Dr. Jamal Bake, M.Si
1
Administrasi Keuangan
Negara/Daerah
Pengertian Kuangan Negara/Daerah
2
 Keuangan negara adalah segala hal yang terkait
hak dan kewajiban negara dalam pengelolaan
keuangan negara/daerah dalam kerangka
penyelenggaraan negara
 Segala hal yang berkaitan dengan pengelolaan
keuangan dan anggaran daerah mulai dari
pengaturan mengenai sistem, mekanisme,
struktur dan proses perencanaan, penetapan,
tahapan pelaksanaan, pengawasan,
pertanggungjawaban, dan
pertanggunggugatannya.
 Keuangan negara ada sebagai konsekuensi dari
adanya negara.
 Negara ada karena ada wilayah, ada rakyat dan
3
Makna Filosofis Anggaran
Negara
3
 Hakikat anggaran negara adalah pengelolaan
keuangan/uang negara yang diperoleh dari rakyat atau
sumber lain yang menjadi beban rakyat, dan pemerintah
sebagai pihak yang dibebani tugas mengelolanya. Karena
itu, tidak ada alasan membiarkan pemerintah mengelola
anggaran negara tanpa melibatkan rakyat
 Pemerintah, Swasta dan Masyarakat adalan tiga pilar
penyelenggara negara yang masing-masing memiliki hak
dan kewajiban dalam pengelolaan anggaran/keuangan
negara
Anggaran negara/publik
4
 Berkaitan dengan berbagai program dan kegiatan
yang akan, sedang dan telah dilaksanakan,
didasarkanb pada sejumlah variabel penting,
mengkaitkan penerimaan dan pengeluaran
sebagai dasar dalam melakukan kontrol dan
pertangggungjawaban.
 Alat untuk mencapai tujuan dalam rangka
menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan
dan pelayanan publik demi kesejahteraan rakyat
(Albedian, Samuel)
 Suatu perkiraan pengeluaran dan penerimaan
yang diharapkan akan terjadi dalam satu periode
di masa datang dan data dari pengeluaran masa
lalu dalam setiap institusi negara/daerah/publik
Pengertian Legal/formil
5
 Anggaran negara adalah dokumen yang disusun
oleh pemerintah dan disetujui oleh legislatif yang
berisikan belanja yang diperkirakan untuk
melaksanakan kegiatan penyelenbggaraan
negara, dan pendapatan yang diharapkanb untuk
menutupi kebutuhan belanja tersebut setiap
tahun anggaran;
 Struktur anggaran negara/daerah:
penerimaan/pendapatan, pengeluaran/belanja
dan pembiayaan
Hak dan Kewajiban Pemerintah
dalam pengelolaan anggaran:
6
 Hak: Mencetak Uang, Memungut (pajak,
retribusi, royalti dll), Hak Memaksa, Hak
mengatur dan Mengelola moneter, menetapkan
dan mengelola anggaran pendapatan dan belanja
negara/daerah sesuai aturan Per-UU-an,
meminjam untuk memenuhi kebutuhan
angggaran dll.
 Kewajiban: Membayar tagihan pihak ketiga,
menyediakan layanan publik, menciptakan
kesjehtaraan masyarakat, melindungi kepemilikan
rakyat atas finansial dll, menjamin aktivitas
perekonomian dalam negara, mengelola dan
menatausahakan anggaran negara secara baik
Hak dan Kewajiban Rakyat dalam
Keuangan Negara
7
 Hak rakyat: mendapatkan informasi mengenai
pengelolaan keuangan negara/daerah; hak
berpartisipasi dana proses pengelolaan; hak
mendapatkan manfaat atas setiap pengeluaran
negara; hak mengawasi pengelolaan keuangan
negara;
 Kewajiban rakyat: membayar pajak, retribusi dan
,memikul segala kewajiban lain yang ditetapkan
dengan aturanb per-UU-an; memenuhi lain yang
ditetapkan oleh konstitusi.
Hal Yang Melandasi Hak Rakyat dan
Kewajiban Rakyat Terhadap Anggaran negara
8
 Rakyat sebagai komponen dari negara
 Rakyat dibebani membayar pajak, retribusi dan
memikul beban dampak dari pengelolaanb
sumberdaya alam dan potenbsi lainnya;
 Rakyat memikul resiko jikaq terjadi kegagalan
dalam pengelolaan keuangan negara/daerah
 Negara wajib menyejahterakan rakyat;
 Konsekuensi dari negara demokrasi
Administrasi Keuangan/Anggaran
Negara/Daerah
9
 Isu-isu krusial dalam pengelolaan anggaran
negara/daerah adalah: dari mana sumber dan
bagaimana mendapatkannya, bagaimana
mengelolanbya, bagaimana memaksimalkan
rasio keuntungan atas alokasi anggaran;
menguntungkan siapa; program apa yang
prioritas; bagaimana pertanggungjawaban; siapa
pelaksananya; bagaimana pelaporannya,
bagaimana menilai kinerja setiap penggunaan
anggaran
Tujuan Kebijakan Anggaran
Negara/daerah
10
 Dapat menentukan prioritas kebijakan
penyelenbggaraan pemerintahan, pembangunan dan
pelayanan publik;
 Mencerminkan rencana pendapatan atau
pembebanan dan pengeluaran atau alokasi atas
segala program dan proyek pe,mbangunan dan
pelayanan publik yang harus dilakanakan;
 Sebagai instrumen untuk menciptakan stabilitas
kehidupan sosial ekonomi dengan mendorong alokasi
anggaran secara adil antara daerah dan antara
struktur dlam masyarakat.
 Merangsang pertumbuhan ekonomi dengan alokasi
anggaran yang merangsang pertumbuhan investasi
dan perkembangan ekonomi rakyat, terutama usaha
kecil dan menengah melalui program pemberdayaan
Makna Esensil Anggaran
Negara/Daerah
11
 Keseluruhan anggaran yang dirancang oleh
penyelenggara negara yang tujuan dan fungsi
serta peruntukannya berbasis pada upaya
mengatasi permasalahan rakyat dan memenuhi
kebutuhan demi terciptanya kesejahteraan
rakyat;
 Anggaran tidak boleh dikooptasi oleh mereka
yang mengelolanya, melainkan harus selalu
bermuara pada percepatan kemajuan wilayah
dan daerah demi peningkatan kesejahteraan
rakyat selaku pemiliknya. Karena itu, proses
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan
pertanggungjawan harus melibatkan rakyat.
Indikator untuk mengukur kinerja pemerintah
dalam pengelolaanb anggaran negara/daerah
al:
12
 Proses pengelolaanmnya patuh aturan, dan konsisten
dengan visi dan misi pemerintah;
 Kedisiplinan mengelola anggaran (disiplin waktu,
disiplin alokasi, disiplin administrasi); dan daya serap
anggaran maksimal;
 Tidak ada penyimpangan/pemangkasan/korupsi;
 Ada partisipasi stakeholders,, sehingga alokasi
anggaran adil dan proporsional;
 Ada transparansi, akuntabilitas, efektivitas
(perencnanaan sesuai denganpelaksanaan,
penggunaan anggaran sesuai dengan
peruntukannya)
 Tidak ada pemborosan (efisiensi)
 Out put sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan,
 Memberikan manfaat dan dampak kepada
masyarakat
Prinsip-Prinsip Penganggaran
13
 Demokratis: proses perencanaan, penetapan pajak/retribusi,
pengalokasian, pengeluaran harus dilakukan dengan
sepengetahuan rakyat/(bukan hanya diwakili oleh DPR/D).
 Adil (equity); ada keseimbangan yang proporsional antar
anggaran untuk pemerintahan dan untuk masyarakat, antar
wilayahdan antara pusat dan daerah dan antar kelompok
masyarakat;
 Transparansi; ada akses mendapatkan informasi (dokumen),
ada ruang berpartisipasi; ada ruang mempertanyakan
kebijakan, sosialisasi kebijakan dan publikasi;
 Akuntabel: menjelaskan sumber-sumber penerimaan,
digunakan untuk apa, alasan kebijakan, target yang hendak
dicapai (sasaran, out put, out come, benefit dan impact);
 Bermoral; todak foya-foya, efisiensi, kejujuran, patuh aturan,
berpihak pada rakyat miskin;
 Berhati-hati; mampu menghitung resiko, tidak membebani
rakyat;
Fungsi Angaran
14
 Fungsi alokasi: penerimaan, pengeluaran dan
penetapan menggambarkan besaran alokasi
setiap lembaga/wilayah kerja;
 Fungsi distribusi: keseimbangan antar daerah,
antara kelompok masyarakat; antar unit lembaga
menurut beban kerja/tanggungjawab;
 Fungsi stabilitas: menciptakan stabilitas ekonomi
makro, nilai tukar mata uang, ,mendrong
pertumbuhan, pembukaan lapangan kerja,
investasi dan lain-lain.
Peruntukan Anggaran
Negara/Daerah
15
 Operasionalisasi pemerintahan
 Mendanai pembangunan fisik dan nono fisik,
infrastruktur, sarana dan prasarana (sosial,
ekonomi, sosial, politik, hukum, keagamaan,
budaya, hankam, dll)
 Menjamin terlaksananya pelayanan publik
 Membayar tagihan kepada pihak ketiga
Perencanaan Program Dan Anggaran
16
 Renstranas/da
 RPJP/RPJM/RKP/RKSKPD
 Visi dan misi
 Proses perencanaan (tahapan, peran multi pihak)
 Prioritas dan Strategi
 Mekanisme perencanaan (top down/bottom
up/perpaduan)
 Penetapan sasaran dan target
 Rencana Anggaran
17
PILIHAN PARADIGMA PENDEKATAN DALAM
PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
• Pendekatan top down; atau sering disebut dengan
pendekatan terpusat dari atas ke bawah, dilakukan
secara sentralistik, diperankan oleh para elit
perencana di pusat-pusat kekuasaan;
• Pendekatan bottom Up, sering disebut dengan
pendekatan dari bawah ke atas, dilakukan secara
partisipatif melibatkan masyarakat, memberdayakan
pelaku pembangunan di level bawah, dimana
penetapan program dan kegiatan dilakukanb sesuai
dengan kebutuhan ril dalam masyarakat
• Pendekatan terpadu (top down dan bottom up),
menggabungkan kedua jenis pendekatan, dalam
mencari solusi, jalan tengah antara banyaknya
masalah di satu sisi dan keterbatasan sumberdaya
18
Basis Pendekatan Perencanaan Pembangunan
Daerah
• Pendekatan perencanaan berbasis pada penyelesaian
masalah dalam memenuhi kebutuhan dan aspirasi
masyarakat;
• Pendekatan berbasis kinerja, didasarkan pada adanya
target kinerja yang hendak dficapai lalu kemudian mencari
sumber-sumber input (finansial, tenaga, teknologi) untuk
mencapai target yang hendak dicapai;
• Pendekatan berbasis sumber daya, mendahulukan
perhitungan sumberdaya yang dimiliki lalu kemudian
merencanakan target yang hendak dicapai dengan sumber
daya yang ada.
19
TUJUAN PERENCANAAN PROGRAM DAN PENGANGGARAN
PEMBANGUNAN DARERAH
• Memastikan terselenggaranya pembangunan daerah disertai dengan
tujuan dan sasaran Program yang jelas, pasti dan anggaran yang dapat
dipepridiksi;
• Menciptakan koordinasi antar pelaku pembangunan;
• Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar
daerah, antar ruang, antar waktu, antar fungsi, pemerintah, maupun
antara pusat dan daerah;
• Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan;
• Mengoptimalkan peranserta pemangku kepentingan dalam
pembangunan;
• Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien,
efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
19
Keuangan negara/daerah
Integrasi Sistem Penganggaran
20
 RPJPN/RPJPD 20 tahun (visi jangka panjang)
 RPJMN/RPJMD 5 tahunan (Visi jangka menengah 5 tahunan)
 Rencana Kerja Pemerintah Daerah, selanjutnya disebut RKPD,
adalah dokumen perencanaan daerah provinsi, kabupaten, dan
kota untuk periode 1 (satu) tahun.
 Rencana Kerja Pemerintah, selanjutnya disebut RKP, adalah
dokumen perencanaan pemerintah nasipnal untuk periode 1
(satu) tahun.
 Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah, selanjutnya
disebut Renja SKPD, adalah dokumen perencanaan Satuan
Kerja Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun.
 Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah,
selanjutnya disebut RKA SKPD, adalah dokumen perencanaan
dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan Satuan
Kerja Perangkat Daerah yang merupakan penjabaran dari
Rencana Kerja Pemerintah Daerah dan rencana strategis
Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bersangkutan dalam satu
tahun anggaran, serta anggaran yang diperlukan untuk
melaksanakannya.
21
Berbagai Skenario Perencanaan
Program Dan Anggaran
• Perencanaan tanpa disertai kalkulasi
anggaran
• Perencanaan disertai rencana anggaran
(bottom up, pop down, perpaduan )
• Penetapan Pagu perunit/lembaga
• Pola penganggaran terpusat
• Pola Block grand
• Dana Alokasi Langsung
• Pola alokasi parsial/sharing pembiayaan
21
Siklus Kebijakan Penganggaran
22
 Sebagai suatu siklus, kebijakan anggaran daerah
selalu diawali dengan persiapan, review, ratifikasi,
penetapan, implementasi, Monitoring, pelaporan,
dievaluasi dan dianalisis/penilaian dengan maksud
untuk memastikan bahwa kebijakan anggaran
daerah dilakukan secara efektif, sesuai dengan
fungsi anggaran daerah, sebagai suatu kebijakan
pemerintahan daerah (Coe, 1989).
Pilihan Sistem Penganggaran
23
 Traditional Budgeting
 Performance Budgeting
 Zero Base Budgeting
 Medium Term Expenditure Framework
 Multi Years system
Perbandingan Sistem Anggaran Dan Anggaran Berbasis Kinerja
24
Aspek Traditonal Budgeting Performance Budgeting
Proses Perencanaan Top Down/Sentra,listik/Elitis Bottom Up., Desentralisasi, Melibatkan
Stakeholders
Peruntukan anggaran Membiayai input, berorientasi
proyek
Membiayai out put, orientasi program,
sesuai kebutuahn masyarakat.
Penetapan besaran
anggaran
Inkremental, % dari tahun ke
tahun
Sesuai kebutuhan, skala prioritas, terget
kinerja, sesuai visi dan misi
Proses dan Nilai-nilai
dikembangkan
Tertutup, akses publik tdk ada,
efektivitas, efisiensi dan disiplin
administrasi
Partisipasi, transparansi, akuntabilitas,
responbsif, bertanggungjawab,
profesional, disiplin, pro rakyat, sesuai
perencanaan, asas kepatutanb dan
kemanfaatan.
Keberlanjutan Terputus dari tahun ke tahun Berkelanjutan, sesuai target kinerja,
tahunan, multiyears, lima tahunan, JM
dan JP
Ukuran kinerja Penyerapanb abggaran/
kelengkapan administrasi
Capaian kinerja (input, proses, out put,
out come, benefit, impact bagi
masyarakat
Tujuan Peroses Penyusunan
Anggaran
25
 Membantu pencapaian tujuan fiscal (menghitung
kemampuan keuangan yang dimiliki dan sumber-
sumber potensial)
 Meningkatkan koordinasi;
 Membantu terciptanya efisiensi dan efektivitas
pengelolaan anggaran
 Membantu dalam penentuan skala prioritas
belanja
 Memastikan sasaran serta target alokasi
anggaran
Aspek penting dalam penyusunan
anggaran
26
 Konsistensi pada visi dan misi
 Tujuan, sasaran dan target harus jelas dan terukur
(performace budgeting)
 Ketersediaan sumberdaya, finansial dan potensi
dan faktor produksi yang dimiliki;
 Waktu yang dibutuhkan (periodisasi anggaran);
 Faktor global yang mempengaruhi (fluktuasi pasar,
politik LN, bencana dll)
Proses Penganggaran Ideal
27
 Komprehensif dan disiplin: kesinambungan,
memperhatikan semua aspek (kemampuan, potensi,
prioritas alokasi), taat asas, pengeluaran tidak off
budget;
 Fleksibilitas: dalam rangka efisiensi dan efektivitas
 Terprediksi; ketepatan dalam perencanaan;
 Kejujuran;
 Informatif kepada semua pihak;
 Kejelasan tugas danb tanggungjawab setiap pihak.
Faktor Penyebab Adanya Pemborosan
(Inefisiensi)
28
 Pendekatan dalam proses penetapan besaran
alokasi anggaran setiap tahun menggunakan
pendekatan inkremental, didasarkan kenaikan
dari tahun ketahun berdasarkan jumlah
penduduk, inflasi, daya beli dll;
 Distribusi alokasi anggaran tidak terkoordinasi
baik / juga ego sektoral/ salinbg klaim
kewenangan
 Adanya mark up anggaran di atas kebutuhan
teknis dari suatu proyek/kegiatan;
 Penyimpangan terhadap perencanaan,
penetapan tujuan, sasaran dan target tidak jelas;
 Praktek KKN
Penyebab Kegagalan pembangunan Jangka
Panjang 10 - 25 tahunan al:
29
 Tidak adanya kesamaan visi dan misi antara setiap sektor atau
departemen yang mengerjakan suatu obyek program yang sama, dan
sering terjadi tumpang tindih program atau proyek duplikasi dalam
pelaksanaan proyek-proyek atau kegiatan.
 Adanya ego Pemimipin. Setiap Pemimpin berganti baik di suatu
departemen maupun pejabat di daerah, masing- masing pejabat yang
diangkat ingin menunjukkan kehebatannya kepada atasan (kepada
presiden atau pemerintah pusat) dan seakan-akan ingin tampil beda
dengan pejabat lama.
 Belum adanya komitmen para penentu kebijakan untuk menyukseskan
program pembangunan yang disusun secara berkelanjutan sesuai
dengan visi dan missi yang telah ditetapkan.
 Ketidaktepatan memprediksi faktor-faktor resiko
 Terbatasnya Pembiayaan
 Adanya Bencana
Implikasi Dari Sistem Penganggaran
Terpusat
30
 Dominasi pemerintah dalam pengelolaan
program dan anggaran
 Ketergantungan pemerintah daerah/desa
 Intervensi kelompok kepentingan/pembisnis
dominan/proyek pesanan
 Proyek dorping
 Masalah rakyat lokal tidak teratasi
Problematika Desentralisasi Pengelolaan
Anggaran Negara
31
 Adanya perbedaan potensi daerah berimplikasi pada
adanya kesenjangan fiscal antar daerah;
 Ketergantungan daerah kepada pemerintah pusat bagi
daerahh marginal;
 Penetapan aturan dan kebijakan nasional yang seragam,
sementara kondisi daerah berbeda-beda;
 Ketidaksiapan aparatur pemerintah local
 Ketersediaan teknologi informasi yang tidak merata
keseluruhh daerah;
 Agenda nasional dalam pembangunan Negara bisa
terabaikan
 Arena penyimpangan anggaran semakin luas, tidak hanya
di level nasional;
 Instrumen pengawasan yang terbatas
Program Pembangunan Jangka Panjang Tidak
Berkelanjutan Karena
32
 Tidak ada kesamaan visi dan misi (belum ada
bluprint pembangunan jangka panjang)
 Ego pemimpin yang berkuasa
 Tidak ada komitmen semua elemen pada setiap
era kepemimpinannya
 Permasalahan yang terus berubah

Administrasi Keuangan Negara.ppt

  • 1.
    Dr. Jamal Bake,M.Si 1 Administrasi Keuangan Negara/Daerah
  • 2.
    Pengertian Kuangan Negara/Daerah 2 Keuangan negara adalah segala hal yang terkait hak dan kewajiban negara dalam pengelolaan keuangan negara/daerah dalam kerangka penyelenggaraan negara  Segala hal yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan dan anggaran daerah mulai dari pengaturan mengenai sistem, mekanisme, struktur dan proses perencanaan, penetapan, tahapan pelaksanaan, pengawasan, pertanggungjawaban, dan pertanggunggugatannya.  Keuangan negara ada sebagai konsekuensi dari adanya negara.  Negara ada karena ada wilayah, ada rakyat dan
  • 3.
    3 Makna Filosofis Anggaran Negara 3 Hakikat anggaran negara adalah pengelolaan keuangan/uang negara yang diperoleh dari rakyat atau sumber lain yang menjadi beban rakyat, dan pemerintah sebagai pihak yang dibebani tugas mengelolanya. Karena itu, tidak ada alasan membiarkan pemerintah mengelola anggaran negara tanpa melibatkan rakyat  Pemerintah, Swasta dan Masyarakat adalan tiga pilar penyelenggara negara yang masing-masing memiliki hak dan kewajiban dalam pengelolaan anggaran/keuangan negara
  • 4.
    Anggaran negara/publik 4  Berkaitandengan berbagai program dan kegiatan yang akan, sedang dan telah dilaksanakan, didasarkanb pada sejumlah variabel penting, mengkaitkan penerimaan dan pengeluaran sebagai dasar dalam melakukan kontrol dan pertangggungjawaban.  Alat untuk mencapai tujuan dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik demi kesejahteraan rakyat (Albedian, Samuel)  Suatu perkiraan pengeluaran dan penerimaan yang diharapkan akan terjadi dalam satu periode di masa datang dan data dari pengeluaran masa lalu dalam setiap institusi negara/daerah/publik
  • 5.
    Pengertian Legal/formil 5  Anggarannegara adalah dokumen yang disusun oleh pemerintah dan disetujui oleh legislatif yang berisikan belanja yang diperkirakan untuk melaksanakan kegiatan penyelenbggaraan negara, dan pendapatan yang diharapkanb untuk menutupi kebutuhan belanja tersebut setiap tahun anggaran;  Struktur anggaran negara/daerah: penerimaan/pendapatan, pengeluaran/belanja dan pembiayaan
  • 6.
    Hak dan KewajibanPemerintah dalam pengelolaan anggaran: 6  Hak: Mencetak Uang, Memungut (pajak, retribusi, royalti dll), Hak Memaksa, Hak mengatur dan Mengelola moneter, menetapkan dan mengelola anggaran pendapatan dan belanja negara/daerah sesuai aturan Per-UU-an, meminjam untuk memenuhi kebutuhan angggaran dll.  Kewajiban: Membayar tagihan pihak ketiga, menyediakan layanan publik, menciptakan kesjehtaraan masyarakat, melindungi kepemilikan rakyat atas finansial dll, menjamin aktivitas perekonomian dalam negara, mengelola dan menatausahakan anggaran negara secara baik
  • 7.
    Hak dan KewajibanRakyat dalam Keuangan Negara 7  Hak rakyat: mendapatkan informasi mengenai pengelolaan keuangan negara/daerah; hak berpartisipasi dana proses pengelolaan; hak mendapatkan manfaat atas setiap pengeluaran negara; hak mengawasi pengelolaan keuangan negara;  Kewajiban rakyat: membayar pajak, retribusi dan ,memikul segala kewajiban lain yang ditetapkan dengan aturanb per-UU-an; memenuhi lain yang ditetapkan oleh konstitusi.
  • 8.
    Hal Yang MelandasiHak Rakyat dan Kewajiban Rakyat Terhadap Anggaran negara 8  Rakyat sebagai komponen dari negara  Rakyat dibebani membayar pajak, retribusi dan memikul beban dampak dari pengelolaanb sumberdaya alam dan potenbsi lainnya;  Rakyat memikul resiko jikaq terjadi kegagalan dalam pengelolaan keuangan negara/daerah  Negara wajib menyejahterakan rakyat;  Konsekuensi dari negara demokrasi
  • 9.
    Administrasi Keuangan/Anggaran Negara/Daerah 9  Isu-isukrusial dalam pengelolaan anggaran negara/daerah adalah: dari mana sumber dan bagaimana mendapatkannya, bagaimana mengelolanbya, bagaimana memaksimalkan rasio keuntungan atas alokasi anggaran; menguntungkan siapa; program apa yang prioritas; bagaimana pertanggungjawaban; siapa pelaksananya; bagaimana pelaporannya, bagaimana menilai kinerja setiap penggunaan anggaran
  • 10.
    Tujuan Kebijakan Anggaran Negara/daerah 10 Dapat menentukan prioritas kebijakan penyelenbggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik;  Mencerminkan rencana pendapatan atau pembebanan dan pengeluaran atau alokasi atas segala program dan proyek pe,mbangunan dan pelayanan publik yang harus dilakanakan;  Sebagai instrumen untuk menciptakan stabilitas kehidupan sosial ekonomi dengan mendorong alokasi anggaran secara adil antara daerah dan antara struktur dlam masyarakat.  Merangsang pertumbuhan ekonomi dengan alokasi anggaran yang merangsang pertumbuhan investasi dan perkembangan ekonomi rakyat, terutama usaha kecil dan menengah melalui program pemberdayaan
  • 11.
    Makna Esensil Anggaran Negara/Daerah 11 Keseluruhan anggaran yang dirancang oleh penyelenggara negara yang tujuan dan fungsi serta peruntukannya berbasis pada upaya mengatasi permasalahan rakyat dan memenuhi kebutuhan demi terciptanya kesejahteraan rakyat;  Anggaran tidak boleh dikooptasi oleh mereka yang mengelolanya, melainkan harus selalu bermuara pada percepatan kemajuan wilayah dan daerah demi peningkatan kesejahteraan rakyat selaku pemiliknya. Karena itu, proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pertanggungjawan harus melibatkan rakyat.
  • 12.
    Indikator untuk mengukurkinerja pemerintah dalam pengelolaanb anggaran negara/daerah al: 12  Proses pengelolaanmnya patuh aturan, dan konsisten dengan visi dan misi pemerintah;  Kedisiplinan mengelola anggaran (disiplin waktu, disiplin alokasi, disiplin administrasi); dan daya serap anggaran maksimal;  Tidak ada penyimpangan/pemangkasan/korupsi;  Ada partisipasi stakeholders,, sehingga alokasi anggaran adil dan proporsional;  Ada transparansi, akuntabilitas, efektivitas (perencnanaan sesuai denganpelaksanaan, penggunaan anggaran sesuai dengan peruntukannya)  Tidak ada pemborosan (efisiensi)  Out put sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan,  Memberikan manfaat dan dampak kepada masyarakat
  • 13.
    Prinsip-Prinsip Penganggaran 13  Demokratis:proses perencanaan, penetapan pajak/retribusi, pengalokasian, pengeluaran harus dilakukan dengan sepengetahuan rakyat/(bukan hanya diwakili oleh DPR/D).  Adil (equity); ada keseimbangan yang proporsional antar anggaran untuk pemerintahan dan untuk masyarakat, antar wilayahdan antara pusat dan daerah dan antar kelompok masyarakat;  Transparansi; ada akses mendapatkan informasi (dokumen), ada ruang berpartisipasi; ada ruang mempertanyakan kebijakan, sosialisasi kebijakan dan publikasi;  Akuntabel: menjelaskan sumber-sumber penerimaan, digunakan untuk apa, alasan kebijakan, target yang hendak dicapai (sasaran, out put, out come, benefit dan impact);  Bermoral; todak foya-foya, efisiensi, kejujuran, patuh aturan, berpihak pada rakyat miskin;  Berhati-hati; mampu menghitung resiko, tidak membebani rakyat;
  • 14.
    Fungsi Angaran 14  Fungsialokasi: penerimaan, pengeluaran dan penetapan menggambarkan besaran alokasi setiap lembaga/wilayah kerja;  Fungsi distribusi: keseimbangan antar daerah, antara kelompok masyarakat; antar unit lembaga menurut beban kerja/tanggungjawab;  Fungsi stabilitas: menciptakan stabilitas ekonomi makro, nilai tukar mata uang, ,mendrong pertumbuhan, pembukaan lapangan kerja, investasi dan lain-lain.
  • 15.
    Peruntukan Anggaran Negara/Daerah 15  Operasionalisasipemerintahan  Mendanai pembangunan fisik dan nono fisik, infrastruktur, sarana dan prasarana (sosial, ekonomi, sosial, politik, hukum, keagamaan, budaya, hankam, dll)  Menjamin terlaksananya pelayanan publik  Membayar tagihan kepada pihak ketiga
  • 16.
    Perencanaan Program DanAnggaran 16  Renstranas/da  RPJP/RPJM/RKP/RKSKPD  Visi dan misi  Proses perencanaan (tahapan, peran multi pihak)  Prioritas dan Strategi  Mekanisme perencanaan (top down/bottom up/perpaduan)  Penetapan sasaran dan target  Rencana Anggaran
  • 17.
    17 PILIHAN PARADIGMA PENDEKATANDALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH • Pendekatan top down; atau sering disebut dengan pendekatan terpusat dari atas ke bawah, dilakukan secara sentralistik, diperankan oleh para elit perencana di pusat-pusat kekuasaan; • Pendekatan bottom Up, sering disebut dengan pendekatan dari bawah ke atas, dilakukan secara partisipatif melibatkan masyarakat, memberdayakan pelaku pembangunan di level bawah, dimana penetapan program dan kegiatan dilakukanb sesuai dengan kebutuhan ril dalam masyarakat • Pendekatan terpadu (top down dan bottom up), menggabungkan kedua jenis pendekatan, dalam mencari solusi, jalan tengah antara banyaknya masalah di satu sisi dan keterbatasan sumberdaya
  • 18.
    18 Basis Pendekatan PerencanaanPembangunan Daerah • Pendekatan perencanaan berbasis pada penyelesaian masalah dalam memenuhi kebutuhan dan aspirasi masyarakat; • Pendekatan berbasis kinerja, didasarkan pada adanya target kinerja yang hendak dficapai lalu kemudian mencari sumber-sumber input (finansial, tenaga, teknologi) untuk mencapai target yang hendak dicapai; • Pendekatan berbasis sumber daya, mendahulukan perhitungan sumberdaya yang dimiliki lalu kemudian merencanakan target yang hendak dicapai dengan sumber daya yang ada.
  • 19.
    19 TUJUAN PERENCANAAN PROGRAMDAN PENGANGGARAN PEMBANGUNAN DARERAH • Memastikan terselenggaranya pembangunan daerah disertai dengan tujuan dan sasaran Program yang jelas, pasti dan anggaran yang dapat dipepridiksi; • Menciptakan koordinasi antar pelaku pembangunan; • Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar daerah, antar ruang, antar waktu, antar fungsi, pemerintah, maupun antara pusat dan daerah; • Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan; • Mengoptimalkan peranserta pemangku kepentingan dalam pembangunan; • Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan. 19 Keuangan negara/daerah
  • 20.
    Integrasi Sistem Penganggaran 20 RPJPN/RPJPD 20 tahun (visi jangka panjang)  RPJMN/RPJMD 5 tahunan (Visi jangka menengah 5 tahunan)  Rencana Kerja Pemerintah Daerah, selanjutnya disebut RKPD, adalah dokumen perencanaan daerah provinsi, kabupaten, dan kota untuk periode 1 (satu) tahun.  Rencana Kerja Pemerintah, selanjutnya disebut RKP, adalah dokumen perencanaan pemerintah nasipnal untuk periode 1 (satu) tahun.  Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah, selanjutnya disebut Renja SKPD, adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun.  Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah, selanjutnya disebut RKA SKPD, adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah yang merupakan penjabaran dari Rencana Kerja Pemerintah Daerah dan rencana strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran, serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya.
  • 21.
    21 Berbagai Skenario Perencanaan ProgramDan Anggaran • Perencanaan tanpa disertai kalkulasi anggaran • Perencanaan disertai rencana anggaran (bottom up, pop down, perpaduan ) • Penetapan Pagu perunit/lembaga • Pola penganggaran terpusat • Pola Block grand • Dana Alokasi Langsung • Pola alokasi parsial/sharing pembiayaan 21
  • 22.
    Siklus Kebijakan Penganggaran 22 Sebagai suatu siklus, kebijakan anggaran daerah selalu diawali dengan persiapan, review, ratifikasi, penetapan, implementasi, Monitoring, pelaporan, dievaluasi dan dianalisis/penilaian dengan maksud untuk memastikan bahwa kebijakan anggaran daerah dilakukan secara efektif, sesuai dengan fungsi anggaran daerah, sebagai suatu kebijakan pemerintahan daerah (Coe, 1989).
  • 23.
    Pilihan Sistem Penganggaran 23 Traditional Budgeting  Performance Budgeting  Zero Base Budgeting  Medium Term Expenditure Framework  Multi Years system
  • 24.
    Perbandingan Sistem AnggaranDan Anggaran Berbasis Kinerja 24 Aspek Traditonal Budgeting Performance Budgeting Proses Perencanaan Top Down/Sentra,listik/Elitis Bottom Up., Desentralisasi, Melibatkan Stakeholders Peruntukan anggaran Membiayai input, berorientasi proyek Membiayai out put, orientasi program, sesuai kebutuahn masyarakat. Penetapan besaran anggaran Inkremental, % dari tahun ke tahun Sesuai kebutuhan, skala prioritas, terget kinerja, sesuai visi dan misi Proses dan Nilai-nilai dikembangkan Tertutup, akses publik tdk ada, efektivitas, efisiensi dan disiplin administrasi Partisipasi, transparansi, akuntabilitas, responbsif, bertanggungjawab, profesional, disiplin, pro rakyat, sesuai perencanaan, asas kepatutanb dan kemanfaatan. Keberlanjutan Terputus dari tahun ke tahun Berkelanjutan, sesuai target kinerja, tahunan, multiyears, lima tahunan, JM dan JP Ukuran kinerja Penyerapanb abggaran/ kelengkapan administrasi Capaian kinerja (input, proses, out put, out come, benefit, impact bagi masyarakat
  • 25.
    Tujuan Peroses Penyusunan Anggaran 25 Membantu pencapaian tujuan fiscal (menghitung kemampuan keuangan yang dimiliki dan sumber- sumber potensial)  Meningkatkan koordinasi;  Membantu terciptanya efisiensi dan efektivitas pengelolaan anggaran  Membantu dalam penentuan skala prioritas belanja  Memastikan sasaran serta target alokasi anggaran
  • 26.
    Aspek penting dalampenyusunan anggaran 26  Konsistensi pada visi dan misi  Tujuan, sasaran dan target harus jelas dan terukur (performace budgeting)  Ketersediaan sumberdaya, finansial dan potensi dan faktor produksi yang dimiliki;  Waktu yang dibutuhkan (periodisasi anggaran);  Faktor global yang mempengaruhi (fluktuasi pasar, politik LN, bencana dll)
  • 27.
    Proses Penganggaran Ideal 27 Komprehensif dan disiplin: kesinambungan, memperhatikan semua aspek (kemampuan, potensi, prioritas alokasi), taat asas, pengeluaran tidak off budget;  Fleksibilitas: dalam rangka efisiensi dan efektivitas  Terprediksi; ketepatan dalam perencanaan;  Kejujuran;  Informatif kepada semua pihak;  Kejelasan tugas danb tanggungjawab setiap pihak.
  • 28.
    Faktor Penyebab AdanyaPemborosan (Inefisiensi) 28  Pendekatan dalam proses penetapan besaran alokasi anggaran setiap tahun menggunakan pendekatan inkremental, didasarkan kenaikan dari tahun ketahun berdasarkan jumlah penduduk, inflasi, daya beli dll;  Distribusi alokasi anggaran tidak terkoordinasi baik / juga ego sektoral/ salinbg klaim kewenangan  Adanya mark up anggaran di atas kebutuhan teknis dari suatu proyek/kegiatan;  Penyimpangan terhadap perencanaan, penetapan tujuan, sasaran dan target tidak jelas;  Praktek KKN
  • 29.
    Penyebab Kegagalan pembangunanJangka Panjang 10 - 25 tahunan al: 29  Tidak adanya kesamaan visi dan misi antara setiap sektor atau departemen yang mengerjakan suatu obyek program yang sama, dan sering terjadi tumpang tindih program atau proyek duplikasi dalam pelaksanaan proyek-proyek atau kegiatan.  Adanya ego Pemimipin. Setiap Pemimpin berganti baik di suatu departemen maupun pejabat di daerah, masing- masing pejabat yang diangkat ingin menunjukkan kehebatannya kepada atasan (kepada presiden atau pemerintah pusat) dan seakan-akan ingin tampil beda dengan pejabat lama.  Belum adanya komitmen para penentu kebijakan untuk menyukseskan program pembangunan yang disusun secara berkelanjutan sesuai dengan visi dan missi yang telah ditetapkan.  Ketidaktepatan memprediksi faktor-faktor resiko  Terbatasnya Pembiayaan  Adanya Bencana
  • 30.
    Implikasi Dari SistemPenganggaran Terpusat 30  Dominasi pemerintah dalam pengelolaan program dan anggaran  Ketergantungan pemerintah daerah/desa  Intervensi kelompok kepentingan/pembisnis dominan/proyek pesanan  Proyek dorping  Masalah rakyat lokal tidak teratasi
  • 31.
    Problematika Desentralisasi Pengelolaan AnggaranNegara 31  Adanya perbedaan potensi daerah berimplikasi pada adanya kesenjangan fiscal antar daerah;  Ketergantungan daerah kepada pemerintah pusat bagi daerahh marginal;  Penetapan aturan dan kebijakan nasional yang seragam, sementara kondisi daerah berbeda-beda;  Ketidaksiapan aparatur pemerintah local  Ketersediaan teknologi informasi yang tidak merata keseluruhh daerah;  Agenda nasional dalam pembangunan Negara bisa terabaikan  Arena penyimpangan anggaran semakin luas, tidak hanya di level nasional;  Instrumen pengawasan yang terbatas
  • 32.
    Program Pembangunan JangkaPanjang Tidak Berkelanjutan Karena 32  Tidak ada kesamaan visi dan misi (belum ada bluprint pembangunan jangka panjang)  Ego pemimpin yang berkuasa  Tidak ada komitmen semua elemen pada setiap era kepemimpinannya  Permasalahan yang terus berubah