TRANSAKSI GADAI DAN BARANG JAMINAN
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Fiqih II
Dosen Pengampu : Dr. Makrum Kholil, M.Ag
Disusun oleh:
1. Umi fathurrohmah (2021113211)
2. Anik Mufidah ( 2021113212)
TARBIYAH PAI A
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI( STAIN )
PEKALONGAN
2014
BAB I
LATAR BELAKANG
Dalam realitas sosial ekonomi masyarakat kerap ditemukan kondisi
masyarakat yang memiliki harta dalam bentuk selain uang tunai dan pada saat
yang sama, yang bersangkutan mengalami kesulitan likuiditas sehingga
membutuhkan dana dalam bentuk tunai. Pilihan transaksi yang sering
digunakan oleh masyarakat gadai permintaannya cenderung besar, pegadaian
sebagai lembaga yang merespon kebutuhan masyarakat pun akhirnya yang
menghadapi masalah ini adalah menggadaikan barang-barang yang berharga.
Istilah gadai barang nampaknya sudah sangat akrab di masyarakat kita,
terutama kalangan masyarakat yang membutuhkan dana tunai saat kondisi
likuiditasnya kurang baik. Karena masyarakat yang membutuhkan dana tunai
dengan model dapat eksis dan berkembang pesat.
Pegadaian lahir dari interaksi permintaan dan penawaran terhadap dana
tunai dalam waktu yang cepat dengan barang berharga sebagai jaminannya.
Selama ini, bisnis pegadaian relative tumbuh dan berkembang, baik yang
dilaksanakan oleh swasta maupun pemerintah. Tingginya permintaan terhadap
praktik gadai, bahkan menyebabkan munculnya pelaku bisnis gadai dalam
berbagai skala dengan beragam model dan bentuk transaksi. Tidak jarang
karena masyarakat membutuhkan dana tunai dengan cepat, gadai barang
menjadi salah satu modus rentenir dalam menjalankan operasinya.
BAB 11
GADAI DAN BARANG JAMINAN
A. Gadai dan Berbagai kondisi dalam Gadai Syariah (Rahn)
1. Definisi Gadai (Rahn)
Etimologi, gadai (rahn) berarti al-tsubut dan al-habs yaitu
penetapan dan penahanan. Adapula yang menjelaskan bahwa rahn
adalah terkurung atau terjerat.
Menurut istilah syara’, yang dimaksud dengan rahn adalah:
a. Rahn adalah akad yang objeknya menahan harga terhadap sesuatu
hak yang mungkin diperoleh bayaran dengan sempurna darinya.
b. Rahn adalah menjadikan suatu benda berharga dalam pandangan
syara’ sebagai jaminan atas utang selama ada dua kemungkinan,
untuk mengembalikan uang itu atau mengambil sebagian benda itu.
c. Rahn adalah akad perjanjian pinjam meminjam dengan
menyerahkan barang sebagai tanggungan utang.
d. Rahn adalah menjadikan harta sebagai jaminan utang.
e. Rahn adalah menjadikan zat suatu benda sebagai jaminan utang.
f. Rahn adalah suatu barang yang dijadikan peneguhan atau penguat
kepercayaan dalam utang piutang.
g. Rahn adalah menjadikan suatu benda bernialai menurut pandangan
syara’ sebagai tanggung utang, dengan adanya benda yang menjadi
tanggungan itu seluruh atau sebagian utang dapat diterima.
Jadi dapat disimpulkan bahwa rahn adalah menjadikan harta benda
sebagai jaminan utang agar utang itu dilunasi atau dibayarkan
harganya jika tidak dapat mengembalikannya.1
2. Rukun dan Syarat Gadai (Rahn)
Menurut jumhur Ulama rukun ar-rahn itu ada empat yaitu:
a. Shighat
b. Aqid
1 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta:PT Rajagrafindo Persada,2010),hlm,105-106
c. Marhun
d. Marhun bih
Adapun ulama Hanafiyah bersepakat bahwa rukun ar-rahn itu
hanya ijab dan kabul. Disamping itu, menurut mereka untuk
seempurna dan mengikatnya akad rahn ini, maka diperlukan adanya
penguasa barang oleh pemberi utang.
Adapun syarat-syarat ar-rahn para ulama fiqh menyusunnya sesuai
dengan rukun ar-rahn itu sendiri. Dengan demikian syarat-syarat ar-
rahn adalah:
a. Syarat yang terkait dengan orang berakad adalah cakap
bertindak hukum.
b. Syarat yang terkait dengan shighat, ulama Hanafiyah
berpendapat dalam akad itu ar-rahn tidak boleh dikaitkan oleh
syariat tertentu.
c. Syarat yang terkait dengan utang.
d. Syarat yang terkait dengan barang yang dijadikan jaminan.2
B. Hukum dalam Akad Rahn
1. Hukum Rahn
Para Ulama sepakat bahwa rahn dibolehkan, tetapi tidak
diwajibkan sebab gadai hanya jaminan saja jika kedua pihak tidak
saling mempercayai.
Ulama sepakat bahwa serah terima (qabdh) merupakan syarat
utama dalam akad rahn dan akan dikatakan sah jika memenuhi kriteria
sebagai berikut. Serah terima dilakukan berdasarkan ijin dari rahin,
jika tidak mendapat ijin, maka serah terima tidak dikatakan sah. Ketika
serah teima dilakukan, rahin dan murtahin haruslah memiliki ahliyah,
2 Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Kencana, 2010), cet.1
dalam arti ia sudah baligh dan berakal, tidak berupa anak kecil atau
sedang gila.
2. Sifat Rahn
Secara umum rahn dikategorikan sebagai akad yang bersifat derma
sebab apa yang diberikan penggadai (rahin) kepada penerima gadai
(murtahin) tidak ditukar dengan sesuatu. Yang diberikan murtahin
kepada rahin adalah utang, bukan penukar atas barang yang
digadaikan. Rahn juga termasuk akad ainiyah yaitu dikatakan
sempurna sesudah menyerahkan benda yang dijadikan akad.3
3. Landasan Rahn
Rahn disyariatkan berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’:
a. Al-Qur’an
Firman Allah dalam QS.al-baqarah ayat 283.
b. Sunnah
Hadits yang bersumber dari Aisyah r.a: “bahwa Rasulullah
saw memebeli makanan dari seorang Yahudi dan beliau
menggadaikan baju besinya kepadanya.
c. Ijma’
Bahwa kaum muslimin bersepakat diperbolehkan rahn
secara syariat ketika berpergian dan ketika di rumah kecuali
mujahid berpendapat bahwa rahn berlaku ketika
berpergian berdasarkan ayat diatas.4
C. Gadai atas Barang yang Berkembang
Barang-barang yang pada umumnya dapat diterima sebagai jaminan kredit
gadai oleh Perum Pegadaian diantaranya :
1. Barang-barang perhiasan (emas, perak, intan, berlian, mutiara, platina,
arloji, dan jam)
3Rachmat Syafe’i, Fiqih Muamalah, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), hlm.160-161
4 Mardani, Fiqih Ekonomi Syariah:Fiqh Muamalah,(Jakarta: Kencana, 2012), cet.1
2. Barang-barang kendaraan (sepeda, sepeda motor, mobil, bajay, bemo,
becak)
3. Barang-barang elektronika (televisi, radio, radio tape, video, computer,
kulkas, tustel, mesin tik)
4. Barang-barang mesin (mesin jahit, mesin kapal motor) dan
5. Barang-barang perkakas rumah tangga (barang tekstil, barang pecah
belah.5
5 Rachmadi Usman, Hukum Jaminan Keperdataan,(Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hal. 270
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa secara etimologi
gadai (rahn) berarti al-tsubut dan al-habs yaitu penetapan dan penahanan,
sedangkan menurut istilah rahn adalah menjadikan harta benda sebagai jaminan
utang agar utang itu dilunasi atau dibayarkan harganya jika tidak dapat
mengembalikannya.
Adapun rukun rahn: shighat, aqid, marhun dan marhun bih. Sedangkan
syarat-syaratnya antara lain: Syarat yang terkait dengan orang berakad adalah
cakap bertindak hukum, Syarat yang terkait dengan shighat, ulama Hanafiyah
berpendapat dalam akad itu ar-rahn tidak boleh dikaitkan oleh syariat tertentu,
Syarat yang terkait dengan utang dan syarat yang terkait dengan barang yang
dijadikan jaminan.
Adapun hukum rahn adalah boleh. Landasan rahn adalah Al-Qur’an,
sunnah, Ijma’
DAFTAR PUSTAKA
Ghazaly, Abdul. Rahman. 2010. Fiqh Muamalah. Jakarta: Kencana.
Mardani. 2012. Fiqih Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah. Jakarta: Kencana.
Suhendi, Hendi. 2010. Fiqh Muamalah. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Bandung: Pustaka Setia.
Syafe’i, Rachman. 2004. Fiqh Muamalah. Bandung: Pustaka Setia.
Usman, Rachmadi. 2008. Hukum Jaminan Keperdataan. Jakarta: Sinar Grafika.
PERTANYAAN
1. RAHARDIANING TIYAS (20211131298)
a. Jelaskan Rukun Rahn
Jawab:
 Aqid
Yaitu yang menggadaikan (rahn) dan yang menerima gadai (murtahin)
 Sighat
Yaitu lafadz ijab daan qabul
 Marhun
Yaitu harta yang dijadikan jaminan
 Marhun bih
Yaitu utang
b. Jika seorang rahin belum bisa mengembalikan hutang kepada murtahin pada
waktu jatuh tempo, apakah si murtahin berhak meminta jaminan si rahin?
Jawab:
Kalau menurut kami si murtahin tidak berhak meminta jaminan kepada si
rahin, karena semuanya itu harus sesuai dengan perjanjian awal. jika di awal
sudah ada perjanjian demikian, maka si murtahin boleh melakukan apa yang
sudah disepakati oleh keduanya. Dan jika di awal belum ada perjanjian maka
si murtahin tidak boleh melakukan hal tersebut.
2. ISMAWATI (2021113217)
a. Apa hukum hewan ternak jika digadaikan itu?
Jawab:
Hukumnya boleh saja, selagi si murtahin bisa merawatnya dengan baik.
b. Apa saja hal-hal yang membatalkan rahn?
Jawab:
Hal-hal yang membatalkan rahn yaitu jika syarat dan rukunnya tidak
terpenuhi.
3. ABDUL GHUFRON (2021113215)
a. Jelaskan apa saja syarat-syarat dari rukun gadai?
Jawab:
4. Syarat-syarat dari rahn yaitu
Jawab:
 Persyaratan Aqid
Kedua orang yang akan akad harus memenuhi criteria al-
ahliyah adalah orang yang telah sah untuk jual beli, yakni berakal
dan mumayyiz, tetapi tidak disyaratkan harus baligh. Dengan
demikian anak kecil yang sudah mumayyiz, dan orang yang bodoh
berdasarkan izin dari walinya dibolehkan melakukan rahn.
Menurut ulama selain hanafiyah, ahliyah dalam rahn seperti
pengertian ahliyah yaitu rahn tidak boleh dilakukan oleh orang
yang mabuk, gila, bodoh, atau anak kecil yang belum baligh.
 Syarat sighat
Menurut ulama hanafiyah berpendapat bahwa sighat dalam
rahn tidak boleh memakai syarat atau dikaitkan dengan sesuatu.
Hal ini karena, sebab rahn jual-beli, jika memakai syarat tertentu,
syarat tersebut batal dan rahn tetap sah.
Sedangkan menurut ulama syafi’i berpendapat bahwa syarat dalam
rahn ada tiga:
1. Syarat shahih, seperti mensyaratkan agar murtahin cepat membayar
sehingga jaminan tidak disita.
2. Mensyaratkan sesuatu yang tidak bermanfaat, seperti mensyaratkan
agar hewan yang dijadikan jaminannyadiberi makanan tertentu,
syarat seperti itu batal, tetapi akadnya sah.
3. Syarat yang merusak akad, seperti mensyaratkan sesuatu yang akan
merugikan murtahin.
 Syarat marhun bih(utang)
1. Berupa utang yang tetap dan dapat dimanfaatkan.
2. Utang haruz lazim pada waktu akad.
3. Utang harus jelas dan diketahui oleh rahin dan murtahin.
 Syarat Marhun
Marhun adalah barang yang dijadikan jaminan oleh rahin. Para
ulama fiqih sepakat mensyaratkan marhun sebagaimana persyaratan
barang dalam jual beli, sehingga barang tersebut dapat dijual untuk
memenuhi hak murtahin.
Ulama hanafiyah mensyaratkan marhun antara lain:
1. Dapat dijual belikan
2. Bermanfaat
3. Jelas
4. Milik rahin
5. Bisa diserahkan
6. Tidak bersatu dengan harta lain
7. Dipegang(dikuasai) oleh rahin
8. Harta yang tetap atau dapat dipindahkan

Gadai

  • 1.
    TRANSAKSI GADAI DANBARANG JAMINAN Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah : Fiqih II Dosen Pengampu : Dr. Makrum Kholil, M.Ag Disusun oleh: 1. Umi fathurrohmah (2021113211) 2. Anik Mufidah ( 2021113212) TARBIYAH PAI A SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI( STAIN ) PEKALONGAN 2014
  • 2.
    BAB I LATAR BELAKANG Dalamrealitas sosial ekonomi masyarakat kerap ditemukan kondisi masyarakat yang memiliki harta dalam bentuk selain uang tunai dan pada saat yang sama, yang bersangkutan mengalami kesulitan likuiditas sehingga membutuhkan dana dalam bentuk tunai. Pilihan transaksi yang sering digunakan oleh masyarakat gadai permintaannya cenderung besar, pegadaian sebagai lembaga yang merespon kebutuhan masyarakat pun akhirnya yang menghadapi masalah ini adalah menggadaikan barang-barang yang berharga. Istilah gadai barang nampaknya sudah sangat akrab di masyarakat kita, terutama kalangan masyarakat yang membutuhkan dana tunai saat kondisi likuiditasnya kurang baik. Karena masyarakat yang membutuhkan dana tunai dengan model dapat eksis dan berkembang pesat. Pegadaian lahir dari interaksi permintaan dan penawaran terhadap dana tunai dalam waktu yang cepat dengan barang berharga sebagai jaminannya. Selama ini, bisnis pegadaian relative tumbuh dan berkembang, baik yang dilaksanakan oleh swasta maupun pemerintah. Tingginya permintaan terhadap praktik gadai, bahkan menyebabkan munculnya pelaku bisnis gadai dalam berbagai skala dengan beragam model dan bentuk transaksi. Tidak jarang karena masyarakat membutuhkan dana tunai dengan cepat, gadai barang menjadi salah satu modus rentenir dalam menjalankan operasinya.
  • 3.
    BAB 11 GADAI DANBARANG JAMINAN A. Gadai dan Berbagai kondisi dalam Gadai Syariah (Rahn) 1. Definisi Gadai (Rahn) Etimologi, gadai (rahn) berarti al-tsubut dan al-habs yaitu penetapan dan penahanan. Adapula yang menjelaskan bahwa rahn adalah terkurung atau terjerat. Menurut istilah syara’, yang dimaksud dengan rahn adalah: a. Rahn adalah akad yang objeknya menahan harga terhadap sesuatu hak yang mungkin diperoleh bayaran dengan sempurna darinya. b. Rahn adalah menjadikan suatu benda berharga dalam pandangan syara’ sebagai jaminan atas utang selama ada dua kemungkinan, untuk mengembalikan uang itu atau mengambil sebagian benda itu. c. Rahn adalah akad perjanjian pinjam meminjam dengan menyerahkan barang sebagai tanggungan utang. d. Rahn adalah menjadikan harta sebagai jaminan utang. e. Rahn adalah menjadikan zat suatu benda sebagai jaminan utang. f. Rahn adalah suatu barang yang dijadikan peneguhan atau penguat kepercayaan dalam utang piutang. g. Rahn adalah menjadikan suatu benda bernialai menurut pandangan syara’ sebagai tanggung utang, dengan adanya benda yang menjadi tanggungan itu seluruh atau sebagian utang dapat diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa rahn adalah menjadikan harta benda sebagai jaminan utang agar utang itu dilunasi atau dibayarkan harganya jika tidak dapat mengembalikannya.1 2. Rukun dan Syarat Gadai (Rahn) Menurut jumhur Ulama rukun ar-rahn itu ada empat yaitu: a. Shighat b. Aqid 1 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta:PT Rajagrafindo Persada,2010),hlm,105-106
  • 4.
    c. Marhun d. Marhunbih Adapun ulama Hanafiyah bersepakat bahwa rukun ar-rahn itu hanya ijab dan kabul. Disamping itu, menurut mereka untuk seempurna dan mengikatnya akad rahn ini, maka diperlukan adanya penguasa barang oleh pemberi utang. Adapun syarat-syarat ar-rahn para ulama fiqh menyusunnya sesuai dengan rukun ar-rahn itu sendiri. Dengan demikian syarat-syarat ar- rahn adalah: a. Syarat yang terkait dengan orang berakad adalah cakap bertindak hukum. b. Syarat yang terkait dengan shighat, ulama Hanafiyah berpendapat dalam akad itu ar-rahn tidak boleh dikaitkan oleh syariat tertentu. c. Syarat yang terkait dengan utang. d. Syarat yang terkait dengan barang yang dijadikan jaminan.2 B. Hukum dalam Akad Rahn 1. Hukum Rahn Para Ulama sepakat bahwa rahn dibolehkan, tetapi tidak diwajibkan sebab gadai hanya jaminan saja jika kedua pihak tidak saling mempercayai. Ulama sepakat bahwa serah terima (qabdh) merupakan syarat utama dalam akad rahn dan akan dikatakan sah jika memenuhi kriteria sebagai berikut. Serah terima dilakukan berdasarkan ijin dari rahin, jika tidak mendapat ijin, maka serah terima tidak dikatakan sah. Ketika serah teima dilakukan, rahin dan murtahin haruslah memiliki ahliyah, 2 Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Kencana, 2010), cet.1
  • 5.
    dalam arti iasudah baligh dan berakal, tidak berupa anak kecil atau sedang gila. 2. Sifat Rahn Secara umum rahn dikategorikan sebagai akad yang bersifat derma sebab apa yang diberikan penggadai (rahin) kepada penerima gadai (murtahin) tidak ditukar dengan sesuatu. Yang diberikan murtahin kepada rahin adalah utang, bukan penukar atas barang yang digadaikan. Rahn juga termasuk akad ainiyah yaitu dikatakan sempurna sesudah menyerahkan benda yang dijadikan akad.3 3. Landasan Rahn Rahn disyariatkan berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’: a. Al-Qur’an Firman Allah dalam QS.al-baqarah ayat 283. b. Sunnah Hadits yang bersumber dari Aisyah r.a: “bahwa Rasulullah saw memebeli makanan dari seorang Yahudi dan beliau menggadaikan baju besinya kepadanya. c. Ijma’ Bahwa kaum muslimin bersepakat diperbolehkan rahn secara syariat ketika berpergian dan ketika di rumah kecuali mujahid berpendapat bahwa rahn berlaku ketika berpergian berdasarkan ayat diatas.4 C. Gadai atas Barang yang Berkembang Barang-barang yang pada umumnya dapat diterima sebagai jaminan kredit gadai oleh Perum Pegadaian diantaranya : 1. Barang-barang perhiasan (emas, perak, intan, berlian, mutiara, platina, arloji, dan jam) 3Rachmat Syafe’i, Fiqih Muamalah, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), hlm.160-161 4 Mardani, Fiqih Ekonomi Syariah:Fiqh Muamalah,(Jakarta: Kencana, 2012), cet.1
  • 6.
    2. Barang-barang kendaraan(sepeda, sepeda motor, mobil, bajay, bemo, becak) 3. Barang-barang elektronika (televisi, radio, radio tape, video, computer, kulkas, tustel, mesin tik) 4. Barang-barang mesin (mesin jahit, mesin kapal motor) dan 5. Barang-barang perkakas rumah tangga (barang tekstil, barang pecah belah.5 5 Rachmadi Usman, Hukum Jaminan Keperdataan,(Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hal. 270
  • 7.
    BAB III PENUTUP A.Kesimpulan Dari pembahasandiatas dapat kita simpulkan bahwa secara etimologi gadai (rahn) berarti al-tsubut dan al-habs yaitu penetapan dan penahanan, sedangkan menurut istilah rahn adalah menjadikan harta benda sebagai jaminan utang agar utang itu dilunasi atau dibayarkan harganya jika tidak dapat mengembalikannya. Adapun rukun rahn: shighat, aqid, marhun dan marhun bih. Sedangkan syarat-syaratnya antara lain: Syarat yang terkait dengan orang berakad adalah cakap bertindak hukum, Syarat yang terkait dengan shighat, ulama Hanafiyah berpendapat dalam akad itu ar-rahn tidak boleh dikaitkan oleh syariat tertentu, Syarat yang terkait dengan utang dan syarat yang terkait dengan barang yang dijadikan jaminan. Adapun hukum rahn adalah boleh. Landasan rahn adalah Al-Qur’an, sunnah, Ijma’
  • 8.
    DAFTAR PUSTAKA Ghazaly, Abdul.Rahman. 2010. Fiqh Muamalah. Jakarta: Kencana. Mardani. 2012. Fiqih Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah. Jakarta: Kencana. Suhendi, Hendi. 2010. Fiqh Muamalah. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Bandung: Pustaka Setia. Syafe’i, Rachman. 2004. Fiqh Muamalah. Bandung: Pustaka Setia. Usman, Rachmadi. 2008. Hukum Jaminan Keperdataan. Jakarta: Sinar Grafika.
  • 9.
    PERTANYAAN 1. RAHARDIANING TIYAS(20211131298) a. Jelaskan Rukun Rahn Jawab:  Aqid Yaitu yang menggadaikan (rahn) dan yang menerima gadai (murtahin)  Sighat Yaitu lafadz ijab daan qabul  Marhun Yaitu harta yang dijadikan jaminan  Marhun bih Yaitu utang b. Jika seorang rahin belum bisa mengembalikan hutang kepada murtahin pada waktu jatuh tempo, apakah si murtahin berhak meminta jaminan si rahin? Jawab: Kalau menurut kami si murtahin tidak berhak meminta jaminan kepada si rahin, karena semuanya itu harus sesuai dengan perjanjian awal. jika di awal sudah ada perjanjian demikian, maka si murtahin boleh melakukan apa yang sudah disepakati oleh keduanya. Dan jika di awal belum ada perjanjian maka si murtahin tidak boleh melakukan hal tersebut. 2. ISMAWATI (2021113217) a. Apa hukum hewan ternak jika digadaikan itu? Jawab: Hukumnya boleh saja, selagi si murtahin bisa merawatnya dengan baik. b. Apa saja hal-hal yang membatalkan rahn? Jawab: Hal-hal yang membatalkan rahn yaitu jika syarat dan rukunnya tidak terpenuhi.
  • 10.
    3. ABDUL GHUFRON(2021113215) a. Jelaskan apa saja syarat-syarat dari rukun gadai? Jawab: 4. Syarat-syarat dari rahn yaitu Jawab:  Persyaratan Aqid Kedua orang yang akan akad harus memenuhi criteria al- ahliyah adalah orang yang telah sah untuk jual beli, yakni berakal dan mumayyiz, tetapi tidak disyaratkan harus baligh. Dengan demikian anak kecil yang sudah mumayyiz, dan orang yang bodoh berdasarkan izin dari walinya dibolehkan melakukan rahn. Menurut ulama selain hanafiyah, ahliyah dalam rahn seperti pengertian ahliyah yaitu rahn tidak boleh dilakukan oleh orang yang mabuk, gila, bodoh, atau anak kecil yang belum baligh.  Syarat sighat Menurut ulama hanafiyah berpendapat bahwa sighat dalam rahn tidak boleh memakai syarat atau dikaitkan dengan sesuatu. Hal ini karena, sebab rahn jual-beli, jika memakai syarat tertentu, syarat tersebut batal dan rahn tetap sah. Sedangkan menurut ulama syafi’i berpendapat bahwa syarat dalam rahn ada tiga: 1. Syarat shahih, seperti mensyaratkan agar murtahin cepat membayar sehingga jaminan tidak disita. 2. Mensyaratkan sesuatu yang tidak bermanfaat, seperti mensyaratkan agar hewan yang dijadikan jaminannyadiberi makanan tertentu, syarat seperti itu batal, tetapi akadnya sah. 3. Syarat yang merusak akad, seperti mensyaratkan sesuatu yang akan merugikan murtahin.  Syarat marhun bih(utang) 1. Berupa utang yang tetap dan dapat dimanfaatkan. 2. Utang haruz lazim pada waktu akad.
  • 11.
    3. Utang harusjelas dan diketahui oleh rahin dan murtahin.  Syarat Marhun Marhun adalah barang yang dijadikan jaminan oleh rahin. Para ulama fiqih sepakat mensyaratkan marhun sebagaimana persyaratan barang dalam jual beli, sehingga barang tersebut dapat dijual untuk memenuhi hak murtahin. Ulama hanafiyah mensyaratkan marhun antara lain: 1. Dapat dijual belikan 2. Bermanfaat 3. Jelas 4. Milik rahin 5. Bisa diserahkan 6. Tidak bersatu dengan harta lain 7. Dipegang(dikuasai) oleh rahin 8. Harta yang tetap atau dapat dipindahkan