(E 4)َ‫س‬ْ‫ن‬ِ‫إل‬ْ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ِِ‫نا‬
JIWA MANUSIA
(E 4)ِِ‫نا‬َ‫س‬ْ‫ن‬ِ‫إل‬ْ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬
ُ‫ح‬ ْ‫و‬ُّ‫لر‬َ‫ا‬ُ‫ر‬ْ‫ك‬ِ‫لذ‬َ‫ا‬ُ‫م‬ْ‫ل‬َ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬َ‫ا‬ُ‫ة‬َّ‫ن‬ِ‫ئ‬َ‫م‬ْ‫ط‬
‫ى‬ َ‫و‬َ‫ه‬ْ‫ل‬َ‫ا‬
ُ‫ح‬ ْ‫و‬ُّ‫ل‬َ‫ا‬/‫ى‬ َ‫و‬َ‫ه‬ْ‫ل‬َ‫ا‬ُ‫ي‬ْ‫أ‬َّ‫لر‬َ‫ا‬َّ‫ل‬‫ل‬َ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬َ‫ا‬ُ‫ة‬َ‫م‬‫ا‬ َ‫و‬
‫ى‬ َ‫و‬َ‫ه‬ْ‫ل‬َ‫ا‬ُ‫ات‬ َ‫و‬َ‫ه‬َّ‫ش‬‫ل‬َ‫ا‬َّ‫م‬َ‫أل‬ْ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬َ‫ا‬ْ‫و‬ُّ‫س‬‫نال‬ِِ ُُ َ‫نار‬ِ‫ء‬
ُ‫ح‬ ْ‫و‬ُّ‫لر‬َ‫ا‬
ْ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬َ‫س‬ْ‫ن‬ِ‫إل‬ِِ‫نا‬
NAFSU
• NAFSU ada pada manusia setelah bercampur
JASAD dan RUH (7:172. 39:42)
JASAD + RUH = NAFSU
JASAD – RUH (tidur) = TIDAK ADA NAFSU
RUH – JASAD (mati) = TIDAK ADA NAFSU
• Nafsu yang pertama ada adalah nafsu yang
mengakui Allah SWT sebagai Tuhan
• 7:172
ُ‫ت‬ْ‫س‬َ‫ل‬َ‫أ‬ ْ‫م‬ِ‫ه‬ِ‫س‬ُ‫ف‬ْ‫ن‬َ‫أ‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ْ‫م‬ُ‫ه‬َ‫د‬َ‫ه‬ْ‫ش‬َ‫أ‬ َ‫و‬َ‫ش‬ ‫ى‬َ‫ل‬َِ ‫ا‬ُ‫ل‬‫ل‬ََ ْ‫م‬ََُُِِِِ‫َل‬‫ن‬ْ‫د‬ِ‫ه‬
Fluktuatif
• Kondisi jiwa manusia tidak pernah statik,
tapi dinamik (fluktuatif)
– Saat dzikir menonjol  nafsu akan tenang
13:28
– Saat akal menonjol  nafsu terombang-ambing
– Saat syahwat menonjol  nafsu tak terkawal
• Mengawal jiwa sangat penting dalam
kehidupan muslim  selamat dunia akhirat
RUH dan HAWA
• Ruh
– Allah SWT memuliakan ruh sehingga
menyandingkan ruh dengan DiriNya (32:9)
ِِ‫ه‬ ِ‫وح‬ُ‫ر‬ (ruhNya)
– Ini seperti pada kalimat ‫بيتِهللاِتعالى‬ (rumah
Allah Ta’ala) dan ‫ناقةِهللاِتعالى‬ (unta Allah
Ta’ala)
– Juga sebagai pemberitahuan bahwa ruh itu
adalah makhluk yang menakjubkan dan ciptaan
yang belum pernah ada sebelumnya
RUH dan HAWA
• Hawa (‫لهاى‬ )
– Berarti KEINGINAN: baik ataupun buruk
– Mengikuti hawa berarti mengikuti apa saja
keinginannya, baik ataupun buruk, tanpa
batasan
– Ia seperti BINATANG
– Ada manusia yang menuhankan hawa-nya
(25:43, 45:23) ُِ‫ه‬‫ا‬َ‫و‬َ‫ه‬ُِ‫ه‬َ‫ه‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ (tidak ada yang sesuatu
yang diingini kecuali diikutinya)
Ruh Mendominasi Hawa (1)
• Jika kondisi RUH kita dominan atas hawa:
• Manusia akan ringan untuk beribadah,
berkorban, berjihad, dll
• Hilanglah kemalasan untuk beribadah
• Jiwanya menjadi tenang karena banyak
dzikrullah (13:28)
• Mampu mencegah dari perbuatan keji dan
munkar (29:45)
Ruh Mendominasi Hawa (1)
• Oleh karena itu, agar kondisi ini (ruh
dominan atas hawa) maka PERLU
MEMPERBANYAK DZIKRULLAH
• Jiwa yang selalu tenang itu disebut dengan
ُ‫ة‬َّ‫ن‬ِ‫ئ‬َ‫م‬ْ‫ط‬ُ‫م‬ْ‫ل‬َ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬َ‫ا‬ (29:27-30)
ُ‫ة‬َّ‫ن‬ِ‫ئ‬َ‫م‬ْ‫ط‬ُ‫م‬ْ‫ل‬َ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬َ‫ا‬
• ،ِ‫ى‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ع‬َ‫ت‬ِِ‫هللا‬ِ‫ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ُِ‫ه‬ُ‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ِ ْ‫ت‬َّ‫ن‬َ‫أ‬َ‫م‬ْ‫ط‬‫ِا‬ِ‫ن‬َ‫م‬ٌِ‫ل‬‫ا‬َ‫ح‬َِ‫ل‬َ‫ك‬ِ‫ات‬َ‫ِ،ِو‬ِ‫ه‬ ِ‫ر‬ْ‫م‬َ‫ِأل‬َ‫م‬ِ‫ل‬َ‫س‬َ‫ف‬َ‫ل‬َ‫ع‬‫ْه‬‫ي‬
(keadaan orang yang jiwanya tenang kepada Allah
Ta’ala, sehingga ia menerima perintahNya dan
bertawakkal kepadaNya)
• Jiwa yang tenang dan yakin: yakin bahwa Allah
adalah Tuhannya, maka ia tunduk kepadaNya
• Jiwa yang meyakini dan tenang dengan pahala
Allah
• Jiwa yang ridho dengan ketetapan Allah
ُ‫ة‬َّ‫ن‬ِ‫ئ‬َ‫م‬ْ‫ط‬ُ‫م‬ْ‫ل‬َ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬َ‫ا‬
• Jiwa ini, istiqamah di atas taubatnya hingga
akhir kehidupan, lalu menyusuli
kekurangannya dan tidak berkeinginan
untuk mengulangi dosa-dosanya, kecuali
ketergelinciran yang tidak dapat dihindari
kecuali oleh para Nabi
• Ia dapat juga tidak terlepas dari perlawanan
hawa nafsu tetapi serius dalam melakukan
mujahadah dan menentangnya
Panggilan Mulia
• Panggilan oleh malaikat dengan ungkapan seperti
pada ayat-ayat dilakukan 2 kali: menjelang ajal
dan saat dibangkitkan dari kubur
– Allah memanggil dengan panggilan yang sangat lembut
dan mulia
– Tempat kembali (rumahnya): di sisi Allah + kepuasan
– Kawan-kawannya: hamba-hamba Allah
– Masuk sorga
Wafatnya Ibnu Abbas
• Saat Ibnu Abbas wafat di Thaif, terbanglah
makhluk yang tidak pernah terlihat sebelumnya
berbentuk seperti Ibnu Abbas. Makhluk itu masuk
ke dalam katilnya dan tidak pernah kelihatan lagi
keluar dari padanya. Ketika jenazah Ibnu Abbas
diletakkan di dalam liang kuburnya, terdengarlah
ada yang membaca ayat tersebut di pinggir
kurubnya tanpa ada yang mengetahui siapa yang
membacanya (Ibnu Abu Hatim)
Abu Hasyim
• Dalam buku Kitabul ‘Aja’ib (Ibnul Mundzir al-Harawi)
disebutkan:
• Abu Hisyam (Qabbats bin Razin) menceritakan: kami
ditawan di negeri Romawi dan mengumpulkan semua
tawanan, serta menawarkan agamanya. Siapa yang
menentang, dipenggal kepalanya. Sudah tiga yang murtad.
Saat dipenggal yang keempat, kepalanya dilempar ke
sungai. Semula tenggelam lalu mengambang, memandang
semua kawan yang telah murtad, memanggil satu per satu,
lalu membacakan ayat-ayat tersebut, lalu tenggelam lagi.
Hampir semua orang nasrani masuk Islam dan bertobatlah
ketiga temannya itu. Khalifah Abu Ja’far al-Mansur
mengirim pasukan untuk membebaskan mereka
Doa Memohon Jiwa yang Tenang
َ‫ك‬ِ‫ب‬ ‫ا‬ً‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ َ‫ك‬ُ‫ل‬َ‫أ‬ْ‫َس‬‫أ‬ ِّ‫ّن‬ِ‫إ‬ ،َّ‫م‬ُ‫ه‬ّ‫ل‬‫ال‬ِ‫ب‬ ُ‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ؤ‬ُ‫ت‬ ،ً‫ة‬َّ‫ن‬ِ‫ئ‬َ‫م‬ْ‫ط‬ُ‫م‬، َ‫ك‬ِ‫ائ‬َ‫ق‬ِ‫ل‬
ِ‫ب‬ ُ‫ع‬َ‫ن‬ْ‫ق‬َ‫ت‬َ‫و‬ ، َ‫ك‬ِ‫ائ‬َ‫ض‬َ‫ق‬ِ‫ب‬ ‫ى‬َ‫ض‬ْ‫ر‬َ‫ت‬َ‫و‬َ‫ك‬ِ‫ائ‬َ‫ط‬َ‫ع‬
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon
kepadaMu jiwa yang tenang kepadaMu, yakin
dengan pertemuanMu, ridho dengan
ketetapanMu, dan qana’ah dengan
pemberianMu
Dzikir dalam Semua Kondisi
• 3:191 mengarahkan agar dzikir dalam
segala kondisi (berdiri, duduk, berbaring)
• Kedudukan dzikir
1. Bahan dan jalan untuk mencapai kebahagiaan
(‫ا‬َ‫ه‬ُ‫ل‬ْ‫ي‬ِ‫ب‬َ‫س‬َ‫و‬ ِ‫ة‬َ‫اد‬َ‫ع‬َّ‫الس‬ ُ‫ة‬َّ‫اد‬َ‫)م‬
2. Benteng dari godaan syaitan dan bisikannya
( َ‫س‬َ‫و‬ْ‫س‬َ‫و‬َ‫و‬ ِ‫ان‬َ‫ط‬ْ‫َّي‬‫الش‬ ِ‫ات‬َ‫ع‬ْ‫ز‬َ‫ن‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬ ِ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫الن‬ ُ‫ن‬ْ‫ص‬ِ‫ح‬ِِِ‫ِت‬ )
3. Senjata dan perisai mu’min ( َّ‫ن‬ُ‫ج‬َ‫و‬ ِ‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ؤ‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ح‬َ‫ال‬ِ‫س‬ُُِ‫ِت‬ )
RUH – HAWA Sama Dominan
• Ada dua keadaan
1. Ia menempuh jalan istiqamah dan induk-induk ketaatan
dan meninggalkan semua dosa besar, tetapi tidak dapat
terlepas dari dosa-dosa yang membelitnya, meskipun dia
tidak sengaja melakukannya, lalu menyesalinya
2. Bertahan di atas istiqamah tapi beberapa saat kemudian
dikalahkan oleh syahwat dalam sebagian dosa sehingga
dia melakukannya secara sengaja dan dengan syahwat
karena ketidakmampuan mengalahkan syahwat, tapi ia
tetap tekun melakukan ketaatan
‫ة‬َ‫م‬‫ا‬َّ‫و‬َّ‫ل‬‫سِال‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ال‬
• Keadaan 1 disebut NAFSU LAWWAMAH
(jiwa yang selalu mencela berbagai keadaan
tercela yang tidak disengaja) 75:2
• Tingkatannya di bawah nafsu muthmainnah
• Ia mesti memperbanyak kebaikan agar
memperberat timbangan amal baiknya
• 53:32 setiap dosa kecil yang tidak disengaja
disebut lamam yang dimaafkan
‫ة‬َ‫م‬‫ا‬َّ‫و‬َّ‫ل‬‫سِال‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ال‬
• Allah tetap memuji jiwa ini sekalipun
mereka menganiaya diri sendiri (3:135)
• Sabda Nabi SAW
َ‫أ‬ ُ‫ء‬ْ‫ي‬ِ‫ف‬َ‫ي‬ ِ‫ة‬َ‫ل‬ُ‫ب‬ْ‫ن‬ُّ‫الس‬َ‫ك‬ُ‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ؤ‬ُ‫ْم‬‫ل‬َ‫ا‬ً‫ا‬‫ان‬َ‫ي‬ْ‫َح‬‫أ‬ ُ‫ل‬ْ‫ي‬َِ‫َي‬َ‫و‬ ً‫ا‬‫ان‬َ‫ي‬ْ‫ح‬
Mu’min itu seperti benih, kadang kembali
lurus dan kadang condong (HR Ibnu Ya’la
dan Ibnu Hibban)
ُ‫ة‬َ‫ل‬ِ‫ا‬َ‫س‬ُ‫م‬ْ‫ل‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬
• Keadaan 2 disebut ُ‫ة‬َ‫ل‬ِ‫ا‬َ‫س‬ُ‫م‬ْ‫ل‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬ (jiwa yang selalu
menggoda) 9:102
• Ia berada di tepi antara nafsu yang di atas, dengan
nafsu yang di bawah (akan dijelaskan kemudian)
– Ketekunannya dalam ketaatan dan kebenciannya
terhadap dosa menimbulkan harapan taubatnya diterima
Allah
– Penundaan taubat akan sangat berbahaya, jika sebelum
bertaubat sudah dicabut nyawanya
– Jika syahwatnya terus menguasainya, maka ia jatuh
nafsu yang rendah
HAWA Mendominasi RUH
• Mungkin pernah bertaubat, tapi sesaat
kemudian kembali melakukan dosa atau
banyak dosa tanpa berhasrat untuk bertaubat,
tanpa menyesali perbuatannya, bahkan
tenggelam dalam dosa (25:43, 45:23)
• Jiwa ini disebut ُّ‫س‬‫نال‬ِِ َُُ‫نار‬َّ‫م‬َ‫أل‬ْ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬َ‫ا‬ِ‫ء‬ ْ‫و‬ (jiwa yang
selalu memerintahkan kejahatan), yang lari
dari kebaikan
Didustakan atau Dibunuh
• Inilah perilaku Bani Israil:
– Setiap datang seorang rasul kepada mereka
dengan membawa apa yang tidak diingini oleh
hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari
rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian
yang lain mereka bunuh (2:87, 5:70)
– Hawa nafsu yang mendominasi mereka
membuat mereka sombong dan ingkar lalu
mendustakan atau membunuh
Potensi Su’ul Khatimah
• Jiwa ini dikhawatirkan menemui su’ul-
khatimah dan urusannya terserah Allah
– Jika diakhiri dengan keburukan maka menjadi
orang yang celaka selama-lamanya
– Jika diakhiri dengan kebaikan hingga mati di
atas tauhid, maka masih punya penantian
dibebaskan dari neraka sekalipun setelah
beberapa waktu, dan tidak mustahil termasuk
dalam pengampunan umum disebabkan oleh
hal tersembunyi yang tidak kita ketahui
Mujahadah
• Agar jiwa tetap berada dalam kondisi
muthmainnah, mesti ada kesadaran yang
terus-menerus (ُ‫م‬ِ‫ئ‬ َّ‫د‬‫ل‬ ُ‫ه‬‫ل‬َ‫ب‬ِ‫ت‬ْ‫ن‬ِ‫إل‬ )
• Ini memerlukan dzikir yang juga terus-
menerus ( َِْ‫ك‬ِ‫لذ‬ ُ‫م‬ِ‫ئ‬ َ‫و‬َ‫د‬) dengan dibarengi
keyakinan akan dampak dan manfaat dzikir
• Ini tidak mudah, mesti dengan
MUJAHADAH
‫بالصواب‬ ‫أعلم‬ ‫وهللا‬

6.4 nafsul insan

  • 1.
  • 2.
    (E 4)ِِ‫نا‬َ‫س‬ْ‫ن‬ِ‫إل‬ْ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ ُ‫ح‬ْ‫و‬ُّ‫لر‬َ‫ا‬ُ‫ر‬ْ‫ك‬ِ‫لذ‬َ‫ا‬ُ‫م‬ْ‫ل‬َ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬َ‫ا‬ُ‫ة‬َّ‫ن‬ِ‫ئ‬َ‫م‬ْ‫ط‬ ‫ى‬ َ‫و‬َ‫ه‬ْ‫ل‬َ‫ا‬ ُ‫ح‬ ْ‫و‬ُّ‫ل‬َ‫ا‬/‫ى‬ َ‫و‬َ‫ه‬ْ‫ل‬َ‫ا‬ُ‫ي‬ْ‫أ‬َّ‫لر‬َ‫ا‬َّ‫ل‬‫ل‬َ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬َ‫ا‬ُ‫ة‬َ‫م‬‫ا‬ َ‫و‬ ‫ى‬ َ‫و‬َ‫ه‬ْ‫ل‬َ‫ا‬ُ‫ات‬ َ‫و‬َ‫ه‬َّ‫ش‬‫ل‬َ‫ا‬َّ‫م‬َ‫أل‬ْ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬َ‫ا‬ْ‫و‬ُّ‫س‬‫نال‬ِِ ُُ َ‫نار‬ِ‫ء‬ ُ‫ح‬ ْ‫و‬ُّ‫لر‬َ‫ا‬ ْ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬َ‫س‬ْ‫ن‬ِ‫إل‬ِِ‫نا‬
  • 3.
    NAFSU • NAFSU adapada manusia setelah bercampur JASAD dan RUH (7:172. 39:42) JASAD + RUH = NAFSU JASAD – RUH (tidur) = TIDAK ADA NAFSU RUH – JASAD (mati) = TIDAK ADA NAFSU • Nafsu yang pertama ada adalah nafsu yang mengakui Allah SWT sebagai Tuhan • 7:172 ُ‫ت‬ْ‫س‬َ‫ل‬َ‫أ‬ ْ‫م‬ِ‫ه‬ِ‫س‬ُ‫ف‬ْ‫ن‬َ‫أ‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ْ‫م‬ُ‫ه‬َ‫د‬َ‫ه‬ْ‫ش‬َ‫أ‬ َ‫و‬َ‫ش‬ ‫ى‬َ‫ل‬َِ ‫ا‬ُ‫ل‬‫ل‬ََ ْ‫م‬ََُُِِِِ‫َل‬‫ن‬ْ‫د‬ِ‫ه‬
  • 4.
    Fluktuatif • Kondisi jiwamanusia tidak pernah statik, tapi dinamik (fluktuatif) – Saat dzikir menonjol  nafsu akan tenang 13:28 – Saat akal menonjol  nafsu terombang-ambing – Saat syahwat menonjol  nafsu tak terkawal • Mengawal jiwa sangat penting dalam kehidupan muslim  selamat dunia akhirat
  • 5.
    RUH dan HAWA •Ruh – Allah SWT memuliakan ruh sehingga menyandingkan ruh dengan DiriNya (32:9) ِِ‫ه‬ ِ‫وح‬ُ‫ر‬ (ruhNya) – Ini seperti pada kalimat ‫بيتِهللاِتعالى‬ (rumah Allah Ta’ala) dan ‫ناقةِهللاِتعالى‬ (unta Allah Ta’ala) – Juga sebagai pemberitahuan bahwa ruh itu adalah makhluk yang menakjubkan dan ciptaan yang belum pernah ada sebelumnya
  • 6.
    RUH dan HAWA •Hawa (‫لهاى‬ ) – Berarti KEINGINAN: baik ataupun buruk – Mengikuti hawa berarti mengikuti apa saja keinginannya, baik ataupun buruk, tanpa batasan – Ia seperti BINATANG – Ada manusia yang menuhankan hawa-nya (25:43, 45:23) ُِ‫ه‬‫ا‬َ‫و‬َ‫ه‬ُِ‫ه‬َ‫ه‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ (tidak ada yang sesuatu yang diingini kecuali diikutinya)
  • 7.
    Ruh Mendominasi Hawa(1) • Jika kondisi RUH kita dominan atas hawa: • Manusia akan ringan untuk beribadah, berkorban, berjihad, dll • Hilanglah kemalasan untuk beribadah • Jiwanya menjadi tenang karena banyak dzikrullah (13:28) • Mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar (29:45)
  • 8.
    Ruh Mendominasi Hawa(1) • Oleh karena itu, agar kondisi ini (ruh dominan atas hawa) maka PERLU MEMPERBANYAK DZIKRULLAH • Jiwa yang selalu tenang itu disebut dengan ُ‫ة‬َّ‫ن‬ِ‫ئ‬َ‫م‬ْ‫ط‬ُ‫م‬ْ‫ل‬َ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬َ‫ا‬ (29:27-30)
  • 9.
    ُ‫ة‬َّ‫ن‬ِ‫ئ‬َ‫م‬ْ‫ط‬ُ‫م‬ْ‫ل‬َ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬َ‫ا‬ • ،ِ‫ى‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ع‬َ‫ت‬ِِ‫هللا‬ِ‫ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ُِ‫ه‬ُ‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ِْ‫ت‬َّ‫ن‬َ‫أ‬َ‫م‬ْ‫ط‬‫ِا‬ِ‫ن‬َ‫م‬ٌِ‫ل‬‫ا‬َ‫ح‬َِ‫ل‬َ‫ك‬ِ‫ات‬َ‫ِ،ِو‬ِ‫ه‬ ِ‫ر‬ْ‫م‬َ‫ِأل‬َ‫م‬ِ‫ل‬َ‫س‬َ‫ف‬َ‫ل‬َ‫ع‬‫ْه‬‫ي‬ (keadaan orang yang jiwanya tenang kepada Allah Ta’ala, sehingga ia menerima perintahNya dan bertawakkal kepadaNya) • Jiwa yang tenang dan yakin: yakin bahwa Allah adalah Tuhannya, maka ia tunduk kepadaNya • Jiwa yang meyakini dan tenang dengan pahala Allah • Jiwa yang ridho dengan ketetapan Allah
  • 10.
    ُ‫ة‬َّ‫ن‬ِ‫ئ‬َ‫م‬ْ‫ط‬ُ‫م‬ْ‫ل‬َ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬َ‫ا‬ • Jiwaini, istiqamah di atas taubatnya hingga akhir kehidupan, lalu menyusuli kekurangannya dan tidak berkeinginan untuk mengulangi dosa-dosanya, kecuali ketergelinciran yang tidak dapat dihindari kecuali oleh para Nabi • Ia dapat juga tidak terlepas dari perlawanan hawa nafsu tetapi serius dalam melakukan mujahadah dan menentangnya
  • 11.
    Panggilan Mulia • Panggilanoleh malaikat dengan ungkapan seperti pada ayat-ayat dilakukan 2 kali: menjelang ajal dan saat dibangkitkan dari kubur – Allah memanggil dengan panggilan yang sangat lembut dan mulia – Tempat kembali (rumahnya): di sisi Allah + kepuasan – Kawan-kawannya: hamba-hamba Allah – Masuk sorga
  • 12.
    Wafatnya Ibnu Abbas •Saat Ibnu Abbas wafat di Thaif, terbanglah makhluk yang tidak pernah terlihat sebelumnya berbentuk seperti Ibnu Abbas. Makhluk itu masuk ke dalam katilnya dan tidak pernah kelihatan lagi keluar dari padanya. Ketika jenazah Ibnu Abbas diletakkan di dalam liang kuburnya, terdengarlah ada yang membaca ayat tersebut di pinggir kurubnya tanpa ada yang mengetahui siapa yang membacanya (Ibnu Abu Hatim)
  • 13.
    Abu Hasyim • Dalambuku Kitabul ‘Aja’ib (Ibnul Mundzir al-Harawi) disebutkan: • Abu Hisyam (Qabbats bin Razin) menceritakan: kami ditawan di negeri Romawi dan mengumpulkan semua tawanan, serta menawarkan agamanya. Siapa yang menentang, dipenggal kepalanya. Sudah tiga yang murtad. Saat dipenggal yang keempat, kepalanya dilempar ke sungai. Semula tenggelam lalu mengambang, memandang semua kawan yang telah murtad, memanggil satu per satu, lalu membacakan ayat-ayat tersebut, lalu tenggelam lagi. Hampir semua orang nasrani masuk Islam dan bertobatlah ketiga temannya itu. Khalifah Abu Ja’far al-Mansur mengirim pasukan untuk membebaskan mereka
  • 14.
    Doa Memohon Jiwayang Tenang َ‫ك‬ِ‫ب‬ ‫ا‬ً‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ َ‫ك‬ُ‫ل‬َ‫أ‬ْ‫َس‬‫أ‬ ِّ‫ّن‬ِ‫إ‬ ،َّ‫م‬ُ‫ه‬ّ‫ل‬‫ال‬ِ‫ب‬ ُ‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ؤ‬ُ‫ت‬ ،ً‫ة‬َّ‫ن‬ِ‫ئ‬َ‫م‬ْ‫ط‬ُ‫م‬، َ‫ك‬ِ‫ائ‬َ‫ق‬ِ‫ل‬ ِ‫ب‬ ُ‫ع‬َ‫ن‬ْ‫ق‬َ‫ت‬َ‫و‬ ، َ‫ك‬ِ‫ائ‬َ‫ض‬َ‫ق‬ِ‫ب‬ ‫ى‬َ‫ض‬ْ‫ر‬َ‫ت‬َ‫و‬َ‫ك‬ِ‫ائ‬َ‫ط‬َ‫ع‬ Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu jiwa yang tenang kepadaMu, yakin dengan pertemuanMu, ridho dengan ketetapanMu, dan qana’ah dengan pemberianMu
  • 15.
    Dzikir dalam SemuaKondisi • 3:191 mengarahkan agar dzikir dalam segala kondisi (berdiri, duduk, berbaring) • Kedudukan dzikir 1. Bahan dan jalan untuk mencapai kebahagiaan (‫ا‬َ‫ه‬ُ‫ل‬ْ‫ي‬ِ‫ب‬َ‫س‬َ‫و‬ ِ‫ة‬َ‫اد‬َ‫ع‬َّ‫الس‬ ُ‫ة‬َّ‫اد‬َ‫)م‬ 2. Benteng dari godaan syaitan dan bisikannya ( َ‫س‬َ‫و‬ْ‫س‬َ‫و‬َ‫و‬ ِ‫ان‬َ‫ط‬ْ‫َّي‬‫الش‬ ِ‫ات‬َ‫ع‬ْ‫ز‬َ‫ن‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬ ِ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫الن‬ ُ‫ن‬ْ‫ص‬ِ‫ح‬ِِِ‫ِت‬ ) 3. Senjata dan perisai mu’min ( َّ‫ن‬ُ‫ج‬َ‫و‬ ِ‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ؤ‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ح‬َ‫ال‬ِ‫س‬ُُِ‫ِت‬ )
  • 16.
    RUH – HAWASama Dominan • Ada dua keadaan 1. Ia menempuh jalan istiqamah dan induk-induk ketaatan dan meninggalkan semua dosa besar, tetapi tidak dapat terlepas dari dosa-dosa yang membelitnya, meskipun dia tidak sengaja melakukannya, lalu menyesalinya 2. Bertahan di atas istiqamah tapi beberapa saat kemudian dikalahkan oleh syahwat dalam sebagian dosa sehingga dia melakukannya secara sengaja dan dengan syahwat karena ketidakmampuan mengalahkan syahwat, tapi ia tetap tekun melakukan ketaatan
  • 17.
    ‫ة‬َ‫م‬‫ا‬َّ‫و‬َّ‫ل‬‫سِال‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ال‬ • Keadaan 1disebut NAFSU LAWWAMAH (jiwa yang selalu mencela berbagai keadaan tercela yang tidak disengaja) 75:2 • Tingkatannya di bawah nafsu muthmainnah • Ia mesti memperbanyak kebaikan agar memperberat timbangan amal baiknya • 53:32 setiap dosa kecil yang tidak disengaja disebut lamam yang dimaafkan
  • 18.
    ‫ة‬َ‫م‬‫ا‬َّ‫و‬َّ‫ل‬‫سِال‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ال‬ • Allah tetapmemuji jiwa ini sekalipun mereka menganiaya diri sendiri (3:135) • Sabda Nabi SAW َ‫أ‬ ُ‫ء‬ْ‫ي‬ِ‫ف‬َ‫ي‬ ِ‫ة‬َ‫ل‬ُ‫ب‬ْ‫ن‬ُّ‫الس‬َ‫ك‬ُ‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ؤ‬ُ‫ْم‬‫ل‬َ‫ا‬ً‫ا‬‫ان‬َ‫ي‬ْ‫َح‬‫أ‬ ُ‫ل‬ْ‫ي‬َِ‫َي‬َ‫و‬ ً‫ا‬‫ان‬َ‫ي‬ْ‫ح‬ Mu’min itu seperti benih, kadang kembali lurus dan kadang condong (HR Ibnu Ya’la dan Ibnu Hibban)
  • 19.
    ُ‫ة‬َ‫ل‬ِ‫ا‬َ‫س‬ُ‫م‬ْ‫ل‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬ • Keadaan2 disebut ُ‫ة‬َ‫ل‬ِ‫ا‬َ‫س‬ُ‫م‬ْ‫ل‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬ (jiwa yang selalu menggoda) 9:102 • Ia berada di tepi antara nafsu yang di atas, dengan nafsu yang di bawah (akan dijelaskan kemudian) – Ketekunannya dalam ketaatan dan kebenciannya terhadap dosa menimbulkan harapan taubatnya diterima Allah – Penundaan taubat akan sangat berbahaya, jika sebelum bertaubat sudah dicabut nyawanya – Jika syahwatnya terus menguasainya, maka ia jatuh nafsu yang rendah
  • 20.
    HAWA Mendominasi RUH •Mungkin pernah bertaubat, tapi sesaat kemudian kembali melakukan dosa atau banyak dosa tanpa berhasrat untuk bertaubat, tanpa menyesali perbuatannya, bahkan tenggelam dalam dosa (25:43, 45:23) • Jiwa ini disebut ُّ‫س‬‫نال‬ِِ َُُ‫نار‬َّ‫م‬َ‫أل‬ْ‫ا‬ ُ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ل‬َ‫ا‬ِ‫ء‬ ْ‫و‬ (jiwa yang selalu memerintahkan kejahatan), yang lari dari kebaikan
  • 21.
    Didustakan atau Dibunuh •Inilah perilaku Bani Israil: – Setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh (2:87, 5:70) – Hawa nafsu yang mendominasi mereka membuat mereka sombong dan ingkar lalu mendustakan atau membunuh
  • 22.
    Potensi Su’ul Khatimah •Jiwa ini dikhawatirkan menemui su’ul- khatimah dan urusannya terserah Allah – Jika diakhiri dengan keburukan maka menjadi orang yang celaka selama-lamanya – Jika diakhiri dengan kebaikan hingga mati di atas tauhid, maka masih punya penantian dibebaskan dari neraka sekalipun setelah beberapa waktu, dan tidak mustahil termasuk dalam pengampunan umum disebabkan oleh hal tersembunyi yang tidak kita ketahui
  • 23.
    Mujahadah • Agar jiwatetap berada dalam kondisi muthmainnah, mesti ada kesadaran yang terus-menerus (ُ‫م‬ِ‫ئ‬ َّ‫د‬‫ل‬ ُ‫ه‬‫ل‬َ‫ب‬ِ‫ت‬ْ‫ن‬ِ‫إل‬ ) • Ini memerlukan dzikir yang juga terus- menerus ( َِْ‫ك‬ِ‫لذ‬ ُ‫م‬ِ‫ئ‬ َ‫و‬َ‫د‬) dengan dibarengi keyakinan akan dampak dan manfaat dzikir • Ini tidak mudah, mesti dengan MUJAHADAH
  • 24.

Editor's Notes

  • #10 Tafsir Al-Qurtubi
  • #11 Tazkiyyatun Nafs – Said Hawa, fasal TAUBAT
  • #13 Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir Juz 30 hlm 323 (Penerbit Sinar Baru Algensindo)
  • #14 Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir Juz 30 hlm 324 (Penerbit Sinar Baru Algensindo)
  • #15 Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir Juz 30 hlm 325 (Penerbit Sinar Baru Algensindo)
  • #17 Tazkiyyatun Nafs – Said Hawa, fasal TAUBAT
  • #18 Tazkiyyatun Nafs – Said Hawa, fasal TAUBAT
  • #19 Tazkiyyatun Nafs – Said Hawa, fasal TAUBAT
  • #20 Tazkiyyatun Nafs – Said Hawa, fasal TAUBAT
  • #21 Tazkiyyatun Nafs – Said Hawa, fasal TAUBAT
  • #23 Tazkiyyatun Nafs – Said Hawa, fasal TAUBAT