menembus batang tersebut untuk digunakan tumpuan sendi. Tegangan tarik izin di potongan melintang neto batang adalah 20 ksi, dan tegangan geser izin di sendi adalah 1 1 ,5 ksi. (a) Tentukanlah diameter sendi dm agar P dapat maksimum. (b) Tentukan harga beban maksimum Pma'-' tersebut. p p 1 .8-1 0 Sebuah kolom baja dari penampang lingkaran yang berlubang terletak pada p1at landasan baja lingkaran dan bantalan beton (lihat gambar). Kolom tersebut mempunyai diameter d = 250 mm dan memikul beban P == 750 kN. (a) Jika tegangan izin kolom adalah 55 MPa, berapakah tebal minimum yang diperlukan t? Berdasarkan atas hasil tersebut, pilihlah tebal ko1om. (Pilih tebal yang merupakan bilangan genap seperti 1 0, 12, 14, . . ., dalam satuan mm.) (b) Jika tegangan tumpu izin di bantalah beton adalah 1 1.5 MPa, berapakah di­ ameter minimum yang diperlukan D untuk plat landasan jika plat tersebut didesain terhadap beban izin P;,;n yang dapat dipiku1 oleh kolom yang tebalnya telah dipilih? Berdasarkan atas hasil tersebut. pilihlah diameter untuk plat landasan. (Pilih tebal yang merupakan bilangan genap, dalam satuan mm.) p Kolom -- d ----+1 i I *1 .8-1 1 Sebuah 1engan prismatis yang panjangnya L berotasi pada permukaan horizontal yang halus terhadap sumbu vertikal yang melalui titik C dengan kecepatan sudut konstan OJ (lihat gambar). Sebuah massa M1 terpasang di ujung bandul. Dengan menggunakan notasi p untuk rapat massa bahan bandul dan a, untuk tegangan tarik izin. turunkanlah rumus untuk luas penampang lengan A yang diperlukan. WA c;;� -,j ' ' ' ' L �1 �L *1 .8-12 Sebuah batang datar yang lebamya b = 50 mm dan teba1nya t = 6 mm dibebani tarik oleh gaya P (lihat gambar). Batang tersebut terpasang ke tumpuan dengan menggunakan sendi yang diametemya d yang menembus 1ubang yang berukuran sama di batang tersebut. Jarak antara lubang dan ujung batang adalah h = 25 mm. Tegangan tarik izin di potongan melintang neto dari batang (di sepanjang bidang ab dan cd) adalah a1 = 1 12 MPa, tegangan geser izin di sendi adalah r2 = 64 MPa, dan tegangan geser izin di batang di sepanjang bidang eb danfc ada1ah r3 = 43 MPa. (Kegagalan di sepanjang bidang eb danfc disebut "tear out. ") (a) Tentukan diam-
  • 72.
    eter sendi dmagar beban P dapat maksimum. (b) Tentukan harga beban pmaks yang berkaitan dengan diameter tersebut. e f p p *1 .8-1 3 Dua batang identik AC dan BC harus memikul beban vertikal P (lihat gambar). Jarak L antar tumpuan tidak dapat diubah, sedangkan sudut e dapat diubah dengan cara mengubah panjang batang. Kita mengamati bahwa apabila sudut e menjadi lebih kecil, batang tersebut menjadi lebih pendek tetapi luas penampangnya menjadi lebih besar (karena gaya aksial yang bekerja lebih besar). Sebaliknya, jika sudut emenjadi lebih besar, maka batang menjadi lebih panjang dan luasnya menjadi lebih kecil. Jadi, kita lihat bahwa berat struktur (yang sebanding dengan volume) merupakan fungsi dari sudut e. Tentukanlah sudut e sedemikian hingga struktur mempunyai berat minimum tanpa melampaui tegangan tarik izin pada batang. (Catatan: Berat batang sangat kecil dibandingkan dengan gaya P dan dapat diabaikan.) **1 .8-1 4Duabatang AC dan BC yang terbuat dari bahan yang sama harus memikul beban vertikal P (lihat gambar). Panjang L batang horizontal tidak dapat diubah, tetapi sudut 2 dapat diubah-ubah dengan cara memindah­ kan tumpuan A dalam arah vertikal dan mengubah panjang batang AC agar sesuai dengan posisi baru tumpuan A. Tegangan izin di batang sama untuk tarik Mekanika Bahan 59 dan tekan. Kita mengamati bahwa apabila sudut 2 berkurang, maka batang AC menjadi lebih pendek, tetapi luas penampang kedua batang tersebut akan bertambah (karena gaya aksialnya lebih besar). Efek sebaliknya teijadi jika sudut e bertambah. Jadi, kita lihat bahwa berat struktur ini (yang sebanding dengan volume) bergantung pada sudut e. Tentukanlah sudut esedemikian hingga strukturtersebut mempunyai berat minimum tanpa melebihi tegangan izin di batang. (Catatan: Berat batang jauh lebih kecil dibandingkan dengan gaya P sehingga dapat diabaikan.) ***1 .8-15 Sebuah batang prismatis AB yang panjangnya L dan mempunyaiberat W = 2.390 lb dipikul pada sudut 45" oleh batang baja tekan CD yang panjangnya U2 (lihat gambar). Batang tekan tersebutdiletakkan sedemi­ kian hingga gaya tekan yang dialaminya seminimum mungkin. Tentukan luas penampang yang diperlukan A, pada batang tekan jika tegangan tekan izin adalah aizin = 700 psi. (Abaikan berat batang tekan, dan asumsikan kondisi sendi di titik A, C, dan D.) (Petunjuk: Misalkan f3 adalah sudut antara batang tekan dan horizontal, yaitu sudut ACD. Kemudian, nyatakan gaya tekan FcD di batang tekan dalam sudut f3. Selanjutnya, carilah harga f3 yang menghasilkan FcD minimum. Akhimya, dengan diketahuinya harga f3, tentukanlah FCD dan luas A, yang diperlukan.)
  • 73.
    2 - ELEMEN STRUKTUR YANG DIBEBANI SECARAAKSIAL -· 2·• 1 I PENGANTAR Komponen struktur yang hanya mengalami tarik atau tekan dikenal sebagai elemen struktur yang dibebani secara aksial. Batang solid dengan sumbu longitudinal lurus adalah jenis yang paling urnurn digun<>hn namun kabel dan pegas koil juga dapat memikul beban aksial. Cc 1toh batang yang dibebani secara aksial adalah elemen pada ran mg, batang penghubung pada mesin, jeruji pada roda sepeda, kolom di gedung, dan batang tekan di penopang mesin pesawat terbang. Perilaku tegangan­ regangan di elemen seperti ini telah dibahas pada Bab 1, di mana kitajuga telah mendapatkan persamaan untuk tegangan yang bekerja pada penampang (er = PIA) dan regangan di arah longitudinal (E = 0/L). Di dalam bab ini kita tinjau beberapa aspek lain pada elemen struktur yang dibebani secara aksial, dimulai dengan penentuan perubahan panjang yang diakibatkan oleh beban (Subbab 2.2 dan 2.3). Perhitungan perubahan panjang merupakan bagian yang sangat penting dalam analisis rangka batang statis tak tentu, suatu topik yang diperkenalkan pada Subbab 2.4. Perubahan panjang juga harus dihitung apabila peralihan suatu struktur perlu dikontrol, apakah itu karena alasan estetika atau alasan fungsional. Dalam Subbab 2.5, kitamembahas efek temperatur terhadap panjang batang dan konsep tegangan-regangan termal. Tinjauan umum tegangan di batang yang dibebani secara aksial dibahas dalam Subbab 2.6, di mana kita membahas tegangan padapotongan miring (untuk membedakannya dengan potongan melintang) dari suatu batang. Meskipun hanya tegangan normal yang bekerja di suatu potongan melintang (penampang) dari batang yang dibebani secara aksial, pada potongan miring ada tegangan normal dan tegangan geser. Selanjutnya kita membahas beberapa topik penting lain tentang mekanika bahan, yang disebut energi regangan (Subbab 2.7), beban kejut (Subbab 2.8), fatik (Subbab 2.9), konsentrasi tegangan (Subbab 2. 10), dan perilaku nonlinier (Subbab 2.1 1 dan 2.12). Sekalipun masalah-masalah ini dibahas dalam konteks elemen dengan beban aksial, pembahasannya memberikan dasar untuk menerapkan konsep yang sama pada elemen struktural lainnya, seperti batang yang mengalami tarsi dan balok yang mengalami lentur.
  • 74.
    Gambar 2-1 Pegasyang meng­ alami beban aksial P --- Gambar 2-2 Perpanjangan pegas yang dibebani secara aksial f J_ r: - ::. () -�� /Jl �--, - rn � r k 'P I -- ti' r - ( - r� i. "--- · Mekanika Bahan 61 PERUBAHAN PANJANG PADA ELEMEN STRUKTUR YANG DIBEBANI SECARA AKSIAL Dalam menentukan perubahan panjang elemen struktur yang dibebani secara aksial, akan lebih mudah kalau dimulai dengan pegas koil (Gambar 2-1 ). Jenis pegas seperti ini banyak digunakan pada berbagai jenis mesin dan peralatan-misalnya ada beberapa lusin pada sebuah mobil. Apabila beban diterapkan di sepanjang sumbu pegas, seperti terlihat dalam Gambar 2-1, pegas tersebut akan memanjang atau memendek bergantung pada arah beban. Jika beban bekerja menjauhi pegas, maka pegas akan memanjang dan kita katakan bahwa pegas mengalami beban tarik. Jika beban bekerja ke arah pegas, maka pegas akan memendek dan kita katakan bahwa pegas tersebut mengalami tekan. Perlu diingat bahwa dalam terrninologi ini, masing-masing koil dari pegas tidak mengalami tarik atau tekan langsung, melainkan mengalami torsi (atau puntir) dan geser langsung. Sekalipun demikian, perpanjangan atau perpendekan menyeluruh suatu pegas analog dengan perilaku batang yang mengalami tarik atau tekan, sehingga terminologi yang sama kita gunakan. Perpanjangan suatu pegas ditunjukkan dalam Gambar 2-2. di mana bagian atas dari gambar menunjukkan pegas pada saat panjangnya merupakan panjang alami L Guga disebut panjang tak bertegangan, panjang rileks, atau panjang bebas), dan bagian bawah dari gambar menunjukkan efek penerapan beban tarik. Akibat aksi gaya P, pegas tersebut memanjang sebesar 8 dan panjang akhirnya menjadi L + 8. Jika bahan dari pegas tersebut elastis linier, maka beban dan perpanjangan akan sebanding: (2-la,b) di mana k dan f adalah konstanta proporsionalitas. Konstanta k disebut kekakuan pegas dan didefinisikan sebagai gaya yang menghasilkan perpanjangan satuan, artinya k = P/8. Dengan cara sama, konstanta f disebut fleksibilitas dandidefinisikan sebagai perpanjangan yang dihasilkan oleh beban sebesar satu, artinyaf= 8/P. Meskipun dalam pembahasan ini kita menggunakan pegas tersebut untuk tarik, jelaslah bahwa Persamaan (2-1a) dan (2-1b) juga berlaku pada pegas yang mengalami tekan. Dari pembahasan di atas, jelas bahwa kekakuan dan fleksibilitas pegas merupakan kebalikan satu sama lainnya: � - p ll ') e$-·;_;;;¥-'}·.,. . " . ,, (2-2a,b) Fleksibilitas pegas dapat dengan mudah ditentukan dengan mengukur perpanjangan yang dihasilkan dengan beban yang diketahui, dan kekakuan dapat dihitung dari Persamaan (2-2a). Sebutan lain untuk kekakuan dan fleksibilitas suatu pegas masing-masing adalah konstanta pegas dan kesesuaian pegas. Besaran pegas yang diberikan oleh Persamaan (2-1) dan (2-2) dapat digunakan dalam analisis dan desain berbagai alat mekanis terrnasuk'pegas seperti terlihat dalam Contoh 2-1 .
  • 75.
    62 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial • Batang Prismatis Gambar 2-3 Batang prismatis yang mempunyai penampang lingkaran Penampang solid Penampang berlubang Penampang terbuka berdinding tipis Gambar 2-4 Penampang elemen struktur yang khas Gambar 2-5 Perpanjangan batang prismatis yang mengalami tarik ' Batang yang dibebani secara aksial selalu memanjang akibat beban tarik dan memendek akibat beban tekan, sebagaimana terjadi juga pada pegas. Untuk menganalisis perilaku ini, tinjaulah batang prismatis yang terlihat dalam Gambar 2-3. Batang prismatis adalah elemen struktur yang mempunyai sumbu longitudinal lurus dan penampang konstan di seluruh panjangnya. Meskipun kita sering menggunakan batang berpenampang lingkaran di dalam ilustrasi, kita harus ingat bahwa elemen struktur mungkin mempunyai penampang yang bukan lingkaran seperti terlihat dalam Gambar 2-4. Perpanjangan 8pada suatu batang prismatis yang mengalami beban tarik P terlihat dalam Gambar 2-5. Jika beban bekerja melalui pusat berat penampang ujung, maka tegangan normal terbagi rata di penampang yang jauh dari ujung dapat dinyatakan dengan rumus a = PIA, di mana A adalah luas penampang. Selain itu, jika batang tersebut terbuat dari bahan yang homogen, maka regangan aksialnya adalah £ = 8/L, di mana 8 adalah perpanjangan dan L adalah panjang batang. Asumsikan bahwa bahannya elastis linier yang berarti bahwa hukum Hooke berlaku. Selanjutnya, tegangan dan regangan longitudinal dapat dihubungkan dengan persamaan a = Et:, di mana E adalah modulus elastisitas. Dengan menggabungkan hubungan-hubungan dasar ini, maka kita dapat menghitung perpanjangan batang: (2-3) Persamaan ini menunjukkan bahwa perpanjangan berbanding langsung dengan beban P dan panjang L dan berbanding terbalik dengan modulus elastisitas E serta luas penampang A. Hasil kali EA dikenal sebagai rigiditas aksial suatu batang. Meskipun Persamaan (2-3) diturunkan untuk elemen struktur yang mengalami tarik, namun persamaan tersebut berlaku juga untuk elemen struktur yang mengalarni tekan, di mana 8 menunjukkan perpendekan batang. Biasanya kita dapat mengetahui dengan cepat apakah suatU elemen struktur menjadi lebih panjang atau lebih pendek; namun, ada kalanya dibutuhkan perjanjian tanda (misalnya, untuk menganalisis batang statis tak tentu). Dalam hal seperti itu, perpanjangan biasanya bertanda positif dan perpendekan bertanda negatif. Perubahan panjang suatu batang biasanya sangat kecil dibandingkan panjangnya, khususnya jika bahannya berupa metal struktural, misalnya baja atau aluminium. Sebagai contoh, tinjaulah batang tekan aluminium yang panjangnya 75,0 in dan mengalami tegangan tekan 7000 psi. Jika modulus elastisitasnya 10.500 ksi, maka perpendekan batang tekan ini (dari Persamaan 2-3 dengan PIA digantikan dengan a) adalah 8 = 0,050 in. Dengan demikian, rasio perubahan panjang terhadap panjang semula adalah 0,05175, atau 111500, dan panjang akhimya adalah 0,999 kali panjang semula. Pada kondisi seperti ini, kita dapat menggunakan panjang semula suatu batang (bukan panjang akhir) dalam perhitungan. Kekakuan dan fleksibilitas suatu batang prismatis didefinisikan dengan cara yang sama seperti pada pegas. Kekakuan adalah gaya yang dibutuhkan
  • 76.
    Mekanika Bahan 63 untukmenghasilkan perpanjangan satuan, atau P/8, dan fleksibilitas adalah perpanjangan akibat beban satuan, atau 8/P. Jadi, dari Persamaan (2-3), kita lihat bahwa kekakuan dan fleksibilitas suatu batang prismatis masing­ masing adalah (2-4a,b) Kekakuan dan fleksibilitas suatu elemen struktural, termasuk yang diberikan dengan Persamaan (2-4a) dan (2-4b), mempunyai peran khusus dalam analisis struktur besar dengan menggunakan metode yang berorientasi komputer. • Kabel Gambar 2-6 Susunan tipikal strand dan wire pada kabel baja ' Kabel digunakan untuk menyalurkan gaya tarik besar, sebagai contoh, untuk menarik dan mengangkat benda berat, menaikkan elevator, dan memikul jembatan gantung. Tidak seperti pegas dan batang prismatis, kabel tidakdapat menahan tarik. Selain itu, kabel hanya mempunyai sedikit tahanan terhadap lentur sehingga sangat mudah menjadi berbentuk lengkung, bukannya lurus. Sekalipun demikian, kabel biasanya dipandang sebagai elemen struktur yang dibebani secara aksial karena hanya mengalami gaya tarik. Karena gaya tarik di kabel mempunyai arah di sepanjang sumbunya, maka gaya-gayanya dapat bervariasi, baik arah maupun besamya, bergantung pada konfigurasi kabel dan lokasi potongan yang ditinjau. Kabel terbuat dari sejumlah besar kawat yang dijalin secara teratur. Ada banyak jalinan kabel yang masing-masing bergantung pada tujuan penggunaannya. Salah satu yang umum terlihat dalam Gambar 2-6, yang dibentuk oleh enam strand yang dijalin secara helikal di sekeliling strand tengah. Setiap strand terdiri atas banyak kawat kecil, yang juga dijalin secara helikal. Karena itulah, kabel sering juga disebut sebagai tali kawat. Luas penampang kabel sama dengan luas penampang total masing­ masing kawat, yang disebut luas efektif atau luas metalik. Luas ini lebih kecil daripada luas Jingkaran yang mempunyai diameter yang sama dengan kabel karena ada ruang antara masing-masing kawat. Sebagai contoh, luas penampang aktual (luas efektif) suatu kabel yang berdiameter 1 ,0 in hanyalah 0,471 in2, sedangkan luas lingkaran yang berdiameter 1,0 in. adalah 0,785 in2 . Jika dibebani tarik, perpanjangan suatu kabel lebih besar daripada perpanjangan batang solid dari bahan dan luas penampang metalik yang sama karena kawat "mengencang" seperti yang terjadi pada serat pada tali rami. Jadi, modulus elastisitas (disebut modulus efektif) suatu kabel lebih kecil daripada modulus bahan pembentuk kabel. Modulus efektif kabel baja sekitar 20.000 ksi (140 GPa), di mana baja sendiri mempunyai modulus sekitar 30.000 ksi (210 GPa). Dalam menentukan perpanjangan kabel dari Persamaan (2-3), modulus efektif harus digunakan untuk E dan luas efektif harus digunakan untuk A. Di dalam praktek, dimensi melintang dan besaran kabel lainnya diperoleh dari pabrik kabel yang bersangkutan. Dalam memecahkan soal­ soal dalam buku ini (dan jelas bukan untuk aplikasi teknik), dicantumkan
  • 77.
    r 64 Bab 2E/emen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Tabel 2-1 yang memuat besaran suatu jenis kabel. Perhatikan bahwa kolom terakhir dalam tabel tersebut memuat kekuatan putus, atau beban ultimit. Beban izin diperoleh dengan menerapkan suatu faktor keamanan yang mempunyai harga dari 3 sampai 10, bergantung pada bagaimana kabel tersebut akan digunakan. Masing-masing kawat pada kabel biasanya terbuat dari baja yang berkekuatan tinggi, dan tegangan tarik yang dihitung pada beban putus dapat setinggi 20.000 + 0 psi (1400 MPa). Tabel 2-1 Besaran Kabel Baja Diameter Berat Luas Kekuatan nominal kira-kira efektif Putus (in.) (lb/ft) (in 2 ) (!b) 0,50 0,42 0,1 19 23.100 0,75 0,95 0,268 5 1.900 1 ,00 1,67 0,471 91.300 1,25 2,64 0,745 144.400 1,50 3,83 1 ,08 209.000 1 ,75 5,24 1 ,47 285.000 2,00 6,84 1 ,92 372.000 Contoh berikut ini menggambarkan cara menganalisis suatu peralatan sederhana yang terdiri atas pegas-pegas dan batang-batang. Solusinya membutuhkan penggunaan diagram benda bebas, persamaan keseimbangan, dan persamaan untuk perubahan panjang. Soal-soal di akhir bab dapat digunakan sebagai contoh tambahan. • Contoh 2-1 Sebuah rangka kaku ABC yang berbentuk L terdiri atas batang horizontal AB (panjang b = 1 1,0 in) dan batang vertikal BC (panjang c = 9,5 in) ditahan di titik B, seperti terlihat dalam Garnbar 2-7a. Titik B tersebut terhubung pada rangka luar BCD yang terletak di atas bangku laboratorium. Posisi penunjuk di C dikontrol oleh sebuah pegas (kekakuan k = 4,2 lb/in.) yang terpasang pada batang berulir. Posisi batang berulir dapat disesuaikan dengan cara memutar mur. Pitch pada uliran (yaitu jarak dari satu ulir ke ulir berikutnya) adalah p = 1/16 in, yang berarti bahwa satu putaran penuh dari mur akan menggerakkan batang sama besarnya. Pada awalnya, mur diputar hingga penunjuk di ujung batang BC tepat berada di atas tanda referensi rangka luar. Jika suatu benda yang beratnya W = 2 lb diletakkan pada penggantung di A, berapa putaran mur yang dibutuhkan untuk membawa penunjuk kembali ke posisi tanda? (Deformasi bagian-bagian metal dapat diabaikan karena biasanya kecil dibandingkan perubahan panjang pegas.)
  • 78.
    (a) Gambar 2-7 Contoh2-1. Rangka ABC yang berbentuk L yang ber­ tumpuan di B Solusi Mekanika Bahan 65 w ------ b ------•1 w F c (b) Pemeriksaan alat ini menunjukkan bahwa bobot W yang bekerja ke bawab akan menyebabkan penunjuk C bergerak ke kanan. Apabila penunjuk bergerak ke kanan, maka pegas akan memanjang sejauh tertentu yang dapat dihitung dari gaya F yang beketja di pegas. Gaya F dapat dihitung dari diagram benda bebas rangka dalam Gambar 2-7b. Perhatikan bahwa reaksi di titik B ditunjukkan dengan garis panab yang dicoret (lihat pembahasan tentang reaksi di akhir Subbab 1 .8). Dengan mengambil momen terhadap titik B, F = Wb c (a) Perpanjangan oyang berkaitan dengan gaya tersebut (dari Persamaan 2-l a) adalah (b) Untuk mengembalikan penunjuk ke posisi tanda, kita hams memutarkan mur agar batang berulir dapat bergerak ke kiri sedemikian hingga besarnya gerakan sama dengan perpanjangan pegas. Karena setiap satu putaran mur menggerakkan batang sejauh sama dengan pitch p, maka gerakan total batang akan sama dengan np, di mana n adalah banyaknya putaran. Jadi np = O = Wb ck sehingga kita mendapatkan rumus untuk banyaknya putaran mur: Wb n = - ckp (c) (d) • Untuk mendapatkan hasil numerik, kita memasukkan data yang ada ke dalam Persamaan (d), sebagai berikut Wb (2 lb)( l l ,O in.) """'" n = - = = 8,8 putaran ._ ckp (9,5 in.)(4,2 lb/in.)(l/l6 in.) Hasil ini menunjukkan bahwa jika kita memutar mur sampai 8,8 putaran, maka batang berulir akan bergerak ke kiri sejauh sama dengan perpanjangan pegas yang diakibatkan oleh beban 2 lb, sehingga mengembalikan penunjuk ke tanda referensi.
  • 79.
    66 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial • Contoh 2.2 Suatu struktur yang terlihat dalam Gambar 2-8a terdiri atas balok horizontal ABC yang ditumpu oleh dua batang vertikal BD dan CE. Batang CE mempunyai sendi di kedua ujungnya tetapi batang BD adalah jepit di pondasi di ujung bawahnya. Jarak dari A ke B adalah 450 mm dan dari B ke C adalah 225 mm. Batang BD dan CE mempunyai panjang masing-masing 480 mm dan 600 mm. Batang-batang ini terbuat dari baja yang mempunyai modulus elastisitas E = 205 GPa. Dengan mengasumsikan bahwa balok ABC adalah kaku, carilah beban izin maksimum Pmaks jika peralihan di titik A dibatasi I ,0 mm. Solusi Untuk mencari peralihan titik A, kita perlu mengetahui peralihan titik B dan C. Dengan demikian, kita harus mencari perubahan panjang batang BD dan CE, dengan menggunakan persamaan umum 8 = PUEA (Persamaan 2-3). Kita mulai dengan mencari gaya-gaya di batang dari diagram benda bebas (Gambar 2-8b). Karena batang CE mempunyai sendi di kedua ujungnya, maka ini merupakan elemen "dua-gaya" dan hanya menyalurkan gaya vertikal FCE ke balok. Sedangkan batang BD dapat menyalurkan baik gaya vertikal maupun gaya horizontal. Dari keseimbangan balok ABC di arah horizontal, kita melihat bahwa gaya-gaya hori­ zontal haruslah no!. Dua persamaan keseimbangan lainnya memungkinkan kita menyatakan gaya FBD dan FCE dalam beban P. Jadi, dengan mengambil momen terhadap titik B dan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah vertikal, maka kita dapatkan FeE = 2P (e) Perhatikan bahwa gaya FCE bekerja ke bawah di batang ABC dan gaya FBD bekerja ke atas. Dengan demikian, elemen struktur CEmengalami tarik dan elemen struktur BD mengalami tekan. Perpendekan elemen BD adalah s: FBDLBD 0 BD := EABD = (3 P)(480 mm) = 6 887 p x 10--6 mm (P = newton) (f) (205 GPa)(l020 mm2) ' Perhatikan bahwa perpendekan 8 BD dinyatakan dalam mm asalkan beban P dinyatakan dalam newton. Dengan cara sama, perpanjangan elemen CE adalah 8 CE = F CELCE EAcE = (2 ?)(600 mm) = 1 1,26 P x 10 --6 mm (205 GPa)(520 mm2 ) (P = newton) (g) Peralihan di sini pun dinyatakan dalam mm asalkan beban P dinyatakan dalam newton. Dengan diketahuinya perubahan panjang kedua batang, maka kita dapat mencari peralihan di titik A. Diagram peralihan yang menunjukkan posisi relatif titik A, B, dan C ditunjukkan dalam Gambar 2-8c. Garis ABC menunjukkan posisi awal ketiga titik. Sesudah beban Pdikeljakan, elemen BD memendek sebesar 8 BD dan titik B bergerak ke B'. Selain itu, elemen CE memanjang sebesar 8CE, dan titik C bergerak ke C'. Karena balok ABC diasumsikan kaku, maka titik A � B', dan C' terletak pada sebuah garis lurus. Agar lebih jelas, semua peralihan digambar dengan sangat dibesarkan. Pada kenyataannya garis ABC berotasi dengan sudut yang sangat kecil ke posisi baru A 'B'C' (lihat Catatan 2 di akhir contoh ini).
  • 80.
    Gambar 2-8 Contoh2-2. Balok horizontal ABC yang ditumpu oleh dua batang vertikal Mekanika Bahan 67 p 450 mm 225 mm 600 mm D 120 mmT--''--------- E (a) FeE 450 mm 225 mm (b) A" �- B" c - - - - - - - - - - - - - A : ()CE c {)A A' I 450 mm 225 mm (c) Dengan menggunakan segitiga yang sama, kita sekarang dapat mencari hubungan antara peralihan di titik A, B, dan C. Dari segitiga A J1 "C'dan B'B"C'kita peroleh A'A" B'B" 8A + DcE 8BD + DcE -- = -- atau = -E "-- -.!d2.. A"C' B"C' 450 + 225 225 (h) di mana semua suku dinyatakan dalam mm. Dengan memasukkan 8BD dan 8cE dari Persamaan (f) dan (g) didapatkan 8A + 1 1,26? X 10-6 _ 6,887P X 10-6 + 1 1,26? X 10-6 450 + 225 225 Akhimya, kita substitusikan 8A dengan harga batas sebesar 1,0 mm dan kita pecahkan persamaan tersebut untuk mendapatkan beban P. Hasilnya adalah P = Pmaks = 23.200 N (atau 23,2 kN) Apabila beban mencapai harga ini, maka peralihan ke bawah di titik A adalah l ,O mm.
  • 81.
    68 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Catatan 1: Karena struktur ini berpelilaku secara elastis Jinier, maka peralihan akan sebanding dengan besamya beban. Misalnya, jika bebannya setengah Pmaks' artinya jika P = 1 1 ,6 kN, maka peralihan titik A ke bawah adalah 0,5 mm. Catatan 2: Untuk menyelidiki kebenaran bahwa garis ABC berotasi dengan sudut yang sangat kecil. kita dapat menghitung sudut rotasi adali diagram peralihan (Gambar 2-8c) sebagai belikut: A'A" 8A + 8CE tan a = -- = --'-'---""'"' A"C' 675 mm (i) Peralihan �� titik A ada1ah 1 .0 mm. dan perpanjangan DcE batang CE didapat dari (g) dengan memasukkan P = 23.200 N; hasi1nya adalah 8CE = 0,261 mm. Dengan demikian, dari Persamaan (il kita peroleh tan a = 1 ,0 mm + 0.261 mm = 1,261 mm = 0,001868 675 mm 675 mm di mana a = 0,1 1°. Sudut ini sedemikian k.eci1nya sehingga jika kita mencoba untuk menggambar diagram peralihan dengan ska1a, kita tidak dapat membedakan antara galis semula ABC dan garis yang telah berotasi A 'B'C'. Jadi, dalam bekerja dengan diagram peralihan. kita biasanya dapat memandang peralihan sebagai besaran yang sangat kecil sehingga dapat menyederhanakan geometri. Dalam contoh ini, kita dapat mengasumsikan bahwa titik A, B, dan C bergerak hanya dalam arah vertikal, sedangkan jika peralihan sangat besar, maka kita mungkin harus memandang titik-titik tersebut bergerak pada alur yang lengkung. L_ ------------------------------------------------ PERUBAHAN PANJANG BATANG YANG TIDAK SERAGAM Apabila suatu batang prismatis dari bahan elastis linier dibebani hanya di ujung-ujungnya, maka kita dapat memperoleh perubahan panjangnya dari persamaan 8 = PUEA, sebagaimana diterangkan dalam subbab sebelum ini. Di dalam subbab ini kita akan melihat bagaimana persamaan yang sama dapat digunakan untuk situasi yang lebih umum. Tinjaulah, sebagai contoh, suatu batang prismatis yang dibebani oleh satu atau lebih beban aksial yang bekerja pada titik-titik antara di sepanjang sumbunya (Gambar 2-9a). Kita dapat menentukan perubahan panjang batang ini dengan secara aljabar menjumlahkan perpanjangan dan perpendekan masing-masing segmen. Prosedurnya adalah sebagai berikut: (l) Identifikasikan segmen-segmen batang ini (segmen AB, BC, dan CD) masing-masing sebagai segmen 1 , 2, dan 3. (2) Tentukan gaya aksial internal N1, N2, dan N3 di masing-masing segmen dari diagram benda bebas dalam Gambar 2-9b, c, dan d. Perhatikan bahwa gaya aksial inter­ nal diberi notasi N untuk membedakannya dengan beban luar P. Dengan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah vertikal, kita dapat memperoleh ekspresi berikut untuk gaya aksial Dalam menulis persamaan di atas, kita menggunakan perjanjian tanda yang telah disebutkan dalam subbab sebelum ini (gaya aksial internal
  • 82.
    Gambar 2-9 (a)Batang dengan beban luar yang bekerja di titik-titik antara. (b), (c), dan (d) diagram benda bebas yang menunjukkan gaya aksial internal N1 , N2• dan N3' Gambar 2-1 0 Batang yang terdiri atas segmen-segmen prismatis yang mempunyai gaya aksial berbeda, di­ mensi berbeda, dan bahan berbeda. Mekanika Bahan 69 bertanda positifjika tarik, dan negatif jika tekan). (3) Tentukan perubahan panjang masing-masing segmen dari Persamaan (2-3): 8 - NtLt 1 - EA 8 - N3L:3 3 - EA di mana Ll' L2, dan L3 adalah panjang masing-masing segmen dan EA adalah rigiditas aksial batang. (4) Jumlahkan 81' 82, dan 83 untuk mendapatkan perubahan panjang batang secara keseluruhan: 8 = 81 + 82 + 83 Seperti telah diuraikan, perubahan panjang harus dijumlahkan secara aljabar, dengan perpanjangan bertanda positif dan perpendekan bertanda negatif. t I Lz l -� r D D (a) (b) (c) (d) Metode yang sama dapat digunakan jika batang terdiri atas beberapa segmen prismatis, yang masing-masing mempunyai gaya aksial berbeda, dimensi berbeda, dan bahan berbeda (Gambar 2-10). Perubahan panjang dapat diperoleh dari persamaan (2-5) di mana subskrip i adalah indeks penomoran untuk berbagai segmen batang dan n adalah banyak total segmen. Ingat bahwa Ni bukanlah beban ekstemal melainkan gaya aksial internal di segmen i. Kadang-kadang gaya aksial Ndan luas penampang A bervariasi secara kontinu di sepanjang sumbu batang, seperti digambarkan dengan batang tak prismatis dalam Gambar 2-l la. Batang ini tidak hanya mempunyai penampang yang bervariasi secara kontinu, melainkan juga mempunyai gaya aksial yang bervariasi secara kontinu (karena bebannya terdistribusi di sepanjang sumbunya). Beban aksial yang terdistribusi dapat ditimbulkan oleh gaya sentrifugal, gaya gesekan, atau oleh berat batang jika posisinya
  • 83.
    r· - 70 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Gambar 2-1 1 Batang dengan luas penampang yang bervariasi dan gaya aksial yang bervariasi. c (a) (b) (c) vertikal. Pada kondisi-kondisi tersebut kita tidak dapat lagi menggunakan Persamaan (2-5) untuk menghitung perubahan panjang. Sebagai gantinya, kita harus menentukan perubahan panjang elemen diferensial dari batang (Gambar 2-1 la) dan mengintegrasikan di seluruh panjang batang. Kita memilih elemen diferensial pada jarak x dari ujung kiri batang (Gambar 2-1 la). Gaya aksial internal N(x) yang bekerja di penampang ini (Gambar 2-1 1b) dapat ditentukan dari keseimbangan dengan menggunakan segmen AC atau segmen CB sebagai benda bebas. Pada umumnya, gaya ini merupakan fungsi dari x. Juga, dengan mengetahui dimensi batang, kita dapat mengekspresikan luas A(x) sebagai fungsi dari x. Perpanjangan do pada elemen diferensial (Gambar 2-1 lc) dapat dihitung dari persamaan o = PUEA dengan memasukkan N(x) untuk P, dx untuk L, dan A(x) untuk A, sebagai berikut: do = N(x)dx EA(x) Perpanjangan batang secara keseluruhan dapat dihitung dengan mengintegrasi persamaan di seluruh panjang: (2-6) Jika ekspresi untuk N(x) dan A(x) tidak begitu rumit, maka integrasi ini dapat dilakukan secara analitis dan rumus untuk o dapat diperoleh, seperti digambarkan dalam Contoh 2-4. Namun, jika integrasi formal sulit atau tidak mungkin, maka metode numerik untuk mengevaluasi integral harus digunakan. Persamaan (2-5) dan (2-6) hanya berlaku pada batang yang terbuat dari bahan yang elastis linier, seperti terlihat dengan adanya modulus elastisitas E di dalam rumusnya. Juga, rumus o = PUEA diturunkan dengan menggunakan asumsi bahwa distribusi tegangan terbagi rata di setiap penampang (karena distribusi tersebut berdasarkan atas rumus <J = PIA). Asumsi ini berlaku untuk batang prismatis tetapi tidak berlaku untuk batang yang meruncing sehingga Persamaan (2-6) memberikan basil yang baik untuk batang yang meruncing hanya jika sudut antara sisi-sisi batang kecil. Sebagai ilustrasi,jika sudut antara sisi-sisi adalah 20°, maka tegangan yang dihitung dari persamaan <J = PIA (pada penampang yang dipilih secara bebas) adalah 3% lebih kecil daripada tegangan eksak di penampang yang sama yang dihitung dengan metode lain yang lebih lanjut. Untuk
  • 84.
    Mekanikct Bahan 71 sudutyang lebih kecil, galat (error) ini lebih kecil. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa Persamaan (2-6) cukup memadai jika sudut peruncingan kecil. Jika sudut tersebut besar, maka metode analisis yang lebih akurat dibutuhkan (Ref. 2-1). Contoh berikut ini menggambarkan penentuan perubahan panjang batang yang tak prismatis. • Contoh 2-3 Gambar 2-1 2 Contoh 2-3. Perubahan panjang batang yang tidak prismatis (batang ABC) ' Sebuah batang baja vertikal ABC ditumpu di ujung atasnya dan dibebani oleh gaya P1 di ujung bawahnya (Gambar 2-l2a). Sebuah balok horizontal BDE dihubungkan dengan batang vertikal tersebut dengan menggunakan sendi di titik hubung B dan balok tersebut ditumpu di titik D. Balok tersebut memikul beban P2 di ujung E. Bagian atas dari batang vertikal (segmenAB) mempunyai panjang L1 = 20,0 in. dan luas penampang A 1 = 0,25 in 2 ; bagian bawahnya ( segmen BC) mempunyai panjang L� = 30,0 in. dan luas A2 = 0,16 in 2 . Modulus elastisitas E baja adalah 29,0 x 10 psi. Bagian kiri dan kanan balok BDE mempunyai panjang masing­ masing a = 28 in. dan b = 25 in. Hitunglah peralihan vertikal Oc di titik Cjika beban P1 = 2250 lb dan beban P2 = 5800 lb. (abaikan berat batang dan balok.) (a) Solusi 1------- a-�+---- b-------+1 C fa -· · � :'fiJ'T H ! Tiiilt) tRD (b) c (c) Gaya aksial di batang ABC. Dari Gambar 2-12a, kita lihat bahwa peralihan vertikal titik C sama dengan perubahan panjang batang ABC. Dengan demikian, kita harus mencari gaya aksial di kedua segmen batang. Gaya aksial N1 di segmen bawah sama dengan beban P1. Gaya aksial N2 di segmen atas dapat dicari jika kita mengetahui gaya yang diberikan oleh balok ke batang. Gay.t ini dapat diperoleh dari diagram benda bebas balok (Gambar 2-1 2b), di mana gaya yang bekerja di balok (dari batang vertikal) diberi notasi P3 dan reaksi vertikal di tumpuan D diberi notasi RD. Tidak ada gaya horizontal yang bekerja antara batang dan balok, sebagaimana dapat kita lihat pada diagram benda bebas batang vertikal (Gambar 2-12c). Dengan demikian, tidak ada reaksi horizontal di tumpuan D.
  • 85.
    72 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Dengan mengambil momen terhadap titik D untuk diagram benda bebas balok (Gambar 2-12b), maka p 3 = P2b = (5800 lb)(25,0 in) = 5179 lb a 28,0 in Gaya ini bekerja ke bawah pada balok dan ke atas pada batang vertikal (Gambar 2-1 2c). Sekarang kita dapat menentukan reaksi ke bawah tumpuan batang di A (Gambar 2-1 2c): RA = P3 - P1 = 5179 lb - 2150 lb = 3029 lb Bagian atas dari batang vertikal (segmen AB) mengalami gaya aksial tekan N1 yang sama dengan RA, yaitu 3029 lb. Bagian bawah (segmen BC) memikul gaya tarik aksial N2 sama dengan PI' yaitu 2250 lb. (Sebagai alternatif, kita dapat memperoleh hasil yang sama dengan menggunakan diagram benda bebas keseluruhan struktur, bukannya diagram benda bebas BDE.) Perubahan panjang. Dengan menggunakan perjanjian tanda positif untuk tarik, Persamaan (2-5) menghasilkan 8 = � N;L; = N1� + N2Lz L-J E;A; EA1 EA2 i=l _ __, (� -=- 30 :..: 2 :_:_ 9 7 Ib ::.c )_c: (2 ::...: 0 ..:.. ,0 =--I = ·n"" .) -----o- + (2250 lb)(32,0 in.) (29,0 x 106 psi)(0,25 in.2 ) (29, 0 x 106 psi)(0,16 in.Z) -0,0084 in. + 0,0155 in. = 0,0071 in. di mana 8 adalah perubahan panjang di batang ABC. Karena 8 positif, maka batang tersebut memanjang. Peralihan titik C sama dengan perubahan panjang batang. De = 0,0071 in. Peralihan ini ke bawah. • Contoh 2-4 Sebuah batang AB yang agak meruncing yang mempunyai penampang lingkaran dan panjang L (Gambar 2-13a) ditumpu di ujung B dan mengalami beban tarik P di ujung bebas A. Diameter batang di ujung A dan B masing-masing adalah dA dan dB. Tentukanlah perpanjangan batang ini akibat beban P. B I x -------. 0�---����re��-�A ------L------. I: L, .- LB _ _ _ L---- Gamba r 2 - 1 3 Contoh 2-4 Perubahan panjang batang yang meruncing dan mempunyai pe­ nampang lingkaran. Solusi Batang yang dianalisis dalam contoh ini mempunyai gaya aksial konstan (sama dengan beban P) di seluruh panjangnya. Namun, luas penampang bervariasi secara kontinu dari satu ujung ke ujung lainnya. Dengan dernikian, kita hams menggunakan integrasi (lihat Persamaan 2-6) untuk menentukan perubahan panjang.
  • 86.
    Mekanika Bahan 73 Luaspenampang. Langkah pertama dalam penyelesaian soal ini adalah mendapatkan ekspresi untuk luas penampang A(x) di sembarang penampang batang. Untuk itu, kita harus menggunakan titik awal koordinat x. Salah satu kemungkinan adalah dengan menempatkan titik awal koordinat di ujung bebas A dari batang. Namun, integrasi yang akan dilakukan akan sedikit lebih mudah kalau kita memilih titik awal koordinat dengan meneruskan sisi-sisi batang yang meruncing hingga bertemu di titik 0, seperti terlihat dalam Gambar 2- 13b. Jarak LA dan L8 dari titik awal 0 ke ujung A dan B mempunyai rasio LA = dA LB dB (a) yang diperolehdari segitiga sebangun dalam Gambar 2- 13b. Dari segitiga sebangun juga kita dapat memperoleh rasio diameter d(x) di jarak x dari titik awal terhadap diameter dA di ujung kecil batang: atau (b) Dengan demikian, luas penampang melintang pada jarak x dari titik awal adalah 2 7rd2 2 A(x) = 7r[d(x)] = � 4 4L:4 (c) Perubahan panjang. Kita sekarang memasukkan ekspresi untuk A(x) ke dalam Persamaan (2-6) dan mendapatkan perpanjangan 8: (d) Dengan melakukan integrasi (lihat Lampiran C untuk rumus-rumus integrasi) dan memasukkan batas-batasnya, kita dapatkan Ekspresi untuk o dapat disederhanakan dengan mengingat bahwa Jadi, persamaan untuk 8 menjadi (e) Akhimya, kita masukkan LiL8 = dA/d8 (lihat Persamaan a) dan kita dapatkan 8 = (2-7) .. Rumus ini memberikan perpanjangan batang yang meruncing dengan penampang lingkaran. Dengan memasukkan harga-harga numerik, kita dapat menentukan perubahan panjang untuk suatu batang. Catatan 1 : Kesalahan yang umum terjadi adalah mengasumsikan bahwa perpanjangan suatu batang yang meruncing dapat ditentukan dengan menghitung perpanjangan batang prismatis yang mempunyai luas penampang sama dengan luas penampang di potongan tengah batang yang meruncing tersebut. Dengan memperhatikan Persamaan (2-7) terlihat jelas bahwa hal ini tidaklah benar.
  • 87.
    74 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial B Gambar 2-14 Batang statis tertentu B Gambar 2-15 Batang statis tak tentu Catatan 2: Rumus untuk batang yang meruncing (Persamaan 2-7) dapat disederhanakan menjadi kasus khusus batang prismatis dengan memasukkan dA = d8 = d. Hasilnya adalah yang kita ketahui memang benar adanya. Rumus umum seperti Persamaan (2-7) harus dicek sejauh mungkin dengan menyelidiki apakah rumus tersebut akan tereduksi menjadi rumus yang benar untuk kasus-kasus yang lebih sederhana. Jika reduksi tersebut tidak memberikan hasil yang benar, maka rumus semula mengandung kesalahan. Jika hasil yang benar diperoleh, maka rumus semula masih mungkin tidak benar tetapi keyakinan kita meningkat. Dengan perkataan lain jenis pengecekan seperti ini merupakan kondisi perlu tetapi belum cukup untuk menyelidiki kebenaran rumus semula. STRUKTUR STATIS TAK TENTU Pegas, batang, dan kabel yang kita bahas sejauh ini mempunyai kondisi penting yang sama-reaksi dan gaya-gaya internalnya dapat ditentukan cukup dengan menggunakan diagram benda bebas dan persamaan keseimbangan. Jenis struktur seperti ini disebut statis tertentu. Kita perlu mengingat khususnya bahwa gaya-gaya pada struktur statis tertentu dapat diperoleh tanpa harus mengetahui besaran bahan. Tinjaulah, sebagai contoh, batang AB yang terlihat dalam Gambar 2-14. Perhitungan untuk gaya aksial internal di kedua bagian batang, selain juga untuk reaksi R di dasar, tidak bergantung pada bahan pembentuk batang tersebut. Kebanyakan struktur lebih rumit daripada batang yang ada pada Gambar 2- !4, dan reaksi serta gaya internalnya tidak dapat diperoleh dengan statika saja. Situasi ini digambarkan dalam Gambar 2-15, yang menunjukkan sebuah batang AB yang terjepit di kedua ujung. Sekarang ada dua reaksi vertikal (RA dan R8) tetapi hanya satu persamaan keseimbangan yang dapat digunakan, yaitu persamaan yang menjumlahkan gaya-gaya dalam arah vertikal. Kar�na persamaan ini mengandung dua anl!_, maka persamaan tersebut tidak cukup untuk mencari reaksi. Struktur seperti ini dikelompokkan ke dalam struktur statis tak tentu. Untuk menganalisis struktur seperti ini kita harus melengkapi persamaan keseimbangan dengan persamaan tambahan yang berkaitan dengan peralihan struktur. Untuk melihat bagaimana struktur statis tak tentu dianalisis, tinjaulah contoh dalam Gambar 2-16a. Batang prismatis AB terjepit di tumpuan kaku di kedua ujungnya dan secara aksial dibebani P di titik tengah C. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, RA dan R8 tidak dapat diperoleh dari statika saja karena hanya ada satu persamaan keseimbangan: (a) Persamaan tambahan diperlukan untuk memecahkan kedua reaksi yang belum diketahui tersebut. Persamaan tambahan dimaksud didasarkan atas pengamatan bahwa sebuah batang dengan kedua ujungnya terjepit tidak berubah panjangnya. Jika kita memisahkan batang tersebut dari tumpuannya (Gambar 2-16b), kita dapatkan bahwa batang tersebut bebas di kedua ujungnya dan dibebani
  • 88.
    B (a) (b) Gambar 2-16 Analisis batang statis tak tentu Mekanika Bahan 75 oleh tiga gaya, RA, R8, dan P. Ketiga gaya ini menyebabkan batang tersebut berubah panjang sebesar DAB' yang harus sama dengan nol: DAB = 0 (b) Persamaan ini, yang disebut persamaan keserasian (kompatibilitas), menunjukkan fakta bahwa perubahan panjang batang harus serasi dengan kondisi tumpuan. Untuk memecahkan Persamaan (a) dan (b), kita harus menyatakan persamaan keserasian dalam gaya yang belum diketahui RA dan R8. Hubungan antara gaya-gaya yang bekerja di batang dan perubahan panjang dikenal dengan hubungan gaya-peralihan. Hubungan ini mempunyai berbagai bentukbergantung padabesaran bahan. Jika bahantersebutbersifat elastis linier, maka persamaan D = PUEA dapat digunakan untuk memperoleh hubungan gaya-peralihan. Asumsikan bahwa batang dalam Gambar 2-16 mempunyai luas penampang A dan terbuat dari bahan dengan modulus E. Selanjutnya, perubahan panjang segmen atas dan bawah batang masing-masing adalah D - RAa Ae - EA (c,d) di mana tanda minus menunjukkan perpendekan batang. Hubungan gaya­ peralihan sekarang digabungkan agar menghasilkan perubahan panjang keseluruhan batang: DAB = DAe + Den = i: - ;: Jadi, persamaan keserasian (Persamaan b) menjadi (e) yang mengandung kedua reaksi sebagai anu. Langkah terakhir untuk menganalisis batang statis tak tentu adalah dengan memecahkan secara simultan persamaan keseimbangan (Persamaan a) dan persamaan keserasian (Persamaan e). Hasilnya adalah R _ Pb A, - L R _ Pa B - L (2-8a,b) Dengan diketahuinya reaksi, maka semua gaya dan peralihan dapat ditentukan. Sebagai contoh, misalkan kita ingin mencari peralihan ke bawah De titik C. Peralihan ini sama dengan perpanjangan segmen AC: D _ D _ RAa _ Pab e - Ae - EA - LEA (2-9) Juga, kita dapat memperoleh tegangan di kedua segmen batang secara langsung dari gaya aksial internal (misalnya <YAe = RA/A = PhiAL). Sebagai rangkuman, kita lihat dari contoh ini bahwa analisis struktur statis tak tentu meliputi penyusunan dan pemecahan persamaan ke­ seimbangan dan persamaan keserasian. Persamaan keseimbangan meng­ hubungkan beban yang bekerja di struktur dengan gaya-gaya yang belum diketahui (yang mungkin berupa reaksi atau gaya dalam), dan persamaan keserasian menunjukkan kondisi peralihan pada struktur tersebut.
  • 89.
    76 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksiaf Persamaan keserasian dinyatakan dalam gaya-gaya yang belum diketahui dengan mensubstitusikan hubungan gaya-peralihan. Akhimya, persamaan keseimbangan dan keserasian dipecahkan secara simultan untuk mendapatkan gaya-gaya yang belum diketahui. Dalam literatur teknik, berbagai sebutan digunakan untuk kondisi yang dinyatakan dengan keseimbangan, keserasian, dan persamaan gaya­ peralihan. Persamaan keseimbanganjuga dikenal dengan persamaan statika atau kinetik; persamaan keserasian kadang-kadang disebut persamaan geometris, persamaan kinematis, atau persamaan deformasi konsisten; dan hubungan gaya-peralihan sering disebut hubungan konstitutif (karena hubungan ini berkaitan dengan konstitusi, atau besaran fisik bahan). Untuk struktur yang relatif sederhana yang dibahas dalam bab ini, metode analisis di atas sudah memadai. Tetapi, pendekatan yang lebih formal dibutuhkan untuk struktur yang Jebih rumit. Dua metode yang umum digunakan, yaitu metodefleksibilitas dan metode kekakuan, dibahas secara rinci pada berbagai buku tentang analisis struktur (Ref. 2-2). Meskipun metode-metode ini biasanya digunakan untuk struktur rumit dan besar yang membutuhkan solusi ratusan atau bahkan kadang-kadang ribuan persamaan simultan, metode-metode tersebut masih didasarkan atas konsep-konsep yang diuraikan di atas, yaitu persamaan keseimbangan, persamaan keserasian, dan hubungan gaya-peralihan.* Contoh berikut ini menggambarkan metodologi untuk menganalisis struktur statis tak tentu yang terdiri atas elemen-elemen yang dibebani secara aksial. Contoh kedua dan ketiga juga menggambarkan penggunaan diagram peralihan dalam menyusun persamaan keserasian. • Contoh 2-5 Sebuah silinder baja lingkaran solid S terletak di dalam tabung tembaga lingkaran berlubang C (Gambar 2-17a dan b). Silinder dan tabung tersebut ditekan di antara dua plat kaku dari sebuah mesin uji dengan gaya tekan P. Silinder baja tersebut mempunyai luas penampang As dan modulus elastisitas Es. Tabung tembaga mempunyai luas Ac dan modulus elastisitas Ec. Keduanya mempunyai panjang L. Tentukanlah besaran-besaran berikut: (a) gaya tekan Ps di silinder baja dan pc di tabung tembaga; (b) tegangan tekan as dan ac; serta (c) perpendekan 8 keduanya. Solusi (a) Gaya tekan di silinder baja dan tabung ternbaga. Kita mulai dengan melepaskan plat atas dari struktur ini untuk mengekspos gaya Ps dan Pc yang masing-masing bekerja di silinder baja dan tabung tembaga (Gambar 2-17c). Gaya P, adalah resultan dari tegangan terbagi rata yang bekerja di penampang silinder baja, dan gaya Pc adalah resultan dari tegangan terbagi rata yang bekerja di penampang tabung tembaga. *Dari tinjauan sejarah, kelihatannya Euler padatahun 1774 adalah orang pertama yang menganalisis sistem statis tak tentu; ia meninjau masalah meja kaku dengan empat kakinya ditumpu pada pondasi elastis (Ref. 2-3 dan 2-4). Analisis selanjutnya dilakukan oleh matematikawan dan insinyur Perancis L.M.H.Navier, yang pada tahun 1825 menyatakan bahwa reaksi statis tak tentu dapat dicari hanya dengan memperhitungkan elastisitas struktur (Ref. 2-5). Navier juga menganalisis rangka batang statis tak tentu.
  • 90.
    Gambar 2 -1 7 Contoh 2-5. Analisis struktur statis tak tentu (a) (c) Mekanika Bahan 77 A, (b) r (d) Persamaan keseimbangan. Diagram benda bebas plat atas ditunjukkan dalam Gambar 2-1 7d. Plat ini mengalami gaya P dan gaya-gaya tekan P,. dan P, yang belum diketahui; jadi, persamaan keseimbangannya adalah P, + Pc - P = 0 (f) Persamaan ini, yang merupakan satu-satunya persamaan keseimbangan nontrivial yang tersedia, mengandung dua anu. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa struktur ini statis tak tentu. Persamaan keserasian. Karena plat ujung adalah kaku, maka silinder baja dan tabung tembaga harus memendek sama besar. Dengan menuliskan perpendekan bagian-bagian baja dan tembaga masing-masing dengan 8, dan 8c, kita dapatkan persamaan keserasian sebagai berikut: (g) Hubungan gaya-peralihan. Perubahan panjang silinder dan tabung dapat diperoleh dari persamaan umum 8= PUEA. Dengan demikian, di dalam contoh ini, hubungan gaya-peralihan adalah:
  • 91.
    78 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial (h,i) Dengan memasukkan hubungan ini ke dalam persamaan keserasian Persamaan (g), maka Persamaan ini memberikan kondisi keserasian yang dinyatakan dalam gaya-gaya yang belum diketahui. Solusi persamaan. Sekarang kita selesaikan persamaan keseimbanga dan keserasian (Persamaan f dan j) dan mendapatkan gaya-gaya aksial di silinder baja dan tabung tembaga: (2-lOa,b) .. Persamaan di atas menunjukkan bahwa gaya tekan di bagian baja dan tembaga masing-masing berbanding langsung dengan kekakuan aksial dan berbanding terbalik dengan jumlah kekakuannya. (b) Tegangan tekan di silinder baja dan tabung tembaga. Dengan mengetahui gaya-gaya aksial, maka kita dapat memperoleh tegangan tekan di kedua bahan: (2-l l a,b) .. Perhatikan bahwa tegangan sebanding dengan modulus elastisitas masing-masing bahan. Dengan demikian, bahan yang "lebih kaku" mempunyai tegangan yang lebih besar. (c) Perpendekan struktur. Perpendekan 8keseluruhan strukturdapatdiperoleh dari Persamaan (b) atau Persamaan (i). Jadi, dengan memasukkan gaya-gaya (dari Persamaan 2-1 Oa dan b), kita peroleh: (2-1 2) .. Hasil ini menunjukkan bahwa perpendekan struktur sama dengan beban total dibagi dengan jumlah kekakuan kedua bagian (ingat dari Persamaan 2-4a bahwa kekakuan batang yang dibebani secara aksial adalah k = EA/L). • Contoh 2-6 Sebuah batang kaku AB mempunyai sendi di ujung A dan ditumpu oleh dua kawat (CD dan EF) di titik-titik D dan F (Gambar 2-1 8a). Sebuah beban vertikal P bekerja di ujung B dari batang tersebut. Batang tersebut mempunyai panjang 3b dan kawat CD dan EF mempunyai panjang masing-masing L1 dan L2. Juga, kawat CD mempunyai diameter d1 dan modulus elastisitas E1; kawat EF mempunyai diameter d2 dan modulus elastisitas E2. (a) Dapatkan rumus untuk beban izin P jika tegangan izin di kawat CD dan EF masing-masing adalah a1 dan a2. (abaikan berat sendiri batang.) (b) Hitunglah beban izin P untuk kondisi berikut. Kawat CD terbuat dari aluminium dengan modulus elastisitas E1 = 72 GPa, diameter d1 = 4,0 mm, dan panjang L1 = 0,40 m. Kawat EF terbuat dari magnesium dengan modulus elastisitas E2 = 45 GPa, diameter d2 = 3,0 mm, dan panjang L2 = 0,30 m. Tegangan izin di kawat aluminium dan magnesium adalah masing-masing a1 = 200 MPa, dan a2 = 1 75 MPa.
  • 92.
    Gambar 2-1 8Contoh 2-6 Analisis struktur statis tak tentu Solusi Mekanika Bahan 79 Persamaan keseimbangan. Kita mulai analisis dengan menggambar diagram benda bebas batang AB (Gambar 2-1 8b). Di dalam diagram ini T1 dan T2 adalah gaya tarik yang belum diketahui pada kawat-kawat dan RH dan Rv adalah komponen reaksi dalam arah masing-masing horizontal dan vertikal di tumpuan. Kita lihat dengan mudah bahwa struktur ini statis tak tentu karena ada empat gaya yang belum diketahui (T1, T2, RH, dan Rv) tetapi hanya ada satu persamaan keseimbangan independen. Dengan mengambil momen terhadap titik A (dengan perjanjian tanda positif untuk momen yang searah jarum jam) maka LMA = Q (k) Dua persamaan lainnya, yang diperoleh dengan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah horizontal dan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah vertikal, tidak dapat digunakan untuk mencari T1 dan T2. (a) (b) B' (c) Persamaan keserasian. Untuk mendapatkan persamaan yang berkaitan dengan peralihan, kita amati bahwa beban P tidak dapat berotasi terhadap tumpuan sendi di A, sehingga menyebabkan kawat memanjang. Peralihan yang diakibatkan ha! ini ditunjukkan dalam diagram peralihan dalam Gambar 2-18c, di mana garis AB menunjukkan posisi semula batang kaku dan garis AB'menunjukkan posisi setelah berotasi. Peralihan 81 dan 82 adalah perpanjangan kawat. Karena peralihan ini sangat kecil, maka batang tersebut berotasi dengan sudut yang sangat kecil pula (di dalam gambar ditunjukkan dengan sangat diperbesar) dan kita dapat melakukan perhitungan dengan asumsi bahwa titik D, F, dan B bergerak ke arah vertikal ke bawah (bukan mengikuti alur lengkungan). Karenajarak horizontal AD dan DF sama, maka kita mendapatkan hubungan geometris antara kedua perpanjangan sebagai berikut: (I)
  • 93.
    80 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Hubungan gaya-peralihan. Karena kawat berperilaku elastis linier, maka perpanjangannya dapat dinyatakan dalam gaya yang belum diketahui T1 dan T2 dengan menggunakan rumus berikut di mana A1 dan A 2 masing-masing adalah luas penampang kawat CD dan EF; jadi A - 7rd� A - mli � - 4 z - 4 Untuk memudahkan penulisan persamaan, kita gunakan notasi berikut untuk fleksibilitas kawat (lihat Persamaan 2-4b): A - 7rd� I - 4 (m,n) Dengan demikian, hubungan gaya-peralihan menjadi Dengan memasukkan rumus ini ke dalam persamaan keserasian (Persamaan I) maka (o) Sekarang kita telah mendapatkan rersamaan keserasian yang dinyatakan dalam gaya-gaya yang belum diketahui. Solusi persamaan. Persamaan keseimbangan (Persamaan k) dan persamaan keserasian (Persamaan o) mengandung gaya-gaya T1 dan T2 sebagai besaran yang belum diketahui. Dengan memecahkan kedua persamaan tersebut secara simultan kita peroleh 3f2P 1J = - -"-"- - 4.iJ + fz (p,q) Dengan diketahuinya gaya-gaya T1 dan T2, maka kita dapat dengan mudah mencari perpanjangan kawat dari hubungan gaya-peralihan. (a) Beban izin P. Karena analisis statis tak tentu telah diselesaikan dan gaya­ gaya di kawat telah diketahui maka kita dapat menentukan harga beban P yang diizinkan. Tegangan cr1 di kawat CD dan tegangan cr 2 di kawat EF dapat dihitung langsung dari gaya-gayanya (Persamaan p dan q): Dari persamaan pertama di atas, kita hitung gaya izin P1 yang didasarkan atas tegangan izin cr1 untuk kawat aluminium: p, _ <r1A1(4.fJ + / 2 ) p, = <rJAJ(4.fJ + fz ) I - 3fz I 3fz (r) • Dengan cara yang sama, persamaan kedua kita dapatkan gaya izin P2 yang didasarkan atas tegangan izin kawat magnesium: p _ <TzAz(4iJ + fz) 2 - 6fi (s) • Yang terkecil di antara kedua harga ini merupakan beban izin maksimum Pizin· (b) Perhitungan numerik untuk beban izin. Dengan menggunakan data yang ada dan persamaan-persamaan di atas, kita peroleh harga-harga numerik sebagai berikut: n(4,0 mm)2 4 1 2,57 mm2
  • 94.
    Mekanika Bahan 81 n(3,0mm)z = 7,069 mmz 4 0•40 m = 0,4420 x 10-6 miN (72 GPa)(12,57 mm2 ) 0•30 m = 0,9431 x 10-6 miN (45 GPa)(7,069 mm2 ) Juga, tegangan izinnya adalah a1 = 200 MPa a2 = 175 MPa Dengan memasukkan harga-harga di atas ke dalam Persamaan (r) dan (s) maka PI = 2,41 kN P2 = 1 ,26 kN Hasil pertama didasarkan atas tegangan izin a1 di kawat aluminium dan yang kedua didasarkan atas tegangan izin a2 di kawat magnesium. Beban izin adalah yang terkecil di antara kedua harga tersebut: Pizin = 1,26 kN Pada taraf beban ini tegangan di magnesium adalah 175 MPa (yaitu tegangan izinnya) dan tegangan di aluminium adalah ( 1,26/2,41)(200 MPa) = 105 MPa. Sebagaimana diduga, tegangan ini lebih kecil daripada tegangan izin 200 MPa. • Contoh 2-7 Sebuah batang kakuADB yang panjangnya 2b mempunyai sendiuntuk memikulnya di A dan ditahan oleh dua kawat miring CD dan CB (Gambar 2-19a). Kawat­ kawat ini terpasang di tumpuan di titik C, yang terletak pada jarak vertikal b di atas titik A. Kedua kawat terbuat dari bahan yang sama dan mempunyai diameter yang sama. Tentukanlah gaya tarik T1 dan T2 di kawat CD dan CB akibat beban vertikal P yang bekerja di ujung batang. Solusi Persamaan keseimbangan. Diagram benda bebas batang AB (Gambar 2-19b) menunjukkan bahwa ada empat gaya anu, yaitu gaya tarik T1 dan T2 di kawat­ kawat dan dua komponen reaksi (RH dan Ry) di tumpuan sendi. Karena hanya ada tiga persamaan keseimbangan independen, maka struktur ini adalah statis tak tentu. Kita dapat memperoleh persamaan keseimbangan yang hanya mengandung T1 dan T2 sebagai anu dengan menjumlahkan momen terhadap titik A: LMA = 0 bT1 sin a1 + 2bT2 sin U-z - 2bP = 0 di mana al dan az adalah sudut antara kawat dan batang. Dari geometri struktur (Gambar 2-19a) kita lihat bahwa . CA b 1 Sill at = CD = b{i = {i . CA b Sill a2 = CB = b.)S I .J5 Dengan memasukkan harga-harga ini ke dalam Persamaan (t) kita peroleh _Il_ + 2Tz = 2P {i .J5 yang merupakan bentuk akhir dari persamaan keseimbangan. (t) (u) (v) Persamaan keserasian. Persamaan keserasian dapat diperoleh dengan meninjau peralihan titik-titik D dan B. Untuk itu, kita menggambarkan diagram peralihan seperti terlihat dalam Gambar 2-19c. Garis AB menunjukkan posisi
  • 95.
    82 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Gambar 2-1 9 Contoh 2-7. Analisis struktur statis tak tentu. - ,b 1 ---- b -------- b -----+1 c (a) (b) B" (c) D B IY' B" D' (d) (e) semula dari batang AB dan garis AB'menunjukkan posisi setelah berotasi. Karena sudut rotasi batang AB sangat kecil, maka peralihan 81 dan 82 di titik D dan B, dapat dipandang sebagai peralihan vertikal yang kecil. Karena jarak dari A ke B dua kali jarak dari A ke D, maka kita lihat bahwa 82 = 281 (w) yang merupakan persamaan keserasian. Hubungan gaya-peralihan. Sekarang kita membutuhkan hubungan antara gaya T1 dan T2 dan peralihan vertikal 81 dan 82 masing-masing di titik D dan B.
  • 96.
    Mekanika Bahan 83 Kitamulai dengan meninjau kawat CD, yang berotasi dari posisi semula CD ke posisi akhir CD' (Gambar 2-19c). Kita gambarkan DD"yang tegak lurus dari titik D ke garis CD'. Karena peralihan dan sudut berubah sangat kecil, maka kita dapat mengasumsikan bahwajarak CD"sama denganjarak CD. (artinya, busur lingkaran DD" dengan titik C sebagai pusatnya tidak dapat dibedakan dengan garis DD'�) Segitiga peralihan DD'D" dalam Gambar 2-19c digambar ulang agar lebih jelas di Gambar 2-19d. Jarak DD' adalah peralihan vertikal 81 titik D dan jarak D'D"adalah perpanjangan 8cv kawat CD. Sudut a1 terlihat dalam segitiga sebagai sudut D'DD'� Untuk membuktikan ini, kita perhatikan bahwa garis DD' adalah tegak lurus garis AB, dan garis DD" tegak lurus garis CD (untuk sudut rotasi yang kecil). Dengan demikian, dari segitiga peralihan DD'D" kita peroleh 5: 5: 0 8I UcD = UI Sin (XI = ---;= -.J2 Persamaan ini memberikan hubungan geometri antara perpanjangan kawat CD dan peralihan ke bawah titik D. Perpanjangan 8cvpada kawat CD dihubungkan dengan gaya di kawat tersebut dengan hubungan gaya-peralihan: 8 - � Lcv - �b-fi cv - � - � di mana Lcv = b .fi adalah panjang kawat CD. Dengan menggabungkan dua persamaan terakhir untuk 8cv kita dapatkan 8 = 2b� I EA (x) Dengan cara yang sama, kita dapat menghubungkan peralihan 82 dengan perpanjangan 8c8 pada kawat CB (lihat Gambar 2-19e) dan mendapatkan 8 _ 5bT2 (y) 2 - EA Persamaan (x) dan (y) adalah hubungan gaya-peralihan yang memberikan peralihan titik-titik D dan B yang dinyatakan dalam gaya anu di kawat. Dengan memasukkan 81 dan 82 dari hubungan gaya-peralihan ke dalam persamaan keserasian (Persamaan w) maka (z) yang merupakan persamaan keserasian yang dinyatakan dalam gaya anu. Solusi persamaan. Pada langkah terakhir dalam contoh ini kita memecahkan persamaan keseimbangan (Persamaan v) dan keserasian (Persamaan z) secara simultan. Hasilnya adalah T, _ IO.JiOP I - g-fi + 5 -/5 = 1,406? T2 = 4� = 1 125P 5 ' • Jadi, kita mendapatkan gaya tarik di kawat dengan menganalisis struktur statis tak tentu. Dengan diketahuinya gaya tarik di kawat, maka kita dapat dengan mudah menentukan semua gaya dan peralihan. Sebagai contoh, reaksi di tumpuan A dapat diperoleh dari persamaan keseimbangan dan peralihan 8I dan 82 dapat diperoleh dari Persamaan (x) dan (y) Catatan: Dalam contoh ini, solusi akhir untuk gaya-gaya tidak melibatkan rigiditas aksial EA dari kawat. (Fakta ini nyata di dalam solusi simbolik tetapi tidak terlihat nyata di dalam solusi numerik.) Sebabnya adalah bahwa kedua kawat mempunyai rigiditas aksial yang sama, sehingga besaran EA saling meniadakan di dalam solusi. Jika setiap kawat mempunyai rigiditas yang berbeda, maka masing­ masing rigiditas tersebut akan muncul di dalam rumus ekspresi akhir.
  • 97.
    84 Bab 2Elemen Struktur yang Oibebani Secara Aksial A B Gambar 2-20 Blok bahan yang mengalami peningkatan temperatur EFEK TERMAL Beban luar bukanlah satu-satunya sumber tegangan dan regangan di suatu struktur. Perubahan temperatur menyebabkan ekspansi atau kontraksi bahan, sehingga teljadi regangan termal dan tegangan termal. Ilustrasi sederhana tentang ekspansi termal ditunjukkan dalam Gambar 2-20, di mana suatu blok bahan tidak dikekang sehingga bebas berekspansi. Apabila bahan tersebut dipanaskan, setiap elemen di bahan tersebut mengalami regangan termal di segala arah, sehingga dimensi blok tersebut bertambah. Jika kita mengambil pojok A sebagai titik referensi yang tetap dan memisalkan sisi AB pada garis yang sama, maka blok tersebut akan mempunyai bentuk seperti garis yang putus. Pada kebanyakan bahan, regangan termal ET sebanding dengan perubahan temperatur !J.T; jadi, (2-1 3) di mana a adalah besaran bahan yang disebut koefisien ekspansi termal. Karenaregangan merupakan besaran yang tak berdimensi, maka koefisien ekspansi termal mempunyai satuan yang sama dengan kebalikan perubahan temperatur. Dalam satuan SI, dimensi a dapat dinyatakan dalam 1/K (kebalikan kelvin) atau l/°C (kebalikan derajat Celcius). Harga a untuk kedua kasus sama karena perubahan secara numerik sama untuk Kelvin dan derajat Celcius. Dalam satuan USCS, dimensi a adalah 1/°F (kebalikan derajat Fahrenheit).* Harga a yang khas dicantumkan dalam Tabel H-4 dalam Lampiran H. Jika perjanjian tanda untuk regangan termal dibutuhkan, kita biasanya mengasumsikan bahwa ekspansi bertanda positif dan kontraksi bertanda negatif. Untuk menunjukkan pentingnya regangan termal, kita akan meng­ hitung regangan termal dengan regangan yang diakibatkan beban dengan cara berikut. Misalkan kita mempunyai batang yang dibebani secara aksial dengan regangan longitudinal yang diberikan oleh persamaan E = CJIE, di mana CJ adalah tegangan dan E adalah modulus elastisitas. Kemudian misalkan kita mempunyai batang identik yang mengalami perubahan temperatur !J.T, yang berarti bahwa batang tersebut mempunyai regangan yang dihitung dengan Persamaan (2-1 3). Dengan menyamakan kedua regangan maka haruslah CJ = Ea(!J.T). Dari persamaan ini kita dapat menghitung tegangan aksial cr yang menghasilkan regangan yang sama dengan akibat perubahan temperatur !J.T. Sebagai contoh, tinjaulah suatu batang baja tahan karat dengan E = 30 X 106 psi dan a = 9,6 X 10-6/°F. Perhitungan sederhana dari persamaan untuk cr menunjukkan bahwa perubahan temperatur sebesar 100°F menghasilkan regangan yang sama dengan tegangan 29.000 psi. Tegangan ini masih di bawah tegangan izin bahan ini. Jadi, perubahan temperatur yang relatif wajar menghasilkan regangan yang sama besar dengan regangan yang diakibatkan oleh taraf beban biasa, yang menun'jukkan bahwa efek temperatur dapat merupakan hal penting di dalam desain. *Untuk pembahasan satuan temperatur dan skala. lihat Subbab A.4 pacta Lampiran A.
  • 98.
    Gambar 2-21 Pertambahan panjangsuatu batang prismatis akibat peningkatan temperatur seragam (Persamaan 2-14) A Gambar 2-22 Rangka batang statis tertentu dengan perubahan temperatur seragam di setiap batang Mekanika Bahan 85 Bahan struktural biasa akan memuai jika ctipanaskan ctan menyusut jika ctictinginkan sehingga peningkatan temperatur akan menimbulkan regangan termal yang bertancta positif. Regangan termal biasanya ctapat balik, artinya elemen tersebut akan kembali ke bentuk semula jika tempe­ ratumya ctikembalikan ke temperatur semula. Namun, acta beberapa pactuan metal khusus yang belakangan ini ctikembangkan yang tictak berperilaku seperti biasa. Untuk selang temperatur tertentu pacta pactuan semacam ini akan menyusut jika ctipanaskan ctan memuai jika ctictinginkan. Air juga merupakan bahan yang tictak biasa ctari tinjauan termal-air memuai jika ctipanaskan ctari temperatur 4°C ctan juga memuai jika ctictinginkan cti bawah 4°C. Jacti, air mempunyai berat jenis maksimum pacta 4°C. Sekarang kita kembali ke blok bahan yang terlihat ctalam Gambar 2- 20. Kita asumsikan bahwa bahan ini isotropis ctan homogen, ctan bahwa peningkatan temperatur f..T actalah seragam cti seluruh blok. Kita ctapat menghitung bertambahnya ctimensi manapun ctari blok ini ctengan mengalikan ctimensi semula ctengan regangan termal. Sebagai contoh, jika salah satu ctimensi actalah L, maka ctimensi tersebut·akan bertambah sebesar (2- 14) Persamaan (2-14) actalah hubungan temperatur-peralihan, yang analog ctengan hubungan gaya-peralihan yang telah ctibahas ctalam subbab sebelum ini. Hubungan ini ctapat ctigunakan untuk menghitung perubahan panjang elemen struktur yang mengalami perubahan temperatur seragam, seperti perpanjangan 8T pacta batang prismatis yang terlihat ctalam Gambar 2-21 . (Dimensi transversal pacta batang ini juga berubah, tetapi perubahan ini tictak ctitunjukkan ctalam gambar tersebut karena biasanya tictak menimbulkan pengaruh terhactap gaya aksial cti batang tersebut.) AT ���3@_ _ 0 ---->- l o 1-- T Di ctalam pembahasan tentang regangan termal, kita berasumsi bahwa strukturnya tictak mempunyai kekangan ctan ctapat berekspansi atau berkontraksi ctengan bebas. Konctisi-konctisi ini acta kalau suatu bencta terletak pacta permukaan yang tak bergesekan atau tergantung pacta ruang terbuka. Pacta kasus seperti ini tictak acta tegangan yang ctihasilkan oleh perubahan temperatur seragam cti seluruh bencta, sectangkan perubahan temperatur yang tictak seragam ctapat menimbulkan regangan internal. Untuk struktur yang mempunyai tumpuan yang mencegah ekspansi ctan kontraksi, tegangan termal akan timbul meskipun perubahan temperatur cti seluruh struktur seragam. Untuk menggambarkan icte-icte cti atas tentang efek termal, tinjaulah rangka batang ABC yang terctiri atas ctua batang ctalam Gambar 2-22 ctan asumsikan bahwa temperatur batang AB berubah f..T1, ctan temperatur batang BC berubah f..T2. Karena rangka batang ini statis tertentu, maka kectua batang tersebut bebas memanjang atau memenctek, yang menye­ babkan terjactinya peralihan cti B. Sekalipun ctemikian, tictak acta tegangan pacta kectua batang ctan tictak acta reaksi cti tumpuan. Kesimpulan ini berlaku
  • 99.
    86 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Gambar 2-23 Rangka batang statis tak tentu yang mengalami perubahan temperatur secara umum pada struktur statis tertentu; jadi, perubahan temperatur di elemen struktur menimbulkan regangan termal (dan perubahan panjang) tanpa adanya tegangan. Suatu struktur statis tak tentumungkin saja menghasilkan tegangan temperatur, bergantung pada karakter struktur tersebut dan bagaimana perubahan temperatur itu terj adi. Untuk menggambarkan beberapa kemungkinan, tinjaulah rangka batang statis tak tentu yang terlihat dalam Gambar 2-23. Karena tumpuan struktur ini memungkinkan titik hubung D bergerak dalam arah horizontal, maka tidak ada tegangan yang timbul apabila keseluruhan rangka batang ini dipanaskan secara seragam. Semua batang akan memanjang yang sebanding dengan panjang semula, dan rangka batang ini akan menjadi sedikit lebih besar. Namun, jika sebagian (tidak semua) batang dipanaskan, maka tegangan termal akan timbul karena adanya susunan statis tak tentu dari batang-batang ini mencegah perpanjangan bebas. Untuk menggambarkan kondisi ini, bayangkan bahwa . hanya satu batang yang dipanaskan. Karena batang ini menjadi panjang, maka batang ini akan menjumpai tahanan dari batang lain, dan akibatnya timbul tegangan pada setiap batang. Analisis struktur statis tak tentu dengan perubahan temperatur didasarkan atas konsep-konsep yang dibahas dalam subbab sebelum ini, yaitu persamaan keseimbangan, persamaan keserasian, dan hubungan peralihan. Perbedaan utama adalah bahwa kita sekarang menggunakan hubungan temperatur-peralihan (Persamaan 2-14) selain juga hubungan gaya-peralihan (seperti 8 = PUEA) dalam melakukan analisis. Contoh berikut menggambarkan prosedurnya secara rinci. • Contoh 2-8 Gambar 2-24 Contoh 2-8. Batang statis tak tentu dengan peningkatan temperatur tegangan l!.T Sebuah batang prismatis AB yang panjangnya L ditahan oleh tumpuan yang tak dapat bergerak (Gambar 2-24a). Jika temperatur batang ini ditingkatkan secara seragam sebesar !lT, berapakah tegangan termal (Jr yang timbul di batang? (Asumsikan bahwa batang ini terbuat dari bahan yang elastis linier.) ilT L (a) (b) (c)
  • 100.
    Solusi Mekanika Bahan 87 Karenatemperatur meningkat, maka batang akan berusaha untuk memanjang tetapi ditahan oleh tumpuan kaku di A dan B. Dengan demikian, reaksi RA dan RB akan timbul di kedua tumpuan, dan batang tersebut akan mengalami tegangan tekan seragam. Persamaan keseimbangan. Gaya-gaya yang bekerja di batang ini hanyalah reaksi di kedua ujung seperti terlihat dalam Gambar 2-24a. Dengan demikian, keseimbangan gaya dalam arah vertikal adalah (a) Karena ini adalah satu-satunya persamaan keseimbangan nontrivial, dan karena persamaan ini mengandung dua anu, maka kita lihat bahwa struktur ini adalah statis tak tentu dan persamaan tambahan dibutuhkan. Persamaan keserasian. Persamaan keserasian menunjukkan fakta bahwa perubahan panjang batang adalah no! (karena tumpuannya tidak bergerak): D AB = 0 (b) Untuk menentukan perubahan panjang ini, kita membuang tumpuan atas dari batang tersebut dan mendapatkan batang yang terjepit di ujung bawah dan bebas di ujung atas (Gambar 2-24b dan c). Apabila hanya perubahan temperatur yang bekerja (Gambar 2-24b), maka perpanjangan batang adalah 87 dan jika hanya RA yang bekerja, maka batang akan memendek sebesar 8R (Gambar 2-24c). Jadi, perubahan panjang neto adalah DAB = Or - 8R, dan persamaan keserasian menjadi DAB = 87 - 8R = 0 (c) Hubungan peralihan. Pertambahan panjang batang akibat perubahan temperatur ll.T ditentukan oleh hubungan temperatur-peralihan (Persamaan 2-14): (d) di mana a adalah koefisien ekspansi termal. Pengurangan panjang akibat gaya RA dihitung dengan hubungan gaya-peralihan: 8 - RAL R - EA (e) di mana E adalah modulus elastisitas dan A adalah luas penampang. Dengan memasukkan hubungan peralihan (d) dan (e) ke dalam Persamaan (c) kita dapatkan bentuk akhir persamaan keserasian: (f) Pemecahan persamaan. Sekarang kita pecahkan persamaan keseimbangan dan keserasian (Persamaan a dan f) untuk mendapatkan reaksi RA dan RB: (2-15) Dari hasil-hasil ini kita peroleh tegangan termal a7 pada batang: (2-16) • Tegangan ini adalah tegangan tekan jika temperatur batang meningkat. Catatan 1 : Di dalam contoh ini, reaksi tidak bergantung pada panjang batang dan tegangan tidak bergantung pada panjang dan Iuas penampang (Iihat Persamaan 2-15 dan 2-16). Jadi, sekali lagi kita lihat kegunaan solusi simbolik karena hal-hal penting pada perilaku batang seperti ini tidak terlihat pada solusi numerik. Catatan 2: Dalam menentukan perpanjangan termal suatu batang (Persamaan d), kita berasumsi bahwa bahan adalah homogen dan bahwa peningkatan temperatur
  • 101.
    88 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksia/ adalah seragam di seluruh volume batang. Juga, dalam menentukan pengurangan panjang akibat gaya reaksi (Persamaan e), kita berasumsi bahwa bahan bersifat elastis Iinier. Pembatasan ini harus selalu diingat di dalam menuliskan hubungan temperatur-peralihan dan gaya-peralihan. Catatan 3: Batang pada contoh ini mempunyai peralihan longitudinal nol, bukan hanya di ujung-ujung yang terjepit, melainkan juga di setiap potongan. Jadi, tidak ada regangan aksial pacta batang ini, dan kita mempunyai situasi khusus di mana ada tegangan longitudinal tetapi tidak ada regangan longitudinal. Tentu saja, ada regangan transversal di batang yang ditimbulkan oleh perubahan temperatur dan tekan aksial. • Contoh 2-9 Gambar 2-25 Contoh 2-9. Susunan selongsong dan baut dengan peningkatan temperatur seragam llT Sebuah selongsong berbentuk tabung lingkaran yang panjangnya L diletakkan di sekeliling sebuah baut dan dan terletak di antara plat-plat antara di setiap ujungnya (Gambar 2-25a). Mur diputar sampai susunan tersebut kencang. Selongsong dan baut terbuat dari bahan yang berbeda dan mempunyai luas penampang yang berbeda pula. (a) Jika temperatur keseluruhan susunan meningkat sebesarllT, berapakah tegangan a, dan ab yang masing-masing timbul di selongsong dan baut? (b) Berapakah peningkatan opanjang L selongsong dan baut? (Asumsikan bahwa koefisien ekspansi termal a, untuk selongsong lebih besar daripada koefisien ab untuk baut.) Mur Plat antara Selongsong Kepala baut (a) 1+-------- L --------.. (b) (c) Solusi Karena selongsong dan baut terbuat dari bahan yang berbeda, maka perpanjangan masing-masing bahan tersebut akan berbeda kalau dipanaskan dan diperbolehkan berekspansi secara bebas. Namun, apabila keduanya ditahan bersama oleh suatu
  • 102.
    Mekanika Bahan 89 susunan,maka ekspansi bebas tidak dapat terjadi, dan tegangan termal akan timbul di kedua bahan. Untuk mencari tegangan ini, kita menggunakan konsep yang sama pada analisis statis tak tentu-persamaan keseimbangan, keserasian, dan hubungan peralihan. Kita perlu melepaskan elemen-elemen struktur ini agar dapat memformulasikan persamaan-persamaan tersebut. Cara mudah untuk memotong struktur ini adalah dengan menghilangkan kepala baut, sehingga selongsong dan baut dapat berekspansi dengan bebas akibat perubahan temperatur b.T (Gambar 2-25b). Perpanjangan pada selongsong dan baut akibat ha! ini diberi notasi masing-masing 81 dan 82, dan hubungan temperatur­ peralihan untuk ini adalah (g) Karena as Jebih besar daripada ab, maka perpanjangan 81 akan lebih besar daripada 82, seperti terlihat dalam Gambar 2-25b. Gaya-gaya aksial di selongsong dan baut harus sedemikian hingga gaya­ gaya tersebut memperpendek selongsong dan memperpanjang baut sampai panjang akhir keduanya sama. Gaya-gaya ini terlihat dalam Gambar 2-25c, di mana Ps menunjukkan gaya tekan di selongsong dan Pb menunjukkan gaya tarik di baut. Perpendekan 83 selongsong dan perpanjangan 84 baut adalah 83 = P,L 84 = PbL (h) E,As EbAb di mana E�s dan E0b adalah rigiditas masing-masing bahan. Persamaan (h) adalah hubungan beban-peralihan. Sekarang kita dapat menuliskan persamaan keserasian yang menyatakan fakta bahwa perpanjangan akhir 8 sama untuk selongsong dan baut. Perpanjangan selongsong adalah 81 - 83 dan perpanjangan baut adalah 82 + 8�; jadi, 8 = � - � = � + � w Dengan memasukkan hubungan temperatur-peralihan dan beban-peralihan (Persamaan g dan h) ke dalam persamaan akan menghasilkan 8 = aJ!:lT)L - P,L E,A, yang dapat ditulis dengan P,L PbL -- + -- = a,(b.T)L - ab(b.T)L E,A, EbAb (j) (k) yang merupakan bentuk akhir persamaan keserasian. Perhatikan bahwa persamaan ini mengandung gaya-gaya P, dan Ph sebagai anu. Persamaan keseimbangan diperoleh dari Gambar 2-25c, yang merupakan diagram benda bebas dari bagian yang tersisa sesudah kepala baut dihilangkan. Dengan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah horizontal, maka (1) yang menyatakan fakta nyata bahwa gaya tekan di selongsong sama dengan gaya tarik di baut. Sekarang kita pecahkan persamaan keseimbangan dan keserasian secara simul­ tan (Persamaan k dan 1) dan mendapatkan gaya aksial di selongsong dan baut: p = p h = (a, - ab)(!:lT)E,A,EbAb s E,A, + EbAb (2-17) Dalam menurunkan persamaan ini, kita berasumsi bahwa temperatur meningkat dan bahwa koefisien as lebih besar daripada koefisien ab. Pada kondisi ini, PS adalah gaya tekan di selongsong dan Pb adalah gaya tarik di baut. Hasilnya akan berbeda jika temperatur meningkat tetapi koefisien a, kurang dari koefisien ab. Pada kondisi ini, ada celah yang terbuka di antara kepala baut dan selongsong dan tidak ada tegangan di masing-masing komponen.
  • 103.
    90 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial (a) Tegangan di selongsong dan baut. Persamaan untuk tegangan er , dan erb masing-masing di selongsong dan baut dapat diperoleh dengan membagi gaya dengan luasnya: er, = P, (a, - ab )(tlT)EsEbAb (2-1 8a) • A, E,As + EbAb P. (a, - ab)(tlT)E,EbAs erb = i = E,A, + EbAb (2-18b) • Ab Pada kondisi yang diasumsikan, tegangan er, di selongsong adalah tekan dan tegangan erb di baut adalah tarik. Menarik dicatat bahwa tegangan ini tidak bergantung pada panjang susunan elemen dan besamya berbanding terbalik dengan luasnya (artinya erjerb = A,JA,.) (b) Pertambahanpanjang selongsong dan baut. Perpanjangan masing-masing elemen dapat diperoleh dengan memasukkan P, atau Pb dari Persamaan (2-17) ke dalam Persamaan (j), 0 = (a5E,A, + abEbAb )(tlT)L ESAS + EbAb (2-19) • Dengan adanya rumus-rumus di atas, kita dapat dengan mudah menghitung gaya, tegangan, dan peralihan setiap elemen untuk data numerik yang diketahui. Catatan: Sebagai pengecekan parsial untuk hasil-hasil ini, kita dapat melihat jika Persamaan (2- 17), (2-1 8), dan (2-19) susut menjadi harga yang diketahui untuk kasus sederhana. Sebagai contoh, misalkan bahwa baut bersifat kaku sehingga tidak dipengaruhi oleh perubahan temperatur. Kita dapat merepresentasikan situasi ini dengan menetapkan ab = 0 dan membiarkan Eb menjadi besar seka1i yang berarti membuat susunan di mana selongsong ditahan di antara tumpuan-tumpuan kaku. Dengan memasukkan harga-harga ab dan Eb ke dalam Persamaan (2-17), (2-18a) dan (2-19), kita dapatkan 0 = 0 Hasil-hasil ini cocok dengan yang ada di Contoh 2-8 yang meninjau suatu batang yang ditahan oleh tumpuan kaku di kedua ujungnya (bandingkan Persamaan 2-1 5 dan 2-16, dan dengan Persamaan b). Sebagai kasus khusus lainnya, misalkan bahwa selongsong dan baut terbuat dari bahan yang sama. Karena itu kedua bagian akan berekspansi dengan bebas dan akan memanjang sama besar jika temperatur berubah. Tidak ada gaya dan tegangan yang akan timbul. Untuk melihat apakah persamaan yang diturunkan dapat memprediksi perilaku ini, kita akan mengasumsikan bahwa kedua bagian mempunyai besaran a, E, dan A. Dengan memasukkan harga-harga ini ke dalam Persamaan (2-17), (2- 18), dan (2-19), maka 8 = a(llT)L yang merupakan hasil yang diharapkan. Sebagai kasus khusus ketiga, misalkan kita membuang selongsong sedemikian hingga hanya baut yang tertinggal. Baut itu selanjutnya bebas berekspansi dan tidak ada gaya atau tegangan yang akan timbul. Kita dapat merepresentasikan kasus ini dengan menuliskan A, = 0 di dalam Persamaan (2-17), (2-18b), dan (2- 19), yang menghasilkan Pb = 0 erb = 0 8 = ab(llT)L Sekali lagi, ini merupakan hasil yang diharapkan. Sebagaimana telah disebutkan di akhir Subbab 2.3, penyelidikan suatu kasus khusus tidak cukup untuk meyakini kebenaran suatu rumus umum. Namun, ini tentu saja acta gunanya. Jika suatu kasus khusus dapat diverifikasi, kita meningkatkan keyakinan akan hasil yang diperoleh. Jika kasus khusus tidak cocok, maka ha! ini berarti bahwa rumus umum mempunyai kesalahan.
  • 104.
    Mekanika Bahan 91 -· 2·• 6I TEGANGAN PADA POTONGAN MIRING Gambar 2·26 Batang prismatis yang mengalami tarik yang me­ nunjukkan tegangan yang bekerja pada potongan melintang mn (a) batang dengan gaya aksial P, (b) tampak tiga dimensi batang yang dipotong yang menunjukkan tegangan normal, dan (c) tampak dua dimensi Pada pembahasan sebelumnya, tentang tarik dan tekan pada elemen struktur yang dibebani secara aksial, tegangan yang kita tinjau hanyalah tegangan normal yang bekerja di potongan melintang. Tegangan ini ditunjukkan dalam Gambar 2-26, di mana kita meninjau batang AB yang mengalami gaya aksial P. Jika batang tersebut dipotong pada potongan melintang tengah oleh bidang mn (yang tegak lurus sumbu x), kita akan memperoleh diagram benda bebas seperti terlihat dalam Gambar 2-26b. Tegangan normal yang beketja di seluruh potongan tersebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus ax = PIA asalkan distribusi tegangan terbagi secara merata di seluruh luas potongan melintang. Sebagaimana diuraikan dalam Bab 1 , kondisi ini ada jika batang tersebut prismatis, bahannya homogen, gaya aksial P bekerja di pusat berat penampang, dan potongan melintang terletak cukup jauh dari lokasi pemusatan tegangan. Tentu saja, tidak ada tegangan geser yang beketja di potongan melintang, karena potongan ini tegak lurus sumbu longitudinal batang. Untuk mudahnya, kita biasanya menunjukkan tegangan di gambar tampak 2 dimensi batang tersebut (Gambar 2-26c) bukannya gambar tampak 3 dimensi (Gambar 2-26b). Namun, apabila bekerja dengan gambar dua dimensi kita tidak boleh lupa bahwa batang mempunyai tebal yang tegak lurus dengan bidang gambar. Dimensi ketiga ini harus ditinjau dalam membuat penurunan rumus dan perhitungan. Cara yang paling berguna untuk menunjukkan tegangan di batang 2- 26 adalah dengan mengisolasi elemen kecil dari bahan, sedemikian rupa sehingga elemen yang berlabel C dalam Gambar 2-26c, dan selanjutnya menunjukkan tegangan yang beketja di semua muka elemen. Elemen seperti (a) (b) A n (c)
  • 105.
    92 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Gambar 2-27 Elemen tegangan di titik C dari batang yang dibebani secara aksial yang terlihat dalam Gambar 2-26c: (a) tampak tiga dirnensi dari elemen, dan (c) tarnpak dua dimensi dari elemen ini disebut elemen tegangan. Elemen tegangan di titik C merupakan blok tegangan kecil (tidak peduli apakah ini berupa kubus atau paralelepipedum) dengan muka sebelah kanan terletak pacta potongan mn. Dimensi setiap elemen tegangan diasumsikan sangat kecil, tetapi demi kejelasan kita menggambarkan elemen dengan skala yang besar. seperti terlihat dalam Gambar 2-27a. Dalam hal ini, tepi-tepi elemen mempunyai arah sejajar dengan sumbu x, y, dan z, dan satu-satunya tegangan adalah tegangan normal crx yang bekerja pada sisi x (ingat bahwa sisi x sejajar punya gaya normal yang sejajar dengan sumbu x). Kita biasanya menggambar tampak dua dimensi elemen tersebut (Gambar 2-27b) bukannya tampak tiga dimensi, karena cara itu lebih enak. Elemen tegangan dalam Gambar 2-27 memberikan hanya tampak sebagian dari tegangan yang bekerja pacta batang yang dibebani secara aksial. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih rumit, kita perlu memeriksa tegangan yang bekerja pacta potongan miring, seperti potongan yang dipotong oleh bidang pq dalam Gambar 2-28a. Karena tegangan sama di seluruh bagian batang, tegangan yang bekerja di seluruh potongan miring harus mempunyai distribusi terbagi rata, seperti terlihat di dia­ gram benda bebas dalam Gambar 2-28b (tampak tiga dimensi) dan Gambar 2-28c (tampak dua dimensi). Dari keseimbangan benda bebas, kita ketahui bahwa resultan tegangan harus sama dengan gaya horizontal P. (Resultan ini digambar dengan garis putus dalam Gambar 2-28b dan 2-28c). Mula-mula kita membutuhkan skema untuk menetapkan orientasi potongan miring pq. Metode standar untuk ini adalah menetapkan sudut e antara sumbu x dan normal n dalam potongan (Gambar 2-29a). Jadi, sudut e untuk potongan miring yang ditunjukkan dalam gambar kira-kira 30°. Sebaliknya, potongan mn (Gambar 2-26a) mempunyai sudut 8 yang sama dengan no! (karena normal penampang ini adalah sumbu x). Contoh lain, tinjaulah elemen tegangan (Gambar 2-27). Sudut 8 untuk muka kanan adalah 0, untuk muka atas adalah 90° (potongan longitudinal batang), untuk muka kiri adalah 180°, dan untuk muka bawah adalah 270° (atau -90°). Sekarang kita kembali ke tujuan mencari tegangan yang bekerja di potongan pq (Gambar 2-29b). Sebagaimana telah disebutkan, resultan tegangan ini adalah gaya P yang bekerja di arah x. Resultan ini dapat
  • 106.
    Gambar 2-28 Batangprismatis yang mengalami tarik yang me­ nunjukkan tegangan yang bekerja di potongan pq yang miring: (a) batang dengan gaya aksial P. (b) tampak tiga dimensi dari batang yang dipotong yang menunjukkan tegangan, dan (c) tampak dua dimensi. (a) (b) (c) Mekanika Bahan 93 B diuraikan atas dua komponen, gaya normal N yang berarah tegak lurus bidang miring pq dan gaya geser V yang berarah tangensial padanya. Jadi komponen gaya tersebut adalah N = P cos () V = P sin () (2-20a,b) Berkaitan dengan gaya N dan V ada tegangan normal dan tegangan geser yang mempunyai distribusi terbagi rata di seluruh potongan melintang (Gambar 2-29c dan d). Tegangan normal ini sama dengan gaya normal N dibagi luas potongan, dan tegangan geser tersebut sama dengan gaya geser V dibagi dengan luas potongan. Jadi, kedua tegangan tersebut adalah (J di mana A1 adalah luas potongan miring: A A� = -­ cos () (2-2l a,b) (2-22) Seperti biasa, A menunjukkan luas potongan batang. Tegangan a dan r bekerja dengan arah seperti terlihat dalam Gambar 2-29c dan d, artinya mempunyai arah masing-masing sama dengan gaya normal N dan gaya geser V. Hingga saat ini kita perlu menetapkan perjanjian tanda dan notasi untuk tegangan yang bekerja pada potongan miring. Kita akan mengguna­ kan subskrip () yang menunjukkan bahwa tegangan yang bekerja pada
  • 107.
    94 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Gambar 2-29 Batang prismatis yang mengalami tarik yang A, A / cos () P ' V q (c) V = --x,- menunjukkan tegangan yang A bekerja pada potongan miring pq Gambar 2-30 Perjanjian tanda untuk tegangan yang bekerja pada potongan miring. (Tegangan normal adalah positif apabila tarik dan tegangan geser adalah positif apabila menghasilkan rotasi yang berlawanan jarum jam.) I q A, = - A- cos () (d) potongan yang miring ctengan suctut () (Gambar 2-30), seperti juga k:ita menggunakan subskrip x untuk menunjukkan bahwa tegangan bekerja pacta potongan yang sejajar sumbu x (lihat Gambar 2-26). Tegangan nor­ mal a6 bertancta positifjika tarik ctan tegangan geser r6 actalah positifjika menghasilkan rotasi bahan berlawanan jarum jam, seperti terlihat ctalam Gambar 2-30. Untuk sebuah batang yang mengalami tarik, gaya normal N meng­ hasilkan tegangan normal positif a6 (lihat Gambar 2-29c) ctan tegangan geser V menghasilkan tegangan geser negatif r6 (lihat Gambar 2-29ct). Tegangan-tegangan ini ctinyatakan ctengan persamaan berikut (lihat Persamaan 2-20, 2-21, ctan 2-22): N P 2 ae = - = - cos 8 A1 A re = -� = - p sin () cos 8 A1 A Dengan menggunakan notasi a x = PIA, cti mana a x actalah tegangan nor­ mal pacta penampang, juga ctengan menggunakan hubungan trigonometri
  • 108.
    Gambar 2-31 Graflktegangan nor­ mal CJ9 dan -r9 versus sudut 8 dari potongan miring (lihat Gambar 2- 30 dan Persamaan 2-23a dan b) cos 2 8 = ko + cos28) kita peroleh Mekanika Bahan 95 sin() cos() = k(sin28) (2-23a) (2-23b) Persamaan-persamaan ini memberikan tegangan normal dan geser yang bekerja pada potongan yang berarah miring dengan sudut e. Perlu diketahui bahwa Persamaan (2-23a) dan (2-23b) diturunkan hanya dari statika sehingga keduanya tidak bergantung pada bahan. Jadi, keduanya berlaku untuk bahan apapun, apakah tinier atau nonlinier, elastis atau inelastis. Bagaimana tegangan bervariasi untuk kemiringan bidang potongan ditunjukkan dalam Gambar 2-31. Sumbu horizontal dinyatakan dalam sudut () yang bervariasi dari -90° sampai +90°, dan sumbu vertikal memberikan tegangan G8 dan re- Perhatikan bahwa tanda positif () diukur berarah berlawanan jarum jam dari sumbu x (Gambar 2-30) dan sudut negatif diukur searah jarum jam. Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar tersebut, tegangan normal G8 sama dengan G x jika () = 0. Selanjutnya, jika 0bertambah atau berkurang, tegangan normal akan mengecil sampai menjadi nol pada () = ±90° karena tidak ada tegangan normal di potongan yang sejajar dengan sumbu longitudinal. Tegangan normal maksimum terjadi pada () = 0 dan besarnya adalah (2-24) Juga, kitalihatbahwajika () = ±45°, maka tegangan normal adalah setengah harga maksimurnnya. Tegangan geser r8 berharga nol pada penampang batang (() = 0) dan juga pada potongan longitudinal (() = ±90°). Di antara kedua batas tersebut, tegangan bervariasi seperti terlihat dalam gambar tersebut, hingga men-
  • 109.
    96 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksia/ Gambar 2-32 Tegangan normal dan geser yang bekerja pada elemen tegangan yang berorientasi (} = 0° dan (} = 45° umuk batang yang mengalami tarik capai harga positif terbesar pacta e = --45° ctan harga negatif terbesar pacta () = +45°. Kectua tegangan geser maksimum ini mempunyai besar yang sama yaitu (2-25) tetapi masing-masing memutar elemen ke arah yang berlawanan. Tegangan maksimum cti batang yang mengalami tarik ctitunjukkan ctalam Gambar 2-32. Kectua elemen tegangan ini ctipilih-elemen A berorientasi pacta e = oo ctan elemen B berorientasi pacta e = 45°. Elemen A mempunyai tegangan normal maksimum (Persamaan 2-24) ctan elemen B mempunyai tegangan geser maksimum (Persamaan 2-25). Untuk elemen A (Gambar 2-32b), tegangan yang acta hanyalah tegangan normal maksimum (tictak acta tegangan geser cti muka ini). )' (a) 2 2 (b) (c) Dalam kasus elemen B (Gambar 2-32c), baik tegangan normal maupun tegangan geser bekerja pacta semua muka (kecuali, pacta muka ctepan ctan belakang elemen). Tinjau, sebagai contoh, muka cti 45° (muka kanan atas). Di muka ini tegangan normal ctan geser (ctari Persamaan 2-23a ctan b) actalah CJ/2 ctan -CJ/2. Jacti, tegangan normal actalah tarik (positif) ctan tegangan geser bekerja searah jarum jam (negatif) terhactap elemen. Tegangan cti muka lainnya ctiperoleh ctengan cara sama ctengan memasukkan () = 1 35°, --45° ctan -135° ke ctalam Persamaan (2-23a ctan b). Jacti. ctalam kasus khusus untuk elemen yang berorientasi e = 45° ini, tegangan noirnal cti keempat muka actalah sama (sama ctengan CJ)2) ctan keempat tegangan geser mencapai besar maksimum (sama ctengan CJ)2).
  • 110.
    Beban t Beban Gambar 2-33 Kegagalangeser di sepanjang bidang blok kayu 45° yang dibebani tekan Beban t Beban Gambar 2-34 Jalur gelincir (atau jalur Luders) pada benda uji baja yang dipoles dibebani tarik Mekanika Bahan 97 Juga, perhatikan bahwa tegangan geser yang bekerja pada bidang-bidang yang tegak lurus mempunyai besar yang samadan mempunyai arah menuju, atau meninggalkan, garis perpotongan bidang-bidang, sebagaimana dibahas dengan rinci dalam Subbab 1 .6. Jika suatu batang dibebani tekan, bukannya tarik, maka tegangan ax akan berupa tekan dan akan mempunyai harga negatif. Karena itu, semua tegangan yang bekerja di elemen tegangan akan mempunyai arah yang berlawanan dengan untuk batang yang mengalami tarik. Tentu saja, Persamaan (2-23a dan b) masih dapat digunakan untuk perhitungan dengan memasukkan ax sebagai besaran negatif. Meskipun tegangan geser maksimum di batang yang dibebani secara aksial hanyalah setengah dari tegangan normal maksimum, tegangan geser dapat menyebabkan kegagalan jika bahannya jauh lebih lemah terhadap geser dibandingkan terhadap tarik. Sebuah contoh yang menunjukkan kegagalan geser terlihat dalam Gambar 2-33, yang menunjukkan sebuah blok kayu yang telah dibebani tekan dan gagal karena tetjadi geser di sepanjang bidang 45°. Jenis perilaku seperti ini tetjadi pada baja lunak yang dibebani tarik. Selama uji tarik pada batang datar dari baja berkarbon rendah dengan permukaan yang dipoles, jalur gelincir (slip bandsJ terlihat pada sisi-sisi batang pada 45° dengan sumbu (Gambar 2-34). Jalur ini menunjukkan bahwa bahan tersebut gagal secara geser di sepanjang bidang­ bidang di mana tegangan geser mencapai maksimum. Jalur seperti ini pertama kali diamati oleh G. Piobert pada tahun 1842 dan W. Ltiders pada tahun 1 860 (lihat Ref. 2-6 dan 2-7), dan dewasa ini jalur tersebut disebut Jalur Liiders atau lalur Piobert. Jalur ini mulai terlihat jika tegangan luluh di batang tercapai (titik B dalam Gambar 1-10). Keadaan tegangan yang dijelaskan dalam subbab ini disebut tegangan uniaksial, karena alasan yang sudah jelas, yaitu batang tersebut mengalami tarik mumi atau tekan pada satu arah saja. Orientasi elemen tegangan yang paling penting untuk tegangan uniaksial adalah e = 0 dan e = 45° (Gambar 2-32); yang disebut pertama mempunyai tegangan normal maksimum dan yang disebut terakhir mempunyai tegangan geser maksimum. Jika potongan di batang mempunyai sudut lainnya, maka tegangan yang bekerja di muka-muka elemen tegangan dapat ditentukan dari Persamaan 2-23a dan b), seperti digambarkan dalam Contoh 2-10 dan 2-1 1 berikut ini. Tegangan uniaksial adalah kasus khusus dari keadaan tegangan yang lebih umum yang dikenal dengan tegangan bidang, yang dibahas dengan rinci dalam Bab 7. • Contoh 2-1o Sebuah batang prismatis yang mempunyai luas penampang A = 1 200 mm 2 ditekan dengan gaya aksial P = 90 kN (Gambar 2-35a). Tentukanlah tegangan yang bekerja di potongan miring pq yang dipotong melalui batang dengan sudut e = 25°. (b) Tentukan keadaan tegangan secara lengkap untuk e = 2SO dan tunjukkan tegangan di elemen tegangan yang diarahkan dengan benar.
  • 111.
    98 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial (a) (b) Gambar 2-35 Contoh 2-10. Tegangan pada potongan miring (c) Solusi (a) Untuk mendapatkan tegangan yang bekerja pada potongan pada sudut 6 = 25°, mula-mula kita hitung tegangan normal a x yang bekerja pada potongan melintang: p C1 = -- X A 90 kN = - 75 MPa 1200 mm 2 di mana tanda minus menunjukkan bahwa tegangan adalah tekan. Selanjutnya, kita hitung tegangan normal dan geser dari Persamaan (2-23a dan b) dengan (J = 25°, sebagai berikut: a9 = ax cos 2 8 = (-75 MPa)(cos 25°)2 = -61 , 1 MPa .. r9 = -ax sin 8 cos 8 = (75 MPa)(sin 25°)(cos 25°) = 28,7 MPa .. Tegangan ini ditunjukkan bekerja pada potongan miring dalam Gambar 2-35b. Perhatikan bahwa tegangan normal a9 adalah negatif (tekan) dan tegangan geser r9 adalah positif (berlawanan jarum jam). (b) Untuk menentukan keadaan tegangan yang lengkap, kita perlu mencari tegangan yang bekerja di semua muka elemen tegangan yang berorientasi 25° (Gambar 2-35c). Muka ab, di mana (J = 25°, mempunyai orientasi sama dengan bidang miring dalam Gambar 2-35b. Dengan demikian, tegangannya sama dengan yang dituliskan di atas. Tegangan di muka sebaliknya cd adalah sama dengan yang ada di muka ab, yang dapat diverifikasi dengan memasukkan (J = 25° + 1 80° = 205° ke dalam Persamaan (2-23a dan b). Untuk muka be kita masukkan (J = 25° - 90° = -65° ke dalam Persamaan (2-23a dan b) dan mendapatkan a9 = -13,4 MPa 1:9 = -28,7 MPa Tegangan-tegangan yang sama ini juga berlaku di muka sebaliknya, ad, sebagaimana dapat diverifikasi dengan memasukkan (J = 25° + 90° = 1 15° ke dalam Persamaan (2-23a dan b). Catat bahwa tegangan normal ini adalah tekan dan tegangan geser mempunyai arah berlawanan jarum jam. Keadaan tegangan secara lengkap ditunjukkan denganelemen tegangan dalam Gambar 2-35c. Sketsa seperti ini merupakan cara yang sangat baik untuk menunjukkan arah tegangan dan orientasi bidang di mana tegangan tersebut bekerja.
  • 112.
    Mekanika Bahan 99 •Contoh 2-1 1 Gambar 2-36 Contoh 2- 1 1 . Tegangan pada potongan miring Sebuah batang yang mempunyai penampang bujursangkar dengan sisi b harus memikul beban P = 8000 lb (Gambar 2-36a). Dua bagian batang dihubungkan oleh joint berlem (dikenal dengan scarf joint) di sepanjang bidang pq, yang membentuk sudut a = 40° dengan vertikal. Batang ini terbuat dari plastik struktural yang mempunyai tegangan izin tekan dan geser masing-masing 1 100 psi dan 600 psi. Selain itu, tegangan izin di joint yang berlem adalah 750 psi untuk tekan dan 500 psi untuk geser. Tentukanlah lebar minimum b untuk batang. a = 40° f3 = 50° 9 = -{3 = -50° (a) (b) Solusi Untuk mudahnya, kita putar batang ini menjadi horizontal (Gambar 2-36b) yang cocok dengan gambar yang digunakan dalam menurunkan persamaan untuk tegangan di potongan miring (lihat Gambar 2-29 dan 2-30). Dengan posisi batang seperti ini, kita lihat bahwa normal n terhadap bidang joint berlem (bidang pq) membentuk sudut f3 = 90° - a, atau 50°, dengan sumbu batang. Karena sudut (} didefinisikan positif jika berlawanan jarum jam (Gambar 2-30), kita simpulkan bahwa (} = -50° untuk joint berlem. Luas penampang batang mempunyai kaitan dengan beban P dan tegangan a x di penampang dengan persamaan (a) Dengan demikian, untuk memperoleh luas yang dibutuhkan, mula-mula kita harus menentukan harga a x yang berkaitan dengan masing-masing dari empat tegangan izin. Selanjutnya, harga terkecil dari a x akan menentukan luas yang dibutuhkan. Harga a x diperoleh dengan menyusun kembali Persamaan (2-23a dan b) sebagai berikut: a = X sin (} cos (} (2-26a,b) Sekarang kita akan menerapkan persamaan-persamaan di atas kejointberlem dan ke plastik.
  • 113.
    1 00 Bab2 Elemen Struktur yang Oibebani Secara Aksial (a) Harga crx yang didasarkan atas tegangan i::in di joint berlem. Untuk tekan di joint berlem kita ketahui CTe = -750 psi dan 8 = -50°. Dengan memasukkannya ke dalam Persamaan (2-26a) kita dapatkan er = -750 psi = - 1 8 1 5 psi X (COS -50°)2 (b) Untuk geser dijoint berlem kita ketahui tegangan izin 500 psi. Sekalipun demikian, tidak begitujelas apakah r e adalah +500 psi ataukah -500 psi. Salah satu pendekatan ada1ah dengan memasukkan kedua harga tersebut ke dalam Persamaan (2-26b) dan selanjutnya memilih harga crx yang negatif. Harga er , lainnya akan positif (tarik) dan tidak berlaku untuk batang ini, yang mengalami tekan. Pendekatan lain adalah dengan memeriksa batang itu sendiri (Gambar 2-36b) dan mengamati dari arah beban bahwa tegangan geser akan berarah jarum jam terhadap bidang pq' yang berarti bahwa tegangan geser negatif. Dengan demikian, kita masukkan r e = -500 psi dan e = -50° ke dalam Persamaan (2-26b) dan mendapatkan () = X -500 psi = -1015 psi (sin -50°)(cos -50°) (c) (b) Harga er , berdasarkan atas tegangan izin di plastik. Tegangan tekan maksimum di p1astik terjadi di potongan melintang. Dengan demikian, karena tegangan izin tekan adalah 1 100 psi, maka kita langsung mengetahui bahwa crx = -1 100 psi (d) Tegangan geser maksimum di bidang terjadi pada arah 45° dan secara numerik sama dengan cr)2 (lihat Persamaan 2-25). Karena tegangan geser izin adalah 600 psi, maka crx = -1200 psi (e) Hasil yang sama dapat diperoleh dari Persamaan (2-26b) dengan memasukkan re = 600 psi dan e = 45°. (c) Lebar minimum batang. Dengan membandingkan keempat harga crx (Persamaan b, c, d, dan e), kita lihat bahwa yang terkecil ada1ah crx = -1015 psi. Dengan demikian, harga ini menentukan desainnya. Dengan memasukkannya ke dalam Persamaan (a), dan dengan menggunakan harga numerik, maka kita peroleh luas yang dibutuhkan A = 8000 1b = 7,88 in.z 1015 psi Karena batang ini mempunyai penampang bujursangkar (A = b 2 ), maka lebar minimum adalah bmin = .JA = �7,88 in. 2 = 2,8 1 in. .. Setiap 1ebar yang lebih besar daripada bmin akan menjamin bahwa tegangan izin tidak dilampaui. Sebagai contoh, kita dapat memilih b = 3,0 in. ENERGI REGANGAN Energi regangan adalah konsep dasar di dalam mekanika terapan, dan prinsip energi regangan banyak digunakan untuk mencari respons mesin dan struktur terhadap beban statik maupun dinamik. Di dalam subbab ini kita meninjau topik energi regangan dalam bentuk yang paling sederhana dengan hanya meninjau elemen struktur yang dibebani secara aksial yang mengalami beban statik. Elemen struktur yang lebih rumit dibahas pada bab-bab lain-batang yang mengalami torsi dibahas di Subbab 3.9 dan
  • 114.
    Gambar 2-37 Batangprismatis yang mengalami beban statis. p Gambar 2-38 Diagram beban­ peralihan Mekanika Bahan 1 01 balok yang mengalami lentur dibahas di Subbab 9.8. Selain itu, penggunaan energi regangan dalam kaitan dengan beban dinamik diuraikan dalam subbab berikutnya (Subbab 2.8) dan dalam Subbab 9. 10. Untuk menggambarkan ide dasar. tinjaulah batang prismatis yang panjangnya L yang mengalami gaya tarik P (Gambar 2-37). Kita asumsikan bahwa beban diterapkan secara perlahan-lahan, sedemikian hingga beban tersebut bertambah dari nol ke harga maksimumnya P. Beban seperti ini disebut beban statik karena tidak ada efek dinamik ataupun inersia akibat gerakan. Batang ini secara perlahan-lahan memanjang pada saat beban diterapkan, hingga akhimya mencapai perpanjangan maksimum 8 pada saat yang sama dengan beban mencapai harga maksimum P. Dengan demikian, beban dan perpanjangan harus tetap tak berubah. Selama proses pembebanan, beban P bergerak perlahan-lahan melalui jarak 8 dan melakukan sejumlah usaha. Untuk mengevaluasi usaha ini, kita ingat dari mekanika dasar bahwa gaya konstan melakukan usaha sama dengan hasil kali gaya dan jarak yang ditempuhnya. Dalam kasus kita, besar gaya bervariasi dari nol ke harga maksimum P. Untuk mendapatkan usaha yang dilakukan oleh beban akibat kondisi ini, kita perlu mengetahui bagaimana beban tersebut berubah. Informasi ini diberikan dengan diagram beban-peralihan, sepeni terlihat dalam Gambar 2-38. Pada diagram ini sumbu vertikal menujukkan beban aksial dan sumbu horizontal menunjukkan perpanjangan batang. Bentuk kurva ini bergantung pada besaran bahan. Kita gunakan notasi P1 untuk harga beban berapapun antara no! dan harga maksimum P, dan mencatat perpanjangan di batang tersebut dengan 81• Lalu, pertambahan dP1 pada beban akan menghasilkan peningkatan do1 pada perpanjangan. Usaha yang dilakukan oleh beban selama peningkatan perpanjangan adalah hasil kali beban dan jarak yang dilampaui, artinya usaha sama dengan P1do1• Usaha ini dinyatakan dalam gambar tersebut dengan luas yang di arsir gelap di bawah kurva beban-peralihan. Usaha total yang dilakukan oleh beban pada saat meningkat dari nol ke harga maksimum P adalah jumlah dari semua strip elemental: w = fo�do1 (2-27) Dalam tinjauan geometrik, usaha yang dilakukan oleh beban sama dengan luas di bawah kurva beban-peralihan. Apabila beban memperpanjang batang, maka timbul regangan. Adanya regangan ini menambah taraf energi batang itu sendiri. Dengan demikian, besaran baru, yang disebut energi regangan, didefinisikan sebagai energi yang diserap oleh batang selama proses pembebanan. Dari prinsip konservasi energi, kita ketahui bahwa energi ini sama dengan usaha yang dilakukan oleh beban asalkan tidak ada energi yang ditambahkan atau dikurangi di dalam batang panas. Dengan demikian, (2-28) di mana U adalah simbol untuk energi regangan. Kadang-kadang energi regangan disebut dengan usaha dalam untuk membedakannya dengan usaha luar yang dilakukan oleh beban.
  • 115.
    102 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial p B Energi regangan inelastis Energi regangan elastis D c 8 Gambar 2-39 Energi regangan elastis dan inelastis p T p _ j01 8 --1 0 Gambar 2-40 Diagram beban­ peralihan untuk batang dari bahan elastis Jinier Usaha dan energi dinyatakan dalam satuan yang sama. Dalam SI, satuan usaha dan energi adalah dalam joule (J), yang sama dengan satu newton meter ( 1 J = 1 Nm). Dalam satuan USCS, usaha dan energi dinyatakan dalam foot-pound (ft-lb), foot-kip (ft-k), inci-pound (in.-lb), dan inci-kip (in.-k).* Jika gaya P (Gambar 2-37) secara perlahan-lahan dihilangkan dari batang, maka batang tersebut akan memendek. Jika limit elastis bahan tidak dilampaui, maka batang akan kembali ke panjang semula. Jika limit ini terlampaui, maka set permanen akan tertinggal (lihat Subbab 1 .4). Jadi, semua atau sebagian dari energi regangan akan terpulihkan menjadi usaha. Perilaku ini ditunjukkan dalam diagram beban-peralihan dalam Gambar 2-39. Selama pembebanan, usaha yang dilakukan oleh beban sama dengan luas di bawah kurva (luas OABCDO). Jika beban dihilangkan, maka diagram beban-peralihan mengikuti garis BD jika titik B ada di luar limit elastis dan perpanjangan permanen OD tetap tersisa. Jadi, energi regangan yang terpulihkan selama penghilangan beban, yang disebut energi regangan elastis, dinyatakan dengan segitiga yang diarsir gelap (BCD). Luas OABDO menunjukkan energi yang hilang dalam proses merubah bentuk batang secara permanen. Energi ini dikenal dengan energi regangan inelastis. Kebanyakan struktur didesain dengan harapan bahwa bahan akan tetap di dalam selang elastis pada kondisi layanan yang biasa. Untuk batang yang mengalami tarik, beban pada saat tegangan di bahan mencapai limit elastis dinyatakan dengan titik A di kurva beban-peralihan (Gambar 2-39). Selama beban masih di bawah harga ini, semua energi regangan akan dapat pulih selama penghilangan beban dan tidak ada perpanjangan permanen yang tersisa. Jadi, batang ini akan beraksi sebagai pegas elastis, yang menyimpan dan melepaskan energi apabila beban diterapkan dan dihilangkan. • Perilaku Elastis Linier Sekarang kita asumsikan bahwa bahan pembentuk batang mengikuti hukum Hooke sedemikian hingga kurva beban-peralihan adalah garis lurus (Gambar 2-40). Jadi, energi regangan U yang disimpan di batang tersebut (sama dengan usaha W yang dilakukan oleh beban) adalah (2-29) yang merupakan luas segthga yang digelapkan OAB dalam gambar tersebut.** Selanjutnya, kita ketahui bahwa hubungan antara beban P dan perpanjangan 8 untuk bahan elastis linier dinyatakan dengan persamaan 8 = PL EA (2-30) * Faktor-faktor konversi untuk ketja dan energi diberikan dalam Lampiran A, Tabel A-5. * * Prinsip babwa kerja oleh beban luar sama dengan energi regangan (untuk kasus perilaku elastis linier) pertama kali dinyatakan oleh insinyur Perancis B.P.E. Clapeyron (1799-1864) dan dikenal dengan teorema Clapeyron (Ref. 2-8).
  • 116.
    Gambar 2-41 Batangyang terdiri atas segmen-segmen prismatis yang mempunyai luas penampang dan gaya aksial yang berbeda-beda n == L �J p Gambar 2-42 Batang non­ prismatis dengan gaya aksial yang bervariasi Mekanika Bahan 1 03 Dengan menggabungkan persamaan ini dengan Persamaan (2-29), kita dapat menyatakan energi regangan pada batang elastis linier dalam bentuk sebagai berikut (2-3 1a,b) Persamaan pertama menyatakan energi regangan sebagai fungsi dari beban dan yang kedua menyatakannya sebagai fungsi dari perpanjangan. Dari persamaan pertama kita lihat bahwa memperbesar panjang suatu batang akan meningkatkan energi regangan meskipun bebannya tidak berubah (karena lebih banyak bahan yang diregangkan oleh beban). Sebaliknya, meningkatkan modulus elastisitas atau luas penampang akan mengurangi energi regangan karenaregangan di batang berkurang. Ide ini digambarkan dalam Contoh 2-12 dan 2-13. Persamaan energi regangan yang analog dengan Persamaan (2-31a) dan (2-3 1b) dapat ditulis untuk pegas elastis linier dengan mengganti ke­ kakuan EA/L dari batang prismatis dengan kekakuan k suatu pegas. Jadi, (2-32a,b) Tentu saja, rumus-rumus ini ekivalen asalkan P = ko untuk suatu pegas. Energi regangan total U pada suatu batang yang terdiri atas beberapa segmen sama dengan jumlah energi regangan dari masing-masing segmen. Sebagai contoh, energi regangan suatu batang yang terlihat dalam Gambar 2-41 sama dengan energi regangan segmen AB ditambah energi regangan segmen BC. Konsep ini dinyatakan dalam bentuk umum dengan persamaan sebagai berikut (2-33) di mana U; adalah energi regangan segmen i dari batang dan n adalah banyaknya segmen. (Hubungan ini berlaku apakah bahan berperilaku linier maupun nonlinier.) Sekarang kita asumsikan bahwa bahan dari batang ini elastis linier dan bahwa gaya aksial konstan di dalam setiap segmen. Kita dapat menggunakan Persamaan (2-3 1a) untuk mendapatkan .energi regangan segmen, dan Persamaan (2-33) menjadi (2-34) di mana N; adalah gaya aksial yang bekeija di segmen i dan L;, E;, dan A; adalah besaran segmen i. (Penggunaan persamaan ini digambarkan dalam Contoh 2-12 dan 2-1 3 di akhir subbab ini.) Kita dapat memperoleh energi regangan pada batang nonprismatis dengan gaya aksial yang bervariasi secara kontinu (Gambar 2-42) dengan menerapkan Persamaan (2-3 1a) untuk elemen diferensial (ditunjukkan dengan bagian yang digelapkan dalam gambar) dan selanjutnya meng­ integrasikan di seluruh panjang batang
  • 117.
    104 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksiaf c f ' ' , ' n'! p ' ' f Gambar 2-43 Struktur yang memikul beban tunggal P U = fL [N(x)] 2 dx Jo 2EA(x) (2-35) Di dalam persamaan ini, N(x) dan A(x) adalah gaya aksial dan luas penampang pada jarak x dari ujung batang. (Contoh 2-14 menggambarkan penggunaan persamaan ini.) Rumus untuk energi regangan di atas (Persamaan 2-3 1 sampai 2-35) menunjukkan bahwa energi regangan bukanlah merupakan fungsi linier dari beban, meskipun bahannya bersifat elastis linier. Jadi, perlu diingat bahwa kita tidak dapat memperoleh energi regangan suatu struktur yang memikul lebih dari satu beban dengan menggabungkan energi regangan yang diperoleh dari masing-masing beban secara terpisah. Dalam hal batang nonprismatis yang terlihat dalam Gambar 2-41, energi regangan total bukanlah merupakan jumlah dari energi regangan akibat beban P1 yang bekerja sendiri dan energi regangan akibat beban P2 yang bekerja sendiri. Untuk itu, kita harus menghitung energi regangan dengan semua beban yang bekerja secara simultan, sebagaimana akan ditunjukkan dalam Contoh 2-14. Meskipun kita hanya meninjau elemen tarik di dalam pembahasan energiregangan, semua konsep dan persamaan berlaku sama dengan elemen tekan. Karena kerja yang dilakukan oleh beban aksial adalah positif, tak peduli apakah beban menyebabkan tarik atau tekan, maka energi regangan selalu merupakan besaran positif. Fakta ini juga nyata dalam rumus untuk energi regangan pada batang elastis linier (seperti Persamaan 2-3 1 a dan 2- 3 1b). Rumus-rumus ini selalu positif karena beban dan perpanjangan dikuadratkan. Energi regangan adalah bentuk dari energi potensial (atau "energi posisi") karena energi ini bergantung pada lokasi relatif partikel-partikel elemen yang membentuk elemen struktur. Apabila suatu batang atau pegas mengalami tekan, maka partikel-partikelnya akan semakin rapat; apabila ditarik, jarak antara partikel akan bertambah. Dalam kedua kasus tersebut energi regangan elemen struktur akan bertambah dibandingkan dengan energi regangan pada posisi tak dibebani. • Peralihan yang Disebabkan oleh Beban Tunggal Peralihan suatu struktur elastis linier yang memikul hanya satu beban dapat ditentukan dari energi regangannya. Untuk menggambarkan metode ini, tinjaulah rangka batang dua batang (Gambar 2-43) yang dibebani oleh gaya vertikal P. Tujuan kita adalah untuk menentukan peralihan vertikal 8 di joint B di mana beban tersebut diterapkan. Apabila diterapkan perlahan-lahan pada rangkabatang tersebut, beban P melakukan usaha pada saat ia bergerak melalui peralihan vertikal 8. Namun, ia tidak melakukan usaha pada saat bergerak ke arah lateral, yaitu ke samping. Dengan demikian, karena diagram beban-peralihan adalah linier (lihat Persamaan 2-29 dan Gambar 2-40), maka energi regangan U yang disimpan dalam struktur tersebut sama dengan kerja yang dilakukan oleh beban, yaitu u w Po 2
  • 118.
    Mekanika Bahan 105 sehingga kita dapatkan (2-36) Persamaan ini menunjukkan bahwa pada kondisi khusus tertentu, sebagaimana disebutkan di bawah ini, peralihan suatu struktur dapat ditentukan secara langsung dari energi regangan. Kondisi yang harus dipenuhi agar Persarnaan (2-36) berlaku adalah: (1) struktur harus berperilaku elastis linier, dan (2) hanya satu beban yang bekerja pada struktur. Lebih jauh lagi, satu-satunya peralihan yang dapat ditentukan adalah peralihan yang berkaitan dengan beban itu sendiri (artinya, peralihan tersebut harus dalam arah beban dan harus di titik di mana beban itu bekerja). Dengan dernikian, metode untuk mencari peralihan sangat terbatas dalam penerapannya dan bukan merupakan indikator yang baik dari pentingnya prinsip energi regangan di dalam mekanika struktur. Sekalipun demikian, metode ini memberikan pengantar pada penggunaan energi regangan. (metode ini digambarkan dalarn Contoh 2- 15.) • Rapat Energi-Regangan Pada banyak situasi akan lebih mudah jika menggunakan besaran yang disebut rapat energi-regangan, yang didefinisikan sebagai energi regangan per volume satuan bahan. Rumus untuk rapat energi regangan bagi bahan yang elastis linier dapat diperoleh dari rumus untuk energi regangan batang prismatis (Persamaan 2-3 1a dan b). Karena energi regangan suatu batang terdistribusi secara merata di seluruh volumenya, maka kita dapat menentukan energi regangan dengan membagi energi regangan total U dengan volume batang AL. Jadi, rapat energi regangan, yang ditulis dengan u, dapat ditulis dalam bentuk: p2 u = -- 2EA 2 (2-37a,b) Jika kita mengganti PIA dengan tegangan er dan 8/L dengan regangan e, maka (2-38a,b) Persamaan-persamaan ini memberikan rapat energi regangan pada bahan elastis linier yang dinyatakan dalam tegangan normal er dan regangan normal e. Persarnaan (2-38a dan b) mempunyai interpretasi geometri sederhana. Keduanya sama dengan luas cre/2 dari segitiga di bawah kurva tegangan­ regangan untuk bahan yang mengikuti hukum Hooke (er = Ee). Dalam situasi yang lebih umum di mana bahan tidak mengikuti hukum Hooke, rapat energi-regangan masih sama dengan luas di bawah kurva tegangan­ regangan, tetapi luas tersebut harus dievaluasi pada masing-masing kasus khusus. Rapat energi-regangan mempunyai satuan energi dibagi dengan volume. Satuan SI adalah joule per meter kubik (J/m3) dan satuan USCS adalah ft-lb/ft3, lb-inlin3, dan satuan-satuan lain yang serupa. Karena semua
  • 119.
    r 106 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial satuan ini dapat susut menjadi satuan tegangan (ingat bahwa 1 J = 1 N.m, maka kita dapat juga menggunakan satuan seperti pascal (Pa) dan psi untuk rapat energi-regangan. Rapat energi regangan untuk bahan yang mengalami tegangan hingga mencapai limit proporsionalnya disebut modulus resiliensi ur. Ini dapat dihitung dengan memasukkan limit proporsional aP1 ke dalam Persamaan (2-38a): 2 u = O"pl r 2E (2-39) Sebagai contoh, bahan baja lunak yang mempunyai a P1 = 30.000 psi dan E = 30 x 106 psi mempunyai modulus resiliensi ur = 15 psi (atau 103 kPa). Catatbahwa modulus resiliensi sama dengan luas di bawahkurva tegangan­ regangan sampai limit proporsional. Resiliensi menunjukkan kemampuan bahan untuk menyerap dan melepaskan energi di dalam selang elastis. Besaran lain, yang disebut ketangguhan (toughness), mengandung arti kemampuan suatu bahan untuk menyerap energi tanpa mengalami fraktur. Modulus yang berkaitan dengan itu, disebut modulus ketangguhan u1, adalah rapat energi regangan apabila suatu bahan mengalami tegangan hingga titik kegagalan. Ini sama dengan luas di bawah keseluruhan kurva tegangan-regangan. Semakin tinggi modulus ketangguhan, semakin besar kemampuan bahan itu untuk menyerap energi tanpa gagal. Harga modu­ lus ketangguhan yang tinggi merupakan hal yang penting apabila suatu bahan mengalami beban kejut (lihat Subbab 2.8) Rumus untuk rapat energi regangan (Persamaan 2-37 sampai 2-39) diturunkan untuk tegangan uniaksial, artinya untuk bahan yang hanya mengalami tarik atau tekan. Rumus energi regangan untuk keadaan tegangan yang lebih umum dibahas di dalam Bab 7. • Contoh 2-12 Tiga batang bundar yang mempunyai panjang yang sama (L), tetapi bentuk yang berbeda, terlihat dalam Gambar 2-44. Batang pertama mempunyai diameter d di seluruh panjangnya, yang kedua mempunyai diameter d pada 1/5 dari panjangnya, dan yang ketiga mempunyai diameter dpada 1/15 dari panjangnya. Di bagian lain, batang kedua dan ketiga mempunyai diameter 2d. Ketiga batang ini mengalami beban aksial P yang sama. Hitunglah besarnya energi regangan yang disimpan pada masing-masing batang, dengan menganggap perilaku elastis linier. (Abaikan efek-efek konsentrasi tegangan dan berat batang.) Solusi (a) Energi regangan U1 pada batang pertama. Energi regangan batang pertama diperoleh Iangsung dari Persamaan (2-3l a): di mana A = 7tlP/4. p2L U1 = 2EA (a) • (b) Energi regangan U2padabatangkedua. Energi regangan diperoleh dengan menjumlahkan energi regangan di ketiga segmen batang (lihat Persamaan 2-34).
  • 120.
    Gambar 2-44 Contoh2-12. Perhitungan energi regangan Mekanika Bahan 107 1 �·. · 2d L _j_ p (a) (b) (c) Jadi, U = � N?Li = P2(L/5) + P2(4L/5) = P:L 2 {;;2EiAi 2EA 2£(4A.) SEA (b) .. yang hanya 40% dari energi regangan pada batang pertama. Jadi, memperbesar luas penampang pada sebagian dari panjang sangat mengurangi besamya energi regangan yang dapat disimpan pada batang. (c)Energi regangan U3 pada batang ketiga dengan menggunakan Persamaan (2-34) kita dapatkan U = iNi2Li = P2 (LI5) + P2 (14L/15) = 3P2L = 3U1 3 i=l 2E;Ai 2EA 2£(4A) 20EA 10 (c) .. Sekarang energi regangan berkurang sampai menjadi 30% energi regangan batang pertama. Catatan: Dengan membandingkan hasil-hasil ini, kita lihat bahwa energi regangan berkurang apabila sebagian dari batang dengan luas yang lebih besar bertambah. Sejum1ah kerja yang sama yang diberikan pada ketiga batang akan menghasilkan tegangan yang terbesar pada batang yang ketiga karena batang ketiga mempunyai kapasitas serap energi yang paling sedikit. Jika daerah yang mempunyai diameter d lebih kecil lagi, maka kapasitas serap energinya akan lebih berkurang lagi. Dengan demikian, kita simpulkan bahwa dibutuhkan sedikit kerja untuk menghasilkan tegangan tarik besar di suatu batang dengan takikan, dan semakin sempit takikan, semakin parah pula kondisinya. Apabila bebannya adalah dinamik dan kemampuan untuk menyerap energi merupakan ha! penting, maka adanya takikan akan sangat merusak. Dalam ha! beban statik, tegangan maksimum akan lebih penting dibandingkan dengan kemampuan untuk menyerap energi. Dalam contoh ini, ketiga batang mempunyai tegangan maksimum PIA (asalkan konsentrasi tegangan dapat diredam), sehingga ketiga batang mempunyai kapasitas pikul beban apabila beban diterapkan secara statis. • Contoh 2-13 Silinder dan kepala silinder untuk mesin udara yang terkompresi dijepit dengan baut melalui flens dari silindemya (Gambar 2-45a). Detail dari baut ditunjukkan da1am bagian (b) dari gambar tersebut. Diameter d tangkai baut adalah 0,500 in dan diameter akar d, dari bagian berulir adalah 0,406 in. Grip g dari baut adalah 1 ,50 in dan bagian berulir mempunyai jarak t = 0,25 in ke dalam grip. Akibat aksi siklus tekanan rendah dan tinggi di ruang, pada akhimya baut dapat putus.
  • 121.
    1 08 Bab2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Untuk mengurangi kemungkinan baut gaga!, perencana menyarankan dua kemungkinan modifikasi: (a) Dengan menggunakan mesin, perkecil ukuran diam­ eter tangkai baut hingga sama dengan diameter bagian berulir dr, seperti terlihat dalam Gambar 2-46a. (b) Gantilah setiap pasang baut dengan satu baut panjang, seperti terlihat dalam Gambar 2-46b. Baut yang panjang adalah sama dengan baut semula (Gambar 2-45b) kecuali bahwa grip baut ini bertambah dengan jarak L = 1 3,5 in. Bandingkan kapasitas penyerapan-energi ketiga konfigurasi baut: ( I ) baut semula, (2) baut dengan diameter tangkai yang direduksi, (3) baut panjang. (Asumsikan perilaku elastis linier dan abaikan pengaruh konsentrasi tegangan.) Silinder � '1Ji:l Ruang Piston Gambar 2-45 Contoh 2- 13. (a) Silinder dengan piston dan baut penjepit, dan (b) Detail satu baut Gambar 2-46 Contoh 2- 1 3. Modifikasi yang disarankan untuk baut: (a) Baut dengan diameter yang direduksi, dan (b) baut dengan panjang yang ditambah (a) (b) (a) (b) Solusi (1) Baut semula. Baut semula dapat diidealisasikan sebagai batang yang terdiri alas dua segmcn (Gambar 2-45b). Segmen kiri mempunyai panjang g - t dan diameter d, dan segmcn kanan mempunyai panjang t dan diameter dr. Energi regangan satu baut yang mengalami beban tarik P dapat diperoleh dengan menjumlahkan energi regangan kedua segmen (Persamaan 2-34): " 2 L , 2 _ " N; ; _ P" (g - t) P t ul - £....-- - + -- i=l 2E;A; 2 EA5 2 EAr (d) di mana As adalah luas penampang tangkai baut, dan Ar adalah luas penampang baut di akar uliran; jadi,
  • 122.
    Mekanika Bahan 109 Jrd2 A= ­ s 4 A = Jrd; ' 4 (e) Dengan memasukkan rumus ini ke dalam Persamaan (d), kita dapatkan rumus berikut untuk energi regangan satu dari empat baut semula: 2P2(g - tJ 2P2t V - + -- I - 7rEd2 i!Ed; (f) (2) Baut dengan diameter tangkai mng tereduksi. Baut ini dapat diidealisasikan sebagai batang prismatis dengan panjang g dan diameter dr (Gambar 2-46a). Dengan demikian, energi regangan satu baut (!ihat Gambar 2-31 a) adalah V - p2g - 2P:g 2 - 2EA, - nEd; Rasio energi regangan untuk kasus ( 1 ) dan (2) adalah Vz = gd2 VI (g - t)d; + td2 atau, dengan memasukkan harga-harga numerik. (g) (h) V2 = ( 1 ,50 in.)(0,500 in.) 2 = I 40 .. VI ( 1 ,50 in. - 0,25 in.)(0,406 in.)2 + (0.25 in. )(0.500 in.2 · Jadi, dengan menggunakan baut yang diameter tangkainya berkurang akan diperoleh peningkatan 40% pada energi regangan yang dapat diserap oleh baut. Jika diimplementasikan, skema ini dapat mengurangi banyaknya kegagalan yang disebabkan oleh beban kejut. (3) Baut panjang. Perhitungan untuk baut panjang (Gambar 2-46b) sama dengan untuk baut semula, tetapi grip g diganti dengan grip L. Dengan demikian, energi regangan untuk baut panjang (bandingkan dengan Persamaan t) adalah 2P2(L - t) 2P2t v3 = + -- nEd2 nEd; (i ) Karena satu baut panjang menggantikan dua baut semula, maka kita harus membandingkan energi regangan dengan mengambil rasio V3 terhadap 2V1, sebagai berikut .!:!.J..._ = (L - t)d; + td2 2V1 2(g - t)d; + 2td2 Dengan memasukkan harga-harga numerik maka v3 (1 3,5 in. - 0,25 in.)(0,406 in.)2 + (0,25 in.)(0,500 in.)2 = 4,18 .. 2VI = 2(1 ,50 in. - 0,25 in.)(0,406 inl + 2(0,25 in.)(0,500 in.)2 Jadi, penggunaan baut panjang akan meningkatkan kapasitas serap energi sebesar 3 18% dan mendapatkan faktor keamanan yang lebih besar dari tinjauan energi regangan. Catatan: Dalam mendesain baut, perencana harus meninjau tegangan tarik maksimum, tegangan tumpu maksimum, konsentrasi tegangan, dan ha1-hal lainnya. • Contoh 2-1 4 Tentukan energi regangan pada batang prismatis yang tergantung pada ujung atasnya. Tinjaulah beban berikut: (a) berat sendiri batang, dan (b) berat batang ditambah beban P di ujung bawah. (Asumsikan peri1aku elastis 1inier.)
  • 123.
    1 10 Bab2 E/emen Struktur yang Dibebani Secara Aksial T t T I I X X I l L _L_ - t j r dx (a) (b) Gambar 2-47 Contoh 2-14. (a) Batang tergantung yang memikul berat sendiri. dan (b) batang ter­ gantung yang memikul berat sendiri dan beban tambahan P Solusi (a) Energi regangan akibat berat sendiri batang (Gambar 2-47a). Batang ini mengalami gaya aksial yang bervariasi, di ujung bawah adalah no! dan di ujung atas adalah maksimum. Untuk menentukan besarnya gaya aksial, kita tinjau elemen yang panjangnya dx (ditunjukkan dengan digelapkan pada gambar) pada jarak x dari ujung atas. Gaya aksial internal N(x) yang bekerja pada elemen ini sama dengan berat batang di bawah elemen N(x) = y A(L - x) (k) di mana yadalah berat jenis bahan dan A adalah luas penampang batang. Dengan memasukkan Persamaan (2-35) dan mengintegrasinya, maka energi-regangan to­ tal adalah U = f L [N(x)]2 dx = [L[y A(L - x)]2 dx = y2AL3 o 2EA(x) Jo 2EA 6£ (2-40) • Hasil yang sama dapat diperoleh dari rapat energi-regangan. Di sembarang jarak x dari tumpuan, tegangannya adalah er = N(x) = y(L - x) A sehingga energi regangan (Persamaan 2-38a) adalah az yz(L _ x)z u = - = 2£ 2E (l) (m) Energi regangan total dapat diperoleh dengan mengintegrasi u di seluruh volume batang U = fu dV = f L u(A dx) = l L y2A(L - xf dx 0 0 2£ yang cocok dengan Persamaan (2-40). yzAL3 6E (n) (b) Energi regangan akibat berat batang ditambah beban P (Gambar 2- 47b). Dalam kasus ini gaya aksial N(x) yang bekerja pada elemen adalah N(x) = y A(L - x) + P (o) (bandingkan dengan Persamaan k). Dari Persamaan (2-35) kita dapatkan U = fL [y A(L - x) + P]2dx = y2AIJ J PL2 + P2L (2_41) • )0 2EA 6E 2E 2EA Catatan: Suku pertama dalam rumus ini sama dengan energi regangan pada batang yang tergantung dan dibebani berat sendiri saja (Persamaan 2-40), dan suku terakhir sama dengan energi regangan suatu batang yang hanya mengalami gaya aksial P (Persamaan 2-3 la). Namun, suku yang tengah mengandung y dan P, yang menunjukkan bahwa energi tersebut bergantung pada berat batang dan besamya beban yang bekerja. Jadi, contoh ini menggambarkan bahwa energi regangan suatu batang yang mengalami dua beban tidak sama dengan jumlah energi regangan yang diperoleh dari masing-masing beban yang bekerja secara terpisah. • Contoh 2-1 5 Tentukan peralihan vertikal 88 di joint B dari rangka batang yang terlihat dalam Gambar 2-48. Perhatikan bahwa beban yang bekerja pada rangka batang hanyalah rangka batang dengan beban vertikal P dijoint B. Asumsikan bahwa kedua batang dari rangka batang ini mempunyai rigiditas aksial EA yang sama.
  • 124.
    Gambar 2·48 Contoh2- 15. Peralihan rangka batang yang me­ mikul beban tunggal P *2.8 1 Mekanika Bahan 1 1 1 Solusi Karena hanya ada satu beban yang beketja pada rangka batang ini, maka kita dapat mencari peralihan yang berkaitan dengan beban tersebut dengan menyamakan ketja yang dilakukan beban tersebut dengan energi regangan pada batang-batang. Namun, untuk mendapatkan energi regangan kita harus mengetahui gaya-gaya pada batang (lihat Persamaan 2-31a). Dari keseimbangan gaya yang beketja pada joint B kita lihat bahwa gaya aksial F di masing-masing batang adalah F = _ _ P_ 2 cos f3 (p) Juga, dari geometri rangka batang kita lihat bahwa panjang setiap batang adalah L1 = H!cos {3, di mana H adalah tinggi rangka batang dan f3 adalah sudut yang ditunjukkan dalam gambar. Sekarang kita dapat memperoleh energi regangan kedua batang: U = (2/2� = p2H 2EA 4EA cos3 f3 Ketja yang dilakukan beban P adalah W = PoB 2 (q) di mana oB adalah peralihan ke bawahjoint B. Dengan menyamakan U dan Wdan menyelesaikan oB, kita dapatkan (2-42) .. Persamaan ini memberikan peralihan vertikaljointB padarangkabatang. Perhatikan bahwa kita memperoleh peralihan dengan menggunakan keseimbangan dan energi regangan-kita tidak menggunakan diagram peralihan di joint B. BEBAN KEJUT Beban dapat dikelompokkan sebagai statik atau dinamik bergantung pada apakah beban itu tetap konstan atau bervariasi terhadap waktu. Beban statik diterapkan perlahan-lahan sedemikian hingga tidak menyebabkan efek dinamik atau getaran pada struktur. Beban bertarnbah perlahan-lahan dari nol hingga mencapai harga maksimurnnya, sehingga tetap konstan. Beban dinamik dapat mempunyai berbagai bentuk-beberapa beban diterapkan dan dihilangkan secara tiba-tiba (beban kejut), ada pula yang berjangka waktu lama dan berubah-ubah secara kontinu terhadap waktu (beban yang berfiuktuasi). Beban kejut dihasilkan apabila dua benda bertumbukan atau apabila benda jatuh dan mengenai suatu struktur. Beban
  • 125.
    .... 1 1 2Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Gambar 2-49 Beban kejut pada batang prismatis AB ak:ibatjatuhnya benda dengan massa M (a) (b) yang berfluktuasi dihasilkan oleh mesin yang berputar, lalu lintas, angin, gelombang air, gempa bumi, dan proses pembuatan di pabrik. Sebagai contoh bagaimana suatu struktur merespon beban dinamik, kita akan membahas kejut yang terjadi akibat jatuhnya benda ke suatu batang prismatis (Gambar 2-49). Sebuah massa M, yang mula-mula dalam keadaan diam, jatuh dari tinggi h ke sayap di ujung bawah batang AB. Apabila massa tersebut menumbuk sayap, maka batang akan mulai memanjang, sehingga menimbulkan tegangan dan regangan aksial di batang. Pacta selang waktu yang sangat singkat, mungkin hanya beberapa milidetik, sayap akan bergerak ke bawah dan mencapai posisi peralihan maksimum. Dengan demikian, batang akan memendek, lalu memanjang, lalu memendek lagi yang berarti batang bergetar secara longitudinal dan ujung batang bergerak ke atas dan bawah. Getaran ini analog dengan yang terjadi apabila suatu pegas ditarik dan kemudian dilepaskan. Getaran batang akan berhenti karena efek redaman, dan batang akan diam dengan massa M akan terletak pacta sayap. Respons suatu batang terhadap massa yang jatuh tentu saja sangat rumit, dan analisis lengkap dan akurat membutuhkan penggunaan teknik matematika lanjut. Sekalipun demikian, kita dapat membuat analisis pen­ dekatan dengan menggunakan konsep energi regangan. (Subbab 2.7) dan membuat beberapa asumsi yang menyederhanakan. Kita mulai dengan meninjau energi suatu sistem sesaat sebelum massa dilepaskan (Gambar 2-49a). Energi potensial massa terhadap elevasi sayap adalah Mgh, di mana g adalah percepatan gravitasi.* Energi potensial ini dikonversikan menjadi energi kinetik pacta saat massa jatuh. Pacta saat massa menumbuk sayap, energi potensialnya terhadap elevasi sayap adalah nol dan energi kinetiknya adalah Mv 2 !2 di mana v = ...}2gh adalah kecepatannya.** Setelah tumbukan terjadi, energi kinetik massa di­ transformasikan menjadi energi regangan batang yang meregang. Sebagian energi terdisipasi menjadi panas atau menjadi deformasi plastis yang terlokalisasi pacta massa dan sayap. Sebagian kecil masih sebagai energi kinetik dari massa, yang mungkin bergerak ke bawah lebih jauh lagi (selama masih kontak dengan sayap) atau memantul ke atas. * Dalam satuan SI, percepatan gravitasi g = 9,81 rn!detik2; dalam satuan USCS, g = 32,2 ft/detik2. Untuk harga yang lebih akurat atau untuk pembahasan tentang massa dan berat, lihat Lampiran A. ** Dalam dunia teknik, kecepatan biasanyadipandang sebagai besaran vektor. Namun, karena energi kinetik merupakan besaran skalar, maka k:ita akan menggunakan sebutan "kecepatan" yang berarti besarnya kecepatan atau kelajuan.
  • 126.
    Mekanika Bahan 11 3 Untuk membuat analisis yang disederhanakan dari situasi yang sebenamya rurnit, kita akan mengidealisasikan perilaku ini dengan membuat asumsi-asumsi sebagai berikut. Pertama, kita asumsikan bahwa massa dan sayap mempunyai konstruksi sedemikian hingga massa "menempel" ke sayap dan bergerak ke bawah bersama-sama (dengan perkataan lain, massa tidak memantul). Perilaku ini lebih mungkin terjadi apabila massa tersebut jauh lebih besar dibandingkan massa batang. Kedua, kita abaikan semua energi yang hilang dan asumsikan bahwa energi kinetik dari massa yang jatuh berubah seluruhnya menjadi energi regangan batang. Asumsi ini konservatif dalam arti bahwa ini akan memprediksi tegangan yang lebih besar di batang dibandingkan dengan yang diprediksi apabila kita memperhitungkan kehilangan energi. Ketiga. kita abaikan semua perubahan energi potensial pada batang itu sendiri (akibat gerakan vertikal elemen batang), dan kita abaikan adanya energi regangan di batang akibat berat sendirinya. Kedua efek ini sangat kecil. Keempat. kita asumsikan bahwa tegangan di batang tetap berada dalam daerah elastis linier. Akhimya, kita anggap bahwa distribusi tegangan di seluruh batang sama dengan apabila batang tersebut dibebani secara statis oleh gaya di ujung bawah, artinya tegangan terbagi rata di seluruh volume batang. Kondisi ini hanya merupakan pendekatan karena dalam kenyataannya gelombang tegangan longitudinal akan menjalar melalui batang, sehingga menyebabkan variasi dalam distribusi tegangan. Berdasarkan atas asumsi-asumsi di atas. kita dapat menghitung perpanjangan maksimum dan tegangan tarik maksimum yang dihasilkan oleh beban kejut. (lngat bahwa kita mengabaikan berat sendiri batang dan mencari tegangan akibat massa yang jatuh saja.) • Perpanjangan Maksimum pada Batang Perpanjangan maksimum 8maks (Gambar 2-49b) dapat diperoleh dari prinsip konservasi energi dengan menyamakan energi potensial yang hilang pada saatjatuhnya massa dengan energi regangan yang timbul di batang. Energi potensial yang hilang adalah W(h + 8maks), di mana W = Mg adalah berat massa dan (h + 8maks) adalah jarak yang dilalui pada saat massa tersebut bergerak. Energi regangan batang adalah EA&maks/2L, di mana EA adalah rigiditas aksial, dan L adalah panjang batang (lihat Persamaan 2-3 1b). Jadi, kita mendapatkan persamaan berikut: W(h + 8 ) = EA8�aks maks 2L (2-43) Persamaan ini adalah kuadratik dalam 8maks dan dapat dipecahkan untuk mencari akar positif yaitu 8 = WL + [(WL)2 + 2h(WL)]112 maks EA EA EA (2-44) Catat bahwa perpanjangan maksimum batang bertambah jika berat massa atau tinggi jatuh bertambah. Perpanjangan akan hilang jika kekakuan EA/ L bertambah. Persamaan di atas dapat ditulis dalam bentuk yang lebih sederhana dengan menggunakan notasi WL EA (2-45)
  • 127.
    1 1 4Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial di mana 851 adalah perpanjangan batang akibat berat benda yang jatuh pada kondisi pembebanan statik. Persamaan (2-44) menjadi (2-46) Dari persamaan ini kita lihat bahwa perpanjangan batang akibat beban kejut jauh lebih besar daripada jika beban yang sama diterapkan secara statik. Sebagai contoh, rnisalkan bahwa tinggi h adalah 40 kali peralihan statik 851; perpanjangan maksimum akan menjadi 10 kali perpanjangan statik. Apabila tinggi h besar dibandingkan dengan perpanjangan statik, maka kita dapat mengabaikan suku pertama dan kedua pada bagian kanan Persamaan (2-46) dan mendapatkan � /M 2L 8 i2h8 = J_ v _ maks = ' st V EA (2-47) di mana M = Wig dan v = -, 2gh adalah kecepatan massa yang jatuh apabila massa tersebut menumbuk sayap. Persamaan ini dapat pula diperoleh secara langsung dari Persamaan (2-43) dengan mengabaikan 8maks di bagian kanan persamaan dan mencari 8maks· Dengan diabaikannya suku-suku tsb, maka harga 8maks yang dihitung dari Persamaan (2-47) selalu lebih kecil daripada yang dihitung dari Persamaan (2-46). • Tegangan Maksimum di Batang Tegangan maksimum dapat dihitung dengan mudah dari perpanjangan maksimum karena kita menganggap bahwa distribusi tegangan terbagi merata di seluruh panjang batang. Dari persamaan umum 8 = PUEA = aUE, kita ketahui bahwa E8maks (Jmaks = -- L- (2-48) Dengan memasukkan Persamaan (2-44), kita peroleh persamaan berikut untuk tegangan tarik maksimum: a = W + (W)2 + 2WhE [ ]112 maks A A AL Dengan menggunakan notasi w (Jst = A Mg £851 = - = -- A L (2-49) (2-50) di mana CJ51 adalah tegangan apabila beban bekerja secara statik, maka kita dapat menulis Persamaan (2-49) dalam bentuk (. 2 2hE )"2 (Jmaks = (J st + f st + L(Jst (2-5 1) Persamaan ini analog dengan Persamaan (2-46) dan sekali lagi menunjukkan bahwa beban kejut menghasilkan efek yang lebih besar daripada apabila beban yang sama diterapkan secara statik. Dengan meninjau kasus di mana tinggi h adalah besar dibandingkan dengan perpanjangan batang (bandingkan dengan Persamaan 2-47), kita peroleh
  • 128.
    Mekanika Bahan 11 5 _ �2hEcr,1 _ Wv2£ (2_52) (jmaks - L - �--;:z;- Dari hasil ini kita lihat bahwa peningkatan energi kinetik Mv212 pada massa yang jatuh akan memperbesar tegangan, sedangkan pertambahan volume AL pada batang akan mengurangi tegangan. Situasi ini berbeda dengan tarik statik batang, di mana tegangan tidak bergantung pada panjang L dan modulus elastisitas E. Persamaan-persamaan di atas untuk perpanjangan maksimum dan tegangan maksimum berlaku hanya pada saat sayap batang ada di posisi terbawah. Sesudah perpanjangan maksimum tercapai di batang, batang akan bergetar secara aksial sampai menjadi diam pada perpanjangan statik. Sejak itu, perpanjangan dan tegangan mempunyai harga yang diberikan dengan Persamaan (2-45) dan (2-50). • Faktor Kejut Rasio respons dinamik suatu struktur terhadap respons statik (untuk beban yang sama) disebut faktor kejut. Sebagai contoh. faktor kejut untuk perpanjangan batang dalam Gambar 2-49 adalah rasio antara perpanjangan maksimum (Persamaan 2-44, 2-46, atau 2-47) terhadap perpanjangan statik (Persamaan 2-45): Faktor kejut = 8maks 8,1 (2-53) Faktor ini menunjukkan berapa kali perpanjangan statik diperbesar akibat efek dinamik suatu kejut. Persamaan yang analog dengan Persamaan (2-53) dapat ditulis untuk faktor kejut lain, misalya faktor kejut untuk tegangan di batang (rasio O'maks terhadap 0'81). Apabila suatu massa jatuh melalui tinggi yang sangat besar, maka faktor kejut dapat sangat besar, misalnya 100 atau lebih. • Beban yang Diterapkan secara Tiba-tiba Suatu kasus khusus dari kejut terjadi apabila suatu beban diterapkan tiba­ tiba dengan kecepatan awal. Untuk menjelaskan jenis pembebanan seperti ini, tinjau lagi batang prismatis vertikal yang terlihat dalam Gambar 2-49 dan asumsikan bahwa massa yang menggelincir direndahkan perlahan­ lahan sampai menyentuh sayap. Selanjutnya massa secara tiba-tiba dilepaskan. Meskipun dalam hal ini tidak ada energi kinetik pada awal ekstensi batang, perilaku ini berbeda dengan beban statik pada batang. Pada kondisi beban statik, beban dilepas perlahan-lahan dan keseimbangan selalu ada antara beban yang diterapkan dan gaya tahanan di batang. Namun, tinjaulah apa yang terjadi apabila massa dilepaskan tiba-tiba dari titik kontaknya dengan flens. Mula-mula perpanjangan batang dan tegangan di batang adalah nol, tetapi massa bergerak ke bawah akibat aksi dari berat sendiri. Selama gerakan ini, batang memanjang dan gaya tahanannya secara bertingkat bertambah. Gerakan ini terus terjadi sampai pada saat gaya tahanan tepat sama dengan W, berat massa. Pada saat itu perpanjangan batang adalah 8sr Namun, massa sekarang mempunyai energi kinetik, yang diperoleh selama bergerak ke bawah sejauh 081• Dengan dernikian, massa terus bergerak ke bawah sampai kecepatannya dinolkan
  • 129.
    1 1 6Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial oleh gaya tahanan di batang. Perpanjangan maksimum untuk kondisi ini diperoleh dari Persamaan (2-46) dengan menetapkan h sama dengan nol; jadi, (2-54) Dari persamaan ini kita lihat bahwa beban yang diterapkan tiba-tiba menyebabkan perpanjangan dua kali lebih besar dibandingkan perpanjangan yang disebabkan oleh beban yang sama yang diterapkan secara statik. Jadi, faktor kejut adalah 2. Sesudah perpanjangan maksimum 2051 dicapai, ujung batang akan bergerak ke atas dan memulai serangkaian getaran ke atas dan ke bawah, akhimya berhenti pada kondisi perpanjangan statik yang dihasilkan oleh berat sendiri massa. * • Kehi langan Energi dan Efek lnelastis Analisis di atas didasarkan atas asumsi bahwa tidak ada energi yang hilang selama kejut. Nyatanya, kehilangan energi selalu terjadi selama kejut, dengan sebagian besar didisipasikan dalam bentuk panas dan deformasi lokal bahan. Karena kehilangan ini, energi kinetik suatu sistem sesaat sesudah suatu kejut lebih kecil daripada sebelum kejut. Akibatnya, lebih sedikit energi yang dikonversikan menjadi energi regangan batang dibandingkan yang kita asumsikan sebelum ini. Karena itu, peralihan aktual di ujung batang dalam Gambar 2-49 lebih kecil daripada yang diprediksi dengan analisis sederhana yang kita lakukan. Kita juga telah berasumsi bahwa tegangan di batang tetap berada dalam limit proporsional. Jika tegangan maksimum melebihi limit ini, maka analisis menjadi lebih rumit karena perpanjangan batang tidak lagi proporsional dengan gaya aksial. Faktor-faktor lain yang perlu ditinjau adalah efek-efek gelombang tegangan, redaman, dan ketidaksempumaan pada permukaan kontak. Dengan demikian, kita tidak boleh lupa bahwa semua rumus di dalam subbab ini didasarkan atas kondisi yang sangat diidealisasikan dan hanya memberikan pendekatan kasar mengenai kondisi yang sebenamya (biasanya agak mengabaikan perpanjangan). Bahan yang menunjukkan keuletan besar selewat limit proporsional biasanya memberikan tahanan jauh lebih besar terhadap beban kejut dibandingkan dengan bahan getas. Juga, batang dengan takikan, lubang, dan bentuk-bentuk konsentrasi tegangan lainnya (lihat Subbab 2.9 dan 2.10) sangat lemah terhadap kejut-sedikit kejut saja dapat menyebabkan fraktur, meskipun bahan itu sendiri ulet pada pembebanan statik. • Contoh-contoh Perhitungan perpanjangan maksimum dan tegangan maksimum yang disebabkan oleh beban kejut pada batang vertikal digambarkan dalam Contoh 2-16. Contoh-contoh lainnya (Contoh 2-17 dan 2-1 8) meng­ gambarkan bagaimana prinsip konservasi energi dapat digunakan dalam analisis jenis lain masalah kejut. Ketiga contoh itu, ditambah soal-soal di akhir bab ini, didasarkan atas asumsi-asumsi dan idealisasi yang telah disebutkan sebelum ini. *Persamaan (2-54) pertama kali didapati oleh matematikawan dan ilmuwan Perancis J.V. Poncelet (1788-1867); lihar Ref. 2-9.
  • 130.
    d = 15mm M = 20 kg Mekanika Bahan 1 1 7 • Contoh 2-1 6 .}II L = 2,0 m --r II h = T mml Sebuah batang baja prismatis (E = 210 GPa) yang panjangnya L = 2,0 m dan diametemya d = 15 mm tergantung secara vertikal pada tumpuan di ujung atasnya (Gambar 2-50). Sebuah benda dengan massa M = 20 kg jatuh dari ketinggian h = ! 50 mm ke sayap di ujung bawah batang tanpa memantul kembali. (a) Hitunglah perpanjangan maksimum batang akibat kejut dan tentukan faktor kejutnya. (b) Hitunglah tegangan tarik maksimum dan faktor kejutnya. Solusi Karena susunan batang dan benda yang jatuh dalarn contoh ini sesuai dengan Gambar 2-49, kita dapat menggunakan persamaan yang telah diturunkan sebelum ini (Persamaan 2-43 sampai 2-52). (a) Perpanjangan maksimum. Perpanjangan yang dihasilkan oleh jatuhnya benda dapat ditentukan secara 1angsung dari Persarnaan (2-46). Langkah pertama adalah menentukan perpanjangan statik pada batang akibat berat benda. Karena berat benda adalah Mg, maka kita hitung sebagai berikut: 0 = WL = MgL = (20,0 kg)(9,81 rnls: 11 2.0 �! = O,Ol06 mm st EA EA (210 GPa)(n/4)t l5 mmr Gambar 2-50 Contoh 2- 1 6. Perpanjangan dimasukkan ke dalam Persamaan (2-46) untuk mendapatkan Beban kejut pada batang vertikal perpanjangan maksimum Omaks = 8,t + (OZ,t + 2h8,/12 = 0,0106 mm + [(0,0106 mm)2 + 2(1 50 mm)(0,0106 mm)]112 = 1,79 mm .. Karena tinggi jatuh sangat besar dibandingkan perpanjangan statik, maka kita memperoleh hasil yang hampir sama dengan menghitung perpanjangan maksimum dari Persamaan (2-47): 8maks = �2h8st = [2(1 50 mm)(0,0106 mm)]112 = 1,78 mm .. Faktor kejut sama dengan rasio perpanjangan maksimum terhadap perpanjangan statik: Faktor kejut = 8maks 8,t 1,79 mm = 169 0,0106 mm .. Hasil ini menunjukkan bahwa efek dari beban yang dikerjakan secara dinamik dapat sangat besar dibandingkan dengan efek beban yang sama yang diterapkan secara statik. (b) Tegangan tarik maksimum. Tegangan maksimum yang dihasilkan oleh jatuhnya benda diperoleh dari Persamaan (2-48) sebagai berikut: a = E8maks = (210 GPa)(1,79 mm) = 188 MPa maks L 2,0 mm Tegangan ini dapat dibandingkan dengan tegangan statik, yaitu a " = w = Mg = (20 kg)(9,81 rn/s2) = 1,1 1 MPa A A (n/4)(15 mm)2 .. Rasio a maks terhadap a,1 adalah 188/1,11 = 1 69, yang merupakan faktor kejut yang sama dengan untuk perpanjangan. Hasil ini sesuai dengan yang diharapkan karena tegangan sebanding langsung dengan perpanjangannya (lihat Persamaan 2-48 dan 2-50).
  • 131.
    1 1 8Bab 2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Gambar 2-51 Contoh 2- 17. Beban kejut pada batang horizontal • Contoh 2-1 7 Batang horizontal AB yang panjangnya L ditumbuk di ujung bebasnya oleh blok berat yang massanya M yang bergerak dalam arah horizontal dengan kecepatan v (Gambar 2-5 1). (a) Tentukan perpendekan maksimum 8maks pada batang akibat kejut dan tentukan faktor kejutnya. (b) Tentukan tegangan tekan maksimum O"maks dan faktor kejutnya. (Misalkan EA menunjukkan rigiditas aksial batang tersebut.) Solusi Pembebanan di batang pada contoh ini berbeda dengan beban pada Gambar 2-49 dan 2-50. Dengan demikian, kita harus membuat analisis barn yang didasarkan atas konservasi energi. (a) Perpendekan maksimum batang. Untuk analisis ini kita menggunakan asumsi yang sama seperti yang telah disebutkan sebelum ini. Jadi, k.ita mengabaikan semua kehilangan energi dan berasumsi bahwa energi kinetik blok yang bergerak diubah seluruhnya menjadi energi regangan batang. Energi kinetik blok pada saat tumbukan terjadi adalah Mv 2/2. Energi regangan batang pada saat blok mencapai perpendekan maksimum adalah EA52makJ2L, sebagaimana diberikan oleh Persamaan (2-31b). Dengan demikian, kita dapat menulis persamaan berikut untuk konservasi energi: Dengan demik.ian 8maks adalah (2-55) (2-56) .. Persamaan ini sama dengan Persamaan (2-47), yang telah kita antisipasi sebelumnya. Untuk mendapatkan faktor kejut, kita harus mengetahui peralihan statik ujung batang. Dalam hal ini peralihan statik adalah perpendekan batang akibat berat blok yang diterapkan sebagai beban tekan di batang Jadi, faktor kejut adalah 8 = WL = MgL '' EA EA Faktor kejut = 8maks = }EAv2 8,, Mg2L (2-57) (2-58) .. Dalam situasi realistis, harga yang ditentukan dari persamaan ini mungkin jauh lebih besar daripada l . (b) Tegangan tekan maksimum di batang. Tegangan maksimum di batang diperoleh dari perpendekan maksimum dengan menggunakan persamaan u = E8maks = E �Mv2L = �Mv2E maks L L EA AL yang sama dengan Persamaan (2-52). (2-59) .. Tegangan statik u,, di batang sama dengan W/A atau Mg/A, yang (dengan kombinasi Persamaan 2-59) dapat menghasilkan faktor kejut yang sama dengan sebelumnya (Persamaan 2-58).
  • 132.
    Mekanika Bahan 11 9 • Contoh 2-1 8 untuk kabel Gambar 2-52 Contoh 2- 18. El­ evator yang tiba-tiba berhenti Sebuah elevator yang beratnya W dipikul oleh kabel yang tergulung pacta drum yang berputar (Gambar 2-52). Elevator dan kabel bergerak ke bawah dengan kecepatan konstan v. Berapakah tegangan tarik maksimum yang dihasilkan di kabel apabila drum tiba-tiba terkunci? (Misalkan EA adalah rigiditas aksial kabel dan L adalah panjang kabel yang diekspos pacta saat drum terkunci.) Solusi Analisis kabel dan elevator sangat berbeda dengan semua analisis yang disebutkan di atas karena kita tidak dapat secara benar mengasumsikan bahwa kabel tidak bertegangan sebelum drum terkunci. Dalam pembahasan serta contoh-contoh sebelum ini, kita berasumsi bahwa batang-batang tidak bertegangan karena batang­ batang tersebut belum terkena gaya yang berasal dari benda yang akan menumbuknya. Dengan demikian, batang-batang belum mempunyai energi regangan sebelum kejut terjadi. Sebaliknya, karena kabel dalam contoh ini memikul berat elevator, maka sejumlah besar energi telah ada sebelum drum dibebani. Dengan demikian, kita hams menulis persamaan untuk konservasi energi yang cocok dengan kondisi baru ini. Seperti dalam analisis sebelum ini, kita akan konserYatif apabila kita berasumsi bahwa tidak ada kehilangan energi pada saat drum terkunci. Karena itu energi total sistem (yang terdiri atas energi kinetik, potensial. dan regangan), sesaat sebelum terkunci harus sama dengan energi total pacta saat elevator berada dalam keadaan diam. Energi total suatu sistem sesaat sebelum drum terkunci. (a) Energi kinetik. Sebelum terkunci, energi kinetik elevator yang bergerak adalah K.E. = Wv2 2g (a) Kita akan mengabaikan energi kinetik kabel dan drum yang berputar karena jauh lebih kecil daripada energi kinetik elevator. (b) Energipotensial. Energi potensial elevator akan ditentukan terhadap posisi terendahnya (artinya, posisi elevator apabila kabel mencapai perpanjangan terbesar). Misalkan 81 adalah jarak tempuh elevator ke bawah sesudah drum terkunci. Jarak ini tidak sama dengan perpanjangan maksimum kabel karena kabel telah mempunyai perpanjangan statik 8" akibat berat elevator: 8 = WL " EA (2-60) Perpanjangan maksimum 8maks kabel adalah 8,1 ditambah 81 sehingga perpanjangan tambahan 81 akibat terkunci adalah 8maks - 8,1. Perpanjangan ini sama dengan peralihan ke bawah � elevator sesudah drum mengunci. Akibatnya, energi potensial elevator sebelum terkunci adalah (b) Untuk memudahkan analisis, kita akan mengabaikan energi potensial kabel karena jauh lebih kecil dibandingkan energi potensial elevator. (c) Energi regangan. Energi regangan kabel sebelum terkunci (dari Persamaan 2-3l b) adalah S.E. = EA8;; 2L (c) (d) Energi total. Dengan menggabungkan rumus (a), (b), dan (c), kita dapatkan energi total sistem sebelum terkunci: Wv2 EA8,� lg + W(8maks - 8,, ) + 2L di mana 8,, diberikan oleh Persamaan (2-60). (d)
  • 133.
    1 20 Bab2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial *2.9 1 Energi total sistem pada saat kabel mempunyai perpanjangan maksimum. Sesudah drum terkunci, kabel memanjang, dan mencapai perpanjangan maksimum 8maks· Pada saat itu, elevator tidak mempunyai energi kinetik karena kecepatannya no!. Energi potensialnya juga no! karena elevator ada di posisi terendah (peralihan ke bawah sama dengan q). Jadi yang perlu dihitung hanyalah energi regangan kabel. Karena kabel mempunyai perpanjangan maksimum, maka energi regangannya adalah S.E. = EA8!ah 2L (e) Besaran ini menunjukkan energi regangan sistem sesudah kabel terkunci dan el­ evator ada di titik terendah. Konservasi energi. Dengan menggunakan prinsip konservasi energi dan menyamakan energi total sebelum dan sesudah penguncian drum (rumus d dan e), kita dapatkan EA8!aks 2L (2-61) Persamaan ini dapat dipecahkan untuk mendapatkan perpanjangan maksimum 8maks pada kabel dengan cara berikut. Mula-mula, kita perhatikan dari Persamaan (2-60) bahwa W = EA8jL. Kemudian kita masukkan rumus untuk W ke dalam suku kedua dari Persamaan (2-61) dan menyusunnya sehingga atau Wv2 + EA8,1 (8 _ 8 ) = EA (8z -8 z ) 2g [ maks st 2[ maks st Wv2 EA 8 8 2 2g = 2[ ( maks - st ) Selanjutnya kita pecahkan persamaan ini untuk mendapatkan perpanjangan maksimum kabel: Akhimya, kita dapatkan tegangan tarik maksimum di kabel a . = E8maks = W(1 + r;;zEAJ = a (1 + r;;zEAJ maks L A f iiVL " fiw£ di mana ast = WIA. (2-62) (2-63) .. Faktor kejut, yang merupakan suku dalam kurung dalam Persamaan (2-62) dan (2-63) mungkin jauh lebih besar daripada satu, yang menunjukkan bahwa perpanjangan dinamik dan tegangan dinamik di kabel dapat jauh lebih besar daripada besaran statiknya. Sebagai kasus khusus dari contoh ini, perhatikan bahwa jika kecepatan v = 0, maka faktor kejut adalah 1 dan Persamaan (2-62) dan (2-63) memberikan harga statiknya. BEBAN BERULANG DAN FATIK Perilaku suatu struktur bergantung bukan hanya pada sifat bahan melainkan juga pada karakter beban. Ada situasi di mana beban adalah statis-beban dikerjakan secara perlahan-lahan, bekerja untuk jangka waktu lama, dan berubah secara perlahan-lahan. Beban lain ada yang bersifat dinamis-
  • 134.
    Bo�i(M& ! Waktu (a) Beban i 0� (b) B•b' J �� W aktu (c) Gambar 2·53Jenis-jenis beban berulang: (a) beban yang bekerja pada satu arah saja, (b) beban ber­ ganti atau berubah arah, dan (c) beban berfluktuasi yang bervariasi di sekitar harga rata-rata Gambar 2-54 Kegagalan fatik suatu batang yang dibebani ber­ ulang secara tarik; retak menyebar secara gradual di penampang sampai fraktur teijadi tiba-tiba (Atas izin MTS Systems Corporation) Mekanika Bahan 1 21 contohnya adalah beban kejut yang bekerja tiba-tiba (Subbab 2.8) dan beban berulang yang terjadi sejurnlah besar siklus. Pola khas beban berulang ditunjukkan dalarn Gambar 2-53. Garnbar pertarna (a) menunjukkan beban yang diterapkan, dihilangkan, dan diterapkan lagi, selalu bekerja dalarn arah yang sarna. Gambar kedua (b) menunjukkan beban berganti yang berubah arah setiap siklus pembebanan, dan garnbar ketiga (c) menggambarkan beban berfluktuasi yang bervariasi di sekitar hargarata-rata. Beban berulang biasanya berkaitan dengan mesin, turbin, generator, propeler, bagian-bagian pesawat, bagian-bagian mobil, dan sebagainya. Beberapajenis struktur ini mengalarnijutaan (atau bahkan milyaran) siklus pembebanan selarna masa gunanya. Suatu struktur yang mengalami beban dinarnik cenderung gagal pada tegangan yang lebih rendah dibandingkan dengan beban yang sarna yang diterapkan secara statik, khususnya bila beban berulang sebanyak sejumlah besar siklus. Pada kasus seperti ini, kegagalan biasanya disebabkan oleh fatik atau fraktur progresif. Contoh terkenal kegagalan fatik adalah peristiwa memberikan tegangan pada klip (penjepit kertas) logam hingga mencapai titik putusnyadengan berulang kali melenturkannya bolak-balik. Sebetulnyajika klip dilenturkan hanya sekali, dia tidak akan putus. Tetapi bila dia dilenturkan ke arah sebaliknya, dan jika keseluruhan siklus pembebanan diulang beberapa kali, akhirnya klip akan putus. Fatik dapat didefinisikan sebagai rusaknya bahan akibat siklus tegangan dan regangan yang berulangkali, yang menyebabkan terjadinya retak progresif dan pada akhimya menghasilkan fraktur. Pada kegagalan fatik yang khas, retak rnikroskopik terbentuk di titik di mana ada tegangan tinggi (biasanya di pemusatan tegangan, yang dibahas di subbab berikut) dan secara perlahan-lahan membesar karena beban diberikan secara berulang-ulang. Apabila retak menjadi sedemikian besar sehingga bahan yang tersisa tidak dapat menahan beban, maka fraktur tiba-tiba pada bahan terjadi (Garnbar 2-54). Tergantung pada sifat bahan, jumlah siklus untuk menghasilkan kegagalan fatik bisa bervariasi dari hanya sedikit saja sarnpai ratusan juta siklus. Sebagaimana telah disebutkan, besamya beban yang menyebabkan kegagalan fatik lebih kecil daripada beban yang dapat ditahan secara statis. Untuk menentukan beban gagal, pengujian bahan harus dilakukan. Dalarn hal beban berulang, bahan diuji pada berbagai taraf tegangan dan banyaknya siklus hingga gagal dihitul).g. Sebagai contoh, suatu benda uji dari suatu bahan diletakkan pada mesin uji fatik dan dibebani berulang pada tegangan tertentu, katakanlah Oi· Siklus pembebanan diteruskan sarnpai kegagalan
  • 135.
    1 22 Bab2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Tegangan gaga! cr � 0 t Limit fatik Banyaknya n siklus higga gaga! Gambar 2-55 Kurva ketahanan, atau diagram S-N, yang me­ nunjukkan limit fatik Gambar 2-56 Diagram S-N yang khas untuk baja dan aluminium pada pembebanan berganti terjadi, dan banyak n siklus pembebanan hingga gagal dicatat. Pengujian ini diulang untuk tegangan yang berbeda, katakanlah a2• Jika a2 lebih besar daripada a1, maka banyaknya siklus hingga gagal akan lebih kecil. Jika a2 lebih kecil daripada ai' maka bilangan tersebut akan lebih besar. Akhirnya, data yang digunakan untuk memplot kurva ketahanan, atau diagram S-N, di mana tegangan gagal (S) diplot versus banyaknya (N) siklus hingga gagal (Gambar 2-55). Sumbu vertikal biasanya berskala linier dan sumbu horizontal biasanya merupakan skala logaritma. Kurva ketahanan seperti terlihat dalam Gambar 2-55 menunjukkan bahwa semakin kecil tegangan, semakin banyak siklus yang menyebabkan kegagalan. Untuk beberapa bahan, kurva tersebut mempunyai asimtot horizontal sebagai limit fatik atau limit ketahanan. Apabila limit itu ada, maka limit itu adalah batas: untuk tegangan yang lebih kecil daripada itu kegagalan fatik tidak akan teljadi, tak peduli berapa kali beban berulang. Bentuk yang tepat dari kurva ketahanan bergantung pacta banyak faktor, termasuk besaran bahan, geometri benda uji, kecepatan pengujian, pola pembebanan, dan kondisi permukaan benda uji. Banyak sekali basil pengujian fatik, yang terbuat dari banyak sekali bahan dan komponen struktural, telah dilaporkan dalam berbagai literatur teknik. Diagram S-N yang khas untuk baja dan aluminium ditunjukkan dalam Gambar 2-56. Ordinatnya adalah tegangan gagal, yang dinyatakan dalam persentase tegangan ultimit untuk bahan dan absisnya adalahjumlah siklus pada saat kegagalan terjadi. Perhatikan bahwa banyak siklus diplot pada skala logaritma. Kurva untuk baja menjadi horizontal pada sekitar 107 siklus, dan limit fatis sekitar 50% dari tegangan tarik ultimate untuk pembebanan statik biasa. Limit fatik untuk aluminium tidak secara jelas terdefinisi tetapi harga yang khas untuk limit fatik adalah tegangan pacta 5 x 108 siklus, atau sekitar 25% dari tegangan ultimate. Tegangan gaga! (persen dari tegangan tarik ultimate) Banyaknya n siklus hingga gaga! Karena kegagalan fatik biasanya mulai dengan retak mikroskopik pacta titik tegangan tinggi yang terlokalisasi (artinya pacta konsentrasi tegangan), kondisi permukaan bahan sangat penting. Benda uji yang sangat dipoles mempunyai limit ketahanan yang lebih tinggi. Permukaan kasar, khususnya yang ada di konsentrasi tegangan di sekitar lubang atau takikan,
  • 136.
    Mekanika Bahan 123 sangat menurunkan limit ketahanan. Korosi, yang berarti pembentukan permukaan tak teratur, mempunyai efek yang sama. Untuk baja, korosi biasa dapat mengurangi limit fatik sebanyak lebih dari 50%. *2·1 0 I KONSENTRASI TEGANGAN Dalam menentukan tegangan pacta batang yang dibebani secara aksial, kita biasanya menggunakan rumus dasar CJ = PIA, di mana P adalah gaya aksial di batang dan A adalah luas penampang. Rumus ini didasarkan atas asumsi bahwa distribusi tegangan terbagi rata di seluruh penampang. Pada kenyataannya, batang sering mempunyai lubang, takikan, uliran, maupun bentuk-bentuk perubahan geometri yang menimbulkan pola distribusi yang tidak terbagi rata. Diskontinuitas geometri menyebabkan tegangan tinggi pacta daerah yang sangat kecil pacta batang, dan tegangan tinggi ini disebut konsentrasi tegangan. Diskontinuitas itu sendiri dikenal sebagai peningkat tegangan (Stress raisers). Konsentrasi tegangan juga muncul di titik pembebanan. Sebagai contoh, suatu beban terpusat jarang terdistribusi secara merata pacta suatu penampang. Yang mungkin terjadi adalah beban tersebut bekerja pada daerah yang sangat kecil dan menghasilkan tegangan tinggi pada daerah di sekitar titik kerja gaya. Contohnya adalah beban yang diterapkan melalui sambungan sendi, di mana beban diterapkan pada daerah tumpu sendi tersebut. Tegangan yang ada pada konsentrasi tegangan dapat ditentukan baik dengan metode-metode eksperimental, maupun dengan metode-metode analisis lanjut, termasuk metode elemen hingga ( finite element). Hasil­ hasil penelitian untuk banyak kasus yang menarik telah tersedia dalam banyak literatur teknik (sebagai contoh, Ref 2-10 dan 2-1 1 ). Data konsentrasi tegangan yang khas diberikan dalam subbab ini dan dalam Subbab 3.1 1 dan 5.13. • Prinsip Saint-Venant (J = .!.... bt p CJ =- bt Gambar 2-57 Distribusi tegangan di dekat ujung batang suatu pe­ nampang persegi panjang (lebar b, tebal t) yang mengalami beban terpusat Pyang bekerja di area kecil Untuk menggambarkan karakteristik konsentrasi tegangan, tinjaulah tegangan pacta batang yang berpenampang persegi panjang (lebar b, tebal t) yang mengalami beban terpusat P di ujungnya (Gambar 2-57). Tegangan puncak langsung di bawah beban mungkin beberapa kali tegangan rata­ rata P!bt, bergantung pacta daerah di mana beban tersebut diterapkan. Sekalipun demikian, tegangan maksimum berkurang dengan cepat apabila kita menjauhi titik penerapan beban, seperti terlihat dalam kurva tegangan­ regangan dalam gambar tersebut. Pacta lokasi sejauh b .dari ujung batang, distribusi tegangan sudah hampir terbagi rata, dan tegangan maksimum hanya beberapapersen lebih besar daripada tegangan rata-rata. Pengamatan ini benar untuk kebanyakan pemusatan tegangan, seperti lubang dan takikan. Jadi, kita dapat membuat pemyataan umum bahwa rumus CJ = PI A memberikan tegangan aksial hanya jika penampang batang sedikitnya sejauh b dari lokasi beban terpusat atau diskontinuitas bentuk, di mana b adalah dimensi lateral terbesar dari batang (misalnya lebar atau diameter). Pernyataan di atas mengenai tegangan pacta batang prismatis merupakan bagian dari pengamatan umum yang dikenal dengan prinsip Saint-Venant. Dengan sedikit kekecualian, prinsip ini berlaku untuk benda elastis linier. Untuk memahami prinsip Saint-Venant, bayangkan bahwa
  • 137.
    1 24 Bab2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Gambar 2-58 Ilustrasi prinsip Saint-Venant: (a) sistem beban tepusat yang bekerja pada daerah kecil di suatu batang, dan (b) sistem yang ekivalen secara statik kita mempunyai benda dengan sistem pembebanan yang bekerja pada bagian kecil dari permukaannya. Sebagai contoh, misalkan kita mempunyai batang prismatis yang lebarnya b yang mengalami sistem beberapa beban terpusat yang bekerja di ujungnya (Gambar 2-58a). Untuk mudahnya, asumsikan bahwa beban adalah simetris dan hanya mempunyai resultan vertikal. Selanjutnya, tinjau sistem beban yang berbeda tetapi ekivalen secara statis, yang bekerja pada daerah kecil yang sama dari batang ("Ekivalen secara statis" berarti bahwa kedua sistem gaya mempunyai resultan gaya yang sama dan resultan momen yang sama.) Sebagai contoh, beban yang terdistribusi secara merata yang terlihat dalam Gambar 2-58b ekivalen secara statis dengan sistem beban terpusat yang terlihat dalam Gambar 2-58a. Prinsip Saint-Venant menyatakan bahwa tegangan di benda yang disebabkan oleh kedua sistem pembebanan ini sama, asalkan kita menjauh dari daerah yang dibebani dengan jarak sedikitnya sama dengan dimensi terbesar dari daerah yang dibebani Garak b pada contoh ini). Jadi, distribusi tegangan yang terlihat dalam Gambar 2-57 adalah ilustrasi dari prinsip Saint-Venant. Tentu saja, "prinsip" ini bukan merupakan hukum mekanika yang teliti melainkan pengamatan common-sense yang didasarkan atas pengalaman praktis dan teoretis. * (a) (b) Prinsip Saint-Venant mempunyai sangat banyak arti penting yang praktis di dalam desain dan analisis batang, balok, dan struktur lain yang umum dijumpai dalam mekanika bahan. Karena efek konsentrasi tegangan terlokalisasi, maka kita dapat menggunakan semua rumus tegangan standar (seperti cr = PIA) di penampang yang cukup jauhnya dari sumber pemusatan. Di dekat sumber, tegangan bergantung pada detail dari beban tersebut dan batang elemen struktur. Selain itu, rumus-rumus yang berlaku pada keseluruhan elemen, seperti rumus untuk perpanjangan, peralihan, dan energi regangan memberikan basil yang memadai meskipun ada pemusatan tegangan. Penjelasannya terdapat dalam fakta bahwa konsentrasi *Prinsip Saint-Venant diberi nama seperti itu untuk menghargai Barre de Saint-Venant (1797- 1886), seorang matematikawan dan elastikawan Perancis yang terkenal (Ref. 2-1 2). Prinsip ini berlaku secara umum pada batang solid dan balok tetapi tidak untuk penampang terbuka berdinding tipis. Untuk pembabasan tentang pembatasan prinsip Saint-Venant, Iibat Ref. 2-13.
  • 138.
    Mekanika Bahan 125 tegangan selalu terlokalisasi dan mempunyai sedikit pengaruh terhadap perilaku menyeluruh dari elemen struktur. • Faktor Konsentrasi-Tegangan Gambar 2-59 Distribusi tegangan di batang datar dengan lubang lingkaran Sekarang kita tinjau beberapa kasus khusus mengenai konsentrasi tegangan yang disebabkan oleh adanya diskontinuitas bentuk suatu batang. Kita mulai dengan sebuah batang yang mempunyai penampang persegi panjang dan mempunyai lubang lingkaran serta mengalarni gaya tarik P (Gambar 2-59a). Batang ini relatif tipis dengan lebar b jauh lebih besar dibandingkan tebal t. Juga, lubangnya mempunyai diameter d. P +-- (a) P +-- (b) Tegangan normal yang bekerja pada potongan melintang yang melalui lubang mempunyai distribusi seperti terlihat dalam Gambar 2-59b. Tegangan maksimum amaks terjadi di tepi-tepi lubang dan dapatjauh lebih besar dibandingkan tegangan nominal a = P/ct pada potongan melintang yang sama. (Perhatikan bahwa et adalah luas neto di potongan melintang yang melalui lubang.) lntensitas konsentrasi tegangan biasanya dinyatakan dengan rasio tegangan maksimum terhadap tegangan nominal, yang disebut faktor konsentrasi tegangan K: (2-64) Untuk suatu batang yang mengalami tarik, tegangan nominal adalah tegangan rata-rata yang didasarkan atas luas penampang neto. Pada kasus­ kasus lain, berbagai tegangan lainmungkin digunakan. Jadi, apabila faktor konsentrasi tegangan digunakan, maka perlu diketahui dengan baik bagaimana tegangan nominal didefinisikan. Suatu grafik faktor konsentrasi tegangan K untuk sebuah batang dengan lubang terlihat dalam Gambar 2-60. Jika lubang ini kecil sekali, maka faktor K sama dengan 3, yang berarti bahwa tegangan maksimum adalah tiga kali tegangan nominal. Apabila lubangnya menjadi lebih besar dibandingkan dengan lebar batang, maka K menjadi lebih kecil dan efek adanya konsentrasi tidak begitu parah. Dari prinsip Saint-Venant kita
  • 139.
    1 26 Bab2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Gambar 2-60 Faktor konsentrasi­ tegangan K untuk suatu batang pipih dengan lubang lingkaran. Gambar 2-61 Faktor konsentrasi­ tegangan K pada batang datar dengan shoulder fillet. Garis ter­ putus untuk fillet seperernpat lingkaran. ketahui bahwa pada jarak sama dengan lebar b menjauhi lubang pada salah satu arah aksial, distribusi tegangan praktis sudah terbagi rata dan sama dengan P dibagi luas penampang bruto (a = Plbt), tak peduli berapapun ukuran lubang. K K = crma�<. Cfmaks (Jnom p t = ketebalan et 1,5 �--------�--------�--------�--------�--------� 0 0,1 0,2 d b 0,3 0,4 0,5 Faktor konsentrasi tegangan untuk dua kasus lain yang menarik terlihat dalam Gambar 2-61 dan 2-62. Kedua grafik ini adalah masing-masing untuk batang datar dan batang lingkaran, yang berkurang secara drastis membentuk bahu (shoulder). Untuk mengurangi efek konsentrasi tegangan, fillet digunakan untuk memperlembut sudut di pojok di mana terjadi perubahan penampang.* Tanpa adanyafillet, faktor konsentrasi tegangan akan sangat besar, seperti terlihat di sebelah kiri masing-masing gambar di mana K mendekati tak hingga bila jari-jarifillet R mendekati no!. Pada kedua kasus, tegangan maksimum terjadi di bagian yang lebih kecil dari batang di daerah filler. ** K K = crmak> Cfmaks e p � p Cfnom = - et 1,5 L___::__L____j__-=::::±:::::,_____::r::::::::::==::b,_,_ _j 0 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,30 B. e *Suatu fillet adalah permukaan cekung yang 0 dibentuk apabila dua permukaan lain bertemu, Tujuannya adalah untuk membundarkan suatu sudut yang semula tajam. ** Faktor konsentrasi tegangan yang diberikan dalam grafik adalah faktor teoretis untuk batang dari bahan elastis linier. Grafik-grafik diplot dari rumus yang diberikan dalam Ref. 2-10.
  • 140.
    Gambar 2-62 Faktorkonsentrasi­ tegangan K pada batang bundar dengan shoulder fillet. Garis ter­ putus untuk fillet seperempat lingkaran. K K = crrr.ah (j"ll� Mekanika Bahan 1 27 p (}nom = niJ2 /4 I 1 ,5 L---�--L-------�------��------�-----L��--� 0 0,05 0,10 0,15 0.20 0,25 0,30 R D I • Desain Terhadap Konsentrasi Tegangan Karena adanya kemungkinan tetjadinya kegagalan fatik, konsentrasi tegang­ an khususnya penting apabila suatu elemen struktur mengalami beban berulang. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, retak mulai tetjadi di titik di mana terjadi tegangan tinggi dan menjalar secara gradual melalui bahan apabila beban terus berulang. Dalam desain praktek, limit fatik (Gambar 2-55) dipandang sebagai tegangan ultimate untuk bahan apabila banyaknya siklus sangat besar. Tegangan izin diperoleh dengan menerap­ kan faktor keamanan terhadap tegangan ultimate ini. Kemudian, tegangan puncak di konsentrasi tegangan dibandingkan dengan tegangan izin. Pada banyak situasi, penggunaan harga teoretis penuh untuk faktor konsentrasi tegangan terlalu berlebihan. Pengujian fatik pada benda uji dengan konsentrasi tegangan biasanya menghasilkan kegagalan pada level tegangan nominal yang lebih tinggi dibandingkan dengan membagi limit fatik dengan K. Dengan perkataan lain, suatu elemen struktur yang meng­ alarni beban berulang tidak sesensitif konsentrasi tegangan seperti yang diindikasikan oleh K. Dengan demikian, faktor konsentrasi tegangan yang direduksi sering digunakan. Jenis lain beban dinarnik, seperti beban kejut, juga membutuhkan diperhitungkannya faktor konsentrasi tegangan. Jika informasi yang lebih baik tak tersedia, sebaiknya digunakan faktor konsentrasi tegangan penuh. Elemen struktur yang mengalami temperatur rendah juga sangat mungkin gagal di konsentrasi tegangan sehingga pada kasus tersebut perlu diberikan perhatian khusus. Pentingnya konsentrasi tegangan apabila suatu elemen struktur mengalami beban statik bergantung pada jenis bahan. Dengan bahan ulet, seperti baja struktural, konsentrasi tegangan seringkali dapat diabaikan. Hal ini disebabkan karena bahan di titik tegangan maksimum (seperti di sekitar lubang) akan luluh dan aliran plastis akan terjadi, sehingga mengurangi intensitas konsentrasi tegangan dan menyebabkan distribusi tegangan mendekati terbagi rata. Sebaliknya, pada bahan getas (seperti kaca) konsentrasi tegangan akan tetap ada sampai terjadinya fraktur. Dengan demikian, kita dapat menarik kesimpulan umum bahwa dengan beban statis dan bahan ulet, efek konsentrasi tegangan tidak begitu penting, tetapi dengan beban statik dan bahan getas, faktor konsentrasi tegangan penuh sebaiknya ditinjau. ---
  • 141.
    1 28 Bab2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial *2'1 1 I PERILAKU NONLJNIER (a) (b) Plastis sempuma Linierelastis E (c) (d) Gambar 2·63 Tipe-tipe perilaku bahan yang diidealisasikan: (a) kurva tegangan-regangan nonlinier elastis, (b) kurva tegangan-regangan nonlinier biasa, (c) kurva tegangan­ regangan nonlinier elastoplastis, (d) kurva tegangan-regangan bilinier Hingga saat ini, pembahasan kita hanya berkenaan utamanya dengan elemen dan struktur yang terdiri atas bahan yang mengikuti hukum Hooke. Sekarang kita akan meninjau perilaku elemen struktur yang dibebani secara aksial apabila tegangannya melebihi limit proporsional. Pada kasus-kasus tersebut tegangan, regangan, dan peralihan bergantung pada bentuk kurva tegangan-regangan di daerah selewat limit proporsional (lihat beberapa kurva tegangan-regangan yang khas pada Subbab 1 .3). Untuk maksud analisis dan desain, kita sering menggantikan kurva tegangan-regangan aktual suatu bahan dengan kurva tegangan-regangan yang diidealisasi, yang dapat dinyatakan sebagai fungsi matematis. Beberapa contoh ditunjukkan dalam Gambar 2-63. Diagram pertama (Gambar 2-63a) terdiri atas dua bagian, daerah elastis linier awal yang diikuti dengan daerah nonlinier yang didefinisikan dengan ekspresi matematis yang cocok. Perilaku paduan aluminium kadang-kadang dapat dinyatakan secara akurat dengan kurva seperti ini, sedikitnya di daerah sebelum regangan menjadi sangat besar (bandingkan Gambar 2-63a dengan Gambar 1-13). Pada contoh kedua (Gambar 2-63b), satu ekspresi matematis digunakan untuk keseluruhan kurva tegangan-regangan. Ekspresi seperti ini yang sangat dikenal adalah hukum tegangan-regangan Ramberg-Osgood, yang akan diuraikan lebih rinci (lihat Persamaan 2-67 dan 2-68). Diagram tegangan-regangan yang digunakan untuk baja struktural ditunjukkan dalam Gambar 2-63c. Karena baja mempunyai daerah elastis linier yang diikuti dengan daerah luluh yang nyata (lihat kurva tegangan­ regangan dalam Gambar 1-10 dan 1-12), perilakunya dapat dinyatakan dengan dua garis lurus. BahanTnraiasumsikan mengikuti hukum Hooke hingga tegangan luluh av. Sesudah tegangan ini, bahan tersebut akan luluh pada tegangan konstan. Peri1aku yang disebut terakhir ini disebut plastisitas sempurna. Daerah plastis sempuma akan terus hingga regangan mencapai 10 sampai 20 kali lebih besar daripada regangan luluh. Suatu bahan yang mempunyai kurva tegangan-regangan seperti ini disebut bahan elasto­ plastis (atau bahan elastis-plastis). Akhimya, pada saat regangan menjadi sangat besar, kurva tegangan­ regangan untuk baja meningkat di atas tegangan luluh akibat pengerasan regang (strain hardening), seperti diuraikan dalam Subbab 1 .3. Namun, pada saat strain hardening dimulai, peralihan sudah sedemikian besarnya sehingga struktur akan menjadi tidak bermanfaat. Akibatnya, analisis struktur baja yang didasarkan atas diagram elastoplastis seperti terlihat dalam Gambar 2-63c dengan diagram tarik dan tekan dianggap sama adalah hal yang umum dilakukan. Analisis yang dilakukan dengan asumsi ini disebut analisis elastoplastis, atau singkatnya analisis plastis, dan diuraikan dalam subbab berikut. Gambar 2-63d menunjukkan diagram tegangan-regangan yang terdiri atas dua garis yang mempunyai kerniringan yang berbeda, yang disebut diagram tegangan-regangan bilinier. Perhatikan bahwa di kedua bagian diagram tersebut hubungan antara tegangan dan regangan adalah linier, tetapi hanya pada bagian pertama saja tegangan sebanding dengan tegangan (mengikuti hukum Hooke). Diagram yang diidealisasikan ini dapat digunakan untuk merepresentasikan bahan dengan strain hardening atau sebagai pendekatan untuk diagram dengan bentuk nonlinier lain seperti terlihat dalam Gambar 2-63a dan b.
  • 142.
    Mekanika Bahan 129 • Perubahan Panjang Batang Gambar 2-64 Perubahan panjang suatu batang meruncing yang terdiri atas bahan yang mempunyai kurva tegangan-regangan nonlinier. Perpanjangan atau perpendekan suatu batang dapat ditentukan jika kurva tegangan-regangan bahan diketahui. Untuk menggambarkan prosedur umum, kita akan meninjau batang yang meruncing AB yang terlihat dalam Gambar 2-64a. Baik luas penampang maupun gaya aksial bervariasi di sepanjang batang, dan bahannya mempunyai kurva tegangan-regangan nonlinier (Gambar 2-64b). Karena batang ini statis tertentu, maka kita dapat menentukan gaya aksial di semua penampang dari tinjauan keseimbangan saja. Kemudian, kita dapat mencari tegangan dengan cara membagi gaya dengan luas penampang, dan kita dapat mencari regangan dari kurva tegangan-regangan. Akhimya, kita dapat menentukan perubahan panjang dari regangan, sebagaimana diuraikan dalam paragraf berikut ini. Perubahan panjang suatu elemen dx dari suatu batang (Gambar 2-64a) adalah e dx, di mana e adalah regangan pada jarak x dari ujung. Dengan mengintegrasi rumus ini dari satu ujung batang ke ujung lainnya, kita peroleh perubahan panjang batang: (2-65) di mana L adalah panjang batang. Jika regangan dinyatakan dengan rumus analitis, maka Persamaan (2-65) dapat diintegrasikan dengan rumus matematika sehingga rumus perubahan panjang dapat diperoleh. Jika tegangan dan regangan dinyatakan secara numerik, artinya suatu tabel harga-harga numerik, kita dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut. Kita dapat membagi batang menjadi segmen-segmen kecil &, menentukan tegangan dan regangan rata-rata untuk setiap segmen, dan selanjutnya menghitung perpanjangan seluruh batang dengan menjumlah­ kan perpanjangan masing-masing segmen. Proses ini ekivalen dengan mengevaluasi integral dalam Persamaan (2-65) secara numerik. (a) e (b)
  • 143.
    130 Bab 2E/emen Struktur yang Dibebani Secara Aksiaf Jika regangan di seluruh panjang batang seragam, sebagaimana yang terjadi pacta batang prismatis dengan gaya aksial konstan, integrasi Persamaan (2-65) menghasilkan perubahan panjang 0 = eL (2-66) yang sesuai dengan Persamaan 1 -2 dalam Subbab 1 .2. • Hukum Tegangan-Regangan Ramberg-Osgood Gambar 2-65 Kurva tegangan­ regangan untuk paduan aluminium menggunakan persamaan Ramberg­ Osgood. Kurva tegangan-regangan untuk beberapa metal, termasuk aluminium dan magnesium, dapat secara akurat dinyatakan dengan persamaan Ramberg­ Osgood: E (J ((J )m Eo = cro + a cro (2-67) Dalam persamaan ini cr dan E masing-masing adalah tegangan dan regangan, dan E0, cr0, a, dan m adalah konstanta bahan (yang diperoleh dari uji tarik). Bentuk altematif dari persamaan ini adalah E = (J + (Joa(_Q_)m E E cr0 (2-68) di mana E = crJE0 adalah modulus elastisitas bagian awal dari kurva tegangan-regangan. * Grafik untuk Persamaan (2-68) diberikan dalam Gambar 2-65 untuk paduan aluminium dengan konstanta-konstanta E = 10 x 106 psi, cr0 = 38.000 psi, a=317, dan m=10. Persamaan untuk kurva tegangan-regangan ini adalah E - cr + -- _cr _ _ 1 ( )10 - 10 X 106 614,0 38.000 (2-69) di mana crmempunyai satuan psi. Perhitungan perubahan panjang batang dengan menggunakan Persamaan (2-69) untuk hubungan tegangan­ regangan digambarkan dalam Contoh 2-1 9. er (psi) 50.000 40.000 V I I I 30.000 20.000 10.000 1/ 0 - l----- y-- / 0,010 £ = Paduan aluminium E = 10 X 106 psi (J 10 X 106 I ( r + (J � 614,0 38.000 er = psi I I I 0,020 0,030 e *Hukum Tegangan-regangan Ramberg-Osgood disajikan dalam Ref. 2-14.
  • 144.
    Mekanika Bahan 131 • Struktur Statis Tak Tentu Jika suatu struktur adalah statis tak tentu dan bahan berperilaku nonlinier, maka tegangan, regangan, dan peralihan dapat dicari dengan cara memecahkan persamaan-persamaan umum yang telah diuraikan dalam Subbab 2.4 untuk struktur elastis linier. yaitu persamaan keseimbangan, persamaan keserasian, dan hubungan gaya-peralihan (atau hubungan tegangan-regangan ekivalen). Perbedaan utama adalah bahwa hubungan gaya-peralihan sekarang adalah nonlinier, yang berarti bahwa solusi analitis tidak dapat diperoleh kecuali pada beberapa situasi yang sangat sederhana. Pada umumnya, persamaan-persamaan harus dipecahkan secara numerik, baik dengan menggunakan program komputer. arau dengan melakukan perhitungan manual yang sangat rumit (sebagaimana digambarkan dalam Contoh 2-20). Soal 2. 1 1-9 sampai 2. 1 1-14 di akhir bab ini meliputi struktur statis tak tentu dengan karakteristik bahan nonlinier. • Contoh 2-1 9 A B pl l L �L 2 _j Gambar 2-66 Contoh 2- 1 9. Perpanjangan suatu batang dari bahan nonlinier dengan meng­ gunakan persamaan Ramberg­ Osgood. Sebuah batang prismatis AB yang panjangnya L = 86 in dan mempunyai luas penampang A = 0,75 in2 memikul dua beban terpusat P1 = 24 k dan P2 = 6 k, seperti terlihat dalam Gambar 2-66. Bahan batang ini adalah paduan aluminium yang mempunyai kurva tegangan-regangan nonlinier yang mengikuti persamaan Ramberg-Osgood (Persamaan 2-69): t: - a + 1 ( a )w - 10 X 106 614,0 38.000 di mana a mempunyai satuan psi. (Hubungan tegangan-regangan ditunjukkan secara grafis dalam Gambar 2-65.) Tentukanlah peralihan 88 ujung bawah batang akibat kondisi sebagai berikut: (a) beban P1 bekerja sendiri, (b) P2 bekerja sendiri, dan (c) P1 dan P2 bekerja bersama-sama. Solusi (a) Peralihan akibat beban P1 yang bekerja sendiri. Beban P1 menimbulkan tegangan tarik terbagi rata di seluruh panjang batang sama dengan P/A atau 32.000 psi. Dengan memasukkan harga ini ke hubungan tegangan-regangan maka t: = 0,003492. Dengan demikian, perpanjangan batang sama dengan peralihan di B adalah (lihat Persamaan 2-66): 88 = t:L = (0,003492)(86 in.) = 0,300 in. • (b) Peralihan akibat beban P1 yang bekerja sendiri. Tegangan di setengah bagian atas batang adalah PiA atau 8.000 psi, dan tidak ada tegangan di setengah bawahnya. Dengan melakukan perhitungan seperti bagian (a), maka kita dapatkan perpanjangan sebagai berikut: 88 = t:U2 = (0,000800)(43 in.) = 0,034 in. • (c) Peralihanakibatbeban P1 dan P2• yang bekerja bersama-sama. Tegangan di setengah bawah batang adalah P/A dan di setengah bawah adalah (P1 + P2)/ A. Tegangannya adalah 32.000 psi dan 40.000 psi, dan regangannya adalah 0,003492 dan 0,006720 (dari persamaan Ramberg-Osgood). Dengan demikian, perpanjangan batang adalah 88 = (0,003492)(43 in.) + (0,006720)(43 in.) = 0,15 in. + 0,289 in. = 0,439 in. • .,
  • 145.
    132 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Ketiga harga OB yang dihitung menggambarkan prinsip penting mengenai struktur yang terbuat dari bahan yang berperilaku tidak linier. Pada struktur nonlinier, peralihan yang dihasilkan oleh dua(atau lebih) bebanyang bekerja secara simultan tidak sama dengan jumlah dari peralihan yang dihasilkan oleh masing-masing beban yang beker ja secara terpisah. • Contoh 2-20 Gambar 2-67 Contoh 2-20. Analisis nonlinier suatu struktur statis tak tentu. P (kN) 0 20 40 o (mm) 60 Sebuah batang kaku horizontal AB yang panjangnya 3b ditahan oleh dua kabel identik dan memikul beban Q = 20 kN di ujung B (Gambar 2-67). Hubungan beban-peralihan untuk kabel dinyatakan dengan persamaan hiperbolik sebagai berikut: p = 1,30 1 + 0,0260 o :s; o s 60 mm (P = kN, o = mm) (2-70) di mana P adalah gaya aksial di kabel (satuan kN) dan 8 adalah perpanjangan (satuan mm). Hubungan gaya-peralihan ini ditunjukkan secara grafis dalam Gambar 2-68. (Kurva ini adalah segmen hiperbola.) Tentukan gaya aksial F1 dan F2 masing-masing di kabel 1 dan 2, perpanjangan 01 dan 82 masing-masing di kabel I dan 2, dan peralihan ke bawah OB di titik B. Solusi CD 0 B 1--b-1--b-1--b-l Q = 20 kN Karena struktur ini statis tak tentu, maka kita harus memformulasikan persamaan keseimbangan, persamaan keserasian, dan hubungan beban-peralihan. Selanjutnya, persamaan-persamaan ini dapat dipecahkan untuk mendapatkan gaya-gaya dan peralihan yang belum diketahui pada struktur tersebut. Persamaan keseimbangan. Dari keseimbangan batang AB kita peroleh persamaan berikut: F1(b) + Fi2b) - Q(3b) = 0 atau F1 + 2F2 = 3Q = 60 kN (a) Gaya-gaya F1 dan F2 adalah anu di dalam persamaan ini (perhatikan bahwa gaya­ gaya dinyatakan dalam satuan kN). Persamaan keserasian. Pada saat beban Q diterapkan pada struktur, batang AB akan berotasi terhadap sendi A. Karena batang ini diasumsikan kaku, maka peralihan ke bawah di setiap titik sebanding dengan jaraknya dari A. Jadi, perpanjangan 82 pada kabel 2 adalah dua kali perpanjangan 81 pada kabel 1 : 02 = 28, (b) Gambar 2-68 Kurva beban- dan peralihan ke bawah titik B adalah tiga kali perpanjangan kabel 1 : peralihan (pers. 2-70) untuk kabel dalam contoh 2-20. OB = 381 (c)
  • 146.
    Mekanika Bahan 133 Hubungan beban-peralihan. Hubungan antara gaya anu (F1 dan F2) dan perpanjangan kabel (01 dan o2) diperoleh dari persamaan beban-peralihan (Persamaan 2-70), sebagai berikut: F. - 1,301 I - 1 + 0,02601 1,302 F: = ---'---"-- ! + 0,02682 (d,e) Di dalam kedua persamaan di atas, F1 dan F2 dinyatakan dalam satuan kN dan 01 dan 02 dinyatakan dalam satuan mm. Solusi persamaan. Sekarang kita dapat memecahkan kelima persamaan (Persamaan a, b, c, d, dan e) untuk mencari Iima besaran anu Fl' F2, 01, 02, dan OB. Dengan menggunakan program komputer untuk menyelesaikannya, kita dapatkan hasil-hasil sebagai berikut F1 = 14,66 kN F2 = 22,67 kJ -.; 01 = 15,95 mm 02 = 31,91 mm OB = 47.86 mm • • Jadi, semua besaran anu telah diperoleh dan analisis struktur statis tak tentu telah se1esai. (Perhatikan bahwa peralihan 01 dan 02 ada di dalam selang di mana Persamaan 2-70 berlaku.) Solusipersamaan alternatif. Di dalam contoh ini, kita dapat menggabungkan beberapa persamaan dan mereduksi solusinya menjadi persamaan kuadrat. Prosedurnya adalah sebagai berikut. Mu1a-mula, kita masukkan F1 dan F2 dari Persamaan (d) dan (e) ke dalam Persamaan (a), mendapatkan persamaan dengan 01 dan 02 sebagai anu. Lalu, kita substitusi 02 yang dinyatakan dalam 01 dengan menggunakanPersamaan (b). Hasilnya adalahpersamaanberikut yang mengandung o1 sebagai satu-satunya anu: _ __:. 1, _ 30 ....!... 1 --=- + 5,201 = 3Q = 60 1 + 0,02601 1 + 0,05281 (t) Berikutnya, kita kalikan setiap suku di dalam persamaan ini dengan hasil kali dari penyebutnya. Lalu, dengan menyusun dan mengumpulkan beberapa suku, kita dapatkan persamaan kuadrat sebagai berikut: 0,12168o; + 1 ,8201 - 60 = 0 (g) Dengan menggunakan rumus persamaan kuadrat, kita dapatkan 81 = 1 5,95 mm, sama dengan yang telah dipero1eh di atas. Anu yang lain dapat dicari dengan mudah. Perpanjangan kabel 2 (dari Persamaan b) dan peralihan titik B (dari Persamaan c) adalah 82 = 281 = 31,90 mm oB = 301 = 47,85 mm Juga, gaya tarik F1 dan F2 di kabel dihitung dari Persamaan (d) dan (e): F; = 1'381 = 14,66 kN l + 0,02681 F - 1,382 2 - 1 + 0,02682 Jadi, semua besaran didapatkan dan analisisnya telah selesai. 22,67 kN Catatan 1: Untuk praktisnya, semua hasil di atas sebaiknya dibulatkan dengan dua angka penting, yang merupakan ketelitian data semula (lihat, misalnya, Persamaan 2-70). Catatan 2: Karena perilaku nonlinier kabel, kita tidak dapat mencari gaya dan peralihan untuk harga beban Q lainnya dengan proporsi lain, sebagaimana biasa dilakukan pada struktur linier. Pada struktur nonlinier ini, kelima persamaan harus dipecahkan lagi, dengan Persamaan (a) diubah sesuai dengan harga beban yang barn. Catatan 3: Contoh ini menggambarkan bagaimana gaya-gaya dan peralihan pada suatu struktur statis taktentu dapat dihitung dari ketiga konsepdasar mekanika bahan, yaitu persamaan keseimbangan (yang didasarkan atas prinsip-prinsip statika), persamaan keserasian (berdasarkan atas prinsip-prinsip geometri), dan hubungan beban-peralihan (yang didasarkan atas besaran bahan).
  • 147.
    134 8ab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial *2"1 2 I ANALISIS ELASTOPLASTIS Gambar 2-69 Analisis elasto­ plastis suatu struktur statis tak tentu Di dalam subbab sebelum ini kita telah membahas perilaku struktur apabila tegangan di bahan melebihi limit proporsional. Sekarang kita akan meninjau bahan yang sangat penting dalam desain teknik yaitu baja, yang merupakan metal struktural yang paling banyak digunakan. Baja lunak (atau baja struktural) dapat dimodelkan sebagai bahan elastoplastis (lihat diagram tegangan-regangan dalam Gambar 2-63c). Suatu bahan elastoplastis pada awalnya berperilaku secara elastis linier dengan modulus elastisit!LS E. Sesudah luluh plastis mulai, regangan akan meningkat pada taraf tegahgan yang kurang lebih konstan, yang disebut tegangan luluh cr y . Regangan pada saat dimulainya luluh dikenal dengan regangan luluh £Y. Di dalam subbab ini kita akan membahas analisis struktur statis tak tentu dengan bahan elastoplastis. Untuk menggambarkan perilaku struktur seperti ini, kita akan menggunakan susunan sederhana seperti terlihat dalam Gambar 2-69a. Struktur ini terdiri atas tiga batang baja yang memikul beban P yang bekerja melalui plat kaku. Kedua batang tepi mempunyai panjang Ll' dan batang tengah mempunyai panjang L2, serta ketiga batang mempunyai luas penampang yang sama A. Diagram tegangan-regangan untuk baja diidealisasikan seperti terlihat dalam Gambar 2�69b, dan modu­ lus elastisitas di daerah elastis linier adalah E= cr jt: y - •·· Plat kaku / (a) (b) Seperti yang biasa dilakukan pada struktur statis tak tentu, kita akan memulai analisis dengan persamaan keseimbangan dan keserasian. Dari keseimbangan plat kaku di dalam arah vertikal kita peroleh (a) di mana F1 dan F2 adalah gaya-gaya aksial di batang-batang tepi. Karena plat bergerak ke bawah sebagai benda tegar, pada saat beban diterapkan, maka persamaan keserasiannya adalah (b) di mana 81 dan 82 masing-masing adalah perpanjangan batang tepi dan batang tengah. Karena hanya bergantung pada keseimbangan dan geometri, maka kedua persamaan di atas berlaku untuk semua taraf beban P, tidak
  • 148.
    p Mekanika Bahan 135 peduli apakah regangan ada di daerah elastis linier atau di daerah plastis. Apabila beban P kecil, maka tegangan di batang lebih kecil daripada tegangan luluh av dan bahan tersebut mengalami tegangan di dalarn daerah elastis linier. Dengan demikian, hubungan gaya-peralihan antara gaya batang dan perpanjangannya adalah 8 - Fi� 1 - EA 8- = Fz� - EA (c) Dengan memasukkan ini ke dalam persarnaan keserasian (Persamaan b), maka FILl = FzLz (d) Dengan memecahkan secara simultan Persarnaan (a) dan (d), maka F. - p� I - � + 2� (2-71 a,b) Jadi, kita sekarang mendapatkan gaya-gaya di batang pada daerah elastis linier. Tegangannya adalah a] = Fi = p� A A(� + 2� ) F PL1 .-T - _1._ - ----'--- v2 - - A A(� + 2� l (2-72a,b) Persamaan-persarnaan di atas untuk gaya dan tegangan berlaku asalkan tegangan di ketiga batang masih di bawah tegangan luluh a,. Dengan meningkatnya beban P, tegangan di batang menirigkat sarnpai tegangan luluh dicapai di salah satu batang. Sekarang asumsikan bahwa batang-batang tepi lebih daripada batang tengah, seperti terlihat dalarn Gambar 2-69a: (e) Dengan demikian, batang tengah mengalarni tegangan yang lebih tinggi dibandingkan batang tepi (lihat Persarnaan 2-72a dan b) dan akan mencapai tegangan luluh terlebih dahulu. Apabila hal ini tetjadi, maka gaya di batang tengah adalah F2 = aYA. Besarnya beban P pada saat tegangan luluh pertarna kali dicapai di salah satu batang disebut beban luluh PY. Kita dapat menentukan Pv dengan menetapkan F2 sarna dengan ayA di Persarnaan (2-71b) dan menghitung beban: PY = aYA(l + 2 () (2-73) Selarna beban P lebih kecil daripada Py, struktur berperilaku secara elastis linier dan gaya-gaya di batang dapat dihitung dari Persarnaan (2-71a dan b). B Peralihan ke bawah pada batang kaku akibat beban luluh, yang disebut c peralihan luluh 8y, sarna dengan perpanjangan batang tengah pada saat tegangan mencapai tegangan luluh ay pertarna kali: Gambar 2·70 Diagram beban­ peralihan untuk struktur statis tak tentu yang ditunjukkan dalam gambar 2-69a. 8 - F2Lz - a2Lz - aYLz (2-74) y - EA - � - � Hubungan antara beban P dan peralihan ke bawah 8 batang kaku ditunjukkan dalarn diagram beban-peralihan dalam Garnbar 2-70. Perilaku struktur sarnpai beban luluh PY ditunjukkan dengan garis OA. Dengan bertambahnya beban, maka gaya F1 di batang tepi luar bertarnbah, tetapi gaya F2 di batang tengah tetap konstan sebesar ayA karena batang ini sekarang plastis sempuma (lihat Garnbar 2-69b). Apabila
  • 149.
    1 36 Bab2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial gaya F1 mencapai harga <JvA, maka batang tepi juga luluh sehingga struktur tidak dapat memikul beban tambahan apapun. Ketiga batang akan memanjang secara plastis pada taraf beban konstan, yang disebut beban plastis PP. Beban plastis yang ditunjukkan dengan titik B pada diagram beban-peralihan (Gambar 2-70), dan garis horizontal BC menunjukkan daerah deformasi plastis kontinu tanpa adanya penambahan beban. Beban plastis PP dapat dihitung dari keseimbangan statis (Persamaan a) dengan diketahuinya Jadi, dari keseimbangan kita dapatkan pp = 3<Jy4 (f) (2-75) Peralihan plastis oP tepat pada saat beban mencapai beban plastis PP sama dengan perpanjangan batang tepi pada saat mencapai tegangan luluh. Dengan demikian, (2-76) Dengan membandingkan oP dan o y , kitalihat bahwa rasio peralihan plastis terhadap peralihan luluh adalah op � - = - oy � Juga, rasio beban plastis terhadap beban luluh adalah pp 3� - = --"--- pv � + 2� (2-77) (2-78) Sebagai contoh, jika L1 = 1 ,5L2, maka rasionya adalah O/OY = 1 ,5 dan P/ Pv = 917 = 1 ,29. Pada umumnya, rasio peralihan lebih besar daripada rasio bebannya, sehingga daerah yang plastis sebagian AB pada dengan beban­ peralihan (Gambar 2-70) selalu mempunyai kemiringan yang lebih kecil dibandingkan dengan di daerah elastis OA. Tentu saja, daerah plastis penuh BC mempunyai kemiringan terkecil (nol). Untuk memahami mengapa grafik beban-peralihan adalah linier di daerah plastis parsial (garis AB) dan mempunyai kemiringan lebih kecil daripada di daerah elastis linier, tinjaulah hal berikut. Di daerah plastis parsial dari struktur, batang tepi masih berperilaku elastis linier. Dengan demikian, perpanjangannya merupakan fungsi linier dari beban. Karena perpanjangannya sama dengan peralihan ke bawah plat kaku, maka peralihan plat kaku juga harus merupakan fungsi linier dari beban. Akibat­ nya, kita mempunyai garis lurus antara titik A dan B. Namun, kemiringan dari diagram beban-peralihan di daerah ini lebih kecil daripada di daerah linier awal karena batang tengah mengalarni luluh secara plastis dan hanya batang tepi yang dapat memberikan tahanan tambahan terhadap peningkatan beban. Ini berarti kekakuan struktur telah berkurang. Dari pembahasan yang berkaitan dengan Persamaan (2-75), kita lihat bahwa perhitungan beban plastis PP membutuhkan hanya statika, karena semuaelemen struktur telah luluh dan gaya aksialnya diketahui. Sebaliknya, perhitungan beban luluh PY membutuhkan analisis statis tak tentu, yang berarti persamaan keseimbangan, keserasian, dan gaya-peralihan harus dipecahkan.
  • 150.
    Mekanika Bahan 137 Sesudah beban plastis PP tercapai, struktur akan terus berdeformasi seperti terlihat dengan garis BC pacta diagram beban-peralihan dalarn Garnbar 2-70. Pacta akhimya strain hardening terjadi dan struktur akan marnpu memikul beban tambahan. Tetapi, adanya peralihan yang sangat besar biasanya berarti struktur sudah tidak lagi berguna, dan begitu pula beban plastis PP dipandang sebagai beban gaga!. Diskusi di atas berkaitan dengan perilaku struktur apabila beban diterapkan untuk pertarna kali. Jika beban dihilangkan sebelum beban luluh dicapai, maka struktur akan berperilaku secara elastis dan kembali ke kondisi semula. Narnun, jika beban luluh telah dilampaui, sebagian dari struktur akan mempertahankan set yang permanen apabila beban dihilangkan, jadi menimbulkan kondisi tegangan awal. Akibatnya, struktur tersebut akan mempunyai tegangan residual (sisa) meskipun belum ada beban yang bekerja. Jika beban diterapkan sekali lagi. maka struktur akan berperilaku secara berbeda. • Contoh 2-21 Gambar 2-71 Contoh 2-2 1 . Analisis elastoplastis pada suatu struktur statis tak tentu. Struktur yang terlihat dalam Gambar 2-71a terdiri atas balok horizontal AB (diasumsikan kaku) yang dipikul oleh dua batang identik (batang 1 dan 2) yang terbuat dari bahan elastoplastis. Batang-batang ini mempunyai panjang L. dan Juas penampang A, dan bahannya mempunyai tegangan luluh a y, regangan luluh f.v, dan modulus elastisitas E = CJ/£Y. Balok ini mempunyai panjang 3b dan memikul beban P di ujung B. (a) Tentukanlah beban luluh P, dan peralihan luluhnya 8Y di titik B. (b) Tentukan beban plastis PP dan peralihan plastisnya 8P di titik B. (c) Gambarlah diagram beban-peralihan yang menghubungkan beban P dan peralihan 88 di titik B. tF1 tF: p 6 PP = S py : n c 0 py ' ' B p (a) (b) Solusi Persamaan keseimbangan. Karena struktur ini statis tak tentu, maka kita mulai dengan persamaan keseimbangan dan keserasian. Dengan meninjau keseimbangan balok AB, kita mengambil momen terhadap titik A dan mendapatkan I MA = 0 Fl(b) + Fz(2b) - P(3b) = 0 di mana F1 dan F2 masing-masing adalah gaya-gaya aksial di batang I dan 2. Persamaan ini dapat disederhanakan menjadi (g) Persamaan keserasian. Persamaan keserasian didasarkan atas geometri struktur. Akibat bekerjanyabeban P, balok kaku berotasi terhadap titikA, sehingga
  • 151.
    138 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial SOAL-SOAL BAB 2 I peralihan ke bawah di setiap titik di sepanjang balok sebanding dengan jaraknya dari titik A. Jadi, persamaan keserasian adalah (h) dimana 82 adalah perpanjangan batang 2 dan 81 adalah perpanjangan batang l . (a) Beban luluh dan peralihan luluh. Jika beban P kecil dan tegangan-tegangan pada bahan berada dalam daerah elastis linier, hubungan antara gaya-peralihan kedua batang adalah 8 - F.,L I - EA 8 = F2L 2 EA (i) Dengan menggabungkan persamaan-persamaan di atas dengan kondisi keserasian (Persamaan h), maka FzL = 2 F.,L atau F2 = 2F., (j) EA EA Sekarang dengan memasukkannya ke persamaan keseimbangan (Persamaan g), kita dapatkan F. _ 3P I - 5 F, = 6P - 5 (k) Batang 2, yang mempunyai gaya lebih besar, akan mencapai tegangan luluh terlebih dahulu. Pada saat itu, gaya di batang 2 adalah F2 = ay4. Dengan memasukkan harga ini ke dalam Persamaan (k) maka beban luluh P Y adalah _ 5a _ ,A P,. - . 6 (I) • Perpanjangan batang 2 (dari yang kedua dalam Persamaan i) adalah 82 = apE sehingga peralihan luluh di titik B adalah _ 382 _ 3a>L 8 - - - -- (m) • y 6 2E P Y dan 8Y ditunjukkan dalam diagram beban-peralihan (Gambar 2-71b). (b) Beban plastis dan peralihan plastis. Pada saat beban plastis PP dicapai, kedua batang akan meregang pada taraf tegangan luluh dan gaya-gaya F1 dan F2 akan sama dengan ay4. Dari keseimbangan (Persamaan g), beban plastis adalah PP = ay4 (n) • Pada taraf beban ini, batang kiri (batang 1) barn saja mencapai tegangan luluh sehingga perpanjangannya (dari yang pertama dalam Persamaan i) adalah 81 = apE dan peralihan plastis titik B adalah 3a L 8 = 381 = _ Y_ (o) • P E Rasio beban plastis terhadap beban luluh (lihat Persamaan n dan 1) adalah 6/5, dan rasio peralihan plastis terhadap peralihan luluh (lihat Persamaan o dan m) adalah 2. Harga-harga ini juga ditunjukkan dalam diagram beban-peralihan. (c) Diagram beban-peralihan. Perilaku beban-peralihan struktur secara lengkap diplot dalam Gambar 2-71 b. Perilaku ini elastis linier pada daerah dari 0 ke A, plastis sebagian dari A ke B, dan plastis penuh dari B ke C. Lembar :':/e:'. PERUBAHAN PANJANG PADA Ke�ia a ELEMEN STRUKTUR VANG DIBEBANI SECARA AKSIAL 2.2-1 Sebuah kawat baja dan kawat tembaga mem­ punyai panjang sama dan memikul beban sama P (lihat gambar). Modulus elastisitas untuk baja dan tembaga
  • 152.
    masing-masing adalah Es= 29 x 106 psi dan Ec = 1 8 x 106. (a) Jika kedua kawat mempunyai diameter sama, berapakah rasio perpanjangan kawat tembaga terhadap perpanjangan kawat baja? (b) Jika kawat memanjang sama besar. berapakah rasio diameter kawat tembaga terhadap diameter kawat baja? Kawat baja __-- Kawat tembaga ....------- p p 2.2-2 Sebuah benda berat sedang diangkat dari dasar !aut dengan menggunakan kapal tarik (lihat gambar). Kabel baja mempunyai modulus elastisitas efektif sama dengan 140 GPa, dan bebannya menimbulkan tegangan di kabel sama dengan 290 MPa. Jika bagian kabel yang dibebani mempunyai panjang 90 m, berapakah perpanjangan kabel pada saat benda diangkat? 2.2-3 Sebuah kabel baja dengan diameter 1,0 in (lihat Tabel 2- 1 ) digunakan dalam konstruksi untuk mengangkat potongan jembatan yang beratnya 12 ton, seperti terlihat dalam gambar. Kabel ini mempunyai modulus elastisitas efektif E = 20 x 106 psi. (a) Jika kabel mempunyai panjang 45 ft, berapakah kabel itu akan memanjang pada saat beban tersebut diangkat? (b) Jika kabel itu dicanangkan untuk beban maksimum 15 Mekanika Bahan 1 39 ton, berapakah faktor keamanan terhadap kegaga1an kabel? 2.2-4 Sebuah katup pengaman di bagian atas tangki yang mengandung uap bertek.anan p mempunyai lubang pembuangan dengan diameter d (lihat gambar). Katup ini didesain untuk melepaskan uap pada saat tekanan mencapai harga PmaL· Jik.a panjang alami pegas L dan kekakuannya adalah k. berapaseharusnya diameter katup? (Nyatakan hasilnya sebaga.i rumus untuk h). 2.2-5 Peralatan yang terlihat dalam gambar terdiri atas penunjuk ARC yang dipikul oleh pegas yang berkekakuan k. Pegas ini terletak padajarak b dari ujung sendi. Peralat­ an ini disesua.ikan sedemikian hingga agar apabila tidak ada beban P, penunjuk menunjukkan angka no! pada skala sudut. Pada jarak x berapa beban harus diletakkan agar penunjuk akan menunjukkan 2° pada skala? Guna­ kan data berikut: k = 8,0 lb/in, b = 8 in, dan P = 3 lb. 1+------- b ------�
  • 153.
    1 40 Bab2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksia/ 22-6 Sebuah batang seragam AB yang beratnya W = :.5 ' dipikul oleh dua pegas, seperti terlihat dalam p .. : nbar. Pegas di kiri mempunyai kekakuan k1 = 300 NI m dan panjang alami L1 = 250 mm. Besaran untuk pegas kanan adalah k2 = 400 N/m dan L2 = 200 mm. Jarak antara pegas adalah L = 350 mm, dan pegas di kanan digantung pada tumpuan yang berjarak h = 80 mm di bawah titik tumpuan untuk pegas kiri. Pada jarak x berapakah dari pegas kiri beban P = 1 8 ! harus di­ letakkan agar batang ini terletak horizontal·? h w A B I p I b�L�------1 2.2-7 Sebuah baja mutu tinggi dengan diameter d = 0,5 in dan modulus elastisitas E = 30 x 1 06 psi harus menyalurkan beban P = 6100 lb (lihat gambar). (a) Jika panjang L batang adalah 1 4,50 ft, berapakah panjang akhir? (b) Berapakah rasio panjang batang terhadap pertambahan panjang? (c) Jika pertambahan panjang dibatasi pada 0,15 in, berapakah beban maksimum Pmaks yang diizinkan? 2.2-8 Sebuah kawat aluminium yang mempunyai di­ ameter d = 2 mm dan modulus elastisitas E = 75 GPa mengalami beban tarik P (lihat gambar). (a) Jika kawat ini memanjang 2,25 mm jika dibebani tarik 175 N, berapa panjang L kawat? (b) Jika perpanjangan izin maksimum adalah 3,0 mm, tegangan izin tarik adalah 60 MPa, dan panjang kawat adalah 3,8 m, berapa beban izin Pmaks? 2.2-9 Sebuah batang panjang dari tembaga persegi panjang yang mengalami beban tarik P digantung pada tumpuan sendi dengan tiang baja (lihat gambar). Batang tembaga mempunyai panjang 26 ft, luas penampang 6,5 in2, dan modulus elastisitas Ec = 1 5 x 106 psi. Masing­ masing tiang baja mempunyai tinggi 35 in, luas penam­ pang 8,4 in2, dan modulus elastisitas E, = 29 x 106 psi. (a) Tentukan peralihan ke bawah 8di ujung bawah batang tembaga akibat beban P = 85 k. (b) Berapakah beban izin maksimum Pmaks jika peralihan 8 dibatasi pada 0,30 in.? / Tiang baja Batang /� tembaga 2.2-10 Rangka batang ABC yang terlihat dalam gambar mempunyai bentang L = 3 m dan terbuat dari pipa baja :ang mempunyai luas penampang A = 3540 mm2 dan modulus elastisitas E = 200 GPa. Sebuah beban P bekerja dalarn arah horizontal ke kanan di titik hubung C. (a) Jika P = 620 kN, berapa peralihan horizontal titik hubung B? (bi Berapa beban izin maksimum Pmaks jika peralihan titik hubung B dibatasi pada 1 ,0 mm? 2.2-1 1 Sebuah kolom Iingkaran berlubang dari baja (£ = 30.000 ksi) mengalami beban tekan P, seperti terlihat dalam gambar. Kolom ini mempunyai panjang L = 8,2 ft dan diameter d = 8,0 in. Beban P = l l0 k. Jika tegangan Gambar untuk Soal 2.2- 1 1 dan 2.2-1 2
  • 154.
    tekan izin adalah8,1 ksi dan perpendekan izin untuk kolom adalah 0.025 in, berapakah tebal dinding yang dibutuhkan? 2.2-12 Sebuah kolom lingkaran berlubang dari baja (E = 210 GPa) mengalami beban tekan P, seperti terlihat dalam gambar. Kolom ini mempunyai panjang L = 2,5 m dan diameter d = 200 mm. Beban P = 490 kN. Jika tegangan tekan izin adalah 56 MPa dan perpendekan izin untuk kolom adalah 0,6 mm, berapakah tebal dinding t yang dibutuhkan? 2.2-13 Balok kaku horizontalABCD dipikul oleh batang vertikal BE dan CF dan dibebani oleh gaya vertikal P1 = lOO k dan P2 = 90 k yang masing-masing bekerja di titik A dan D (lihat gambar). Batang BE dan CF terbuat dari baja (E = 29,5 x 1 06 psi) dan luas penampang A8E = 22,1 in 2 dan AcF = 1 8,3 in 2 . Jarak antara titik-titik pada batang ditunjukkan dalam gambar. Tentukan per­ alihan vertikal 8A dan 8D masing-masing di titik A dan D. 2.2-14 Sebuah plat setengah 1ingkaran ACBD yang beratnya W = 500 N dan jari-jarinya R = 1 ,0 m ditumpu di titik A, B, dan D oleh tiga kawat identik (lihat gambar). Titik C ada di pusat busur lingkaran ADB dan jari-jari CD tegak lurus diameter AB. Setiap kawat mempunyai modulus elastisitas E = 210 GPa, diameter d = 2 mm, dan panjang L = 1,2 m. Asumsikan bahwa plat ini kaku. Beban P = 3W diletakkan pada jari-jari CD di titik p Mekanika Bahan 1 41 yang berjarak x dari titik C. Berapakah jarak x agar plat tersebut mempunyai kemiringan 0,1° (di sepanjang garis CD) akibat aksi gabungan gaya P dan berat W? ...,l_x 1t �:��·I BATANG TAK SERAGAM 2.3-1 Perhatikan balok dan batang yang terlihat dalam Gambar 2-12a pada Contoh 2-3, dan memperhatikan bahwa beban P1 dan P: bekerja masing-masing di titik C dan E. Dengan menga'>umsikan bahwa kedua bagian batang vertikalABC terbuat dari bahan yang sama, carilah rumus untuk rasio P.;P1 sedemikian hingga peralihan vertikal titik C akan no!. (�� atakan hasilnya di dalam luas penampang A1 dan A:· sena dimensi Ll' L2, dan a, dan b seperti terlihat dalarn garnbar tersebut.) 2.3-2 Sebuahbatang bajaA.D (}ihat garnbar) mempunyai luas penampang 260 mm2 dan dibebani gaya P1 = 12 kN, P2 = 8 kN, dan P3 = 6 kc �. Panjang masing-masing segmen batang adalah a = 1,5 m. b = 0.6 m, dan c = 0,9 m. (a) Dengan mengasumsikan bahwa modulus elastisitas E = 210 GPa, hitunglah perubahan panjang batang, Apakah batang ini memanjang atau memendek? (b) Berapakah P3 harus dibesarkan agar ujung D batang tidak bergerak apabila beban bekerja? 2.3-3 Sebuah pipayang mempunyai modulus elastisitas E = 30 x 106 psi dibebani gaya PI' P2, dan P3 (lihat gambar). Pipa ini mempunyai panjang 1 2 ft, dan jarak antara titik-titik beban ada1ah a = b = 3 ft, dan c = 6 ft. Bebannya adalah P1 = 4 k, P2 = 3 k, dan P3 = 3 k, dan luas penampang pipa adalah 2,8 in 2 . (a) Hitunglah peralihan 88, De, dan 8D di titik-titik beban. (b) Tentukan jarak x dari tumpuan kiri ke penampang di mana peralihannya no!. 2.3-4 Sebuah gedung dua tingkat mempunyai kolom baja AB di lantai pertama dan BC di kolom kedua (lihat gambar) (lihat gambar). Beban atap P1 sama dengan 400 kN dan beban lantai bawahnya adalah P2 = 720 kN. �� a=3,75 m J r a=3,75 m J
  • 155.
    142 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Setiap kolom mempunyai panjang a = 3,75 m. Luas penampang kolom Jantai pertama dan kedua masing­ masing adalah 1 1.000 mm2 dan 3.900 mm2• (a) Dengan menganggap bahwa E = 206 GPa, tentukan peralihan ke bawah De titik C akibat beban P1 dan P2, (b) Berapa beban tambahan P0 yang dapat diletakkan di puncak kolom (titik C) jika peralihan ke bawah titik C tidak boleh melebihi 4,0 mm? 2.3-5 Sebuah batang prismatis AD mengalami beban Pp P2, dan P3 yang bekerja di titik B, C. dan D. seperti terlihat dalam gambar. Setiap segmen batang mempunyai panjang 20 in. Batang ini mempunyai luas penampang A = 1 ,40 in2 dan terbuat dari tembaga dengan E = 17.000 ksi. (a) Tentukan peralihan 60 di ujung bebas batang. (b) Berapakah seharusnya beban P3 jika peralihan di titik D dikehendaki menjadi setengah dari harga semu1a? 2.3-6 Batang ABC terdiri atas dua bahan dan mem­ punyai panjang total I m dan diameter 50 mm (lihat gambar). Bagian AB adalah baja (E, = 210 GPa) dan bagian BC adalah aluminium (Ea = 70 GPa). Batang ini mengalami gaya tarik 1 10 kN. (a) Tentukan panjang L1 dan L2 untuk masing-masing bagian agar kedua bagian mempunyai perpanjangan yang sama. (b) Berapakah perpanjangan total o batang? 2.3-7 Sebuah batang yang panjangnya 8 ft mempunyai diameterpenampang d1 = 0,75 in di setengah panjangnya, dan d2 = 0,50 in di setengah panjang Jainnya (lihat gambar). (a) Berapakah perpanjangan batang akibat beban tarik P = 5000 lb? (b) Jika volume bahan yang sama digunakan untuk membuatbatang dengan diameter d dan panjang 8 ft, berapakah perpanjangan batang ini akibat beban P yang sama? (Asumsikan E = 30 x 106 psi.) 2.3-8 Sebuah batang ABC yang panjangnya L terdiri atas dua bagian yang panjangnya sama tetapi diametemya berbeda (lihat gambar). Segmen AB mempunyai diam- eter d1 = 100 mm dan segmen BC mempunyai diameter d2 = 60 mm. Kedua segmen mempunyai panjang U2 = 0,6 m. Sebuah lubang longitudinal yang diameternya d dibor menembus segmen AB hingga setengah dari panjangnya (jarak U4 = 0,3 m). Batang ini terbuat dari plastik yang mempunyai modulus elastisitas E = 4,0 GPa. Beban tekan P = 1 10 kN bekerja di ujung batang. Jika perpendekan batang dibatasi pada 8,0 mm, berapakah diameter lubang maksimum d yang diizinkan? 2.3-9 Sebuah tiang baja, yang dipancang ke dalam tanah, memikul beban P dengan cara gesekan di sepan­ jang sisi-sisinya (lihat gambar). Friksi gayafper panjang satuan tiang dianggap mempunyai distribusi terbagi rata di seluruh permukaan tiang. Tiang ini mempunyai panjang L, luas penampang A, dan modulus elastisitas E. (a) Turunkan rumus untuk perpendekan 0 dari tiang yang dinyatakan dalam P, L, E, dan A. (b) Gambarlah diagram yang menunjukkan bagaimana tegangan tekan ac bervariasi di seluruh panjang tiang. f L J 2.3-10 Sebuah kabel baja panjang AB memiku1 beban P = 22,0 kN di ujung bawahnya (lihat gambar). Panjang kabel L = 450 m dan berat per satuan panjang ada1ah w = 6,1 N/m. Regangan di tengah tinggi kabel diukur T l� L B J
  • 156.
    dengan strain gagedan diperoleh besarnya 0,00223. (a) Berapakah regangan EA di ujung atas kabel? (b) Berapa regangan t:8 di ujung bawah kabel? (c) Berapa per­ panjangan 8 kabel? 2.3-1 1 Sebuah batang prismatis AB yang panjangnya L, luas penampangnya A, modulus elastisitasnya E, dan beratnya W digantung secara vertikal dan dibebani berat sendiri (lihat gambar). (a) Turunkan rumus untuk peralihan ke bawah 8c di titik C, yang terletak di jarak c dari ujung bawah batang. (b) Berapa perpanjangan 88 keseluruhan batang? (c) Berapa rasio r perpanjangan setengah bagian atas batang terhadap perpanjangan setengah bagian bawahnya? A -�L I __ t c I _LB 2.3-12 Sebuah tiang beton AB yang mempunyai pe­ nampang bujursangkar dan tinggi L meruncing dari bawah ke atas (lihat gambar). Penampang di atas dan bawah mempunyai lebar masing-masing b dan 2b. (a) Dapatkan rumus untuk perpendekan 8 tiang ini akibat beban tekan P (abaikan berat sendiri tiang). (b) Hitunglah perpendekannya jika L = 4 m, b = 0,8 m, P = 1 800 kN, dan modulus elastisitas beton adalah 24 GPa. T 2b _1 f--2b-l *2.3-13 Sebuah tiang kayu yang memikul kepala tiang mengalami gaya gesekan f per panjang satuan tiang di bagian panjangnya yang tertanam di dalam tanah (lihat gambar). Intensitas gaya gesekan bervariasi secara linier terhadap jarak y dari dasar tiang, artinyaf = cy, di mana c adalah konstanta. Panjang tiang yang tertanam adalah L1 dan bagian atas tiang mempunyai panjang L2 juga, beban di tiang adalah P, luas penampangnya adalah A, Mekanika Bahan 1 43 dan modulus elastisitas nya adalah E. (a) Turunkan rumus untuk menghitung perpendekan 8 tiang yang dinyatakan dalam P, L1, L2• E, dan A. (b) Gambarlah diagram yang menunjukkan bagaimana tegangan tekan ac bervariasi di seluruh panjang tiang. T I t T l r �f=cy *2.3-14 Sebuah batang kerucut panjang, langsing yang berpenampang lingkaran dan mempunyai panjang L, serta diameter dasar d digantung dalam arah vertikal dan mengalami beban akibat berat sendiri, seperti terlihat dalam bagian (a) pada gambar. Batang ini mempunyai berat W dan modulus elastisitas E. (a) Turunkan rumus untuk menghitung perpanjangan oc batang kerucut. (b) Jika volume bahan yang sama digunakan dalam batang prismatis dengan penampang lingkaran dan panjang L [lihat bagian (b) pada gambar], berapakah perpan­ jangannya? (a) (b) *2.3-1 5 Sebuah cakram (disk) kaku dengan jari-jari R berputar dengan kelajuan sudut konstan m terhadap sumbu yang melalui pusatnya C (lihat gambar). Enam pisau prismatis identik, yang masing-masing mempunyai panjang L, terpasang dengan arah radial ke luar dari disk tersebut. Bahan pisau mempunyai modulus elastisitas E dan rapat massa p (massa per unit volum). Tentukan perpanjangan o pisau ini akibat efek sentrifugal.
  • 157.
    1 44 Bab2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial **2.3-16 Sebuah tiang aluminium yang meruncing AB dengan penampang lingkaran berlubang dan panjang L ditekan oleh beban P (lihat gambar). Diameter luar di atas dan bawah tiang adalah dA dan d8, dan tebal dinding adalah t. Turunkan rumus untuk perpendekan tiang. di mana E adalah modulus elastisitas. p **2.3-1 7 Kabel utama dari jembatan gantung [lihat bagian (a) dari gambar] mengikuti kurva yang mendekati parabola karena beban utama di kabel adalah berat dek jembatan, yang mempunyai intensitas seragam di sepanjang horizontal. Dengan demikian, kita dapat menyatakan daerah tengah AOB dari kabel utama [lihat (a) (b) bagian (b) pada gambar] sebagai kabel parabolik yang ditumpu di titik A dan B dan memikul beban terbagi rata dengan intensitas q pada bidang horizontal. Bentang kabel adalah L, sag-nya h, serta rigiditas aksial adalah EA, dan pusat koordinat ada di tengah bentang. (a) Turunkan rumus untuk perpanjangan 8 kabel AOB yang terlihat dalam bagian (b) gambar tersebut. (b) Hitunglah perpanjangan 8 bentang tengah dari kabel utama pada Golden Gate Bridge, di mana dimensi dan besarannya adalah L = 4.200 ft, h = 470 ft, q = 12.700 lb/ft, dan E = 28.800.000 ksi. Kabel ini terdiri atas 27.572 kabel paralel dengan diameter 0,196 in. (Petunjuk: Tentukan gaya tarik T di sembarang titik dari kabel dari diagram benda bebas dari kabel; 1alu, tentukan perpanjangan elemen kabel yang panjangnya d5; akhimya, integrasikan di sepanjang kurva kabel untuk mendapatkan persamaan perpanjangan 8.) STRUKTUR STATIS TAK TENTU 2.4-1 Sebuah struktur yang terdiri atas inti perunggu dan pipa aluminium mengalami gaya tekan P (lihat gambar). Panjang pipa aluminium dan inti perunggu adalah 14,0 in., diameter inti adalah 1,0 in., dan dia­ meter luar pipa adalah I ,6 in. Juga, modulus e1astisitas aluminium dan perunggu masing-masing adalah I 0,5 x 106 psi dan 15,0 x 106 psi. (a) Jika panjang struktur ini berkurang 0,1% apabila dibebani P, berapa besar beban P tersebut? (b) Berapa beban izin maksimum Pmaks jika tegangan izin di aluminium dan perunggu masing-masing adalah 12.000 psi dan 1 8.000 psi? 2.4-2 Sebuah struktur terdiri atas inti perunggu (dia­ meter d1 = 6,0 mm), dan pipa baja (diameter dalam d2 = 7,0 mm, diameter luar d3 = 9 mm). Sebuah beban P menekan struktur yang mempunyai panjang L = 85 mm ini. Modulus elastisitas perunggu dan baja masing-masing adalah 100 GPa dan 200 GPa. (a) Berapa beban P yang akan memendekkan struktur ini 0,1 mm? (b) Jika
  • 158.
    tegangan izin bajaadalah 1 80 MPa dan tegangan izin di perunggu adalah 140 MPa, berapabeban tekan izin Pizin? Cangkang baja Inti perunggu 2.4-3 Sebuah kolom beton bertulang dengan penampang lingkaran dan panjang L = 12 ft memikul beban tekan P = 200 k (lihat gambar). Kolom ini mempunyai delapan batang tulangan, masing-masing mempunyai diameter efektif 1,0 in. Batang-batang dikekang oleh sengkang lingkaran untuk mencegahnya menekuk ke luar. Luas efektif beton mempunyai diameter de = 1 3 in, seperti terlihat dalam gambar (bagian luar dari beton dapat pecah sehingga tidak dipandang efektif dalam memikul beban). Asumsikan bahwa modulus elastisitas baja adalah 29 x 106 psi dan untuk beton adalah 3,6 x 106 psi. (a) Hitunglah tegangan a s dan <Y e di baja dan beton. (b) Hitunglah perpendekan 8 di kolom. (Petunjuk: Dalam menghitung luas beton, abaikan luas yang ditempati oleh delapan tulangan baja.) - d ­ e 2.4-4 Tiga batang prismatis, dua dari bahan A dan satu dari bahan B, menyalurkan beban P (lihat gambar). Kedua Mekanika Bahan 145 batang luar (bahan A) adalah identik. Luas penampang batang tengah (bahan B) adalah 50% lebih besar daripada luas penampang satu batang luar. Juga, modulus elastisitas bahan A adalah duakali bahan B. Berapa fraksi dari beban P yang disalurkan oleh batang tengah? (b) Berapakah rasio tegangan di batang tengah terhadap batang luar? (c ) Berapa rasio regangan batang tengah terhadap regangan batang luar? 2.4-5 Tiga kabel baja digabungkan bersama untuk memikul beban 12 k (lihat gambar). Diameter kabel tengah adalah 3/4 in dan diameter masing-masing kabel tepi adalah 1/2 in. Tarik di kabel disesuaikan sedemikian hingga masing-masing kabel hanya memikul sepertiga dari beban, maksudnya 4 k. Kemudian. beban diperbesar 9 k hingga beban totalnya 2 1 k. t a) Berapa persen dari beban total yang dipikul oleh kabel tengah? (b) Berapa tegangan am dan a0 masing-masing di kabel baja tengah dan tepi? (Catatan: Lihat Tabel 2-1 di Subbab 2.2 untuk besaran-besaran kabel.) 2.4-6 Sebuah batang ACB yang mempunyai dua luas penampang yang berbeda A1 dan A2 ditahan antara dua tumpuan kaku A dan B (lihat gambar). Sebuah beban P bekerja di titik C, yang berjarak b1 dari ujung A dan berjarak b2 dari ujung B. (a) Dapatkan rumus untuk reaksi RA dan R8masing-masing di tumpuan A dan B, akibat
  • 159.
    1 40 Bab2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial beban P. (b) Dapatkan rumus untuk peralihan ke bawah 8cdi titik C. F bl J II I b2 I B ____!_ 2.4-7 Pipa aluminium dan baja yang terlihat dalam gambar dikekang di tumpuan kaku A dan B dan di C pacta pertemuan kedua pipa. Panjang pipa aluminium dua kali panjang pipa baja. Dua beban yang sama dan simetris P bekerja di plat C. (a) Dapatkan rumus untuk tegangan aksial 0" 0 dan 0" 5 masing-masing di pipa alu­ minium dan baja. (b) Hitunglah tegangan untuk data berikut: P = 1 2 k, luas penampang pipa aluminium Aa = 8,92 in 2 , luas penampang pipa baja As = 1 ,03 in 2 , modu­ lus elastisitas aluminium Ea = 10 x 106 psi dan modulus elastisitas baja Es = 29 x 106 psi. 2L c ¥ Pipa aluminium 2.4-8 Batang berbeban aksialABCD yang terlihat dalam gambar ditahan antara tumpuan-tumpuan kaku. Batang tersebut mempunyai luas penampang A0 dari A ke C dan 2A0 dari C ke D. (a) Dapatkan rumus untuk reaksi RA dan Rv di ujung-ujung batang. (b) Tentukan peralihan 88dan Ocdi titik B dan C. (c) Gambarlah diagram di mana absisnya adalahjarak x dari tumpuan kiri dan ordi- natnya adalah peralihan horizontal titik yang ber­ sangkutan di batang. 2.4-9 Sebuah batangAB dengan kedua ujungnya terjepit dan mempunyai dua luas penampang yang berbeda dibebani oleh dua beban P yang sama besar tetapi berlawanan arah, seperti terlihat dalam gambar. Luas penampang di dekat ujung adalah A1, dan di tengah adalah A2. (a) Tentukan reaksi R4dan R8di kedua ujung batang. (b) Tentukan gaya aksial tekan F di bagian tengah batang. (c) Pacta kondisi bagaimana tegangan tekan di tengah batang secara numerik sama dengan tegangan tarik di ujung batang? 2.4-10 Sebuah batang komposit dengan penampang bujursangkar dan dimensi 2b x 2b terbuat dari dua bahan yang berbeda dengan modulus elastisitas E1 dan E2 (lihat gambar). Kedua bagian batang mempunyai dimensi potongan melintang yang sama. Batang tersebut memikul beban P yang bekeija melalui plat ujung kaku. Garis kerja beban ini mempunyai eksentrisitas e sedemikian hingga setiap bagian batang mengalami tegangan tekan terbagi rata. (a) Tentukan gaya aksial P1 dan P2 di kedua bagian batang. (b) Tentukan eksentrisitas e beban. (c) Tentukan rasio tegangan a1 dan a2 di kedua bagian batang. 2.4-1 1 Tiga kabel vertikal dengan diameter yang sama dan dari bahan yang sama memikul balok horizontal kaku di titik A, B, dan C (lihat gambar). Kabel B dan C mempunyai panjang h dan kabel A mempunyai panjang 2h. Tentukan jarak x antara kabel A dan B sedemikian T 2h 1 T h 1
  • 160.
    hingga balok akantetap horizontal apabila beban P bekeija di titik tengah. 2.4-12 Sebuah benda tegar AB yang beratnya W di­ gantung pacta kawat vertikal yang beijarak satu sama lain sama. dua dari baja dan satu dari aluminium (lihat gambar). Kawat-kawat ini memikul beban P yang bekeija di titik tengah blok. Diameter kawat baja adalah 2 mm, dan diameter kawat aluminium adalah 4 mm. Berapa beban P yang dapat dipikul jika tegangan izin di kawat baja adalah 220 MPa dan di kawat aluminium adalah 80 MPa? (Asumsikan W = 800 N, E5 = 210 GPa, dan Ea = 70 GPa.) s A s A 2.4-13 Sebuah batang kaku horizontal AB yang mem­ punyai berat W = 7.200 lb dipikul oleh tiga batang lingkaran langsing (lihat gambar). Dua batang tepi terbuat dari aluminium (E1 = lO x 106 psi) dengan diameter d1 = 0,4 in. dan panjang L1 = 40 in. Batang tengah adalah magnesium (E2 = 6,5 x 106 psi) dengan diameter d2 dan panjang L2. Tegangan izin di aluminium dan magnesium masing-masing adalah 24.000 psi dan 13.000 psi. Jika dikehendaki agar ketiga batang dibebani hingga mencapai harga izinnya, berapa diameter d2 dan panjang L2 pada batang tengah? 2.4-14 Sebuah batang baj a ABC (E = 200 GPa) mempunyai luas penampang A1 dari A ke B dan luas penampang A2 dari B ke C (lihat gambar). Batang ini dipikul di ujung A dan mengalami beban P yang sama dengan 40 kN di ujung C. Sebuah pipa baja lingkaran BD dengan luas penampang A3 memikul batang tersebut Mekanika Bahan 1 47 di B. Tentukan peralihan Oc di ujung bawah batang akibat beban P, dengan beranggapan bahwa pipa tersebut pas benar di B apabila tidak ada beban. (Asumsikan L1 = 2L3 = 250 mm. L: = 225 mm, A1 = 2A3 = 960 mm 2 , dan A2 = 300 mm=. ) A �- . - 2.4-1 5 Sebuah batang kaku A.B yang panjangnya L dihubungkan ke dinding dengan menggunakan sendi di A dan dipikul oleh dua kawat vertikal yang terpasang di titik C dan D (lihat gambar). Kawat-kawat ini mempunyai luas penampang A yang sama dan terbuat dari bahan yang sama pula (modulus elastisitas E), tetapi kawat D mempunyai panjang dua kali kawat C. (a) Carilah gaya tarik Tc dan TD di kawat akibat beban vertikal P yang bekeija di ujung B. (b) Carilah peralihan ke bawah 88di ujung B. c t h I � " � _ l _ b-=- - L - _ - _ .I l: 2.4-16 Sebuah batang kaku ABCD ditumpu sendi di titik B dan ditumpu dua pegas di A dan D (lihat gambar). Pegas di A dan D mempunyai kekakuan k1 = 15 kN/m dan k2 = 35 kN/m. Beban P bekerja di titik C. Jika sudut b= 500 mm k1 = 15 kN/m
  • 161.
    1 48 Bab2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial r-��� batang akibat aksi beban P dibatasi 2°, berapa :cian izin maksimum Pmaks? 2.4-17 Tiga pegas yang identik dan berjarak sama me­ mikul batang kaku horizontal ABC (lihat gambar). Beban P bekerja pada jarak x dari titik A. (a) Plotlah grafik yang menunjukkan bagaimana gaya FA, F8, dan Fe di ketiga pegas bervariasi terhadap jarak x. (Misalkan x bervariasi dari 0 hingga 2L.) (b) Untuk harga x berapakah ketiga pegas mengalami tekan? (c) Untuk x berapakah pegas di A mengalami tarik? 2.4-18 Sebuah batang kaku AB dipikul oleh dua kabel CE dan BD seperti terlihat dalam gambar. Kabel-kabel ini identik kecuali panjangnya-kabel BD mempunyai panjang h dan kabel CD mempunyai panjang 1,5h (yang berarti panjang batang adalah L = h -J5). Tentukan gaya tarik T8D dan TeE di kabel akibat bebas P yang bekerja di titik F. Th 1 2.4-19 Sebuah batang kaku BD mempunyai ujung sendi di B dan dipikul oleh kabel AC dan AD (lihat gambar). Panjang batang adalah 3b dan titik A berada pada 1 ,5b di atas titik B. Beban P bekerja ke bawah di ujung D dari batang. (a) Tentukan gaya tarik TAe dan TAD di kabel­ kabel. (b) Tentukan peralihan ke bawah 8D di titik D. T 1,5b l 2.4-20 Sebuah rangka persegi panjang yang lebarnya 7b dan tingginya 3b (lihat gambar) mempunyai tumpuan sendi di C dan ditumpu di A dan D oleh kawat-kawat vertikal yang identik. Rangka ini dibebani gaya P yang bekerja di B. Diameter kawat adalah 2 mm. Jika tegangan tarik di kawat akibat beban P tidak dapat melebihi 220 MPa, berapa beban izin maksimum Pmaks? (Abaikan deformasi rangka.) 2.4-21 Sebuah batang kaku EDB ditumpu sendi di titik E dan ditahan oleh dua kabel AB dan CD (lihat gambar). Kedua kabel adalah sama, kecuali panjangnya. Beban P bekerja di ujung B dari batang. Tentukan gaya tarik di kabel dan sudut rotasi batang. T 3b + 6b l �--- 1--4b----1 p *2.4-22 Sebuah batang trimetalik ditekan secara seragam oleh gaya aksial P yang bekerja melalui plat kaku (lihat gambar). Batang ini terdiri atas inti baja lingkaran yang (a) (b)
  • 162.
    dikelilingi oleh tabungperunggu dan tabung tembaga. lnti baja mempunyai diameter 10 mm, tabung perunggu mempunyai diameter luar 1 5 mm, dan tabung tembaga mempunyai diameter luar 20 mm. Modulus elastisitas masing-masing bahan adalah Es = 210 GPa, Eb = 1 00 GPa, dan Ec = 1 20 GPa. Hitunglah tegangan tekan as, ab, dan a, di baja, perunggu, dan tembaga, apabila beban P sama dengan 1 2 kN. EFEK TERMAL 2.5-1 Rei kereta api dilas di ujung-ujungnya (untuk membentuk rei kontinu sehingga menghilangkan suara apabila roda melewati sambungan rei) pacta temperatur 50°F. Berapa tegangan tekan a yang dihasilkan pacta saat rei tersebut diipanaskan oleh matahari hingga l 20°F jika koefisien ekspansi termal a adalah 6,5 x 1 0-6/oF dan modulus elastisitas E = 29 x 1 06 psi? 2.5-2 Sebuah pipa uap yang diameternya 1 50 mm terletak di dalam alur pacta temperatur 1 3°C. Apabila uap melewati pipa tersebut, temperaturnya meningkat l 20°C. (a) Berapa pertambahan t.d di diameter pipa jika pipa tersebut bebas berekspansi dalam semua arah? (b) Berapa tegangan aksial adi dalam pipajika alur menahan pipa tersebut sedemikian rupa sehingga pipa tersebut me­ manjang hanya sepertiga dari perpanjangan kalau pipa tersebut bebas berekspansi? (Catatan: Pipa terbuat dari baja dengan modulus elastisitas E = 200 GPa dan koefisien ekspansi termaJ a = 12 X 10-6/0C.) 2.5-3 Sebuah pipa aluminium mempunyai panjang 190 ft pacta temperatur 65°F. Pipa baja di dekatnya pacta temperatur yang sama mempunyai panjang 0,25 in lebih panjang daripada pipaaluminium.Pactatemperatur berapa (dalam derajat Fahrenheit) perbedaan panjang keduanya 0,50 in.? (Asumsikan bahwa koefisien ekspansi termal aluminium dan baja masing-masing adalah aa = 1 3 x 1 0-6/oF dan as = 6,5 X I0-6/°F.) 2.5-4 Peralatan yang terlihat dalam gambar ini terbuat dari batang wolfram AC dan batang magnesium BD yang terpasang di penunjuk CDP dengan sendi di C dan D. Misalkan koefisien muai termal untuk magnesium dan wolfram dinyatakan dengan am dan ar Turunkan rumus untuk peralihan vertikal 8(positif ke atas) titik P akibat pertambahan temperatur seragam t.T. Dapatkah alat ini digunakan sebagai termometer? C r-- a-ro----b----1 )� ! � p L !:J.T !:J.T l� A B Mekanika Bahan 1 49 2.5-5 Sebuah silinder baja solid S diletakkan di dalam tabung tembaga C yang mempunyai panjang sama (lihat gambar). Koefisien ekspansi termal ac untuk tembaga lebih besar daripada koefisien as untuk baja. Sesudah dirakit, silinder dan tabung ditekan di antara plat-plat kaku dengan gaya P. Dapatkan rumus untuk peningkatan temperatur t.T yang akan menyebabkan semua beban dipikul oleh tabung tembaga. I . i .. .::J I J i I ' ; ! . ; :c s :c I 2.5-6 Sebuah batang AB yang panjangnya L ditahan di antara tumpuan-tumpuan kaku dan dipanaskan secara tidak seragam sehingga peningkatan temperatur t.Tpacta jarak x dari ujung A dinyatakan dengan rumus t.T = t.T1Y?!L2, di mana !':..T1 adalah peningkatan temperatur di ujung B dari batang (lihat gambar). Tentukanlah tegangan tekan ac di batang (Asumsikan bahwa bahan ini mem­ punyai modulus elastisitas E dan koefisien ekspansi termal a. 0 A B f+-��--- L�����+i 2.5-7 Sebuah batang baja bundar yang diameternya 0,375 in. ditahan secara pas (tetapi tanpa tegangan awal) di antara dindingkaku oleh susunan seperti terlihat dalam gambar. Hitunglah penurunan temperatur t.T (derajat Fahrenheit) yang menimbulkan tegangan geser rata-rata di baut yang diameternya 0,25 in. menjadi 7500 psi. (Untuk baja, gunakan a, = 6,5 x 1 0-6/oF dan E, = 30 x 106 psi.) Baut dengan diameter 0,25 in. / 0,375 in.
  • 163.
    1 50 Bab2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial 2.5-8 Sebuah batang baja bundar AB (diameter d1 = 1 5 mm, panjang L1 = 1 100 mm) mempunyai selubung perunggu (diameter luar d2 = 21 mm, panjang L2 = 400 mm) yang pas benar seperti terlihat dalam gambar. Hitunglah perpanjangan total 8 batang baja akibat peningkatan temperatur l'lT = 350°C. (Besaran bahan adalah sebagai berikut: untuk baja as = 12 x 1 0-D/'C dan Es = 210 GPa, untuk perunggu ab = 20 x 1 0-".t�c dan Eb = 1 10 GPa) B L2_____________. �------------- £� --------------__. 2.5-9 Sebuah batang plastik ACB yang mempunyai dua penampang lingkaran solid ditahan di antara tumpuan­ tumpuan kaku seperti terlihat dalam gambar. Diameter di bagian kiri dan kanan masing-masing adalah 2,0 in dan 3,0 in. Panjangnya masing-masing adalah 9 in. dan 1 2 in. Juga, modulus elastisitas E = 860 ksi dan koefisien ekspansi termal a adalah 60 X w-6/°F. Batang ini mengalami peningkatan temperatur seragam sebesar 50°F. Hitunglah besaran berikut: (a) gaya tekan P di batang; (b) tegangan tekan maksimum ac; dan (c) peralihan Octitik C. 1--·-9 in.------1---12 in. -----� 2.5-1 0 Sebuah batang nonprismatis ACB yang panjang­ nya L ditahan di antara dua tumpuan kaku (lihat gambar). Setengah bagian kiri dari batang tersebut mempunyai luas penampang A1 dan setengah sisanya mempunyai luas penampang A2. Modulus elastisitasnya adalah E dan koefisien ekspansi termalnya adalah a. Dengan meng­ anggap bahwa batang ini mengalami peningkatan temperatur l'lTdan bahwaA2 > A1, turunkan rumus untuk: (a) gaya tekan P di batang, dan (b) peralihan Oc titik C (positif berarti peralihan tersebut berarah ke kiri). I L . L I 1+----- - -1----- - �- 1 2 2 2.5-1 1 Sebuah selubung perunggu terletak pas di se­ keliling baut baja (lihat gambar) dan mur dikencangkan sampai pas benar. Baut tersebut mempunyai diameter 3/ 8 in., dan selubungnya mempunyai diameter dalam dan luar masing-masing 1 3/32 in. dan 5/8 i11. Hitunglah peningkatan temperatur l'lT yang dibutuhkan untuk menghasilkan tegangan tekan 3500 psi d· selubung. (Gunakan besaran bahan sebagai berikut: untuk perunggu, ah = 1 1 X w·�t°F dan Eh = 1 5 X 1 06 psi; untuk baja, as = 6.5 X 10-6/oF dan Eh = 30 x 106 psi. Selubung perunggu Baut baja 2.5-12 Sebuah batang lingkaran solid yang diametemya pas di dalam tabung tembaga mempunyai panjang yang sama dengan tabung tersebut (lihat gambar). Diameter luar tabung tembaga adalah 50 mm dan diameter dalamnya adalah 45 mm. Diameter batang aluminium adalah 42 mm. Pacta setiap ujung rakitan, sendi metal dengan diameter 8 mm dapat melewati susunan batang­ tabung tadi dengan sudut siku terhadap sumbu batang. Carilah tegangan geser rata-rata di sendi jika temperatur­ nya ditingkatkan 20°C. (Untuk aluminium, Ea = 70 GPa dan aa = 23 x 10-6/oC; untuk tembaga, Ec = 1 20 GPa dan ac = 17 X 10-6/oC. Senz Selubung perunggu �tMwxbi'"'wrmt¥tL4f.$ "Wh:.*»wWmww1 b...g"blti�;:..;[lt�:l�;;}£ill,.E#::dl Batang aluminium 2.5-13 Sebuah batang kaku ABCD mempunyai sendi di ujung A dan ditumpu oleh dua kabel di titik B dan C (lihat gambar). Kabel di B mempunyai diameter dB = 0,5 in. dan kabel di C mempunyai diameter de = 0,75 in. Sebuah beban P bekerja di ujung D dari batang. Berapa beban izin p jika temperatur meningkat sejauh 100°F dan setiap kabel diharuskan untuk mempunyai faktor keamanan sedikitnya 5 terhadap putus? (Catatan: Kabel­ kabel mempunyai modulus elastisitas efektif E = 20 x 106 psi dan koefisien ekspansi termal a = 6,5 X I0-6fOF. Besaran lain untuk kabel dapat diperoleh dalam Tabel 2. I , Subbab 2.2.) 2.5-14 Sebuah plat segitiga mempunyai sendi di C dan ditahan oleh dua kawat horizontal di titik A dan B (lihat gambar). Setiap kawat mempunyai rigiditas aksial EA = 540 kN dan koefisien ekspansi terma1 a = 23 X I Q-6/0C. (a) Jika heban ertikal P = 2,2 kN bekerja di titik D, berapakal< �aya ta�"ik TA dan TB di kawat A dan B? (b) Jika, sementara beban P bt:�"'rja, temperaturkedua kawat
  • 164.
    ditingkatkan 1CXFC. berapagaya TA dan T8? (c) Berapa peningkatan temperatur D.T yang akan menyebabkan kawat B menJadi kendor? - �b b - · p -------2b ------� TEGANGAN Dl POTONGAN MIRING 2.6-1 Sebuah batang baja dengan penampang bujur­ sangkar (1 ,5 in. x 1,5 in.) memikul beban tarik P (lihat gambar). Tegangan izin tarik dan geser masing-masing ada1ah 1 8.000 psi. dan 1 1.000 psi. Tentukan beban izin maksimum Pmaks· 2.6-2 Sebuah batang baja bundar dengan diameter d mengalami gaya tarik P = 80 kN (lihat gambar). Tegangan izin tarik dan geser masing-masing adalah 1 20 MPa dan 55 MPa. Tentukan diameter izin minimum dmin batang ini? p ' . �d 2.6-3 Bata standar yang mempunyai dimensi 8 in. x 4 in. x 2,5 in. ditekan dalam arah memanjang dalam Mekanika Bahan 1 51 suatu mesin uji (lihat gambar). Jika tegangan ultimate untuk bata adalah 1 100 psi dan tegangan tekan ultimate­ nya ada1ah 3800 psi. berapa gaya Pmaks dibutuhkan untuk memecahkan bata ini� 2.6-4 Sebuah kawat perunggu dengan diameter d = 2 mm ditarik antara dua tumpuan kaku sedemikian hingga gaya tariknya adalah T = 140 N (lihat gambar). Berapa penurunan temperatur izin maksimum D.T jika tegangan geser izin di kawat adalah 80 MPa? (Koefisien ekspansi termal untuk kawat adalah 19.5 x 10-6/oC dan modulus elastisitasnya adalah 1 05 GPa.) 2.6-5 Sebuah kawat baja dengan diameter d = 1/16 in. ditarik antara tumpuan-tumpuan kaku dengan gaya tarik awal T = 45 lb (lihat gambar 1. 1 a) Jika temperatur diturunkan 50°F, berapa tegangan geser maksimum rmaks di kawat? (b) Jika tegangan geser izin adalah 1 8.000 MPa, berapa penurunan temperatur izin maksimum? (Asumsikan bahwa koefisien ekspansi termal adalah 6,5 X w-6/°F dan modulus elastisitas adalah 30 X I 06 psi.) 2.6-6 Sebuah batang baja yang diametemya 20 mm mengalami beban tarik P = 25 kN (lihat gambar). (a) Berapa tegangan normal maksimum amaks di batang? (b) Berapa tegangan geser maksimum rmaks? (c) Gambarlah elemen tegangan yang berorientasi 45° terhadap sumbu batang dan tunjukkan semua tegangan yang bekerja di setiap muka elemen tegangan tersebut. 2.6-7 Selama uji tarik pada benda uji baja lunak (lihat gambar), ekstensiometer menunjukkan perpanjangan sebesar 0,00150 in. pada panjang terukur 2 in. Asumsikan bahwa baja ini mengalami tegangan yang masih di bawah limit proporsionalnya dan bahwa modulus elastisitas E = 29 x 106 psi. (a) Berapa tegangan normal maksimum amaks di benda uji? (b) Berapa tegangan geser maksimum rmah? (c) Gambarlah elemen tegangan yang berorientasi 45° terhadap sumbu batang dan tunjukkan semua tegangan yang bekerja di setiap muka elemen tegangan tersebut. 2.6-8 Sebuah elemen struktur tekan di rangka batang terbuat dari profil baja bersayap lebar (lihat gambar). Luas penampang a = 6640 mm 2 dan beban aksial P =
  • 165.
    152 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial -HO kN. Tentukan tegangan normal dan geser yang bekerja di semua muka elemen tegangan yang terletak di badan balok dan berorientasi pada: (a) sudut () = 0°, (b) sudut () = 22,5°, dan (c) sudut () = 45°. Pada setiap kasus, tunjukkan tegangannya. 2.6-9 Sebuah batang plastik yang diametemya d = 1 ,0 in. ditekan pada alat uji oleh gaya P = 25 lb yang bekerja seperti terlihat dalam gambar. Tentukan tegangan nor­ mal dan geser yang bekerja di semua muka elemen tegangan yang berorientasi: (a) sudut () = 0". (b) sudut () = 22,5°, dan (c) sudut () = 45°. Pada setiap kasus, tunjukkan tegangannya. 2.6-10 Dua buah papan digabungkan dengan meng­ gunakan !em di sepanjang scarf joint seperti terlihat dalam gambar. Untuk mudahnya, sudut a di antara bidang joint dan muka-muka di papan harus sebesar 45° atau kurang. Akibat beban tarik P, tegangan normal di papan adalah 4,9 MPa. (a) Berapa tegangan normal dan geser yang bekerja dijoint yang dilem jika a = 20°? (b) Jika tegangan geser izin di joint adalah 2,25 MPa, berapa harga izin terbesar untuk sudut a? (c) Untuk sudut a berapa tegangan geser di joint berlem secara numerik besarnya dua kali tegangan normal di joint? 2.6-1 1 Sebuah batang tembaga ditahan secara pas (batang tanpa tegangan awal) di antara dua tumpuan kaku (lihat gambar). Tegangan izin di bidang miring pq, untuk 8 = 53,1 3°, ditetapkan sebesar 7500 psi (tekan) dan 4500 psi (geser). (a) Berapa peningkatan temperatur izin maksimum f:..T jika tegangan izin di bidang pq tidak boleh dilampaui? (Asumsikan a = 9,4 x 10-6/oF dan E = 18 x 106 psi.) (b) Jika temperatur meningkat sejauh maksimum yang diizinkan. berapa tegangan di bidang pq? p 2.6-12 Sebuah batang plastik ditahan secara pas (batang tanpa tegangan awal) di antara dua tumpuan kaku (lihat gambar) pada temperatur kamar (20°C). Pada saat temperatur batang ditingkatkan 70°C. tegangan tekan di bidang miringpq menjadi 12,0 MPa. (a) Berapa tegangan geser di bidang pq? (Asumsikan a = 100 x 10-6/oc dan E = 3,0 GPa.) b) Gambarlah elemen tegangan yang berorientasi bidang pq dan tunjukkan semua tegangan yang bekerja di semua muka elemen. 2.6-13 Sebuah batang perunggu lingkaran yang diametemya d terdiri atas dua segmen yang disambung pada bidang pq sehingga membentuk sudut a = 36° dengan sumbu batang (lihat gambar). Tegangan izin di perunggu adalah 13.000 psi untuk tarik dan 7000 psi untuk geser. Padajoint yang disambung, tegangan izinnya adalah 6000 psi untuk tarik dan 3000 psi untuk geser. Jika batang ini harus menahan gaya tarik P = 7000 lb, berapa diameter minimum yang diperlukan dmin pada batang? p q 2.6-14 Sebuah batang prismatis mengalami gaya aksia1 yang menghasilkan tegangan tekan 56 MPa di bidang yang membentuk sudut () = 30° (lihat gambar). Tentukan tegangan yang bekerja di semua muka dari elemen tegangan padasudut () = 60° dan tunjukkan tegangannya. 2.6-15 Sebuah batang prismatis mengalami gaya aksial yang menghasilkan tegangan tarik u0 = 10,4 ksi dan tegangan geser r0 = -5,2 ksi pada bidang miring tertentu
  • 166.
    (lihat gambarl. Tentukantegangan yang bekeija di semua muka dari elemen tegangan yang berorientasi 8 = 50° dan tunjukkan tegangan pada sketsa elemen tersebut. 2.6-16 Pada sisi-sisi elemen tegangan yang dipotong dari batang yang mengalami tekan uniaksial bekerja tegangan normal 60 MPa dan 20 MPa, seperti terlihat dalam gambar. (a) Tentukan sudut 8 dan tegangan geser r w (b) Berapa tegangan normal maksimum amaks dan tegangan geser maksimum r maks pada bahan? 20 MPa a 0 = 60 MPa �·:::';0· *2.6-17 Tegangan normal di bidang pq dari batang prismatis yang mengalami tarik (lihat gambar) adalah 8220 psi. Pada bidang rs, yang membentuk sudut f3 = 30° dengan bidang pq, tegangannya adalah 3290 psi. Tentukan tegangan normal maksimum amaks dan tegangan geser maksimum r maks pada batang ini. *2.6-1 8 Sebuah elemen struktur tarik akan dibuat dari dua potong plastik yang dilem di sepanjang bidang pq (lihat gambar). Untuk mudahnya, sudut 8harus di antara 25° dan 45°. Tegangan izin di joint yang dilem untuk tarik dan geser masing-masing adalah 1 3,5 MPa dan 9 MPa. (a) Tentukan sudut 8 agar batang ini dapat memikul beban P terbesar. (Asumsikan bahwa kekuatanjoint yang dilem menentukan desain.) (b) Tentukan beban izin Mekanika Bahan 1 53 maksimum pmak< jika luas penampang batang adalah 600 mm 2 • p ENERGI REGANGAN Soal untuk Subbab 2. -:- dis<!esaikan dengan menganggap bahwa bahan berperilaki< "·!astis tinier. 2.7-1 Sebuah kolom baja up tingkat di dalam sebuah gedung memikul beban atar dan lantai seperti terlihat dalam gambar. Tinggi tingkat H adalah 10,5 ft, luas penampang kolom adalah 1 5 .-l in:. dan modulus e1astisitas baja adalah 29 x 10' psi. Hirunglah energi regangan U pada kolom dengan menganggap P1 = 41 k dan P2 = P3 = 62 k. p ;w a W( H H l I H l 2.7-2 Sebuah batang dengan penampang lingkaran yang mempunyai dua diameter yang berbeda d dan 2d ditunjukkan dalam gambar. Setiap segmen dari batang ini mempunyai panjang U2 dan modulus elastisitas bahan adalah E. (a) Dapatkan rumus untuk energi regangan U di batang akibat beban P. (b) Hitunglah energi regangan jika beban P = 27 kN, panjang L = 600 mm, bahan adalah perunggu dengan E = 1 05 GPa, dan diameter d = 40 mm.
  • 167.
    .. 1 54 Bab2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial 2.7-3 Sebuah batang AD dengan panjang L, luas penampang A, dan modulus elastisitas E mengalami beban SP, 3P, dan P yang bekerja di titik B, C, dan D ilihat gambar). Segmen AB, BC, dan CD mempunyai panjang U6, U2, dan U3. (a) Dapatkan rumus untuk energi regangan U pada batang. (b) Hitunglah energi regangan jika P = 5 k, L = 48 in., A = 2,76 in 2 , dan bahan adalah aluminium dengan E = 1 0,4 x 106 psi. p 2.7-4 Batang ABC yang terlihat dalam gambar dibebani gaya P yang bekerja di ujung C dan oleh gaya Q yang bekerja di titik tengah B. Batang ini mempunyai rigiditas konstan EA. (a) Tentukan energi regangan U1 batang apabila beban P bekerja sendiri (Q = 0). (b) Tentukan energi regangan U2 apabila gaya-gaya P dan Q secara simultan bekerja pada batang. I Q p . . � A B C � � ----�� ----1 2.7-5 Rangka batang ABC yang terlihat dalam gambar memikul beban horizontal P1 = 2000 lb dan beban vertikal P, = 4000 lb. Kedua batang mempunyai luas penampang A = 2,00 in 2 dan terbuat dari baja dengan E = 29 x 106 psi. (a) Tentukan energi regangan U1 pada rangka batang apabila beban P1 bekerja sendiri (P2 = 0). (b) Tentukan energi regangan U2 apabila beban P2 bekelja sendiri (P1 = 0). (c) Tentukan energi regangan U apabila kedua beban bekerja simultan. T 32 in. l .m.J� 'c ,______________ � <-------- 60 in.----. 2.7-6 Sebuah batang yang bentuknya kerucut lingkaran mempunyai panjang L dan diameter d di tumpuan. Batang ini digantung secara vertikal dan memikul berat sendiri (lihat gambar). Turunkan rumus untuk energi regangan U pada batang ini. (Misalkan y = berat jenis dan E = modulus elastisitas bahan.) 1 I L - l 2.7-7 Rangka batang ABC yang terlihat dalam gambar mengalami beban horizontal P di joint B. Setiap batang mempunyai luas penampang A dan modulus elastisitas E. 1 a1 Tentukan energi regangan U pada rangka batang ini jika f3 = 60°. (b) Tentukan peralihan horizontal 88 di joint B dengan menyamakan energi regangan rangka batang dan kelja yang dilakukan oleh beban. ----L --- 2.7-8 Rangka batang ABCD yang terlihat dalam gambar memikul beban vertikal P di joint D. Semua batang mempunyai rigiditas aksial EA. (a) Tentukan energi regangan U rangka batang. (b) Tentukan peralihan vertikal 8vjoint D dengan menyamakan energi regangan rangka batang dan kelja yang dilakukan oleh beban. p �----L�----- 2.7-9 Struktur statis tak tentu yang terlihat dalam gambar terdiri atas batang horizontal AB, yang dianggap kaku, dipikul oleh Iima pegas yang berjarak sama. Dua pegas tepi mempunyai kekakuan 2k dan tiga pegas tengah mempunyai kekakuan k. Pada saat bertegangan, ujung bawah semua pegas terletak di sepanjang garis horizon­ tal. Batang AB, yang mempunyai berat W, menyebabkan pegas memanjang sebesar 8. (a) Tentukan energi
  • 168.
    regangan total Udari pegas yang dinyatakan dalam peralihan batang ke bawah 8.(b) Hitunglah peralihan 8 dengan menyamakan energi regangan pegas dengan kerja yang dilakukan berat W. (c) Tentukan gaya-gaya F1dan F2 masing-masing di pegas tengah dan tepi. 2.7-1 0 Sebuah batang nonprismatis AB dari penampang lingkaran mengalami beban Pdi ujung bebasnya, seperti terlihat dalam gambar. Diameter di ujung-ujung adalah d1 dan d2,panjangnya adalah L, dan modulus elastisitas adalah E. (a) Tentukan energi regangan Ubatang ini. (b) Tentukan perpanjangan 8batang dengan menyamakan energi regangan dan kerja yang dilakukan oleh beban. A +-------- L -----� 2.7-1 1 Batang nonprismatis AB dari penampang persegi panjang dan panjang L dibebani P(lihat gambar). Lebar batang bervariasi secara linier dari b2di ujung A ke b1 di ujung B. Tebal tkonstan. (a) Tentukan energi regangan Ubatang. (b) Tentukan perpanjangan 8batang dengan menyamakan energi regangan dan kerja yang dilakukan oleh beban P. p +------- L _ _ _ _ _ __. 2.7-1 2 Sebuah batang ACB berotasi dengan kelajuan sudut konstan m terhadap sumbu yang melalui C (lihat gambar). Tentukan energi regangan Ubatang akibat efek sentrifugal (Misalkan L = panjang setiap lengan batang, Mekanika Bahan 1 55 A = luas penampang, E = modulus elastisitas , dan p = rapat massa.) 2.7-1 3 Beban tekan Pdisalurkan melalui plat kaku ke tiga batang dari paduan magnesium yang identik kecuali bahwa pada awalnya batang tengah sedikit lebih pendek daripada dua batang lainnya (lihat gambar). Dimensi dan besaran susunan ini adalah sebagai berikut: panjang L = 2,5 ft, luas penampang setiap batang A = 4,91 in2, modu­ lus elastisitas E = 6.5 x I 06 psi, dan celah s= 0,05 in. (a) Hitunglah beban P: yang diperlukan untuk menutup celah. (b) Tentukan peralihan ke bawah 8 plat kaku, apabila P = 150 k. (c 1 Hitung energi regangan total U ketiga batang apabila P= ! 50 k. (d) Terangkan mengapa energi regangan Utidak sama dengan P8/2. (Petunjuk: Gambarlah diagram beban-peralihan.) L ' ; I j I I j i I f I i I 2.7-14 Sebuah blok B didorong ke tiga pegas dengan gaya P (lihat gambar). Pegas tengah mempunyai kekakuan k1 dan pegas tepi mempunyai kekakuan masing-masing k2.Pada awalnya, pegas tak mempunyai tegangan dan pegas tengah sedikit lebih panjang daripada pegas tepi (perbedaan panjang ditunjukkan dengan s). (a) Gambarlah diagram gaya-peralihan dengan beban P sebagai ordinat dan peralihan s blok sebagai absis. (b) Dari diagram tersebut, tentukan energi regangan U1 di pegas apabila x = 2s. (c) Jelaskan mengapa energi regangan U1 tidak sama dengan P0/2 di mana 8= 2s. 2.7-1 5 RangkabatangABC yang terlihat dalam gambar memikul beban vertikal P di titik hubung B. Batang AB dan BC adalah identik dengan modulus elastisitas E dan luas penampang A. Sudut (3 dapat divariasikan dengan mengubah panjang kedua batang, batang di titik hubung B harus tetap pada jarak L dari dinding vertikal. (a) Hitunglah energi regangan U di rangka batang. (b)
  • 169.
    1 56 Bab2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial Tentukan sudut f3 agar energi regangan menjadi mini­ mum. (c) Tentukan energi regangan minimum. (d) Tentukan peralihan vertikal 88 di titik hubung B. B p *2.7-16 Beban vertikal P dipikul oleh rangka batang statis tak tentu ABCD (lihat gambar). Semua batang terbuat dari bahan yang sama (modulus elastisitas E) dan mempunyai luas penampang A yang sama. (a) Tentukan energi regangan U di rangka batang yang dinyatakan dalam peralihan vertikal 8Dtitik hubung D. (b) Tentukan peralihan 8D.(c) Tentukan gaya-gaya FAD• F8D, dan FCDdi masing-masing rangka batang. **2.7-17 Sebuah kabel yang berperilaku elastis linier mempunyai panjang sebelum bertegangan L0 = 30 in. dan kekakuan k = 0,8 lb/in. Kabel ini terpasang pada dua titik, yang jaraknya b = 15 in. satu sama lain dan ditarik di titik tengah oleh gaya P = 18 lb (lihat gambar). (a) Berapa energi regangan U yang disimpan dalam kabel? (b) Berapa peralihan 8cdi titik di mana beban P bekerja? (c) Bandingkan energi regangan U dengan besaran P8J2. (Catatan: perpanjangan kabel tidak kecil dibandingkan panjang semula.) BEBAN KEJUT Soa/-soal dalam Subbab 2.8 diselesaikan berdasarkan asumsi dan idealisasi yang diuraikan dalam teks ' khususnya, tidak ada energi yang hilang selama kejut terjadi dan bahan berperilaku elastis tinier). 2.8-1 Sebuah cincin yang beratnya W = 1 50 lb jatuh dari ketinggian h = 2 in ke flens di bawah batang vertikal langsing i lihat gambar). Batang tersebut mempunyai panjang L = 4 ft, luas penampang A = 0,75 in 2 , dan modulus elastisitas E = 30 x 1 06 psi. Hitunglah besaran­ besaran sebagai berikut: (a) peralihan ke bawah maksi­ mum pada tlens. (b) tegangan tarik maksimum pada batang. ( C J faktor kejut. 2.8-2 Pecahkan soal sebelum ini jika cincin mempunyai massa M = 80 kg. tinggi h = 0,5 m, dan panjang L = 3 in., luas penampang A = 350 mm 2 , dan modulus elastisitas E = 170 GPa. Cincin Batang bundar � Flens (sayap) - I l L _fj 2.8-3 Sebuah bola karet (berat W = I oz) terpasang pada tali karet ke papan kayu (lihat gambar). Panjang alami tali L0 = 1 2 in., luas penampang adalahA = 0,0025
  • 170.
    in2, dan moduluselastisitas E = 300 psi. Sesudah dipukul dengan papan kayu, bola menarik tali hingga panjangnya menjadi L1 =40 in. Berapa kecepatan v bola pada saat meninggalkan papan? (Asumsikan perilaku elastis linier pada tali karet, dan abaikan energi potensial akibat perubahan ketinggian bola.) 2.8-4 Sebuah blok yang beratnya W = 5 N jatuh di dalam silinder dari tinggi h = 200 mm ke pegas yang mempunyai kekakuan k = 90 N/m (lihat gambar). (a) Tentukan perpendekan maksimum pegas akibat kejut, dan (b) tentukan faktor kejut. 2.8-5 Pecahkan soal sebelum ini jika blok mempunyai berat W = 1 lb, h = 1 2 in., dan k = 0,5 lb/in. 2.8-6 Sebuah bumper untuk gerbong tambang terbuat dari pegas dengan kekakuan k = 176 kN/m (lihat gambar). Jika sebuah gerbong yang beratnya 1 4 kN melaju dengan kecepatan v = 8 km/jam pada saat menumbuk pegas, berapa perpendekan maksimum pegas? 2.8-7 Sebuah bumper di ujung rei kereta api mempunyai konstanta pegas k = 35.000 lb/in. (lihat gambar). Peralihan maksimum d di ujung plat tumbukan yang dapat terjadi adalah 1 ,5 ft. Berapa kecepatan maksimum v yang dapat dimilik.i gerbong yang beratnya W = 1 05.000 lb tanpa Mekanika Bahan 1 57 merusakkan tiang bumper apabila gerbong tersebut menabraknya? 2.8-8 Sebuah kabe1 dengan pengekang di ujung bawah tergantung secara vertikal pacta ujung atasnya (lihat gambar). Kabel tersebut mempunyai panjang L = 1 2 m, luas penampang efektif A = -W mm2, dan modulus e1astisitas efektif E = 1 30 GPa. Sebuah eretan (slider) dengan massa M = 40 kg jatuh dari tinggi h ke pengekang tersebut. Jika tegangan izin di kabel pada beban kejut adalah 500 MPa, berapa tinggi izin maksimum h? Lif � "'. . Kabel � -· L � �h Pengekang � 2.8-9 Pecahkan soal sebelum ini jika eretan mempunyai berat W = 1 00 lb, L = 50 ft, A = 0,065 in2, E = 20 x 1 06 psi, dan tegangan izin adalah 70 ksi. 2.8-1 0 Sebuah benda dengan berat W terletak di atas sebuah dinding dan tersambung ke tali yang sangat fleksibel dan mempunyai 1uas penampang A dan modu­ lus elastisitas E (lihat gambar). Ujung lain dari tali itu tersambung dengan dinding. Benda tersebut didorong hingga jatuh bebas hingga sepanjang tali. (a) Turunkan rumus untuk faktor kejut. (b) Hitunglah faktor kejutjika
  • 171.
    1 58 5ao2 Eiemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial :-.:-::...::.:. tcrs.ebut, apabila digantung secara statis, mem­ �811Jang tali sebesar 2,5% dari panjang semula. 2.8- 1 1 Sebuah benda dengan berat W = 4500 lb jatuh .:.m ketinggian h = I ft ke tiang kayu vertikal yang mempunyai panjang L = 18 ft, diameter d = 1 2 in.. dan modulus elastisitas E = 1,5 x 1 06 psi (lihat gambar). Tentukan perpendekan maksimum tiang, tegangan tekan maksimum di tiang, dan faktor kejut. 4.500 lb -p= I ft d = 12 io. - . L = 18 ft 2.8-1 2 Plat ujung dari silinder yang bertekanan dijepit ke flens dengan menggunakan enam baut seperti terlihat pada bagian (a) dalam gambar. Panjang grip baut adalah b1• Akibat gaya yang bervariasi terhadap waktu F(t) yang Plat ujung (a) (b) melakukan kerja Wdalam meregangkan baut,baut meng­ alami tegangan tarik maksimum 0'1• Sekarang misalkan bahwa sambungan ini diabaikan sedemikian hingga grip pada baut bertambah b2, seperti terlihat pada bagian (b) dalam gambar. Gaya F(t) melak:ukan kerja W yang sama banyak dalam meregangkan baut dan menghasilkan tegangan tarik maksimum yang sama dengan 0'2.Jika b2 = 5b1' berapakah rasio tegangan acla1? (Catatan: Baut yang mengalami beban dinamik seringkali didesain dengan grip yang panjang untuk memanfaatkan kondisi tegangan yang lebih dikehendaki.J 2.8-1 3 Seorang peloncat yang beratnya 125 lb meloncat dari jembatan dengan memakai tali elastis panjang yang mempunyai rigiditas aksial EA = 480 lb (lihat gambar). Jika titik loncatan adalah 200 ft di atas muka air, dan jika dikehendaki jarak bersih 30 ft antara peloncat dan muka air, berapa panjang L dari tali yang hams digunakan? 2.8-1 4 Sebuah batang prismatis AB yang panjangnya L dipikul di titik tengah C oleh pegas dengan kekakuan k (lihat gambar). Sebuah benda dengan massa M jatuh ke ujung B batang tersebut dari ketinggian h. Dengan menggunakan asumsi bahwa batang AB adalah kaku, turunkan rumus berikut untuk peralihan maksimum 88 titik B akibat kejut benda yang jatuh: 8 = 4Mg [l + (I + �)112] B k 2Mg
  • 172.
    2.8-1 5 Sebuahbatang kaku AB yang beratnya W = 2 lb dan mempunyai panjang L= 12 in, mempunyai sendi di ujung A dan ditumpu di B oleh tali nilon BC (lihat gam­ bar). Tali ini mempunyai luas penampang A = 0,04 in 2 , panjang b = 9 in. dan modulus elastisitas E = 300 ksi. Jika batang ini diangkat hingga tinggi maksimum dan selanjutnya dilepaskan, berapa tegangan maksimum di tali? � ' - , _ _ _ I cl b - � *2.8-16 Batang prismatis yang terlihat dalam gambar mempunyai panjang L = 2,0 m, diameter d = 15 mm, dan modulus elastisitas E = 210 GPa. Sebuah pegas dengan kekakuan k = 1 ,0 MN/m dipasang di ujung batang. Sebuah benda dengan massa M = 20,0 kg dijatuhkan dari tinggi h = 1 50 mm ke pegas tersebut. Tentukan perpanjangan maksimum 8maks dari batang, tegangan tarik maksimum amaks di batang, dan faktor kejut. Bandingkan hasilnya dengan yang diperoleh dalam Contoh 2-16 Subbab 2.8 untuk batang yang sama, tanpa pegas (lihat Gambar 2-50). Pipa d --+ L t h ��j_ �-'4'!"-----, ___ t KONSENTRASI TEGANGAN Soal-soal untuk Subbab 2. 10 diselesaikan dengan meninjau faktor konsentrasi tegangan dan meng­ asumsikan perilaku elastis linier. 2.1 0-1 Batang datar yang ditunjukkan dalam bagian (a) dalam gambar mengalami gaya tarik P = 4,0 k. Setiap Mekanika Bahan 1 59 batang mempunyai tebal t = 0,375 in. (a) Untuk batang dengan lubang lingkaran, tentukan tegangan maksimum untuk diameter lubang d = 1 in. dan d= 2 in. jika lebar b = 6,0 in. (b I Cntuk batang bertangga dengan shoulder fillets (gambar b 1 tentukan tegangan maksimumnya jika jari-jari fillet R = 0.25 in. dan R = 0,5 in. dan lebar batang adalah b = -+.0 in. dan c = 2,5 in. p ._ p ._ b ib) p __. p __. 2.1 0-2 Batang datar yang ditunjukkan dalam bagian (a) dalam gambar mengalami gaya tarik P = 8,0 kN. Setiap batang mempunyai tebal t = 6 mm. (a) Untuk batang dengan lubang lingkaran, tentukan tegangan maksimum untuk diameter lubang d = 12 mm dan d = 20 mm jika lebar b = 60.0 mm. (b) Untuk batang bertangga dengan shoulderfillets(gambarb) tentukan tegangan maksimum­ nya jika jari-jari fillet R= 6,0 mm dan R= 10 mm dan lebar batang adalah b = 60,0 mm dan c = 40 mm. 2.1 0-3 Sebuah batang datar dengan lebar b dan tebal t mempunyai lubang dengan diameter dyang menembus­ nya (lihat gambar). Lubang tersebut dapat mempunyai diameter yang cukup di batang tersebut. Berapa beban tarik izin maksimum Pmaks jika tegangan tarik bahan adalah a1? p ._ p __. 2.1 0-4 Sebuah batang perunggu bundar dengan dia­ meter d1 = 20 mm mempunyai ujung lebih besar dengan diameter d2 = 26 mm (lihat gambar). Panjang segmen batang adalah L1= 0,3 m dan L2 = 0,1 m. Fillets berupa I d2 td2 : t • r ·, ... dl { � . � · � . . . � L'l_!_ ,..,.,,""'"'"''">47*'.,,. . .¥''''' m·;;.,�·':'·•--•···'"''d"''Ij I�L2-I----- L� -I�L2-I
  • 173.
    160 Bab 2Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial �perempat lingkaran digunakan di pertemuan kedua �gmen batang dan modulus elastisitas perunggu adalah E = 100 GPa. Jika batang tersebut memanjang 0. 1 2 mm akibat beban tarik P, berapa tegangan maksimum amak' pada batang? 2.1 0-5 Pecahkan soal sebelum ini untuk batang dengan metal monel yang mempunyai besaran sebagai bcrikut: d1 = 1,0 in., d2 = 1 ,4 in., L1 = 20,0 in., L2 = 5.0 in.. dan E = 25 x 106 psi. Juga, batang akan memanjang 0.00-+0 in. apabila beban tarik diterapkan. 2.1 0-6 Sebuah batang prismatis yang diametem: a d0 = 20 mm sedang dibandingkan dengan batang bertangga (nonprismatis) yang mempunyai diameter <.ama (d1 = 20 mm) yang membesar di daerah tengah menjadi berdiameter d2 = 24 mm (lihat gambar 1. Jari-jari fillets di batang bertangga adalah 2,0 mm. 1 a 1 .-pakah mem­ perbesar batang di daerah tengah membuatnya lebih kuat daripadabatang prismatis? Tunjukkan jawaban ini dengan menentukan beban izin maksimum P1 untuk batang prismatis dan beban izin maksimum P2 untuk batang yang membesar, dengan menganggap bahwa tegangan izin untuk bahan adalah 1 10 MPa. (b) Berapakah seharus­ nya diameter batang prismatis d0 agar didapatkan beban izin maksimum yang sama dengan batang bertangga? 2.1 0-7 Sebuah batang datar bertangga dengan lubang (lihat gambar) mempunyai lebar b1 = I,6 in., b2 = 2,0 in., dan b3 = 1 ,4 in. Juga, tebal t = 0,25 in., diameter lubang d = 0,7 in., danfillets adalah seperempat lingkaran yang mempunyaijari-jari terbesar yang cukup. (a) Jika tegang­ an izin adalah 6000 psi, berapa beban izin maksimum Pmaks? (b) Asumsikan bahwa dikehendaki untuk p ....,_ p ____. meningkatkan beban izin tanpamerubah tebal t atau lebar b2. Jika hanya satu dimensi yang dapat diubah (b1, b3, atau d), dimensi mana yang akan diubah? Apakah akan dibesarkan atau dikecilkan? 2.1 0-8 Pecahkan soal sebelum ini dengan menggunakan dimensi b1 = 75 mm, b2 = 1 00 mm, b3 = 65 mm, t = 1 5 mm, dan d = 30 mm. Juga. gunakan tegangan izin 40 MPa. 2.1 0-9 Sebuah batang datar dengan lubang (lihat gam­ bar) mempunyai lebar b = 2,4 in. dan c = I ,6 in. Fillets mempunyai jari-jari sama dengan 0,2 in. Berapa dia­ meter dmaks lubang terbesar yang dapat dibuat pada batang ini tanpa mengurangi kapasitas pikul beban� p ....,_ PERILAKU NONLINIER (PERUBAHAN PANJANG BATANG) 2.1 1 -1 Sebuah batang AB yang panjangnya L dan berat jenisnya y digantung secara vertikal dan memikul berat sendiri (lihat gambar). Hubungan tegangan-regangan untuk bahan dinyatakan dengan persamaan Ramberg­ Osgood (Persamaan 2-68): E = � + aaa (�)m E E la0 Turunkan rumus berikut 8 = yL 2 + aaaL ( yL)m 2E (m + 1)E la0 yang menyatakan perpanjangan batang. 2.1 1 -2 Sebuah batang prismatis yang panjangnya L = 1 ,8 m dan luas penampangnya A = 480 mni dibebani gaya P1 = 30 kN dan P2 = 60 kN (lihat gambar). Batang ini terbuat dari paduan magnesium yang mempunyai kurva tegangan-regangan yang mengikuti persamaan Ramberg-Osgood:
  • 174.
    a 1 (a )10 £ = -+5.000 + 618 170 (a = MPa) di mana a mempunyai satuan MPa. (a) Hitunglah peralihan Oc di ujung batang apabila hanya ada beban P1. (b) Hitunglah peralihan apabila hanya beban P2 yang bekerja. (cJ Hitunglah peralihan apabila kedua beban bekeija bersama. ---- 2 f ----- t-- 2.1 1 -3 Sebuah kawat yang digantung yang mempunyai panjang L = 8 ft dan diameter d = 0,0625 in. memikul beban P di ujung bawah (lihat gambar). Kawat ini terbuat dari paduan tembaga yang mempunyai hubungan tegangan-regangan hiperbolik: a = 1 1 !· 0�g;£ 0 :::; £ :::; 0,03 (a = ksi) (a) Gambarlah diagram tegangan-regangan untuk bahan ini. (b) Jika perpanjangan kawat dibatasi pada 0,75 in. dan tegangan maksimum dibatasi pada 40 ksi, berapa beban izin P? d---1L _l p 2.1 1 -4 Sebuah rangka batang yang terdiri atas dua batang ABC yang memikul beban P = 60 kN (lihat gambar) terbuat dari bahan yang mempunyai diagram tegangan-regangan seperti tergambar. Setiap batang mempunyai luas penampang A = 265 mm 2 dan jarak antara tumpuan adalah L = 3,0 m. Tentukan peralihan vertikal oB di titik B pada rangka batang. 1-----------L --- B p 200 ��:] 1-- __j__ CJ (MPa) I / / i I ! 1 00 I I I I 0 /V I u.005 E Mekanika Bahan 1 61 IJ::= /,_...I -- i ' _j� i i I 0,010 2.1 1 -5 Dua batang identik AB dan BC memikul beban vertikal P (lihat gambar1. Kcdua batang ini terbuat dari paduan aluminium yang mempunyai be>aran yang dapat didekati dengan diagram re zangan -regangan bilinier seperti terlihat dalam gambar. Luas penampang setiap batang adalah 2,0 in2 dan tinggi h adalah 75 in. Hitunglah peralihan vertikal OB titik B untuk harga-harga beban sebagai berikut: P = 8 k. 1 6 k. 2-+ k, 32 k, dan 40 k. Dari hasil-hasil ini, plotlah diagram beban-peralihan untuk struktur ini. (J 1 2.000 psi 0 p E 2.1 1 -6 Sebuah batang kaku AB, yang berujung sendi di A ditumpu oleh kawat CD dan dibebani gaya P di ujung B (lihat gambar). Kawat ini terbuat dari baja mutu tinggi yang mempunyai modulus elastisitas E = 210 GPa dan tegangan luluh ay = 820 MPa. Panjang kawat adalah L = 1 m dan diametemya adalah d = 3 mm. Diagram tegangan-regangan untuk baja didefinisikan dengan rumus pangkat yang dimodifikasi sebagai berikut:
  • 175.
    1 62 BaD2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial a = Et: 0 � a � ay a = av(!:J a � aY , a1 Dengan beranggapan bahwa n = 0,2, hitunglah peralihan 88 di ujung batang akibat beban P. Arnbil harga P dari 2 sampai 6 kN dengan pertambahan 0...1 k.'. 1 b 1 Plotlah diagram beban-peralihan yang menunjukkan P versus 88" c - . L D L-2b ---l---b------1 p 2.1 1 -7 Sebuah benda dengan massa M = 1 ,6 slug terpasang di ujung batang langsing yang berotasi dengan kelajuan sudut tinggi terhadap sumbu yang melalui titik C (lihat gambar). Batang ini mempunyai panjang efektif L = 40 in. dan luas penampang A = 0,10 in2• Bahan ini adalah paduan magnesium yang mempunyai hubungan tegangan-regangan yang memenuhipersamaan Ramberg­ Osgood (Persamaan 2-68): di mana E = 6,5 x 106 psi, a0 = 25.000 psi dan a = 317, dan m = 10. Berapa kelajuan sudut izin maksimum n (putaran per menit) jika perpanjangan batang dibatasi 0,2 in.? (Abaikan massa batang itu sendiri.) /' / L ' / / 2.1 1 -8 Sebuah batang bundar panjang yang digantung secara vertikal dibebani P di ujung bawahnya (lihat gambar). Bahannya mempunyai kurva tegangan-regang­ an bilinier seperti terlihat dalam gambar, di mana E1 dan E menunjukkan kemiringan kedua bagian pada diagra:U. Carilah perpanjangan 8 batang akibat berat sendiri dan gaya P jika berat jenis y = 28 kN/m.l, luas penampang A = 960 mm2• panjang L = 360 m. dan beban P = 92 kN. () PERILAKU NONLINIER (STRUKTUR STATIS TAK TENTU) *2.1 1 -9 Sistem statis tak tentu yang terlihat dalam gambar ini terdiri atas batang kaku horizontal ABCD yang ditumpu oleh dua pegas identik di titik A dan C. Pegas mempunyai hubungan gaya-peralihan nonlinier yang dinyatakan dengan persamaan hiperbolik sebagai berikut: F = 608 I + 1,28 0 � 8 � 2.5 in. (F = lb, 8 = in.) di mana F adalah gaya aksial di pegas (satuan pound) dan 8 adalah perubahan panjang pegas (dapat berupa perpanjangan atau perpendekan, dalam satuan in.). Juga, beban P sama dengan 35 lb dan segmen batang mempunyai panjang a = 1 5 in, b = 10 in., dan c = 10 in. (a) Gambarlah diagram beban-peralihan untuk salah satu pegas. (b) Hitunglah gaya-gaya FA dan Fc di pegas di A dan C, perubahan panjang 8A dan 8c dari pegas. serta sudut rotasi e dari batang. p I l----a--�--b--�c *2.1 1 -1 0 Pecahkan soal sebelum ini dengan beban P = 1 50 N, panjang segmen a = 400 mm, h = 300 mm, dan c = 370 mm, dan hubungan gaya-peralihan adalah F - 10,88 0 � 8 � 60 mm (F = N, 8 = mm) - 1 + 0,0488
  • 176.
    di mana Fadalah gaya aksial di pegas (satuan newton) dan 8adalah perubahan panjang pegas (satuan mm). *2.1 1-1 1 Sistem statis tak tentu yang terlihat dalam gambar terdiri atas batang kaku dengan berat W = 750 lb yang dipikul oleh tiga kawat. Kawat tepi mempunyai diameter d1 = lOO mils dan panjang L1 = 26 in.; kawat tengah mempunyai diameter d2 = lOO mil dan panjang L2 = 20 in. Kawat ini terbuat dari paduan magnesium yang mempunyai hubungan tegangan-regangan yang memenuhi persamaan pangkat tiga: a = (2£ X 1 06)(3 - 1 50£ + 2500�) 0 � £ � O,Q2 di mana a adalah tegangan (satuan psi) dan £ adalah regangan. Untuk regangan yang lebih besar daripada 0,02, tegangan adalah 40.000 psi. (a) Gambarlah diagram tegangan-regangan untuk bahan ini. (b) Tentukan peralihan ke bawah 8batang ini serta gaya, tegangan, dan regangan di kawat. CD CD w *2. 1 1 -1 2 Pecahkan soal sebelum ini dengan mengguna­ kan berat W = 3 kN, diameter kawat d1 = d2 = 2,5 mm, panjang L1 = 650 mm dan L2 = 500 mm, dan persamaan tegangan-regangan adalah a = 1 4.000£ (3 - 1 50£ + 2500�) 0 � £ � O,Q2 di mana a adalah tegangan (satuan MPa) dan £ adalah regangan. Untuk regangan yang lebih besar daripada 0,02, tegangannya adalah 280 MPa. *2.1 1-13 Sistem statis tak tentu yang seperti dalam gambar terdiri atas batang AB yang dipikul oleh dua kawat. Kawat 1 mempunyai d1 = 150 mil dan kawat 2 mempunyai diameter d2 = 200 mil. Kedua kawat mempunyai panjang L = 35 in. Kawat ini terbuat dari paduan aluminium yang mempunyai kurva tegangan­ regangan yang dinyatakan dengan persamaan Ramberg­ Osgood: CD B L-b--J--b�lp Mekanika Bahan 1 63 10 = a I ( a )20 1 0 X 1 06 + 307,0 76.000 (a = psi) di mana amempunyai satuan psi. Beban P sama dengan 3000 lb. (a) Gambarlah diagram tegangan-regangan untuk bahan. (b) Tentukan gaya F1 dan F2 masing-masing di kawat 1 dan 2, perpanjangan 81 dan 82kedua kawat, dan tegangan serta regangan di kedua kawat. *2.1 1-14 Pecahkan soal sebelum ini dengan mengguna­ kan P = 1 3 kN, diameter kawat d1 = 4,0 mm dan d2 = 5,0 mm, panjang kawat L = 0.8 m, dan kurva tegangan­ regangan paduan aluminium mempunyai hubungan: e = _a _ _ + - 1 - ...!!...._r (a = MPa) 70.000 3 1 -+. 1 s20 . di mana a adalah tegangan 1 ,;aruan :1Pa) dan £ adalah regangan. ANALISIS ELASTOPLASTIS Soal-soal untuk Subbab 2. 1 2 dise/esaikan dengan menganggap bahwa bahan ada/ah elastoplastis dengan tegangan luluh a, regangan luluh £,, dan modulus elastisitas adalah E di daerah elastis linier. 2.1 2-1 Sebuah batang kaku horizontal AB yang me­ mikul beban P digantung dengan menggunakan Iima kawat yang terletak simetris, masing-masing dengan luas penampang A Oihat gambar). Kawat-kawat ini disambung ke permukaan lengkung yangjari-jarinya R. (a) Tentukan beban plastis P P jika bahan untuk kawat adalah elasto­ plastis dengan tegangan luluh a y . (b) Bagaimana PP harus diubah agar batang AB adalah fleksibel, bukannya kaku? (c) Bagaimana PP harus diubah apabila jari-jari R di­ perbesar? 2.1 2-2 Sebuah batang bertangga (nonprismatis) ACB ditahan di antara tumpuan kaku dan dibebani oleh gaya aksial P di tengah tinggi (lihat gambar). Diameter untuk kedua bagian batang adalah d1 = 20 mm dan d2 = 25 mm, L L --- 2 --- <----2 ---�
  • 177.
    r 1 64 Bab2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksial � �ahan ini adalah elastoplastis dengan tegangan luluh c. = :::...,5 MPa. (a) Tentukan beban luluh PY. (b) Tentukan Xban plastis PP. 2.1 2-3 Batang ABCD yang berat totalnya W = 900 lb digantung pada posisi horizontal dengan menggunakan tiga kawat baja yang tersusun seperti terlihat dalam gambar. Setiap kawat mempunyai diameter d = 0.242 in. dan baja adalah bahan elastoplastis dengan tegangan luluh a, = 40.000 psi. Berapa beban P yang dapat menyebab­ kan sistem ini kolaps akibat luluhnya kawat-kawat? I p w �- h -I- h -I--- 2.1 2-4 Sebuah batang baja yang mempunyai penam­ pang lingkaran AB dengan diameter d = 1 2 mm ditarik secara kencang di antara dua tumpuan sedemikian hingga pada awalnya tegangan tarik di batang adalah 50 MPa (lihat gambar). Gaya aksial P selanjutnya dikerjakan di batang pada lokasi C. (a) Tentukan beban plastis PPjika bahan ini elastoplastis dengan tegangan luluh a y = 250 MPa. (b) Bagaimana PP berubah jika tegangan tarik awal diperbesar menjadi 100 MPa? B 2.1 2-5 Beban P dipikul oleh balok horizontal yang di­ tumpu oleh empat kawat yang tersusun secara simetris seperti terlihat dalam gambar. Setiap batang mempunyai luas penampang A dan terbuat dari bahan elastoplastis dengan tegangan luluh a , . Dapatkan rumus untuk beban plastis PP. · 2.12-6 Lima batang, masing-masing mempunyai dia­ meter 1 0 mm, memikul beban P seperti terlihat dalam gambar. Tentukan beban plastis PP jika bahan ini elastoplastis dengan tegangan luluh a , = 290 MPa. I--h -+-- h ---..1---- h � h ----.1 2.1 2-7 Sebuah batang kaku ACB ditumpu sendi di C dan dibebani oleh gaya P di ujung B (lihat gambar). Tiga kawat identik yang terbuat dari bahan elastoplastis (tegangan luluh a, dan modulus elastisitas E) memikul batang. Setiap kawat mempunyai luas penampang A dan panjang L. (a) Tentukan beban luluh Pv dan peralihan luluh 8> di titik B. (b) Tentukan bebari plastis PP dan peralihan 8P di titik B apabila bebannya tepat mencapai harga PP . (c) Gambarlah diagram beban-peralihan yang menunjukkan beban P versus peralihan 88 titik B. A - t L 1 - c · ·· I I p - a -----.1+----- a -------.......-- a _____..,.,..__.___ a --------+-1 2.1 2-8 RangkabatangABCD (lihat gambar) terbuat dari tiga batang baja (bahan elastoplastis) yang masing-masing mempunyai luas penampang A dan tegangan luluh a y . Tentukan harga izin beban P dengan menggunakan faktor keamanan n terhadap beban plastis. p
  • 178.
    *2.1 2-9 Strukturyang terlihat dalam gambar terdiri atas batang kaku horizontal AB yang ditumpu oleh dua kawat baja, satu panjangnya L dan lainnya panjangnya 2L. Kedua kawat mempunyai luas penampang A dan terbuat dari bahan elastoplastis dengan tegangan luluh a y dan modulus elastisitas E. Beban vertikal P bekerja di ujung B dari batang tersebut. (a) Tentukan beban luluh PY dan peralihan 8, di titik B. (b) Tentukan beban plastis PP dan peralihan 8 P titik B. (c) Gambarlah diagram beban­ peralihan dengan beban P sebagai ordinal dan peralihan 88 di titik B sebagai absis. 1 ClJ 2L I +-----2b ---l+-- b -l- b -lp *2.1 2-1 0 Dua kabel, masing-masing mempunyai pan­ jang L kira-kira 40 m, memikul wadah yang terisi dengan berat W (lihat gambar). Kabelnya, yang mempunyai 1uas penampang efektifA = 48,0 mm2 dan modulus e1astisitas efektif E = 1 60 GPa, adalah identik, kecua1i bahwa satu Mekanika Bahan 165 kabel 1ebih panjang daripada lainnya apabi1a digantung dan secara terpisah belum dibebani. Perbedaan panjang­ nya adalah d = 100 mm. Kabel-kabe1 ini terbuat dari baja yang mempunyai diagram tegangan-regangan e1astop1astis dengan a, = 500 MPa. Asumsikan bahwa berat Wsecara perlahan-1ahan ditambah dengan menam­ bahkan bahan ke dalam wadah. (a) Tentukan berat Wy yang pertama kali menghasilkan luluh di kabe1 yang lebih pendek. Juga, tentukan perpanjangan 8 Y pada kabel yang 1ebih pendek. (b) Tentukan berat WP yang menghasilkan luluh pada kedua kab.:l. Juga tentukan perpanjangan 8 P dari kabe1 yang lebih pendek, apabila beban W tepat mencapai WP. (c) Buatlah diagram beban-peralihan yang menunjukkan berat W sebagai ordinal dan elongasi 8 di kabel yang lebih pendek sebagai absis. (Petunjuk: Dia­ gram beban-pera1ihan bukan merupakan garis 1urus tunggal di daerah 0 � W � lr . 1 2.1 2-1 1 Sebuah tabung lingkaran berlubang T yang panjangnya L = 15 in. ditekan secara seragam oleh gaya P yang bekerja mela1ui p1at kaku (lihat gambar). Dia­ meter 1uar dan da1am tabung masing-masing adalah 3,0 in. dan 2,75 in. Batang lingkaran solid konsentris B yang diametemya 1,5 in terletak di dalam tabung. Apabila tidak ada beban. ada daerah kosong c = 0,010 in. antara batang B dan plat kaku. Batang dan tabung terbuat dari baja yang mempunyai diagram tegangan-regangan dengan E = 29 x 103 ksi dan a y = 36 ksi. (a) Tentukan beban 1uluh P, dan perpendekan 8 Y pada tabung. (b) Tentukan beban plastis PP dan perpendekan 8 P tabung tersebut. (c) Gambar1ah diagram beban-peralihan yang menunjukkan P sebagai ordinal dan perpendekan 8 sebagai absis. (Petunjuk: Diagram beban-peralihan bukan merupakan garis lurus di daerah 0 � P � PY.) T
  • 179.
    1 66 Bab2 Elemen Struktur yang Dibebani Secara Aksiaf **2.1 2-1 2 Tiga batang baja, yang tersusun secara sime­ tris, memikul beban P (Iihat gambar). Luas penampang batang vertikal adalah dua kali batang miring. Dengan menganggap perilaku elastoplastis, tentukan sudut f3 sedemikian hingga rasio beban plastis PP terhadap beban luluh PY mencapai harga maksimum. 7 ,,....., . . . ' - - . � / //
  • 180.
    3 - (a) (b) Gambar 3-1 Torsipacta obeng akibat puntir T yang ctiberikan pacta pegangan obeng TORSI PENGANTAR Dalam Bab 1 dan 2 kita telah membahas perilaku jenis elemen struktur yang paling sederhana yaitu batang lurus yang mengalami beban aksial. Sekarang kita meninjau jenis perilaku yang sedikit lebih rumit yaitu torsi. Torsi di sini mengandung arti puntir yang terjadi pada batang lurus apabila batang tersebut dibebani momen (atau torsi) yang cenderung menghasilkan rotasi terhadap sumbu longitudinal batang. Sebagai contoh, apabila pembaca memutar obeng (Gambar 3-la), tangan pembaca memberikan torsi T ke obeng (Gambar 3- lb). Contoh lain batang-batang yang mengalami torsi adalah batang penggerak, batang as, batang baling-baling, batang pengendali, dan batang bor. Kasus pembebanan torsional yang diidealisasikan terlihat dalam Gambar 3-2a, yang menunjukkan sebuah batang lurus yang dipikul di satu ujung dan dibebani oleh dua pasang gaya sama besar dan berlawanan arah. Pasangan yang pertama terdiri atas gaya P1 yang bekerja di dekat titik tengah batang dan pasangan yang kedua terdiri atas gaya P2 yang bekerja di ujung. Setiap pasang gaya ini membentuk kopel yang cenderung memuntir batang terhadap sumbu longitudinalnya. Seperti kita ketahui dari statika, momen kopel merupakan hasil kali dari salah satu gaya dan jarak tegak lurus antara garis kerja gaya-gaya; jadi kopel pertama mempunyai momen T1 = P1d1 dan yang kedua mempunyai momen T2 = P2d2. Satuan untuk momen pada USCS adalah (lb-ft) dan (lb-in); satuan SI adalah (N.m). Untuk mudahnya, kita sering menyatakan momen kopel dengan vektor dalam bentuk panah berkepala ganda (Gambar 3-2b). Panah ini berarah tegak lurus bidang yang mengandung kopel, sehingga dalam hal ini kedua panah sejajar dengan sumbu batang. Arah momen ditunjukkan dengan aturan tangan kanan untuk vektor momen yaitu dengan menggunakan tangan kanan, empat jemari selain jempol dilipat untuk menunjukkan momen sehingga jempol akan menunjuk ke arah vektor. Representasi momen yang lain adalah dengan menggunakan panah lengkung yang mempunyai arah rotasi (Gambar 3-2c). Kedua cara ini umum digunakan, dan keduanya juga digunakan dalam buku ini. Pilihannya bergantung pada kemudahan dan selera seseorang.
  • 181.
    1 68 BaD3 Tarsi (a) (b) (c) Gambar 3-2 Batang yang meng­ alami torsi yang diberikan oleh momen T1 dan T2 Gambar 3-3 Deformasi batang lingkaran akibat torsi murni Momen yang menghasilkan puntir pada suatu batang, seperti momen T1 dan T2 dalam Gambar 3-2, disebut momen torsi atau momen puntir. Batang silindris yang menyalurkan daya melalui rotasi disebut poros/as (shaft); sebagai contoh. dri�·e shaft (poros kemudi) pacta mobil atau pro­ peller shaft (poros baling-baling) pada kapal laut. Kebanyakan poros, baik yang solid maupun tabung. mempunyai penampang melintang berbentuk lingkaran. Di dalam bab ini. kita mulai dengan mengembangkan rumus-rumus untuk deformasi dan tegangan di batang lingkaran yang mengalami torsi. Selanjutnya, kita menganalisis keadaan tegangan yang dikenal dengan geser murni dan mendapatkan hubungan antara besaran elastisitas E dan G yang masing-masing adalah untuk tarik dan untuk geser. Berikutnya, kita menganalisis poros yang mengalami puntir dan menentukan daya yang disalurkannya. Akhimya, kita membahas beberapa topik tambahan yang berkaitan dengan torsi yaitu elemen struktur statis tak tentu. energi regangan, tabung berdinding tipis pada penampang yang bukan lingkaran, konsentrasi tegangan. dan perilaku nonlinier. DEFORMASI TORSIONAL BATANG LINGKARAN Kita mulai pembahasan tentang torsi dengan meninjau batang prismatis berpenampang lingkaran yang dipuntir oleh torsi T yang bekerja di ujung­ ujungnya (Gambar 3-3). Karena setiap penampang batang adalah identik, dan karena setiap penampang tersebut mengalami torsi internal T, maka kita dapat mengatakan bahwa batang ini mengalami torsi murni. Dari tinjauan simetri. dapat dibuktikan bahwa penampang batang tidak berubah bentuk pacta saat berotasi terhadap sumbu longitudinal. Dengan perkataan lain, semua penampang tetap datar dan berbentuk lingkaran dan semua jari-jari tetap lurus. Selain itu, jika sudut rotasi antara satu ujung batang dan ujung lainnya kecil, maka panjang batang maupun jari-jarinya tidak berubah. Untuk menggambarkan deformasi batang, bayangkan bahwa ujung kiri batang yang terlihat dalam Gambar 3-3 mempunyai posisi tetap. Lalu, akibat aksi torsi T, ujung kanan akan berotasi (terhadap ujung kiri) dengan sudut kecil </J yang dikenal dengan sudut puntir. Karena rotasi ini, maka garis longitudinal pq di permukaan batang akan menjadi lengkungan helikal pq ' , di mana q ' adalah posisi titik q sesudah penampang ujung berotasi sebesar </J. Sudut puntir berubah di sepanjang sumbu batang, dan pada / f!i(x) L --������--+
  • 182.
    Gambar 3-4 Deformasisuatu elemen sepanjang dx yang dipotong dari sebuah batang yang mengalami torsi Mekanika Bahan 1 69 suatu penampang sembarang sudut tersebut mempunyai harga lf> (x) yang berharga antara nol di ujung kiri dan lf> di ujung kanan. Jika setiap penampang batang mempunyai jari-jari yang sama dan mengalami puntir yang sama (torsi mumi), maka sudut l/>(x) akan bervariasi secara linier terhadap ujung-ujungnya. Sekarang tinjaulah elemen batang antara dua penampang yang jaraknya satu sama lain dx(Gambar 3-+aJ. Elemen ini ditunjukkan terisolasi di dalam Gambar 3-4b. Di permukaan luarnya kita identifikasi elemen kecil abed, dengan sisi-sisi ab dan cd yang semula sejajar sumbu longi­ tudinal. Selama terjadi puntir pada batang. penampang kanan berotasi terhadap penampang kiri dengan sudut puntir kecil dlf>, sehingga titik b dan c masing-masing bergerak ke b' dan c'. Panjang sisi elemen, yang sekarang elemen ab'c'd, tidak berubah selama rotasi kecil ini. Namun, sudut-sudut di pojok tidak lagi sama dengan 90°. Jadi, elemen ini ada dalam keadaan geser murni (lihat Subbab 1.6 J. dan besar regangan geser Ymaks (Gambar 3-4b) sama dengan berkurangnya sudut di titik a, yang berarti berkurangnya sudut bad. Dari gambar tersebut. kita lihat bahwa berkurangnya sudut adalah Ymaks bb' ab di mana Ymaks dinyatakan dalam radian, bb' adalah jarak yang dilalui gerakan titik b, dan ab adalah panjang elemen (sama dengan dx). Apabila r menunjukkan jari-jari batang, maka kita dapat menyatakan jarak pb' sebagai rdlf>, di mana dlf> juga dinyatakan dalam radian. Jadi, persamaan di atas dapat ditulis menjadi Ymaks r dlf> dx (a) Persamaan ini menghubungkan regangan geser di permukaan luar batang dengan sudut puntir. Besaran dlf>ldx adalah besarnya perubahan sudut puntir lf> terhadap jarak x yang diukur di sepanjang sumbu batang. Kita akan menuliskan dlf>l (a) Ymaks y �dx-1 �dx-1 (b) (c)
  • 183.
    1 70 Bab3 Tarsi Y maks dx dengan menggunakan simbol e dan menyebut e sebagai sudut puntir per panjang satuan, atau laju puntiran: (3-1) Dengan menggunakan notasi ini, kita dapat menuliskan persamaan untuk regangan geser di permukaan luar (Persamaan a) sebagai berikut: (3-2) Pada umumnya, baik 1/J maupun e bervariasi terhadap x di sepanjang sumbu batang. Namun, pada kasus khusus berupa torsi mumi, laju puntiran adalah konstan dan sama dengan sudut puntir total i/J dibagi dengan panjang L batang, jadi 8 = 1/JL. Dengan demikian, untuk torsi mumi saja, kita dapatkan (3-3) Persamaan ini dapat diperoleh secara langsung dari Gambar 3-3 dengan melihat bahwa jarak qq ' sama dengan ri/J dan bahwa sudut Ymaks adalah sudut antara garis-garis pq dan pq ' , yaitu sudut qpq ' . Jadi, ri/J = YmaksL. Regangan geser di bagian dalam (interior) batang dapat diperoleh dengan menggunakan metode yang sama dengan yang digunakan untuk mendapatkan regangan geser Ymaks di permukaan. Karena jari-jari penam­ pang batang tetap lurus dan tak terdistorsi selama mengalami puntir, maka kita dapat melihat bahwa pembahasan di atas untuk elemen abed di per­ mukaan luar (Gambar 3-4b) juga berlaku untuk elemen serupa yang terletak pada permukaan silinder dalam yang berjari-jari p (Gambar 3-4c). Jadi, elemen interior juga mengalami geser dengan regangan geser yang di­ nyatakan dengan persamaan (bandingkan dengan Persamaan 3-2 dan 3-3): (3-4) Persamaan ini menunjukkan bahwa regangan geser pada batang lingkaran bervariasi secara linier terhadap jarak radial p dari pusat, dengan regangan berharga nol di pusat dan mencapai maksimum di permukaan terluar. Tinjauan pembahasan di atas akan menunjukkan bahwa persamaan untuk regangan geser (Persamaan 3-1 sampai 3-4) berlaku pada batang tabung lingkaran (Gambar 3-5) dan pada batang lingkaran. Gambar 3-5 menunjukkan variasi linier pada tegangan geser antara regangan maksimum Y min di permukaan luar dan regangan minimum di permukaan dalam. Regangan minimum berhubungan dengan regangan maksimum melalui persamaan rl Ymin = -ymaks r2 (3-5) Gambar 3-5 Variasi regangan geser pada tabung Iingkaran di mana r1 dan r2 masing-masing adalahjari-jari dalam dan luar penampang tabung.
  • 184.
    Mekanika Bahan 171 Akhirnya,kita rnengamati bahwa persamaan-persamaan di atas untuk regangan pada batang hanya didasarkan atas tinjauan geometri. Dengan demikian, persamaan-persamaan tersebut berlaku untuk sembarang bahan, entah yang berperilaku elastis maupun inelastis, linier maupun tidak linier. Namun, persamaan-persamaan tersebut terbatas pada batang yang mempunyai sudut puntir kecil dan regangan kecil. -· 3·• 3 1 BATANG LINGKARAN DARI BAHAN YANG ELASTIS LINIER Gambar 3-6 Tegangan geser pada batang lingkaran yang mengalami torsi Karena kita telah menyelidiki regangan geser pada batang lingkaran yang mengalami torsi (Gambar 3-4 dan 3-5 ). maka kita sudah siap untuk menentukan arah dan besar tegangan gesernya. Arab tegangan dapat ditentukan dengan mudah seperti terlihat dalam Gambar 3-6a. Kita lihat bahwa torsi T cenderung untuk memutarkan ujung kanan batang berlawanan jarum jam apabila dilihat dari kanan sehingga tegangan geser r bekerja dalam arah seperti terlihat dalam gambar tersebut. Untuk jelasnya, elemen tegangan di sisi batang (Gambar 3-6a) diperbesar dalam Gambar 3-6b, di mana regangan geser dan tegangar geser ditunjukkan. Sebagaimana telah diuraikan dalam Subbab 2.6, kita biasanya menggambar elemen tegangan dalam dua dimensi, seperti terliha dalam Gambar 3-6b, tetapi kita harus selalu ingat bahwa elemen teganga: sebenarnya adalah benda tiga dimensi dengan suatu ketebalan yang tega: lurus bidang gambar. (a) (b) (c) Besar tegangan geser dapat ditentukan dari hubungan tegangan­ regangan untuk bahan pembentuk batang tersebut. Jika bahannya elastis linier, maka kita dapat menggunakan hukum Hooke untuk geser (lihat Persamaan 1-17): r = Gy (3-6) di mana G adalah modulus geser elastisitas dan y adalah regangan geser yang dinyatakan dalam radian. Dengan menggabungkan persamaan ini dengan persamaan untuk regangan geser (Persamaan 3-2 dan 3-4), kita dapatkan (3-7a,b)
  • 185.
    r 1 72 Bab3 Torsi Gambar 3·7 Tegangan geser longitudinal dan transversal pada batang lingkaran Gambar 3-8 Tegangan tarik dan tekan yang bekerja pada elemen tegangan yang berorientasi 45° terhadap sumbu longitudinal Gambar 3-9 Penentuan resultan tegangan geser yang bekerja pada suatu penampang di mana rmaks adalah tegangan geser di permukaan luar batang Gari-jari r), r adalah tegangan geser di titik interior Gari-jari p), dan () adalah laju puntiran (perhatikan bahwa () mempunyai satuan radian per satuan panjang). Persamaan ini menunjukkan bahwa tegangan geser bervariasi secara linier terhadap jarak dari pusat batang, sebagaimana digambarkan dengan tegangan segitiga dalam Gambar 3-6c. (Variasi linier pacta tegangan ini merupakan konsekuensi dari hukum Hooke. Jika hubungan tegangan­ regangannya tidak linier. maka metode analisis lain dibutuhkan sebagai­ mana akan dibahas dalam Subbab 3.1 .2.) Tegangan geser yang bekerja di bidang penampang disertai dengan tegangan geser yang besarnya sama yang bekerja pacta bidang longitudi­ nal (Gambar 3-7). Kesimpulan ini berasal dari fakta bahwa tegangan geser yang sama selalu acta pacta bidang-bidang yang saling tegak lurus, seperti diterangkan dalam Subbab 1 .6. Jika bahan batang lemah terhadap geser pacta arah longitudinal dibandingkan dengan pacta bidang penampang, seperti yang tetjadi pacta kayu dengan serat yang berarah sumbu batang, maka retak pertama akibat torsi akan muncul pacta permukaan dalam arah longitudinal. Keadaan geser mumi di permukaan batang (Gambar 3-6b) adalah ekivalen dengan tegangan tarik dan tekan yang sama yang bekerja di suatu elemen yang berorientasi 45°. sebagaimana diterangkan dalam Subbab 3.5. Dengan demikian, elemen persegi panjang dengan sisi-sisi 45° terhadap sumbu batang akan mengalarni tegangan tarik dan tekan, seperti terlihat dalam Gambar 3-8. Jika bahan batang yang mengalami torsi adalah bahan yang lemah terhadap tarik dibandingkan dengan terhadap geser, maka kegagalan akan terjadi secara tarik di sepanjang spiral yang miringnya 45° terhadap sumbu batang. Pembaca dapat mengamati hal ini dengan memuntir sepotong kapur. • Rumus Torsi Langkah selanjutnya dalam analisis kita adalah menentukan hubungan antara tegangan geser dan torsi T. Setelah ini diperoleh, kita akan dapat menghitung tegangan dan regangan di suatu batang akibat sekumpulan torsi. Distribusi tegangan geser yang bekerja pacta suatu penampang ditunjukkan dalam Gambar 3-6c dan 3-7. Karena tegangan ini bekerja secara kontinu di sekeliling penampang, maka resultannya membentuk momen-yaitu momen yang sama dengan torsi T yang beketja pacta batang. Untuk menentukan resultan ini, kita tinjau elemen luas dA yang terletak pacta jarak radial p dari sumbu batang (Gambar 3-9). Gaya geser yang bekerja di elemen ini sama dengan r dA, di mana r adalah tegangan geser pacta radius p. Momen dari gaya ini terhadap sumbu batang sama dengan gaya dikalikan jarak dari pusat, atau rp dA. Dengan memasukkan tegangan geser r dari Persamaan (3-7b), kita dapat menyatakan momen elemental sebagai dM = rp dA = rmaks p 2 dA r Momen resultan (yang sama dengan puntir T) adalah perjumlahan momen elemental di seluruh luas penampang: T = JdM = rmaks Jpz dA = rmaks I A r A r P (3-8)
  • 186.
    Mekanika Bahan 173 di mana (3-9) adalah momen inersia polar untuk penampang lingkaran. Untuk lingkaran dengan jari-jari r dan diameter d, momen inersia polar adalah (3-10) seperti yang diberikan pada Lampiran D. Kasus 9. Perhatikan bahwa momen inersia mempunyai satuan panjang pangkat empat. * Rumus untuk tegangan geser maksimum dapat diperoleh dengan menyusun kembali Persamaan (3-8) sebagai berikut: (3-11) Persamaan ini, yang dikenal dengan rumus torsi, menunjukkan bahwa tegangan geser sebanding dengan puntir T yang bekerja dan berbanding terbalik dengan momen inersia polar JP. Satuan tipikal yang digunakan pada rumus torsi adalah sebagai berikut. Dalam SI, puntir T biasanya dinyatakan dalam newton meter (N.m), jari­ jari r dalam meter (m), momen inersia JP dalam (m4), dan tegangan geser r dalam (Pa). Jika USCS digunakan, T sering dinyatakan dalam (lb-ft) atau (lb-in), r dalam inci (in.), JP dalam in. 4, dan r dalam poundlin2 (psi). Dengan memasukkan r = d/2 dan JP = ntl'/32 ke dalam rumus torsi, kita dapatkan rumus berikut untuk tegangan maksimum: (3-12) Persamaan ini berlaku hanya pada batang yang_mempunyai penampang lingkaran solid, sedangkan rumus torsi (Persamaan 3-1 1) berlaku untuk batang solid maupun tabung lingkaran, sebagaimana akan diterangkan ber�kut�i. Persamaan (3-1 2) menunjukkan bahwa tegangan geser berbanding terbalik dengan diameter (atau jari-jari) pangkat tiga. Jadi, jika diameter menjadi dua kali, maka tegangan akan berkurang dengan faktor delapan. Dengan mengetahui besarnya torsi dan diameter batang, kita dapat menggunakan rumus torsi standar (Persamaan 3-1 1) atau versi altematifnya (Persamaan 3-12) untuk menghitung tegangan geser maksimum. Jika tegangan geser izin diberikan, maka kita dapat menggunakan Persamaan (3-12) untuk mendapatkan puntir izin (jika diameter diketahui) atau dia­ meter yang dibutuhkan (jika torsi diketahui). Ide ini digambarkan dalam Contoh 3-1 dan 3-2 di akhir subbab ini. *Momen inersia polar dibahas di bab 12 subbab 12.6
  • 187.
    174 Bab 3Tarsi Tegangan geser pada jarak p dari pusat batang adalah r = E._ r = Tp maks I r P (3-13) yang diperoleh dengan menggabungkan Persamaan (3-7b) dengan rumus torsi (Persamaan 3- 1 1 ). Sekali lagi, kita lihat bahwa tegangan geser bervariasi secara linier terhadap jarak radial dari pusat batang. • Sudut Puntir Sudut puntir suatu batang yang terbuat dari bahan elastis linier dapat dihubungkan dengan torsi T yang bekerja. Dengan menggabungkan Persamaan (3-7a) dengan rumus torsi, kita dapatkan (3-14) yang menunjukkan bahwa laju puntiran 8 sebanding dengan torsi T dan berbanding terbalik dengan hasil kali GIP, yang dikenal dengan rigiditas torsional batang tersebut. Untuk sebuah batang yang mengalami torsi mumi, sudut puntir total lfJ sama dengan laju puntiran dikalikan panjang batang (artinya- l/J-�=lf[)�acti�-�-·· · · - (3-15) di mana lfJ dinyatakan dalam radian. Penggunaan persamaan-persamaan ini dalamanalisis dan desain Ci!gambarkan dalam Contoh 3-1 dan 3-2. Besaran GI /L disebut kekakuan torsional batang, yaitu tarsi yang diperlukan untuk menghasilkan satu sudut rotasi. Fleksibiltl a s torsional adalah kebalikan dari kekakuan, atau UGI , dan didefinisikan sebagai sudut rotasi yang dihasilkan oleh tarsi satuan. Jadi, kita mempunyairumus berikut: L fr = GIp (3- l6a,b) Besaran ini analog dengan kekakuan aksial k = EA/L, dan fleksibilitas aksial f = UEA dari suatu batang yang mengalami tarik atau tekan (bandingkan dengan Persamaan 2-4a dan 2-4b). Kekakuan dan fleksibilitas merupakan sesuatu yang penting dalam analisis struktural, khususnya apabila struktumya besar dan rumit sedemikian hingga metode analisis yang berorientasi komputer digunakan. Persamaan untuk sudut puntir (Persamaan 3-15) dapat digunakan untuk menentukan modulus elastisitas geser G untuk bahan. Dengan melakukan uji tarsi pada batang lingkaran, kita dapat mengukur sudut puntir lfJ yang dihasilkan oleh tarsi T yang diketahui. Selanjutnya G dapat dihitung dari Persamaan (3-15). • Tabung Lingkaran Tabung lingkaran lebih efisien dibandingkan dengan batang solid dalam menahan beban torsional. Seperti kita ketahui, tegangan geser pada batang
  • 188.
    r , t � Gambar3-10 Tabung lingkaran yang mengalami tarik Mekanika Bahan 1 75 lingkaran solid mencapai maksimum di tepi luar dari penampang dan berharga nol di pusat. Dengan demikian, sebagian besar bahan pada batang solid mengalami tegangan yang sangat jauh lebih kecil daripada tegangan geser maksimum. Selain itu, tegangan di dekat pusat penampang mem­ punyai lengan momen p yang lebih kecil dalam menentukan momen torsi. Sebaliknya, pada tabung berlubang, sebagian besar bahan ada di dekat tepi luar penampang di mana tegangan geser dan lengan momen adalah yang terbesar (Gambar 3-10). Jadi, jika reduksi berat dan penghematan bahan merupakan hal penting, maka disarankan penggunaan tabung lingkaran. Sebagai contoh, batang penggerak. batang propeller, dan batang pembangkit biasanya mempunyai penampang lingkaran berlubang. Analisis torsi pada tabung lingkaran hampir identik dengan pada batang solid. Rumus dasar yang sama untuk tegangan geser masih dapat digunakan (misalnya, Persamaan 3-7a dan 3-7b 1. Tentu saja, jarak radial p dibatasi dalam selang r1 sampai r2, di mana r1 adalah jari-jari dalam dan r2 adalah jari-jari luar dari batang (Gambar 3-101. Hubungan antara torsi T dan tegangan maksimum masih dapat dinyatakan dengan Persamaan (3-8), tetapi batas-batas integrasi untuk momen inersia polar (Persamaan 3-9) adalah p = r1 dan p = r2• Dengan demikian, momen inersia polar untuk penampang tabung adalah (3- 17) Jika tebal dinding t (Gambar 3-10) kecil dibandingkan dengan jari-jari, maka rumus pendekatan berikut ini (lihat Lampiran D. Kasus 22) dapat digunakan untuk momen inersia polar ., Trd3t I "" 2Trrt = -- P 4 (3-1 8) Dalam persamaan ini, besaran r dan d masing-masing adalah jari-jari rata­ rata dan diameter rata-rata. Sebagai ukuran ketelitian Persamaan (3-1 8), kita perhatikan bahwa jika tebal t lebih kecil daripada seperempat dari jari-jari luar (tlr2 < 1/4), kesalahan pada rumus pendekatan kurang dari 2%. Rumus torsi (Persamaan 3-1 1) dapat digunakan untuk tabung lingkaran dari bahan elastis linier asalkan JP dihitung dengan Persamaan (3-17) atau, jika layak, Persamaan (3- 1 8). Komentar yang sama berlaku untuk persamaan umum untuk tegangan geser (Persamaan 3-13), persamaan untuk laju puntiran dan sudut puntir (Persamaan 3-14 dan 3-1 5), dan persamaan untuk kekakuan dan fleksibilitas (Persamaan 3- 16a dan 3-16b). Distribusi tegangan geser pada suatu tabung terlihat dalam Gambar 3-10. Dari gambar tersebut, kita lihat bahwa tegangan rata-rata di tabung tipis hampir sama besar dengan tegangan maksimum. Ini berarti bahwa batang berlubang lebih efisien dalam penggunaan bahan dibandingkan dengan batang solid, sebagaimana ditunjukkan dalam Contoh 3-2 dan 3-3. Dalam mendesain tabung lingkaran untuk menyalurkan torsi, kita harus melihat bahwa tebal t cukup besar untuk mencegah terjadinya tekuk pada dinding tabung. Sebagai contoh, harga maksimum rasio jari-jari terhadap tebal, misalnya (rit)maks = 10 atau 20, dapat ditetapkan. Tinjauan desain lain meliputi faktor-faktor lingkungan dan keawetan, yang mungkin juga mempengaruhi persyaratan tebal dinding minimum. Topik ini dibahas dalam mata kuliah dan buku-buku tentang desain mekanis.
  • 189.
    1 76 Bab3 Torsi Gambar 3-1 1 Contoh 3-1 • Pembatasan Persamaan yang diturunkan dalam subbab ini dibatasi pada batang yang mempunyai penampang lingkaran (baik solid maupun berlubang) yang berperilaku elastis linier. Dengan perkataan lain, beban harus sedemikian hingga tegangannya tidak melebihi limit proporsional bahan. Selain itu, persamaan untuk tegangan hanya berlaku pada bagian-bagian batang yang jauh dari konsentrasi tegangan (seperti lubang dan perubahan bentuk secara tiba-tiba) dan jauh dari penampang di mana beban diterapkan. (Konsentrasi tegangan untuk masalah torsi dibahas dalam Subbab 3.1 1 .) Akhirnya, adalah penting untuk menekankan bahwa persamaan untuk torsi pada batang lingkaran dan tabung tidak dapat digunakan untuk batang dengan bentuk lain. Batang yang bukan lingkaran, seperti batang persegi panjang dan batang yang mempunyai penampang I, berperilaku sangat berbeda dengan batang lingkaran. Sebagai contoh, penampang seperti ini tidak tetap datar dan tegangan maksimumnya tidak terletak di jarak terjauh dari titik tengah penampang. Jadi, batang seperti ini membutuhkan metode analisis yang lebih lanjut seperti yang disajikan dalam buku-buku tentang teori elastisitas dan mekanika bahan lanjut.• • Contoh 3-1 Sebuah batang baja solid dengan penampang lingkaran (Gambar 3-1 1) mempunyai diameter d = 1,5 in, panjang L= 54 in., dan modulus elastisitas geser G = 1 1,5 x 106 psi. Batang ini menga1ami torsi T yang bekerja di ujung-ujungnya. (a) Jika torsi ini besamya T = 250 lb-ft, berapa tegangan geser maksimum di batang ini? Berapa sudut puntir antara kedua ujung? (b) Jika tegangan geser izin adalah 6000 psi dan sudut puntir izin adalah 2,5°, berapa torsi izin maksimum? T .... Solusi (a) Karena batang ini mempunyai penampang Iingkaran solid, kita dapat mencari tegangan geser maksimum dari Persamaan (3-12) sebagai berikut: r = 16T = 16(250 lb-ft)(12 in./ft) = 4530 si maks 7rd3 7r(1,5 in.)3 P Dengan cara sama, sudut puntir diperoleh dari Persamaan (3-1 5) dengan momen inersia polar yang dihitung dengan Persamaan (3-10): I = 7rd4 = 7r(1•5 in.)4 = 0 4970 in.4 p 32 32 ' (/! = TL = (250 lb-ft)(12 in./ft)((54 in.) = 0 02834 rad = 1 62o • GIP (1 1,5 x 106 psi)(0,4970 in.4 ) ' ' Jadi, analisis batang yang menga1ami aksi torsi ini sudah selesai. *Teori tarsi untuk batang lingkaran diawali dengan penelitian oleh ilmuwan Perancis termashur C.A. de Coulomb (1 736-1806); pengembangan lebih lanjut dilakukan oleh Thomas Young dan A. Duleau (Ref. 3-1). Teori tarsi umum (untuk batang berbentuk sembarang) diberikan oleh ahli elastisitas paling terkenal sepanjang masa, Barre de Saint-Venant (1797-1886); lihat Ref. 3-2.
  • 190.
    (a) t = d2 10 (b) Gambar3-12 Contoh 3-2 Mekanika Bahan 1 77 (b) Torsi izin maksimum ditentukan dengan tegangan geser izin atau dengan sudut puntir izin. Dengan dimulai dari tegangan geser, kita menyusun kembali Persamaan (3-1 2) dan menghitung sebagai berikut: T1 = n d:�izin = 1 �(1,5 in.)3(6000 psi) = 3980 1b-in. = 331 lb-ft Momen torsi yang lebih besar daripada harga ini akan menyebabkan tegangan geser yang me1ebihi tegangan izin sebesar 6000 psi. Dengan menggunakan Persamaan (3-15 l yang telah disusun kembali, kita dapat menghitung torsi yang didasarkan atas sudut puntir: Glplf>izin .(1 1,5 X 106 psi)(0,4970 in." )(2,S0)(7r rad/180°) T2 = -- L- = 54 in. = 461 8 lb-in. = 385 lb-ft Momen torsi yang lebih besar daripada T2 akan menyebabkan dilampauinya sudut puntir izin. Torsi izin maksimum adalah yang terkecil di antara T1 dan T2: Tmaks = 331 lb-ft Dalam contoh ini, tegangan geser izin menghasilkan kondisi yang membatasi. • Contoh 3-2 Sebuah batang baja akan dibuat dengan entah dengan penampang lingkaran solid atau dengan penampang lingkaran berlubang (Gambar 3-1 2). Batang ini harus menyalurkan torsional sebesar 1200 N.m tanpamelebihi tegangan geser izin sebesar 40 MPa dan laju puntir izin 0,75°/m. (Modulus geser elastisitas bahan baja adalah 78 GPa.) (a) Tentukan diameter d0 untuk batang solid. (b) Tentukan diameter luar d2 untuk batang berlubang jika tebal t untuk batang ditentukan sebesar 1/10 dari diameter 1uar. (c) Tentukan rasio diameter (artinya, rasio d/d0) dan rasio berat batang berpenampang berlubang terhadap yang mempunyai penampang solid. Solusi (a) Batang solid. Diameter d0 ditentukan dari tegangan geser izin atau dari laju puntir izin. Dalam hal tegangan geser izin, kita susun kembali Persamaan (3- 12) dan kita dapatkan d 3 _ 16T 0 - 1l'iizin 16(1200 N.m) = 1 52 8 X w-6 m3 n(40 MPa) ' sehingga d0 = 0,0535 m = 53,5 mm Dalam hal laju puntir izin, kita mulai dengan membagi momen inersia polar yang dibutuhkan (lihat Persamaan 3-14): I = _ T _ = 1200 N·m = 1 175 X w-9 m4 P GO,zm (78 GPa)(0,75°/m)(7r rad/180°) Karena momeninersiapolar sama dengan mf/32, maka diameter yang dibutuhkan adalah atau d0 = 0,0588 m = 58,8 mm
  • 191.
    1 78 Bab3 Torsi Dengan membandingkan kedua harga d0, kita lihat bahwa laju puntiran menentukan desain dan diameter yang dibutuhkan untuk batang solid yaitu d0 = 58,8 mm .. Dalam desain praktis, kita akan memilih diameter yang sedikit lebih besar daripada harga d0 yang dihitung: sebagai contoh, 60 mm. (b) Batang berlubang. Sekali lagi, diameter yang diperlukan didasarkan atas tegangan geser izin, atau laju puntir izin. Kita mulai dengan memberi notasi diameter luar dari batang sebagai d2 dan diameter dalam adalah dl = d2 - 2t = d2 - 2(0,1d2) = 0,8d: Jadi. momen inersia polar (Persamaan 3-17) adalah 7r 4 4 7r[ 4 4] 7r 4 4 IP = 32 <d2 - dl ) = 32 d2 - (0,8d2) = 32 (0,5904d: ) = 0.05796d2 Dalam ha! tegangan geser izin, kita menggunakan rumus torsi (Persamaan 3-1 1) sebagai berikut: r. . = Tr = _ T..:... (d -=. 2_ 12 ...:.. ) 7 !Zifl Ip 0,05796di T 0,1 1 59di Dengan menyusun kembali persamaan di atas, kita dapatkan d3 _ T 2 - 0,1 1 59 r izin 1200 N·m = 258 8 x 1 0_6 m3 0,1 159(40 MPa) ' Dari sini kita peroleh d2 sebesar d2 = 0,0637 m = 63,7 mm yang merupakan diameter luar yang diperlukan berdasarkan tinjauan tegangan geser. Dalam ha1 laju puntir izin, kita gunakan Persamaan (3-14) dengan (} diganti dengan (}izin dan JP diganti dengan rumus yang dipero)eh sebe)umnya; jadi, sehingga (} = T !Zln G(0,05796di) di = �--� T --�- 0,05796 G(}izin __ _ _ _ _ ..:. 1 2 =-c O :...: O :....:N :...:....:. ·m :.:....__ _ _ _ = 20,28 X w-6 m4 0,05796(78 GPa)(O,75°/m)(n rad/1 80°) Dari sini kita peroleh d2 sebesar d2 = 0,0671 m = 67, 1 mm yang merupakan diameter perlu berdasarkan tinjauan laju puntiran. Dengan membandingkan kedua harga d2, kita lihat bahwa laju puntiran menentukan dalam desain dan diameter luar yang diperlukan untuk penampang berlubang adalah d2 = 67,1 mm .. Diameter dalam yang diperlukan d1 sama dengan 0,8d2, atau 53,7 mm. (Sebagai nilai praktis, kita mungkin memilih d2 = 70 mm dan d1 = 0,8d2 = 56 mm.) (c) Rasio diameter dan berat. Rasio diameter luar penampang berlubang terhadap diameter penampang solid (dengan menggunakan harga yang telah dihitung) adalah :!:1_ = 67,1 mm = 1 14 d0 58,8 mm ' .. Karena berat batang adalah sebanding dengan luas penampang, kita dapat menyatakan rasio berat batang berlubang terhadap berat batang solid sebagai berikut:
  • 192.
    Gambar 3-1 3Contoh 3-3 wberlubang W.oiid Mekanika Bahan 1 79 Aberlubang _ Jr(d; - d� )/4 di - d� Asolid - 7rf15 f4 d5 (67,1 mm)2 - (53 ; 7 mm)2 = 0,47 (58,8 mm)- Hasil ini menunjukkan bahwa batang berlubang hanya menggunakan 47% bahan dibandingkan dengan batang solid, sedangkan diametemya hanya sekitar 14% lebih besar. Catatan: Contoh ini menggambarkan bagaimana cara menentukan ukuran yang diperlukan untuk batang solid atau batang berlubang apabila tegangan izin dan 1aju puntir izin diketahui. Contoh inijuga menggambarkan fakta bahwa batang berlubang lebih efisien dalam penggunaan bahan dibandingkan batang solid. • Contoh 3.3 Sebuah poros berlubang dan poros solid yang terbuat dari bahan yang sama mempunyai panjang sama dan jari-jari luar R sama (Gambar 3-13). Jari-jari dalam untuk batang berlubang adalah 0.6R. (a) Dengan menganggap bahwa kedua poros mengalami torsi yang sama, bandingkan tegangan geser, sudut puntir, dan berat keduanya. (b) Tentukan rasio kekuatan terhadap berat untuk kedua poros. 0,6R (a) (b) Solusi (a) Perbandingan tegangan, sudut puntir, dan berat. Tegangan geser maksimum, yang dinyatakan dengan rumus torsi (Persamaan 3-1 1), sebanding dengan li/P asalkan momen torsi dan jari-jarinya sama. Untuk poros berlubang kita dapatkan .trR4 JP = 2 .tr(0,6R)4 = 0,4352 .tr� 2 dan untuk poros solid, .trR4 I = - = 0 5 .tr� p 2 , Dengan demikian, rasio /31 antara tegangan geser maksimum di poros berlubang terhadap tegangan geser maksimum di poros solid adalah f3 - rH - 0,5.trR4 1 15 I - -;; - 0,4352.trR4 = , di mana subskrip H dan S masing-masing merujuk ke penampang berlubang (hol­ low) dan solid. Sudut puntir (Persamaan 3-15) sebanding dengan 1//p karena torsi T, panjang L, dan modulus geser elastisitas G sama untuk kedua poros. Dengan demikian, rasionya sama dengan rasio untuk tegangan geser: f3 if'H 0,5.trR4 1 15 2 = """f; = 0,4352.trR4 = '
  • 193.
    1 80 Bab3 Tarsi Berat poros sebanding dengan luas penampangnya; dengan demikian, berat poros solid sebanding dengan nR2 dan berat poros berlubang sebanding dengan nR2 - n(0,6R)2 = 0,64 nR2 Dengan demikian, rasio berat batang berlubang terhadap berat batang solid adalah [3, = WH = 0,64n 2 R2 = O,M - W 5 nR .. Dari rasio di atas kita sekali lagi melihat keuntungan penggunaan penampang berlubang. Dalam contoh ini. batang berlubang mempunyai tegangan 15% lebih besar. sudut rotasi 1 50C lebih besar dibandingkan pada batang solid tetapi mempunyai berat 36'7 c lebih ringan. (b) Rasio kekuatan terhadap berat. Efisiensi relatif suatu struktur kadang­ kadang diukur dengan rasio kekuatan terhadap berat, yang didefinisikan untuk batang yang mengalami torsi sebagai torsi izin dibagi dengan beratnya. Torsi izin untuk batang berlubang adalah 'T' H = rmakJp = rmaks (0,4352nR" ) 0 4352 R' ' , R R = , n - rmak, dan untuk batang solid adalah rmakJp rmaks(0,5nR 4 ) - 0 5 R 3 Ts = - - R- = R - , n rmab Berat batang sama dengan luas penampang dikalikan dengan panjang L dikalikan dengan berat jenis y dari bahan: Jadi, rasio kekuatan terhadap beratSH dan S5 masing-masing untuk batang berlubang dan solid adalah S = !..tt_ = 0 68 rmaks R H WH , yL S = !i_ = 0.5 rmaksR s Ws yL .. Dalam contoh ini, rasio kekuatan terhadap berat pada batang berlubang adalah 36% lebih besar dibandingkan rasio kekuatan terhadap berat untuk batang solid, yang menunjukkan sekali lagi efisiensi batang berlubang. Untuk batang yang lebih tipis, persentasenya akan lebih besar; untuk batang yang lebih tebal, persentasenya akan berkurang. -· 3·• 4 I TORSI TAK SERAGAM (NONUNIFORM TORSION) Sebagaimana diterangkan dalam Subbab 3.2, tarsi murni merujuk ke torsi pada batang prismatis yang mengalami torsi yang bekerja hanya di ujung­ ujungnya. Torsi tak seragam berbeda dengan torsi mumi dalam hal batang tidak harus prismatis, dan torsinya dapat bekerja di mana pun di sepanjang sumbu batang. Batang yang mengalami torsi tak seragam dapat dianalisis dengan menerapkan rumus-rumus torsi mumi pada segmen-segmen ter­ hingga dari batang dan selanjutnya menjumlahkan masing-masing hasilnya, atau dengan menerapkan rumus-rumus untuk elemen diferensial dari batang dan selanjutnya mengintegrasikannya. Untuk menggambarkan prosedur ini, kita akan meninjau tiga kasus torsi tak seragam. Kasus lain dapat ditangani dengan cara-cara yang serupa dengan yang diuraikan di sini.
  • 194.
    Tl T2 T3T4 �:u:,.f;;;;t!;tf:!J I 8 1. Ci D , ! I I 1-LAB -�1.- Lac �k·Lc!l ->-i (a) (c) Tl rc.. :.:: ::.l:'�� A (d) Gambar 3-14 Batang yang meng­ alami torsi tak seragam (Kasus I ) Mekanika Bahan 1 81 Kasus 1. Batang yang mengandung segmen-segmen prismatis dengan tarsi kanstan di seluruh masing-masing segmen (Gambar 3-14). Batang· yang terlihat pada bagian (a) dalam gambar tersebut mempunyai dua di­ ameter yang berbeda dan dibebani oleh torsi yang bekerja di titik A, B, C, dan D. Akibatnya, kita membagi batang ini menjadi segmen-segmen sedemikian hingga setiap segmen adalah prismatis dan mengalami torsi konstan. Dalam contoh ini, ada tiga segmen seperti ini yaitu AB, BC, dan CD. Setiap segmen mengalarni torsi murni sehingga semua rumus yang diturunkan dalam subbab sebelum ini dapat diterapkan pada setiap segmen secara terpisah. Langkah pertama dalam analisis adalah menentukan besar dan arah torsi internal di setiap segmen. Biasanya torsi dapat ditentukan secara cepat, tetapi jika perlu, torsi dapat diperoleh dengan cara memotong batang, menggambar diagram benda bebas, dan memecahkan persamaan ke­ seimbangan. Proses ini digambarkan dalam bagian (b). (c), dan (d) gambar tersebut. Potongan pertama dilakukan sembarang di dalam segmen CD, sehingga terlihat torsi internal TcD· Dari diagram benda bebas (Gambar 3- 14b) kita lihat bahwa TcD sama dengan -T1 - T2 + Ty Dari diagram berikut kita melihat bahwa T8c sama dengan -T1 - T2, dan dari yang terakhir kita dapatkan bahwa TAB = -T1• Jadi, (a,b,c) Setiap torsi ini adalah konstan di seluruh panjang segmen. Di dalam mencari tegangan geser di setiap segmen, kita hanya membutuhkan besarnya torsi internal ini karena arah tegangan tidak diperlukan. Namun, dalam mencari sudut puntir keseluruhan batang, kita perlu mengetahui arah puntir di setiap segmen dalam menggabungkan sudut puntir dengan benar. Dengan demikian, kita perlu menetapkan perjanjian tanda untuk torsi internal. Aturan mudah dalam banyak hal adalah sebagai berikut: Tarsi internal bertanda pasitif jika vektarnya berarah meninggalkan patangan dan negatifjika vektarnya berarah menuju patangan. Jadi, semua torsi internal yang terlihat dalam Gambar 3-14b, c, dan d digambarkan dengan arah positifnya. Jika torsi yang dihitung (dari Persamaan a, b, atau c) ternyata mempunyai harga positif, maka ini berarti bahwa torsi bekeija pada arah yang diasumsikan; jika torsi mempunyai tanda negatif, maka ia bekerja dalam arah sebaliknya. Tegangan geser maksimum di setiap segmen batang dapat dihitung langsung dari rumus torsi (Persamaan 3-1 1 ) dengan menggunakan dimensi penainpang dan torsi internal. Sebagai contoh, tegangan maksimum di segmen BC (Gambar 3- 14) diperoleh dengan menggunakan diameter segmen tersebut dan torsi T8c yang dihitung dari Persamaan (b). Tegangan maksimum di keseluruhan batang adalah tegangan terbesar di antara tegangan-tegangan yang dihitung untuk ketiga segmen. Sudut puntir untuk setiap segmen diperoleh dari Persamaan (3- 15), sekali lagi dengan menggunakan dimensi dan torsi yang benar. Sudut puntir total di satu ujung batang terhadap ujung lainnya diperoleh dengan penjumlahan sebagai berikut (3-19) di mana ljJ1 adalah sudut puntir untuk segmen 1 , ljJ2 adalah sudut untuk segmen 2, dan sebagainya, dan n adalah banyak total segmen. Karena setiap sudut puntir diperoleh dari Persamaan (3-15), maka kita dapat menulis rumus umum
  • 195.
    1 82 Bab3 Torsi Gambar 3-15 Batang yang meng­ alami torsi tak seragam (Kasus 2) t �w �� ALx� l-dx IB 1- L I (a) (b) Gambar 3-16 Batang yang meng­ alami torsi tak seragam (Kasus 3) (3-20) di mana subskrip i adalah indeks penomoran untuk berbagai segmen. Untuk segmen i dari batang. Ti adalah torsi internal (yang diperoleh dari keseimbangan, seperti digambarkan dalam Gambar 3-14b, c, dan d), Li adalah panjangnya, dan Gi adalah modulus geser, dan !pi adalah momen inersia polar. Momen torsi (dan sudut puntir yang terkait) dapat mempunyai tanda positif dan dapat pula bertanda negatif. Dengan menjurnlahkan secara aljabar sudut-sudut puntir untuk semua segmen, kita dapatkan sudut puntir total 1/J antara ujung-ujung batang. Proses ini akan digambarkan dalam Contoh 3-4. Kasus 2. Batang dengan penampang yang berubah secara kantinu dan mengalami tarsi kanstan (Gambar 3-15). Apabila torsi adalah konstan, maka tegangan geser maksimum di batang solid selalu teljadi di penampang yang mempunyai diameter terkecil, seperti terlihat dalam Persamaan (3- 1 2). Selain itu, pengamatan ini biasanya berlaku untuk batang tabung. Dengan demikian, dengan menerapkan rumus torsi di penampang yang terkecil, kita dapat dengan cepat mencari tegangan maksimum di batang. Untuk mencari sudut puntir, kita tinjau elemen yang panjangnya dx padajarak x dari satu ujung batang (Gambar 3-15 ). Sudut rotasi diferensial dt/J untuk elemen ini adalah (d) di mana IpCx) adalah momen inersia polar penampang pada jarak x dari ujung. Sudut puntir untuk keseluruhan batang adalah jumlah dari sudut rotasi diferensial: (3-21) Jika rumus untuk momen inersia polar IpCx) tidak begitu rumit, maka integral ini dapat dihitung secara analitis (lihat Contoh 3-5); dalam kasus lain persamaan tersebut harus dipecahkan secara numerik. Kasus 3. Batang dengan penampang yang bervariasi secara kantinu dan mengalami tarsi yang bervariasi secara kantinu pula (Gambar 3-16). Batang yang ditunjukkan dalam bagian (a) gambar tersebut mengalami tarsi terdistribusi dengan intensitas t per jarak satuan di sepanjang sumbu batang. Karena itu, torsi internal T(x) bervariasi secara kontinu di sepanjang sumbu (Gambar 3-16b). Torsi internal dapat dievaluasi dengan bantuan diagram benda bebas dan suatu persamaan keseimbangan. Seperti pada kasus 2, momen inersia polar lpCx) dapat dihitung dari dimensi penampang batang. Sudut puntir untuk batang dalam Gambar 3-16a dapat diperoleh dengan cara yang sama dengan yang diuraikan dalam Kasus 2. Satu-satu­ nya perbedaan adalah bahwa torsi, seperti momen inersia polar, juga bervariasi di sepanjang sumbu. Akibatnya, persamaan untuk sudut puntir menjadi
  • 196.
    Mekanika Bahan 183 (3-22) Integral ini dapat dihitung secara analitis pada beberapa kasus, tetapi biasanya ini harus dihitung secara numerik. • Pembatasan Analisis yang diuraikan dalam subbab ini berlaku untuk batang yang terbuat dari bahan elastis linier dengan penampang lingkaran (baik yang solid maupun yang berlubang). Selain itu, tegangan yang ditentukan dari rumus torsi berlaku pada daerah batang yang jauh dari konsentrasi tegangan, yang merupakan tegangan lokal yang tinggi yang terjadi apabila diameter berubah secara drastis, dan apabila torsi terpusat diterapkan (lihat Subbab 3. 1 1). Namun, konsentrasi tegangan mempunyai sedikit pengaruh terhadap sudut puntir sehingga persamaan untuk cp biasanya berlaku. Akhimya, kita harus selalu mengingat bahwa rumus torsi dan rumus untuk sudut puntir diturunkan untuk batang prismatis. Kita dapat dengan aman menerapkannya pada batang yang mempunyai penampang yang bervariasi hanya jika perubahan diameter adalah kecil dan gradual. Sebagai patokan sederhana, rumus yang diberikan di sini adalah memadai apabila sudut antara sisi-sisi batang kurang dari 10°. • Contoh 3-4 Gambar 3-1 7 Contoh 3-4 (a) Gambar 3-1 8 Diagram benda bebas untuk Contoh 3-4 Sebuah batang baja solid ABCDE (Gambar 3-17) yang mempunyai diameter d = 30 mm berputar dengan bebas di ujung-ujung A dan E. Batang ini digerakkan dengan gigi di C, yang menerapkan tarsi T2 = 450 N.m dalam arah seperti terlihat dalam gambar tersebut. Gigi di B dan D digerakkan oleh batang tersebut dan mempunyai tarsi penahan masing-masing T1 = 275 N.m dan T3 = 1 75 N.m yang bekerja dalam arah yang berlawanan dengan tarsi T2. Segmen BC dan CD masing­ masing mempunyai panjang L1 = 500 mm dan L2 = 400 mm, dan modulus geser G = 80 GPa. Tentukan tegangan geser maksimum di setiap bagian batang dan sudut puntir antara gigi B dan D. Solusi Setiap segmen batang adalah prismatis dan mengalami tarsi konstan. (Kasus 1). Dengan demikian, langkah pertama dalam analisis adalah menentukan tarsi yang bekerja di setiap segmen, lalu mendapatkan tegangan geser dan sudut puntir. Tarsi yang beker ja di setiap segmen. Tarsi di segmen ujung (AB dan DE) adalah nol karena kita mengabaikan gesekan apapun. Dengan demikian, segmen ujung tidak mempunyai tegangan dan tidak mempunyai sudut puntir. Tarsi TcD di segmen CD diperoleh dengan membuat potongan yang melalui segmen dan membuat diagram benda bebas, seperti terlihat dalam Gambar 3-1 8a. Tarsi diasumsikan positif artinya vektomya berarah meninggalkan potongan. Dari keseimbangan diagram benda bebas kita peroleh TcD = T2 - T1 = 450 N·m - 275 N·m = 175 N·m Tanda positif pacta hasil ini berarti bahwa TcD bekerja sesuai dengan arah pasitif yang diasumsikan. Tarsi di segmen BC diperoleh dengan cara serupa, dengan menggunakan diagram benda bebas dalam Gambar 3-1 8b:
  • 197.
    ' 184 8ab 3Torsi TBe = -T1 = -275 N·m Perhatikan bahwa torsi mempunyai tanda negatif, yang berarti bahwa arahnya berlawanan dengan arah yang ditunjukkan dalam gambar. Tegangan geser. Tegangan geser maksimum di segmen BC dan CD diperoleh dari bentuk rumus torsi yang dimodifikasi (Persamaan 3-12); jadi, 16TBe "Be = - - 3- 1ril 16TeD rev = - - 3 - 1ril 16(275 N·m) = 5 1,9 MPa n(30 mm)3 16(175 N·m) = 33,0 MPa n(30 mm)3 .. .. Karena arah tegangan geser tidak menarik untuk diketahui pada contoh ini, maka kita hanya memperhatikan harga mutlak dari torsi dalam perhitungan berikut ini. Sudutpuntir. Sudut puntir 1/JBD antara gigi B dan D adalahjumlah aljabar dari sudut puntir untuk segmen-segmen batang, sebagaimana dinyatakan dalam Persamaan (3-19); jadi, 1/JBD = 1/JBe + 1/Jev Dalam menghitung sudut puntir individual, kita membutuhkan momen inersia penampang: I = 1ril4 = n(30 mm)4 = 79,520 mm4 p 32 32 Sekarang kita dapat menentukan sudut puntir, sebagai berikut: 1/JBc = TBcL1 = (-275 N·m)(500 mm) = _0,0216 rad GIP (80 GPa)(79.520 mm4) 1/Jcv = TcvL2 = (175 N·m)(500 mm) = 0 01 10 rad GIP (80 GPa)(79.520 mm4) ' Perhatikan bahwa da1am contoh ini sudut puntir mempunyai arah yang berlawanan. Dengan menjumlahkan secara aljabar, kita dapatkan sudut puntir total: .. 1/JBD = 1/JBe + 1/Jev = -0,0216 + 0,01 10 = -0,0106 rad = -0,61° • Tanda negatif berarti bahwa gigi D berputar searah jarum jam (apabila dipandang dari ujung kanan batang) terhadap gigi B. Namun, untuk tujuan tertentu biasanya hanya harga mutlak sudutpuntir yang dibutuhkan sehingga kita dapat mengatakan bahwa sudut puntir antara B dan D adalah 0,61°. Sudut puntir antara kedua ujung batang ini kadang-kadang disebut wind-up. Catatan: Prosedur yang digambarkan dalam contoh ini dapat digunakan untuk batang yang mempunyai segmen-segmen dengan diameter yang berbeda-beda atau bahan yang berbeda-beda, asalkan dimensi dan besarannya tetap konstan di da1am segmen. Hanya efek torsi yang ditinjau dalam contoh ini dan di dalam soal-soal di akhir bab ini. Efek lentur ditinjau nanti, mulai dari Bab 4. • Contoh 3-5 Sebuah batang AB yang meruncing (nonprismatis) dengan penampang lingkaran solid dipuntir oleh torsi T yang bekerja di ujung-ujungnya (Gambar 3-19). Diam­ eter batang bervariasi secara linier dari dA di ujung kiri hingga dB di ujung kanan. (a) Tentukan tegangan geser maksimum di batang. (b) Turunkan rumus untuk sudut puntir batang. (Asumsikan bahwa dB ;::: dA.)
  • 198.
    Mekanika Bahan 185 B Solusi Gambar 3-19 Contoh 3-5. Batang nonprismatis yang mengalami torsi (a) Tegangan geser. Karena tegangan geser maksimum di setiap penampang dinyatakan dengan rumus torsi yang dimodiflkasi (Persamaan 3-12), kita mengetahui segera bahwa tegangan geser maksimum di batang terjadi pada penampang yang mempunyai diameter terkecil, yaitu di ujung A (lihat Gambar 3-19): 'fmaks l6T Jrd� • (b) Sudut puntir. Karena torsi adalah konstan dan momen inersia polar bervariasi secara kontinu terhadap jarak x dari ujung A (Kasus 2), kita akan menggunakan Persamaan (3-21 ) untuk menentukan sudut puntir. Kita mulai dengan menulis rumus untuk diameter d pada jarak x dari ujung A: d - d d = dA + B A X L (3-23) di mana L adalah panjang batang. Kita sekarang dapat menulis rumus untuk momen inersia polar: I (x) = Jrd = ..!!..._ dA + 8 A r I 4 ( d - d � P 32 32 L . ) (3-24) Dengan memasukkan rumus ini ke dalam Persamaan (3-21), kita dapatkan rumus untuk sudut puntir: iL Tdx 32T iL dx 0 GIP(x) = nG 0 - ( -- d -= 8 :..:.. - - dA ---:- )7 4 dA + ---"--L�"-x (3-25) Untuk mengevaluasi integral dalam persamaan ini, kitaperhatikan bahwa bentuknya adalah f dx (a + bx) 4 di mana (e,f) Dengan bantuan tabel integral (lihat Lampiran C), kita dapatkan f(a +�x)4 = 3b(a + bx) 3 Integral ini dievaluasi pada contoh ini dengan memasukkan x batas-batas 0 dan L dan memasukkan a dan b yang ada dalam persamaan (e) dan (f). Jadi, integral Persamaan (3-25) sama dengan (g) Dengan mengganti integral di dalam Persamaan (3-25) dengan rumus ini, kita dapatkan (3-26) • yang merupakan rumus sudut puntir pacta batang nonprismatis yang meruncing. Bentuk persamaan yang lebih mudah adalah (3-27) di mana
  • 199.
    ' 1 86 Bab3 Tarsi Gambar 3-20 Tegangan yang bekerja pada elemen yang dipotong dari batang yang mengalami torsi (geser murni) nd4 I - A pA - TI (3-28) Besaran f3 adalah rasio diameter kedua ujung dan lpA adalah momen inersia polar di ujung A. Dalam kasus khusus penampang prismatis, kita mempunyai f3 = 1 dan Persamaan (3-27) menghasilkan if> = TUGJpA sebagaimana diharapkan. Untuk harga f3 yang lebih besar daripada I , sudut rotasi berkurang karena diameter terbesar di ujung B menghasilkan peningkatan kekakuan torsional (dibandingkan dengan batang prismatis 1. TEGANGAN DAN REGANGAN PADA GESER MURNI Apabila suatu batang lingkaran, baik yang solid maupun yang berlubang, mengalami torsi, maka tegangan geser akan terjadi di bidang-bidang penampang dan longitudinal, sebagaimana diterangkan dalam Subbab 3.3. Sekarang kita tinjau secara rinci tegangan dan regangan yang dihasilkan selama puntir suatu batang. Kita mulai dengan elemen tegangan abed yang dipotong antara dua penampang dan antara dua bidang longitudinal (Gambar 3-20a dan b). Elemen ini berada dalam geser murni (pure shear) karena tegangan yang bekerja padanya hanyalah tegangan geser di keempat muka (lihat pembahasan geser mumi di Subbab 1.6). (a) (b) Arah tegangan geser bergantung pada arah torsi T yang bekerja. Dalam pembahasan ini, kita asumsikan bahwa torsi akan memutarkan ujung kanan batang searah jarum jam apabila dilihat dari kanan (Gambar 3-20a) sehingga tegangan geser yang bekerja pada elemen mempunyai arah seperti terlihat dalam gambar tersebut. Keadaan tegangan seperti ini terjadi pada elemen yang dipotong dari interior batang, kecuali bahwa besar tegangan geser lebih kecil karena jarak radial ke elemen lebih kecil. Seperti yang akan kita lihat pada paragraf berikut, arah torsi dipilih sedemikian hingga tegangan gesemya adalah positif. • Tegangan pada Potongan Miring Gambar dua dimensi elemen tegangan yang mengalami geser mumi terlihat dalam Gambar 3-21a. Sebagaimana diterangkan dalam Subbab 2.6, kita biasanya menggambar hanya tinjauan dua dimensi elemen tegangan tetapi kita harus selalu ingat bahwa elemen ini mempunyai dimensi ketiga (ketebalan) dalam arah tegak lurus bidang gambar. Dalam gambar dua dimensi, sumbu .xy mempunyai orientasi sejajar sisi-sisi elemen, dengan
  • 200.
    .. Gambar 3-21 Analisistegangan pada bidang miring: (a) elemen yang mengalami geser murni, (b) tegangan yang bekerja pada elemen tegangan segitiga, dan (c) gaya­ gaya yang bekerja pada elemen tegangan segitiga (diagram benda bebas) Mekanika Bahan 1 87 sumbu x sejajar dengan sumbu longitudinal batang. Dengan demikian, semua tegangan yang terlihat dalam Gambar 3-2la adalah tegangan positif menurut peijanjian tanda untuk tegangan geser, yang telah diterangkan dalam Subbab 1 .6 dan diulang di sini. Tegangan geser yang bekerja pada muka positif suatu elemen adalah positif jika bekeija dalam arah positif dari satu sumbu koordinat dan negatifjika bekeija dalam arah negatif dari suatu sumbu. Sebaliknya, tegangan geser yang bekeija pada muka negatif dari suatu elemen adalah positifjika bekeija dalam arah negatif dari satu sumbu koordinat dan negatif jika bekeija dalam arah positif suatu sumbu. 't 't (a) (b) 1A0 tan 6 (b) Kita sekarang membuat potongan dari elemen tegangan bidang (Gambar 3-2la) sedemikian hingga kita dapatkan elemen tegangan berbentuk segitiga yang satu mukanya berorientasi sudut () terhadap sumbu x (Gambar 3-21b). Tegangan normal cr8 dan tegangan geser r8 bekerja pada bidang miring ini dan ditunjukkan dalam arah positif di dalam gambar tersebut. (lngat dari pembahasan tentang elemen tegangan dalam Subbab 2.6 bahwa tegangan normal cr8adalah positifjika berupa tarik dan tegangan geser r8 adalah positif jika menghasilkan rotasi bahan dalam arah berlawanan jarum jam.) Muka horizontal dan vertikal elemen dalam Gambar 3-2lb mempunyai tegangan geser r yang bekerja padanya, dan muka depan dan belakang tidak mengalami tegangan. Tegangan yang bekeija pada muka miring dapat ditentukan dari ke­ seimbangan elemen segitiga. Gaya-gaya yang bekeija pada ketiga muka samping dapat diperoleh dengan mengalikan tegangan dengan luas di mana tegangan tersebut bekerja. Sebagai contoh, gaya di muka kiri sama dengan rA0 di mana A0 adalah luas muka samping vertikal. Gaya ini bekerja dalam arah y negatif dan ditunjukkan dalam diagram benda bebas dalam Gambar 3-21c. Karena tebal elemen dalam arah z konstan, kita lihat bahwa luas muka bawah adalah A0 tan () dan luas muka miring adalahA0 sec 8. Dengan mengalikan tegangan dengan luas di mana tegang­ an tersebut bekerja, maka akan diperoleh gaya di setiap muka elemen (Gambar 3-2lc). Kita sekarang dapat menuliskan dua persamaan keseimbangan untuk elemen, satu dalam arah cr8 dan satu lagi dalam arah r(J' Dalam menuliskan kedua persamaantersebut, gaya-gaya yang bekeija di muka kiri dan bawah harus diuraikan ke dalam komponen dalam arah cr8dan r(J' Jadi, persamaan pertama, yang diperoleh dengan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah cr8 adalah atau cr8A0 sec () = rA0 sin () + rA0 tan () cos () cr8 = 2r sin () cos () (3-29a)
  • 201.
    1 88 Bab3 Tarsi Gambar 3-22 Grafik tegangan normal CJ8 dan tegangan geser r8 versus sudut bidang miring (} Gambar 3-23 Elemen tegangan yang berorientasi sudut e = 0 dan e = 45° untuk geser mumi Persamaan kectua ctiperoleh ctengan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah re: atau reAo sec 8 = rA0 cos 8 - rA0 tan 8 sin 8 re = r(cos2 8 - sin2 8) (329b) Kedua persamaan m1 dapat ditulis dalam bentuk yang lebih secterhana dengan menggunakan rumus trigonometri (lihat Lampiran C): sin 28 = 2 sin 8 cos 8 cos 28 = cos2 8 - sin2 8 Dengan demikian. persamaan untuk CJe dan re menjadi (3-30a,b) Persamaan (3-30a dan b) memberikan tegangan normal dan geser yang bekerja pada sembarang bidang miring yang dinyatakan dalam tegangan geser T yang bekerja pacta bidang X dan y (Gambar 3-2 la) ctan sudut 8 yang mendefinisikan orientasi bidang miring (Gambar 3-2lb). Bagaimana tegangan CJe dan re. berubah terhadap orientasi bidang miring ditunjukkan dalam grafik pada Gambar 3-22, yang merupakan plot Persamaan (3-30a dan b). Kita lihat bahwa untuk 8 = 0, yang merupakan muka kanan dari elemen tegangan dalam Gambar 3-21 a, grafik tersebut menghasilkan CJe = 0 dan re· = r, sebagaimana diharapkan. Untuk muka atas elemen (8 = 90°), kita ctapatkan CJe = 0 dan re = -r. Tanda minus untuk tegangan geser berarti bahwa tegangan tersebut bekerja dalam arah re negatif, artinya tegangan tersebut bekerja ke kanan dari muka ab (Gambar 3-2la). Perhatikan bahwa tegangan geser yang terbesar secara numerik terjacti pada bictang-bictang ini. Dari grafik terlihat bahwa tegangan normal CJe mencapai harga maksimum pacta 8 = 45°. Pada suctut tersebut, tegangan actalah positif (tarik) dan sama secara numerik dengan tegangan geser r. Juga, CJe mem­ punyai harga minimum (yang merupakan tekan) pacta 8 = -45°. Pada kedua sudut 45° ini, tegangan geser r8 sama dengan nol. Jadi, pada suatu elemen tegangan yang berorientasi 45° (Gambar 3-23b) bekerja tegangan tarik dan tekan yang sama dan saling tegak lurus, dan tidak acta tegangan geser. Perhatikan bahwa tegangan normal yang terlihat dalam Gambar 3- 23b berkaitan ctengan elemen yang mengalami geser murni yang ctiakibatkan oleh tegangan geser yang bekerja dalam arah seperti terlihat ctalam Gambar 3-23a. Jika tegangan geser yang bekerja pacta elemen ctalam Gambar 3-23a mempunyai arah sebaliknya, maka tegangan normal yang bekerja pacta bidang 45° juga akan berubah arah. T r (a) (b)
  • 202.
    Gambar 3-24 Kegagalantorsi pada bahan getas di mana tarik me­ nyebabkan retak di sepanjang permukaan spiral 45° Mekanika Bahan 1 89 Jika suatu elemen tegangan mempunyai sudut orientasi bukan 45°, maka tegangan normal dan tegangan geser akan ada di muka miring tersebut (lihat Persamaan 3-30). Elemen tegangan yang mengalami kondisi yang lebih umum ini dibahas secara rinci dalam Bab 7. Persamaan-persamaan yang diturunkan dalam subbab ini berlaku untuk elemen tegangan pada kasus geser murni, apakah elemen tersebut merupakan potongan dari suatu batang yang mengalami torsi atau dari elemen struktural lainnya. Juga, karena Persamaan (3-30) diturunkan hanya dari keseimbangan, maka persamaan tersebut berlaku untuk sembarang bahan, apakah elastis linier maupun bukan. Adanya tegangan tarikmaksimum pada bidang yang membentuk sudut 45° dengan sumbu x (Gambar 3-23b) menjelaskan mengapa batang yang mengalami torsi yang terbuat dari bahan yang getas dan lemah terhadap tarik akan gaga! dengan retak di sepanjang permukaan spiral 45° (Gambar 3-24). Sebagaimana disebutkan dalam Subbab 3.3. jenis kegagalan seperti ini dapat dengan mudah ditunjukkan dengan memuntir sepotong kapur yang ada di dalam kelas. • Regangan pada Geser Murni Gambar 3-25 Regangan pada geser mumi: (a) distorsi geser suatu elemen yang berorientasi e = 0, dan (b) distorsi suatu elemen yang berorientasi e = 45° Sekarang kita tinjau regangan yang ada pada elemen yang mengalami geser mumi. Sebagai contoh, tinjaulah elemen yang mengalami geser mumi yang terlihat dalam Gambar 3-23a. Regangan gesemya ditunjukkan dalam Gambar 3-25a, di mana deformasi digambarkan dengan sangat diperbesar. Regangan geser y adalah perubahan sudut antara dua garis yang semula saling tegak lurus, sebagaimana telah dibahas dalam Subbab 1.6. Jadi, berkurangnya sudut di pojok kiri bawah elemen adalah regangan geser y(diukur dalam radian), Perubahan yang sama juga terjadi di pojok kanan atas, di mana sudut berkurang, dan di kedua pojok lain, di mana sudutnya bertambah. Namun, panjang sisi-sisi elemen, termasuk ketebalan tegak lurus bidang kertas, tidak berubah pada saat deformasi geser ini terjadi. Dengan demikian, elemen berubah bentuk dari persegi panjang T (a) (b)
  • 203.
    1 90 Bab3 Torsi (Gambar 3-23a) menjadijajaran genjang (Gambar 3-25a). Perubahan bentuk ini disebut distorsi geser. Jika bahan bersifat elastis linier, maka regangan geser untuk elemen yang berorientasi () = 0 (Gambar 3-25a) berkaitan dengan regangan geser menurut hukum Hooke pada masalah geser: (3-31 ) di mana, seperti biasa, simbol G menunjukkan modulus geser elastisitas. Selanjutnya, tinjau regangan yang teijadi di elemen yang berorientasi () = 45° (Gambar 3-25b). Tegangan tarik yang bekeija pada sudut 45° cenderung memperpanjang elemen dalam arah tersebut. Karena adanya efek Poisson, maka tegangan tersebut cenderung memperpendek ukuran dalam arah yang tegak lurus (arah di mana () = 135° atau --45°). Serupa dengan itu, tegangan tekan yang bekerja pada 135° cenderung untuk mem­ perpendek elemen dalam arah tersebut dan memperpanjang dalam arah 45°. Perubahan dimensional ini terlihat dalam Gambar 3-25b, di mana garis putus menunjukkan elemen semula. Karena tidak ada distorsi geser, maka elemen tetap berbentuk persegi panjang meskipun dimensinya telah berubah. Jika suatu bahan bersifat elastis linier dan mengikuti hukum Hooke, maka kita dapat memperoleh persamaan yang menghubungkan regangan dengan tegangan untuk elemen pada () = 45° (Gambar 3-25b). Tegangan tarik O'maks yang bekerja pada () = 45° menimbulkan regangan normal positif dalam arah tersebut yang sama dengan O'maks/E. Karena O'maks = -r, maka kita juga dapat menyatakan regangan ini sebagai -r/£. Tegangan O'maks juga menimbulkan regangan negatif dalam arah tegak lurus, yang sama dengan -v-r!E, di mana v adalah rasio Poisson. Serupa dengan itu, tegangan O'min = --r (pada () = 135°) menimbulkan regangan negatif yang sama dengan --r/E dalam arah tersebut dan regangan positif dalam arah tegak lurus (arah 45°) yang sama dengan v-r!E. Dengan dernikian, regangan normal dalam arah 45° adalah 'r V'r 'r Cmaks = E + E = E(l + v) (3-32) yang bertanda positif (berarti perpanjangan). Regangan dalam arah tegak lurus adalah regangan negatif yang besarnya sama. Dengan perkataan lain, geser mumi menimbulkan perpanjangan dalam arah 45° dan per­ pendekan dalam arah 1 35°. Regangan ini konsisten dengan bentuk elemen yang berdeformasi dalam Gambar 3-25a karena diagonal 45° telah memanjang dan diagonal 135° telah memendek. Di dalam subbab berikut kita akan menggunakan geometri elemen yang telah berdeformasi untuk menghubungkan regangan geser y(Gambar 3-25a) dengan regangan normal emaks dalam arah 45° (Gambar 3-25b). Dari geometri tersebut kita akan mendapatkan hubungan sebagai berikut (3-33) Persamaan ini, bersama dengan Persamaan (3-31), dapat digunakan untuk menghitung regangan geser maksimum dan regangan normal maksimum dalam torsi mumi apabila tegangan geser -r diketahui.
  • 204.
    Mekanika Bahan 191 • Contoh 3.6 Gambar 3-26 Contoh 3-4. Tabung lingkaran yang mengalami torsi Gambar 3-27 Elemen tegangan dan regangan untuk tabung dalam Contoh 3-6 Sebuah tabung lingkaran yang mempunyai diameter luar 80 mm dan diameter dalam 60 mm mengalami torsi T = 4.0 k.. "-'.m (Gambar 3-26). Tabung ini terbuat dari bahan paduan aluminium 7075-T6. (a) Tentukan tegangan geser, tekan, dan tarik maksimum di tabung tersebut dan tunjukkan tegangan-tegangan tersebut pada sketsa elemen tegangan dengan orientasi yang benar. (b) Tentukan regangan maksimum di tabung tersebut. Solusi (a) Tegangan maksimum. Harga-harga maksimum dari ketiga tegangan (tarik, tekan, dan geser) secara numerik adalah sama namun ketiganya bekerja pada bidang yang berbeda. Besamya dapat dihitung dari rumus torsi: = Tr = (4000 N·m)(0.040 m 1 = � 8 2 MP rmaks - . a · 1P �[co,080 m)4 - (0,060 m i" ] Tegangan geser maksimum bekerja di bidang potongan melintang dan longitudi­ nal, seperti terlihat pada elemen tegangan dalam Gambar 3-27a, di mana sumbu x adalah sejajar dengan sumbu longitudinal batang tabung. Tegangan tarik dan tekan maksimum adalah a1 = 58,2 MPa ac = -58,2 MPa Tegangan-tegangan ini terjadi pada bidang yang membentuk sudut 45° dengan sumbu x (Gambar 3-27b). (b) Regangan maksimum. Regangan geser maksimum di dalam tabung dapat diperoleh dari Persamaan (3-31 ). Modulus geser elastisitas yang diperoleh dari Tabel H-2, Lampiran H, adalah G = 27 GPa. Dengan demikian, regangan geser maksimum adalah = rmaks = 58,2 MPa = O 0022 Ymaks G 27 GPa ' Regangan ini mempunyai arah seperti terlihat dalam Gambar 3-27c. !r = maks 58,2 MPa (a) (b) (c) (d)
  • 205.
    1 92 Bab3 Torsi Besar regangan normal maksimum (dari Persamaan 3-33) adalah £ = Ymaks = 0 001 1 maks 2 ' Jadi, regangan tarik dan tekan maksimum adalah £1 = 0,001 1 ec = -0,00 1 1 Regangan-regangan ini digambarkan dalam Gambar 3-27d untuk elemen dengan sisi-sisi satu satuan. -��3'1116 1 HUBUNGAN ANTARA MODULUS ELASTISITAS E DAN G Gambar 3-28 Geometri elemen yang berdeformasi akibat geser mumi Hubungan penting antara E dan G dapat diperoleh dari persamaan­ persamaan yang telah diturunkan dalam subbab sebelum ini. Untuk itu, tinjaulah elemen tegangan abed yang terlihat dalam Gambar 3-28a. Muka depan dari elemen ini diasumsikan sebagai bujur sangkar dengan panjang setiap sisi ditulis sebagai h. Apabila elemen ini mengalami geser mumi dengan tegangan r, muka depan berdistorsi menjadi jajaran genjang (Gambar 3-28b) dengan sisi-sisi yang panjangnya h dan dengan regangan geser y = riG. Karena distorsi ini maka diagonal bd memanjang dan diagonal ac memendek. Panjang diagonal bd sama dengan panjang semula .f2h dikalikan faktor 1 + emaks' di mana emaks adalah regangan normal dalam arah 45°; jadi, (a) Panjang ini dapat dihubungkan dengan regangan geser ydengan meninjau geometri elemen yang telah berdeformasi (Gambar 3-28b). r � rj d � r (a) (b) b 'r b !!_ _ I_ 4 2 d !maks = Ktmaks (c) Untuk mendapatkan hubungan geometris, tinjau segitiga abd (Gambar 3-28c) yang menyatakan setengah dari jajaran genjang yang ditunjukkan dalam Gambar 3-28b. Sisi bd dari segitiga mempunyai panjang Lbd (Persamaan a), dan sisi lainnya mempunyai panjang h. Sudut adb dari segitiga ini sama dengan setengah sudut adc dari jajaran genjang, atau n/4 - y/2. Sudut abd pacta segitiga sama. Jadi, sudut dab pacta segitiga sama dengan n/2 + y. Sekarang dengan menggunakan rumus cosinus (lihat Lampiran C) untuk segitiga abd kita dapatkan L!d = h2 + h2 - 2h2 eo{% + y) Dengan memasukkan Lbd dari Persamaan (a) dan menyederhanakannya kita dapatkan
  • 206.
    Mekanika Bahan 193 (1+ emaks)2 = 1 - cos (� + r) Dengan menyederhanakan suku di sebelah kiri, dan juga memperhatikan bahwa cos (7r/2 + n = -sin y, kita dapatkan 1 + 2t:maks + e�aks = 1 + sin r Karena emaks dan y merupakan regangan yang sangat kecil, maka kita dapat mengabaikan e2maks dibandingkan dengan 2 emaks dan kita dapat menggantikan sin y dengan y: Rumus yang dihasilkan adalah y emaks = 2 (3-34) yang menunjukkan hubungan yang telah disebutkan dalam Subbab 3.5 dalam Persamaan (3-33). Regangan geser yyang terlihat dalam Persamaan (3-34) sama dengan riG dengan hukum Hooke (Persamaan 3-31 ) dan regangan normal t:maks sama dengan 'l(1 + v)IE dengan Persamaan (3-32). Dengan memasukkan keduanya ke dalam Persamaan (3-34) kita peroleh (3-35) Kita lihat bahwa E, G, dan v bukan merupakan besaran yang independen pada bahan elastis linier. Jika dua di antaranya diketahui, maka yang ketiga dapat dihitung dari Persamaan (3-35). Harga khas untuk E, G, dan v dicantumkan dalam Tabel H-2, Lampiran H.* PENYALURAN DAYA OLEH BATANG LINGKARAN Penggunaan batang (poros) lingkaran yang paling penting adalah untuk menyalurkan daya mekanis dari satu alat atau mesin ke lainnya, seperti pada batang penggerak pacta suatu mobil, batang propeller pada suatu kapal laut, atau as sepeda. Daya disalurkan melalui gerakan berputar pacta batang, dan besar daya yang disalurkan bergantung pacta besar torsi dan laju rotasi. Masalah desain yang umum adalah menentukan ukuran yang dibutuhkan untuk batang sedemikian rupa sehingga batang tersebut dapat menyalurkan besar daya yang ditetapkan pacta laju rotasional yang ditentukan tanpa melebihi tegangan izin bahan. Bayangkan bahwa batang yang digerakkan motor (Gambar 3-29) berputar pada laju sudut w, yang diukur dalam radian per detik (rad/s). Batang tersebut menyalurkan torsi T ke mesin (tidak ditunjukkan dalam gambar) yang akan melakukan kerja. (Torsi yang terlihat dalam gambar adalah torsi yang dikenakan pada batang oleh mesin.) Pada umumnya, kerja W yang dilakukan oleh torsi yang besarnya konstan adalah sama dengan basil kali torsi dan sudut rotasi yang dilaluinya, yaitu (3-36) di mana '¥ adalah sudut rotasi yang dinyatakan dalam radian. *Persamaan (3-35) diturunkan pertamakali olehPoisson dengan menggunakanharga 1/4 untuk v, lihatRef. 3-3.
  • 207.
    r 1 94 Bat!3 Torsi Gambar 3-29 Batang yang :::oenyalurkan torsi konstan T pada !aju sudut ro Daya adalah laju perubahan kerja, atau p = dW = T dlJI dt dt (3-37) di mana P adalah simbol untuk daya dan t menunjukkan waktu. Laju perubahan d'f' !dt dari peralihan sudut lJI adalah laju sudut w, sehingga persamaan sebelum ini menjadi P = Tw (w = rad/s) (3-38) Rumus ini, yang dikenal pada fisika dasar, memberikan daya yang disalurkan dengan memutarkan sebuah batang dengan torsi konstan T. Satuan yang digunakan dalam Persamaan (3-38) adalah sebagai berikut. Jika torsi T dinyatakan dalamnewton meter, maka daya dinyatakan dalam watt (W). Satu watt sama dengan satu newton meter per detik (atau satu joule per detik). Jika T dinyatakan dalam pound feet, maka daya dinyatakan dalam feet-pound per detik.* Laju sudut sering dinyatakan dalam frekuensi f dari suatu rotasi, yang menunjukkan banyak putaran per satuan waktu. Satuan frekuensi adalah hertz (Hz), yang sama dengan satu putaran per detik (detik-1). Karena satu putaran berarti 2n rad, maka kita dapatkan w = 2nf (w = rad/s, f = Hz = s-') (3-39) Dengan demikian, rumus untuk daya (Persamaan 3-38) menjadi P = 2n fT (f = Hz = s-1) (3-40) Satuan lain yang umum digunakan adalah banyak putaran per menit (rpm), yang diberi notasi n. Dengan demikian, kita juga mempunyai hubungan sebagai berikut: dan n = 60f p = 2nnT 60 (n = rpm) (3-41) (3-42) Dalam Persamaan (3-40) dan (3-42), besaran P dan T mempunyai satuan yang sama dengan yang ada di dalam Persamaan (3-38); artinya, P mempunyai satuan watt jika T mempunyai satuan newton meter dan P mempunyai satuan lb/detik jika T mempunyai satuan pound-feet. Dalam praktek di AS, daya sering dinyatakan dalam tenaga kuda (hp), suatu satuan yang sama dengan 550 ft-lb/s. Dengan demikian, tenaga kuda H yang disalurkan oleh batang yang berputar adalah *Lihat Tabel A-I, Lampiran A tentang satuan kerja dan daya.
  • 208.
    Gambar 3-30 Contoh3-7 Mekanika Bahan 1 95 H = 2nnT 60(550) 2nnT 33.000 (n = rpm, T = lb-ft, H = hp) (3-43) Satu tenaga kuda sama dengan sekitar 746 watt. Persamaan di atas menghubungkan antara torsi yang beketja pada batang dan daya yang disalurkan oleh batang. Apabila torsi diketahui, maka kita dapat menentukan tegangan geser, regangan geser, sudut puntir, dan besaran lain yang dikehendaki dengan metode yang diuraikan dalam Subbab 3.2 sampai 3.5. Contoh berikut ini menggambarkan beberapa prosedur untuk menganalisis batang yang berputar. • Contoh 3-7 Sebuah motor yang menggerakkan batang baja lingkaran solid menyalurkan 40 hp ke gigi di B (Gambar 3-30). Tegangan geser izin untuk baja adalah 6000 psi. (a) Berapa diameter d yang diperlukan untuk batang tersebut jika akan dioperasikan pada 500 rpm? (b) Berapa diameter d yang diperlukan jika batang tersebut dioperasikan pada 4000 rpm? Solusi (a) Motor yang beroperasipada 500 rpm. Dengan diketahuinya tenaga kuda dan laju rotasi, kita dapatmencari Tyang bekerja padabatang dengan menggunakan Persamaan (3-43). Dengan memecahkan persamaan tersebut untuk mencari T, maka T = 3 0��H = �����64��; = 420,2 lb-ft = 5042 !b-in. Torsi ini disalurkan oleh batang dari motor ke gigi. Tegangan geser maksimum di batang dapat diperoleh dari rumus torsi yang dimodifikasi (Persamaan 3-12): Dengan memecahkan persamaan tersebut untuk mencari diameter d, dan juga memasukkan rizin untuk rmaks• kita dapatkan sehingga d3 = 16T = 16(5042 !b-in.) = 4,280 in.3 nrizin 7r(6000 psi) d = 1,62 in. • Diameter batang hams sedikitnya sebesar ini agar tegangan geser izin tidak dilampaui. (b) Motor yang beroperasi pada 4000 rpm. Dengan mengikuti prosedur yang sama dengan di bagian (a) kita dapatkan
  • 209.
    196 Ba!J 3Torsi Motor Gambar 3-31 Contoh 3-8 T = 33.000H = 33.000(40 hp) = 52 52 lb-f = 6::0 3 lb-· 27rn 27r(4000 rpm) ' t - ' m. cf = 1 6T 16(630,3 !b-in.) 3 7r(6000 psi) = 0,5350 in. d = 0,81 in. yang besamya setengah dari diameter yang didapatkan pacta bagian (a). .. Contoh ini menunjukkan bahwa semakin besar laju rotasi, akan semakin kecil ukuran batang yang diperlukan (untuk daya yang sama dan tegangan izin yang sama). • Contoh 3-8 Batang baja solid ABC yang diameternya 50 mm (Gambar 3-3 1 a) digerakkan di A oleh motor yang menyalurkan 50 kW ke batang pacta 1 0 Hz. Gigi di B dan C menggerakkan mesin yang membutuhkan daya sebesar masing-masing 35 kW dan 1 5 kW. Bandingkan tegangan geser maksimum rmaks di batang dan sudut puntir cf!Ac antara motor di A dan gigi di C. (Gunakan G = 80 GPa.) J .o m -r l- 1 .2 m l TA = 796 N·m TB = 557 N·m Tc = 239 N·m c Solusi Tarsi yang beker ja pada batang. Kita mulai analisis dengan menentukan torsi yang diterapkan pactabatang oleh motor dan kedua gigi. Karena motor memberikan 50 kW pacta 10 Hz, maka akan terjadi torsi TA di ujung A dari batang (Gambar 3-31 b) yang dapat kita hitung dengan Persamaan (3-40). T p 50 kW - 796 N A = 27rf = 27r(IO Hz) - ·m Dengan cara sama, kita dapat menghitung torsi TB dan Tc yang diterapkan oleh gigi ke batang: p 27rf T - ___!_ c - 27rf 35 kW = 557 N·m 27r(10 Hz) 1 5 kW - 239 N 27r(IO Hz) - ·m Torsi ini ditunjukkan dalam diagram benda bebas batang (Gambar 3-3 1 b). Perhatikan bahwa torsi yang diterapkan oleh gigi adalah berlawanan arah dengan torsi yang diterapkan oleh motor. (Jika kita berpikir bahwa TA sebagai "beban" yang diterapkan ke batang oleh motor, maka torsi TB dan Tc adalah "reaksi" gigi.) Torsi internal di kedua segmen batang diperoleh dengan menggunakan dia­ gram benda bebas dalam Gambar 3-31 b: TAB = 796 N·m TBc = 239 N·m Kedua torsi internal ini bekerja dengan arah yang sama sehingga sudut puntir di segmen AB dan BC saling menjumlahkan dalam mencari sudut puntir total.
  • 210.
    Mekanika Bahan 197 (Jelasnya, kedua torsi adalah positif menurut perjanjian tanda yang diuraikan dalam Subbab 3.4.) Tegangan geser dan sudutpuntir. Tegangan geser dan sudut puntir di segmen AB dari batang diperoleh dengan cara biasa dari Persamaan (3- 12) dan (3-1 5): TAB = I 6TAB = 1 6(796 N·n;) = 32,4 MPa 1rd3 7r(SO mm( = T ABLAB = (796 N·m)( 1 .0 m) 1/JAB GI ( 7r ' - 4 P (SO GPa) 32 /)Q mm) Besaran tersebut untuk segmen BC adalah r = 16T Bc = 1 6(239 N·m) = 9 7 MPa BC 1rd3 7r(50 mm)3 ' = 0,01 62 rad 1/J - TBcLBc - _ _, (=- 23 '-" 9 -' N 7-"' ·m ::.c ) � ( l '-" ,2 ::....::.:c m"- ) - = 0.0058 rad BC - GIP - (80 GPa>(;)csomm)4 Jadi, tegangan geser maksimum di batang terjadi di segmen AB dan sama dengan rmaks = 32,4 MPa • Juga, sudut puntir total antara motor di A dan gigi di C adalah 1/JAc = 1/JAB + 1/JBc = 0,01 62 rad + 0,0058 rad = 0,0220 rad = 1 ,26° • Sebagaimana telah diterangkan, baik gigi maupun batang berputar pada arah yang sama sehingga sudut puntir saling memperbesar. ELEMEN STRUKTUR TORSIONAL STATIS TAK TENTU Batang yang dibahas pada subbab-subbab sebelumnya dalam bab ini adalah statis tertentu karena semua torsi internal dan semua reaksi dapat diperoleh dari diagram benda bebas dan persamaan keseimbangan. Jika kekangan lain, seperti tumpuan jepit, ditambahkan ke batang, maka persamaan ke­ seimbangan tidak lagi memadai untuk menentukan torsi. Batang demikian disebut statis tak tentu. Elemen torsional seperti ini dapat dianalisis dengan menggunakan persamaan keseimbangan yang dilengkapi dengan persamaan keserasian yang berkaitan dengan peralihan rotasional. Jadi, metode umum untuk menganalisis elemen torsional statis tak tentu sama dengan yang diuraikan dalam Subbab 2-4 untuk batang statis tak tentu dengan beban aksial. Langkah pertama adalah menuliskan persamaan keseimbangan (equations o f equilibrium) dengan menggunakan diagram benda bebas yang diperoleh dari situasi fisik yang diketahui. Besaran anu di dalam persamaan keseimbangan adalah torsi, apakahtorsi internal atau torsi reaksi. Langkah kedua di dalam analisis adalah memformulasikan persamaan keserasian (equations compatibility) yang didasarkan atas kondisi fisik yang berkaitan dengan sudut puntir. Dengan demikian, persamaan keserasian mengandung sudut puntir sebagai anu. Langkah ketiga adalah menghubungkan sudut puntirdengan torsi dengan menggunakan hubungan torsi-peralihan (torque-displacement relations) seperti 1/J = TUGIP. Sesudah memasukkan hubungan ini ke dalam persamaan keserasian, maka akan didapatkan persamaan dengan torsi sebagai anu. Dengan demikian,
  • 211.
    198 Bab 3Torsi (a) (b) (c) Piat ujung A ·Jtri:E=�;;a;m=� B T2 ---... Tabung (2) (d) Gambar 3-32 Batang statis tak tentu yang mengalami torsi langkah terakhir adalah menyelesaikan secara simultan persamaan keseimbangan dan keserasian untuk mendapatkan torsi. Untuk menggambarkan metode solusi ini, kita akan menganalisis batang komposit AB yang terlihat dalam Gambar 3-23a dan b. Batang ini dijepit di ujung A dan dibebani torsi T di ujung B, Batang ini terdiri atas batang solid di dalam tabung, di mana batang solid dan tabung tersebut digabungkan pada plat ujung kaku di B. Untuk mudahnya, kita akan memberikan notasi batang solid dan tabung (serta besaran-besarannya) masing-masing sebagai bahan 1 dan 2. Sebagai contoh, diameter batang solid diberi notasi d1 dan diameter luar tabung diberi notasi d2• Ada celah kecil di antara batang dan tabung sehingga diameter dalam dari tabung sedikit lebih besar daripada d1• Apabila torsi Tditerapkan pada ujung batang, maka plat ujung berotasi dengan sudut kecil </J dan torsi T1 dan T2 timbul di batang solid dan tabung (lihat Gambar 3-32c dan d, yang menunjukkan batang solid dan tabung yang dipisahkan satu sama lain). Dari keseimbangan kita ketahui bahwa jumlah torsi sama dengan beban yang bekerja sehingga persamaan keseimbangan adalah (a) Karena persamaan ini mengandung dua anu (T1 dan T2), maka kita lihat bahwa batang komposit AB (Gambar 3-32a) adalah statis tak tentu. Untuk mendapatkan persamaan kedua, kita harus meninjau peralihan rotasional batang solid dan tabung. Misalkan sudut puntir batang solid (Gambar 3-32c) diberi notasi </J1 dan sudut puntir tabung diberi notasi </J2 (Gambar 3-32d). Kedua sudut ini harus sama karena batang solid dan tabung terhubung di plat ujung dan berotasi bersama; jadi, persamaan keserasian adalah (b) Sudut </J1 dan </J2 berhubungan dengan torsi T1 dan T2 dengan hubungan torsi-peralihan, di mana untuk bahan elastis linier diperoleh dari persamaan </J = TUG/ P . Jadi, (c,d) di mana G1 dan G2 adalah modulus geser elastisitas dari bahan dan I P 1 dan I P 2 adalah momen inersia polar dari masing-masing penampang. Apabila rumus-rumus untuk </J1 dan </J2 dimasukkan ke dalam Persamaan (b), maka persamaan keserasian menjadi T.,L T2L -- = -- (e) Sekarang kita mempunyai dua persamaan (Persamaan a dan e) dengan dua anu sehingga kita dapat memecahkannya untuk menghitung T1 dan T2• Hasilnya adalah [ G2lp2 ) T 2 = T G I + G I (3-44a,b) I pi 2 p2 Dengan diketahuinya kedua torsi ini, bagian penting dari analisis statis tak tentu telah selesai. Semua besaran lain, seperti tegangan dan sudut puntir, dapat diperoleh dengan menggunakan harga torsi ini.
  • 212.
    Mekanika Bahan 199 Pembahasandi atas menggambarkan metodologi umum untuk menganalisis sistem statis tak tentu yang mengalami torsi. Dala ontoh berikut, pendekatan yang sama digunakan untuk menga · sis sebuah batang yang terjepit di kedua ujungnya. Catatan: Di dalam semua soal dan contoh subbab ini kita mengasum­ sikan bahwa batang terbuat dari bahan elastis linier. Sekalipun demikian, metodologi umum ini juga dapat diterapkan pada batang dari bahan nonlinier-perubahan satu-satunya adalah hubungan torsi-peralihan. • Contoh 3.9 (a) (b) B (c) (d) Gambar 3-33 Contoh 3-9. Batang statis tak tentu Batang ACB yang terlihat dalam Gambar 3-33a dan b dijepit di kedua ujungnya dan dibebani torsi T0 di titik C. Segmen AC dan CB dari batang ini masing-masing mempunyai diameter dAdan dB,panjang LAdan LBserta momen inersia polar lpA dan lpB·Bahan untuk batang ini sama di kedua segmen. Turunkan rumus untuk (a) torsi reaksi TAdan TBdi kedua ujung, (b) tegangan geser maksimum TAcdan TcB di masing-masing segmen batang, dan (c) sudut rotasi c!!c di penampang di mana beban T0 diterapkan. Solusi Persamaan keseimbangan. Beban T0 menimbulkan reaksi TAdan TB di kedua ujung jepit, seperti terlihat dalam Gambar 3-33a dan b. Kedua gambar ini merupakan diagram benda bebas untuk batang karena semua torsi (baik beban maupun reaksi) digambarkan. Jadi, dari keseimbangan batang kita peroleh (f) Karena ada dua anu di dalam persamaan ini (dan tidak ada persamaan keseimbangan lain yang berguna), maka batang ini adalah statis tak tentu. Persamaan keserasian. Sekarang kita memisahkan batang dari tumpuan di ujung B dan mendapatkan batang yang terjepit di ujung A dan berujung bebas di B (Gambar 3-33c dan d). Apabila hanya beban T0 yang bekerja pada batang ini, maka beban ini menimbulkan sudut puntir di ujung B yang diberi notasi I/J1 (Gambar 3-33c). Begitu pula apabila torsi reaksi TB bekerja sendiri, maka torsi ini akan menimbulkan sudut puntir I/J2 (Gambar 3-33d). Sudut puntir di ujung B di batang semula sama dengan jumlah dari I/J1 dan I/J2 yaitu nol. Dengan demikian, persamaan keserasian adalah (g) Perhatikan bahwa I/J1 dan I/J2 diasumsikan positif dalam arah yang terlihat dalam gambar tersebut. Persamaan torsi-peralihan. Sudut puntir I/J1 dan I/J2 dapat dinyatakan dalam torsi T0 dan T8 dengan memperhatikan Gambar 3-33c dan d, serta dengan menggunakan persamaan 1/J = TUGIP. Persamaannya adalah sebagai berikut: 1/JI = ToLA 1/Jz = -TBLA - TaLB (h,i) GlpA GlpA GlpB Tanda minus muncul di dalam Persamaan (i) karena TB menghasilkan rotasi yang berlawanan dengan arah positif yang diasumsikan dalam Gambar 3-33d. Sekarang kita masukkan sudut puntir (Persamaan h dan i) ke dalam persamaan keserasian (Persamaan g) dan kita dapatkan T0LA _ TBLA _ TBLB = 0 GlpA GlpA GlpB atau (j)
  • 213.
    200 Bab 3Torsi Solusi persamaan. Persamaan di atas dapat diselesaikan untuk mendapatkan torsi T8, yang selanjutnya dapat dimasukkan ke dalam persamaan keseimbangan (Persamaan f) untuk mendapatkan torsi TA. Hasilnya adalah [ LA /pB J TB == To L I + L I (3-45a,b) .. B pA A pB Jadi, torsi reaksi di ujung-ujung batang telah diperoleh dan bagian analisis statis tak tentu telah selesai. Sebagai kasus khusus, perhatikan bahwa jika batang ini prismatis (IpA == IpB == JP), maka hasil di atas dapat disederhanakan menjadi T - T aLn T - T aLA (3-46a,b) A - L n - L di mana L adalah panjang total batang. Persamaan-persamaan ini analog dengan reaksi pada batang yang dibebani secara aksial dengan dua ujung dijepit (lihat Persamaan 2-8a dan 2-8b). Tegangan geser maksimum. Tegangan geser maksimum di setiap bagian batang diperoleh secara langsung dari rumus torsi: Dengan memasukkan Persamaan (3-45a) dan (3-45b) maka (3-47a,b) • Dengan membandingkan hasil kali LEflA dan LAd8, kita dapat segera menentukan segmen mana yang mengalami tegangan lebih besar. Sudut rotasi. Sudut rotasi C/Jc di penampang C sama dengan sudut puntir segmen batang manapun karena kedua segmen berotasi dengan sudut yang sama di penampang C. Dengan demikian, kita memperoleh TALA T8L8 T0LAL8 C/Jc == -- + -- == - - ---"- -"- - "- - - GipA GlpB G(L8/pA + LA/p8 ) (3-48) .. Di dalam kasus khusus batang prismatis (IpA == IpB == JP), sudut rotasi di penampang di mana beban diterapkan adalah ,. == T aLALB 'I'C GLIp (3-49) Contoh ini menggambarkan bukan hanya analisis batang statis tak tentu melainkan juga penentuan tegangan dan sudut rotasi. Perhatikan juga bahwa hasil yang diperoleh dalam contoh ini berlaku untuk batang yang mempunyai segmen solid atau tabung. ENERGI REGANGAN PADA KONDISI TORSI DAN GESER MURNI Pacta saat beban bekerja pacta suatu struktur, kerja ctilakukan oleh beban ctan energi regangan timbul cti ctalam struktur, sebagaimana telah ctibahas secara rinci dalam Subbab 2.7 untuk batang yang mengalami beban aksial. Di ctalam pembahasan berikut ini kita akan menggunakan konsep ctasar yang sama ctalam menentukan energi regangan suatu batang yang mengalami torsi.
  • 214.
    Gambar 3-34 Batangprismatis yang mengalami torsi mumi Torsi A Gambar 3-35 Diagram torsi­ rotasi untukbatang yang mengalami torsi mumi (bahan elastis linier) Mekanika Bahan 201 Tinjaulah batang prismatis AB yang mengalami torsi mumi akibat aksi torsi T (Gambar 3-34). Pada saat beban diterapkan secara statis, batang tersebut terpuntirdanujung bebas berotasi dengan sudut e. Sekarang asumsikan bahwa bahan batang adalah elastis linier dan mengikuti hukum Hooke. Selanjutnya, hubungan antara torsi yang bekerja dan sudut puntir juga linier, seperti terlihat pada diagram torsi-rotasi dalam Gambar 3-35 dan sebagaimana ditunjukkan dalam rumus 1/J = TUGI P . Kerja W yang dilakukan oleh torsi pada saat berotasi dengan sudut 1/J adalah sama dengan luas di bawah kurva torsi-rotasi. Selain itu, dari prinsip konservasi energi kita ketahui bahwa energi regangan batang sama dengan kerja yang dilakukan oleh beban, asalkan tidak ada energi yang masuk atau hilang dalam bentuk panas. Dengan dernikian, kita dapatkan persamaan berikut untuk energi regangan U pada batang: (3-50) Persamaan ini analog dengan persamaan U = W = P/512 untuk batang yang mengalami beban aksial (lihat Persamaan 2-29). Dengan menggunakan persamaan 1/J = TUGJ P kita dapat menyatakan energi regangan dalam bentuk: (3-51a,b) Rumus pertama dinyatakan dalam beban dan rumus kedua dinyatakan dalam sudut puntir. Sekali lagi, perhatikan adanya analogi dengan persamaan untuk batang yang mengalami beban aksial (lihat Persamaan 2-31a dan b). Satuan SI untuk kerja dan energi adalahjoule (J), yang sama dengan satu newton meter (1 J = 1 N.m). Satuan dasar USCS untuk ini adalah foot-pound (ft-lb), tetapi satuan lain, seperti inch-pound (in-lb) dan inch­ kip (in-k), umum juga digunakan. • Torsi Tak Seragam Jika sebuah batang mengalami torsi tak seragam (diuraikan dalam Subbab 3.4), kita membutuhkan rumus tambahan untuk energi regangan. Dalam kasus tersebut di manabatang terdiri atas segmen-segmen prismatis dengan torsi konstan di setiap segmen (lihat Gambar 3-14a da1am Subbab 3.4), kita dapat menentukan energi regangan di setiap segmen dan menjumlah­ kannya untuk mendapatkan energi regangan batang: n U = Lp; (3-52) i=l di mana U; adalah energi regangan segmen i dan n adalah banyaknya segmen. Sebagai contoh, jika kita gunakan Persamaan (3-51a) untuk men­ dapatkan masing-masing energi regangan, makapersamaan di atas menjadi U = i T/L; i=l 2G;lp; (3-53)
  • 215.
    202 Bab 3Torsi di mana T; adalah torsi internal di segmen i dan L;, G;, dan Ip; adalah besaran torsional segmen tersebut. Jika penampang batang atau torsi internal bervariasi di sepanjang sumbunya, sebagaimana digambarkan dalam Gambar 3-15 dan 3-16 dalam Subbab 3.4, kita dapat memperoleh energi regangan total dengan mula­ mula menentukan energi regangan suatu elemen dam selanjutnya meng­ integrasikannya di sepanjang sumbunya. Untuk elemen yang panjangnya dx, energi regangannya adalah (lihat Persamaan 3-5 1a): dU = [T(x)]2dx 2G/P(x) di mana T(x) adalah torsi internal yang bekerja pada elemen dan fix) adalah momen inersia polar penampang elemen tersebut. Dengan demikian, total energi regangan batang adalah U = fL[T(x)]2 dx Jo 2GIP(x) (3-54) Sekali lagi, kemiripan rumus untuk energi regangan pada kondisi torsi dan beban aksial terlihat jelas (bandingkan Persamaan 3-53 dan 3-54 dengan Persamaan 2-34 dan 2-35 pada Subbab 2.7). Penggunaan persamaan di atas untuk torsi tak seragam digambarkan dalam contoh berikut ini. Di dalam Contoh 3-10 energi regangan didapatkan untuk batang yang mengalami torsi murni dengan segmen-segmen prismatis, dan di dalam Contoh 3-1 1 dan 3-12 energi regangan diperoleh untuk batang dengan torsi yang bervariasi dan dimensi penampang yang bervariasi pula. Selain itu, Contoh 3-12 menunjukkan bagaimana, pada kondisi yang sangat terbatas, sudut puntir suatu batang dapat ditentukan dari energi regangan. (Untuk pembahasan yang lebih rinci mengenai metode ini, termasuk pembatasannya, lihat "'Peralihan Yang Disebabkan Oleh Satu Beban" dalam Subbab 2.7.) Dalam mengevaluasi energi regangan kita harus ingat bahwa persama­ an yang diturunkan dalam subbab ini hanya berlaku untuk batang-batang dari bahan elastis linier dengan sudut puntir kecil. Juga, kita harus ingat hal penting yang disebutkan dalam Subbab 2.7, yaitu energi regangan suatu strukturyang memikul lebih dari satu beban tidak dapat diperoleh dengan menjumlahkan energi regangan yang diperoleh untuk beban individual yang beker ja secara terpisah. Hal ini ditunjukkan dalam Contoh 3-10. • Rapat Energi Regangan dalam Kondisi Geser Murni Karena elemen individual dari suatu batang mengalami tegangan pada kondisi geser murni, maka rumus untuk energi regangan yang berkaitan dengan tegangan geser perlu diketahui. Kita mulai analisisnya dengan meninjau elemen kecil bahan yang mengalami tegangan geser r di muka samping (Gambar 3-36a). Supaya mudah, kita akan mengasumsikan bahwa muka depan elemen adalah bujursangkar, dengan setiap sisi mempunyai panjang h. Meskipun gambar tersebut hanya menunjukkan gambar dua dimensi dari elemen, kita ketahui bahwa elemen tersebut sebenamya adalah tiga dimensi dengan ketebalan t tegak lurus bidang gambar. Akibat aksi tegangan geser, elemen akan terdistorsi sedemikian rupa sehingga muka depan menjadi jajaran genjang, seperti terlihat dalam Gambar 3-36b. Perubahan sudut di setiap pojok elemen adalah regangan geser y.
  • 216.
    Gambar 3-36 Elemendalam kondisi geser murni Mekanika Bahan 203 Gaya geser V yang bekerja di muka samping elemen (Gambar 3-36c) diperoleh dengan mengalikan tegangan dengan luas ht di mana tegangan tersebut bekerja: V = rh t (a) Gaya-gaya ini menimbulkan kerja pada saat elemen berubah bentuk dari bentuk semula (Gambar 3-36a) ke bentuk terdistorsi (Gambar 3-36b). Untuk menghitung kerja ini kita harus menentukanjarak relatifyang dilalui gaya geser. Hal ini dapat dengan mudah dicari jika elemen dalam Gambar 3-36c diputar sebagai benda tegar sampai dua mukanya menjadi horizon­ tal, seperti terlihat dalam Gambar 3-36d. Selama rotasi benda tegar, kerja neto yang dilakukan oleh gaya V adalah nol karena gaya-gaya tersebut adalah sepasang, sama besar, dan berlawanan arah sehingga membentuk kopel. r l (a) (b) (b) Seperti terlihat dalam Gambar 3-36d, muka atas dari elemen beralih secara horizontal dengan jarak o (relatif terhadap muka bawah) pada saat gaya geser meningkat secara gradual dari nol sampai harga akhir V. Peralihan o sama dengan hasil kali regangan geser y (yang merupakan sudut kecil) dan dimensi vertikal elemen: (b) Jika kita asumsikan bahwa bahan adalah elastis linier dan mengikuti hukum Hooke, maka kerja yang dilakukan oleh gaya V sama dengan V&'l, yang juga merupakan energi regangan yang disimpan di dalam elemen: u = w = vo 2 (c) Perhatikan bahwa gaya-gaya yang bekerja pada muka samping elemen (Gambar 3-36d) tidak bergerak di sepanjang garis kerjanya sehingga gaya­ gaya tersebut tidak melakukan kerja. Dengan memasukkan Persamaan (a) dan (b) ke dalam Persamaan (c), maka kita dapatkan total energi regangan elemen:
  • 217.
    204 Bab 3Tarsi (a) (b) (c) Gambar 3-37 Contoh 3-10 Karena volume elemen adalah h 2 t, maka rapat energi regangan u (yaitu energi regangan per volume satuan) adalah u = ry 2 (d) Akhimya, kita masukkan hukum Hooke pada kondisi geser (r = Gy) dan kita dapatkan persamaan berikut untuk rapat energi regangan pada kondisi geser murni: (3-55a,b) Kedua persamaan ini mempunyai bentuk yang sama dengan persamaan untuk kondisi tegangan uniaksial (Persamaan 2-38a dan b dalam Subbab 2.7). Satuan SI untuk rapat energi regangan adalah joule per meter kubik (J/m3), dan satuan uses adalah pound-inci/in3 (atau satuan lain yang serupa). Karena satuan ini sama dengan satuan untuk tegangan, maka kita dapat pula menyatakan rapat energi regangan dalam pascal (Pa) atau psi. Dalam Subbab 3.10 kita akan menggunakan persamaan untuk rapat energi regangan yang dinyatakan dalam tegangan geser (Persamaan 3- 55a) untuk menentukan sudut puntir pada tabung berdinding tipis yang mempunyai bentuk penampang sembarang. • Contoh 3-10 Sebuah batang lingkaran solid AB yang panjangnya Ldijepit pada satu ujung dan bebas pada ujung lainnya (Gambar 3-37). Tiga kondisi pembebanan akan ditinjau. (a) torsi T" yang bekerja pada ujung bebas, (b) torsi Tb yang bekerja di titik tengah batang. dan (c) torsi Ta dan Th yang bekerja secara simultan. Untuk setiap kasus pembebanan, dapatkanlah rumus untuk energi regangan yang disimpan di batang. Kemudian hitunglah energi regangan untuk data sebagai berikut: T = 1 00 N.m, Th = 1 50 N.m, L= 1 ,6 m, G = 80 GPa, dan /" = 79,52 x 1 03 mm "4. Solusi (a) Tarsi Ta yang beker ja di ujung bebas (Gambar 3-37a). Pada kasus ini energi regangan diperoleh secara 1angsung dari Persamaan (3-51 a): (e) • (b) Tarsi Tb yang beker ja di titik tengah (Gambar 3-37b). Apabila torsi bekcrja di titik tengah, kita terapkan Persamaan (3-5 1 a) di segmen AC dari batang tersebut: (f) • (c) Tarsi Ta dan Tb beker ja secara simultan (Gambar 3-37c). Pada saat kedua beban bekerja pada batang, maka torsi di segmen CB adalah Ta dan torsi di segmen AC adalah Ta + Tb. Jadi energi regangannya (dari Persamaan 3-53) adalah
  • 218.
    Gambar 3-38 Contoh3- 1 1 Mekanika Bahan 205 (g) .. Perbandingan Persamaan (e), (f), dan (g) menunjukkan bahwa energi regangan yang dihasilkan oleh kedua beban yang bekerja secara simultan tidak sama dengan jumlah energi regangan yang dihasilkan oleh beban yang bekerja secara terpisah. Sebagaimana disebutkan dalam Subbab 2.�. penyebabnya adalah karena energi regangan adalah fungsi kuadratik dari beban. bukan fungsi linier. (d) Hasil numeris. Dengan memasukkan data yang diberikan dalam Persamaan (e), kita peroleh T2L ( 1 00 N·m)2 1 1 .6 m 1 U = _ a - = = 1,26 J a 2GJP 2(80 GPa)(79,52 X 10' mm" I .. Ingat bahwa satu joule sama dengan satu ne·ton meter 1 I J = I N.m.) Dengan melakukan ha! yang sama untuk Per;camaan ' f1 dan (g). kita dapatkan uh = 2,83 1 Uc = I ,26 J + 1 ,89 I + 2.83 I = 5.98 J .. .. Perhatikan bahwa suku tcngah, yang meliputi ha,il kali kedua beban. mempunyai kontribusi penting terhadap energi regangan dan tidak dapat diabaikan. • Contoh 3-1 1 Sebuah batang prismatis AB yang dijepit pada satu ujung dan bebas di ujung lainnya dibebani oleh torsi yang terdistribusi dengan intensitas t konstan per satuan panjang di scpanjang sumbu batang (Gambar 3-38). (a) Turunkan rumus untuk cnergi regangan batang. (b) Hitunglah energi regangan batang berlubang yang digunakan untuk mengebor tanah jika datanya adalah sebagai berikut: t = 480 !b­ in/in, L = 1 2 ft, G = 1 1,5 x 1 06 psi, dan JP = 1 7, 1 8 in4. Solusi (a) Energi regangan batang. Langkah pertama dalam solusi adalah menentukan torsi internal T(x)yang bekerja pada jarak xdari ujung bebas batang (Gambar 3-38). Torsi ini sama dengan torsi total yang bekerja pada segmen batang dari x= 0 sampai x = x;jadi, T(x) = tx (h) Dengan memasukkan persamaan ini ke dalam Persamaan (3-54), kita dapatkan U = fL[T(x)fdx = _ 1_f�tx)zdx = t2 L3 0 2GJP 2GIP 0 6GJP (3-56) .. yang memberikan energi rcgangan yang disimpan dalam batang. (b) Hasil numeris. Untuk menghitung energi regangan batang, kita masukkan data yang ada ke dalam Persamaan (3-56): U - - t2 L 3 _ - (480 lb-in./in.)2(144 in.)3 ---'- - - ----, ,-- -'----'� - --'-;- = 580 in.-lb • 6GJP 6(1 1,5 X 1 06 psi)(l7,18 in.4 ) Contoh ini menggambarkan penggunaan integrasi untuk menghitung energi regangan suatu batang yang mengalami beban terdistribusi.
  • 219.
    206 Bab 3Tarsi Gambar 3·39 Contoh 3-12. ' Batang yang meruncing yang meng­ alami torsi • Contoh 3.12 Sebuah batang AB yang meruncing dengan penampang lingkaran solid mempunyai tumpuan di satu ujung dan dibebani torsi T di ujung lainnya (Gambar 3-39). Diameter batang bervariasi secara linier dari dA di ujung kiri sampai d8 di ujung kanan. Tentukan sudut rotasi 1/JA di ujung A dari batang dengan menyamakan energi regangan dengan kerja yang dilakukan oleh beban. Solusi Dari prinsip konservasi energi kita ketahui bahwa kerja yang dilakukan oleh torsi sama dengan energi regangan batang; jadi, W = U. Kerja dihitung dengan menggunakan persamaan (i) dan energi regangan U dihitung dengan Persamaan (3-54). Untuk menggunakan Persamaan (3-54) kita membutuhkan rumus torsi T(x) dan momen inersia polar fix). Torsi adalah konstan di sepanjang sumbu batang dan sama dengan beban T, dan momen inersia polar adalah IP(x) = �[d(x)t di mana d(x) adalah diameter batang pada jarak x dari ujung A. Dari geometri pada gambar, kita lihat bahwa (j) sehingga (k) Sekarang kita dapat memasukkannya ke dalam Persamaan (3-54), sebagai berikut: Integral di dalam rumus ini dapat diintegrasi dengan menggunakan tabel integrasi di dalam Lampiran C. Namun, kita telah mengevaluasi integral ini dalam Contoh 3-5 Subbab 3.4 (lihat Persamaan g pada contoh tersebut) dan telah mendapatkan bahwa fL dx L ( 1 1 J Jo (dA + d8 �dA X r = 3(dB - dA ) d� - d� Dengan demikian, energi regangan batang yang meruncing adalah (3-57) Dengan menyamakan energi regangan ini dengan kerja yang dilakukan oleh torsi (Persamaan i) serta menghitung 1/JA, maka kita dapatkan 32T2L ( 1 1 ) 1/JA = 31CG(d8 - dA)l d� - d� (3-58) • Persamaan ini, yang sama dengan Persamaan (3-26) dalam Contoh 3-5 Subbab 3.4 memberikan sudut rotasi di ujung A dari batang yang meruncing.
  • 220.
    Mekanika Bahan 207 Perhatikanbahwa metode yang digunakan dalam contoh ini untuk mencari sudut rotasi hanya cocok apabila batang mengalami beban tunggal, dan hanya jika sudut yang yang dicari adalah yang berkaitan dengan beban tersebut. Bilamana tidak, kita hams mencari peralihan sudut dengan menggunakan metode biasa yang diuraikan dalam Subbab 3.3, 3.4, dan 3.8. 3·1 0 I TABUNG BERDINDING TIPIS Teori torsi yang diuraikan dalam subbab sebelum ini berlaku pada batang solid dan berlubang dengan penampang lingkaran. Bentuk lingkaran adalah bentuk yang efisien untuk menahan torsi sehingga paling banyak digunakan, khususnya pada mesin-mesin. Sekalipun demikian. pada struktur ringan, seperti pesawat udara dan pesawat ruang angkasa. tabung berdinding tipis dengan penampang nonlingkaran sering dibutuhkan untuk menahan torsi. Dalam subbab ini, kita akan menganalisis elemen struktural seperti ini. Untuk mendapatkan rumus yang berlaku untuk berbagai bentuk, tinjaulah tabung berdinding tipis dengan bentuk penampang sembarang (Gambar 3-40a). Tabung ini berbentuk silindris-artinya semua penampang adalah identik dan sumbu longitudinalnya adalah garis lurus. Tebal t dari dinding tidak harus konstan, tetapi dapat bervariasi di sekeliling penampang. Namun, tebal tersebut harus kecil dibandingkan dengan lebar total tabung. Tabung ini mengalami torsi mumi akibat torsi T yang bekerja di ujung­ ujungnya. • Tegangan Geser Gambar 3-40 Tabung berdinding tipis dengan penampang sembarang Tegangan geser r yang bekerja pada penampang tabung digambarkan dalam Gambar 3-40b, yang menunjukkan suatu elemen dari tabung yang dipotong di antara dua penampang yang mempunyai jarak dx satu sama lain. Tegangan-tegangan bekerja sejajar dengan tepi penampang dan y (a) 1-dx--1 (b) (c) (d)
  • 221.
    208 8ab 3Torsi Gambar 3-41 Penampang tabung berdinding tipis "mengalir" di sekeliling penampang. Juga, intensitas tegangan bervariasi sedemikian sedikitnya dalam arah tebal tabung (karena tabung tersebut diasumsikan tipis) sehingga kita dapat mengasumsikan rkonstan di dalam arah tersebut. Namun, jika tebal t tidak konstan, maka intensitas tegangan akan bervariasi apabila kita mengelilingi penampang, dan bagaimana cara variasinya harus ditentukan dari keseimbangan. Untuk menentukan besar tegangan geser, kita akan meninjau elemen persegi panjang abed dengan mengambil dua potongan longitudinal ab dan ed (Gambar 3-40a dan b). Elemen ini diisolasi sebagai benda bebas dalam Gambar 3-40c. Pada muka penampang be bekerja tegangan geser r seperti terlihat dalam Gambar 3-40b. Kita asumsikan bahwa tegangan ini bervariasi intensitasnya apabila kita bergerak di sepanjang penampang dari b ke e; dengan demikian, tegangan geser di b diberi notasi rh dan yang di e diberi notasi re. Seperti kita ketahui dari keseimbangan, tegangan geser identik bekerja dalam arah yang berlawanan pada muka penampang yang berlawanan ad, dan tegangan geser yang besarnya sama juga bekerja di muka longitudinal ab dan ed. Jadi, tegangan geser konstan yang bekelja pada muka ab dan ed masing-masing sama dengan rb dan re. Tegangan yang bekerja di muka longitudinal ab dan ed menimbulkan gaya Fb dan Fe (Gambar 3-40d). Gaya-gaya ini diperoleh dengan mengali­ kan tegangan dengan luas di mana tegangan tersebut bekerja: Fb = rbtbdx Fe = rctcdx di mana tb dan tc masing-masing adalah tebal tabung di titik b dan e (lihat Gambar 3-40d). Selain itu, gaya F1 dihasilkan oleh tegangan yang bekerja di muka be dan ad. Dari keseimbangan elemen dalam arah longitudinal (arah x), kita lihat bahwa Fb = Fe, atau rbtb = rete Karena lokasi potongan longitudinal ab dan ed dipilih sembarang, maka dari persamaan di atas terlihat bahwa hasil kali tegangan geser 't dan tebal tabung t akan sama di setiap titik pacta penampang. Hasil kali ini dikenal dengan aliran geser dan diberi notasi huruff. (3-59) Hubungan ini menunjukkan bahwa tegangan geser terbesar terjadi di mana tebal tabung adalah yang terkecil, begitu pula sebaliknya. Di daerah di mana tebalnya konstan, tegangan geser juga konstan. Langkah selanjutnya dalam analisis adalah menghubungkan aliran geser f (dan juga tegangan geser r) dengan torsi T yang bekerja pacta tabung. Untuk itu, tinjaulah penampang tabung, seperti terlihat dalam Gambar 3-41. Garis median (disebutjuga garispusat) dari dinding tabung ditunjukkan dengan garis putus di dalam gambar. Kita tinjau elemen luas yang panjangnya ds (diukur di sepanjang garis median) dan tebal t. Jarak s yang mendefinisikan lokasi elemen diukur di sepanjang garis median dari titik referensi yang dipilih sembarang. Gaya geser total yang bekerja pada elemen yang luasnya f ds, dan momen akibat gaya ini terhadap titik sembarang 0 di dalam tabung, adalah dT = rf ds di mana r adalah jarak tegak lurus dari titik 0 ke garis kerja gaya f ds. (Perhatikan bahwa garis kelja gaya f ds adalah tangen terhadap garis
  • 222.
    Gambar 3-42 Tabunglingkaran berdinding tipis Gambar 3-43 Tabung persegi panjang berdinding tipis Mekanika Bahan 209 median penampang di elemen ds.) Torsi total T yang dihasilkan oleh tegangan geser diperoleh dengan mengintegrasikan di sepanjang garis median penampang: rL� T = f J/ ds (a) di mana Lm menunjukkan panjang garis median. Integral dalam Persamaan (a) mungkin sulit dipecahkan dengan cara-cara formal matematika, tetapi untungnya mudah dipecahkan dengan menggunakan interpretasi geometri sederhana. Besaran rds menunjukkan dua kali luas segitiga yang digelapkan dalam Gambar 3-41. (Perhatikan bahwa segitiga tersebut mempunyai panjang dasar ds dan tinggi yang sama dengan r.) Dengan demikian, integral tersebut menunjukkan dua kali luas An, yang dibatasi oleh garis median penampang: rLm Jo r ds = 2Am (b) Dari Persamaan (a) kita ketahui T = 2fAm sehingga aliran geser adalah T f = 2Am (3-60) Sekarang kita dapat mengeliminasi aliran geserfantara Persamaan (3-59) dan (3-60) dan mendapatkan rumus torsi untuk tabung berdinding tipis: (3-61) Karena r dan Am adalah besaran penampang, maka tegangan geser r dapat dihitung dari Persamaan (3-61) untuk sembarang tabung berdinding tipis yang mengalami torsi T yang diketahui. (lngat: Luas Am adalah luas yang dibatasi oleh garis median, bukan luas penampang tabung.) Untuk menggambarkan penggunaan rumus torsi, tinjaulah tabung lingkaran berdinding tipis (Gambar 3-42) yang tebalnya t dan jari-jarinya r ke garis median. Luas yang dibatasi oleh garis median adalah Am = n? (3-62) sehingga tegangan geser (konstan di sekeliling penampang) adalah r = � 2nr"t (3-63) Rumus ini cocok dengan tegangan yang diperoleh dari rumus torsi standar (Persamaan 3-1 1) apabila rumus standar diterapkan pada tabung lingkaran dengan dinding tipis dengan menggunakan rumus pendekatan JP "" 2n?t (Persamaan 3-1 8). Sebagai ilustrasi kedua, tinjaulah tabung persegi panjang berdinding tipis (Gambar 3-43) yang mempunyai tebal t1 di samping dan t2 di atas dan bawah. Juga, tinggi dan lebar (yang diukur ke garis median dari penampang) masing-masing adalah h dan b. Luas di dalam garis median adalah (3-64) sehingga tegangan geser di sisi vertikal dan horizontal masing-masing adalah
  • 223.
    r 210 Bab 3Torsi T rhoris = 2t bh 2 (3-65a,b) Jika t2 lebih besar daripada t1, maka tegangan geser maksimum akan terjadi di sisi vertikal penampang. • Energi Regangan dan Konstanta Torsi Energi regangan tabung berdinding tipis dapat ditentukan dengan mula­ mula mencari energi regangan suatu elemen dan selanjutnya mengintegrasi­ kan di seluruh volume batang. Tinjaulah elemen tabung yang mempunyai luas t ds pada penampang (lihat elemen dalam Gambar 3-41) dan panjang dx (lihat elemen dalam Gambar 3-40). Volume elemen seperti ini, yang bentuknya sama dengan elemen abed dalam Gambar 3-40a, adalah t ds dx. Karena elemen tabung berada dalam keadaan geser mumi, maka rapat energi regangan pada elemen tersebut adalah r/2G, seperti dinyatakan dengan Persamaan (3-55a). Energi regangan total pada elemen sama dengan rapat energi regangan dikalikan dengan volume: 2 2 2 ! 2 dU = � t ds dx = :I.._!_ ds dx = -- ds dx 2G 2G t 2G t di mana kita telah menggantikan rt dengan aliran geserf(suatu konstanta). Energi regangan total pada tabung diperoleh dengan mengintegrasikan dV di seluruh volume tabung. Jadi, ds diintegrasi dari 0 sampai Lm di sekeliling garis median dan dx diintegrasi di sepanjang sumbu tabung dari 0 sampai L, di mana L adalah panjang tabung. Dengan demikian, V = fdv = t- fL"' ds rL dx lG Jo t Jo Perhatikan bahwa tebal t dapat bervariasi di sekeliling garis median dan harus tetap bersama ds di dalam tanda integral. Karena integral terakhir sama dengan panjang Ldari tabung, maka persamaan untuk energi regangan menjadi V = f2L fLm ds 2G Jo t Dengan memasukkan aliran geser dari Persamaan (3-60), kita dapatkan /"., T2L fLm ds lV � -- - --,... 8GA,;. o t (3-66) sebagai persamaan untuk energi regangan pada tabung yang dinyatakan dalam torsi T. Rumus di atas untuk energi regangan dapat ditulis dalam bentuk yang lebih sederhana dengan menggunakan besaran baru penampang yang disebut konstanta torsi. Untuk tabung berdinding tipis, konstanta torsi tyang diberi notasi huruf f) didefinisikan sebagai berikut: (3-67)
  • 224.
    Mekanika Bahan 211 Dengan menggunakan notasi ini. persamaan untuk energi regangan (Persamaan 3-66) menjadi (3-68) yang mempunyai bentuk sama dengan persamaan untuk energi regangan pada batang lingkaran (lihat Persamaan 3-5 1 a). Satu-satunya perbedaan adalah bahwa konstanta torsi 1 telah menggantikan momen inersia polar J P . Perhatikan bahwa konstanta torsi mempunyai satuan panjang pangkat empat. Dalam kasus khusus penampang yang mempunyai tebal konstan t, rumus untuk 1 (Persamaan 3-67) menjadi :, . : . . . '"!: ·.•J••.:_····· 4t A; .··.·· . • ,... Lm. (3-69) Untuk setiap bentuk penampang, kita dapat menghitung 1 dari Persamaan (3-67) atau dari Persamaan (3-69). Sebagai ilustrasi, tinjau lagi tabung lingkaran berdinding tipis dalam Gambar 3-42. Karena tebalnya konstan, maka kita gunakan Persamaan (3- 69) dan memasukkan Lm = 2nr dan A, = n?: hasilnya adalah 1 = 2 n?t (3-70) yang merupakan rumus pendekatan untuk momen inersia polar (Persamaan 3- 18). Jadi dalam ha! tabung lingkaran berdinding tipis, momen inersia polar sama dengan konstanta torsi. Sebagai ilustrasi kedua, kita akan menggunakan tabung persegi panjang dalam Gambar 3-43. Untuk penampang ini kita ketahui Am = bh sehingga integral Persamaan (3-67) adalah Jadi, konstanta torsi adalah btl + ht2 (3-7 1 ) Konstanta torsi untuk penampang lain dapat diperoleh dengan cara sama. • Sudut Puntir Sudut puntir f/> untuk tabung berdinding tipis dengan bentuk penampang sembarang (Gambar 3-44) dapat ditentukan dengan menyamakan kerja W yang dilakukan oleh beban torsi T dan energi regangan V dalam tabung. Jadi, - · " W = V atau Tf/J T 2L 2 2G1 yang menghasilkan persamaan untuk sudut puntir:
  • 225.
    Gambar 3-44 Sudutpuntir rp untuk tabung berdinding tipis (3-72) Sekali lagi. kita amati bahwa persamaan mempunyai bentuk sama dengan persamaan pada batang lingkaran (lihat Persamaan 3- 1 5) tetapi dengan momen inersia polar diganti dengan konstanta tarsi. Besaran GJ disebut rigiditas torsional tabung. • Pembatasan Rumus-rumus yang diturunkan dalam subbab ini berlaku untuk elemen prismatis yang mempunyai bentuk tabung tertutup dengan dinding tipis. Jika penampang tersebut berdinding tipis tetapi terbuka, sepcrti bentuk I dan C, maka teori yang dikembangkan di sini tidak berlaku. Untuk menekankan ha! ini, bayangkan bahwa kita mengambil tabung berdinding tipis dan membelahnya dalam aruh memanjang sehingga penampang tersebut menjadi penampang terbuka. maka tegangan geser dan sudut puntir akan meningkat, tahanan torsional berkurang. dan rumus yang diturunkan dalam subbab ini tidak dapat digunakan. Beberapa rumus yang diberikan dalam subbab ini terbatas pada bahan elastis linier-sebagai contoh. setiap per�amaan yang mengandung modu­ lus geser elastisitas G ada dalam kategori ini. Namun, persamaan untuk aliran geser dan tegangan geser (Persamaan 3-60 dan 3-6 1 ) didasarkan atas keseimbangan dan tetap berlaku. tidak peduli bagaimanapun sifat bahannya. Seluruh teori merupakan penclekatan dan rnenjadi kurang akurat apabila tebal dincling t bertambah. * Tinjauan penting dalarn desain elemen �truktur berdinding tipis aclalah kemungkinan dincling tersebut menekuk. Sernakin tipis suatu clinding clan semakin panjang tabungnya, akan semakin besar kemungkinan terjadinya tekuk. Dalam ha! tabung nonlingkaran, pengkaku dan diafragma sering cligunakan untuk mempertahankan bentuk tabung clan mencegah terjaclinya tekuk lokal. Dalam semua pembahasan dan soal-soal, kita asumsikan bahwa tekuk telah dicegah. ,-----�-- --- ----- ---- ----· ---- -------------------- - · - ------- --- ------- --- - -------- - - --- - -- ----- • Contoh 3-1 3 Bandingkanlah tegangan geser maksimum pada tabung lingkaran (Garnbar 3-45) yang dihitung dengan teori pendekatan untuk tabung berdinding tipis dengan tegangan yang dihitung dengan teori torsi eksak. (Anggap hahwa tahung mempunyai tehal konstan t clan radius r ke garis median penampang.) "Tcori torsi untuk tabung berdinding tipis yang diuraikan dalam subbab mi dikcmbangkan oleh R. Bredt. seorang insinyur Jerman yang menyajikannya pada tahun l g96 !Ref. 3-4).
  • 226.
    Gambar 3-45 Contoh3- 1 3 Gambar 3-46 Contoh 3- 1 4 Mekanika Bahan 21 3 Solusi Tegangan geser yang diperoleh dari tc:ori pendekatan untuk tabung herdinding tipis 1 Persamaan 3-63) adalah di mana hubungan telah digunakan. T T r1 = '2itr:..r 2:rr�f32 . f3 (c) (d) Tegangan maksimum yang diperokh dar: rumus torsi yang lcbih akurat (Persamaan 3- 1 1 ) adalah di mana T(r + t/2 1 JP Sesudah membuka tanda kurung, rumus di atas akan menjadi 1 = nrt (4r 2 + ,. 2 ) p 2 dan rumus untuk tegangan geser (Persamaan e) menjadi _ T(2r + 1) TJ - 7 � - nrt( 4r" + r" ) T(2j3 + l ) nt3j3(4{f + l) Jadi, rasio T/r2 antara tegangan geser adalah (e) (g) 4/32 + I 2/3(2/3 + l ) (3-73) .. yang hcrgantung hanya pada rasio /3. Untuk harga f3 sama dengan 5, 1 0. dan 20. kita dapatkan dari Persamaan (3- 73) harga T/r2 masing-masing 0,92; 0,95: dan 0.98. Jadi, kita lihat bahwa rumus pendckatan untuk tegangan geser rnemberikan basil yang sedikit lehih kccil dibandingkan dengan yang diperoleh dari rumus cksak. Ketelitian mmus pendekatan akan mcningkat jika tebal dinding tabung scrnakin tipis. Untuk tebal mcndckati no!, f3 mendekati tak hingga, yang berarti rasio r/r2 menjadi t . ------··· ----- ----------------- ------ ---- ---- ------ ------ ---- • Contoh 3-1 4 Sebuah tabung lingkaran dan tabung hujursangkar (Gamhar 3-46) tcrbuat dari bahan sama dan mengalami torsi sarna. Kedua tabung mempunyai panjang sama, teba! dinding sama, dan luas penampang sama. Berapa rasio tegangan geser dan sudut puntir antara kedua tabung tersehut'l (Abaikan efek konsentrasi tcgangan di pojok tabung hujursangkar.) - --�' l..c ----- - -- h -----�!
  • 227.
    214 Bab 3Tarsi Solusi Tabung lingkaran. Untuk tabung lingkaran. luas A,1 yang dibatasi oleh garis median penampang adalah A,1 = n? di mana r adalah radius garis median. Juga, konstanta torsi (Persamaan 3-70) dan luas penampang adalah A1 = 2nrt Tahung hujursangkar. Untuk tabung bujursangkar, luas penampang adalah A2 = 4bt di mana b adalah panjang satu sisi, yang diukur di sepanjang garis median. Karena 1uas penampang kedua tabung sama, maka haruslah h = nr/2. Juga, konstanta torsi (Persamaan 3-7 1 ) dan luas yang dibatasi oleh garis median penampang adalah A = b 2 = n2rc m 2 4 Rasio. Rasio r/r2 antara tegangan geser di tabung lingkaran dan di tabung bujursangkar adalah (lihat Persamaan 3-6 1 ) 2.!_ = Am 2 = n2r2 14 = !!... = 0 785 r2 A,1 nr2 4 ' Rasio sudut puntir (lihat Persamaan 3-72) adalah J 3 3 " !h._ = __1_ = n r t/8 = !!.:.._ = 0 6 1 7 </>2 11 2nr3t 1 6 ' (h) .. (i) .. Hasil ini menunjukkan bahwa tabung lingkaran tidak hanya mempunyai tegangan geser yang lebih kecil dibandingkan tabung bujursangkar, tetapi juga memberikan kekakuan 1ebih besar terhadap rotasi. *3·11 I KONSENTRASI TEGANGAN DALAM KEADAAN TORSI Dalam subbab-subbab sebelumnya dalam bab ini, kita telah membahas tegangan pacta elemen struktur torsional dengan menganggap bahwa distribusi tegangan bervariasi secara halus dan kontinu. Asumsi ini berlaku asalkan tidak ada perubahan mendadak pada bentuk batang (tidak ada lubang, takikan, sudut tajam, dan sebagainya) dan asalkan bahwa daerah yang ditinjau cukup jauh dari titik pembebanan. Jika kondisi yang mengganggu itu temyata ada maka tegangan lokal yang besar akan terjadi pada daerah di sekitar diskontinuitas. Dalam praktek konsentrasi tegangan ditangani dengan menggunakan faktor konsentrasi tegangan, sebagaimana diuraikan dalam Subbab 2. 10. Efek konsentrasi tegangan dikekang pada daerah kecil di sekitar diskontinuitas, sesuai dengan prinslp Saint-Venant (lihat Subbab 2.10). Sebagai contoh, tinjaulah batang bertangga yang terdiri atas dua segmen yang mempunyai diameter berbeda (Gambar 3-47). Segmen yang lebih besar mempunyai diameter D2 dan segmen yang lebih kecil mempunyai diameter D1 • Pertemuan antara kedua segmen ini membentuk "tangga" atau "bahu" berupa fillet dengan radius R. Tanpa adanya fillet, faktor konsentrasi tegangan teoretis akan menjadi besar tak hingga karena adanya
  • 228.
    Gambar 3-47 Batangbertangga yang mengalami torsi Mekanika Bahan 21 5 sudut belokan 90° yang sangat mendadak. Tentu saja tegangan yang besarnya tak hingga tak mungkin terjadi. Bahan di pojok tersebut akan berdeformasi dan melepaskan sebagian konsentrasi tegangan. Situasi seperti ini sangat berbahaya pada beban dinamis, sehingga dalam desain yang baik, suatu fillet selalu dibutuhkan. Semakin besar radius fillet, akan semakin kecil tegangannya. Pada jarak dari bahu kira-kira sama dengan diameter D2 (rnisalnya, pada potonganA-A dalam Gambar 3--+7 a) tegangan geser torsional praktis tidak dipengaruhi oleh adanya diskontinuitas. Dengan demikian, tegangan maksimum r2 pada jarak yang cukup jauh di kiri bahu dapat diperoleh dari rumus torsi dengan menggunakan D2 sebagai diameter (Gambar 3- 47b). Komentar umum yang sama berlaku di potongan C-C, yang jaraknya D1 (atau lebih besar) dari ujung fillet. karena diameter D1 kurang dari diameter D2, maka tegangan maksimum r1 di potongan C-C (Gambar 3- 47d) lebih besar daripada tegangan r2. R = jari-jarijillet (a) - 1 [' - t tmaks - t 'tl r =0 Dl Dl l__ ! 1_ Potongan A-A Potongan B-B Potongan C-C (b) (c) (d) Efek konsentrasi tegangan terbesar ada di potongan B-B yang berada tepat di ujung fillet. Di potongan ini, tegangan maksimumnya adalah rmaks = Krnom = K Tr = K(16�) JP nDl (3-74) Dalam persamaan ini, K adalah faktor konsentrasi tegangan dan rnom (sama dengan r1) adalah tegangan geser nominal, yaitu tegangan geser di bagian batang yang lebih kecil. Harga faktor K diplot dalam Gambar 3-48 sebagai fungsi dari rasio R/D1 • Kurva-kurva diplot untuk berbagai harga rasio D/ D1• Perhatikan bahwajika radius fillet R menjadi sangat kecil dan transisi dari satu diameter ke diameter lainnya mendadak, maka harga K menjadi cukup besar. Sebaliknya, jika R besar, maka harga K mendekati 1,0 dan efek konsentrasi tegangan menjadi hilang. Kurva putus-putus dalam Gambar 3-48 adalah untuk kasus khusus berupafillet seperempat lingkaran penuh, yang berarti bahwa D2 = D1 + 2R. (Catatan: Soal 3.1 1-1 sampai 3.1 1-5 memberikan latihan mendapatkan harga K dari Persamaan 3-48.)
  • 229.
    21 6 Bab3 Tarsi Gambar 3-48 Faktor konsentrasi tegangan K untuk batang bertangga yang mengalami torsi. (Garis putus adalah untuk fillet berupa seperempat lingkaran penuh.) 2,00 K J_ I___ 0 0,10 _j 0,20 Ada banyak kasus lain tentang konsentrasi tegangan pada batang lingkaran seperti batang dengan keyway dan batang dengan lubang, yang dapat dipelajari pada berbagai literatur teknik (lihat, misalnya, Ref. 2-10 dan 2- 1 1). Sebagaimana yang telah diterangkan dalam Subbab 2. 10, konsentrasi tegangan adalah penting untuk bahan getas yang mengalami beban statis dan untuk sebagian besar bahan yang mengalami beban dinamis. Kegagalan fatik merupakan ha! utama dalam de5ain batang dan sumbu yang berputar (lihat Subbab 2.9 untuk pembahasan singkat tentang fatik). Faktor konsentrasi tegangan K yang diberikan dalam subbab ini didasarkan atas perilaku elastis linier bahan. Uji fatik telah menunjukkan bahwa faktor ini konservatif, dan kegagalan pada bahan daktil biasanya terjadi pada kondisi beban yang lebih besar dibandingkan dengan yang diprediksi dengan menggunakan faktor teoretis. *3.12 1 TORSI NONLINIER PADA BATANG LINGKARAN Persamaan-persamaan yang diturunkan pada subbab-subbab sebelum ini untuk menghitung tegangan geser di batang lingkaran hanya sah jika bahan mengikuti hukum Hooke. Dalam subbab ini kita akan meninjau perilaku batang apabila tegangan geser melebihi limit proporsional dan hukum Hooke tidak berlaku lagi. Analisisnya didasarkan atas persamaan-persamaan untuk deformasi batang lingkaran, yaitu persamaan untuk regangan geser ydan laju puntir () (Persamaan 3-1 sampai 3-5). Semua persamaan ini didasarkan atas geometri batang yang telah berdeformasi sehingga berlaku untuk sembarang bahan, apakah mengikuti hukum Hooke atau tidak. Khususnya, regangan geser pada jarak p dari sumbu batang (lihat Gambar 3-4c) dinyatakan dengan Persamaan (3-4), yang ditulis ulang di sini: y = p() (3-75) Juga, regangan geser maksimum (dari Persamaan 3-3) adalah Y maks = r8 (3-76) di mana r adalah radius batang lingkaran solid atau radius luar tabung lingkaran.
  • 230.
    Gambar 3-49 Torsinonlinier pada batang lingkaran: (a) diagram tegangan-regangan geser, dan (b) distribusi tegangan geser yang bekerja pada penampang Mekanika Bahan 21 7 Sekarang kita asumsikan bahwa diagram tegangan-regangan untuk bahan diketahui (Gambar 3-49a). Lalu, untuk harga laju puntir 8 yang diketahui kita dapat mencari tegangan geser r di setiap titik pada batang. Prosedumya dimulai dengan mencari regangan geser dari Persamaan (3- 75) atau Persamaan (3-76) dan selanjutnya mendapatkan tegangan geser dari kurva tegangan-regangan. Dengan meninjau harga-harga radius p kita dapat memperoleh distribusi tegangan geser di seluruh bagian penampang (Gambar 3-49b). Karena regangan geser bertambah secara linier terhadap radius p, maka diagram tegangan geser mempunyai bentuk yang sama dengan diagram tegangan-regangan itu sendiri. 0 Y maks y (a) (b) Torsi T yang berkaitan dengan harga laju puntir e adalah resultan momen dari tegangan geser yang bekerja di penampang. Untuk mendapatkan torsi ini, kita tinjau elemen berbentuk cincin pada jarak p dari pusat dan mempunyai tebal dp (Gambar 3-49b). Torsi elemental dT yang dihasilkan oleh tegangan geser yang bekerja di elemen yang berbentuk cincin adalah dT = p1(2np dp) = 2n{ir dp sehingga torsi total adalah T = fo2np2r dp (3-77) Dari Persamaan (3-75) kita peroleh p = y/8 dan dp = dy/8. Dengan memasukkan kedua hubungan ini ke dalam Persamaan (3-77) dan mengubah batas atas integrasi menjadi Y maks yang berkaitan dengan variabel independen baru y, maka 2;r iy"'"" 2 T = - ry dy e3 o Persamaan ini menghubungkan torsi T dan laju puntir 8. (3-78) Untuk memudahkan penyelesaian Persamaan (3-78), kita lihat bahwa integral di sisi kanan mempunyai interpretasi geometri sederhana. Ini adalah momen inersia terhadap sumbu vertikal (yaitu sumbu r) untuk area di bawah kurva tegangan-regangan (Gambar 3-49a). Area ini terletak di antara pusat 0 dan regangan geser Y maks· Jadi, kita dapat menuliskan Persamaan (3-78) dalam bentuk T = 2n I e3 r (3-79) di mana I, adalah momen inersia untuk area yang ditetapkan, yang dievaluasi terhadap sumbu r.
  • 231.
    21 8 Bab3 Tarsi Gambar 3-50 Hubungan antara torsi T dan laju puntir () Gambar 3-51 Torsi pada batang lingkaran solid dari bahan elas­ toplastis Prosedur untuk melakukan perhitungan adalah sebagai berikut. Diketahui sebuah batang lingkaran solid dengan radius yang diketahui dan kurva tegangan-regangan yang diketahui. Dari sini, kita asumsikan harga laju puntir e. Selanjutnya kita menghitung Ymaks dari Persamaan (3- 76) dan menentukan (entah secara analitis ataukah secara numerik) momen inersia /r dari kurva tegangan-regangan (Gambar 3-49a). Lalu, kita hitung torsi T dari Persamaan 1 3-79). Dengan mengulangi prosedur ini untuk berbagai harga e maka kita peroleh suatu kurva yang menunjukkan hubungan antara T dan e iGambar 3-50). Dengan menggunakan kurva tersebut, kita dapat memperoleh e untuk suatu harga T yang diketahui. Lalu, dengan e yang telah diketahui, regangan, tegangan, dan sudut puntir dapat juga ditentukan untuk suatu harga T yang diketahui. Banyak variasi dari prosedur umum ini yang dapat dilakukan, bergantung pada informasi apa yang diketahui dan besaran apayang dicari. Beberapa kemungkinan digambarkan dalam soal-soal di akhir bab ini. Meskipun Persamaan 1 3-77), (3-78), dan (3-79) diturunkan untuk batang lingkaran solid. semuanya dapat diterapkan pada tabung lingkaran dengan mengubah batas bawah integral dari nol menjadi harga yang benar untuk tabung yang bersangkutan. • Bahan Elastoplastis Jika bahan batang mempunyai tegangan luluh -r y yang jelas, diagram tegangan-regangan dapat diidealisasikan seperti terlihat dalam Gambar 3- 5 1 a. Diagram tersebut terdiri atas dua garis lurus, garis pertama menunjukkan perilaku elastis linier dan garis kedua menunjukkan perilaku plastis sempuma (dibahas dalam Subbab 2. 1 1 dan 2.12). Perilaku batang bergantung pada besar regangan geser maksimum di batang. Jika regangan maksimum kurang dari regangan luluh r, maka bahan mengikuti hukum Hooke dan rumus-rumus yang diturunkari dalam subbab-subbab terdahulu dapat digunakan. Jika regangan maksimum lebih besar daripada regangan luluh, maka sebagian bahan berada dalam keadaan plastis dan analisis elastoplastis dibutuhkan. Jenis analisis seperti ini diuraikan berikut ini. Apabila regangan di permukaan luar melebihi regangan luluh, maka distribusi tegangan di penampang akan terdiri atas dua bagian, seperti terlihat dalam Gambar 3-51b. Luluh mulai terjadi pada permukaan terluar dari batang dan bergerak secara progresif ke arah dalam apabila beban terns meningkat. "Inti" bahan di bagian tengah tetap dalam daerah elastis linier. Jika regangan menjadi sangat besar, maka daerah luluh akan mendekati pusat batang dan distribusi tegangan akan mendekati distribusi seragam seperti terlihat dalam Gambar 3-51c. Torsi T P pada saat ini disebut torsi plastis dan dapat dihitung dari Persamaan (3-77): 0 � (a) (b) (c)
  • 232.
    r II r I I 0 Gambar3-52 Diagram tegangan­ regangan untuk batang pada kondisi torsi elastoplastis Gambar 3-53 Hubungan torsi­ rotasi untuk batang lingkaran solid dari bahan elastoplastis (Persamaan 3-85) ir , 2nr3T . T P = 2np-r, dp = Y 0 3 Mekanika Bahan 21 9 (3-80) Apabila harga tarsi ini dicapai. maka puntiran batang lebih lanjut akan terjadi tanpa adanya peningkatan torsi. Pada akhimya, efek strain har­ dening akan terlihat dan tegangan yang lebih besar dari r, akan timbul. Torsi luluh T, pada saat luluh mulai terjadi di batang . diperoleh dari rumus tarsi (Persainaan 3-12) dengan menggantikan rmaks dengan r,: ' T _ nd· r, _ n r :._ y - ---u;- - � (3-81) Dengan membandingkan Persamaan (3-801 dan 1 3-8 1 l, kita lihat bahwa rasia tarsi plastis terhadap tarsi luluh adalah 4 3 (3-82) yang menunjukkan bahwa sesudah luluh mulai terjadi di batang, hanya dengan meningkatkan tarsi sebesar sepertiganya, batang tersebut akan mencapai kapasitas limit pikul bebannya. Hubungan antara tarsi yang bekerja T dan laju puntir (} dapat diperoleh dari Persamaan (3-79) dengan menggunakan diagram tegangan-regangan geser (Gambar 3-52) dan menentukan mamen inersia area yang digelapkan terhadap sumbu r. (Perhatikan bahwa regangan Y maks adalah regangan geser maksimum di batang, yaitu regangan di permukaan luar.) Hasil penurunan yang panjang ini, yang diberikan dalam latihan Saal 3.12-6 adalah nrv 3 ' T = 683 (4Ymaks - Y), ) (Y maks 2 Yy dan T,. S T S 7�,) (3-83) Persamaan ini dapat ditulis dalam bentuk yang lebih berguna dengan menggunakan substitusi sebagai berikut. Pertama, kita substitusikan ry = 2T/nr3 (dari Persamaan 3-81); kedua, kita substitusikan Y maks = re (Persamaan 3-76); dan akhimya, kita masukkan r,. = r8Y, di mana (JY adalah laju puntir pada saat luluh mulai terjadi di batang; jadi TV (Jy = GIp (3-84) Dengan tiga substitusi di atas, Persamaan (3-83) menjadi hubungan torsi­ rotasi yang kita cari, yaitu: 0 2 3 4
  • 233.
    220 52: 3Tarsi : 1 1 1T1JJ,, 0 r (a) a �Trr (b) (3-85) Grafik untuk persamaan ini ditunjukkan dalam Gambar 3-53. Perhatikan bahwa jika e menjadi semakin besar, maka torsi T akan mendekati torsi plastis T P . • Tegangan Residual Jika suatu batang dibebani torsi hingga melebihi limit elastisnya. dan selanjutnya beban dihilangkan, maka tegangan residual akan tertinggal pada batang tersebut. Untuk menggambarkan hal ini, tinjau batang lingkaran solid dari bahan elastoplastis yang dihebani oleh torsi plastis TP. Distribusi tegangan untuk ini terlihat dalam Gambar 3-5 1c. Sekarang misalkan bahwa torsi dihilangkan. Selama proses penghilangan beban, bahan akan mengikuti garis lurus pada kurva tegangan-regangan (garis a-a dalam Gambar 3- 5 1a), yang sejajar dengan garis lurus semula yang merepresentasikan hukum Hooke. Jadi, tegangan yang dihasilkan selama penghilangan beban dapat diperoleh dari persamaan untuk perilaku elastis linier (Persamaan 3-1 1 sampai 3-13). Superposisi dari tegangan geser yang dihasilkan selama pembebanan dan selama penghilangan beban ditunjukkan dalam Gambar 3-54. Tegangan yang dicapai selama pembebanan ditunjukkan dalam bagian (a) gambar tersebut, yang sama dengan diagram tegangan dalam Gambar 3-5 1 c. Torsi yang berkaitan dengan ini adalah T P = 2nr'rJ3 (Persamaan 3-80). Torsi yang sama juga direpresentasikan dengan diagram tegangan pada kondisi penghilangan beban dalam Gambar 3-54b. kecuali bahwa sekarang torsi bekerja dalam arah yang berlawanan dan perilakunya adalah elastis linier. Tegangan maksimumnya adalah rmaks = T P r!I P yang menjadi rmaks = 4rj3 jika kita substitusikan harga T P dan J P . Tegangan residual di batang, yang diperoleh dengan menjumlahkan tegangan akibat pembebanan dan akibat penghilangan beban, terlihat dalam Gambar 3-54c. Di pusat batang, tegangan residual adalah Gambar 3-54 Tegangan sisa rl = r2 (3-86) dalam torsi (bahan elastoplastik) dan di tepi luar penampang tegangan residual adalah (3-87) yang berlawanan arah dengan tegangan r1 (Gambar 3-54c). Prosedur yang sama untuk menentukan tegangan residual dapat digunakan untuk dia­ gram tegangan-regangan dengan bentuk lain. SOAL-SOAL BAB 3 I DEFORMASI TORSIONAL 3.2-1 Sebuah tabung lingkaran aluminium yang dibebani torsi murni akibat T (lihat gambar) mempunyai radius luar r2 'ama dengan dua kali radiu s dalam r 1 • (a) Jika rcgangan gcser maksimum di tabung adalah 400 X I o-<J rad, berapa regangan geser )'] pada permukaan dalam? (b) Jika laju puntir izin maksimum adalah 0, 1 5°/ ft dan regangan gcser maksimum dipertahankan sebesar 400 x I 0-6 dengan menyesuaikan torsi T,berapa radius luar minimum yang diperlukan (r2)min'?
  • 234.
    T j-<------- - -L .. 3.2-2 Sebuah tabung baja lingkaran yang panjangnya L = 0,9 m dibebani oleh torsi T (lihat gambar). (a) Jika jari-jari dalam tabung ini adalah r1 = 40 mm, berapa regangan geser y1 di permukaan dalam jika sudut puntir antara kedua ujung adalah 0.5°? (b) Jika regangan geser izin maksimum adalah 0.0005 rad dan sudut puntir dipertahankan 0,5° dengan mcnyesuaikan torsi T, bcrapa radius luar izin maksimum (r2)mak,? 3.2-3 Selesaikan soal sebelum ini dengan menggunakan panjang L = 50 in., jari-jari dalam r1 = I ,5 in., sudut puntir adalah 0,6°, dan regangan geser izin adalah 0,0004 radian. BATANG LINGKARAN DAN TABUNG 3.3-1 Selama mclcpaskan roda untuk mengganti ban, scorang pengemudi memberikan gaya P = 25 lb di ujung­ ujung lcngan kunci roda (lihat gambar). Kunci roda terbuat dari baja dengan modulus geser elastisitas G = 1 1 ,4 x I 06 psi. Panjang setiap lengan kunci roda adalah 9.0 in, dan penampangnya adalah lingkaran solid dengan diameter d = 0,5 in. (a) Tentukan tegangan geser maksimum di lengan yang memutarkan mur (lengan A). (b) Tentukan sudut puntir (dalam derajat) lengan tersebut. d = 0,5 in. Mekanika Bahan 221 3.3-2 Sebuah batang aluminium dengan penampang lingkaran solid dipuntir oleh torsi T yang bekerja di ujung-ujungn> a t lihat gambar). Dimensi dan modulus gescr elastisita' adalah sebagai herikut: L = I ,2 m: d = 30 mm; dan G = 2� GPa. (a) Tentukan kekakuan tor­ sional batang teN�hut. (h) Jika sudut puntir batang adalah 4°, bcrapa tegangan geser maksimum? Berapa rcgangan geser maksimurn .' !- ---- 3.3-3 Sebuah batang haja lmgkann 'olid dengan dia­ meter d = 0,678 in. dan rnodulu< £eser dasti,itas G = 1 2 x 106 psi mengalarni torsi mumI �lihat gambar). Batang ini mengalami tcgangan ge,er rnaksimurn 7 1 00 psi apabila sudut puntirn] a 2.5 ( a) Berapakah panjang batang tersebufJ (h) Scrapa kekakuan torsional batang? 3.3-4 Batang baja dari suatu kunci soket mempunyai diameter 8 mm dan panjang 200 mm (lihat gamhar). Jika tegangan geser izin adalah 60 MPa, berapa torsi izin maksimurn Tma'-· yang dapat diberikan melalui kunci soket"J Dengan sudut C/J berapakah (dalam derajat) batang tersebut akan terpuntir akibat aksi torsi maksimum? ( Asum'>ikan G = 78 GPa dan abaikan lcntur batang.) = 8 mm - - L = 200 mm _____.. 3.3-5 Sebuah batang aluminium dari penampang ling­ karan solid (diameter 1 ,0 in. dan panjang 3,0 ft) dipuntir pada mesin uji sampai satu ujung berotasi dengan sudut go terhadap ujung lainnya. Untuk sudut puntir sebesar ini, torsi yang diukur adalah T = 1 27 lb-ft. Hitunglah tcgangan geser maksimum rmab di batang, modulus geser elastisitas G, dan regangan geser maksimum Ymab· 3.3-6 Sebuah tabung lingkaran aluminium dibebani torsi T di kedua ujungnya (lihat gambar). Panjang batang adalah 0,5 m, dan diameter dalam dan luar masing­ masing adalah 30 mm dan 40 mm. Dengan pengukuran dapat ditentukan bahwa sudut puntir adalah 3,57° apabila torsi tcrscbut adalah 600 N.m. Hitunglah tcgangan geser maksimum rmaks di tabung, modulus geser elastisitas G, dan regangan geser maksimum J';11aks·
  • 235.
    I 0.5 m --------1 3.3-7Tiga cakram lingkaran identik A, B, dan C dilas ke ujung-ujung tiga batang lingkaran identik (lihat gambar). Batang-batang terschut terletak di bidang yang sama dan ketiga cakram terletak di bidang-bidang yang tegak lurus sumhu batang. B atang-batang dilas di perpotongannya sehingga membentuk hubungan kaku. Setiap batang mempunyai diameter d1 = 0,5 in. dan setiap cakram mempunyai diameter d2 = 3,0 in. Gaya P1, P2, dan P3 menghasilkan torsi yang bekerja pacta cakram A, B, dan C. Jika P1 = 28 lb, berapa tegangan geser maksimum rmah di masing-masing batang? 3.3-8 Sebuah batang baja berlubang mempunyai dia­ meter luar d2 = 1 00 mm dan diameter dalam d1 = 60 mm (lihat gambar). B aja ini mempunyai modulus geser elastisitas G = 80 GPa. Untuk torsi yang diterapkan sebesar 6,0 kN.m, tentukan besaran sebagai berikut: (a) tegangan geser r2 di permukaan luar, (b) tegangan geser r1 di permukaan dalam, dan (c) laju puntir f) (sudut puntir d1 = 60 mm d, = mm per panjang satuan). Juga. gambarlab diagram yang menunjukkan bagaimana tegangan geser bervariasi besar­ nya di sepanjang garis radial penampang. 3.3-9 Sebuah batang propeller terbuat dari batang baja solid yang diameternya 4,0 in. Tegangan geser izin adalah 6500 psi, dan laju puntir izin adalah 0,2°/ft. Dengan menganggap bahwa modulus geser elastisitas adalah G = I 1 .5 x 1 06 psi, tentukan tarsi maksimum Tmaks yang dapat ditcrapkan pacta batang tersebut. 3.3-1 0 As bajaberbentuk bundar dari sebuah dongkrak besar mengalami torsi sebesar 2,5 kN.m. Berapa diam­ eter perlu minimum dmin jika tegangan geser izin adalah 60 MPa, dan laju puntir izin adalah 0,75°/m? (Asumsikan bahwa modulus geser elastisitas adalah 75 GPa.) 3.3-1 1 Sebuah batang horizontal ABC dari penampang lingkaran solid (lihat gambar) ditahan di ujung A, ditumpu di landasan C, dan dibebani oleh gaya vertikal P di ujung lengan horizontal BD. Jarak dari A ke B adalah L = 1 5,0 in. dan panjang lengan BD adalah h = 4,0 in. Batang tersebut terbuat dari baja yang mempunyai modulus geser G = 1 1,3 x 106 psi. Pengukuran menunjukkan bahwa regangan adalah 637,5 X w-6 rad dan titik D bergerak ke bawah 0, 1 02 in. Berapa diameter d batang dan berapa besar beban P? (Abaikan lentur batang dan tinjau efek torsi saja.) 3.3-12 Sebuah batang perunggu yang diametemya d = 30 mm dibebani torsi T1, seperti terlihat pacta bagian (a) dalam gambar. Tegangan geser izin di perunggu adalah 80 MPa. (a) Berapa torsi izin maksimum T1? (b) Jika (a) (b)
  • 236.
    sebuah lubang yangdiametemya 1 5 mm dibor secara longitudinal melalui batang, seperti terlihat pada bagian (b) dalam gambar, berapa torsi izin maksimum T2? (c) Berapa persen pengurangan torsi dan persen pengurangan berat akibat adanya lubang? 3.3-1 3 Sebuah tabung aluminium yang berlubang yang digunakan pada struktur atap mempunyai diameter luar d2 = 4,0 in. dan diameter dalam d1 = 3,5 in. (lihat gambar). Tabung ini mempunyai panjang 8,0 ft dan alu­ minium mempunyai modulus geser G = 4,0 x I 06 psi. (a) Jika tabung ini dipuntir dengan torsi mumi oleh torsi yang bekerja di ujung-ujungnya, berapa sudut puntir C/J apabila tegangan geser maksimum adalah 8.000 psi? (b) Berapa diameter d yang dibutuhkan untuk batang solid (lihat gambar) untuk menahan torsi yang sama dengan tegangan maksimum yang sama? (c) Berapa rasio berat tabung berlubang terhadap berat batang solid? 3.3-1 4 Sebuah batang lingkaran berlubang dan batang lingkaran solid (lihat gambar) dari bahan yang sama akan didesain untuk menyalurkan torsi sama dengan tegangan geser maksimum sama. Diameter dalam dari batang berlubang adalah 0,85 kali diameter luar, yaitu d1 = 0,85d2• (a) Tentukan rasio antara diameter luar d2 batang berlubang terhadap diameter d batang solid. (b) Tentukan rasio /31 antara berat batang berlubang terhadap berat batang solid. (c) Tentukan rasio /32 antara kekakuan tor­ sional batang berlubang terhadap kekakuan torsi batang solid. 3.3-1 5 Sebuah batang lingkaran solid (diameter d = 1,5 in.) yang digunakan sebagai batang generator akan diganti dengan batang berlubang yang diameter luamya d2 = 1 ,75 in. (lihat gambar). Batang berlubang harus menyalurkan torsi yang sama dengan tegangan geser maksimum yang sama. (a) Berapa diameter dalam izin maksimum d1 padabatang berlubang? (b) Untuk maksud pembuatan, diameter dalam harus merupakan bilangan bulat kali 1/8 inch. Pilihlah diameter dalam terbesar d0 yang dapat diterima. Lalu, tentukan rasio /31 untuk berat batang berlubang terhadap berat batang solid dan rasio /32 antara kekakuan torsi batang berlubang terhadap kekakuan torsional batang solid. 3.3-1 6 Sebuah batang lingkaran solid dengan radius r2 mengalami torsi T (lihat gambar). Radius r1 membagi penampang atas daerah dalam (radius dari 0 sampai r1) dan daerah luar (radius dari r1 sampai r2). Daerah dalam Mekanika Bahan 223 menyalurkan torsi T1 dan daerah luar menyalurkan torsi T2, di mana T1 + T2 = T. (a) Turunkan rumus untuk rasio T2/T antara torsi yang disalurkan oleh daerah luar terhadap torsi total. (b) Buatlah grafik antara rasio TzlT versus rasio r/r:. (c) Jika r1 = rz12, berapa persen torsi total yang disalurkan oleh area luar? (d) Jika r1 membagi penampang atas dua area yang sama, berapa persen torsi total yang disalurkan oleh area luar? T *3.3-1 7 Sebuah tabung lingkaran dengan radius r1 dan radius r2 mengalami torsi yang dihasilkan oleh gaya­ gaya P = 1 200 lb (lihat gambar). Gaya-gaya tersebut mempunyai garis kerja pada jarak b = 4,0 in. dari tepi luar tabung. Jika tegangan geser di tabung adalah 7500 psi dan radius dalam r1 = 1 ,00 in., berapa radius luar izin minimum r2? p p TORSI TAK SERAGAM 3.4-1 Sebuah batang bertangga ABC yang terdiri atas dua segmen lingkaran solid mengalami torsi T1 dan T2 yang bekerja dalam arah yang berlawanan, seperti terlihat dalam gambar. Bagian besar dari batang mempunyai diameter d1 = 2,25 in. dan panjang L1 = 30 in.; segmen yang kecil mempunyai diameterd2 = 1,75 in. dan panjang L2 = 20 in. Bahan batang ini adalah baja dengan modu-
  • 237.
    224 Bab 3Tarsi ius gc:ser G = 1 1 x 1 06 psi. Jika torsi adalah T1 = 20.000 !b-in dan T2 = 8.000 !b-in, hitunglah: (a) tegangan geser maksimum rmaks di batang, dan (b) sudut rotasi C/Jc (dalam dc:rajat) di ujung C. 4 B I C 1+--- L, ___ _ J_____ L2 ___ __ J 3.4-2 Sebuah tabung lingkaran dengan diameter luar d3 = 70 mm dan diameter dalam d2 = 60 mm dilas di ujung kanan ke plat tetap dan di ujung kiri ke plat ujung kaku (lihat gambar). Sebuah batang lingkaran solid dengan diameter d1 = 40 mm ada di dalam, dan konsentris dengan, tabung. Batang ini menembus lubang di plat tetap dan dilas ke plat ujung. Batang ini panjangnya I ,0 m dan tabung mempunyai panjang setengah panjang batang. Sebuah torsi T = 1 .000 N.m bekerja di ujung A batang. Juga, baik batang maupun tabung terbuat dari paduan aluminium dengan modulus geser elastisitas G = 27 GPa. (a) Tentukan tegangan geser maksimum di batang dan di tabung. (b) Tentukan sudut puntir (dalam derajat) di ujung A batang. Tabung Batang 3.4-3 Sebuah batang bertangga (nonprismatis) ABCD yang terdiri atas tiga segmen lingkaran solid rnengalami tiga torsi seperti terlihat dalam gambar. Panjang setiap segmen adalah 24,0 in. dan diameternya adalah 3,0 in., 2,5 in., dan 2,0 in. Bahan batang adalah baja dengan modulus geser elastisitas G = 1 1 ,6 x I 03 ksi. (a) Hitunglah tegangan geser maksirnum r;naks di batang. (b) Hitunglah sudut puntir rfin (dalam derajat) di ujung D. 12,0k-in. 9.0k-in. 9,0k-in. t 2,0in. G t , B • � �· ·t' ''"'�D 11+--- 24in.---1+----- 24 in.--- 1 ,+----- 24 in.--1 3.4-4 Sebuah batang lingkaran solid ABC terdiri atas dua segmen seperti terlihat dalam gambar. Satu segmen mempunyai diameter d1 = 50 mm dan panjang L1 = 1 ,25 m; segmen lainnya mempunyai diameter d2 = 40 mm dan panjang L2 = I ,0 m. Berapa torsi izin Tizin jika tegangan geser tidak boleh melebihi 30 MPa dan sudut puntir antara kedua ujung batang tidak dapat melebihi I ,5°? (Asumsikan G = 80 GPa.) 3.4-5 Sebuah tabung berlubang AE yang terbuat dari metal monel rnengalarni Iima beban torsi yang bekerja dalam arah seperti terlihat dalam gambar. Besar torsi adalah T1 = 1 .000 !b-in.. T2 = T4 = 500 lb-in., dan T3 = T5 = 800 !b-in. Tabung ini rnernpunyai diameter luar d2 = 1 ,0 in. Tegangan geser izin adalah 1 2.000 psi dan laju puntir izin adalah 2°/ft. Tentukan diameter dalam izin maksimum d1 pada tabung. T1 = 800 !b-in. 75 = 800 !b-in. A B c D E d2 = 1,0 in. 3.4-6 Sebuah batang ABC (lihat gambar) terdiri atas batang solid dengan diameter d dari A ke B dan batang berlubang dengan diameter luar I ,25d dan diameterdalam d dari B ke C. Kedua batang mempunyai panjang L = 0,3 m. Torsi diterapkan ke batang melalui gigi di A, B, dan C. Torsi tersebut adalah T1 = 1 20 N.m, T2 = 270 A B C i L = 0,3 m ' 1 L = 0.3 m 1 i+------- - ---- .-! I..____ --·- - �-----.1
  • 238.
    N.m, dan T3= 150 N.m bekerja dalam arah seperti terlihat dalam gambar. Batang terbuat dari baja yang mempunyai modulus elastisitas geser sama dengan 80 GPa. (a) Berapa diameter perlu djika tegangan geser izin adalah 40 MPa? (b) Berapa diameter perlu d jika sudut puntir antara dua gigi dibatasi 1 ,0°? 3.4-7 Empat gigi terpasang pada batang lingkaran dan menyalurkan torsi seperti terlihat dalam gambar. (a) Berapa diameter perlu d untuk batang jika tegangan geser izin adalah I 0.000 psi? (b) Berapa diameter d diperlu jika batang mempunyai lubang dengan diameter dalam 1 ,0 in.? 8.000 !b-in. 19.000 lb-in. D 3.4-8 Sebuah batang dengan penampang lingkaran solid yang mempunyai dua diameter berbeda ditunjukkan dalam bagian pertama dalam gambar. Sebuah batang tabung prismatis yang terbuat dari bahan yang sama, dan mempunyai panjang sama, serta mempunyai kekakuan torsional ditunjukkan pada bagian kedua dari gambar. Tentukan diameter luar d batang berlubang jika tebal dinding t sama dengan d/10. I+ ------ 1.2 m----�---- -- 0,9 m ----1 3.4-9 Perhatikan batang yang meruncing (nonprismatis) dalam Gambar 3- 1 9 dan dianalisis dalam Contoh 3-5. Untuk rasio dJdA berapakah sudut puntir akan menjadi setengah dari sudut puntir batang prismatis yang diameternya dA? Mekanika Bahan 225 3.4-10 Batang nonprismatis yang terlihat dalam gambar 3- 1 9 dan dianalisis dalam Contoh 3-5 mengalami torsi T = 2100 N.m. Batang tersebut mempunyai panjang L = 2,5 m dan terbuat dari paduan aluminium yang mem­ punyai modulus geser G = 27 GPa. Tegangan geser izin batang ini adalah 52 MPa dan sudut puntir izin adalah 2,5°. Jika diameter di ujung B adalah dua kali diameter di ujung A, berapa diameter perlu dA di ujung A? 3.4-1 1 Sebuah tabung AB yang meruncing dengan penampang lingkaran berlubang ditunjukkan dalam gambar. Tabung tersebut mempunyai tebal dinding konstan t dan panjang L. Diameter rata-rata di kedua ujung adalah dA dan d8 = 2d4. Momen inersia polar dapat dinyatakan dengan rumus pendekatan JP "' rcdh/4 (Persamaan 3-1 8). Turunkanlah rumus untuk sudut puntir tabung ini apabila mengalami torsi T yang hekerja di kedua ujungnya. 3.4-1 2 Sebuah batang prismatis AB dengan penampang lingkaran solid (diameter d dan panjang L) dijepit di ujung kiri dan bebas di ujung kanan (lihat gambar). Batang ini dibebani oleh torsi yang terdistribusi dengan intensitas konstan t per panjang satuan. (a) Berapa tegangan geser maksimum di batang ini? (b) Berapa sudut puntir di ujung B? 3.4-1 3 Sebuah batang prismatis AB dengan penampang lingkaran solid (lihat gambar) dibebani oleh torsi yang terdistribusi dengan intensitas t(x) per panjang satuan yang bervariasi linier dari harga maksimum tA di ujung A ke nol di B. Batang ini dijepit di ujung A dan bebas di ujung B. Diameternya adalah d dan panjangnya adalah L. (a) Berapa tegangan geser maksimum di batang? (b) Berapa sudut puntir di ujung B'?
  • 239.
    226 Bab 3Torsi *3.4-1 4 Sebuah batang lingkaran horizontal dengan diameter d dan panjang L ditumpu di ujung A dan bebas di ujung B (Iihat gambar). Sebuah sayap horizontal terpasang di samping batang. Sayap ini mempunyai panjang yang bervariasi secara linier dari nol di ujung B ke panjang maksimum HA di ujung A. Berat total sayap adalah W. (a) Berapategangan geser maksimum di batang akibat torsi? (b) berapa sudut puntir di ujung B? (Catatan: Sayap juga menghasilkan lentur pada batang, namun lentur tidak mempunyai pengaruh terhadap sudut puntir.) GESER MURNI 3.5-1 Sebuah batang lingkaran solid dengan diameter d = 2,0 in. (lihat gambar) dipuntir pada suatu mesin uji sampai torsi mencapai harga T = 1 1 .000 lb-in. Pada harga torsi ini, pengukur regangan yang berorientasi 45° terhadap sumbu batang memberikan bacaan e = 305 x 10-6. Tentukan modulus geser G bahan. Pengukurregangan ; •l•2i" / T • I LOOO ib� ill. . : �3f- 3.5-2 Sebuah batang berlubang dengan diameter luar d-:. = 80 mm dan diameter dalam d1 = SO mm (lihat garnbar) terbuat dari aluminium yang mempunyai modu­ lus geser G = 27 GPa. Apabila batang ini mengalami torsi T = 4,0 kN.m, berapa harga regangan geser maksimum Ymaks dan regangan normal maksimum emaks? T 3.5·3 Sebuah tabung baja (G = 1 1 ,S x 106 psi) mem­ punyai diameter luar d2 = 2,0 in. dan diameter dalam d1 = 1 ,5 in. (lihat gambar). Pada saat dipuntir oleh torsi T, tabung tersebut mengalami regangan normal maksimum 170 x I 0-6. Berapa besar torsi T yang diterapkan? 3.5-4 Sebuah tabung aluminium (G = 2 8 GPa) mempunyai diameter luar d2 = 100 mm dan diameter dalam d1 = SO mm. (lihat gamhar). Pada saat dipuntir oleh torsi T, tabung tersebut mengalami regangan nor­ mal maksimum 6SO x 1 0-6. Berapa besar torsi T yang diterapkan? 3.5-5 Sebuah batang lingkaran solid dari baja (G = 1 1 ,6 x 103 ksi) menyalurkan torsi T = 4,0 k-in. Tegangan izin tarik, tekan, dan geser adalah masing-masing 1 2 ksi, 9 ksi, dan 8 ksi. Juga, regangan tarik izin maksimum adalah 300 x 10-6. Tentukan diameter minimum d yang diperlu­ kan pada batang tersebut. 3.5-6 Sebuah batang baja lingkaran berlubang (G = 80 GPa) yang dipuntir oleh torsi T menghasilkan regangan geser maksimum Ymaks = 639 x 1 0-6 rad. Batang tersebut mempunyai jari-jari luar dan dalam masing-masing 75 mm dan 60 mm. Berapa regangan tarik maksimum di batang? Berapa tegangan tarik maksimum di hatang? Berapa besar torsi T yang diterapkan? 3.5-7 Regangan normal dalam arah 4S0 pacta permukaan sebuah tabung lingkaran (lihat gambar) adalah 880 x 10-6 apabila torsi T = 7SO !b-in. Tabung ini terbuat dari paduan tembaga dengan G = 6,2 x 106 psi. Jika diameter luar d2 tabung adalah 0,8 in., berapa diameter dalam d1? Pengukurregangan / �d2 = 0,8 in. / T = 750 lb- in. • : f :��;:�W--
  • 240.
    PENYALURAN DAVA 3.7-1 Sebuahbatang generator di dalam hydroelectric plant kecil berputar pada 1 20 rpm dan menghasilkan 50 hp (Jihat gambar). (a) Jika diameter batang adalah d = 3,0 in., berapa tegangan geser maksimum rmab di batang? (b) Jika tegangan geser dibatasi pada 4000 psi, berapa seharusnya diameter d untuk batang tersebut? 3.7-2 Sebuah motor menggerakkan batang pada 1 2 Hz dan menghasilkan daya 20 kW (lihat gambar). (a) Jika batang mempunyai diameter d sebesar 30 mm, berapa tegangan geser maksimum rmaks di batang? (b) Jika tegangan geser izin maksimum adalah 40 MPa, berapa diameter d yang diperlukan untuk batang tersebut? 120Hz 3.7-3 Sebuah batang propeller dari sebuah kapal mem­ punyai diameter luar 1 4 in. dan diameter dalam 1 0 in. sepe1ti terlihat dalam gambar. Batang ini dirancang untuk tegangan geser maksimum 9000 psi. (a) Jika batang ini berputar pada 500 rpm, berapa tenaga kuda (hp) yang dapat disalurkan tanpa melebihi tegangan izin? (b) Jika laju rotasional batang dijadikan dua kali tetapi persyaratan daya tidak berubah, apa yang terjadi pada tegangan geser di batang? 3.7-4 Batang penggerak untuk sebuah truk (diameter luar 60 mm dan diameter dalam 40 mm) berputar pada 2500 rpm (lihat gambar). (a) Jika batang tersebut Mekanika Bahan 227 menyalurkan ! 50 kW, berapa tegangan geser maksimum di batang? (b) Jika tegangan geser izin adalah 35 MPa, berapa daya maksimum yang dapat disalurkan? 3.7-5 Sebuah batang lingkaran berlubang untuk pompa akan dide,ain dengan diameter dalam sama dengan 0,8 kali diameter luar. Batang tersebut harus menyalurkan 400 hp pada 800 rpm tanpa melebihi tegangan gescr izin 6000 psi. Tentukan diameter luar minimum d yang diperlukan. 3.7-6 Sebuah batang tabung yang akan didesain untuk digunakan pacta l·�ka'l kon-;truksi harus menyalurkan 1 20 kW pada 1 0 Hz. Diameter dalam batang direncana­ kan 3/4 kali diameter luar. Jika tegangan geser izin di batang adalah 45 �1Pa. berapa diameter Juar minimum d yang diperlukan? 3.7-7 Scbuah batang prc>pel!a dengan penampang lingkaran solid dan diameter d disambung dcngan menggunakan selongsong dari bahan yang sama (lihat gambar). Selongsong tersebut berukuran pas dengan bagian-b:�gian yang disambungnya. Berapa diameter luar d1 dari selongsong tersebut agar sambungan dapat menyalurkan daya sama seperti batang solid? 3.7-8 Berapa daya maksimum yang dapat disalurkan oleh batang propeller berlubang (diameter luar 50 mm, diameter dalam 40 mm, dan modulus geser elastisitas 80 GPa) yang berputar pada 600 rpm jika tegangan geser izin adalah 1 00 MPa dan laju puntir izin adalah 3°/m? 3.7-9 Sebuah motor memberikan 275 hp pada 1000 rpm ke ujung sebuah batang (lihat gambar). Gigi di B dan C masing-masing mengambil 1 25 dan 1 50 hp. Tentukan diameter d yang diperlukan pada batang jika tegangan geser izin adalah 7500 psi dan sudut puntir antara motor dan gigi C dibatasi 1 ,5°. (Asumsikan G = 1 1 ,5 x 1 06 psi, L1 = 6 ft, dan L2 = 4 ft.) Motor 1 1 L�--1 1..---Lz 3.7-1 0 Sebuah batang ABC yang terlihat dalam gambar digerakkan oleh motor yang memberikan daya 300 kW pada laj u 32 Hz. Gigi di B dan C masing-masing mengambil 1 20 dan 1 80 kW. Panjang kedua bagian
  • 241.
    r ' 228 3a= 3Tors1 - �- ; �.lh L1 = 1 ,5 m dan L2 = 0,9 m. Tentukan _ .:c_:-:-r.-.;;::- .; � ang diperlukan pada batang jika tegangan � : -<"7 :..c:n adalah 50 MPa, sudut puntir antara titik A dan _- �:.lh -+,0° dan G = 75 GPa. ELEMEN STRUKTUR TORSI STATIS TAK TENTU 3.8-1 Sebuah batang lingkaran solid dengan ujung jepit Jibebani torsi 3T0 dan 1�J pada lokasi yang terlihat dalam gambar. Dapatkan rumus untuk sudut puntir maksimum batang. (Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-46a dan b dari Contoh 3-9 untuk mendapatkan torsi reaksi. l L L ' 4 �- 2 -- -�1 3.8-2 Sebuah batang lingkaran solid dengan ujung-ujung jepit dibebani dua torsi T0 yang berlawanan arah seperti tcrlihat dalam gambar. Dapatkan rumus untuk torsi reaksi TA dan T1J' sudut puntir maksimum rf>maks• dan sudut puntir rf>o pada potongan tengah batang. (Petunjuk: Gunakan Pcrsamaan 3-46a dan b pada Contoh 3-9 untuk men­ dapatkan torsi reaksi.) 3.8-3 Sebuah batang baja berlubang ACB yang mcm­ punyai diameter luar 2 in. dan diameter dalam I ,5 in. ditahan terhadap rotasi di ujung A dan B (lihat gambar). Gaya horizontal P diterapkan di ujung-ujung lengan vcrtikal. Tcntukan harga izin untuk gaya P jika tegangan geser izin di batang adalah 4800 psi. (Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-46a dan b pada Contoh 3-9 untuk men­ dapatkan torsi reaksi.) 3.8-4 Sebuah batang lingkaran solid AB dengan dia­ meter d dijepit di kedua ujungm a (lihat gambar). Schuah cakram (disk) lingkaran dipasang ke batang tcrsebut pada lokasi seperti tergamhar. Berapa sudut puntir izin terbesar rf>pada disk jika tegangan geser izin adalah r,7,0'? (Asumsi­ kan hahwa a > b. Juga, gunakan persamaan 3-46a dan h dari Contoh 3-9 untuk mendapatkan torsi reaksi.) Cakram LJ i !- a - - �I !�- b - 3.8-5 Sebuah batang haja solid ACB yang ditahan secara kaku di kedua ujungnya mempunyai dua diameter yang berheda (lihat gambar). Dengan menganggap bahwa tegangan gcser izin maksimum adalah 9000 psi, tentukan torsi izin Tizin yang dapat diterapkan di titik C (Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-45a dan b dati Contoh 3-9 untuk mendapatkan torsi reaksi.) 0,6�5 in. 0,75 in. � B I i T 11..-- 8,0 in.-----..�1 �------ J 6 in. ··------ -.l ,- 3.8-6 Sebuah hatang bcrtangga dengan penampang lingkaran solid (lihat gambar) ditahan terhadap rotasi di kedua ujungnya. Jika tegangan iz.in geser adalah 55 MPa, berapa torsi izin Tizin yang dapat diterapkan pada batang ini di C? (Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-45a dan b dari Contoh 3-9 untuk mendapatkan torsi reaksi.) 40 mm I T ' . t 1�- 0,2 m J.__ _____ 0,5 m __ __ __ J 3.8-7 Sebuah batang lingkaran AB dengan kedua ujung­ nya terjepit mempunyai lubang di setengah panjangnya (lihat gambar). Diameter lubang adalah 3/4 dari diameter luar batang. Pada jarak x herapakah dari ujung kiri suatu 1-- x -- ------ ..1
  • 242.
    torsi T hamsditerapkan agar torsi reaksi di tumpuan akan sama? 3.8-8 Sebuah tabung berlubang AB yang panjangnya L dan rigiditas torsionalnya GIP secara kaku ditumpu di ujung A (lihat gamhar). Di ujung B sebuah batang hori­ zontal yang panjangnya 2c dilas ke tabung tersebut. Di dekat ujung-ujung batang horizontal ada dua pegas identik, masing-masing mempunyai kekakuan pegas k (gaya per peralihan satuan). Panjang celah antara ujung­ ujung pegas dan ujung-ujung batang adalah h. Pegas ditarik, dipasang ke ujung-ujung batang, dan selanjutnya dilepaskan, sehingga menyebabkan batang dan tabung berotasi dengan sudut kecil {3. Dapatkan rumus untuk torsi T di tabung. (Abaikan lentur batang.) 3.8-9 Sebuah batang lingkaran AB yang panjangnya L dijepit di kedua ujung dan dihebani oleh torsi yang terdistrihusi t(x) yang bervariasi secara linier dengan intensitas dari no! di ujung A hingga t0 di ujung B (lihat gambar). Dapatkan rumus untuk menghitung torsi ujung jepit TA dan Tw B _____ J 3.8-1 0 Sebuah batang baja solid dengan diameter 50 mm ditutupi oleh tabung haja dengan diameter luar 75 mm dan diameter dalam 60 mm (lihat gambar). Batang dan tabung tersebut ditahan secara kaku di ujung A dan digabungkan ke plat ujung kaku di B. Batang gabungan, yang panjangnya 750 mm, dipuntir oleh torsi T = 2000 N.m yang bekerja di ujung B. (a) Tentukan tegangan geser maksimum r, dan rb di tabung dan batang. (b) Mekanika Bahan 229 Tentukan sudut rotasi <fi plat kaku, dengan menganggap hahwa modulus geser baja adalah G = 80 GPa. (c) Tentu­ kan kekakuan torsional kT hatang gabungan tersebut. (Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-44a dan b untuk mencari tarsi. 1 T�bung " ----��- ��----�� ' ---- -,i 1.------ --- ----- '75(1 :r1m -------,- -�- /���� [ �- ( :'0 :nm j�� +- · I �J 1 166- m -;; I �75 mm-+ Plat ujung 3.8-1 1 Sebuah batang baja solid dengan diameter 2,0 in. ditutupi oleh tabung baja dengan diameter luar 3,0 in. dan diameter dalam 2,5 in. (lihat gambar). Batang dan tahung tersebut ditahan secara kaku di ujung A dan digabungkan ke plat ujung kaku di B. Batang gabungan, yang panjangnya 26 in. ini dipuntir oleh torsi T = 20 k­ in. yang bekcrja di ujung B. (a) Tentukan tegangan geser maksimum r, dan rh di tabung dan batang. (b) Tentukan sudut rotasi </! plat kaku, dengan menganggap bahwa modulus geser baja adalah G = 1 1 ,5 x I 06 psi. (c) Tentu­ kan kekakuan torsional kT batang gabungan terscbut. (Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-44a dan b untuk mcncari torsi.) 1----- 26 in. ---' Plat ujung 3.8-1 2 Sebuah batang gabungan terdiri atas tabung baja di luar inti perunggu yang sedemikian pas sehingga ke­ duanya beraksi sebagai satu unit dalam mengalami torsi (lihat gambar). Modulus geser elastisitas baja adalah G, = 75 GPa dan perunggu ada1ah Gh = 39 GPa. Diameter luar adalah d1 = 25 mm untuk inti dan d1 = 40 mm untuk tabung. Asumsikan bahwa torsi T = 900 N.m beraksi di batang. (a) Tentukan tegangan geser r Q di baja pada radius luar 20 mm, tegangan geser r,1 di haja pada radius dalam 1 2,5 mm, dan tegangan geser r h1 di perunggu pada radius luar sebesar 1 2,5 mm. Gambarlah grafik yang menunjukkan bagaimana tegangan geser bervariasi di sepanjang garis radial dari pusat batang ke
  • 243.
    230 Bab 3Tarsi �rmukaan luar. (b) Tentukan regangan geser y,2, y11, Jan Y bt di lokasi-lokasi yang disebutkan dalam bagian ' a1. Gambarlah grafik yang menunjukkan bagaimana regangan geser bervariasi di sepanjang garis radial dari pusat batang ke permukaan luar. (Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-44a dan b untuk mencari torsi.) Tabungbaja Intibaja 3.8-13 Sebuah batang selongsong baja terletak pas di luar inti perunggu sehingga menjadi batang gabungan yang panjangnya 30 in., seperti terlihat dalam gambar. Diameter luar selongsong dan inti masing-masing adalah 2,4 in. dan 2,0 in. Modulus geser elastisitas baja dan perunggu adalah G, = 1 1 .500 ksi dan Gb = 5.600 ksi. Batang ini mengalami torsi T = 20,0 k-in. (a) Tentukan tegangan geser maksimum rs dan rh yang masing-masing terjadi di bagian baja dan perunggu. (b) Tentukan sudut puntir <fi batang gabungan. (c) Tentukan kekakuan tor­ sional kT batang gabungan. (Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-44a dan b untuk mencari torsi.) T= 20,0k-in. Selongsongbaja Inti tembaga 3.8-1 4 Sebuah batang gabungan dibentuk dari dua bahan, selongsong luar dari baja (G, = 80 GPa) dan inti perunggu (Gh = 36 GPa), seperti terlihat dalam gambar. Diameter luar kedua bagian ini masing-masing adalah 75 mm dan 60 mm. Dengan menganggap bahwa tegangan geser izin ada1ah T s = 65 MPa dan Tb = 25 MPa, masing- Selongsongbaja Batangbundar tembaga masing di baja dan di perunggu, tentukan tors1 IZill maksimum Tizin yang dapat diterapkan pada batang tersebut. (Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-44a dan b untuk mencari torsi.) 3.8-15 Sebuah tabung baja S terletak pas di luar tabung aluminium A sehingga membentuk batang gabungan dengan diameter 3 in., 5 in., dan 6 in. (lihat gambar). Tegangan geser izin di baja dan aluminium adalah r, = 9.0 ksi dan r a = 4,0 ksi. Tentukan tarsi izin Ti7in yang dapat diterapkan pada batang ini dengan menganggap bahwa G, = 1 1.600 ksi dan Ga = 4.000 ksi. (Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-44a dan b untuk mencari torsi.) I ! I ! 1+-- 3 in ___.! I i I 5 • • I 1 - m. ---+1 �- 6 in.------+ � 5 --- A *3.8-1 6 Sebuah batang AB yang diametemya d1 mem­ punyai dua sayap lingkaran dengan diameter d2, seperti terlihat pada bagian (a) dalam gambar. Torsi T0 bekerja di ujung batang. Pada saat beban tarsi tersebut bekerja, selongsong dari bahan yang sama dan mempunyai di­ ameter luar d, serta diameter dalam d2 terletak pas di luar sayap. seperti terlihat pada bagian (b) dalam gambar. Selanjutnya tarsi T0 dihilangkan. Dengan menganggap bahwa sayap adalah kaku, turunkan rumus untuk meng­ hitung tegangan geser maksimum rmak' di selongsong. Selongsong ��""""� (b) ENERGI REGANGAN DALAM KONDISI TORSI 3.9-1 Sebuah batang 1ingkaran solid dari tembaga (G = 6,0 x 106 psi) dengan panjang L = 2,0 ft dan diameter d = 1 ,5 in. mengalami torsi mumi oleh torsi T yang
  • 244.
    bekeija di ujung-ujungnya.(a) Hitunglah energi regangan U yang disimpan di batang apabila tegangan geser maksimumnya adalah 3000 psi. (b) Dari energi regangan tersebut, hitunglah sudut puntir if!. 3.9-2 Sebuah batang lingkaran solid dari baja (G = 80 GPa) dengan panjang L = 1 , 8 m dan diameter d = 75 mm mengalami torsi murni oleh torsi T yang bekerja di ujung-ujungnya. (a) Hitunglah energi regangan U yang disimpan di batang apabila tegangan geser maksimumnya adalah 55 MPa. (b) Dari energi regangan tersebut, hitunglah sudut puntir if!. 3.9-3 Batang bertangga yang terlihat dalam gambar mempunyai panjang L = 100 in., diameter d2 = 2,0 in. dan diameter d1 = l ,5 in. Bahannya adalah baja dengan G = 1 1 ,8 x 106 psi. Tentukan energi regangan U batang ini apabila sudut puntirnya adalah 3,0°. ' dz d :.e���B"��;;."....,... 1+--� 1�---� I 3.9-4 Batang bertangga yang terlihat dalam gambar mempunyai panjang L = 1 ,2 m, diameter d2 = 30 mm, dan diameter d1 = 25 mm. Bahannya ada1ah perunggu dengan G = 40 GPa. Tentukan energi regangan U batang ini apabila sudut puntirnya adalah 0,060 rad. 3.9-5 Sebuah batang lingkaran yang panjangnya L dijepit di satu ujung dan bebas di ujung lainnya (lihat gambar). Batang ini dibebani oleh torsi T di ujung bebas dan oleh torsi yang terdistribusi kontinu dengan intensitas konstan t per panjang satuan di sepanjang sumbu batang. (a) Berapa energi regangan U1 di batang ini apabila beban T bekerja sendiri? (b) Berapa energi regangan U2 apabila beban t bekerja sendiri? (c) Berapa energi regangan U3 apabila beban tersebut bekerja bersama? 3.9-6 Turunkan rumus untuk menghitung energi regangan U suatu batang lingkaran yang terlihat dalam gambar. Intensitas t torsi bervariasi secara linier dari no! di ujung bebas ke harga maksimum t0 di tumpuan. Mekanika Bahan 231 3.9-7 Turunkan rumus untuk menghitung energi regangan U pada batang lingkaran statis tak tentu yang terlihat dalam gambar. (Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-46a dan b pada Contoh 3-9. Subbab 3.8 untuk mendapatkan torsi reaksi.) 3.9-8 Sebuah batang bertangga statis tak tentu ACB dijepit di ujung A dan B dan dibebani torsi T di C (lihat gambar). Kedua segmen batang terbuat dari bahan yang sama, mempunyai panjang LA dan LB, serta mempunyai momen inersia polar lpA dan lps· Tentukan sudut rotasi if! penampang di C dengan menggunakan energi regangan. (Petunjuk: Gunakan Persamaan 3-51 b untuk menentukan energi regangan U yang dinyatakan dalam <j>. Kemudian samakan energi regangan tersebut dengan kerja yang dilakukan oleh beban T. Bandingkan hasilnya dengan Persamaan 3-48 dalam Contoh 3-9, Subbab 3.8.) 3.9-9 Sebuah tabung berlubang dan berdinding tipis AB dengan bentuk kerucut mempunyai tebal konstan t dan diameter rata-rata dA dan d8 di ujung-ujungnya (lihat gambar). (a) Tentukan energi regangan U tabung tersebut apabila mengalami torsi murni oleh torsi T. (b) Tentukan sudut puntir if!. (Catatan: Gunakan rumus pendekatan JP
  • 245.
    232 5a= 3Tarsi = ."':.:': � unruk cincin lingkaran tipis; lihat Kasus 22 :..:.:.::..-n Larnpiran D.) B ---- L -�--�1 *3.9-10 Sebuah tabung lingkaran berlubang A terpasang secara pas di luar bagian ujung batang lingkaran B, seperti terlihat qalam gambar. Ujung jauh kedua batang adalah jepit. Pacta awalnya. sebuah lubang yang melalui batang B membentuk sudut f3 dengan garis yang melalui dua lubang di batang A. Batang B dipuntir sampai kedua lubang segaris, dan sebuah sendi diletakkan menembus lubang tersebut. Apabila batang B dilepaskan dan sistem tersebut kembali ke keseimbangan, berapa energi regangan U di kedua batang tersebut? (Misalkan IpA dan IP8 adalah momen inersia polar batang A dan B. Panjang L dan modulus geser elastisitas G sama untuk kedua batang.) 1+ - -- --- L --____.�._____---- L ---- -�I f3 1- ­ / . *3.9-1 1 Sebuah roda gila <flywheel) yang terpasang di ujung sebuah batang yang diameternya d berputar dengan n putaran per menit (lihat gambar). Jika tumpuan di A tiba-tiba berhenti, berapa sudut puntir maksimum batang? Berapa tegangan geser maksimum batang? (Misalkan L = panjang batang, G = modulus geser elastisitas, dan /m = momen inersia massa rodagaya terhadap sumbu batang. Juga. abaikan gesekan di tumpuan B dan C dan abaikan massa batang.) Petunjuk: Samakan energi kinetik roda gila yang berputar dengan energi regangan batang. TABUNG BERDINDING TIPIS 3.1 D-1 Sebuah tabung lingkaran berlubang yang mem­ pun� ai diameter dalam 10 in. dan tebal dinding I in. i lihat gambar) mengalami torsi T = 1200 k-in. Tentukan tegangan geser maksimum di tabung dengan mengguna­ kan: (a) teori pendekatan tabung berdinding tipis, dan ib) teori torsi eksak. Apakah teori pendekatan memberi­ kan hasil konservatif atau tidak? 3.1 0-2 Sebuah batang lingkaran solid yang mempunyai diameter d akan diganti dengan tabung perscgi panjang yang mempunyai dimensi penampang d x 2d pada garis mediannya (lihat gambar). Tentukan tebal perlu tmin untuk tabung tersebut agar tegangan geser maksimum di tabung tidak akan melebihi tegangan geser maksimum di batang lingkaran solid. 3.1 0-3 Sebuah tabung Jingkaran berdinding tipis dan batang lingkaran solid dari bahan sama, dengan luas penampang sama, serta mempunyai panjang sama, meng­ alami torsi. Berapa rasio energi regangan U1 di tabung terhadap energi regangan U2 di batang solid jika tegangan geser maksimum di keduanya sama? (Untuk tabung, gunakan teori pendekatan untuk batang berdinding tipis.) 3.1 0-4 Sebuah tabung aluminium berdinding tipis dengan penampang persegi panjang ditunjukkan dalam gambar. (a) Tentukan tegangan geser di tabung akibat tor�i T= 60 N.m. (b) Tentukan sudut puntir jika panjang tabung adalah 0,25 m dan G = 26 GPa.
  • 246.
    �3 mm i I 20 mm 1 r------50 mm----+ 1 3.1 0-5 Sebuah tabung baja berdinding tipis yang mem­ punyai penampang elips mengalami torsi T = 25 k-in. Tentukan tegangan geser r dan laju puntir ejika G = 12 x 106 psi, t = 0,2 in, a = 3 in, dan b = 2 in. (Catatan: Lihat Lampiran D, Kasus 16, untuk besaran-besaran elips.) 3.1 0-6 Hitunglah tegangan geser r dan sudut puntir c/J untuk tabung baja (G = 76 GPa), yang mempunyai penampang seperti terlihat dalam gambar. Tabung tersebut mempunyai panjang L = 1 ,0 m dan mengalami torsi T = 10 kN.m. r = 50 50 mm 3.1 0-7 Momen torsi T diterapkan pada tabung ber­ dinding tipis yang mempunyai penampang berbentuk heksagonal dengan tebal dinding konstan t dan panjang sisi b (lihat gambar). Turunkan rumus untuk tegangan geser r dan laju puntir e. Mekanika Bahan 233 3.1 0-8 Sebuah tabung aluminium (G = 28 GPa) dengan penampang bujursangkar (lihat gambar) dengan dimensi luar 50 mm x 50 mm harus menahan torsi T = 300 N.m. Hitunglah tebal dinding perlu minimum t jika tegangan geser izin adalah 20 MPa dan laju puntir izin e adalah 0,025 rad/m. 3.1 0-9 Bandingkan sudut puntir I/J1 untuk tabung lingkaran berdinding tipis (lihat gambar) yang dihitung dari teori pendekatan untuk batang berdinding tipis dengan sudut puntir cp2 yang dihitung dari teori torsi eksak untuk batang lingkaran. Nyatakan rasio c/J/c/J2 dalam besaran tak berdimensi f3 = rlt. Hitunglah rasio sudut puntir untuk f3 = 5, 10, dan 20. Apa kesimpulan tentang ketelitian teori pendekatan yang dapat ditarik dari hasil tersebut? 3.1 0-1 0 Penampang sebuah tabung yang mempunyai tebal dinding variabel tditunjukkan dalam gambar. Garis median penampang adalah lingkaran dengan radius r, dan tebalnya dinyatakan dengan persamaan t = t0(1 + sin�) di mana t0 adalah tebal di potongan di mana e = 0. Jika tabung mengalami torsi T, berapa tegangan geser maksimum rmaks' tegangan geser minimum rmin' dan sudut puntir c/J? y
  • 247.
    234 Bab 3Torsi 3.10-1 1 Sebuah tabung tipis dengan penampang lingkar­ an dihat gambar) yang mempunyai diameter dalam 4 in. rnengalami torsi 45.000 lb.in. Jika tegangan geser izin adalah 6.000 psi, tentukan tebal dinding yang diperlukan r dengan menggunakan (a) teori pendekatan untuk tabung berdinding tipis, dan (b) teori torsi eksak untuk batang lingkaran. 3.1 0-1 2 Sebuah tabung persegi panjang berdinding tipis mempunyai tebal seragam t dan dimensi dx b pada garis median penampang (lihat gambar). Bagaimana tegangan geser di tabung bervariasi terhadap rasio f3 = a/b jika panjang total Lm garis median penampang dan torsi T tetap konstan? Dari hasil tersebut, tunjukkan bahwa tegangan geser akan terkecil jika tabung tersebut adalah bujursangkar (/3 = I). � t t Ib 1 �---- a - - - - - ..1 3.1 0-1 3 Ulangi soal sebelum ini untuk laju puntir e dan selanjutnya tunjukkan bahwa laju puntir akan terkecil jika tabung adalah bujursangkar (/3 = 1). *3.10-14 Sebuah tabung berdinding tipis, panjang, dan meruncing AB dari penampang lingkaran (lihat gambar) mengalami torsi T. Tabung tersebut mempunyai panjang Ldan tebal dinding konstan t. Diameter ke garis median penampang di ujung A dan B adalah dA dan d8. Turunkan +---- L ----...1 rumus untuk menghitung sudut puntir tabung l/J. (Petunjuk: Jika sudut peruncingan kecil, kita dapat memperoleh hasil pendekatan dengan menerapkan rumus tabung prismatis berdinding tipis pada elemen diferensial dari tabung yang meruncing, untuk selanjutnya meng­ integrasikannya di sepanjang sumbu.) KONSENTRASI TEGANGAN PADA KONDISI TORSI Soal-soal untuk Subbab 3. 1 1 dipecahkan dengan meninjau faktor konsentrasi tegangan. 3.1 1-1 Sebuah batang bertangga yang terdiri atas segmen lingkaran solid dengan diameter DJ = 2,0 in. dan D2 = 2,4 in. (lihat gambar) mengalarni torsi T. Radius fillet adalah R = 0,1 in. Jika tegangan geser izin adalah 1 2.000 psi, berapa torsi izin maksimum Tmaks? Gambar Soal 3.1 1. 1 sampai 3.1 1 -5 T � 3.1 1 -2 Sebuah batang bertangga dengan diameter DJ = 40 mm dan D2 = 60 mm memikul torsi T = 1 100 N.m (lihat gambar). Jika tegangan geser izin adalah 120 MPa, berapa radius terkecil Rmin yang dapat digunakan untuk fillet? 3.1 1 -3 Sebuah fillet seperempat lingkaran penuh di­ gunakan di bahu batang bertangga yang mempunyai diameter D2 = 1 ,0 in. (lihat gambar). Torsi T = 500 !b­ in. bekerja di batang ini. Tentukan tegangan geser maksimum'tmax di batang untuk radius sebagai berikut: DJ = 0,7; 0,8; dan 0,9 in. Plot grafik yang menunjukkan hubungan rmaks versus DJ. 3.1 1 -4 Sebuah batang bertangga yang terlihat dalam gambar diharuskan menyalurkan daya 600 kW pada 400 rpm. Batang tersebut mempunyai fillet seperempat lingkaran penuh, dan diameter terkeci1 DJ = 100 mm. Jika tegangan geser izin ada1ah 100 MPa, berapa dia­ meter perlu D2? Apakah diameter ini merupakan batas bawah atau atas untuk D2? 3.1 1 -5 Sebuah batang bertangga (lihat gambar) mem­ punyai diameter D2 = 1.5 in. dan fillet seperempat ling­ karan penuh. Tegangan geser izin adalah 15.000 psi dan beban T = 4800 lb-in. Berapa diameter izin terkecil DJ? TORSI TAK SERAGAM 3.1 2-1 Sebuah batang dengan penampang lingkaran solid terbuat dari bahan yang mengikuti hukum Hooke (r = G1J. Turunkan persamaan untuk laju puntir (l/J =
  • 248.
    TIG/P) dengan ' menggunakan Persamaan(3-78) untuk torsi nonlinier. 3.1 2·2 Sebuah batang lingkaran solid (radius r) yang mengalami torsi T terbuat dari bahan dengan kurva tegangan-regangan geser yang dinyatakan dengan persamaan rn = By, di mana n dan B adalah konstanta (lihat gambar). (a) Tmunkan rumus torsi untuk tegangan geser rmaks di tepi luar penampang. (b) Selidiki kebenaran rumus tersebut untuk kasus elastis linier (rmaks = Tr//P) di mana n = I . r 0 y 3.1 2-3 Turunkan rumus untuk rasio torsi plastis TP terhadap torsi luluh TY untuk tabung lingkaran (lihat gambar) jika tabung tersebut terbuat dari bahan elastoplastis (lihat diagram tegangan-regangan pada Gambar 3-5la). Plotlah grafik rasio T/TY versus rasio r/r2. 3.1 2-4 Sebuah batang lingkaran solid yang mempunyai diameter d = 60 mm terbuat dari bahan elastoplastis dengan G = 76 GPa dan r,. = 125 MPa. Hitunglah laju puntir ()jika torsi T = 6,0 kN.m bekerja pada batang. Mekanika Bahan 235 3.1 2-5 Sebuah batang lingkaran solid dengan diameter d = !.5 in. terbuat dari bahan elastoplastis dengan G = 1 1 .0 x I 06 P'i dan r,. = 1 8.000 psi. Hitunglah laju puntir () jika torsi T = 1 160 lb-ft bekerja pacta batang. *3.1 2-6 Denpn menggunakan diagram tegangan­ regangan untuk bahan e1astoplastis pada Gambar 3-52, turunkan Persamaan 13-83) untuk menghitung torsi T. *3.1 2-7 Sebuah batang 1ingkaran berlubang mempunyai diameter da1am d1 = 3 in. dan diameter luar d2 = 6 in. (lihat gambar). Batang tersebut terbuat dari baja yang mempunyai diagram tepngan-regangan geser clas­ toplastis (lihat Gambar 3-5 1a) dengan r, = 24.000 psi dan Y.. = 0,002. (a) Berapa torsi T yang bekerja di batang yang · akan menghasi1kan regangan geser maksimum Ymaks = 0,003 di batang tersebut'1 1 bl Berapa torsi p1astis TP? (c) Berapa regangan geser maksimum Yp apabila torsi tepat mencapai harga torsi plastis T r·: d2 = 6 in. *3.1 2-8 Sebuah batang lingkaran solid dengan radius r = 40 mm terbuat dari bahan yang mempunyai diagram tegangan-regangan seperti terlihat dalam gambar. Hitunglah tegangan geser maksimum rmaks di batang jika torsi T = 6 kN.m. rv = 40 MPa -- - - - - - - 0 y
  • 249.
    4 - Gambar 4-1 Contohbalokyang dibebani gaya lateral GAYA GESER DAN MOMEN LENTUR PENGANTAR Elemen struktural biasanya dikelompokkan menurut jenis-jenis beban yang dipikulnya. Sebagai contoh, batang yang dibebani secara aksial memikul gaya-gaya yang mempunyai vektor di sepanjang sumbu batang dan batang dalam keadaan tarsi memikul torsi (atau kopel) yang mempunyai vektor momen di sepanjang sumbu. Dalam bab ini, kita mulai mempelajari balok (Gambar 4- l), yang merupakan elemen struktur yang mengalami beban lateral, yaitu gaya-gaya atau momen yang vektomya tegak lurus sumbu batang. Balok yang terlihat dalam Gambar 4-1 dikelompokkan sebagai struktur planar karena terletak di satu bidang. Jika semua beban bekerja di bidang yang sama, dan jika semua defleksi (yang ditunjukkan dengan garis putus) terjadi di bidang tersebut, maka kita menyebut bidang tersebut dengan bidang lentur (plane of bending). Di dalam bab ini kita membahas gaya geser dan momen lentur di balok, dan kita akan menunjukkan bagaimana besaran-besaran tersebut berkaitan satu sama lain dan dengan beban. Mencari gaya geser dan momen lentur merupakan langkah penting dalam mendesain suatu balok. Kita biasanya perlu mengetahui bukan hanya harga maksimum dari besaran­ besaran tersebut, tetapi juga bagaimana besaran-besaran tersebut bervariasi di sepanjang sumbu. Apabila gaya geser dan momen lentur telah diketahui, maka kita dapat mencari tegangan, regangan, dan defleksi, sebagaimana dibahas dalam Bab 5, 6, dan 9. JENIS-JENIS BALOK, BEBAN, DAN REAKSI B alok biasanya dideskripsikan berdasarkan bagaimana balok tersebut ditumpu. Sebagai contoh, suatu balok dengan tumpuan sendi (pin sup­ port) di satu ujung dan tumpuan rol (roller support) di ujung lainnya (Gambar 4-2a) disebut balok bertumpuan sederhana atau balok sederhana. Ciri penting pada tumpuan sendi adalah bahwa tumpuan ini mencegah translasi di ujung suatu balok tetapi tidak mencegah rotasinya. Jadi, ujung A dari balok dalam Gambar 4-2a tidak dapat bergerak dalam
  • 250.
    P,l, q, - t/2 q,rrrr�- j'·F·� "-:-=�, � i-a-,..i �- b- _,.. ' , M, fR I A '•- �-- ---- L ----- ,..., (b) (c) Gambar 4-2 Jenis-jenis balok: (a) balok sederhana, (b) balok kantilever, dan (c) balok dengan overhang (ovcrstek) Mekanika Bahan 237 arah horizontal atau vertikal tetapi sumbu batang dapat herotasi dalam bidang gambar. Karena itu, tumpuan sendi dapat memberikan reaksi berupa gaya dengan komponen horizontal dan vertikal (HA dan H8), tetapi tidak dapat memberikan reaksi berupa momen. Di ujung B dari balok (Gambar -1--2al. tumpuan rol mencegah translasi dalam arah vertikal tetapi tidak dalam arah horizontal, sehingga tumpuan ini dapat menahan gaya vertikal (R8l tetapi tidak gaya horizontal. Tentu saja. sumbu balok bebas berputar di B seperti juga di A. Reaksi vertikal di tumpuan rol dan tumpuan sendi dapat beraksi ke atas atau ke bawah, dan reaksi di tumpuan sendi dapat berarah ke kiri atau ke kanan. Di dalam gambar-gambar, reaksi ditunjukkan dengan panah yang dicoret untuk membedakannya dengan beban, sebagaimana telah diterangkan sebelum ini di dalam Subbab 1.8. B alok yang terlihat dalam Gambar 4-2b. yang dijepit di satu ujung dan bebas di ujung lainnya, disebut balok kantilever I cantilever beam). Di tumpuan jepit (clamped supprot) balok tidak dapat bertranslasi maupun berotasi, sedangkan di ujung bebas balok tersebut dapat bertranslasi dan berotasi. Dengan demikian, baik reaksi gaya maupun momen dapat ada di tumpuan jepit. Contoh ketiga dalam gambar adalah balok dengan overhang (bagian overstek) (Gambar 4-2c). Balok ini ditumpu sederhana di titik A dan B (artinya, balok mempunyai tumpuan sendi di A dan tumpuan rol di B) tetapi ada bagian yang menerus (overstek) di atas tumpuan B. Bagian overstek ini mirip dengan balok kantilever tetapi dalam hal ini sumbu balok dapat berotasi di titik B. Dalam menggambar balok, kita identifikasikan tumpuan dengan simbol konvensional, seperti terlihat dalam Gambar 4-2. Simbol ini menunjukkan bagaimana balok ditahan, sehingga simbol ini sekaligus juga menunjukkan bagaimana perilaku reaksi yang berupa gaya dan momen. Sekalipun demikian, simbol tersebut tidak menunjukkan konstruksifisik secara aktual. Sebagai contoh, tinjau struktur yang terlihat dalam Gambar 4-3. Bagian (a) dari gambar tersebut menunjukkan sebuah balok sayap lebar yang ditumpu oleh dinding beton dan ditahan oleh baut angkur yang menembus lubang slot di flens hawah dari halok tersebut. Konstruksi ini menahan balok terhadap gerakan vertikal (baik ke atas atau pun ke bawah) tetapi tidak mencegah gerakan horizontal. Juga, tahanan terhadap rotasi sumbu longitudinal balok adalah kecil dan biasanya dapat diabaikan. Dengan demikian. tumpuan seperti ini biasanya direpresentasikan sebagai rol, seperti terlihat dalam bagian (b) gambar tersebut. Contoh kedua (Gambar 4-3c) adalah sambungan balok ke kolom di mana balok terpasang di flens kolom dengan menggunakan siku yang dibaut. Tumpuan seperti ini biasanya diasumsikan menahan balok terhadap gerakan horizontal dan vcrtikal tetapi tidak menahan rotasi (tahanan terhadap rotasi sangat kecil karena siku dan kolom dapat melentur). Jadi, sambungan ini cenderung direpresentasikan schagai mnpuan scndi pada balok (Ga�bar 4-3d). Contoh terakhir (Gambar 4-3e) adalah tiang metal yang dilas ke plat landasan yang diangkur ke pir beton yang tertanam di tanah. Karena dasar dari tiang ini dikckang penuh terhadap translasi dan rotasi, maka ini dapat dipandang sebagai tumpuan jepit (Gambar 4-3f). Menyatakan struktur ril dengan model yanfi diidealisasikan, sebagai­ mana diilustrasikan dengan balok dalam Gambar 4.2, merupakan aspek
  • 251.
    238 5a: .!.Ga_va Geser dan Momen Leritur Dindingbeton (a) angkur Platlandasan Balok Et{� � (b) penting dalam dunia teknik. Model hams cukup sederhana untuk menunjuk­ kan perilaku aktual struktur dengan ketelitian yang cukup memadai. Tentu saja, setiap model merupakan pendekatan terhadap kenyataan. Sebagai contoh, tumpuan aktual suatu balok tidak pernah benar-benar rigid karena selalu ada sedikit translasi di tumpuan sendi dan sedikit rotasi di tumpuan jepit. Juga, tumpuan tidak pernah benar-benar bebas gesekan, sehingga selalu ada sedikit tahanan terhadap rotasi di tumpuan rol. Pada umumnya, terutama pada balok statis tertentu, penyimpangan dari kondisi ideal hanya berpengaruh sedikit terhadap aksi balok dan dapat dengan aman diabaikan. • Jenis-jenis Beban Plat landasan Pirbeton (C) (d) Gambar 4-3 Balokyangditumpu padadinding: (a)konstruksi aktual, dan (b) representasi sebagai tumpuan rol. Sambungan balok ke kolom: (c) sambungan aktual, dan (d) representasi sebagai tumpuan sendi. Tiang yang diangkur ke pir betcn: (e) konstruksi aktual,dan (f) representasi sebagai tumpuanjepit Beberapa jenis beban yang bekerja di balok diilustrasikan dalam Gambar 4-2. Apabila suatu beban bekeija pacta area yang sangat kecil, maka beban tersebut dapat diidealisasikan sebagai beban terpusat, yang merupakan gaya tunggal. Contohnya adalah beban Pl' P2, P3' dan P4 dalam gambar tersebut. Apabila suatu beban tersebar pada sumbu balok, maka ini merupakan beban terdistribusi, seperti beban q dalam bagian (a) dari gambar tersebut. Beban terdistribusi dinyatakan dengan intensitasnya, yang mempunyai satuan gaya per jarak satuan (sebagai contoh, newton per meter atau pound per feet). Beban terdistribusi terbagi rata, atau beban terbagi rata mempunyai intensitas konstan q per jarak satuan (Gambar 4-2a). Beban yang berubah mempunyai intensitas yang berubah terhadapjarak di sepanjang sumbu balok; misalnya, beban yang bervariasi secara linier dalam Gambar 4-2b mempunyai intensitas yang bervariasi secara linier dari q1 ke q2• Beban lain dari beban adalah kopel, yang diilustrasikan sebagai kopel dari momen M1 yang bekeija di bagian overstek dari balok (Gambar 4-2c). Sebagaimana disebutkan dalam Subbab 4. 1, kita asumsikan di dalam pembahasan ini bahwa beban bekerja di bidang gambar, yang berarti bahwa semua gaya harus mempunyai vektor di dalam bidang gambar dan semua kopel harus mempunyai vektor momen tegak lurus bidang gambar. Selain itu, balok tersebut harus simetris terhadap bidang tersebut, yang berarti bahwa setiap penampang balok harus mempunyai sumbu simetri vertikal. Pada kondisi ini, balok akan berdefleksi hanya di bidang lentur (bidang gambar). • Reaksi Mencari reaksi biasanya merupakan langkah pertama dalam analisis suatu balok. Apabila reaksi telah diketahui, gaya geser dan momen lentur dapat diperoleh, seperti yang akan diuraikan dalam bagian lain bab ini. Jika suatu balok ditumpu secara statis tertentu, maka semua reaksi dapat diperoleh dari diagram benda bebas dan persamaan keseimbangan. Sebagai contoh, kita akan menentukan reaksi balok sederhana AB dalam Gambar 4-2a. Balok ini dibebani oleh gaya miring ?1, gaya vertikal P2, dan beban terdistribusi dengan intensitas q. Kita mulai dengan memperhatikan bahwa balok tersebut mempunyai tiga reaksi anu: gaya horizontal H_4 di tumpuan sendi, gaya vertikal RA di tumpuan sendi, dan gaya vertikal R8 di tumpuan rol. Untuk suatu struktur planar (bidang), seperti balok ini, kita ketahui dari statika bahwa kita dapat menulis tiga persamaan keseimbangan independen. Jadi, karena ada tiga reaksi anu dan tiga persamaan, maka balok ini statis tertentu.
  • 252.
    Mekanika Bahan 239 Persamaankeseimbangan horizontal adalah yang menghasilkan Hasil ini dapat saja diperoleh dengan pengamatan secara cepat tanpa harus menuliskan persamaan keseimbangan. Untuk mencari reaksi vertikal RA dan R8, kita tulis persamaan keseimbangan momen terhadap titik B dan A , dengan menggunakan perjanjian tanda positif untuk momen berlawanan arah jarum jam. "£M8 = 0 - RAL + (P1 sin a)(L - a) + P2(L - b) + qc 2 !2 = 0 "£MA = 0 R� - (P1 sin a)(a) - P2b - qc(L - c/2) = 0 Dengan memecahkan kedua persamaan di atas kita peroleh (fl sin a)(L - a) P 2 (L- b) qc 2 � � - -'- '---- -'- + + - L L 2L R _ (fl sin a)(a) P 2b 2.. qc --' ('- L_ - _ cl _ 2 _:_ ) 8 - L + - L - + L Sebagai pengecekan apakah hasil ini benar, kita tulis persamaan keseimbangan dalam arah vertikal dan akan terbukti bahwa hasil ini sudah benar. Sebagai contoh kedua, tinjau balok kantilever dalam Gambar 4-2b. Bebannya terdiri atas gaya miring P3 dan beban terdistribusi secara linier. Beban terdistribusi ini mempunyai diagram trapesium dengan intensitas yang bervariasi dari q1 ke q2• Reaksi di tumpuan jepit adalah gaya hori­ zontal HA, gaya vertikal RA, dan kopel MA. Keseimbangan gaya dalam arah horizontal menghasilkan H - 5?-; A - 13 dan keseimbangan dalam arah vertikal menghasilkan R = 12?-; + (ql + q2 )b A 1 3 2 Dalam mencari reaksi ini kita perlu mengingat fakta bahwa resultan dari beban terdistribusi sama dengan luas diagram beban trapesium. Reaksi momen MA di tumpuan jepit diperoleh dari persamaan keseimbangan momen. Dalam contoh ini kita akan menjumlahkan momen terhadap titik A untuk mengeliminasi HA dan RA dari persamaan momen. Juga, untuk mencari momen akibat beban terdistribusi, kita membagi trapesium menjadi dua segitiga, seperti terlihat dengan garis putus dalam Gambar 4-2b. Setiap segitiga beban dapat diganti dengan suatu resultan, yang merupakan gaya yang besamya sama dengan luas segitiga, dan mempunyai garis kerja yang melalui pusat berat segitiga. Jadi, momen terhadap titik A akibat segitiga beban bagian bawah adalah
  • 253.
    240 Bab 4Gaya Geser dan Momen Lentur di mana q1bl2 adalah gaya resultan (sama dengan luas diagram beban segitiga) dan L - 2b/3 adalah lengan momen (terhadap titik A) akibat resultan tersebut. Momen di bagian segitiga atas diperoleh dengan prosedur yang sama, dan persamaan akhir keseimbangan momen (berlawananjarum jam adalah positif) adalah M = (12P,) a_ q1b(L_ 2b)_ q2b(L_ !?_) = O A 13 2 3 2 3 sehingga Karena persamaan ini memberikan hasil positif, maka momen reaksi MA bekerja dalam arah sama dengan yang diasumsikan, yaitu berlawanan jarum jam. (Rumus untuk RA dan MA dapat dicek dengan menjumlahkan momen terhadap titik B dan membuktikan bahwa persamaan keseimbangan tersebut akan susut menjadi suatu identitas.) Balok dengan overstek (Gambar 4-2c) memikul gaya vertikal P4dan kopel momen M1•Karena tidak ada gaya horizontal yang bekerja di balok, maka reaksi horizontal di tumpuan sendi tidak ada dan kita tidak perlu memunculkannya dalam diagram benda bebas. Dalam menarik kesimpulan ini, kita menggunakan persamaan keseimbangan dalam arah horizontal. Dengan demikian, hanya ada dua persamaan keseimbangan independen - yaitu dua persamaan momen, atau satu persamaan momen plus persamaan untuk keseimbangan vertikal. Misalkan kita memilih untuk menulis dua persamaan momen, yang pertama adalah momen terhadap titik B dan yang kedua adalah momen terhadap titik A, sebagai berikut (momen berlawanan jarum jam adalah positif): l.M8 = 0 -RAL + P/L - a) + M1 = 0 'L:MA = 0 - P4a + R� + M1 = 0 Dengan demikian, reaksinya adalah Sekali lagi, perjumlahan gaya-gaya dalam arah vertikal dapat digunakan untuk megecek kebenaran hasil ini. Pembahasan di atas mengambarkan bagaimana reaksi pada balok statis tertentu dihitung dari persamaan keseimbangan. Kita sengaja menggu­ nakan contoh-contoh dengan simbol, bukannya contoh numerik, agar terli­ hat jelas bagaimana masing-masing . langkah dilakukan. (Di dalam contoh­ contoh lain kita kadang-kadang mengabaikan perhitungan reaksi karena langkahnya pada dasarnya sama dengan yang telah dijelaskan di sini.) -· 4·• 3 I GAYA GESER DAN MOMEN LENTUR Pada saat suatu balok dibebani oleh gaya atau kopel, tegangan dan regangan akan terjadi di seluruh bagian interior balok. Untuk menentukan tegangan dan regangan ini, mula-mula kita harus mencari gaya internal dan kopel
  • 254.
    At:r:_�·� 1----x-1 (a) c...:;.;.;__�=""""= '"M 1- x---.lv (b) (c) Gambar 4-4 Gayageser V dan momen lenturMdi suatubalok Mekanika Bahan 241 internal yang bekerja pada balok. Sebagai ilustrasi bagaimana besaran internal ini diperoleh, tinjau balok kantilever AB yang dibebani oleh gaya P di ujung bebas (Gambar 4-4a). Kita memotong balok tersebut di potongan melintang mn yang terletak pada jarak x dari ujung bebas dan mengisolasi bagian kiri dari balok sebagai benda bebas (Gambar 4-4b). Benda bebas ini dipertahankan berada dalam keseimbangan oleh gaya P dan tegangan yang bekerja di penampang. Tegangan-tegangan ini mewakili aksi bagian sebelah kanan balok pada bagian kirinya: yang kita ketahui adalah bahwa resultan dari tegangan ini harus sedemikian hingga mempertahankan keseimbangan benda bebas. Dari statika, kita ketahui bahwa resultan dari tegangan yang bekerja di penampang adalah gaya geser V dan momen lentur M (Gambar 4-4b). Karena beban P berarah transversal terhadap sumbu balok, maka tidak ada gaya aksial di penampang. Baik gaya geser maupun momen lentur bekerja di bidang balok, artinya vektor gaya geser terletak di bidang gambar dan vektor momen lentur adalah tegak lurus bidang gambar. Gaya geser dan momen lentur, seperti gaya aksial di batang dan torsi intenal di batang, merupakan resultan dari tegangan yang terdistribusi di suatu penampang. Dengan demikian, besaran-besaran ini dapat disebut resultan tegangan. Resultan tegangan pada balok statis tertentu dapat dihitung dari persamaan keseimbangan. Dalam hal balok kantilever dalam Gambar 4- 4a, kita menggunakan diagram benda bebas dalam Gambar 4-4b. Dengan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah vertikal dan mengambil momen terhadap potongan, kita dapatkan 'i.Pvert = 0 P - V = 0 atau V = P 'LM = 0 M - Px = 0 atau M = Px di mana x adalah jarak dari ujung bebas balok ke potongan di mana V dan M dihitung. Jadi, dengan menggunakan diagram benda bebas dan dua persamaan keseimbangan, maka kita dapat menghitung gaya geser dan momen lentur dengan mudah. • Perjanjian Tanda Sekarang kita tinjau perjanjian tanda untuk gaya geser dan momen lentur. Gaya geser dan momen lentur biasa diasumsikan bertanda positif jika bekerja dalam arah seperti terlihat dalam Gambar 4-4b. Perhatikan bahwa gaya geser tersebut cenderung untuk memutar bahan searah jarum jam dan momen lentur cenderung menekan bagian atas balok dan menarik bagian bawahnya. Juga, untuk di potongan tersebut, gaya geser bekerja ke bawah dan momen lentur bekerja berlawanan jarum jam. Aksi resultan tegangan yang sama terhadap bagian kanan balok ditunjukkan dalam Gambar 4-4c. Arah kedua besaran sekarang kebalikannya - gaya geser bekerja ke atas dan momen lentur bekerja searah jarum jam. Sekalipun demikian, gaya geser cenderung memutarkan bahan searah jarum jam dan momen lentur tetap menyebabkan tekan di bagian atas dan tarik di bagian bawah balok. Dengan demikian, kita harus mengingat bahwa tanda aljabar resultan tegangan ditentukan dengan bagaimana resultan tersebut mengubah bentuk bahan di mana resultan tersebut bekerja, bukan dengan arahnya di dalam ruang. Dalam hal balok, gaya geser positif bekerja searah jarum jam
  • 255.
    242 Bab 4Gaya Geser dan Momen Lentur Gambar 4-5 Perjanjian tanda untukgayageser V dan rnornen lenturM (a) ) M Gambar 4-6 Deforrnasi (digarnbar dengan sangatdibesarkan) suatu balok yangdiakibatkan oleh: (a) gayageser, dan (b) momen lentur LEMBAR KERJA 3 • terhadap bahan (Gambar 4-4b dan c) dan gaya geser negatif bekerja berlawananjarumjam terhadap bahan. Juga, momen lentur positif menekan bagian atas balok (Gambar 4-4b dan c) dan momen lentur negatif menekan bagian bawah. Untuk memperjelas perjanjian tanda ini, gaya geser positif dan negatif maupun momen lentur positif dan negatif ditunjukkan dalam Gambar 4-5. Gaya dan momen seperti terlihat bekerja pada elemen balok yang dipotong antara dua penampang yang jaraknya berdekatan satu sama lain. Deformasi suatu elemen yang diakibatkan oleh gaya geser positif dan negatif maupun momen lentur positif dan negatif terlihat dalam Gambar 4-6. Kita lihat bahwa gaya geser positif cenderung mengubah bentuk elemen dengan muka kanan bergerak ke bawah relatif terhadap muka kiri, dan seperti telah disebutkan, momen lentur positif menekan (dan memperpendek) bagian atas dan menarik bagian bawah balok. Perjanjian tanda untuk resultan tegangan disebut perjanjian tanda deformasi karena didasarkan atas bagaimana bahan berdeformasi. Sebagai contoh, kita telah menggunakan perjanjian tanda deformasi pada kasus gaya aksial di suatu batang. Kita telah menyatakan bahwa gaya aksial yang menyebabkan perpanjangan (yaitu tarik) di suatu batang adalah positif dan gaya aksial yang menyebabkan perpendekan (yaitu tekan) adalah negatif. Jadi, tanda untuk gaya aksial bergantung pada bagaimana bahan berdeformasi, bukan bergantung pada arahnya di dalam ruang. Sebaliknya, dalam menuliskan persamaan keseimbangan kita meng­ gunakan perjanjian tanda statika di mana gaya-gaya adalah positif atau negatif bergantung pada arahnya di sepanjang sumbu koordinat. Sebagai contoh, jika kita menjumlahkan gaya-gaya dalam arah y, maka gaya-gaya yang bekerja dalam arah positif sumbu y dianggap positif dan gaya-gaya yang bekerja dalam arah negatif dianggap negatif. Sebagai contoh, tinjau Gambar 4-4b, yang merupakan diagram benda bebas bagian dari bagian balok kantilever. Bayangkan bahwa kita akan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah vertikal dan bahwa sumbu y adalah positif ke atas. Dengan demikian, beban P diberi tanda positif dalam persamaan keseimbangan karena beraksi ke atas. Namun, gaya geser V (yang merupakan gaya geser positij) diberi tanda negatif karena bekerja ke bawah (yaitu dalam arah negatif sumbu y). Contoh ini menunjukkan perbedaan antara perjanjian tanda deformasi yang digunakan untuk gaya geser dan perjanjian tanda statika yang digunakan dalam persamaan keseimbangan. Contoh berikut mengilustrasikan cara-cara menangani perjanjian tanda dan menentukan gaya geser serta momen lentur di balok. Prosedur umumnya terdiri atas pembuatan diagram benda bebas dan pemecahan persamaan keseimbangan. Contoh 4-1 Sebuah balok sederhana AB memikul dua beban, gaya P dan kopel M0, yang bekerja seperti terlihat dalam Gambar 4-7a. Carilah gaya geser V dan momen lentur M di balok di penampang yang terletak pada (a) dekat di sebelah kiri titik tengah balok, dan (b) dekat di sebelah kanan titik tengah balok. Solusi Reaksi. Langkah pertama dalam analisis balok ini adalah mencari reaksi RA dan R8 di tumpuan. Dengan mengambil momen terhadap ujung B dan A kita peroleh
  • 256.
    (c) Gambar 4-7 Contoh4-1. Gaya geserdan momen lenturpada baloksederhana LEMBAR KERJA 3 Mekanika Bahan 243 dua persamaan keseimbangan, sehingga R _ 3P _ M0 A - 4 L p Mo RB = - + - 4 L (a) (a) GaYa geser dan momen lentur di sebelah kiri titik tengah. Kita potong balok di potongan melintang sedikit di kiri titik tengah dan menggambar diagram benda bebas salah satu bagian balok. Dalam contoh ini, kita pilih setengah kiri balok sebagai bcnda bcbas (Gambar 4-7b). Benda bcbas ini ditahan dalam kcseimbangan oleh beban P, reaksi RA, dan dua resultan tegangan anu yaitu gaya geser V dan momen lentur M, yang kcduanya ditunjukkan dalam arah positif (lihat Gambar 4- 5). Kopel M0 tidak bekerja di benda beba-, ini karena balok ini dipotong sedikit di kiri lokasi kopel tersebut. Dengan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah vertikal kita peroleh 'i.F = 0 vert yang menghasilkan gaya geser: p Mo V = RA -- p = - - - 4 L (b) .. Hasil ini membuktikan bahwa apabila P dan M0 bekerja dalam arah seperti terlihat dalam Gambar 4-7a, maka gaya geser (di lokasi yang dipilih) adalah negatif dan bekcrja dalam arah berlawanan dengan arah positif yang diasumsikan dalam Gambar 4-7b. Dcngan mcngambil momen terhadap sumbu yang melalui penampang di mana balok dipotong (lihat Gambar 4-7b) maka 'i. M = O di mana momen berlawanan jarum jam diambil positif. Dengan memecahkan persamaan tersebut untuk mcndapatkan momen lentur M, kita pcroleh M = R (!::_)- P(!::_) = PL - Mo A 2 4 8 2 (C) .. Momen lentur M dapat positif atau ncgatif, bergantung pada besar bcban P dan M0. Jika positiL maka momen tersebut bckerja dalam arah seperti terlihat dalam gambar; jika negatif, momen terscbut bekerja dalam arah kebalikannya. (b) Gaya geser dan momen lentur di sebelah kanan titik tengah. Dalam hal ini kita potong balok di penampang sedikit di sebclah kanan titik tengah dan menggambar diagram benda bebas bagian balok ke kiri (Gambar 4-7c). Perbcdaan antara diagram ini dan yang tadi adalah bahwa kopel M0 sekarang bckerja di benda bcbas. Dari dua persamaan keseimbangan, yang pertama untuk gaya dalam arah vertikal dan yang kcdua untuk momen tcrhadap sumbu yang melalui potongan, kita pcroleh V = _!_ - Mo 4 L (d,e) .. Hasil ini mcnunjukkan bahwa apabila potongan digeser dari kiri ke kanan kopel M0, maka gaya geser tidak berubah (karena gaya vertikal yang bekerja di benda bebas tidak bcrubah) tetapi momcn lemur bcrtambah sccara aljabar sebesar M0 (bandingkan Pcrsamaan c dan c). Contoh 4-2 Scbuah balok kantilever yang bebas di ujung A dan dijepit di ujung B mengalami beban terdistribusi yang bervariasi sccara linier q (Gambar 4-8a). Intensitas maksimum bcban terjadi di tumpuanjepit dan sama dengan q0. Carilah gaya geser V dan momen lentur M pacta jarak x dari ujung bebas balok.
  • 257.
    r 244 Bab 4Gaya Geser dan Momen Lentur Gambar 4-8 Contoh 4-2. Gaya geser dan momen lcntur di balok kantilever Solusi Gaya geser. Kita potong halok pada jarak x dari ujung kiri dan isolasi bagian halok tersehut sehagai henda hehas (Gamhar 4-8b). Pada benda hebas ini bekerja hehan terdistribusi q,gaya geser V. dan momen lentur M. Bcsaran anu (V dan Ml diasumsikan positif. lntensitas heban terdistribusi pada jarak xdari ujung adalah q = CfoX L (4- 1 ) Dengan dcmikian, beban ke bawah total pada benda hehas, yang sama dengan luas diagram beban segitiga ( Gambar 4-8b), adalah ) _!_[ q"X • I X ) = !f.oX- 2 L 2L Dari persamaan kcseimhangan dalam arah vertikal kita dapatkan V = - Lj,JX- 2 L (4-2a) .. Di ujung bebas (x= 0) gaya geser adalah nol. dan di ujung jepit B (x = L)gaya geser mempunyai harga maksimum: -qoL 2 (4-2b) yang secara numerik sama dengan beban ke bawah total pada balok. Tanda ncgatif dalam Persamaan (4-2a) dan (4-2b) mcnunjukkan bahwa ga; a geser hekcrja dalam arah berlawanan dengan yang terlihat dalam Gambar 4-Sb. Momen lentur. Untuk mencari momen lentur M di balok (Gamhar 4-8b), kita tulis persamaan keseimbangan momen terhadap sumbu yang melalui penampang. Dengan mengingat bahwa momen dari beban segitiga sama dengan luas diagram beban dikalikan jarak dari pusat beratnya kc sumbu momen, maka kita mendapatkan persamaan keseimbangan berikut (momen yang berlawanan dengan arah putaran jarum jam adalah positit): I M = 0 sehingga M + _!_(qox)(x)(�)= 0 2 L 3 3 lvf = - qox 6L (4-3a) .. Di ujung bebas balok (x= 0), momen lentur adalah no!, dan di ujung jepit (x = L). momen tersebut mempunyai harga numerik terbesar: 2 M . = - qoL maks 6 (4-3b) Tanda negatif dalam Persamaan (4-3a) dan (4-3b) menunjukkan bahwa momen lentur bekerja dalam arah berlawanan dengan yang terlihat dalam Gambar 4-Sb. -----------· -- -------- -- --- - -- ----- --- - --- -- - -- - - ------- - LEMBAR KERJA 3 A Contoh 4-3 Sebuah balok sederhana dcngan overstek ditumpu di titik A dan B (Gambar 4-9a). Beban terbagi rata dengan intensitas q= 200 lb/ft bekcrja di seluruh panjang balok dan behan terpusat P = 14 k bekerja di titik 9 ft dari tumpuan kiri. Panjang bentang ada1ah 24 ft dan panjang overstek adalah 6 ft. Hitunglah gaya geser V dan momen lentur lvl di potongan D yang terletak di 15 ft dari tumpuan kiri.
  • 258.
    Gambar 4-9 Contoh4-3. Gaya geser dan momen lentur di suatu balok dengan overstek (overhang) Solusi l-e:--- 9 ft _ .., p = 1-+ k I t A 6lLU1 I I l : , !..::::. D �·· 1 5 ft · ----·-+ ·------ 24 ft --· 1a1 1 1 4 k 200 lb/ft t ( -llJTIJ�� ) A - · ��� .. :b:j � ..,;,;.. D V t l l k (b) (c) Mekanika Bahan 245 Reaksi. Kita mulai dengan menghitung reaksi R4 dan RB dari persamaan keseimbangan untuk seluruh balok yang dipandang sebagai benda bebas. Jadi, dengan mengambil momen terhadap tumpuan di B dan A, kita peroleh Gaya geser dan momen !entur di potongan D. Sekarang kita membuat potongan di D dan membuat diagram benda bebas bagian kiri balok (Gambar 4- 9b). Dalam menggambar diagram ini, kita asumsikan bahwa resultan tegangan anu V dan M adalah positif. Persamaan keseimbangan untuk benda bebas adalah sebagai berikut: 1 1 k - 1 4 k - (0,200 k/ft)(l 5 ft) -- V = 0 -( 1 1 k)(l 5 ft) + ( 14 k)(6 ft) + (0,200 k/ft)( 1 5 ft)(7,5 ft) + M = 0 di mana gaya ke atas dianggap positif di persamaan pertarna dan momen berlawanan jamm jam dianggap positif dalam persarnaan kedua. Dengan memecahkan kedua persamaan tersebut kita peroleh V = -6 k M = 58,5 k-ft .. Tanda negatif untuk V bcrarti bahwa gaya geser adalah negati f, artinya arahnya berlawanan dengan arah yang terlihat dalam Gambar 4-9b. Tanda positif untuk M berarti bahwa momen lentur bekerja dalam arah seperti terlihat dalarn garnhar. Diagram benda bebas altematif Metode penyelesaian lainnya adalah dengan mendapatkan V dan M dari diagram benda bebas bagian 'ebelah kanan balok
  • 259.
    246 3a= 4Gaya Geser dan Momen Lentur (Gambar 4-9c). Dalam menggambarkan diagram benda bebas, kita asumsikan bahwa gaya geser anu dan momen lentur anu adalah positif. Kedua persamaan keseimbangan adalah: LFvert = 0 V + 9 k - (0,200 k/ft)(1 5 ft) = 0 LMv = 0 --.if + (9 k)(9 ft) ·- (0,200 k/ft)( l 5 ft)(7,5 ft) = 0 sehingga V = -6 k M = 58,5 k-ft yang sama dengan yang telah diperoleh sebelum ini. Pada umumnya, pemilihan diagram benda bebas yang akan digunakan bergantung pada sclera setiap individu. 4.4 I HUBUNGAN ANTARA BEBAN, GAYA GESER, DAN -- MOMEN LENTUR et (b) et (c) Gambar 4-10 Elemen suatubalok yangdigunakanuntukmenurunkan hubungan antarabeban, gayageser, dan momen Jentur. (Semua beban dan resultan tegangan ditunjukkan dalamarahpositif.) Kita akan mendapatkan hubungan penting antara beban, gaya geser, dan momen lentur di balok. Hubungan ini cukup berguna dalam menyelidiki gaya geser dan momen lentur di seluruh panjang balok dan khususnya ber­ guna dalam membuat diagram gaya geser dan momen lentur (Subbab 4.5). Sebagai suatu cara untuk mendapatkan hubungan tersebut, kita tinjau elemen balok yang dipotong antara dua penampang yang terletak sejauh dx satu sama lain (Gambar 4- 10). Beban yang bekerja di permukaan atas dari elemen dapat berupa beban terbagi rata, beban terpusat, atau kopel, seperti terlihat masing-masing dalam Gambar 4-1 Oa, b, dan c. Perjanjian tanda untuk beban tersebut adalah sebagal berikut. Beban terdistribusi dan beban terpusat adalah positifapabila bekerja ke bawah di balok dan negatifjika bekerja ke atas. Kopel yang bekerja sebagai beban di balok adalah positifjika berlawanan arah jarum jam dan negatifjika searah jarum jam. Jika perjanjian tanda lain digunakan, perubahan yang harus dilakukan hanyalah tanda dari suku-suku yang muncul dalam persamaan yang diturunkan berikut ini. Gaya geser dan momen lentur yang bekerja di sisi-sisi elemen ditunjukkan dalam arah positif dalam Gambar 4-1 0. Pada umumnya, gaya geser dan momen lentur bervariasi di sepanjang sumbu balok. Dengan demikian, harganya di muka kanan elemen dapat berbeda dengan harga di muka kiri. Dalam hal beban terdistribusi (Gambar 4- lOa), pertambahan V dan M kecil sekali sehingga dapat kita tulis sebagai dV dan dM. Resultan tegangan di muka kanan adalah V + dV dan M + dM. Dalam hal beban terpusat (Gambar 4- lOb) atau kopel (Gambar 4-lOc) pertambahan mungkin terhingga sehingga diberi notasi V1 dan lv/1. Resultan tegangan untuk ini di muka kanan adalah V + V1 dan M + M1. Untuk setiap jenis pembebanan kita dapat menulis dua persamaan keseimbangan untuk elemen-satu untuk persamaan keseimbangan gaya dalam arah vertikal dan satu untuk keseimbangan momen. Persamaan pertama memberikan hubungan antara beban dan gaya geser, dan persamaan kedua memberikan hubungan antara gaya geser dan momen lentur. • Beban Terdistribusi (Gambar 4-10a) Jenis pertama dari pembebanan adalah beban terdistribusi dengan intensitas q, seperti terlihat dalam Gambar 4-l Oa. Keseimbangan gaya dalam arah vertikal (gaya ke atas adalah positif) menghasilkan
  • 260.
    I.F = 0 vert. atau MekanikaBahan 247 V - qdx - (V + dV) = 0 = -q (4-4) Dari persamaan ini kita lihat bahwa laju perubahan gaya geser di setiap titik pada sumbu balok sama dengan negatif dari intensitas beban terdistribusi di titik yang sama. (Catatan: Jika perjanjian tanda untuk beban terdistribusi dibalik, sehingga q adalah positif ke atas bukan ke bawah, maka tanda minus dihapus dari persamaan tersebut.) Hubungan yang berguna sudah sangat jelas dari Persamaan (4-4). Sebagai contoh, jika tidak ada beban terdistribusi di segmen balok (artinya, jika q = 0), maka dV! dx = 0 dan gaya geser adalah konstan di bagian balok yang itu. Juga, jika beban terdistribusi adalah seragam di seluruh bagian balok (q = konstan), maka dV !dx juga konstan dan gaya geser berubah secara linier di bagian balok tersebut. Untuk mendemonstrasikan Persamaan (4-4), tinjau balok kantilever dengan beban yang bervariasi secara linier yang telah kita bahas dalam Contoh 4-2 di dalam subbab sebelum ini (lihat Gambar 4-8). Beban di balok (dari Persamaan 4-1 ) adalah yang bertanda positif karena bekerja ke bawah. Juga, gaya geser (dari Persamaan 4-2a) ada!ah 2 V = - qox 2L Dengan mengambil turunan dV !dx maka dV = .!!_(_q0x 2 )= _ q0x = -q dx dx l 2L L yang cocok dengan Persamaan (4-4). Hubungan penting mengenai gaya geser di dua potongan yang berbeda pada suatu balok dapat diperoleh dengan mengintegrasikan Persamaan (4- 4) di sepanjang sumbu balok. Untuk mendapatkan hubungan ini, kita kalikan kedua sisi Persamaan (4-4) dengan dx dan selanjutnya kita gintegrasikan diantara dua titik A dan B di sumbu balok; jadi, (a) di mana kita asumsikan bahwa x bertambah pada saat kita bergerak dari titik A ke titik B. Sisi kiri dari persamaan ini sama dengan perbedaan ( V8 - VA) antara gaya geser di A dan di B. Integral di sisi kanan menunjukkan luas diagram pembebanan antara A dan B, yang pada gilirannya sama dengan besar resultan beban terdistribusi yang bekerja di antara titik A dan B. Jadi, dari Persamaan (a) kita dapatkan
  • 261.
    248 Bab 4Gaya Geser dan Momen Lentur VB -VA = -rq dx = - (luas diagram pembebanan antara A dan B) (4-5) Dengan perkataan lain, perubahan gaya geser antara dua titik sepanjang sumbu balok sama dengan negatif dari total beban ke bawah antara titik­ titik tersebut. Luas diagram pembebanan dapat positif (jika q bekerja ke bawah) atau negatif (jika q bekerja ke atas). Karena Persamaan ( 4-4) diturunkan untuk elemen balok yang mengalami hanya beban terdistribusi (atau tidak ada beban sama sekali), kita tidak dapat menggunakan Persamaan (4-4) di titik di mana beban terpusat bekerja (karena intensitas beban q tidak didefinisikan untuk beban terpusat). Untuk alasan yang sama. kita tidak dapat menggunakan Per­ samaan (4-5) jika beban terpusat P bekerja di balok antara titik A dan B. Sekarang tinjau keseimbangan momen di elemen balok yang terlihat dalam Gambar 4-lOa. Dengan menjurnlahkan momen terhadap sumbu di sisi kiri elemen (sumbu tersebut tegak lurus bidang gambar), dan meng­ anggap momen berlawananjarumjam sebagai momen positif, kita dapatkan 2.. M = 0 -M - q dx (�x ) - (V + dV)dx + M + dM = 0 Dengan mengabaikan hasil kali antara diferensial (karena dapat diabaikan dibandingkan dengan suku-suku lainnya), kita dapatkan hubungan sebagai berikut: (4-6) Persamaan ini menunjukkan bahwa laju perubahan momen lentur di setiap titik pada sumbu balok sama dengan gaya geser di titik yang sama. Sebagai contoh, jika gaya geser adalah nol di suatu daerah balok, maka momen lentur adalah konstan di daerah yang sama. Persamaan (4-6) berlaku hanya di daerah di mana beban terdistribusi (atau tidak ada beban) bekerja di balok. Di titik di mana beban terpusat bekerja, perubahan mendadak (atau diskontinuitas) pada gaya geser terjadi dan turunan dM/dx tidak terdefinisi di titik tersebut. Dengan menggunakan balok kantilever dalam Gambar 4-8 sebagai contoh, kita ingat bahwa momen lentur (Persamaan 4-3a) adalah Jadi, turunan dM!dx adalah 2 M = - qox 6L dM = .!!..._(-q0x 3 J = _ q0x 2 dx dx 6L 2L yang sama dengan gaya geser di balok (lihat Persamaan 4-2a). Dengan mengintegrasikan Persamaan (4-6) antara dua titik A dan B di sumbu balok maka (b)
  • 262.
    Mekanika Bahan 249 Integraldi sisi kiri persamaan ini sama dengan perbedaan (M8 - MA) antara momen lentur di B dan A. L'ntuk menginterpretasikan integral di sisi kanan, kita perlu meninjau V sebagai fungsi dari x dan membayangkan diagram gaya geser yang menunjukkan variasi V terhadap x. Selanjutnya kita lihat bahwa integral di sisi kanan menunjukkan luas di bawah dia­ gram gaya geser di antara A dan B. Dengan demikian, kita dapat menyatakan Persamaan (b) sebagai berikut: M8 - MA = s:V dx = (luas diagram gaya geser di antara A dan B) (4-7) Persamaan ini berlaku juga pada kasus beban terpusat yang bekerja di balok di antara titik A dan B. Namun, ini tidak berlaku jika ada kopel yang bekerja di antara A dan B. Suatu kopel menghasilkan perubahan mendadak dalam momen lentur, dan sisi kiri dari Persamaan (b) tidak dapat diintegrasi melalui diskontinuitas tersebut. • Beban Terpusat (Gambar 4-1 0b) Sekarang tinjau beban terpusat P yang bekerja di elemen balok (Gambar 4-l Ob). Dari keseimbangan gaya dalam arah vertikal kita peroleh V - P - (V + V1) = 0 atau V1 = -P (4-8) Hasil ini berarti bahwa perubahan mendadak pada gaya geser terjadi di titik di mana beban terpusat bekerja. Pada saat kita bergerak dari kiri ke kanan melalui titik bekerjanya beban, maka gaya geser berkurang dalam jumlah yang sama besar dengan beban terpusat ke bawah P. Dari keseimbangan momen terhadap muka kiri elemen (Gambar 4- lOb), kita peroleh -M - P(d ;)- (V + V1)dx + M + M1 = 0 atau M1 = P (d ;)+ V dx + V1 dx Karena panjang dx dari suatu elemen sangat kecil, maka kita lihat dari persamaan ini bahwa pertambahan momen M1 juga kecil sekali. Jadi, momen lentur tidak berubah pada saat kita bergerak melalui titik bekerjanya beban terpusat. Meskipun momen lentur tidak berubah di lokasi beban terpusat, laju perubahan (dM!dx) mengalami perubahan mendadak. Di sisi kiri elemen (Gambar 4-1 Ob), laju perubahan momen lentur (lihat Persamaan 4-6) adalah dM!dx = V. Di sisi kanan, laju perubahannya adalah dM!dx = V + V1 = V­ P. Dengan demikian, di titik bekerjanya beban terpusat P, lajuperubahan dM!dx berkurang secara mendadak sebesar P • Beban Dalam Bentuk Kopel (Gambar 4-10c) Kasus terakhir yang akan ditinjau adalah beban dalam bentuk kopel M0 (Gambar 4-l Oc). Dari keseimbangan elemcn dalam arah vertikal, kita dapatkan V1 = 0, yang menunjukkan bahwa gaya geser tidak berubah di titik bekerjanya kopel.
  • 263.
    250 Bab 4Gaya Geser dan Momen Lentur Keseimbangan momen terhadap sisi kiri elemen menghasilkan -M + M0 - (V + V1)dx + M + M1 = 0 Dengan mengabaikan suku-suku yang mengandung diferensial (karena dapat jauh lebih kecil dibandingkan suku lainnya), kita peroleh (4-9) Persamaan ini menunjukkan bahwa momen lentur berkurang sebesar M0 apabila kita beijalan dari kiri ke kanan melalui titik bekerjanya beban. Jadi, momen lentur berubah secara mendadak di titik bekerjanya kopel. Persamaan (4-4) sampai (4-9) berguna dalam membuat diagram momen lentur dan gaya geser di balok secara lengkap, sebagaimana dibahas dalam subbab berikut ini. -· 4·• 5 I DIAGRAM GAYA GESER DAN MOMEN LENTUR Dalam mendesain suatu balok, kita biasanya perlu mengetahui bagaimana gaya geser dan momen lentur bervariasi di seluruh panjang balok. Salah satu yang penting adalah harga maksimum dan minimum dari besaran­ besaran ini. lnformasi seperti ini diberikan dengan grafik di mana gaya geser dan momen lentur diplot sebagai ordinat dan jarak x di sepanjang sumbu balok diplot sebagai absis. Grafik seperti ini disebut diagram gaya geser dan momen lentur. Untuk lebih menjelaskan diagram tersebut, kita akan membahas secara rinci bagaimana diagram tersebut dibuat dan diinterpretasikan untuk ketiga kondisi pembebanan dasar-beban terpusat, beban terbagi rata, dan beberapa beban terpusat. (Kasus kopel yang bekeija sebagai beban pada balok diilustrasikan dalam Contoh 4-7.) • Beban Terpusat Kita mulai dengan balok sederhana AB yang memikul beban terpusat P (Gambar 4-1 1 a). Beban P bekerja padajarak a dari tumpuan kiri dan jarak b dari tumpuan kanan. Dengan meninjau seluruh balok sebagai benda bebas, kita dapat langsung menentukan reaksi balok dari keseimbangan; hasilnya adalah R _ Pb A - L R _ Pa B - L (4-lOa,b) Kita sekarang memotong balok di sebelah di kiri beban P dan pada jarak x dari tumpuan di A. Lalu kita gambarkan diagram benda bebas bagian kiri dari balok (Gambar 4- 1 1 b). Dari persamaan keseimbangan untuk diagram benda bebas ini, kita peroleh gaya geser V dan momen lentur M di jarak x dari tumpuan: Pb V = RA = ­ L (0 < x < a) (4- l l a,b) Rumus ini hanya berlaku untuk bagian balok di kiri beban P. Selanjutnya, kita potong balok ini di kanan beban P (artinya di daerah a < x < L) dan juga menggambar diagram benda bebas untuk bagian kiri balok (Gambar 4-llc). Dari persamaan keseimbangan untuk benda bebas ini, kita peroleh rumus berikut untuk gaya geser dan momen lentur:
  • 264.
    (a) R4 (b) . lP �-----a-----� M Ag===: -..... · ·· -- -• -•-··.•· • :7 �:) - I t----x--1 (c) (d) (e) _ Pa L Gambar 4-11 Diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok sederhana dengan beban terpusat. Mekanika Bahan 251 Pb Pa V = RA - P = - - P = - (a < x < L) L L Pbx M = RAx - P(x - al = - - P(x - a) L Pa = --(L - x) L (a < x < L) (4-1 2a) (4- 12b) Perhatikan bahwa rumus-rumus ini berlaku hanya di bagian kanan balok. Persamaan untuk gaya geser dan momen lentur (Persamaan 4- 1 1 dan 4-1 2) diplot di bawah gambar balok. Gambar -+- l l d adalah diagram gaya geser dan Gambar 4-l le adalah diagram momen /entur. Dari diagram pertama kita lihat bahwa gaya geser di ujung A dari balok (x = 0) sama dengan reaksi RA. Gaya geser ini tetap konstan sampai di lokasi beban P (x = a). Di titik tersebut, gaya geser berkurang mendadak sebesar beban P. Di bagian kanan balok, gaya geser juga konstan tapi secara numerik sama dengan reaksi di B. Seperti terlihat dalam diagram kedua, momen lentur di bagian kiri balok bertambah secara linier dari nol di tumpuan ke Pab!L di lokasi beban terpusat (x = a). Di bagian kanan, momen lentur juga merupakan fungsi linier dari x, yang bervariasi dari Pab!L, di x = a ke nol di tumpuan (x = L). Jadi, momen lentur maksimum adalah Pab Mmaks = L (4-1 3) dan terjadi di bawah beban terpusat. Dalam mendapatkan rumus gaya geser dan momen lentur di kanan beban P (Persamaan 4-12a dan b), kita meninjau keseimbangan bagian kiri dari balok (Gambar 4-llc). Pada benda bebas ini bekerja gaya RA dan P selain juga V dan M. Dalam contoh ini akan sedikit lebih mudah kalau kita tinjau bagian kanan balok sebagai benda bebas, karena di bagian ini hanya ada satu gaya (R8) yang muncul di dalam persamaan keseimbangan (selain juga V dan M). Tentu saja, hasilnya sama saja. Karakteristik tertentu pada diagram gaya geser dan momen lentur (Gambar 4-l ld dan e) sekarang terlihat. Kita perhatikan bahwa kemiringan dV!dx dari diagram gaya geser adalah nol di daerah 0 < x < a dan a < x < L, yang sesuai dengan persamaan dV!d.x = -q (Persamaan 4-4). Juga, di dalam daerah ini kemiringan dM/dx dari diagram momen lentur sama dengan V (Persamaan 4-6). Di titik bekerjanya beban P ada perubahan mendadak pada diagram gaya geser (sama dengan besar beban P) serta perubahan kemiringan pada diagram momen lentur. Di kiri beban P, kemiringan pada diagram momen adalah positif dan sama dengan Pb!L; di kanan, kemiringannya adalah negatif dan sama dengan -PaiL. Sekarang tinjaulah luas diagram gaya geser. Apabila kita bergerak dari x = 0 ke x = a, luas diagram gaya geser adalah (Pb!L)a, atau Pab/L. Besaran ini menunjukkan pertambahan momen lentur antara kedua titik tersebut (lihat Persamaan 4-7). Dari x = a ke x = L, luas diagram gaya geser adalah -Pab/L, yang berarti bahwa dalam daerah ini momen lentur berkurang sebesar itu. Dengan demikian, momen lentur adalah nol di ujung B dari balok, sebagaimana diduga. Jika momen lentur di kedua ujung balok adalah nol, seperti yang biasa terjadi dalam kasus balok sederhana, maka luas diagram gaya geser
  • 265.
    252 3a.:: 4Gaya Geser dan Momen Lentur RA RB (a) qL 2 - qL 2 (b) (c) Gambar 4-1 2 Diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok scderhana dengan beban terbagi rata antara ujung-ujung balok haruslah nol asalkan tidak ada kopel yang bekerja di balok (lihat pembahasan dalam Subbab 4.4 di bawah Persamaan 4-7). Seperti telah disebutkan. harga maksimum dan minimum untuk gaya geser dan modulus elastisitas lentur dibutuhkan dalam mendesain balok. Untuk balok sederhana dengan satu beban terpusat, gaya geser maksimum terjadi di ujung balok yang terdekat dengan heban terpusat tersebut dan momen lentur maksimum terjadi di bawah beban itu sendiri. • Beban Terbagi Rata Suatu balok sederhana dengan beban terdistribusi terbagi rata dengan intensitas konstan q terlihat dalam Gambar 4-1 2a. Karena balok ini beserta bebannya simetris, maka kita dapat segera melihat bahwa masing-masing reaksi (RA dan R8) sama dengan qL/2. Dengan demikian, gaya geser dan momen lentur pada jarak x dari ujung kiri adalah V = R - qx = qL - qx (4- 1 4a) A 2 M = R x - qx (�) = qL>: - qx 2 A 2 2 2 (4-14b) Kedua persamaan ini. yang berlaku di seluruh panjang balok, diplot sebagai diagram gaya geser dan momen lentur dalam Gambar 4-1 2h dan c. Diagram gaya geser terdiri atas garis lurus miring yang mempunyai ordinat di x = 0 dan x = L sama secara numerik dengan reaksi. Kemiringan garis adalah -q sebagaimana diharapkan dari Persamaan (4-4). Diagram momen lentur merupakan kurva parabolik yang simetris terhadap titik tengah balok. Di setiap potongan kemiringan diagram momen lentur sama dengan gaya geser (lihat Persamaan 4-6): dM = _!!:____(qLx _ qx�J = qL _ qx = V dx dx 2 2 ) 2 Harga maksimum untuk momen lentur terjadi di titik tengah halok; dengan demikian, kita substitusikan x = L/2 ke dalam rumus untuk M sehingga qL 2 Mmaks. = - 8 - seperti terlihat dalam gambar tersebut. (4- 1 5) Diagram intensitas behan (Gambar 4- 1 2a) mempunyai luas qL, dan menurut Persamaan (4-5) gaya geser V harus berkurang sebesar ini pada saat kita bergerak di sepanjang balok dari A ke B. Kita dapat melihat bahwa pada contoh ini ini memang demikian; gaya geser berkurang dari qL/2 ke -qL/2. Luas diagram gaya geser antara x = 0 dan x = L/2 adalah qL 2 !8, dan kita lihat bahwa luas ini menunjukkan hertambahnya momen lentur antara kedua titik tersebut (Persamaan 4-7). Dengan cara sama, momen lentur berkurang sebesar qL 2 18 di daerah antara x = L/2 dan x = L. • Beberapa Beban Terpusat Jika beberapa beban terpusat bekerja di balok sedcrhana (Gambar 4-13a), rumus untuk menghitung gaya geser dan momen lentur dapat ditentukan untuk setiap segmen balok antara bahwa titik hekerjanya beban. Lagi-lagi.
  • 266.
    L ----- --- J (a) (h) (c) Gambar 4-1 3 Diagram gaya gcscr dan momen lentur untuk balok sederhana dengan beberapa heban tcrpusat Mekanika Bahan 253 dengan menggunakan diagram benda bebas bagian ki1i balok dan mengukur jarak x dari ujung A, kita peroleh persamaan berikut ini untuk segmen pertama balok: V = R.4 Untuk segmen kedua, kita dapatkan (0 < x < a1J (4-16a,b) (4-17a,b) Untuk segmen ketiga dari balok. akan lehih mudah bila kita meninjau bagian kanan balok bukannya yang kiri. karena di kanan bebannya lebih sedikit. Jadi, kita peroleh V = -R8 + P3 M = R8(L - x) - PlL - b3 - x) Akhimya, untuk segmen keempat dari balok. kita peroleh M = RsCL - x) (a3 < x < L J (4- 1 8a) (4- l Sb) c -+-1 9a,b) Persamaan (4-1 6) sampai (4-1 9) dapat digunakan untuk membuat dia­ gram gaya geser dan momen lentur (Gambar 4-1 3b dan c). Dari diagram gaya geser kita perhatikan bahwa gaya geser adalah konstan di setiap segmen balok dan bcrubah secara mendadak di setiap titik beban, dengan besar perubahan sama dengan besar beban. Juga, momen lentur di setiap segmen adalah fungsi linier dari x. Dengan demikian, bagian diagram momen lentur merupakan garis lurus yang miring. Untuk membantu menggambar garis-garis lurus tersebut, kita dapatkan momen lentur di bawah beban terpusat dengan mcmasukkan x = a 1 , x = a2 , dan x = a3 masing-masing ke dalam Pcrsamaan (4-1 6b), (4- l 7b), dan (4- l Sb) sehingga kita peroleh momen lentur sebagai berikut: (4-20a,b,c) Dengan diketahuinya harga-harga ini, kita dapat langsung membuat dia­ gram momen lentur dengan menghubungkan titik-titik terscbut dengan menarik garis-garis lurus. Di setiap diskontinuitas gaya gescr, ada perubahan kemiringan dM/ dx pada diagram momen lentur. Juga, perubahan momen lentur antara dua titik beban sama dengan luas diagram gaya geser antara dua titik tersebut (lihat Persamaan 4-7). Sebagai contoh, pcrubahan momen lentur antara beban P1 dan P2 adalah M2 - M1. Dengan menggunakan Persamaan (4-20a dan b), kita peroleh M2 - Ml = (RA - Pl)(a2 - a3) yang merupakan luas diagram gaya geser persegi panjang antara x = a1 dan x = a2. Momen lentur maksimum di balok yang dibcbani hanya olch beban­ beban terpusat harus terjadi di bawah salah satu beban, atau pada reaksi. Untuk membuktikan ini, ingat bahwa kemiringan diagram momen lentur sama dengan gaya geser. Dengan demikian, apabila momen lentur mencapai harga maksimum atau minimum, maka turunan dM/dx (yang berarti juga gaya geser) harus berubah tanda. Namun, di balok yang hanya dibebani secara terpusat, gaya geser dapat berubah tanda hanya di lokasi beban.
  • 267.
    2S4 5a:: .!Gaya Geser dan Momen Lentur Jika, pacta saat kita menyusuri sepanjang sumbu x, gaya geser bembah dari positif ke negatif (seperti terlihat dalam Gambar 4- 1 3b), maka kemiringan diagram momen lentur juga berubah dari positif ke negatif. Dengan demikian, kita hams mempunyai momen lentur maksimum di penampang ini. Sebaliknya, pembahan gaya geser dari negatif ke positif menunjukkan momen lentur minimum. Secara teoretis, diagram gaya geser dapat memotong sumbu horizontal di beberapa titik, meskipun ke­ mungkinannya kecil. Di titik perpotongan tersebut terjadi maksimum atau minimum lokal pada diagram momen lentur. Harga semua maksimum dan minimum lokal harus ditentukan untuk mendapatkan momen lentur maksimum dan minimum di suatu balok. Perhatikan bahwa kita menggunakan sebutan "maksimum" dan "mini­ mum" dengan arti umum "terbesar" dan "terkecil." Dengan demikian. kita dapat menyebut "momen lentur maksimum di suatu balok" tak peduli apakah diagram momen lentur bempa fungsi halus, kontinu (seperti terlihat dalam Gambar 4- 1 2c) atau berupa garis-garis lurus (seperti terlihat dalam Gambar 4- 1 3c). • Komentar Umum LEMBAR KERJA 3 Momen lentur maksimum positif dan negatif di suatu balok dapat terjadi di lokasi-lokasi sebagai berikut: ( 1 ) penampang di mana beban terpusat diterapkan dan gaya geser berubah tanda (lihat Gambar 4-1 1 dan 4- 1 3), (2) penampang di mana gaya geser sama dengan nol (lihat Gambar 4- 1 2), (3) titik tumpuan di mana terdapat reaksi vertikal, dan (4) penampang di mana kopel diterapkan. Pembahasan dan contoh-contoh di dalam subbab ini mengilustrasikan semua kemungkinan tersebut. Apabila beberapa beban bekerja pacta balok, maka diagram gaya geser dan momen lentur dapat diperoleh dengan superposisi (atau penjumlahan) diagram yang diperoleh untuk setiap beban yang bekerja secara terpisah. Sebagai contoh, diagram gaya geser daam Gambar 4- 1 3b pacta dasamya merupakan jumlah tiga diagram, masing-masing berbentuk seperti pacta Gambar 4-1 1 d untuk beban tunggal terpusat. Kita dapat membuat komentar analog untuk diagram momen lentur pacta Gambar 4- 1 3c. Superposisi diagram gaya geser maupun momen lentur dapat dilakukan karena gaya geser dan momen lentur pacta balok statis tertentu merupakan fungsi linier dari beban yang bekerja. Telah tersedia program komputer untuk membuat diagram gaya geser dan momen lentur. Setelah Anda mengembangkan pemahamannya tentang diagram dengan melakukan penyusunannya secara manual, Anda semesti­ nya merasa aman untuk menggunakan program komputer. Pengalaman yang diperoleh dengan menggambar secara manual memungkinkan kita mengenal kesalahan-kesalahan - seperti yang disebabkan oleh pemasukan data yang salah ke dalam suatu program komputer. Contoh 4-4 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk suatu balok sederhana dengan beban terbagi rata yang intensitasnya q yang bekerja di sebagian bentang seperti terlihat dalam (Gambar 4-14a.)
  • 268.
    q A ..A' . .· . : 1 tllJn ·� . · . · · . B · . . ·•' I I .' t·:l_t� (a) (b) Gambar 4-14 Contoh 4-4. Balok sederhanadenganbebanterbagi rata di sebagianbentang Solusi Mekanika Bahan 255 Reaksi. Kita mulai analisis dengan menentukan reaksi balok dari diagram benda bebas seluruh balok (Gambar 4-14a). Hasilnya adalah R _ qb(b+ 2c) A - 2L R _ qb(b + 2a) B - 2L (4-21 a,b) Gaya geser dan momen lentur. Cntuk mendapatkan gaya geser dan momen lentur di seluruh bentang balok, kita harus meninjau tiga segmen balok secara individual. Untuk setiap segmen kita potong balok tersebut sehingga terlihat gaya geser V dan momen lentur M. Ini digambar dalam diagram benda bebas yang mengandung besaran anu V dan M. Lalu. kita jumlahkan gaya-gaya dalam arah vertikal untuk mendapatkan gaya geser dan mengambil momen terhadap penampang yang dipotong untuk mendapatkan momen lentur. Hasil-hasil untuk ketiga segmen adalah sebagai berikut: V = RA M = RAx (0 < x < a 1 V = RA -q(x-a) M = RAx- q(x; a)2 (a < x < a + b) (a + b < x < L) (4-22a,b) (4-23a,b) (4-24a,b) Persamaan-persamaan ini memberikan gaya geser dan momen lentur di setiap potongan melintang balok. Sebagai kontrol atas hasil-hasil ini, kita dapat menerapkan Persamaan (4-4) untuk gaya-gaya geser dan Persamaan (4-6) untuk momen lentur sehingga akan terbukti bahwa persamaan-persamaan tersebut memang sudah benar. Sekarang kita membuat diagram gaya geser dan momen lentur (Gambar 4- 1 4b dan c) dari Persamaan (4-22) sampai (4-24). Diagram gaya geser ini terdiri atas garis lurus horizontal di masing-masing daerah yang tak dibebani pada balok dan garis lurus miring dengan kemiringan negatif di daerah yang dibebani, seperti diharapkan dari persamaan dV/dx = -q. Diagram momen lentur terdiri atas dua garis lurus miring di bagian balok yang tak dibebani, dan kurva parabolik di bagian yang dibebani. Garis miring mempunyai kemiringan masing-masing sama dengan RA dan -R8, sebagaimana diharapkan dari Persamaan dM/dx = V. Juga, masing-masing garis miring ini adalah garis singgung pacta kurva parabolik di titik di mana garis tersebut berpotongan dengan kurva parabolik. Kesimpulan ini berasal dari fakta bahwa tidak ada perubahan mendadak pada besar gaya geser di titik-titik tersebut. Jadi, dari persamaan dM/dx = V, kita lihat bahwa kemiringan diagram momen lentur tidak berubah secara mendadak di titik-titik tersebut. Momen lentur maksimum. Momen maksimum terjadi pada 1okasi di mana gaya geser sama dengan no!. Titik ini dapat diperoleh dengan menuliskan gaya geser V (dari Persamaan 4-23a) sama dengan no! dan memecahkan harga x,yang akan kita tulis dengan x1• Hasilnya adalah b x1 = a + 2L(b + 2c) (4-25) Sekarang kita masukkan x1 ke dalam rumus untuk momen lentur (Persamaan 4- 23b) dan memecahkan momen maksimum. Hasilnya adalah qb 2 Mmaks. = SL 2 (b + 2c) (4aL + 2bc + b ) (4-26) Momen lentur maksimum terjadi di dalam daerah beban terbagi rata. Kasus khusus. Jika beban terbagi rata secara simetris diletakkan di balok (a = c), lalu kita peroleh hasil sederhana sebagai berikut dari Persamaan (4-25) dan (4-26) M = qb(2L- b) maks. S (4-27a,b) Jika beban terbagi rata menyebar hingga seluruh bentang, maka b= L dan Mmaks = qL 2 !8, yang cocok dengan Gambar 4-12 dan Persamaan (4-15).
  • 269.
    256 Bab 4Gaya Geser dan Momen Lentur o � � � -- ,,�� � � V �"------·"--� � ""'. (b) (c) LEMBAR KERJA 4 Gambar 4-15 Contoh 4-5. Balok kantilever dengan dua beban terpusat LEMBAR KERJA 3 Contoh 4-5 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok kantilever dengan dua beban terpusat (Gambar 4- 1 5a). Solusi Reaksi. Dari diagram benda bebas keseluruhan balok kita mendapatkan reaksi vertikal R8 (positif jika ke atas) dan reaksi momen M8 (positif jika searah jarum jam): (a,b) Gaya geser dan momen lentur. Kita mendapatkan gaya geser dan momen lentur dengan memotong baluk di kedua segmen, menggambar diagram benda bebasnya, dan memecahkan persamaan keseimbangan. Jarak x diambil dari ujung kiri balok. Dengan demikian, kita peroleh (0 < x < a) (a < x < L) (c,d) (e,f) Diagram gaya geser dan momen lentur ditunjukkan dalam Gambar 4- 15b dan c. Gaya geser ini konstan di antara beban dan mencapai harga numerik maksimum di tumpuan, di mana nilai numeriknya sama dengan rcaksi vertikal RB (Persamaan a). Diagram momen lentur terdiri atas dua garis lurus miring, yang masing­ masing mempunyai kemiringan sama dengan gaya geser di masing-masing segmen balok. Momen lentur maksimum terjadi di tumpuan dan secara numerik sama dengan reaksi momen M8 (Persamaan b). Ini juga sama dengan luas selumh diagram gaya geser, sebagaimana diharapkan dari Persamaan (4-7). Contoh 4-6 Balok kantilever AB yang memikul beban terbagi rata dengan intensitas konstan q ditunjukkan dalam Gambar 4- 1 6a. Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk halok ini. Solusi Reaksi. Reaksi RB dan M8 di tumpuanjepit diperoleh dari persamaan keseimbangan untuk keseluruhan balok. Jadi, M - qL2 B - 2 (4-28a,b) Gaya geser dan momen lentur. Besaran-besaran m1 diperoleh dengan memotong balok pada jarak x dari ujung bebas, menggambar diagram benda bebas bagian kiri balok, dan memecahkan pcrsamaan keseimhangan. Dcngan cara tersehut kita peroleh V = -qx 2 M = _ '1!_ 2 (4-29a,b) Diagram gaya geser dan momen lcntur diperoleh dengan mcmplot persamaan­ persamaan tersebut (lihat Garnbar 4- 1 6h dan c). Perhatikan bahwa kemiringan diagram gaya gcser sama dcngan -q (lihat Persamaan 4-4) dan kemiringan dia­ gram momen lentur sama dengan V (lihat Persamaan 4-6). Harga maksirnum gaya geser dan momen lentur terjadi di tumpuan jepit di mana x = L:
  • 270.
    q �-- -+ X ��---L --- -----1 RB (a) vmak' = -ql qL2 !vi = - - mab. 2 Mekanika Bahan 257 (4-30a,b) Harga-harga ini konsisten dengan harga reaksi R8 dan M8 (Persamaan 4-28a dan b). Solusi alternatif. Sebagai ganti dari penggunaan diagram benda bebas dan persamaan keseimbangan, kita dapat menentukan gaya geser dan momen lentur dengan mengintegrasikan hubungan diferensial antara beban, gaya geser, dan momen lentur. Gaya geser V pada jarak x dari ujung bebas A diperoleh dari beban dengan mengintegrasikan Persamaan (4-5 ). sebagai berikut: V - VA = V - 0 = V = - fq dx = -qx (g) -qL yang cocok dengan hasil sebelum ini (Persamaan -i-29a). (b) M (c) - qi} 2 Gambar 4-1 6 Contoh 4-6. Balok kantilever dengan beban terbagi rata Momen lentur M pada jarak x dari ujung diperoleh dari gaya geser dengan mengintegrasikan Persamaan (4-7): M - MA = M - 0 = M = IVdx = r-qx dx = - q ;: yang cocok dengan Persamaan 4-29b. (h) Mengintegrasikan hubungan diferensial dalam contoh ini cukup mudah karena pola beban adalah kontinu dan tidak ada beban terpusat atau kopel di daerah yang diselidiki. Jika beban terpusat atau kopel ada, maka ada diskontinuitas pada dia­ gram Vdan M sehinggakita tidak dapat mengintegrasikan Persamaan (4-5) melewati beban terpusat dan tidak dapat mengintegrasikan Persamaan (4-7) melewati kopel (lihat Subbab 4-4). �-�---�------------------------------- �--�- ----- --- · ----------- 1 LEMBAR KERJA 4 Sebuah balok ABC dengan overstek di sebelah kiri terlihat dalam Gambar 4-1 7a. Balok ini mengalami beban terbagi rata dengan intensitas q = I ,0 k/ft di overstek AB dan kopel berlawanan jarum jam M0 = 1 2,0 k-ft yang bekerja di tengah tumpuan B dan C. Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok ini. Solusi Reaksi. Kita dapat dengan mudah menghitung reaksi R8 dan Re dari diagram benda hebas keseluruhan balok (Gambar 4- 1 7a). Dengan melakukan hal ini, kita dapatkan bahwa R8 berarah ke atas dan Re berarah ke bawah, seperti terlihat dalam gambar. Harga numeriknya adalah R8 = 5,25 k R, = l ,25 k Gaya geser. Gaya geser sama dengan no] di ujung bebas balok dan sama dengan --qb (atau -4,0 k) sedikit di kiri tumpuan B. Karena beban ini terdistribusi terbagi rata, maka kemiringan diagram geser akan konstan dan sama dengan -q (dari Persamaan 4-4). Dengan demikian. diagram geser merupakan garis lurus miring dengan kemiringan negatif di daerah dari A kc B (Gambar 4- 1 7b). Karena tidak ada beban terdistribusi atau terpusat antara tumpuan, maka diagram gaya geser adalah horizontal di daerah ini. Gaya geser sama dengan reaksi Re, atau 1 .25 k, seperti terlihat dalam gambar. (Perhatikan bahwa gaya geser tidak beruhah di titik bekerjanya kopel, M0.) Gaya geser yang terbesar secara numerik terjadi sedikit di kiri tumpuan B dan sama dengan --4,0 k. Momen lentur. Momen lentur adalah nol di ujung bebas dan berkurang pacta saat kita bergerak ke kanan sampai mencapai tumpuan B. Kemiringan diagram momen, yang sama dengan harga gaya gcscr (dari Persamaan 4-6). adalah nol di
  • 271.
    I 258 Ba.b 4Gaya Geser dan Momen Lentur ?!t·1 � 4F��=8ft��=8ft�r RB Re (a) +1,25 (b) -10,0 (c) Gambar 4-17 Contoh4-7. Ba1ok denganoverstek SOAL-SOAL BAB 4 I ujung bebas dan --4,0 k di lokasi sedikit di kiri tumpuan B. Di daerah ini diagram tersebut berbentuk parabolik (tingkat-dua), dengan vertex di ujung balok. Momen di titik B adalah MB = - qb2 = _.!_ (1,0 k/ft)(4,0 ft) 2 = -8,0 k-ft 2 2 ' yang juga sama dengan luas diagram gaya geser antara A dan B (lihat Persamaan 4-7). Kemiringan diagram momen lentur dari B ke C sama dengan gaya geser, atau I ,25 k. Dengan demikian, momen lentur sedikit di kiri kopel M0 adalah -8,0 k-ft + (1,25 k)(8,0 ft) = 2,0 k-ft seperti terlihat dalam diagram. Tentu saja, kita dapat memperoleh hasil yang sama dengan memotong balok di penampang sedikit di kiri kopel, dengan menggambar diagram benda bebas dan memecahkan persamaan keseimbangan momen. Momen lentur berubah secara mendadak di titik bekerjanya momen M0 sebagaimana telah diterangkan dalam pembahasan Persamaan (4-9). Karena kopel bekerja berlawanan jarum jam maka momen berkurang sebesar M0. Jadi, momen di lokasi sedikit di kanan kopel M0 adalah 2,0 k-ft - 12,0 k-ft = -10,0 k-ft Dari titik ini ke tumpuan C, diagram ini kembali berupa garis lurus dengan kemiringan sama dengan 1,25 k. Dengan demikian, momen lentur di tumpuan adalah -10,0 k-ft + (1 ,25 k)(8,0 ft) = 0 sebagaimana diharapkan. Harga maksimum dan minimum dari momen lentur terjadi di lokasi gaya geser berubah tanda dan di lokasi kopel bekerja. Dengan membandingkan titik­ titik tertinggi dan terendah pada diagram momen, kita lihat bahwa momen lentur terbesar secara numerik sama dengan -10,0 k-ft dan terjadi sedikit di kanan kopel Mo. 4.3-1 Tentukan gaya geser V dan momen lentur M di titik tengah balok sederhana AB yang terlihat dalam gambar. 4.3-2 Hitunglah gaya geser V dan momen lentur M di penampang yang terletak 0,5 m dari tumpuan jepit A pada balok kantilever AB yang terlihat dalam gambar. t 4 k 2k/ft 1:;� �''"' "'""JLWJJ� ---.·._··.• . B · .. 7 I I I 1- 5ft_.I l-10ft------, 1--------20ft - A rkN 1.5k/ft ,..•.•.••.•..•_I•••J. .l...i.. J...!...t:Jl]dB I . I �-1 m-�1m_.l---2 m---1
  • 272.
    4.3-3 Tentukan gayageser V dan momen lentur M di titik tengah balok yang mempunyai overstek (lihat gambar). !p jp ·' :· ····:: . .:.:,z: · · :.j I - � I �- a-1---�b_ __:I:_a--+1 4.3-4 Carilah gaya geser V dan momen lentur M di titik tengah balok sederhana AB yang terlihat dalam gambar. 4.3-5 Carilah gaya geser V dan momen lentur M di penampang yang terletak 1 6 ft dari ujung kiri A dari balok yang mempunyai overstek pada gambar ini. 4.3-6 Balok ABC yang terlihat dalam gambar ditumpu sederhana di A dan B dan mempunyai overstek dari B ke C. Beban ini terdiri atas kopel M0 = 4 kN-m yang bekerja di ujung A dan beban terpusat P = 8 kN yang bekerja di ujung oerstek. Tentukan gaya geser V dan momen lentur M di penampang yang terletak di 3,0 dari tumpuan kiri. M0 = 4 kN·m Y i l ---- 4 m -- +l m = 8 kN 4.3-7 Seseorang yang beratnya 225 lb berdiri di titik tengah sebuah batang kayu yang panjangnya 1 6 ft (lihat gambar). Berapa momen lentur di batang kayu akibat berat orang tersebut? Mekanika Bahan 259 4.3-8 Sebuah balok AB yang ditumpu sederhana memikul beban terdistribusi trapesium (lihat gambar). Intensitas beban bervariasi secara linier dari 50 kN/m di tumpuan A ke 30 kN/m di tumpuan B. Hitunglah gaya geser V dan momen lentur .W di titik tengah balok. 50 kN/m IJ!IllllninrrJO k N/m 2f��J�.� � ' 1•----�-- --- 3 m ------- � 4.3-9 Sebuah batang lengkung ABC mengalami beban dalam bentuk dua gaya sama besar dan berlawanan arah P, seperti terlihat dalam gambar. Sumbu batang membentuk setengah l ingkaran dengan jari-jari r. Tentukan gaya aksial V, dan momen lentur M yang bekerja di penampang yang didefinisikan dengan sudut e. B�,, : �-� A 0 C M N � : fYfe � A 4.3-1 0 Rangka ABC yang terlihat dalam gambar terletak di tumpuan sendi di C dan tumpuan rol di A. Behan terbagi rata dengan intensitas q bekerja di bagian AB dan beban segi tiga dengan intensitas maksimum 2q bekerja di bagian BC. (a) Dapatkan rumus untuk momen lentur M di bagian AB pada jarak x dari tumpuan A. (b) Dari rumus ini, tentukan momen lentur maksimum M di . maks bag1an AB. ��--------- � I 1+- --- 2b--�----1
  • 273.
    2'60 5E2 4Gaya Geser dan Momen Lentur .! 3- ' i S�t>uah balok ABCD dengan lengan C£ ditumpu _ balok scdcrhana di A dan D (lihat gambar). ' _ - - -'-' " kabel yang melalui katrol kecil terpa,ang di £. '-.::.:_ ujung kabel terpasang di balok di titik B. Berapakah ;<· :1 P di kabcl jika momen kntur di balok sedikit di kiri ::uk C secara numerik sama dengan 4R k-in.? E ' · , , i ' .. - - 6 n -1� 6 n -,...- - 6 rt --1 4.3-1 2 Balok ABCD dibebani oleh gaya W = 27 kN dcngan susunan yang terlihat dalam gambar. Kabel tersebut melewati katrol tak bcrgesekan di B dan tcrpasang di £. Hitunglah gaya aksial N. gaya gescr V, dan momcn lentur M di penampang C. yang terletak sedikit di kiri lcngan vertikal. E W = 27 kN 4.3-1 3 B alok ABCD dipertahankan berada dal am kescimbangan oleh bcban terdistribusi tcrbagi rata dcngan intensitas q1 dan lh (lihat gambar). Carilah gaya geser V dan momen lentur M di (a) titik B. dan (b) titik tengah balok (Asumsikan a = 3 ft, h = 8 ft, dan q1 = 3.500 lb/ ft.) q, AFftifHif:HfjcDf�" I (I _______,...:� ------- {J - I -- ..i.._.__ a -- -..I 4.3-14 B alok ABCD yang terlihat dalam gambar mempunyai overstck di kiri dan kanan dan memikul behan tcrdistribusi terbagi rata dengan intcnsitas yang bervariasi secar·a linicr. Untuk rasio aiL bcrapakah gaya geser V akan sclalu no! di titik tengah balok'! q, �J r --· -IJ -- : -1-n rlJJ l'TT I A t���-11�-��.:::.:h!-=:--�-==-�D I -� B �c !,....: --- a -- -.-i , �-- - -- L - - _ _ ___.....______ a -·--_.1 *4.3-1 5 Sebuah balok ABC dcngan ovcrstek (lihat gambar) memikul beban terpusat P = 16 k di ujung kiri dan hchan tcrbagi rata dcngan intensita:; q di seluruh panjangnya. Dikctahui bahwa gaya gcscr dan momcn lentur di penampang X-X masing-masing sama dengan - 34 k dan -90 k-ft. Carilah gaya geser V dan momen lentur M di penampang Y-Y. I 4 ft i ..,. __ ._,1.._ --- i 10 ft -- ..!,-<---- - .., 10 ft *4.3-16 Centrifitge yang terlihat dalam gamhar herputar dalam bidang horizontal (bidang xy) pacta permukaan halus terhadap sumbu ; (yang hcrarah vertikal) dcngan percepatan sudut ex. Masing--masing lengan mempunyai berat w per panjang satuan dan memikul berat W= 2,5 wL di ujungnya. Turunkan rumus untuk gaya geser rnaksi­ mum dan momen lentur maksimum di lengan, dengan menganggap h = L/9 dan c = L/1 0. LEMBAR KERJA 3 & 4 w DIAGRAM GAYA GESER DAN MOMEN LENTUR Dalam memecahkan Soa/ 4.5- 1 sampai 4.5-38, gamharlah diagram gaya geser dan mmnen lentur secara herskala dan tuniukkan semua ordinat kritis termasuk harga maksimum dan minimum.
  • 274.
    4.5-1 Buatlah diagramgaya geser dan momen lentur untuk balok sederhana AB yang memikul dua beban terpusat (lihat gambar). �-==--=r c- . _r__� :,._______ a --------.. · 1 ..__ __ a _____.., 1.. - ---- -- - L - --- -- -..1 4.5-2 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentrur untuk balok kantilever AB yang memikul beban terbagi rata dengan intcnsitas q di setcngah panjang (lihat gambar). 4.5-3 Sebuah balok sederhana AB mengalami momen kopel sebesar M0 yang bekerja pada jarak a dari tumpuan kiri (lihat gambar). Gambarlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok ini. Mo E��=-==--===--��B � I @ [..: - - - -- a -- - ---•1 - • I [+- L --- - --- -�..] 4.5-4 Balok sederhana AB yang terlihat dalam gambar mengalami beban terpusat P dan kopel M1 = PL/4 yang bekerja di posisi seperti tergambar. Gambarlah diagram gaya gcser dan momen lentur untuk balok ini. 4.5-5 Sebuah halok yang ditumpu sederhana ABC rnemikul beban vertikal P melalui breket BDE (lihat garnhar). Garnharlah diagram gaya geser dan momen lentur halok ini. Mekanika Bahan 261 _ __ b . I l L --. -+ --··-- i_____.,l.,.__ 2 - -- ------->,i j..:- -- - - -- - - - L--- - - ·- - - -- - -->-. 4.5-6 Sebuah balok. sedc:rhana AB rnemikul heban terbagi rata dengan intensitas q = 5.0 kN/rn di sebagian bentang (lihat gamhar). Dengan menganggap hahwa L = I 0 m, a = 4 rn, dan b = 2 m. gambarL!h diagram gaya gcscr dan momcn lentur untuk balok. 111 1 . q = �.O k.. ' m -TT - ' * � ' ' ' . ���.:_���"------------_B 1•--a = 4 m ---___.,: �-- --• a = 2 tn [..:--- ----- L = I0 m ___________..: 4.5-7 Sebuah balok. sederhana AB memikul kopel M1 dan 2M1 yang bekcrja di titik-titik scpertiga scperti terlihat dalam gambar. Gambarlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok ini. 4.5-8 Sebuah balok sederhana AB dengan overstek BC dihebani dua gaya P dan kopel Pa dengan menggunakan susunan sepcrti tergamhar. Gambarlah diagram gaya geser dan momen lcntur untuk balok ABC. 1 --���--�--� � � 1==- ------ ---- �·--'Ye V � -- ll 1J;B -� - L 1+-- a ---�..- - a - - -·�------a ---.. , a - 4.5-9 Balok kantilevcr AB memikul beban terpusat dan kopel, seperti terlihat dalam gambar. Gambarlah diagram gaya geser dan momen lcntur untuk balok ini. - 5 ft -- - -->-[
  • 275.
    262 Bao 4Gaya Geser dan Momen Lentur 4.5-10 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur --�-"� balok ABC (lihat gambar). Balok ini dibebani W = : _ . ' L " yang bekerja melalui sebuah kabel. Kabel ini �..:i�wati katrol di C dan tersambung ke lengan vertikal JI D. - � -- 1 ,2 m W= 10,0kN 4.5-1 1 Gambarlah diagram gaya geser dan momen Ientur untuk balok sederhana pada Soal 4.3-1 . 4.5-1 2 Buatlah diagram gaya geser dan momen Ientur untuk balok kantilever pada Soal 4.3-2. 4.5-13 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok dengan overstek pada Soal 4.3-3. 4.5-1 4 Buatlah diagram gaya geser dan momen lcntur untuk balok sederhana pada Soal 4.3-4. 4.5-1 5 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok dengan overstek pada Soal 4.3-5. 4.5-1 6 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok dengan overstek pada Soal 4.3-6. 4.5-1 7 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok kantilever AB dengan beban yang bervariasi linier dengan intensitas maksimum q0 (lihat gambar). qo A �;OJL[[JJIIJ I L -------.j 4.5-18 Sebuah balok dengan dua overstek sama memikul beban terbagi rata dengan intesitas q (lihat gambar). Jarak antara tumpuan adalah a dan panjang total adalah L. Carilah jarak a sedemikian hingga momen lentur maksimum di balok mempunyai harga numerik sekecil mungkin. Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk kondisi ini. 4.5-1 9 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok dengan overstek yang terlihat dalam gambar. 4.5-20 sampai 4.5-30 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok yang terlihat dalam gambar. 4kN/m �f)I I � Llll _i ,. A . I -��---2 m___·��---- 2 m _____ �� Soal. 4.5-20 2300lb --- 6 n ---.1--- 6 ft __:I Soal. 4.5-21 qo p0Wl01 , .?. ..•.:':V·. :<?/.. :;. · :.,:.. 1- --------L -1 Soal. 4.5-22 2000lb/ft �bh �- - -· - I 1�----9 ft-----... 1-3ft :r Soal. 4.5-23 1IIu�4fJ1�_-__ - I _ - - ��--- '=--- 1--- £___::' 1····· ' 2 2 Soal. 4.5-24
  • 276.
    p = 30lb A B �· - t"40io-1•�-�= 40 in.--=t Soal. 4.5-25 5 kN/m 10kN 5 kN/m �·� :Ull. ��2 m�l-- ��nk:i�2 m���- 2 m-1 Soak 4.5-26 360lb/ft �IJJIDJdc � � I � �� 6ft -- -+ �- 4ft�- -+! Soal. 4.5-27 10,6kN/m 'ItuilliDJJlii"' L 4,2m •£ i[c- 4,2m ___; 1.2m Soal. 4.5-28 1000lb/ft 1 10 k if!lJ!lljiUJ i de � l - 1 !+---- 24ft- -----+- 8 ft -+- 8 ft -1 Soal. 4.5-29 q = 3 kN/m 1 P= 8 kN �J) i i [kl ' Soal. 4.5-30 Mekanika Bahan 263 4.5-31 BalokABCD mempunyai dua overstek sama dan memikul beban segitiga simetris (lihat gambar). Tentukan jarak b antara tumpuan sedemikian hingga momen lentur di titik tengah balok adalah no!. Gambarlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk kondisi ini. qo ll ;ll[!Jl�� A ��· � :=f���D )+--- L ._ 4.5-32 Balo!;: ABC yang terlihat dalam gambar terdiri atas segmen kantilever AB yang disambung ke bentang sederhana BC dengan menggunakan sendi di B. Sendi ini dapat menyalurkan gaya tetapi tidak dapat menyalurkan momen lentur. Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk keseluruhan balok. q 4.5-33 BalokABCD memikul beban terdistribusi dengan intensitas yang bervariasi linier (lihat gambar). Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok ini. A �IIilllii� " D · · · ·· · ··�· · · · · · · · : d · f w+:/ c� ' J.-l.-�·---�L -----[�l._J 4 . 4 . 4.5-34 Balok ABCDE yang terlihat dalam gambar mempunyai tumpuan sederhana di A, C, dan E dan sendi di D. Beban sebesar 4 kN bekerja di ujung breket yang disambung dengan balok di B, dan beban sebesar 2 kN bekerja di titik tengah segmen DE. Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok ini. (Perhatikan bahwa sendi di D dapat menyalurkan gaya geser tetapi tidak momen lentur.)
  • 277.
    264 Bab 4Gaya Geser dan Momen Lentur 4.5-35 Diagram gaya geser untuk balok sederhana .::::-.:c::;Jkkan dalam gambar. Tentukan pembebanan di :-� �" dan gambarlah diagram momen lentur dengan :-c:oe:Jgasumsikan bahwa tidak ada kopel yang bekerja -.ct-agai beban di balok ini. (Perhatikan bahwa gaya geser 'Tiempunyai satuan pound.) +4000 V (lb) I · --- Io ft- - -1� s ft -.�sft�� o 4.5-36 Diagram gaya geser untuk sebuah balok ditunjukkan dalam gambar. Dengan mengasumsikan bahwa tidak ada kopel yang bekerja sebagai beban pada balok ini, gambarlah diagram momen lenturnya. (Perhatikan bahwa gaya geser mempunyai satuan kN.) +22.0 V kN) 1,5m -16,5 1 6.0m---k-•1 I,Sm +8.0 4.5-37 Buatlah diagram gaya geser dan momen lentur untuk balok scderhana dengan beban segitiga (intensitas maksimum q0) yang bekerja di 3/4 bentang L (lihat gambar). 4.5-38 Sebuah balok AB mcmikul beban terpusat P dan 2P seperti terlihat dalam gambar. Balok ini terletak di atas pondasi yang memberikan reaksi terdistribusi terhadap balok. Dengan menganggap bahwa reaksi terdistribusi dengan intensitas yang bervariasi secara linicr dari A ke B, tentukan intensitas qA dan q8 masing-masing di ujung A dan B. Juga, buatlah diagram gaya geser dan mornen Jentur untuk balok ini. 4.5-39 Dua beban P sarna besar rnempunyai jarak tetap satu sama lain d (lihat garnbar). Kombinasi beban ini dapat terletak pada jarak x dari turnpuan kiri balok sederhana AB. (a) Untuk jarak x berapakah gaya geser di balok akan rnaksirnurn? Berapa gaya geser maksirnum VMak< (b) Turunkan rumus untuk jarak x yang akan rnenghasilkan rnornen Jentur rnaksimurn Mmaks di balok. Juga. dapatkan rurnus untuk Mmaks' !.__ _ _ _ -· - L -�--· ---- -----�1 4.5-40 Sebuah halok sederhana AB rnernikul dua beban terpusat P dan 2P yang jaraknya satu sama lain d (lihat garnbar). Kcdua beban ini dapat terletak pada jarak x berapapun dari ujung kiri balok. Tentukan jarak x untuk (a) gaya gescr maksirnurn di balok. dan (b) rnornen lentur maksirnurn di balok. Asurnsikan P = 7,5 kN, d = 1 ,6 m, dan L = 8 m. Juga, tentukan gaya geser maksimum Vmaks. dan momen lentur rnaksirnum Mmah. p I !- -- - ---- -- L - -- - �I 4.5-41 Tiga bcban roda Wl ' W2, dan W3 bergcrak melintasi balok sederhana seperti terlihat dalam gambar. Tcntukan posisi roda, yang didefinisikan dengan jarak x dari ujung A, agar menghasilkan momen lentur maksimum di balok, dengan mengasumsikan bahwa wl = 4 k, dan w2 = w3 = 1 6 k. Juga, tentukan momen lentur maksirnum Mmaks. · -- - - - 80 ft
  • 278.
    *4.5-42 Sebuah dindingpenahan kecil dengan tinggi 2,4 m terbuat dari papan kayu vertikal ABC, seperti terlihat dalam gambar. Papan ini mempunyai lebar 125 mm dan ditumpu sederhana di B dan C masing-masing oleh balok baja horizontal dan dinding pondasi beton. Balok baja terletak pada 0,6 m dari atas dinding. Tekanan tanah ke dinding diasumsikan bervariasi secara linier dari no! di atas (titik A) ke p = 1 8 kPa di bawah (titik C). Hitunglah momen lentur maksimum Mmaks. di papan. Papan kayu 0,6 m ! Balok Papan kayu I _ L Mekanika Bahan 265 maksimum untuk beberapa harga n (n = 1 , 2, 3, 4, . . . ). (c) Bandingkan hasil ini dengan momen lentur maksimum di balok akibat beban terdistribusi terbagi rata dengan intensitas q sedemikian hingga qL = P. i -------1-­ L , L n+1 n+1 n + l ,:� 1 - 1--z-1 1------- L -------.. 1 25 mm **4.5-44 Sebuah balok ABC yang panjangnya L memikul m beban terdistribusi segitiga dengan intensitas maksimum q0 seperti terlihat dalam gambar. Balok ini ditumpu sederhana di titik B dan C, dengan C di ujung kanan dan B di sembarang jarak a yang diinginkan. (a) Tentukan rasio aiL sedemikian hingga momen lenturterbesar secara numerik di balok adalah minimum. (b) Berapa momen Tampak atas lentur maksimum di balok pada kondisi tersebut? Tampak samping **4.5-43 Beban di balok sederhana terdiri atas n gaya yang berjarak sama (lihat gambar). Beban total adalah P sehingga setiap gaya sama dengan Pin. Panjang balok adalah L; jadi jarak antara beban adalah U(n + 1). (a) Turunkan rumus umum untuk momen lentur maksimum di balok. (b) Dari rumus tersebut, tentukan momen lentur - +--- a ---��1.__ _ ---- b -�---1 +----- -· L -------- .
  • 279.
    5 - s.1 1 (a) (b) Gambar 5-1Lentur pada balok kantilever: (a) balok dengan beban, dan (b) kurva defleksi TEGANGAN Dl BALOK (TOPIK DASAR) PENGANTAR Di dalam bab-bab sebelum ini kita telah melihat bagaimana beban-beban yang bekerja di balok menimbulkan aksi (atau resultan tegangan) dalam bentuk gaya geser dan momen lentur. Di dalam bab ini kita melangkah lebih jauh dan menyelidiki tegangan dan regangan yang berkaitan dengan gaya geser dan momen lentur. Dengan mengetahui tegangan dan regangan, kita akan dapat menganalisis dan merancang balok yang mengalami berbagai kondisi pembebanan. Pembebanan yang bekerja pada balok menyebabkan balok melentur sehingga sumbunya yang terdeformasi berbentuk lengkungan. Sebagai contoh, tinjaulah balok kantilever AB yang mengalami beban P di ujung bebas (Gambar 5-la). Sumbu yang semula lurus akan melentur membentuk lengkungan (Gambar 5-lb), yang disebut kurva defleksi (lendutan) balok tersebut. Sebagai acuan, kita membuat sistem sumbu koordinat (Gambar 5-lb) dengan pusatnya terletak di titik yang cocok di sumbu longitudinal balok. Di dalam ilustrasi ini, kita meletakkan pusat di tumpuan jepit. Sumbu x positif mempunyai arah ke kanan, dan sumbu y positif berarah ke atas. Sumbu z, yang tidak ditunjukkan dalam gambar, mengarah ke luar (artinya, menuju orang yang mclihat), sehingga ketiga sumbu ini membentuk sistem koordinat tangan kanan. Balok yang ditinjau dalam bab ini (seperti yang dibahas di dalam Bab 4) diasumsikan simetris terhadap bidang xy, yang berarti bahwa sumbu y merupakan sumbu simetri penampang. Selain itu, semua beban harus bekerja di bidang xy. Dengan demikian, def1eksi lentur terjadi di bidang ini juga, yang disebut dengan bidang lentur (plane of bending). Jadi, kurva def1eksi yang terlihat dalam Gambar 5-lb merupakan kurva bidang yang terletak pada bidang lentur. Defleksi suatu balok di sembarang titik di sepanjang sumbunya merupakan peralihan titik tersebut dari posisi semula, diukur dalam arah y. Kita beri def1eksi ini notasi v untuk membedakannya dengan koordinat y itu sendiri (lihat Gambar 5-lb). *
  • 280.
    (a) (b) Gambar 5-2 Baloksederhana yang mengalami lentur murni (M = M,) - (a) Gambar 5-3 Balok kantilever yang mengalami lentur murni (M = -M2) Mekanika Bahan 267 LENTUR MURNI DAN LENTUR TAK SERAGAM Dalam menganalisis suatu balok, seringkali dibutuhkan pembedaan antara lentur mumi dan lentur tak seragam. Lentur murni (pure bending) mengandung arti lentur pada suatu balok akibat momen lentur konstan. Dengan demikian, lentur mumi terjadi hanya di daerah balok di mana gaya geser adalah no! (karena V = dMMc lihat Persamaan 4-6). Sebaliknya, lentur tak seragam (nonuniform bendingI mengandung arti lentur yang disertai dengan adanya gaya geser, yang berani bahwa momen lentur berubah pada saat kita menyusuri sepanjang sumbu balok. Sebagai contoh lentur mumi, tinjaulah balok sederhana AB yang dibebani dua kopel M1 yang mempunyai besar sama dan bekerja dalam arah yang berlawanan (Gambar 5-2a). Beban ini menghasilkan momen lentur konstan M = M1 di seluruh panjang balok. seperti terlihat pada diagram momen lentur di bagian (b) dalam gambar tersebut. Perhatikan bahwa gaya geser V adalah nol di semua penampang balok. Ilustrasi lain untuk momen lentur ditunjukkan dalan1 Gambar 5-3a, di mana balok kantilever AB mengalami kopel searah jarum jam M2 di ujung bebas. Tidak ada gaya geser di balok ini dan momen lentur M adalah konstan di seluruh panjangnya. Momen lentur adalah negatif (M = -M2), seperti terlihat dengan diagram momen lentur di bagian (b) gambar tersebut. Balok yang dibebani secara simetris dalam Gambar 5-4a merupakan contoh balok yang sebagian mengalami lentur mumi dan sebagian lainnya mengalami lentur tak seragam (Gambar 5-4b dan c). Daerah tengah balok mengalami lentur mumi karena gaya geser adalah nol dan momen lentur adalah konstan. Bagian-bagian balok di dekat ujung mengalami lentur tak seragam karena gaya geser ada dan momen lentur bervariasi. Di dalam dua subbab berikut ini kita akan menyelidiki regangan dan tegangan di balok yang mengalami hanya momen mumi. Untungnya, kita sering dapat menggunakan hasil-hasil yang diperoleh untuk lentur murni bahkan apabila gaya geser ada, sebagaimana diterangkan dalam Subbab 5.8. KELENGKUNGAN BALOK Ketika beban bekerja di suatu balok, sumbu longitudinal balok tersebut akan berubah bentuk menjadi lengkungan seperti telah digambarkan sebelum ini dalam Gambar 5-l . Regangan dan tegangan di balok ini sebanding dengan kelengkungan (curvature) dari kurva defleksi. Untuk menggambarkan konsep kelengkungan, tinjau lagi balok kantilever yang mengalami beban P yang bekerja di ujung bebas (Gambar 5-5a). Kurva deformasi balok ini ditunjukkan dalam Gambar 5-5b. Untuk tujuan analisis, kita identifikasikan dua titik m1 dan m2 pada kurva defleksi. Titik m1 dipilih di jarak sembarang x dari sumbu y dan titik m2 terletak pada jarak kecil ds lebih jauh di kurva tersebut. Di masing-masing titik tersebut kita menarik garis yang tegak lurus garis singgung kurva defleksi, artinya tegak lurus (normal) kurva itu sendiri. Kedua garis normal ini berpotongan di titik 0', yang merupakan pusat kelengkungan dari kurva defleksi. *Di dalam mekanika terapan, simbol tradisional untuk peralihan dalam arah x, y, dan z masing- masing adalah u, �� dan w.
  • 281.
    268 Bab 5T egangan Di Balok (T opik Oasar) r r (a) p V (b) -P 0 (c) Gambar 5-4 Balok sederhana dengan daerah tengah mengalami lentur murni dan daerah ujung mengalami lentur tak seragam A r '-C:�---'"'"-'�illl! B (a) (b) Gambar 5-5 Kelengkungan balok yang melentur: (a) balok dengan beban, dan (b) kurva defleksi Karena balok pada umumnya mempunyai defleksi sangat kecil dan kurva defleksinya hampir mendatar, maka titik 0' biasanya terletak sangat jauh dari balok dibandingkan dengan yang terlihat dalam gambar tersebut. Jarak m1 0' dari kurva tersebut ke pusat kelengkungan disebut radius kelengkungan p (huruf Yunani rho), dan kelengkungan K (huruf Yunani kappa) didefinisikan sebagai kebalikan dari radius kelengkungan. Jadi, (5-1 ) Kelengkungan adalah ukuran seberapa tajam suatu balok melentur. Jika beban di balok kecil, maka balok akan hampir lurus, radius kelengkungan akan sangat besar, dan kelengkungan akan kecil. Jika beban ditingkatkan, besar lentur akan meningkat. radius kelengkungan akan menjadi lebih kecil, dan kelengkungan akan menjadi lebih besar. Dari geometri segitiga Oln1m2 (Gambar 5-5b) kita peroleh p d8 = ds (a) di mana d8 (diukur dalam radian) adalah sudut sangat kecil antara garis­ garis normal dan ds adalah jarak sangat kecil di sepanjang kurva antara titik m1 dan m2• Dengan menggabungkan Persamaan (a) dengan Persamaan (5- l ) kita peroleh 1 48 K == - = - p ds (5-2) Persamaan ini diturunkan dalam buku-buku kalkulus dasar dan berlaku untuk sembarang kurva, tidak peduli seberapa besar kelengkungannya. Jika kelengkungan konstan di sepanjang kurva, maka radius kelengkungan juga akan konstan dan kurva tersebut akan merupakan busur lingkaran. Defleksi suatu balok biasanya sangat kecil dibandingkan dengan panjangnya (tinjau, sebagai contoh, defleksi rangka struktural dari sebuah mobil atau balok di sebuah gedung. Defleksi kecil berarti bahwa kurva defleksi harnpir datar. Karena itu, jarak ds di sepanjang kurva dapat ditetapkan sama dengan proyeksi horizontal dx (lihat Gambar 5-5b). Pada kondisi khusus seperti ini persamaan kelengkungan menjadi (5-3) Baik kelengkungan maupun radius kelengkungan merupakan fungsi dari jarak x yang diukur di sepanjang sumbu x. Posisi 0' yang merupakan pusat kelengkungan juga bergantung pada jarak x. Dalarn Subbab 5.5 kita akan melihat bahwa kelengkungan di suatu titik pada sumbu balok bergantung pada lentur murni di titik tersebut dan besaran balok itu sendiri (bentuk penampang dan jenis bahan). Dengan demikian, jika balok tersebut prismatis dan bahan adalah homogen, maka kelengkungan akan bervariasi terhadap momen Jentur. Dengan demikian,
  • 282.
    ! } L 0 i I Kelengkungan Positip (a) � Kelengkungan negatip --- X L____ __ - ---- X () (b) Gambar 5-6 Perjanjian tanda untuk kelengkungan Positive cur­ vatun; Gambar 5-7 Deforrnasi balok yang mengalami lentur murni Mekanika Bahan 269 suatu balok yang mengalami lentur mumi akan mempunyai kelengkungan konstan dan suatu balok yang mengalami lentur tak seragam akan mempunyai kelengkungan yang ber'ariasi. Perjanjian tanda untuk kelengkungan bergantung pada orientasi sumbu koordinat. Jika sumbu x ad::tlah positif kc kanan dan sumbu y adalah positif ke atas, seperti terlihat dalam Gambar 5-6, maka kelengkungan adalah positif apabila balok tersebut cekung ke atas (atau cembung ke bawah) dan pusat kelengkungan ada di atas balok. Sebaliknya, kelengkungan adalah negatif jika balok cekung ke bawah (atau cembung ke atas) dan pusat kelengkungan ada di bJ ah balok. Di dalam subbab berikut ini kita akan melihat bagaimana regangan longitudinal di suatu balok yang melentur ditentukan dari kelengkungan, dan di dalam Bab 9 kita akan melihat bagaimam kelengkungan herkaitan dengan defleksi balok. REGANGAN LONGITUDINAL 01 BALOK Regangan longitudinal di suatu balok dapat diperoleh dengan menganalisis kelengkungan suatu balok beserta deformasinya. Untuk itu, tinjaulah bagian ab dari suatu balok yang mengalami lentur mumi akibat momen positif M (Gambar 5-7a). Kita asumsikan bahwa balok tersebut mula-mula mempunyai sumbu longitudinal lurus (sumbu x dalam gambar) dan bahwa penampangnya simetris terhadap sumbu _!::, seperti terlihat dalam Gambar 5-7b. l y i o ' (a) (b) p; n (c)
  • 283.
    270 ::;.a:; �Tegangan Di Balok (T opik Dasar) Akibat aksi momen lentur tersebut, balok berdefleksi dalam bidang xy (bidang lenturan), dan sumbu longitudinalnya melentur menjadi kurva busur lingkaran (kurva ss dalam Gambar 5-7c). Balok ini melentur cekung ke atas, yang merupakan kelengkungan positif (Gambar 5-6a). Potongan melintang balok, seperti potongan mn danpq dalam Gambar 5-7a, tetap datar dan normal terhadap sumbu longitudinal (Gambar 5-7c). Fakta bahwa penampang balok yang mengalami lemur mumi tetap datar merupakan ha! mendasar dalam teori balok yang sering digunakan sebagai asumsi. Kita dapat juga menyebutnya teorema, karena dapat dibuktikan secara sederhana dengan menggunakan alasan rasional yang didasarkan atas simetri (Ref. 5- l). Hal mendasar adalah bahwa simetri suatu balok dan pembebanannya (Gambar 5-7a dan b) mengandung arti bahwa semua elemen balok (seperti elemen mpqn) harus berdeformasi secara identik, yang hanya mungkin jika penampang tetap datar selama melentur (Gambar 5-7c). Kesimpulan ini berlaku untuk balok dengan bahan apapun, apakah elastis atau inelastis, linier atau nonlinier. Tentu saja, besaran bahan, seperti juga dimensinya, harus simetris terhadap bidang lentur. (Catatan: Meskipun bidang penampang yang meng<:llami lentur mumi tetap datar, deformasi dalam bidang tersebut tetap ada. Deformasi ini akibat efek rasio Poisson, sebagaimana diterangkan di akhir pembahasan ini.) Karena adanya defom1asi lentur seperti terlihat dalam Gambar 5-7c, penampang mn danpq berputar satu sama lain terhadap sumbu yang tegak lurus bidang xy. Garis longitudinal pada bagian cembung (yang bawah) dari balok memanjang. sedangkan bagian cekungnya (atas) dari balok memendek. Jadi, bagian bawah balok mengalami tarik dan bagian atas mengalami tekan. Antara bagian atas dan bawah balok terdapat permukaan dengan garis longitudinal yang tidak berubah panjangnya. Permukaan ini, yang ditunjukkan dengan garis putus ss dalam Gambar 5-7a dan c, disebut permukaan netral balok. Perpotongannya dengan bidang penampang disebut sumbu netral penarnpang; sebagai contoh, sumbu z adalah sumbu netral untuk penampang dalam Gambar 5-7b. Bidang-bidang yang mengandung penampang mn dan pq di dalam balok yang berdeformasi (Gambar 5-7c) berpotongan di garis yang melalui pusat kelengkungan 0� Sudut antara kedua bidang ini disebut de, dan jarak dari O'ke permukaan netral ss adalah radius kelengkungan p. Jarak awal dx antara kedua bidang ini (Gambar 5-7a) tidak berubah di permukaan netral (Gambar 5-7c) sehingga pde = dx. Namun, semua garis longitudi­ nal antara kedua bidang tersebut memanjang atau memendek sehingga menimbulkan regangan normal ex. Untuk mengevaluasi regangan normal, tinjaulah garis longitudinal khas efyang terletak di dalam balok di antara bidang mn dan pq (Gambar 5-7 a). Kita tunjukkan garis efdengan jarak y dari sumbu netral di balok yang semula lurus. Jadi, kita sekarang menganggap bahwa sumbu x terletak di sepanjang permukaan netral balok yang tak berdeformasi. Tentu saja, manakala balok berdefleksi, permukaan netral hergerak bersama balok, tetapi sumbu x tetap pada posisinya. Garis longitudinal efdi balok yang berdefleksi (Gambar 5-7c) tetap terletak pada jarak y yang sama dari permukaan netral. Jadi, panjang L1 dari garis ef sesudah lentur terjadi adalah L1 = (p - v) de = dx - l_dx p
  • 284.
    Mekanika Bahan 271 dimana kita telah memasukkan de = dxlp. Karena panjang semula garis �fadalah dx, maka perpanjangannya adalah L 1 - dx, atau -y dxlp. Regangan longitudinal sama dengan perpanjangan dibagi dengan panjang semula dx; dengan demikian, = (5-4) di mana 1 adalah kelengkungan. Persamaan di atas menunjukkan bahwa regangan longitudinal di suatu balok sebanding dengan kelengkungan dan berYariasi secara linier terhadap jarak y dari permukaan netral. Apabila titik yang ditinjau ada di atas permukaan netral, maka jarak y adalah positif. Jika kelengkungan juga positif (seperti terlihat dalam Gambar 5-7c), maka e, akan merupakan regangan negatif, yang menunjukkan perpendekan. Sebaliknya, jika titik yang ditinjau ada di bawah permukaan netral, maka jarak y akan negatif dan, jika kelengkungan adalah positif, maka regangan e < juga akan positif, yang menunjukkan perpanjangan. Perhatikan bahwa perjanjian tanda untuk e x sama dengan yang digunakan untuk regangan normal di bab-bab sebelum ini, yaitu perpanjangan adalah positif dan perpendekan adalah negatif. Persamaan (5-4) untuk regangan normal di suatu balok diturunkan hanya dari tinjauan geometri balok yang berdeformasi - besaran bahan tidak masuk dalam pembahasan. Dengan demikian, regangan di suatu balok yang mengalami lentur murni bervariasi secara linier terhadap jarak dari permukaan netral, tidak peduli bagaimanapun bentuk kurva tegangan-regangan bahan. Langkah selanjutnya di dalam analisis kita, yaitu mencari tegangan dari regangan, membutuhkan penggunaan kurva tegangan-regangan. Langkah ini diuraikan dalam subbab berikut untuk bahan elastis linier dan di dalam Subbab 6.9 dan 6. 1 0 untuk bahan nonlinier. Regangan longitudinal di suatu balok disettai dengan regangan trans­ versal (yaitu regangan normal dalam arah y dan z) karena efek rasio Poisson. Namun, tidak acta tegangan transversal karena balok bebas berdeformasi dalam arah lateral. Kondisi tegangan ini analog dengan batang prismatis yang mengalami tarik atau tekan, sehingga elemen di balok yang mengalami lentur mumi berada dalam keadaan tegangan uniaksial. • Contoh 5-1 Sebuah balok baja yang ditumpu sederhana AB (Gambar 5-8a) yang panjangnya L = 16 ft dibebani kopel M0 hingga membentuk busur lingkaran dengan defleksi ke bawah 8 di titik tengah (Gambar 5-8b). Pengukuran menunjukkan bahwa regangan normal longitudinal (perpanjangan) di pennukaan bawah balok adalah 0,00125, yang merupakan regangan leleh baja. Juga, jarak dari permukaan bawah balok ke permukaan netral adalah 6,0 in. Tentukan radius kelengkungan p, kelengkungan K , dan defleksi 8 pacta balok ini. Solusi Kelengkungan. Karena kita telah mengetahui regangan longitudinal di permukaan bawah balok (ex = 0,001 25), dan karena kitajuga mengetahui jarak dari pennukaan
  • 285.
    : 272 Bab 5T egangan Di Balok (T opik Oasar) ,, (� A == MO s') · ······· � +----�----1 (a) � o ' /I I I ,�J I L/-: 11y/p�----e-t _ 8� . I A�x I � 1--W (b) Gambar 5-8 Contoh 5-1. Balok yang mengalami lentur murni bawah ke sumbu netral (y = -6,0 in.), maka kita dapat menggunakan Persamaan (5-4) untuk menghitung radius kelengkungan dan kelengkungan. Dengan menyusun Persamaan (5-4) dan memasukkan harga-harga numerik, maka p = -L = - -6 i�5 = 4800 in. = 400 ft £, 0,00 1 _ 1 = _.!_ = 0 0025 n-1 p ' .. Hasil ini menunjukkan bahwa radius kelengkungan sangat besar, dan kelengkungan sangat kecil, meskipun regangan bahan telah mencapai harga yang besar (dalam ha! ini regangan leleh). Defleksi. Sebagaimana telah disebutkan dalam Subbab 5.3, momen lentur konstan (lentur mumi) menimbulkan kelengkungan konstan di seluruh panjang balok. Dengan demikian, kurva defleksi adalah busur lingkaran. Dari Gambar 5-8b, k.ita lihat bahwa jarak dari pusat kelengkungan 0' ke titik tengah C' dari balok yang berdefleksi adalah radius kelengkungan p, dan jarak dari O'ke titik C di sumbu x adalah p cos 8, di mana 8 adalah sudut BO'C. Ini menghasilkan rumus defleksi di titik tengah balok sebagai berikut: 8= p(l - cos 8) (5-5) Dari kurva yang hampir datar, kita dapat asumsikan bahwa jarak antara tumpuan sama dengan panjang balok itu sendiri. Dengan demik.ian, dari segitiga BOC kita dapatkan sin 8 = L/2 p Dengan memasukkan harga-harga numerik kita peroleh sin 8 = 06 ft)(1 2 in./ft) = 0 0200 2(4800 in.) ' dan 8 = 0,0200 rad = 1,146° (5-6) Perhatikan bahwa untuk tujuan praktis k.ita dapat menganggap sin e dan e (radian) secara numerik sama karena e merupakan sudut yang sangat kecil. Sekarang kita masukkan ke dalam Persamaan (5-5) untuk mendapatkan defleksi 8 = p(l - cos 8) = (4800 in.)(l - 0,999800) = 0,960 in. Defleksi ini sangat kecil dibandingkan dengan panjang balok, sebagaimana terlihat dengan rasio panjang bentang terhadap defleksi: !::._ = ( 1 6 ft)(1 2 in./ft) = 200 8 0,960 in. I_ Jadi, kita telah memastikan bahwa kurva defleksi hampir datar sekalipun regangan cukup besar. Tentu saja, dalam Gambar 5-8b defleksi balok digambarkan sangat besar agar lebih jelas. Catatan: Metode untuk menghitung defleksi balok yang diuraikan di sini hanya mempunyai sedikit nilai praktek karena dibatasi hanya pacta lentur murni, yang menghasilkan bentuk defleksi busur lingkaran. Metode lain yang lebih berguna untuk mencari kurva defleksi disajikan dalam Bab 9. ------------------ 5.5 1 TEGANGAN NORMAL Dl BALOK (BAHAN ELASTIS LINIER) Di dalam subbab sebelum ini kita telah menyelidiki regangan longitudinal E< pada suatu balok yang mengalami lentur mumi (lihat Persamaan 5-4 dan Gambar 5-7). Karena elemen longitudinal dari suatu balok hanya mengalami tarik atau tekan, maka kita dapat menggunakan kurva tegangan-
  • 286.
    Gambar 5-9 Tegangannormal di suatu balok dari bahan elastis linier: (a) tampak samping balok yang menunjukkan distribusi tegangan normal, dan (b) penam­ pang balok yang menunjukkan sumbu z sebagai sumbu netral penampang. Mekanika Bahan 273 regangan bahan tersebutuntuk menentukan tegangan kalau kita mengetahui regangan. Tegangan bekerja di seluruh bagian penampang dari suatu balok dan intensitasnya bervariasi bergantung pacta bentuk diagram tegangan­ regangan dan dimensi penampang. Karena arah x adalah longitudinal (Gambar 5-7a), maka kita menggunakan simbol () x untuk menunjukkan tegangan tersebut. Hubungan tegangan-regangan yang paling umum dijumpai dalam teknik adalah persamaan untuk bahan elastis linier. Untuk bahan seperti ini, kita substitusikan hukum Hooke untuk tegangan uniaksial (() = Et:) ke dalam Persamaan (5-4) dan mendapatkan ;;:; -Ery (5-7) Persamaan ini menunjukkan bahwa tegangan normal yang bekerja di penampang bervariasi secara linier terhadap jarak y dari permukaan netral. Distribusi tegangan ini terlihat dalam Gambar 5-9a untuk kasus di mana momen lentur M adalah positif dan balok melentur dengan kelengkungan positif. Apabila kelengkungan adalah positif, maka tegangan {)< adalah negatif (tekan) di atas permukaan netral dan positif (tarik) di bawahnya. Di dalam gambar, tegangan tekan ditunjukkan dengan panah yang menunjuk ke arah penampang dan tegangan tarik ditunjukkan dengan panah yang menjauhi penampang. y i Y (a) (b) Agar Persamaan (5-7) mempunyai nilai praktis, maka kita harus meletakkan pusat koordinat sedemikian rupa sehingga kita dapat menentukan jarak y. Dengan perkataan lain kita harus menentukan lokasi sumbu netral penampang. Kita juga harus memperoleh hubungan antara kelengkungan dan momen lentur - agar kita dapat memasukkannya ke dalam Persamaan (5-7) dan memperoleh persamaan yang menghubungkan antara tegangan dan momen lentur. Kedua tujuan ini dapat dicapai dengan menentukan resultan tegangan () x yang bekerja pacta penampang. Pacta umumnya, resultan tegangan normal terdiri atas dua resultan tegangan: ( 1) gaya yang bekerja dalam arah x, dan (2) kopel lentur yang bekerja terhadap sumbu z. Namun, gaya aksial adalah nol apabila suatu balok mengalami lentur mumi. Dengan demikian, kita dapat menuliskan persamaan-persamaan statika berikut: ( 1 ) gaya resultan dalam arah x sama dengan nol, dan (2) momen resultan sama dengan momen lentur M. Persamaan pertama menghasilkan lokasi sumbu netral dan yang kedua memberikan hubungan momen-kelengkungan.
  • 287.
    274 Bab 5T egangan Di Balok (T opik Dasar) • Lokasi Sumbu Netral Untuk mendapatkan persamaan statika yang pertama, kita tinjau elemen dengan area dA di dalam penampang (Gambar 5-9b). Elemen ini terletak pada jarak y dari sumbu netral, sehingga tegangan crx yang bekerja di elemen dapat dinyatakan dengan Persamaan (5-7). Gaya yang bekerja di elemen sama dengan crx dA dan merupakan gaya tekan untuk y positif. Karena tidak ada gaya resultan yang bekerja pada penampang, maka in­ tegral crx dA di seluruh luas penampang A harus sama dengan nol; jadi, persamaan statika yang pertama adalah LcrxdA = -LE 1()1 dA = 0 (a) Karena kelengkungan 1<: dan modulus elastisitas E merupakan konstanta yang bukan nol di suatu penampang balok yang melentur, maka keduanya tidak dilibatkan dalam proses integrasi daerah penampang melintang. Dengan demikian, kita dapat menuliskan (5-8) Persamaan statika ini menyatakan bahwa momen pertama dari suatu luas penampang yang dievaluasi terhadap sumbu z, adalah not. Dengan perkataan lain, sumbu z harus melalui pusat berat penampang.* Karena sumbu z juga merupakan sumbu netral, maka kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut. Sumbu netral selalu melewatipusat beratsuatupenampang apabila bahannya mengikuti hukum Hooke dan tidak ada gaya aksial yang bekerja dipenampang tersebut. Kesimpulan ini membuat kita mudah menentukan posisi sumbu netral. Sebagaimana telah diuraikan dalam Subbab 5.1, pembahasan kita terbatas pada balok dengan sumbu y adalah sumbu simetri. Karena itu, sumbu y juga melewati pusat berat. Dengan demikian, kita mempunyai kesimpulan tambahan sebagai berikut: pusat sumbu koordinat 0 (Gambar 5-9b) terletak di pusat berat penampang. Karena sumbu y adalah sumbu simetri penampang, maka sumbu y merupakan sumbu utama (lihat Bab 12, Subbab 12.9, untuk pembahasan tentang sumbu utama). Karena sumbu z tegak lurus sumbu y, maka sumbu tersebut juga merupakan sumbu utama. Jadi, apabila suatu balok dari bahan elastis linier mengalami lentur murni, maka sumbu y dan z merupakan sumbu berat. • Hubungan Momen Kelengkungan Persamaan statika yang kedua menyatakan bahwa resultan momen dari tegangan normal crx yang bekerja pada seluruh penampang sama dengan momen lentur M (Gambar 5-9a). Elemen gaya crx dA yang bekerja pada elemen seluas dA (Gambar 5-9b) ada di arah positif dari sumbu x apabila crx positif dan ada di arah negatif apabila crx negatif. Karena elemen dA terletak di atas sumbu netral, maka tegangan positif crx yang bekerja pada elemen tersebut menghasilkan elemen momen yang sama dengan crx ydA. Elemen momen ini bekerja berlawanan arah dengan momen lentur positif M yang terlihat dalam Gambar 5-9a. Dengan demikian, pertambahan dM pada momen lentur adalah *Pusat berat dan momen pertama dari suatu luas dibahas dalam Bab 12.
  • 288.
    y +M Momen lentur +M �... . po . sitif ... � . �) Kelengkungan positif L_______________ X 0 I Y Momen lentur ( , .. negatif . , ' ��..,/ -M Kelengkungan - M negatif L--------------- X 0 Gambar 5-10 Hubungan antara tanda momen lentur dan tanda kelengkungan Mekanika Bahan 275 dM = -ary dA Integral dari semua momen elemental di seluruh penampang A harus sama dengan momen lentur: M = -faxydA A atau, dengan memasukkan ax dari Persamaan (5-7), M = -LicE/ dA = KEL/dA (b) (5-9) Persamaan ini menghubungkan kelengkungan suatu balok dengan momen lentur M. Karena integral di dalam persamaan di atas merupakan besaran penampang, maka akan lebih mudah jika persamaan tersebut ditulis dalam bentuk: M = K£1 (5-10) di mana (5-11) Integral ini adalah momen inersia dari daerah penampang terhadap sumbu z (yaitu terhadap sumbu netral). Momen inersia selalu positif dan mempunyai dimensi panjang pangkat empat; sebagai contoh, satuan uses yang khas adalah in.4 dan satuan SI yang khas adalah mm4 di dalam perhitungan balok.* Sekarang Persamaan (5-10) dapat disusun kembali untuk menyatakan kelengkungan dalam momen lentur di balok: (5-12) Ini dikenal sebagai persamaan momen-kelengkungan. Persamaan (5-12) menunjukkan bahwa kelengkungan sebanding dengan momen lentur M dan berbanding terbalik dengan besaran El, yang disebut rigiditas lentur suatu balok. Rigiditas lentur merupakan ukuran tahanan suatu balok terhadap lentur; artinya semakin besar rigiditas lentur, akan semakin kecil kelengkungan yang terjadi akibat momen lentur. Dengan membandingkan perjanjian tanda untuk momen lentur (Gambar 4-5) dengan yang untuk kelengkungan (Gambar 5-6), kita lihat bahwa momen lenturpositifmenghasilkan kelengkunganpositifdan momen lentur negatifmenghasilkan kelengkungan negatif (lihat Gambar 5-10). • Rumus Lentur Karena kita telah menentukan lokasi sumbu netral dan telah mendapatkan hubungan momen-kelengkungan, maka kita dapat menentukan tegangan yang dinyatakan dalam momen lentur. Dengan memasukkan rumus kelengkungan (Persamaan 5-12) ke dalam rumus tegangan ax (Persamaan 5-7), maka kita peroleh *Momen inersia dari suatu luas dibahas dalam Bab 12.
  • 289.
    ,.. 276 Bab 5T egangan Di Balok (T opik Oasar) Tegangan tekan 7 0 1 'vlomen lentur positif +M � --- ) J. 02 Tegangan tarik (a) (5- 1 3 ) Persamaan ini, yang disebut rumus lentur, menunjukkan hahwa tegangan sebanding dengan momen lentur M dan berbanding terbalik dengan momen inersia I penampang. Juga. tegangan bervariasi secara linier terhadap jarak y dari sumbu netraL sebagaimana telah diamati sebelum ini. Tegangan yang dihitung dengan rumus ini disebut tegangan lentur. Jika momen lentur di suatu balok adalah positif. maka tegangan lentur akan positif (tarik) di bagian penampang di mana r adaiah negatif. artinya di bagian bawah balok. Tegangan di bagian atas balok ak,m negatif (tekan) . Jika momen lentur adalah negatif, maka tegangan akan sebaliknya. Hubungan ini ditunjukkan dalam Gambar 5-1 1 . I Y ! • Tegangan Maksimum di Suatu Penampang Tegangan tarik - -� / Mmnen lentur ncgatip Tegangan tekan (b) Gambar 5-1 1 Hubungan antara tanda untuk momen lentur dan arah tcgangan normal: la) momen lentur positif. dan lb) momcn lentur negatif Tegangan lentur tarik dan tekan maksimum yang bekerja di suatu penampang terjadi c!i titik yang terletak paling jauh dari surnbu netral. Kita tulis c1 dan c2 masing-masing ac!alah jarak c!ari sumbu netral ke elernen ekstrirn dalam arah positif dan negatif (lihat Gambar 5-9b dan 5- 1 1). Kemudian tegangan normal maksimum cr1 Jan 0'2 (dari rumus lentur) adalah (5- l 4a,b) di mana (5- 1 5a,b) Besaran SI dan s2 c!ikenal dengan sebutan modulus penampang. Dari Persarnaan (5- 1 5a dan b) kita lihat bahwa modulus penampang mempunyai dimensi panjang pangkat tiga (sebagai contoh, in.3 atau mm3). Perhatikan bahwa jarak c1 dan c2 ke tepi atas dan bawah balok selalu merupakan besaran positif. Keuntungan dari menyatakan tegangan rnaksimum dalam modulus penampang ada1ah karena setiap bagian modulus penampang menggabung­ kan besaran-besaran penampang yang relevan ke dalam besaran tunggal. Jadi besaran ini dapat dibuat tabelnya dan dimasukkan dalam buku-buku pegangan, yang dapat memudahkan perancang dalam membuat desain suatu balok. (Desain suatu ba1ok dengan menggunakan modulus penampang diuraikan dalam subbab selanjutnya.) Jika suatu penampang balok adalah simetris terhadap sumbu z dan terhadap sumbu y (penampang simetris ganda), maka c1 = c2 = c dan tegangan tarik dan tekan maksimum secara numerik sama: Me M (5- 1 6) cr, = -0'2 -- I s di mana S = !_ (5- 1 7 ) c
  • 290.
    I !--- b 2 b (a) y d (b) Mekanika Bahan 277 adalahsatu-satunya modulus potongan untuk penampang. Untuk suatu balok dengan penampang persegi panjang dengan lebar h dan tinggi h (Gambar 5- 1 2a). momen inersia dan modul us penampang adalah (5- 1 8a.b) lJntuk penampang lingkaran dengan dtamcter d (Gambar 5- 1 2h). besaran­ besaran tersebut adalah ir.d4 ! ;::;·. - . . · . ­ . 64 nd3 S = - 32 (5- 1 9a.b) Besaran penampang simetris ganda, sepeni penampang tabung. dapal diperoleh secara langsung dari rumus-rumus di ata'. Momen inersia untuk berbagai bidang datar dic:mtumkan dalam Lampiran D sebagai rujukan yang memudahkan. Cntuk hentuk penampang lain. kita harus menentukan lokasi sumbu netral. mom en mer,ia. d:.m modu­ lus penampang dengan perhitungan langsung yang menggunakan cara­ cara yang diuraikan dalam Bab 1 2. (Prosedur umum ini digambarb.n dalam Contoh 5-4.) Dimensi dan besaran profil baja standar dan balok kayu dicantumkan dalam Lampiran E dan F dan dalam bany ak buku-buku teknik, sebagaimana diterangkan secara lebih rinci dalam wbbab berikut. • Pembatasan Gambar 5-1 2 Bentuk penampang Analisis yang diuraikan dalam subbab ini adalah untuk lentur mumi balok simetris ganda prismatis yang terbuat dari bahan ela�tis l inier dan homogen. Jika suatu balok mengalami lentur tak seragam, maka gaya geser akan menimbulkan wa1ping (atau distorsi ke luar hidang) pada penampang. Jadi, pada kasus tersebut suatu penampang yang datar sebelum lentur tidak lagi datar setelah melentur. W mping akibat deformasi gcser sangat menyulitkan kita dalam mempelajari perilaku balok. Sekalipun demikian, penelitian-penelitian secara teliti menunjukkan bahwa perhitungan tegangan normal dari rumus lentur tidak begitu dipengaruhi adanya tegangan geser berikut warping yang ditimbulkannya (Ref. 2- J , hal 42 dan 48). Jadi, kita dapat tetap menggunakan teori lentur murni untuk perhitungan tegangan normal di halok yang mengalami lentur tak seragam.* Rumus lentur memberikan hasil yang hanya akurat di daerah balok di mana distribusi tegangan tidak terganggu oleh pcrubahan bentuk balok atau diskontinuitas pembebanan. Sebagai contoh. rumus lentur tidak dapat digunakan di dekat tumpuan balok atau di dekat behan terpusat. Ketidakteraturan seperti ini menimbulkan tegangan lokal, atau konsentrasi tegangan, yang jauh l ebih besar daripada tegangan yang diperoleh dari rumus lentur (lihat Subbab 5 . 1 3). *Teori balok dimulai oleh Galileo Galilei (I 564-1642), yang mcnyelidiki pcrilaku berbagai jenis balok. Pcnelitiannya dalam bidang mekanika bahan diuraikan dalam bukunya yang tcrkenal Two New Scienc es. yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1 638 (Ref. 5-2) Meskipun Galilc<> melakukon banyak penemuan tentang balok, ia tidak mendapatkan distribusi tegangan yang kita gunakan dcwasa ini. Perkembangan lebih lanjut tentang teori balok dilakukan olch Mariotte, Jacob Bernoulli, Euler, Parent. Saint-Venant. dan lain-lain (Ref. . '-3).
  • 291.
    278 Bab 5T egangan Di Balok (T opik Dasar) Gambar 5-13 Contoh 5-2. Kawat yang dibengkokkan di sekeliling sebuah drum • Contoh 5-2 Sebuah kawat baja berkekuatan tinggi dengan diameter d dibengkokkan di sekeliling drum dengan jari-jari R0 (Gambar 5-13). Tentukan momen lentur M dan tegangan lentur maksimum cr maks di kawat, dengan menganggap d = 4 mm dan R0 = 0,5 m. (Kawat baja ini mempunyai modulus elastisitas E = 200 GPa dan limit proporsional cr P1 = 1 200 MPa.) Solusi Langkah pertama di dalam contoh ini adalah menentukan radius kelengkungan p kawat yang melentur. Selanjutnya, dengan mengetahui p. kita dapat mencari momen lentur dan tegangan maksimumnya. Radius kelengkungan. Radius kelengkungan suatu kawat yang melentur adalah jarak dari pusat drum ke sumbu netral penampang kawat: (5-20) Momen lentur. Momen lentur di kawat dapat diperoleh dari hubungan momen­ kelengkungan (Persamaan 5-1 2): M = El = 2£1 p 2Ra + d (5-21) di mana I adalah momen inersia penampang kawat. Dengan mensubstitusikan I yang dinyatakan dalam diameter d (Persamaan 5-1 9a), kita peroleh nEd4 M = --.--,---- 32(2Ra + d) (5-22) Hasil ini diperoleh tanpa meninjau tanda momen lentur karena arah lentur telah jelas terlihat di dalam gambar. Tegangan /entur maksimum. Tegangan tarik dan tekan maksimum. yang sama secara numerik, diperoleh dari rumus lentur (Persamaan 5-16). Namun, karena kita hanya tertarik pada besar tegangan maksimum, maka kita dapat mengabaikan tanda dalam Persamaan (5-16) dan menuliskan rumus berikut: M O"maks = S di mana S adalah modulus penampang untuk penampang lingkaran. Dengan mensubstitusikan M dari Persamaan (5-22) dan S dari Persamaan (5-19b), kita peroleh Ed amaks = _ 2 _ Ra _ _ + _ d _ (5-23) Hasil yang sama dapat diperoleh secara langsung dari Persamaan (5-7) dengan mengganti y dengan d/2 dan mensubstitusikan p dari Persamaan (5··20). Dari Gambar 5-1 3 kita dengan mudah dapat melihat bahwa tegangan adalah tekan di bagian bawah (atau bagian dalam) dari kawat dan tarik di bagian atas (atau luar) dari kawat. Harga numerik. Sekarang kita masukkan data bahan ke dalam Persamaan (5- 22) dan (5-23) dan mempero1eh hasil sebagai berikut: nEd4 M = ---- 32(2R0 + d) (Jmaks Ed 2!?,; + d n(200 GPa)(4 mm)4 = 5 01 N·m 32[2(0,5 m) + 4mm] ' (200 GPa)(4 mm) = 797 MPa 2(0,5 m) + 4mm Perhatikan bahwa cr mak' lebih kecil daripada limit proporsional kawat baja, sehingga perhitungannya sah.
  • 292.
    Mekanika Bahan 279 Catatan:Karena jari-jari drum jauh lebih besar dibandingkan dengan diameter kawat, maka kita dapat dengan aman mengabaikan d dibandingkan dengan 2R0 pada penyebut di dalam rumus untuk M dan rmaks· Selanjutnya Persamaan (5-22) dan (5-23) menghasilkan M = 5,03 N·m amaks = 800 MPa Hasil ini ada pada sisi konservatifdan berbeda kurang dari 1% dengan harga yang lebih teliti. • Contoh 5-3 L 9 ft_j I � q = 1,s k/ft iU UJ!!l� I L == 22 ft _I � � V +23,6 I --I I (a) b = 8,75 in (b) Sebuah balok sederhana AB dengan panjang bentang L = 22 ft (Gambar 5-14a) memikul beban terbagi rata dengan intensitas q = I ,5 k!ft dan beban terpusat P = 1 2 k. Beban terbagi rata tersebut meliputi juga berat sendiri balok. Beban terpusat bekerja di titik 9,0 ft dari ujung kiri balok. Balok ini terbuat dari kayu lapis (glued laminated wood) dan mempunyai penampang dengan lebar b = 8.75 in. dan tinggi h = 27 in. (Gambar 5-1 4b). Tentukan tegangan tarik dan tekan maksimum di balok ini akibat lentur. Solusi Momen lentur maksimum. Kita mulai analisisnya dengan membuat diagram gaya geser dan momen lentur (Gambar 5-14c dan d), dengan menggunakan cara-cara yang telah diuraikan dalam Bab 4. Karena balok ini prismatis, maka tegangan lentur maksimum teijadi di penampang dengan momen lentur terbesar, yang terletak di lokasi di mana tanda gaya geser berubah. Jadi, momen maksimum adalah Mmaks = 152 k-ft Modulus penampang. Selanjutnya, kita hitung modulus penampang dengan menggunakan Persamaan (5-1 8b): S = b�1 = 7;(8,75 in.)(27 in.) 2 = 1063 in.3 T egangan maksimum. Akhimya, kita tentukan tegangan tarik dan tekan maksimum a1 dan ac dari Persamaan (5-16): (c) -2 1 ,4 a1 M ( 152 k-ft)(l 2 in./ft) = 1 720 si ..- = a2 = S = 1 063 in. 3 p ..._ +152 (d) Gambar 5-1 4 Contoh 5-3. Tegangan di balok sederhana ac = a1 = - M = -I 720 psi s Karena momen lentur adalah positif, maka tegangan tarik maksimum (a1) terjadi di bawah balok dan tegangan tekan (a) terjadi di atas. L_ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ _ _ __ __ __ __ _ _ __ __ _________________________________ • Contoh 5-4 Balok ABC yang terlihat dalam Gambar 5-15a mempunyai tumpuan sederhana di A dan B dan overstek dari B ke C. Beban terbagi rata dengan intensitas q = 3,0 kN/m bekerja di seluruh panjang balok tersebut. Balok ini terbuat dari tiga plat baja (tebal t = 1 2 mm) yang dilas membentuk penampang kanal dengan lebar b = 300 mm dan tinggi h = 80 mm (Gambar 5-15b). Untuk menentukan besaran penampang, kita abaikan fillets dan !as, dan asumsikan bahwa penampang terdiri atas beberapa persegi panjang, seperti terlihat dalam gambar.
  • 293.
    280 Bab 5T egangan Di Balok (Topik Dasar) Tentukanlah tegangan tarik dan tekan maksimum di balok ini akibat beban tersebut. • Solusi q = 3.0k/ft A� ---�1IlJ I l � : : :Jc ...... I � B I .... J�mi: I I• 3.0 m . 1 .5 m-1 (a) b =300mm � V l. j· •1 �"i;;l _l] h t=l2 mm t=I2 mm (b) (c) +1 .898 kN.m -3.375kN.m (d) Gambar 5-1 5 Contoh 5-4. Tegangan di suatu balok dengan overstek . i Y ) J i cl t= l2 mm ' . � t ir==I��::':=:::;:==::I:,l ··· ..•.. 1- ---.---- .,_ h = f.l-1= 12 mm b = 300mm Gambar 5-16 Penampang balok yang dibahas dalam Contoh 5-4 Momen lentur. Tegangan tarik dan tekan maksimum selalu terjadi di penampang di mana momen lentur mempunyai harga terbesar. Untuk menentukan penampang tersebut, kita membuat diagram gaya geser dan momen lentur (Gambar 5-1 5c dan d), dengan menggunakan cara-cara yang telah disebutkan dalam Bab 4. Perhatikan bahwa momen positif maksimum dan negatif maksimum terjadi di penampang di mana gaya geser berubah tanda. Kedua momen tersebut masing-masing adalah 1 898 kN-m dan -3.375 kN-m. Sumbu netral penampang. Kita menentukan posisi sumbu netral (sumbu z) dengan menentukan pusat berat penampang, seperti terlihat dalam Gambar 5-1 6. Dengan menggunakan cara-cara yang diuraikan dalam Bab 1 2 Subbab 12.3, kita membagi penampang ini menjadi tiga persegi panjang yang luasnya masing-masing A 1, A2, dan A3. Lalu kita menetapkan sumbu referensi Z-Z di tepi atas penampang, dan kita tulis jarak dari sumbu Z-Z ke pusat berat area A 1 dan A2 masing-masing dengan y1 dan y2. Jadi, perhitungan untuk menetapkan pusat berat penampang kanal adalah sebagai berikut Area 1 : Area 2: Area 3: y1 = t/2 = 6 mm h = h/2 = 40 mm A1 = (b - 2t)(t) = (276 mm)(l 2 mm) = 3312 mm2 A2 = ht = (80 mm)(1 2 mm) = 960 mm2 A3 = A2 LY;A; = yiAI + 2YzA2 IA; A1 + 2A2 = (6 mm)(331 2 mm 2 ) + 2(40 mm)(960 mm2) = 18 48 mm 3312 mm2 + 2(960 mm2 ) ' c2 = h - c1 = 80 mm - 18,48 mm = 61 ,52 mm Jadi, posisi sumbu netral (sumbu z) telah ditentukan. Momen inersia. Untuk menghitung tegangan dari rumus lentur kita harus menentukan momen inersia penampang terhadap sumbu netral. Perhitungan ini membutuhkan teorema sumbu sejajar (lihat Bab 1 2, Subbab 1 2.5). Dimulai dengan area A1, kita peroleh momen inersia /_ terhadap sumbu z ,, dari persamaan (c) Di dalam persamaan ini, Iz , adalah momen inersia area A1 terhadap sumbu beratnya sendiri: 1 3 1 3 4 Iz , = T2(b - 2t)(t)· = T2 (276 mm)(l 2 mm) = 39,744 mm dan d1 adalah jarak dari sumbu berat area A 1 ke sumbu z: d1 = c1 - t/2 = 1 8,48 mm - 6 mm = 12,48 mm Dengan demikian, momen inersia area A1 terhadap sumbu z (dari Persamaan c) adalah /_ = 39,744 mm4 + (33 1 2 mm2)(12,48)2 = 555.600 mm4 ,,. Dengan melakukan ha! yang sama untuk A2 dan A3, kita peroleh /z 2 = Iz, = 956.600 mm4
  • 294.
    Mekanika Bahan 281 Jadi,momen inersia penampang /z terhadap pusat beratnya adalah lz = I,, + 1,2 + I,, = 2.469 x 106 mm4 Modulus penampang. Modulus penampang untuk bagian atas dan bawah balok masing-masing adalah I S. = ....L.. = 40.1 00 mm 3 (lihat Persamaan 5-1 5a dan b). Dengan telah diketahuinya besaran-besaran penampang, maka kita dapat menghitung tegangan maksimum dari Persamaan 5- 14a dan b). Tegangan maksimum. Di penampang di mana terjadi momen lentur maksimum, tegangan tarik terbesar terjadi di bawah balok (a2) dan tegangan tekan terbesar terjadi di atas (a1). Jadi, dari Persamaan (5-14bJ dan (5- 14a) kita dapatkan a, = a = M = 1 ,898 kN·m = 47,3 MPa 2 52 40. 1 00 mm3 1,898 kN·m = _14•2 MPa 1 33.600 mm3 Dengan cara sama, tegangan terbesar di penampang di mana momen negatif maksimum terjadi adalah _ _ M _ -3,375 kN·m _ 25 3 MP a, - a - - - - - a 1 51 1 33.600 mm3 ' ac = a = M = -3,375 kN·m = -84 2 MPa 2 52 40.1 00 mm 3 ' Perbandingan antara keempat tegangan ini menunjukkan bahwa tegangan tarik terbesar di balok adalah 47,3 MPa dan terjadi di bawah ba1ok di penampang dengan momen lentur positif maksimum; jadi, (a1)maks. := 47,3 MPa Tegangan tekan terbesar adalah -84,2 MPa dan terjadi di bawah balok di penampang dengan momen negatif maksimum: (aJmaks = -84,2 MPa .. Jadi, kita telah menentukan tegangan maksimum akibat beban terbagi rata yang bekerja di balok. DESAIN BALOK TERHADAP TEGANGAN LENTUR Proses mendesain balok membutuhkan peninjauan banyak faktor, termasuk jenis struktur (pesawat terbang, mobil, jembatan, gedung, dan lain-lain), bahan yang digunakan, dan biaya yang harus dikeluarkan. Namun, dari tinjauan kekuatan, pacta akhirnya peninjauan itu bertujuan memilih bentuk dan ukuran balok sedemikian hingga tegangan aktual di balok tidak melebihi tegangan izin bahan. Di dalam pembahasan berikut ini, kita akan meninjau hanya tegangan lentur (yaitu, tegangan yang diperoleh dari rumus lentur, Persamaan 5-13). Selanjutnya, kita akan meninjau efek tegangan geser (Subbab 5.8, 5.9, dan 5.10), dan konsentrasi tegangan (Subbab 5.13). Dalam mendesain suatu balok untuk menahan tegangan lentur, kita biasanya mulai dengan menghitung modulus penampang yang diperlukan.
  • 295.
    282 Bab 5T egangan Di Balok (T opik Dasar) Gambar .5-1 7 Mengelas tiga plat baja besar menjadi penampang solid tunggal (Atas izin Lincoln Electric Company) Sebagai contoh, jika balok mempunyai penampang simetris ganda dan tegangan izin yang sama untuk tarik dan tekan, kita dapat menghitung modulus yang diperiukan dengan membagi momen lentur maksimum dengan tegangan lentur izin untuk bahan (lihat Persamaan 5-16): (5-24) Tegangan izin didasarkan atas besaran bahan dan faktor keamanan yang dikehendaki. Untuk menjamin bahwa tegangan tidak di1ampaui, kita harus memilih suatu balok yang menghasilkan modulus penampang sedikitnya sebesar yang diperoleh dari Persamaan (5-24). Jika suatu penampang bukan simetris ganda, atau jika tegangan izin untuk tarik dan tekan berbeda, kita mungkin perlu menentukan dua modu­ lus penampang yang diperlukan - satu berdasarkan atas tarik dan lainnya berdasarkan tekan. Selanjutnya kita harus menggunakan balok yang memenuhi kedua kriteria. Untuk meminimumkan berat dan menghemat bahan, kita biasanya memilih suatu balok yang mempunyai luas penampang paling kecil tetapi masih tetap memenuhi modulus penampang yang diperlukan (dan juga memenuhi semua persyaratan desain lainnya). Balok dapat mempunyai berbagai bentuk dan ukuran untuk memenuhi berbagai tujuan. Sebagai contoh, balok baja besar difabrikasi dengan mengelasnya (Gambar 5-17), balok aluminium biasa dibuat berupa tabung lingkaran atau persegi panjang, kayu umumnya dipotong dan dilem untuk memenuhi persyaratan khusus, dan balok beton bertulang biasa dicor dengan bentuk yang dikehendaki dengan menggunakan cetakan. Selain itu, balok baja, aluminium, plastik, dan kayu dapat dipesan dalam bentuk dan ukuran standar dari katalog yang diberikan oleh penyalur dan produsen. Bentuk-bentuk yang tersedia antara lain sayap lebar. I, siku, kanal, persegi panjang, dan tabung. • Balok Dengan Bentuk Dan Ukuran Standar Dimensi dan besaran berbagai jenis balok dicantumkan dalam buku-buku teknik. Sebagai contoh, bentuk dan ukuran balok baja struktural distandarisasi oleh American Institute ofSteel Construction (AISC), yang menerbitkan manual yang berisi besaran-besaran penampang (Ref. 5-4). Tabel di manual AISC memuat dimensi penampang dan besaran-besaran penting lain seperti berat perfootpanjang, luas penampang, momen inersia, dan modulus penampang. Besaran balok aluminium dan kayu juga ditabelkan serta tersedia pada publikasi oieh Aluminum Association (Ref. 5.5) dan American Forest and Paper Association (Ref. 5-6). Tabel balok baja dan balok kayu diberikan dalam buku ini untuk digunakan dalam memecahkan soal-soal (lihat Lampiran E dan F). Profil baja struktural diberi notasi seperti W 30 x 2 1 1 , yang berarti bahwa penampang tersebut adalah profil W (juga disebut profil sayap lebar) dengan tinggi nominal 30 in. dan berat 2 1 1 lb per ft panjang (lihat Tabel E-1 , Lampiran E). Notasi analog digunakan untuk profil S (juga disebut balok I) dan profil C (juga disebut kanai), seperti terlihat dalam Tabel E-2 dan E-3. Profil siku, atau profil L, diberi notasi dengan panjang
  • 296.
    z (a) ly A =r£'1 z_j0 Ih =pJ (c) (b) 1 YFlens I (d) Gambar 5-18 Bentuk-bentuk penampang balok Mekanika Bahan 283 kedua kaki dan tebalnya (lihat Tabel E-4 dan E-5). Sebagai contoh, L8 x 6 x 1 menunjukkan siku dengan kaki yang tidak sama, satu kaki panjangnya 8 in dan kaki lainnya mempunyai panjang 6 in., dengan tebal 1 in. Semua profil baja struktural standar dibuat dengan pengerolan (roll­ ing), suatu proses di mana sebongkah baja panas dilewatkan bolak-balik antara penggiling rolls sampai mempunyai bentuk yang dikehendaki. Penampang struktural aluminium biasanya dibuat dengan proses ekstrusi, suatu proses di mana bongkahan aluminium panas didorong melalui cetakan profil. Karena cetakan mudah dibuat serta bahannya mudah dikerjakan, maka balok aluminium dapat dibuat dalam bentuk apapun yang dikehendaki. Bentuk standar seperti balok sayap lebar, balok I, kanal, siku, tabung, dan profil lain ditabelkan dalam Alwninum Construction Manual (Ref. 5-5). Selain itu, profil tidak standar juga dapat dipesan. Hampir semua balok kayu mempunyai penampang persegi panjang dan diberi notasi dimensi nominal seperti -+ x 8 1 in. ). Dimensi ini menunjukkan ukuran kasar penampang kayu. Dimensi bersih (atau dimensi aktual) balok kayu lebih kecil daripada dimensi nominal jika sisi-sisi kasar telah diamplas agar halus. Jadi, balok kayu 4 x 8 mempunyai dimensi aktual 3,5 x 7,25 in. sesudah diamplas. Tentu saja, dimensi bersih kayu yang diamplas digunakan dalam perhitungan teknik. Dengan demikian, dimensi bersih berikutbesaran-besarannya dicanturnkan dalam Lampiran F. • Efisiensi Relatif Berbagai Bentuk Balok Salah satu tujuan dalam mendesain balok ialah untuk menggunakan bahan seefisien mungkin di dalam semua batasan yang berasal dari fungsi, penampilan, biaya pelaksanaan, dan sebagainya. Dari tinjauan kekuatan saja, efisiensi lentur bergantung terutama pada bentuk penampang. Balok yang paling efisien adalah yang menggunakan bahan sejauh mungkin dari sumbu netral. Semakin jauh suatu bahan dari sumbu netral, akan semakin besar modulus penampangnya - dan semakin besar modulus penampang, akan semakin besar pula momen lentur yang dapat ditahan (untuk suatu kondisi tegangan izin). Sebagai ilustrasi, tinjaulah penampang berbentuk persegi panjang dengan lebar b dan tinggi h (Gambar 5-18a). Modulus penampang (dari Persamaan 5-18b) adalah S = bh2 = Ah = 0 167 Ah 6 6 , (5-25) di mana A menunjukkan luas penampang. Persamaan ini menunjukkan bahwa penampang persegi panjang dengan luas yang ditentukan menjadi lebih efisien apabila tinggi h dibesarkan (dan lebar b dikurangi untuk membuat luasnya konstan). Tentu saja, acta batas praktek dalam memperbesar tinggi, karena balok menjadi tidak stabil secaralateral apabila rasio tinggi terhadap lebar terlalu besar. Jadi, suatu balok dengan penampang persegi panjang yang sangat tinggi akan gaga! karena tekuk lateral (ke samping), bukan karena tidak cukupnya kekuatan bahan. Selanjutnya, bandingkan penampang lingkaran solid dengan diam­ eter d (Gambar 5-1 8b) dengan penampang bujursangkar yang luasnya sama. Sisi h dari bujursangkar yang mempunyai luas sama dengan lingkaran adalah h = (d/2) -fii . Modulus penampang untuk masing-masing bentuk penampang adalah (dari Persamaan 5-18b dan 5-19b)
  • 297.
    284 Bab 5T egangan Di Balok (T opik Dasar) sbujur sangkar slingkaran sehingga kita dapatkan 3 7 = !!___ = 7r'V; ra = 0,1 160d3 6 48 nd3 = 0 0982d3 32 , shuiur sanobr · . e ' = [,[8 slmgkaran (5-26a,b) (5-27) Hasil ini menunjukkan bahwa suatu balok berpenampang bujursangkar lebih efisien dalam menahan lentur dibandingkan balok berpenampang lingkaran yang luasnya sama. Alasannya, tentu saja, bahwa lingkaran mempunyai bahan yang relatif lebih banyak di dekat sumbu netral. Bahan ini mengalami tegangan yang lebih kecil, dan oleh karena itu tidak berkontribusi banyak pada kekuatan balok. Bentuk penampang ideal untuk balok yang luas penampangnya ditentukan A dan tingginya juga ditentukan h akan diperoleh dengan meletakkan setengah luas pada jarak h/2 di atas sumbu netral dan setengah lainnya di jarak h/2 di bawah sumbu netraL seperti terlihat dalam Gambar 5-18c. Untuk bentuk ideal ini, kita dapatkan l S = - = 0 5Ah h/2 ' (5-28a,b) Limit teoretis ini didekati dalam praktek dengan penampang sayap lebar dan penampang I, di mana sebagian besar bahan ada di sayap (Gambar 5- 1 8d). Karena harus ada sebagian bahan di badan, maka kondisi ideal tidak pemah bisa diwujudkan. Jadi, untuk balok sayap lebar standar, modulus penampangnya kira-kira S "' 0,35 Ah (5-29) yang jauh lebih besar daripada modulus penampang untuk penampang persegi panjang yang luas dan tingginya sama (lihat Persamaan 5-25). Alasan yang jelas adalah karena balok sayap Jebar mempunyai paling banyak bahan di sayap, padajarak terjauh yang mungkin dari sumbu netraL Keunggulan lain suatu balok sayap Jebar adalah lebar yang lebih besar sehingga mempunyai kestabilan lebih besar terhadap tekuk ke samping, dibandingkan dengan balok persegi panjang dengan tinggi dan modulus penampang sama. Sebaliknya, dalam prakteknya ada limit mengenai tipisnya suatu badan dari balok sayap lebar. Jika badan terlalu tipis, maka badan tersebut akan mudah mengalami tekuk atau mungkin mengalami kelebihan tegangan geser, suatu topik yang dibahas pada Subbab 5. 1 0. Contoh-contoh berikut ini menggambarkan proses pemilihan balok berdasarkan atas tegangan izin. Di dalam contoh-contoh tersebut hanya pengaruh tegangan lentur (yang diperoleh dari rumus lentur) yang ditinjau. Catatan: Dalam menyelesaikan contoh-contoh dan soal-soal yang membutuhkan pemilihan balok dari tebal dalam lampiran, kita meng­ gunakan aturan sebagai berikut: Jika beberapa pilihan tersedia di dalam tabel, pilih balok yang paling ringan yang akan memberikan modulus penampang yang diperlukan.
  • 298.
    Gambar 5-1 9Contoh 5-5. Desain .suatu balok kayu yang ditumpu sedcrhana L�--- P = l 2 kN Mekanika Bahan 285 • Contoh 5-5 Sebuah balok kayu yang ditumpu scdcrhana dengan bentang L = I 2 fl memikul beban terbagi rata q = 420 lb/ft ( Gambar 5 - 1 9). Tegangan lentur izin adalah 1 800 psi, berat kayu adalah 35 lb/ft ' , dan b:llok tersebut dipikul dalam arah lateral terhadap tekuk ke samping. Pilihlah ukuran yang memadai untuk balok tersebut dari label dalam Lampiran F. Solusi Karena kita belum mengetahui berapa herat b�Jiok. maka kita akan melakukan perhitungan dengan cara coha-coba sebagai berikut: 1 I 1 Hitung modulus penampang yang diperlukan berdasarkan atas heban terbagi rata yang diketahui. (2) Pilih ukuran coba untuk balok. (3) Tambahkan berat balol dengan beban terhagi rata dan hitung modulus penampang baru yang dibutuhkan. 1 -+ 1 Cek apakah balok yang telah dipilih tersebut masih memadai. Jika tidak, pilih halok : ang lehih bcsar dan ulangi prosesnya. ( 1 ) Momen lentur maksimum di balok terjadi di titik tengah ( lihat Persamaan 4- 1 5): M = qL2 = (420 lb/ft)( 1 2 ft)2 ( 1 2 in./ft) = 90 72() lb- · maks. 8 8 • 111. Modulus penampang yang diperlukan adalah (Persamaan 5-24) S = Mmaks = 90.720 lh-in. = 50,40 in.3 O'izin 1 800 psi (2) Dari tabel dalam Lampiran F kita lihat hahwa balok yang paling ringan yang memberikan modulus penampang sedikitnya 50,40 in3 terhadap sumbu 1 - 1 adalah balok 3 x 1 2 (dimensi nominal). Balok ini mempunyai modulus penampang sama dcngan 52,73 in.3 dan berat 6,8 lb/ft. (3) Beban terbagi rata di balok menjadi 426,8 lb/ft, dan modulus penampang yang diperlukan adalah S = (50 40 in.3 ) (426,8 lb/ft )= 5 1 22 in.3 , 420 lb/ft ' (4) Balok yang telah dipilih sebelum ini mempunyai modulus pcnampang 52,73 in3. yang lebih besar daripada modulus yang diperlukan 5 1 ,22 in3. Dengan demikian, balok 3 x 1 2 in. telah memadai. • Catatan: Jika berat jenis kayu bukan 35 lb/ft3, kita dapat memperoleh bcrat balok per foot panjang dengan mengalikan harga kolom terakhir dalam Lampiran F dengan rasio antara berat jcnis aktual dan 35 lb/ft3. • Contoh 5-6 Sebuah tiang vertikal yang tingginya 2,5 m harus memikul beban lateral P = 1 2 k N d i ujung atasnya (Gambar 5-20). Ada dua rencana yang diusulkan - tiang kayu solid dan tabung aluminium berlubang. (a) Berapakah diameter minimum d1 yang diperlukan pada tiang kayu jika tegangan lentur izin di kayu adalah 1 5 MPa? (b) h = 2.5 m Berapa diameter luar minimum yang diperlukan d2 untuk tabung aluminium jika (a) (b) Gambar 5-20 Contoh S-6. (a) Tiang kayu solid, dan (b) tabung alumunium tebal dinding adalah 1/8 dari diameter luar dan tegangan lentur izin di aluminium adalah 50 MPa? Solusi Momen lentur maksimum. Momen maksimum terjadi di dasar tiang dan sama dengan bcban P dikalikan dengan tinggi h; jadi, Mmaks = Ph = ( 1 2 kN)(2,5 m) = 30,0 kN·m
  • 299.
    286 Bab 5T egangan Oi Balok (T opik Dasar) (a) Tiang kayu. Modulus penampang yang diperlukan 51 untuk tiang kayu (lihat Persamaan 5-19b dan 5-24) adalah 1rd13 = Mmaks _ 30.0 kN·m 3 6 3 SI = 32 <Yizin - 15 MPa = 0,0020 m = 2 X 10 mm Dengan memecahkan diametemya, ldta peroleh d1 = 273 mm Diameter yang dipilih untuk tiang kayu hams sama atau lebih besar daripada 273 mm agar tegangan izin tidak terlampaui. (b) Tabung aluminium. Untuk menentukan modulus penampang 52 pada tabung, mula-mula kita hams menentukan momen inersia 12 penampang (lihat Persamaan 5-17). Tebal dinding tabung adalah di8 sehingga diameter dalam adalah d2 -di4 = 0,75d2. Jadi, momen inersia (lihat Persamaan 5-1 9a) adalah I = �[di - (0,75dd] = 0,03356di Modulus penampang sekarang diperoleh sebagai berikut: s - 1 2 - 0,03356di = 0 06712d3 2 - c - d2!2 ' 2 Modulus penampang yang diperlukan diperoleh dari Persamaan (5-24): S2 =: Mmaks = 30,0kN·m = 0,0006 m3 = 600 X 103 mm3 <Yizm 50 MPa Dengan menyamakan kedua rumus untuk modulus penampang, kita dapat menghitung diameter luar yang diperlukan: d = (600 x l03 mm.J )I/13 = 208 mm ... 2 0,06712 Diameter dalamnya adalah 0,75(208 mm) = 156 mm. • Contoh 5-7 q = 2,000 lb/ft q = 2,000 lb/ft F'lTITTI m�B .. . I I lL I • r---12ft-------k3 ft�6fti RA Rs -17.140 Gambar 5-21 Contoh 5-7. Desain suatu balok sederhana dengan beban terbagi rata parsial Balok sederhana AB dengan panjang bentang 21 ft harus memikul beban terbagi rata q = 2000 lb/ft yang terdistribusi di sepanjang balok secara tidak penuh seperti terlihat dalam Gambar 5-21. Dengan meninjau beban terbagi rata dan berat balok, dan juga dengan menggunakan tegangan izin lentur sebesar 18000 psi, pilihlah balok baja stmktural dengan bentuk sayap lebar untuk memikul beban tersebut. Solusi Di dalam contoh ini kita menyelesaikan sebagai berikut: (1) Cari momen lentur maksimum di balok aldbat beban terbagi rata. (2) Dengan mengetahui momen maksimum, ldta mencari modulus penampang yang diperlukan. (3) Pilih balok sayap lebar coba-coba dari Tabel E-1 di Lampiran E dan mendapatkan berat balok. (4) Dengan mengetahui beratnya, kita menghitung momen lentur yang barn dan modulus penampang yang baru. (5) Tentukan apakah balok yang dipilih masih memadai. Jika tidak, pilih balok baru dan ulangi prosesnya sampai ukuran balok yang memadai diperoleh. Momen lenturmaksimum. Untuk memudahkan pencarian lokasi momen lentur maksimum, kita buat diagram gaya geser (Gambar 5-21) dengan menggunakan cara-cara yang telah diuraikan dalam Bab 4. Sebagai bagian dari proses tersebut, kita tentukan reaksi di tumpuan: RA == 18.860 lb RB = 17.140 lb Jarak x1 dari tumpuan kiri ke penampang dengan gaya geser no! diperoleh dari persamaan
  • 300.
    Mekanika Bahan 287 V= RA-qx1 = 0 yang berlaku dalam selang 0 :5. x:5. 12 ft. Dengan memecahkan X p kita peroleh X = RA = 18.860 lb = 9.430 ft 1 q 2.000 lb/ft yang lebih kecil daripada 1 2 ft sehingga perhitungan ini sah. Momen lentur maksimum terjadi di penampang di mana gaya geser sama dengan nol; dengan demik:ian, M R qx;: = 88.920 lb-ft maks = Axl - 2 Modulus penampang yang diperlukan. Modulus penampang yang diperlukan (hanya berdasarkan atas beban q) diperoleh dari Persamaan (5-24): S = Mmaks = (88.920 lb-ft)(l 2 in./ft) = 59.3 in. ' aizin 18.000 psi Balok coba-coba. Sekarang kita gunakan Tabel E- 1 dan kita pilih balok sayap lebar teringan yang mempunyai modulus penampang yang lebih besar daripada 59,3 in.3 Balok paling ringan yang modulus penampangnya memenuhi adalah W 1 2 x 50 dengan S = 64,7 in.3 Balok ini mempunyai berat 50 lb/ft. (lngat bahwa tabel da1am Lampiran E hanya sebagian saja dari yang tersedia jadi balok yang lebih ringan mungkin saja ada.) Sekarang kita menghitung ulang reaksi, momen lenturmaksimum, dan modu­ lus penampang yang diperlukan dengan balok yang dibebani oleh beban terbagi rata q dan berat sendirinya. Akibat beban kombinasi ini reaksinya ada1ah RA = 19.380 lb R8= 17.670 lb dan jarak ke penampang dengan geser no1 menjadi x1 = 9,455 ft Momen lentur maksimum bertambah menjadi 91.600 1b-ft dan modulus penampang yang dibutuhkan adalah S = Mmaks = (91 .600 lb-ft)(l 2 in./ft) = 61,1 in.3 aizin 1 8.000 psl Jadi, kita lihat bahwa balok W12 x 50 dengan modulus penampang S = 64,7 in.3 sudah memadai. • Jika modulus penampang yang dibutuhkan me1ebihi yang dimiliki balok W 1 2 x 50, maka balok baru dengan modulus penampang lebih besar akan dibutuhkan dan prosesnya harus diulangi. • Contoh 5-8 Sebuah tanggul kayu sementara terbuat dari papan-papan horizontal A yang dipikul oleh tiang-tiang kayu B yang tertanam di tanah sedemikian hingga berlaku sebagai balok kantilever (Gambar 5-22). Tiang mempunyai penampang bujursangkar (dimensi b x b) dan betjarak satu sama lain s = 0,8 m, as ke as. Asumsikan bahwa ketinggian muka air di belakang tanggul sama dengan tinggi total tunggal h = 2.0 m. Tentukan dimensi b minimum yang diperlukan untuk tiang jika tegangan lentur izin di kayu adalah aizin = 8.0 MPa. Solusi Setiap tiang mengalami beban terdistribusi segitiga yang diakibatkan oleh tekanan air terhadap tiang. Akibatnya, diagram pembebanan untuk setiap tiang adalah
  • 301.
    288 BaD 5T egangan Di Ba/ok (T opik Dasar) (a) Tampak atas (b) Tampak samping ��·� qo (c) Diagram pembebanan I Gambar 5-22 Contoh 5-8. Tanggul kayu dengan papan I horizontal A yang ditumpu oleh g B segitiga (Gambar 5-22c). lntensitas maksimum beban q0 di tiang sama dengan tekanan air di kedalaman h dikalikan dengan jarak s antartiang: (a) di mana yadalah berat jenis air. Perhatikan bahwa q0 mempunyai satuan gaya per satuan jarak. ymempunyai satuan gayaper satuan volume, dan h serta s mempunyai satuan panjang. Karena setiap tiang merupakan balok kantilever, maka momen lentur maksimum terjadi di dasar dan dinyatakan dengan rumus berikut M = q0h(!.!..)= }'fl3 s maks 2 3 6 (b) Dengan dernikian, modulus penampang yang diperlukan (Persamaan 5-24) adalah (c) Untuk suatu balok dengan penampang bujursangkar, modulus penampang adalah S = b3/6 (lihat Persamaan 5-1 8b). Dengan memasukkan rumus untuk S ini ke dalam Persamaan (c), maka kita dapatkan rumus untuk dimensi minimum b dari tiang (d) .. Harga-harga numerik. Sekarang kita substitusikan harga-harga numerik ke dalam Persamaan (d) dan mendapatkan b3 = <9•8 1 kN/m3)(2,0 m)3(0,8 m) = 0,007848 m3 = 7,848 x 1 06 mm3 8,0 MPa sehingga b = 199 mm Jadi, dimensi minimum b yang diperlukan untuk tiang adalah 199 mm. Setiap dimensi yang lebih besar, misalnya 200 mm, akan menjamin hahwa tegangan lentur aktual akan lebih kecil daripada tegangan izin. -· 5·• 7 I BALOK NONPRISMATIS Teori balok yang dibahas dalam bab ini diturunkan untuk balok prismatis, yaitu balok lurus yang mempunyai penampang sama di seluruh panjangnya. Balok nonprismatis biasanya digunakan untuk mengurangi berat dan memperbaiki tampilan. Balok seperti ini dapat dijumpai pada mobil, pesawat terbang, mesin, gedung, jembatan, dan banyak aplikasi Jainnya (Gambar 5-23). Rumus lentur (Persamaan 5-1 3) memberikan harga akurat yang cukup baik untuk tegangan lentur pada balok nonprismatis apabila perubahan penampang adalah gradual, seperti terlihat pacta contoh-contoh dalam Gambar 5-23. Sekarang tinjaulah bagaimana tegangan lentur bervariasi apabila kita berjalan di sepanjang sumbu balok. Pada balok prismatis, modulus penampang S merupakan konstanta sehingga tegangan bervariasi secara sebanding langsung dengan momen lentur M (karena cr = MIS). Namun, pada balok nonprismatis, modulus penampang juga bervariasi di sepanjang sumbu. Dengan demikian, kita tidak dapat mengasumsikan bahwa tegangan
  • 302.
    Gambar 5-23 Contohbalok nonprismatis: (a) lampu jalan, (b) jembatan dengan balok dan tiang yang meruncing, (c) batang roda di pesawat udara, dan (d) pemegang kunci r i (a) �� � -;::o- �' ""' Mekanika Bahan 289 (b) l e 1 maksimum terjadi di penampang dengan momen lentur maksimum. Kadang-kadang tegangan tersebut terjadi di mana saja, sebagaimana digambarkan dalam contoh berikut. • Contoh 5-9 Gambar 5-24 Contoh 5-9. Balok kantilever yang meruncing dengan penampang lingkaran Sebuah balok kantilever yang meruncing (nonprismatis) AB dengan penampang lingkaran solid memikul beban P di ujung bebas (Gambar 5-24). Diameter d8 di ujung besar adalah dua kali diameter dA di ujung kecil: dB = 2 dA Tentukan tegangan lentur a8 di tumpuan jepit dan tegangan lentur maksimum (Jmaks· Solusi Jika sudut peruncingan balok kecil, maka tegangan lentur yang diperoleh dari rumus lentur akan berbeda sedikit dari harga eksaknya. Sebagai pedoman dalam meninjau ketelitian, kita ingat bahwa jika sudut antara garis AB (Gambar 5-24) dan sumbu longitudinal balok adalah sekitar 20°, maka galat dalam perhitungan tegangan normal dari rumus lentur adalah sekitar 10%. Tentu saja, apabila sudut peruncingan tersebut berkurang, galat akan berkurang pula. Moduluspenampang. Modulus penampang di sembarang potongan melintang balok dapat dinyatakan sebagai fungsi dari jarak x yang diukur di sepanjang sumbu balok. Karena modulus penampang bergantung pada diameter (Persamaan 5-19b), maka kita mula-mula hams menyatakan diameter dalam x sebagai berikut:
  • 303.
    290 Bab 5T egangan Di Balok (Topik Dasar) (5-30) di mana dx adalah diameter pada jarak x dari ujung bebas. Dengan demikian, modulus penampang di jarak x dari ujung bebas adalah (5-31 ) Tegangan lentur. Karena momen lentur sama dengan Px, maka tegangan normal maksimum di sembarang penampang dinyatakan dalam persamaan M 32P x al = _.£ = _ _ _ -=. =-:.... :..:....__ _ ___, S x 7r[dA + (dB - dA )(XfL)]3 (5-32) Kita dapat melihat pada balok ini dengan mudah bahwa tegangan a1 adalah tarik di bagian atas dan tekan di bagian bawah balok. Perhatikan bahwa Persamaan (5-30), (5-31), dan (5-32) berlaku untuk sembarang harga dA dan dB asalkan sudut peruncingan kecil. Dalam pembahasan berikut ini, kita tinjau kasus di mana dB = 2dA. T egangan maksimum di tumpuanjepit di mana dB = 2dA. Tegangan maksimum di penampang dengan momen lentur terbesar (ujung B dari balok) dapat diperoleh dari Persamaan (5-32) dengan memasukkan x = L dan dB = 2dA; hasilnya adalah 4PL aB = -- 3 JrdA (a) • Tegangan maksimum di balok apabila dB = 2dA. Tegangan maksimum di penampang yang terletak pada jarak x dari ujung (Persamaan 5-32) untuk kasus di mana dB = 2dA adalah 32Px a - -.,...:...=..:.-'-'-- , 1 - Jrdl(1 + x/ L)3 (b) Untuk menentukan lokasi penampang yang mempunyai tegangan lentur terbesar di balok ini, kita perlu mencari harga x yang membuat a1 maksimum. Dengan mengambil turunan da/dx dan menyamakan dengan no!, kita dapat memecahkan harga x yang membuat a1 maksimum; hasilnya adalah L X = - 2 Tegangan maksimumnya, yang diperoleh dengan memasukkan s = L/2 ke dalam Persamaan (b), adalah a = 1 28PL = 4 741 PL maks 27 Jrdl ' Jrdl (c) Di dalam contoh ini, tegangan maksimum terjadi di titik tengah balokdan besarnya 19% 1ebih besar daripada tegangan di ujung jepit. Catatan: Jika peruncingan balok berkurang, maka penampang dengan tegangan normal maksimum bergerak dari titik tengah ke arah tumpuan jepit. Untuk sudut peruncingan sangat kecil, tegangan maksimum terjadi di ujung B. • Contoh 5-1 0 Sebuah balok kantilever yang panjangnya L akan didesain untuk memikul beban terpusat P di ujung bebas (Gambar 5-25). Penampang balok adalah persegi panjang dengan lebar konstan b. Untuk membantu perencana dalam mendesain balok tersebut, perencana perlu mengetahui seberapa tinggi balok yang diidealkan perlu divariasikan agar tegangan normal maksimum di setiap penampang akan sama dengan tegangan izin aizin· (Balok yang memenuhi kondisi ini disebut balok
  • 304.
    Gambar 5-25 Contoh5-1 0. Balok bertegangan penuh yang mempunyai tegangan normal maksimum konstan (bentuk teoritis dengan tegangan geser diabaikan) Mekanika Bahan 291 bertegangan penuh atau balok dengan kekuatan konstan.) Dengan hanya meninjau tegangan lentur yang diperoleh dari rumus lentur, tentukan tinggi balok tersebut. Solusi Momen lentur dan modulus penampang pada jarak x dari ujung bebas balok adalah M = Px 5 = hh; 6 di mana hx adalah tinggi balok pada jarak x. Dengan menggunakan rumus lentur, kita peroleh M Px 6Px (J. . = - = -- = -- - IZIO s bh;/6 bh; Dengan memecahkan tinggi balok, kita peroleh h = r6Px x � baizin Di ujung bebas balok, (x = L), tingginya h8 adalah hs = �L � baizin (d) (e) .. (f) sehingga kita dapat menyatakan tinggi hx dalam bentuk sebagai berikut: h, = hs�£ (g) .. Persamaan terakhir ini menunjukkan bahwa tinggi balok yang bertegangan penuh bervariasi terhadap akar x. Dengan demikian, balok yang diidealkan mempunyai bentuk parabolik seperti terlihat dalam Gambar 5-25. Catatan: Di ujung yang dibebani dari balok (x = 0) tinggi teoretis adalah no! karena tidak ada momen lentur di titik tersebut. Tentu saja, balok dengan bentuk seperti ini tidak praktis karena tidak dapat memikul gaya geser di dekat ujung balok. Sekalipun demikian, dengan mengetahui besaran balok yang bertegangan penuh dapat merupakan alat bantu bagi perencana dalam mendesain struktur untuk tegangan maksimum konstan (dan berat minimum). Contoh terkenal suatu struktur dengan penampang yang bervariasi yang didesain untuk mempertahankan tegangan maksimum (di dalam limit praktis) adalah pegas daun, seperti yang umum dijumpai pada mobil dan truk. 5.8 I TEGANGAN GESER Dl BALOK DENGAN PENAMPANG -- PERSEGI PANJANG Apabila suatu balok mengalami lentur mumi, satu-satunya resultan tegangan yang ada adalah momen lentur dan tegangan yang ada hanyalah tegangan normal yang bekerja pada penampang. Namun, kebanyakan balok mengalami beban yang menghasilkan momen lentur dan gayageser (lentur tak seragam). Pacta kasus seperti ini, tegangan normal dan tegangan geser timbul di dalam balok. Tegangan normal dihitung dari rumus lentur (lihat Subbab 5.5), asalkan balok terbuat dari bahan elastis linier. Tegangan geser dibahas di dalam subbab ini dan dua subbab setelah ini. Tinjaulah suatu balok dengan penampang persegi panjang (lebar b dan tinggi h) yang mengalami gaya geser positif V (Gambar 5-26a).
  • 305.
    r 292 3a:: 5T egangan Di Balok (T opik Dasar) (a) � n 't �' � ' 111 (b) (c) Gambar 5-26 Tegangan geser di suatu balok dengan penampang persegi panjang (a) (b) Gambar 5-27 Lentur pada dua balok yang terpisah Tegangan gescr r yang bekerja di penampang dapat diasumsikan bekerja sejajar dengan gaya geser. yaitu, sejajar dengan sisi-sisi vertikal penampang. Juga dapat diasumsikan bahwa tegangan geser mempunyai distribusi terbagi rata di seluruh lebar balok, meskipun tegangan tersebut bervariasi terhadap tingginya. Dengan menggunakan kedua asumsi ini. kita dapat menentukan intensitas tegangan geser di setiap titik di penampang. Untuk maksud analisis, kita isolasi elemen kecil mn dari balok (Gambar 5-26a) dengan memotong antara dua penampang yang berdekatan dan antara dua bidang horizontal. Berdasarkan asumsi kita, tegangan geser r yang bekerja di muka depan elemen ini adalah vertikal dan terdistribusi terbagi rata dari satu sisi balok ke sisi lainnya. Juga. dari pembahasan tegangan geser pada Subbab 1 .6, kita ketahui bahwa tegangan geser yang bekerja di satu sisi elemen selalu disertai tegangan geser yang besarnya sama dan bekerja tegak lurus muka elemen tersebut (lihat Gambar 5-26b dan c). Jadi, ada tegangan geser horizontal yang bekerja antara lapisan horizontal balok sebagaimana juga tegangan geser vertikal yang bekerja di penampang. Di setiap titik pada balok, tegangan-tegangan geser yang saling melengkapi ini mempunyai harga yang sama. Kesamaan tegangan geser horizontal dan vertikal yang bekerja pada suatu elemen ini menghasilkan kesimpulan penting tentang tegangan geser di puncak dan dasar balok. Jika kita bayangkan bahwa elemen mn (Gambar 5-26a) terletak di atas atau bawah, maka kita lihat bahwa tegangan geser horizontal harus nol karena tidak ada tegangan di permukaan terluar balok. Karena itu, tegangan geser vertikal juga harus nol di lokasi terscbut; dengan perkataan lain r = 0 di mana y = ± h/2. Adanya tegangan geser horizontal di suatu balok dapat ditunjukkan dengan eksperimen sederhana. Letakkan dua balok persegi panjang yang identik pada tumpuan sederhana dan bebani dengan gaya P, seperti terlihat dalam Gambar 5-27a. Jika friksi antara balok kecil, maka balok akan melentur secara independen (Gambar 5-27b). Setiap balok akan mengalami tekan di atas dan tarik di bawah sumbu netralnya masing-masing. Dengan demikian, permukaan bawah balok atas akan bergcser terhadap permukaan atas balok bawah. Sekarang bayangkan bahwa dua balok dilekatkan di sepanjang permukaan kontak sehingga keduanya menjadi balok solid tunggal. Apabila balok ini dibebani, tegangan geser horizontal harus terjadi di sepanjang permukaan yang dilekatkan untuk mencegah geseran seperti terlihat dalam Gambar 5-27b. Karena adanya tegangan geser ini, maka balok solid tunggal selalu jauh lebih kaku dan lebih kuat daripada dua balok yang terpisah. • Penurunan Rumus Geser Kita sekarang siap untuk menurunkan rumus untuk tegangan geser r di balok persegi panjang. Namun, daripada mengevaluasi tegangan geser vertikal yang bekerja pada penampang, adalah lebih mudah untuk mengevaluasi tegangan geser horizontal yang bekerja antara lapisan-lapisan balok. Tentu saja, tegangan geser vertikal mempunyai besar yang sama dengan tegangan geser horizontal. Dengan mengingat prosedur ini, kita tinjau sebuah balok yang mengalami lentur tak seragam (Gambar 5-28a). Kita ambil dua penampang yang berdekatan mn dan m1n1 yang jaraknya satu sama lain dx, dan mengisolasi elemen mm1n1n. Momen lentur dan gaya geser yang bekerja
  • 306.
    Gambar 5-28 Tegangan geserdi sualu balok dengan penampang persegi panjang Mekanika Bahan 293 di muka kiri elemen masing-masing diberi notasi Mdan V Karena momen lentur dan gaya geser dapat bervariasi apabila kita berjalan di sepanjang sumbu balok, maka besaran tersehut di muka kanan diberi notasi M + dM dan V + dV. Karena adanya momen lentur dan gaya geser (Gambar 5-28a), maka elemen tersebut mengalami tegangan normal dan geser di kedua muka penampang. Namun, hanya tegangan nom1al yang dibutuhkan di dalam penurunan berikut sehingga hanya tegangan normal yang ditunjukkan dalam Gambar 5-28b. Di penampang mn dan m , n ; tegangan normal masing­ masing adalah, (1,f -'- d.f ) y I (a.b) sebagaimana diberikan oleh rumus lentur (Persamaan 5-13 ). Di dalam rumus ini, y adalah jarak dari sumbu netral dan I adalah momen inersia penampang terhadap sumbu netral. Selanjutnya, kita tinjau subelemen mm1p1p dengan mele·atkan bidang horizontal pp1 melalui elemen mm1n1n (Gambar 5-28b). Bidang pp1 berada pada jarak y1 dari permukaan netral balok. Subelemen ditunjukkan secara terpisah dalam Gambar 5-28c. Kita ingat bahwa muka paling atasnya merupakan bagian dari permukaan atas balok sehingga disini bebas tegangan. Di muka paling bawahnya (yang sejajar dengan permukaan netral dan mempunyai jarak y1 darinya) bekerja tegangan geser horizontal r yang ada pada level balok tersebut. Muka potongan melintangnya mp dan m1p1 mengalami tegangan lentur 0'1 dan cr2 yang diakibatkan oleh momen lentur. Tegangan geser vertikal juga bekerja di muka penampang; namun, tegangan ini tidak mempengaruhi kesetimbangan subelemen dalam arah horizontal (arah x), sehingga tidak ditampilkan dalam Gambar 5-28c. Tampak samping balok (a) dx _ _ _ _ , Tampak samping subelemen (c) Tampak samping elemen (b) dx - - - - - - �___Q______j Potongan melintang (penampang) balok (d)
  • 307.
    294 Bab 5T egangan Di Balok (T opik Dasar) , _ _ _ _ t}!_ _ _ _ , Gambar 5-29 Sebagian dari diagram benda bebas subelemen yang memperlihatkan semua gaya horizontal Jika momen lentur di potongan mn dan m1n1 (Gambar 5-28b) sama (artinya, jika balok ini mengalami lentur mumi), maka tegangan normal a1 dan a2 yang bekerja di sisi mp dan m1p1 dari subelemen (Gambar 5- 28c) juga akan sama. Pada kondisi ini, subelemen akan berada dalam kesetimbangan akibat aksi tegangan normal saja sehingga tegangan geser r yang bekerja di muka bawah pp1 akan hilang. Kesimpulan ini jelas sekali karena balok yang mengalami lentur mumi tidak mempunyai gaya geser sehingga tidak ada tegangan geser. Jika momen lentur bervariasi di sepanjang sumbu x (lentur tak seragam), maka kita dapat menentukan tegangan geser r yang bekerja di muka bawah subelemen (Gambar 5-28c) dengan meninjau kesetimbangan elemen dalam arah x. Kita mulai dengan mengidentifikasi elemen yang luasnya dApada penampang dengan jarak ydari sumbu netral (Gambar 5- 28d). Gaya yang bekerja di elemen ini adalah adA, di mana a adalah tegangan normal yang diperoleh dari rumus lentur. Jika elemen luas ini terletak di muka kiri mp dari subelemen (di mana momen lentumya adalah M), maka tegangan normal dinyatakan dengan Persamaan (a) sehingga elemen gaya adalah a1dA =-MydA I Perhatikan bahwa kita hanya menggunakan harga mutlak dalam persamaan ini karena arah tegangan sudah jelas dari gambar. Penjumlahan elemen­ elemen gaya yang bekerja di luas muka mp dari subelemen memberikan gaya horizontal total F1 yang bekerja di muka tersebut: (c) Perhatikan bahwa integrasi ini dilakukan pada bagian yang digelapkan dari penampang yang terlihat dalam Gambar 5-28d, yaitu pada daerah dari penampang dari y = y1 sampai y = h/2. Gaya F1 ditunjukkan dalam Gambar 5-29 pada diagram benda bebas parsial dari subelemen (gaya vertikal telah dihilangkan). Dengan cara sama, kita dapatkan bahwa gaya total F2 yang bekerja di muka kanan m1p1 dari subelemen (Gambar 5-29) adalah Fz = JO"zdA = JCM +/M)ydA (d) Dengan mengetahui gaya-gaya F1 dan F2, kita dapat menentukan gaya horizontal F3 yang bekerja di muka bawah subelemen. Karena subelemen berada dalam kesetimbangan, maka kita dapat menjumlahkan gaya-gaya di dalam arah x dan mendapatkan F3 = Fz - Fl (e) atau F3 = seM +/M)ydA- s�ydA = scd�)ydA Besaran dMdan I di suku terakhir dapat dipindahkan ke luar tanda inte­ gral karena keduanya merupakan konstanta di setiap penampang dan tidak dilibatkan dalam integrasi. Jadi, rumus untuk gaya F3 menjadi dMf F3 = I ydA (5-33)
  • 308.
    Mekanika Bahan 295 Jikategangan geser r terdistribusi terbagi rata di seluruh lebar b dari balok, maka gaya F3 adalah (5-34) di mana b dx adalah luas muka bawah dari subelemen. Dengan menggabungkanPersamaan (5-33) dan (5-34) dan memecah­ kan tegangan geser r, kita dapatkan r = dM(J...)f'ltA dx lb - (5-35) Besaran dM!dx sama dengan gaya geser V (lihat Persamaan 4-6) sehingga persamaan di atas menjadi (5-36) Integral dalam persamaan ini dievaluasi di seluruh bagian yang digelapkan dari penampang (Gambar 5-28d), seperti telah dijelaskan. Jadi, integral ini merupakan momen pertama dari area yang digelapkan terhadap sumbu netral (sumbu z). Dengan perkataan lain integral iniadalah momenpertama (statis momen) dari luaspotongan melintang di atas leveldimana tegangan geser r sedang dihitung. Momen pertama ini biasanya diberi simbol Q: Q = fydA (5-37) Dengan notasi ini, rumus untuk tegangan geser menjadi (5-38) Rumus ini, yang dikenal sebagai rumus geser, dapat digunakan untuk menentukan tegangan geser r di setiap titik pada suatu penampang dari balok persegi panjang. Perhatikan bahwa untuk suatu penampang yang spesifik, gaya geser V, momen inersia /, dan lebar b adalah konstanta. Namun momen pertama Q (dan juga tegangan geser r) bervariasi terhadap jarak y1 dari sumbu netral. Jika level di mana tegangan geser akan dihitung ada di atas sumbu netral, seperti terlihat dalam Gambar 5-28d, adalah wajar untuk mendapatkan Q dengan menghitung momen pertama (statis momen) dari bagian penampang di atas level tersebut (bagian yang digelapkan dalam gambar tersebut). Namun, sebagai altematif, kita dapatmenghitung momen pertama dari luas bagian penampang sisanya, yaitu luas di bawah area yang digelapkan. Momen pertamanya sama dengan negatif dari Q. Penjelasannya terletak pada kenyataan bahwa momen pertama seluruh luas penampang terhadap sumbu netral sama dengan nol (karena sumbu netral melalui pusat berat). Dengan demikian, harga Q untuk area di bawah level y1 sama dengan negatif dari Q untuk area di atas level tersebut. Untuk mudahnya, kita biasanya menggunakan area di atas level y1 apabila titik yang dicari tegangan gesemya ada di bagian atas balok. Sebaliknya, kita menggunakan area di bawah level y1 apabila titik tersebut ada di bagian bawah balok. Lebih jauh lagi, kita biasanya tidak peduli dengan perjanjian tanda untuk V dan Q. Sebaliknya, kita menganggap semua suku di dalam rumus
  • 309.
    r 296 BaD 5T egangan Di Balok (Topik Dasar) I geser sebagai besaran positif dan menentukan arah tegangan geser dengan tinjauan langsung karena tegangan bekerja di arah yang sama dengan gaya geser V itu sendiri. Prosedur untuk menentukan tegangan geser ini diuraikan pada Contoh 5-1 1 . :� !!__ , 0--+-L--x 4 j • Distribusi Tegangan Geser di Balok Persegi Panjang 1 J Sekarang kita siap untuk menentukan distribusi tegangan geser di suatu __t___ � � ----- balok dengan penampang persegi panjang (Gambar 5-30a). Momen pertama I• b � Q dari bagian penampang yang digelapkan diperoleh dengan mengalikan (a) luas dengan jarak titik beratnya ke sumbu netral: -.------- 1 h 1: I 2 { (b) Gambar 5-30 Distribusi tegangan geser di suatu balok dengan penampang persegi panjang: (a) potongan melintang balok, dan (b) diagram yang menunjukkan distribusi tegangan geser secara parabolik di seluruh tinggi balok. (h )( h/2-Y1 ) b(h2 2) Q = b 2 - Y1 Y1 + z = 2 4 -Y1 (f) Tentu saja, hasil yang sama ini dapat diperoleh dari integrasi dengan menggunakan Persamaan (5-37): f fh/2 b(h2 2) Q = ydA= y 1 ybdy= 2 4 -Y1 Dengan memasukkan rumus untuk Q ke dalam rumus geser (Persamaan 5-38), kita dapatkan (5-39) Rumus ini menunjukkan bahwa tegangan geser di balok persegi panjang bervariasi secara kuadratik terhadap jarak y1dari sumbu netral. Jadi, jika diplot di seluruh tinggi balok, r bervariasi seperti terlihat dalam Gambar 5-30b. Perhatikan bahwa tegangan geser adalah nol ketika y1 = ± h/2. Harga maksimum dari tegangan geser terjadi di sumbu netral (y1 = 0) di mana momen pertama Q mencapai harga maksimumnya. Dengan substitusi y1 = 0 ke dalam Persamaan (5-39), kita dapatkan (5-40) di mana A = bhadalah luas penampang. Jadi, tegangan geser maksimum di balok dengan penampang persegi panjang adalah 50% lebih besar daripada tegangan geser rata-rata (yang sama dengan VIA). Perhatikan sekali lagi bahwa persamaan di atas untuk tegangan geser dapat digunakan untuk menghitung tegangan geser yang bekerja di penampang atau tegangan geser horizontal yang bekerja di antara lapisan­ lapisan balok.* • Pembatasan Rumus-rumus untuk tegangan geser yang dibahas dalam subbab ini mempunyai batasan-batasan yang sama dengan rumus lentur, yaitu rumus *Analisis tegangan geser yang dibahas dalam subbab ini dikembangkan oleh insinyur Rusia D.J. Jourawski: lihat Ref. 5-7 dan 5-8.
  • 310.
    Mekanika Bahan 297 yangdigunakan untuk menurunkan rumus tegangan geser. Jadi, rumus untuk tegangan geser hanya berlaku untuk balok dari bahan elastis linier dengan defleksi kecil. Dalam hal balok persegi panjang, ketelitian rumus geser bergantung pacta rasio tinggi terhadap lebar penampang. Rumus ini dapat dipandang eksak untuk balok yang sangat sempit (tinggi h jauh lebih besar daripada lebar b). Namun, rumus ini menjadi kurang akurat apabila b bertambah relatifterhadap h. Sebagai contoh, apabila suatu balok adalah bujursangkar (b = h), maka tegangan geser maksimum sebenarnya adalah 13% lebih besar dibandingkan dengan harga yang dihasilkan Persamaan (5-40). (Untuk pembahasan lebih lengkap tentang pembatasan rumus geser, lihat Ref. 5-9.) Kesalahan yang umum dilakukan adalah menerapkan rumus geser (Persamaan 5-38) pacta bentuk-bentuk penampang di mana rumus tersebut tidak berlaku. Sebagai contoh, rumus ini tidak berlaku untuk penampang berbentuk segitiga atau setengah lingkaran. Cntuk menghindari penyalahgunaan rumus tersebut, kita perlu mengingat asumsi berikut yang mendasari penurunan rumus tersebut: (1) Tepi-tepi penampang harus sejajar sumbu y (sehingga tegangan geser bekerja sejajar sumbu y), dan (2) tegangan geser harus terbagi rata di seluruh lebar penampang. Asumsi ini dapat dipenuhi hanya pacta kasus-kasus khusus seperti yang telah dibahas di subbab ini dan di dua subbab setelah ini. Akhimya, rumus geser berlaku hanya untuk balok prismatis. Jika suatu baloktidak prismatis (misalnyajikabalok meruncing), maka tegangan geser akan berbeda dengan yang dihitung dengan rumus yang diberikan di sini (lihat Ref. 5-9 dan 5-10). • Efek Regangan Geser Gambar 5·31 Pembengkokan (warping) penampang balok akibat regangan geser Karena tegangan geser r bervariasi secara parabolik di seluruh tinggi balok persegi panjang, maka regangan geser y= riG juga bervariasi secara parabolik. Sebagai akibat dari regangan geser ini, penampang balok yang semula merupakan permukaan datar akan menjadi tidak datar lagi (terjadi warping). Perubahan bentuk ini ditunjukkan dalam Gambar 5-31, di mana potongan mn danpq, yang semula datar, telah menjadi permukaan lengkung mini dan piqi, dengan regangan geser maksimum terjadi di permukaan netral. Di titik-titik mppi' ni' dan q1 regangan geser adalah nol, sehingga kurva m1n1 dan p1q1 menjadi tegak lurus permukaan atas dan bawah dari balok. Jika gaya geser V adalah konstan di sepanjang sumbu balok, pem­ bengkokan (warping) akan sama di setiap penampang. Dengan demikian, perpanjangan dan perpendekan elemen longitudinal akibat momen lentur tidak dipengaruhi oleh regangan geser, dan distribusi tegangan normal akan sama seperti pacta lentur mumi. Terlebih lagi, penyelidikan rinci dengan menggunakan metode analisis lanjut menunjukkan bahwa warp­ ing penampang akibat regangan geser tidak mempengaruhi regangan lon­ gitudinal secara substansial bahkan sewaktu gaya geser bervariasi secara kontinu di seluruh panjangnya. Jadi, pacta hampir semua kondisi rumus lentur (Persamaan 5-13) dapat saja digunakan untuk lentur tak seragam, meskipun rumusnya diturunkan untuk lentur mumi.
  • 311.
    298 Bab 5T egangan Di Balok (Topik Dasar) l- L = 3 ft--� (a) H b = 1.0 in. (b) ____... 450 psi 3� i ! t3�60 psi 450 psi � (c) Gambar 5-32 Contoh 5-1 1 . (a) Balok sederhana dengan beban terbagi rata. (b) potongan melintang (penampang) balok, dan (c) elemen tegangan yang menunjukkan tegangan normal dan geser di titik C. • Contoh 5-1 1 Sebuah balok metal dengan bentang L = 3 ft ditumpu sederhana di titik A dan B (Gambar 5-32a). Beban terbagi rata di balok (termasuk beratnya sendiri) adalah q = 1 60 lb/in. Penampang balok adalah persegi panjang (Gambar 5-32b) dengan lebar b = I in. dan tinggi h = 4 in. Balok ini secara memadai ditumpu terhadap tekuk ke samping. Tentukan tegangan normal ac dan tegangan geser re di titik C, yang terletak 1 in. di bawah tepi atas balok dan 8 in. dari tumpuan kanan. Gambarlah tegangan­ tegangan ini pada suatu elemen tegangan di titik C. Solusi Gaya geser dan momen lentur. Gaya geser Vc dan momen lentur Me di potongan yang melalui titik C dapat dihitung dengan menggunakan cara-cara yang telah diuraikan dalam Bab 4. Hasilnya adalah Me = 17,92:0 !b-in. Vc = -1600 lb Tanda untuk besaran-besaran ini didasarkan atas perjanjian tanda standar untuk momen lentur dan gaya geser (lihat Gambar 4-5). Momen inersia. Momen inersia penampang terhadap sumbu netral (sumbu z dalam Gambar 5-32b) adalah I = �� = 1 �(1,0 in.)(4,0 in} = 5,333 in.4 Tegangan normal di titik C. Tegangan normal di titik C diperoleh dari rumus lentur (Persamaan 5-1 3) dengan jarak y dari sumbu netral sama dengan 1 ,0 in.; jadi, _ My _ (17.920 lb-in.)(I ,O in.) _ 3360 . ae - -- - 4 - - ps1 I 5,333 in. Tanda negatif menunjukkan bahwa tegangan adalah tekan, sebagaimana diharapkan. Tegangan geser di titik C. Untuk mendapatkan tegangan geser di titik C kita perlu mengevaluasi momen pertama (statis momen) Qc bagian penampang di atas titik C (Gambar 5-32b). Momen pertama ini sama dengan hasil kali luas (yang ditulis Ac) dan jarak pusat berat (ditulis Ye) dari sumbu z; jadi, Ac = ( 1 ,0 in.)(l ,O in.) = 1 ,0 in. 2 Ye = 1 ,5 in. Qc = AeYe = 1 ,5 in.3 Sekarang kita masukkan harga-harga di atas ke dalam rumus geser (Persamaan 5- 38) dan mendapatkan besar tegangan geser: _ VeQe _ (1600 lb)(1 ,5 in.3) _ 450 . re - ---n;- - (5,333 in.4)(1,0 in.) - psi Arah tegangan ini dapat diperoleh dengan mudah karena tegangan tersebut bekerja dalam arah sama dengan gaya geser. Di dalam contoh ini, gaya geser bekerja ke atas di bagian kiri balok bila balok dipotong melalui titik C. Cara terbaik untuk menunjukkan arah tegangan normal dan geser adalah dengan menggambar elemen tegangan sebagai berikut. Elemen tegangan di titik C. Elemen tegangan, yang terlihat dalam Gambar 5-32c, dipotong dari sisi balok di titik C (Gambar 5-32a). Tegangan tekan ac = 3360 psi bekerja di muka penampang dari elemen dan tegangan geser re = 450 psi bekerja di muka atas dan bawah selain juga di muka penampang. • Contoh 5-1 2 Sebuah balok kayu AB yang memikul dua beban terpusat P (Gambar 5-33a) mempunyai penampang persegi panjang dengan lebar b = I 00 mm dan tinggi h = 1 50 mm (Gambar 5-33b). Jarak dari UJung-ujung balok ke lokasi beban adalah
  • 312.
    (a) z I (b) Gambar 5-33 Contoh5 - 1 2. B alok kayu dengan beban terpusat Mekanika Bahan 299 a = 0,5 m. Tentukan harga beban izin maksimum Pmaks jika tegangan izin lentur adalah Oizin = 1 1 MPa (untuk tarik dan tekan) dan tegangan izin untuk geser horizontal adalah rizin = 1 ,2 MPa. (Abaikan berat sendiri balok.) Catatan: Balok kayu jauh lebih lemah dalam geser horizontal (geser sejajar serat kayu longitudinal) dibandingkan geser tegak lurus serat (geser di potongan melintang). Dengan demikian, tegangan izin untuk geser tegak lurus serat tidak dibutuhkan dalam contoh ini. Solusi Gaya geser maksimum terjadi di tumpuan dan momen lentur maksimum terjadi di seluruh daerah antara kedua beban. Harganya adalah Juga, modulus penampang S dan luas penampang A masing-masing adalah bh2 S = - A = bh 6 Tegangan normal dan geser di balok diperoleh dari rumus lentur dan geser (Persamaan 5-16 dan 5-40): a . _ Mmaks _ 6Pa r _ 3Vmaks _ }_!_ maks - S - bh2 maks - 2A - 2bh Dengan demikian, harga izin beban P maksimum untuk lentur dan geser masing­ masing adalah 2 P. - aizinbh lentur - 6a Dengan memasukkan harga-harga numerik ke dalam rumus-rumus di atas, kita dapatkan fientur (1 1 MPa)( IOO mm)(150 mm) 2 = 8,25 kN 6(0,5 m) = 2(1 ,2 MPa)(l OO mm)(1 50 mm) = 12 0 kN 3 , Jadi, tegangan lentur menentukan desain, dan beban izin maksimum adalah pmaks = 8,25 kN Analisis lebih rumit pada balok ini mengharuskan berat sendiri balok diper­ hitungkan, jadi mengurangi beban izin. Catatan: Di dalam contoh ini, tegangan normal maksimum dan tegangan geser maksimum tidak terjadi di lokasi sama di balok - tegangan normal mencapai maksimum di daerah tengah balok di tepi atas dan bawah penampang, dan tegangan geser mencapai maksimum di dekat tumpuan di sumbu netral penampang. Untuk sebagian besar balok, tegangan lentur (bukan tegangan geser) menentukan beban izin. Meskipun kayu bukan merupakan bahan homogen dan seringkali tidak menunjukkan perilaku elastis linier, kita masih dapatmemperoleh hasil pendekatan dari rumus lentur dan geser. Hasil pendekatan ini biasanya memadai dalam mendesain balok kayu. I TEGANGAN GESER Dl BALOK DENGAN PENAMPANG 5.9 LINGKARAN Bila suatu balok mempunyai penampang lingkaran (Gambar 5-34), kita tidak dapat lagi mengasumsikan bahwa tegangan geser bekerja sejajar sumbu y. Sebagai contoh, kita dapat dengan mudah membuktikan bahwa di titik m (di tepi penampang) tegangan geser rharus bekerja menyinggung tepi. Observasi ini berasal dari fakta bahwa permukaan luar balok tidak
  • 313.
    300 Sac 5T egangan Di Balok (Topik Dasar) y q Gambar 5-34 Tegangan geser yang bekerja di penampang balok yang berbentuk lingkaran ; y Gambar 5-35 Penampang lingkaran berlubang mengalami tegangan, sehingga tegangan geser yang bekerja di penampang tidak dapat mempunyai komponen dalam arah radial. Meskipun tidak ada cara sederhana untuk mencari tegangan geser yang bekerja di seluruh bagian penampang, kita dapat segera menentukan tegangan geser di sumbu netral (di mana terjadi tegangan terbesar) dengan mengambil asumsi penyederhanaan tentang distribusi tegangan. Kita asumsikan bahwa tegangan bekerja sejajar dengan sumbu y dan mempunyai intensitas konstan di seluruh lebar balok (dari titik ke p titik q dalam Gambar 5-34). Karena asumsi ini sama dengan yang digunakan dalam menurunkan rumus geser r = VQ!Ib (Persamaan 5-38), maka kita dapat menggunakan rumus geser tersebut untuk menghitung tegangan di sumbu netral. Untuk menggunakan rumus geser, kita membutuhkan besaran berikut untuk penampang lingkaran yang mempunyai radius r: I = :4 Q = Ay = (n ;2 )(�:J = 2; 3 h = 2r (5-41 a,b) Rumus untuk momen inersia I diambil dari Kasus 9 dalam Lampiran D dan rumus untuk momen pertama (statis momen) Q didasarkan atas rumus untuk setengah lingkaran (Kasus 1 1 , Lampiran D). Dengan memasukkan rumus-rumus ini ke dalam rumus geser, kita peroleh V Q V(2r 3 I3) = 4V = 4V fmab :=' J b f (1P'4!4)(2t) 37rr2 3A (5-42) di mana A = n? adalah luas penampang. Rumus ini menunjukkan bahwa tegangan geser maksimum di balok lingkaran sama dengan 4/3 kali tegangan geser rata-rata VIA. Jika suatu balok mempunyai penampang lingkaran berlubang (Gambar 5-35), kitajuga dapat mengasumsikan dengan ketelitian memadai bahwa tegangan geser di sumbu netral adalah sejajar dengan sumbu y dan terdistribusi terbagi rata di seluruh bagian penampang. Dengan demikian, kita dapat kembali menggunakan rumus geser untuk mencari tegangan maksimum. Besaran yang dibutuhkan untuk penampang lingkaran berlubang adalah I = �h4 - r] 4 ) Q = �h' - In b = 2(12 - r] ) (5-43a,b,c) di mana r1 dan r2 masing-masing adalahjari-jari dalam dan luar penampang. Dengan demikian, tegangan geser maksimum adalah di mana rmaks = VQ = 4V (ri +/2 'i � r12 J lb 3A r2 + ljk A = n(r2 2 - lj2 ) (5-44) adalah luas penampang. Perhatikan bahwa jika r1 = 0, Persamaan (5-44) akan berkurang menjadi Persamaan (5-42) untuk balok lingkaran solid. Meskipun teori di atas untuk tegangan geser di balok dengan penampang lingkaran adalah pendekatan, teori tersebut memberikan hasil yang berbeda hanya beberapa persen dari yang diperoleh dengan menggunakan teori elastisitas eksak (lihat Ref. 5-9 dan 5- 10). Karena itu, Persamaan (5-42) dan (5-44) dapat digunakan untuk menentukan tegangan geser maksimum di balok lingkaran pada keadaan biasa.
  • 314.
    Mekanika Bahan 301 5.10 I TEGANGAN GESER Dl BADAN BALOK YANG MEMPUNYAI FLENS (a) Apabila suatu balok clengan profit sayap (flens) lebar (Gambar 5-36a) mengalami gaya geser clan momen lentur (lentur tak seragam), maka tegangan normal clan geser akan terjacli cli potongan melintangnya. Distribusi tegangan geser cli balok �ayap lebar lebih rumit claripacla cli balok persegi panjang. Sebagai contoh. tegangan gescr cli flens suatu balok clapat bekerja pacla arah vertikal clan horizontal (arah y clan z), sepcrti yang clitunjukkan oleh panah kecil clalam Gambar 5-36b. Tegangan geser horizontal, yang jauh lebih besar claripada tegangan geser vertikal, dibahas lebih lanjut dalam Subbab 6.7. Tegangan geser di baclan balok tlem kbar bekerja hanya di arah vertikal, dengan tegangan terbesar terjacli cli -,umhu netral. Tegangan ini dapat diperoleh dengan cara yang sama clengan yang kita gunakan dalam mencari tegangan geser cli balok persegi panjang. • Tegangan Geser di Badan (h) Gambar 5-36 (a) Balok dengan bentuk 'ayap lcbar, dan (b) arah tegangan geser yang bekerja di suatu penampang Gambar 5-37 Tegangan geser di badan balok sayap lebar. (a) Penampang balok, dan (b) distribusi tegangan geser vertikal di hadan Kita mulai analisisnya clengan menentukan tegangan geser pacta le'el ef cli dalam baclan suatu balok sayap lebar (Gambar 5-37aJ. Kita akan membuat asumsi yang sama seperti yang kita gunakan untuk balok persegi panjang; yaitu, kita asumsikan bahwa tegangan geser bekerja sejajar sumbu y clan terclistribusi terbagi rata cli seluruh tebal badan. Karena itu, rumus gcser r = VQ/Jb masih clapat berlaku. Narnun. lehar g sekarang aclalah tebal haclan1; clan luas yang cligunakan clalam menghitung momen pertama Q aclalah d�erah anta�a garis/ e" ljclan tcpi atas penampang (ditunjukkan clengan daerah yang cligelapkan clalam Gambar 5-37a). Dalam mencari momen pertama Q untuk claerah yang digelapkan. kita akan mcngabaikan pcngaruh fillets kecil cli pertemuan badan clan tlens (titik h clan c clalam Gambar 5-37a). Kesalahan akibat mengabaikan luas fillets tersebut sangat kecil . Selanjutnya kita akan membagi claerah yang digelapkan menjacli clua persegi panjang. Persegi panjang pertama aclalah tlens atas itu sencliri, yang mempunyai luas A = i!!._ _ ':J_j I � 2 2 ) (a) cli mana b adalah lebar tlens, h aclalah tinggi total balok, clan h 1 adalah jarak antara tepi dalam keclua flens. Persegi panjang keclua aclalah bagian clari baclan antara e(dan tlens. yaitu persegi panjang ef cb, yang mempunyai luas ! Y (a) (h) l
  • 315.
    302 Bab 5T egangan Di Balok (Topik Dasar) (b) di mana t adalah tebal badan dan y1 adalah jarak dari sumbu netral ke level ef Momen pertama dari luas A1 danA2 dievaluasi terhadap sumbu netral, diperoleh dengan mengalikan kedua luas tersebut denganjarak dari masing­ masing pusat beratnya ke sumbu z. Dengan menambahkan momen pertama tersebut kita dapatkan momen pertama Q dari daerah gabungan: Q _ A (h1 h/2 - h1 12 ) A ( -' h1 ,_ 1_ 2_ -_.:: y _,_ ·1 ) - I 2 + 2 + 2 YJ + 2 Dengan memasukkan A 1 dan A2 dari Persamaan (a) dan (b) dan menyederhanakannya, kita peroleh (5-45) Dengan demikian, tegangan geser r di badan balok pada jarak y1 dari sumbu netral adalah VQ V [ 2 2 2 2 ] r = - = - b(h - h1 ) + t(h1 -- 4y1 It 8It di mana momen inersia penampang adalah I = bh3 - (b - t)h{ = _!_(bh3 - bh3 + th3) 12 1 2 ]2 I I (5-46) (5-47) Karena semua besaran dalam Persamaan (5-46) adalah konstanta kecuali y" maka kita lihat bahwa r bervariasi secara kuadratik di seluruh tinggi dari badan, seperti terlihat dalam Gambar 5-37b. Perhatikan bahwa variasi tegangan yang digambar hanyalah untuk badan, tidak mencakup flens. Alasannya sederhana-Persamaan (5-46) tidak dapat digunakan untuk menentukan tegangan geser vertikal di tlens balok (lihat pembahasan yang berjudul "Pembatasan" di subbab ini). • Tegangan Geser Maksimum dan Minimum Tegangan geser maksimum di dalam badan dari balok sayap lebar terjadi pada sumbu netral, di mana y1 = 0. Tegangan geser minimum terjadi di mana badan bertemu flens (y1 = ± h/2). Tegangan ini, yang diperoleh dari Persamaan (5-46), adalah V 2 2 2 rmaks = -(bh - bhl + th, ) 8It rmin (5-48a,b) Baik rmaks maupun rmin diberi label pada grafik dalam Gambar 5-37b. Untuk balok sayap lebar yang khas, tegangan maksimum di badan adalah 10% sampai 60% lebih besar daripada tegangan minimum. Meskipun tidak terlihat jelas dari pembahasan di atas, tegangan rmaks yang diberikan dengan Persamaan (5-48a) bukan saja merupakan tegangan geser terbesar di badan, tetapi juga merupakan tegangan geser terbesar di manapun di balok tersebut.
  • 316.
    Mekanika Bahan 303 •Gaya Geser di Badan Gaya geser vertikal yang dipikul oleh badan saja dapat ditentukan dengan mengalikan luas diagram tegangan geser (Gambar 5-37b) dengan tebal badan t. Diagram tegangan geser terdiri atas dua bagian, persegi panjang dengan luas h1 rmin dan segmen parabolik dengan luas 2 3(h,)(rmaks - rmin) Dengan menjumlahkan kedua luas ini, mengalikannya dengan tebal badan t, dan menggabungkannya, maka kita dapatkan gaya geser total di badan: - th, v badan - 3 (2rmaks + rmin) (5-49) Untuk balok dengan proporsi yang khas, gaya geser di badan adalah 90% sampai 98% dari gaya geser total V yang bekerja di penampang; sisanya dipikul oleh geser di kedua sayap. Karena badan menahan sebagian besar gaya geser, maka perencana sering menghitung harga pendekatan tegangan geser maksimum dengan membagi gaya geser total dengan luas badan. Hasilnya adalah tegangan geser rata-rata di badan, dengan mengasumsikan bahwa badan memikul semua gaya geser: (5-50) Untuk balok sayap lebar yang khas, tegangan rata-rata yang dihitung dengan cara ini adalah sekitar 10% (lebih atau kurang) dari tegangan geser maksimum yang dihitung dari Persamaan (5-48a). Jadi, Persamaan (5-50) menyediakan cara sederhana dalam mengestimasi tegangan geser maksimum. Catatan: Tegangan geser rata-rata yang diperoleh dari Persamaan (5- 50) tidak sama dengan tegangan geser rata-rata yang diperoleh apabila tegangan (yang ditunjukkan dalam Gambar 5-37b) dihitung dari rumus geser r = VQ/Ib. Perbedaannya berasal dari kenyataan bahwa rumus geser memperhitungkan luas flens, sedangkan Persamaan (5-50) tidak. Karena itulah • rata-rata dari Persamaan (5-50) dapat lebih besar atau lebih kecil daripada • maks yang dihitung dari rumus geser. • Contoh Sebagai ilustrasi dari perhitungan tegangan geser, tinjaulah balok sayap lebar dengan profil W 12 x 35 yang mengalami gaya geser V = 10.000 lb. Dimensi potongan melintang balok (lihat dalam Gambar 5-37a dan Tabel E-1 , Lampiran E) adalah sebagai berikut: B = 6,56 in.; t = 0,30 in.; h = 12,50 in.; h1 = 1 1 ,46 in Momen inersia penampang (dari Persamaan 5-47) adalah 1 3 3 3 . 4 I = 12 (bh - bh1 + th1 ) = 283 m. Momen inersia yang tercantum dalam Tabel E-1 adalah 285 in4, yang sedikit lebih besar daripada harga yang dihitung di atas karena ini meliputi luas fillets.
  • 317.
    304 Bab 5T egangan Di Balok (T opik Dasar) Untuk menentukan tegangan geser maksimum dan mimmum, kita masukkan harga-harga besaran bahan ke dalam Persamaan (5-48a dan b) dan mendapatkan: V 2 2 2 . rmaks = 8/t (bh - bh, + th, ) = 2990 psi Vb 2 2 · 'l" · = -(h - h1 ) = 2410 pSI nun 8/t Dalam hal ini, rasio rmaks terhadap rmin adalah 1 ,24, artinya tegangan maksimum di badan adalah 24% lebih besar daripada tegangan minimum. Tegangan geser rata-rata di badan balok (dari Persamaan 5-50) adalah rrata-rata = 1::._ = 2910 psi th, yang hanya 3% lebih kecil daripada tegangan maksimum. Jadi, tegangan rata-rata (apabila dihitung dengan Persamaan 5-50) adalah pendekatan yang mudah diperoleh untuk tegangan maksimum dan umumnya cukup memadai. Gaya geser di badan (Persamaan 5-49) adalah vbadan = th, (2rmaks + rmin) = 9610 lb 3 yang berarti bahwa badan dari balok ini menahan 96% dari gaya geser total. • Pembatasan Teori geser elementer yang disajikan dalam subbab ini memadai untuk menentukan tegangan geser vertikal di badan dari balok sayap lebar. Namun, dalam menyelidiki tegangan geser vertikal di sayap, kita tidak dapat mengasumsikan bahwa tegangan geser adalah konstan di seluruh lebar penampang, yaitu di seluruh lebar sayap b (Gambar 5-37a). Jadi, kita tidak dapat menggunakan rumus geser untuk menentukan tegangan tersebut. Untuk menekankan hal ini, tinjaulah pertemuan badan dan flens atas (y1 = h/2), di mana lebar penampang berubah secara mendadak dari t menjadi b. Tegangan geser di permukaan bebas ab dan cd (Gambar 5-37a) harus sebesar nol, sedangkan tegangan geser di badan di garis be adalah rmin· Pengamatan ini menunjukkan bahwa distribusi tegangan geser di pertemuan badan dan sayap cukup rumit dan tidak dapat diselidiki dengan metode-metode elementer. Analisis tegangan menjadi lebih rumit dengan adanya fillets di pojok b dan c. Fillets dibutuhkan untuk mencegah terjadinya tegangan yang terlalu besar, tetapi juga mengubah distribusi tegangan di badan. Jadi, kita simpulkan bahwa rumus geser tidak dapat digunakan untuk menentukan tegangan geser vertikal di flens. Namun, rumus geser memang memberikan hasil yang baik untuk tegangan geser yang bekerja secara horizontal di flens (Gambar 5-36b), sebagaimana dibahas kemudian dalam Subbab 6.7. Metode yang diuraikan untuk menentukan tegangan geser di badan dari balok sayap lebar dapat juga digunakan untuk penampang lain yang mempunyai badan yang tipis. Contoh berikut ini menggambarkan prosedur untuk balok T.
  • 318.
    Gambar 5-38 Contoh5-13. Tegangan geser di badan balok T Mekanika Bahan 305 • Contoh 5-1 3 Sebuah balok yang mempunyai penampang berbentuk T (Gambar 5-38a) mengalami gaya geser vertikal V = 10.000 lb. Dimensi penampang adalah b = 4 in., t = 1 ,0 in., h = 8,0 in., dan h1 = 7,0 in. Tentukan tegangan geser r1 di bagian atas badan (level nn) dan tegangan geser maksimum rmaks· (Abaikan luas fillets.) y z - ....I..._ _ _ _ h = 8,0 in. h1 = 7,0 in. (a) (b) Solusi Lokasi sumbu netral. Sumbu netral balok T ditentukan letaknya dengan menghitung jarak c1 dan c2 dari atas dan bawah balok ke pusat berat penampang (Gambar 5- 38a). Mula-mula, kita membagi penampang atas dua persegi panjang, bagian flens (sayap) dan badan (lihat garis putus-putus dalam Gambar 5-38a). Selanjutnya kita menghitung momen pertama Qaa dari kedua persegi panjang tersebut terhadap garis aa di bagian bawah balok. Jarak c2 sama dengan Qaa dibagi dengan 1uas A dari keseluruhan penampang (lihat Bab 12, Subbab 1 2.3, untuk metode penentuan lokasi pusat berat luas gabungan). Perhitungannya adalah sebagai berikut: Qaa 54,5 in.3 = 4 955 . Cz = A = 2 ' m. 1 1,0 in. c1 = h - c2 = 3,045 in. Momen inersia. Momen inersia I dari keseluruhan penampang (terhadap sumbu netral) dapat diperoleh dengan menentukan momen inersia Iaa terhadap garis aa di bawah balok lalu menggunakan teorema sumbu sejajar (lihat Subbab 1 2.5): Perhitungannya adalah sebagai berikut: I = bh3 _ (b - t)hi = 339 67 1 ·n.4 2 4 , Ac2 = 270,02 in. aa 3 3 I = 69,65 in.4 Tegangan geser di atas badan. Untuk mendapatkan tegangan geser r1 di atas badan (di sepanjang garis nn) kita perlu menghitung momen pertama Q1 dari area di atas level nn. Momen pertama ini sama dengan area tlens dikalikan jarak dari sumbu netral ke pusat berat flens:
  • 319.
    306 Bab 5T egangan Di Balok (Topik Dasar) QI = b(h - hi) (cl - h�hi) = (4 in.)(l in.)(3,045 in. - 0,5 in.) = 10,18 in? Tentu saja, kitamendapatkan hasil yang samajika kita menghitung momen pertama (statis momen) dari area di bawah level nn: Q1 = th1 (C2 - i)= ( 1 in.)(7 in.)(4,955 in. - 3,5 in.) = 10, 1 8 in? Dengan memasukkan ini ke dalam rumus geser, kita peroleh _ VQ1 _ ( 10.000 lb)(I O,l 8 in.3 ) _ 1460 . r1 - It - (69,65 in.4)(1 in.) - psi Tegangan ini terjadi berupa tegangan geser vertikal yang bekerja di penampang dan berupa tegangan geser horizontal yang bekerja di bidang horizontal antara flens dan badan. T egangan geser maksimum. Tegangan geser maksimum terjadi di badan di sumbu netral. Dengan demikian, kita menghitung momen pertama Qmaks dari area di bawah sumbu netral: Qmaks = tc2 (c �) = (I in.)(4,955 in.>(4 • 95 �in. ) = 1 2,28 in. 3 Sebagaimana telah disebutkan sebelum ini, kita dapat memperoleh hasil yang sama jika kita menghitung momen pertama dari area di atas sumbu netral, tetapi perhitungan dengan cara ini akan sedikit lebih lama. Dengan memasukkan angka-angka ini ke dalam rumus geser, kita peroleh VQmaks (10.000 lb)(1 2,28 in.3 ) I 6 . r - -- - 7 O ps1 maks - It - (69,65 in.4 )(1 in.) yang merupakan tegangan geser maksimum di balok. Distribusi parabolik tegangan geser ditunjukkan dalam Gambar 5-38b. 5·11 I BALOK TERSUSUN DAN ALIRAN GESER .. . (a) (b) (c) Gambar 5·39 Potongan melin­ tang balok tersusun: (a) kotak kayu, (b) balok glulam (kayu lapis yang dilem), dan (c) girder pelat Balok tersusun dibuat dari dua atau lebih bagian bahan yang digabungkan untuk membentuk balok tunggal. Balok seperti ini dapat mempunyai berbagai bentuk untuk memenuhi kebutuhan arsitektural atau struktural dan untuk memberikan penampang yang lebih besar daripada yang biasanya tersedia. Gambar 5-39 menunjukkan beberapa balok berpenampang tersusun. Bagian (a) dari gambar ini menunjukkan balok boks kayu yang terbuat dari dua papan, yang berfungsi sebagai flens, dan dua badan kayu lapis. Bagian-bagian ini digabungkan satu sama lain dengan paku, sekrup, atau lem sedemikian rupa sehingga beraksi sebagai satu unit tunggal. Balok boks dapat juga terbuat dari bahan lain, termasuk baja, plastik, dan komposit. Contoh kedua adalah balok berlapis berlem (glulam beam) yang terbuat dari papan-papan yang dilem satu sama lain untuk membentuk balok yang jauh lebih besar daripada yang dapat dipotong dari sebuah pohon sebagai elemen struktur tunggal. Balok glulam banyak digunakan dalam konstruksi bangunan gedung kecil. Contoh ketiga adalah girder plat baja yang umumnya digunakan untuk jembatan dan bangunan-bangunan besar. Girder ini, terdiri dari tiga buah
  • 320.
    Mekanika Bahan 307 platbaja yang disambung dengan pengelasan, dapat dibuat dalam ukuran yang jauh lebih besar daripada yang saat ini tersedia dengan plens lebar yang biasa ataupun balok-1. Balok tersusun harus didesain sedemikian rupa sehingga balok berperilaku sebagai elemen struktur tunggal. Karena itu, perhitungan desain meliputi dua tahap. Dalamtahap pertama, balok didesain seolah-olah terbuat dari satu bagian, dengan memperhitungkan baik tegangan lentur maupun geser. Dalam tahap kedua, sambungan antara bagian-bagian (seperti paku, baut, lasan, dan lem) didesain untuk menjamin bahwa balok memang berperilaku sebagai satu kesatuan tunggal. Khususnya, sambungannya harus cukup kuat untuk menyalurkan gaya geser horizontal yang bekerja antara bagian-bagian balok. Untuk mendapatkan gaya-gaya ini, kita menggunakan konsep aliran geser. • Aliran Geser (Shear Flow) (a) I I I dx I c _ _ _ I (b) dx l (c) X Gambar 5-40 Gaya geser tegang­ an geser horizontal di sebuah balok. Gambar-gambar ini diulang dari Gambar 5-28 dan 5-29 Untuk mendapatkan rumus gaya geser horizontal yang bekerja antara bagian-bagian balok, kita kembali meninjau penurunan rumus geser (lihat Gambar 5-28 dan 5-29 dalam Subbab 5.8). Dalam penurunan tersebut, kita memotong elemen mm1n1n dari suatu balok (Gambar 5-40a) dan meninjau keseimbangan horizontal subelemen mm1p1p (Gambar 5-40b). Dari keseimbangan horizontal subelemen tersebut, kita dapatkan gaya F3 (Gambar 5-40c) yang bekerja di permukaan bawah: F 3 = d 7fydA (5-51) Persamaan ini diulang dari Persamaan (5-33) dari Subbab 5.8. Sekarang kita definisikan besaran baru yang disebut aliran geser f Aliran geser adalah gaya geser horizontal per satuan jarak di sepanjang sumbu longitudinal dari balok. Karena gaya F3 bekerja di sepanjang jarak dx, maka gaya geser per satuan jarak sama dengan F3 dibagi dx; jadi, f = F3 = dM (. ! .)fydA dx dx I Dengan mengganti dM/dx dengan gaya geser Vdan menulis integral dengan Q, kita dapatkan rumus aliran geser: f = VQ I (5-52) Persamaan ini memberikan aliran geser yang bekerja di bidang horizontal pp1 yang ditunjukkan dalam Gambar 5-40a. Besaran V, Q, dan I mempunyai arti yang sama dengan yang digunakan dalam rumus geser. Jika tegangan geser di bidang pp1 terdistribusi terbagi rata, sebagaimana kita asumsikan untukbalok persegi panjang dan balok sayap lebar, aliran geser f akan sama dengan rb. Dalam kasus tersebut, rumus aliran geser akan menjadi rumus geser (Persamaan 5-38). Namun, penurunan Persamaan (5-51 ) untuk gayaF3 tidak melibatkan asumsi apapun tentang distribusi tegangan geser di balok. Sebaliknya, gaya F3 diperoleh hanya dari keseimbangan horizontal subelemen (Gambar 5-40c). Dengan demikian, kita sekarang dapat menginterpretasikan subelemen dan gaya F3 dalam bentuk yang lebih umum daripada sebelumnya. Subelemen dapat berupa sebarang blok prismatis antara potongan melintang mn dan m1n1 (Gambar 5-40a). Subelemen ini tidak harus
  • 321.
    308 Bab 5T egangan Di Balok (T opik Dasar) a a z ----l'tfO (a) z ----fMO (b) c d z 0 (c) Gambar 5-41 Luas yang di­ gunakan dalam menghitung momen pertama Q diperoleh dengan membuat potongan horizontal tunggal (seperti pp1) melalui balok. Juga, karena gaya F3 adalah gaya geser horizontal total yang bekerja antara subelemen dan bagian lain dari balok, maka gaya ini dapat terdistribusi di sisi-sisi manapun dari subelemen, tidak hanya di permukaan bawah. Komentar yang sama ini berlaku untuk aliran geserf, karena ini hampir serupa dengan gaya F3 per satuan jarak. Sekarang kita kembali ke rumus aliran geserf= VQ/1 (Persamaan 5- 52). Besaran V dan I mempunyai arti sebagaimana biasa dan tidak dipengaruhi oleh pemilihan subelemen. Namun, momen pertama Q adalah besaran dari muka potongan melintang subelemen. Untuk menggambarkan bagaimana Q ditentukan, kita akan meninjau tiga contoh khusus tentang balok tersusun (Gambar 5-41). • Daerah yang Digunakan Untuk Menghitung Momen Pertama Q Contoh pertama balok tersusun adalah girder plat baja yang dilas (Gambar 5-4l a). Las harus dapat menyalurkan gaya geser horizontal yang bekerja antara sayap dan badan. Di sayap atas, gaya geser horizontal (per satuan jarak di sepanjang sumbu balok) adalah aliran geser di sepanjang permuka­ an kontak aa. Aliran geser ini dapat dihitung dengan mengambil Q sebagai momen pertama dari luas potongan melintang di atas permukaan kontak aa. Dengan perkataan lain, Q adalahmomen pertama dari luas flens (terlihat digelapkan dalam Gambar 5-41a), yang dihitung terhadap sumbu netral. Sesudah menghitung aliran geser, kita dapat secara langsung menentukan jumlah las yang diperlukan untuk menahan gaya geser, karena kekuatan las biasanya ditetapkan dalam gaya per satuan jarak di sepanjang las. Contoh kedua adalah balok sayap lebar yang diperkuat dengan profil kanal yang dikeling ke masing-masing flens (Gambar 5-4lb). Gaya geser horizontal yang bekerja antara setiap kanal dan balok utama harus disalurkan oleh paku keling. Gaya ini dihitung dari rumus aliran geser dengan menggunakan Q sebagai momen pertama keseluruhankanal (terlihat digelapkan dalam gambar). Aliran geser yang diperoleh adalah gaya lon­ gitudinal per satuan jarak yang bekerja di sepanjang permukaan kontak bb, dan paku keling harus mempunyai ukuran dan jarak longitudinal yang memadai untuk menahan gaya ini. Contoh terakhir adalah balok boks kayu dengan dua flens dan dua badan yang disambung oleh paku atau sekrup (Gambar 5-4l e). Gaya geser horizontal total antara flens atas dan badan adalah aliran geseryang bekerja di sepanjang permukaan kontak cc dan dd, dan karenanya, momen pertama Q dihitung untuk flens atas (daerah yang digelapkan). Dengan kata lain, aliran geser yang dihitung dari rumusf = VQ/1 adalah aliran geser total di sepanjang semua permukaan kontak yang mengelilingi area yang digunakan untuk menghitung Q. Dalam hal ini, aliran geserfditahan oleh aksi gabungan dari paku-paku kedua sisi balok, yaitu baik pada cc maupun dd, sebagaimana digambarkan dalam contoh berikut. • Contoh 5-14 Balok boks kayu (Gambar 5-42) terbuat dari dua papan, masing-masing mempunyai potongan melintang 40 mm x 1 80 mm, yang berfungsi sebagai flens dan dua badan kayu lapis, yang tebalnya 1 5 mm. Tinggi total balok adalah 280 mm. Kayu lapis ini disambung ke flens dengan menggunakan sekrup kayu yang mempunyai
  • 322.
    Gambar 5-42 Contoh5-14. Balok kotak (boks) kayu Potongan melintang (a) Mekanika Bahan 309 Tampak samping (b) beban izin geser F = 1 1 00 N untuk satu sekrup. Jika gaya geser V yang bekerja di penampang adalah 10,5 kN, tentukan jarak longitudinal izin maksimum sekrup s (Gambar 5-42b). Solusi Aliran geser. Gaya geser horizontal yang disalurkan antara flens atas dan kedua badan dapat diperoleh dari rumus aliran geserf = VQ/I, di mana Q adalah momen pertama dari luas flens tersebut. Untuk mendapatkan momen pertama, kita kalikan luas At dari flens dengan jarak d t dari pusat beratnya ke sumbu netral: At = 40 mm x 180 mm = 7200 mm2 d t = 120 mm Q = A;Jt = (7200 mm2)(120 mm) = 864 x 103 mm3 Momen inersia keseluruhan penampang terhadap sumbu netral sama dengan momen inersia persegi panjang yang luar dikurangi momen inersia "lubang" (persegi panjang dalam): 1 1 I = }2 (210 mm)(280 mm)3 - 12(180 mm)(200 mm)3 = 264,2 x 106 mm4 Dengan memasukkan V, Q, dan I ke dalam rumus aliran geser (Persamaan 5-52), kita peroleh != VQ = (10.500 N)(864 x 10 3 mm3) = 34 3 N/mm I 264,2 x 106 mm4 ' yang merupakan gaya geser per mm panjang yang harus disalurkan antara flens dan kedua badan. Jarak sekrup. Karenajarak longitudinal sekrup adalah s, dan karena ada dua garis sekrup (satu di masing-masing sisi flens), maka kapasitas beban sekrup adalah 2F per jarak s di sepanjang balok. Dengan demikian, kapasitas sekrup per jarak satuan di sepanjang balok adalah 2F/s. Dengan menyamakan 2F/s dengan aliran geser f dan memecahkan jarak s, kita dapatkan s = 2F = 2( 1 100 N) = 64 1 mm f 34,3 N/mm ' Harga s ini adalahjarak izin maksimum antara sekrup, berdasarkan atas beban izin per sekrup. Setiap jarak yang lebih besar daripada 64,1 mm akan menyebabkan sekrup kelebihan beban. Untuk memudahkan pembuatan, dan agar aman, jarak s = 60 mm akan dipilih. 5·1 2 I BALOK DENGAN BEBAN AKSIAL Elemen struktural sering mengalami aksi simultan beban lentur ctan beban aksial. Ini teijacti, sebagaicontoh, pactarangkapesawat, kolom pacta gectung, mesin, bagian-bagian kapal, ctan pesawat luar angkasa. Jika elemen struktur
  • 323.
    31 0 Bab5 T egangan Di Balok (T opik Dasar) 8:l (c) (a) (b) 8:l (d) Q p +- --;llf: :L- �s 8:l 8:l 8:l (e) (f) (g) Gambar 5-43 Tegangan normal di balok kantilever yang mengalami beban lentur dan beban aksial: (a) balok dengan beban P yang bekerja di ujung bebas, (b) resultan tegangan yang bekerja di potongan melintang pada jarak x dari tumpuan, (c) tegang-an tarik akibat gaya aksial N yang bekerja sendiri, (d) tegangan tarik dan tekan akibat momen Jentur M yang bekerja sendiri, dan (e), (f), (g) distri-busi tegangan akhir yang mungkin akibat efek gabungan N dan M tidak terlalu ramping, maka tegangan gabungan dapat diperoleh dengan superposisi tegangan lentur dan tegangan aksial. Untuk melihat bagaimana hal ini dicapai, tinjau balok kantileveryang terlihat dalam Gambar 5-43a. Satu-satunya beban di balok adalah gaya miring P yang bekerja melalui pusat berat penampang terakhir. Beban ini dapat diuraikan menjadi dua komponen, beban lateral Q dan beban aksial S. Kedua beban ini menghasilkan resultan tegangan dalam bentuk momen lentur M, gaya geser V, dan gaya aksial N di seluruh bagian balok (Gambar 5-43b). Pacta potongan melintang yang khas, jarak x dari tumpuan, resultan tegangan ini adalah M = Q(L - x) V = -Q N = S di mana L adalah panjang balok. Tegangan yang berkaitan dengan masing­ masing resultan tegangan ini dapat ditentukan di sembarang titik pacta penampang dengan menggunakan rumus yanag tepat (a = -My/1, r = VQ/ lb, dan a = N/ A). Karena baik gaya aksial N maupun momen lentur M menimbulkan tegangan normal, maka kita perlu menggabungkan tegangan tersebut untuk mendapatkan distribusi tegangan akhir. Gaya aksial (apabila bekerja sendiri) menghasilkan distribusi tegangan terbagi rata a = NIA di seluruh bagian penampang, sebagaimana ditunjukkan oleh diagram tegangan dalam Gambar 5-43c. Dalam contoh khusus ini, tegangan aadalah tarik, sebagai­ mana ditunjukkan dengan tanda positif di dalam diagram. Momen lentur menghasilkan tegangan yang bervariasi secara linier a = -My// (Gambar 5-43d) dengan tekan di bagian atas balok dan tarik di bagian bawah. Jarak y diukur dari sumbu z, yang melalui pusat berat penampang. Distribusi akhir tegangan normal diperoleh dengan menggabungkan tegangan-tegangan yang dihasilkan oleh gaya aksial dan momen lentur, sebagai berikut: (5-53) Perhatikan bahwa N adalah positif apabila menimbulkan tarik dan M adalah positif menurut perjanjian tanda momen lentur (momen lentur positif menghasilkan tekan di bagian atas balok dan tarik di bagian bawah). Juga, sumbu y adalah positif ke atas. Selama kita menggunakan perjanjian tanda ini dalam Persamaan (5-53), tegangan normal a akan positif untuk tarik dan negatif untuk tekan. Distribusi tegangan akhir bergantung pacta harga aljabar relatif dari suku-suku dalam Persamaan (5-53). Untuk contoh ini, ketiga kemungkinan ditunjukkan dalam Gambar 5-43e, f, dan g. Jika tegangan lentur di atas balok (Gambar 5-43d) secara numerik lebih kecil daripada tegangan aksial (Gambar 5-43c), keseluruhan penampang akan mengalami tarik, seperti terlihat dalam Gambar 5-43e. Jika tegangan lentur di atas sama dengan tegangan aksial, maka distribusinya akan segitiga (Gambar 5-43f), dan jika tegangan lentur secara numerik lebih besar daripada tegangan aksial, maka sebagian penampang tersebut akan mengalami tekan dan sisanya mengalami tarik (Gambar 5-43g). Tentu saja, jika gaya aksial adalah gaya tekan, atau jika momen lentur berlawanan arah, distribusi tegangan akan berubah juga. Kapan saja beban aksial da'l lentur bekerja bersamaan, maka sumbu netral (y.1itu garis di penampang di mana tegangan normal sama dengan
  • 324.
    Mekanika Bahan 311 nol) tidak lagi melalui pusat berat penampang. Seperti terlihat dalam Gambar 5-43e, f, dan g, berturut-turut, sumbu netral dapat berada di luar, di tepi, atau di dalam penampang. Penggunaan Persamaan (5-53) untuk menentukan tegangan di balok dengan beban aksial digambarkan dalam Contoh 5-15. • Beban Aksial Eksentris Beban aksial eksentris adalah gaya aksial yang tidak bekerja melalui pusat berat penampang. Contohnya terlihat dalam Gambar 5-44a, di mana balok kantilever AB mengalami beban tarik P yang bekerja pada jarak e dari sumbu x (sumbu x melalui pusat berat penampang). Jarak e, yang � +1 :--- x disebut eksentrisitas beban, adalah positif di arah positif sumbu y. (a) (b) (c) 8 (d) Gambar 5-44 (a) Balok kantilever dengan beban aksial eksentris P, (b) beban P dan Pe ekivalen, (c) potongan melintang balok, dan (d) distribusi tegangan normal di potongan melintang Beban eksentris P secara statis ekivalen dengan beban aksial P yang bekerja di sepanjang sumbu x dan momen lentur Pe yang bekerja terhadap sumbu z (Gambar 5-44b). Perhatikan bahwa momen Pe adalah momen lentur negatif. Tampak potongan melintang balok (Gambar 5-44c) menunjukkan sumbu y dan z melalui pusat berat C penampang. Beban eksentris P berpotongan dengan sumbu y, yang merupakan sumbu simetri. Karena gaya aksial N di sembarang penampang sama dengan P, dan karena momen lentur M sama dengan -Pe, maka tegangan normal di sembarang titik di batang (dari Persamaan 5-53) adalah (5-54) di mana A adalah luas penampang dan I adalah momen inersia terhadap sumbu z. Distribusi tegangan yang diperoleh dari Persamaan (5-54), untuk kasus di mana P dan e positif, terlihat dalam Gambar 5-44d. Posisi sumbu netral nn (Gambar 5-44c) dapat diperoleh dari Persamaan (5-54) dengan mengatur tegangan Cf sama dengan nol dan memecahkan koordinat y, yang sekarang kita sebut y0• Hasilnya adalah I Yo = -­ Ae (5-55) Koordinat y0 diukur dari sumbu z (yang merupakan sumbu netral akibat lentur mumi) ke garis nn yang bertegangan nol (sumbu netral akibat beban lentur dan aksial). Karena y0 adalah positif dalam arah sumbu y (ke atas dalam Gambar 5-44c), maka ini diberi label -y0 apabila digambarkan ke bawah dalam gambar. Dari Persamaan (5-55) kita lihat bahwa sumbu netral terletak di bawah sumbu z apabila e positif dan di atas sumbu z apabila e negatif. Jika eksentrisitas berkurang, makajaraky0 bertambah dan sumbu netral bergerak menjauhi pusat berat. Limitnya, apabila e mendekati nol, adalah beban bekerja di pusat berat, sumbu netral terletak pacta jarak tak hingga, dan distribusi tegangan terbagi rata. Jika eksentrisitas bertambah, maka jarak y0 berkurang dan sumbu netral bergerak menuju pusat berat. Limit lain terjadi apabila e menjadi sangat besar, berarti beban bekerja pada jarak tak hingga, sumbu netral melalui pusat berat, dan distribusi tegangan sama dengan yang terdapat pada kasus lentur mumi. Beban aksial eksentris dianalisis pada beberapa soal di akhir bab ini (lihat Soal 5.12-13 sampai 5.12-19).
  • 325.
    31 2 Bab5 T egangan Di Balok (Topik Dasar) (a) y (b) Gambar 5-45 Beban tekan P yang bekerja di kolom persegi panjang • lnti Penampang Jika beban aksial bekerja dengan eksentrisitas kecil, maka sumbu netral dapat berada di luar balok, sebagaimana diterangkan dalam bab sebelum ini. Pada saat ini terjadi, tegangan normal akan mempunyai tanda sama di seluruh penampang, dan balok akan seluruhnya mengalami tarik atau seluruhnya mengalarni tekan. Kondisi ini penting, sebagai contoh, apabila beban tekan bekerja di bahan yang sangat lemah terhadap tarik, seperti beton, batu, atau keramik. Pada bahan tersebut kita harus yakin bahwa beban menghasilkan hanya tekan di penampang. Untuk melihat bagaimana ini dicapai, tinjau contoh dalam Gambar 5-45a. Di dalam contoh ini, beban aksial tekan P bekerja dengan eksentrisitas e di kolom persegi panjang dengan lebar b dan tinggi h. Apabila e kecil, maka sumbu netral nn terletak di luar kolom dalam arah y (Gambar 5-45b) dan seluruh penampang mengalami tekan. Apabila beban bergerak dalam arah y positif dan eksentrisitas e bertambah, maka sumbu netral bergerak mendekati tepi penampang. Pada saat sumbu netral mencapai tepi penampang (y0 = -h/2, atau -y0 = -h/2), distribusi tegangan menjadi segitiga tetapi seluruhnya masih berupa tekan. Dengan semakin meningkatnya e, sumbu netral akan bergerak ke dalam penampang dan bagian dari kolom ini sekarang berada dalam keadaan tarik. Harga maksimum dari eksentrisitas agar semua kolom mengalami tekan terjadi apabila sumbu netral berada di tepi penampang, yaitu pada saat y0 sama dengan -h/2. Harga eksentrisitas e1 tersebut diperoleh dari Persamaan (5-55): I --- = A(-h/2) bh3/12 (bh)(h/2) h 6 (5-56) Jadi, selama eksentrisitas lebih kecil daripada h/6, seluruh penampang akan mengalarni tekan. (lngat bahwa hasil ini berlaku hanya pada balok dengan penampang persegi panjang.) Analisis yang sama dapat dilakukan untuk beban tekan yang bekerja di sepanjang sumbu y negatif. Dalam hal ini, sumbu netral ada di sisi kolom di mana y adalah positif dan harga eksentrisitas yang membatasi adalah e1 = -h/6. Dengan demikian, kita sampai pada kesimpulan berikut: Jika beban P diterapkan pada sumbu y dengan eksentrisitas antara h/6 dan -h/6, maka seluruh penampang akan mengalami tekan. Karena selang harga ini menandakan bahwa P terletak di dalam sepertiga tinggi h, maka kalimat tersebut dikenal dengan aturan sepertiga tengah. Aturan ini berlaku hanya pada penampang persegi panjang; untuk penampang berbentuk lain, eksentrisitas yang membatasi akan mempunyai harga yang berbeda. Analisis yang sama dengan yang disebutkan di atas dapat dilakukan untuk kolom persegi panjang dalam Gambar 5-45 apabila beban P bekerja disebuah titik pada sumbu z. Selanjutnya kita dapatkan bahwa seluruh kolom mengalarni tekan selama bebannya bekerja dengan eksentrisitas antara b/6 dan -b/6. Jadi, kita simpulkan bahwa ada daerah kecil yang mengelilingi pusat berat C sedemikian rupa sehingga seluruh elemen struktur berada dalam keadaan tekan selama beban bekerja di dalam daerah tersebut. Daerah ini disebut inti atau kern dari penampang. Dengan pertolongan aturan sepertiga tengahdan beberapa analisis tambahan, adalah mungkin untuk membuktikan bahwa inti persegi panjang adalah rhombus
  • 326.
    1- b � Gambar5-46 Inti penampang persegi panjang Mekanika Bahan 31 3 dengan diagonal yang panjangnya h/3 dan b/3 (Gambar 5-46).* Inti dari bentuk penampang lainnya ditentukan dalam Soal 5.12-20 sampai 5.12-24 di akhir bab ini. • Pembatasan Analisis terdahulu mengenai balok dengan beban aksial didasarkan atas asumsi bahwa momen lentur dapat dihitung tanpa meninjau defleksi balok. Dengan perkataan lain, dalam menentukan momen lentur M untuk di­ gunakan dalam Persamaan (5-53), kita harus dapat menggunakan dimensi semula dari balok-dimensi sebelum terjadinya deformasi atau defleksi. Penggunaan dimensi semula adalah sah asalkan balok relatif kaku terhadap lentur, supaya defleksi yang terjadi sangat kecil. Jadi, dalam menganalisis suatu balok dengan beban aksial, adalah penting untuk membedakan antara balok gemuk, yang relatif pendek sehingga mempunyai tahanan besar terhadap lentur. dan balok langsing, yang relatif panjang sehingga sangat fleksibel. Dalam hal balok gemuk, defleksi lateralnya sedemikian kecil sehingga tidak ada efek signifikan ter­ hadap garis kerja gaya aksial. Akibatnya, momen lentur tidak akan bergan­ tung pada defleksi dan tegangan dapat diperoleh dari Persamaan (5-53). Dalam hal balok langsing, defleksi lateral (meskipun kecil) cukup besar untuk mengubah garis kerja gaya aksial. Apabila hal ini terjadi, momen lentur tambahan, yang sama dengan hasil kali gaya aksial dan defleksi lateral, muncul di setiap penampang. Dengan perkataan lain ada interaksi, antara efek aksial atau kopel dan efek lentur. Jenis perilaku ini dibahas dalam Bab 1 1 mengenai kolom. Pembedaan antara balok gemuk dan balok langsing jelaslah tidak tepat. Pada umumnya, satu-satunya cara untuk mengetahui apakah efek interaksi penting adalah dengan menganalisis balok dengan atau tanpa interaksi dan memperhatikan apakah hasilnya sangat berbeda. Namun, prosedur ini mungkin membutuhkan perhitungan yang cukup panjang. Karenanya, sebagai pedoman praktis, kita biasanya memandang sebuah balok dengan rasio panjang terhadap tinggi sebesar 10 atau kurang sebagai balok gemuk. Hanya balok gemuklah yang ditinjau dalam contoh-contoh dan soal-soal dalam bab ini. Contoh 5-1 5 Sebuah balok tabung ACB yang panjangnya L = 60 in. ditumpu sendi di ujung­ ujungnya dan dibebani oleh gaya miring P di tengah-tinggi (Gambar 5-47a). Jarak dari titik bekerjanya beban P ke sumbu longitudinal tabung adalah d = 5,5 in. Penampang tabung ini adalah bujursangkar (Gambar 5-47b) dengan dimensi luar b = 6,0 in., luas A = 20,0 in.2, dan momen inersia I = 86,67 in.4 Tentukan tegangan tarik dan tekan maksimum di balok akibat beban P = 1000 lb. Solusi Balok dan pembebanan. Kita mulai dengan menyatakan balok dan bebannya dalam bentuk yang diidealkan untuk maksud analisis (Gambar 5-48a). Karena tumpuan di ujung A menahan baik peralihan horizontal maupun vertikal, maka ini direpre­ sentasikan sebagai tumpuan sendi. Tumpuan di B mencegah peralihan vertikal te­ tapi tidak menahan peralihan horizontal, sehingga ditunjukkan sebagai tumpuan rol. *Konsep tentang inti suatu penampang diperkena1kan o1eh insinyur Perancis J.A.C. Bresse pada tahun 1854; 1ihat Ref. 5-12. l
  • 327.
    31 4 Bab5 T egangan Di Balok (Topik Dasar) � = 30 in. ; = 30 in. y Gambar 5-47 Contoh 5-15 V 329 lb (a) (b) !"''' , , , ''I 0 '' l , l -171 lb (c) 9870 !b-in. M 0 �n. (d) Gambar 5-48 Solusi Contoh 5-15. (a) Balok dan pembebanan yang diidealisasi, (b) diagram gaya aksial, (c) diagram gaya geser, dan (d) diagram momen lentur _j_ z b = 6 in. -1 1- t b = 6 in. (a) (b) Beban miring P diuraikan atas komponen horizontal Ph dan vertikal Pv. Ph = P sin 60° = (1000 lb)(sin 60°) = 866 lb Pv = P cos 60° = ( 1000 lb)(cos 60°) = 500 lb Komponen horizontal Ph dipindahkan ke sumbu balok dengan menambahkan momen M0 (Gambar 5-48a): M0 = Phd = (866,0 lb)(5,5 in.) = 4760 !b-in. Perhatikan bahwa beban Ph, Pv, dan M0 yang bekerja di titik tengah C dari balok secara statis ekivalen dengan beban P semula. Reaksi dan resu/tan tegangan. Reaksi balok (Rh, RA, dan R8) ditunjukkan dalam Gambar 5-48a. Juga, diagram gaya aksial N, gaya geser V, dan momen lentur M ditunjukkan dalam Gambar 5-48b, c, dan d. Semua besaran ini diperoleh dari diagram benda bebas dan persamaan kesetimbangan dengan menggunakan cara-cara yang telah diuraikan dalam Bab 4. Tegangan di balok. Tegangan tarik maksimum di balok terjadi di bawah balok (y = -3,0 in.) sedikit di kiri titik tengah C. Kita sampai pada kesimpulan ini dengan mengingat bahwa di titik ini pada balok tegangan tarik akibat gaya aksial menambah tegangan tarik akibat momen Jentur terbesar. Jadi, dari Persamaan (5- 53), kita dapatkan N _ My 866 lb A I 20,0 in.2 (9870 lb-in.)(-3,0 in.) 86,67 in.4 = 43 psi + 342 psi = 385 psi Tegangan tarik maksimum terjadi di atas balok (y = 3,0 in.) di kiri titik C atau di atas balok di kanan titik C. Kedua tegangan ini dihitung sebagai berikut: ' N _ My 866 lb A I 20,0 in.2 (9870 lb-in.)(-3,0 in.) 86,67 in.4 = 43 psi - 342 psi = -299 psi = N _ My = 0 _ (51 10 lb-in.)(3,0 in.) = _177 psi A I 86,67 in.4 Jadi, tegangan tekan maksimum adalah (aclmaks = -299 psi dan terjadi di atas balok di kiri titik C. Contoh ini menunjukkan bagaimana tegangan normal di suatu balok akibat gabungan antara lentur dan beban aksial dapat ditentukan. Tegangan geser yang bekerja di penampang balok (akibat gaya geser V) dapat ditentukan secara independen dari tegangan normal, sebagaimana telah dibahas sebelum ini di dalam bab ini. Nanti, di dalam Bab 7, kita akan melihat bagaimana menentukan tegangan di bidang miring apabila kita mengetahui tegangan normal dan tegangan geser yang bekerja di bidang-bidang penampang.
  • 328.
    Mekanika Bahan 315 *5·13I KONSENTRASI TEGANGAN PADA KONDISI LENTUR M M ( ) (a) M M ( ) (b) Gambar 5-49 Distribusi tegangan di sebuah balok yang mengalami lentur murni dengan lubang lingkaran di sumbu netral. (Balok ini mempunyai penampang persegi panjang dengan tinggi h dan tebal b.) Rumus lentur dan geser yang dibahas dalam subbab-subbab terdahulu di dalam bab ini belaku untuk balok tanpa lubang, takikan, atau perubahan dimensi mendadak. Manakala diskontinuitas seperti ini ada, tegangan lokal yang tinggi akan terjadi. Konsentrasi tegangan seperti ini dapat menjadi sangat penting pada elemen struktur yang terbuat dari bahan getas atau yang mengalami beban dinamis. (Lihat Bab 2, Subbab 2. 10 untuk pembahasan tentang kondisi di mana konsentrasi tegangan merupakan hal penting.) Untuk ilustrasi, dua kasus konsentrasi tegangan di balok dibahas di dalam subbab ini. Kasus pertama adalah balok dengan penampang persegi panjang dengan 1ubang di sumbu netral (Gambar 5-49). Balok ini mempunyai tinggi h dan tebal b (tegak lurus bidang gambar) dan mengalarni lentur mumi akibat aksi momen lentur M. Apabila diameter d lubang adalah kecil dibandingkan dengan tinggi h, maka distribusi tegangan di potongan melintang yang melalui lubang kurang lebih seperti terlihat dalam Gambar 5-49a. Di titik B pada tepi lubang, tegangannya jauh lebih besar daripada tegangan yang dapat ada di titik tersebut seandainya tidak ada lubang. (Garis putus-putus di dalam gambar tersebut menunjukkan distribusi tegangan tanpa lubang.) Namun, apabila kita berjalan menuju tepi luar balok (menuju titikA), distribusi tegangan bervariasi secara linier terhadap jarak dari sumbu netral dan hanya sedikit dipengaruhi oleh adanya lubang. Apabila lubangnya relatif besar, maka pola tegangan kurang lebih seperti terlihat da1am Gambar 5-49b. Ada peningkatan tegangan di titik B dan hanya sedikit perubahan tegangan di titik A dibandingkan dengan distribusi tegangan di balok tanpa lubang (sekali lagi, ini ditunjukkan dengan garis putus-putus). Tegangan di titik C lebih besar daripada tegangan di A tetapi lebih kecil daripada tegangan di B. Penyelidikan lebih da1am telah menunjukkan bahwa tegangan di tepi lubang (titik B) kurang lebih dua kali tegangan nominal di titik tersebut. Tegangan nominal dihitung dari rumus lentur dengan cara standar, yaitu, CJ = My//, di mana y adalah jarak d/2 dari sumbu netra1 ke titik B dan I adalah momen inersia penampang neto di lokasi lubang. Jadi, kita mempunyai rumus pendekatan berikut untuk tegangan di titik B: (5-57) Di tepi luar balok (di titik C), tegangan kurang lebih sama dengan tegangan nominal (bukan tegangan aktual) di titik A (di mana y = h/2): (5-58) Pacta dua persamaan terakhir ini kita lihat bahwa rasio CJsfCJc kurang lebih sebesar 2d/h. Jadi kita simpulkan bahwa apabila rasio d!h antara diameter terhadap tinggi balok melebihi 1/2, maka tegangan terbesar terjadi di titik B. Apabila d!h kurang dari 1/2, maka tegangan terbesar terjadi di titik C. Kasus kedua yang akan kita bahas adalah balok persegi panjang dengan takik (Gambar 5-50). Ba1okpacta gambar tersebut mengalarni lentur mumi dan mempunyai tinggi h dan tebal b (tegak 1urus bidang gambar).
  • 329.
    316 Bab 5T egangan Di Balok (Topik Dasar) Gambar 5-50 Faktor konsentrasi tegangan K untuk balok bertakikan dengan penampang persegi panjang yang mengalami lentur murni (h = tinggi balok, b = tebal balok, tegak lurus bidang gambar). Garis putus adalah untuk takikan setengah lingkaran (h = h1 + 2R). Juga, tinggi neto balok (yaitu, jarak antara dasar masing-masing takikan) adalah h1 dan radius di dasar masing-masing takikan adalah R. Tegangan maksimum untuk balok ini terjadi di dasar takikan dan dapat jauh lebih besar daripada tegangan nominal di titik yang sama. Tegangan nominal dihitung dari rumus lentur dengan y = h/2 dan I = bhf/12; jadi, My 6M (] = - = -- nom I bh2 I (5-59) Tegangan maksimum sama dengan faktor konsentrasi tegangan K dikalikan tegangan nominal: K <Jmaks = Kanom (5-60) 1 ,5 �------J-------�------�----�--L-------J--=�--� 0 0,05 0, 10 0, 15 R 71; 0,20 0,25 0,30 Faktor konsentrasi tegangan K diplot dalam Gambar 5-50 untuk beberapa harga rasio hlh1 • Perhatikan bahwa apabila takikan menjadi "lebih tajam," yaitu rasio R/h1 menjadi lebih kecil, faktor konsentrasi tegangan akan meningkat.* Efek konsentrasi tegangan terjadi di daerah kecil di sekitar lubang dan takikan, sebagaimana diterangkan dalam pembahasan prinsip Saint­ Venant dalam Subbab 2.10. Padajarak sama yang dengan atau lebih besar dari lubang atau takikan, efek konsentrasi tegangan dapat diabaikan dan rumus biasa untuk tegangan dapat digunakan. *Gambar 5-50 dip1ot dari rumus yang diberikan da1am Ref. 2-10, yang mengandung rumus untuk banyak jenis lain konsentrasi tegangan. Untuk data tambahan tentang konsentrasi tegangan termasuk rumus-rumus dan grafik-grafik, lihat Ref. 2-11.
  • 330.
    SOAL-SOAL BAB 5I ._J , x n LEMBAR • X + KE�JA REGANGAN LONGITUDINAL Dl BALOK 5.4-1 Tentukan regangan normal maksimum £maks yang timbul di kawat baja dengan diameter d = 1116 in., apabila kawat tersebut dibengkokkan di sekeliling drum silindris dengan radius r = 24 in. (lihat gambar). 5.4-2 Sebuah kawat tembaga yang mempunyai diam­ eter d = 4 mm dibengkokkan menjadi lingkaran dan ditahan dengan ujung-ujungnya saling menyentuh (lihat gambar). Jika regangan izin maksimum di tembaga ada1ah £ maks = 0,0033, berapa panjang terpendek L kawat yang dapat digunakan? L == Panjang 5.4-3 Sebuah pipa polietilen dengan diameter luar 4 in. didesain untuk menyalurkan buangan kimiawi. Pipa itu diletakkan dalam parit yang membentuk belokan seperempat lingkaran 90° (lihat gambar). Bagian pipa yang melengkung mempunyai panjang 32 ft. Tentukan regangan tekan maksimum £ maks di pipa. Mekanika Bahan 31 7 5.4-4 Sebuah balok kantilever AB dibebani kopel M0 di ujung bebas (lihat gambar). Panjang balok adalah L = 1 ,2 m dan regangan normal longitudinal di permukaan atas adalah 0,0008. Jarak dari permukaan atas balok ke permukaan netral adalah 50 mm. Hitunglah radius kelengkungan p, kelengkungan 1( , dan defleksi vertikal 8 di ujung balok. 5.4-5 Sebuah plat baja yang panjangnya L = 36 in. dan tebal t = 0,4 in. dibengkokkan oleh kopel M0 (lihat gambar). Defleksi 8di titik tengah plat (diukur dari garis yang menghubungkan titik-titik ujungnya) diketahui 0,29 in. Tentukan regangan normal longitudinal £ di permukaan atas plat tersebut. 5.4-6 Sebuah batang dengan penampang persegi panjang dibebani dan ditumpu seperti terlihat dalam gambar. Jarak antara tumpuan adalah L = 1,5 m dan tinggi batang ini adalah h = 120 mm. Defleksi 8 di titik tengah diukur 2,5 mm. Berapa regangan normal maksimum £ di atas dan bawah batang ini? TEGANGAN NORMAL Dl BALOK 5.5-1 Sebuah kawat baja (E = 30 x 106 psi) dengan diameter d = 1/32 in. dibengkokkan di sekeliling katrol yang berjari-jari r = 9,75 in. (lihat gambar). (a) Berapa ,
  • 331.
    31 8 Bab5 T egangan Di Balok (Topik Dasar) �p.::�.lll maksimum crmaks di kawat? (b) Apakah tegangan �umbah atau berkurang jika radius katrol bertambah? 5.5-2 Sebuah plat tipis dari tembaga keras (£ = 1 13 GPa) yang mempunyai panjang L = 2 m dan tebal t = 2 mm dibengkokkan menjadi berbentuk lingkaran dan ditahan dengan ujung-ujungnya saling menyentuh (lihat gambar). (a) Hitunglah tegangan lentur maksimum umaks di plat tersebut. (b) Apakah tegangan tersebut bertambah jika tebal plat bertambah? 5.5-3 Sebuah batang baja berkekuatan tinggi (£ = 28 x 106 psi) yang mempunyai tebal t = 0,06 in. dan panjang L = 14 in. dibengkokkan oleh kopel M0 menjadi busur lingkaran dengan sudut pusat a = 67,8° (lihat gambar). (a) Berapa tegangan lentur maksimum umaks di batang tersebut? (b) Apakah tegangan bertambah atau berkurang jika sudut pusatnya bertambah? 'f'--a�,� 5.5-4 Sebuah balok kayu yang ditumpu sederhana AB dengan panjang bentang L = 3,5 m memikulbeban terbagi rata dengan intensitas q = 6,4 kN/m (lihat gambar). Hitunglah tegangan lentur maksimum umaks akibat beban q jika balok mempunyai penampang persegi panjang dengan lebar b = 1 50 mm dan tinggi h = 280 mm. q �I l l I I h ____l L_L ________________ 5.5-5 Sebuah ayunan yang beratnya 3 lb/ft panjang dinaiki oleh dua anak, yang masing-masing beratnya 90 lb (lihat gambar). Pusat berat setiap anak ada di 8 ft dari titik tengah. Papan tersebut mempunyai panjang 19 ft, lebar 8 in., dan tebal I ,5 in. Berapa tegangan lentur maksimum di papan? 5.5-6 Sebuah as gerobak angkutan AB dibebani seperti terlihat dalam gambar, dengan gaya P yang menunjukkan beban dari gerobak dan gaya R yang menunjukkan beban rei (disalurkan melalui roda). Diameter as adalah d = 80 mm, panjang roda adalah L = 1,45 in., dan jarak antara beban adalah b = 200 mm. Hitunglah tegangan lentur maksimum umaks di as jika P = 9,3 kN. _L 0 d T 5.5-7 Setiap girder dari jembatan angkat (lihat gambar) mempunyai panjang 170 ft dan ditumpu sederhana di ujung-ujungnya. Beban desain untuk setiap girder adalah beban terbagi rata dengan intensitas 1 ,2 k/ft. Girder terbuat dari plat baja yang dilas sehingga berbentuk I dan mempunyai modulus penampang S = 2800 in. 3 Berapakah tegangan lentur maksimum umaks di girder akibat beban terbagi rata?
  • 332.
    5.5-8 Balok horizontalABC dari pompa pengeboran minyak mempunyai penampang seperti terlihat dalam gambar. Jika gaya pompa vertikal yang bekerja di ujung C adalah 38 kN, dan jika jarak dari garis kerja gaya tersebut ke titik B adalah 4,5 m, berapa tegangan lentur maksimum di balok tersebut akibat gaya pompa? �I 200 mm 5.5-9 Selama pelaksanaan jembatan jalan raya, girder utama dikantileverkan dari satu tiang ke tiang di sebelahnya (lihat gambar). Setiap girder mempunyai panjang kantilever 170 ft dan penampang berbentuk I dengan dimensi seperti terlihat dalam gambar. Beban di setiap girder (selama pelaksanaan) diasumsikan 750 lb/ ft, yang termasuk berat girder. Tentukan tegangan lentur maksimum di girder akibat beban tersebut. 96 in. �I 24 in. 5.5-1 0 Sebuah pipa fiberglass diangkat oleh crane dengan menggunakan susunan seperti terlihat dalam gambar. Diameter luar pipa adalah 1 50 mm, tebalnya 6 mm, dan berat jenisnya 1 8 kN/m3• Panjang pipa adalah L = 13 m dan jarak antara titik angkat adalah s = 4 m. Tentukan tegangan lentur maksimum di pipa akibat berat sendirinya. Mekanika Bahan 31 9 L 5.5-11 Sebuah bantalan rei dibebani dua beban terpusat, masing-masing besarnya P = 40 k, seperti terlihat dalam gambar. Reaksi q dari ballast diasumsikan terdistribusi terbagi rata di panjang bantalan, yang mempunyai dimensi penampang b = 12 in. dan h = 10 in. Hitunglah tegangan lentur maksimum O'maks di bantalan akibat beban total P, dengan mengasumsikan L = 57 in. dan a = 19,5 in. p p 5.5-1 2 Sebuah tanggul yang tingginya h = 2,4 m terbuat dari balok kayu vertikal AB yang tebalnya t = 160 mm, seperti terlihat dalam gambar. Anggap bahwa balok tersebut ditumpu sederhana di atas dan bawah. Tentukan tegangan lentur maksimum O'maks di balok, dengan mengasumsikan bahwa berat jenis air adalah y = 9,81 kN/m3.
  • 333.
    320 Bab 5T egangan Di Ba/ok (T opik Dasar) T h B 5.5-13 Dapatkan rumus untuk tegangan normal maksimum amaks (akibat momen lentur oleh momen M) pada balok yang mempunyai penampang sebagai berikut (lihat gambar): (a) inti lingkaran yang diametemya d dengan sudut f3 = 45°, dan (b) heksagon dengan sisi-sisi yang panjangnya b. (a) (b) 5.5-1 4 Dapatkan rumus untuk tegangan tarik maksimum a, (akibat momen lentur positif M) pada balok yang mempunyai penampang sebagai berikut (lihat gambar): (a) setengah lingkaran yang diameternya d, dan (b) trapesium isosceles dengan alas b1 = b dan b2 = 3b/2, dan tinggi h. (a) (b) 5.5-15 Balok sederhana AB dengan panjang bentang L = 24 ft mengalami dua beban roda yang bekerja pacta jarak d = 5 ft (lihat gambar). Setiap roda menyalurkan beban P = 3 k, dan gerobak di atas roda dapat berada pacta po­ sisi manapun di balok. Tentukan tegangan lentur maksi­ mum amaks akibat beban roda jika balok adalah balok I yang mempunyai modulus penampang S = 16,2 in.3 +---- L ---� ;r_ -I- 5.5-16 Sebuah jembatan penyeberangan di atas pipa di pabrik kimia dipikul oleh dua rangkafiberglass, seperti terlihat pada bagian (a) dalam gambar. Setiap rangka mempunyai bentang L = 5,46 m dan tinggi h = 0,82 m [lihat bagian (b) pada gambar]. Kemiringan batang mir­ ing pada rangka adalah 2 banding 3. Potongan melintang dari rangka berbentuk I dengan lebar l OO mm dan tinggi 150 mm, sertatebal 10 mm [lihat bagian (c) dari gambar]. Tentukan tegangan lentur maksimum di potongan tengah rangka akibat beban terbagi rata q = 2,9 kN/m yang bekerja di bagian horizontal dari rangka. (a) q = 2,9kN/m 10mm 3 �2 150 I. L = 5,46m -I 100mm (b) (c) 5.5-1 7 Sebuah balok kantilever AB yang dibebani oleh beban terbagi rata dan beban terpusat (lihat gambar), terbuat dari penampang kanal. Carilah tegangan tarik maksimum a, dan tegangan tekan maksimum ac jika penampang mempunyai dimensi yang tergambar dan momen inersia terhadap sumbu z (sumbu netral) adalah I = 2,81 in.4 (Catatan: Beban terbagi rata menunjukkan berat balok.) 230lb l 20lb/ft A ���:5�-�-}�2�B
  • 334.
    5.5-1 8 Sebuahbalok kantilever AB dengan penampang segitiga mempunyai panjang L = 0,8 m, lebar b = 80 mm, dan tinggi h = 120 mm (lihat gambar). Balok ini terbuat dari perunggu yang beratnya 85 kN/m3. (a) Tentukan tegangan tarik maksimum 0' 1 dan tegangan tekan maksimum ac akibat berat sendiri balok. (b) Jika lebar b menjadi dua kali, apa yang terjadi pada tegangan? (c) Jika tinggi menjadi dua kali, apa yang terjadi pada tegangan? A B L 5.5-1 9 Balok ABC dengan overstek dari B ke C memikul beban terbagi rata 200 lb/ft di seluruh panjangnya (lihat gambar). Balok ini mempunyai penampang kanal dengan dimensi seperti terlihat dalam gambar. Momen inersia terhadap sumbu z (sumbu netral) sama dengan 5,14 in.4 Hitunglah tegangan tarik maksimum a1 dan tegangan tekan maksimum ac akibat beban terbagi rata. (200 lb/ft f.Ll J I �) De I. 1 0 ft '"·1:·' 5 ft ·I _10.674in UJ2.496in 5.5-20 Sebuah rangka ABC berjalan dalam arah hori­ zontal dengan percepatan a0 (lihat gambar). Dapatkan rumus untuk tegangan maksimum amaks di lengan vertikal AB, yang mempunyai panjang L, tebal t, dan rapat massa p. A ao = percepatan Mekanika Bahan 321 5.5-21 Sebuah balok penampang T dipikul dan dibebani seperti terlihat dalam gambar. Penampangnya mempunyai lebar b = 2,5 in., tinggi h = 3 in., dan tebal t = 0,5 in. Tentukan tegangan tarik dan tekan maksimum di balok ini. P = lOOO lb 5.5-22 Sebuah balok kantilewr AB dengan penampang persegi panjang mempunyai lubang longitudinal yang dibor di seluruh panjangnya (lihat gambar). Balok ini memikul beban P = 600 N. Penampang ini mempunyai lebar 25 mm dan tinggi 50 mm, serta lubangnya mem­ punyai diameter 10 mm. Carilah tegangan lentur di atas balok, di atas lubang, dan di bawah balok. *5.5-23 Tanggul kecil yang tingginya h = 6 ft terbuat dari balok kayu vertikal AB, seperti terlihat dalam gambar. Balok kayu, yang mempunyai tebal t = 2,5 in., ditumpu sederhana oleh balok baja horizontal di A dan B. Buatlah grafik yang menunjukkan tegangan lentur maksimum amaks di balok kayu versus tinggi d dari air di atas tumpuanbawah di B. Plotlah tegangan amak> (psi) sebagai ordinat dan tinggi d (ft) sebagai absis. (Catatan: Berat jenis y air adalah 62,4 lb/ft3.) Balok T d - -· - --- · -· - -- - · - - ..... .. Tampak samping / Balok kayu Tampak atas
  • 335.
    322 Bab 5T egangan Di Balok (T opik Dasar) DESAIN BALOK 5.6-1 Sebuah breketfiberglass ABCD dengan potongan mdintang lingkaran solid mempunyai bentuk dan dimensi -.eperti terlihat dalam gambar. Beban vertikal P = 8 lb bekeija di ujung bebas D. Tentukan diameter izin mini­ mum dmin dari breket jika tegangan lentur izin di bahan adalah 3500 psi dan b = 1,5 in. (Abaikan berat sendiri breket.) Sb B•l aA ':if � t . , 2b D c l I "» l J P f 2b -I 5.6-2 Penampang jembatan rei ditunjukkan dalam gambar. Jembatan ini mempunyai girder baja longitudi­ nal yang memikul bantalan kayu. Girder ini ditahan terhadap tekuk lateral oleh bresing diagonal, seperti terlihat dengan garis putus. Jarak girder adalah s1 = 0,8 m danjarakrei adalah s 2 = 0,6 m. Beban yang disalurkan oleh setiap rei ke satu bantalan adalah P = 1 8 kN. Potongan bantalan, yang ditunjukkan dalam bagian (b) gambar tersebut mempunyai lebar b = 120 mm dan tinggi d. Tentukan harga minimum d berdasarkan atas tegangan lentur izin I0 MPa di bantalan. (Abaikan berat bantalan itu sendiri.) p p 5.6-3 Balok kantilever yang panjangnya L = 6 ft me­ mikul beban terbagi rata dengan intensitas q = 250 lb/ft dan beban terpusat P = 3000 lb (lihat gambar). Hitunglah modulus penampang yang diperlukan Sjika Oizin = 16.000 psi. Selanjutnya pilihlah balok sayap lebar yang memadai (profil W) dari Tabel E-1 , Lampiran E, dan hitung ulang S dengan memperhitungkan berat balok. Pilihlah ukuran balok yang baru jika diperlukan. P = 3000 lb q = 250 lb/ft � 5.6-4 Balok sederhana yang panjangnya L = 1 5 ft memikul beban terbagi rata dengan intensitas q = 900 lb/ ft dan beban terpusat P = 8000 lb (lihat gambar). Dengan mengasumsikan a. . = 1 8.000 psi, hitunglah modulus penampang yang dl��rlukan S. Lalu pilihlah balok sayap lebar 12 in. (profil W) dari Tabel E-1, Lampiran E, dan hitung ulang S dengan memperhitungkan berat balok. Pilihlah balok 12 in. yang baru jika diperlukan. P = 8000 lb 7.5 ft� I 5.6-5 Sebuah balok sederhana AB dibebani seperti terlihat dalam gambar. Hitunglah modulus penampang yang diperlukan S jika amaks = 1 6.000 psi, L = 24 ft, P = 2000 lb, dan q = 300 lb/ft. Lalu, pilihlah balok I yang memadai (profil S) dari Tabel E-2, Lampiran E, dan hitung ulang S dengan mempcrhitungkan berat balok. Pilih ukuran balok baru jika perlu. , r , � ,.fD!k 1. + .1.+ .I.+ .1.+ .1 5.6-6 Sebuah jembatan ponton (lihat gambar) terbuat dari dua balok kayu longitudinal yang membentang antara ponton yang berdekatan dan memikul balok lantai trans­ versal, yang disebut papan. Untuk maksud desain, asumsikan beban lantai yang seragam sebesar 10 kPa bekeija di seluruh papan. (Beban ini termasuk berat papan dan balok.) Juga, asumsikan bahwa papan mempunyai panjang 2,4 m dan balok ditumpu sederhana dengan bentang 3,6 m. Tegangan lentur izin di kayu adalah 17,5 MPa. Jika balok mempunyai penampang bujursangkar, berapa lebar perlu minimum bmin?
  • 336.
    5.6-7 Sebuah sistemlantai di gedung kecil terdiri atas papan kayu yang dipikul oleh balok anak yang lebarnya (lebar nominal) 2 in. denganjarak satu sama lain s (diukur as ke as, lihat gambar). Panjang bentang L setiap balok adalah 10,5 ft, jarak s antara balok adalah 16 in., dan tegangan lentur izin di kayu adalah 1200 psi. Beban lantai terbagi rata adalah 100 lb/ft 2 , yang termasuk berat sistem lantai itu sendiri. Hitunglah modulus penampang yang diperlukan S untuk balok anak dan pilihlah ukuran balok anak yang memadai (kayu yang telah diamplas) dari Lampiran E, dengan mengasumsikan bahwa setiap balok anak dapat dinyatakan sebagai balok yang memikul beban terbagi rata. 5.6-8 Balok anak yang memikul lantai papan (lihat gambar) mempunyai penampang aktual 40 mm x 1 80 mm dan mempunyai panjang bentang L = 4,0 m. Beban lantai adalah 2,4 kPa yang sudah termasuk berat balok anak dan lantai. Hitunglah jarak izin maksimum s antara balok anak jika tegangan lentur izin adalah 8,5 MPa. (Asumsikan bahwa setiap balok anak dapat dinyatakan sebagai balok sederhana yang memikul beban terbagi rata.) 5.6-9 Sebuah balok ABC dengan overstek dari B ke C mempunyai penampang C 10 x 30 (lihat gambar). Balok tersebut memikul berat sendiri (30 lb/ft) ditambah beban terbagi rata dengan intensitas q yang bekerja di overstek. Tegangan izin tarik dan tekan masing-masing adalah 20 ksi dan 1 2 ksi. Tentukan beban terbagi rata izin q . jika jarak L sama dengan 4,0 ft. lzm Mekanika Bahan 323 q A ,£;" 5.6-10 Batang yang disebut trape�e bar di kamar rumah sakit memungkinkan seorang pasien berolah raga selama berada di atas tempat tidur (lihat gambar). Batang tersebut panjangnya 2,I m dan mempunyai penampang berbentuk oktagon (segi delapan) teratur. Beban desain adalah 1 100 N yang bekerja di titik tengah batang, dan tegangan lentur izin adalah 160 MPa. Tentukan lebar minimum s batang tersebut. (Asumsikan bahwa ujung-ujung batang adalah tumpuan sederhana dan bahwa berat batang dapat diabaikan.) 5.6-11 Gerobak dua as yang merupakan bagian dari crane pada laboratorium uji bergerak perlahan-lahan melintasi balok sederhanaAB (lihat gambar). Beban yang disalurkan ke balok dari as depan adalah 2,4 k dan dari as belakang adalah 4,8 k. Berat balok itu sendiri dapat diabaikan. (a) Tentukan modulus penampang perlu minimum S untuk balok tersebut jika tegangan lentur izin adalah 1 8 ksi, panjang balok adalah 16 ft, dan jarak antara as adalah 5 ft. (b) Pilihlah balok I (profil S) yang memadai dari Tabel E-2, Lampiran E. �----------- 16 ft ----------�
  • 337.
    324 Bab 5Tegangan Di Balok (T opik Dasar) 5.6-12 Sebuah balok kantilever AB dengan penampang -=.::� dan panjang L = 500 mm memikul beban P = ):(' � yang bekerja di ujung bebas (lihat gambar). Balok :ru terbuat dari baja dengan tegangan lentur izin 80 MPa. Tentukan diameter perlu drnin balok ini dengan meninjau pengaruh berat sendiri balok. k---------L----------� 5.6-1 3 Sebuah balok ABCD (lihat gambar) ditumpu di titik A, B, dan D dan mempunyai sambungan (dinyatakan dengan sambungan sendi di titik C. Jarak a = 8 ft dan balok adalah profil sayap lebar W 1 6 x 57 dengan tegangan lentur izin 16.000 psi. Carilah beban terbagi rata izin q yang dapat bekerja di atas balok tersebut, dengan memperhitungkan berat sendiri balok. 5.6-1 4 Sebuah balkon yang terbuat dari kayu dipikul oleh tiga balok kantilever identik (lihat gambar). Setiap balok mempunyai panjang L = 2,1 m, lebar b, dan tinggi h = 4b/3. Dimensi lantai balkon adalah L1 x L2, dengan L2 = 2,5 m. Beban desain adalah 5,5 kPa yang bekerja di seluruh luas lantai. (Beban ini sudah terrnasuk semua beban kecuali berat balok kantilever, yang mempunyai berat jenis y = 5,5 kN/m3.) Tegangan lentur izin di kantilever adalah 15 MPa. Dengan menganggap bahwa kantilever tengah memikul 50% dari beban dan setiap kantilevertepi memikul 25% dari beban, tentukandimensi b dan h yang diperlukan. 5.6-1 5 Sebuah balok yang mempunyai penampang sayap lebar tak simetris (lihat gambar) mengalami momen lentur negatif yang bekerja terhadap sumbu z. Tentukan lebar b sayap atas agar tegangan di permukaan atas dan bawah balok akan mempunyai rasio 4:3. y b l I I 1 .25 in 16 in ---- - ]�'" z c 1 .5 in I. 16 in JT 5.6-1 6 Sebuah balok yang mempunyai penampang berbentuk kanal (Iihat gambar) mengalarni momen lentur yang bekelja terhadap sumbu z. Hitunglah tebal t kanal ini agar tegangan lentur di atas dan bawah balok tersebut mempunyai rasio 7:3. y -1 � z ---�===!==::i! rmm ��.1 - 5.6-1 7 Tentukan rasio berat ketiga balok yang mem­ punyai panjang sama, terbuatdari bahan sama, mengalarni momen lentur maksimum sama, dan mengalami tegangan lentur maksimum sama, apabila penampangnya adalah: (1) persegi panjang dengan tinggi sama dengan dua kali lebar, (2) bujursangkar, dan (3) lingkaran (lihat gambar). T h=2b j_ �b� I a _1 �a� 5.6-1 8 Penampang balok persegi panjang yang mem­ punyai lebar b dan tinggi hditunjukkan dalam bagian (a) dalam gambar. Karena alasan yang tak diketahui oleh perencana, diharuskan menambah proyeksi struktural dari lebar b/9 dan tinggi d di atas dan bawah dari balok [lihat bagian (b) dari gambar]. Berapa harga d agar kapasitas momen lentur balok ini bertambah? Berapa harga d agar kapasitas momen Ientur balok ini berkurang?
  • 338.
    -- � d I lh - d ���� (a) (b) 5.6-1 9 Papan AD yang panjangnya L = 30 in., lebamya b = 12 in. dan tebalnya t = 0,5 in. dipikul oleh breket di B dan C [lihat bagian (a) dari gambar]. Breket tersebut dapat disesuaikan dan dapat diletakkan di posisi yang dikehendaki antara kedua ujung papan. Beban terbagi rata dengan intensitas q, yang termasuk berat sendiri papan, bekerja di papan [lihat bagian (b) dari gambar]. Tentukan beban izin maksimum q jika tegangan lentur izin di papan adalah aizin = 830 psi. (a) q Ai.l:f) ! IJ� .ID (b) 5.6-20 Sebuah balok baja ABC ditumpu sederhana di A dan B dan mempunyai overstek BC yang panjangnya L = 150 mm (lihat gambar). Balok ini memikul beban terbagi rata dengan intensitas q = 3,5 kN/m di seluruh panjang 450 mm. Penampang balok ini adalah persegi panjang dengan lebar b dan tinggi 2b. Tegangan lentur izin di baja adalah aizin = 60 MPa dan berat jenisnya y = 77,0 kN/m3. (a) Dengan mengabaikan berat balok, hitunglah lebar perlu b untuk penampang persegi panjang tersebut. (b) Dengan memperhitungkan berat balok, hitung lebar b. Mekanika Bahan 325 5.6-21 Plat baja (disebut coverplate) yang mempunyai dimensi melintang 4,0 in. x 0,5 in. dilas di sepanjang flens atas sebuah balok dengan profil sayap lebar W 1 2 x 35 (lihat gambar). Berapa persen peningkatan modulus penampang dibandingkan dengan profil sayap lebar itu sendiri? /4,0x 0,5 in. plat baja - vW I2 d5 r=JL 5.6-22 Sebuah balok aluminium mempunyai penampang simetri ganda seperti terlihat pada bagian (b) dalam gambar. Untuk analisis lentur, fillets dan pojok-pojok lengkung dapat diabaikan, seperti terlihat dalam bagian (b). Penampang tersebut mempunyai dimensi b = 220 mm, h = 200 mm, h1 = 80 mm, t1 = t2 = 10 mm, dan t3 = 20 mm. (a) Apakah balok ini akan lebih kuat apabila melentur terhadap sumbu 1-1 sebagai sumbu netral, ataukah terhadap sumbu 2-2? (b) Berapa rasio f3 antara modulus penampang yang lebih besar terhadap yang lebih kecil? Bentuk aktual Bentuk yang diidealisasi (a) (b) 5.6-23 Tekanan air bekeija terhadap panel miring ABC yang berfungsi sebagai penahan (lihat gambar). Panel ini ditahan di titik B, yang tingginya h di atas dasar, dan menekan terhadap dasar di A apabila level muka air tidak terlalu tinggi (perhatikan bahwa panel akan berputar terhadap sendi di B jika tinggi d dari air melebihi tinggi maksimum tertentu dmaksl· Panel ini mempunyai tebal t dan miring dengan sudut a terhadap horizontal. Turunkan rumus untuk tebal perlu minimum tmin panel tersebut jika tegangan lentur maksimum di panel tidak boleh melebihi tegangan izin aizin· (Perhatikan bahwa tegangan maksimum di panel terjadi apabila tinggi air mencapai tinggi maksimum dmaks· Dalam menurunkan rumus, tinjau saja pengaruh lentur di panel, abaikan berat panel, dan anggap berat jenis air adalah rl
  • 339.
    326 Bao 5T egangan Di Balok (T opik Dasar) 5.6-24 Sebuah balok dengan penampang bujursangkar (a = panjang masing-masing sisi) melentur dalam bidang diagonalnya (lihat gambar). Dengan membuang sebagian kecil bahan di atas dan bawah pojoknya, seperti terlihat dengan bagian yang digelapkan dalam gambar, kita dapat meningkatkan modulus penampang dan mendapatkan balok yang lebih kuat, meskipun luas penampangnya berkurang. (a) Tentukan rasio f3 yang mendefinisikan luas yang harus dibuang agar kita memperoleh penampang yang paling kuat terhadap lentur. (b) Berapa persen modulus penampang bertambah apabila luas tersebut dibuang? y 5.6-25 Sebuah dinding penahan yang tingginya 5 ft terbuat dari papan-papan kayu yang tebalnya 3 in. (dimensi aktual) yang ditumpu oleh tiang kayu vertikal berdiameter 1 2 in. (dimensi aktual) seperti terlihat dalam gambar. Tekanan tanah lateral adalah p1 = 100 lb/ft 2 di atas dinding dan p2 = 400 lb/ft 2 di bawah. Dengan meng­ asumsikan bahwa tegangan izin di kayu adalah 1200 psi, hitunglah jarak izin maksimum s antar tiang. (Petunjuk: Perhatikan jarak tiang dapat ditentukan oleh kapasitas pikul beban papan dan tiang. Anggap papan beraksi sebagai balok kantilever yang mengalami beban ter­ distribusi trapesium dan anggap papan beraksi sebagai balok sederhana antara tiang-tiang. Agar berada pada sisi aman, asumsikan bahwa tekanan di papan bawah adalah terbagi rata dan sama dengan tekanan minimum.) .. �� 3 in 5 ft BALOK NONPRISMATIS diameter 1 2 in. - " y p2 = 400 lb/ft2 3 in Tampak atas 5.7-1 Sebuah balok ABC ditahan di C dan terletak di atas B (lihat gambar). Potongan melintang adalah lingkaran dengan diameter konstan dB antara B dan C dan diameter dA di ujung bebas A. Antara titik A dan B, diameter bervariasi secara linier terhadap jarak x. Beban terpusat P bekerja di ujung A. Pada jarak x berapa dari ujung bebas tegangan lentur maksimum akibat beban P terjadi jika dsfdA = 2,25? Berapa besar amaks tegangan lentur maksimum? Berapa rasio antara tegangan maksi­ mum terhadap tegangan terbesar aB di titik B? c 0 '·::- dB L 5.7-2 Balok kantilever yang meruncing AB yang panjangnya L mempunyai penampang bujursangkar dan memikul beban terpusat P di ujung bebas (lihat gambar). Lebar dan tinggi balok bervariasi secara linier dari hA di ujung bebas hingga hB di ujung jepit. Tentukan jarak x dari ujung bebas ke penampang di mana tegangan lentur maksimum jika hB = 2,5hA. Berapa besar tegangan lentur maksimum amaks? Berapa rasio antara tegangan maksimum tersebut terhadap tegangan terbesar aB di tumpuan? p
  • 340.
    5.7-3 Sebuah papantanda yang tinggi ditumpu oleh dua balok vertikal yang terdiri atas tabung lingkaran berdinding tipis yang meruncing (lihat gambar). Di dalam analisis, setiap balok dianggap sebagai balok kantilever AB yang panjangnya L = 25 ft yang mengalami beban lateral P = 500 lb di ujung bebas. Tabung tersebut mempunyai tebal konstan t = 0,375 in. dan diameter rata-rata dA = 3,5 in. dan dB = 10,5 in. masing-masing di ujung A dan B. Karena tebalnya kecil dibandingkan dengan diameter, maka momen inersia di setiap penampang dapat diperoleh dari rumus I = mh/8 (lihat Kasus 22, Lampiran D), sehingga modulus penampang dapat dihitung dengan menggunakan rumus S = mPt/4. Pada jarak x berapakah dari ujung bebas tegangan lentur maksimum terjadi? Berapa besar tegangan lentur maksimum amaks tersebut? Berapa rasio antara tegangan maksimum terhadap tegangan terbesar aB di tumpuan? !p= 500 lb � Jl dB= 10.5 in 5.7-4 Sebuah balok kantilever yang meruncing AB dan mempunyai penampang persegi panjang mengalarni beban terpusat P = 400 N dan kopel M0 = 160 N.m yang bekerja di ujung bebas (lihat gambar). Lebar b balok adalah konstan dan sama dengan 25 mm, tetapi tingginya bervariasi secara linier dari hA = 50 mm di ujung yang dibebani ke hB = 75 mm di tumpuan. Pada jarak x berapa dari ujung bebas tegangan lentur maksimum amaks terjadi? Berapa besar tegangan maksimum amaks tersebut? Berapa rasio antara tegangan maksimum dan tegangan terbesar aB di tumpuan? --r hB = 75 mm ___t__ -+J r- b = 25 mm Mekanika Bahan 327 *5.7-5 Jeruji dari sebuah roda gila dimodelkan sebagai balok yang terjepit di satu ujung dan dibebani oleh beban P dan kopel M0 di ujung lainnya (lihat gambar). Penampang jeruji tersebut berbentuk elips dengan sumbu major dan minor (tinggi dan lebar) yang ukurannya seperti terlihat dalam gambar. Dimensi penampang bervariasi secara linier dari ujung A ke ujung B. Dengan hanya meninjau pengaru lentur akibat beban P dan M0, tentukan besaran berikut. (a) tegangan lentur maksimum aA di ujung A; (b) tegangan lentur maksimum aB di B; (c) jarakdariA ke penampang bertegangan lenturmaksimum x; dan (d) besar tegangan lentur maksimum amaks· **5.7-6 Tinjau balok kantilever yang meruncing dengan penampang lingkaran seperti terlihat dalam Gambar 5.24 dalam Subbab 5.7. (a) Dengan hanya meninjau pengaruh lentur akibat beban P, tentukan rasio dJ!dA antara diam­ eter kedua ujung sedemikian hingga volume (dan juga berat) balok adalah minimum. (Asumsikan bahwa tegang­ an lzin lentur adalah o;zin·) (b) Turunkan rumus untuk volume minimum Vmin· (c) Carilah rasio antara volume minimum Vmin dan volume balok prismatis (dB = dA). BALOK BERTEGANGAN PENUH Soal 5.7-7 sampai 5.7-10 berkaitan dengan balok ber­ tegangan penuh dengan penampang persegi panjang. Tinjaulah tegangan lentur yang diperoleh dari rumus lentur saja dan abaikan berat balok. 5.7-7 Sebuah balok kantilever AB yang mempunyai penampang persegi panjang dengan lebar konstan dan tinggi yang bervariasi hx mengalami beban terbagi rata dengan intensitas q (lihat gambar). Bagaimanakah tinggi hx harus bervariasi sebagai fungsi dari x (diukur dari ujung bebas balok) agar balok tersebut menjadi bertegangan penuh? (Nyatakan hx dalam tinggi hB di ujung jepit balok tersebut.)
  • 341.
    328 Bab 5T egangan Di Balok (T opik Dasar) q 1 1 1 1 1 1 1 1 X I L ·I DJ -lb - 5.7-8 Sebuah balok kantilever AB yang mempunyai penampang persegi panjang dengan lebar bervariasi bx dan tinggi bervariasi hx mengalami beban terbagi rata dengan intensitas q (lihat gambar). Jika lebar bervariasi secara linier terhadap x menurut Persamaan bx = bJJC!L, bagaimanakah hx sebagai fungsi dari x agar menjadi balok bertegangan penuh? (Nyatakan h, dalam tinggi h8 di ujung jepit balok ) q I l l l l r riJ A X L 5.7-9 Sebuah balok kantilever AB yang mempunyai penampang persegi panjang dengan tinggi konstan h dan lebar bervariasi bx mengalami beban terpusat P di ujung bebas (lihat gambar). Bagaimanakah lebar bx harus bervariasi sebagai fungsi dari x agar menjadi balok bertegangan penuh? (Nyatakan bx dalam lebar b8 di ujung jepit balok.) � _l_ I_ ____J l ba ' 5.7-1 0 Sebuah balok sederhanaAB yang memikul beban terpusat P (lihat gambar) mempunyai penampang persegi panjang dengan lebar konstan b dan tinggi bervariasi hx. Beban terpusat dapat bekerja di manapun pada bentang balok. Bagaimanakah hx harus bervariasi sebagai fungsi dari x (diukur dari titik tengah balok) agar berat balok minimum? (Nyatakan hx sebagai fungsi dari h1 di titik tengah balok.) TEGANGAN GESER PADA BALOK PERSEGI PANJANG 5.8-1 Tegangan geser r pada balok persegi panjang dinyatakan dengan Persamaan (5-39): r = �(� - Y�J di mana V adalah gaya geser, I adalah momen inersia penampang, h adalah tinggi balok, dan y1 adalah jarak dari sumbu netral ke titik di mana tegangan geser sedang dihitung (lihat Gambar 5-30). Dengan mengintegrasikan persamaan tersebut di seluruh luas penampang, buktikan bahwa resultan dari tegangan geser sama dengan gaya geser V.
  • 342.
    5.8-2 Hitunglah tegangangeser maksimum rmaks dan tegangan lentur maksimum <Jmaks pada balok kayu yang ditumpu sederhana (lihat gambar) yang memikul beban terbagi rata 25 kN/m (termasuk berat balok) jika panjangnya adalah 1,75 m dan penampangnya adalah persegi panjang dengan lebar 200 mm dan tinggi 250 mm. r 25kN/m Jzsomm 1--1 200mm 1----1 .75 m---� 5.8-3 Dua balok kayu, masing-masing dengan penam­ pang bujursangkar (3,5 in. x 3,5 in. dimensi aktual) dilem hingga membentuk balok solid dengan dimensi 3,5 in. x 7,0 in. (lihat gambar). Balok tersebut ditumpu sederhana dengan bentang 6 ft. Berapa beban maksimum Pmaks yang dapat bekerja di titik tengah jika tegangan geser izin di bagian yang dilem adalah 200 psi? (Masukkan pengaruh berat sendiri balok dengan menganggap berat kayu 0,02 lb/in3.) 5.8-4 Sebuah balok kantilever yang panjangnya L = 2 m memikul beban P = l O kN (lihat gambar). Balok tersebut terbuat dari kayu dengan dimensi penampang 150 mm x 200 mm. Hitunglah tegangan geser akibat beban P di titik yang terletak di 25 mm, 50 mm, 75 mm, dan 1 00 mm dari muka atas balok. Dari hasil-hasil tersebut, plotlah grafik yang menunjukkan distribusi tegangan geser dari atas ke bawah balok. }oomm r---1 150mm 5.8-5 Sebuah balok sederhana yang panjangnya L = 16 in. dan dimensi penampangnya b = 0,5 in. dan h = 2 in. (lihat gambar) memikul beban terbagi rata dengan intensitas q = 200 lb/in., termasuk berat sendiri balok. Hitunglah tegangan geser di balok (di penampang dengan Mekanika Bahan 329 gaya geser maksimum) pada titikyang terletak di 114 in., 112 in., 3/4 in., dan l in. dari permukaan atas balok. Dari perhitungan ini, plotlah grafik yang menunjukkan distribusi tegangan geser dari atas ke bawah balok. 5.8-6 Sebuah balok dengan penampang persegi panjang (lebar b dan tinggi h) memikul beban terdistribusi terbagi rata di sepanjang bentang L. Tegangan izin lentur dan geser masing-masing adalah <Jizin dan rizin· (a) Jika balok ini ditumpu sederhana, berapa panjang bentang L0 maksimum agar tegangan geser, bukan tegangan lentur, menentukan beban izin? (b) Jika balok tersebut adalah kantilever, berapa panjang L0 maksimum agar tegangan geser menentukan beban izin, bukannya tegangan lentur? 5.8-7 Sebuah balok kayu lapis yang terletak pada tumpuan sederhana terdiri atas tiga papan 2 in. x 4 in. (dimensi aktual) yang membentuk balok solid 4 in. x 6 in., seperti terlihat dalam gambar. Tegangan geser izin di bagian lem adalah 50 psi dan tegangan lentur izin di kayu adalah 1600 psi. Jika balok tersebut mempunyai panjang 6 ft, berapa beban izin P yang bekerja di titik tengah balok? (Abaikan berat sendiri balok.) 5.8-8 Dalam Contoh 5-8 Subbab 5.6, kita telah meng­ analisis tiang kayu vertikal B yang memikul tanggul kecil (lihat Gambar 5-22). Hanya tegangan lentur yang ditinjau dalam contoh tersebut. Dengan demikian, sekarang kita meninjau tegangan geser. Jika tegangan geser izin di tiang adalah rizin = 0,9 MPa, berapa dimensi perlu b tiang tersebut? 5.8-9 Sebuah balok kayu AB yang terletak pada tumpuan sederhana dengan panjang bentang sama dengan 9 ft mengalami beban terbagi rata dengan intensitas 120 lb/ft yang bekerja di seluruh panjang balok dan beban terpusat sebesar 8800 lb yang bekerja di titik 3 ft dari tumpuan kanan (lihat gambar). Tegangan izin lentur dan geser masing-masing adalah 2500 psi dan 150 psi. (a)
  • 343.
    330 Bab 5T egangan Di Balok (Topik Dasar) ;);;n label dalam Lampiran F, pilihlah balok yang paling :- ...:lg:::.n yang dapat memikul beban (abaikan berat sendiri :-,.j01i: 1. (b) Dengan memperhitungkan berat balok (berat . =:us = 35 lb/ft3), selidiki apakah balok yang telah dipilih :=rsebut memadai, atau jika tidak pilihlah balok barn. 8800 lb 3 ft 9 ft I ------, 5.8-10 Sebuah balok plastik lapis dengan penampang bujursangkar terdiri atas tiga plat yang dilem, masing­ masing dengan penampang 10 mm x 30 mm (lihat gambar). Balok tersebut mempunyai berat total 3.2 N dan ditumpu oleh bentang dengan panjang L = 320 mm. Dengan meninjau berat balok, hitunglah beban izin maksimum P yang dapat diletakkan di titik tengah jika: (a) tegangan geser izin di bagian Iem adalah 0,3 MPa, dan (b) tegangan Ientur izin di plastik adalah 8 MPa. 5.8-1 1 Sebuah balok kayu yang terletak di atas tumpuan sederhana dengan penampang persegi panjang dan bentang 4 ft memikul beban terpusat P di titik tengah selain berat sendiri (lihat gambar). Penampangnya mempunyai dimensi nominal 6 in. x 10 in. (lihat Lampiran F untuk dimensi aktual dan berat balok). Hitunglah harga izin maksimum untuk beban P jika: (a) tegangan lentur izin adalah 1250 psi. dan (b) tegangan geser izin adalah 140 psi. _L £ � => � --_.._,.............._..............,...... A I r- -2 ft-- t- 2 ft --1 *5.8-1 2 Sebuah balok kayu ABC dengan tumpuan sederhana di A dan B dan overstek BC mempunyai tinggi h = 280 mm (lihat gambar). Panjang bentang utama balok adalah L = 3,6 m dan panjang overstek adalah L/3 = 1 ,2 m. Balok tersebut memikul beban terpusat 3P = 15 kN di titik tengah bentang utama dan beban P = 5 kN di ujung bebas overstek. Kayu tersebut mempunyai berat jenis y = 5,5 kN/m3. (a) Tentukan lebar perlu b ber­ dasarkan atas tegangan lentur izin 8,2 MPa. (b) Tentukan lebar perlu b berdasarkan atas tegangan geser izin sebesar 0,7 MPa. L 2 L ]h- 280 mm b � **5.8-13 Sebuah plaiform kayu bujursangkar, 8 ft X 8 ft, terletak di atas dinding bata yang tebalnya 6 in. (lihat gambar). Dek dari plaiform ini terdiri atas papan-papan dengan tebal nominal 2 in. (tebal aktual 1 ,5 in.; lihat Lampiran F) yang terletak di atas dua balok yang panjangnya 8 ft. Balok tersebut mempunyai dimensi nominal 4 in. x 6 in. (dimensi aktual 3,5 in. x 5,5 in.) dan ditumpu di ujung-ujungnya oleh dinding. Struktur tersebut didesain untuk memikul beban terdistribusi terbagi rata w (lb/ft2) yang bekerja di seluruh permukaan atas dari plaiform. Tegangan izin lentur untuk papan dan balok adalah 2400 psi dan tegangan geser izinnya adalah 100 psi. Dalam menganalisis papan, diasumsikan bahwa reaksi terdistribusi terbagi rata di permukaan atas balok, dan dalam menganalisis balok. diasumsikan bahwa reaksinya terdistribusi terbagi rata di luas bidang kontak­ nya dengan dinding. Berat papan dan balok diperhitung­ kan dalam analisis, dan berat jenis kayu diambil y= 30 lb/ft3. (a) Tentukan beban izin w1, w 2 , w3, dan w 4 (lb/ft 2 ) berdasarkan atas parameter masing-masing sebagai berikut: (1) tegangan lentur di papan, (2) tegangan geser di papan, (3) tegangan lentur di balok, dan (4) tegangan geser di balok. (b) Mana di antara harga-harga tersebut yang menjadi beban izin w izin di plaiform? (Petunjuk: Hati-hati dalam menentukan diagram pembebanan, khususnya perhatikan bahwa reaksi adalah terdistribusi, bukan terpusat. Juga, perhatikan bahwa tegangan geser maksimum terjadi di muka dalam dari tumpuan.)
  • 344.
    TEGANGAN GESER DlBALOK LINGKARAN 5.9-1 Sebuah tiang kayu dengan penampang lingkaran solid (d = diameter) mengalami gaya horizontal P = 500 lb (lihat gambar). Panjang tiang adalah L = 6 ft, dan tegangan izin di kayu adalah 2100 psi untuk lentur dan 150 psi untuk geser. Tentukan diameter perlu minimum untuk tiang berdasarkan atas: (a) tegangan lentur izin, dan (b) tegangan geser izin. p -. -I d L l 5.9-2 Sebuah jembatan kayu sederhana di pedalaman terdiri atas dua balok sejajar dengan papan-papan yang tegak 1urus padanya (lihat gambar). Balok tersebut adalah Douglas-fir dengan diameter rata-rata 300 mm. Sebuah truk bergerak perlahan-lahan melintasijembatan tersebut, yang bentangnya 2,5 m. Asumsikan bahwa berat truk terdistribusi rata antara kedua balok. Karenajarak antara as pada truk tersebut ada1ah 2,5 m, maka hanya satu as roda yang ada di jembatan setiap saat. Jadi, beban roda di satu balok akan ekivalen dengan beban terpusat W yang bekerja di sembarang posisi sepanjang bentang. Selain itu, berat satu balok dan papan-papan yang dipikulnya ekivalen dengan beban terbagi rata 850 N/m yang bekerja di balok. Tentukan beban roda izin maksimum W berdasarkan atas: (a) tegangan lentur izin 7,5 MPa, dan (b) tegangan geser izin sebesar 0,8 MPa. , I W 850 N/m rx-. / 1------- 2,5 m *5.9-3 Sebuah papan tanda dipikul o1eh dua tiang alu­ minium dengan penampang lingkaran berlubang, seperti terlihat dalam gambar. Tiang didesain untuk menahan tekanan angin sebesar 75 lb/ft 2 terhadap seluruh luas Mekanika Bahan 331 papan tanda. Dimensi tiang dan papan tanda adalah h1 = 20 ft, h2 = 5 ft, dan b = 10 ft. Untuk mencegah tekuk di dinding tabung tiang, tebal t ditetapkan sebagai 1110 dari diameter luar d. (a) Tentukan diameter perlu minimum tiang berdasarkan atas tegangan lentur izin sebesar 7500 psi pada aluminium. (b) Tentukan diameter perlu mini­ mum berdasarkan atas tegangan geser izin sebesar 2000 psi. Beban angin {er t=d/10 *5.9-4 Pecahkan soal sebelum ini apabila dimensinya adalah h1 = 6,0 m, h2 = 1,5 m, b = 3,0 m, dan t = d/10. Tekanan angin desain adalah 3,6 kPa, dan tekanan izin di aluminium adalah 50 MPa untuk lentur dan 14 MPa untuk geser. TEGANGAN GESER Dl BALOK DENGAN FLENS 5.1 0-1 sampai 5.1 0-6 Sebuah ba1ok sayap lebar (lihat gambar) yang mempunyai penampang sebagaimana diuraikan di bawah ini menga1ami gaya geser V. Dengan menggunakan dimensi penampang, hitunglah momen inersia dan selanjutnya tentukan besaran-besaran berikut: (a) Tegangan geser maksimum rmaks di badan. (b) Tegangan geser minimum rmin di badan. (c) Tegangan geser rata-rata rrata-rata (yang diperoleh dengan membagi gaya geser dengan luas badan) dan rasio rmak/Trata-rata· (d) Gaya geser Vbactan yang dipikul di badan dan rasio Vbactan/V. (Catatan: Abaikan fillets di pertemuan badan dan sayap dalam menghitung besaran penampang.) y z l---L-J TT ll
  • 345.
    332 Bab 5T egangan Di Balok (Topik Dasar) 5.1 0..1 Dimensi penampang: b = 8 in., t = 0,4 in., h = : : m.. h1 = 10,7 in., dan V = 20.000 lb. 5.10..2 Dimensi penampang: b = 1 60 mm, t = 8 mm, h = 3(X) mm, h1 = 274 mm, dan V = 50 kN. 5.1 D-3 Profil sayap lebar, W 8 x 28 (lihat Tabel E- 1 , Lampiran E); V = 10 k. 5.1 0-4 Dimensi penampang: b = 220 mm, t = 12 mm. h = 600 mm, h 1 = 570 mm, dan V = 200 kN. 5.1 0-5 Profil sayap lebar, W 24 x 94 (lihat Tabel E- 1 . Lampiran E), V = 5 0 k. 5.10-6 Dimensi penampang: b = 1 20 mm, t = 7 mm, h = 350 mm, h1 = 330 mm, dan V = 60 kN. 5.10-7 Balok kantilever AB yang panjangnya L = 6 ft memikul beban terbagi rata dengan intensitas q yang meliputi berat balok (lihat gambar). Balok ini adalah baja profil sayap lebar W 10 x 30 (lihat Tabel E-1 , Lampiran E). Hitung1ah beban izin maksimum q berdasarkan atas: (a) tegangan lentur izin Oizin = 1 8 ksi, dan (b) tegangan geser izin rizin = 9 ksi. (Catatan: Dapatkan momen inersia dan modulus penampang balok dari Tabel E-1 .) 5.1 0-8 Girder jembatan AB pada bentang sederhana yang panjangnya L = 1 2 m memiku1 beban terbagi rata dengan intensitas q termasuk berat girder (lihat gambar). Girder tersebut terdiri atas tiga plat yang dilas untuk membentuk penampang seperti tergambar. Tentukan beban izin maksimum q berdasarkan atas: (a) tegangan lentur izin <Jizin = 90 MPa, dan (b) tegangan geser izin rizin = 50 MPa. 1 800 mm l, 1---11 mm 450 mm 5.1 0-9 Sebuah balok sederhana dengan overstek me­ mikul beban terbagi rata dengan intensitas q = 1 200 lb/ ft dan beban terpusat P = 3000 lb (lihat gambar). Tegangan izin lentur dan geser masing-masing adalah 1 8 ksi dan 1 1 ksi. Pilhlah dari Tabel E-2, Lampiran E, balok I (profil S) yang paling ringan yang dapat memikul beban tersebut. (Catatan: Beban terbagi rata q termasuk berat sendiri balok. Petunjuk: Pilih balok berdasarkan atas tegangan lentur dan selanjutnya hitung tegangan geser maksimum. Jika balok tersebut kelebihan tegangan geser, maka pilih balok yang lebih besar dan ulangi.) 5.1 Q-1 0 Sebuah balok baja kotak berlubang dengan penampang persegi panjang ditunjukkan dalam gambar. Tentukan gaya geser izin V yang dapat bekeija di balok jika tegangan geser izin adalah 40 MPa. 10 20 ! mm � 11 fl ! O mm 450 mm 5.10-11 Sebuah balok baja sayap 1ebar (W 16 x 77) diperkuat dengan dua plat penguat, masing-masing lebarnya 6 in. dan tebalnya 1 /2 in. (lihat gambar). Tentukan gaya geser izin maksimum Vyang dapat bekeija di balok ini jika tegangan geser izin adalah 6000 psi. / W 16 x 77
  • 346.
    5.10-12 Balok Tyang tergambar mempunyai dimensi penampang sebagai berikut: b = 220 mm, t = 1 5 mm, h = 300 mm, dan h1 = 275 mm. Balok ini mengalami gaya geser V = 70 kN. Tentukan tegangan geser maksimum rmaks di badan balok. y z-.-----I'IC b 5.10-13 Hitunglah tegangan geser maksimum rmaks di badan balok T yang terlihat dalam gambar jika b = 10 in., t = 0,6 in., h = 8 in., h1 = 7 in., dan gaya geser V = 6000 lb. *5.1 0-14 Sebuah balok I tak simetris (lihat gambar) mempunyai dimensi penampang sebagai berikut: b1 = 150 mm, b2 = 250 mm, t = 10 mm, h = 320 mm, dan t1 = 20 mm. Balok ini mengalami gaya geser V = 70 kN. (a) Hitunglah tegangan geser maksimum rmaks dan mini­ mum rmin di badan balok. (b) Hitunglah tegangan geser rata-rata rrata-rata di badan dengan membagi V dengan luas badan dan hitunglah rasio rmak/rrata-rata· (c) Hitunglah gaya geser vbadan yang dipikul badan dan hitunglah rasio Vbacta/V. BALOK TERSUSUN 5.1 1-1 Sebuah balok kayu berbentuk I pre f abricated yang berfungsi sebagai balok lantai mempunyai penampang seperti terlihat dalam gambar. Beban izin geser untuk balok berlem antara badan dan sayap adalah 70 lb/in. dalam arah longitudinal. Tentukan gaya geser izin maksimum Vmaks untuk balok ini. y _ 1<>,75 in. ::. z 0 l·· 0,625 in. I· 5 in. •l lo,75 in. Mekanika Bahan 333 5.1 1 -2 Sebuah girder baja yang dilas dengan dimensi penampang seperti terlihat dalam gambar terdiri atas dua plat sayap 250 mm x 25 mm dan plat badan 600 mm x 1 5 mm. Plat dilas satu sama lain dengan empat !as sudut secara kontinu di sepanjang girder. Setiap !as sudut mempunyai beban izin geser sebesar 500 kN/m. Hitunglah gaya geser izin maksimum Vmaks untuk girder ini. t e� z - - - ' · . OO mm , 0 --.-- .250 mm.I 1 25 mm 5.1 1 -3 Sebuah girder baja yang dilas dengan dimensi penampang seperti terlihat dalam gambar terdiri atas dua plat sayap 1 6 in. x 1 in. dan plat badan 60 in. x 3/8 in. Plat dilas satu sama lain dengan empat !as sudut secara kontinu di sepanjang girder. Jika girder ini mengalami gaya geser 250 kips, berapa gaya F (per in. panjang !as) harus ditahan oleh setiap !as? y _E in. �� z----1 3 . sm. 0 60 in. 5.11 -4 Sebuah balok boks dari kayu terdiri atas dua papan 250 mm x 40 mm dan dua papan 250 mm x 25 mm (lihat gambar). Papan tersebut dipaku dengan jarak longitudinal s = 100 mm. Jika setiap paku mempunyai gaya geser izin F = 750 N, berapa gaya geser izin maksimum Vmaks? I. 250 mm
  • 347.
    334 Bao 5T egangan Di Balok (Topik Dasar) 5.11-5 Sebuah balok boks yang terdiri atas empat papan u:•u Jengan ukuran 6 in. x 1 in. (dimensi aktual) .iltunjukkan dalam gambar. Papan disambung satu sama lain oleh sekrup dengan beban izin geser F = 210 lb per sekrup. Hitunglahjarak longitudinal izin maksimum smaks antara sekrup jika gaya geser V adalah 1150 lb. 5.11 -6 Dua boks kayu (balok A dan B) mempunyai dimensi luar sama (200 mm x 360 mm), dan tebal sama (t = 20 mm), seperti terlihat dalam gambar. Kedua balok disambung dengan paku, dengan beban geser izin 250 N. Balok-balok tersebut didesain terhadap gaya geser V = 3,2 kN. (a) Berapakah jarak longitudinal maksimum sA untuk paku di balok A? (b) Berapa jarak longitudinal maksimum s8 sumbu untuk paku di balok B? (c) Balok manakah yang efisien dalam menahan gaya geser? z t 2 =_ O mm ® k--- y 1 I 0 360 mm l z I 2 ® = O mm y [!. 0 �· T 360 mm 1 5.11 -7 Balok T yang terlihat dalam gambar difabrikasi dengan cara mengelas dua plat baja. Jika beban izin masing-masing !as adalah 2,4 k/in. dalam arah longitu­ dinal, berapa gaya geser izin maksimum V? IY 0.5 in. -�, _r z �---+!il c 5.1 1 -8 Sebuah balok berpenampang T dibentuk dengan memaku dua papan yang mempunyai dimensi seperti tergambar. Jika gaya geser total V yang bekerja di penampang adalah 872 N dan setiap paku dapat memikul gaya geser 400 N, berapa jarak paku izin maksimum s? 5.1 1 -9 Sebuah balok baja terdiri atas profil sayap lebar W 16 x 77 dan dua plat pengaku 10 in. x 1/2 in. (lihat gambar). Beban izin geser di setiap baut adalah 2,8 kips. Berapajarak baut s yang diperlukan dalam arah longitu­ dinal jika gaya geser V = 40 kips? y 5.1 1 -1 0 Sebuah balok tersusun terdiri atas profil sayap lebar W 12 x 50 dan dua profil kanal C 12 x 30 (lihat gambar). Balok dan kanal disambung satu sama lain oleh baut yang betjarak 7,5 in. dalam arah longitudinal. Berapa gaya geser izin V jika setiap baut dapat memikul geser 2,4 kips? y C 1 2 X 30 C 12 X 30 BALOK DENGAN BEBAN AKSIAL Dalam memecahkan soal-soal untuk Subbab 5. 12, asumsikan bahwa momen lentur tidak dipengaruhi oleh adanya defleksi lateral. 5.1 2-1 Pada saat mengebor, kita memberikan gaya P = 25 lb di pegangan bor (lihat gambar). Diameter crank arm adalah d = 7/1 6 in. dan o ff set lateralnya adalah b = 4.875 in. Tentukan tegangan tarik dan tegangan maksimum a, dan a c di bagian crank.
  • 348.
    5.1 2-2 Sebuahtiang aluminium untuk penerang jalan mempunyai berat 2300 N dan memikul lengan yang beratnya 330 N (lihat gambar). Pusat berat lengan adalah 1,2 m dari sumbu tiang. Diameter luar tiang (di dasar) adalah 225 mm dan tebalnya adalah 18 mm. Tentukan tegangan tarik dan tekan maksimum a, dan a c di tiang (di dasamya) akibat semua beban mati. 1 .2 m l w2 = 2300 N 1 8 mm � 225 mm 5.1 2-3 Sebuah rangka kaku ABC dibentuk dengan mengelas dua pipa baja di B (lihat gambar). Setiap pipa mempunyai luas penampang A = 16,1 in.2, momen inersia I = 212 in.4, dan diameter luar d = 10,75 in. Carilah tegangan tarik dan tekan maksimum a, dan ac di rangka akibat beban P = 3200 lb jika L = 6,0 ft dan H = 4,5 ft. B A I. )I I( L .I L 5.1 2-4 Sebuah batang berbentuk busur lingkaran ABC dengan radius r = 300 mm dibebani gaya P = 1,6 kN (lihat gambar). Penampang batang adalah persegi panjang Mekanika Bahan 335 dengan tinggi h dan tebal t. Jika tegangan tarik izin di batang adalah 80 MPa dan tinggi h = 30 mm, berapa tebal perlu minimum tmin? pt( 5.1 2-5 Sebuah pohon palem yang terletak miring dengan sudut sekitar 60° mempunyai berat I000 lb (lihat gambar). Berat pohon dapat diuraikan menjadi dua gaya resultan, yaitu gaya P1 = 900 lb yang bekerja di titik 12 ft dari dasar, dan gaya P2 = 100 lb yang bekerja di puncak pohon yang panjangnya 30 ft. Diameter di dasar pohon kira-kira 14 in. Hitunglah tegangan tarik dan tekan maksimum a, dan ac di dasar pohon akibat beratnya. 5.1 2-6 Sebuah tiang vertikal dijepit di dasar dan ditarik di puncaknya oleh kabel yang mengalami gaya tarik T (lihat gambar). Kabel ini terpasang di permukaan di luar tiang dan membentuk sudut a = 28° terhadap vertikal. Tiang ini mempunyai panjang L = 2,0 m dan penampang lingkaran berlubang dengan diameter luar d2 = 250 mm dan diameter dalam d1 = 200 mm. Tentukan gaya tarik izin Tizin di kabel jika tegangan tekan izin di tiang alu­ minium adalah 80 MPa. T- 1 T . ,
  • 349.
    336 Bab 5T egangan Di Balok (T opik Dasar) 5.1 2·7 Karena penurunan (settlement) pondasi, sebuah :J:lC'Ilara lingkaran menjadi miring dengan sudut a terhadap ·. �rukal (lihat gambar). Inti struktural menara adalah srlinder lingkaran dengan tinggi h, diameter luar d2, dan diameter dalam d1. Untuk memudahkan analisis, asumsi­ kan bahwa berat menara terdistribusi terbagi rata di seluruh tingginya. Turunkan rumus sudut izin maksimum a jika diharapkan tidak ada tegangan tarik di menara. 5.1 2·8 Sebuah batang baja dengan penampang lingkaran solid mengalami gaya tarik aksial T= 26 kN dan momen lentur M = 2,7 kN.m (lihat gambar). Berdasarkan atas tegangan tarik izin sebesar 125 MPa, tentukan diameter perlu dbatang tersebut. (Abaikan berat batang itu sendiri.) 5.1 2-9 Sebuah cerobong bata silinder dengan tinggi H mempunyai berat w = 825 lb/ft tinggi (lihat gambar). Diameter dalam dan luar masing-masing adalah d1 = 3 ft dan d2 = 4 ft. Tekanan angin terhadap sisi cerobong adalah p = 10 lb/ft2 bidang proyeksi. Tentukan tinggi maksimum H jika dikehendaki tidak ada tarik di cerobong bata ini. 5.12-10 Sebuah dinding beton polos (tanpa tulangan baja) terletak pada pondasi yang memadai dan berfungsi sebagai tanggul kecil (lihat gambar). Tinggi dinding adalah h = 2 m dan tebal dinding adalah t = 0,3 m. (a) Tentukan tegangan tarik dan tekan maksimum 0" 1 dan O"c di dasar dinding apabila muka air mencapai puncak (d = h). Asumsikan beton polos mempunyai berat jenis Ye = 23 kN/m3. (b) Tentukan tinggi muka air izin maksimum dmaks jika dikehendaki tidak ada tarik di beton tersebut. 14 5.1 2-1 1 Sebuahflying buttress menyalurkan beban P = 5400 lb, yang bekerja pada sudut 60° terhadap horizon­ tal, ke puncak kolom vertikal AB (lihat gambar). Kolom vertikal mempunyai tinggi h = 16 ft dan penampang persegi panjang dengan tebal t = 5 ft dan lebar b = 3 ft (tegak lurus bidang gambar). Batu yang digunakan untuk konstruksi ini mempunyai berat y = 165 lb/ft3. Berapa berat W yang diperlukan untuk bagianpedestal dan patung di atas kolom vertikal (yaitu, di atas potongan A) agar tidak terjadi tegangan tarik di kolom vertikal? *5.1 2-12 Sebuah batang lingkaran solid AB dengan di­ ameter d = 125 mm disendi di tumpuan B dan terletak pada permukaan vertikal ha!us di ujung A (lihat gambar). Batang tersebut mempunyai panjang L = 2 m dan terbuat dari baja (beratjenis r= 77,0 kN!m Jika sudut inklinasi adalah a = 75°, berapa tegangan tekan maksimum O" maks di batang tersebut? (Petunjuk: Tentukan tegangan tekan di potongan melintang yang terletak pada jarak x, yang diukur di sepanjang sumbu batang, dari tumpuan B. Lalu, ambil turunan terhadap x, dan tentukan lokasi penampang yang mempunyai tegangan maksimum.)
  • 350.
    ; BEBAN AKSIAL EKSENTRIS 5.12-1 3 Dua kabel, masing-masing memikul gaya tarik P = 1200 lb, dibaut ke blok baja (lihat gambar). Blok tersebut mempunyai tcbal t = 1 in. dan lebar b = 3 in. (a) Jika diameter d kabel adalah 0,25 in., berapa tarik maksimum dan tegangan tekan a,dan a, di blok tersebut? (b) Jika diameter kabel diperbesar (tanpa merubah gaya P), apa yang terjadi pada tegangan tarik dan tekan · maksimum? b� p , I p ..___ � ____. IlL ' , ( I 5.1 2-1 4 Sebuah tiang lingkaran dan tiang perscgi panjang ditekan oleh beban-bcban yang menghasilkan gaya resultan P yang bekerja di tepi penampang (lihat gambar). Diameter tiang lingkaran dan tinggi tiang persegi panjang sama. (a) Untuk lebar b drui tiang persegi panjang berapakah tegangan tarik maksimum akan sama di kedua tiang? (b) Pada kondisi yang disebutkan dalam bagian (a). tiang manakah yang mengalami tegangan tekan lebih besar? p 5.1 2-1 5 Sebuah batang AB memikul beban P yang bekerja di pusat berat penampang ujung (lihat gambar). Mekanika Bahan 337 Di daerah tengah dari batang, luas penampangnya dikurangi dengan membuang setengah dari batang. (a) Jika penampang ujung adalah bujursangkar dengan sisi­ sisi h, berapa tegangan tarik maksimum dan tekan maksimum a, dan a,, di potongan mn di dalam daerah yang luasnya berkurang·? (b) Jika penampang ujung adalah l ingkaran dengan diameter b, berapakah tegangan maksimum a, dan a,·> " �----- � -- �- --1 .. I 1 1 [ h L ·-- ,, ,, 2 1 a 1 Ill 11 lz J --- , si �, I, ! lp 1 -- - , (b) 5.1 2-1 6 Sebuah kolom pendek dari profil sayap lebar mengalami beban tekan yang menyebabkan gaya resultan P = 60 kN yang bekerja di titik tengah satu sayap (lihat gambar). (a) Tentukan tegangan tarik maksimum amuk' dan tekan maksimum amin di kolom tersebut. (b) Tentukan lokasi sumbu netral akibal kondisi beban ini. I' / --.---- rt1 1 1l 1 1200 mm i 1 2 111111 .1 iI _I__ ___ �1 60 1 1111� 5.1 2-1 7 Sebuah kolom pendek dari profil sayap lebar W I0 x 30 mengalami beban tekan yang menyebabkan gaya resultan P = 1 2 k yang bekerja di titik tengah satu sayap (lihat gambar). (a) Tentukan tegangan tarik maksimum amak> dan tekan maksimum amin di kolom tersebut. (b) Tentukan lokasi sumbu netral akibat kondisi beban ini.
  • 351.
    3J8 Bab 5T egangan Di Balok (Topik Dasar ) P = l�k /Y r) .I E� 5.1 2-1 8 Balok T yang terlihat dalam gambar mengalami gaya tekan P yang garis kerjanya melalui titik tengah flens. (a) Tentukan persamaan sumbu netral kondisi pembebanan ini. (b) Jika tegangan izin tarik dan tekan masing-masing adalah 100 MPa dan 60 MPa, carilah beban izin maksimum Pmale<· l .t n un �--re tl mm 5.1 2-1 9 Sebuah kolom pendek dari profil C 8 X 1 1,5 mengalami gaya tekan aksia1 P yang garis kerjanya melalui titik tengah badan (lihat gambar). (a) Tentukan persamaan untuk sumbu netral akibat kondisi pembebanan ini. (b) Jika tegangan izin tarik dan tekan adalah 10.000 psi dan 8000 psi, carilah beban izin maksimum Pmaks' I ·'· C 8 X 1 1,5 I r � � c INTI DARI PENAMPANG 5.1 2-20 Sebuah penampang lingkaran berlubang dengan radius dalam r1 dan radius luar r2 seperti terlihat dalam gambar. (a) Tentukan radius r e untuk inti penampang. (b) 5.1 2-21 Tentukan inti untuk profil baja struktural W 10 x 30 (lihat gambar). c 5.1 2-22 Tentukan inti untuk profil baja struktural W 1 2 x 87 (lihat gambar). 5.1 2-23 Penampang bujursangkar berlubang simetris ganda yang terlihat dalam gambar mempunyai dimensi luar b dan diameter dalam c. Tentukan inti penampang irli. ' 5 . 1 2-24 Penampang cerobong bujursangkar (b = panjang setiap sisi) dengan lubang lingkaran yang her­ diameter d ditunjukkan dalam gambar. Berapa diameter terkecil d (dinyatakan dalam b) agar intinya terletak di dalam lubang? / � c b Dari hasil bagian (a), dapatkan radius re untuk penampang KONSENTRASl TEGANGAN lingkaran solid. (c) Dari hasil bagian (a), dapatkan radius r e untuk inti penampang dengan harga r1 mendekati r2 Soal-soal untuk Subbab 5. 1 3 dipecahkan dengan dan penampangnya menjadi cincin lingkaran tipis. meninjau faktor konsentrasi tegangan.
  • 352.
    5.1 3-1 Balokyang terlihat dalam gambar mengalami momen lentur M = 2100 lb-in. Setiap balok mempunyai penampang persegi panjang dengan tinggi h = I ,5 in. dan lebar b = 0.375 in. (tegak lurus bidang gambar). (a) Untuk balok dengan lubang di tengah-tinggi, tentukan tegangan maksimum untuk diameter lubang d = 0,25; 0,50; 0,75, dan 1 ,00 in. (b) Untuk balok dengan dua takikan identik (di dalam tinggi h1 = 1,25 in.) tentukan tegangan maksimum untuk jari-jari takikan R = 0,05, 0, 10, 0,15, dan 0,20 in. (al (b) 5.1 3-2 Balok yang terlihat dalam gambar mengalami momen lentur M = 250 N.m. Setiap b�lok mempunyai penampang persegi panjang dengan tinggi h = 44 mm dan lebar b = 10 mm (tegak lurus bidang gambar). (a) Untuk balok dengan lubang di tengah-tinggi, tentukan tegangan maksimum untuk diameter lubang d = I 0, 16, 22, dan 28 mm. (b) Untuk balok dengan dua takikan Mekanika Bahan 339 identik (di dalam tinggi h1 = 40 mm.) tentukan tegangan maksimum untuk jari-jari takikan R = 2, 4, 6, dan 8 mm. 5.1 3-3 Sebuah balok persegi panjang dengan penam­ pang setengah lingkaran, seperti terlihat pacta bagian (a) dalam gambar, mempunyai dimensi h = 0,88 in. dan h1 = 0,80 in. Tegangan lentur izin maksimum di balok metal adalah O'maks = 60 ksi, dan momen lentur adalah M = 600 lb-in. Tentukan ebar izin minimum bmin balok ini. 5.1 3-4 Balok persegi panjang dengan takikan setengah lingkaran, seperti terlihat pada bagian (b) dalam gambar, mempunyai dimensi h = 1 20 mm dan h1 = 100 mm. Tegangan lentur izin maksimum di balok plastik adalah O'maks = 6 MPa, dan momen lentur adalah M = 150 N.m. Tentukan lebar izin minimum bmin balok ini. 5.1 3-5 Sebuah balok persegi panjang dengan takikan dan lubang (lihat gambar) mempunyai dimensi h = 5,5 in., h1 = 5 in., dan lebar b = 1,6 in. Balok ini mengalami momen lentur M = 130 k-in., dan tegangan lentur izin di bahan (baja) adalah amaks = 42.000 psi. (a) Berapa ra­ dius terkecil Rmin yang harus digunakan di takikan? (b) Berapa diameter dmaks dari lubang terbesar perlu dibor di tengah-tinggi balok?
  • 353.
    6 - 6.2 1 TEGANGAN DlBALOK (TOPIK LANJUT) PENGANTAR Di dalam bab ini kita teruskan tinjauan kita tentang lentur di balok dengan mempelajari beberapa topik khusus, termasuk analisis balok komposit (yaitu balok dengan lebih dari satu bahan), balok dengan beban miring, balok tak simetris, tegangan geser di balok berdinding tipis, pusat geser, lentur elastoplastis, dan lentur nonlinier. Topik-topik ini didasarkan atas topik dasar yang telah dibahas dalam Bab 5-seperti kelengkungan, tegangan normal di balok (termasuk rumus lentur), dan tegangan geser di balok. Selanjutnya, dalam Bab 9 dan 1 0, kita akan membahas dua topik tambahan mengenai hal-hal penting di dalam desain balok-defleksi balok dan balok statis tak tentu. BALOK KOMPOSIT Balok yang terdiri atas lebih dari satu bahan disebut balok komposit. Contoh-contohnya adalah balok bimetalik (digunakan di termostat), pipa yang dilapisi plastik, dan balok kayu dengan plat penguat baja (Gambar 6-l ). Banyak jenis lain dari balok komposit yang telah dikembangkan beberapa tahun terakhir, terutama untuk menghemat bahan dan mengurangi berat. Sebagai contoh, balok sandwich banyak digunakan di industri penerbangan dan angkasa luar, di mana bobot yang ringan, kekuatan tinggi, dan rigiditas merupakan syarat yang dikehendaki. Benda-benda yang di­ kenal sehari-hari seperti pintu, panel dinding, rak buku, dan kotak card­ board juga merupakan benda-benda yang dibuat dengan gaya sandwich. Balok sandwich yang khas (Gambar 6-2) terdiri atas dua muka tipis dari bahan berkekuatan relatif tinggi (seperti aluminium) yang dipisahkan oleh sebuah inti tebal dari bahan berkekuatan relatif rendah. Karena bagian muka mempunyai jarak terbesar dari sumbu netral (di mana tegangan lentur terbesar), maka bagian tersebut berfungsi seperti flens pada balok I. Inti berfungsi sebagai pengisi dan memberikan dukungan pada muka, serta menstabilkannya terhadap kerut atau tekuk. Plastik atau foam ringan, se­ bagaimana juga honeycomb dan corrugation, sering digunakan pada inti.
  • 354.
    (a) (h) (c) Gambar 6-1 Contoh-contoh balokkomposit: (a) balok bimetalik, (b) pipa baja yang d1lapisi plastik, dan (c) balok kayu yang diperkual pial baj�1 Gambar 6-2 Balok sand11 ich dengan (a) inti plaslik, (b) inti honeycomb, dan (c) inti corrugated Mekanika Bahan 341 • Regangan dan Tegangan Regangan pacta balok komposit ditentukan dari aksioma dasar yang sama dengan yang digunakan untuk mencJ.ri regangan di balok dengan satu bahan, yaitu penampang harus tetap datar selama melentur. Aksioma ini berlaku untuk lentur mumi, tidak bergantung pada sifat bahan (lihat Subbab 5.4). Dengan demikian, regangan longitudinal F .x pacta balok komposit akan bervariasi secara linier dari atas ke bawah balok, seperti dinyatakan dalam Persamaan (5-4), yang ditulis ulang di sini ' Ex = -� = - K p (6- l) Di dalam persamaan ini, y adalah jarak dari sumbu netral, p adalah radius kelengkungan, dan K adalah kelengkungan. Dengan menggunakan distribusi regangan linier yang dinyatakan dengan Persamaan (6-1 ), kita dapat menentukan regangan dan tegangan di sembarang balok komposit. Untuk menunjukkan bagaimana hal ini dilakukan, tinjau balok komposit yang terlihat dalam Gambar 6-3a dan 6- 3b. Balok ini terdiri atas dua bagian - dalam gambar tersebut diberi label I dan 2 - yang secara aman dilekatkan sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai balok solid tunggal. Seperti pacta pembahasan balok sebelum ini (Bab 5), kita asumsikan bahwa bidang X)' adalah bidang simetri dan bahwa bidang xz adalah bidang netral balok. Namun, sumbu netral (sumbu z) tidak melalui pusat ber<lt penampang apabila balok terbuat dari dua bahan yang berbeda. Jika balok dilenturkan dengan kelengkungan positif, maka regangan £X akan bervariasi seperti terlihat dalam Gambar 6-3c, di mana EA adalah regangan tekan di atas balok (dinyatakan dengan huruf A), E8 adalah regangan tarik di bawah (dinyatakan dengan huruf B), dan Ec adalah regangan di pemmkaan kontak (dinyatakan dengan huruf C). Tegangan normal yang bekerja di penampang dapat diperoleh dari regangan dengan menggunakan hubungan tegangan-regangan untuk kedua bahan. Kita asumsikan bahwa kedua bahan berperilaku secara elastis linier sehingga hukum Hooke untuk tegangan uniaksial berlaku. Dengan demikian, tegangan di bahan diperoleh dengan mengalikan regangan dengan masing­ masing modulus elastisitas. Dengan menuliskan modulus elastisitas untuk bahan I dan 2 masing-masing sebagai £1 dan £2, dan juga mengasumsikan bahwa £2 > £1, maka kita peroleh diagram tegangan seperti terlihat dalam Gambar 6-3d. Tegangan tekan di atas dan bawah balok adalah O' A = E1 E A dan tegangan tarik di bawah adalah 0'8 = E2E8. Di permukaan kontak, tegangan di kedua bahan berbeda karena masing-masing modulusnya berbeda. Di bahan I tegangannya adalah 0'1 c = E 1 Ec dan di bahan 2 adalah 0'2c = E2Ec (:1) 1nl ( I: I
  • 355.
    3 ;l 2Bab 6 T egangan Di Balok (T opik Lanjut) Gambar 6-3 (a) Balok komposit dengan dua bahan, (b) penampang balok, (c) distribusi regangan Ex di seluruh tinggi balok, dan (d) distribusi tegangan CJ , di balok untuk kasus E, > £, 1' A E.4 CJA = EIEA � "';t-- L- 8 Es 0B = E2EB (b) (c) (d) Dengan menggunakan hukum Hooke ctan Persamaan (6-1), kita ctapat menyatakan tegangan normal pacta jarak y ctari sumbu netral ctalam kelengkungan: (6-2a,b) cti mana <Jx1 actalah tegangan cti bahan 1 ctan <Jt2actalah tegangan cti bahan 2. Dengan bantuan persamaan ini, kita ctapat menentukan lokasi sumbu netral ctan memperoleh hubungan momen-kelengkungan. • Sumbu Netral Posisi sumbu netral ctiperoleh ctari konctisi bahwa gaya aksial resultan cti penampang actalah nol (lihat Subbab 5.5); ctengan ctemikian, iax1dA + J2ax2dA = 0 cti mana ctipahami bahwa integral pertama ctievaluasi pacta seluruh luas penampang bahan 1 dan integral kectua ctievaluasi pacta seluruh luas penampang bahan 2. Dengan mengganti ax1 ctan ax2 cti ctalam persamaan sebelum ini ctengan rumusnya masing-masing ctari Persamaan (6-2a) ctan (6-2b), kita peroleh -iEl/()idA- LE2/()idA = 0 Karena konstan cti setiap penampang, maka kelengkungan tictak masuk ke ctalam integrasi ctan ctapat dihilangkan ctari persamaan cti atas; jacti, (6-3) Integral ctalam persamaan ini menyatakan momen pertama untuk kedua bagian luas penampang terhactap sumbu netral. (Seanctainya acta lebih ctari
  • 356.
    .-/t- . 0 f 1 II T , I Gambar 6-4Penampang simetri ganda Mekanika Bahan 343 dua bahan - suatu kondisi yang jarang terjadi - maka dibutuhkan tambahan­ tambahan suku dalam persamaan ini.) Persamaan (6-3) adalah bentuk umum dari persamaan analog untuk balok dengan satu bahan (Persamaan 5-8). Detail mengenai prosedur untuk menentukan lokasi sumbu netral dengan bantuan Persamaan (6-3) digambarkan dalam c�mtoh 6-1 . Jika penampang suatu balok adalah simetris ganda, seperti dalam kasus balok kayu dengan plat penguat baja di atas dan bawah (Gambar 6- 4), maka sumbu netral terletak di tengah-tinggi penampang dan Persamaan (6-3) tidak diperlukan. • Hubungan Momen-kelengkungan Hubungan momen-kelengkungan untuk balok komposit (Gambar 6-3) dapat ditentukan dari kondisi bahwa resultan momen dari tegangan lentur sama dengan momen lentur M yang bekerja di penampang. Dengan mengikuti langkah-langkah sama untuk balok dari satu bahan (lihat Persamaan 5-9 sampai 5-12), dan juga menggunakan Persamaan (6-2a) dan (6-2b), kita dapatkan M = -f�xydA = -lax1ydA - lax2ydA = IC£1 f/dA + IC£2 f/dA Persamaan ini dapat ditulis ulang dalam bentuk yang lebih sederhana (6-4) di mana 11 dan 12 adalah momen inersia terhadap sumbu netral (sumbu z) dari bagian penampang bahan 1 dan bahan 2. Perhatikan bahwa I = 11 + 12, di mana I adalah momen inersia seluruh daerah penampang di dekat sumbu netral. Sekarang Persamaan (6-4) dapat disesuaikan untuk mendapatkan kelengkungan yang dinyatakan dalam momen lentur: (6-5) Persamaan ini adalah hubungan momen-kelengkungan untuk balok dari dua bahan (bandingkan dengan Persamaan 5-1 2 untuk balok dengan satu bahan). Penyebut di sebelah kanan adalah ri�i<iih l'- i( ·ntw untuk balok komposit tersebut. • Tegangan Normal Tegangan normal (atau tegangan lentur) di balok tersebut diperoleh dengan memasukkan rumus untuk kelengkungan (Persamaan 6-5) ke dalam rumus untuk ax1 dan ax2 (Persamaan 6-2a) dan (6-2b); jadi, (6-6a,b)
  • 357.
    344 Bab 6T egangan Di Balok (T opik Lanjut) • f 0 ,, lt Gambar 6-5 Penampang balok sandwich yang mempunyai dua sumbu simetri (penampang sirnetris ganda) Rumus ini, dikenal dengan rumus lentur untuk balok komposit, memberikan tegangan normal di bahan 1 dan 2. Jika kedua bahan mempunyai modulus elastisitas sama (£1 = £2 = E), maka kedua persamaan akan menjadi rumus lentur untuk balok dengan satu bahan (Persamaan 5-1 3). Analisis balok komposit, dengan menggunakan Persamaan (6-3) sampai (6-6), digambarkan dalam Contoh 6-1 dan 6-2 di akhir subbab ini. • Teori Pendekatan untuk Lentur dan Balok Sandwich Balok sandwich yang mempunyai penampang simetris ganda dan terdiri atas dua bahan elastis linier (Gambar 6-5) dapat dianalisis untuk lentur dengan menggunakan Persamaan (6-5) dan (6-6), seperti diuraikan di atas. Namun, kita dapat juga mengembangkan teori pendekatan untuk lentur pacta balok sandwich dengan menggunakan beberapa asumsi penyederhana­ an. Jika bahan di daerah muka (bahan 1) mempunyai modulus elastisitas yang jauh lebih besar dibandingkan bahan inti (bahan 2), maka tegangan normal di inti dapat diabaikan dan dapat diasumsikan bahwa kedua muka menahan semua tegangan lentur longitudinal. Asumsi ini ekivalen dengan menyebutkan bahwa modulus elastisitas £2 di inti adalah no!. Pacta kondisi ini, rumus lentur untuk bahan 2 (Persamaan 6-6b) memberikan O"x2 = 0 (sebagaimana diharapkan), dan rumus lentur untuk bahan 1 (Persamaan 6- 6a) memberikan My (J'xl = -- · (6-7) /I yang lebih kecil daripada rumus lentur biasa (Persamaan 5-1 3). Besaran /1 adalah momen inersia kedua muka yang dievaluasi terhadap sumbu netral; jadi, (6-8) di mana b adalah lebar balok, h adalah tinggi total balok, dan he adalah tinggi iRti. Perhatikan bahwa h, = h - 2t, di mana t adalah tebal masing­ masing muka. Tegangan normal maksimum di balok sandwich terjadi di alas dan bawah penampang di mana y = h/2 dan y = -h/2. Jadi, dari Persamaan (6-7), kita peroleh Mh (J'bawah = - 2/1 (6-9a,b) Jika momen lentur M positif, maka muka atas ada dalam keadaan tekan dan muka bawah mengalami tarik. Jika kedua muka adalah tipis dibandingkan dengan tebal inti (yaitu jika t kecil dibandingkan dengan h), maka kita dapat mengabaikan tegangan geser di muka dan mengasumsikan bahwa inti memikul semua tegangan geser. Pacta kondisi ini, tegangan geser rata-rata dan regangan geser rata-rata di inti masing-masing adalah V V (J' - y - rata-rata - bh rata-rata - bh G (,' c c (6-lOa,b) di mana V adalah gaya geser yang bekerja di penampang dan Gc adalah modulus elastisitas geser untuk bahan inti. (Meskipun tegangan geser maksimum dan regangan geser maksimum lebih besar daripada harga rata-ratanya, harga rata-rata sering digunakan di dalam desain.)
  • 358.
    1. ;{1 u II : f� : .., . <> I" Gambar 6-6 Balok beton hertulang dengan batang tulangan utama dan sengkang vertikal , , A I ��� l 6 111. c Mekanika Bahan 345 • Pembatasan Di dalam seluruh pembahasan di atas mengenai balok komposit, kita berasumsi bahwa kedua bahan mengikuti hukum Hooke dan bahwa kedua bagian balok telah secara memadai dilekatkan satu sama lain sehingga dapat beraksi sebagai kesatuan utuh. Jadi, analisis kita sangatlah diidealisasikan dan hanya merepresentasikan langkah awal dalam memahami perilaku balok komposit dan bahan komposit. Metode-metode untuk mempelajari bahan nonhomogen dan nonlinier, tegangan ikat antara bagian-bagiannya, tegangan geser pada penampang, tekuk pada muka, dan hal-hal lain dibahas dalam buku-buku referensi yang berkaitan dengan konstruksi komposit. Balok beton bertulang adalah salah satu jenis konstruksi komposit yang paling kompleks (Gambar 6-6), dan perilakunya sangat berbeda dengan balok komposit yang dibahas dalam subbab ini. Seton adalah bahan yang kuat terhadap tekan tetapi sangat lemah terhadap tarik. Akibatnya, kekuatan tariknya biasanya diabaikan sama sekali. Pada kondisi tersebut, rumus-rumus yang diberikan dalam subbab ini tidak berlaku. Selain itu, balok beton bertulang tidak didesain berdasarkan perilaku elastis linier, melainkan dengan metode desain yang lebih realistis (berdasarkan atas kapasitas pikul beban, bukan tegangan izin). Karena desain beton bertulang merupakan hal yang sangat khusus, maka kita tidak membahasnya di sini. • Contoh 6-1 Sebuah ba1ok komposit (Gambar 6-7) dibuat dari balok kayu (dimensi aktua1 4,0 in. x 6,0 in.) dan plat penguat baja (lebar 4,0 in. dan 1ebar 0,5 in.). Kayu dan baja tersebut dihubungkan dengan baik sehingga dapat beraksi sebagai balok tunggal. Balok ini mengalami momen lentur positif M = 60 k-in. Hitung1ah tegangan tarik dan tekan terbesar di kayu ini (bahan 1 ) dan tegangan maksimum dan mini­ mum di baja (bahan 2) jika £1 = 1 500 ksi dan £2 = 30.000 ksi. Solusi 1'·,1l-j 05 in Sumbu netral. Langkah pertama da1am analisis adalah menentukan lokasi sumbu netral penampang ini. Untuk itu, kita tuliskan jarak dari sumbu netral ke atas dan bawah balok masing-masing sebagai h1 dan h2. Untuk mendapatkan jarak-jarak ini, kita gunakan Persamaan (6-3). Integral di dalam persamaan tersebut dievaluasi dengan mengambil momen penama dari area 1 dan 2 terhadap sumbu z sebagai berikut: . , B ' � '-o-- � m "1 Gambar 6-7 Contoh 6- 1 . Balok komposit antara kayu dan baja iydA = y1A1 = (h1 - 3 in.)(4 in. x 6 in.) = (h1 - 3 in.)(24 in.2) f! dA = )i2A2 = -(6.25 in. - h 1)(4 in. x 0,5 in.) = (h1 - 6,25 in.)(2 in.2) di mana A1 dan A2 adalah luas bagian 1 dan 2 dari penampang, y1 dan y2 adalah koordinat v masing-masing pusat berat bagian tersebut, dan h1 mempunyai satuan inci. Dengan memasukkan rumus-rumus di atas ke dalam Persamaan (6-3), kita peroleh Persamaan untuk menentukan lokasi sumbu netral, scbagai berikut: E, iydA + E2 LydA = 0 Atau ( 1 500 ksi)(h1 - 3 in.)(24 in.2) + (30.000 ksi)(h1 - 6,25 in.)(2 in.2) = 0 Dengan memecahkan persamaan ini, kita peroleh jarak h1 dari sumbu netra1 ke atas balok:
  • 359.
    346 Bab 6T egangan Di Balok (T opik Lanjut) h1 = 5,031 in. Juga, jarak h2 dari sumbu netral ke bawah balok adalah h2 = 6,5 in. - h1 = 1 ,469 in. Jadi, posisi sumbu netral telah ditentukan. Momen inersia. Momen inersia /1 dan !2 untuk area A1 dan A2 terhadap sumbu netral dapat diperoleh dengan menggunakan teorema sumbu sejajar (lihat Subbab 12.5 dalam Bab 12). Untuk area l (Gambar 6-7), kita dapatkan I /1 = ]2(4 in.)(6 in.)3 + (4 in.)(6 in.)(h1 - 3 in.i = 1 7 1 ,0 in.4 Dengan cara sama, untuk area 2 kita peroleh 12 = 1�(4 in.)(O,S in.)3 + (4 in.)(0,5 in.)(h2 - 0,25 in.)2 = 3,01 in.4 Untuk mengecek kondisi ini, kita dapat menentukan momen inersia I untuk keseluruhan luas penampang terhadap sumbu z sebagai berikut: I = .!.c4 in.)h� + .!.c4 in.)fli = 1 69,8 + 4,2 = 174,0 in 4 3 3 yang cocok dengan jumlah /1 dan /2. Tegangan normal. Tegangan di bahan 1 dan 2 dihitung dari rumus lentur untuk balok komposit �Persamaan 6-6a dan b). Tegangan tekan terbesar di bahan I terjadi di atas balok (A) di mana y = h1 = 5,031 in. Dengan menuliskan tegangan ini sebagai alA' dan dengan menggunakan Persamaan (6-6a), kita dapatkan E, IJ + £2/2 (60 k-in.)(5,031 in.)(l500 ksi) = -1 3 1 0 si .. (1500 ksi)(l 7 l ,O in.4) + (30.000 ksi)(3,01 in.4 p Tegangan tarik terbesar di bahan I terjadi di bidang kontak antara kedua bahan (C) di mana y = -(h2 - 0,5 in.) = -0,969 in. Dengan melakukan perhitungan yang serupa dengan di atas, kita peroleh (60 k -in. )(-0.969 in. )( 1 500 k:i ) = 25 1 si ( nKl ki )( l 7 1 .0 m. 4 l + (30.000 k�i)f 3.0 1 in.J ) P Jadi, kita telah mendapatkan tegangan tarik dan tekan terbesar di kayu ini. Plat baja (bahan 2) terletak di bawah sumbu netral, sehingga seluruhnya mengalami tarik. Tegangan tarik maksimum terjadi di bawah balok (B) di mana y = -h2 = -1,469 in. Jadi, dari Persamaan (6-6b) kita peroleh M(-h2 )E2 EI /I + £2!2 _ _ _, (_ 60 _ k _ -i _ n-'- .)( -'- - --: li- ,4 _ 6� 9- in _. .) '"" (3 _ 0 _ .o _ o _ O _ k _ s-'- i)_ --,- = 7620 psi (1500 ksi)(l71,0 in.4 ) + (30.000 ksi)(3,01 in 4) Tegangan tarik minimum di bahan 2 terjadi di bidang kontak (C) di mana y = - 0,969 in. Jadi (60 k-in.)( .969 1 11.)(30.000 J...si) 5030 · . , . 4 = _ pSI ( 1 500 J...si)( 1 7 1 .0 in. 1 ) (30.000 J...sJ )( ,, ,O J i n . l Tegangan ini adalah tegangan maksimum dan minimum di baja. Catatan: Di bidang kontak rasio tegangan di baja terhadap tegangan di kayu adalah
  • 360.
    a2c = 5030 psi = 20 a1c25 1 psi Mekanika Bahan 347 yang sama dengan rasio Ei£1 antara masing-masing modulus elastisitas, sebagaimana diharapkan. Meskipun regangan di baja dan kayu sama di bidang kontak, tegangannya berbeda karena berbedanya modulus elastisitas. • Contoh 6-2 : � - - -' O !l�� 1. b = 200 mm .I " = I SO mm h= 160mm i t = mm Gambar 6-8 Contoh 6-2. Penampang balok sandwich yang mempunyai muka paduan alumunium dan inti plastik Sebuah balok sandwich yang mempunyai muka aluminium dan inti plastik (Gambar 6-8) mengalami momen lentur M = 3,0 kN.m. Tebal muka tersebut adalah t = 5 mm dan modulus elastisitas adalah £1 = 72 GPa. Tinggi inti plastik adalah he = 150 mm dan modulus elastisitasnya adalah £2 = 800 MPa. Dimensi total balok ini adalah h = 160 mm dan b = 200 mm. Tentukan tegangan tank dan tekan maksimum di muka dan inti dengan menggunakan: (a) teori umum untuk balok komposit, dan (b) teori pendekatan untuk balok sandwich. Solusi Sumbu netral. Karena penampang ini simetris ganda, maka sumbu netral terletak di tengah-tinggi (lihat sumbu z di Gambar 6-8). Momen inersia. Momen inersia /1 untuk muka aluminium adalah !1 = ..!!_(h3 - h 3 ) = 200 mm [(160 mm)3 - (150 mm)3] = 12,017 x 1 06 mm4 1 2 ' 12 dan momen inersia /2 inti plastik adalah ! 2 = ..!!_(h:) = 200 mm (150 mm)3 = 56,250 x 106 mm4 12 12 (a) Tegangan normal yang dihitung dari teori umum untuk balok komposit. Untuk menghitung tegangan ini, kita gunakan Persamaan (6-6a dan b). Sebagai catatan awal, kita akan mengevaluasi suku-suku di pembilang dalam persamaan­ persamaan tersebut (yaitu, rigiditas lentur balok komposit): EJ1 + Ei2 = (72 GPa)(l 2,01 7 X 1 06 mm4) + (800 MPa)(56,250 x 106 mm4) = 91 0.200 N·m2 Tegangan tarik dan tekan maksimum di muka aluminium diperoleh dari Persamaan (6-6a): = + M(h/2)(£1 ) - Et/t + £2 /2 _ + (3,0 kM·m)(80 mm)(72 GPa) - - 910.200 N·m2 = ±19,0 MPa Besaran terkait untuk inti plastik (dari Persamaan 6-6b) adalah = + M(hJ2)(£2 ) £] /] + £2/2 = + (3,0 kM·m)(75 mm)(800 GPa) 910.200 N·m2 = ±0,198 MPa .. .. Tegangan maksimum di muka aluminium adalah 96 kali lebih besar daripada te­ gangan maksimum di inti. lni tidak mengherankan, mengingat bahwa modulus elastisitas aluminium adalah sekitar 90 kali lebih besar daripada modulus elastisitas plastik. (b) T egangan normal yang dihitung dari rumus pendekatan untuk balok sandwich. Di dalam teori pendekatan, kita mengabaikan tegangan normal di inti dan mengasumsikan bahwa muka memikul keseluruhan momen lentur. Dengan demikian, tegangan tarik dan tekan maksimum di muka dapat diperoleh dari Persamaan (6-7), sebagai berikut:
  • 361.
    r 348 Bab 6T egangan Di Balok (Topik Lanjut) 6.3 1 (b) Gambar 6-9 Balok komposit dengan dua bahan: (a) penampang aktual, dan (b) penampang tertransformasi yang mcngandung hanya bahan I = + My = + M(//2) - /1 - /1 = +(3,0 kM·m)(80 mm) 1 2,017 x 106 mm4 = ±20,0 MPa .. Sebagaimana diharapkan, teori ini konservatif dan memberikan tegangan yang sedikit lebih besar di muka aluminium daripada yang dihitung dengan teori umum untuk balok komposit. METODE PENAMPANG TERTRANSFORMASI Metode penampang tertransformasi adalah prosedur alternatif untuk menganalisis tegangan lentur pada balok komposit. Metode ini didasarkan atas teori dan persamaan yang telah dikembangkan dalam subbab sebelum ini sehingga mempunyai pembatasan yang sama (misalnya, hanya berlaku untuk bahan elastis linier) dan memberikan hasil sama. Meskipun metode penampang tertransformasi tidak mengurangi langkah-langkah perhitungan, banyak perencana yang menganggap bahwa metode ini memberikan cara mudah untuk memvisualisasikan dan mengorganisasikan perhitungan. Metode ini terdiri atas transformasi penampang suatu balok komposit menjadi penampang ekivalen balok imajiner yang terdiri atas hanya satu bahan. Penampang baru ini disebut penampang tertransformasi . Selanjutnya, balok imajiner dengan penampang tertransformasi dianalisis dengan cara biasa untuk balok dengan satu bahan. Sebagai langkah akhir, tegangan di balok tertransformasi diubah menjadi tegangan di balok semula. Jika balok tertransformasi harus ekivalen dengan balok semula, maka sumbu netralnya harus terletakdi lokasiyang sama dan kapasitas tahanan momennya harus sama. Untuk membuktikan bagaimana kedua persyaratan ini dipenuhi, tinjau kembali balok komposit yang terdiri atas dua bahan (Gambar 6-9a). Sumbu netral penampang diperoleh dari Persamaan (6- 3), yang ditulis ulang di sini: EliydA + E2I!dA = 0 (6- 1 1) Di dalam persamaan ini, integralnya menunjukkan momen pertama dari kedua bagian penampang terhadap sumbu netral. Sekarang kita gunakan notasi (6-12) di mana n adalah rasio modular. Dengan menggunakan notasi ini, kita dapat menulis ulang Persamaan (6-1 1) dalam bentuk f ? dA + f i n dA = 0 (6-13) Karena Persamaan (6- l l ) dan (6-1 3) ekivalen, maka persamaan di atas membuktikan bahwa sumbu netral tidak berubah jika setiap elemen luas dA di bahan 2 dikalikan dengan faktor n, asalkan koordinat y untuk setiap e1emen luas tidak berubah. Dengan demikian, kita dapat membuat penampang baru yang terdiri atas dua bagian: ( I ) area 1 dengan dimensi
  • 362.
    Mekanika Bahan 349 takdiubah, dan (2) area 2 dengan lebamya (yaitu, dimensi sejajar sumbu netral) dikalikan dengan n. Penampang baru ini (penampang teitransfor­ masi) ditunjukkan dalam Gambar 6-9b untuk kasus di mana E2 > E1 (sehingga n > 1). Sumbu netralnya berada pada posisi yang sama dengan sumbu netral di balok semula. (Perhatikan bahwa semua dimensi yang tegak lurus sumbu netral tetap sama.) Karena tegangan di bahan (untuk regangan yang diketahui) sebanding dengan modulus elastisitas (er = E£), kita lihat bahwa mengalikan lebar bahan 2 dengan n = EiE1 sama saja dengan mentransformasikannya menjadi bahan 1 . Sebagai contoh, anggap n = 10. Karena itu area bagian 2 dari penampang sekarang adalah 10 kali lebih lebar daripada sebelumnya. Jika kita bayangkan bahwa bagian balok ini sekarang adalah bahan 1, maka kita lihat bahwa ia akan memikul gaya sama dengan sebe1umnya karena modulus elastisitas berkurang dengan faktor sebesar 10 (dari E2 ke £1) pada saat yang sama area tersebut diperbesar dengan faktor 10. Jadi, penampang baru (penampang tertransformasi) hanya terdiri atas bahan I. Hubungan momen-kelengkungan untuk balok tertransformasi harus sama dengan hubungan untuk balok semula. Untuk membuktikan bahwa ini memang demikian, kita perhatikan bahwa tegangan di balok tertransfor­ masi (karena balok ini hanya terdiri atas bahan 1) dinyatakan dengan Persamaan (5-7) dalam Subbab 5.5: Dengan menggunakan persamaan ini, dan juga dengan mengikuti prosedur sama seperti untuk balok dengan satu bahan (lihat Subbab 5.5), kita dapat memperoleh hubungan momen-kelengkungan untuk balok tertransformasi: M = -J�·-" cL4. = - J1cr,y dA - J2cr..y dA = £1K"l_/dA + £1 K"lr!dA = 1C(E1 !1 + E2n/2 ) atau (6-14) Persamaan m 1 sama dengan Persamaan (6-4), sehingga terbukti bahwa hubungan momen-kelengkungan untuk balok tertransformasi sama dengan untuk balok semula. Karena balok tertransformasi hanya terdiri atas satu bahan, maka tegangan lentur dapat diperoleh dari rumus lentur standar (Persamaan 5- 13). Jadi, tegangan normal di balok yang tertransformasi menjadi bahan 1 (Gambar 6-9b) adalah (6-15) di mana I r adalah momen inersia penampang tertransformasi terhadap sumbu netral. Dengan memasukkannya ke dalam persamaan ini, kita dapat menghitung tegangan di setiap titik dari balok tertransformasi. (Sebagaimana diterangkan di bawah ini, tegangan di balok tertransformasi sama dengan tegangan di balok semula pada bagian balok semula yang
  • 363.
    3 50 Bab6 T egangan Di Balok (T opik Lanjut) terdiri atas bahan 1 ; namun, di bagian balok semula yang mengandung bahan 2, tegangannya berbeda dengan tegangan di balok tertransformasi.) Kita dapat dengan mudah membuktikan kebenaran Persamaan (6-15) dengan memperhatikan bahwa momen inersia penampang tertransformasi (Gambar 6-9b) berkaitan dengan momen inersia penampang semula (Gambar 6-9a) dengan hubungan berikut: (6-16) Dengan mensubstitusikan persamaan untuk ITke dalam Persamaan (6-1 5) kita peroleh (a) yang sama dengan Persamaan (6-6a), sehingga terbukti bahwa tegangan di bahan l di balok semula sama dengan tegangan di bagian sama pacta balok tertransformasi. Sebagaimana disebutkan di atas, tegangan di bahan 2 pacta balok semula tidak sama dengan tegangan di bagian yang sama pacta balok tertransformasi. Tegangan di balok tertransformasi (Persamaan 6-15) harus dikalikan dengan rasio modular n untuk mendapatkan tegangan di bahan 2 pacta balok semula: Mv O"x2 = - - - ll Ir (6-17) Kita dapat menyelidiki kebenaran rumus ini dengan memperhatikan bahwa apabila Persamaan (6-16) untuk IT disubstitusikan ke dalam Persamaan (6-17), kita dapatkan (b) yang sama dengan Persamaan (6-6b). Di dalam pembahasan metode penampang tertransformasi kita telah memilih untuk mentransformasikan balok semula menjadi balok imajiner yang hanya terdiri atas bahan 1 . Kita dapat saja memilih untuk mentransformasikan menjadi balok dengan bahan 2. Dalam hal ini, tegangan di balok semula di bahan 2 akan sama dengan tegangan di bagian sama pacta balok tertransformasi. Sedangkan tegangan di bahan 1 pacta balok semula harus dihitung dengan mengalikan tegangan di bagian sama pacta balok tertransformasi dengan rasio modular n, yang dalam hal ini didefinisikan sebagai n = E/E2. Adalah suatu hal yang mungkin untuk mentransformasikan balok semula menjadi bahan dengan modulus elastisitas sembarang E, di mana semua bagian balok harus ditransformasikan menjadi bahan fiktif. Tentu saja, perhitungannya akan lebih sederhana jika kita mentransformasikan ke salah satu dari bahan semula. Akhimya, dengan sedikit usaha kita dapatmemperluas metode penampang tertransformasi untuk balok komposit yang terdiri atas lebih dari dua bahan.
  • 364.
    Gambar 6-1 0Contoh 6-3. Balok komposit pada Contoh 6- I dianalisis dengan metode penampang tertransformasi: (a) balok semula, dan (b) penampang tertransformasi (bahan I ) Mekanika Bahan 351 • Contoh 6-3 Sebuah balok komposit yang terlihat dalam Gambar 6-1 Oa dibentuk dari balok kayu (dimensi aktual 4,0 in. x 6,0 in.) dan plat penguat baja (lebar 4,0 in. dan tebal 0,5 in.). Balok ini mengalami momen lentur positif M = 60 k-in. Dengan menggunakan metode penampang tertransformasi, hitunglah tegangan tarik dan tekan terbesar di kayu tersebut (bahan 1) dan tegangan maksimum dan minimum di baja (bahan 2) jika £1 = 1500 ksi dan £2 = 30.000 ksi. (Catatan: Ini adalah balok yang sama dengan yang telah dianalisis sebelum ini di dalam Contoh 6-1 Subbab 6.2.) IT' ." ,I� I _. in. I .-- - A • 1- ........ ---r -:- J " I ./ 6 111. hi 6 m. ' 1 ' 0 . h ' :.r..._ • 0.5 In• "� i 0 (' t I. 80 in. H..l 1 ), i',-j:. • 4 tn. 18 0 � . .. Ill. ' 1) (a) (b) Solusi Penampang tertransformasi. Kita akan mentransfonnasikan balok semula menjadi balok dari bahan 1, yang berarti bahwa rasio modular didefinisikan sebagai n = £2 = 30.000 ksi = 20 £1 1 500 ksi Bagian balok yang terbuat dari kayu (bahan I ) tidak diubah tetapi bagian yang terbuat dari baja (bahan 2) mempunyai lebar yang dikalikan dengan rasio modular. Jadi, lebar bagian balok ini menjadi n(4 in.) = 20(4 in.) = 80 in. di dalam penampang tertransformasi (Gambar 6-1 Ob). Sumbu netral. Karena balok tertransformasi terdiri atas hanya satu bahan, maka sumbu netral melewati pusat berat penampang. Dengan demikian, dengan mengambil tepi atas penampang sebagai garis referensi, dan dengan jarak Y; diukur positif ke bawah, kita dapat menghitung jarak h1 ke pusat berat sebagai berikut: (3 in.)(4 in.)(6 in.) + (6,25 in.)( RO in.)(0.5 in. ) (4 in.)(6 in.) + (80 in.(0.5 in. ) 322,0 in. 3 = 5 031 . 3 ' 111. 64,0 in. Juga, jarak h2 dari tepi bawah penampang ke pusat berat adalah h2 = 6,5 in. - h 1 = 1 ,469 in. Jadi, lokasi sumbu netral telah ditentukan. Momen inersia penampang tertransformasi. Dengan menggunakan teorema sumbu·sejajar (lihat Subbab 1 2.5 pada Bab 12), kita dapat menghitung momen inersia lr untuk keseluruhan penampang terhadap sumbu netral sebagai berikut:
  • 365.
    352 Bab 6T egangan Di Balok (T opik Lanjut) : 1 1 rr.. r(, Gambar 6-11 Balok dengan beban lateral yang bekerja di bidang simetri IT = 1 � (4 in.)(6 in.)3 + (4 in.)(6 in.)(h1 - 3 in.)2 + _!__(80 in.)(0,5 in.)3 + (80 in.)(0,5 in.)(h2 - 0,25 in} 1 2 = 1 7 1 ,0 in 4 + 60,3 in.4 = 231 ,3 in.4 Tegangan normal di kavu (hahan 1). Tegangan di balok tertransformasi (Gambar 6- I Ob) di atas penampang (A) dan di bidang kontak antara kedua bagian (C) sama dengan yang ada di balok semula (Gambar 6-1 Oa). Tegangan ini dapat dihitung dari rumus entur (Persamaan 6-1 5), sebagai berikut: My (60 k-in.)(5,03 1 in.) 1 31 0 . = - - = = - pSi IT 23 1 ,3 in.4 _ My = _ (60 1--in.)( U.96l) 1 11. ) = 251 psi IT 2J 1 .3 in.1 lni adalah tegangan tarik dan tekan terbesar di kayu (bahan I ) di ba1ok semu1a. Tegangan cr1A adalah tekan dan tegangan cr1c adalah tarik. Teganga11 normal di haja. (bahan 2). Tegangan maksimum dan minimum di p1at baja diperoleh dengan mengalikan tegangan yang bersangkutan di balok tertransformasi dengan rasio modular n (Persamaan 6- 1 7). Tegangan maksimum terjadi di tepi bawah penampang (B) dan tegangan minimum terjadi di bidang kontak (C). My = --n = IT Mv = - - · n = IT (60 k-in.)(-1 ,469 in.) (20) = 7620 psi 23 1 .3 in.4 (60 k-in.)(-0,9 4 69 in.) (20) = 5030 psi 23 1 ,3 in. Kedua tegangan ini adalah tarik. Perhatikan bahwa tegangan yang dihitung dengan metode penampang tertransformasi cocok dengan yang diperoleh pada Contoh 6- 1 dengan penerapan angsung rumus balok komposit. BALOK SIMETRIS GANDA DENGAN BEBAN MIRING Di ctalam pembahasan sebelum ini mengenai lentur, kita meninjau balok yang memiliki bictang simetri longitudinal (bictang xy ctalam Gambar 6- 1 1 ) ctan memikul beban lateral yang bekerja pacta bidang tersebut. Pacta konctisi tersebut, tegangan lentur dapat diperoleh dari rumus lentur (Persamaan 5-13) asalkan bahannya bersifat homogen ctan elastis linier. Di dalam subbab ini, kita akan memperluas ide tersebut ctan meninjau apa yang terjacti apabila balok mengalami beban yang tidak beraksi pacta bictang simetri, yaitu beban miring (Gambar 6-12). Kita akan membatasi pembahasan cti sini pactabalok yang mempunyai penampang simetris gancta, yaitu bictang xy dan xz adalah bidang simetri. Juga, beban miring harus bekerja melalui pusat berat penampang untuk menghinctari terpuntirnya balok terhadap sumbu longitudinal. Kita akan menentukan tegangan lentur di balok yang terlihat dalam Gambar 6-1 2 dengan menguraikan beban miring menjadi ctua komponen, masing-masing bekerja pacta bidang simetri. Karena itu, tegangan lentur dapat dihitung dari rumus lentur untuk setiap komponen beban yang bekerja secara terpisah, dan tegangan akhir dapat diperoleh dengan superposisi masing-masing tegangan.
  • 366.
    Mekanika Bahan 353 •Perjanjian Tanda untuk Momen Lentur Sebagai ha! awal, kita akan menetapkan perjanjian tanda untuk momen lentur yang bekerja di penampang suatu balok.* Untuk itu. kita potong balok tersebut dan kita tinjau sehuah penampang yang khas (Gambar 6- 1 3). Momen lentur M,. dan M: yang bekerja terhadap sumbu y dan z dinyatakan sebagai vektor dengan menggunakan panah berkepala ganda. Momen adalah positif jika vektomya searah dengan arah positif sumbu yang bersangkutan, dan aturan tangan kanan untuk vektor memberikan arah rotasinya (ditunjukkan dengan panah lengkung di dalam gambar). Jadi, momen lentur positif M, menghasilkan tekan di sisi kanan ba1ok (sisi z negatif) dan tarik di sisi kiri (sisi z positifJ. Begitu pula, momen positif Gambar 6-1 2 B�lok simetris M_ menghasilkan tekan di bagian atas balok (di mana y adalah positif) dan g�ndil dengan bebiln miring ta;ik di bagian bawah (di mana y adalah negatif). Juga, perlu diingat bahwa momen 1entur yang terlihat dalam Gambar 6- 13 bekerja pada muka x positif dari segmen balok, yaitu, di muka yang mempunyai normal ke luar arah positif sumbu x. I ' • Tegangan Lentur Gambar 6-1 3 Pcrjanjian tanda untuk momen lentur M, dan M. Gambar 6-1 4 Penampang b�lok yang mengalami momen lentur M, dan M. Tegangan normal yang berkaitan dengan momen lentur M'" dan M: yang bekerja secara terpisah diperoleh dari rumus lentur (Persamaan 5- 1 3). Tegangan ini digabungkan untuk menghasilkan tegangan yang dihasilkan oleh kedua momen yang bekerja secara simu1tan. Sebagai contoh, tinjaulah tegangan di sebuah titik pada penampang yang mempunyai koordinat positif y dan z (titik A dalam Gambar 6- 14). Momen positif My menimbulkan tarik di titik tersebut dan momen positif M: menyebahkan tekan; jadi, tegangan normal di titik A ada1ah M,z _ Mzy I'" '- (6- 1 8) di mana I, dan /: ada1ah momen inersia penampang terhadap sumbu y dan z. Dengan menggunakan persamaan tersebut kita dapat mencari tegangan normal di sembarang titik pada penampang dengan memasukkan harga­ harga aljabar dengan benar. • Sumbu Netral 11 Persamaan sumhu netral dapat ditentukan dengan menyamakan tegangan normal 0", (Persamaan 6- 1 8) dengan no]: M,. M_ - · -z - - · v 1,. [_ . 0 (6- 19) Persamaan ini menunjukkan bahwa sumbu netral 1111 adalah garis lurus yang melewati pusat berat C (Gambar 6- 14). Sudut f3 antara sumbu netral dan sumbu z ditentukan sebagai berikut: , 1 ,d1 IC�dll�.lll lhll l l ltil J.111 1_-!l'�l'l d1 "ua1u h.llnk. ht<l,,tll}<l -.,ud�th jcl.t-.. dcngtlll lllL'Il lll l.lll h.d,�� d.tll j1L 'Illhch�IIWil ll)�l -..r h 1 ng;;c1 k l l�l '>L'I I Il�!k.all dtq1dl llll'nglutu n.� IL'g<tng:lll Llcn�an lllL'Il�:lhaih:.lll pc1 i<�n ji.l n l.lnlLI �..bn h,m ,1 lllL il��url.l � . lll hdl �.l lllut b h. n , ,t ' dlllllll �1 1 1 .1111 lllL'Illll llll�,lll ru llHI'- U ll1lllll l- 1 u pl' l l u llll'l1.�.!..'lllltil-.ll1 f'l'l l:lll l l < � ll landti lllllllh. llll 'll, � h i ndtl l l h.l·hin.�llll.�.lll lLd:llll llll'll�!-'ll lltlk.;ul rl'L'-.IIll.I:Hl
  • 367.
    3 5 �Bab 6 T egangan Di Balok (T opik Lanjut) ,. (il) : (b) Gambar 6-1 5 Balok simetris ganda dengan beban miring P yang bekerja pada sudut 8 terhadap sumbu y positif (6-20) Bergantung pada besar dan arah momen lentur, sudut {3 dapat bervariasi ctari -90° sampai +90°. Dengan mengetahui orientasi sumbu netral kita ctapat menentukan titik-titik di penampang cti mana tegangan normalnya terbesar. (Karena tegangan bervariasi secara linier terhactapjarak ctari sumbu rietral, maka tegangan maksimum terjacti cti titik yang terletak paling jauh ctari sumbu netral.) • Hubungan antara Sumbu Netral dan Kem iringan Beban Sebagaimana baru saja kita lihat, orientasi sumbu netral terhactap sumbu z ctitentukan ctengan momen lentur ctan momen inersia (Persamaan 6-20). Sekarang kita ingin menentukan orientasi sumbu netral relatif terhactap sudut kemiringan beban yang bekerja cti balok. Untuk itu, kita akan menggunakan balok kantilever yang terlihat ctalam Gambar 6-lSa sebagai contoh. Balok ini ctibebani oleh gaya P yang bekerja cti bidang penampang ujung ctan miring ctengan sudut e terhactap sumbu y positif. Orientasi khusus beban ini ctipilih karena ini berarti bahwa kectua momen lentur (Mv ctan Mz) actalah positif apabila e cti antara 0 ctan 90°. . 11 Beban P ctapat ctiuraikan menjacti komponen P cos 8 ctalam arah y positif ctan P sin e ctalam arah z negatif. Dengan ctemikian, momen lentur M" ctan Mz (Gambar 6-lSb) yang bekerja pacta penampang yang terletak pacta jarak x ctari tumpuan jepit actalah M Y = (P sin 8)(L - x) Mz = (P cos 8)(L - x) (6-2la,b) cti mana L actalah panjang balok. Rasio antara kectua momen ini actalah M" - · = tan e M_ (6-22) yang menunjukkan bahwa vektor momen resultan M acta cti suctut e ctengan sumbu z (Gambar 6-15b). Karena itu, momen resultan terjacti berarah tegak lurus bictang longitudinal yang menganctung gaya P. Suctut {3 antara sumbu netral nn dan sumbu z (Gambar 6-15b) ctiperoleh ctari Persamaan (6-20): MJ. I tan {3 = -- ' = ...L tan e M2/Y IY (6-23) yang menunjukkan bahwa suctut {3 pacta umumnya tidak sama ctengan suctut e. Jacti, kecuali pada kasus-kasus khusus, sumbu netral tidak tegak lurus bidang longitudinal yang mengandung beban. Pengecualian ctari aturan umum ini terjadi pacta tiga kasus khusus: ( I ) Apabila beban terletak cti bictang xy (e = 0 atau 1 80°), yang berarti bahwa sumbu z actalah sumbu netral. (2) Apabila beban terletak cti bictang xz ce = ±90°), yang berarti bahwa sumbu y adalah sumbu netral. (3) Apabila momen inersia utama sama, yaitu apabila /" = lz. Dalam hal ini, semua sumbu yang melalui pusat berat actalah sumbu · utan1a dan semuanya mempunyai momen inersia sama. Bidang pembebanan, tictak pectuli ke mana pun arahnya, selalu merupakan bictang utama, dan sumbu netral selalu tegak lurus pactanya. (Situasi ini terjacti pacta penampang
  • 368.
    Pemnup (a) Gambar 6-1 6Contoh 6-4. Balok kayu dengan penampang persegi panjang yang berfungsi sebagai gording Mekanika Bahan 355 bujursangkar, lingkaran, dan penampang tertentu lainnya, sebagaimana diuraikan dalam Subbab 12.9 Bab 12.) Fakta bahwa sumbu netral tidak selalu tegak lurus bidang beban dapat sangat mempengaruhi tegangan di balok, khususnyajika rasio antara kedua momen inersia utama sangat besar. Pada kondisi ini tegangan di balok sangat sensitif terhadap perubahan kecil pada arah beban dan ketidakteraturan pada kelurusan balok itu sendiri. Karakteristik balok seperti ini digambarkan dalam Contoh 6-5. Contoh 6·4 Sebuah balok kayu AB dengan penampang persegi panjang berfungsi sebagai gording atap (Gambar 6-16a dan b) ditumpu sederhana oleh batang-batang tepi atas dari dua rangka batang yang berdekatan. Balok tersebut memikul herat penutup atap dan bahan-bahan atap lainnya, ditambah beratnya sendiri dan beban tambahan yang mempengaruhi atap (misalnya beban angin, salju, dan gempa). Dalam contoh ini, kita hanya akan meninjau pengaruh beban terdistribusi terbagi rata q = 3,0 kN/ m yang bekerja di arali vertikal melalui pusat berat penampang (Gambar 6-1 6c). Beban tersebut bekerja di seluruh panjang balok dan termasuk berat balok. Batang atas dari rangka batang mempunyai kemiringan I banding 2 (a = 26,57°), dan balok mempunyai lebar b = 1 00 mm, tinggi h = 150 mm, dan bentang L = I ,6 m. Tentukan tegangan tarik dan tekan maksimum di balok ini dan tentukan lokasi sumbu netral. (h) (c) Solusi _Lj i 2 �u = 26.57° Beban dan momen lentur. Beban terbagi rata q yang bekerja di arah vertikal dapat diuraikan menjadi dua komponen daam arah y dan z (Gambar 6-1 7a): qY = q cos a q, = q sin a (6-24a,b) Momen lentur maksimum terjadi di titik tengah balok dan diperoleh dari rumus umum M = qL2/8; jadi, 2 M = q, L ' 8 qL 2 sin a 8 L2 2 M = !!..::...__ = qL cos a l 8 8 (6-25a,b) Kedua momen ini positif karena vektornya ada di arah positif sumbu y dan z (Gambar 6- 1 7b). Momen inersia. Momen inersia penampang terhadap sumbu y dan z adalah hb3 hh' 1 = - I = - (6-26a,b) I 1 2 z 12 T efi£mgan lentur. Tegangan di potongan tengah balok diperoleh dari Persamaan (6- 1 8) dengan momen lentur yang dihitung dari Persamaan (6-25) dan momen inersia dihitung dari Persamaan (6-26):
  • 369.
    356 Bab 6Tegangan Di Balok (T opik Lanjut) Gambar 6-1 7 Solusi untuk Conloh 6-4 (a) Komponen dari beban terbagi rata, dan (b) momen lentur yang bekerja di penampang /J ' " . � A 11 ,,,, !b) M,z M.v ax = - ·- - � ·- · = 1, I, qe sin a qL2 cos a 8 hh311 2 z = 8 hb311 2 y (6-27) Tegangan di sembarang titik pada penampang dapat ditentukan dari persamaan ini dengan memasukkan koordinat y dan z titik tersebut. Dari orientasi penampang serta arah beban dan momen lentur (Gambar 6- 17), jelaslah bahwa tegangan tekan maksimum terjadi di titik D (di mana y = h/2 dan z = -b/2) dan tegangan tarik maksimum terjadi di titik E (di mana y = -h/2 dan z = b/2). Dengan memasukkan koordinal ini ke dalam Persamaan (6-27) dan menyederhanakannya, maka kita peroleh rumus-rumus untuk tegangan maksimum dan minimum di balok tersebut: _ _ 3qL 2 (sin a cos a ) CJE - -CJo - 4bh - h - + - h - (6-28) .. Harga-harga numerik. Tegangan tarik dan tekan maksimum dapat dihitung dari persamaan di atas dengan memasukkan data yang diketahui: q = 3,0 kN/m L = I ,6 m b = 1 00 mm h = 1 50 mm a = 26,57° Hasilnya adalah .. Sumhu netral. Selain mencari tegangan di balok, seringkali sumbu netral perlu dicari lokasinya. Persamaan garis diperoleh dengan menetapkan tegangan (Persamaan 6-27) sama dengan nol: si�2 a z - c�s z a Y = 0 (6-29) Sumbu netral ditunjukkan dalam Gambar 6- 17b sebagai garis nn. Sudut {3 dari sumbu z ke sumbu netral diperoleh dari Persamaan (6-29) sebagai berikut: y h2 tan {3 = -- 2 tan a (6-30) z b Dengan memasukkan harga-harga numerik, kita dapatkan h2 tan {3 = 2 tan a = b ( 1 50 mm)2 (tan 26,57°) = I ,1 25 ( 1 00 mm)2 Karena sudut {3 tidak sama dengan sudut a, maka sumbu netral akan miring terhadap bidang pembebanan (yang vertikal). Dari orientasi sumbu netral (Gambar 6-17b), kita lihat bahwa titik D dan E adalah yang terjauh dari sumbu netral, yang menegaskan asumsi kita bahwa tegangan maksimum tetjadi di titik-titik tersebut. Bagian balok di atas dan di kanan sumbu netral mengalami tekan, dan bagian di kiri dan bawah sumbu netral. · mengalami tarik.
  • 370.
    Mekanika Bahan 357 •Contoh 6-5 Gambar 6-1 8 Contoh 6-5. Balok kantilever dengan momen inersia I jauh lebih besar dari pada /, Sebuah balok kantilever yang panjangnya 12 ft (Gambar 6-1 8a) terbuat dari profil S 24 x 80 (lihat Tabel E-2 Lampiran E untuk dimensi dan besaran balok ini). Beban P = 10 k bekerja dalam arah vertikal di ujung balok tersebut. Karena balok tersebut sangat sempit dibandingkan tingginya (Gambar 6-1 8b), maka momen inersianya terhadap sumbu z jauh lebih besar dibandingkan momen inersianya terhadap sumbu y. ' P = 10 k 11 � = -1 1 : r C 11 (a) Tentukan tegangan lentur maksimum di balok ini jika sumbu y dari penampang adalah vertikal sehingga sebidang dengan beban P (Gambar 6-1 8a). (b) Tentukan tegangan lentur maksimum jika balok ini miring dengan sudut kecil a = I o terhadap beban P (Gambar 6- 1 8b). (Kemiringan kecil dapat disebabkan oleh ketidaksempurnaan dalam: pembualan balok, pemasangan balok, atau per­ gerakan tumpuannya.) Solusi (a) Tegangan lentur maksimum apabila heban sebidang dengan sumhu y. Jika balok dan beban sebidang, maka sumbu :: adalah sumbu netral dan tegangan maksimum di balok (pada tumpuannya) diperoleh dari rumus lentur: a _ My _ PL(h/2) mab - !, - f, di mana M = PL adalah momen lentur di tumpuan, h adalah tinggi balok, dan /_ adalah momen inersia terhadap sumbu z. Dengan memasukkan harga-harga numerik, kita dapatkan _ ( 10 k)( l 2f t )( l :! m./ft)( 1 2.00 in. ) _ 8230 .· amaks - ') • j - psi _JOO tn. Tegangan ini adalah tarik di atas ba1ok dan tekan di bawah balok. (b) Teganga11 lentur maksimum apabila beba11 miring terhadap sumbu y. Sekarang kita asumsikan bahwa balok ini mempunyai kemiringan kecil (Gambar 6-1 8b), sehingga sudul antara sumbu y dan beban adalah a = 1°. Komponen beban P adalah P cos a dalam arah y negatif dan P sin a dalam arah z positif. Dengan demikian, momen lentur di tumpuan adalah M,, = - (P sin a)L = - (I 0 k)(sin 1 °)( 1 2 ft)( 12 in./ft) = -25, 1 3 k-in. M , = - (P cos a)L = - ( 1 0 k)(cos 1°)( 1 2 ft)( l 2 in./ft) = -1440 k-in. Sudut f3 yang memberikan orientasi kepada sumbu netral 1111 diperoleh dari Persamaan (6-20):
  • 371.
    358 Bab 6Tegangan Di Balok (Topik Lanjut) 6.5 1 tan f3 = l'. = MJ, = (-25, 1 3 k-in)(2 100 in. � ) = 0 8684 f3 = 41 o z MJ, (- 1-+40 k-in.)(42.2 in.� l ' Perhitungan ini menunjukkan bahwa sumbu netral mempunyai sudut kemiringan 41 • dari sumbu z meskipun bidang beban hanya miring I · dari sumbu y. Sensitivitas posisi sumbu netral terhadap sudut beban merupakan konsekuensi dari besarnya rasio l!fy· Dari posisi sumbu netral (Gambar 6-1 8b), kita lihat bahwa tegangan maksimum di balok terjadi di titik A dan B, yang terletak di jarak terjauh dari sumbu netral. Koordinat titik A adalah ZA = - 3,50 in. yA = 1 2,0 in. Dengan demikian, tegangan tarik di titik A (lihat Persamaan 6-1 8) adalah (-25,1 3 k-in.)(-3,50 in.) (-1440 k-in.)( l2,0 in.) 42,2 in.4 2 1 00 in.4 = 2080 psi + 8230 psi = 1 0.31 0 psi Tegangan di B mempunyai besar sama tetapi berupa tegangan tekan: a8 = -1 0.3 1 0 psi .. .. Tegangan ini 25% lebih besar daripada tegangan amaks = 8230 psi untuk balok sama dengan beban yang benar-benar sebidang. Selain itu, beban miring menimbulkan defleksi lateral dalam arah z, sedangkan beban yang sebidang tidak. Contoh ini menunjukkan bahwa balok dengan 1, jauh lebih besar daripada /" dapat menimbulkan tegangan besar jika balok atau beban menyimpang, meskipun sedikit, dari bidang yang direncanakan. Dengan demikian, balok seperti ini perlu digunakan secara hati-hati, karena sangat mungkin mengalarni kelebihan tegangan dan mengalami lentur dan tekuk ke arah lateral (ke samping). Pencegahannya adalah dengan cara memberikan tumpuan lateral pada balok tersebut sehingga dapat mencegah lentur ke samping. Sebagai contoh, balok lantai kayu di gedung diturnpu secara lateral dengan memasang penghubung antara balok-balok tersebut. LENTUR PADA BALOK TAK SIMETRIS Di dalam pembahasan sebelum ini mengenai lentur, kita asumsikan bahwa balok mempunyai penampang dengan sedikitnya satu sumbu simetri. Sekarang kita akan abaikan pembatasan tersebut dan meninjau balok dengan penampang tak simetris. Kita mulai dengan menyelidiki balok yang mengalami lentur mumi, dan selanjutnya di dalam Subbab 6.6, 6.7 dan 6.8 kita akan meninjau pengaruh beban-beban lateral. Seperti pada pembahasan sebelum ini, diasumsikan bahwa balok terbuat dari bahan elastis Iinier. Misalkan bahwa suatu balok yang mempunyai penampang tak simetris mengalami momen lentur M yang bekerja di penampang ujung (Gambar 6-19a). Kita ingin mengetahui tegangan di balok dan posisi sumbu netral. Sayangnya, pada tahap analisis ini tidak ada cara langsung untuk menentukan besaran-besaran tersebut. Dengan demikian, kita akan menggunakan pendekatan tidak langsung-kita tidakmulai dengan momen lentur dan mencoba menemukan sumbu netral, tetapi kita akan mulai dengan sumbu netral yang diasumsikan dan mencari momen lentumya.
  • 372.
    ' M ' , �-' (a) -1'. -"I (b) Gambar 6-1 9 Balok dengan penampang tak simetris Mekanika Bahan 359 Kita mulai dengan membuat dua sumbu yang saling tegak lurus (sumbu y dan z) di titik yang dipilih sembarang di bidang penampang (Gambar 6-19b). Kedua sumbu tersebut mungkin mempunyai orientasi sembarang, tetapi untuk mudahnya kita akan mengambil orientasi tersebut horizontal dan vertikal. Selanjutnya, kita asumsikan bahwa balok tersebut melentur sedemikian hingga sumbu z adalah sumbu netral penampang. Dengan demikian, balok akan berdefleksi dalam bidang .xy, yang menjadi bidang lentur. Pada semua kondisi ini, tegangan normal yang bekerja di elemen dengan luas dAyang terletak pada jarak y dari sumbu netral (lihat Gambar 6-19b dan Persamaan 5-7 dalam Bab 5) adalah (6-31 ) Tanda negatif diperlukan karena bagian dari balok di atas sumbu z (sumbu netral) mengalami tekan apabila kelengkungannyapositif. (Perjanjian tanda untuk kelengkungan apabila balok ditentukan di bidang �}' ditujukan dalam Gambar 6-20a.) Gaya-gaya yang bekerja di elemen luas dA adalah a,dA, dan gaya resultan yang bekerja di seluruh penampang adalah integral dari gaya elemental ini di seluruh luas penampang A. Karena balok ini mengalami lentur mumi, maka gaya resultan harus sama dengan no!; jadi, f�xdA =-tEKyY dA = 0 Modulus elastisitas dan kelengkungan adalah konstanta pada setiap penampang, sehingga (6-32) Persamaan ini menunjukkan bahwa sumbu z (sumbu netral) melalui pusat berat C penampang. Sekarang kita asumsikan bahwa balok ini melentursedemikian hingga sumbu y adalah sumbu netral dan bidang xz adalah bidang lentur. Jadi, tegangan normal yang bekerja di elemen luas dA (Gambar 6-1 9b) adalah (6-33) Perjanjian tanda untuk kelengkungan K2 di dalam bidang xz ditunjukkan dalam Gambar 6-20b. Tanda negatif dibutuhkan dalam Persamaan (6-33) karena kelengkungan positif di bidang xz menimbulkan tekan di elemen dA. Gaya resultan untuk kasus ini adalah LaxdA = -LEKzzdA = 0 sehingga Lz dA = O (6-34) dan sekali lagi, kita lihat bahwa sumbu netral harus melalui pusat berat. Jadi, kita telah mengetahui bahwa pusat sumbu y dan z untuk balok tak simetris harus terletak di pusat berat C. Sekarang tinjaulah resultan momen dari tegangan ax. Sekali lagi kita asumsikan bahwa lentur terjadi dengan sumbu z sebagai sumbu netral, di mana tegangan a,dihitung dengan Persamaan (6-31). Momen lentur Mz dan M. terhadap sumbu z dan y (Gambar 6-21), adalah
  • 373.
    360 Bab 6T egangan Di Balok (Topik Lanjut) J I �lengkungan positif K,. l_ ________ X 0 (a) J l_----�c�:_i·t�f�::_ n___ •t 0 (b) Gambar 6-20 Perjanjian tanda untuk kelengkungan K", dan K" , masing-masing dalam bidang xr _ dan x� ( I D M_ D Gambar 6-21 Momen lentur M, dan M, yang masing-masing bekerja lerhadap sumbu y dan z Mz = - LcrxydA = K"yEL/dA = K", E/2 M, = fcrxzdA = -K",.Ef yzdA = -K""El,._ - A - A (6-35a) (6-35b) Di dalam persamaan di atas, I, adalah momen inersia penampang terhadap sumbu z dan /" adalah hasil kali inersia terhadap sumbu y dan z. * Dari Persamaan (6-35a) dan (6-35b) kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: ( 1 ) Jika sumbu z mempunyai arah sembarang dan melalui pusat berat, maka sumbu tersebut akan merupakan sumbu netral hanya jika momen M, dan Mz bekerja terhadap sumbu y ctan z ctan hanya jika kectua momen tersebut mempunyai rasio yang memenuhi Persamaan (6- 35a) dan (6-35b). (2) Jika sumbu z ctipilih sebagai sumbu utama, maka hasil kali inersia lyz sama dengan nol ctan satu-satunya momen lentur actalah Mz. Dalam hal ini, sumbu z actalah sumbu netral ctan lentur terjacti cti bictang -D·, momen M2 bekerja di bictang yang sama. Jacti, momen terjacti dengan cara analog ctengan pacta balok simetris. Singkatnya, suatu balok tak simetris akan melentur ctengan cara umum sama seperti pacta balok simetris asalkan sumbu z actalah sumbu berat utama ctan satu-satunya momen lentur actalah momen M, yang bekerja terhactap sumbu yang sama. Jika sekarang kita asumsikan bahwa sumbu y actalah sumbu netral, kita akan sampai pacta kesimpulan serupa. Tegangan crx dinyatakan ctengan Persamaan (6-33) ctan momen lenturnya actalah M,. = fer ,zdA = -K"zEf z 2 dA = -K"zEJ" (6-36a) - A A - Mz. = -LcrxydA = -K"zELyz dA = K"2Elvz (6-36b) cti mana /" actalah momen inersia terhadap sumbu y. Sekali lagi kita amati bahwajika sumbu netral (di ctalam hal ini sumbu y) berorientasi sembarang, maka momen M Y ctan Mz harus acta. Namun, jika sumbu y merupakan sumbu utama, satu-satunya momen actalah M,, ctan kita mempunyai lentur biasa cti ctalam bictang xz. Dengan ctemikian, kita ctapat menyatakan bahwa balok tak simetris melentur ctengan cara umum yang sama seperti balok simetris apabila sumbu y actalah sumbu berat utama ctan satu-satunya momen lentur actalah M, yang bekerja terhactap sumbu tersebut. Pengamatan lebih l�mjut-karena sumbu y ctan z sating tegak lurus, kita ketahui bahwa jika salah satu adalah sumbu utama, maka sumbu lainnya secara otomatis actalah sumbu utama juga. Kita sekarang sampai pada kesimpulan penting berikut: Apabila suatu balok tak simetris mengalami lentur murni. maka bidang di manu momen lentur beker ja akan tegak lurus permukaan netral hanyajika sumbu y dan z adalah sumbu pusat berat utama penampang dan momen lentur beker ja di salah satu bidang utama (bidang xy atau xz). Dalam kasus itu, bictang utama cti mana momen lentur bekerja menjacti bictang lentur ctan teori lentur biasa (termasuk rumus lentur) berlaku. Dengan adanya kesimpulan ini, kita sekarang menctapatkan metocte langsung untuk mencari tegangan cti balok tak simetris yang mengalami momen lentur yang bekerja ctalam arah sembarang. Ha�il kali incrsia dihaha" di dalam Subhab 1 2 7 Bah 1 2
  • 374.
    Mekanika Bahan 361 •Prosedur untuk Menganalisis Balok Tak Simetris ) 1/ Gambar 6-22 Penampang Lak simetris dcngan momcn lentur M yang di uraikan menjadi komponen M, dan M, yang masing-masing bekerja terhadap sumbu berat utama Kita sekarang akan menguraikan prosedur umum untuk menganalisis balok tak simetris yang mengalami momen lentur M (Gambar 6-22). Kita mulai dengan menentukan lokasi pusat berat C penampang dan menetapkan satu set sumbu utama di titik tersebut (sumbu y dan z di dalam gambar.)* Selanjutnya, momen lentur M diuraikan menjadi komponen M, dan Me, positif dalam arah seperti terlihat dalam gambar tersebut. Komponen tersebut adalah M, = M sin (J M_ = M cos (J (6-37a,b) di mana (J adalah sudut antara vektor momen M dan sumbu z (Gambar 6- 22). Karena setiap komponen bekerja dalam bidang utama, maka terjadi lentur mumi di bidang yang sama. Jadi, rumus biasa untuk lentur mumi berlaku, dan kita dapat langsung mencari tegangan akibat momen M, dan M z yang beraksi secara terpisah. Tegangan lentur yang diperoleh dari momen yang bekerja secara terpisah tersebut selanjutnya disuperposisikan untuk mendapatkan tegangan yang dihasilkan oleh momen lentur semula M. (Perhatikan bahwa prosedur umum ini sama dengan yang diuraikan dalam subbab sebelum ini untuk menganalisis balok simetri ganda dengan beban miring.) Superposisi tegangan lentur untuk mendapatkan tegangan resultan di sembarang titik pada penampang dinyatakan dengan Persamaan (6-18): o: = Myz _ M:Y = (M sin ())z x I Y Iz I,. (M cos ())y I_ di mana y dan z adalah koordinat titik yang ditinjau. (6-38) Juga, persamaan untuk sumbu netral nn (Gambar 6-22) diperoleh dengan menetapkan o:, sama dengan nol dan menyederhanakannya: sin () cos () -- z - --y Iv lz (6-39) Sudut f3 antara sumbu netral dan sumbu z dapat diperoleh dari persamaan di atas sebagai berikul: y I tan f3 = - = .....;_ tan () z I, (6-40) Persamaan ini menunjukkan bahwa pada umumnya sudut f3 dan e tidak sama, sehingga sumbu netral pada umumnya tidak tegak lurus bidang di mana momen M bekerja. Kekecualian adalah pada tiga kasus khusus yang dijelaskan dalam subbab sebelum ini (Subbab 6.4) di dalam pembahasan setelah Persamaan (6-23). Di dalam subbab ini kita telah memusatkan pembahasan kita pada balok tak simetris. Tentu saja, balok simetris adalah kasus istimewa dari balok tak simetris sehingga pembahasan di dalam subbab ini juga berlaku untuk balok simetris. Jika suatu balok adalah simetri� tunggal, maka sumbu simetri adalah salah satu sumbu berat utama dari penampang tersebut; sumbu berat utama lainnya tegak lurus sumbu simetri di pusat berat. Jika suatu balok simetris ganda, maka kedua sumbu simetris adalah sumbu berat utama. Secara lebih rinci, pembahasan pada subbab ini berlaku hanya untuk lentur mumi, yang berarti bahwa tidak ada gaya geser yang bekerja di ''Sumhu ulama dihahas di Suhhah 1 2 8 dan 1 2 Y F!ah 12
  • 375.
    362 Bab 6T egangan Di Balok (T opik Lanjut) penampang. Apabila gaya geser ada, maka ada kemungkinan bahwa balok tersebut terpuntir terhadap sumbu longitudinalnya. Namun, puntir tersebut dapat dihindari apabila gaya geser bekeija melalui pusat geser, yang dibahas pacta subbab setelah ini. Contoh-contoh berikut ini menggambarkan analisis balok yang mem­ punyai satu sumbu simetri dan tidak mempunyai sumbu simetri sama sekali. • Contoh 6-6 C !O x 1 5.3 M = 15 k-in. c a = JO" L IJ Gambar 6-23 Contoh 6-6. Penampang kanal yang mengalami momen lentur M yang bekerja pada sudut (} terhadap sumbu z 11 _' c = 0,643 in. I ( M, � t • c M� IJ Gambar 6-24 Solusi untuk Contoh 6-6 " Sebuah profil kanal (C 10 x 15,3) menga1ami momen lentur M = 15 k-in. yang berorientasi pada sudut (J = I oa terhadap sumbu z (Gambar 6-23a). Hitunglah tegangan lentur aA dan a 8 masing-masing di titik A dan B, dan tentukan posisi sumbu netral. Solusi Besaran penampang. Pusat berat C terletak di sumbu simetri (sumbu z) padajarak c = 0,634 in. dari tepi luar badan profil (Gambar 6-24).* Sumbu y dan z adalah sumbu berat utama dengan momen inersia I Y = 2,28 in.4 I, = 67,4 in.4 Juga, koordinat titik A dan B adalah sebagai berikut: 38): YA = 5,00 in. zA = -2,600 in. + 0,634 in. = -1,966 in. y8 = -5,00 in. z8 = 0,634 in. Momen lentur. Momen lentur terhadap sumbu y dan z (Gambar 6-24) adalah Mv = M sin (J = (15 k-in.)(sin 10°) = 2,605 k-in. M, = M cos (J = ( 1 5 k-in.)(cos 10°) = 14,77 k-in. T egangan lentur. Sekarang kita hitung tegangan di titik A dari Persamaan (6- M,.zA _ M,yA 1,. I, (2,605 k-in.)(-1,966 in.) (1 4,77 k-in.)(5,00 in.) 2,28 in.4 67,4 in.4 = -2246 psi - 096 psi = -3340 psi Dengan perhitungan serupa, kita dapatkan tegangan di titik B: Mvz8 M_y8 0"8 = - ·- - - - - /)' I, (2,605 k-in.)(0,634 in.) (14,77 k-in.)(-5,00 in.) 2.28 in.4 67.4 in.4 = 724 psi + 1096 psi = 1 820 psi .. Tegangan-tegangan ini adalah tegangan tarik dan tekan maksimum di balok. Sumbu netral. Sudut f3 yang menunjukkan lokasi sumbu netral (Persamaan 6-40) diperoleh sebagai berikut: 1 67 4 in.4 tan f3 = .:.>... tan (J = ' 4 tan 10° = 5,212 f3 = 79,1° /v 2,28 in. Sumbu netral nn ditunjukkan dalam Gambar 6-24, dan kita lihat bahwa titikA dan B terletak di jarak terjauh dari sumbu netral, jadi hal ini memastikan bahwa O" A dan a8 adalah tegangan-tegangan terbesar di balok tersebut.
  • 376.
    Mekanika Bahan 363 Didalam contoh ini, sudut f3 antara sumbu z dan sumbu netral jauh lebih besar daripada sudut (} (Gambar 6-24) karena rasio I/fy besar. Sudut f3 bervariasi dari 0 sampai 79,1° apabila sudut (} bervariasi dari 0 sampai 10°. Sebagaimana dibahas sebelum ini dalam Contoh 6-5 Subbab 6.4, balok dengan rasio 1/f, besar sangat sensitif terhadap arah pembebanan. Jadi, pada balok seperti ini perlu diberikan tumpuan lateral untuk mencegah detleksi lateral yang berlebihan. 2 • Contoh 6-7 L 6 x 4 x � M = 10 k-in. c -- I 2 Gambar 6-25 Contoh 6-7. Profil siku tak sama kaki (penampang tak simetris) yang mengalami momen lentur M yang bekerja terhadap sumbu l - 1 � 2 e = 23,7" y A /. . Sebuah profil siku dengan kaki tak sama (l 6 x 4 x 1/2) ditunjukkan dalam Gambar 6-25. Siku ini mengalami momen lentur M = 1 0 k-in dengan vektor momen yang berarah sepanjang sumbu 1 - 1 , yang sejajar dengan kaki pendek profil siku tersebut. Tentukan tegangan tarik dan tekan maksimum di siku ini. Solusi Besaran penampang. Pusat berat C dari profil siku ini (Gambar 6-26) terletak pada jarak c = 0,987 in. dari tepi luar kaki panjang profil tersebut dan jarak d = 1 ,99 dari tepi Juar kaki pendeknya.* Sumbu berat utama ditunjukkan sebagai sumbu 3-3 dan 4-4 di Tabel E-5 Lampiran tersebut; narnun, kita akan menggunakan label sumbu y dan z agar konsisten dengan pembahasan kita sebelum ini. Sudut (} antara sumbu 2-2 dan sumbu y (Gambar 6-26) sama dengan sudut antara sumbu 2-2 dan 3-3 dalam Tabel E-5; jadi, tan (} = tan a = 0,400 (} = 23,7° Karena di dalam contoh ini vektor momen M mempunyai arah sepanjang sumbu 1-1, maka sudut antara sumbu z dan vektor M juga sama dengan e. Momen inersia utama JY dan /z dapat diperoleh dari data dalam Tabel E-5. Tabel tersebut memberikan radius girasi terhadap sumbu 3-3 (sumbu-y); dengan demikian, 1, = 122 = A? min = (4,75 in.2)(0,870 in.)2 = 3,60 in.4 Momen inersia utama (I) diperoleh dari kenyataan bahwa jumlah momen inersia untuk semua pasangan sumbu yang saling tegak lurus adalah konstanta (lihat Persamaan 1 2-29 dalam Bab 12): sehingga Iz = Ill + I22 - I,. = 1 7,4 in.4 + 6,27 in.4 - 3,60 in.4 = 20,1 in.4 Jika tabel besaran penampang tidak tersedia, maka orientasi sumbu utama dan besar momen inersia utama perlu dihitung dengan menggunakan persamaan transformasi yang diberikan dalam Subbab 1 2.9 Bab 12. Ill=67.8° M , I • f) = 2J.__7"� Orientasi sumbu netral. Sudut f3 antara sumbu z dan sumbu netral nn ---------.:-- 1 ditentukan sebagai berikut (lihat Persamaan 6-40): 2 Garnbar 6-26 Solusi untuk Contoh 6-7 11 tan f3 = lz tan (} = 20,1 in.: tan 23,7° = 2,45 IY 3,60 in. f3 = 67,8° Dengan memperhatikan Gambar 6-26, kita lihat bahwa titik B terletak paling jauh dari sumbu netral di sisi tarik balok (di bawah dan di kiri sumbu netral). Dengan demikian, terjadi tegangan tarik maksimum di B. Tegangan tekan maksimum terjadi di suatu lokasi di permukaan lengkung dekat titik A. Namun, penentuan lokasi titik secara akurat ini tidak penting (perhitungan kita hanya berlaku hingga dua atau tiga angka penting), sehingga kita akan menganggap tegangan di A sebagai tegangan tekan maksimum agar praktis.
  • 377.
    364 Bab 6T egangan Di Balok (Topik Lanjut) : � . d, CQS 8 - -� I d, sin e 1, ' P_ ..-� J2: e yp -�--�--�- � I .,. e . 2 (a) (b) Gambar 6-27 Koordinat titik P terhadap sumbu-sumbu rz apabila koordinat terhadap sumbu-sumbu 1 -2 diketahui (Pcrsamaan 6-4 1 ) Koordinat titikA dun B . Koordinat titik A dan B dibutuhkan untuk menentukan tegangan. Meskipun koordinat titik-titik tersebut terhadap sumbu 1 - 1 dan 2-2 telah diperoleh dari data dalam Tabel E-5, koordinatnya terhadap sumbu v dan : lebih sulit untuk ditentukan. Untuk mudahnya, kita akan menurunkan rumus umum untuk menghitung koordinat tersebut. Di dalam Gambar 6-27a ditunjukkan dua set sumbu (sumbu 1 - 2 dan sumbu yz) dengan sudut () di antaranya. Titik P mempunyai koordinat d1 dan d2 yang diketahui terhadap sumbu 1 -2, dan kita akan menentukan koordinat Yp dan Zp terhadap sumbu y:. Kita dapat memperoleh rumus yang diharapkan untuk hubungan geometris yang terlihat dalam Gambar 6-27b. Kita mulai dengan koordinat YP· yang sama dengan jarak Ps ditambah jarak qr. Jarak Ps (dari segitiga Psq) sama dengan d1 cos (), dan jarak qr (dari segitiga qCr) sama dengan d1 sin e. Dengan cara sama, kita lihat bahwa koordinat Zp sama dengan jarak Cr dikurangi jarak qs. Jarak Cr (dari segitiga qCr) sama dengan d1 cos (), dan jarak qs (dari segitiga Psq) sama dengan d1 sin e. Jadi, kita mempcroleh rumus berikut untuk koordinat -"p dan zp: (6-4 1 a,b) Dengan mengetahui koordinat d1 dan d2 dari suatu titik terhadap sumbu 1 -2, kita dapat menggunakan persamaan ini untuk mendapatkan koordinat Yp dan Zp tcrsebut sumbu rz. Sekarang tinjau kemba1i profil siku dalam Gambar 6-26. Koordinat titik A terhadap sumbu 1 -2 dapat diperoleh dengan menggunakan dimcnsi yang diberikan dalam Tabel E-5: d1 = c = 0,987 in. d2 = 6,00 in. - d = 6,00 in. - 1 ,90 in. = 4,01 in. Koordinat y dan ::: untuk titik A sekarang diperoleh dari Persamaan (6-41 a) dan (6- 41 b): YA = (0,987 in.)(sin 23.7°) + (4,01 in.)(cos 23,7°) = 4.07 in. zA = (0,987 in.)(cos 23,7°) - (4,01 in.)(sin 23, 17°) = -0,7 1 in. Dengan cara sama. kita dapatkan untuk titik B koordinat scbagai herikut: d1 = c = 0,987 in. d2 = -d = -1 .99 in. y8 = (0,987 in.)(sin 23,7°) + (-1 ,99 in.)(cos 23,7°) = -1 ,43 in. ::.8 = (0.987 in.)(cos 23,7°) - (-1 ,99 in.)(sin 23,7°) = 1,70 in. Metode alternatif untuk mencari koordinat titik A dan B adalah dcngan memhuat gambar profil siku tersebut secara berskala berikut sumbu-sumbunya dan mengukur jarak yang dicari. Tegangan /entur di titik A dan B. Komponen momen M tcrhadap sumhu y dan ::: (lihat Gamhar 6-26) adalah M, = M sin() = ( 1 0 k-in.)(sin 23,7°) = 4,02 k-in M, = M cos() = ( 1 0 k-in.)(cos 23,7°) = 9, 1 6 k-in. Dengan dcmikian, tegangan di titik A (dari Persamaan 6-38) adalah M,zA _ M,yA l, /_ (4,02 k-in.)(-0,71 in.) (9, 1 6 k-in.)(4,07 in.) 3,60 in_4 20,1 in.� = -793 psi - 1 855 psi = -2650 psi .. yang merupakan tegangan tekan maksimum di profil terscbut. Dcngan cara perhitungan sama kita peroleh tegangan di titik 8:
  • 378.
    p (b) 6.6 1 p Gambar 6-28Balok kantilever dengan penampang simetris tunggal: (a) balok dengan beban, dan (b) penampang balok yang menunjukkan pusat berat C dan pusat geser S Mekanika Bahan 365 (4,02 k-in.)(-0,70 in.) (9,16 k-in.)(-1,43 in.) 3,60 in.� 20,1 in.4 = 1 898 psi + 652 psi = 2550 psi yang merupakan tegangan tarik maksimum di profil tersebut. Jadi, kita telah menentukan tegangan tarik dan tekan maksimum di profil siku tak simetris akibat momen lentur M. Prosedur umum yang sama dapat digunakan untuk profil lain yang tak simetns. KONSEP PUSAT GESER Di dalam semua subbab sebelum ini kita telah meninjau tegangan lentur di balok yang mengalami berbagai kondisi khusus. Sebagai contoh, dalam Subbab 6.4 kita telah meninjau balok tak simetris dengan beban miring, dan di dalam Subbab 6.5 kita telah meninjau balok tak simetris. Namun, beban lateral yang bekerja di suatu balok selain menimbulkan gaya geser juga momen lentur, sehingga di dalam subbab ini dan dua subbab setelah ini kita akan mempelajari pengaruh-pengaruh geser. Di dalam Bab 5 kita telah mempelajari bagaimana menentukan tegangan geser di balok apabila beban bekerja di bidang simetri, dan kita telah menurunkan rumus geser untuk menghitung tegangan geser di profil­ profil balok tertentu. Sekarang kita kan mempelajari tegangan geser pada ·balok apabila beban lateral bekerja di bidang yang bukan merupakan bidang simetri. Kita akan mendapati bahwa beban harus bekerja di titik khusus di penampang, yang disebut pusat geser, jika balok tersebut diharapkan melentur saja tanpa puntir. Tinjaulah balok kantilever dengan penampang simetris tunggal yang memikul beban P di ujung bebas (Gambar 6-28a). Sebuah balok yang mempunyai penampang seperti terlihat dalam Gambar (6-28b) disebut balok I tak seimbang. Balok berbentuk I, apakah seimbang atau tidak, biasanya dibebani pacta bidang simetri (bidang xz), tetapi di dalam hal ini garis kerja gaya P tegak lurus bidang tersebut. Karena pusat koordinat diambil di pusat berat C penampang, dan karena sumbu z adalah sumbu simetri penampang, maka sumbu y dan z adalah sumbu titik berat utama. Asumsikan bahwa akibat aksi beban P balok tersebut melentur dengan bidang xz sebagai bidang netral, yang berarti bahwa bidang xy adalah bidang lentur. Pada kondisi demikian, ada dua resultan tegangan di penampang antara balok (Gambar 6-28b): momen lentur M0 yang bekerja terhadap sumbu z dan mempunyai vektor momen di arah negatif sumbu z, dan gaya geser yang besamya P bekerja dalam arah y negatif. Untuk balok dan pembebanan yang diketahui, baik M0 maupun P merupakan besaran yang diketahui. Tegangan normal yang bekerja di penampang mempunyai resultan berupa momen lentur M0, dan tegangan geser mempunyai resultan gaya geser (sebesar P). Jika bahan mengikuti hukum Hooke, maka tegangan normal bervariasi secara linier terhadapjarak dari sumbu netral (sumbu z) dan dapat dihitung dari rumus lentur. Karena tegangan geser yang bekerja di penampang ditentukan dari tegangan normal berdasarkan tinjauan
  • 379.
    366 Bab 6T egangan Di Balok (T opik Lanjut) I' p p Gambar 6-29 Balok simetris tunggal dengan beban P diterapkan di titik A p (a) p (b) Gambar 6-30 (a) Balok simetris ganda dengan beban P yang bekerja melalui pusat berat (dan pusat geser), dan (b) balok simetris tunggal dengan beban P yang bekerja melalui pusat geser :: s p Gambar 6-31 Balok tak simetris dengan beban P yang bekerja melalui pusat geser S keseimbangan (lihat penurunan rumus geser dalam Bab 5), maka distribusi tegangan geser di penampang juga dapat ditentukan. Resultan tegangan geser ini adalah gaya vertikal yang sama besar dengan gaya P dan mempunyai garis kerja melalui sebuah titik S yang terletak di sumbu z (Gambar 6-28b). Titik ini dikenal dengan pusat gescr (juga disebut pusat lentur) penampang. Singkatnya, dengan mengasumsikan bahwa sumbu z adalah sumbu netral, kita dapat menentukan bukan hanya tegangan normal tetapi juga distribusi tegangan geserdan posisi gaya geser resultan. Dengan demikian, kita sekarang mengetahui bahwa beban P yang diterapkan di ujung balok (Gambar 6-28a) harus bekerja melalui sebuah titik khusus (pusat geser) jika lentur diharapkan terjadi dengan sumbu z sebagai sumbu netral. Jika beban diterapkan di titik lain pada sumbu z (katakanlah di titik A dalam Gambar 6-29), beban ini dapat secara statika diganti dengan sebuah sistem ekivalen yang terdiri atas gaya P yang bekerja di pusat geser dan torsi T. Gaya yang bekerja di pusat geser tersebut menghasilkan lentur terhadap sumbu z. Dengan demikian, sekarang kita mengetahui bahwa beban lateral yang beker ja di suatu balok akan menghasilkan lentur tanpa puntir hanyajika beban tersebut beker ja melalui pusat geser. Pusat geser (seperti juga pusat berat) terletak di sumbu simetri, sehingga pusat geser S dan pusat berat C akan berimpit untuk pcnampa ng simetris ganda (Gambar 6-30a). Sebuah beban P yang bekerja melalui pusat berat menimbulkan lentur terhadap sumbu y dan z tanpa torsi, dan tegangan lentumya dapat diperoleh dengan menggunakan metode yang telah diuraikan dalam Subbab 6.4 untuk balok simetris ganda. Jika sebuah balokmempunyai pcnampang simetris tun)_!;gal (Gambar 6-30b), maka pusat berat dan pusat geser terletak di sumbu simetri. Beban P yang bekerja melalui pusat geser dapat diurail.can menjadi komponen­ komponen dalam arah y dan z. Komponen dalam arah y akan menghasilkan lentur dalam bidang xy dengan sumbu z sebagai sumbu netral, dan komponen dalam arah z akan menghasilkan lentur (tanpa torsi) dalam bidang xz dengan sumbu y sebagai sumbu netral. Tegangan lentur yang dihasilkan oleh komponen-komponen tersebut dapat disuperposisikan untuk mendapatkan tegangan yang diakibatkan beban semula. Akhimya, jika sebuah balok mempunyai pcnampang tak simetris (Gambar 6-31), analisis lentur dilakukan seperti berikut ini (asalkan beban bekerja melalui pusat geser). Mula-mula, tentukan lokasi pusat berat C penampang dan tentukan orientasi sumbu beratutamay dan z. Lau, uraikan beban tersebut menjadi komponen-komponen (yang bekerja di pusat geser) dalam arah y dan z dan tentukan momen lentur MY dan Mz terhadap sumbu berat. Akhimya, hitunglah tegangan lentur dengan menggunakan metode yang telah diuraikan dalam Subbab 6.5 untuk balok tak simetris. Karena kita telah mengetahui arti penting pusat geser dan pengguna­ annya dalam analisis, maka wajarlah bila kita bertanya "Bagaimana kita menentukan lokasi pusat geser?" Untuk profil simetris ganda jawabannya tentu saja sederhana, yaitu di pusat berat. Untuk profil simetris tunggal, pusat geser terletak di sumbu simetri, tetapi lokasi yang pasti di sumbu tersebut tidak mudah ditentukan. Menentukan lokasi pusat geser lebih sulit lagi jika penampangnya tidak simetris. Dalam kasus tersebut, dibutuhkan metode lanjut di luar ruang lingkup buku ini. (Beberapa buku pegangan teknik memuat rumus-rumus untuk menentukan pusat geser, misalnya lihat Ref. 2-10.)
  • 380.
    Mekanika Bahan 367 Balokdenganpenampang terbuka berdiruling tipis, seperti balok sayap lebar, kanal, siku, T, dan Z, adalah kasus-kasus khusus. Profil-profil tersebut bukan saja banyak digunakan di dalam struktur, tetapi juga lemah terhadap tarsi. Akibatnya, penentuan lokasi pusat geser merupakan hal yang penting. Penampang seperti ini ditinjau dalam dua subbab berikut-di Subbab 6.7 kita membahas bagaimana mencari tegangan geser di balok berpenampang tersebut di atas, dan di dalam Subbab 6.8 kita tunjukkan bagaimana menentukan pusat gesernya. 6.7 1 TEGANGAN GESER 01 BALOK DENGAN PENAMPANG ....._____. TER B U KA BERDINDING TIPIS Distribusi tegangan geser di balok persegi panjang, balok lingkaran, dan di badan balok dengan flens telah dibahas dalam Subbab 5.8, 5.9, dan 5. 10, dan kita telah menurunkan rumus geser (Persamaan 5-38) untuk menghitung tegangan: -r = VQ lb (6-42) Di dalam rumus ini, V menunjukkan gayageseryang bekeija di penampang, I adalah momen inersia penampang (terhadap sumbu netral), b adalah lebar balok di lokasi di mana tegangan geser dihitung, dan Q adalah momen pertama (statis momen) bagian penampang di luar lokasi di mana tegangan sedang dihitung. Sekarang kita akan meninjau tegangan geser pada kelompok balok khusus yang disebut pcnampang terhuka llcrdinding tipis. Balok seperti ini dibedakan karena dua karakteristik: (1) tebal dinding yang kecil di­ bandingkan dengan tinggi dan lebar penampang, dan (2) penampangnya terbuka, seperti dalam kasus balok I atau balok kanal, bukan tertutup, seperti dalam kasus balok boks berlubang. Contoh-contoh penampang terbuka berdinding tipis terlihat dalam Gambar 6-32. Balok seperti ini juga disebut potnngan struktural atau potongan protil. � Balok yung. kha> I [::--.J L 'lL 1 dengun penumpang terhuka herdinding tipb (ht�lol.. suyap lehur atau bnlok I. balok kannl. profil >tku. protil Z. d:111 balo'- T) Kita dapat menentukan tegangan geser di balok berdinding tipis penampang terbuka dengan menggunakan cara sama yang digunakan dalam menurunkan rumus geser (Persamaan 6-42). Untuk mempertahankan penurunan selama mungkin, kita akan meninjau sebuah balok yang mempunyai garis tengah penampang mm dengan bentuk sembarang (Gambar 6-33a). Sumbu y dan z adalah sumbu berat utama penampang dan beban P bekeija sejajar sumbu y dan melalui pusat geser S (Gambar 6-33b). Dengan demikian, lentur akan terjadi di bidang xy dengan sumbu z sebagai sumbu netral. Pada kondisi ini, kita dapat memperoleh tegangan normal di sembarang titik di ba1ok dari rumus lentur: = - M,y erx (6-43) I,
  • 381.
    368 Bab 6T egangan Di Balok (Topik Lanjut) Gambar 6-33 Tegangan geser di balok berpenampang terbub herdinding tipis. (Sumbu y dan z. adalah sumbu berat utama.) di mana M, adalah momen lentur terhadap sumbu z (positif seperti didefinisikan dalam Subbab 6.4 dan Gambar 6-13) dan y adalah koordinat titik yang ditinjau. � tl � u h / (' -" "' .. ' I' Sekarang tinjau elemen volume abed yang dipotong antara dua potongan melintang dengan jarak dx satu sama lain (Gambar 6-33a). Perhatikan bahwa elemen mulai di tepi potongan melintang dan mempunyai panjang s yang diukur sepanjang geser pusat mm. Untuk menentukan tegangan geser, kita isolasikan elemen tersebut seperti terlihat dalam Gambar 6-33c. Resultan untuk tegangan normal yang bekerja pada sisi ad adalah gaya F1 dan untuk yang bekerja pada sisi be adalah gaya F2. Karena F1 punya momen lentur yang lebih besar daripada F2, maka tegangan normal yang bekerja pada sisi ad lebih besar daripada yang bekerja pada sisi be, sehingga F1 lebih besar daripada F2. Maka, tegangan geser r harus bekerja sepanjang sisi ed agar elemen mencapai ke­ setimbangan. Kerja tegangan geser ini paralel pada permukaan atas dan bawah elemen dan harus disertai dengan tegangan geser komplementer yang bekerja pada sisi penampang melintang ad dan be, sebagaimana yang ditunjukkan pada gambar. Untuk menghitung tegangan-tegangan geser ini, kita jumlahkan gaya­ gaya dalam arah x untuk elemen abed (Gambar. 6-33c), maka, (a) di mana t adalah ketebalan penampang pada sisi ed elemen. Dengan kata lain, t adalah ketebalan penampang pada jarak s dari ujung yang bebas (Gambar 6-33b). Selanjutnya, kita peroleh per�amaan untuk gaya F1 dengan menggunakan Persamaan (6-43): fl = i�xdA = - M,1 1·� dA o I, u (b) di mana dA adalah elemen luas pada sisi ad dari volume abed, y adalah koordinat pada elemen dA, dan M,1 adalah momen lentur pada penampang. Persamaan yang analog diperoleh untuk gaya F2: (c)
  • 382.
    Mekanika Bahan 369 denganmemasukkan nilai F1 dan F2 untuk pers. (a), kita mendapatkan -r = (Mz2 - Mzt )_ 1 _ fsydA (d) dx lzt )0 Jumlah (Mz1 - Mz2)/dx adalah nilai perubahan dM/dx momen lentur dan besarnya sama dengan gaya geser yang bekerja pada penampang (lihat pers. 4-6). dM dx = M - M z2 zl = V dx y (e) Gaya geser VY paralel dengan sumbu y dan positif dalam arah negatif sumbu y,yang artinya, positif dalam arah gaya P (gambar 6-33). Konvensi ini konsisten dengan perjanjian tanda yang diberlakukan sebelumnya di Bab 4 (lihat gambar 4-5 untuk per janjian tanda gaya geser). Dengan memasukkan Persamaan (e) ke Persamaan (d), kita dapatkan persamaan berikut untuk tegangan geser -r: r = �:ts;ydA (6-44) Persamaan ini memberikan tegangan geser di sembarang titik di penampang pada jarak s dari tepi bebas. Integral di sisi kanan menunjukkan bahwa momen pertama terhadap sumbu z (sumbu netral) penampang dari s = 0 sampai s = s. Dengan menuliskan momen pertama ini sebagai Q2, kita dapat menulis persamaan untuk tegangan geser r dalam bentuk yang lebih sederhana (6-45) yang analog dengan rumus geser standar (Persamaan 6-42). Tegangan geser mempunyai arah di sepanjang garis pusat penampang dan sejajar dengan tepi-tepi penampang. Lebih jauh lagi, kita dapat mengasumsikan bahwa tegangan tersebut mempunyai intensitas konstan di seluruh tebal dinding t, yang merupakan asumsi sah apabila tebal tersebut kecil. (Perhatikan bahwa tebal dinding tidak harus konstan tetapi dapat bervariasi sebagai fungsi dari jarak s.) Aliran geser di sembarang titik pada penampang sama dengan hasil kali tegangan geser dan tebal di titik tersebut, yaitu (6-46) Karena Vy dan Iz adalah konstanta, maka aliran geser berbanding lurus dengan Qz. Di tepi atas dan bawah penampang, Qz adalah nol dan karenanya, aliran geser adalah nol. Aliran geser bervariasi secara kontinu antara titik-titik ujung ini, dan mencapai harga maksimum di mana Qz adalah maksimum, yang terjadi di sumbu netral. Sekarang bayangkan bahwabalok dalamGambar 6-33 melentur akibat beban yang bekerja seja jar sumbu z dan melalui pusat geser. Balok ini akan melentur dalam bidang xz dan sumbu y akan merupakan sumbu
  • 383.
    r 370 Bab 6T egangan Di Balok (Topik Lanjut) netral. Dalam hal ini kita dapat mengulangi jenis analisis yang sama dan sampai pada rumus berikut untuk tegangan geser dan aliran geser (bandingkan dengan Persamaan 6-45 dan 6-46): (6-47a,b) Di dalam persamaan-persamaan ini, Vz adalah gaya geser sejajar sumbu z dan Qv adalah momen pertama terhadap sumbu y. Sin.gkatnya, kita telah menurunkan rumus untuk tegangan geser di balok dengan penampang terbuka berdinding tipis dengan ketentuan bahwa gaya harus bekerja melalui pusat geser dan harus seja jar salah satu sumbu berat utama. Jika gaya geser tersebut miring terhadap sumbu y dan z (tetapi masih melalui pusat geser), maka gaya tersebut dapat diuraikan menjadi komponen-komponen sejajar sumbu utama. Lalu, dua analisis terpisah dapat dilakukan, dan hasilnya disuperposisikan. Untuk menggambarkan penggunaan rumus tegangan geser, kita akan meninjau tegangan geser di balok sayap lebar. Selanjutnya, di dalam Subbab 6.8 kita akan menggunakan rumus tegangan geser untuk menentukan lokasi pusat geser beberapa balok berdinding tipis dengan penampang terbuka. • Tegangan Geser di Balok Sayap Lebar Kita akan menyelidiki tegangan geser di balok sayap lebar dalam Gambar 6-34a. Balok ini dibebani oleh gaya P yang bekerja di bidang badan, jadi melalui pusat geser, yang berimpit dengan pusat berat penampang. Dimensi penampang ditunjukkan dalam Gambar 6-34b, di mana kita perhatikan bahwa b adalah lebar flens, h adalah tinggi antara garis pusat flens, tr adalah tebal flens, dan tw adalah tebal badan. Kita mulai dengan meninjau tegangan geser di potongan bb di bagian kanan flens atas (Gambar 6-34b). Karena jarak s mempunyai pusat di tepi penampang (titik a), maka luas potongan di antara titik a dan potongan bb adalah st1 Juga, jarak dari pusat berat area ke sumbu netral adalah h/2, sehingga momen pertama Qz sama dengan st1hl2. Jadi, tegangan geser r 1 di flens di potongan bb (dari Persamaan 6-45) adalah P(stfh/2) shP rf = //r = 2/ z (6-48) Arah tegangan ini dapat ditentukan dengan mempela jari gaya-gaya yang bekerja di elemen A, yang dipotong dari flens antara titik a dan potongan bb (lihat Gambar 6-34a dan b). Elemen tersebut digambar dengan skala yang lebih besar dalam Gambar 6-34c agar gaya dan tegangan yang bekerja padanya dapat terlihat jelas. Kita dengan mudah dapat mengetahui bahwa gaya F1 lebih besar daripada gaya F2, karena momen lentumya lebih besar di muka belakang elemen dibandingkan dengan di muka depan. Jadi tegangan geser di muka kiri elemen A harus bekerja menuju pembaca jika elemen tersebut harus berada dalam kesetimbangan. Dari pengamatan tersebut jelaslah bahwa tegangan geser di muka depan elemen A harus bekerja menuju ke kiri. Sekarang tinjau kembali Gambar 6-34b, Kita lihat bahwa kita telah menentukan dengan lengkap besar dan arah tegangan geser di potongan
  • 384.
    z Gambar 6-34 Tegangangeser di balok sayap lebar Mekanika Bahan 371 y b z _ _ d _r ---'---lf. M C d � X __,,.L;}o;-- tw h/2 _l��� !l b/2 ·I· b/2 ·I (a) (b) 'tz (c) (d) bb, yang dapat terletak di antara titik a dan pertemuan flens dan badan. Jadi, tegangan geser di seluruh bagian kanan atas flens adalah horizontal, beker ja ke kiri, dan mempunyai besar yang dinyatakan dalam Persamaan (6-48). Seperti terlihat dari persamaan tersebut, tegangan geser bertambah secara linier terhadap jarak s. Variasi tegangan ditunjukkan secara grafis dalam Gambar 6-34d, dan kita lihat bahwa tegangan bervariasi dari nol di titik a (di mana s = 0) sampai ke harga maksimum r1 di s = b/2: Aliran gesemya adalah bhP r, = 4/ z (6-49) (6-50) Perhatikan bahwa kita telah menghitung tegangan geser dan aliran geser di pertemuan garis pusat flens dan badan, dengan menggunakan hanya dimensi garis pusat penampang di dalam perhitungan. Prosedur pendekatan ini menyederhanakan perhitungan dan cukup memadai untuk penampang berdinding tipis. Dengan mulai pada titik c di bagian kiri flens atas (Gambar 6-34b) dan mengukur s ke arah kanan, kita dapat mengulangi jenis analisis yang sama. Kita akan mendapatkan bahwa besar tegangan geser juga dinyatakan dengan Persamaan (6-48) dan (6-49). Namun, dengan memotong elemen
  • 385.
    372 Bab 6T egangan Di Balok (Topik Lanjut) B (Gambar 6-34a) dan meninjau keseimbangannya, kita dapatkan bahwa tegangan geser di penampang sekarang bekerja ke arah kanan, seperti terlihat dalam Gambar 6-34d. Langkah berikutnya adalah menentukan tegangan geser yang bekerja di badan. Dengan meninjau potongan horizontal di atas badan (di pertemuan flens dan badan), kita dapatkan bahwa momen pertama terhadap sumbu netral adalah Qz = btjz/2, sehingga persamaan tegangan geser adalah bhtfP 'r2 = 2ft (6-51) z w Aliran geser yang berkaitan dengan ini adalah bhtfP /2 = 'r2tw = 'if­ z (6-52) Perhatikan bahwa aliran geser / 2 sama dengan dua kali aliran geser /1, sesuai dengan yang diharapkan, karena aliran geser di dua buah setengah flens atas bergabung menghasilkan aliran geser di atas badan. Tegangan geser di badan bekerja ke bawah dan bertambah besar sampai mencapai sumbu netral, Di potongan dd, yang terletak di jarak r dari sumbu netral (Gambar 6-34b), tegangan geser rw di badan dihitung sebagai berikut: = btrh + (!!_ r)(t ) (h/2 + r) = btrh + �(h 2 _ r 2 ) Qz 2 2 w 2 , 2 2 4 -r = (btrh + !!!__ _ r 2 )_!_ w tw 4 2/z (6-53) Apabila r = h/2, maka persamaan ini akan menjadi Persamaan (6-51), dan jika r = 0, ini akan menghasilkan tegangan geser maksimum: (6-54) Sekali lagi perlu diingat bahwa kita telah melakukan semua perhitungan ini berdasarkan atas dimensi garis pusat penampang. Karena alasan ini, maka tegangan geser di badan suatu balok sayap lebar yang dihitung dari Persamaan (6-53) dapat sedikit berbeda dengan yang diperoleh dari analisis lebih eksak yang ada di Bab 5 (lihat Persamaan 5-46 Subbab 5. 10). Tegangan geser di badan bervariasi secara parabolik, seperti terlihat dalam Gambar 6-34d, meskipun variasi tersebut tidak besar. Rasio -rmaks terhadap -r2 adalah (6-55) Sebagai contoh, jika kita mengambil harga yang khas h = 2b dan tf = 2tw, rasio tersebut adalah -rmalclr = 1,25. Sebagai langkah akhir, kita dapat menyelidiki tegangan geser di flens bawah dengan menggunakanmetode yang sama dengan yang kita gunakan untuk flens atas. Kita akan mendapatkan bahwa besar tegangan akan sama dengan di flens atas, tetapi arahnya seperti terlihat dalam Gambar 6-34d. Dari Gambar 6-34d, kita lihat bahwa tegangan geser di penampang "mengalir'' dari tepi paling luar flens atas, turun melalui badan, dan akhirnya
  • 386.
    6.8 1 Mekanika Bahan373 berarah ke luar tepi flens bawah. Karena aliran ini selalu kontinu di sembarangpenampang struktural, maka ini dapat berfungsi sebagai metode konvensional dalam menentukan arah tegangan. Sebagai contoh, jika gaya geser bekerja ke bawah pada balok dalam Gambar 6-34a, kita ketahui langsung bahwa aliran geser di badanjuga hams berarah ke bawah. Dengan mengetahui arah aliran geser di badan ini, kita juga mengetahui arah aliran geser di flens karena aliran geser hams kontinu. Menggunakan cara sederhana ini untuk mendapatkan arah tegangan geser lebih mudah daripada memvisualisasikan arah-arah gaya yang bekerja di elemen seperti A (Gambar 6-34c) yang dipotong dari balok. Resultan dari semua tegangan geser yang bekerja di penampang jelaslah merupakan gaya vertikal karena tegangan horizontal di flens tidak menghasilkan resultan. Tegangan geser di badan mempunyai resultan R, yang dapat diperoleh dengan mengintegrasikan tegangan geser di seluruh tinggi badan, sebagai berikut: J rh/2 R = -r dA = 2Jo nw dr Dengan substitusi dari Persamaan (6-53), kita dapatkan R = 2t rh/2(btrh + _if_- ,2)(_!!__)dr = (btr + !!_)h 2 twP (6 - 56) w Jo tw 4 2lz tw 6 2Iz Momen inersia /z dapat dihitung sebagai berikut (dengan menggunakan dimensi garis pusat): (6-57) di mana suku pertama adalah momen inersia badan dan suku kedua adalah momen inersia flens. Apabila rumus untuk Iz disubstitusikan ke dalam Persamaan (6-56), kita peroleh R = P, yang menunjukkan bahwa resultan dari tegangan geser yang bekerja di penampang sama dengan bebannya. Selain itu, garis kerja resultan ini ada di bidang badan sehingga resultan tersebut melalui pusat geser. Analisis di atas menunjukkan bagaimana tegangan geser di penampang terbuka berdinding tipis dapat diperoleh. Hasil ini juga memberikan gambaran lebih lengkap tentang tegangan geser yang bekerja di penampang balok I atau sayap lebar (ingat bahwa di dalam pembahasan sebelum ini di Bab 5, kita hanya menyelidiki tegangan geser di badan). Contoh-contoh tambahan diberikan dalam subbab berikut, di mana tegangan geser di profil kanal dan profil siku ditentukan sebagai bagian dari proses penentuan pusat geser. PUSAT GESER PENAMPANG TERBUKA BERDINDING TIPIS Di Subbab 6.7 kita telah mengembangkan metode-metode untuk mencari tegangan geser di penampang terbuka berdinding tipis. Sekarang kita akan menggunakan metode-metode tersebut untuk menentukan lokasi pusat geser beberapa bentuk penampang balok. Hanya balok dengan penampang simetris tunggal dan tak simetris yang ditinjau karena kitatelah mengetahui bahwa pusat geser penampang simetris ganda terletak di pusat berat.
  • 387.
    374 Bab 6T egangan Di Balok (T opik Lanjut) Prosedur untuk menentukan lokasi pusat geser terdiri atas dua bagian utama: pertama, mengevaluasi tegangan geser yang bekerja di penampang apabila lentur terjadi terhadap salah satu sumbu utama, dan kedua, menentukan resultan dari tegangan tersebut. Pusat geser terletak di garis keJja resultan tersebut. Dengan meninjau lentur terhadap kedua tegangan utama, kita dapat menentukan posisi pusat geser. Seperti di Subbab 6.7, kita akan menggunakan hanya dimensi garis pusat dalam menurunkan rumus-rumus dan melakukan perhitungan. Prosedur ini cukup memadai jika baloknya berdinding tipis, artinya, jika tebal balok kecil dibandingkan dengan dimensi lain penampang. • Profil Kanal y tr tw 1 z c ± tr l r-- b-H (a) Gambar 6-35 Pusat geser S dari sebuah profil kanal Balok pertama yang dianalisis adalah profil kanal simetris tunggal (Gambar 6-35a). Dari pembahasan dalam Subbab 6.6 kita ketahui dengan mudah bahwa pusat geser ada di sumbu simetri (sumbu z). Untuk mendapatkan posisi pusat geser di sumbu z, kita asumsikan bahwa balok melentur ter­ hadap sumbu z sebagai sumbu netral, dan selanjutnya kita tentukan garis kerja gaya geser resultan VY yang beker ja sejajar sumbu y. Pusat gesemya terletak di perpotongan garis keJja V y dan sumbu z. (Perhatikan pusat sumbu-sumbu ada di pusat berat C, sehingga sumbu y dan z adalah sumbu berat utama.) y s z � c '+ c Fz - 'tz F3 vy 'tl (b) (c) (d) Berdasarkan atas pembahasan di Subbab 6.7, kita simpulkan bahwa tegangan geser di kanal bervariasi secara linier di dalam flens dan secara pa­ rabolik di badan (Gambar 6-35b). Kita dapat mencari resultan dari te­ gangan-tegangan tersebut jika kita mengetahui tegangan maksimum r1 di flens, tegangan r2 di atas badan, dan tegangan maksimum rmaks di badan. Untuk memperoleh tegangan r1 di flens, kita gunakan Persamaan (6-45) dengan Q, sama dengan momen pertama dari luas flens terhadap sumbu z: btfh Qz = - 2- (a) di mana b adalah lebar flens, t1 adalah tebal flens, dan h adalah tinggi balok. (Perhatikan sekali lagi bahwa dimensi b dan h diukur di sepanjang garis pusat penampang.) Jadi, tegangan r1 di flens adalah VYQZ bhVY r ' = Tt f = ----rr- z z di mana lz adalah momen inersia terhadap sumbu z. (6-58)
  • 388.
    Mekanika Bahan 375 Tegangant'2 di atas badan diperoleh dengan cara sama tetapi dengan tebal sama dengan tebal badan, bukan teoal flens: VyQz btrhV Y t'2 = -- = -- liw 2twlz Juga, di sumbu netral, momen pertama area ini adalah Dengan dernikian, tegangan n'aksimum adalah VYQZ (btf h JhVY t'maks = T/ = - t- + 4 2/ z w w z (6-59) (b) (6-60) Tegangan 'ti dan r2 di setengah bawah badan sama dengan tegangan terkait di setengah atasnya (Gambar 6-35b). Gaya geser horizontal F1 di setiap flens (Gambar 6-35c) dapat diperoleh dari diagram tegangan segitiga. Setiap gaya sama dengan luas segitiga tegangan dikalikan dengan tebal flens: (t'1b J hb�v FJ = 2 (tf ) = 4/z (6-61 ) Gaya vertikal F2 di badan harus sama dengan gaya geser VY, karena gaya-gaya di flens tidak mempunyai komponen vertikal. Sebagai peme­ riksaan, kita dapat melihat bahwa F2 = Vy dengan meninjau diagram tegangan parabolik pada Gambar 6-35b. Diagram ini terdiri atas dua bagian-persegi panjang dengan luas r2 h dan segmen luas parabolik 2 3(t'maks - t' z )h Jadi, gaya geser F2, sama dengan luas diagram tegangan dikalikan tebal badan tw, adalah 2 F2 =t'2htw + 3(t'maks - t'2 )htw Dengan memasukkan rumus untuk r2 dan t'maks (Persamaan 6-59 dan 6- 60) ke dalam rumus di atas, kita dapatkan _ (twh3 bh 2 tt )VY F2 - ----u- + - 2 - T z Akhimya, kita perhatikan bahwa rumus untuk momen inersia t h3 bh 2 t I w r z = ----u- + - 2 - (c) (6-62) ; mana kita sekali lagi dengan menggunakan dimensi garis pusat. Dengan ·: ';nasukkan rumus untuk Iz ke dalam Persamaan (c) untuk F2, kita peroleh � = � � sebagaimana diharapkan. Ketiga gaya yang bekerja di penampang (Gambar 6-35c) mempunyai resultan VY yang berpotongan dengan sumbu z di pusat geser S (Gambar 6-35d). Jadi, momen dari ketiga gaya tersebut terhadap sembarang titik di
  • 389.
    376 Bab 6T egangan Di Balok (T opik Lanjut) penampang harus sama dengan momen dari gaya V Y terhadap titik yang sama. Hubungan momen tersebut memberikan persamaan yang meng­ hasilkan posisi pusat geser. Sebagai ilustrasi, momen dari ketiga gaya (Gambar 6-35c) adalah F1h - F2e, di mana e adalah jarak dari garis pusat badan ke pusat geser, dan momen dari gaya resultan V Y adalah nol (Gambar 6-35d). Dengan menyamakan momen-momen tersebut kita peroleh (6-63) Dengan memasukkan F1 dari Persamaan (6-61 ) dan F2 dari Persamaan (d), dan memecahkan e, kita peroleh b 2 h 2 tr e = 4/ z (6-64) Apabila rumus untuk Iz (Persamaan 6-62) disubstitusikan, Persamaan (6- 64) menjadi 3b2t e = r htw + 6btf Jadi, kita telah menentukan posisi pusat geser penampang kanal. (6-65) Sebagaimana diterangkan dalam Subbab 6.6, suatu balok kanal akan mengalami lentur tanpa puntir apabila dibebani oleh gaya yang bekerja melalui pusat geser, Jika beban tersebut bekerja sejajar sumbu y tetapi tidak melalui pusat geser (misalnya jika beban beker ja di bidang badan), maka beban tersebut dapat diganti dengan sistem gaya yang secara statis ekivalen, yaitu yang terdiri atas beban yang melalui pusat geser dan kopel puntir. Jadi, kita mempunyai kombinasi lentur dan torsi pada balok tersebut. Jika beban beker ja di sepanjang sumbu z, maka kita mempunyai lentur sederhana terhadap sumbu y. Jika beban beker ja dalam arah miring melalui pusat geser, maka beban tersebut dapat diganti dengan beban yang ekivalen secara statis yang bekerja sejajar sumbu y dan z. • Profil Siku Gambar 6-36 Pusat geser untuk profil siku sama kaki y z (a) Profil berikutnya yang akan ditinjau adalah profil siku sama kaki (Gambar 6-36a), di mana setiap kaki siku mempunyai panjang b dan tebal t. Sumbu z adalah sumbu simetri dan pusat sumbu koordinat ada di pusat berat C; dengan demikian, sumbu y dan z adalah sumbu berat utama. y y y (b) (c) (d)
  • 390.
    Mekanika Bahan 377 Untukmenentukan lokasi pusat geser, kita akan mengikuti prosedur umum sama seperti yang telah digunakan pada profil kanal, karena kita akan menentukan distribusi tegangan geser sebagai bagian dari analisis. Namun, sebagaimana akan terlihat nanti, pusat geser profil siku dapat ditentukan dengan inspeksi. Kita mulai dengan mengasumsikan bahwa penampang mengalami gaya geser VY yang bekerja sejajar sumbu y. Lalu, kita menggunakan Persamaan (6-45) untuk mendapatkan tegangan geser di masing-masing kaki siku. Untuk itu, kita membutuhkan momen pertama dari area penampang antara titik a di tepi luar balok (Gambar 6-36b) dan potongan bb yang terletak pada jarak s dari titik a. Area ini sama dengan st dan jarak pusat beratnya dari sumbu netral adalah b - s/2 -12 Jadi, momen pertama dari area ini adalah Q = st(b - s/2 ) z -12 (6-66) Dengan mensubstitusikan ke dalam Persamaan (6-45), kita dapatkan rumus berikut untuk tegangan geser pada jarak s dari tepi penampang � = V;�z = /�{b - f) z z (6-67) Momen inersia Iz dapat diperoleh dari Kasus 24 Lampiran D dengan f3 = 45°: I = 21 = 2(tb3 )= tb3 z BB 6 3 (6-68) Dengan memasukkan rumus untuk Iz ke dalam Persamaan (6-67) kita dapatkan (6-69) Rumus ini memberikan tegangan geser di sembarang titik sepanjang kaki siku. Tegangan tersebut bervariasi secara kuadratik terhadap s, seperti terlihat dalam Gambar 6-36c. Harga maksimum dari tegangan terjadi di perpotongan kaki-kaki siku dan diperoleh dari Persamaan (6-69) dengan memasukkan s = b: 3Y � = y maks 2bt-Jl (6-70) Gaya geser F di masing-masing kaki (Gambar 6-36d) sama dengan luas diagram tegangan parabolik (Gambar 6-36c) dikalikan dengan tebal t kaki: 2 Vy F = 3(�maksb)(t) = -J2 (6-71) Karena komponen horizontal dari gaya F saling meniadakan, maka hanya komponen vertikal yang tertinggal. Setiap komponen vertikal sama dengan Fl-fi atau VY12 sehingga gaya vertikal resultan sama dengan gaya geser lj.
  • 391.
    378 Bab 6T egangan Di Balok (T opik Lanjut) Gambar 6-37 Pusat geser dari penampang yang terdiri atas dua persegi panjang tipis yang berpotongan (a) (b) Gambar 6·38 Pusat geser profil Z berdinding tipis Karena gaya resultan melalui titik perpotongan garis kerja kedua gaya F (Gambar 6-36d), maka kita lihat bahwa gaya geser S terletak di perpotongan dari kedua kaki profil siku tersebut. • Penampang yang Terdiri atas Dua Persegi Panjang Sempit yang Berpotongan Di dalam pembahasan sebelum ini mengenai profil siku, kita telah mengevaluasi tegangan geser dan gaya-gaya di kaki profil siku untuk menggambarkan metodologi umum dalam menganalisis penampang terbuka berdinding tipis. Namun, jika tujuan utama adalah menentukan pusat geser, maka tegangan geser dan gaya-gaya tersebut tidak perlu dievaluasi (Persamaan 6-69 dan 6-7 1). Karena tegangan geser sejajar dengan garis pusat kaki (Gambar 6-36b), maka kita akan dapat mengetahui secara langsung bahwa resultannya adalah dua gaya F (Gambar 6-36d). Resultan dari kedua gaya ini adalah satu gaya yang melalui titik potongnya. Dengan demikian, titik tersebutmerupakan pusat geser. Jadi, kita dapat menentukan lokasi pusat geser dari profil siku sama kaki dengan argumentasi sederhana, tanpa perlu melakukan perhitungan. Argumentasi yang sama juga berlaku untuk semua penampang yang terdiri atas dua persegi panjang tipis yang saling berpotongan (Gambar 6- 37). Dalam hal ini resultan tegangan geser adalah gaya-gaya yang berpotongan di perpotongan masing-masing persegi panjang. Dengan demikian, pusat geser S terletak di titik tersebut. • Profil Z Sekarang kita akan menentukan lokasi pusat geser dari profil Z yang mempunyai dinding tipis (Gambar 6-38a). Profil ini tidak mempunyai sumbu simetri tetapi simetris terhadap pusat berat C (lihat Subbab 12.2 dalam Bab 12 untuk pembahasan simetri terhadap sebuah titik). Sumbu y dan z adalah sumbu utama yang melalui pusat berat. Kita mulai dengan mengasumsikan bahwa gaya geser VY beketja seja jar dengan sumbu y dan menyebabkan lentur terhadap sumbu z sebagai sumbu netral. Karena itu, tegangan geser di flens dan badan akan berarah seperti terlihat dalam Gambar 6-38a. Dari tinjauan simetri, kita simpulkan bahwa gaya F1 di dua flens harus sama (Gambar 6-38b). Resultan dari ketiga gaya yang bekelja di penampang (F1 di flens, dan F2 di badan) harus sama dengan gaya geser VY. Gaya F1 mempunyai resultan 2F1 yang bekelja melalui pusat berat dan seja jar dengan flens. Gaya ini berpotongan dengan gaya F2 di pusat berat C sehingga kita simpulkan bahwa garis kerja gaya geser Vv melalui pusat berat. Jika balok mengalami gaya geser Vz yang sejajar sumbu z, maka kita akan sampai pada kesimpulan serupa, bahwa gaya geser bekerja melalui pusat berat. Karena pusat geser terletak di perpotongan garis kelja kedua
  • 392.
    Gambar 6-39 Contoh6-8. Pusat geser suatu penampang setengah lingkaran berdinding tipis Mekanika Bahan 379 gaya geser, maka kita simpulkan bahwa pusat geser profil Z berhimpit dengan pusat beratnya. Kesimpulan ini berlaku untuk setiap profil Z yang simetris terhadap pusat berat, yaitu setiap profil Z yang mempunyai flens identik (lebar dan tebal sama). Namun perlu diingat bahwa tebal badan tidak harus sama dengan tebal flens. Lokasi pusat geser untuk berbagai profil struktural lain diberikan dalam soal-soal di akhir bab ini.* Contoh 6-8 Sebuah penampang setengah lingkaran berdinding tipis dengan radius r dan tebal t terlihat dalam Gambar 6-39a. Tentukan jarak e dari pusat lingkaran 0 ke pusat geser S. (a) (b) Solusi Kita ketahui secara langsung bahwa pusat geser terletak di sumbu simetri (sumbu z). Untuk menentukan posisi eksaknya, kita asumsikan bahwa balok ini melentur akibat gaya geser VY yang bekeija sejajar sumbu y dan menghasilkan lentur terhadap sumbu z sebagai sumbu netral (Gambar 6-39b). Langkah pertama adalah menentukan pusat tegangan geser T yang bekeija di penampang (Gambar 6-39b). Kita tinjau potongan bb yang didefinisikan dengan jarak s yang diukur sepanjang garis pusat penampang dari titik a. Sudut tengah yang dibatasi oleh titik a dan potongan bb ditulis dengan notasi e. Dengan dernikian, jarak s sama dengan re, di mana r adalah radius garis pusat dan e dinyatakan dalam radian. Untuk mengevaluasi momen pertama dari area penampang antara titik a dan potongan bb, kita identifikasikan elemen luas dA (terlihat digelapkan dalam gambar) dan integrasikan sebagai berikut: Qz = Jy dA = L9 (r cos <P)(tr d<P) = r2t sin e (e) di mana <P adalah sudut terhadap elemen luas dan t adalah tebal penampang. Jadi, tegangan geser T di potongan bb adalah VyQz Vyr2 sin e T = -- = -'----:-- - // / z (f) *Penentuan pusat geser pertama kali dilakukan oleh Timoshenko pada tahun 1913 (Ref. 6-1). Untuk perkembangan sejarah mengenai konsep pusat geser, lihat Ref. 6-1 sampai 6-6.
  • 393.
    380 Bab 6T egangan Di Balok (Topik Lanjut) Dengan memasukkan /2 = n?t/2 (lihat Kasus 23 dalam Lampiran D), kita dapatkan 2Vv sin 0 'l' = -'------ (6-72) Apabila 0 = 0 atau 0 = n, maka rumus ini memberikan 'l' = 0, sebagaimana diharapkan. Apabila 0 = 1C/2, maka didapatkan tegangan geser maksimum. Resultan tegangan geser harus sama dengan gaya geser VY. Dengan demikian, momen M0 dari tegangan geser terhadap pusat 0 harus sama dengan momen dari gaya vy terhadap titik yang sama: (g) Untuk mengevaluasi M0, kita mulai dengan memperhatikan bahwa tegangan geser 'l' yang bekerja di elemen luas dA (Gambar 6-39b) adalah 2 V sin </> 'l' = -'- Y _ _ nrt sebagaimana diperoleh dari Persamaan (6-72). gaya yang berkaitan dengan ini adalah r dA, dan momen dari gaya ini adalah 2V sin </> dA dM0 = r('l'dA) = �Y '--- - 7rt Karena dA = trd</>, rumus ini menjadi 2rV sin</> d</> dM = ---'y'------ o 7r Dengan demikian, momen yang dihasilkan oleh tegangan geser tersebut adalah J 1" 2rV Y sin </> d</> 4rV Y M = dM = = -- o 0 0 7r 7r Dari Persamaan (g) diperoleh bahwa jarak e ke pusat geser adalah (h) Mo 4r e = -- = - "" I 27r V n ' (6-73) • y Hasil ini menunjukkan bahwa pusat geser S terletak di luar penampang setengah lingkaran. · Catatan: Jarak dari pusat busur lingkaran 0 ke pusat berat penampang C (Gambar 6-39a) adalah 2r/n(dari Kasus 23 Lampiran D), yang merupakan setengah darijarak e. Jadi, pusat beratterletak di antarapusat geser dan pusat busur lingkaran. Lokasi pusat geser pada kasus yang lebih umum dari penampang lingkaran berdinding tipis, ditentukan dalam Soal 6.8- 12. -· 6·• 9 1 LENTUR ELASTOPLASTIS Di dalam semua pembahasan sebelum ini mengenai lentur, kita telah berasumsi bahwa balok terbuat dari bahan yang mengikuti hukum Hooke (bahan elastis linier). Sekarang kita akan meninjau lentur pada balok apabila tegangan telah melebihi limit proporsional bahan. Apabila ini terjadi, distribusi tegangan tidak lagi linier tetapi bervariasi menurut bentuk kurva tegangan-regangan. Di dalam subbab ini kita akan menganalisis balok dengan bahan elastoplastis, dan di dalam subbab setelah ini kita akan meninjau lebih banyak bentuk umum kurva tegangan-regangan. Bahan elastoplastis telah dibahas sebelum ini pada saat kita menganalisis batang yang dibebani secara aksial dan batang yang
  • 394.
    Gambar 6-40 Diagramtegangan­ regangan yang diidealisasi untuk bahan elastoplastis z X Gambar 6-41 Balok dari bahan elastoplastis yang mengalami momen lentur positif M z (a) (b) Gambar 6-42 Distribusi tegangan di balok dari bahan elastoplastis Mekanika Bahan 381 mengalami torsi (lihat Subbab 2.12 dan 3. 12). Sebagaimana diterangkan dalam subbab tersebut, bahan elastoplastis mengikuti hukum Hooke sampai tegangan luluh O' Y dan selanjutnya luluh secara plastis pada kondisi tegangan konstan (lihat diagram tegangan-regangan dalam Gambar 6-40). Dari gambar tersebut, kita lihat bahwa bahan elastoplastis mempunyai daerah elastisitas linier di antara daerah-daerah yang mempunyai plastisitas sempurna. Di seluruh subbab ini, kita akan mengasumsikan bahwa bahan mempunyai tegangan luluh O' Y sama dan regangan luluh e y sama dalam kondisi tarik dan kondisi tekan. Baja struktural adalah contoh terbaik untuk bahan elastoplastis karena bahan ini mempunyai titik luluh yang terdefinisi jelas dan mengalami regangan besar selama luluh. Asumsi plastisitas sempurna sesudah tegangan luluh dicapai mengandung arti bahwa kita mengabaikan efek pengerasan regang (strain hardening). Karena pengerasan regang memberikan peningkatan kekuatan, maka asumsi ini berada di sisi aman. Mari kita tinjau sebuah balok dari bahan elastoplastis yang mengalami momen lentur M yang menyebabkan lentur dalam bidang xy (Gambar 6- 41). Apabila momen lentur tersebut kecil, maka tegangan maksimum di balok akan lebih kecil daripada tegangan luluh a y , sehingga balok berada dalam kondisi yang sama dengan sebuah balok yang mengalami lentur elastis biasa dengandistribusi tegangan linier, seperti terlihat dalam Gambar 6-42b. Pada kondisi ini, sumbu netral yang melalui pusat berat penampang dan tegangan normal diperoleh dari rumus lentur (a = -My/f). Karena momen lentur adalah positif, tegangan adalah tekan di atas sumbu z dan tarik di bawahnya. Kondisi ini terus ada sampai tegangan di balok di titik terjauh dari sumbu netral mencapai tegangan luluh a y , baik tarik maupun tekan (Gambar 6-42c). Momen lentur di balok apabila tegangan maksimum tepat mencapai tegangan luluh, yang disebut momen luluh M Y , dapat diperoleh dari rumus lentur: (6-74) di mana c adalah jarak ke titik paling jauh dari sumbu netral dan S adalah modulus penampangnya. cr 1· y ·1 � �� I· cry ·I (c) (d) (e) (f) Jika kita sekarang memperbesar momen lentur hingga di atas momen luluh MY, maka regangan di balok akan terus membesar dan regangan maksimum akan melebihi regangan luluh e y . Namun, karena kondisinya luluh plastis sempurna, maka tegangan maksimum akan tetap konstan dan
  • 395.
    382 Bab 6T egangan Di Balok (Topik Lanjut) Gambar 6-43 Lokasi sumbu netral dan penentuan momen plastis MP pada kondisi plastis penuh sama ctengan a y , seperti terlihat ctalam Gambar 6-42ct. Perhatikan bahwa ctaerah luar balok telah mengalami plastis penuh sectangkan ctaerah inti tengah (ctisebut inti elastis) tetap elastis linier. Jika sumbu z bukan sumbu simetri (penampang simetris tunggal), maka sumbu netral akan menjauhi pusat berat apabila momen luluh terlampaui. Perubahan letak lokasi sumbu netral tictaklah besar, ctan ctalam hal penampang trapesium (Gambar 6-42), perubahan ini terlalu kecil untuk ctapat terlihat ctalam gambar. Jika penampang actalah simetris gancta, maka sumbu netral melalui pusat berat bahkan pacta saat momen luluh terlampaui. Apabila momen lentur meningkat lebih lanjut, ctaerah plastis membesar ctan bergerak ke ctalam ke arah sumbu netral sampai konctisi yang terlihat ctalam Gambar 6-42e cticapai. Pacta tahap ini regangan maksimum cti balok (cti jarak teijauh ctari sumbu netral) mungkin sebesar 10 sampai 15 kali regangan luluh ey ctan inti elastis hampir tictak acta lagi. Jacti, untuk praktisnya, balok tersebut ctipanctang telah mencapai kapasitas tahanan momen ultimatenya, ctan kita ctapat mengictealkan ctistribusi tegangan ul­ timate sebagai terctiri atas ctua bagian persegi panjang (Gambar 6-42t). Momen lentur yang berkaitan ctengan ctistribusi tegangan yang ctiictealisasikan ini, yang ctisebut momen plastis M P , menunjukkan momen maksimum yang ctapat ctipikul oleh bahan elastoplastis. Untuk mencari momen plastis M P , kita mulai ctengan menentukan lokasi sumbu netral penampang pacta konctisi plastis penuh. Untuk itu, tinjau penampang yang terlihat ctalam Gambar 6-43a ctan rnisalkan sumbu z actalah sumbu netral. Setiap titik cti penampang cti atas sumbu netral mengalami tegangan tekan a y (Gambar 6-43b), ctan setiap titik cti bawah sumbu netral mengalami tegangan tarik a y . Gaya tekan resultan C sama ctengan ay ctikali luas penampang A1 cti atas sumbu netral (Gambar 6-43a), ctan gaya tarik resultan T sama ctengan a y ctikali luas A2 cti bawah sumbu netral. Karena gaya resultan yang bekeija cti penampang actalah nol, maka, T = C atau A1 = A2 (a) Karena luas total penampang A sama ctengan A1 + A2, maka kita lihat bahwa (6-75) Dengan ctemikian, pacta konctisi plastis penuh, sumbu netral membagi penampang atas dua luas yang sama. Karena itu, lokasi sumbu netral untuk momen plastis M P ctapat berbecta ctengan lokasi sumbu netral untuk lentur elastis linier. Sebagai contoh, ctalam hal penampang trapesium yang (a)
  • 396.
    Mekanika Bahan 383 lebihsempit di atasnya dibandingkan dengan di bawahnya (Gambar 6- 43a), sumbu netral untuk lentur plastis mumi berada sedikit di bawah sumbu netral untuk lentur elastis linier. Karena momen plastis M P adalah resultan momen dari tegangan yang bekerja di penampang, maka momen tersebut dapat dicari dengan mengintegrasi tegangan di seluruh luas penampang A (Gambar 6-43a): M P = -J oydA = - J (-av )ydA - J a ydA A � . � y _ - avA(yi + Y2 ) = <1,(y1A1 ) - <1,(-Y2A2 ) = . 2 di mana y adalah koordinat (positif ke atas) elemen luas dA dan y1 dan y2 masing-masing adalah jarak dari sumbu netral ke pusat berat c1 (untuk A1) dan c2 (untuk A2). Cara yang lebih mudah untuk mendapatkan momen plastis adalah dengan mengevaluasi momen terhadap sumbu netral dari gaya-gaya C dan T (Gambar 6-43b): M P = C.Yi + Ty2 Dengan menggantikan T dan C dengan a.f./2, kita peroleh (6-76) Prosedur untuk setiap balok khusus adalah membagi penampangnya menjadi dua luas yang sama, menentukan lokasi pusat berat masing-masing luas tersebut, dan selanjutnya menggunakan Persamaan (6-76) untuk menghitung M P . Rumus untuk momen plastis dapat ditulis ulang dalam bentuk yang sama dengan untuk momen luluh (Persamaan 6-74), sebagai berikut: (6-77) di mana (6-78) adalah modulus plastis (atau modulus penampang plastis) untuk suatu penampang. Modulus plastis diinterpretasikan sebagai momen pertama (yang dievaluasi terhadap sumbu netral) dari luas bagian penampang di atas sumbu netral ditambah momen pertama dari luas di bawah sumbu netral. Rasio antara momen plastis terhadap momen luluh semata-mata me­ rupakan fungsi dari bentuk penampang dan disebut faktor bentuk f. (6-79) Faktor ini merupakan ukuran kekuatan cadangan pada balok sesudah luluh pertama kali terjadi. Nilainya akan terbesar apabila sebagian besar bahan
  • 397.
    / I 384 Bab 6T egangan Di Balok (T opik Lanjut) Gambar 6-44 Penampang persegi panjang terletak di dekat sumbu netral (contohnya, suatu balok yang mempunyai penampang lingkaran solid), dan akan terkecil apabila sebagian besar bahan jauh dari sumbu netral (contohnya, balok yang mempunyai penampang sayap lebar). Hargajuntuk penampang persegi panjang, sayap lebar, dan lingkaran diberikan di bagian lain subbab ini. Bentuk penampang lain ditinjau dalam soal-soal di akhir bab ini. • Balok dengan Penampang Persegi Panjang Sekarang kita akan menentukan besaran suatu balok yang mempunyai penampang persegi panjang (Gambar 6-44) apabila bahan bersifat elastoplastis. Modulus penampang adalah S = bh216, sehingga momen luluhnya (Persamaan 6-74) adalah (] bh2 M = - Y_ _ y 6 di mana b adalah lebar dan hadalah tinggi penampang. (6-80) Karena penampang ini simetris ganda, maka sumbu netral melalui pusat berat bahkan jika balok tersebut dibebani hingga mencapai daerah plastis. Dengan demikian, jarak ke pusat berat area di atas dan dibawah sumbu netral adalah - - h YI = y2 = 4 Dengan demikian, modulus plastisnya (Persamaan 6-78) adalah z = A(.yi + Y2) = bh(!!_ !!_) = bh2 2 2 4 + 4 4 dan momen plastisnya adalah (Persamaan 6-77) (] bh2 M = - Y_ _ p 4 (b) (6-81) Akhimya, faktor bentuk untuk penampang persegi panjang adalah MP z 3 J = My = s = 2 (6-82) yang berarti bahwa momen plastis untuk balok persegi panjang adalah 50% lebih besar daripada momen luluh. Selanjutnya, kita tinjau tegangan di balok persegi panjang apabila momen lentur M lebih besar daripada momen luluh tetapi belurn mencapai momen plastis. Bagian luar dari balok akan berada pada tegangan luluh ay dan bagian dalam (inti elastis) akan mempunyai distribusi tegangan yang bervariasi secara linier (Gambar 6-45a dan b). Daerah plastis penuh digelapkan dalam Gambar 6-45a, dan jarak dari sumbu netral ke tepi luar inti elastis dinyatakan dengan e. Tegangan yang bekerja di penampang mempunyai resultan gaya Cl' C2, Ti' dan T2, seperti terlihat dalam Gambar 6-45c. Gaya C1 dan T1 di daerah plastis masing-masing sama dengan tegangan luluh dikalikan dengan luas bagian penampang: (c)
  • 398.
    (a) Gambar 6-45 Distribusitegangan di balok berpenampang persegi panjang dengan inti elastis (My � M � Mp) <ly I" .I -e I. <ly .I (b) h 2 h 2 Mekanika Bahan 385 1--.,_-+-Cl .,_-+- Cz 1-----"�_.Tz ___.1 _ _ _ _ f---+-�Tl (c) Gaya C2 dan T2 di inti elastis masing-masing sama dengan luas diagram tegangan dikali lebar balok b: a e c2 =T2 =+b (d) Jadi, momen lentur (lihat Persamaan 6-45c) adalah M=C1 (�+ e)+ C2 (�e)=ai(�-e)(�+ e)+ a � be(�e) (6-83) Persamaan ini berlaku untuk MY.s; M.s; MP.Perhatikan bahwa jika e = h/2, maka persamaan tersebut menghasilkan M= MY, dan jika e = 0, persamaan tersebut menghasilkan M=3Mj2.yang merupakan momen plastis MP. Persamaan (6-83) dapat digunakan untuk menentukan momen lentur apabila dimensi inti elastis diketahui. Namun, persyaratan yang lebih umum adalah menentukan ukuran inti elastis apabila momen lentur diketahui. Dengan demikian, kita akan memecahkan Persamaan (6-83) untuk e yang dinyatakan dalam momen lentur: e=h t(t- ;:) (6-84) Sekali lagi, kita perhatikan bahwa kondisi yang membatasi adalah: apabila M=MY,maka persamaan tersebut memberikan e=h/2,dan jika M=MP =3Mj2.persamaan tersebut menghasilkan e= 0, yang merupakan kondisi plastis penuh. • Balok dengan Profil Sayap Lebar Untuk balok sayap lebar simetris ganda (Gambar 6-46), modulus plastis Z (Persamaan 6-78) dihitung dengan mengambil momen pertama terhadap sumbu netral dari luas satu flens dan setengah atas badan, dan kemudian mengalikannya dengan 2.Hasilnya adalah Z =2[(btc{�- t�)+ (tw)(�-tc)(�)(�-tc)] =btf(h - tf)+ tw(�-tfr (6-85a)
  • 399.
    386 8ab 6Tegangan Di Balok (Topik Lanjut) Gambar 6-46 Penampang balok sayap lebar z Gambar 6-47 Contoh 6-9. Penampang balok lingkaran (bahan elastoplastis) z Gambar 6-48 Solusi untuk Contoh 6-9 yang dapat ditulis dalam bentuk altematif (6-85b) Sesudah menghitung modulus plastis dari Persamaan (6-85a atau b), kita dapat memperoleh momen plastis M P dari Persamaan (6-77). Harga Z untuk profil sayap lebar yang secara komersial tersedia dicantumkan dalam manual dari AISC (Ref. 5-4). Faktor bentuk f untuk balok sayap lebar secara tipikal berada dalam selang 1 , 1 sampai 1,2, bergantung pada proporsi penampang. Balok elastoplastis dengan profil lain dapat dianalisis dengan cara yang sama dengan yang diuraikan di atas untuk balok persegi panjang dan sayap lebar (lihat contoh-contoh berikut dan soal-soal di akhir bab ini). • Contoh 6-9 Tentukan momen luluh, modulus plastis, momen plastis, dan faktor bentuk untuk sebuah balok berpenampang lingkaran dengan diameter d (Gambar 6-47). Solusi Perhatikan bahwa karena penampang adalah simetris ganda, maka sumbu netral akan melalui pusat lingkaran untuk keadaan elastis linier dan elastoplastis. Momen luluh M Y diperoleh dari rumus lentur (Persamaan 6-74) sebagai berikut: (6-86) .. Modulus plastis Zdiperoleh dari Persamaan (6-78) di manaA adalah luas lingkaran dan 5 dan y2adalahjarak pusat berat c1 dan c2 untuk dua buah setengah lingkaran (Gambar 6-48). Jadi, dari Kasus 9 dan 10 dalam Lampiran D, kita peroleh rrd2 - - 2d A = - 4- YI = Yz 3n (e,f) Sekarang dengan memasukkan ini ke dalam Persamaan (6-78) untuk modulus plastis, kita peroleh z = A(.Y1 + Yz) = d3 2 6 Dengan demikian, momen plastis M P (Persamaan 6-77) adalah a d3 M = a Z = - Y- P Y 6 dan faktor bentuk (Persamaan 6-79) adalah M f = - p = � "' 1 70 M 3n ' y (g) (6-87) .. (6-88) .. basil ini menunjukkan bahwa momen lentur maksimum untuk balok lingkaran dengan bahan elastoplastis sekitar 70% lebih besar daripada momen lentur apabila balok mulai luluh.
  • 400.
    V I z- ___jc hilh �l 1.1+--� b& -----+�.1_1 Gambar 6-49 Contoh 6-10. Penampang balok kotak berlubang (bahan elastoplastis) Gambar 6-50 Solusi Contoh 6-10 Mekanika Bahan 387 • Contoh 6-10 Sebuah balok boks berlubang simetris (Gambar 6-49) dari bahan elastoplastis (ay = 220 MPa) mengalami momen lentur M yang besarnya sedemikian hingga flens mengalami luluh tetapi badan tetap elastis linier. Tentukan besar momen M jika dimensi penampang adalah b = 1 50 mm, b1 = 1 30 mm, h = 200 mm, dan h1 = 160 mm. Solusi Penampang ba1ok dan distribusi tegangan normal masing-masing ditunjukkan da1am Gambar 6-SOa dan b. Dari gambar tersebut, kita lihat bahwa tegangan di badan bertambah secara linier terhadap jarak dari sumbu netral dan tegangan di flens sama dengan tegangan luluh ay. Dengan demikian, momen Jentur M yang bekerja di penampang terdiri atas dua bagian: (1) momen M1 yang berkaitan dengan inti elastis, dan (2) momen M2 yang dihasilkan oleh tegangan luluh a,. di flens. Momen Jentur yang dikontribusi oleh inti diperoleh dari rumus Jentur (Persamaan 6-74) dengan modulus penampang dihitung untuk badan saja; jadi, dan y z c 1.1+- 1,-"-'- b&--.1��1 (a) (b - b1 )h; s = 6 F hi h (b) h+hi 2 (h) (i) Untuk mendapatkan momen yang dikontribusi oleh flens, kita perhatikan bahwa gaya resultan F di setiap flens (Gambar 6-SOb) sama dengan tegangan luluh dikalikan dengan luas flens: (h - h ) F = ayb - 2 - 1 (j) Gaya di flens atas adalah tekan dan gaya di flens bawah adalah tarikjika momen lentur M adalah positif. Kedua gaya tersebut secarabersama menghasilkan momen lentur M2: = (h + h1 )- ayb(h2 - h12 ) M2 F 2 - 4 Jadi, momen total yang bekerja di penampang adalah a M "' M1 + M2 = 1� {3bh2 - (b + 2b1 )h;) (k) (6-89) •
  • 401.
    388 Bab 6T egangan Di Balok (T opik Lanjut) cr <lj - - - - - - - - - __, . - Dengan memasukkan harga-harga numerik, kita peroleh M = 138 kN·m Catatan: Momen luluh MY dan momen plastis MP untuk balok di contoh ini mempunyai harga sebagai berikut (ditentukan dalam Soal 6.9-14): MY = 122 kN·m MP = 147 kN·m Momen lentur M ada di antara kedua harga tersebut, sebagaimana diharapkan. 6"1 0 I LENTUR NONLINIER Di dalam subbab sebelum ini kita telah membahas kasus khusus bahan elastoplastis, suatu idealisasi yang merepresentasikan secara sangat dekat perilaku baja struktural. Sekarang, kita akan meninjau bahan yang mempunyai kurva tegangan-regangan lebih umum (Gambar 6-51). Pada awalnya, kita akan mengasumsikan bahwa bahan mempunyai kurva tegangan-regangan yang sama dalam kondisi tarik dan tekan (kurva tegangan-regangan simetris), dan selanjutnya kita akan meninjau bahan dengan kurva tak simetris. Juga, kita akan membatasi analisisnya pada balok dengan penampang persegi panjang, sehingga menyederhanakan '-----------£ perhitungan dengan tetap menggambarkan prinsip-prinsip umum analisis €] nonlinier. Gambar 6-51 Kurva tegangan- regangan nonlinier • Balok dengan Penampang Persegi Panjang dan Kurva Gambar 6-52 Balok persegi panjang yang mengalami lentur nonlinier: (a) penampang balok dengan sumbu netral melalui pusat berat, (b) regangan di balok, dan (c) tegangan di balok Tegangan-Regangan Simetris Apabila suatu penampang balok adalah simetris ganda dan kurva tegangan­ regangan sama untuk kondisi tarik dan tekan, maka kita dapat segera mengetahui bahwa sumbu netral untuk lentur melalui pusat berat penampang, seperti terlihat untuk penampang persegi panjang dalam Gambar 6-52a. Selain itu, kita ketahui bahwa regangan di suatu balok yang mengalami lentur mumi bervariasi secara linier di seluruh tinggi balok, tidak bergantung pada bagaimana sifat bahan (lihat Subbab 5.4). Dengan demik:ian, regangan di balok dalam Gambar 6-52a akan bervariasi seperti terlihat dalam Gambar 6-52b apabila balok tersebut mengalami momen Ientur positif (tekan di setengah atas balok dan tarik di setengah bawah). Regangan akan nol di sumbu netral dan sama dengan e1 di atas dan bawah balok. z I. b .I (a) (b) (c)
  • 402.
    Mekanika Bahan 389 Tegangandi suatu balok diperoleh dari regangannya dengan menggunakan hubungan tegangan-regangan. Karena regangan bervariasi secara linier terhadapjarak dari sumbu netral, maka distribusi tegangan di seluruh tinggi balok (Gambar 6-52c) mempunyai bentuk sama dengan kurva tegangan-regangan itu sendiri (Gambar 6-51). Tegangan maksimum <11 di balok berkaitan dengan regangan e1 di kurva tegangan-regangan. Sekarang kita akan menentukan momen lentur M yang bekerja di penampang. Kita mulai dengan mengidentifikasikan elemen tipis dari daerah yang terletak di jarak y dari sumbu netral (Gambar 6-52a). Elemen tersebut mempunyai lebar bdan tinggi dy, sehingga luasnya adalah bdy. Gaya yang bekerja di daerah ini sama dengan ab dy, dan momen dari gaya tersebut terhadap sumbu z adalah aby dy. Jadi, momen lentur adalah ih/2 M = 2 0 aby dy (a) Hanya harga mutlak digunakan dalam persamaan ini dan persamaan­ persamaan berikut ini karena arah tegangan dan arah momen lentur selalu sudah jelas. Sebagai contoh, kita ketahui bahwa momen lentur positif menghasilkan tegangan tekan di bagian atas balok dan tegangan tarik di bagian bawahnya. Tegangan a yang muncul dalam Persamaan (a) ditentukan dari kurva tegangan-regangan sehingga merupakan fungsi dari regangan e. Namun, integrasinya dilakukan terhadap variabel y. Karena itu, kita perlu melakukan perubahan variabel supaya dapat melakukan integrasi. Kita dapat meng­ hubungkan variabel e dan y dengan mengamati bahwa regangan e pada jarak y dari sumbu netral (Gambar 6-52b) adalah sehingga he y = u 1 (b) (c,d) Dengan mensubstitusikan persamaan-persamaan ini ke dalam Persamaan (a), danjuga mengubah limit atas integrasi dari h/2 menjadi harga regangan e1 yang berkaitan, maka, atau ih/2 r'l ( he )(hde ) M = 2 o aby dy = 2b Jo a 2el 2el (6-90a) Persamaan ini menghubungkan regangan maksimum e1 di balok dengan momen lentur M, asalkan tegangan a diketahui sebagai fungsi dari regangan e. Persamaan (6-90a) dapat diberikan interpretasi geometris sederhana. Integralnya merupakan momen pertama (statis momen) dari daerah di bawah kurva tegangan-regangan (Gambar 6-51) dari e = 0 sampai e = el' yang dievaluasi terhadap sumbu vertikal (sumbu tegangan). Jadi, M = bh2Q 2e 2 s (6-90b) I di mana Q. adalah momen pertama yang baru saja diterangkan.
  • 403.
    - 390 Bab 6Tegangan Di Balok (T opik Lanjut) <J=Ee (Jl ------ Gambar 6-53 Diagram tegangan-regangan untuk bahan elastis linier (J Gambar 6-54 Kurva tegangan­ regangan nonlinier dengan besaran berbeda untuk kondisi tarik dan tekan Jika hubungan tegangan-regangan cukup sederhana untuk dinyatakan secara analitis, maka adalah suatu hal yang mungkin untuk mendapatkan rumus momen pertama Q , . Dalam hal tersebut, Persamaan (6-90b) menjadi rumus yang menghubungkan momen lentur M dan regangan maksimum c1. Kita kemudian dapat mensubstitusikan hubungan tegangan-regangan dan mendapatkan rumus yang menghubungkan momen dengan tegangan maksimum a1• Hubungan terakhir ini merupakan rumus lentur untuk balok persegi panjang dari bahan nonlinier. Ilustrasi rumus tersebut diberikan kemudian dalam Contoh 6-l l . Namun, jika hubungan tegangan-regangan lebih rumit dan tidak dapat diintegrasikan secara analitis, atau jika hubungan tegangan-regangan dinyatakan secara numerik, maka momen pertama Q, harus dievaluasi secara numerik. Prosedumya adalah memilih harga regangan maksimum cp menentukan harga Q, dari kurva tegangan-regangan, dan kemudian mengevaluasi M dari Persamaan (6-90b). Hasilnya merupakan harga tunggal dari M yang terkait dengan regangan maksimum yang telah dipilih. Dengan mengulangi perhitungan ini untuk berbagai harga regangan, maka hubungan antara M dan c1 diperoleh sebagai tabel dari harga-harga numerik. Karena tegangan dan regangan dihubungkan oleh kurva tegangan-regangan, maka kitajuga dapat memperoleh tabel harga yang menghubungkan antara M dan tegangan maksimum a1• Akhimya, grafik M versus c1 dan M versus a1 dapat diplot dari tabel data tersebut. (Perhatikan bahwa grafik M versus a1 dapat menggantikan rumus lentur.) Sebagai kasus khusus, tinjau balok dari bahan elastis linier yang mempunyai hubungan tegangan-regangan (Gambar 6-53) a = Ec Momen pertama Q, adalah - al cl (2cl )- al e� Q , - 2 3 - 3 sehingga momen lentumya adalah M = bh 2 = bh 2 (al e� )= aibh 2 = a s 2£ 2 Q , 2£ 2 3 6 I I I (e) (f) (g) di mana S adalah modulus penampang. Persamaan ini merupakan rumus lentur yang sudah kita kenal untuk balok persegi panjang dari bahan elastis linier. • Balok dengan Penampang Persegi Panjang dan Kurva Tegangan-Regangan Tak Simetris Sekarang tinjaulah apa yang terjadi apabila bagian tarik dan tekan dari kurva tegangan-regangan berbeda (Gambar 6-54). Kita segera mengenali bahwa sumbu netral tidak lagi melewati pusat berat penampang (Gambar 6-55a). Distribusi regangan linier mempunyai bentuk seperti terlihat dalam Gambar 6-55b, di mana £1 adalah regangan tekan di atas balok dan £2 adalah regangan tarik di bawah balok. Distribusi tegangan (Gambar 6- 55c) mempunyai bentuk sama dengan kurva tegangan-regangan. Untuk menentukan lokasi sumbu netral, kita menggunakan persyaratan bahwa gaya resultan yang bekerja di penampang haruslah nol. Sekali lagi
  • 404.
    Gambar 6-55 Balokpersegi panjang yang mengalarni lentur nonlinier: (a) penampang balok, (b) regangan di balok, dan (c) tegangan di balok Mekanika Bahan 391 T I. b .I (a) (b) (c) kita meninjau elemen luas yang mempunyai lebar b dan tinggi dy (Gambar 6-55a), dan kita perhatikan bahwa gaya yang bekerja di elemen ini adalah CJb dy. Jika kita mengintegrasikan gaya ini di setengah atas balok, maka kita akan mendapatkan gaya tekan resultan C(Gambar 6-55c): ihl c = 2 0 CJb dy (h) di mana h1 adalah jarak dari sumbu netral ke atas balok. (Seperti telah disebutkan, hanya harga mutlak yang digunakan di sini dan persamaan­ persamaan lainnya karena arah tegangan dan gaya dapat diketahui dengan inspeksi.) Dengan 1nengikuti langkah-langkah yang sama dengan yang digunakan dalam menurunkan Persamaan (6-90a), kita dapat mengubah variabelnya dari y menjadi e dengan menggunakan persamaan-persamaan berikut (lihat Gambar 6-55b): (i,j,k) Dengan demikian, gaya tekan Cadalah (6-91a) Integral terakhir ini adalah luas Ac antara bagian tekan dalam kurva tegangan-regangan dan sumbu regangan (Gambar 6-54). Jadi, bentuk alternatif dari persamaan di atas adalah C= bhi A ei c (6-91b) Luas Ac dapat dievaluasi secara analitis atau numerik, bergantung pada bagaimana kurva tegangan-regangan didefinisikan. Gaya tarik resultan Tdi bagian bawah balok diperoleh dengan cara sama. Namun, untuk mudahnya kita sekarang mengambil koordinat y' dalam arah y negatif (Gambar 6-55a), dan mengidentifikasi elemen luas b dy'. Gaya di elemen ini adalah CJb dy' sehingga gaya Tadalah rhz T= J o CJb dy' (1)
  • 405.
    392 Bab 6Tegangan Di Ba/ok (Topik Lanjut) di mana � adalahjarak dari sumbu netral ke bawah balok. Untuk mengubah variabel, kita menggunakan hubungan berikut (lihat Gambar 6-55b): e = e L y ' = hze dy' = hzde 2 ��� hz e2 e2 Jadi, gaya tarik T adalah (6-92a) Sekali lagi kita lihat bahwa integral di atas mempunyat mterpretasi geometris sederhana-interpretasi ini adalah luas A1 antara bagian tarik dari kurva tegangan-regangan dan sumbu regangan (Gambar 6-54). Jadi, bh2 T = -A (6-92b) ez r Karena kita telah memperoleh rumus untuk gaya C dan T, maka kita dapat menentukan lokasi sumbu netral. Persyaratan bahwa gaya resultan bekerja di penampang adalah nol menghasilkan rumus berikut: Dari distribusi regangan linier (Gambar 6-55b), kita lihat bahwa !l = h2 ei ez sehingga Persamaan (p) akan susut menjadi Ac = Ar (p) (6-93) (6-94) Dengan perkataan lain, sumbu netral terletak sedemikian rupa sehingga luas tekan pada diagram tegangan-regangan sama dengan luas tarik (Gambar 6-54). Jadi, untuk setiap e1 yang diasumsikan, kita dapat menen­ tukan harga ez terkait dari Persamaan (6-94) dan kurva tegangan-regangan. Dengan mengetahui e1 dan ez, maka kita dapat memperoleh rasio antara h1 dan h2 dari Persamaan (6-93). Selain itu, kita ketahui bahwa (6-95) Dengan demikian, kita dapat memperoleh h1 dan h2 dengan memecahkan secara simultan Persamaan (6-93) dan (6-95); hasilnya adalah (6-96a,b) Singkatnya, sumbu netral dapat ditentukan lokasinya dengan mengasumsi harga regangan e1, mencari regangan ez dari Persamaan (6-94) dan kurva tegangan-regangan, dan selanjutnya mencari h1 dan h2 dari Persamaan (6- 96). Langkah berikutnya adalah mencari momen lentur Myang bekerja di penampang. Kita akan memisahkan momen menjadi dua bagian: momen Mc yang dihasilkan oleh tegangan tekan dan momen M1 yang dihasilkan oleh tegangan tarik. Untuk mendapatkan momen Mc, kita tinjau kembali
  • 406.
    Mekanika Bahan 393 elemenluas b dy yang terletak pada jarak y dari sumbu netral (Gambar 6-55a). Gaya yang bekerja di elemen adalah CJb dy, dan momen terhadap sumbu netral adalah CJby dy; jadi, M C = s:� CJby dy Dengan memasukkan Persamaan (j) dan (k), dan mengubah batas atasnya, kita dapatkan M = r'rb(h 1e)(h1de)= bhf rrede c Jo e1 e1 e� Jo Dengan melakukan cara sama untuk tegangan tarik, kita peroleh rho M t = Jo -CJby'dy' Dengan memasukkan Persamaan (n) dan (o), maka dihasilkan (q) (r) (6-97a) Integral pertama menunjukkan momen pertama dari luas Ac yang dievaluasi terhadap sumbu tegangan (Gambar 6-54), dan integral kedua menunjukkan momen pertama dari luas A1 yang dievaluasi terhadap sumbu yang sama. Dengan memberikan notasi Qc dan Q1 untuk masing-masing momen pertama tersebut, maka persamaan di atas menjadi bh 2 bh; M = - 1 Q + - Q 2 c - 2 - t el e2 (6-97b) Dari Persamaan (6-93) kita Iihat bahwa dua fraksi di dalam persamaan di atas adalah sama; maka, bh 2 bh 2 M = - 1 (Q + Q1 ) = -;f--(Q + Q1 ) (6-98) e 2 c e - c 1 2 Jadi, kita sekarang mempunyai persamaan untuk menentukan momen lentur di balok, dengan mengasumsikan bahwa kita telah menentukan lokasi sumbu netral, dan menentukan fp �. hp dan h2• Yang tersisa tinggallah menentukan momen pertama Qc dan Q1 dari diagram tegangan-regangan dan memasukkannya ke dalam Persamaan (6-98). Detail prosedur di atas bergantung pada bagaimana informasi tegangan-regangan. Jika kurva tegangan-regangan dapat dinyatakan dalam bentuk analitis sederhana, maka kita dapat menurunkan rumus untuk menentukan lokasi sumbu netral dan menghubungkan momen lentur dengan tegangan maksimum. Prosedur ini digambarkan dalam Contoh 6-1 1 . Bila tidak, maka solusinya harus dilakukan secara numerik dimana kita meng­ hitung harga M (dari Persamaan 6-98) untuk setiap harga e1yang diasumsi­ kan. Karena kita mengetahui harga �. a1 , dan a2 yang terkait dengan masing-masing harga el' maka kita secara otomatis mempunyai hubungan antara momen lentur M dan tegangan maksimum dan minimum.
  • 407.
    ( 394 Bab 6T egangan Di Balok (T opik Lanjut) I. b .I (a) (J (b) Gambar 6-56 Contoh 6-1 1. Balok persegi panjang dengan diagram tegangan-regangan yang terdiri atas dua garis lurus Gambar 6-57 Solusi Contoh 6- 1 1 : (a) lokasi sumbu netral, (b) diagram tegangan-regangan, (c) distribusi regangan, dan (d) distribusi tegangan z (a) • Contoh 6-1 1 Sebuah balok dengan penampang persegi panjang dengan lebar b dan tinggi h, (lihat Gambar 6-56a) terbuat dari bahan yang mempunyai diagram tegangan­ regangan yang terdiri atas dua garis lurus (Gambar 6-56b). Modulus elastisitas untuk tekan dan tarik masing-masing adalah E1 dan E2. Dengan mengasumsikan bahwa balok ini mengalami momen lentur positif M yang bekerja terhadap sumbu z, tentukan lokasi sumbu netral dan tegangan tarik dan tekan maksimum di balok. Solusi Sumbu netral. Sumbu netral terletak padajarak h1 dari atas balok danjarak h2 dari bawahnya (Gambar 6-57a). Kita dapat mencari jarak-jarak ini dari fakta bahwa bagian tekan dan tarik pada diagram tegangan-regangan (Gambar 6-57b) harus mempunyai luas sama; jadi, a e A =A atau - 1- 1 c I 2 (s) di mana e1 dan t2 masing-masing adalah regangan di atas dan bawah balok (Gambar 6-57c), dan a1 dan a2 adalah tegangan maksimumnya (Gambar 6-57d). Persamaan untuk diagram tegangan-regangan adalah at = EieJ sehingga Persamaan (s) menjadi e atau - 1 e2 Jarak h1 dan h2 diperoleh dari Persamaan (6-96a dan b): h h TE; I; = -:-------:-- " "'2 1 + e2 /e1 .[£;+ JE; hf£: (t,u) (v) (6-99a) • (6-99b) • jadi, posisi sumbu netral telah ditentukan. Perhatikan bahwa jika E1 lebih besar daripada E2, maka jarak h2 lebih besar daripada h1• Tegangan maksimum. Untuk mendapatkan hubungan antara momen lentur dan tegangan, kita mulai dengan mengevaluasi momen pertama di kedua bagian diagram tegangan-regangan (lihat Gambar 6-57b): (J =A (�)= (�)(�)=� QC C 3 2 3 3 Q, 2 azF::z 3 E2 (J 2 - - - - - - - - - - - - ' E2 E - - - - - crl I (b) (w) (x) (d)
  • 408.
    SOAL-SOAL BAB 6 BALOKBETON Mekanika Bahan 395 Dengan memasukkan ke dalam Persamaan (6-98) akan kita peroleh bhl 2 bhl 2 2 2 M = - 2-(Qc + Q, ) = -- 2 (C11EI + C12E2 ) El 3£1 Dengan menggantikan a2 dengan a1E/E2 (dari Persamaan s), dan dengan menggunakan Persamaan (v) untuk rasio E/Ez. kit�apatkan a1bh1 2 ( f£: J 3M( J£; J M = -- 3 - 1 + r;;:;- atau a1 = -2 - � rz;;-· 'I) E2 bh1 -v E1 + -v E2 Akhimya, kita masukkan Persamaan (6-99a) untuk mendapatkan Dengan cara sama, kita dapat mencari tegangan a2: (y,z) (6-IOOa) .. (6-100b) .. Persamaan (6-lOOa) dan (6-100b) adalah rumus lentur untuk balok persegi panjang yang terbuat dari bahan dengan modulus elastisitas tekan E1 dan modulus elastisitas tarik E2• Tegangan a1 adalah tegangan tekan maksimum, dan tegangan a 2 adalah tegangan tarik maksimum. Kasus khusus: Jika modulus elastisitas tekan dan tarik sama (E1 = E2), maka Persamaan (6-99) dan (6-100) menjadi sebagaimana diharapkan. h 2 6M M bh 2 = s 1----------------- Dalam memecahkan soal-soal untuk Subbab 6.2, asumsikan bahwa komponen-komponen dari balok dilekatkan atau disambung dengan alat penyambung dengan baik. Juga, pastikan bahwa teori balok komposit yang diuraikan dalam subbab ini digunakan. z J _jO. lOin. 0.50in. IO.lOin. 6.2-1 Sebuah balok komposit yang terdiri atas muka fiberglass dan inti particle board mempunyai potongan melintang seperti terlihat dalam gambar. Lebar balok adalah 2,0 in., tebal muka adalah 0,10 in., dan tebal inti adalah 0,50 in. Balok ini mengalami momen lentur 500 lb-in. yang bekerja terhadap sumbu z. Carilah tegangan maksimum amuka dan ainti di muka dan di inti, jika modu­ lus elastisitasnya masing-masing 4 x 10 6 psi dan 1,5 x 10 6 psi. 1-- 1 ------------�2�.0�in�·--------�1 .. . 6.2-2 Sebuah balok kayu dengan dimensi 200 x 300 mm diperkuat di sampingnya dengan menggunakan plat yang tebalnya 12 mm (lihat gambar). Modulus·elastisitas untuk baja dan kayu masing-masing adalah Es = 204 GPa dan Ew = 8,5 GPa. Juga, tegangan izinnya masing­ masing adalah as = 140 MPa dan aw = 10 MPa. Hitunglah momen Ientur izin maksimum Mmaks apabila balok tersebut melentur terhadap sumbu z.
  • 409.
    396 Bab 6T egangan Di Balok (T opik Lanjut) 6.2-3 Sebuah balok boks berlubang terdiri atas badan dari kayu lapis Douglas-firdan sayap pinus seperti terlihat dalam gambar. Kayu lapis mempunyai tebal I in. dan lebar 12 in; flens berukuran aktual 2 in. x 4 in. Modulus elastisitas untuk kayu lapis adalah 1.600.000 psi dan untuk pinus adalah 1 .200.000 psi. Jika tegangan izin adalah 2100 psi untuk kayu lapis dan 1800 psi untuk pinus, carilah momen lentur izin Mmaks apabila balok ini melentur terhadap sumbu z. 6.2-4 Sebuah tabung bundar baja dengan diameter luar d dan inti aluminium dengan diameter d/2 dilekatkan satu sama lain hingga membentuk balok komposit seperti tergambar. Turunkan rumus untuk menghitung momen lentur izin M yang dapat dipikul oleh balok berdasarkan atas tegangan izin a . di baja. (Asumsikan bahwa modu­ lus elastisitas untuk baja dan aluminium masing-masing adalah E, dan Ea.) 6.2-5 Sebuah balok sederhana dengan bentang 12 ft memikul beban terbagi rata dengan intensitas 1000 lb/ft (lihat gambar). Balok tersebut terdiri atas elemen struktur kayu (penampang 4 in. x 1 1 ,5 in.) yang diperkuat dengan plat baja yang tebalnya 0,25 in. di atas dan bawah. Modulus elastisitas untuk baja dan kayu masing-masing adalah Es = 30 X 106 psi dan Ew = 1 ,5 x 106. Hitunglah tegangan maksimum a . di plat baja dan tegangan maksimum a w di elemen struktur kayu akibat beban ter­ bagi rata tersebut. 6.2-6 Sebuah pipa baja yang dalamnya dilapisi plastik mempunyai bentuk penampang seperti terlihat dalam gambar. Pipa baja mempunyai diameter luar d3 = 100 mm dan diameter dalam d2 = 94mm. Plastik mempunyai diameter d1 = 82 mm. Modulus elastisitas baja adalah 75 kali modulus plastik. Tentukan momen lentur Mizin izin jika tegangan izin di baja adalah 35 MPa dan di plastik adalah 0,50 MPa. z 6.2-7 Penampang balok sandwich yang terdiri atas muka aluminium dan inti f oam seperti terlihat dalam gambar. Lebarbalok b adalah 8,0 in., tebal muka 0,25 in., dan tinggi he inti adalah 5,5 in. (tinggi total h = 6,0 in.). Modulus elastisitas untuk muka aluminium dan intif oam masing-masing adalah 10,5 x 106 psi dan 12.000 psi. Momen lentur M = 40 k-in. beketja terhadap sumbu z. Tentukan tegangan maksimum di muka dan inti dengan menggunakan: (a) teori umum untuk balok komposit, dan (b) teori pendekatan untuk balok sandwich.
  • 410.
    z h 6.2-8 Penampang baloksandwich yang terdiri atas muka fiberglass dan inti plastik ringan seperti terlihat dalam gambar. Lebar b balok adalah 50 mm, tebal t muka adalah 4 mm, dan tinggi he inti adalah 92 mm (tinggi total h = 100 mm). Modulus elastisitas fiberglass dan plastik masing-masing adalah 75 GPa dan 1 200 MPa. Momen lentur M = 275 N·m bekerja terhadap sumbu z. Tentukan tegangan maksimum di muka dan inti dengan menggunakan: (a) teori umum untuk balok komposit, dan (b) teori pendekatan untuk balok sandwich. 6.2-9 Sebuah balok bimetalik digunakan pada saklar pengontrol temperatur dari plat aluminium dan tembaga yang dilekatkan satu sama lain (lihat gambar). Lebar balok adalah 1 in. dan setiap plat mempunyai tebal 111 6 in. Akibat aksi momen lentur M = 12 !b-in. yang bekerja terhadap sumbu z, berapa tegangan maksimum CT0 dan ere masing-masing di aluminium dan tembaga? (Asumsikan bahwa E0 = 10.500.000 psi, dan Ec = 16.800.000 psi.) z y 1 . 1 6 m. * L--1in.---�-�In. 6.2-10 Sebuahbalok komposit yang ditumpu sederhana dengan bentang 3 m memikul beban terbagi rata dengan intensitas q = 3,2 kN/m (lihat gambar). Balok ini terbuat dari kayu dengan lebar 100 mm dan tinggi 150 mm, yang diperkuat di sisi bawah oleh p1at baja dengan tebal 8 mm dan lebar 100 mm. Carilah tegangan lentur maksimum CTw dan CT s masing-masing di kayu dan baja akibat beban terbagi rata tersebutjika modulus elastisitas kayu dan baja masing-masing adalah Ew = 10 GPa dan Es = 210 GPa. q = 3.2 kN/m �----- 3 m------� Mekanika Bahan 397 METODE PENAMPANG TERTRANSFORMASI Dalam memecahkan soal-soal untuk Subbab 6.3, asumsikan bahwa komponen-komponen balok dengan baik dilekatkan satu sama lain atau dengan menggunakan alat penyambung. 6.3-1 Sebuah balok kayu dengan lebar 8 in. dan tinggi 1 2 in. diperkuat di atas dan bawah oleh plat baja yang tebalnya 0,5 in. (lihat gambar). Carilah momen lentur izin Mmaks terhadap sumbu z jika tegangan izin di kayu adalah 1050 psi dan di baja adalah 1 8.000 psi. (Asumsikan bahwa rasio modulus elastisitas baja dan kayu adalah 20.) z 6.3-2 Sebuah balok sederhana dengan bentang 3,2 m memikul beban terbagi rata dengan intensitas 48 kN/m. Penampang balok merupakan boks berlubang dengan flens kayu dan plat samping baja, seperti terlihat dalam gambar. Flens kayu mempunyai penampang 75 mm x 100 mm. dan platbaja mempunyai tinggi 300 mm. Berapa tebal t plat baja yang diperlukan jika tegangan izin adalah 1 20 MPa untuk baja dan 6,5 MPa untuk kayu? (Asumsikan bahwa modulus elastisitas untuk baja dan kayu masing-masing adalah 210 GPa dan 10 GPa, dan abaikan berat balok.) 6.3-3 Sebuah balok sederhana yang bentangnya 16 ft mernikul beban terbagi rata dengan intensitas q. Balok ini mempunyai penampang S 8 x 1 8,4 (berbentuk I) yang diperkuat dengan kayu yang secara baik dilekatkan ke sayap balok (lihat penampang pada gambar). Balok kayu ini mempunyai tinggi 2 in. dan lebar 4 in. Modulus elas-
  • 411.
    398 Bab 6T egangan Di Balok (T opik Lanjut) tisitas baja adalah 20 kali modulus elastisitas kayu. Jika tegangan izin di baja dan kayu masing-masing adalah 16.000 psi dan 1200 psi, berapa beban izin qizin? S 8 X l 8 . 4 Z ---11111 6.3-4 Ba1ok komposit yang terlihat dalam gambar ditumpu sederhana dan memikul beban terbagi rata total sebesar 40 kN/m pada panjang bentang 5 m. Balok ini terdiri atas elemen struktur kayu dengan penampang dengan dimensi 1 50 mm x 250 mm, dan dua plat baja dengan dimensi penampang 50 mm x 1 50 mm. Tentukan tegangan maksimum a:, dan aw di baja dan kayu, jika modulus elastisitas masing-masing adalah Es = 209 GPa dan Ew = 1 1 GPa. 40 kN/m 1{ 6{ l l 1 I S m---+1 _j_ 1so mm 250 mm _j_50 mm � � !50 mm 6.3-5 Penampang sebuah balok terdiri atas empat plat strip aluminium yang diselang-seling dengan plastik ringan seperti terlihat dalam gambar. Balok ini mem­ punyai lebar b = 3,0 in., strip aluminium mempunyai tebal t = 0,1 in., dan segmen plat mempunyai tinggi d = 1 ,2 in. dan 3d = 3,6 in. Tinggi total balok adalah h = 6,4 in. MGIR!lus elastisitas untuk aluminium dan plastik masing­ m� adalah Ea = 1 1 x 106 psi dan E P = 440 x 103 psi. Tent'lftcan tegangan maksimum aa dan a: P di aluminium dan plastik, akibat momen lentur sebesar 10 k-in. z I· b ·I 6.3-6 Pecahkan soal sebelum ini jika balok mempunyai lebar b = 75 mm, strip aluminium mempunyai tebal t = 3 mm, segmen plastik mempunyai tinggi d = 40 mm dan 3d = 120 mm, dan tinggi total balok adalah h = 212 mm. Juga, modulus elastisitas adalah Ea = 75 GPa, dan E P = 3 GPa. Tentukan tegangan maksimum aa dan a:P di alu­ minium dan plastik akibat momen lentur sebesar 1,0 kN.m. 6.3-7 Sebuah balok komposit terbuat dari kayu yang diperkuat dengan plat baja mempunyai dimensi penampang seperti terlihat dalam gambar. Balok ini ditumpu sederhana dengan panjang bentang 1 2 ft dan memikul beban terbagi rata dengan intensitas q = 275 lb/ ft. Hitunglah tegangan lentur maksimum as dan aw masing-masing di baja dan kayu, akibat beban terbagi rata jika EJEw = 20. z 6.3-8 Penampang balok komposit yang terbuat dari alu­ minium dan baja ditunjukkan dalam gambar. Modulus elastisitasnya masing-masing adalah Ea = 75 GPa dan Es = 200 GPa. Akibat aksi momen lentur yang menghasilkan tegangan maksimum sebesar 50 MPa di aluminium, berapa tegangan maksimum as di baja? Alumunium Steel 40 mm L H 30 mm 6.3-9 Sebuah balok komposit terbuat dari balok kayu yang lebamya 6 in. dan tingginya 8 in., dan diperkuat di sisi bawah dengan plat baja berukuran 0,5 in. x 6 in. (lihat gambar). Modulus elastisitas untuk kayu adalah Ew = 1,2 x 106 psi dan untuk baja adalah Es = 30 x 106 psi. Carilah momen lentur izin Mizin di balok jika tegangan izin di kayu adalah aw = 1 500 psi dan di baja ada1ah a:, = 15.000 psi.
  • 412.
    z 6.3-10 Penampang stripbimetalik terlihat dalam gambar. Dengan mengasumsikan bahwa modulus elastisitas untuk masing-masing metal A dan B adalah EA = 196 GPa dan E8 = 105 GPa, tentukan modulus penampang terkeci1 untuk balok ini. (Ingat bahwa modulus penampang sama dengan momen lenturdibagi tegangan lentur maksimum.) Pada bahan di manakah tegangan maksimum teljadi? y z 1- IO mm-j -r- 3 mm +- 3 mm __i_____ 6.3-11 Sebuah balok sayap lebar W 12 x 50 dan segmen beton dengan tebal 4 in. (lihat gambar) secara bersama menahan momen lentur positif sebesar 100 k-ft. Balok dan plat beton tersebut dihubungkan dengan penghubung geser (shear connection) yang dilas ke balok baja. (Penghubung ini menahan geser horizontal di permukaan kontak.) Modulus elastisitas baja dan beton mempunyai rasio 12 banding 1. Tentukan tegangan maksimum a, dan o:c masing-masing di baja dan beton. ]4in. 6.3-12 Sebuah balok kayu diperkuat dengan kanal alu­ minium seperti terlihat dalam gambar. Balok ini mem­ punyai penampang dengan dimensi 150 mm x 250 mm, dan kanal tersebut mempunyai tebal seragam 6 mm. Jika tegangan izin di kayu dan aluminium masing-masing adalah 8 MPa dan 40 MPa, dan jika rasio modulus elastisitasnya 1 banding 6, berapa momen lentur izin maksimum untuk balok ini? Mekanika Bahan 399 150 mm I" .I r -1 216 mm L 250 mm J 40 mm _L_ 6 mm I 162 mm {1 I ill( 6.3-13 Sebuah balok kayu 6 in. x 8 in. diperkuat dengan plat baja 0,5 in. x 6 in. pada bagian bawahnya dan batang baja 1 in. x 2 in. pada bagian atasnya (lihat gambar). Jika tegangan izin kayu dan baja masing-masing adalah 2000 psi dan 1 6.000 psi, dan jika ratio modulus elastisitasnya adalah 1 berbanding 20, berapa kali momen lentur izin maksimum untuk balok tersebut? 1 in. z 8in. I 6in. • BALOK DENGAN BEBAN MIRING Dalam memecahlwn soal untuk Subbab 6.4, gambarlah penampangyang memperlihatlwn sumbu netraldan lolwsi titik-titik di mana tegangan dicari. 6.4-1 Sebuah balok dengan penampang persegi panjang memikul beban miring P yang mempunyai garis kelja di sepanjang garis diagonal pada penampang (lihat gambar). Buktikan bahwa sumbu netralnya terletak pada diagonal lainnya. z --- p
  • 413.
    400 Bab 6T egangan Di Ba/ok (Topik Lanjut) 6.4-2 Sebuah balok kayu dengan penampang persegi panjang (lihat gambar) ditumpu sederhana pada bentang yang panjangnya L. Sumbu longitudinal balok terletak horizontal, dan penampang tersebut miring dengan sudut a. Beban di balok merupakan beban terbagi rata vertikal dengan intensitas q yang bekerja melalui pusat berat C. Tentukanlah orientasi sumbu netral dan hitunglah tegangan tarik maksimum O'maks jika b = 75 mm, h = 150 mm, L = 3,0 m, a = 30°, dan q = 2,0 kN/m. 6.4-3 Pecahkan soal sebelum ini untuk data berikut: b = 6 in., h = 8 in., L = lO ft, tan a = l/3, dan q = 200 lb/ ft. 6.4-4 Sebuahba1ok sayap lebar yang ditumpu sederhana dengan bentang L memikul beban terpusat P yang beke1ja melalui pusat berat C di titik tengah bentang (lihat gambar). Balok ini terletak pada tumpuan yang miring dengan sudut a dengan horizontal. Tentukanlah orientasi sumbu netral dan hitunglah tegangan maksimum di pojok luar penampang (titik A, 8, D, dan E) akibat beban P. Data untuk balok ini adalah sebagai berikut: profil W 10 x 30, L =8,5 ft, P = 5 k, dan a = 26,57°. y p E z 6.4-5 Pecahkan soal sebelum ini dengan menggunakan data sebagai berikut: profil W 8 x 21, L = 8 ft, P = 3,8 k, dan a = 20°. 6.4-6 Sebuah balok kanti1ever kayu dengan penampang persegi panjang dan panjang L memikul beban miring P di ujung bebas (lihat gambar). Tentukan orientasi sumbu netral dan hitunglah tegangan tarik maksimum O'maks akibatbeban P. Data untuk balok sebagai berikut: b = 75 mm, h = 150 mm, L = 1,5 m, P = 800 N, dan a = 36°. I. b .I 6.4-7 Pecahkan soal sebelum ini untuk balok kantilever dengan data sebagai berikut: b = 4 in., h = 8 in., L = 6 ft, P = 500 lb, dan a = 45°. 6.4-8 Sebuah balok baja dengan profil I (lihat gambar) ditumpu sederhana di ujung-ujungnya. Dua momen lentur yang sama besar dan berlawanan arah M0 bekerja di ujung-ujung balok tersebut sedemikian hingga balok tersebut mengalami lentur murni. Momen tersebut bekerja di bidang mm, yang berorientasi pada sudut a dengan bidang xy. Tentukan orientasi sumbu netral dan hitunglah tegangan tarik maksimum O'maks akibat momen M0• Data untuk balok adalah sebagai berikut: profil S 8 x 18,4, M0 = 30 k-in., dan a = 30°. 6.4-9 Sebuah balok kantilever dengan penampang sayap lebar dan panjang L memikul beban miring P di ujung bebas (lihat gambar). Tentukan orientasi sumbu netral dan hitunglah tegangan tarik maksimum O' maks akibat beban P. Data untuk balok adalah sebagai berikut: profil W 10 x 45, L = 6 ft, P = 2,5 k, dan a = 55°. y
  • 414.
    6.4-10 Pecahkan soalsebelum ini dengan menggunakan data berikut: profil W 8 x 35, L = 6 ft, P = 2,0 k, dan a = 60°. 6.4-11 Sebuah balok kantilever dengan profil W 1 2 x 14 dan panjang L = 9 ft memikul beban agak miring P = 500 lb di ujung bebas (lihat gambar). (a) Plotlah grafik tegangan CTA di titik A sebagai fungsi dari sudut kemiringan a. (b) Plotlah grafik sudut {3, yang menunjukkan sumbu netral nn, sebagai fungsi dari sudut a. (Dalam memplot grafik, gunakan harga a dari 0 ° sampai 10°.) y n n LENTUR BALOK TAK SIMETRIS Dalam memecahkan soal-soal untuk Subbab 6.5, gambarlah sketsa penampang yang menunjukkan orientasisumbu netral dan lokasi titik di mana tegangan dicari. 6.5-1 Sebuah balok dengan profil kanal mengalami momen lentur M yang vektomya membentuk sudut (J dengan sumbu z (lihat gambar). Tentukan orientasi sumbu netral dan hitunglah tegangan tarik maksimum a, dan tegangan tekan maksimum CTc di balok tersebut. Guna­ kan data berikut: profil C 8 x 1 1 ,5, M = 20 k-in., tan (J = 1/3. y M Mekanika Bahan 401 6.5-2 Pecahkan soal sebelum ini dengan menggunakan data profil C 6 x 13 dengan M = 5,0 k-in. dan (J = 15°. 6.5-3 Sebuah profil siku sama kaki mengalami momen lentur M dengan vektor yang berarah sepanjang sumbu 1-1, seperti terlihat dalam gambar. Tentukan orientasi sumbu netral dan hitunglah tegangan tarik maksimum a, dan tegangan tekan maksimum CT c jika siku tersebut adalah L 6 x 6 x 3/4 dan M = 20 k-in. M I - 2 2 6.5-4 Pecahkan soal sebelum ini dengan menggunakan data: L 4 x 4 x 112 dengan M = 6,0 k-in. *6.5-5 Sebuah penampang balok mempunyai bentuk segitiga sama sisi dengan panjang sisi b (lihat gambar). Balok ini mengalami momen lentur M yang vektomya membentuk sudut (J dengan sumbu z. (a) Tentukan sumbu netralnya. (b) Turunkan rumus untuk tegangan CTA, a8, dan CTc di titik A, B, dan C yang dinyatakan dalam M, b, dan 9. (c) Plotlah grafik tegangan tarik maksimum CT1 sebagai fungsi dari sudut (J untuk harga (J yang bervariasi dari 0 sampai 90°. Gunakan ordinat grafik berupa besaran nondimensional CTmaksb3!32M. y B c *6.5-6 Sebuah balok dengan penampang setengah lingkaran dengan radius r mengalami momen lentur M yang vektomya membentuk sudut (Jdengan sumbu z (lihat gambar). Tentukan tegangan tarik maksimum a, dan tegangan tekan maksimum CT c di balok tersebut untuk (J = 0,45°, dan 90°. l
  • 415.
    402 Bab 6T egangan Di Balok (Topik Lanjut) *6.5-7 Sebuah profil siku tak sama kaki mengalami momen lentur M dengan sumbu netral berarah sepanjang sumbu 1-1, seperti terlihat dalam gambar. Tentukan orien­ tasi sumbu netral dan hitunglah tegangan tarik maksimum a, dan tegangan tekan maksimum a c di balok ini jika siku tersebut adalah L 8 x 6 x 1 dan M = 25 k-in. 2 I c 2 *6.5-8 Pecahkan soal sebelum ini dengan mengguna­ kan data profil siku L 7 x 4 x 1/2 dengan momen M = 1 5 k-in. TEGANGAN GESER Dl BALOK BERDINDING TIPIS Dalam menyelesaikan soal-soal untuk Subbab 6. 7, asumsikan bahwa penampang mempunyai dinding tipis dan gunakan dimensi garis pusat dalam menentukan semua perhitungan dan penurunan rumus. 6.7-1 Sebuah ba1ok sederhana dengan profil sayap 1ebar memikul beban terbagi rata dengan intensitas q = 3,0 k/ ft di bentang yang panjangnya L =!0 ft (lihat gambar). Dimensi penampang adalah h = 10,5 in., b = 7 in., dan tr = tw = 0,4 in. (a) Hitung1ah tegangan geser maksimum rmaks di potongan A-A yang terletak pada jarak d = 2,0 ft dari ujung balok. (b) Hitunglah tegangan geser r8 di titik B pada potongan tersebut. Titik B ter1etak pada jarak a = 2,0 in. dari tepi flens bawah. y q A� 6.7-2 Pecahkan soal sebelum ini dengan menggunakan data berikut: L = 3 m., q = 40 kN/m, = 260 mm, b = 170 mm, t1 = 1 2 mm, tw = 10 mm d = 0,6 m, dan a = 60 mm. 6.7-3 Sebuah balok yang mempunyai penampang simetris ganda dalam gambar ini mengalami gaya geser P = 4,0 k yang bekerja mela1ui pusat berat dan sejajar dengan sumbu y. (a) Hitunglah tegangan geser maksimum rmaks· (b) Berapa fraksi gaya geser P yang ditahan oleh setiap luas persegi panjang dalam penampang ini? y 0.45 0.30 0.30 0.45 in. in. in. in. -1cr- 1 r-i1 r-1 r___ ���••• 4.0 in. r-- = J 4.0 in. P = 4k 6.7-4 Sebuah balok T mengalami gaya geser P yang bekerja me1alui pusat geser S yang sejajar sumbu y (lihat gambar). Flens mempunyai lebar b dan tebal t. Selidikilah tegangan geser yang bekerja di penampang, sebagai berikut: (a) Dapatkan rumus untuk tegangan geser maksi­ mum rmaks· (b) Plotlah grafik yang menunjukkan tegangan geser r bervariasi pada tinggi flens. (c) Tunjukkan bahwa resu1tan tegangan geser sama dengan P. b/2 _l_ jY
  • 416.
    6.7-5 Sebuah baloksayap lebar simetris tunggal meng­ alami gaya geser P yang bekerja melalui pusat geser S yang sejajar dengan sumbu y (lihat gambar). Turunkan rumus untuk tegangan geser maksimum rmaks di balok ini dengan mengasumsikan bahwa b1 > b2. y p 6.7-6 Sebuah profil siku sama kaki memikul gaya geser P yang bekerja melalui pusat geser S dan sejajar sumbu y yang merupakan sumbu simetri (Iihat gambar). Setiap kaki siku tersebut mempunyai panjang garis pusat b dan tebal t. Selidikilah tegangan geser yang bekerja di penam­ pang tersebut, sebagai berikut: (a) Turunkan rumus untuk tegangan geser maksimum rmaks di profil siku. (b) Plotlah grafik yang menggambarkan bagaimana tegangan geser r bervariasi di sepanjang garis pusat penampang. (c) Tunjukkan bahwa resultan tegangan ini sama dengan P. y 6.7-7 Sebuah balok dengan penampang kanal mengalami gaya geser P = 12 k yang bekerja di sepanjang sumbu y, yang merupakan sumbu simetri (lihat gambar), Dimensi penampang ada1ah h = 1 8 in, b = 6 in., dan t = l in. Selidikilah tegangan geser yang bekerja di penam­ pang tersebut, sebagai berikut: (a) Hitunglah tegangan geser maksimum rmaks· (b) Plotlah grafik yang meng­ gambarkan bagaimana tegangan geser r bervariasi di sepanjang tinggi b flens dan di seluruh panjang badan h. (c) Tunjukkan bahwa resultan tegangan ini sama dengan beban P. y h --r= � t b z � t s p Mekanika Bahan 403 6.7-8 Pecahkan soal sebelum ini jika P = 20 kN dan dimensi penampang adalah h = 225 mm, b = 90 mm, dan t = 20 mm. *6.7-9 Sebuah balok I tak seimbang diletakkan seperti tergambar dan mengalami gaya geser P = 20 k yang bekerja dalam arah sumbu y, yang merupakan sumbu simetri (lihat gambar). Dimensi penampang adalah h = 16 in., b = 9 in., b1 = 6 in., b2 = 3 in., t1 = 1 in., dan t.,. = 0,75 in. Selidikilah tegangan geser yang bekerja di penampang sebagai berikut: (a) Hitunglah tegangan geser maksimum rmaks· (b) Plotlah grafik yang menunjukkan bagaimana tegangan geser r bervariasi di seluruh tinggi flens b dan panjang badan h. (c) Tunjukkan bahwa resultan tegangan geser sama dengan P. I Y I h IT jw z c _j_ __!_ b T LL T s 'r-1 r p --1 r tr *6.7-10 Selesaikan soal sebelum ini jika P = 120 kN dan dimensi penampang adalah h = 300 mm, b = 160 mm, b1 = 120 mm, b2 = 40 mm, Lf-= 20 mm, dan tw = 15 mm. PUSAT GESER PENAMPANG TERBUKA BERDINDING TIPIS Dalam menentukan lokasi pusat geser di dalam soal­ soal untuk Subbab 6.8, asumsikan bahwa penampang berdinding tipis dan gunakan dimensi garis pusat untuk semua perhitungan dan penurunan rumus. 6.8-1 Hitunglah jarak e dari garis pusat badan profil kanal C 12 x 20,7 ke pusat geser S (lihat gambar). (Catatan: Untuk tujuan analisis, anggaplah flens sebagai persegi panjang dengan tebal t1 sama dengan tebal flens rata-rata yang diberikan dalam Tabel E-3, Lampiran E.) y
  • 417.
    404 Bab 6T egangan Di Balok (Topik Lanjut) 6.8-2 Hitunglah jarak e dari garis pusat badan profil i.;;ma] C 8 x 18,75 ke pusat geser S (lihat garnbar). Untuk :-JJuan analisis, anggaplah flens sebagai persegi panjang dengan tebal t 1 sama dengan tebal flens rata-rata yang diberikan dalam Tabel E-3, Lampiran E.) 6.8-3 Penampang balok sayap lebar tak seimbang ditunjukkan dalam gambar. Turunkan rumus untukjarak h1 dari garis pusat satu flens ke pusat geser S: t2b�h hi = 3 3 tl bl + t2 b2 Juga, cek rumus ini untuk kasus balok T (b2 = t2 = 0) dan balok sayap lebar seimbang (t2 = t1 dan b2 = b1). tz ,---- { ll 4 bl - H .._ z Is 'C '------ h . I h 2 T h 6.8-4 Penampang balok sayap lebar tak seimbang ditunjukkan dalarn gambar. Turunkan rumus berikut untuk jarak e dari garis pusat badan ke pusat geser S: 3tf (b; - b1 2 ) e = -:- - -'-::c-=- :-:- --'- --:---:- htw + 6t1 (b1 + b2 ) Juga, cek rumus untuk kasus khusus profil kanal (b1 = 0 dan b2 = b) dan balok simetris ganda (b1 = b2 = b/2). y lr lw J2 z s �e-t � r lr · • �b�� I - bz� 6.8-5 Penampang balok kanal dengan flens ganda dan tebal konstan di seluruh penampang ditunjukkan dalam gambar. Turunkan rumus berikut ini untuk jarak e dari garis pusat badan ke pusat geser S: y z s c Ihi h 2 e---1 � 1 6.8-6 Penampang tabung lingkaran bercelah dengan tebal konstan ditunjukkan dalam gambar. Buktikan bahwa jarak e dari pusat lingkaran ke pusat garis S sama dengan 2r. y 6.8-7 Penarnpang tabung bujursangkar bercelah dengan tebal konstan ditunjukkan dalarn garnbar. Turunkan rumus berikut untuk jarak e dari pojok penampang ke pusat geser S: b e = -- z.,fi y 6.8-8 Penampang tabung persegi panjang bercelah dengan tebal konstan ditunjukkan dalam gambar. Turunkan rumus berikut untuk jarak e dari garis pusat dinding tabung ke pusat geser S: b(2h + 3b) e = 2(h + 3b)
  • 418.
    y i h/2 s -1 e ,___c z h/2 1 b/2 b/2 6.8-9 Sebuah penampang berbentuk U dengan tebal konstan ditunjukkan dalam gambar. Turunkan rumus berikut untuk jarak e dari pusat setengah lingkaran ke pusat geser S: 2(2r2 + b2 + nbr) e = 4b + m- Juga, plotlah grafik yang menunjukkan bagaimana jarak e (dinyatakan dalam rasio tak berdimensi e/r) bervariasi sebagai fungsi dari rasio blr. (Misalkan selang blr dari 0 sampai 2.) y b -1 s *6.8-10 Turunkan rumus berikut untukjarak e dari garis pusat dinding ke pusat geser S untuk penampang C dengan tebal konstan seperti terlihat dalam gambar: 3bh2 (b + 2a) - 8ba3 e = --= - - - --'- - - --'-- ---,- - - - h2 (h + 6b + 6a) + 4a2 (2a - 3h) Juga, cek rumus tersebut untuk kasus profil kanal (a = 0) dan tabung persegi panjang bercelah (a = h/2). y Mekanika Bahan 405 *6.8-11 Turunkan rumus berikut untukjarak e dari garis pusat dinding ke pusat geser S untuk penampang topi dengan tebal konstan seperti terlihat dalam gambar: 3bh2 (b + 2a) - 8ba3 e = --= - - - --'- - - --'-- --= - - - - h2 (h + 6b + 6a) + 4a2 (2a + 3h) Juga, cek rumus tersebut untuk kasus profil kanal (a = 0). y a I h/2 s c-+ z l e h/2 *6.8-12 Sebuah penampang dengan bentuk busur lingkaran dengan tebal konstan ditunjukkan dalam gambar. Turunkan rumus berikut untukjarak e dari pusat busur ke pusat geser S: 2r(sin f3 - f3 cos /3) e = - -:::---=-- -::-----::--'- /3 - sin f3 cos f3 di mana f3 dalam radian. Juga, plotlah grafik yang me­ nunjukkan bagaimana e bervariasi untuk harga f3 dari 0 sampai n. y LENTUR ELASTOPLASTIS Soal-soal untuk Subbab 6.9 dipecahkan dengan menggunakan asumsi bahwa bahannya elastoplastis dengan tegangan luluh a y. 6.9-1 Turunkan faktor bentuk f untuk penampang dengan bentuk trapesium ganda yang mempunyai dimensi seperti terlihat dalam gambar. , )
  • 419.
    406 Bab 6T egangan Di Balok (Topik Lanjut) y 6.9-2 (a) Turunkan faktor bentuk f untuk penampang lingkaran berlubang yang mempunyai radius dalam r1 dan radius luar r2 (lihat gambar). (b) Jika penampang sangat tipis, berapakah faktor bentuknya? y Z- 6.9-3 Sebuah balok kantilever dengan panjang L = 60 in. memikul beban terbagi rata dengan intensitas q (lihat gambar). Balok ini terbuat dari baja (O" Y = 40 ksi) dan mempunyai penampang persegi panjang dengan lebar b = 4,0 in. dan tinggi h = 6,0 in. Berapa intensitas beban q yang akan menghasilkan kondisi plastis penuh pada balok ini? ' . l. t }: :·,�' I· q lJ 1 1 J L,l,J z 1 h =6.0 in l LJ L = 60 in I • b = 4.0 in 6.9-4 Sebuah balok dengan penampang persegi panjang mempunyai lebar 50 mm dan tinggi 80 mm (lihat gambar). Tegangan luluh baja adalah 210 MPa. (a) Berapa persen bagian 1uas penampang yang ditempati oleh inti elastis jika balok tersebut mengalami momen lentur sebesar 13,0 kN·m yang bekerja terhadap sumbu z? (b) Berapa besar momen lentur yang akan menyebabkan 50% dari penampang mengalami luluh? 6.9-5 Hitunglah faktor bentukfuntuk balok sayap lebar yang seperti terlihat dalam gambar jika h = 12,0 in., b = 6,0 in., t1 = 0,6 in., dan tw = 0,4 in. y z -----t: C h I. 6.9-6 Pecahkan soal untuk balok sayap lebar sebelum ini dengan h = 400 mm, b = 160 mm, t1 = 12 mm, dan tw = 8 mm. 6.9-7 Tentukan modulus penampang S , modulus plastis Z, dan faktor bentuk f untuk balok sayap lebar W 12 x 87. (Catatan: Dapatkan besaran balok dengan melakukan perhitungan menggunakan dimensi penampang yang diberikan dalam Tabel E-1 , Lampiran E.) 6.9-8 Pecahkan soal sebelum ini untuk balok sayap lebar W 10 x 60. 6.9-9 Tentukan momen luluh M Y dan momen plastis M P untuk balok sayap lebar W 16 x 77 jika O" Y = 36 ksi. (Catatan: semua besaran ba1ok dengan melakukan perhitungan menggunakan dimensi penampang yang diberikan dalam Tabel E-1, Lampiran E.) 6.9-10 Pecahkan soal sebelum ini untuk balok sayap lebar W 8 x 2 1 . 6.9-11 Sebuah balok boks berlubang dengan tinggi h = 16 in., lebar b = 8 in., dan tebal dinding konstan t = 0,75 in. terlihat dalam gambar. Balok ini terbuat dari baja dengan tegangan luluh O" Y = 32 ksi. Tentukan momen luluh M Y dan momen plastis M P .
  • 420.
    y z 6.9-12 Pecahkan soalsebelum ini untuk balok boks dengan dimensi h = 0,4 in., b = 0,2 in., dan t = 20 mm. Tegangan luluh baja yang digunakan adalah 230 MPa. 6.9-13 Sebuah balok boks berlubang dengan tinggi h = 9,0 in., tinggi dalam hi = 7,5 in., lebar b = 5,0 in., dan lebar dalam bi = 4,0 in. ditunjukkan dalam gambar. Dengan mengasumsikan bahwa balok tersebut terbuat dari baja dengan tegangan luluh ay = 33 ksi, hitunglah momen luluh M Y dan momen plastis M P . y ���Sll I Z---ft���J b 6.9-14 Pecahkan soal sebelum ini untuk balok boks dengan dimensi h =200 mm, hi = 160 mm, b = 150 mm, dan bi = 130 mm. Asumsikan bahwa balok ini terbuat dari baja dengan tegangan luluh ay = 220 MPa. 6.9-15 Balok boks berlubang yang terlihat dalam gambar mengalami momen lentur M yang besarnya sedemikian rupa sehingga flens mengalami luluh tetapi bagian badan tetap elastis linier. (a) Hitunglah besar momen M jika dimensi penampang adalah h = 14 in., hi = 12,5 in., b = 8 in., dan b1 = 7 in. Juga, tegangan luluhnya adalah a,. = 42 ksi. (b) Berapa persen momen M dihasilkan oleh inti elastis? 6.9-16 Pecahkan soal sebelum ini untuk balok boks dengan dimensi h = 400 mm, h1 = 360 mm, b = 200 mm, dan b1 = 160 mm, dengan tegangan luluh a, = 220 MPa. 6.9-17 Sebuah balok sayap lebar W 12 x 50 mengalami momen lentur M yang besamya sedemikian hingga flens luluh dan badan tetap elastis linier. (a) Hitunglah besar momen M jika tegangan luluh ay = 36 ksi. (b) Berapa persen momen M dihasilkan inti elastis? Mekanika Bahan 407 6.9-18 Pecahkan soal sebelum ini untuk balok sayap lebar jika tinggi balok adalah 210 mm, lebar flens 130 mm, tebal flens adalah 10 mm, tebal badan adalah 6,5 mm, dan tegangan luluh adalah 200 MPa. 6.9-19 Sebuah balok simetris tunggal berpenampang T (lihat gambar) mempunyai dimensi penampang b = 6 in., a = 8 in., tw = 1,5 in., dan t1 = 1,5 in. Hitunglah modulus plastis Z dan faktor bentuk f I Y I y . 6.9-20 Pecahkan soal sebelum ini untuk balok T dengan dimensi b = 140 mm, a = 200 mm, tw = 20 mm, dan t1 = 25 mm. 6.9-21 Sebuah balok sayap lebar dengan penampang tak seimbang mempunyai dimensi seperti terlihat dalam gambar. Tentukan momen plastis M P jika ay = 36 ksi. y I lO inJ I i _L L ccz cccc: 0,5 in z -----t'111lu 7 in 0,5 in---> ·I-- r::::;:::z;z;;;;:22;:;;[Z[3-.--0,5 in � ;·--5_ i_ n_� ·l I 6.9-22 Tentukan momen plastis M P untuk balok yang mempunyai penampang seperti terlihat dalam gambarjika aY = 210 MPa.
  • 421.
    408 Bab 6T egangan Di Balok (Topik Lanjut) LENTUR NONLINIER 6.1 0.1 Sebuah balok persegi panjang dari plastik struktural mempunyai lebar 3,0 in. dan tinggi 6,0 in. !lihat gambar) dan mengalami momen lentur positif M. Diagram tegangan untuk plastik ini direpresentasikan dengan dua garislurus dan mempunyai modulus elastisitas tekan E1 = 2,8 x 106 psi, dan modulus elastisitas tarik adalah E2 = 1,5 x 106 psi. Jika tegangan izin maksimum untuk tarik dan tekan masing-masing adalah 900 psi dan 1200 psi, berapa momen lentur izin Mizin? cr 1. 3 in .I 6.10-2 Sebuah balok kantilever dengan penampang persegi panjang dan panjang L memikul beban ter­ distribusi dengan intensitas q (lihat gambar). Bahan balok mempunyai modulus elastisitas E1 untuk tekan dan E2 untuk tarik. Harga numeriknya adalah sebagai berikut: L = 1,0 in., q = 12,0 kN/m, b = 60 mm, h = 140 mm, E1 = 200 GPa, dan E2 = 70 GPa. Tentukan tegangan tarik maksimum a, dan tegangan tekan maksimum er e. cr P= ' w..<).I. ..l......l,,l I· L .I 6.10-3 Pecahkan soal sebelum ini untuk kondisi berikut: L = 3,0 ft, q = 75 lb/in, b = 2,5 in., h = 6,0 in., E1 = 24 x 106 psi, dan Ec = 18 x 106 psi. 6.10-4 Sebuah balok dengan penampang persegi panjang terbuat dari bahan yang direpresentasikan dengan diagram tegangan-regangan bilinier seperti terlihat dalam gambar. Modulus elastisitasnya adalah E1 dan E2 dan sifatnya sama untuk tarik dan tekan. Data numerik berikut berlaku untuk balok ini: b = 40 mm, h = 120 mm, E1 = 70 GPa, E2 = 30 GPa, dan av = 160 MPa. Jika tegangan maksimum di balok ini adal<ih amaks = 200 MPa, berapa momen lentur M? 6.10-5 Pecahkan soal sebelum ini dengan menggunakan data berikut: b = 2,0 in., h = 6,0 in., E1 = 10 x 106 psi, E2 = 4 x 106 psi, a y = 24.000 psi, dan amaks = 30.000 psi. 6.10-6 Sebuah balok dengan penampang persegi panjang (lebar b, tinggi h) terbuat dari bahan dengan kurva tegangan-regangan tarik (lihat gambar) yang dinyatakan dengan persamaan: di mana B1 dan B2 adalah konstanta dan Emaks = Bl2B2• Kurva tegangan-regangan untuk tekan sama dengan untuk tarik. Turunkan rumus untuk momen lentur M jika regangan di atas dan bawah balok sama c1 • cr 6.10-7 Hubungan tegangan-regangan untuk bahan suatu balok (lihat gambar) diasumsikan mempunyai bentuk a = BE!', di mana B dan n adalah konstanta (0 � n � 1). Kurva tegangan-regangan untuk tekan sama dengan untuk tarik. Penampang balok adalah persegi panjang dengan lebar b dan tinggi h. (a) Turunkan rumus berikut untuk tegangan maksimum di balok akibat momen lentur M: a1 = �c(n ;2 } di mana c = h/2 dan I = bh3!1 2. (b) Turunkan rumus berikut untuk tegangan adi balok padajarak y dari sumbu netral: _!!___ = (�)n (Jl h Juga,plotlah graflk: yang menunjukkan distribusi tegangan di balok untuk berbagai harga n. (Plotlah grafik dalam bentuk tak berdimensi, a/a1 versus 2y!h, dan pilihlah n = 1, 0,5; 0,25, dan 0.)
  • 422.
    O < n< l L-------�------------E 6.10-8 Distribusi tegangan di penampang balok persegi panjang yang mempunyai lebar b dan tinggi h dinyatakan dengan persamaan _Q:_ = 1 - (1 - 2y )m 0'1 h di mana 0'adalah tegangan padajaraky dari sumbu netral, 0' 1 adalah tegangan di atas dan bawah balok, dan m adalah konstanta (m � 1 ). Distribusi tegangan sama untuk bagian tarik dan tekan balok (lihat gambar). (a) Turunkan rumus berikut untuk momen lentur M yang bekerja di penam­ pang tersebut: M 0' 1 / [ 3m(m + 3) J = - c - 2(m + 1)(m + 2) (m � 1) di mana c = h/2 dan I = bh3112. (b) Plotlah grafik yang menunjukkan distribusi tegangan di balok ini untuk berbagai harga m (Plotlah grafik tersebut dalam bentuk tak berdimensi, 0'/0' 1 versus 2y/h, dan pilihlah m = 1 , 2, 4, 10.) 6.10-9 Sebuah balok dengan penampang persegi panjang (lebar b = 2,0 in., dan tinggi h = 4,5 in., terbuat dari baja mutu tinggi dengan diagram tegangan-regangan yang Mekanika Bahan 409 didefinisikan dengan datanumerik yang tercantum dalam tabel ini. Diagram ini sama untuk tarik dan tekan. Hitung­ lah harga momen lentur M jika tegangan maksimum di balok adalah 105 ksi. Data tegangan-regangan untuk Soal 6.10-9 Tegangan (ksi) Regangan 0 0 70 0,0024 75 0,0030 80 0,0038 90 0,0063 100 0,0105 1 10 0,0170 1 20 0,0274 *6.10-10 Tentukan tegangan maksimum O'maks di balok dalam Soal 6.10-4 jika momen Ientur M = 1 8 kN-m. *6.1 0-11 Tentukan tegangan maksimum O'maks di balok dalam Soal 6.10-5 jika momen lentur M = 320 k-in. **6.10-12 Sebuah balok dengan penampang persegi panjang (lebar b = 25 mm dan tinggi h = 75 mm) terbuat dari bahan yang mempunyai kurva tegangan-regangan yang diidealisasikan tak simetris seperti terlihat dalam gambar. Kerniringan garis-garis tersebut adalah E 1 = 6,5 GPa, dan £2 = 2,85 GPa, dan regangan luluh tarik adalah EY = 0,0022. Berapakah momen lentur M di balok ini jika tegangan tarik maksimum adalah 20 MPa? a ,
  • 423.
    - REFERENSI DAN CATATAN SEJARAH 1-1 Timoshenko, S. P., History of Strength of Mate­ rials, Dover Publications, Inc., New York, 1983 (semu1a diterbitkan oleh McGraw-Hill book Co., Inc., New York, 1953). Catatan: Stephen P. Timoshenko (1 878- 1972) adalah ilmuwan, insinyur, dan guru yang terkenal. Dilahirkan di Russia, ia tiba di Amerika Serikat tahun 1922. la adalah peneliti di Westinghouse Research Labo­ ratory, profesor di University of Michigan, dan belakang­ an profesor di Stanford University, di mana ia pensiun pada tahun 1 944. Timoshenko membuat banyak kontribusi, baik teoretis maupun eksperimental, di dalam mekanika terapan, dan ia menulis dua belas buku teks perintis yang memberikan revolusi di dalam pengajaran mekanika di Amerika Serikat. Buku-buku tersebut, yang diterbitkan sebanyak Iima edisi dan diterjemahkan ke 35 bahasa, mencakup bahan-bahan tentang statika, dinamika, mekanika bahan, getaran, teori struktural, stabilitas, elastisitas, p1at, dan cangkang. 1 -2 Todhunter, I. dan Pearson, K., A History of the Theory of Elasticity and of the Strength of Materials, Jilid I dan II, Dover Publications, Inc., New York, 1960 (semula diterbitkan oleh Cambridge University Press pada tahun 1 886 dan 1893). Catatan: Isaac Todhunter (1 820-1884) dan Karl Pearson ( 1857-1936) adalah matematikawan Inggris dan pendidik. Pearsonkhususnya dikenal karena kontribusi orisinalnya dalam statistika. 1-3 Love, A. E. H., A Treatise on the Mathematical Theory of Elasticity, 4th Ed., Dover Publications, Inc., New York, 1944 (semula diterbitkan oleh Cambridge University Press pada tahun 1927); lihat "Pendahuluan Sejarah" di halaman 1 -3 1 . Catatan: Augusts Edward Hough Love (1863-1940) adalah ahli e1astisitas Inggris yang mengajar di Oxford University. Penelitian penting yang dilakukannya meliputi analisis gelombang permuka­ an seisrnik, yang sekarang disebut gelombang Lovetoleh para ahli geofisika. 1 -4 Jacob Bemoulli (1654-1705), juga dikenal dengan nama James, Jacques, dan Jakob, adalah anggota keluarga matematikawan dan ilmuwan terkenal dari Basel, Swiss. la menghasilkan karya yang berkaitan dengan kurva elastis pada balok. Bernoulli juga mengembangkan koordinat polar dan menjadi terkenal karena karyanya di teori probabilitas, geometri analitis, dan cabang-cabang ilmu lain. Jean Victor Poncelet (1788-1 867) adalah or­ ang Perancis yang berjuang di kampanye Napoleon melawan Rusia. la sempat dipenjara, dan belakangan kembali ke Perancis untuk meneruskan pekeijaannya di dalam bidang matematika. Kontribusi utama darinya di dalam bidang matematika adalah geometri, dan di dalam bidang mekanika, ia sangat terkenal karena karyanya di dalam besaran bahan dan dinamika. (Untuk karya Ber­ noulli dan Poncelet yang berkaitan dengan diagram tegangan-regangan, lihat Ref. 1-1, halaman 88, dan Ref. 1-2, Jilid 1 , halaman 10, 533, dan 873.) 1-5 James dan James, Mathematics Dictionary, Van Nostrand Reinhold, New York (edisi terakhir). 1 -6 Robert Hooke (1635-1703) adalah ilmuwan Inggris yang melakukan banyak eksperimen dengan benda elastis, dan mengembangkan perbaikan dalam benda-benda kecil. lajuga memformulasikan hukum gravitasi secara terpisah dari Newton. Sesudah mendirikan Royal Society of Lon­ don pada tahun 1662, Hooke diangkat sebagai kurator pertama. (Untuk asal-usul hukum Hooke, lihat Ref. 1-1, halaman 17-20, dan Ref. 1-2, Jilid I, halaman 5.) 1-7 Thomas Young (1773-1829) adalah ilmuwan Inggris yang menjadi perintis di dalam bidang optik, bunyi, kejut, dan bidang-bidang lainnya. (Untuk informasi mengenai karyanya dalam bidang bahan, lihat Ref. 1-1, halaman 90-98, dan Ref. 1-2, Jilid I, halaman 80-86.) 1-8 Simeon Denis Poisson (1781-1840) adalah mate­ matikawan Perancis. la memberikan banyak kontribusi di dalambidang matematika dan mekanika, dan namanya juga dikenal bukan hanya karena rasio Poisson. Sebagai contoh, kita mempunyai persamaan Poisson pada persamaan diferensial dan distribusi Poisson pada teori probabilitas. Berdasarkan atas teorinya sendiri mengenai perilaku bahan, ia menghitung regangan lateral suatu batang yang mengalami tarik dan mendapatkan bahwa besarnya seperempat dari regangan longitudinal. (Untuk informasi mengenaiteorinya di dalam perilaku mekanika,
  • 424.
    lihat Ref. 1-1,halaman 1 1 1-1 14; Ref. 1-2, Jilid I, halaman 208-318; dan Ref. 1-3, halaman 13.) 2-1 Timoshenko, S.P, dan Goodier, J.N., Theory ofElas­ ticity, 3rd Ed., McGraw-Hill Book Co., Inc., New York, 1970 (lihat halaman 1 1 0). (Catatan: James Norman Goodier (1905-1969) sangat terkenal karena kontribusi penelitiannya di dalam teori elastisitas, stabilitas, pen­ jalaran gelombang pada padatan, dan cabang-cabang lain mekanika terapan. Dilahirkan di Inggris, ia belajar di Cambridge University dan University of Michigan. la adalah profesor di Comell University dan belakangan di Stanford University, di mana ia mengetuai program mekanika terapan. 2-2 Weaver, W., Jr., dan Gere, J.M., Matrix Analysis of Framed Structures, 3rd Ed., Van Nostrand Reinhold Co., New York, 1990. Catatan: Metode fleksibilitas dan kekakuan untuk menganalisis struktur statis tak tentu dengan metode-metode komputer disajikan di dalam buku ini. 2-3 Leonhard Euler ( 1707- 1783) adalah matematikawan Swiss, mungkin merupakan matematikawan terbesar sepanjang masa. Ref. 1 1-2 memberikan informasi mengenai kehidupan dan karya-karyanya (lihat Ref. 1-1, halaman 36, dan Ref. 2-4, halaman 650, mengenai karyanya tentang struktur statis tak tentu. 2-4 Oravas, G. A., dan McLean L., "Historical Devel­ opment of Energetical Principles in Elastomechanics," Applied Mechanics Reviews, Vol. I, Jilid 19, No. 8, Agustus 1966, halaman 647-658, dan Vol. II, Jilid 19, Nomor 1 1 , November 1966, halaman 919-933. 2-5 Louis Marie Henri Navier ( 1785-1836), matemati­ kawan dan insinyur Perancis, adalah salah seorang pembangun teori elastisitas matematis. la berkontribusi di dalam teori balok, plat, dan cangkang, di dalam teori getaran, dan di dalam teori fluida viskos (Lihat Ref. 1- 1, halaman 75; Ref. 1 -2, Jilid 1, halaman 146; dan Ref. 2-4, halaman 652, untuk analisisnya di dalam struktur statis tak tentu.) 2-6 Piobert, G., Morin, A.J., Diction, I., "Commission des Principes du Tir," Memorial de l'Artillerie, Jilid 5, 1 842, halaman 501-552. Catatan: Makalah ini meng­ uraikan eksperimen yang dilakukan dengan menembak­ kan proyektil artileri ke plat besi. Di halaman 505 di­ tunjukkan deskripsi penandaan yang merupakan pita slip. Deskripsi tersebut cukup singkat, dan tidak ada indikasi bahwa para peneliti tersebut memasukkan penandaan tersebut sebagai kontribusi di dalam karakteristik bahan. Guillaume Piobert (1793-1871) adalah jendral Perancis sekaligus juga matematikawan yang melakukan banyak studi mengenai balistik; pada saat makalah ini ditulis, ia adalah kapten di dalam artileri. 2-7 L.ders, W., "Ueber die Ausserung der elasticitat an stahlartigen Eisenstaben und Stahlstaben, und iiber eine beim Biegen solcher Stabe beobachtete Molecular- Mekanika Bahan 41 1 bewegung," Dingier's Polytechnisches Journal, Vol. 155, 1 860, halaman 1 8-22. Catatan: Makalah ini menguraikan serta mengilustrasikan dengan jelas pita yang muncul di permukaan spesimen baja yang dipoles selama meng­ alami leleh. Tentu saja, pita ini hanya merupakan manifestasi permukaan dari zona tiga dimensi yang mungkin seharusnya diidentifikasi sebagai "wedges" bukan sebagai pita. Sekalipun demikian, sebutan pita L.ders biasanya digunakan untuk penandaan, meskipun kadang-kadang disebut juga pita Piobert. 2-8 Benoit Paul Emile Clapeyron (1799-1 864) ada1ah insinyur struktur dan perencana jembatan Perancis yang terkenal; ia mengajar teknik di Ecole des Ponts et Chaussees di Paris. Teorema C1apeyron, yang menyatakan bahwa keija yang dilakukan oleh beban luar yang bekeija pada benda elastis linier sama dengan energi regangan, pertama kali diterbitkan pada tahun 1833. (Lihat Ref. 1- 1 , halaman 1 1 8 dan 288, Ref. 1-2, Jilid 1 , halaman 578; dan Ref. 1-2, Jilid II, halaman 418.) 2-9 Poncelet menyelidiki getaran longitudinal pada suatu batang akibat beban kejut (lihat Ref. 1-1, halaman 88). Ref. 1 -4 memberikan informasi tambahan mengenai kehidupan dan karya-karyanya. 2-1 0 Roark, R.J., dan Young, W.C., Formulasfor Stress and Strain, 6th Ed., McGraw-Hill Book Co., Inc., New York, 1989. 2-1 1 Peterson, R.E., Stress Concentration Factors, John Wiley and Sons, Inc., New York, 1974. 2-12 Barre de Saint-Venant (1797-1886) dikenal secara umum sebagai ahli elastisitas paling terkemuka sepanjang masa. Dilahirkan di dekat Paris, ia belajar sebentar di Ecole Polytechnique dan belakangan lulus dari Ecole des Ponts et Chaussees. Karir profesionalnya belakangan sangat terbengkalai karena penolakannya, dalam masalah politik, untuk bergabung dengan teman sekolahnya dalam mempertahankan Paris pada bulan Maret 1 814, sesaat sebelum ditinggalkan oleh Napoleon. Akibatnya ia lebih dikenal di negara-negara lain dibandingkan dengan di Perancis. Sebagian dari kontribusinya yang terkena1 adalah formulasi persamaan-persamaan dasar dan pengembangan teori eksak mengenai lentur dan torsi. la juga mengembangkan teori untuk deformasi plastis dan getaran. Nama panjangnya adalah Adehmar Jean Claude Barre, Count de Saint-Venant. (Lihat Ref. 1-1, halaman 229-242; Ref. 1-2, Jilid I, halaman 833-872; Jilid II, Vol. I, halaman 1 -286; Jilid II, Vol. II, halaman 1 -5 1 ; dan Ref. 2-1 , halaman 39-40.) 2-13 Zaslavsky, A., "A note on Saint-Venant's prin­ ciple," Israel Journal of Technology, Vol. 20, 1982, halaman 143-144. 2-14 Ramberg, W.A., dan Osgood, W.R., "Description of stress-strain curves by three parameters,! National Ad­ visory Committee for Aeronautics, Technical Note No. 902, Juli 1943. 1
  • 425.
    41 2 REFERENSIDAN CAT AT AN SEJARAH 3-1 Hubungan antara torsi dan sudut puntir di dalam 'usus batang lingkaran secara benar dikemukakan pada tahun 1784 oleh Charles Augustin de Coulomb (1736- 1806l, ilmuwan Perancis (lihat Ref. 1-1, halaman 51- 53. 82, dan 92, dan Ref. 1-2, Jilid I, halaman 69). Cou­ lomb memberikan kontribusi di dalam elektrisitas dan magnetisme, viskositas fluida, friksi, lenturbalok, dinding penahan tanah dan pelengkung, torsi dan getaran tor­ sional, dan banyak bidang lainnya (Ref. 1-1, halaman 47-54). Thomas Young (Ref. 1-6) mengamati bahwa torsi yang bekerja diimbangi oleh tegangan geser di penampang dan bahwa tegangan geser sebanding dengan jarak dari sumbunya. Insinyur Perancis Alphonse J. C. B. Duleau (1789-1832) melakukan pengujian pada batang yang mengalarni torsi dan juga mengembangkan teori untuk batang berpenampang lingkaran (lihat Ref. 1-1, halaman 82). 3-2 Catatan penting dari Saint-Venant mengenai torsi yang diterbitkan dalam tahun 1855, diuraikan di dalam Ref. 1-1, halaman 229-237, dan Ref. 1-2, Jilid II, Vol. II, halaman 1-51. (LihatRef. 2-12 untuk informasi mengenai kehidupan dan karya-karya Saint-Venant.) 3-3 Untuk tambahan informasi mengenai Poisson, lihat Ref. 1-1, halaman 216 dan Ref. 1-7. 3-4 Bredt, R., "Kritische Bemerkungen zur Drehung­ selastizitat," Zeitschrift des Vereines Deutscher lngenieure, Vol. 40, 1896, halaman 785-790, dan 813- 817. Catatan: Rudolph Bredt (1842-1900) adalah insinyur Jerman yang belajar di Karlsruhe dan Zurich. Selanjutnya ia bekerja di Crewe, Inggris, di pabrik kereta api, di mana ia mempelajari desain dan konstruksi cranes. Pengalamannya memberikan dasar pada karya selanjutnya sebagai pembuat crane di Jerman. Teorinya mengenai torsi dikembangkan dalam kaitan dengan desain crane balok boks. 5-1 Bukti bahwa penampang suatu balok yang meng­ alarni momen lentur mumi akan tetap datar dapat di­ peroleh di dalam makalah oleh Fazekas, G. A., "A note on the bending of Euler beams," Journal ofEngineering Education, Vol. 57, No. 5, Januari 1967. Bukti tersebut juga dapat diperoleh di dalam buku-buku mengenai mekanika bahan, seperti buku oleh F. P. Beer dan E. R. Johnston, Jr.; S. H. Crandall, N. C. Dahl, dan T. J. Lardner; dan I. H. Shames. Keabsahan teorema telah lama dikenal, dan telah digunakan oleh banyak peneliti awal seperti Jacob Bemoulli (Ref. 1-4) dan