1. DODI SUPRIYADI 836175313
2. ENDANG S 836194391
3. ELFRIDA 836157078
4. DYAH. S. P 836154524
5. EKA NILA TRESNA 836160123
6. ENDAH FIKRIYAH 836155178
PENGERTIAN KURIKULUM
• Asal kata: curir (pelari) dan curere
(tempat berpacu)
• Kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus
ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start
sampai finish untuk memperoleh medali/
penghargaan.
• Dalam dunia pendidikan : sejumlah mata
pelajaran (subjects) yang harus ditempuh oleh
seorang siswa dari awal sampai akhir program
pelajaran untuk memperoleh penghargaan
dalam bentuk ijazah.
Pengertian Kurikulum Secara
Konseptual
1. Sebagai mata pelajaran (subjects)
2. Sebagai pengalaman belajar
(learning experiences)
3. Sebagai program /rencana pembelajaran
Kurikulum Menurut Para Ahli
 Harold B. Alberty (1965) : kurikulum sebagai semua kegiatan
yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung sekolah.
 Saylor, Alexander, dan Lewis (1974) : kurikulum sebagai
segala upaya sekolah untuk mempengaruhi siswa supaya
belajar, baik dalam ruangan kelas, di halaman sekolah
maupun di luar sekolah.
 Menurut S. Hamid Hasan, kurikulum merupakan:
1. Suatu gagasan/ide
2. Sebagai suatu rencana tertulis
3. Sebagai suatu kegiatan
4. Sebagai suatu hasil
Kurikulum Berdasarkan
Undang-Undang
 Rumusan pengertian kurikulum yang tertera dalam
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional : “Kurikulum adalah seperangkat rencana
dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”
KTSP
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
 Dalam panduan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) jenjang pendidikan dasar dan
menengah yang dikeluarkan oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan (BSNP), pengertian kurikulum
yang digunakan mengacu pada pengertian seperti yang
tertera dalam UU No. 20 Tahun 2003.
 KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh
dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.
 KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan
pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat
satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.
FUNGSI KURIKULUM
 Bagi guru:
pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran.
 Bagi kepala sekolah :
pedoman dalam melaksanakan supervisi atau pengawasan
dan pengawas
 Bagi orang tua:
pedoman dalam membimbing anaknya belajar di sekolah.
 Bagi masyarakat :
pedoman untuk memberikan bantuan bagi terselenggaranya
proses pendidikan di sekolah.
 Bagi siswa: pedoman belajar
Fungsi Kurikulum secara khusus bagi
siswa sebagai subjek didik:
1. Fungsi penyesuaian (The adaptive Function)
2. Fungsi Integrasi (The Integrating Function)
3. Fungsi Diferensiasi (The Differentiating
function)
4. Fungsi Persiapan (The Propaedeutic Function)
5. Fungsi Pemilihan (The Selective Function)
6. Fungsi Diagnostik (The Diagnostic Function)
PERANAN KURIKULUM
( Oemar Hamalik : 1990)
1. Peranan Konservatif
2.Peranan Kreatif
3. Peranan Kritis dan Evaluatif
KOMPONEN UTAMA
KURIKULUM
1. TUJUAN
2. ISI / MATERI KURIKULUM
3. STRATEGI PEMBELAJARAN
4. EVALUASI
KURIKULUM SEBAGAI SUATU SISTEM
 Kurikulum merupakan suatu sistem yang merupakan satu
kesatuan yang terdiri dari berbagai komponen dimana
komponen yang satu dengan yang lainnya saling
berhubungan dan mempengaruhi untuk mencapai suatu
tujuan.
 Pengembangan kurikulum itu menyangkut banyak faktor,
mempertimbangkan isu-isu mengenai kurikulum, siapa
yang dilibatkan, bagaimana prosesnya, apa tujuannya dan
kepada siapa kurikulum itu ditujukan.
 Pengembangan kurikulum merupakan alat untuk
membantu guru melakukan tugasnya mengajar, menarik
minat murid dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
HIERARKI TUJUAN PENDIDIKAN
 Tujuan Pendidikan Nasional adalah tujuan yang ingin
dicapai secara komprehensif, utuh, dan menjadi induk
bagi tujuan-tujuan yang ada dibawahnya.
 Tujuan Insttitusional adalah tujuan yang diharapkan
dicapai oleh suatu lembaga pendidikan.
 Tujuan kurikuler adalah penjabaran dari tujuan
institusional yang berisi program-program pendidikan
yang menjadi sasaran sesuatu matapelajaran.
 Tujuan instruksional merupakan tujuan tingkat bawah
yang harus dicapai setelah suatu proses pembelajaran.
ISI / MATERI KURIKULUM
 Saylor dan Alecander (Zais, 1976) : isi kurikulum meliputi
fakta-fakta, observasi, data, persepsi, penginderaaan,
pemecahan masalah, yang berasal dari pikiran manusia
dan pengalamannya yang diatur dan diorganisasi dalam
bentuk gagasan (ideas), konsep (concept), generalisasi
(generalization), prinsip-prinsip (principles) dan pemecahan
masalah (solution)
 Hyman (Zais, 1976) mendefinisiskan isi/konten kurikulum
ke dalam tiga elemen yaitu pengetahuan/knowledge,
keterampilan dan proses (misalnya membaca, menulis,
menghitung, berpikir kritis, pengambilan keputusan,
berkomunikasi serta nilai/values)
 Nana Sudjana (1988) mengungkapkan secara umum sifat
bahan/isi ke dalam beberapa kategori yaitu fakta, konsep,
prinsip dan keterampilan.
STRATEGI PEMBELAJARAN
 Pengertian strategi pembelajaran meliputi pendekatan,
prosedur, metode, model dan teknik yang dipergunakan
dalam menyajikan bahan/isi kurikulum.
 Nana Sudjana (1988) mengemukakan bahwa strategi
pembelajaran pada hakikatnya adalah tindakan nyata dari
guru atau praktik guru melaksanakan pengajaran melalui
cara tertentu yang dinilai lebih efektif dan lebih efisien.
 Strategi pertama maksudnya bahwa titik berat kegiatan
banyak berpusat pada guru (biasa disebut model
ekspositori atau model informasi), sedangkan pada strategi
kedua titik berat aktivitas pembelajaran ada pada para
siswa sehingga mereka lebih aktif melakukan kegiatan
belajar (biasa disebut model inkuiri atau problem solving).
EVALUASI
 Kegiatan evaluasi merupakan bagian yang tak
terpisahkan di dalam pengembangan suatu kurikulum,
baik pada level makro maupun mikro.
 Komponen evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian
tujuan-tujuan yang telah ditentukan, serta menilai
proses implementasi kurikulum secara keseluruhan,
termasuk menilai kegiatan evaluasi itu sendiri.
 Nana Sudjana dan R. Ibrahim (1989) dalam hal ini
mengemukakan tiga komponen yaitu komponen
program pendidikan, komponen proses pelaksanaan
dan komponen hasil-hasil yang dicapai.
Secara umum terdapat empat landasan pokok
yang mendasari pengembangan kurikulum, yaitu
1. landasan filosofis,
2. psikologis,
3. sosial-budaya, dan
4. perkembangan ilmu
pengetahuan/teknologi.
 Landasan filosofis mengacu pada pentingnya filsafat
dalam melaksanakan, membina, dan
mengembangkan kurikulum di sekolah.
 Kurikulum pada hakikatnya adalah alat untuk
mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu
tujuan pendidikan itu sangat diwarnai oleh filsafat
pandangan hidup yang dianut suatu bangsa maka
kurikulum yang dikembangkan juga akan
mencerminkan falsafah/pandangan hidup tersebut.
 Tujuan penddidikan Nasional di indonesia
bersumber pada pandangan dan cara hidup manusia
Indonesia, yakni Pancasila.
 Tujuan pendidikan Indonesia tertuang dalam Undang-
Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional ,yaitu Pendidikan Nasional
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 (pasal 2)
 Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan memebentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermatabat dalam rangkamencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab.
 Psikologi adalah ilmu yang mempelajari
tingkah laku manusia
 Kurikulum adalah upaya menentukan program
pendidikan untuk mengubah perilaku
manusia.
 Oleh sebab itu, pengembangan kurikulum
harus dilandasi oleh psikologi sebagai acuan
dalam menentuan apa dan bagaimana
perilaku itu harus dikembangkan.
 Psikologi Belajar (learning psychology):
Teori belajar memberikan kontribusi dalam hal
bagaimana isi kurikulum disampaikan kepada siswa dan
bagaimana siswa harus mempelajarinya
 Psikologi Perkembangan (developmental psychology)
Teori perkembangan diperlukan dalam menentukan isi
kurikulum yang akan diberikan kepada siswa agar
tingkat kelulusan dan kedalamannya sesuai dengan taraf
perkembangan siswa
 Landasan sosiologis mengarahkan kajian mengenai
kurikulum yang dikaitkan dengan aspek masyarakat
dan kebudayaan (society and culture).
 Kurikulum dan masyarakat
Kurikulum sebagai program pendidikan harus dapat
menjawab tantangan dan tuntutan masyarakat, bukan
hanya dari segi isi programnya, tetapi juga dari segi
pendekatan dan strategi pelaksanaannya.
 Kebudaayaan dan Kurikulum.
Kurikulum pada dasarnya merupakan refleksi dari
cara orang berpikir, berasa, bercita-cita, atau
kebiasaan-kebiasaan. Karena itu, dalam
mengembangkan suatu kurikulum kita perlu
memahami kebudayaan.
Perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni juga menimbulkan
kebutuhan, aspirasi dan sikap hidup yang
baru yang berpengaruh terhadap sistem
dan isi kurikulum pendidikan.
Proses pendidikan tidak hanya mewariskan
nilai-nilai dan hasil kebudayaan lama,
tetapi juga mempersiapkan siswa agar
mampu hidup di masa sekarang dan akan
datang.
1) Pendekatan administratif (administrative
approach), yaitu pendekatan pengembangan
kurikulum dengan menggunakan sistem komando
dari atas kebawah. Pendekatan ini disebut
pendekatan top-down karena pengembangan
kurikulum muncul atas inisiatif dan gagasan para
pemegang kebijakan pendidikan atau administrator
pendidikan di tingkat pusat dengan menggunakan
prosedur administratif.
2. Pendekatan pendekatan akar rumput
(grassroots approach), yaitu pendekatan
pengembangan kurikulum yang diawali dengan
inisiatif dari bawah (guru dan sekolah) selanjutnya
disebar luaskan pada tingkat yang lebih luas.
Pendekatan ini sering juga dinamakan pendekatan
pengembangan kurikulum dari bawah keatas
(bottom up) atau pendekatan akar rumput
(grassroots). Pendekatan ini biasanya diawali dari
adanya keresahan guru atau kelompok guru tentang
pelaksanaan kurikulum yang diberlakukan pada
kurun waktu tertentu.
1. Pendekatan pertama bertitik tolak dari mata
pelajaran (subject) sebagai suatu disiplin keilmuan.
Setiap mata pelajaran merupakan disiplin ilmu yang
terpisah antara satu dengan lainnya. Mata pelajaran
tersebut tidak saling berhubungan dan tidak ada
kaitan satu dengan lainnya. Pendekatan mata
pelajaran ini dikenal dengan istilah separated
subject centered curriculum atau isolated
curriculum.
2. Pendekatan kedua berangkat dari masalah-
masalah sosial yang ada dalam kehidupan nyata
yang tidak mungkin ditinjau hanya dari satu
aspek/segi saja. Suatau peristiwa yang terjadi
dalam masyarakat yang akan memengaruhi
segi-segi kehidupan harus ditinjau dari berbagai
segi. Pendekatan seperti itu disebut dengan
pendekatan struktural, pendekatan fungsional,
dan pendekatan daerah (interfield)
3. Pendekatan ketiga bertitik tolak dari suatu
keseluruhan atau suatu kesatuan yang bermakna
dan berstruktur. Bermakna artinya bahwa setiap
keseluruhan itu memiliki makna, arti, dan faedah
tertentu
1. Pendekatan yang berorientasi pada tujuan
mengandung maksud bahwa penyusunan
kurikulum didasarkan pada tujuan-tujuan
pendidikan yang telah dirumuskan secara
jelas, mulai dari tujuan pendidikan
nasional, tujuan satuan pendidikan,
(tujuan intitusional), tujuan mata pelajaran
(tujuan kurikuler), sampai dengan tujuan
pembelajaran (tujuan intruksional).
2. Pendekatan yang berorientasi pada bahan ajar
mengandung maksud bahwa penyusunan kurikulum
didasarkan atau sangat menitikberatkan pada bahan
ajar atau materi pelajaran yang akan diajarkan.
Keuntungan dari penggunaan pendekatan
kurikulum yang berorientasi pada bahan ajar ini
terletak pada kebebasan dan keluesan dalam
memilih dan menentukan bahan ajar karena tidak
terkait oleh tujuan-tujuan tertentu. Namun,
pendekatan ini memiliki kelemahan yaitu bahan
pelajaran kurang jelas arah dan tujuannya, serta
tidak jelas pula dasar pemilihan dalam menentukan
metode dan apa yang akan dinilai.
3. Pendekatan pengembangan kurikulum yang
berorientasi pada kegiatan belajar-mengajar
menitikberatkan pada bagaimana siswa
belajar, serta cara dan langkah-langkah apa
yang perlu dilakukanagar siswa menguasai
keterampilan untuk mendapatkan
pengetahuan. Keuntungannya yaitu sangat
mementingkan kebutuhan siswa. Namun,
pendekatan ini juga memiliki kelemahan yaitu
sulit mengukur ketercapaian hasil belajar
yang diharapkan.

hakikat kurikulum

  • 1.
    1. DODI SUPRIYADI836175313 2. ENDANG S 836194391 3. ELFRIDA 836157078 4. DYAH. S. P 836154524 5. EKA NILA TRESNA 836160123 6. ENDAH FIKRIYAH 836155178
  • 3.
    PENGERTIAN KURIKULUM • Asalkata: curir (pelari) dan curere (tempat berpacu) • Kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh medali/ penghargaan. • Dalam dunia pendidikan : sejumlah mata pelajaran (subjects) yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah.
  • 4.
    Pengertian Kurikulum Secara Konseptual 1.Sebagai mata pelajaran (subjects) 2. Sebagai pengalaman belajar (learning experiences) 3. Sebagai program /rencana pembelajaran
  • 5.
    Kurikulum Menurut ParaAhli  Harold B. Alberty (1965) : kurikulum sebagai semua kegiatan yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung sekolah.  Saylor, Alexander, dan Lewis (1974) : kurikulum sebagai segala upaya sekolah untuk mempengaruhi siswa supaya belajar, baik dalam ruangan kelas, di halaman sekolah maupun di luar sekolah.  Menurut S. Hamid Hasan, kurikulum merupakan: 1. Suatu gagasan/ide 2. Sebagai suatu rencana tertulis 3. Sebagai suatu kegiatan 4. Sebagai suatu hasil
  • 6.
    Kurikulum Berdasarkan Undang-Undang  Rumusanpengertian kurikulum yang tertera dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional : “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”
  • 7.
    KTSP Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan  Dalam panduan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) jenjang pendidikan dasar dan menengah yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), pengertian kurikulum yang digunakan mengacu pada pengertian seperti yang tertera dalam UU No. 20 Tahun 2003.  KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.  KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.
  • 8.
    FUNGSI KURIKULUM  Bagiguru: pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran.  Bagi kepala sekolah : pedoman dalam melaksanakan supervisi atau pengawasan dan pengawas  Bagi orang tua: pedoman dalam membimbing anaknya belajar di sekolah.  Bagi masyarakat : pedoman untuk memberikan bantuan bagi terselenggaranya proses pendidikan di sekolah.  Bagi siswa: pedoman belajar
  • 9.
    Fungsi Kurikulum secarakhusus bagi siswa sebagai subjek didik: 1. Fungsi penyesuaian (The adaptive Function) 2. Fungsi Integrasi (The Integrating Function) 3. Fungsi Diferensiasi (The Differentiating function) 4. Fungsi Persiapan (The Propaedeutic Function) 5. Fungsi Pemilihan (The Selective Function) 6. Fungsi Diagnostik (The Diagnostic Function)
  • 10.
    PERANAN KURIKULUM ( OemarHamalik : 1990) 1. Peranan Konservatif 2.Peranan Kreatif 3. Peranan Kritis dan Evaluatif
  • 11.
    KOMPONEN UTAMA KURIKULUM 1. TUJUAN 2.ISI / MATERI KURIKULUM 3. STRATEGI PEMBELAJARAN 4. EVALUASI
  • 12.
    KURIKULUM SEBAGAI SUATUSISTEM  Kurikulum merupakan suatu sistem yang merupakan satu kesatuan yang terdiri dari berbagai komponen dimana komponen yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan mempengaruhi untuk mencapai suatu tujuan.  Pengembangan kurikulum itu menyangkut banyak faktor, mempertimbangkan isu-isu mengenai kurikulum, siapa yang dilibatkan, bagaimana prosesnya, apa tujuannya dan kepada siapa kurikulum itu ditujukan.  Pengembangan kurikulum merupakan alat untuk membantu guru melakukan tugasnya mengajar, menarik minat murid dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
  • 13.
    HIERARKI TUJUAN PENDIDIKAN Tujuan Pendidikan Nasional adalah tujuan yang ingin dicapai secara komprehensif, utuh, dan menjadi induk bagi tujuan-tujuan yang ada dibawahnya.  Tujuan Insttitusional adalah tujuan yang diharapkan dicapai oleh suatu lembaga pendidikan.  Tujuan kurikuler adalah penjabaran dari tujuan institusional yang berisi program-program pendidikan yang menjadi sasaran sesuatu matapelajaran.  Tujuan instruksional merupakan tujuan tingkat bawah yang harus dicapai setelah suatu proses pembelajaran.
  • 14.
    ISI / MATERIKURIKULUM  Saylor dan Alecander (Zais, 1976) : isi kurikulum meliputi fakta-fakta, observasi, data, persepsi, penginderaaan, pemecahan masalah, yang berasal dari pikiran manusia dan pengalamannya yang diatur dan diorganisasi dalam bentuk gagasan (ideas), konsep (concept), generalisasi (generalization), prinsip-prinsip (principles) dan pemecahan masalah (solution)  Hyman (Zais, 1976) mendefinisiskan isi/konten kurikulum ke dalam tiga elemen yaitu pengetahuan/knowledge, keterampilan dan proses (misalnya membaca, menulis, menghitung, berpikir kritis, pengambilan keputusan, berkomunikasi serta nilai/values)  Nana Sudjana (1988) mengungkapkan secara umum sifat bahan/isi ke dalam beberapa kategori yaitu fakta, konsep, prinsip dan keterampilan.
  • 15.
    STRATEGI PEMBELAJARAN  Pengertianstrategi pembelajaran meliputi pendekatan, prosedur, metode, model dan teknik yang dipergunakan dalam menyajikan bahan/isi kurikulum.  Nana Sudjana (1988) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran pada hakikatnya adalah tindakan nyata dari guru atau praktik guru melaksanakan pengajaran melalui cara tertentu yang dinilai lebih efektif dan lebih efisien.  Strategi pertama maksudnya bahwa titik berat kegiatan banyak berpusat pada guru (biasa disebut model ekspositori atau model informasi), sedangkan pada strategi kedua titik berat aktivitas pembelajaran ada pada para siswa sehingga mereka lebih aktif melakukan kegiatan belajar (biasa disebut model inkuiri atau problem solving).
  • 16.
    EVALUASI  Kegiatan evaluasimerupakan bagian yang tak terpisahkan di dalam pengembangan suatu kurikulum, baik pada level makro maupun mikro.  Komponen evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan, serta menilai proses implementasi kurikulum secara keseluruhan, termasuk menilai kegiatan evaluasi itu sendiri.  Nana Sudjana dan R. Ibrahim (1989) dalam hal ini mengemukakan tiga komponen yaitu komponen program pendidikan, komponen proses pelaksanaan dan komponen hasil-hasil yang dicapai.
  • 18.
    Secara umum terdapatempat landasan pokok yang mendasari pengembangan kurikulum, yaitu 1. landasan filosofis, 2. psikologis, 3. sosial-budaya, dan 4. perkembangan ilmu pengetahuan/teknologi.
  • 19.
     Landasan filosofismengacu pada pentingnya filsafat dalam melaksanakan, membina, dan mengembangkan kurikulum di sekolah.  Kurikulum pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu tujuan pendidikan itu sangat diwarnai oleh filsafat pandangan hidup yang dianut suatu bangsa maka kurikulum yang dikembangkan juga akan mencerminkan falsafah/pandangan hidup tersebut.  Tujuan penddidikan Nasional di indonesia bersumber pada pandangan dan cara hidup manusia Indonesia, yakni Pancasila.
  • 20.
     Tujuan pendidikanIndonesia tertuang dalam Undang- Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ,yaitu Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 (pasal 2)  Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan memebentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangkamencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
  • 21.
     Psikologi adalahilmu yang mempelajari tingkah laku manusia  Kurikulum adalah upaya menentukan program pendidikan untuk mengubah perilaku manusia.  Oleh sebab itu, pengembangan kurikulum harus dilandasi oleh psikologi sebagai acuan dalam menentuan apa dan bagaimana perilaku itu harus dikembangkan.
  • 22.
     Psikologi Belajar(learning psychology): Teori belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi kurikulum disampaikan kepada siswa dan bagaimana siswa harus mempelajarinya  Psikologi Perkembangan (developmental psychology) Teori perkembangan diperlukan dalam menentukan isi kurikulum yang akan diberikan kepada siswa agar tingkat kelulusan dan kedalamannya sesuai dengan taraf perkembangan siswa
  • 23.
     Landasan sosiologismengarahkan kajian mengenai kurikulum yang dikaitkan dengan aspek masyarakat dan kebudayaan (society and culture).  Kurikulum dan masyarakat Kurikulum sebagai program pendidikan harus dapat menjawab tantangan dan tuntutan masyarakat, bukan hanya dari segi isi programnya, tetapi juga dari segi pendekatan dan strategi pelaksanaannya.  Kebudaayaan dan Kurikulum. Kurikulum pada dasarnya merupakan refleksi dari cara orang berpikir, berasa, bercita-cita, atau kebiasaan-kebiasaan. Karena itu, dalam mengembangkan suatu kurikulum kita perlu memahami kebudayaan.
  • 24.
    Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi,dan seni juga menimbulkan kebutuhan, aspirasi dan sikap hidup yang baru yang berpengaruh terhadap sistem dan isi kurikulum pendidikan. Proses pendidikan tidak hanya mewariskan nilai-nilai dan hasil kebudayaan lama, tetapi juga mempersiapkan siswa agar mampu hidup di masa sekarang dan akan datang.
  • 25.
    1) Pendekatan administratif(administrative approach), yaitu pendekatan pengembangan kurikulum dengan menggunakan sistem komando dari atas kebawah. Pendekatan ini disebut pendekatan top-down karena pengembangan kurikulum muncul atas inisiatif dan gagasan para pemegang kebijakan pendidikan atau administrator pendidikan di tingkat pusat dengan menggunakan prosedur administratif.
  • 26.
    2. Pendekatan pendekatanakar rumput (grassroots approach), yaitu pendekatan pengembangan kurikulum yang diawali dengan inisiatif dari bawah (guru dan sekolah) selanjutnya disebar luaskan pada tingkat yang lebih luas. Pendekatan ini sering juga dinamakan pendekatan pengembangan kurikulum dari bawah keatas (bottom up) atau pendekatan akar rumput (grassroots). Pendekatan ini biasanya diawali dari adanya keresahan guru atau kelompok guru tentang pelaksanaan kurikulum yang diberlakukan pada kurun waktu tertentu.
  • 27.
    1. Pendekatan pertamabertitik tolak dari mata pelajaran (subject) sebagai suatu disiplin keilmuan. Setiap mata pelajaran merupakan disiplin ilmu yang terpisah antara satu dengan lainnya. Mata pelajaran tersebut tidak saling berhubungan dan tidak ada kaitan satu dengan lainnya. Pendekatan mata pelajaran ini dikenal dengan istilah separated subject centered curriculum atau isolated curriculum.
  • 28.
    2. Pendekatan keduaberangkat dari masalah- masalah sosial yang ada dalam kehidupan nyata yang tidak mungkin ditinjau hanya dari satu aspek/segi saja. Suatau peristiwa yang terjadi dalam masyarakat yang akan memengaruhi segi-segi kehidupan harus ditinjau dari berbagai segi. Pendekatan seperti itu disebut dengan pendekatan struktural, pendekatan fungsional, dan pendekatan daerah (interfield) 3. Pendekatan ketiga bertitik tolak dari suatu keseluruhan atau suatu kesatuan yang bermakna dan berstruktur. Bermakna artinya bahwa setiap keseluruhan itu memiliki makna, arti, dan faedah tertentu
  • 29.
    1. Pendekatan yangberorientasi pada tujuan mengandung maksud bahwa penyusunan kurikulum didasarkan pada tujuan-tujuan pendidikan yang telah dirumuskan secara jelas, mulai dari tujuan pendidikan nasional, tujuan satuan pendidikan, (tujuan intitusional), tujuan mata pelajaran (tujuan kurikuler), sampai dengan tujuan pembelajaran (tujuan intruksional).
  • 30.
    2. Pendekatan yangberorientasi pada bahan ajar mengandung maksud bahwa penyusunan kurikulum didasarkan atau sangat menitikberatkan pada bahan ajar atau materi pelajaran yang akan diajarkan. Keuntungan dari penggunaan pendekatan kurikulum yang berorientasi pada bahan ajar ini terletak pada kebebasan dan keluesan dalam memilih dan menentukan bahan ajar karena tidak terkait oleh tujuan-tujuan tertentu. Namun, pendekatan ini memiliki kelemahan yaitu bahan pelajaran kurang jelas arah dan tujuannya, serta tidak jelas pula dasar pemilihan dalam menentukan metode dan apa yang akan dinilai.
  • 31.
    3. Pendekatan pengembangankurikulum yang berorientasi pada kegiatan belajar-mengajar menitikberatkan pada bagaimana siswa belajar, serta cara dan langkah-langkah apa yang perlu dilakukanagar siswa menguasai keterampilan untuk mendapatkan pengetahuan. Keuntungannya yaitu sangat mementingkan kebutuhan siswa. Namun, pendekatan ini juga memiliki kelemahan yaitu sulit mengukur ketercapaian hasil belajar yang diharapkan.