MAKALAH TAKHRIJ HADITS 
Disusun Untuk Disampaikan dalam Diskusi Kelas dan Memenuhi 
Salah Satu Tugas Mata Kuliah Qur’an Hadits 
Dosen Pengampu: H. JAUHAR HATTA, S.Ag, M.Ag 
Oleh : 
1. Sri Fatonah (144801) 
2. Siti Rohimah Tarihoran (144801) 
3. Feri Nugroho (14480162) 
PROGRAM STUDI PGMI 
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN 
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI 
(UIN) SUNAN KALIJAGA 
YOGYAKARTA 
2014 
i
KATA PENGANTAR 
ii 
Bismillahirrahmaanirrahiim 
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah 
melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga dapat terselesaikannya 
makalah ini dalam rangka melengkapi persyaratan dalam perkuliahan pada 
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan kalijaga Yogyakarta. 
Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan pada Nabi Muhammad 
SAW. beserta keluarga, sahabat dan semua pengikutnya, dengan harapan semoga 
bisa mendapatkan syafa'at uzma ila yaumil qiyamah. 
Dalam penyusunan makalah ini kami mengucapkan terima kasih kepada 
seluruh pihak yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan makalah ini dan 
memberikan dorongan semangat penulis untuk melanjutkan studi. 
Dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. 
Oleh karena itu segala masukan berupa saran dan kritik yang membangun dari 
berbagai pihak demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini sangat diharapkan. 
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan tambahan ilmu 
kepada kita semua. Amiin ya Robbal 'Alamiin. 
Yogyakarta, 09 Desember 2014 
Penyusun,
DAFTAR ISI 
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i 
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii 
DAFTAR ISI ................................................................................................... 1 
BAB I PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang Masalah .............................................................. 2 
B. Rumusan Masalah ....................................................................... 2 
C. Tujuan Pembahasan ..................................................................... 2 
1 
BAB II PEMBAHASAN 
A. Pengertian Takhrij Hadits ........................................................... 3 
B. Objek Takhrij............................................................................... 3 
C. Metode Takhrij ............................................................................ 3 
D. Manfaat Ilmu Takhrij .................................................................. 5 
BAB III PENUTUP 
A. Kesimpulan .................................................................................. 6 
DAFTAR PUSTAKA
BAB I 
PENDAHULUAN 
2 
A. Latar Belakang 
Al-Hadits merupakan sumber hukum islam kedua setelah Al-Qur’an, karena ia 
mempunyai peranan penting, terutama sebagai hujjah dalam menetapkan hukum. Oleh 
karena itu validasi sebuah hadits harus menjadi perhatian. Hadits mempunyai tiga unsur 
penting yakni,sanad, matan dan perawi. Sebuah hadits belum dapat ditentukan apakah 
boleh diterima (maqbul) secara baik atau ditolak (mardud) sebelum keadaan sanadnya, 
apakah merekamuttashil ataukah munqathi’. Sanad berperan menentukan nilai hadits, 
karena sanad adalah matarantai para perawi yang mengantarkan sebuah matan. 
Sedangkan matan merupakan lafadhyang menunjuk pada isi sebuah hadits. Dari segi 
periwayatannya, posisi dan kondisi para perawi yang berderet dalam sanad sangat 
menentukan status sebuah hadits, apakah ia shahih, dla’if,atau lainnya. Dengan demikian 
ke-a’dalah-an, ke-tsiqoh-an dan ke-dlabith-an setiap perawi sangat menentukn status 
hadits. 
Diantara kita terkadang memperoleh atau menerima teks, baik dalam majalah maupun 
buku-buku agama bahkan dalam sebagian kitab karya Ulama’ Klasik, yang dinyatakan 
sebagi hadits tetapi tidak disertakan sanadnya bahkan tidak pula perawinya. Maka untuk 
memastikan apakah teks-teks tersebut benar merupakan hadits atau tidak, atau jika 
memang hadits maka perlu diketahui statusnya secara pasti, siapa perawinya dan siapa-siapa 
sanadnya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka teks tersebut harus diteliti 
atau dilacak, darimana teks tersebut diambil (menunjuk pada kitab sumbernya sekaligus 
siapa perawinya), dan bagaimana keadaan para perawi dalam sanad setelah ditemukan 
sanadnya. Hasilnya akan diketahui sumber teks (kitab dan penulis atau perawi), maupun 
sanadnya jika teks pun diketahui apakah sahih atau tidak. Pelacakan seperti itulah 
namanya penelitian hadits (takhrij al-hadits). 
B. Rumusan Masalah 
1. Apa itu pengertian takhrij al-hadits ? 
2. Apa obyek takhrij itu ? 
3. Bagaimana metode takhrij ? 
4. Apa manfaat ilmu takhrij ? 
C. Tujuan Pembahasan 
Adapun tujuan kami dalam pembahasan masalah adalah sebagai berikut: 
1. Mengetahui pengertian Takhrij Hadits 
2. Mengetahui objek takhrij 
3. Mengetahui manfaat Takhrij Hadits
BAB II 
PEMBAHASAN 
3 
A. Pengertian Takhrij al-Hadits 
Menurut bahasa, takhrij ( تخريج ) berasal dari fi’il madli kharaja ( خرَّج ) yang berarti 
mengeluarkan. Kata tersebut merupakan bentuk imbuhan dari kata dasar khuruj ( خروج ) yang 
berasal dari kata kharaja( خرج ) yang berarti keluar. Perhatikan dua ungkapan dalam dua 
contoh dibawah ini : Umar keluar (khuruj) dari masjid, 
dan Bintang mengeluarkan (takhrij) warna 
Dengan makna tersebut maka takhrij al-hadits secara sederhana berarti “mengeluarkan 
hadits”, artinya hadits dicari atau dilacak dari sumbernya (kitab hadits). 
Adapun secara terminologis, takhrij al-hadits ( تخريج الحديث ) dipahami sebagai cara 
penunjukan ke tempat letak hadits pada sumber yang orisinil takhrijnya berikut sanadnya, 
kemudian dijelaskan martabat haditsnya bila diperlukan. Dr. Mahmud at-Thahhan 
menjelaskan bahwa takhrij al-hadits adalah cara penunjukan sumber asli dari suatu hadits, 
menjelaskan sanadnya dan menerangkan martabat nilai hadits yang ditakhrij. takhrij al-hadits 
diartikansebagai berikut : “Mengembalikan hadits ke sumber-sumber aslinya yang akurat. 
Jika pada aslinya tidak ditemukan, maka dirujukkan pada cabang-cabangnya, dan jika 
mengalami kesulitan, maka hendaklah dikembalikan pada catatan yang memiliki sanad, serta 
menjelaskan tingkatan hadits secara umum”. Rumusan definitif tersebut mengandung maksud 
bahwa takhrij al-hadits adalah upaya menulusuri hadits hingga sumber atau asalnya, baik 
untuk menemukan sanad dan perawinya maupun untuk mengklarifikasi redaksi matannya 
yang diharapkan untuk membuktikan bahwa hadits tersebut palsu (mawdlu’) atau tidak. 
B. Objek Takhrij 
objek yang menjadi pusat kajian takhrij adalah sanad dan matan. Sanad sebagai unsur 
dari struktur hadits harus diteliti disamping banyak rijal yang terdapat dalam sanad 
mengundang kemungkinan untuk belum diterima haditsnya, juga secara realitas memang 
diantara para rijal dalam sanad hadits terkandang ada yang belum diketahui (majhul), 
misalnya terdapat unsur sanad yang hanya disebut dengan rajul ( رجل ), atau bahkan terkadang 
ada yang dilompati, misalnya setelah nama seorang tabi’in langsung dikatakan nabi, yang 
menunjukan sanadnya terjadi missing link atau infishal ( انفصال ). Apalagi sebuah hadits yang 
ditulis atau disampaikan tanpa sanad maupun perawi akhir. 
Matan juga mesti diteliti lagi agar diperoleh keniscayaan bahwa redaksi atau teks yang 
ditemukan dari luar kitab hadits itu benar-benar merupakan hadits. Hal tersebut dilakukan 
karena berbagai alasan. Diantara satu dari sekian alasan meneliti matan adalah untuk 
menghindari pemalsuan hadits. 
C. Metode Takhrij 
Metode takhrij adalah cara atau teknis melakukan penelusuran terhadap hadits dari 
sumber asalnya, baik hadits tanpa sanad dan perawi, hadits dengan perawi, maupun hadits 
lengkap sanad dengan menggunakan kitab-kitab rujukan yang mendukung, maupun 
menggunakan alat tekhnologi digital. 
Secara metodologis, takhrij hadits dapat dilakukan dengan lima cara, yaitu takhrj 
dengan cara melacak perawi dari generasi shahabat, takhrij dengan cara melacak awal kata 
matan hadits, takhrij dengan cara melacak suku kata atau potongan matan hadits, takhrij 
dengan cara melacak tema hadits, dan takhrij dengan cara melacak sifat-sifat khuhus terdapat 
pada sanad maupun matan hadits.
Adapun langkah-langkah teknis yang harus diperhatikan oleh orang yang hendak 
4 
melakukan takhrij adalah : 
1. Proses Takhrij 
Dalam melakukan penelitian (takhrij) terhadap sebuah hadits seorang peneliti 
(Mukharrij) hendaknya melakukan langkah-langkah sebagai berikut : 
1. Menentukan teks hadits atau topik terlebih dahulu. 
2. Menentukan atau mengetahui periwayat (rawi) hadits, misalnya Ahmad, al-Bukhari, 
Muslim dan sebagainya. 
3. Menulusuri hadits yang dimaksud dari sumber aslinya, misalnya Musnad al-Imam 
Ahmad ibn Hanbal al-Nabawi karya Dr. A.J. Winsick atau lainnya untuk 
mengetahui dimana posisi sebuah hadits yang dicari sesungguhnya berada. 
4. Meneliti sanad. Setelah didapati keberadaan hadits dan diketahui sanadnya dalam 
kitab tertentu, maka nama-nama yang terdapat dalam matarantai sanad diteliti satu 
persatu. Untuk meneliti nama-nama dalam sanad (rijal al-hadits) dapat dipergunakan 
buku-buku indeks perawi seperti kitab Tahdzib at-Tahdzibkarya ibn Hajar al- 
‘Asqalani untuk mengetahui esensi nama dan silsilahnya, sifatnya dan hubungan 
dengan perawi lainnya, sehingga ditemukan simpulan tentang nama sebenarnya, 
sifatnya dan sebagainya, hingga diketahui status haditsnya. 
5. Menyimpulkan kwalitas hadits. Dari langkah keempat tadi peneliti dapat menganalsis 
sebuah hadits melalui sanad, baik dari aspek kwantitas dan kualitas, lalu ditentukan 
statusnya. Jika dimungkinkan, maka dilakuka istinbathhukum dari proses tersebut. 
6. Contoh hadis tentang larangan menjual air 
حدثنا عبدالله حدثني أبي سفيان عن عمر وقال أخبرني أبو المنهال سمع إياس بن عبد المزنيَّ وكان من أص 
حاب النبي ص. مقال لاتبيعوا الماء فإنيِّ سمعت رسول الله ص . م نهى عن بيع الماء لايدري 
أيُّ ماء هو ( رواه أحمد). 
(…… dari ‘Amr, dari Abu Minhal yang mendengar Iyas ibn ‘Abd al-Muzaniy, berkata 
“janganlah menjual air karena aku mendengar Rasulullah saw. Melarang penjualan air, 
dimana ‘Amr tidak mengetahui air apakah yang dimaksudkan”). 
Untuk melakukan praktik takhrij al-hadits sebagaimana langkah-langkah diatas dapat 
kita contohkan, meneliti hadits tentang menjual air (bay’ al-ma’) dari segi sanad dan sistem 
periwayatannya. Sebagai berikut : 
1. Mula-mula peneliti (Mukharrij) harus mengetahui siapa perawi hadits tersebut. Jika 
suatu hadits tidak disebutkan perawinya maka peneliti harus melacaknya, misalnya, 
melalui kitab indeks hadits. Seorang perawi yang semestinya menjadi sentral riwayat 
hadits tetapi tidk disebutkan, seperti al-Bukhari, Muslim dan sebagainya. Melalui 
penulusuran tersebut ditemukan hasil bahwa hadits tersebut terdapat dalam 
kitab musnad al-Imam Ahmadlengkap dengan petunjuk juz dan halamannya. Itu 
artinya perawi hadits tersebut adalah Imam Ahmad RA. 
2. Seorang peneliti mengkorfirmasi kebenaran data dari Mu’jam tersebut dengan melihat 
langsung kitab yang ditulis oleh perawi, yaitu Musnad al-Imam Ahmad. Setelah 
ditemukan kebenarannya, peneliti mencatat nomor halaman maupun nomor hadits. 
3. Seorang peneliti melengkapi haditsnya dengan nama-nama sanad (rijal al-hadits) dan 
perawinya untuk dilakukan penelitian selanjutnya. 
2. Melacak periwayatan hadits dan kwalitas perawi. 
Setelah menemukan hadits lengkap dengan sanad seorang peneliti mengamati nama-nama 
dalam sana. Dalam menentukan sifat dan martabat hadits peneliti (Mukharrij) harus 
mengetahui nama-nama perawi. Bagaimana kwalitas mereka (‘adil, dlabith, atau tidak) dan
bagaimana hubungan mereka dengan perawi sebelumnya? untuk itu nama-nama perawi 
dalam mata rantai sanad harus diidentifikasi satu persatu untuk diteliti.1 
5 
D. Manfaat Ilmu Takhrij 
Melihat kondisi hadits dari segi historisitasnya, hadits adalah pusat perhatian yang 
mengundang para pemerhatinya untuk bersikap waspada dalam memberlakukannya 
(menerima dan menyampaikannya), mengingat hadits baru ditulis dan disusun secara resmi 
pada abad ke II H. Itu menunjukkan proses panjang yang rentetan yang rekayasa didalamnya 
oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kecuali itu munculnya kliasifikasi hadits 
menjadi shahih dan tidak shahih (dla’if), kemudian muncul hadits hasan sebagai jawaban atas 
problema yang terjadi diantara keduanya, bahkan hadits madlu’, juga merupakan faktor lain 
yang membuat kita untuk berhati-hati terhadap hadits. Untuk memperoleh hasil temuan yang 
dapat dipertanggung jawabkan itulah maka diperlukan sebuah ilmu yang disebut dengan 
istilah Takhrij al-Hadits. Takhrij sebagai ilmu perlu diketahui oleh setiap orang yang hendak 
mendapatkan hadits dengan keadaan dan status yang jelas. Selanjutnya mengenai tujuan dan 
manfaat takhrij hadits ini, yang menjadi tujuan dari takhrij adalah menunjukkan sumber 
hadits dan menerangkan ditolak atau diterimanya hadits tersebut. Dengan demikian, ada dua 
hal yang menjadi tujuan takhrij, yaitu : 
1. Untuk mengetahui sumber dari suatu hadits, dan 
2. Mengetahui kualitas dari suatu hadits, apakah dapat dtierima atau ditolak. 
Sedangkan manfaat takhrij secara umum banyak sekali, diantaranya :2 
 Memperkenalkan sumber-sumber hadits, kitab-kitab asal dari suatu hadits beserta ulama 
yang meriwayatkannya. 
 Menambah pembendaharaan sanad hadits melalui kitab-kitab yang ditunjukkannya. 
 Memperjelas keadaan sanad, hingga dapat diketahhui apakah munqathi’ atau tidak. 
 Memperjelas perawi hadits yang samar karena dengan adanya takhrij, dapat diketahui 
nama perawi yang sebenarnya secara lengkap. 
 Dapat membedakan antara proses periwayatan yang dilakukan dengan lafadz dan yang 
dilakukan dengan makna saja. 
1 Majid khon, Abdul, Ulumul Hadis, Cet IV, Jakarta, Amzah, 2010 
2 Sohari Sahrani, Ulumul Hadits, (Bogor, Ghalia Indonesia Cet, I, 2010), h. 27.
BAB III 
PENUTUP 
6 
Kesimpulan 
Secara kharfiah, kata takhrij ( تخريج ) berasal dari fi’il madli kharaja ( خرَّج ) yang berarti 
mengeluarkan. Kata tersebut merupakan bentuk imbuhan dari kata dasar khuruj ( خروج ) yang 
berasal dari kata kharaja ( خرج ) yang berarti keluar. Adapun secara terminologis, takhrij al-hadits( 
الحديث تخريج ) dipahami sebagai cara penunjukan ketempat letak hadits pada sumber 
yang orisinil takhrijnya berikut sanadnya, kemudian dijelaskan martabat haditsnya bila 
diperlukan. Dr. Mahmud at-Thahhan menjelaskan bahwa takhrij al-hadits adalah cara 
penunjukan sumber asli dari suatu hadits, menjelaskan sanadnya dan menerangkan martabat 
nilai hadits yang ditakhrij. Adapun obyek yang menjadi pusat kajian takhrij 
adalah sanad dan matan. Matan juga mesti diteliti lagi agar diperoleh keniscayaan bahwa 
redaksi atau teks yang ditemukan dari luar kitab hadits itu benar-benar merupakan hadits. Hal 
tersebut dilakukan karena berbagai alasan. Diantara satu dari sekian alasan meneliti matan 
adalah untuk menghindari pemalsuan hadits. Secara metodologis, takhrij hadits dapat 
dilakukan dengan lima cara, yaitu takhrj dengan cara melacak perawi dari generasi shahabat, 
takhrij dengan cara melacak awal kata matan hadits, takhrij dengan cara melacak suku kata 
atau potongan matan hadits, takhrij dengan cara melacak tema hadits, dan takhrij dengan cara 
melacak sifat-sifat khuhus terdapat pada sanad maupun matan hadits. 
Adapun langkah-langkah teknis yang harus diperhatikan oleh orang yang hendak 
melakukan takhrij adalah : 
1. Proses Takhrij Dalam melakukan penelitian (takhrij) terhadap sebuah hadits seorang 
peneliti (Mukharrij) hendaknya Menentukan teks hadits atau topik terlebih dahulu. 
2. Menentukan atau mengetahui periwayat (rawi) hadits, misalnya Ahmad, al- 
Bukhari, Muslim dan sebagainya. 
Selanjutnya mengenai tujuan dan manfaat takhrij hadits ini, adalah menunjukkan 
sumber hadits dan menerangkan ditolak atau diterimanya hadits tersebut. Dengan demikian, 
ada dua hal yang menjadi tujuan takhrij, yaitu : Untuk mengetahui sumber dari suatu hadits, 
dan mengetahui kualitas dari suatu hadits, apakah dapat dtierima atau ditolak.
DAFTAR PUSTAKA 
Sahrani, Sohari, Ulumul Hadits, Bogor: Ghalia Indonesia, 2010. 
Majid khon, Abdul, Ulumul Hadis, Cet IV, Jakarta, Amzah, 2010. 
Idris, Study Hadis, Cet I, Jakarta, Prenada Media Group, 2010 
7

makalah takhrij hadits

  • 1.
    MAKALAH TAKHRIJ HADITS Disusun Untuk Disampaikan dalam Diskusi Kelas dan Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Qur’an Hadits Dosen Pengampu: H. JAUHAR HATTA, S.Ag, M.Ag Oleh : 1. Sri Fatonah (144801) 2. Siti Rohimah Tarihoran (144801) 3. Feri Nugroho (14480162) PROGRAM STUDI PGMI FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2014 i
  • 2.
    KATA PENGANTAR ii Bismillahirrahmaanirrahiim Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga dapat terselesaikannya makalah ini dalam rangka melengkapi persyaratan dalam perkuliahan pada Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan kalijaga Yogyakarta. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan pada Nabi Muhammad SAW. beserta keluarga, sahabat dan semua pengikutnya, dengan harapan semoga bisa mendapatkan syafa'at uzma ila yaumil qiyamah. Dalam penyusunan makalah ini kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan makalah ini dan memberikan dorongan semangat penulis untuk melanjutkan studi. Dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu segala masukan berupa saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini sangat diharapkan. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan tambahan ilmu kepada kita semua. Amiin ya Robbal 'Alamiin. Yogyakarta, 09 Desember 2014 Penyusun,
  • 3.
    DAFTAR ISI HALAMANJUDUL ...................................................................................... i KATA PENGANTAR .................................................................................... ii DAFTAR ISI ................................................................................................... 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .............................................................. 2 B. Rumusan Masalah ....................................................................... 2 C. Tujuan Pembahasan ..................................................................... 2 1 BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Takhrij Hadits ........................................................... 3 B. Objek Takhrij............................................................................... 3 C. Metode Takhrij ............................................................................ 3 D. Manfaat Ilmu Takhrij .................................................................. 5 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan .................................................................................. 6 DAFTAR PUSTAKA
  • 4.
    BAB I PENDAHULUAN 2 A. Latar Belakang Al-Hadits merupakan sumber hukum islam kedua setelah Al-Qur’an, karena ia mempunyai peranan penting, terutama sebagai hujjah dalam menetapkan hukum. Oleh karena itu validasi sebuah hadits harus menjadi perhatian. Hadits mempunyai tiga unsur penting yakni,sanad, matan dan perawi. Sebuah hadits belum dapat ditentukan apakah boleh diterima (maqbul) secara baik atau ditolak (mardud) sebelum keadaan sanadnya, apakah merekamuttashil ataukah munqathi’. Sanad berperan menentukan nilai hadits, karena sanad adalah matarantai para perawi yang mengantarkan sebuah matan. Sedangkan matan merupakan lafadhyang menunjuk pada isi sebuah hadits. Dari segi periwayatannya, posisi dan kondisi para perawi yang berderet dalam sanad sangat menentukan status sebuah hadits, apakah ia shahih, dla’if,atau lainnya. Dengan demikian ke-a’dalah-an, ke-tsiqoh-an dan ke-dlabith-an setiap perawi sangat menentukn status hadits. Diantara kita terkadang memperoleh atau menerima teks, baik dalam majalah maupun buku-buku agama bahkan dalam sebagian kitab karya Ulama’ Klasik, yang dinyatakan sebagi hadits tetapi tidak disertakan sanadnya bahkan tidak pula perawinya. Maka untuk memastikan apakah teks-teks tersebut benar merupakan hadits atau tidak, atau jika memang hadits maka perlu diketahui statusnya secara pasti, siapa perawinya dan siapa-siapa sanadnya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka teks tersebut harus diteliti atau dilacak, darimana teks tersebut diambil (menunjuk pada kitab sumbernya sekaligus siapa perawinya), dan bagaimana keadaan para perawi dalam sanad setelah ditemukan sanadnya. Hasilnya akan diketahui sumber teks (kitab dan penulis atau perawi), maupun sanadnya jika teks pun diketahui apakah sahih atau tidak. Pelacakan seperti itulah namanya penelitian hadits (takhrij al-hadits). B. Rumusan Masalah 1. Apa itu pengertian takhrij al-hadits ? 2. Apa obyek takhrij itu ? 3. Bagaimana metode takhrij ? 4. Apa manfaat ilmu takhrij ? C. Tujuan Pembahasan Adapun tujuan kami dalam pembahasan masalah adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui pengertian Takhrij Hadits 2. Mengetahui objek takhrij 3. Mengetahui manfaat Takhrij Hadits
  • 5.
    BAB II PEMBAHASAN 3 A. Pengertian Takhrij al-Hadits Menurut bahasa, takhrij ( تخريج ) berasal dari fi’il madli kharaja ( خرَّج ) yang berarti mengeluarkan. Kata tersebut merupakan bentuk imbuhan dari kata dasar khuruj ( خروج ) yang berasal dari kata kharaja( خرج ) yang berarti keluar. Perhatikan dua ungkapan dalam dua contoh dibawah ini : Umar keluar (khuruj) dari masjid, dan Bintang mengeluarkan (takhrij) warna Dengan makna tersebut maka takhrij al-hadits secara sederhana berarti “mengeluarkan hadits”, artinya hadits dicari atau dilacak dari sumbernya (kitab hadits). Adapun secara terminologis, takhrij al-hadits ( تخريج الحديث ) dipahami sebagai cara penunjukan ke tempat letak hadits pada sumber yang orisinil takhrijnya berikut sanadnya, kemudian dijelaskan martabat haditsnya bila diperlukan. Dr. Mahmud at-Thahhan menjelaskan bahwa takhrij al-hadits adalah cara penunjukan sumber asli dari suatu hadits, menjelaskan sanadnya dan menerangkan martabat nilai hadits yang ditakhrij. takhrij al-hadits diartikansebagai berikut : “Mengembalikan hadits ke sumber-sumber aslinya yang akurat. Jika pada aslinya tidak ditemukan, maka dirujukkan pada cabang-cabangnya, dan jika mengalami kesulitan, maka hendaklah dikembalikan pada catatan yang memiliki sanad, serta menjelaskan tingkatan hadits secara umum”. Rumusan definitif tersebut mengandung maksud bahwa takhrij al-hadits adalah upaya menulusuri hadits hingga sumber atau asalnya, baik untuk menemukan sanad dan perawinya maupun untuk mengklarifikasi redaksi matannya yang diharapkan untuk membuktikan bahwa hadits tersebut palsu (mawdlu’) atau tidak. B. Objek Takhrij objek yang menjadi pusat kajian takhrij adalah sanad dan matan. Sanad sebagai unsur dari struktur hadits harus diteliti disamping banyak rijal yang terdapat dalam sanad mengundang kemungkinan untuk belum diterima haditsnya, juga secara realitas memang diantara para rijal dalam sanad hadits terkandang ada yang belum diketahui (majhul), misalnya terdapat unsur sanad yang hanya disebut dengan rajul ( رجل ), atau bahkan terkadang ada yang dilompati, misalnya setelah nama seorang tabi’in langsung dikatakan nabi, yang menunjukan sanadnya terjadi missing link atau infishal ( انفصال ). Apalagi sebuah hadits yang ditulis atau disampaikan tanpa sanad maupun perawi akhir. Matan juga mesti diteliti lagi agar diperoleh keniscayaan bahwa redaksi atau teks yang ditemukan dari luar kitab hadits itu benar-benar merupakan hadits. Hal tersebut dilakukan karena berbagai alasan. Diantara satu dari sekian alasan meneliti matan adalah untuk menghindari pemalsuan hadits. C. Metode Takhrij Metode takhrij adalah cara atau teknis melakukan penelusuran terhadap hadits dari sumber asalnya, baik hadits tanpa sanad dan perawi, hadits dengan perawi, maupun hadits lengkap sanad dengan menggunakan kitab-kitab rujukan yang mendukung, maupun menggunakan alat tekhnologi digital. Secara metodologis, takhrij hadits dapat dilakukan dengan lima cara, yaitu takhrj dengan cara melacak perawi dari generasi shahabat, takhrij dengan cara melacak awal kata matan hadits, takhrij dengan cara melacak suku kata atau potongan matan hadits, takhrij dengan cara melacak tema hadits, dan takhrij dengan cara melacak sifat-sifat khuhus terdapat pada sanad maupun matan hadits.
  • 6.
    Adapun langkah-langkah teknisyang harus diperhatikan oleh orang yang hendak 4 melakukan takhrij adalah : 1. Proses Takhrij Dalam melakukan penelitian (takhrij) terhadap sebuah hadits seorang peneliti (Mukharrij) hendaknya melakukan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Menentukan teks hadits atau topik terlebih dahulu. 2. Menentukan atau mengetahui periwayat (rawi) hadits, misalnya Ahmad, al-Bukhari, Muslim dan sebagainya. 3. Menulusuri hadits yang dimaksud dari sumber aslinya, misalnya Musnad al-Imam Ahmad ibn Hanbal al-Nabawi karya Dr. A.J. Winsick atau lainnya untuk mengetahui dimana posisi sebuah hadits yang dicari sesungguhnya berada. 4. Meneliti sanad. Setelah didapati keberadaan hadits dan diketahui sanadnya dalam kitab tertentu, maka nama-nama yang terdapat dalam matarantai sanad diteliti satu persatu. Untuk meneliti nama-nama dalam sanad (rijal al-hadits) dapat dipergunakan buku-buku indeks perawi seperti kitab Tahdzib at-Tahdzibkarya ibn Hajar al- ‘Asqalani untuk mengetahui esensi nama dan silsilahnya, sifatnya dan hubungan dengan perawi lainnya, sehingga ditemukan simpulan tentang nama sebenarnya, sifatnya dan sebagainya, hingga diketahui status haditsnya. 5. Menyimpulkan kwalitas hadits. Dari langkah keempat tadi peneliti dapat menganalsis sebuah hadits melalui sanad, baik dari aspek kwantitas dan kualitas, lalu ditentukan statusnya. Jika dimungkinkan, maka dilakuka istinbathhukum dari proses tersebut. 6. Contoh hadis tentang larangan menjual air حدثنا عبدالله حدثني أبي سفيان عن عمر وقال أخبرني أبو المنهال سمع إياس بن عبد المزنيَّ وكان من أص حاب النبي ص. مقال لاتبيعوا الماء فإنيِّ سمعت رسول الله ص . م نهى عن بيع الماء لايدري أيُّ ماء هو ( رواه أحمد). (…… dari ‘Amr, dari Abu Minhal yang mendengar Iyas ibn ‘Abd al-Muzaniy, berkata “janganlah menjual air karena aku mendengar Rasulullah saw. Melarang penjualan air, dimana ‘Amr tidak mengetahui air apakah yang dimaksudkan”). Untuk melakukan praktik takhrij al-hadits sebagaimana langkah-langkah diatas dapat kita contohkan, meneliti hadits tentang menjual air (bay’ al-ma’) dari segi sanad dan sistem periwayatannya. Sebagai berikut : 1. Mula-mula peneliti (Mukharrij) harus mengetahui siapa perawi hadits tersebut. Jika suatu hadits tidak disebutkan perawinya maka peneliti harus melacaknya, misalnya, melalui kitab indeks hadits. Seorang perawi yang semestinya menjadi sentral riwayat hadits tetapi tidk disebutkan, seperti al-Bukhari, Muslim dan sebagainya. Melalui penulusuran tersebut ditemukan hasil bahwa hadits tersebut terdapat dalam kitab musnad al-Imam Ahmadlengkap dengan petunjuk juz dan halamannya. Itu artinya perawi hadits tersebut adalah Imam Ahmad RA. 2. Seorang peneliti mengkorfirmasi kebenaran data dari Mu’jam tersebut dengan melihat langsung kitab yang ditulis oleh perawi, yaitu Musnad al-Imam Ahmad. Setelah ditemukan kebenarannya, peneliti mencatat nomor halaman maupun nomor hadits. 3. Seorang peneliti melengkapi haditsnya dengan nama-nama sanad (rijal al-hadits) dan perawinya untuk dilakukan penelitian selanjutnya. 2. Melacak periwayatan hadits dan kwalitas perawi. Setelah menemukan hadits lengkap dengan sanad seorang peneliti mengamati nama-nama dalam sana. Dalam menentukan sifat dan martabat hadits peneliti (Mukharrij) harus mengetahui nama-nama perawi. Bagaimana kwalitas mereka (‘adil, dlabith, atau tidak) dan
  • 7.
    bagaimana hubungan merekadengan perawi sebelumnya? untuk itu nama-nama perawi dalam mata rantai sanad harus diidentifikasi satu persatu untuk diteliti.1 5 D. Manfaat Ilmu Takhrij Melihat kondisi hadits dari segi historisitasnya, hadits adalah pusat perhatian yang mengundang para pemerhatinya untuk bersikap waspada dalam memberlakukannya (menerima dan menyampaikannya), mengingat hadits baru ditulis dan disusun secara resmi pada abad ke II H. Itu menunjukkan proses panjang yang rentetan yang rekayasa didalamnya oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kecuali itu munculnya kliasifikasi hadits menjadi shahih dan tidak shahih (dla’if), kemudian muncul hadits hasan sebagai jawaban atas problema yang terjadi diantara keduanya, bahkan hadits madlu’, juga merupakan faktor lain yang membuat kita untuk berhati-hati terhadap hadits. Untuk memperoleh hasil temuan yang dapat dipertanggung jawabkan itulah maka diperlukan sebuah ilmu yang disebut dengan istilah Takhrij al-Hadits. Takhrij sebagai ilmu perlu diketahui oleh setiap orang yang hendak mendapatkan hadits dengan keadaan dan status yang jelas. Selanjutnya mengenai tujuan dan manfaat takhrij hadits ini, yang menjadi tujuan dari takhrij adalah menunjukkan sumber hadits dan menerangkan ditolak atau diterimanya hadits tersebut. Dengan demikian, ada dua hal yang menjadi tujuan takhrij, yaitu : 1. Untuk mengetahui sumber dari suatu hadits, dan 2. Mengetahui kualitas dari suatu hadits, apakah dapat dtierima atau ditolak. Sedangkan manfaat takhrij secara umum banyak sekali, diantaranya :2  Memperkenalkan sumber-sumber hadits, kitab-kitab asal dari suatu hadits beserta ulama yang meriwayatkannya.  Menambah pembendaharaan sanad hadits melalui kitab-kitab yang ditunjukkannya.  Memperjelas keadaan sanad, hingga dapat diketahhui apakah munqathi’ atau tidak.  Memperjelas perawi hadits yang samar karena dengan adanya takhrij, dapat diketahui nama perawi yang sebenarnya secara lengkap.  Dapat membedakan antara proses periwayatan yang dilakukan dengan lafadz dan yang dilakukan dengan makna saja. 1 Majid khon, Abdul, Ulumul Hadis, Cet IV, Jakarta, Amzah, 2010 2 Sohari Sahrani, Ulumul Hadits, (Bogor, Ghalia Indonesia Cet, I, 2010), h. 27.
  • 8.
    BAB III PENUTUP 6 Kesimpulan Secara kharfiah, kata takhrij ( تخريج ) berasal dari fi’il madli kharaja ( خرَّج ) yang berarti mengeluarkan. Kata tersebut merupakan bentuk imbuhan dari kata dasar khuruj ( خروج ) yang berasal dari kata kharaja ( خرج ) yang berarti keluar. Adapun secara terminologis, takhrij al-hadits( الحديث تخريج ) dipahami sebagai cara penunjukan ketempat letak hadits pada sumber yang orisinil takhrijnya berikut sanadnya, kemudian dijelaskan martabat haditsnya bila diperlukan. Dr. Mahmud at-Thahhan menjelaskan bahwa takhrij al-hadits adalah cara penunjukan sumber asli dari suatu hadits, menjelaskan sanadnya dan menerangkan martabat nilai hadits yang ditakhrij. Adapun obyek yang menjadi pusat kajian takhrij adalah sanad dan matan. Matan juga mesti diteliti lagi agar diperoleh keniscayaan bahwa redaksi atau teks yang ditemukan dari luar kitab hadits itu benar-benar merupakan hadits. Hal tersebut dilakukan karena berbagai alasan. Diantara satu dari sekian alasan meneliti matan adalah untuk menghindari pemalsuan hadits. Secara metodologis, takhrij hadits dapat dilakukan dengan lima cara, yaitu takhrj dengan cara melacak perawi dari generasi shahabat, takhrij dengan cara melacak awal kata matan hadits, takhrij dengan cara melacak suku kata atau potongan matan hadits, takhrij dengan cara melacak tema hadits, dan takhrij dengan cara melacak sifat-sifat khuhus terdapat pada sanad maupun matan hadits. Adapun langkah-langkah teknis yang harus diperhatikan oleh orang yang hendak melakukan takhrij adalah : 1. Proses Takhrij Dalam melakukan penelitian (takhrij) terhadap sebuah hadits seorang peneliti (Mukharrij) hendaknya Menentukan teks hadits atau topik terlebih dahulu. 2. Menentukan atau mengetahui periwayat (rawi) hadits, misalnya Ahmad, al- Bukhari, Muslim dan sebagainya. Selanjutnya mengenai tujuan dan manfaat takhrij hadits ini, adalah menunjukkan sumber hadits dan menerangkan ditolak atau diterimanya hadits tersebut. Dengan demikian, ada dua hal yang menjadi tujuan takhrij, yaitu : Untuk mengetahui sumber dari suatu hadits, dan mengetahui kualitas dari suatu hadits, apakah dapat dtierima atau ditolak.
  • 9.
    DAFTAR PUSTAKA Sahrani,Sohari, Ulumul Hadits, Bogor: Ghalia Indonesia, 2010. Majid khon, Abdul, Ulumul Hadis, Cet IV, Jakarta, Amzah, 2010. Idris, Study Hadis, Cet I, Jakarta, Prenada Media Group, 2010 7