BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis
1. Pengertian Kas dan Setara Kas
Setiap perusahaan dalam menjalankan operasi usahanya akan
mengalami arus kas masuk (cash inflows) dan arus keluar (cash outflows).
Apabila arus kas yang masuk lebih besar dari arus kas yang keluar maka hal
ini akan menunjukkan positive cash flows, dan sebaliknya apabila arus kas
masuk lebih sedikit daripada arus kas keluar maka arus kas yang tejadi akan
negative cash flows.
Kas didefinisikan sebagai alat pembayaran yang siap dan bebas
dipergunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan. Kas dan setara
kas menurut PSAK No.2 (IAI:2009 :22) ”Kas terdiri dari saldo kas (cash on
hand) dan rekening giro. Setara kas (cash equivalent) adalah investasi yang
sifatnya sangat liquid, berjangka pendek dan dengan cepat dapat dijadikan
sebagai kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapai risiko perubahan nilai
yang signifikan”.
PSAK No. 2, paragraf 6 menjelaskan setara kas sebagai berikut :
Setara kas dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan
untuk investasi atau tujuan lain. Untuk memenuhi persyaratan setara kas,
investasi harus dapat segera diubah menjadi kas dalam jumlah yang
diketahui tanpa menghadapi resiko perubahan nilai yang signifikan.
Karenanya, suatu investasi baru dapat memenuhi syarat sebagau setara kas
hanya segera akan jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang dari
tanggal perolehannya.
Kas merupakan komponen aktiva (asset) lancar yang paling likuid di
dalam neraca, karena kas sering mengalami mutasi atau perpindahan dan
hampir semua transaksi yang terjadi dalam perusahaan akan mempengaruhi
posisi kas. Dalam Standar Akuntansi Keuangan (IAI) (2009 : 1.7), Aset
lancar dijelaskan bahwa suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika
aset tersebut :
1. Diperkirakan akan direalisasikan atau dimiliki untuk dijual atau
digunakan dalam jangka waktu siklus operasi normal perusahaaan.
2. Dimiliki untuk diperdagangkan atau untuk tujuan jangka pendek
dan diharapkan kan direalisasikan dalam jangka waktu 12 (dua
belas) bulan dari tanggal neraca
3. Berupa kas atau setara kas yang penggunaannya tidak dibatasi
Dari definisi kas dan setara di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Kas dan setara kas bukan hanya yang ada di perusahaan, tetapi juga
saldo rekening giro di bank yang penggunaannya tidak dibatasi dan
surat-surat berharga yang dapat ditarik dengan segera menjadi kas
sehingga risikonya kecil akibat pengaruh terjadinya perubahan nilai
dari perubahan tingkat suku bunga.
2. Umumnya kas dan setara digunakan untuk membiayai kegiatan
umum perusahaan, sehingga kas dan setara kas secara langsung
atau tidak langsung hampir mempengaruhi semua transaksi bisnis
perusahaan.
3. Perkiraan kas dan setara kas di Neraca disajikan pada urutan
pertama golongan aktiva lancar karena merupakan aktiva yang
paling likuid.
Perbedaan utama terhadap pentingnya kas sebagai unsur kunci
dalam posisi likuiditas perusahaan adalah sifat tidak produktifnya, karena
kas adalah ukuran nilai, maka tidak dapat berkembang dan tumbuh jika
tidak dikonversikan ke dalam properti yang lain.
Manajemen kas yang efisien membutuhkan kas yang tersedia untuk
operasional atau dalam investasi jangka pendek dan jangka panjang. Salah
satu tanggung jawab manajer keuangan perusahaan adalah mengatur
sumber-sumber kas untuk memastikan tersedianya kas untuk kebutuhan
jangka pendek juga merencanakan kebutuhan kas jangka panjang untuk
memperlancar kebutuhan dan perkembangan perusahaan melalui ekspansi
dan akuisisi.
2. Pengertian Laporan Keuangan
Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2009:2) pengertian laporan
keuangan adalah : Laporan keuangan merupakan bagian dari proses
pelaporan keuangan yang lengkap, biasanya meliputi neraca, laporan laba
rugi, laporan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam beberapa cara,
laporan arus kas dan laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta
materi penjelasan yang merupakan bagian intergal dari laporan
keuangan,disamping itu juga segmen industri dan geografis serta
pengungkapan perubahan harga.
Menurut Munawir (2002) Laporan Keuangan diartikan sebagai
“Hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk
berkomunikasi antara data keuangan dan aktivitas suatu perusahaan dengan
pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan
tersebut”.
Dari penjelasan diatas dapat dijelaskan bahwa laporan keuangan
merupakan suatu daftar yang digunakan sebagai alat untuk
menginformasikan kondisisi keuangan pada priode tertentu, yang terdiri dari
neraca,laporan laba rugi, laporan ekuitas, laporan perubahan posisi
keuangan serta catatan atas laporan keuangan.
a. Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan menurut APB Statement No.4, sumber :
Harahap (2007:133), adalah :
1. Tujuan Umum Menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha dan
perubahan posisi keuangan secara wajar sesuai prinsip akuntansi
yanng diterima.
2. Tujuan Khusus Memberikan informasi tentang kekayaan, kewajiban,
kekayaan bersih, proyeksi laba, perubahan kekayaan dan kewajiban
serta informasi yang relevan.
Ikatan Akuntan Indonesia (2009) mengemukakan bahwa : Tujuan
laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut
posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam
pengambilan keputusan ekonomi.
b. Pemakai Laporan keuangan
Pemakai laporan keuangan meliputi :
1. Investor Para investor ( dan penasehatnya) berkepentingan terhadap
resiko yang melekat dari hasil pengembangan dari investasi yang
dilakukannya . Investor ini membutuhkan informasi untuk membantu
menentukan apakah harus membeli, menahan atau menjual investasi
tersebut. Selain itu, mereka juga tertarik pada informasi yang
memungkinkan melakukan penilaian terhadap kemampuan
perusahaan dalam membayar dividen.
2. Kreditor (pemberi pinjaman) Para kreditor tertarik dengan informasi
keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah
pinjaman serta bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo.
3. Pemasok dan kreditor usaha lainnya Pemasok dan kreditor lainnya
tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk
memutuskan apakah jumlah yang terutang akan dibayar pada saat
jatuh tempo. Kreditur usaha berkepentingan pada perusahaan dalam
tenggang waktu yang lebih pendek dibanding kreditor.
4. Shareholder’s (para pemegang saham) Para pemegang saham
berkepentingan dengan informasi mengenai kemajuan perusahaan,
pembagian keuntungan yang akan diperoleh, dan penambahan modal
untuk business plan selanjutnya.
5. Pelanggan Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai
kelangsungan hidup perusahaan, terutama jika mereka terlibat dalam
perjanjian jangka panjang dengan atau bergantung pada perusahaan.
6. Pemerintah Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada dibawah
kekuasaannya berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan oleh
karenanya berkepentingan dengan aktivitas perusahaan. Selain itu,
mereka juga membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas
perusahaan, menetapkan pajak dan sebagai dasr untuk menyusun
statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.
7. Karyawan Karyawan dan kelompok-kelompok yang mewakilinya
tertarik pada informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas
perusahaan. Mereka juga tertarik pada informasi yang memungkinkan
mereka melakukan penilaian atas kemampuan perusahaan dalam
memberikan balas jasa, manfaat pensiun dan kesempatan kerja.
8. Masyarakat Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam
berbagai cara, seperti pemberian kontribusi pada prekonomian
nasional, termasuk jumlah orang yang dipekerjakan dan perlindungan
kepada para penanam modal domestik. Laporan keuangan dapat
membantu masyarakat dengan menyediakan informsi kecendrungan
(ternd) dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta
rangkaian aktivitasnya.
c. Komponen-komponen Laporan Keuangan
Laporan keuangan yang lengkap menurut Standar Akuntansi Keuangan
(2009 : 12), meliputi :
1. Neraca
2. Laporan Laba Rugi
3. Laporan perubahan Ekuitas
4. Laporan Arus Kas
Catatan Atas laporan Keuangan Komponen-komponen dari laporan
keuangan dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Neraca
Untuk dapat amenggambarkan posisi keuangan perusahaan pada
saat tertentu, neraca mempunyai tiaga unsur keuangan yaitu aktiva,
kewajiban, dan ekuitas. Masing-masing unsur ini dapat
disubklasifikasikan sebagai berikut:
a) Aktiva, yang merupakan sumber daya yang dikuasai perusahaan
dapat disubklasifikasi lebih jauh menjadi lima subklasifikasi aktiva,
yaitu:
i. Aktiva lancar, yaitu yang manfaat ekonominya diharapkan akan
diperoleh dalam waktu satu tahun kurang (atau siklus operasi
normal), misalnya kas, surat berharga, persediaan, piutang dan
persekot biaya.
ii. Investasi jangka panjang, yaitu penanaman modal yang biasa
dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh penghasilan tetap
atau untuk menguasai perusahaan lain dalam jangka waktunya
lebih dari satu tahun, misalnya investasi saham, investasi
obligasi
iii.Aktiva tetap, yaitu aktiva yang dimiliki subtansi (wujud) fisik,
digunakan dalam organisasi formal perusahaan ( tidak
simaksudkan untuk dijual) dan memberikan manfaat ekonomi
lebih dari satu tahun. Termasuk dalam sub-klasifikasi aktiva ini
antara lain tanah, gedung, kendaraan dan mesin serta peralatan.
iv. Aktiva yang tidak berwujud, yaitu aktiva yang tidak mempuyai
subtansi fisik dan biasanya berupa hak atau hak istimewa yang
memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan untuk jangka
waktu lebih dari satu tahun. Termasuk dalam sub-klasifikasi
aktiva ini misalnya patent, goodwill, royalty, copyright (hak
cipta), trade name/trade mark (merek/nama dagang), frenchise
dan license (lisensi).
v. Aktiva lain-lain, yaitu aktiva yang tidak dapat dimasukkan ke
dalam salah satu dari empat sub-klasifikasi tersebut, misalnya
beban ditangguhkan, piutang kepada direksi, deposito pinjaman
karyawan.
b) Kewajiban, yang merupakan utang perusahaan masa kini dapat
disub-klasifikasi lebih jauh menjadi tiga sub-klaasifikasi, yaitu :
i. Kewajiban lancar yaitu kewajiban yang penyelesaiannya
diharapkan akan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya
perusahaan ( yang memiliki manfaat ekonomi) dalam jangka
waktu satu tahun atau kurang (atau siklus operasi normal).
Termasuk dalam katagori kewajiban ini misalnya utang dagang,
utang wesel, utang gaji dan upah, utang pajak, dan utang biaya
atau beban lainnya yang belum dibayar.
ii. Kewajiban jangka panjang yaitu kewajiban yang
penyelesaiannya diharapkan akan mengakibatkan arus keluar
dari sumber daya perusahaan ( yang memiliki manfaat ekonomi)
dalam jangka waktu lebih dari satu tahun. Termasuk dalam
katgori kewajiban ini misalnya utang obligasi, utang hipotik,
dan utang bank atau kredit investasi.
iii.Kewajiban lain-lain, yaitu kewajiban yang tidak dapat
dikatagorikan kedalam salah satu sub-klasifikasi kewajiban
tersebut, misalnya utang pada salah satu sub-klasifikasi
kewajiban tersebut, misalnya utang pada direksi, utang pada
pemegang saham.
c) Ekuitas, yaitu merupakan bagian hak pemilik dalam perusahaan
yang merupakan selisih antara aktiva dan kewajiban yang ada,
Unsur ekuitas ini dapat disub-klasifikasi lebih jauh menjadi dua
sub-klasifikasi, yaitu :
i. Ekuitas yang berasal dari setoran para pemilik, misalnya modal
saham (termasuk agio saham bila ada), dan
ii. Ekuitas yang berasal dari hasil operasi, yaitu laba yang tidak
dibagikan kepada para pemilik, misalnya dalam bentuk deviden,
(ditahan).
2. Laporan Laba-Rugi
Untuk dapat menggambarkan mengenai potensi (kemampuan)
perusahaan dalam menghasilkan laba selama priode tertentu (kinerja),
laporan laba rugi mempunyai dua unsur, yaitu penghasilan dan beban,
yang dijelaskan sebagai berikut :
a) Penghasilan (income) yang diartikan sebagai kenaikan manfaat
ekonomi dalam bentuk pemasukan atau peningkatan aktiva atau
penurunan kewajiban (yang menyebabkan kenaikan ekuitas selain
yang bersal dari kontribusi pemilik) perusahaan selama priode
tertentu dapat dapat disub-klasifikasikan meliputi :
i. Pendapatan (revenues), yaitu penghasilan yang timbul dalam
pelaksanaan aktivitas yang bisa yang dikenal dengan sebutan
yang berbeda, seperti misalnya penjualan barang dagang,
penghasilan jasa (fees), pendapatan bunga, pendapatan dividen,
royalties dan sewa.
ii. Keuntungan (gains), yaitu pos lain yang memenuhi definisi
penghasilan dan mungkin timbul atau tidak timbul dalam
pelaksanaan aktivitas perusahaan yang rutin misalnya pos yang
timbul dalam pengalihan aktiva lancar, revaluasi sekuritas,
kenaikan jumlah aktiva jangka panjang.
b) Beban (expense) yang diartikan sebagai penurunan manfaat
ekonomi dalam bentuk arus keluar, penurunan aktiva, atau
kewajiban (yang menyebabkan penurunan ekuitas yang tidak
menyangkut pembagian kepada pemilik) perusahaan selama priode
tertentu dapat disub-klasifikasikan menjadi :
i. Beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan
yang biasa ( yang biasa arus keluar atau berkurangnya aktiva
seperti kas, persediaan, aktiva tetap), yang meliputi misalnya
harga pokok penjualan, gaji upah, penyusutan.
ii. Kerugian, yang mencerminkan pos lain yang memenuhi definisi
beban yang timbul atau tidak timbul dari aktivitas perusahaan
yang jarang terjadi, seperti misalnya rugi karena bencana alam,
kebakaran, banjir atau pelepasan aktiva tidak lancar.
3. Laporan Perubahan Ekuitas
Perusahaan harus menyajikan laporan perubahan ekuitas sebagai
komponen laporan keuangan yang menunjukkan :
i. Rugi atau laba bersih periode yang bersangkutan
ii. Setiap pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian beserta
jumlahnya yang berdasrkan SAK terkait diakui secara langnsung
dalam ekuitas
iii.Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan
perbaikan terhadap kesalahan mendasar sebagaimana diatur
dalam SAK terkait.
iv. Transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada pemilik.
v. Saldo akumulasi rugi dan laba pada awal dan akhir periode
serata perubahannya.
vi. Rekonsiliasi antara nilai tercatat dari masing-masing jenis modal
saham, agio, dan cadangan pada awal dan akhir periode yang
mengungkapkan secara terpisah setiap perubahannya.
4. Laporan Arus Kas Perusahaan harus menyajikan laporan arus kas
sebagai bagian yang tidak terpisah (intergal) dari laporan keuangan
untuk setiap periode penyajian laporan keuangan.
5. Catatan Atas Laporan Keuangan Catatan atas laporan keuangan harus
disajikan secara sistematis, Setiap pos dalam neraca, laporan laba-rugi
dan laporan arus kas, harus berkaitan dengan informasi yang terdapat
catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan
mengungkapkan :
i. Informasi tentang penyusunan laporan keuangan dan kebijakan
akuntansi
ii. Informasi yang diwajibkan dalam SAK tetap disajikan di neraca,
laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan
ekuitas
iii.Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan
keyuangan tetap diperlukan dalam rangka penyajian secara
wajar.
3. Manfaat dan Tujuan Laporan Arus Kas
Manajer perusahaan biasanya menggunakan informasi laporan
keuangan di samping informasi lainnya sebagai tolok ukur dalam
pengambilan keputusannya untuk mencapai tujuan perusahaan. Informasi
keuangan yang disajikan juga dapat membantu manajemen perusahaan
untuk memberikan pertanggungjawaban kepada pihak-pihak yang
berkepentingan pada perusahaan (stakeholders). Informasi keuangan
menurut standar akuntansi keuangan terdiri dari Neraca, Laporan Laba
Rugi, Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan Ekuitas dan Catatan Atas
Laporan Keuangan merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Informasi laporan keuangan sangat penting untuk mengetahui
sampai sejauh mana realisasi dari perencanaan dan kebijakan-kebijakan apa
yang harus disesuaikan dimasa mendatang sesuai dengan kemampuan
keuangan perusahaan. Menurut pendapat Harahap (2006) mengemukakan
bahwa “Laporan arus kas adalah suatu laporan yang bertujuan untuk
memberikan informasi yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran
kas atau setara kas dari suatu perusahaan pada suatu periode tertentu”.
Kiesso, et all (2002) mengemukakan bahwa : Laporan arus kas
melaporkan penerimaan kas, pembayaran kas dan perubahan bersih pada kas
yang berasal dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan dari suatu
perusahaan selama suatu periode dalam suatu format merekomendasikan
saldo kas awal dan akhir. Sedangkan arus kas menurut Ikatan Akuntan
Indonesia (2004: 2.2) ”arus kas adalah arus masuk dan arus keluar kas atau
setara kas”. Dari keterangan di atas dapat dilihat bahwa laporan arus kas
dapat membantu menunjukkan bagaimana perubahan kas yang terjadi dalam
sebuah perusahaan dilaporkan dengan relevan selama periode tertentu.
a. Manfaat Laporan Arus Kas
Penyusunan laporan arus kas sangat bermanfaat bagi pihak intern
maupun pihak ekstern sebagaimana dikemukakan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia (2004: 2.1) berikut ini:
Informasi tentang arus kas suatu perusahaan berguna bagi para
pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan
perusahaan untuk menggunakan arus kas tersebut. Dalam proses
pengambilan keputusan ekonomi, para pemakai perlu melakukan evaluasi
terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas
serta kepastian perolehannya. Jika digunakan dalam kaitannya dengan
laporan keuangan yang lain, laporan arus kas dapat memberikan informasi
yang memungkinkan para pemakai untuk mengevaluasi perubahan dalam
aktiva bersih perusahaan, struktur keuangan (termasuk likuiditas dan
solvabilitas) dan kemampuan untuk mempengaruhi jumlah serta waktu arus
kas dalam rangka adaptasi dengan perubahan keadaan dan peluang.
Informasi arus kas berguna untuk menilai kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan kas dan setara kas dan memungkinkan para pemakai
mengembangkan model untuk menilai dan membandingkan nilai sekarang
dari arus kas masa depan (future cash flows) dari berbagai perusahaan.
Informasi tersebut juga meningkatkan daya banding pelaporan kinerja
operasi berbagai perusahaan karena dapat meniadakan pengaruh
penggunaan perlakuan akuntansi yang berbeda terhadap transaksi dan
peristiwa yang sama. Informasi arus kas historis sering digunakan sebagai
indikator dari jumlah, waktu, dan kepastian arus kas masa depan. Disamping
itu, informasi arus kas juga berguna untuk meneliti kecermatan dari taksiran
arus kas masa depan yang telah dibuat sebelumnya dan dalam menentukan
hubungan antara profitabilitas dan arus kas bersih serta dampak perubahan
harga.
Menurut Kiesso et all ( 2002) laporan arus kas bermanfaat untuk:
a. Kemampuan entitas untuk menghasilkan arus kas dimasa depan
b. Kemampuan entitas untuk membayar dividen danmemenuhi
kewajibannya
c. Penyebab perbedaan antara laba bersih dan arus kas bersih dari
kegiatan operasi
d. Transaksi dan pembiayaan yang melibatkan kas dan nonkas selama
satu periode
Dengan adanya informasi yang diperoleh dari laporan arus kas, maka
manajer perusahaan dapat mengetahui sampai sejauh mana kemampuan
perusahaan menghasilkan kas. Penganalisaan juga dapat dilakukan oleh
pimpinan perusahaan dengan membandingkan perubahan kas pada laporan
keuangan dalam dua periode atau lebih.
Laporan arus kas (cash flow) sering disebut dengan laporan sumber
dan penggunaan kas atau laporan perubahan kas dalam suatu peiode
akuntansi, dimana dengan adanya laporan arus kas perusahaan dapat
melakukan penganalisaan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.
Laporan sumber dan penggunaan kas digunakan sebagai dasar dalam
menaksir kebutuhan kas dimasa mendatang dan kemungkinan sumber-
sumber yang ada, atau dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dengan
peramalan kebutuhan kas dimasa yang akan datang.
Laporan arus kas perusahaan dapat berguna bagi para pemakai
laporan keuangan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan kas dan menilai kebutuhan perusahaan dalam menghasilkan
kas tersebut. Dalam proses pengambilan keputusan para pemakai laporan
arus kas perlu melakukan evaluasi terhadap apa saja yang menjadi sumber-
sumber dari penerimaan kas, apa saja yang merupakan pengeluaran kegiatan
operasi, investasi dan pendanaan untuk setiap periode. Laporan sumber-
sumber dan penggunaan kas merupakan cara untuk mengetahui perubahan
netto dari aliran dana kas antara dua titik waktu. Dua titik waktu tersebut
berupa tanggal penyusunan laporan keuangan pada awal dan akhir periode
yang akan dianalisa.
b. Tujuan Laporan Arus Kas
Menurut Hendriksen (1999) tujuan dari laporan arus kas sebagai
berikut: Tujuan utama penyajian data mengenai arus kas ialah menyediakan
informasi yang diasumsikan akan (1) membantu para investor atau kreditur
meramalkan jumlah kas yang mungkin didistribusikan pada waktu yang
akan datang dalam bentuk bunga dan dalam bentuk distribusi likuidasi atau
pembayaran kembali pokok dan (2) membantu dalam mengevaluasikan
risiko.
Tujuan laporan arus menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2004: 2.1)
adalah ”Memberi informasi historis mengenai perubahan kas dan setara kas
dari suatu perusahaan melalui laporan arus kas yang mengklasifikasikan
arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi maupun pendanaan
(financing) selama suatu periode akuntansi”.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa tujuan utama dari laporan
arus kas adalah memberikan informasi mengenai penerimaan dan
pembayaran kas suatu kesatuan selama satu periode. Tujuan keduanya
adalah memberikan informasi atas dasar kas mengenai aktivitas operasi,
investasi dan pendanaannya.
4. Penyusunan Laporan Arus Kas
Penyusunan laporan arus kas menurut Ikatan Akuntan Indonesia
(2004:2.3) ”Laporan arus kas harus melaporkan arus kas selama periode
tertentu dan diklasifikasi menurut aktivitas operasi, investasi, dan
pendanaan”.
1. Arus Kas Dari Aktivitas Operasi
Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan
perusahaan (principal revenue-producing activities) dan aktivitas lain
yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan.
Kas dan setara kas dari aktivitas operasi merupakan indikator untuk
menentukan apakah perusahaan dapat menghasilkan kas yang cukup
untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan,
membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan
sumber pendanaan luar.
Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh diperoleh dari
aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan. Oleh karena itu, arus
kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang
memengaruhi penetapan laba atau rugi bersih. Beberapa contoh arus kas
dari aktivitas operasi menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2004: 2.4)
adalah:
a. Penerimaan kas dari penjualan barang dan jasa;
b. Penerimaan kas dari royalti, fees, komisi dan pendapatan lain;
c. Pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa;
d. Pembayaran kas kepada karyawan;
e. Penerimaan dan pembayaran kas oleh perusahaan asuransi
sehubungan dengan premi, klaim, anitas, dan manfaat asurans lainnya;
f. Pembayaran kas atau penerimaan kembali (restitusi) pajak
penghasilan kecuali jika dapat diidentifikasikan secara khusus sebagai
bagian dari aktivitas pendanaan dan investasi; g. Penerimaan dan
pembayaran kas dari kontrak yang diadakan untuk tujuan transaksi
usaha dan perdagangan.
2. Arus Kas Dari Aktivitas Investasi
Yang dimaksud dengan aktivitas investasi adalah perolehan dan
pelepasan aktiva jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk
setara kas (cash equivalent). Pengungkapan arus kas yang berasal
aktivitas investasi perlu dilakukan sebab arus kas tersebut mencerminkan
penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber daya yang
bertujuan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan.
Beberapa contoh arus kas dari aktivitas investasi menurut Ikatan Akuntan
Indonesia (2004: 2.5) adalah:
a. Pembayaran kas untuk membeli aktiva tetap, aktiva tak berwujud, dan
aktiva jangka panjang lain, termasuk biaya pengembangan yang
dikapitalisasi dan aktiva tetap yang dibangun sendiri.
b. Penerimaan kas dari penjualan tanah, bangunan dan peralatan, aktiva
tak berwujud, dan aktiva jangka panjang lain;
c. Perolehan saham atau instrumen keuangan perusahaan lain;
d. Uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain serta
pelunasannya (kecuali yang dilakukan oleh lembaga keuangan);
e. Pembayaran kas sehubungan dengan futures contracts, forward
contracts, option contracts, dan swap contracts kecuali apabila
kontrak tersebut dilakukan untuk tujuan perdagangan (dealing or
trading), atau apabila pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai
aktivitas pendanaan.
3. Arus Kas Dari Aktivitas Pendanaan
Arus kas dari aktivitas pendanaan adalah aktivitas yang
mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal dan
pinjaman perusahaan. Aktivitas ini perlu diungkapkan secara terpisah
untuk memprediksi klaim terhadap arus kas masa depan oleh para
pemasok modal perusahaan.
Beberapa contoh arus kas dari aktivitas pendanaan menurut
Ikatan Akuntansi Indonesia (2004: 2.5) adalah:
a. Penerimaan kas dari emisi saham atau instrumen modal lainnya;
b. Pembayaran kas kepada para pemegang saham untuk menarik atau
menebus saham perusahaan;
c. Penerimaan kas dari emisi obligasi, pinjaman, wesel, hipotik, dan
pinjaman lainnya;
d. Pelunasan pinjaman;
e. Pembayaran kas oleh penyewa guna usaha (lessee) untuk mengurangi
saldo kewajiban yang berkaitan dengan sewa guna usaha pembiayaan
(finance lease).
Perusahaan menyajikan laporan arus kas dari aktivitas operasi,
investasi, dan pendanaan dengan cara yang paling sesuai dengan bisnis
perusahaan tersebut. Klasifikasi menurut aktivitas memberikan informasi
yang memungkinkan para pengguna laporan keuangan untuk menilai
pengaruh dari aktivitas tersebut terhadap posisi perusahaan serta terhadap
jumlah kas dan setara kas. Informasi tersebut dapat juga digunakan untuk
mengevaluasi hubungan antara ketiga aktivitas tersebut.
5. Analisis Laporan Arus Kas Dalam Menilai Kinerja Perusahaan
Analisis Laporan arus kas merupakan analisis finansial yang sangat
penting bagi seorang manajer keuangan suatu perusahaan disamping alat-
alat finansial lainnya. Dengan melakukan analisis laporan arus kas, manajer
keuangan dapat melaksanakan salah satu fungsinya yaitu fungsi
perencanaan. Laporan arus kas disusun berdasarkan ketentuan yang telah
ditetapkan dalam pernyataan Standar Akuntansi Keuangan terkait.
Menurut Kamus Akuntansi (Ardiyos, 2000) menyatakan bahwa :
Analisis arus kas adalah suatu metode analisa ekonomi yang memasukan
pergerakan kas yang positif (aliran kas masuk) dan pergerakan kas yang
negatif (aliran kas keluar) yang disebabkan oleh aktivitas untuk menentukan
kebutuhan relatif dari aktivitas tersebut. termasuk didalamnya metode aliran
kas yang dikontrol.
Laporan arus kas dapat membantu para pemakainya untuk melihat
bagaimana saldo kas dan setara kas dalam neraca perusahaan berubah dari
awal hingga akhir periode akuntansi dan apa artinya perubahan tersebut bagi
perusahaan, apakah menunjukkan prestasi positif atau negatif. Karena
laporan laba rugi perusahaan menggunakan dasar akrual yang
memungkinkan pelaporan pendapatan dan beban sebelum ada arus kas
masuk atau keluar, maka laporan arus kas dalam hal ini dapat digunakan
sebagai laporan pengimbang laporan laba rugi. Seperti yang dijelaskan oleh
Kieso et all (2002) bahwa :
Akuntansi akrual terlalu jauh menyimpang dari arus kas yang
mendasari perusahaan bersangkutan, sehingga dengan demikian menghitung
laba bersih tidak lagi memberikan indikator yang diterima mengenai daya
menghasilkan laba perusahaan. Demikian pula, karena laporan keuangan
tidak mengakui inflasi, banyak yang mencari standar yang lebih konkrit
untuk mengevaluasi keberhasilan atau kegagalan suatu perusahaan.
Fungsi dari laporan laba rugi adalah untuk mengukur profitabilitas
dari perusahaan pada suatu periode tertentu dengan cara menghubungkan
seluruh biaya dan pendapatan yang terkait. Oleh karena itu, penilaian yang
tepat atas prestasi suatu perusahaan tidak hanya memperhatikan kemampuan
perusahaan dalam memperhatikan dalam menghasilkan laba tetapi juga
memperhatikan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas
positif dari kegiatan operasinya. Karena jika perusahaan profitabel namun
mengalami defisit arus kas dapat merupakan indikasi bahwa perusahaan
mengalami masalah keuangan dan dikhawatirkan tidak mampu
mengembalikan pinjaman kepada kreditor maupun membayar dividen
kepada investor.
Untuk alasan ini, para analisis laporan keuangan memilih untuk
menghubungkan arus kas operasi dengan laba bersih yang dilaporkan pada
periode yan bersangkutan sebagai pengecekan atas kualitas bersih yang
dilaporkan tersebut.
Dengan demikian, laporan arus kas digunakan untuk mengecek dan
melengkapi laporan laba rugi tapi bukan sebagai pengganti laporan laba
rugi. Laporan arus kas berfokus pada pengukuran keuangan daripada ukuran
profit dan biasanya lebih cocok digunakan untuk mengevaluasi dan
memproyeksikan likuiditas dan fleksibilitas perusahaan. Dalam hal ini tidak
mengidentifikasikan laporan mana yang lebih unggul, tapi penggunaannya
tergantung pada apa yang hendak diukur.
Karena laporan arus kas merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dengan laporan keuangan lainnya, maka penggunaannya secara bersama-
sama akan memberikan hasil yang lebih tepat untuk mengevaluasi sumber
dan penggunaaan kas perusahaan dalam seluruh kegiatan perusahaan.
Dengan demikian dapat membantu para pemakai laporan keuangan untuk
mengevaluasi struktur dan kinerja keuangan suatu perusahaan.
Salah satu analisis kinerja keuangan dengan menggunakan informasi
laporan arus kas adalah analisis rasio laporan arus kas. Analisis laporan arus
kas ini menggunakan komponen dalam laporan arus kas dan komponen
neraca dan laporan laba rugi sebagai informasi dalam analisis rasio.
Menurut Darsono dan Ashari (2005), alat analisis rasio laporan arus kas
yang diperlukan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan antara lain :
1. Rasio Arus Kas Operasi (AKO)
Rasio arus kas operasi menghitung kemampuan arus kas oparasi
dalam membayar kewajiban lancar. Rasio ini diperoleh dengan membagi
arus kas operasi dengan kewajiban lancar. Semakin besar rasio ini, maka
perusahaan dikatakan semakin baik. 100% adalah ukuran memadai untuk
rasio ini.
2. Rasio Cakupan kas Terhadap Bunga (CKB).
Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan
dalam membayar bunga atas hutang yang telah ada. Rasio ini diperoleh
dengan arus kas dari operasi tambah pembayaran bunga, dan pembayaran
pajak dibagi pembayaran bunga. Semakin besar rasio ini, maka
perusahaan dikatakan semakin baik.
3. Rasio Cakupan Kas Terhadap Hutang Lancar (CKHL)
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar
hutang lancar berdasarkan arus kas opersi bersih. Rasio ini diperoleh
dengan arus kas operasi ditambah deviden kas dibagi dengan hutang
lancar. Semakin besar rasio ini, maka perusahaan dikatakan semakin
baik.
4. Rasio Pengeluaran Modal (PM)
Rasio ini digunakan untuk mengukur modal tersedia untuk
investasi dan pembayaran hutang yang ada. Rasio ini diperoleh dengan
arus kas dari operasi dibagi dengan pengeluaran modal. Semakin besar
rasio ini, maka perusahaan dikatakan semakin baik.
5. Rasio Total Hutang (TH)
Rasio ini menunjukan jangka waktu pembayaran hutang oleh
perusahaan dengan asumsi semua arus kas operasi digunakan untuk
membayar hutang. Dengan mengetahui rasio ini, kita bisa menganalisis
dalam jangka waktu beberapa lama perusahaan akan mampu membayar
hutang dengan menggunakan arus kas yang dihasilkan dari aktivitas
operasional perusahaan. Semakin besar rasio ini, maka perusahaan
dikatakan semakin baik.
6. Rasio Cakupan Arus Dana (CAD)
Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan kas guna membayar komitmen-komitmen (bunga,
pajak, dan deviden preferen). Rasio ini diperoleh dengan laba sebelum
pajak dan bunga (EBIT) dibagi bunga, Penyesuaian pajak, dan deviden
preferen. Semakin tinggi rasio ini,menunjukkan Universitas Sumatera
Utara semakin likuid suatu perusahaan, akibatnya akan menarik investor
untuk menanamkan modalnya pada perusahaan.
7. Rasio Arus Kas Bersih Bebas (AKBB)
Rasio ini berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban kas dimasa mendatang. Semakin besar rasio ini,
maka perusahaan dikatakan semakin baik.
8. Rasio Kecukupan Arus Kas (KAK)
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menyediakan
kas untuk memenuhi kewajiban dalam jangka 5 tahun mendatang.
Semakin tinggi rasio ini, menunjukkan semakin solvent suatu
perusahaan. Dari kebanyakan literatur yang ada menyarankan bahwa
20% adalah ukuran yang memadai untuk rasio ini.
B. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Berikut beberapa peneliti terdahulu yang meneliti tentang laporan arus kas:
Tabel 2.1
Tinjauan penelitian terdahulu
No Nama
peneliti
Judul
penelitian
variabel Hasil
penelitian
Periode
sampel
1 Fahrita
(2004)
Analisa
laporan arus
kas sebagai
dasar dalam
pengambila
n keputusan
PT Lariza
Penyusutan
aktiva tetap,
Penjualan
aktiva tetap,
Pelepasan
saham,
penyusutan
aktiva tetap,
laba bersih
Penyajian
Laporan arus
kas PT Lariza
telah sesuai
dengan PSAK
No.2 dengan
metode yang
digunakan
yaitu metode
tidak langsung
yakni metode
yang disusun
dengan
transaksi non
kas untuk
mendapatkan
arus kas bersih
dari aktivitas
operasi
sehingga
perbedaan
antara laba
bersih dengan
kas yang
berasal dari
aktivitas
operasi terlihat
jelas
2000-
2001
2 Chadijah
(2009)
Analisis
Laporan
Keuangan
dalam
Menilai
Kinerja
Perusahaan
pada
Kelompok
Industri
Alas Kaki
yang
Rasio
Likuiditas,
Rasio
Solvabilitas,
Rasio
Aktivitas,
Rasio
Profitabilitas
Dari ketiga
perusaahan
yang dianalisis
dengan
menggunakan
sepuluh rasio
keuangan
sebagai alat
ukurnya yang
terdiri dari
Current Ratio,
Quick Ratio,
Debt to
2006-
2008

Bab ii

  • 1.
    BAB II KAJIAN PUSTAKA A.Tinjauan Teoritis 1. Pengertian Kas dan Setara Kas Setiap perusahaan dalam menjalankan operasi usahanya akan mengalami arus kas masuk (cash inflows) dan arus keluar (cash outflows). Apabila arus kas yang masuk lebih besar dari arus kas yang keluar maka hal ini akan menunjukkan positive cash flows, dan sebaliknya apabila arus kas masuk lebih sedikit daripada arus kas keluar maka arus kas yang tejadi akan negative cash flows. Kas didefinisikan sebagai alat pembayaran yang siap dan bebas dipergunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan. Kas dan setara kas menurut PSAK No.2 (IAI:2009 :22) ”Kas terdiri dari saldo kas (cash on hand) dan rekening giro. Setara kas (cash equivalent) adalah investasi yang sifatnya sangat liquid, berjangka pendek dan dengan cepat dapat dijadikan sebagai kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapai risiko perubahan nilai yang signifikan”. PSAK No. 2, paragraf 6 menjelaskan setara kas sebagai berikut : Setara kas dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan untuk investasi atau tujuan lain. Untuk memenuhi persyaratan setara kas, investasi harus dapat segera diubah menjadi kas dalam jumlah yang diketahui tanpa menghadapi resiko perubahan nilai yang signifikan.
  • 2.
    Karenanya, suatu investasibaru dapat memenuhi syarat sebagau setara kas hanya segera akan jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang dari tanggal perolehannya. Kas merupakan komponen aktiva (asset) lancar yang paling likuid di dalam neraca, karena kas sering mengalami mutasi atau perpindahan dan hampir semua transaksi yang terjadi dalam perusahaan akan mempengaruhi posisi kas. Dalam Standar Akuntansi Keuangan (IAI) (2009 : 1.7), Aset lancar dijelaskan bahwa suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika aset tersebut : 1. Diperkirakan akan direalisasikan atau dimiliki untuk dijual atau digunakan dalam jangka waktu siklus operasi normal perusahaaan. 2. Dimiliki untuk diperdagangkan atau untuk tujuan jangka pendek dan diharapkan kan direalisasikan dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan dari tanggal neraca 3. Berupa kas atau setara kas yang penggunaannya tidak dibatasi Dari definisi kas dan setara di atas dapat disimpulkan bahwa: 1. Kas dan setara kas bukan hanya yang ada di perusahaan, tetapi juga saldo rekening giro di bank yang penggunaannya tidak dibatasi dan surat-surat berharga yang dapat ditarik dengan segera menjadi kas sehingga risikonya kecil akibat pengaruh terjadinya perubahan nilai dari perubahan tingkat suku bunga. 2. Umumnya kas dan setara digunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan, sehingga kas dan setara kas secara langsung
  • 3.
    atau tidak langsunghampir mempengaruhi semua transaksi bisnis perusahaan. 3. Perkiraan kas dan setara kas di Neraca disajikan pada urutan pertama golongan aktiva lancar karena merupakan aktiva yang paling likuid. Perbedaan utama terhadap pentingnya kas sebagai unsur kunci dalam posisi likuiditas perusahaan adalah sifat tidak produktifnya, karena kas adalah ukuran nilai, maka tidak dapat berkembang dan tumbuh jika tidak dikonversikan ke dalam properti yang lain. Manajemen kas yang efisien membutuhkan kas yang tersedia untuk operasional atau dalam investasi jangka pendek dan jangka panjang. Salah satu tanggung jawab manajer keuangan perusahaan adalah mengatur sumber-sumber kas untuk memastikan tersedianya kas untuk kebutuhan jangka pendek juga merencanakan kebutuhan kas jangka panjang untuk memperlancar kebutuhan dan perkembangan perusahaan melalui ekspansi dan akuisisi. 2. Pengertian Laporan Keuangan Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2009:2) pengertian laporan keuangan adalah : Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan yang lengkap, biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam beberapa cara, laporan arus kas dan laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta
  • 4.
    materi penjelasan yangmerupakan bagian intergal dari laporan keuangan,disamping itu juga segmen industri dan geografis serta pengungkapan perubahan harga. Menurut Munawir (2002) Laporan Keuangan diartikan sebagai “Hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan dan aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut”. Dari penjelasan diatas dapat dijelaskan bahwa laporan keuangan merupakan suatu daftar yang digunakan sebagai alat untuk menginformasikan kondisisi keuangan pada priode tertentu, yang terdiri dari neraca,laporan laba rugi, laporan ekuitas, laporan perubahan posisi keuangan serta catatan atas laporan keuangan. a. Tujuan Laporan Keuangan Tujuan laporan keuangan menurut APB Statement No.4, sumber : Harahap (2007:133), adalah : 1. Tujuan Umum Menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha dan perubahan posisi keuangan secara wajar sesuai prinsip akuntansi yanng diterima. 2. Tujuan Khusus Memberikan informasi tentang kekayaan, kewajiban, kekayaan bersih, proyeksi laba, perubahan kekayaan dan kewajiban serta informasi yang relevan. Ikatan Akuntan Indonesia (2009) mengemukakan bahwa : Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut
  • 5.
    posisi keuangan, kinerjaserta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi. b. Pemakai Laporan keuangan Pemakai laporan keuangan meliputi : 1. Investor Para investor ( dan penasehatnya) berkepentingan terhadap resiko yang melekat dari hasil pengembangan dari investasi yang dilakukannya . Investor ini membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan atau menjual investasi tersebut. Selain itu, mereka juga tertarik pada informasi yang memungkinkan melakukan penilaian terhadap kemampuan perusahaan dalam membayar dividen. 2. Kreditor (pemberi pinjaman) Para kreditor tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo. 3. Pemasok dan kreditor usaha lainnya Pemasok dan kreditor lainnya tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terutang akan dibayar pada saat jatuh tempo. Kreditur usaha berkepentingan pada perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek dibanding kreditor. 4. Shareholder’s (para pemegang saham) Para pemegang saham berkepentingan dengan informasi mengenai kemajuan perusahaan, pembagian keuntungan yang akan diperoleh, dan penambahan modal untuk business plan selanjutnya.
  • 6.
    5. Pelanggan Parapelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan, terutama jika mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan atau bergantung pada perusahaan. 6. Pemerintah Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada dibawah kekuasaannya berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan oleh karenanya berkepentingan dengan aktivitas perusahaan. Selain itu, mereka juga membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan pajak dan sebagai dasr untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya. 7. Karyawan Karyawan dan kelompok-kelompok yang mewakilinya tertarik pada informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Mereka juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka melakukan penilaian atas kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun dan kesempatan kerja. 8. Masyarakat Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara, seperti pemberian kontribusi pada prekonomian nasional, termasuk jumlah orang yang dipekerjakan dan perlindungan kepada para penanam modal domestik. Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informsi kecendrungan (ternd) dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta rangkaian aktivitasnya. c. Komponen-komponen Laporan Keuangan Laporan keuangan yang lengkap menurut Standar Akuntansi Keuangan (2009 : 12), meliputi :
  • 7.
    1. Neraca 2. LaporanLaba Rugi 3. Laporan perubahan Ekuitas 4. Laporan Arus Kas Catatan Atas laporan Keuangan Komponen-komponen dari laporan keuangan dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Neraca Untuk dapat amenggambarkan posisi keuangan perusahaan pada saat tertentu, neraca mempunyai tiaga unsur keuangan yaitu aktiva, kewajiban, dan ekuitas. Masing-masing unsur ini dapat disubklasifikasikan sebagai berikut: a) Aktiva, yang merupakan sumber daya yang dikuasai perusahaan dapat disubklasifikasi lebih jauh menjadi lima subklasifikasi aktiva, yaitu: i. Aktiva lancar, yaitu yang manfaat ekonominya diharapkan akan diperoleh dalam waktu satu tahun kurang (atau siklus operasi normal), misalnya kas, surat berharga, persediaan, piutang dan persekot biaya. ii. Investasi jangka panjang, yaitu penanaman modal yang biasa dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh penghasilan tetap atau untuk menguasai perusahaan lain dalam jangka waktunya lebih dari satu tahun, misalnya investasi saham, investasi obligasi
  • 8.
    iii.Aktiva tetap, yaituaktiva yang dimiliki subtansi (wujud) fisik, digunakan dalam organisasi formal perusahaan ( tidak simaksudkan untuk dijual) dan memberikan manfaat ekonomi lebih dari satu tahun. Termasuk dalam sub-klasifikasi aktiva ini antara lain tanah, gedung, kendaraan dan mesin serta peralatan. iv. Aktiva yang tidak berwujud, yaitu aktiva yang tidak mempuyai subtansi fisik dan biasanya berupa hak atau hak istimewa yang memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan untuk jangka waktu lebih dari satu tahun. Termasuk dalam sub-klasifikasi aktiva ini misalnya patent, goodwill, royalty, copyright (hak cipta), trade name/trade mark (merek/nama dagang), frenchise dan license (lisensi). v. Aktiva lain-lain, yaitu aktiva yang tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari empat sub-klasifikasi tersebut, misalnya beban ditangguhkan, piutang kepada direksi, deposito pinjaman karyawan. b) Kewajiban, yang merupakan utang perusahaan masa kini dapat disub-klasifikasi lebih jauh menjadi tiga sub-klaasifikasi, yaitu : i. Kewajiban lancar yaitu kewajiban yang penyelesaiannya diharapkan akan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan ( yang memiliki manfaat ekonomi) dalam jangka waktu satu tahun atau kurang (atau siklus operasi normal). Termasuk dalam katagori kewajiban ini misalnya utang dagang,
  • 9.
    utang wesel, utanggaji dan upah, utang pajak, dan utang biaya atau beban lainnya yang belum dibayar. ii. Kewajiban jangka panjang yaitu kewajiban yang penyelesaiannya diharapkan akan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan ( yang memiliki manfaat ekonomi) dalam jangka waktu lebih dari satu tahun. Termasuk dalam katgori kewajiban ini misalnya utang obligasi, utang hipotik, dan utang bank atau kredit investasi. iii.Kewajiban lain-lain, yaitu kewajiban yang tidak dapat dikatagorikan kedalam salah satu sub-klasifikasi kewajiban tersebut, misalnya utang pada salah satu sub-klasifikasi kewajiban tersebut, misalnya utang pada direksi, utang pada pemegang saham. c) Ekuitas, yaitu merupakan bagian hak pemilik dalam perusahaan yang merupakan selisih antara aktiva dan kewajiban yang ada, Unsur ekuitas ini dapat disub-klasifikasi lebih jauh menjadi dua sub-klasifikasi, yaitu : i. Ekuitas yang berasal dari setoran para pemilik, misalnya modal saham (termasuk agio saham bila ada), dan ii. Ekuitas yang berasal dari hasil operasi, yaitu laba yang tidak dibagikan kepada para pemilik, misalnya dalam bentuk deviden, (ditahan). 2. Laporan Laba-Rugi
  • 10.
    Untuk dapat menggambarkanmengenai potensi (kemampuan) perusahaan dalam menghasilkan laba selama priode tertentu (kinerja), laporan laba rugi mempunyai dua unsur, yaitu penghasilan dan beban, yang dijelaskan sebagai berikut : a) Penghasilan (income) yang diartikan sebagai kenaikan manfaat ekonomi dalam bentuk pemasukan atau peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban (yang menyebabkan kenaikan ekuitas selain yang bersal dari kontribusi pemilik) perusahaan selama priode tertentu dapat dapat disub-klasifikasikan meliputi : i. Pendapatan (revenues), yaitu penghasilan yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas yang bisa yang dikenal dengan sebutan yang berbeda, seperti misalnya penjualan barang dagang, penghasilan jasa (fees), pendapatan bunga, pendapatan dividen, royalties dan sewa. ii. Keuntungan (gains), yaitu pos lain yang memenuhi definisi penghasilan dan mungkin timbul atau tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang rutin misalnya pos yang timbul dalam pengalihan aktiva lancar, revaluasi sekuritas, kenaikan jumlah aktiva jangka panjang. b) Beban (expense) yang diartikan sebagai penurunan manfaat ekonomi dalam bentuk arus keluar, penurunan aktiva, atau kewajiban (yang menyebabkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada pemilik) perusahaan selama priode tertentu dapat disub-klasifikasikan menjadi :
  • 11.
    i. Beban yangtimbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa ( yang biasa arus keluar atau berkurangnya aktiva seperti kas, persediaan, aktiva tetap), yang meliputi misalnya harga pokok penjualan, gaji upah, penyusutan. ii. Kerugian, yang mencerminkan pos lain yang memenuhi definisi beban yang timbul atau tidak timbul dari aktivitas perusahaan yang jarang terjadi, seperti misalnya rugi karena bencana alam, kebakaran, banjir atau pelepasan aktiva tidak lancar. 3. Laporan Perubahan Ekuitas Perusahaan harus menyajikan laporan perubahan ekuitas sebagai komponen laporan keuangan yang menunjukkan : i. Rugi atau laba bersih periode yang bersangkutan ii. Setiap pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian beserta jumlahnya yang berdasrkan SAK terkait diakui secara langnsung dalam ekuitas iii.Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan perbaikan terhadap kesalahan mendasar sebagaimana diatur dalam SAK terkait. iv. Transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada pemilik. v. Saldo akumulasi rugi dan laba pada awal dan akhir periode serata perubahannya. vi. Rekonsiliasi antara nilai tercatat dari masing-masing jenis modal saham, agio, dan cadangan pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap perubahannya.
  • 12.
    4. Laporan ArusKas Perusahaan harus menyajikan laporan arus kas sebagai bagian yang tidak terpisah (intergal) dari laporan keuangan untuk setiap periode penyajian laporan keuangan. 5. Catatan Atas Laporan Keuangan Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis, Setiap pos dalam neraca, laporan laba-rugi dan laporan arus kas, harus berkaitan dengan informasi yang terdapat catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan : i. Informasi tentang penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi ii. Informasi yang diwajibkan dalam SAK tetap disajikan di neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas iii.Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keyuangan tetap diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar. 3. Manfaat dan Tujuan Laporan Arus Kas Manajer perusahaan biasanya menggunakan informasi laporan keuangan di samping informasi lainnya sebagai tolok ukur dalam pengambilan keputusannya untuk mencapai tujuan perusahaan. Informasi keuangan yang disajikan juga dapat membantu manajemen perusahaan untuk memberikan pertanggungjawaban kepada pihak-pihak yang berkepentingan pada perusahaan (stakeholders). Informasi keuangan menurut standar akuntansi keuangan terdiri dari Neraca, Laporan Laba
  • 13.
    Rugi, Laporan ArusKas, Laporan Perubahan Ekuitas dan Catatan Atas Laporan Keuangan merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Informasi laporan keuangan sangat penting untuk mengetahui sampai sejauh mana realisasi dari perencanaan dan kebijakan-kebijakan apa yang harus disesuaikan dimasa mendatang sesuai dengan kemampuan keuangan perusahaan. Menurut pendapat Harahap (2006) mengemukakan bahwa “Laporan arus kas adalah suatu laporan yang bertujuan untuk memberikan informasi yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas atau setara kas dari suatu perusahaan pada suatu periode tertentu”. Kiesso, et all (2002) mengemukakan bahwa : Laporan arus kas melaporkan penerimaan kas, pembayaran kas dan perubahan bersih pada kas yang berasal dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan dari suatu perusahaan selama suatu periode dalam suatu format merekomendasikan saldo kas awal dan akhir. Sedangkan arus kas menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2004: 2.2) ”arus kas adalah arus masuk dan arus keluar kas atau setara kas”. Dari keterangan di atas dapat dilihat bahwa laporan arus kas dapat membantu menunjukkan bagaimana perubahan kas yang terjadi dalam sebuah perusahaan dilaporkan dengan relevan selama periode tertentu. a. Manfaat Laporan Arus Kas Penyusunan laporan arus kas sangat bermanfaat bagi pihak intern maupun pihak ekstern sebagaimana dikemukakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (2004: 2.1) berikut ini: Informasi tentang arus kas suatu perusahaan berguna bagi para pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan
  • 14.
    perusahaan untuk menggunakanarus kas tersebut. Dalam proses pengambilan keputusan ekonomi, para pemakai perlu melakukan evaluasi terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas serta kepastian perolehannya. Jika digunakan dalam kaitannya dengan laporan keuangan yang lain, laporan arus kas dapat memberikan informasi yang memungkinkan para pemakai untuk mengevaluasi perubahan dalam aktiva bersih perusahaan, struktur keuangan (termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemampuan untuk mempengaruhi jumlah serta waktu arus kas dalam rangka adaptasi dengan perubahan keadaan dan peluang. Informasi arus kas berguna untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan memungkinkan para pemakai mengembangkan model untuk menilai dan membandingkan nilai sekarang dari arus kas masa depan (future cash flows) dari berbagai perusahaan. Informasi tersebut juga meningkatkan daya banding pelaporan kinerja operasi berbagai perusahaan karena dapat meniadakan pengaruh penggunaan perlakuan akuntansi yang berbeda terhadap transaksi dan peristiwa yang sama. Informasi arus kas historis sering digunakan sebagai indikator dari jumlah, waktu, dan kepastian arus kas masa depan. Disamping itu, informasi arus kas juga berguna untuk meneliti kecermatan dari taksiran arus kas masa depan yang telah dibuat sebelumnya dan dalam menentukan hubungan antara profitabilitas dan arus kas bersih serta dampak perubahan harga. Menurut Kiesso et all ( 2002) laporan arus kas bermanfaat untuk: a. Kemampuan entitas untuk menghasilkan arus kas dimasa depan
  • 15.
    b. Kemampuan entitasuntuk membayar dividen danmemenuhi kewajibannya c. Penyebab perbedaan antara laba bersih dan arus kas bersih dari kegiatan operasi d. Transaksi dan pembiayaan yang melibatkan kas dan nonkas selama satu periode Dengan adanya informasi yang diperoleh dari laporan arus kas, maka manajer perusahaan dapat mengetahui sampai sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan kas. Penganalisaan juga dapat dilakukan oleh pimpinan perusahaan dengan membandingkan perubahan kas pada laporan keuangan dalam dua periode atau lebih. Laporan arus kas (cash flow) sering disebut dengan laporan sumber dan penggunaan kas atau laporan perubahan kas dalam suatu peiode akuntansi, dimana dengan adanya laporan arus kas perusahaan dapat melakukan penganalisaan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Laporan sumber dan penggunaan kas digunakan sebagai dasar dalam menaksir kebutuhan kas dimasa mendatang dan kemungkinan sumber- sumber yang ada, atau dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dengan peramalan kebutuhan kas dimasa yang akan datang. Laporan arus kas perusahaan dapat berguna bagi para pemakai laporan keuangan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan menilai kebutuhan perusahaan dalam menghasilkan kas tersebut. Dalam proses pengambilan keputusan para pemakai laporan arus kas perlu melakukan evaluasi terhadap apa saja yang menjadi sumber-
  • 16.
    sumber dari penerimaankas, apa saja yang merupakan pengeluaran kegiatan operasi, investasi dan pendanaan untuk setiap periode. Laporan sumber- sumber dan penggunaan kas merupakan cara untuk mengetahui perubahan netto dari aliran dana kas antara dua titik waktu. Dua titik waktu tersebut berupa tanggal penyusunan laporan keuangan pada awal dan akhir periode yang akan dianalisa. b. Tujuan Laporan Arus Kas Menurut Hendriksen (1999) tujuan dari laporan arus kas sebagai berikut: Tujuan utama penyajian data mengenai arus kas ialah menyediakan informasi yang diasumsikan akan (1) membantu para investor atau kreditur meramalkan jumlah kas yang mungkin didistribusikan pada waktu yang akan datang dalam bentuk bunga dan dalam bentuk distribusi likuidasi atau pembayaran kembali pokok dan (2) membantu dalam mengevaluasikan risiko. Tujuan laporan arus menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2004: 2.1) adalah ”Memberi informasi historis mengenai perubahan kas dan setara kas dari suatu perusahaan melalui laporan arus kas yang mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi maupun pendanaan (financing) selama suatu periode akuntansi”. Dengan demikian dapat diketahui bahwa tujuan utama dari laporan arus kas adalah memberikan informasi mengenai penerimaan dan pembayaran kas suatu kesatuan selama satu periode. Tujuan keduanya adalah memberikan informasi atas dasar kas mengenai aktivitas operasi, investasi dan pendanaannya.
  • 17.
    4. Penyusunan LaporanArus Kas Penyusunan laporan arus kas menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2004:2.3) ”Laporan arus kas harus melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasi menurut aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan”. 1. Arus Kas Dari Aktivitas Operasi Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan (principal revenue-producing activities) dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan. Kas dan setara kas dari aktivitas operasi merupakan indikator untuk menentukan apakah perusahaan dapat menghasilkan kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan sumber pendanaan luar. Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh diperoleh dari aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan. Oleh karena itu, arus kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang memengaruhi penetapan laba atau rugi bersih. Beberapa contoh arus kas dari aktivitas operasi menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2004: 2.4) adalah: a. Penerimaan kas dari penjualan barang dan jasa; b. Penerimaan kas dari royalti, fees, komisi dan pendapatan lain; c. Pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa;
  • 18.
    d. Pembayaran kaskepada karyawan; e. Penerimaan dan pembayaran kas oleh perusahaan asuransi sehubungan dengan premi, klaim, anitas, dan manfaat asurans lainnya; f. Pembayaran kas atau penerimaan kembali (restitusi) pajak penghasilan kecuali jika dapat diidentifikasikan secara khusus sebagai bagian dari aktivitas pendanaan dan investasi; g. Penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak yang diadakan untuk tujuan transaksi usaha dan perdagangan. 2. Arus Kas Dari Aktivitas Investasi Yang dimaksud dengan aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan aktiva jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas (cash equivalent). Pengungkapan arus kas yang berasal aktivitas investasi perlu dilakukan sebab arus kas tersebut mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber daya yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan. Beberapa contoh arus kas dari aktivitas investasi menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2004: 2.5) adalah: a. Pembayaran kas untuk membeli aktiva tetap, aktiva tak berwujud, dan aktiva jangka panjang lain, termasuk biaya pengembangan yang dikapitalisasi dan aktiva tetap yang dibangun sendiri. b. Penerimaan kas dari penjualan tanah, bangunan dan peralatan, aktiva tak berwujud, dan aktiva jangka panjang lain; c. Perolehan saham atau instrumen keuangan perusahaan lain;
  • 19.
    d. Uang mukadan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain serta pelunasannya (kecuali yang dilakukan oleh lembaga keuangan); e. Pembayaran kas sehubungan dengan futures contracts, forward contracts, option contracts, dan swap contracts kecuali apabila kontrak tersebut dilakukan untuk tujuan perdagangan (dealing or trading), atau apabila pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan. 3. Arus Kas Dari Aktivitas Pendanaan Arus kas dari aktivitas pendanaan adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal dan pinjaman perusahaan. Aktivitas ini perlu diungkapkan secara terpisah untuk memprediksi klaim terhadap arus kas masa depan oleh para pemasok modal perusahaan. Beberapa contoh arus kas dari aktivitas pendanaan menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2004: 2.5) adalah: a. Penerimaan kas dari emisi saham atau instrumen modal lainnya; b. Pembayaran kas kepada para pemegang saham untuk menarik atau menebus saham perusahaan; c. Penerimaan kas dari emisi obligasi, pinjaman, wesel, hipotik, dan pinjaman lainnya; d. Pelunasan pinjaman; e. Pembayaran kas oleh penyewa guna usaha (lessee) untuk mengurangi saldo kewajiban yang berkaitan dengan sewa guna usaha pembiayaan (finance lease).
  • 20.
    Perusahaan menyajikan laporanarus kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan dengan cara yang paling sesuai dengan bisnis perusahaan tersebut. Klasifikasi menurut aktivitas memberikan informasi yang memungkinkan para pengguna laporan keuangan untuk menilai pengaruh dari aktivitas tersebut terhadap posisi perusahaan serta terhadap jumlah kas dan setara kas. Informasi tersebut dapat juga digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara ketiga aktivitas tersebut. 5. Analisis Laporan Arus Kas Dalam Menilai Kinerja Perusahaan Analisis Laporan arus kas merupakan analisis finansial yang sangat penting bagi seorang manajer keuangan suatu perusahaan disamping alat- alat finansial lainnya. Dengan melakukan analisis laporan arus kas, manajer keuangan dapat melaksanakan salah satu fungsinya yaitu fungsi perencanaan. Laporan arus kas disusun berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan dalam pernyataan Standar Akuntansi Keuangan terkait. Menurut Kamus Akuntansi (Ardiyos, 2000) menyatakan bahwa : Analisis arus kas adalah suatu metode analisa ekonomi yang memasukan pergerakan kas yang positif (aliran kas masuk) dan pergerakan kas yang negatif (aliran kas keluar) yang disebabkan oleh aktivitas untuk menentukan kebutuhan relatif dari aktivitas tersebut. termasuk didalamnya metode aliran kas yang dikontrol. Laporan arus kas dapat membantu para pemakainya untuk melihat bagaimana saldo kas dan setara kas dalam neraca perusahaan berubah dari awal hingga akhir periode akuntansi dan apa artinya perubahan tersebut bagi
  • 21.
    perusahaan, apakah menunjukkanprestasi positif atau negatif. Karena laporan laba rugi perusahaan menggunakan dasar akrual yang memungkinkan pelaporan pendapatan dan beban sebelum ada arus kas masuk atau keluar, maka laporan arus kas dalam hal ini dapat digunakan sebagai laporan pengimbang laporan laba rugi. Seperti yang dijelaskan oleh Kieso et all (2002) bahwa : Akuntansi akrual terlalu jauh menyimpang dari arus kas yang mendasari perusahaan bersangkutan, sehingga dengan demikian menghitung laba bersih tidak lagi memberikan indikator yang diterima mengenai daya menghasilkan laba perusahaan. Demikian pula, karena laporan keuangan tidak mengakui inflasi, banyak yang mencari standar yang lebih konkrit untuk mengevaluasi keberhasilan atau kegagalan suatu perusahaan. Fungsi dari laporan laba rugi adalah untuk mengukur profitabilitas dari perusahaan pada suatu periode tertentu dengan cara menghubungkan seluruh biaya dan pendapatan yang terkait. Oleh karena itu, penilaian yang tepat atas prestasi suatu perusahaan tidak hanya memperhatikan kemampuan perusahaan dalam memperhatikan dalam menghasilkan laba tetapi juga memperhatikan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas positif dari kegiatan operasinya. Karena jika perusahaan profitabel namun mengalami defisit arus kas dapat merupakan indikasi bahwa perusahaan mengalami masalah keuangan dan dikhawatirkan tidak mampu mengembalikan pinjaman kepada kreditor maupun membayar dividen kepada investor.
  • 22.
    Untuk alasan ini,para analisis laporan keuangan memilih untuk menghubungkan arus kas operasi dengan laba bersih yang dilaporkan pada periode yan bersangkutan sebagai pengecekan atas kualitas bersih yang dilaporkan tersebut. Dengan demikian, laporan arus kas digunakan untuk mengecek dan melengkapi laporan laba rugi tapi bukan sebagai pengganti laporan laba rugi. Laporan arus kas berfokus pada pengukuran keuangan daripada ukuran profit dan biasanya lebih cocok digunakan untuk mengevaluasi dan memproyeksikan likuiditas dan fleksibilitas perusahaan. Dalam hal ini tidak mengidentifikasikan laporan mana yang lebih unggul, tapi penggunaannya tergantung pada apa yang hendak diukur. Karena laporan arus kas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan laporan keuangan lainnya, maka penggunaannya secara bersama- sama akan memberikan hasil yang lebih tepat untuk mengevaluasi sumber dan penggunaaan kas perusahaan dalam seluruh kegiatan perusahaan. Dengan demikian dapat membantu para pemakai laporan keuangan untuk mengevaluasi struktur dan kinerja keuangan suatu perusahaan. Salah satu analisis kinerja keuangan dengan menggunakan informasi laporan arus kas adalah analisis rasio laporan arus kas. Analisis laporan arus kas ini menggunakan komponen dalam laporan arus kas dan komponen neraca dan laporan laba rugi sebagai informasi dalam analisis rasio. Menurut Darsono dan Ashari (2005), alat analisis rasio laporan arus kas yang diperlukan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan antara lain : 1. Rasio Arus Kas Operasi (AKO)
  • 23.
    Rasio arus kasoperasi menghitung kemampuan arus kas oparasi dalam membayar kewajiban lancar. Rasio ini diperoleh dengan membagi arus kas operasi dengan kewajiban lancar. Semakin besar rasio ini, maka perusahaan dikatakan semakin baik. 100% adalah ukuran memadai untuk rasio ini. 2. Rasio Cakupan kas Terhadap Bunga (CKB). Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar bunga atas hutang yang telah ada. Rasio ini diperoleh dengan arus kas dari operasi tambah pembayaran bunga, dan pembayaran pajak dibagi pembayaran bunga. Semakin besar rasio ini, maka perusahaan dikatakan semakin baik. 3. Rasio Cakupan Kas Terhadap Hutang Lancar (CKHL) Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar hutang lancar berdasarkan arus kas opersi bersih. Rasio ini diperoleh dengan arus kas operasi ditambah deviden kas dibagi dengan hutang lancar. Semakin besar rasio ini, maka perusahaan dikatakan semakin baik. 4. Rasio Pengeluaran Modal (PM) Rasio ini digunakan untuk mengukur modal tersedia untuk investasi dan pembayaran hutang yang ada. Rasio ini diperoleh dengan arus kas dari operasi dibagi dengan pengeluaran modal. Semakin besar rasio ini, maka perusahaan dikatakan semakin baik. 5. Rasio Total Hutang (TH)
  • 24.
    Rasio ini menunjukanjangka waktu pembayaran hutang oleh perusahaan dengan asumsi semua arus kas operasi digunakan untuk membayar hutang. Dengan mengetahui rasio ini, kita bisa menganalisis dalam jangka waktu beberapa lama perusahaan akan mampu membayar hutang dengan menggunakan arus kas yang dihasilkan dari aktivitas operasional perusahaan. Semakin besar rasio ini, maka perusahaan dikatakan semakin baik. 6. Rasio Cakupan Arus Dana (CAD) Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas guna membayar komitmen-komitmen (bunga, pajak, dan deviden preferen). Rasio ini diperoleh dengan laba sebelum pajak dan bunga (EBIT) dibagi bunga, Penyesuaian pajak, dan deviden preferen. Semakin tinggi rasio ini,menunjukkan Universitas Sumatera Utara semakin likuid suatu perusahaan, akibatnya akan menarik investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan. 7. Rasio Arus Kas Bersih Bebas (AKBB) Rasio ini berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban kas dimasa mendatang. Semakin besar rasio ini, maka perusahaan dikatakan semakin baik. 8. Rasio Kecukupan Arus Kas (KAK) Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menyediakan kas untuk memenuhi kewajiban dalam jangka 5 tahun mendatang. Semakin tinggi rasio ini, menunjukkan semakin solvent suatu
  • 25.
    perusahaan. Dari kebanyakanliteratur yang ada menyarankan bahwa 20% adalah ukuran yang memadai untuk rasio ini. B. Tinjauan Penelitian Terdahulu Berikut beberapa peneliti terdahulu yang meneliti tentang laporan arus kas: Tabel 2.1 Tinjauan penelitian terdahulu No Nama peneliti Judul penelitian variabel Hasil penelitian Periode sampel 1 Fahrita (2004) Analisa laporan arus kas sebagai dasar dalam pengambila n keputusan PT Lariza Penyusutan aktiva tetap, Penjualan aktiva tetap, Pelepasan saham, penyusutan aktiva tetap, laba bersih Penyajian Laporan arus kas PT Lariza telah sesuai dengan PSAK No.2 dengan metode yang digunakan yaitu metode tidak langsung yakni metode yang disusun dengan transaksi non kas untuk mendapatkan arus kas bersih dari aktivitas operasi sehingga perbedaan antara laba bersih dengan kas yang berasal dari aktivitas operasi terlihat jelas 2000- 2001
  • 26.
    2 Chadijah (2009) Analisis Laporan Keuangan dalam Menilai Kinerja Perusahaan pada Kelompok Industri Alas Kaki yang Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas, Rasio Aktivitas, Rasio Profitabilitas Dariketiga perusaahan yang dianalisis dengan menggunakan sepuluh rasio keuangan sebagai alat ukurnya yang terdiri dari Current Ratio, Quick Ratio, Debt to 2006- 2008