Tiga Sahabat Berakhir Dua
Pagi ini kota indah Jogjakarta diselimuti awan dingin. Selimut tebal masih menempel di tubuh,
agar si dingin tak menyambangiku. Tapi tetap saja, aku tak bisa mengalahkan dingin hanya
dengan selembar kain selimut. Ku buka pintu, emmmmm bau semerbak pagi menyambutku,
menusuk dalam peraduan pernafasanku, “segar dan sejuk.” Gumamku sembari tersenyum pada
wajah pagi. Mentari pun belum mau menampakan diri, masih malu-malu di ufuk timur yang jauh
di dalam.
“woiii Ndut, ayooo cuss lari, malah masih bangun tidur.”
Suara yang ku kenal menyapaku di depan gerbang kos. Ya, itu suara Mufta bersama Adry.
Mereka sahabat karibku. Biasalah kami selalu lari pagi setiap minggu. Emmm aku lupa,
sebenarnya aku tidak gendut, hanya pipiku sedikit tembem saja, tapi biasalah mereka selalu usil
menggangguku. Kadang mereka memanggilku Ibu. Katanya aku seperti ibu bagi mereka kalau
lagi masak. Kadang aku dipanggil Bu Dosen. Karena aku sering membantu mereka
menyelesaikan tugas kuliah, biasalah mereka anak-anak sedikit di bahwahku levelnya.
“hehehehe. ini cukup aku yang tau…”
Kadang aku juga dipanggil mbok. Ya buat panggilan satu ini aku agak ogah si, karena kalau
mereka udah manggil aku mbok, wahhhh berarti dandananku lagi kacau balau gak karuan,
ancurrr se ancur-ancurnya.
“tunggu yo, aku ganti celana dulu kep.” Jawabku sembari masuk dalam kamar. Ya, KEP adalah
nama panggilan Mufta. Dia mantan penggila b*kep, tapi itu dulu sih. Saat awal kita bertiga baru
sahabatan, tapi sekarang telah berubah. Bukan b*kep lagi tontonanya, tapi buku yang jadi
sahabatnya. Sungguh perubahan yang luar biasa dan cetar membahana.
Kami sering berlari mengitari kampus.
ya cukup satu putaran saja sudah membuat tulang kaki kami merasa lelah dan keringat kami
menetes. Kampus yang cukup nyaman untuk berolahraga. Banyak pepohonan yang masih
segar, ada taman yang kanan dan kirinya dihiasi tanaman kecil. Di samping belakang ada kolam
yang ditumbuhi teratai dan rumah bagi ikan-ikan cantik.
“duduk situ yuk sob.” Ajak Adry sembari menunjuk kursi besar di taman. Nampaknya dia yang
selalu menjadi juara pertama dalam lari. Ya maklumlah, dia atlit futsal. Timnya lumayan disegani
oleh mahasiswa kampus. Adry ini cowok yang aneh, perasaanya seperti cewek. Jadi kalau dia
main futsal dan kalah, wahhh itu berarti dia lagi galau berat. “Hehehehe sori bos Adry, dikit
ngejek gakpapa kan.”
Kami duduk bersama, berbincang-bincang dan tertawa lebar. Bercerita banyak hal. Pagi ini kami
membuat topik pembicaraan masalah masa depan kita bertiga. Bagaimanapun kami adalah
mahasiswa semester akhir yang dikejar target. Bukan target skripsi sih, kalau itu kami bertiga
merasa tidak berat, kami nikmati prosesnya. Tapi target yang kita buat sendiri dan kita ukir kata
wajib di otak untuk diwujudkan. Inilah kami, tiga sahabat pemimpi besar. Julukan itu bukan kami
yang buat, tapi teman-teman kampus. mereka selalu melihat kami pemimpi, ya pemimpi dalam
hal apapun. Karena kami memang benar pemimpi yang akan siap mewujudkan mimpi-mimpi
besar itu.
“elu Ndut. Masih nyimpen target yang dulu kita tulis di buku diary tiga sahabat?” tanya Mufta
yang tiba-tiba mengingatkan mimpi kami dua tahun yang lalu. mimpi yang kami jaga dan kami
perjuangkan hingga esok bisa tercapai.
“masih dong Kep. Aku gak akan melenyapkan target itu. Di otak ini sudah bayak cara buat
wujudin mimpiku. Tepat seminggu setelah wisuda, aku bakal balik ke kampung. Aku pengen
bantu anak-anak di kampung. Ya taulah kampungku di pelosok negeri ini. mimpiku Cuma satu
sob. Aku pengen mengubah cara fikir masyarakat kampung. Aku gak pengen lagi denger anak-
anak kampungku dibodohi pemerintah, aku juga gak mau denger anak-anak kampungku
dijodohin dan dinikahkan saat mereka lulus SMA. Aku juga gak mau denger lagi anak-anak
kampungku yang gak mengerti se*s dan akhirnya mereka hanya hamil diluar nikah tanpa
tanggung jawab dari si lelaki. Pokoknya aku pengen mengubah kampungku jadi lebih baik.
Ahhhh bakal jadi tugas berat nih target ku.”
Aku menghela nafas dan menatap langit. Seakan langit pagi yang mulai cerah itu mengerti akan
beratnya tanggung jawabku di kemudian hari. Tapi, jika bukan aku yang mengubah tanah
kelahiranku, lalu siapa? Pemerintah? Oh tidak, mereka tidak benar-benar peduli pada
kampungku. Buktinya hingga kini jalanan masih berdebu tanpa aspal. Sekolah-sekolah reot
layaknya gubuk mau runtuh. Penduduk yang minim fasilitas dibiarkan begitu saja. entahlah,
daerahku termasuk daerah kaya di Negri ini, tapi uangnya kemanapun aku tak tau. “kalo kamu
sendiri gimana Adry?” tanyaku tiba-tiba.
“kalau aku tetep. Lulus wisuda langsung ambil tabungan di Bank dan buka usaha di Bandung.
Kebetulan Abang juga udah punya usaha disana, jadi aku bisa belajar dari abangku. Aku penge n
umur dua puluh lima udah kaya sob. Hehehe. Pokoknya harus udah punya rumah dan mobil
sendiri. Itu targetku. Keren kan? Hahaha pemimpi besar.” Adry tersenyum lebar pada kami
dengan wajah optimisnya. Adry memang terkenal rajin menabung sejak awal masuk kuliah, jadi
ya pasti tabungan di Banknya sudah banyak, apalagi dia juga suka investasi. Dia punya sedikit
investasi di saham dan Reksadana. Katanya.
“kalau aku tetep. Aku pengen dapet beasiswa ke luar negri. Aku mau belajar sastra disana. Dan
jadi penulis terkenal di luar negri. Aku gak mau pulang ke Indonesia.” Kata-kata terakhir Mufta
membuat kami bertiga sejenak diam.
Dari dulu aku selalu tak setuju dengan mimpi Mufta. Karena jauh di lubuk hatiku ingin jika kami
bertiga tetap berjuang di satu tanah, Indonesia. Walau beda pulau tak masalah, yang penting
tetap di Negri ini. Tapi rasanya semua sia-sia. Mulutku serasa sudah terkunci untuk menasehati
Mufta. Apalagi hatiku, sangat lelah jika mendengar mimpi Mufta untuk ke luar negri. Apalagi
Adry, Ia sudah sangat enggan meminta agar tetap berkarir di Negri ini.
Aku selalu tersenyum jika ingat masa-masa kuliah. Indah bersama sahabat-sahabat itu. Mereka
berdua selalu membuatku kuat dalam kehidupan. Tapi semua itu sudah tiga tahun yang lalu,
sekarang disini aku sendiri. Bersama target yang belum tercapai. Sulit dan harus berjuang
sendiri di kampungku. Kadang aku lelah mewujudkan target yang aku tulis sendiri.
Layaknya hari ini, aku dimaki oleh seorang Ibu-Ibu di depan forum ibu PKK yang aku bentuk.
Dulu belum ada perkumpulan Ibu-Ibu seperti ini. ia memaki aku habis-habisan hanya gara-gara
anaknya berhasil aku ubah fikiranya. Anak itu hampir saja dinikahkan dengan seorang duda oleh
ibunya, tapi akhirnya anak itu menolak dan meminta kuliah ke tanah jawa. Sontak saja ibu itu tak
memiliki biaya dan aku yang dipersalahkan. Katanya aku gak ngerti apa-apa tentang kehidupan
rumah tangga.
“ehhh mbak. Anda Itu orang yang baru kemarin sore wisuda. Jadi jangan seenaknya menghantui
fikiran anak-anak kami untuk sekolah. Jangankan sekolah, makan pun kami sulit. Sudahlah
mbak, tiga tahun anda berjuang tak ada hasil kan. Saya mohon kembalikan kampung ini seperti
dulu. Damai tanpa protes anak-anak yang meminta sekolah. Dulu cukup bagi mereka lulus SMP.
Tapi lihat sekarang, lihat banyak anak yang meminta kuliah. Ahhhh saya gila dibuat oleh anda.”
Begitu kurang lebih caci maki Ibu itu terhadapku.
Tentu saja aku tak ingin memperlihatkan kesedihanku. Aku sudahi saja perkumpulan Ibu-Ibu hari
itu. Terasa sakit disini ( hati ). Benar-benar aku butuh seorang teman. Aku rindu akan Adry dan
Mufta. Aku benar-benar lelah sekarang. Rasanya aku ingin menyudahi saja. cukup semua
sampai disini.
Tapi aku juga heran pada orang-orang kampungku. Mereka bilang susah makan, dan susah
menyekolahkan anaknya. Tapi kalau kredit motor mereka bisa. Apalagi Ibu yang baru saja
memarahiku, beberapa hari yang lalu Ia baru saja membeli sebuah ladang dengan harga
puluhan juta. Tentu saja, bukan alasan tak ada uang untuk menyekolahkan anak. Hanya ada
yang salah dalam cara mereka berfikir. Ini yang harus pelan-pelan aku ubah.
Ahhhhhh ingin rasanya aku menangis dan berteriak pada desa tercintaku ini. mengapa mereka
tak mengerti maksudku, mengapa Tuhan juga memberiku banyak batu besar di jalanku. Aku
benar-benar lelah saat ini. Entah harus kemana kusandarkan hati yang lelah ini. jangankan calon
suami, seorang pacarpun aku tak punya. Pacar? Ahhhh tak pernah terfikir olehku untuk berfikir
tentang cinta sejenak. Terlalu sakit hati ini mengingat semuanya. Ahhhhh aku bisa gila jika
menahan semua rasa ini sendiri. Rasa yang tersimpan rapi dari beberapa tahun yang lalu.
Siang yang cukup terik. Begitu panas dan melelahkan. Aku masih sibuk di sebuah sekolah
tepatnya di sebuah SMP. Aku bekerja disini, menjadi salah satu pengurus SMP swasta. Dulunya
SMP ini hampir dirobohkan, tapi alkhamdulilah aku bisa meyakinkah dewan sekolah dan pemilik
sekolah untuk tetap membuka SMP ini. aku janjikan pada mereka dalam dua tahun sekolah ini
menjadi baik. Dan sekarang setelah tiga tahun, SMP ini menjadi SMP favorit para masyarakat.
“Mbak ada yang mencari di ruang tamu.” Sapa salah seorang guru padaku. Tak ada yang
memanggilku Ibu disini. Semua memanggil aku Mbak. Tak terkecuali para guru dan siapapun.
Aku mengangguk pelan dan anggun sembari menutup laptopku. Aku segerakan menuju ruang
tamu.
Ahhhh betapa kagetnya diriku, sosok yang tak pernah aku sangka akan mengunjungi diriku. Ia
terlihat tambah manis dan tampan dengan jas hitamnya. Sepatunya yang bersih, rambutnya
yang terawat dan terlihat lembut. Wajahnya tambah putih, nampaknya selalu perawatan.
Sungguh, sosok yang hampir tak aku kenali setelah tiga tahun tak bertemu.
“Adry…” kataku sembari sedikit mengerutkan kening, takut jika itu bukan dia, wajahnya banyak
berubah.
Ia mengangguk, kami hampir saja berpelukan girang melepas rindu. Tapi aku ingat, ini sekolah,
bukan tempat umum. Akhirnya aku tahan. Adry dan aku pergi keluar dari sekolahan ini, tentu
setelah aku izin pada para guru.
Adry hampir membuat targetnya tercapai, kini ia telah memiliki mobil mewah, dan masih ada
waktu dua tahun lagi untuk menabung membuat rumahnya sendiri. Usahanya sangat lancar
karena bantuan dari Abangnya yang telah profesional dalam bisnis. Sesekali ia juga
menyumbangkan dana untuk daerahku. Ya aku bisa membuat SMP ini maju tak luput bantuan
dari Adry. Ia mengirimkan puluhan komputer, LCD, dan beberapa dana untuk merenovasi SMP
ini.
Aku ajak Adry ke perpustakaan umum, disana ada warung kopi kecil. Ya warung ini miliku. Aku
bangun dengan jerih payahku sendiri, aku menjual SLR-ku, aku menjual gadget-ku, dan aku
menggadaikan motor baruku. Semua demi kemajuan desa ini, Desa tercintaku. Desa yang
menerimaku lahir di tanahnya. Desa yang rela airnya aku gunakan. Dan desa yang tanahnya
siap untuk sekali lagi aku injak-injak mewujudkan mimpi besarku.
Ada perpustakaan mini disini, ada kaset film yang bagus disini, tentu film yang baik-baik. Tak
ada satupun film yang berbau p*rno. Di bagian belakang aku bangun sebuah taman kecil tempat
membaca. Ya jam segini warung ini sepi, biasa ramai kalau anak-anak sudah pulang sekolah.
Sekitar jam dua siang sampai malam.
Kami berdua berbicara banyak. Aku memeluknya. Aku menangis dalam pelukan Adry. Benar-
benar lelah yang selama ini ada akhirnya bisa sedikit sirna, melihat sahabat yang begitu aku
rindu hadir saat ini. tapi ada satu lelah yang tak bisa hilang hanya dengan kehadiran Adry. Aku
rindu Mufta. Sosok itu yang aku harapkan hadir sekarang.
Aku mencintainya. Ya aku mencintai Mufta sejak awal bertemu, jauh sebelum aku dan dia
bersahabat. Itu alasan sebenarnya mengapa aku menahanya pergi keluar negri. Aku terlalu tak
kuat jika harus melepaskanya pergi dan tak kembali ke Indonesia. Berarti harapanku untuk
memilikinya tidak ada. Aku menghela nafas panjang dan jauh ke dalam paru-paru. Merasakan
sakit yang begitu hebat tersimpan disini (hati).
“ada dengar kabar Mufta gak Jen?” tanya Adry padaku. Ya namaku yang sebenarnya adalah
Jeny.
Aku hanya menggeleng sembari menyandarkan kepalaku di bahu Adry. Aku menitikan butiran
bening, merindukan sosok Mufta yang sangat gokil dan gila. Sosok yang dulu juga membuatku
bertahan di Universitas itu. Sosok yang bisa aku jadikan penguat saat lelah. Tapi kini bukan
Mufta yang ada, melainkan Adry. Sahabat yang juga begitu aku sayangi. Ya aku begitu
menyayangi Adry sebagai sahabat.
Adry tau segala ceritaku di desa ini, dia faham aku begitu lelah. Setiap hari aku selalu sms atau
telefon denganya dan bercerita apa saja yang terjadi hari itu. Tapi, tak ada satupun dari kami
yang tau dimana Mufta. Terakhir kami bertemu di depan gedung wisuda. Setelah itu, tak ada
satu kabar pun dari dirinya. Kami sudah berusaha mencari. Tapi semua akses tentang dirinya
tertutup. Facebook, twitter, line, instagram, Hp, BB, dan semuanya tidak ada yang bisa
dihubungi. Semua seakan mati tentangnya.
Pagi itu alarm Hp ku berbunyi. Ternyata nada pengingat. Lima tahun sudah kini kami bertiga
berpisah. Berlari pada garis masing-masing. Mencari tujuan akhir individu. Tiba-tiba sebuah sms
singkat masuk ke Hpku. Betapa senangnya diriku. Sms dari Mufta, mengundangku untuk datang
ke Jogjakarta. Ia disana. Ia juga ternyata sudah memesankanku tiket penerbangan hari ini. tentu
saja aku langsung pergi dengan baju seadanya di dalam koper.
Delapan jam sudah aku di dalam perjalanan. Di bandara aku disambut oleh orang suruhan
Mufta. Ahhh betapa bahagianya aku, sudah ada Adry juga menungguku. Ternyata Mufta
mengundang kami. Pasti Mufta mau buat surprise nih untuk aku dan Adry. Kami diantar ke hotel
oleh orang suruhan Mufta. Pokoknya mufta telah mempersiapkan segala hal untuk kami.
Setelah kami selesai meletakan koper dalam kamar hotel, orang suruhan Mufta memberikan
pakaian bagus untuku dan Adry, katanya kami harus mengganti pakaian sekarang juga. tentu
aku dan Adry nurut. Pakaian yang indah dan tentu mahal, Made In Paris di lebelnya.
“Mufta…” aku berbisik lirih saat tiba di lantai sepuluh hotel itu. Airmataku terjatuh. Aku tak bisa
membendung airmata ini lagi. terlihat Mufta tengah duduk bersanding di pelaminan dengan
seorang wanita cantik. Tentu bukan wanita Indonesia, mungkin Paris, atau Inggris. Entahah aku
tak tak tau. Adry menyeka airmataku, Ia mengira ini airmata kebahagiaan, karena ia tak tau jika
aku begitu mencintai Mufta.
Kami bergegas menyalami mereka yang sedang asik berbincang di atas pelaminan. Tapi aku
dan Adry begitu kaget, Itu bukan Mufta sahabat kami dulu. Tak mungkin jika itu Mufta, seakan Ia
tak mengenaliku dan Adry. Ekspresi wajahnya biasa saja saat melihat kami datang, hanya
senyum biasa. Sedang aku dan Adry hampir memeluknya, tapi ia enggan kami peluk. Seakan
tak ada rindu di dalam hatinya untuk kami.
Ahhhh hatiku tambah perih melihat kenyataan bahwa Mufta sudah tak menganggap kami
sahabatnya lagi. aku berlari keluar ruangan. Aku duduk di kursi santai yang menghadap kaca,
Adry mengikutiku. Kami menggelengkan kepala, heran apa yang terjadi pada Mufta.
Benar-benar tak ada sambutan hangat dari Mufta. aku memeluk Adry, dan menangis sejadinya.
Negeri orang telah membuat Mufta berubah bukan menjadi dirinya. Ia telah melupakanku dan
Adry. Ia benar-benar tak ingat dahulu bagaimana aku susah payah mengajarinya bahasa inggris
hingga Ia fasih dan bisa mendapat beasiswa. Ia tak ingat bagaimana dulu saat kuliah, kami
bertiga tertawa bahagia. Ia benar-benar telah melupakan semuanya. Pantas saja tak ada kabar
apapun dari dirinya. Kami kini hanya orang kecil di matanya. Ia telah menjadi pengusaha sukses
di Paris, bukan dia, tapi usaha ayahnya yang dipercayakan pada dirinya.
Dan cinta di hatiku memang benar-benar tinggal sebuah harapan tak berjalan. Kupukul-pukul
dada ini. ada sesak yang begitu hebat. Cinta yang ku perjuangkan selama delapan tahun, hanya
kandas di dalam jalan kepedihan. Aku ingin berteriak pada Tuhan, tapi ahhh sudahlah. Aku
nikmati lara ini. Biarkanlah. Aku masih punya Desaku, yang aku cintai dan mencintaiku. Dan ada
Adry yang setia menjadi sahabatku, Ia tak pernah lelah untuk tetap bersahabat denganku.
Cerpen Karangan: R. P. Utami
Aku, Dia dan Sahabatku
Menurut psikologi, cinta itu harus diungkapkan
Menurut agama, cinta itu harus dipendam sampai waktu yang tepat
Menurutku, cinta itu ibarat sebuah kayu yang terhanyut dalam aliran sungai
Kisah ini berawal dari keikutsertaanku dalam sebuah olimpiade ekonomi di sebuah universitas di
kota malang. Saat aku bertemu dengannya usiaku baru 17 tahun. Sosoknya yang berwibawa
dan karismatik serta supel telah mengambil seluruh perhatianku seketika. Semua yang berkaitan
dengannya pasti akan aku rawat dan takkan ku biarkan sembarang orang dapat menyentuh
ataupun melihatnya.
Sebuah gantungan kunci berbentuk persegi dan selembar biodatanya adalah benda berhargaku
saat ini. Semua tersimpan rapi dalam kotak kenanganku dengannya. Mungkin baginya aku
hanya seorang anak sma yang sebatas kenalan dengan dia. Akan tetapi bagiku, dia adalah
sosok kakak yang selama ini aku idam-idamkan. Penuh perhatian dan tak pernah bosan selalu
mendukung dan memotivasiku.
Berawal dari sinilah sedikit demi sedikit tumbuh sebuah rasa yang tak biasa. Aku pun binggung
dengan rasa yang kini ada di hatiku ini, apakah ini hanya rasa kagum, atau rasa suka, cinta atau
bahkan sayang? Jujur aku binggung dengan apa yang terjadi.
Sejak 4,5 tahun yang lalu aku tak pernah jumpa lagi dengannya. Hubunganku dengannya hanya
sebatas pertemuan via sms, FB dan telepon. Hmm seingatku aku dan dia hanya 4 kali
teleponan, itu terjadi tahun 2009, 2010, 2011 dan tahun ini yakni 2013. Kebanyakan kami
berhubungan via sms. Dalam sms itu tidak hanya bertanya tentang kabar, akan tetapi saling
bercerita tentang kegiatan kami dan juga saling bercerita tentang keindahan bulan. Ya kami
berdua sangatlah suka melihat keindahan bulan, di saat yang lainnya terlelap dengan
sinetronnya, lelap dengan kesibukannya yang lain, kami berdua sibuk melihat keindahan bulan di
atas sana.
Pertama kali kau menghubunginya itu setelah aku lulus sma, nomor yang dulu dia berikan
ternyata sudah tidak aktif lagi. Hingga aku akhirnya bertanya kepada temanku yang juga
mendapatkan cinderamata dari dia. Selama ini temanku yang sudah menghubungi dan menjalin
hubungan dengan dia. Begitu aku menghubunginya aku takut-takut karena selama ini kau tak
pernah menghubunginya, ketika aku menghubunginya mungkin rasanya agak aneh akan tetapi
ketika aku mendengar ucapannya ini, rasanya aku langsung plong.
“oh kamu thoo nduk gimana kabarnya?” jawabnya dengan suara ceria dan logat khasnya yang
membuat aku tetap berusaha menjaga silaturahmi dengannya. Dulu aku selalu berpikiran bahwa
jika aku sms dia pasti terganggu akan tetapi dia selalu menyakinkanku bahwa itu hanyalah
kekahawatiranku saja. Selama ini dia selalu menjawab semua sms dariku tak pernah tidak, dan
selama itu juga aku tak pernah berani untuk memulai sms dengan dirinya karena bagiku
mungkin dia tak nyaman dengan diriku yang mungkin sedikit agresif ini. Aku tak mau dia merasa
tak nyaman dekat denganku walaupun di antara kita tak ada hubungan apa-apa.
Entah sejak kapan rasa ini mulai besar, bahkan hingga aku merasa sakit ketika mendengar
sahabatku bahkan sampai pergi ke kota malang hanya untuk bertemu dengan dirinya.
Mendengar itu entah kenapa rasanya sakit sekali, air mataku pun tak tertahankan untuk
mengalir, apalagi setelah aku ketahui dia bermalam di rumah keluarga besar temanku itu. “Oh
jadi itu sebabnya smsku tak kau balas?” batinku merintih. Akan tetapi setelah aku mendengar
apa yang terjadi sebenarnya rasa itu sedikit lebih ringan.
Dia terpaksa menerima tawaran keluarga besar sahabatku itu karena malam sudah larut dan dia
dalam kondisi yang tak sehat karena kurang tidur. Hmm aku merasa bersalah padanya akan
tetapi percuma juga rasa bersalahku itu karena memang di antara kita tak ada hubungan apa -
apa. Aku pun teringat sms sahabatku yang sepertinya sedang gembira, “ini aku sedang jalan-
jalan dengan kakaknya, bareng dengan saudara sepupu dan pakdeku”, membaca sms itu
rasanya sakit banget. Ingin rasanya teriak-teriak akan tetapi aku tak enak hati dengan para
penghuni kost yang lainnya. Hingga akhirnya teriakan itu berubah menjadi deraian air mata
untuk mengurangi sesaknya dada menanggapi hal tersebut.
Akhirnya aku mendapat sedikit penjelasan dari dia terkait dengan apa yang sedang dialami oleh
sahabatku tersebut. Ternyata sahabatku merasa sedikit tertekan dengan semua kondisi yang
tidak berpihak padanya, semua teman yang tak mempercayainya, nilai UAN yang diluar
targetannya, kisah cintanya yang tak pernah bersambut serta saingannya yaitu diriku. Walau aku
tak pernah menganggapnya sebagai sainganku ternyata seperti itu tanggapannya terhadapku.
“Hmm terserah dia sajalah” batinku menanggapi hal tersebut.
Aku baru tahu ternyata orang yang sangat dicintai oleh sahabatku adalah dia. Aku tak tahu akan
hal itu sampai sahabatku itu mengatakannya, “diriku mencintainya, bagaimana denganmu?”.
Mendengar pertanyaan itu aku langsung terdiam, akan tetapi langsung ku jawab, “tidak, aku tak
mencintai dia”. Entah apa yang membuat sahabatku ini berpikiran bahwa aku pun menyukai
bahkan mencintai dia. Hingga akhirnya aku pun mulai berani untuk ikut mengungkapkan apa
yang tak rasakan. Ketika sahabatku itu bertanya lagi, aku pun menjawab, “ya aku mencintainya,
bagaimana denganmu?”. Mendengar hal itu sahabatku langsung tak menghubungiku lagi.
Aku pun mulai mengungkapkan apa yang aku rasakan kepada dia, via buku yang aku titipkan
pada kakak tingkat dan juga via email. Aku ungkapkan apa yang sedang aku rasakan. Aku
masih ingat dengan ilmu psikologi, jika kau menyukai seseorang maka ungkapkanlah itu.
Sedangkan dalam ilmu agama jika kita menyukai seseorang maka bersabarlah dan tahanlah
hingga waktu yang tepat. Akan tetapi bagiku, ungkapkan dan lupakan semua hal itu. Jika kau
ingin melupakan orang yang kau sukai, caranya bukan dengan menghapus semua kenangan itu
darimu akan tetapi buatlah yang banyak kenangan dengannya dan beritahukan pada semua
orang ketika kau menyukainya. Maka kamu akan malu untuk meneruskan hal itu. Tapi jangan
kau pakai caraku ini jika kau tak cukup berani.
Aku tak tahu apakah sahabatku itu merestui hubunganku dengan dia atau bagaimana akupun
tak tahu. Akan tetapi akhir-akhir ini, sahabatku selalu sms menanyakan kabar dia, “bagaimana
kabarnya dia? Apakah dia baik-baik saja? Smsku tak pernah dibalas oleh dia, apakah dirimu
sama denganku. Diacuhkan begitu saja olehnya?”. Jujur membaca sms itu aku heran hah
bagaimana bisa sahabatku itu tak dibalas smsnya sedangkan aku masih dapat bersms ria
dengannya. Segera aku pun mengirim sms untuknya, “bagaimana kabarmu kak?”, smsnya pun
langsung berbalas, “aku baik-baik saja”. Hmm mengapa hal itu terjadi? Aku masih binggung,
mengapa sms sahabatku tak pernah dibalas bahkan cenderung diacuhkan oleh dia.
Saat sahabatku itu sms lagi menanyakan kabar dia, aku pun langsung memberitahu kepadanya,
dan tahukah kamu kawan apa yang terjadi. Sahabatku itu tak menghubungiku lagi, aku tak tahu
apa yang terjadi hingga sebuah telepon dari nomor yang aku ketahui nomor orangtuanya
sahabatku masuk dalam ponselku. Telepon itu juga yang akhirnya menjelaskan duduk perkara
dari awal hingga akhir.
Baru aku ketahui jika sahabatku itu sedang dalam pengobatan karena banyaknya pikiran yang
ada dalam otaknya. Dia mungkin mersa bersalah pada orangtuanya karena tidak dapat
memberikan nilai yang terbaik saat UAN. Mungkin juga karena tekanan dari teman-teman yang
membutuhkan kontribusi dirinya atau lain sebagainya, aku pun tak tahu. Sahabatku itu juga
mendapat perlakuan tidak adil dari teman-teman asramanya, dan yang pasti sahabatku itu
cemburu padaku karena aku masih berhubungan dengan dia sedangkan sahabatku tidak.
Mendengar semua hal itu, aku langsung sedih sekali, “Ya allah gara-gara aku masuk ke dalam
hubungan di antara mereka jadi seperti ini”. Aku merasa bersalah seolah mengambil perhatian
dia dari sahabatku. Begitu aku curhat ke teman-temanku yang lainnya mereka pada bilang agar
aku melepas dia, jangan sampai gara-gara dia, aku kehilangan sahabatku sendiri. Saat di
telepon aku pun berjanji untuk tidak akan menghubungi dia lagi, demi menjaga perasaan
sahabatku.
Akan tetapi apa yang terjadi setelah sms dan email yang aku kirimkan, aku berada dalam posisi
yang kangen berat dengan dia. Aku butuh sedikit semangat dari dia, sebuah porsi semangat
yang hanya bisa diberikan oleh dia. Hingga akhirnya aku mulai mengirim email kepadanya yang
langsung disambut dengan sms semangat darinya. Mendapat itu semua senyum tak pernah
lepas dari wajahku, hatiku berbunga tiap kali membaca sms dari dia. Hahahha senangnya aku
kira dia tak akan mengirimiku sms ini. Mengingat emailku yang mengatakan ingin memutus
hubungan di antara kami ini. Aku mengirimkan email untuk meminta doa dia karena aku akan
menghadapi sidang. Aku memberanikan diri untuk memulai sms dia karena menurutku yang
sedang dalam kondisi perang dingin itu dia dan sahabatku, mengapa aku harus ikut-ikutan.
Hingga akhirnya, aku mulai aktif lagi smsan dengan dia. Terlupalah sudah janji yang sudah aku
ucapkan.
Sahabatku itu ternyata akhirnya menjalani perawatan dan sudah berangsur-angsur membaik.
Karena hatiku tak tenang setelah melanggar janji, aku pun memutuskan untuk mengungkapkan
pada sahabatku itu. Aku ungkapkan tentang janjiku dan aku ungkapkan jika aku sudah
melanggarnya. Dan akibatnya adalah sahabatku ini kembali alpa. Kembali tamparan yang sama
menampar wajahku, tak hanya wajah yang serasa ditampar, telinga rasanya panas mendengar
adikku berkata, “kau egois, hanya memikirkan dirimu sendiri, kenapa tak kau pikirkan
perasaannya ketika kau ungkapkan hal itu”. Batinku seketika memberontak, “mau sampai kapan
aku harus melindunginya terus, sedangkan aku sedang sakit begini, apakah aku pun harus
mengorbankan diriku juga”. Batinku masih terus melakukan pembelaan atas kesalahan yang aku
lakukan hingga datangnya sebuah sms yang berbunyi.
Assalamualaikum wrwb, nak ibu minta tolong jika anak ibu menghubungi terkait dengan laki-laki
itu bilang aja anak ga tahu berhubungan lagi dengan dia. Ibu tahu itu bohong tapi ini demi anak
ibu.
Assalamualaikum wrwb, nak, sejak anak memberitahu anak ibu, bahwa anak masih sering
berhubungan dengan laki-laki itu, anak ibu mnjadi tidak terkendali dan sulit mengontrol
emosinya, mungkin karena rasa cemburu. Ibu tidak menyalahkan anak karena mungkin anak
khilaf atau lupa. Tapi ini mungkin ujian buat ibu sekeluarga agar lebih mendekatkan diri kepada
Allah dan lebih bersabar. Tapi ibu minta anak jangan merasa bersedih atau merasa bersalah,
anak doakan saja semoga anak ibu cepat sehat dan dapat beraktivitas kembali.
Inilah akibat dari apa yang sudah tak lakukan tanpa pikir panjang. Akibat yang sangat fatal bagi
sahabatku. Aku tak pikirkan hal lain selain ucapan permohonan maafku. Saat aku telepon pun
dia masih baik-baik saja. Dia sendiri mengaku jika dia baik-baik saja dan menyetujui jika aku
dengan dia. Tapi apa yang terjadi, sahabatku itu bahkan merelakan sampai membuatnya jatuh.
Hmm apakah layak aku masih tertawa senang seperti ini.
Padahal aku pun sebenarnya tahu jika dia pun sudah menolakku, akan tetapi entah kenapa
batinku ini masih saja berharap padanya. Padahal dia sudah dengan jelas mengatakan bahwa
dia tak ada perasaan cinta atau menyukai dengan lebih terhadapku. Dia hanya ada rasa suka,
ya sebatas rasa suka seperti rasa sukanya terhadap teman-temannya saja. Dia tidak ada tujuan
memilikiku untuk dirinya pribadi. Dia tidak mempunyai rasa cinta yang hanya mengarah pada
hubungan dua manusia saja. Ya sekali lagi dia tak punya perasaan lebih padaku. Akhirnya aku
mendapatkan jawaban atas pertanyaanku yang paling mendasar selama ini.
Walau begitu entah mengapa aku selalu merasa dia seakan menyukaiku. Akan tetapi dia tak
berani mengungkapkannya karena mungkin baginya aku dan dia tak akan dapat bersatu. Karena
itu dia, selalu berbuat seperti ini. Akan tetapi mengapa dia selalu seakan memberikan sinyal
kepadaku. Dia dan aku bahkan pernah bercerita tentang jumlah anak yang kami inginkan. Kami
sama-sama ingin punya anak lima orang. Dia pernah bertanya padaku “mau ga kamu
melahirkan anak-anak untukku?” yang langsung tak jawab, “mau ga jika aku yang melahirkan
anak-anak untukmu?”. Aku tatkala itu langsung menjawab “iya’ sedangkan dia tidak menjawab,
hingga ini aku tak tahu jawaban dia apa.
Baru aku sadari bahwa selama ini, aku terus yang mengungkapkan apa yang ada dipikiranku,
dia tak pernah sama sekali. Ketika aku bertanya terkait dengan semua hal yang sudah kita
bicarakan, dia hanya menjawab “pelajari psikologi dasar biar kamu tahu apa yang sebenarnya
terjadi, apakah itu hanya teka-teki, permainan kata atau yang sebenarnya atau sebuah liukan
topeng? Atau sebuah tak tik atau battleplan atau kata-kata represif depresif akan keadaan atau
hanya sekedar jebakan agar orang lain berpikiran seperti yang kita inginkan” hmm sebuah
jawaban yang tak pasti. Baru aku sadari ternyata selama ini, dia hanya meladeni permainanku
ini, dia hanya pemainkan perannya dengan cukup lihai dan apik hingga aku pun terbuai dengan
apa yang sudah dilakukannya.
Selama ini, dia tak pernah membatasi apa yang ada dalam alam pikiranku, dia membiarkan
pikiranku ini berkembang dengan liarnya. Dia tak pernah membatasinya. Bagi dia itu adalah hak
setiap orang untuk memproses semua inputan yang sudah masuk dalam otaknya. Jadi jangan
pernah menyalahkan orang lain atas semua pikiran yang ada di otakmu, karena yang
mempunyai kendali penuh atas pikiranmu hanyalah dirimu sendiri. Mereka semua hanya
pemberi input, otakmu yang memproses dan memberikan output jadi kendalikan pikiranmu.
Cerpen Karangan: Bayu Rahmawati
Selalu Ada
Aurel… sahabat baikku sekaligus seniman cilik. Beratus-ratus lukisan hasil karyanya dipajang di
sebuah ruangan khusus yang sengaja dibangun untuknya. Kanvas, kuas, cat air, dan
perlengkapan melukis lainnya tersusun lengkap di meja dekat kanvas dimana ia beraksi
melampiaskan imajinasinya melalui cat air.
Sebenarnya… aku iri, sangat iri. Kenapa? Karena ia selalu dipuji-puji oleh semua orang.
gurunya, orang tuanya, teman-teman, dan… semua yang melihat lukisannya. Dia adalah salah
satu murid berprestasi di sekolah. Yang tak pernah bergeser dari kedudukannya sebagai juara
umum kesatu se-sekolahan. Tapi.. biarlah, dia itu kan sahabatku.
Sayangnya… dia sudah meninggal karena kanker otak yang menimpa dirinya. seluruh
lukisannya hanya menyisakan kenangan terdalam. kenangan terakhirnya adalah sebuah lukisan
yang aku pandangi saat ini. Dia memberikannya padaku saat aku melihatnya sedang melukis
sambil menangis dan wajahnya pucat di ruang kesenian sekolah. Gambar lukisan itu adalah dua
orang anak sedang bermain di atas perahu di danau. Dan itu adalah aku dan Aurel.
Terakhir kali, hubungan persahabatanku dan aurel hancur. Hanya karena dia merusak teddy
bearku saat menginap. Dan sekarang.. aku sadar, boneka itu tidak bisa menghiburku tapi Aurel
bisa menghiburku. dan aku melihatnya sedang ada di ruang kesenian dan menangis, wajahnya
pun pucat. Aku diam-diam mengintipnya. Dan akhirnya.. ketahuan.
Hari itu… hujan turun amat deras. Disertai petir yang menggelegar. langit bergemuruh Seperti
persahabatan kami yang sekarang.
“Maudy… jangan terus bersembunyi” ucap Aurel lirih dan masih terfokus pada pekerjaannya.
“Bagaimana dia bisa tahu?” Batinku.
Aku pun masuk ke ruangan itu dan berdiri kurang lebih dua meter di belakang Aurel.
“Ada apa?” Tanyaku ketus. Ya karena kita masih marahan.
“Lebih dekat..” Seru Aurel lembut.
Dan aku pun melangkah dan berhenti tepat di belakang gadis berwajah sembab itu.
“Sekarang, apa?” Tanyaku seraya memandang langit-langit ruangan.
“Ma.. Ma.. Maudy.. A.. Aku.. Ta.. Ta.. Takut.. Kalau.. Ki.. Kita..” Ucap Aurel terbata-bata dan
kembali menangis. Aku pun diam-diam meneteskan air mata. Tapi buru-buru aku mengelapnya.
“Kalau kita..” Kata-kata itu terucap lagi dari mulut mungilnya.
Aku terus melawan air mataku yang keluar ini. Tetapi, tanganku yang terkena air mata malah
menambah basah wajahku. Akhirnya aku membiarkannya mengalir.. Dan terus mengalir.
“Akan… berpisah” Lanjutnya. Aku berlari memeluk Aurel dari belakang. Aku marah dia berbicara
seperti itu.
“Tidak Aurel, TIDAK!” Bantahku disela-slea tangisanku.
“Jika aku sudah pergi.. tolong jangan menangis karena aku selalu ada di sampingmu, di hatimu.
Dan pandangilah lukisan ini terus” Ucap Aurel seraya memberikanku lukisan dua orang
perempuan yang tengah bermain di atas perahu di danau dengan ekspresi yang bertolak
belakang padaku dan Aurel saat ini.
“Maafkan aku Aurel”
“Aku juga minta maaf… Maudy”
Keesokan harinya..
“hoaaaamm” Aku terbangun dari tidurku jam delapan pagi. lalu mandi dan sarapan sendirian
karena ayah dan ibu tidak ada di rumah. aku juga sempat bertanya-tanya. Firasatku pula
menunjukan ada yang aneh pada Aurel.
Suara pintu tampak terbuka. Terlihatlah ayah dan ibu dengan perasaan sedih. Mereka memakai
baju hitam. Dengan kaget aku menghampiri mereka.
“Aurel… MENINGGAL karena kanker otaknya kambuh!” Ucap ayah yang membuatku
tercengang.
Aku pun berlari melalui ayah dan ibu. air mata mulai membasahi pipiku. Setelah sampai di
pemakaman, Aku menangis memegang nisan Aurel.
“Aku tahu kamu menyuruhku untuk tidak menangis. Tapi.. aku TIDAK BISA!” Seruku di sela-sela
tangisanku.
Kembali ke posisiku sekarang..
“Lukisan ini punya arti besar dalam hidupku. Tapi Aurel. kamulah yang lebih berarti” Aku
menangis.
“Perasaan takutku kembali! Kamu menangis!” Seru seseorang.
“Aurel?” Tanyaku kaget.
“Maudy?” Aurel tertawa.
“Aku tidak akan hilang Maudy, Ada di hatimu!” Kata Aurel.
Hari itu aku merasa seperti mimpi. jika itu memang mimpi… Terimakasih tuhan karena sudah
menyadarkanku bahwa sahabat itu bukan sekedar bisa kulihat kehadirannya. Tapi juga bisa
kurasakan dia selalu ada di hatiku dan di sampingku. Tolong kirimkan salamku pada Aurel Ya
Tuhan.
Cerpen Karangan: Umi Fauziah M
Friend 2 Friend
Dua hari telah kulalui dengan perasaan berbunga, ahh rasanya menyenangkan ketika melihat
dia tertawa meskipun dia tidak menyadari bahwa mataku terus tertuju padanya. Menurutku itu
cukup, karena jika aku terlalu dekat dengannya, aku takut.
Aku takut rasa sukaku itu berubah menjadi cinta, dan kalian tentu tahu jika kita mencintai
seseorang kita akan merasakan rasa rindu. Aku takut ketika rindu itu datang, dia yang aku
rindukan merindukan orang lain.
Ketakutanku menjadi kenyataan, ya.. dia milik kak Nurul sekarang. Aku mengetahuinya karena
hubungan mereka telah menjadi trending topic hari ini di sekolah. Siapa yang tidak tahu kalau
ketua PMR berpacaran dengan wakilnya sendiri yang notabene adalah ‘bronis’, alias berondong
manis gitu, memang kak Fahmi manis dan itu adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri.
Ingin sekali aku meluapkan rasa kecemburuanku ketika mereka berdua melintas, ah.. tapi siapa
aku? Aku hanyalah seorang secret admirer yang terjebak dalam perasaan sukaku sendiri. Kini
aku menatap punggung mereka yang menuju kantin dengan rasa kecewa, tanpa aba-aba kak
Fahmi berbalik lalu menatapku, aku menunduk menerima tatapan itu lalu berlalu menuju kelas
meskipun jam istirahat belum usai.
—
Malam semakin mengelepar
Menenggelamkanku dalam lamunan
Tentang dia yang kurasa nyata
Padahal tidak bisa kuraba
Penaku berhenti menari di atas buku kecil yang besedia menampung segala rasaku sepanjang
hari ini, aku menguap lalu melihat hasil karyaku yang telah kubungkus rapi dengan kertas kado
berwarna biru langit. Ingin sekali hari esok segera menyapa, jadi kuputuskan untuk tidur dan
berharap memimpikan dia.
Harapanku menjadi kenyataan, tapi harus kubayar dengan bangun kesiangan. Untunglah pintu
gerbang baru akan ditutup ketika aku datang, secutity itu terus menggerutu ketika aku masuk ke
halaman sekolah. Tanpa menghiraukan ocehannya aku berlari menuju kelas. Sepertinya
keberuntungan tengah berpihak padaku, sesampainya di kelas aku tidak di hukum. Tapi aku
kecewa, karena aku tidak menemukan sosoknya di depan kelas hari ini.
“adik-adik yang baik, kadonya dikumpulin sekarang ya, ke keranjang ini” kata kak Chika lantang
“iyaaa… kak…” seru teman sekelasku serempak. Sepertinya hanya aku yang tidak menjawab,
karena aku masih terengah-engah mengatur nafasku.
Semuanya beranjak ke depan, kecuali aku yang masih sibuk mencari kotak mugil berwarna biru.
Aku yakin tadi pagi sudah kusimpan dengan baik dan rapi di tasku ini. Tapi nihil, aku tidak
menemukan apapun kecali sebuah lubang yang tidak terlalu besar di dasar tasku. Akhh pasti
terjatuh di suatu tempat.
“Fahira kenapa?” Tanya Rena teman sebangkuku yang telah kembali duduk di samping kiriku.
“kadoku hilang Ren” jawabku dengan suara lemah.
“ya udah ga apa-apa, ini kan bukan tugas wajib” balas Rena berusaha menenangkanku.
“tapi…”
Aku berhenti berbicara dan memperhatikan kode mata Rena yang menuju ke arah pintu.
Ternyata dia baru datang, seseorang yang aku harapkan kehadirannya. Ada sebuah benda yang
mengelilingi lingkar lengan kirinya.
“Ren, kamu liat gak gelang yang tadi dipakai kak Fahmi?” tanyaku penuh semangat, hingga
mataku yang sipit terlihat membulat.
“oh itu, iya aku liat. Bagus ya, memang kenapa?” Rena menjawabku dengan polos.
“itu kado yang aku cari-cari Ren”
“ahaaa… ternyata dia nyangkut di tempat yang tepat”
Rena cekikikan dengan pernyataannya sendiri, sedangkan aku tersenyum, ternyata tidak sia-sia
aku membuatnya semalaman, meskipun dia tidak tahu bahwa kado itu dariku, batinku dalam
hati.
Perpustakaan menjadi tempat pelarian yang asik ketika jam istirahat telah tiba, karena aku bisa
terhindar dari pemandangan yang hanya akan membuatku mengelus dada. Suara bel masuk
terpaksa menyudahi buku yang baru setengahnya kubaca. Rena tiba lebih dahulu di kelas,
karena jarak dari kantin ke kelas tidak terlalu jauh. Sebuah keberkahan bagi Rena yang gembul,
belum sempat aku duduk dia memberikan aku sebuah amplop berwarna biru muda.
“Apa ini?” tanyaku penasaran.
“Amplop” jawabnya singkat karena tengah anteng dengan cimol pedas mbok Inem.
“Ya aku tahu Ren, maksudku isinya apa? Masa cimol” aku tertawa lalu merebut plastik cimol
yang ada digengamannya.
“Nggak tau, tadi aku nemu itu di kolong meja, terus ada tulisan to: Fahira” Lanjutnya gelagapan
karena pedas. “ahhh jangan banyak-banyak ra kalo minta” Rena memonyongkan bibirnya sambil
berusaha mengambil kembali cimolnya.
Rasa penasaranku memuncak karena setelah aku balik kesana-kemari amplop itu tidak
mempunyai empunya. Aku-pun duduk lalu perlahan mulai membukanya dengan H2C alias
harap-harap cemas, isinya singkat, sungguh tidak seperti yang aku harapkan.
Aku tunggu kamu di taman belakang
Jam 12.30
“isinya apa ra?” Tanya Rena membuatku kaget.
“hah.. bukan apa-apa kok, hehe cuma surat kaleng biasa” ucapku asal.
Hari ini adalah hari terakhir masa orientasi siswa, Aku resmi menjadi siswi SMU dan mengganti
seragam putih biruku menjadi seragam putih abu-abu. Tidak ada lagi main-main, yang ada
hanya keseriusan supaya aku mendapatkan beasiswa yang aku inginkan lalu membuat
orangtuaku bangga.
Kakak-kakak yang menjadi wali kelas menyalami sebagai tanda bahwa kami telah menjadi
keluarga besar dari SMA Pelita Bangsa, jujur aku agak salting ketika mendapati giliran untuk
menyalami kak Fahmi.
Waktu telah menunjukan pukul 12.30 di jam tangan yang melingkari lengan mungilku, aku
memacu langkahku menuju taman belakang yang dia janjikan. Seseorang tengah bersandar di
pohon akasia, membelakangiku. Dari belakang dia seperti orang yang aku kenal, ah tapi mana
mungkin, aku mengindahkan fikiranku dan mulai melangkah mendekatinya.
“kamu siapa?” tanyaku ragu.
Dia berbalik dan membuatku terkejut, tanpa kusadari aku mundur selangkah ke belakang. Lalu
dia tersenyum, senyum yang selalu membuatku tidak karuan. Jujur aku senang, tapi keinginanku
melarikan diri lebih kuat daripada harus menghadapinya saat ini. Perlahan aku mundur lalu
membalikan badanku, tapi dia menahanku, dia menahan tanganku.
“makasih ya gelangnya” ucapnya tulus
“ta… tapi darimana kakak tahu kalau gelang itu dariku?” tanyaku dengan kata-kata yang sedikit
terbata.
“tadi pagi ada juara marathon yang larinya super kenceng, sampai-sampai ngejatuhin kado imut
berwarna biru”
Dia tertawa kecil sedangkan aku tersenyum malu, lalu dia mengeluarkan kotak itu dari saku
celananya dan menyodorkannya padaku. Aku tidak mengerti mengapa dia mengembalikan
kotaknya padaku, padahal dia menerima isinya.
“maaf ya sebelumnya, aku merubah sedikit gelang yang kamu berikan”
Dia menunjukan gelang yang bertengger di tangan kirinya, aku menyadari ada sesuatu yang
berubah dari gelang yang ku buat sendiri itu. Tidak ada lagi gambar eceng di tengah, di antara
huruf F dan F, yang ada sekarang adalah angka 2.
“tidak apa-apa kok kak, gelang itu sudah menjadi milik kakak, dan kakak bebas mau melakukan
apa saja dengan gelang itu” ada sedikit nada kekecewaan, ya aku sadar akan hal itu dan aku
ingin menunjukannya.
Suasana menjadi hening, dan kami tenggelam dalam lamunan masing-masing. Aku ingin sekali
dia menyadari bahwa aku yang terlebih dahulu menyukainya bukan kak Nurul, tapi itu egois
namanya, aku tidak ingin menjadi orang egois yang memikirkan diri sendiri, mementingkan
kemenangan untuk diriku sendiri. Lamunanku berakhir ketika dia mulai bersuara.
“aku tahu kalau kamu suka sama kakak” pernyataannya membuat pipiku memerah dan
jantungku berdebar kencang, dia mengalihkan pandangannya padaku setelah tadi dia
memandang jejeran pohon yang tertata rapi di taman. Aku memberanikan diri membalas
tatapannya.
“tapi sepertinya ulul lebih nekat daripada kamu, dia mengutarakan perasaannya terlebih
dahulu…”
“jadi kakak tidak mencintainya?” tanyaku memotong perkataannya.
“cinta? Kakak cuma anak SMA ra yang tidak bisa menjanjikan apa-apa. Cinta itu buat orang
dewasa yang sudah memikirkan masa depan untuk berkeluarga. Kita ini kan Cuma remaja, yang
ada juga sekolah, belajar yang bener bukannya pacaran.
“jadi kakak nggak pacaran sama dia? Itu cuma gosip? Dan kakak ingin fokus dulu sekolah?” aku
bertubi-tubi melemparkan pertanyaan hingga dia mencomot bibirku agar tidak bertanya lagi.
“ya intinya seperti itu, perasaan itu dapat menjerumuskan jika dia diutarakan di saat yang tidak
tepat. Akan lebih bijak jika rasa ini kita jaga dan ketika waktu yang tepat datang biarkan dia
tumbuh dan bersemi.
Kak Fahmi membuka kotak yang ada di tanganku, ternyata disana ada gelang yang terbuat dari
perak. Terukir F2F di tengah gelang itu, dia lalu memakaikannya di lengan kiriku.
“friend 2 friend” jari kelingkinnya ditautkan ke jari kelingkingku.
Aku tersenyum lalu membalas perkataanya “friend 2 friend”
TAMAT
Cerpen Karangan: Intan Dewi
Kenangan Waktu Lalu
Suasana kelas yang sepi, di sekitar sekolah hanya ada beberapa murid saja yang terlihat.
Memang tidak seperti biasanya, hari ini aku berangkat pagi sebab dimarahi guru salah satu
mapel kejuruan karena selalu telat.
“mumpung kelas sepi, belajar dulu ah? Biar pintar” teriak dalam hatiku, sambil membuka buku
pelajaran yang sebenarnya itu pr di rumah aku kerjain di sekolah.
Beberapa menit kemudian, datang beberapa siswa
“assalamualaikum, ehh.. Ada si riqi, Tumben berangkat pagi” salam dan tanya si uki, dia murid
paling pintar sekelas sekaligus ketua kelas. “biasa ajalah” “hahaha.. Gue tau? Gara-gara kamu
sering telat terus dimarahi sama pak pri ya? Wkwkwk” “hah.. Kamu ini tertawa di atas
penderitaan orang lain” “gak papa.. Aku tau kok? Kalau kamu sebenarnya rajin tapi salahnya
males!
Wkwkwk” “hah.. Udahlah mending bantuin aku ngerjain pr ini?”
“enakan kamu dong? Gue aja belum selesai” “baru dapat berapa lembar?” “baru 3 lembar” “aku
masih 2 lembar” “ya udah kita selesain aja, gue juga mau nyelesain”
Beberapa menit kemudian, seluruh siswa sudah datang! Suasana pun jadi gaduh kayak pasar
ikan!
“riiiq” suara itu hampir memecahkan gendang telingaku “apaaa?” “minta no hp dong” pinta ika,
dia adalah murid siswi yang menurutku sih agak cerewet tapi baik padaku! “08993697xxx udah..”
“thanks” tak lama kemudian guru ku pun masuk! Dan memeriksa tugas dari para murid dan
mengatakan bahwa hari ini ke lab komputer untuk mensimulasikan program! Setelah guru
menjelaskan tugasnya kami pun menuju kesana!
Ada banyak murid yang kesusahan dengan tugasnya, Yang bisa pun disuruh pak guru untuk
mengajari yang tidak bisa!
“riq sini”
“riqi apa rika”
“iya kamu riqiii”
“apa”
“nih? Aku nggak bisa ini” tanya ika
“gini lho caranya” akupun menjelaskan! Beberapa menit kemudian ada yang menggoda?
“cie-cie riqi” ucap salah seorang temanku? Dan teman lain yang ikut melihat
“apa sinta” sahutku
“gak usah gemetaran kalau lagi duduk ma ika”
“hah siapa gemetaran”
“e e e sini dong riq jangan jauh-jauh” ucap ika
“tuh kan, lagi pedekate ya ka?” goda sinta
“udah riq nggak usah diladenin si sinta” ucap ika
“hmm..”
“ehh? Riqi kok malah gitu sih? Jangan-jangan kamu homo ya?” ledek sinta
“hah.. Kagak dong aku kan orang yang taat pada agama? Soalnya zina itu ada zina mata,
telinga, hidung, hati, dll. Jadi harus hati-hati hihihi”
“haha.. Lebay”
“biarin, asal lebay positif”
“modus..”
“-___-”
“kamu sin? Jangan gitu dong! Diakan anak alim” bela ika
“aku tau? Tapi kalau kamu kayak gitu, kan sama aja menjerumuskan dia dalam lembah berlumur
dosa” bantah sinta dengan santai
“aku kan minta diajarin!!!” gereget ika
Jam demi jam berlalu, Kami pun pulang..
Hari demi hari berlalu
Sepertinya ika punya perasaan yang spesial padaku, bulan demi bulan berlalu.
Waktunya menghadapi ujian semester.
Hari ini pelajaran matematika agak sulit bagiku, tapi aku nggak akan melakukan jalan pintas
untuk mengerjakannya. Bel pun berbunyi seluruh siswa memasuki kelas
“heh.. Uki no 7 sampai 30″ ucap salah satu temenku
“iya bentar lagi ngerjain, diam dulu bisa nggak sih?” ucap kesal uki
Kemudian ada salah seorang temanku yang berbicara padaku “heh.. Kamu kagak nyontek si uki”
“kagak?”
“nanti nilai lho jelek rasain ya”
“udahlah biarin aja kali, riqi itu jujur nggak kayak kamu?” sela ika
“iyah..”
“bagaimanapun juga? Kita adalah teman meskipun jalan kita berbeda, akhirnya akan bertemu di
satu titik juga” selaku
“dan titik pertemuan itu adalah antara aku dan kamu yang hidup bakal hidup bersama dalam
suka dan duka” goda ika
“gak usah aneh-aneh ka”
“…” ika lalu diem!
Pagi itu mulailah ada hal yang semakin aku khawatirkan, sepertinya sih?
Kelakuannya pun masih berlanjut di hari berikutnya sampai pada bulan berikutnya yang
mencapai puncaknya!
Hari itu jam pelajaran kosong dan hawanya cukup panas karena memang sudah siang..
“riq aku mau bicara sama kamu” ucap ika
“apa?” ucapku
“aku suka sama kamu dari dulu mau nggak jadi pacarku” pinta ika
“hah?” aku pun keheranan, beberapa temenku yang lain pun mengikuti untuk meramaikan
suasana, beberapa temenku pun ada yang bilang
“udah terima aja lo kan kagak pernah pacaran?”
“tolak aja, harga diri coy, masak second dipasangin sama original”
“cie cie si ika”
Aku lihat di sekelilingku ada wajah cemburu, ada wajah ceria, ada wajah bengong ada wajah
cuek
Tiba-tiba ada 3 orang temanku yang pergi keluar kelas untuk menuju ke kantin. Salah satu dari
mereka pun mengajakku
“riq ayo ikut ke kantin, agak panas nih” ucap uki
“oke” jawabku, dalam hatiku berkata untung ada yang ngajak!
“riqi kok kamu pergi sih?, jawab aku dulu dong” teriak ika
“hehehe, aku mau ke kantin dulu.. Kapan-kapan aja ya?”
“loh kok kapan-kapan”
“ok dadah..”
“haaa riqiiii”
Aku pun beranjak menuju teman-temanku, dan pergi makan-makan.
Pembicaraan di kantin pun seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa namun mereka seperti
menyembunyikan sesuatu? Salah satu temanku uki pun mengatakan..
“riq sini aku kasih tau sesuatu yang belum kamu tau”
“apa itu”
“lebih baik nggak usah terima ika, dia itu banyak banget pacarnya tapi udah diputus, hehehe”
“yah.. Kalau gitu kan mantan pacarnya yang banyak!”
“iya.. Tapi ada yang lebih buruk lagi dari itu”
“apa itu?”
Si ukipun menerangkan secara detail tentang kehidupannya aku pun kaget. Setelah itu kami pun
pergi ke kelas dan berniat untuk pulang sekolah karena pelajaran memang dari tadi kosong. Yah
aku pun tidak ambil ragu dan langsung mempercayai mereka, sebab aku sudah sangat
mengenal kehidupan mereka dan aku tidak tahu tentang kehidupan ika di luar sekolah, tentang
bagaimana pola tingkahnya
Saat itu pun aku sms dia, tentang ungkapan penolakanku padanya, tapi sebenarnya dia tidak
terima.
4 bulan berlalu..
Pada saat liburan.
Tepatnya hari sabtu saat menuju ke sekolah uki temanku dia kecelakaan. Kakinya hampir
patah..
Dan butuh waktu lama agar ia dapat sembuh seperti semula.
Tahun ajaran baru dengan wali kelas baru pun telah dimulai, aku ditunjuk sebagai calon ketua
kelas. Entah mereka semua mayoritas memilihku. Terpaksa dah..
Hari itu adalah tantangan baru bagi diriku, karena secara otomatis aku harus memberikan contoh
yang baik dan berlaku adil serta baik, mengerti, dengan seluruh teman yang ada di kelasku
Hari itu pun mulai terjadi, ika, likha dan nita jarang masuk sekolah, terutama ika. Mungkin
seminggu paling banyak hanya 4 kali.
Pagi itu aku berpikir mungkin jika ada uki, dia akan cepat menyelesaikan hal ini.
Tiba-tiba “assalamualaikum” suara itu, ternyata benar dia memang uki yang sedang berjalan
dengan tongkat penyangga, aku pun langsung menjawabnya “wa’alaikumsalam, gimana
kabarnya hee” ucapku
“lumayan baik pak ketu” jawabnya
“heh.. Jangan panggil gitu dong! Itu wujud penghinaan atau pujian”
“dua-duanya”
“hmm, heh gimana pas di rs”
“lho pasti kagak bakalan nyangka perawatnya cantik banget lho, tapi yang bikin gue malu. Gue
disuruh telanjang” ucapnya
“yang bener?”
“yah.. Waktu itukan pas dironsen buat nganalisa tulang”
“hahahaha..” sontak aku tertawa, kami pun bercanda ria melupakan sejenak masalah…
Saat itu juga aku mendapat kabar buruk dari temanku yang lain bahwa ika dan likha mengalami
kecelakaan. Katanya di ugd, namun hari itu aku tak sempat menjenguknya. Dan di 2 hari
berikutnya. Beberapa dari kami menjenguk mereka berdua, kata salah satu temanku mereka
sudah ada di rumah.
Bersama dengan wali kelas kami menjenguk mereka di rumahnya, namun sial di tempat pertama
likha nggak ada di rumah katanya sih ke tukang pijit. Lalu kami melanjutkan untuk pergi ke
rumah ika lebih jelasnya rumah yang dia tempati bukan rumah orang tuanya. Setelah berada di
tempat itu kami pun menemuinya
“assalamualaikum” ucap temanku
“wa’alaikumsalam” jawab ika
“ehh kok ada toriq, ada pak sofyan juga. Silahkan masuk” sambil ia berjalan agak pincang
Kami berbincang ini itu, Setelah selesai kami pun pamit pulang namun sebelum itu aku berdialog
dengannya sesaat setelah pak sofyan dan yang lain berada di luar halaman.
“ika, aku ingin bertanya, apakah kamu benar mencintaiku”
“tentu saja untuk apa aku bohong, tapi kenapa kamu menolakku”
“sekarang aku mengerti bagaimana kehidupanmu dan posisimu saat ini”
“lalu..”
Sebelum menjelaskannya aku pun berpikir dan mengingat sebuah hal
Memori itu tiba-tiba keluar yaitu perkataan guru-guru terhadapnya
“kalau memang tidak bisa dibina lebih baik dibinasakan saja, dari pada mempengaruhi murid
yang lain” kata guru kejuruan
“orang yang tidak baik bukan berarti ia memang tidak baik, mungkin ada alasan tertentu kenapa
dia seperti itu. Tapi bukan berarti orang yang punya tabiat jahat itu tidak ada” kata kepala
sekolah
“bagaimanapun keburukan dia, dia adalah teman kita. Jadi sudah seharusnya kita membantunya
bukan malah menjauhinya” kata wali kelasku
Sejenak aku berpikir bagaimana kalau aku jadi dia, tanpa ada kasih sayang orangtua karena
orangtuanya bercerai. Dan harus mengurusi adiknya sendirian di rumah yang ia tempati juga
kehilangan orang yang ia sayangi. Apakah aku akan jadi seperti ini. Mungkin saja iya jika tidak
ada teman menyemangati dan membantuku
“jika aku menolakmu bukan berarti aku tidak suka denganmu? Akan tetapi ini bukan cara yang
benar untuk memberikan rasa itu, dengarkanlah jika kita jodoh tuhan akan mempertemukan kita
lagi, bukan di hari ini tapi di masa depan melalui ikatan yang sah” ucapku kepadanya, sejenak
dia pun merenung dan berpikir, lalu aku mengatakan sebuah perkataan lagi
“jangan putus asa ya? Ingat di luar sana masih banyak orang yang lebih menderita darimu”
Nasehatku dengan senyuman, dia pun sepertinya sudah merasa tenang. Aku lalu pamit pulang.
Tapi aku malah merasa seperti sebuah perpisahan namun perasaan itu kuabaikan. Beberapa
hari kemudian dia masuk dan bersikap seperti biasa kepada teman-teman.
Namun setelah lewat seminggu, Dia jarang masuk lalu aku dapat kabar bahwa dia keluar dari
sekolah ini. Perasaan yang kuabaikan itu pun ternyata benar. Aku gagal dalam usaha
membangkitkan semangat temanku
Masih tersisa selembaran kenangan saat masih ada dia. Namun harus bagaimana lagi, mungkin
itu sudah takdir bagi jalannya, aku tidak bisa membantu lebih jauh lagi. Mungkin aku gagal tapi
setidaknya aku telah berusaha.
Setelah kejadian itu seluruh teman-teman kelasku tidak ada yang tahu dia sekarang dimana?
Kuharap dia baik-baik saja..
Kupandangi langit, hatiku berucap inilah kehidupan. Tak segalanya berjalan lancar sesuai
dengan harapan
Cerpen Karangan: Muhammad Toriq
 Home
 Teknologi
 Gadget
 Review
 Harga
 Sepakbola
 Liga Inggris
 Liga Spanyol
 Liga Italia
 Entertainment
 Gosip
 Biodata Artis
 Foto Artis
 Menu
 Submenu1
 Submenu2
 Submenu3
 Statis
 Error

Home
Home » cerpen persahabatan » Cerpen Persahabatan - Persahabatan Yang Hancur Karena Cinta
Cerpen Persahabatan - Persahabatan Yang Hancur
Karena Cinta
dombiza bp
cerpen persahabatan
Persahabatan Yang Hancur Karena Cinta
oleh: Arum Nadia Hafifi
Cinta itu memang kadang membuat orang lupa akan segalanya. Karena cinta kita relakan apapun yang
kita miliki. Bagi kaum wanita mencintai itu lebih baik daripada dicintai. Jangan terlalu mengharapkan
sesorang yang belum tentu mencintai kita tapi terimalah orang yang sudah mencintai kita apa adanya.
Mencintai tapi tak dicintai itu seperti olahraga lama-lama supaya kurus tapi hasilnya nggak kurus-kurus.
Belajarlah mencintai diri sendiri sebelum anda mencintai orang lain.
Gue Amel siswa kelas X. Dulu gue selalu menolak dan mengabaikan orang yang mencintai gue, tapi
sekarang malah tebalik gue selalu diabaikan sama orang yang gue cintai.
Gue suka sama teman sekelas gue dan plus dia itu teman dekat gue, udah lumayan lamalah. Cowok itu
namanya Nino anak rohis. Gue suka sama dia berawal dari perkenalan terus berteman lama-lama dekat
dan akhirnya gue jadi jatuh cinta gini.
Oh iya gue punya temen namanya Arum, dia temen gue dari SMP. Arum gue dan Nino itu berteman dekat
sejak masuk SMA.
Suatu hari gue ngeliat Arum sama Nino itu bercanda bareng dan mereka akrab banget seperti orang
pacaran. Jujur gue cemburu, tapi gue nyembunyiinn itu dari Arum.
Lama-lama capek juga mendam rasa suka kayak gini. Akhirnya gue mutusin untuk cerita sama Arum.
``Rummmm gue mau ngomong sesuatu, tapi jangan bilang siapa-siapa``
``Ngomong apa?`` tanya Arum
`` Jujur gue suka sama Nino udah lama, dan gue cemburu kalo lo dekat sama Nino!`` Jawab
Amel
`` Lo suka Nino? Serius?`` Tanya Arum
`` Iya, tapi lo jangan bilang Ninonya`` gertak Amel
`` Iyaiya maaf ya kalo gue udah buat lo cemburu``
`` Okee ``
Amel makin lama makin dekat dan Amel susah untuk ngelupain Nino. Amel berfikir Nino nggak akan
pernah jatuh cinta sama Amel. Walau Amel udah ngerasa seperti itu tapi dia tetap berjuang. Tanpa
disadari Arum ternyata juga suka sama Nino.
Amel mengetahui kalo Arum suka sama Nino. Nggak disengaja Amel membaca buku diary Arum. Disitu
tertulis curhatan Arum tentang perasaannya kepada Nino.
Setelah Amel membaca buku diary Arum, dia merasa kecewa karena temen sendiri juga suka sama cowok
yang sama. Tapi Amel berfikir rasa suka itu datangnya tiba-tiba jadi siapa pun berhak untuk suka sama
Nino. Amel tetap terus berjuang mengambil hati Nino, walau harapanya kecil.
Di taman sekolah Amel melihat Arum dan Nino sedang berincang-bincang, tapi ini beda mereka terlihat
serius. Amel penasaran dan akhirnya ia nguping dibalik pohon.
``Ruummm gue suka sama lo, lo mau nggak jadi pacar gue?`` Tanya Nino
Arum kaget dia bingung harus jawab apa, tapi akhirnya Arum menerima Nino jadi pacarnya tanpa
memikirkan perasaan Amel sahabatnya sendiri.
`` Iya aku mau`` Jawab Arum
Amel yang mendengar jawaban Arum dibalik pohon kaget, dia tak menyangka sahabatnya akan tega.
Tanpa berfikir Amel keluar dari belakang pohon.
`` Rumm lo pacaran sama Nino? Congrast ya lo udah bikin gue sakit hati``
Arum dan Nino kaget tiba-tiba Amel muncul dari belakang pohon dan bilang sperti itu.
`` Maafin gue Mell, tapi gue cinta sama Nino``
`` Yaudahlah ``
Amel langsung pergi meninggalkan Arum dan Nino. Perasaanya campur aduk nggak karuan, dia masih
bingung kenapa temannya tega melakukan hal itu. Padahal Arum tau kalo Amel udah lama ngejar-ngejar
Nino.
Persahabatan bisa hancur begitu saja karena cinta. Utamakan sahabat mu daripada pacarmu karena
orang yang bakal selalu ada disaat kamu senang dan susah itu sahabat. Persahabatn yang dijalin cukup
lama bisa hancur seketika karena masalah cinta.
Demikian cerpen persahabatan yang bisa saya sharing kali ini, semoga bisa menjadi bacaan yang
menarik.
inShare
Title : Cerpen Persahabatan - Persahabatan Yang Hancur Karena Cinta
Description : Persahabatan Yang Hancur Karena Cinta oleh: Arum Nadia Hafifi Cinta itu memang kadang
membuat orang lupa akan segalanya. Karena cinta kit...
 Home
 Teknologi
 Gadget
 Review
 Harga
 Sepakbola
 Liga Inggris
 Liga Spanyol
 Liga Italia
 Entertainment
 Gosip
 Biodata Artis
 Foto Artis
 Menu
 Submenu1
 Submenu2
 Submenu3
 Statis
 Error

Home
Home » cerpen persahabatan » Cerpen Persahabatan - Cinta Para Sahabat
Cerpen Persahabatan - Cinta Para Sahabat
dombiza bp
cerpen persahabatan
Titipan Manis Dari Sahabat
Oleh : Chacha
Nurul, panggilan untuk seorang sahabat yang terpercaya buat Caca. Nurul yang kocak dan tomboy itu,
sangat berbeda dengan karakter Caca yang feminim dan lugu. Mereka bertemu di salah satu asrama di
sekolah mereka.
Saat dihari jadi Caca, Nurul pamit ke pasar malam untuk mengambil sesuatu yang sudah dipesan buat
sahabatnya itu. Caca menyetujuinya, dia pun menunggu Nurul hingga tengah malam menjelang. Caca
yang mulai khawatir terhadap Nurul menyusul kepasar malam, hingga dia melihat yang seharusnya dia
tidak lihat . Apa yang dilihat Caca? Dan apa yang terjadi dengan Nurul?
“Aku luluuuuuus…” Teriak beberapa orang anak saat melihat papan pengumuman, termasuk juga
Marsya Aqinah yang biasa disapa Caca.
“Ih…nggak nyangka aku lulus juga, SMA lanjut dimana yah?” Ujarnya kegirangan langsung
memikirkan SMA mana yang pantas buat dia.
“Hai Ca, kamu lanjut dimana ntar?” Tanya seorang temannya
“Dimana ajalah yang penting bisa sekolah, hehehe” Jawab Caca asal-asalan
“Oooo…ya udah, aku pulang dulu yah”
“Yah, aku juga dah mau pulang”
Sesampainya dirumah Caca…
Caca memberi salam masuk rumahnya dan langsung menuju kamar mungilnya. Dalam
perjalanan menuju kamarnya, dia melihat Ayah dan Ibunya berbicara dengan seorang Udstazt ntah
tentang apa. Caca yang cuek berjalan terus kekamarnya. Tak lama kemudian Ibu Caca pun memanggil….
“Caca…Ayah ma Ibu mau bicara, cepat ganti baju nak”
“Iya bu, bentar lagi” Jawab Caca dari dalam kamarnya.
Akhirnya Caca pun keluar…
“Napa bu?” Tanya sambil duduk disamping Ibunya
“Kamu lulus?” Tanya Ibunya kembali
“Iya dong bu, nama Caca urutan kedua malah. Pasti Caca bebas tes kalo masuk di sekolah
ternama deh” Jawab Caca percaya diri
“Alhamdulillah, ehm…” Ucapan Ibu terhenti sejenak
“Kenapa bu? Bukankah itu bagus?” Tanya Caca lagi sambil melihat Ibunya
“Gini nak, kamu dak mau masuk asrama?” Tanya Ibu Caca sangat hati-hati
“Loh ko’ ada asrama-asramaan sih bu?” Ujar Caca yang tanggapannya tentang asrama kurang
bagus
“Di asrama itu bagus Ca, bisa mandiri dan yang lebih bagus lagi bisa tinggal bareng teman-
teman, tadi udstdz tadi ngomong kalo pendidikan agamanya disekolah asrama juga bagus” Kata Ayah
Caca menjelaskan dan berusaha mengambil hati anaknya itu
“Yaaaah ayah, terserah deh” Ucap Caca pasrah tidak ada niat untuk melawan ayahnya tersayang
2 bulan telah berlalu, setelah mengurus semuanya untuk memasuki asrama…
Caca pun memasuki sekolah asrama yang telah diurus oleh Ayahnya, Caca berjalan di serambi-
serambi asrama bareng Ayah dan Ibunya menuju asrama yang telah ditunjukkan untuknya. Akhirnya
sampai juga….
“Ayah, ini asrama Caca?” Tanya Caca dengan raut wajah yang tidak setuju
“Iya, kenapa?” Jawab Ayah Caca dan kembali bertanya
“Tidak kenapa-napa ko’, namanya juga belajar mandiri” Ucap Caca tidak menginginkan kata-
katanya menyinggung Ayahnya.
“Jadi ayah tinggal nih?”Ujar Ayah Caca
“Iya ayah, Caca kan mau mandiri masa’ Caca nyuruh ayah nginap juga sih?” Kata Caca sedikit
bercanda
“Ya Udah, Ayah tinggal dulu”
“Baik-baik ya anak Ibu, jangan nakal” Ujar Ibu berpesan
Akhirnya beliau pergi juga setelah cipika cipiki, sekarang tinggal Caca yang merasa asing
terhadap penghuni kamar 2 itu. Ada 4 orang termasuk Caca, yang 2 orang lainnya pun merasa seperti
yang dirasakan Caca, kecuali cewe’ ditempat tidur itu kaya’nya dia senior deh.
“Hai..Siswi baru juga yah?” Tanya Caca ke seorang yang agak tomboy tapi berambut panjang
lurus
“Hai juga..Iyah aku baru disini, namaku Nurul Utami, bisa dipanggil Nurul dan itu kaka’ aku
Salsabila udah setahun disini” Jawab orang itu menjelaskan tanpa diminta dan mengaku dirinya bernama
Nurul, sambil menunjuk kearah seorang yang tidur-tiduran tadi.
“Aku Marsya Aqinah, bisa dipanggil Caca. Ooo pantas reaksinya biasa-biasa aja ama nih kamar,
trus yang ntu sapa?” Tanya Caca lagi sambil menunjuk ke orang yang lagi asik membereskan baju-
bajunya kelemari mungilnya
“Ntah lah, orang baru juga tuh” Jawab Nurul berjalan mendekati orang yang dimaksud Caca
“Hai aku Nurul, itu temanku Tata dan itu kaka’ku Salsa, kamu siapa?” Tanya Nurul dengan
cerewetnya plus asal-asalan.
“Woi…aku Caca, bukan Tata” Teriakku protes sambil manyun-manyun
“Iya..iya.., itu Caca. Kamu belum jawab nama kamu sapa?” Tanya Nurul lagi
“Aku Miftahul Jannah, bisa dipanggil Mita” Jawab Mita dengan senyuman yang muanis sangat.
Nurul pun membalas senyum itu dengan senyuman yang hangat pula dan sikap yang sangat bersahabat.
Sekarang Caca tau kenapa dia akan betah di kamar asrama ini, yah karena ada Nurul yang gokil
banget. Suatu ketika Caca lagi nggak semangat, pasti ada Nurul dengan sikap konyolnya membuat Caca
tertawa. Dan disaat Caca lagi mengalami kasmaran ada Nurul sebagai teman curhatnya. Seperti saat ini….
“Rul, ada nomer baru neh masuk dihape aku, katanya nama dia Ical, dia kenal aku dah lama dan
sekarang dia cari rimba aku dimana gitu” Cerita Caca membuat Nurul kelepasan
“Ha..ha..ha..ha..ha..ha.., beritahu aja dari hutan rimba”
“Nurul, aku serius tau”
“Aku duarius, ha..ha..ha”
“Nurul kamu ngebete’in”
“sori.. sori.., gini.. kamu jangan langsung termakan gombal dia gitu, ntar dijahatin baru tau rasa”
Ucap Nurul menasehati, mirip ibu-ibu ‘hihihi’
“Ntar kalo aku termakan gombal, yah minum ajah teh botol sosro” Ujar Caca dengan lagak
menirukan iklan yang di TV dan bisa membuat Nurul jengkel
“Kamu ini diseriusin malah becanda”
“Duluan juga kamu Rul, ha..ha..ha..” Kata-kata Caca rupanya membuat malapetaka bagi dirinya
itu, yakni dengan adanya serbuan bantal dari Nurul. Kedua sahabat itupun saling lempar-lempar bantal
hingga akhirnya mereka kecapean dan tertidur juga.
“Damainya dunia kalo mereka tidur” Ujar Salsa kaka’ Nurul yang dari memperhatikan mereka
Seminggu kemudian……..
“Nuruuuul, tau ga’ aku jadian ma Ical pagi ini. Rupanya tuh orang temen aku dari SMP, aku
jadiannya di café punya Meri, ih senang deh” Cerita Caca
“Eh cepat banget, tapi baguslah,ehmm awas kalo dia kurang ajar, ntar aku yang ngajarin dia,
he..he..he..” Tanggap Nurul senyum-senyum
“Siplah, eh Ical punya teman cuakep abis, aku comblangin ke kamu yah” Usul Caca
“Nggak Ah, masih senang dengan masa juomblo” Kata Nurul
“Jomblo, bukan juomblo” Ucap Caca membenarkan
“Iya…iya…yang itulah, he..he..he..” Kata Nurul
“Kamu harus kenalan ma Ical, supaya sahabatku bisa ngedukung sepenuhnya” Ujar Caca
“iya..iya.. Ntar kalo dia nelfon, kenalin aja ke aku” Ucap Nurul mengangguk-angguk
Begitu seterusnya, Caca curhat terus tentang Ical ke Nurul, memperkenalkan Ical ke Nurul, hingga tak
terasa berjalan 2 bulan
“Nuruuuuuuuuuuuuul… bangun bangun banguuuuun, dah magrib” Teriakan Caca ditelinga Nurul
itu betul-betul memekakan telinga.
“Apaan sih Ca? Udah bangunin orang tanpa pamit, belom gosok gigi lagi” Ujar Nurul jengkel
“Sori dori ye…ini Rul si Ical sms neh katanya ada kejutan buat aku. Duh apa yah?” Tanya Caca
nutup mukanya sendiri
“Meneketehe…” Jawab Nurul cuek abis angkat bahu
“Ih Nurul, tanggapin donk. Buat sahabat kamu dikit senang bisa nggak sih?” Kata Caca
mengguncang tubuh Nurul
“Caranya?” Tanya Nurul sambil menguap
“Puji ke’ ato apalah, yang penting aku bisa senang giitu” Jawab Caca milih-milih
“o iya, ada cara” Kata Nurul tiba-tiba
“Nah tuh kan ada” Ujar Caca menunggu sambil senyum-senyum
“Iya ada, bantu beresin lemari buku aku” Ucap Nurul membuat Caca manyun
“Ga da yang lain yah?” Tawar Caca
“Ga da, ayolah Ca… Aku juga punya kejutan buat kamu besok, gimana?” Ucap Nurul kembali
menawar sambil bangun dari tempat tidurnya
“Okelah…demi kejutan” Kata Caca menyetujui
Mereka berdua pun membereskan lemari buku milik Nurul. Terlihat Nurul memutar otaknya, memikirkan
apa yang akan diberikan untuk sahabatnya besok. Yah besok hari jadi Caca yang ke-17 biasa juga disebut
sweet seventeen, dimana Caca memasuki awal umur yang dewasa, jadi harus sesempurna mungkin.
Sementara itu Caca yang selagi membereskan buku-buku Nurul dengan susunan yang rapi, sinar matanya
malah terpaut pada satu buku lucu, imut dan wow…! warna pink, kesukaan Caca banget. Caca tidak
menyangka kalau Nurul peranakan tomboy itu pelihara buku yang imut banget. Caca mengambil buku itu
dan membaca sampulnya “My DiarY”. Caca senyum-senyum, pikirnya bahwa bisa juga cewe’ setomboy
Nurul punya diary.
“Rul, diary kamu nih?” tanya Caca
Nurulpun balik “Iya…diary aku banget”
“Buat aku ya Rul” Pinta Caca dengan sejuta raut wajah imutnya
“Kamu mau?” Tanya Nurul
“Ya iyalah, ga’ mungkin dong aku minta kalo aku kaga’ mau” Jawab Caca berpanjang lebar
“Ntar aku selesaiin isinya baru aku kasi ke kamu” Ujar Nurul
“Ayolah Rul” Rengek Caca yang super manja
“Aku janji Ca, buku tuh pasti kamu miliki. Sini bukunya” Pinta Nurul usai berjanji
“Nurul pelit” Kata Caca ngambek
“Aku kan dah janji Ca”
“Janji yah?” Ujar Caca meyakinkan sambil mengacungkan kelingkingnya
“Janji..! Lanjut yuk” Kata Nurul Sambil mengapit jari Caca dengan jari kelingkingnya
“Iyah…Eh, Rul besok ada PR. Kamu dah jadi belom?” Tanya Caca kemudian
“Belom, aku nyontek punyamu boleh?”
“Ya boleh lah”
“Aku juga titip besok dikumpulin, boleh?”
“Boleh…eh mangnya kamu mau kemana Rul?” Tanya Caca lagi
“Anak kecil ga boleh tau” Jawab Nurul
“Uh…k’ Salsa, Nurul besok mau kemana?” Tanya Caca ke Salsa yang sedang tidur-tiduran
“Ga tau juga” Jawab Salsa angkat bahu
“Berarti k’ Salsa anak kecil juga donk, hi..hi..hi..” Bisik Caca sambil cekikikan
“Udah, kalian tidur. Ntar penjaga asrama kontrol, tau ga tidur dimarahi loh” Ujar Salsa
“Eh…Mita dimana k’?” Tanya Nurul ke Salsa
“Tadi pamit ke asrama sebelah nginap” Keburu Caca jawab
“Sapa juga yang nanya kamu?”Tanya Nurul
“O…bukan aku yah? Abis panggil kaka’ sih, kira aku. He..he..he” Kata Caca
“Anak kecil bisanya ngerasa doank” Ujar Nurul mencibir
“Biarin…weak…aku bobo duluan yah?”Kata Caca sambil menguap dan bersiap-siap ditempat
tidurnya
“Akhirnya tenang juga” Ucap Nurul seakan-akan kekacauan sudah berakhir. Diapun bergegas ke
tempat tidurnya dan membuka buku diarynya, dia menulis sesuatu dibukunya itu. Malam semakin larut,
Nurul melihat jam wekernya yang menunjukkan pukul 01.30, lama kemudian akhirnya tertidur juga sesudah
dia merapikan buku diarynya dan menyimpan di bawah bantalnya.
Keesokan harinya…….
Hari itu tampak cerah, Caca pergi kesekolah tanpa ditemani Nurul tidak seperti kemarin-kemarin.
Nurul mesti pergi kesuatu tempat yang penting dan Caca tak boleh tau rencananya itu. Caca disekolah
yang sebangku dengan Nurul mesti memeras otak sendiri tanpa ada teman yang diajak diskusi. Sampai
bel pulang sekolah pun berbunyi, belum ada kabar dari Nurul. Salsa yang ditanya hanya angkat bahu.
“Duh dah sore gini ko’ Nurul belum hubungi aku sih?” Gumam Caca sambil mencet-mencet hape
dan ketika nomor Nurul yang didapat, Caca pun berniat menelpon
“Nomor yang anda tuju…..” Jawaban telpon di seberang langsung ditutup oleh Caca sambil
berceloteh “Operator, dimana tuh orang? Nomer dak diaktifin lagi”
Caca pun masih sabar menunggu hingga malam pun larut. “Aku harus nyusul Nurul nih” Ujarnya
sambil narik swetearnya dari jemuran dan pamit ke Salsa. Caca naik angkot ke pasar malam, dalam
perjalanan pun dia rasa melihat 2 seorang yang sangat dia kenal di sebuah cafe. Caca langsung turun
dengan muka yang merah padam menahan marah, setelah membayar angkot. Caca langsung menuju
tempat duduk 2 orang tadi.
“Nurul!!! Ical!!! ini yah kejutan dari kalian berdua untuk aku? Oke aku terkejut, sangat terkejut!!!
Ical kita putus, dan kamu Rul. Percuma aku khawatirkan orang yang rebut pacar sahabatnya sendiri”
Gertak Caca blak-blakan tanpa memberi kesempatan Nurul dan Ical bicara, Caca langsung pergi dari café
itu dan naik angkot pulang keasramanya.
Caca tak mau tau lagi apa yang akan terjadi setelah ini, Caca tiba diasrama dan langsung
mehempaskan diri ketempat tidurnya sambil menangis sekuat dia, Salsapun berniat mendekat tapi
bersamaan dengan itu, hape Salsapun berbunyi.
“Halo?” Ujar Salsa yang tampak berbicara serius dengan penelpon diseberang
“Iyah saya segera kesana” Kata Salsa mengakhiri pembicaraannya dengan penelpon tadi dan
bergegas memberitahukan Caca
“Ca, Nurul lagi……” Kata-kata Salsa terputus saat Caca memberi tanda untuk menyuruh Salsa
pergi. Tanpa pikir panjang Salsa pun pergi dengan mata sembab, Caca tak tau apa alasannya yang
jelasnya saat itu Caca merasakan sangat sakit didadanya. Salsa yang bergegas naik angkot itu sengaja
mengirim pesan singkat ke hape Caca
Triiit…triiit… Caca mengambil hapenya dan membaca isi pesan itu
“Ca, Nurul masuk UGD, kalo kamu mau datang, langsung saja di RS Urip Sidoarjo ruang UGD”
Caca mulai khawatir, biar bagaimana pun Nurul masih sahabatnya, dia langsung melupakan sakit
yang tengah melanda dadanya itu dan bergegas menyusul ke rumah sakit yang disebutkan Salsa.
Sepanjang perjalanan Caca berusaha menahan air matanya yang dari tadi mengalir sambil bergumam,
“Nuruuul, kenapa sih kamu tega hianati aku?, kita memang sering becanda tapi ini lain, Rul. Aku sakit saat
aku tau kamu hianati persahabatan kita. Sekarang ada kejutan apa lagi? Tadi aku liat kamu baik-baik aja
bareng Ical, tapi kamu ko bisa masuk UGD sih? aku harap ini bukan permainan kamu semata hanya untuk
minta maaf padaku. Ini tidak lucu lagi”
Sesampainya dirumah sakit……
Caca langsung berlari menuju ruang UGD, Caca mendengar tangisan histeris yang keluar dari
mulut Salsa.
“Ada apa ini?” Gumam Caca yang membendung air mata, dia memasuki ruangan itu. Pertama
dia melihat Ical dengan sebuah bungkusan imut ditangannya, “Pasti dari Nurul” pikir Caca. Sakit hatinya
kembali muncul, lama dia pandang Ical hingga Ical berusaha mendekatinya tapi dengan tatapan sinis
memendam rasa benci, Caca meninggalkan Ical yang matanya telah sembab. Cacapun berpikir bahwa
sandiwara apa lagi yang Ical perlihatkan ke dia. Caca menarik nafas dalam-dalam dan kembali berjalan
menuju tempat tidur yang terhalang tirai serba putih, Cacapun mengibaskan tirai itu, dia lihat disitu ada
Salsa dan……
“Nuruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuul……” Teriak Caca histeris, serasa remuk tulang-tulang Caca saat
melihat ditempat tidur diruangan UGD itu, terbaring seorang gadis tomboy, muka mulus tak tampak lagi,
malah yang nampak hanyalah luka-luka dan muka yang hampir tak bisa dikenali, bersimbah darah tak
bernyawa, rambut hitam lurus terurai begitu saja seakan membiarkan tuannya melumurinya dengan cairan
merah yang mengalir dari kepala tuannya, jilbab yang tadi di kenakannya pun tak nampak warna dasarnya
karena percikan darah. Caca memeluk sahabat yang paling disayanginya itu, ada rasa sesal dalam
hatinya. Kenapa tidak membiarkan sahabatnya itu menjelaskan apa yang terjadi sebelum dia kelewat
emosi?.
Sesaat itu ada yang menggenggaman hangat lengannya, Caca tak menghiraukan, yang Caca
pikirkan adalah rasa sesal dalam benaknya. Pemilik genggaman itupun menarik dan memeluknya,
kemudian memberikan bingkisan imut yang ada ditangannya.
“Nih bingkisan buat kamu, kejutan ini yang dari tadi pagi dicari Nurul dan baru dapat diluar kota,
aku mengantar Nurul karena aku juga ingin memberikan kejutan kecil-kecilan buat kamu, tapi kamu datang
saat aku dan dia merencanakan acara kejutan buat kamu” Jelas Ical sambil memeluk Caca yang semakin
berlinang air matanya saat mengetahui apa isi dari bingkisan itu, buku diary imut, warna pink sesuai yang
dijanjikan Nurul
“Katanya kamu sangat menginginkan buku yang seperti miliknya, nah ini tandanya dia sangat
sayang sahabatnya dan ga mau mengecewakan sahabatnya itu. Tapi tadi waktu kamu salah tanggap
tentang di café itu, dia merasa bersalah banget, soalnya dia ga pamit dulu ke kamu sebelum minta bantuan
ke aku. Dia panik karna takutnya kamu akan menganggap dia penghianat, akhirnya diapun mengejarmu
tanpa peduliin ramainya kendaraan dan bus itu…………” penjelasan Ical terputus, dia tidak sanggup lagi
meneruskan cerita tragis yang menimpa sahabat mereka itu. Caca pun masih membiarkan air matanya
tetap mengalir di pipinya semakin deras.
“Rul, napa mesti kamu jadi korban egonya aku?, sapa lagi dong yang dengerin curhat aku?, sapa
lagi yang bisa aku ejek? perang bantal kita juga mesti dilanjut Rul, belum ada yang juara neh, he..he.., eh
aku juga mau ngasih contekan kekamu ko’, Rul bangun dong…jangan becanda, ini ga lucu lagi. Sumpah
ini ga lucu, Rul bangun, kamu napa sih? sukanya buat aku panik. Rul bangun dong” Ujar Caca setelah
melepaskan pelukan Ical, senyum dan berbicara sendiri setelah itu kembali Caca memeluk jasad
sahabatnya itu dan menangis sejadi-jadinya. Salsa mendekatinya dan memberikan sebuah buku diary milik
Nurul
“Kata Nurul, kalo dia tidak dapet buku yang mirip punya dia, buku diarynya ini buat kamu” Ujar
Salsa
Cacapun membuka buku kecil itu, tak sempat membaca halaman pertama, dia membuka
beberapa lembaran berikutnya, hingga Caca pun membaca tulisan Nurul paling akhir.
13 Mei 2003, 01.00 pagi
Dear Diary…..
Aku dah dapet sahabat, kasih sayang sahabat. Tapi aku tak dapat memberikan apapun untuk sahabatku
itu, ini hari jadi dia, dan dia menginginkan kamu diary, mungkin saja suatu saat aku berikan kamu ke dia,
tapi itu suatu saat, hanya saja aku harus cari yang mirip denganmu untuk sahabatku. Aku minta tolong ke
Ical mungkin juga dak apa-apa yah diary, diakan pacar sahabat aku berarti dia juga sahabat aku dong.
Hahaha….hanya sebuah buku tapi kalo dia masih menginginkan kamu diary, mau tak mau aku harus
ngasih kamu kedia. Nyawa akupun boleh yang penting sahabat aku senang, hahaha, Lebaaaaaaaay. Ya
udah dulu diary aku ngantuk neh…
Ga’ kelupaan “MET ULTAH CACA, MY FRIENDSHIP”
Nurul
Caca menutup diary Nurul, semakin berlinang air mata Caca. Yah apapun yang Nurul akan beri
untuk Caca, bahkan nyawanya seperti sekarang yang Caca alami. Nurul takut kalo Caca menganggap
dirinya berkhianat karena sudah lancang mengajak Ical untuk mengantarnya, hingga dia tak pedulikan lagi
ramainya kendaraan dijalan yang membuat dirinya menghadap sang Ilahi.
Esok harinya, jasad Nurulpun dimakamkan dikampung halamannya. Setelah dikebumikan, Caca
mengusap kembali nisan sahabatnya sambil berlinang air mata. Tertulis dinisan itu “Nurul Utami binti Muh.
Awal, Lahir 14 Mei 1989, Wafat 13 Mei 2003”, sehari sebelum hari jadinya.
“Nurul, sahabat macam apa aku, hari jadi kamu pun aku tak tau, Rul selamat ulang tahun yah,
hanya setangkai bunga dan kiriman doa yang dapat aku beri ke kamu, istirahat dengan tenang yah
sahabatku” Ujar Caca sambil berdoa dan kemudian meninggalkan gundukan tanah yang masih merah itu.
##SELESAI##
Sekian Cerpen Persahabatan yang sempat saya berikan kali ini, semoga bermanfaat.
inShare
Title : Cerpen Persahabatan - Cinta Para Sahabat
Description : Titipan Manis Dari Sahabat Oleh : Chacha Nurul, panggilan untuk seorang sahabat yang
terpercaya buat Caca. Nurul yang kocak dan tombo...
Rating : 5
 Home
 Teknologi
 Gadget
 Review
 Harga
 Sepakbola
 Liga Inggris
 Liga Spanyol
 Liga Italia
 Entertainment
 Gosip
 Biodata Artis
 Foto Artis
 Menu
 Submenu1
 Submenu2
 Submenu3
 Statis
 Error

Home
Home » cerpen persahabatan » Cerpen Persahabatan - Sebuah Janji
Cerpen Persahabatan - Sebuah Janji
dombiza bp
cerpen persahabatan
Sebuah Janji
Oleh: Rai Inamas Leoni
“Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum
disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis…”
***
Bel istirahat akan berakhir berapa menit lagi. Wina harus segera membawa buku tugas teman-temannya
ke ruang guru sebelum bel berbunyi. Jabatan wakil ketua kelas membuatnya sibuk seperti ini. Gubrak….
Buku-buku yang dibawa Wina jatuh semua. Orang yang menabrak entah lari kemana. Jangankan
menolongnya, meminta maaf pun tidak.
“Sial! Lari nggak pakek mata apa ya...” rutuk Wina. Dengan wajah masam ia mulai jongkok untuk
merapikan buku-buku yang terjatuh. Belum selesai Wina merapikan terdengar langkah kaki yang datang
menghampirinya.
“Kasian banget. Bukunya jatuh semua ya?” cemoh seorang cowok dengan senyum sinis. Sejenak Wina
berhenti merapikan buku-buku, ia mencoba melihat orang yang berani mencemohnya. Ternyata dia lagi.
Cowok berpostur tinggi dengan rambut yang selalu berantakan. Sumpah! Wina benci banget sama cowok
ini. Seumur hidup Wina nggak bakal bersikap baik sama cowok yang ada di depannya ini. Lalu Wina mulai
melanjutkan merapikan buku tanpa menjawab pertanyaan cowok tersebut.
Cowok tinggi itu sepintas mengernyitkan alisnya. Dan kembali ia tercenung karena cewek di depannya
tidak menanggapi. Biasanya kalau Wina terpancing dengan omongannya, perang mulut pun akan terjadi
dan takkan selesai sebelum seseorang datang melerai.
Teeeett… Bel tanda berakhirnya jam istirahat terdengar nyaring. “Maksud hati pengen bantu temen gue
yang jelek ini. Tapi apa daya udah keburu bel. Jadi sori nggak bisa bantu.” ucap cowok tersebut sambil
menekan kata jelek di pertengahan kalimat.
Cowok tersebut masih menunggu reaksi cewek yang ada di depannya. Tapi yang ditunggu tidak membalas
dengan cemohan atau pun ejekan. “Lo berubah.” gumam cowok tersebut lalu berbalik bersiap masuk ke
kelasnya. Begitu cowok itu membalikkan badannya, Wina yang sudah selesai membereskankan buku
mulai memasang ancang-ancang. Dengan semangat 45 Wina mulai mengayunkan kaki kanannya kearah
kaki kiri cowok tersebut dengan keras.
“Adooooww” pekik cowok tersebut sambil menggerang kesakitan.
“Makan tuh sakit!!” ejek Wina sambil berlari membawa buku-buku yang tadi sempat berserakan. Bisa
dibayangkan gimana sakitnya tuh kaki. Secara Wina pakek kekuatan yang super duper keras. Senyum
kemenangan menghiasi di wajah cewek tinggi kurus tersebut.
***
“Wina….”
Wina menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata dari kejauhan Amel teman baiknya sejak
SMP sedang berlari kearahnya. Dengan santai Wina membalikkan badannya berjalan mencari motor matic
kesayangannya. Ia sendiri lupa dimana menaruh motornya. Wina emang paling payah sama yang
namanya mengingat sesuatu. Masih celingak-celinguk mencari motor, Amel malah menjitak kepalanya dari
belakang.
“Woe non, budeg ya? Nggak denger teriakan gue. Temen macem apaan yang nggak nyaut sapaan
temennya sendiri.” ucap Amel dengan bibir monyong. Ciri khas cewek putih tersebut kalo lagi ngambek.
“Sori deh Mel. Gue lagi bad mood, pengen cepet pulang.”
“Bad mood? Jelas-jelas lo tadi bikin gempar satu kelas. Udah nendang kaki cowok ampe tuh cowok
permisi pulang, nggak minta maaf lagi.” jelas Amel panjang lebar.
“Hah? Sampe segitunya? Kan gue cuma nendang kakinya, masak segitu parahnya?” Wina benar-benar
nggak nyangka. Masa sih keras banget? Tuh cowok ternyata bener-bener lembek, pikirnya dalam hati.
“Nendang sih nendang tapi lo pakek tendangan super duper. Kasian Alex lho.”
“Enak aja. Orang dia yang mulai duluan.” bantah Wina membela diri.
Sejenak Amel terdiam, lalu berlahan bibirnya tersenyum tipis. “Kenapa sih kalian berdua selalu berantem?
Masalahnya masih yang itu? Itu kan SMP. Dulu banget. ” ujar Amel polos, tanpa bermaksud mengingatkan
kejadian yang lalu. “Lagi pula gue udah bisa nerima kalo Alex nggak suka sama gue.”
“Tau ah gelap!”
***
Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian panas tak
menyurutkan niat para siswa SMA Harapan untuk bergegas pulang ke rumah. Wina sendiri sudah
membereskan buku-bukunya. Sedangkan Amel masih berkutat pada buku catatanya lalu sesekali menoleh
ke papan tulis.
“Makanya kalo nulis jangan kayak kura-kura.” Dengan gemas Wina menjitak kepala Amel. “Duluan ya, Mel.
Disuruh nyokap pulang cepet nih!” Amel hanya mendengus lalu kembali sibuk dengan catatanya.
Saat Wina membuka pintu kelas, seseorang ternyata juga membuka pintu kelasnya dari luar. “Eh, sori..”
ucap Wina kikuk. Tapi begitu sadar siapa orang yang ada di depannya, Wina langsung ngasi tampang
jutek kepada orang itu. “Ngapaen lo kesini? Masih sakit kakinya? Apa cuma dilebih-lebihin biar kemaren
pulang cepet? Hah? Jadi cowok kok banci baget!!!”
Jujur Alex udah bosen kayak gini terus sama Wina. Dia pengen hubungannya dengan Wina bisa kembali
seperti dulu. “Nggak usah cari gara-gara deh. Gue cuma mau cari Amel.” ucap Alex dingin sambil celingak
celinguk mencari Amel. “Hey Mel!” ucap Alex riang begitu orang yang dicarinya nongol.
“Hey juga. Jadi nih sekarang?” Amel sejenak melirik Wina. Lalu dilihatnya Alex mengangguk bertanda
mengiyakan. “Win, kita duluan ya,” ujar Amel singkat.
Wina hanya benggong lalu dengan cepat mengangguk. Dipandangi Amel dan Alex yang kian jauh. Entah
kenapa, perasaanya jadi aneh setiap melihat mereka bersama. Seperti ada yang sakit di suatu organ
tubuhnya. Biasanya Alex selalu mencari masalah dengannya. Namun kini berbeda. Alex tidak
menggodanya dengan cemohan atau ejekan khasnya. Alex juga tidak menatapnya saat ia bicara. Seperti
ada yang hilang. Seperti ada yang pergi dari dirinya.
***
Byuuurr.. Fanta rasa stowberry menggalir deras dari rambut Wina hingga menetes ke kemeja putihnya.
Wina nggak bisa melawan. Ia kini ada di WC perempuan. Apalagi ini jam terakhir. Nggak ada yang akan
bisa menolongnya sampai bel pulang berbunyi.
“Maksud lo apa?” bentak Wina menantang. Ia nggak diterima di guyur kayak gini.
“Belum kapok di guyur kayak gini?” balas cewek tersebut sambil menjambak rambut Wina. “Tha, mana
fanta jeruk yang tadi?” ucap cewek itu lagi, tangan kanannya masih menjambak rambut Wina. Thata
langsung memberi satu botol fanta jeruk yang sudah terbuka.
“Lo mau gue siram lagi?” tanya cewek itu lagi.
Halo??!! Nggak usah ditanya pun, orang bego juga tau. Mana ada orang yang secara sukarela mau
berbasah ria dengan fanta stroberry atau pun jeruk? Teriak Wina dalam hati. Ia tau kalau cewek di
depannya ini bernama Linda. Linda terkenal sesaentro sekolah karena keganasannya dalam hal melabrak
orang. Yeah, dari pada ngelawan terus sekarat masuk rumah sakit, mending Wina diem aja. Ia juga tau
kalo Linda satu kelas dengan Alex. Wait, wait.. Alex??? Jangan-jangan dia biang keladinya. Awas lo Lex,
sampe gue tau lo biang keroknya. Gue bakal ngamuk entar di kelas lo!
“Gue rasa, gue nggak ada masalah ama lo.” teriak Wina sambil mendorong Linda dengan sadisnya. Wina
benar-benar nggak tahan sama perlakuan mereka. Bodo amat gue masuk rumah sakit. Yang jelas ni
nenek lampir perlu dikasi pelajaran.
Kedua teman Linda, Thata dan Mayang dengan sigap mencoba menahan Wina. Tapi Wina malah
memberontak. “Buruan Lin, ntar kita ketahuan.” kata Mayang si cewek sawo mateng.
Selang beberapa detik, Linda kembali mengguyur Wina dengan fanta jeruk. “Jauhin Alex. Gue tau lo
berdua temenan dari SMP! Dulu lo pernah nolak Alex. Tapi kenapa lo sekarang nggak mau ngelepas
Alex?!!”
“Maksud lo?” ledek Wina sinis. “Gue nggak kenal kalian semua. Asal lo tau gue nggak ada apa-apa ama
Alex. Lo nggak liat kerjaan gue ama tuh cowok sinting cuma berantem?”
Plaakk.. Tamparan mulus mendarat di pipi Wina. “Tapi lo seneng kan?” teriak Linda tepat disebelah kuping
Wina. Kesabaran Wina akhirnya sampai di level terbawah.
Buuugg! Tonjokan Wina mengenai tepat di hidung Linda. Linda yang marah makin meledak. Perang dunia
pun tak terelakan. Tiga banding satu. Jelas Wina kalah. Tak perlu lama, Wina sudah jatuh terduduk lemas.
Rambutnya sudah basah dan sakit karena dijambak, pjpinya sakit kena tamparan. Kepalanya terasa
pening.
“Beraninya cuma keroyokan!” bentak seorang cowok dengan tegas. Serempak trio geng labrak menoleh
untuk melihat orang itu, Wina juga ingin, tapi tertutup oleh Linda. Dari suaranya Wina sudah tau. Tapi Ia
nggak tau bener apa salah.
“Pergi lo semua. Sebelum gue laporin.” ujar cowok itu singkat. Samar-samar Wina melihat geng labrak
pergi dengan buru-buru. Lalu cowok tadi menghampiri Wina dan membantunya untuk berdiri. “Lo nggak
apa-apa kan, Win?”
“Nggak apa-apa dari hongkong!?”
***
Hujan rintik-rintik membasahi bumi. Wina dan Alex berada di ruang UKS. Wina membaringkan diri tempat
tidur yang tersedia di UKS. Alex memegangi sapu tangan dingin yang diletakkan di sekitar pipi Wina. Wina
lemas luar biasa. Kalau dia masih punya tenaga, dia nggak bakalan mau tangan Alex nyentuh pipinya
sendiri. Tapi karena terpaksa. Mau gimana lagi.
“Ntar lo pulang gimana?” tanya Alex polos.
“Nggak gimana-mana. Pulang ya pulang.” jawab Wina jutek. Rasanya Wina makin benci sama yang
namanya Alex. Gara-gara Alex dirinya dilabrak hidup-hidup. Tapi kalau Alex nggak datang. Mungkin dia
bakal pingsan duluan sebelum ditemukan.
“Tadi itu cewek lo ya?” ucap Wina dengan wajah jengkel.
“Nggak.”
“Trus kok dia malah ngelabrak gue? Isi nyuruh jauhin lo segala. Emang dia siapa? “ rutuk Wina kesal
seribu kesal. Ups! Kok gue ngomong kayak gue nggak mau jauh-jauh ama Alex. Aduuuhh…
Alex sejenak tersenyum. “Dia tuh cewek yang gue tolak. Jadi dia tau semuanya tentang gue dan termasuk
tentang lo” ucap Alex sambil menunjuk Wina.
Wina diam. Dia nggak tau harus ngapain setelah Alex menunjuknya. Padahal cuma nunjuk. “Ntar bisa
pulang sendiri kan?” tanya Alex.
“Bisalah. Emang lo mau nganter gue pulang?”
“Emang lo kira gue udah lupa sama rumah lo? Jangan kira lo nolak gue terus gue depresi terus lupaen
segala sesuatu tentang diri lo. Gue masih paham bener tentang diri lo. Malah perasaan gue masi sama
kayak dulu.” jelas Alex sejelas-selasnya. Alex pikir sekarang udah saatnya ngungkapin unek-uneknya.
“Lo ngomong kayak gitu lagi, gue tonjok jidat lo!” ancam Wina. Nih orang emang sinting. Gue baru kena
musibah yang bikin kepala puyeng, malah dikasi obrolan yang makin puyeng.
“Perasaan gue masih kayak dulu, belum berubah sedikit pun. Asal lo tau, gue selalu cari gara-gara ama lo
itu ada maksudnya. Gue nggak pengen kita musuhan, diem-dieman, atau apalah. Pas lo nolak gue, gue
nggak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, kita dapet sekolah yang sama. Gue coba buat nerima. Tapi
nggak tau kenapa lo malah diemin gue. Akhirnya gue kesel, dan tanpa sadar gue malah ngajakin lo
berantem.” Sejenak Alex menanrik nafas. “Lo mau nggak jadi pacar gue? Apapun jawabannya gue terima.”
Hening sejenak diantara mereka berdua. “Kayaknya gue pulang duluan deh.” Ucap Wina sambil buru-buru
mengambil tasnya. Inilah kebiasaan Wina, selalu mengelak selalu menghindar pada realita. Ia bener-bener
nggak tau harus ngapaen. Dulu ia nolak Alex karena Amel juga suka Alex. Tapi sekarang?
“Besok gue udah nggak sekolah disini. Gue pindah sekolah.” Alex berbicara tepat saat Wina sudah berada
di ambang pintu UKS.
Wina diam tak sanggup berkata-kata. Dilangkahkan kakinya pergi meninggalkan UKS. Meninggalkan Alex
yang termenung sendiri.
***
Kelas masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang baru datang. Diliriknya bangku sebelah. Amel belum
datang. Wina sendiri tumben datang pagi. Biasanya ia datang 5 menit sebelum bel, disaat kelas sudah
padat akan penduduk. Semalam Wina nggak bisa tidur. Entah kenapa bayangan Alex selalu terbesit di
benaknya. Apa benar Alex pindah sekolah? Kenapa harus pindah? Peduli amat Alex mau pindah apa
nggak, batin Wina. “Argggg… Kenapa sih gue mikir dia terus?”
“Mikirin Alex maksud lo?” ucap Amel tiba-tiba udah ada disamping Wina. “Nih hadiah dari pangeran lo.”
Dilihatnya Amel mengeluarkan kotak biru berukuran sedang. Karena penasaran dengan cepat Wina
membuka kotak tersebut. Isinya bingkai foto bermotif rainbow dengan foto Wina dan Alex saat mengikuti
MOS SMP didalamnya. Terdapat sebuah kertas. Dengan segera dibacanya surat tersebut.
Dear wina,
Inget ga pertama kali kita kenalan? Pas itu lo nangis gara-gara di hukum ama osis. Dalam hati gue
ketawa, kok ada sih cewek cengeng kayak gini? Hehe.. kidding. Lo dulu pernah bilang pengen liat pelangi
tapi ga pernah kesampaian. Semoga lo seneng sama pelangi yang ada di bingkai foto. Mungkin gue ga
bisa nunjukin pelangi saat ini coz gue harus ikut ortu yang pindah tugas. Tapi suatu hari nanti gue bakal
nunjukin ke lo gimana indahnya pelangi. Tunggu gue dua tahun lagi. Saat waktu itu tiba, ga ada alasan
buat lo ga mau jadi pacar gue.
“Kenapa lo nggak mau nerima dia? Gue tau lo suka Alex tapi lo nggak mau nyakitin gue.” sejenak Amel
tersenyum. “Percaya deh, sekarang gue udah nggak ada rasa sama Alex. Dia cuma temen kecil gue dan
nggak akan lebih.”
“Thanks Mel. Lo emang sahabat terbaik gue.” ucap Wina tulus. “Tapi gue tetap pada prinsip gue.”
Amel terlihat menerawang. “Jujur, waktu gue tau Alex suka sama lo dan cuma nganggep gue sebagai
temen kecilnya. Gue pengen teriak sama semua orang, kenapa dunia nggak adil sama gue. Tapi seiring
berjalannya waktu gue sadar kalo nggak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita.” senyum
kembali menghiasi wajah mungilnya. “Dan lo harus janji sama gue kalo lo bakal jujur tentang persaan lo
sama Alex. Janji?” lanjut Amel sambil mengangkat jari kelingkingnya.
Ingin rasanya Wina menolak. Amel terlalu baik baginya. Dia sendiri tau sampai saat ini Amel belum
sepenuhnya melupakan Alex. Tapi Wina juga tak ingin mengecewakan Amel. Berlahan diangkatnya jari
kelingkingnya.
“Janji..” gumam Wina lirih.
***
By : Rai Inamas Leoni
TTL : Denpasar, 08 Agustus 1995
Sekolah : SMA Negeri 7 Denpasar
Blog : raiinamas.blogspot.com
 Home
 Teknologi
 Gadget
 Review
 Harga
 Sepakbola
 Liga Inggris
 Liga Spanyol
 Liga Italia
 Entertainment
 Gosip
 Biodata Artis
 Foto Artis
 Menu
 Submenu1
 Submenu2
 Submenu3
 Statis
 Error

Home
Home » cerpen persahabatan » Cerpen Persahabatan - Kado Terakhir Untuk Sahabat
Cerpen Persahabatan - Kado Terakhir Untuk Sahabat
dombiza bp
cerpen persahabatan
Berikut ini adalah sebuah cerpen persahabatan untuk melengkapi kumpulan cerpen di blog ini ... silahkan
disimak ...
KADO TERAKHIR UNTUK SAHABAT
Karya Nurul Alma Febriyanti
Lima hari sebelum kawanku pindah jauh disana. Selepas makan siang, aku langsung kembali beranjak
ketempat aku bermain dengan sahabatku.
“hei, kemana saja kamu? Daritadi aku nungguin” Tanya sahabatku yang bernama Alvi. “tadi aku makan
siang dulu” jawabku sambil menahan perut yang penuh dengan makan siang “ah ya sudah, ayo kita
lanjutkan saja mainnya” sahut Alvi. Tidak lama saat aku & Alvi sedang asyik bermain congklak, Rafid
adiknya Alvi datang menghampiri kami berdua.
“kak, aku pengen bilang” kata Rafid “bilang apa?” sahut Alvi penasaran “kata bapak, sebentar lagi kita
pindahan” jawab Rafid “hah? Pindah kemana?” tanyaku memotong pembicaraan mereka “ke Bengkulu”
jawab Rafid dengan singkatnya “ya udah kak, ayo disuruh pulang sama ibu buat makan siang dulu” ajak
Rafid ke Alvi “iya deh.. ehm.. Alma, aku pulang dulu ya aku mau makan siang” ujar Alvi “eh, iya deh aku
juga mau pulang kalau gitu” sahutku tak mau kalah.
Sesampainya dirumah aku langsung masuk kedalam kamar & entah kenapa perkataan Rafid yang belum
pasti tersebut, terlintas kembali ke pikiranku. “Andai perkataan tersebut benar, tak terbayang bagaimana
perasaanku nanti” ujarku pada cermin yang menatapku datar “sudahlah daripada aku memikirkan yang
belum pasti lebih baik aku mendengarkan musik saja” ujarku kembali sambil beranjak mengambil mp3. Tak
lama kemudian aku mendengar sebuah pembicaraan, yang aku tau suaranya sudah tak asing lagi bagiku
yaitu orang tuaku & orang tua Alvi sahabatku. Aku mencoba mendekati pintu kamar untuk mendengarkan
pembicaraan itu. Tak lama tanganku keringat dingin, aku sudah mendapatkan inti pembicaraan ternyata
benar apa yang dikatakan Rafid pada Alvi tadi siang bahwa mereka akan pindah kurang lebih sebulan lagi.
Lemas sudah tubuhku setelah mendengar kabar itu, tiba-tiba ibu mengetuk kamarku & mengagetkanku
yang sedang bingung itu. *Tok3X… “Alma, kamu mengunci pintu kamarmu ya” Tanya ibu sambil mencoba
membuka pintu “enggak kok” jawabku dengan lemasnya “kamu kenapa.. ayoo buka kamarmu!!” teriak ibu
“iya.. sebentar” sahutku sambil membuka pintu.
“ngapain kamu mengunci kamar?” Tanya ibu.
“gak knapa2… tadi aku memang lg duduk didepan pintu” jawabku sambil menoleh keruang tamu yang
berhadapan dengan kamar tidurku.
“ya sudah, tadi orang tuanya Alvi bilang kalau mereka ingin pindah bulan depan”
“iya, aku sudah tau” sahutku kembali ke kamar tidur.
“oh kamu tidak sedih kan?” Tanya ibu yang menghampiriku.
“…” tak kujawab pertanyaan ibu.
“hm.. sudahlah tak usah dibahas dulu.. sana tidur siang dulu biar nanti malam bisa mengerjakan PR” ujar
ibu sembari mengelus elus rambutku.
“iya…” jawabku singkat.
Esoknya tepat dihari Minggu, matahari pagi menyambutku. Suara ayam berkokok dan jam beker menjadi
satu. Tetapi, aku tetap saja masih ingin ditempat tidur. Sampai sampai ibuku memaksaku untyk tidak
bermalas malasan.
“Alma, ayoo bangun.. perempuan gak baik bangun kesiangan” ujar ibu sambil melipat selimutku. “sebentar
dulu lah.. aku masih ngantuk” sahutku sambil menarik selimut ditangan ibu. “itu Alvi ngajak kamu main..
ayoo bangun!!” ujar ibu kembali sambil mengeleng gelengkan kepala. “oh oke oke” sahutku semangat
karena ingat bahwa Alvi akan pindah sebulan lagi. Lalu, aku langsung beranjak dan segera lari keluar
kamar tidur untuk mandi & sarapan. Setelah itu Alvi tiba-tiba menghampiri rumahku
“Assalamualaikum, Alma!!” panggil Alvi dari depan rumah.
“walaikumsallam, iya!!” sahut ibuku yang beranjak keluar rumah.
“oh ibunya Alma, ada Alma nya gak?” Tanya Alvi.
“Alma nya lagi sarapan, sebentar ya tunggu dulu aja. Sini masuk” jawab ibuku.
“iya, terimakasih” sahut Alvi.
Ketika aku sedang asyik asyiknya sarapan, Alvi mengagetkanku.
“Alma, makan terus kau ini” ujar Alvi sambil tertawa. “yee, ngagetin saja kamu ini. Aku laper tau” sahutku
sambil melanjutkan sarapan. “kok gak bagi-bagi aku sih” Tanya Alvi sambil menyengir kuda. “kamu mau,
nih aku ambilin ya” jawabku sambil mengambil piring. “hahaha.. tidak, aku sudah makan, kau saja sana
gendut” sahut Alvi sambil tertawa terbahak bahak. “ ya sudah” jawabku kembali sambil membuang muka.
Tak berapa lama kemudian, sarapanku habis lalu Alvi mengajakku bermain games.
“sudah kan, ayoo main sekarang” ajak Alvi semangat.
“aduh, sebentar dong. Perutku penuh sekali ini” sahutku lemas karena kebanyakan makan.
“ah ayolah, makanya jangan makan banyak-banyak. Kalau gitu kapan mau dietnya” ujar Alvi menyindirku.
“ya sudah ya sudah.. ayoo mau main apa?” ajakku masih malas.
“Vietcong yuk tempur tempuran” jawab Alvi semangat seperti pahlawan jaman dulu.
“hah, okedeh” sahutku sambil menyalakan laptop milik ayah.
Kemudian, aku dan Alvi bermain games kesukaan kami berdua. Kami bermain bergantian, besar besaran
skor, dll tidak berapa lama ibunya Alvi memanggilnya untuk pulang. “Assalamualaikum, ada Alvinya gak?”
Tanya ibunya Alvi sambil tersenyum denganku. “ada-ada.. Alvi! ibumu mencarimu” kataku kepada Alvi
yang sedang asyik bermain. “iya.. sebentar lagi, emangnya kenapa?” Tanya Alvi. “aku tidak tau, sana
kamu pulang dulu. Kasian ibumu” ujarku sambil mematikan permainan. “huh… iya iya” sahut Alvi beranjak
pulang kerumahnya.
Tak berapa lama, Alvi mengagetkanku saat aku sedang asyik melanjutkan permainan yang sedang aku
mainkan. “Alma!!” panggil Alvi sambil menepuk pundakku. “Apa??” jawabku kaget. “aku pengen bilang
sesuatu nih, hentikan dulu mainannya” ujar Alvi. “iya!!” jawabku agak kesal. “jadi gini.. dengarkan ya…
ternyata aku akan pindah 3 hari lagi” cerita Alvi. “hah? Kok dipercepat??” sahutku memotong pembicaraan
Alvi. “aku juga tidak tau, kau sudah memotong pembicaraanku saja. Sudah ya aku harus pulang ini.. bye!”
ujar Alvi beranjak keluar rumah. “tunggu!! Kau serius??” tanyaku dengan penuh ketidak percayaan.
“serius.. dua rius malahan” jawab Alvi sambil memakai sandal. “oh ok.. bye!!” sahutku kembali. Setelah Alvi
pulang kerumahnya, aku langsung lari masuk kedalam kamar & mengunci diri. Aku tidak tau apa yang
harus kulakukan sedangkan sahabatku sendiri ingin pindahan. Terlintas dipikiranku untuk memberikan Alvi
sahabatku sebuah kado yang mungkin isinya bisa membuat Alvi mengingat persahabatan antara kita
selamanya walaupun sampai akhir hayat nanti kita tak akan dipertemukan lagi. Ku ambil buku diary &
kutuliskan cerita-cerita persahabatanku dengan Alvi. Tak lama kemudian , terpikirkan suatu hadiah yang
akan kukasih dihari dia pindahan nanti lalu, aku ambil uang simpanan yang kusimpan didompetku & ku
piker-pikir uangnya cukup untuk membelikan hadiah untuk Alvi.
Besoknya sehabis pulang sekolah, aku langsung berlari ke toko sepatu dekat rumahku. Ku lihat-lihat
sepatu yang cukup menarik perhatianku, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak yang menghampiriku.
“hai nak, kamu mencari sepatu apa?” Tanya seorang bapak yang menurutku adalah pemilik took sepatu
tersebut.
“i..iya pak, maaf ada sepatu futsal tidak?” tanyaku sambil celingak celinguk kesegala rak sepatu.
“oh, ada kok banyak.. untuk apa? Kok perempuan nyari sepatu futsal?” Tanya pemilik sepatu itu sambil
tertawa melihatku yang masih polos.
“bukan untukku pak, tapi untuk sahabatku” jawabku dengan polosnya.
“teman yang baik ya, memangnya temanmu mau ulang tahun?” Tanya pemilik toko itu. Entah kapan
pemilik toko itu berhenti bertanyaku.
“iya” jawabku berbohong karena tak mau ditanya-tanya lagi.
“ok, sebentar ya. Bapak ambilkan dulu sepatu yang bagus untuk sahabatmu” ujar pemilik toko sepatu itu
sambil berjalan ke sebuah rak sepatu.
“sip, pak” sahutku.
Tak lama, si pemilik toko sepatu itu kembali sambil membawa sepasang sepatu futsal.
“ini nak!!” kata pemilik toko sepatu itu.
“wah bagus sekali, berapa pak harganya?” tanyaku sambil melihat lihat sepatu yang dibawa oleh si pemilik
toko itu.
“bapak kasih murah nak untukmu.. ini aslinya Rp. 60.000 jadi kamu bayar Rp.20.000 saja nak” jawab si
pemilik toko itu sambil tersenyum.
“terima kasih banyak pak, ini uangnya” sahutku.
“iya nak, sama-sama” ujar sipemilik toko tersebut.
Setelah itu, aku kembali kerumah & mulai membungkus kado untuk Alvi. Mungkin ini hadiahya tidak
seberapa, kutuliskan juga surat untuk Alvi.
Malamnya aku masih memikirkan betapa sedihnya perasaanku nanti jika sahabatku pindah pasti tidak bisa
bermain bersama lagi seketika air mataku menetes & tiba-tiba ibu mengetuk pintuku. “Alma, ayo kerjakan
dulu PRmu nanti kemalaman” ujar Ibu dari depan pintu kamar tidurku. “i..iya” sahutku sambil mengelap
tetesan air mata yang membasahi buku yang sedang aku baca. Saat itu pikiranku masih campur aduk
entah harus senang, sedih atau apa. Aku tidak bias konsen mengerjakan PR malam itu.
Besoknya disekolah, aku sering bengong sendiri sampai-sampai guruku bertanya kenapa aku seperti itu.
Ku jawab saja dengan jawaban yang sangat singkat karena aku sedang memkikirkan bahwa besok lah
dimana aku akan berpisah dengan sahabatku sendiri. Sepulang sekolah, aku langsung berlari memasuki
kamar lagi, mengurung diri hingga malam. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku & kuintip lewat
jendela kamar. Tak lama kemudian juga Ibu memanggilku untuk keluar kamar sebentar.
“Alma, ayoo keluar sebentar. Ada Alvi nih” ajak ibu sambil membuka pintu kamarku.
“iya…” jawabku beranjak keluar kamar.
“nah kamu sudah disini, jadi begini besok kan Alvi mau pindah ayoo berpamitan dulu” ujar ibuku.
“Alma!!” peluk ibunya Alvi kepadaku. “maafin tante sama Alvi beserta keluarga ya jika punya salah sama
kamu, ini tante ada sesuatu buat kamu” kata ibunya Alvi sambil memberiku sekotak coklat.
“i..i..iya” sahutku tak bisa menahan perasaan & sejenak kuingat bahwa aku juga punya hadiah untuk Alvi.
“Alvi, ini ada hadiah buat kamu. Terima ya” ujarku mulai menangis.
“iya. Alma jangan nangis dong” jawab Alvi.
“aku..” sahutku semakin sedih.
“sudah kamu tidak usah sedih nanti suatu saat kalian bisa ketemu kembali kok, ibu yakin” kata ibu sambil
menghapus air mataku.
“ya udah, Alma jangan nangis ya… oh iya ini tante kasih no telp. Tante biar nanti kalau Alma kangen sama
Alvi bisa sms atau telepon ya” ujar ibunya Alvi sambil menghapus air matanya pula yang hendak menetes.
“iya..” jawabku sambil masih menangis.
Malam pun tiba, Alvi dan keluarganya pun berpamit & harus segera pulang. Aku pun kembali ke tempat
tidur & mulai menangis. Ku gigit bantal yang ada didekatku tak tahan aku melihat hal tadi.
Esoknya, tepat dipagi hari. Suara mobil kijang mengagetkanku & bergegas aku keluar. Ku lihat Alvi &
keluarganya sudah bersiap-siap untuk berangkat, tubuhku mulai lemas ibu pun mengagetkanku untuk
segera bersiap siap sekolah. Sebenarnya aku ingin tidak sekolah dulu hari itu tapi bagaimana juga
pendidikan yang utama. Aku bergegas kesekolah tapi sebelum itu, aku berpamitan dengan Alvi lagi.
“Alvi!!” panggilku dari jauh.
“Alma!!” jawabnya sambil mendekatiku.
“jaga dirimu baik baik disana ya kawan, semoga banyak teman-teman barumu disana & jangan lupakan
aku” ujarku mulai meneteskan air mata.
“iya, kamu tenang. Kalau kamu sedih kepergianku ini tidak akan nyaman” sahutnya sambil memberiku
tissue.
“iya… terima kasih” jawabku kembali sambil menghapus airmata dengan tissue yang diberikan oleh Alvi.
“oh iya Alma, thanks ya buat kadonya itu bagus banget… aku juga udah baca suratnya… terima kasih
banyak ya… akan kujaga terus kado mu” ujar Alvi menatapku.
“iya.. sama-sama karena mungkin itu kado terakhirku untukmu kawan” sahutku sambil tersenyum tak
menunjukkan kesedihan lagi.
“kau memang sahabat terbaikku selamanya” kata-kata terakhir Alvi yang ia ucapkan kepadaku. Disitulah
aku berpisah & disitulah aku harus menempuh hidup baru, juga makna dari sebuah persahabatan tanpa
menilai kekurangan seorang sahabat.
~Selesai~
PROFIL PENULIS
Hi~ my name is Nurul Alma Febriyanti, but you can call me Alma. I was born on 13th of February 1999. this
is my first short story telling that I have been published. I hope all of you like my short story... enjoy it! ;D
and if you want to know more of me, you can follow my twitter >> @alma_fbrynt
Demikian cerita pendek kali ini,.... silahkan baca juga kumpulan cerpen persahabatan yang lainnya...
artikel terkait :
cerpen persahabatan - sebuah janji
cerpen persahabatan - rinduku kenanganku
cerpen persahabatan - cinta para sahaba

173533428 cerpen

  • 1.
    Tiga Sahabat BerakhirDua Pagi ini kota indah Jogjakarta diselimuti awan dingin. Selimut tebal masih menempel di tubuh, agar si dingin tak menyambangiku. Tapi tetap saja, aku tak bisa mengalahkan dingin hanya dengan selembar kain selimut. Ku buka pintu, emmmmm bau semerbak pagi menyambutku, menusuk dalam peraduan pernafasanku, “segar dan sejuk.” Gumamku sembari tersenyum pada wajah pagi. Mentari pun belum mau menampakan diri, masih malu-malu di ufuk timur yang jauh di dalam. “woiii Ndut, ayooo cuss lari, malah masih bangun tidur.” Suara yang ku kenal menyapaku di depan gerbang kos. Ya, itu suara Mufta bersama Adry. Mereka sahabat karibku. Biasalah kami selalu lari pagi setiap minggu. Emmm aku lupa, sebenarnya aku tidak gendut, hanya pipiku sedikit tembem saja, tapi biasalah mereka selalu usil menggangguku. Kadang mereka memanggilku Ibu. Katanya aku seperti ibu bagi mereka kalau lagi masak. Kadang aku dipanggil Bu Dosen. Karena aku sering membantu mereka menyelesaikan tugas kuliah, biasalah mereka anak-anak sedikit di bahwahku levelnya. “hehehehe. ini cukup aku yang tau…” Kadang aku juga dipanggil mbok. Ya buat panggilan satu ini aku agak ogah si, karena kalau mereka udah manggil aku mbok, wahhhh berarti dandananku lagi kacau balau gak karuan, ancurrr se ancur-ancurnya. “tunggu yo, aku ganti celana dulu kep.” Jawabku sembari masuk dalam kamar. Ya, KEP adalah nama panggilan Mufta. Dia mantan penggila b*kep, tapi itu dulu sih. Saat awal kita bertiga baru sahabatan, tapi sekarang telah berubah. Bukan b*kep lagi tontonanya, tapi buku yang jadi sahabatnya. Sungguh perubahan yang luar biasa dan cetar membahana. Kami sering berlari mengitari kampus. ya cukup satu putaran saja sudah membuat tulang kaki kami merasa lelah dan keringat kami menetes. Kampus yang cukup nyaman untuk berolahraga. Banyak pepohonan yang masih segar, ada taman yang kanan dan kirinya dihiasi tanaman kecil. Di samping belakang ada kolam yang ditumbuhi teratai dan rumah bagi ikan-ikan cantik. “duduk situ yuk sob.” Ajak Adry sembari menunjuk kursi besar di taman. Nampaknya dia yang selalu menjadi juara pertama dalam lari. Ya maklumlah, dia atlit futsal. Timnya lumayan disegani oleh mahasiswa kampus. Adry ini cowok yang aneh, perasaanya seperti cewek. Jadi kalau dia main futsal dan kalah, wahhh itu berarti dia lagi galau berat. “Hehehehe sori bos Adry, dikit ngejek gakpapa kan.” Kami duduk bersama, berbincang-bincang dan tertawa lebar. Bercerita banyak hal. Pagi ini kami membuat topik pembicaraan masalah masa depan kita bertiga. Bagaimanapun kami adalah mahasiswa semester akhir yang dikejar target. Bukan target skripsi sih, kalau itu kami bertiga
  • 2.
    merasa tidak berat,kami nikmati prosesnya. Tapi target yang kita buat sendiri dan kita ukir kata wajib di otak untuk diwujudkan. Inilah kami, tiga sahabat pemimpi besar. Julukan itu bukan kami yang buat, tapi teman-teman kampus. mereka selalu melihat kami pemimpi, ya pemimpi dalam hal apapun. Karena kami memang benar pemimpi yang akan siap mewujudkan mimpi-mimpi besar itu. “elu Ndut. Masih nyimpen target yang dulu kita tulis di buku diary tiga sahabat?” tanya Mufta yang tiba-tiba mengingatkan mimpi kami dua tahun yang lalu. mimpi yang kami jaga dan kami perjuangkan hingga esok bisa tercapai. “masih dong Kep. Aku gak akan melenyapkan target itu. Di otak ini sudah bayak cara buat wujudin mimpiku. Tepat seminggu setelah wisuda, aku bakal balik ke kampung. Aku pengen bantu anak-anak di kampung. Ya taulah kampungku di pelosok negeri ini. mimpiku Cuma satu sob. Aku pengen mengubah cara fikir masyarakat kampung. Aku gak pengen lagi denger anak- anak kampungku dibodohi pemerintah, aku juga gak mau denger anak-anak kampungku dijodohin dan dinikahkan saat mereka lulus SMA. Aku juga gak mau denger lagi anak-anak kampungku yang gak mengerti se*s dan akhirnya mereka hanya hamil diluar nikah tanpa tanggung jawab dari si lelaki. Pokoknya aku pengen mengubah kampungku jadi lebih baik. Ahhhh bakal jadi tugas berat nih target ku.” Aku menghela nafas dan menatap langit. Seakan langit pagi yang mulai cerah itu mengerti akan beratnya tanggung jawabku di kemudian hari. Tapi, jika bukan aku yang mengubah tanah kelahiranku, lalu siapa? Pemerintah? Oh tidak, mereka tidak benar-benar peduli pada kampungku. Buktinya hingga kini jalanan masih berdebu tanpa aspal. Sekolah-sekolah reot layaknya gubuk mau runtuh. Penduduk yang minim fasilitas dibiarkan begitu saja. entahlah, daerahku termasuk daerah kaya di Negri ini, tapi uangnya kemanapun aku tak tau. “kalo kamu sendiri gimana Adry?” tanyaku tiba-tiba. “kalau aku tetep. Lulus wisuda langsung ambil tabungan di Bank dan buka usaha di Bandung. Kebetulan Abang juga udah punya usaha disana, jadi aku bisa belajar dari abangku. Aku penge n umur dua puluh lima udah kaya sob. Hehehe. Pokoknya harus udah punya rumah dan mobil sendiri. Itu targetku. Keren kan? Hahaha pemimpi besar.” Adry tersenyum lebar pada kami dengan wajah optimisnya. Adry memang terkenal rajin menabung sejak awal masuk kuliah, jadi ya pasti tabungan di Banknya sudah banyak, apalagi dia juga suka investasi. Dia punya sedikit investasi di saham dan Reksadana. Katanya. “kalau aku tetep. Aku pengen dapet beasiswa ke luar negri. Aku mau belajar sastra disana. Dan jadi penulis terkenal di luar negri. Aku gak mau pulang ke Indonesia.” Kata-kata terakhir Mufta membuat kami bertiga sejenak diam. Dari dulu aku selalu tak setuju dengan mimpi Mufta. Karena jauh di lubuk hatiku ingin jika kami bertiga tetap berjuang di satu tanah, Indonesia. Walau beda pulau tak masalah, yang penting tetap di Negri ini. Tapi rasanya semua sia-sia. Mulutku serasa sudah terkunci untuk menasehati
  • 3.
    Mufta. Apalagi hatiku,sangat lelah jika mendengar mimpi Mufta untuk ke luar negri. Apalagi Adry, Ia sudah sangat enggan meminta agar tetap berkarir di Negri ini. Aku selalu tersenyum jika ingat masa-masa kuliah. Indah bersama sahabat-sahabat itu. Mereka berdua selalu membuatku kuat dalam kehidupan. Tapi semua itu sudah tiga tahun yang lalu, sekarang disini aku sendiri. Bersama target yang belum tercapai. Sulit dan harus berjuang sendiri di kampungku. Kadang aku lelah mewujudkan target yang aku tulis sendiri. Layaknya hari ini, aku dimaki oleh seorang Ibu-Ibu di depan forum ibu PKK yang aku bentuk. Dulu belum ada perkumpulan Ibu-Ibu seperti ini. ia memaki aku habis-habisan hanya gara-gara anaknya berhasil aku ubah fikiranya. Anak itu hampir saja dinikahkan dengan seorang duda oleh ibunya, tapi akhirnya anak itu menolak dan meminta kuliah ke tanah jawa. Sontak saja ibu itu tak memiliki biaya dan aku yang dipersalahkan. Katanya aku gak ngerti apa-apa tentang kehidupan rumah tangga. “ehhh mbak. Anda Itu orang yang baru kemarin sore wisuda. Jadi jangan seenaknya menghantui fikiran anak-anak kami untuk sekolah. Jangankan sekolah, makan pun kami sulit. Sudahlah mbak, tiga tahun anda berjuang tak ada hasil kan. Saya mohon kembalikan kampung ini seperti dulu. Damai tanpa protes anak-anak yang meminta sekolah. Dulu cukup bagi mereka lulus SMP. Tapi lihat sekarang, lihat banyak anak yang meminta kuliah. Ahhhh saya gila dibuat oleh anda.” Begitu kurang lebih caci maki Ibu itu terhadapku. Tentu saja aku tak ingin memperlihatkan kesedihanku. Aku sudahi saja perkumpulan Ibu-Ibu hari itu. Terasa sakit disini ( hati ). Benar-benar aku butuh seorang teman. Aku rindu akan Adry dan Mufta. Aku benar-benar lelah sekarang. Rasanya aku ingin menyudahi saja. cukup semua sampai disini. Tapi aku juga heran pada orang-orang kampungku. Mereka bilang susah makan, dan susah menyekolahkan anaknya. Tapi kalau kredit motor mereka bisa. Apalagi Ibu yang baru saja memarahiku, beberapa hari yang lalu Ia baru saja membeli sebuah ladang dengan harga puluhan juta. Tentu saja, bukan alasan tak ada uang untuk menyekolahkan anak. Hanya ada yang salah dalam cara mereka berfikir. Ini yang harus pelan-pelan aku ubah. Ahhhhhh ingin rasanya aku menangis dan berteriak pada desa tercintaku ini. mengapa mereka tak mengerti maksudku, mengapa Tuhan juga memberiku banyak batu besar di jalanku. Aku benar-benar lelah saat ini. Entah harus kemana kusandarkan hati yang lelah ini. jangankan calon suami, seorang pacarpun aku tak punya. Pacar? Ahhhh tak pernah terfikir olehku untuk berfikir tentang cinta sejenak. Terlalu sakit hati ini mengingat semuanya. Ahhhhh aku bisa gila jika menahan semua rasa ini sendiri. Rasa yang tersimpan rapi dari beberapa tahun yang lalu. Siang yang cukup terik. Begitu panas dan melelahkan. Aku masih sibuk di sebuah sekolah tepatnya di sebuah SMP. Aku bekerja disini, menjadi salah satu pengurus SMP swasta. Dulunya SMP ini hampir dirobohkan, tapi alkhamdulilah aku bisa meyakinkah dewan sekolah dan pemilik
  • 4.
    sekolah untuk tetapmembuka SMP ini. aku janjikan pada mereka dalam dua tahun sekolah ini menjadi baik. Dan sekarang setelah tiga tahun, SMP ini menjadi SMP favorit para masyarakat. “Mbak ada yang mencari di ruang tamu.” Sapa salah seorang guru padaku. Tak ada yang memanggilku Ibu disini. Semua memanggil aku Mbak. Tak terkecuali para guru dan siapapun. Aku mengangguk pelan dan anggun sembari menutup laptopku. Aku segerakan menuju ruang tamu. Ahhhh betapa kagetnya diriku, sosok yang tak pernah aku sangka akan mengunjungi diriku. Ia terlihat tambah manis dan tampan dengan jas hitamnya. Sepatunya yang bersih, rambutnya yang terawat dan terlihat lembut. Wajahnya tambah putih, nampaknya selalu perawatan. Sungguh, sosok yang hampir tak aku kenali setelah tiga tahun tak bertemu. “Adry…” kataku sembari sedikit mengerutkan kening, takut jika itu bukan dia, wajahnya banyak berubah. Ia mengangguk, kami hampir saja berpelukan girang melepas rindu. Tapi aku ingat, ini sekolah, bukan tempat umum. Akhirnya aku tahan. Adry dan aku pergi keluar dari sekolahan ini, tentu setelah aku izin pada para guru. Adry hampir membuat targetnya tercapai, kini ia telah memiliki mobil mewah, dan masih ada waktu dua tahun lagi untuk menabung membuat rumahnya sendiri. Usahanya sangat lancar karena bantuan dari Abangnya yang telah profesional dalam bisnis. Sesekali ia juga menyumbangkan dana untuk daerahku. Ya aku bisa membuat SMP ini maju tak luput bantuan dari Adry. Ia mengirimkan puluhan komputer, LCD, dan beberapa dana untuk merenovasi SMP ini. Aku ajak Adry ke perpustakaan umum, disana ada warung kopi kecil. Ya warung ini miliku. Aku bangun dengan jerih payahku sendiri, aku menjual SLR-ku, aku menjual gadget-ku, dan aku menggadaikan motor baruku. Semua demi kemajuan desa ini, Desa tercintaku. Desa yang menerimaku lahir di tanahnya. Desa yang rela airnya aku gunakan. Dan desa yang tanahnya siap untuk sekali lagi aku injak-injak mewujudkan mimpi besarku. Ada perpustakaan mini disini, ada kaset film yang bagus disini, tentu film yang baik-baik. Tak ada satupun film yang berbau p*rno. Di bagian belakang aku bangun sebuah taman kecil tempat membaca. Ya jam segini warung ini sepi, biasa ramai kalau anak-anak sudah pulang sekolah. Sekitar jam dua siang sampai malam. Kami berdua berbicara banyak. Aku memeluknya. Aku menangis dalam pelukan Adry. Benar- benar lelah yang selama ini ada akhirnya bisa sedikit sirna, melihat sahabat yang begitu aku rindu hadir saat ini. tapi ada satu lelah yang tak bisa hilang hanya dengan kehadiran Adry. Aku rindu Mufta. Sosok itu yang aku harapkan hadir sekarang. Aku mencintainya. Ya aku mencintai Mufta sejak awal bertemu, jauh sebelum aku dan dia bersahabat. Itu alasan sebenarnya mengapa aku menahanya pergi keluar negri. Aku terlalu tak kuat jika harus melepaskanya pergi dan tak kembali ke Indonesia. Berarti harapanku untuk
  • 5.
    memilikinya tidak ada.Aku menghela nafas panjang dan jauh ke dalam paru-paru. Merasakan sakit yang begitu hebat tersimpan disini (hati). “ada dengar kabar Mufta gak Jen?” tanya Adry padaku. Ya namaku yang sebenarnya adalah Jeny. Aku hanya menggeleng sembari menyandarkan kepalaku di bahu Adry. Aku menitikan butiran bening, merindukan sosok Mufta yang sangat gokil dan gila. Sosok yang dulu juga membuatku bertahan di Universitas itu. Sosok yang bisa aku jadikan penguat saat lelah. Tapi kini bukan Mufta yang ada, melainkan Adry. Sahabat yang juga begitu aku sayangi. Ya aku begitu menyayangi Adry sebagai sahabat. Adry tau segala ceritaku di desa ini, dia faham aku begitu lelah. Setiap hari aku selalu sms atau telefon denganya dan bercerita apa saja yang terjadi hari itu. Tapi, tak ada satupun dari kami yang tau dimana Mufta. Terakhir kami bertemu di depan gedung wisuda. Setelah itu, tak ada satu kabar pun dari dirinya. Kami sudah berusaha mencari. Tapi semua akses tentang dirinya tertutup. Facebook, twitter, line, instagram, Hp, BB, dan semuanya tidak ada yang bisa dihubungi. Semua seakan mati tentangnya. Pagi itu alarm Hp ku berbunyi. Ternyata nada pengingat. Lima tahun sudah kini kami bertiga berpisah. Berlari pada garis masing-masing. Mencari tujuan akhir individu. Tiba-tiba sebuah sms singkat masuk ke Hpku. Betapa senangnya diriku. Sms dari Mufta, mengundangku untuk datang ke Jogjakarta. Ia disana. Ia juga ternyata sudah memesankanku tiket penerbangan hari ini. tentu saja aku langsung pergi dengan baju seadanya di dalam koper. Delapan jam sudah aku di dalam perjalanan. Di bandara aku disambut oleh orang suruhan Mufta. Ahhh betapa bahagianya aku, sudah ada Adry juga menungguku. Ternyata Mufta mengundang kami. Pasti Mufta mau buat surprise nih untuk aku dan Adry. Kami diantar ke hotel oleh orang suruhan Mufta. Pokoknya mufta telah mempersiapkan segala hal untuk kami. Setelah kami selesai meletakan koper dalam kamar hotel, orang suruhan Mufta memberikan pakaian bagus untuku dan Adry, katanya kami harus mengganti pakaian sekarang juga. tentu aku dan Adry nurut. Pakaian yang indah dan tentu mahal, Made In Paris di lebelnya. “Mufta…” aku berbisik lirih saat tiba di lantai sepuluh hotel itu. Airmataku terjatuh. Aku tak bisa membendung airmata ini lagi. terlihat Mufta tengah duduk bersanding di pelaminan dengan seorang wanita cantik. Tentu bukan wanita Indonesia, mungkin Paris, atau Inggris. Entahah aku tak tak tau. Adry menyeka airmataku, Ia mengira ini airmata kebahagiaan, karena ia tak tau jika aku begitu mencintai Mufta. Kami bergegas menyalami mereka yang sedang asik berbincang di atas pelaminan. Tapi aku dan Adry begitu kaget, Itu bukan Mufta sahabat kami dulu. Tak mungkin jika itu Mufta, seakan Ia tak mengenaliku dan Adry. Ekspresi wajahnya biasa saja saat melihat kami datang, hanya
  • 6.
    senyum biasa. Sedangaku dan Adry hampir memeluknya, tapi ia enggan kami peluk. Seakan tak ada rindu di dalam hatinya untuk kami. Ahhhh hatiku tambah perih melihat kenyataan bahwa Mufta sudah tak menganggap kami sahabatnya lagi. aku berlari keluar ruangan. Aku duduk di kursi santai yang menghadap kaca, Adry mengikutiku. Kami menggelengkan kepala, heran apa yang terjadi pada Mufta. Benar-benar tak ada sambutan hangat dari Mufta. aku memeluk Adry, dan menangis sejadinya. Negeri orang telah membuat Mufta berubah bukan menjadi dirinya. Ia telah melupakanku dan Adry. Ia benar-benar tak ingat dahulu bagaimana aku susah payah mengajarinya bahasa inggris hingga Ia fasih dan bisa mendapat beasiswa. Ia tak ingat bagaimana dulu saat kuliah, kami bertiga tertawa bahagia. Ia benar-benar telah melupakan semuanya. Pantas saja tak ada kabar apapun dari dirinya. Kami kini hanya orang kecil di matanya. Ia telah menjadi pengusaha sukses di Paris, bukan dia, tapi usaha ayahnya yang dipercayakan pada dirinya. Dan cinta di hatiku memang benar-benar tinggal sebuah harapan tak berjalan. Kupukul-pukul dada ini. ada sesak yang begitu hebat. Cinta yang ku perjuangkan selama delapan tahun, hanya kandas di dalam jalan kepedihan. Aku ingin berteriak pada Tuhan, tapi ahhh sudahlah. Aku nikmati lara ini. Biarkanlah. Aku masih punya Desaku, yang aku cintai dan mencintaiku. Dan ada Adry yang setia menjadi sahabatku, Ia tak pernah lelah untuk tetap bersahabat denganku. Cerpen Karangan: R. P. Utami Aku, Dia dan Sahabatku Menurut psikologi, cinta itu harus diungkapkan Menurut agama, cinta itu harus dipendam sampai waktu yang tepat Menurutku, cinta itu ibarat sebuah kayu yang terhanyut dalam aliran sungai Kisah ini berawal dari keikutsertaanku dalam sebuah olimpiade ekonomi di sebuah universitas di kota malang. Saat aku bertemu dengannya usiaku baru 17 tahun. Sosoknya yang berwibawa dan karismatik serta supel telah mengambil seluruh perhatianku seketika. Semua yang berkaitan dengannya pasti akan aku rawat dan takkan ku biarkan sembarang orang dapat menyentuh ataupun melihatnya. Sebuah gantungan kunci berbentuk persegi dan selembar biodatanya adalah benda berhargaku saat ini. Semua tersimpan rapi dalam kotak kenanganku dengannya. Mungkin baginya aku hanya seorang anak sma yang sebatas kenalan dengan dia. Akan tetapi bagiku, dia adalah sosok kakak yang selama ini aku idam-idamkan. Penuh perhatian dan tak pernah bosan selalu
  • 7.
    mendukung dan memotivasiku. Berawaldari sinilah sedikit demi sedikit tumbuh sebuah rasa yang tak biasa. Aku pun binggung dengan rasa yang kini ada di hatiku ini, apakah ini hanya rasa kagum, atau rasa suka, cinta atau bahkan sayang? Jujur aku binggung dengan apa yang terjadi. Sejak 4,5 tahun yang lalu aku tak pernah jumpa lagi dengannya. Hubunganku dengannya hanya sebatas pertemuan via sms, FB dan telepon. Hmm seingatku aku dan dia hanya 4 kali teleponan, itu terjadi tahun 2009, 2010, 2011 dan tahun ini yakni 2013. Kebanyakan kami berhubungan via sms. Dalam sms itu tidak hanya bertanya tentang kabar, akan tetapi saling bercerita tentang kegiatan kami dan juga saling bercerita tentang keindahan bulan. Ya kami berdua sangatlah suka melihat keindahan bulan, di saat yang lainnya terlelap dengan sinetronnya, lelap dengan kesibukannya yang lain, kami berdua sibuk melihat keindahan bulan di atas sana. Pertama kali kau menghubunginya itu setelah aku lulus sma, nomor yang dulu dia berikan ternyata sudah tidak aktif lagi. Hingga aku akhirnya bertanya kepada temanku yang juga mendapatkan cinderamata dari dia. Selama ini temanku yang sudah menghubungi dan menjalin hubungan dengan dia. Begitu aku menghubunginya aku takut-takut karena selama ini kau tak pernah menghubunginya, ketika aku menghubunginya mungkin rasanya agak aneh akan tetapi ketika aku mendengar ucapannya ini, rasanya aku langsung plong. “oh kamu thoo nduk gimana kabarnya?” jawabnya dengan suara ceria dan logat khasnya yang membuat aku tetap berusaha menjaga silaturahmi dengannya. Dulu aku selalu berpikiran bahwa jika aku sms dia pasti terganggu akan tetapi dia selalu menyakinkanku bahwa itu hanyalah kekahawatiranku saja. Selama ini dia selalu menjawab semua sms dariku tak pernah tidak, dan selama itu juga aku tak pernah berani untuk memulai sms dengan dirinya karena bagiku mungkin dia tak nyaman dengan diriku yang mungkin sedikit agresif ini. Aku tak mau dia merasa tak nyaman dekat denganku walaupun di antara kita tak ada hubungan apa-apa. Entah sejak kapan rasa ini mulai besar, bahkan hingga aku merasa sakit ketika mendengar sahabatku bahkan sampai pergi ke kota malang hanya untuk bertemu dengan dirinya. Mendengar itu entah kenapa rasanya sakit sekali, air mataku pun tak tertahankan untuk mengalir, apalagi setelah aku ketahui dia bermalam di rumah keluarga besar temanku itu. “Oh jadi itu sebabnya smsku tak kau balas?” batinku merintih. Akan tetapi setelah aku mendengar apa yang terjadi sebenarnya rasa itu sedikit lebih ringan. Dia terpaksa menerima tawaran keluarga besar sahabatku itu karena malam sudah larut dan dia dalam kondisi yang tak sehat karena kurang tidur. Hmm aku merasa bersalah padanya akan tetapi percuma juga rasa bersalahku itu karena memang di antara kita tak ada hubungan apa - apa. Aku pun teringat sms sahabatku yang sepertinya sedang gembira, “ini aku sedang jalan- jalan dengan kakaknya, bareng dengan saudara sepupu dan pakdeku”, membaca sms itu rasanya sakit banget. Ingin rasanya teriak-teriak akan tetapi aku tak enak hati dengan para penghuni kost yang lainnya. Hingga akhirnya teriakan itu berubah menjadi deraian air mata untuk mengurangi sesaknya dada menanggapi hal tersebut.
  • 8.
    Akhirnya aku mendapatsedikit penjelasan dari dia terkait dengan apa yang sedang dialami oleh sahabatku tersebut. Ternyata sahabatku merasa sedikit tertekan dengan semua kondisi yang tidak berpihak padanya, semua teman yang tak mempercayainya, nilai UAN yang diluar targetannya, kisah cintanya yang tak pernah bersambut serta saingannya yaitu diriku. Walau aku tak pernah menganggapnya sebagai sainganku ternyata seperti itu tanggapannya terhadapku. “Hmm terserah dia sajalah” batinku menanggapi hal tersebut. Aku baru tahu ternyata orang yang sangat dicintai oleh sahabatku adalah dia. Aku tak tahu akan hal itu sampai sahabatku itu mengatakannya, “diriku mencintainya, bagaimana denganmu?”. Mendengar pertanyaan itu aku langsung terdiam, akan tetapi langsung ku jawab, “tidak, aku tak mencintai dia”. Entah apa yang membuat sahabatku ini berpikiran bahwa aku pun menyukai bahkan mencintai dia. Hingga akhirnya aku pun mulai berani untuk ikut mengungkapkan apa yang tak rasakan. Ketika sahabatku itu bertanya lagi, aku pun menjawab, “ya aku mencintainya, bagaimana denganmu?”. Mendengar hal itu sahabatku langsung tak menghubungiku lagi. Aku pun mulai mengungkapkan apa yang aku rasakan kepada dia, via buku yang aku titipkan pada kakak tingkat dan juga via email. Aku ungkapkan apa yang sedang aku rasakan. Aku masih ingat dengan ilmu psikologi, jika kau menyukai seseorang maka ungkapkanlah itu. Sedangkan dalam ilmu agama jika kita menyukai seseorang maka bersabarlah dan tahanlah hingga waktu yang tepat. Akan tetapi bagiku, ungkapkan dan lupakan semua hal itu. Jika kau ingin melupakan orang yang kau sukai, caranya bukan dengan menghapus semua kenangan itu darimu akan tetapi buatlah yang banyak kenangan dengannya dan beritahukan pada semua orang ketika kau menyukainya. Maka kamu akan malu untuk meneruskan hal itu. Tapi jangan kau pakai caraku ini jika kau tak cukup berani. Aku tak tahu apakah sahabatku itu merestui hubunganku dengan dia atau bagaimana akupun tak tahu. Akan tetapi akhir-akhir ini, sahabatku selalu sms menanyakan kabar dia, “bagaimana kabarnya dia? Apakah dia baik-baik saja? Smsku tak pernah dibalas oleh dia, apakah dirimu sama denganku. Diacuhkan begitu saja olehnya?”. Jujur membaca sms itu aku heran hah bagaimana bisa sahabatku itu tak dibalas smsnya sedangkan aku masih dapat bersms ria dengannya. Segera aku pun mengirim sms untuknya, “bagaimana kabarmu kak?”, smsnya pun langsung berbalas, “aku baik-baik saja”. Hmm mengapa hal itu terjadi? Aku masih binggung, mengapa sms sahabatku tak pernah dibalas bahkan cenderung diacuhkan oleh dia. Saat sahabatku itu sms lagi menanyakan kabar dia, aku pun langsung memberitahu kepadanya, dan tahukah kamu kawan apa yang terjadi. Sahabatku itu tak menghubungiku lagi, aku tak tahu apa yang terjadi hingga sebuah telepon dari nomor yang aku ketahui nomor orangtuanya sahabatku masuk dalam ponselku. Telepon itu juga yang akhirnya menjelaskan duduk perkara dari awal hingga akhir. Baru aku ketahui jika sahabatku itu sedang dalam pengobatan karena banyaknya pikiran yang ada dalam otaknya. Dia mungkin mersa bersalah pada orangtuanya karena tidak dapat memberikan nilai yang terbaik saat UAN. Mungkin juga karena tekanan dari teman-teman yang membutuhkan kontribusi dirinya atau lain sebagainya, aku pun tak tahu. Sahabatku itu juga mendapat perlakuan tidak adil dari teman-teman asramanya, dan yang pasti sahabatku itu
  • 9.
    cemburu padaku karenaaku masih berhubungan dengan dia sedangkan sahabatku tidak. Mendengar semua hal itu, aku langsung sedih sekali, “Ya allah gara-gara aku masuk ke dalam hubungan di antara mereka jadi seperti ini”. Aku merasa bersalah seolah mengambil perhatian dia dari sahabatku. Begitu aku curhat ke teman-temanku yang lainnya mereka pada bilang agar aku melepas dia, jangan sampai gara-gara dia, aku kehilangan sahabatku sendiri. Saat di telepon aku pun berjanji untuk tidak akan menghubungi dia lagi, demi menjaga perasaan sahabatku. Akan tetapi apa yang terjadi setelah sms dan email yang aku kirimkan, aku berada dalam posisi yang kangen berat dengan dia. Aku butuh sedikit semangat dari dia, sebuah porsi semangat yang hanya bisa diberikan oleh dia. Hingga akhirnya aku mulai mengirim email kepadanya yang langsung disambut dengan sms semangat darinya. Mendapat itu semua senyum tak pernah lepas dari wajahku, hatiku berbunga tiap kali membaca sms dari dia. Hahahha senangnya aku kira dia tak akan mengirimiku sms ini. Mengingat emailku yang mengatakan ingin memutus hubungan di antara kami ini. Aku mengirimkan email untuk meminta doa dia karena aku akan menghadapi sidang. Aku memberanikan diri untuk memulai sms dia karena menurutku yang sedang dalam kondisi perang dingin itu dia dan sahabatku, mengapa aku harus ikut-ikutan. Hingga akhirnya, aku mulai aktif lagi smsan dengan dia. Terlupalah sudah janji yang sudah aku ucapkan. Sahabatku itu ternyata akhirnya menjalani perawatan dan sudah berangsur-angsur membaik. Karena hatiku tak tenang setelah melanggar janji, aku pun memutuskan untuk mengungkapkan pada sahabatku itu. Aku ungkapkan tentang janjiku dan aku ungkapkan jika aku sudah melanggarnya. Dan akibatnya adalah sahabatku ini kembali alpa. Kembali tamparan yang sama menampar wajahku, tak hanya wajah yang serasa ditampar, telinga rasanya panas mendengar adikku berkata, “kau egois, hanya memikirkan dirimu sendiri, kenapa tak kau pikirkan perasaannya ketika kau ungkapkan hal itu”. Batinku seketika memberontak, “mau sampai kapan aku harus melindunginya terus, sedangkan aku sedang sakit begini, apakah aku pun harus mengorbankan diriku juga”. Batinku masih terus melakukan pembelaan atas kesalahan yang aku lakukan hingga datangnya sebuah sms yang berbunyi. Assalamualaikum wrwb, nak ibu minta tolong jika anak ibu menghubungi terkait dengan laki-laki itu bilang aja anak ga tahu berhubungan lagi dengan dia. Ibu tahu itu bohong tapi ini demi anak ibu. Assalamualaikum wrwb, nak, sejak anak memberitahu anak ibu, bahwa anak masih sering berhubungan dengan laki-laki itu, anak ibu mnjadi tidak terkendali dan sulit mengontrol emosinya, mungkin karena rasa cemburu. Ibu tidak menyalahkan anak karena mungkin anak khilaf atau lupa. Tapi ini mungkin ujian buat ibu sekeluarga agar lebih mendekatkan diri kepada Allah dan lebih bersabar. Tapi ibu minta anak jangan merasa bersedih atau merasa bersalah, anak doakan saja semoga anak ibu cepat sehat dan dapat beraktivitas kembali. Inilah akibat dari apa yang sudah tak lakukan tanpa pikir panjang. Akibat yang sangat fatal bagi sahabatku. Aku tak pikirkan hal lain selain ucapan permohonan maafku. Saat aku telepon pun dia masih baik-baik saja. Dia sendiri mengaku jika dia baik-baik saja dan menyetujui jika aku
  • 10.
    dengan dia. Tapiapa yang terjadi, sahabatku itu bahkan merelakan sampai membuatnya jatuh. Hmm apakah layak aku masih tertawa senang seperti ini. Padahal aku pun sebenarnya tahu jika dia pun sudah menolakku, akan tetapi entah kenapa batinku ini masih saja berharap padanya. Padahal dia sudah dengan jelas mengatakan bahwa dia tak ada perasaan cinta atau menyukai dengan lebih terhadapku. Dia hanya ada rasa suka, ya sebatas rasa suka seperti rasa sukanya terhadap teman-temannya saja. Dia tidak ada tujuan memilikiku untuk dirinya pribadi. Dia tidak mempunyai rasa cinta yang hanya mengarah pada hubungan dua manusia saja. Ya sekali lagi dia tak punya perasaan lebih padaku. Akhirnya aku mendapatkan jawaban atas pertanyaanku yang paling mendasar selama ini. Walau begitu entah mengapa aku selalu merasa dia seakan menyukaiku. Akan tetapi dia tak berani mengungkapkannya karena mungkin baginya aku dan dia tak akan dapat bersatu. Karena itu dia, selalu berbuat seperti ini. Akan tetapi mengapa dia selalu seakan memberikan sinyal kepadaku. Dia dan aku bahkan pernah bercerita tentang jumlah anak yang kami inginkan. Kami sama-sama ingin punya anak lima orang. Dia pernah bertanya padaku “mau ga kamu melahirkan anak-anak untukku?” yang langsung tak jawab, “mau ga jika aku yang melahirkan anak-anak untukmu?”. Aku tatkala itu langsung menjawab “iya’ sedangkan dia tidak menjawab, hingga ini aku tak tahu jawaban dia apa. Baru aku sadari bahwa selama ini, aku terus yang mengungkapkan apa yang ada dipikiranku, dia tak pernah sama sekali. Ketika aku bertanya terkait dengan semua hal yang sudah kita bicarakan, dia hanya menjawab “pelajari psikologi dasar biar kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi, apakah itu hanya teka-teki, permainan kata atau yang sebenarnya atau sebuah liukan topeng? Atau sebuah tak tik atau battleplan atau kata-kata represif depresif akan keadaan atau hanya sekedar jebakan agar orang lain berpikiran seperti yang kita inginkan” hmm sebuah jawaban yang tak pasti. Baru aku sadari ternyata selama ini, dia hanya meladeni permainanku ini, dia hanya pemainkan perannya dengan cukup lihai dan apik hingga aku pun terbuai dengan apa yang sudah dilakukannya. Selama ini, dia tak pernah membatasi apa yang ada dalam alam pikiranku, dia membiarkan pikiranku ini berkembang dengan liarnya. Dia tak pernah membatasinya. Bagi dia itu adalah hak setiap orang untuk memproses semua inputan yang sudah masuk dalam otaknya. Jadi jangan pernah menyalahkan orang lain atas semua pikiran yang ada di otakmu, karena yang mempunyai kendali penuh atas pikiranmu hanyalah dirimu sendiri. Mereka semua hanya pemberi input, otakmu yang memproses dan memberikan output jadi kendalikan pikiranmu. Cerpen Karangan: Bayu Rahmawati
  • 11.
    Selalu Ada Aurel… sahabatbaikku sekaligus seniman cilik. Beratus-ratus lukisan hasil karyanya dipajang di sebuah ruangan khusus yang sengaja dibangun untuknya. Kanvas, kuas, cat air, dan perlengkapan melukis lainnya tersusun lengkap di meja dekat kanvas dimana ia beraksi melampiaskan imajinasinya melalui cat air. Sebenarnya… aku iri, sangat iri. Kenapa? Karena ia selalu dipuji-puji oleh semua orang. gurunya, orang tuanya, teman-teman, dan… semua yang melihat lukisannya. Dia adalah salah satu murid berprestasi di sekolah. Yang tak pernah bergeser dari kedudukannya sebagai juara umum kesatu se-sekolahan. Tapi.. biarlah, dia itu kan sahabatku. Sayangnya… dia sudah meninggal karena kanker otak yang menimpa dirinya. seluruh lukisannya hanya menyisakan kenangan terdalam. kenangan terakhirnya adalah sebuah lukisan yang aku pandangi saat ini. Dia memberikannya padaku saat aku melihatnya sedang melukis sambil menangis dan wajahnya pucat di ruang kesenian sekolah. Gambar lukisan itu adalah dua orang anak sedang bermain di atas perahu di danau. Dan itu adalah aku dan Aurel. Terakhir kali, hubungan persahabatanku dan aurel hancur. Hanya karena dia merusak teddy bearku saat menginap. Dan sekarang.. aku sadar, boneka itu tidak bisa menghiburku tapi Aurel bisa menghiburku. dan aku melihatnya sedang ada di ruang kesenian dan menangis, wajahnya pun pucat. Aku diam-diam mengintipnya. Dan akhirnya.. ketahuan. Hari itu… hujan turun amat deras. Disertai petir yang menggelegar. langit bergemuruh Seperti persahabatan kami yang sekarang. “Maudy… jangan terus bersembunyi” ucap Aurel lirih dan masih terfokus pada pekerjaannya. “Bagaimana dia bisa tahu?” Batinku. Aku pun masuk ke ruangan itu dan berdiri kurang lebih dua meter di belakang Aurel. “Ada apa?” Tanyaku ketus. Ya karena kita masih marahan. “Lebih dekat..” Seru Aurel lembut. Dan aku pun melangkah dan berhenti tepat di belakang gadis berwajah sembab itu. “Sekarang, apa?” Tanyaku seraya memandang langit-langit ruangan. “Ma.. Ma.. Maudy.. A.. Aku.. Ta.. Ta.. Takut.. Kalau.. Ki.. Kita..” Ucap Aurel terbata-bata dan kembali menangis. Aku pun diam-diam meneteskan air mata. Tapi buru-buru aku mengelapnya. “Kalau kita..” Kata-kata itu terucap lagi dari mulut mungilnya. Aku terus melawan air mataku yang keluar ini. Tetapi, tanganku yang terkena air mata malah menambah basah wajahku. Akhirnya aku membiarkannya mengalir.. Dan terus mengalir. “Akan… berpisah” Lanjutnya. Aku berlari memeluk Aurel dari belakang. Aku marah dia berbicara seperti itu. “Tidak Aurel, TIDAK!” Bantahku disela-slea tangisanku. “Jika aku sudah pergi.. tolong jangan menangis karena aku selalu ada di sampingmu, di hatimu. Dan pandangilah lukisan ini terus” Ucap Aurel seraya memberikanku lukisan dua orang perempuan yang tengah bermain di atas perahu di danau dengan ekspresi yang bertolak
  • 12.
    belakang padaku danAurel saat ini. “Maafkan aku Aurel” “Aku juga minta maaf… Maudy” Keesokan harinya.. “hoaaaamm” Aku terbangun dari tidurku jam delapan pagi. lalu mandi dan sarapan sendirian karena ayah dan ibu tidak ada di rumah. aku juga sempat bertanya-tanya. Firasatku pula menunjukan ada yang aneh pada Aurel. Suara pintu tampak terbuka. Terlihatlah ayah dan ibu dengan perasaan sedih. Mereka memakai baju hitam. Dengan kaget aku menghampiri mereka. “Aurel… MENINGGAL karena kanker otaknya kambuh!” Ucap ayah yang membuatku tercengang. Aku pun berlari melalui ayah dan ibu. air mata mulai membasahi pipiku. Setelah sampai di pemakaman, Aku menangis memegang nisan Aurel. “Aku tahu kamu menyuruhku untuk tidak menangis. Tapi.. aku TIDAK BISA!” Seruku di sela-sela tangisanku. Kembali ke posisiku sekarang.. “Lukisan ini punya arti besar dalam hidupku. Tapi Aurel. kamulah yang lebih berarti” Aku menangis. “Perasaan takutku kembali! Kamu menangis!” Seru seseorang. “Aurel?” Tanyaku kaget. “Maudy?” Aurel tertawa. “Aku tidak akan hilang Maudy, Ada di hatimu!” Kata Aurel. Hari itu aku merasa seperti mimpi. jika itu memang mimpi… Terimakasih tuhan karena sudah menyadarkanku bahwa sahabat itu bukan sekedar bisa kulihat kehadirannya. Tapi juga bisa kurasakan dia selalu ada di hatiku dan di sampingku. Tolong kirimkan salamku pada Aurel Ya Tuhan. Cerpen Karangan: Umi Fauziah M Friend 2 Friend Dua hari telah kulalui dengan perasaan berbunga, ahh rasanya menyenangkan ketika melihat dia tertawa meskipun dia tidak menyadari bahwa mataku terus tertuju padanya. Menurutku itu cukup, karena jika aku terlalu dekat dengannya, aku takut. Aku takut rasa sukaku itu berubah menjadi cinta, dan kalian tentu tahu jika kita mencintai seseorang kita akan merasakan rasa rindu. Aku takut ketika rindu itu datang, dia yang aku rindukan merindukan orang lain.
  • 13.
    Ketakutanku menjadi kenyataan,ya.. dia milik kak Nurul sekarang. Aku mengetahuinya karena hubungan mereka telah menjadi trending topic hari ini di sekolah. Siapa yang tidak tahu kalau ketua PMR berpacaran dengan wakilnya sendiri yang notabene adalah ‘bronis’, alias berondong manis gitu, memang kak Fahmi manis dan itu adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Ingin sekali aku meluapkan rasa kecemburuanku ketika mereka berdua melintas, ah.. tapi siapa aku? Aku hanyalah seorang secret admirer yang terjebak dalam perasaan sukaku sendiri. Kini aku menatap punggung mereka yang menuju kantin dengan rasa kecewa, tanpa aba-aba kak Fahmi berbalik lalu menatapku, aku menunduk menerima tatapan itu lalu berlalu menuju kelas meskipun jam istirahat belum usai. — Malam semakin mengelepar Menenggelamkanku dalam lamunan Tentang dia yang kurasa nyata Padahal tidak bisa kuraba Penaku berhenti menari di atas buku kecil yang besedia menampung segala rasaku sepanjang hari ini, aku menguap lalu melihat hasil karyaku yang telah kubungkus rapi dengan kertas kado berwarna biru langit. Ingin sekali hari esok segera menyapa, jadi kuputuskan untuk tidur dan berharap memimpikan dia. Harapanku menjadi kenyataan, tapi harus kubayar dengan bangun kesiangan. Untunglah pintu gerbang baru akan ditutup ketika aku datang, secutity itu terus menggerutu ketika aku masuk ke halaman sekolah. Tanpa menghiraukan ocehannya aku berlari menuju kelas. Sepertinya keberuntungan tengah berpihak padaku, sesampainya di kelas aku tidak di hukum. Tapi aku kecewa, karena aku tidak menemukan sosoknya di depan kelas hari ini. “adik-adik yang baik, kadonya dikumpulin sekarang ya, ke keranjang ini” kata kak Chika lantang “iyaaa… kak…” seru teman sekelasku serempak. Sepertinya hanya aku yang tidak menjawab, karena aku masih terengah-engah mengatur nafasku. Semuanya beranjak ke depan, kecuali aku yang masih sibuk mencari kotak mugil berwarna biru. Aku yakin tadi pagi sudah kusimpan dengan baik dan rapi di tasku ini. Tapi nihil, aku tidak menemukan apapun kecali sebuah lubang yang tidak terlalu besar di dasar tasku. Akhh pasti terjatuh di suatu tempat. “Fahira kenapa?” Tanya Rena teman sebangkuku yang telah kembali duduk di samping kiriku. “kadoku hilang Ren” jawabku dengan suara lemah. “ya udah ga apa-apa, ini kan bukan tugas wajib” balas Rena berusaha menenangkanku. “tapi…” Aku berhenti berbicara dan memperhatikan kode mata Rena yang menuju ke arah pintu. Ternyata dia baru datang, seseorang yang aku harapkan kehadirannya. Ada sebuah benda yang mengelilingi lingkar lengan kirinya. “Ren, kamu liat gak gelang yang tadi dipakai kak Fahmi?” tanyaku penuh semangat, hingga
  • 14.
    mataku yang sipitterlihat membulat. “oh itu, iya aku liat. Bagus ya, memang kenapa?” Rena menjawabku dengan polos. “itu kado yang aku cari-cari Ren” “ahaaa… ternyata dia nyangkut di tempat yang tepat” Rena cekikikan dengan pernyataannya sendiri, sedangkan aku tersenyum, ternyata tidak sia-sia aku membuatnya semalaman, meskipun dia tidak tahu bahwa kado itu dariku, batinku dalam hati. Perpustakaan menjadi tempat pelarian yang asik ketika jam istirahat telah tiba, karena aku bisa terhindar dari pemandangan yang hanya akan membuatku mengelus dada. Suara bel masuk terpaksa menyudahi buku yang baru setengahnya kubaca. Rena tiba lebih dahulu di kelas, karena jarak dari kantin ke kelas tidak terlalu jauh. Sebuah keberkahan bagi Rena yang gembul, belum sempat aku duduk dia memberikan aku sebuah amplop berwarna biru muda. “Apa ini?” tanyaku penasaran. “Amplop” jawabnya singkat karena tengah anteng dengan cimol pedas mbok Inem. “Ya aku tahu Ren, maksudku isinya apa? Masa cimol” aku tertawa lalu merebut plastik cimol yang ada digengamannya. “Nggak tau, tadi aku nemu itu di kolong meja, terus ada tulisan to: Fahira” Lanjutnya gelagapan karena pedas. “ahhh jangan banyak-banyak ra kalo minta” Rena memonyongkan bibirnya sambil berusaha mengambil kembali cimolnya. Rasa penasaranku memuncak karena setelah aku balik kesana-kemari amplop itu tidak mempunyai empunya. Aku-pun duduk lalu perlahan mulai membukanya dengan H2C alias harap-harap cemas, isinya singkat, sungguh tidak seperti yang aku harapkan. Aku tunggu kamu di taman belakang Jam 12.30 “isinya apa ra?” Tanya Rena membuatku kaget. “hah.. bukan apa-apa kok, hehe cuma surat kaleng biasa” ucapku asal. Hari ini adalah hari terakhir masa orientasi siswa, Aku resmi menjadi siswi SMU dan mengganti seragam putih biruku menjadi seragam putih abu-abu. Tidak ada lagi main-main, yang ada hanya keseriusan supaya aku mendapatkan beasiswa yang aku inginkan lalu membuat orangtuaku bangga. Kakak-kakak yang menjadi wali kelas menyalami sebagai tanda bahwa kami telah menjadi keluarga besar dari SMA Pelita Bangsa, jujur aku agak salting ketika mendapati giliran untuk menyalami kak Fahmi. Waktu telah menunjukan pukul 12.30 di jam tangan yang melingkari lengan mungilku, aku memacu langkahku menuju taman belakang yang dia janjikan. Seseorang tengah bersandar di pohon akasia, membelakangiku. Dari belakang dia seperti orang yang aku kenal, ah tapi mana mungkin, aku mengindahkan fikiranku dan mulai melangkah mendekatinya. “kamu siapa?” tanyaku ragu.
  • 15.
    Dia berbalik danmembuatku terkejut, tanpa kusadari aku mundur selangkah ke belakang. Lalu dia tersenyum, senyum yang selalu membuatku tidak karuan. Jujur aku senang, tapi keinginanku melarikan diri lebih kuat daripada harus menghadapinya saat ini. Perlahan aku mundur lalu membalikan badanku, tapi dia menahanku, dia menahan tanganku. “makasih ya gelangnya” ucapnya tulus “ta… tapi darimana kakak tahu kalau gelang itu dariku?” tanyaku dengan kata-kata yang sedikit terbata. “tadi pagi ada juara marathon yang larinya super kenceng, sampai-sampai ngejatuhin kado imut berwarna biru” Dia tertawa kecil sedangkan aku tersenyum malu, lalu dia mengeluarkan kotak itu dari saku celananya dan menyodorkannya padaku. Aku tidak mengerti mengapa dia mengembalikan kotaknya padaku, padahal dia menerima isinya. “maaf ya sebelumnya, aku merubah sedikit gelang yang kamu berikan” Dia menunjukan gelang yang bertengger di tangan kirinya, aku menyadari ada sesuatu yang berubah dari gelang yang ku buat sendiri itu. Tidak ada lagi gambar eceng di tengah, di antara huruf F dan F, yang ada sekarang adalah angka 2. “tidak apa-apa kok kak, gelang itu sudah menjadi milik kakak, dan kakak bebas mau melakukan apa saja dengan gelang itu” ada sedikit nada kekecewaan, ya aku sadar akan hal itu dan aku ingin menunjukannya. Suasana menjadi hening, dan kami tenggelam dalam lamunan masing-masing. Aku ingin sekali dia menyadari bahwa aku yang terlebih dahulu menyukainya bukan kak Nurul, tapi itu egois namanya, aku tidak ingin menjadi orang egois yang memikirkan diri sendiri, mementingkan kemenangan untuk diriku sendiri. Lamunanku berakhir ketika dia mulai bersuara. “aku tahu kalau kamu suka sama kakak” pernyataannya membuat pipiku memerah dan jantungku berdebar kencang, dia mengalihkan pandangannya padaku setelah tadi dia memandang jejeran pohon yang tertata rapi di taman. Aku memberanikan diri membalas tatapannya. “tapi sepertinya ulul lebih nekat daripada kamu, dia mengutarakan perasaannya terlebih dahulu…” “jadi kakak tidak mencintainya?” tanyaku memotong perkataannya. “cinta? Kakak cuma anak SMA ra yang tidak bisa menjanjikan apa-apa. Cinta itu buat orang dewasa yang sudah memikirkan masa depan untuk berkeluarga. Kita ini kan Cuma remaja, yang ada juga sekolah, belajar yang bener bukannya pacaran. “jadi kakak nggak pacaran sama dia? Itu cuma gosip? Dan kakak ingin fokus dulu sekolah?” aku bertubi-tubi melemparkan pertanyaan hingga dia mencomot bibirku agar tidak bertanya lagi. “ya intinya seperti itu, perasaan itu dapat menjerumuskan jika dia diutarakan di saat yang tidak tepat. Akan lebih bijak jika rasa ini kita jaga dan ketika waktu yang tepat datang biarkan dia tumbuh dan bersemi. Kak Fahmi membuka kotak yang ada di tanganku, ternyata disana ada gelang yang terbuat dari perak. Terukir F2F di tengah gelang itu, dia lalu memakaikannya di lengan kiriku. “friend 2 friend” jari kelingkinnya ditautkan ke jari kelingkingku. Aku tersenyum lalu membalas perkataanya “friend 2 friend”
  • 16.
    TAMAT Cerpen Karangan: IntanDewi Kenangan Waktu Lalu Suasana kelas yang sepi, di sekitar sekolah hanya ada beberapa murid saja yang terlihat. Memang tidak seperti biasanya, hari ini aku berangkat pagi sebab dimarahi guru salah satu mapel kejuruan karena selalu telat. “mumpung kelas sepi, belajar dulu ah? Biar pintar” teriak dalam hatiku, sambil membuka buku pelajaran yang sebenarnya itu pr di rumah aku kerjain di sekolah. Beberapa menit kemudian, datang beberapa siswa “assalamualaikum, ehh.. Ada si riqi, Tumben berangkat pagi” salam dan tanya si uki, dia murid paling pintar sekelas sekaligus ketua kelas. “biasa ajalah” “hahaha.. Gue tau? Gara-gara kamu sering telat terus dimarahi sama pak pri ya? Wkwkwk” “hah.. Kamu ini tertawa di atas penderitaan orang lain” “gak papa.. Aku tau kok? Kalau kamu sebenarnya rajin tapi salahnya males! Wkwkwk” “hah.. Udahlah mending bantuin aku ngerjain pr ini?” “enakan kamu dong? Gue aja belum selesai” “baru dapat berapa lembar?” “baru 3 lembar” “aku masih 2 lembar” “ya udah kita selesain aja, gue juga mau nyelesain” Beberapa menit kemudian, seluruh siswa sudah datang! Suasana pun jadi gaduh kayak pasar ikan! “riiiq” suara itu hampir memecahkan gendang telingaku “apaaa?” “minta no hp dong” pinta ika, dia adalah murid siswi yang menurutku sih agak cerewet tapi baik padaku! “08993697xxx udah..” “thanks” tak lama kemudian guru ku pun masuk! Dan memeriksa tugas dari para murid dan mengatakan bahwa hari ini ke lab komputer untuk mensimulasikan program! Setelah guru menjelaskan tugasnya kami pun menuju kesana! Ada banyak murid yang kesusahan dengan tugasnya, Yang bisa pun disuruh pak guru untuk mengajari yang tidak bisa! “riq sini” “riqi apa rika” “iya kamu riqiii”
  • 17.
    “apa” “nih? Aku nggakbisa ini” tanya ika “gini lho caranya” akupun menjelaskan! Beberapa menit kemudian ada yang menggoda? “cie-cie riqi” ucap salah seorang temanku? Dan teman lain yang ikut melihat “apa sinta” sahutku “gak usah gemetaran kalau lagi duduk ma ika” “hah siapa gemetaran” “e e e sini dong riq jangan jauh-jauh” ucap ika “tuh kan, lagi pedekate ya ka?” goda sinta “udah riq nggak usah diladenin si sinta” ucap ika “hmm..” “ehh? Riqi kok malah gitu sih? Jangan-jangan kamu homo ya?” ledek sinta “hah.. Kagak dong aku kan orang yang taat pada agama? Soalnya zina itu ada zina mata, telinga, hidung, hati, dll. Jadi harus hati-hati hihihi” “haha.. Lebay” “biarin, asal lebay positif” “modus..” “-___-” “kamu sin? Jangan gitu dong! Diakan anak alim” bela ika “aku tau? Tapi kalau kamu kayak gitu, kan sama aja menjerumuskan dia dalam lembah berlumur dosa” bantah sinta dengan santai “aku kan minta diajarin!!!” gereget ika Jam demi jam berlalu, Kami pun pulang.. Hari demi hari berlalu Sepertinya ika punya perasaan yang spesial padaku, bulan demi bulan berlalu. Waktunya menghadapi ujian semester. Hari ini pelajaran matematika agak sulit bagiku, tapi aku nggak akan melakukan jalan pintas untuk mengerjakannya. Bel pun berbunyi seluruh siswa memasuki kelas “heh.. Uki no 7 sampai 30″ ucap salah satu temenku “iya bentar lagi ngerjain, diam dulu bisa nggak sih?” ucap kesal uki Kemudian ada salah seorang temanku yang berbicara padaku “heh.. Kamu kagak nyontek si uki” “kagak?” “nanti nilai lho jelek rasain ya” “udahlah biarin aja kali, riqi itu jujur nggak kayak kamu?” sela ika “iyah..” “bagaimanapun juga? Kita adalah teman meskipun jalan kita berbeda, akhirnya akan bertemu di satu titik juga” selaku “dan titik pertemuan itu adalah antara aku dan kamu yang hidup bakal hidup bersama dalam suka dan duka” goda ika “gak usah aneh-aneh ka” “…” ika lalu diem!
  • 18.
    Pagi itu mulailahada hal yang semakin aku khawatirkan, sepertinya sih? Kelakuannya pun masih berlanjut di hari berikutnya sampai pada bulan berikutnya yang mencapai puncaknya! Hari itu jam pelajaran kosong dan hawanya cukup panas karena memang sudah siang.. “riq aku mau bicara sama kamu” ucap ika “apa?” ucapku “aku suka sama kamu dari dulu mau nggak jadi pacarku” pinta ika “hah?” aku pun keheranan, beberapa temenku yang lain pun mengikuti untuk meramaikan suasana, beberapa temenku pun ada yang bilang “udah terima aja lo kan kagak pernah pacaran?” “tolak aja, harga diri coy, masak second dipasangin sama original” “cie cie si ika” Aku lihat di sekelilingku ada wajah cemburu, ada wajah ceria, ada wajah bengong ada wajah cuek Tiba-tiba ada 3 orang temanku yang pergi keluar kelas untuk menuju ke kantin. Salah satu dari mereka pun mengajakku “riq ayo ikut ke kantin, agak panas nih” ucap uki “oke” jawabku, dalam hatiku berkata untung ada yang ngajak! “riqi kok kamu pergi sih?, jawab aku dulu dong” teriak ika “hehehe, aku mau ke kantin dulu.. Kapan-kapan aja ya?” “loh kok kapan-kapan” “ok dadah..” “haaa riqiiii” Aku pun beranjak menuju teman-temanku, dan pergi makan-makan. Pembicaraan di kantin pun seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa namun mereka seperti menyembunyikan sesuatu? Salah satu temanku uki pun mengatakan.. “riq sini aku kasih tau sesuatu yang belum kamu tau” “apa itu” “lebih baik nggak usah terima ika, dia itu banyak banget pacarnya tapi udah diputus, hehehe” “yah.. Kalau gitu kan mantan pacarnya yang banyak!” “iya.. Tapi ada yang lebih buruk lagi dari itu” “apa itu?” Si ukipun menerangkan secara detail tentang kehidupannya aku pun kaget. Setelah itu kami pun pergi ke kelas dan berniat untuk pulang sekolah karena pelajaran memang dari tadi kosong. Yah aku pun tidak ambil ragu dan langsung mempercayai mereka, sebab aku sudah sangat mengenal kehidupan mereka dan aku tidak tahu tentang kehidupan ika di luar sekolah, tentang bagaimana pola tingkahnya Saat itu pun aku sms dia, tentang ungkapan penolakanku padanya, tapi sebenarnya dia tidak terima.
  • 19.
    4 bulan berlalu.. Padasaat liburan. Tepatnya hari sabtu saat menuju ke sekolah uki temanku dia kecelakaan. Kakinya hampir patah.. Dan butuh waktu lama agar ia dapat sembuh seperti semula. Tahun ajaran baru dengan wali kelas baru pun telah dimulai, aku ditunjuk sebagai calon ketua kelas. Entah mereka semua mayoritas memilihku. Terpaksa dah.. Hari itu adalah tantangan baru bagi diriku, karena secara otomatis aku harus memberikan contoh yang baik dan berlaku adil serta baik, mengerti, dengan seluruh teman yang ada di kelasku Hari itu pun mulai terjadi, ika, likha dan nita jarang masuk sekolah, terutama ika. Mungkin seminggu paling banyak hanya 4 kali. Pagi itu aku berpikir mungkin jika ada uki, dia akan cepat menyelesaikan hal ini. Tiba-tiba “assalamualaikum” suara itu, ternyata benar dia memang uki yang sedang berjalan dengan tongkat penyangga, aku pun langsung menjawabnya “wa’alaikumsalam, gimana kabarnya hee” ucapku “lumayan baik pak ketu” jawabnya “heh.. Jangan panggil gitu dong! Itu wujud penghinaan atau pujian” “dua-duanya” “hmm, heh gimana pas di rs” “lho pasti kagak bakalan nyangka perawatnya cantik banget lho, tapi yang bikin gue malu. Gue disuruh telanjang” ucapnya “yang bener?” “yah.. Waktu itukan pas dironsen buat nganalisa tulang” “hahahaha..” sontak aku tertawa, kami pun bercanda ria melupakan sejenak masalah… Saat itu juga aku mendapat kabar buruk dari temanku yang lain bahwa ika dan likha mengalami kecelakaan. Katanya di ugd, namun hari itu aku tak sempat menjenguknya. Dan di 2 hari berikutnya. Beberapa dari kami menjenguk mereka berdua, kata salah satu temanku mereka sudah ada di rumah. Bersama dengan wali kelas kami menjenguk mereka di rumahnya, namun sial di tempat pertama likha nggak ada di rumah katanya sih ke tukang pijit. Lalu kami melanjutkan untuk pergi ke rumah ika lebih jelasnya rumah yang dia tempati bukan rumah orang tuanya. Setelah berada di tempat itu kami pun menemuinya “assalamualaikum” ucap temanku “wa’alaikumsalam” jawab ika “ehh kok ada toriq, ada pak sofyan juga. Silahkan masuk” sambil ia berjalan agak pincang Kami berbincang ini itu, Setelah selesai kami pun pamit pulang namun sebelum itu aku berdialog dengannya sesaat setelah pak sofyan dan yang lain berada di luar halaman. “ika, aku ingin bertanya, apakah kamu benar mencintaiku” “tentu saja untuk apa aku bohong, tapi kenapa kamu menolakku”
  • 20.
    “sekarang aku mengertibagaimana kehidupanmu dan posisimu saat ini” “lalu..” Sebelum menjelaskannya aku pun berpikir dan mengingat sebuah hal Memori itu tiba-tiba keluar yaitu perkataan guru-guru terhadapnya “kalau memang tidak bisa dibina lebih baik dibinasakan saja, dari pada mempengaruhi murid yang lain” kata guru kejuruan “orang yang tidak baik bukan berarti ia memang tidak baik, mungkin ada alasan tertentu kenapa dia seperti itu. Tapi bukan berarti orang yang punya tabiat jahat itu tidak ada” kata kepala sekolah “bagaimanapun keburukan dia, dia adalah teman kita. Jadi sudah seharusnya kita membantunya bukan malah menjauhinya” kata wali kelasku Sejenak aku berpikir bagaimana kalau aku jadi dia, tanpa ada kasih sayang orangtua karena orangtuanya bercerai. Dan harus mengurusi adiknya sendirian di rumah yang ia tempati juga kehilangan orang yang ia sayangi. Apakah aku akan jadi seperti ini. Mungkin saja iya jika tidak ada teman menyemangati dan membantuku “jika aku menolakmu bukan berarti aku tidak suka denganmu? Akan tetapi ini bukan cara yang benar untuk memberikan rasa itu, dengarkanlah jika kita jodoh tuhan akan mempertemukan kita lagi, bukan di hari ini tapi di masa depan melalui ikatan yang sah” ucapku kepadanya, sejenak dia pun merenung dan berpikir, lalu aku mengatakan sebuah perkataan lagi “jangan putus asa ya? Ingat di luar sana masih banyak orang yang lebih menderita darimu” Nasehatku dengan senyuman, dia pun sepertinya sudah merasa tenang. Aku lalu pamit pulang. Tapi aku malah merasa seperti sebuah perpisahan namun perasaan itu kuabaikan. Beberapa hari kemudian dia masuk dan bersikap seperti biasa kepada teman-teman. Namun setelah lewat seminggu, Dia jarang masuk lalu aku dapat kabar bahwa dia keluar dari sekolah ini. Perasaan yang kuabaikan itu pun ternyata benar. Aku gagal dalam usaha membangkitkan semangat temanku Masih tersisa selembaran kenangan saat masih ada dia. Namun harus bagaimana lagi, mungkin itu sudah takdir bagi jalannya, aku tidak bisa membantu lebih jauh lagi. Mungkin aku gagal tapi setidaknya aku telah berusaha. Setelah kejadian itu seluruh teman-teman kelasku tidak ada yang tahu dia sekarang dimana? Kuharap dia baik-baik saja.. Kupandangi langit, hatiku berucap inilah kehidupan. Tak segalanya berjalan lancar sesuai dengan harapan Cerpen Karangan: Muhammad Toriq  Home
  • 21.
     Teknologi  Gadget Review  Harga  Sepakbola  Liga Inggris  Liga Spanyol  Liga Italia  Entertainment  Gosip  Biodata Artis  Foto Artis  Menu  Submenu1  Submenu2  Submenu3  Statis  Error  Home Home » cerpen persahabatan » Cerpen Persahabatan - Persahabatan Yang Hancur Karena Cinta Cerpen Persahabatan - Persahabatan Yang Hancur Karena Cinta dombiza bp cerpen persahabatan Persahabatan Yang Hancur Karena Cinta oleh: Arum Nadia Hafifi Cinta itu memang kadang membuat orang lupa akan segalanya. Karena cinta kita relakan apapun yang kita miliki. Bagi kaum wanita mencintai itu lebih baik daripada dicintai. Jangan terlalu mengharapkan sesorang yang belum tentu mencintai kita tapi terimalah orang yang sudah mencintai kita apa adanya.
  • 22.
    Mencintai tapi takdicintai itu seperti olahraga lama-lama supaya kurus tapi hasilnya nggak kurus-kurus. Belajarlah mencintai diri sendiri sebelum anda mencintai orang lain. Gue Amel siswa kelas X. Dulu gue selalu menolak dan mengabaikan orang yang mencintai gue, tapi sekarang malah tebalik gue selalu diabaikan sama orang yang gue cintai. Gue suka sama teman sekelas gue dan plus dia itu teman dekat gue, udah lumayan lamalah. Cowok itu namanya Nino anak rohis. Gue suka sama dia berawal dari perkenalan terus berteman lama-lama dekat dan akhirnya gue jadi jatuh cinta gini. Oh iya gue punya temen namanya Arum, dia temen gue dari SMP. Arum gue dan Nino itu berteman dekat sejak masuk SMA. Suatu hari gue ngeliat Arum sama Nino itu bercanda bareng dan mereka akrab banget seperti orang pacaran. Jujur gue cemburu, tapi gue nyembunyiinn itu dari Arum. Lama-lama capek juga mendam rasa suka kayak gini. Akhirnya gue mutusin untuk cerita sama Arum. ``Rummmm gue mau ngomong sesuatu, tapi jangan bilang siapa-siapa`` ``Ngomong apa?`` tanya Arum `` Jujur gue suka sama Nino udah lama, dan gue cemburu kalo lo dekat sama Nino!`` Jawab Amel `` Lo suka Nino? Serius?`` Tanya Arum `` Iya, tapi lo jangan bilang Ninonya`` gertak Amel `` Iyaiya maaf ya kalo gue udah buat lo cemburu`` `` Okee `` Amel makin lama makin dekat dan Amel susah untuk ngelupain Nino. Amel berfikir Nino nggak akan pernah jatuh cinta sama Amel. Walau Amel udah ngerasa seperti itu tapi dia tetap berjuang. Tanpa disadari Arum ternyata juga suka sama Nino. Amel mengetahui kalo Arum suka sama Nino. Nggak disengaja Amel membaca buku diary Arum. Disitu tertulis curhatan Arum tentang perasaannya kepada Nino. Setelah Amel membaca buku diary Arum, dia merasa kecewa karena temen sendiri juga suka sama cowok
  • 23.
    yang sama. TapiAmel berfikir rasa suka itu datangnya tiba-tiba jadi siapa pun berhak untuk suka sama Nino. Amel tetap terus berjuang mengambil hati Nino, walau harapanya kecil. Di taman sekolah Amel melihat Arum dan Nino sedang berincang-bincang, tapi ini beda mereka terlihat serius. Amel penasaran dan akhirnya ia nguping dibalik pohon. ``Ruummm gue suka sama lo, lo mau nggak jadi pacar gue?`` Tanya Nino Arum kaget dia bingung harus jawab apa, tapi akhirnya Arum menerima Nino jadi pacarnya tanpa memikirkan perasaan Amel sahabatnya sendiri. `` Iya aku mau`` Jawab Arum Amel yang mendengar jawaban Arum dibalik pohon kaget, dia tak menyangka sahabatnya akan tega. Tanpa berfikir Amel keluar dari belakang pohon. `` Rumm lo pacaran sama Nino? Congrast ya lo udah bikin gue sakit hati`` Arum dan Nino kaget tiba-tiba Amel muncul dari belakang pohon dan bilang sperti itu. `` Maafin gue Mell, tapi gue cinta sama Nino`` `` Yaudahlah `` Amel langsung pergi meninggalkan Arum dan Nino. Perasaanya campur aduk nggak karuan, dia masih bingung kenapa temannya tega melakukan hal itu. Padahal Arum tau kalo Amel udah lama ngejar-ngejar Nino. Persahabatan bisa hancur begitu saja karena cinta. Utamakan sahabat mu daripada pacarmu karena orang yang bakal selalu ada disaat kamu senang dan susah itu sahabat. Persahabatn yang dijalin cukup lama bisa hancur seketika karena masalah cinta. Demikian cerpen persahabatan yang bisa saya sharing kali ini, semoga bisa menjadi bacaan yang menarik. inShare Title : Cerpen Persahabatan - Persahabatan Yang Hancur Karena Cinta Description : Persahabatan Yang Hancur Karena Cinta oleh: Arum Nadia Hafifi Cinta itu memang kadang membuat orang lupa akan segalanya. Karena cinta kit...
  • 24.
     Home  Teknologi Gadget  Review  Harga  Sepakbola  Liga Inggris  Liga Spanyol  Liga Italia  Entertainment  Gosip  Biodata Artis  Foto Artis  Menu  Submenu1  Submenu2  Submenu3  Statis  Error  Home Home » cerpen persahabatan » Cerpen Persahabatan - Cinta Para Sahabat Cerpen Persahabatan - Cinta Para Sahabat dombiza bp cerpen persahabatan Titipan Manis Dari Sahabat Oleh : Chacha Nurul, panggilan untuk seorang sahabat yang terpercaya buat Caca. Nurul yang kocak dan tomboy itu, sangat berbeda dengan karakter Caca yang feminim dan lugu. Mereka bertemu di salah satu asrama di sekolah mereka.
  • 25.
    Saat dihari jadiCaca, Nurul pamit ke pasar malam untuk mengambil sesuatu yang sudah dipesan buat sahabatnya itu. Caca menyetujuinya, dia pun menunggu Nurul hingga tengah malam menjelang. Caca yang mulai khawatir terhadap Nurul menyusul kepasar malam, hingga dia melihat yang seharusnya dia tidak lihat . Apa yang dilihat Caca? Dan apa yang terjadi dengan Nurul? “Aku luluuuuuus…” Teriak beberapa orang anak saat melihat papan pengumuman, termasuk juga Marsya Aqinah yang biasa disapa Caca. “Ih…nggak nyangka aku lulus juga, SMA lanjut dimana yah?” Ujarnya kegirangan langsung memikirkan SMA mana yang pantas buat dia. “Hai Ca, kamu lanjut dimana ntar?” Tanya seorang temannya “Dimana ajalah yang penting bisa sekolah, hehehe” Jawab Caca asal-asalan “Oooo…ya udah, aku pulang dulu yah” “Yah, aku juga dah mau pulang” Sesampainya dirumah Caca… Caca memberi salam masuk rumahnya dan langsung menuju kamar mungilnya. Dalam perjalanan menuju kamarnya, dia melihat Ayah dan Ibunya berbicara dengan seorang Udstazt ntah tentang apa. Caca yang cuek berjalan terus kekamarnya. Tak lama kemudian Ibu Caca pun memanggil…. “Caca…Ayah ma Ibu mau bicara, cepat ganti baju nak” “Iya bu, bentar lagi” Jawab Caca dari dalam kamarnya. Akhirnya Caca pun keluar… “Napa bu?” Tanya sambil duduk disamping Ibunya “Kamu lulus?” Tanya Ibunya kembali “Iya dong bu, nama Caca urutan kedua malah. Pasti Caca bebas tes kalo masuk di sekolah ternama deh” Jawab Caca percaya diri “Alhamdulillah, ehm…” Ucapan Ibu terhenti sejenak “Kenapa bu? Bukankah itu bagus?” Tanya Caca lagi sambil melihat Ibunya “Gini nak, kamu dak mau masuk asrama?” Tanya Ibu Caca sangat hati-hati “Loh ko’ ada asrama-asramaan sih bu?” Ujar Caca yang tanggapannya tentang asrama kurang bagus “Di asrama itu bagus Ca, bisa mandiri dan yang lebih bagus lagi bisa tinggal bareng teman- teman, tadi udstdz tadi ngomong kalo pendidikan agamanya disekolah asrama juga bagus” Kata Ayah Caca menjelaskan dan berusaha mengambil hati anaknya itu “Yaaaah ayah, terserah deh” Ucap Caca pasrah tidak ada niat untuk melawan ayahnya tersayang 2 bulan telah berlalu, setelah mengurus semuanya untuk memasuki asrama… Caca pun memasuki sekolah asrama yang telah diurus oleh Ayahnya, Caca berjalan di serambi- serambi asrama bareng Ayah dan Ibunya menuju asrama yang telah ditunjukkan untuknya. Akhirnya sampai juga…. “Ayah, ini asrama Caca?” Tanya Caca dengan raut wajah yang tidak setuju “Iya, kenapa?” Jawab Ayah Caca dan kembali bertanya “Tidak kenapa-napa ko’, namanya juga belajar mandiri” Ucap Caca tidak menginginkan kata-
  • 26.
    katanya menyinggung Ayahnya. “Jadiayah tinggal nih?”Ujar Ayah Caca “Iya ayah, Caca kan mau mandiri masa’ Caca nyuruh ayah nginap juga sih?” Kata Caca sedikit bercanda “Ya Udah, Ayah tinggal dulu” “Baik-baik ya anak Ibu, jangan nakal” Ujar Ibu berpesan Akhirnya beliau pergi juga setelah cipika cipiki, sekarang tinggal Caca yang merasa asing terhadap penghuni kamar 2 itu. Ada 4 orang termasuk Caca, yang 2 orang lainnya pun merasa seperti yang dirasakan Caca, kecuali cewe’ ditempat tidur itu kaya’nya dia senior deh. “Hai..Siswi baru juga yah?” Tanya Caca ke seorang yang agak tomboy tapi berambut panjang lurus “Hai juga..Iyah aku baru disini, namaku Nurul Utami, bisa dipanggil Nurul dan itu kaka’ aku Salsabila udah setahun disini” Jawab orang itu menjelaskan tanpa diminta dan mengaku dirinya bernama Nurul, sambil menunjuk kearah seorang yang tidur-tiduran tadi. “Aku Marsya Aqinah, bisa dipanggil Caca. Ooo pantas reaksinya biasa-biasa aja ama nih kamar, trus yang ntu sapa?” Tanya Caca lagi sambil menunjuk ke orang yang lagi asik membereskan baju- bajunya kelemari mungilnya “Ntah lah, orang baru juga tuh” Jawab Nurul berjalan mendekati orang yang dimaksud Caca “Hai aku Nurul, itu temanku Tata dan itu kaka’ku Salsa, kamu siapa?” Tanya Nurul dengan cerewetnya plus asal-asalan. “Woi…aku Caca, bukan Tata” Teriakku protes sambil manyun-manyun “Iya..iya.., itu Caca. Kamu belum jawab nama kamu sapa?” Tanya Nurul lagi “Aku Miftahul Jannah, bisa dipanggil Mita” Jawab Mita dengan senyuman yang muanis sangat. Nurul pun membalas senyum itu dengan senyuman yang hangat pula dan sikap yang sangat bersahabat. Sekarang Caca tau kenapa dia akan betah di kamar asrama ini, yah karena ada Nurul yang gokil banget. Suatu ketika Caca lagi nggak semangat, pasti ada Nurul dengan sikap konyolnya membuat Caca tertawa. Dan disaat Caca lagi mengalami kasmaran ada Nurul sebagai teman curhatnya. Seperti saat ini…. “Rul, ada nomer baru neh masuk dihape aku, katanya nama dia Ical, dia kenal aku dah lama dan sekarang dia cari rimba aku dimana gitu” Cerita Caca membuat Nurul kelepasan “Ha..ha..ha..ha..ha..ha.., beritahu aja dari hutan rimba” “Nurul, aku serius tau” “Aku duarius, ha..ha..ha” “Nurul kamu ngebete’in” “sori.. sori.., gini.. kamu jangan langsung termakan gombal dia gitu, ntar dijahatin baru tau rasa” Ucap Nurul menasehati, mirip ibu-ibu ‘hihihi’ “Ntar kalo aku termakan gombal, yah minum ajah teh botol sosro” Ujar Caca dengan lagak menirukan iklan yang di TV dan bisa membuat Nurul jengkel “Kamu ini diseriusin malah becanda” “Duluan juga kamu Rul, ha..ha..ha..” Kata-kata Caca rupanya membuat malapetaka bagi dirinya itu, yakni dengan adanya serbuan bantal dari Nurul. Kedua sahabat itupun saling lempar-lempar bantal hingga akhirnya mereka kecapean dan tertidur juga.
  • 27.
    “Damainya dunia kalomereka tidur” Ujar Salsa kaka’ Nurul yang dari memperhatikan mereka Seminggu kemudian…….. “Nuruuuul, tau ga’ aku jadian ma Ical pagi ini. Rupanya tuh orang temen aku dari SMP, aku jadiannya di café punya Meri, ih senang deh” Cerita Caca “Eh cepat banget, tapi baguslah,ehmm awas kalo dia kurang ajar, ntar aku yang ngajarin dia, he..he..he..” Tanggap Nurul senyum-senyum “Siplah, eh Ical punya teman cuakep abis, aku comblangin ke kamu yah” Usul Caca “Nggak Ah, masih senang dengan masa juomblo” Kata Nurul “Jomblo, bukan juomblo” Ucap Caca membenarkan “Iya…iya…yang itulah, he..he..he..” Kata Nurul “Kamu harus kenalan ma Ical, supaya sahabatku bisa ngedukung sepenuhnya” Ujar Caca “iya..iya.. Ntar kalo dia nelfon, kenalin aja ke aku” Ucap Nurul mengangguk-angguk Begitu seterusnya, Caca curhat terus tentang Ical ke Nurul, memperkenalkan Ical ke Nurul, hingga tak terasa berjalan 2 bulan “Nuruuuuuuuuuuuuul… bangun bangun banguuuuun, dah magrib” Teriakan Caca ditelinga Nurul itu betul-betul memekakan telinga. “Apaan sih Ca? Udah bangunin orang tanpa pamit, belom gosok gigi lagi” Ujar Nurul jengkel “Sori dori ye…ini Rul si Ical sms neh katanya ada kejutan buat aku. Duh apa yah?” Tanya Caca nutup mukanya sendiri “Meneketehe…” Jawab Nurul cuek abis angkat bahu “Ih Nurul, tanggapin donk. Buat sahabat kamu dikit senang bisa nggak sih?” Kata Caca mengguncang tubuh Nurul “Caranya?” Tanya Nurul sambil menguap “Puji ke’ ato apalah, yang penting aku bisa senang giitu” Jawab Caca milih-milih “o iya, ada cara” Kata Nurul tiba-tiba “Nah tuh kan ada” Ujar Caca menunggu sambil senyum-senyum “Iya ada, bantu beresin lemari buku aku” Ucap Nurul membuat Caca manyun “Ga da yang lain yah?” Tawar Caca “Ga da, ayolah Ca… Aku juga punya kejutan buat kamu besok, gimana?” Ucap Nurul kembali menawar sambil bangun dari tempat tidurnya “Okelah…demi kejutan” Kata Caca menyetujui Mereka berdua pun membereskan lemari buku milik Nurul. Terlihat Nurul memutar otaknya, memikirkan apa yang akan diberikan untuk sahabatnya besok. Yah besok hari jadi Caca yang ke-17 biasa juga disebut sweet seventeen, dimana Caca memasuki awal umur yang dewasa, jadi harus sesempurna mungkin. Sementara itu Caca yang selagi membereskan buku-buku Nurul dengan susunan yang rapi, sinar matanya malah terpaut pada satu buku lucu, imut dan wow…! warna pink, kesukaan Caca banget. Caca tidak menyangka kalau Nurul peranakan tomboy itu pelihara buku yang imut banget. Caca mengambil buku itu dan membaca sampulnya “My DiarY”. Caca senyum-senyum, pikirnya bahwa bisa juga cewe’ setomboy Nurul punya diary. “Rul, diary kamu nih?” tanya Caca Nurulpun balik “Iya…diary aku banget”
  • 28.
    “Buat aku yaRul” Pinta Caca dengan sejuta raut wajah imutnya “Kamu mau?” Tanya Nurul “Ya iyalah, ga’ mungkin dong aku minta kalo aku kaga’ mau” Jawab Caca berpanjang lebar “Ntar aku selesaiin isinya baru aku kasi ke kamu” Ujar Nurul “Ayolah Rul” Rengek Caca yang super manja “Aku janji Ca, buku tuh pasti kamu miliki. Sini bukunya” Pinta Nurul usai berjanji “Nurul pelit” Kata Caca ngambek “Aku kan dah janji Ca” “Janji yah?” Ujar Caca meyakinkan sambil mengacungkan kelingkingnya “Janji..! Lanjut yuk” Kata Nurul Sambil mengapit jari Caca dengan jari kelingkingnya “Iyah…Eh, Rul besok ada PR. Kamu dah jadi belom?” Tanya Caca kemudian “Belom, aku nyontek punyamu boleh?” “Ya boleh lah” “Aku juga titip besok dikumpulin, boleh?” “Boleh…eh mangnya kamu mau kemana Rul?” Tanya Caca lagi “Anak kecil ga boleh tau” Jawab Nurul “Uh…k’ Salsa, Nurul besok mau kemana?” Tanya Caca ke Salsa yang sedang tidur-tiduran “Ga tau juga” Jawab Salsa angkat bahu “Berarti k’ Salsa anak kecil juga donk, hi..hi..hi..” Bisik Caca sambil cekikikan “Udah, kalian tidur. Ntar penjaga asrama kontrol, tau ga tidur dimarahi loh” Ujar Salsa “Eh…Mita dimana k’?” Tanya Nurul ke Salsa “Tadi pamit ke asrama sebelah nginap” Keburu Caca jawab “Sapa juga yang nanya kamu?”Tanya Nurul “O…bukan aku yah? Abis panggil kaka’ sih, kira aku. He..he..he” Kata Caca “Anak kecil bisanya ngerasa doank” Ujar Nurul mencibir “Biarin…weak…aku bobo duluan yah?”Kata Caca sambil menguap dan bersiap-siap ditempat tidurnya “Akhirnya tenang juga” Ucap Nurul seakan-akan kekacauan sudah berakhir. Diapun bergegas ke tempat tidurnya dan membuka buku diarynya, dia menulis sesuatu dibukunya itu. Malam semakin larut, Nurul melihat jam wekernya yang menunjukkan pukul 01.30, lama kemudian akhirnya tertidur juga sesudah dia merapikan buku diarynya dan menyimpan di bawah bantalnya. Keesokan harinya……. Hari itu tampak cerah, Caca pergi kesekolah tanpa ditemani Nurul tidak seperti kemarin-kemarin. Nurul mesti pergi kesuatu tempat yang penting dan Caca tak boleh tau rencananya itu. Caca disekolah yang sebangku dengan Nurul mesti memeras otak sendiri tanpa ada teman yang diajak diskusi. Sampai bel pulang sekolah pun berbunyi, belum ada kabar dari Nurul. Salsa yang ditanya hanya angkat bahu. “Duh dah sore gini ko’ Nurul belum hubungi aku sih?” Gumam Caca sambil mencet-mencet hape dan ketika nomor Nurul yang didapat, Caca pun berniat menelpon “Nomor yang anda tuju…..” Jawaban telpon di seberang langsung ditutup oleh Caca sambil berceloteh “Operator, dimana tuh orang? Nomer dak diaktifin lagi”
  • 29.
    Caca pun masihsabar menunggu hingga malam pun larut. “Aku harus nyusul Nurul nih” Ujarnya sambil narik swetearnya dari jemuran dan pamit ke Salsa. Caca naik angkot ke pasar malam, dalam perjalanan pun dia rasa melihat 2 seorang yang sangat dia kenal di sebuah cafe. Caca langsung turun dengan muka yang merah padam menahan marah, setelah membayar angkot. Caca langsung menuju tempat duduk 2 orang tadi. “Nurul!!! Ical!!! ini yah kejutan dari kalian berdua untuk aku? Oke aku terkejut, sangat terkejut!!! Ical kita putus, dan kamu Rul. Percuma aku khawatirkan orang yang rebut pacar sahabatnya sendiri” Gertak Caca blak-blakan tanpa memberi kesempatan Nurul dan Ical bicara, Caca langsung pergi dari café itu dan naik angkot pulang keasramanya. Caca tak mau tau lagi apa yang akan terjadi setelah ini, Caca tiba diasrama dan langsung mehempaskan diri ketempat tidurnya sambil menangis sekuat dia, Salsapun berniat mendekat tapi bersamaan dengan itu, hape Salsapun berbunyi. “Halo?” Ujar Salsa yang tampak berbicara serius dengan penelpon diseberang “Iyah saya segera kesana” Kata Salsa mengakhiri pembicaraannya dengan penelpon tadi dan bergegas memberitahukan Caca “Ca, Nurul lagi……” Kata-kata Salsa terputus saat Caca memberi tanda untuk menyuruh Salsa pergi. Tanpa pikir panjang Salsa pun pergi dengan mata sembab, Caca tak tau apa alasannya yang jelasnya saat itu Caca merasakan sangat sakit didadanya. Salsa yang bergegas naik angkot itu sengaja mengirim pesan singkat ke hape Caca Triiit…triiit… Caca mengambil hapenya dan membaca isi pesan itu “Ca, Nurul masuk UGD, kalo kamu mau datang, langsung saja di RS Urip Sidoarjo ruang UGD” Caca mulai khawatir, biar bagaimana pun Nurul masih sahabatnya, dia langsung melupakan sakit yang tengah melanda dadanya itu dan bergegas menyusul ke rumah sakit yang disebutkan Salsa. Sepanjang perjalanan Caca berusaha menahan air matanya yang dari tadi mengalir sambil bergumam, “Nuruuul, kenapa sih kamu tega hianati aku?, kita memang sering becanda tapi ini lain, Rul. Aku sakit saat aku tau kamu hianati persahabatan kita. Sekarang ada kejutan apa lagi? Tadi aku liat kamu baik-baik aja bareng Ical, tapi kamu ko bisa masuk UGD sih? aku harap ini bukan permainan kamu semata hanya untuk minta maaf padaku. Ini tidak lucu lagi” Sesampainya dirumah sakit…… Caca langsung berlari menuju ruang UGD, Caca mendengar tangisan histeris yang keluar dari mulut Salsa. “Ada apa ini?” Gumam Caca yang membendung air mata, dia memasuki ruangan itu. Pertama dia melihat Ical dengan sebuah bungkusan imut ditangannya, “Pasti dari Nurul” pikir Caca. Sakit hatinya kembali muncul, lama dia pandang Ical hingga Ical berusaha mendekatinya tapi dengan tatapan sinis memendam rasa benci, Caca meninggalkan Ical yang matanya telah sembab. Cacapun berpikir bahwa sandiwara apa lagi yang Ical perlihatkan ke dia. Caca menarik nafas dalam-dalam dan kembali berjalan menuju tempat tidur yang terhalang tirai serba putih, Cacapun mengibaskan tirai itu, dia lihat disitu ada Salsa dan…… “Nuruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuul……” Teriak Caca histeris, serasa remuk tulang-tulang Caca saat melihat ditempat tidur diruangan UGD itu, terbaring seorang gadis tomboy, muka mulus tak tampak lagi,
  • 30.
    malah yang nampakhanyalah luka-luka dan muka yang hampir tak bisa dikenali, bersimbah darah tak bernyawa, rambut hitam lurus terurai begitu saja seakan membiarkan tuannya melumurinya dengan cairan merah yang mengalir dari kepala tuannya, jilbab yang tadi di kenakannya pun tak nampak warna dasarnya karena percikan darah. Caca memeluk sahabat yang paling disayanginya itu, ada rasa sesal dalam hatinya. Kenapa tidak membiarkan sahabatnya itu menjelaskan apa yang terjadi sebelum dia kelewat emosi?. Sesaat itu ada yang menggenggaman hangat lengannya, Caca tak menghiraukan, yang Caca pikirkan adalah rasa sesal dalam benaknya. Pemilik genggaman itupun menarik dan memeluknya, kemudian memberikan bingkisan imut yang ada ditangannya. “Nih bingkisan buat kamu, kejutan ini yang dari tadi pagi dicari Nurul dan baru dapat diluar kota, aku mengantar Nurul karena aku juga ingin memberikan kejutan kecil-kecilan buat kamu, tapi kamu datang saat aku dan dia merencanakan acara kejutan buat kamu” Jelas Ical sambil memeluk Caca yang semakin berlinang air matanya saat mengetahui apa isi dari bingkisan itu, buku diary imut, warna pink sesuai yang dijanjikan Nurul “Katanya kamu sangat menginginkan buku yang seperti miliknya, nah ini tandanya dia sangat sayang sahabatnya dan ga mau mengecewakan sahabatnya itu. Tapi tadi waktu kamu salah tanggap tentang di café itu, dia merasa bersalah banget, soalnya dia ga pamit dulu ke kamu sebelum minta bantuan ke aku. Dia panik karna takutnya kamu akan menganggap dia penghianat, akhirnya diapun mengejarmu tanpa peduliin ramainya kendaraan dan bus itu…………” penjelasan Ical terputus, dia tidak sanggup lagi meneruskan cerita tragis yang menimpa sahabat mereka itu. Caca pun masih membiarkan air matanya tetap mengalir di pipinya semakin deras. “Rul, napa mesti kamu jadi korban egonya aku?, sapa lagi dong yang dengerin curhat aku?, sapa lagi yang bisa aku ejek? perang bantal kita juga mesti dilanjut Rul, belum ada yang juara neh, he..he.., eh aku juga mau ngasih contekan kekamu ko’, Rul bangun dong…jangan becanda, ini ga lucu lagi. Sumpah ini ga lucu, Rul bangun, kamu napa sih? sukanya buat aku panik. Rul bangun dong” Ujar Caca setelah melepaskan pelukan Ical, senyum dan berbicara sendiri setelah itu kembali Caca memeluk jasad sahabatnya itu dan menangis sejadi-jadinya. Salsa mendekatinya dan memberikan sebuah buku diary milik Nurul “Kata Nurul, kalo dia tidak dapet buku yang mirip punya dia, buku diarynya ini buat kamu” Ujar Salsa Cacapun membuka buku kecil itu, tak sempat membaca halaman pertama, dia membuka beberapa lembaran berikutnya, hingga Caca pun membaca tulisan Nurul paling akhir. 13 Mei 2003, 01.00 pagi Dear Diary….. Aku dah dapet sahabat, kasih sayang sahabat. Tapi aku tak dapat memberikan apapun untuk sahabatku itu, ini hari jadi dia, dan dia menginginkan kamu diary, mungkin saja suatu saat aku berikan kamu ke dia, tapi itu suatu saat, hanya saja aku harus cari yang mirip denganmu untuk sahabatku. Aku minta tolong ke Ical mungkin juga dak apa-apa yah diary, diakan pacar sahabat aku berarti dia juga sahabat aku dong. Hahaha….hanya sebuah buku tapi kalo dia masih menginginkan kamu diary, mau tak mau aku harus
  • 31.
    ngasih kamu kedia.Nyawa akupun boleh yang penting sahabat aku senang, hahaha, Lebaaaaaaaay. Ya udah dulu diary aku ngantuk neh… Ga’ kelupaan “MET ULTAH CACA, MY FRIENDSHIP” Nurul Caca menutup diary Nurul, semakin berlinang air mata Caca. Yah apapun yang Nurul akan beri untuk Caca, bahkan nyawanya seperti sekarang yang Caca alami. Nurul takut kalo Caca menganggap dirinya berkhianat karena sudah lancang mengajak Ical untuk mengantarnya, hingga dia tak pedulikan lagi ramainya kendaraan dijalan yang membuat dirinya menghadap sang Ilahi. Esok harinya, jasad Nurulpun dimakamkan dikampung halamannya. Setelah dikebumikan, Caca mengusap kembali nisan sahabatnya sambil berlinang air mata. Tertulis dinisan itu “Nurul Utami binti Muh. Awal, Lahir 14 Mei 1989, Wafat 13 Mei 2003”, sehari sebelum hari jadinya. “Nurul, sahabat macam apa aku, hari jadi kamu pun aku tak tau, Rul selamat ulang tahun yah, hanya setangkai bunga dan kiriman doa yang dapat aku beri ke kamu, istirahat dengan tenang yah sahabatku” Ujar Caca sambil berdoa dan kemudian meninggalkan gundukan tanah yang masih merah itu. ##SELESAI## Sekian Cerpen Persahabatan yang sempat saya berikan kali ini, semoga bermanfaat. inShare Title : Cerpen Persahabatan - Cinta Para Sahabat Description : Titipan Manis Dari Sahabat Oleh : Chacha Nurul, panggilan untuk seorang sahabat yang terpercaya buat Caca. Nurul yang kocak dan tombo... Rating : 5  Home  Teknologi  Gadget  Review  Harga  Sepakbola  Liga Inggris  Liga Spanyol  Liga Italia
  • 32.
     Entertainment  Gosip Biodata Artis  Foto Artis  Menu  Submenu1  Submenu2  Submenu3  Statis  Error  Home Home » cerpen persahabatan » Cerpen Persahabatan - Sebuah Janji Cerpen Persahabatan - Sebuah Janji dombiza bp cerpen persahabatan Sebuah Janji Oleh: Rai Inamas Leoni “Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis…” *** Bel istirahat akan berakhir berapa menit lagi. Wina harus segera membawa buku tugas teman-temannya ke ruang guru sebelum bel berbunyi. Jabatan wakil ketua kelas membuatnya sibuk seperti ini. Gubrak…. Buku-buku yang dibawa Wina jatuh semua. Orang yang menabrak entah lari kemana. Jangankan menolongnya, meminta maaf pun tidak. “Sial! Lari nggak pakek mata apa ya...” rutuk Wina. Dengan wajah masam ia mulai jongkok untuk merapikan buku-buku yang terjatuh. Belum selesai Wina merapikan terdengar langkah kaki yang datang menghampirinya. “Kasian banget. Bukunya jatuh semua ya?” cemoh seorang cowok dengan senyum sinis. Sejenak Wina berhenti merapikan buku-buku, ia mencoba melihat orang yang berani mencemohnya. Ternyata dia lagi.
  • 33.
    Cowok berpostur tinggidengan rambut yang selalu berantakan. Sumpah! Wina benci banget sama cowok ini. Seumur hidup Wina nggak bakal bersikap baik sama cowok yang ada di depannya ini. Lalu Wina mulai melanjutkan merapikan buku tanpa menjawab pertanyaan cowok tersebut. Cowok tinggi itu sepintas mengernyitkan alisnya. Dan kembali ia tercenung karena cewek di depannya tidak menanggapi. Biasanya kalau Wina terpancing dengan omongannya, perang mulut pun akan terjadi dan takkan selesai sebelum seseorang datang melerai. Teeeett… Bel tanda berakhirnya jam istirahat terdengar nyaring. “Maksud hati pengen bantu temen gue yang jelek ini. Tapi apa daya udah keburu bel. Jadi sori nggak bisa bantu.” ucap cowok tersebut sambil menekan kata jelek di pertengahan kalimat. Cowok tersebut masih menunggu reaksi cewek yang ada di depannya. Tapi yang ditunggu tidak membalas dengan cemohan atau pun ejekan. “Lo berubah.” gumam cowok tersebut lalu berbalik bersiap masuk ke kelasnya. Begitu cowok itu membalikkan badannya, Wina yang sudah selesai membereskankan buku mulai memasang ancang-ancang. Dengan semangat 45 Wina mulai mengayunkan kaki kanannya kearah kaki kiri cowok tersebut dengan keras. “Adooooww” pekik cowok tersebut sambil menggerang kesakitan. “Makan tuh sakit!!” ejek Wina sambil berlari membawa buku-buku yang tadi sempat berserakan. Bisa dibayangkan gimana sakitnya tuh kaki. Secara Wina pakek kekuatan yang super duper keras. Senyum kemenangan menghiasi di wajah cewek tinggi kurus tersebut. *** “Wina….” Wina menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata dari kejauhan Amel teman baiknya sejak SMP sedang berlari kearahnya. Dengan santai Wina membalikkan badannya berjalan mencari motor matic kesayangannya. Ia sendiri lupa dimana menaruh motornya. Wina emang paling payah sama yang namanya mengingat sesuatu. Masih celingak-celinguk mencari motor, Amel malah menjitak kepalanya dari belakang. “Woe non, budeg ya? Nggak denger teriakan gue. Temen macem apaan yang nggak nyaut sapaan temennya sendiri.” ucap Amel dengan bibir monyong. Ciri khas cewek putih tersebut kalo lagi ngambek. “Sori deh Mel. Gue lagi bad mood, pengen cepet pulang.” “Bad mood? Jelas-jelas lo tadi bikin gempar satu kelas. Udah nendang kaki cowok ampe tuh cowok permisi pulang, nggak minta maaf lagi.” jelas Amel panjang lebar.
  • 34.
    “Hah? Sampe segitunya?Kan gue cuma nendang kakinya, masak segitu parahnya?” Wina benar-benar nggak nyangka. Masa sih keras banget? Tuh cowok ternyata bener-bener lembek, pikirnya dalam hati. “Nendang sih nendang tapi lo pakek tendangan super duper. Kasian Alex lho.” “Enak aja. Orang dia yang mulai duluan.” bantah Wina membela diri. Sejenak Amel terdiam, lalu berlahan bibirnya tersenyum tipis. “Kenapa sih kalian berdua selalu berantem? Masalahnya masih yang itu? Itu kan SMP. Dulu banget. ” ujar Amel polos, tanpa bermaksud mengingatkan kejadian yang lalu. “Lagi pula gue udah bisa nerima kalo Alex nggak suka sama gue.” “Tau ah gelap!” *** Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian panas tak menyurutkan niat para siswa SMA Harapan untuk bergegas pulang ke rumah. Wina sendiri sudah membereskan buku-bukunya. Sedangkan Amel masih berkutat pada buku catatanya lalu sesekali menoleh ke papan tulis. “Makanya kalo nulis jangan kayak kura-kura.” Dengan gemas Wina menjitak kepala Amel. “Duluan ya, Mel. Disuruh nyokap pulang cepet nih!” Amel hanya mendengus lalu kembali sibuk dengan catatanya. Saat Wina membuka pintu kelas, seseorang ternyata juga membuka pintu kelasnya dari luar. “Eh, sori..” ucap Wina kikuk. Tapi begitu sadar siapa orang yang ada di depannya, Wina langsung ngasi tampang jutek kepada orang itu. “Ngapaen lo kesini? Masih sakit kakinya? Apa cuma dilebih-lebihin biar kemaren pulang cepet? Hah? Jadi cowok kok banci baget!!!” Jujur Alex udah bosen kayak gini terus sama Wina. Dia pengen hubungannya dengan Wina bisa kembali seperti dulu. “Nggak usah cari gara-gara deh. Gue cuma mau cari Amel.” ucap Alex dingin sambil celingak celinguk mencari Amel. “Hey Mel!” ucap Alex riang begitu orang yang dicarinya nongol. “Hey juga. Jadi nih sekarang?” Amel sejenak melirik Wina. Lalu dilihatnya Alex mengangguk bertanda mengiyakan. “Win, kita duluan ya,” ujar Amel singkat. Wina hanya benggong lalu dengan cepat mengangguk. Dipandangi Amel dan Alex yang kian jauh. Entah kenapa, perasaanya jadi aneh setiap melihat mereka bersama. Seperti ada yang sakit di suatu organ tubuhnya. Biasanya Alex selalu mencari masalah dengannya. Namun kini berbeda. Alex tidak menggodanya dengan cemohan atau ejekan khasnya. Alex juga tidak menatapnya saat ia bicara. Seperti ada yang hilang. Seperti ada yang pergi dari dirinya. ***
  • 35.
    Byuuurr.. Fanta rasastowberry menggalir deras dari rambut Wina hingga menetes ke kemeja putihnya. Wina nggak bisa melawan. Ia kini ada di WC perempuan. Apalagi ini jam terakhir. Nggak ada yang akan bisa menolongnya sampai bel pulang berbunyi. “Maksud lo apa?” bentak Wina menantang. Ia nggak diterima di guyur kayak gini. “Belum kapok di guyur kayak gini?” balas cewek tersebut sambil menjambak rambut Wina. “Tha, mana fanta jeruk yang tadi?” ucap cewek itu lagi, tangan kanannya masih menjambak rambut Wina. Thata langsung memberi satu botol fanta jeruk yang sudah terbuka. “Lo mau gue siram lagi?” tanya cewek itu lagi. Halo??!! Nggak usah ditanya pun, orang bego juga tau. Mana ada orang yang secara sukarela mau berbasah ria dengan fanta stroberry atau pun jeruk? Teriak Wina dalam hati. Ia tau kalau cewek di depannya ini bernama Linda. Linda terkenal sesaentro sekolah karena keganasannya dalam hal melabrak orang. Yeah, dari pada ngelawan terus sekarat masuk rumah sakit, mending Wina diem aja. Ia juga tau kalo Linda satu kelas dengan Alex. Wait, wait.. Alex??? Jangan-jangan dia biang keladinya. Awas lo Lex, sampe gue tau lo biang keroknya. Gue bakal ngamuk entar di kelas lo! “Gue rasa, gue nggak ada masalah ama lo.” teriak Wina sambil mendorong Linda dengan sadisnya. Wina benar-benar nggak tahan sama perlakuan mereka. Bodo amat gue masuk rumah sakit. Yang jelas ni nenek lampir perlu dikasi pelajaran. Kedua teman Linda, Thata dan Mayang dengan sigap mencoba menahan Wina. Tapi Wina malah memberontak. “Buruan Lin, ntar kita ketahuan.” kata Mayang si cewek sawo mateng. Selang beberapa detik, Linda kembali mengguyur Wina dengan fanta jeruk. “Jauhin Alex. Gue tau lo berdua temenan dari SMP! Dulu lo pernah nolak Alex. Tapi kenapa lo sekarang nggak mau ngelepas Alex?!!” “Maksud lo?” ledek Wina sinis. “Gue nggak kenal kalian semua. Asal lo tau gue nggak ada apa-apa ama Alex. Lo nggak liat kerjaan gue ama tuh cowok sinting cuma berantem?” Plaakk.. Tamparan mulus mendarat di pipi Wina. “Tapi lo seneng kan?” teriak Linda tepat disebelah kuping Wina. Kesabaran Wina akhirnya sampai di level terbawah. Buuugg! Tonjokan Wina mengenai tepat di hidung Linda. Linda yang marah makin meledak. Perang dunia pun tak terelakan. Tiga banding satu. Jelas Wina kalah. Tak perlu lama, Wina sudah jatuh terduduk lemas. Rambutnya sudah basah dan sakit karena dijambak, pjpinya sakit kena tamparan. Kepalanya terasa pening.
  • 36.
    “Beraninya cuma keroyokan!”bentak seorang cowok dengan tegas. Serempak trio geng labrak menoleh untuk melihat orang itu, Wina juga ingin, tapi tertutup oleh Linda. Dari suaranya Wina sudah tau. Tapi Ia nggak tau bener apa salah. “Pergi lo semua. Sebelum gue laporin.” ujar cowok itu singkat. Samar-samar Wina melihat geng labrak pergi dengan buru-buru. Lalu cowok tadi menghampiri Wina dan membantunya untuk berdiri. “Lo nggak apa-apa kan, Win?” “Nggak apa-apa dari hongkong!?” *** Hujan rintik-rintik membasahi bumi. Wina dan Alex berada di ruang UKS. Wina membaringkan diri tempat tidur yang tersedia di UKS. Alex memegangi sapu tangan dingin yang diletakkan di sekitar pipi Wina. Wina lemas luar biasa. Kalau dia masih punya tenaga, dia nggak bakalan mau tangan Alex nyentuh pipinya sendiri. Tapi karena terpaksa. Mau gimana lagi. “Ntar lo pulang gimana?” tanya Alex polos. “Nggak gimana-mana. Pulang ya pulang.” jawab Wina jutek. Rasanya Wina makin benci sama yang namanya Alex. Gara-gara Alex dirinya dilabrak hidup-hidup. Tapi kalau Alex nggak datang. Mungkin dia bakal pingsan duluan sebelum ditemukan. “Tadi itu cewek lo ya?” ucap Wina dengan wajah jengkel. “Nggak.” “Trus kok dia malah ngelabrak gue? Isi nyuruh jauhin lo segala. Emang dia siapa? “ rutuk Wina kesal seribu kesal. Ups! Kok gue ngomong kayak gue nggak mau jauh-jauh ama Alex. Aduuuhh… Alex sejenak tersenyum. “Dia tuh cewek yang gue tolak. Jadi dia tau semuanya tentang gue dan termasuk tentang lo” ucap Alex sambil menunjuk Wina. Wina diam. Dia nggak tau harus ngapain setelah Alex menunjuknya. Padahal cuma nunjuk. “Ntar bisa pulang sendiri kan?” tanya Alex. “Bisalah. Emang lo mau nganter gue pulang?” “Emang lo kira gue udah lupa sama rumah lo? Jangan kira lo nolak gue terus gue depresi terus lupaen segala sesuatu tentang diri lo. Gue masih paham bener tentang diri lo. Malah perasaan gue masi sama kayak dulu.” jelas Alex sejelas-selasnya. Alex pikir sekarang udah saatnya ngungkapin unek-uneknya. “Lo ngomong kayak gitu lagi, gue tonjok jidat lo!” ancam Wina. Nih orang emang sinting. Gue baru kena
  • 37.
    musibah yang bikinkepala puyeng, malah dikasi obrolan yang makin puyeng. “Perasaan gue masih kayak dulu, belum berubah sedikit pun. Asal lo tau, gue selalu cari gara-gara ama lo itu ada maksudnya. Gue nggak pengen kita musuhan, diem-dieman, atau apalah. Pas lo nolak gue, gue nggak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, kita dapet sekolah yang sama. Gue coba buat nerima. Tapi nggak tau kenapa lo malah diemin gue. Akhirnya gue kesel, dan tanpa sadar gue malah ngajakin lo berantem.” Sejenak Alex menanrik nafas. “Lo mau nggak jadi pacar gue? Apapun jawabannya gue terima.” Hening sejenak diantara mereka berdua. “Kayaknya gue pulang duluan deh.” Ucap Wina sambil buru-buru mengambil tasnya. Inilah kebiasaan Wina, selalu mengelak selalu menghindar pada realita. Ia bener-bener nggak tau harus ngapaen. Dulu ia nolak Alex karena Amel juga suka Alex. Tapi sekarang? “Besok gue udah nggak sekolah disini. Gue pindah sekolah.” Alex berbicara tepat saat Wina sudah berada di ambang pintu UKS. Wina diam tak sanggup berkata-kata. Dilangkahkan kakinya pergi meninggalkan UKS. Meninggalkan Alex yang termenung sendiri. *** Kelas masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang baru datang. Diliriknya bangku sebelah. Amel belum datang. Wina sendiri tumben datang pagi. Biasanya ia datang 5 menit sebelum bel, disaat kelas sudah padat akan penduduk. Semalam Wina nggak bisa tidur. Entah kenapa bayangan Alex selalu terbesit di benaknya. Apa benar Alex pindah sekolah? Kenapa harus pindah? Peduli amat Alex mau pindah apa nggak, batin Wina. “Argggg… Kenapa sih gue mikir dia terus?” “Mikirin Alex maksud lo?” ucap Amel tiba-tiba udah ada disamping Wina. “Nih hadiah dari pangeran lo.” Dilihatnya Amel mengeluarkan kotak biru berukuran sedang. Karena penasaran dengan cepat Wina membuka kotak tersebut. Isinya bingkai foto bermotif rainbow dengan foto Wina dan Alex saat mengikuti MOS SMP didalamnya. Terdapat sebuah kertas. Dengan segera dibacanya surat tersebut. Dear wina, Inget ga pertama kali kita kenalan? Pas itu lo nangis gara-gara di hukum ama osis. Dalam hati gue ketawa, kok ada sih cewek cengeng kayak gini? Hehe.. kidding. Lo dulu pernah bilang pengen liat pelangi tapi ga pernah kesampaian. Semoga lo seneng sama pelangi yang ada di bingkai foto. Mungkin gue ga bisa nunjukin pelangi saat ini coz gue harus ikut ortu yang pindah tugas. Tapi suatu hari nanti gue bakal nunjukin ke lo gimana indahnya pelangi. Tunggu gue dua tahun lagi. Saat waktu itu tiba, ga ada alasan buat lo ga mau jadi pacar gue. “Kenapa lo nggak mau nerima dia? Gue tau lo suka Alex tapi lo nggak mau nyakitin gue.” sejenak Amel
  • 38.
    tersenyum. “Percaya deh,sekarang gue udah nggak ada rasa sama Alex. Dia cuma temen kecil gue dan nggak akan lebih.” “Thanks Mel. Lo emang sahabat terbaik gue.” ucap Wina tulus. “Tapi gue tetap pada prinsip gue.” Amel terlihat menerawang. “Jujur, waktu gue tau Alex suka sama lo dan cuma nganggep gue sebagai temen kecilnya. Gue pengen teriak sama semua orang, kenapa dunia nggak adil sama gue. Tapi seiring berjalannya waktu gue sadar kalo nggak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita.” senyum kembali menghiasi wajah mungilnya. “Dan lo harus janji sama gue kalo lo bakal jujur tentang persaan lo sama Alex. Janji?” lanjut Amel sambil mengangkat jari kelingkingnya. Ingin rasanya Wina menolak. Amel terlalu baik baginya. Dia sendiri tau sampai saat ini Amel belum sepenuhnya melupakan Alex. Tapi Wina juga tak ingin mengecewakan Amel. Berlahan diangkatnya jari kelingkingnya. “Janji..” gumam Wina lirih. *** By : Rai Inamas Leoni TTL : Denpasar, 08 Agustus 1995 Sekolah : SMA Negeri 7 Denpasar Blog : raiinamas.blogspot.com  Home  Teknologi  Gadget  Review  Harga  Sepakbola  Liga Inggris  Liga Spanyol  Liga Italia
  • 39.
     Entertainment  Gosip Biodata Artis  Foto Artis  Menu  Submenu1  Submenu2  Submenu3  Statis  Error  Home Home » cerpen persahabatan » Cerpen Persahabatan - Kado Terakhir Untuk Sahabat Cerpen Persahabatan - Kado Terakhir Untuk Sahabat dombiza bp cerpen persahabatan Berikut ini adalah sebuah cerpen persahabatan untuk melengkapi kumpulan cerpen di blog ini ... silahkan disimak ... KADO TERAKHIR UNTUK SAHABAT Karya Nurul Alma Febriyanti Lima hari sebelum kawanku pindah jauh disana. Selepas makan siang, aku langsung kembali beranjak ketempat aku bermain dengan sahabatku. “hei, kemana saja kamu? Daritadi aku nungguin” Tanya sahabatku yang bernama Alvi. “tadi aku makan siang dulu” jawabku sambil menahan perut yang penuh dengan makan siang “ah ya sudah, ayo kita lanjutkan saja mainnya” sahut Alvi. Tidak lama saat aku & Alvi sedang asyik bermain congklak, Rafid adiknya Alvi datang menghampiri kami berdua. “kak, aku pengen bilang” kata Rafid “bilang apa?” sahut Alvi penasaran “kata bapak, sebentar lagi kita pindahan” jawab Rafid “hah? Pindah kemana?” tanyaku memotong pembicaraan mereka “ke Bengkulu” jawab Rafid dengan singkatnya “ya udah kak, ayo disuruh pulang sama ibu buat makan siang dulu” ajak Rafid ke Alvi “iya deh.. ehm.. Alma, aku pulang dulu ya aku mau makan siang” ujar Alvi “eh, iya deh aku juga mau pulang kalau gitu” sahutku tak mau kalah. Sesampainya dirumah aku langsung masuk kedalam kamar & entah kenapa perkataan Rafid yang belum
  • 40.
    pasti tersebut, terlintaskembali ke pikiranku. “Andai perkataan tersebut benar, tak terbayang bagaimana perasaanku nanti” ujarku pada cermin yang menatapku datar “sudahlah daripada aku memikirkan yang belum pasti lebih baik aku mendengarkan musik saja” ujarku kembali sambil beranjak mengambil mp3. Tak lama kemudian aku mendengar sebuah pembicaraan, yang aku tau suaranya sudah tak asing lagi bagiku yaitu orang tuaku & orang tua Alvi sahabatku. Aku mencoba mendekati pintu kamar untuk mendengarkan pembicaraan itu. Tak lama tanganku keringat dingin, aku sudah mendapatkan inti pembicaraan ternyata benar apa yang dikatakan Rafid pada Alvi tadi siang bahwa mereka akan pindah kurang lebih sebulan lagi. Lemas sudah tubuhku setelah mendengar kabar itu, tiba-tiba ibu mengetuk kamarku & mengagetkanku yang sedang bingung itu. *Tok3X… “Alma, kamu mengunci pintu kamarmu ya” Tanya ibu sambil mencoba membuka pintu “enggak kok” jawabku dengan lemasnya “kamu kenapa.. ayoo buka kamarmu!!” teriak ibu “iya.. sebentar” sahutku sambil membuka pintu. “ngapain kamu mengunci kamar?” Tanya ibu. “gak knapa2… tadi aku memang lg duduk didepan pintu” jawabku sambil menoleh keruang tamu yang berhadapan dengan kamar tidurku. “ya sudah, tadi orang tuanya Alvi bilang kalau mereka ingin pindah bulan depan” “iya, aku sudah tau” sahutku kembali ke kamar tidur. “oh kamu tidak sedih kan?” Tanya ibu yang menghampiriku. “…” tak kujawab pertanyaan ibu. “hm.. sudahlah tak usah dibahas dulu.. sana tidur siang dulu biar nanti malam bisa mengerjakan PR” ujar ibu sembari mengelus elus rambutku. “iya…” jawabku singkat. Esoknya tepat dihari Minggu, matahari pagi menyambutku. Suara ayam berkokok dan jam beker menjadi satu. Tetapi, aku tetap saja masih ingin ditempat tidur. Sampai sampai ibuku memaksaku untyk tidak bermalas malasan. “Alma, ayoo bangun.. perempuan gak baik bangun kesiangan” ujar ibu sambil melipat selimutku. “sebentar dulu lah.. aku masih ngantuk” sahutku sambil menarik selimut ditangan ibu. “itu Alvi ngajak kamu main.. ayoo bangun!!” ujar ibu kembali sambil mengeleng gelengkan kepala. “oh oke oke” sahutku semangat karena ingat bahwa Alvi akan pindah sebulan lagi. Lalu, aku langsung beranjak dan segera lari keluar kamar tidur untuk mandi & sarapan. Setelah itu Alvi tiba-tiba menghampiri rumahku “Assalamualaikum, Alma!!” panggil Alvi dari depan rumah. “walaikumsallam, iya!!” sahut ibuku yang beranjak keluar rumah. “oh ibunya Alma, ada Alma nya gak?” Tanya Alvi. “Alma nya lagi sarapan, sebentar ya tunggu dulu aja. Sini masuk” jawab ibuku. “iya, terimakasih” sahut Alvi. Ketika aku sedang asyik asyiknya sarapan, Alvi mengagetkanku. “Alma, makan terus kau ini” ujar Alvi sambil tertawa. “yee, ngagetin saja kamu ini. Aku laper tau” sahutku sambil melanjutkan sarapan. “kok gak bagi-bagi aku sih” Tanya Alvi sambil menyengir kuda. “kamu mau, nih aku ambilin ya” jawabku sambil mengambil piring. “hahaha.. tidak, aku sudah makan, kau saja sana
  • 41.
    gendut” sahut Alvisambil tertawa terbahak bahak. “ ya sudah” jawabku kembali sambil membuang muka. Tak berapa lama kemudian, sarapanku habis lalu Alvi mengajakku bermain games. “sudah kan, ayoo main sekarang” ajak Alvi semangat. “aduh, sebentar dong. Perutku penuh sekali ini” sahutku lemas karena kebanyakan makan. “ah ayolah, makanya jangan makan banyak-banyak. Kalau gitu kapan mau dietnya” ujar Alvi menyindirku. “ya sudah ya sudah.. ayoo mau main apa?” ajakku masih malas. “Vietcong yuk tempur tempuran” jawab Alvi semangat seperti pahlawan jaman dulu. “hah, okedeh” sahutku sambil menyalakan laptop milik ayah. Kemudian, aku dan Alvi bermain games kesukaan kami berdua. Kami bermain bergantian, besar besaran skor, dll tidak berapa lama ibunya Alvi memanggilnya untuk pulang. “Assalamualaikum, ada Alvinya gak?” Tanya ibunya Alvi sambil tersenyum denganku. “ada-ada.. Alvi! ibumu mencarimu” kataku kepada Alvi yang sedang asyik bermain. “iya.. sebentar lagi, emangnya kenapa?” Tanya Alvi. “aku tidak tau, sana kamu pulang dulu. Kasian ibumu” ujarku sambil mematikan permainan. “huh… iya iya” sahut Alvi beranjak pulang kerumahnya. Tak berapa lama, Alvi mengagetkanku saat aku sedang asyik melanjutkan permainan yang sedang aku mainkan. “Alma!!” panggil Alvi sambil menepuk pundakku. “Apa??” jawabku kaget. “aku pengen bilang sesuatu nih, hentikan dulu mainannya” ujar Alvi. “iya!!” jawabku agak kesal. “jadi gini.. dengarkan ya… ternyata aku akan pindah 3 hari lagi” cerita Alvi. “hah? Kok dipercepat??” sahutku memotong pembicaraan Alvi. “aku juga tidak tau, kau sudah memotong pembicaraanku saja. Sudah ya aku harus pulang ini.. bye!” ujar Alvi beranjak keluar rumah. “tunggu!! Kau serius??” tanyaku dengan penuh ketidak percayaan. “serius.. dua rius malahan” jawab Alvi sambil memakai sandal. “oh ok.. bye!!” sahutku kembali. Setelah Alvi pulang kerumahnya, aku langsung lari masuk kedalam kamar & mengunci diri. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan sedangkan sahabatku sendiri ingin pindahan. Terlintas dipikiranku untuk memberikan Alvi sahabatku sebuah kado yang mungkin isinya bisa membuat Alvi mengingat persahabatan antara kita selamanya walaupun sampai akhir hayat nanti kita tak akan dipertemukan lagi. Ku ambil buku diary & kutuliskan cerita-cerita persahabatanku dengan Alvi. Tak lama kemudian , terpikirkan suatu hadiah yang akan kukasih dihari dia pindahan nanti lalu, aku ambil uang simpanan yang kusimpan didompetku & ku piker-pikir uangnya cukup untuk membelikan hadiah untuk Alvi. Besoknya sehabis pulang sekolah, aku langsung berlari ke toko sepatu dekat rumahku. Ku lihat-lihat sepatu yang cukup menarik perhatianku, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak yang menghampiriku. “hai nak, kamu mencari sepatu apa?” Tanya seorang bapak yang menurutku adalah pemilik took sepatu tersebut. “i..iya pak, maaf ada sepatu futsal tidak?” tanyaku sambil celingak celinguk kesegala rak sepatu. “oh, ada kok banyak.. untuk apa? Kok perempuan nyari sepatu futsal?” Tanya pemilik sepatu itu sambil tertawa melihatku yang masih polos. “bukan untukku pak, tapi untuk sahabatku” jawabku dengan polosnya. “teman yang baik ya, memangnya temanmu mau ulang tahun?” Tanya pemilik toko itu. Entah kapan pemilik toko itu berhenti bertanyaku.
  • 42.
    “iya” jawabku berbohongkarena tak mau ditanya-tanya lagi. “ok, sebentar ya. Bapak ambilkan dulu sepatu yang bagus untuk sahabatmu” ujar pemilik toko sepatu itu sambil berjalan ke sebuah rak sepatu. “sip, pak” sahutku. Tak lama, si pemilik toko sepatu itu kembali sambil membawa sepasang sepatu futsal. “ini nak!!” kata pemilik toko sepatu itu. “wah bagus sekali, berapa pak harganya?” tanyaku sambil melihat lihat sepatu yang dibawa oleh si pemilik toko itu. “bapak kasih murah nak untukmu.. ini aslinya Rp. 60.000 jadi kamu bayar Rp.20.000 saja nak” jawab si pemilik toko itu sambil tersenyum. “terima kasih banyak pak, ini uangnya” sahutku. “iya nak, sama-sama” ujar sipemilik toko tersebut. Setelah itu, aku kembali kerumah & mulai membungkus kado untuk Alvi. Mungkin ini hadiahya tidak seberapa, kutuliskan juga surat untuk Alvi. Malamnya aku masih memikirkan betapa sedihnya perasaanku nanti jika sahabatku pindah pasti tidak bisa bermain bersama lagi seketika air mataku menetes & tiba-tiba ibu mengetuk pintuku. “Alma, ayo kerjakan dulu PRmu nanti kemalaman” ujar Ibu dari depan pintu kamar tidurku. “i..iya” sahutku sambil mengelap tetesan air mata yang membasahi buku yang sedang aku baca. Saat itu pikiranku masih campur aduk entah harus senang, sedih atau apa. Aku tidak bias konsen mengerjakan PR malam itu. Besoknya disekolah, aku sering bengong sendiri sampai-sampai guruku bertanya kenapa aku seperti itu. Ku jawab saja dengan jawaban yang sangat singkat karena aku sedang memkikirkan bahwa besok lah dimana aku akan berpisah dengan sahabatku sendiri. Sepulang sekolah, aku langsung berlari memasuki kamar lagi, mengurung diri hingga malam. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku & kuintip lewat jendela kamar. Tak lama kemudian juga Ibu memanggilku untuk keluar kamar sebentar. “Alma, ayoo keluar sebentar. Ada Alvi nih” ajak ibu sambil membuka pintu kamarku. “iya…” jawabku beranjak keluar kamar. “nah kamu sudah disini, jadi begini besok kan Alvi mau pindah ayoo berpamitan dulu” ujar ibuku. “Alma!!” peluk ibunya Alvi kepadaku. “maafin tante sama Alvi beserta keluarga ya jika punya salah sama kamu, ini tante ada sesuatu buat kamu” kata ibunya Alvi sambil memberiku sekotak coklat. “i..i..iya” sahutku tak bisa menahan perasaan & sejenak kuingat bahwa aku juga punya hadiah untuk Alvi. “Alvi, ini ada hadiah buat kamu. Terima ya” ujarku mulai menangis. “iya. Alma jangan nangis dong” jawab Alvi. “aku..” sahutku semakin sedih. “sudah kamu tidak usah sedih nanti suatu saat kalian bisa ketemu kembali kok, ibu yakin” kata ibu sambil menghapus air mataku. “ya udah, Alma jangan nangis ya… oh iya ini tante kasih no telp. Tante biar nanti kalau Alma kangen sama Alvi bisa sms atau telepon ya” ujar ibunya Alvi sambil menghapus air matanya pula yang hendak menetes. “iya..” jawabku sambil masih menangis. Malam pun tiba, Alvi dan keluarganya pun berpamit & harus segera pulang. Aku pun kembali ke tempat
  • 43.
    tidur & mulaimenangis. Ku gigit bantal yang ada didekatku tak tahan aku melihat hal tadi. Esoknya, tepat dipagi hari. Suara mobil kijang mengagetkanku & bergegas aku keluar. Ku lihat Alvi & keluarganya sudah bersiap-siap untuk berangkat, tubuhku mulai lemas ibu pun mengagetkanku untuk segera bersiap siap sekolah. Sebenarnya aku ingin tidak sekolah dulu hari itu tapi bagaimana juga pendidikan yang utama. Aku bergegas kesekolah tapi sebelum itu, aku berpamitan dengan Alvi lagi. “Alvi!!” panggilku dari jauh. “Alma!!” jawabnya sambil mendekatiku. “jaga dirimu baik baik disana ya kawan, semoga banyak teman-teman barumu disana & jangan lupakan aku” ujarku mulai meneteskan air mata. “iya, kamu tenang. Kalau kamu sedih kepergianku ini tidak akan nyaman” sahutnya sambil memberiku tissue. “iya… terima kasih” jawabku kembali sambil menghapus airmata dengan tissue yang diberikan oleh Alvi. “oh iya Alma, thanks ya buat kadonya itu bagus banget… aku juga udah baca suratnya… terima kasih banyak ya… akan kujaga terus kado mu” ujar Alvi menatapku. “iya.. sama-sama karena mungkin itu kado terakhirku untukmu kawan” sahutku sambil tersenyum tak menunjukkan kesedihan lagi. “kau memang sahabat terbaikku selamanya” kata-kata terakhir Alvi yang ia ucapkan kepadaku. Disitulah aku berpisah & disitulah aku harus menempuh hidup baru, juga makna dari sebuah persahabatan tanpa menilai kekurangan seorang sahabat. ~Selesai~ PROFIL PENULIS Hi~ my name is Nurul Alma Febriyanti, but you can call me Alma. I was born on 13th of February 1999. this is my first short story telling that I have been published. I hope all of you like my short story... enjoy it! ;D and if you want to know more of me, you can follow my twitter >> @alma_fbrynt Demikian cerita pendek kali ini,.... silahkan baca juga kumpulan cerpen persahabatan yang lainnya... artikel terkait : cerpen persahabatan - sebuah janji cerpen persahabatan - rinduku kenanganku cerpen persahabatan - cinta para sahaba