BP3TKI KUPANG
SIWA, SE
I. PENDAHULUAN
Suasana aman bagi pekerja migran merupakan hal mutlak yang harus
dirasakan oleh mereka, baik ketika berada di negara transit, negara
penempatan maupun kembali ke negara asal karena hal ini adalah hak
asasi yang harus dijaga serta dihormati, oleh sebab itu negara wajib
mengatur dengan berbagai kebijakan/aturan/regulasi sebagai instrumen
perlindungan agar hak-hak pekerja migran tetap terjaga.
Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak pekerja migran kita yang
mengalami masalah di negara penempatan walaupun penataan sistem
terus dikembangkan, pada saat yang sama animo masyarakat untuk
bekerja ke luar negeri tetap tinggi, tidak terpengaruh dengan keadaan
yang sering terjadi.
III. PERANAN PEMERINTAH
1. Mengatur/membuat regulasi/peraturan perundang-
undangan serta aturan teknis pelaksanaannya tentang
mekanisme penempatan dan perlindungan tenaga kerja
Indonesia sebagai pekerja migran.
2. Regulasi dimaksud pada point 1 diimplementasikan dengan
sistem agar dapat diawasi, dikendalikan serta terkontrol.
a. Sistem Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia
(Siskotkln) http://siskotkln.bnp2tki.go.id
Sistem yang memproses penempatan TKI sesuai urutan
yang ditetapkan dalam UU No. 39 dengan melibatkan
stakeholder terkait, diantaranya; Disnaker Kab/Kota,
Sarkes, BLKLN, LUK, Asuransi dan BP3TKI.
b. Sistem Pendataan Kedatangan dan Kepulangan TKI
http://sipendaki.bnp2tki.go.id
Sistem yang mendata kedatangan dan pelayanan
kepulangan TKI di setiap debarkasi dan terintegrasi
dengan server pusat di BNP2TKI
c. Sistem Pelayanan Pengaduan TKI (Crisis Center)
Sistem yang mendata pelayanan pengaduan TKI melalui
berbagai media;
 Telepon (0800 1000 – bebas pulsa domestik)
 Telepon (+62-21-29244800 Internasional),
 Fax (062-21-2924 4810-11),
 Email : halotki@bnp2tki.go.id
 SMS : (7266)
 Surat dan Tatap muka
d. Sistem Informasi Pasar Kerja Luar Negeri
(+ Pendataan Pencaker Online)
http://infokerja_bnp2tki.org
e. Data Warehouse http://dw.bnp2tki.go.id
3. Meratifikasi Aturan Internasional
4. Melakukan MOU dengan Pihak Negara Penempatan
5. Kebijakan Teknis Perwakilan Republik Indonesia
6. Kongres Diaspora Indonesia
7. Kebijakan Daerah
8. Memfasilitasi Penyelesaian Kasus
9. Pelayanan Keberangkatan dan Kepulangan TKI di
Pelabuhan/Bandara
IV. MENGAPA TERJADINYA MASALAH
V. Gambaran Umum Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia Sebagai Pekerja Migran
VI. Data Kasus
REKAPITULASI KASUS CTKI/TKI DIPERINCI MENURUT NEGARA
KEADAAN JANUARI S/D DESEMBER 2013
REKAPITULASI KASUS CTKI/TKI DIPERINCI MENURUT NEGARA
KEADAAN JANUARI S/D MEI 2014
VII. HAMBATAN DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN
1. Pemberangkatan Non Prosedural
a. Pekerja migran tidak terdata dalam sistem sehingga apabila terjadi
masalah maka akan mengalami hambatan dalam penyelesaiannya.
b. Pemberangkatan Non prosedural banyak menyebabkan terjadinya
masalah, karena pengguna/user di negara penempatan akan
memanfaatkan kesempatan ini untuk menipu, mencari keuntungan
dll.
c. Adanya masalah dalam negeri maka menyebabkan terjadinya
pemberangkatan non prosedural, antara lain terbatasnya aktifitas
kontrol di tempat pemberangkatan melalui darat, laut maupun
udara, baik daerah asal maupun di titik titik perbatasan ;
2. Terdapat beberapa regulasi dibidang Ketenagakerjaan yang tumpang
tindih satu sama lain sehingga menjadi celah bagi pihak tertentu untuk
memanfaatkan kondisi tersebut.
3. Koordinasi antar instansi terkait belum optimal, sehingga kurang
terjadi sinergi dalam pelaksanaan tupoksi maupun program kerja;
4. Perbedaan persepsi dan pendekatan dalam mengimplementasikan
pelaksanaan peraturan penempatan dan perlindungan TKI.
Terima Kasih

Materi Dari BP3TKI oleh Bapak Siwe, SE

  • 1.
  • 2.
    I. PENDAHULUAN Suasana amanbagi pekerja migran merupakan hal mutlak yang harus dirasakan oleh mereka, baik ketika berada di negara transit, negara penempatan maupun kembali ke negara asal karena hal ini adalah hak asasi yang harus dijaga serta dihormati, oleh sebab itu negara wajib mengatur dengan berbagai kebijakan/aturan/regulasi sebagai instrumen perlindungan agar hak-hak pekerja migran tetap terjaga. Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak pekerja migran kita yang mengalami masalah di negara penempatan walaupun penataan sistem terus dikembangkan, pada saat yang sama animo masyarakat untuk bekerja ke luar negeri tetap tinggi, tidak terpengaruh dengan keadaan yang sering terjadi.
  • 4.
    III. PERANAN PEMERINTAH 1.Mengatur/membuat regulasi/peraturan perundang- undangan serta aturan teknis pelaksanaannya tentang mekanisme penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia sebagai pekerja migran. 2. Regulasi dimaksud pada point 1 diimplementasikan dengan sistem agar dapat diawasi, dikendalikan serta terkontrol. a. Sistem Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (Siskotkln) http://siskotkln.bnp2tki.go.id Sistem yang memproses penempatan TKI sesuai urutan yang ditetapkan dalam UU No. 39 dengan melibatkan stakeholder terkait, diantaranya; Disnaker Kab/Kota, Sarkes, BLKLN, LUK, Asuransi dan BP3TKI.
  • 6.
    b. Sistem PendataanKedatangan dan Kepulangan TKI http://sipendaki.bnp2tki.go.id Sistem yang mendata kedatangan dan pelayanan kepulangan TKI di setiap debarkasi dan terintegrasi dengan server pusat di BNP2TKI c. Sistem Pelayanan Pengaduan TKI (Crisis Center) Sistem yang mendata pelayanan pengaduan TKI melalui berbagai media;  Telepon (0800 1000 – bebas pulsa domestik)  Telepon (+62-21-29244800 Internasional),  Fax (062-21-2924 4810-11),  Email : halotki@bnp2tki.go.id  SMS : (7266)  Surat dan Tatap muka
  • 7.
    d. Sistem InformasiPasar Kerja Luar Negeri (+ Pendataan Pencaker Online) http://infokerja_bnp2tki.org e. Data Warehouse http://dw.bnp2tki.go.id 3. Meratifikasi Aturan Internasional 4. Melakukan MOU dengan Pihak Negara Penempatan 5. Kebijakan Teknis Perwakilan Republik Indonesia 6. Kongres Diaspora Indonesia 7. Kebijakan Daerah 8. Memfasilitasi Penyelesaian Kasus 9. Pelayanan Keberangkatan dan Kepulangan TKI di Pelabuhan/Bandara
  • 8.
  • 9.
    V. Gambaran UmumPerlindungan Tenaga Kerja Indonesia Sebagai Pekerja Migran
  • 10.
  • 13.
    REKAPITULASI KASUS CTKI/TKIDIPERINCI MENURUT NEGARA KEADAAN JANUARI S/D DESEMBER 2013
  • 15.
    REKAPITULASI KASUS CTKI/TKIDIPERINCI MENURUT NEGARA KEADAAN JANUARI S/D MEI 2014
  • 16.
    VII. HAMBATAN DALAMMEMBERIKAN PERLINDUNGAN 1. Pemberangkatan Non Prosedural a. Pekerja migran tidak terdata dalam sistem sehingga apabila terjadi masalah maka akan mengalami hambatan dalam penyelesaiannya. b. Pemberangkatan Non prosedural banyak menyebabkan terjadinya masalah, karena pengguna/user di negara penempatan akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menipu, mencari keuntungan dll. c. Adanya masalah dalam negeri maka menyebabkan terjadinya pemberangkatan non prosedural, antara lain terbatasnya aktifitas kontrol di tempat pemberangkatan melalui darat, laut maupun udara, baik daerah asal maupun di titik titik perbatasan ; 2. Terdapat beberapa regulasi dibidang Ketenagakerjaan yang tumpang tindih satu sama lain sehingga menjadi celah bagi pihak tertentu untuk memanfaatkan kondisi tersebut.
  • 17.
    3. Koordinasi antarinstansi terkait belum optimal, sehingga kurang terjadi sinergi dalam pelaksanaan tupoksi maupun program kerja; 4. Perbedaan persepsi dan pendekatan dalam mengimplementasikan pelaksanaan peraturan penempatan dan perlindungan TKI.
  • 18.