1
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN TERHADAP NY.I
UMUR 25 TAHUN G1P0A0 USIA KEHAMILAN 36 MINGGU
4 HARI DI BPM ROSBIATUL ADAWIYAH, SKM.,M.Kes
BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015
KARYA TULIS ILMIAH
DI SUSUN OLEH
RIKA AGUSTINA M.Y
201207050
AKADEMI KEBIDANAN ADILA
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015
i
2
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN TERHADAP
NY.I UMUR 25 TAHUN G1P0A0 UMUR KEHAMILAN 36
MINGGU 4 HARI DI BPM ROSBIATUL ADAWIYAH,
SKM, M. KES BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015
KARYA TULIS ILMIAH
(Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Ahli Madya Kebidanan)
DISUSUN OLEH :
NAMA : RIKA AGUSTINA M.Y
NIM : 201207050
AKADEMI KEBIDANAN ADILA
BANDAR LAMPUNG
2015
ii
3
LEMBAR PENGESAHAN
Diterima dan disahkan oleh Tim Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan
Diploma III Kebidanan Adila pada :
Hari : Selasa
Tanggal : 30 Juni 2015
Penguji I Penguji II
Puspita Dewi, S.ST., M. Kes Yuhelva Destri, Amd.Keb.,SKM
NIK. 2015021052 NIK.2015021059
MENGESAHKAN
Direktur Akademi Kebidanan ADILA
Bandar Lampung
dr.Wazni Adila,MPH.
NIK. 201104100
iii
4
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN TERHADAP NY. I
UMUR 25 TAHUN G1P0A0 UMUR KEHAMILAN 36 MINGGU
4 HARI DI BPS ROSBIATUL ADAWIYAH, SKM.M.Kes
BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015
Rika Agustina M.Y, Puspita Dewi, S.ST., M. Kes, Yuhelva Destri,
Amd.Keb.,SKM
INTI SARI
Kematian ibu menurut WHO adalah kematian yang terjadi saat hamil, bersalin,
atau dalam 42 hari pasca persalinan dengan penyebab yang berhubungan langsung
atau tidak langsung terhadap kehamilan. Organisasi kesehatan dunia (WHO)
memperkirakan, di seluruh dunia lebih dari 585 ribu ibu meninggal tiap tahun saat
hamil atau bersalin. Artinya, setiap menit ada satu perempuan yang meninggal
(BKKBN, 2009). Sedangkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi
di kawasan ASEAN, walaupun sudah terjadi penurunan dari 307 per 100 ribu
kelahiran hidup (SDKI 2002-2003) menjadi 248 per 100 ribu kelahiran hidup
pada tahun 2007, Tujuan penelitian, dapat memberikan asuhan kebidanan kepada
ibu bersalin. Metode penelitian, menggunakan metode penelitian deskriptif.
Subyek penelitian, Ny.I Umur 25 tahun G1P0A0 Umur Kehamilan 36 Minggu 4
Hari. Tempat penelitian, BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.,M.Kes Bandar
Lampung. Hasil penelitian, Penulis mampu melakukan Asuhan Kebidanan Ibu
Bersalin terhadap Ny.I G1P0A0 tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus.
Saran utama bagi klien, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui
pentingnya pertolongan persalinan yang ditolong atau didampingi oleh petugas
kesehatan difasilitas kesehatan.
Kata kunci : Persalinan
Kepustakaan : 19 Refrensi (2005-2015)
Jumlah Halaman : 187 halaman
iv
5
CURRICULUM VITAE
Nama : Rika Agustina M.Y
Nim : 20120707050
Tempat, tanggal lahir : Menggala, 09Agustus 1994
Alamat : Jln. Bunga Matahari I Blok 6 No.40 Prumnas Way
Kandis, Bandar Lampung
Institusi : Akademi Kebidanan Adila
Angkatan : Ke 7 ( Tujuh)
Biografi :
Riwayat pendidikan
SDN 1 Kibang Menggala Tulang Bawang Lulus Tahun 2006
SMP Negeri 1 Menggala Tulang Bawang Lulus Tahun 2009
SMA Negeri 15 Bandar Lampung Lulus Tahun 2012
Saat Ini Penulis Sedang Menempuh Pendidikan Diploma III Kebidanan Di
Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung
v
6
MOTO
Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup
dan
matiku hanya karena Allah SWT”
“Jalanilah proses sebelum
Menikmati hasil yang memuaskan”
(RIKA AGUSTINA M.Y)
vi
7
PERSEMBAHAN
Dengan penuh rasa syukur, ku persembahkan karya kecil ku ini kepada :
Orang yang selalu berada di belakang maupun di sampingku untuk mendukungku
dan mengajariku dalam segala hal, selalu ada dalam keadaan susah maupun
senang, selalu mencari nafkah dan berjuang untuk mengabulkan segala
permintaanku, dan tak pernah lupa selalu mendo’a kan ku dalam setiap langkah
nya, selalu memberikan support, tempat curhatku, tempat untuk tertawa riang
gembira, kalian penyemangatku, inspirasiku dan kalian pembawa keceriaan dalam
hidupku terimakasih atas segala cinta, kasih sayang yang amat sangat tulus
untukku. Doa yang selalu kalian ucapkan untuk kebaikan dan kebahagiaanku
Yaitu keluarga besarku tersayang.
Untuk pembimbing I KTI ku ibu Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes,
pembimbing II KTI ku ibu Vionita Gustianto,S.ST penguji I KTI ku ibu Puspita
Dewi, S.ST, mami tersayang Syaridawati Rambe, S.SiT dan terimakasih untuk
segalanya dan dapat membimbing diriku hingga diriku dapat menyelesaikan karya
tulis diakbid adila ini.
Untuk seluruh dosen dan staf Akbid Adila Bandar Lampung, terimakasih atas
bimbingan, arahan dan motivasinya hingga diriku bisa mengikuti semua aturan,
kegiatan proses belajar mengajar sampai diriku bisa menyusun karya tulis ilmiah
sampai selesai.
Teman-teman maupun sahabat baik ku di Akbid Adila angkatan VII (tujuh) yang
selalu berbagi ilmu maupun pengalaman, memberikan canda, tawa, penyemangat,
saling mendukung satu sama lain dalam 3 tahun ini.
Dan diakhir persembahan ini satu kata yang terucap dari ku yakni
alhamdulillahhirobbil’alamin.
Salam kangen dariku
Rika Agustina M.Y
vii
8
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dalam bentuk studi
kasus kebidanan yang berjudul “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Terhadap
Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Umur Kehamilan 36 Minggu 4 Hari di BPM
Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015”. Penulis
menyadari karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman dalam menulis
Karya Tulis Ilmiah, penulis banyak menerima bantuan. Oleh karena itu penulis
mengucapkan terima kasih kepada :
1. dr.Wazni Adila,MPH selaku direktur Akademi Kebidanan Adila Bandar
Lampung
2. Rosbiatul Adawiyah,SKM, M.Kes selaku Pembimbing Lahan Praktek dan
pembimbing I Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan Adila Bandar
Lampung
3. Vionita Gustianto, S.ST selaku pembimbing II Karya Tulis Ilmiah
Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung
4. Seluruh Staf dan Dosen Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung.
Penulis menyadari dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua
pihak. Akhirnya penulis berharap semoga Karya Tulis ilmiah ini dapat bermanfaat
bagi penulis dan bagi pembaca.
Bandar Lampung, 25 Juni 2015
Penulis
viii
9
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................ ii
INTISARI........................................................................................... iii
CURICULUM VITAE....................................................................... iv
MOTTO ............................................................................................. v
PERSEMBAHAN .............................................................................. vi
KATA PENGANTAR........................................................................ vii
DAFTAR ISI...................................................................................... viii
DAFTAR TABEL .............................................................................. x
DAFTAR GAMBAR.......................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................... xii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang. ............................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................... 3
1.3 Tujuan Penulisan............................................................. 4
1.4 Ruang Lingkup................................................................ 6
1.5 Manfaat Penelitian........................................................... 6
1.6 Metodelogi dan Teknik Memperoleh Data....................... 7
1.7 Sistematika Laporan........................................................ 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan teori medis........................................................... 12
2.2 Tinjauan teori asuhan kebidanan......................................... 79
2.3 Landasan Hukum Kewenangan Bidan ................................ 107
2.4 Kompetensi Bidan .............................................................. 111
ix
10
BAB III TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian.......................................................................... 115
3.2 Matriks............................................................................... 125
BAB IV PEMBAHASA
4.1 Pengkajian......................................................................... 141
4.2 Interprestasi data................................................................ 165
4.3 Diagnosa potensial............................................................. 171
4.4 Tindakan Segera ............................................................... 172
4.5 Perencanaan....................................................................... 173
4.6 Pelaksanaan....................................................................... 177
4.7 Evaluasi ............................................................................ 179
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ....................................................................... 183
5.2 Saran ................................................................................. 186
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
x
11
DAFTAR TABEL
Table 3.1 Matriks ........................................................................ 125
xi
12
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Bidang Hodge………………………….....................................25
xii
13
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Surat Izin Penelitian
Lampiran2 :Surat Balasan Izin Penelitian
Lampiran 3 : Jadwal Penelitian
Lampiran4 : Partograp
Lampiran 5 : Dokumentasi
Lampiran 6 : Lembar Konsul Penguji
xiii
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Asuhan Persalinan Normal adalah : asuhan persalinan yang bersih dan
aman selama persalinan dan setelah bayi lahir, serta upaya pencegahan
komplikasi terutama perdarahan pasca persalinan, hipotermia, dan asfiksia
bayi baru lahir. Sementara itu, focus utamanya adalah mencegah terjadinya
komplikasi (Prawirohardjo, 2010 : 334).
Kematian ibu menurut WHO adalah kematian yang terjadi saat hamil,
bersalin, atau dalam 42 hari pasca persalinan dengan penyebab yang
berhubungan langsung atau tidak langsung terhadap kehamilan. Organisasi
kesehatan dunia (WHO) memperkirakan, di seluruh dunia lebih dari 585 ribu
ibu meninggal tiap tahun saat hamil atau bersalin. Artinya, setiap menit ada satu
perempuan yang meninggal (BKKBN, 2009). Sedangkan angka kematian ibu
(AKI) di Indonesia masih tinggi di kawasan ASEAN, walaupun sudah terjadi
penurunan dari 307 per 100 ribu kelahiran hidup (SDKI 2002-2003) menjadi 248
per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2007 (Depkes RI 2007).
Upaya atau strategi yang dapat dilakukan oleh bidan di masyarakat untuk
menekan angka kematian ibu dan anak adalah dengan memberikan perhatian
dan perlakuan khusus kepada ibu hamil, ibu bersalin, nifas, dan bayi baru
lahir dengan cara seperi : membina dan mengarahkan masyarakat agar
bersedia dan mampu mengenali masalah resiko tinggi ibu hamil, ibu bersalin,
2
nifas dan bayi baru lahir, sehingga masyarakat dapat mengetahui secara tepat
dan cepat apa yang harus diperbuat jika menghadapi kasus resiko tinggi,
memberi penyuluhan tentang suami siaga, suami dari ibu hamil, bersalin,
nifas diharapkan selalu bersiaga terutama saat menjelang persalinan, sehingga
apabila terjadi kedaruratan sewaktu-waktu dapat bertindak (Yulifah,2011:15).
Berdasarkan hasil SDKI 2007 derajat kesehatan ibu dan anak di Indonesia
masih perlu ditingkatkan, ditandai oleh Angka Kematian Ibu (AKI) yaitu
228/100.000 Kelahiran Hidup (KH), dan tahun 2008, 4.692 jiwa ibu
melayang dimasa kehamilan, persalinan, dan nifas. Sedangkan Angka
Kematian Bayi (AKB) 34/1000 KH, terjadi stagnasi bila dibandingkan
dengan SDKI 2003 yaitu 35 per 1000 KH (SDKI, 2007).
Hasil SDKI 2012 tercatat sudah mulai turun perlahan bahwa angka
kematian ibu melahirkan tercatat sebesar 102 per seratus ribu kelahiran hidup
dan angka kematian bayi sebesar 23 per seribu kelahiran hidup.
(SDKI,2012).
Berdasarkan kesepakatan global (millennium develoment Goal/MDGS,
2000), pada tahun 2015 diharapkan angka kematian ibu menurun sebesar tiga
perempat kali dalam kurun waktu 1990 sampai 2015 dan angka kematian bayi
serta balita menurun sebesar dua pertiga kali dalam kurun waktu 1990 sampai
2015. oleh karena itu, indonesia mempunyai komitment untuk menurunkan
angka kematian ibu dari 228 menjadi 102/100.000 kelahiran hidup, angka
kematian bayi dari 68 menjadi 23/1.000 kelahiran hidup (Sulistyawati dan
Nugraheny,2012; h.vii).
3
Berdasarkan profil Dinkes Provinsi Lampung tahun 2013 jumlah ibu
bersalin di provinsi lampung sebanyak 171.975 ibu, dimana pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan sebanyak 10.698 ibu dan 46.481 ibu bersalin
di non tenaga kesehatan. Faktor medis yang menjadi penyebab kematian ibu
pada tahun 2012 di provinsi lampung dari 171.975 ibu bersalin adalah
eklamsi 33,15 %, perdarahan 22,47 %, infeksi 2,25 %, penyebab lain 42,13 %
dari 171.975 ibu bersalin. (Profil Dinkes Provinsi Lampung).
Jumlah persalinan dari bulan januari – maret tahun 2015 di BPS
Rosbiatul Adawiyah, SKM.,M.Kes Bandar Lampung sebanyak 47 orang,
dengan 3 orang dirujuk karena Sectio sesarea dan 44 orang lahir secara
normal.
Berdasarkan masalah dan fenomena pada ibu bersalin yang ada diatas,
maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Asuhan Kebidanan pada ibu
bersalin normal Terhadap Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36
Minggu 4 Hari Di BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung
Tahun 2015”.
1.2 Rumusan Masalah
“Bagaimana Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin normal Terhadap Ny.I
Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM
Rosbiatul Adawiyah, SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015?”.
4
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan umum
Penulis mampu menerapkan atau melaksanakan tujuan khusus
Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin normal Terhadap Ny.I Umur 25
Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM Rosbiatul
Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015”.
1.3.2 Tujuan khusus
1.3.2.1 Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya
pengkajian data pada ibu bersalin normal Terhadap Ny.I Umur 25
Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM
Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun
2015”.
1.3.2.2 Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya
interprestasi data diagnose atau masalah pada ibu bersalin pada
ibu bersalin normal terhadap Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0
Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM Rosbiatul
Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015”.
1.3.2.3 Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya
identifikasi diagnosa atau masalah potensial pada ibu bersalin
normal terhadap Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia
Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM Rosbiatul
Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015”.
5
1.3.2.4 Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya
menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera ibu bersalin
normal terhadap Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia
Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM Rosbiatul
Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015”.
1.3.2.5 Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya
menyusun rencana asuhan ibu bersalin normal terhadap Ny.I
Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di
BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung
Tahun 2015”.
1.3.2.6 Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya
pelaksanaan asuhan ibu bersalin normal terhadap Ny.I Umur
25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM
Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun
2015”.
1.3.2.7 Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya
evaluasi keefektifan asuhan ibu bersalin normal terhadap Ny.I
Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di
BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung
Tahun 2015”.
1.3.2.8 Penulis mampu mendokumentasikan asuhan yang telah
diberikan pada Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan
6
36 Minggu 4 Hari Di BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes
Bandar Lampung Tahun 2015”.
1.4 Ruang Lingkup
1.4.1 Sasaran
Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari
1.4.2 Tempat
BPM Rosbiatul Adawiyah.SKM,M.Kes Bandar Lampung.
1.4.3 Waktu
Dilaksanakan pada tanggal 7 April 2015
1.5 Manfaat penelitian
1.5.1 Institusi Pendidikan
Dapat dijadikan bahan referensi untuk penelitian yang sama, Sebagai
dokumentasi dan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.
Hasil penelitian dapat memberikan informasi bagi staf akademik dan
mahasiswa dalam rangka mengembangkan proses belajar mengajar
khususnya yang berkaitan dengan manajemen asuhan kebidanan ibu
bersalin.
1.5.2 Bagi Lahan Praktek
Studi kasus ini dapat dijadikan gambaran informasi serta bahan untuk
meningkatkan manajemen kebidanan yang diterapkan oleh lahan
praktek mengenai asuhan persalinan normal, dan dapat meningkatkan
7
mutu pelayanan yang berkualitas berdasarkan standar pelayanan
kebidanan yang ada.
1.5.3 Bagi klien
Hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan pada klien
khususnya tentang persalinan dan dapat menambah pengalaman
mengenai penanganan ibu bersalin normal dan klien mendapatkan
asuhan kebidanan yang bermutu, sehingga ibu mampu memenuhi
kebutuhan dan mengenali komplikasi saat bersalin.
1.5.4 Bagi penulis
Studi kasus ini dapat meningkatkan pengetahuan yang didapat selama
di perkuliahan serta dapat mengaplikasikan dalam penanganan pada ibu
bersalin.
1.6 Metodologi dan Tehnik Memperoleh Data
1.6.1 Metode Penelitian
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan metode
penulisan deksriptif. Metodologi deksriptif adalah suatu metode
penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat
gambaran atau deksripsi tentang suatu keadaan secara obyektif. Metode
penelitian deksriptif digunakan untuk memecahkan atau menjawab
permasalahan yang sedang dihadapi sekarang. Penelitian ini dilakukan
dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan data, klsifikasi,
pengolahan/analis data, membuat kesimpulan, dan laporan.
8
1.6.2 Tehnik Memperoleh Data
Metode yang digunakan dalam penulisan Karya Tulisan Ilmiah ini adalah :
1.6.2.1 Data Primer
1. Anamnesa
Adalah suatu metode yang dipergunakn untuk
mengumpulkan data, dimana penelitian mendapatkan
keterangan atau pendirian secara lisan dari sseorang sasaran
penelitian (reponden). Yaitu dengan auto anamnesa adalah
wawancara yang langsung dilakuan kepada klien mengenai
penyakitnya (Notoatmodjo, 2005:102)
2. Auto anamnesis
Anamnesis yang dilakukan kepada pasien langsung, jadi data
yang diperoleh adalah data primer karena langsung dari
sumbernya
3. Allo anamnesis
Anamnesis yang dilakukan kepada keluarga pasien untuk
memperoleh data tentang pasien, hal ini dilakukan pada
keadaan darurat ketika pasien tidak memungkinkan lagi
untuk memberikan data yang akurat (Sulistyawati dan
Nugraheny, 2010;220).
9
1.6.2.2 Data sekunder
1. Studi pustaka
Penulis mencari, mengumpulkan, dan mempelajari referensi
yang relevan berdasarkan kasus yang dibahas yaitu Asuhan
Persalinan Normal dari beberapa buku dan informasi dari
internet.
2. Studi Dokumenter
Adalah semua dokumen baik yang di terbitkan maupun yang
tidak diterbitkan, yang ada dibawah tanggung jawab instasi
resmi, misalnya buku KMS ibu (notoatmodjo, 2005; h 62-63)
1.7 Sistematika Laporan
Sistematika penulisan studi kasus ini terdiri dari beberapa bab, antara lain:
BAB I : Pendahuluan: berisi fenomena dari garis besar
pembahasan yang meliputi uraian timbulnya
fenomena yang merupakan latar belakang masalah
dan pokok permasalahan. Fenomena ini akan dipakai
untuk menyusun alasan, tujuan, manfaat penulisan
yang akan dilakukan. Tujuan penulisan berisi tentang
harapan penambahan ilmu yang akan diperoleh
melalui pengalaman pengelolaan ini. Latar belakang
menggambarkan topik yang akan dibuat sebagai karya
tulis ilmiah dengan model pengambilan data secara
piramida terbalik.
10
BAB II : Tinjauan Teori: berisi tinjauan teori yang didapat oleh
peneliti dari berbagai sumber-sumber terkini/up to
date. Terdiri dari 3 yaitu tinjauan teori medis, tinjauan
teori manajemen kebidanan menurut varney dan
landasan hukum kewenangan bidan.
BAB III : Tinjauan Kasus: merupakan hasil pengkajian berupa
data subjektif dan objektif. Dimana data tersebut
diperoleh dari anamnesa, observasi, pemeriksaan
fisik, data penunjang lainnya yang didapatkan dari
pemeriksaan laboratorium yang kemudian dianalisis
dan didokomentasikan dalam bentuk varney.
BAB IV : Pembahasan: berisi tentang kesenjangan yang terjadi
antara teori dengan kasus yang diambil oleh peneliti,
pada bab ini dikaitkan hasil yang ditemukan dengan
tinjauan teori yang telah ditulis oleh peneliti.
BAB V : Penutup: berisi tentang kesimpulan pasien yang
dikelola oleh peneliti. Oleh karena itu kesimpulan
lebih ke arah jawaban permasalahan atau ketegasan
dari tujuan khusus. Di dalam saran dijelaskan tindak
lanjut kesimpulan yang telah dirumuskan berupa
anjuran atau rekomendasi, yang lebih menekankan
pada asuhan yang sifatnya lebih operasional atau
11
aplikatif terkait dengan pelaksanaan hasil pengelolaan
pasien secara komprehensif.
DAFTAR PUSTAKA : Berisi refrensi-refrensi dari sebuah Karya Tulis Ilmiah
LAMPIRAN
12
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teori Medis
2.1.1 Pengertian Persalinan
Persalinan ialah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan
plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan
melalui jalan lahir atau jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan
(kekuatan sendiri) (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 4).
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri)
yang dari dalam uterus ke dunia luar. Persalinan mencakup proses
fisiologis yang memungkinkan serangkaian perubahan yang besar pada
ibu untuk dapat melahirkan janinnya melalui jalan lahir. Persalinan dan
kelahiran normal merupakan proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan
presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa
komplikasi baik pada ibu maupun janin (Jannah, 2014 : 1).
Persalinan merupakan proses pergerakan keluarnya janin, plasenta,
dan membrane dari dalam rahim melalui jalan lahir. Proses ini
berawal dari pembukaan dan dilatasi serviks sebagai akibat kontraksi
uterus dengan frekuensi, durasi, dan kekuatan yang teratur (Rohani et.
all, 2011 : 2 ).
13
2.1.2 Sebab-sebab terjadinya persalinan
2.1.2.1 Teori keregangan
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas
tertentu. setelah melewati batas waktu tersebut terjadi
kontraksi sehingga persalinan dimulai keadaan uterus yang
terus membesar dan menjadi tegang yang mengakibatkan
iskemia otot – otot uterus. hal ini mungkin merupakan faktor
yang dapat menggangu sirkulas iuteroplasenter sehingga
plasenta mengalami degenerasi (Sumarah et. all, 2008 : 3).
2.1.2.2 Teori penurunan hormone
Saat 1-2 minggu sebelum proses melahirkan dimulai,
terjadi penurunan kadar estrogen dan progesteron. Progesteron
bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim, jika kadar
progesteron turun akan menyebabkan tegangnya pembuluh
darah dan menimbulkan his.
2.1.2.3 Teori plasenta menjadi tua
Seiring matangnya usia kehamilan, villi chorialis dalam
plasenta mengalami beberapa perubahan, hal ini menyebabkan
turunnya kadar estrogen dan progesteron yang mengakibatkan
tegangnya pembuluh darah sehingga akan menimbulkan
kontraksi uterus.
14
2.1.2.4 Teori Distensi Rahim
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas
tertentu. Setelah melewati batas tersebut, akhirnya terjadi
kontraksi sehingga persalinan dapat dimulai.
2.1.2.5 Teori iritasi mekanis
Dibelakang serviks terletak ganglion servikalis (fleksus
frankenhauser), bila ganglion ini digeser dan ditekan
(misalnya oleh kepala janin), maka akan timbul kontraksi
uterus.
2.1.2.6 Teori oksitosin
1. Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis posterior.
2. Perubahan keseimbangan estrogen dan progestereron dapat
mengubah sensitivitas otot rahim, sehingga terjadi kontraksi
Braxton hicks.
3. Menurunnya kontraksi progesteron karena matangnya usia
kehamilan menyebabkan oksitosin meningkatkan
aktivitasnya dalam merangsang otot rahim untuk
berkontraksi, dan akhirnya persalinan dimulai.
2.1.2.7 Teori hipotalamus-pituitari dan Glandula suprarenalis.
1. Glandula suprarenalis merupakan pemicu terjadinya
persalinan.
15
2. Teori ini menunjukkan, pada kehamilan dengan bayi
anensefalus sering terjadi kelambatan persalinan karena
tidak terbentuknya hipotalamus.
2.1.2.8 Teori prostaglandin
Prostaglandin yang dihasilkan oleh desidua disangka
sebagai salah satu sebab permulaan persalinan. Hasil percobaan
menunjukkan bahwa prostaglandin F2 atau E2 yang diberikan
secara intravena menimbulkan kontraksi miometrium pada
setiap usia kehamilan.
2.1.3 Tujuan Asuhan Persalinan Normal
Tujuan asuhan persalinan normal adalah untuk menjaga
kelangsungan hidup dan meningkatkan derajat kesehatan ibu dan bayi.
Walaupun dengan intervensi yang minimal, namun upaya yang
terintegrasi dan lengkap tetap harus dijaga agar prinsip keamanan dan
kualitas pelayanan optimal (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 5, 9).
Memberikan asuhan yang memadai selama persalinan dalam upaya
mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan aman, dengan
memperhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi (Jannah, 2014: 2).
2.1.4 Lima benang merah dalam asuhan persalinan normal
2.1.4.1 Membuat keputusan klinik
Membuat keputusan merupakan proses yang menentukkan
untuk menyelesaikan masalah dan menentukkan asuhan yang
16
diperlukan oleh pasien. Keputusan itu harus akurat,
komprehensif dan aman.
Membuat keputusan klinik tersebut dihasilkan melalui
serangkaian proses dan metode yang sistematik menggunakkan
informasi dan hasil dari olah kognitif dan intutif serta
dipadukan dengan kajian teoritis dan intervensi berdasarkan
bukti (evidence-based), keterampilan dan pengalaman yang
dikembangkan melalui berbagai tahapan yang logis dan
diperlukan dalam upaya untuk menyelesaikan masalah dan
terfokus pada pasien.
2.1.4.2 Asuhan sayang ibu dan sayang bayi
Asuhan sayang ibu adalah asuhan yang menghargai budaya,
kepercayaan dan keinginan sang ibu. Beberapa prinsip dasar
asuhan sayang ibu adalah dengan mengikutsertakan suami dan
keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi.
2.1.4.3 Pencegahan infeksi
Tindakan pencegahan infeksi (PI) tidak terpisah dari
komponen-komponen lain dalam asuhan selama persalinan dan
kelahiran bayi. Tindakan ini harus diterapkan dalam setiap
aspek asuhan untuk melindungi ibu, bayi baru lahir, keluarga,
penolong persalinan dan tenaga kesehatan lainya dengan
mengurangi infeksi karena bakteri, virus dan jamur.
17
2.1.4.4 Pencatatan (Rekam Medik) asuhan persalinan.
Pencatatan adalah bagian penting dari proses membuat
membuat klinik karena memungkinkan penolong persalinan
untuk terus menerus memperhatikan asuhan yang diberikan
selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Mengkaji ulang
catatan memungkinkan untuk menganalisa data yang telah
dikumpulkan dan dapat lebih efektif dalam merumuskan suatu
diagnosa dan membuat rencana asuhan atau perawatan bagi
ibu atau bayinya.
2.1.4.5 Rujukan
Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas
rujukkan atau fasilitas yang memiliki sarana lebih lengkap,
diharapkan mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi
baru lahir. Meskipun sebagian besar ibu akan mengalami
persalinan normal namun sekitar 10-15 % diantarannya akan
mengalami masalah selama proses persalinan dan kelahiran
bayi sehingga perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukkan
(JNPK-KR, 2008 : 7-34).
2.1.5 Bentuk-Bentuk Persalinan
2.1.5.1 Berdasarkan definisi
1. Persalinan spontan
Yaitu bila seluruh persalinan berlangsung dengan
kekuatan ibu sendiri.
18
2. Persalinan buatan
Yaitu bila seluruh persalinan berlangsung dengan bantuan
tenaga dari luar.
3. Persalinan anjuran
Yaitu bila kekuatan yang diperlukan untuk persalinan
ditimbulkan dari luar dengan jalan pemberian rangsangan.
2.1.5.2 Menurut cara persalinan
1. Partus biasa (normal) atau disebut juga partus spontan
adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala
dengan tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alat-alat serta
tidak melukai ibu dan bayi, umumnya berlangsung kurang
dari 24 jam. Persalinan normal dianggap normal jika
prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan
(setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit.
2. Partus luar biasa (abnormal) adalah persalinan per vagina
dengan bantuan alat-alat atau melalui dinding perut
dengan operasi sectio caesaria (SC).
2.1.5.3 Menurut usia kehamilan
Menurut umur kehamilan :
1. Abortus, adalah terhentinya proses kehamilan sebelum
janin dapat hidup (viable), berat janin dibawah 1.000
gram, atau usia kehamilan dibawah 28 minggu.
19
2. Partus prematurus, adalah persalinan dari hasil
konsepsipada umur kehamilan 28-36 minggu berat badan
antara 1.000-2500 gram.
3. Partus matur/aterm (cukup bulan) adalah partus pada umur
kehamilan 37-40 minggu, janin matur, berat badan diatas
2.500 gram.
4. Partus postmaturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi
2 minggu atau lebih dari waktu partus yang ditaksir, janin
disebut postmatur.
2.1.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi proses persalinan
2.1.6.1 Power
Kekuatan yang mendorong janin dalam proses persalinan
adalah his, kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma, dan
aksi dari ligament. Kekuatan primer yang diperlukan dalam
persalinan adalah his, sedangkan sebagai kekuatan skundernya
adalah tenaga meneran ibu (Rohani et.all, 2011 : 3-4, 16).
1. His
Sifat his meliputi :
a. Kontraksi otot-otot rahim dimulai dari salah satu tanduk
rahim.
b. His yang efektif
c. Fundal dominan, yaitu kekuatan paling tinggi di fundus
uteri.
20
d. Kekuatannya seperti gerakan memeras isi rahim.
e. Otot rahim yang berkontraksi tidak kembali ke panjang
semula, sehingga terjadi retraksi dan pembentukan
segmen bawah rahim
f. Pada setiap his terjadi perubahan pada serviks yaitu
menipis dan membuka.
g. Kekuatan seperti mekanisme memeras isi rahim.
h. Amplitudo kekuatan his diukur dengan mmHg dan
menimbulkan naiknya tekanan intrauterus sampai 35
mmHg.
i. Setelah kontraksi otot rahim mengalami retraksi, artinya
panjang otot rahim yang telah berkontraksi tidak akan
kembali lagi ke panjang semula.
j. Frekuensi, yaitu jumlah terjadinya his selama 10 menit.
k. Durasi his yaitu lamanya his yang terjadi setiap saat
diukur dengan detik.
l. Interval his yaitu tenggang waktu antara kedua his. Pada
permulaan persalinan his timbul sekali dalam 10 menit,
pada kala pengeluaran (kala II ) muncul sekali dalam 2
menit.
2. Tenaga meneran
Tenaga meneran pasien akan semakin menambah
kekuatan kontraksi uterus. Pada saat pasien meneran,
21
diafragma dan otot-otot dinding abdomen akan
berkontraksi. Kombinasi antara his dan tenaga meneran
pasien akan meningkat tekanan intrauterus sehingga janin
akan semakin terdorong ke luar. Dorongan meneran akan
semakin meningkat ketika pasien dalam posisi yang
nyaman, misalnya setengah duduk, jongkok, berdiri, atau
miring kekiri (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 28).
2.1.6.2 Passage ( Jalan Lahir )
Jalan lahir terdiri atas panggul ibu, yakni bagian tulang
yang padat, dasar panggul, vagina dan introitus. Janin harus
berhasil menyesuaikan dirinya terhadap jalan lahir yang
relative kaku, oleh karena itu ukuran dan bentuk panggul harus
ditentukan sebelum persalinan dimulai Passage atau faktor
jalan lahir dibagi menjadi :
1. Bagian keras: tulang –tulang panggul, (rangka panggul)
a. Jalan lahir uterus (tulang panggul)
Tulang panggul tersusun atas empat tulang, yakni
dua tulang koksa, sakrum, dan koksigis yang
dihubungkan oleh tiga sendi. Os. Koksa dibagi menjadi
os. Illium, os. Iskium, dan os. pubis.
Bagian-bagian os. illium yang penting adalah Krista
iliaka, spina ischiadika anterior superior, spina iliaka
anterior inferior, spina iliaka posterior inferior, dan spina
22
iliaka posterior superior. Bagian-bagian os. iskium yang
penting adalah tuber ischiidan spina ischiadika. Bagian-
bagian os. pubis yang penting adalah simfisis pubis dan
arkus pubis.
Tulang panggul dipisahkan oleh pintu atas panggul
menjadi dua bagian, yaitu panggul palsu dan panggul
sejati. Panggul palsu adalah bagian di atas pintu atas
panggul dan tidak berkaitan dengan persalinan. Panggul
sejati dibagi menjadi tiga bidang, yaitu pintu atas atau
permukaan atas, panggul tengah atau rongga panggul,
dan pintu bawah panggul.
Bagian anterior pintu atas panggul yaitu batas atas
panggul dibentuk oleh tepi atau pulang pubis, bagian
lateralnya dibentuk oleh linea illiopektinea, yakni
sepanjang jalan inominata dan bagian posteriornya
dibentuk oleh bagian anterior tepi atas sakrum dan
promontorium sakrum.
Rongga panggul tengah adalah saluran lengkung
yang memiliki dinding anterior pendek, dinding posterior
jauh lebih cembung dan panjang. Rongga panggul
melekat pada bagian posterior simfisis pubis, iskium,
sebagian illium, sakrum dan koksigis.
23
Pintu bawah panggul adalah batas bawah panggul
sejati, dilihat dari bawah berbentuk lonjong, dibagian
anterior dibatasi lengkung pubis, dibagian lateral oleh
tuberositas iskium, dan dibagian posterior oleh ujung
koksigis. Pada kehamilan tahap akhir, koksigis dapat
bergerak (kecuali jika struktur itu patah, misalnya akibat
jatuh dan telah menyatu dengan sakrum ketika sedang
penyembuhan).
Pada ketinggian yang berbeda, bentuk dan saluran
ukuran panggul juga berbeda diameter4 bidang pintu
atas, panggul tengah, pintu bawah, dan sumbu jalan lahir
menentukan mungkin tidaknya persalinan pervagina
berlangsung dan bagaimana janin dapat menuruni jalan
lahir (pergerakan kardinal mekanisme persalinan). Ruang
panggul (Pelvik Cavity).
1) Pelvis mayor (false pelvic), diatas linea terminalis.
2) Pelvis minor (true pelvic), dibawah linea terminalis.
b. Bidang-bidang panggul
Bidang hodge adalah bidan semu sebagai pedoman
untuk menentukan kemajuan persalinan yaitu, seberapa
jauh penurunan kepala melalui pemeriksaan dalam/
vaginal toucher (VT).
Bidang hodge terbagi empat antara lain :
24
1) Bidang Hodge I : Dibidang setinggi atas
panggul (PAP) yang
dibentukoleh promontorium,
arti kulasio adalah sakro-
iliaka, sayap sakrum, linea
inominata, ramus superior
os. Pubis, tepi atas simfisis
pubis. Dibidang setinggi atas
panggul (PAP) yang
dibentuk oleh promontorium,
arti kulasio adalah sakro-
iliaka, sayap sakrum, linea
inominata, ramus superior
os. Pubis, tepi atas simfisis
pubis.
2) Bidang Hodge II : Bidang setinggi pinggir
bawah simfisis bawah pubis,
berhimpit dengan PAP
(Hodge II).
3) Bidang Hodge III : Bidang setinggi spina
ischiadika berhimpit dengan
PAP (Hodge I).
25
4) Bidang Hodge IV : Sejajar Hodge I, setinggi os
coccygis
Gambar 2.1 Bidang Hodge
Saat ini bidang hodge sudah tidak dipergunakan
menjadi acuan dalam pemeriksaan dalam vagina
(vaginal taucher), namun yang digunakan adalah
station.
c. Station
Station adalah hubungan antara bagian terendah
bagian bawah janin dengan garis bayangan yang ditarik
antara dua spina ischiadika pada panggul perempuan.
Bagian terendah dari janin yang setinggi spina ischiadika
disebut station 0. Station diukur dengan cara keatas atau
kebawah dari spina ischiadika dan bagian atasnya adalah
-1, -2, -3, -4, -5, dan bagian bawah adalah +1, +2, +3, +4,
+5. Station -5 berarti kepala belum masuk PAP dan +5
berarti kepala tampak dipintu vagina.
d. Pintu panggul
1) Pintu Atas Panggul
Inlet dibatasi oleh linea terminalis (linea innominata).
26
2) Ruang Tengah Panggul
Pada spina ischiadika, disebut midlet.
3) Pintu Bawah Panggul
Dibatasi simfisis dan arkus pubis disebut outlet.
4) Ruang panggul yang sebenarnya
Berada antara inlet dan outlet
e. Jalan lahir pada proses persalinan
1) Pintu atas panggul dengan distansia transversalis
kanan-kiri lebih panjang daripada muka-belakang.
2) Mempunyai bidang tersempit pada spina ischiadika.
3) Pintu bawah panggul terdiri atas dua segitiga dengan
dasar yang sama pada tuber ischii, kedepan dengan
ujung simfisis pubus, kebelakang ujung sakrum.
4) Jalan lahir depan panjangnya 4,5 cm sedangkan jalan
lahir kebelakang panjangnya 12,5 cm.
5) Secara keseluruhan, jalan lahir merupakan corong
yang melengkung kedepan, mempunyai bidang sempit
pada spina ischiadika, terjadi perubahan pintu atas
panggul, lebar kanan kiri menjadi pintu bawah
panggul dengan lebar kedepan dan kebelakang yang
terdiri atas dua segitiga.
6) Dengan demikian, tulang jalan lahir sangat
menentukan proses persalinan apakah dapat
27
berlangsung melalui jalan biasa atau melalui tindakan
operasi dengan kekuatan dari luar. Hal yang perlu
mendapat perhatian bidan di daerah pedesaan adalah
kemungkinan ketidakseimbangan antara bentuk kepala
dan jalan lahir dalam bentuk disproporsi sefalo pelvis.
2. Bagian lunak : uterus, otot dasar panggul, dan perinium
ligament.
a. Uterus
Saat kehamilan, uterus dapat dibagi menjadi beberapa
bagian sebagai berikut :
1) Segmen atas uterus
Terdiri atas fundus dan bagian uterus yang terletak
diatas refleksi lipatan vesika uterine peritoneum.
Selam persalinan, segmen ini memberikan kontraksi
yang kuat untuk mendorong janin keluar.
2) Segmen bawah uterus
Teletak antara lipatan vesika uterina peritoneum
sebelah atas dan serviks dibawah. Ketika kontraksi,
otot segmen atas meningkatkan frekuensi dan
kekuatannya, pada kehamilan lanjut, segmen bawah
uterus berkembang lebih cepat lagi dan teregang
secara radikal untuk memungkinkan turunnya bagian
presentasi janin. Pada saat persalinan, seluruh serviks
28
menyatu menjadi bagian segmen bawah uterus yang
teregang.
3) Serviks uteri
Pada kehamilan lanjut, serviks uteri menjadi lebih
pendek karena tergabung dalam segmen bawah
uterus. Pada saat persalinan karena adanya kontraksi
uterus, maka serviks mengalami penipisan dan
pembukaan.
b. Otot dasar panggul
Dasar panggul terdiri atas kelompok otot levator ani
yang melandai kearah bawah dan ke depan, serta saling
berjalin dengan sisi yang berlawanan sehingga
membentuk diafragma otot tempat lewatnya uretra,
vagina, dan rektum. Otot-otot ditutupi fasia dan
membentuk diafragma felvis.
Otot dasar panggul terdiri atas otot-otot dan ligamen
yaitu dinding panggul sebelah dalam dan yang menutupi
panggul bawah, yang menutupi panggul bawah
membentuk dasar panggul disebut pelvis. Jaringan lunak
terdiri atas segmen bawah uterus yang dapat meregang,
serviks, otot dasar panggul, vagina dan introitus.
Sebelum persalinan dimulai, uterus terdiri atas
korpus uteri dan serviks uteri. Saat persalinan dimulai,
29
kontraksi uterus menyebabkan korpus uteri berubah
menjadi dua bagian, yakni bagian atas yang tebal, berotot
pasif, dan berdinding tipis yang secara bertahap menebal
dan kapasitas akomodasinya menurun, dan bagian bawah
uterus yang secara bertahap membesar karena
mengakomodasi isi dalam rahim. Suatu cincin retraksi
fisiologis memisahkan kedua segmen ini.
Segmen bawah uterus secara bertahap membesar
karena mengakomodasi isi dalam rahim, sedangkan
bagian atas menebal dan kapasitas akomodasinya
menuru. Kontraksi korpus uteri menyebabkan janin
tertekan kebawah, terdorong kearah serviks. Serviks
kemudian menipis dan berdilatasi secukupnya, sehingga
memungkin bagian pertama janin turun memasuki
vagina. Sebenarnya, saat turunserviks ditarik keatas dan
lebih tinggi dari bagian terendah janin.
c. Perineum
Perineum adalah jaringan yang terletak disebelah
distal diafragma pelvis. Perineum mengandung sejumlah
otot superfisial, sangat vaskular, dan berisi jaringan
lemak. Saat persalinan, otot ini sering mengalami
kerusakan ketika janin dilahirkan.
30
d. Kelainan-kelainan yang mengganggu dalam persalinan.
1) Serviks
a) Serviks yang kaku
b) Terdapat pada primi tua primer atau skunder
c) Serviks yang mengalami banyak cacat perlukaan
atau (sikatrik).
2) Serviks gantung
a) Ostium uteri eksternum terbuka lebar, namun
ostium uteri internum tidak terbuka.
b) Ostium uteri internum terbuka, namun ostium
uteri eksternum tidak terbuka.
3) Edema serviks
Terutama karena sempitnya panggul, serviks terjepit
antara kepala dan jalan lahir sehingga terjadi
gangguan sirkulasi darah dan cairan yang
menimbulkan edema serviks.
4) Serviks duplek karena kelaina kongenital
e. Vagina
Kelainan vagina yang dapat mengganggu
perjalanan persalinan.
1) Vagina septum : transvaginal septum vaginal,
longitudinal septum vagina
2) Tumor vagina.
31
f. Himen dan perineum
Kelainan pada himen imperforate atau himen elastis
pada perineum, terjadi kekakuan sehingga memerlukan
episiotomi yang luas.
2.1.6.3 Passenger
1. Janin
Faktor yang mempengaruhi terhadap persalinan adalah
faktor janin yang meliputi sikap janin, letak, presentasi, dan
bagian terbawah dan posisi janin.
a. Sikap (habitus)
adalah menunjukkan hubungan bagian janin dengan
sumbu janin biasanya terhadap tulang punggungnya.
biasanya berada dalam sikap fleksi dimana kepala,
tulang punggung, dan kaki dalam keadaan fleksi, lengan
bersilang di dada.
b. Letak (situs)
Sumbu janin berada terhadap sumbu ibu, misalnya
letak lintang, yaitu sumbu janin tegak lurus pada sumbu
ibu. letak membujur yaitu sumbu janin sejajar dengan
sumbu ibu, bisa berupa letak sungsang atau kepala.
c. Presentasi
Untuk menentukan bagian terbawah rahim, misalnya
peresentasi kepala, bokong, bahu dan lain – lain.
32
1) Bagian terbawah janin
Sama dengan presentasi, hanya lebih diperjelas.
2) Posisi janin
Untuk menetapkan arah bagian terbawah janin
apakah sebelah kanan, kiri, depan atau belakang
terhadap sumbu ibu.
2. Plasenta
Plasenta juga harus melalui jalan lahir, plasenta juga
dianggap sebagai penumpang yang menyertai janin. Namun
plasenta jarang menghambat proses persalinan pada
persalinan normal.
3. Air ketuban
Waktu persalinan, air ketuban membuka serviks
membuka dengan mendorong selaput janin kedalam ostium
uteri, bagian selaput janin diatas ostium uteri yang
menonjol waktu terjadi his disebut ketuban. Ketuban inilah
yang membuka serviks.
2.1.6.4 Psikis (psikologis)
Perasaan positif berupa kelegaan hati, seolah- olah pada saat
itulah benar- benar tejadi realitas “kewanitaan sejati” yang
muncul rasa bangga saat melahirkan atau memproduksi
anaknya. Mereka seolah–olah mendapat kepastian bahwa
kehamilan yang semula dianggap sebagai suatu keadaan yang
33
belum pasti, sekarang menjadi hal yang nyata. Psikolgi
meliputi :
1. Melibatkan psikologis ibu, emosi dan persiapan intelektual
2. Pengalaman bayi sebelum nya
3. Kebiasaan adat
4. Dukungan dari orang terdekat pada kehidupan ibu
2.1.6.5 Penolong
Peran dari penolong persalinan dalam hal ini bidan adalah
mengantisipasi dan menangani komplikasi yang mungkin
terjadi pada ibu dan janin. Proses tergantung dari kemampuan
skil dan kesiapan penolong dalam menghadapi proses
persalinan (Rohani et. all, 2011 : 21- 36).
2.1.7 Kebutuhan Dasar Selama Persalinan
2.1.7.1 Makan dan minum per oral
Pasien sangat dianjurkan untuk minum cairan yang manis
dan berenergi sehingga kebutuhan kalorinya tetap akan
terpenuhi.
2.1.7.2 Akses Intravena
Tindakan pemasangan infus pada pasien. Kebijakan ini
diambil dengan pertimbangan sebagai jalur obat, cairan atau
darah untuk mempertahankan keselamatan jika sewaktu-waktu
terjadi keadaan darurat dan untuk mempertahankan suplai
cairan bagi pasien.
34
2.1.7.3 Posisi dan ambulasi
Posisi yang nyaman selama persalinan sangat diperlukan
pasien. Selain mengurangi ketegangan dan rasa nyeri, posisi
tertentu justru akan membantu proses penurunan kepala janin
sehingga persalinan dapat berjalan lebih cepat.
2.1.7.4 Eliminasi selama persalinan (BAB atau BAK)
Selama proses persalinan, pasien akan mengalami poliuri
sehingga penting untuk difasilitasi agar kebutuhan eliminasi
terpenuhi (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 41-46).
2.1.8 Tanda-tanda inpartu
2.1.8.1 Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan
teratur.
2.1.8.2 Keluar lendir bercampur darah (blood slim) yang lebih
banyak karena robekan- robekan kecil pada serviks.
2.1.8.3 Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
2.1.8.4 Pada pemeriksan dalam : serviks mendatar dan pembukaan
telah ada, berikut ini perbedan penipisan dan dilatasi serviks
antara nulipara dan multipara, yaitu:Nulipara: biasanya
sebelum persalinan, serviks menipis sekitar 50-60% dam
pembukaan sampai 1 cm, dengan dimulainya persalinan,
biasanya nulipara mengalami penipisan serviks 50-100%,
kemudian mulai terjadi pembukaan.
35
Multipara: sering kali serviks tidak menipis pada awal
persalinan, tetapi hanya membuka 1-2 cm. biasanya pada
multipara serviks akan membuka, kemudian diteruskan
dengan penipisan.
2.1.8.5 Kontraksi uterus mengakibatkan perubahan pada serviks
(frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit)
2.1.9 Tahapan persalinan.
2.1.9.1 Kala I (Kala pembukaan)
1. Pengertian Kala I (Kala pembukaan)
Merupakan inpartu ditandai dengan keluarnya lendir
bercampur darah karena serviks mulai membuka dan
mendatar (Rohani et. all, 2011 : 5, 14)
Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 12- 13 jam
sedangkan untuk multigravida berlangsung sekitar 8 jam.
Berdasarkan Kurve friedman, diperhitungkan pembukaan
primigravida 1 cm per jam dan multigravida 2 cm per jam
(Nugraheny dan Sulistyawati, 2012 : 7).
Kala ini terbagi menjadi 2 fase, yaitu:
a. Fase Laten, dimana pembukaan servik berlangsung
lambat dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan
penipisan dan pembukaan secara bertahap sampai
pembukaan 3 cm berlangsung dalam 7-8 jam.
36
b. Fase aktif, berlangsung selama 6 jam dibagi menjadi:
1) Fase akselerasi : dalam waktu 2 jam pembukaan dari
3-4 cm
2) Fase dilatasi aksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan
berlangsung sangat cepat, dari 4-9 cm.
3) Fase deselerasi : pembukaan menjadi lebih lambat
lagi, dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9cm
menjadi lengkap. Lamanya kala I untuk primigravida
12 jam, sedangkan untuk multigravida lamanya 8
jam (Rohani et. all, 2011 : 5-6)
2. Perubahan fisiologis kala I
a. Uterus
Saat mulai persalinan, jaringan miometrium
berkontraksi dan berelaksasi seperti otot pada
umumnya. Pada saat otot retraksi, ia tidak akan kembali
ke ukuran semula tapi berubah ukuran ke ukuran yang
lebih pendek secara progresif.
Dengan perubahan bentuk otot uterus pada proses
kontraksi, relaksasi, dan retraksi; maka kavum uterus
lama kelamaan menjadi semakin mengecil. Proses ini
merupakan salah satu faktor yang menyebabkan janin
turun ke pelviks.
37
b. Serviks
Sebelum onset persalinan, serviks mempersiapkan
kelahiran menjadi lembut. Saat persalinan mendekat,
serviks mulai menipis dan membuka. Gambaran
prosesnya adalah sebagai berikut :
1) Penipisan serviks (effacement)
Berhubungan dengan kemajuan pemendekan
dan penipisan serviks. Seiring dengan
bertambahnya kontraksi, serviks mengalami
perubahan bentuk menjadi lebih tipis.Hal ini
disebabkan oleh kontraksi uterrus yang bersifat
fundal dominan sehingga seolah-olah serviks
tertarik keatas dan lama kelamaan menjadi tipis
2) Dilatasi
Setelah serviks dalam kondisi menipis penuh,
maka tahap berikutnya adalah pembukaan. Serviks
membuka disebabkan daya tarik otot uterus ke atas
secara terus menerus saat uterus berkontraksi.
c. Ketuban
Ketuban akan pecah dengan sendirinya ketika
pembukaan hampir atau sudah lengkap. Tidak jarang
ketuban harus dipecahkan ketika pembukaan sudah
lengkap. Bila ketuban telah pecah sebelum pembukaan
38
5 disebut Ketuban Pecah Dini (KPD) (Sulistyawati dan
Nugraheny, 2012 : 65- 66).
d. Tekanan darah
Tekanan darah meningkat, sistolik rata-rata naik 10-
20 mmHg, diastolik 5-10 mmHg, antara kontraksi
tekanan darah akan turun seperti sebelum masuk
persalinan dan akan naik lagi saat kontraksi.
e) Perubahan metabolisme
Selama persalinan baik metabolisme karbohidrat
aerobik maupun anaerobik akan naik secara perlahan.
Kenaikan ini sebagian sebagian besar disebabkan
karena oleh kecemasan serta kegiatan otot kerangka
tubuh (Sumarah et. all, 2008 :58-59).
f) Perubahan suhu tubuh
Suhu tubuh meningkat selama persalinan, tertinggi
selama dan segera setelah persalinan peningkatan suhu
yang tidak lebih dari 0,5 - 1 0
C dianggap normal.
Karena peningkatan metabolisme selama dan segera
setelah persalinan.
g) Perubahan pada ginjal
Poliuri (jumlah uri lebih dari normal) sering terjadi
selama persalinan, diakibatkan karena peningkatan
lebih lanjut curah jantung selama persalinan dan
kemungkinan peningkatan laju filtrasi glomerulus dan
39
aliran plasma darah. Kandung kemih harus dikontrol
setiap 2 jam sekali agar tidak menghambat penurunan
terendah janin dan agar tidak trauma pada kandung
kemih setelah melahirkan. Sedikit proteinuria
ditemukan pada sepertiga sampai setengah jumlah ibu
bersalin (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 67-68).
h) Detak Jantung bayi
Berhubungan dengan peningkatan metabolism, detak
jantung secara dramatis naik selama kontraksi. Antara
kontraksi, detak jantung meningkat dibandingkan
sebelum persalinan (Rohani et. all, 2011 : 67).
i) Denyut nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80kali
permenit. Sehabis melahirkan denyut nadi itu akan
lebih cepat. Nadi cepat disebabkan oleh : infeksi,
banyak kehilangan darah, dehidrasi, rasa takut.
(Ambarwati dan Wulandari, 2010 : 84).
j) Suhu
Suhu tubuh meningkat selama persalinan, tertinggi
selama dan segera setelah melahirkan (Rohani et. all,
2011 : 67).
40
3. Perubahan psikologis kala I
Perubahan psikologi pada kala I dapat dicermati dalam
rician berikut :
a. Kala I fase laten
Pada awal persalinan, kadang pasien belum cukup
yakin bahwa ia akan benar-benar melahirkan meskipun
tanda persalinan sudah cukup jelas. Pada tahap ini
penting bagi orang terdekat dan bidan untuk meyakinkan
dan memberikan support mental terhadap kemajuan
perkembangan persalinan.
b. Kala I fase aktif
Memasuki kala I fase aktif, sebagian besar pasien
akan mengalami penurunan stamina dan sudah tidak
mampu lagi untuk turun dari tempat tidur, terutama pada
primipara. Pada fase ini pasien sangat tidak suka jika
diajak bicara atau diberi nasehat mengenai apa yang
seharusnya ia lakukan.
c. Kala I akhir
Menjelang kala II pasien sudah dapat mengatasi
kembali rasa sakit akibat his dan kepercayaan dirinya
mulai tumbuh. Pada fase ini ia akan kembali
bersemangat untuk menghadapi persalinannya.
41
4. Asuhan yang diberikan pada kala I
a. Pemantauan terus-menerus kemajuan persalinan
menggunakan partograf
b. Pemantauan terus-menerus terhadap tanda vital
c. Pemantauan terus-menerus terhadap keadaan bayi
d. Pemberian hidrasi bagi pasien
e. Menganjurkan dan membantu pasien dalam upaya
perubahan posisi dan ambulasi
f. Mengupayakan tindakan yang membuat pasien nyaman
g. Memfasilitasi dukungan keluarga (Sulistyawati dan
Nugraheny, 2012 : 69-70, 75)
2.1.9.2 Kala II (Pengeluaran bayi)
1. Pengertian Kala II (Pengeluaran bayi )
Merupakan persalinan dimulai ketika pembukaan
serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan
lahirnya bayi. Lama kala II pada primigravida 2 jam dan
multigravida 1 jam (Rohani et. all, 2011 : 7).
Tanda-tanda kala II adalah ibu mempunyai keinginan
untuk meneran, ibu merasa tekanan yang semakin
meningkat pada rektum dan seperti ingin BAB,
kemudian perineum menonjol dan menjadi lebar dengan
membukanya anus. Labia mulai membuka dan tidak
42
lama kemudian kepala janin tampak dalam vulva pada
saat ada his (Sumarah et. all, 2008 : 6).
2. Mekanisme persalinan normal
Mekanisme persalinan normal terbagi dalam beberapa
tahap gerakkan kepala janin didasar panggul yang diikuti
dengan lahirnya seluruh anggota badan bayi.
a. Penurunan kepala
Terjadi selama proses persalinan karena daya
dorong dari kontraksi uterus yang efektif, posisi,
serta kekuatan meneran pasien.
b. Penguncian (engagement)
Tahap penurunan pada waktu diameter biparietal
dari kepala janin telah melalui lubang masuk panggul
pasien.
c. Fleksi
Dalam proses masuknya kepala janin ke dalam
panggul, fleksi menjadi hal yang sangat penting
karena dengan fleksi diameter kepala janin terkecil
dapat bergerak melalui panggul dan terus melalui
dasar panggul.Pada saat kepala bertemu dengan dasar
panggul, tahananya akan meningkatkan fleksi
menjadi bertambah besar yang sangat diperlukan
43
agar saat sampai didasar panggul kepala janin sudah
dalam keadaan fleksi maksimal.
d. Putar paksi dalam
Putaran internal dari kepala janin akan membuat
diameter anteroposterior ( yang lebih panjang ) dari
kepala menyesuaikan diri dengan diameter
anteroposterior dari panggul pasien Kepala akan
berputar dari arah diameter kanan, miring kearah
diameter PAP dari panggul tetapi bahu tetap miring
ke kiri, dengan demikian hubungan normal antara as
panjang kepala janin dengan as panjang dari bahu
akan berubah dan leher akan berputar 45 derajat.
Hubungan antara kepala dan panggul ini akan
terus berlanjut selama kepala janin masih berada di
dalam panggul. Pada umumnya rotasi penuh dari
kepala ini akan terjadi ketika kepala telah sampai di
dasar panggul atau segera setelah itu. Perputaran
kepala yang dini kadang-kadang terjadi pada
multipara atau pasien yang mempunyai kontraksi
efisien.
e. Lahirnya kepala dengan cara ekstensi
Cara kelahiran ini untuk kepala dengan posisi
oksiput posterior. Proses ini terjadi karena gaya
44
tahanan dari dasar panggul, dimana gaya tersebut
membentuk lengkungan carus, yang mengarahkan
kepala keatas menuju lorong vulva. Bagian leher
belakang di bawah oksiput akan bergeser ke bawah
simfisis pubis dan bekerja sebagai titik poros
(hipomoklion). Uterus yang berkontraksi kemudian
memberikan tekanan tambahan di kepala yang
menyebabkannya ekstensi lebih lanjut saat lubang
vulva-vagina membuka lebar
f. Restitusi
Restitusi adalah perputaran kepala sebesar 45
derajat baik kekanan atau kekiri, bergantung kepada
arah dimana ia mengikuti perputaran menuju posisi
oksiput anterior.
g. Putaran paksi luar
Putaran ini terjadi bersamaan dengan putaran
interna bahu. Pada saat kepala janin mencapai dasar
panggul, bahu akan mengalami perputaran dalam
arah yang sama dengan kepala janin agar terletak
dalam diameter yang besar dari rongga panggul.
Bahu anterior akan terlihat pada lubang vulva-vagina,
dimana ia akan bergeser di bawah simfisis pubis.
45
h. Lahirnya bahu dan seluruh anggota badan bayi
Bahu posterior akan menggembungkan perineum
dan kemudian dilahirkan dengan cara fleksi
lateral.Setelah bahu dilahirkan, seluruh tubuh janin
lainnya akan dilahirkan mengikuti sumbu carus.
3. Perubahan fisiologis kala II
a. Uterus
Saat ada his, uterus teraba sangat keras karena
seluruh ototnya berkontraksi.
b. Serviks
Pada kala II, serviks sudah menipis dan dilatasi
maksimal. Saat dilakukan pemeriksaan dalam, porsio
teraba dengan pembukaan 10 cm.
c. Pergeseran organ dasar panggul
Tekanan pada otot dasar panggul oleh kepala janin
akan menyebabkan pasien ingin meneran, serta diikuti
dengan yang menonjol dan menjadi lebar dengan anus
membuka.
d. Ekspulsi janin
Bila dasar panggul sudah lebih berelaksasi, kepala
janin sudah tidak masuk lagi diluar his.
46
e. Tekanan darah
Tekanan darah dapat meningkat lagi 15-25 mmHg
selama kala II persalinan. Upaya meneran juga akan
memengaruhi tekanan darah, dapat meningkat dan
kemudian menurun kemudian akhirnya kembali lagi
sedikit diatas normal.
f. Metabolisme
Peningkatan metabolisme terus berlanjut hingga
kala II persalinan. Upaya meneran pasien menambah
aktivitas otot-otot rangka sehingga meningkatkan
metabolisme.
g. Denyut nadi
Frekuensi denyut nadi bervariasi tiap kali pasien
meneran. Secara keseluruhan frekuensi nadi
meningkatselama kala II disertai takikardi yang nyata
ketika mencapai puncak menjelang kelahiran bayi.
h. Suhu
Peningkatan suhu tertinggi terjadi pada saat proses
persalinan dan segera setelahnya, peningkatan suhu
normal adalah 0,5-1°C.
i. Pernapasan
Pernapasan sama seperti kala I persalinan.
47
j. Perubahan gastrointestinal
Penurunan motilitas lambung dan absorbsi yang
hebat berlanjut sampai pda kala II.
k. Perubahan ginjal
Perubahan pada organ ini sama seperti pada kala I
persalinan.
l. Perubahan hematologi
Perubahan pada sistem hematologi sama dengan pada
kala I persalinan.
(Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 101-103, 110-111).
4. Cara melahirkan bayi
a. Melahirkan kepala
Saat kepala bayi membuka vulva (5-6 cm),
letakkan kain yang bersih dan kering yang dilipat 1/3
nya dibawah bokong ibu dan siapkan kain atau
handuk bersih diatas perut ibu (untuk mengeringkan
bayi segera setelah lahir).
Lindungi perineum dengan satu tangan (dibawah kain
bersih dan kering), ibu jari pada salah satu sisi
perineum dan 4 jari tangan pada sisi yang lain dan
tangan yang lain pada belakang kepala bayi. Tahan
belakang kepala bayi agar posisi kepala tetap fleksi
48
pada saat keluar secara bertahap melewati introitus
dan perineum.
Setelah kepala bayi lahir, minta ibu untuk berhenti
meneran dan bernapas cepat. Jika ada lilitan dileher
bayi cukup longgar maka lepaskan lilitan tersebut
dengan melewati kepala bayi. Jika lilitan tali pusat
sangat erat maka jepit tali pusat dengan klem pada 2
tempat dengan jarak 3 cm, kemudian potong tali pusat
diantara 2 klem tersebut.
5. Melahirkan bahu
a. Setelah menyeka mulut dan hidung bayi dan
memeriksa tali pusat, tunggu kontraksi berikut
sehingga terjadi putaran paksi luar secara spontan.
b. Letakkan tangan pada sisi kiri dan kanan kepala bayi,
minta ibu meneran sambil menekan kepala kearah
bawah dan lateral tubuh bayi hingga bahu depan
melewati simfisis.
c. Setelah bahu depan lahir, gerakkan kepala keatas dan
lateral tubuh bayi sehingga bahu bawah dan seluruh
dada dapat dilahirkan.
49
6. Melahirkan seluruh tubuh bayi
a. Saat bahu posterior lahir, geser tangan bawah
(posterior) kearah perineum dan sanggah bahu dan
lengan atas bayi pada tangan tersebut.
b. Gunakan tangan yang sama untuk menopang lahirnya
siku dan tangan posterior saat melewati perineum.
c. Tangan bawah (posterior) menopang samping lateral
tubuh bayi saat lahir.
d. Secara simultan, tangan atas anterior untuk
menulusuri dan memegang bahu, siku dan lengan
bagian anterior.
e. Lanjutkan penelusuran dan memegang tubuh bayi
kebagian punggung, bokong dan kaki.
f. Dari arah belakang, sisipkan jari telunjuk tangan atas
diantara dua kaki bayi yang kemudian dipegang
dengan ibu jari dan ketiga jari tangan lainnya.
g. Letakkan bayi diatas kain atau handuk yang telah
disiapkan pada perut bawah ibu dan posisikan kepala
bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya.
h. Segera keringkan sambil melakukan rangsangan
taktil pada tubuh bayi dengan kain atau selimut diatas
perut ibu. Pastikan bahwa kepala bayi tertutup dengan
baik (JNPKR-KR, 2008 : 89-92).
50
7. Macam-macam posisi meneran dan dan keuntungannya
a. Jongkok
Memaksimalkan sudut dalam lengkungan carus
yang memungkinkan bahu turun ke panggul dan
bukan terhalang (macet) diatas simfisis pubis.
b. Setengah duduk
Membantu dalam penurunan janin dengan kerja
gravitasi, menurnkan janin kepanggul, dan terus ke
dasar panggul. Lebih mudah bagi bidan untuk
membimbing kelahiran kepala bayi dan mengamati/
mensupport perineum.
c. Berdiri
Pasien bisa lebih mudah mengosongkan kandung
kemihnya, dan kandung kemih yang kosong akan
memudahkan penurunan kepala. Memperbesar ukuran
panggul,menambah 28 % ruang outletnya.
d. Merangkak
Membantu kesehatan janin dalam penurunan lebih
dalam ke panggul yang sakit. Baik untuk persalinan
dengan punggung yang sakit. Membantu janin dalam
melakukan rotasi. Peregangan minimal pada
perineum.
51
e. Miring ke kiri
Oksigenasi janin maksimal karena dengan miring
kiri sirkulasi darah ibu ke janin lebih lancar. Memberi
rasa santai bagi ibu yang letih. Mencegah terjadinya
laserasi (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 105).
8. Cara meneran :
a. Anjurkan ibu untuk meneran mengikuti dorongan
alamiahnya selama kontraksi.
b. Beritahukan untuk tidak menahan napas saat meneran.
c. Minta untuk berhenti meneran dan beristirahat
diantara kontraksi.
d. Jika ibu berbaring miring atau setengah duduk, ia
akan lebih mudah untuk meneran jika lutut ditarik
kearah dada dan dagu ditempelkan ke dada.
e. Minta ibu untuk tidak mengangkat bokong saat
meneran.
f. Tidak diperbolehkan untuk mendorong fundus untuk
membantu kelahiran bayi. Dorong pada fundus
meningkatkan risiko distosia bahu dan ruptur
uteri.Peringatkan anggota keluarga ibu untuk tidak
mendorong fundus bila mereka mencoba melakukan itu
(JNPKR-KR, 2008 : 87).
52
9. Asuhan yang diberikan selama kala II
a. Cahaya redup dan privasi.
b. Persiapan.
c. Analgesia.
d. Dukungan keluarga atau orang-orang terdekat ibu
dapat membantu dalam proses persalinan sehingga
dapat memberikan ibu ketenangan secara psikologis
dengan mengetahui ada yang mendampingnya.
e. Memberikan dukungan dan semangat kepada ibu dan
keluarganya dengan menjelaskan tahapan dan
kemajuan persalinan atau kelahiran bayi pada
mereka.
f. Bidan menganjurkan dan membantu dalam
memperoleh posisi yang nyaman dan aman untuk
persalinan serta meneran sehingga dapat
mempermudah proses persalinan.
g. Bimbingan dalam proses meneran merupakan salah
satu kebutuhan ibu pada kala II persalinan.
h. Anjurkan ibu untuk minum selama kala II persalina.
i. Kebutuhan rasa aman dan ketentraman merupakan
hal yang dapat meningkatkan ketenangan ibu dalam
proses persalinan.
53
2.1.9.3 Kala III (pelepasan plasenta)
1. Pengertian Kala III
Kala III berlangsung dari lahirnya bayi sampai
dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban. Seluruh
proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi
lahir (Rohani et. all, 2011 : 8, 171-172).
2. Tanda-Tanda klinis pelepasan plasenta
a. Semburan darah Pemanjangan tali pusat
Semburan darah ini disebabkan karena
penyumbatan retroplasenter pecah saat plasenta
lepas.
b. Pemanjangan tali pusat
Hal ini disebabkan karena plasenta turun
kesegmen uterus yang lebih bawah atau rongga
vagina.
c. Perubahan bentuk uterus dari diskoid menjadi
globuler (bulat)
Perubahan bentuk ini disebabkan oleh kontraksi
uterus.
d. Perubahan dalam posisi uterus yaitu uterus naik di
dalam abdomen.
Hal pemeriksaan menunjukkan bahwa sesaat
setelah plasenta lepas TFU akan naik, hal ini
54
disebabkan oleh adanya pergerakkan plasenta ke
segmen uterus yang lebih bawah.
3. Proses pelepasan plasenta :
a. Menurut Duncan
Plasenta lepas mulai dari bagian pinggir
(marginal) disertai dengan adanya tanda darah
keluar dari vagina apabila plasenta mulai terlepas.
b. Menurut Schultz
Plasenta lepas dari bagian tengah (sentral)
dengan tanda adanya pemanjangan tali pusat yang
terlihat di vagina.
c. Terjadi serempak atau kombinasi dari keduannya.
4. Prasat yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Prasat Strassman
Tangan kanan meregangkan atau menarik
sedikit tali pusat. tangan kiri mengetuk-ngetuk
fundus uteri, bila terasa getaran pada tali pusat,
berarti tali pusat belum lepas dari tempat
implantasi, bila tidak terasa getaranberarti talipusat
telah lepas dari tempat implantasinya.
55
b. Prasat Klein
Ibu disuruh mengedan, bila tali pusat tampak turun
ke bawah saat mengedan dihentikan maka plasenta
telah lepas dari tempat implantasinya
5. Asuhan yang diberikan pada kala III
a. Dukungan mental dari bidan dan keluarga atau
pendamping.
b. Penghargaan terhadap proses kelahiran janin yang
telah dilalui.
c. Informasi yang jelas mengenai keadaan pasien
sekarang dan tindakan apa yang akan dilakukan.
d. Penjelasan mengenai apa yang harus ia lakukan
untuk membantu mempercepat kelahiran plasenta,
yaitu kapan saat meneran dan posisi apa yang
mendukung untuk pelepasan dan kelahiran pasenta.
e. Bebas dari rasa risih akibat bagian bawah yang
basah oleh darah dan air ketuban.
f. Hidrasi.
2.1.9.4 Kala IV
1. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta selama 1-2 jam.
Pada kala IV dilakukan observasi terhadap
perdarahan pasca persalinan, paling sering terjadi pada
56
2 jam pertama (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 9,
157-159,165).
2. Asuhan yang diberikan Kala IV
a. Kesadaran penderita, mencerminkan kebahagiaan
karena tugasnya untuk melahirkan bayi telah selesai.
b. Pemeriksaan yang dilakukan : tekanan darah, nadi
dan suhu, kontraksi rahim yang keras, perdarahan
yang mungkin terjadi dari plasenta rest, luka
episiotomi, perlukaan pada serviks, kandung kemih
dikosongkan karena dapat mengganggu kontraksi
rahim.
c. Bayi yang telah dibersihkan di letakkan di samping
ibunya agar dapat memulai pemberian ASI.
d. Observasi dilakukan selama 2 jam dengan interval
pemeriksaan setiap jam.
e. Bila keadaan baik, patuiren dipindahkan ke ruangan
inap bersama-sama dengan bayinya.
(Manuaba et. all, 2010 : 185).
3. Pemantauan Dan Evaluasi Lanjut Kala IV
a. Tanda vital
1) Tekanan darah dan nadi
Selama satu jam pertama lakukan
pemantauan pada tekanan darah dan nadi setiap
57
15 menit dan satu jam kedua dilakukan setiap
30 menit.
2) Respirasi dan suhu
3) Lakukan pemantauan respirasi dan suhu setiap
jam selama dua jam pertama pasca persalinan.
b. Kontraksi uterus
Pemantauan ini dilakukan bersamaan dengan
masase fundus uterus secara sirkular.
c. TFU
Umumnya fundus uterus setinggi atau beberapa jari
dibawah pusat.
d. Lochea
e. Kandung kemih
1) Penyulit akibat penuhnya kandung kemih,
seperti:
2) Menyebabkan atonia uterus dan menyebabkan
perubahan posisi uterus
3) Berpotensi menyebabkan infeksi saluran kemih.
4) Menyebabkan kekhawatiran yang berpengaruh
terhadap penerimaan pasien berkaitan dengan
perubahan perannya.
f. Asuhan yang diberikan pada kala IV
1) Hidrasi dan nutrisi.
58
2) Hygiene dan kenyamanan pasien.
3) Bimbingan dan dukungan untuk BAK.
4) Informasi dan bimbingan sejelas-jelasnya
mengenai apa yang terjadi dengan tubuhnya dan
apa yang harus ia lakukan berkaitan dengan
kondisinya.
5) Kehadiran bidan sebagai pendamping selama
dua jam paskapersalinan serta kelurga atau
orang-orang terdekatnya.
6) Dukungan untuk menjain hubungan awal
dengan bayinya, terutama saat pemberian ASI
awal.
7) Posisi tubuh dan lingkungan yang nyaman
setelah saat-saat berat menjalani persalinan.
8) Pemberian analgesik (jika diperlukan)
9) Tempat dan alas tidur yang bersih agar tidak
terjadi infeksi (Sulistyawati dan Nugraheny,
2012 : 181-182, 192).
2.1.10 Inisiasi Menyusu Dini
2.1.10.1 Pengertian Inisiasi Menyusu Dini
Pemberian ASI yang dimulai sedini mungkindan secara
eksklusif. Segera setelah bayi lahir, setelah tali pusat
dipotong, letakkan bayi tengkurap di dada ibu dengan kulit
59
bayi melekat pada kulit ibu, biarkan kontak kulit ke kulit ini
menetap selama setidaknya 1 jam bahkan lebih, sampai bayi
dapat menyusui sendiri (Rohani et. all, 2011:263)
2.1.10.2 Langkah Inisiasi Menyusu Dini
1. Bayi harus mendapatkan kontak kulit dengan kulit ibunya
segera setelah lahir selama paling sedikit satu jam.
2. Bayi harus menggunakkan naluri alamiyahnya untuk
melakukan inisiasi menyusui dini dan ibu dapat
mengenali bayinya siap untuk menyusu serta memberi
bantuan jika diperlukkan .
3. Menunda semua prosedur lainnya yang harus di lakukan
kepada bayi baru lahir hingga inisiasi menyusu selesai
dilakukan, prosedur tersebut seperti : menimbang,
pemberian antibiotik salep mata, vitamin K1 dan lain-lain
(JNPK-KR, 2008 : 131).
2.1.10.3 Keuntungan inisiasi menyusu dini bagi ibu dan bayi
1. Keuntungan pada bayi
a. Menstabilkan pernafasan
b. Mengendalikan temperature tubuh bayi
c. Mendorong ketrampilan bayi dalam menyusui yang
lebih cepat dan efektif
d. Meningkatkan hubungan psikologis antara ibu dan bayi
60
e. Agar bayi tidak terlalu banyak menangis selama satu
jam
f. Menjaga kolonisasi kuman yang aman dari ibu di
dalam perut bayi sehingga memberikan perlindungan
terhadap infeksi
2. Keuntungan untuk ibu
1) Stimulasi kontraksi uterus dan menurunkan resiko
perdarahan pasca persalinan
2) Merangsang pengeluaran kolostrum
3) Ibu menjadi lebih tenang, fasilitas kelahiran plasenta
dan penglihatan rasa nyari dari berbagai prosedur
pasca persalinan.
2.1.11 Partograf
2.1.1.1 Pengertian partograf
Merupakan alat bantu yang digunakan untuk memantau
kemajuan persalinan Kala I persalinan dan informasi untuk
membuat keputusan klinik.
2.1.1.2 Fungsi Partograf
1. Mengamati dan mencatat informasi kemajuan persalinan
dengan memerikksa dilatasi serviks selama pemeriksaan
dalam
61
2. Mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan adanya
penyulit persalinan sehingga bidan dapat membuat
keputusan tindakan dengan cepat
3. Sebagai alat komunikasi yang unik namun praktis antar
bidan atau antara bidan dengan dokter mengenai perjalanan
persalinan pasien.
4. Alat dokumentasi riwayat persalinan pasien beserta data
pemberian medikamentosa yang diberikan selama proses
persalinan (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 76).
2.1.1.3 Pencatatan pada lembar belakang partograf
Halaman belakang partograf merupakan bagian untuk
mencatat hal-hal yang terjadi selama proses persalinan dan
kelahiran, serta tindakan-tindakan yang dilakukan sejak
persalinan kala I hingga kala IV (termasuk bayi baru lahir).
Itulah sebabnya bagian inoi disebut sebagai catatan
persalinan.Nilai dan catatkan asuhan yang diberikan pada ibu
dalam masa nifas terutama selama persalinan kala empat untuk
memungkinkan penolong persalinan mencegah terjadinya
penyulit dan membuat keputusan klinik yang sesuai.
Dokumentasi ini sangat penting untuk membuat keputusan
klinik, terutama pada pemantauan kala IV (mencegah
terjadinya perdarahan pascapersalinan).Selain itu, catatan
persalinan (yang sudah diisi dengan lengkap dan tepat) dapat
62
pula digunakkan untuk menilai/memantau sejauh mana telah
dilakukan pelaksanaan asuhan persalinan yang dan bersih
aman (Rohani et. all, 2011 : 107).
Catatan persalinan adalah terdiri dari unsur-unsur berikut :
1. Data dasar
2. Kala I
3. Kala II
4. Kala III
5. Bayi baru lahir
6. Kala IV (JNPK-KR, 2008 : 67)
Cara pengisian :
Berbeda dengan halaman depan yang harus diisi pada akhir
setiap pemeriksaan, lembar belakang partograf ini diisi setelah
seluruh proses persalinan selesai (Rohani et. all, 2011 : 108).
Adapun cara pengisian catatan persalinan pada lembar
belakang partograf secara lebih terinci disampaikan menurut
unsur-unsurnya sebagai berikut :
1. Data dasar
Data dasar terdiri dari tanggal, nama bidan, alasan
merujuk, tempat rujuk dan pendamping pada saat merujuk.
Isi data pada masing-masing tempat yang telah disediakan,
atau dengan cara memberi tanda pada kotak di samping
jawaban yang sesuai (JNPK-KR,2008 : 70).
63
a. Kala I
Kala I terdiri dari pertanyaan-pertanyaan tentang
partograf saat melewati garis waspada, masalah-
masalah yang dihadapi, penatalaksanaanya, dan hasil
penatalaksanaan tersebut (Rohani et. all, 2011 : 108).
b. Kala II
Kala II terdiri dari episiotomi, pendamping
persalinan, gawat janin, distosia bahu, masalah
penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya.
c. Kala III
Kala III terdiri dari lama kal III, pemberian
oksitosin, penegangan tali pusat terkendali, pemijatan
fundus, plasenta lahir lengkap, plasenta tidak lahir > 30
menit, laserasi, atonia uteri, jumlah perdarahan,
masalah penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya, isi
jawaban pada tempat yang disediakan dan beri tanda
pada kotak di samping jawaban yang sesuai.
d. Bayi baru lahir
Informasi tentang bayi baru lahir terdiri dari berat
dan panjang badan, jenis kelamin, penilaian kondisi
bayi baru lahir, pemberian ASI, masalah penyerta,
penatalaksanaan terpilih dan hasilnya. Isi jawaban pada
64
tempat yang disediakan serta beri tanda ada kotak
disamping jawaban yang sesuai ( JNPK-KR, 2008 : 73).
2.1.12 Langkah Pertolongan Persalinan Normal
2.1.12.1 Mengenali Gejala Dan Tanda Kala Dua
1. Mendengar dan melihat adanya tanda persalinan kala dua.
a. Ibu merasa ada dorongan kuat dan meneran.
b. Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada
rektum dan vagina.
c. Perineum tampak menonjol.
d. Vulva-vagina dan sfingter ani membuka.
2.1.12.2 Menyiapkan Pertolongan Persalinan
2. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan
esensial untuk menolong persalinan dan menatalaksanakan
komplikasi ibu dan bayi baru lahir. Untuk asuhan bayi
baru lahir atau resusitasi, siapkan :
a. Tempat datar, rata, bersih, kering dan hangat.
b. Kain handuk / kain bersih dan kering (termasuk ganjal
bahu bayi)
c. Lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh
bayi.
Untuk ibu :
1) Menggelar kain diatas perut ibu dan tempat
resusitasi serta ganjal bahu bayi.
65
2) Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril
sekali pakai didalam partus set.
3) Alat suntik steril sekali pakai didalam partus set
3. Memakai celemek plastic yang tidak tembus bahan atau
cairan.
4. Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan yang
dipakai, cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir
kemudian keringkan tangan dengan tissue atau handuk
pribadi yang bersih dan kering
5. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan
yang akan digunakan untuk pemeriksaan dalam.
6. Masukkan oksitosin kedalam tabung suntik gunakkan
tangan yang memakai sarung tangan DTT dan steril
(pastikan tidak terjadi kontaminasi pada alat suntik).
2.1.12.3 Memastikan Pembukaan Lengkap Dan Keadaan Janin Baik
7. Membersihkan vulva dan perineum, menekannya dengan
hati-hati dari depan kebelakang dengan kapas yang sudah
dibasahi air desinfektan tingkat tinggi.
a. Jika introitus vagina, perineum atau anus
terkontaminasi tinja, bersihkan dengan seksama dari
depan kebelakang.
b. Buang kapas atau kassa pembersih (terkontaminasi)
dalam wadah yang tersedia.
66
c. Ganti sarung tangan jika terkontaminasi
(dekontaminasi, lepaskan dan rendam dalam larutan
klorin 0,5 %. Langkah # 9. Pakai sarung tangan DTT/
steril untuk melaksanakan langkah lanjutan.
8. Lakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan
pembukaan sudah lengkap.
Bila selaput ketuban dalam utuh dan pembukaan sudah
lengkap maka lakukan amniotomi.
9. Periksa denyut jantung janin setelah kontraksi/saat
relaksasi uterus untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas
normal (100-160 x/menit).
a. Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal
b. Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam,
DJJ dan semua hasil-hasil penilaian serta asuhan
lainnya pada partograf.
2.1.12.4 Menyiapkan Ibu Dan Keluarga Untuk Membantu Proses
Meneran
10. Memberitahu pada ibu bahwa pembukaan sudah lengkap
dan keadaan janin cukup baik, kemudian bantu ibu
menemukan posisi yang nyaman dan sesuai dengan
keinginannya.
a. Tunggu hingga timbul kontraksi atau rasa ingin
meneran, lanjutkan pemantauan dan kondisi dan
67
kenyamanan ibu dan janin (ikuti pedoman dan
penatalaksanaan fase aktif) atau mendokumentasikan
semua temuan yang ada
b. Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana
peran mereka untuk mendukung dan memberi
semangat pada ibu untuk meneran secara benar.
11. Minta keluarga untuk membantu menyiapkan posisi
meneran jika ada rasa ingin meneran atau kontraksi ynag
kuat. Pada kodisi itu, ibu diposisi kan setengah
dudukatau posisi lain yang diinginkan dan pastikan ibu
merasakan nyaman.
12. Laksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ada
dorongan kuat untuk meneran.
a. Bimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan
efektif.
b. Dukung dan beri semangat pada saat meneran dan
perbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai.
c. Bantu ibu mengambil posisin yang nyaman sesuai
pilihannya (kecuali posisi berbaring terlentang dalam
waktu yang lama).
d. Anjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi
e. Anjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat
untuk ibu.
68
f. Beri cukup asupan cairan per oral (minum)
g. Menilai denyut jantung janin setiap kontraksi uterus
selesai.
h. Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera
lahir setelah pembukaan lengkap dan dipimpin
meneran ≥ 120 menit (2 jam) pada primigravida atau
≥ 60 menit (1 jam) pada multigravida
13. Anjurkan ibu untuk berjalan berjongkok atau mengambil
posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada
dorongan untuk meneran dalan selang waktu 60 menit.
2.1.12.5 Persiapan Untuk Melahirkan
14. Letakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di
perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan
diameter 5 – 6 cm.
15. Letakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah
bokong ibu
16. Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali
kelengkapan alat dan bahan
17. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
2.1.12.6 Pertolongan Untuk Melahirkan Bayi Lahirnya Kepala
18. Setelah Nampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm
membuka vulva maka lindungi perineum dengan satu
tangan yang dilapisi dengan kain bersih dan kering,
69
tangan yang lain menahan belakang kepala untuk
mempertahan kan defleksi dan membantu lahirnya
kepala. Anjurkan ibu meneran secara efekif aau bernafas
cepat dan dangkal
19. Periksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat (ambil
tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi), segera
lanjutkan proses kelahiran bayi.
a. Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan
lilitan lewat bagian atas kepala bayi
b. Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat
di dua tempat dan potong tali pusat diantara dua lem
tersebut
20. Setelah kepala bayi lahir tunggu putar paksi luar yang
berlangsung spontan.
2.1.12.7 Lahirnya Bahu
21. Setelah putaran paksi luar selesai, pegang kepala bayi
secara biparietal anjurkan ibu meneran saat kontraksi.
Dengan lembut gerakkan kearah bawah dan distal hingga
bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan kemudian
gerakkan kearah atas dan distal untuk melahirkan bahu
belakang
2.1.12.8 Lahirnya Badan Dan Tungkai
70
22. Setelah kedua bahu lahir, geser tangan bawah untuk
menopang kepala dan bahu gunakan tangan atasuntuk
menelusuri dan memegang lengan dan siku sebelah atas
23. Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas
berlanjut ke punggung, bokong, tungkai, dan kaki.
Pegang kedua mata kaki (masukkan telunjuk diantara
kedua kaki dan pegang kedua kaki dengan melingkar ibu
jari pada satu sisi dan jari-jari lainnya pada sisi yang lain
agar bertemu dengan jari telunjuk)
2.1.12.9 Asuhan Bayi Baru Lahir
24. Lakukan Asuhan (Selintas)
a. Apakah bayi cukup bulan?
b. Apakah bayi menangis kuat dan / atau
bernafas tanpa kesulitan?
c. Apakah bayi bergerak dengan aktif?
25. Bila salah satu jawaban adalah “tidak” lanjut ke langkah
resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia ( lihat
penuntun belajar resusitasi dimeja asfiksia). Bila semua
jawaban adalah “Ya” lanjut ke 26
26. Keringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan
bagian tubuh lainnya (kecuali kedua tangan ) tanpa
membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan
71
handuk /kain yang kering pastikan bayi dalam posisi dan
kondisi aman diperut bagian bawah ibu
27. Periksa kembali uterus untuk memastikan hanya satu
bayi yang lahir (hamil tunggal) dan bukan kehamilan
ganda (gemelli)
28. Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus
berkontraksi
29. Dalam waktu satu menit setelah bayi lahir suntikkan
oksitosin 10 unit secara IM distal lateral paha lakukan
aspirasi sebelum penyuntikan
30. Setelah 2 menit sejak bayi (cukup bulan) lahir pegang
tali pusat dengan satu tangan pada sekitar 5 cm dari tali
pusat bayi, kemudian jari telunjuk badan jari tangan lain
menjepit tali pusat dan geser hingga 3 cm proksimal dari
pusat bayi. Klem tali pusat pada titik tersebut kemudian
tahan klem ini pada posisinya, gunakan jari telunjuk dan
tengah tangan lain untuk mendorong isi tali pusat kea rah
ibu (sekitar 5 cm) dan klem tali pusat pada sekitar 2 cm
dstal dari klem pertama.
31. Pemotongan dan pengikatan tali pusat
a. Dengan satu tangan, pegang tali yang telah dijepit
(lindungi perut bayi) dan lakukan pengguntingan tali
pusat diantara 2 klem tersebut
72
b. Ikat tali pusat dengan bennag DTT / steril pada satu
sisi kemudian lingkarkan lagi benang tersebut dan ikat
tai usat dengan simpul kunci pada sisi lainnya
c. Lepas klem dan masukkan dalam wadah yang telah
disediakan
32. Letakkan bayi tengkurap didada ibu untuk kontak kulit
ibu bayi. Lurus kan bahu bayi hingga dada bayi
menempel di dada ibunya. Usahakn kepala bayi berada
di antara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari
putting susu atau areola mamae ibu. Selimuti ibu- bayi
melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling
sedikit 1 jam. Sebagian besar bayi akan berhasil
melakukan inisiasi menyusu dini daalm waktu 30 – 60
menit. Menyusu untuk pertama kali kan berlangsung
sekitar 10-15 menit. Bila cukup menyusu dari satu
payudara biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam
walaupun bayi sudah berhasil menyusu.
2.1.12.10 Manajemen Aktif Kala Tiga Persalinan (Mak Iii)
33. Pindahkan klem tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari
vulva
34. Letakkan satu tangan diatas kain pada perut bawah bayi
(diatas sympsis) untuk mendeteksi kontraksi. Tangan
lain memgang klem untuk menegangkan tali pusat.
73
35. Setelah uterus berkontraksi tegangkan talipusat kea rah
bawah sambil tangan lain mendorong uterus kea rah
belakang atas (dorso cranial) secara hati-hati (untuk
mencegah inversion uteri). jika plasenta tidak lahir
setelah 30 – 40 detik hentikan penegangan talipusat dan
tunggu hingga timbul kontraksi beriktnya dan ulangi
kembali prosedur di atas. Jika uterus tidak berkontraksi
minta bantuan ibu, suami atau anggota keluarga untuk
meakukan stimulasi putting susu.
2.1.12.11 Mengeluarkan Plasenta
36. Pada penekanan bagian bawah diding depan uterus
kearah dorsal ternyata diikuti dengan pergeseran ali
pusat kea rah distal maka lanjutan dorongan kearah
cranial hingga plasenta dapat dilahirkan ibu boleh
meneran tapi tali pusat hanya boleh di tegangkan (janga
ditarik secara kuat terutama jika uterus tidak
berkontraksi ) sesuai dengan sumbu jalan lahir (kearah
bawah sejajar lantai – atas). Jika tali pusat bertambha
panjang, pindahkan klem hingga berjarak sekitar 10-15
cm dari vulva dan lahirkan plasenta. Jika plasenta lepas
setelah 15 menit menegangkan tali pusat :
a. Ulangi pemberian oksitosin 10 unit IM
74
b. Lakukan kateterisasi (gunakan teknik aseptic ) jika
kandung kemih penuh
c. Minta keluarga ntuk menyiapkan rujukan
d. Ulangi tekanan dorso cranial dan penegangan tali
pusat 15 menit berikutnya
e. Jika plasenta tak lahir dalam 30 menit sejak bayi
lahir atau terjadi perdarahan maka segera lakukan
tindakan manual pasenta
37. Plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta
dengan kedua tangan. Putar pegang plasenta hingga
selaput ketuban terpilin kemudian lahirkan dan
tempatkan plasenta pada wadah yang telah disediaakan.
Jiak selaput ketuban robek pakai sarung tangan DTT /
steril untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian
gunakan jari-jari tangan atau klem ovum DTT/steril
untuk mengeluarkan selaput tertinggal.
2.1.12.12 Rangsangan Taktil (Masase) Uterus
38. Segera setelah plasenta lahir dan selaput ketuban lahir,
lakukan masase uterus, letakkan telapak tanga difundus
dan lakuka masase dengan gerakan melingkar dengan
lembut hingga uterus berkontraksi (fundus teraba keras)
lakukan tindakan yang diperlukan (kompresi bimanual
interna, kompresi aorta, abdominalis, tampon kondom-
75
kateter) jika uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik
setelah rangsa
2.1.12.13 Menilai Perdarahan
39. Periksa kedua sisi plasenta (maternal-fetal) pastikan
plasenta telah dilahirkan lengkap letakkan plasenta ke
dalam kantung plastic atau tempat khusus
40. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan
perineum. Lakukan penjahitan bila terjadi laserasi yang
luas dan menimbulkan perdarahan. Bila ada robekan
yang menimbulkan perdarahan aktif segera lakukan
penjahitan
2.1.12.14 Asuhan Pasca Persalinan
41. Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan terjadi
perdarahan pervaginam
42. Celupkan tangan yang masih memakai sarung tangan ke
dalam larutan klorin 0,5% bersihkan noda darah dan
cairan tubuh, lepaskan secara terbalik dan rendam
sarung tangan selama 10 menit. Cuci tanga dengan
sabun dan air bersih mengalir, keringkan tangan dengan
tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering
2.1.12.15 Evaluasi
43. Pastiakn kandung kemih kosong
76
44. Ajarkan ibu atau keluarga cara melakukan masase
uterus dan menilai kontraksi
45. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah
46. Memeriksa dan memastikan keadaan umum ibu baik
47. Pantau keadaan bayi dan pastikan bahwa bayi bernafas
dengan baik (40-60 x/menit)
a. Jika bayi sulit bernafas, bernafas, merintih, atau
retraksi di resusitasi dan segera merujuk kerumah
sakit
b. Jika bayi nafas terlalu cepat atau sesak nafas, segara
rujuk ke RS rujukan
c. Jika kaki teraba dingin, pastikan ruangan hangat,
lakukan kembali kontak kulit ibu-bayi dan hangatkan
ibu-bayi dalam satu selimut
2.1.12.16 Kebersihan Dan Keamanan
48. Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan
klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci
peralatan setelah di dekontaminasi
49. Buang bahan – bahan yang terkontaminasi ke dalam
tempat sampah yang sesuai
50. Bersihkan ibu dari paparan darah dan cairan tubuh
dengan menggunakan air DTT ersihkan cairan ketuban,
77
lender dan darah diranjang atau sekitar ibu berbaring
bantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering
51. Pastikan ibu merasa nyaman. Bantu ibu memberikan asi
anjurkan ibu untuk member ibu minuman dan makanan
yang di inginkan
52. Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin
0,5%
53. Celupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin
0,5% balikkan bagian dalam keluar dan rendam selama
10 menit
54. Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir
kemudian keringkan tangan dengan tissue atau handuk
pribadi yang bersih dan kering
55. Pakai sarung tangan DTT / bersih untuk melakukan
pemeriksaan fisik bayi
56. Dalam satu jam pertama, beri salep atau tetes mata
profilaksis infeksi, vitamin K1 mg IM dipaha kiri
bawah lateral, pemeriksaan fisik bayi baru lahir,
pernafasan bayi (normal 40-60 x/menit) dan
temperature tubuh normal 36,5 – 37,5 c setiap 15 menit
57. Setelah satu jam pemberian vit K berikan imunisasi
hepatitis B dip aha bawah kanan lateral. Letakkan bayi
78
dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu dapat
disusukan
58. Lepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan
rendam dalam larutan clorin 0.5% selama 10 menit
59. Cuci kedua tanagn dengan sabun dan air mengalir
kemudian keringkan dengan tissue atau handuk pribadi
yang kering dan bersih
2.1.12.17 Dokumentasi
60. Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang),
periksa tanda vital dan asuhan kala IV persalinan.
(JNPK-KR,2008: 35-42).
2.2 Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan
2.2.1 Proses Manajemen Kebidanan
Proses penyelesaian masalah merupakan salah satu upaya yang dapat
di gunakkan dalam manajemen kebidanan.Varney berpendapat bahwa
dalam melakukan manajemen kebidanan, bidan harus memiliki
kemampuan berfikir secara kritis untuk menegakkan diagnosis atau
masalah potensial kebidanan. Selain itu, diperlukan pula kemampuan
kolaborasi atau kerjasama. Hal ini dapat digunakkan sebagai dasar
dalam perencanaan kebidanan selanjutnya.
79
2.2.2 Langkah-langkah asuhan kebidanan menurut varney,
Langkah-langkah asuhan kebidanan menurut varney terdiri dari langkah
dimulai dari langkah I yaitu pengumpulan data dasar dan diakhiri
langkah VII yaitu evaluasi.
2.2.2.1 Langkah I Pengumpulan Data Dasar
Langkah ini dilakukan dengan melakukan pengkajian melalui
proses pengumpulan data yang di perlukan untuk mengevaluasi
keadaan pasien secara lengkap seperti riwayat kesehatan ,
pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan, peninjauan catatan
terbaru atau catatan sebelumnya, data laboratorium dan
membandingkannya dengan hasil studi. Semua data
dikumpulkan dari semua sumber yang berhubungan dengan
kondisi pasien (Wildan dan hidayat, 2012 : 34).
Bagian-bagian penting anamnesis pada kala I persalinan
1. Data subjektif
a). Data subjektif merupakan informasi Biodata
1) Nama
Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan
sehari-hari agar tidak keliru dalam memberikan
penanganan.
80
2) Usia / umur
Data ini ditanyakan untuk menentukan apakah ibu
dalam proses persalinan berisiko karena usia atau tidak
(Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 220).
3) Agama
Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk
membimbing atau mengarahkan pasien dalam berdoa
4) Suku / bangsa
Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan
sehari-hari.
5) Pendidikan
Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk
mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya,
sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai
dengan pendidikannya (Ambarwati dan wulandari,
2010 :131).
6) Pekerjaan
Data ini menggambarkan tingkat sosial ekonomi, pola
sosialisasi, dan data pendukung dalam menentukan pola
komunikasi yang akan dipilih selama asuhan
(Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 221).
81
7) Alamat
Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah
bila diperlukan (Ambarwati dan wulandari, 2010 :132)
b) Riwayat pasien
1) Keluhan utama
Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui
alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Pada kasus persalinan, informasi yang harus didapat
dari pasien adalah kapan mulai terasa ada kenceng-
kenceng diperut, bagaimana intensitas dan
frekuensinya, apakah ada pengeluaran cairan dari
vagina yang berbeda dari air kemih, apakah sudah ada
pengeluaran lendir yang disertai darah, serta
pergerakan janin untuk memastikan kesejahteraannya
(Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 221).
2) Riwayat kebidanan
Data ini penting untuk diketahui oleh bidan
sebagai data acuan untuk memprediksi jalanya proses
persalinan dan untuk mendeteksi apakah ada
kemungkinan penyulit selama proses persalinan.
3) Riwayat HPHT
Untuk mengetahui tanggal hari pertama dari
menstruasi terakhir klien untuk memperkirakan kapan
82
kira-kira sang bayi dilahirkan (Ambarwati dan
wulandari, 2010 :134).
4) Taksiran Kelahiran
Gambaran riwayat menstruasi klien yang akurat
biasanya membantu penetapan tanggal perkiraan
kelahiran yang disebut taksiran partus (walyani, 2015:
121).
5) Riwayat Imunisasi TT
Imunisasi selama kehamilan sangat penting dilakukan
untuk mencegah penyakit yang dapat menyebabkan
kematian ibu dan janin. Jenis imunisasi yang
diberikan adalah Tetanus Toxoid (TT) yang dapat
mencegah penyakit tetanus. Imunisasi TT pada ibu
hamil harus terlebih dahulu ditentukan status
kekebalan/ imunisasinya. Ibu hamil yang belum
pernah mendapatkan imunisasi statusnya T0, jika
telah mendapatkan 2 dosis dengan interval minimal 4
minggu atau pada masa balitanya telah memperoleh
imunisasi DPT sampai 3 kali maka statusnya adalah
T2, bila telah mendapat dosis TT yang ke-3 (interval
minimal 6 bulan dari dosis ke-2) maka statusnya T3,
status T4 di dapat apabila telah mendapatkan 4 dosis
(interval minimal 1 tahun dari dosis ke-3) dan status
83
T5 didapatkan bila 5 dosis telah didapat (interval
minimal 1 tahun dari dosis ke-4) (Sulistyawati, 2011
:120).
6) Menstruasi
Data ini memang tidak secara langsung
berhubungan dengan masa bersalin, namun dari data
yang kita akan mempunyai gambaran tentang keadaan
dasar dari organ reproduksinya. Beberapa data yang
harus kita peroleh dari riwayat menstruasi antara lain :
1) Menarche
Adalah usia pertama kali mengalami
menstruasi. Untuk wanita indonesia indonesia pada
usia sekitar 12-16 tahun.
2) Siklus menstruasi
Adalah jarak antara menstruasi yang dialami
dengan menstruasi berikutnya dalam hitungan hari,
biasanya sekitar 23-32 hari.
3) Volume
Data ini menjelaskan seberapa banyak darah
menstruasi yang dikeluarkan. Kadang kita akan
kesulitan untuk mendapatkan data yang valid.
Sebagai acuan biasanya kita gunakkan kriteria
banyak, sedang dan sedikit. Jawaban yang
84
diberikan oleh pasien biasanya bersifat subjektif,
namun kita dapat gali lebih dalam lagi dengan
beberapa pertanyaan pendukung seperti sampai
berapa kali ganti pembalut dalam sehari.
4) Keluhan
Beberapa wanita menyampaikan keluhan yang
dirasakan ketika mengalami menstruasi misalnya
sakit yang sangat, pening sampai pingsan, atau
jumlah darah yang banyak.Keluhan yang
disampaikan oleh pasien dapat menunjuk kepada
diagnosa tertenu.
c) Gangguan kesehatan alat reproduksi
Data ini sangat penting untuk kita gali karena akan
memberikan petunjuk bagi kita tentang organ
reproduksinya. Ada beberapa penyakit organ reproduksi
yang berkaitan erat dengan personal hygine pasien, atau
kebiasaan lainnya yang tidak mendukung kesehatan
reproduksinya.
Jika didapatkan ada salah satu atau beberapa riwayat
gangguan kesehatan alat reproduksi, maka kita harus
waspada akan adanya kemungkinan gangguan kesehatan
alat reprodusi pada masa intra sampai dengan
pascamelahirkan serta pengaruhnya terhadap kesehatan
85
bayi yang dilahirkannya. Beberapa data yang perlu kita
gali dari pasien adalah apakah pasien pernah mengalami
gangguan seperti keputihan, infeksi, gatal karena jamur,
atau tumor (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 221-222).
d) Riwayat kehamilan, persalinan, nifas, dan KB yang lalu.
Lama persalinan terdahulu sebagai Indikator lama
persalinan yang baik, memungkinkan untuk membedakan
antara persalinan primigravida dan sekundigravida
(gravida II) serta mengantisipasi perubahan pada
grandmultipara (Varney, 2002:86).
e) Riwayat kesehatan
Data dari riwayat kesehatan ini dapat kita gunakkan
sebagai “warning” akan adanya penyulit saat persalinan.
Perubahan fisik dan psikologis saat bersalin yang
melibatkan seluruh sistem dalam tubuh akan
mempengaruhi organ yang mengalami gangguan.
Beberapa data penting tentang riwayat kesehatan pasien
yang perlu kita ketahui adalah apakah pasien pernah atau
sedang menderita penyakit seperti jantung, diabetes
mellitus, ginjal, hipertensi, hipotensi, hepatitis, atau
anemia.
f) Status perkawinan
86
Data ini penting untuk kita kaji karena dari data ini kita
akan mendapatkan gambaran mengenai suasana rumah
tangga pasangan serta kepastian mengenai siapa yang akan
mendampingi persalinan. Beberapa pertanyaan yang dapat
diajukan.
1) Usia nikah pertama kali
2) Status pernikahan sah/tidak
3) Lama pernikahan
4) Perkawinan sekarang adalah suami yang ke berapa
g) Pola Makan
Data ini penting untuk diketahui agar bias mendapatkan
gambaran bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya
selama hamil sampai dengan masa awal persalinan. Data
focus mengenai asupan makanan pasien adalah sebagai
berikut.
1) Kapan atau jam berapa terakhir kali makan.
2) Makanan yang dimakan.
3) Jumlah makanan yang dimakan.
4) Seandainya saat ini ingin makan, apa yang ia inginkan
sebelum masuk pada fase persalinan dimana ia tidak
akan mungkin atau tidak ingin lagi untuk makan.
h) Pola minum
87
Pada masa persalinan, data mengenai intake cairan
sangat penting karena akan menentukan kecendrungan
terjadinya dehidrasi. Data yang perlu kita tanyakan
berkaitan dengan intake cairan adalah sebagai berikut.
1) Kapan terakhir kali minum.
2) Berapa banyak yang diminum.
3) Apa yang diminum.
Pada pertengahan sampai akhir kala I biasanya pasien
akan sangat membutuhkan cairan, bukan makanan
Disamping pasien sudah tidak berselera lagi untuk makan
karena rasa sakit akibat his, juga karena pengeluaran
keringat yang bertambah sehingga membutuhkan
pemasukan cairan lebih banyak (Sulistyawati dan
Nugraheny, 2012 : 223).
i) Pola Eliminasi
Anjurkan ibu dapat berkemih setiap 2 jam atau lebih
sering jika kandung kemih terasa penuh. Jika diperlukan,
bantu ibu untuk ke kamar mandi. Jika ibu tak dapat
berjalan ke kamar mandi, bantu agar ibu dapat duduk dan
berkemih di wadah penampung air. Jika kandung kemih
penuh yang penuh mengganggu penurunan kepala bayi.
Selain itu juga akan menambah rasa nyeri pada perut
bawah, menghambat penatalaksanaan distosia bahu,
88
menghalangi lahirnya plasenta dan perdarahan paska
persalinan (JNPK-KR, 2008: 82).
j) Gangguan kesehatan alat reproduksi
Data ini sangat penting untuk kita gali karena akan
memberikan petunjuk bagi kita tentang organ
reproduksinya. Ada beberapa penyakit organ reproduksi
yang berkaitan erat dengan personal hygine pasien, atau
kebiasaan lainnya yang tidak mendukung kesehatan
reproduksinya.
Jika didapatkan ada salah satu atau beberapa riwayat
gangguan kesehatan alat reproduksi, maka kita harus
waspada akan adanya kemungkinan gangguan kesehatan
alat reprodusi pada masa intra sampai dengan
pascamelahirkan serta pengaruhnya terhadap kesehatan
bayi yang dilahirkannya.
Beberapa data yang perlu kita gali dari pasien adalah
apakah pasien pernah mengalami gangguan seperti
keputihan, infeksi, gatal karena jamur, atau tumor
(Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 221-222).
k) Riwayat kehamilan, persalinan, nifas, dan KB yang lalu.
Lama persalinan sebelumnya merupakan indikasi yang
baik untuk memperkirakan lama persalinan kali ini
sehingga memungkinkan untuk membedakan antara
89
persalinan primigravida dan gravida kedua serta persalinan
dengan paritas yang semakin tinggi (Varney, 2007 : 692).
l) Personal hygiene
Data ini perlu kita gali karena akan sangat berkaitan
dengan kenyamanan pasien dalam menjalani proses
persalinannya. Beberapa pertanyaan yang perlu dianjurkan
berhubungan dengan perawatan kebersihan diri pasien.
(a) Kapan terakhir mandi, keramas, dan gosok gigi.
(b) Kapan terakhir ganti baju dan pakaian dalam
m)Aktivitas seksual
Data yang kita perlukan berkaitan dengan aktivitas
seksual adalah sebagai berikut.
1) Keluhan
2) Frekuensi
Kapan terakhir melakukan hubungan seksual
n) Keadaan lingkungan
Keadaan lingkungan sangat mempengaruhi status
kesehatan keluarga.Beberapa data yang bisa kita gali untuk
memastikan keadaan kesehatan keluarga antaralain :
Fasilitas MCK (mandi, cuci,kakus) Kita dapat
tanyakan tentang tempat melakukan kebiasaan BAB dan
BAK sehari-hari.Jika keluarga tidak mempunyai fasilitas
MCK pribadi, apakah di sekitar tempat tinggal mereka ada
90
fasilitas MCK umum, atau mungkin mereka biasa BAB
dan BAK disungai.
o) Respon keluarga terhadap persalinan
Bagaimanapun juga hal ini sangat penting untuk
kenyamanan psikologis pasien. Adanya respons positif
dari keluarga terhadap persalinan akan mempercepat
proses adaptasi pasien menerima peran dan kondisinya.
p) Pengetahuan pasien tentang proses persalinan
Data ini dapat kita peroleh dari beberapa pertanyaan
yang kita ajukan kepada pasien mengenai apa yang ia
ketahui tentang proses persalinan. Pengalaman atau
riwayat persalinan yang lalu dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan dalam menyimpulkan sejauh mana pasien
mengetahui tentang persalinan, karena terdapat perbedaan
dalam memberikan asuhan antara pasien yang sudah tahu
atau punya pengalaman tentang persalinandengan yang
sama sekali belum tahu tentang persalinan.
q) Adat istiadat setempat yang berkaitan dengan persalinan
Untuk mendapatkan data ini bidan perlu melakukan
pendekatan terhadapkeluarga pasien, terutama orang tua.
Ada beberapa kebiasaan yang mereka lakukan ketika anak
atau keluarganya menghadapi persalinan, dan sangat tidak
bijaksana bagi bidan jika tidak menghargai apa yang
91
mereka lakukan. Kebiasaan adat yang dianut dalam
menghadapi persalinan, selama tidak membahayakan
pasien, sebaiknyatetap difasilitasi karena ada efek
psikologis yang positif untuk pasien dan keluarganya.
2. Data Objektif
Merupakan pencatatan yang dilakukan dari hasil
pemeriksaan fisik. Bidan melakukan pengkajian data objektif
melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan
pemeriksaan penunjang yang dilakukan secara berurutan.
Langkah-langkah pemeriksaan :
a. Keadaan umum
Data ini didapat dengan mengamati keadaan pasien
secara keseluruhan. Hasil pengamatan yang dilaporkan
kriterianya adalah sebagai berikut.
1) Baik
Jika pasien memperlihatkan respon yang baik
terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik
pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan.
2) Lemah
Pasien dimasukkan dalam kriteria ini jika ia kurang
atau tidak memberikan respon yang baik terhadap
lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak
mampu berjalan sendiri.
92
b. Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran
pasien, kita dapat melakukan pengkajian derajat kesehatan
pasien dari keadaan komposmentis (kesadaran maksimal)
sampai dengan koma (pasien tidak dalam keadaan sadar)
(Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 224- 226).
c. Tinggi Badan
Di ukur dalam cm, tanpa sepatu. Tinggi badan kurang
dari 145 cm ada kemungkinan terjadi cepalo pelvic
disproposian (CPD).
d. Berat badan
Berat badan yang bertambah terlalu besar atau kurang,
perlu mendapatkan perhatian khusus karena kemungkinan
terjadi penyulit kehamilan. Kenaikan berat badan tidak
boleh dari 0,5 kg perminggu (walyani, 2015: 86)
e. Tanda vital
1) Tekanan darah
Pada kala I tekanan darah meningkat, sistolik rata-
rata naik 10-20 mmHg, diatolik 5-10 mmHg, diantara
kontraksi tekanan darah akan turun (normal), dan
meningkatkan lagi bila terjadi kontraksi (Sumarah et.
all, 2009 : 58).
2) Nadi
93
Nadi normal adalah 60 sampai 100 menit. Bila
abnormal mungkin ada kelainan paru-paru atau jantung
(walyani, 2015: 86).
3) Pernapasan
Fungsi sistem pernapasan yang utama adalah
mempertahankan pertukaran oksigen dan karbon
dioksida dalam paru-paru dan jaringan serta mengatur
keseimbangan asam basa (kestabilan konsentrasi ion
hidrogen pada tubuh) (Priharjo, 2007 : 81).
4) Suhu
Suhu badan normal adalah 36,5˚C sampai 37,5˚C.
Bila suhu lebih tinggi dari 37,5˚C kemungkinan ada
infeksi (walyani, 2015: 86).
f. Pemeriksaan fisik
1) Kepala
Kepala merupakan organ tubuh yang penting dikaji
karena dikepala terdapat organ-organ yang sangat
berperan dalam fungsi kehidupan. Inspeksi dengan
memperhatiakan bentuk kepala terdapat benjolan atau
tidak, nyeri tekan dan dan kebersihan kepala (Priharjo,
2007 : 47).
2) Muka
94
Pada daerah wajah/muka dilihat simetris atau tidak,
apakah kulitnya normal atau tidak, pucat/tidak, atau
ikhterus (Uliyah et. all, 2008 : 169).
3) Telinga
Pada pemeriksaan telinga bagian luar dapat dimulai
dengan pemeriksaan daun telinga dan liang telinga
engan menentukan bentuk, besar dan posisinya.
Pemeriksaan liang telinga ini dapat dilakukan dengan
bantuan otoskop. Pemeriksaan pendengaran
dilaksanakan dengan bantuan garfutala untuk
mengetahui apakah pasien mengalami gangguan
pendengaran atau tidak.
4) Mata
Pemeriksaan mata dilakukan untuk menilai adanya
visus atau ketajaman pengelihatan. Pemeriksaan skelera
bertujuan untuk menilai warna, apakah dalam keadaan
normal yaitu putih. Apabila ditemukan warna lain.
Pemeriksaan pupil, secara normal berbentuk bulat dan
simetris. Apabila diberikan sinar, akan mengecil.
Midriasis aatu dilatasi pupil menunjukkan adanya
rangsangan simpatis. Sedangkan miosis menunjukkan
kadaan pupil yang mengecil. Pupil yang berwarna putih
menunjukkan kemungkinan adanya pnyakit katarak.
95
Kondisi bola mata yang menonjol dinamakan
eksoftalmos dan bola mata mengecil dinamakan
enoftalmos.
Strabismus atau juling merupakan sumbu visual
yang tidak sejajar pada lapang gerakan bola mata, selain
itu terdapat nistagmus yang merupakan gerakan bola
mata ritmik yang cepat dan horizontal (Uliyah et. all,
2008 : 169).
5) Hidung
Hidung dikaji dengan tujuan untuk mengetahui
keadaan bentuk dan fungsi hidung.Pengkajian hidung
dimulai dari bagian luar, bagian dalam, kemudian sinus-
sinus.Pada pemeriksaan hidung juga dilihat apakah ada
polip dan kebersihannya (Priharjo, 2007 : 67).
6) Mulut
Pemeriksaan mulut bertujuan untuk menilai ada
tidaknya trismus, halitosis dan labioskisis. Trismus
yaitu kesukaran membuka mulut. Halitosis yaitu bau
mulut tidak sedap karena personal hygine yang kurang.
Labioskisis yaitu keadaan bibir tidak simetris.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan pada gusi untuk
menilai edema atau tanda-tanda radang (Uliyah et. all,
2008 : 169).
96
Pengkajian mulai mengamati bibir, gigi, gusi, lidah,
selaput lendir, pipi bagian dalam, lantai dasar mulut,
dan palatum/langit-langit mulut kemudian faring.
7) Leher
a) Pembesaran kelenjar limfe
Pembesaran kelenjar limfe dapat disebabkan oleh
berbagai penyakit, misalnya peradangan
akut/kronis di kepala, orofaring. Pembesaran limfe
juga terjadi pada beberapa kasus infeksi seperti
tuberculosis atau sifilis.
b) Kelenjar tyroid
Palpasi kelenjar tyroid dilakukan untuk
mengetahui adanya pembesaran tyroid (gondok)
yang biasanya disebabkan oleh kekurangan garam
yodium.
8) Payudara
Pada wanita hamil, payudara juga mengalami
perubahan. Payudara menjadi lebih besar akibat
proliferasi dan hipertrofi sel-sel alini dan kelenjar susu
(duktus laktiferus). Perubahan ini terjadi sebagai
respons terhadap hormon dari korpus luteum dan
plasenta.
9) Abdomen
97
Bentuk abdomen yang normal adalah simetris, baik
pada orang gemuk maupun pada orang kurus. Abdomen
menjadi besar dan tidak simetris pada berbagai keadaan,
misalnya kehamilan, tumor dalam rongga abdomen,
tumor ovarium atau tumor kandung kemih. Pada bagian
abdomen juga kita mendengarkan bissing usus yang
disebabkan oleh perpindahan gas atau makanan
sepanjang intestinum dan suara pembuluh darah serta
suara denyut jantung Janin (Priharjo, 2006 : 70-74, 118,
123 -127).
Leopold I : Menentukan tinggi fundus uteri, bagian
janin dalam fundus.
Leopold II : Menentukan batas samping rahim kanan-
kiri dan menentukan letak punggung
janin.
Leopold III : Menentukan bagian terbawah janin
sudah masuk atau masih dapat
digoyangkan.
Leopold IV : Berapa jauh janin masuk pintu atas
panggul (Manuaba, dkk. 2010 : 118-
119).
Tinggi Fundus Uteri
98
Sebelum bulan ke 3 fundus uteri belum dapat diraba
dari luar. 12 minggu → TFU Teraba → 1-2 jari di atas
simpisis
16 minggu → TFU Teraba → pertengahan simpisis-
pusat
20 minggu → TFU Teraba → 3 jari di bawah pusat
24 minggu → TFU Teraba → setinggi pusat
28 minggu → TFU Teraba → 3 jari di atas pusat
32 minggu → TFU Teraba → pertengahan px -pusat
36 minggu → TFU Teraba → Se-px/2-3 jari di bawah
px.
40 minggu → TFU Teraba → pertengahan px -pusat
Mengukur TFU Mc. Donald:
Jika belum masuk panggul (TFU-12) x 155
Jika sudah masuk panggul (TFU-11) x 155
(Jannah,2012:178)
10) Pemeriksaan janin
Pemantauan DJJ setiap 30 menit sekali berdasarkan
teori asuhan persalinan yang bertujuan untuk
memantau keadaan dan kesejahteraan janin (JNPK-
KR, 2008 : 57).
99
Frekuensi jantung bayi kurng dari 120 atau lebih dari
160x/menit dapat menunjukkan gawat janin dan harus
di evaluasi (Varney, 2007 : 693)
11) His
His bersifat teratur, interval semakin pendek dan
kekuatannya semakin besar, serta semakin beraktivitas
(jalan), semakin bertambah kekuatan kontraksinya
(Jannah, 2014 : 3).
Menurut teori Dibawah lajur waktu partograf terdapat
lima lajur kotak dengan tulisan “kontraksi per 10
menit” disebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak
menyatakan satu kontraksi. Setiap 30 menit, raba dan
catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lamanya
kontraksi dalam satuan detik (JNPK-KR, 2008 : 64).
Menurut teori keluhan persalinan yang dirasakan
menjelang persalinan yaitu pinggang terasa sakit dan
menjalar ke depan, sifat his teratur, intervalnya makin
pendek, dan kekuatannya makin besar terjadi
penambahan jika pesien menambah aktivitas misalnya
dengan berjalan-jalan.
12) Ekstremitas
100
Edema ekstremitas pergelangan kaki, pretibial, jari-
jari, dan wajah. Evaluasi adanya preeklamsi (Varney,
2002 : 88)
Edema merupakan tanda klasik preeklamsiia. Bidan
harus mengecek dan mengevaluasi edema pada
pergelangan kaki, area pratibia, jari atau wajah. Edema
pada kaki dan pergelangan kaki saja biasanya
merupakan edema dependen yang disebabkan oleh
penurunan aliran darah vena akibat penekanan uterus
yang membesar (Varney, 2007 : 693).
13) Genitalia
a) Kebersihan
b) Pengeluaran per vaginam
c) Tanda-tanda infeksi vagina
d) Pemeriksaan dalam
14) Anus
a) Hemoroid
b) Kebersihan
2.2.2.2 Langkah II Interprestasi data
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi data secara
benar terhadap diagnosis atau masalah kebutuhan pasien.
Masalah atau diagnosis yang spesifik dapat ditemukan
berdasarkan interprestasi yang benar terhadap data dasar. Selain
101
itu, sudah terpikirkan perencanaan yang dibutuhkan terhadap
masalah. Langkah awal dari perumusan diagnosis atau masalah
adalah pengolahan data dan analisis dengan menggabungkan
data satu dengan lainnya sehingga tergambar fakta.
Dalam langkah kedua ini, bidan membagi interprestasi data
dalam tiga bagian:
Diagnosa kebidanan
Dalam bagian ini yang disimpulkan oleh bidan antara lain :
1. Paritas
Paritas adalah riwayat reproduksi seorang wanita yang
berkaitan dengan kehamilannya (jumlah kehamilan)
dibedakan menjadi primigravida (hamil pertama kali) dan
multigravida (hamil kedua atau lebih).
a. Primigravida G1P0A0
1) G1 (gravida) berarti kehamilan yang pertama
2) P0 (partus nol) berarti belum pernah partus /
melahirkan satu kali
3) A0 (abortus nol) berarti pernah mengalami abortus
satu kali
b. Multigravida G3P1A1
1) G3 (gravid 3) berarti kehamilan yang ketiga
2) P1 (partus 1) berarti pernah partus/melahirkan
102
3) A1 (abortus 1) berarti belum pernah mengalami
abortus
2. Usia kehamilan (dalam minggu)
3. Kala dan fase persalinan
4. Keadaan janin normal atau tidak normal
2.2.2.3 Langkah III Identifikasi Diagnosis atau masalah Potensial
Pada langkah ini mengidentifikasi masalah atau diagnosis
potensial lain ini membutuhkan antisipasi, bila mungkin bila
dilakukan pencegahan. Sambil mengamati pasien, bidan, bidan
diharapkan siap bila diagnosis atau masalah potensial benar-
benar terjadi (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 228 - 229).
2.2.2.4 Langkah IV Identifikasi dan Penetapkan Kebutuhan yang
Memerlukan Penanganan Segera
Bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau dokter
melakukan konsultasi atau penanganan segera bersama anggota
tim kesehatan lain dengan kondisi klien. Dalam kondisi tertentu,
seorang bidan mungkin juga perlu melakukan konsultasi atau
kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lain seperti pekerja
sosial, ahli gizi, atau seorang ahli perawatan klinis bayi baru
lahir. Dalam hal ini, bidan harus mampu mengevaluasi kondisi
setiap klien untuk menentukan kepada siapa sebaiknya
konsultasi dan kolaborasi dilakukan (Soepardan: 2008:100-101).
103
1. Masalah
Dalam asuhan kebidanan istilah “masalah” dan “diagnosa”
dipakai keduanya karena beberapa masalah tidak dapat
didefinisikan sebagai diagnosa, tetapi perlu dipertimbangkan
untuk membuat rencana yang menyeluruh. Masalah sering
berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami
kenyataan terhadap diagnosisnya.
2. Kebutuhan
Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien
berdasarkan keadaan dan masalahnya. Contohnya kebutuhan
untuk KIE, bimbingan tentang kontrol pernapasan dan posisi
untuk meneran (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 229).
2.2.2.5 Langkah V Perencanaan Asuhan Secara Menyeluruh
Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh
yang ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya.
Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen untuk masalah
diagnosis yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada
langkah ini data yang belum lengkap dapat dilengkapi
(soepardan, 2008: 101).
Pada tahap ini bidan melakukan perencanaan terstruktur
berdsasarkan tahap persalinan. Dasar perencanaan tidak lepas
dari interprestasi data, termasuk persiapan peralatan dan obat
104
yang harus tersedia. Perencanaan pada persalinan kala I-IV
adalah sebagai berikut.
1. Kala I
a. Dukungan emosional
b. Pengaturan posisi
c. Pemberian cairan
d. Kebersihan
e. Penilaian dengan partograf
2. Kala II
a. Anjurkan pendamping memberikan dorongan/ dukungan
selama proses persalinan dan kelahiran.
b. Berikan dorongan dan besarkan hati ibu
c. Penolong harus memberikan rasa aman dan nyaman
d. Biarkan ibu memilih posisi yang sesuai untuk meneran
e. Beri pujian saat ibu mengejan
f. Kipas dan pijat untuk menambah kenyamanan bagi ibu
g. Jaga kebersihan diri
h. Beri dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau
ketakutan ibu
i. Atur posisi ibu dalam membimbing mengedan
j. Jaga kandung kemih tetap kosong
k. Beri cukup minum
105
l. Periksa denyut jantung janin (DJJ) pada saat kontraksi dan
setelah setiap kontraksi.
3. Kala III
a. Lakukan palpasi ada tidaknya bayi kedua
b. Beri suntikan oksitosin dosis 0,5 cc secara IM
c. Libatkan keluarga dalam pemberian minum
d. Lakukan pemotongan tali pusat
e. Lakukan PTT
f. Lahirkan plasenta
4. Kala IV
a. Pemeriksaan fundus uteri tiap 15 menit
b. Pemeriksaan tekanan darah, nadi, kandung kemih dan
perdarahan setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap
30 menit selama jam kedua
c. Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah dehidrasi dan
menawarkan ibu makanan dan minum yang disukainya
d. Bersihkan ibu dan kenakkan pakaian ibu yang bersih dan
kering
e. Biarkan ibu beristirahat
f. Biarkan bayi berada pada ibu
g. Mulai memberikan ASI
h. Ajari keluarga untuk memasase
106
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh
berdasarkan langkah sebelumnya. Semua perencanaan
yang dibuat harus berdasarkan pertimbangan yang tepat
meliputi pengetahuan, teori yang terbaru, evidence based
care, serta divalidasi dengan asumsi mengenai apa yang
diinginkan dan tidak diinginkan pasien (Sulistyawati dan
Nugraheny, 2012 : 230, 237-238).
2.2.2.6 Langkah VI Pelaksanaan
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana
sebelumnya, baik terhadap masalah pasien ataupun diagnosa
yang ditegakkan, pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh bidan
secara mandiri ditegakkan. Pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh
bidan secara mandiri maupun berkolaborasi dengan tim
kesehatan lainnya (Wildan dan hidayat, 2012 : .35).
2.2.2.7 Langkah VII Evaluasi
Merupakan tahap terakhir dalam manajemen kebidanan,
yakni dengan melakukan evaluasi dan perencanaan maupun
pelaksanaan yang dilakukan bidan. Evaluasi sebagai bagian dari
proses yang dilakukan secara terus menerus untuk
meningkatkan pelayanan secara komprehensif dan selalu
berubah sesuai dengan kondisi Atau kebutuhan klien
(Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 220-237).
107
2.3 Landasan Hukum Kewenangan Bidan
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor
1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan,
kewenangan yang dimiliki bidan meliputi:
Kewenangan normal:
Kewenangan normal adalah kewenangan yang dimiliki oleh seluruh bidan.
Kewenangan ini meliputi:
1. Pelayanan Kesehatan Ibu
a. Ruang lingkup:
Pelayanan konseling pada masa pra hamil
1) Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
2) Pelayanan persalinan normal
3) Pelayanan ibu nifas normal
4) Pelayanan ibu menyusui
5) Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan
b. Kewenangan:
1) Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II
2) Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan
3) Pemberian tablet Fe pada ibu hamil
4) Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas, fasilitasi /
bimbingan inisiasi menyusu dini (IMD) dan promosi air susu ibu
(ASI) eksklusif
108
5) Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga
dan postpartum
6) Penyuluhan dan konseling
7) Bimbingan pada kelompok ibu hamil
8) Pemberian surat keterangan kematian
9) Pemberian surat keterangan cuti bersalin
2. Pelayanan Kesehatan Anak
a. Ruang lingkup:
1) Pelayanan bayi baru lahir
2) Pelayanan bayi
3) Pelayanan anak balita
4) Pelayanan anak pra sekolah
b. Kewenangan
1) Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk resusitasi,
pencegahan hipotermi, inisiasi menyusu dini (IMD), injeksi
vitamin K 1
2) perawatan bayi baru lahir pada masa neonatal (0-28 hari), dan
perawatan tali pusat
3) Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk
4) Penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan dengan perujukan
5) Pemberian imunisasi rutin sesuai program Pemerintah
6) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan anak pra
sekolah
109
7) Pemberian konseling dan penyuluhan
8) Pemberian surat keterangan kelahiran
9) Pemberian surat keterangan kematian
c. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana,
dengan kewenangan:
1) Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi
perempuan dan keluarga berencana
d. Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom
Selain kewenangan normal sebagaimana tersebut di atas, khusus bagi
bidan yang menjalankan program Pemerintah mendapat kewenangan
tambahan untuk melakukan pelayanan kesehatan yang meliputi:
1) Pemberian alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam rahim,
dan memberikan pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit
2) Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit
kronis tertentu (dilakukan di bawah supervisi dokter)
3) Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman yang
ditetapkan
4) Melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan
ibu dan anak, anak usia sekolah dan remaja, dan penyehatan
lingkungan
5) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra sekolah
dan anak sekolah
6) Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas
110
7) Melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan penyuluhan
terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk pemberian
kondom, dan penyakit lainnya
8) Pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
lainnya (NAPZA) melalui informasi dan edukasi
9) Pelayanan kesehatan lain yang merupakan program Pemerintah
Khusus untuk pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit, asuhan
antenatal terintegrasi, penanganan bayi dan anak balita sakit, dan
pelaksanaan deteksi dini, merujuk, dan memberikan penyuluhan
terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) dan penyakit lainnya, serta
pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
lainnya (NAPZA), hanya dapat dilakukan oleh bidan yang telah
mendapat pelatihan untuk pelayanan tersebut
Selain itu, khusus di daerah (kecamatan atau kelurahan/desa) yang
belum ada dokter, bidan juga diberikan kewenangan sementara untuk
memberikan pelayanan kesehatan di luar kewenangan normal,
dengan syarat telah ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota. Kewenangan bidan untuk memberikan pelayanan
kesehatan di luar kewenangan normal tersebut berakhir dan tidak
berlaku lagi jika di daerah tersebut sudah terdapat tenaga dokter.
(http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/archives/171,8-4-2015,10.00
WiB).
111
2.4 Kompetensi Bidan
Kompetensi 4 : Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tanggap
terhadap kebudayaan setempat selama persalinan, memimpin suatu persalinan
yang bersih dan aman, menangani situasi kegawatdaruratan tertentu untuk
mengoptimalkan kesehatan ibu dan bayinya yang baru lahir.
2.4.1 Pengetahuan Dasar
2.4.1.1 Fisiologi persalinan
2.4.1.2 Anatomi tengkorak janin, diameter yang penting dan penunjuk
2.4.1.3 Aspek psikologi dan kultur pada persalinan dan kelahiran
2.4.1.4 Indicator tanda-tanda dimulainya persalinan
2.4.1.5 Kemajuan persalinan normal dan penggunaan partograf atau
alat serupa
2.4.1.6 Penilaian kesejahteraan janin dalam masa persalinan
2.4.1.7 Penilaian kesejahteraan ibu dalam masa persalinan
2.4.1.8 Proses penurunan janin melalui pelvis selamapersalinan dan
kelahiran
2.4.1.9 Pengelolaan dan penatalaksanaan persalinan paada kehamilan
atau ganda
2.4.1.10 Pemberian kenyamanan selama persalinan
2.4.1.11 Transisi bayi baru lahir terhadap kehidupan diluar uterus
2.4.1.12 Pemenuhan kebutuhan fisik bayi baru lahir
2.4.1.13 Pentingnya pemenuhan kebutuhan emosional bayi baru lahir
2.4.1.14 Mendukung dan meningkatkan pemberian ASI eksklusif
112
2.4.1.15 Manajemen fisiologi, kala III
2.4.1.16 Memberikan suntikan intramuscular
2.4.1.17 Indikasi tindakan kedaruratan kebidanan
2.4.1.18 Indikasi tindakan operatif pada persalinan
2.4.1.19 Indikator komplikasi persalinan
2.4.1.20 Prinsip manajemen kala III, secara fisiologis
2.4.1.21 Prinsip manajemen aktif kala III
2.4.2 Keterampilan Dasar
2.4.2.1 Mengumpulkan data yang berfokus pada riwayat kebidanan
dan tanda-tanda vital ibu pada persalinan sekarang
2.4.2.2 Melaksanakan pemeriksaan fisik yang terfokus
2.4.2.3 Melakukan pemeriksaan abdomen secara lengkap untuk
mengkaji posisi dan penurunan janin
2.4.2.4 Mencatat waktu dan mengkaji kontraksi uterus (lama,
kekuatan, dan frekuensi)
2.4.2.5 Melakukan pemeriksaan panggul (pemeriksaan dalam) secara
lengkap dan akurat
2.4.2.6 Melakukan pemantauan kemajuan persalinan dengan
menggunakan partograf
2.4.2.7 Memberikan dukungan fisiologis bagi wanita dan keluarganya.
2.4.2.8 Memberikan cairan, nutrisi dan kenyamananyang adekuat
selama persalinan
113
2.4.2.9 Mengidentifikasi secara dini kemungkinan persalinan
abnormal
2.4.2.10 Melakukan amniotomi pada pembukaan serviks lebih dari 4cm
sesuai dengan indikasi
2.4.2.11 Menolong kelahiran bayi dengan lilitan tali pusat
2.4.2.12 Melaksanakan manajemen fisiologis kala III
2.4.2.13 Melaksanakan manajemen aktif kala III
2.4.2.14 Memberikan suntikan intramuscular
2.4.2.15 Memasang infus, mengambil darah untuk pemeriksaan
hemoglobin
2.4.2.16 Menahan uterus untuk mencegah terjadinya inverse uteri dalam
kala III
2.4.2.17 Memeriksa kelengkapan plasenta dan selaputnya
2.4.2.18 Memperkirakan jumlah darah yang keluar pada persalinan dengan
benar
2.4.2.19 Memeriksa robekan vagina, serviks dan perineum
2.4.2.20 Menjahit robekan vagina dan perineum tingkat II
2.4.2.21 Melakukan pengeluaran plasenta secara manual
2.4.2.22 Mengelola perdarahan postpartum
2.4.2.23 Memindahkan ibu untuk tindakan tambahan dengan tepat
waktu sesuai indikasi
2.4.2.24 Memberikan lingkungan yang aman dengan meningkatkan
hubungan/ tali kasih ibu dan bayi baru lahir
114
2.4.2.25 Memfasilitasi ibu untuk menyusui sesegera mungkin dan
mendukung ASI eksklusif
2.4.2.26 Mendokumentasikan temuan-temuan yang penting dan
intervensi yang dilakukan
2.4.3 Keterampilan Tambahan
2.4.3.1 Menolong kelahiran presentasi muka dengan penempatan dan
gerak tangan yang tepat
2.4.3.2 Memberikan suntikan anastesi local jika diperlukan
2.4.3.3 Melakukan ekstraksi forsef rendah dan vakum jika diperlukan
sesuai dengan kewenangan
2.4.3.4 Mengidentifikasi dan mengelola malpresentasi, distosia bahu,
gawat janin, dan kematian janin dalam kandungan dengan
tepat
2.4.3.5 Mengidentifikasi dan mengelola tali pusat menumbung
2.4.3.6 Mengidentifikasi dan menjahit robekan serviks
2.4.3.7 Membuat resep dan atau memberikan obat-obatan untuk
mengurangi nyeri jika diperlukan sesuai kewenangan
2.4.3.8 Memberikan oksitosin dengan tepat untuk indikasi dan
akselerasi persalinan dan penanganan perdarahan postpartum
(Soepardan, 2008 : 62-65).
115
BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN TERHADAP NY. I
UMUR 25 TAHUN G1P0A0 UMUR KEHAMILAN 36 MINGGU
4 HARI DI BPM ROSBIATUL ADAWIYAH, SKM.M.Kes
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015
Oleh : Rika Agustina M.Y
Tanggal : 07 April 2015
Pukul : 11.30 Wib
3.1 Pengkajian
A. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas
Nama Istri : Ny. I Nama Suami : Tn. R
Umur : 25 th Umur : 29 th
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa Suku/Bangsa : Jawa
Pendidikan : S1 Pendidikan : S1
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Badak Ujung No. 266, Gunung Terang,
Bandar Lampung
2.Keluhan utama : Ibu datang dengan keluhan nyeri pada daerah
pinggang yang menjalar keperut bagian bawah
116
sejak pukul 04.00 dan keluar lendir bercampur
darah dari jalan lahir sejak pukul 06.00 WIB.
3. Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu
Anak
Ke
Kehamilan Persalinan
Usia Penyulit Jenis
Persalinan
BB bayi Penolong Penyulit
Hamil ini 36 mgg
4 hari
4. Riwayat kehamilan sekarang
a. Riwayat Menstruasi
Menarche : 13 tahun
Siklus : 28 hari
Lama : 7 hari
Keluhan : Tidak ada
Volume : 3-4 kali sehari ganti pembalut
HPHT : 25-7-2014
b. Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir: > 10 x dalam 24 jam
c. Keluhan yang dirasakan sekarang : Nyeri pada daerah
pinggang yang menjalar
ke perut bagian bawah
dan disertai pengeluaran
lendir bercampur darah
117
d. Tanda-tanda persalinan
a) His
Sejak kapan : 04.00 Wib
Frekuensi : 3 x dalam 10 menit
Lamanya : 30 detik
Irama : Teratur
e. Pengeluaran pervaginam : Lendir bercampur darah
f. Riwayat Imunisasi TT
TT1 : Tanggal 14 oktober 2014
TT2 : Tanggal 14 november 2014
g. Pola eliminasi
BAK terakhir : 30 menit yang lalu
BAB terakhir : 30 menit yang lalu
h. Keluhan Lain : Tidak ada
5. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan yang sedang diderita
Jantung : Tidak ada
DM : Tidak ada
Ginjal : Tidak ada
Hipertensi : Tidak ada
Hepatitis : Tidak ada
Anemia : Tidak ada
118
b. Riwayat kesehatan keluarga
Jantung : Tidak ada
DM : Tidak ada
Ginjal : Tidak ada
Hipertensi : Tidak ada
Hepatitis : Tidak ada
Anemia : Tidak ada
c. Perilaku kesehatan ibu
Mengkonsumsi obat-obatan : Iya, ibu mengkonsumsi tablet fe,
kalsium, asam folat dan vitamin
Mengkonsumsi alkohol : tidak pernah
Merokok : tidak pernah
d. Riwayat sosial
Kehamilan saat ini direncanakan tidak : Ya, direncanakan
Status pernikahan : Sah
Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan
nifas : tidak ada
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum : Baik
b. Kesadaran : Compos mentis
119
c. TTV Tekanan Darah : 110
/70 mmHg
Pernafasan : 20 x
/i
Nadi : 86 x
/i
Suhu : 37,20
C
d. Tinggi badan : 159 cm
e. Berat badan sebelum hamil : 50 kg
f. Berat badan sekarang : 65 kg
g. Lila : 28cm
h. Tafsiran persalinan : 01 April 2015
2. Pemeriksaan Khusus Kebidanan
a. Rambut
Warna : Hitam
Kebersihan : Bersih
Mudah rontok/tidak : Tidak
Nyeri tekan : Tidak ada
b. Muka
Pucat : Tidak
Oedema : Tidak
c. Mata
Konjungtiva : Merah muda
Sklera : putih
Gangguan penglihatan : Tidak ada
120
d. Telinga
Kebersihan : Bersih
Gangguan pendengaran : Tidak ada
e. Hidung
Polip : Tidak ada pembengkakan
Kebersihan : Bersih
f. Mulut
Bibir : Lembab
Lidah : Bersih
Gigi : Tidak ada caries
Gusi : Tidak bengkak dan tidak berdarah
g. Leher
Pembesaran kelenjar limfe : Tidak ada
Pembesaran kelenjar tyroid : Tidak ada
h. Dada
Simetris : Iya, kanan dan kiri
Rasa nyeri : Tidak ada
Benjolan : Tidak ada
Hiperpigmentasi : Ada pada areola
Keadaan putting : Menonjol
Pengeluaran : Ada kolostrum
Kebersihan : Bersih
Gangguan : Tidak ada
121
i. Abdomen
Inspeksi
Bekas luka operasi : Tidak ada
Linea : Ada
Striae : Ada
Acites : Tidak ada
Palpasi
Tumor : Tidak ada
Benjolan : Tidak ada
Leopold I : TFU 3 jari dibawah px, Bagian teratas perut
ibu teraba bulat yang besar, lunak, tidak
melenting yaitu bokong janin
Leopold II : Bagian kanan perut ibu teraba bagian – bagian
kecil yaitu ekstermitas janin bagian kiri perut
ibu teraba keras, datar, memapan yaitu
punggung janin
Leopold III : Bagian terbawah perut ibu teraba bulat, keras
dan tidak dapat digoyangkan yaitu kepala janin
Leopold IV :Divergen
Penurunan kepala : 2/5
TFU Mc. Donald : 32 cm
TBJ (Rumus Jhon Thausak) : (TFU-11) x 155
(32-11) x 155 = 3255 gr
122
DJJ: Punctum maksimum 3 jari dibawah pusat sebelah kiri perut
ibu dengan frekuensi 140×/menit, dan irama teratur.
j. Ekstermitas
Atas
Bentuk : Normal
Kuku jari : Merah muda
Oedema : Tidak ada
Bawah
Bentuk : Normal
Kuku jari : Merah muda
Oedema : Tidak ada
Varices : Tidak ada
Reflek patella : (+) Kanan kiri
k. Anogenital
Kebersihan : Bersih
Pengeluaran pervaginam : Ada, lendir bercampur darah
Tanda infeksi vagina : Tidak ada
Varices : Tidak ada
Odema : Tidak ada
Kelenjar bartholini : Tidak ada pembengkakan
Perineum : Tidak ada luka parut
123
l. Anus
Hemoroid : Tidak ada
Kebersihan : Bersih
Pemeriksaan Dalam
Indikasi : Untuk memantau kemajuan persalinan dan
pembukaan serviks
Tanggal : 07 April 2015, 11.30 Wib
Dinding vagina : Tidak teraba sistokel dan rektokel
Portio : Searah jalan lahir
Konsistensi : Lunak
Pendataran : 80%
Pembukaan : 8 cm
Ketuban : Positif
Presentasi : Belum dilakukan
Penunjuk : Belum dilakukan
Posisi : Belum dilakukan
Penurunan : Belum dilakukan
Molase : Belum dilakukan
3. Data Penunjang
USG : Tidak dilakukan
Laboratorium
Darah
Kadar HB : Tidak dilakukan
124
Golongan darah : Tidak dilakukan
Kadar leukosit : Tidak dilakukan
Urine
Protein urine : Tidak dilakukan
Glukosa urine : Tidak dilakukan
125
BAB III
MATRIKS
Tgl/jam Pengkajian Interpretasi Data
(Diagnosis, Masalah,
Kebutuhan)
DX
Potensial/
Masalah
Potensial
Antisipasi /
Tindakan
Segera
Intervensi Implementasi Evaluasi
07 april
2015/
11.30
wib
Ds :
1. Ibu
mengatakan
nyeri pada
daerah
pinggang yang
menjalar
keperut bagian
bawah sejak
pukul 04.00
wib dan keluar
lendir
bercampur
darah dari jalan
lahir sejak
pukul 06.00
wib.
2. Ibu
mengatakan ini
kehamilan
Dx ibu:
Ny. I umur 25 tahun
G1P0A0 usia kehamilan
36 minggu 4 hari inpartu
kala1 fase aktif.
Dasar :
Ds:
1. Ibu mengatakan ini
kehamilan yang
pertama, belum
pernah melahirkan
dan tidak pernah
keguguran.
2. Ibu mengatakan
HPHT tanggal 25-
07-2014
Tidak ada Tidak ada 1.Jelaskan
kondisi ibu dan
janin saat ini.
2.Hadirkan
pendamping
dalam proses
persalinan
3.Jelaskan pada
ibu tentang
keluhan yang ia
1. Menjelaskan pada ibu kondisi ibu saat
ini dalam keadaan baik, dan kondisi
janinnya dalam keadaan baik.
2. Menghadirkan pendamping atau orang
terdekat seperti suami atau keluarga
ibu untuk menemani ibu dalam
menghadapi proses persalinan agar
dapat memberikan dukungan serta
semangat pada ibu selama persalinan.
3. Menjelaskan pada ibu bahwa keluhan
rasa nyeri yang dirasakan ibu adalah
hal yang fisiologis karena semakin
terasa mules pada perut, maka ibu
1. Ibu telah
mengetahui
kondisi dirinya
dan juga
janinnya saat ini
2. Ibu di dampingi
oleh suaminya
dalam proses
persalinan.
3. Ibu mengerti
tentang keluhan
yang ia rasakan
dan akan
mengurangi nyeri
126
yang pertama,
tidak pernah
melahirkan
dan tidak
pernah
keguguran.
3. Ibu
mengatakan
HPHT tanggal
25-07-2014
Do :
Keadaan umum :
baik
Kesadaran :
Compos mentis
TD :110/70mmHg
N : 86x/mnt
S : 37,2O
C
RR: 26 x/mnt
Tanggal kunjungan
07-04-2015
3. Ibu mengatakan
nyeri pada daerah
pinggang yang
menjalar keperut
bagian bawah serta
keluar lendir
bercampur darah dari
jalan lahir.
Do :
Keadaan umum : Baik
Kesadaran: Compos
mentis
TD : 110/70mmHg
N : 86x/mnt
S : 37,2O
C
RR : 26x/mnt
rasakan dan
anjurkan suami
ibu untuk
masase
punggung ibu
4.Sarankan ibu
untuk memilih
posisi yang
nyaman.
semakin merasakan nyeri karena
pengaruh dari hormon progesteron dan
menganjurkan suami untuk masase
punggung bagian belakang ibu untuk
mengurangi rasa nyeri.
4. Menyarankan ibu untuk memilih
posisi yang nyaman pada saat proses
akan bersalin, diantaranya: jongkok
untuk memungkinkan bahu turun ke
panggul dan bukan terhalang (macet)
diatas simfisis pubis, setengah duduk
untuk membantu dalam penurunan
janin ke panggul, berdiri untuk
memperbesar ukuran panggul,
merangkak untuk membantu
kesehatan janin dalam penurunan
lebih dalam ke panggul, dan miring
kiri untuk mencegah terjadinya
laserasi dan melancarkan sirkulasi
oksigen dari ibu ke janin, serta tidak
dianjurkan untuk tidur terlentang
karena dapat menyebabkan hipoksia
dengan tekhnik
relaksasi serta
suami bersedia
untuk memasase
punggung ibu.
4. Ibu memilih
posisi miring kiri.
127
Hasil pemeriksaan
fisik dalam batas
normal
Hasil pemeriksaan
palpasi :
Leopold I: TFU 3
jari dibawah px,
Bagian teratas
perut ibu teraba
bulat yang besar,
lunak, tidak
melenting yaitu
bokong janin.
Leopold II:
Bagian kanan
perut ibu teraba
bagian-bagian
kecil yaitu
ekstermitas janin.
Bagian kiri perut
Hasil pemeriksaan fisik
dalam batas normal.
His:3x/10’/35”
PD :
pendataran 80%
pembukaan 8cm,
ketuban positif
Dx janin: janin tunggal
hidup intrauterine
presentasi kepala
Dasar:
Ds: Ibu merasakan
gerakan janinnya .
5.Berikan ibu
asupan nutrisi
baik makan
maupun minum
atau kekurangan pasukan oksigen
pada janin dan berhubungan dengan
gangguan terhadap proses kemajuan
persalinan.
5. Memberikan ibu asupan nutrisi baik
makan seperti roti maupun minum
seperti air putih dan teh hangat manis
untuk menambah tenaga ibu dalam
proses persalinan.
6. Mempertahankan kandung kemih ibu
tetap kosong agar tidak mengganggu
kontraksi dan mempercepat penurunan
kepala dengan cara menganjurkan ibu
untuk buang air kecil saat ada
keinginan untuk buang air kecil.
7. Menyiapkan alat-alat persalinan
diantaranya:
5. Ibu telah
memakan
sepotong roti dan
meminum air
putih dan teh
hangat manis.
6. Kandung kemih
ibu kosong
128
ibu teraba keras,
datar, memapan
yaitu punggung
janin.
Leopold III:
Bagian terbawah
perut ibu teraba
bulat, keras dan
tidak dapat
digoyangkan yaitu
kepala janin.
Leopold IV:
Divergen
DJJ : puntum
maximum 3 jari
dibawah pusat
sebelah kiri perut
ibu dengan
frekuensi
140x/menit dan
irama teratur.
Do:
Leopold I: TFU 3 jari
dibawah px, Bagian
teratas perut ibu teraba
bulat, lunak, tidak
melenting yaitu bokong
janin.
Leopold II: Bagian kanan
perut ibu teraba bagian –
bagian kecil yaitu
ekstermitas janin
Bagian kiri perut ibu
teraba keras, datar,
memapanyaitu punggung
janin.
Leopold III: Bagian
terbawah perut ibu teraba
bulat, keras dan tidak
dapat digoyangkan.
6.Pertahankan
kandung kemih
ibu tetap
kosong
7.Siapkan alat-
alat persalinan
a. Partus set : handscoon 2 pasang,
klem tali pusat,gunting tali pusat,
gunting epis,1/2 koher,nelaton
kateter, pengikat tali pusat, kasa.
b. Hetting set: naldpuder, gunting
benang, cutget, nald, pinset.
c. APD:Tudung kepala, masker,
kacamata, celemek,sepatu boat.
d. Persiapan ibu:kain, baju, celana
dalam, pembalut, gurita.
e. Persiapan bayi: alat resusitasi, lampu
sorot, bedong, popok, pakaian bayi
f. Korentang
g. Kom tertutup untuk air DTT dan
kapas sublimat
h. Kom kecil untuk obat
i. 3 buah spuit untuk obat yaitu
oxytosin,lidocain, dan ergometrin
j. Bengkok dan pisvo
k. Monokuler
l. Alat TTV : tensi,temp,stetoskop dan
jam tangan
m.Infuset
n. Aboket
o. 3 cairan RL
p. Beberapa handscoon steril
q. 3 ember (u/ sampah basah, kering,
pakaian kotor), tempat sampah
tajam.
r. 3 wascom( u/ air klorin, ar sabun, air
setelah
dianjurkan buang
air kecil saat ada
keinginan untuk
buang air kecil.
7. Alat-alat untuk
persalinan sudah
disiapkan.
129
Penurunan kepala:
2/5.
TFU Mc.D: 32cm
(TFU-11/12)x155
= (32-11) x 155
= 21 x 155 = 3255
His:3x/10’/35”
PD :
pendataran 80%
pembukaan 8cm,
ketuban positif,
Leopold IV: Divergen
Penurunan kepala: 2/5
TFU Mc.D: 32cm
TBJ:
(TFU-11/12) x 155
= (32-11) x 155
= 21 x 155 = 3255
DJJ :puntum maximum 3
jari dibawah pusat
sebelah kiri perut ibu
dengan frekuensi
140x/menit, dan irama
teratut.
Masalah :
Tidak ada
8. Pantau
kemajuan
persalinan ,
keadaan ibu,
bersih.
s. 2 buah handuk
t. Tempat sampah untuk sampah medis
dan sampah non medis.
u. 3 buah washlap
v. Persiapan air klorin
8. Memantau kemajuan persalinan.
130
Kebutuhan :
Asuhan kala I
dan keadaan
janin
menggunakan
partograf.
8. Hasil
pemantauan
menggunakan
partograf dalam
batas normal
(partograf
terlampir).
11.30
kemajuan
persalinan yang
meliputi:
pembukaan 8 cm,
penurunan kepala
belum diketahui.
His : 3x/10’/35”.
131
Keadaan ibu :
TD: 110
/70mmHg,
N: 86x/menit, T:
37,2ºC, RR:
20x/menit, ibu
diberikan asupan
nutrisi berupa
roti, air putih,
dan teh hangat
manis dan
pengeluaran urin
10cc / jam.
Keadaan janin :
Djj : 140x/menit,
ketuban utuh, dan
moulase belum
diketahui.
12.00
DJJ : 147 x/i
His : 3x/10’/40”
132
N : 86 x/i
12.30
DJJ : 146 x/i
His : 3x/10’/40”
N : 85 x/i
13.00
DJJ : 147 x/i
His : 3x/10’/45”
N : 86 x/i
13.30
DJJ : 148 x/i
His : 4x/10’/45”
N : 88 x/i
T : 37,3 ºC
133
14.00
DJJ : 148 x/i
His : 5x/10’/45”
N : 83 x/i
14.30
DJJ : 145 x/i
His :5x/10’/55”
N : 80x/i
07 April
2015/
15.30
wib
Ds:
Ibu mengatakan
sudah ingin
mengedan.
Ibu mengatakan
merasa cemas
dalam
menghadapi
Dx : Ny. I umur 25
tahun G1P0A0usia
kehamilan 36 minggu 4
hari inpartu kala II.
DS:
Ibu mengatakan ini
kehamilan yang pertama,
belum pernah melahirkan
dan tidak pernah
Tidak ada Tidak ada 1. Beritahu
kondisi ibu
dan janinnya.
2. Jelaskan pada
ibu tentang
keluhan yang ia
1. Memberitahu keadaan ibu dan
janinnya saat ini dalam keadaan baik.
Pembukaan telah lengkap dan ibu
boleh mengedan.
2. Menjelaskan pada ibu bahwa keluhan
yang ia rasakan adalah hal yang
normal karena beberapa faktor yang
mempengaruhi dalam proses
persalinan yaitu peningkatan
frekuensi dan irama his, semakin
1.Ibu sudah
mengetahui
kondisinya saat
ini dan juga
janinnya.
2.Ibu mengerti
tentang keluhan
yang ia rasakan
saat ini.
134
proses persalinan.
Do :
His: 5x/10’/55”
Terlihat Tanda
gejala kala II
yaitu : Dorongan
meneran, Tekanan
anus, Perineum
menonjol, Vulva
membuka.
Keluar lendir
bercampur darah
semakin banyak
dari jalan lahir.
keguguran.
HPHT : 25-7-2014
Ibu mengatakan nyeri
pinggang menjalar
keperut bagian bawah
semakin lama semakin
sering, dan kuat.
Do :
His: 5x/10’/55”
Terlihat tanda gejala kala
II yaitu: Dorongan
meneran, Tekanan anus,
Perinium menonjol,
Vulva membuka.
rasakan
3. Ajarkan ibu
cara meneran
dan relaksasi.
turunnya kepala janin kedasar
panggul maka ibu semakin merasa
sakit.
3. Mengajarkan ibu cara meneran yang
benar yaitu saat ada his, kepala ibu
diangkat sampai dagu menempel
dada, dan mata membuka melihat
kearah perut ibu, kedua tangan
merangkul dilipatan paha dan dibawa
kearah dada ibu, ,gigi dikatupkan,
serta mengedan seperti BAB,bukan
dileher. Dan saat tidak ada his,ibu
dianjurkan untuk relaksasi seperti
menarik nafas dari hidung dan
keluarkan melalui mulut.
4. Memberikan asupan cairan pada ibu
disaat tidak ada kontraksi seperti teh
hangat manis,air putih untuk
menambah tenaga ibu saat akan
melahirkan bayinya,disaat tidak ada
kontraksi
5. Memimpin ibu untuk mengedan
disaat ada his, dan menganjurkan ibu
3.Ibu mengedan
dengan baik
saat ada his,
dan ibu saat
tidak ada his
melakukan
relaksasi.
4. Ibu telah
135
PD:
Dinding vagina
tidak ada sistokel
dan rektokel,
porsio sejajar,
konsistensi lunak,
pendataran 100%,
Pembukaan 10cm,
ketuban (-),
presentasi kepala,
penunjuk UUK,
posisi kanan
depan, penurunan
hodge III, dan
tidak ada molase.
DJJ :140x/menit.
Keluar lendir bercampur
darah semakin banyak
dari jalan lahir.
PD:
Dinding vagina tidak ada
sistokel dan rektokel,
porsio sejajar,
konsistensi lunak,
pendataran 100%,
Pembukaan 10cm,
ketuban (-), presentasi
kepala, penunjuk UUK,
posisi kanan depan,
penurunan hodge III, dan
tidak ada molase.
Masalah :
Ibu mengatakan cemas
mendekati persalinan
Kebutuhan :
4. Berikan ibu
asupan cairan.
5. Pimpin ibu
untuk
mengedan
6. Lakukan
pertolongan
persalinan.
untuk melakukan relaksasi disaat
tidak ada his.
6. Melakukan pertolongan persalinan
Normal :
a. Siapkan alat, siapkan diri,
melakukan cuci tangan tujuh
langkah, Setelah kepala Nampak
5-6 cm di vulva menggunakan
duk untuk melakukan stegnen
agar tidak terjadi rupture
perineum dan ritgen agar tidak
terjadi defleksi maksimal, setelah
kepala lahir, kemudian tangan
kiri pindah kebawah dan tangan
kanan mengecek lilitan tali pusat
menggunakan jari telunjuk.
Tunggu kepala putar paksi luar,
setelah itu melakukan biparietal
tarik cunam kebawah untuk
melahirkan bahu depan dan
curam keatas untuk melahirkan
bahu belakang kemudian
melakukan sanggah susur untuk
meminum air
putih dan teh
hangat manis
disaat tidak ada
kontraksi.
5.Ibu mengedan
dengan benar
saat ada his,
dan relaksasi
saat tidak ada
his.
6.Pertolongan
persalinan telah
dilakukan
sesuai APN,
bayi lahir
spontan,
langsung
menangis,
tonus otot aktif
warna kulit
kemerahan,
lahir pukul
17.00 WIB,
jenis kelamin
laki-laki, tidak
136
Asuhan kala II melahirkan seluruh tubuh bayi
dan melakukan penilaian.
Meletakkan bayi di atas perut ibu
lalu mengeringkan tubuh bayi
dari muka, kepala, dan bagian
tubuh lainnya tanpa
membersihkan verniks.
Mengganti handuk basah dengan
kain / handuk yang kering,
memastikan bayi dalam posisi
dan kondisi aman diperut bagian
bawah perut ibu.
7. Meletakkan bayi tengkurap didada ibu
untuk kontak kulit ibu-bayi. Selimuti
ibu-bayi melakukan kontak kulit ke
kulit didada ibu paling sedikit 1 jam.
Sebagian bayi akan berhasil melakukan
inisiasi menyusu dini dalam waktu 30-
60 menit. Biarkan bayi berada didada
ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah
berhasil menyusu.
8. Melakukan palpasi abdomen untuk
mengetahui janin kedua dan
memastikan kandung kemih ibu
penuh atau tidak.
ada cacat fisik,
anus positif.
7. Bayi telah
diletakkan di
dada ibu dan
berhasil
melakukan
inisiasi
137
7. Letakkan bayi
di dada ibu dan
lakukan Inisiasi
Menyusu Dini
1. Memberitahu ibu bahwa ia akan
disuntik oksitosin dalam 1 menit
setelah bayi lahir dan suntikkan
oksitosin 10 unit secara IM di 1/3
paha bagian luar, lakukan aspirasi
sebelum penyuntikan.
2. Melakukan jepit potong tali pusat
dengan cara memperkirakan panjang
tali pusat 3 cm dari bayi, lalu urut tali
pusat kearah bayi lakukan penjepitan
pada klem pertama, kemudian urut
tali pusat kearah vulva dengan jarak 2
cm dari klem pertama lakukan
penjepitan pada klem kedua,
kemudian lakukan penjepital dan
pemotongan tali pusat.
3. Melakukan pemotongan dan
pengikatan tali pusat, yaitu dengan 1
tangan pegang tali pusat yang telah
dijepit (lindungi perut bayi) dan
lakukan pengguntingan tali pusat
diantara 2 klem tersebut. Ikat tali
pusat dengan benang DTT pada satu
sisi kemudian lingkarkan benang
tersebut dan ikat tali pusat dengan
simpul kunci pada sisi lainnya.
menyusu dini.
8. Tidak ada janin
ke dua dan
kandung kemih
ibu kosong.
1. Ibu telah
disuntikkan
oksitosin
2. Tali pusat telah
dijepit
138
07
April
2015/
17.15
wib
DS Ibu :
1.Ibu mengatakan
lemas dan
mulas setelah
bayi lahir.
2.Ibu mengatakan
lega dan senang
atas kelahiran
anak
pertamanya
Diagnosa: Ibu: Ny. I usia
25 tahun P1A0 dalam kala
III persalinan
Dasar
Ds Ibu :
Ibu mengatakan perutnya
masih mulas
Do Ibu :
Keadaan umum : baik
Kesadaran:
composmentis
(IMD).
8. Lakukan
palpasi
abdomen
1. Beritahu ibu
bahwa ia akan
di suntik
oksitosin
2. Lakukan jepit
potong tali
Lepaskan klem dan letakkan pada
bengkok.
4. Melihat tanda-tanda pelepasan
plasenta seperti uterus ibu membulat,
tali pusat memanjang,keluar darah
banyak dari jalan lahir.
5. Melakukan peregangan tali pusat
terkendali, dengan cara tangan kiri
dorsokranial dan tangan kanan
melakukan peregangan tali pusat
terkendali samapai melihat tali pusat
tambah panjang pindah klem 5 cm di
depan vulva sampai plasenta nampak
di depan vulva lakukan putaran
searah.
6. Melakukan massase uterus 15 kali 15
detik segera setelah plasenta lahir,
dan mengajarkan keluarga agar
3. Tali pusat telah
diikat dan telah
dipotong.
139
07 Do Ibu :
Keadaan umum :
baik
Kesadaran:
composmentis
Bayi lahir pukul
17.00 WIB
TFU sepusat
Plasenta belum
lahir
Kontraksi baik
Kandung kemih
kosong
Perdarahan
normal
Bayi lahir pukul 17.00
WIB
TFU sepusat
Plasenta belum lahir
Kontraksi baik
Kandung kemih kosong
Perdarahan normal
Masalah :
Tidak Ada
Kebutuhan :
Asuhan kala III
Tidak ada Tidak ada
pusat.
3. Lakukan
pemotongan
dan
pengikatan
tali pusat
uterus ibu berkontraksi dengan baik.
1. Mengecek robekan jalan lahir untuk
mengetahui ada atau tidaknya
laserasi.
4. sudah ada
tanda-tanda
pelepasan
plasenta.
5. PTT telah
dilakukan dan
hasi yang di
dapat yaitu :
Maternal :
selaput utuh,
kotiledon
lengkap,
Fetal : Insersi
marginalis,
panjang tali
pusat 50cm.
berat 500 gram,
tebal 2 cm,
diameter 3 cm.
6. Telah dilakukan
140
4. Lihat tanda-
tanda
pelepasan
plasenta.
5. Lakukan
peregangan
tali pusat
terkendali.
2. Memeriksa dan memastikan keadaan
umum ibu baik.
3. Merendam alat-alat dalam larutan
clorin selama 10 menit, lalu
dibersihkan, dicuci dengan air sabun
dan bilas dengan air mengalir
4. Membuang bahan-bahan yang kotor
atau terkontaminasi kedalam tempat
yang sesuai.
5. Membersihkan ibu dari paparan
darah, cairan ketuban, dan lendir
dengan menggunakan air DTT
memakai pakaian yang bersih dan
kering.
masase pada
uterus ibu dan
keluarga
mengerti cara
memasase
uterus.
1. Telah dilakukan
pengecekan
robekan jalan
lahir dan di dapat
hasilnya yaitu ada
laserasi perineum
derajat 1 yaitu
dari mukosa
vagina sampai ke
141
6. Lakukan
masase uterus
dan
mengajarkan
keluarga.
6. Pastikan ibu merasa nyaman setelah
badannya bersih .
7. Mencelupkan sarung tangan kotor
kedalam larutan klorin 0,5%
balikkan bagian dalam keluar dan
rendam selama 10 menit.
8. Mencuci kedua tangan dengan sabun
dan air mengalir kemudian keringkan
tangan dengan handuk pribadi yang
bersih dan kering
9. Memakai sarung tangan DTT/bersih
untuk melakukan pemeriksaan fisik
bayi
10. Memberikan salep mata dan vitamin
K1 mg IM dipaha kiri bawah lateral,
pemeriksaan fisik bayi baru lahir,
kulit perineum.
2. Keadaan umum
telah diperiksa
dan hasilnya baik.
3. Alat telah
dibersihkan
4. Bahan-bahan
yang kotor telah
dibuang sesuai
tempatnya.
5. Ibu telah
dibersihkan dari
142
April
2015/
17.30
wib
Ds Ibu:
1. Ibu
mengatakan
lelah setelah
melahirkan.
2. Ibu
mengatakan
senang
dengan
kelahiran
bayinya
Do Ibu:
Plasenta lahir
pukul 17.15
TFU 2 jari bawah
pusat
Kontraksi baik
Diagnosa ibu : Ny. I usia
25 tahun P1A0 dalam
pemantauan kala IV
Dasar:
Ds Ibu:
1. Ibu mengatakan
lelah setelah
persalinan
2.Ibu mengatakan
senang dengan
kelahiran bayinya
Do Ibu:
Plasenta lahir pukul
17.15 WIB
TFU 2 jari bawah pusat
1. Cek robekan
jalan lahir.
2. Periksa dan
pastikan keadaan
umum
3. Rendam alat –
alat dalam
larutan clorin
11. Memberikan imunisasi hepatitis B
dipaha bawah kanan lateral setelah 1
jam pemberian vit K dan letakkan
bayi dalam jangkauan ibu agar
sewaktu-waktu dapat disusukan.
12. Melepaskan sarung tangan dalam
keadaan terbalik dan rendam dalam
larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
13. Mencuci kedua tangan dengan sabun
dan air mengalir kemudian keringkan
dengan handuk pribadi yang kering
dan bersih.
14. Melengkapi partograf (halaman
depan dan halaman belakang),
paparan darah,
cairan ketuban
dan lendir.
6. Ibu merasa
nyaman setelah
badannya
dibersihkan.
7. Sarung tangan
kotor telah
dicelupkan di
larutan klorin.
8. Cuci tangan telah
dilakukan
9. Pemeriksaan fisik
telah dilakukan
143
Konsistensi perut
keras
Kandung kemih
kosong
Perdarahan 20 cc
Kontraksi baik
Konsistensi perut keras
Kandung kemih kosong
Perdarahan 200 cc
Ada laserasi perineum
derajat 1.
Masalah :
Tidak ada
Kebutuhan :
Asuhan Kala IV
Tidak ada Tidak ada 4. Buang bahan-
bahan yang
telah kotor
atau
terkontaminasi
5. Bersihkan ibu
dari paparan
darah, cairan
ketuban, dan
lendir.
6. Pastikan ibu
merasakan
nyaman
7. Celupkan sarung
tangan kotor di
dalam larutan air
klorin
15. Melakukan pemantauan lanjut kala
IV, yaitu tekanan darah, nadi, suhu,
kontraksi, TFU, kandung kemih dan
perdarahan.
10.Pemeriksaan fisik
dan pemberian
salep mata serta
vit K telah
dilakukan.
11.Imunisasi
hepatitis B telah
diberikan
12.Sarung tangan
telah dilepas.
13.Kedua tangan
telah dicuci
144
8. Cuci tangan
dengan air bersih
9. Pakai sarung
tangan
DTT/bersih.
10.Berikan salep
mata dan vitamin
K
11.Berikan
imunisasi
hepatitis B pada
14.Partograf telah
dilengkapi
15.Pemantauan
lanjut kala IV
telah dilakukan
dan hasil yang di
dapat yaitu :
pukul 17.30 wib
dalam 1 jam
pertama pada 15
menit pertama
yaitu tekanan
darah
110/70mmHg,
nadi
80x/menit,suhu
36,7ºC, kontraksi
baik, TFU 2 jari
dibawah pusat,
kandung kemih
kosong, dan
145
bayi
12.Lepaskan sarung
tangan
13.Cuci kedua
tangan
14.Lengkapi
partograf
perdarahan 20cc.
Pukul 17.45 wib
pada 15 menit
kedua yaitu
Tekanan darah
110/70 mmHg,
nadi 82x/menit,
kontraksi baik,
TFU 2 jari
dibawah pusat,
kandung kemih
kosong, dan
perdarahan 20cc.
Pukul 18.00 wib
pada 15 menit ke
tiga yaitu :
Tekanan darah
110/60 mmHg,
nadi 83x/menit,
skontraksi baik,
TFU 2 jari
dibawah pusat,
kandung kemih
kosong, dan
perdarahan 20cc.
Pukul 18.15 wib
pada 15 menit
146
15. Lakukan
pemantauan
lanjut Kala IV
keempat yaitu
Tekanan darah
110/60 mmHg,
nadi 84x/menit,
kontraksi baik,
TFU 2 jari
dibawah pusat,
kandung kemih
kosong, dan
perdarahan 20cc.
Pukul 18.45 wib
dalam 2 jam
pertama pada 30
menit pertama
Tekanan darah 30
menit pertama
pada jam ke 2
yaitu tekanan
darah 110/60
mmHg, nadi
84x/menit, suhu
36,8 ºC, kontraksi
baik, TFU 2 jari
dibawah pusat,
kandung kemih
kosong, dan
perdarahan 20cc.
147
Pukul 19.15 wib
pada 30 menit
kedua yaitu
Tekanan darah 30
menit kedua pada
jam ke 2 yaitu
tekanan darah
110/60 mmHg,
nadi 84x/menit,
kontraksi baik,
TFU 2 jari
dibawah pusat,
kandung kemih
kosong, dan
perdarahan 20cc.
141
BAB IV
PEMBAHASAN
Setelah melakukan Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin terhadap Ny.I umur 25 tahun
G1P0A0 usia kehamilan 36 minggu 4 hari didapat hasil :
4.1 Pengkajian
4.1.1Data Subjektif.
1. Nama
a. Menurut tinjauan teori
Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-hari agar
tidak keliru dalam memberikan penanganan (Ambarwati dan
wulandari, 2010 :131).
b. Menurut tinjauan kasus
Pada kasus ini pasien di panggil dengan nama panggilan Ny. I.
c. Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena dengan menganamnesa nama pada pasien,
bidan mendapatkan nama jelas dan lengkap pasien sehingga dalam
memberikan penanganan bidan tidak keliru, dalam penulisan study
kasus ini pasien diberi inisial Ny. I.
142
2. Umur ibu
a. Menurut tinjauan teori
Data ini ditanyakan untuk menentukan apakah ibu dalam proses
persalinan berisiko karena usia atau tidak (Sulistyawati dan
Nugraheny, 2012 : 220).
b. Menurut tinjauan kasus
Pada kasus ini Ny. I berumur 25 tahun.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan karena pada kasus ini Ny.I berumur 25 tahun artinya
tidak termasuk kedalam salah satu faktor resiko. Usia Ny.I
dikatakan cukup matang dan psikis nya siap dalam menerima
persalinannya.
3. Agama
a. Menurut tinjauan teori
Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing
atau mengarahkan pasien dalam berdoa (Ambarwati dan wulandari,
2010 :132 ).
b. Menurut tinjauan kasus
Pada kasus ini Ny. I beragama islam.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan karena pada kasus ini antara Bidan dan Ny. I
143
mempunyai keyakinan atau agama yang sama, sehingga
mempermudah dalam mengarahkan pasien dalam berdoa dan Ny. I
juga dapat mengikuti tuntunan dalam berdoa dengan baik.
4. Pendidikan terakhir
a. Menurut tinjauan teori
Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui
sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat
memberikan konseling sesuai dengan pendidikannya (Ambarwati
dan wulandari, 2010 :132 ).
b. Menurut tinjauan kasus
Pada kasus ini Ny. I pendidikan terakhir S1.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan karena Ny.I berpendidikan akhir S1 yang di
kategorikan baik atau sedang dimana antara bidan dan pasien dapat
berkomunikasi dengan lancar dan pasien juga mudah memahami
dan melakukan apa yang dikatakan bidan.
5. Pekerjaan
a. Menurut tinjauan teori
Data ini menggambarkan tingkat sosial ekonomi, pola sosialisasi,
dan data pendukung dalam menentukan pola komunikasi yang akan
dipilih selama asuhan (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 221).
144
b. Menurut tinjauan kasus
Pekerjaan Ny. I sebagai Ibu rumah tangga, dan pekerjaan suami
Ny. I sebagai karyawan swasta.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan, Ny.I yang pekerjaan sehari-harinya sebagai ibu rumah
tangga dibantu oleh suami yang bekerja sebagai karyawan swasta,
Meskipun Ny. I hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga namun
pemenuhan nutrisi dan kebutuhan sehari-hari Ny. I terpenuhi di
karenakan di dukung oleh penghasilan suami Ny. I.
6. Alamat
a. Menurut tinjauan teori
Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan
(Ambarwati dan wulandari, 2010 : 132)
b. Menurut tinjauan kasus
Alamat Ny. I berada di Jl. Badak Ujung No.266, Gunung Terang,
Bandar Lampung.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan karena Ny. I memiliki alamat rumah yang lengkap
yaitu Jl. Badak Ujung No.266, Gunung Terang, Bandar Lampung
sehingga mempermudah dalam melakukan kunjungan rumah bila
diperlukan.
145
7. Keluhan utama
a. Menurut tinjauan teori
Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang
ke fasilitas pelayanan kesehatan. Pada kasus persalinan, informasi
yang harus didapat dari pasien adalah kapan mulai terasa ada
kenceng-kenceng diperut, bagaimana intensitas dan frekuensinya,
apakah ada pengeluaran cairan dari vagina yang berbeda dari air
kemih, apakah sudah ada pengeluaran lendir yang disertai darah,
serta pergerakan janin untuk memastikan kesejahteraannya
(Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 221)
b. Menurut tinjauan kasus
Dalam kasus ini Ny. I mengatakan nyeri pada daerah pinggang
yang menjalar keperut bagian bawah serta keluar lendir bercampur
darah dari jalan lahir.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena keluhan yang dirasakan Ny.I sama seperti yang
dijelaskan dalam teori. Ny. I datang ke BPS pada tanggal 7 april
2015 dengan keluhan nyeri pinggang yang menjalar keperut bagian
bawah sejak pukul 04.00 WIB serta keluar lendir bercampur darah
dari jalan lahir pukul 06.00 WIB.
146
8. Riwayat HPHT
HPHT
a. Menurut tinjauan teori
Untuk mengetahui tanggal hari pertama dari menstruasi terakhir
klien untuk memperkirakan kapan kira-kira sang bayi dilahirkan
(Ambarwati dan wulandari, 2010 :134).
b. Menurut tinjauan kasus
Dalam kasus ini Ny. I HPHT nya pada tanggal 25-7-2014, TP
nya pada tanggal 01-04-2015.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena Ny. I HPHT nya pada tanggal 24-6-2015
sehingga tafsiran persalinan Ny.I pada tanggal 01-04-2015, Ny.I
melahirkan sesuai dengan tafsiran persalinan yang telah
diperhitungkan.
9. Kontraksi uterus
a. Menurut tinjauan teori
His bersifat teratur, interval semakin pendek dan kekuatannya
semakin besar, serta semakin beraktivitas (jalan), semakin
bertambah kekuatan kontraksinya (Jannah, 2014 : 3).
Dibawah jalur waktu partograf terdapat lima jalur kotak dengan
tulisan “kontraksi per 10 menit” disebelah luar kolom paling kiri.
Setiap kotak menyatakan satu kontraksi. Setiap 30 menit, raba dan
147
catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lamanyakontraksi dalam
satuan detik. Nyatakan jumlah kontraksi yang terjadi dalam waktu
10 menit dengan mengisi angka pada kotak satu kali 10 menit, isi 3
kotak (JNPK-KR, 2008 : 64).
b. Menurut tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan Ny. I merasakan ada rasa sakit oleh
adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur, his Ny.I
pada puku 11.30 yaitu 3x/10’/35”, pukul 12.00 3x/10’/40”, pukul
12.30 3x/10’/45”, pukul 13.00 3x/10’/45”, pukul 13.30
4x/10’/45”, pukul 14.00 5x/10’/45”, dan pukul 14.30 5x/10’/55”.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena dengan melakukan pemeriksaan kontraksi
uterus Ny.I sama seperti yang dijelaskan dalam teori yaitu his
bersifat teratur, interval semakin pendek dan kekuatannya
semakin besar, serta semakin beraktivitas (jalan), semakin
bertambah kekuatan kontraksinya dan setiap 30 menit, meraba dan
mencatat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lamanya kontraksi
dalam satuan detik.
148
10. Riwayat imunisasi TT
Imunisasi TT
a. Menurut tinjauan teori
Imunisasi selama kehamilan sangat penting dilakukan untuk
mencegah penyakit yang dapat menyebabkan kematian ibu dan
janin. Jenis imunisasi yang diberikan adalah Tetanus Toxoid
(TT) yang dapat mencegah penyakit tetanus. Imunisasi TT pada
ibu hamil harus terlebih dahulu ditentukan status kekebalan/
imunisasinya. Ibu hamil yang belum pernah mendapatkan
imunisasi statusnya T0, jika telah mendapatkan 2 dosis dengan
interval minimal 4 minggu atau pada masa balitanya telah
memperoleh imunisasi DPT sampai 3 kali maka statusnya adalah
T2, bila telah mendapat dosis TT yang ke-3 (interval minimal 6
bulan dari dosis ke-2) maka statusnya T3, status T4 di dapat
apabila telah mendapatkan 4 dosis (interval minimal 1 tahun dari
dosis ke-3) dan status T5 didapatkan bila 5 dosis telah didapat
(interval minimal 1 tahun dari dosis ke-4) (Sulistyawati, 2011
:120).
b. Menurut tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan Ny. I melakukan imunisasi TT1 pada
tanggal 14 Oktober 2014 dan melakukan imunisasi TT2 pada
tanggal 14 November 2014.
149
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena Ny.I belum pernah mendapatkan imunisasi
TT. Sehingga status Ny.I adalah T0, dan pada kehamilan
pertamanya ini diberikan TT1 pada tanggal 14 Oktober 2014 dan
TT2 diberikan pada tanggal 14 November 2014.
11. Pola eliminasi
a. Menurut tinjauan teori
Anjurkan ibu dapat berkemih setiap 2 jam atau lebih sering jika
kandung kemih terasa penuh. Jika diperlukan, bantu ibu untuk ke
kamar mandi. Jika ibu tak dapat berjalan ke kamar mandi, bantu
agar ibu dapat duduk dan berkemih di wadah penampung air.,
Jika kandung kemih penuh yang penuh mengganggu penurunan
kepala bayi. Selain itu juga akan menambah rasa nyeri pada perut
bawah, menghambat penatalaksanaan distosia bahu, menghalangi
lahirnya plasenta dan perdarahan paska persalinan (JNPK-KR,
2008: 82).
b. Menurut tinjauan kasus
Dari pernyataan Ny.I berkemih saat ada keinginan dan Ny.I
berkemih di wadah penampung urin karena ibu tidak dapat
berjalan ke kamar mandi.
150
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan dimana Ny.I berkemih setiap 2 jam atau lebih sering
jika kandung kemih terasa penuh.
12. Riwayat kesehatan ibu dan keluarga
a. Menurut tinjauan teori
Data dari riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai
“warning” akan adanya penyulit saat persalinan. Perubahan fisik
dan psikologis saat bersalin yang melibatkan seluruh sistem
dalam tubuh akan mempengaruhi organ yang mengalami
gangguan. Beberapa data penting tentang riwayat kesehatan
pasien yang perlu kita ketahui adalah apakah pasien pernah atau
sedang menderita penyakit seperti jantung, diabetes mellitus,
ginjal, hipertensi, hipotensi, hepatitis, atau anemia (Sulistyawati
dan Nugraheny, 2012 : 223).
b. Menurut tinjauan kasus
Ibu dan keluarga mengatakan sebelumnya tidak pernah menderita
penyakit akut, kronis seperti: jantung, DM, hipertensi, Asma
yang dapat mempengaruhi pada masa persalinan ini.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena Ny.I dan keluarga sebelumnya dan saat ini
tidak pernah menderita penyakit keturunan seperti DM, Jantung,
151
Asma, Hipertensi dan penyakit menular seperti HIV, hepatitis
hepatitis sehingga bidan dapat melihat status kesehatan Ny.I
Dalam keadaan baik dan tidak ada yang dapat mempengaruhi
perubahan fisik dan psikologis saat persalinan.
13. Riwayat sosial
a. Menurut tinjauan teori
Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinya
(Ambarwati dan wulandari, 2010: 134).
b. Menurut tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan respon Ny.I dan keluarga terhadap
bayinya baik.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena respon Ny.I dan keluarga terhadap bayinya
baik.
14. Status pernikahan
a. Menurut tinjauan teori
Data ini penting untuk kita kaji karena dari data ini kita akan
mendapatkan gambaran mengenai suasana rumah tangga
pasangan serta kepastian mengenai siapa yang akan
mendampingi persalinan. Beberapa pertanyaan yang dapat
diajukan (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 223).
152
b. Menurut tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan status pernikahan Ny.I syah.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena status pernikahan Ny.I syah dan yang
mendampingi Ny.I saat persalinan yaitu suami sehingga tidak
mempengaruhi psikologi Ny.I pada proses persalinan.
4.1.2 Data objektif
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum
1) Menurut tinjauan teori
Untuk mengetahui data ini kita cukup dengan mengamati
keadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan kita
laporkan dengan keriteria sebagai berikut :
Baik
Jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap
lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak
mengalami ketergantungan dalam berjalan.
Lemah
Pasien dimasukan dalam criteria ini jika ia kurang atau tidak
memberikan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang
lain, dan pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan sendiri
(Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 226).
153
2) Menurut tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan keadaan umum Ny.I baik.
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan dimana saat ini Ny.I masih memperlihatkan
respon yang baik terhadap asuhan yang diberikan oleh bidan,
dan komunikasinya dengan keluarga.
b. Kesadaran
1) Menurut tinjauan teori
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien,
kita dapat melakukan pengkajian derajat kesehatan pasien
dari keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai
dengan koma (pasien tidak dalam keadaan sadar)
(Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 226).
2) Menurut tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan kesadaran Ny.I composmentis yaitu
kesadaran penuh.
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan dimana saat ini kesadaran Ny.I composmentis
yaitu kesadaran penuh sehingga bidan dalam memberikan
asuhan kebidanan tidak mengalami kesulitan.
154
c. Tekanan darah
1) Menurut tinjauan teori
Pada kala I tekanan darah meningkat, sistolik rata-rata naik
10-20 mmHg, diatolik 5-10 mmHg, diantara kontraksi
tekanan darah akan turun (normal), dan meningkatkan lagi
bila terjadi kontraksi (Sumarah et. all, 2008 : 58).
2) Menurut tinjauan kasus
Ny. I mengatakan tekanan darahnya 100/70 mmHg.
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena setelah dilakukan pemeriksaan tekanan
darah, didapatkan hasil tekanan darah Ny. I 100/70 mmHg
yaitu dalam batas normal.
d. Nadi
1) Menurut tinjauan teori
Nadi normal adalah 60 sampai 100 menit. Bila abnormal
mungkin ada kelainan paru-paru atau jantung (walyani, 2015:
86).
2) Menurut tinjauan kasus
Pada kasus Ny.I hasil pemeriksaan nadi 86 x/menit.
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan karena setelah dilakukan pemeriksaan nadi,
155
didapatkan hasil nadi Ny. I 86 x/menit yaitu dalam batas
normal.
e. Suhu
1) Menurut tinjauan teori
Suhu badan normal adalah 36,5˚C sampai 37,5˚C. Bila suhu
lebih tinggi dari 37,5˚C kemungkinan ada infeksi (walyani,
2015: 86).
2) Menurut tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan didapatkan hasil pemeriksaan Suhu
Ny. I 37,2˚C.
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan karena setelah dilakukan pemeriksaan suhu,
didapatkan hasil suhu Ny. I 37,2˚C yaitu dalam batas
normal.
f. Pernafasan
1) Menurut tinjauan teori
Fungsi sistem pernapasan yang utama adalah
mempertahankan pertukaran oksigen dan karbon dioksida
dalam paru-paru dan jaringan serta mengatur keseimbangan
asam basa (kestabilan konsentrasi ion hidrogen pada tubuh)
(Priharjo, 2007 : 81).
156
2) Menurut tinjauan kasus
Pada Ny. I pemeriksaan pernafasan 20x/menit.
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena setelah dilakukan pemeriksaan
pernafasan, didapatkan hasil pernafasan Ny. I 20 x/menit
yaitu dalam batas normal.
g. Tinggi Badan
1) Menurut tinjauan teori
Di ukur dalam cm, tanpa sepatu. Tinggi badan kurang dari
145 cm ada kemungkinan terjadi cepalo pelvic disproposian
(CPD) (walyani, 2015: 86)
2) Menurut tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan tinggi Ny. I 159 cm
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan karena setelah dilakukan pemeriksaan tinggi
badan, didapatkan hasil tinggi badan Ny. I 159 cm yaitu
dalam batas normal.
h. Berat badan
1) Menurut tinjauan teori
Berat badan yang bertambah terlalu besar atau kurang, perlu
mendapatkan perhatian khusus karena kemungkinan terjadi
157
penyulit kehamilan. Kenaikan berat badan tidak boleh dari
0,5 kg perminggu (Walyani, 2015: 86).
2) Menurut tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan di dapatkan hasil berat badan Ny.I 65 kg.
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan karena penambahan berat badan Ny.I pada TM I
mengalami peningkatan 1 kg per bulan selama 0-3 bulan dan
pada TM II dan III mengalami peningkatan 0,5 per minggu
selama 4-9 bulan dan berat badan sebelum hamil 50 kg.
i. Lingkar lengan atas
1) Menurut tinjauan teori
Pemeriksaan lingkar lengan atas bertujuan untuk menilai
jaringan lemak dan otot. Akan tetapi pemeriksaan ini tidak
banyak berpengaruh pada keadaan jaringan tubuh apabila
dibandingkan dengan berat badan (Uliyah et. all, 2009 :
187).
2) Menurut tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan di dapatkan hasil lingkar lengan atas
Ny.I 28 cm.
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan karena setelah dilakukan pemeriksaan lingkar
158
lengan atas, didapatkan hasil lingkar lengan atas Ny. I 28
cm yaitu dalam batas normal.
2. Pemeriksaan khusus kebidanan
a. Abdomen
1) Menurut tinjauan teori
Bentuk abdomen yang normal adalah simetris, baik pada
orang gemuk maupun pada orang kurus. Abdomen menjadi
besar dan tidak simetris pada berbagai keadaan,misalnya
kehamilan, tumor dalam rongga abdomen, tumor ovarium atau
tumor kankung kemih. Pada bagian abdomen juga kita
mendengarkan bissing usus yang disebabkan oleh perpindahan
gas atau makanan sepanjang intestinum dan suara pembuluh
darah serta suara denyut jantung janin. Di daerah abdomen
kita meraba bagian-bagian janin, menentukan tinggi fundus
uterus (TFU) (Priharjo, 2006: 123-127).
Leopold I : Menentukan tinggi fundus uteri, bagian janin
dalam fundus.
Leopold II : Menentukan batas samping rahim kanan-kiri
dan menentukan letak punggung janin.
Leopold III : Menentukan bagian terbawah janin sudah
masuk atau masih dapat digoyangkan.
Leopold IV : Berapa jauh janin masuk pintu atas panggul
(Manuaba et. all, 2010 : 118-119).
159
Tinggi Fundus Uteri
Sebelum bulan ke 3 fundus uteri belum dapat diraba dari luar.
12 minggu → TFU Teraba → 1-2 jari di atas simpisis
16 minggu → TFU Teraba → pertengahan simpisis-pusat
20 minggu → TFU Teraba → 3 jari di bawah pusat
24 minggu → TFU Teraba → setinggi pusat
28 minggu → TFU Teraba → 3 jari di atas pusat
32 minggu → TFU Teraba → pertengahan px -pusat
36 minggu → TFU Teraba → Se-px/2-3 jari di bawah px.
40 minggu → TFU Teraba → pertengahan px -pusat
Mengukur TFU Mc. Donald:
Jika belum masuk panggul (TFU-12) x 155
Jika sudah masuk panggul (TFU-11) x 155 (Jannah,2012:178)
2) Menurut tinjauan kasus
Pada tinjauan kasus Ny.I didapat hasil pemeriksaan yaitu :
Bekas luka operasi tidak ada, Pembesaran ada sesuai usia
kehamilan, Konsistensi keras saat ada kontraksi dan
konsistensi lunak saat tidak ada kontraksi, Benjolan tidak ada,
Pembesaran lien dan liver tidak ada.
Palpasi uterus
Leopold I : TFU teraba 3 jari dibawah processus
xypoideus pada bagian fundus teraba bulat,
lunak dan tidak melenting yaitu bokong janin.
160
Leopold II : Pada bagian kiri perut ibu teraba bagian keras
panjang, dan memapan yaitu punggung janin.
pada bagian kanan perut ibu teraba bagian-
bagian kecil janin yaitu ekstremitas janin.
Leopold III : Pada bagian bawah perut ibu teraba bagian
bulat, kerasa dapat digerakkan yaitu kepala.
Leopold IV : Divergen (sudah masuk PAP) 4/5 Bagian.
TFU Mc. Donald : 32 cm
TBJ (Rumus Jhon Thausak) : (TFU-11) x 155
(32-11) x 155 = 3255 gr
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjaauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena hasil pemeriksaan abdomen dalam batas
normal dan hasil pemeriksaan leopold sesuai usia kehamilan
serta tafsiran berat janin 3255 gram.
b. Pemantauan DJJ
1) Menurut tinjauan teori
Pemeriksaan DJJ setiap 30 menit sekali berdasarkan teori
Asuhan persalinan yang bertujuan untuk memantau keadaan
dan kesejahteraan janin (JNPK-KR, 2008 : 57).
Frekuensi jantung bayi kurng dari 120 atau lebih dari
160x/menit dapat menunjukkan gawat janin dan harus di
evaluasi (Varney,2007 : 693)
161
2) Menurut tinjauan kasus
Hasil observasi DJJ setiap 30 menit, dengan hasil pada pukul
11.30 WIB 140 3x/10’/35”, pukul 12.00 WIB 3x/10’/45”,
pukul 12.30 WIB 3x/10’/45”, pukul 13.00 WIB 3x/10’/45”,
pukul 13.30 WIB 4x/10’/45”, pukul 14.00 WIB 5x/10’/45”,
pukul 14.30 WIB 5x/10’55”, pukul 15.00 WIB pembukaan
10 cm, ketuban (-) amniotomi.
3) Pembahasan
4) Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena pemeriksaan DJJ telah dilakukan 30
menit sekali dalam kala I masa aktif yang bertujuan untuk
memantau keadaan dan kesejahteraan janin.
c. Anogenital
1) Menurut tinjauan teori
Inspeksi untuk mengetahui adanya oedema, varices,
keputihan, perdarahan, luka, cairan yang keluar, dan
sebagainya (walyani, 2015: 87).
2) Menurut tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan Ny.I tidak mengalami keputihan,
perdarahan, varises dan luka pada anogenital.
3) Pembahasan
Tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan
dimana Ny.I tidak mengalami keluhan sesuai dengan teori
162
yaitu adanya oedema, varices, keputihan, perdarahan, luka,
cairan yang keluar, dan sebagainya.
d. Pemeriksaan dalam
1) Menurut tinjauan teori
Menurut tinjauan teori pemeriksaan dalam dapat lebih sering
dilakukan setiap 4 jam pemeriksaan dalam dalam dapat lebih
sering dilakukan jika ada tanda-tanda penyulit.Adapun tujuan
dari pemeriksan dalam ini yaitu untuk mengetahui kemajuan
persalinan (JNPK-KR,2008; h.61).
2) Menurut tinjauan kasus
Pada kasus ini Ny. I umur 25 tahun G1P0A0 pemeriksaan
dalam pertama pada pukul 06.30 WIB dengan hasil
pembukaan serviks 6 cm, pemeriksaan kedua dilakukan pukul
11.30 WIB dengan hasil pembukaan 8 cm, Kemudian pada
pukul 15.00 WIB dilakukan pemeriksaan dalam dengan hasil
pembukaan lengkap (10 cm).
3) Pembahasan
Pada kasus ini tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori
dan tinjauan kasus. Pada tinjauan kasus penolong melakukan
pemeriksaan dalam 4 jam sekali dengan hasil dinding vagina
tidak ada sistokel dan rektokel, porsio sejajar, konsistensi
lunak, pendataran 100%, pembukaan 10cm, presentasi kepala,
163
penunjuk ubun-ubun kecil, posisi depan,penurunan H III+,
molase tidak ada.
Kala I
a. Menurut tinjauan teori
Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 12 - 13 jam
sedangkan untuk multigravida berlangsung sekitar 8 jam.
Berdasarkan Kurve friedman, diperhitungkan pembukaan
primigravida 1 cm per jam dan multigravida 2 cm per jam
(Sulistyawati dan Nugraheny, 2012; h.7).
b. Menurut tinjauan kasus
Pada kasus ini waktu pembukaan yang ditempuh Ny.I adalah
tanggal 7 – 4 -2015 pukul 04.00 merasa mules, pukul 06.30 WIB
pembukaan 6 dan pembukaan lengkap, pukul 15.00 WIB.Jadi
lama kala I pada kasus Ny.I 12 jam.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena waktu yang ditempuh Ny. I selama dalam
proses persalinan yaitu 12 jam.
Kala II
a. Menurut tinjauan teori
persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm)
dan berakhir dengan lahirnya bayi. Lama kala II pada primigravida 2
jam dan multigravida 1 jam (Rohani et. all,2011 : 7).
164
Tanda-tanda kala II adalah ibu mempunyai keinginan untuk
meneran, ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada rektum
dan seperti ingin BAB, kemudian perineum menonjol dan menjadi
lebar dengan membukanya anus. Labia mulai membuka dan tidak
lama kemudian kepala janin tampak dalam vulva pada saat ada his
(Sumarah et. all, 2008 : 6).
b. Menurut tinjauan kasus
Pada kasus Ny. I penolong malakukan pemeriksaan dalam pukul
15.00 WIB atas indikasi adanya tanda-tanda kala II yaitu ibu
mengatakan ingin mengedan, perinium tampak menonjol dan ada
tekanan pada anus. Pukul 17.00 WIB bayi lahir langsung
menangis,lamanya kala II 2 jam.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena keluhan yang dirasakan Ny.I sama seperti yang
dijelaskan dalam teori. Proses kala II berlangsung selama 2 jam
karena ibu mengedan dengan baik.
Kala III
a. Menurut tinjauan teori
Kala III berlangsung dari lahirnya bayi sampai dengan lahirnya
plasenta dan selaput ketuban.seluruh proses biasanya berlangsung
5-30 menit setelah bayi lahir (Rohani et. all, 2011: 8).
165
b. Menurut tinjauan kasus
Pada kasus Ny. I bayi lahir pukul 17.00 WIB dan plasenta lahir
pukul 17.15 WIB.Jadi lama kala III 15 menit.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan kasus dan tinjauan teori tidak terdapat
kesenjangan karena plasenta lahir spontan 15 menit setelah bayi
lahir.
Kala IV
a. Tinjauan teori
Kala IV mulai dari lahirnya plasenta selama 1-2 jam.Pada kala IV
dilakukan observasi terhadap perdarahan pasca persalinan,paling
sering terjadi pada 2 jam pertama (Sulistyawati dan Nugraheny,
2012: 9).
b. Menurut tinjauan kasus
Pada Ny. I melakukan pemantauan kala IV mulai tanggal 7 -4-
2015 pukul 17.30 – 19.30 wib.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan kasus dan teori tidak terdapat kesenjangan
karena penolong melakukan pemantauan selama 2 jam persalinan.
4.2 Interprestasi data
4.2.1 Menurut tinjauan teori
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi data secara benar
terhadap diagnosis atau masalah kebutuhan pasien. Masalah atau
166
diagnosis yang spesifik dapat ditemukan berdasarkan interprestasi yang
benar terhadap data dasar. Selain itu, sudah terpikirkan perencanaan
yang dibutuhkan terhadap masalah. Langkah awal dari perumusan
diagnosis atau masalah adalah pengolahan data dan analisis dengan
menggabungkan data satu dengan lainnya sehingga tergambar fakta.
Masalah
Dalam asuhan kebidanan digunakan istilah “masalah” dan “diagnosis”.
Kedua istilah tersebut dipakai karena beberapa masalah tidak dapat di
definisikan sebagai diagnosis, tetapi tetap perlu di pertimbangkan untuk
membuat rencana yang menyeluruh. Masalah sering berhubungan
dengan bagaimna wanita itu mengalami kenyataan terhadap
dignosisnya.
Kebutuhan
Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan
keadaan dan masalah (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012: 192-194)
4.2.2 Menurut tinjauan kasus
Diagnosa kala I
Ny. I umur 25 tahun G1P0A0 usia kehamilan 36 minggu 4 hari inpartu
kala I fase aktif.
Data Subjektif :
a. Ibu mengatakan nyeri pada daerah pinggang yang menjalar keperut
bagian bawah sejak pukul 04.00 wib dan keluar lender bercampur
darah sejak pukul 06.00 wib.
167
b. Ibu mengatakan ini kehamilan yang pertama, tidak pernah
melahirkan dan tidak pernah keguguran
c. Ibu mengatakan HPHT tanggal 25-07-2014.
Data Objektif
a. Hasil pemeriksaan umum: Kesadaran umum : baik, kesadaran
composmentis, TD: 110/70 mmHg, N: 86x/menit, S: 37,2 °C, RR:
26x/menit.
b. Hasil pemeriksaan fisik dalam batas normal, his: 3x/10’/35”.
c. Hasil pemeriksaan dalam pendataran 80%, pembukaan 8cm, ketuban
positif.
d. Hasil palpasi abdomen yaitu:
Leopold I : TFU 3 jari dibawah px, Bagian teratas perut ibu
teraba bulat yang besar, lunak, tidak melenting
yaitu bokong janin
Leopold II : Bagian kanan perut ibu teraba bagian – bagian
kecil yaitu ekstermitas janin bagian kiri perut ibu
teraba keras, datar, memapan yaitu punggung
janin
Leopold III : Bagian terbawah perut ibu teraba bulat, keras dan
tidak dapat digoyangkan yaitu kepala janin
Leopold IV : Divergen
Diagnosa janin: Janin tunggal hidup intrauteri presentasi kepala.
168
Data Subjektif
Ibu merasakan gerakan janinnya.
Data Objektif
Leopold I : TFU 3 jari dibawah px, Bagian teratas perut
ibu teraba bulat yang besar, lunak, tidak
melenting yaitu bokong janin
Leopold II : Bagian kanan perut ibu teraba bagian –
bagian kecil yaitu ekstermitas janin bagian
kiri perut ibu teraba keras, datar, memapan
yaitu punggung janin
Leopold III : Bagian terbawah perut ibu teraba bulat,
keras dan tidak dapat digoyangkan yaitu
kepala janin
Leopold IV : Divergen
Penurunan kepala : 2/5
TFU Mc. Donald : 32 cm
TBJ (Rumus Jhon Thausak): (TFU-11) x 155
(32-11) x 155 = 3255 gr
DJJ: Punctum maksimum 3 jari dibawah pusat sebelah kiri perut ibu
dengan frekuensi 140×/menit, dan irama teratur.
Masalah
Tidak ada.
169
Kebutuhan
Kebutuhan Ny. I yaitu asuhan kala I.
Diagnosa kala II
Ny. I umur 25 tahun G1P0A0usia kehamilan 36 minggu 4 hari inpartu
kala II.
Data Subjektif:
1. Ibu mengatakan ini kehamilan yang pertama, belum pernah
melahirkan dan tidak pernah keguguran.
2. HPHT : 25-7-2014
3. Ibu mengatakan nyeri pinggang menjalar keperut bagian bawah
semakin lama semakin sering, dan kuat.
Data Objektif :
1. Hasil pemeriksaan umu : Keadaan umum: Baik, Kesadaran: Compos
mentis, TD: 110/70 mmHg, N :85x/menit, Suhu:36,70
C,
RR:22x/mnt.
2. His: 5x/10’/55”
3. Terlihat tanda gejala kala II yaitu: Dorongan meneran, Tekanan
anus, Perinium menonjol, Vulva membuka.
4. PD: pembukaan 10cm, ketuban, dilakukan amniotomi.
Masalah :
Ibu mengatakan cemas mendekati persalinan.
Kebutuhan :
Asuhan kala II
170
Diagnosa kala III
Ny. I usia 25 tahun P1A0 dalam kala III persalinan
Data Subjektif :
1. Ibu mengatakan lemas dan mules setelah bayi lahir
2. Ibu mengatakan lega dan senang atas kelahiran anak pertamanya.
Data Objektif :
1. Bayi lahir pukul 17.00 WIB
2. TFU sepusat
3. Plasenta belum lahir
4. Kontraksi baik
5. Kandung kemih kosong
6. Perdarahan normal
Masalah :
Tidak Ada
Kebutuhan :
Asuhan kala III
Diagosa kala IV
Ny. I usia 25 tahun P1A0 dalam pemantauan kala IV
Data Subjektif :
1. Ibu mengatakan lelah setelah melahirkan
2. Ibu mengatakan senang dengan kelahiran bayinya
Data Objektif Ibu:
1. Plasenta lahir pukul 17.15 WIB
171
2. TFU 2 jari bawah pusat
3. Kontraksi baik
4. Konsistensi perut keras
5. Kandung kemih kosong
6. Perdarahan 20 cc
4.2.3 Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ada kesenjangan
karena setelah bidan menegakkan diagnosa pada kasus Ny. I, Ny. I
G1P0A0 yaitu kehamilan yang pertama, belum pernah melahirkan dan
tidak pernah keguguran serta diagnosa sudah dibuat dengan
menggabungkan data satu dengan lainnya sehingga tergambar fakta.
4.3 Identifikasi diagnosis atau masalah potensial
4.3.1 Menurut tinjauan teori
Pada langkah ini mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain
berdasarkan rangkaian masalah yang ada. Langkah ini membutuhkan
antisipasi, bila mungkin bila dilakukan pencegahan. Sambil mengamati
pasien, bidan, bidan diharapkan siap bila diagnosis atau masalah
potensial benar-benar terjadi (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 228 -
229).
4.3.2 Menurut tinjauan kasus
Masalah potensial Ny. I tidak ada
172
4.3.3 Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan pada kasus Ny. I karena diagnosa atau masalah potensial
itu muncul dari diagnosa kebidanan yang telah ditegakkan oleh bidan .
Diagnosa kebidanan terhadap Ny.I tidak membutuhkan atau tidak ada
masalah potensialnya.
4.4 Identifikasi dan penerapan kebutuhan yang memerlukan penanganan
segera
4.4.1 Menurut tinjauan teori
Bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau dokter melakukan
konsultasi atau penanganan segera bersama anggota tim kesehatan lain
dengan kondisi klien. Dalam kondisi tertentu, seorang bidan mungkin
juga perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim
kesehatan lain seperti pekerja sosial, ahli gizi, atau seorang ahli
perawatan klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini, bidan harus mampu
mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa
sebaiknya konsultasi dan kolaborasi dilakukan (Soepardan: 2008:100-
101).
4.4.2 Menurut tinjauan kasus
Pada kasus Ny.I tidak terjadi masalah.
173
4.4.3 Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus Ny.I tidak terdapat
kesenjangan karena Ny.I tidak ada diagnosa atau masalah potensial nya
sehingga tidak membutuhkan tindakan segera.
4.5 Perencanaan asuhan secara menyeluruh
4.5.1 Menurut tinjauan teori
Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh yang ditentukan
berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan
kelanjutan manajemen untuk masalah diagnosis yang telah
diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini data yang belum
lengkap dapat dilengkapi (soepardan, 2008: 101)
Perencanaan asuhan secara menyeluruh
Pada tahap ini bidan melakukan perencanaan terstruktur berdsasarkan
tahap persalinan.Dasar perencanaan tidak lepas dari interprestasi data,
termasuk persiapan peralatan dan obat yang harus tersedia.Perencanaan
pada persalinan kala I-IV adalah sebagai berikut.
1. Kala I
a. Dukungan emosional
b. Pengaturan posisi
c. Pemberian cairan
d. Kebersihan
e. Pemantauan dengan partograf
174
2. Kala II
a. Anjurkan pendamping memberikan dorongan/ dukungan selama
proses persalinan dan kelahiran.
b. Berikan dorongan dan besarkan hati ibu
c. Penolong harus memberikan rasa aman dan nyaman
d. Biarkan ibu memilih posisi yang sesuai untuk meneran
e. Beri pujian saat ibu mengejan
f. Kipas dan pijat untuk menambah kenyamanan bagi ibu
g. Jaga kebersihan diri
h. Beri dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau
ketakutan ibu
i. Atur posisi ibu dalam membimbing mengedan
j. Jaga kandung kemih tetap kosong
k. Beri cukup minum
l. Periksa denyut jantung janin (DJJ) pada saat kontraksi dan setelah
setiap kontraksi.
3. Kala III
a. Lakukan palpasi ada tidaknya bayi kedua
b. Beri suntikan oksitosin dosis 0,5 cc secara IM
c. Libatkan keluarga dalam pemberian minum
d. Lakukan pemotongan tali pusat
e. Lakukan PTT
f. Lahirkan plasenta (Sulistyawati dan Nugraheny,2011 : 238)
175
4. Kala IV
a. Pemeriksaan fundus uteri tiap 15 menit
b. Pemeriksaan tekanan darah, nadi, kandung kemih dan perdarahan
setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit selama jam
kedua
c. Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah dehidrasi dan
menawarkan ibu makanan dan minum yang disukainya
d. Bersihkan ibu dan kenakkan pakaian ibu yang bersih dan kering
e. Biarkan ibu beristirahat
f. Biarkan bayi berada pada ibu
g. Mulai memberikan ASI
h. Ajari keluarga untuk memasase (Sulistyawati dan Nugraheny,
2012 :238)
4.5.2 Menurut tinjauan kasus
Pada kasus Ny. I telah diberikan beberapa perencanaan yang dapat
ditentukan sesuai dengan kondisi pasien seperti pada :
1. Kala I
a. Lakukan anamnesa
b. Beritahu kedaan ibu saat ini
c. Beri asupan nutrisi
d. Anjurkan ibu untuk memilih posisi yang nyaman.
e. Anjurkan ibu untuk relaksasi saat ada his
f. Hadirkan orang terdekat
176
g. Anjurkan dan ajarkan keluarga untuk masase pinggang ibu.
h. Pantau kemajuan persalinan.
2. Kala II
a. Beritahu hasil pemeriksaan ibu dan janinya sat ini.
b. Beri dukungan moril pda ibu.
c. Anjurkan ibu memilih posisi yang nyaman untuk meneran.
d. Ajarkan ibu cara meneran yang baik.
a. Lakukan pemeriksaan abdomen
b. Lakukan manajemen aktif kala III
c. Periksa kelengkapan plasenta
d. Periksa laserasi
4. Kala IV
a. Periksa abdomen
b. Bersihkan tubuh ibu
c. Lalakukan masase fundus ibu
d. Lakukan pemantauan TTV, TFU, kontraksi uterus, perdarahan
dan kandung kemih.
e. Anjurkan ibu memberikan asi eksklusif.
f. Letakkan alat-alat di dalam larutan klorin.
g. Pantau 2 jam post partum.
e. Beri asupan nutrisi
f. Pimpin ibu untuk bersalin.
g. Lakukan pertolongan persalinan sesuai APN
3. Kala III
177
4.5.3 Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena perencanaan asuhan yang diberikan oleh bidan
terhadap Ny. I sesuai dengan teori asuhan persalinan. teori yang terbaru,
evidence based care, serta divalidasi dengan asumsi mengenai apa yang
diinginkan dan tidak diinginkan pasien.
4.6 Pelaksanaan
4.6.1 Menurut tinjauan teori
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana
sebelumnya, baik terhadap masalah pasien ataupun diagnosa yang
ditegakkan, pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh bidan secara mandiri
ditegakkan.Pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh bidan secara mandiri
maupun berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya (Wildan dan hidayat,
2012 : 35).
4.6.2 Menurut tinjauan kasus
1. Kala I
a. Melakukan anamnesa
b. Memberitahu keadaan ibu saat ini, bahwa keadaan ibu dan
janinya dalam keadaan baik dan normal dari hasil pemeriksaan
c. Memberi asupan nutrisi berupa teh hangat untuk menambah
tenaga ibu saat persalinan
d. Menganjurkan ibu untuk memilih posisi yang nyaman apabila ibu
bisa berjalan-jalan masih diperbolehkan
178
e. Menganjurkan ibu untuk relaksasi saat ada his seperti menarik
nafas lalu kemudian menghembuskannya secara perlahan-lahan
f. Menghadirkan orang terdekat untuk menemani ibu.
g. Menganjurkan dan mengajarkan keluarga untuk memasase
pinggang ibu untuk mengurangi rasa nyeri pada pinggang ibu
h. Memantau kemajuan persalinan
3. Kala III
a. Melakukan pemeriksaan palpasi abdomen untuk memastikan
tidak adanya janin kedua.
b. Melakukan manajemen aktif kala III
c. Memeriksa kelengkapan plasenta
d. Memeriksa apakah ada laserasi pada jalan lahir
2. Kala II
a) Memberitahu hasil pemeriksaan ibu dan janinnya
b) Memberi dukungan moril pada ibu agar ibu semangat dalam
menghadapi persalinan.
c) Menganjurkan ibu memilih posisi meneran yang baik
d) Mengajarkan ibu cara meneran yang baik Memberi ibu nutrisi
dengan meminum teh hangat saat relaksasi untuk menambah tenaga
ibu.
e) Memimpin ibu untuk meneran
f) Melakukan pertolongan persalinan sesuai dengan APN.
179
4. Kala IV
a. Memeriksa abdomen untuk mengetahui kontraksi uterus baik atau
tidak.
b. Membersihkan tubuh ibu dan tempat persalinan dari darah
maupun lendir.
c. Melakukan masase fundus ibu agar kontraksi tetap baik.
d. Melakukan pemantauan TTV, TFU, kontraksi uterus, perdarahan
dan kandung kemih
e. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI eksklusif
f. Meletakkan alat-alat didalam larutan klorin selama 10 menit.
g. Memantau 2 jam post partum.
4.6.3 Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan
karena penolong melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan
penentuan asuhan yang telah dibuat.
4.7 Evaluasi
4.7.1 Menurut tinjauan teori
Merupakan tahap terakhir dalam manajemen kebidanan, yakni dengan
melakukan evaluasi dan perencanaan maupun pelaksanaan yang
dilakukan bidan.Evaluasi sebagai bagian dari proses yang dilakukan
secara terus menerus untuk meningkatkan pelayanan secara
komprehensif dan selalu berubah sesuai dengan kondisi Atau kebutuhan
klien (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 220-237).
180
4.7.2 Menurut tinjauan kasus
Pada kasus Ny. I telah dilakukan Asuhan Persalinan Normal sesuai
dengan kebutuhan pasien.
1. Kala I
a. Anamnesa pada ibu telah dilakukan
b. Ibu tampak tenang setelah mengetahui keadaanya saat ini dalam
keadaan baik dan normal.
c. Ibu telah menghabiskan ½ gelas teh hangat.
d. Ibu memilih posisi miring kiri.
e. Ibu telah relaksasi disaat ada his.
f. Ibu memilih suami untuk menemani ibu dan suamin telah berada
disamping ibu.
g. Keluarga telah memasase pinggang ibu dan rasa nyeri ibu telah
berkurang.
h. Telah dilakukan pemantauan persalinan.
2. Kala II
a. Ibu mengetahui kondisinya dan janinya saat ini.
b. Ibu telah mendapat dukungan moril dari suami maupun keluarga.
c. Ibu memilih posisi litotomi
d. Ibu telah mengerti cara meneran yang baik.
e. Ibu telah meneran sesuai dengan yang dianjurkan.
f. Ibu telah minum 1 gelas teh hangat.
181
g. Pertolongan persalinan APN telah dilakukan bayi lahir spontan
pukul 17.00 WIB JK laki-laki,bayi segera menangis
3. Kala III
a. Dari hasil palpasi tidak ada janin kedua.
b. Telah dilakukan manajemen aktif kala III
c. Plasenta sudah dilakukan pemeriksaan
d. Tidak ada laserasi pada jalan lahir
4. Kala IV
a. Kontraksi uterus baik
b. Tubuh ibu dan tempat persalinan telah dibersihkan dari darah dan
lendir.
c. Telah dilakukan masase
d. TD 100/70 mmHg
Nadi 80 x/menit
e. TFU 2 jari dibawah pusat
f. Kontraksi ibu baik
g. Kandung kemih ibu kosong
h. Perdarahan 150 cc
i. Ibu bersedia untuk memberikan asi eksklusif
j. Peralatan telah dimasukkan kedalam klorin
k. Pemantauan selama 2 jam sedang dilakukan.
182
4.7.3 Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus pada studi kasus ini
asuhan persalinan normal terlaksana sesuai dengan APN khususnya
pada proses kelahiran bayi dan plasenta Pada langkah ini dilakukan
evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi
pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi
sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam
masalah dan diagnosa.
183
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin normal yaitu Ny.I
umur 25 tahun G1P0A0 usia kehamilan 36 minggu 4 hari, dengan persalinan
normal di BPS Rosbiatul Adawiyah Bandar lampung pada tahun 2015. Maka
penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
5.1.1 Dalam melakukan asuhan kebidanan pada ibu bersalin yaitu Ny. I
dengan persalinan normal, penulis telah melaksanakan pengkajian
dengan baik dan lancar. Pengkajian tersebut didapat dari data
subjektif dan objektif pasien, dimana data subjek dari pasien yaitu
pasien bernama Ny. I umur 25 tahun hamil pertama, belum pernah
bersalin dan tidak pernah keguguran. Ibu mengatakan perutnya
terasa kenceng-kenceng dan mulas pada perutnya yang kuat dan
mengeluarkan lendir bercampur darah sejak pukul 04.00 WIB,
HPHT 24-06-2013. Dan dari data objektif didapatkan usia
kehamilan 36 minggu 4 hari, di dapat kan hasil Leopold yaitu pada
Leopold I TFU teraba 3 jari dibawah processus xypoideus, pada
fundus perut ibu teraba satu bagian bulat, lunak tidak melenting
(bokong janin), Leopold II pada sebelah kanan perut ibu teraba
bagian kecil – kecil janin yaitu ekstremitas janin, pada sebelah kiri
perut ibu teraba panjang keras datar dan memapan yaitu punggung
184
janin, Leopold III bagian bawah perut ibu teraba satu bagian bulat,
lunak, melenting (kepala), dan Leopold IV kepala sudah masuk PAP
(divergen), hasil pemeriksaan dalam yaitu pada dinding vagina tidak
ada sistokel dan rektokel, porsio sejajar, konsistensi lunak,
pendataran 80%, pembukaan 8 cm, ketuban positif, presentasi
kepala, penunjuk UUK, posisi depan, penurunan Hodge II, dan tidak
ada molase, hasil DJJ baik, 140 kali per menit, keadaan ibu dan janin
baik.
5.1.2 Penulis telah melakukan interprestasi data, dan hasil interprestasi data
dengan menentukan diagnosa kebidanan ibu bersalin yaitu :
2. Pukul 06.30 WIB Kala I : Ny.I umur 25 tahun G1P0A0 usia
kehamilan 36 minggu 4 hari Kala I
fase aktif.
3. Pukul 15.00 WIB Kala II : Ny.I umur 25 tahun G1P0A0 usia
kehamilan 36 minggu 4 hari Inpartu
Kala II.
4. Pukul 17.05 WIB Kala III : Ny.I umur 25 tahun P1A0 usia
kehamilan 36 minggu 4 hari Kala III
persalinan.
5. Pukul 17.30 WIB Kala IV : Ny.L umur 25 tahun P1A0 usia
kehamilan 36 minggu 4 hari Kala IV
persalinan.
185
5.1.3 Pada kasus ini penulis tidak menemukan diagnosa potensial, karena
Ny. I melahirkan secara normal dan dilakukan sesuai dengan 60
langkah asuhan persalinan normal.Tidak terdapat antisipasi masalah
potensial pada kasus ini.
5.1.4 Dalam kasus ini penulis tidak melakukan antisipasi karena tidak ada
masalah yang munculnya misalnya tanda-tanda infeksi, perdarahan
pervaginam, dan lain-lain. Dalam hal ini, penulis hanya melakukan 60
langkah asuhan persalinan normal, karena yang dilakukan 60 langkah
asuhan persalinan normal maka tidak ada tindakan segera.
5.1.5 Dalam kasus ini penulis telah memberikan rencana asuhan kebidanan
pada ibu bersalin terhadap Ny. I G1P0A0 dengan asuhan persalinan
normal yaitu 60 langkah asuhan persalinan normal.
5.1.6 Dalam kasus ini penulis telah melaksanakan asuhan kebidanan sesuai
dengan yang telah direncanakan yaitu dengan melakukan asuhan
persalinan normal kepada Ny. I.
5.1.7 Dalam kasus ini penulis telah melaksanakan evaluasi pada kasus Ny. I
dengan persalinan normal dimana evaluasi yang didapat yaitu pada
kala I pemantauan partograf tidak melewati garis waspada, kala II telah
melahirkan pada pukul 17.00 WIB, jenis kelamin laki-laki, berat badan
3500 gram, panjang badan 50 cm, menangis kuat, tonus otot aktif, dan
warna kulit kemerahan, pada kala III plasenta lahir lengkap pukul 17.15
WIB insersi marginalis, selaput utuh, kotiledon lengkap, tebal 2 cm,
panjang tali pusat 50 cm, dan diameter 3 cm, pada kala IV pemantauan
186
2 jam post partum yaitu TTV dalam batas normal, kontraksi baik, TFU
2 jari dibawah pusat, kandung kemih kosong, perdarahan 20 cc, dan
tidak ada tanda-tanda perdarahan post partum.
5.1.8 Penulis telah dapat melakukan pendokumentasian dari semua asuhan
yang telah diberikan pada ibu untuk memperlancar dalam penulisan
KTI yang berjudul “Asuhan Persalinan Normal”, dimana data tersebut
didapatkan dari hasil data subjektif dan data objektif terhadap Ny. I
umur 25 tahun usia kehamilan 36 minggu 4 hari di BPS Rosbiatul
Adawiyah, S.KM, M.Kes.
5.2 Saran
5.2.1 Bagi institusi pendidikan
Diharapkan adanya kesamaan dan kesesuaian antara teori perkuliahan
dengan tindakan klinik dilahan praktek, sehinga tujuan yang diharapkan
dapat dicapai secara optimal
5.2.2 Bagi lahan praktek
Penulis mengharapkan pihak BPM dapat mempertahankan asuhan yang
diberikan pada ibu bersalin sesuai dengan standar yaitu 60 langkah
asuhan persalinan normal.
5.2.3 Bagi klien
Untuk mencapai keberhasilan bagi ibu hamil khususnya ibu hamil yang
akan bersalin mendeteksi dini tanda persalinan dan komplikasi dalam
persalinan agar ibu tidak mengalami keterlambatan ke petugas
kesehatan apabila terjadi komplikasi.
187
5.2.4 Bagi peneliti selanjutnya
Penulis mengharapkan agar peneliti selanjutnya dapat meneliti kasus
yang lebih mendalam lagi seperti asuhan persalinan yang patologis
untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang infeksi dan
komplikasi pada asuhan persalinan normal yang patologis.
188
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, Eny Retna dan Wulandari, Diah 2010, Asuhan kebidanan nifas,
Yogyakarta, Nuha medika.
Depkes, 2007, Kematian Ibu Menurut WHO. di unduh tanggal 8/4/2015,
Http://www.depkes.go.id
Jannah,Nurul. 2014, Asuhan kebidanan pada masa persalinan, Jakarta , salemba
medika.
JNPK-KR.2008,Asuhan Persalinan Normal, Jakarta.
Manuaba, Ida Ayu et all, 2010. Ilmu Kebidanan penyakit kandungan dan KB,
Jakarta : EGC
Notoatmodjo. Prof Dr soekidjo,2005, Metodologi Penelitian kesehatan, Jakarta,
Rineka cipta.
Priharjo, Robert.2006. Pengkajian Fisik Keperawatan.Jakarta : EGC
Prawiroharjo,sarwono. 2010, Ilmu kebidanan, Jakarta,bina pustaka sarwono
prawiroharjo.
Profil dinas kesehatan provinsi lampung tahun 2012
Rohani et all 2011, Asuhan kebidanan pada masa persalinan, Jakarta, salemba
medika.
Soepardan, suryani. 2007,konsep kebidanan,Jakarta, EGC
Sujiatini et all 2011.Asuhan Kebidanan II (Persalinan).Yogyakarta : Rohima
Press
Sulistyawati,Ari, 2011, Asuhan kebidanan pada masa kehamilan, Jakarta,
salemba medika.
Sulistyawati,Ari, dan Nugraheny, Esty 2012, Asuhan kebidanan pada ibu
bersalin, Jakarta, salemba medika.
Sumarah et all 2008, Perawatan Ibu Bersalin (Asuhan Kebidanan pada Ibu
Bersalin).Yogyakarta : Fitramaya
Uliyah,Musrifatul et all 2008.Konsep Dasar Praktik Klinik.Jakarta : EGC
Walyani, Elisabeth Siwi.2015, Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan.
189
Wildan, moh dan hidayat, a. aziz alimul. 2009, Dokumentasi kebidanan, Jakarta,
salemba medika
Yulifah, Rita. 2011, Asuhan kebidanan komunitas,Jakarta, salemba medika.
190
Gambar a : Melakukan pertolongan persalinan
Gambar b : Melakukan jepit potong tali pusat
DOKUMENTASI
191
Gambar c :Melakukan pengecekan plasenta
141
141

Kti rika agustina

  • 1.
    1 ASUHAN KEBIDANAN PADAIBU BERSALIN TERHADAP NY.I UMUR 25 TAHUN G1P0A0 USIA KEHAMILAN 36 MINGGU 4 HARI DI BPM ROSBIATUL ADAWIYAH, SKM.,M.Kes BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015 KARYA TULIS ILMIAH DI SUSUN OLEH RIKA AGUSTINA M.Y 201207050 AKADEMI KEBIDANAN ADILA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015 i
  • 2.
    2 ASUHAN KEBIDANAN PADAIBU BERSALIN TERHADAP NY.I UMUR 25 TAHUN G1P0A0 UMUR KEHAMILAN 36 MINGGU 4 HARI DI BPM ROSBIATUL ADAWIYAH, SKM, M. KES BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015 KARYA TULIS ILMIAH (Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Kebidanan) DISUSUN OLEH : NAMA : RIKA AGUSTINA M.Y NIM : 201207050 AKADEMI KEBIDANAN ADILA BANDAR LAMPUNG 2015 ii
  • 3.
    3 LEMBAR PENGESAHAN Diterima dandisahkan oleh Tim Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Kebidanan Adila pada : Hari : Selasa Tanggal : 30 Juni 2015 Penguji I Penguji II Puspita Dewi, S.ST., M. Kes Yuhelva Destri, Amd.Keb.,SKM NIK. 2015021052 NIK.2015021059 MENGESAHKAN Direktur Akademi Kebidanan ADILA Bandar Lampung dr.Wazni Adila,MPH. NIK. 201104100 iii
  • 4.
    4 ASUHAN KEBIDANAN PADAIBU BERSALIN TERHADAP NY. I UMUR 25 TAHUN G1P0A0 UMUR KEHAMILAN 36 MINGGU 4 HARI DI BPS ROSBIATUL ADAWIYAH, SKM.M.Kes BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015 Rika Agustina M.Y, Puspita Dewi, S.ST., M. Kes, Yuhelva Destri, Amd.Keb.,SKM INTI SARI Kematian ibu menurut WHO adalah kematian yang terjadi saat hamil, bersalin, atau dalam 42 hari pasca persalinan dengan penyebab yang berhubungan langsung atau tidak langsung terhadap kehamilan. Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan, di seluruh dunia lebih dari 585 ribu ibu meninggal tiap tahun saat hamil atau bersalin. Artinya, setiap menit ada satu perempuan yang meninggal (BKKBN, 2009). Sedangkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi di kawasan ASEAN, walaupun sudah terjadi penurunan dari 307 per 100 ribu kelahiran hidup (SDKI 2002-2003) menjadi 248 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2007, Tujuan penelitian, dapat memberikan asuhan kebidanan kepada ibu bersalin. Metode penelitian, menggunakan metode penelitian deskriptif. Subyek penelitian, Ny.I Umur 25 tahun G1P0A0 Umur Kehamilan 36 Minggu 4 Hari. Tempat penelitian, BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.,M.Kes Bandar Lampung. Hasil penelitian, Penulis mampu melakukan Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin terhadap Ny.I G1P0A0 tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus. Saran utama bagi klien, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui pentingnya pertolongan persalinan yang ditolong atau didampingi oleh petugas kesehatan difasilitas kesehatan. Kata kunci : Persalinan Kepustakaan : 19 Refrensi (2005-2015) Jumlah Halaman : 187 halaman iv
  • 5.
    5 CURRICULUM VITAE Nama :Rika Agustina M.Y Nim : 20120707050 Tempat, tanggal lahir : Menggala, 09Agustus 1994 Alamat : Jln. Bunga Matahari I Blok 6 No.40 Prumnas Way Kandis, Bandar Lampung Institusi : Akademi Kebidanan Adila Angkatan : Ke 7 ( Tujuh) Biografi : Riwayat pendidikan SDN 1 Kibang Menggala Tulang Bawang Lulus Tahun 2006 SMP Negeri 1 Menggala Tulang Bawang Lulus Tahun 2009 SMA Negeri 15 Bandar Lampung Lulus Tahun 2012 Saat Ini Penulis Sedang Menempuh Pendidikan Diploma III Kebidanan Di Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung v
  • 6.
    6 MOTO Sesungguhnya sholatku, ibadahku,hidup dan matiku hanya karena Allah SWT” “Jalanilah proses sebelum Menikmati hasil yang memuaskan” (RIKA AGUSTINA M.Y) vi
  • 7.
    7 PERSEMBAHAN Dengan penuh rasasyukur, ku persembahkan karya kecil ku ini kepada : Orang yang selalu berada di belakang maupun di sampingku untuk mendukungku dan mengajariku dalam segala hal, selalu ada dalam keadaan susah maupun senang, selalu mencari nafkah dan berjuang untuk mengabulkan segala permintaanku, dan tak pernah lupa selalu mendo’a kan ku dalam setiap langkah nya, selalu memberikan support, tempat curhatku, tempat untuk tertawa riang gembira, kalian penyemangatku, inspirasiku dan kalian pembawa keceriaan dalam hidupku terimakasih atas segala cinta, kasih sayang yang amat sangat tulus untukku. Doa yang selalu kalian ucapkan untuk kebaikan dan kebahagiaanku Yaitu keluarga besarku tersayang. Untuk pembimbing I KTI ku ibu Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes, pembimbing II KTI ku ibu Vionita Gustianto,S.ST penguji I KTI ku ibu Puspita Dewi, S.ST, mami tersayang Syaridawati Rambe, S.SiT dan terimakasih untuk segalanya dan dapat membimbing diriku hingga diriku dapat menyelesaikan karya tulis diakbid adila ini. Untuk seluruh dosen dan staf Akbid Adila Bandar Lampung, terimakasih atas bimbingan, arahan dan motivasinya hingga diriku bisa mengikuti semua aturan, kegiatan proses belajar mengajar sampai diriku bisa menyusun karya tulis ilmiah sampai selesai. Teman-teman maupun sahabat baik ku di Akbid Adila angkatan VII (tujuh) yang selalu berbagi ilmu maupun pengalaman, memberikan canda, tawa, penyemangat, saling mendukung satu sama lain dalam 3 tahun ini. Dan diakhir persembahan ini satu kata yang terucap dari ku yakni alhamdulillahhirobbil’alamin. Salam kangen dariku Rika Agustina M.Y vii
  • 8.
    8 KATA PENGANTAR Puji syukurkehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dalam bentuk studi kasus kebidanan yang berjudul “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Terhadap Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Umur Kehamilan 36 Minggu 4 Hari di BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015”. Penulis menyadari karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman dalam menulis Karya Tulis Ilmiah, penulis banyak menerima bantuan. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. dr.Wazni Adila,MPH selaku direktur Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung 2. Rosbiatul Adawiyah,SKM, M.Kes selaku Pembimbing Lahan Praktek dan pembimbing I Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung 3. Vionita Gustianto, S.ST selaku pembimbing II Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung 4. Seluruh Staf dan Dosen Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung. Penulis menyadari dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak. Akhirnya penulis berharap semoga Karya Tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca. Bandar Lampung, 25 Juni 2015 Penulis viii
  • 9.
    9 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL..........................................................................i HALAMAN PENGESAHAN ............................................................ ii INTISARI........................................................................................... iii CURICULUM VITAE....................................................................... iv MOTTO ............................................................................................. v PERSEMBAHAN .............................................................................. vi KATA PENGANTAR........................................................................ vii DAFTAR ISI...................................................................................... viii DAFTAR TABEL .............................................................................. x DAFTAR GAMBAR.......................................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN...................................................................... xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. ............................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ........................................................... 3 1.3 Tujuan Penulisan............................................................. 4 1.4 Ruang Lingkup................................................................ 6 1.5 Manfaat Penelitian........................................................... 6 1.6 Metodelogi dan Teknik Memperoleh Data....................... 7 1.7 Sistematika Laporan........................................................ 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan teori medis........................................................... 12 2.2 Tinjauan teori asuhan kebidanan......................................... 79 2.3 Landasan Hukum Kewenangan Bidan ................................ 107 2.4 Kompetensi Bidan .............................................................. 111 ix
  • 10.
    10 BAB III TINJAUANKASUS 3.1 Pengkajian.......................................................................... 115 3.2 Matriks............................................................................... 125 BAB IV PEMBAHASA 4.1 Pengkajian......................................................................... 141 4.2 Interprestasi data................................................................ 165 4.3 Diagnosa potensial............................................................. 171 4.4 Tindakan Segera ............................................................... 172 4.5 Perencanaan....................................................................... 173 4.6 Pelaksanaan....................................................................... 177 4.7 Evaluasi ............................................................................ 179 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ....................................................................... 183 5.2 Saran ................................................................................. 186 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN x
  • 11.
    11 DAFTAR TABEL Table 3.1Matriks ........................................................................ 125 xi
  • 12.
    12 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1Bidang Hodge………………………….....................................25 xii
  • 13.
    13 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1: Surat Izin Penelitian Lampiran2 :Surat Balasan Izin Penelitian Lampiran 3 : Jadwal Penelitian Lampiran4 : Partograp Lampiran 5 : Dokumentasi Lampiran 6 : Lembar Konsul Penguji xiii
  • 14.
    1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Asuhan Persalinan Normal adalah : asuhan persalinan yang bersih dan aman selama persalinan dan setelah bayi lahir, serta upaya pencegahan komplikasi terutama perdarahan pasca persalinan, hipotermia, dan asfiksia bayi baru lahir. Sementara itu, focus utamanya adalah mencegah terjadinya komplikasi (Prawirohardjo, 2010 : 334). Kematian ibu menurut WHO adalah kematian yang terjadi saat hamil, bersalin, atau dalam 42 hari pasca persalinan dengan penyebab yang berhubungan langsung atau tidak langsung terhadap kehamilan. Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan, di seluruh dunia lebih dari 585 ribu ibu meninggal tiap tahun saat hamil atau bersalin. Artinya, setiap menit ada satu perempuan yang meninggal (BKKBN, 2009). Sedangkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi di kawasan ASEAN, walaupun sudah terjadi penurunan dari 307 per 100 ribu kelahiran hidup (SDKI 2002-2003) menjadi 248 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2007 (Depkes RI 2007). Upaya atau strategi yang dapat dilakukan oleh bidan di masyarakat untuk menekan angka kematian ibu dan anak adalah dengan memberikan perhatian dan perlakuan khusus kepada ibu hamil, ibu bersalin, nifas, dan bayi baru lahir dengan cara seperi : membina dan mengarahkan masyarakat agar bersedia dan mampu mengenali masalah resiko tinggi ibu hamil, ibu bersalin,
  • 15.
    2 nifas dan bayibaru lahir, sehingga masyarakat dapat mengetahui secara tepat dan cepat apa yang harus diperbuat jika menghadapi kasus resiko tinggi, memberi penyuluhan tentang suami siaga, suami dari ibu hamil, bersalin, nifas diharapkan selalu bersiaga terutama saat menjelang persalinan, sehingga apabila terjadi kedaruratan sewaktu-waktu dapat bertindak (Yulifah,2011:15). Berdasarkan hasil SDKI 2007 derajat kesehatan ibu dan anak di Indonesia masih perlu ditingkatkan, ditandai oleh Angka Kematian Ibu (AKI) yaitu 228/100.000 Kelahiran Hidup (KH), dan tahun 2008, 4.692 jiwa ibu melayang dimasa kehamilan, persalinan, dan nifas. Sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) 34/1000 KH, terjadi stagnasi bila dibandingkan dengan SDKI 2003 yaitu 35 per 1000 KH (SDKI, 2007). Hasil SDKI 2012 tercatat sudah mulai turun perlahan bahwa angka kematian ibu melahirkan tercatat sebesar 102 per seratus ribu kelahiran hidup dan angka kematian bayi sebesar 23 per seribu kelahiran hidup. (SDKI,2012). Berdasarkan kesepakatan global (millennium develoment Goal/MDGS, 2000), pada tahun 2015 diharapkan angka kematian ibu menurun sebesar tiga perempat kali dalam kurun waktu 1990 sampai 2015 dan angka kematian bayi serta balita menurun sebesar dua pertiga kali dalam kurun waktu 1990 sampai 2015. oleh karena itu, indonesia mempunyai komitment untuk menurunkan angka kematian ibu dari 228 menjadi 102/100.000 kelahiran hidup, angka kematian bayi dari 68 menjadi 23/1.000 kelahiran hidup (Sulistyawati dan Nugraheny,2012; h.vii).
  • 16.
    3 Berdasarkan profil DinkesProvinsi Lampung tahun 2013 jumlah ibu bersalin di provinsi lampung sebanyak 171.975 ibu, dimana pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sebanyak 10.698 ibu dan 46.481 ibu bersalin di non tenaga kesehatan. Faktor medis yang menjadi penyebab kematian ibu pada tahun 2012 di provinsi lampung dari 171.975 ibu bersalin adalah eklamsi 33,15 %, perdarahan 22,47 %, infeksi 2,25 %, penyebab lain 42,13 % dari 171.975 ibu bersalin. (Profil Dinkes Provinsi Lampung). Jumlah persalinan dari bulan januari – maret tahun 2015 di BPS Rosbiatul Adawiyah, SKM.,M.Kes Bandar Lampung sebanyak 47 orang, dengan 3 orang dirujuk karena Sectio sesarea dan 44 orang lahir secara normal. Berdasarkan masalah dan fenomena pada ibu bersalin yang ada diatas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin normal Terhadap Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015”. 1.2 Rumusan Masalah “Bagaimana Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin normal Terhadap Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM Rosbiatul Adawiyah, SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015?”.
  • 17.
    4 1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1Tujuan umum Penulis mampu menerapkan atau melaksanakan tujuan khusus Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin normal Terhadap Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015”. 1.3.2 Tujuan khusus 1.3.2.1 Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya pengkajian data pada ibu bersalin normal Terhadap Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015”. 1.3.2.2 Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya interprestasi data diagnose atau masalah pada ibu bersalin pada ibu bersalin normal terhadap Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015”. 1.3.2.3 Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya identifikasi diagnosa atau masalah potensial pada ibu bersalin normal terhadap Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015”.
  • 18.
    5 1.3.2.4 Penulis mampumelaksanakan asuhan kebidanan khususnya menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera ibu bersalin normal terhadap Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015”. 1.3.2.5 Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya menyusun rencana asuhan ibu bersalin normal terhadap Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015”. 1.3.2.6 Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya pelaksanaan asuhan ibu bersalin normal terhadap Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015”. 1.3.2.7 Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya evaluasi keefektifan asuhan ibu bersalin normal terhadap Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari Di BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015”. 1.3.2.8 Penulis mampu mendokumentasikan asuhan yang telah diberikan pada Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan
  • 19.
    6 36 Minggu 4Hari Di BPM Rosbiatul Adawiyah,SKM.M.Kes Bandar Lampung Tahun 2015”. 1.4 Ruang Lingkup 1.4.1 Sasaran Ny.I Umur 25 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 36 Minggu 4 Hari 1.4.2 Tempat BPM Rosbiatul Adawiyah.SKM,M.Kes Bandar Lampung. 1.4.3 Waktu Dilaksanakan pada tanggal 7 April 2015 1.5 Manfaat penelitian 1.5.1 Institusi Pendidikan Dapat dijadikan bahan referensi untuk penelitian yang sama, Sebagai dokumentasi dan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya. Hasil penelitian dapat memberikan informasi bagi staf akademik dan mahasiswa dalam rangka mengembangkan proses belajar mengajar khususnya yang berkaitan dengan manajemen asuhan kebidanan ibu bersalin. 1.5.2 Bagi Lahan Praktek Studi kasus ini dapat dijadikan gambaran informasi serta bahan untuk meningkatkan manajemen kebidanan yang diterapkan oleh lahan praktek mengenai asuhan persalinan normal, dan dapat meningkatkan
  • 20.
    7 mutu pelayanan yangberkualitas berdasarkan standar pelayanan kebidanan yang ada. 1.5.3 Bagi klien Hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan pada klien khususnya tentang persalinan dan dapat menambah pengalaman mengenai penanganan ibu bersalin normal dan klien mendapatkan asuhan kebidanan yang bermutu, sehingga ibu mampu memenuhi kebutuhan dan mengenali komplikasi saat bersalin. 1.5.4 Bagi penulis Studi kasus ini dapat meningkatkan pengetahuan yang didapat selama di perkuliahan serta dapat mengaplikasikan dalam penanganan pada ibu bersalin. 1.6 Metodologi dan Tehnik Memperoleh Data 1.6.1 Metode Penelitian Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan metode penulisan deksriptif. Metodologi deksriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deksripsi tentang suatu keadaan secara obyektif. Metode penelitian deksriptif digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi sekarang. Penelitian ini dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan data, klsifikasi, pengolahan/analis data, membuat kesimpulan, dan laporan.
  • 21.
    8 1.6.2 Tehnik MemperolehData Metode yang digunakan dalam penulisan Karya Tulisan Ilmiah ini adalah : 1.6.2.1 Data Primer 1. Anamnesa Adalah suatu metode yang dipergunakn untuk mengumpulkan data, dimana penelitian mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari sseorang sasaran penelitian (reponden). Yaitu dengan auto anamnesa adalah wawancara yang langsung dilakuan kepada klien mengenai penyakitnya (Notoatmodjo, 2005:102) 2. Auto anamnesis Anamnesis yang dilakukan kepada pasien langsung, jadi data yang diperoleh adalah data primer karena langsung dari sumbernya 3. Allo anamnesis Anamnesis yang dilakukan kepada keluarga pasien untuk memperoleh data tentang pasien, hal ini dilakukan pada keadaan darurat ketika pasien tidak memungkinkan lagi untuk memberikan data yang akurat (Sulistyawati dan Nugraheny, 2010;220).
  • 22.
    9 1.6.2.2 Data sekunder 1.Studi pustaka Penulis mencari, mengumpulkan, dan mempelajari referensi yang relevan berdasarkan kasus yang dibahas yaitu Asuhan Persalinan Normal dari beberapa buku dan informasi dari internet. 2. Studi Dokumenter Adalah semua dokumen baik yang di terbitkan maupun yang tidak diterbitkan, yang ada dibawah tanggung jawab instasi resmi, misalnya buku KMS ibu (notoatmodjo, 2005; h 62-63) 1.7 Sistematika Laporan Sistematika penulisan studi kasus ini terdiri dari beberapa bab, antara lain: BAB I : Pendahuluan: berisi fenomena dari garis besar pembahasan yang meliputi uraian timbulnya fenomena yang merupakan latar belakang masalah dan pokok permasalahan. Fenomena ini akan dipakai untuk menyusun alasan, tujuan, manfaat penulisan yang akan dilakukan. Tujuan penulisan berisi tentang harapan penambahan ilmu yang akan diperoleh melalui pengalaman pengelolaan ini. Latar belakang menggambarkan topik yang akan dibuat sebagai karya tulis ilmiah dengan model pengambilan data secara piramida terbalik.
  • 23.
    10 BAB II :Tinjauan Teori: berisi tinjauan teori yang didapat oleh peneliti dari berbagai sumber-sumber terkini/up to date. Terdiri dari 3 yaitu tinjauan teori medis, tinjauan teori manajemen kebidanan menurut varney dan landasan hukum kewenangan bidan. BAB III : Tinjauan Kasus: merupakan hasil pengkajian berupa data subjektif dan objektif. Dimana data tersebut diperoleh dari anamnesa, observasi, pemeriksaan fisik, data penunjang lainnya yang didapatkan dari pemeriksaan laboratorium yang kemudian dianalisis dan didokomentasikan dalam bentuk varney. BAB IV : Pembahasan: berisi tentang kesenjangan yang terjadi antara teori dengan kasus yang diambil oleh peneliti, pada bab ini dikaitkan hasil yang ditemukan dengan tinjauan teori yang telah ditulis oleh peneliti. BAB V : Penutup: berisi tentang kesimpulan pasien yang dikelola oleh peneliti. Oleh karena itu kesimpulan lebih ke arah jawaban permasalahan atau ketegasan dari tujuan khusus. Di dalam saran dijelaskan tindak lanjut kesimpulan yang telah dirumuskan berupa anjuran atau rekomendasi, yang lebih menekankan pada asuhan yang sifatnya lebih operasional atau
  • 24.
    11 aplikatif terkait denganpelaksanaan hasil pengelolaan pasien secara komprehensif. DAFTAR PUSTAKA : Berisi refrensi-refrensi dari sebuah Karya Tulis Ilmiah LAMPIRAN
  • 25.
    12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1Tinjauan Teori Medis 2.1.1 Pengertian Persalinan Persalinan ialah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 4). Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang dari dalam uterus ke dunia luar. Persalinan mencakup proses fisiologis yang memungkinkan serangkaian perubahan yang besar pada ibu untuk dapat melahirkan janinnya melalui jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal merupakan proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin (Jannah, 2014 : 1). Persalinan merupakan proses pergerakan keluarnya janin, plasenta, dan membrane dari dalam rahim melalui jalan lahir. Proses ini berawal dari pembukaan dan dilatasi serviks sebagai akibat kontraksi uterus dengan frekuensi, durasi, dan kekuatan yang teratur (Rohani et. all, 2011 : 2 ).
  • 26.
    13 2.1.2 Sebab-sebab terjadinyapersalinan 2.1.2.1 Teori keregangan Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu. setelah melewati batas waktu tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dimulai keadaan uterus yang terus membesar dan menjadi tegang yang mengakibatkan iskemia otot – otot uterus. hal ini mungkin merupakan faktor yang dapat menggangu sirkulas iuteroplasenter sehingga plasenta mengalami degenerasi (Sumarah et. all, 2008 : 3). 2.1.2.2 Teori penurunan hormone Saat 1-2 minggu sebelum proses melahirkan dimulai, terjadi penurunan kadar estrogen dan progesteron. Progesteron bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim, jika kadar progesteron turun akan menyebabkan tegangnya pembuluh darah dan menimbulkan his. 2.1.2.3 Teori plasenta menjadi tua Seiring matangnya usia kehamilan, villi chorialis dalam plasenta mengalami beberapa perubahan, hal ini menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron yang mengakibatkan tegangnya pembuluh darah sehingga akan menimbulkan kontraksi uterus.
  • 27.
    14 2.1.2.4 Teori DistensiRahim Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu. Setelah melewati batas tersebut, akhirnya terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat dimulai. 2.1.2.5 Teori iritasi mekanis Dibelakang serviks terletak ganglion servikalis (fleksus frankenhauser), bila ganglion ini digeser dan ditekan (misalnya oleh kepala janin), maka akan timbul kontraksi uterus. 2.1.2.6 Teori oksitosin 1. Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis posterior. 2. Perubahan keseimbangan estrogen dan progestereron dapat mengubah sensitivitas otot rahim, sehingga terjadi kontraksi Braxton hicks. 3. Menurunnya kontraksi progesteron karena matangnya usia kehamilan menyebabkan oksitosin meningkatkan aktivitasnya dalam merangsang otot rahim untuk berkontraksi, dan akhirnya persalinan dimulai. 2.1.2.7 Teori hipotalamus-pituitari dan Glandula suprarenalis. 1. Glandula suprarenalis merupakan pemicu terjadinya persalinan.
  • 28.
    15 2. Teori inimenunjukkan, pada kehamilan dengan bayi anensefalus sering terjadi kelambatan persalinan karena tidak terbentuknya hipotalamus. 2.1.2.8 Teori prostaglandin Prostaglandin yang dihasilkan oleh desidua disangka sebagai salah satu sebab permulaan persalinan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa prostaglandin F2 atau E2 yang diberikan secara intravena menimbulkan kontraksi miometrium pada setiap usia kehamilan. 2.1.3 Tujuan Asuhan Persalinan Normal Tujuan asuhan persalinan normal adalah untuk menjaga kelangsungan hidup dan meningkatkan derajat kesehatan ibu dan bayi. Walaupun dengan intervensi yang minimal, namun upaya yang terintegrasi dan lengkap tetap harus dijaga agar prinsip keamanan dan kualitas pelayanan optimal (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 5, 9). Memberikan asuhan yang memadai selama persalinan dalam upaya mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan aman, dengan memperhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi (Jannah, 2014: 2). 2.1.4 Lima benang merah dalam asuhan persalinan normal 2.1.4.1 Membuat keputusan klinik Membuat keputusan merupakan proses yang menentukkan untuk menyelesaikan masalah dan menentukkan asuhan yang
  • 29.
    16 diperlukan oleh pasien.Keputusan itu harus akurat, komprehensif dan aman. Membuat keputusan klinik tersebut dihasilkan melalui serangkaian proses dan metode yang sistematik menggunakkan informasi dan hasil dari olah kognitif dan intutif serta dipadukan dengan kajian teoritis dan intervensi berdasarkan bukti (evidence-based), keterampilan dan pengalaman yang dikembangkan melalui berbagai tahapan yang logis dan diperlukan dalam upaya untuk menyelesaikan masalah dan terfokus pada pasien. 2.1.4.2 Asuhan sayang ibu dan sayang bayi Asuhan sayang ibu adalah asuhan yang menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu. Beberapa prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. 2.1.4.3 Pencegahan infeksi Tindakan pencegahan infeksi (PI) tidak terpisah dari komponen-komponen lain dalam asuhan selama persalinan dan kelahiran bayi. Tindakan ini harus diterapkan dalam setiap aspek asuhan untuk melindungi ibu, bayi baru lahir, keluarga, penolong persalinan dan tenaga kesehatan lainya dengan mengurangi infeksi karena bakteri, virus dan jamur.
  • 30.
    17 2.1.4.4 Pencatatan (RekamMedik) asuhan persalinan. Pencatatan adalah bagian penting dari proses membuat membuat klinik karena memungkinkan penolong persalinan untuk terus menerus memperhatikan asuhan yang diberikan selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Mengkaji ulang catatan memungkinkan untuk menganalisa data yang telah dikumpulkan dan dapat lebih efektif dalam merumuskan suatu diagnosa dan membuat rencana asuhan atau perawatan bagi ibu atau bayinya. 2.1.4.5 Rujukan Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas rujukkan atau fasilitas yang memiliki sarana lebih lengkap, diharapkan mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir. Meskipun sebagian besar ibu akan mengalami persalinan normal namun sekitar 10-15 % diantarannya akan mengalami masalah selama proses persalinan dan kelahiran bayi sehingga perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukkan (JNPK-KR, 2008 : 7-34). 2.1.5 Bentuk-Bentuk Persalinan 2.1.5.1 Berdasarkan definisi 1. Persalinan spontan Yaitu bila seluruh persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri.
  • 31.
    18 2. Persalinan buatan Yaitubila seluruh persalinan berlangsung dengan bantuan tenaga dari luar. 3. Persalinan anjuran Yaitu bila kekuatan yang diperlukan untuk persalinan ditimbulkan dari luar dengan jalan pemberian rangsangan. 2.1.5.2 Menurut cara persalinan 1. Partus biasa (normal) atau disebut juga partus spontan adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala dengan tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi, umumnya berlangsung kurang dari 24 jam. Persalinan normal dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit. 2. Partus luar biasa (abnormal) adalah persalinan per vagina dengan bantuan alat-alat atau melalui dinding perut dengan operasi sectio caesaria (SC). 2.1.5.3 Menurut usia kehamilan Menurut umur kehamilan : 1. Abortus, adalah terhentinya proses kehamilan sebelum janin dapat hidup (viable), berat janin dibawah 1.000 gram, atau usia kehamilan dibawah 28 minggu.
  • 32.
    19 2. Partus prematurus,adalah persalinan dari hasil konsepsipada umur kehamilan 28-36 minggu berat badan antara 1.000-2500 gram. 3. Partus matur/aterm (cukup bulan) adalah partus pada umur kehamilan 37-40 minggu, janin matur, berat badan diatas 2.500 gram. 4. Partus postmaturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi 2 minggu atau lebih dari waktu partus yang ditaksir, janin disebut postmatur. 2.1.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi proses persalinan 2.1.6.1 Power Kekuatan yang mendorong janin dalam proses persalinan adalah his, kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma, dan aksi dari ligament. Kekuatan primer yang diperlukan dalam persalinan adalah his, sedangkan sebagai kekuatan skundernya adalah tenaga meneran ibu (Rohani et.all, 2011 : 3-4, 16). 1. His Sifat his meliputi : a. Kontraksi otot-otot rahim dimulai dari salah satu tanduk rahim. b. His yang efektif c. Fundal dominan, yaitu kekuatan paling tinggi di fundus uteri.
  • 33.
    20 d. Kekuatannya sepertigerakan memeras isi rahim. e. Otot rahim yang berkontraksi tidak kembali ke panjang semula, sehingga terjadi retraksi dan pembentukan segmen bawah rahim f. Pada setiap his terjadi perubahan pada serviks yaitu menipis dan membuka. g. Kekuatan seperti mekanisme memeras isi rahim. h. Amplitudo kekuatan his diukur dengan mmHg dan menimbulkan naiknya tekanan intrauterus sampai 35 mmHg. i. Setelah kontraksi otot rahim mengalami retraksi, artinya panjang otot rahim yang telah berkontraksi tidak akan kembali lagi ke panjang semula. j. Frekuensi, yaitu jumlah terjadinya his selama 10 menit. k. Durasi his yaitu lamanya his yang terjadi setiap saat diukur dengan detik. l. Interval his yaitu tenggang waktu antara kedua his. Pada permulaan persalinan his timbul sekali dalam 10 menit, pada kala pengeluaran (kala II ) muncul sekali dalam 2 menit. 2. Tenaga meneran Tenaga meneran pasien akan semakin menambah kekuatan kontraksi uterus. Pada saat pasien meneran,
  • 34.
    21 diafragma dan otot-ototdinding abdomen akan berkontraksi. Kombinasi antara his dan tenaga meneran pasien akan meningkat tekanan intrauterus sehingga janin akan semakin terdorong ke luar. Dorongan meneran akan semakin meningkat ketika pasien dalam posisi yang nyaman, misalnya setengah duduk, jongkok, berdiri, atau miring kekiri (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 28). 2.1.6.2 Passage ( Jalan Lahir ) Jalan lahir terdiri atas panggul ibu, yakni bagian tulang yang padat, dasar panggul, vagina dan introitus. Janin harus berhasil menyesuaikan dirinya terhadap jalan lahir yang relative kaku, oleh karena itu ukuran dan bentuk panggul harus ditentukan sebelum persalinan dimulai Passage atau faktor jalan lahir dibagi menjadi : 1. Bagian keras: tulang –tulang panggul, (rangka panggul) a. Jalan lahir uterus (tulang panggul) Tulang panggul tersusun atas empat tulang, yakni dua tulang koksa, sakrum, dan koksigis yang dihubungkan oleh tiga sendi. Os. Koksa dibagi menjadi os. Illium, os. Iskium, dan os. pubis. Bagian-bagian os. illium yang penting adalah Krista iliaka, spina ischiadika anterior superior, spina iliaka anterior inferior, spina iliaka posterior inferior, dan spina
  • 35.
    22 iliaka posterior superior.Bagian-bagian os. iskium yang penting adalah tuber ischiidan spina ischiadika. Bagian- bagian os. pubis yang penting adalah simfisis pubis dan arkus pubis. Tulang panggul dipisahkan oleh pintu atas panggul menjadi dua bagian, yaitu panggul palsu dan panggul sejati. Panggul palsu adalah bagian di atas pintu atas panggul dan tidak berkaitan dengan persalinan. Panggul sejati dibagi menjadi tiga bidang, yaitu pintu atas atau permukaan atas, panggul tengah atau rongga panggul, dan pintu bawah panggul. Bagian anterior pintu atas panggul yaitu batas atas panggul dibentuk oleh tepi atau pulang pubis, bagian lateralnya dibentuk oleh linea illiopektinea, yakni sepanjang jalan inominata dan bagian posteriornya dibentuk oleh bagian anterior tepi atas sakrum dan promontorium sakrum. Rongga panggul tengah adalah saluran lengkung yang memiliki dinding anterior pendek, dinding posterior jauh lebih cembung dan panjang. Rongga panggul melekat pada bagian posterior simfisis pubis, iskium, sebagian illium, sakrum dan koksigis.
  • 36.
    23 Pintu bawah pangguladalah batas bawah panggul sejati, dilihat dari bawah berbentuk lonjong, dibagian anterior dibatasi lengkung pubis, dibagian lateral oleh tuberositas iskium, dan dibagian posterior oleh ujung koksigis. Pada kehamilan tahap akhir, koksigis dapat bergerak (kecuali jika struktur itu patah, misalnya akibat jatuh dan telah menyatu dengan sakrum ketika sedang penyembuhan). Pada ketinggian yang berbeda, bentuk dan saluran ukuran panggul juga berbeda diameter4 bidang pintu atas, panggul tengah, pintu bawah, dan sumbu jalan lahir menentukan mungkin tidaknya persalinan pervagina berlangsung dan bagaimana janin dapat menuruni jalan lahir (pergerakan kardinal mekanisme persalinan). Ruang panggul (Pelvik Cavity). 1) Pelvis mayor (false pelvic), diatas linea terminalis. 2) Pelvis minor (true pelvic), dibawah linea terminalis. b. Bidang-bidang panggul Bidang hodge adalah bidan semu sebagai pedoman untuk menentukan kemajuan persalinan yaitu, seberapa jauh penurunan kepala melalui pemeriksaan dalam/ vaginal toucher (VT). Bidang hodge terbagi empat antara lain :
  • 37.
    24 1) Bidang HodgeI : Dibidang setinggi atas panggul (PAP) yang dibentukoleh promontorium, arti kulasio adalah sakro- iliaka, sayap sakrum, linea inominata, ramus superior os. Pubis, tepi atas simfisis pubis. Dibidang setinggi atas panggul (PAP) yang dibentuk oleh promontorium, arti kulasio adalah sakro- iliaka, sayap sakrum, linea inominata, ramus superior os. Pubis, tepi atas simfisis pubis. 2) Bidang Hodge II : Bidang setinggi pinggir bawah simfisis bawah pubis, berhimpit dengan PAP (Hodge II). 3) Bidang Hodge III : Bidang setinggi spina ischiadika berhimpit dengan PAP (Hodge I).
  • 38.
    25 4) Bidang HodgeIV : Sejajar Hodge I, setinggi os coccygis Gambar 2.1 Bidang Hodge Saat ini bidang hodge sudah tidak dipergunakan menjadi acuan dalam pemeriksaan dalam vagina (vaginal taucher), namun yang digunakan adalah station. c. Station Station adalah hubungan antara bagian terendah bagian bawah janin dengan garis bayangan yang ditarik antara dua spina ischiadika pada panggul perempuan. Bagian terendah dari janin yang setinggi spina ischiadika disebut station 0. Station diukur dengan cara keatas atau kebawah dari spina ischiadika dan bagian atasnya adalah -1, -2, -3, -4, -5, dan bagian bawah adalah +1, +2, +3, +4, +5. Station -5 berarti kepala belum masuk PAP dan +5 berarti kepala tampak dipintu vagina. d. Pintu panggul 1) Pintu Atas Panggul Inlet dibatasi oleh linea terminalis (linea innominata).
  • 39.
    26 2) Ruang TengahPanggul Pada spina ischiadika, disebut midlet. 3) Pintu Bawah Panggul Dibatasi simfisis dan arkus pubis disebut outlet. 4) Ruang panggul yang sebenarnya Berada antara inlet dan outlet e. Jalan lahir pada proses persalinan 1) Pintu atas panggul dengan distansia transversalis kanan-kiri lebih panjang daripada muka-belakang. 2) Mempunyai bidang tersempit pada spina ischiadika. 3) Pintu bawah panggul terdiri atas dua segitiga dengan dasar yang sama pada tuber ischii, kedepan dengan ujung simfisis pubus, kebelakang ujung sakrum. 4) Jalan lahir depan panjangnya 4,5 cm sedangkan jalan lahir kebelakang panjangnya 12,5 cm. 5) Secara keseluruhan, jalan lahir merupakan corong yang melengkung kedepan, mempunyai bidang sempit pada spina ischiadika, terjadi perubahan pintu atas panggul, lebar kanan kiri menjadi pintu bawah panggul dengan lebar kedepan dan kebelakang yang terdiri atas dua segitiga. 6) Dengan demikian, tulang jalan lahir sangat menentukan proses persalinan apakah dapat
  • 40.
    27 berlangsung melalui jalanbiasa atau melalui tindakan operasi dengan kekuatan dari luar. Hal yang perlu mendapat perhatian bidan di daerah pedesaan adalah kemungkinan ketidakseimbangan antara bentuk kepala dan jalan lahir dalam bentuk disproporsi sefalo pelvis. 2. Bagian lunak : uterus, otot dasar panggul, dan perinium ligament. a. Uterus Saat kehamilan, uterus dapat dibagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut : 1) Segmen atas uterus Terdiri atas fundus dan bagian uterus yang terletak diatas refleksi lipatan vesika uterine peritoneum. Selam persalinan, segmen ini memberikan kontraksi yang kuat untuk mendorong janin keluar. 2) Segmen bawah uterus Teletak antara lipatan vesika uterina peritoneum sebelah atas dan serviks dibawah. Ketika kontraksi, otot segmen atas meningkatkan frekuensi dan kekuatannya, pada kehamilan lanjut, segmen bawah uterus berkembang lebih cepat lagi dan teregang secara radikal untuk memungkinkan turunnya bagian presentasi janin. Pada saat persalinan, seluruh serviks
  • 41.
    28 menyatu menjadi bagiansegmen bawah uterus yang teregang. 3) Serviks uteri Pada kehamilan lanjut, serviks uteri menjadi lebih pendek karena tergabung dalam segmen bawah uterus. Pada saat persalinan karena adanya kontraksi uterus, maka serviks mengalami penipisan dan pembukaan. b. Otot dasar panggul Dasar panggul terdiri atas kelompok otot levator ani yang melandai kearah bawah dan ke depan, serta saling berjalin dengan sisi yang berlawanan sehingga membentuk diafragma otot tempat lewatnya uretra, vagina, dan rektum. Otot-otot ditutupi fasia dan membentuk diafragma felvis. Otot dasar panggul terdiri atas otot-otot dan ligamen yaitu dinding panggul sebelah dalam dan yang menutupi panggul bawah, yang menutupi panggul bawah membentuk dasar panggul disebut pelvis. Jaringan lunak terdiri atas segmen bawah uterus yang dapat meregang, serviks, otot dasar panggul, vagina dan introitus. Sebelum persalinan dimulai, uterus terdiri atas korpus uteri dan serviks uteri. Saat persalinan dimulai,
  • 42.
    29 kontraksi uterus menyebabkankorpus uteri berubah menjadi dua bagian, yakni bagian atas yang tebal, berotot pasif, dan berdinding tipis yang secara bertahap menebal dan kapasitas akomodasinya menurun, dan bagian bawah uterus yang secara bertahap membesar karena mengakomodasi isi dalam rahim. Suatu cincin retraksi fisiologis memisahkan kedua segmen ini. Segmen bawah uterus secara bertahap membesar karena mengakomodasi isi dalam rahim, sedangkan bagian atas menebal dan kapasitas akomodasinya menuru. Kontraksi korpus uteri menyebabkan janin tertekan kebawah, terdorong kearah serviks. Serviks kemudian menipis dan berdilatasi secukupnya, sehingga memungkin bagian pertama janin turun memasuki vagina. Sebenarnya, saat turunserviks ditarik keatas dan lebih tinggi dari bagian terendah janin. c. Perineum Perineum adalah jaringan yang terletak disebelah distal diafragma pelvis. Perineum mengandung sejumlah otot superfisial, sangat vaskular, dan berisi jaringan lemak. Saat persalinan, otot ini sering mengalami kerusakan ketika janin dilahirkan.
  • 43.
    30 d. Kelainan-kelainan yangmengganggu dalam persalinan. 1) Serviks a) Serviks yang kaku b) Terdapat pada primi tua primer atau skunder c) Serviks yang mengalami banyak cacat perlukaan atau (sikatrik). 2) Serviks gantung a) Ostium uteri eksternum terbuka lebar, namun ostium uteri internum tidak terbuka. b) Ostium uteri internum terbuka, namun ostium uteri eksternum tidak terbuka. 3) Edema serviks Terutama karena sempitnya panggul, serviks terjepit antara kepala dan jalan lahir sehingga terjadi gangguan sirkulasi darah dan cairan yang menimbulkan edema serviks. 4) Serviks duplek karena kelaina kongenital e. Vagina Kelainan vagina yang dapat mengganggu perjalanan persalinan. 1) Vagina septum : transvaginal septum vaginal, longitudinal septum vagina 2) Tumor vagina.
  • 44.
    31 f. Himen danperineum Kelainan pada himen imperforate atau himen elastis pada perineum, terjadi kekakuan sehingga memerlukan episiotomi yang luas. 2.1.6.3 Passenger 1. Janin Faktor yang mempengaruhi terhadap persalinan adalah faktor janin yang meliputi sikap janin, letak, presentasi, dan bagian terbawah dan posisi janin. a. Sikap (habitus) adalah menunjukkan hubungan bagian janin dengan sumbu janin biasanya terhadap tulang punggungnya. biasanya berada dalam sikap fleksi dimana kepala, tulang punggung, dan kaki dalam keadaan fleksi, lengan bersilang di dada. b. Letak (situs) Sumbu janin berada terhadap sumbu ibu, misalnya letak lintang, yaitu sumbu janin tegak lurus pada sumbu ibu. letak membujur yaitu sumbu janin sejajar dengan sumbu ibu, bisa berupa letak sungsang atau kepala. c. Presentasi Untuk menentukan bagian terbawah rahim, misalnya peresentasi kepala, bokong, bahu dan lain – lain.
  • 45.
    32 1) Bagian terbawahjanin Sama dengan presentasi, hanya lebih diperjelas. 2) Posisi janin Untuk menetapkan arah bagian terbawah janin apakah sebelah kanan, kiri, depan atau belakang terhadap sumbu ibu. 2. Plasenta Plasenta juga harus melalui jalan lahir, plasenta juga dianggap sebagai penumpang yang menyertai janin. Namun plasenta jarang menghambat proses persalinan pada persalinan normal. 3. Air ketuban Waktu persalinan, air ketuban membuka serviks membuka dengan mendorong selaput janin kedalam ostium uteri, bagian selaput janin diatas ostium uteri yang menonjol waktu terjadi his disebut ketuban. Ketuban inilah yang membuka serviks. 2.1.6.4 Psikis (psikologis) Perasaan positif berupa kelegaan hati, seolah- olah pada saat itulah benar- benar tejadi realitas “kewanitaan sejati” yang muncul rasa bangga saat melahirkan atau memproduksi anaknya. Mereka seolah–olah mendapat kepastian bahwa kehamilan yang semula dianggap sebagai suatu keadaan yang
  • 46.
    33 belum pasti, sekarangmenjadi hal yang nyata. Psikolgi meliputi : 1. Melibatkan psikologis ibu, emosi dan persiapan intelektual 2. Pengalaman bayi sebelum nya 3. Kebiasaan adat 4. Dukungan dari orang terdekat pada kehidupan ibu 2.1.6.5 Penolong Peran dari penolong persalinan dalam hal ini bidan adalah mengantisipasi dan menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin. Proses tergantung dari kemampuan skil dan kesiapan penolong dalam menghadapi proses persalinan (Rohani et. all, 2011 : 21- 36). 2.1.7 Kebutuhan Dasar Selama Persalinan 2.1.7.1 Makan dan minum per oral Pasien sangat dianjurkan untuk minum cairan yang manis dan berenergi sehingga kebutuhan kalorinya tetap akan terpenuhi. 2.1.7.2 Akses Intravena Tindakan pemasangan infus pada pasien. Kebijakan ini diambil dengan pertimbangan sebagai jalur obat, cairan atau darah untuk mempertahankan keselamatan jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat dan untuk mempertahankan suplai cairan bagi pasien.
  • 47.
    34 2.1.7.3 Posisi danambulasi Posisi yang nyaman selama persalinan sangat diperlukan pasien. Selain mengurangi ketegangan dan rasa nyeri, posisi tertentu justru akan membantu proses penurunan kepala janin sehingga persalinan dapat berjalan lebih cepat. 2.1.7.4 Eliminasi selama persalinan (BAB atau BAK) Selama proses persalinan, pasien akan mengalami poliuri sehingga penting untuk difasilitasi agar kebutuhan eliminasi terpenuhi (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 41-46). 2.1.8 Tanda-tanda inpartu 2.1.8.1 Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur. 2.1.8.2 Keluar lendir bercampur darah (blood slim) yang lebih banyak karena robekan- robekan kecil pada serviks. 2.1.8.3 Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya. 2.1.8.4 Pada pemeriksan dalam : serviks mendatar dan pembukaan telah ada, berikut ini perbedan penipisan dan dilatasi serviks antara nulipara dan multipara, yaitu:Nulipara: biasanya sebelum persalinan, serviks menipis sekitar 50-60% dam pembukaan sampai 1 cm, dengan dimulainya persalinan, biasanya nulipara mengalami penipisan serviks 50-100%, kemudian mulai terjadi pembukaan.
  • 48.
    35 Multipara: sering kaliserviks tidak menipis pada awal persalinan, tetapi hanya membuka 1-2 cm. biasanya pada multipara serviks akan membuka, kemudian diteruskan dengan penipisan. 2.1.8.5 Kontraksi uterus mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit) 2.1.9 Tahapan persalinan. 2.1.9.1 Kala I (Kala pembukaan) 1. Pengertian Kala I (Kala pembukaan) Merupakan inpartu ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah karena serviks mulai membuka dan mendatar (Rohani et. all, 2011 : 5, 14) Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 12- 13 jam sedangkan untuk multigravida berlangsung sekitar 8 jam. Berdasarkan Kurve friedman, diperhitungkan pembukaan primigravida 1 cm per jam dan multigravida 2 cm per jam (Nugraheny dan Sulistyawati, 2012 : 7). Kala ini terbagi menjadi 2 fase, yaitu: a. Fase Laten, dimana pembukaan servik berlangsung lambat dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan secara bertahap sampai pembukaan 3 cm berlangsung dalam 7-8 jam.
  • 49.
    36 b. Fase aktif,berlangsung selama 6 jam dibagi menjadi: 1) Fase akselerasi : dalam waktu 2 jam pembukaan dari 3-4 cm 2) Fase dilatasi aksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat, dari 4-9 cm. 3) Fase deselerasi : pembukaan menjadi lebih lambat lagi, dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9cm menjadi lengkap. Lamanya kala I untuk primigravida 12 jam, sedangkan untuk multigravida lamanya 8 jam (Rohani et. all, 2011 : 5-6) 2. Perubahan fisiologis kala I a. Uterus Saat mulai persalinan, jaringan miometrium berkontraksi dan berelaksasi seperti otot pada umumnya. Pada saat otot retraksi, ia tidak akan kembali ke ukuran semula tapi berubah ukuran ke ukuran yang lebih pendek secara progresif. Dengan perubahan bentuk otot uterus pada proses kontraksi, relaksasi, dan retraksi; maka kavum uterus lama kelamaan menjadi semakin mengecil. Proses ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan janin turun ke pelviks.
  • 50.
    37 b. Serviks Sebelum onsetpersalinan, serviks mempersiapkan kelahiran menjadi lembut. Saat persalinan mendekat, serviks mulai menipis dan membuka. Gambaran prosesnya adalah sebagai berikut : 1) Penipisan serviks (effacement) Berhubungan dengan kemajuan pemendekan dan penipisan serviks. Seiring dengan bertambahnya kontraksi, serviks mengalami perubahan bentuk menjadi lebih tipis.Hal ini disebabkan oleh kontraksi uterrus yang bersifat fundal dominan sehingga seolah-olah serviks tertarik keatas dan lama kelamaan menjadi tipis 2) Dilatasi Setelah serviks dalam kondisi menipis penuh, maka tahap berikutnya adalah pembukaan. Serviks membuka disebabkan daya tarik otot uterus ke atas secara terus menerus saat uterus berkontraksi. c. Ketuban Ketuban akan pecah dengan sendirinya ketika pembukaan hampir atau sudah lengkap. Tidak jarang ketuban harus dipecahkan ketika pembukaan sudah lengkap. Bila ketuban telah pecah sebelum pembukaan
  • 51.
    38 5 disebut KetubanPecah Dini (KPD) (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 65- 66). d. Tekanan darah Tekanan darah meningkat, sistolik rata-rata naik 10- 20 mmHg, diastolik 5-10 mmHg, antara kontraksi tekanan darah akan turun seperti sebelum masuk persalinan dan akan naik lagi saat kontraksi. e) Perubahan metabolisme Selama persalinan baik metabolisme karbohidrat aerobik maupun anaerobik akan naik secara perlahan. Kenaikan ini sebagian sebagian besar disebabkan karena oleh kecemasan serta kegiatan otot kerangka tubuh (Sumarah et. all, 2008 :58-59). f) Perubahan suhu tubuh Suhu tubuh meningkat selama persalinan, tertinggi selama dan segera setelah persalinan peningkatan suhu yang tidak lebih dari 0,5 - 1 0 C dianggap normal. Karena peningkatan metabolisme selama dan segera setelah persalinan. g) Perubahan pada ginjal Poliuri (jumlah uri lebih dari normal) sering terjadi selama persalinan, diakibatkan karena peningkatan lebih lanjut curah jantung selama persalinan dan kemungkinan peningkatan laju filtrasi glomerulus dan
  • 52.
    39 aliran plasma darah.Kandung kemih harus dikontrol setiap 2 jam sekali agar tidak menghambat penurunan terendah janin dan agar tidak trauma pada kandung kemih setelah melahirkan. Sedikit proteinuria ditemukan pada sepertiga sampai setengah jumlah ibu bersalin (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 67-68). h) Detak Jantung bayi Berhubungan dengan peningkatan metabolism, detak jantung secara dramatis naik selama kontraksi. Antara kontraksi, detak jantung meningkat dibandingkan sebelum persalinan (Rohani et. all, 2011 : 67). i) Denyut nadi Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80kali permenit. Sehabis melahirkan denyut nadi itu akan lebih cepat. Nadi cepat disebabkan oleh : infeksi, banyak kehilangan darah, dehidrasi, rasa takut. (Ambarwati dan Wulandari, 2010 : 84). j) Suhu Suhu tubuh meningkat selama persalinan, tertinggi selama dan segera setelah melahirkan (Rohani et. all, 2011 : 67).
  • 53.
    40 3. Perubahan psikologiskala I Perubahan psikologi pada kala I dapat dicermati dalam rician berikut : a. Kala I fase laten Pada awal persalinan, kadang pasien belum cukup yakin bahwa ia akan benar-benar melahirkan meskipun tanda persalinan sudah cukup jelas. Pada tahap ini penting bagi orang terdekat dan bidan untuk meyakinkan dan memberikan support mental terhadap kemajuan perkembangan persalinan. b. Kala I fase aktif Memasuki kala I fase aktif, sebagian besar pasien akan mengalami penurunan stamina dan sudah tidak mampu lagi untuk turun dari tempat tidur, terutama pada primipara. Pada fase ini pasien sangat tidak suka jika diajak bicara atau diberi nasehat mengenai apa yang seharusnya ia lakukan. c. Kala I akhir Menjelang kala II pasien sudah dapat mengatasi kembali rasa sakit akibat his dan kepercayaan dirinya mulai tumbuh. Pada fase ini ia akan kembali bersemangat untuk menghadapi persalinannya.
  • 54.
    41 4. Asuhan yangdiberikan pada kala I a. Pemantauan terus-menerus kemajuan persalinan menggunakan partograf b. Pemantauan terus-menerus terhadap tanda vital c. Pemantauan terus-menerus terhadap keadaan bayi d. Pemberian hidrasi bagi pasien e. Menganjurkan dan membantu pasien dalam upaya perubahan posisi dan ambulasi f. Mengupayakan tindakan yang membuat pasien nyaman g. Memfasilitasi dukungan keluarga (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 69-70, 75) 2.1.9.2 Kala II (Pengeluaran bayi) 1. Pengertian Kala II (Pengeluaran bayi ) Merupakan persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Lama kala II pada primigravida 2 jam dan multigravida 1 jam (Rohani et. all, 2011 : 7). Tanda-tanda kala II adalah ibu mempunyai keinginan untuk meneran, ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan seperti ingin BAB, kemudian perineum menonjol dan menjadi lebar dengan membukanya anus. Labia mulai membuka dan tidak
  • 55.
    42 lama kemudian kepalajanin tampak dalam vulva pada saat ada his (Sumarah et. all, 2008 : 6). 2. Mekanisme persalinan normal Mekanisme persalinan normal terbagi dalam beberapa tahap gerakkan kepala janin didasar panggul yang diikuti dengan lahirnya seluruh anggota badan bayi. a. Penurunan kepala Terjadi selama proses persalinan karena daya dorong dari kontraksi uterus yang efektif, posisi, serta kekuatan meneran pasien. b. Penguncian (engagement) Tahap penurunan pada waktu diameter biparietal dari kepala janin telah melalui lubang masuk panggul pasien. c. Fleksi Dalam proses masuknya kepala janin ke dalam panggul, fleksi menjadi hal yang sangat penting karena dengan fleksi diameter kepala janin terkecil dapat bergerak melalui panggul dan terus melalui dasar panggul.Pada saat kepala bertemu dengan dasar panggul, tahananya akan meningkatkan fleksi menjadi bertambah besar yang sangat diperlukan
  • 56.
    43 agar saat sampaididasar panggul kepala janin sudah dalam keadaan fleksi maksimal. d. Putar paksi dalam Putaran internal dari kepala janin akan membuat diameter anteroposterior ( yang lebih panjang ) dari kepala menyesuaikan diri dengan diameter anteroposterior dari panggul pasien Kepala akan berputar dari arah diameter kanan, miring kearah diameter PAP dari panggul tetapi bahu tetap miring ke kiri, dengan demikian hubungan normal antara as panjang kepala janin dengan as panjang dari bahu akan berubah dan leher akan berputar 45 derajat. Hubungan antara kepala dan panggul ini akan terus berlanjut selama kepala janin masih berada di dalam panggul. Pada umumnya rotasi penuh dari kepala ini akan terjadi ketika kepala telah sampai di dasar panggul atau segera setelah itu. Perputaran kepala yang dini kadang-kadang terjadi pada multipara atau pasien yang mempunyai kontraksi efisien. e. Lahirnya kepala dengan cara ekstensi Cara kelahiran ini untuk kepala dengan posisi oksiput posterior. Proses ini terjadi karena gaya
  • 57.
    44 tahanan dari dasarpanggul, dimana gaya tersebut membentuk lengkungan carus, yang mengarahkan kepala keatas menuju lorong vulva. Bagian leher belakang di bawah oksiput akan bergeser ke bawah simfisis pubis dan bekerja sebagai titik poros (hipomoklion). Uterus yang berkontraksi kemudian memberikan tekanan tambahan di kepala yang menyebabkannya ekstensi lebih lanjut saat lubang vulva-vagina membuka lebar f. Restitusi Restitusi adalah perputaran kepala sebesar 45 derajat baik kekanan atau kekiri, bergantung kepada arah dimana ia mengikuti perputaran menuju posisi oksiput anterior. g. Putaran paksi luar Putaran ini terjadi bersamaan dengan putaran interna bahu. Pada saat kepala janin mencapai dasar panggul, bahu akan mengalami perputaran dalam arah yang sama dengan kepala janin agar terletak dalam diameter yang besar dari rongga panggul. Bahu anterior akan terlihat pada lubang vulva-vagina, dimana ia akan bergeser di bawah simfisis pubis.
  • 58.
    45 h. Lahirnya bahudan seluruh anggota badan bayi Bahu posterior akan menggembungkan perineum dan kemudian dilahirkan dengan cara fleksi lateral.Setelah bahu dilahirkan, seluruh tubuh janin lainnya akan dilahirkan mengikuti sumbu carus. 3. Perubahan fisiologis kala II a. Uterus Saat ada his, uterus teraba sangat keras karena seluruh ototnya berkontraksi. b. Serviks Pada kala II, serviks sudah menipis dan dilatasi maksimal. Saat dilakukan pemeriksaan dalam, porsio teraba dengan pembukaan 10 cm. c. Pergeseran organ dasar panggul Tekanan pada otot dasar panggul oleh kepala janin akan menyebabkan pasien ingin meneran, serta diikuti dengan yang menonjol dan menjadi lebar dengan anus membuka. d. Ekspulsi janin Bila dasar panggul sudah lebih berelaksasi, kepala janin sudah tidak masuk lagi diluar his.
  • 59.
    46 e. Tekanan darah Tekanandarah dapat meningkat lagi 15-25 mmHg selama kala II persalinan. Upaya meneran juga akan memengaruhi tekanan darah, dapat meningkat dan kemudian menurun kemudian akhirnya kembali lagi sedikit diatas normal. f. Metabolisme Peningkatan metabolisme terus berlanjut hingga kala II persalinan. Upaya meneran pasien menambah aktivitas otot-otot rangka sehingga meningkatkan metabolisme. g. Denyut nadi Frekuensi denyut nadi bervariasi tiap kali pasien meneran. Secara keseluruhan frekuensi nadi meningkatselama kala II disertai takikardi yang nyata ketika mencapai puncak menjelang kelahiran bayi. h. Suhu Peningkatan suhu tertinggi terjadi pada saat proses persalinan dan segera setelahnya, peningkatan suhu normal adalah 0,5-1°C. i. Pernapasan Pernapasan sama seperti kala I persalinan.
  • 60.
    47 j. Perubahan gastrointestinal Penurunanmotilitas lambung dan absorbsi yang hebat berlanjut sampai pda kala II. k. Perubahan ginjal Perubahan pada organ ini sama seperti pada kala I persalinan. l. Perubahan hematologi Perubahan pada sistem hematologi sama dengan pada kala I persalinan. (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 101-103, 110-111). 4. Cara melahirkan bayi a. Melahirkan kepala Saat kepala bayi membuka vulva (5-6 cm), letakkan kain yang bersih dan kering yang dilipat 1/3 nya dibawah bokong ibu dan siapkan kain atau handuk bersih diatas perut ibu (untuk mengeringkan bayi segera setelah lahir). Lindungi perineum dengan satu tangan (dibawah kain bersih dan kering), ibu jari pada salah satu sisi perineum dan 4 jari tangan pada sisi yang lain dan tangan yang lain pada belakang kepala bayi. Tahan belakang kepala bayi agar posisi kepala tetap fleksi
  • 61.
    48 pada saat keluarsecara bertahap melewati introitus dan perineum. Setelah kepala bayi lahir, minta ibu untuk berhenti meneran dan bernapas cepat. Jika ada lilitan dileher bayi cukup longgar maka lepaskan lilitan tersebut dengan melewati kepala bayi. Jika lilitan tali pusat sangat erat maka jepit tali pusat dengan klem pada 2 tempat dengan jarak 3 cm, kemudian potong tali pusat diantara 2 klem tersebut. 5. Melahirkan bahu a. Setelah menyeka mulut dan hidung bayi dan memeriksa tali pusat, tunggu kontraksi berikut sehingga terjadi putaran paksi luar secara spontan. b. Letakkan tangan pada sisi kiri dan kanan kepala bayi, minta ibu meneran sambil menekan kepala kearah bawah dan lateral tubuh bayi hingga bahu depan melewati simfisis. c. Setelah bahu depan lahir, gerakkan kepala keatas dan lateral tubuh bayi sehingga bahu bawah dan seluruh dada dapat dilahirkan.
  • 62.
    49 6. Melahirkan seluruhtubuh bayi a. Saat bahu posterior lahir, geser tangan bawah (posterior) kearah perineum dan sanggah bahu dan lengan atas bayi pada tangan tersebut. b. Gunakan tangan yang sama untuk menopang lahirnya siku dan tangan posterior saat melewati perineum. c. Tangan bawah (posterior) menopang samping lateral tubuh bayi saat lahir. d. Secara simultan, tangan atas anterior untuk menulusuri dan memegang bahu, siku dan lengan bagian anterior. e. Lanjutkan penelusuran dan memegang tubuh bayi kebagian punggung, bokong dan kaki. f. Dari arah belakang, sisipkan jari telunjuk tangan atas diantara dua kaki bayi yang kemudian dipegang dengan ibu jari dan ketiga jari tangan lainnya. g. Letakkan bayi diatas kain atau handuk yang telah disiapkan pada perut bawah ibu dan posisikan kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya. h. Segera keringkan sambil melakukan rangsangan taktil pada tubuh bayi dengan kain atau selimut diatas perut ibu. Pastikan bahwa kepala bayi tertutup dengan baik (JNPKR-KR, 2008 : 89-92).
  • 63.
    50 7. Macam-macam posisimeneran dan dan keuntungannya a. Jongkok Memaksimalkan sudut dalam lengkungan carus yang memungkinkan bahu turun ke panggul dan bukan terhalang (macet) diatas simfisis pubis. b. Setengah duduk Membantu dalam penurunan janin dengan kerja gravitasi, menurnkan janin kepanggul, dan terus ke dasar panggul. Lebih mudah bagi bidan untuk membimbing kelahiran kepala bayi dan mengamati/ mensupport perineum. c. Berdiri Pasien bisa lebih mudah mengosongkan kandung kemihnya, dan kandung kemih yang kosong akan memudahkan penurunan kepala. Memperbesar ukuran panggul,menambah 28 % ruang outletnya. d. Merangkak Membantu kesehatan janin dalam penurunan lebih dalam ke panggul yang sakit. Baik untuk persalinan dengan punggung yang sakit. Membantu janin dalam melakukan rotasi. Peregangan minimal pada perineum.
  • 64.
    51 e. Miring kekiri Oksigenasi janin maksimal karena dengan miring kiri sirkulasi darah ibu ke janin lebih lancar. Memberi rasa santai bagi ibu yang letih. Mencegah terjadinya laserasi (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 105). 8. Cara meneran : a. Anjurkan ibu untuk meneran mengikuti dorongan alamiahnya selama kontraksi. b. Beritahukan untuk tidak menahan napas saat meneran. c. Minta untuk berhenti meneran dan beristirahat diantara kontraksi. d. Jika ibu berbaring miring atau setengah duduk, ia akan lebih mudah untuk meneran jika lutut ditarik kearah dada dan dagu ditempelkan ke dada. e. Minta ibu untuk tidak mengangkat bokong saat meneran. f. Tidak diperbolehkan untuk mendorong fundus untuk membantu kelahiran bayi. Dorong pada fundus meningkatkan risiko distosia bahu dan ruptur uteri.Peringatkan anggota keluarga ibu untuk tidak mendorong fundus bila mereka mencoba melakukan itu (JNPKR-KR, 2008 : 87).
  • 65.
    52 9. Asuhan yangdiberikan selama kala II a. Cahaya redup dan privasi. b. Persiapan. c. Analgesia. d. Dukungan keluarga atau orang-orang terdekat ibu dapat membantu dalam proses persalinan sehingga dapat memberikan ibu ketenangan secara psikologis dengan mengetahui ada yang mendampingnya. e. Memberikan dukungan dan semangat kepada ibu dan keluarganya dengan menjelaskan tahapan dan kemajuan persalinan atau kelahiran bayi pada mereka. f. Bidan menganjurkan dan membantu dalam memperoleh posisi yang nyaman dan aman untuk persalinan serta meneran sehingga dapat mempermudah proses persalinan. g. Bimbingan dalam proses meneran merupakan salah satu kebutuhan ibu pada kala II persalinan. h. Anjurkan ibu untuk minum selama kala II persalina. i. Kebutuhan rasa aman dan ketentraman merupakan hal yang dapat meningkatkan ketenangan ibu dalam proses persalinan.
  • 66.
    53 2.1.9.3 Kala III(pelepasan plasenta) 1. Pengertian Kala III Kala III berlangsung dari lahirnya bayi sampai dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir (Rohani et. all, 2011 : 8, 171-172). 2. Tanda-Tanda klinis pelepasan plasenta a. Semburan darah Pemanjangan tali pusat Semburan darah ini disebabkan karena penyumbatan retroplasenter pecah saat plasenta lepas. b. Pemanjangan tali pusat Hal ini disebabkan karena plasenta turun kesegmen uterus yang lebih bawah atau rongga vagina. c. Perubahan bentuk uterus dari diskoid menjadi globuler (bulat) Perubahan bentuk ini disebabkan oleh kontraksi uterus. d. Perubahan dalam posisi uterus yaitu uterus naik di dalam abdomen. Hal pemeriksaan menunjukkan bahwa sesaat setelah plasenta lepas TFU akan naik, hal ini
  • 67.
    54 disebabkan oleh adanyapergerakkan plasenta ke segmen uterus yang lebih bawah. 3. Proses pelepasan plasenta : a. Menurut Duncan Plasenta lepas mulai dari bagian pinggir (marginal) disertai dengan adanya tanda darah keluar dari vagina apabila plasenta mulai terlepas. b. Menurut Schultz Plasenta lepas dari bagian tengah (sentral) dengan tanda adanya pemanjangan tali pusat yang terlihat di vagina. c. Terjadi serempak atau kombinasi dari keduannya. 4. Prasat yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut : a. Prasat Strassman Tangan kanan meregangkan atau menarik sedikit tali pusat. tangan kiri mengetuk-ngetuk fundus uteri, bila terasa getaran pada tali pusat, berarti tali pusat belum lepas dari tempat implantasi, bila tidak terasa getaranberarti talipusat telah lepas dari tempat implantasinya.
  • 68.
    55 b. Prasat Klein Ibudisuruh mengedan, bila tali pusat tampak turun ke bawah saat mengedan dihentikan maka plasenta telah lepas dari tempat implantasinya 5. Asuhan yang diberikan pada kala III a. Dukungan mental dari bidan dan keluarga atau pendamping. b. Penghargaan terhadap proses kelahiran janin yang telah dilalui. c. Informasi yang jelas mengenai keadaan pasien sekarang dan tindakan apa yang akan dilakukan. d. Penjelasan mengenai apa yang harus ia lakukan untuk membantu mempercepat kelahiran plasenta, yaitu kapan saat meneran dan posisi apa yang mendukung untuk pelepasan dan kelahiran pasenta. e. Bebas dari rasa risih akibat bagian bawah yang basah oleh darah dan air ketuban. f. Hidrasi. 2.1.9.4 Kala IV 1. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta selama 1-2 jam. Pada kala IV dilakukan observasi terhadap perdarahan pasca persalinan, paling sering terjadi pada
  • 69.
    56 2 jam pertama(Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 9, 157-159,165). 2. Asuhan yang diberikan Kala IV a. Kesadaran penderita, mencerminkan kebahagiaan karena tugasnya untuk melahirkan bayi telah selesai. b. Pemeriksaan yang dilakukan : tekanan darah, nadi dan suhu, kontraksi rahim yang keras, perdarahan yang mungkin terjadi dari plasenta rest, luka episiotomi, perlukaan pada serviks, kandung kemih dikosongkan karena dapat mengganggu kontraksi rahim. c. Bayi yang telah dibersihkan di letakkan di samping ibunya agar dapat memulai pemberian ASI. d. Observasi dilakukan selama 2 jam dengan interval pemeriksaan setiap jam. e. Bila keadaan baik, patuiren dipindahkan ke ruangan inap bersama-sama dengan bayinya. (Manuaba et. all, 2010 : 185). 3. Pemantauan Dan Evaluasi Lanjut Kala IV a. Tanda vital 1) Tekanan darah dan nadi Selama satu jam pertama lakukan pemantauan pada tekanan darah dan nadi setiap
  • 70.
    57 15 menit dansatu jam kedua dilakukan setiap 30 menit. 2) Respirasi dan suhu 3) Lakukan pemantauan respirasi dan suhu setiap jam selama dua jam pertama pasca persalinan. b. Kontraksi uterus Pemantauan ini dilakukan bersamaan dengan masase fundus uterus secara sirkular. c. TFU Umumnya fundus uterus setinggi atau beberapa jari dibawah pusat. d. Lochea e. Kandung kemih 1) Penyulit akibat penuhnya kandung kemih, seperti: 2) Menyebabkan atonia uterus dan menyebabkan perubahan posisi uterus 3) Berpotensi menyebabkan infeksi saluran kemih. 4) Menyebabkan kekhawatiran yang berpengaruh terhadap penerimaan pasien berkaitan dengan perubahan perannya. f. Asuhan yang diberikan pada kala IV 1) Hidrasi dan nutrisi.
  • 71.
    58 2) Hygiene dankenyamanan pasien. 3) Bimbingan dan dukungan untuk BAK. 4) Informasi dan bimbingan sejelas-jelasnya mengenai apa yang terjadi dengan tubuhnya dan apa yang harus ia lakukan berkaitan dengan kondisinya. 5) Kehadiran bidan sebagai pendamping selama dua jam paskapersalinan serta kelurga atau orang-orang terdekatnya. 6) Dukungan untuk menjain hubungan awal dengan bayinya, terutama saat pemberian ASI awal. 7) Posisi tubuh dan lingkungan yang nyaman setelah saat-saat berat menjalani persalinan. 8) Pemberian analgesik (jika diperlukan) 9) Tempat dan alas tidur yang bersih agar tidak terjadi infeksi (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 181-182, 192). 2.1.10 Inisiasi Menyusu Dini 2.1.10.1 Pengertian Inisiasi Menyusu Dini Pemberian ASI yang dimulai sedini mungkindan secara eksklusif. Segera setelah bayi lahir, setelah tali pusat dipotong, letakkan bayi tengkurap di dada ibu dengan kulit
  • 72.
    59 bayi melekat padakulit ibu, biarkan kontak kulit ke kulit ini menetap selama setidaknya 1 jam bahkan lebih, sampai bayi dapat menyusui sendiri (Rohani et. all, 2011:263) 2.1.10.2 Langkah Inisiasi Menyusu Dini 1. Bayi harus mendapatkan kontak kulit dengan kulit ibunya segera setelah lahir selama paling sedikit satu jam. 2. Bayi harus menggunakkan naluri alamiyahnya untuk melakukan inisiasi menyusui dini dan ibu dapat mengenali bayinya siap untuk menyusu serta memberi bantuan jika diperlukkan . 3. Menunda semua prosedur lainnya yang harus di lakukan kepada bayi baru lahir hingga inisiasi menyusu selesai dilakukan, prosedur tersebut seperti : menimbang, pemberian antibiotik salep mata, vitamin K1 dan lain-lain (JNPK-KR, 2008 : 131). 2.1.10.3 Keuntungan inisiasi menyusu dini bagi ibu dan bayi 1. Keuntungan pada bayi a. Menstabilkan pernafasan b. Mengendalikan temperature tubuh bayi c. Mendorong ketrampilan bayi dalam menyusui yang lebih cepat dan efektif d. Meningkatkan hubungan psikologis antara ibu dan bayi
  • 73.
    60 e. Agar bayitidak terlalu banyak menangis selama satu jam f. Menjaga kolonisasi kuman yang aman dari ibu di dalam perut bayi sehingga memberikan perlindungan terhadap infeksi 2. Keuntungan untuk ibu 1) Stimulasi kontraksi uterus dan menurunkan resiko perdarahan pasca persalinan 2) Merangsang pengeluaran kolostrum 3) Ibu menjadi lebih tenang, fasilitas kelahiran plasenta dan penglihatan rasa nyari dari berbagai prosedur pasca persalinan. 2.1.11 Partograf 2.1.1.1 Pengertian partograf Merupakan alat bantu yang digunakan untuk memantau kemajuan persalinan Kala I persalinan dan informasi untuk membuat keputusan klinik. 2.1.1.2 Fungsi Partograf 1. Mengamati dan mencatat informasi kemajuan persalinan dengan memerikksa dilatasi serviks selama pemeriksaan dalam
  • 74.
    61 2. Mendeteksi secaradini terhadap kemungkinan adanya penyulit persalinan sehingga bidan dapat membuat keputusan tindakan dengan cepat 3. Sebagai alat komunikasi yang unik namun praktis antar bidan atau antara bidan dengan dokter mengenai perjalanan persalinan pasien. 4. Alat dokumentasi riwayat persalinan pasien beserta data pemberian medikamentosa yang diberikan selama proses persalinan (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 76). 2.1.1.3 Pencatatan pada lembar belakang partograf Halaman belakang partograf merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang terjadi selama proses persalinan dan kelahiran, serta tindakan-tindakan yang dilakukan sejak persalinan kala I hingga kala IV (termasuk bayi baru lahir). Itulah sebabnya bagian inoi disebut sebagai catatan persalinan.Nilai dan catatkan asuhan yang diberikan pada ibu dalam masa nifas terutama selama persalinan kala empat untuk memungkinkan penolong persalinan mencegah terjadinya penyulit dan membuat keputusan klinik yang sesuai. Dokumentasi ini sangat penting untuk membuat keputusan klinik, terutama pada pemantauan kala IV (mencegah terjadinya perdarahan pascapersalinan).Selain itu, catatan persalinan (yang sudah diisi dengan lengkap dan tepat) dapat
  • 75.
    62 pula digunakkan untukmenilai/memantau sejauh mana telah dilakukan pelaksanaan asuhan persalinan yang dan bersih aman (Rohani et. all, 2011 : 107). Catatan persalinan adalah terdiri dari unsur-unsur berikut : 1. Data dasar 2. Kala I 3. Kala II 4. Kala III 5. Bayi baru lahir 6. Kala IV (JNPK-KR, 2008 : 67) Cara pengisian : Berbeda dengan halaman depan yang harus diisi pada akhir setiap pemeriksaan, lembar belakang partograf ini diisi setelah seluruh proses persalinan selesai (Rohani et. all, 2011 : 108). Adapun cara pengisian catatan persalinan pada lembar belakang partograf secara lebih terinci disampaikan menurut unsur-unsurnya sebagai berikut : 1. Data dasar Data dasar terdiri dari tanggal, nama bidan, alasan merujuk, tempat rujuk dan pendamping pada saat merujuk. Isi data pada masing-masing tempat yang telah disediakan, atau dengan cara memberi tanda pada kotak di samping jawaban yang sesuai (JNPK-KR,2008 : 70).
  • 76.
    63 a. Kala I KalaI terdiri dari pertanyaan-pertanyaan tentang partograf saat melewati garis waspada, masalah- masalah yang dihadapi, penatalaksanaanya, dan hasil penatalaksanaan tersebut (Rohani et. all, 2011 : 108). b. Kala II Kala II terdiri dari episiotomi, pendamping persalinan, gawat janin, distosia bahu, masalah penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya. c. Kala III Kala III terdiri dari lama kal III, pemberian oksitosin, penegangan tali pusat terkendali, pemijatan fundus, plasenta lahir lengkap, plasenta tidak lahir > 30 menit, laserasi, atonia uteri, jumlah perdarahan, masalah penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya, isi jawaban pada tempat yang disediakan dan beri tanda pada kotak di samping jawaban yang sesuai. d. Bayi baru lahir Informasi tentang bayi baru lahir terdiri dari berat dan panjang badan, jenis kelamin, penilaian kondisi bayi baru lahir, pemberian ASI, masalah penyerta, penatalaksanaan terpilih dan hasilnya. Isi jawaban pada
  • 77.
    64 tempat yang disediakanserta beri tanda ada kotak disamping jawaban yang sesuai ( JNPK-KR, 2008 : 73). 2.1.12 Langkah Pertolongan Persalinan Normal 2.1.12.1 Mengenali Gejala Dan Tanda Kala Dua 1. Mendengar dan melihat adanya tanda persalinan kala dua. a. Ibu merasa ada dorongan kuat dan meneran. b. Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan vagina. c. Perineum tampak menonjol. d. Vulva-vagina dan sfingter ani membuka. 2.1.12.2 Menyiapkan Pertolongan Persalinan 2. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk menolong persalinan dan menatalaksanakan komplikasi ibu dan bayi baru lahir. Untuk asuhan bayi baru lahir atau resusitasi, siapkan : a. Tempat datar, rata, bersih, kering dan hangat. b. Kain handuk / kain bersih dan kering (termasuk ganjal bahu bayi) c. Lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh bayi. Untuk ibu : 1) Menggelar kain diatas perut ibu dan tempat resusitasi serta ganjal bahu bayi.
  • 78.
    65 2) Menyiapkan oksitosin10 unit dan alat suntik steril sekali pakai didalam partus set. 3) Alat suntik steril sekali pakai didalam partus set 3. Memakai celemek plastic yang tidak tembus bahan atau cairan. 4. Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan yang dipakai, cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering 5. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yang akan digunakan untuk pemeriksaan dalam. 6. Masukkan oksitosin kedalam tabung suntik gunakkan tangan yang memakai sarung tangan DTT dan steril (pastikan tidak terjadi kontaminasi pada alat suntik). 2.1.12.3 Memastikan Pembukaan Lengkap Dan Keadaan Janin Baik 7. Membersihkan vulva dan perineum, menekannya dengan hati-hati dari depan kebelakang dengan kapas yang sudah dibasahi air desinfektan tingkat tinggi. a. Jika introitus vagina, perineum atau anus terkontaminasi tinja, bersihkan dengan seksama dari depan kebelakang. b. Buang kapas atau kassa pembersih (terkontaminasi) dalam wadah yang tersedia.
  • 79.
    66 c. Ganti sarungtangan jika terkontaminasi (dekontaminasi, lepaskan dan rendam dalam larutan klorin 0,5 %. Langkah # 9. Pakai sarung tangan DTT/ steril untuk melaksanakan langkah lanjutan. 8. Lakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan sudah lengkap. Bila selaput ketuban dalam utuh dan pembukaan sudah lengkap maka lakukan amniotomi. 9. Periksa denyut jantung janin setelah kontraksi/saat relaksasi uterus untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (100-160 x/menit). a. Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal b. Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf. 2.1.12.4 Menyiapkan Ibu Dan Keluarga Untuk Membantu Proses Meneran 10. Memberitahu pada ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin cukup baik, kemudian bantu ibu menemukan posisi yang nyaman dan sesuai dengan keinginannya. a. Tunggu hingga timbul kontraksi atau rasa ingin meneran, lanjutkan pemantauan dan kondisi dan
  • 80.
    67 kenyamanan ibu danjanin (ikuti pedoman dan penatalaksanaan fase aktif) atau mendokumentasikan semua temuan yang ada b. Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana peran mereka untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu untuk meneran secara benar. 11. Minta keluarga untuk membantu menyiapkan posisi meneran jika ada rasa ingin meneran atau kontraksi ynag kuat. Pada kodisi itu, ibu diposisi kan setengah dudukatau posisi lain yang diinginkan dan pastikan ibu merasakan nyaman. 12. Laksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ada dorongan kuat untuk meneran. a. Bimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan efektif. b. Dukung dan beri semangat pada saat meneran dan perbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai. c. Bantu ibu mengambil posisin yang nyaman sesuai pilihannya (kecuali posisi berbaring terlentang dalam waktu yang lama). d. Anjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi e. Anjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat untuk ibu.
  • 81.
    68 f. Beri cukupasupan cairan per oral (minum) g. Menilai denyut jantung janin setiap kontraksi uterus selesai. h. Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera lahir setelah pembukaan lengkap dan dipimpin meneran ≥ 120 menit (2 jam) pada primigravida atau ≥ 60 menit (1 jam) pada multigravida 13. Anjurkan ibu untuk berjalan berjongkok atau mengambil posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalan selang waktu 60 menit. 2.1.12.5 Persiapan Untuk Melahirkan 14. Letakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm. 15. Letakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu 16. Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan 17. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan. 2.1.12.6 Pertolongan Untuk Melahirkan Bayi Lahirnya Kepala 18. Setelah Nampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka vulva maka lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi dengan kain bersih dan kering,
  • 82.
    69 tangan yang lainmenahan belakang kepala untuk mempertahan kan defleksi dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan ibu meneran secara efekif aau bernafas cepat dan dangkal 19. Periksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat (ambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi), segera lanjutkan proses kelahiran bayi. a. Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan lilitan lewat bagian atas kepala bayi b. Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat di dua tempat dan potong tali pusat diantara dua lem tersebut 20. Setelah kepala bayi lahir tunggu putar paksi luar yang berlangsung spontan. 2.1.12.7 Lahirnya Bahu 21. Setelah putaran paksi luar selesai, pegang kepala bayi secara biparietal anjurkan ibu meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakkan kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan kemudian gerakkan kearah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang 2.1.12.8 Lahirnya Badan Dan Tungkai
  • 83.
    70 22. Setelah keduabahu lahir, geser tangan bawah untuk menopang kepala dan bahu gunakan tangan atasuntuk menelusuri dan memegang lengan dan siku sebelah atas 23. Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas berlanjut ke punggung, bokong, tungkai, dan kaki. Pegang kedua mata kaki (masukkan telunjuk diantara kedua kaki dan pegang kedua kaki dengan melingkar ibu jari pada satu sisi dan jari-jari lainnya pada sisi yang lain agar bertemu dengan jari telunjuk) 2.1.12.9 Asuhan Bayi Baru Lahir 24. Lakukan Asuhan (Selintas) a. Apakah bayi cukup bulan? b. Apakah bayi menangis kuat dan / atau bernafas tanpa kesulitan? c. Apakah bayi bergerak dengan aktif? 25. Bila salah satu jawaban adalah “tidak” lanjut ke langkah resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia ( lihat penuntun belajar resusitasi dimeja asfiksia). Bila semua jawaban adalah “Ya” lanjut ke 26 26. Keringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya (kecuali kedua tangan ) tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan
  • 84.
    71 handuk /kain yangkering pastikan bayi dalam posisi dan kondisi aman diperut bagian bawah ibu 27. Periksa kembali uterus untuk memastikan hanya satu bayi yang lahir (hamil tunggal) dan bukan kehamilan ganda (gemelli) 28. Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus berkontraksi 29. Dalam waktu satu menit setelah bayi lahir suntikkan oksitosin 10 unit secara IM distal lateral paha lakukan aspirasi sebelum penyuntikan 30. Setelah 2 menit sejak bayi (cukup bulan) lahir pegang tali pusat dengan satu tangan pada sekitar 5 cm dari tali pusat bayi, kemudian jari telunjuk badan jari tangan lain menjepit tali pusat dan geser hingga 3 cm proksimal dari pusat bayi. Klem tali pusat pada titik tersebut kemudian tahan klem ini pada posisinya, gunakan jari telunjuk dan tengah tangan lain untuk mendorong isi tali pusat kea rah ibu (sekitar 5 cm) dan klem tali pusat pada sekitar 2 cm dstal dari klem pertama. 31. Pemotongan dan pengikatan tali pusat a. Dengan satu tangan, pegang tali yang telah dijepit (lindungi perut bayi) dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut
  • 85.
    72 b. Ikat talipusat dengan bennag DTT / steril pada satu sisi kemudian lingkarkan lagi benang tersebut dan ikat tai usat dengan simpul kunci pada sisi lainnya c. Lepas klem dan masukkan dalam wadah yang telah disediakan 32. Letakkan bayi tengkurap didada ibu untuk kontak kulit ibu bayi. Lurus kan bahu bayi hingga dada bayi menempel di dada ibunya. Usahakn kepala bayi berada di antara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari putting susu atau areola mamae ibu. Selimuti ibu- bayi melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam. Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusu dini daalm waktu 30 – 60 menit. Menyusu untuk pertama kali kan berlangsung sekitar 10-15 menit. Bila cukup menyusu dari satu payudara biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah berhasil menyusu. 2.1.12.10 Manajemen Aktif Kala Tiga Persalinan (Mak Iii) 33. Pindahkan klem tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva 34. Letakkan satu tangan diatas kain pada perut bawah bayi (diatas sympsis) untuk mendeteksi kontraksi. Tangan lain memgang klem untuk menegangkan tali pusat.
  • 86.
    73 35. Setelah uterusberkontraksi tegangkan talipusat kea rah bawah sambil tangan lain mendorong uterus kea rah belakang atas (dorso cranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversion uteri). jika plasenta tidak lahir setelah 30 – 40 detik hentikan penegangan talipusat dan tunggu hingga timbul kontraksi beriktnya dan ulangi kembali prosedur di atas. Jika uterus tidak berkontraksi minta bantuan ibu, suami atau anggota keluarga untuk meakukan stimulasi putting susu. 2.1.12.11 Mengeluarkan Plasenta 36. Pada penekanan bagian bawah diding depan uterus kearah dorsal ternyata diikuti dengan pergeseran ali pusat kea rah distal maka lanjutan dorongan kearah cranial hingga plasenta dapat dilahirkan ibu boleh meneran tapi tali pusat hanya boleh di tegangkan (janga ditarik secara kuat terutama jika uterus tidak berkontraksi ) sesuai dengan sumbu jalan lahir (kearah bawah sejajar lantai – atas). Jika tali pusat bertambha panjang, pindahkan klem hingga berjarak sekitar 10-15 cm dari vulva dan lahirkan plasenta. Jika plasenta lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat : a. Ulangi pemberian oksitosin 10 unit IM
  • 87.
    74 b. Lakukan kateterisasi(gunakan teknik aseptic ) jika kandung kemih penuh c. Minta keluarga ntuk menyiapkan rujukan d. Ulangi tekanan dorso cranial dan penegangan tali pusat 15 menit berikutnya e. Jika plasenta tak lahir dalam 30 menit sejak bayi lahir atau terjadi perdarahan maka segera lakukan tindakan manual pasenta 37. Plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan kedua tangan. Putar pegang plasenta hingga selaput ketuban terpilin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang telah disediaakan. Jiak selaput ketuban robek pakai sarung tangan DTT / steril untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jari-jari tangan atau klem ovum DTT/steril untuk mengeluarkan selaput tertinggal. 2.1.12.12 Rangsangan Taktil (Masase) Uterus 38. Segera setelah plasenta lahir dan selaput ketuban lahir, lakukan masase uterus, letakkan telapak tanga difundus dan lakuka masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus teraba keras) lakukan tindakan yang diperlukan (kompresi bimanual interna, kompresi aorta, abdominalis, tampon kondom-
  • 88.
    75 kateter) jika uterustidak berkontraksi dalam 15 detik setelah rangsa 2.1.12.13 Menilai Perdarahan 39. Periksa kedua sisi plasenta (maternal-fetal) pastikan plasenta telah dilahirkan lengkap letakkan plasenta ke dalam kantung plastic atau tempat khusus 40. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Lakukan penjahitan bila terjadi laserasi yang luas dan menimbulkan perdarahan. Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif segera lakukan penjahitan 2.1.12.14 Asuhan Pasca Persalinan 41. Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan terjadi perdarahan pervaginam 42. Celupkan tangan yang masih memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5% bersihkan noda darah dan cairan tubuh, lepaskan secara terbalik dan rendam sarung tangan selama 10 menit. Cuci tanga dengan sabun dan air bersih mengalir, keringkan tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering 2.1.12.15 Evaluasi 43. Pastiakn kandung kemih kosong
  • 89.
    76 44. Ajarkan ibuatau keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi 45. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah 46. Memeriksa dan memastikan keadaan umum ibu baik 47. Pantau keadaan bayi dan pastikan bahwa bayi bernafas dengan baik (40-60 x/menit) a. Jika bayi sulit bernafas, bernafas, merintih, atau retraksi di resusitasi dan segera merujuk kerumah sakit b. Jika bayi nafas terlalu cepat atau sesak nafas, segara rujuk ke RS rujukan c. Jika kaki teraba dingin, pastikan ruangan hangat, lakukan kembali kontak kulit ibu-bayi dan hangatkan ibu-bayi dalam satu selimut 2.1.12.16 Kebersihan Dan Keamanan 48. Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci peralatan setelah di dekontaminasi 49. Buang bahan – bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat sampah yang sesuai 50. Bersihkan ibu dari paparan darah dan cairan tubuh dengan menggunakan air DTT ersihkan cairan ketuban,
  • 90.
    77 lender dan darahdiranjang atau sekitar ibu berbaring bantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering 51. Pastikan ibu merasa nyaman. Bantu ibu memberikan asi anjurkan ibu untuk member ibu minuman dan makanan yang di inginkan 52. Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5% 53. Celupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5% balikkan bagian dalam keluar dan rendam selama 10 menit 54. Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian keringkan tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering 55. Pakai sarung tangan DTT / bersih untuk melakukan pemeriksaan fisik bayi 56. Dalam satu jam pertama, beri salep atau tetes mata profilaksis infeksi, vitamin K1 mg IM dipaha kiri bawah lateral, pemeriksaan fisik bayi baru lahir, pernafasan bayi (normal 40-60 x/menit) dan temperature tubuh normal 36,5 – 37,5 c setiap 15 menit 57. Setelah satu jam pemberian vit K berikan imunisasi hepatitis B dip aha bawah kanan lateral. Letakkan bayi
  • 91.
    78 dalam jangkauan ibuagar sewaktu-waktu dapat disusukan 58. Lepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan rendam dalam larutan clorin 0.5% selama 10 menit 59. Cuci kedua tanagn dengan sabun dan air mengalir kemudian keringkan dengan tissue atau handuk pribadi yang kering dan bersih 2.1.12.17 Dokumentasi 60. Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda vital dan asuhan kala IV persalinan. (JNPK-KR,2008: 35-42). 2.2 Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan 2.2.1 Proses Manajemen Kebidanan Proses penyelesaian masalah merupakan salah satu upaya yang dapat di gunakkan dalam manajemen kebidanan.Varney berpendapat bahwa dalam melakukan manajemen kebidanan, bidan harus memiliki kemampuan berfikir secara kritis untuk menegakkan diagnosis atau masalah potensial kebidanan. Selain itu, diperlukan pula kemampuan kolaborasi atau kerjasama. Hal ini dapat digunakkan sebagai dasar dalam perencanaan kebidanan selanjutnya.
  • 92.
    79 2.2.2 Langkah-langkah asuhankebidanan menurut varney, Langkah-langkah asuhan kebidanan menurut varney terdiri dari langkah dimulai dari langkah I yaitu pengumpulan data dasar dan diakhiri langkah VII yaitu evaluasi. 2.2.2.1 Langkah I Pengumpulan Data Dasar Langkah ini dilakukan dengan melakukan pengkajian melalui proses pengumpulan data yang di perlukan untuk mengevaluasi keadaan pasien secara lengkap seperti riwayat kesehatan , pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan, peninjauan catatan terbaru atau catatan sebelumnya, data laboratorium dan membandingkannya dengan hasil studi. Semua data dikumpulkan dari semua sumber yang berhubungan dengan kondisi pasien (Wildan dan hidayat, 2012 : 34). Bagian-bagian penting anamnesis pada kala I persalinan 1. Data subjektif a). Data subjektif merupakan informasi Biodata 1) Nama Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-hari agar tidak keliru dalam memberikan penanganan.
  • 93.
    80 2) Usia /umur Data ini ditanyakan untuk menentukan apakah ibu dalam proses persalinan berisiko karena usia atau tidak (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 220). 3) Agama Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing atau mengarahkan pasien dalam berdoa 4) Suku / bangsa Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-hari. 5) Pendidikan Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai dengan pendidikannya (Ambarwati dan wulandari, 2010 :131). 6) Pekerjaan Data ini menggambarkan tingkat sosial ekonomi, pola sosialisasi, dan data pendukung dalam menentukan pola komunikasi yang akan dipilih selama asuhan (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 221).
  • 94.
    81 7) Alamat Ditanyakan untukmempermudah kunjungan rumah bila diperlukan (Ambarwati dan wulandari, 2010 :132) b) Riwayat pasien 1) Keluhan utama Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Pada kasus persalinan, informasi yang harus didapat dari pasien adalah kapan mulai terasa ada kenceng- kenceng diperut, bagaimana intensitas dan frekuensinya, apakah ada pengeluaran cairan dari vagina yang berbeda dari air kemih, apakah sudah ada pengeluaran lendir yang disertai darah, serta pergerakan janin untuk memastikan kesejahteraannya (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 221). 2) Riwayat kebidanan Data ini penting untuk diketahui oleh bidan sebagai data acuan untuk memprediksi jalanya proses persalinan dan untuk mendeteksi apakah ada kemungkinan penyulit selama proses persalinan. 3) Riwayat HPHT Untuk mengetahui tanggal hari pertama dari menstruasi terakhir klien untuk memperkirakan kapan
  • 95.
    82 kira-kira sang bayidilahirkan (Ambarwati dan wulandari, 2010 :134). 4) Taksiran Kelahiran Gambaran riwayat menstruasi klien yang akurat biasanya membantu penetapan tanggal perkiraan kelahiran yang disebut taksiran partus (walyani, 2015: 121). 5) Riwayat Imunisasi TT Imunisasi selama kehamilan sangat penting dilakukan untuk mencegah penyakit yang dapat menyebabkan kematian ibu dan janin. Jenis imunisasi yang diberikan adalah Tetanus Toxoid (TT) yang dapat mencegah penyakit tetanus. Imunisasi TT pada ibu hamil harus terlebih dahulu ditentukan status kekebalan/ imunisasinya. Ibu hamil yang belum pernah mendapatkan imunisasi statusnya T0, jika telah mendapatkan 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu atau pada masa balitanya telah memperoleh imunisasi DPT sampai 3 kali maka statusnya adalah T2, bila telah mendapat dosis TT yang ke-3 (interval minimal 6 bulan dari dosis ke-2) maka statusnya T3, status T4 di dapat apabila telah mendapatkan 4 dosis (interval minimal 1 tahun dari dosis ke-3) dan status
  • 96.
    83 T5 didapatkan bila5 dosis telah didapat (interval minimal 1 tahun dari dosis ke-4) (Sulistyawati, 2011 :120). 6) Menstruasi Data ini memang tidak secara langsung berhubungan dengan masa bersalin, namun dari data yang kita akan mempunyai gambaran tentang keadaan dasar dari organ reproduksinya. Beberapa data yang harus kita peroleh dari riwayat menstruasi antara lain : 1) Menarche Adalah usia pertama kali mengalami menstruasi. Untuk wanita indonesia indonesia pada usia sekitar 12-16 tahun. 2) Siklus menstruasi Adalah jarak antara menstruasi yang dialami dengan menstruasi berikutnya dalam hitungan hari, biasanya sekitar 23-32 hari. 3) Volume Data ini menjelaskan seberapa banyak darah menstruasi yang dikeluarkan. Kadang kita akan kesulitan untuk mendapatkan data yang valid. Sebagai acuan biasanya kita gunakkan kriteria banyak, sedang dan sedikit. Jawaban yang
  • 97.
    84 diberikan oleh pasienbiasanya bersifat subjektif, namun kita dapat gali lebih dalam lagi dengan beberapa pertanyaan pendukung seperti sampai berapa kali ganti pembalut dalam sehari. 4) Keluhan Beberapa wanita menyampaikan keluhan yang dirasakan ketika mengalami menstruasi misalnya sakit yang sangat, pening sampai pingsan, atau jumlah darah yang banyak.Keluhan yang disampaikan oleh pasien dapat menunjuk kepada diagnosa tertenu. c) Gangguan kesehatan alat reproduksi Data ini sangat penting untuk kita gali karena akan memberikan petunjuk bagi kita tentang organ reproduksinya. Ada beberapa penyakit organ reproduksi yang berkaitan erat dengan personal hygine pasien, atau kebiasaan lainnya yang tidak mendukung kesehatan reproduksinya. Jika didapatkan ada salah satu atau beberapa riwayat gangguan kesehatan alat reproduksi, maka kita harus waspada akan adanya kemungkinan gangguan kesehatan alat reprodusi pada masa intra sampai dengan pascamelahirkan serta pengaruhnya terhadap kesehatan
  • 98.
    85 bayi yang dilahirkannya.Beberapa data yang perlu kita gali dari pasien adalah apakah pasien pernah mengalami gangguan seperti keputihan, infeksi, gatal karena jamur, atau tumor (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 221-222). d) Riwayat kehamilan, persalinan, nifas, dan KB yang lalu. Lama persalinan terdahulu sebagai Indikator lama persalinan yang baik, memungkinkan untuk membedakan antara persalinan primigravida dan sekundigravida (gravida II) serta mengantisipasi perubahan pada grandmultipara (Varney, 2002:86). e) Riwayat kesehatan Data dari riwayat kesehatan ini dapat kita gunakkan sebagai “warning” akan adanya penyulit saat persalinan. Perubahan fisik dan psikologis saat bersalin yang melibatkan seluruh sistem dalam tubuh akan mempengaruhi organ yang mengalami gangguan. Beberapa data penting tentang riwayat kesehatan pasien yang perlu kita ketahui adalah apakah pasien pernah atau sedang menderita penyakit seperti jantung, diabetes mellitus, ginjal, hipertensi, hipotensi, hepatitis, atau anemia. f) Status perkawinan
  • 99.
    86 Data ini pentinguntuk kita kaji karena dari data ini kita akan mendapatkan gambaran mengenai suasana rumah tangga pasangan serta kepastian mengenai siapa yang akan mendampingi persalinan. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan. 1) Usia nikah pertama kali 2) Status pernikahan sah/tidak 3) Lama pernikahan 4) Perkawinan sekarang adalah suami yang ke berapa g) Pola Makan Data ini penting untuk diketahui agar bias mendapatkan gambaran bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya selama hamil sampai dengan masa awal persalinan. Data focus mengenai asupan makanan pasien adalah sebagai berikut. 1) Kapan atau jam berapa terakhir kali makan. 2) Makanan yang dimakan. 3) Jumlah makanan yang dimakan. 4) Seandainya saat ini ingin makan, apa yang ia inginkan sebelum masuk pada fase persalinan dimana ia tidak akan mungkin atau tidak ingin lagi untuk makan. h) Pola minum
  • 100.
    87 Pada masa persalinan,data mengenai intake cairan sangat penting karena akan menentukan kecendrungan terjadinya dehidrasi. Data yang perlu kita tanyakan berkaitan dengan intake cairan adalah sebagai berikut. 1) Kapan terakhir kali minum. 2) Berapa banyak yang diminum. 3) Apa yang diminum. Pada pertengahan sampai akhir kala I biasanya pasien akan sangat membutuhkan cairan, bukan makanan Disamping pasien sudah tidak berselera lagi untuk makan karena rasa sakit akibat his, juga karena pengeluaran keringat yang bertambah sehingga membutuhkan pemasukan cairan lebih banyak (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 223). i) Pola Eliminasi Anjurkan ibu dapat berkemih setiap 2 jam atau lebih sering jika kandung kemih terasa penuh. Jika diperlukan, bantu ibu untuk ke kamar mandi. Jika ibu tak dapat berjalan ke kamar mandi, bantu agar ibu dapat duduk dan berkemih di wadah penampung air. Jika kandung kemih penuh yang penuh mengganggu penurunan kepala bayi. Selain itu juga akan menambah rasa nyeri pada perut bawah, menghambat penatalaksanaan distosia bahu,
  • 101.
    88 menghalangi lahirnya plasentadan perdarahan paska persalinan (JNPK-KR, 2008: 82). j) Gangguan kesehatan alat reproduksi Data ini sangat penting untuk kita gali karena akan memberikan petunjuk bagi kita tentang organ reproduksinya. Ada beberapa penyakit organ reproduksi yang berkaitan erat dengan personal hygine pasien, atau kebiasaan lainnya yang tidak mendukung kesehatan reproduksinya. Jika didapatkan ada salah satu atau beberapa riwayat gangguan kesehatan alat reproduksi, maka kita harus waspada akan adanya kemungkinan gangguan kesehatan alat reprodusi pada masa intra sampai dengan pascamelahirkan serta pengaruhnya terhadap kesehatan bayi yang dilahirkannya. Beberapa data yang perlu kita gali dari pasien adalah apakah pasien pernah mengalami gangguan seperti keputihan, infeksi, gatal karena jamur, atau tumor (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 221-222). k) Riwayat kehamilan, persalinan, nifas, dan KB yang lalu. Lama persalinan sebelumnya merupakan indikasi yang baik untuk memperkirakan lama persalinan kali ini sehingga memungkinkan untuk membedakan antara
  • 102.
    89 persalinan primigravida dangravida kedua serta persalinan dengan paritas yang semakin tinggi (Varney, 2007 : 692). l) Personal hygiene Data ini perlu kita gali karena akan sangat berkaitan dengan kenyamanan pasien dalam menjalani proses persalinannya. Beberapa pertanyaan yang perlu dianjurkan berhubungan dengan perawatan kebersihan diri pasien. (a) Kapan terakhir mandi, keramas, dan gosok gigi. (b) Kapan terakhir ganti baju dan pakaian dalam m)Aktivitas seksual Data yang kita perlukan berkaitan dengan aktivitas seksual adalah sebagai berikut. 1) Keluhan 2) Frekuensi Kapan terakhir melakukan hubungan seksual n) Keadaan lingkungan Keadaan lingkungan sangat mempengaruhi status kesehatan keluarga.Beberapa data yang bisa kita gali untuk memastikan keadaan kesehatan keluarga antaralain : Fasilitas MCK (mandi, cuci,kakus) Kita dapat tanyakan tentang tempat melakukan kebiasaan BAB dan BAK sehari-hari.Jika keluarga tidak mempunyai fasilitas MCK pribadi, apakah di sekitar tempat tinggal mereka ada
  • 103.
    90 fasilitas MCK umum,atau mungkin mereka biasa BAB dan BAK disungai. o) Respon keluarga terhadap persalinan Bagaimanapun juga hal ini sangat penting untuk kenyamanan psikologis pasien. Adanya respons positif dari keluarga terhadap persalinan akan mempercepat proses adaptasi pasien menerima peran dan kondisinya. p) Pengetahuan pasien tentang proses persalinan Data ini dapat kita peroleh dari beberapa pertanyaan yang kita ajukan kepada pasien mengenai apa yang ia ketahui tentang proses persalinan. Pengalaman atau riwayat persalinan yang lalu dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menyimpulkan sejauh mana pasien mengetahui tentang persalinan, karena terdapat perbedaan dalam memberikan asuhan antara pasien yang sudah tahu atau punya pengalaman tentang persalinandengan yang sama sekali belum tahu tentang persalinan. q) Adat istiadat setempat yang berkaitan dengan persalinan Untuk mendapatkan data ini bidan perlu melakukan pendekatan terhadapkeluarga pasien, terutama orang tua. Ada beberapa kebiasaan yang mereka lakukan ketika anak atau keluarganya menghadapi persalinan, dan sangat tidak bijaksana bagi bidan jika tidak menghargai apa yang
  • 104.
    91 mereka lakukan. Kebiasaanadat yang dianut dalam menghadapi persalinan, selama tidak membahayakan pasien, sebaiknyatetap difasilitasi karena ada efek psikologis yang positif untuk pasien dan keluarganya. 2. Data Objektif Merupakan pencatatan yang dilakukan dari hasil pemeriksaan fisik. Bidan melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan secara berurutan. Langkah-langkah pemeriksaan : a. Keadaan umum Data ini didapat dengan mengamati keadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan yang dilaporkan kriterianya adalah sebagai berikut. 1) Baik Jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan. 2) Lemah Pasien dimasukkan dalam kriteria ini jika ia kurang atau tidak memberikan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak mampu berjalan sendiri.
  • 105.
    92 b. Kesadaran Untuk mendapatkangambaran tentang kesadaran pasien, kita dapat melakukan pengkajian derajat kesehatan pasien dari keadaan komposmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan koma (pasien tidak dalam keadaan sadar) (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 224- 226). c. Tinggi Badan Di ukur dalam cm, tanpa sepatu. Tinggi badan kurang dari 145 cm ada kemungkinan terjadi cepalo pelvic disproposian (CPD). d. Berat badan Berat badan yang bertambah terlalu besar atau kurang, perlu mendapatkan perhatian khusus karena kemungkinan terjadi penyulit kehamilan. Kenaikan berat badan tidak boleh dari 0,5 kg perminggu (walyani, 2015: 86) e. Tanda vital 1) Tekanan darah Pada kala I tekanan darah meningkat, sistolik rata- rata naik 10-20 mmHg, diatolik 5-10 mmHg, diantara kontraksi tekanan darah akan turun (normal), dan meningkatkan lagi bila terjadi kontraksi (Sumarah et. all, 2009 : 58). 2) Nadi
  • 106.
    93 Nadi normal adalah60 sampai 100 menit. Bila abnormal mungkin ada kelainan paru-paru atau jantung (walyani, 2015: 86). 3) Pernapasan Fungsi sistem pernapasan yang utama adalah mempertahankan pertukaran oksigen dan karbon dioksida dalam paru-paru dan jaringan serta mengatur keseimbangan asam basa (kestabilan konsentrasi ion hidrogen pada tubuh) (Priharjo, 2007 : 81). 4) Suhu Suhu badan normal adalah 36,5˚C sampai 37,5˚C. Bila suhu lebih tinggi dari 37,5˚C kemungkinan ada infeksi (walyani, 2015: 86). f. Pemeriksaan fisik 1) Kepala Kepala merupakan organ tubuh yang penting dikaji karena dikepala terdapat organ-organ yang sangat berperan dalam fungsi kehidupan. Inspeksi dengan memperhatiakan bentuk kepala terdapat benjolan atau tidak, nyeri tekan dan dan kebersihan kepala (Priharjo, 2007 : 47). 2) Muka
  • 107.
    94 Pada daerah wajah/mukadilihat simetris atau tidak, apakah kulitnya normal atau tidak, pucat/tidak, atau ikhterus (Uliyah et. all, 2008 : 169). 3) Telinga Pada pemeriksaan telinga bagian luar dapat dimulai dengan pemeriksaan daun telinga dan liang telinga engan menentukan bentuk, besar dan posisinya. Pemeriksaan liang telinga ini dapat dilakukan dengan bantuan otoskop. Pemeriksaan pendengaran dilaksanakan dengan bantuan garfutala untuk mengetahui apakah pasien mengalami gangguan pendengaran atau tidak. 4) Mata Pemeriksaan mata dilakukan untuk menilai adanya visus atau ketajaman pengelihatan. Pemeriksaan skelera bertujuan untuk menilai warna, apakah dalam keadaan normal yaitu putih. Apabila ditemukan warna lain. Pemeriksaan pupil, secara normal berbentuk bulat dan simetris. Apabila diberikan sinar, akan mengecil. Midriasis aatu dilatasi pupil menunjukkan adanya rangsangan simpatis. Sedangkan miosis menunjukkan kadaan pupil yang mengecil. Pupil yang berwarna putih menunjukkan kemungkinan adanya pnyakit katarak.
  • 108.
    95 Kondisi bola matayang menonjol dinamakan eksoftalmos dan bola mata mengecil dinamakan enoftalmos. Strabismus atau juling merupakan sumbu visual yang tidak sejajar pada lapang gerakan bola mata, selain itu terdapat nistagmus yang merupakan gerakan bola mata ritmik yang cepat dan horizontal (Uliyah et. all, 2008 : 169). 5) Hidung Hidung dikaji dengan tujuan untuk mengetahui keadaan bentuk dan fungsi hidung.Pengkajian hidung dimulai dari bagian luar, bagian dalam, kemudian sinus- sinus.Pada pemeriksaan hidung juga dilihat apakah ada polip dan kebersihannya (Priharjo, 2007 : 67). 6) Mulut Pemeriksaan mulut bertujuan untuk menilai ada tidaknya trismus, halitosis dan labioskisis. Trismus yaitu kesukaran membuka mulut. Halitosis yaitu bau mulut tidak sedap karena personal hygine yang kurang. Labioskisis yaitu keadaan bibir tidak simetris. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan pada gusi untuk menilai edema atau tanda-tanda radang (Uliyah et. all, 2008 : 169).
  • 109.
    96 Pengkajian mulai mengamatibibir, gigi, gusi, lidah, selaput lendir, pipi bagian dalam, lantai dasar mulut, dan palatum/langit-langit mulut kemudian faring. 7) Leher a) Pembesaran kelenjar limfe Pembesaran kelenjar limfe dapat disebabkan oleh berbagai penyakit, misalnya peradangan akut/kronis di kepala, orofaring. Pembesaran limfe juga terjadi pada beberapa kasus infeksi seperti tuberculosis atau sifilis. b) Kelenjar tyroid Palpasi kelenjar tyroid dilakukan untuk mengetahui adanya pembesaran tyroid (gondok) yang biasanya disebabkan oleh kekurangan garam yodium. 8) Payudara Pada wanita hamil, payudara juga mengalami perubahan. Payudara menjadi lebih besar akibat proliferasi dan hipertrofi sel-sel alini dan kelenjar susu (duktus laktiferus). Perubahan ini terjadi sebagai respons terhadap hormon dari korpus luteum dan plasenta. 9) Abdomen
  • 110.
    97 Bentuk abdomen yangnormal adalah simetris, baik pada orang gemuk maupun pada orang kurus. Abdomen menjadi besar dan tidak simetris pada berbagai keadaan, misalnya kehamilan, tumor dalam rongga abdomen, tumor ovarium atau tumor kandung kemih. Pada bagian abdomen juga kita mendengarkan bissing usus yang disebabkan oleh perpindahan gas atau makanan sepanjang intestinum dan suara pembuluh darah serta suara denyut jantung Janin (Priharjo, 2006 : 70-74, 118, 123 -127). Leopold I : Menentukan tinggi fundus uteri, bagian janin dalam fundus. Leopold II : Menentukan batas samping rahim kanan- kiri dan menentukan letak punggung janin. Leopold III : Menentukan bagian terbawah janin sudah masuk atau masih dapat digoyangkan. Leopold IV : Berapa jauh janin masuk pintu atas panggul (Manuaba, dkk. 2010 : 118- 119). Tinggi Fundus Uteri
  • 111.
    98 Sebelum bulan ke3 fundus uteri belum dapat diraba dari luar. 12 minggu → TFU Teraba → 1-2 jari di atas simpisis 16 minggu → TFU Teraba → pertengahan simpisis- pusat 20 minggu → TFU Teraba → 3 jari di bawah pusat 24 minggu → TFU Teraba → setinggi pusat 28 minggu → TFU Teraba → 3 jari di atas pusat 32 minggu → TFU Teraba → pertengahan px -pusat 36 minggu → TFU Teraba → Se-px/2-3 jari di bawah px. 40 minggu → TFU Teraba → pertengahan px -pusat Mengukur TFU Mc. Donald: Jika belum masuk panggul (TFU-12) x 155 Jika sudah masuk panggul (TFU-11) x 155 (Jannah,2012:178) 10) Pemeriksaan janin Pemantauan DJJ setiap 30 menit sekali berdasarkan teori asuhan persalinan yang bertujuan untuk memantau keadaan dan kesejahteraan janin (JNPK- KR, 2008 : 57).
  • 112.
    99 Frekuensi jantung bayikurng dari 120 atau lebih dari 160x/menit dapat menunjukkan gawat janin dan harus di evaluasi (Varney, 2007 : 693) 11) His His bersifat teratur, interval semakin pendek dan kekuatannya semakin besar, serta semakin beraktivitas (jalan), semakin bertambah kekuatan kontraksinya (Jannah, 2014 : 3). Menurut teori Dibawah lajur waktu partograf terdapat lima lajur kotak dengan tulisan “kontraksi per 10 menit” disebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi. Setiap 30 menit, raba dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lamanya kontraksi dalam satuan detik (JNPK-KR, 2008 : 64). Menurut teori keluhan persalinan yang dirasakan menjelang persalinan yaitu pinggang terasa sakit dan menjalar ke depan, sifat his teratur, intervalnya makin pendek, dan kekuatannya makin besar terjadi penambahan jika pesien menambah aktivitas misalnya dengan berjalan-jalan. 12) Ekstremitas
  • 113.
    100 Edema ekstremitas pergelangankaki, pretibial, jari- jari, dan wajah. Evaluasi adanya preeklamsi (Varney, 2002 : 88) Edema merupakan tanda klasik preeklamsiia. Bidan harus mengecek dan mengevaluasi edema pada pergelangan kaki, area pratibia, jari atau wajah. Edema pada kaki dan pergelangan kaki saja biasanya merupakan edema dependen yang disebabkan oleh penurunan aliran darah vena akibat penekanan uterus yang membesar (Varney, 2007 : 693). 13) Genitalia a) Kebersihan b) Pengeluaran per vaginam c) Tanda-tanda infeksi vagina d) Pemeriksaan dalam 14) Anus a) Hemoroid b) Kebersihan 2.2.2.2 Langkah II Interprestasi data Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi data secara benar terhadap diagnosis atau masalah kebutuhan pasien. Masalah atau diagnosis yang spesifik dapat ditemukan berdasarkan interprestasi yang benar terhadap data dasar. Selain
  • 114.
    101 itu, sudah terpikirkanperencanaan yang dibutuhkan terhadap masalah. Langkah awal dari perumusan diagnosis atau masalah adalah pengolahan data dan analisis dengan menggabungkan data satu dengan lainnya sehingga tergambar fakta. Dalam langkah kedua ini, bidan membagi interprestasi data dalam tiga bagian: Diagnosa kebidanan Dalam bagian ini yang disimpulkan oleh bidan antara lain : 1. Paritas Paritas adalah riwayat reproduksi seorang wanita yang berkaitan dengan kehamilannya (jumlah kehamilan) dibedakan menjadi primigravida (hamil pertama kali) dan multigravida (hamil kedua atau lebih). a. Primigravida G1P0A0 1) G1 (gravida) berarti kehamilan yang pertama 2) P0 (partus nol) berarti belum pernah partus / melahirkan satu kali 3) A0 (abortus nol) berarti pernah mengalami abortus satu kali b. Multigravida G3P1A1 1) G3 (gravid 3) berarti kehamilan yang ketiga 2) P1 (partus 1) berarti pernah partus/melahirkan
  • 115.
    102 3) A1 (abortus1) berarti belum pernah mengalami abortus 2. Usia kehamilan (dalam minggu) 3. Kala dan fase persalinan 4. Keadaan janin normal atau tidak normal 2.2.2.3 Langkah III Identifikasi Diagnosis atau masalah Potensial Pada langkah ini mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain ini membutuhkan antisipasi, bila mungkin bila dilakukan pencegahan. Sambil mengamati pasien, bidan, bidan diharapkan siap bila diagnosis atau masalah potensial benar- benar terjadi (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 228 - 229). 2.2.2.4 Langkah IV Identifikasi dan Penetapkan Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera Bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau dokter melakukan konsultasi atau penanganan segera bersama anggota tim kesehatan lain dengan kondisi klien. Dalam kondisi tertentu, seorang bidan mungkin juga perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lain seperti pekerja sosial, ahli gizi, atau seorang ahli perawatan klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini, bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa sebaiknya konsultasi dan kolaborasi dilakukan (Soepardan: 2008:100-101).
  • 116.
    103 1. Masalah Dalam asuhankebidanan istilah “masalah” dan “diagnosa” dipakai keduanya karena beberapa masalah tidak dapat didefinisikan sebagai diagnosa, tetapi perlu dipertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh. Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami kenyataan terhadap diagnosisnya. 2. Kebutuhan Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalahnya. Contohnya kebutuhan untuk KIE, bimbingan tentang kontrol pernapasan dan posisi untuk meneran (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 229). 2.2.2.5 Langkah V Perencanaan Asuhan Secara Menyeluruh Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh yang ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen untuk masalah diagnosis yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini data yang belum lengkap dapat dilengkapi (soepardan, 2008: 101). Pada tahap ini bidan melakukan perencanaan terstruktur berdsasarkan tahap persalinan. Dasar perencanaan tidak lepas dari interprestasi data, termasuk persiapan peralatan dan obat
  • 117.
    104 yang harus tersedia.Perencanaan pada persalinan kala I-IV adalah sebagai berikut. 1. Kala I a. Dukungan emosional b. Pengaturan posisi c. Pemberian cairan d. Kebersihan e. Penilaian dengan partograf 2. Kala II a. Anjurkan pendamping memberikan dorongan/ dukungan selama proses persalinan dan kelahiran. b. Berikan dorongan dan besarkan hati ibu c. Penolong harus memberikan rasa aman dan nyaman d. Biarkan ibu memilih posisi yang sesuai untuk meneran e. Beri pujian saat ibu mengejan f. Kipas dan pijat untuk menambah kenyamanan bagi ibu g. Jaga kebersihan diri h. Beri dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu i. Atur posisi ibu dalam membimbing mengedan j. Jaga kandung kemih tetap kosong k. Beri cukup minum
  • 118.
    105 l. Periksa denyutjantung janin (DJJ) pada saat kontraksi dan setelah setiap kontraksi. 3. Kala III a. Lakukan palpasi ada tidaknya bayi kedua b. Beri suntikan oksitosin dosis 0,5 cc secara IM c. Libatkan keluarga dalam pemberian minum d. Lakukan pemotongan tali pusat e. Lakukan PTT f. Lahirkan plasenta 4. Kala IV a. Pemeriksaan fundus uteri tiap 15 menit b. Pemeriksaan tekanan darah, nadi, kandung kemih dan perdarahan setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua c. Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah dehidrasi dan menawarkan ibu makanan dan minum yang disukainya d. Bersihkan ibu dan kenakkan pakaian ibu yang bersih dan kering e. Biarkan ibu beristirahat f. Biarkan bayi berada pada ibu g. Mulai memberikan ASI h. Ajari keluarga untuk memasase
  • 119.
    106 Pada langkah inidirencanakan asuhan yang menyeluruh berdasarkan langkah sebelumnya. Semua perencanaan yang dibuat harus berdasarkan pertimbangan yang tepat meliputi pengetahuan, teori yang terbaru, evidence based care, serta divalidasi dengan asumsi mengenai apa yang diinginkan dan tidak diinginkan pasien (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 230, 237-238). 2.2.2.6 Langkah VI Pelaksanaan Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana sebelumnya, baik terhadap masalah pasien ataupun diagnosa yang ditegakkan, pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh bidan secara mandiri ditegakkan. Pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh bidan secara mandiri maupun berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya (Wildan dan hidayat, 2012 : .35). 2.2.2.7 Langkah VII Evaluasi Merupakan tahap terakhir dalam manajemen kebidanan, yakni dengan melakukan evaluasi dan perencanaan maupun pelaksanaan yang dilakukan bidan. Evaluasi sebagai bagian dari proses yang dilakukan secara terus menerus untuk meningkatkan pelayanan secara komprehensif dan selalu berubah sesuai dengan kondisi Atau kebutuhan klien (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 220-237).
  • 120.
    107 2.3 Landasan HukumKewenangan Bidan Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan, kewenangan yang dimiliki bidan meliputi: Kewenangan normal: Kewenangan normal adalah kewenangan yang dimiliki oleh seluruh bidan. Kewenangan ini meliputi: 1. Pelayanan Kesehatan Ibu a. Ruang lingkup: Pelayanan konseling pada masa pra hamil 1) Pelayanan antenatal pada kehamilan normal 2) Pelayanan persalinan normal 3) Pelayanan ibu nifas normal 4) Pelayanan ibu menyusui 5) Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan b. Kewenangan: 1) Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II 2) Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan 3) Pemberian tablet Fe pada ibu hamil 4) Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas, fasilitasi / bimbingan inisiasi menyusu dini (IMD) dan promosi air susu ibu (ASI) eksklusif
  • 121.
    108 5) Pemberian uterotonikapada manajemen aktif kala tiga dan postpartum 6) Penyuluhan dan konseling 7) Bimbingan pada kelompok ibu hamil 8) Pemberian surat keterangan kematian 9) Pemberian surat keterangan cuti bersalin 2. Pelayanan Kesehatan Anak a. Ruang lingkup: 1) Pelayanan bayi baru lahir 2) Pelayanan bayi 3) Pelayanan anak balita 4) Pelayanan anak pra sekolah b. Kewenangan 1) Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk resusitasi, pencegahan hipotermi, inisiasi menyusu dini (IMD), injeksi vitamin K 1 2) perawatan bayi baru lahir pada masa neonatal (0-28 hari), dan perawatan tali pusat 3) Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk 4) Penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan dengan perujukan 5) Pemberian imunisasi rutin sesuai program Pemerintah 6) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan anak pra sekolah
  • 122.
    109 7) Pemberian konselingdan penyuluhan 8) Pemberian surat keterangan kelahiran 9) Pemberian surat keterangan kematian c. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana, dengan kewenangan: 1) Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana d. Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom Selain kewenangan normal sebagaimana tersebut di atas, khusus bagi bidan yang menjalankan program Pemerintah mendapat kewenangan tambahan untuk melakukan pelayanan kesehatan yang meliputi: 1) Pemberian alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam rahim, dan memberikan pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit 2) Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit kronis tertentu (dilakukan di bawah supervisi dokter) 3) Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman yang ditetapkan 4) Melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan ibu dan anak, anak usia sekolah dan remaja, dan penyehatan lingkungan 5) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra sekolah dan anak sekolah 6) Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas
  • 123.
    110 7) Melaksanakan deteksidini, merujuk dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk pemberian kondom, dan penyakit lainnya 8) Pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) melalui informasi dan edukasi 9) Pelayanan kesehatan lain yang merupakan program Pemerintah Khusus untuk pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit, asuhan antenatal terintegrasi, penanganan bayi dan anak balita sakit, dan pelaksanaan deteksi dini, merujuk, dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) dan penyakit lainnya, serta pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA), hanya dapat dilakukan oleh bidan yang telah mendapat pelatihan untuk pelayanan tersebut Selain itu, khusus di daerah (kecamatan atau kelurahan/desa) yang belum ada dokter, bidan juga diberikan kewenangan sementara untuk memberikan pelayanan kesehatan di luar kewenangan normal, dengan syarat telah ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kewenangan bidan untuk memberikan pelayanan kesehatan di luar kewenangan normal tersebut berakhir dan tidak berlaku lagi jika di daerah tersebut sudah terdapat tenaga dokter. (http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/archives/171,8-4-2015,10.00 WiB).
  • 124.
    111 2.4 Kompetensi Bidan Kompetensi4 : Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tanggap terhadap kebudayaan setempat selama persalinan, memimpin suatu persalinan yang bersih dan aman, menangani situasi kegawatdaruratan tertentu untuk mengoptimalkan kesehatan ibu dan bayinya yang baru lahir. 2.4.1 Pengetahuan Dasar 2.4.1.1 Fisiologi persalinan 2.4.1.2 Anatomi tengkorak janin, diameter yang penting dan penunjuk 2.4.1.3 Aspek psikologi dan kultur pada persalinan dan kelahiran 2.4.1.4 Indicator tanda-tanda dimulainya persalinan 2.4.1.5 Kemajuan persalinan normal dan penggunaan partograf atau alat serupa 2.4.1.6 Penilaian kesejahteraan janin dalam masa persalinan 2.4.1.7 Penilaian kesejahteraan ibu dalam masa persalinan 2.4.1.8 Proses penurunan janin melalui pelvis selamapersalinan dan kelahiran 2.4.1.9 Pengelolaan dan penatalaksanaan persalinan paada kehamilan atau ganda 2.4.1.10 Pemberian kenyamanan selama persalinan 2.4.1.11 Transisi bayi baru lahir terhadap kehidupan diluar uterus 2.4.1.12 Pemenuhan kebutuhan fisik bayi baru lahir 2.4.1.13 Pentingnya pemenuhan kebutuhan emosional bayi baru lahir 2.4.1.14 Mendukung dan meningkatkan pemberian ASI eksklusif
  • 125.
    112 2.4.1.15 Manajemen fisiologi,kala III 2.4.1.16 Memberikan suntikan intramuscular 2.4.1.17 Indikasi tindakan kedaruratan kebidanan 2.4.1.18 Indikasi tindakan operatif pada persalinan 2.4.1.19 Indikator komplikasi persalinan 2.4.1.20 Prinsip manajemen kala III, secara fisiologis 2.4.1.21 Prinsip manajemen aktif kala III 2.4.2 Keterampilan Dasar 2.4.2.1 Mengumpulkan data yang berfokus pada riwayat kebidanan dan tanda-tanda vital ibu pada persalinan sekarang 2.4.2.2 Melaksanakan pemeriksaan fisik yang terfokus 2.4.2.3 Melakukan pemeriksaan abdomen secara lengkap untuk mengkaji posisi dan penurunan janin 2.4.2.4 Mencatat waktu dan mengkaji kontraksi uterus (lama, kekuatan, dan frekuensi) 2.4.2.5 Melakukan pemeriksaan panggul (pemeriksaan dalam) secara lengkap dan akurat 2.4.2.6 Melakukan pemantauan kemajuan persalinan dengan menggunakan partograf 2.4.2.7 Memberikan dukungan fisiologis bagi wanita dan keluarganya. 2.4.2.8 Memberikan cairan, nutrisi dan kenyamananyang adekuat selama persalinan
  • 126.
    113 2.4.2.9 Mengidentifikasi secaradini kemungkinan persalinan abnormal 2.4.2.10 Melakukan amniotomi pada pembukaan serviks lebih dari 4cm sesuai dengan indikasi 2.4.2.11 Menolong kelahiran bayi dengan lilitan tali pusat 2.4.2.12 Melaksanakan manajemen fisiologis kala III 2.4.2.13 Melaksanakan manajemen aktif kala III 2.4.2.14 Memberikan suntikan intramuscular 2.4.2.15 Memasang infus, mengambil darah untuk pemeriksaan hemoglobin 2.4.2.16 Menahan uterus untuk mencegah terjadinya inverse uteri dalam kala III 2.4.2.17 Memeriksa kelengkapan plasenta dan selaputnya 2.4.2.18 Memperkirakan jumlah darah yang keluar pada persalinan dengan benar 2.4.2.19 Memeriksa robekan vagina, serviks dan perineum 2.4.2.20 Menjahit robekan vagina dan perineum tingkat II 2.4.2.21 Melakukan pengeluaran plasenta secara manual 2.4.2.22 Mengelola perdarahan postpartum 2.4.2.23 Memindahkan ibu untuk tindakan tambahan dengan tepat waktu sesuai indikasi 2.4.2.24 Memberikan lingkungan yang aman dengan meningkatkan hubungan/ tali kasih ibu dan bayi baru lahir
  • 127.
    114 2.4.2.25 Memfasilitasi ibuuntuk menyusui sesegera mungkin dan mendukung ASI eksklusif 2.4.2.26 Mendokumentasikan temuan-temuan yang penting dan intervensi yang dilakukan 2.4.3 Keterampilan Tambahan 2.4.3.1 Menolong kelahiran presentasi muka dengan penempatan dan gerak tangan yang tepat 2.4.3.2 Memberikan suntikan anastesi local jika diperlukan 2.4.3.3 Melakukan ekstraksi forsef rendah dan vakum jika diperlukan sesuai dengan kewenangan 2.4.3.4 Mengidentifikasi dan mengelola malpresentasi, distosia bahu, gawat janin, dan kematian janin dalam kandungan dengan tepat 2.4.3.5 Mengidentifikasi dan mengelola tali pusat menumbung 2.4.3.6 Mengidentifikasi dan menjahit robekan serviks 2.4.3.7 Membuat resep dan atau memberikan obat-obatan untuk mengurangi nyeri jika diperlukan sesuai kewenangan 2.4.3.8 Memberikan oksitosin dengan tepat untuk indikasi dan akselerasi persalinan dan penanganan perdarahan postpartum (Soepardan, 2008 : 62-65).
  • 128.
    115 BAB III TINJAUAN KASUS ASUHANKEBIDANAN PADA IBU BERSALIN TERHADAP NY. I UMUR 25 TAHUN G1P0A0 UMUR KEHAMILAN 36 MINGGU 4 HARI DI BPM ROSBIATUL ADAWIYAH, SKM.M.Kes BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015 Oleh : Rika Agustina M.Y Tanggal : 07 April 2015 Pukul : 11.30 Wib 3.1 Pengkajian A. DATA SUBJEKTIF 1. Identitas Nama Istri : Ny. I Nama Suami : Tn. R Umur : 25 th Umur : 29 th Agama : Islam Agama : Islam Suku/Bangsa : Jawa Suku/Bangsa : Jawa Pendidikan : S1 Pendidikan : S1 Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta Alamat : Jl. Badak Ujung No. 266, Gunung Terang, Bandar Lampung 2.Keluhan utama : Ibu datang dengan keluhan nyeri pada daerah pinggang yang menjalar keperut bagian bawah
  • 129.
    116 sejak pukul 04.00dan keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir sejak pukul 06.00 WIB. 3. Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu Anak Ke Kehamilan Persalinan Usia Penyulit Jenis Persalinan BB bayi Penolong Penyulit Hamil ini 36 mgg 4 hari 4. Riwayat kehamilan sekarang a. Riwayat Menstruasi Menarche : 13 tahun Siklus : 28 hari Lama : 7 hari Keluhan : Tidak ada Volume : 3-4 kali sehari ganti pembalut HPHT : 25-7-2014 b. Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir: > 10 x dalam 24 jam c. Keluhan yang dirasakan sekarang : Nyeri pada daerah pinggang yang menjalar ke perut bagian bawah dan disertai pengeluaran lendir bercampur darah
  • 130.
    117 d. Tanda-tanda persalinan a)His Sejak kapan : 04.00 Wib Frekuensi : 3 x dalam 10 menit Lamanya : 30 detik Irama : Teratur e. Pengeluaran pervaginam : Lendir bercampur darah f. Riwayat Imunisasi TT TT1 : Tanggal 14 oktober 2014 TT2 : Tanggal 14 november 2014 g. Pola eliminasi BAK terakhir : 30 menit yang lalu BAB terakhir : 30 menit yang lalu h. Keluhan Lain : Tidak ada 5. Riwayat kesehatan a. Riwayat kesehatan yang sedang diderita Jantung : Tidak ada DM : Tidak ada Ginjal : Tidak ada Hipertensi : Tidak ada Hepatitis : Tidak ada Anemia : Tidak ada
  • 131.
    118 b. Riwayat kesehatankeluarga Jantung : Tidak ada DM : Tidak ada Ginjal : Tidak ada Hipertensi : Tidak ada Hepatitis : Tidak ada Anemia : Tidak ada c. Perilaku kesehatan ibu Mengkonsumsi obat-obatan : Iya, ibu mengkonsumsi tablet fe, kalsium, asam folat dan vitamin Mengkonsumsi alkohol : tidak pernah Merokok : tidak pernah d. Riwayat sosial Kehamilan saat ini direncanakan tidak : Ya, direncanakan Status pernikahan : Sah Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas : tidak ada B. DATA OBJEKTIF 1. Pemeriksaan Umum a. Keadaan umum : Baik b. Kesadaran : Compos mentis
  • 132.
    119 c. TTV TekananDarah : 110 /70 mmHg Pernafasan : 20 x /i Nadi : 86 x /i Suhu : 37,20 C d. Tinggi badan : 159 cm e. Berat badan sebelum hamil : 50 kg f. Berat badan sekarang : 65 kg g. Lila : 28cm h. Tafsiran persalinan : 01 April 2015 2. Pemeriksaan Khusus Kebidanan a. Rambut Warna : Hitam Kebersihan : Bersih Mudah rontok/tidak : Tidak Nyeri tekan : Tidak ada b. Muka Pucat : Tidak Oedema : Tidak c. Mata Konjungtiva : Merah muda Sklera : putih Gangguan penglihatan : Tidak ada
  • 133.
    120 d. Telinga Kebersihan :Bersih Gangguan pendengaran : Tidak ada e. Hidung Polip : Tidak ada pembengkakan Kebersihan : Bersih f. Mulut Bibir : Lembab Lidah : Bersih Gigi : Tidak ada caries Gusi : Tidak bengkak dan tidak berdarah g. Leher Pembesaran kelenjar limfe : Tidak ada Pembesaran kelenjar tyroid : Tidak ada h. Dada Simetris : Iya, kanan dan kiri Rasa nyeri : Tidak ada Benjolan : Tidak ada Hiperpigmentasi : Ada pada areola Keadaan putting : Menonjol Pengeluaran : Ada kolostrum Kebersihan : Bersih Gangguan : Tidak ada
  • 134.
    121 i. Abdomen Inspeksi Bekas lukaoperasi : Tidak ada Linea : Ada Striae : Ada Acites : Tidak ada Palpasi Tumor : Tidak ada Benjolan : Tidak ada Leopold I : TFU 3 jari dibawah px, Bagian teratas perut ibu teraba bulat yang besar, lunak, tidak melenting yaitu bokong janin Leopold II : Bagian kanan perut ibu teraba bagian – bagian kecil yaitu ekstermitas janin bagian kiri perut ibu teraba keras, datar, memapan yaitu punggung janin Leopold III : Bagian terbawah perut ibu teraba bulat, keras dan tidak dapat digoyangkan yaitu kepala janin Leopold IV :Divergen Penurunan kepala : 2/5 TFU Mc. Donald : 32 cm TBJ (Rumus Jhon Thausak) : (TFU-11) x 155 (32-11) x 155 = 3255 gr
  • 135.
    122 DJJ: Punctum maksimum3 jari dibawah pusat sebelah kiri perut ibu dengan frekuensi 140×/menit, dan irama teratur. j. Ekstermitas Atas Bentuk : Normal Kuku jari : Merah muda Oedema : Tidak ada Bawah Bentuk : Normal Kuku jari : Merah muda Oedema : Tidak ada Varices : Tidak ada Reflek patella : (+) Kanan kiri k. Anogenital Kebersihan : Bersih Pengeluaran pervaginam : Ada, lendir bercampur darah Tanda infeksi vagina : Tidak ada Varices : Tidak ada Odema : Tidak ada Kelenjar bartholini : Tidak ada pembengkakan Perineum : Tidak ada luka parut
  • 136.
    123 l. Anus Hemoroid :Tidak ada Kebersihan : Bersih Pemeriksaan Dalam Indikasi : Untuk memantau kemajuan persalinan dan pembukaan serviks Tanggal : 07 April 2015, 11.30 Wib Dinding vagina : Tidak teraba sistokel dan rektokel Portio : Searah jalan lahir Konsistensi : Lunak Pendataran : 80% Pembukaan : 8 cm Ketuban : Positif Presentasi : Belum dilakukan Penunjuk : Belum dilakukan Posisi : Belum dilakukan Penurunan : Belum dilakukan Molase : Belum dilakukan 3. Data Penunjang USG : Tidak dilakukan Laboratorium Darah Kadar HB : Tidak dilakukan
  • 137.
    124 Golongan darah :Tidak dilakukan Kadar leukosit : Tidak dilakukan Urine Protein urine : Tidak dilakukan Glukosa urine : Tidak dilakukan
  • 138.
    125 BAB III MATRIKS Tgl/jam PengkajianInterpretasi Data (Diagnosis, Masalah, Kebutuhan) DX Potensial/ Masalah Potensial Antisipasi / Tindakan Segera Intervensi Implementasi Evaluasi 07 april 2015/ 11.30 wib Ds : 1. Ibu mengatakan nyeri pada daerah pinggang yang menjalar keperut bagian bawah sejak pukul 04.00 wib dan keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir sejak pukul 06.00 wib. 2. Ibu mengatakan ini kehamilan Dx ibu: Ny. I umur 25 tahun G1P0A0 usia kehamilan 36 minggu 4 hari inpartu kala1 fase aktif. Dasar : Ds: 1. Ibu mengatakan ini kehamilan yang pertama, belum pernah melahirkan dan tidak pernah keguguran. 2. Ibu mengatakan HPHT tanggal 25- 07-2014 Tidak ada Tidak ada 1.Jelaskan kondisi ibu dan janin saat ini. 2.Hadirkan pendamping dalam proses persalinan 3.Jelaskan pada ibu tentang keluhan yang ia 1. Menjelaskan pada ibu kondisi ibu saat ini dalam keadaan baik, dan kondisi janinnya dalam keadaan baik. 2. Menghadirkan pendamping atau orang terdekat seperti suami atau keluarga ibu untuk menemani ibu dalam menghadapi proses persalinan agar dapat memberikan dukungan serta semangat pada ibu selama persalinan. 3. Menjelaskan pada ibu bahwa keluhan rasa nyeri yang dirasakan ibu adalah hal yang fisiologis karena semakin terasa mules pada perut, maka ibu 1. Ibu telah mengetahui kondisi dirinya dan juga janinnya saat ini 2. Ibu di dampingi oleh suaminya dalam proses persalinan. 3. Ibu mengerti tentang keluhan yang ia rasakan dan akan mengurangi nyeri
  • 139.
    126 yang pertama, tidak pernah melahirkan dantidak pernah keguguran. 3. Ibu mengatakan HPHT tanggal 25-07-2014 Do : Keadaan umum : baik Kesadaran : Compos mentis TD :110/70mmHg N : 86x/mnt S : 37,2O C RR: 26 x/mnt Tanggal kunjungan 07-04-2015 3. Ibu mengatakan nyeri pada daerah pinggang yang menjalar keperut bagian bawah serta keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir. Do : Keadaan umum : Baik Kesadaran: Compos mentis TD : 110/70mmHg N : 86x/mnt S : 37,2O C RR : 26x/mnt rasakan dan anjurkan suami ibu untuk masase punggung ibu 4.Sarankan ibu untuk memilih posisi yang nyaman. semakin merasakan nyeri karena pengaruh dari hormon progesteron dan menganjurkan suami untuk masase punggung bagian belakang ibu untuk mengurangi rasa nyeri. 4. Menyarankan ibu untuk memilih posisi yang nyaman pada saat proses akan bersalin, diantaranya: jongkok untuk memungkinkan bahu turun ke panggul dan bukan terhalang (macet) diatas simfisis pubis, setengah duduk untuk membantu dalam penurunan janin ke panggul, berdiri untuk memperbesar ukuran panggul, merangkak untuk membantu kesehatan janin dalam penurunan lebih dalam ke panggul, dan miring kiri untuk mencegah terjadinya laserasi dan melancarkan sirkulasi oksigen dari ibu ke janin, serta tidak dianjurkan untuk tidur terlentang karena dapat menyebabkan hipoksia dengan tekhnik relaksasi serta suami bersedia untuk memasase punggung ibu. 4. Ibu memilih posisi miring kiri.
  • 140.
    127 Hasil pemeriksaan fisik dalambatas normal Hasil pemeriksaan palpasi : Leopold I: TFU 3 jari dibawah px, Bagian teratas perut ibu teraba bulat yang besar, lunak, tidak melenting yaitu bokong janin. Leopold II: Bagian kanan perut ibu teraba bagian-bagian kecil yaitu ekstermitas janin. Bagian kiri perut Hasil pemeriksaan fisik dalam batas normal. His:3x/10’/35” PD : pendataran 80% pembukaan 8cm, ketuban positif Dx janin: janin tunggal hidup intrauterine presentasi kepala Dasar: Ds: Ibu merasakan gerakan janinnya . 5.Berikan ibu asupan nutrisi baik makan maupun minum atau kekurangan pasukan oksigen pada janin dan berhubungan dengan gangguan terhadap proses kemajuan persalinan. 5. Memberikan ibu asupan nutrisi baik makan seperti roti maupun minum seperti air putih dan teh hangat manis untuk menambah tenaga ibu dalam proses persalinan. 6. Mempertahankan kandung kemih ibu tetap kosong agar tidak mengganggu kontraksi dan mempercepat penurunan kepala dengan cara menganjurkan ibu untuk buang air kecil saat ada keinginan untuk buang air kecil. 7. Menyiapkan alat-alat persalinan diantaranya: 5. Ibu telah memakan sepotong roti dan meminum air putih dan teh hangat manis. 6. Kandung kemih ibu kosong
  • 141.
    128 ibu teraba keras, datar,memapan yaitu punggung janin. Leopold III: Bagian terbawah perut ibu teraba bulat, keras dan tidak dapat digoyangkan yaitu kepala janin. Leopold IV: Divergen DJJ : puntum maximum 3 jari dibawah pusat sebelah kiri perut ibu dengan frekuensi 140x/menit dan irama teratur. Do: Leopold I: TFU 3 jari dibawah px, Bagian teratas perut ibu teraba bulat, lunak, tidak melenting yaitu bokong janin. Leopold II: Bagian kanan perut ibu teraba bagian – bagian kecil yaitu ekstermitas janin Bagian kiri perut ibu teraba keras, datar, memapanyaitu punggung janin. Leopold III: Bagian terbawah perut ibu teraba bulat, keras dan tidak dapat digoyangkan. 6.Pertahankan kandung kemih ibu tetap kosong 7.Siapkan alat- alat persalinan a. Partus set : handscoon 2 pasang, klem tali pusat,gunting tali pusat, gunting epis,1/2 koher,nelaton kateter, pengikat tali pusat, kasa. b. Hetting set: naldpuder, gunting benang, cutget, nald, pinset. c. APD:Tudung kepala, masker, kacamata, celemek,sepatu boat. d. Persiapan ibu:kain, baju, celana dalam, pembalut, gurita. e. Persiapan bayi: alat resusitasi, lampu sorot, bedong, popok, pakaian bayi f. Korentang g. Kom tertutup untuk air DTT dan kapas sublimat h. Kom kecil untuk obat i. 3 buah spuit untuk obat yaitu oxytosin,lidocain, dan ergometrin j. Bengkok dan pisvo k. Monokuler l. Alat TTV : tensi,temp,stetoskop dan jam tangan m.Infuset n. Aboket o. 3 cairan RL p. Beberapa handscoon steril q. 3 ember (u/ sampah basah, kering, pakaian kotor), tempat sampah tajam. r. 3 wascom( u/ air klorin, ar sabun, air setelah dianjurkan buang air kecil saat ada keinginan untuk buang air kecil. 7. Alat-alat untuk persalinan sudah disiapkan.
  • 142.
    129 Penurunan kepala: 2/5. TFU Mc.D:32cm (TFU-11/12)x155 = (32-11) x 155 = 21 x 155 = 3255 His:3x/10’/35” PD : pendataran 80% pembukaan 8cm, ketuban positif, Leopold IV: Divergen Penurunan kepala: 2/5 TFU Mc.D: 32cm TBJ: (TFU-11/12) x 155 = (32-11) x 155 = 21 x 155 = 3255 DJJ :puntum maximum 3 jari dibawah pusat sebelah kiri perut ibu dengan frekuensi 140x/menit, dan irama teratut. Masalah : Tidak ada 8. Pantau kemajuan persalinan , keadaan ibu, bersih. s. 2 buah handuk t. Tempat sampah untuk sampah medis dan sampah non medis. u. 3 buah washlap v. Persiapan air klorin 8. Memantau kemajuan persalinan.
  • 143.
    130 Kebutuhan : Asuhan kalaI dan keadaan janin menggunakan partograf. 8. Hasil pemantauan menggunakan partograf dalam batas normal (partograf terlampir). 11.30 kemajuan persalinan yang meliputi: pembukaan 8 cm, penurunan kepala belum diketahui. His : 3x/10’/35”.
  • 144.
    131 Keadaan ibu : TD:110 /70mmHg, N: 86x/menit, T: 37,2ºC, RR: 20x/menit, ibu diberikan asupan nutrisi berupa roti, air putih, dan teh hangat manis dan pengeluaran urin 10cc / jam. Keadaan janin : Djj : 140x/menit, ketuban utuh, dan moulase belum diketahui. 12.00 DJJ : 147 x/i His : 3x/10’/40”
  • 145.
    132 N : 86x/i 12.30 DJJ : 146 x/i His : 3x/10’/40” N : 85 x/i 13.00 DJJ : 147 x/i His : 3x/10’/45” N : 86 x/i 13.30 DJJ : 148 x/i His : 4x/10’/45” N : 88 x/i T : 37,3 ºC
  • 146.
    133 14.00 DJJ : 148x/i His : 5x/10’/45” N : 83 x/i 14.30 DJJ : 145 x/i His :5x/10’/55” N : 80x/i 07 April 2015/ 15.30 wib Ds: Ibu mengatakan sudah ingin mengedan. Ibu mengatakan merasa cemas dalam menghadapi Dx : Ny. I umur 25 tahun G1P0A0usia kehamilan 36 minggu 4 hari inpartu kala II. DS: Ibu mengatakan ini kehamilan yang pertama, belum pernah melahirkan dan tidak pernah Tidak ada Tidak ada 1. Beritahu kondisi ibu dan janinnya. 2. Jelaskan pada ibu tentang keluhan yang ia 1. Memberitahu keadaan ibu dan janinnya saat ini dalam keadaan baik. Pembukaan telah lengkap dan ibu boleh mengedan. 2. Menjelaskan pada ibu bahwa keluhan yang ia rasakan adalah hal yang normal karena beberapa faktor yang mempengaruhi dalam proses persalinan yaitu peningkatan frekuensi dan irama his, semakin 1.Ibu sudah mengetahui kondisinya saat ini dan juga janinnya. 2.Ibu mengerti tentang keluhan yang ia rasakan saat ini.
  • 147.
    134 proses persalinan. Do : His:5x/10’/55” Terlihat Tanda gejala kala II yaitu : Dorongan meneran, Tekanan anus, Perineum menonjol, Vulva membuka. Keluar lendir bercampur darah semakin banyak dari jalan lahir. keguguran. HPHT : 25-7-2014 Ibu mengatakan nyeri pinggang menjalar keperut bagian bawah semakin lama semakin sering, dan kuat. Do : His: 5x/10’/55” Terlihat tanda gejala kala II yaitu: Dorongan meneran, Tekanan anus, Perinium menonjol, Vulva membuka. rasakan 3. Ajarkan ibu cara meneran dan relaksasi. turunnya kepala janin kedasar panggul maka ibu semakin merasa sakit. 3. Mengajarkan ibu cara meneran yang benar yaitu saat ada his, kepala ibu diangkat sampai dagu menempel dada, dan mata membuka melihat kearah perut ibu, kedua tangan merangkul dilipatan paha dan dibawa kearah dada ibu, ,gigi dikatupkan, serta mengedan seperti BAB,bukan dileher. Dan saat tidak ada his,ibu dianjurkan untuk relaksasi seperti menarik nafas dari hidung dan keluarkan melalui mulut. 4. Memberikan asupan cairan pada ibu disaat tidak ada kontraksi seperti teh hangat manis,air putih untuk menambah tenaga ibu saat akan melahirkan bayinya,disaat tidak ada kontraksi 5. Memimpin ibu untuk mengedan disaat ada his, dan menganjurkan ibu 3.Ibu mengedan dengan baik saat ada his, dan ibu saat tidak ada his melakukan relaksasi. 4. Ibu telah
  • 148.
    135 PD: Dinding vagina tidak adasistokel dan rektokel, porsio sejajar, konsistensi lunak, pendataran 100%, Pembukaan 10cm, ketuban (-), presentasi kepala, penunjuk UUK, posisi kanan depan, penurunan hodge III, dan tidak ada molase. DJJ :140x/menit. Keluar lendir bercampur darah semakin banyak dari jalan lahir. PD: Dinding vagina tidak ada sistokel dan rektokel, porsio sejajar, konsistensi lunak, pendataran 100%, Pembukaan 10cm, ketuban (-), presentasi kepala, penunjuk UUK, posisi kanan depan, penurunan hodge III, dan tidak ada molase. Masalah : Ibu mengatakan cemas mendekati persalinan Kebutuhan : 4. Berikan ibu asupan cairan. 5. Pimpin ibu untuk mengedan 6. Lakukan pertolongan persalinan. untuk melakukan relaksasi disaat tidak ada his. 6. Melakukan pertolongan persalinan Normal : a. Siapkan alat, siapkan diri, melakukan cuci tangan tujuh langkah, Setelah kepala Nampak 5-6 cm di vulva menggunakan duk untuk melakukan stegnen agar tidak terjadi rupture perineum dan ritgen agar tidak terjadi defleksi maksimal, setelah kepala lahir, kemudian tangan kiri pindah kebawah dan tangan kanan mengecek lilitan tali pusat menggunakan jari telunjuk. Tunggu kepala putar paksi luar, setelah itu melakukan biparietal tarik cunam kebawah untuk melahirkan bahu depan dan curam keatas untuk melahirkan bahu belakang kemudian melakukan sanggah susur untuk meminum air putih dan teh hangat manis disaat tidak ada kontraksi. 5.Ibu mengedan dengan benar saat ada his, dan relaksasi saat tidak ada his. 6.Pertolongan persalinan telah dilakukan sesuai APN, bayi lahir spontan, langsung menangis, tonus otot aktif warna kulit kemerahan, lahir pukul 17.00 WIB, jenis kelamin laki-laki, tidak
  • 149.
    136 Asuhan kala IImelahirkan seluruh tubuh bayi dan melakukan penilaian. Meletakkan bayi di atas perut ibu lalu mengeringkan tubuh bayi dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya tanpa membersihkan verniks. Mengganti handuk basah dengan kain / handuk yang kering, memastikan bayi dalam posisi dan kondisi aman diperut bagian bawah perut ibu. 7. Meletakkan bayi tengkurap didada ibu untuk kontak kulit ibu-bayi. Selimuti ibu-bayi melakukan kontak kulit ke kulit didada ibu paling sedikit 1 jam. Sebagian bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusu dini dalam waktu 30- 60 menit. Biarkan bayi berada didada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah berhasil menyusu. 8. Melakukan palpasi abdomen untuk mengetahui janin kedua dan memastikan kandung kemih ibu penuh atau tidak. ada cacat fisik, anus positif. 7. Bayi telah diletakkan di dada ibu dan berhasil melakukan inisiasi
  • 150.
    137 7. Letakkan bayi didada ibu dan lakukan Inisiasi Menyusu Dini 1. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin dalam 1 menit setelah bayi lahir dan suntikkan oksitosin 10 unit secara IM di 1/3 paha bagian luar, lakukan aspirasi sebelum penyuntikan. 2. Melakukan jepit potong tali pusat dengan cara memperkirakan panjang tali pusat 3 cm dari bayi, lalu urut tali pusat kearah bayi lakukan penjepitan pada klem pertama, kemudian urut tali pusat kearah vulva dengan jarak 2 cm dari klem pertama lakukan penjepitan pada klem kedua, kemudian lakukan penjepital dan pemotongan tali pusat. 3. Melakukan pemotongan dan pengikatan tali pusat, yaitu dengan 1 tangan pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi) dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut. Ikat tali pusat dengan benang DTT pada satu sisi kemudian lingkarkan benang tersebut dan ikat tali pusat dengan simpul kunci pada sisi lainnya. menyusu dini. 8. Tidak ada janin ke dua dan kandung kemih ibu kosong. 1. Ibu telah disuntikkan oksitosin 2. Tali pusat telah dijepit
  • 151.
    138 07 April 2015/ 17.15 wib DS Ibu : 1.Ibumengatakan lemas dan mulas setelah bayi lahir. 2.Ibu mengatakan lega dan senang atas kelahiran anak pertamanya Diagnosa: Ibu: Ny. I usia 25 tahun P1A0 dalam kala III persalinan Dasar Ds Ibu : Ibu mengatakan perutnya masih mulas Do Ibu : Keadaan umum : baik Kesadaran: composmentis (IMD). 8. Lakukan palpasi abdomen 1. Beritahu ibu bahwa ia akan di suntik oksitosin 2. Lakukan jepit potong tali Lepaskan klem dan letakkan pada bengkok. 4. Melihat tanda-tanda pelepasan plasenta seperti uterus ibu membulat, tali pusat memanjang,keluar darah banyak dari jalan lahir. 5. Melakukan peregangan tali pusat terkendali, dengan cara tangan kiri dorsokranial dan tangan kanan melakukan peregangan tali pusat terkendali samapai melihat tali pusat tambah panjang pindah klem 5 cm di depan vulva sampai plasenta nampak di depan vulva lakukan putaran searah. 6. Melakukan massase uterus 15 kali 15 detik segera setelah plasenta lahir, dan mengajarkan keluarga agar 3. Tali pusat telah diikat dan telah dipotong.
  • 152.
    139 07 Do Ibu: Keadaan umum : baik Kesadaran: composmentis Bayi lahir pukul 17.00 WIB TFU sepusat Plasenta belum lahir Kontraksi baik Kandung kemih kosong Perdarahan normal Bayi lahir pukul 17.00 WIB TFU sepusat Plasenta belum lahir Kontraksi baik Kandung kemih kosong Perdarahan normal Masalah : Tidak Ada Kebutuhan : Asuhan kala III Tidak ada Tidak ada pusat. 3. Lakukan pemotongan dan pengikatan tali pusat uterus ibu berkontraksi dengan baik. 1. Mengecek robekan jalan lahir untuk mengetahui ada atau tidaknya laserasi. 4. sudah ada tanda-tanda pelepasan plasenta. 5. PTT telah dilakukan dan hasi yang di dapat yaitu : Maternal : selaput utuh, kotiledon lengkap, Fetal : Insersi marginalis, panjang tali pusat 50cm. berat 500 gram, tebal 2 cm, diameter 3 cm. 6. Telah dilakukan
  • 153.
    140 4. Lihat tanda- tanda pelepasan plasenta. 5.Lakukan peregangan tali pusat terkendali. 2. Memeriksa dan memastikan keadaan umum ibu baik. 3. Merendam alat-alat dalam larutan clorin selama 10 menit, lalu dibersihkan, dicuci dengan air sabun dan bilas dengan air mengalir 4. Membuang bahan-bahan yang kotor atau terkontaminasi kedalam tempat yang sesuai. 5. Membersihkan ibu dari paparan darah, cairan ketuban, dan lendir dengan menggunakan air DTT memakai pakaian yang bersih dan kering. masase pada uterus ibu dan keluarga mengerti cara memasase uterus. 1. Telah dilakukan pengecekan robekan jalan lahir dan di dapat hasilnya yaitu ada laserasi perineum derajat 1 yaitu dari mukosa vagina sampai ke
  • 154.
    141 6. Lakukan masase uterus dan mengajarkan keluarga. 6.Pastikan ibu merasa nyaman setelah badannya bersih . 7. Mencelupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5% balikkan bagian dalam keluar dan rendam selama 10 menit. 8. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian keringkan tangan dengan handuk pribadi yang bersih dan kering 9. Memakai sarung tangan DTT/bersih untuk melakukan pemeriksaan fisik bayi 10. Memberikan salep mata dan vitamin K1 mg IM dipaha kiri bawah lateral, pemeriksaan fisik bayi baru lahir, kulit perineum. 2. Keadaan umum telah diperiksa dan hasilnya baik. 3. Alat telah dibersihkan 4. Bahan-bahan yang kotor telah dibuang sesuai tempatnya. 5. Ibu telah dibersihkan dari
  • 155.
    142 April 2015/ 17.30 wib Ds Ibu: 1. Ibu mengatakan lelahsetelah melahirkan. 2. Ibu mengatakan senang dengan kelahiran bayinya Do Ibu: Plasenta lahir pukul 17.15 TFU 2 jari bawah pusat Kontraksi baik Diagnosa ibu : Ny. I usia 25 tahun P1A0 dalam pemantauan kala IV Dasar: Ds Ibu: 1. Ibu mengatakan lelah setelah persalinan 2.Ibu mengatakan senang dengan kelahiran bayinya Do Ibu: Plasenta lahir pukul 17.15 WIB TFU 2 jari bawah pusat 1. Cek robekan jalan lahir. 2. Periksa dan pastikan keadaan umum 3. Rendam alat – alat dalam larutan clorin 11. Memberikan imunisasi hepatitis B dipaha bawah kanan lateral setelah 1 jam pemberian vit K dan letakkan bayi dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu dapat disusukan. 12. Melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. 13. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian keringkan dengan handuk pribadi yang kering dan bersih. 14. Melengkapi partograf (halaman depan dan halaman belakang), paparan darah, cairan ketuban dan lendir. 6. Ibu merasa nyaman setelah badannya dibersihkan. 7. Sarung tangan kotor telah dicelupkan di larutan klorin. 8. Cuci tangan telah dilakukan 9. Pemeriksaan fisik telah dilakukan
  • 156.
    143 Konsistensi perut keras Kandung kemih kosong Perdarahan20 cc Kontraksi baik Konsistensi perut keras Kandung kemih kosong Perdarahan 200 cc Ada laserasi perineum derajat 1. Masalah : Tidak ada Kebutuhan : Asuhan Kala IV Tidak ada Tidak ada 4. Buang bahan- bahan yang telah kotor atau terkontaminasi 5. Bersihkan ibu dari paparan darah, cairan ketuban, dan lendir. 6. Pastikan ibu merasakan nyaman 7. Celupkan sarung tangan kotor di dalam larutan air klorin 15. Melakukan pemantauan lanjut kala IV, yaitu tekanan darah, nadi, suhu, kontraksi, TFU, kandung kemih dan perdarahan. 10.Pemeriksaan fisik dan pemberian salep mata serta vit K telah dilakukan. 11.Imunisasi hepatitis B telah diberikan 12.Sarung tangan telah dilepas. 13.Kedua tangan telah dicuci
  • 157.
    144 8. Cuci tangan denganair bersih 9. Pakai sarung tangan DTT/bersih. 10.Berikan salep mata dan vitamin K 11.Berikan imunisasi hepatitis B pada 14.Partograf telah dilengkapi 15.Pemantauan lanjut kala IV telah dilakukan dan hasil yang di dapat yaitu : pukul 17.30 wib dalam 1 jam pertama pada 15 menit pertama yaitu tekanan darah 110/70mmHg, nadi 80x/menit,suhu 36,7ºC, kontraksi baik, TFU 2 jari dibawah pusat, kandung kemih kosong, dan
  • 158.
    145 bayi 12.Lepaskan sarung tangan 13.Cuci kedua tangan 14.Lengkapi partograf perdarahan20cc. Pukul 17.45 wib pada 15 menit kedua yaitu Tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 82x/menit, kontraksi baik, TFU 2 jari dibawah pusat, kandung kemih kosong, dan perdarahan 20cc. Pukul 18.00 wib pada 15 menit ke tiga yaitu : Tekanan darah 110/60 mmHg, nadi 83x/menit, skontraksi baik, TFU 2 jari dibawah pusat, kandung kemih kosong, dan perdarahan 20cc. Pukul 18.15 wib pada 15 menit
  • 159.
    146 15. Lakukan pemantauan lanjut KalaIV keempat yaitu Tekanan darah 110/60 mmHg, nadi 84x/menit, kontraksi baik, TFU 2 jari dibawah pusat, kandung kemih kosong, dan perdarahan 20cc. Pukul 18.45 wib dalam 2 jam pertama pada 30 menit pertama Tekanan darah 30 menit pertama pada jam ke 2 yaitu tekanan darah 110/60 mmHg, nadi 84x/menit, suhu 36,8 ºC, kontraksi baik, TFU 2 jari dibawah pusat, kandung kemih kosong, dan perdarahan 20cc.
  • 160.
    147 Pukul 19.15 wib pada30 menit kedua yaitu Tekanan darah 30 menit kedua pada jam ke 2 yaitu tekanan darah 110/60 mmHg, nadi 84x/menit, kontraksi baik, TFU 2 jari dibawah pusat, kandung kemih kosong, dan perdarahan 20cc.
  • 161.
    141 BAB IV PEMBAHASAN Setelah melakukanAsuhan Kebidanan Ibu Bersalin terhadap Ny.I umur 25 tahun G1P0A0 usia kehamilan 36 minggu 4 hari didapat hasil : 4.1 Pengkajian 4.1.1Data Subjektif. 1. Nama a. Menurut tinjauan teori Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-hari agar tidak keliru dalam memberikan penanganan (Ambarwati dan wulandari, 2010 :131). b. Menurut tinjauan kasus Pada kasus ini pasien di panggil dengan nama panggilan Ny. I. c. Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena dengan menganamnesa nama pada pasien, bidan mendapatkan nama jelas dan lengkap pasien sehingga dalam memberikan penanganan bidan tidak keliru, dalam penulisan study kasus ini pasien diberi inisial Ny. I.
  • 162.
    142 2. Umur ibu a.Menurut tinjauan teori Data ini ditanyakan untuk menentukan apakah ibu dalam proses persalinan berisiko karena usia atau tidak (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 220). b. Menurut tinjauan kasus Pada kasus ini Ny. I berumur 25 tahun. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan karena pada kasus ini Ny.I berumur 25 tahun artinya tidak termasuk kedalam salah satu faktor resiko. Usia Ny.I dikatakan cukup matang dan psikis nya siap dalam menerima persalinannya. 3. Agama a. Menurut tinjauan teori Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing atau mengarahkan pasien dalam berdoa (Ambarwati dan wulandari, 2010 :132 ). b. Menurut tinjauan kasus Pada kasus ini Ny. I beragama islam. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan karena pada kasus ini antara Bidan dan Ny. I
  • 163.
    143 mempunyai keyakinan atauagama yang sama, sehingga mempermudah dalam mengarahkan pasien dalam berdoa dan Ny. I juga dapat mengikuti tuntunan dalam berdoa dengan baik. 4. Pendidikan terakhir a. Menurut tinjauan teori Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai dengan pendidikannya (Ambarwati dan wulandari, 2010 :132 ). b. Menurut tinjauan kasus Pada kasus ini Ny. I pendidikan terakhir S1. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan karena Ny.I berpendidikan akhir S1 yang di kategorikan baik atau sedang dimana antara bidan dan pasien dapat berkomunikasi dengan lancar dan pasien juga mudah memahami dan melakukan apa yang dikatakan bidan. 5. Pekerjaan a. Menurut tinjauan teori Data ini menggambarkan tingkat sosial ekonomi, pola sosialisasi, dan data pendukung dalam menentukan pola komunikasi yang akan dipilih selama asuhan (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 221).
  • 164.
    144 b. Menurut tinjauankasus Pekerjaan Ny. I sebagai Ibu rumah tangga, dan pekerjaan suami Ny. I sebagai karyawan swasta. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan, Ny.I yang pekerjaan sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga dibantu oleh suami yang bekerja sebagai karyawan swasta, Meskipun Ny. I hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga namun pemenuhan nutrisi dan kebutuhan sehari-hari Ny. I terpenuhi di karenakan di dukung oleh penghasilan suami Ny. I. 6. Alamat a. Menurut tinjauan teori Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan (Ambarwati dan wulandari, 2010 : 132) b. Menurut tinjauan kasus Alamat Ny. I berada di Jl. Badak Ujung No.266, Gunung Terang, Bandar Lampung. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan karena Ny. I memiliki alamat rumah yang lengkap yaitu Jl. Badak Ujung No.266, Gunung Terang, Bandar Lampung sehingga mempermudah dalam melakukan kunjungan rumah bila diperlukan.
  • 165.
    145 7. Keluhan utama a.Menurut tinjauan teori Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Pada kasus persalinan, informasi yang harus didapat dari pasien adalah kapan mulai terasa ada kenceng-kenceng diperut, bagaimana intensitas dan frekuensinya, apakah ada pengeluaran cairan dari vagina yang berbeda dari air kemih, apakah sudah ada pengeluaran lendir yang disertai darah, serta pergerakan janin untuk memastikan kesejahteraannya (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 221) b. Menurut tinjauan kasus Dalam kasus ini Ny. I mengatakan nyeri pada daerah pinggang yang menjalar keperut bagian bawah serta keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena keluhan yang dirasakan Ny.I sama seperti yang dijelaskan dalam teori. Ny. I datang ke BPS pada tanggal 7 april 2015 dengan keluhan nyeri pinggang yang menjalar keperut bagian bawah sejak pukul 04.00 WIB serta keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir pukul 06.00 WIB.
  • 166.
    146 8. Riwayat HPHT HPHT a.Menurut tinjauan teori Untuk mengetahui tanggal hari pertama dari menstruasi terakhir klien untuk memperkirakan kapan kira-kira sang bayi dilahirkan (Ambarwati dan wulandari, 2010 :134). b. Menurut tinjauan kasus Dalam kasus ini Ny. I HPHT nya pada tanggal 25-7-2014, TP nya pada tanggal 01-04-2015. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena Ny. I HPHT nya pada tanggal 24-6-2015 sehingga tafsiran persalinan Ny.I pada tanggal 01-04-2015, Ny.I melahirkan sesuai dengan tafsiran persalinan yang telah diperhitungkan. 9. Kontraksi uterus a. Menurut tinjauan teori His bersifat teratur, interval semakin pendek dan kekuatannya semakin besar, serta semakin beraktivitas (jalan), semakin bertambah kekuatan kontraksinya (Jannah, 2014 : 3). Dibawah jalur waktu partograf terdapat lima jalur kotak dengan tulisan “kontraksi per 10 menit” disebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi. Setiap 30 menit, raba dan
  • 167.
    147 catat jumlah kontraksidalam 10 menit dan lamanyakontraksi dalam satuan detik. Nyatakan jumlah kontraksi yang terjadi dalam waktu 10 menit dengan mengisi angka pada kotak satu kali 10 menit, isi 3 kotak (JNPK-KR, 2008 : 64). b. Menurut tinjauan kasus Dari hasil pemeriksaan Ny. I merasakan ada rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur, his Ny.I pada puku 11.30 yaitu 3x/10’/35”, pukul 12.00 3x/10’/40”, pukul 12.30 3x/10’/45”, pukul 13.00 3x/10’/45”, pukul 13.30 4x/10’/45”, pukul 14.00 5x/10’/45”, dan pukul 14.30 5x/10’/55”. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena dengan melakukan pemeriksaan kontraksi uterus Ny.I sama seperti yang dijelaskan dalam teori yaitu his bersifat teratur, interval semakin pendek dan kekuatannya semakin besar, serta semakin beraktivitas (jalan), semakin bertambah kekuatan kontraksinya dan setiap 30 menit, meraba dan mencatat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lamanya kontraksi dalam satuan detik.
  • 168.
    148 10. Riwayat imunisasiTT Imunisasi TT a. Menurut tinjauan teori Imunisasi selama kehamilan sangat penting dilakukan untuk mencegah penyakit yang dapat menyebabkan kematian ibu dan janin. Jenis imunisasi yang diberikan adalah Tetanus Toxoid (TT) yang dapat mencegah penyakit tetanus. Imunisasi TT pada ibu hamil harus terlebih dahulu ditentukan status kekebalan/ imunisasinya. Ibu hamil yang belum pernah mendapatkan imunisasi statusnya T0, jika telah mendapatkan 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu atau pada masa balitanya telah memperoleh imunisasi DPT sampai 3 kali maka statusnya adalah T2, bila telah mendapat dosis TT yang ke-3 (interval minimal 6 bulan dari dosis ke-2) maka statusnya T3, status T4 di dapat apabila telah mendapatkan 4 dosis (interval minimal 1 tahun dari dosis ke-3) dan status T5 didapatkan bila 5 dosis telah didapat (interval minimal 1 tahun dari dosis ke-4) (Sulistyawati, 2011 :120). b. Menurut tinjauan kasus Dari hasil pemeriksaan Ny. I melakukan imunisasi TT1 pada tanggal 14 Oktober 2014 dan melakukan imunisasi TT2 pada tanggal 14 November 2014.
  • 169.
    149 c. Pembahasan Berdasarkan tinjauanteori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena Ny.I belum pernah mendapatkan imunisasi TT. Sehingga status Ny.I adalah T0, dan pada kehamilan pertamanya ini diberikan TT1 pada tanggal 14 Oktober 2014 dan TT2 diberikan pada tanggal 14 November 2014. 11. Pola eliminasi a. Menurut tinjauan teori Anjurkan ibu dapat berkemih setiap 2 jam atau lebih sering jika kandung kemih terasa penuh. Jika diperlukan, bantu ibu untuk ke kamar mandi. Jika ibu tak dapat berjalan ke kamar mandi, bantu agar ibu dapat duduk dan berkemih di wadah penampung air., Jika kandung kemih penuh yang penuh mengganggu penurunan kepala bayi. Selain itu juga akan menambah rasa nyeri pada perut bawah, menghambat penatalaksanaan distosia bahu, menghalangi lahirnya plasenta dan perdarahan paska persalinan (JNPK-KR, 2008: 82). b. Menurut tinjauan kasus Dari pernyataan Ny.I berkemih saat ada keinginan dan Ny.I berkemih di wadah penampung urin karena ibu tidak dapat berjalan ke kamar mandi.
  • 170.
    150 c. Pembahasan Berdasarkan tinjauanteori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan dimana Ny.I berkemih setiap 2 jam atau lebih sering jika kandung kemih terasa penuh. 12. Riwayat kesehatan ibu dan keluarga a. Menurut tinjauan teori Data dari riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai “warning” akan adanya penyulit saat persalinan. Perubahan fisik dan psikologis saat bersalin yang melibatkan seluruh sistem dalam tubuh akan mempengaruhi organ yang mengalami gangguan. Beberapa data penting tentang riwayat kesehatan pasien yang perlu kita ketahui adalah apakah pasien pernah atau sedang menderita penyakit seperti jantung, diabetes mellitus, ginjal, hipertensi, hipotensi, hepatitis, atau anemia (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 223). b. Menurut tinjauan kasus Ibu dan keluarga mengatakan sebelumnya tidak pernah menderita penyakit akut, kronis seperti: jantung, DM, hipertensi, Asma yang dapat mempengaruhi pada masa persalinan ini. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena Ny.I dan keluarga sebelumnya dan saat ini tidak pernah menderita penyakit keturunan seperti DM, Jantung,
  • 171.
    151 Asma, Hipertensi danpenyakit menular seperti HIV, hepatitis hepatitis sehingga bidan dapat melihat status kesehatan Ny.I Dalam keadaan baik dan tidak ada yang dapat mempengaruhi perubahan fisik dan psikologis saat persalinan. 13. Riwayat sosial a. Menurut tinjauan teori Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinya (Ambarwati dan wulandari, 2010: 134). b. Menurut tinjauan kasus Dari hasil pemeriksaan respon Ny.I dan keluarga terhadap bayinya baik. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena respon Ny.I dan keluarga terhadap bayinya baik. 14. Status pernikahan a. Menurut tinjauan teori Data ini penting untuk kita kaji karena dari data ini kita akan mendapatkan gambaran mengenai suasana rumah tangga pasangan serta kepastian mengenai siapa yang akan mendampingi persalinan. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 223).
  • 172.
    152 b. Menurut tinjauankasus Dari hasil pemeriksaan status pernikahan Ny.I syah. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena status pernikahan Ny.I syah dan yang mendampingi Ny.I saat persalinan yaitu suami sehingga tidak mempengaruhi psikologi Ny.I pada proses persalinan. 4.1.2 Data objektif 1. Pemeriksaan Umum a. Keadaan umum 1) Menurut tinjauan teori Untuk mengetahui data ini kita cukup dengan mengamati keadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan kita laporkan dengan keriteria sebagai berikut : Baik Jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan. Lemah Pasien dimasukan dalam criteria ini jika ia kurang atau tidak memberikan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan sendiri (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 226).
  • 173.
    153 2) Menurut tinjauankasus Dari hasil pemeriksaan keadaan umum Ny.I baik. 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan dimana saat ini Ny.I masih memperlihatkan respon yang baik terhadap asuhan yang diberikan oleh bidan, dan komunikasinya dengan keluarga. b. Kesadaran 1) Menurut tinjauan teori Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita dapat melakukan pengkajian derajat kesehatan pasien dari keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan koma (pasien tidak dalam keadaan sadar) (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 226). 2) Menurut tinjauan kasus Dari hasil pemeriksaan kesadaran Ny.I composmentis yaitu kesadaran penuh. 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan dimana saat ini kesadaran Ny.I composmentis yaitu kesadaran penuh sehingga bidan dalam memberikan asuhan kebidanan tidak mengalami kesulitan.
  • 174.
    154 c. Tekanan darah 1)Menurut tinjauan teori Pada kala I tekanan darah meningkat, sistolik rata-rata naik 10-20 mmHg, diatolik 5-10 mmHg, diantara kontraksi tekanan darah akan turun (normal), dan meningkatkan lagi bila terjadi kontraksi (Sumarah et. all, 2008 : 58). 2) Menurut tinjauan kasus Ny. I mengatakan tekanan darahnya 100/70 mmHg. 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena setelah dilakukan pemeriksaan tekanan darah, didapatkan hasil tekanan darah Ny. I 100/70 mmHg yaitu dalam batas normal. d. Nadi 1) Menurut tinjauan teori Nadi normal adalah 60 sampai 100 menit. Bila abnormal mungkin ada kelainan paru-paru atau jantung (walyani, 2015: 86). 2) Menurut tinjauan kasus Pada kasus Ny.I hasil pemeriksaan nadi 86 x/menit. 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan karena setelah dilakukan pemeriksaan nadi,
  • 175.
    155 didapatkan hasil nadiNy. I 86 x/menit yaitu dalam batas normal. e. Suhu 1) Menurut tinjauan teori Suhu badan normal adalah 36,5˚C sampai 37,5˚C. Bila suhu lebih tinggi dari 37,5˚C kemungkinan ada infeksi (walyani, 2015: 86). 2) Menurut tinjauan kasus Dari hasil pemeriksaan didapatkan hasil pemeriksaan Suhu Ny. I 37,2˚C. 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan karena setelah dilakukan pemeriksaan suhu, didapatkan hasil suhu Ny. I 37,2˚C yaitu dalam batas normal. f. Pernafasan 1) Menurut tinjauan teori Fungsi sistem pernapasan yang utama adalah mempertahankan pertukaran oksigen dan karbon dioksida dalam paru-paru dan jaringan serta mengatur keseimbangan asam basa (kestabilan konsentrasi ion hidrogen pada tubuh) (Priharjo, 2007 : 81).
  • 176.
    156 2) Menurut tinjauankasus Pada Ny. I pemeriksaan pernafasan 20x/menit. 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena setelah dilakukan pemeriksaan pernafasan, didapatkan hasil pernafasan Ny. I 20 x/menit yaitu dalam batas normal. g. Tinggi Badan 1) Menurut tinjauan teori Di ukur dalam cm, tanpa sepatu. Tinggi badan kurang dari 145 cm ada kemungkinan terjadi cepalo pelvic disproposian (CPD) (walyani, 2015: 86) 2) Menurut tinjauan kasus Dari hasil pemeriksaan tinggi Ny. I 159 cm 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan karena setelah dilakukan pemeriksaan tinggi badan, didapatkan hasil tinggi badan Ny. I 159 cm yaitu dalam batas normal. h. Berat badan 1) Menurut tinjauan teori Berat badan yang bertambah terlalu besar atau kurang, perlu mendapatkan perhatian khusus karena kemungkinan terjadi
  • 177.
    157 penyulit kehamilan. Kenaikanberat badan tidak boleh dari 0,5 kg perminggu (Walyani, 2015: 86). 2) Menurut tinjauan kasus Dari hasil pemeriksaan di dapatkan hasil berat badan Ny.I 65 kg. 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan karena penambahan berat badan Ny.I pada TM I mengalami peningkatan 1 kg per bulan selama 0-3 bulan dan pada TM II dan III mengalami peningkatan 0,5 per minggu selama 4-9 bulan dan berat badan sebelum hamil 50 kg. i. Lingkar lengan atas 1) Menurut tinjauan teori Pemeriksaan lingkar lengan atas bertujuan untuk menilai jaringan lemak dan otot. Akan tetapi pemeriksaan ini tidak banyak berpengaruh pada keadaan jaringan tubuh apabila dibandingkan dengan berat badan (Uliyah et. all, 2009 : 187). 2) Menurut tinjauan kasus Dari hasil pemeriksaan di dapatkan hasil lingkar lengan atas Ny.I 28 cm. 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan karena setelah dilakukan pemeriksaan lingkar
  • 178.
    158 lengan atas, didapatkanhasil lingkar lengan atas Ny. I 28 cm yaitu dalam batas normal. 2. Pemeriksaan khusus kebidanan a. Abdomen 1) Menurut tinjauan teori Bentuk abdomen yang normal adalah simetris, baik pada orang gemuk maupun pada orang kurus. Abdomen menjadi besar dan tidak simetris pada berbagai keadaan,misalnya kehamilan, tumor dalam rongga abdomen, tumor ovarium atau tumor kankung kemih. Pada bagian abdomen juga kita mendengarkan bissing usus yang disebabkan oleh perpindahan gas atau makanan sepanjang intestinum dan suara pembuluh darah serta suara denyut jantung janin. Di daerah abdomen kita meraba bagian-bagian janin, menentukan tinggi fundus uterus (TFU) (Priharjo, 2006: 123-127). Leopold I : Menentukan tinggi fundus uteri, bagian janin dalam fundus. Leopold II : Menentukan batas samping rahim kanan-kiri dan menentukan letak punggung janin. Leopold III : Menentukan bagian terbawah janin sudah masuk atau masih dapat digoyangkan. Leopold IV : Berapa jauh janin masuk pintu atas panggul (Manuaba et. all, 2010 : 118-119).
  • 179.
    159 Tinggi Fundus Uteri Sebelumbulan ke 3 fundus uteri belum dapat diraba dari luar. 12 minggu → TFU Teraba → 1-2 jari di atas simpisis 16 minggu → TFU Teraba → pertengahan simpisis-pusat 20 minggu → TFU Teraba → 3 jari di bawah pusat 24 minggu → TFU Teraba → setinggi pusat 28 minggu → TFU Teraba → 3 jari di atas pusat 32 minggu → TFU Teraba → pertengahan px -pusat 36 minggu → TFU Teraba → Se-px/2-3 jari di bawah px. 40 minggu → TFU Teraba → pertengahan px -pusat Mengukur TFU Mc. Donald: Jika belum masuk panggul (TFU-12) x 155 Jika sudah masuk panggul (TFU-11) x 155 (Jannah,2012:178) 2) Menurut tinjauan kasus Pada tinjauan kasus Ny.I didapat hasil pemeriksaan yaitu : Bekas luka operasi tidak ada, Pembesaran ada sesuai usia kehamilan, Konsistensi keras saat ada kontraksi dan konsistensi lunak saat tidak ada kontraksi, Benjolan tidak ada, Pembesaran lien dan liver tidak ada. Palpasi uterus Leopold I : TFU teraba 3 jari dibawah processus xypoideus pada bagian fundus teraba bulat, lunak dan tidak melenting yaitu bokong janin.
  • 180.
    160 Leopold II :Pada bagian kiri perut ibu teraba bagian keras panjang, dan memapan yaitu punggung janin. pada bagian kanan perut ibu teraba bagian- bagian kecil janin yaitu ekstremitas janin. Leopold III : Pada bagian bawah perut ibu teraba bagian bulat, kerasa dapat digerakkan yaitu kepala. Leopold IV : Divergen (sudah masuk PAP) 4/5 Bagian. TFU Mc. Donald : 32 cm TBJ (Rumus Jhon Thausak) : (TFU-11) x 155 (32-11) x 155 = 3255 gr 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjaauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena hasil pemeriksaan abdomen dalam batas normal dan hasil pemeriksaan leopold sesuai usia kehamilan serta tafsiran berat janin 3255 gram. b. Pemantauan DJJ 1) Menurut tinjauan teori Pemeriksaan DJJ setiap 30 menit sekali berdasarkan teori Asuhan persalinan yang bertujuan untuk memantau keadaan dan kesejahteraan janin (JNPK-KR, 2008 : 57). Frekuensi jantung bayi kurng dari 120 atau lebih dari 160x/menit dapat menunjukkan gawat janin dan harus di evaluasi (Varney,2007 : 693)
  • 181.
    161 2) Menurut tinjauankasus Hasil observasi DJJ setiap 30 menit, dengan hasil pada pukul 11.30 WIB 140 3x/10’/35”, pukul 12.00 WIB 3x/10’/45”, pukul 12.30 WIB 3x/10’/45”, pukul 13.00 WIB 3x/10’/45”, pukul 13.30 WIB 4x/10’/45”, pukul 14.00 WIB 5x/10’/45”, pukul 14.30 WIB 5x/10’55”, pukul 15.00 WIB pembukaan 10 cm, ketuban (-) amniotomi. 3) Pembahasan 4) Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena pemeriksaan DJJ telah dilakukan 30 menit sekali dalam kala I masa aktif yang bertujuan untuk memantau keadaan dan kesejahteraan janin. c. Anogenital 1) Menurut tinjauan teori Inspeksi untuk mengetahui adanya oedema, varices, keputihan, perdarahan, luka, cairan yang keluar, dan sebagainya (walyani, 2015: 87). 2) Menurut tinjauan kasus Dari hasil pemeriksaan Ny.I tidak mengalami keputihan, perdarahan, varises dan luka pada anogenital. 3) Pembahasan Tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan dimana Ny.I tidak mengalami keluhan sesuai dengan teori
  • 182.
    162 yaitu adanya oedema,varices, keputihan, perdarahan, luka, cairan yang keluar, dan sebagainya. d. Pemeriksaan dalam 1) Menurut tinjauan teori Menurut tinjauan teori pemeriksaan dalam dapat lebih sering dilakukan setiap 4 jam pemeriksaan dalam dalam dapat lebih sering dilakukan jika ada tanda-tanda penyulit.Adapun tujuan dari pemeriksan dalam ini yaitu untuk mengetahui kemajuan persalinan (JNPK-KR,2008; h.61). 2) Menurut tinjauan kasus Pada kasus ini Ny. I umur 25 tahun G1P0A0 pemeriksaan dalam pertama pada pukul 06.30 WIB dengan hasil pembukaan serviks 6 cm, pemeriksaan kedua dilakukan pukul 11.30 WIB dengan hasil pembukaan 8 cm, Kemudian pada pukul 15.00 WIB dilakukan pemeriksaan dalam dengan hasil pembukaan lengkap (10 cm). 3) Pembahasan Pada kasus ini tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus. Pada tinjauan kasus penolong melakukan pemeriksaan dalam 4 jam sekali dengan hasil dinding vagina tidak ada sistokel dan rektokel, porsio sejajar, konsistensi lunak, pendataran 100%, pembukaan 10cm, presentasi kepala,
  • 183.
    163 penunjuk ubun-ubun kecil,posisi depan,penurunan H III+, molase tidak ada. Kala I a. Menurut tinjauan teori Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 12 - 13 jam sedangkan untuk multigravida berlangsung sekitar 8 jam. Berdasarkan Kurve friedman, diperhitungkan pembukaan primigravida 1 cm per jam dan multigravida 2 cm per jam (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012; h.7). b. Menurut tinjauan kasus Pada kasus ini waktu pembukaan yang ditempuh Ny.I adalah tanggal 7 – 4 -2015 pukul 04.00 merasa mules, pukul 06.30 WIB pembukaan 6 dan pembukaan lengkap, pukul 15.00 WIB.Jadi lama kala I pada kasus Ny.I 12 jam. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena waktu yang ditempuh Ny. I selama dalam proses persalinan yaitu 12 jam. Kala II a. Menurut tinjauan teori persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Lama kala II pada primigravida 2 jam dan multigravida 1 jam (Rohani et. all,2011 : 7).
  • 184.
    164 Tanda-tanda kala IIadalah ibu mempunyai keinginan untuk meneran, ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan seperti ingin BAB, kemudian perineum menonjol dan menjadi lebar dengan membukanya anus. Labia mulai membuka dan tidak lama kemudian kepala janin tampak dalam vulva pada saat ada his (Sumarah et. all, 2008 : 6). b. Menurut tinjauan kasus Pada kasus Ny. I penolong malakukan pemeriksaan dalam pukul 15.00 WIB atas indikasi adanya tanda-tanda kala II yaitu ibu mengatakan ingin mengedan, perinium tampak menonjol dan ada tekanan pada anus. Pukul 17.00 WIB bayi lahir langsung menangis,lamanya kala II 2 jam. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena keluhan yang dirasakan Ny.I sama seperti yang dijelaskan dalam teori. Proses kala II berlangsung selama 2 jam karena ibu mengedan dengan baik. Kala III a. Menurut tinjauan teori Kala III berlangsung dari lahirnya bayi sampai dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban.seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir (Rohani et. all, 2011: 8).
  • 185.
    165 b. Menurut tinjauankasus Pada kasus Ny. I bayi lahir pukul 17.00 WIB dan plasenta lahir pukul 17.15 WIB.Jadi lama kala III 15 menit. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan kasus dan tinjauan teori tidak terdapat kesenjangan karena plasenta lahir spontan 15 menit setelah bayi lahir. Kala IV a. Tinjauan teori Kala IV mulai dari lahirnya plasenta selama 1-2 jam.Pada kala IV dilakukan observasi terhadap perdarahan pasca persalinan,paling sering terjadi pada 2 jam pertama (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012: 9). b. Menurut tinjauan kasus Pada Ny. I melakukan pemantauan kala IV mulai tanggal 7 -4- 2015 pukul 17.30 – 19.30 wib. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan kasus dan teori tidak terdapat kesenjangan karena penolong melakukan pemantauan selama 2 jam persalinan. 4.2 Interprestasi data 4.2.1 Menurut tinjauan teori Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi data secara benar terhadap diagnosis atau masalah kebutuhan pasien. Masalah atau
  • 186.
    166 diagnosis yang spesifikdapat ditemukan berdasarkan interprestasi yang benar terhadap data dasar. Selain itu, sudah terpikirkan perencanaan yang dibutuhkan terhadap masalah. Langkah awal dari perumusan diagnosis atau masalah adalah pengolahan data dan analisis dengan menggabungkan data satu dengan lainnya sehingga tergambar fakta. Masalah Dalam asuhan kebidanan digunakan istilah “masalah” dan “diagnosis”. Kedua istilah tersebut dipakai karena beberapa masalah tidak dapat di definisikan sebagai diagnosis, tetapi tetap perlu di pertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh. Masalah sering berhubungan dengan bagaimna wanita itu mengalami kenyataan terhadap dignosisnya. Kebutuhan Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalah (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012: 192-194) 4.2.2 Menurut tinjauan kasus Diagnosa kala I Ny. I umur 25 tahun G1P0A0 usia kehamilan 36 minggu 4 hari inpartu kala I fase aktif. Data Subjektif : a. Ibu mengatakan nyeri pada daerah pinggang yang menjalar keperut bagian bawah sejak pukul 04.00 wib dan keluar lender bercampur darah sejak pukul 06.00 wib.
  • 187.
    167 b. Ibu mengatakanini kehamilan yang pertama, tidak pernah melahirkan dan tidak pernah keguguran c. Ibu mengatakan HPHT tanggal 25-07-2014. Data Objektif a. Hasil pemeriksaan umum: Kesadaran umum : baik, kesadaran composmentis, TD: 110/70 mmHg, N: 86x/menit, S: 37,2 °C, RR: 26x/menit. b. Hasil pemeriksaan fisik dalam batas normal, his: 3x/10’/35”. c. Hasil pemeriksaan dalam pendataran 80%, pembukaan 8cm, ketuban positif. d. Hasil palpasi abdomen yaitu: Leopold I : TFU 3 jari dibawah px, Bagian teratas perut ibu teraba bulat yang besar, lunak, tidak melenting yaitu bokong janin Leopold II : Bagian kanan perut ibu teraba bagian – bagian kecil yaitu ekstermitas janin bagian kiri perut ibu teraba keras, datar, memapan yaitu punggung janin Leopold III : Bagian terbawah perut ibu teraba bulat, keras dan tidak dapat digoyangkan yaitu kepala janin Leopold IV : Divergen Diagnosa janin: Janin tunggal hidup intrauteri presentasi kepala.
  • 188.
    168 Data Subjektif Ibu merasakangerakan janinnya. Data Objektif Leopold I : TFU 3 jari dibawah px, Bagian teratas perut ibu teraba bulat yang besar, lunak, tidak melenting yaitu bokong janin Leopold II : Bagian kanan perut ibu teraba bagian – bagian kecil yaitu ekstermitas janin bagian kiri perut ibu teraba keras, datar, memapan yaitu punggung janin Leopold III : Bagian terbawah perut ibu teraba bulat, keras dan tidak dapat digoyangkan yaitu kepala janin Leopold IV : Divergen Penurunan kepala : 2/5 TFU Mc. Donald : 32 cm TBJ (Rumus Jhon Thausak): (TFU-11) x 155 (32-11) x 155 = 3255 gr DJJ: Punctum maksimum 3 jari dibawah pusat sebelah kiri perut ibu dengan frekuensi 140×/menit, dan irama teratur. Masalah Tidak ada.
  • 189.
    169 Kebutuhan Kebutuhan Ny. Iyaitu asuhan kala I. Diagnosa kala II Ny. I umur 25 tahun G1P0A0usia kehamilan 36 minggu 4 hari inpartu kala II. Data Subjektif: 1. Ibu mengatakan ini kehamilan yang pertama, belum pernah melahirkan dan tidak pernah keguguran. 2. HPHT : 25-7-2014 3. Ibu mengatakan nyeri pinggang menjalar keperut bagian bawah semakin lama semakin sering, dan kuat. Data Objektif : 1. Hasil pemeriksaan umu : Keadaan umum: Baik, Kesadaran: Compos mentis, TD: 110/70 mmHg, N :85x/menit, Suhu:36,70 C, RR:22x/mnt. 2. His: 5x/10’/55” 3. Terlihat tanda gejala kala II yaitu: Dorongan meneran, Tekanan anus, Perinium menonjol, Vulva membuka. 4. PD: pembukaan 10cm, ketuban, dilakukan amniotomi. Masalah : Ibu mengatakan cemas mendekati persalinan. Kebutuhan : Asuhan kala II
  • 190.
    170 Diagnosa kala III Ny.I usia 25 tahun P1A0 dalam kala III persalinan Data Subjektif : 1. Ibu mengatakan lemas dan mules setelah bayi lahir 2. Ibu mengatakan lega dan senang atas kelahiran anak pertamanya. Data Objektif : 1. Bayi lahir pukul 17.00 WIB 2. TFU sepusat 3. Plasenta belum lahir 4. Kontraksi baik 5. Kandung kemih kosong 6. Perdarahan normal Masalah : Tidak Ada Kebutuhan : Asuhan kala III Diagosa kala IV Ny. I usia 25 tahun P1A0 dalam pemantauan kala IV Data Subjektif : 1. Ibu mengatakan lelah setelah melahirkan 2. Ibu mengatakan senang dengan kelahiran bayinya Data Objektif Ibu: 1. Plasenta lahir pukul 17.15 WIB
  • 191.
    171 2. TFU 2jari bawah pusat 3. Kontraksi baik 4. Konsistensi perut keras 5. Kandung kemih kosong 6. Perdarahan 20 cc 4.2.3 Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ada kesenjangan karena setelah bidan menegakkan diagnosa pada kasus Ny. I, Ny. I G1P0A0 yaitu kehamilan yang pertama, belum pernah melahirkan dan tidak pernah keguguran serta diagnosa sudah dibuat dengan menggabungkan data satu dengan lainnya sehingga tergambar fakta. 4.3 Identifikasi diagnosis atau masalah potensial 4.3.1 Menurut tinjauan teori Pada langkah ini mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain berdasarkan rangkaian masalah yang ada. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila mungkin bila dilakukan pencegahan. Sambil mengamati pasien, bidan, bidan diharapkan siap bila diagnosis atau masalah potensial benar-benar terjadi (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 228 - 229). 4.3.2 Menurut tinjauan kasus Masalah potensial Ny. I tidak ada
  • 192.
    172 4.3.3 Pembahasan Berdasarkan tinjauanteori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan pada kasus Ny. I karena diagnosa atau masalah potensial itu muncul dari diagnosa kebidanan yang telah ditegakkan oleh bidan . Diagnosa kebidanan terhadap Ny.I tidak membutuhkan atau tidak ada masalah potensialnya. 4.4 Identifikasi dan penerapan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera 4.4.1 Menurut tinjauan teori Bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau dokter melakukan konsultasi atau penanganan segera bersama anggota tim kesehatan lain dengan kondisi klien. Dalam kondisi tertentu, seorang bidan mungkin juga perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lain seperti pekerja sosial, ahli gizi, atau seorang ahli perawatan klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini, bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa sebaiknya konsultasi dan kolaborasi dilakukan (Soepardan: 2008:100- 101). 4.4.2 Menurut tinjauan kasus Pada kasus Ny.I tidak terjadi masalah.
  • 193.
    173 4.4.3 Pembahasan Berdasarkan tinjauanteori dan tinjauan kasus Ny.I tidak terdapat kesenjangan karena Ny.I tidak ada diagnosa atau masalah potensial nya sehingga tidak membutuhkan tindakan segera. 4.5 Perencanaan asuhan secara menyeluruh 4.5.1 Menurut tinjauan teori Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh yang ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen untuk masalah diagnosis yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini data yang belum lengkap dapat dilengkapi (soepardan, 2008: 101) Perencanaan asuhan secara menyeluruh Pada tahap ini bidan melakukan perencanaan terstruktur berdsasarkan tahap persalinan.Dasar perencanaan tidak lepas dari interprestasi data, termasuk persiapan peralatan dan obat yang harus tersedia.Perencanaan pada persalinan kala I-IV adalah sebagai berikut. 1. Kala I a. Dukungan emosional b. Pengaturan posisi c. Pemberian cairan d. Kebersihan e. Pemantauan dengan partograf
  • 194.
    174 2. Kala II a.Anjurkan pendamping memberikan dorongan/ dukungan selama proses persalinan dan kelahiran. b. Berikan dorongan dan besarkan hati ibu c. Penolong harus memberikan rasa aman dan nyaman d. Biarkan ibu memilih posisi yang sesuai untuk meneran e. Beri pujian saat ibu mengejan f. Kipas dan pijat untuk menambah kenyamanan bagi ibu g. Jaga kebersihan diri h. Beri dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu i. Atur posisi ibu dalam membimbing mengedan j. Jaga kandung kemih tetap kosong k. Beri cukup minum l. Periksa denyut jantung janin (DJJ) pada saat kontraksi dan setelah setiap kontraksi. 3. Kala III a. Lakukan palpasi ada tidaknya bayi kedua b. Beri suntikan oksitosin dosis 0,5 cc secara IM c. Libatkan keluarga dalam pemberian minum d. Lakukan pemotongan tali pusat e. Lakukan PTT f. Lahirkan plasenta (Sulistyawati dan Nugraheny,2011 : 238)
  • 195.
    175 4. Kala IV a.Pemeriksaan fundus uteri tiap 15 menit b. Pemeriksaan tekanan darah, nadi, kandung kemih dan perdarahan setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua c. Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah dehidrasi dan menawarkan ibu makanan dan minum yang disukainya d. Bersihkan ibu dan kenakkan pakaian ibu yang bersih dan kering e. Biarkan ibu beristirahat f. Biarkan bayi berada pada ibu g. Mulai memberikan ASI h. Ajari keluarga untuk memasase (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 :238) 4.5.2 Menurut tinjauan kasus Pada kasus Ny. I telah diberikan beberapa perencanaan yang dapat ditentukan sesuai dengan kondisi pasien seperti pada : 1. Kala I a. Lakukan anamnesa b. Beritahu kedaan ibu saat ini c. Beri asupan nutrisi d. Anjurkan ibu untuk memilih posisi yang nyaman. e. Anjurkan ibu untuk relaksasi saat ada his f. Hadirkan orang terdekat
  • 196.
    176 g. Anjurkan danajarkan keluarga untuk masase pinggang ibu. h. Pantau kemajuan persalinan. 2. Kala II a. Beritahu hasil pemeriksaan ibu dan janinya sat ini. b. Beri dukungan moril pda ibu. c. Anjurkan ibu memilih posisi yang nyaman untuk meneran. d. Ajarkan ibu cara meneran yang baik. a. Lakukan pemeriksaan abdomen b. Lakukan manajemen aktif kala III c. Periksa kelengkapan plasenta d. Periksa laserasi 4. Kala IV a. Periksa abdomen b. Bersihkan tubuh ibu c. Lalakukan masase fundus ibu d. Lakukan pemantauan TTV, TFU, kontraksi uterus, perdarahan dan kandung kemih. e. Anjurkan ibu memberikan asi eksklusif. f. Letakkan alat-alat di dalam larutan klorin. g. Pantau 2 jam post partum. e. Beri asupan nutrisi f. Pimpin ibu untuk bersalin. g. Lakukan pertolongan persalinan sesuai APN 3. Kala III
  • 197.
    177 4.5.3 Pembahasan Berdasarkan tinjauanteori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena perencanaan asuhan yang diberikan oleh bidan terhadap Ny. I sesuai dengan teori asuhan persalinan. teori yang terbaru, evidence based care, serta divalidasi dengan asumsi mengenai apa yang diinginkan dan tidak diinginkan pasien. 4.6 Pelaksanaan 4.6.1 Menurut tinjauan teori Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana sebelumnya, baik terhadap masalah pasien ataupun diagnosa yang ditegakkan, pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh bidan secara mandiri ditegakkan.Pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh bidan secara mandiri maupun berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya (Wildan dan hidayat, 2012 : 35). 4.6.2 Menurut tinjauan kasus 1. Kala I a. Melakukan anamnesa b. Memberitahu keadaan ibu saat ini, bahwa keadaan ibu dan janinya dalam keadaan baik dan normal dari hasil pemeriksaan c. Memberi asupan nutrisi berupa teh hangat untuk menambah tenaga ibu saat persalinan d. Menganjurkan ibu untuk memilih posisi yang nyaman apabila ibu bisa berjalan-jalan masih diperbolehkan
  • 198.
    178 e. Menganjurkan ibuuntuk relaksasi saat ada his seperti menarik nafas lalu kemudian menghembuskannya secara perlahan-lahan f. Menghadirkan orang terdekat untuk menemani ibu. g. Menganjurkan dan mengajarkan keluarga untuk memasase pinggang ibu untuk mengurangi rasa nyeri pada pinggang ibu h. Memantau kemajuan persalinan 3. Kala III a. Melakukan pemeriksaan palpasi abdomen untuk memastikan tidak adanya janin kedua. b. Melakukan manajemen aktif kala III c. Memeriksa kelengkapan plasenta d. Memeriksa apakah ada laserasi pada jalan lahir 2. Kala II a) Memberitahu hasil pemeriksaan ibu dan janinnya b) Memberi dukungan moril pada ibu agar ibu semangat dalam menghadapi persalinan. c) Menganjurkan ibu memilih posisi meneran yang baik d) Mengajarkan ibu cara meneran yang baik Memberi ibu nutrisi dengan meminum teh hangat saat relaksasi untuk menambah tenaga ibu. e) Memimpin ibu untuk meneran f) Melakukan pertolongan persalinan sesuai dengan APN.
  • 199.
    179 4. Kala IV a.Memeriksa abdomen untuk mengetahui kontraksi uterus baik atau tidak. b. Membersihkan tubuh ibu dan tempat persalinan dari darah maupun lendir. c. Melakukan masase fundus ibu agar kontraksi tetap baik. d. Melakukan pemantauan TTV, TFU, kontraksi uterus, perdarahan dan kandung kemih e. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI eksklusif f. Meletakkan alat-alat didalam larutan klorin selama 10 menit. g. Memantau 2 jam post partum. 4.6.3 Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan karena penolong melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan penentuan asuhan yang telah dibuat. 4.7 Evaluasi 4.7.1 Menurut tinjauan teori Merupakan tahap terakhir dalam manajemen kebidanan, yakni dengan melakukan evaluasi dan perencanaan maupun pelaksanaan yang dilakukan bidan.Evaluasi sebagai bagian dari proses yang dilakukan secara terus menerus untuk meningkatkan pelayanan secara komprehensif dan selalu berubah sesuai dengan kondisi Atau kebutuhan klien (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012 : 220-237).
  • 200.
    180 4.7.2 Menurut tinjauankasus Pada kasus Ny. I telah dilakukan Asuhan Persalinan Normal sesuai dengan kebutuhan pasien. 1. Kala I a. Anamnesa pada ibu telah dilakukan b. Ibu tampak tenang setelah mengetahui keadaanya saat ini dalam keadaan baik dan normal. c. Ibu telah menghabiskan ½ gelas teh hangat. d. Ibu memilih posisi miring kiri. e. Ibu telah relaksasi disaat ada his. f. Ibu memilih suami untuk menemani ibu dan suamin telah berada disamping ibu. g. Keluarga telah memasase pinggang ibu dan rasa nyeri ibu telah berkurang. h. Telah dilakukan pemantauan persalinan. 2. Kala II a. Ibu mengetahui kondisinya dan janinya saat ini. b. Ibu telah mendapat dukungan moril dari suami maupun keluarga. c. Ibu memilih posisi litotomi d. Ibu telah mengerti cara meneran yang baik. e. Ibu telah meneran sesuai dengan yang dianjurkan. f. Ibu telah minum 1 gelas teh hangat.
  • 201.
    181 g. Pertolongan persalinanAPN telah dilakukan bayi lahir spontan pukul 17.00 WIB JK laki-laki,bayi segera menangis 3. Kala III a. Dari hasil palpasi tidak ada janin kedua. b. Telah dilakukan manajemen aktif kala III c. Plasenta sudah dilakukan pemeriksaan d. Tidak ada laserasi pada jalan lahir 4. Kala IV a. Kontraksi uterus baik b. Tubuh ibu dan tempat persalinan telah dibersihkan dari darah dan lendir. c. Telah dilakukan masase d. TD 100/70 mmHg Nadi 80 x/menit e. TFU 2 jari dibawah pusat f. Kontraksi ibu baik g. Kandung kemih ibu kosong h. Perdarahan 150 cc i. Ibu bersedia untuk memberikan asi eksklusif j. Peralatan telah dimasukkan kedalam klorin k. Pemantauan selama 2 jam sedang dilakukan.
  • 202.
    182 4.7.3 Pembahasan Berdasarkan tinjauanteori dan tinjauan kasus pada studi kasus ini asuhan persalinan normal terlaksana sesuai dengan APN khususnya pada proses kelahiran bayi dan plasenta Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam masalah dan diagnosa.
  • 203.
    183 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Setelahmelakukan Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin normal yaitu Ny.I umur 25 tahun G1P0A0 usia kehamilan 36 minggu 4 hari, dengan persalinan normal di BPS Rosbiatul Adawiyah Bandar lampung pada tahun 2015. Maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 5.1.1 Dalam melakukan asuhan kebidanan pada ibu bersalin yaitu Ny. I dengan persalinan normal, penulis telah melaksanakan pengkajian dengan baik dan lancar. Pengkajian tersebut didapat dari data subjektif dan objektif pasien, dimana data subjek dari pasien yaitu pasien bernama Ny. I umur 25 tahun hamil pertama, belum pernah bersalin dan tidak pernah keguguran. Ibu mengatakan perutnya terasa kenceng-kenceng dan mulas pada perutnya yang kuat dan mengeluarkan lendir bercampur darah sejak pukul 04.00 WIB, HPHT 24-06-2013. Dan dari data objektif didapatkan usia kehamilan 36 minggu 4 hari, di dapat kan hasil Leopold yaitu pada Leopold I TFU teraba 3 jari dibawah processus xypoideus, pada fundus perut ibu teraba satu bagian bulat, lunak tidak melenting (bokong janin), Leopold II pada sebelah kanan perut ibu teraba bagian kecil – kecil janin yaitu ekstremitas janin, pada sebelah kiri perut ibu teraba panjang keras datar dan memapan yaitu punggung
  • 204.
    184 janin, Leopold IIIbagian bawah perut ibu teraba satu bagian bulat, lunak, melenting (kepala), dan Leopold IV kepala sudah masuk PAP (divergen), hasil pemeriksaan dalam yaitu pada dinding vagina tidak ada sistokel dan rektokel, porsio sejajar, konsistensi lunak, pendataran 80%, pembukaan 8 cm, ketuban positif, presentasi kepala, penunjuk UUK, posisi depan, penurunan Hodge II, dan tidak ada molase, hasil DJJ baik, 140 kali per menit, keadaan ibu dan janin baik. 5.1.2 Penulis telah melakukan interprestasi data, dan hasil interprestasi data dengan menentukan diagnosa kebidanan ibu bersalin yaitu : 2. Pukul 06.30 WIB Kala I : Ny.I umur 25 tahun G1P0A0 usia kehamilan 36 minggu 4 hari Kala I fase aktif. 3. Pukul 15.00 WIB Kala II : Ny.I umur 25 tahun G1P0A0 usia kehamilan 36 minggu 4 hari Inpartu Kala II. 4. Pukul 17.05 WIB Kala III : Ny.I umur 25 tahun P1A0 usia kehamilan 36 minggu 4 hari Kala III persalinan. 5. Pukul 17.30 WIB Kala IV : Ny.L umur 25 tahun P1A0 usia kehamilan 36 minggu 4 hari Kala IV persalinan.
  • 205.
    185 5.1.3 Pada kasusini penulis tidak menemukan diagnosa potensial, karena Ny. I melahirkan secara normal dan dilakukan sesuai dengan 60 langkah asuhan persalinan normal.Tidak terdapat antisipasi masalah potensial pada kasus ini. 5.1.4 Dalam kasus ini penulis tidak melakukan antisipasi karena tidak ada masalah yang munculnya misalnya tanda-tanda infeksi, perdarahan pervaginam, dan lain-lain. Dalam hal ini, penulis hanya melakukan 60 langkah asuhan persalinan normal, karena yang dilakukan 60 langkah asuhan persalinan normal maka tidak ada tindakan segera. 5.1.5 Dalam kasus ini penulis telah memberikan rencana asuhan kebidanan pada ibu bersalin terhadap Ny. I G1P0A0 dengan asuhan persalinan normal yaitu 60 langkah asuhan persalinan normal. 5.1.6 Dalam kasus ini penulis telah melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan yang telah direncanakan yaitu dengan melakukan asuhan persalinan normal kepada Ny. I. 5.1.7 Dalam kasus ini penulis telah melaksanakan evaluasi pada kasus Ny. I dengan persalinan normal dimana evaluasi yang didapat yaitu pada kala I pemantauan partograf tidak melewati garis waspada, kala II telah melahirkan pada pukul 17.00 WIB, jenis kelamin laki-laki, berat badan 3500 gram, panjang badan 50 cm, menangis kuat, tonus otot aktif, dan warna kulit kemerahan, pada kala III plasenta lahir lengkap pukul 17.15 WIB insersi marginalis, selaput utuh, kotiledon lengkap, tebal 2 cm, panjang tali pusat 50 cm, dan diameter 3 cm, pada kala IV pemantauan
  • 206.
    186 2 jam postpartum yaitu TTV dalam batas normal, kontraksi baik, TFU 2 jari dibawah pusat, kandung kemih kosong, perdarahan 20 cc, dan tidak ada tanda-tanda perdarahan post partum. 5.1.8 Penulis telah dapat melakukan pendokumentasian dari semua asuhan yang telah diberikan pada ibu untuk memperlancar dalam penulisan KTI yang berjudul “Asuhan Persalinan Normal”, dimana data tersebut didapatkan dari hasil data subjektif dan data objektif terhadap Ny. I umur 25 tahun usia kehamilan 36 minggu 4 hari di BPS Rosbiatul Adawiyah, S.KM, M.Kes. 5.2 Saran 5.2.1 Bagi institusi pendidikan Diharapkan adanya kesamaan dan kesesuaian antara teori perkuliahan dengan tindakan klinik dilahan praktek, sehinga tujuan yang diharapkan dapat dicapai secara optimal 5.2.2 Bagi lahan praktek Penulis mengharapkan pihak BPM dapat mempertahankan asuhan yang diberikan pada ibu bersalin sesuai dengan standar yaitu 60 langkah asuhan persalinan normal. 5.2.3 Bagi klien Untuk mencapai keberhasilan bagi ibu hamil khususnya ibu hamil yang akan bersalin mendeteksi dini tanda persalinan dan komplikasi dalam persalinan agar ibu tidak mengalami keterlambatan ke petugas kesehatan apabila terjadi komplikasi.
  • 207.
    187 5.2.4 Bagi penelitiselanjutnya Penulis mengharapkan agar peneliti selanjutnya dapat meneliti kasus yang lebih mendalam lagi seperti asuhan persalinan yang patologis untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang infeksi dan komplikasi pada asuhan persalinan normal yang patologis.
  • 208.
    188 DAFTAR PUSTAKA Ambarwati, EnyRetna dan Wulandari, Diah 2010, Asuhan kebidanan nifas, Yogyakarta, Nuha medika. Depkes, 2007, Kematian Ibu Menurut WHO. di unduh tanggal 8/4/2015, Http://www.depkes.go.id Jannah,Nurul. 2014, Asuhan kebidanan pada masa persalinan, Jakarta , salemba medika. JNPK-KR.2008,Asuhan Persalinan Normal, Jakarta. Manuaba, Ida Ayu et all, 2010. Ilmu Kebidanan penyakit kandungan dan KB, Jakarta : EGC Notoatmodjo. Prof Dr soekidjo,2005, Metodologi Penelitian kesehatan, Jakarta, Rineka cipta. Priharjo, Robert.2006. Pengkajian Fisik Keperawatan.Jakarta : EGC Prawiroharjo,sarwono. 2010, Ilmu kebidanan, Jakarta,bina pustaka sarwono prawiroharjo. Profil dinas kesehatan provinsi lampung tahun 2012 Rohani et all 2011, Asuhan kebidanan pada masa persalinan, Jakarta, salemba medika. Soepardan, suryani. 2007,konsep kebidanan,Jakarta, EGC Sujiatini et all 2011.Asuhan Kebidanan II (Persalinan).Yogyakarta : Rohima Press Sulistyawati,Ari, 2011, Asuhan kebidanan pada masa kehamilan, Jakarta, salemba medika. Sulistyawati,Ari, dan Nugraheny, Esty 2012, Asuhan kebidanan pada ibu bersalin, Jakarta, salemba medika. Sumarah et all 2008, Perawatan Ibu Bersalin (Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin).Yogyakarta : Fitramaya Uliyah,Musrifatul et all 2008.Konsep Dasar Praktik Klinik.Jakarta : EGC Walyani, Elisabeth Siwi.2015, Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan.
  • 209.
    189 Wildan, moh danhidayat, a. aziz alimul. 2009, Dokumentasi kebidanan, Jakarta, salemba medika Yulifah, Rita. 2011, Asuhan kebidanan komunitas,Jakarta, salemba medika.
  • 210.
    190 Gambar a :Melakukan pertolongan persalinan Gambar b : Melakukan jepit potong tali pusat DOKUMENTASI
  • 211.
    191 Gambar c :Melakukanpengecekan plasenta
  • 212.
  • 213.