Ns.Amalia Senja.,M.Kep
 Seorang bayi perempuan umur 30 hari diantar oleh ibunya karena batuk-
batuk sudah 5 hari ini. Pasien juga bernafas lebih cepat biasanya. Setelah
menetek, kadang pasien muntah tetapi hanya sebagian. Pasien belum
pernah sakit seperti ini sebelumnya. Pasien lahir di bidan praktek saat
umur kehamilan 39 minggu dengan berat badan lahir 3500 gram. Pasien
tinggal bersama orang tuanya dan ayahnya seorang perokok. Pada
pemeriksaan, nafas 62X/menit, suhu 37,40
C dan nadi 130X/menit. Berat
badan 4300 gram dan panjang badan 50 cm. Suara paru vesikuler, suara
jantung S1-S2 reguler dan suara usus normal. Pada pemeriksaan darah
lengkap didapatkan hasil Hb 12,5 gr%, AL 12,8 rb/ul, segmen 25%,
lymposit 54% dan monosit 16%, dalam batas normal, dan rontgen thorak
dengan kesan bronkhopneumonia
Diagnosis
Analisis dan sebutkan
Terapi
Pasien di infus dengan larutan KN3A
dengan infus set mikro 8 tetes/menit.
Diberikan antibiotik yaitu injeksi Cefotaxim
2x225 mg dan injeksi Ampicilin 2x225 mg
per IV. Dosis Cefotaxim dan Ampicilin
adalah 200mg/kgBB dalam dua dosis.
 
Penilaian (lingkari gejala yang ditemukan)
Klasifikasi Tindakan
Memeriksa tanda bahaya umum:
ü Tidak dapat minum atau menyusui
ü muntahkan semua isi lambung
ü Letargi atau tidak sadar
ü Kejang Ada tanda bahaya umum ?
Ya __ Tidak __
Ingat adanya tanda bahaya umum dalam
mementukan klasifikasi Ingat untuk merujuk
setiap anak yang mempunyai tanda bahaya umum
Apakah anak batuk Ya √ Tidak __ atau sukar
bernapas
ü Hitung napas dalam 1 menit, berapa kali/ menit?
ü Sudah berapa lama, berapa hari ?
ü Lihat adanya tarikan dinding dada
ü Dengar adanya stridor
 ANALISIS DAN PEMBAHASAN KASUS
Penilaian (lingkari gejala yang ditemukan)
Klasifikasi Tindakan
Memeriksa tanda bahaya umum:
ü Tidak dapat minum atau menyusui
ü muntahkan semua isi lambung
ü Letargi atau tidak sadar
ü Kejang Ada tanda bahaya umum ?
Ya __ Tidak __
Ingat adanya tanda bahaya umum dalam
mementukan klasifikasi Ingat untuk merujuk
setiap anak yang mempunyai tanda bahaya umum
Apakah anak batuk Ya √ Tidak __ atau sukar
bernapas
ü Hitung napas dalam 1 menit, 62 kali/ menit
napas cepat
ü Sudah berapa lama, 5 hari
ü Lihat adanya tarikan dinding dada
ü Dengar adanya stridor
 Menentukan tindakan Tanpa Rujukan Segera
Klasifikasi Tindakan pneumonia
 Ø Antibiotik yang tepat
 Ø Kapan harus kembali dan kapan harus
kembali segera
Batuk (bukan pneumonia) Beritahu cara
melegakan tenggorokan
 Kapan harus kembali
 Ø Dehidrasi ringan/sedang Beri cairan
oralit/rencana terapi B
 Ø ASI dan makanan/minuman yang lain tetap
diberikan setelah 3 jam pengobatan oralit
Beri cairan tambahan
Ø Lanjutkan pemberian makanan
Ø Kapan harus kembali :
· Diare persisten Pemberian makanan khusus
· Disentri Beri antbiotik untuk shigella (60%
kasus)
· Atasi dehidrasi
· Demam mungkin bukan malaria (risiko
rendah malaria) Beri antipiretik (parasetamol)
· Kembali jika panas tidak turun dalam 2 hari
Pengobatan lain sesuai penyebab
Ø Demam (mungkin DBD) Beri oralit
Ø Beri antipiretik (parasetamol)
Ø Kapan harus kembali
Ø Demam (mungkin bkan DBD) Beri antipiretik
(parasetamol)
Ø Segera kembali jika 2 hari masih tetap
demam
Menentukan Tindakan Segera Pra-Rujukan
Klasifikasi Tindakan pra-rujukan
· Pneumonia berat atau penyakit lainnya Beri dosis
pertama antibiotic
· Diare persisten berat Perubahan diet
· Pemeriksaan laboratorium
· Tangani dehidrasi
· Penyakit berat dengan demam
· Beri dosis pertama antibiotic
· Antipiretik (parasetamol) jika suhu > 38,5 0C
· Suntikan kinin/endemis malaria
· Ambil sampel darah
· Campak dengan komplikasi berat Beri dosis
pertama antibiotic Vitamin A
· Salep mata untuk mata keruh atau nanah dari
mata
Daftar tindakan segera pra-rujukan (cukup dosis pertama)
1.      Beri antibiotic yang sesuai.
2.     Beri kinin untuk malaria berat.
3.    Beri vitamin A.
4.    Mulai beri cairan IV untuk anak DBD dengan syok.
5.     Lakukan tindakan untuk mencegah turunnya kadar gula 
darah.
6.     Beri obat antimalaria oral.
7.     Beri parasetamol untuk panas tinggi/nyeri akibat 
mastoiditis.
8.     Beri salep mata tetrasiklin atau kloramfenikol.
9.    Beri oralit sedikit demi sedikit dalam perjalanan ke 
rumah sakit.
Jika dibutuhkan rujukan anak
1.      Jelaskan pentingnya rujukan dan minta 
persetujuan.
2.     Hilangkan kekhawatiran.
3.    Tulis surat rujukan.
4.    Beri peralatan dan instruksi yang 
diperlukan pada ibu/pengantar untuk merawat 
selama di perjalanan.
 
 Bayi perempuan umur 30 hari (neonatus) dengan 
nafas  cepat  dan  batuk-batuk  sudah  lima  hari, 
muntah setelah netek, tapi tidak memuntahkan 
semuanya.  Frekuensi  nafas  62  kali/menit,  suhu 
badan  37,40
C.  Foto  rontgen  thorak  dada  AP 
menggambarkan  Brokopneumonia. 
Berdasarkan  MTBS,  bila bayi  0-2 bulan  dengan 
nafas cepat (> 50 kali/menit) tanpa tanda bahaya 
umum  maka  di  diagnosa  pneumonia,  bila  ada 
retraksi  dada  menjadi  pneumonia  berat. 
Penanganan  yang  diberikan  adalah  dengan 
pemberian antibiotik Cefotaxim dan Ampicilin.
Diagnosa pneumonia pada bayi 0-2 bulan sesuai MTBS adalah adanya nafas
cepat. Dilihat adakah tanda bahaya umum (kejang, memuntahkan semuanya,
tidak bisa/ mau netek) dan adanya tarikan atau retraksi dinding dada pada
pneumonia berat. Pneumonia sering terjadi pada bayi prematur, sosial
ekonomi rendah, terpapar asap rokok dan malnutrisi. Faktor resiko pada
pasien ini adalah sosial ekonomi rendah sehingga ventilasi rumah yang tidak
baik dan juga kebersihan kurang ditambah juga sering terpapar asap rokok
oleh ayah bayi. Angka kejadian pneumonia 40-45 dari 1000 anak dibawah 5
tahun. Gejala yang ada pada bayi ini adalah nafas cepat/ takipneu dan batuk
tanpa adanya demam dan keluhan lain.
 Pada  pemeriksaan  darah  lengkap  pada  pasien  ini  menunjukkan  masih  dalam 
batas  normal.  Foto  rontgen  juga  menunjukkan  bronkopneumonia  sebagai 
penguat  diagnosa.  Pada  peneumonia,  pemeriksaan  penunjang  seperti  darah 
lengkap  dan  protein  C-rektif  kurang  spesifik  untuk  menentukan  penyebab. 
Pengecatan gram dan kultur darah dapat membantu menetukan etiologi dan tes 
antigen  virus rapid dapat digunakan jika diperlukan. Leukositosis dapat terjadi 
pada  pasien  terinfeksi  bakteri,  adenovirus,  influenza  virus  atau  infeksi 
mycoplasma. Leukopenia juga dapat terjadi pada infeksi virus atau infeksi bakteri 
yang  berat.  Pada  infeksi  bakteri  sebaiknya  dilakukan  kultur  darah  untuk 
menentukan penyebab dan sensitivitas antibiotik. Foto X-ray dada AP dan lateral 
juga kurang membantu dalam menetukan kausatifnya. 
Kesimpulan
Pneumonia adalah infeksi parenkim paru yang sering didapatkan
di komunitas atau di luar rumah sakit. Pneumonia pada bayi 0-2
bulan sering disebabkan oleh bakteri (E. coli, Streptokokkus
grup B, chlamidia trachomatis dan S. pneumonia) dan oleh virus
(Adenovirus; virus influenza; parainfluenza virus 1, 2 dan 3; dan
respiratory sincytial virus). Berdasarkan MTBS, bila bayi 0-2
bulan dengan nafas cepat (> 50 kali/menit) tanpa tanda bahaya
umum maka di diagnosa pneumonia, bila ada retraksi dada
menjadi pneumonia berat. Penanganan yang diberikan adalah
dengan pemberian antibiotik seperti Azitromicin, Eritromicin,
Cefotaxim, dan Cefuroxin sesuai keadaan dan berat penyakitnya.
SILAHKAN BERDISKUSI DALAM KELOMPOK
LAKUKAN ANALISIS KASUS MTBS
PRESENTASIKAN
 SELAMAT BELAJAR

Analisis kasus MTBS

  • 1.
  • 2.
     Seorang bayiperempuan umur 30 hari diantar oleh ibunya karena batuk- batuk sudah 5 hari ini. Pasien juga bernafas lebih cepat biasanya. Setelah menetek, kadang pasien muntah tetapi hanya sebagian. Pasien belum pernah sakit seperti ini sebelumnya. Pasien lahir di bidan praktek saat umur kehamilan 39 minggu dengan berat badan lahir 3500 gram. Pasien tinggal bersama orang tuanya dan ayahnya seorang perokok. Pada pemeriksaan, nafas 62X/menit, suhu 37,40 C dan nadi 130X/menit. Berat badan 4300 gram dan panjang badan 50 cm. Suara paru vesikuler, suara jantung S1-S2 reguler dan suara usus normal. Pada pemeriksaan darah lengkap didapatkan hasil Hb 12,5 gr%, AL 12,8 rb/ul, segmen 25%, lymposit 54% dan monosit 16%, dalam batas normal, dan rontgen thorak dengan kesan bronkhopneumonia
  • 3.
    Diagnosis Analisis dan sebutkan Terapi Pasiendi infus dengan larutan KN3A dengan infus set mikro 8 tetes/menit. Diberikan antibiotik yaitu injeksi Cefotaxim 2x225 mg dan injeksi Ampicilin 2x225 mg per IV. Dosis Cefotaxim dan Ampicilin adalah 200mg/kgBB dalam dua dosis.  
  • 4.
    Penilaian (lingkari gejalayang ditemukan) Klasifikasi Tindakan Memeriksa tanda bahaya umum: ü Tidak dapat minum atau menyusui ü muntahkan semua isi lambung ü Letargi atau tidak sadar ü Kejang Ada tanda bahaya umum ? Ya __ Tidak __
  • 5.
    Ingat adanya tandabahaya umum dalam mementukan klasifikasi Ingat untuk merujuk setiap anak yang mempunyai tanda bahaya umum Apakah anak batuk Ya √ Tidak __ atau sukar bernapas ü Hitung napas dalam 1 menit, berapa kali/ menit? ü Sudah berapa lama, berapa hari ? ü Lihat adanya tarikan dinding dada ü Dengar adanya stridor
  • 6.
     ANALISIS DANPEMBAHASAN KASUS
  • 7.
    Penilaian (lingkari gejalayang ditemukan) Klasifikasi Tindakan Memeriksa tanda bahaya umum: ü Tidak dapat minum atau menyusui ü muntahkan semua isi lambung ü Letargi atau tidak sadar ü Kejang Ada tanda bahaya umum ? Ya __ Tidak __
  • 8.
    Ingat adanya tandabahaya umum dalam mementukan klasifikasi Ingat untuk merujuk setiap anak yang mempunyai tanda bahaya umum Apakah anak batuk Ya √ Tidak __ atau sukar bernapas ü Hitung napas dalam 1 menit, 62 kali/ menit napas cepat ü Sudah berapa lama, 5 hari ü Lihat adanya tarikan dinding dada ü Dengar adanya stridor
  • 9.
     Menentukan tindakanTanpa Rujukan Segera Klasifikasi Tindakan pneumonia  Ø Antibiotik yang tepat  Ø Kapan harus kembali dan kapan harus kembali segera Batuk (bukan pneumonia) Beritahu cara melegakan tenggorokan  Kapan harus kembali  Ø Dehidrasi ringan/sedang Beri cairan oralit/rencana terapi B  Ø ASI dan makanan/minuman yang lain tetap diberikan setelah 3 jam pengobatan oralit
  • 10.
    Beri cairan tambahan ØLanjutkan pemberian makanan Ø Kapan harus kembali : · Diare persisten Pemberian makanan khusus · Disentri Beri antbiotik untuk shigella (60% kasus) · Atasi dehidrasi · Demam mungkin bukan malaria (risiko rendah malaria) Beri antipiretik (parasetamol) · Kembali jika panas tidak turun dalam 2 hari
  • 11.
    Pengobatan lain sesuaipenyebab Ø Demam (mungkin DBD) Beri oralit Ø Beri antipiretik (parasetamol) Ø Kapan harus kembali Ø Demam (mungkin bkan DBD) Beri antipiretik (parasetamol) Ø Segera kembali jika 2 hari masih tetap demam
  • 12.
    Menentukan Tindakan SegeraPra-Rujukan Klasifikasi Tindakan pra-rujukan · Pneumonia berat atau penyakit lainnya Beri dosis pertama antibiotic · Diare persisten berat Perubahan diet · Pemeriksaan laboratorium · Tangani dehidrasi · Penyakit berat dengan demam · Beri dosis pertama antibiotic · Antipiretik (parasetamol) jika suhu > 38,5 0C · Suntikan kinin/endemis malaria · Ambil sampel darah · Campak dengan komplikasi berat Beri dosis pertama antibiotic Vitamin A · Salep mata untuk mata keruh atau nanah dari mata
  • 13.
    Daftar tindakan segerapra-rujukan (cukup dosis pertama) 1.      Beri antibiotic yang sesuai. 2.     Beri kinin untuk malaria berat. 3.    Beri vitamin A. 4.    Mulai beri cairan IV untuk anak DBD dengan syok. 5.     Lakukan tindakan untuk mencegah turunnya kadar gula  darah. 6.     Beri obat antimalaria oral. 7.     Beri parasetamol untuk panas tinggi/nyeri akibat  mastoiditis. 8.     Beri salep mata tetrasiklin atau kloramfenikol. 9.    Beri oralit sedikit demi sedikit dalam perjalanan ke  rumah sakit.
  • 14.
    Jika dibutuhkan rujukananak 1.      Jelaskan pentingnya rujukan dan minta  persetujuan. 2.     Hilangkan kekhawatiran. 3.    Tulis surat rujukan. 4.    Beri peralatan dan instruksi yang  diperlukan pada ibu/pengantar untuk merawat  selama di perjalanan.  
  • 15.
     Bayi perempuan umur 30 hari (neonatus) dengan  nafas  cepat dan  batuk-batuk  sudah  lima  hari,  muntah setelah netek, tapi tidak memuntahkan  semuanya.  Frekuensi  nafas  62  kali/menit,  suhu  badan  37,40 C.  Foto  rontgen  thorak  dada  AP  menggambarkan  Brokopneumonia.  Berdasarkan  MTBS,  bila bayi  0-2 bulan  dengan  nafas cepat (> 50 kali/menit) tanpa tanda bahaya  umum  maka  di  diagnosa  pneumonia,  bila  ada  retraksi  dada  menjadi  pneumonia  berat.  Penanganan  yang  diberikan  adalah  dengan  pemberian antibiotik Cefotaxim dan Ampicilin.
  • 16.
    Diagnosa pneumonia padabayi 0-2 bulan sesuai MTBS adalah adanya nafas cepat. Dilihat adakah tanda bahaya umum (kejang, memuntahkan semuanya, tidak bisa/ mau netek) dan adanya tarikan atau retraksi dinding dada pada pneumonia berat. Pneumonia sering terjadi pada bayi prematur, sosial ekonomi rendah, terpapar asap rokok dan malnutrisi. Faktor resiko pada pasien ini adalah sosial ekonomi rendah sehingga ventilasi rumah yang tidak baik dan juga kebersihan kurang ditambah juga sering terpapar asap rokok oleh ayah bayi. Angka kejadian pneumonia 40-45 dari 1000 anak dibawah 5 tahun. Gejala yang ada pada bayi ini adalah nafas cepat/ takipneu dan batuk tanpa adanya demam dan keluhan lain.
  • 17.
     Pada  pemeriksaan darah  lengkap  pada  pasien  ini  menunjukkan  masih  dalam  batas  normal.  Foto  rontgen  juga  menunjukkan  bronkopneumonia  sebagai  penguat  diagnosa.  Pada  peneumonia,  pemeriksaan  penunjang  seperti  darah  lengkap  dan  protein  C-rektif  kurang  spesifik  untuk  menentukan  penyebab.  Pengecatan gram dan kultur darah dapat membantu menetukan etiologi dan tes  antigen  virus rapid dapat digunakan jika diperlukan. Leukositosis dapat terjadi  pada  pasien  terinfeksi  bakteri,  adenovirus,  influenza  virus  atau  infeksi  mycoplasma. Leukopenia juga dapat terjadi pada infeksi virus atau infeksi bakteri  yang  berat.  Pada  infeksi  bakteri  sebaiknya  dilakukan  kultur  darah  untuk  menentukan penyebab dan sensitivitas antibiotik. Foto X-ray dada AP dan lateral  juga kurang membantu dalam menetukan kausatifnya. 
  • 18.
    Kesimpulan Pneumonia adalah infeksiparenkim paru yang sering didapatkan di komunitas atau di luar rumah sakit. Pneumonia pada bayi 0-2 bulan sering disebabkan oleh bakteri (E. coli, Streptokokkus grup B, chlamidia trachomatis dan S. pneumonia) dan oleh virus (Adenovirus; virus influenza; parainfluenza virus 1, 2 dan 3; dan respiratory sincytial virus). Berdasarkan MTBS, bila bayi 0-2 bulan dengan nafas cepat (> 50 kali/menit) tanpa tanda bahaya umum maka di diagnosa pneumonia, bila ada retraksi dada menjadi pneumonia berat. Penanganan yang diberikan adalah dengan pemberian antibiotik seperti Azitromicin, Eritromicin, Cefotaxim, dan Cefuroxin sesuai keadaan dan berat penyakitnya.
  • 19.
    SILAHKAN BERDISKUSI DALAMKELOMPOK LAKUKAN ANALISIS KASUS MTBS PRESENTASIKAN
  • 24.