Alat Pembayaran Tunai (Uang)
A. Sejarah Uang
Uang dikenal pertama kali di negeri Tiongkok kurang lebih 2700 SM oleh Huang (Kaisar
Kuning). Namun, sejarah purba juga telah mencatat bahwa orang Assyria, Phunisia, dan Mesir
juga telah menggunakan uang sebagai alat tukar. Cikal bakal uang diawali dengan kegiatan tukar
menukar barang atau disebut dengan istilah barter. Namun seiring dengan semakin banyaknya
kebuluhan manusia, maka barter mulai mengalami kesulitan. Faktor yang menyebabkan sulitnya
barter, di antaranya yaitu :
 Kesulitan untuk menemukan orang yang memiliki barang yang dibutuhkan dan mau
menukarkan barangnya;
 tidak adanya standar nilai untuk dipertukarkan.
Dengan kesulitan tersebut, maka akhirnya cara barter pun ditinggalkan dan manusia mulai
mencari alternatif benda lain untuk dipergunakan dalam proses pertukaran. Setidaknya terdapat
beberapa syarat agar sebuah benda dapat digunakan sebagai uang, yaitu dapat diterima, digemari
di mana-mana, setiap waktu dapat ditukar dengan barang apa saja, sulit mendapatkannya.
Benda-benda yang dijadikan sebagai alat pertukaran berupa kulit binatang, kerang dari laut,
dan benda-benda yang memiliki syarat tersebut. Benda itu kemudian disebut uang barang. Uang
barang tidak dapat terus dipergunakan sebagai alat pertukaran, hal tersebut disebabkan ada
kesulitan dalam ulturan, berat, dan bentuk. Berdasarkan permasalahan tersebut, orang mulai
mencari benda/logam yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.
 Tidak mudah rusak.
 Diterima oleh umum,
 Mudah disimpan dan mudah dibawa-bawa.
 Harganya tinggi walaupun dalam jumlah yang kecil.
 Sifatnya sama dan dapat saling mengganti.
 Mudah dibagi tanpa mengurangi nilai.
 Harganya tetap dalam jangka waktu panjang.
Berdasarkan persyaratan tersebut, alternatif benda yang dijadikan alat tukar adalah emas dan
perak. Misalnya mata uang India, Rupee yang artinya per ale atau mata uang Belanda Golden
yang artinya emas. Uang emas dan perak tersebut dinamakan uang logam dan disebut full bodied
money yang mengandung arti bahwa nilai uang tersebut dijamin penuli (100%) oleh bodynya.,
artinya antara nilai nominal dan nilai bahan sama.
Dalam perkembangannya, sehubungan dengan terbatasnya jumlah logam, orang mencari
benda lain untuk dijadikan uang. Akhirnya, dibuatlah uang dari bahan kertas, hal tersebut
dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut.
 Jumlahnya dapat memadai sesuai dengan kebutuhan.
 Biaya pembuatannya tidak terlalu mahal.
 Mudah disimpan dan dibawa-bawa.
 Penerimaan uang kertas oleh masyarakat, di antaranya karena adanya kepercayaan.
Dari uraian tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa uang merupakan segala benda yang
diterima oleh masyarakat sebagai alat perantara dalam melakukan kegiatan tukar-menukar atau
perdagangan.
B. Pengertian Uang
Salah satu definisi mengenai uang, diungkapkan oleh Rudiger Dornbusch, Stanley
Fischer, dan Richard Startz dalam bukunya Macroeconomics (1998) bahwa uang adalah
instrumen pembayaran atau media yang digunakan dalam pertukaran. Balasan mengenai uang
yang lebih kongkret dijelaskan dalam booklet bank sentral Amerika (Federal Reserve) yang
mendefinisikan uang sebagai segala sesuatu yang dapat diterima secara umum sebagai media
pertukaran, standar nilai atau sarana untuk menabung atau penyimpan daya beli.
Dengan demikian, uang didefinisikan sebagai segala sesuatu (benda) yang diterima oleh
masyarakat sebagai alat pembayaran tunai yang sah dalam melakukan tukar-menukar atau
perdagangan.
C. Nilai Uang
a. Nilai Intrinsik
Nilai Intrinsik lebih menekankan pada sisi bahan dasar pembuatan uang. Nilai Intrinsik
merupakan nilai uang berdasarkan pada bahan yang digunakan untuk membuat mata uang itu.
Misalnya sebuah uang dibuat dari emas maka nilai intrinsiknya adalah sebesar kadar dan berat
emas yang terkandung dalam mata uang tersebut. Begitu juga apabila uang itu terbuat dari kertas,
maka nilai intrinsik adalah nilai kertas itu. Contohnya untuk membuat uang kertas Rp. 50.000,00
diperlukan kertas dan bahan lainnya seharga Rp.5.000,00, maka nilai intrinsik uang tersebut
adalah Rp.5.000,00.
b. Nilai Nominal
Nilai nominal adalah nilai uang yang tertulis atau tertera pada setiap mata uang.
Contohnya pada mata uang logam tertulis Rp.100,00 ; Rp.1.000,00. Berarti nilai nominalnya
adalah seratus rupiah atau seribu rupiah walaupun bahan membuatnya sama.
c. Nilai Rill
Nilai rill didasarkan pada kemampuan daya beli uang terhadap barang atau jasa.
Pengertian nilai rill yaitu kemampuan uang untuk ditukarkan dengan sejumlah barang dan atau
jasa.Daya beli atau kekuatan beli uang ditentukan oleh tingkat harga umum. Jadi nilai rill erat
hubungannya dengan uang sebagai alat tukar. Apabila tingkat harga umum turun, maka nilai rill
uang akan naik, sebaliknya jika harga umum naik maka nilai riil uang menjadi turun. Misalnya,
sepuluh tahun yang lalu uang senilai Rp.100,00 bisa digunakan untuk membeli tiga buah permen,
tetapi sekarang nilai Rp 100,00 hanya bisa untuk membeli 1 buah permen saja. Berdasarkan daya
belinya uang dibedakan menjadi nilai internal dan nilai eksternal.
1) Nilai Internal, yaitu kemampuan uang untuk membeli barang di dalam suatu negara.
Pengertian lain nilai internal uang adalah daya beli uang untuk dipertukarkan dengan
barang - barang di dalam negeri. Misalkan uang sebesar Rp 8.000,00 mampu ditukar
dengan 1 kilogram beras. Ini berarti bahwa uang sebesar Rp. 8.000,00 memiliki nilai
internal sebesar 1 kilogram beras.
2) Nilai eksternal, yaitu kemampuan uang dalam negeri iuntuk ditukar dengan mata uang
asing. Nilai eksternal lebih dikenal dengan istilah nilai kurs. Contoh : Nilai uang Rp.
13.000,00 bisa ditukarkan dengan $1. Hal ini berarti bahwa uang Rp. 13.000,00
memiliki nilai eksternal sama dengan $1.
D. Syarat Uang
Agar masyarakat menerima dan menyetujui penggunaan benda sebagai uang, maka harus
memenuhi dua persyaratan sebagai berikut.
 Persyaratan psikologis, yaitu benda tersebut harus dapat memuaskan bermacam-macam
keinginan dari orang yang memilikinya sehingga semua orang mau mengakui dan
menerimanya.
 Persyaratan teknis, yaitu syarat yang melekat pada uang, di antaranya:
1. Ada Jaminan
Setiap uang yang diterbitkan harus dijamin oleh pemerintah. Dengan adanya jaminan
dari pemerintah, penggunaan uang untuk berbagai keperluan mendapat kepercayaan dari
masyarakat luas.
2. Diterima Secara Umum (Acceptability)
Artinya uang harus dapat diterima secara umum penggunaannya, baik sebagai alat
tukar, penimbun kekayaan, atau sebagai standar pencicilan utang.
3. Nilainya Stabil (Stability of Value)
Nilai uang harus stabil. Apabila nilai uang naik-turun tidak menentu, orang pun tidak
mau menggunakannya sebagai alat tukar karena ia tidak memercayainya.
4. Mudah Disimpan (Storable)
Uang harus memiliki fleksibilitas, seperti bentuk fisiknya yang tidak terlalu besar,
mudah dilipat, dan memiliki nilai nominal mulai dari yang kecil sampai yang besar. Hal
tersebut ditujukan agar uang mudah disimpan.
5. Mudah Dibawa (Portability)
Sebuah uang harus memenuhi syarat mudah dipindahkan dan mudah dibawa ke mana
pun. Artinya, uang harus mudah dipindahkan dari satu tangan ke tangan yang lain.
6. Tidak Mudah Rusak (Durability)
Orang tentu tidak mau menggunakan uang jika uang tersebut mudah sekali rusak.
Uang harus tahan lama, tidak mudah robek, pecah, atau luntur. Oleh karena itu, kualitas
fisik uang harus betul-betul dapat dipastikan bertahan untuk jangka waktu yang relatif
lama.
7. Mudah Dibagi (Divisibility)
Uang juga harus mudah dibagi ke dalam berbagai nilai nominal, misalnya
Rp100.000,00; Rp50.000,00; Rp1.000,00, dan Rp500,00. Seandainya nilai uang hanya
Rp50.000,00 sedangkan untuk membeli satu kilogram jeruk hanya dibutuhkan uang
Rp5.000,00, bagaimana dengan kembaliannya? Tentu saja hal tersebut akan menghambat
transaksi.

Alat pembayaran tunai

  • 1.
    Alat Pembayaran Tunai(Uang) A. Sejarah Uang Uang dikenal pertama kali di negeri Tiongkok kurang lebih 2700 SM oleh Huang (Kaisar Kuning). Namun, sejarah purba juga telah mencatat bahwa orang Assyria, Phunisia, dan Mesir juga telah menggunakan uang sebagai alat tukar. Cikal bakal uang diawali dengan kegiatan tukar menukar barang atau disebut dengan istilah barter. Namun seiring dengan semakin banyaknya kebuluhan manusia, maka barter mulai mengalami kesulitan. Faktor yang menyebabkan sulitnya barter, di antaranya yaitu :  Kesulitan untuk menemukan orang yang memiliki barang yang dibutuhkan dan mau menukarkan barangnya;  tidak adanya standar nilai untuk dipertukarkan. Dengan kesulitan tersebut, maka akhirnya cara barter pun ditinggalkan dan manusia mulai mencari alternatif benda lain untuk dipergunakan dalam proses pertukaran. Setidaknya terdapat beberapa syarat agar sebuah benda dapat digunakan sebagai uang, yaitu dapat diterima, digemari di mana-mana, setiap waktu dapat ditukar dengan barang apa saja, sulit mendapatkannya. Benda-benda yang dijadikan sebagai alat pertukaran berupa kulit binatang, kerang dari laut, dan benda-benda yang memiliki syarat tersebut. Benda itu kemudian disebut uang barang. Uang barang tidak dapat terus dipergunakan sebagai alat pertukaran, hal tersebut disebabkan ada kesulitan dalam ulturan, berat, dan bentuk. Berdasarkan permasalahan tersebut, orang mulai mencari benda/logam yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.  Tidak mudah rusak.  Diterima oleh umum,  Mudah disimpan dan mudah dibawa-bawa.  Harganya tinggi walaupun dalam jumlah yang kecil.  Sifatnya sama dan dapat saling mengganti.  Mudah dibagi tanpa mengurangi nilai.  Harganya tetap dalam jangka waktu panjang. Berdasarkan persyaratan tersebut, alternatif benda yang dijadikan alat tukar adalah emas dan perak. Misalnya mata uang India, Rupee yang artinya per ale atau mata uang Belanda Golden yang artinya emas. Uang emas dan perak tersebut dinamakan uang logam dan disebut full bodied money yang mengandung arti bahwa nilai uang tersebut dijamin penuli (100%) oleh bodynya., artinya antara nilai nominal dan nilai bahan sama. Dalam perkembangannya, sehubungan dengan terbatasnya jumlah logam, orang mencari benda lain untuk dijadikan uang. Akhirnya, dibuatlah uang dari bahan kertas, hal tersebut dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut.  Jumlahnya dapat memadai sesuai dengan kebutuhan.  Biaya pembuatannya tidak terlalu mahal.  Mudah disimpan dan dibawa-bawa.  Penerimaan uang kertas oleh masyarakat, di antaranya karena adanya kepercayaan.
  • 2.
    Dari uraian tersebutdiatas, dapat disimpulkan bahwa uang merupakan segala benda yang diterima oleh masyarakat sebagai alat perantara dalam melakukan kegiatan tukar-menukar atau perdagangan. B. Pengertian Uang Salah satu definisi mengenai uang, diungkapkan oleh Rudiger Dornbusch, Stanley Fischer, dan Richard Startz dalam bukunya Macroeconomics (1998) bahwa uang adalah instrumen pembayaran atau media yang digunakan dalam pertukaran. Balasan mengenai uang yang lebih kongkret dijelaskan dalam booklet bank sentral Amerika (Federal Reserve) yang mendefinisikan uang sebagai segala sesuatu yang dapat diterima secara umum sebagai media pertukaran, standar nilai atau sarana untuk menabung atau penyimpan daya beli. Dengan demikian, uang didefinisikan sebagai segala sesuatu (benda) yang diterima oleh masyarakat sebagai alat pembayaran tunai yang sah dalam melakukan tukar-menukar atau perdagangan. C. Nilai Uang a. Nilai Intrinsik Nilai Intrinsik lebih menekankan pada sisi bahan dasar pembuatan uang. Nilai Intrinsik merupakan nilai uang berdasarkan pada bahan yang digunakan untuk membuat mata uang itu. Misalnya sebuah uang dibuat dari emas maka nilai intrinsiknya adalah sebesar kadar dan berat emas yang terkandung dalam mata uang tersebut. Begitu juga apabila uang itu terbuat dari kertas, maka nilai intrinsik adalah nilai kertas itu. Contohnya untuk membuat uang kertas Rp. 50.000,00 diperlukan kertas dan bahan lainnya seharga Rp.5.000,00, maka nilai intrinsik uang tersebut adalah Rp.5.000,00. b. Nilai Nominal Nilai nominal adalah nilai uang yang tertulis atau tertera pada setiap mata uang. Contohnya pada mata uang logam tertulis Rp.100,00 ; Rp.1.000,00. Berarti nilai nominalnya adalah seratus rupiah atau seribu rupiah walaupun bahan membuatnya sama. c. Nilai Rill Nilai rill didasarkan pada kemampuan daya beli uang terhadap barang atau jasa. Pengertian nilai rill yaitu kemampuan uang untuk ditukarkan dengan sejumlah barang dan atau jasa.Daya beli atau kekuatan beli uang ditentukan oleh tingkat harga umum. Jadi nilai rill erat hubungannya dengan uang sebagai alat tukar. Apabila tingkat harga umum turun, maka nilai rill uang akan naik, sebaliknya jika harga umum naik maka nilai riil uang menjadi turun. Misalnya, sepuluh tahun yang lalu uang senilai Rp.100,00 bisa digunakan untuk membeli tiga buah permen, tetapi sekarang nilai Rp 100,00 hanya bisa untuk membeli 1 buah permen saja. Berdasarkan daya belinya uang dibedakan menjadi nilai internal dan nilai eksternal. 1) Nilai Internal, yaitu kemampuan uang untuk membeli barang di dalam suatu negara. Pengertian lain nilai internal uang adalah daya beli uang untuk dipertukarkan dengan barang - barang di dalam negeri. Misalkan uang sebesar Rp 8.000,00 mampu ditukar dengan 1 kilogram beras. Ini berarti bahwa uang sebesar Rp. 8.000,00 memiliki nilai internal sebesar 1 kilogram beras.
  • 3.
    2) Nilai eksternal,yaitu kemampuan uang dalam negeri iuntuk ditukar dengan mata uang asing. Nilai eksternal lebih dikenal dengan istilah nilai kurs. Contoh : Nilai uang Rp. 13.000,00 bisa ditukarkan dengan $1. Hal ini berarti bahwa uang Rp. 13.000,00 memiliki nilai eksternal sama dengan $1. D. Syarat Uang Agar masyarakat menerima dan menyetujui penggunaan benda sebagai uang, maka harus memenuhi dua persyaratan sebagai berikut.  Persyaratan psikologis, yaitu benda tersebut harus dapat memuaskan bermacam-macam keinginan dari orang yang memilikinya sehingga semua orang mau mengakui dan menerimanya.  Persyaratan teknis, yaitu syarat yang melekat pada uang, di antaranya: 1. Ada Jaminan Setiap uang yang diterbitkan harus dijamin oleh pemerintah. Dengan adanya jaminan dari pemerintah, penggunaan uang untuk berbagai keperluan mendapat kepercayaan dari masyarakat luas. 2. Diterima Secara Umum (Acceptability) Artinya uang harus dapat diterima secara umum penggunaannya, baik sebagai alat tukar, penimbun kekayaan, atau sebagai standar pencicilan utang. 3. Nilainya Stabil (Stability of Value) Nilai uang harus stabil. Apabila nilai uang naik-turun tidak menentu, orang pun tidak mau menggunakannya sebagai alat tukar karena ia tidak memercayainya. 4. Mudah Disimpan (Storable) Uang harus memiliki fleksibilitas, seperti bentuk fisiknya yang tidak terlalu besar, mudah dilipat, dan memiliki nilai nominal mulai dari yang kecil sampai yang besar. Hal tersebut ditujukan agar uang mudah disimpan. 5. Mudah Dibawa (Portability) Sebuah uang harus memenuhi syarat mudah dipindahkan dan mudah dibawa ke mana pun. Artinya, uang harus mudah dipindahkan dari satu tangan ke tangan yang lain. 6. Tidak Mudah Rusak (Durability) Orang tentu tidak mau menggunakan uang jika uang tersebut mudah sekali rusak. Uang harus tahan lama, tidak mudah robek, pecah, atau luntur. Oleh karena itu, kualitas fisik uang harus betul-betul dapat dipastikan bertahan untuk jangka waktu yang relatif lama.
  • 4.
    7. Mudah Dibagi(Divisibility) Uang juga harus mudah dibagi ke dalam berbagai nilai nominal, misalnya Rp100.000,00; Rp50.000,00; Rp1.000,00, dan Rp500,00. Seandainya nilai uang hanya Rp50.000,00 sedangkan untuk membeli satu kilogram jeruk hanya dibutuhkan uang Rp5.000,00, bagaimana dengan kembaliannya? Tentu saja hal tersebut akan menghambat transaksi.