UJI PEMBEBANAN STATIK
(LOADING TEST)
Kelompok 1
Anggi Aris Rinaldi 5415127430
Rizky Ramadhan 5415125198
M. Fajar Rahmawan 5415117417
Tri Wulandari 5415116453
Definisi Uji Pembebanan Statik
(Loading Test)
 Uji pembebanan (load test) merupakan uji kekuatan
tiang pancang dengan memberikan beban aksial
secara statis.
 Metode ini bersifat merusak atau setengah merusak.
(sampai tiang pancang hancur atau penurunan sampai
titik keras.)
Uji pembebanan biasanya perlu dilakukan
untuk kondisi-kondisi seperti berikut ini:
Perhitungan analistis tidak memungkinkan
dilakukan karena keterbatasan informasi detail
dan geometri struktur.
Kinerja struktur yang sudah menurun karena
adanya penurunan kwalitas bahan, akibat
serangan zat kimia, ataupun karena adanya
kerusakan fisik yang dialami bagian-bagian
struktur,akibat kebakaran, gempa,
pembebanan yang berlebihan dan lain-lain.
Tingkat keamanan struktur yang rendah akibat
jeleknya kwalitas pelaksanaan ataupun akibat
adanya kesalahan pada perencanaan yang
sebelumnya tidak terdeteksi.
Struktur direncanakan dengan metode-metode yang
non-stardard, sehingga menimbulkan kekhawatiran
mengenai tingkat keamanan struktur tersebut.
Perubahan fungsi struktur, sehingga menimbulkan
pembebanan tambahan yang belum diperhitungkan
dalam perencanaan.
Diperlukannya pembuktian mengenai kinerja suatu
struktur yang baru saja di renovasi karena ada
perubahan fungsi bangunan.
Uji pembebanan dikategorikan dalam
dua kelompok, yaitu :
Pengujian ditempat ( in.situ ) yang biasanya
bersifat non-destructive.
Pengujian bagian-bagian struktur yang diambil
dari struktur utamanya. Pengujian biasanya
dilakukan dilaboratorium dan sifat merusak.
Tujuan Uji Pembebanan Statik (Loading Test)
Tujuan load test pada dasarnya adalah untuk
membuktikan bahwa tingkat keamanan suatu
struktur atau bagian struktur sudah memenuhi
persyaratan peraturan bangunan yang ada,
yang tujuannya untuk menjamin keselamatan
umum. Oleh karena itu biasanya load test
hanya dipusatkan pada bagian-bagian struktur
yang dicurigai tidak memenuhi persyaratan
tingkat keamanan berdasarkan data-data hasil
pengujian material dan hasil pengamatan.
Peralatan
 Hydraulic jack, diletakkan tepat ditengah permukaan dari tiang uji
 Dial gauges, terdiri dari minimal 2 unit dengan ketelitian
pembacaan paling sedikit sampai dengan 0.01 in (0.25 mm), untuk
mengukur besarnya pergerakan yang terjadi
 Reference beam, sebagai datum pembacaan dial gage dan
diletakkan pada posisi melintang dengan jarak minimal 2.5 m ke kiri
dan 2.5 m ke kanan dari tiang uji dan berada diatas pendukung
yang kaku. Reference beam ini tidak boleh mengalami perubahan
selama pengukuran berlangsung.
 Pressure gage, untuk mengukur besarnya beban yang diberikan
pada tiang uji.
 Beban yang akan digunakan
 - Kentledge (kubus beton)
Prosedur
dalam praktek biasanya dilakukan dua cara uji pembebanan tiang
a. Test Pile
Desain awal tiang dilakukan berdasarkan data penyelidikan tanah.
Uji pembebanan tiang dilakukan untuk desain akhir.
Uji pembebanan dilakukan hingga tiang mengalami keruntuhan.
b. Test on Working Pile
Dilakukan apabila sudah ada pengalaman desain sebelumnya.
Dilakukan secara acak terhadap pondasi tiang untuk mengetahui kapasitas desain
pondasi tiang
Uji pembebanan dilakukan dengan memberikan beban hingga 200% dari beban
rencana.
PROSEDUR PENGUKURAN
• Pembacaan dilakukan terhadap waktu, beban dan pergerakan tiang pada saat
sebelum dan sesudah tahapan pembebanan diberikan atau dikurangi.
• Pada saat proses pemberian beban harus dipastikan bahwa tiang uji tidak
mengalami keruntuhan. Untuk itu dilakukan pembacaan tambahan untuk selang
waktu maksimal 10 menit selama 30 menit pertama dan selang waktu tidak lebih
dari 20 menit untuk setelah 30 menit pertama tersebut.
• Setelah beban total diberikan harus dipastikan pula bahwa tiang uji tidak
mengalami keruntuhan. Untuk itu dilakukan pembacaan tambahan untuk selang
waktu maksimal 20 menit selama 2 jam pertama, selang waktu maksimal 1 jam
untuk 10 jam berikutnya, serta tidak melewati selang waktu 2 jam untuk 12 jam
berikutnya.
• Jika keruntuhan terjadi, lakukan pembacaan sesegera mungkin sebelum
dilakukan pengurangan beban pertama.
• Selama proses pengurangan beban (unloading) lakukan pembacaan untuk
selang waktu tidak melewati 20 menit.
• Lakukan pembacaan terakhir pada saat 12 jam setelah seluruh beban diangkat.
Standard Loading Test
Beban yang diujikan adalah sebesar 200% dari beban perencanaan dan
dilaksanakan dengan pertambahan 25% dari beban perencanaan, kecuali
jika terjadi keruntuhan sebelum beban tersebut dicapai.
Pertambahan beban dilakukan jika kecepatan penurunan yang terjadi tidak
lebih besar dari 0.01 in/hour atau 0.25 mm/jam tetapi tidak lebih lama dari 2
jam.
Jika tidak terjadi keruntuhan maka total beban yang telah diberikan dapat
diangkat kembali (unloading) setelah 12 jam didiamkan jika penurunan yang
terjadi pada 1 jam terakhir tidak lebih besar daripada 0.01 in (0.25 mm). Jika
penurunan yang terjadi masih lebih besar daripada 0.01 in (0.25 mm) maka
biarkan beban selama 24 jam.
Jika waktu yang dimaksudkan pada item 3 diatas telah tercapai, maka
kurangi beban dengan tahap pengurangan sebesar 50 % dari beban
perencanaan atau 25 % dari beban total pengujian untuk setiap 1 jam.
Jika tiang mengalami keruntuhan maka pemompaan hydraulic jack
dilanjutkan hingga penurunan yang terjadi adalah sama dengan 15% dari
diameter tiang.
Analisis data
1. Metode Davinson (1972)
2. Metode Chin (1970)
3. Metode Mazurkiewich (1972)
Metode Davinson (1972)
Prosedur penentuan beban ultimate dari pondasi tiang dengan metode ini adalah sebagai
berikut :
- Gambarkan kurva beban – penurunan.
- Tentukan penurunan elastic, Δ = (Qva) L / AE dari tiang dimana Qav adalah beban yang
digunakan, L adalah panjang tiang, A adalah luas potongan melintang tiang dan E adalah
modulus elastisitas tiang.
- Gambarkan sebuah garis OA berdasarkan persamaan diatas.
- Gambarkan sebuah garis BC yang sejajar dengan OA pada jarak sejauh dimana x = 0,15 +
D / 120 in, dengan D adalah diameter tiang dalam in.
- Beban runtuh ditentukan dari perpotongan garis BC pada kurva beban – penurunan.
Kurva interpretasi beban dengan
penurunan metoda Davisson
Hasil Uji Pembebanan
 Tabel 1 Data hasil loading test tiang
diameter 400 mm
 Perhitungan Interpretasi Data Loading Test
Berdasarkan data hasil pembacaan loading test,
dapat diinterpretasikan dengan gambar grafik
beban – penurunan sebagai berikut :
a. Diameter tiang pancang :400 mm
b. Beban rencana : 125 ton
KESIMPULAN
 Uji Pembebanan Statik (Loading Test) yaitu suatu tes untuk
pondasi tiang pancang untuk mengecek kekuatan tiang
pancang. Pengujian ini sangat penting dilaksanakan
terutama untuk bangunan bertingkat tinggi karena dapat
memprediksikan penurunan pondasi yang terjadi dengan
beban yang ada. Setelah mengetahui besar penurunan
yang ada maka dapat diketahui penanganan yang tepat
terhadap pondasi tersebut agar tidak terjadi kegagalan
konstruksi dalam masa layan bangunan tersebut.
 maaf materi presentasi ini keluar dari materi Teknik Pondasi I
karena kekurangpahaman kami mengenai teknik pondasi I.

252350772 uji-pembebanan-statik-loading-test-ppt

  • 1.
    UJI PEMBEBANAN STATIK (LOADINGTEST) Kelompok 1 Anggi Aris Rinaldi 5415127430 Rizky Ramadhan 5415125198 M. Fajar Rahmawan 5415117417 Tri Wulandari 5415116453
  • 2.
    Definisi Uji PembebananStatik (Loading Test)  Uji pembebanan (load test) merupakan uji kekuatan tiang pancang dengan memberikan beban aksial secara statis.  Metode ini bersifat merusak atau setengah merusak. (sampai tiang pancang hancur atau penurunan sampai titik keras.)
  • 3.
    Uji pembebanan biasanyaperlu dilakukan untuk kondisi-kondisi seperti berikut ini: Perhitungan analistis tidak memungkinkan dilakukan karena keterbatasan informasi detail dan geometri struktur. Kinerja struktur yang sudah menurun karena adanya penurunan kwalitas bahan, akibat serangan zat kimia, ataupun karena adanya kerusakan fisik yang dialami bagian-bagian struktur,akibat kebakaran, gempa, pembebanan yang berlebihan dan lain-lain.
  • 4.
    Tingkat keamanan strukturyang rendah akibat jeleknya kwalitas pelaksanaan ataupun akibat adanya kesalahan pada perencanaan yang sebelumnya tidak terdeteksi. Struktur direncanakan dengan metode-metode yang non-stardard, sehingga menimbulkan kekhawatiran mengenai tingkat keamanan struktur tersebut. Perubahan fungsi struktur, sehingga menimbulkan pembebanan tambahan yang belum diperhitungkan dalam perencanaan. Diperlukannya pembuktian mengenai kinerja suatu struktur yang baru saja di renovasi karena ada perubahan fungsi bangunan.
  • 5.
    Uji pembebanan dikategorikandalam dua kelompok, yaitu : Pengujian ditempat ( in.situ ) yang biasanya bersifat non-destructive. Pengujian bagian-bagian struktur yang diambil dari struktur utamanya. Pengujian biasanya dilakukan dilaboratorium dan sifat merusak.
  • 6.
    Tujuan Uji PembebananStatik (Loading Test) Tujuan load test pada dasarnya adalah untuk membuktikan bahwa tingkat keamanan suatu struktur atau bagian struktur sudah memenuhi persyaratan peraturan bangunan yang ada, yang tujuannya untuk menjamin keselamatan umum. Oleh karena itu biasanya load test hanya dipusatkan pada bagian-bagian struktur yang dicurigai tidak memenuhi persyaratan tingkat keamanan berdasarkan data-data hasil pengujian material dan hasil pengamatan.
  • 7.
    Peralatan  Hydraulic jack,diletakkan tepat ditengah permukaan dari tiang uji  Dial gauges, terdiri dari minimal 2 unit dengan ketelitian pembacaan paling sedikit sampai dengan 0.01 in (0.25 mm), untuk mengukur besarnya pergerakan yang terjadi  Reference beam, sebagai datum pembacaan dial gage dan diletakkan pada posisi melintang dengan jarak minimal 2.5 m ke kiri dan 2.5 m ke kanan dari tiang uji dan berada diatas pendukung yang kaku. Reference beam ini tidak boleh mengalami perubahan selama pengukuran berlangsung.  Pressure gage, untuk mengukur besarnya beban yang diberikan pada tiang uji.  Beban yang akan digunakan  - Kentledge (kubus beton)
  • 9.
    Prosedur dalam praktek biasanyadilakukan dua cara uji pembebanan tiang a. Test Pile Desain awal tiang dilakukan berdasarkan data penyelidikan tanah. Uji pembebanan tiang dilakukan untuk desain akhir. Uji pembebanan dilakukan hingga tiang mengalami keruntuhan. b. Test on Working Pile Dilakukan apabila sudah ada pengalaman desain sebelumnya. Dilakukan secara acak terhadap pondasi tiang untuk mengetahui kapasitas desain pondasi tiang Uji pembebanan dilakukan dengan memberikan beban hingga 200% dari beban rencana.
  • 10.
    PROSEDUR PENGUKURAN • Pembacaandilakukan terhadap waktu, beban dan pergerakan tiang pada saat sebelum dan sesudah tahapan pembebanan diberikan atau dikurangi. • Pada saat proses pemberian beban harus dipastikan bahwa tiang uji tidak mengalami keruntuhan. Untuk itu dilakukan pembacaan tambahan untuk selang waktu maksimal 10 menit selama 30 menit pertama dan selang waktu tidak lebih dari 20 menit untuk setelah 30 menit pertama tersebut. • Setelah beban total diberikan harus dipastikan pula bahwa tiang uji tidak mengalami keruntuhan. Untuk itu dilakukan pembacaan tambahan untuk selang waktu maksimal 20 menit selama 2 jam pertama, selang waktu maksimal 1 jam untuk 10 jam berikutnya, serta tidak melewati selang waktu 2 jam untuk 12 jam berikutnya. • Jika keruntuhan terjadi, lakukan pembacaan sesegera mungkin sebelum dilakukan pengurangan beban pertama. • Selama proses pengurangan beban (unloading) lakukan pembacaan untuk selang waktu tidak melewati 20 menit. • Lakukan pembacaan terakhir pada saat 12 jam setelah seluruh beban diangkat.
  • 11.
    Standard Loading Test Bebanyang diujikan adalah sebesar 200% dari beban perencanaan dan dilaksanakan dengan pertambahan 25% dari beban perencanaan, kecuali jika terjadi keruntuhan sebelum beban tersebut dicapai. Pertambahan beban dilakukan jika kecepatan penurunan yang terjadi tidak lebih besar dari 0.01 in/hour atau 0.25 mm/jam tetapi tidak lebih lama dari 2 jam. Jika tidak terjadi keruntuhan maka total beban yang telah diberikan dapat diangkat kembali (unloading) setelah 12 jam didiamkan jika penurunan yang terjadi pada 1 jam terakhir tidak lebih besar daripada 0.01 in (0.25 mm). Jika penurunan yang terjadi masih lebih besar daripada 0.01 in (0.25 mm) maka biarkan beban selama 24 jam. Jika waktu yang dimaksudkan pada item 3 diatas telah tercapai, maka kurangi beban dengan tahap pengurangan sebesar 50 % dari beban perencanaan atau 25 % dari beban total pengujian untuk setiap 1 jam. Jika tiang mengalami keruntuhan maka pemompaan hydraulic jack dilanjutkan hingga penurunan yang terjadi adalah sama dengan 15% dari diameter tiang.
  • 12.
    Analisis data 1. MetodeDavinson (1972) 2. Metode Chin (1970) 3. Metode Mazurkiewich (1972)
  • 13.
    Metode Davinson (1972) Prosedurpenentuan beban ultimate dari pondasi tiang dengan metode ini adalah sebagai berikut : - Gambarkan kurva beban – penurunan. - Tentukan penurunan elastic, Δ = (Qva) L / AE dari tiang dimana Qav adalah beban yang digunakan, L adalah panjang tiang, A adalah luas potongan melintang tiang dan E adalah modulus elastisitas tiang. - Gambarkan sebuah garis OA berdasarkan persamaan diatas. - Gambarkan sebuah garis BC yang sejajar dengan OA pada jarak sejauh dimana x = 0,15 + D / 120 in, dengan D adalah diameter tiang dalam in. - Beban runtuh ditentukan dari perpotongan garis BC pada kurva beban – penurunan.
  • 14.
    Kurva interpretasi bebandengan penurunan metoda Davisson
  • 15.
    Hasil Uji Pembebanan Tabel 1 Data hasil loading test tiang diameter 400 mm  Perhitungan Interpretasi Data Loading Test Berdasarkan data hasil pembacaan loading test, dapat diinterpretasikan dengan gambar grafik beban – penurunan sebagai berikut : a. Diameter tiang pancang :400 mm b. Beban rencana : 125 ton
  • 16.
    KESIMPULAN  Uji PembebananStatik (Loading Test) yaitu suatu tes untuk pondasi tiang pancang untuk mengecek kekuatan tiang pancang. Pengujian ini sangat penting dilaksanakan terutama untuk bangunan bertingkat tinggi karena dapat memprediksikan penurunan pondasi yang terjadi dengan beban yang ada. Setelah mengetahui besar penurunan yang ada maka dapat diketahui penanganan yang tepat terhadap pondasi tersebut agar tidak terjadi kegagalan konstruksi dalam masa layan bangunan tersebut.  maaf materi presentasi ini keluar dari materi Teknik Pondasi I karena kekurangpahaman kami mengenai teknik pondasi I.