NAMA NO . MATRIK
MOHD KHUDRI BIN KHAIRUDDIN 1111899
MOHD AQMAL BIN MOHD SANIF 1111914
NIK NORAINI BINTI NIK MUHAMAD 1111907
NUR FAZIRAH BINTI CHE SULIMAN 1111911
NUR FATIN NAJMIE BINTI TAN
SAFRI
1111921
INTAN NORLIANA BINTI MOHD
SHUKRI
1111924
TAFSIR IBNU KATSIR
TAFSIR AL-QURTUBI
TAFSIR AL-TABARI
TAFSIR IBNU
KATSIR
• Nama sebenar kitab Tafsir Ibnu Katsir
adalah Tafsir al-Quran al-Azim.
• 10 jilid.
BIOGRAFI IBNU KATSIR
• Ismail bin Umar bin katsir bin Dawa’ bin Kasir bin Zara’ Al-bashri Al-
dimisqi Al-faqih As-syafi’i.
• Gelarannya: al-Muhaddits, Imaduddin, abu al-Fada’. Lebih dikenali dengan
gelaran al-Hafiz Ibnu Katsir.
• Lahir pada tahun 700 hijrah (1300 M) di Basrah.
• Menghembuskan nafas terakhirnya pada hari khamis bulan sya’ban 774 H
(1373 M) di kota Damaskus. Ketika umur 74 tahun. Dan dimakamkan di
samping makam gurunya, Ibnu Taimiyyah.
•
•
•
•
•
•
•-
•-
•-
•-
•-
•
•
•
KARYA-KARYANYA
•
•
•
•
•
•
METODOLOGI TAFSIR IBNU KATSIR.
• Tafsir al-Quran dengan al-Quran sendiri. Menafsirkan dengan ayat-ayat lain.
• Selanjutnya apabila penafsiran al-Quran dengan al-Quran tidak didapatkan, maka al-
Quran harus ditafsirkan dengan hadits Nabi Muhammad, sebab menurut al-Quran
sendiri Nabi Muhammad memang diperintahkan untuk menerangkan isi al-Quran.
Dalam tafsir ini, banyak sekali dikutip hadis-hadis yang dianggap terkait atau dapat
menjelaskan maksud ayat yang sedang ditafsirkan.
• Jika yang kedua tidak didapatkan, maka al-Quran harus ditafsirkan oleh pendapat
para sahabat karena merekalah orang yang paling mengetahui konteks sosial
turunnya al-Quran.
• Jika yang ketiga juga tidak didapatkan, maka pendapat dari para tabiin dapat diambil.
Namun, pendapat tabi’in dijadikan hujah bila pendapat tersebut telah menjadi
kesepakatan di antara mereka, jika tidak maka ia tidak mengambilnya sebagai hujah.
• Menafsirkan dengan pendapat para ulama
Disamping menggunakan ayat-ayat yang terkait hadis Nabi dan para sahabat dan
tabi’in, Ibnu Katsir pun seringkali mengutip berbagai pendapat ulama atau mufasir
sebelumnya ketika menafsirkan ayat. Berbagai pendapat yang dikutip menyangkut
berbagai aspek seperti kebahasaaan, teologi, hukum, kisah/sejarah. Namun, dari
sekian banyak pendapat ulama yang dikutip, yang paling sering adalah pendapat Ibn
Jarir al-Thabari. Ia sangat banyak mengutip riwayat-riwayat dari periwayatan al-
Thabari lengkap dengan sanadnya. Ia pun sering mengkritik atau menilai kualiti
hadis yang dikutipnya itu. Dengan demikian, secara tidak langsung Ibnu Katsir telah
melakukan perbandingan penafsiran.
• Menafsirkan dengan pendapat sendiri
Langkah ini biasanya ditempuh setelah ia melakukan kesemua langkah di
atas. Dengan menempuh langkah-langkah tersebut dan menganalisis serta
membandingkan berbagai data atau penafsiran, ia sering kali mengemukakan
pendapatnya sendiri pada berbagai akhir penafsiran ayat. Namun perlu
diketahui bahwa langkah ini tidak semuanya dapat diterapkan pada semua
ayat. Adapun untuk membezakan antara pendapatnya sendiri dengan
pendapat ulama-ulama lainnya dapat diketahui dari pernyataan :”menurut
pendapatku “(qultu).
KEISTIMEWAAN
• Adalah tafsir yang paling masyhur yang memberikan perhatian terhadap apa yang telah
diberikan oleh mufassir salaf dan menjelaskan makna-makna dan hukumnya.
• Perhatian yang sangat besar dengan penafsiran antara Al-quran dengan Al-quran.
• Merupakan tafsir yang paling banyak memuat atau memaparkan ayat-ayat yang bersesuaian
maknanya, kemudian diikuti dengan penafsiran ayat dengan hadist marfu’ yang ada
relevansinya dengan ayat yang sedang ditafsirkan serta menjelaskan apa yang dijadikan hujjah
dari ayat tersebut. Kemudian diikuti pula dengan atsar para sahabat dan pendapat tabiin dan
ulama’ salaf.
• Disertakan selalu peringatan akan cerita-cerita Israilliyat yang tertolak (mungkar) yang
banyak tersebar di dalam tafsir-tafsir bil ma’tsur. Baik peringatan itu secara global atau
mendetail.
• Bersandar pada riwayat-riwayat dari sabda Nabi S.A.W para sahabat dan tabiin.
• Keluasan sanad-sanad dan sabda-sabda yang diriwayatkan serta tarjihnya akan
riwayat-riwayat tersebut.
• Penjelasaanya dalam segi i’rab, dan istimbatnya tentang hukum-hukum syar’ie dan
ayat-ayat Al-quran.
• Menjadi literatur mufassir setelahnya, telah dicetak dan disebarkan kesegala penjuru
dunia.
• Tidak mengandungi permusuhan diskusi, golongan dan mazhab. Mengajak pada
persatuan dan mencari kebenaran bersama.
KEKURANGAN
• Masih terdapat hadits dhoif dan pengulangan hadis sahih
• Terdapatnya sejumlah Isroilliyat, sekalipun ia mengingatkanya, namun tanpa
penegasan dan penyelidikan.
• Di dalamnya disebutkan juga khabar-khabar yang sanadnya tidak sahih,
kemudian tidak dijelaskan bahwa ia tidak sahih.
• Bercampurnya yang sahih dan yang tidak sahih, dan penukilan perkataan dari
para sahabat dan tabiin tanpa isnad dan tidak pasti.
TAFSIR AL-QURTUBY
BIBIOGRAFI AL-QURTHUBI
- Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr bin Farh al-Anshari al-Khazraji al-Andalusi al-
Qurthubi,
- Lahir di Cordoba (Andalusia, Spanyol) pada 1214 M, dan merupakan ulama besar dalam mazhab
Maliki
- seorang ahli tafsir dari Cordova.
- salah seorang hamba Allah yang soleh dan ulama yang arif, wara’ dan zuhud di dunia, yang sibuk
dirinya dengan urusan akhirat. Waktunya dihabiskan untuk memberikan bimbingan, beribadah dan
menulis.
- meninggal dunia dan dimakamkan di Mesir, pada malam isnin, tanggal 09 Syawal tahun 671 H.
semoga Allah merahmati dan meredhai beliau.
KARYA-KARYANYA
kitab masyhur yang bernama al-Jami' li Ahkam al-Quran. Beberapa karya lain
yang dihasilkan oleh Imam al-Qurtubi adalah :
1) al-Asna fi Syarh Asma Allah al-Husna,
2) Kitab al-Tazkirah bi Umar al-Akhirah,
3) Syarah al-Taqassi
4) Kitab al-tizkar fi Afdal al-Azkar
5) Qamh al-Haris bi al-Zuhd wa al-Qana'ah
6) Ariuzah Jumi'a fiha Asma al-Nabi.
GURU-GURU BELIAU
• Beliau belajar dari Syeikh Abu al- Abbas Ahmad bin Umar al-Qurthubi dan
meriwayatkan dari al-Hafizh Abu Ali al-Hasan bin Muhammad bin Hafis
METODE PENAFSIRANNYA
Metode yang dipakai al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya adalah metode tahlili, karena ia
berupaya menjelaskan seluruh aspek yang terkandung dalam al-Quran dan mengungkapkan
segenap pengertian yang dituju. Sebagai contoh dari pernyataan ini adalah ketika ia
menafsirkan surat al-Fatihah di mana ia membaginya menjadi empat bab aitu; bab
Keutamaan dan nama surat al-Fatihah, bab turunnya dan hukum-hukum yang terkandung di
dalamnya, bab Ta’min, dan bab tentang Qiraat dan I’rab. Masing-masing dari bab tersebut
memuat beberapa masalah.
• Penulis terkenal dengan gaya penulisan ulama’ fiqih., dengan menukil tafsir
dan hukum dari para ulama’ salaf dengan menyebutkan pendapatnya masing-
masing.
• Dan membahas suatu permasalahan fiqhiyah dengan terperinci.
• Membuang kisah dan sejarah, diganti dengan hukum dan istimbat dalil, juga
I’rob, qiroat, nasakh dan mansukh. Beliau tidak ta’assub (panatik) dengan
mazhabnya yaitu mazhab Maliki.
KELEBIHAN
• Menghimpun ayat, hadits dan aqwal ulama pada masalah-masalah hukum.
Kemudian beliau mentarjih salah satu di antara aqwal tersebut
• Sarat dengan dalil-dalil 'aqli dan naqli
• Tidak mengabaikan bahasa Arab, sya'ir Arab dan sastra Arab.
• Ibnu Farhun berkata,” tafsir yang paling bagus dan paling banyak manfaatnya,
membuang kisah dan sejarah, diganti dengan hukum dan istimbat dalil, serta
menerangkan I’rob, qiroat, nasikh dan mansukh”
KEKURANGAN
• Banyak mencantumkan hadits-hadits dha'if tanpa diberi komentar (catatan),
padahal beliau adalah seorang muhaddits (ahli hadits)
• Penulis menta'wil beberapa ayat yang berbicara tentang sifat Allah SWT.
TAFSIR TABARI
TAFSIR AL-TABARI
• Nama sebenar Tafsir Jami’ Al-Bayan Fi Tafsir Al-Quran.
• Ditulis pada tahun 306 Hijriah dan terdiri dari dua belas jilid.
• Sebanyak 30 jilid pada masa kini.
BIOGRAFI PENULIS
• Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Ghalib al-Thabari al-Amuli.
• dilahirkan di kota Amul yang merupakan ibukota Thabaristan, di negara Iran.
• Beliau lahir pada tahun akhir tahun 224 Hijriah awal tahun 225 Hijriah
• .Ketika berusia 85 tahun, beliau meninggal dunia di Baghdad pada 310
H/923 M.
PANDANGAN ULAMA
• Imam Suyuthi : “Kitab ini adalah kitab yang paling baik dan besar, memuat
pendapat-pendapat para ulama, dan sekaligus menguatkan pendapat-
pendapat itu, dan memuat uraian nahwu serta istinbath hukum. Dengan
kelebihannya itu, ia menempati kualitas teratas dari kitab-kitab tafsir
sebelumnya.”
• Ibnu Taimiyah : “Adapun dari tafsir-tafsir yang ada di tangan manusia, yang
paling baik adalah tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari. Ini karena ia menyebutkan
ucapan-ucapan para salaf dengan sanad-sanad yang kokoh, tidak menukil
kebid’ahan, dan tidak menukil dari orang-orang yang diragukan agamanya.”
• Tak ketinggalan pula Orientalis, Ignaz Goldziher secar jujur Mengakui kapasitas
kitab tafsir al-Thabari dengan mengatakan: “ Di Eropah, karya sejarahnya
pernah menjadi masterpiece, karena kelengkapan informasi dan
kompleksitas materi kajiannya, banyak di antara para ilmuwan dan sejarawan
yang mengadopsi data-data darinya”.
KARYA–KARYANYA:-
• 1) Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an
• 2) Tarikh al-Umam wa al-Muluk wa Akhbaruhum
• 3) Al-Adabul Hamidah wal Akhlaqun Nafisah
• 4) Ikhtilafu al-Fuqaha
• 5) Tahzibu al-Asar wa Tafsali as-Sabit ‘an Rasulillahi min al-Akhbar
• 6) Kitabu al-Qiraat wa Tanzili al-Qur’an
• 7) Sharikhi as-Sunnah
• 8) Lathifu al-Qaul fi Ahkami Syara’i al-Islam
• 9) Tarikhur Rijal
• 10) Kitabul Basit fil Fiqh
• 11) Al-Jami’ fi Qira’at dan
• 12) Kitâbut Tabsir fil Usul
METODOLOGI PENAFSIRAN
• 1. Memulakan dengan jalan tafsir dan atau takwil.
• 2. Menafsirkan Alquran dengan sunah/hadis (bi al-ma’tsur).
• 3. Memaparkan ragam qiraat dalam rangka mengungkap makna ayat.
• 4. Menggunakan cerita-cerita israiliyat untuk menjelaskan penafsirannya yang berkenaan dengan
sejarah.
• 5. Mengeksplorasi syair dan prosa Arab lama ketika menjelaskan makna kata dan kalimat.
• 6. Berdasarkan pada analisis bahasa bagi kata yang riwayatnya diperselisihkan.
• 7. Menjelaskan perdebatan di bidang fiqih dan teori hukum Islam untuk kepentingan analisis dan
istinbath (penggalian dan penetapan) hukum.
• 8. Menjelaskan perdebatan di bidang akidah.
KEISTIMEWAAN
• Masdar al-asliyyah yang menafsirkan ayat-ayat al-quran berdasarkan
pandangan ulama salaf
• Serta pengajaran Rasulullah yang diriwayatkan melalui sanad yang thabit.
• Menjadi rujukan utama dalam kitab-kitab karangan ulama selepasnya
samaada dalam bidang tafsir atau bidang agama yang lain.
• Membahaskan ilmu qiraat dengan agak terperinci jika dibandingkan dengan
kitab-kitab yang lain.
KELEMAHAN
• Al-Thabari dalam penafsirannya selalu menyertakan riwayat beserta sanad-
sanadnya, umumnya la tidak menyertakan penilaian shahih atau dha’if
terhadap sanad-sanadnya itu, meskipun dia cermat dalam penafsiran.

Ibnu katsir

  • 1.
    NAMA NO .MATRIK MOHD KHUDRI BIN KHAIRUDDIN 1111899 MOHD AQMAL BIN MOHD SANIF 1111914 NIK NORAINI BINTI NIK MUHAMAD 1111907 NUR FAZIRAH BINTI CHE SULIMAN 1111911 NUR FATIN NAJMIE BINTI TAN SAFRI 1111921 INTAN NORLIANA BINTI MOHD SHUKRI 1111924
  • 2.
    TAFSIR IBNU KATSIR TAFSIRAL-QURTUBI TAFSIR AL-TABARI
  • 3.
  • 4.
    • Nama sebenarkitab Tafsir Ibnu Katsir adalah Tafsir al-Quran al-Azim. • 10 jilid.
  • 5.
    BIOGRAFI IBNU KATSIR •Ismail bin Umar bin katsir bin Dawa’ bin Kasir bin Zara’ Al-bashri Al- dimisqi Al-faqih As-syafi’i. • Gelarannya: al-Muhaddits, Imaduddin, abu al-Fada’. Lebih dikenali dengan gelaran al-Hafiz Ibnu Katsir. • Lahir pada tahun 700 hijrah (1300 M) di Basrah. • Menghembuskan nafas terakhirnya pada hari khamis bulan sya’ban 774 H (1373 M) di kota Damaskus. Ketika umur 74 tahun. Dan dimakamkan di samping makam gurunya, Ibnu Taimiyyah.
  • 6.
  • 7.
  • 8.
  • 9.
  • 10.
    METODOLOGI TAFSIR IBNUKATSIR. • Tafsir al-Quran dengan al-Quran sendiri. Menafsirkan dengan ayat-ayat lain. • Selanjutnya apabila penafsiran al-Quran dengan al-Quran tidak didapatkan, maka al- Quran harus ditafsirkan dengan hadits Nabi Muhammad, sebab menurut al-Quran sendiri Nabi Muhammad memang diperintahkan untuk menerangkan isi al-Quran. Dalam tafsir ini, banyak sekali dikutip hadis-hadis yang dianggap terkait atau dapat menjelaskan maksud ayat yang sedang ditafsirkan. • Jika yang kedua tidak didapatkan, maka al-Quran harus ditafsirkan oleh pendapat para sahabat karena merekalah orang yang paling mengetahui konteks sosial turunnya al-Quran.
  • 11.
    • Jika yangketiga juga tidak didapatkan, maka pendapat dari para tabiin dapat diambil. Namun, pendapat tabi’in dijadikan hujah bila pendapat tersebut telah menjadi kesepakatan di antara mereka, jika tidak maka ia tidak mengambilnya sebagai hujah. • Menafsirkan dengan pendapat para ulama Disamping menggunakan ayat-ayat yang terkait hadis Nabi dan para sahabat dan tabi’in, Ibnu Katsir pun seringkali mengutip berbagai pendapat ulama atau mufasir sebelumnya ketika menafsirkan ayat. Berbagai pendapat yang dikutip menyangkut berbagai aspek seperti kebahasaaan, teologi, hukum, kisah/sejarah. Namun, dari sekian banyak pendapat ulama yang dikutip, yang paling sering adalah pendapat Ibn Jarir al-Thabari. Ia sangat banyak mengutip riwayat-riwayat dari periwayatan al- Thabari lengkap dengan sanadnya. Ia pun sering mengkritik atau menilai kualiti hadis yang dikutipnya itu. Dengan demikian, secara tidak langsung Ibnu Katsir telah melakukan perbandingan penafsiran.
  • 12.
    • Menafsirkan denganpendapat sendiri Langkah ini biasanya ditempuh setelah ia melakukan kesemua langkah di atas. Dengan menempuh langkah-langkah tersebut dan menganalisis serta membandingkan berbagai data atau penafsiran, ia sering kali mengemukakan pendapatnya sendiri pada berbagai akhir penafsiran ayat. Namun perlu diketahui bahwa langkah ini tidak semuanya dapat diterapkan pada semua ayat. Adapun untuk membezakan antara pendapatnya sendiri dengan pendapat ulama-ulama lainnya dapat diketahui dari pernyataan :”menurut pendapatku “(qultu).
  • 13.
    KEISTIMEWAAN • Adalah tafsiryang paling masyhur yang memberikan perhatian terhadap apa yang telah diberikan oleh mufassir salaf dan menjelaskan makna-makna dan hukumnya. • Perhatian yang sangat besar dengan penafsiran antara Al-quran dengan Al-quran. • Merupakan tafsir yang paling banyak memuat atau memaparkan ayat-ayat yang bersesuaian maknanya, kemudian diikuti dengan penafsiran ayat dengan hadist marfu’ yang ada relevansinya dengan ayat yang sedang ditafsirkan serta menjelaskan apa yang dijadikan hujjah dari ayat tersebut. Kemudian diikuti pula dengan atsar para sahabat dan pendapat tabiin dan ulama’ salaf. • Disertakan selalu peringatan akan cerita-cerita Israilliyat yang tertolak (mungkar) yang banyak tersebar di dalam tafsir-tafsir bil ma’tsur. Baik peringatan itu secara global atau mendetail.
  • 14.
    • Bersandar padariwayat-riwayat dari sabda Nabi S.A.W para sahabat dan tabiin. • Keluasan sanad-sanad dan sabda-sabda yang diriwayatkan serta tarjihnya akan riwayat-riwayat tersebut. • Penjelasaanya dalam segi i’rab, dan istimbatnya tentang hukum-hukum syar’ie dan ayat-ayat Al-quran. • Menjadi literatur mufassir setelahnya, telah dicetak dan disebarkan kesegala penjuru dunia. • Tidak mengandungi permusuhan diskusi, golongan dan mazhab. Mengajak pada persatuan dan mencari kebenaran bersama.
  • 15.
    KEKURANGAN • Masih terdapathadits dhoif dan pengulangan hadis sahih • Terdapatnya sejumlah Isroilliyat, sekalipun ia mengingatkanya, namun tanpa penegasan dan penyelidikan. • Di dalamnya disebutkan juga khabar-khabar yang sanadnya tidak sahih, kemudian tidak dijelaskan bahwa ia tidak sahih. • Bercampurnya yang sahih dan yang tidak sahih, dan penukilan perkataan dari para sahabat dan tabiin tanpa isnad dan tidak pasti.
  • 16.
  • 17.
    BIBIOGRAFI AL-QURTHUBI - AbuAbdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr bin Farh al-Anshari al-Khazraji al-Andalusi al- Qurthubi, - Lahir di Cordoba (Andalusia, Spanyol) pada 1214 M, dan merupakan ulama besar dalam mazhab Maliki - seorang ahli tafsir dari Cordova. - salah seorang hamba Allah yang soleh dan ulama yang arif, wara’ dan zuhud di dunia, yang sibuk dirinya dengan urusan akhirat. Waktunya dihabiskan untuk memberikan bimbingan, beribadah dan menulis. - meninggal dunia dan dimakamkan di Mesir, pada malam isnin, tanggal 09 Syawal tahun 671 H. semoga Allah merahmati dan meredhai beliau.
  • 18.
    KARYA-KARYANYA kitab masyhur yangbernama al-Jami' li Ahkam al-Quran. Beberapa karya lain yang dihasilkan oleh Imam al-Qurtubi adalah : 1) al-Asna fi Syarh Asma Allah al-Husna, 2) Kitab al-Tazkirah bi Umar al-Akhirah, 3) Syarah al-Taqassi 4) Kitab al-tizkar fi Afdal al-Azkar 5) Qamh al-Haris bi al-Zuhd wa al-Qana'ah 6) Ariuzah Jumi'a fiha Asma al-Nabi.
  • 19.
    GURU-GURU BELIAU • Beliaubelajar dari Syeikh Abu al- Abbas Ahmad bin Umar al-Qurthubi dan meriwayatkan dari al-Hafizh Abu Ali al-Hasan bin Muhammad bin Hafis
  • 20.
    METODE PENAFSIRANNYA Metode yangdipakai al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya adalah metode tahlili, karena ia berupaya menjelaskan seluruh aspek yang terkandung dalam al-Quran dan mengungkapkan segenap pengertian yang dituju. Sebagai contoh dari pernyataan ini adalah ketika ia menafsirkan surat al-Fatihah di mana ia membaginya menjadi empat bab aitu; bab Keutamaan dan nama surat al-Fatihah, bab turunnya dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, bab Ta’min, dan bab tentang Qiraat dan I’rab. Masing-masing dari bab tersebut memuat beberapa masalah.
  • 21.
    • Penulis terkenaldengan gaya penulisan ulama’ fiqih., dengan menukil tafsir dan hukum dari para ulama’ salaf dengan menyebutkan pendapatnya masing- masing. • Dan membahas suatu permasalahan fiqhiyah dengan terperinci. • Membuang kisah dan sejarah, diganti dengan hukum dan istimbat dalil, juga I’rob, qiroat, nasakh dan mansukh. Beliau tidak ta’assub (panatik) dengan mazhabnya yaitu mazhab Maliki.
  • 22.
    KELEBIHAN • Menghimpun ayat,hadits dan aqwal ulama pada masalah-masalah hukum. Kemudian beliau mentarjih salah satu di antara aqwal tersebut • Sarat dengan dalil-dalil 'aqli dan naqli • Tidak mengabaikan bahasa Arab, sya'ir Arab dan sastra Arab. • Ibnu Farhun berkata,” tafsir yang paling bagus dan paling banyak manfaatnya, membuang kisah dan sejarah, diganti dengan hukum dan istimbat dalil, serta menerangkan I’rob, qiroat, nasikh dan mansukh”
  • 23.
    KEKURANGAN • Banyak mencantumkanhadits-hadits dha'if tanpa diberi komentar (catatan), padahal beliau adalah seorang muhaddits (ahli hadits) • Penulis menta'wil beberapa ayat yang berbicara tentang sifat Allah SWT.
  • 24.
  • 25.
    TAFSIR AL-TABARI • Namasebenar Tafsir Jami’ Al-Bayan Fi Tafsir Al-Quran. • Ditulis pada tahun 306 Hijriah dan terdiri dari dua belas jilid. • Sebanyak 30 jilid pada masa kini.
  • 26.
    BIOGRAFI PENULIS • AbuJa’far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Ghalib al-Thabari al-Amuli. • dilahirkan di kota Amul yang merupakan ibukota Thabaristan, di negara Iran. • Beliau lahir pada tahun akhir tahun 224 Hijriah awal tahun 225 Hijriah • .Ketika berusia 85 tahun, beliau meninggal dunia di Baghdad pada 310 H/923 M.
  • 27.
    PANDANGAN ULAMA • ImamSuyuthi : “Kitab ini adalah kitab yang paling baik dan besar, memuat pendapat-pendapat para ulama, dan sekaligus menguatkan pendapat- pendapat itu, dan memuat uraian nahwu serta istinbath hukum. Dengan kelebihannya itu, ia menempati kualitas teratas dari kitab-kitab tafsir sebelumnya.” • Ibnu Taimiyah : “Adapun dari tafsir-tafsir yang ada di tangan manusia, yang paling baik adalah tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari. Ini karena ia menyebutkan ucapan-ucapan para salaf dengan sanad-sanad yang kokoh, tidak menukil kebid’ahan, dan tidak menukil dari orang-orang yang diragukan agamanya.” • Tak ketinggalan pula Orientalis, Ignaz Goldziher secar jujur Mengakui kapasitas kitab tafsir al-Thabari dengan mengatakan: “ Di Eropah, karya sejarahnya pernah menjadi masterpiece, karena kelengkapan informasi dan kompleksitas materi kajiannya, banyak di antara para ilmuwan dan sejarawan yang mengadopsi data-data darinya”.
  • 28.
    KARYA–KARYANYA:- • 1) Jami’al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an • 2) Tarikh al-Umam wa al-Muluk wa Akhbaruhum • 3) Al-Adabul Hamidah wal Akhlaqun Nafisah • 4) Ikhtilafu al-Fuqaha • 5) Tahzibu al-Asar wa Tafsali as-Sabit ‘an Rasulillahi min al-Akhbar • 6) Kitabu al-Qiraat wa Tanzili al-Qur’an • 7) Sharikhi as-Sunnah • 8) Lathifu al-Qaul fi Ahkami Syara’i al-Islam • 9) Tarikhur Rijal • 10) Kitabul Basit fil Fiqh • 11) Al-Jami’ fi Qira’at dan • 12) Kitâbut Tabsir fil Usul
  • 29.
    METODOLOGI PENAFSIRAN • 1.Memulakan dengan jalan tafsir dan atau takwil. • 2. Menafsirkan Alquran dengan sunah/hadis (bi al-ma’tsur). • 3. Memaparkan ragam qiraat dalam rangka mengungkap makna ayat. • 4. Menggunakan cerita-cerita israiliyat untuk menjelaskan penafsirannya yang berkenaan dengan sejarah. • 5. Mengeksplorasi syair dan prosa Arab lama ketika menjelaskan makna kata dan kalimat. • 6. Berdasarkan pada analisis bahasa bagi kata yang riwayatnya diperselisihkan. • 7. Menjelaskan perdebatan di bidang fiqih dan teori hukum Islam untuk kepentingan analisis dan istinbath (penggalian dan penetapan) hukum. • 8. Menjelaskan perdebatan di bidang akidah.
  • 30.
    KEISTIMEWAAN • Masdar al-asliyyahyang menafsirkan ayat-ayat al-quran berdasarkan pandangan ulama salaf • Serta pengajaran Rasulullah yang diriwayatkan melalui sanad yang thabit. • Menjadi rujukan utama dalam kitab-kitab karangan ulama selepasnya samaada dalam bidang tafsir atau bidang agama yang lain. • Membahaskan ilmu qiraat dengan agak terperinci jika dibandingkan dengan kitab-kitab yang lain.
  • 31.
    KELEMAHAN • Al-Thabari dalampenafsirannya selalu menyertakan riwayat beserta sanad- sanadnya, umumnya la tidak menyertakan penilaian shahih atau dha’if terhadap sanad-sanadnya itu, meskipun dia cermat dalam penafsiran.