LAPORAN AKHIR
PRAKTIKUM FENOMENA DASAR MESIN
DEFLEKSI
Oleh:
KELOMPOK: B3
Delpanro Sitanggang 1207136567
Tomi Sinaga 1307113126
Arif Mafiki 1207135447
Sahat P Simarmata 1307113253
LABORATORIUM KONSTRUKSI DAN PERANCANGAN
JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU
OKTOBER, 2015
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR NOTASI
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT.
karena atas berkat dan rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan laporan
praktikum “Fenomena Dasar” ini khususnya pada praktikum Defleksi tepat pada
waktunya.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu menyelesaikan laporan ini terutama kepada:
 Kedua Orang Tua penulis, yang selalu memberikan dukungan,
dorongan serta motivasi kepada penulis.
 Bapak Mustafa Akbar.ST.,MT selaku dosen pengampu mata kuliah
Fenomena Dasar.
 Asisten dosen Fenomena Dasar yang selalu membimbing pelaksanaan
praktikum dan telah banyak memberikan ilmu pengetahuan.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak terdapat kekurangan
akibat dari keterbatasan ilmu yang penulis miliki. Oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangun untuk dapat
menyempurnakan laporan ini. Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima
kasih.
Pekanbaru, Oktober 2015
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami
kemajuan, sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir
manusia. Disertai dengan sistem pendidikan yang mapan, memungkinkan kita
berpikir kritis, kreatif, dan produktif. Sama halnya dengan perkembangan
teknologi dibidang konstruksi, seperti halnya defleksi. Defleksi merupakan suatu
fenomena perubahan bentuk pada balok dalam arah vertical dan horisontal akibat
adanya pembebanan yang diberikan pada balok atau batang. Sumbu sebuah batang
akan terdeteksi dari kedudukannya semula bila benda dibawah pengaruh gaya
terpakai. Dengan kata lain suatu batang akan mengalami pembebanan transversal
baik itu beban terpusat maupun terbagi merata akan mengalami defleksi.
Salah satu persoalan yang sangat penting diperhatikan adalah perhitungan
defleksi/lendutan dan tegangan pada elemen-elemen ketika mengalami suatu
pembebanan. Hal ini sangat penting terutama dari segi kekuatan (strength) dan
kekakuan (stiffness), dimana pada batang horizontal yang diberi beban secara
lateral akan mengalami defleksi. Didalam kehidupan sehari-hari kita sering kali
berjumpa dengan defleksi,baik defleksi pada baja, pada besi maupun kayu. Oleh
sebab itu kita seorangengineer harus memperhitungkan defleksi atau lendutan
yang akan terjadi,contohnya saja pada jembatan. Jika seorang engineer tidak
memperhitungkanmaka akan berakibat fatal bagi pengguna jembatan tersebut,
karena faktor lendutan yang lebih besar akan mengurangi faktor safety pada
struktur tersebut.
Oleh sebab itu kita harus mengetahui fenomena apa saja yang akan terjadi
pada defleksi ini. Namun banyak yang belum mengerti terhadap fenomena-
fenomena pada defleksi ini.
1.2 Tujuan Percobaan
Adapun beberapa tujuan yang akan didapatkan pada percobaan defleksi ini,
adalah:
1. Mengetahui fenomena lendutan batang prismatik dan pemanfaatannya
dalam eksperimen dengan konstruksi sederhana.
2. Membandingkan solusi teoritik dengan hasil eksperimen.
1.3 Manfaat
Manfaat dari pratikum ini yaitu praktikan mengetahui fenomena defleksi
(lendutan) yang terjadi pada batang atau balok. Dan mampu membuktikan rumus-
rumus defleksi teoritis dengan hasil percobaan. Manfaat lain dari praktikum ini
adalah untuk menambah wawasan penulis terkait dengan objek yang dikaji.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Dasar
Defleksi adalah perubahan bentuk pada balok dalam arah vertikal dan
horisontal akibat adanya pembebanan yang diberikan pada balok atau batang.
Sumbu sebuah batang akan terdeteksi dari kedudukannya semula bila benda
dibawah pengaruh gaya terpakai. Dengan kata lain suatu batang akan mengalami
pembebanan transversal baik itu beban terpusat maupun terbagi merata akan
mengalami defleksi.
Deformasi pada balok secara sangat mudah dapat dijelaskan berdasarkan
defleksi balok dari posisinya sebelum mengalami pembebanan. Defleksi diukur
dari permukaan netral awal ke posisi netral setelah terjadi deformasi. Konfigurasi
yang diasumsikan dengan deformasi permukaan netral dikenal sebagai kurva
elastis dari balok.
Jarak perpindahan y didefinisikan sebagai defleksi balok. Dalam penerapan,
kadang kita harus menentukan defleksi pada setiap nilai x disepanjang balok.
Hubungan ini dapat ditulis dalam bentuk persamaan yang sering disebut
persamaan defleksi kurva (atau kurva elastis) dari balok.
2.1.1 Jenis-jenis defleksi
Suatu batang kontinu yang ditumpu pada bagian pangkalnya akan melendut
jika diberi suatu pembebanan. Secara umum persamaan dari defleksi dapat dilihat
pada kurva defleksi dari sebuah batang prismatik.
Defleksi berdasarkan pembebanan yang terjadi pada batang, terdiri atas:
1) Defleksi aksial (regangan)
Perubahan bentuk suatu batang akibat pembebanan arah vertikal (tarik, tekan)
hingga membentuk sudut defleksi, dan posisi batang vertikal, kemudian kembali
ke posisi semula. Atau defleksi ini terjadi jika pembebanan pada luas penampang.
2) Defleksi lateral (lendutan)
Perubahan bentuk suatu batang akibat pembebanan arah vertikal (bending)
posisi batang horizontal, hingga membentuk sudut defleksi, kemudian kembali ke
posisi semula. Defleksi ini terjadi jika pembebanan tegak lurus pada luas
penampang. Sistem struktur yang di letakkan horizontal dan yang terutama di
peruntukkan memikul beban lateral, yaitu beban yang bekerja tegak lurus sumbu
aksial batang (Binsar Hariandja, 1996). Beban semacam ini khususnya muncul
sebagai beban gravitasi, seperti misalnya bobot sendiri, beban hidup vertical,
beban krain (crane) dan lain-lain. Contoh sistem balok dapat di kemukakan antara
lain, balok lantai gedung, gelagar jembatan, balok penyangga krain, dan
sebagainya. Sumbu sebuah batang akan terdeteksi dari kedudukannya semula bila
benda dibawah pengaruh gaya terpakai.
Dengan kata lain suatu batang akan mengalami pembebanan tranversal baik
itu beban terpusat maupun terbagi merata akan mengalami defleksi. Unsur-unsur
dari mesin haruslah cukup tegar untuk mencegah ketidakbarisan dan
mempertahankan ketelitian terhadap pengaruh beban dalam gedung-gedung, balok
lantai tidak dapat melentur secara berlebihan untuk meniadakan pengaruh
psikologis yang tidak diinginkan para penghuni dan untuk memperkecil atau
mencegah dengan bahan-bahan jadi yang rapuh. Begitupun kekuatan mengenai
karateristik deformasi dari bangunan struktur adalah paling penting untuk
mempelajari getaran mesin seperti juga bangunan-bangunan stasioner dan
penerbangan. Dalam menjalankan fungsinya, balok meneruskan pengaruh beban
gravitasi keperletakan terutama dengan mengandalakan aksi lentur, yang berkaitan
dengan gaya berupa momen lentur dan geser. Kalaupun timbul aksi normal, itu
terutama di timbulkan oleh beban luar yang relatif kecil, misalnya akibat gaya
gesek rem kendaraan pada gelagar jembatan, atau misalnya akibat perletakan yang
di buat miring.
3) Defleksi oleh gaya geser atau puntir pada batang
Unsur-unsur dari mesin haruslah tegar untuk mempertahankan ketelitian
dimensional terhadap pengaruh beban. Suatu batang kontinu yang ditumpu akan
melendut jika mengalami beban lentur.
2.1.2 Jenis-jenis pembebanan
Defleksi berhubungan dengan regangan, jika regangan yang terjadi pada
struktur semakin besar, maka tegangan strukturpun akan bertambah besar.
Defleksi sangat penting untuk diketahui karena berhubungan dengan desain
struktur dan membantu dalam analisis struktur. Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi defleksi adalah:
a) Besar pembebanan (P)
Besar-kecilnya gaya yang diberikan pada batang berbanding lurus dengan
besarnya defleksi yang terjadi. Dengan kata lain semakin besar beban yang
dialami batang maka defleksi yang terjadi pun semakin besar.
b) Panjang batang (l)
Panjang batang ini akan berpengaruh terhadap besar kecilnya lendutan pada
suatu batang.
c) Dimensi penampang batang (I)
Dimensi yang dimaksud adalah dimensi yang akan mengalami defleksi itu sendiri
akibat beban yang akan diterimanya.
d) Jenis material batang (E)
Semakin kaku suatu batang maka lendutan batang yang akan terjadi pada
batang akan semakin kecil, atau biasa disebut tergantung dari tingkat elastisitas
material tersebut.
2.1.3 Jenis-jenis tumpuan
Jumlah reaksi dan arah pada tiap jenis tumpuan berbeda-beda. Jika
karena itu besarnya defleksi pada penggunaan tumpuan yang berbeda-beda
tidaklah sama. Semakin banyak reaksi dari tumpuan yang melawan gaya dari
beban maka defleksi yang terjadi pada tumpuan rol lebih besar dari tumpuan pin
(pasak) dan defleksi yang terjadi pada tumpuan pin lebih besar dari tumpuan jepit.
Adapun jenis-jenis tumpuan yang biasa digunakan dalam rancangan konstruksi
teknik adalah:
a) Engsel
Engsel merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi vertikal dan gaya
reaksi horizontal. Tumpuan yang berpasak mampu melawan gaya yang bekerja
dalam setiap arah dari bidang. Jadi pada umumnya reaksi pada suatu tumpuan
seperti ini mempunyai dua komponen yang satu dalam arah horizontal dan yang
lainnya dalam arah vertical. Tidak seperti pada perbandingan tumpuan rol atau
penghubung,maka perbandingan antara komponen-komponen reaksi pada
tumpuan yang terpasak tidaklah tetap. Untuk menentukan kedua komponen ini,
dua buah komponen statika harus digunakan.
b) Rol
Rol merupakan tumpuan yang hanyadapat menerima gaya reaksi vertical. Alat ini
mampu melawan gaya-gaya dalam suatu garis aksi yang spesifik. Penghubung
yang terlihat pada gambar dibawah ini dapat melawan gaya hanya dalam arah AB
rol. Pada gambar dibawah hanya dapat melawan beban vertical. Sedang rol-rol
hanya dapat melawan suatu tegak lurus pada bidang cp.
c) Jepit
Jepit merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi vertical, gaya
reaksi horizontal dan momen akibat jepitan dua penampang. Tumpuan jepit ini
mampu melawan gaya dalam setiap arah dan juga mampu melawan suatu kopel
atau momen. Secara fisik, tumpuan ini diperoleh dengan membangun sebuah
balok ke dalam suatu dinding batu bata. Mengecornya ke dalam beton atau
mengelas ke dalam bangunan utama. Suatu komponen gaya dan sebuah momen.
2.1.4 Jenis-jenis pembebanan
Salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya defleksi pada batang adalah jenis
beban yang diberikan kepadanya. Adapun jenis pembeban:
a) Beban terpusat
Titik kerja pada batang dapat dianggap berupa titik karena luas
kontaknya kecil.
b) Beban terbagi merata
Disebut beban terbagi merata karena merata sepanjang batang
dinyatakan dalam qm (kg/m atau kN/m).
c) Beban bervariasi uniform
Disebut beban bervariasi uniform karena beban sepanjang batang besarnya
tidak merata.
2.1.5 Jenis-jenis batang
a) Batang tumpuan sederhana
Bila tumpuan tersebut berada pada ujung-ujung dan pada pasak atau rol.
b) Batang kartilever
Bila salah satu ujung balok dijepit dan yang lain bebas.
c) Batang Overhang
Bila balok dibangun melewati tumpuan sederhana.
d) Batang menerus.
Bila tumpuan-tumpuan terdapat pada balok continue secara fisik.
2.1.6 Aplikasi defleksi batang
Aplikasi dari analisa lendutan batang dalam bidang keteknikan sangat luas, mulai
dari perancangan poros transmisi sebuah kendaraan bermotor ini, menujukkan
bahwa pentingnya analisa lendutan batang ini dalam perancangan. Sebuah
konstruksi teknik, berikut adalah beberapa aplikasi dari lendutan batang:
a) Jembatan
Disinilah dimana aplikasi lendutan batang mempunyai perananan yang
sangat penting. Sebuah jembatan yang fungsinya menyeberangkan benda atau
kendaraan diatasnya mengalami beban yang sangat besar dan dinamis yang
bergerak diatasnya. Hal ini tentunya akan mengakibatkan terjadinya lendutan
batang atau defleksi pada batang-batang konstruksi jembatan tersebut. Defleksi
yang terjadi secara berlebihan tentunya akan mengakibatkan perpatahan pada
jembatan tersebut dan hal yang tidak diinginkan dalam membuat jembatan.
b) Poros Transmisi
Pada poros transmisi roda gigi yang saling bersinggungan untuk
mentransmisikan gaya torsi memberikan beban pada batang poros secara radial.
Ini yang menyebabkan terjadinya defleksi pada batang poros transmisi. Defleksi
yang terjadi pada poros membuat sumbu poros tidak lurus. Ketidaklurusan sumbu
poros akan menimbulkan efek getaran pada pentransmisian gaya torsi antara roda
gigi. Selain itu, benda dinamis yang berputar pada sumbunya.
c) Rangka (chasis) kendaraan
Kendaraan-kendaraan pengangkut yang berdaya muatan besar, memiliki
kemungkinan terjadi defleksi atau lendutan batang-batang penyusun
konstruksinya.
d) Konstruksi Badan Pesawat Terbang
Pada perancangan sebuah pesawat material-material pembangunan
pesawat tersebut merupakan material-material ringan dengan tingkat elestitas
yang tinggi namun memiliki kekuatan yang baik. Oleh karena itu, diperlukan
analisa lendutan batang untuk mengetahui defleksi yang terjadi pada material atau
batang-batang penyusun pesawat tersebut, untuk mencegah terjadinya defleksi
secara berlebihan yang menyebabkan perpatahan atau fatik karena beban terus
menerus.
2.1.7 Metode penghitungan defleksi
Lendutan yang terjadi disetiap titik pada batang tersebut dapat dihitung
dengan berbagai metoda, antara lain:
a) Metode Integrasi
b) Metode luas momen
c) Metode superposisi
2.2 Teori Dasar Alat Uji
BAB III
PENGOLAHAN DATA
BAB IV
PENUTUP

Laporan akhir cover

  • 1.
    LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FENOMENADASAR MESIN DEFLEKSI Oleh: KELOMPOK: B3 Delpanro Sitanggang 1207136567 Tomi Sinaga 1307113126 Arif Mafiki 1207135447 Sahat P Simarmata 1307113253 LABORATORIUM KONSTRUKSI DAN PERANCANGAN JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU OKTOBER, 2015
  • 2.
  • 3.
  • 4.
  • 5.
  • 6.
    KATA PENGANTAR Puji syukurAlhamdulillah penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT. karena atas berkat dan rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum “Fenomena Dasar” ini khususnya pada praktikum Defleksi tepat pada waktunya. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan laporan ini terutama kepada:  Kedua Orang Tua penulis, yang selalu memberikan dukungan, dorongan serta motivasi kepada penulis.  Bapak Mustafa Akbar.ST.,MT selaku dosen pengampu mata kuliah Fenomena Dasar.  Asisten dosen Fenomena Dasar yang selalu membimbing pelaksanaan praktikum dan telah banyak memberikan ilmu pengetahuan. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak terdapat kekurangan akibat dari keterbatasan ilmu yang penulis miliki. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangun untuk dapat menyempurnakan laporan ini. Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih. Pekanbaru, Oktober 2015 Penulis
  • 7.
    BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami kemajuan, sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir manusia. Disertai dengan sistem pendidikan yang mapan, memungkinkan kita berpikir kritis, kreatif, dan produktif. Sama halnya dengan perkembangan teknologi dibidang konstruksi, seperti halnya defleksi. Defleksi merupakan suatu fenomena perubahan bentuk pada balok dalam arah vertical dan horisontal akibat adanya pembebanan yang diberikan pada balok atau batang. Sumbu sebuah batang akan terdeteksi dari kedudukannya semula bila benda dibawah pengaruh gaya terpakai. Dengan kata lain suatu batang akan mengalami pembebanan transversal baik itu beban terpusat maupun terbagi merata akan mengalami defleksi. Salah satu persoalan yang sangat penting diperhatikan adalah perhitungan defleksi/lendutan dan tegangan pada elemen-elemen ketika mengalami suatu pembebanan. Hal ini sangat penting terutama dari segi kekuatan (strength) dan kekakuan (stiffness), dimana pada batang horizontal yang diberi beban secara lateral akan mengalami defleksi. Didalam kehidupan sehari-hari kita sering kali berjumpa dengan defleksi,baik defleksi pada baja, pada besi maupun kayu. Oleh sebab itu kita seorangengineer harus memperhitungkan defleksi atau lendutan yang akan terjadi,contohnya saja pada jembatan. Jika seorang engineer tidak memperhitungkanmaka akan berakibat fatal bagi pengguna jembatan tersebut, karena faktor lendutan yang lebih besar akan mengurangi faktor safety pada struktur tersebut. Oleh sebab itu kita harus mengetahui fenomena apa saja yang akan terjadi pada defleksi ini. Namun banyak yang belum mengerti terhadap fenomena- fenomena pada defleksi ini. 1.2 Tujuan Percobaan Adapun beberapa tujuan yang akan didapatkan pada percobaan defleksi ini, adalah: 1. Mengetahui fenomena lendutan batang prismatik dan pemanfaatannya dalam eksperimen dengan konstruksi sederhana. 2. Membandingkan solusi teoritik dengan hasil eksperimen. 1.3 Manfaat Manfaat dari pratikum ini yaitu praktikan mengetahui fenomena defleksi (lendutan) yang terjadi pada batang atau balok. Dan mampu membuktikan rumus- rumus defleksi teoritis dengan hasil percobaan. Manfaat lain dari praktikum ini adalah untuk menambah wawasan penulis terkait dengan objek yang dikaji.
  • 8.
    BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1Teori Dasar Defleksi adalah perubahan bentuk pada balok dalam arah vertikal dan horisontal akibat adanya pembebanan yang diberikan pada balok atau batang. Sumbu sebuah batang akan terdeteksi dari kedudukannya semula bila benda dibawah pengaruh gaya terpakai. Dengan kata lain suatu batang akan mengalami pembebanan transversal baik itu beban terpusat maupun terbagi merata akan mengalami defleksi. Deformasi pada balok secara sangat mudah dapat dijelaskan berdasarkan defleksi balok dari posisinya sebelum mengalami pembebanan. Defleksi diukur dari permukaan netral awal ke posisi netral setelah terjadi deformasi. Konfigurasi yang diasumsikan dengan deformasi permukaan netral dikenal sebagai kurva elastis dari balok. Jarak perpindahan y didefinisikan sebagai defleksi balok. Dalam penerapan, kadang kita harus menentukan defleksi pada setiap nilai x disepanjang balok. Hubungan ini dapat ditulis dalam bentuk persamaan yang sering disebut persamaan defleksi kurva (atau kurva elastis) dari balok. 2.1.1 Jenis-jenis defleksi Suatu batang kontinu yang ditumpu pada bagian pangkalnya akan melendut jika diberi suatu pembebanan. Secara umum persamaan dari defleksi dapat dilihat pada kurva defleksi dari sebuah batang prismatik. Defleksi berdasarkan pembebanan yang terjadi pada batang, terdiri atas: 1) Defleksi aksial (regangan) Perubahan bentuk suatu batang akibat pembebanan arah vertikal (tarik, tekan) hingga membentuk sudut defleksi, dan posisi batang vertikal, kemudian kembali ke posisi semula. Atau defleksi ini terjadi jika pembebanan pada luas penampang.
  • 9.
    2) Defleksi lateral(lendutan) Perubahan bentuk suatu batang akibat pembebanan arah vertikal (bending) posisi batang horizontal, hingga membentuk sudut defleksi, kemudian kembali ke posisi semula. Defleksi ini terjadi jika pembebanan tegak lurus pada luas penampang. Sistem struktur yang di letakkan horizontal dan yang terutama di peruntukkan memikul beban lateral, yaitu beban yang bekerja tegak lurus sumbu aksial batang (Binsar Hariandja, 1996). Beban semacam ini khususnya muncul sebagai beban gravitasi, seperti misalnya bobot sendiri, beban hidup vertical, beban krain (crane) dan lain-lain. Contoh sistem balok dapat di kemukakan antara lain, balok lantai gedung, gelagar jembatan, balok penyangga krain, dan sebagainya. Sumbu sebuah batang akan terdeteksi dari kedudukannya semula bila benda dibawah pengaruh gaya terpakai. Dengan kata lain suatu batang akan mengalami pembebanan tranversal baik itu beban terpusat maupun terbagi merata akan mengalami defleksi. Unsur-unsur dari mesin haruslah cukup tegar untuk mencegah ketidakbarisan dan mempertahankan ketelitian terhadap pengaruh beban dalam gedung-gedung, balok lantai tidak dapat melentur secara berlebihan untuk meniadakan pengaruh psikologis yang tidak diinginkan para penghuni dan untuk memperkecil atau mencegah dengan bahan-bahan jadi yang rapuh. Begitupun kekuatan mengenai karateristik deformasi dari bangunan struktur adalah paling penting untuk mempelajari getaran mesin seperti juga bangunan-bangunan stasioner dan
  • 10.
    penerbangan. Dalam menjalankanfungsinya, balok meneruskan pengaruh beban gravitasi keperletakan terutama dengan mengandalakan aksi lentur, yang berkaitan dengan gaya berupa momen lentur dan geser. Kalaupun timbul aksi normal, itu terutama di timbulkan oleh beban luar yang relatif kecil, misalnya akibat gaya gesek rem kendaraan pada gelagar jembatan, atau misalnya akibat perletakan yang di buat miring. 3) Defleksi oleh gaya geser atau puntir pada batang Unsur-unsur dari mesin haruslah tegar untuk mempertahankan ketelitian dimensional terhadap pengaruh beban. Suatu batang kontinu yang ditumpu akan melendut jika mengalami beban lentur. 2.1.2 Jenis-jenis pembebanan Defleksi berhubungan dengan regangan, jika regangan yang terjadi pada struktur semakin besar, maka tegangan strukturpun akan bertambah besar. Defleksi sangat penting untuk diketahui karena berhubungan dengan desain struktur dan membantu dalam analisis struktur. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi defleksi adalah: a) Besar pembebanan (P) Besar-kecilnya gaya yang diberikan pada batang berbanding lurus dengan besarnya defleksi yang terjadi. Dengan kata lain semakin besar beban yang dialami batang maka defleksi yang terjadi pun semakin besar. b) Panjang batang (l) Panjang batang ini akan berpengaruh terhadap besar kecilnya lendutan pada suatu batang. c) Dimensi penampang batang (I) Dimensi yang dimaksud adalah dimensi yang akan mengalami defleksi itu sendiri akibat beban yang akan diterimanya. d) Jenis material batang (E) Semakin kaku suatu batang maka lendutan batang yang akan terjadi pada batang akan semakin kecil, atau biasa disebut tergantung dari tingkat elastisitas material tersebut.
  • 11.
    2.1.3 Jenis-jenis tumpuan Jumlahreaksi dan arah pada tiap jenis tumpuan berbeda-beda. Jika karena itu besarnya defleksi pada penggunaan tumpuan yang berbeda-beda tidaklah sama. Semakin banyak reaksi dari tumpuan yang melawan gaya dari beban maka defleksi yang terjadi pada tumpuan rol lebih besar dari tumpuan pin (pasak) dan defleksi yang terjadi pada tumpuan pin lebih besar dari tumpuan jepit. Adapun jenis-jenis tumpuan yang biasa digunakan dalam rancangan konstruksi teknik adalah: a) Engsel Engsel merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi vertikal dan gaya reaksi horizontal. Tumpuan yang berpasak mampu melawan gaya yang bekerja dalam setiap arah dari bidang. Jadi pada umumnya reaksi pada suatu tumpuan seperti ini mempunyai dua komponen yang satu dalam arah horizontal dan yang lainnya dalam arah vertical. Tidak seperti pada perbandingan tumpuan rol atau penghubung,maka perbandingan antara komponen-komponen reaksi pada tumpuan yang terpasak tidaklah tetap. Untuk menentukan kedua komponen ini, dua buah komponen statika harus digunakan. b) Rol Rol merupakan tumpuan yang hanyadapat menerima gaya reaksi vertical. Alat ini mampu melawan gaya-gaya dalam suatu garis aksi yang spesifik. Penghubung yang terlihat pada gambar dibawah ini dapat melawan gaya hanya dalam arah AB rol. Pada gambar dibawah hanya dapat melawan beban vertical. Sedang rol-rol hanya dapat melawan suatu tegak lurus pada bidang cp. c) Jepit
  • 12.
    Jepit merupakan tumpuanyang dapat menerima gaya reaksi vertical, gaya reaksi horizontal dan momen akibat jepitan dua penampang. Tumpuan jepit ini mampu melawan gaya dalam setiap arah dan juga mampu melawan suatu kopel atau momen. Secara fisik, tumpuan ini diperoleh dengan membangun sebuah balok ke dalam suatu dinding batu bata. Mengecornya ke dalam beton atau mengelas ke dalam bangunan utama. Suatu komponen gaya dan sebuah momen. 2.1.4 Jenis-jenis pembebanan Salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya defleksi pada batang adalah jenis beban yang diberikan kepadanya. Adapun jenis pembeban: a) Beban terpusat Titik kerja pada batang dapat dianggap berupa titik karena luas kontaknya kecil. b) Beban terbagi merata Disebut beban terbagi merata karena merata sepanjang batang dinyatakan dalam qm (kg/m atau kN/m).
  • 13.
    c) Beban bervariasiuniform Disebut beban bervariasi uniform karena beban sepanjang batang besarnya tidak merata. 2.1.5 Jenis-jenis batang a) Batang tumpuan sederhana Bila tumpuan tersebut berada pada ujung-ujung dan pada pasak atau rol. b) Batang kartilever Bila salah satu ujung balok dijepit dan yang lain bebas. c) Batang Overhang Bila balok dibangun melewati tumpuan sederhana.
  • 14.
    d) Batang menerus. Bilatumpuan-tumpuan terdapat pada balok continue secara fisik. 2.1.6 Aplikasi defleksi batang Aplikasi dari analisa lendutan batang dalam bidang keteknikan sangat luas, mulai dari perancangan poros transmisi sebuah kendaraan bermotor ini, menujukkan bahwa pentingnya analisa lendutan batang ini dalam perancangan. Sebuah konstruksi teknik, berikut adalah beberapa aplikasi dari lendutan batang: a) Jembatan Disinilah dimana aplikasi lendutan batang mempunyai perananan yang sangat penting. Sebuah jembatan yang fungsinya menyeberangkan benda atau kendaraan diatasnya mengalami beban yang sangat besar dan dinamis yang bergerak diatasnya. Hal ini tentunya akan mengakibatkan terjadinya lendutan batang atau defleksi pada batang-batang konstruksi jembatan tersebut. Defleksi yang terjadi secara berlebihan tentunya akan mengakibatkan perpatahan pada jembatan tersebut dan hal yang tidak diinginkan dalam membuat jembatan. b) Poros Transmisi
  • 15.
    Pada poros transmisiroda gigi yang saling bersinggungan untuk mentransmisikan gaya torsi memberikan beban pada batang poros secara radial. Ini yang menyebabkan terjadinya defleksi pada batang poros transmisi. Defleksi yang terjadi pada poros membuat sumbu poros tidak lurus. Ketidaklurusan sumbu poros akan menimbulkan efek getaran pada pentransmisian gaya torsi antara roda gigi. Selain itu, benda dinamis yang berputar pada sumbunya. c) Rangka (chasis) kendaraan Kendaraan-kendaraan pengangkut yang berdaya muatan besar, memiliki kemungkinan terjadi defleksi atau lendutan batang-batang penyusun konstruksinya. d) Konstruksi Badan Pesawat Terbang Pada perancangan sebuah pesawat material-material pembangunan pesawat tersebut merupakan material-material ringan dengan tingkat elestitas yang tinggi namun memiliki kekuatan yang baik. Oleh karena itu, diperlukan analisa lendutan batang untuk mengetahui defleksi yang terjadi pada material atau batang-batang penyusun pesawat tersebut, untuk mencegah terjadinya defleksi secara berlebihan yang menyebabkan perpatahan atau fatik karena beban terus menerus.
  • 16.
    2.1.7 Metode penghitungandefleksi Lendutan yang terjadi disetiap titik pada batang tersebut dapat dihitung dengan berbagai metoda, antara lain: a) Metode Integrasi b) Metode luas momen c) Metode superposisi 2.2 Teori Dasar Alat Uji
  • 17.
  • 18.