ُ‫ل‬ُ‫ك‬ْ‫أ‬َ‫ت‬ َ‫ال‬ ْ‫ا‬‫و‬ُ‫ن‬َ‫م‬‫آ‬ َ‫ين‬ِ‫ذ‬َّ‫ال‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُّ‫ي‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫ي‬ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫ب‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ل‬‫ا‬ َ‫و‬ْ‫م‬َ‫أ‬ ْ‫ا‬‫و‬ِ‫ل‬ِ‫اط‬َ‫ب‬ْ‫ال‬ِ‫ب‬
‫اض‬َ‫ر‬َ‫ت‬ ‫ن‬َ‫ع‬ ً‫ة‬َ‫ار‬َ‫ج‬ِ‫ت‬ َ‫ون‬ُ‫ك‬َ‫ت‬ ‫ن‬َ‫أ‬ َّ‫ال‬ِ‫إ‬‫و‬ُ‫ل‬ُ‫ت‬ْ‫ق‬َ‫ت‬ َ‫ال‬ َ‫و‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ا‬
َ‫ر‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬ِ‫ب‬ َ‫ان‬َ‫ك‬ َ‫اّلل‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫س‬ُ‫ف‬‫ن‬َ‫أ‬﴿ ً‫ا‬‫يم‬ ِ‫ح‬٢٩﴾
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang
batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan
janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya
Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”
(QS. An-Nissa’: 29).
MENGAPA HARUS BISNIS SYARI’AH?
َ‫و‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ُ َّ‫اّلل‬ ‫ى‬َّ‫ل‬َ‫ص‬ ِ‫ي‬ِ‫ب‬َّ‫ن‬‫ال‬ ِ‫ن‬َ‫ع‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ ،َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫س‬:‫ا‬ َ‫م‬ْ‫د‬َ‫ق‬ ُ‫ل‬‫و‬ُ‫ز‬َ‫ي‬ ‫ال‬َ‫م‬ ْ‫و‬َ‫ي‬ َ‫م‬َ‫د‬‫آ‬ ِ‫ْن‬‫ب‬
ْ‫س‬ُ‫ي‬ ‫ى‬َّ‫ت‬َ‫ح‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬َ‫ر‬ ِ‫د‬ْ‫ن‬ِ‫ع‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ِ‫ة‬َ‫م‬‫ا‬َ‫ي‬ِ‫ق‬ْ‫ال‬‫س‬ْ‫َم‬‫خ‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬ َ‫ل‬‫أ‬:ِ‫ه‬ ِ‫ر‬ْ‫م‬ُ‫ع‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬‫ا‬َ‫م‬‫ي‬ِ‫ف‬
ِ‫ه‬ِ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬ َ‫و‬ ،ُ‫ه‬‫ْال‬‫ب‬‫أ‬ ‫ا‬َ‫م‬‫ي‬ِ‫ف‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬‫ا‬َ‫ب‬َ‫ش‬ َ‫و‬ ،ُ‫ه‬‫َا‬‫ن‬ْ‫ف‬‫أ‬َ‫م‬‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫و‬ ُ‫ه‬َ‫ب‬َ‫س‬َ‫ك‬ َ‫ْن‬‫ي‬‫أ‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬،ُ‫ه‬َ‫ق‬َ‫ف‬ْ‫ن‬‫أ‬ ‫ا‬
َ‫م‬ِ‫ل‬َ‫ع‬ ‫ا‬َ‫م‬‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫ل‬ِ‫م‬َ‫ع‬ ‫ا‬َ‫ذ‬‫ا‬َ‫م‬ َ‫و‬‫؟‬
“Kedua telapak kaki seorang anak Adam di hari kiamat masih belum
beranjak di sisi Tuhannya sebelum ditanya mengenai lima perkara:
tentang umurnya, apa yang telah dilakukannya? Tentang masa
mudanya, apa yang telah dilakukannya? Tentang hartanya, dari mana
dia memperolehnya? Dan untuk apa dibelanjakannya? Tentang
ilmunya, apa yang dia kerjakan dengan ilmunya itu?”
(HR. Ahmad dan At-Tabrani).
PERTANGGUNGJAWABAN HARTA
‫ي‬ ِ‫َر‬‫ش‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ َ‫َاك‬‫ن‬ْ‫ل‬َ‫ع‬َ‫ج‬ َّ‫م‬ُ‫ث‬َ‫ف‬ ِ‫ر‬ْ‫م‬َ ْ‫اْل‬ َ‫ن‬ِ‫م‬ ‫ة‬َ‫ع‬‫ا‬َ‫ه‬ْ‫ع‬ِ‫ب‬َّ‫ت‬‫ا‬
‫ي‬ِ‫ذ‬َّ‫ال‬ ‫اء‬ َ‫و‬ْ‫ه‬َ‫أ‬ ْ‫ع‬ِ‫ب‬َّ‫ت‬َ‫ت‬ َ‫ال‬ َ‫و‬﴿ َ‫ون‬ُ‫م‬َ‫ل‬ْ‫ع‬َ‫ي‬ َ‫ال‬ َ‫ن‬١٨﴾
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas
suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama)
itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah
kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak
mengetahui” (QS. Al-Jaatsiyah: 18).
BISNIS WAJIB TERIKAT SYARI’AT
َّ‫ل‬ ‫ل‬َ‫ع‬ْ‫ج‬َ‫ي‬ َ َّ‫اّلل‬ ِ‫ق‬َّ‫ت‬َ‫ي‬ ‫ن‬َ‫م‬ َ‫و‬﴿ ً‫ا‬‫ج‬َ‫ر‬ْ‫خ‬َ‫م‬ ُ‫ه‬٢﴾ُ‫ه‬ْ‫ق‬ُ‫ز‬ ْ‫ر‬َ‫ي‬ َ‫و‬
َ‫م‬ َ‫و‬ ُ‫ب‬ِ‫س‬َ‫ت‬ْ‫ح‬َ‫ي‬ َ‫ال‬ ُ‫ْث‬‫ي‬َ‫ح‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ْ‫ل‬َّ‫ك‬ َ‫و‬َ‫ت‬َ‫ي‬ ‫ن‬َ‫و‬ُ‫ه‬َ‫ف‬ ِ َّ‫اّلل‬
﴿ ُ‫ه‬ُ‫ب‬ْ‫س‬َ‫ح‬٣﴾
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya
Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.
Dan memberinya rezki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang
bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan) nya” (QS.
Ath-Thalaq: 2-3).
JANJI ALLAH SWT
BISNIS SYARI’AH
•Bisnis Islami (Bisnis Syariah) adalah
segala aktivitas bisnis yang terikat
atau sesuai dengan aturan-aturan
dari Hukum Syariah Islam.
DEFINISI HUKUM SYARI’AH
‫الحكم‬‫الشرعي‬‫هو‬‫العبا‬ ‫بأفعال‬ ‫المتعلق‬ ‫الشارع‬ ‫خطاب‬‫د‬
‫الوضع‬ ‫او‬ ‫التخيير‬ ‫او‬ ‫باإلقتضاء‬.
Khitob: seruan atau firman
Asy-Syari’: Allah, yaitu sebagai Pembuat hukum,
Al-Muta’alliqu : yang berkaitan atau yang mengikat
(secara keseluruhan)
Af’al: perbuatan termasuk ucapan
Al-’Ibad: hamba atau manusia secara keseluruhan
Definisi Hukum Syari’at (lanjutan)
Bil iqtidha : baik berupa tuntutan
At-takhyir : Pemberian pilihan
Al-wadh’i : penetapan sesuatu
Hukum syara’ adalah seruan atau firman dari As Syari’ (Allah sebagai
Pembuat Hukum) yang terkait dengan perbuatan-perbuatan
hamba, baik berupa tuntutan, pemberian pilihan atau penetapan
sesuatu sebagai pengatur hukum.
Hukum syari’at itu ada dua bagian :
1. Hukum taklifi, yaitu hukum untuk
mengatur perbuatan manusia, dengan
hukum berupa tuntutan (thalab) dan
pemberian pilihan (takhyir).
2. Hukum wadh’i, yaitu hukum untuk
mengatur hukum taklifi itu.
PEMBAGIAN HUKUM SYARI’AT
Terdapat dua perbedaan utama :
1. Hukum taklifi : merupakan hukum yang
langsung mengatur perbuatan manusia.
Contoh : sholat hukumnya wajib
2. Hukum wadh’i : hukum yang mengatur
perbuatan manusia secara tidak langsung.
Contoh : Wudhu adalah syarat sholat
PERBEDAAN HUKUM TAKLIFI
DAN HUKUM WADH’I
• Hukum taklifi, meliputi :
1. Tuntutan tegas (thalab jazim), yaitu haram
dan wajib.
2. Tuntutan tidak tegas (thalab ghairu jazim),
yaitu sunnah (mandub) dan makruh.
3. Pemberian pilihan (takhyir), yaitu mubah.
HUKUM TAKLIFI
STATUS HUKUM TAKLIFI
Status hukum perbuatan manusia ada 5:
1. Fardhu yang bermakna wajib
2. Haram yang bermakna terlarang
3. Mandub (Sunnah)
4. Makruh
5. Mubah
•‫تعريفه‬:‫وهو‬‫ان‬‫يكون‬‫الشارع‬‫قد‬‫ربط‬‫بين‬‫أمري‬‫ن‬‫في‬
‫الحكم‬.‫أي‬‫هي‬‫أحكام‬‫اْلحكام‬.
• Definisinya: hukum di mana As-Syari’ (Allah
SWT Sebagai Pembuat Hukum) telah
mengaitkan dua perkara di dalam satu
hukum.
• Artinya, hukum wadh’i adalah hukum-
hukum yang mengatur hukum.
HUKUM WADH’I
1. Sebab
2. Syarat
3. Mani’
4. Azimah dan Rukhshah
5. Sah, Batal, Fasad
MACAM-MACAM HUKUM WADH’I
SEBAB MUSABAB (AKIBAT HUKUM)
KEKERABATAN WARIS
KETERPAKSAAN BOLEHNYA MAKAN BANGKAI
PERJALANAN (SAFAR) BOLEHNYA BERBUKA PUASA
AKAD NIKAH SAH PERGAULAN SUAMI ISTERI
AKAD NIKAH SAH SALING MEWARISI
PEMBUNUHAN QISHASH
ZINA HUDUD BAGI PEZINA
PENYEMBELIHAN SYAR’I BOLEHNYA MEMANFAATKAN
SEBAB adalah tanda akan adanya suatu
hukum syara’
SYARAT adalah perkara yang
kepadanya bergantung hukum
SYARAT MASYRUUTH
SAKSI NIKAH
MUSHON-NYA PEZINA RAJAM ATAS PEZINA MUHSHON
HIDUPNYA AHLI WARIS WARIS
DUKHUL KEPADA PEREMPUAN HARAMNYA NIKAH DENGAN ANAK
GADIS DARI PEREMPUAN TERSEBUT
HAUL WAJIBNYA ZAKAT MAL
MENGHADAP KIBLAT SHOLAT
MENUTUP AURAT SHOLAT
TERSIMPANNYA BARANG POTONG TANGAN PENCURI
MANI’ adalah apa-apa yang keberadaannya
memastikan tiadanya hukum atau
memastikan batalnya sebab
MANI’ HUKUM YANG TERCEGAH
PEMBUNUHAN (TERHADAP YANG
MEWARISKAN)
WARIS
BEDA AGAMA WARIS
MURTAD WARIS
KEDUDUKAN SEBAGAI AYAH QISHASH (JIKA AYAH TERSEBUT
MEMBUNUH ANAKNYA)
SYUBHAT HUDUD
SAKIT SHOLAT JUMAT
MARAH MENGADILI (BAGI HAKIM)
KONDISI MASIH KECIL IBADAH HAJI
‘AZIMAH DAN RUKHSHOH
MASALAH AZIMAH RUKHSAH
MAKAN DAGING BABI HARAM BOLEH JIKA DARURAT
SHOLAT RUBAIYAH 4 RAKAAT 2 RAKAAT JIKA SAFAR
PUASA RAMADAHAN HARAM BERBUKA BOLEH BERBUKA JIKA
SAFAR
MELIHAT AURAT HARAM BOLEH BAGI DOKTER
KARENA ADA HAJAT
SHOLAT WAJIB BERDIRI BOLEH DUDUK JIKA
SAKIT
BERSUCI WUDHU TAYAMMUM JIKA TIADA
AIR
MAKAN BANGKAI DAN
MINUM KHAMR
HARAM BOLEH JIKA DARURAT
SAH adalah amal yang sesuai dengan
perintah As-Syaari’ (Allah SWT)
PERBUATAN HUKUM WADH’I
SHOLAT MEMENUHI RUKUN DAN
SYARATNYA
SAH
JUAL BELI MEMENUHI RUKUN DAN
SYARATNYA
SAH
SHOLAT TANPA WUDHU BATAL
SHOLAT TANPA MEMBACA AL-FATIHAH BATAL
HAJI TANPA WUKUF DI ARAFAH BATAL
PUASA BAGI PEREMPUAN YANG HAID
DAN NIFAS
BATAL
JUAL BELI OLEH ORANG GILA, ANAK
BELUM MUMAYYIZ
BATAL
JUAL BELI BARANG YANG TIDAK ADA BATAL
BATAL adalah lawan dari SAH, yaitu
amal yang tidak sesuai dengan
perintah As-Syaari’ (Allah SWT)
PERBUATAN HUKUM WADH’I
AKAD NIKAH TANPA MENENTUKAN
MAHAR
BATAL
AKAD NIKAH TANPA IJAB KABUL BATAL
AKAD NIKAH BAGI YANG BELUM
MUMAYYIZ
BATAL
NIKAH DENGAN MAHRAM PADAHAL
TAHU KEHARAMANNYA
BATAL
JUAL BELI JANIN BINATANG YANG MASIH
DI PERUT (MALAQIH)
BATAL
FASAD adalah kondisi perbuatan yang pada asalnya sesuai
syara’, tapi ada sifat dari perbuatan itu (di luar rukun dan
syarat) yang membuat cacat perbuatan asal tersebut, yaitu
menyimpang dari perintah As-Syaari’
PERBUATAN HUKUM WADH’I
JUAL BELI DENGAN HARGA TIDAK
DIKETAHUI
FASAD
AKAD NIKAH TANPA SAKSI FASAD
ORANG KOTA BERJUAL BELI DENGAN
ORANG DUSUN
FASAD
MEMBELI BARANG YANG SUDAH
DITAWAR ORANG LAIN
FASAD
NIKAHNYA MUHALLIL FASAD
NIKAH DENGAN PEREMPUAN SEBAGAI
ISTERI KELIMA
FASAD
PEREMPUAN DINIKAH SEBAGAI ISTERI
BARU, MENSYARATKAN SUAMI
MENCERAIKAN ISTERI LAMA
FASAD
PENGERTIAN FIQH MU’AMALAH
FIQH MU’AMALAH
• Fiqih adalah:
•‫العلم‬‫التفص‬ ‫أدلتها‬ ‫من‬ ‫المستنبطة‬ ‫العملية‬ ‫الشرعية‬ ‫باألحكام‬‫يلية‬
• “Ilmu tentang hukum-hukum syara' yang amaliah yang digali dari
dalil-dalilnya yang terperinci”.
• Mu’amalah adalah:
•‫اْلحكام‬‫الدنيا‬ ‫بأمر‬ ‫المتعلقة‬ ‫الشرعية‬
• “Hukum-hukum syara’ yang berkaitan dengan urusan dunia”
(Al-Mu’jamul Wasith, II/628).
• Yang dimaksud “urusan dunia”: interaksi antara manusia
dengan manusia lain, seperti: jual beli, syirkah, ijarah.
• Fiqih Muamalah: ilmu tentang hukum-hukum syara’ yang
menyangkut interaksi satu manusia dengan manusia lain.
PENGERTIAN FIQH MU’AMALAH
CAKUPAN SYARI’AT ISLAM
Mu’amalah yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah dalam arti sempit, yaitu:
hanya menyangkut interaksi manusia dalam pengelolaan harta benda.
1. Bai’
2. Bai’ As-Salam
3. Bai’ Al-Istishna’
4. Syirkah
5. Ijarah
6. Samsarah
7. Wakalah
8. Kafalah
9. Hawalah
10. Wadhi’ah
11. Dhaman
12. Rahn
13. Ju’alah
14. Musaqah
15. Muzara’ah
16. Mukhabarah
17. ‘Ariyah
18. Syuf’ah
19. Wadhi’ah
20. Wakaf
21. Hibah
22. Faraidh
23. Musabaqah
24. Ihya’ul Mawat
25. Luqatah
RUANG LINGKUP FIQH MU’AMALAH
26. Ghashab
27. Nafaqah
28. Wasiyat
29. Shaid
30. Hajru
31. Sulhu
32. Iqrar
33. Diyat*
34. Kaffarah*
35. Ghanimah*
36. Zakat*
37. Shadaqah*
• Perbuatan manusia yang terkait hukum syara’
diistilahkan tasharrufaat (tindakan atau
perbuatan hukum).
• Pengertian Tasharruf:
•‫التصرف‬:‫فقهي‬ ‫أثر‬ ‫له‬ ‫فعل‬ ‫أو‬ ‫قول‬ ‫كل‬
• “Tasharruf adalah setiap perkataan atau
perbuatan yang mempunyai akibat hukum”
(Rawwas Qal’ahjie, Mu’jam Lughah Al
Fuqoha`, hlm. 99).
PENGERTIAN TASHARRUF
• Ada dua macam tasharufat:
1. Tasharrufaat fi’liyah, yaitu tasharruf yang
berbentuk perbuatan (fi’liyah), seperti:
wudhu, sholat, dll
2. Tasharrufaat qauliyah, yaitu tasharruf yang
berbentuk perkataan (qauliyah),
contohnya adalah: akad (Yusuf Sabatin, Al
Buyu’, hlm. 8).
PEMBAGIAN TASHARRUF
• Ada dua macam tasharufat qauliyah:
1. Akad, yaitu: ucapan dari dua pihak
atau lebih, misal akad jual beli.
2. Bukan akad, yaitu: ucapan dari satu
pihak saja, misalnya menjatuhkan
talak, pengakuan (iqrar) dll.
Contohnya: pengakuan utang.
Selanjutnya disebut tasharruf saja
(Yusuf Sabatin, Al Buyu’, hlm. 8).
PEMBAGIAN TASHARRUF QOULIYAH
• Berdasarkan dua macam tasharrufat
qauliyah itulah, maka ada dua
mu’amalah ditinjau dari segi ada
tidaknya akad :
1. Muamalah dengan akad, seperti:
jual beli, ijarah, syirkah, dll.
2. Muamalah tanpa akad, seperti:
hawalah, dhoman, kafalah,
washiyat, waris, dll.
PEMBAGIAN MU’AMALAH
• Akad menurut bahasa artinya ikatan (ar-rabthu),
pengukuhan (al-ihkam), penguatan (at-taqwiyah).
•‫باالخر‬ ‫الواحد‬ ‫ربط‬ ‫أي‬ ‫الحبلين‬ ‫عقد‬
• Aqada al-hablaini, artinya dia mengikat yang satu dengan
yang lain.
• Akad menurut istilah syar’i :
•‫مح‬ ‫في‬ ‫اثره‬ ‫يظهر‬ ‫مشروع‬ ‫وجه‬ ‫على‬ ‫بقبول‬ ‫ايجاب‬ ‫اط‬َ‫ب‬‫ت‬ ْ‫ر‬ِ‫ا‬‫له‬
• Akad adalah ikatan ijab dengan kabul yang sesuai hukum
syara’ yang menimbulkan akibat hukum pada objek akad
(Yusuf As-Sabatin, Al-Buyu’, hlm. 13).
PENGERTIAN AKAD
• Rukun-rukun akad adalah pokok-pokok
akad yang wajib ada dalam suatu akad.
• Jika salah satu rukun akad tak ada, maka
akad yang ada tidak sah.
• Kedudukannya sama seperti rukun-rukun
sholat.
• Jika salah satu rukun sholat tidak ada,
misalnya: tidak ada niat, tidak berdiri,
tidak membaca Al Fatihah, dll, maka
sholatnya tidak sah.
RUKUN-RUKUN AKAD
• ADA TIGA RUKUN AKAD :
1. AL-AQIDANI, yaitu: adanya dua pihak
yang berakad.
2. MAHALLUL AQAD atau MA’QUUD
‘ALAIHI, yaitu: adanya objek akad atau
apa yang diakadkan.
3. SHIGHAT AKAD, yaitu: adanya ijab dan
qabul.
RUKUN AQAD
KEMUNGKINAN TERJADINYA AKAD
• AKAD ADA DUA KEMUNGKINAN:
1. AKAD SAH, yaitu: akad yang memenuhi
perintah syara’ pada rukun-rukun akad.
2. AKAD TIDAK SAH, yaitu: akad yang
tidak memenuhi perintah syara’ pada
rukun-rukun akad.
AKAD YANG TIDAK SAH
• ADA DUA MACAM AKAD YANG TIDAK
SAH:
1. AKAD BATAL, yaitu: Akad yang cacat
pada salah satu rukun akadnya, atau
cacat pada syarat yang wajib ada pada
rukun aqad.
2. AKAD FASAD, yaitu: Akad yg cacat pada
sifat akad, yang bukan rukun-rukun
akad.
AKAD MU’AMALAH
BERDASARKAN FUNGSINYA
1. QARDH
2. WADHI’AH
3. WAKALAH
4. KAFALAH
5. HAWALAH
6. RAHN
7. HIBAH
8. WAQAF
MU’AMALAH TABARU’AH MU’AMALAH TIJARIYAH
1. MURABAHAH
2. SALAM
3. ISHTISHNA’
4. SAMSARAH
5. IJARAH
6. SYIRKAH
7. MUSAQAT
8. JU’ALAH
MU’AMALAT TABARU’AH
MEMINJAMKAN HARTA
QARDH MEMINJAMKAN HARTA
RAHN MEMINJAMKAN HARTA + AGUNAN
HAWALAH MEMINJAMKAN HARTA UNTUK MENGAMBIL ALIH PINJAMAN PIHAK LAIN
MEMBERIKAN JASA
WAKALAH MEMBERIKAN JASA UNTUK MEWAKILI TUGAS ORANG LAIN
WADHI’AH MEMBERIKAN JASA MENJAGA HARTA ORANG LAIN
KAFALAH MEMBERIKAN JASA MENJAMIN HARTA ORANG LAIN
MEMBERIKAN HARTA
SHADAQAH, HADIAH, HIBAH, WAQAF DLL
• Mu’amalah Tabaru’ah tidak boleh berubah
menjadi Mu’amalah Tijariyah.
• Namun, sebaliknya: Mu’amalah Tijariyah menjadi
Mu’amalah Tabaru’ah adalah boleh.
• Nabi SAW bersabda:
•َّ‫ال‬ ِ‫ء‬ ْ‫و‬َّ‫س‬‫ال‬ ُ‫ل‬َ‫ث‬َ‫م‬ ‫َا‬‫ن‬َ‫ل‬ َ‫ْس‬‫ي‬َ‫ل‬ِ‫ه‬ِ‫ت‬َ‫ب‬ِ‫ه‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ُ‫د‬‫و‬ُ‫ع‬َ‫ي‬ ‫ي‬ِ‫ذ‬ِ‫ب‬ْ‫ل‬َ‫ك‬ْ‫ال‬َ‫ك‬
ِ‫ه‬ِ‫ئ‬ْ‫ي‬َ‫ق‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ُ‫ع‬ ِ‫ج‬ ْ‫ر‬َ‫ي‬
• “Tidak ada orang yang menandingi kejelekan orang
yang menarik hibahnya di antara kita, selain seperti
anjing yang menjilat ludahnya” (HR. Imam Bukhari).
TABARU’AH DAN TIJARIYAH
Materiibc8jakarta dasar bisnissyariah

Materiibc8jakarta dasar bisnissyariah

  • 2.
    ُ‫ل‬ُ‫ك‬ْ‫أ‬َ‫ت‬ َ‫ال‬ ْ‫ا‬‫و‬ُ‫ن‬َ‫م‬‫آ‬َ‫ين‬ِ‫ذ‬َّ‫ال‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُّ‫ي‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫ي‬ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫ب‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ل‬‫ا‬ َ‫و‬ْ‫م‬َ‫أ‬ ْ‫ا‬‫و‬ِ‫ل‬ِ‫اط‬َ‫ب‬ْ‫ال‬ِ‫ب‬ ‫اض‬َ‫ر‬َ‫ت‬ ‫ن‬َ‫ع‬ ً‫ة‬َ‫ار‬َ‫ج‬ِ‫ت‬ َ‫ون‬ُ‫ك‬َ‫ت‬ ‫ن‬َ‫أ‬ َّ‫ال‬ِ‫إ‬‫و‬ُ‫ل‬ُ‫ت‬ْ‫ق‬َ‫ت‬ َ‫ال‬ َ‫و‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ا‬ َ‫ر‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬ِ‫ب‬ َ‫ان‬َ‫ك‬ َ‫اّلل‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫س‬ُ‫ف‬‫ن‬َ‫أ‬﴿ ً‫ا‬‫يم‬ ِ‫ح‬٢٩﴾ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS. An-Nissa’: 29). MENGAPA HARUS BISNIS SYARI’AH?
  • 3.
    َ‫و‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ َُّ‫اّلل‬ ‫ى‬َّ‫ل‬َ‫ص‬ ِ‫ي‬ِ‫ب‬َّ‫ن‬‫ال‬ ِ‫ن‬َ‫ع‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ ،َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫س‬:‫ا‬ َ‫م‬ْ‫د‬َ‫ق‬ ُ‫ل‬‫و‬ُ‫ز‬َ‫ي‬ ‫ال‬َ‫م‬ ْ‫و‬َ‫ي‬ َ‫م‬َ‫د‬‫آ‬ ِ‫ْن‬‫ب‬ ْ‫س‬ُ‫ي‬ ‫ى‬َّ‫ت‬َ‫ح‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬َ‫ر‬ ِ‫د‬ْ‫ن‬ِ‫ع‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ِ‫ة‬َ‫م‬‫ا‬َ‫ي‬ِ‫ق‬ْ‫ال‬‫س‬ْ‫َم‬‫خ‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬ َ‫ل‬‫أ‬:ِ‫ه‬ ِ‫ر‬ْ‫م‬ُ‫ع‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬‫ا‬َ‫م‬‫ي‬ِ‫ف‬ ِ‫ه‬ِ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬ َ‫و‬ ،ُ‫ه‬‫ْال‬‫ب‬‫أ‬ ‫ا‬َ‫م‬‫ي‬ِ‫ف‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬‫ا‬َ‫ب‬َ‫ش‬ َ‫و‬ ،ُ‫ه‬‫َا‬‫ن‬ْ‫ف‬‫أ‬َ‫م‬‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫و‬ ُ‫ه‬َ‫ب‬َ‫س‬َ‫ك‬ َ‫ْن‬‫ي‬‫أ‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬،ُ‫ه‬َ‫ق‬َ‫ف‬ْ‫ن‬‫أ‬ ‫ا‬ َ‫م‬ِ‫ل‬َ‫ع‬ ‫ا‬َ‫م‬‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫ل‬ِ‫م‬َ‫ع‬ ‫ا‬َ‫ذ‬‫ا‬َ‫م‬ َ‫و‬‫؟‬ “Kedua telapak kaki seorang anak Adam di hari kiamat masih belum beranjak di sisi Tuhannya sebelum ditanya mengenai lima perkara: tentang umurnya, apa yang telah dilakukannya? Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya? Tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya? Dan untuk apa dibelanjakannya? Tentang ilmunya, apa yang dia kerjakan dengan ilmunya itu?” (HR. Ahmad dan At-Tabrani). PERTANGGUNGJAWABAN HARTA
  • 4.
    ‫ي‬ ِ‫َر‬‫ش‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬َ‫َاك‬‫ن‬ْ‫ل‬َ‫ع‬َ‫ج‬ َّ‫م‬ُ‫ث‬َ‫ف‬ ِ‫ر‬ْ‫م‬َ ْ‫اْل‬ َ‫ن‬ِ‫م‬ ‫ة‬َ‫ع‬‫ا‬َ‫ه‬ْ‫ع‬ِ‫ب‬َّ‫ت‬‫ا‬ ‫ي‬ِ‫ذ‬َّ‫ال‬ ‫اء‬ َ‫و‬ْ‫ه‬َ‫أ‬ ْ‫ع‬ِ‫ب‬َّ‫ت‬َ‫ت‬ َ‫ال‬ َ‫و‬﴿ َ‫ون‬ُ‫م‬َ‫ل‬ْ‫ع‬َ‫ي‬ َ‫ال‬ َ‫ن‬١٨﴾ “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” (QS. Al-Jaatsiyah: 18). BISNIS WAJIB TERIKAT SYARI’AT
  • 5.
    َّ‫ل‬ ‫ل‬َ‫ع‬ْ‫ج‬َ‫ي‬ ََّ‫اّلل‬ ِ‫ق‬َّ‫ت‬َ‫ي‬ ‫ن‬َ‫م‬ َ‫و‬﴿ ً‫ا‬‫ج‬َ‫ر‬ْ‫خ‬َ‫م‬ ُ‫ه‬٢﴾ُ‫ه‬ْ‫ق‬ُ‫ز‬ ْ‫ر‬َ‫ي‬ َ‫و‬ َ‫م‬ َ‫و‬ ُ‫ب‬ِ‫س‬َ‫ت‬ْ‫ح‬َ‫ي‬ َ‫ال‬ ُ‫ْث‬‫ي‬َ‫ح‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ْ‫ل‬َّ‫ك‬ َ‫و‬َ‫ت‬َ‫ي‬ ‫ن‬َ‫و‬ُ‫ه‬َ‫ف‬ ِ َّ‫اّلل‬ ﴿ ُ‫ه‬ُ‫ب‬ْ‫س‬َ‫ح‬٣﴾ Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya” (QS. Ath-Thalaq: 2-3). JANJI ALLAH SWT
  • 6.
    BISNIS SYARI’AH •Bisnis Islami(Bisnis Syariah) adalah segala aktivitas bisnis yang terikat atau sesuai dengan aturan-aturan dari Hukum Syariah Islam.
  • 7.
    DEFINISI HUKUM SYARI’AH ‫الحكم‬‫الشرعي‬‫هو‬‫العبا‬‫بأفعال‬ ‫المتعلق‬ ‫الشارع‬ ‫خطاب‬‫د‬ ‫الوضع‬ ‫او‬ ‫التخيير‬ ‫او‬ ‫باإلقتضاء‬. Khitob: seruan atau firman Asy-Syari’: Allah, yaitu sebagai Pembuat hukum, Al-Muta’alliqu : yang berkaitan atau yang mengikat (secara keseluruhan) Af’al: perbuatan termasuk ucapan Al-’Ibad: hamba atau manusia secara keseluruhan
  • 8.
    Definisi Hukum Syari’at(lanjutan) Bil iqtidha : baik berupa tuntutan At-takhyir : Pemberian pilihan Al-wadh’i : penetapan sesuatu Hukum syara’ adalah seruan atau firman dari As Syari’ (Allah sebagai Pembuat Hukum) yang terkait dengan perbuatan-perbuatan hamba, baik berupa tuntutan, pemberian pilihan atau penetapan sesuatu sebagai pengatur hukum.
  • 9.
    Hukum syari’at ituada dua bagian : 1. Hukum taklifi, yaitu hukum untuk mengatur perbuatan manusia, dengan hukum berupa tuntutan (thalab) dan pemberian pilihan (takhyir). 2. Hukum wadh’i, yaitu hukum untuk mengatur hukum taklifi itu. PEMBAGIAN HUKUM SYARI’AT
  • 10.
    Terdapat dua perbedaanutama : 1. Hukum taklifi : merupakan hukum yang langsung mengatur perbuatan manusia. Contoh : sholat hukumnya wajib 2. Hukum wadh’i : hukum yang mengatur perbuatan manusia secara tidak langsung. Contoh : Wudhu adalah syarat sholat PERBEDAAN HUKUM TAKLIFI DAN HUKUM WADH’I
  • 11.
    • Hukum taklifi,meliputi : 1. Tuntutan tegas (thalab jazim), yaitu haram dan wajib. 2. Tuntutan tidak tegas (thalab ghairu jazim), yaitu sunnah (mandub) dan makruh. 3. Pemberian pilihan (takhyir), yaitu mubah. HUKUM TAKLIFI
  • 12.
    STATUS HUKUM TAKLIFI Statushukum perbuatan manusia ada 5: 1. Fardhu yang bermakna wajib 2. Haram yang bermakna terlarang 3. Mandub (Sunnah) 4. Makruh 5. Mubah
  • 13.
    •‫تعريفه‬:‫وهو‬‫ان‬‫يكون‬‫الشارع‬‫قد‬‫ربط‬‫بين‬‫أمري‬‫ن‬‫في‬ ‫الحكم‬.‫أي‬‫هي‬‫أحكام‬‫اْلحكام‬. • Definisinya: hukumdi mana As-Syari’ (Allah SWT Sebagai Pembuat Hukum) telah mengaitkan dua perkara di dalam satu hukum. • Artinya, hukum wadh’i adalah hukum- hukum yang mengatur hukum. HUKUM WADH’I
  • 14.
    1. Sebab 2. Syarat 3.Mani’ 4. Azimah dan Rukhshah 5. Sah, Batal, Fasad MACAM-MACAM HUKUM WADH’I
  • 15.
    SEBAB MUSABAB (AKIBATHUKUM) KEKERABATAN WARIS KETERPAKSAAN BOLEHNYA MAKAN BANGKAI PERJALANAN (SAFAR) BOLEHNYA BERBUKA PUASA AKAD NIKAH SAH PERGAULAN SUAMI ISTERI AKAD NIKAH SAH SALING MEWARISI PEMBUNUHAN QISHASH ZINA HUDUD BAGI PEZINA PENYEMBELIHAN SYAR’I BOLEHNYA MEMANFAATKAN SEBAB adalah tanda akan adanya suatu hukum syara’
  • 16.
    SYARAT adalah perkarayang kepadanya bergantung hukum SYARAT MASYRUUTH SAKSI NIKAH MUSHON-NYA PEZINA RAJAM ATAS PEZINA MUHSHON HIDUPNYA AHLI WARIS WARIS DUKHUL KEPADA PEREMPUAN HARAMNYA NIKAH DENGAN ANAK GADIS DARI PEREMPUAN TERSEBUT HAUL WAJIBNYA ZAKAT MAL MENGHADAP KIBLAT SHOLAT MENUTUP AURAT SHOLAT TERSIMPANNYA BARANG POTONG TANGAN PENCURI
  • 17.
    MANI’ adalah apa-apayang keberadaannya memastikan tiadanya hukum atau memastikan batalnya sebab MANI’ HUKUM YANG TERCEGAH PEMBUNUHAN (TERHADAP YANG MEWARISKAN) WARIS BEDA AGAMA WARIS MURTAD WARIS KEDUDUKAN SEBAGAI AYAH QISHASH (JIKA AYAH TERSEBUT MEMBUNUH ANAKNYA) SYUBHAT HUDUD SAKIT SHOLAT JUMAT MARAH MENGADILI (BAGI HAKIM) KONDISI MASIH KECIL IBADAH HAJI
  • 18.
    ‘AZIMAH DAN RUKHSHOH MASALAHAZIMAH RUKHSAH MAKAN DAGING BABI HARAM BOLEH JIKA DARURAT SHOLAT RUBAIYAH 4 RAKAAT 2 RAKAAT JIKA SAFAR PUASA RAMADAHAN HARAM BERBUKA BOLEH BERBUKA JIKA SAFAR MELIHAT AURAT HARAM BOLEH BAGI DOKTER KARENA ADA HAJAT SHOLAT WAJIB BERDIRI BOLEH DUDUK JIKA SAKIT BERSUCI WUDHU TAYAMMUM JIKA TIADA AIR MAKAN BANGKAI DAN MINUM KHAMR HARAM BOLEH JIKA DARURAT
  • 19.
    SAH adalah amalyang sesuai dengan perintah As-Syaari’ (Allah SWT) PERBUATAN HUKUM WADH’I SHOLAT MEMENUHI RUKUN DAN SYARATNYA SAH JUAL BELI MEMENUHI RUKUN DAN SYARATNYA SAH SHOLAT TANPA WUDHU BATAL SHOLAT TANPA MEMBACA AL-FATIHAH BATAL HAJI TANPA WUKUF DI ARAFAH BATAL PUASA BAGI PEREMPUAN YANG HAID DAN NIFAS BATAL JUAL BELI OLEH ORANG GILA, ANAK BELUM MUMAYYIZ BATAL JUAL BELI BARANG YANG TIDAK ADA BATAL
  • 20.
    BATAL adalah lawandari SAH, yaitu amal yang tidak sesuai dengan perintah As-Syaari’ (Allah SWT) PERBUATAN HUKUM WADH’I AKAD NIKAH TANPA MENENTUKAN MAHAR BATAL AKAD NIKAH TANPA IJAB KABUL BATAL AKAD NIKAH BAGI YANG BELUM MUMAYYIZ BATAL NIKAH DENGAN MAHRAM PADAHAL TAHU KEHARAMANNYA BATAL JUAL BELI JANIN BINATANG YANG MASIH DI PERUT (MALAQIH) BATAL
  • 21.
    FASAD adalah kondisiperbuatan yang pada asalnya sesuai syara’, tapi ada sifat dari perbuatan itu (di luar rukun dan syarat) yang membuat cacat perbuatan asal tersebut, yaitu menyimpang dari perintah As-Syaari’ PERBUATAN HUKUM WADH’I JUAL BELI DENGAN HARGA TIDAK DIKETAHUI FASAD AKAD NIKAH TANPA SAKSI FASAD ORANG KOTA BERJUAL BELI DENGAN ORANG DUSUN FASAD MEMBELI BARANG YANG SUDAH DITAWAR ORANG LAIN FASAD NIKAHNYA MUHALLIL FASAD NIKAH DENGAN PEREMPUAN SEBAGAI ISTERI KELIMA FASAD PEREMPUAN DINIKAH SEBAGAI ISTERI BARU, MENSYARATKAN SUAMI MENCERAIKAN ISTERI LAMA FASAD
  • 22.
  • 23.
    • Fiqih adalah: •‫العلم‬‫التفص‬‫أدلتها‬ ‫من‬ ‫المستنبطة‬ ‫العملية‬ ‫الشرعية‬ ‫باألحكام‬‫يلية‬ • “Ilmu tentang hukum-hukum syara' yang amaliah yang digali dari dalil-dalilnya yang terperinci”. • Mu’amalah adalah: •‫اْلحكام‬‫الدنيا‬ ‫بأمر‬ ‫المتعلقة‬ ‫الشرعية‬ • “Hukum-hukum syara’ yang berkaitan dengan urusan dunia” (Al-Mu’jamul Wasith, II/628). • Yang dimaksud “urusan dunia”: interaksi antara manusia dengan manusia lain, seperti: jual beli, syirkah, ijarah. • Fiqih Muamalah: ilmu tentang hukum-hukum syara’ yang menyangkut interaksi satu manusia dengan manusia lain. PENGERTIAN FIQH MU’AMALAH
  • 24.
    CAKUPAN SYARI’AT ISLAM Mu’amalahyang dimaksud dalam pembahasan ini adalah dalam arti sempit, yaitu: hanya menyangkut interaksi manusia dalam pengelolaan harta benda.
  • 25.
    1. Bai’ 2. Bai’As-Salam 3. Bai’ Al-Istishna’ 4. Syirkah 5. Ijarah 6. Samsarah 7. Wakalah 8. Kafalah 9. Hawalah 10. Wadhi’ah 11. Dhaman 12. Rahn 13. Ju’alah 14. Musaqah 15. Muzara’ah 16. Mukhabarah 17. ‘Ariyah 18. Syuf’ah 19. Wadhi’ah 20. Wakaf 21. Hibah 22. Faraidh 23. Musabaqah 24. Ihya’ul Mawat 25. Luqatah RUANG LINGKUP FIQH MU’AMALAH 26. Ghashab 27. Nafaqah 28. Wasiyat 29. Shaid 30. Hajru 31. Sulhu 32. Iqrar 33. Diyat* 34. Kaffarah* 35. Ghanimah* 36. Zakat* 37. Shadaqah*
  • 26.
    • Perbuatan manusiayang terkait hukum syara’ diistilahkan tasharrufaat (tindakan atau perbuatan hukum). • Pengertian Tasharruf: •‫التصرف‬:‫فقهي‬ ‫أثر‬ ‫له‬ ‫فعل‬ ‫أو‬ ‫قول‬ ‫كل‬ • “Tasharruf adalah setiap perkataan atau perbuatan yang mempunyai akibat hukum” (Rawwas Qal’ahjie, Mu’jam Lughah Al Fuqoha`, hlm. 99). PENGERTIAN TASHARRUF
  • 27.
    • Ada duamacam tasharufat: 1. Tasharrufaat fi’liyah, yaitu tasharruf yang berbentuk perbuatan (fi’liyah), seperti: wudhu, sholat, dll 2. Tasharrufaat qauliyah, yaitu tasharruf yang berbentuk perkataan (qauliyah), contohnya adalah: akad (Yusuf Sabatin, Al Buyu’, hlm. 8). PEMBAGIAN TASHARRUF
  • 28.
    • Ada duamacam tasharufat qauliyah: 1. Akad, yaitu: ucapan dari dua pihak atau lebih, misal akad jual beli. 2. Bukan akad, yaitu: ucapan dari satu pihak saja, misalnya menjatuhkan talak, pengakuan (iqrar) dll. Contohnya: pengakuan utang. Selanjutnya disebut tasharruf saja (Yusuf Sabatin, Al Buyu’, hlm. 8). PEMBAGIAN TASHARRUF QOULIYAH
  • 29.
    • Berdasarkan duamacam tasharrufat qauliyah itulah, maka ada dua mu’amalah ditinjau dari segi ada tidaknya akad : 1. Muamalah dengan akad, seperti: jual beli, ijarah, syirkah, dll. 2. Muamalah tanpa akad, seperti: hawalah, dhoman, kafalah, washiyat, waris, dll. PEMBAGIAN MU’AMALAH
  • 30.
    • Akad menurutbahasa artinya ikatan (ar-rabthu), pengukuhan (al-ihkam), penguatan (at-taqwiyah). •‫باالخر‬ ‫الواحد‬ ‫ربط‬ ‫أي‬ ‫الحبلين‬ ‫عقد‬ • Aqada al-hablaini, artinya dia mengikat yang satu dengan yang lain. • Akad menurut istilah syar’i : •‫مح‬ ‫في‬ ‫اثره‬ ‫يظهر‬ ‫مشروع‬ ‫وجه‬ ‫على‬ ‫بقبول‬ ‫ايجاب‬ ‫اط‬َ‫ب‬‫ت‬ ْ‫ر‬ِ‫ا‬‫له‬ • Akad adalah ikatan ijab dengan kabul yang sesuai hukum syara’ yang menimbulkan akibat hukum pada objek akad (Yusuf As-Sabatin, Al-Buyu’, hlm. 13). PENGERTIAN AKAD
  • 31.
    • Rukun-rukun akadadalah pokok-pokok akad yang wajib ada dalam suatu akad. • Jika salah satu rukun akad tak ada, maka akad yang ada tidak sah. • Kedudukannya sama seperti rukun-rukun sholat. • Jika salah satu rukun sholat tidak ada, misalnya: tidak ada niat, tidak berdiri, tidak membaca Al Fatihah, dll, maka sholatnya tidak sah. RUKUN-RUKUN AKAD
  • 32.
    • ADA TIGARUKUN AKAD : 1. AL-AQIDANI, yaitu: adanya dua pihak yang berakad. 2. MAHALLUL AQAD atau MA’QUUD ‘ALAIHI, yaitu: adanya objek akad atau apa yang diakadkan. 3. SHIGHAT AKAD, yaitu: adanya ijab dan qabul. RUKUN AQAD
  • 33.
    KEMUNGKINAN TERJADINYA AKAD •AKAD ADA DUA KEMUNGKINAN: 1. AKAD SAH, yaitu: akad yang memenuhi perintah syara’ pada rukun-rukun akad. 2. AKAD TIDAK SAH, yaitu: akad yang tidak memenuhi perintah syara’ pada rukun-rukun akad.
  • 34.
    AKAD YANG TIDAKSAH • ADA DUA MACAM AKAD YANG TIDAK SAH: 1. AKAD BATAL, yaitu: Akad yang cacat pada salah satu rukun akadnya, atau cacat pada syarat yang wajib ada pada rukun aqad. 2. AKAD FASAD, yaitu: Akad yg cacat pada sifat akad, yang bukan rukun-rukun akad.
  • 35.
    AKAD MU’AMALAH BERDASARKAN FUNGSINYA 1.QARDH 2. WADHI’AH 3. WAKALAH 4. KAFALAH 5. HAWALAH 6. RAHN 7. HIBAH 8. WAQAF MU’AMALAH TABARU’AH MU’AMALAH TIJARIYAH 1. MURABAHAH 2. SALAM 3. ISHTISHNA’ 4. SAMSARAH 5. IJARAH 6. SYIRKAH 7. MUSAQAT 8. JU’ALAH
  • 36.
    MU’AMALAT TABARU’AH MEMINJAMKAN HARTA QARDHMEMINJAMKAN HARTA RAHN MEMINJAMKAN HARTA + AGUNAN HAWALAH MEMINJAMKAN HARTA UNTUK MENGAMBIL ALIH PINJAMAN PIHAK LAIN MEMBERIKAN JASA WAKALAH MEMBERIKAN JASA UNTUK MEWAKILI TUGAS ORANG LAIN WADHI’AH MEMBERIKAN JASA MENJAGA HARTA ORANG LAIN KAFALAH MEMBERIKAN JASA MENJAMIN HARTA ORANG LAIN MEMBERIKAN HARTA SHADAQAH, HADIAH, HIBAH, WAQAF DLL
  • 37.
    • Mu’amalah Tabaru’ahtidak boleh berubah menjadi Mu’amalah Tijariyah. • Namun, sebaliknya: Mu’amalah Tijariyah menjadi Mu’amalah Tabaru’ah adalah boleh. • Nabi SAW bersabda: •َّ‫ال‬ ِ‫ء‬ ْ‫و‬َّ‫س‬‫ال‬ ُ‫ل‬َ‫ث‬َ‫م‬ ‫َا‬‫ن‬َ‫ل‬ َ‫ْس‬‫ي‬َ‫ل‬ِ‫ه‬ِ‫ت‬َ‫ب‬ِ‫ه‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ُ‫د‬‫و‬ُ‫ع‬َ‫ي‬ ‫ي‬ِ‫ذ‬ِ‫ب‬ْ‫ل‬َ‫ك‬ْ‫ال‬َ‫ك‬ ِ‫ه‬ِ‫ئ‬ْ‫ي‬َ‫ق‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ُ‫ع‬ ِ‫ج‬ ْ‫ر‬َ‫ي‬ • “Tidak ada orang yang menandingi kejelekan orang yang menarik hibahnya di antara kita, selain seperti anjing yang menjilat ludahnya” (HR. Imam Bukhari). TABARU’AH DAN TIJARIYAH