1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Matematika merupakan salah satu jenis dari enam materi ilmu pengetahuan
yaitu matematika, fisika, biologi, psikologi, ilmu-ilmu sosial dan linguistik.
Pemikiran yang sistematis, logis dan kritis dibutuhkan untuk menguasai kemampuan
yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika. Matematika yang
bersifat abstrak merupakan salah satu mata pelajaran yang mempunyai peranan
penting dalam pendidikan. Perkembangan matematika yang begitu pesat juga
menuntut generasi muda untuk lebih meningkatkan kualitasnya agar dapat bersaing di
masa yang akan datang.
Syarat penguasaan matematika jelas tidak bisa dikesampingkan. Kemampuan
berpikir secara logis, analitis, sistematis, kreatif dan bekerja sama dalam belajar
matematika diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh,
mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang
selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Namun meningkatnya ilmu matematika
masih belum dibarengi dengan sumber daya manusia terutama di Indonesia. Karena
nyatanya ilmu matematika di Indonesia masih kurang diminati oleh para generasi
muda khususnya pelajar sekolah menengah. Padahal matematika merupakan ilmu
dasar dari setiap hal yang terjadi di lingkungan kita.
2
Tidak heran jika matematika diajarkan dari jenjang pendidikan dasar sampai
perguruan tinggi. Selain itu matematika juga diberi porsi jam pelajaran lebih banyak
dibanding mata pelajaran lain. Namun sampai saat ini masih banyak siswa yang
menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit, menakutkan, dan
membosankan, karena siswa-siswi kesulitan untuk memahami konsep dan
mengerjakan soal-soal matematika.
Soal-soal matematika yang ditulis dalam beberapa buku paket matematika
sekolah tidak hanya berupa angka tapi juga banyak yang berupa soal cerita. Soal-
soalnya pun tidak hanya menuntut cara berpikir yang rutin tetapi banyak juga soal-
soal cerita yang menuntut cara berpikir yang tidak biasa. Soal matematika yang
disajikan dalam soal cerita (tidak hanya bilangan) dan metode pembelajarannya dapat
memberikan makna tertentu.
Melalui matematika, siswa dapat berlatih menggunakan fikirannya secara
logis, sistematis, kritis dan kreatif serta membantu siswa dalam menyelesaikan
berbagai masalah yang mungkin dihadapinya di kehidupan sehari-hari. Matematika
yang disajikan dalam bentuk masalah akan memberikan motivasi kepada siswa untuk
mempelajari matematika lebih dalam. Dengan dihadapkan suatu masalah matematika,
siswa akan berusaha menemukan penyelesaiannya melalui berbagai strategi
pemecahan masalah matematika. Kepuasan akan tercapai apabila siswa dapat
memecahkan masalah yang dihadapinya. Masalah adalah sebuah kata yang sering
terdengar oleh kita. Namun sesuatu menjadi masalah tergantung bagaimana seseorang
mendapatkan masalah tersebut sesuai kemampuannya.
3
Banyak ahli pendidikan matematika menyatakan bahwa masalah merupakan
pertanyaan yang harus dijawab atau direspon, namun mereka juga menyatakan bahwa
tidak semua pertanyaan otomatis akan menjadi masalah. Menurut Cooney dalam
Atmini, suatu pertanyaan akan menjadi masalah hanya jika pertanyaan itu
menunjukkan adanya suatu tantangan (challenge) yang tidak dapat dipecahkan oleh
suatu prosedur rutin (routine procedure) yang sudah diketahui oleh pemecah
masalah.1 Masalah merupakan suatu konflik, hambatan bagi siswa dalam
menyelesaikan tugas belajarnya di kelas. Namun masalah harus diselesaikan agar
proses berpikir siswa terus berkembang. Semakin banyak siswa dapat menyelesaikan
setiap permasalahan matematika, maka siswa akan kaya akan variasi dalam
menyelesaikan soal-soal matematika dalam bentuk apapun.
Masalah yang dihadapi di dunia nyata tidak beraturan, mengambang, kacau,
kompleks, dan amat sering tidak memiliki satu solusi yang tepat. Bentuk masalah-
masalah seperti ini menuntut paradigma yang berbeda juga di mana para pendidik dan
pembelajarannya dihadapkan dengan situasi yang mengambang yang menuntut
pemecahan masalah. Karenanya siswa diharapkan dapat memiliki kemampuan dalam
memecahkan berbagai masalah, baik yang terjadi di dalam kelas maupun di luar
kelas. Kemampuan yang dapat memberikannya pengetahuan yang berguna tidak
hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di kehidupan nyata.
______________
1 Atmini Dhurori dan Markaban, Pembelajaran Kemampuan Pemecahan Masalah dalam
Kajian Aljabar di SMP, (Yogyakarta: PPPPTK, 2010), hal. 6-7.
4
Menurut NCTM, dalam belajar matematika siswa dituntut untuk memiliki
kemampuan: problem solving (pemecahan masalah), reasoning and proof
(pemahaman konsep), connections (koneksi matematika), communication
(komunikasi matematika) dan representation (representasi matematika).2
Sejalan dengan NCTM, Sumarmo mengatakan bahwa pembelajaran
matematika hendaknya mengutamakan pada pengembangan daya matematik siswa
yang meliputi: kemampuan untuk mengeksplorasi, menyusun konjektur dan
memberikan alasan secara logis, kemampuan untuk menyelesaikan masalah non rutin,
mengomunikasikan ide mengenai matematika dan menggunakan matematika sebagai
alat komunikasi, menghubungkan ide-ide dalam matematika antar matematika dan
kegiatan intelektual lainnya.3 Sejalan dengan hal tersebut, kemampuan pemecahan
masalah sangatlah penting dan harus segera dimiliki oleh siswa yang mempelajari
matematika.
Menurut Permendiknas No 22 Tahun 2006, mata pelajaran matematika
bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:4
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien dan tepat
dalam pemecahan masalah.
______________
2 The National Council of Teachers of Mathematics, Principles and Standards for School
Mathematics, (USA: NCTM, 2000), hal. 7
3 Utari Sumarmo, Berpikir dan Disposisi Matematik: Apa, Mengapa, dan Bagaimana
Dikembangkan pada Peserta Didik, (Bandung: FMIPA-UPI, 2010), hal. 3
4 Sri Wardhani, Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs untuk
Optimalisasi Tujuan Mata Pelajaran Matematika, (Yogyakarta: PPPPTK Matematika, 2008), hal. 2
5
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika
dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, ataumenjelaskan gagasan dan
pernyataan matematika.
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi
yang diperoleh.
4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain
untuk memperjelas keadaan atau masalah.
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu
memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika,
serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Hal di atas menunjukkan bahwa arah atau orientasi pembelajaran matematika
adalah kemampuan pemecahan masalah matematika. Kemampuan ini sangat berguna
bagi siswa pada saat mendalami matematika maupun kehidupan sehari-hari, bukan
saja mereka yang mendalami matematika, tetapi juga yang akan menerapkannya
dalam bidang lain. Karena dalam kehidupan nyata, sebagian besar pekerjaan sehari-
hari membutuhkan suatu pemecahan masalah, baik sebagai seorang manajer, mekanik
mobil, dokter, guru, konselor, atau pekerjaan lain.
Pemecahan masalah (problem solving) merupakan kompetensi atau
kemampuan yang harus dikuasai oleh siswa setelah mempelajari matematika.
Kemampuan tersebut tidak hanya diperlukan siswa saat mempelajari matematika atau
pelajaran lain, namun sangat dibutuhkan setiap manusia pada umumnya pada saat
memecahkan suatu masalah atau membuat keputusan. Kemampuan yang demikian
memerlukan pola pikir yang memadai. Pola pikir yang memadai dalam memecahkan
6
masalah adalah pola pikir yang melibatkan pemikiran kritis, sistematis, logis dan
kreatif. Pola pikir seperti itu dibina dan dikembangkan dalam belajar matematika.
Matematika merupakan ilmu yang kaya, menarik, banyak terkait dengan
kehidupan, memungkinkan banyak eksplorasi dan interaksi yang dapat dilakukan
siswa. Namun, dalam pembelajaran matematika interaksi yang sering terjadi adalah
pemberitahuan definisi dan aturan oleh guru kemudian dilanjutkan dengan
demonstrasi pemakaian definisi dan aturan tersebut dalam contoh dan latihan soal.
Menurut Ruseffendi, proses pembelajaran matematika di sekolah, pada
umumnya siswa mempelajari matematika hanya diberi tahu oleh gurunya bukan
melalui kegiatan eksplorasi. Sehingga pembelajaran matematika kurang melibatkan
aktivitas siswa secara optimal.5
Pembelajaran yang demikian membuat siswa kurang aktif karena kurang
memberi peluang kepada siswa untuk lebih banyak berinteraksi dengan sesama dan
dapat membuat siswa memandang matematika sebagai suatu kumpulan aturan dan
latihan yang dapat berujung pada rasa bosan dan bingung saat diberikan soal yang
berbeda dengan soal latihan.
Selain cara mengajar guru, rendahnya hasil belajar siswa juga disebabkan
lemahnya siswa dalam kemampuan dasar bermatematika lainnya. Jenning dan Dunne
______________
5 Ruseffendi, Pengantar Kepada Mengembangkan Kompetensi Guru Matematika untuk
Meningkatkan CBSA Pengajaran Matematika Modern, (Bandung: Tarsito, 2006)
7
mengatakan bahwa pada umumnya siswa mengalami kesulitan dalam
mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari, indikasinya adalah pada
pembelajaran matematika selama ini, dunia nyata hanya dijadikan tempat
mengaplikasikan konsep.
Hal lain yang menyebabkan sulitnya matematika bagi siswa adalah karena
pembelajaran matematika dirasakan kurang bermakna. Guru dalam pembelajarannya
di kelas tidak mengaitkan dengan pengetahuan sebelumnya (prior-knowledge) yang
telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan
kembali (reinvention) dan mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika.
Pada proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, maka siswa memperoleh
kesempatan dan fasilitasi untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga
mereka akan memperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning), dan pada
akhirnya dapat meningkatkan mutu kualitas siswa. Salah satu proses pembelajaran
yang berpusat pada siswa adalah dengan menggunakan pendekatan Model-Eliciting
Activities (MEAs). Selain itu, karena adanya kekurangan pada pendekatan yang
dilakukan guru dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika
siswa, maka muncullah pendekatan MEAs yang diharapkan dapat meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.
Menurut Chamberlin, pembelajaran matematika dengan pendekatan Model-
Eliciting Activities (MEAs) merupakan suatu alternatif pendekatan yang berupaya
8
membuat siswa dapat secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran matematika di
kelas. Dalam pendekatan MEAs memunculkan masalah yang nyata adalah salah satu
karakteristiknya. Dengan memunculkan masalah yang nyata maka secara lebih
mudah dapat mengaitkan konsep matematika yang abstrak oleh siswa. Sehingga dapat
memunculkan ketertarikan siswa terhadap masalah tersebut dan membuatnya aktif
untuk mencari penyelesaiannya.6 Keaktifan siswa itu terwujud dalam salah satu
karakteristik pendekatan MEAs yaitu memberikan siswa peluang untuk mengambil
kendali atas pembelajaran mereka sendiri dengan memunculkan masalah yang
berhubungan dengan siswa. Selain itu MEAs juga disusun untuk membantu siswa
membangun pemecahan masalah dunia nyata mereka ke arah peningkatan konstruksi
matematika dan terbentuk karena adanya kebutuhan untuk membuat siswa
menerapkan prosedur matematis yang telah dipelajari.
Model-Eliciting Activities (MEAs) sendiri merupakan pendekatan yang
didasarkan pada masalah realistic yang sesuai dengan himbauan Kurikulum 2004 dan
Badan Standar Nasional Pendidikan tahun 2006 yang mengemukakan bahwa dalam
setiap kesempatan, pembelajaran matematika diharapkan dimulai dengan pengenalan
masalah yang sesuai dengan situasi kontekstual.
______________
6 Chamberlin dan Moon, How Does the Problem Based Learning Approach Compare to the
Model-Eliciting Activities Approach in Mathematics?, 2012, p.7,
(www.cimt.plymouth.ac.uk/journal/chamberlin.pdf)
9
Dalam Model-Eliciting Activities (MEAs), kegiatan pembelajaran diawali
dengan penyajian situasi masalah yang memunculkan aktivitas untuk menghasilkan
model matematis yang digunakan untuk menyelesaikan masalah matematika. Dalam
MEAs, siswa menghasilkan alat konseptual yang mengandung sistem deskriptif yang
tegas atau sistem yang menjelaskan fungsi sebagai model yang menyatakan aspek
penting mengenai bagaimana para siswa menginterpretasikan situasi pemecahan
masalah.
Pendekatan Model-Eliciting Activities (MEAs) merupakan jembatan antara
model dan interpretasi, memberi peluang yang besar kepada siswa untuk
mengeksploitasi pengetahuannya dalam belajar matematika. Dengan menggunakan
MEAs, belajar siswa menjadi lebih bermakna karena ia dapat mempelajari situasi
kehidupan nyata dan menyelesaikan masalah yang terdapat di dalamnya. Sehingga
pelajaran di kelas pun menjadi terasa nyata karena masalah yang dipelajari berasal
dari dunia nyata yang sering mereka hadapi sehari-hari. Hal ini diharapkan membuat
siswa mengubah pandangannya bahwa matematika sebagai pelajaran yang sulit dan
siswa sebenarnya mampu mempelajari matematika.
Berdasarkan uraian di atas, maka keperluan untuk melakukan studi yang
berfokus pada pengembangan pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah, yakni pembelajaran matematika dengan pendekatan
Model-Eliciting Activities (MEAs) dipandang penulis sangat penting. Dalam kaitan
10
ini maka penulis mencoba melakukan penelitian yang berhubungan dengan
pembelajaran matematika dengan pendekatan MEAs dengan kemampuan pemecahan
masalah yang dilaksanakan di SMP, dan mengungkapkan apakah pembelajaran
Model-Eliciting Activities (MEAs) memberikan kontribusi terhadap kemampuan
pemecahan masalah matematika siswa. Penelitian ini dirancang untuk melihat
“Pengaruh Pendekatan Model-Eliciting Activities (MEAs) terhadap Pemecahan
Masalah Matematika Siswa SMP pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua
Variabel (SPLDV) kelas VIII di SMP Negeri 3 Banda Aceh.”
B. Rumusan Masalah
Setelah mengetahui latar belakang masalah dan identifikasi masalah,
maka peneliti mengambil rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kemampuan Pemecahan Masalah matematika siswa yang
diajarkan dengan pendekatan Model-Eliciting Activities (MEAs) dan
pendekatan konvensional?
2. Bagaimanakah sikap siswa terhadap pembelajaran matematika setelah
diberikan pembelajaran menggunakan pendekatan Model-Eliciting Activities
(MEAs)?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
11
1. Kemampuan Pemecahan Masalah matematika siswa yang diajarkan dengan
pendekatan Model-Eliciting Activities (MEAs) dan pendekatan konvensional.
2. Sikap siswa terhadap pembelajaran matematika setelah diberikan
pembelajaran menggunakan pendekatan Model-Eliciting Activies (MEAs).
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi:
1. Penulis, dapat memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan
pendekatan pembelajaran Model-Eliciting Activities (MEAs) dalam proses
pembelajaran.
2. Guru, sebagai masukan atau informasi untuk memperoleh gambaran
mengenai pendekatan pembelajaran Model-Eliciting Activities (MEAs) dalam
kegiatan belajar mengajar matematika, sehingga dapat dijadikan alternative
dalam pembelajaran matematika dikelas.
3. Sekolah, dapat meningkatkan kualitas sekolah melalui peningkatan hasil
belajar siswa dan dalam rangka memperbaiki proses pembelajaran matematika
di sekolah.
4. Siswa, dapat memberikan pengalaman baru dalam proses belajar mengajar
matematika.
12
E. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman dan penafsiran judul ini maka
penulis perlu memberikan definisi operasional beberapa istilah yang digunakan dalam
penelitian ini. Adapun istilah tersebut sebagai berikut:
1. Pengaruh
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Pengaruh adalah daya yang
ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak,
kepercayaan atau perbuatan seseorang.”7 Pengaruh yang dimaksud di sini adalah
pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain yaitu pengaruh task commitment
terhadap prestasi belajar matematika.
2. Model Eliciting Activities (MEAs)
Model Eliciting Activities (MEAs) adalah pendekatan pembelajaran
untuk memahami, menjelaskan dan mengkomunikasikan konsep-konsep yang
terkandung dalam suatu masalah melalui tahapan proses pemodelan matematika.
Dalam Model Eliciting Activities, kegiatan pembelajaran diawali dengan penyajian
situasi masalah yang memunculkan aktivitas untuk menghasilkan model matematika
yang digunakan untuk menyelesaikan masalah matematika. Dalam Model Eliciting
______________
7 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 2005), hal. 849.
13
Activities (MEAs), siswa melalui suatu proses pemodelan yang diharapkan dapat
mengkonstruksi model mtematis yang sharable and reusable.8
3. Kemampuan pemecahan masalah
Masalah merupakan titik tolak proses pemecahan masalah untuk dibahas,
dianalisis, disintesis, dalam usaha mencari pemecahan atau jawabannnya. Proses
pemecahan masalah memberi kesempatan kepada siiswa terlibat aktif dalam
mempelajari, mencari, menemukan sendiri informasi untuk diolah menjadi konsep,
prinsip, teori atau kesimpulan. Pemecahan masalah merupakan kemampuan
memproses informasi untuk membuat keputusan dalam memecahkan masalah.9
4. Pemecahan Masalah
Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan., sehingga membutuhkan
suatu solusi atau pemecahan agar dapat diselesaikan. Pemecahan adalah cara yang
digunakan. Sehingga pemecahan masalah adalah cara atau proses dalam memecahkan
suatu permasalahan/soal. Adapun maksud pemecahan masalah dalam penelitian ini
adalah cara atau proses menyelesaikan suatu persoalan yang berkaitan dengan materi
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.
______________
8 Doankrahma, Pengertian Model-Eliciting Activities
(https://id.scribd.com/doc/87325480/Model-Eliciting-Activities) diakses pada tanggal 13 April 2015
9 Ruswandi, Psikologi Pembelajaran, (Bandung: Cipta Pesona Sejahtera 2013) Hal. 194
14
5. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
Persamaan Linear Dua Varabel adalah persamaan yang tepat mempunyai
dua variabel dan setiap variabelnya berpangkat satu serta tidak terdapat suku yang
memuat perkalian antara dua variabel itu.10
Sistem persamaan Linear Dua Variabel terdiri dari dua Persamaan Linear
Dua Variabel yang saling terkait, dalam arti penyelesaian dari sistem persamaan
linear dua variabel harus sekaligus memenuhi kedua persamaan linear dua variabel
pembentuknya.11 Jadi, dikatakan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel: Apabila
terdapat dua persamaan linear dua variabel yang berbentuk:
a1x + b1y = c1 dan a2x + b2y = c2. Penyeleasaian SPLDV tersebut adalah pasangan
bilangan(x,y) yang memenuhi persamaan tersebut.
______________
10 Siti Rodhiah, Matematika untuk Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama/Madrasah
Tsanawiyah, (Jakarta: Setia Purnama Inversi 2005), hal. 67
11 M. Cholik A, Sugijono, Matematika untuk SMP Kelas VIII, (Jakarta: Erlangga, 2006),
hal.111

Bab i

  • 1.
    1 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Matematika merupakan salah satu jenis dari enam materi ilmu pengetahuan yaitu matematika, fisika, biologi, psikologi, ilmu-ilmu sosial dan linguistik. Pemikiran yang sistematis, logis dan kritis dibutuhkan untuk menguasai kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika. Matematika yang bersifat abstrak merupakan salah satu mata pelajaran yang mempunyai peranan penting dalam pendidikan. Perkembangan matematika yang begitu pesat juga menuntut generasi muda untuk lebih meningkatkan kualitasnya agar dapat bersaing di masa yang akan datang. Syarat penguasaan matematika jelas tidak bisa dikesampingkan. Kemampuan berpikir secara logis, analitis, sistematis, kreatif dan bekerja sama dalam belajar matematika diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Namun meningkatnya ilmu matematika masih belum dibarengi dengan sumber daya manusia terutama di Indonesia. Karena nyatanya ilmu matematika di Indonesia masih kurang diminati oleh para generasi muda khususnya pelajar sekolah menengah. Padahal matematika merupakan ilmu dasar dari setiap hal yang terjadi di lingkungan kita.
  • 2.
    2 Tidak heran jikamatematika diajarkan dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Selain itu matematika juga diberi porsi jam pelajaran lebih banyak dibanding mata pelajaran lain. Namun sampai saat ini masih banyak siswa yang menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit, menakutkan, dan membosankan, karena siswa-siswi kesulitan untuk memahami konsep dan mengerjakan soal-soal matematika. Soal-soal matematika yang ditulis dalam beberapa buku paket matematika sekolah tidak hanya berupa angka tapi juga banyak yang berupa soal cerita. Soal- soalnya pun tidak hanya menuntut cara berpikir yang rutin tetapi banyak juga soal- soal cerita yang menuntut cara berpikir yang tidak biasa. Soal matematika yang disajikan dalam soal cerita (tidak hanya bilangan) dan metode pembelajarannya dapat memberikan makna tertentu. Melalui matematika, siswa dapat berlatih menggunakan fikirannya secara logis, sistematis, kritis dan kreatif serta membantu siswa dalam menyelesaikan berbagai masalah yang mungkin dihadapinya di kehidupan sehari-hari. Matematika yang disajikan dalam bentuk masalah akan memberikan motivasi kepada siswa untuk mempelajari matematika lebih dalam. Dengan dihadapkan suatu masalah matematika, siswa akan berusaha menemukan penyelesaiannya melalui berbagai strategi pemecahan masalah matematika. Kepuasan akan tercapai apabila siswa dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Masalah adalah sebuah kata yang sering terdengar oleh kita. Namun sesuatu menjadi masalah tergantung bagaimana seseorang mendapatkan masalah tersebut sesuai kemampuannya.
  • 3.
    3 Banyak ahli pendidikanmatematika menyatakan bahwa masalah merupakan pertanyaan yang harus dijawab atau direspon, namun mereka juga menyatakan bahwa tidak semua pertanyaan otomatis akan menjadi masalah. Menurut Cooney dalam Atmini, suatu pertanyaan akan menjadi masalah hanya jika pertanyaan itu menunjukkan adanya suatu tantangan (challenge) yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur rutin (routine procedure) yang sudah diketahui oleh pemecah masalah.1 Masalah merupakan suatu konflik, hambatan bagi siswa dalam menyelesaikan tugas belajarnya di kelas. Namun masalah harus diselesaikan agar proses berpikir siswa terus berkembang. Semakin banyak siswa dapat menyelesaikan setiap permasalahan matematika, maka siswa akan kaya akan variasi dalam menyelesaikan soal-soal matematika dalam bentuk apapun. Masalah yang dihadapi di dunia nyata tidak beraturan, mengambang, kacau, kompleks, dan amat sering tidak memiliki satu solusi yang tepat. Bentuk masalah- masalah seperti ini menuntut paradigma yang berbeda juga di mana para pendidik dan pembelajarannya dihadapkan dengan situasi yang mengambang yang menuntut pemecahan masalah. Karenanya siswa diharapkan dapat memiliki kemampuan dalam memecahkan berbagai masalah, baik yang terjadi di dalam kelas maupun di luar kelas. Kemampuan yang dapat memberikannya pengetahuan yang berguna tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di kehidupan nyata. ______________ 1 Atmini Dhurori dan Markaban, Pembelajaran Kemampuan Pemecahan Masalah dalam Kajian Aljabar di SMP, (Yogyakarta: PPPPTK, 2010), hal. 6-7.
  • 4.
    4 Menurut NCTM, dalambelajar matematika siswa dituntut untuk memiliki kemampuan: problem solving (pemecahan masalah), reasoning and proof (pemahaman konsep), connections (koneksi matematika), communication (komunikasi matematika) dan representation (representasi matematika).2 Sejalan dengan NCTM, Sumarmo mengatakan bahwa pembelajaran matematika hendaknya mengutamakan pada pengembangan daya matematik siswa yang meliputi: kemampuan untuk mengeksplorasi, menyusun konjektur dan memberikan alasan secara logis, kemampuan untuk menyelesaikan masalah non rutin, mengomunikasikan ide mengenai matematika dan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi, menghubungkan ide-ide dalam matematika antar matematika dan kegiatan intelektual lainnya.3 Sejalan dengan hal tersebut, kemampuan pemecahan masalah sangatlah penting dan harus segera dimiliki oleh siswa yang mempelajari matematika. Menurut Permendiknas No 22 Tahun 2006, mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:4 1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah. ______________ 2 The National Council of Teachers of Mathematics, Principles and Standards for School Mathematics, (USA: NCTM, 2000), hal. 7 3 Utari Sumarmo, Berpikir dan Disposisi Matematik: Apa, Mengapa, dan Bagaimana Dikembangkan pada Peserta Didik, (Bandung: FMIPA-UPI, 2010), hal. 3 4 Sri Wardhani, Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs untuk Optimalisasi Tujuan Mata Pelajaran Matematika, (Yogyakarta: PPPPTK Matematika, 2008), hal. 2
  • 5.
    5 2. Menggunakan penalaranpada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, ataumenjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. 3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. 4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. 5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Hal di atas menunjukkan bahwa arah atau orientasi pembelajaran matematika adalah kemampuan pemecahan masalah matematika. Kemampuan ini sangat berguna bagi siswa pada saat mendalami matematika maupun kehidupan sehari-hari, bukan saja mereka yang mendalami matematika, tetapi juga yang akan menerapkannya dalam bidang lain. Karena dalam kehidupan nyata, sebagian besar pekerjaan sehari- hari membutuhkan suatu pemecahan masalah, baik sebagai seorang manajer, mekanik mobil, dokter, guru, konselor, atau pekerjaan lain. Pemecahan masalah (problem solving) merupakan kompetensi atau kemampuan yang harus dikuasai oleh siswa setelah mempelajari matematika. Kemampuan tersebut tidak hanya diperlukan siswa saat mempelajari matematika atau pelajaran lain, namun sangat dibutuhkan setiap manusia pada umumnya pada saat memecahkan suatu masalah atau membuat keputusan. Kemampuan yang demikian memerlukan pola pikir yang memadai. Pola pikir yang memadai dalam memecahkan
  • 6.
    6 masalah adalah polapikir yang melibatkan pemikiran kritis, sistematis, logis dan kreatif. Pola pikir seperti itu dibina dan dikembangkan dalam belajar matematika. Matematika merupakan ilmu yang kaya, menarik, banyak terkait dengan kehidupan, memungkinkan banyak eksplorasi dan interaksi yang dapat dilakukan siswa. Namun, dalam pembelajaran matematika interaksi yang sering terjadi adalah pemberitahuan definisi dan aturan oleh guru kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi pemakaian definisi dan aturan tersebut dalam contoh dan latihan soal. Menurut Ruseffendi, proses pembelajaran matematika di sekolah, pada umumnya siswa mempelajari matematika hanya diberi tahu oleh gurunya bukan melalui kegiatan eksplorasi. Sehingga pembelajaran matematika kurang melibatkan aktivitas siswa secara optimal.5 Pembelajaran yang demikian membuat siswa kurang aktif karena kurang memberi peluang kepada siswa untuk lebih banyak berinteraksi dengan sesama dan dapat membuat siswa memandang matematika sebagai suatu kumpulan aturan dan latihan yang dapat berujung pada rasa bosan dan bingung saat diberikan soal yang berbeda dengan soal latihan. Selain cara mengajar guru, rendahnya hasil belajar siswa juga disebabkan lemahnya siswa dalam kemampuan dasar bermatematika lainnya. Jenning dan Dunne ______________ 5 Ruseffendi, Pengantar Kepada Mengembangkan Kompetensi Guru Matematika untuk Meningkatkan CBSA Pengajaran Matematika Modern, (Bandung: Tarsito, 2006)
  • 7.
    7 mengatakan bahwa padaumumnya siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari, indikasinya adalah pada pembelajaran matematika selama ini, dunia nyata hanya dijadikan tempat mengaplikasikan konsep. Hal lain yang menyebabkan sulitnya matematika bagi siswa adalah karena pembelajaran matematika dirasakan kurang bermakna. Guru dalam pembelajarannya di kelas tidak mengaitkan dengan pengetahuan sebelumnya (prior-knowledge) yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali (reinvention) dan mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika. Pada proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, maka siswa memperoleh kesempatan dan fasilitasi untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning), dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu kualitas siswa. Salah satu proses pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah dengan menggunakan pendekatan Model-Eliciting Activities (MEAs). Selain itu, karena adanya kekurangan pada pendekatan yang dilakukan guru dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa, maka muncullah pendekatan MEAs yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Menurut Chamberlin, pembelajaran matematika dengan pendekatan Model- Eliciting Activities (MEAs) merupakan suatu alternatif pendekatan yang berupaya
  • 8.
    8 membuat siswa dapatsecara aktif terlibat dalam proses pembelajaran matematika di kelas. Dalam pendekatan MEAs memunculkan masalah yang nyata adalah salah satu karakteristiknya. Dengan memunculkan masalah yang nyata maka secara lebih mudah dapat mengaitkan konsep matematika yang abstrak oleh siswa. Sehingga dapat memunculkan ketertarikan siswa terhadap masalah tersebut dan membuatnya aktif untuk mencari penyelesaiannya.6 Keaktifan siswa itu terwujud dalam salah satu karakteristik pendekatan MEAs yaitu memberikan siswa peluang untuk mengambil kendali atas pembelajaran mereka sendiri dengan memunculkan masalah yang berhubungan dengan siswa. Selain itu MEAs juga disusun untuk membantu siswa membangun pemecahan masalah dunia nyata mereka ke arah peningkatan konstruksi matematika dan terbentuk karena adanya kebutuhan untuk membuat siswa menerapkan prosedur matematis yang telah dipelajari. Model-Eliciting Activities (MEAs) sendiri merupakan pendekatan yang didasarkan pada masalah realistic yang sesuai dengan himbauan Kurikulum 2004 dan Badan Standar Nasional Pendidikan tahun 2006 yang mengemukakan bahwa dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika diharapkan dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi kontekstual. ______________ 6 Chamberlin dan Moon, How Does the Problem Based Learning Approach Compare to the Model-Eliciting Activities Approach in Mathematics?, 2012, p.7, (www.cimt.plymouth.ac.uk/journal/chamberlin.pdf)
  • 9.
    9 Dalam Model-Eliciting Activities(MEAs), kegiatan pembelajaran diawali dengan penyajian situasi masalah yang memunculkan aktivitas untuk menghasilkan model matematis yang digunakan untuk menyelesaikan masalah matematika. Dalam MEAs, siswa menghasilkan alat konseptual yang mengandung sistem deskriptif yang tegas atau sistem yang menjelaskan fungsi sebagai model yang menyatakan aspek penting mengenai bagaimana para siswa menginterpretasikan situasi pemecahan masalah. Pendekatan Model-Eliciting Activities (MEAs) merupakan jembatan antara model dan interpretasi, memberi peluang yang besar kepada siswa untuk mengeksploitasi pengetahuannya dalam belajar matematika. Dengan menggunakan MEAs, belajar siswa menjadi lebih bermakna karena ia dapat mempelajari situasi kehidupan nyata dan menyelesaikan masalah yang terdapat di dalamnya. Sehingga pelajaran di kelas pun menjadi terasa nyata karena masalah yang dipelajari berasal dari dunia nyata yang sering mereka hadapi sehari-hari. Hal ini diharapkan membuat siswa mengubah pandangannya bahwa matematika sebagai pelajaran yang sulit dan siswa sebenarnya mampu mempelajari matematika. Berdasarkan uraian di atas, maka keperluan untuk melakukan studi yang berfokus pada pengembangan pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, yakni pembelajaran matematika dengan pendekatan Model-Eliciting Activities (MEAs) dipandang penulis sangat penting. Dalam kaitan
  • 10.
    10 ini maka penulismencoba melakukan penelitian yang berhubungan dengan pembelajaran matematika dengan pendekatan MEAs dengan kemampuan pemecahan masalah yang dilaksanakan di SMP, dan mengungkapkan apakah pembelajaran Model-Eliciting Activities (MEAs) memberikan kontribusi terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Penelitian ini dirancang untuk melihat “Pengaruh Pendekatan Model-Eliciting Activities (MEAs) terhadap Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMP pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) kelas VIII di SMP Negeri 3 Banda Aceh.” B. Rumusan Masalah Setelah mengetahui latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka peneliti mengambil rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana kemampuan Pemecahan Masalah matematika siswa yang diajarkan dengan pendekatan Model-Eliciting Activities (MEAs) dan pendekatan konvensional? 2. Bagaimanakah sikap siswa terhadap pembelajaran matematika setelah diberikan pembelajaran menggunakan pendekatan Model-Eliciting Activities (MEAs)? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
  • 11.
    11 1. Kemampuan PemecahanMasalah matematika siswa yang diajarkan dengan pendekatan Model-Eliciting Activities (MEAs) dan pendekatan konvensional. 2. Sikap siswa terhadap pembelajaran matematika setelah diberikan pembelajaran menggunakan pendekatan Model-Eliciting Activies (MEAs). D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi: 1. Penulis, dapat memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan pendekatan pembelajaran Model-Eliciting Activities (MEAs) dalam proses pembelajaran. 2. Guru, sebagai masukan atau informasi untuk memperoleh gambaran mengenai pendekatan pembelajaran Model-Eliciting Activities (MEAs) dalam kegiatan belajar mengajar matematika, sehingga dapat dijadikan alternative dalam pembelajaran matematika dikelas. 3. Sekolah, dapat meningkatkan kualitas sekolah melalui peningkatan hasil belajar siswa dan dalam rangka memperbaiki proses pembelajaran matematika di sekolah. 4. Siswa, dapat memberikan pengalaman baru dalam proses belajar mengajar matematika.
  • 12.
    12 E. Definisi Operasional Untukmenghindari kesalahpahaman dan penafsiran judul ini maka penulis perlu memberikan definisi operasional beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini. Adapun istilah tersebut sebagai berikut: 1. Pengaruh Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.”7 Pengaruh yang dimaksud di sini adalah pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain yaitu pengaruh task commitment terhadap prestasi belajar matematika. 2. Model Eliciting Activities (MEAs) Model Eliciting Activities (MEAs) adalah pendekatan pembelajaran untuk memahami, menjelaskan dan mengkomunikasikan konsep-konsep yang terkandung dalam suatu masalah melalui tahapan proses pemodelan matematika. Dalam Model Eliciting Activities, kegiatan pembelajaran diawali dengan penyajian situasi masalah yang memunculkan aktivitas untuk menghasilkan model matematika yang digunakan untuk menyelesaikan masalah matematika. Dalam Model Eliciting ______________ 7 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hal. 849.
  • 13.
    13 Activities (MEAs), siswamelalui suatu proses pemodelan yang diharapkan dapat mengkonstruksi model mtematis yang sharable and reusable.8 3. Kemampuan pemecahan masalah Masalah merupakan titik tolak proses pemecahan masalah untuk dibahas, dianalisis, disintesis, dalam usaha mencari pemecahan atau jawabannnya. Proses pemecahan masalah memberi kesempatan kepada siiswa terlibat aktif dalam mempelajari, mencari, menemukan sendiri informasi untuk diolah menjadi konsep, prinsip, teori atau kesimpulan. Pemecahan masalah merupakan kemampuan memproses informasi untuk membuat keputusan dalam memecahkan masalah.9 4. Pemecahan Masalah Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan., sehingga membutuhkan suatu solusi atau pemecahan agar dapat diselesaikan. Pemecahan adalah cara yang digunakan. Sehingga pemecahan masalah adalah cara atau proses dalam memecahkan suatu permasalahan/soal. Adapun maksud pemecahan masalah dalam penelitian ini adalah cara atau proses menyelesaikan suatu persoalan yang berkaitan dengan materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. ______________ 8 Doankrahma, Pengertian Model-Eliciting Activities (https://id.scribd.com/doc/87325480/Model-Eliciting-Activities) diakses pada tanggal 13 April 2015 9 Ruswandi, Psikologi Pembelajaran, (Bandung: Cipta Pesona Sejahtera 2013) Hal. 194
  • 14.
    14 5. Sistem PersamaanLinear Dua Variabel Persamaan Linear Dua Varabel adalah persamaan yang tepat mempunyai dua variabel dan setiap variabelnya berpangkat satu serta tidak terdapat suku yang memuat perkalian antara dua variabel itu.10 Sistem persamaan Linear Dua Variabel terdiri dari dua Persamaan Linear Dua Variabel yang saling terkait, dalam arti penyelesaian dari sistem persamaan linear dua variabel harus sekaligus memenuhi kedua persamaan linear dua variabel pembentuknya.11 Jadi, dikatakan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel: Apabila terdapat dua persamaan linear dua variabel yang berbentuk: a1x + b1y = c1 dan a2x + b2y = c2. Penyeleasaian SPLDV tersebut adalah pasangan bilangan(x,y) yang memenuhi persamaan tersebut. ______________ 10 Siti Rodhiah, Matematika untuk Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah, (Jakarta: Setia Purnama Inversi 2005), hal. 67 11 M. Cholik A, Sugijono, Matematika untuk SMP Kelas VIII, (Jakarta: Erlangga, 2006), hal.111