Tugas Arah Kecendrungan dan Isu dalam Pendidikan Matematika 
Makalah tentang 
PROBLEM SOLVING 
Dosen pengasuh: Prof. Dr. Hasrattudin, M.Pd 
Oleh 
DAHLIA HUDI PRATAMA 
8146172011 8146172027 
IMANTI AMELIA MASITAH PUSPA SARI 
8146172029 8146172042 
M.HASAN ASY’ARI 
8146172046 
PROGRAM PASCASARJANA 
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 
2014 
i
ii
KATA PENGANTAR 
Alhamdulilah.. Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT berkat 
rahmat dan ridhoNya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Problem Solving” 
ini. 
Guru adalah pekerjaan mulia yang memiliki tanggung jawab kemanusiaan, khususnya 
berkaitan dengan proses pendidikan generasi penerus bangsa dalam menghadapi era 
globalisasi di masa mendatang. Untuk itu guru dituntut untuk menjadi guru yang profesional, 
yang mampu mengembangkan kemampuan berfikir tingkat tinggi peserta didik. Dalam 
kehidupan juga tidak terlepas dari masalah atau tantangan. Guru sebagai praktisi pendidikan 
memegang penting peranan untuk menjawab dan melewati tantangan atau masalah itu. 
Pada kesempatan ini pemakalah mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu 
mata kuliah Arah Kecendrungan dan Isu dalam Pendidikan Matematika atas bimbingannya, 
dan terima kasih juga kepada teman-teman seperjuangan di kelas B-1 Pendidikan Matematika 
TA 2014/2015 yang telah memberikan saran dan masukan terhadap makalah ini. 
Medan, September 2014 
Pemakalah
DAFTAR ISI 
Halaman 
Kata Pengantar i 
Daftar Isi ii 
BAB I PENDAHULUAN 1 
A. Latar Belakang 1 
B. Rumusan Masalah 2 
C. Tujuan Penulisan 2 
BAB II PEMBAHASAN 3 
A. Pengertian Problem Solving (Pemecahan Masalah) 3 
B. Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Problem Solving 4 
C. Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika dengan 
menggunakan metode pemecahan masalah (problem solving) 8 
BAB III PENUTUP 14 
A. Kesimpulan 14 
B. Saran 14 
DAFTAR PUSTAKA 15
BAB I 
PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang Masalah 
Matematika merupakan salah satu unsur penting dalam pendidikan. Mata pelajaran 
matematika telah diperkenalkan kepada siswa sejak tingkat dasar sampai ke jenjang yang 
lebih tinggi. Kegunaan matematika bukan hanya memberikan kemampuan dalam 
perhitungan-perhitungan kualitatif tetapi juga dalam penataan cara berpikir, terutama dalam 
pembentukan kemampuan menganalisis, membuat sintesis, melakukan evaluasi hingga 
kemampuan memecahkan masalah. Dengan kenyataan ini bahwa matematika mempunyai 
potensi yang sangat besar dalam hal memacu terjadinya perkembangan secara cermat dan 
tepat maupun dalam mempersiapkan masyarakat yang mampu mengantisipasi perkembangan 
dengan cara berpikir dan bersikap pula. 
Pembelajaran hendaknya lebih menekankan pada bagaimana upaya guru mendorong atau 
memfasilitasi siswa belajar, bukan pada apa yang dipelajari siswa. Jadi, pembelajaran 
matematika merupakan upaya guru mendorong atau memfasilitasi siswa dalam 
mengkonstruksi pemahamannya akan matematika. Keberhasilan guru dalam pembelajaran 
bukan hanya dilihat dari hasil belajar siswa tetapi juga pada proses dari pembelajaran 
tersebut. 
Salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan berproses belajar siswa, khususnya 
mata pelajaran matematika adalah dengan menerapkan model pembelajaran problem solving 
atau pemecahan masalah. Pada pembelajaran melalui pendekatan problem solving, siswa 
dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang 
sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Proses 
pemecahan masalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam 
mempelajari, mencari, dan menemukan sendiri informasi atau data untuk diolah menjadi 
konsep, prinsip atau simpulan. 
Cara pemecahan masalah adalah hal yang terpenting dalam matematika. Hal ini sesuai 
dalam The National Council of Teacher of Mathematics (NCTM dalam Jacob, 2010:8) yang 
menyatakan untuk membuat pemecahan masalah fokus dari matematika sekolah memiliki 
1
pertanyaan fundamental tentang ciri matematika sekolah. Seni pemecahan masalah 
merupakan jantung dari matematika. Jadi pembelajaran matematika dapat didesain 
sedemikian sehingga pengalaman matematika sebagai pemecahan masalah. 
Dari rekomendasi NCTM tersebut dapat diartikan bahwa problem solving sangat 
penting dalam pelajaran matematika, mengingat masih banyak siswa yang merasa kesulitan 
dalam mengkonstruksikan dan mengaplikasikan ide-ide dalam problem solving matematika. 
Tidak hanya sebuah formula yang dapat digunakan untuk memastikan keberhasilan dalam 
problem solving (pemecahan masalah). Hal ini diperjelas dalam Sumarmo (2005) yang 
mengatakan kemampuan peserta didik dalam keterampilan berpikir kritis, keterampilan 
berpikir kreatif, keterampilan mengorganisir otak, dan keterampilan analisis disebut dengan 
daya matematis (mathematical power) atau keterampilan matematis (doing math). Dalam 
keterampilan ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan peserta didik masa kini dan 
kebutuhan peserta didik masa akan datang. 
Dengan demikian pembelajaran matematika pada jenjang sekolah manapun diharapkan 
dapat mengembangkan kemampuan matematis peserta didik melalui tugas matematika yang 
dapat mendukung tujuan di atas. Hal inilah yang melatarbelakangi penulisan makalah 
kelompok 1 tentang problem solving yaitu mengembangkan keterampilan matematis peserta 
didik dengan pendekatan pemecahan masalah pada pembelajaran matematika. 
B. Rumusan Masalah 
Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah : 
1. Apa itu problem solving (pemecahan masalah)? 
2. Bagaimanakah pendekatan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika? 
C. Tujuan Penulisan 
Berdasarkan rumusan masalah di atas, yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah 
ini adalah : 
1. Untuk mengetahui pengertian problem solving (pemecahan masalah). 
2. Untuk mengetahui pendekatan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika. 
BAB II
PEMBAHASAN 
A. Pengertian Problem Solving (Pemecahan Masalah) 
A.1. Pengertian masalah 
Tidak semua pertanyaan merupakan suatu masalah. Bagi seseorang suatu pertanyaan 
bisa menjadi suatu masalah sedangkan bagi orang lain tidak. Masalah adalah kesenjangan 
antara kenyataan yang terjadi dengan sesuatu yang kita harapkan atau kita capai. Kata 
“Problem” terkait erat dengan suatu pendekatan pembelajaran yaitu pendekatan problem 
solving. Dalam hal ini tidak setiap soal dapat disebut problem atau masalah. Ciri-ciri suatu 
soal disebut “problem” dalam perspektif ini paling tidak memuat 2 hal yaitu: 
1. soal tersebut menantang pikiran (challenging), 
2. soal tersebut tidak otomatis diketahui cara penyelesaiannya (nonroutine). 
Munurut Polya (dalam Hujono, 2003:150), terdapat dua macam masalah : 
1. Masalah untuk menemukan, dapat teoritis atau praktis, abstrak atau konkret, termasuk 
teka-teki. Kita harus mencari variabel masalah tersebut, kemudian mencoba untuk 
mendapatkan, menghasilkan atau mengkonstruksi semua jenis objek yang dapat 
dipergunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Bagian utama dari masalah 
adalah sebagai berikut: 
(a) Apakah yang dicari? 
(b) Bagaimana data yang diketahui? 
(c) Bagaimana syaratnya? 
2. Masalah untuk membuktikan adalah untuk menunjukkan bahwa suatu pertanyaan itu 
benar atau salah atau tidak kedua-duanya.Kita harus menjawab pertanyaan : ”Apakah 
pernyataan itu benar atau salah ?”. Bagian utama dari masalah jenis ini adalah hipotesis 
dan konklusi dari suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya. 
A.2. Pengertian Pemecahan Masalah 
Pemecahan masalah dapat diartikan suatu proses untuk menemukan solusi atas satu atau 
lebih masalah yang dihadapi. Pemecahan masalah menurut Polya (1975) sebagai usaha 
mencari jalan keluar dari suatu kesulitan mencapai suatu tujuan yang tidak dengan segera 
dapat dicapai. 
Konsep pemecahan masalah menurut Jacob (2010) diartikan dengan menggunakan tiga 
interpretasi umum, yaitu diantaranya :
1. Pemecahan masalah sebagai suatu tujuan (goal), artinya independen dari masalah 
spesifik, prosedur, atau metode dan konten matematis. Pertimbangan penting di sini 
adalah belajar untuk bagaimana menyelesaikan masalah merupakan alasan utama untuk 
mempelajari matematika. 
2. Pemecahan masalah sebagai proses (process), artinya menggunakan pengetahuan yang 
diperoleh sebelumnya untuk situasi baru dan tidak familiar. Apa yang dipandang 
penting dalam interpretasi ini adalah metode, prosedur, strategi, dan heuristik yang 
siswa gunakan dalam menyelesaikan masalah. 
3. Pemecahan masalah sebagai keterampilan dasar (basic skill) menyangkut dua hal, yaitu 
(a) keterampilan umum yang baru dimiliki siswa untuk keperluan evaluasi 
(b) keterampilan minimum yang diperlukan siswa agar dapat mengaplikasikannya 
dalam kehidupan sehari- hari. 
Dalam belajar matematika pada dasarnya seseorang siswa tidak terlepas dari masalah. 
The National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) menyatakan: “Belajar 
menyelesaikan masalah adalah alasan utama untuk mempelajari matematika” (NCTM dalam 
Jacob, 2010:8) Adanya peningkatan kemampuan untuk menyelesaikan suatu masalah, berarti 
siswa tersebut telah mengalami perubahan dalam tingkah lakunya, dengan demikian dalam 
pembelajaran matematika kemampuan memecahkan masalah sangat penting. 
Kemampuan yang terkandung dalam matematika seluruhnya bermuara pada 
penguasaan konsep dan memampukan siswa memecahkan masalah dengan kemampuan 
berpikir kritis, logis, sistematis dan terstruktur. Dalam pemecahan masalah siswa didorong 
dan diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berinisiatif dan berpikir sistematis dalam 
menghadapi suatu masalah dengan menerapkan pengetahuan yang didapat sebelumnya. 
B. Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Problem Solving 
B.1. langkah-langkah dalam problem solving (pemecahan masalah) 
Terdapat langkah-langkah dalam pemecahan masalah. Menurut Polya (Suherman, 
2001: 84) dalam pemecahan suatu masalah terdapat empat langkah yang harus dilakukan 
yaitu: 
1. Memahami masalah ( Understanding the Problem )
Kegiatan yang dapat dilakukan pada langkah ini adalah hal-hal apa saja yang diketahui, 
apa yang tidak diketahui (ditanyakan), membuat notasi dari unsur yang diketahui dan 
yang ditanyakan. 
2. Merencanakan Penyelesaiannya ( The Vising a Plan ) 
Kegiatan yang dapat dilakukan pada langkah ini adalah mencoba mencari atau mengingat 
masalah yang pernah diselesaikan yang memiliki kemiripan dengan masalah yang akan 
dipecahkan, mencari pola atau aturan, menyusun prosedur penyelesaian ( Membuat 
Konjektur ). 
3. Menyelesaikan masalah sesuai rencana ( Carring Out The Plan ) 
Kegiatan yang dapat dilakukan pada langkah ini adalah menjalankan prosedur yang telah 
dibuat pada langkah sebelumnya untuk mendapatkan penyelesaian. 
4. Memeriksa kembali prosedur dan hasil penyelesaian ( Looking Back ) 
Kegiatan yang dapat dilakukan pada langkah ini adalah menganalisis dan mengevaluasi 
apakah prosedur yang diterapkan dan hasil yang diperoleh benar, apakah ada prosedur 
lain yang lebih efektif, apakah prosedur yang dibuat dapat digunakan untuk 
menyelesaikan masalah yang sejenis, atau apakah prosedur dapat dibuat generalisasinya. 
Dari beberapa langkah atau tahapan problem solving yang dikemukakan, pada 
prinsipnya problem solving dilakukan secara teratur, logis, analitis, kritis, kreatif, sistematis 
atau prosedural dan mutlak menggunakan serta menghubungkan pengetahuan yang sudah 
mereka miliki sebelumnya, termasuk penggunaan fakta-fakta (berupa konvensi yang 
diungkapkan dengan simbol tertentu), konsep-konsep (ide abstrak yang dapat digunakan 
untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek), operasi (proses 
pengerjaan perhitungan, pengerjaan aljabar dan pengerjaan matematika lainnya), dan prinsip 
(sekumpulan objek matematika yang kompleks, prinsip dapat terdiri atas beberapa fakta dan 
konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi). 
B.2. Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Problem Solving
Beberapa indikator pemecahan masalah dapat diperhatikan dari paparan Sumarmo 
(2005), adalah sebagai berikut: 
a) Mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, yang ditanyakan, dan kecukupan unsur 
yang diperlukan, 
b) Merumuskan masalah matematika atau menyusun model matematika, 
c) Menerapkan strategi untuk menyelesaikan berbagai masalah (sejenis dan masalah baru) 
dalam atau di luar matematika, 
d) Menjelaskan atau menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan asal, dan. 
e) Menggunakan matematika secara bermakna. 
Beberapa strategi yang sering digunakan dalam pemecahan masalah matematika adalah : 
1. Membuat gambar atau diagram. 
Strategi ini terkait dengan pembuatan sketsa atau gambar coret-coret guna 
mempermudah dalam memahami masalah dan mendapatkan penyelesaiannya. 
2. Bergerak dari belakang 
Dengan strategi ini, kita mulai dengan menganalisa bagaimana cara mendapatkan 
tujuan yang hendak dicapai. Dengan strategi ini, kita bergerak dari yang diinginkan 
lalu menyesuaikan dengan yang diketahui. 
3. Memperhitungkan setiap kemungkinan 
Strategi ini terkait dengan penggunaan aturan-aturan yang dibuat sendiri oleh si 
pelaku selama proses pemecahan masalah sehingga tidak akan ada satupun alternative 
yang terabaikan. 
4. Mencobakan pada soal yang lebih sederhana 
Strategi ini terkait dengan penggunaan contoh khusus tertentu pada masalah tersebut 
agar lebih mudah dipelajari, sehingga gambaran umum penyelesaian yang sebenarnya 
dapat ditentukan. 
5. Membuat tabel
Strategi ini digunakan untuk membantu menganalisis permasalahan atau jalan pikiran 
kita, sehingga segala sesuatunya tidak dibayangkan hanya oleh otak yang 
kemampuannya sangat terbatas. 
6. Menemukan pola 
Strategi ini terkait dengan pencapaian keteraturan-keteraturan pola. Keteraturan 
tersebut akan memudahkan kita menemukan penyelesaiannya. 
7. Memecah tujuan 
Strategi ini berkaitan dengan pemecahan tujuan umum yang hendak kita capai 
menjadi satu atau beberapa tujuan bagian. Tujuan bagian ini dapat digunakan sebagai 
batu loncatan untuk mencapai tujuan yang sesungguhnya. 
8. Berpikir logis 
Strategi ini berkaitan dengan penggunaan penalaran maupun penarikan kesimpulan 
yang sah atau valid dari berbagai informasi atau data yang ada. 
9. Mengabaikan hal yang tak mungkin 
Dari berbagai alternative yang mungkin, alternative yang sudah jelas-jelas tidak 
mungkin agar dicoret atau diabaikan, sehingga perhatian dapat tercurah sepenuhnya 
untuk hal-hal yang tersisa dan masih mungkin saja. 
10. Mencoba-coba 
Strategi ini biasanya digunakan untuk mendapatkan gambaran umum pemecahan 
masalahnya dengan mencoba-coba dari yang diketahui.
Dengan demikian, inti dari belajar memecahkan masalah adalah supaya peserta didik 
terbiasa mengerjakan soal-soal yang tidak hanya mengandalkan ingatan yang baik saja, tetapi 
peserta didik diharapkan dapat mengaitkan dengan situasi nyata yang pernah dialaminya atau 
yang pernah dipikirkannya. Kemudian peserta didik bereksplorasi dengan benda kongkrit, 
lalu akan mempelajari ide-ide matematika secara informal, selanjutnya belajar matematika 
secara formal. 
Terkait dengan kurikulum 2013 yaitu pembelajaran dengan pendekatan saintifik, peran 
guru pada setiap fase/sintaks dalam pembelajaran dengan metode pemecahan masalah adalah 
sebagai berikut: 
Fase ke - Indikator Peran Guru 
1 Orientasi siswa 
pada masalah 
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan peralatan 
yang dibutuhkan,memotivasi siswa terlibat pada aktivitas 
pemecahan masalah yang dipilihnya. 
2 Mengorganisasikan 
siswa untuk belajar 
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan 
tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. 
3 Membimbing 
penyelidikan 
individual maupun 
kelompok 
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang 
sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan 
penjelasan dan pemecahan masalah. 
4 Mengembangkan 
dan menyajikan 
hasil karya 
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan 
karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model yang 
membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya. 
5 Menganalisis dan 
mengevaluasi 
proses pemecahan 
masalah 
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi 
terhadap penyelidikan mereka dan proses yang mereka 
gunakan. 
Proses pembelajaran di kelas yang mengkondisikan siswa untuk belajar memecahkan 
dan menemukan kembali ini akan membuat para siswa terbiasa melakukan penyelidikan dan 
menemukan sesuatu. Kegiatan belajarnya biasanya dimulai dengan penayangan masalah 
nyata yang pernah dialami atau dapat dipikirkan para siswa, dilanjutkan dengan kegiatan
bereksplorasi dengan benda konkret, lalu para siswa akan mempelajari ide- ide matematika 
secara informal, belajar matematika secara formal dan diakhiri dengan kegiatan pelatihan. 
Dengan kegiatan seperti ini, diharapkan para siswa akan dapat memahami konsep, rumus, 
prinsip dan teori- teori matematika sambil belajar memecahkan masalah. 
C. Contoh penyelesaian soal dengan menggunakan metode pemecahan masalah 
(problem solving) 
1. Susunlah bilangan – bilangan 1 sampai dengan 9 kedalam tiap daerah persegi pada 
gambar dibawah ini sehingga jumlah tiap baris, kolom dan diagonal utama nya adalah 
sama. 
Penyelesaian : 
Memahami masalah : 
Apa yang perlu dilakukan adalah kita harus menempatkan tiap bilangan 1, 2, 3 .... 9 dalam 
tiap daerah persegi ( tiap bilangan hanya di gunakan satu kali ), sedemikian sehingga jumlah 
bilangan –bilangan pada tiap baris, kolom dan diagonal utamanya adalah sama. 
Merencanakan Penyelesaian Masalah : 
Jika kita sudah tau jumlah untuk tiap baris, kolom dan diagonal utamanya, maka pekerjaan 
kita akan lebih mudah. Dengan demikian yang menjadi tujuan bagian dari penyelesaian 
keseluruhan adalah bagaimana menentukan jumlah yang diinginkan tersebut. Jumlah 9 
bilangan 1 + 2 + 3 + .... + 9 sama dengan tiga kali jumlah dari satu kolom atau baris. 
Akibatnya, jumlah untuk satu baris atau kolom adalah sepertiga dari jumlah keseluruhan atau 
45/3 = 15. Dengan kata lain jumlah untuk masing-masing baris, kolom atau diagonal utama 
adalah 15. Langkah selanjutnya adalah bahwa kita harus menentukan kombinasi tiga bilangan 
sedemikian hingga jumlahnya 15. 
Menyelesaikan Masalah : 
Jumlah 15 dapat diperoleh melalui kombinasi jumlah tiga bilangan seperti berikut ini . 
9 + 5 + 1 
9 + 4 + 2 
8 + 6 + 1 
8 + 5 + 2
8 + 4 + 3 
7 + 6 + 2 
7 + 5 + 3 
6 + 5 + 4 
Jika kita perhatikan banyaknya kemunculan untuk tiap angka, ternyata tidaklah sama. 
Misalnya 1 hanya muncul dua kali, sedangkan 2 muncul tiga kali. Frekuensi kemunculan tiap 
angka dapata terlihat dalam tabel dibawah ini : 
Angka 
1 2 3 4 5 6 7 8 9 
Frekuensi 
Kemunculan 2 3 2 3 4 3 2 3 2 
Dengan melihat frekuensi kemunculan tiap angka pada tabel tersebut, maka selanjutnya 
penempatan untuk tiap angka akan dengan mudah dilakukan. Sebagai contoh 5 pasti harus 
ditempatkan ditengah. Sedangkan 2, 4, 6, dan 8 harus menempati daerah pojok. Dengan 
demikian, salah satu penyelesaian akhirnya adalah sebagai berikut : 
2 7 6 
9 5 1 
4 3 8 
Pengecekan Kembali : 
Kita lihat bahwa 5 adalah satu – satunya bilangan di antara sembilan bilangan yang diberikan 
yang dapat ditempatkan di tengah. Akan tetapi bilangan yang bisa ditempatkan di daerah 
pojok bisa beberapa pilihan. Jadi, penyelesaian yang diberikan diatas salah satu kemungkinan 
dari beberapa kemungkinan yang ada. 
Cara lain untuk meihat bahwa 5 harus ditempatkan ditengah dapat dilakukan melalui ilustrasi 
berikut : 
1 2 3 4 5 6 7 8 9 
10 
10 
10 
10
Dari ilustrasi ini terlihat bahwa untuk memperoleh jumlah 15, 5 dapat dipasangkan dengan 
empat pasangan bilangan lain yang masing-masing jumlahnya 10. 
2. Ketika seorang Matematika Jerman duduk di Sekolah Dasar, guru disekolahnya meminta 
anak – anak untuk menetukan jumlah 100 bilangan asli pertama. Dengan memberikan 
soal ini, guru mengira bahwa waktu penyelesaiansoal tersebut akan berlangsung cukup 
lama. Namun demikian, diluar dugaan Gauss mampu menyelesaikan soal tersebut 
dengan sangat cepat. Apakah kamu menyelesaikan masalah tersebut dengan cepat ? 
Penyelesaian : 
Memahami Masalah : Bilangsan asli yang dimaksud adalah 1, 2, 3, 4 ... dengan demikian 
masalah tersebut adalah menentukan jumlah 1 + 2 + 3 + 4 ... + 100. 
Merencanakan Penyelesaian : Salah satu strategi yang bisa diterapkan untuk menyelesaikan 
masalah ini adalah mencari kemungkinan adanya suatu pola. Cara yang paling jelas untuk 
menyelesaikan maslah ini adalah dengan menjumlahkan bilangan – bilangan tersebut secara 
berurutan. Akan tetapi, bila dilakukan langkah berikut : 1 + 100, 2 + 99, 3 + 98, ... , 50 + 51 , 
pada akhirnya akan diperoleh 50 pasangan bilangan yang masing – masing berjumlah 101. 
Menyelesaikan Masalah. Terdapat 50 pasang bilangan yang masing – masing berjumlah 
101. Dengan demikian jumlah keseluruhannya adalah 50 (101), atau 5050. 
Memeriksa Kembali. Metoda yang digunakan secara matematis sudah benar sebab 
penjumlahan dapat dilakukan dalam urutan yang berbeda-beda, dan perkalian dapat 
dipandang sebagai penjumlahan berulang. Masalah lebih umum dari soal yang diberikan 
adalah menentukan jumlah n bilangan asli pertama 1 + 2 + 3 + 4 + ... + n. Dengan n nilai asli. 
Jika n merupakan bilangan genap, maka dengan menggunakan cara yang sama dengan 
sebelumnya didapat n/2 pasang bilangan yang masing-masing berjumlah n + 1. Dengan 
demikian, jumlah keseluruhannya adalah 1 + 2 + 3 + ... + n atau (n/2) ( n + 1 ). 
3. Ada berapa cara yang bisa dilakukan untuk memperoleh jumlah uang sebesar Rp. 
25.000,- dengan pecahan puluhan ribu, lima ribuan, dan ribuan ? 
Penyelesaian :
Memahami Masalah : terdapat banyak cara yang dilakukan untuk memperoleh jumlah uang 
sebesar Rp. 25.000,-. Puluhan ribu (P), lima ribuan (L), dan ribuan (R) tidak perlu digunakan 
semuanya sekaligus untuk mendapatkan jumlah yang diinginkan. Dengan demikian 25 
lembar uang ribuan adala merupakan salah satu contohnya. 
Merencanakan Penyelesaian : untuk menyelesaikan masalah ini dapat dilakukan antara lain 
melalui pemanfaatan tabel. 
Menyelesaikan Masalah. Dengan memperhatikan kombinasi tiga jenis pecahan 
diperbolehkan, maka didapat tabel dibawah ini. 
P 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 2 2 
L 0 1 2 3 4 5 0 1 2 3 0 1 
R 25 20 15 10 5 0 15 10 5 0 5 0 
Dari tabel ini jelas terlihat bahwa terdapat 12 kemungkinan pasangan uang pecahan sehingga 
diperoleh jumlah Rp. 25.000,- 
Melakukan Pemeriksaan Kembali :Periksa kembali jumlah untuk setiap jumlah Tiap kolom 
serta kemungkinan adanya pasangan lain yang belum termuat. 
4. Harga 6 buah jeruk dan 2 buah salak Rp. 750,- sedangkan harga 3 buah jeruk dan 4 buah 
salak Rp. 600,-. 
a. Apakah data diatas cukup, kurang atau berlebihan untuk mengetahui harga jeruk dan 
salak? 
b. Susunlah dalam persamaan x dan y? 
c. Berapakah harga sebuah jeruk dan salak? 
d. Pengecekan kembali penyelesaiaan dengan cara substitusi nilai x dan y ke persamaan! 
Penyelesaian : 
Pemahaman masalah 
a. Dik : 6 buah jeruk dan 2 buah salak = Rp. 750,- 
3 buah jeruk dan 4 buah salak = Rp. 600,-. 
Dit: harga sebuah jeruk dan salak? 
Jadi data diatas cukup untuk mengetahui harga jeruk dan salak. 
Perencanaan Penyelesaian :
Membuat persamaan : 
x = jeruk dan y = salak, maka: 
6 jeruk + 2 salak = Rp. 750 6x + 2y = 750 
3 jeruk + 4 salak = Rp. 600 3x + 4y = 600 
Pelaksanaan penyelesaiaan 
menentukan harga sebuah jeruk dan salak dengan metode eliminassi nilai y, maka: 
6x + 2y = 750 x2 12x + 4y = 1500 
3x + 4y = 600 x1 3x + 4y = 600 - 
9x = 900 
x = 100 
jika x = 100, maka: 
3x + 4y = 600 
3 ( 100 ) + 4y = 600 
4y = 600 – 300 
4y = 300 
y = 75 
Jadi harga sebuah jeruk (x) = Rp. 100,- dan harga sebuah salak (y) = Rp. 75,- 
Pengecekan Kembali : 
Pengecekan kembali penyelesaian tersebut dilakukan dengan 
cara substitusi nilai x dan y ke persamaan: 
6x + 2y = 750 
6 (100) + 2 (75) = 750 
600 + 150 = 750 
750 = 750 
Setelah disubtitusikan nilai x dan y ke dalam persamaan ternyata hasil ruas kiri sama dengan 
ruas kanan. Jadi harga sebuah jeruk (x) = Rp. 100,- dan harga sebuah salak (y) = Rp. 75
PENUTUP 
A. Kesimpulan 
Salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan berproses belajar siswa, khususnya 
mata pelajaran matematika adalah dengan menerapkan model pembelajaran problem solving 
atau pemecahan masalah. Pada pembelajaran melalui pendekatan problem solving, siswa 
dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang 
sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Proses 
pemecahan masalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam 
mempelajari, mencari, dan menemukan sendiri informasi atau data untuk diolah menjadi 
konsep, prinsip atau simpulan 
Dari beberapa langkah atau tahapan problem solving yang dikemukakan, pada 
prinsipnya problem solving dilakukan secara teratur, logis, analitis, kritis, kreatif, sistematis 
atau prosedural dan mutlak menggunakan serta menghubungkan pengetahuan yang sudah 
mereka miliki sebelumnya, termasuk penggunaan fakta-fakta (berupa konvensi yang 
diungkapkan dengan simbol tertentu), konsep-konsep (ide abstrak yang dapat digunakan 
untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek), operasi (proses 
pengerjaan perhitungan, pengerjaan aljabar dan pengerjaan matematika lainnya), dan prinsip 
(sekumpulan objek matematika yang kompleks, prinsip dapat terdiri atas beberapa fakta dan 
konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi). 
Pemecahan masalah merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh siswa. 
Bahkan tercermin dalam kurikulum 2013 yaitu pendekatan saintifik. Tuntutan akan 
kemampuan pemecahan masalah dipertegas secara eksplisit dalam kurikulum tersebut 
yaitu, sebagai kompetensi dasar yang harus dikembangkan dan diintegrasikan pada sejumlah 
materi yang sesuai.
B. Saran 
Keberhasilan guru dalam pembelajaran bukan hanya dilihat dari hasil belajar siswa tetapi 
juga pada proses dari pembelajaran tersebut. Untuk itu hendaklah guru mata pelajaran 
matematika dapat menerapkan berbagai macam kemampuan matematis selain problem 
solving untuk dapat melatih berfikir tingkat tinggi siswa. 
DAFTAR PUSTAKA 
Fadjar Shadiq, M.App.Sc. 2007. Penalaran, Pemecahan Masalah dan Komunikasi dalam 
Pembelajaran Matematika (Makalah Diklat Guru pemandu/Pengembang 
matematika SMP Jenjang Dasar), Yogyakarta: PPPPTK Matematika 
Hujono, Herman. 2003. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: 
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Malang. 
Jacob. C. 2010. Matematika Sebagai Pemecahan Masalah. Bandung. FPMIPA UPI. 
Polya, G.1973. How to Solve It (2nd Ed). Princeton University Press. 
Sumarmo, U. 2005. Daya dan Disposisi Matematik: Apa, Mengapa dan Bagaimana 
Dikembangkan pada Siswa Sekolah Dasar dan Menengah. Makalah disajikan 
pada Seminar Sehari di Jurusan Matematika ITB, Oktober 2003. 
Suherman, Erman, dkk, 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, Bandung: 
JICA-Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Problem Solving Matematika

  • 1.
    Tugas Arah Kecendrungandan Isu dalam Pendidikan Matematika Makalah tentang PROBLEM SOLVING Dosen pengasuh: Prof. Dr. Hasrattudin, M.Pd Oleh DAHLIA HUDI PRATAMA 8146172011 8146172027 IMANTI AMELIA MASITAH PUSPA SARI 8146172029 8146172042 M.HASAN ASY’ARI 8146172046 PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2014 i
  • 2.
  • 3.
    KATA PENGANTAR Alhamdulilah..Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan ridhoNya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Problem Solving” ini. Guru adalah pekerjaan mulia yang memiliki tanggung jawab kemanusiaan, khususnya berkaitan dengan proses pendidikan generasi penerus bangsa dalam menghadapi era globalisasi di masa mendatang. Untuk itu guru dituntut untuk menjadi guru yang profesional, yang mampu mengembangkan kemampuan berfikir tingkat tinggi peserta didik. Dalam kehidupan juga tidak terlepas dari masalah atau tantangan. Guru sebagai praktisi pendidikan memegang penting peranan untuk menjawab dan melewati tantangan atau masalah itu. Pada kesempatan ini pemakalah mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Arah Kecendrungan dan Isu dalam Pendidikan Matematika atas bimbingannya, dan terima kasih juga kepada teman-teman seperjuangan di kelas B-1 Pendidikan Matematika TA 2014/2015 yang telah memberikan saran dan masukan terhadap makalah ini. Medan, September 2014 Pemakalah
  • 4.
    DAFTAR ISI Halaman Kata Pengantar i Daftar Isi ii BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 2 C. Tujuan Penulisan 2 BAB II PEMBAHASAN 3 A. Pengertian Problem Solving (Pemecahan Masalah) 3 B. Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Problem Solving 4 C. Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika dengan menggunakan metode pemecahan masalah (problem solving) 8 BAB III PENUTUP 14 A. Kesimpulan 14 B. Saran 14 DAFTAR PUSTAKA 15
  • 5.
    BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu unsur penting dalam pendidikan. Mata pelajaran matematika telah diperkenalkan kepada siswa sejak tingkat dasar sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Kegunaan matematika bukan hanya memberikan kemampuan dalam perhitungan-perhitungan kualitatif tetapi juga dalam penataan cara berpikir, terutama dalam pembentukan kemampuan menganalisis, membuat sintesis, melakukan evaluasi hingga kemampuan memecahkan masalah. Dengan kenyataan ini bahwa matematika mempunyai potensi yang sangat besar dalam hal memacu terjadinya perkembangan secara cermat dan tepat maupun dalam mempersiapkan masyarakat yang mampu mengantisipasi perkembangan dengan cara berpikir dan bersikap pula. Pembelajaran hendaknya lebih menekankan pada bagaimana upaya guru mendorong atau memfasilitasi siswa belajar, bukan pada apa yang dipelajari siswa. Jadi, pembelajaran matematika merupakan upaya guru mendorong atau memfasilitasi siswa dalam mengkonstruksi pemahamannya akan matematika. Keberhasilan guru dalam pembelajaran bukan hanya dilihat dari hasil belajar siswa tetapi juga pada proses dari pembelajaran tersebut. Salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan berproses belajar siswa, khususnya mata pelajaran matematika adalah dengan menerapkan model pembelajaran problem solving atau pemecahan masalah. Pada pembelajaran melalui pendekatan problem solving, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Proses pemecahan masalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam mempelajari, mencari, dan menemukan sendiri informasi atau data untuk diolah menjadi konsep, prinsip atau simpulan. Cara pemecahan masalah adalah hal yang terpenting dalam matematika. Hal ini sesuai dalam The National Council of Teacher of Mathematics (NCTM dalam Jacob, 2010:8) yang menyatakan untuk membuat pemecahan masalah fokus dari matematika sekolah memiliki 1
  • 6.
    pertanyaan fundamental tentangciri matematika sekolah. Seni pemecahan masalah merupakan jantung dari matematika. Jadi pembelajaran matematika dapat didesain sedemikian sehingga pengalaman matematika sebagai pemecahan masalah. Dari rekomendasi NCTM tersebut dapat diartikan bahwa problem solving sangat penting dalam pelajaran matematika, mengingat masih banyak siswa yang merasa kesulitan dalam mengkonstruksikan dan mengaplikasikan ide-ide dalam problem solving matematika. Tidak hanya sebuah formula yang dapat digunakan untuk memastikan keberhasilan dalam problem solving (pemecahan masalah). Hal ini diperjelas dalam Sumarmo (2005) yang mengatakan kemampuan peserta didik dalam keterampilan berpikir kritis, keterampilan berpikir kreatif, keterampilan mengorganisir otak, dan keterampilan analisis disebut dengan daya matematis (mathematical power) atau keterampilan matematis (doing math). Dalam keterampilan ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan peserta didik masa kini dan kebutuhan peserta didik masa akan datang. Dengan demikian pembelajaran matematika pada jenjang sekolah manapun diharapkan dapat mengembangkan kemampuan matematis peserta didik melalui tugas matematika yang dapat mendukung tujuan di atas. Hal inilah yang melatarbelakangi penulisan makalah kelompok 1 tentang problem solving yaitu mengembangkan keterampilan matematis peserta didik dengan pendekatan pemecahan masalah pada pembelajaran matematika. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah : 1. Apa itu problem solving (pemecahan masalah)? 2. Bagaimanakah pendekatan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika? C. Tujuan Penulisan Berdasarkan rumusan masalah di atas, yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui pengertian problem solving (pemecahan masalah). 2. Untuk mengetahui pendekatan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika. BAB II
  • 7.
    PEMBAHASAN A. PengertianProblem Solving (Pemecahan Masalah) A.1. Pengertian masalah Tidak semua pertanyaan merupakan suatu masalah. Bagi seseorang suatu pertanyaan bisa menjadi suatu masalah sedangkan bagi orang lain tidak. Masalah adalah kesenjangan antara kenyataan yang terjadi dengan sesuatu yang kita harapkan atau kita capai. Kata “Problem” terkait erat dengan suatu pendekatan pembelajaran yaitu pendekatan problem solving. Dalam hal ini tidak setiap soal dapat disebut problem atau masalah. Ciri-ciri suatu soal disebut “problem” dalam perspektif ini paling tidak memuat 2 hal yaitu: 1. soal tersebut menantang pikiran (challenging), 2. soal tersebut tidak otomatis diketahui cara penyelesaiannya (nonroutine). Munurut Polya (dalam Hujono, 2003:150), terdapat dua macam masalah : 1. Masalah untuk menemukan, dapat teoritis atau praktis, abstrak atau konkret, termasuk teka-teki. Kita harus mencari variabel masalah tersebut, kemudian mencoba untuk mendapatkan, menghasilkan atau mengkonstruksi semua jenis objek yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Bagian utama dari masalah adalah sebagai berikut: (a) Apakah yang dicari? (b) Bagaimana data yang diketahui? (c) Bagaimana syaratnya? 2. Masalah untuk membuktikan adalah untuk menunjukkan bahwa suatu pertanyaan itu benar atau salah atau tidak kedua-duanya.Kita harus menjawab pertanyaan : ”Apakah pernyataan itu benar atau salah ?”. Bagian utama dari masalah jenis ini adalah hipotesis dan konklusi dari suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya. A.2. Pengertian Pemecahan Masalah Pemecahan masalah dapat diartikan suatu proses untuk menemukan solusi atas satu atau lebih masalah yang dihadapi. Pemecahan masalah menurut Polya (1975) sebagai usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan mencapai suatu tujuan yang tidak dengan segera dapat dicapai. Konsep pemecahan masalah menurut Jacob (2010) diartikan dengan menggunakan tiga interpretasi umum, yaitu diantaranya :
  • 8.
    1. Pemecahan masalahsebagai suatu tujuan (goal), artinya independen dari masalah spesifik, prosedur, atau metode dan konten matematis. Pertimbangan penting di sini adalah belajar untuk bagaimana menyelesaikan masalah merupakan alasan utama untuk mempelajari matematika. 2. Pemecahan masalah sebagai proses (process), artinya menggunakan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya untuk situasi baru dan tidak familiar. Apa yang dipandang penting dalam interpretasi ini adalah metode, prosedur, strategi, dan heuristik yang siswa gunakan dalam menyelesaikan masalah. 3. Pemecahan masalah sebagai keterampilan dasar (basic skill) menyangkut dua hal, yaitu (a) keterampilan umum yang baru dimiliki siswa untuk keperluan evaluasi (b) keterampilan minimum yang diperlukan siswa agar dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari- hari. Dalam belajar matematika pada dasarnya seseorang siswa tidak terlepas dari masalah. The National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) menyatakan: “Belajar menyelesaikan masalah adalah alasan utama untuk mempelajari matematika” (NCTM dalam Jacob, 2010:8) Adanya peningkatan kemampuan untuk menyelesaikan suatu masalah, berarti siswa tersebut telah mengalami perubahan dalam tingkah lakunya, dengan demikian dalam pembelajaran matematika kemampuan memecahkan masalah sangat penting. Kemampuan yang terkandung dalam matematika seluruhnya bermuara pada penguasaan konsep dan memampukan siswa memecahkan masalah dengan kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis dan terstruktur. Dalam pemecahan masalah siswa didorong dan diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berinisiatif dan berpikir sistematis dalam menghadapi suatu masalah dengan menerapkan pengetahuan yang didapat sebelumnya. B. Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Problem Solving B.1. langkah-langkah dalam problem solving (pemecahan masalah) Terdapat langkah-langkah dalam pemecahan masalah. Menurut Polya (Suherman, 2001: 84) dalam pemecahan suatu masalah terdapat empat langkah yang harus dilakukan yaitu: 1. Memahami masalah ( Understanding the Problem )
  • 9.
    Kegiatan yang dapatdilakukan pada langkah ini adalah hal-hal apa saja yang diketahui, apa yang tidak diketahui (ditanyakan), membuat notasi dari unsur yang diketahui dan yang ditanyakan. 2. Merencanakan Penyelesaiannya ( The Vising a Plan ) Kegiatan yang dapat dilakukan pada langkah ini adalah mencoba mencari atau mengingat masalah yang pernah diselesaikan yang memiliki kemiripan dengan masalah yang akan dipecahkan, mencari pola atau aturan, menyusun prosedur penyelesaian ( Membuat Konjektur ). 3. Menyelesaikan masalah sesuai rencana ( Carring Out The Plan ) Kegiatan yang dapat dilakukan pada langkah ini adalah menjalankan prosedur yang telah dibuat pada langkah sebelumnya untuk mendapatkan penyelesaian. 4. Memeriksa kembali prosedur dan hasil penyelesaian ( Looking Back ) Kegiatan yang dapat dilakukan pada langkah ini adalah menganalisis dan mengevaluasi apakah prosedur yang diterapkan dan hasil yang diperoleh benar, apakah ada prosedur lain yang lebih efektif, apakah prosedur yang dibuat dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sejenis, atau apakah prosedur dapat dibuat generalisasinya. Dari beberapa langkah atau tahapan problem solving yang dikemukakan, pada prinsipnya problem solving dilakukan secara teratur, logis, analitis, kritis, kreatif, sistematis atau prosedural dan mutlak menggunakan serta menghubungkan pengetahuan yang sudah mereka miliki sebelumnya, termasuk penggunaan fakta-fakta (berupa konvensi yang diungkapkan dengan simbol tertentu), konsep-konsep (ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek), operasi (proses pengerjaan perhitungan, pengerjaan aljabar dan pengerjaan matematika lainnya), dan prinsip (sekumpulan objek matematika yang kompleks, prinsip dapat terdiri atas beberapa fakta dan konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi). B.2. Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Problem Solving
  • 10.
    Beberapa indikator pemecahanmasalah dapat diperhatikan dari paparan Sumarmo (2005), adalah sebagai berikut: a) Mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, yang ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan, b) Merumuskan masalah matematika atau menyusun model matematika, c) Menerapkan strategi untuk menyelesaikan berbagai masalah (sejenis dan masalah baru) dalam atau di luar matematika, d) Menjelaskan atau menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan asal, dan. e) Menggunakan matematika secara bermakna. Beberapa strategi yang sering digunakan dalam pemecahan masalah matematika adalah : 1. Membuat gambar atau diagram. Strategi ini terkait dengan pembuatan sketsa atau gambar coret-coret guna mempermudah dalam memahami masalah dan mendapatkan penyelesaiannya. 2. Bergerak dari belakang Dengan strategi ini, kita mulai dengan menganalisa bagaimana cara mendapatkan tujuan yang hendak dicapai. Dengan strategi ini, kita bergerak dari yang diinginkan lalu menyesuaikan dengan yang diketahui. 3. Memperhitungkan setiap kemungkinan Strategi ini terkait dengan penggunaan aturan-aturan yang dibuat sendiri oleh si pelaku selama proses pemecahan masalah sehingga tidak akan ada satupun alternative yang terabaikan. 4. Mencobakan pada soal yang lebih sederhana Strategi ini terkait dengan penggunaan contoh khusus tertentu pada masalah tersebut agar lebih mudah dipelajari, sehingga gambaran umum penyelesaian yang sebenarnya dapat ditentukan. 5. Membuat tabel
  • 11.
    Strategi ini digunakanuntuk membantu menganalisis permasalahan atau jalan pikiran kita, sehingga segala sesuatunya tidak dibayangkan hanya oleh otak yang kemampuannya sangat terbatas. 6. Menemukan pola Strategi ini terkait dengan pencapaian keteraturan-keteraturan pola. Keteraturan tersebut akan memudahkan kita menemukan penyelesaiannya. 7. Memecah tujuan Strategi ini berkaitan dengan pemecahan tujuan umum yang hendak kita capai menjadi satu atau beberapa tujuan bagian. Tujuan bagian ini dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuan yang sesungguhnya. 8. Berpikir logis Strategi ini berkaitan dengan penggunaan penalaran maupun penarikan kesimpulan yang sah atau valid dari berbagai informasi atau data yang ada. 9. Mengabaikan hal yang tak mungkin Dari berbagai alternative yang mungkin, alternative yang sudah jelas-jelas tidak mungkin agar dicoret atau diabaikan, sehingga perhatian dapat tercurah sepenuhnya untuk hal-hal yang tersisa dan masih mungkin saja. 10. Mencoba-coba Strategi ini biasanya digunakan untuk mendapatkan gambaran umum pemecahan masalahnya dengan mencoba-coba dari yang diketahui.
  • 12.
    Dengan demikian, intidari belajar memecahkan masalah adalah supaya peserta didik terbiasa mengerjakan soal-soal yang tidak hanya mengandalkan ingatan yang baik saja, tetapi peserta didik diharapkan dapat mengaitkan dengan situasi nyata yang pernah dialaminya atau yang pernah dipikirkannya. Kemudian peserta didik bereksplorasi dengan benda kongkrit, lalu akan mempelajari ide-ide matematika secara informal, selanjutnya belajar matematika secara formal. Terkait dengan kurikulum 2013 yaitu pembelajaran dengan pendekatan saintifik, peran guru pada setiap fase/sintaks dalam pembelajaran dengan metode pemecahan masalah adalah sebagai berikut: Fase ke - Indikator Peran Guru 1 Orientasi siswa pada masalah Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan peralatan yang dibutuhkan,memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya. 2 Mengorganisasikan siswa untuk belajar Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. 3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model yang membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya. 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan. Proses pembelajaran di kelas yang mengkondisikan siswa untuk belajar memecahkan dan menemukan kembali ini akan membuat para siswa terbiasa melakukan penyelidikan dan menemukan sesuatu. Kegiatan belajarnya biasanya dimulai dengan penayangan masalah nyata yang pernah dialami atau dapat dipikirkan para siswa, dilanjutkan dengan kegiatan
  • 13.
    bereksplorasi dengan bendakonkret, lalu para siswa akan mempelajari ide- ide matematika secara informal, belajar matematika secara formal dan diakhiri dengan kegiatan pelatihan. Dengan kegiatan seperti ini, diharapkan para siswa akan dapat memahami konsep, rumus, prinsip dan teori- teori matematika sambil belajar memecahkan masalah. C. Contoh penyelesaian soal dengan menggunakan metode pemecahan masalah (problem solving) 1. Susunlah bilangan – bilangan 1 sampai dengan 9 kedalam tiap daerah persegi pada gambar dibawah ini sehingga jumlah tiap baris, kolom dan diagonal utama nya adalah sama. Penyelesaian : Memahami masalah : Apa yang perlu dilakukan adalah kita harus menempatkan tiap bilangan 1, 2, 3 .... 9 dalam tiap daerah persegi ( tiap bilangan hanya di gunakan satu kali ), sedemikian sehingga jumlah bilangan –bilangan pada tiap baris, kolom dan diagonal utamanya adalah sama. Merencanakan Penyelesaian Masalah : Jika kita sudah tau jumlah untuk tiap baris, kolom dan diagonal utamanya, maka pekerjaan kita akan lebih mudah. Dengan demikian yang menjadi tujuan bagian dari penyelesaian keseluruhan adalah bagaimana menentukan jumlah yang diinginkan tersebut. Jumlah 9 bilangan 1 + 2 + 3 + .... + 9 sama dengan tiga kali jumlah dari satu kolom atau baris. Akibatnya, jumlah untuk satu baris atau kolom adalah sepertiga dari jumlah keseluruhan atau 45/3 = 15. Dengan kata lain jumlah untuk masing-masing baris, kolom atau diagonal utama adalah 15. Langkah selanjutnya adalah bahwa kita harus menentukan kombinasi tiga bilangan sedemikian hingga jumlahnya 15. Menyelesaikan Masalah : Jumlah 15 dapat diperoleh melalui kombinasi jumlah tiga bilangan seperti berikut ini . 9 + 5 + 1 9 + 4 + 2 8 + 6 + 1 8 + 5 + 2
  • 14.
    8 + 4+ 3 7 + 6 + 2 7 + 5 + 3 6 + 5 + 4 Jika kita perhatikan banyaknya kemunculan untuk tiap angka, ternyata tidaklah sama. Misalnya 1 hanya muncul dua kali, sedangkan 2 muncul tiga kali. Frekuensi kemunculan tiap angka dapata terlihat dalam tabel dibawah ini : Angka 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Frekuensi Kemunculan 2 3 2 3 4 3 2 3 2 Dengan melihat frekuensi kemunculan tiap angka pada tabel tersebut, maka selanjutnya penempatan untuk tiap angka akan dengan mudah dilakukan. Sebagai contoh 5 pasti harus ditempatkan ditengah. Sedangkan 2, 4, 6, dan 8 harus menempati daerah pojok. Dengan demikian, salah satu penyelesaian akhirnya adalah sebagai berikut : 2 7 6 9 5 1 4 3 8 Pengecekan Kembali : Kita lihat bahwa 5 adalah satu – satunya bilangan di antara sembilan bilangan yang diberikan yang dapat ditempatkan di tengah. Akan tetapi bilangan yang bisa ditempatkan di daerah pojok bisa beberapa pilihan. Jadi, penyelesaian yang diberikan diatas salah satu kemungkinan dari beberapa kemungkinan yang ada. Cara lain untuk meihat bahwa 5 harus ditempatkan ditengah dapat dilakukan melalui ilustrasi berikut : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 10 10 10
  • 15.
    Dari ilustrasi initerlihat bahwa untuk memperoleh jumlah 15, 5 dapat dipasangkan dengan empat pasangan bilangan lain yang masing-masing jumlahnya 10. 2. Ketika seorang Matematika Jerman duduk di Sekolah Dasar, guru disekolahnya meminta anak – anak untuk menetukan jumlah 100 bilangan asli pertama. Dengan memberikan soal ini, guru mengira bahwa waktu penyelesaiansoal tersebut akan berlangsung cukup lama. Namun demikian, diluar dugaan Gauss mampu menyelesaikan soal tersebut dengan sangat cepat. Apakah kamu menyelesaikan masalah tersebut dengan cepat ? Penyelesaian : Memahami Masalah : Bilangsan asli yang dimaksud adalah 1, 2, 3, 4 ... dengan demikian masalah tersebut adalah menentukan jumlah 1 + 2 + 3 + 4 ... + 100. Merencanakan Penyelesaian : Salah satu strategi yang bisa diterapkan untuk menyelesaikan masalah ini adalah mencari kemungkinan adanya suatu pola. Cara yang paling jelas untuk menyelesaikan maslah ini adalah dengan menjumlahkan bilangan – bilangan tersebut secara berurutan. Akan tetapi, bila dilakukan langkah berikut : 1 + 100, 2 + 99, 3 + 98, ... , 50 + 51 , pada akhirnya akan diperoleh 50 pasangan bilangan yang masing – masing berjumlah 101. Menyelesaikan Masalah. Terdapat 50 pasang bilangan yang masing – masing berjumlah 101. Dengan demikian jumlah keseluruhannya adalah 50 (101), atau 5050. Memeriksa Kembali. Metoda yang digunakan secara matematis sudah benar sebab penjumlahan dapat dilakukan dalam urutan yang berbeda-beda, dan perkalian dapat dipandang sebagai penjumlahan berulang. Masalah lebih umum dari soal yang diberikan adalah menentukan jumlah n bilangan asli pertama 1 + 2 + 3 + 4 + ... + n. Dengan n nilai asli. Jika n merupakan bilangan genap, maka dengan menggunakan cara yang sama dengan sebelumnya didapat n/2 pasang bilangan yang masing-masing berjumlah n + 1. Dengan demikian, jumlah keseluruhannya adalah 1 + 2 + 3 + ... + n atau (n/2) ( n + 1 ). 3. Ada berapa cara yang bisa dilakukan untuk memperoleh jumlah uang sebesar Rp. 25.000,- dengan pecahan puluhan ribu, lima ribuan, dan ribuan ? Penyelesaian :
  • 16.
    Memahami Masalah :terdapat banyak cara yang dilakukan untuk memperoleh jumlah uang sebesar Rp. 25.000,-. Puluhan ribu (P), lima ribuan (L), dan ribuan (R) tidak perlu digunakan semuanya sekaligus untuk mendapatkan jumlah yang diinginkan. Dengan demikian 25 lembar uang ribuan adala merupakan salah satu contohnya. Merencanakan Penyelesaian : untuk menyelesaikan masalah ini dapat dilakukan antara lain melalui pemanfaatan tabel. Menyelesaikan Masalah. Dengan memperhatikan kombinasi tiga jenis pecahan diperbolehkan, maka didapat tabel dibawah ini. P 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 2 2 L 0 1 2 3 4 5 0 1 2 3 0 1 R 25 20 15 10 5 0 15 10 5 0 5 0 Dari tabel ini jelas terlihat bahwa terdapat 12 kemungkinan pasangan uang pecahan sehingga diperoleh jumlah Rp. 25.000,- Melakukan Pemeriksaan Kembali :Periksa kembali jumlah untuk setiap jumlah Tiap kolom serta kemungkinan adanya pasangan lain yang belum termuat. 4. Harga 6 buah jeruk dan 2 buah salak Rp. 750,- sedangkan harga 3 buah jeruk dan 4 buah salak Rp. 600,-. a. Apakah data diatas cukup, kurang atau berlebihan untuk mengetahui harga jeruk dan salak? b. Susunlah dalam persamaan x dan y? c. Berapakah harga sebuah jeruk dan salak? d. Pengecekan kembali penyelesaiaan dengan cara substitusi nilai x dan y ke persamaan! Penyelesaian : Pemahaman masalah a. Dik : 6 buah jeruk dan 2 buah salak = Rp. 750,- 3 buah jeruk dan 4 buah salak = Rp. 600,-. Dit: harga sebuah jeruk dan salak? Jadi data diatas cukup untuk mengetahui harga jeruk dan salak. Perencanaan Penyelesaian :
  • 17.
    Membuat persamaan : x = jeruk dan y = salak, maka: 6 jeruk + 2 salak = Rp. 750 6x + 2y = 750 3 jeruk + 4 salak = Rp. 600 3x + 4y = 600 Pelaksanaan penyelesaiaan menentukan harga sebuah jeruk dan salak dengan metode eliminassi nilai y, maka: 6x + 2y = 750 x2 12x + 4y = 1500 3x + 4y = 600 x1 3x + 4y = 600 - 9x = 900 x = 100 jika x = 100, maka: 3x + 4y = 600 3 ( 100 ) + 4y = 600 4y = 600 – 300 4y = 300 y = 75 Jadi harga sebuah jeruk (x) = Rp. 100,- dan harga sebuah salak (y) = Rp. 75,- Pengecekan Kembali : Pengecekan kembali penyelesaian tersebut dilakukan dengan cara substitusi nilai x dan y ke persamaan: 6x + 2y = 750 6 (100) + 2 (75) = 750 600 + 150 = 750 750 = 750 Setelah disubtitusikan nilai x dan y ke dalam persamaan ternyata hasil ruas kiri sama dengan ruas kanan. Jadi harga sebuah jeruk (x) = Rp. 100,- dan harga sebuah salak (y) = Rp. 75
  • 18.
    PENUTUP A. Kesimpulan Salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan berproses belajar siswa, khususnya mata pelajaran matematika adalah dengan menerapkan model pembelajaran problem solving atau pemecahan masalah. Pada pembelajaran melalui pendekatan problem solving, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Proses pemecahan masalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam mempelajari, mencari, dan menemukan sendiri informasi atau data untuk diolah menjadi konsep, prinsip atau simpulan Dari beberapa langkah atau tahapan problem solving yang dikemukakan, pada prinsipnya problem solving dilakukan secara teratur, logis, analitis, kritis, kreatif, sistematis atau prosedural dan mutlak menggunakan serta menghubungkan pengetahuan yang sudah mereka miliki sebelumnya, termasuk penggunaan fakta-fakta (berupa konvensi yang diungkapkan dengan simbol tertentu), konsep-konsep (ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek), operasi (proses pengerjaan perhitungan, pengerjaan aljabar dan pengerjaan matematika lainnya), dan prinsip (sekumpulan objek matematika yang kompleks, prinsip dapat terdiri atas beberapa fakta dan konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi). Pemecahan masalah merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh siswa. Bahkan tercermin dalam kurikulum 2013 yaitu pendekatan saintifik. Tuntutan akan kemampuan pemecahan masalah dipertegas secara eksplisit dalam kurikulum tersebut yaitu, sebagai kompetensi dasar yang harus dikembangkan dan diintegrasikan pada sejumlah materi yang sesuai.
  • 19.
    B. Saran Keberhasilanguru dalam pembelajaran bukan hanya dilihat dari hasil belajar siswa tetapi juga pada proses dari pembelajaran tersebut. Untuk itu hendaklah guru mata pelajaran matematika dapat menerapkan berbagai macam kemampuan matematis selain problem solving untuk dapat melatih berfikir tingkat tinggi siswa. DAFTAR PUSTAKA Fadjar Shadiq, M.App.Sc. 2007. Penalaran, Pemecahan Masalah dan Komunikasi dalam Pembelajaran Matematika (Makalah Diklat Guru pemandu/Pengembang matematika SMP Jenjang Dasar), Yogyakarta: PPPPTK Matematika Hujono, Herman. 2003. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Malang. Jacob. C. 2010. Matematika Sebagai Pemecahan Masalah. Bandung. FPMIPA UPI. Polya, G.1973. How to Solve It (2nd Ed). Princeton University Press. Sumarmo, U. 2005. Daya dan Disposisi Matematik: Apa, Mengapa dan Bagaimana Dikembangkan pada Siswa Sekolah Dasar dan Menengah. Makalah disajikan pada Seminar Sehari di Jurusan Matematika ITB, Oktober 2003. Suherman, Erman, dkk, 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, Bandung: JICA-Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)