1
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL TERHADAP NY.S UMUR
36 TAHUN G3P2A0 USIA KEHAMILAN 12 MINGGU 3 HARI
DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM TINGKAT I
DI BPS Hj. USMALANA SADDAM, Amd. Keb
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015
KARYA TULIS ILMIAH

NAMA : NOVIYANTI PUTRI
NIM : 201207107
AKADEMI KEBIDANAN ADILA
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015
i
2
LEMBAR PENGESAHAN
Diterima dan disahkan oleh Tim Penguji Ujian Akhir Program pada
Diploma III Kebidanan Adila pada :
Hari : Jum’at
Tanggal : 3 Juli 2015
Penguji I, Penguji II,
Ninik Masturiah, S.ST.,M.Kes Ratnawati, S.ST
NIK.201501143 NIK.11210042
Direktur Akbid Adila,
Dr. Wazni Adila, MPH
NIK.2011041008
ii
3
MOTTO
Kita tidak bisa menjadi bijaksana dengan kebijaksanaan orang lain, tapi kita bisa
berpengetahuan dengan pengetahuan orang lain
Michel De Montaigne
Janganlah kamu bersedih sesungguhnya Allah bersama kita
SQ. At-Taubah : 40
Kecil disuka muda dikenal tua kaya raya mati masuk surga
Manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya dimasa muda mu sebelum masa tua mu
Noviyanti Putri
iii
4
PERSEMBAHAN
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis
dapat menyelesaikan penyusunan Study Kasus ini, dan dibalik penyelesaian tugas ini tidak
lupa penulis memberikan persembahan kepada orang-orang yang telah membantu penulis
baik secara langsung maupun tidak langsung.
1. Terima kasih buat Ayah tercinta dan IBU tercinta yang selalu memberikan semangat dan
Do’a setiap kegiatan apapun yang terbaik bagi penulis serta selalu mengharapkan setiap
keberhasilan yang penulis lakukan.
2. Kakakku tercinta yang selalu memberikan semangat kepada penulis.
3. Ibu Silvia Anggraini, S.ST.,M.Kes dan Ibu Nopa Utari, S.ST terima kasih atas
bimbingannya selama ini, yang selalu sabar membimbing penulis yang penuh kekurangan
hingga terselesaikan tugas akhir ini.
4. Teman-temanku tercinta seperjuangan yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu
terima kasih atas kebersamaan kita selama ini, memberikan motivasi kepada penulis serta
selalu sabar menghadapi sikap penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini dan susah
senang kita bersama.
5. Rekan - rekanku tercinta Akbid ADILA khususnya Angkatan VII yang selalu
mendukung hingga terselesaikan tugas akhir ini.
6. Almamaterku tercinta Akademi kebidanan ADILA Bandar Lampung sebagai tempat
penulis menuntut ilmu selama tiga tahun.
7. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terimah kasih atas partisipasi
dan dukunganya selama penulis menyelesaikan tugas akhir Diploma Kebidanan ini.
iv
5
Asuhan Kebidanan Ibu Hamil Terhadap Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia kehamilan
12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I
di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb
Bandar Lampung Tahun 2015
Noviyanti Putri, Nesia catur Hutami S.ST, M.Kes, Kiki Purnama Sari S.ST
INTISARI
Hiperemesis gravidarum adalah Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum)
adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Gejala – gejala ini
kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama
kurang lebih 10 minggu. Hiperemesis Gravidarum tidak hanya mengancam kehidupan
wanita, namun juga dapat menyebabkan efek samping pada janin seperti abortus, berat bayi
lahir rendah, kelahiran premature, serta malformasi pada bayi baru lahir. Tujuan
dilakukannya penelitian ini adalah diperolehnya pengalaman nyata dalam memberikan
Asuhan Kebidanan pada ibu hamil terhadap Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 dengan Hiperemesis
Gravidarum Tingkat I di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb RajaBasa Bandar Lampung
Tahun 2015. Metode yang digunakan penulis dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah metode
penelitian survey deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan
utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif.
Subjek yang akan di ambil dalam studi kasus ini adalah satu orang ibu hamil yaitu Ny.S umur
36 tahun G3P2A0 dengan Hiperemesis Gravidarum. Dalam karya tulis ilmiah ini penulis
mengambil kasus di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa BandarLampung dan
melakukan penelitian dari tanggal 7 April – 13 April 2015. Kesimpulan yang diambil dari
penelitian ini adalah penulis telah merencanakan asuhan kebidanan dengan diet nutrisi sesuai
dengan kebutuhan terhadap Ny.S yaitu menjelaskan kepada Ny.S mengenai cara mengatur
pola nutrisi makanan yang tidak memicu mual, tidak berbumbu tajam, dan menghindari
makanan yang mengandung gas seperti durian, brokoli, asfaragus. Diharapkan bagi Ny. S
dapat menerapkan diet nutrisi sesuai dengan kebutuhan hiperemesis gravidarum dengan
benar, sehingga dapat mencegah terjadinya kegawatan maternal dan neonatal.
Kata kunci : Hiperemesis Gravidarum
Kepustakaan : 2005-2015
Jumlah Referensi : 15
v
6
CURRICULUM VITAE
Nama : Noviyanti Putri
Nim : 201207107
Tempat/Tanggal Lahir : BandarLampung, 22 November 1994
Alamat : Jl. Hi Abdullah 9 No.6 Wayhalim Kedaton BandarLampung
Institusi : Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung
Angkatan : VII (Tujuh)
Biografi : Anak Keempat
RIWAYAT PENDIDIKAN
1. TK Al-Azhar II Bandar Lampung
2. SD Al-Azhar II Bandar Lampung
3. SMPN 23 Bandar Lampung
4. SMA YP UNILA Bandar Lampung
5. Penulis Sekarang Terdaftar Sebagai Mahasiswa Akademi Kebidanan Adila Bandar
Lampung Tahun 2012 Hingga Sekarang
vi
7
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum. Wr. Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah dalam bentuk studi kasus kebidanan
yang berjudul : “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil terhadap Ny.S umur 36 tahun G3P2Ao
usia kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum di BPS Hj.Usmalana
Saddam, Amd.Keb Bandar Lampung”.
Dalam penulisan KTI ini penulis menyadari karena keterbatasan pengetahuan KTI,
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. dr. Wazni Adila, MPH selaku Direktur Akbid Adila Bandar Lampung
2. Nesia Catur Hutami, S.ST, M.Kes selaku Pembimbing I Karya Tulis Ilmiah
3. Kiki Purnama Sari, S.ST selaku Pembimbing II Karya Tulis Ilmiah
4. Hj. Usmalana Saddam, Amd. Keb selaku Pembimbing Lahan Karya Tulis Ilmiah
5. Seluruh dosen dan staf Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung
Penulis menyadari dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua
pihak guna perbaikan pada masa yang akan datang. Akhirnya penulis berharap semoga karya
tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca.
Wassalamualaikum. Wr. Wb.
Bandar Lampung, April 2015
Penulis
vii
8
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN.........................................................................ii
INTISARI....................................................................................................iii
CURICULUM VITAE................................................................................iv
MOTTO ......................................................................................................v
PERSEMBAHAN........................................................................................vi
KATA PENGANTAR.................................................................................vii
DAFTAR ISI ...............................................................................................viii
DAFTAR TABEL .......................................................................................ix
DAFTAR LAMPIRAN ..............................................................................x
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang masalah................................................................1
1.2 Rumusan masalah........................................................................ 5
1.3 Tujuan penelitian......................................................................... 5
1.4 Ruang lingkup ............................................................................. 7
1.5 Manfaat penelitian ....................................................................... 7
1.6 Metodelogi dan tekhnik memperoleh data.................................... 8
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Tinjauan teori medis .................................................................... 12
2.2 Tinjauan teori asuhan kebidanan..................................................41
2.3 Landasan hukum kewenangan bidan............................................62
viii
9
BAB III TINJAUAN KASUS
3.1 Asuhan Kebidanan Menurut Kasus .............................................. 65
3.2 Matrik.......................................................................................... 74
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Pengkajian .................................................................................. 84
4.2 Interpretasi data dasar ................................................................. 99
4.3 Diagnosa potensial...................................................................... 103
4.4 Tindakan segera atau kolaborasi...................................................... 104
4.5 Perencanaan................................................................................ 105
4.6 Pelaksanaan ................................................................................ 106
4.7 Evaluasi...................................................................................... 109
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan................................................................................. 110
5.2 Saran........................................................................................... 112
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
ix
10
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 TFU Menurut Penambahan Per Tiga Jari …………………………… 15
Tabel 2.2 TFU Bentuk Uterus Berdasarkan Usia Kehamilan …………………. 15
Tabel 2.3 Pemberian Imunisasi TT ……………………………………………. 26
Tabel 3.1 MATRIK ……………………………………………………………. 74
x
11
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Lembar Konsultasi
Lampiran 2: Surat Izin Dinas
Lampiran 3: Dokumentasi
Lampiran 4: SAP dan Leaflet
xi
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Menurut definisi WHO (World Health Organitation) Kematian maternal merupakan
kematian seorang wanita waktu hamil atau 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan
oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk
mengakhiri kehamilan (Prawirohardjo, 2009; hal. 7).
Hiperemesis gravidarum adalah Mual (nausea) dan muntah (emesis
gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester
I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari , tetapi dapat pula timbul setiap saat dan
malam hari. Gejala – gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama
haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu (Prawirohardjo, 2007;
h. 275).
Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida. Satu
diantara seribu kehamilan, gejala-gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan ini
disebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormone esterogen dan HCG dalam
serum. Pengaruh fisiologik kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem
saraf pusat atau pengosongan lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat
menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian gejala mual dan muntah yang
berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Keadaan inilah yang disebut hiperemesis
gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologi menentukan berat ringannya
penyakit (Prawirohardjo, 2007; h. 275).
Penyebab hiperemesis gravidarum belum di ketahui secara pasti. Tidak ada bukti
bahwa penyakit ini di sebabkan oleh faktor toksis juga tidak di temukan kelainan
2
biokimia, perubahan-perubahan anatomik yang terjadi pada otak, jantung, hati dan
susunan syaraf, di sebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat
kelemahan tubuh karena tidak makan dan minum (Rukiyah, 2010; h. 118).
Etiologi hiperemesis gravidarum sampai saat ini masih belum jelas (Simpson, et al,
2001). Walaupun terdapat beberapa teori yang menjelaskan penyebab terjadinya,
namun tidak ada satupun yang dapat secara tepat menjelaskan prosesnya.
Hiperemesis gravidarum berhubungan dengan terjadinya peningkatan kadar esterogen
atau human chorionic gonadotropin (HCG) dan mungkin juga berhubungan dengan
terjadinya hipertiroidisme selama kehamilan. Penyebab lain adalah kekurangan
vitamin B atau gangguan metabolisme karbohidrat
(Runiari, 2010; h. 2).
Hiperemesis Gravidarum tidak hanya mengancam kehidupan wanita, namun juga
dapat menyebabkan efek samping pada janin seperti abortus, berat bayi lahir rendah,
kelahiran premature, serta malformasi pada bayi baru lahir (Health & Medicine Week,
2005; Trujillo & Harvey, 2005; Verberg, et al., 2005). Gross, et al. (1989) dalam
Tiran (2004) menyatakan bahwa kejadian pertumbuhan janin terhambat (intrauterine
growth retardation/IUGR) meningkat pada wanita hiperemesis gravidarum (Runiari,
2010; h. 2).
Berdasarkan hasil survey di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb BandarLampung
terdapat ibu hamil dengan Hiperemesis Gravidarum. Berdasarkan kejadian dan
besarnya peran bidan dalam penerapan Asuhan Kebidanan pada ibu hamil dengan
Hiperemesis Gravidarum, dalam rangka penurunan angka kematian ibu hamil maka
penulis tertarik mengambil judul “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil terhadap Ny.S
umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis
3
Gravidarum Tingkat I di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb RajaBasa Bandar
Lampung Tahun 2015”
1.2. Rumusan Masalah
“Bagaimanakah Asuhan Kebidanan pada ibu hamil terhadap Ny.S umur 36
tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum
Tingkat I di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa Bandar Lampung Tahun
2015?”
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Diperolehnya pengalaman nyata dalam memberikan Asuhan Kebidanan pada
ibu hamil terhadap Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3
hari dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I di BPS Hj.Usmalana Saddam,
Amd.Keb RajaBasa Bandar Lampung Tahun 2015.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Diharapkan penulis mampu melakukan pengumpulan data
Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3
hari dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I di Hj.Usmalana
Saddam, Amd.Keb Raja Basa Bandar Lampung Tahun 2015.
1.3.2.2 Diharapkan penulis mampu melakukan interpretasi data Ny.S umur
36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan
Hiperemesis Gravidarum Tingkat I di BPS Hj.Usmalana Saddam,
Amd.Keb Raja Basa Bandar Lampung Tahun 2015.
4
1.3.2.3 Diharapkan penulis mampu menentukan diagnosa potensial pada ibu
hamil Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3
hari dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I di BPS Hj.Usmalana
Saddam, Amd.Keb Raja Basa Bandar Lampung Tahun 2015.
1.3.2.4 Diharapkan penulis mampu melakukan tindakan segera/kolaborasi
pada ibu hamil Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12
minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I di BPS
Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa Bandar Lampung Tahun
2015.
1.3.2.5 Diharapkan penulis mampu merencanakan asuhan kebidanan yang
akan dilaksanakan pada ibu hamil Ny.S umur 36 tahun G3P2A0
Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum
Tingkat I di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa Bandar
Lampung Tahun 2015.
1.3.2.6 Diharapkan penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan yang
telah direncanakan pada ibu hamil Ny.S umur 36 tahun G3P2A0
Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum
Tingkat I di Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa Bandar
Lampung Tahun 2015.
1.3.2.7 Diharapkan penulis mampu melakukan evaluasi terhadap asuhan
yang telah diberikan pada ibu hamil Ny.S umur 36tahun G3P2A0
Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum
Tingkat I di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa Bandar
Lampung Tahun 2015.
5
1.4. Ruang Lingkup Penelitian
1.4.1. Sasaran
Subjek yang akan diambil dalam studi kasus ini adalah satu orang ibu hamil
yaitu Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari
dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I.
1.4.2. Tempat
Dalam karya tulis ilmiah ini penulis mengambil kasus di BPS Hj.Usmalana
Saddam, Amd.Keb Raja Basa BandarLampung.
1.4.3. Waktu
Dalam karya tulis ilmiah ini penulis melakukan penelitian dari tanggal 7
April – 13 April 2015.
1.5. Manfaat penelitian
Ada pun manfaat dari penelitian ini adalah :
1.5.1 Institusi Pendidikan
Hasil penelitian dapat menjadi sumber bacaan bagi mahasiswi Akademi
Kebidanan Adila Bandar Lampung dalam menerapkan ilmu dan sebagai
acuan penelitian selanjutnya.
1.5.2 Tempat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dan masukan dalam
memberikan Asuhan Kebidanan yang komperhensif serta sebagai
pertimbangan dalam meningkatkan pelayanan terhadap ibu hamil.
1.5.3 Pasien
Hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan pada ibu hamil terhadap
Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari tentang
bahayanya Hiperemesis Gravidarum pada kehamilan.
6
1.5.4 Penulis
Dapat menambah wawasan dan pengalaman langsung dalam memberikan
asuhan kebidanan pada ibu hamil, digunakan sebagai perbandingan antara
teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan di lahan praktek.
1.6. Metedologi dan Teknik Memperoleh Data
1.6.1 Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan penulis dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah
metode penelitian survey deskriptif yang dapat didefinisikan sebagai suatu
metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat
gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif.
(Notoatmodjo, 2005; h. 138).
1.6.2 Teknik Memperoleh Data.
Untuk memperoleh data, teknik yang di gunakan sebagai berikut:
1.6.2.1 Data Primer
a. Wawancara
Salah satu metode yang digunakan penulis untuk mendapatkan
data adalah dengan wawancara, dimana penulis mendapat
keterangan atau informasi secara lisan dari seseorang sasaran
penelitian (responden), dan bercakap cakap dengan
berhadapan muka dengan orang tersebut. Jadi data diperoleh
langsung dari responden melalui salah satu pertemuan atau
percakapan penulis melakukan tanya jawab dengan klien,
suami, dan keluarga yang dapat membantu memberikan
informasi yang dibutuhkan .
Wawancara dilakukan dengan cara:
7
Auto anamnesa
Adalah anamnesis yang dilakukan kepada pasien langsung.
Jadi data yang diperoleh adalah data primer, karena langsung
dari sumbernya.
Allo anamnesa
Adalah anamnesis yang dilakukan kepada keluarga pasien
untuk memperoleh data tentang pasien. Ini dilakukan pada
keadaan darurat ketika pasien tidak memungkinkan lagi untuk
memberikan data yang akurat (Sulistyawati, 2009; h.180).
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan
tanda-tanda vital, meliputi pemeriksaan khusus (inspeksi,
palpasi, auskultasi dan perkusi) dan pemeriksaan penunjang
(Laboratorium dan catatan terbaru serta catatan sebelumnya)
(Soepardan, 2007; h.98).
1.6.2.2 Data Sekunder
a. Studi Pustaka
Bahan-bahan pustaka merupakan hal yang sangat penting dalam
menunjang latar belakang teoritis dari suatu penelitian. Hasil
penelitian yang baik perlu ditunjang dengan bahan perpustakaan
yang memadai. Bahan-bahan perpustakaan yang dapat
digunakan untuk menunjang latar belakang masalah, kerangka
teoritis, dan hipotesi penelitian adalah buku yang diterbitkan,
berbagai jenis penerbitan berkala seperti majalah, jurnal,
bulletin, brosur, atau sebagainya, berbagai harian atau surat
8
kabar, karangan atau makalah ilmiah yang tidak diterbitkan
seperti makalah, skripsi, tesis, dan disertai laporan-laporan
penelitian dan instansi resmi (Notoatmodjo, 2005; h. 64).
b. Studi Dokumentasi
Yang dimaksud dengan sumber informasi dokumenter pada
dasarnya adalah semua sumber informasi yang berhubungan
dengan dokumen, baik dokumen-dokumen resmi maupun tidak
resmi
(Notoatmojo, 2005; h. 62-63).
9
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Tinjauan teori medis
2.1.1 Kehamilan
a. Pengertian Kehamilan
Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan
didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum
dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat
fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam
waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender
internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester
kedua 15 minggu (minggu ke -13 hingga ke 27) trimester ketiga 13
minggu (minggu ke-28 hingga ke-40)(Prawirohardjo, 2010; h. 213).
Dalam filosofi asuhan kehamilan ini dijelaskan beberapa keyakinan yang
akan mewarnai asuhan itu:
1. Kehamilan merupakan proses yang alamiah
2. Asuhan kehamilan mengutamakan kesinambungan pelayanan
(continuity of care)
3. Pelayanan yang terpusat pada wanita (women centered) serta keluarga
(family cntered)
4. Asuhan kehamilan menghargai hak ibu hamil untk berpartisipasi dan
memperoleh pengetahuan/pengalaman kehamilannya (Pantiawati, 2010;
h. 1).
10
Proses kehamilan merupakan proses yang normal dan alamiah.Hal ini
perlu diyakini oleh tenaga kesehatan khususnya bidan, sehingga ketika
memberikan asuhan kepada pasien, pendekatan yang dilakukan lebih
cenderung kepada bentuk pelayanan promotif. Realisasi yang paling
mudah dilaksanakan adalah pelaksanan Komunikasi Informasi dan
Edukasi (KIE) kepada pasien dengan materi-materi mengenai pemantauan
kesehatan ibusw hamil dan penatalaksanaan ketidaknyamanan selama
hamil (Sulistyawati, 2009; h. 2).
b. Tujuan Asuhan Kehamilan
1. Memantau kemajuan kehamilan, memastikan kesejahteraan ibu dan
tumbuh kembang janin.
2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental serta
sosial ibu dan bayi.
3. Menemukan secara dini adanya masalah/gangguan dan kemungkinan
komplikasi yang terjadi selama masa kehamilan.
4. Mempersiapkan kehamilan dan persalinan dengan selamat, baik ibu
maupun bayi dengan trauma seminimal mungkiin.
5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas dan pemberian ASI ekslusif
berjalan normal.
6. Mempersiapkan ibu dan keluarga dapat berperan dengan baik dalam
memelihara bayi agar dapat tumbuh dan kembang secara normal
(Sulistyawati, 2009; h. 4).
11
c. Standar Asuhan Kehamilan
a. Kunjungan Ante-natal Care(ANC) minimal :
1. Satu kali pada trimester I (usia kehamilan 0-13 minggu);
2. Satu kali pada timester II (usia kehamilan 14-27 minggu);
3. Dua kali pada trimester III (usia kehamilan 28-40 minggu).
b. Pelayanan satandar, yaitu 7T.
Sesuai dengan kebijakan Departemen Kesehatan, standar minimal
pelayanan pada ibu hamil adalah tujuh bentuk yang disingkat dengan 7T,
antara lain sebagai berikut.
1. Timbang berat badan.
2. Ukur Tekanan Darah
3. Ukur Tinggi fundus uteri.
4. Pemberian imunisasi TT lengkap.
5. Pemberian Tablet Fe minimal 90 tablet selam kehamilan dengan dosis
satu tabet setiap harinya
6. Lakukan Tes Penyakit Menular Seksual
7. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.
(Sulistyawati, 2009; h. 4).
d. Perubahan Anatomi dan Adaptasi Fisiologi Pada Ibu Hamil
1. Sistem Reproduksi
a) Uterus
1) Ukuran
Pada kehamilan cukup bulan, ukuran uterus adalah 30 x 25 x 20
cm dengan kapasitas lebih dari 4.000cc. Hal ini memungkinkan
12
bagi adekuatnya akomodasi pertumbuhan janin. Pada saat ini
rahim membesar akibat hipertropi dan hiperplasi otot polos
rahim,serabut-serabut kolagennya menjadi higroskopik, dan
endometrium menjadi desidua.
Tabel 2.1 TFU Menurut Penambahan Per Tiga Jari
Usia Kehamilan
( minggu)
Tinggi Fundus Uteri (TFU)
12 3 jari di atas simpisis
16 Pertengahan pusat-simpisis
20 3 jari di bawah simpisis
24 Setinggi pusat
28 3 jari di atas pusat
32 Pertengahan pusat-prosesus xiphoideus (px)
36 3 jari dibawah prosesus xiphoideus (px)
40 Pertengahan pusat-prosesus xiphoideus (px)
Sumber: Hanifa, Prawirohardjo, 2002
2) Berat. Berat uterus naik secara luar bias, dari 300 gram
menjadi 1.000 gram pada akhir bulan
Tabel 2.2 Bentuk uterus Berdasarkan Usia Kehamilan
Usia kehamilan Bentuk dan Konsistensi Uterus
Bulan pertama Seperti buah alpukat. Ismust rahim menjadi
hipertropi dan bertambah panjang sehingga bila
diraba terasa lebih lunak (tanda hegar).
2 bulan Sebesar telur bebek.
3 bulan Sebesar telur angsa.
4 bulan Berbentuk bulat.
5 bulan Rahim teraba seperti berisi cairan ketuban,
rahim terasa tipis. Itulah sebabnya mengapa
bagian-bagian janin ini dapat dirasakan melalui
perabaan dinding perut.
Sumber: Hanifa, Prawirohardjo, 2002
3) Posisi rahim dalam kehamilan
a. Pada permulaan kehamilan, dalam posisi antefleksi atau
retrofleksi
b. Pada 4 bulan kehamilan. Rahim tetap berada dalam
rongga pelvis.
13
c. Setelah itu, mulai memasuki rongga perut yang dalam
pembesarannya dapat mencapai batas hati.
d. Pada ibu hamil, rahim biasanya mobile,lebih mengisi
rongga abdomen kanan atau kiri.
4) Vaskularisasi
Arteri uterine dan ovarika bertambah dalam diameter,
panjang dan anak-anak cabangnya, pembuluh darah vena
mengembang dan bertambah.
5) Serviks uteri
Bertambah vaskularisasinya dan menjadi lunak, kondisi ini
yang disebut tanda Goodell. Kelenjar endoservikal
membesar dan mengeluarkan banyak cairan mucus. Oleh
karena pertambahan dan pelebaran pembuluh darah,
warnanya menjadi livid dan ini disebut dengan tanda
chadwick.
b) Ovarium
Ovulasi berhenti namun masih terdapat korpus luteum graviditas
sampai terbentuknya plasenta yang akan mengambil alih
pengeluaran esterogen dan progesterone.
c) Vagina dan Vulva
Oleh karena pengaruh esterogen, terjadi hipervaskularisasi pada
vagina dan vulva sehingga pada bagian tersebut terlihat lebih
merah atau kebiruan, kondisi ini disebut tanda chadwick.
14
2. Sistem Kardiovaskular
Selama kehamilan, jumlah darah yang dipompa oleh jantung
setiapmenitnya atau biasa disebut sebagai curah jantung (cardiac
output) meningkat sampai 30-50%. Peningkatan ini mulai terjadi
pada usia kehamilan 16-28 minggu. Oleh karena curah jantung yang
meningkat, maka denyut jantung pada saat istirahat juga meningkat
(dalam keadaan normal 70 kali/menit menjadi 80-90 kali /menit).
Pada ibu hamil dengan penyakit jantung, ia dapat jatuh dalam
keadaan decompensate cordis.
3. Sistem Urinaria
Selama kehamilan, ginjal bekerja lebih berat. Ginjal menyaring
darah yang volumenya meningkat (sampai 30-50% atau lebih), yang
puncaknya terjadi pada usia kehamilan 16-24 minggu sampai sesaat
sebelum persalinan (pada saat ini aliran darah ke ginjal berkurang
akibat penekanan rahim yang besar).
4. Sistem Gastrointestinal
Rahim yang semakin membesar akan menekan rektum dan usus
bagian bawah, sehingga terjadi sembelit atau konstipasi. Sembelit
semakin berat karena pergerakan otot di dalam usus diperlambat
oleh tingginya kadar progesteron.
5. Sistem Metabolisme
Kebutuhan zat besi wanita hamil kurang lebih 1.000 mg, 500mg
dibutuhkan untuk meningkatkan massa sel darah merah dari 300 mg
untuk trasnpostasi ke fetus ketika kehamilan memasuki usia 12
15
minggu, 200 mg sisanya untuk menggantikan cairanyang keuar dari
tubuh. Wanita hamil membutuhkan zat besi rata-rata 3,5 mg/hari.
6. Sistem Muskuloskeletal
Adanya sakit punggung dan ligamen pada kehamilan tua disebabkan
oleh meningkatnya pergerakan pelvis akibat pembesaran uterus.
Bentuk tubuh berubah menyesuaikan sengan pembesaran uterus ke
depan karena tidak adanya otot abdomen.
7. Kulit
Topeng kehamilan (cloasma gravidarum) adalah bintik-bintik
pigmen kecoklatan yang tampak dikulit kering dan pipi.
Peningkatan pigmentasi juga terjadi disekeliling puting susu,
sedangkan di perut bawah bagian tengah biasanya tampak garis
gelap, yaitu spider angioma (pembuluh darah kecil yang memberi
gambaran seperti laba-laba) bisa muncul dikulit, dan biasanya diatas
pinggang.
8. Payudara
Payudara sebagai organ target untuk proses laktasi mengalami
banyak perubahan sebagi persiapan setelah janin lahir. Beberapa
perubahan yang dapat diamati oleh ibu adalah sebagai berikut.
a. Selama kehamilan payudara bertambah besar, tegang dan berat
b. Dapat teraba nodul-nodul, akibat hipertropi kelenjar alveoli
c. Bayangan vena-vena lebih membiru
d. Hiperpigmentasi pada areola dan puting susu.
e. Kalau diperas akan keluar air susu jolong (kolostrum) berwarna
kuning.
16
9. Sistem Endokrin
Selama siklus menstruasi normal, hipofisis anterior memproduksi
LH dan FSH. Follicle stimulating hormone (FSH) merangsang
folikel de graaf untuk menjadi matang dan berpindah ke permukaan
ovarium di mana ia dilepaskan. Folikel yang kosong dikenal sebagai
korpus luteum dirangsang oleh LH untuk memproduksi progesteron.
10.Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Berat Badan
Cara yang dipakai untuk menentukan berat badan menunggu tinggi
badan adalah dengan menggunakan indeks massa tubuh (IMT)
dengan rumus berat badan dibagi tinggi badan pangkat 2. Contoh,
wanita dengan berat badan sebelum hamil 51 kg dan tinggi badan
1,57 meter. Maka IMT-nya adalah 51/(1,57)2
= 20,7. Nilai IMT
mempunyai rentang sebagai berikut.
19,8-26,6 :normal
< 19,8 :underweight
26,6-29,0 :overweight
> 29,0 :obese
11. Sistem Pernafasan
Ruang abdomen yang membesar oleh karena meningkatnya ruang
rahim dan pemberntukan hormon progesteron menyebabkan paru-
paru berfungsi sedikit berbeda dari biasanya. Wanita hamil bernafas
lebih cepat dan lebih dalam karena memerlukan lebih banyak
oksigen untuk janin dan untuk dirinya (Sulistyawati, 2009; h. 59-
69).
17
e. Kebutuhan Ibu Hamil
1) Kebutuhan Fisik
a) Diet makanan.
Kebutuhan makanan pada ibu hamil mutlak harus dipenuhi.
Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan anemia, abortus,
IUGR, inersia uteri, perdarahan pasca persalinan, sepsis
puerpuralis, dan lain-lain. Sedangkan kelebihan makanan
karena beranggapan pemenuhan makan untuk dua orang akan
berakibat kegemukan, pre-eklampsi, janin terlalu besar, dan
sebagainya. Hal penting yang harus diperhatikan sebenarnya
adalah cara mengatur menu dan pengolahan menu tersebut
dengan berpedoman pada Pedoman Umum Gizi Seimbang.
Bidan sebagai pengawas kecukupan gizinya dapat melakukan
pemantauan terhadap kenaikan berat badan selama kehamilan.
b) Kebutuhan energi
Widya karya pangan dan Gizi Nasional menganjurkan pada
ibu hamil untuk meningkatkan asupan energinya sebesar 285
kkal perhari. Tambahan energi ini bertujuan untuk memasok
kebutuhan ibu dalam memenuhi kebutuhan janin. Pada
trimester I kebutuhan energi meningkat untuk organogenesis
atau pembentukan organ-organ penting janin, dan jumlah
tambahan energi ini terus meningkat pada trimester II dan III
untuk pertumbuhan janin.
Protein: Ibu hamil mengalami peningktaan kebutuhan protein
sebanyak 68%. Widya Karya Pangan dan Gizi Nasional
18
menganjurkan untuk menambah asupan protein menjadi 12%
perhari atau 75-100 gram.
Zat besi: Anemia sebagian besar disebabkan oleh defisiensi
zat besi, oleh karena itu perlu ditekankan pada ibu hamil untuk
mengkonsumsi zat besi selama hamil dan setelah melahirkan.
Kebutuhan zat besi selama hamil meningkat sebesar 300%
(1.040 mg selama hamil ) dan peningkatan ini tidak dapat
tercukupi hanya dari asupan makanan ibu selama hamil
melainkan perlu ditunjang dengan suplemen zat besi.Vitamin
C dan protein hewani merupakan elemen yang sangat
membantu dalam penyerapan zat besi, sedangkan kopi, teh,
garam, kalsium, magnesium dan fitat (terkandung dalam
kacang-kacangan) akan memperhambat penyerapan zat besi.
Asam Folat. Asam folat merupakan satu-satunya vitamin yang
kebutuhannya meningkat dua kali lipat selama hamil. Asam
folat sangat berperan dalam metabolisme normal makanan
menjadi energi, pematangan sel darah merah, sintesis DNA,
pertumbuhan sel dan pembentukan heme. Jika kekurangan
asam folat maka ibu dapat menderita anemia megaloblastik
dengan gejala diare, depresi, lelah berat, dan selalu
mengantuk.
Kalsium. Metabolisme kalsium selama hamil mengalami
perubahan yang sangat berarti. Kadar kalsium dalam darah ibu
hamil turun drastis sebanyak 5%. Oleh karena itu, asupan yang
optimal perlu dipertimbangkan. Sumber utama kalsium adalah
19
susu dan hasil olahannya, udang, sarang burung, sarden dalam
kaleng, dan beberapa bahan makanan nabati seperti sayuran
warna hijau tua dan lain-lain.
c) Obat-obatan
Sebenarnya jika kondisi ibu hamil tidak dalam keadaan yang
benar-benar berindikasi untuk untuk diberikan obat-obatan,
sebaiknya pemberian obat dihindari.Penatalaksanaan keluhan
dan ketidaknyamaan yang dialami lebih dianjurkan kepada
pencegahan dan perawatan saja.
d) Lingkungan yang bersih
Salah satu pendukung untuk keberlangsungan kehamilan yang
sehat dan aman adalah lingkungan yang bersih, karena
kemungkinan terpapar kuman dan zat toksik yang berbahaya
bagi ibu dan janin terminimalisasi. Lingkungan bersih disini
adalah termasuk bebas polusi udara seperti asap rokok.
e) Senam Hamil
Kegunaan senam hamil adalah melancarkan sirkulasi darah,
nafsu makan bertammbah, pencernaan menjadi lebih baik, dan
tidur menjadi lebih nyenyak. Bidan hendaknya menyarankan
agar ibu hamil melakukan masing-masing gerakan sebanyak
dua kali pada awal latihan dan dilanjutkan dengan kecepatan
dan frekkuensi menurut kemampuan dan kehendak mereka
sendiri minimal lima kali tiap gerakan.
20
f) Pakaian
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pakaian ibu hamil
adalah memenuhi kriteria berikut ini.
1) Pakaian harus longgar, bersih, dan tidak ada ikatan yang
ketat pada daerah perut.
2) Bahan pakaian usahakan yang mudah menyerap
keringat.
3) Pakailah bra yang menyokong payudara.
4) Memakai sepatu dengan hak yang rendah.
5) Pakaian dalam yang selalu bersih.
g) Istirahat dan rekreasi
Dengan adanya perubahan fisik pada ibu hamil, slaah satunya
beban beratpada perut sehingga terjadi perubahan sikap tubuh,
tidak jarang ibu akan mengalami kelelahan, oleh karena itu
istirahat dan tidur sangat penting untuk ibu hamil. Pada
trimester akhir kehamilan sering diiringi dengan
bertambahnya ukuran janin, sehingga terkadang ibu kesulitan
untuk menentukan posisi yang paling baik dan nyaman untuk
tidur. Posisi tidur yang dianjurkan pada ibu hamil adalah
miring ke kiri, kaki kiri lurus, kaki kanan sedikit menekuk dan
diganjal dengan bantal pada perut bawah sebelah kiri.
 Tidur siang
Kebiasaan tidur siang perlu ditanyakan karena tidur siang
menguntungkan dan baik untuk kesehatan. Apabila
21
ternyata klien tidak terbiasa tidur siang, anjurkan klien
untuk mencoba dan membiasakannya.
 Tidur malam
Pola tidur malam perlu ditanyakan karena wanita hamil
tidak boleh kurag tidur, apalagi tidur malam, jangan
kurang dari 8 jam. Tidur malam merupakan waktu dimana
proses pertumbuhan janin berlangsung. Apabila ternyata
klien mempunyai pola tidur malam yang tidak mencapai 8
jam, anjurkan klien untuk mencoba dan membiasakan tidur
malam dengan pola 8 jam (Walyani, 2015; h. 133-134).
h) Kebersihan tubuh.
Kebersihan tubuh ibu hamil pelu diperhatikan karena dengan
perubahan sistem metabolisme mengakibatkan peningkatan
pengeluaran keringat. Keringat yang menempel dikulit
meningkatkan kelembapan kulit dan memungkinkan menjadi
tempat berkembangnya mikroorganisme. Jika tidak
dibersihkan (dengan mandi), maka ibu hamil akan sangat
mudah untuk terkena penyakit kulit.
i) Perawatan payudara.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perawatan
payudara adalah sebagai berikut .
1) Hindari pemakaian bra dengan ukuran yang terlalu ketat
dan yang menggunakan busa, karena akan mengganggu
penyerapan keringat payudara.
2) Gunakan bra dengan bentuk yang menyangga payudara.
22
3) Hindari membersihkan puting dengan sabun mandi
karena akan menyebabkan iritasi. Bersihkan puting susu
dengan minyak kelapa lalu bilas dengan air hangat.
4) Jika ditemukan pengeluaran cairan yang
berwarnakekuningan dari payudara, berarti produksi asi
sudah dimulai.
j) Eliminasi
Keluhan yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan dengan
eliminasi adalah konstipasi dan sering buang air kemih.
Konstipasi terjadi karena adanya pengaruh hormon
progesteron yang mempunyai efek rileks terhadap otot polos,
salah satunya otot usus. Selain itu, deskan usus oleh
pembesaran janin juga menyebabkan bertambahnya
konstipasi. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah
dengan mengonsumsi makanan tinggi serat dan banyak minum
air putih, terutama ketika lambung dalam keadaan kosong.
Meminum air putih hangat ketika perut dalam keadaan kosong
dapat merangsang gerak peristaltik usus. Jika ibu sudah
mengalami dorongan, maka segeralah untuk buang air besar
agar tidak terjadi konstipasi.
k) Seksual
Hubungan seksual selama kehamilan tidak dilarang selama
tidak ada riwayat penyakit seperti berikut ini.
1) Sering abortus dan kelahiran prematur.
2) Perdarahan pervaginam
23
3) Koitus harus dilakukan dengan hati-hati terutama pada
minggu terakhir kehamilan.
4) Jika ketuban sudah pecah, koitus dilarang karena dapat
menyebabkan infeksi janin intrauteri.
l) Sikap tubuh yang baik ( Body Mechanic )
Seiring dengan bertambahnya usia kehamilan tubuh akan
mengadakan penyesuaian fisik dengan pertumbuhan ukuran
janin. Perubahan tubuh yang paling jelas adalah tulang
punggung bertambah lordosis karena tumpuan tubuh bergeser
lebih kebelakang dibandingkan sikap tubuh ketika tidak hamil.
Keluhan yang sering muncul dari perubahan ini adalah rasa
pegal di punggung dan kram kaki ketika tidur malam hari.
m) Imunisasi
Tabel 2.3 Pemberian Imunisasi TT
Status Jenis Suntikan TT Interval Waktu Lama perlindungan Persentase
perlindungan
T0
T1
T2
T3
T4
T5
Belum pernah
mendapatkan
suntikan TT
TT1
TT2
TT3
TT4
TT5
4 minggu dari TT1
6 bulan dari TT2
Minimal 1 tahun
dari TT3
3 tahun dari TT4
3 tahun*
5 tahun
10 tahun
Seumur hidup
80
95
99
99
Sumber: Pusdiknakes, 2003
Artinya, apabila dalam waktu 3 tahun wanita tersebut
melahirkan, maka bayi yang dilahirkan akn terlindung dari
tetanus neonatorum.
24
n) Memantau kesejahteraan bayi
Kesejahteraan janin dalam kandungan perlu dipantau secara
terus-menerus agar jika ada gangguan janin dalam kandungan
akan dapat segera terdeteksi dan ditangani. Salah satu
indikator kesejahteraan janin yang dapat dipantau sendiri oleh
ibu adalah gerakannya dalam 24 jam.
o) Kunjungan ulang
Sesuai dengan kebijakan Departemen Kesehatan, kunjungan
minimal selama hamil adalah 4 kali, yaitu 1 kali pada
trimesterI, 1 kali pada trimester II, dan 2 kali pada trimester
III. Namun sebaiknya kunjungan tersebut rutin dilakukan
setiap bulan agar dapat segera terdeteksi jika ada penyulit
atau komplikasi kehamilan (Sulistyawati, 2009; h. 107-143).
Kunjungan rumah minimal dilakukan selama antenatalcare :
1. Satu kali kunjungan selama trimester I, sebelum minggu
ke-14
2. Satu kali kunjungan trimester II, di antara minggu ke-14
sampai minggu ke-28
3. Dua kali kunjungan selama trimester III, antara minggu ke-
28 sampai setelah minggu ke-36
Kunjungan ideal selama kehamilan:
1. Pemeriksaan pertama dilakukan sedini mungkin ketika ibu
mengatakan terlambat haid 1 bulan.
2. Satu kali setiap bulan sampai usia kehamilan 7 bulan.
3. Dua kali setiap bulan sampau usia kehamilan 8 bulan
25
4. Satu kali setiap minggu sampai usia kehamilan 8 bulan
5. Pemeriksaan khusus apabila ada keluhan-keluhan
(Yulifah, 2009 ; h. 64).
Penjaringan deteksi dini kehamilan risiko tinggi bertujuan
untuk menemukan ibu hamil berisiko. Penjaringan ini dapat
dilakukan oleh kader, dukun bayi, dan tenaga
kesehatan.Kunjungan ibu hamil, yaitu kontak ibu hamil
dengan tenaga profesional untuk mendapatkan pelayanan
antenatal sesuai dengan standar yang ditetapkan.
1. Kunjungan baru ibu hamil (K1)
Kunjungan ibu hamil dengan tenaga kesehatan sejak
pertama kali dan seterusnya, untuk mendapatkan
pelayanan antenatal sesuai dengan standar selama 1
periode kehamilan berlangsung.
2. Kunjungan ke-4 (K4)
Adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang
ke-4 atau lebih untuk mendapatkan pelayanan antenatal
sesuai standar yang diteapkan, dengan syarat minimal 1
kali untuk trimester I dan II, serta minimal 2 kali untuk
trimester III(Yulifah, 2009; h. 109).
p) Pekerjaan
Wanita hamil tetap dapat bekerja namun aktifitas yang
dijlaninya tidak boleh terlalu berat. Istirahat untuk wanita
hamil disarankan untuk menghentikan aktifitasnya apabila
mereka merasakan gangguan dalam kehamilan. Pekerjaan
26
yang membutuhkan aktifitas fisik yang berat, berdiri dalam
jangka waktu yang lama, pekerjaan dalam industri mesin, atau
pekerjaan yang memiliki efek samping lingkungan. (contoh:
limbah) harus dimodifikasi.
r) Tanda bahaya kehamilan
Beberapa tanda bahaya yang penting untuk disampaikan
kepada pasien dan keluarga adalah sebagai berikut.
1. Perdarahan pervaginam
2. Sakit kepala hebat
3. Masalah penglihatan
4. Bengkak pada muka atau tangan
5. Nyeri abdomen yang hebat
6. Bayi kurang bergerak seperti biasa(Sulistyawati, 2009 ;
h.143).
2. Kebutuhan Psikologis
a) Persiapan saudara kandung (sibling)
Siblling rivalry adalah rasa persaingan diantara saudara
kandung akibat kelahiran anak berikutnya. Biasanya terjadi
pada anak usia 2-3 tahun. Sibling rivalry ini biasanya
ditunjukkan dengan penolakan terhadap kelahiran ankanya,
menangis, menarik diri dari lingkungannya, menjauh dari
ibunya atau melakukan kekerasan terhadap adiknya
(memukul, menindih, mencubit, dan lain-lain ).
27
b) Dukungan keluarga
Ibu sangat membutuhkan dukungan dan ungkapan kasih
sayang dari orang-orang terdekatnya, terutama suami. Kadang
ibu dihadapkan pada suatu situasi yang ia sendiri mengalami
ketakutan dan kesendirian, terutama pada trimester akhir.
c) Perasaan Aman dan Nyaman selama Kehamilan.
Selama kehamilan ibu banyak mengalami ketidaknyamanan
fisik dan psikologis. Bidan bekerja sama dengan keluarga
diharapak berusaha dan secara antusias memberikan perhatian
serta mengupayakan untuk mengatasi ketidaknyamanan dan
ketidakamanan yang dialami oleh ibu.
d) Persiapan menjadi orangtua
Ini sangat penting dipersiapkan karena setelah bayi lahir akan
banyak perubahan yang terjadi, mulai dari ibu, ayah dan
keluarga. Bagi pasangan yang baru pertama punya anak,
persiapan dapat dilakukan dengan banyak berkonsultasi
dengan orang yang mampu untuk membagi pengalamannya
dan memberikan nasehat mengenai persiapan menjadi
orangtua.
e) Dukungan dari tenaga kesehatan
Bagi seorang ibu hamil, tenaga kesehatan khususnya bidan
harus mempunyai tempat tersendiri dalam dirinya. Harapan
pasien adalah bidan dapat gijadikan sebagai teman terdekat
dimana ia dapat mencurahkan isi hati dan kesulitannya dalam
menghadapai proses kehamilan dan persalinan. Posisi ini
28
sangat efektif sekali jika bidan dapat mengembangkan
kemampuannya dalam memilih menjalin hubungan yang baik
dengan pasien. Adanya hubungan saling percaya akan
memudahkan bidan dalam memberikan penyuluhan kesehatan
(Sulistyawati, 2009; h. 145).
2.1.2 Emesis gravidarum
2.1.2.1 Definisi
Emesis Gravidarum merupakan keluhan umum yang disampaikan
pada kehamiln muda. Terjadinya kehamilan menimbulkan
perubahan hormonal pada wanita karena terdapat peningkatan
hormone esterogen, progesterone, dan dikeluarkannya human
chorionic gonadothropine plasenta. Hormon-hormon inilah yang
diduga menyebabkan emesis gravidarum.
Gejala klinis emesis gravidarum adalah kepala pusing, terutama
pagi hari, disertai mual muntah sampai kehamilan berumur 4
bulan. Emesis gravidarum dapat diatasi dengan berobat jalan
(poliklinik).
2.12.2 Penanganan
Penanganan yang dapat dilakukan :
1. Komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) tentang hamil muda
yang selalu dapat disertai emesis gravidarum. Emesis
gravidarum akan berangsur-angsur berkurang sampai umur
kehamilan 4 bulan.
29
2. Dinasihatkan agar tidak terlalu cepat bangun dari tempat tidur,
sehingga tercapai adaptasi aliran darah menuju susunan saraf
pusat.
3. Nasihat diet, dianjurkan makan dengan porsi kecil, tetapi lebih
sering. Makanan yang merangsang timbulnya mual muntah
dihindari.
4. Obat-obatan, pengobatan ringan tanpa masuk rumah sakit pada
emesis gravidarum:
a. Vitamin yang diperlukan (vitamin B kompleks,
mediamer B6 sebagai vitamin dan antimuntah).
b. Pengobatan (sedatif ringan [luminal 3x30 mg
(barbiturat), valium], antimual-muntah [stimel,
primperan, emetrol dan lainnya]
c. Nasihat pengobatan (banyak minum air atau minuman
lain, hindari minuman atau makanan yang asam untuk
mengurangi iritasi lambung).
d. Nasihat kontrol antenatal (pemeriksaan hamil lebih
sering, segera datang bila terjadi keadaan abnormal)
(Manuaba, 2010; h. 227-228).
Cara mengatasi mual-muntah :
 Hindari bau dan faktor penyebab lain.
 Makan biskuit kering atau roti bakar sebelum bangun dan
bangun perlahan- lahan.
 Makan sedikit tetapi sering.
 Duduk tegak setiap kali selesai makan.
30
 Hindari makanan yang berminyak dan berbumbu keras.
 Makan makanan kering diantara waktu makan.
 Jangan langsung gosok gigi setelah makan.
 Istirahat seperlunya.
 Gunakan obat-obatan nonfarmakologis jika
memungkinkan.
 Jika terlalu parah beri terapi dengan vitamin B6.
2.1.3 Hiperemesis Gravidarum
2.1.3.1 Definisi
Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan yang
terjadi pada wanita hamil sehingga menyebabkan terjadinya
ketidakseimbangan kadar elektrolit, penurunan berat badan (lebih
dari 5% berat badan awal), dehidrasi, ketosis, dan kekurangan
nutrisi (Sherman, 1999; Old, 2000;Micheline, 2004; Edelman,
2004; Paawi, et al, 2005). Hal tersebut mulai terjadi pada minggu
keempat sampai kesepuluh kehamilan dan selanjutnya akan
membaik umumnya pada usia kehamilan 20 minggu, namun
beberapa kasus dapat terus berlanjut sampai pada kehamilan tahap
berikutnya (Paauw et al, 2005) (Runiari, 2010; h. 8).
Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang
wajar dan sering kedapatan pada trimester I. Mual biasanya terjadi
pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari.
Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari
31
pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10
minggu.
Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60%
multigravida. Satu diantaranya seribu kehamilan, gejala-gejala ini
menjadi lebih berat. Perasaan mual ini disebabkan oleh karena
meningkatnya kadar hormon esterogen dan HCG dalam serum.
Pengaruh fisiologik kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin
karena sistem saraf pusat atau pengososngan lambung yang
berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan
keadaan ini, meskipun gejala mual muntah yang berat dapat
berlangsung sampai 4 bulan. Pekerjaan sehari-hari dapat terganggu
dan keadaan umum menjadi buruk. Keadaan inilah yang dimaksud
dengan Hiperemesis Gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan
fisiologis dapat menentukan berat ringannya penyakit
(Prawirohardjo, 2007; h. 275).
2.1.3.2 Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti.
Tidak ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor
toksik; juga tidak ditemukan kelainan biokimia. Perubahan-
perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf
disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat
inanisi. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah
ditemukian oleh beberapa penulis sebagai berikut.
1. Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah
primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda.
32
Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan
ganda menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang
peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormon
khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.
2. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan
perubahan metabolik akibat hamil serts reistensi yang
menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan
faktor organik.
3. Alergi. Sebagai salah satu respon jaringan ibu terhadap anak,
juga disebut sebagai salah satu faktor organik.
4. Faktor psikologik memedang peranan yangn penting pada
penyakit ini, rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan,
takur terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap
tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik
mental yang dapat memperberat mual muntah sebagai pelarian
kesukaran hidup. Hubungan psikologik dengan hiperemesis
gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak jarang dengan
memberikan suasana baru, sudah dapat membantu mengurangi
frekuensi muntah.
2.1.3.3 Patologi
Bedah mayat pada wanita yang meninggal akibat hiperemesis
gravidarum menunjukan kelainan-kelainan pada berbagai alat
dalam tubuh, yang juga dapat ditemukan pada malnutrisi oleh
bermacam sebab.
33
1. Hati. Pada hiperemesis gravidarum tanpa komplikasi hanya
ditemukan degenerasi lemak tanpa nekronis; degenerasi
lemak tersebut terlentak sentrilobuler. Kelainan lemak ini
nampaknmya tidak menyebabkan kematian dan dianggap
sebagai akibat muntah yang terus menerus. Dapat
ditambahkan separuh penderita yang meninggal karena
hiperemesis gravidarum menunjukkan gambaran mikroskopik
hati yang normal.
2. Jantung. Jantung menjadi lebih kecil dari biasa dan beratnya
atrofi; ini sejalan dengan lamanya penyakit, kadang-kadang
ditemukan perdarahan sub-endokardial.
3. Otak. Adakalanya terdapat beracak-bercak perdarahan pada
otak dan kelainan seperti ensefalopati Wernicke dapat
dijumpai (dilatasi kapiler dan perdarahan kecil-kecil di daerah
koropra mamilaria ventrikel ketiga dan keempat).
4. Ginjal. Ginjal tampak pucat dan degenerasi lemak dapat
ditemukan pada tubuli konorti.
2.1.3.4 Patofisiologi
Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual adalah akibat dari
meningkatnya kadar esterogen, oleh karena keluhan ini terjadi
pada trimester pertama. Pengaruh fisiologik hormon estergoen ini
tidak jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat
berkurangnya pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi pada
kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual dan muntah
dapat berlangsung berbulan-bulan.
34
Hiperemesis gravidarum merupakan komplikasi mual dan muntah
pada hamil muda, bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan
dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis
hipokloremik. Belum jelas mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi
pada sebagian kecil wanita, tetapi fakmtor psikologik merupakan
faktor utama, disamping pengaruh hormonal. Yang jelas, wanita
yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan
gejala tak suka makan dan mual, akan mengalami emesis
gravidarum yang lebih berat.Hiperemesis gravidarum ini dapat
mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai
untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemah yang tak sempurna,
terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton –asetik, asam
hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang
diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan
dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang.
Natrium dan klorida darah turun, demikian pula klorida air kemih.
Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga
aloran darah ke jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah
zat makanan dan oksigen kejaringan mengurang pula dan
tertimbunnya zat metabolik dan toksik. Kekurangan kalium
sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat
ginjal, menambahkan frekuensi muntah muntah yang lebih banyak,
dapat merusak hati, dan terjadilah lingkaran setan yanng tidak
mudah dipatahkan. Dismaping dehidrasi dan terganggunya
keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada selaput lendir
35
esofagus dan lambung (Sinroma Mallory-Weiss), dengan akibat
perdarahan gastrointestinal. Pada umumnya robekan ini dan
perdarahan ini dapat berhenti sendiri.Jarang sampai diperlukan
transfusi dan tindakan operatif.
2.1.3.5 Gejala dan tanda
Batas jelas antaara mual yang masih fisiologik dalam kehamilan
dengan hiperemesis gravidarum tidak ada, tetapi bila keadaaan
umum penderita terpengaruh, sebaiknya ini dianggap sebagai
hiperemesis gravidarum. Hiperemesis gravidarum menurut berat
ringannya dibagi dalam 3 tingkatan.Tingkatan I. Muntah terus
menerus mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa
lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa
nyeri pada epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100 permenit,
tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit mengurang, lidah
mengering dan mata cekung.
Tingkatan II. Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit
lebih mengurang, lidah menegring dan nampak kotor, nadi kecil
dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikteris. Berat
badan turun dan mata menjadi cekung, tensi turun,
hemokonsentrasi, oliguria dan konstipasi. Aseton dapat tercium
dalam hawa pernafasan, karena mempunyai aroma yang khas dan
dapat pula ditemukan dalam kencing.
Tingkatan III. Keadaaan umum lebih parah, muntah berhenti,
kesadaran menurun dari samnolen sampai koma, nadi kecil dan
cepat; suhu meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fatal terjadi
36
pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wernicke,
dengan gejala: nistagmus, diplopia dan perubahan mental.
Keadaaan ini adlah akibat sangat kekurangan zat makanan,
termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus menunjukkan
adanya payah hati (Prawriohardjo, 2007; h. 275-277).
2.1.3.6 Diagnosis
Menurut Cuningham,2005 umumnya tidak sukar menegakan
diagnosa Hiperemesis Gravidarum. Harus ditentukan adanya
kehamilan muda dengan mual dan muntah terus menerus, sehingga
berpengaruh terhadap keadaan umum dan juga dapat menyebabkan
kekurangan makanan yang dapat memepengaruhi perkembangan
janin sehingga pengobatan perlu segera diberikan. Bisa juga dilihat
dari hasil pemeriksaan laboratorium, yang menunjukan adaanya
benda keton dalam urin. Namun harus dipikirkan juga
kemungkinan kehamilan muda dengan penyakit Pielonefritis,
hepatitis, ulkus, ventrikuli dan Tumor Serebri yang bisa
memberikan gejala muntah (Rukiyah, 2010; h. 122).
2.1.3.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada ibu dengan Hiperemesis Gravidarum
dimulai dengan :
a) Pencegahan
Pencegahan terhadap Hiperemesis Gravidarum perlu
dilaksanakan dengan jalan memebrikan penerangan tentang
kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik,
memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang
37
muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan
muda dan akan hilang setelah kehamilan bulan, menganjurkan
mengubah makanan sehari-hari dengan makanan dalam
jumlah kecil, tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan
segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan
roti kering atau biskuit dengan teh hangat. Makanan yang
berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Makanan
dan minuman seyogyanya disajikan pada saat panas atau
sangat dingin. Defekasi yang teratur hendaknya dapat dijamin,
menghindarkan kekurangan karbohidrat merupakan hal yang
penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang banyak
mengandung gula.
b) Obat-obatan
Menurut Admin, 2007 apabila dengan cara tersebut diatas
keluhan dan gejala tidak mengurang maka diperlukan
pengobatan. Sedativa yang sering digunakan adalah
pohenobarbital, vitamin yang dianjurkan yaitu vitamin B1 dan
B2 yang berfungsi untuk mempertahankan kesehatann syaraf,
jantung, otot serta meningkatkan pertumbuhan dan perbaikan
sel dan B6 berfungsi menurunkan keluhan atau gangguan
mual dan muntah bagi ibu hamil dan juga membantu dalam
sintesa lemak untuk pembentukan sel darah merah. Menururt
Wiknjosastro, 2005 antihistaminika juga dianjurkan pada
keadaan lebih berat diberikan antimimetik seperti disklomin
hidrokhloride, avomin (Rukiyah, 2010; h. 123).
38
c) Isolasi
Isolasi dilakukan dalam kamar yang tenang cerah dan
peredaran udara yang baik hanya dokter dan perawat yang
boleh keluar masuk kamar sampai muntah berhenti dan pasien
mau makan. Catat cairanyang masuk dan keluar dan tidak
diberikan makan dan minum dan selama 24 jam. Kadang-
kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau
hilang tanpa pengobatan.
d) Terapi Psikologik
Menurut Wiknojosastro, 2005 perlu diyakinkan kepada
penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa
takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta
menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat
menjadi latar belakang penyakit ini. Menurut Admin, 2008
bantuan yang positif dalam mengatasi permasalahan
psikologis dan sosial dinilai cukup signifikan memberikan
kemajuan keadaan umum (Rukiyah, 2010; h. 123).
e) Diet
Menurut Dinar, 2008 ciri khas diet hiperemesis adalah
penekanan karbohidrat kompleks terutama pada pagi hari,
serta menghindari makanan yang berlemak dan goreng-
gorengan untuk menekan rasa mual dan muntah, sebaiknya
diberi jarak dalam pemberian makan dan minum. Diet pada
hiperemesis bertujuan untuk mengganti persediaan glikogen
tubuh dan mngontrol asidosis secara berangsur memberikan
39
makanan berenergi dan zat gizi yang cukup (Rukiyah, 2010; h.
124).
Diet hiperemesis gravidarum memiliki tigas syarat diantaranya
adalah karbohidrat tinggi, yaitu 75-80% dari kebutuhan energi
total, lemak rendah, yaitu <10% dari kebutuhan energi total,
protein sedang, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total,
makanan diberikan dalam bentuk kering, pemberian cairan
disesuaikan dengan keadaan pasien, yaitu 7-10 gelas perhari,
makanan mudah dicerna, tidak merangsang saluran
pencernaaan dan diberikan sering dalam porsi kecil, bila
makan pagi dan sulit diterima, pemberian dioptimalkan pada
makan malam dan selingan malam, makanan secara berangsur
ditignkatkan dalam porsi dna nilai gizi sesuai dengan
keadaandan kebutuhan gizi pasien. Menganjurkan ibu untuk
menghindari makanan yang berminyak, berlemak dan pedas
seperti makanan yang digoreng, rujak, makanan yang
bersantan karena dapat memperburuk rasa mual.
Menganjurkan ibu untuk banyak minum air putih atau jus agar
tidak dehidrasi serta menghindari minuman yang mengandung
kafein dan karbonat seperti kopi dan minuman bersoda
(Rukiyah, 2010; h. 131).
Ada tiga macam diet hiperemesis gravidarum yaitu;
1) Diet hiperemsis I diberikan pada hiperemesis tingkat III.
Makanan hanya berupa roti kering dan buah buahan.
Cairan tidak diberikan bersma makanan tetapi 1-2 jam
40
sesudahnya. Makanan ini kurang akan zat-zat gizi kecuali
vitamin C karena itu hanya diberikan selama beberapa
hari.
2) Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah
berkurang. Secara berangsur mulai diberikan bahan
makanan yang bernilai gizi tinggi. Pemberian minuman
tidak diberikan bersama makanan. Makanan ini rendah
dalam semua zat-zat gizi kecuali vitamin A dan D.
3) Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan
hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan pendertia
minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini
cukup dalam semua zat gizi kecuali kalsium.
4) Menurut Dinar, 2008 makanan yang dianjurkan untuk
diet hiperemesis I,II dan III adalah roti panggang, biskuit,
crekers, buah segar dan sari buah, minuman botol ringan,
sirup, kaldu tak berlemak, teh dan kopi encer. Sedangkan
makanan yang tidak dianjurkan adalah makanan yang
umumnya merangsang saluran pencernaan dan berbumbu
tajam. Bahan makanan yang mengandung alkohol, kopi
dan yang mengandung zat tambahan (pengawet, pewarna
dan penyedap ras) juga tidak dianjurkan.
5) Diet pada ibu yang mengalami hiperemesis terkadang
melihat kondisi si ibu dan tingkatkan hiperemesisnya,
konsep saat ini yang dianjurkan pada ibu adalah makanlah
apa yang ibu suka, bukan makan sedikit-sedikit teteapi
41
sering juga jangan paksakan ibu memakan apa yang saat
ini membuat mual karena diet tersebut tidak akan
memperaprah kondisinya (Rukiyah, 2010; h. 124).
2.2 Teori Manajemen Kebidanan Menurut Varney
Manajemen asuhan kebidanan atau yang sering disebut manajemen kebidanan
adalah suatu metode berpikir dan bertindak secara seistematis dan logis dalam
memberi asuhan kebidanan, agar menguntungkan kedua belah pihak baik klien
maupun pemberi asuhan. Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan
masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan
tindakan berdasarkan teori ilmiha, temuan-temuan, keterampilan, dalam
rangkaian/ tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang
berfokus pada klien. Manajemen kebidanan diadaptasi dari sebuah konsep
yang dikembangkan oleh Helen Varney dalam buku Varney’s Midwifery.
Edisis ketiga tahun 1997; menggambarkan proses manajemen asuhan
kebidanan yanmg terdiri dari tujuh langkah yang berurut secara sistematis dan
siklik (Soepardan, 2006; h. 96).
Langkah Dalam Manajemen Kebidanan Menurut Varney
Manajemen kebidanan terdiri dari beberapa langkah yang beurutan yang
dimulai dengan pengumpulan data dasar dan diakhiri dengan evaluasi.
Langkah-langkah tersebut membentuk kerangka yang lengkap yang bisa
diaplikasikan dalam semua situasi. Akan tetapi, setiap langkah tersebut bisa
dipecah-pecah ke dalam tugas-tugas tertentu dan semuanya bervariasi sesuai
42
denan kondisi klien. Setiap langkah manajemen kebidanna akan dijabarkan ,
sebagai berikut:
2.2.1 Pengkajian
Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat
dan lengkap dari berbagai sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Pengumpulan data dilakukan dengan melalui anamnesis. Anamnesis
adalah pengkajian dalam rangka mendapatkan data tentang pasien
melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan.
Bagian-bagian penting dari anamnesis antara lain sebagai berikut.
a. Data subjektif
1. Biodata
Berikut ini adalah panduan untuk mengetahui biodata pasien
a) Nama istri/suami
Mengetahui nama klien dan suami berguna untuk
memperlancar komunikasi dalam asuhan sehingga tidak
terlihat kaku dan lebih akrab.
b) Umur
Umur perlu diketahui guna mengetahui apakah klien dalam
kehamilan yang berisiko atau tidak. Usia di bawah 16 tahun
dan diatas 35 tahun merupakan umur-umur yang berisiko
tinggi untuk hamil. Umur yang baik untuk kehamilan maupun
persalinan adalah 19-25 tahun.
c) Suku/Bangsa/Etnis/Keturunan
Ras, etnis dan keturunan harus diidentifikasi dalam rangka
memberikan perawatan yang peka budaya kepada klien dan
43
mengidentifikasi wanita atau keluarga yang memiliki kondisi
resesif otosom dengan insiden yang tinggi pada populasi
tertentu. Jika kondisi yang demikian diidentifikasi, wanita
tersebut diwajibkan menjalani skrining genetik
d) Agama
Tanyakan pilihan agama klien dan berbagai praktik terkait
agama yang harus diobservasi. Informasi ini dapat menurun ke
suatu diskusi tentang pentingnya agama dalam kehidupan
klien, tradisi keagamaan dalam kehamilan dan kelahiran,
perasaan tentang jenis kelamin tenaga kesehatan, dan pada
beberapa kasus, penggunaan produk darah.
e) Pendidikan, Minat, Hobi
Pendidikan berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk
mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga
bidan dapat memberikan konseling sesuai dengan
pendidikannya (Ambarwati, 2008; h. 132).
Pendidikan klien ditanyakan untuk mengetahui tingkat
intelektualnya. Tingkat pendidikan mempengaruhi sikap
perilaku kesehatan seseorang (Estiwidani, 2008; h. 141).
f) Pekerjaan
Pekerjaan klien ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan
pengaruh pekerjaan terhadap permasalahan kesehatan klien.
Pekerjaan orangtua ditanyakan bila pasien anak balita
(Estiwidani, 2008; h. 141).
44
Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial
ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien
tersebut (Ambarwati, 2010; h. 132).
g) Alamat rumah
Alamat rumah klien perlu diketahui bidan untuk lebih
memudahkan saat pertolongan persalinan dan untuk
mengetahui jarak rumah dengan tempat rujukan (Walyani,
2015; h. 118).
b. Riwayat pasien
1. Keluhan utama
Ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas
pelayanan kesehatan.
Pada kasus ibu postpasrtum normal, misalnya keluhan utamanya
adalah karena ia ingin memeriksakan kembali kesehatan nya
setelah persalinan, atau pada kasus postpartum patologis, ibu
datang ke fasilitas kesehatan karena demam, keluar darah segar
dalam jumlah banyak, nyeri, infeksi luka jahitan dan lain-lain.
2. Riwayat Kebidanan
Data ini penting diketahui oleh tenaga kesehatan sebagai data
acuan jika psien mengalami penyulit postpartum.
a) Menstruasi
Data ini memang tidak secara langsung berhubungan dengan
masa nifas, namun dari data yang kita peroleh kita akan
mempunyai gambaran tentang keadaan dasar dari organ
reproduksinya.
45
Beberapa data yang harus kite peroleh dari riwayat menstruasi
antara lain sebagai berikut.
1) Menarche.
Menarche adalah usia pertama kali menglammi
menstruasi. Wanita Indonesia pada umumnya mengalami
menarche sekitar 12 sampai 16 tahun.
2) Siklus
Siklus menstruasi adalah jarak antara menstruasi yang
dialami dengan menstruasi berikutnya, dalam hitungan
hari. Biasanya sekitar 23 sampai 32 hari.
3) Volume
Data ini menjelaskan seberapa banyak darah menstruasi
yang dikeluarkan. Kadang kita akan kesulitan untuk
mendapatkan data yang valid. Sebagai acuan biasanya
kita gunakan kriteria banyak, sedang, dan sedikit.
Jawaban yang diberikan oleh pasien biasanya bersifat
subjektif, namun kita dapat kaji lebih dalam lagi dengan
beberapa pertanyaan pendukung, misalnya sampai berapa
kali mengganti pembalut dalam sehari.
4) Keluhan
Beberapa wanita menyampaikan keluhan yang dirasakan
ketika mengalami menstruasi, misalnya nyeri hebat, sakit
kepala sampai pingsan, atau jumlah darah yang banyak.
Ada beberapa keluhan yang disampaikan oleh pasien
dapat menunjuk kepada diagnosis tertentu.
46
b) Gangguan kesehatan alat reproduksi
Data ini sangat penting untuk kita kaji karena akan
memberikan petunjuk bagi kita tentyang organ reproduksi
pasien. Ada beberapa penyakit organ reproduksi yang
berkaitan erat dengan personal hyegen pasien, atau kebiasaan
lain yang tidak mendukung kesehatan reproduksinya. Jika
didapatkan adanya salah satu atu beberapa riwayat gangguan
kesehatan alat reproduksi, maka kita harus waspada akan
adanya kemungkinan gangguan kesehatan alat reproduksi
pada masa postpartum.
Beberapa data yang perlu kita kaji dari pasien adalah apakah
pasien pernah mengalami gangguan seperti berikut ini.
1) Keputihan
2) Infeksi
3) Gatal karena jamur
4) Tumor (Sulistyawati, 2009; h. 182).
c) Riwayat kehamilan, persalinan, nifas dan KB yang lalu
1) Jumlah kehamilan (Gravid/G)
Jumlah kehamilan ditamyakan untuk menegtahui seberapa
besar pengalaman klien tentang kehamilan. Apabila klien
mengatajan bahwa saat ini adalah kehamilan yang
pertama, maka bidan harus secara maksimal memberikan
penegtahuan kepada klien tentang bagaimana merawat
kehamilannya dengan maksimal.
2) Jumlah anak yang hidup (L)
47
Untuk mengetahui pernah tidaknya klien mengalami
keguguran, apabila pernah maka pada kehamilan
berikutnya akan berisiko mengalami keguguran kembali.
Serta apabila jumlah anak yang hidup hanya sedikit dari
kehamilan yang banyak, berarti kehamilannya saat ini
adalah kehamilan yang sangat diinginkan.
3) Jumlah kelahiran prematur (P)
Untuk mengidentifikasi apabila pernah mengalami
kelahiran prematur sebelumnya maka dapat menimbulkan
resiko persalinan prematur berikutnya.
4) Jumlah keguguran (A)
Tanyakan kepada klien apakah ia pernah keguguran atau
tidak. Sebab apabila pernah mengalami keguguran dalam
riwayat persalinan sebelumnya akan berisiko untuk
mengalami keguguran pada kehamilan berikutnya
(keguguran berulang).
5) Berat bayi < 2,5 atau 4 kg
Berat lahir sangat penting iuntuk mengidentifikasi apakah
bayi kecil untuk masa kehamilan (BKMK) atau bayi besar
untuk masa kehamilan (BKMK), suatu kondisi yang
biasanya berulang. Apabila persalinan pervaginam, berat
lahir mencerminkan bahwa bayi dengan ukuran tertentu
berhasil memotong pelvis maternal.
48
6) Riwayat KB
Tanyakan kepada klien metode KB apa yang selama ini ia
gunakan (Walyani, 2015; h. 129).
d) Riwayat kehamilan sekarang
1) HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir)
Bidan ingin mengetahui tanggal hari menstruasi terkhir
klien untuk memperkirakan kapan kira-kira sang bayi
akan dilahirkan.
2) TP (Taksiran Persalinan)/Perkiraan Kelahiran
Perhitungan dilakukan dengan menambahkan 9 bulan dan
7 hari pada hari pertama haid terakhir (HPHT) atau
dengan mengurangi bulan dengan 3, kemudian dengan
menambahkan 7 hari dan 1 tahun.
3) Kehamilan yang ke-
Jumlah kehamilan ibu perlu ditanyakan karena
terdapatnya perbedaan perawatan antara ibu yang baru
pertama hamil dengan ibu yang sudah beberapa kali
hamil, apabila ibu tersebut baru pertama kali hamil
otomatis perlu perhatian ekstra pada kehamilannya
(Walyani, 2015; h. 120).
4) Imunisasi TT (Tetanus Toxoid) I
Tanyakan pada klien apakah sudah pernah mendapatkan
imunisasi TT. Apabila belum, bidan bisa memberikannya
imunisasi tetanus toxoid diperlukan untuk melindungi
bayi terhadap penyakit tetanus neonatorum, imunisasi
49
dapat dilakukan pada trimester I atau II pada kehamilan 3-
5 bulan dengan interval minimal 4 minggu. Lakukan
penyuntikan secara IM (intamusculer), dengan dosis
0,5ml (Walyani, 2015; h. 124).
3. Riwayat kesehatan
Data dari riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai
“penanda” (warning) akan adanya penyulit masa hamil. Adanya
perubahan fisik dan fisiologis pada masa hamil yang melibatkan
seluruh seluruh sistem dalam tubuh akan mempengaruhi organ
yang mengalami gangguan. Beberapa data penting tentang
riwayat kesehatan pasien yang perlu kita ketahui adalah apakah
pasien pernah atau sedang menderita penyakit, seperti jantung,
diabetes melitus (DM), ginjal, hipertensi/hipotensi dan hepatitis.
4. Status perkawinan
Ini penting untuk dikaji karena dari data ini kita akan
mendapatkan gambaran mengenai suasana rumah tangga
pasangan. Beberapa pertanyaan yang dapat ajukan antara lain
sebgai berikut .
a) Berapa tahun usia ibu ketika menikah pertama kali ?
b) Status pernikahan (sah/tidak sah) ?
c) Lama pernikahan ?
d) Ini adalah suami yang ke ?
5. Pola makan
Ini penting untuk diketahui supaya kita mendapatkan gambaran
bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya selama hamil.
50
Beberapa hal yang perlu kita tanyakan pada pasien berkaitan
dengan pola makan adalah sebagai berikut.
a) Menu
Kita dapat menanyakan pada pasien tentang apa saja yang ia
makan dalam sehari (nasi, sayur, lauk, buah, makanan
selingan, dan lain-lain)
b) Frekuensi
Data ini akan memberi petunjuk bagi kita tentang seberapa
banyak asupan makanan yang dikonsumsi ibu.
c) Jumlah per hari.
Data ini memberikan volume atau seberapa banyak makanan
yang ibu makan dalam waktu satu kali makan. Untuk
mendapatkan gambaran total makanan yang ibu makan,
bidan dapat mengalikannya dengan frekuensi makan dalam
sehari.
d) Pantangan
Ini juga penting untuk kita kaji karena ada kemungkinan
pasien berpantang makanan justru pada makanan yang
sangat mendukung pemulihan fisiknya, misalnya daging,
ikan atau telur.
6. Pola Minum
Hal-hal yang perlu kita tanyakan kepada pasien tentang pola
minum adalah sebagai berikut.
51
a) Frekuensi
Kita dapat tanyakan pada pasien berapa kali ia minum dalam
sehari, dan dalam sekali minum menghabiskan berapa gelas
b) Jumlah perhari
Frekuensi minum dikalikan seberapa banyak ibu minum
dalam sekali minum menghabiskan berapa gelas.
c) Jenis minuman
Kadang pasien mengonsumsi minuman yang sebenarnya
kurang baik untuk kesehatannya
7. Pola istirahat
Istirahat sangat diperlukan oleh ibu hamil. Oleh karena itu, bidan
perlu menggali kebiasaan istirahat ibu supaya diketahui hambatan
yang mungkin muncul jika didapatkan data yang senjang tentang
pemenuhan kebutuhan istirahat. Bidan dapat menanyakan tentang
berapa lama ia tidur di malam dan siang hari.
a) Istirahat malam hari.
Rata-rata lama tidur malam yang normal adalah 6-8 jam.
b) Istirahat siang hari
Tidak semua wanita mempunyai kebiasaan tidur siang. Oleh
karena itu, hal ini dapat kita sampaikan kepada ibu bahwa
tidur siang sangat penting untuk menjaga kesehatan selama
hamil.
8. Aktivitas sehari-hari
Kita perlu mengkaji aktivitas sehari-hari pasien karena data ini
memberikan gambaran tentang seberapa berat aktivitas yang
52
biasa dilakukan pasien di rumah. Jika kegiatan pasien terlalu
berat sampai dikhawatirkan dapat menimbulkan penyulit masa
hamil, maka kita dapat memberikan peringatan sedini mungkin
kepada pasien untuk membatasi dahulu kegiatannya sampai ia
sehat dan pulih kembali. Aktivitas yang terlalu berat dapat
menyebabkan abortus dan persalinan prematur.
9. Personal Hyegen
Data ini perlu kita kaji karena bagaimanapun juga hal ini akan
mempengaruhi kesehatan pasien dan bayinya. Jika pasien
mempunyai kebiasaan yang kurang baik dalam perawatan
kebersihan dirinya, maka bidan harus dapat memberikan
bimbingan mengenai cara perawatan kebersihan diri diantaranya
adalah sebagai berikut.
a) Mandi
b) Keramas
c) Ganti baju dan celana dalam
Ganti baju minimal sekali dalam sehari, sedangkan celana
dalam minimal dua kali. Namun jika sewaktu-waktu baju dan
celana dalam sudah kotor, sebaiknya segera diganti tanpa
harus menunggu waktu untuk ganti berikutnya.
d) Kebersihan kuku
10. Aktivitas seksual.
Walaupun ini adalah hal yang cukup privasi bagi pasien, namun
bidan hatus menggali data dari kebiasaan ini, karena terjadi
53
beebrapa kasus keluhan dalam aktivitas seksual yang cukup
mengganggu pasien namun ia tidak tahu kemana harus
berkonsultasi.
11. Respons keluarga terhadap kehamilan ini.
Bagaimana pun juga hal ini sangat penting untuk kenyamanan
psikologis ibu.
12. Respons ibu terhadap kelahiran bayinya.
Dalam mengkaji data ini kita dapat menanyakan langsung kepada
pasien mengenai bagaimana perasaanya terhadapa kehamilannya.
13. Respon ayah terhadap kehamilan ini
Untuk mengetahui bagaimana respon ayah terhadap kehamilan
ini kita dapat menanyakan langsung kepada suami pasien atau
dapat juga kepada pasien sendiri.
14. Pengetahuan ibu tentang perawatan kehamilannya
Data ini dapat kita peroleh dari beberapa pertanyaan yang kita
ajukan kepada pasien mengenai perawatan selama hamil.
15. Perencanaan KB
Meskipun pemakaian alat kontrasepsi masih lama, namun tidak
ada salahnya jika kita mengkajinya lebih awal agar pasien
mendapatkan informasi sebanyak mungkin mengenai pilihan
beberapa alat kontrasepsi.
16. Pengetahuan ibu tentang keadaan dan perawatannya.
Penting untuk diketahui pasien mengenai keadaannya dan
perjalanan perawatannya. Hal ini dimaksudkan agar pasien dapat
kooperatif dalam menjalankan program perawatan.
54
17. Adat istiadat setempat yang berkaitan dengan masa hamil.
Hal ini penting yang biasanya mereka anut berkaitan dengan
masa hamil adalah menu makan untuk ibu hamil, misalnya ibu
hamil harus pantang makanan yang berasal dari daging, ikan,
telur dan goreng-gorengan karena dipercaya akan menyebabkan
kelainan pada janin.
b. Data Objektif
Setelah data subjektif kita dapatkan, untuk melengkapi data kita
dalam menegakkan diagnosis, maka kita harus melakukan pengkajian
data objektif melalui pemeriksaaan inspeksi, palpasi, auskultasi dan
perkusi yang dilakukan secara berurutan. Langkah-langkah
pemeriksaannya sebagai berikut.
1. Keadaan umum
Untuk mengetahui data ini kita cukup dengan mengamati
keadaanpasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan kita laporkan
dengan kriteria sebagai berikut.
a) Baik.
Jika pasien memperlihatkan respon yanng baik terhadap
lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak
mengalami ketergantungan dalam berjalan.
b) Lemah.
Pasien dimasukkan ke dalam kriteria ini jika ia kurang atau
tidak memberikan respon yang baik terhadap lingkungan dan
orang lain, dan pasien sudah tidak mmapu lagi untuk berjalan
sendiri.
55
2. Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita
dapat melakukan pengkajian tingkat kesadaran mulai dari
keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan
koma (pasien tidak dalam keadaan sadar).
3. Tanda Vital
a) Tekanan darah
b) Nadi
c) Pernafasan
d) Suhu
4. Kepala
5. Rambut
a) Warna
b) Kebersihan
c) Mudah rontok atau tidak
6. Telinga
a) Kebersihan
b) Gangguan pendengaran
7. Mata
a) Konjungtiva
b) Sklera
c) Kebersihan
d) Kelainan
e) Gangguan penglihatan (rabun jauh/dekat)
56
8. Hidung
a) Kebersihan
b) Polip
c) Alergi debu
9. Mulut
a) Bibir
1) Warna
2) Integritas jaringan (lembap, kering atau pecah-pecah)
b) Lidah
1) Warna
2) Kebersihan
c) Gigi
1) Kebersihan
2) Karies
3) Gangguan pada mulut (bau mulut)
10.Leher
a) Pembesaran kelenjar limfew
b) Parotitis
11.Dada
a) Bentuk
b) Simetris/tidak
c) Payudara
1) Bentuk
2) Besar masing-masing payudara (seimbang atau tidak)
3) Hiperpigmentasi areola payudara
57
4) Teraba masa, nyeri atau tidak
5) Kolostrum
6) Keadaan puting: menonjol, datar, atau masuk ke dalam
7) Kebersihan
8) Bentuk bra
d) Denyut jantung
e) Gangguan pernafasan (auskultasi)
12. Perut
a) Bentuk
b) Bekas luka operasi
c) Striae
d) Linea
e) TFU
f) Hasil pemeriksaan palpasi leopold
g) Tafsiran berat janin (TBJ)
h) Denyut jantung janin (DJJ)
13. Ekstremitas
a) Atas
1) Gangguan/kelainan
2) Bentuk
b) Bawah
1) Bentuk
2) Oedema
3) Varises
58
14. Genital
a) Kebersihan
b) Pengeluaran pervaginam
c) Tanda-tanda infeksi vagina
15. Anus
a) Haemorroid
b) Kebersihan
16. Pemeriksaan penunjang
a) Kadar Hb
b) Hematokrit (Ht)
c) Kadar leukosit
d) Golongan darah (Sulistyawati, 2009; h. 180 - 191).
2.2.2 Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau
masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah
dikumpulkan. Langkah awal dari perumusan diagnosis atau masalah
adalah pengolahan data dan analisis dengan menggabungkan data satu
dengan lainnya sehingga tergambar fakta.
Dalam langkah kedua ini Bidan membagi interpretasi data dalam tiga
bagian, yaitu sebagai berikut.
1. Diagnosis Kebidanan /Nomenklatur
Dalam bagian ini yang disimpulkan oleh bidan antara lain sebagi
berikut.
59
a. Paritas
Pasien adalah riwayat reproduksi seorang wanita yang berkaitan
dengan kehamilannya (jumlah kehamilan). Dibedakan dengan
primigravida (hamil yang pertama kali) dan multigravida (hamil
yang kedua atau lebih. Contoh cara penulisan paritas dalam
interpretasi data adalah sebagai berikut.
1) Primigravida
a) G1 (gravid 1) atau hamil yang pertama kali
b) P0 (partus nol) berarti belum pernah partus atau melahirkan
c) A0 (abortus nol) berarti belum pernah mengalami abortus
2) Multigravida
a) G3 (gravid 3) atau ini adalah kehamilannya yang ketiga
b) P1 (partus 1) atau sudah pernah mengalami persalinan satu
kali.
c) A1 (abortus 1) atau sudah pernah mengalami abortus satu kali
b. Usia kehamilan dalam minggu
c. Keadaan janin
d. Normal atau tidak normal
2. Masalah
Dalam asuhan kebidanan digunakan istilah “masalah” dan
“diagnosis”. Kedua istilah tersebut dipakai karena beberapa masalah
tidak dapat didefinisikan sebagai diagnosis, tetapi tetap perlu
dipertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh.
Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanitaitu
mengalami kenyataan terhadap diagnosisnya.
60
3. Kebutuhan
Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan
keadaan dan masalahnya. Contohnya kebutuhan untuk KIE dan
bimbingan tentang perawatan kehamilannya (Sulistyawati, 2009; h.
191-192).
2.2.3 Identifikasi Diagnosis/Masalah Potensial dan Antisipasi
Penanganannya
Pada langakah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis
potensial lain berdasarkan masalah yang lain juga. Langkah ini
membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan,
sa,bil terus mengamati kondisi klien. Bidan diharapkan dapat bersiap-
siap bila diagnosis atau masalah potensial benar-benar terjadi
(Sulistyawati, 2009; h. 195).
2.2.4 Menetapkan Perlunya konsultasi dan Kolaborasi Segera dengan
Tenaga Kesehatan Lain
Dalam pelaksanaannya terkadang bidan dihadapkan pada beberapa
situasi yang memerlukan segera (emergensi) di mana bidan harus
segera melakukan tindakan untuk menyelamatkan pasien, namun
kadang juga berada pada situasi pasien yang memerlukan tindakan
segera sementara menunggu instruksi dokter, atau bahkan mungkin
juga situasi pasien yang memerlukan konsultasi dengan tim kesehatan
lain. Di sini bidan sangat dituntut kemampuannya untuk dapat selalu
melakukan evaluasi keadaan pasien agar asuhan yang diberikan tepat
dan aman (Sulistyawati, 2009; h. 196).
61
2.2.5 Menyusun Rencana Asuhan Menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh berdasarkan
langkah sebelumnya. Semua perencanaan yang dibuat harus
berdasarkan pertimbangan yang tepat, meliputi pengetahuan, teori yang
up to date, perawatan berdasarkan bukti (evidence based care), serta
divalidasikan dengan asumsi mengenai apa yang diinginkan dan tidak
diinginkan oleh pasien. Dalam menyusun perencanaan sebaiknya
pasien dilibatkan, karena pada akhirnya pengambilan keputusan dalam
melaksanakan suatu rencana asuhan harus disetujui oleh pasien
(Sulistyawati, 2009; h. 196).
2.2.6 Pelaksanaan Asuhan Kebidanan
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah
diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman.
Realisasi dari perencanaan dapat dilakukan oleh bidan, pasien, anggota
keluarga yang lain. Jika bidan tidak melakukannya sendiri ia tetap
memikul tanggung jawab atas terlaksananya seluruh perencanaan.
Dalam situasi di mana ia harus berkolaborasi dengan dokter, misalnya
karena pasien mengalami komplikasi, bidan masih tetap bertanggung
jawab terhadap terlaksananya waktu, biaya, dan meningkatkan mutu
asuhan (Sulistyawati, 2009; h. 198).
2.2.7 Evaluasi
Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan yang kita berikan
kepada pasien, kita mengacu kepada beberapa pertimbangan berikut
ini.
62
1. Tujuan Asuhan Kebidanan
a. Meningkatkan, mempertahankan, dan mengembalikan
kesehatan.
b. Memfasilitasi ibu untuk menjalani kehamilannya dengan rasa
aman dan penuh percaya diri.
c. Meyakinkanwanita dan pasangannya untuk mengembangkan
kemampuannya sebagai orangtua dan untuk mendapatkan
pengalaman berharga sebagai orangtua.
d. Membantu keluarga untuk mengidentifikasi dan memenuhi
kebutuhan mereka dan mengemban tanggung jawab terhadap
kesehatannya sendiri.
2. Efektivitas Tindakan untuk Mengatasi Masalah.
Dalam melakukan evaluasi seberapa efektif tindakan dan asuhan
yang kita berikan kepada pasien, kita perlu mengkaji respons dan
peningkatan kondisi yang kita targetkan pada saat penyusunan
perencanaan. Hasil pengkajian ini kita jadikan sebagai acuan
dalam pelaksanan asuhan berikutnya (Sulistyawati, 2009; h. 200-
201).
2.3 Teori Landasan Hukum
Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No.900/menkes/SK/VII/2002
bidan dalam menjalankan praktik profesinya berwenang untuk
memberikan pelayanan yang meliputi:
63
1. Pelayanan Kebidanan Kepada Ibu
Pelayanan kebidanan kepada ibu diberikan pada masa pranikah,
prahamil, masa kehamilan, masa persalinan, masa nifas, menyusui
dan masa antara (periode interval) meliputi:
1.1Penyuluhan dan konseling
1.2 Pelayanan kebidanan kepada ibu meliputi:
a. Penyuluhan dan konseling;
b. Pemeriksaan fisik;
c. Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
d. Pertolongan pada kehamilan abnormal yang mencakup
ibu hamil dengan abortus iminens gravidarum tingkat I,
preeklampsia ringan dan anemia ringan;
e. Pertolongan persalinan normal;
f. Pertolongan persalinan abnormal, yang mencakup letak
sungsang, partus macet kepala di dasar panggul, ketuban
pecah dini (KPD) tanpa infeksi, perdarahan postpartum,
laserasi jalan lahir, distosia karena insersia uteri primer,
postterm dan preterm
g. Pelayanan ibu nifas normal;
h. Pelayanan ibu nifas abnomal yang mencakup retensio
plasenta, renjatan dan infeksi ringan
i. Pelayanan dan pengobatan pada kelainan ginekologi yang
meliputi keputihan, perdarahan tidak teratur dan
penundaan haid.
64
Dalam keadan darurat bidan berwenang melakukan pelayanan
kebidanan selain kewenangan-kewenangan yang telah disebutkan di
atas yang sifatnya ditujukan untuk penyelamatan jiwa. Selain
kewenangan pelayanan diatas bidan juga diharuskan untuk:
1. Menghormati hak pasien
2. Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani
3. Menyimpan rahasia sesuai peraturan dan perundang-undangan
yang berlaku
4. Memberikan informasi tentang pelayanan yang akan diberikan
5. Meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan (informeds
consent)
6. Melakukan catatan medik (medical record) dengan baik (Sofyan,
2006; h. 265).
65
BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PADA NY. S UMUR 36 TAHUN
G3P2A0 USIA KEHAMILAN 12 MINGGU 3 HARI DENGAN
HIPEREMESIS GRAVIDARUM TINGKAT I
DI BPS Hj.USMALANA SADDAM, Amd.Keb
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015
I. Pengkajian
Tanggal : 7 April 2015
Jam : 10.00 WIB
Nama Mahasiswa : Noviyanti Putri
Nim : 201207107
A. Data subyektif
1. Identitas pasien Suami
Nama : Ny. S Tn.P
Umur : 36th 35th
Agama : Islam Islam
Sukubangsa : Jawa Jawa
Pendidikan : SMP SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Swasta
Alamat : Karya Bakti RT 09 LK II Rajabasa 2 Karya Bakti RT 09 LK II
Bandar lampung Rajabasa 2 Bandarlampung
66
2. Keluhan utama
Ibu mengatakan mual muntah lebih dari 10 kali dalam sehari dan telah mengganggu
aktivitas.
3. Riwayat kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan saat ini tidak sedang menderita penyakit menular dan menurun.
b. Riwayat Kesehatan Yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita suatu penyakit apapun.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada riwayat penyakit menular dan
menurun.
4. Riwayat obstetric
a. Riwayat haid
Menarche : 15 tahun
Siklus : 28 hari
Teratur/tidak : Teratur
Lama : 5-7 hari
Volume : 2 kali ganti pembalut dalam sehari
Warna : Merah
Disminorhea : Tidak
Bau : Khas
Flour albus : Tidak ada
HPHT : 10-1-2015
TP : 17-10-2015
67
b. Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu
No Tahun
Persali
nan
Usia
Kehamilan
Jenis
Persalinan
Tempat
Persalinan
Kesulitan
dalam
persalinan
Penol
ong
Bayi
JK BB PB Ket
1 2004 Aterm Spontan BPS Tidak ada Bidan Laki
-laki
3000
gr
49
cm
2 2007 Aterm Spontan BPS Tidak ada Bidan Laki
-laki
2800
gr
48
cm
3 Kehamilan ini usia Kehamilan 12 minggu 3 minggu
c. Tanda-tanda kehamilan
Amenorea, mual muntah : Ya
Tes kehamilan : Di lakukan
Tanggal : 12-2-2015
Hasil : Positif
d. Pergerakan janin belum di rasakan
e. Keluhan yang di rasakan:
Rasa lelah : Ada
Mual-muntah : Ada
Pegal pada kaki dan pinggang : Tidak ada
Malas beraktifitas : Ada
Panas menggigil : Tidak ada
Sakit kepala : Ada
Penglihatan kabur : Tidak ada
Rasa nyeri/ panas waktu BAK : Tidak ada
68
Rasa gatal pada vulva, vagina : Tidak ada
Nyeri kemerahan pada tungkai : Tidak ada
f. Riwayat pernikahan
Menikah 1 kali lamanya 13tahun
g. Riwayat KB
KB suntik 3 bulan
h. Riwayat imunisasi TT
Pada kehamilan pertama lengkap
Belum pernah mendapatkan imunisasi TT pada hamil ini
i. Riwayat sosial
Kehamilan saat ini di rencanakan : Ya
Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan dan nifas : Tidak ada
5. Pola kebutuhan sehari-hari
a. Nutrisi
Sebelum hamil : ibu mengatakan makan 2 kali sehari1 porsi
sedang dengan nasi,sayur dan lauk serta minum
air putih 3- 4 gelas per hari
Selama hamil : ibu mengatakan selama hamil kurang nafsu
makan, ibu makan tidak teratur dengan porsi
sedikit yaitu dengan setengah porsi dari porsi
biasanya. Ibu lebih sering makan makanan
seperti biscuit, jagung, umbi-umbian yaitu
singkong, mantang dan minum 3-4 gelas perhari.
69
b. Pola eliminasi
Sebelum hamil : ibu mengatakan BAK 6-7 kali sehari warna
kuning jernih dan berbau khas urine, dan BAB 1
kali perhari sekali warna kuning kecoklatan.
Selama hamil : ibu mengatakan BAK 4-5 kali sehari warna
kuning pekat, berbau khas urine, dan BAB 1 hari
sekali warna kuning kecoklatan.
c. Pola istirahat
Sebelum hamil : ibu mengatakan tidur malam 7-8 jam perhari dan
tidur siang 1-2 jam perhari.
Selama hamil : ibu mengatakan tidur malam 5-6 jam perharidan
tidur siang 1 jam perhari.
d. Personal hygiene
Sebelum hamil : ibu mengatakan ganti celana dalam 2 kali dalam
sehari, mandi 2 kali sehari, gosok gigi 2 kali
sehari, keramas 1 hari sekali dan potong kuku 2
minggu sekali.
Selamahamil : ibu mengatakan ganti celana dalam 2-3 kali
sehari dan mandi 2 kali sehari, gosokgigi 2 kali
sehari dan keramas 2 hari sekali, potong
kuku 2 minggu sekali.
e. Pola sexual
Sebelum hamil : 2 kali seminggu
Selama hamil : 1 kali seminggu
70
f. Pola Aktivitas
Sehari hari ibu berdagang di rumah
7. Polapsikososial
Ibu dapat bersosialisi dengan baik pada keluarga dan tetangganya
B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum : Lemah
b. Kesadaran : Compos mentis
c. Tekanan darah : 100/70 mmHg
d. Nadi : 110x/menit
e. Suhu : 36,50
C
f. RR : 22x/menit
g. Tinggi badan : 154 cm
h. Berat badan sebelum hamil : 47 kg
Berat badan sekarang : 44kg
i. LILA : 24 cm
2. Pemeriksaan fisik
a. Kepala : Tidak ada nyeri tekan
b. Rambut : Bersih, tidak ada rontok
c. Muka
Cloasma : Tidak ada
Oedema : Tidak ada
71
d. Mata
Kelopak mata : Cekung
Konjungtiva : pucat
Sklera : Putih
e. Hidung : Simetris kanan dan iri, tidak ada pembesaran
polip
f. Telinga : Simetris kanan dan kiri
Gangguan pendengaran : Tidak ada gangguan pendengaran.
g. Mulut : Bersih, bibir kering.
h. Gigi : Tidak ada caries
i. Leher
Kelenjar tyroid : Tidak ada pembesaran
Kelenjar getah bening : Tidak ada pembesaran
j. Payudara
Pembesaran : Normal
Putting susu : Menonjol
Benjolan : Tidak ada
Rasa nyeri : Tidak ada
Hiperpigmentasi : Ada pada puting susu dan areola
Pengeluaran : Tidakada
k. Abdomen
Bekas luka operasi : Tidak ada
Pembesaran : Sesuai usia kehamilan
Konsistensi : Lunak
Linea Nigra : Ada
72
Acites : Tidak ada
Tumor : Tidak ada
Pembesaran liver/lien : Tidak ada
Uterus : Tidak di lakukan
l. Punggung : Normal
m. Pinggang
Nyeri ketuk : Tidak ada
n. Genetalia
Perineum : Tidak dilakukan
Vulva dan vagina : Tidak dilakukan
Pengeluaran pervaginam : Tidak dilakukan
Kelenjar bartholini : Tidak dilakukan
o. Periksa dalam : Tidak di lakukan
p. Anus : Tidak ada hemoroid
q. Ekstremitas
Oedema : Tidak ada
Kemerahan : Tidak ada
Varices : Tidak ada
Refleks patella : Positif kanan dan kiri
3. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan Hb : 8,2 gr%
b. Protein urine : tidak dilakukan
c. Glukosa urine : tidak dilakukan
73
TABEL 3.1 MATRIK
Tgl/Jam PENGKAJIAN INTERPRETASI
DATA
(DIAGNOSA,
MASALAH,
KEBUTUHAN)
DX
POTENSIAL/
MASALAH
POTENSIAL
ANTISIPASI/
TINDAKAN
SEGERA
INTERVENSI IMPLEMENTASI EVALUASI
Selasa, 7
April
2015
pukul
10.00
WIB
Ds : ibu
mengatakan mual
dan muntah setiap
pagi hari dan sudah
lebih dari 10 kali
dalam sehari, serta
ibu merasa lemas,
pusing serta lidah
ibu terasa kering.
Do :
Keadaan Umum :
Lemah
Kesadaran :
Composmentis
TTV :
TD : 100/ 70
mmHg
N : 110 x/m
S : 36,5ºC
P : 22x/m
BB : 44 kg
Mata : cekung
Lidah : kering dan
kotor
Dx ibu :
Ny. S umur 36 tahun
G3P2A0 usia
kehamilan 12 minggu
3 hari dengan
Hiperemesis
Gravidarum tingkat I
Dasar :
Ds : Ibu mengatakan
mual muntah lebih
dari 10 kali dalam
sehari dan telah
menggaanggu
aktivitas.
HPHT : 10-1-2015
Tanggal kunjungan :
7-4-2015
Do :
Keadaan Umum :
Lemah
BB : 44 kg
HEG tingkat II Konseling pola
nutrisi
1. Beritahu ibu
hasil pemeriksaan
2. Jelaskan pada
ibu tentang
keluhan yang
dialami ibu
1. Memberitahukan ibu
hasil pemeriksaan saat
ini bahwa ibu dalam
keadaan kurang baik,
dengan hasil
pemeriksaan yaitu :
TD : 100/ 70 mmHg
N : 110 x/m
S : 36,5ºC
P : 22x/m
BB : 44 kg
Mata : cekung
Lidah : kering
2. Menjelaskan pada
ibu tentang keluhan
yang dialami oleh ibu
yaitu ibu mengalami
Hiperemesis
Gravidarum adalah
mual muntah yang
berlebihan yang terjadi
pada wanita hamil
sehingga menyebabkan
terjadinya
1. Ibu telah
mengetahui
kondisinya saat
ini.
2. Ibu mengerti
tentang
keluhan yang
dirasakan saat
ini.
74
Turgor kulit
mengurang
Mata : cekung
Lidah : kering
Turgor kulit
mengurang
Masalah :
Mual dan muntah
sehingga mengganggu
aktivitas
Kebutuhan :
Penanganan
Hiperemesis
Gravidarum tingkat I
3.Beritahu ibu
cara mengatasi
keluhan yang
dialaminya.
4. Jelaskan pada
ibu mengenai cara
mengatur pola
nutrisi yang harus
dipenuhi.
ketidakseimbangan
kadar elektrolit,
penurunan berat badan
(lebih dari 5% berat
badan awal) dehidrasi,
ketosis, dan
kekurangan nutrisi. Hal
tersebut mulai terjadi
pada minggu keempat
sampai kesepuluh
kehamilan dan
selanjutnya akan
membaik umumnya
pada usia kehamilan 20
minggu.
3. Memberitahu ibu
cara mengatasi keluhan
yang dialaminya yaitu
Menganjurkan ibu di
pagi hari sewaktu
bangun tidur jangan
langsung terburu-buru
bangun cobalah duduk
dahulu dan baru
perlahan berdiri untuk
bangun.
4. Menjelaskan pada
ibu mengenai pola
kebutuhan nutrisi yang
harus dipenuhi yaitu
menganjurkan ibu
untuk menghindari
makanan yang
berminyak, berlemak
dan pedas seperti
makanan yang
digoreng, rujak,
3. Ibu mengerti
cara mengatasi
keluhan yang
dialaminya.
4. Ibu mengerti
tentang pola
nutrisi yang
diajarkan.
75
5. Beritahu ibu
tentang pola
istirahat yaitu
anjurkan ibu
istirahat cukup.
makanan yang
bersantan karena dapat
memperburuk rasa
mual. Menganjurkan
ibu untuk banyak
minum air putih atau
jus agar tidak dehidrasi
serta menghindari
minuman yang
mengandung kafein
dan karbonat seperti
kopi dan minuman
bersoda. Menganjurkan
ibu untuk diet HEG
tingkat 1 yaitu makan
sesuai kesanggupan ibu
yaitu makanan yang
cukup energy seperti
roti panggan, biscuit,
krekers, buah segar,
sari buah, minuman
botol ringan, sirup,
kaldu tak berlemak,
teh, kopi encer.
Makanan ini cukup
dalam semua zat gizi
kecuali kalsium.
5. Memberitahu ibu
tentang pola isitrahat
yaitu menganjurkan ibu
untuk isitirahat cukup
seperti tidur siang ± 1-
2 jam karena tidur
siang menguntungkan
dan baik untuk
kesehatan dan tidur
malam ± 8 jam karena
tidur malam
5. Ibu mengerti
tentang pola
istirahat yang
cukup.
76
6. Beritahu ibu
tentang pola
aktivitas yang
baik.
7.Beritahu ibu
tanda bahaya pada
kehamilan.
8. Anjurkan ibu
untuk tetap
merupakan waktu
dimana proses
pertumbuhan janin
berlangsung serta
menganjurkan ibu
dipagi hari sewaktu
bangun cobalah duduk
dahulu dan baru
perlahan berdiri
bangun.
6. Memberitahu ibu
tentang pola aktivitas
yang baik yaitu
menganjurkan ibu
untuk menghindari
mengangkat beban
yang berat,
menganjurkan ibu
untuk beraktivitas
secara bertahap jika
muntah berkurang.
7. Memberitahu ibu
tanda bahaya pada
kehamilan yaitu;
perdarahan
pervaginam, sakit
kepala yanng berat,
penglihatan kabur,
bengkak diwajah dan
jari-jari tangan, keluar
cairan pervaginam,
gerakan janin tidak
teraba, dan nyeri
abdomen yang hebat.
8. Menganjurkan ibu
untuk tetap meminum
6. Ibu telah
mengerti
tentang pola
aktivitas yang
baik.
7. Ibu telah
mengerti
tentang tanda
bahaya
kehamilan
8. Ibu telah
mengerti
77
meminum obat
yang telah
diberikan oleh
bidan.
obat yang telah
diberikan oleh bidan
yaitu meminum
vitamin B1 dan B2
yang berfungsi untuk
mempertahankan
kesehatan syaraf,
jantung, otot serta
meningkatkan
pertumbuhan dan
perbaikan sel, B6
berfungsi menurunkan
keluhan atau gangguan
mual dan muntah bagi
ibu hamil dan juga
membantu dalam
sintesa lemak untuk
pembentukan sel darah
merah, mengonsumsi
Tablet Fe yang berguna
untuk membangun
cadangan besi, sintesa
sel darah merah dan
sintesa darah otot
minimal 1 tablet
perhari atau 90 tablet
selama kehamilan.
tentang terapi
obat yang bsik
bagi ibu, dan
ibu akan rutin
meminum obat
sesuai
ketentuan yang
telah diberikan
bidan.
Jumat , 10
April
2015
Pukul
16.00
WIB
Ds :
Ibu mengatakan
mual di pagi hari
masih terasa tetapi
sedikit berkurang,
muntah menjadi 6
kali pada pagi hari
dan pada malam
hari 2 kali dan ibu
merasa masih
lemas, pusing dan
Dx ibu :
NY. S umur 36 tahun
G3P2A0 usia
kehamilan 12 minggu
6 hari dengan
Hiperemesis
Gravidarum tingkat I
Ds : Ibu mengatakan
muntah sudah
berkurang dari
HEG tingkat II Konseling pola
Nutrisi
1. Beritahu ibu
keadaannya saat
ini
1. Memberitahu ibu
keadaannya saat ini
sedikit membaik
dengan hasil
pemeriksaan
TTV :
TD : 110/70 mmHg
N : 90 x/m
S : 36,5◦C
P : 22 x/m
1. Ibu telah
mengetahui
kondisinya saat
ini.
78
berkunang.
Do :
Keadaan umum :
lemah
Kesadaran :
Composmentis
BB : 44 kg
TTV :
TD : 110/70 mmHg
S : 36,5ºC
P : 22 x/m
N : 90 x/m
sebelumnya yaitu 6
kali dalam sehari
HPHT : 10-1-2015
Tanggal kunjungan :
10-4-2015
Do :
Keadaan Umum :
Lemah
Kesadaran :
Composmentis
BB : 44 kg
Mata : cekung
Lidah : kering
Turgor kulit
mrngurang
Masalah :
Ibu masih merasakan
mual muntah
Kebutuhan :
Penanganan
Hiperemesis
Gravidarum tingkat 1
2. Kaji ulang
tentang keluhan
yang dialami ibu
3. Kaji ulang cara
mengatasi keluhan
yang dialami ibu.
4. Kaji ulang
mengenai cara
mengatur pola
nutrisi yang baik.
2. Mengkaji ulang
tentang keluhan yang
dialami ibu. Hal ini
yang dirasakan ibu
saat ini dalam
kehamilan diesbut
dengan hiperemesis
gravidarum.
3. Mengkaji ulang cara
mengatasi keluhan
yang dialaminya yaitu
Menganjurka nibu di
pagi hari sewaktu
bangun tidur jangan
langsung terburu-buru
bangun cobalah duduk
dahulu dan baru
perlahan berdiri
bangun.
4. Menjelaskan pada
ibu mengenai pola
kebutuhan nutrisi yang
harus dipenuhi yaitu
menganjurkan ibu
untuk menghindari
makanan yang
berminyak, berlemak
dan pedas seperti
makanan yang
digoreng, rujak,
makanan yang
bersantan karena dapat
memperburuk rasa
2. Ibu mengerti
tentang
keluhan yang
dirasakan saat
ini dan mual
muntah pada
ibu sudah
mulai
berkurang
yaitu 8 kali
dalam sehari.
3. Ibu sudah
mulai
mengatasi
keluhan yang
dialaminya.
4. Ibu sudah
mulai
mengatur pola
nutrisi yang
telah diajarkan.
79
5. Kaji ulang
tentang pola
istirahat yang
cukup.
mual. Menganjurkan
ibu untuk banyak
minum air putih atau
jus agar tidak dehidrasi
serta menghindari
minuman yang
mengandung kafein
dan karbonat seperti
kopi dan minuman
bersoda. Menganjurkan
ibu untuk diet HEG
tingkat 1 yaitu makan
sesuai kesanggupan ibu
yaitu makanan yang
cukup energy seperti
roti panggan, biscuit,
krekers, buah segar,
sari buah, minuman
botol ringan, sirup,
kaldu tak berlemak,
teh, kopi encer.
Makanan ini cukup
dalam semua zat gizi
kecuali kalsium.
5. Mengkaji ibu
tentang pola isitrahat
yaitu menganjurkan ibu
untuk isitirahat cukup
seperti tidur siang ± 1-
2 jam karena tidur
siang menguntungkan
dan baik untuk
kesehatan dan tidur
malam ± 8 jam karena
tidur malam
merupakan waktu
dimana proses
pertumbuhan janin
5. Ibu sudah
mulai
mengatur pola
istirahat yang
cukup sepeti
tidur siang ± 1-
2 jam malam ±
8 jam serta
menganjurkan
ibu dipagi hari
sewaktu
bangun
cobalah duduk
dahulu dan
80
6. Kaji ulang
tentang pola
aktivitas yang
baik
7. Kaji ulang
tentang tanda
bahaya pada
kehamilan.
8. Kaji ulang
tentang terapi obat
yang baik bagi
ibu.
berlangsung serta
menganjurkan ibu
dipagi hari sewaktu
bangun cobalah duduk
dahulu dan baru
perlahan berdiri
bangun.
6. Mengkaji ulang
tentang pola aktivitas
yang baik yaitu
menganjurkan ibu
untuk menghindari
mengangkat beban
yang berat,
menganjurkan ibu
untuk beraktivitas
secara bertahap jika
muntah berkurang.
7. Memberitahu
kembali pada ibu
tentang tanda bahaya
pada kehamilan yaitu;
perdarahan
pervaginam, sakit
kepala yanng berat,
penglihatan kabur,
bengkak diwajah dan
jari-jari tangan, keluar
cairan pervaginam,
gerakan janin tidak
teraba, dan nyeri
abdomen yang hebat.
8. Mengkaji ulang
tentang terapi obat
yang baik bagi ibu
yaitu menganjurkan ibu
baru perlahan
berdiri bangun.
6. Ibu sudah
mulai
mengatur pola
aktivitas yang
baik yaitu
menganjurkan
ibu untuk
menghindari
mengangkat
beban yang
berat,
7. Ibu telah
mengerti
tentang tanda
bahaya
kehamilan
8. Ibu telah
mengerti
tentang terapi
81
untuk tetap meminum
obat yang telah
diberikan oleh bidan
yaitu meminum
vitamin B1 dan B2
yang berfungsi untuk
mempertahankan
kesehatan syaraf,
jantung, otot serta
meningkatkan
pertumbuhan dan
perbaikan sel, B6
berfungsi menurunkan
keluhan atau gangguan
mual dan muntah bagi
ibu hamil dan juga
membantu dalam
sintesa lemak untuk
pembentukan sel darah
merah, mengonsumsi
Tablet Fe yang berguna
untuk membangun
cadangan besi, sintesa
sel darah merah dan
sintesa darah otot
minimal 1 tablet
perhari atau 90 tablet
selama kehamilan.
obat yang baik
bagi ibu, dan
ibu akan rutin
meminum obat
sesuai
ketentuan yang
diberikan
bidan.
Senin, 13
April
2015
Pukul
16.00
WIB
Ds :
Ibu mengatakan
mual hanya 4 kali
dan muntah hanya
2 kali dalam sehari.
Do :
Keadaan umum :
Dx :
Ny.S umur 36 tahun
G3P2A0 usia
kehamilan 13 minggu
2 hari dengan Emesis
Gravidarum
Dasar :
HEG tingkat I Konseling Pola
Nutrisi
1. Beritahu ibu
keadaanya saat ini
1. Memberitahu ibu
keadaaanya saat ini
sudah membaik.
TTV :
TD : 110/80 mmHg
P : 24 x/m
N : 87 x/m
S : 36,5 ◦C
1. Ibu telah
mengetahui
kondisinya saat
ini.
82
lemah
Kesadaran :
Composmentis
TTV :
TD : 110/80 mmHg
P : 24 x/m
N : 87 x/m
S : 36,5 ◦C
Ds :
Ibu mengatakan
merasa mual tetapi
tidak terlalu dan nafsu
makan ibu sudah ada
peningkatan.
HPHT : 10-2-2015
Tanggal Kunjungan :
13-4-2015
Do :
Keadaan umum :
Lemah
Masalah :
Rasa mual yang
masih dirasakan ibu
Kebutuhan :
Penanganan
Emesis Gravidarum
2. Kaji ulang
tentang keluhan
yang dialami ibu.
3. Kaji ulang cara
mengatasi keluhan
yang dialami ibu.
4. Kaji ulang
mengenai cara
mengatur pola
nutrisi yang baik.
2. Mengkaji ulang
tentang keluhan yang
dialami ibu. Hal ini
yang dirasakan ibu saat
ini dalam kehamilan
disebut dengan
Hiperemesis
Gravidarum.
3. Mengkaji ulang cara
mengatasi keluhan
yang dialami ibu.
4. Mengkaji ulang pada
tentang mengatur pola
nutrisi yang baik.
2. Ibu mengerti
tentang
keluhan yang
dirasakan saat
ini dan mual
muntah pada
ibu sudah
mulai
berkurang
yaitu mual 4
kali dan
muntah hanya
2 dalam sehari.
3. Ibu sudah
mulai
mengatasi
keluhan yang
dialaminya.
4. Ibu sudah
mulai
mengatur pola
nutrisi yang
diajarkan yaitu
makan
makanan yang
cukup energi
seperti roti
panggang,
biskuit,
krekers, buah,
segar, sari
buah,
minuman botol
ringan, sirup,
Kaldu tak
berlemak, dan
83
5. Kaji ulang pada
tentang pola
istirahat yang
cukup.
6. Kaji ulang
tentang pola
aktivitas yang
baik.
7. Kaji ulang
tanda bahaya pada
kehamilan.
5. Mengkaji ulang
tentang pola istirahat
yang cukup.
6.Mengkaji ulang
tentang pola aktivitas
yang baik.
7. Mengkaji ulang
tanda bahaya pada
kehamilan.
teh.
5. Ibu sudah
mulai
mengatur pola
istirahat yang
cukup sepeti
tidur siang ± 1-
2 jam malam ±
8 jam serta
menganjurkan
ibu dipagi hari
sewaktu
bangun
cobalah duduk
dahulu dan
baru perlahan
berdiri bangun.
6. Ibu sudah
mulai
mengatur pola
aktivitas yang
baik yaitu
menganjurkan
ibu untuk
menghindari
mengangkat
beban yang
berat.
7. Ibu telah
mengerti
tentang tanda
bahaya
kehamilan
84
Sabtu, 18
April
2015
Pukul
15.00
WIB
Ds :
Ibu mengatakan
mual sudah
berkurang yaitu 1-2
kali, sudah tidak
muntah lagidan
nafsu makan ibu
sudah ada
peningkatan.
Do :
Keadaan umum :
baik
Kesadaran :
Composmentis
TTV :
TD : 110/70 mmHg
P : 22 x/m
N : 80 x/m
S : 36,5 ◦C
Dx :
Ny.S umur 36 tahun
G3P2A0 usia
kehamilan 14 minggu
Dasar :
Ds :
Ibu mengatakan
merasa mual tetapi
tidak terlalu dan nafsu
makan ibu sudah ada
peningkatan.
HPHT : 10-1-2015
Tanggal Kunjungan :
18-4-2015
Do :
Keadaan umum : baik
Mata: Cekung
Masalah :
Tidak ada
Kebutuhan :
Konseling pola nutrisi
Tidak ada Tidak ada 1. Beritahu ibu
keadaanya saat ini
2. Evaluasi
tentang keluhan
yang dialami ibu.
3.Evaluasi cara
mengatasi keluhan
yang dialami ibu.
4. Evaluasi
mengenai cara
mengatur pola
nutrisi yang baik.
5. Evaluasi
tentang pola
1. Memberitahu ibu
keadaaanya saat ini
sudah membaik.
TTV :
TD : 110/70 mmHg
P : 22 x/m
N : 80 x/m
S : 36,5 ◦C
2. Mengevaluasi
tentang keluhan yang
dialami ibu.
3. Mengevaluasi
mengatasi keluhan
yang dialami ibu.
4. Mengevaluasi
mengenai cara
mengatur pola nutrisi
yang baik.
5. Mengevaluasi
tentang pola istirahat
1. Ibu telah
mengetahui
kondisinya saat
ini.
2. Ibu mengerti
tentang
keluhan yang
dirasakan saat
ini dan mual
muntah pada
ibu sudah
mulai
berkurang
yaitu mual
hanya 1-2 kali
dalam sehari
dan sudah
tidak muntah
lagi.
3. Ibu sudah
dapat
mengatasi
keluhan yang
dialaminya.
4. Ibu sudah
mulai
mengatur pola
nutrisi yang
diajarkan
5. Ibu sudah
mulai
85
istirahat yang
cukup.
6. Evaluasi
tentang pola
aktivitas yang
baik.
7. Evaluasi
tentang terapi obat
bagi ibu.
yang cukup.
6. Mengevaluasi
tentang pola aktivitas
yang baik.
7. Mengevaluasi ibu
tentang terapi obat
yang baik bagi ibu
yaitu menganjurkan ibu
untuk tetap meminum
obat yang telah
diberikan oleh bidan
yaitu meminum
vitamin B1 dan B2
yang berfungsi untuk
mempertahankan
kesehatan syaraf,
mengatur pola
istirahat yang
cukup sepeti
tidur siang ± 1-
2 jam malam ±
8 jam serta
menganjurkan
ibu dipagi hari
sewaktu
bangun
cobalah duduk
dahulu dan
baru perlahan
berdiri bangun.
6. Ibu sudah
mulai
mengatur pola
aktivitas yang
baik yaitu
menganjurkan
ibu untuk
menghindari
mengangkat
beban yang
berat.
7. Ibu telah
mengerti
tentang terapi
obat yang baik
bagi ibu dan
ibu telah rutin
meminum obat
yang diberikan
bidan.
86
8. Beritahu ibu
kunjungan ulang
ke tenaga
kesehatan.
jantung, otot serta
meningkatkan
pertumbuhan dan
perbaikan sel, B6
berfungsi menurunkan
keluhan atau gangguan
mual dan muntah bagi
ibu hamil dan juga
membantu dalam
sintesa lemak untuk
pembentukan sel darah
merah, mengonsumsi
Tablet Fe yang berguna
untuk membangun
cadangan besi, sintesa
sel darah merah dan
sintesa darah otot
minimal 1 tablet
perhari atau 90 tablet
selama kehamilan.
8. Memberitahu ibu
kunjungan ulang ke
tenaga kesehatan
minimal setiap 1 bulan
sekali dalam trimester
1 atau apabila ibu
mengalami keluhan
sebelum waktu
kunjungan ulang.
8. Ibu mengerti
tentang
kunjungsn
ulang yang
dianjurkan, ibu
bersedia untuk
datang
kunjungan
ulang ke
tenaga
kesehatan.
87
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pengumpukan Data Dasar
Pada asuhan kebidanan yang telah dilakukan terhadap Ny.S umur 36 tahun
G3P2A0 usia kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum
tingkat 1. Didapatkan hasil sebagai berikut :
Data subjektif
4.1.1 Umur
4.1.1.1 Menurut teori
Umur perlu diketahui guna mengetahui apakah klien dalam
kehamilan yang berisiko atau tidak. Usia di bawah 16 tahun
dan diatas 35 tahun merupakan umur-umur yang berisiko
tinggi untuk hamil. Umur yang baik untuk kehamilan maupun
persalinan adalah 19-25 tahun (Walyani, 2015; h. 118).
4.1.1.2 Tinjauan Kasus
Pada kasus ini Ny.S berumur 36 tahun
4.1.1.3 Pembahasan
Pada tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan antara teori dan kasus karena, menurut teori usia
di bawah 16 tahun dan diatas 35 tahun merupakan umur-umur
yang berisiko tinggi untuk hamil. Menurut kasus yang ditemui
umur Ny.S yaitu 36 tahun. Dan ini sudah dikategorikan
88
resiko tinggi kehamilan dimana ibu juga mengalami
Hiperemesis Gravidarum.
4.1.2 Suku
4.1.2.1 Tinjauan teori
Ras, etnis dan keturunan harus diidentifikasi dalam rangka
memberikan perawatan yang peka budaya kepada klien
dan mengidentifikasi wanita atau keluarga yang memiliki
kondisi resesif otosom dengan insiden yang tinggi pada
populasi tertentu. Jika kondisi yang demikian
diidentifikasi, wanita tersebut diwajibkan menjalani
skrining genetik (Walyani, 2015; h. 118).
4.1.2.2 Tinjauan kasus
Dari kasus Ny.Sdan Tn. P bersuku Jawa.
4.1.2.3 Pembahasan
Dari pembahasan di atas tidak terdapat kesenjangan antara
teori dan kasus karena ibu tidak memiliki kebiasaan adat
istiadat sehari-hari yang berpengaruh pada masa hamil.
4.1.3 Pendidikan
4.1.3.1 Tinjauan teori
Pendidikan berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan
untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya,
sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai
dengan pendidikannya (Ambarwati, 2008; h. 132).
89
Pendidikan klien ditanyakan untuk mengetahui tingkat
intelektualnya. Tingkat pendidikan mempengaruhi sikap
perilaku kesehatan seseorang (Estiwidani, 2008 ;h. 141).
4.1.3.2 Tinjauan kasus
Dalam kasus ini Ny. S berpendidikan terakhir SMP
4.1.3.3 Pembahasan
Dari pembahasan di atas tidak terdapat kesenjangan antara
teori dengan hasil pemeriksaan karena Ny.S memiliki
pendidikan SMP sesuai dengan dan kasus yaitu
pendidikan berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan
untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya,
sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai
pendidikannya.
4.1.4 Keluhan Utama
4.1.4.1 Tinjauan teori
Hiperemesis gravidarum adalah Mual (nausea) dan
muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan
sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual
biasanya terjadi pada pagi hari , tetapi dapat pula timbul
setiap saat dan malam hari. Gejala –gejala ini kurang lebih
terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan
berlangsung selama kurang lebih 10 minggu
(Prawirohardjo, 2007; h. 275).
90
4.1.4.2 Tinjauan kasus
Berdasarkan hasil tinjauan kasus, Ny. S mengatakan mual
muntah lebih dari 10 kali dalam sehari dan telah
menggaanggu aktivitas.
4.1.4.3 Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus dimana Ny.S
mengalami HEG yaitu merasakan mual dan muntah yang
terlalu sering lebih dari biasanya sehingga mengganggu
aktivitasnya sehari-hari.
4.1.5 Pola kehidupan sehari-hari
4.1.5.1 Nutrisi dan cairan
1) Tinjauan teori
Pada saat hamil ibu harus makan makanan yang
mengandung nilai gizi bermutu tinggi meskipun tidak
berarti makanan yang mahal. Gizi pada waktu hamil
harus ditingkatkan hingga 300 kalori per hari, ibu
hamil harus mengonsumsi yang mengandung protein,
zat besi, dan minum cukup cairan (menu seimbang).
Penuhi melalui aneka sumber karbohidrat (nasi, mie,
roti, sereal, pasta), dilengkapi sayuran, buah, daging-
dagingan atau ikan-ikanan, susu dan produk olahannya
(Walyani, 2015; h. 94).
91
2) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan selama hamil kurang nafsu makan, ibu
makan tidak teratur dengan porsi sedikit yaitu dengan
setengah porsi dari porsi biasanya. Ibu lebih sering
makan makanan seperti biskuit, jagung, umbi-umbian
yaitu singkong, mantang dan minum 3-4 gelas perhari.
3) Pembahasan
Terdapat kesenjangan antara teori dan kasus karena ibu
tidak mengonsumsi makanan yang bernutrisi baik
untuk ibu hamil.
4.1.5.2 Defekasi
1) Tinjauan teori
Keluhan yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan
dengan eliminasi adalah konstipasi dan sering buang
air kemih. Konstipasi terjadi karena adanya pengaruh
hormone progesterone yang mempunyai efek rileks
terhadap otot polos, salah satunya otot usus, selain itu
desakan usus oleh pembesaran janin juga
menyebabkan bertambahnya konstipasi (Walyani,
2015; h. 103).
2) Tinjauan kasus
Berdasarkan hasil tinjauan kasus ibu mengatakan BAB
1 hari sekali dengan konsistensi keras.
92
3) Pembahasan
Tidak terjadi kesenjangan antara tinjauan teori dan
kasus karena menurut teori pada ibu hamil TM I
mengalami konstipasi akibat pengaruh hormon
progesteron. Namun berdasarkan pengkajian ibu
mengatakan BAB 1 kali sehari selama hamil dengan
konsistensi keras.
4.1.5.3 Miksi
1) Tinjauan teori
Sering buang air kecil merupakan keluhan yang
umum dirasakan oleh ibu hamil, terutama pada
trimester I dan III. Hal tersebut adalah kondisi yang
fisiologis. Ini terjadi pembesaran uterus yang
mendesak kantung kemih sehingga kapasitasnya
berkurang (Walyani, 2015; h. 103).
2) Tinjauan kasus
Berdasarkan hasil tinjauan kasus Ny.S mengatakan
BAK 4-5 kali sehari warna kuning pekat, berbau
khas urine.
3) Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena
tidak ada masalah yang berhubungan dengan miksi.
93
Data objektif
4.1.8 Tanda-tanda vital
4.1.8.1 Tekanan darah
1) Tinjauan teori
Tekanan darah yang normal adalah 110/80 mmHg
sampai 140/90 mmHg. Bila > 140/90 mmHg, hati-hati
adanya Hipertensi/ preeklampsi (Walyani, 2015; h. 86).
Namun pada Hiperemesis gravidarum, tekanan darah
sistolik menurun dari biasanya (Runiari, 2010; h. 38).
2) Tinjauan kasus
Setelah dilakukan pemeriksaan, tekanan darah Ny.S
100/70 mmHg. Namun ibu mengatakan sebelum hamil
tekanan darah ibu biasanya mencapai 120/80 mmHg.
3) Pembahasan
Pada kasus ini tidak ada kesenjangan antara teori dan
kasus karena tekanan darah Ny.S 100/70 mmHg dan ibu
mengatakan sebelum hamil tekanan darah ibu biasanya
mencapai 120/80 mmHg sebagaimana menurut teori
tekanan darah sistolik menurun dari biasanya.
94
4.1.8.2 Nadi
1) Tinjauan teori
Nadi normal adalah 60 sampai 100 menit.
Bila abnormal mungkin ada kelainan paru-paru atau
jantung (Walyani, 2015; h. 86).
Namun pada Hiperemesis Gravidarum tingkat I,
nadi menginkat sampai 100 kali permenit (Runiari,
2010; h. 38).
2) Tinjauan kasus
Setelah dilakukan pemeriksaan nadi Ny.S mencapai
110 kali permenit.
3) Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena
nadi ibu mengalami peningkatan.
4.1.8.3 Suhu
1) Tinjauan teori
Suhu badan normal adalah 36,5◦C sampai 37,5◦C. Bila
suhu lebih tinggi dari 37,5◦C kemungkinan ada infeksi
(Walyani, 2015; h. 86).
2) Tinjauan kasus
Suhu badan Ny.S normal yaitu 36,5◦C
95
3) Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena
sesuai dengan teori karena suhu badan ibu normal
4.1.8.4 Berat Badan
1) Tinjauan teori
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah
berlebihan yang terjadi pada wanita hamil sehingga
menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan kadar
penurunan elektrolit, penurunan berat badan (lebih dari 5%
berat badan awal), dehidrasi, ketosis, dan kekurangan
nutrisi (Sherwan, 1999; Old, 2000; Micheline, 2004;
Edelman, 2004; Paawi, et al., 2005) (Runiari, 2010; h.8).
2) Tinjauan Kasus
Berat badan ibu sebelum hamil 47 kg, Berat badan sekarang
44 kg.
3) Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus, karena
berat badan ibu menurun lebih dari 5% dari berat badan ibu
sebelum hamil.
96
4.1.9 Pemeriksaan fisik
4.1.9.1 Mata
1) Tinjauan teori
Pada pemeriksaan fisik ibu pada daerah wajah ibu
terlihat mata cekung karena dehidrasi ringan yang
dialami ibu yang dikarenakan muntah >10 kali/hari dan
kurangnya intake cairan pada ibu. Hiperemesis
Gravidarum tingkat 1 ditandai dengan muntah terus-
menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita,
ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan
menurun dan nyeri epigastrium. Nadi meningkat sekitar
100 per menit, tekanan darah sistolik menurun, turrgor
kulit mengurang, lidah mengering dan mata cekung
(Runiari, 2010; h.13).
2) Tinjauan kasus
Berdasarkan hasil tinjauan kasus terhadap Ny.S keadaan
kelopak mata cekung, konjungtiva pucat dan sklera putih
3) Pembahasan
Dari tinjauan kasus diatas tidak terdapat kesenjangan
karena tinjauan kasus yang didapat sesuai dengan
tinjauan teori karena keadaan pada kelopak mata cekung,
konjungtiva pucat dan sklera putih.
97
4.1.9.2 Mulut
1) Tinjauan teori
Menurut Runiari hiperemesis gravidarum merupakan
komplikasi pada kehamilan muda, bila terjadi terus
menerus dapat menyebabkan dehidrasi,
ketidakseimbangan elektrolit, oksidasi lemak yang
tidak sempurna menyebabkan ketosis dengan
tertimbunnya asam asetosetik dan aseton dalam darah
(Runiari, 2010; h.11).
2) Tinjauan kasus
Berdasarkan hasil tinjauan kasus terhadap Ny.S terlihat
bibir dan lidah nampak kering.
3) Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan karena antara tinjauan teori
sesuai dengan tinjauan kasus karena kekurangan intake
dan kehilangan cairan akibat muntah menyebabkan
dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma
berkurang.
4.1.9.3 Turgor Kulit
1) Tinjuauan Teori
Pada Hiperemesis Gravidarum tingkat I salah satunya
ditandai dengan turgor kulit menurun ditandai dengan
98
kelembapan dan elastic berkurang (Mitayani, 2010; h.
41).
2) Tinjuauan kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan pada Ny.S turgor kulit
menurun ditandai dengan kelembapan dan elastis kulit
berkurang.
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan kasus diatas tidak
terdapat kesenjangan karena hasil pemeriksaan sesuai
dengan teori yang ada, turgor kulit Ny.S menurun
dengan ditandai kelembapan dan elastic kulit
berkurang disebabkan karena Ny.S mengalami
Hiperemesis Gravidarum tingkat I.
4.1.10 Pemeriksaan Laboratotium
HB (Haemoglobin)
1) Tinjauan Teori
Pemeriksaan HB dilakukan pada kunjungan ibu hamil yang
pertama kali, lalu periksa lagi menjelang persalinan.
Pemeriksaan HB adalah salah satu upaya untuk mendeteksi
adanya anemia pada ibu hamil (Elisabeth, 2015; hal.81).
Hiperemesis Gravidarum akan menyebabkan penurunan
penyerapan Fe dan penggunaan zat besi serta perdarahan pada
99
saluran cerna yang membuat kadar Fe menurun (Manuaba,
2010; h. 233).
2) Tinjauan Kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan kadar HB ibu 8,2 gr% (anemia
sedang).
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus diatas, tidak
terdapat kesenjangan karena berdasarkan teori yang ada,
Hiperemesis Gravidarum dapat menyebabkan penurunan
penyerapan Fe, sehingga terjadi anemia.
4.2 Interpretasi data
4.2.1 Diagnosa
4.2.1.1 Tinjauan teori
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap rumusan
diagnosis, masalah, dan kebutuhan pasien berdasarkan
interprestasi yang benar atas data-data yang telah
dikumpulkan.Langkah awal dari perumusan diagnosis atau
masalah adalah pengolahan data dan analisis dengan
menggabungkan data satu dengan lainnya sehingga
tergambar fakta (Sulistyawati, 2009; h.191).
Dalam langkah kedua ini Bidan membagi interpretasi data
dalam tiga bagian, yaitu sebagai berikut.
100
1.Diagnosis Kebidanan /Nomenklatur
Dalam bagian ini yang disimpulkan oleh bidan antara
lain sebagai berikut.
a) Paritas
Pasien adalah riwayat reproduksi seorang wanita
yang berkaitan dengan kehamilannya (jumlah
kehamilan). Dibedakan dengan primigravida (hamil
yang pertama kali) dan multigravida (hamil yang
kedua atau lebih. Contoh cara penulisan paritas
dalam interpretasi data adalah sebagai berikut.
1) Primigravida
a. G1 (gravid 1) atau hamil yang pertama kali
b. P0 (partus mol) berarti belum pernah partus
atau melahirkan
c. A0 (abortus nol) berarti belum pernah
mengalami abortus
2) Multigravida
a. G3(gravid 3) atau ini adalah
kehamilannyayang ketiga
b. P1 (partus 1) atau sudah pernah mengalami
persalinan satu kali.
c. A1 (abortus 1) atau sudah pernah mengalami
abortus satu kali
101
b) Usia kehamilan dalam minggu
c) Keadaan janin
d) Normal atau tidak normal(Sulistyawati, 2009;
h. 191).
4.2.1.2 Tinjauan kasus
Pada Ny.S didapatkan diagnosa kebidanan ibu hamil yaitu
Ny.S umur 36 tahun G3P2A0usia kehamilan 12 minggu 3
hari dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat I. Data dasar
dari diagnosa kebidanan tersebut diperoleh dari Ibu
mengatakan ini adalah kehamilan ketiga, pernah
melahirkan dua kali dan tidak pernah keguguran. HPHT :
10-1-2015
4.2.1.3 Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan
tinjauan kasus karena menurut tinjauan teori dan kasus
yang didapat sesuai dengan kondisi ibu.
4.2.2 Masalah
4.2.2.1 Tinjauan teori
Dalam asuhan kebidanan digunakan istilah “masalah” dan
“diagnosis”. Kedua istilah tersebut dipakai karena
beberapa masalah tidak dapat didefinisikan sebagai
diagnosis, tetapi tetap perlu dipertimbangkan untuk
membuat rencana yang menyeluruh. Masalah sering
102
berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami
kenyataan terhadap diagnosisnya (Sulistyawati, 2009; h.
192).
4.2.2.2. Tinjauan kasus
Ibu mengatakan mual dan muntah sehingga mengganggu
aktivitas
4.2.2.3 Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus dimana
masalah berdasarkan pernyataan pasien.
4.2.3 Kebutuhan
4.2.3.1 Tinjauan teori
Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien
berdasarkan keadaan dan masalahnya. Masalah sering
berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami
kenyataan terhadap diagnosisnya (Sulistyawati, 2009; h.
194).
4.2.3.2 Tinjauan kasus
Pada kasus Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 usia kehamilan 12
minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat I
kebutuhannya yaitu penjelasan keluhan yang dialami ibu
dan melakukan diet hiperemesis Gravidarum tingkat I.
103
4.2.3.3 Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus di mana
kebutuhan sesuai dengan kondisi ibu.
4.3 Diagnosa potensial
4.3.1 Tinjauan teori
Pada langkah ketiga kita mengidentifikasi masalah potensial atau
diagnosis potensial berdasarkan diagnosis/masalah yang sudah
diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila
memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat
waspada dan bersiap-siap mencegah diagnosis/masalah potensial
ini menjadi kenyataan. Langkah ini penting sekali dalam
melakukan asuhan yang aman. Pada langkah ketiga ini bidan
dituntut untuk mampu mengantisipasi maslah potensial, tidak
hanya merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosis
tersebut tidak terjadi. Langkah ini bersifat antisipasi yang
rasional/logis (Sulistyani, 2009; h. 195).
4.3.1 Tinjauan kasus
Pada kasus ini ditemukan diagnosa potensial yaitu HEG tingkat II.
4.3.2 Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus apabila kasus
tidak ditangani maka akan terjadi HEG tingkat II.
104
4.4 Tindakan segera
4.4.1 Tinjauan teori
Bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau dokter melakukan
konsultasi atau penanganan segera bersama anggota tim kesehatan
lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah keempat
mencerminkan kesinambungan proses manajemen langkah
kebidanan. Jadi manajemen tidak berlangsung selama asuhan
primer periodik atau kunjungan prenatal saja, tetapi juga selama
wanita tersebut dalam dampingan bidan (Sulistyawati, 2009 ; h.
196).
4.4.2 Tinjauan kasus
Pada kasus terdapat tindakan segera yang dilakukan yaitu
konseling pola nutrisi pada Ny.S.
4.4.3 Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ditemukan
kesenjangan karena pada tinjauan kasus ada tindakan segera yang
dilakukan yaitu konseling pola nutrisi pada Ny.S
4.5 Perencanaan.
Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh yang ditentukan
berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan
kelanjutan manajemen untuk masalah diagnosis yang telah diidentifikasi
atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi yang tidak lengkap dapat
dilengkapi(Sulistyawati, 2009; h. 196).
105
4.5.1 Tinjauan teori
1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan
2. Jelaskan pada ibu tentang keluhan yang dialami ibu
3. Beritahu ibu cara mengatasi keluhan yang dialaminya.
4. Jelaskan pada ibu mengenai cara mengatur pola nutrisi yang
harus dipenuhi.
5. Beritahu ibu tentang pola istirahat yaitu anjurkan ibu
istirahat cukup.
6. Beritahu ibu tentang pola aktivitas yang baik
7. Beritahu ibu tanda bahaya pada kehamilan.
8. Anjurkan ibu untuk tetap meminum obat yang telah diberikan
oleh bidan.
9. Beritahu ibu kunjungan ulang ke tenaga kesehatan.
4.5.2 Tinjauan kasus
1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan
2. Jelaskan pada ibu tentang keluhan yang dialami ibu
3. Beritahu ibu cara mengatasi keluhan yang dialaminya.
4. Jelaskan pada ibu mengenai cara mengatur pola nutrisi yang
harus dipenuhi.
5. Beritahu ibu tentang pola istirahat yaitu anjurkan ibu
istirahat cukup.
6. Beritahu ibu tentang pola aktivitas yang baik
7. Beritahu ibu tanda bahaya pada kehamilan.
106
8. Anjurkan ibu untuk tetap meminum obat yang telah diberikan
oleh bidan.
9. Beritahu ibu kunjungan ulang ke tenaga kesehatan.
4.5.3 Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ditemukan
kesenjangan karena pada tinjauan kasus dan tinjauan teori sesuai.
4.6 Pelaksanaan
4.6.1 Tinjauan teori
Pada langkah keenam, rencana asuhan menyeluruh dilakukan
dengan efisien dan aman. Pelaksanan ini bisa dilakukan
seluruhnya oleh bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau
anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukannya
sendiri, namun ia tetap memikul tanggung jawab untuk
mengarahkan pelaksanaanya (misalnya dengan memastikan bahwa
langkah tersebut benar-benar terlaksana). Dalam situasi ketika
bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang
mengalami komplikasi, bidan tetap bertanggung jawab terhadap
terlaksananya rencana bersama yang menyeluruh tersebut.
Penatalaksanaan yang efisien dan berkualitas akan berpengaruh
pada waktu serta biaya (Sulistyawati, 2009; h. 198).
4.6.2 Tinjauan kasus
1. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan saat ini bahwa ibu
dalam keadaan kurang baik, dengan hasil pemeriksaan yaitu :
107
TD : 110/ 70 mmHg
N : 110 x/m
S : 36,5◦C
P : 22x/m
BB : 44 kg
Mata : cekung
Lidah : kering
2. Menjelaskan pada ibu tentang keluhan yang dialami oleh ibu
yaitu ibu mengalami Hiperemesis Gravidarum, adalah mual
muntah yang berlebihan yang terjadi pada wanita hamil
sehingga menyebabkan terjadinya ketidakseumbangan kadar
elektrolit, penurunan berat badan, dehidrasi, ketosis, danm
kekurangan nutrisi. Hal tersebut mulai terjadi pada minggu
keempat sampai kesepuluh kehamilan dan selanjutnya akan
membaik umumnya pada usia kehamilan 20 minggu.
3. Memberitahu ibu cara mengatasi keluhan yang dialaminya
yaitu menganjurkan ibu di pagi hari sewaktu bangun tidur
jangan langsung terburu-buru bangun cobalah duduk dahulu
dan baru perlahan berdiri untuk bangun.
4. Menjelaskan pada ibu mengenai pola kebutuhan nutrisi yang
harus dipenuhi yaitu menganjurkan ibu untuk menghindari
makanan yang berminyak, berlemak dan pedas spserti
makanan yang digoreng, rujak, makanan yang bersantan
108
karena dapat memperburuk rasa mual. Menganjurkan ibu
untuk banyak minum air putih atau jus agar tidak dehidrasi
serta menghindari minuman yang mengandung kafein dan
karbonat seperti kopi dan minuman bersoda. Menganjurkan
ibu untuk diet HEG tingkat I yaitu makan sesuai
kesanggupan ibu yaitu makanan yang cukup energi seperti
roti panggang, biskuit, krekers, buah, segar, sari buah,
minuman botol ringan, sirup, Kaldu tak berlemak, teh dan
kopi encer. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali
kalsium.
5. Memberitahu ibu tentang pola isitrahat yaitu menganjurkan
ibu dengan isitirahat cukup sepeti tidur siang ± 1-2 jam
karena tidur siang menguntungkan dan baik untuk kesehatan
dan tidur malam ± 8 jam karena tidur malam merupakan
waktu dimana proses pertumbuhan janin berlangsung serta
menganjurkan ibu dipagi hari sewaktu bangun cobalah duduk
dahulu dan baru perlahan berdiri bangun.
6. Memberitahu ibu tentang pola aktivitas yang baik yaitu
menganjurkan ibu untuk menghindari mengangkat beban
yang berat, menganjurkan ibu untuk beraktivitas secara
bertahap jika muntah berkurang.
7. Memberitahu ibu tanda bahaya pada kehamilan yaitu;
perdarahan pervaginam, sakit kepala yanng berat, penglihatan
109
kabur, bengkak diwajah dan jari-jari tangan, keluar cairan
pervaginam, gerakan janin tidak teraba, dan nyeri abdomen
yang hebat.
8. Meganjurkan ibu untuk tetap meminum obat yang telah
diberikan oleh bidan yaitu meminum vitamin B1 dan B2 yang
berfungsi untuk mempertahankan kesehatan syaraf, jantung,
otot, serta meningkatkan pertumbuhan dan perbaikan sel dan
B6 berfungsi menurunkan keluhan atau gangguan mual dan
muntah bagi ibu hamil dan juga membantu dalam sintesa
lemak untuk pembentukan sel darah merah.
9. Memberitahu ibu kunjungan ulang ke tenaga kesehatan
minimal setiap 1 bulan sekali dalam trimester 1 atau apabila
ibu mengalami keluhan sebelum waktu kunjungan ulang.
4.6.3 Pembahasan
Berdasarkan kasus diatas tidak terdapat kesenjangan antara teori
dan praktek, karena pelaksanaan asuhan yang diberikan terhadap
Ny. S sesuai dengan perencanaan.
4.7 Evaluasi
4.7.1 Tinjauan teori
Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan yang kita
berikan kepada pasien, kita mengacu kepada beberapa
pertimbangan berikut ini.
110
1. Tujuan Asuhan Kebidanan
a. Meningkatkan, mempertahankan, dan mengembalikan
kesehatan.
b. Memfasilitasi ibu untuk menjalani kehamilannya dengan
rasa aman dan penuh percaya diri.
c. Meyakinkan wanita dan pasangannya untuk
mengembangkan kemampuannya sebagai orangtua dan
untuk mendapatkan pengalaman berharga sebagai orangtua.
d. Membantu keluarga untuk mengidentifikasi dan memenuhi
kebutuhan mereka dan mengemban tanggung jawab
terhadap kesehatannya sendiri.
2. Efektivitas Tindakan untuk Mengatasi Masalah.
Dalam melakukan evaluasi seberapa efektif tindakan dan asuhan
yang kita berikan kepada pasien, kita perlu mengkaji respons dan
peningkatan kondisi yang kita targetkan pada saat penyusunan
perencanaan. Hasil pengkajian ini kita jadikan sebagai acuan dalam
pelaksanan asuhan berikutnya (Sulistyawati, 2009; h. 200-201).
1. Ibu telah mengetahui kondisinya saat ini.
2. Ibu mengerti tentang keluhan yang dirasakan saat ini dan
mual muntah pada ibu sudah mulai berkurang yaitu mual
hanya 1-2 kali dalam sehari dan sudah tidak muntah lagi.
3. Ibu sudah mulai mengatasi keluhan yang dialaminya.
4. Ibu sudah dapat mengatur pola nutrisi yang diajarkan.
111
5. Ibu sudah mulai mengatur pola istirahat yang cukup seperti
tidur siang ± 1-2 jam malam ± 8 jam serta menganjurkan
ibu dipagi hari sewaktu bangun cobalah duduk dahulu dan
baru perlahan berdiri bangun.
6. Ibu sudah mulai mengatur pola aktivitas yang baik yaitu
menganjurkan ibu untuk menghindari mengangkat beban
yang berat.
7. Ibu telah mengerti tentang tanda bahaya kehamilan.
8. Ibu telah mengerti tentang terapi obat yang baik bagi ibu
dan ibu telah rutin meminum obnat yang diberikan bidan.
9. Ibu mengerti tentang kunjungan ulang yang dianjurkan,ibu
bersedia untuk datang kunjungan ulang ke tenagakesehatan.
4.7.1 Tinjauan kasus
Ibu telah paham dan mengerti tentang keluhan dan konseling yang
telah dijelaskan.
4.7.2 Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena evaluasi telah
dilakukan secara efektif sesuai kondisi ibu.
112
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan Asuhan Kebidanan pada ibu hamil dengan Hiperemesis
Gravidarum terhadap Ny.S umur 36 tahun G3P2 A0 Usia Kehamilan 12
minggu 3 hari di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb, maka penulis
dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
5.1.1 Dalam melakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil terhadap
Ny.S penulis telah melaksanakan pengkajian data dasar yang
meliputi data subjektif dan data objektif. Pengkajian dilakukan
menggunakan manajemen varney yaitu:
Data Subjektif : Ibu mengatakan mual dan muntah setiap pagi
hari dan sudah lebih dari 10 kali dalam sehari, serta ibu merasa
lemas, pusing serta lidah ibu terasa kering.
Data Objektif : Pada pemeriksaan mata tampak cekung,
konjungtiva pucat, lidah tampak kering dan kotor.
5.1.2 Penulis telah melakukan interpretasi data dasar berdasarkan hasil
pengumpulan data Ny. S umur 36 tahun G3P2A0 usia kehamilan 12
minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum di BPS
Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa BandarLampung
Tahun 2015.
113
5.1.3 Penulis menemukan diagnosa potensial terhadap Ny. S dengan
Hiperemesis Gravidarum tingkat I yang jika tidak segera ditangani
dapat menyebabkan Hiperemesis Gravidarum tingkat II, karena
masalah Ny.S tidak dapat menangani Hiperemesis Gravidarum
5.1.4 Penulis telah melakukan antisipasi sebagaimana dalam teori yaitu
melakukan penanganan Hiperemesis Gravidarum tingkat I yaitu
cara mengatasi keluhan yang dialami ibu sehingga apabila
Hiperemesis Gravidarum tidak ditangani akan mungkin terjadi
komplikasi pada ibu hamil.
5.1.5 Penulis telah merencanakan asuhan kebidanan dengan diet nutrisi
sesuai dengan kebutuhan terhadap Ny.S yaitu menjelaskan kepada
Ny.S mengenai cara mengatur pola nutrisi makanan yang tidak
memicu mual, tidak berbumbu tajam, dan menghindari makanan
yang mengandung gas seperti durian, brokoli, asfaragus.
5.1.6 Penulis telah melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan yang
telah direncanakan dalam kasus ini.
5.1.7 Penulis telah melaksanakan evaluasi padakasus ibu hamil yaitu Ny.
S dengan diet nutrisi sesuai dengan asuhan yang telah tertera pada
matriks. Dimana Ny. S telah mengerti tentang keadaannya saat ini,
dan mengerti tentang diet nutrisi sesuai dengan kebutuhannya saat
ini.
114
5.2 Saran
Berdasarkan simpulan diatas, maka peneliti dapat menyimpulkan saran
sebagai berikut:
5.2.1 Bagi Lahan Praktek
Diharapkan agar studi kasus ini dapat digunakan sebagai masukan
dalam upaya meningkatkan kualitas tenaga kesehatan (bidan) di
BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb untuk memberikan
pelayanan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan diet nutrisi
sesuai dengan kebutuhan Hiperemesis Gravidarum dan
meningkatkan jumlah cakupan kesehatan pada ibu hamil
khususnya di wilayah Bandar Lampung.
5.2.2 Bagi Instansi
Diharapkan bagi petugas kesehatan untuk meningkatkan pelayanan
yang berupa penyuluhan atau konseling pada ibu hamil tentang
Hiperemesis Gravidarum.
5.2.3 Bagi Masyarakat
Diharapkan bagi Ny. S dapat menerapkan diet nutrisi sesuai
dengan kebutuhan hiperemesis gravidarum dengan benar, sehingga
dapat mencegah terjadinya kegawatan maternal dan neonatal.
5.2.4 Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan study kasus ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman penulis serta sebagai media untuk menerapkan ilmu
yang telah didapat selama kuliah, khususnya mata kuliah asuhan
115
kebidanan pada ibu hamil dan penulis mampu menjadi salah satu
bidan profesional dalam penanganan Hiperemesis Gravidarum
untuk menurunkan tingkat AKI.
116
DAFTAR PUSTAKA
Ayu, Ida Manuaba, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB.
Jakarta : EGC
Elisabeth, 2015. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan. Yogyakarta : Pustaka Baru
Mitayani, 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika
Notoatmojo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta
Pantiawati, Ika dan Saryono. 2010. Asuhan Kebidanan 1 (Kehamilan).
Yogyakarta : Muha Medika
Prawihardjo, Sarwono. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka
Prawihardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka
Prawihardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka
Rukiyah, Ai Yeyeh dan Yulianti Lia. 2010. Asuhan Kebidanan 4 Patologi.
Jakarta: CV. Trans Info Media
Runiari, Nengah 2010. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Hiperemesis
Gravidarum;Penerapan Konsep dan Teori Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika
Soepardan, Suryani. 2007. Konsep Kebidanan. Jakarta : EGC
Sofyan, Mustika Dkk. 2006. 50 Tahun Ikatan Bidan Indonsesia Bidan
menyongsong masa depan. Jakarta : PP IBI
Sulistyawati, Ari. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan. Jakarta : Salemba
Medika
Walyani, Elizabeth. 2015. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan. Yogyakarta :
Pustaka Baru Press
Yulifa, Rita. 2011. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta : Salemba Medika
117
DOKUMENTASI
(Memberikan Konseling tentang Nutrisi yang baik)
(Melakukan Pemeriksan HB)
118
SATUAN ACARA PENYULUHAN
HIPEREMESIS GRAVIDARUM
OLEH : NOVIYANTI PUTRI
NIM : 201207107
AKADEMI KEBIDANAN ADILA
BANDARLAMPUNG
TAHUN 2015
119
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok Bahasan :Asuhan pada Ibu Hamil
Sub Pokok Bahasan :Hiperemesis Gravidarum
Sasaran : Ibu hamil
Hari / Tanggal : 9 April 2015
Waktu : 15.00 WIB
Tempat : Di rumah
Penyuluh : Noviyanti Putri
A. Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberikan penyuluhan, sasaran mampu memahami
pentingnya kesehatan pada kehamilan.
B. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberikan penjelasan selama 30 menit diharapkan sasaran
dapat
1. Menjelaskan pengertian dari Hiperemesis Gravidarum dengan
benar
2. Menyebutkan Gejala dan tanda dari Hiperemesis Gravidarum
dengan benar
3. Menjelaskan ulang tentang diet yang benar untuk Hiperemesis
Gravidarum
C. Metode pelaksanaan
Ceramah dan Tanya jawab
D. Media
Leaflet dan lembar balik
120
E. Evaluasi
Pertanyaan
1. Apa pengertian dari Hiperemesis gravidarum?
2. Sebutkan gejala dan tanda Hiperemesis Gravidarum!
3. Jelaskan tentang diet yang benar untuk Hiperemesis
Gravidarum!
F. Jawaban
1. Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang
berlebihan pada ibu hamil, seorang ibu menderita
hiperemesis gravidarum jika seorang ibu memuntahkan
segala yang dimakan dan diminumnya hingga berat badan
ibu sangat turun,turgor kulit kurang diurese kurang
dan timbul aseton dalam kencing.
2. Gejala dan tanda Hiperemesis Gravidarum :
Tingkat 1 :
 Muntah terus menerus
 Nafsu makan berkurang
 Berat badan menurun
 Kulit dehidrasi
 TD menurun dan nadi meningkat
 Lidah kering, mata cekung
Tingkat 2 :
 Penderita tampak lemah
 Gejala dehidrasi makin tampak mata cekung, lidah
kering dan kotor
 Berat badan makin menurun
 Tekanan daran turun, nadi meningkat
 Gangguan BAB
121
Tingkat 3 :
 Muntah berkurang
 Keadaan umum makin menurun
 Kesadaran nya samnolen sampai koma
3. Diet yang benar untuk Hiperemesis Gravidarum :
Waktu bangun dipagi hari dianjurkan untuk jangan segera
turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan
roti kering atau biskuit dengan teh hangat.
Ada 3 macam diet pada hiperemesis gravidarum yaitu ;
(1) Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis III.
Makanan hanya berupa roti kering dan buah buahan.
Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1-2
jam sesudahnya. Makanan ini kurang akan zat-zat
gizi kecuali vitamin C karena itu hanya diberikan
selama beberapa hari.
(2) Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan
muntah berkurang. Secara berangsur mulai
diberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi.
Pemberian minuman tidak diberikan bersama
makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zat
gizi kecuali vitamin A dan D.
(3) Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita
dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan
penderita minuman boleh diberikan bersama
makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi
kecuali makanan.
G. Materi
Terlampir
H. Daftar peserta penyuluhan
Terlampir
122
MATERI
A. Pengertian
Hiperemesis grvidarum adalah gejala mual-munatah yang
berlebihan pada ibu hamil. Istilah hiperemesis gravidarum
denagan gangguan metabolik yang bermakna karena mual-
muntah. Penderita hiperemesis gravidarum biasanya dirawat
dirumah sakit. Etiologinya belum pasti, diduga ada hubungannya
dengan paritas, hormonal, neurologis, metabolik, stres psikologik,
keracunan, dan tipe kepribadian.
Salah satu masalah yang terjadi pada masa kehamilan, yang bisa
meningkatkan derajat kesakitan adalah terjadinya Gestosis pada
masa kehamilan atau penyakit yang khas terjadi pada masa
kehamilan, dan salah satu gestosis dalam kehamilan adalah
Hiperemesis Gravidarum.
Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah berlebihan sehingga
menimbulkan gangguan aktivitas sehari-hari dan bahkan dapat
membahayakan kehidupan. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan
hiperemesis adalah sebagai berikut .
1. Kemungkinan vili korialis masuk ke dalam darah.
2. Adanya faktor elergi.
3. Adanya faktor predisposisi, seperti primigravida dan
overdistensi rahim.
123
4. Adanya faktor psikologis, seperti ketidak harmonisan dalam
rumah tangga, kehamilan yang tidak diinginkan, atau ketidaksiapan
untuk memiliki anak (takut untuk hamil ) (Sulistyawati,
2009;h.153)
B. Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti.
Tidak ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh factor toksik,
juga ditemukan kelainan biokimia. Perubahan-perubahan anatomik
pada otak, jantung, hati dan susunan saraf, disebabkan oleh
kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisia.Beberapa
faktor predisposisi dan factor lain yang telah ditemukan oleh
beberapa penulis sebagai berikut.
a. Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah
primigravida, mola hidatidosa, dan kehamilan ganda. Frekuensi
yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda
menimbulakan dugaan bahwa faktor hormon memegang
peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormone khorionik
gonadotropin dibentuk berlebihan.
b. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan
metabolic hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap
perubahan ini merupakan faktor organic.
124
c. Alergi, sebagai salah satu respons dari jaringan ibu terhadap
anak, juga disebut sebagai salah satu faktor organic.
d. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada
penyakit ini, rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan,
takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung
jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat
memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar
terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian
kesukaran hidup (Rukiyah, dkk, 2010;h.118-119
C. Diagnosis
Menetapkan kejadian hiperemesis gravidarum tidak sukar, dengan
menentukan kehamilan, muntah berlebihan sampai
menimbulkan gangguan kehidupan sehari-hari dan dehidrasi. Muntah
yang terus menerus tanpa pengobatan dapat menimbulkan
gangguan tumbuh kembang janin dalam rahim dengan
manifestasi klinisnya, oleh karena itu hiperemesis gravidarum
berkelanjutan harus dicegah dan harus mendapat pengobatan yang
adekuat. Kemungkinan penyakit lain yang menyertai kehamilan
harus berkonsultasi dengan dokter tentang penyakit hati, ginjal,
dan penyakit tukak lambung. Pemeriksaan laboratorium dapat
membedakan ketiga kemungkinan hamil yang disertai penyakit
( Manuba, 2010;h.230 )
125
Diagnosis hiperemesis gravidarum biasanya tidak sukar. Harus
ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah yang terus
menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum. Namun
demikian harus dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit
pielonefritis, hepatitis, ulkus ventrikuli dan tumor serebi yang
dapat pula memberikan gejala muntah.
Hiperemesis gravidarum yang terus menerus dapat menyebabkan
kekurangan makanan yang dapat mempengaruhi perkembangan
janin, sehingga pengobatan perlu segera diberikan (Prawirahardjo,
2006;h.278)
D. Patofisiologi
Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual adalah akibat dari
meningkatnya kadar esterogen, oleh karena keluhan ini terjadi
pada trimester pertama. Pengaruh fisiologik hormone
hormone esterogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari system
saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung.
Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil, meskipun
demikian mual dan muntah dapat berlangsung bebulan-bulan.
Hiperemesis gravidarum merupakan komplikasi mual dan muntah
pada hamil muda, bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan
dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis
hipokoremik. Belum jelas mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi
pada sebagian kecil wanita, tetapi faktor psikologik merupakan
126
faktor utama, disamping itu pengaruh hormonal. Yang jelas, Wanita
yang sebelum kehamilan sesudah menderita lambung spastik dengan
gejala tak suka makan dan mual, akan mengalami emesis gravidarum
yang lebih berat.
Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan
karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karna
oksidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah ketosis denagn
tertimbun nya asam aseton-asetik, asam hidroksi butirik dan aseton
dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan
cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan
ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan klorida darah
turun, demikian pula khlorida air kemih. Selain itu dehidrasi
menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah kejaringan
berkurang pula dan tertimbunnya zat metabolik yang toksik.
Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan
bertambahnya ekskresi lewat ginjal, menambah frekuensi mual-
muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati, dan terjadilah
lingkaran setan yang sulit dipatahkan. Disamping dehidrasi dan
terganggunya keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada
selaput lender dan esofagus dan lambung(Sindroma Mallory-
Weiss), Denagn akibat perdarahan gastro intestinal. Pada
umunya robekan ini ringan dan perdarahan dapat berhenti
sendiri. Jarang sampai diperlukan transfuse atau tandaka operatif.
127
(Prawirohardjo, 2006;h.276-277)
E. Tanda dan gejala
Batas antara mual dan muntah dan kehamilan yang masih
fisiologik dengan hiperemesis gravidarum tidak jelas, akan tetapi
muntah yang menimbulkan gangguan kehidupan sehari-hari dan
dehidrasi memberikan petunjuk bahwa wanita hamil telah
memerlukan perawatan yang intensif (Rukiyah, dkk, 2010;h.121).
Hiperemesis gravidarum berdasarkan berat ringannya di bedakan
atas 3 tingkatan, yaitu:
a. Tingkat I
Ringan di tandai dengan muntah terus menerus yang
mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu
makan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri epigastrium, nadi
meningkat sekitar 100 per menit, tekanan darah sistolik
menurun, turgor kulit mengurang lidah mengering dan mata
cekung.
b. Tingkat II
Sedang penderita lebih lemah dan apatis, turgor kulit mengurang
lidah mengering dan tampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu
kadang-kadang naik dan mata sedikit ikteris berat badan turun
dan mata cekung, tensi turun dan hemokonsentrasi,oliguria dan
konstipasi. Aseton dapat tercium dalam hawa pernafasan, karena
128
mempunyai aroma yang khas dan dapat pula di temukan dalam
kencing.
c. Tingkat III
Berat keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran
menurun dan samnolen sampai koma nadi kecil dan cepat, suhu
meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fatal terjadi pada
susunan syaraf yang di kenal sebagai ensefalopati wernicke dengan
gejala nistagmus, diplopia dan perubahan mental. Keadan ini
adalah akibat sangat kekurangan zat makanan termasuk vitamin
B komplek. Timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah hati
(Rukiyah, dkk, 2010:121-122).
F. Pengelolaan
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan
dengan jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan
persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan
keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan
gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang
setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan mengubah makanan
sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih
sering. Defekasi yang teratur hendaknya dapat dijamin,
menghindarkan kekurangan karbohidrat merupakan faktor yang
129
penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang banyak
mengandung gula.
G. Obat-obatan
Apabila dengan cara tersebut diatas keluhan dan gejala tidak
mengurang maka diperlukan pengobatan. Tetapi perlu diingat
untuk tidak memberikan obat yang teratogen. Sedativa yang sering
diberikan adalah Phenobarbital. Vitamin yang dianjurakan adalah
vitamin B1 dan B6, Anti histaminika juga dianjurkan, seperti
dramamin, avomin. Pada keadaan lebih berat diberikan
antiemetic seperti disiklomin hidrokkloride atau khlorpromasin.
Penanganan hiperemesis gravidarum yang lebih berat perlu
dikelola dirumah sakit.
a. Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan
peredaran udara yang baik. Catat cairan yang keluar dan masuk.
Hnaya dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam kamar
penderita, sampai muntah berhenti dan penderita mau makan.
Tidak diberikan makanan/minuman dan selama 24 jam. Kadang-
kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang
tanpa pengobatan.
b. Terapi psikologik
Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat
disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi
130
pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya
dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
H. Diet
Ciri khas diet hiperemesis adalah penekanan karbohidrat kompleks
terutama pada pagi hari, serta menghindari makanan yang
berlemak dan goring-gorengan untuk menekan rasa mual dan
muntah, sebaiknya di beri jarak dalam pemberian makan dan
minum. Diet pada hiperemesis bertujuan untuk mengganti
persediaan glikogen tubuh dan mengontrol asidosis secara
berangsur memberikan makanan berenergi dan zat gizi yang cukup.
Diet hiperemesis gravidarum memiliki beberapa syarat,
diantaranya adalah karbohidrat tinggi, yaitu 75-80% dari
kebutuhan energi total, lemak rendah, yaitu <10% dari kebutuhan
energi total, protein sedang, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi
total, makanan di berikan dalam bentuk kering, pemberian cairan di
sesuaikan dengan keadaan pasien, yaitu 7-10 gelas per hari,
makanan mudah di cerna, tidak merangsang saluran pencernaan
dan di berikan sering dalam porsi kecil, bila makan pagi dan sulit
di terima, pemberian di optimalkan pada makan malam dan
selingan malam, makanan secara berangsur di tingkatkan dalam
porsi dan nilai gizi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan gizi
pasien (Rukiyah, dkk, 2010;h.124).
Ada tiga macam diet pada hiperemesis gravidarum yaitu;
131
a. Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III.
Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak
di berikan bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya. Makanan
ini kurang akan zat-zat gizi kecuali vitamin C karena itu hanya di
berikan selam beberapa hari.
b. Diet hiperemesis II di berikan bila rasa mual dan muntah
berkurang. Secara berangsur mulai di berikanbahan mkanan yang
bernilai gizi tinggi. Pemberian mnum tidak di berikan bersamaan
dengan makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zt gizi
kecuali vitamin A dan D.
c. Diet hiperemesis III di berikan pada penderita dengan
hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman
boleh di berikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam
semua zat gizi kecuali kalsium.
d. Makanan yang di anjurkan untuk diet hiperemesis I, II, dan III
adalah roti panggang, biscuit, crakers, buah segar dan saribuah,
minuman botol ringan, sirup, kaldu tak berlemak, teh hangat.
Sedangkan makanan yang tidak di anjurkan adalah makanan yang
pada umumnya merangsang saluran pencernaan dan berbumbu
tajam. Bahan makanan yang mengandung alcohol, kopi dan
makanan yang mengandung zat pengawet, pewarna, dan penyedap
rasa juga tidak di anjurkan. Diet pada ibu yang
mengalamihiperemesis terkadang melihat kondisi si ibu dan
132
tingkatan hiperemesisnya, konsep saat ini di anjurkan pada ibu
adalah makanlah apa yang ibu suka, bukan makan sedikit-sedikit
tapi sering juga jangan di paksakan ibu memakan apa yang saat ini
membuat mual karena diet tersebut tidak akan berhasil malah akan
memperparah kondisinya (Rukiyah, dkk, 2010;h.124-125)
I. Komplikasi
Menurut Wiknjosastro dalam Rukiyah dampak yang di timbulkan
dapat terjadi pada ibu dan janin, seperti ibu akan kekurangan
nutrisi dan cairan sehinga keadaan fisik ibu menjadi lemah dan
lelah dapat pula mengakibatkan gangguan asam basa, pneumoni
aspirasi, robekan mukosa pada hubungan gastroesofagus yang
menyebabkan perdarahan ruptur esofagus, kerusakan hepar dan
kerusakan ginjal, ini akan memberikan pengaruh pada
pertumbuhan dan perkembangan janin karena nutrisi yang tidak
terpenuhi atau tidak sesuai engan kehamilan, yang mengakibatkan
peredaran darah janin berkurang. Pada bayi, jika hiperemesis ini
terjadi hanya di awal kehamilan tidak berdampak terlalu
serius, tetapi jika sepanjang kehamilan si ibu menderita
hiperemessi gravidarum, maka kemungkinan bayinya mengalami
BBLR, IUGR, Prematur hingga terjadi abortus .. Terjadi
pertumbuhan janin terhambat sebagai akibat kurangnya pemasukan
oksigen dan makanan yang kurang adekuat dan hal ini mendorong
terminasi kehamilan lebih dini (Rukiyah, dkk, 2010;h.128-129)
84
85

Kti noviyanti putri

  • 1.
    1 ASUHAN KEBIDANAN PADAIBU HAMIL TERHADAP NY.S UMUR 36 TAHUN G3P2A0 USIA KEHAMILAN 12 MINGGU 3 HARI DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM TINGKAT I DI BPS Hj. USMALANA SADDAM, Amd. Keb BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015 KARYA TULIS ILMIAH NAMA : NOVIYANTI PUTRI NIM : 201207107 AKADEMI KEBIDANAN ADILA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015 i
  • 2.
    2 LEMBAR PENGESAHAN Diterima dandisahkan oleh Tim Penguji Ujian Akhir Program pada Diploma III Kebidanan Adila pada : Hari : Jum’at Tanggal : 3 Juli 2015 Penguji I, Penguji II, Ninik Masturiah, S.ST.,M.Kes Ratnawati, S.ST NIK.201501143 NIK.11210042 Direktur Akbid Adila, Dr. Wazni Adila, MPH NIK.2011041008 ii
  • 3.
    3 MOTTO Kita tidak bisamenjadi bijaksana dengan kebijaksanaan orang lain, tapi kita bisa berpengetahuan dengan pengetahuan orang lain Michel De Montaigne Janganlah kamu bersedih sesungguhnya Allah bersama kita SQ. At-Taubah : 40 Kecil disuka muda dikenal tua kaya raya mati masuk surga Manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya dimasa muda mu sebelum masa tua mu Noviyanti Putri iii
  • 4.
    4 PERSEMBAHAN Puji syukur penulispanjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan Study Kasus ini, dan dibalik penyelesaian tugas ini tidak lupa penulis memberikan persembahan kepada orang-orang yang telah membantu penulis baik secara langsung maupun tidak langsung. 1. Terima kasih buat Ayah tercinta dan IBU tercinta yang selalu memberikan semangat dan Do’a setiap kegiatan apapun yang terbaik bagi penulis serta selalu mengharapkan setiap keberhasilan yang penulis lakukan. 2. Kakakku tercinta yang selalu memberikan semangat kepada penulis. 3. Ibu Silvia Anggraini, S.ST.,M.Kes dan Ibu Nopa Utari, S.ST terima kasih atas bimbingannya selama ini, yang selalu sabar membimbing penulis yang penuh kekurangan hingga terselesaikan tugas akhir ini. 4. Teman-temanku tercinta seperjuangan yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu terima kasih atas kebersamaan kita selama ini, memberikan motivasi kepada penulis serta selalu sabar menghadapi sikap penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini dan susah senang kita bersama. 5. Rekan - rekanku tercinta Akbid ADILA khususnya Angkatan VII yang selalu mendukung hingga terselesaikan tugas akhir ini. 6. Almamaterku tercinta Akademi kebidanan ADILA Bandar Lampung sebagai tempat penulis menuntut ilmu selama tiga tahun. 7. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terimah kasih atas partisipasi dan dukunganya selama penulis menyelesaikan tugas akhir Diploma Kebidanan ini. iv
  • 5.
    5 Asuhan Kebidanan IbuHamil Terhadap Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Bandar Lampung Tahun 2015 Noviyanti Putri, Nesia catur Hutami S.ST, M.Kes, Kiki Purnama Sari S.ST INTISARI Hiperemesis gravidarum adalah Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Gejala – gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Hiperemesis Gravidarum tidak hanya mengancam kehidupan wanita, namun juga dapat menyebabkan efek samping pada janin seperti abortus, berat bayi lahir rendah, kelahiran premature, serta malformasi pada bayi baru lahir. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah diperolehnya pengalaman nyata dalam memberikan Asuhan Kebidanan pada ibu hamil terhadap Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb RajaBasa Bandar Lampung Tahun 2015. Metode yang digunakan penulis dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah metode penelitian survey deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. Subjek yang akan di ambil dalam studi kasus ini adalah satu orang ibu hamil yaitu Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 dengan Hiperemesis Gravidarum. Dalam karya tulis ilmiah ini penulis mengambil kasus di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa BandarLampung dan melakukan penelitian dari tanggal 7 April – 13 April 2015. Kesimpulan yang diambil dari penelitian ini adalah penulis telah merencanakan asuhan kebidanan dengan diet nutrisi sesuai dengan kebutuhan terhadap Ny.S yaitu menjelaskan kepada Ny.S mengenai cara mengatur pola nutrisi makanan yang tidak memicu mual, tidak berbumbu tajam, dan menghindari makanan yang mengandung gas seperti durian, brokoli, asfaragus. Diharapkan bagi Ny. S dapat menerapkan diet nutrisi sesuai dengan kebutuhan hiperemesis gravidarum dengan benar, sehingga dapat mencegah terjadinya kegawatan maternal dan neonatal. Kata kunci : Hiperemesis Gravidarum Kepustakaan : 2005-2015 Jumlah Referensi : 15 v
  • 6.
    6 CURRICULUM VITAE Nama :Noviyanti Putri Nim : 201207107 Tempat/Tanggal Lahir : BandarLampung, 22 November 1994 Alamat : Jl. Hi Abdullah 9 No.6 Wayhalim Kedaton BandarLampung Institusi : Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung Angkatan : VII (Tujuh) Biografi : Anak Keempat RIWAYAT PENDIDIKAN 1. TK Al-Azhar II Bandar Lampung 2. SD Al-Azhar II Bandar Lampung 3. SMPN 23 Bandar Lampung 4. SMA YP UNILA Bandar Lampung 5. Penulis Sekarang Terdaftar Sebagai Mahasiswa Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung Tahun 2012 Hingga Sekarang vi
  • 7.
    7 KATA PENGANTAR Assalamualaikum. Wr.Wb Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah dalam bentuk studi kasus kebidanan yang berjudul : “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil terhadap Ny.S umur 36 tahun G3P2Ao usia kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Bandar Lampung”. Dalam penulisan KTI ini penulis menyadari karena keterbatasan pengetahuan KTI, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. dr. Wazni Adila, MPH selaku Direktur Akbid Adila Bandar Lampung 2. Nesia Catur Hutami, S.ST, M.Kes selaku Pembimbing I Karya Tulis Ilmiah 3. Kiki Purnama Sari, S.ST selaku Pembimbing II Karya Tulis Ilmiah 4. Hj. Usmalana Saddam, Amd. Keb selaku Pembimbing Lahan Karya Tulis Ilmiah 5. Seluruh dosen dan staf Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung Penulis menyadari dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pihak guna perbaikan pada masa yang akan datang. Akhirnya penulis berharap semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca. Wassalamualaikum. Wr. Wb. Bandar Lampung, April 2015 Penulis vii
  • 8.
    8 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...................................................................................i LEMBAR PENGESAHAN.........................................................................ii INTISARI....................................................................................................iii CURICULUM VITAE................................................................................iv MOTTO ......................................................................................................v PERSEMBAHAN........................................................................................vi KATA PENGANTAR.................................................................................vii DAFTAR ISI ...............................................................................................viii DAFTAR TABEL .......................................................................................ix DAFTAR LAMPIRAN ..............................................................................x BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah................................................................1 1.2 Rumusan masalah........................................................................ 5 1.3 Tujuan penelitian......................................................................... 5 1.4 Ruang lingkup ............................................................................. 7 1.5 Manfaat penelitian ....................................................................... 7 1.6 Metodelogi dan tekhnik memperoleh data.................................... 8 BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Tinjauan teori medis .................................................................... 12 2.2 Tinjauan teori asuhan kebidanan..................................................41 2.3 Landasan hukum kewenangan bidan............................................62 viii
  • 9.
    9 BAB III TINJAUANKASUS 3.1 Asuhan Kebidanan Menurut Kasus .............................................. 65 3.2 Matrik.......................................................................................... 74 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Pengkajian .................................................................................. 84 4.2 Interpretasi data dasar ................................................................. 99 4.3 Diagnosa potensial...................................................................... 103 4.4 Tindakan segera atau kolaborasi...................................................... 104 4.5 Perencanaan................................................................................ 105 4.6 Pelaksanaan ................................................................................ 106 4.7 Evaluasi...................................................................................... 109 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan................................................................................. 110 5.2 Saran........................................................................................... 112 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ix
  • 10.
    10 DAFTAR TABEL Tabel 2.1TFU Menurut Penambahan Per Tiga Jari …………………………… 15 Tabel 2.2 TFU Bentuk Uterus Berdasarkan Usia Kehamilan …………………. 15 Tabel 2.3 Pemberian Imunisasi TT ……………………………………………. 26 Tabel 3.1 MATRIK ……………………………………………………………. 74 x
  • 11.
    11 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1:Lembar Konsultasi Lampiran 2: Surat Izin Dinas Lampiran 3: Dokumentasi Lampiran 4: SAP dan Leaflet xi
  • 12.
    1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LatarBelakang Menurut definisi WHO (World Health Organitation) Kematian maternal merupakan kematian seorang wanita waktu hamil atau 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan (Prawirohardjo, 2009; hal. 7). Hiperemesis gravidarum adalah Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari , tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala – gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu (Prawirohardjo, 2007; h. 275). Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida. Satu diantara seribu kehamilan, gejala-gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan ini disebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormone esterogen dan HCG dalam serum. Pengaruh fisiologik kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengosongan lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian gejala mual dan muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Keadaan inilah yang disebut hiperemesis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologi menentukan berat ringannya penyakit (Prawirohardjo, 2007; h. 275). Penyebab hiperemesis gravidarum belum di ketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa penyakit ini di sebabkan oleh faktor toksis juga tidak di temukan kelainan
  • 13.
    2 biokimia, perubahan-perubahan anatomikyang terjadi pada otak, jantung, hati dan susunan syaraf, di sebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat kelemahan tubuh karena tidak makan dan minum (Rukiyah, 2010; h. 118). Etiologi hiperemesis gravidarum sampai saat ini masih belum jelas (Simpson, et al, 2001). Walaupun terdapat beberapa teori yang menjelaskan penyebab terjadinya, namun tidak ada satupun yang dapat secara tepat menjelaskan prosesnya. Hiperemesis gravidarum berhubungan dengan terjadinya peningkatan kadar esterogen atau human chorionic gonadotropin (HCG) dan mungkin juga berhubungan dengan terjadinya hipertiroidisme selama kehamilan. Penyebab lain adalah kekurangan vitamin B atau gangguan metabolisme karbohidrat (Runiari, 2010; h. 2). Hiperemesis Gravidarum tidak hanya mengancam kehidupan wanita, namun juga dapat menyebabkan efek samping pada janin seperti abortus, berat bayi lahir rendah, kelahiran premature, serta malformasi pada bayi baru lahir (Health & Medicine Week, 2005; Trujillo & Harvey, 2005; Verberg, et al., 2005). Gross, et al. (1989) dalam Tiran (2004) menyatakan bahwa kejadian pertumbuhan janin terhambat (intrauterine growth retardation/IUGR) meningkat pada wanita hiperemesis gravidarum (Runiari, 2010; h. 2). Berdasarkan hasil survey di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb BandarLampung terdapat ibu hamil dengan Hiperemesis Gravidarum. Berdasarkan kejadian dan besarnya peran bidan dalam penerapan Asuhan Kebidanan pada ibu hamil dengan Hiperemesis Gravidarum, dalam rangka penurunan angka kematian ibu hamil maka penulis tertarik mengambil judul “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil terhadap Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis
  • 14.
    3 Gravidarum Tingkat Idi BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb RajaBasa Bandar Lampung Tahun 2015” 1.2. Rumusan Masalah “Bagaimanakah Asuhan Kebidanan pada ibu hamil terhadap Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa Bandar Lampung Tahun 2015?” 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Diperolehnya pengalaman nyata dalam memberikan Asuhan Kebidanan pada ibu hamil terhadap Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb RajaBasa Bandar Lampung Tahun 2015. 1.3.2 Tujuan Khusus 1.3.2.1 Diharapkan penulis mampu melakukan pengumpulan data Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I di Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa Bandar Lampung Tahun 2015. 1.3.2.2 Diharapkan penulis mampu melakukan interpretasi data Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa Bandar Lampung Tahun 2015.
  • 15.
    4 1.3.2.3 Diharapkan penulismampu menentukan diagnosa potensial pada ibu hamil Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa Bandar Lampung Tahun 2015. 1.3.2.4 Diharapkan penulis mampu melakukan tindakan segera/kolaborasi pada ibu hamil Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa Bandar Lampung Tahun 2015. 1.3.2.5 Diharapkan penulis mampu merencanakan asuhan kebidanan yang akan dilaksanakan pada ibu hamil Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa Bandar Lampung Tahun 2015. 1.3.2.6 Diharapkan penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan yang telah direncanakan pada ibu hamil Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I di Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa Bandar Lampung Tahun 2015. 1.3.2.7 Diharapkan penulis mampu melakukan evaluasi terhadap asuhan yang telah diberikan pada ibu hamil Ny.S umur 36tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa Bandar Lampung Tahun 2015.
  • 16.
    5 1.4. Ruang LingkupPenelitian 1.4.1. Sasaran Subjek yang akan diambil dalam studi kasus ini adalah satu orang ibu hamil yaitu Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat I. 1.4.2. Tempat Dalam karya tulis ilmiah ini penulis mengambil kasus di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa BandarLampung. 1.4.3. Waktu Dalam karya tulis ilmiah ini penulis melakukan penelitian dari tanggal 7 April – 13 April 2015. 1.5. Manfaat penelitian Ada pun manfaat dari penelitian ini adalah : 1.5.1 Institusi Pendidikan Hasil penelitian dapat menjadi sumber bacaan bagi mahasiswi Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung dalam menerapkan ilmu dan sebagai acuan penelitian selanjutnya. 1.5.2 Tempat Penelitian Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dan masukan dalam memberikan Asuhan Kebidanan yang komperhensif serta sebagai pertimbangan dalam meningkatkan pelayanan terhadap ibu hamil. 1.5.3 Pasien Hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan pada ibu hamil terhadap Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari tentang bahayanya Hiperemesis Gravidarum pada kehamilan.
  • 17.
    6 1.5.4 Penulis Dapat menambahwawasan dan pengalaman langsung dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil, digunakan sebagai perbandingan antara teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan di lahan praktek. 1.6. Metedologi dan Teknik Memperoleh Data 1.6.1 Metodologi Penelitian Metode yang digunakan penulis dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah metode penelitian survey deskriptif yang dapat didefinisikan sebagai suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. (Notoatmodjo, 2005; h. 138). 1.6.2 Teknik Memperoleh Data. Untuk memperoleh data, teknik yang di gunakan sebagai berikut: 1.6.2.1 Data Primer a. Wawancara Salah satu metode yang digunakan penulis untuk mendapatkan data adalah dengan wawancara, dimana penulis mendapat keterangan atau informasi secara lisan dari seseorang sasaran penelitian (responden), dan bercakap cakap dengan berhadapan muka dengan orang tersebut. Jadi data diperoleh langsung dari responden melalui salah satu pertemuan atau percakapan penulis melakukan tanya jawab dengan klien, suami, dan keluarga yang dapat membantu memberikan informasi yang dibutuhkan . Wawancara dilakukan dengan cara:
  • 18.
    7 Auto anamnesa Adalah anamnesisyang dilakukan kepada pasien langsung. Jadi data yang diperoleh adalah data primer, karena langsung dari sumbernya. Allo anamnesa Adalah anamnesis yang dilakukan kepada keluarga pasien untuk memperoleh data tentang pasien. Ini dilakukan pada keadaan darurat ketika pasien tidak memungkinkan lagi untuk memberikan data yang akurat (Sulistyawati, 2009; h.180). b. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, meliputi pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi) dan pemeriksaan penunjang (Laboratorium dan catatan terbaru serta catatan sebelumnya) (Soepardan, 2007; h.98). 1.6.2.2 Data Sekunder a. Studi Pustaka Bahan-bahan pustaka merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang latar belakang teoritis dari suatu penelitian. Hasil penelitian yang baik perlu ditunjang dengan bahan perpustakaan yang memadai. Bahan-bahan perpustakaan yang dapat digunakan untuk menunjang latar belakang masalah, kerangka teoritis, dan hipotesi penelitian adalah buku yang diterbitkan, berbagai jenis penerbitan berkala seperti majalah, jurnal, bulletin, brosur, atau sebagainya, berbagai harian atau surat
  • 19.
    8 kabar, karangan ataumakalah ilmiah yang tidak diterbitkan seperti makalah, skripsi, tesis, dan disertai laporan-laporan penelitian dan instansi resmi (Notoatmodjo, 2005; h. 64). b. Studi Dokumentasi Yang dimaksud dengan sumber informasi dokumenter pada dasarnya adalah semua sumber informasi yang berhubungan dengan dokumen, baik dokumen-dokumen resmi maupun tidak resmi (Notoatmojo, 2005; h. 62-63).
  • 20.
    9 BAB II TINJAUAN TEORI 2.1Tinjauan teori medis 2.1.1 Kehamilan a. Pengertian Kehamilan Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester kedua 15 minggu (minggu ke -13 hingga ke 27) trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40)(Prawirohardjo, 2010; h. 213). Dalam filosofi asuhan kehamilan ini dijelaskan beberapa keyakinan yang akan mewarnai asuhan itu: 1. Kehamilan merupakan proses yang alamiah 2. Asuhan kehamilan mengutamakan kesinambungan pelayanan (continuity of care) 3. Pelayanan yang terpusat pada wanita (women centered) serta keluarga (family cntered) 4. Asuhan kehamilan menghargai hak ibu hamil untk berpartisipasi dan memperoleh pengetahuan/pengalaman kehamilannya (Pantiawati, 2010; h. 1).
  • 21.
    10 Proses kehamilan merupakanproses yang normal dan alamiah.Hal ini perlu diyakini oleh tenaga kesehatan khususnya bidan, sehingga ketika memberikan asuhan kepada pasien, pendekatan yang dilakukan lebih cenderung kepada bentuk pelayanan promotif. Realisasi yang paling mudah dilaksanakan adalah pelaksanan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) kepada pasien dengan materi-materi mengenai pemantauan kesehatan ibusw hamil dan penatalaksanaan ketidaknyamanan selama hamil (Sulistyawati, 2009; h. 2). b. Tujuan Asuhan Kehamilan 1. Memantau kemajuan kehamilan, memastikan kesejahteraan ibu dan tumbuh kembang janin. 2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental serta sosial ibu dan bayi. 3. Menemukan secara dini adanya masalah/gangguan dan kemungkinan komplikasi yang terjadi selama masa kehamilan. 4. Mempersiapkan kehamilan dan persalinan dengan selamat, baik ibu maupun bayi dengan trauma seminimal mungkiin. 5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas dan pemberian ASI ekslusif berjalan normal. 6. Mempersiapkan ibu dan keluarga dapat berperan dengan baik dalam memelihara bayi agar dapat tumbuh dan kembang secara normal (Sulistyawati, 2009; h. 4).
  • 22.
    11 c. Standar AsuhanKehamilan a. Kunjungan Ante-natal Care(ANC) minimal : 1. Satu kali pada trimester I (usia kehamilan 0-13 minggu); 2. Satu kali pada timester II (usia kehamilan 14-27 minggu); 3. Dua kali pada trimester III (usia kehamilan 28-40 minggu). b. Pelayanan satandar, yaitu 7T. Sesuai dengan kebijakan Departemen Kesehatan, standar minimal pelayanan pada ibu hamil adalah tujuh bentuk yang disingkat dengan 7T, antara lain sebagai berikut. 1. Timbang berat badan. 2. Ukur Tekanan Darah 3. Ukur Tinggi fundus uteri. 4. Pemberian imunisasi TT lengkap. 5. Pemberian Tablet Fe minimal 90 tablet selam kehamilan dengan dosis satu tabet setiap harinya 6. Lakukan Tes Penyakit Menular Seksual 7. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan. (Sulistyawati, 2009; h. 4). d. Perubahan Anatomi dan Adaptasi Fisiologi Pada Ibu Hamil 1. Sistem Reproduksi a) Uterus 1) Ukuran Pada kehamilan cukup bulan, ukuran uterus adalah 30 x 25 x 20 cm dengan kapasitas lebih dari 4.000cc. Hal ini memungkinkan
  • 23.
    12 bagi adekuatnya akomodasipertumbuhan janin. Pada saat ini rahim membesar akibat hipertropi dan hiperplasi otot polos rahim,serabut-serabut kolagennya menjadi higroskopik, dan endometrium menjadi desidua. Tabel 2.1 TFU Menurut Penambahan Per Tiga Jari Usia Kehamilan ( minggu) Tinggi Fundus Uteri (TFU) 12 3 jari di atas simpisis 16 Pertengahan pusat-simpisis 20 3 jari di bawah simpisis 24 Setinggi pusat 28 3 jari di atas pusat 32 Pertengahan pusat-prosesus xiphoideus (px) 36 3 jari dibawah prosesus xiphoideus (px) 40 Pertengahan pusat-prosesus xiphoideus (px) Sumber: Hanifa, Prawirohardjo, 2002 2) Berat. Berat uterus naik secara luar bias, dari 300 gram menjadi 1.000 gram pada akhir bulan Tabel 2.2 Bentuk uterus Berdasarkan Usia Kehamilan Usia kehamilan Bentuk dan Konsistensi Uterus Bulan pertama Seperti buah alpukat. Ismust rahim menjadi hipertropi dan bertambah panjang sehingga bila diraba terasa lebih lunak (tanda hegar). 2 bulan Sebesar telur bebek. 3 bulan Sebesar telur angsa. 4 bulan Berbentuk bulat. 5 bulan Rahim teraba seperti berisi cairan ketuban, rahim terasa tipis. Itulah sebabnya mengapa bagian-bagian janin ini dapat dirasakan melalui perabaan dinding perut. Sumber: Hanifa, Prawirohardjo, 2002 3) Posisi rahim dalam kehamilan a. Pada permulaan kehamilan, dalam posisi antefleksi atau retrofleksi b. Pada 4 bulan kehamilan. Rahim tetap berada dalam rongga pelvis.
  • 24.
    13 c. Setelah itu,mulai memasuki rongga perut yang dalam pembesarannya dapat mencapai batas hati. d. Pada ibu hamil, rahim biasanya mobile,lebih mengisi rongga abdomen kanan atau kiri. 4) Vaskularisasi Arteri uterine dan ovarika bertambah dalam diameter, panjang dan anak-anak cabangnya, pembuluh darah vena mengembang dan bertambah. 5) Serviks uteri Bertambah vaskularisasinya dan menjadi lunak, kondisi ini yang disebut tanda Goodell. Kelenjar endoservikal membesar dan mengeluarkan banyak cairan mucus. Oleh karena pertambahan dan pelebaran pembuluh darah, warnanya menjadi livid dan ini disebut dengan tanda chadwick. b) Ovarium Ovulasi berhenti namun masih terdapat korpus luteum graviditas sampai terbentuknya plasenta yang akan mengambil alih pengeluaran esterogen dan progesterone. c) Vagina dan Vulva Oleh karena pengaruh esterogen, terjadi hipervaskularisasi pada vagina dan vulva sehingga pada bagian tersebut terlihat lebih merah atau kebiruan, kondisi ini disebut tanda chadwick.
  • 25.
    14 2. Sistem Kardiovaskular Selamakehamilan, jumlah darah yang dipompa oleh jantung setiapmenitnya atau biasa disebut sebagai curah jantung (cardiac output) meningkat sampai 30-50%. Peningkatan ini mulai terjadi pada usia kehamilan 16-28 minggu. Oleh karena curah jantung yang meningkat, maka denyut jantung pada saat istirahat juga meningkat (dalam keadaan normal 70 kali/menit menjadi 80-90 kali /menit). Pada ibu hamil dengan penyakit jantung, ia dapat jatuh dalam keadaan decompensate cordis. 3. Sistem Urinaria Selama kehamilan, ginjal bekerja lebih berat. Ginjal menyaring darah yang volumenya meningkat (sampai 30-50% atau lebih), yang puncaknya terjadi pada usia kehamilan 16-24 minggu sampai sesaat sebelum persalinan (pada saat ini aliran darah ke ginjal berkurang akibat penekanan rahim yang besar). 4. Sistem Gastrointestinal Rahim yang semakin membesar akan menekan rektum dan usus bagian bawah, sehingga terjadi sembelit atau konstipasi. Sembelit semakin berat karena pergerakan otot di dalam usus diperlambat oleh tingginya kadar progesteron. 5. Sistem Metabolisme Kebutuhan zat besi wanita hamil kurang lebih 1.000 mg, 500mg dibutuhkan untuk meningkatkan massa sel darah merah dari 300 mg untuk trasnpostasi ke fetus ketika kehamilan memasuki usia 12
  • 26.
    15 minggu, 200 mgsisanya untuk menggantikan cairanyang keuar dari tubuh. Wanita hamil membutuhkan zat besi rata-rata 3,5 mg/hari. 6. Sistem Muskuloskeletal Adanya sakit punggung dan ligamen pada kehamilan tua disebabkan oleh meningkatnya pergerakan pelvis akibat pembesaran uterus. Bentuk tubuh berubah menyesuaikan sengan pembesaran uterus ke depan karena tidak adanya otot abdomen. 7. Kulit Topeng kehamilan (cloasma gravidarum) adalah bintik-bintik pigmen kecoklatan yang tampak dikulit kering dan pipi. Peningkatan pigmentasi juga terjadi disekeliling puting susu, sedangkan di perut bawah bagian tengah biasanya tampak garis gelap, yaitu spider angioma (pembuluh darah kecil yang memberi gambaran seperti laba-laba) bisa muncul dikulit, dan biasanya diatas pinggang. 8. Payudara Payudara sebagai organ target untuk proses laktasi mengalami banyak perubahan sebagi persiapan setelah janin lahir. Beberapa perubahan yang dapat diamati oleh ibu adalah sebagai berikut. a. Selama kehamilan payudara bertambah besar, tegang dan berat b. Dapat teraba nodul-nodul, akibat hipertropi kelenjar alveoli c. Bayangan vena-vena lebih membiru d. Hiperpigmentasi pada areola dan puting susu. e. Kalau diperas akan keluar air susu jolong (kolostrum) berwarna kuning.
  • 27.
    16 9. Sistem Endokrin Selamasiklus menstruasi normal, hipofisis anterior memproduksi LH dan FSH. Follicle stimulating hormone (FSH) merangsang folikel de graaf untuk menjadi matang dan berpindah ke permukaan ovarium di mana ia dilepaskan. Folikel yang kosong dikenal sebagai korpus luteum dirangsang oleh LH untuk memproduksi progesteron. 10.Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Berat Badan Cara yang dipakai untuk menentukan berat badan menunggu tinggi badan adalah dengan menggunakan indeks massa tubuh (IMT) dengan rumus berat badan dibagi tinggi badan pangkat 2. Contoh, wanita dengan berat badan sebelum hamil 51 kg dan tinggi badan 1,57 meter. Maka IMT-nya adalah 51/(1,57)2 = 20,7. Nilai IMT mempunyai rentang sebagai berikut. 19,8-26,6 :normal < 19,8 :underweight 26,6-29,0 :overweight > 29,0 :obese 11. Sistem Pernafasan Ruang abdomen yang membesar oleh karena meningkatnya ruang rahim dan pemberntukan hormon progesteron menyebabkan paru- paru berfungsi sedikit berbeda dari biasanya. Wanita hamil bernafas lebih cepat dan lebih dalam karena memerlukan lebih banyak oksigen untuk janin dan untuk dirinya (Sulistyawati, 2009; h. 59- 69).
  • 28.
    17 e. Kebutuhan IbuHamil 1) Kebutuhan Fisik a) Diet makanan. Kebutuhan makanan pada ibu hamil mutlak harus dipenuhi. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan anemia, abortus, IUGR, inersia uteri, perdarahan pasca persalinan, sepsis puerpuralis, dan lain-lain. Sedangkan kelebihan makanan karena beranggapan pemenuhan makan untuk dua orang akan berakibat kegemukan, pre-eklampsi, janin terlalu besar, dan sebagainya. Hal penting yang harus diperhatikan sebenarnya adalah cara mengatur menu dan pengolahan menu tersebut dengan berpedoman pada Pedoman Umum Gizi Seimbang. Bidan sebagai pengawas kecukupan gizinya dapat melakukan pemantauan terhadap kenaikan berat badan selama kehamilan. b) Kebutuhan energi Widya karya pangan dan Gizi Nasional menganjurkan pada ibu hamil untuk meningkatkan asupan energinya sebesar 285 kkal perhari. Tambahan energi ini bertujuan untuk memasok kebutuhan ibu dalam memenuhi kebutuhan janin. Pada trimester I kebutuhan energi meningkat untuk organogenesis atau pembentukan organ-organ penting janin, dan jumlah tambahan energi ini terus meningkat pada trimester II dan III untuk pertumbuhan janin. Protein: Ibu hamil mengalami peningktaan kebutuhan protein sebanyak 68%. Widya Karya Pangan dan Gizi Nasional
  • 29.
    18 menganjurkan untuk menambahasupan protein menjadi 12% perhari atau 75-100 gram. Zat besi: Anemia sebagian besar disebabkan oleh defisiensi zat besi, oleh karena itu perlu ditekankan pada ibu hamil untuk mengkonsumsi zat besi selama hamil dan setelah melahirkan. Kebutuhan zat besi selama hamil meningkat sebesar 300% (1.040 mg selama hamil ) dan peningkatan ini tidak dapat tercukupi hanya dari asupan makanan ibu selama hamil melainkan perlu ditunjang dengan suplemen zat besi.Vitamin C dan protein hewani merupakan elemen yang sangat membantu dalam penyerapan zat besi, sedangkan kopi, teh, garam, kalsium, magnesium dan fitat (terkandung dalam kacang-kacangan) akan memperhambat penyerapan zat besi. Asam Folat. Asam folat merupakan satu-satunya vitamin yang kebutuhannya meningkat dua kali lipat selama hamil. Asam folat sangat berperan dalam metabolisme normal makanan menjadi energi, pematangan sel darah merah, sintesis DNA, pertumbuhan sel dan pembentukan heme. Jika kekurangan asam folat maka ibu dapat menderita anemia megaloblastik dengan gejala diare, depresi, lelah berat, dan selalu mengantuk. Kalsium. Metabolisme kalsium selama hamil mengalami perubahan yang sangat berarti. Kadar kalsium dalam darah ibu hamil turun drastis sebanyak 5%. Oleh karena itu, asupan yang optimal perlu dipertimbangkan. Sumber utama kalsium adalah
  • 30.
    19 susu dan hasilolahannya, udang, sarang burung, sarden dalam kaleng, dan beberapa bahan makanan nabati seperti sayuran warna hijau tua dan lain-lain. c) Obat-obatan Sebenarnya jika kondisi ibu hamil tidak dalam keadaan yang benar-benar berindikasi untuk untuk diberikan obat-obatan, sebaiknya pemberian obat dihindari.Penatalaksanaan keluhan dan ketidaknyamaan yang dialami lebih dianjurkan kepada pencegahan dan perawatan saja. d) Lingkungan yang bersih Salah satu pendukung untuk keberlangsungan kehamilan yang sehat dan aman adalah lingkungan yang bersih, karena kemungkinan terpapar kuman dan zat toksik yang berbahaya bagi ibu dan janin terminimalisasi. Lingkungan bersih disini adalah termasuk bebas polusi udara seperti asap rokok. e) Senam Hamil Kegunaan senam hamil adalah melancarkan sirkulasi darah, nafsu makan bertammbah, pencernaan menjadi lebih baik, dan tidur menjadi lebih nyenyak. Bidan hendaknya menyarankan agar ibu hamil melakukan masing-masing gerakan sebanyak dua kali pada awal latihan dan dilanjutkan dengan kecepatan dan frekkuensi menurut kemampuan dan kehendak mereka sendiri minimal lima kali tiap gerakan.
  • 31.
    20 f) Pakaian Beberapa halyang perlu diperhatikan dalam pakaian ibu hamil adalah memenuhi kriteria berikut ini. 1) Pakaian harus longgar, bersih, dan tidak ada ikatan yang ketat pada daerah perut. 2) Bahan pakaian usahakan yang mudah menyerap keringat. 3) Pakailah bra yang menyokong payudara. 4) Memakai sepatu dengan hak yang rendah. 5) Pakaian dalam yang selalu bersih. g) Istirahat dan rekreasi Dengan adanya perubahan fisik pada ibu hamil, slaah satunya beban beratpada perut sehingga terjadi perubahan sikap tubuh, tidak jarang ibu akan mengalami kelelahan, oleh karena itu istirahat dan tidur sangat penting untuk ibu hamil. Pada trimester akhir kehamilan sering diiringi dengan bertambahnya ukuran janin, sehingga terkadang ibu kesulitan untuk menentukan posisi yang paling baik dan nyaman untuk tidur. Posisi tidur yang dianjurkan pada ibu hamil adalah miring ke kiri, kaki kiri lurus, kaki kanan sedikit menekuk dan diganjal dengan bantal pada perut bawah sebelah kiri.  Tidur siang Kebiasaan tidur siang perlu ditanyakan karena tidur siang menguntungkan dan baik untuk kesehatan. Apabila
  • 32.
    21 ternyata klien tidakterbiasa tidur siang, anjurkan klien untuk mencoba dan membiasakannya.  Tidur malam Pola tidur malam perlu ditanyakan karena wanita hamil tidak boleh kurag tidur, apalagi tidur malam, jangan kurang dari 8 jam. Tidur malam merupakan waktu dimana proses pertumbuhan janin berlangsung. Apabila ternyata klien mempunyai pola tidur malam yang tidak mencapai 8 jam, anjurkan klien untuk mencoba dan membiasakan tidur malam dengan pola 8 jam (Walyani, 2015; h. 133-134). h) Kebersihan tubuh. Kebersihan tubuh ibu hamil pelu diperhatikan karena dengan perubahan sistem metabolisme mengakibatkan peningkatan pengeluaran keringat. Keringat yang menempel dikulit meningkatkan kelembapan kulit dan memungkinkan menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme. Jika tidak dibersihkan (dengan mandi), maka ibu hamil akan sangat mudah untuk terkena penyakit kulit. i) Perawatan payudara. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perawatan payudara adalah sebagai berikut . 1) Hindari pemakaian bra dengan ukuran yang terlalu ketat dan yang menggunakan busa, karena akan mengganggu penyerapan keringat payudara. 2) Gunakan bra dengan bentuk yang menyangga payudara.
  • 33.
    22 3) Hindari membersihkanputing dengan sabun mandi karena akan menyebabkan iritasi. Bersihkan puting susu dengan minyak kelapa lalu bilas dengan air hangat. 4) Jika ditemukan pengeluaran cairan yang berwarnakekuningan dari payudara, berarti produksi asi sudah dimulai. j) Eliminasi Keluhan yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan dengan eliminasi adalah konstipasi dan sering buang air kemih. Konstipasi terjadi karena adanya pengaruh hormon progesteron yang mempunyai efek rileks terhadap otot polos, salah satunya otot usus. Selain itu, deskan usus oleh pembesaran janin juga menyebabkan bertambahnya konstipasi. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan mengonsumsi makanan tinggi serat dan banyak minum air putih, terutama ketika lambung dalam keadaan kosong. Meminum air putih hangat ketika perut dalam keadaan kosong dapat merangsang gerak peristaltik usus. Jika ibu sudah mengalami dorongan, maka segeralah untuk buang air besar agar tidak terjadi konstipasi. k) Seksual Hubungan seksual selama kehamilan tidak dilarang selama tidak ada riwayat penyakit seperti berikut ini. 1) Sering abortus dan kelahiran prematur. 2) Perdarahan pervaginam
  • 34.
    23 3) Koitus harusdilakukan dengan hati-hati terutama pada minggu terakhir kehamilan. 4) Jika ketuban sudah pecah, koitus dilarang karena dapat menyebabkan infeksi janin intrauteri. l) Sikap tubuh yang baik ( Body Mechanic ) Seiring dengan bertambahnya usia kehamilan tubuh akan mengadakan penyesuaian fisik dengan pertumbuhan ukuran janin. Perubahan tubuh yang paling jelas adalah tulang punggung bertambah lordosis karena tumpuan tubuh bergeser lebih kebelakang dibandingkan sikap tubuh ketika tidak hamil. Keluhan yang sering muncul dari perubahan ini adalah rasa pegal di punggung dan kram kaki ketika tidur malam hari. m) Imunisasi Tabel 2.3 Pemberian Imunisasi TT Status Jenis Suntikan TT Interval Waktu Lama perlindungan Persentase perlindungan T0 T1 T2 T3 T4 T5 Belum pernah mendapatkan suntikan TT TT1 TT2 TT3 TT4 TT5 4 minggu dari TT1 6 bulan dari TT2 Minimal 1 tahun dari TT3 3 tahun dari TT4 3 tahun* 5 tahun 10 tahun Seumur hidup 80 95 99 99 Sumber: Pusdiknakes, 2003 Artinya, apabila dalam waktu 3 tahun wanita tersebut melahirkan, maka bayi yang dilahirkan akn terlindung dari tetanus neonatorum.
  • 35.
    24 n) Memantau kesejahteraanbayi Kesejahteraan janin dalam kandungan perlu dipantau secara terus-menerus agar jika ada gangguan janin dalam kandungan akan dapat segera terdeteksi dan ditangani. Salah satu indikator kesejahteraan janin yang dapat dipantau sendiri oleh ibu adalah gerakannya dalam 24 jam. o) Kunjungan ulang Sesuai dengan kebijakan Departemen Kesehatan, kunjungan minimal selama hamil adalah 4 kali, yaitu 1 kali pada trimesterI, 1 kali pada trimester II, dan 2 kali pada trimester III. Namun sebaiknya kunjungan tersebut rutin dilakukan setiap bulan agar dapat segera terdeteksi jika ada penyulit atau komplikasi kehamilan (Sulistyawati, 2009; h. 107-143). Kunjungan rumah minimal dilakukan selama antenatalcare : 1. Satu kali kunjungan selama trimester I, sebelum minggu ke-14 2. Satu kali kunjungan trimester II, di antara minggu ke-14 sampai minggu ke-28 3. Dua kali kunjungan selama trimester III, antara minggu ke- 28 sampai setelah minggu ke-36 Kunjungan ideal selama kehamilan: 1. Pemeriksaan pertama dilakukan sedini mungkin ketika ibu mengatakan terlambat haid 1 bulan. 2. Satu kali setiap bulan sampai usia kehamilan 7 bulan. 3. Dua kali setiap bulan sampau usia kehamilan 8 bulan
  • 36.
    25 4. Satu kalisetiap minggu sampai usia kehamilan 8 bulan 5. Pemeriksaan khusus apabila ada keluhan-keluhan (Yulifah, 2009 ; h. 64). Penjaringan deteksi dini kehamilan risiko tinggi bertujuan untuk menemukan ibu hamil berisiko. Penjaringan ini dapat dilakukan oleh kader, dukun bayi, dan tenaga kesehatan.Kunjungan ibu hamil, yaitu kontak ibu hamil dengan tenaga profesional untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standar yang ditetapkan. 1. Kunjungan baru ibu hamil (K1) Kunjungan ibu hamil dengan tenaga kesehatan sejak pertama kali dan seterusnya, untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standar selama 1 periode kehamilan berlangsung. 2. Kunjungan ke-4 (K4) Adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang ke-4 atau lebih untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang diteapkan, dengan syarat minimal 1 kali untuk trimester I dan II, serta minimal 2 kali untuk trimester III(Yulifah, 2009; h. 109). p) Pekerjaan Wanita hamil tetap dapat bekerja namun aktifitas yang dijlaninya tidak boleh terlalu berat. Istirahat untuk wanita hamil disarankan untuk menghentikan aktifitasnya apabila mereka merasakan gangguan dalam kehamilan. Pekerjaan
  • 37.
    26 yang membutuhkan aktifitasfisik yang berat, berdiri dalam jangka waktu yang lama, pekerjaan dalam industri mesin, atau pekerjaan yang memiliki efek samping lingkungan. (contoh: limbah) harus dimodifikasi. r) Tanda bahaya kehamilan Beberapa tanda bahaya yang penting untuk disampaikan kepada pasien dan keluarga adalah sebagai berikut. 1. Perdarahan pervaginam 2. Sakit kepala hebat 3. Masalah penglihatan 4. Bengkak pada muka atau tangan 5. Nyeri abdomen yang hebat 6. Bayi kurang bergerak seperti biasa(Sulistyawati, 2009 ; h.143). 2. Kebutuhan Psikologis a) Persiapan saudara kandung (sibling) Siblling rivalry adalah rasa persaingan diantara saudara kandung akibat kelahiran anak berikutnya. Biasanya terjadi pada anak usia 2-3 tahun. Sibling rivalry ini biasanya ditunjukkan dengan penolakan terhadap kelahiran ankanya, menangis, menarik diri dari lingkungannya, menjauh dari ibunya atau melakukan kekerasan terhadap adiknya (memukul, menindih, mencubit, dan lain-lain ).
  • 38.
    27 b) Dukungan keluarga Ibusangat membutuhkan dukungan dan ungkapan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya, terutama suami. Kadang ibu dihadapkan pada suatu situasi yang ia sendiri mengalami ketakutan dan kesendirian, terutama pada trimester akhir. c) Perasaan Aman dan Nyaman selama Kehamilan. Selama kehamilan ibu banyak mengalami ketidaknyamanan fisik dan psikologis. Bidan bekerja sama dengan keluarga diharapak berusaha dan secara antusias memberikan perhatian serta mengupayakan untuk mengatasi ketidaknyamanan dan ketidakamanan yang dialami oleh ibu. d) Persiapan menjadi orangtua Ini sangat penting dipersiapkan karena setelah bayi lahir akan banyak perubahan yang terjadi, mulai dari ibu, ayah dan keluarga. Bagi pasangan yang baru pertama punya anak, persiapan dapat dilakukan dengan banyak berkonsultasi dengan orang yang mampu untuk membagi pengalamannya dan memberikan nasehat mengenai persiapan menjadi orangtua. e) Dukungan dari tenaga kesehatan Bagi seorang ibu hamil, tenaga kesehatan khususnya bidan harus mempunyai tempat tersendiri dalam dirinya. Harapan pasien adalah bidan dapat gijadikan sebagai teman terdekat dimana ia dapat mencurahkan isi hati dan kesulitannya dalam menghadapai proses kehamilan dan persalinan. Posisi ini
  • 39.
    28 sangat efektif sekalijika bidan dapat mengembangkan kemampuannya dalam memilih menjalin hubungan yang baik dengan pasien. Adanya hubungan saling percaya akan memudahkan bidan dalam memberikan penyuluhan kesehatan (Sulistyawati, 2009; h. 145). 2.1.2 Emesis gravidarum 2.1.2.1 Definisi Emesis Gravidarum merupakan keluhan umum yang disampaikan pada kehamiln muda. Terjadinya kehamilan menimbulkan perubahan hormonal pada wanita karena terdapat peningkatan hormone esterogen, progesterone, dan dikeluarkannya human chorionic gonadothropine plasenta. Hormon-hormon inilah yang diduga menyebabkan emesis gravidarum. Gejala klinis emesis gravidarum adalah kepala pusing, terutama pagi hari, disertai mual muntah sampai kehamilan berumur 4 bulan. Emesis gravidarum dapat diatasi dengan berobat jalan (poliklinik). 2.12.2 Penanganan Penanganan yang dapat dilakukan : 1. Komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) tentang hamil muda yang selalu dapat disertai emesis gravidarum. Emesis gravidarum akan berangsur-angsur berkurang sampai umur kehamilan 4 bulan.
  • 40.
    29 2. Dinasihatkan agartidak terlalu cepat bangun dari tempat tidur, sehingga tercapai adaptasi aliran darah menuju susunan saraf pusat. 3. Nasihat diet, dianjurkan makan dengan porsi kecil, tetapi lebih sering. Makanan yang merangsang timbulnya mual muntah dihindari. 4. Obat-obatan, pengobatan ringan tanpa masuk rumah sakit pada emesis gravidarum: a. Vitamin yang diperlukan (vitamin B kompleks, mediamer B6 sebagai vitamin dan antimuntah). b. Pengobatan (sedatif ringan [luminal 3x30 mg (barbiturat), valium], antimual-muntah [stimel, primperan, emetrol dan lainnya] c. Nasihat pengobatan (banyak minum air atau minuman lain, hindari minuman atau makanan yang asam untuk mengurangi iritasi lambung). d. Nasihat kontrol antenatal (pemeriksaan hamil lebih sering, segera datang bila terjadi keadaan abnormal) (Manuaba, 2010; h. 227-228). Cara mengatasi mual-muntah :  Hindari bau dan faktor penyebab lain.  Makan biskuit kering atau roti bakar sebelum bangun dan bangun perlahan- lahan.  Makan sedikit tetapi sering.  Duduk tegak setiap kali selesai makan.
  • 41.
    30  Hindari makananyang berminyak dan berbumbu keras.  Makan makanan kering diantara waktu makan.  Jangan langsung gosok gigi setelah makan.  Istirahat seperlunya.  Gunakan obat-obatan nonfarmakologis jika memungkinkan.  Jika terlalu parah beri terapi dengan vitamin B6. 2.1.3 Hiperemesis Gravidarum 2.1.3.1 Definisi Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan yang terjadi pada wanita hamil sehingga menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan kadar elektrolit, penurunan berat badan (lebih dari 5% berat badan awal), dehidrasi, ketosis, dan kekurangan nutrisi (Sherman, 1999; Old, 2000;Micheline, 2004; Edelman, 2004; Paawi, et al, 2005). Hal tersebut mulai terjadi pada minggu keempat sampai kesepuluh kehamilan dan selanjutnya akan membaik umumnya pada usia kehamilan 20 minggu, namun beberapa kasus dapat terus berlanjut sampai pada kehamilan tahap berikutnya (Paauw et al, 2005) (Runiari, 2010; h. 8). Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari
  • 42.
    31 pertama haid terakhirdan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida. Satu diantaranya seribu kehamilan, gejala-gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan mual ini disebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon esterogen dan HCG dalam serum. Pengaruh fisiologik kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengososngan lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun gejala mual muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Pekerjaan sehari-hari dapat terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Keadaan inilah yang dimaksud dengan Hiperemesis Gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologis dapat menentukan berat ringannya penyakit (Prawirohardjo, 2007; h. 275). 2.1.3.2 Etiologi Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor toksik; juga tidak ditemukan kelainan biokimia. Perubahan- perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisi. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah ditemukian oleh beberapa penulis sebagai berikut. 1. Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda.
  • 43.
    32 Frekuensi yang tinggipada mola hidatidosa dan kehamilan ganda menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormon khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan. 2. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serts reistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organik. 3. Alergi. Sebagai salah satu respon jaringan ibu terhadap anak, juga disebut sebagai salah satu faktor organik. 4. Faktor psikologik memedang peranan yangn penting pada penyakit ini, rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takur terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual muntah sebagai pelarian kesukaran hidup. Hubungan psikologik dengan hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak jarang dengan memberikan suasana baru, sudah dapat membantu mengurangi frekuensi muntah. 2.1.3.3 Patologi Bedah mayat pada wanita yang meninggal akibat hiperemesis gravidarum menunjukan kelainan-kelainan pada berbagai alat dalam tubuh, yang juga dapat ditemukan pada malnutrisi oleh bermacam sebab.
  • 44.
    33 1. Hati. Padahiperemesis gravidarum tanpa komplikasi hanya ditemukan degenerasi lemak tanpa nekronis; degenerasi lemak tersebut terlentak sentrilobuler. Kelainan lemak ini nampaknmya tidak menyebabkan kematian dan dianggap sebagai akibat muntah yang terus menerus. Dapat ditambahkan separuh penderita yang meninggal karena hiperemesis gravidarum menunjukkan gambaran mikroskopik hati yang normal. 2. Jantung. Jantung menjadi lebih kecil dari biasa dan beratnya atrofi; ini sejalan dengan lamanya penyakit, kadang-kadang ditemukan perdarahan sub-endokardial. 3. Otak. Adakalanya terdapat beracak-bercak perdarahan pada otak dan kelainan seperti ensefalopati Wernicke dapat dijumpai (dilatasi kapiler dan perdarahan kecil-kecil di daerah koropra mamilaria ventrikel ketiga dan keempat). 4. Ginjal. Ginjal tampak pucat dan degenerasi lemak dapat ditemukan pada tubuli konorti. 2.1.3.4 Patofisiologi Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar esterogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. Pengaruh fisiologik hormon estergoen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan.
  • 45.
    34 Hiperemesis gravidarum merupakankomplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Belum jelas mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita, tetapi fakmtor psikologik merupakan faktor utama, disamping pengaruh hormonal. Yang jelas, wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tak suka makan dan mual, akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat.Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemah yang tak sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton –asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan klorida darah turun, demikian pula klorida air kemih. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aloran darah ke jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen kejaringan mengurang pula dan tertimbunnya zat metabolik dan toksik. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, menambahkan frekuensi muntah muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati, dan terjadilah lingkaran setan yanng tidak mudah dipatahkan. Dismaping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada selaput lendir
  • 46.
    35 esofagus dan lambung(Sinroma Mallory-Weiss), dengan akibat perdarahan gastrointestinal. Pada umumnya robekan ini dan perdarahan ini dapat berhenti sendiri.Jarang sampai diperlukan transfusi dan tindakan operatif. 2.1.3.5 Gejala dan tanda Batas jelas antaara mual yang masih fisiologik dalam kehamilan dengan hiperemesis gravidarum tidak ada, tetapi bila keadaaan umum penderita terpengaruh, sebaiknya ini dianggap sebagai hiperemesis gravidarum. Hiperemesis gravidarum menurut berat ringannya dibagi dalam 3 tingkatan.Tingkatan I. Muntah terus menerus mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa nyeri pada epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100 permenit, tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit mengurang, lidah mengering dan mata cekung. Tingkatan II. Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih mengurang, lidah menegring dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikteris. Berat badan turun dan mata menjadi cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oliguria dan konstipasi. Aseton dapat tercium dalam hawa pernafasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing. Tingkatan III. Keadaaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dari samnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat; suhu meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fatal terjadi
  • 47.
    36 pada susunan sarafyang dikenal sebagai ensefalopati Wernicke, dengan gejala: nistagmus, diplopia dan perubahan mental. Keadaaan ini adlah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah hati (Prawriohardjo, 2007; h. 275-277). 2.1.3.6 Diagnosis Menurut Cuningham,2005 umumnya tidak sukar menegakan diagnosa Hiperemesis Gravidarum. Harus ditentukan adanya kehamilan muda dengan mual dan muntah terus menerus, sehingga berpengaruh terhadap keadaan umum dan juga dapat menyebabkan kekurangan makanan yang dapat memepengaruhi perkembangan janin sehingga pengobatan perlu segera diberikan. Bisa juga dilihat dari hasil pemeriksaan laboratorium, yang menunjukan adaanya benda keton dalam urin. Namun harus dipikirkan juga kemungkinan kehamilan muda dengan penyakit Pielonefritis, hepatitis, ulkus, ventrikuli dan Tumor Serebri yang bisa memberikan gejala muntah (Rukiyah, 2010; h. 122). 2.1.3.7 Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada ibu dengan Hiperemesis Gravidarum dimulai dengan : a) Pencegahan Pencegahan terhadap Hiperemesis Gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memebrikan penerangan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang
  • 48.
    37 muntah merupakan gejalayang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan bulan, menganjurkan mengubah makanan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Makanan dan minuman seyogyanya disajikan pada saat panas atau sangat dingin. Defekasi yang teratur hendaknya dapat dijamin, menghindarkan kekurangan karbohidrat merupakan hal yang penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula. b) Obat-obatan Menurut Admin, 2007 apabila dengan cara tersebut diatas keluhan dan gejala tidak mengurang maka diperlukan pengobatan. Sedativa yang sering digunakan adalah pohenobarbital, vitamin yang dianjurkan yaitu vitamin B1 dan B2 yang berfungsi untuk mempertahankan kesehatann syaraf, jantung, otot serta meningkatkan pertumbuhan dan perbaikan sel dan B6 berfungsi menurunkan keluhan atau gangguan mual dan muntah bagi ibu hamil dan juga membantu dalam sintesa lemak untuk pembentukan sel darah merah. Menururt Wiknjosastro, 2005 antihistaminika juga dianjurkan pada keadaan lebih berat diberikan antimimetik seperti disklomin hidrokhloride, avomin (Rukiyah, 2010; h. 123).
  • 49.
    38 c) Isolasi Isolasi dilakukandalam kamar yang tenang cerah dan peredaran udara yang baik hanya dokter dan perawat yang boleh keluar masuk kamar sampai muntah berhenti dan pasien mau makan. Catat cairanyang masuk dan keluar dan tidak diberikan makan dan minum dan selama 24 jam. Kadang- kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan. d) Terapi Psikologik Menurut Wiknojosastro, 2005 perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini. Menurut Admin, 2008 bantuan yang positif dalam mengatasi permasalahan psikologis dan sosial dinilai cukup signifikan memberikan kemajuan keadaan umum (Rukiyah, 2010; h. 123). e) Diet Menurut Dinar, 2008 ciri khas diet hiperemesis adalah penekanan karbohidrat kompleks terutama pada pagi hari, serta menghindari makanan yang berlemak dan goreng- gorengan untuk menekan rasa mual dan muntah, sebaiknya diberi jarak dalam pemberian makan dan minum. Diet pada hiperemesis bertujuan untuk mengganti persediaan glikogen tubuh dan mngontrol asidosis secara berangsur memberikan
  • 50.
    39 makanan berenergi danzat gizi yang cukup (Rukiyah, 2010; h. 124). Diet hiperemesis gravidarum memiliki tigas syarat diantaranya adalah karbohidrat tinggi, yaitu 75-80% dari kebutuhan energi total, lemak rendah, yaitu <10% dari kebutuhan energi total, protein sedang, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total, makanan diberikan dalam bentuk kering, pemberian cairan disesuaikan dengan keadaan pasien, yaitu 7-10 gelas perhari, makanan mudah dicerna, tidak merangsang saluran pencernaaan dan diberikan sering dalam porsi kecil, bila makan pagi dan sulit diterima, pemberian dioptimalkan pada makan malam dan selingan malam, makanan secara berangsur ditignkatkan dalam porsi dna nilai gizi sesuai dengan keadaandan kebutuhan gizi pasien. Menganjurkan ibu untuk menghindari makanan yang berminyak, berlemak dan pedas seperti makanan yang digoreng, rujak, makanan yang bersantan karena dapat memperburuk rasa mual. Menganjurkan ibu untuk banyak minum air putih atau jus agar tidak dehidrasi serta menghindari minuman yang mengandung kafein dan karbonat seperti kopi dan minuman bersoda (Rukiyah, 2010; h. 131). Ada tiga macam diet hiperemesis gravidarum yaitu; 1) Diet hiperemsis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa roti kering dan buah buahan. Cairan tidak diberikan bersma makanan tetapi 1-2 jam
  • 51.
    40 sesudahnya. Makanan inikurang akan zat-zat gizi kecuali vitamin C karena itu hanya diberikan selama beberapa hari. 2) Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Secara berangsur mulai diberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Pemberian minuman tidak diberikan bersama makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zat gizi kecuali vitamin A dan D. 3) Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan pendertia minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali kalsium. 4) Menurut Dinar, 2008 makanan yang dianjurkan untuk diet hiperemesis I,II dan III adalah roti panggang, biskuit, crekers, buah segar dan sari buah, minuman botol ringan, sirup, kaldu tak berlemak, teh dan kopi encer. Sedangkan makanan yang tidak dianjurkan adalah makanan yang umumnya merangsang saluran pencernaan dan berbumbu tajam. Bahan makanan yang mengandung alkohol, kopi dan yang mengandung zat tambahan (pengawet, pewarna dan penyedap ras) juga tidak dianjurkan. 5) Diet pada ibu yang mengalami hiperemesis terkadang melihat kondisi si ibu dan tingkatkan hiperemesisnya, konsep saat ini yang dianjurkan pada ibu adalah makanlah apa yang ibu suka, bukan makan sedikit-sedikit teteapi
  • 52.
    41 sering juga janganpaksakan ibu memakan apa yang saat ini membuat mual karena diet tersebut tidak akan memperaprah kondisinya (Rukiyah, 2010; h. 124). 2.2 Teori Manajemen Kebidanan Menurut Varney Manajemen asuhan kebidanan atau yang sering disebut manajemen kebidanan adalah suatu metode berpikir dan bertindak secara seistematis dan logis dalam memberi asuhan kebidanan, agar menguntungkan kedua belah pihak baik klien maupun pemberi asuhan. Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiha, temuan-temuan, keterampilan, dalam rangkaian/ tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang berfokus pada klien. Manajemen kebidanan diadaptasi dari sebuah konsep yang dikembangkan oleh Helen Varney dalam buku Varney’s Midwifery. Edisis ketiga tahun 1997; menggambarkan proses manajemen asuhan kebidanan yanmg terdiri dari tujuh langkah yang berurut secara sistematis dan siklik (Soepardan, 2006; h. 96). Langkah Dalam Manajemen Kebidanan Menurut Varney Manajemen kebidanan terdiri dari beberapa langkah yang beurutan yang dimulai dengan pengumpulan data dasar dan diakhiri dengan evaluasi. Langkah-langkah tersebut membentuk kerangka yang lengkap yang bisa diaplikasikan dalam semua situasi. Akan tetapi, setiap langkah tersebut bisa dipecah-pecah ke dalam tugas-tugas tertentu dan semuanya bervariasi sesuai
  • 53.
    42 denan kondisi klien.Setiap langkah manajemen kebidanna akan dijabarkan , sebagai berikut: 2.2.1 Pengkajian Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari berbagai sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Pengumpulan data dilakukan dengan melalui anamnesis. Anamnesis adalah pengkajian dalam rangka mendapatkan data tentang pasien melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan. Bagian-bagian penting dari anamnesis antara lain sebagai berikut. a. Data subjektif 1. Biodata Berikut ini adalah panduan untuk mengetahui biodata pasien a) Nama istri/suami Mengetahui nama klien dan suami berguna untuk memperlancar komunikasi dalam asuhan sehingga tidak terlihat kaku dan lebih akrab. b) Umur Umur perlu diketahui guna mengetahui apakah klien dalam kehamilan yang berisiko atau tidak. Usia di bawah 16 tahun dan diatas 35 tahun merupakan umur-umur yang berisiko tinggi untuk hamil. Umur yang baik untuk kehamilan maupun persalinan adalah 19-25 tahun. c) Suku/Bangsa/Etnis/Keturunan Ras, etnis dan keturunan harus diidentifikasi dalam rangka memberikan perawatan yang peka budaya kepada klien dan
  • 54.
    43 mengidentifikasi wanita ataukeluarga yang memiliki kondisi resesif otosom dengan insiden yang tinggi pada populasi tertentu. Jika kondisi yang demikian diidentifikasi, wanita tersebut diwajibkan menjalani skrining genetik d) Agama Tanyakan pilihan agama klien dan berbagai praktik terkait agama yang harus diobservasi. Informasi ini dapat menurun ke suatu diskusi tentang pentingnya agama dalam kehidupan klien, tradisi keagamaan dalam kehamilan dan kelahiran, perasaan tentang jenis kelamin tenaga kesehatan, dan pada beberapa kasus, penggunaan produk darah. e) Pendidikan, Minat, Hobi Pendidikan berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai dengan pendidikannya (Ambarwati, 2008; h. 132). Pendidikan klien ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya. Tingkat pendidikan mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang (Estiwidani, 2008; h. 141). f) Pekerjaan Pekerjaan klien ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh pekerjaan terhadap permasalahan kesehatan klien. Pekerjaan orangtua ditanyakan bila pasien anak balita (Estiwidani, 2008; h. 141).
  • 55.
    44 Gunanya untuk mengetahuidan mengukur tingkat sosial ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien tersebut (Ambarwati, 2010; h. 132). g) Alamat rumah Alamat rumah klien perlu diketahui bidan untuk lebih memudahkan saat pertolongan persalinan dan untuk mengetahui jarak rumah dengan tempat rujukan (Walyani, 2015; h. 118). b. Riwayat pasien 1. Keluhan utama Ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Pada kasus ibu postpasrtum normal, misalnya keluhan utamanya adalah karena ia ingin memeriksakan kembali kesehatan nya setelah persalinan, atau pada kasus postpartum patologis, ibu datang ke fasilitas kesehatan karena demam, keluar darah segar dalam jumlah banyak, nyeri, infeksi luka jahitan dan lain-lain. 2. Riwayat Kebidanan Data ini penting diketahui oleh tenaga kesehatan sebagai data acuan jika psien mengalami penyulit postpartum. a) Menstruasi Data ini memang tidak secara langsung berhubungan dengan masa nifas, namun dari data yang kita peroleh kita akan mempunyai gambaran tentang keadaan dasar dari organ reproduksinya.
  • 56.
    45 Beberapa data yangharus kite peroleh dari riwayat menstruasi antara lain sebagai berikut. 1) Menarche. Menarche adalah usia pertama kali menglammi menstruasi. Wanita Indonesia pada umumnya mengalami menarche sekitar 12 sampai 16 tahun. 2) Siklus Siklus menstruasi adalah jarak antara menstruasi yang dialami dengan menstruasi berikutnya, dalam hitungan hari. Biasanya sekitar 23 sampai 32 hari. 3) Volume Data ini menjelaskan seberapa banyak darah menstruasi yang dikeluarkan. Kadang kita akan kesulitan untuk mendapatkan data yang valid. Sebagai acuan biasanya kita gunakan kriteria banyak, sedang, dan sedikit. Jawaban yang diberikan oleh pasien biasanya bersifat subjektif, namun kita dapat kaji lebih dalam lagi dengan beberapa pertanyaan pendukung, misalnya sampai berapa kali mengganti pembalut dalam sehari. 4) Keluhan Beberapa wanita menyampaikan keluhan yang dirasakan ketika mengalami menstruasi, misalnya nyeri hebat, sakit kepala sampai pingsan, atau jumlah darah yang banyak. Ada beberapa keluhan yang disampaikan oleh pasien dapat menunjuk kepada diagnosis tertentu.
  • 57.
    46 b) Gangguan kesehatanalat reproduksi Data ini sangat penting untuk kita kaji karena akan memberikan petunjuk bagi kita tentyang organ reproduksi pasien. Ada beberapa penyakit organ reproduksi yang berkaitan erat dengan personal hyegen pasien, atau kebiasaan lain yang tidak mendukung kesehatan reproduksinya. Jika didapatkan adanya salah satu atu beberapa riwayat gangguan kesehatan alat reproduksi, maka kita harus waspada akan adanya kemungkinan gangguan kesehatan alat reproduksi pada masa postpartum. Beberapa data yang perlu kita kaji dari pasien adalah apakah pasien pernah mengalami gangguan seperti berikut ini. 1) Keputihan 2) Infeksi 3) Gatal karena jamur 4) Tumor (Sulistyawati, 2009; h. 182). c) Riwayat kehamilan, persalinan, nifas dan KB yang lalu 1) Jumlah kehamilan (Gravid/G) Jumlah kehamilan ditamyakan untuk menegtahui seberapa besar pengalaman klien tentang kehamilan. Apabila klien mengatajan bahwa saat ini adalah kehamilan yang pertama, maka bidan harus secara maksimal memberikan penegtahuan kepada klien tentang bagaimana merawat kehamilannya dengan maksimal. 2) Jumlah anak yang hidup (L)
  • 58.
    47 Untuk mengetahui pernahtidaknya klien mengalami keguguran, apabila pernah maka pada kehamilan berikutnya akan berisiko mengalami keguguran kembali. Serta apabila jumlah anak yang hidup hanya sedikit dari kehamilan yang banyak, berarti kehamilannya saat ini adalah kehamilan yang sangat diinginkan. 3) Jumlah kelahiran prematur (P) Untuk mengidentifikasi apabila pernah mengalami kelahiran prematur sebelumnya maka dapat menimbulkan resiko persalinan prematur berikutnya. 4) Jumlah keguguran (A) Tanyakan kepada klien apakah ia pernah keguguran atau tidak. Sebab apabila pernah mengalami keguguran dalam riwayat persalinan sebelumnya akan berisiko untuk mengalami keguguran pada kehamilan berikutnya (keguguran berulang). 5) Berat bayi < 2,5 atau 4 kg Berat lahir sangat penting iuntuk mengidentifikasi apakah bayi kecil untuk masa kehamilan (BKMK) atau bayi besar untuk masa kehamilan (BKMK), suatu kondisi yang biasanya berulang. Apabila persalinan pervaginam, berat lahir mencerminkan bahwa bayi dengan ukuran tertentu berhasil memotong pelvis maternal.
  • 59.
    48 6) Riwayat KB Tanyakankepada klien metode KB apa yang selama ini ia gunakan (Walyani, 2015; h. 129). d) Riwayat kehamilan sekarang 1) HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir) Bidan ingin mengetahui tanggal hari menstruasi terkhir klien untuk memperkirakan kapan kira-kira sang bayi akan dilahirkan. 2) TP (Taksiran Persalinan)/Perkiraan Kelahiran Perhitungan dilakukan dengan menambahkan 9 bulan dan 7 hari pada hari pertama haid terakhir (HPHT) atau dengan mengurangi bulan dengan 3, kemudian dengan menambahkan 7 hari dan 1 tahun. 3) Kehamilan yang ke- Jumlah kehamilan ibu perlu ditanyakan karena terdapatnya perbedaan perawatan antara ibu yang baru pertama hamil dengan ibu yang sudah beberapa kali hamil, apabila ibu tersebut baru pertama kali hamil otomatis perlu perhatian ekstra pada kehamilannya (Walyani, 2015; h. 120). 4) Imunisasi TT (Tetanus Toxoid) I Tanyakan pada klien apakah sudah pernah mendapatkan imunisasi TT. Apabila belum, bidan bisa memberikannya imunisasi tetanus toxoid diperlukan untuk melindungi bayi terhadap penyakit tetanus neonatorum, imunisasi
  • 60.
    49 dapat dilakukan padatrimester I atau II pada kehamilan 3- 5 bulan dengan interval minimal 4 minggu. Lakukan penyuntikan secara IM (intamusculer), dengan dosis 0,5ml (Walyani, 2015; h. 124). 3. Riwayat kesehatan Data dari riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai “penanda” (warning) akan adanya penyulit masa hamil. Adanya perubahan fisik dan fisiologis pada masa hamil yang melibatkan seluruh seluruh sistem dalam tubuh akan mempengaruhi organ yang mengalami gangguan. Beberapa data penting tentang riwayat kesehatan pasien yang perlu kita ketahui adalah apakah pasien pernah atau sedang menderita penyakit, seperti jantung, diabetes melitus (DM), ginjal, hipertensi/hipotensi dan hepatitis. 4. Status perkawinan Ini penting untuk dikaji karena dari data ini kita akan mendapatkan gambaran mengenai suasana rumah tangga pasangan. Beberapa pertanyaan yang dapat ajukan antara lain sebgai berikut . a) Berapa tahun usia ibu ketika menikah pertama kali ? b) Status pernikahan (sah/tidak sah) ? c) Lama pernikahan ? d) Ini adalah suami yang ke ? 5. Pola makan Ini penting untuk diketahui supaya kita mendapatkan gambaran bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya selama hamil.
  • 61.
    50 Beberapa hal yangperlu kita tanyakan pada pasien berkaitan dengan pola makan adalah sebagai berikut. a) Menu Kita dapat menanyakan pada pasien tentang apa saja yang ia makan dalam sehari (nasi, sayur, lauk, buah, makanan selingan, dan lain-lain) b) Frekuensi Data ini akan memberi petunjuk bagi kita tentang seberapa banyak asupan makanan yang dikonsumsi ibu. c) Jumlah per hari. Data ini memberikan volume atau seberapa banyak makanan yang ibu makan dalam waktu satu kali makan. Untuk mendapatkan gambaran total makanan yang ibu makan, bidan dapat mengalikannya dengan frekuensi makan dalam sehari. d) Pantangan Ini juga penting untuk kita kaji karena ada kemungkinan pasien berpantang makanan justru pada makanan yang sangat mendukung pemulihan fisiknya, misalnya daging, ikan atau telur. 6. Pola Minum Hal-hal yang perlu kita tanyakan kepada pasien tentang pola minum adalah sebagai berikut.
  • 62.
    51 a) Frekuensi Kita dapattanyakan pada pasien berapa kali ia minum dalam sehari, dan dalam sekali minum menghabiskan berapa gelas b) Jumlah perhari Frekuensi minum dikalikan seberapa banyak ibu minum dalam sekali minum menghabiskan berapa gelas. c) Jenis minuman Kadang pasien mengonsumsi minuman yang sebenarnya kurang baik untuk kesehatannya 7. Pola istirahat Istirahat sangat diperlukan oleh ibu hamil. Oleh karena itu, bidan perlu menggali kebiasaan istirahat ibu supaya diketahui hambatan yang mungkin muncul jika didapatkan data yang senjang tentang pemenuhan kebutuhan istirahat. Bidan dapat menanyakan tentang berapa lama ia tidur di malam dan siang hari. a) Istirahat malam hari. Rata-rata lama tidur malam yang normal adalah 6-8 jam. b) Istirahat siang hari Tidak semua wanita mempunyai kebiasaan tidur siang. Oleh karena itu, hal ini dapat kita sampaikan kepada ibu bahwa tidur siang sangat penting untuk menjaga kesehatan selama hamil. 8. Aktivitas sehari-hari Kita perlu mengkaji aktivitas sehari-hari pasien karena data ini memberikan gambaran tentang seberapa berat aktivitas yang
  • 63.
    52 biasa dilakukan pasiendi rumah. Jika kegiatan pasien terlalu berat sampai dikhawatirkan dapat menimbulkan penyulit masa hamil, maka kita dapat memberikan peringatan sedini mungkin kepada pasien untuk membatasi dahulu kegiatannya sampai ia sehat dan pulih kembali. Aktivitas yang terlalu berat dapat menyebabkan abortus dan persalinan prematur. 9. Personal Hyegen Data ini perlu kita kaji karena bagaimanapun juga hal ini akan mempengaruhi kesehatan pasien dan bayinya. Jika pasien mempunyai kebiasaan yang kurang baik dalam perawatan kebersihan dirinya, maka bidan harus dapat memberikan bimbingan mengenai cara perawatan kebersihan diri diantaranya adalah sebagai berikut. a) Mandi b) Keramas c) Ganti baju dan celana dalam Ganti baju minimal sekali dalam sehari, sedangkan celana dalam minimal dua kali. Namun jika sewaktu-waktu baju dan celana dalam sudah kotor, sebaiknya segera diganti tanpa harus menunggu waktu untuk ganti berikutnya. d) Kebersihan kuku 10. Aktivitas seksual. Walaupun ini adalah hal yang cukup privasi bagi pasien, namun bidan hatus menggali data dari kebiasaan ini, karena terjadi
  • 64.
    53 beebrapa kasus keluhandalam aktivitas seksual yang cukup mengganggu pasien namun ia tidak tahu kemana harus berkonsultasi. 11. Respons keluarga terhadap kehamilan ini. Bagaimana pun juga hal ini sangat penting untuk kenyamanan psikologis ibu. 12. Respons ibu terhadap kelahiran bayinya. Dalam mengkaji data ini kita dapat menanyakan langsung kepada pasien mengenai bagaimana perasaanya terhadapa kehamilannya. 13. Respon ayah terhadap kehamilan ini Untuk mengetahui bagaimana respon ayah terhadap kehamilan ini kita dapat menanyakan langsung kepada suami pasien atau dapat juga kepada pasien sendiri. 14. Pengetahuan ibu tentang perawatan kehamilannya Data ini dapat kita peroleh dari beberapa pertanyaan yang kita ajukan kepada pasien mengenai perawatan selama hamil. 15. Perencanaan KB Meskipun pemakaian alat kontrasepsi masih lama, namun tidak ada salahnya jika kita mengkajinya lebih awal agar pasien mendapatkan informasi sebanyak mungkin mengenai pilihan beberapa alat kontrasepsi. 16. Pengetahuan ibu tentang keadaan dan perawatannya. Penting untuk diketahui pasien mengenai keadaannya dan perjalanan perawatannya. Hal ini dimaksudkan agar pasien dapat kooperatif dalam menjalankan program perawatan.
  • 65.
    54 17. Adat istiadatsetempat yang berkaitan dengan masa hamil. Hal ini penting yang biasanya mereka anut berkaitan dengan masa hamil adalah menu makan untuk ibu hamil, misalnya ibu hamil harus pantang makanan yang berasal dari daging, ikan, telur dan goreng-gorengan karena dipercaya akan menyebabkan kelainan pada janin. b. Data Objektif Setelah data subjektif kita dapatkan, untuk melengkapi data kita dalam menegakkan diagnosis, maka kita harus melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaaan inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi yang dilakukan secara berurutan. Langkah-langkah pemeriksaannya sebagai berikut. 1. Keadaan umum Untuk mengetahui data ini kita cukup dengan mengamati keadaanpasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan kita laporkan dengan kriteria sebagai berikut. a) Baik. Jika pasien memperlihatkan respon yanng baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan. b) Lemah. Pasien dimasukkan ke dalam kriteria ini jika ia kurang atau tidak memberikan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak mmapu lagi untuk berjalan sendiri.
  • 66.
    55 2. Kesadaran Untuk mendapatkangambaran tentang kesadaran pasien, kita dapat melakukan pengkajian tingkat kesadaran mulai dari keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan koma (pasien tidak dalam keadaan sadar). 3. Tanda Vital a) Tekanan darah b) Nadi c) Pernafasan d) Suhu 4. Kepala 5. Rambut a) Warna b) Kebersihan c) Mudah rontok atau tidak 6. Telinga a) Kebersihan b) Gangguan pendengaran 7. Mata a) Konjungtiva b) Sklera c) Kebersihan d) Kelainan e) Gangguan penglihatan (rabun jauh/dekat)
  • 67.
    56 8. Hidung a) Kebersihan b)Polip c) Alergi debu 9. Mulut a) Bibir 1) Warna 2) Integritas jaringan (lembap, kering atau pecah-pecah) b) Lidah 1) Warna 2) Kebersihan c) Gigi 1) Kebersihan 2) Karies 3) Gangguan pada mulut (bau mulut) 10.Leher a) Pembesaran kelenjar limfew b) Parotitis 11.Dada a) Bentuk b) Simetris/tidak c) Payudara 1) Bentuk 2) Besar masing-masing payudara (seimbang atau tidak) 3) Hiperpigmentasi areola payudara
  • 68.
    57 4) Teraba masa,nyeri atau tidak 5) Kolostrum 6) Keadaan puting: menonjol, datar, atau masuk ke dalam 7) Kebersihan 8) Bentuk bra d) Denyut jantung e) Gangguan pernafasan (auskultasi) 12. Perut a) Bentuk b) Bekas luka operasi c) Striae d) Linea e) TFU f) Hasil pemeriksaan palpasi leopold g) Tafsiran berat janin (TBJ) h) Denyut jantung janin (DJJ) 13. Ekstremitas a) Atas 1) Gangguan/kelainan 2) Bentuk b) Bawah 1) Bentuk 2) Oedema 3) Varises
  • 69.
    58 14. Genital a) Kebersihan b)Pengeluaran pervaginam c) Tanda-tanda infeksi vagina 15. Anus a) Haemorroid b) Kebersihan 16. Pemeriksaan penunjang a) Kadar Hb b) Hematokrit (Ht) c) Kadar leukosit d) Golongan darah (Sulistyawati, 2009; h. 180 - 191). 2.2.2 Interpretasi Data Dasar Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Langkah awal dari perumusan diagnosis atau masalah adalah pengolahan data dan analisis dengan menggabungkan data satu dengan lainnya sehingga tergambar fakta. Dalam langkah kedua ini Bidan membagi interpretasi data dalam tiga bagian, yaitu sebagai berikut. 1. Diagnosis Kebidanan /Nomenklatur Dalam bagian ini yang disimpulkan oleh bidan antara lain sebagi berikut.
  • 70.
    59 a. Paritas Pasien adalahriwayat reproduksi seorang wanita yang berkaitan dengan kehamilannya (jumlah kehamilan). Dibedakan dengan primigravida (hamil yang pertama kali) dan multigravida (hamil yang kedua atau lebih. Contoh cara penulisan paritas dalam interpretasi data adalah sebagai berikut. 1) Primigravida a) G1 (gravid 1) atau hamil yang pertama kali b) P0 (partus nol) berarti belum pernah partus atau melahirkan c) A0 (abortus nol) berarti belum pernah mengalami abortus 2) Multigravida a) G3 (gravid 3) atau ini adalah kehamilannya yang ketiga b) P1 (partus 1) atau sudah pernah mengalami persalinan satu kali. c) A1 (abortus 1) atau sudah pernah mengalami abortus satu kali b. Usia kehamilan dalam minggu c. Keadaan janin d. Normal atau tidak normal 2. Masalah Dalam asuhan kebidanan digunakan istilah “masalah” dan “diagnosis”. Kedua istilah tersebut dipakai karena beberapa masalah tidak dapat didefinisikan sebagai diagnosis, tetapi tetap perlu dipertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh. Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanitaitu mengalami kenyataan terhadap diagnosisnya.
  • 71.
    60 3. Kebutuhan Dalam bagianini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalahnya. Contohnya kebutuhan untuk KIE dan bimbingan tentang perawatan kehamilannya (Sulistyawati, 2009; h. 191-192). 2.2.3 Identifikasi Diagnosis/Masalah Potensial dan Antisipasi Penanganannya Pada langakah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain berdasarkan masalah yang lain juga. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sa,bil terus mengamati kondisi klien. Bidan diharapkan dapat bersiap- siap bila diagnosis atau masalah potensial benar-benar terjadi (Sulistyawati, 2009; h. 195). 2.2.4 Menetapkan Perlunya konsultasi dan Kolaborasi Segera dengan Tenaga Kesehatan Lain Dalam pelaksanaannya terkadang bidan dihadapkan pada beberapa situasi yang memerlukan segera (emergensi) di mana bidan harus segera melakukan tindakan untuk menyelamatkan pasien, namun kadang juga berada pada situasi pasien yang memerlukan tindakan segera sementara menunggu instruksi dokter, atau bahkan mungkin juga situasi pasien yang memerlukan konsultasi dengan tim kesehatan lain. Di sini bidan sangat dituntut kemampuannya untuk dapat selalu melakukan evaluasi keadaan pasien agar asuhan yang diberikan tepat dan aman (Sulistyawati, 2009; h. 196).
  • 72.
    61 2.2.5 Menyusun RencanaAsuhan Menyeluruh Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh berdasarkan langkah sebelumnya. Semua perencanaan yang dibuat harus berdasarkan pertimbangan yang tepat, meliputi pengetahuan, teori yang up to date, perawatan berdasarkan bukti (evidence based care), serta divalidasikan dengan asumsi mengenai apa yang diinginkan dan tidak diinginkan oleh pasien. Dalam menyusun perencanaan sebaiknya pasien dilibatkan, karena pada akhirnya pengambilan keputusan dalam melaksanakan suatu rencana asuhan harus disetujui oleh pasien (Sulistyawati, 2009; h. 196). 2.2.6 Pelaksanaan Asuhan Kebidanan Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Realisasi dari perencanaan dapat dilakukan oleh bidan, pasien, anggota keluarga yang lain. Jika bidan tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul tanggung jawab atas terlaksananya seluruh perencanaan. Dalam situasi di mana ia harus berkolaborasi dengan dokter, misalnya karena pasien mengalami komplikasi, bidan masih tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya waktu, biaya, dan meningkatkan mutu asuhan (Sulistyawati, 2009; h. 198). 2.2.7 Evaluasi Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan yang kita berikan kepada pasien, kita mengacu kepada beberapa pertimbangan berikut ini.
  • 73.
    62 1. Tujuan AsuhanKebidanan a. Meningkatkan, mempertahankan, dan mengembalikan kesehatan. b. Memfasilitasi ibu untuk menjalani kehamilannya dengan rasa aman dan penuh percaya diri. c. Meyakinkanwanita dan pasangannya untuk mengembangkan kemampuannya sebagai orangtua dan untuk mendapatkan pengalaman berharga sebagai orangtua. d. Membantu keluarga untuk mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan mereka dan mengemban tanggung jawab terhadap kesehatannya sendiri. 2. Efektivitas Tindakan untuk Mengatasi Masalah. Dalam melakukan evaluasi seberapa efektif tindakan dan asuhan yang kita berikan kepada pasien, kita perlu mengkaji respons dan peningkatan kondisi yang kita targetkan pada saat penyusunan perencanaan. Hasil pengkajian ini kita jadikan sebagai acuan dalam pelaksanan asuhan berikutnya (Sulistyawati, 2009; h. 200- 201). 2.3 Teori Landasan Hukum Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No.900/menkes/SK/VII/2002 bidan dalam menjalankan praktik profesinya berwenang untuk memberikan pelayanan yang meliputi:
  • 74.
    63 1. Pelayanan KebidananKepada Ibu Pelayanan kebidanan kepada ibu diberikan pada masa pranikah, prahamil, masa kehamilan, masa persalinan, masa nifas, menyusui dan masa antara (periode interval) meliputi: 1.1Penyuluhan dan konseling 1.2 Pelayanan kebidanan kepada ibu meliputi: a. Penyuluhan dan konseling; b. Pemeriksaan fisik; c. Pelayanan antenatal pada kehamilan normal d. Pertolongan pada kehamilan abnormal yang mencakup ibu hamil dengan abortus iminens gravidarum tingkat I, preeklampsia ringan dan anemia ringan; e. Pertolongan persalinan normal; f. Pertolongan persalinan abnormal, yang mencakup letak sungsang, partus macet kepala di dasar panggul, ketuban pecah dini (KPD) tanpa infeksi, perdarahan postpartum, laserasi jalan lahir, distosia karena insersia uteri primer, postterm dan preterm g. Pelayanan ibu nifas normal; h. Pelayanan ibu nifas abnomal yang mencakup retensio plasenta, renjatan dan infeksi ringan i. Pelayanan dan pengobatan pada kelainan ginekologi yang meliputi keputihan, perdarahan tidak teratur dan penundaan haid.
  • 75.
    64 Dalam keadan daruratbidan berwenang melakukan pelayanan kebidanan selain kewenangan-kewenangan yang telah disebutkan di atas yang sifatnya ditujukan untuk penyelamatan jiwa. Selain kewenangan pelayanan diatas bidan juga diharuskan untuk: 1. Menghormati hak pasien 2. Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani 3. Menyimpan rahasia sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku 4. Memberikan informasi tentang pelayanan yang akan diberikan 5. Meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan (informeds consent) 6. Melakukan catatan medik (medical record) dengan baik (Sofyan, 2006; h. 265).
  • 76.
    65 BAB III TINJAUAN KASUS ASUHANKEBIDANAN PADA IBU HAMIL PADA NY. S UMUR 36 TAHUN G3P2A0 USIA KEHAMILAN 12 MINGGU 3 HARI DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM TINGKAT I DI BPS Hj.USMALANA SADDAM, Amd.Keb BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015 I. Pengkajian Tanggal : 7 April 2015 Jam : 10.00 WIB Nama Mahasiswa : Noviyanti Putri Nim : 201207107 A. Data subyektif 1. Identitas pasien Suami Nama : Ny. S Tn.P Umur : 36th 35th Agama : Islam Islam Sukubangsa : Jawa Jawa Pendidikan : SMP SMA Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Swasta Alamat : Karya Bakti RT 09 LK II Rajabasa 2 Karya Bakti RT 09 LK II Bandar lampung Rajabasa 2 Bandarlampung
  • 77.
    66 2. Keluhan utama Ibumengatakan mual muntah lebih dari 10 kali dalam sehari dan telah mengganggu aktivitas. 3. Riwayat kesehatan a. Riwayat Kesehatan Sekarang Ibu mengatakan saat ini tidak sedang menderita penyakit menular dan menurun. b. Riwayat Kesehatan Yang lalu Ibu mengatakan tidak pernah menderita suatu penyakit apapun. c. Riwayat Kesehatan Keluarga Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada riwayat penyakit menular dan menurun. 4. Riwayat obstetric a. Riwayat haid Menarche : 15 tahun Siklus : 28 hari Teratur/tidak : Teratur Lama : 5-7 hari Volume : 2 kali ganti pembalut dalam sehari Warna : Merah Disminorhea : Tidak Bau : Khas Flour albus : Tidak ada HPHT : 10-1-2015 TP : 17-10-2015
  • 78.
    67 b. Riwayat kehamilandan persalinan yang lalu No Tahun Persali nan Usia Kehamilan Jenis Persalinan Tempat Persalinan Kesulitan dalam persalinan Penol ong Bayi JK BB PB Ket 1 2004 Aterm Spontan BPS Tidak ada Bidan Laki -laki 3000 gr 49 cm 2 2007 Aterm Spontan BPS Tidak ada Bidan Laki -laki 2800 gr 48 cm 3 Kehamilan ini usia Kehamilan 12 minggu 3 minggu c. Tanda-tanda kehamilan Amenorea, mual muntah : Ya Tes kehamilan : Di lakukan Tanggal : 12-2-2015 Hasil : Positif d. Pergerakan janin belum di rasakan e. Keluhan yang di rasakan: Rasa lelah : Ada Mual-muntah : Ada Pegal pada kaki dan pinggang : Tidak ada Malas beraktifitas : Ada Panas menggigil : Tidak ada Sakit kepala : Ada Penglihatan kabur : Tidak ada Rasa nyeri/ panas waktu BAK : Tidak ada
  • 79.
    68 Rasa gatal padavulva, vagina : Tidak ada Nyeri kemerahan pada tungkai : Tidak ada f. Riwayat pernikahan Menikah 1 kali lamanya 13tahun g. Riwayat KB KB suntik 3 bulan h. Riwayat imunisasi TT Pada kehamilan pertama lengkap Belum pernah mendapatkan imunisasi TT pada hamil ini i. Riwayat sosial Kehamilan saat ini di rencanakan : Ya Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan dan nifas : Tidak ada 5. Pola kebutuhan sehari-hari a. Nutrisi Sebelum hamil : ibu mengatakan makan 2 kali sehari1 porsi sedang dengan nasi,sayur dan lauk serta minum air putih 3- 4 gelas per hari Selama hamil : ibu mengatakan selama hamil kurang nafsu makan, ibu makan tidak teratur dengan porsi sedikit yaitu dengan setengah porsi dari porsi biasanya. Ibu lebih sering makan makanan seperti biscuit, jagung, umbi-umbian yaitu singkong, mantang dan minum 3-4 gelas perhari.
  • 80.
    69 b. Pola eliminasi Sebelumhamil : ibu mengatakan BAK 6-7 kali sehari warna kuning jernih dan berbau khas urine, dan BAB 1 kali perhari sekali warna kuning kecoklatan. Selama hamil : ibu mengatakan BAK 4-5 kali sehari warna kuning pekat, berbau khas urine, dan BAB 1 hari sekali warna kuning kecoklatan. c. Pola istirahat Sebelum hamil : ibu mengatakan tidur malam 7-8 jam perhari dan tidur siang 1-2 jam perhari. Selama hamil : ibu mengatakan tidur malam 5-6 jam perharidan tidur siang 1 jam perhari. d. Personal hygiene Sebelum hamil : ibu mengatakan ganti celana dalam 2 kali dalam sehari, mandi 2 kali sehari, gosok gigi 2 kali sehari, keramas 1 hari sekali dan potong kuku 2 minggu sekali. Selamahamil : ibu mengatakan ganti celana dalam 2-3 kali sehari dan mandi 2 kali sehari, gosokgigi 2 kali sehari dan keramas 2 hari sekali, potong kuku 2 minggu sekali. e. Pola sexual Sebelum hamil : 2 kali seminggu Selama hamil : 1 kali seminggu
  • 81.
    70 f. Pola Aktivitas Seharihari ibu berdagang di rumah 7. Polapsikososial Ibu dapat bersosialisi dengan baik pada keluarga dan tetangganya B. Data Obyektif 1. Pemeriksaan Umum a. Keadaan umum : Lemah b. Kesadaran : Compos mentis c. Tekanan darah : 100/70 mmHg d. Nadi : 110x/menit e. Suhu : 36,50 C f. RR : 22x/menit g. Tinggi badan : 154 cm h. Berat badan sebelum hamil : 47 kg Berat badan sekarang : 44kg i. LILA : 24 cm 2. Pemeriksaan fisik a. Kepala : Tidak ada nyeri tekan b. Rambut : Bersih, tidak ada rontok c. Muka Cloasma : Tidak ada Oedema : Tidak ada
  • 82.
    71 d. Mata Kelopak mata: Cekung Konjungtiva : pucat Sklera : Putih e. Hidung : Simetris kanan dan iri, tidak ada pembesaran polip f. Telinga : Simetris kanan dan kiri Gangguan pendengaran : Tidak ada gangguan pendengaran. g. Mulut : Bersih, bibir kering. h. Gigi : Tidak ada caries i. Leher Kelenjar tyroid : Tidak ada pembesaran Kelenjar getah bening : Tidak ada pembesaran j. Payudara Pembesaran : Normal Putting susu : Menonjol Benjolan : Tidak ada Rasa nyeri : Tidak ada Hiperpigmentasi : Ada pada puting susu dan areola Pengeluaran : Tidakada k. Abdomen Bekas luka operasi : Tidak ada Pembesaran : Sesuai usia kehamilan Konsistensi : Lunak Linea Nigra : Ada
  • 83.
    72 Acites : Tidakada Tumor : Tidak ada Pembesaran liver/lien : Tidak ada Uterus : Tidak di lakukan l. Punggung : Normal m. Pinggang Nyeri ketuk : Tidak ada n. Genetalia Perineum : Tidak dilakukan Vulva dan vagina : Tidak dilakukan Pengeluaran pervaginam : Tidak dilakukan Kelenjar bartholini : Tidak dilakukan o. Periksa dalam : Tidak di lakukan p. Anus : Tidak ada hemoroid q. Ekstremitas Oedema : Tidak ada Kemerahan : Tidak ada Varices : Tidak ada Refleks patella : Positif kanan dan kiri 3. Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan Hb : 8,2 gr% b. Protein urine : tidak dilakukan c. Glukosa urine : tidak dilakukan
  • 84.
    73 TABEL 3.1 MATRIK Tgl/JamPENGKAJIAN INTERPRETASI DATA (DIAGNOSA, MASALAH, KEBUTUHAN) DX POTENSIAL/ MASALAH POTENSIAL ANTISIPASI/ TINDAKAN SEGERA INTERVENSI IMPLEMENTASI EVALUASI Selasa, 7 April 2015 pukul 10.00 WIB Ds : ibu mengatakan mual dan muntah setiap pagi hari dan sudah lebih dari 10 kali dalam sehari, serta ibu merasa lemas, pusing serta lidah ibu terasa kering. Do : Keadaan Umum : Lemah Kesadaran : Composmentis TTV : TD : 100/ 70 mmHg N : 110 x/m S : 36,5ºC P : 22x/m BB : 44 kg Mata : cekung Lidah : kering dan kotor Dx ibu : Ny. S umur 36 tahun G3P2A0 usia kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat I Dasar : Ds : Ibu mengatakan mual muntah lebih dari 10 kali dalam sehari dan telah menggaanggu aktivitas. HPHT : 10-1-2015 Tanggal kunjungan : 7-4-2015 Do : Keadaan Umum : Lemah BB : 44 kg HEG tingkat II Konseling pola nutrisi 1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan 2. Jelaskan pada ibu tentang keluhan yang dialami ibu 1. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan saat ini bahwa ibu dalam keadaan kurang baik, dengan hasil pemeriksaan yaitu : TD : 100/ 70 mmHg N : 110 x/m S : 36,5ºC P : 22x/m BB : 44 kg Mata : cekung Lidah : kering 2. Menjelaskan pada ibu tentang keluhan yang dialami oleh ibu yaitu ibu mengalami Hiperemesis Gravidarum adalah mual muntah yang berlebihan yang terjadi pada wanita hamil sehingga menyebabkan terjadinya 1. Ibu telah mengetahui kondisinya saat ini. 2. Ibu mengerti tentang keluhan yang dirasakan saat ini.
  • 85.
    74 Turgor kulit mengurang Mata :cekung Lidah : kering Turgor kulit mengurang Masalah : Mual dan muntah sehingga mengganggu aktivitas Kebutuhan : Penanganan Hiperemesis Gravidarum tingkat I 3.Beritahu ibu cara mengatasi keluhan yang dialaminya. 4. Jelaskan pada ibu mengenai cara mengatur pola nutrisi yang harus dipenuhi. ketidakseimbangan kadar elektrolit, penurunan berat badan (lebih dari 5% berat badan awal) dehidrasi, ketosis, dan kekurangan nutrisi. Hal tersebut mulai terjadi pada minggu keempat sampai kesepuluh kehamilan dan selanjutnya akan membaik umumnya pada usia kehamilan 20 minggu. 3. Memberitahu ibu cara mengatasi keluhan yang dialaminya yaitu Menganjurkan ibu di pagi hari sewaktu bangun tidur jangan langsung terburu-buru bangun cobalah duduk dahulu dan baru perlahan berdiri untuk bangun. 4. Menjelaskan pada ibu mengenai pola kebutuhan nutrisi yang harus dipenuhi yaitu menganjurkan ibu untuk menghindari makanan yang berminyak, berlemak dan pedas seperti makanan yang digoreng, rujak, 3. Ibu mengerti cara mengatasi keluhan yang dialaminya. 4. Ibu mengerti tentang pola nutrisi yang diajarkan.
  • 86.
    75 5. Beritahu ibu tentangpola istirahat yaitu anjurkan ibu istirahat cukup. makanan yang bersantan karena dapat memperburuk rasa mual. Menganjurkan ibu untuk banyak minum air putih atau jus agar tidak dehidrasi serta menghindari minuman yang mengandung kafein dan karbonat seperti kopi dan minuman bersoda. Menganjurkan ibu untuk diet HEG tingkat 1 yaitu makan sesuai kesanggupan ibu yaitu makanan yang cukup energy seperti roti panggan, biscuit, krekers, buah segar, sari buah, minuman botol ringan, sirup, kaldu tak berlemak, teh, kopi encer. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali kalsium. 5. Memberitahu ibu tentang pola isitrahat yaitu menganjurkan ibu untuk isitirahat cukup seperti tidur siang ± 1- 2 jam karena tidur siang menguntungkan dan baik untuk kesehatan dan tidur malam ± 8 jam karena tidur malam 5. Ibu mengerti tentang pola istirahat yang cukup.
  • 87.
    76 6. Beritahu ibu tentangpola aktivitas yang baik. 7.Beritahu ibu tanda bahaya pada kehamilan. 8. Anjurkan ibu untuk tetap merupakan waktu dimana proses pertumbuhan janin berlangsung serta menganjurkan ibu dipagi hari sewaktu bangun cobalah duduk dahulu dan baru perlahan berdiri bangun. 6. Memberitahu ibu tentang pola aktivitas yang baik yaitu menganjurkan ibu untuk menghindari mengangkat beban yang berat, menganjurkan ibu untuk beraktivitas secara bertahap jika muntah berkurang. 7. Memberitahu ibu tanda bahaya pada kehamilan yaitu; perdarahan pervaginam, sakit kepala yanng berat, penglihatan kabur, bengkak diwajah dan jari-jari tangan, keluar cairan pervaginam, gerakan janin tidak teraba, dan nyeri abdomen yang hebat. 8. Menganjurkan ibu untuk tetap meminum 6. Ibu telah mengerti tentang pola aktivitas yang baik. 7. Ibu telah mengerti tentang tanda bahaya kehamilan 8. Ibu telah mengerti
  • 88.
    77 meminum obat yang telah diberikanoleh bidan. obat yang telah diberikan oleh bidan yaitu meminum vitamin B1 dan B2 yang berfungsi untuk mempertahankan kesehatan syaraf, jantung, otot serta meningkatkan pertumbuhan dan perbaikan sel, B6 berfungsi menurunkan keluhan atau gangguan mual dan muntah bagi ibu hamil dan juga membantu dalam sintesa lemak untuk pembentukan sel darah merah, mengonsumsi Tablet Fe yang berguna untuk membangun cadangan besi, sintesa sel darah merah dan sintesa darah otot minimal 1 tablet perhari atau 90 tablet selama kehamilan. tentang terapi obat yang bsik bagi ibu, dan ibu akan rutin meminum obat sesuai ketentuan yang telah diberikan bidan. Jumat , 10 April 2015 Pukul 16.00 WIB Ds : Ibu mengatakan mual di pagi hari masih terasa tetapi sedikit berkurang, muntah menjadi 6 kali pada pagi hari dan pada malam hari 2 kali dan ibu merasa masih lemas, pusing dan Dx ibu : NY. S umur 36 tahun G3P2A0 usia kehamilan 12 minggu 6 hari dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat I Ds : Ibu mengatakan muntah sudah berkurang dari HEG tingkat II Konseling pola Nutrisi 1. Beritahu ibu keadaannya saat ini 1. Memberitahu ibu keadaannya saat ini sedikit membaik dengan hasil pemeriksaan TTV : TD : 110/70 mmHg N : 90 x/m S : 36,5◦C P : 22 x/m 1. Ibu telah mengetahui kondisinya saat ini.
  • 89.
    78 berkunang. Do : Keadaan umum: lemah Kesadaran : Composmentis BB : 44 kg TTV : TD : 110/70 mmHg S : 36,5ºC P : 22 x/m N : 90 x/m sebelumnya yaitu 6 kali dalam sehari HPHT : 10-1-2015 Tanggal kunjungan : 10-4-2015 Do : Keadaan Umum : Lemah Kesadaran : Composmentis BB : 44 kg Mata : cekung Lidah : kering Turgor kulit mrngurang Masalah : Ibu masih merasakan mual muntah Kebutuhan : Penanganan Hiperemesis Gravidarum tingkat 1 2. Kaji ulang tentang keluhan yang dialami ibu 3. Kaji ulang cara mengatasi keluhan yang dialami ibu. 4. Kaji ulang mengenai cara mengatur pola nutrisi yang baik. 2. Mengkaji ulang tentang keluhan yang dialami ibu. Hal ini yang dirasakan ibu saat ini dalam kehamilan diesbut dengan hiperemesis gravidarum. 3. Mengkaji ulang cara mengatasi keluhan yang dialaminya yaitu Menganjurka nibu di pagi hari sewaktu bangun tidur jangan langsung terburu-buru bangun cobalah duduk dahulu dan baru perlahan berdiri bangun. 4. Menjelaskan pada ibu mengenai pola kebutuhan nutrisi yang harus dipenuhi yaitu menganjurkan ibu untuk menghindari makanan yang berminyak, berlemak dan pedas seperti makanan yang digoreng, rujak, makanan yang bersantan karena dapat memperburuk rasa 2. Ibu mengerti tentang keluhan yang dirasakan saat ini dan mual muntah pada ibu sudah mulai berkurang yaitu 8 kali dalam sehari. 3. Ibu sudah mulai mengatasi keluhan yang dialaminya. 4. Ibu sudah mulai mengatur pola nutrisi yang telah diajarkan.
  • 90.
    79 5. Kaji ulang tentangpola istirahat yang cukup. mual. Menganjurkan ibu untuk banyak minum air putih atau jus agar tidak dehidrasi serta menghindari minuman yang mengandung kafein dan karbonat seperti kopi dan minuman bersoda. Menganjurkan ibu untuk diet HEG tingkat 1 yaitu makan sesuai kesanggupan ibu yaitu makanan yang cukup energy seperti roti panggan, biscuit, krekers, buah segar, sari buah, minuman botol ringan, sirup, kaldu tak berlemak, teh, kopi encer. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali kalsium. 5. Mengkaji ibu tentang pola isitrahat yaitu menganjurkan ibu untuk isitirahat cukup seperti tidur siang ± 1- 2 jam karena tidur siang menguntungkan dan baik untuk kesehatan dan tidur malam ± 8 jam karena tidur malam merupakan waktu dimana proses pertumbuhan janin 5. Ibu sudah mulai mengatur pola istirahat yang cukup sepeti tidur siang ± 1- 2 jam malam ± 8 jam serta menganjurkan ibu dipagi hari sewaktu bangun cobalah duduk dahulu dan
  • 91.
    80 6. Kaji ulang tentangpola aktivitas yang baik 7. Kaji ulang tentang tanda bahaya pada kehamilan. 8. Kaji ulang tentang terapi obat yang baik bagi ibu. berlangsung serta menganjurkan ibu dipagi hari sewaktu bangun cobalah duduk dahulu dan baru perlahan berdiri bangun. 6. Mengkaji ulang tentang pola aktivitas yang baik yaitu menganjurkan ibu untuk menghindari mengangkat beban yang berat, menganjurkan ibu untuk beraktivitas secara bertahap jika muntah berkurang. 7. Memberitahu kembali pada ibu tentang tanda bahaya pada kehamilan yaitu; perdarahan pervaginam, sakit kepala yanng berat, penglihatan kabur, bengkak diwajah dan jari-jari tangan, keluar cairan pervaginam, gerakan janin tidak teraba, dan nyeri abdomen yang hebat. 8. Mengkaji ulang tentang terapi obat yang baik bagi ibu yaitu menganjurkan ibu baru perlahan berdiri bangun. 6. Ibu sudah mulai mengatur pola aktivitas yang baik yaitu menganjurkan ibu untuk menghindari mengangkat beban yang berat, 7. Ibu telah mengerti tentang tanda bahaya kehamilan 8. Ibu telah mengerti tentang terapi
  • 92.
    81 untuk tetap meminum obatyang telah diberikan oleh bidan yaitu meminum vitamin B1 dan B2 yang berfungsi untuk mempertahankan kesehatan syaraf, jantung, otot serta meningkatkan pertumbuhan dan perbaikan sel, B6 berfungsi menurunkan keluhan atau gangguan mual dan muntah bagi ibu hamil dan juga membantu dalam sintesa lemak untuk pembentukan sel darah merah, mengonsumsi Tablet Fe yang berguna untuk membangun cadangan besi, sintesa sel darah merah dan sintesa darah otot minimal 1 tablet perhari atau 90 tablet selama kehamilan. obat yang baik bagi ibu, dan ibu akan rutin meminum obat sesuai ketentuan yang diberikan bidan. Senin, 13 April 2015 Pukul 16.00 WIB Ds : Ibu mengatakan mual hanya 4 kali dan muntah hanya 2 kali dalam sehari. Do : Keadaan umum : Dx : Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 usia kehamilan 13 minggu 2 hari dengan Emesis Gravidarum Dasar : HEG tingkat I Konseling Pola Nutrisi 1. Beritahu ibu keadaanya saat ini 1. Memberitahu ibu keadaaanya saat ini sudah membaik. TTV : TD : 110/80 mmHg P : 24 x/m N : 87 x/m S : 36,5 ◦C 1. Ibu telah mengetahui kondisinya saat ini.
  • 93.
    82 lemah Kesadaran : Composmentis TTV : TD: 110/80 mmHg P : 24 x/m N : 87 x/m S : 36,5 ◦C Ds : Ibu mengatakan merasa mual tetapi tidak terlalu dan nafsu makan ibu sudah ada peningkatan. HPHT : 10-2-2015 Tanggal Kunjungan : 13-4-2015 Do : Keadaan umum : Lemah Masalah : Rasa mual yang masih dirasakan ibu Kebutuhan : Penanganan Emesis Gravidarum 2. Kaji ulang tentang keluhan yang dialami ibu. 3. Kaji ulang cara mengatasi keluhan yang dialami ibu. 4. Kaji ulang mengenai cara mengatur pola nutrisi yang baik. 2. Mengkaji ulang tentang keluhan yang dialami ibu. Hal ini yang dirasakan ibu saat ini dalam kehamilan disebut dengan Hiperemesis Gravidarum. 3. Mengkaji ulang cara mengatasi keluhan yang dialami ibu. 4. Mengkaji ulang pada tentang mengatur pola nutrisi yang baik. 2. Ibu mengerti tentang keluhan yang dirasakan saat ini dan mual muntah pada ibu sudah mulai berkurang yaitu mual 4 kali dan muntah hanya 2 dalam sehari. 3. Ibu sudah mulai mengatasi keluhan yang dialaminya. 4. Ibu sudah mulai mengatur pola nutrisi yang diajarkan yaitu makan makanan yang cukup energi seperti roti panggang, biskuit, krekers, buah, segar, sari buah, minuman botol ringan, sirup, Kaldu tak berlemak, dan
  • 94.
    83 5. Kaji ulangpada tentang pola istirahat yang cukup. 6. Kaji ulang tentang pola aktivitas yang baik. 7. Kaji ulang tanda bahaya pada kehamilan. 5. Mengkaji ulang tentang pola istirahat yang cukup. 6.Mengkaji ulang tentang pola aktivitas yang baik. 7. Mengkaji ulang tanda bahaya pada kehamilan. teh. 5. Ibu sudah mulai mengatur pola istirahat yang cukup sepeti tidur siang ± 1- 2 jam malam ± 8 jam serta menganjurkan ibu dipagi hari sewaktu bangun cobalah duduk dahulu dan baru perlahan berdiri bangun. 6. Ibu sudah mulai mengatur pola aktivitas yang baik yaitu menganjurkan ibu untuk menghindari mengangkat beban yang berat. 7. Ibu telah mengerti tentang tanda bahaya kehamilan
  • 95.
    84 Sabtu, 18 April 2015 Pukul 15.00 WIB Ds : Ibumengatakan mual sudah berkurang yaitu 1-2 kali, sudah tidak muntah lagidan nafsu makan ibu sudah ada peningkatan. Do : Keadaan umum : baik Kesadaran : Composmentis TTV : TD : 110/70 mmHg P : 22 x/m N : 80 x/m S : 36,5 ◦C Dx : Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 usia kehamilan 14 minggu Dasar : Ds : Ibu mengatakan merasa mual tetapi tidak terlalu dan nafsu makan ibu sudah ada peningkatan. HPHT : 10-1-2015 Tanggal Kunjungan : 18-4-2015 Do : Keadaan umum : baik Mata: Cekung Masalah : Tidak ada Kebutuhan : Konseling pola nutrisi Tidak ada Tidak ada 1. Beritahu ibu keadaanya saat ini 2. Evaluasi tentang keluhan yang dialami ibu. 3.Evaluasi cara mengatasi keluhan yang dialami ibu. 4. Evaluasi mengenai cara mengatur pola nutrisi yang baik. 5. Evaluasi tentang pola 1. Memberitahu ibu keadaaanya saat ini sudah membaik. TTV : TD : 110/70 mmHg P : 22 x/m N : 80 x/m S : 36,5 ◦C 2. Mengevaluasi tentang keluhan yang dialami ibu. 3. Mengevaluasi mengatasi keluhan yang dialami ibu. 4. Mengevaluasi mengenai cara mengatur pola nutrisi yang baik. 5. Mengevaluasi tentang pola istirahat 1. Ibu telah mengetahui kondisinya saat ini. 2. Ibu mengerti tentang keluhan yang dirasakan saat ini dan mual muntah pada ibu sudah mulai berkurang yaitu mual hanya 1-2 kali dalam sehari dan sudah tidak muntah lagi. 3. Ibu sudah dapat mengatasi keluhan yang dialaminya. 4. Ibu sudah mulai mengatur pola nutrisi yang diajarkan 5. Ibu sudah mulai
  • 96.
    85 istirahat yang cukup. 6. Evaluasi tentangpola aktivitas yang baik. 7. Evaluasi tentang terapi obat bagi ibu. yang cukup. 6. Mengevaluasi tentang pola aktivitas yang baik. 7. Mengevaluasi ibu tentang terapi obat yang baik bagi ibu yaitu menganjurkan ibu untuk tetap meminum obat yang telah diberikan oleh bidan yaitu meminum vitamin B1 dan B2 yang berfungsi untuk mempertahankan kesehatan syaraf, mengatur pola istirahat yang cukup sepeti tidur siang ± 1- 2 jam malam ± 8 jam serta menganjurkan ibu dipagi hari sewaktu bangun cobalah duduk dahulu dan baru perlahan berdiri bangun. 6. Ibu sudah mulai mengatur pola aktivitas yang baik yaitu menganjurkan ibu untuk menghindari mengangkat beban yang berat. 7. Ibu telah mengerti tentang terapi obat yang baik bagi ibu dan ibu telah rutin meminum obat yang diberikan bidan.
  • 97.
    86 8. Beritahu ibu kunjunganulang ke tenaga kesehatan. jantung, otot serta meningkatkan pertumbuhan dan perbaikan sel, B6 berfungsi menurunkan keluhan atau gangguan mual dan muntah bagi ibu hamil dan juga membantu dalam sintesa lemak untuk pembentukan sel darah merah, mengonsumsi Tablet Fe yang berguna untuk membangun cadangan besi, sintesa sel darah merah dan sintesa darah otot minimal 1 tablet perhari atau 90 tablet selama kehamilan. 8. Memberitahu ibu kunjungan ulang ke tenaga kesehatan minimal setiap 1 bulan sekali dalam trimester 1 atau apabila ibu mengalami keluhan sebelum waktu kunjungan ulang. 8. Ibu mengerti tentang kunjungsn ulang yang dianjurkan, ibu bersedia untuk datang kunjungan ulang ke tenaga kesehatan.
  • 98.
    87 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 PengumpukanData Dasar Pada asuhan kebidanan yang telah dilakukan terhadap Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 usia kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat 1. Didapatkan hasil sebagai berikut : Data subjektif 4.1.1 Umur 4.1.1.1 Menurut teori Umur perlu diketahui guna mengetahui apakah klien dalam kehamilan yang berisiko atau tidak. Usia di bawah 16 tahun dan diatas 35 tahun merupakan umur-umur yang berisiko tinggi untuk hamil. Umur yang baik untuk kehamilan maupun persalinan adalah 19-25 tahun (Walyani, 2015; h. 118). 4.1.1.2 Tinjauan Kasus Pada kasus ini Ny.S berumur 36 tahun 4.1.1.3 Pembahasan Pada tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus karena, menurut teori usia di bawah 16 tahun dan diatas 35 tahun merupakan umur-umur yang berisiko tinggi untuk hamil. Menurut kasus yang ditemui umur Ny.S yaitu 36 tahun. Dan ini sudah dikategorikan
  • 99.
    88 resiko tinggi kehamilandimana ibu juga mengalami Hiperemesis Gravidarum. 4.1.2 Suku 4.1.2.1 Tinjauan teori Ras, etnis dan keturunan harus diidentifikasi dalam rangka memberikan perawatan yang peka budaya kepada klien dan mengidentifikasi wanita atau keluarga yang memiliki kondisi resesif otosom dengan insiden yang tinggi pada populasi tertentu. Jika kondisi yang demikian diidentifikasi, wanita tersebut diwajibkan menjalani skrining genetik (Walyani, 2015; h. 118). 4.1.2.2 Tinjauan kasus Dari kasus Ny.Sdan Tn. P bersuku Jawa. 4.1.2.3 Pembahasan Dari pembahasan di atas tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus karena ibu tidak memiliki kebiasaan adat istiadat sehari-hari yang berpengaruh pada masa hamil. 4.1.3 Pendidikan 4.1.3.1 Tinjauan teori Pendidikan berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai dengan pendidikannya (Ambarwati, 2008; h. 132).
  • 100.
    89 Pendidikan klien ditanyakanuntuk mengetahui tingkat intelektualnya. Tingkat pendidikan mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang (Estiwidani, 2008 ;h. 141). 4.1.3.2 Tinjauan kasus Dalam kasus ini Ny. S berpendidikan terakhir SMP 4.1.3.3 Pembahasan Dari pembahasan di atas tidak terdapat kesenjangan antara teori dengan hasil pemeriksaan karena Ny.S memiliki pendidikan SMP sesuai dengan dan kasus yaitu pendidikan berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai pendidikannya. 4.1.4 Keluhan Utama 4.1.4.1 Tinjauan teori Hiperemesis gravidarum adalah Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari , tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala –gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu (Prawirohardjo, 2007; h. 275).
  • 101.
    90 4.1.4.2 Tinjauan kasus Berdasarkanhasil tinjauan kasus, Ny. S mengatakan mual muntah lebih dari 10 kali dalam sehari dan telah menggaanggu aktivitas. 4.1.4.3 Pembahasan Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus dimana Ny.S mengalami HEG yaitu merasakan mual dan muntah yang terlalu sering lebih dari biasanya sehingga mengganggu aktivitasnya sehari-hari. 4.1.5 Pola kehidupan sehari-hari 4.1.5.1 Nutrisi dan cairan 1) Tinjauan teori Pada saat hamil ibu harus makan makanan yang mengandung nilai gizi bermutu tinggi meskipun tidak berarti makanan yang mahal. Gizi pada waktu hamil harus ditingkatkan hingga 300 kalori per hari, ibu hamil harus mengonsumsi yang mengandung protein, zat besi, dan minum cukup cairan (menu seimbang). Penuhi melalui aneka sumber karbohidrat (nasi, mie, roti, sereal, pasta), dilengkapi sayuran, buah, daging- dagingan atau ikan-ikanan, susu dan produk olahannya (Walyani, 2015; h. 94).
  • 102.
    91 2) Tinjauan kasus Ibumengatakan selama hamil kurang nafsu makan, ibu makan tidak teratur dengan porsi sedikit yaitu dengan setengah porsi dari porsi biasanya. Ibu lebih sering makan makanan seperti biskuit, jagung, umbi-umbian yaitu singkong, mantang dan minum 3-4 gelas perhari. 3) Pembahasan Terdapat kesenjangan antara teori dan kasus karena ibu tidak mengonsumsi makanan yang bernutrisi baik untuk ibu hamil. 4.1.5.2 Defekasi 1) Tinjauan teori Keluhan yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan dengan eliminasi adalah konstipasi dan sering buang air kemih. Konstipasi terjadi karena adanya pengaruh hormone progesterone yang mempunyai efek rileks terhadap otot polos, salah satunya otot usus, selain itu desakan usus oleh pembesaran janin juga menyebabkan bertambahnya konstipasi (Walyani, 2015; h. 103). 2) Tinjauan kasus Berdasarkan hasil tinjauan kasus ibu mengatakan BAB 1 hari sekali dengan konsistensi keras.
  • 103.
    92 3) Pembahasan Tidak terjadikesenjangan antara tinjauan teori dan kasus karena menurut teori pada ibu hamil TM I mengalami konstipasi akibat pengaruh hormon progesteron. Namun berdasarkan pengkajian ibu mengatakan BAB 1 kali sehari selama hamil dengan konsistensi keras. 4.1.5.3 Miksi 1) Tinjauan teori Sering buang air kecil merupakan keluhan yang umum dirasakan oleh ibu hamil, terutama pada trimester I dan III. Hal tersebut adalah kondisi yang fisiologis. Ini terjadi pembesaran uterus yang mendesak kantung kemih sehingga kapasitasnya berkurang (Walyani, 2015; h. 103). 2) Tinjauan kasus Berdasarkan hasil tinjauan kasus Ny.S mengatakan BAK 4-5 kali sehari warna kuning pekat, berbau khas urine. 3) Pembahasan Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena tidak ada masalah yang berhubungan dengan miksi.
  • 104.
    93 Data objektif 4.1.8 Tanda-tandavital 4.1.8.1 Tekanan darah 1) Tinjauan teori Tekanan darah yang normal adalah 110/80 mmHg sampai 140/90 mmHg. Bila > 140/90 mmHg, hati-hati adanya Hipertensi/ preeklampsi (Walyani, 2015; h. 86). Namun pada Hiperemesis gravidarum, tekanan darah sistolik menurun dari biasanya (Runiari, 2010; h. 38). 2) Tinjauan kasus Setelah dilakukan pemeriksaan, tekanan darah Ny.S 100/70 mmHg. Namun ibu mengatakan sebelum hamil tekanan darah ibu biasanya mencapai 120/80 mmHg. 3) Pembahasan Pada kasus ini tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena tekanan darah Ny.S 100/70 mmHg dan ibu mengatakan sebelum hamil tekanan darah ibu biasanya mencapai 120/80 mmHg sebagaimana menurut teori tekanan darah sistolik menurun dari biasanya.
  • 105.
    94 4.1.8.2 Nadi 1) Tinjauanteori Nadi normal adalah 60 sampai 100 menit. Bila abnormal mungkin ada kelainan paru-paru atau jantung (Walyani, 2015; h. 86). Namun pada Hiperemesis Gravidarum tingkat I, nadi menginkat sampai 100 kali permenit (Runiari, 2010; h. 38). 2) Tinjauan kasus Setelah dilakukan pemeriksaan nadi Ny.S mencapai 110 kali permenit. 3) Pembahasan Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena nadi ibu mengalami peningkatan. 4.1.8.3 Suhu 1) Tinjauan teori Suhu badan normal adalah 36,5◦C sampai 37,5◦C. Bila suhu lebih tinggi dari 37,5◦C kemungkinan ada infeksi (Walyani, 2015; h. 86). 2) Tinjauan kasus Suhu badan Ny.S normal yaitu 36,5◦C
  • 106.
    95 3) Pembahasan Tidak adakesenjangan antara teori dan kasus karena sesuai dengan teori karena suhu badan ibu normal 4.1.8.4 Berat Badan 1) Tinjauan teori Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan yang terjadi pada wanita hamil sehingga menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan kadar penurunan elektrolit, penurunan berat badan (lebih dari 5% berat badan awal), dehidrasi, ketosis, dan kekurangan nutrisi (Sherwan, 1999; Old, 2000; Micheline, 2004; Edelman, 2004; Paawi, et al., 2005) (Runiari, 2010; h.8). 2) Tinjauan Kasus Berat badan ibu sebelum hamil 47 kg, Berat badan sekarang 44 kg. 3) Pembahasan Tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus, karena berat badan ibu menurun lebih dari 5% dari berat badan ibu sebelum hamil.
  • 107.
    96 4.1.9 Pemeriksaan fisik 4.1.9.1Mata 1) Tinjauan teori Pada pemeriksaan fisik ibu pada daerah wajah ibu terlihat mata cekung karena dehidrasi ringan yang dialami ibu yang dikarenakan muntah >10 kali/hari dan kurangnya intake cairan pada ibu. Hiperemesis Gravidarum tingkat 1 ditandai dengan muntah terus- menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100 per menit, tekanan darah sistolik menurun, turrgor kulit mengurang, lidah mengering dan mata cekung (Runiari, 2010; h.13). 2) Tinjauan kasus Berdasarkan hasil tinjauan kasus terhadap Ny.S keadaan kelopak mata cekung, konjungtiva pucat dan sklera putih 3) Pembahasan Dari tinjauan kasus diatas tidak terdapat kesenjangan karena tinjauan kasus yang didapat sesuai dengan tinjauan teori karena keadaan pada kelopak mata cekung, konjungtiva pucat dan sklera putih.
  • 108.
    97 4.1.9.2 Mulut 1) Tinjauanteori Menurut Runiari hiperemesis gravidarum merupakan komplikasi pada kehamilan muda, bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, oksidasi lemak yang tidak sempurna menyebabkan ketosis dengan tertimbunnya asam asetosetik dan aseton dalam darah (Runiari, 2010; h.11). 2) Tinjauan kasus Berdasarkan hasil tinjauan kasus terhadap Ny.S terlihat bibir dan lidah nampak kering. 3) Pembahasan Tidak terdapat kesenjangan karena antara tinjauan teori sesuai dengan tinjauan kasus karena kekurangan intake dan kehilangan cairan akibat muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. 4.1.9.3 Turgor Kulit 1) Tinjuauan Teori Pada Hiperemesis Gravidarum tingkat I salah satunya ditandai dengan turgor kulit menurun ditandai dengan
  • 109.
    98 kelembapan dan elasticberkurang (Mitayani, 2010; h. 41). 2) Tinjuauan kasus Berdasarkan hasil pemeriksaan pada Ny.S turgor kulit menurun ditandai dengan kelembapan dan elastis kulit berkurang. 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan kasus diatas tidak terdapat kesenjangan karena hasil pemeriksaan sesuai dengan teori yang ada, turgor kulit Ny.S menurun dengan ditandai kelembapan dan elastic kulit berkurang disebabkan karena Ny.S mengalami Hiperemesis Gravidarum tingkat I. 4.1.10 Pemeriksaan Laboratotium HB (Haemoglobin) 1) Tinjauan Teori Pemeriksaan HB dilakukan pada kunjungan ibu hamil yang pertama kali, lalu periksa lagi menjelang persalinan. Pemeriksaan HB adalah salah satu upaya untuk mendeteksi adanya anemia pada ibu hamil (Elisabeth, 2015; hal.81). Hiperemesis Gravidarum akan menyebabkan penurunan penyerapan Fe dan penggunaan zat besi serta perdarahan pada
  • 110.
    99 saluran cerna yangmembuat kadar Fe menurun (Manuaba, 2010; h. 233). 2) Tinjauan Kasus Berdasarkan hasil pemeriksaan kadar HB ibu 8,2 gr% (anemia sedang). 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus diatas, tidak terdapat kesenjangan karena berdasarkan teori yang ada, Hiperemesis Gravidarum dapat menyebabkan penurunan penyerapan Fe, sehingga terjadi anemia. 4.2 Interpretasi data 4.2.1 Diagnosa 4.2.1.1 Tinjauan teori Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap rumusan diagnosis, masalah, dan kebutuhan pasien berdasarkan interprestasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.Langkah awal dari perumusan diagnosis atau masalah adalah pengolahan data dan analisis dengan menggabungkan data satu dengan lainnya sehingga tergambar fakta (Sulistyawati, 2009; h.191). Dalam langkah kedua ini Bidan membagi interpretasi data dalam tiga bagian, yaitu sebagai berikut.
  • 111.
    100 1.Diagnosis Kebidanan /Nomenklatur Dalambagian ini yang disimpulkan oleh bidan antara lain sebagai berikut. a) Paritas Pasien adalah riwayat reproduksi seorang wanita yang berkaitan dengan kehamilannya (jumlah kehamilan). Dibedakan dengan primigravida (hamil yang pertama kali) dan multigravida (hamil yang kedua atau lebih. Contoh cara penulisan paritas dalam interpretasi data adalah sebagai berikut. 1) Primigravida a. G1 (gravid 1) atau hamil yang pertama kali b. P0 (partus mol) berarti belum pernah partus atau melahirkan c. A0 (abortus nol) berarti belum pernah mengalami abortus 2) Multigravida a. G3(gravid 3) atau ini adalah kehamilannyayang ketiga b. P1 (partus 1) atau sudah pernah mengalami persalinan satu kali. c. A1 (abortus 1) atau sudah pernah mengalami abortus satu kali
  • 112.
    101 b) Usia kehamilandalam minggu c) Keadaan janin d) Normal atau tidak normal(Sulistyawati, 2009; h. 191). 4.2.1.2 Tinjauan kasus Pada Ny.S didapatkan diagnosa kebidanan ibu hamil yaitu Ny.S umur 36 tahun G3P2A0usia kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat I. Data dasar dari diagnosa kebidanan tersebut diperoleh dari Ibu mengatakan ini adalah kehamilan ketiga, pernah melahirkan dua kali dan tidak pernah keguguran. HPHT : 10-1-2015 4.2.1.3 Pembahasan Tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena menurut tinjauan teori dan kasus yang didapat sesuai dengan kondisi ibu. 4.2.2 Masalah 4.2.2.1 Tinjauan teori Dalam asuhan kebidanan digunakan istilah “masalah” dan “diagnosis”. Kedua istilah tersebut dipakai karena beberapa masalah tidak dapat didefinisikan sebagai diagnosis, tetapi tetap perlu dipertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh. Masalah sering
  • 113.
    102 berhubungan dengan bagaimanawanita itu mengalami kenyataan terhadap diagnosisnya (Sulistyawati, 2009; h. 192). 4.2.2.2. Tinjauan kasus Ibu mengatakan mual dan muntah sehingga mengganggu aktivitas 4.2.2.3 Pembahasan Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus dimana masalah berdasarkan pernyataan pasien. 4.2.3 Kebutuhan 4.2.3.1 Tinjauan teori Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalahnya. Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami kenyataan terhadap diagnosisnya (Sulistyawati, 2009; h. 194). 4.2.3.2 Tinjauan kasus Pada kasus Ny.S umur 36 tahun G3P2A0 usia kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat I kebutuhannya yaitu penjelasan keluhan yang dialami ibu dan melakukan diet hiperemesis Gravidarum tingkat I.
  • 114.
    103 4.2.3.3 Pembahasan Tidak adakesenjangan antara teori dan kasus di mana kebutuhan sesuai dengan kondisi ibu. 4.3 Diagnosa potensial 4.3.1 Tinjauan teori Pada langkah ketiga kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosis potensial berdasarkan diagnosis/masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap mencegah diagnosis/masalah potensial ini menjadi kenyataan. Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan yang aman. Pada langkah ketiga ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi maslah potensial, tidak hanya merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosis tersebut tidak terjadi. Langkah ini bersifat antisipasi yang rasional/logis (Sulistyani, 2009; h. 195). 4.3.1 Tinjauan kasus Pada kasus ini ditemukan diagnosa potensial yaitu HEG tingkat II. 4.3.2 Pembahasan Tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus apabila kasus tidak ditangani maka akan terjadi HEG tingkat II.
  • 115.
    104 4.4 Tindakan segera 4.4.1Tinjauan teori Bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau dokter melakukan konsultasi atau penanganan segera bersama anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah keempat mencerminkan kesinambungan proses manajemen langkah kebidanan. Jadi manajemen tidak berlangsung selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal saja, tetapi juga selama wanita tersebut dalam dampingan bidan (Sulistyawati, 2009 ; h. 196). 4.4.2 Tinjauan kasus Pada kasus terdapat tindakan segera yang dilakukan yaitu konseling pola nutrisi pada Ny.S. 4.4.3 Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ditemukan kesenjangan karena pada tinjauan kasus ada tindakan segera yang dilakukan yaitu konseling pola nutrisi pada Ny.S 4.5 Perencanaan. Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh yang ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen untuk masalah diagnosis yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi yang tidak lengkap dapat dilengkapi(Sulistyawati, 2009; h. 196).
  • 116.
    105 4.5.1 Tinjauan teori 1.Beritahu ibu hasil pemeriksaan 2. Jelaskan pada ibu tentang keluhan yang dialami ibu 3. Beritahu ibu cara mengatasi keluhan yang dialaminya. 4. Jelaskan pada ibu mengenai cara mengatur pola nutrisi yang harus dipenuhi. 5. Beritahu ibu tentang pola istirahat yaitu anjurkan ibu istirahat cukup. 6. Beritahu ibu tentang pola aktivitas yang baik 7. Beritahu ibu tanda bahaya pada kehamilan. 8. Anjurkan ibu untuk tetap meminum obat yang telah diberikan oleh bidan. 9. Beritahu ibu kunjungan ulang ke tenaga kesehatan. 4.5.2 Tinjauan kasus 1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan 2. Jelaskan pada ibu tentang keluhan yang dialami ibu 3. Beritahu ibu cara mengatasi keluhan yang dialaminya. 4. Jelaskan pada ibu mengenai cara mengatur pola nutrisi yang harus dipenuhi. 5. Beritahu ibu tentang pola istirahat yaitu anjurkan ibu istirahat cukup. 6. Beritahu ibu tentang pola aktivitas yang baik 7. Beritahu ibu tanda bahaya pada kehamilan.
  • 117.
    106 8. Anjurkan ibuuntuk tetap meminum obat yang telah diberikan oleh bidan. 9. Beritahu ibu kunjungan ulang ke tenaga kesehatan. 4.5.3 Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ditemukan kesenjangan karena pada tinjauan kasus dan tinjauan teori sesuai. 4.6 Pelaksanaan 4.6.1 Tinjauan teori Pada langkah keenam, rencana asuhan menyeluruh dilakukan dengan efisien dan aman. Pelaksanan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri, namun ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaanya (misalnya dengan memastikan bahwa langkah tersebut benar-benar terlaksana). Dalam situasi ketika bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, bidan tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana bersama yang menyeluruh tersebut. Penatalaksanaan yang efisien dan berkualitas akan berpengaruh pada waktu serta biaya (Sulistyawati, 2009; h. 198). 4.6.2 Tinjauan kasus 1. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan saat ini bahwa ibu dalam keadaan kurang baik, dengan hasil pemeriksaan yaitu :
  • 118.
    107 TD : 110/70 mmHg N : 110 x/m S : 36,5◦C P : 22x/m BB : 44 kg Mata : cekung Lidah : kering 2. Menjelaskan pada ibu tentang keluhan yang dialami oleh ibu yaitu ibu mengalami Hiperemesis Gravidarum, adalah mual muntah yang berlebihan yang terjadi pada wanita hamil sehingga menyebabkan terjadinya ketidakseumbangan kadar elektrolit, penurunan berat badan, dehidrasi, ketosis, danm kekurangan nutrisi. Hal tersebut mulai terjadi pada minggu keempat sampai kesepuluh kehamilan dan selanjutnya akan membaik umumnya pada usia kehamilan 20 minggu. 3. Memberitahu ibu cara mengatasi keluhan yang dialaminya yaitu menganjurkan ibu di pagi hari sewaktu bangun tidur jangan langsung terburu-buru bangun cobalah duduk dahulu dan baru perlahan berdiri untuk bangun. 4. Menjelaskan pada ibu mengenai pola kebutuhan nutrisi yang harus dipenuhi yaitu menganjurkan ibu untuk menghindari makanan yang berminyak, berlemak dan pedas spserti makanan yang digoreng, rujak, makanan yang bersantan
  • 119.
    108 karena dapat memperburukrasa mual. Menganjurkan ibu untuk banyak minum air putih atau jus agar tidak dehidrasi serta menghindari minuman yang mengandung kafein dan karbonat seperti kopi dan minuman bersoda. Menganjurkan ibu untuk diet HEG tingkat I yaitu makan sesuai kesanggupan ibu yaitu makanan yang cukup energi seperti roti panggang, biskuit, krekers, buah, segar, sari buah, minuman botol ringan, sirup, Kaldu tak berlemak, teh dan kopi encer. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali kalsium. 5. Memberitahu ibu tentang pola isitrahat yaitu menganjurkan ibu dengan isitirahat cukup sepeti tidur siang ± 1-2 jam karena tidur siang menguntungkan dan baik untuk kesehatan dan tidur malam ± 8 jam karena tidur malam merupakan waktu dimana proses pertumbuhan janin berlangsung serta menganjurkan ibu dipagi hari sewaktu bangun cobalah duduk dahulu dan baru perlahan berdiri bangun. 6. Memberitahu ibu tentang pola aktivitas yang baik yaitu menganjurkan ibu untuk menghindari mengangkat beban yang berat, menganjurkan ibu untuk beraktivitas secara bertahap jika muntah berkurang. 7. Memberitahu ibu tanda bahaya pada kehamilan yaitu; perdarahan pervaginam, sakit kepala yanng berat, penglihatan
  • 120.
    109 kabur, bengkak diwajahdan jari-jari tangan, keluar cairan pervaginam, gerakan janin tidak teraba, dan nyeri abdomen yang hebat. 8. Meganjurkan ibu untuk tetap meminum obat yang telah diberikan oleh bidan yaitu meminum vitamin B1 dan B2 yang berfungsi untuk mempertahankan kesehatan syaraf, jantung, otot, serta meningkatkan pertumbuhan dan perbaikan sel dan B6 berfungsi menurunkan keluhan atau gangguan mual dan muntah bagi ibu hamil dan juga membantu dalam sintesa lemak untuk pembentukan sel darah merah. 9. Memberitahu ibu kunjungan ulang ke tenaga kesehatan minimal setiap 1 bulan sekali dalam trimester 1 atau apabila ibu mengalami keluhan sebelum waktu kunjungan ulang. 4.6.3 Pembahasan Berdasarkan kasus diatas tidak terdapat kesenjangan antara teori dan praktek, karena pelaksanaan asuhan yang diberikan terhadap Ny. S sesuai dengan perencanaan. 4.7 Evaluasi 4.7.1 Tinjauan teori Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan yang kita berikan kepada pasien, kita mengacu kepada beberapa pertimbangan berikut ini.
  • 121.
    110 1. Tujuan AsuhanKebidanan a. Meningkatkan, mempertahankan, dan mengembalikan kesehatan. b. Memfasilitasi ibu untuk menjalani kehamilannya dengan rasa aman dan penuh percaya diri. c. Meyakinkan wanita dan pasangannya untuk mengembangkan kemampuannya sebagai orangtua dan untuk mendapatkan pengalaman berharga sebagai orangtua. d. Membantu keluarga untuk mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan mereka dan mengemban tanggung jawab terhadap kesehatannya sendiri. 2. Efektivitas Tindakan untuk Mengatasi Masalah. Dalam melakukan evaluasi seberapa efektif tindakan dan asuhan yang kita berikan kepada pasien, kita perlu mengkaji respons dan peningkatan kondisi yang kita targetkan pada saat penyusunan perencanaan. Hasil pengkajian ini kita jadikan sebagai acuan dalam pelaksanan asuhan berikutnya (Sulistyawati, 2009; h. 200-201). 1. Ibu telah mengetahui kondisinya saat ini. 2. Ibu mengerti tentang keluhan yang dirasakan saat ini dan mual muntah pada ibu sudah mulai berkurang yaitu mual hanya 1-2 kali dalam sehari dan sudah tidak muntah lagi. 3. Ibu sudah mulai mengatasi keluhan yang dialaminya. 4. Ibu sudah dapat mengatur pola nutrisi yang diajarkan.
  • 122.
    111 5. Ibu sudahmulai mengatur pola istirahat yang cukup seperti tidur siang ± 1-2 jam malam ± 8 jam serta menganjurkan ibu dipagi hari sewaktu bangun cobalah duduk dahulu dan baru perlahan berdiri bangun. 6. Ibu sudah mulai mengatur pola aktivitas yang baik yaitu menganjurkan ibu untuk menghindari mengangkat beban yang berat. 7. Ibu telah mengerti tentang tanda bahaya kehamilan. 8. Ibu telah mengerti tentang terapi obat yang baik bagi ibu dan ibu telah rutin meminum obnat yang diberikan bidan. 9. Ibu mengerti tentang kunjungan ulang yang dianjurkan,ibu bersedia untuk datang kunjungan ulang ke tenagakesehatan. 4.7.1 Tinjauan kasus Ibu telah paham dan mengerti tentang keluhan dan konseling yang telah dijelaskan. 4.7.2 Pembahasan Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena evaluasi telah dilakukan secara efektif sesuai kondisi ibu.
  • 123.
    112 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Setelahdilakukan Asuhan Kebidanan pada ibu hamil dengan Hiperemesis Gravidarum terhadap Ny.S umur 36 tahun G3P2 A0 Usia Kehamilan 12 minggu 3 hari di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb, maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 5.1.1 Dalam melakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil terhadap Ny.S penulis telah melaksanakan pengkajian data dasar yang meliputi data subjektif dan data objektif. Pengkajian dilakukan menggunakan manajemen varney yaitu: Data Subjektif : Ibu mengatakan mual dan muntah setiap pagi hari dan sudah lebih dari 10 kali dalam sehari, serta ibu merasa lemas, pusing serta lidah ibu terasa kering. Data Objektif : Pada pemeriksaan mata tampak cekung, konjungtiva pucat, lidah tampak kering dan kotor. 5.1.2 Penulis telah melakukan interpretasi data dasar berdasarkan hasil pengumpulan data Ny. S umur 36 tahun G3P2A0 usia kehamilan 12 minggu 3 hari dengan Hiperemesis Gravidarum di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb Raja Basa BandarLampung Tahun 2015.
  • 124.
    113 5.1.3 Penulis menemukandiagnosa potensial terhadap Ny. S dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat I yang jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan Hiperemesis Gravidarum tingkat II, karena masalah Ny.S tidak dapat menangani Hiperemesis Gravidarum 5.1.4 Penulis telah melakukan antisipasi sebagaimana dalam teori yaitu melakukan penanganan Hiperemesis Gravidarum tingkat I yaitu cara mengatasi keluhan yang dialami ibu sehingga apabila Hiperemesis Gravidarum tidak ditangani akan mungkin terjadi komplikasi pada ibu hamil. 5.1.5 Penulis telah merencanakan asuhan kebidanan dengan diet nutrisi sesuai dengan kebutuhan terhadap Ny.S yaitu menjelaskan kepada Ny.S mengenai cara mengatur pola nutrisi makanan yang tidak memicu mual, tidak berbumbu tajam, dan menghindari makanan yang mengandung gas seperti durian, brokoli, asfaragus. 5.1.6 Penulis telah melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan yang telah direncanakan dalam kasus ini. 5.1.7 Penulis telah melaksanakan evaluasi padakasus ibu hamil yaitu Ny. S dengan diet nutrisi sesuai dengan asuhan yang telah tertera pada matriks. Dimana Ny. S telah mengerti tentang keadaannya saat ini, dan mengerti tentang diet nutrisi sesuai dengan kebutuhannya saat ini.
  • 125.
    114 5.2 Saran Berdasarkan simpulandiatas, maka peneliti dapat menyimpulkan saran sebagai berikut: 5.2.1 Bagi Lahan Praktek Diharapkan agar studi kasus ini dapat digunakan sebagai masukan dalam upaya meningkatkan kualitas tenaga kesehatan (bidan) di BPS Hj.Usmalana Saddam, Amd.Keb untuk memberikan pelayanan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan diet nutrisi sesuai dengan kebutuhan Hiperemesis Gravidarum dan meningkatkan jumlah cakupan kesehatan pada ibu hamil khususnya di wilayah Bandar Lampung. 5.2.2 Bagi Instansi Diharapkan bagi petugas kesehatan untuk meningkatkan pelayanan yang berupa penyuluhan atau konseling pada ibu hamil tentang Hiperemesis Gravidarum. 5.2.3 Bagi Masyarakat Diharapkan bagi Ny. S dapat menerapkan diet nutrisi sesuai dengan kebutuhan hiperemesis gravidarum dengan benar, sehingga dapat mencegah terjadinya kegawatan maternal dan neonatal. 5.2.4 Bagi Peneliti Selanjutnya Diharapkan study kasus ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman penulis serta sebagai media untuk menerapkan ilmu yang telah didapat selama kuliah, khususnya mata kuliah asuhan
  • 126.
    115 kebidanan pada ibuhamil dan penulis mampu menjadi salah satu bidan profesional dalam penanganan Hiperemesis Gravidarum untuk menurunkan tingkat AKI.
  • 127.
    116 DAFTAR PUSTAKA Ayu, IdaManuaba, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB. Jakarta : EGC Elisabeth, 2015. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan. Yogyakarta : Pustaka Baru Mitayani, 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika Notoatmojo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta Pantiawati, Ika dan Saryono. 2010. Asuhan Kebidanan 1 (Kehamilan). Yogyakarta : Muha Medika Prawihardjo, Sarwono. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Prawihardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Prawihardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Rukiyah, Ai Yeyeh dan Yulianti Lia. 2010. Asuhan Kebidanan 4 Patologi. Jakarta: CV. Trans Info Media Runiari, Nengah 2010. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Hiperemesis Gravidarum;Penerapan Konsep dan Teori Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika Soepardan, Suryani. 2007. Konsep Kebidanan. Jakarta : EGC Sofyan, Mustika Dkk. 2006. 50 Tahun Ikatan Bidan Indonsesia Bidan menyongsong masa depan. Jakarta : PP IBI Sulistyawati, Ari. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan. Jakarta : Salemba Medika Walyani, Elizabeth. 2015. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan. Yogyakarta : Pustaka Baru Press Yulifa, Rita. 2011. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta : Salemba Medika
  • 128.
    117 DOKUMENTASI (Memberikan Konseling tentangNutrisi yang baik) (Melakukan Pemeriksan HB)
  • 129.
    118 SATUAN ACARA PENYULUHAN HIPEREMESISGRAVIDARUM OLEH : NOVIYANTI PUTRI NIM : 201207107 AKADEMI KEBIDANAN ADILA BANDARLAMPUNG TAHUN 2015
  • 130.
    119 SATUAN ACARA PENYULUHAN PokokBahasan :Asuhan pada Ibu Hamil Sub Pokok Bahasan :Hiperemesis Gravidarum Sasaran : Ibu hamil Hari / Tanggal : 9 April 2015 Waktu : 15.00 WIB Tempat : Di rumah Penyuluh : Noviyanti Putri A. Tujuan Instruksional Umum Setelah diberikan penyuluhan, sasaran mampu memahami pentingnya kesehatan pada kehamilan. B. Tujuan Instruksional Khusus Setelah diberikan penjelasan selama 30 menit diharapkan sasaran dapat 1. Menjelaskan pengertian dari Hiperemesis Gravidarum dengan benar 2. Menyebutkan Gejala dan tanda dari Hiperemesis Gravidarum dengan benar 3. Menjelaskan ulang tentang diet yang benar untuk Hiperemesis Gravidarum C. Metode pelaksanaan Ceramah dan Tanya jawab D. Media Leaflet dan lembar balik
  • 131.
    120 E. Evaluasi Pertanyaan 1. Apapengertian dari Hiperemesis gravidarum? 2. Sebutkan gejala dan tanda Hiperemesis Gravidarum! 3. Jelaskan tentang diet yang benar untuk Hiperemesis Gravidarum! F. Jawaban 1. Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan pada ibu hamil, seorang ibu menderita hiperemesis gravidarum jika seorang ibu memuntahkan segala yang dimakan dan diminumnya hingga berat badan ibu sangat turun,turgor kulit kurang diurese kurang dan timbul aseton dalam kencing. 2. Gejala dan tanda Hiperemesis Gravidarum : Tingkat 1 :  Muntah terus menerus  Nafsu makan berkurang  Berat badan menurun  Kulit dehidrasi  TD menurun dan nadi meningkat  Lidah kering, mata cekung Tingkat 2 :  Penderita tampak lemah  Gejala dehidrasi makin tampak mata cekung, lidah kering dan kotor  Berat badan makin menurun  Tekanan daran turun, nadi meningkat  Gangguan BAB
  • 132.
    121 Tingkat 3 : Muntah berkurang  Keadaan umum makin menurun  Kesadaran nya samnolen sampai koma 3. Diet yang benar untuk Hiperemesis Gravidarum : Waktu bangun dipagi hari dianjurkan untuk jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. Ada 3 macam diet pada hiperemesis gravidarum yaitu ; (1) Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis III. Makanan hanya berupa roti kering dan buah buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang akan zat-zat gizi kecuali vitamin C karena itu hanya diberikan selama beberapa hari. (2) Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Secara berangsur mulai diberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Pemberian minuman tidak diberikan bersama makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zat gizi kecuali vitamin A dan D. (3) Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali makanan. G. Materi Terlampir H. Daftar peserta penyuluhan Terlampir
  • 133.
    122 MATERI A. Pengertian Hiperemesis grvidarumadalah gejala mual-munatah yang berlebihan pada ibu hamil. Istilah hiperemesis gravidarum denagan gangguan metabolik yang bermakna karena mual- muntah. Penderita hiperemesis gravidarum biasanya dirawat dirumah sakit. Etiologinya belum pasti, diduga ada hubungannya dengan paritas, hormonal, neurologis, metabolik, stres psikologik, keracunan, dan tipe kepribadian. Salah satu masalah yang terjadi pada masa kehamilan, yang bisa meningkatkan derajat kesakitan adalah terjadinya Gestosis pada masa kehamilan atau penyakit yang khas terjadi pada masa kehamilan, dan salah satu gestosis dalam kehamilan adalah Hiperemesis Gravidarum. Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah berlebihan sehingga menimbulkan gangguan aktivitas sehari-hari dan bahkan dapat membahayakan kehidupan. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan hiperemesis adalah sebagai berikut . 1. Kemungkinan vili korialis masuk ke dalam darah. 2. Adanya faktor elergi. 3. Adanya faktor predisposisi, seperti primigravida dan overdistensi rahim.
  • 134.
    123 4. Adanya faktorpsikologis, seperti ketidak harmonisan dalam rumah tangga, kehamilan yang tidak diinginkan, atau ketidaksiapan untuk memiliki anak (takut untuk hamil ) (Sulistyawati, 2009;h.153) B. Etiologi Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh factor toksik, juga ditemukan kelainan biokimia. Perubahan-perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf, disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisia.Beberapa faktor predisposisi dan factor lain yang telah ditemukan oleh beberapa penulis sebagai berikut. a. Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa, dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda menimbulakan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormone khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan. b. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolic hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organic.
  • 135.
    124 c. Alergi, sebagaisalah satu respons dari jaringan ibu terhadap anak, juga disebut sebagai salah satu faktor organic. d. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini, rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup (Rukiyah, dkk, 2010;h.118-119 C. Diagnosis Menetapkan kejadian hiperemesis gravidarum tidak sukar, dengan menentukan kehamilan, muntah berlebihan sampai menimbulkan gangguan kehidupan sehari-hari dan dehidrasi. Muntah yang terus menerus tanpa pengobatan dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang janin dalam rahim dengan manifestasi klinisnya, oleh karena itu hiperemesis gravidarum berkelanjutan harus dicegah dan harus mendapat pengobatan yang adekuat. Kemungkinan penyakit lain yang menyertai kehamilan harus berkonsultasi dengan dokter tentang penyakit hati, ginjal, dan penyakit tukak lambung. Pemeriksaan laboratorium dapat membedakan ketiga kemungkinan hamil yang disertai penyakit ( Manuba, 2010;h.230 )
  • 136.
    125 Diagnosis hiperemesis gravidarumbiasanya tidak sukar. Harus ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah yang terus menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum. Namun demikian harus dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit pielonefritis, hepatitis, ulkus ventrikuli dan tumor serebi yang dapat pula memberikan gejala muntah. Hiperemesis gravidarum yang terus menerus dapat menyebabkan kekurangan makanan yang dapat mempengaruhi perkembangan janin, sehingga pengobatan perlu segera diberikan (Prawirahardjo, 2006;h.278) D. Patofisiologi Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar esterogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. Pengaruh fisiologik hormone hormone esterogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari system saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung bebulan-bulan. Hiperemesis gravidarum merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokoremik. Belum jelas mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita, tetapi faktor psikologik merupakan
  • 137.
    126 faktor utama, disampingitu pengaruh hormonal. Yang jelas, Wanita yang sebelum kehamilan sesudah menderita lambung spastik dengan gejala tak suka makan dan mual, akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat. Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karna oksidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah ketosis denagn tertimbun nya asam aseton-asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan klorida darah turun, demikian pula khlorida air kemih. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah kejaringan berkurang pula dan tertimbunnya zat metabolik yang toksik. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, menambah frekuensi mual- muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati, dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan. Disamping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada selaput lender dan esofagus dan lambung(Sindroma Mallory- Weiss), Denagn akibat perdarahan gastro intestinal. Pada umunya robekan ini ringan dan perdarahan dapat berhenti sendiri. Jarang sampai diperlukan transfuse atau tandaka operatif.
  • 138.
    127 (Prawirohardjo, 2006;h.276-277) E. Tandadan gejala Batas antara mual dan muntah dan kehamilan yang masih fisiologik dengan hiperemesis gravidarum tidak jelas, akan tetapi muntah yang menimbulkan gangguan kehidupan sehari-hari dan dehidrasi memberikan petunjuk bahwa wanita hamil telah memerlukan perawatan yang intensif (Rukiyah, dkk, 2010;h.121). Hiperemesis gravidarum berdasarkan berat ringannya di bedakan atas 3 tingkatan, yaitu: a. Tingkat I Ringan di tandai dengan muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri epigastrium, nadi meningkat sekitar 100 per menit, tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit mengurang lidah mengering dan mata cekung. b. Tingkat II Sedang penderita lebih lemah dan apatis, turgor kulit mengurang lidah mengering dan tampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikteris berat badan turun dan mata cekung, tensi turun dan hemokonsentrasi,oliguria dan konstipasi. Aseton dapat tercium dalam hawa pernafasan, karena
  • 139.
    128 mempunyai aroma yangkhas dan dapat pula di temukan dalam kencing. c. Tingkat III Berat keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dan samnolen sampai koma nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fatal terjadi pada susunan syaraf yang di kenal sebagai ensefalopati wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia dan perubahan mental. Keadan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan termasuk vitamin B komplek. Timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah hati (Rukiyah, dkk, 2010:121-122). F. Pengelolaan Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan mengubah makanan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering. Defekasi yang teratur hendaknya dapat dijamin, menghindarkan kekurangan karbohidrat merupakan faktor yang
  • 140.
    129 penting, oleh karenanyadianjurkan makanan yang banyak mengandung gula. G. Obat-obatan Apabila dengan cara tersebut diatas keluhan dan gejala tidak mengurang maka diperlukan pengobatan. Tetapi perlu diingat untuk tidak memberikan obat yang teratogen. Sedativa yang sering diberikan adalah Phenobarbital. Vitamin yang dianjurakan adalah vitamin B1 dan B6, Anti histaminika juga dianjurkan, seperti dramamin, avomin. Pada keadaan lebih berat diberikan antiemetic seperti disiklomin hidrokkloride atau khlorpromasin. Penanganan hiperemesis gravidarum yang lebih berat perlu dikelola dirumah sakit. a. Isolasi Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. Catat cairan yang keluar dan masuk. Hnaya dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam kamar penderita, sampai muntah berhenti dan penderita mau makan. Tidak diberikan makanan/minuman dan selama 24 jam. Kadang- kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan. b. Terapi psikologik Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi
  • 141.
    130 pekerjaan serta menghilangkanmasalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini. H. Diet Ciri khas diet hiperemesis adalah penekanan karbohidrat kompleks terutama pada pagi hari, serta menghindari makanan yang berlemak dan goring-gorengan untuk menekan rasa mual dan muntah, sebaiknya di beri jarak dalam pemberian makan dan minum. Diet pada hiperemesis bertujuan untuk mengganti persediaan glikogen tubuh dan mengontrol asidosis secara berangsur memberikan makanan berenergi dan zat gizi yang cukup. Diet hiperemesis gravidarum memiliki beberapa syarat, diantaranya adalah karbohidrat tinggi, yaitu 75-80% dari kebutuhan energi total, lemak rendah, yaitu <10% dari kebutuhan energi total, protein sedang, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total, makanan di berikan dalam bentuk kering, pemberian cairan di sesuaikan dengan keadaan pasien, yaitu 7-10 gelas per hari, makanan mudah di cerna, tidak merangsang saluran pencernaan dan di berikan sering dalam porsi kecil, bila makan pagi dan sulit di terima, pemberian di optimalkan pada makan malam dan selingan malam, makanan secara berangsur di tingkatkan dalam porsi dan nilai gizi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan gizi pasien (Rukiyah, dkk, 2010;h.124). Ada tiga macam diet pada hiperemesis gravidarum yaitu;
  • 142.
    131 a. Diet hiperemesisI diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak di berikan bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang akan zat-zat gizi kecuali vitamin C karena itu hanya di berikan selam beberapa hari. b. Diet hiperemesis II di berikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Secara berangsur mulai di berikanbahan mkanan yang bernilai gizi tinggi. Pemberian mnum tidak di berikan bersamaan dengan makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zt gizi kecuali vitamin A dan D. c. Diet hiperemesis III di berikan pada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh di berikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali kalsium. d. Makanan yang di anjurkan untuk diet hiperemesis I, II, dan III adalah roti panggang, biscuit, crakers, buah segar dan saribuah, minuman botol ringan, sirup, kaldu tak berlemak, teh hangat. Sedangkan makanan yang tidak di anjurkan adalah makanan yang pada umumnya merangsang saluran pencernaan dan berbumbu tajam. Bahan makanan yang mengandung alcohol, kopi dan makanan yang mengandung zat pengawet, pewarna, dan penyedap rasa juga tidak di anjurkan. Diet pada ibu yang mengalamihiperemesis terkadang melihat kondisi si ibu dan
  • 143.
    132 tingkatan hiperemesisnya, konsepsaat ini di anjurkan pada ibu adalah makanlah apa yang ibu suka, bukan makan sedikit-sedikit tapi sering juga jangan di paksakan ibu memakan apa yang saat ini membuat mual karena diet tersebut tidak akan berhasil malah akan memperparah kondisinya (Rukiyah, dkk, 2010;h.124-125) I. Komplikasi Menurut Wiknjosastro dalam Rukiyah dampak yang di timbulkan dapat terjadi pada ibu dan janin, seperti ibu akan kekurangan nutrisi dan cairan sehinga keadaan fisik ibu menjadi lemah dan lelah dapat pula mengakibatkan gangguan asam basa, pneumoni aspirasi, robekan mukosa pada hubungan gastroesofagus yang menyebabkan perdarahan ruptur esofagus, kerusakan hepar dan kerusakan ginjal, ini akan memberikan pengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan janin karena nutrisi yang tidak terpenuhi atau tidak sesuai engan kehamilan, yang mengakibatkan peredaran darah janin berkurang. Pada bayi, jika hiperemesis ini terjadi hanya di awal kehamilan tidak berdampak terlalu serius, tetapi jika sepanjang kehamilan si ibu menderita hiperemessi gravidarum, maka kemungkinan bayinya mengalami BBLR, IUGR, Prematur hingga terjadi abortus .. Terjadi pertumbuhan janin terhambat sebagai akibat kurangnya pemasukan oksigen dan makanan yang kurang adekuat dan hal ini mendorong terminasi kehamilan lebih dini (Rukiyah, dkk, 2010;h.128-129)
  • 144.
  • 145.