1
2
Kata Pengantar
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas
terselesaikannya buku kumpulan cerpen dengan judul Kado buat
Elisa. Tak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih kepada
admin dan pengelola blog Kompasiana.com. Karena dengan
fasilitas blog gra snya penulis akhirnya mampu menuangkan
inspirasi dan imajinasinya dalam bentuk kumpulan cerpen dan
cermin.
Terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada Kang Khaliq
alias Mas Bhre yang telah melay-out buku dan mendesain cover.
Dan kepada seluruh rekan-rekan Kompasianer dan semua pihak
yang telah sudi membaca buku ini saya ucapkan banyak terima
kasih, mari dengan menulis dan membaca buku fiksi kita warnai
hidup kita agar semakin cerah dan bergairah. Op mis menatap
masa depan.
Semarang, 18 September 2014
Penulis
3
Daftar Isi
Da ar isi (3)
Bukan yang pertama (5)
Gantungan Kunci (10)
Kafe Merak 14
Pengemis Asli, Bukan Pengemis Bayaran (17)
Taman Kota (21)
Terlalu Indah (25)
Surat Cinta Dari Firdaus (32)
Shinta dan Bella (38)
Melon Café (44)
Lelaki Di usia Senja (51)
Kau Bukan Jodohku (57)
Kado Buat Elisa (63)
Guci Wasiat (69)
Bocah penjual Koran (75)
Api Cemburu (83)
4
Kumcer Agung Budi Santoso
Kado Buat Elisa
5
Bukan Yang Pertama
Ruang tamu itu tampak begitu ar s k. Di halaman depan
ada air mancur yang mengalir begitu gemericik. Menambah
syahdu malam ini. Di meja tamu ada lampu lilin di dalam gelas
berwarna merah. Tampak remang-remang. Namun ha ku semakin
tak menentu. Karena sudah ga bulan Nita belum menjawab
permintaanku.
“Beri aku waktu, Mas,” jawab Nita.
“Mengapa ? Kau masih ragu denganku ?” Aku semakin
penasaran dibuatnya.
Nita seorang janda muda, pegawai agen property yang
dicomblangkan kepadaku nampaknya masih butuh waktu untuk
menjawab ya atau dak tentang status hubunganku dengannya.
Sebagai lelaki aku harus sabar, karena belum begitu lama ia
bercerai dengan suaminya.
“Baiklah, Nit. Aku gak akan memaksa kok,” ucapku kepada
Nita.
“Bagaimana kalau jawabannya minggu depan ?”
Aku dibuat kaget oleh pernyataan Nita barusan. Ada perasaan
By
Agung B. Santoso
6
gembira dan tanda tanya besar. Gembira kalau seandainya
dia bisa menerimaku. Dan tanda tanya besar jika jawabannya
masih menggantung. Banyak teman Nita berkomentar kalau
kami ini sebenarnya pasangan yang cocok. Namun bagiku masih
menggantung karena ada se k keraguan di benak Nita.
***
Hingga tepat seminggu seper yang dijanjikan oleh Nita. Di
tempat yang sama, dan masih diterangi dengan lampu lilin yang
berwarna merah aku menan jawaban Nita.
“Mas, aku bisa menerimamu sebagai pasanganku. Tapi kau
tahukan, bahwa kau bukan yang pertama ?”
“Ya, aku tahu. Aku memang bukan yang pertama bagimu.”
Sejenak aku menghela nafas.
“Kamu tahu kan, Nit ? Sejak aku dicomblangkan denganmu aku
sudah yakin akan hidup bahagia denganmu.”
“Ah, bisa saja kamu ini. Tahu dari mana ?” Nita tersenyum kecil.
“Yah, ins ngku yang mengatakan.”
“Alah ins ng ngaco. Aku tuh masih ragu, Mas. Kamu hanya cinta
kepadaku. Tapi dak cinta dengan anakku.”
“Oh, jadi itu yang menjadikan kamu ragu ?”
Terjawab sudah apa yang selama ini diragukan oleh Nita.
Sebenarnya aku sudah harus menanggung resiko. Karena menikahi
seorang janda berar menikah satu paket. Ya, satu paket yaitu
ibu dan anaknya. Dalam ar an menikahi ibunya juga menyayangi
anaknya. Tidaklah mungkin aku menjadi ayah ri yang hanya senang
dengan ibunya tapi mengabaikan anaknya.
7
“Aku tahu Nit, sejak kau cerai dengan suamimu tentu aku nan
yang akan menjadi ayah buat anakmu.”
“Ini bukan rayuan gombalkan ?” Nita meledekku.
Aku terdiam. Aku bicara serius malah dibilang rayuan gombal.
Ya, sudahlah. Yang jelas Nita sudah memberi lampu hijau buatku.
“Nit, kamu tahu gak ?”
“Apa ?”
“Kalau boleh jujur, kamu pun bukan yang pertama buatku.”
“Jadi kamu juga pernah beristri ?”
“Ya,” jawabku singkat.
Semenjak perkenalan pertama aku memang masih
merahasiakan statusku. Nita belum tahu statusku. Dia hanya tahu
statusku sebagai pegawai. Dan teman Nita memang merahasiakan
hal itu. Biar dia tahu dari mulutku sendiri. Sejenak Nita terdiam.
“Kenapa ? Kamu nyesel kalau aku juga seorang duda ?”
“Ah, enggak. Ngapain nyesel ? Toh, nyatanya aku saat ini masih
di sampingmu kan ?”
Jawaban itu sungguh membuatku lega. Plong. Ingin kukecup
keningnya. Tapi aku mendadak mengurungkan niat itu. Dia tampak
heran, karena aku hanya bisa menatap wajahnya.
“Kenapa, Mas ? Kok meloto n aku tanpa kedip ?”
“Kau tampak can k dengan gaun malam ini, Nit. Tampak
seksi.”
“Ah, kamu mulai ngaco ngomongnya.”
8
Nita mencubitku. Terasa sakit. Tapi kali ini bagiku terasa
cubitan mesra. Hingga tak terasa tanganku sudah merangkul
pundaknya. Bibirku mulai mengarah ke bibirnya. Tapi mendadak
telunjuk Nita mengahalangi bibirku. Hingga batal sudah bibirku
untuk mencium bibirnya.
“Belum saatnya. Ntar tunggu tanggal mainnya, ya ?” ucap
Nita lirih ke telingaku.
***
9
Kumcer Agung Budi Santoso
Kado Buat Elisa
10
Gantungan Kunci
By
Agung B. Santoso
Sore itu aku sedang duduk santai sambil makan dan
minum Cappuccino di Dunkin Donut. Ya, berhen sejenak
untuk rehat setelah mondar-mandir mencari buku di Gramedia.
Alhamdulillah, buku yang aku cari pun ada. Dan setelah aku
beli, tak sabar rasanya ingin mengetahui isinya. Buku itu sangat
menarik. Hingga tak sadar ada orang menepuk punggungku dari
belakang.
“Hei…kamu Agung kan ? ” tanya seorang gadis berambut
panjang.
Lantas aku menoleh ke belakang. Aku kaget dan terkejut.
“Hmm..kamu siapa ya ?” Tanyaku kepada gadis itu.
“Masak kamu lupa sih ? Aku Sarah, temen SMA kamu dulu.
Pangling ya ?” balas gadis itu.
“Oh, kamu yang dulu pacaran dengan Mandala itu ya ?
Gimana kabarnya ? Sekarang di mana ?” Aku gan an bertanya
kepada Sarah. Sejenak dia terdiam. Entah dia mau berkata apa.
Yang jelas dia nampaknya ingin menunjukkan sesuatu padaku.
Dan ba- ba dari dalam tas kecilnya dia mengambil gantungan
11
kunci. Ya, kunci dengan simbol daun Maple bertuliskan kata
Vancouver. Dan gantungan kunci itu dikasihkan kepadaku sambil
berucap :
“Aku sudah putus lama sekali dengan Mandala !” jawab Sarah.
“Terus ? ” Aku bertanya semakin penasaran.
“Ya, kisahku dengan Mandala sudah selesai. Kami putus semasa
kuliah. Dia lebih memilih Maya ke mbang aku.”
“Maya ? Siapa dia ?” Aku bertanya lagi.
“Oh, ya. Kamu gak bakalan tahu siapa Maya. Dia temenku
sekampus,”jawab Sarah.
Sambil memesan donat dan minuman panas Sarah kembali
bercerita kepadaku. Dia mengisahkan perjalanan cintanya dengan
Mandala yang putus di tengah jalan. Dan ketahuan akhirnya kalau
Mandala memang punya bakat playboy sejak SMA. Yah, wajarlah
kalau Sarah memilih putus dengan Mandala. Dan setelah lulus
kuliah Sarah menemukan jodoh orang bule. Suaminya seorang
engineer perminyakan dari Kanada. Wuihh….pantes saja gantungan
kunci yang diberikan kepadaku bertuliskan kata “Vancouver “
“Kamu gak dengan suamimu ke Gramedia ini ?” tanyaku lagi
kepada Sarah.
“Ah..enggak lah. Dia lebih senang stay di rumah kok.”
“Terus kamu nggal di mana ?”
“Untuk sementara aku di Semarang. Tapi 3 bulan lagi aku ikut
suami ke Vancouver.”
Dalam ha aku berfikir. Wah…bahagia sekali nampaknya
kehidupan Sarah. Tak terasa kami ngobrol di Dunkin sudah lebih
12
dari 30 menit. Dan kami pun sepakat untuk pulang setelah semua
makanan dan minuman dibayar Sarah. Sebenarnya aku mau bayar
sendiri, tapi nampaknya Sarah lagi berbaik ha padaku. Dan lagian
bagi Sarah uang itu terlalu kecil dibanding penghasilanku saat ini.
Hmmm…Sarah kamu gadis lucu yang dulu selalu aku godain dan
selalu uring-uringan ternyata dapat suami bule yang kaya raya.
Dan gantungan kunci pemberian dari Sarah sampai saat ini masih
tersimpan rapi di laciku. Sambil kalau aku ingat buku yang aku beli
di Gramedia, aku juga ingat kata “Vancouver” di atas gantungan
kunci itu.
13
Kumcer Agung Budi Santoso
Kado Buat Elisa
14
Kafe Merak
By
Agung B. Santoso
Tak biasanya kafe ini sepi pengunjung. Aku dan temanku
pernah berkunjung ke tempat ini sebelumnya. Setelah duduk
dan memesan makanan serta minuman, kurebahkan badanku
di kursi kafe yang mirip seper sofa. Ahh, empuk benar kursi ini.
Lalu kuambil sebatang rokok. Kunyalakan api dan kusulut sigaret
yang tadi sudah lama tersembunyi di dalam saku.
“Kopi Cappuccino satu, French Fries satu, Nasi Goreng plus
Pisang Karamel, ya Pak ?” ucap waitress kepadaku.
Aku hanya mengangguk pertanda setuju. Sejenak
kuterdiam. Memandang lelaki setengah baya duduk di sudut
kafe. Nampaknya dia memesan minuman bir. Tampak ada satu
botol bir besar di mejanya. Tak hen -hen nya dia menghisap
rokok. Apakah dia lagi galau ? Pikirku dalam ha .
Hingga pesanan datang. Aku dan temanku lantas
menikma sajian yang ada di depan meja. Sampai makanan
habis, nampaknya lelaki setengah baya itu belum beranjak
dari kursinya. Di depannya botol bir besar masih ada separuh.
Gila…lelaki itu pas lagi galau ngkat nggi. Aku tak berani
menyapanya. Hingga setelah aku tepat di depan kasir untuk
membayar billing. Aku bertanya kepada kasir.
15
“Lelaki di pojok kafe itu nampaknya lagi galau ya Mbak ?”
tanyaku kepada kasir.
“Oh, lelaki dengan jaket kulit itu ya Pak ?” tanya kasir
kepadaku.
Aku mengiyakan.
“Lelaki itu sudah seminggu sering ke kafe ini. Dia baru dicerai
istrinya,” jawab kasir.
Kasihan sekali, pikirku dalam ha . Tanpa berpikir panjang
aku dan temanku meninggalkan kafe. Meninggalkan kafe dengan
lelaki setengah baya yang sedang dirundung perasaan sedih
karena dicerai istrinya. Oh, kafe Merak. Ternyata pengunjungmu
sungguh beraneka. Dan kali ini seorang lelaki dengan jaket kulit.
Tapi sayang. Kafe mewah ini tak lengkap rasanya karena lelaki
berjaket kulit itu sedang sedih di nggal istri tercinta.
***
16
Kumcer Agung Budi Santoso
Kado Buat Elisa
17
Pengemis Asli, Bukan
Pengemis Bayaran
By
Agung B. Santoso
Siang itu dengan terik sinar mentari sungguh terasa kulit ini
sangat terbakar. Kulihat jam tangan menunjuk pukul 13.00. Hu …
sungguh melelahkan siang ini. Di pinggir trotoar di perempatan
traffic light kulihat seorang pengemis dengan pakaian seadanya.
Tangannya tengadah ke atas membawa sebuah kaleng bekas
sebagai tempat koin rupiah dari para penderma yang menaruh
belas kasih padanya. Sepeda motor yang aku kendari sejenak
berhen karena lampu lalu lintas sedang berwarna merah.
Kupandangi wajah pengemis tadi. Kasihan sekali kau Pak Pengemis.
Di dalam ha , aku menaruh perasaan iba kepadanya. Tanpa basa-
basi, aku ambil uang seadanya di saku celana. Kuberikan langsung
dan setelah lampu lalu lintas berwarna hijau kembali saya melaju
ke kantor pos karena hendak mengirimkan beberapa paket dari
bos saya.
Sepulang dari kantor pos, saya masih melihat Pak Pengemis
tadi tetap bertahan di trotoar melawan teriknya sinar mentari
dan berjuang mendapatkan koin rupiah supaya penuh. Benarkah
18
dia pengemis asli ? Jika dilihat dari kostumnya memang terlihat
pengemis asli. Saya mulai tertarik mengama perilaku pengemis
ini se ap berangkat dan pulang dari kantor. Saya pun dak se ap
hari memberikan koin kepada pengemis ini. Takut jadi kebiasaan.
Selang beberapa bulan terdengar kabar ada razia pengemis
dan pedagang asongan di seputar lampu lalu lintas oleh Satpol
PP. Mereka dirazia, diangkut ke atas truk Satpol PP. Entah untuk
apa. Apakah akan didata atau dipukuli atau diberi pengarahan atau
bahkan akan ditampung dinas sosial ? Aku belum tahu. Keesokan
harinya saya baca koran, ternyata dari ratusan pengemis yang
dirazia ada beberapa pengemis kedapatan menyimpan uang jutaan
rupiah. Hah ? Keningku mengerut. Terkejut sambil keheranan.
Lantas aku berfikir kepada Pak Pengemis yang membawa kaleng
bekas di trotoar lampu lalu lintas. Berapa ya koin yang ada di
kaleng bekas Pak Pengemis itu se ap bulannya. Adakah 500 ribu
per bulannya. Ah, dak tahu. Tanya saja kepada Pak Satpol PP yang
merazia dia.
***
Pada kesempatan siskamling di kampung saya kebetulan
dapat giliran jaga siskamling. Kebetulan juga saya satu m dengan
Pak Satpol PP. Tetapi bukan satpol PP yang merazia pengemis
pembawa kaleng bekas tadi. Karena kebetulan tetangga saya ada
juga yang berprofesi sebagai satpol PP.
“Malam mas”, sapaku kepada Mas Satpol PP.
“O, mas Kamto. Malam juga, Mas”, balas tetangga saya.
Sambilmerogohkantongkuambilrokokdankamipunmerokok
bersama di pos kamling.
“Mas, kemarin lusa baca koran tetang razia pengemis, gak ?,”
aku mengawali pembicaraan.
19
“Oh, yang tempo hari kedapatan pengemis memiliki uang
jutaan rupiah itu ya.”
“Ya”, jawabku singkat.
“Yah, itulah Mas. Saya juga heran. Dari razia yang ada
memang akhirnya terbongkar juga. Ada juga pengemis yang
diorganisir.”
“Hah, diorganisir ?”
Saya malah tambah keheranan. Dari penjelasan Pak Satpol
PP memang unik para gepeng tadi. Gepeng adalah is lah untuk
gelandangan dan pengemis. Tidak semua pengemis yang dirazia
adalah benar-benar pengemis yang memang perlu ditampung
oleh dinas sosial. Kesimpulannya ada pengemis palsu dan
pengemis asli. Saya tersenyum dalam ha . Seandainya diminta
memilih pun saya dak mau punya profesi sebagai pengemis.
Wong, mengajukan pinjaman KTA alias Kredit Tanpa Agunan saja
kalau dak benar-benar kepepet saya dak mau.
Malam terasa semakin larut. Kami membicangkan soal
gepeng seakan tak ada habisnya. Entah sudah menghabiskan
berapa batang rokok. Yang jelas saya dan tetangga saya itu
semakin betah berada di pos kamling. Hingga tak terasa jam
tanganku sudah menunjuk pukul 03.00 dini hari.
“Mas, pulang yuk. Giliran kita sudah selesai nih.”
“Yuk, saya juga besok harus berangkat pagi ke kantor.”
Kami pun sepakat beranjak dari pos kamling. Kulangkahkan
kaki ke rumah. Dan Pak Satpol PP pun pulang ke rumah dengan
arah yang berbeda. Karena rumah dia terletak berbeda gang
dengan rumahku namun masih dalam satu RT.
***
20
Seminggu sudah tak sengaja saya singgah ke dinas sosial.
Di papan pengumuman terdapat pengumuman da ar gepeng
yang ditampung di situ. Terdapat sebuah nama yang menarik
perha an saya. Nama itu “Suripto”. Alamat dak jelas. Ke ka
saya tanya kepada petugas. Terkejut saya melihat foto Suripto.
Lho, ini kan pengemis yang se ap harinya berada di trotoar
lampu lalu lintas. Saya mulai menyelidik Suripto. Walhasil
ketemu sudah. Dia sekarang nggal di rumah susun sumbangan
pemerintah yang khusus dihuni oleh para gepeng.
Dan nasib pun sudah berubah. Dia jadi pedangan nasi
kucing dan nggal di rumah susun. Wah, kalau ini mungkin
termasuk golongan pengemis asli pikir saya. Karena dia mau
merubah nasib dan ikut anjuran dinas sosial. Tidak selamanya
ia mau jadi pengemis. Dia berani merubah nasib walau jadi
pedagang nasi kucing. Dan dengar-dengar angsuran rumah
susun yang dijadikan tempat bernaung juga ringan. Karena misi
rumah susun adalah mengentaskan para gepeng. Dan saya pun
dak hendak menginves gasi dari mana Suripto mendapatkan
modal. Yang jelas saya ikut senang. Suripto sudah berubah.
Berubah menjadi Suripto pedagang nasi kucing. Bukan lagi
Suripto pembawa kaleng bekas di trotoar lampu lintas. Selamat
Suriptosemogahidupmulebihbermaknadan dakmenyandang
predikat gepeng.
***
21
Taman Kota
By
Agung B. Santoso
Sudah ga kali aku lewat taman kota ini dan pas banyak
muda mudi duduk-duduk santai di taman itu. Kupikir dalam ha
betapa enaknya masa-masa remaja. Memadu kasih dengan pacar
begitu mesra. Hingga entah bisikan apa kali ini aku singgah ke
taman kota itu. Yah, ada pedagang kaki lima yang berjualan di
situ. Penjual es dawet dan bakso nampak sibuk sekali melayani
pembeli. Langsung saja aku menuju ke penjual bakso.
“Mas, baksonya satu,” pintaku kepada penjual bakso.
“Ya, Pak. Sekalian es dawetnya ?” jawab penjual bakso.
“Ya, boleh lah sekalian.”
Setelah pesan bakso aku lantas menuju ke kursi taman yang
sudah tersedia di situ. Taman ini sangat rindang oleh tanaman
peneduh kota. Ada pohon beringin yang sudah tua usianya.
Terlihat dari batangnya yang besar dan akarnya yang menjulur
dari dahan hingga ke bawah. Pantas saja banyak pengunjung
yang da ng ke sini. Suasana sejuk dan sangat nyaman buat santai,
apalagi menikma bakso yang hangat di tambah es dawet.
Tak lama kemudian mataku tertuju kepada wanita berbaju
merah pelayan penjual bakso. Dadanya nampak tersembul. Kaus
22
merahnya tertuliskan tulisan yang membuat aku berani berkata
jahil kepada wanita itu. “Daripada punya pacar stress, lebih
baik jomblo tapi banyak duit” begitulah tulisannya. Lantas aku
nyeletuk, “Beneran nih mbak lebih baik jomblo dari pada punya
pacar stress ?” tanyaku.
“Maksudnya ?” tanya wanita itu.
Sambil menunjuk ke dadanya aku kembali membaca lagi
tulisan yang ada di kaus merah wanita itu. Wanita itu tertawa.
“Ah, Bapak ini bisa aja,” jawab wanita itu.
“Loh, mata saya gak salah kan membaca tulisan itu ?”
Mendengar aku bercanda dengan pelayannya, Abang penjual
bakso lantas menimpali.
“Hahaha….Bapak ini iseng membaca tulisannya atau melihat
bukit kembarnya ?”
“Yah, salah sendiri pakai kaus dengan tulisan itu. Gak salah
kan ?” Aku pun tertawa. Wanita pelayan itu nampak tersipu malu
sambil mengantarkan semangkuk bakso dan es dawet.
Lalu aku pun menyantap bakso dan tak lupa mengambil posisi
duduk yang nyaman. Baru lima menit aku menyantap bakso ba-
ba di pundakku ada yang menepuk.
“Pantes saja kamu suka mampir ke sini ya..Ton !”
Aku menoleh ke belakang. “Oh, ternyata kamu Hen. Ngapain
kamu ke sini ?”
“Lah kamu sendiri ngapain godain pelayan bakso itu ?” tanya
Hendra.
23
Ya,Hendranampaknyatadisudahmelihatwaktuakumeledek
si pelayan bakso tadi. Dan aku baru tahu kalau Hendra juga suka
iseng ngodain pelayan itu. Yah, seksi memang wanita itu. Tak
heran kalau banyak lelaki mampir ke taman kota ini sekedar ingin
iseng godain pelayan bakso sambil menikma suasana taman
yang sangat sejuk.
“Kamu sudah pesan bakso ?” tanyaku kepada Hendra.
“Sudah,” jawab Hendra.
“Ngomong-ngomong kamu sering mampir ke sini ya ?”
tanyaku.
“Lah, kamu sendiri ? Sudah berapa kali ?”
“Sialan kamu Hen…ditanya malah balik tanya. Aku baru kali
ini kok. Kalau sekedar lewat sih sering,” jawabku sekenanya.
“Aku pelanggan se a, bro…” jawab Hendra.
“O, gara-gara cewek berbaju merah itu atau karena banyak
orang nongkrong di sini ?”
“Ah, bisa aja kamu, Ton.”
Lalu Hendra menjelaskan kepadaku alasan kenapa dia
sering mampir ke taman kota ini. Taman kota ini memang cocok
buat nongkrong di samping sangat rindang dan sejuk, banyak
pengunjungnya wajahnya bening-bening. Aku berpikir dasar mata
gak boleh merem, Hendra memang paling doyan kalau melihat
yang bening-bening. Hingga tak sadar aku hampir menghabiskan
semangkuk baksoku. Lebih dari setengah jam aku ngobrol dengan
Hendra. Ternyata kami punya selera yang sama. Suka yang bening-
bening. Hehehe……..
***
24
Kumcer Agung Budi Santoso
Kado Buat Elisa
25
Terlalu Indah
By
Agung B. Santoso
Mentari sore mulai condong ke arah barat. Aku dan Edo mulai
mengemasi peralatan theodolit dan tripod. Setelah memas kan
semua alat dak ada yang ter nggal kami segera pulang menuju
posko di mana para surveyor nggal untuk mengerjakan proyek
jalanlingkar.Tepatnyahampir gabulankamimenjalanipekerjaan
ini. Namun sudah banyak kisah roman s yang aku jalani.
Semenjak perkenalan pertama dengan Marni si gadis desa
yang kebetulan anak dari Bapak Kades. Gadis itu tak pernah
absen menemaniku di posko ke ka pekerjaan survey telah usai.
“Bang, surveynya udah kelar ?” tanya Marni kepadaku.
“Hmmm…kira-kira seminggu lagi as built drawingnya selesai,
Mar,” jawabku.
“Wah, kalau gitu kita gak bakalan ketemu lagi dong.”
“Yah, namanya proyek, Mar. Selalu pindah-pindah gak
bakalan menetap di suatu tempat. Mana kala proyek usai, ya…
pindah lah ke tempat yang lain.”
26
Sejenak Marni terdiam. Dia memandangku sangat serius. Lalu
tangannya berusaha mengambil sesuatu di dalam kranjang yang
sudah ia bawa sejak tadi.
“Bang, ini ada pisang baru me k dari kebun. Pisangnya masak
di pohon lho ?”
Marni segera mengulurkan setandan buah pisang kepadaku.
Sungguh perha an sekali gadis ini. Jangan-jangan ada niat
tersembunyi dibalik semua itu. Tapi aku segera menghapus
prasangka itu. Karena aku tak mungkin berpikir nakal. Aku sudah
menjadi seorang ayah. Tak mungkin aku bercinta manakala aku
jauh dari istriku.
“Wah, kamu kok repot-repot sih, Mar ?”
“Gak, apa-apa, Bang. Kan bisa dimakan rame-rame buat
begadang nan malam,” sahut Marni.
Iya juga sih pikirku dalam ha . Kami di posko memang hampir
tak pernah ke luar malam-malam. Yah, maklum suasana desa
berbeda dengan kota. Di sini tak ada warung yang buka sampai
malam hari. Kalau mau minum kopi dan bikin mie rebus ya terpaksa
deh masak sendiri di posko. Setelah memberikan setandan pisang,
Marni lantas berpamitan kepadaku.
“Sampai besok pagi ya, Bang,” ucap Marni.
“Ya, terima kasih, ya…..,” balasku kepada Marni.
***
Suara adzan subuh sudah berkumandang. Dengan sedikit
malas-malasan kubuka mata ini. Lantas aku pun bergegas untuk
sholat subuh berjamaah di mushola desa. Yah, tradisi masyarakat
desa ini selalu melaksanakan sholat berjamaah ke ka subuh.
Ditemani Edo, aku mengambil shaf diurutan kedua, dan di
27
samping kiri dengan dibatasi kain tampak shaf perempuan. Setelah
shalat selesai aku sempat melihat kehadiran Marni di mushola itu.
Namun aku tak menyapa gadis itu. Karena nampaknya Marni sangat
terburu-buru. Lalu aku dan Edo pun segera melangkah menuju
posko untuk kembali menyiapkan peralatan buat survey di siang
hari.
“Her, nampaknya si Marni ada perha an special ya ke kamu ? “
tanya Edo kepadaku.
“Ah, tahu dari mana kamu ?”
“Kamu tuh berlagak pilon atau emang dak tahu ? Sejak kamu
kenal pertama kali, sampai sekarang. Kalau kagak ada perha an,
mana mungkin Marni ap sore main ke posko kita ?”
“Ya, juga sih. Tapi kalau aku ladeni bisa gawat nih, Do. Mau aku
kemanakan istriku ?”
“Alah….sikat aja. Kan istrimu dak tahu ?” bujuk Edo.
“Gila kamu !”
Sampai saat ini sebenarnya perkenalanku dengan Marni
kuanggap sebagai hubungan kakak-adik. Tidak lebih. Tapi kalau
Marni mulai ada rasa denganku, bisa gawat. Karena dia belum tahu
siapa aku. Aku belum bicara kalau aku ini sudah menjadi seorang
ayah.
***
Hingga suatu hari, tepatnya Minggu siang. Marni mengajakku
untuk hang out. Karena Minggu dak ada perkerjaan proyek aku
mau saja diajak Marni untuk sekedar melepas penat di sebuah air
terjun yang tak jauh dari desa Marni.
“Bang, kita santai di sini ya ?”
28
“OK,” jawabku singkat.
Sejenak kupandangi sekeliling air terjun. Tampak banyak pohon
jambu monyet. Dengan air terjun yang mengalir begitu derasnya.
Mulai terasa hawa dingin merasuk ke tubuhku. Rasanya aku ingin
mandi di bawah air terjun itu. Tapi Marni melarangku.
“Jangan, Bang. Jangan mandi di sini. Konon tempat ini agak
angker. Jadi tak ada orang yang berani mandi di air terjun ini, “ ucap
Marni.
“Lalu kenapa kau mengajakku ke tempat ini ?”
“Yah, itung-itung uji nyali, Bang.”
Tempat ini memang sunyi. Hanya terdengar suara air terjun
dan sekali-kali terdengar kicauan burung yang bertengger di atas
pohon. Aku dan Marni duduk di atas batu besar sambil melihat ke
atas. Memandang bu ran-bu ran air terjun yang jatuh ke bawah.
Airnya bening, sebening wajah Marni yang kini ada di depanku.
“Bang, aku boleh tanya nggak ?”
“Tanya apa ?”
“Aku sebenarnya sudah lama memendam perasaan sayang
dengan abang. Abang, mau kan jadi kekasih, Marni ?”
Ucapan Marni ini begitu mengejutkanku. Jarang ada gadis desa
yang begitu polosnya mengucap kata sayang kepada lelaki. Biasanya
gadis desa itu malu-malu tapi mau. Tapi Marni dak. Dia secara
terang-terangan memintaku untuk jadi kekasihnya. Aku mendadak
tak bisa menjawab pertayaan Marni. Antara bicara jujur atau dak.
Karena statusku bukanlah seorang jomblo seper Edo.
“Mar, aku belum bisa jawab.”
“Kenapa ?” desak Marni.
29
Mungkin dia sengaja mengajakku ke sini supaya dia bisa lepas
mengatakan uneg-unegnya. Tapi sejenak kuberpikir aku terlalu
jauh bermain api dengan Marni. Aku dak tahu apa reaksi Marni
kalau dia tahu sebenarnya aku sudah beristri.
“Yuk, kita naik ke atas bukit itu.”
Sambil menunjuk ke arah bukit. Aku menggandeng tangan
Marni. Sengaja aku mengalihkan pertanyaan Marni. Aku masih
ingin merahasiakan iden tasku. Hingga kami pulang, pertanyaan
Marni masih menggantung. Belum terjawab sama sekali. Aku tak
ingin melukai perasaan Marni.
***
Tinggal satu hari lagi aku harus kembali ke kota, karena
pekerjaan survey hampir usai. Aku nggal membuat laporan
pekerjaan dan execu ve summary. Dan aku mulai berpikir untuk
berterus terang saja dengan Marni. Tapi dak secara lisan. Di
posko, yang kebetulan lagi tak ada orang. Aku mulai menulis surat
buat Marni.
Marni, adikku tersayang. Abang sebenarnya tak hendak
menggantungkan hubungan ini. Abang takut melukai perasaan
Marni. Lewat surat ini abang mau bilang bahwa abang tak
mungkin membalas cinta Marni. Karena abang bukanlah seorang
jomblo seper Edo. Abang sudah beristri. Sekali lagi mohon maaf
ya …? Abang tak berani secara lisan ngomong soal ini.
Salam sayang, dari abangmu.
Heri.
Surat singkat itu aku lem di dalam amplop. Lalu sengaja aku
meminta Edo untuk menyampaikannya kepada Marni. Biarlah
hanya Edo yang tahu apa reaksi Marni. Yang jelas dilema di
30
kepalaku sudah hilang. Tak peduli apa kata Marni. Biar dia bilang
aku begitu pengecut. Tapi aku tak sampai ha melukai perasaan
Marni.
Tanpa sepengetahuan Marni, aku pun meninggalkan posko
di desa. Posko dengan sejuta kenangan. Biarlah Edo nan yang
akan jadi saksi. Yang jelas kenangan bersama Marni menjadi kisah
tersendiri bagiku. Kenangan manis di se ap proyek yang aku lalui.
***
31
Kumcer Agung Budi Santoso
Kado Buat Elisa
32
Surat Cinta dari FirdausBy
Agung B. Santoso
Imam Masjid Besar Kauman telah selesai mengucapkan
salam dan diiku oleh makmum. Vicky yang berada di barisan
makmum perempuan dak lantas cabut dari masjid. Dengan
ru nitas dzikir dan wirid ia masih duduk bersimpuh di Masjid
Besar Kauman. Entah berapa lama dia berdoa. Berbeda dengan
Firdaus yang berdoa dak terlalu lama. Kelihatannya Firdaus
termasuk golongan jamaah yang berdoa dengan paket kilat
khusus.
Vicky dan Firdaus adalah dua di antara anggota remaja
Masjid Besar Kauman yang tetap ru n menjalankan shalat
jamaah di masjid. Mereka dak peduli dengan kata orang. Banyak
yang mengatakan mereka sok alim, sok suci dan lain sebagainya.
Yah, selain mereka bersahabat nampaknya Firdaus mulai jatuh
ha dengan Vicky. Dan Vicky pun tahu kalau sebenarnya Firdaus
mulai ada rasa dengannya. Hanya saja Firdaus agak malu-malu
untuk bicara terus terang.
Pada suatu acara bazaar pasar murah yang diselenggarakan
oleh Masjid Kauman kebetulan mereka bertemu lagi dalam
suatu kepani aan. Ya, Firdaus menjadi ketua pani a. Sedang
33
Vicky menjadi bendahara pani a. Tak banyak remaja masjid yang
menjadi pengurus in . Yang lain hanya menjadi anggota sekretaris
bidang. Dan Vicky yang sudah lama mengenal Firdaus tak terlalu
canggung jika dalam suatu rapat mereka duduk beradu argumen
jika di dalam menentukan anggaran belanja kepani aan terjadi
perbedaan pendapat.
AcarabazaarpasarmurahjatuhpadahariMinggupagisampai
sore. Perha an Vicky malah tertuju kepada Rizal Mantovani yang
kebetulan membidangi bagian perlengkapan dan sound system.
Ya, tak heran jika Rizal Mantovani sangat tepat mengurusi perkap
dan sound system, sebab dia adalah anak semester akhir jurusan
Elektro di Universitas ternama di kota Vicky dan Firdaus. Firdaus
menjadi ketua pani a karena memang dari segi ilmu agama dan
kepemimpinan lebih menonjol dibanding Rizal.
Tak terasa acara yang begitu meriah berlangsung sukses dan
sesuai rencana. Sungguh bahagia sekali suasana saat itu. Para
anggota remaja masjid yang terlibat pada acara bazaar pasar
murah itu merasa plong. Acara berjalan lancar dak mendapat
suatu kendala apa pun.
***
Tibalah saatnya pada acara pembubaran pani a bazaar, trio
remaja masjid itu bertemu di ruang rapat Masjid Kauman untuk
membahas tentang laporan pertanggung jawaban kegiatan
kepadaTakmirMasjidBesarKauman.Rizalyangnampakmenonjol
di bidang komputer selalu menjadi tempat bertanya bagi Vicky.
Jika ada computer masjid yang bermasalah pas Rizal ditelpon
untuk dimintai tolong sekedar memperbaiki dimana letak
kerusakan computer. Dari mulai kena virus computer, computer
hang, masalah printer, computer lemot, dan gak ada flask disk
karena flash disk sering hilang dipinjam anggota yang lain.
PadasaatVickysudahselesaimenge kLPJkeuangankegiatan
34
bazaar pasar murah. Vicky mengalami kesulitan. Ya, printer gak
mau ngeprint, padahal kertas A4 sudah dimasukkan dan macet
di saat proses prin ng berjalan. Tak heran jika Vicky langsung
nelfon Rizal untuk segera memperbaiki printer yang macet tadi.
“Zal, tolong dong ke ruang Takmir,” pinta Vicky memanggil
untuk datang ke masjid.
“Ya, ada apa sih ? Gangguin orang aja. Lagi enak main game
nih,” jawab Rizal seenaknya.
“Please, tolong nih printer ngambek gak mau ngeprint !”
“OK, segera meluncur. Nan apa bonusnya ?,” tanya Rizal.
“Gampang deh, martabak telor satu piring, “jawab Vicky
enteng.
Yah, gara-gara membetulkan masalah printer yang lagi
paper jam hubungan Rizal dan Vicky semakin akrab. Berbeda
dengan Firdaus. Vicky lebih sering berantem dan berdebat
dengan Firdaus. Hanya karena Firdaus orangnya terlalu kaku
dalam menentukan kebijakan anggaran belanja kepani aan.
Sedikit-sedikit nggak boleh, sedikit-sedikit gak boleh. Sebel
jadinya Vicky sama Firdaus. Walaupun sebenarnya Firdaus dan
Rizal juga sama-sama ganteng. Dan banyak anggota remaja
masjid yang sering membincangkan hubungan mereka. Ada
salah satu teman Vicky yang menanyakan perihal Firdaus dan
Rizal.
“Vick, sebenarnya kamu lebih senang dengan siapa sih ?
Rizal atau Firdaus ?”, tanya Tina sahabat karib Vicky.
Vicky hanya diam tak bisa menjawab. Dia belum
menentukan pilihan. Ya, karena mereka ber ga sebenarnya
masih kuliah semua. Mereka masih berhubungan sebagai
35
sebatas teman dak lebih dari itu. Namun lama kelamaan teman-
teman Vicky mulai tahu kalau sebenarnya Vicky lebih senang
dengan Rizal. Karena Rizal orangnya serius tapi santai punya
sense of humor yang nggi.
***
Dua tahun sudah mereka menjadi pengurus remaja Masjid
Besar Kauman. Dan mereka pun sudah di wisuda dari tempat
mereka kuliah di perguruan nggi. Dan menurut kabar yang
sudah pas kebenarannya Rizal lulus dengan predikat sangat
memuaskan. Rizal diterima sebagai karyawan di PT. PLN (persero)
sebagai tenaga IT dan sedang menjalani masa proba on selama
ga bulan. Sedang Vicky diterima sebagai tenaga marke ng suatu
perguruan nggi swasta di kotanya. Firdaus yang kelihatannya
lebih serius menekuni bidang keagamaan akhirnya bekerja di
sebuah BMT di kelurahan tempat mereka ber ga berdomisili.
Firdaus mendengar Rizal diterima di PT. PLN (persero) dak ada
perasaan iri dan dengki. Justru ia ikut senang dan bangga. Firdaus
mengucap selamat kepada Rizal.
Namun yang membuat Firdaus kaget adalah ke ka dia
mendengar kabar bahwa Vicky dan Rizal sudah bertunangan
dan akan melangsungkan pernikahan di bulan Dzulhijjah. Bagai
disambar pe r perasaan Firdaus. Tak disangka tak diduga.
Ternyata bidadari pujaannya lebih memilih Rizal ke mbang
dirinya. Namun Firdaus tak menaruh rasa dendam kepada Vicky.
Ke ka acara pernikahan Rizal dan Vicky berlangsung di bulan
Dzulhijjah. Firdaus sempat menghadiri pesta pernikahan Rizal
dan Vicky.
Namun di dalam sebuah amplop pu h bersih seharum
mela Firdaus menempatkan surat rahasia. Firdaus memasukkan
amplop itu ke dalam kotak di depan meja resepsionis. Hanya
Firdaus yang tahu isi di dalam amplop tersebut. Dan ke ka acara
36
pesta pernikahan usai dan semua bubar. Baik pani a pengan n
dan rombongan famili terlelap dalam dur. Vicky terbangun.
Pandangannya tertuju kepada amplop pu h dengan aroma
mela . Vicky pun mengambilnya, dengan penasaran ia mulai
membuka amplop dan mulai membaca. Trada !!! Vicky dak bisa
memahami apa isi surat di dalam amplop tadi. Karena ditulis
dengan bahasa aneh. Tulisan itu lalu ditunjukkan kepada suami
Vicky alias Rizal Mantovani. Kening Rizal mengkerut membaca
tulisan :
“Adakudu sedebedenadarnyada cinditada sadamada
kadamudu tadapidi kadaredenada kadamudu ledebidih
medemidilidih Ridizadal sududadahladah adakudu redelada.
Sedeladamadat medenedempuduh hididudup badarudu.”
“Wah, aku juga nggak nger nih,”jawab Rizal.
“Lah, katanya anak Elektro. Kok gitu aja gak tahu ?”, tanya
Vicky.
“Ah, sudahlah. Yang jelas itu bukan bahasa Arab. Pas itu
bahasa Indonesia,”jawab Rizal enteng.
Dan Rizal pun ter dur kembali karena telah melewa
malam pertama bersama Vicky. Sampai saat ini pun Vicky masih
penasaran dibuatnya. Ya, surat Firdaus menjadi misteri di dalam
kehidupan Vicky.
37
Kumcer Agung Budi Santoso
Kado Buat Elisa
38
Shinta dan Bella
By
Agung B. Santoso
Hari Senin ini kantorku kedatangan dua siswi SMK. Namanya
ShintadanBella.Akutakheranpas duasiswiitumaumengajukan
proposal magang kerja. Kok tahu ? Ya, tahu dong wong datangnya
aja diantar sama Pak Satpam.
“Pak, ini ada dua siswi mau mengajukan proposal magang,”
kata Pak Satpam.
“Oh, ya ? Silakan masuk ke ruangan saya,” balasku.
“Ya, Pak.”
Sambil menutup pintu Pak Satpam meninggalkan ruanganku.
Tak berapa lama dua siswi SMK yang can k-can k itu segera
masuk ke ruangan.
“Yang namanya Shinta mana ya ? “
“Saya Pak,” jawab Shinta yang berambut panjang.
“Terus yang namanya Bella mana ? “
39
“Saya Pak, “ jawab Bella yang berambut pendek.
Setelah membaca proposal magang. Nampaknya dua
siswi SMK ini mengambil prodi TKJ. Dan dari proposalnya saya
tahu, mereka hendak mempelajari system jaringan dan seputar
troubleshoo ng dalam perawatan PC. Secara prinsip dua siswi itu
bisa diterima magang, maka saya minta kepada Mbak Mirna untuk
segera membuat surat balasan kepada Kepala Sekolah mereka.
“Mbak Mirna tolong buatkan surat balasan ke SMK Bina
Nusantara yang isinya kita menerima dua siswi ini untuk magang
di kantor kita,” pintaku kepada Mbak Mirna.
“Ya, Pak”
“Oh, ya. Sekalian beritahukan kepada mereka untuk mulai
masuk ke kantor kita minggu depan. Dan nan bisa didampingi
oleh Mas Hendra.”
“Baik,Pak, “ jawab Mbak Mirna.
Mbak Mirna segera menge k surat balasan dan dikasihkan
kepada Shinta dan Bella. Tak lama kemudian mereka pun mohon
diri untuk kembali ke sekolah. Dan berjanji akan mematuhi segala
peraturan yang ada, baik yang ada di kantorku maupun tata ter b
yang telah dibuat oleh sekolah mereka.
***
Program magang kerja yang diselenggarakan oleh SMK Bina
Nusantara berlangsung dua bulan. Sejauh ini kedua siswi tersebut
dengan Mas Hendra nampak dekat dan dak terdapat masalah.
Mereka mengiku segala instruksi yang diberikan oleh Hendra
dan sesekali mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan jika
mereka belum tahu. Shinta nampaknya lebih menonjol dibanding
Bella. Namun Bella lebih menguasai di bidang perawatan PC,
sedang Shinta lebih menguasai soal jaringan apalagi soal internet
40
nampaknya ia lebih gaul. Dan akhirnya saya tahu ternyata di
rumah Shinta juga berlangganan internet. Dan kalau ke kantor
pun kadang dia juga membawa netbook dengan modem USB.
“Shinta, sebenarnya kamu tak perlu membawa netbook
segala kalau lagi magang,” perintahku.
“Lha, memang kenapa Pak ?”
“Ya, kan di kantor ini system jaringan sudah lengkap. Apalagi
sudah ada Wifi.”
“Ok, deh Pak. Kalau bawa netbook saja gimana tanpa
modem ? Kan saya bisa manfaa n Wifi di kantor tanpa pakai PC
kantor ?”
“Gak apa-apa sih. Yang pen ng manfaatkan sebaik-baiknya
mumpung kamu magang di kantor ini.”
Dua minggu pelaksanaan magang sudah berlangsung dan
nampaknya Mas Hendra mulai ada rasa dengan Shinta. Saya
yang diam-diam memata-matai mereka mulai curiga. Jangan-
jangan mereka menjalani cinta lokasi. Hmmmm…benar gak ya.
Dan saya tak kehilangan akal. Pada waktu is rahat makan siang
kebetulan Hendra mengajak Shinta makan siang di luar. Dan Bella
tetap di kantor menikma catering yang sudah disediakan oleh
kantorku. Langsung saya tanya kepada Bella tentang hubungan
Shinta dan Hendra.
“Bell, kelihatannya Shinta dan Hendra ada cinlok ya ?,”
selidikku kepada Bella.
“Gak tahu tuh, Pak. Kelihatannya sih iya,” jawab Bella.
“Hmm…tapi kok kalau pulang magang kamu tetep berdua
dengan Shinta ?”
41
“Yah, kan rumah Shinta dengan rumah saya berdekatan dan
masih satu jurusan.”
“Oh, gitu ya ?”
Aku mulai menganalisa untuk kemudian menunggu
hasilnya. Namun aku tak hendak melarang kalau mereka
menjalin hubungan cinlok. Sudah wajarlah kalau mereka mulai
saling memberi perha an yang lebih dari sekedar teman.
***
Tak ada hujan tak ada badai kulihat wajah Hendra kelihatan
suntuk banget. Lain daripada yang lain. Hendra biasanya
selalu ceria dan penuh dengan humor kalau lagi kerja. Aku
memberanikan diri bertanya kepada Hendra.
“Hen, kok tumben kamu lesu banget ?” tanyaku.
“Ah, biasa Pak. Lagi bete, “jawab Hendra sekenanya.
“Lah, bukannya kamu lagi pedekate dengan Shinta ?”
“Shinta ? Shinta yang mana ? Yang anak magang itu ?”
“Lho memang kamu gak ada rasa dengan dia ? “ tanyaku
penasaran.
“Ah..dia sudah punya boy friend Pak.”
“Lho tahu dari mana kamu ?” selidikku.
“Ya, secara gak sengaja. Pas malam minggu saya ketemu dia
di mall pergi nonton film dengan cowoknya.”
“Kamu sempet tanya ke Shinta ?” tanyaku kepada Hendra.
“Ya, malah Shinta-nya sendiri kok yang ngenalin cowoknya
ke saya. Habis gitu bergandengan mesraaa….banget.”
42
“Ya, udahlah. Santai saja. Cewek banyak di dunia ini. Tetap
semangat kerja ya,” hiburku kepada Hendra.
***
De k-de k menjelang magang usai Shinta dan Bella masih
nampak enjoy menerima segala ilmu yang diberikan oleh Hendra.
Ya, semenjak Hendra tahu kalau Shinta sudah punya pacar, Hendra
mulai jaga jarak dengan Shinta. Hendra masih bisa professional
dalam bekerja. Dan sebagai teknisi jaringan Hendra memang
karyawan andalan di kantorku. Aku salut dengan Hendra.
“Hen, ga hari lagi mereka selesai magang lho ?” godaku
kepada Hendra.
“Ah, Bapak bisa aja. Emangnya kenapa Pak.”
“Kamu gak kasih kenang-kenangan ke Shinta ?” tanyaku
kepada Hendra.
“Kenangan apa ? Yah, paling cuma UTP cable tester aja Pak,
“jawab Hendra.
“Yah, bagus lah. Apalagi kayaknya Shinta jago banget kalau
ngurusi jaringan computer.”
Hari Kamis adalah hari terakhir Shinta dan Bella magang
di kantorku. Mereka dijemput oleh guru pembimbingnya. Dan
gurunya memberi kenang-kenangan berupa plakat kerja praktek
ke kantorku. Tak lupa aku juga mengucapkan terima kasih kepada
guru mereka. Karena selama magang Shinta dan Bella dak terlalu
resek dan ter b mematuhi peraturan yang ada. Apalagi bolos pun
dak pernah. Dan nampaknya Hendra sebagai instruktur telah
memberi nilai baik kepada mereka berdua. Selamat ya Shinta
dan Bella. Namun Hendra kelihatan agak sedih karena cinlok
yang telah dibina berakhir dengan kenangan pahit. Sebab Shinta
sebagai dewi pujaan ha ternyata sudah punya cowok. Jangan
bersedih Hendra. Semoga suatu ke ka kau dapatkan dewi pujaan
43
Kumcer Agung Budi Santoso
Kado Buat Elisa
44
Melon CaféBy
Agung B. Santoso
Tepat pukul 16.00 aku beranjak untuk meninggalkan kantor.
Ya, sepulang dari kantor Monika mengajak untuk ketemuan
di Melon Café. Café yang bersih dan terkenal dengan fasilitas
free wifi. Apalagi pelayannya juga masih muda-muda dengan
seragam warna cerah yang dak sepet dipandang mata.
“Mon, mau minum apa ? ” tanyaku setelah duduk di kursi
dengan meja nomor 12.
“Terserah kamu aja deh. Aku lagi no other choice,” jawab
Monika.
“OK, deh kalau gitu aku pesenin juice Alpukat aja sama
French Fries ya ?”
Monika mengangguk pertanda ia setuju dengan
penawaranku. Aku sebenarnya rada penasaran juga mengapa
Monika mengajakku untuk nongkrong di café itu. Sambil
menunggu pesanan makanan dan minuman yang belum
datang, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Monika.
45
“Eh, Mon. Tadi kamu telpon dan ngajak ketemuan di Melon
Café ini sebenarnya ada apa sih ?”
“Yah, mau curhat aja sih. Emang kamu nggak mau ya
ketemuan sama aku ?” Monika malah balik bertanya kepadaku.
“Ya, bukan begitu. Masalahnya akhir-akhir ini kok kamu
pengin ketemu aku terus itu sebenarnya ada apa. Ada masalah ya
dengan suamimu ? ” selidikku kepada Monika.
“Ah, enggak. Aku fine-fine aja kok dengan suamiku. Aku lagi
ada masalah dengan Nico.”
Jawaban Monika sungguh mengejutkanku. Setahuku Nico
adalah mantan pacar Monika sewaktu masih SMA. Dan kisah
mereka juga sudah putus ke ka mereka sudah kuliah karena
mereka dak berada di kampus yang sama.
“Bukankah kamu sudah nggak ada story lagi dengan Nico ? “
“Nah, itu lah Bob. Aku mengalami CLBK ! ” jawab Monika.
“Hah, apaan tuh CLBK ? ” tanyaku penasaran.
“Ah, masak kamu gak tahu sih ? Cinta Lama Bersemi Kembali
!”
“Oh, itu. Lah..kok bisa terjadi CLBK. Emang siapa yang mulai
duluan ?”
Monika mulai bercerita kepadaku dari A sampai Z. Dan
aku mulai paham sekarang. Ternyata Nico yang mulai duluan.
Sebenarnya Monika hanya berempa saja kepada Nico. Karena
Nico tak beruntung memiliki istri bernama Melani. Istri Nico
ternyata seorang pemboros. Se ap uang yang diberikan kepada
Melani dari hasil kerja keras Nico tak pernah tersisa sedikit pun.
Selalu saja habis buat belanja. Dan ternyata istri Nico memang
paling hobi belanja ke mall.
46
Karena waktu sudah lumayan larut, dan jam tanganku
pun sudah menunjukkan pukul 18.00. Maka kami pun segera
mengakhiri obrolan CLBK antara Monika dan Nico. Sebenarnya
Monika ingin curhat lebih lama tapi ia sudah janji dengan anak-
anaknya untuk dak pulang ke rumah sampai larut malam.
Monika segera menuju ke mobil Avanza warna hitam, sementara
aku menuju ke tempat parkir sepeda motor yang tak jauh dari
lokasi mobil Monika. Dan curhat yang singkat itu akan berlanjut
di tempat yang sama di esok hari. Karena Monika nampaknya
sangat butuh saran dan pendapatku tentang masalah CLBK yang
dialaminya dengan Nico.
***
Sesuai janji yang sudah kusepaka . Melon Café adalah
saksi bisu antara aku dan Monika. Dan nampaknya Monika
sudah nggak sabar menungguku di café itu. Dia datang lebih
awal dariku. Ke ka aku menghampiri Monika di depan meja
dengan nomor 12 sudah terhidang makanan dan minuman yang
menggugah selera.
“Wah, kamu sudah pesan duluan rupanya Mon ?”
“Yah, nungguin kamu lama banget. Terpaksa deh aku pesan
makanan dan minuman kesukaanmu, ” jawab Monika.
“Sori deh telat 15 menit, soalnya tadi ada pekerjaan kantor
yang perlu diselesaikan,” Aku memberikan alasan kepada
Monika kenapa aku datang terlambat ke Melon Café.
KisahCLBKyangdialamiMonikasebenarnyamasalahsepele.
Keputusan tegas seharusnya ada di tangan Monika. Hanya saja
Monika yang punya sifat nggak tegaan perlu di-support supaya
dak terlalu jauh bermain api dengan Nico.
“Mon, kamu sudah sepantasnya bersikap tegas kepada
Nico, ” saranku kepada Monika.
47
“Lah, aku mau gimana lagi. Nico itu super nekat. Memang
sih aku bisa terlena dengannya. Mengingat dulu semasa SMA aku
pernah ada story dengannya.”
“Nah, aku juga menyayangkan rumah tanggamu. Sebelum
Nico hadir kembali, keluargamu kan sangat bahagia dan harmonis.
Apa kamu mau mengkhiana suamimu dan anak-anakmu ? ”
tanyaku kepada Monika.
“Ya, aku butuh penger an dari Nico sebenarnya. Mengingat
masa SMA sudah dak tepat lagi untuk diulang kembali. Dunia
kami sudah berbeda, ” kenang Monika.
“Kamu dak berusaha untuk lepas darinya ?”
“Sudah sih,” jawab Monika.
“Lalu kenapa masih saja dia nekat hadir di dalam
kehidupanmu? ” tanyaku penuh penasaran.
Monika terdiam sejenak. Nampaknya dia masih bingung
dan ragu harus ber ndak seper apa lagi. Monika memang
menyayangkan Nico mendapatkan istri Melani yang sangat
pemboros. Apa lagi Melani sering melakukan terror kepada
anaknya jika Nico lupa untuk memberikan na ah. Sebagai seorang
konsultan, sebenarnya Nico punya penghasilan yang cukup. Tapi
apa daya, Nico adalah seorang suami yang mudah dise r oleh
seorang istri. Dan anehnya jika dia mendapatkan masalah berat,
selalu lari kepada Monika. Yah, masuk akal juga karena Monika
adalah masa lalu Nico semasa masih pacaran di bangku SMA.
Terlalu indah jika harus dihapus begitu saja.
“Begini, aku punya solusi. Jika Nico masih mencintai
keluarganya, bilang saja kamu kepada Nico. Sebagai seorang
suami, sudah seharusnya dia bisa mengendalikan istrinya yang
48
sangat pemboros itu. Dan kamu sebagai orang yang pernah
dicintainya sudah seharusnya dak memberi harapan baru
kepada Nico. Menurutku kamu hanya dijadikan pelarian saja,
Mon.”
Perlahan-lahan Monika mulai menyadari, kalau sebenarnya
dia hanya dijadikan pelarian saja oleh Nico. Monika pun tak
ingin keharmonisan rumah tangganya menjadi rusak gara-gara
kehadiran Nico. Melon Café menjadi kenangan tersendiri bagi
Monika dan Nico. Dan akhirnya aku baru tahu mengapa Melon
Café menjadi tempat favorit bagi Monika. Ya, sudah satu tahun
lamanya Monika menjalani hubungan gelap dengan Nico. Mereka
menjadikan Melon Café sebagai tempat untuk nge-date. Aku pun
tak tahu sudah seberapa jauh hubungan CLBK mereka. Yang jelas
pertemuanku dengan Monika di café itu adalah awal bagi Monika
untuk mengakhiri CLBK yang hampir mengguncang keharmonisan
rumah tangga Monika.
Cukuplamakamiberdialogdanmencarisolusiyangtepatagar
Nico tak hadir kembali di dalam rumah tangga Monika. Monika
nampaknya sudah pusing hanya dijadikan tempat pelarian oleh
Nico. Tekad Monika sudah bulat, dak sepantasnya dia terlalu
bersimpa kepada Nico. Toh, Nico adalah masa lalu. Dia tak ingin
mengkhiana suaminya yang begitu tulus mencintainya. Apalagi
Monika juga dikaruniai anak yang lucu-lucu.
Sejenak aku menghabiskan minuman kopi panas yang ada
di depanku. Sambil menegaskan lagi kepada Monika untuk tetap
menolak kehadiran Nico. Karena aku pun tak tega jika kehadiran
Nico hanya sebagai parasit bagi keluarga Monika.
“Hmm..gimana ? Sudah bulat tekadmu untuk menghapus
Nico dalam kehidupanmu ? ” tanyaku kepada Monika untuk
menegaskan kembali akan keseriusannya menyelesaikan masalah
CLBK-nya.
49
“Yah, aku harus tegas Bob, ” jawab Monika penuh dengan
rasa op mis.
“Biarlah Melon Café ini menjadi tempat menyimpan rahasia
antara aku dan Nico,” kenang Monika.
Aku pun diam. Sambil melihat jam tangan, angka di dalam
jam tanganku sudah menunjukkan digit 18.05. Aku mulai
mengingatkan Monika.
“Eh, Mon. Sudah saatnya kita pulang nih,” kataku kepada
Monika.
“Oh, ya. Sudah lebih lima menit ya ?”
“Ya, Nan kamu pulang terlambat ke rumah. Kasihan anak-
anakmu yang sudah menan mamanya nggak pulang-pulang, ”
jawabku enteng.
Kami pun mulai meninggalkan Melon Café. Melon Café yang
tak pernah sepi dengan para pengunjung. Entah sekedar sebagai
tempatnongkrongatautempatbuatnge-dateseper yangdialami
oleh Monika dan Nico. Aku lalu menaiki sepeda motorku. Dan dua
hari berkunjung ke Melon Café aku pun punya kesan tersendiri
terhadap tempat itu.
***
50
Kumcer Agung Budi Santoso
Kado Buat Elisa
51
Lelaki di Usia SenjaBy
Agung B. Santoso
Secangkir kopi itu diambilnya dan ditaruh di samping laptop.
Lalu lelaki tua itu melanjutkan ak vitasnya menge k di atas
keyboard QWERTY. Sudah banyak, bahkan ratusan ar kel dan
cerpen yang ia tuliskan di dalam laptopnya. Namun tak satu pun
tulisannya ia kirimkan ke penerbit atau surat kabar. Entahlah, si
lelaki tua itu menganggap kegiatan tulis menulis hanyalah kegiatan
iseng di masa-masa pensiun. Ia tetap bersahaja didampingi istrinya
yang juga sudah dak muda lagi.
Lelaki tua itu memiliki dua cucu dari putri pertamanya. Dan
satu cucu dari putera kedua. Sedang dari putri bungsunya ia belum
mendapatkan cucu, karena si bungsu masih kuliah di semester akhir
di sebuah PTN Yogyakarta.
Kakek tua itu sangat sayang dengan cucunya. Adit seorang
cucu dari putri pertamanya kadang selalu menemani kakeknya
menulis ke ka hari libur. Manakala kakeknya dak ingin diganggu
oleh pertanyaan-pertanyaan cucunya, maka sang kakek pun tak
52
kurang akal. Diberinya teka-teki atau puzzle yang lumayan susah
kepada sang cucu. Dan sang kakek pun melanjutkan kembali
ak vitasnya menulis di atas keyboard.
Pada suatu hari Adit penasaran kepada kakeknya, karena
melihat kakeknya tak pernah bosan menatap layar LCD dan
papan QWERTY.
“Kek, kenapa sih kakek suka nulis di laptop tapi tulisannya
gak pernah muncul di koran, ” tanya Adit.
“Ya, karena kakek gak ingin terkenal. Cukup anggota
keluarga saja yang tahu kalau kakek gemar menulis,” balas sang
kakek.
“Hmmm….kalau gitu apa enaknya, Kek. Capek-capek nulis
gak dapat duit. Habis gitu tulisannya cuma dibaca oleh anggota
keluarga saja.”
“Kamu belum saatnya untuk tahu tentang kegiatan kakek.
Suatu ke ka kamu akan memahaminya jika sudah dewasa,”
jawab sang kakek mengakhiri pertanyaan Adit.
***
Pada hari Minggu tepatnya minggu ke ga di bulan April,
Adit yang secara tak sengaja membuka laptop sang kakek
menemukan tulisan yang aneh. Adit heran dan kaget. Masak
sih kakeknya jatuh cinta lagi. Padahal dia sudah memiliki ga
cucu. Dan dengan neneknya pun tak pernah ada ribut-ribut.
Adit membaca sebuah cerpen karangan kakeknya yang berjudul
“Cintaku di kampus biru”. Kalau dibaca secara sekilas memang
cerpen itu mengisahkan kisah percintaan antara sepasang
mahasiswa dan mahasiswi yang sedang dimabuk cinta.
Baru saja membaca di aliea kelima ba- ba Adit ditegur
oleh kakeknya.
53
“Hayo, kamu mengin p tulisan kakek, ya.”
“Ah, enggak kok, kek. Adit cuma baca-baca doang.”
“Sama saja, itu namanya mengin p kalau baca tulisan orang
di laptop tanpa ijin.”
“Ya, maaf deh, kek. Habis salah sendiri kakek menulis di
laptop gak di password.”
“Ya, sudahlah. Gak mengapa. Kamu pengin bisa nulis cerpen
seper kakek,” tanya sang kakek kepada cucunya.
Adit terdiam. Dia belum bisa menjawab ya atau dak.
Karena dia masih suka bermain-main dan lebih suka baca komik
ke mbangharusbelajarnuliscerpen.NamunrasapenasaranAdit
tak hilang begitu saja. Lantas ia mengajukan pertanyaan kepada
kakeknya mengapa menulis cerpen kisah percintaan padahal usia
kakeknya sudah lumayan senja. Kakeknya pun menjawab dengan
penuh kesabaran.
“Adit, di dalam menulis itu kakek menemukan kebebasan
berekspresi. Dan kisah yang ada di cerpen itu sebenarnya kakek
hendak mengenang kembali kisah jadul ke ka kakek pertama kali
bertemu dengan nenek. Walau tokoh dan se ng lokasi dibuat
berbeda tapi kakek ingin mengenang kisah roman s kakek
bersama nenek ke ka masih muda.”
“Oh, gitu ya …kek,” Adit mengangguk sebagai pertanda puas
dengan jawaban kakek.
“Yah, begitulah. Dan kalau tulisan ini dibaca oleh nenek,
ia pas akan tersenyum geli mengenang kisah roman s jaman
jadul.”
***
54
Kakeknya Adit memang terkenal sebagai perokok ak f dan
doyan minum kopi sebagai teman begadang ke ka ia harus
menulis ar kel atau cerpen hingga larut malam. Cukup banyak
bekas batang rokok yang tertumpuk di atas asbak. Terkadang Adit
mengambilnya dan dibuang ke tempat sampah. Adit tak berani
menegur kakeknya yang memang tergolong perokok berat.
Hingga suatu sore sang kakek merasa agak sesak
pernapasannya dan jatuh pingsan. Adit yang nampak panik segera
memanggil neneknya. Dan ke ka neneknya melihat sang kakek
pingsan, ia lantas menelpon anaknya yang sulung untuk sekedar
mengantarkan berobat ke rumah sakit. Dan sesampai di rumah
sakit,sangdokterhanyadapatberpesanbahwasangkakekdiminta
untuk mengurangi rokok dan minum kopi. Sempat satu minggu
kakek Adit dirawat di rumah sakit. Dan sebagai cucu kesayangan
kakek, Adit nampaknya dak ragu mendampingi kakeknya hingga
sembuh dan pulang ke rumah kembali.
Semenjak kejadian pingsan dan harus opname di rumah sakit
sang kakek nampaknya benar-benar mematuhi anjuran dokter. Dia
sudah mulai mengurangi rokok dan sedikit minum kopi. Namun
untuk ak vitas tulis menulis nampaknya tetap berlanjut. Dan ini
kadang membuat kakek Adit selalu dur hingga larut malam. Jika
Adit merasa bosan menemani kakeknya menulis di atas laptop,
ia malah sudah dur duluan. Namun Adit merasa bangga bisa
menemani kakeknya menulis, karena ia pun dapat bertanya
kepada kakeknya tentang pelajaran sekolah ke ka mendapatkan
PR yang harus dikumpulkan di esok hari.
Ayah Adit pun heran. Mengapa ia justru lebih dekat dengan
kakeknya ke mbang dengan ayahnya. Mungkin Adit merasa ayah
Adit jarang ada di rumah. Sebab ayah Adit sering dinas ke luar
kota.
***
55
Hingga menjelang ulang tahun Adit merasa mendapatkan
surprise dari kakeknya. Ia diberi kado berupa cerpen dengan
judul “Cucuku seorang pembelajar”. Ke ka perayaan ulang tahun
yang ke-12 kado cerpen itu diberikan oleh kakek di sebuah kolam
pancing keluarga di hari Minggu. Sambil menikma gurami bakar
Adit tak bosan-bosannya membaca cerpen kakeknya itu. Dan ini
lain dari yang biasa. Adit biasanya sangat gemar baca komik. Tapi
baru kali ini ia mau membaca sebuah cerpen. Hingga suatu hari
kakek Adit terkejut mendengar perkataan dari cucunya.
“Kek, Adit mau jadi penulis.”
Tanpa terucap sepatah kata. Sang kakek hanya tersenyum
kagum. Ia telah berhasil menanamkan kebebasan berekspresi
kepada cucunya. Kebebasan berekspresi di dalam bentuk tulisan
di usianya yang telah menginjak 12 tahun.
***
56
Kumcer Agung Budi Santoso
Kado Buat Elisa
57
Kau Bukan Jodohku
By
Agung B. Santoso
Ya, tepatnya ini tanggal 10 November. Mengingatkanku
akan sebuah nama. Seorang gadis periang yang bekerja sebagai
pemandu karaoke di kotaku. Gadis itu tak pernah merasa
kesusahan. Segala cobaan hidup ia lalui dengan canda dan tawa.
Pertemuan pertama dengannya di sebuah rumah kost yang
cukup mewah. Tadinya aku tak sengaja berkunjung ke tempat
kost itu. Hanya karena diajak oleh temenku yang bernama Alex,
aku menjadi akrab bergaul dengan Vivid.
“Hai, kenalkan ini temanku Sandi,” Alex mengenalkanku
dengan Vivid.
“Namaku Vivid, kamu nggal di mana ? tanya Vivid
kepadaku.
“Ah, deket kok. Tak jauh dari tempat kostmu,” jawabku
santai.
58
“Kamu suka nyanyi juga ya ? Vivid mulai memancing
pertanyaan.
“Ya, suka juga. Tapi penyanyi ama r kok. Sama kamu pas
suaraku kalah,”balasku sekenanya.
“Alah kamu sukanya merendah. Sekali-sekali nyanyi yuk di
tempat kerjaku,”ajak Vivid bersemangat.
“Kapan ? Sekarang ? “ Aku menantang Vivid nyanyi saat itu
juga.
Percakapan singkat itu mengawali pertemananku dengan
Vivid. Karena Alex dan aku setuju untuk nyanyi di tempat kerja
Vivid maka malam itu juga kami segera menuju ke Apple Karaoke.
Vivid nampaknya senang sekali. Serasa mendapat durian runtuh.
***
Se ap nyanyi di Apple lagu andalanku pas lagunya
Republik. Lagu dengan judul “Hanya ingin Kau tahu”. Aku sangat
menguasainya. Kadang Vivid bertepuk tangan, pertanda aku
menjiwai lagu itu. Tak terasa kami hampir lupa waktu kalau
sudah nyanyi bersama.
“Kamu nggak bosan ya dengan lagu itu ?” tanya Vivid.
“Lah..kenapa bosan ? Kan aku senang. Lagian suaraku pas
kok dengan vokalisnya.”
“Yah, sih. Kamu ada kenangan dengan lagu itu ya ?”
“Ah, nggak. Cuma buat ngimbangi kamu aja. Kan suaramu
bagus banget. Gengsi dong kalau aku kalah sama kamu.”
Kami pun tertawa. Pertemananku dengan Vivid kian akrab.
Seminggu tak jumpa bagaikan sewindu. Kalau pas lagi sibuk kerja
hanya sms dan ucapan hello kusampaikan kepada Vivid. Dan
59
Vivid pun memakluminya. Pernah suatu ke ka di malam Minggu
Vivid nggak kerja. Dia bilang capek, ia ingin sekedar hang out pergi
nonton film. Tapi aku menolaknya karena belum ada film yang
bagus. Aku mengajak Vivid untuk makan malam saja di café.
“Malam Minggu beginian, apa kamu nggak boring kerja terus
?” tanya Vivid.
“Lha kamu emang mau ke mana ?”
“Nonton, yuk ?” Vivid merengek kepadaku seper anak kecil.
“Ah, nggak ada film bagus kok. Gimana kalau makan aja ?”
Aku memberi tawaran lain.
“Boleh deh. Makan steak yuk ?” Vivid langsung bersemangat
kalau ditawari makan steak.
“Siapa takut ?’
Karenatempatkostnyadanrumahkuterletak dakberjauhan,
maka aku pun segera meluncur menghampiri Vivid. Sesampai di
warung steak kami berdua mulai memesan menu favorit. Dan tak
sampai menunggu lama, menu yang kami pesan pun sudah tersaji
di depan mata.
“Vid, kalau kamu gak kerja apa bos kamu gak marah ?”
“Ah, enggak kok. Yang pen ng kan aku sudah ijin.”
“Hmm…asyik dong kalau begitu.”
“Ah …udah ah jangan ngomong soal kerjaan. Lagian kamu
ngajak ke sini untuk santai kan ?”
“Ya, sih. Ayo habiskan steaknya, nan keburu dingin.”
***
60
Begitulah masa-masa indahku bersama Vivid. Kalau dak
nyanyi, nonton, makan steak ya santai aja di tempat kostnya Vivid.
Sambilngobrolngalorngidul.Vividsangatmenikma pertemanan
ini. Hingga suatu ke ka karena aku mulai ada rasa dengannya,
aku mulai memberanikan untuk ngomong soal status. Vivid
nampak kaget. Dia diam sejenak dak menjawab pertanyaanku.
Dia belum bisa menerima tawaranku untuk meningkatkan status
pertemanan menjadi sepasang kekasih. Aku tambah penasaran.
Namun aku segera mengalihkan pembicaraanku. Vivid masih
menyimpan rahasia besar.
Hingga suatu ke ka aku bertemu dengan Alex. Sebenarnya
aku nggak ingin membicarakan status Vivid kepada Alex. Tapi
Alex malah sudah membocorkannya terlebih dahulu kepadaku.
Ya, Vivid ternyata sudah dikawin kontrak oleh bos dari Taiwan.
Aku kaget, di dalam ha aku berfikir pantes saja Vivid nggak mau
terus terang kepadaku.
Alex bercerita bahwa segala fasilitas mewah yang ada di
tempat kostnya itu semua pemberian bos dari Taiwan yang sudah
kawin kontrak dengan Vivid. Hmmm…aku geleng-geleng kepala.
Ya sudahlah kalau memang dia bukan jodohku. Malah Alex
kembali meledekku dengan pertanyaan-pertanyaan gila.
“Emang kamu selama ini sudah ngapain aja sama Vivid ? “
Alex memancing pertanyaan konyol kepadaku.
“Yah, cuma nyanyi, makan, nonton saja kok. Nggak lebih dari
itu.”
“Dasar cowok kere, mana mungkin dia mau sama kamu. Gak
level. Aku pun sebenarnya juga naksir kok dengan Vivid.” Alex
menertawakanku.
Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Alex, aku
merasa dipermainkan. Karena dulu aku kira status Vivid adalah
jomblo.
61
“Tapi kenapa kamu dulu mengenalkan aku dengan Vivid ?”
tanyaku protes.
“Ya, biar kamu tahu aja. Cewek kayak begituan nggak mungkin
punya cinta seja . Dia cuma maunya hepi aja. Lagian kamu pede
banget sih pengin dape n cintanya ?” Alex malah mengejekku.
“Ah, sialan kamu Lex.”
Sambil membuka bungkus rokok yang ada di kantong, aku dan
Alex menghabiskan malam kelabu di rumah Alex. Kuhisap sebatang
rokok sebagai penghilang penat. Tak terasa jam dinding menunjuk
pukul 02.00 dini hari. Aku pun tahu diri, akhirnya aku mohon pamit
untuk pulang ke rumah. Selamat dur ya Alex …semoga aku mimpi
dur nyenyak dengan Vivid dala m damai.
***
62
Kumcer Agung Budi Santoso
Kado Buat Elisa
63
Kado Buat ElisaBy
Agung B. Santoso
Gadis itu bernama Elisa. Aku mengenalnya sekitar dua tahun
silam. Masih terbayang betapa lugunya gadis itu. Ya, karena
aku bertemu secara tak sengaja di sebuah pusat perbelanjaan
di kotaku. Waktu itu aku sedang jalan-jalan dan berniat ingin
membeli celana jean karena sudah lama tak punya koleksi celana
jean. Semua celana panjang yang ada di lemari bernuansa casual.
Setelah mondar-mandir ke sana ke mari barulah aku tertahan
sejenak dengan sapaan gadis lugu itu.
“Sedang mencari apa, Bapak ?”, tanya gadis lugu itu.
“Emmm…penginnya sih mau beli celana jean”, jawabku santai.
“Oh, ada..mari silakan masuk saja, Bapak. Ada banyak koleksi
celana jean di tempat kami”. Gadis lugu itu mulai mempersilakan
aku untuk melihat-lihat berbagai ukuran dan merk celana jean.
Pandanganku tertuju kepada salah satu merk celana jean yang
tergantung sekitar ga langkah dari tempatku berdiri. Tanpa pikir
panjang aku ambil dan kulihat ternyata ukuran celana itu pas
dengan ukuran celana yang biasa aku pakai.
64
“Boleh dicoba kan ? ”
“Tentu dong, Bapak. Silakan saja dicoba di ruang sebelah
ujung. Kalau sudah nan di bawa kemari ya, Pak ? Biar saya
bikinkan notanya.”
“Ok, terima kasih ya”, jawabku sambil menuju ke ruang
gan pakaian. Di dalam ruang gan pakaian aku berfikir gadis
tersebut memang ramah sekali. Tetapi aku berfikir kembali ya
sudah sewajarnya lah, seorang pramuniaga harus ramah. Kalau
dak mana ada calon pembeli yang singgah untuk melihat barang
dagangannya.
Setelah apa yang sudah saya lakukan cocok dan berkemas,
mbul niat saya untuk bertanya siapa nama gadis itu. Tapi sejenak
saya mengurungkan niatku tersebut. Masih ada cara lain untuk
tahu siapa nama gadis itu.
“Celananya cocok, Bapak ?”
“Ya”, jawabku singkat.
“Maaf ini notanya dan silakan Bapak melakukan pembayaran
di kassa.”
Aku dak segera beranjak untuk pergi membayar celana jean
ke kassa. Karena saya penasaran ingin tahu siapa nama gadis lugu
tersebut.
“Kok di nota adanya cuma tanda tangan saja ? Namanya
siapa Mbak ?”
“Oh, bukannya sudah diberi tanda tangan dan stempel,
Bapak ?”
“Ya, sih. Saya hanya ingin tahu namanya saja kok. Eh, siapa
tahu di lain kesempatan saya mampir ke sini lagi.”
65
“Nama saya Elisa, Bapak.”
Namanya secan k parasnya, namun keluguannya yang begitu
membuatku jadi terpesona. Dia gadis lugu dan sedikit anggun. Dan
nampaknya belum tercemar oleh hingar bingar gemerlapnya kota
metropolitan.
Sejak saat itu aku selalu merekam dan mengingat namanya
di dalam pikiran dan jiwaku. Dalam ha apakah aku jatuh ha
dengannya ? Ah, semoga dak. Dia terpaut beberapa tahun
denganku. Siapa tahu dia sudah punya cowok. Gadis secan k Elisa
saya rasa banyak yang suka dengannya. Biarlah dia mekar dan
tumbuh bagaikan wanginya bunga mela .
***
Namun tak dinyana tak disangka. Aku bertemu dengan gadis
itu di sebuah acara lelang sebuah proyek yang kebetulan aku
menjadi tenaga ahli yang sedang disewa oleh sebuah konsultan.
Saya sedang memberikan penjelasan tentang sebuah lelang
pekerjaan lampu penerangan jalan umum di kota Tegal. Tapi
saya sempat ragu apakah ini Elisa, ya? Wajahnya mirip dan nggi
badannya juga masih kuingat agak semampai. Hmmm… semoga
saja bukan.
Tiga puluh menit saya memberikan paparan dan dilanjutkan
sesi tanya jawab dari para pemborong. Dan nampaknya gadis
yang mirip Elisa ini dak terlalu ak f mengajukan pertanyaan.
Yah, mungkin baru pertama kali mendatangi acara paparan lelang
sebuah proyek. Pada acara rehat kopi dan ramah tamah saya
jadikan momen untuk ingin tahu lebih dalam siapa gadis itu.
“Maaf, apakah Mbak bernama Elisa ?” sapaku bagaikan
detek f ingin mencari informasi.
“Hmmm…Bapak bukannya yang dulu pernah membeli jean di
mall itu, ya?”
66
“Ya,” jawabku singkat.
“Benar, Bapak. Saya Elisa. Sekarang saya sudah pindah
bekerja di sebuah kontraktor kelistrikan.”
Saya dak hendak bertanya mengapa dia pindah bekerja.
Saya hanya ingin menyampaikan ternyata dunia ini sempit. Lalu
saya sambung lagi dengan percakapan berikutnya.
“Wah, ternyata dunia sempit ya. Ngomong-ngomong
sudah berapa lama di kontraktor ?”. Kelihatannya baru saja,
ya?”
“Kok, tahu Bapak ?”
“Ya, kelihatan dari cara Anda menghadiri acara ini. Masih
agak culun. Sori lho bukan bermaksud under es mate.”
“Yah, namanya kan baru belajar Bapak. Dan lagian saya
lagi beradaptasi dengan dunia proyek. Dunia proyek berbeda
dengan dunia pramuniaga, Pak.”
Tak terasa acara rehat kopi sudah usai. Konsultan,
pemborong dan pani a lelang berkemas dan bersiap untuk
mengakhiri acara paparan proyek penerangan jalan umum di
kota Tegal. Tinggal para pemborong mempersiapkan diri untuk
menawar pekerjaan sesuai dengan BQ dan HPS yang sudah
disepaka .
***
Selang beberapa minggu setelah acara penyerahan berkas
dan dokumen usai. Tibalah pada saatnya yaitu pengumuman
pemenang lelang. Saya dak pengin tahu siapa pemenang
lelang proyek tersebut. Namun dari pani a lelang memberi
tahu saya bahwa pekerjaan itu dimenangkan oleh CV.
Manunggal Abadi. Hmmmm dalam ha saya langsung mencari
67
tahu dari arsip-arsip yang sudah ada. Saya cari tahu siapa itu CV.
Manunggal Abadi. Dari struktur organisasi dan semua pengurus
termasuk karyawan dan tenaga ahlinya. Oh ternyata….CV.
Manunggal Abadi adalah perusahaan tempat Elisa bekerja. Dan
dari track recordnya, perusahaan tersebut memang sudah banyak
memiliki pengalaman. Yah, wajar lah kalau perusahaan itu yang
menang. Dalam ha saya berfikir kembali si lugu mungkin hanya
sekedar pesuruh. Tapi dibalik semua itu banyak para jawara
yang turut berkiprah. Selamat ya Elisa….kemenangan proyek
itu semoga sebagai kado ga bulan pertama kamu bekerja di
sebuah kontraktor. Dunia proyek memang berbeda dengan dunia
pramuniaga. Kamu dituntut untuk terus berfikir dan berfikir,
bukan sekedar menawarkan produk yang belum tentu dilirik oleh
seorang pembeli.
***
68
Kumcer Agung Budi Santoso
Kado Buat Elisa
69
Guci Wasiat
By
Agung B.Santoso
Hujan deras diiringi pe r yang menyambar ke penjuru desa,
menambah seram suasana padepokan Ki Sepuh. Dan malam itu
Amel sengaja memenuhi permintaan Ki Sepuh untuk melakukan
ritual penjamasan guci wasiat. Menurut penuturan Ki Sepuh
bila ramuan awet muda itu dimasukkan ke dalam guci wasiat
dan diminum secara ru n sebelum fajar pagi ba, maka bagi
peminumnya akan selalu tampak awet muda dan can k.
“Ingat pesan Aki, jangan sekali-kali ramuan ini kau minum
setelah matahari terbit.”
“Iya, Ki Sepuh, “ jawab Amel.
Setelah penjamasan guci wasiat usai, Amel pun membayar
mahar yang sudah disepaka . Karena hujan belum juga reda
akhirnya Amel bermalam di padepokan Ki Sepuh. Keesokan
harinya dengan membawa guci wasiat Amel pergi meninggalkan
desa Ki Sepuh untuk kembali ke kota.
70
***
Sebagai pemandu karaoke Amel selalu ingin tampak can k
dan tak di nggal oleh pelanggan. Maklum persaingan kerja di
tempat Amel sangat ketat. Seorang PK yang dak tampak can k
dan menarik pas akan sepi pelanggan. Baru satu tahun bekerja
di tempat karaoke, Amel sudah banyak memiliki penggemar. Dan
Roy, pelanggan tetap bagi Amel, tak pernah absen jika malam
Minggu ba. Namun jika Roy meminta Amel menjadi PK, ia selalu
meminta pelayanan yang aneh-aneh. Amel pun dengan senang
ha meladeninya karena Roy pas memberikan ps uang yang
berlebih.
Tak heran bila Amel hampir ap bulan meraih posisi Lady
of The Month. Dan berkat guci wasiat pemberian Ki Sepuh serta
ramuan awet muda yang selalu diminumnya membuat se ap
pelanggan Amel dibikin klepek-klepek tak berku k. Suara Amel
memang bagus ditambah bentuk tubuh yang sexy serta can k,
banyak pesaing Amel yang gak kebagian order untuk nyanyi.
Teman-teman Amel menjadi keheranan. Mengapa se ap
pelanggan yang datang pas meminta Amel untuk menjadi
pemandunya alias teman nyanyi di room karaoke.
“Mel, rahasianya apa sih ?” tanya Prita penasaran.
“Mau tahu ?”
Prita mengagukkan kepalanya.
“Mandi kembang tujuh rupa di depan rumah,” jawab Amel
sekenanya.
“Ah, ngaco kamu Mel. Hari gini mandi kembang tujuh rupa ?
Amit-amit deh,” jawab Prita.
71
Prita memang nggak terlalu tertarik kepada hal-hal yang
berbau mis k. Maka tak heran jika jawaban Amel nggak digubris
sama sekali oleh Prita.
***
Pukul 02.00 dini hari Amel baru pulang kerja di tempat
karaoke. Sesampai di tempat kost ia masih ingat pesan Ki Sepuh
agar ramuan di dalam guci wasiat diminum sebelum fajar pagi
ba. Maka ia mengambil keputusan untuk dak langsung dur
ke ka sampai di tempat kost. Amel baru dur setelah pukul
05.00 pagi. Sambil menunggu waktu yang tepat Amel mengambil
MP3 Player untuk mendengarkan beberapa lagu kesayangannya.
Setelah dirasa tepat Amel mulai mengambil guci wasiat yang
berisi ramuan awet muda di dalam lemari. Amel menuangkannya
ke dalam gelas kecil lalu diminumlah ramuan yang ada di dalam
guci wasiat itu. Nyess…….
Aroma yang khas mulai merasuki tubuh Amel. Amel
merasakan ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya. Sesuatu
yang mengalir bersama aliran darah Amel. Amel mulai bercermin.
Dan ia pun tambah percaya diri karena tak ada perubahan sama
sekali di raut wajahnya. Ya, ia tetap can k dan muda.
Amel lantas menuju tempat dur dan merebahkan tubuhnya
yang sexy di atas kasur. Kebiasaan ini ia jalani terus secara ru n
dan bangun ke ka matahari sudah nggi.
Ke ka Amel ter dur pulas, mendadak ponselnya berbunyi.
Dengan perasaan malas Amel membuka mata dan meraih
ponselnya. Oh, ternyata Roy mengirim sms ke ponsel Amel.
Roy menginginkan agar malam Minggu depan tak melayani
pelanggan kecuali Roy. Ada surprise katanya. Mendadak Amel
dibikin penasaran oleh sms-nya si Roy.
72
“Surprise ?” Amel bertanya sendiri di dalam kamarnya. “Ah,
masa bodo.”
Lalu Amel pun memeluk guling dan mebenamkan wajahnya
di atas bantal. Ia masih ingin bermalas-malasan. Tanggung,
pikirnya dalam ha . Amel masih ingin melanjutkan mimpinya
yang belum selesai.
***
Malam Minggu seper yang sudah dijanjikan Roy, Amel
datang ke tempat karaoke agak lebih awal. Dan ia pun menuru
apa yang diminta si Roy. Amel menolak se ap pelanggan yang
ingin nyayi bersamanya. Tepat pukul 20.00 si Roy mulai nongol.
Dengan senyumnya yang khas ia cengar-cengir di depan kursi
yang telah diduduki Amel.
“Udah lama Mel nungguin aku ?” tanya si Roy.
“Kamu tuh janji mau kasih surprise. Surprise apaan sih ?”
Amel balik bertanya ke Roy.
“Aku hari ini ultah Mel.”
“Oh, ya ? Selamat ya….”
Amel memberikan ucapan selamat dan kecupan ke pipi Roy.
“Terus malam ini kita pesta sampai pagi ?” tanya Amel.
“Boleh. Siapa takut ?” Roy menantang Amel begadang
sampai pagi.
Tak lama kemudian Roy dan Amel memasuki ruangan yang
sudah dipesan sebelumnya. Tanpa basa-basi mereka langsung
unjuk kebolehan. Mulai nyanyi bersama hingga nyanyi secara
single bergan an sampai larut malam. Tepat pukul 00.00
73
mereka mengakhiri kencan karaoke di small room. Sudah banyak
botol minuman keras dan puntung rokok di atas meja karaoke.
Nampaknya Roy sudah setengah ang. Ya, si Roy setengah
mabuk. Amel pun sebenarnya hampir mabuk, tapi karena ia
imbangi dengan air mineral jadinya masih saja terlihat segar.
Karena Roy sudah janji mau pesta sampai pagi, maka kencan
pun berlanjut ke hotel. Dan tanpa sadar Amel menyetujui
permintaan Roy. Ia lupa bahwa guci wasiatnya ada di tempat
kost. Prak s ia tak dapat meminum ramuan yang ada di dalam
guci wasiat. Ia dak tahu apa dampaknya jika diminum setelah
matahari terbit. Seusai kencan di hotel, Amel bergegas menuju
tempat kost dengan naik taksi. Tapi nahas bagi Amel. Matahari
sudah terbit agak nggi ke ka ia sampai di tempat kost. Langsung
ia bergegas mengambil guci wasiat dan meminum ramuan di
dalamnya. Pikir Amel telat beberapa menit gak akan jadi masalah
jika ia meminumnya. Namun setelah satu gelas kecil ramuan dari
guci wasiat ia minum ada gejala aneh di dalam tubuhnya. Wajah
Amel terasa gatal dan mendadak mbul benjolan-benjolan kecil.
Amel penasaran. Ia mengambil cermin. Betapa terkejutnya Amel
melihat wajahnya sendiri. Seolah wajah yang ada di cermin itu
bukanlah dirinya. Wajah Amel sudah rusak berkat ramuan di
dalam guci wasiat. Amel lepas kendali. Ia berteriak keras sambil
menangisi wajahnya yang berubah menjadi buruk.
“Keparat kau Aki Sepuuuhhhhhhhh…..!!!”
“Mengapa wajahku menjadi begini …..????? Mana tanggung
jawabmu Akiiiii………..!!!”
Amel melempar cermin hingga pecah berantakan. Amel
meratapi nasibnya. Tak seorang pun bisa menolongnya. Ki
Sepuh pun merasa tak bersalah. Karena kesalahan ada pada
Amel. Ramuan di dalam guci wasiat tak boleh diminum setelah
matahari terbit. Semenjak itu Amel pun tak akan pernah menjadi
Lady of The Month di tempat kerjanya.
74
Kumcer Agung Budi Santoso
Kado Buat Elisa
75
Bocah Penjual Koran
By
Agung B. Santoso
“Mak, upah hari ini masih seper kemarin,” ucap Damar sambil
menyerahkan uang kertas ribuan sebanyak dua lembar dan satu
koin lima ratus rupiah. Semenjak kema an ayahnya, Damar harus
berjuang menyambung hidup untuk meringankan beban keluarga.
Bocah kecil yang umurnya baru genap 10 tahun itu tak seharusnya
bekerja memeras keringat demi mencari rupiah. Dia kehilangan
masa kanak-kanaknya dan dak bisa lagi bermain-main seper
teman-teman seusianya. Sehabis pulang sekolah ia langsung pergi
menuju ke tempat Pak Mamat, seorang agen penjual koran yang
tak begitu jauh dari rumah Damar. Meski sangat terlambat, tapi tak
mengapa. Damar menjualkan koran pada siang hari hingga petang.
Tiap hari Damar mampu menjualkan koran sekitar 10 eksemplar.
Ya, cukup lumayan karena surat kabar yang dibawa pun dak hanya
koran pagi tapi juga koran yang terbit di sore hari.
Damar sebagai anak sulung masih memiliki adik perempuan
yang baru berumur sekitar 4 tahun. Ibunya yang seorang buruh
tukang cuci pakaian selalu mengajak Upik pergi ke tempat di mana
harus mencuci dan menyeterika pakaian. Di sekolah prestasi Damar
76
tak begitu menonjol. Yah, karena konsentrasi Damar terpecah
harus mencari uang untuk membayar SPP dan belajar di sekolah.
Buku-buku pelajaran pun tak ada yang dapat dibeli. Damar hanya
mengandalkan buku-buku perpustakaan yang se ap dua minggu
sekali harus dikembalikan. Upah dari menjual koran hanya dapat
digunakan untuk membeli buku tulis dan membayar uang SPP.
Sementara upah ibunya sebagai buruh tukang cuci hanya dapat
untuk mencukupi kebutuhan makan dan biaya hidup sehari-
hari. Pakaian baru pun jarang dibeli. Hanya sekali dalam setahun
Damar memakai baju baru. Ya, tepatnya pada saat Hari Raya Idul
Fitri karena seper biasa ibunya selalu mendapat THR dan bonus
pakaian baru untuk Damar dan Upik.
***
Suatu sore, tepatnya di depan Kantor Pos Pusat, Damar
mendapatkan keberuntungan yang berbeda dengan hari-hari
yang lain. Dia tak tahu mengapa banyak orang mencarinya untuk
sekedar membeli koran yang ia dagangkan. Yang jelas Damar
masih ingat waktu itu adalah hari Sabtu. Setelah menghubungi
Pak Mamat dan bertanya kepadanya barulah Damar tahu. Kalau
se ap hari Sabtu memang banyak orang membeli koran secara
eceran. Karena seper biasa di hari Sabtu banyak koran yang
menyajikan iklan lowongan kerja. Dan di hari itulah para pencari
kerja membeli koran sekedar untuk mencari tahu lowongan
kerja yang sesuai dengan bidangnya.
Damar seper mendapatkan ilmu baru dari Pak Mamat.
Dan hampir dipas kan upah yang didapat se ap hari Sabtu
selalu melampaui upah harian dari hari yang lain. Berbeda ke ka
Damar menjual koran di tepi jalan, halte atau di sekitar lampu
lalu lintas. Mendagangkan koran di sekitar lampu lalu lintas
perlu perjuangan ekstra dan harus mampu bertahan di bawah
teriknya sinar mentari. Di samping itu hasilnya pun tak begitu
memuaskan.
77
“Bagaimana, Mar ? Jualan koran di depan kantor pos dengan
jualan koran di tepi jalan ada bedanya, kan ?” tanya Pak Mamat
kepada Damar yang sedang menghitung banyaknya eksemplar
koran untuk dijual.
“Yah, setelah tahu ilmunya mending jualan koran di depan
kantor pos, Pak,” jawab Damar.
“Lagian kalau pas capek saya bisa duduk-duduk di sekitar
teras kantor pos dan dak menggangu lalu lintas.” Damar
menegaskan kembali, bahwa jualan koran di depan kantor pos
lebih menyenangkan ke mbang di tepi jalan.
“Kalau jualan koran di depan Mall, sudah pernah kamu coba
?” Pak Mamat bertanya kembali.
“Wah, kalau itu sih belum, Pak.”
“Kamu mau mencobanya ?” tantang Pak Mamat.
“Hmmm…belum kepikiran, Pak. Saya dak mau coba-coba.
Lagian nama saya sudah terkenal di sekitar kantor pos,” jawab
Damar.
“Oh, ya.” Pak Mamat seolah tak percaya mendengar
pengakuan Damar tersebut.
“Terkenal sebagai apa, Mar ?” Pak Mamat bertanya lagi.
“Ya, terkenal sebagai Damar si Penjual Koran,” jawab Damar
enteng.
“Bagus lah kalau begitu. Jangan menyerah kepada nasib.
Dan pertahankan terus prestasi jualan koranmu. Nan kalau per
harinya kamu bisa jual koran banyak, aku akan kasih bonus di
akhir bulan.” Pak Mamat memberi semangat kepada Damar.
78
“OK, Pak. Aku menan janjimu,” jawab Damar sambil
berkemas membereskan beberapa lembar koran yang belum
tertata rapi.
***
Sebagai penjual koran eceran keberuntungan tak selalu
berpihak kepada Damar. Memang upah yang didapat se ap hari
Sabtu selalu melampaui upah di hari yang lain. Dan tak disangka
tak dinyana, pada suatu hari ke ka Damar pulang ke rumah ia
dicegat oleh Kang Suto.
“Mau ke mana kamu, Mar ?” tanya Kang Suto.
“Mau pulang ke rumah, Kang,” jawab Damar.
“Eh, nan dulu. Kabarnya kamu menjualkan koran dari Pak
Mamat, ya ?” Kang Suto, seorang preman kampung sedang
beraksi mau minta upe kepada Damar. “Berapa duit kamu dapat
dari Pak Mamat ?” Sambil memegang kerah bajunya Damar, Kang
Suto berlagak sok jago meminta uang dari Damar.
“Upah saya sedikit, Kang. Tolong jangan diambil uang saya.
Itu buat bayar uang sekolah dan beli buku tulis.” Damar memelas
di depan Kang Suto. Mata Kang Suto melotot tajam seper elang
yang sedang memburu mangsanya.
“Persetan dengan uang sekolah. Buat apa kamu sekolah
kalau akhirnya cuma jadi tukang jual koran, ha !” Kang Suto tetap
memaksa Damar untuk segera menyerahkan upah dari hasil
jualan koran di hari itu.
Sungguh sial nasib Damar hari itu. Tanpa memberikan
perlawanan yang berar , semua upah Damar diberikan kepada
Kang Suto. Dan Kang Suto pun tetap memberikan ancaman
kepada Damar. Kalau ap minggu ia dak memberi upe kepada
Kang Suto, dia diancam akan dibunuh oleh Kang Suto. Yah, Damar
79
dak berdaya mendapat ancaman dari Kang Suto. Andaikan
ayahnya masih hidup, pas lah Damar melaporkan kejadian itu
kepada ayahnya.
Hingga keesokan harinya, ke ka Damar sudah sampai di
rumah Pak Mamat, ia tak mampu bercerita tentang kejadian
pemerasan uang yang menimpa dirinya. Damar tampak masih
sedih dan kelihatan murung. Tidak seper biasanya Damar
yang selalu bersemangat menjualkan koran Pak Mamat, hingga
akhirnya Pak Mamat menegurnya.
“Tumben kamu kurang bersemangat hari ini, Mar. Ada apa ?”
tanya Pak Mamat.
“Ah, gak ada apa-apa kok, Pak.”
“Tapi mengapa kamu kelihatan murung ? Ayo ceritakan
saja, apa masalah yang sedang kau hadapi. Mungkin saya bisa
membantumu.” Pak Mamat datang mendekat menuju tempat
Damar yang sedang membereskan lembaran koran.
“Sudahlah, Pak. Lain hari saja ceritanya. Saya mau berangkat
jualan koran. Doakan korannya habis terjual ya, Pak.”
“Ya, ha -ha . Jangan pulang sampai larut malam. Jualkan saja
semampumu. Malam hari kan kamu perlu is rahat dan belajar,”
pesan Pak Mamat.
Damar yang masih memendam kesedihannya akibat uangnya
habis diminta Kang Suto tetap langsung berkemas untuk berjualan
koran lagi.
***
Hari ini tepat satu minggu semenjak kejadian Damar
diperas uangnya oleh Kang Suto. Damar masih ingat ancaman
yang diberikan oleh Kang Suto. Jika se ap minggu Damar dak
80
memberikan upe , maka Kang Suto mengancam akan membunuh
Damar. Karena Damar masih teringat ancaman Kang Suto, maka
Damar tak langsung pulang menuju ke rumah. Dia masih berputar
mencari ide bagaimana supaya di tengah jalan dak dicegat oleh
Kang Suto.
Sambil berdoa, Damar pulang ke rumah dengan cara
mengambil jalan memutar. Namun sungguh sial, Kang Suto pun
tak kalah cerdik. Kang Suto ba- ba sudah ada di depan mata,
ke ka Damar mengambil jalan memutar untuk pulang ke rumah.
“Hehehe…mau ke mana lagi kamu bocah cilik ?” Kang Suto
sambil berkacak pinggang menghadang langkah Damar yang
hendak pulang menuju ke rumah.
“Ayo serahkan uangmu atau kamu ma di tanganku ?” Kang
Suto mengangkat dagu Damar memberi alterna f pilihan.
“Jangan, Kang. Aku belum mau ma ,” jawab Damar.
“Ya, kalau masih ingin hidup. Mana setoran minggu ini ?”
paksa Kang Suto.
Namun ke ka Damar hendak menyerahkan uang dari saku
celananya kepada Kang Suto, ba- ba dari belakang punggung
Kang Suto ada tangan seorang pemuda yang menepuk agak keras.
“He, mau jadi jagoan kamu di kampung ini ?” tanya pemuda
itu.
“Jangan coba-coba ikut campur urusanku, ya…bocah ganteng
?” Kang Suto nampaknya meladeni ucapan pemuda ganteng yang
hendak menolong Damar.
“Lalu mau kau apakan bocah kecil tak berdaya itu ? Itu bukan
lawanmu. Sini kalau berani, duel denganku !” Pemuda ganteng
itu menantang Kang Suto untuk bertarung.
81
Tak berapa lama terjadilah pertarungan sengit antara Kang
Suto dengan pemuda ganteng tadi. Tak menghabiskan banyak
jurus, pemuda ganteng itu telah membuat Kang Suto terjungkal
dan lari terbirit-birit.
“Awas, jika kau masih berani mengganggu bocah ini. Aku
akan selalu menjadi lawanmu,” ancam pemuda ganteng itu.
Damar merasa telah ditolong dan telah diselamatkan oleh
pemuda ganteng itu. Dia pun mengucapkan banyak terima
kasih. Dan sesampai di rumah, Damar menceritakan kejadian
itu kepada ibunya. Damar masih mengingat dengan jelas nama
pemuda ganteng itu. Ya, nama pemuda itu adalah Yuda Krisna
Muk . Seorang mahasiswa yang telah menjadi dewa penolong di
dalam kehidupan Damar sebagai penjual koran eceran.
***
82
Kumcer Agung Budi Santoso
Kado Buat Elisa
83
Api Cemburu
By
Agung B. Santoso
Nada dering ponsel berdering begitu nyaring. “Ya, hallo
dengan Widya di sini. Ada yang bisa saya bantu, Bapak ?” dengan
ramah Widya merespon panggilan telpon yang masuk ke hpnya.
Sudah hampir ga tahun Widya menjadi agen pemasaran KTA
di bank swasta yang terkenal di kotanya. Dan nada panggil
tadi ternyata telpon dari salah satu calon nasabah yang ingin
mengajukan kredit di bank swasta tempat Widya bekerja. Tak
menunggu lama Widya lantas segera meluncur ke kantor calon
nasabah. Dewi Fortuna nampaknya sedang berpihak kepada
Widya.
“Begini Mbak Widya, bulan ini saya lagi ada keperluan
mendesak. Maka saya menghubungi Mbak Widya guna
pengajuan KTA,” ucap Pak Sony singkat tanpa basa basi.
84
Sebenarnya Pak Sony bukanlah orang yang suka mengajukan
kredit. Maka di sana sini dia masih butuh bantuan Mbak Widya
karena prosedur dan tata cara pengajuan kredit belum begitu
dipahami oleh Pak Sony. Dan Mbak Widya pun dengan sabar
menjelaskan tata cara pengajuan KTA, hingga akhirnya proses
pengajuan KTA pun telah menjadi aplikasi yang siap kirim.
Pak Sony seorang HRD Manager di sebuah pabrik garmen
terkesan sebagai orang yang supel dan ramah. Malah boleh
dibilang usianya masih rela f muda. Terpaut sekitar 4 tahun
dengan usia Mbak Widya. Dan pertemuan di kantor Pak Sony
merupakan awal yang posi f bagi Widya. Widya mulai mendapat
banyak referensi nama dari teman Pak Sony yang hoby
mengajukan KTA. Widya pun merasa seper mendapat durian
runtuh. Karena dia yakin jika di bulan ini aplikasi pengajuan
KTA yang ia kirim melampaui target maka sudah tentu ia akan
mendapat bonus dari bank tempat ia bekerja.
***
Seminggu setelah KTA cair, Pak Sony kembali menghubingi
Widya. Yah, sebenarnya sebagai ucapan terima kasih, Pak Sony
mengajak Widya untuk makan malam di sebuah resto. Dan di
situ Pak Sony memberikan sebuah kartu nama lengkap dengan
foto pribadi yang menempel di samping alamat rumah dan
alamat kantor. Tanpa ada perasaan yang bukan-bukan Widya
pun segera memasukkan kartu nama itu ke dompetnya. Dan ia
pun juga memberi kartu nama kepada Pak Sony sebagai tanda
bahwa hubungan pertemanan ini bisa berlanjut kepada bisnis
yang saling menguntungkan.
Widya pun menganggap acara makan malam tersebut
sebagai acara yang biasa. Karena Widya telah memiliki pacar
sebelum ia bekerja sebagai agen pemasaran KTA sebuah bank
swasta.
85
“Jadi Mbak Widya sudah punya pacar, ya ?” selidik Pak
Sony.
“Ya, Pak,” jawab Widya. “Kami pacaran hampir 5 tahun.
Dan sejauh ini gak pernah ada masalah.”
“Syukurlah kalau begitu,” ucap Pak Sony dengan nada yang
datar.
Acara makan malam telah usai. Mereka pun kembali ke
rumah masing-masing tanpa ada perasaan yang lebih dari
sekedar relasi bisinis. Namun kejadian mendadak menjadi
sangat panas ke ka Widya nge-date dengan cowoknya. Ya,
Heri seorang cowok yang sudah hampir 5 tahun singgah di
dalam kehidupan Widya. Secara gak sengaja ia membuka
dompet Widya dan terkejut melihat satu kartu nama lengkap
dengan foto pribadi milik Pak Sony. Heri sangat terkejut karena
sebenarnya Widya gak pernah secara khusus menyimpan kartu
nama se ap nasabah yang pernah ia datangi. Biasanya Widya
hanya menyimpan kontak person di ponselnya saja. Tapi baru
kali ini Heri menemukan kartu nama seorang cowok di dalam
dompet Widya.
“Wid, ini kartu nama siapa ?” tanya Heri penasaran.
“O, itu. Kartu nama Pak Sony. Emang kenapa ?” Widya
nampak heran dengan ulah cowoknya si Heri.
“Gak biasanya kamu nyimpan kartu nama cowok. Kamu
udah bosan dengan aku ya ?”
“Oh, my God. Ada apa sih kok kamu kayaknya cemburu
banget dengan kartu nama itu ?” balas Widya.
“Yah, selama hampir lima tahun kita pacaran. Kan, cuma
aku yang ada di ha mu. Ngapain kamu simpan kartu nama
cowok ini ?”
86
Pertengkaran mulai terjadi. Hanya karena masalah sepele
Heri mulai menampakkan gelagat cemburu buta yang dak
beralasan sama sekali. Widya sangat kesal. Heri pun tanpa
basa basi meninggalkan Widya di resto sendirian. Akhirnya
Widya pun pulang ke rumah dengan naik taksi.
***
Gila, sungguh gila si Heri ini. Pikir Widya ke ka hari Senin
berangkat ke kantor. Lalu ia curhat dengan Imel teman dekat
Widya.
“Masak sih, hanya karena kamu menyimpan kartu nama
Pak Sony, cowokmu langsung ngambek ninggalin kamu di resto
sendirian ?” tanya Imel.
“Yah, si Heri kayaknya lagi keserupan tuh, Mel. Tadi malam
aku telpon pun gak dibales.”
“Cowokmu itu yang childish,” hibur Imel.
Ya, hampir dua minggu hubungan cinta antara Widya
dengan Heri agak renggang. Se ap Widya menghubungi Heri
lewat telepon selalu panggilan dialihkan oleh Heri. Widya
gak habis pikir. Hingga akhirnya ia pun menulis surat. Ya,
nampaknya hanya surat saja yang bisa mencairkan suasana.
Entah dibaca atau dak oleh Heri, yang jelas Widya sudah
punya i kad baik untuk meluruskan masalah. Widya berharap
Heri tak semudah itu mengakhiri kisah kasihnya yang berjalan
hampir 5 tahun.
***
Suara sepeda motor Pak Pos terdengar di kejauhan.
“Apakah benar ini Jalan Seroja II No. 112 ?” tanya Pak Pos.
Ibunya Heri mengiyakan. Ya, kedatangan surat Widya dak
87
diterima langsung oleh Heri. Karena Pak Pos datang di siang hari
ke ka Heri masih bekerja dan belum pulang ke rumah. Lalu ke ka
pukul 16.00 ibu Heri menyampaikan surat Widya ke tangan Heri.
“Tuh, tadi siang ada surat dari Pak Pos,” ucap ibunya Heri.
“Surat tagihan atau surat cinta ?” tanya Heri.
“Baca sendiri sendiri saja. Kayaknya dikirim oleh Widya pacar
kamu !” imbuh ibunya Heri.
Ah, perempuan itu ngapain kirim surat segala pikir Heri. Kan,
ketemu di kantor juga bisa. Lalu tanpa berpikir panjang Heri mulai
merobek sampul surat dan membacanya. Ya, in dari surat Widya
adalah agar Heri mau bertemu dengannya di café pukul 19.00 di
malam Minggu.
Heri pun menyanggupi. Nampaknya sudah reda api cemburu
yang telah hinggap di dada Heri. Hingga tepat pukul 19.00 Heri
mulai menghampiri meja café dengan nomor 21.
“Sudah lama Wid ?” tanya Heri.
“Sudah. Sudah 14 x 24 jam aku menan mu di sini, ” jawab
Widya kesal.
“Ah, masak sih. Emang kamu bolos kerja ya ?” Heri mulai
sedikit tersenyum mencairkan suasana.
“Habis gara-gara kartu nama Pak Sony saja kamu ngambek
hingga 14 x 24 jam. Dasar !!”
“Sudahlah, Wid. Aku hanya butuh penjelasanmu. Pak Sony
itu bukan cowok barumu kan ?” tanya Heri.
“Her, kamu itu yang keterlaluan. Aku tuh gak mungkin
nyimpan cowok lain selain kamu,” jawab Widya.
88
Setalah hampir 15 menit Widya menjelaskan tentang
siapa itu Pak Sony, akhirnya Heri hanya bisa manggut-manggut
saja. Kecemburuan Heri terhadap kartu nama Pak Sony sudah
tak beralasan lagi. Akhirnya mereka berdua pun cair kembali.
Hubungan cinta yang sempat beku selama 2 minggu menjadi
sirna. Dan Widya pun memberikan ancaman kepada Heri.
“Awas jika malam ini kamu ngambek ninggalin aku di café
sendirian, aku bakalan pacaran dengan Pak Sony !!” ancam
Widya.
Heri ma kutu. Dia sadar ternyata hubungannya dengan
Widya yang hampir 5 tahun, belum mampu menjadikan ia
sebagai seorang pria yang dewasa. Hmmmmmm…….Heri pun
mencium kening Widya.
***
89
Tentang Penulis
Agung Budi Santoso, lahir di Semarang,
04 Juli 1975. Terlahir sebagai anak tunggal dan
menyelesaikan studi hingga perguruan nggi negeri
di Semarang. Pernah menjadi guru SMK, mengajar di
kampus PTS di Semarang dan sekarang senang menulis
di Kompasiana.com dengan nama pena Trojan
Ganjen.
Awal menulis di Kompasiana diperolehnya secara
tak sengaja yaitu ke ka membeli buku yang berjudul
“Gampang Menjadi Penulis Fiksi Cyber di Kolom
Fiksiana, Kompasiana” karangan Imperial Jathee.
Semenjak itu penulis merasa beruntung bisa belajar
nulis secara otodidak dan saat ini menerbitkan buku
kumpulan cerpen dan cermin yang pernah dipublish
di Kompasiana.
Penulis dapat dihubungi melalui e-mail di
agungbudisantoso@gmail.com
90
Kado
Buat Elisa

Kado buat elisa

  • 1.
  • 2.
    2 Kata Pengantar Puji syukurpenulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas terselesaikannya buku kumpulan cerpen dengan judul Kado buat Elisa. Tak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih kepada admin dan pengelola blog Kompasiana.com. Karena dengan fasilitas blog gra snya penulis akhirnya mampu menuangkan inspirasi dan imajinasinya dalam bentuk kumpulan cerpen dan cermin. Terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada Kang Khaliq alias Mas Bhre yang telah melay-out buku dan mendesain cover. Dan kepada seluruh rekan-rekan Kompasianer dan semua pihak yang telah sudi membaca buku ini saya ucapkan banyak terima kasih, mari dengan menulis dan membaca buku fiksi kita warnai hidup kita agar semakin cerah dan bergairah. Op mis menatap masa depan. Semarang, 18 September 2014 Penulis
  • 3.
    3 Daftar Isi Da arisi (3) Bukan yang pertama (5) Gantungan Kunci (10) Kafe Merak 14 Pengemis Asli, Bukan Pengemis Bayaran (17) Taman Kota (21) Terlalu Indah (25) Surat Cinta Dari Firdaus (32) Shinta dan Bella (38) Melon Café (44) Lelaki Di usia Senja (51) Kau Bukan Jodohku (57) Kado Buat Elisa (63) Guci Wasiat (69) Bocah penjual Koran (75) Api Cemburu (83)
  • 4.
    4 Kumcer Agung BudiSantoso Kado Buat Elisa
  • 5.
    5 Bukan Yang Pertama Ruangtamu itu tampak begitu ar s k. Di halaman depan ada air mancur yang mengalir begitu gemericik. Menambah syahdu malam ini. Di meja tamu ada lampu lilin di dalam gelas berwarna merah. Tampak remang-remang. Namun ha ku semakin tak menentu. Karena sudah ga bulan Nita belum menjawab permintaanku. “Beri aku waktu, Mas,” jawab Nita. “Mengapa ? Kau masih ragu denganku ?” Aku semakin penasaran dibuatnya. Nita seorang janda muda, pegawai agen property yang dicomblangkan kepadaku nampaknya masih butuh waktu untuk menjawab ya atau dak tentang status hubunganku dengannya. Sebagai lelaki aku harus sabar, karena belum begitu lama ia bercerai dengan suaminya. “Baiklah, Nit. Aku gak akan memaksa kok,” ucapku kepada Nita. “Bagaimana kalau jawabannya minggu depan ?” Aku dibuat kaget oleh pernyataan Nita barusan. Ada perasaan By Agung B. Santoso
  • 6.
    6 gembira dan tandatanya besar. Gembira kalau seandainya dia bisa menerimaku. Dan tanda tanya besar jika jawabannya masih menggantung. Banyak teman Nita berkomentar kalau kami ini sebenarnya pasangan yang cocok. Namun bagiku masih menggantung karena ada se k keraguan di benak Nita. *** Hingga tepat seminggu seper yang dijanjikan oleh Nita. Di tempat yang sama, dan masih diterangi dengan lampu lilin yang berwarna merah aku menan jawaban Nita. “Mas, aku bisa menerimamu sebagai pasanganku. Tapi kau tahukan, bahwa kau bukan yang pertama ?” “Ya, aku tahu. Aku memang bukan yang pertama bagimu.” Sejenak aku menghela nafas. “Kamu tahu kan, Nit ? Sejak aku dicomblangkan denganmu aku sudah yakin akan hidup bahagia denganmu.” “Ah, bisa saja kamu ini. Tahu dari mana ?” Nita tersenyum kecil. “Yah, ins ngku yang mengatakan.” “Alah ins ng ngaco. Aku tuh masih ragu, Mas. Kamu hanya cinta kepadaku. Tapi dak cinta dengan anakku.” “Oh, jadi itu yang menjadikan kamu ragu ?” Terjawab sudah apa yang selama ini diragukan oleh Nita. Sebenarnya aku sudah harus menanggung resiko. Karena menikahi seorang janda berar menikah satu paket. Ya, satu paket yaitu ibu dan anaknya. Dalam ar an menikahi ibunya juga menyayangi anaknya. Tidaklah mungkin aku menjadi ayah ri yang hanya senang dengan ibunya tapi mengabaikan anaknya.
  • 7.
    7 “Aku tahu Nit,sejak kau cerai dengan suamimu tentu aku nan yang akan menjadi ayah buat anakmu.” “Ini bukan rayuan gombalkan ?” Nita meledekku. Aku terdiam. Aku bicara serius malah dibilang rayuan gombal. Ya, sudahlah. Yang jelas Nita sudah memberi lampu hijau buatku. “Nit, kamu tahu gak ?” “Apa ?” “Kalau boleh jujur, kamu pun bukan yang pertama buatku.” “Jadi kamu juga pernah beristri ?” “Ya,” jawabku singkat. Semenjak perkenalan pertama aku memang masih merahasiakan statusku. Nita belum tahu statusku. Dia hanya tahu statusku sebagai pegawai. Dan teman Nita memang merahasiakan hal itu. Biar dia tahu dari mulutku sendiri. Sejenak Nita terdiam. “Kenapa ? Kamu nyesel kalau aku juga seorang duda ?” “Ah, enggak. Ngapain nyesel ? Toh, nyatanya aku saat ini masih di sampingmu kan ?” Jawaban itu sungguh membuatku lega. Plong. Ingin kukecup keningnya. Tapi aku mendadak mengurungkan niat itu. Dia tampak heran, karena aku hanya bisa menatap wajahnya. “Kenapa, Mas ? Kok meloto n aku tanpa kedip ?” “Kau tampak can k dengan gaun malam ini, Nit. Tampak seksi.” “Ah, kamu mulai ngaco ngomongnya.”
  • 8.
    8 Nita mencubitku. Terasasakit. Tapi kali ini bagiku terasa cubitan mesra. Hingga tak terasa tanganku sudah merangkul pundaknya. Bibirku mulai mengarah ke bibirnya. Tapi mendadak telunjuk Nita mengahalangi bibirku. Hingga batal sudah bibirku untuk mencium bibirnya. “Belum saatnya. Ntar tunggu tanggal mainnya, ya ?” ucap Nita lirih ke telingaku. ***
  • 9.
    9 Kumcer Agung BudiSantoso Kado Buat Elisa
  • 10.
    10 Gantungan Kunci By Agung B.Santoso Sore itu aku sedang duduk santai sambil makan dan minum Cappuccino di Dunkin Donut. Ya, berhen sejenak untuk rehat setelah mondar-mandir mencari buku di Gramedia. Alhamdulillah, buku yang aku cari pun ada. Dan setelah aku beli, tak sabar rasanya ingin mengetahui isinya. Buku itu sangat menarik. Hingga tak sadar ada orang menepuk punggungku dari belakang. “Hei…kamu Agung kan ? ” tanya seorang gadis berambut panjang. Lantas aku menoleh ke belakang. Aku kaget dan terkejut. “Hmm..kamu siapa ya ?” Tanyaku kepada gadis itu. “Masak kamu lupa sih ? Aku Sarah, temen SMA kamu dulu. Pangling ya ?” balas gadis itu. “Oh, kamu yang dulu pacaran dengan Mandala itu ya ? Gimana kabarnya ? Sekarang di mana ?” Aku gan an bertanya kepada Sarah. Sejenak dia terdiam. Entah dia mau berkata apa. Yang jelas dia nampaknya ingin menunjukkan sesuatu padaku. Dan ba- ba dari dalam tas kecilnya dia mengambil gantungan
  • 11.
    11 kunci. Ya, kuncidengan simbol daun Maple bertuliskan kata Vancouver. Dan gantungan kunci itu dikasihkan kepadaku sambil berucap : “Aku sudah putus lama sekali dengan Mandala !” jawab Sarah. “Terus ? ” Aku bertanya semakin penasaran. “Ya, kisahku dengan Mandala sudah selesai. Kami putus semasa kuliah. Dia lebih memilih Maya ke mbang aku.” “Maya ? Siapa dia ?” Aku bertanya lagi. “Oh, ya. Kamu gak bakalan tahu siapa Maya. Dia temenku sekampus,”jawab Sarah. Sambil memesan donat dan minuman panas Sarah kembali bercerita kepadaku. Dia mengisahkan perjalanan cintanya dengan Mandala yang putus di tengah jalan. Dan ketahuan akhirnya kalau Mandala memang punya bakat playboy sejak SMA. Yah, wajarlah kalau Sarah memilih putus dengan Mandala. Dan setelah lulus kuliah Sarah menemukan jodoh orang bule. Suaminya seorang engineer perminyakan dari Kanada. Wuihh….pantes saja gantungan kunci yang diberikan kepadaku bertuliskan kata “Vancouver “ “Kamu gak dengan suamimu ke Gramedia ini ?” tanyaku lagi kepada Sarah. “Ah..enggak lah. Dia lebih senang stay di rumah kok.” “Terus kamu nggal di mana ?” “Untuk sementara aku di Semarang. Tapi 3 bulan lagi aku ikut suami ke Vancouver.” Dalam ha aku berfikir. Wah…bahagia sekali nampaknya kehidupan Sarah. Tak terasa kami ngobrol di Dunkin sudah lebih
  • 12.
    12 dari 30 menit.Dan kami pun sepakat untuk pulang setelah semua makanan dan minuman dibayar Sarah. Sebenarnya aku mau bayar sendiri, tapi nampaknya Sarah lagi berbaik ha padaku. Dan lagian bagi Sarah uang itu terlalu kecil dibanding penghasilanku saat ini. Hmmm…Sarah kamu gadis lucu yang dulu selalu aku godain dan selalu uring-uringan ternyata dapat suami bule yang kaya raya. Dan gantungan kunci pemberian dari Sarah sampai saat ini masih tersimpan rapi di laciku. Sambil kalau aku ingat buku yang aku beli di Gramedia, aku juga ingat kata “Vancouver” di atas gantungan kunci itu.
  • 13.
    13 Kumcer Agung BudiSantoso Kado Buat Elisa
  • 14.
    14 Kafe Merak By Agung B.Santoso Tak biasanya kafe ini sepi pengunjung. Aku dan temanku pernah berkunjung ke tempat ini sebelumnya. Setelah duduk dan memesan makanan serta minuman, kurebahkan badanku di kursi kafe yang mirip seper sofa. Ahh, empuk benar kursi ini. Lalu kuambil sebatang rokok. Kunyalakan api dan kusulut sigaret yang tadi sudah lama tersembunyi di dalam saku. “Kopi Cappuccino satu, French Fries satu, Nasi Goreng plus Pisang Karamel, ya Pak ?” ucap waitress kepadaku. Aku hanya mengangguk pertanda setuju. Sejenak kuterdiam. Memandang lelaki setengah baya duduk di sudut kafe. Nampaknya dia memesan minuman bir. Tampak ada satu botol bir besar di mejanya. Tak hen -hen nya dia menghisap rokok. Apakah dia lagi galau ? Pikirku dalam ha . Hingga pesanan datang. Aku dan temanku lantas menikma sajian yang ada di depan meja. Sampai makanan habis, nampaknya lelaki setengah baya itu belum beranjak dari kursinya. Di depannya botol bir besar masih ada separuh. Gila…lelaki itu pas lagi galau ngkat nggi. Aku tak berani menyapanya. Hingga setelah aku tepat di depan kasir untuk membayar billing. Aku bertanya kepada kasir.
  • 15.
    15 “Lelaki di pojokkafe itu nampaknya lagi galau ya Mbak ?” tanyaku kepada kasir. “Oh, lelaki dengan jaket kulit itu ya Pak ?” tanya kasir kepadaku. Aku mengiyakan. “Lelaki itu sudah seminggu sering ke kafe ini. Dia baru dicerai istrinya,” jawab kasir. Kasihan sekali, pikirku dalam ha . Tanpa berpikir panjang aku dan temanku meninggalkan kafe. Meninggalkan kafe dengan lelaki setengah baya yang sedang dirundung perasaan sedih karena dicerai istrinya. Oh, kafe Merak. Ternyata pengunjungmu sungguh beraneka. Dan kali ini seorang lelaki dengan jaket kulit. Tapi sayang. Kafe mewah ini tak lengkap rasanya karena lelaki berjaket kulit itu sedang sedih di nggal istri tercinta. ***
  • 16.
    16 Kumcer Agung BudiSantoso Kado Buat Elisa
  • 17.
    17 Pengemis Asli, Bukan PengemisBayaran By Agung B. Santoso Siang itu dengan terik sinar mentari sungguh terasa kulit ini sangat terbakar. Kulihat jam tangan menunjuk pukul 13.00. Hu … sungguh melelahkan siang ini. Di pinggir trotoar di perempatan traffic light kulihat seorang pengemis dengan pakaian seadanya. Tangannya tengadah ke atas membawa sebuah kaleng bekas sebagai tempat koin rupiah dari para penderma yang menaruh belas kasih padanya. Sepeda motor yang aku kendari sejenak berhen karena lampu lalu lintas sedang berwarna merah. Kupandangi wajah pengemis tadi. Kasihan sekali kau Pak Pengemis. Di dalam ha , aku menaruh perasaan iba kepadanya. Tanpa basa- basi, aku ambil uang seadanya di saku celana. Kuberikan langsung dan setelah lampu lalu lintas berwarna hijau kembali saya melaju ke kantor pos karena hendak mengirimkan beberapa paket dari bos saya. Sepulang dari kantor pos, saya masih melihat Pak Pengemis tadi tetap bertahan di trotoar melawan teriknya sinar mentari dan berjuang mendapatkan koin rupiah supaya penuh. Benarkah
  • 18.
    18 dia pengemis asli? Jika dilihat dari kostumnya memang terlihat pengemis asli. Saya mulai tertarik mengama perilaku pengemis ini se ap berangkat dan pulang dari kantor. Saya pun dak se ap hari memberikan koin kepada pengemis ini. Takut jadi kebiasaan. Selang beberapa bulan terdengar kabar ada razia pengemis dan pedagang asongan di seputar lampu lalu lintas oleh Satpol PP. Mereka dirazia, diangkut ke atas truk Satpol PP. Entah untuk apa. Apakah akan didata atau dipukuli atau diberi pengarahan atau bahkan akan ditampung dinas sosial ? Aku belum tahu. Keesokan harinya saya baca koran, ternyata dari ratusan pengemis yang dirazia ada beberapa pengemis kedapatan menyimpan uang jutaan rupiah. Hah ? Keningku mengerut. Terkejut sambil keheranan. Lantas aku berfikir kepada Pak Pengemis yang membawa kaleng bekas di trotoar lampu lalu lintas. Berapa ya koin yang ada di kaleng bekas Pak Pengemis itu se ap bulannya. Adakah 500 ribu per bulannya. Ah, dak tahu. Tanya saja kepada Pak Satpol PP yang merazia dia. *** Pada kesempatan siskamling di kampung saya kebetulan dapat giliran jaga siskamling. Kebetulan juga saya satu m dengan Pak Satpol PP. Tetapi bukan satpol PP yang merazia pengemis pembawa kaleng bekas tadi. Karena kebetulan tetangga saya ada juga yang berprofesi sebagai satpol PP. “Malam mas”, sapaku kepada Mas Satpol PP. “O, mas Kamto. Malam juga, Mas”, balas tetangga saya. Sambilmerogohkantongkuambilrokokdankamipunmerokok bersama di pos kamling. “Mas, kemarin lusa baca koran tetang razia pengemis, gak ?,” aku mengawali pembicaraan.
  • 19.
    19 “Oh, yang tempohari kedapatan pengemis memiliki uang jutaan rupiah itu ya.” “Ya”, jawabku singkat. “Yah, itulah Mas. Saya juga heran. Dari razia yang ada memang akhirnya terbongkar juga. Ada juga pengemis yang diorganisir.” “Hah, diorganisir ?” Saya malah tambah keheranan. Dari penjelasan Pak Satpol PP memang unik para gepeng tadi. Gepeng adalah is lah untuk gelandangan dan pengemis. Tidak semua pengemis yang dirazia adalah benar-benar pengemis yang memang perlu ditampung oleh dinas sosial. Kesimpulannya ada pengemis palsu dan pengemis asli. Saya tersenyum dalam ha . Seandainya diminta memilih pun saya dak mau punya profesi sebagai pengemis. Wong, mengajukan pinjaman KTA alias Kredit Tanpa Agunan saja kalau dak benar-benar kepepet saya dak mau. Malam terasa semakin larut. Kami membicangkan soal gepeng seakan tak ada habisnya. Entah sudah menghabiskan berapa batang rokok. Yang jelas saya dan tetangga saya itu semakin betah berada di pos kamling. Hingga tak terasa jam tanganku sudah menunjuk pukul 03.00 dini hari. “Mas, pulang yuk. Giliran kita sudah selesai nih.” “Yuk, saya juga besok harus berangkat pagi ke kantor.” Kami pun sepakat beranjak dari pos kamling. Kulangkahkan kaki ke rumah. Dan Pak Satpol PP pun pulang ke rumah dengan arah yang berbeda. Karena rumah dia terletak berbeda gang dengan rumahku namun masih dalam satu RT. ***
  • 20.
    20 Seminggu sudah taksengaja saya singgah ke dinas sosial. Di papan pengumuman terdapat pengumuman da ar gepeng yang ditampung di situ. Terdapat sebuah nama yang menarik perha an saya. Nama itu “Suripto”. Alamat dak jelas. Ke ka saya tanya kepada petugas. Terkejut saya melihat foto Suripto. Lho, ini kan pengemis yang se ap harinya berada di trotoar lampu lalu lintas. Saya mulai menyelidik Suripto. Walhasil ketemu sudah. Dia sekarang nggal di rumah susun sumbangan pemerintah yang khusus dihuni oleh para gepeng. Dan nasib pun sudah berubah. Dia jadi pedangan nasi kucing dan nggal di rumah susun. Wah, kalau ini mungkin termasuk golongan pengemis asli pikir saya. Karena dia mau merubah nasib dan ikut anjuran dinas sosial. Tidak selamanya ia mau jadi pengemis. Dia berani merubah nasib walau jadi pedagang nasi kucing. Dan dengar-dengar angsuran rumah susun yang dijadikan tempat bernaung juga ringan. Karena misi rumah susun adalah mengentaskan para gepeng. Dan saya pun dak hendak menginves gasi dari mana Suripto mendapatkan modal. Yang jelas saya ikut senang. Suripto sudah berubah. Berubah menjadi Suripto pedagang nasi kucing. Bukan lagi Suripto pembawa kaleng bekas di trotoar lampu lintas. Selamat Suriptosemogahidupmulebihbermaknadan dakmenyandang predikat gepeng. ***
  • 21.
    21 Taman Kota By Agung B.Santoso Sudah ga kali aku lewat taman kota ini dan pas banyak muda mudi duduk-duduk santai di taman itu. Kupikir dalam ha betapa enaknya masa-masa remaja. Memadu kasih dengan pacar begitu mesra. Hingga entah bisikan apa kali ini aku singgah ke taman kota itu. Yah, ada pedagang kaki lima yang berjualan di situ. Penjual es dawet dan bakso nampak sibuk sekali melayani pembeli. Langsung saja aku menuju ke penjual bakso. “Mas, baksonya satu,” pintaku kepada penjual bakso. “Ya, Pak. Sekalian es dawetnya ?” jawab penjual bakso. “Ya, boleh lah sekalian.” Setelah pesan bakso aku lantas menuju ke kursi taman yang sudah tersedia di situ. Taman ini sangat rindang oleh tanaman peneduh kota. Ada pohon beringin yang sudah tua usianya. Terlihat dari batangnya yang besar dan akarnya yang menjulur dari dahan hingga ke bawah. Pantas saja banyak pengunjung yang da ng ke sini. Suasana sejuk dan sangat nyaman buat santai, apalagi menikma bakso yang hangat di tambah es dawet. Tak lama kemudian mataku tertuju kepada wanita berbaju merah pelayan penjual bakso. Dadanya nampak tersembul. Kaus
  • 22.
    22 merahnya tertuliskan tulisanyang membuat aku berani berkata jahil kepada wanita itu. “Daripada punya pacar stress, lebih baik jomblo tapi banyak duit” begitulah tulisannya. Lantas aku nyeletuk, “Beneran nih mbak lebih baik jomblo dari pada punya pacar stress ?” tanyaku. “Maksudnya ?” tanya wanita itu. Sambil menunjuk ke dadanya aku kembali membaca lagi tulisan yang ada di kaus merah wanita itu. Wanita itu tertawa. “Ah, Bapak ini bisa aja,” jawab wanita itu. “Loh, mata saya gak salah kan membaca tulisan itu ?” Mendengar aku bercanda dengan pelayannya, Abang penjual bakso lantas menimpali. “Hahaha….Bapak ini iseng membaca tulisannya atau melihat bukit kembarnya ?” “Yah, salah sendiri pakai kaus dengan tulisan itu. Gak salah kan ?” Aku pun tertawa. Wanita pelayan itu nampak tersipu malu sambil mengantarkan semangkuk bakso dan es dawet. Lalu aku pun menyantap bakso dan tak lupa mengambil posisi duduk yang nyaman. Baru lima menit aku menyantap bakso ba- ba di pundakku ada yang menepuk. “Pantes saja kamu suka mampir ke sini ya..Ton !” Aku menoleh ke belakang. “Oh, ternyata kamu Hen. Ngapain kamu ke sini ?” “Lah kamu sendiri ngapain godain pelayan bakso itu ?” tanya Hendra.
  • 23.
    23 Ya,Hendranampaknyatadisudahmelihatwaktuakumeledek si pelayan baksotadi. Dan aku baru tahu kalau Hendra juga suka iseng ngodain pelayan itu. Yah, seksi memang wanita itu. Tak heran kalau banyak lelaki mampir ke taman kota ini sekedar ingin iseng godain pelayan bakso sambil menikma suasana taman yang sangat sejuk. “Kamu sudah pesan bakso ?” tanyaku kepada Hendra. “Sudah,” jawab Hendra. “Ngomong-ngomong kamu sering mampir ke sini ya ?” tanyaku. “Lah, kamu sendiri ? Sudah berapa kali ?” “Sialan kamu Hen…ditanya malah balik tanya. Aku baru kali ini kok. Kalau sekedar lewat sih sering,” jawabku sekenanya. “Aku pelanggan se a, bro…” jawab Hendra. “O, gara-gara cewek berbaju merah itu atau karena banyak orang nongkrong di sini ?” “Ah, bisa aja kamu, Ton.” Lalu Hendra menjelaskan kepadaku alasan kenapa dia sering mampir ke taman kota ini. Taman kota ini memang cocok buat nongkrong di samping sangat rindang dan sejuk, banyak pengunjungnya wajahnya bening-bening. Aku berpikir dasar mata gak boleh merem, Hendra memang paling doyan kalau melihat yang bening-bening. Hingga tak sadar aku hampir menghabiskan semangkuk baksoku. Lebih dari setengah jam aku ngobrol dengan Hendra. Ternyata kami punya selera yang sama. Suka yang bening- bening. Hehehe…….. ***
  • 24.
    24 Kumcer Agung BudiSantoso Kado Buat Elisa
  • 25.
    25 Terlalu Indah By Agung B.Santoso Mentari sore mulai condong ke arah barat. Aku dan Edo mulai mengemasi peralatan theodolit dan tripod. Setelah memas kan semua alat dak ada yang ter nggal kami segera pulang menuju posko di mana para surveyor nggal untuk mengerjakan proyek jalanlingkar.Tepatnyahampir gabulankamimenjalanipekerjaan ini. Namun sudah banyak kisah roman s yang aku jalani. Semenjak perkenalan pertama dengan Marni si gadis desa yang kebetulan anak dari Bapak Kades. Gadis itu tak pernah absen menemaniku di posko ke ka pekerjaan survey telah usai. “Bang, surveynya udah kelar ?” tanya Marni kepadaku. “Hmmm…kira-kira seminggu lagi as built drawingnya selesai, Mar,” jawabku. “Wah, kalau gitu kita gak bakalan ketemu lagi dong.” “Yah, namanya proyek, Mar. Selalu pindah-pindah gak bakalan menetap di suatu tempat. Mana kala proyek usai, ya… pindah lah ke tempat yang lain.”
  • 26.
    26 Sejenak Marni terdiam.Dia memandangku sangat serius. Lalu tangannya berusaha mengambil sesuatu di dalam kranjang yang sudah ia bawa sejak tadi. “Bang, ini ada pisang baru me k dari kebun. Pisangnya masak di pohon lho ?” Marni segera mengulurkan setandan buah pisang kepadaku. Sungguh perha an sekali gadis ini. Jangan-jangan ada niat tersembunyi dibalik semua itu. Tapi aku segera menghapus prasangka itu. Karena aku tak mungkin berpikir nakal. Aku sudah menjadi seorang ayah. Tak mungkin aku bercinta manakala aku jauh dari istriku. “Wah, kamu kok repot-repot sih, Mar ?” “Gak, apa-apa, Bang. Kan bisa dimakan rame-rame buat begadang nan malam,” sahut Marni. Iya juga sih pikirku dalam ha . Kami di posko memang hampir tak pernah ke luar malam-malam. Yah, maklum suasana desa berbeda dengan kota. Di sini tak ada warung yang buka sampai malam hari. Kalau mau minum kopi dan bikin mie rebus ya terpaksa deh masak sendiri di posko. Setelah memberikan setandan pisang, Marni lantas berpamitan kepadaku. “Sampai besok pagi ya, Bang,” ucap Marni. “Ya, terima kasih, ya…..,” balasku kepada Marni. *** Suara adzan subuh sudah berkumandang. Dengan sedikit malas-malasan kubuka mata ini. Lantas aku pun bergegas untuk sholat subuh berjamaah di mushola desa. Yah, tradisi masyarakat desa ini selalu melaksanakan sholat berjamaah ke ka subuh. Ditemani Edo, aku mengambil shaf diurutan kedua, dan di
  • 27.
    27 samping kiri dengandibatasi kain tampak shaf perempuan. Setelah shalat selesai aku sempat melihat kehadiran Marni di mushola itu. Namun aku tak menyapa gadis itu. Karena nampaknya Marni sangat terburu-buru. Lalu aku dan Edo pun segera melangkah menuju posko untuk kembali menyiapkan peralatan buat survey di siang hari. “Her, nampaknya si Marni ada perha an special ya ke kamu ? “ tanya Edo kepadaku. “Ah, tahu dari mana kamu ?” “Kamu tuh berlagak pilon atau emang dak tahu ? Sejak kamu kenal pertama kali, sampai sekarang. Kalau kagak ada perha an, mana mungkin Marni ap sore main ke posko kita ?” “Ya, juga sih. Tapi kalau aku ladeni bisa gawat nih, Do. Mau aku kemanakan istriku ?” “Alah….sikat aja. Kan istrimu dak tahu ?” bujuk Edo. “Gila kamu !” Sampai saat ini sebenarnya perkenalanku dengan Marni kuanggap sebagai hubungan kakak-adik. Tidak lebih. Tapi kalau Marni mulai ada rasa denganku, bisa gawat. Karena dia belum tahu siapa aku. Aku belum bicara kalau aku ini sudah menjadi seorang ayah. *** Hingga suatu hari, tepatnya Minggu siang. Marni mengajakku untuk hang out. Karena Minggu dak ada perkerjaan proyek aku mau saja diajak Marni untuk sekedar melepas penat di sebuah air terjun yang tak jauh dari desa Marni. “Bang, kita santai di sini ya ?”
  • 28.
    28 “OK,” jawabku singkat. Sejenakkupandangi sekeliling air terjun. Tampak banyak pohon jambu monyet. Dengan air terjun yang mengalir begitu derasnya. Mulai terasa hawa dingin merasuk ke tubuhku. Rasanya aku ingin mandi di bawah air terjun itu. Tapi Marni melarangku. “Jangan, Bang. Jangan mandi di sini. Konon tempat ini agak angker. Jadi tak ada orang yang berani mandi di air terjun ini, “ ucap Marni. “Lalu kenapa kau mengajakku ke tempat ini ?” “Yah, itung-itung uji nyali, Bang.” Tempat ini memang sunyi. Hanya terdengar suara air terjun dan sekali-kali terdengar kicauan burung yang bertengger di atas pohon. Aku dan Marni duduk di atas batu besar sambil melihat ke atas. Memandang bu ran-bu ran air terjun yang jatuh ke bawah. Airnya bening, sebening wajah Marni yang kini ada di depanku. “Bang, aku boleh tanya nggak ?” “Tanya apa ?” “Aku sebenarnya sudah lama memendam perasaan sayang dengan abang. Abang, mau kan jadi kekasih, Marni ?” Ucapan Marni ini begitu mengejutkanku. Jarang ada gadis desa yang begitu polosnya mengucap kata sayang kepada lelaki. Biasanya gadis desa itu malu-malu tapi mau. Tapi Marni dak. Dia secara terang-terangan memintaku untuk jadi kekasihnya. Aku mendadak tak bisa menjawab pertayaan Marni. Antara bicara jujur atau dak. Karena statusku bukanlah seorang jomblo seper Edo. “Mar, aku belum bisa jawab.” “Kenapa ?” desak Marni.
  • 29.
    29 Mungkin dia sengajamengajakku ke sini supaya dia bisa lepas mengatakan uneg-unegnya. Tapi sejenak kuberpikir aku terlalu jauh bermain api dengan Marni. Aku dak tahu apa reaksi Marni kalau dia tahu sebenarnya aku sudah beristri. “Yuk, kita naik ke atas bukit itu.” Sambil menunjuk ke arah bukit. Aku menggandeng tangan Marni. Sengaja aku mengalihkan pertanyaan Marni. Aku masih ingin merahasiakan iden tasku. Hingga kami pulang, pertanyaan Marni masih menggantung. Belum terjawab sama sekali. Aku tak ingin melukai perasaan Marni. *** Tinggal satu hari lagi aku harus kembali ke kota, karena pekerjaan survey hampir usai. Aku nggal membuat laporan pekerjaan dan execu ve summary. Dan aku mulai berpikir untuk berterus terang saja dengan Marni. Tapi dak secara lisan. Di posko, yang kebetulan lagi tak ada orang. Aku mulai menulis surat buat Marni. Marni, adikku tersayang. Abang sebenarnya tak hendak menggantungkan hubungan ini. Abang takut melukai perasaan Marni. Lewat surat ini abang mau bilang bahwa abang tak mungkin membalas cinta Marni. Karena abang bukanlah seorang jomblo seper Edo. Abang sudah beristri. Sekali lagi mohon maaf ya …? Abang tak berani secara lisan ngomong soal ini. Salam sayang, dari abangmu. Heri. Surat singkat itu aku lem di dalam amplop. Lalu sengaja aku meminta Edo untuk menyampaikannya kepada Marni. Biarlah hanya Edo yang tahu apa reaksi Marni. Yang jelas dilema di
  • 30.
    30 kepalaku sudah hilang.Tak peduli apa kata Marni. Biar dia bilang aku begitu pengecut. Tapi aku tak sampai ha melukai perasaan Marni. Tanpa sepengetahuan Marni, aku pun meninggalkan posko di desa. Posko dengan sejuta kenangan. Biarlah Edo nan yang akan jadi saksi. Yang jelas kenangan bersama Marni menjadi kisah tersendiri bagiku. Kenangan manis di se ap proyek yang aku lalui. ***
  • 31.
    31 Kumcer Agung BudiSantoso Kado Buat Elisa
  • 32.
    32 Surat Cinta dariFirdausBy Agung B. Santoso Imam Masjid Besar Kauman telah selesai mengucapkan salam dan diiku oleh makmum. Vicky yang berada di barisan makmum perempuan dak lantas cabut dari masjid. Dengan ru nitas dzikir dan wirid ia masih duduk bersimpuh di Masjid Besar Kauman. Entah berapa lama dia berdoa. Berbeda dengan Firdaus yang berdoa dak terlalu lama. Kelihatannya Firdaus termasuk golongan jamaah yang berdoa dengan paket kilat khusus. Vicky dan Firdaus adalah dua di antara anggota remaja Masjid Besar Kauman yang tetap ru n menjalankan shalat jamaah di masjid. Mereka dak peduli dengan kata orang. Banyak yang mengatakan mereka sok alim, sok suci dan lain sebagainya. Yah, selain mereka bersahabat nampaknya Firdaus mulai jatuh ha dengan Vicky. Dan Vicky pun tahu kalau sebenarnya Firdaus mulai ada rasa dengannya. Hanya saja Firdaus agak malu-malu untuk bicara terus terang. Pada suatu acara bazaar pasar murah yang diselenggarakan oleh Masjid Kauman kebetulan mereka bertemu lagi dalam suatu kepani aan. Ya, Firdaus menjadi ketua pani a. Sedang
  • 33.
    33 Vicky menjadi bendaharapani a. Tak banyak remaja masjid yang menjadi pengurus in . Yang lain hanya menjadi anggota sekretaris bidang. Dan Vicky yang sudah lama mengenal Firdaus tak terlalu canggung jika dalam suatu rapat mereka duduk beradu argumen jika di dalam menentukan anggaran belanja kepani aan terjadi perbedaan pendapat. AcarabazaarpasarmurahjatuhpadahariMinggupagisampai sore. Perha an Vicky malah tertuju kepada Rizal Mantovani yang kebetulan membidangi bagian perlengkapan dan sound system. Ya, tak heran jika Rizal Mantovani sangat tepat mengurusi perkap dan sound system, sebab dia adalah anak semester akhir jurusan Elektro di Universitas ternama di kota Vicky dan Firdaus. Firdaus menjadi ketua pani a karena memang dari segi ilmu agama dan kepemimpinan lebih menonjol dibanding Rizal. Tak terasa acara yang begitu meriah berlangsung sukses dan sesuai rencana. Sungguh bahagia sekali suasana saat itu. Para anggota remaja masjid yang terlibat pada acara bazaar pasar murah itu merasa plong. Acara berjalan lancar dak mendapat suatu kendala apa pun. *** Tibalah saatnya pada acara pembubaran pani a bazaar, trio remaja masjid itu bertemu di ruang rapat Masjid Kauman untuk membahas tentang laporan pertanggung jawaban kegiatan kepadaTakmirMasjidBesarKauman.Rizalyangnampakmenonjol di bidang komputer selalu menjadi tempat bertanya bagi Vicky. Jika ada computer masjid yang bermasalah pas Rizal ditelpon untuk dimintai tolong sekedar memperbaiki dimana letak kerusakan computer. Dari mulai kena virus computer, computer hang, masalah printer, computer lemot, dan gak ada flask disk karena flash disk sering hilang dipinjam anggota yang lain. PadasaatVickysudahselesaimenge kLPJkeuangankegiatan
  • 34.
    34 bazaar pasar murah.Vicky mengalami kesulitan. Ya, printer gak mau ngeprint, padahal kertas A4 sudah dimasukkan dan macet di saat proses prin ng berjalan. Tak heran jika Vicky langsung nelfon Rizal untuk segera memperbaiki printer yang macet tadi. “Zal, tolong dong ke ruang Takmir,” pinta Vicky memanggil untuk datang ke masjid. “Ya, ada apa sih ? Gangguin orang aja. Lagi enak main game nih,” jawab Rizal seenaknya. “Please, tolong nih printer ngambek gak mau ngeprint !” “OK, segera meluncur. Nan apa bonusnya ?,” tanya Rizal. “Gampang deh, martabak telor satu piring, “jawab Vicky enteng. Yah, gara-gara membetulkan masalah printer yang lagi paper jam hubungan Rizal dan Vicky semakin akrab. Berbeda dengan Firdaus. Vicky lebih sering berantem dan berdebat dengan Firdaus. Hanya karena Firdaus orangnya terlalu kaku dalam menentukan kebijakan anggaran belanja kepani aan. Sedikit-sedikit nggak boleh, sedikit-sedikit gak boleh. Sebel jadinya Vicky sama Firdaus. Walaupun sebenarnya Firdaus dan Rizal juga sama-sama ganteng. Dan banyak anggota remaja masjid yang sering membincangkan hubungan mereka. Ada salah satu teman Vicky yang menanyakan perihal Firdaus dan Rizal. “Vick, sebenarnya kamu lebih senang dengan siapa sih ? Rizal atau Firdaus ?”, tanya Tina sahabat karib Vicky. Vicky hanya diam tak bisa menjawab. Dia belum menentukan pilihan. Ya, karena mereka ber ga sebenarnya masih kuliah semua. Mereka masih berhubungan sebagai
  • 35.
    35 sebatas teman daklebih dari itu. Namun lama kelamaan teman- teman Vicky mulai tahu kalau sebenarnya Vicky lebih senang dengan Rizal. Karena Rizal orangnya serius tapi santai punya sense of humor yang nggi. *** Dua tahun sudah mereka menjadi pengurus remaja Masjid Besar Kauman. Dan mereka pun sudah di wisuda dari tempat mereka kuliah di perguruan nggi. Dan menurut kabar yang sudah pas kebenarannya Rizal lulus dengan predikat sangat memuaskan. Rizal diterima sebagai karyawan di PT. PLN (persero) sebagai tenaga IT dan sedang menjalani masa proba on selama ga bulan. Sedang Vicky diterima sebagai tenaga marke ng suatu perguruan nggi swasta di kotanya. Firdaus yang kelihatannya lebih serius menekuni bidang keagamaan akhirnya bekerja di sebuah BMT di kelurahan tempat mereka ber ga berdomisili. Firdaus mendengar Rizal diterima di PT. PLN (persero) dak ada perasaan iri dan dengki. Justru ia ikut senang dan bangga. Firdaus mengucap selamat kepada Rizal. Namun yang membuat Firdaus kaget adalah ke ka dia mendengar kabar bahwa Vicky dan Rizal sudah bertunangan dan akan melangsungkan pernikahan di bulan Dzulhijjah. Bagai disambar pe r perasaan Firdaus. Tak disangka tak diduga. Ternyata bidadari pujaannya lebih memilih Rizal ke mbang dirinya. Namun Firdaus tak menaruh rasa dendam kepada Vicky. Ke ka acara pernikahan Rizal dan Vicky berlangsung di bulan Dzulhijjah. Firdaus sempat menghadiri pesta pernikahan Rizal dan Vicky. Namun di dalam sebuah amplop pu h bersih seharum mela Firdaus menempatkan surat rahasia. Firdaus memasukkan amplop itu ke dalam kotak di depan meja resepsionis. Hanya Firdaus yang tahu isi di dalam amplop tersebut. Dan ke ka acara
  • 36.
    36 pesta pernikahan usaidan semua bubar. Baik pani a pengan n dan rombongan famili terlelap dalam dur. Vicky terbangun. Pandangannya tertuju kepada amplop pu h dengan aroma mela . Vicky pun mengambilnya, dengan penasaran ia mulai membuka amplop dan mulai membaca. Trada !!! Vicky dak bisa memahami apa isi surat di dalam amplop tadi. Karena ditulis dengan bahasa aneh. Tulisan itu lalu ditunjukkan kepada suami Vicky alias Rizal Mantovani. Kening Rizal mengkerut membaca tulisan : “Adakudu sedebedenadarnyada cinditada sadamada kadamudu tadapidi kadaredenada kadamudu ledebidih medemidilidih Ridizadal sududadahladah adakudu redelada. Sedeladamadat medenedempuduh hididudup badarudu.” “Wah, aku juga nggak nger nih,”jawab Rizal. “Lah, katanya anak Elektro. Kok gitu aja gak tahu ?”, tanya Vicky. “Ah, sudahlah. Yang jelas itu bukan bahasa Arab. Pas itu bahasa Indonesia,”jawab Rizal enteng. Dan Rizal pun ter dur kembali karena telah melewa malam pertama bersama Vicky. Sampai saat ini pun Vicky masih penasaran dibuatnya. Ya, surat Firdaus menjadi misteri di dalam kehidupan Vicky.
  • 37.
    37 Kumcer Agung BudiSantoso Kado Buat Elisa
  • 38.
    38 Shinta dan Bella By AgungB. Santoso Hari Senin ini kantorku kedatangan dua siswi SMK. Namanya ShintadanBella.Akutakheranpas duasiswiitumaumengajukan proposal magang kerja. Kok tahu ? Ya, tahu dong wong datangnya aja diantar sama Pak Satpam. “Pak, ini ada dua siswi mau mengajukan proposal magang,” kata Pak Satpam. “Oh, ya ? Silakan masuk ke ruangan saya,” balasku. “Ya, Pak.” Sambil menutup pintu Pak Satpam meninggalkan ruanganku. Tak berapa lama dua siswi SMK yang can k-can k itu segera masuk ke ruangan. “Yang namanya Shinta mana ya ? “ “Saya Pak,” jawab Shinta yang berambut panjang. “Terus yang namanya Bella mana ? “
  • 39.
    39 “Saya Pak, “jawab Bella yang berambut pendek. Setelah membaca proposal magang. Nampaknya dua siswi SMK ini mengambil prodi TKJ. Dan dari proposalnya saya tahu, mereka hendak mempelajari system jaringan dan seputar troubleshoo ng dalam perawatan PC. Secara prinsip dua siswi itu bisa diterima magang, maka saya minta kepada Mbak Mirna untuk segera membuat surat balasan kepada Kepala Sekolah mereka. “Mbak Mirna tolong buatkan surat balasan ke SMK Bina Nusantara yang isinya kita menerima dua siswi ini untuk magang di kantor kita,” pintaku kepada Mbak Mirna. “Ya, Pak” “Oh, ya. Sekalian beritahukan kepada mereka untuk mulai masuk ke kantor kita minggu depan. Dan nan bisa didampingi oleh Mas Hendra.” “Baik,Pak, “ jawab Mbak Mirna. Mbak Mirna segera menge k surat balasan dan dikasihkan kepada Shinta dan Bella. Tak lama kemudian mereka pun mohon diri untuk kembali ke sekolah. Dan berjanji akan mematuhi segala peraturan yang ada, baik yang ada di kantorku maupun tata ter b yang telah dibuat oleh sekolah mereka. *** Program magang kerja yang diselenggarakan oleh SMK Bina Nusantara berlangsung dua bulan. Sejauh ini kedua siswi tersebut dengan Mas Hendra nampak dekat dan dak terdapat masalah. Mereka mengiku segala instruksi yang diberikan oleh Hendra dan sesekali mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan jika mereka belum tahu. Shinta nampaknya lebih menonjol dibanding Bella. Namun Bella lebih menguasai di bidang perawatan PC, sedang Shinta lebih menguasai soal jaringan apalagi soal internet
  • 40.
    40 nampaknya ia lebihgaul. Dan akhirnya saya tahu ternyata di rumah Shinta juga berlangganan internet. Dan kalau ke kantor pun kadang dia juga membawa netbook dengan modem USB. “Shinta, sebenarnya kamu tak perlu membawa netbook segala kalau lagi magang,” perintahku. “Lha, memang kenapa Pak ?” “Ya, kan di kantor ini system jaringan sudah lengkap. Apalagi sudah ada Wifi.” “Ok, deh Pak. Kalau bawa netbook saja gimana tanpa modem ? Kan saya bisa manfaa n Wifi di kantor tanpa pakai PC kantor ?” “Gak apa-apa sih. Yang pen ng manfaatkan sebaik-baiknya mumpung kamu magang di kantor ini.” Dua minggu pelaksanaan magang sudah berlangsung dan nampaknya Mas Hendra mulai ada rasa dengan Shinta. Saya yang diam-diam memata-matai mereka mulai curiga. Jangan- jangan mereka menjalani cinta lokasi. Hmmmm…benar gak ya. Dan saya tak kehilangan akal. Pada waktu is rahat makan siang kebetulan Hendra mengajak Shinta makan siang di luar. Dan Bella tetap di kantor menikma catering yang sudah disediakan oleh kantorku. Langsung saya tanya kepada Bella tentang hubungan Shinta dan Hendra. “Bell, kelihatannya Shinta dan Hendra ada cinlok ya ?,” selidikku kepada Bella. “Gak tahu tuh, Pak. Kelihatannya sih iya,” jawab Bella. “Hmm…tapi kok kalau pulang magang kamu tetep berdua dengan Shinta ?”
  • 41.
    41 “Yah, kan rumahShinta dengan rumah saya berdekatan dan masih satu jurusan.” “Oh, gitu ya ?” Aku mulai menganalisa untuk kemudian menunggu hasilnya. Namun aku tak hendak melarang kalau mereka menjalin hubungan cinlok. Sudah wajarlah kalau mereka mulai saling memberi perha an yang lebih dari sekedar teman. *** Tak ada hujan tak ada badai kulihat wajah Hendra kelihatan suntuk banget. Lain daripada yang lain. Hendra biasanya selalu ceria dan penuh dengan humor kalau lagi kerja. Aku memberanikan diri bertanya kepada Hendra. “Hen, kok tumben kamu lesu banget ?” tanyaku. “Ah, biasa Pak. Lagi bete, “jawab Hendra sekenanya. “Lah, bukannya kamu lagi pedekate dengan Shinta ?” “Shinta ? Shinta yang mana ? Yang anak magang itu ?” “Lho memang kamu gak ada rasa dengan dia ? “ tanyaku penasaran. “Ah..dia sudah punya boy friend Pak.” “Lho tahu dari mana kamu ?” selidikku. “Ya, secara gak sengaja. Pas malam minggu saya ketemu dia di mall pergi nonton film dengan cowoknya.” “Kamu sempet tanya ke Shinta ?” tanyaku kepada Hendra. “Ya, malah Shinta-nya sendiri kok yang ngenalin cowoknya ke saya. Habis gitu bergandengan mesraaa….banget.”
  • 42.
    42 “Ya, udahlah. Santaisaja. Cewek banyak di dunia ini. Tetap semangat kerja ya,” hiburku kepada Hendra. *** De k-de k menjelang magang usai Shinta dan Bella masih nampak enjoy menerima segala ilmu yang diberikan oleh Hendra. Ya, semenjak Hendra tahu kalau Shinta sudah punya pacar, Hendra mulai jaga jarak dengan Shinta. Hendra masih bisa professional dalam bekerja. Dan sebagai teknisi jaringan Hendra memang karyawan andalan di kantorku. Aku salut dengan Hendra. “Hen, ga hari lagi mereka selesai magang lho ?” godaku kepada Hendra. “Ah, Bapak bisa aja. Emangnya kenapa Pak.” “Kamu gak kasih kenang-kenangan ke Shinta ?” tanyaku kepada Hendra. “Kenangan apa ? Yah, paling cuma UTP cable tester aja Pak, “jawab Hendra. “Yah, bagus lah. Apalagi kayaknya Shinta jago banget kalau ngurusi jaringan computer.” Hari Kamis adalah hari terakhir Shinta dan Bella magang di kantorku. Mereka dijemput oleh guru pembimbingnya. Dan gurunya memberi kenang-kenangan berupa plakat kerja praktek ke kantorku. Tak lupa aku juga mengucapkan terima kasih kepada guru mereka. Karena selama magang Shinta dan Bella dak terlalu resek dan ter b mematuhi peraturan yang ada. Apalagi bolos pun dak pernah. Dan nampaknya Hendra sebagai instruktur telah memberi nilai baik kepada mereka berdua. Selamat ya Shinta dan Bella. Namun Hendra kelihatan agak sedih karena cinlok yang telah dibina berakhir dengan kenangan pahit. Sebab Shinta sebagai dewi pujaan ha ternyata sudah punya cowok. Jangan bersedih Hendra. Semoga suatu ke ka kau dapatkan dewi pujaan
  • 43.
    43 Kumcer Agung BudiSantoso Kado Buat Elisa
  • 44.
    44 Melon CaféBy Agung B.Santoso Tepat pukul 16.00 aku beranjak untuk meninggalkan kantor. Ya, sepulang dari kantor Monika mengajak untuk ketemuan di Melon Café. Café yang bersih dan terkenal dengan fasilitas free wifi. Apalagi pelayannya juga masih muda-muda dengan seragam warna cerah yang dak sepet dipandang mata. “Mon, mau minum apa ? ” tanyaku setelah duduk di kursi dengan meja nomor 12. “Terserah kamu aja deh. Aku lagi no other choice,” jawab Monika. “OK, deh kalau gitu aku pesenin juice Alpukat aja sama French Fries ya ?” Monika mengangguk pertanda ia setuju dengan penawaranku. Aku sebenarnya rada penasaran juga mengapa Monika mengajakku untuk nongkrong di café itu. Sambil menunggu pesanan makanan dan minuman yang belum datang, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Monika.
  • 45.
    45 “Eh, Mon. Tadikamu telpon dan ngajak ketemuan di Melon Café ini sebenarnya ada apa sih ?” “Yah, mau curhat aja sih. Emang kamu nggak mau ya ketemuan sama aku ?” Monika malah balik bertanya kepadaku. “Ya, bukan begitu. Masalahnya akhir-akhir ini kok kamu pengin ketemu aku terus itu sebenarnya ada apa. Ada masalah ya dengan suamimu ? ” selidikku kepada Monika. “Ah, enggak. Aku fine-fine aja kok dengan suamiku. Aku lagi ada masalah dengan Nico.” Jawaban Monika sungguh mengejutkanku. Setahuku Nico adalah mantan pacar Monika sewaktu masih SMA. Dan kisah mereka juga sudah putus ke ka mereka sudah kuliah karena mereka dak berada di kampus yang sama. “Bukankah kamu sudah nggak ada story lagi dengan Nico ? “ “Nah, itu lah Bob. Aku mengalami CLBK ! ” jawab Monika. “Hah, apaan tuh CLBK ? ” tanyaku penasaran. “Ah, masak kamu gak tahu sih ? Cinta Lama Bersemi Kembali !” “Oh, itu. Lah..kok bisa terjadi CLBK. Emang siapa yang mulai duluan ?” Monika mulai bercerita kepadaku dari A sampai Z. Dan aku mulai paham sekarang. Ternyata Nico yang mulai duluan. Sebenarnya Monika hanya berempa saja kepada Nico. Karena Nico tak beruntung memiliki istri bernama Melani. Istri Nico ternyata seorang pemboros. Se ap uang yang diberikan kepada Melani dari hasil kerja keras Nico tak pernah tersisa sedikit pun. Selalu saja habis buat belanja. Dan ternyata istri Nico memang paling hobi belanja ke mall.
  • 46.
    46 Karena waktu sudahlumayan larut, dan jam tanganku pun sudah menunjukkan pukul 18.00. Maka kami pun segera mengakhiri obrolan CLBK antara Monika dan Nico. Sebenarnya Monika ingin curhat lebih lama tapi ia sudah janji dengan anak- anaknya untuk dak pulang ke rumah sampai larut malam. Monika segera menuju ke mobil Avanza warna hitam, sementara aku menuju ke tempat parkir sepeda motor yang tak jauh dari lokasi mobil Monika. Dan curhat yang singkat itu akan berlanjut di tempat yang sama di esok hari. Karena Monika nampaknya sangat butuh saran dan pendapatku tentang masalah CLBK yang dialaminya dengan Nico. *** Sesuai janji yang sudah kusepaka . Melon Café adalah saksi bisu antara aku dan Monika. Dan nampaknya Monika sudah nggak sabar menungguku di café itu. Dia datang lebih awal dariku. Ke ka aku menghampiri Monika di depan meja dengan nomor 12 sudah terhidang makanan dan minuman yang menggugah selera. “Wah, kamu sudah pesan duluan rupanya Mon ?” “Yah, nungguin kamu lama banget. Terpaksa deh aku pesan makanan dan minuman kesukaanmu, ” jawab Monika. “Sori deh telat 15 menit, soalnya tadi ada pekerjaan kantor yang perlu diselesaikan,” Aku memberikan alasan kepada Monika kenapa aku datang terlambat ke Melon Café. KisahCLBKyangdialamiMonikasebenarnyamasalahsepele. Keputusan tegas seharusnya ada di tangan Monika. Hanya saja Monika yang punya sifat nggak tegaan perlu di-support supaya dak terlalu jauh bermain api dengan Nico. “Mon, kamu sudah sepantasnya bersikap tegas kepada Nico, ” saranku kepada Monika.
  • 47.
    47 “Lah, aku maugimana lagi. Nico itu super nekat. Memang sih aku bisa terlena dengannya. Mengingat dulu semasa SMA aku pernah ada story dengannya.” “Nah, aku juga menyayangkan rumah tanggamu. Sebelum Nico hadir kembali, keluargamu kan sangat bahagia dan harmonis. Apa kamu mau mengkhiana suamimu dan anak-anakmu ? ” tanyaku kepada Monika. “Ya, aku butuh penger an dari Nico sebenarnya. Mengingat masa SMA sudah dak tepat lagi untuk diulang kembali. Dunia kami sudah berbeda, ” kenang Monika. “Kamu dak berusaha untuk lepas darinya ?” “Sudah sih,” jawab Monika. “Lalu kenapa masih saja dia nekat hadir di dalam kehidupanmu? ” tanyaku penuh penasaran. Monika terdiam sejenak. Nampaknya dia masih bingung dan ragu harus ber ndak seper apa lagi. Monika memang menyayangkan Nico mendapatkan istri Melani yang sangat pemboros. Apa lagi Melani sering melakukan terror kepada anaknya jika Nico lupa untuk memberikan na ah. Sebagai seorang konsultan, sebenarnya Nico punya penghasilan yang cukup. Tapi apa daya, Nico adalah seorang suami yang mudah dise r oleh seorang istri. Dan anehnya jika dia mendapatkan masalah berat, selalu lari kepada Monika. Yah, masuk akal juga karena Monika adalah masa lalu Nico semasa masih pacaran di bangku SMA. Terlalu indah jika harus dihapus begitu saja. “Begini, aku punya solusi. Jika Nico masih mencintai keluarganya, bilang saja kamu kepada Nico. Sebagai seorang suami, sudah seharusnya dia bisa mengendalikan istrinya yang
  • 48.
    48 sangat pemboros itu.Dan kamu sebagai orang yang pernah dicintainya sudah seharusnya dak memberi harapan baru kepada Nico. Menurutku kamu hanya dijadikan pelarian saja, Mon.” Perlahan-lahan Monika mulai menyadari, kalau sebenarnya dia hanya dijadikan pelarian saja oleh Nico. Monika pun tak ingin keharmonisan rumah tangganya menjadi rusak gara-gara kehadiran Nico. Melon Café menjadi kenangan tersendiri bagi Monika dan Nico. Dan akhirnya aku baru tahu mengapa Melon Café menjadi tempat favorit bagi Monika. Ya, sudah satu tahun lamanya Monika menjalani hubungan gelap dengan Nico. Mereka menjadikan Melon Café sebagai tempat untuk nge-date. Aku pun tak tahu sudah seberapa jauh hubungan CLBK mereka. Yang jelas pertemuanku dengan Monika di café itu adalah awal bagi Monika untuk mengakhiri CLBK yang hampir mengguncang keharmonisan rumah tangga Monika. Cukuplamakamiberdialogdanmencarisolusiyangtepatagar Nico tak hadir kembali di dalam rumah tangga Monika. Monika nampaknya sudah pusing hanya dijadikan tempat pelarian oleh Nico. Tekad Monika sudah bulat, dak sepantasnya dia terlalu bersimpa kepada Nico. Toh, Nico adalah masa lalu. Dia tak ingin mengkhiana suaminya yang begitu tulus mencintainya. Apalagi Monika juga dikaruniai anak yang lucu-lucu. Sejenak aku menghabiskan minuman kopi panas yang ada di depanku. Sambil menegaskan lagi kepada Monika untuk tetap menolak kehadiran Nico. Karena aku pun tak tega jika kehadiran Nico hanya sebagai parasit bagi keluarga Monika. “Hmm..gimana ? Sudah bulat tekadmu untuk menghapus Nico dalam kehidupanmu ? ” tanyaku kepada Monika untuk menegaskan kembali akan keseriusannya menyelesaikan masalah CLBK-nya.
  • 49.
    49 “Yah, aku harustegas Bob, ” jawab Monika penuh dengan rasa op mis. “Biarlah Melon Café ini menjadi tempat menyimpan rahasia antara aku dan Nico,” kenang Monika. Aku pun diam. Sambil melihat jam tangan, angka di dalam jam tanganku sudah menunjukkan digit 18.05. Aku mulai mengingatkan Monika. “Eh, Mon. Sudah saatnya kita pulang nih,” kataku kepada Monika. “Oh, ya. Sudah lebih lima menit ya ?” “Ya, Nan kamu pulang terlambat ke rumah. Kasihan anak- anakmu yang sudah menan mamanya nggak pulang-pulang, ” jawabku enteng. Kami pun mulai meninggalkan Melon Café. Melon Café yang tak pernah sepi dengan para pengunjung. Entah sekedar sebagai tempatnongkrongatautempatbuatnge-dateseper yangdialami oleh Monika dan Nico. Aku lalu menaiki sepeda motorku. Dan dua hari berkunjung ke Melon Café aku pun punya kesan tersendiri terhadap tempat itu. ***
  • 50.
    50 Kumcer Agung BudiSantoso Kado Buat Elisa
  • 51.
    51 Lelaki di UsiaSenjaBy Agung B. Santoso Secangkir kopi itu diambilnya dan ditaruh di samping laptop. Lalu lelaki tua itu melanjutkan ak vitasnya menge k di atas keyboard QWERTY. Sudah banyak, bahkan ratusan ar kel dan cerpen yang ia tuliskan di dalam laptopnya. Namun tak satu pun tulisannya ia kirimkan ke penerbit atau surat kabar. Entahlah, si lelaki tua itu menganggap kegiatan tulis menulis hanyalah kegiatan iseng di masa-masa pensiun. Ia tetap bersahaja didampingi istrinya yang juga sudah dak muda lagi. Lelaki tua itu memiliki dua cucu dari putri pertamanya. Dan satu cucu dari putera kedua. Sedang dari putri bungsunya ia belum mendapatkan cucu, karena si bungsu masih kuliah di semester akhir di sebuah PTN Yogyakarta. Kakek tua itu sangat sayang dengan cucunya. Adit seorang cucu dari putri pertamanya kadang selalu menemani kakeknya menulis ke ka hari libur. Manakala kakeknya dak ingin diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan cucunya, maka sang kakek pun tak
  • 52.
    52 kurang akal. Diberinyateka-teki atau puzzle yang lumayan susah kepada sang cucu. Dan sang kakek pun melanjutkan kembali ak vitasnya menulis di atas keyboard. Pada suatu hari Adit penasaran kepada kakeknya, karena melihat kakeknya tak pernah bosan menatap layar LCD dan papan QWERTY. “Kek, kenapa sih kakek suka nulis di laptop tapi tulisannya gak pernah muncul di koran, ” tanya Adit. “Ya, karena kakek gak ingin terkenal. Cukup anggota keluarga saja yang tahu kalau kakek gemar menulis,” balas sang kakek. “Hmmm….kalau gitu apa enaknya, Kek. Capek-capek nulis gak dapat duit. Habis gitu tulisannya cuma dibaca oleh anggota keluarga saja.” “Kamu belum saatnya untuk tahu tentang kegiatan kakek. Suatu ke ka kamu akan memahaminya jika sudah dewasa,” jawab sang kakek mengakhiri pertanyaan Adit. *** Pada hari Minggu tepatnya minggu ke ga di bulan April, Adit yang secara tak sengaja membuka laptop sang kakek menemukan tulisan yang aneh. Adit heran dan kaget. Masak sih kakeknya jatuh cinta lagi. Padahal dia sudah memiliki ga cucu. Dan dengan neneknya pun tak pernah ada ribut-ribut. Adit membaca sebuah cerpen karangan kakeknya yang berjudul “Cintaku di kampus biru”. Kalau dibaca secara sekilas memang cerpen itu mengisahkan kisah percintaan antara sepasang mahasiswa dan mahasiswi yang sedang dimabuk cinta. Baru saja membaca di aliea kelima ba- ba Adit ditegur oleh kakeknya.
  • 53.
    53 “Hayo, kamu menginp tulisan kakek, ya.” “Ah, enggak kok, kek. Adit cuma baca-baca doang.” “Sama saja, itu namanya mengin p kalau baca tulisan orang di laptop tanpa ijin.” “Ya, maaf deh, kek. Habis salah sendiri kakek menulis di laptop gak di password.” “Ya, sudahlah. Gak mengapa. Kamu pengin bisa nulis cerpen seper kakek,” tanya sang kakek kepada cucunya. Adit terdiam. Dia belum bisa menjawab ya atau dak. Karena dia masih suka bermain-main dan lebih suka baca komik ke mbangharusbelajarnuliscerpen.NamunrasapenasaranAdit tak hilang begitu saja. Lantas ia mengajukan pertanyaan kepada kakeknya mengapa menulis cerpen kisah percintaan padahal usia kakeknya sudah lumayan senja. Kakeknya pun menjawab dengan penuh kesabaran. “Adit, di dalam menulis itu kakek menemukan kebebasan berekspresi. Dan kisah yang ada di cerpen itu sebenarnya kakek hendak mengenang kembali kisah jadul ke ka kakek pertama kali bertemu dengan nenek. Walau tokoh dan se ng lokasi dibuat berbeda tapi kakek ingin mengenang kisah roman s kakek bersama nenek ke ka masih muda.” “Oh, gitu ya …kek,” Adit mengangguk sebagai pertanda puas dengan jawaban kakek. “Yah, begitulah. Dan kalau tulisan ini dibaca oleh nenek, ia pas akan tersenyum geli mengenang kisah roman s jaman jadul.” ***
  • 54.
    54 Kakeknya Adit memangterkenal sebagai perokok ak f dan doyan minum kopi sebagai teman begadang ke ka ia harus menulis ar kel atau cerpen hingga larut malam. Cukup banyak bekas batang rokok yang tertumpuk di atas asbak. Terkadang Adit mengambilnya dan dibuang ke tempat sampah. Adit tak berani menegur kakeknya yang memang tergolong perokok berat. Hingga suatu sore sang kakek merasa agak sesak pernapasannya dan jatuh pingsan. Adit yang nampak panik segera memanggil neneknya. Dan ke ka neneknya melihat sang kakek pingsan, ia lantas menelpon anaknya yang sulung untuk sekedar mengantarkan berobat ke rumah sakit. Dan sesampai di rumah sakit,sangdokterhanyadapatberpesanbahwasangkakekdiminta untuk mengurangi rokok dan minum kopi. Sempat satu minggu kakek Adit dirawat di rumah sakit. Dan sebagai cucu kesayangan kakek, Adit nampaknya dak ragu mendampingi kakeknya hingga sembuh dan pulang ke rumah kembali. Semenjak kejadian pingsan dan harus opname di rumah sakit sang kakek nampaknya benar-benar mematuhi anjuran dokter. Dia sudah mulai mengurangi rokok dan sedikit minum kopi. Namun untuk ak vitas tulis menulis nampaknya tetap berlanjut. Dan ini kadang membuat kakek Adit selalu dur hingga larut malam. Jika Adit merasa bosan menemani kakeknya menulis di atas laptop, ia malah sudah dur duluan. Namun Adit merasa bangga bisa menemani kakeknya menulis, karena ia pun dapat bertanya kepada kakeknya tentang pelajaran sekolah ke ka mendapatkan PR yang harus dikumpulkan di esok hari. Ayah Adit pun heran. Mengapa ia justru lebih dekat dengan kakeknya ke mbang dengan ayahnya. Mungkin Adit merasa ayah Adit jarang ada di rumah. Sebab ayah Adit sering dinas ke luar kota. ***
  • 55.
    55 Hingga menjelang ulangtahun Adit merasa mendapatkan surprise dari kakeknya. Ia diberi kado berupa cerpen dengan judul “Cucuku seorang pembelajar”. Ke ka perayaan ulang tahun yang ke-12 kado cerpen itu diberikan oleh kakek di sebuah kolam pancing keluarga di hari Minggu. Sambil menikma gurami bakar Adit tak bosan-bosannya membaca cerpen kakeknya itu. Dan ini lain dari yang biasa. Adit biasanya sangat gemar baca komik. Tapi baru kali ini ia mau membaca sebuah cerpen. Hingga suatu hari kakek Adit terkejut mendengar perkataan dari cucunya. “Kek, Adit mau jadi penulis.” Tanpa terucap sepatah kata. Sang kakek hanya tersenyum kagum. Ia telah berhasil menanamkan kebebasan berekspresi kepada cucunya. Kebebasan berekspresi di dalam bentuk tulisan di usianya yang telah menginjak 12 tahun. ***
  • 56.
    56 Kumcer Agung BudiSantoso Kado Buat Elisa
  • 57.
    57 Kau Bukan Jodohku By AgungB. Santoso Ya, tepatnya ini tanggal 10 November. Mengingatkanku akan sebuah nama. Seorang gadis periang yang bekerja sebagai pemandu karaoke di kotaku. Gadis itu tak pernah merasa kesusahan. Segala cobaan hidup ia lalui dengan canda dan tawa. Pertemuan pertama dengannya di sebuah rumah kost yang cukup mewah. Tadinya aku tak sengaja berkunjung ke tempat kost itu. Hanya karena diajak oleh temenku yang bernama Alex, aku menjadi akrab bergaul dengan Vivid. “Hai, kenalkan ini temanku Sandi,” Alex mengenalkanku dengan Vivid. “Namaku Vivid, kamu nggal di mana ? tanya Vivid kepadaku. “Ah, deket kok. Tak jauh dari tempat kostmu,” jawabku santai.
  • 58.
    58 “Kamu suka nyanyijuga ya ? Vivid mulai memancing pertanyaan. “Ya, suka juga. Tapi penyanyi ama r kok. Sama kamu pas suaraku kalah,”balasku sekenanya. “Alah kamu sukanya merendah. Sekali-sekali nyanyi yuk di tempat kerjaku,”ajak Vivid bersemangat. “Kapan ? Sekarang ? “ Aku menantang Vivid nyanyi saat itu juga. Percakapan singkat itu mengawali pertemananku dengan Vivid. Karena Alex dan aku setuju untuk nyanyi di tempat kerja Vivid maka malam itu juga kami segera menuju ke Apple Karaoke. Vivid nampaknya senang sekali. Serasa mendapat durian runtuh. *** Se ap nyanyi di Apple lagu andalanku pas lagunya Republik. Lagu dengan judul “Hanya ingin Kau tahu”. Aku sangat menguasainya. Kadang Vivid bertepuk tangan, pertanda aku menjiwai lagu itu. Tak terasa kami hampir lupa waktu kalau sudah nyanyi bersama. “Kamu nggak bosan ya dengan lagu itu ?” tanya Vivid. “Lah..kenapa bosan ? Kan aku senang. Lagian suaraku pas kok dengan vokalisnya.” “Yah, sih. Kamu ada kenangan dengan lagu itu ya ?” “Ah, nggak. Cuma buat ngimbangi kamu aja. Kan suaramu bagus banget. Gengsi dong kalau aku kalah sama kamu.” Kami pun tertawa. Pertemananku dengan Vivid kian akrab. Seminggu tak jumpa bagaikan sewindu. Kalau pas lagi sibuk kerja hanya sms dan ucapan hello kusampaikan kepada Vivid. Dan
  • 59.
    59 Vivid pun memakluminya.Pernah suatu ke ka di malam Minggu Vivid nggak kerja. Dia bilang capek, ia ingin sekedar hang out pergi nonton film. Tapi aku menolaknya karena belum ada film yang bagus. Aku mengajak Vivid untuk makan malam saja di café. “Malam Minggu beginian, apa kamu nggak boring kerja terus ?” tanya Vivid. “Lha kamu emang mau ke mana ?” “Nonton, yuk ?” Vivid merengek kepadaku seper anak kecil. “Ah, nggak ada film bagus kok. Gimana kalau makan aja ?” Aku memberi tawaran lain. “Boleh deh. Makan steak yuk ?” Vivid langsung bersemangat kalau ditawari makan steak. “Siapa takut ?’ Karenatempatkostnyadanrumahkuterletak dakberjauhan, maka aku pun segera meluncur menghampiri Vivid. Sesampai di warung steak kami berdua mulai memesan menu favorit. Dan tak sampai menunggu lama, menu yang kami pesan pun sudah tersaji di depan mata. “Vid, kalau kamu gak kerja apa bos kamu gak marah ?” “Ah, enggak kok. Yang pen ng kan aku sudah ijin.” “Hmm…asyik dong kalau begitu.” “Ah …udah ah jangan ngomong soal kerjaan. Lagian kamu ngajak ke sini untuk santai kan ?” “Ya, sih. Ayo habiskan steaknya, nan keburu dingin.” ***
  • 60.
    60 Begitulah masa-masa indahkubersama Vivid. Kalau dak nyanyi, nonton, makan steak ya santai aja di tempat kostnya Vivid. Sambilngobrolngalorngidul.Vividsangatmenikma pertemanan ini. Hingga suatu ke ka karena aku mulai ada rasa dengannya, aku mulai memberanikan untuk ngomong soal status. Vivid nampak kaget. Dia diam sejenak dak menjawab pertanyaanku. Dia belum bisa menerima tawaranku untuk meningkatkan status pertemanan menjadi sepasang kekasih. Aku tambah penasaran. Namun aku segera mengalihkan pembicaraanku. Vivid masih menyimpan rahasia besar. Hingga suatu ke ka aku bertemu dengan Alex. Sebenarnya aku nggak ingin membicarakan status Vivid kepada Alex. Tapi Alex malah sudah membocorkannya terlebih dahulu kepadaku. Ya, Vivid ternyata sudah dikawin kontrak oleh bos dari Taiwan. Aku kaget, di dalam ha aku berfikir pantes saja Vivid nggak mau terus terang kepadaku. Alex bercerita bahwa segala fasilitas mewah yang ada di tempat kostnya itu semua pemberian bos dari Taiwan yang sudah kawin kontrak dengan Vivid. Hmmm…aku geleng-geleng kepala. Ya sudahlah kalau memang dia bukan jodohku. Malah Alex kembali meledekku dengan pertanyaan-pertanyaan gila. “Emang kamu selama ini sudah ngapain aja sama Vivid ? “ Alex memancing pertanyaan konyol kepadaku. “Yah, cuma nyanyi, makan, nonton saja kok. Nggak lebih dari itu.” “Dasar cowok kere, mana mungkin dia mau sama kamu. Gak level. Aku pun sebenarnya juga naksir kok dengan Vivid.” Alex menertawakanku. Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Alex, aku merasa dipermainkan. Karena dulu aku kira status Vivid adalah jomblo.
  • 61.
    61 “Tapi kenapa kamudulu mengenalkan aku dengan Vivid ?” tanyaku protes. “Ya, biar kamu tahu aja. Cewek kayak begituan nggak mungkin punya cinta seja . Dia cuma maunya hepi aja. Lagian kamu pede banget sih pengin dape n cintanya ?” Alex malah mengejekku. “Ah, sialan kamu Lex.” Sambil membuka bungkus rokok yang ada di kantong, aku dan Alex menghabiskan malam kelabu di rumah Alex. Kuhisap sebatang rokok sebagai penghilang penat. Tak terasa jam dinding menunjuk pukul 02.00 dini hari. Aku pun tahu diri, akhirnya aku mohon pamit untuk pulang ke rumah. Selamat dur ya Alex …semoga aku mimpi dur nyenyak dengan Vivid dala m damai. ***
  • 62.
    62 Kumcer Agung BudiSantoso Kado Buat Elisa
  • 63.
    63 Kado Buat ElisaBy AgungB. Santoso Gadis itu bernama Elisa. Aku mengenalnya sekitar dua tahun silam. Masih terbayang betapa lugunya gadis itu. Ya, karena aku bertemu secara tak sengaja di sebuah pusat perbelanjaan di kotaku. Waktu itu aku sedang jalan-jalan dan berniat ingin membeli celana jean karena sudah lama tak punya koleksi celana jean. Semua celana panjang yang ada di lemari bernuansa casual. Setelah mondar-mandir ke sana ke mari barulah aku tertahan sejenak dengan sapaan gadis lugu itu. “Sedang mencari apa, Bapak ?”, tanya gadis lugu itu. “Emmm…penginnya sih mau beli celana jean”, jawabku santai. “Oh, ada..mari silakan masuk saja, Bapak. Ada banyak koleksi celana jean di tempat kami”. Gadis lugu itu mulai mempersilakan aku untuk melihat-lihat berbagai ukuran dan merk celana jean. Pandanganku tertuju kepada salah satu merk celana jean yang tergantung sekitar ga langkah dari tempatku berdiri. Tanpa pikir panjang aku ambil dan kulihat ternyata ukuran celana itu pas dengan ukuran celana yang biasa aku pakai.
  • 64.
    64 “Boleh dicoba kan? ” “Tentu dong, Bapak. Silakan saja dicoba di ruang sebelah ujung. Kalau sudah nan di bawa kemari ya, Pak ? Biar saya bikinkan notanya.” “Ok, terima kasih ya”, jawabku sambil menuju ke ruang gan pakaian. Di dalam ruang gan pakaian aku berfikir gadis tersebut memang ramah sekali. Tetapi aku berfikir kembali ya sudah sewajarnya lah, seorang pramuniaga harus ramah. Kalau dak mana ada calon pembeli yang singgah untuk melihat barang dagangannya. Setelah apa yang sudah saya lakukan cocok dan berkemas, mbul niat saya untuk bertanya siapa nama gadis itu. Tapi sejenak saya mengurungkan niatku tersebut. Masih ada cara lain untuk tahu siapa nama gadis itu. “Celananya cocok, Bapak ?” “Ya”, jawabku singkat. “Maaf ini notanya dan silakan Bapak melakukan pembayaran di kassa.” Aku dak segera beranjak untuk pergi membayar celana jean ke kassa. Karena saya penasaran ingin tahu siapa nama gadis lugu tersebut. “Kok di nota adanya cuma tanda tangan saja ? Namanya siapa Mbak ?” “Oh, bukannya sudah diberi tanda tangan dan stempel, Bapak ?” “Ya, sih. Saya hanya ingin tahu namanya saja kok. Eh, siapa tahu di lain kesempatan saya mampir ke sini lagi.”
  • 65.
    65 “Nama saya Elisa,Bapak.” Namanya secan k parasnya, namun keluguannya yang begitu membuatku jadi terpesona. Dia gadis lugu dan sedikit anggun. Dan nampaknya belum tercemar oleh hingar bingar gemerlapnya kota metropolitan. Sejak saat itu aku selalu merekam dan mengingat namanya di dalam pikiran dan jiwaku. Dalam ha apakah aku jatuh ha dengannya ? Ah, semoga dak. Dia terpaut beberapa tahun denganku. Siapa tahu dia sudah punya cowok. Gadis secan k Elisa saya rasa banyak yang suka dengannya. Biarlah dia mekar dan tumbuh bagaikan wanginya bunga mela . *** Namun tak dinyana tak disangka. Aku bertemu dengan gadis itu di sebuah acara lelang sebuah proyek yang kebetulan aku menjadi tenaga ahli yang sedang disewa oleh sebuah konsultan. Saya sedang memberikan penjelasan tentang sebuah lelang pekerjaan lampu penerangan jalan umum di kota Tegal. Tapi saya sempat ragu apakah ini Elisa, ya? Wajahnya mirip dan nggi badannya juga masih kuingat agak semampai. Hmmm… semoga saja bukan. Tiga puluh menit saya memberikan paparan dan dilanjutkan sesi tanya jawab dari para pemborong. Dan nampaknya gadis yang mirip Elisa ini dak terlalu ak f mengajukan pertanyaan. Yah, mungkin baru pertama kali mendatangi acara paparan lelang sebuah proyek. Pada acara rehat kopi dan ramah tamah saya jadikan momen untuk ingin tahu lebih dalam siapa gadis itu. “Maaf, apakah Mbak bernama Elisa ?” sapaku bagaikan detek f ingin mencari informasi. “Hmmm…Bapak bukannya yang dulu pernah membeli jean di mall itu, ya?”
  • 66.
    66 “Ya,” jawabku singkat. “Benar,Bapak. Saya Elisa. Sekarang saya sudah pindah bekerja di sebuah kontraktor kelistrikan.” Saya dak hendak bertanya mengapa dia pindah bekerja. Saya hanya ingin menyampaikan ternyata dunia ini sempit. Lalu saya sambung lagi dengan percakapan berikutnya. “Wah, ternyata dunia sempit ya. Ngomong-ngomong sudah berapa lama di kontraktor ?”. Kelihatannya baru saja, ya?” “Kok, tahu Bapak ?” “Ya, kelihatan dari cara Anda menghadiri acara ini. Masih agak culun. Sori lho bukan bermaksud under es mate.” “Yah, namanya kan baru belajar Bapak. Dan lagian saya lagi beradaptasi dengan dunia proyek. Dunia proyek berbeda dengan dunia pramuniaga, Pak.” Tak terasa acara rehat kopi sudah usai. Konsultan, pemborong dan pani a lelang berkemas dan bersiap untuk mengakhiri acara paparan proyek penerangan jalan umum di kota Tegal. Tinggal para pemborong mempersiapkan diri untuk menawar pekerjaan sesuai dengan BQ dan HPS yang sudah disepaka . *** Selang beberapa minggu setelah acara penyerahan berkas dan dokumen usai. Tibalah pada saatnya yaitu pengumuman pemenang lelang. Saya dak pengin tahu siapa pemenang lelang proyek tersebut. Namun dari pani a lelang memberi tahu saya bahwa pekerjaan itu dimenangkan oleh CV. Manunggal Abadi. Hmmmm dalam ha saya langsung mencari
  • 67.
    67 tahu dari arsip-arsipyang sudah ada. Saya cari tahu siapa itu CV. Manunggal Abadi. Dari struktur organisasi dan semua pengurus termasuk karyawan dan tenaga ahlinya. Oh ternyata….CV. Manunggal Abadi adalah perusahaan tempat Elisa bekerja. Dan dari track recordnya, perusahaan tersebut memang sudah banyak memiliki pengalaman. Yah, wajar lah kalau perusahaan itu yang menang. Dalam ha saya berfikir kembali si lugu mungkin hanya sekedar pesuruh. Tapi dibalik semua itu banyak para jawara yang turut berkiprah. Selamat ya Elisa….kemenangan proyek itu semoga sebagai kado ga bulan pertama kamu bekerja di sebuah kontraktor. Dunia proyek memang berbeda dengan dunia pramuniaga. Kamu dituntut untuk terus berfikir dan berfikir, bukan sekedar menawarkan produk yang belum tentu dilirik oleh seorang pembeli. ***
  • 68.
    68 Kumcer Agung BudiSantoso Kado Buat Elisa
  • 69.
    69 Guci Wasiat By Agung B.Santoso Hujanderas diiringi pe r yang menyambar ke penjuru desa, menambah seram suasana padepokan Ki Sepuh. Dan malam itu Amel sengaja memenuhi permintaan Ki Sepuh untuk melakukan ritual penjamasan guci wasiat. Menurut penuturan Ki Sepuh bila ramuan awet muda itu dimasukkan ke dalam guci wasiat dan diminum secara ru n sebelum fajar pagi ba, maka bagi peminumnya akan selalu tampak awet muda dan can k. “Ingat pesan Aki, jangan sekali-kali ramuan ini kau minum setelah matahari terbit.” “Iya, Ki Sepuh, “ jawab Amel. Setelah penjamasan guci wasiat usai, Amel pun membayar mahar yang sudah disepaka . Karena hujan belum juga reda akhirnya Amel bermalam di padepokan Ki Sepuh. Keesokan harinya dengan membawa guci wasiat Amel pergi meninggalkan desa Ki Sepuh untuk kembali ke kota.
  • 70.
    70 *** Sebagai pemandu karaokeAmel selalu ingin tampak can k dan tak di nggal oleh pelanggan. Maklum persaingan kerja di tempat Amel sangat ketat. Seorang PK yang dak tampak can k dan menarik pas akan sepi pelanggan. Baru satu tahun bekerja di tempat karaoke, Amel sudah banyak memiliki penggemar. Dan Roy, pelanggan tetap bagi Amel, tak pernah absen jika malam Minggu ba. Namun jika Roy meminta Amel menjadi PK, ia selalu meminta pelayanan yang aneh-aneh. Amel pun dengan senang ha meladeninya karena Roy pas memberikan ps uang yang berlebih. Tak heran bila Amel hampir ap bulan meraih posisi Lady of The Month. Dan berkat guci wasiat pemberian Ki Sepuh serta ramuan awet muda yang selalu diminumnya membuat se ap pelanggan Amel dibikin klepek-klepek tak berku k. Suara Amel memang bagus ditambah bentuk tubuh yang sexy serta can k, banyak pesaing Amel yang gak kebagian order untuk nyanyi. Teman-teman Amel menjadi keheranan. Mengapa se ap pelanggan yang datang pas meminta Amel untuk menjadi pemandunya alias teman nyanyi di room karaoke. “Mel, rahasianya apa sih ?” tanya Prita penasaran. “Mau tahu ?” Prita mengagukkan kepalanya. “Mandi kembang tujuh rupa di depan rumah,” jawab Amel sekenanya. “Ah, ngaco kamu Mel. Hari gini mandi kembang tujuh rupa ? Amit-amit deh,” jawab Prita.
  • 71.
    71 Prita memang nggakterlalu tertarik kepada hal-hal yang berbau mis k. Maka tak heran jika jawaban Amel nggak digubris sama sekali oleh Prita. *** Pukul 02.00 dini hari Amel baru pulang kerja di tempat karaoke. Sesampai di tempat kost ia masih ingat pesan Ki Sepuh agar ramuan di dalam guci wasiat diminum sebelum fajar pagi ba. Maka ia mengambil keputusan untuk dak langsung dur ke ka sampai di tempat kost. Amel baru dur setelah pukul 05.00 pagi. Sambil menunggu waktu yang tepat Amel mengambil MP3 Player untuk mendengarkan beberapa lagu kesayangannya. Setelah dirasa tepat Amel mulai mengambil guci wasiat yang berisi ramuan awet muda di dalam lemari. Amel menuangkannya ke dalam gelas kecil lalu diminumlah ramuan yang ada di dalam guci wasiat itu. Nyess……. Aroma yang khas mulai merasuki tubuh Amel. Amel merasakan ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya. Sesuatu yang mengalir bersama aliran darah Amel. Amel mulai bercermin. Dan ia pun tambah percaya diri karena tak ada perubahan sama sekali di raut wajahnya. Ya, ia tetap can k dan muda. Amel lantas menuju tempat dur dan merebahkan tubuhnya yang sexy di atas kasur. Kebiasaan ini ia jalani terus secara ru n dan bangun ke ka matahari sudah nggi. Ke ka Amel ter dur pulas, mendadak ponselnya berbunyi. Dengan perasaan malas Amel membuka mata dan meraih ponselnya. Oh, ternyata Roy mengirim sms ke ponsel Amel. Roy menginginkan agar malam Minggu depan tak melayani pelanggan kecuali Roy. Ada surprise katanya. Mendadak Amel dibikin penasaran oleh sms-nya si Roy.
  • 72.
    72 “Surprise ?” Amelbertanya sendiri di dalam kamarnya. “Ah, masa bodo.” Lalu Amel pun memeluk guling dan mebenamkan wajahnya di atas bantal. Ia masih ingin bermalas-malasan. Tanggung, pikirnya dalam ha . Amel masih ingin melanjutkan mimpinya yang belum selesai. *** Malam Minggu seper yang sudah dijanjikan Roy, Amel datang ke tempat karaoke agak lebih awal. Dan ia pun menuru apa yang diminta si Roy. Amel menolak se ap pelanggan yang ingin nyayi bersamanya. Tepat pukul 20.00 si Roy mulai nongol. Dengan senyumnya yang khas ia cengar-cengir di depan kursi yang telah diduduki Amel. “Udah lama Mel nungguin aku ?” tanya si Roy. “Kamu tuh janji mau kasih surprise. Surprise apaan sih ?” Amel balik bertanya ke Roy. “Aku hari ini ultah Mel.” “Oh, ya ? Selamat ya….” Amel memberikan ucapan selamat dan kecupan ke pipi Roy. “Terus malam ini kita pesta sampai pagi ?” tanya Amel. “Boleh. Siapa takut ?” Roy menantang Amel begadang sampai pagi. Tak lama kemudian Roy dan Amel memasuki ruangan yang sudah dipesan sebelumnya. Tanpa basa-basi mereka langsung unjuk kebolehan. Mulai nyanyi bersama hingga nyanyi secara single bergan an sampai larut malam. Tepat pukul 00.00
  • 73.
    73 mereka mengakhiri kencankaraoke di small room. Sudah banyak botol minuman keras dan puntung rokok di atas meja karaoke. Nampaknya Roy sudah setengah ang. Ya, si Roy setengah mabuk. Amel pun sebenarnya hampir mabuk, tapi karena ia imbangi dengan air mineral jadinya masih saja terlihat segar. Karena Roy sudah janji mau pesta sampai pagi, maka kencan pun berlanjut ke hotel. Dan tanpa sadar Amel menyetujui permintaan Roy. Ia lupa bahwa guci wasiatnya ada di tempat kost. Prak s ia tak dapat meminum ramuan yang ada di dalam guci wasiat. Ia dak tahu apa dampaknya jika diminum setelah matahari terbit. Seusai kencan di hotel, Amel bergegas menuju tempat kost dengan naik taksi. Tapi nahas bagi Amel. Matahari sudah terbit agak nggi ke ka ia sampai di tempat kost. Langsung ia bergegas mengambil guci wasiat dan meminum ramuan di dalamnya. Pikir Amel telat beberapa menit gak akan jadi masalah jika ia meminumnya. Namun setelah satu gelas kecil ramuan dari guci wasiat ia minum ada gejala aneh di dalam tubuhnya. Wajah Amel terasa gatal dan mendadak mbul benjolan-benjolan kecil. Amel penasaran. Ia mengambil cermin. Betapa terkejutnya Amel melihat wajahnya sendiri. Seolah wajah yang ada di cermin itu bukanlah dirinya. Wajah Amel sudah rusak berkat ramuan di dalam guci wasiat. Amel lepas kendali. Ia berteriak keras sambil menangisi wajahnya yang berubah menjadi buruk. “Keparat kau Aki Sepuuuhhhhhhhh…..!!!” “Mengapa wajahku menjadi begini …..????? Mana tanggung jawabmu Akiiiii………..!!!” Amel melempar cermin hingga pecah berantakan. Amel meratapi nasibnya. Tak seorang pun bisa menolongnya. Ki Sepuh pun merasa tak bersalah. Karena kesalahan ada pada Amel. Ramuan di dalam guci wasiat tak boleh diminum setelah matahari terbit. Semenjak itu Amel pun tak akan pernah menjadi Lady of The Month di tempat kerjanya.
  • 74.
    74 Kumcer Agung BudiSantoso Kado Buat Elisa
  • 75.
    75 Bocah Penjual Koran By AgungB. Santoso “Mak, upah hari ini masih seper kemarin,” ucap Damar sambil menyerahkan uang kertas ribuan sebanyak dua lembar dan satu koin lima ratus rupiah. Semenjak kema an ayahnya, Damar harus berjuang menyambung hidup untuk meringankan beban keluarga. Bocah kecil yang umurnya baru genap 10 tahun itu tak seharusnya bekerja memeras keringat demi mencari rupiah. Dia kehilangan masa kanak-kanaknya dan dak bisa lagi bermain-main seper teman-teman seusianya. Sehabis pulang sekolah ia langsung pergi menuju ke tempat Pak Mamat, seorang agen penjual koran yang tak begitu jauh dari rumah Damar. Meski sangat terlambat, tapi tak mengapa. Damar menjualkan koran pada siang hari hingga petang. Tiap hari Damar mampu menjualkan koran sekitar 10 eksemplar. Ya, cukup lumayan karena surat kabar yang dibawa pun dak hanya koran pagi tapi juga koran yang terbit di sore hari. Damar sebagai anak sulung masih memiliki adik perempuan yang baru berumur sekitar 4 tahun. Ibunya yang seorang buruh tukang cuci pakaian selalu mengajak Upik pergi ke tempat di mana harus mencuci dan menyeterika pakaian. Di sekolah prestasi Damar
  • 76.
    76 tak begitu menonjol.Yah, karena konsentrasi Damar terpecah harus mencari uang untuk membayar SPP dan belajar di sekolah. Buku-buku pelajaran pun tak ada yang dapat dibeli. Damar hanya mengandalkan buku-buku perpustakaan yang se ap dua minggu sekali harus dikembalikan. Upah dari menjual koran hanya dapat digunakan untuk membeli buku tulis dan membayar uang SPP. Sementara upah ibunya sebagai buruh tukang cuci hanya dapat untuk mencukupi kebutuhan makan dan biaya hidup sehari- hari. Pakaian baru pun jarang dibeli. Hanya sekali dalam setahun Damar memakai baju baru. Ya, tepatnya pada saat Hari Raya Idul Fitri karena seper biasa ibunya selalu mendapat THR dan bonus pakaian baru untuk Damar dan Upik. *** Suatu sore, tepatnya di depan Kantor Pos Pusat, Damar mendapatkan keberuntungan yang berbeda dengan hari-hari yang lain. Dia tak tahu mengapa banyak orang mencarinya untuk sekedar membeli koran yang ia dagangkan. Yang jelas Damar masih ingat waktu itu adalah hari Sabtu. Setelah menghubungi Pak Mamat dan bertanya kepadanya barulah Damar tahu. Kalau se ap hari Sabtu memang banyak orang membeli koran secara eceran. Karena seper biasa di hari Sabtu banyak koran yang menyajikan iklan lowongan kerja. Dan di hari itulah para pencari kerja membeli koran sekedar untuk mencari tahu lowongan kerja yang sesuai dengan bidangnya. Damar seper mendapatkan ilmu baru dari Pak Mamat. Dan hampir dipas kan upah yang didapat se ap hari Sabtu selalu melampaui upah harian dari hari yang lain. Berbeda ke ka Damar menjual koran di tepi jalan, halte atau di sekitar lampu lalu lintas. Mendagangkan koran di sekitar lampu lalu lintas perlu perjuangan ekstra dan harus mampu bertahan di bawah teriknya sinar mentari. Di samping itu hasilnya pun tak begitu memuaskan.
  • 77.
    77 “Bagaimana, Mar ?Jualan koran di depan kantor pos dengan jualan koran di tepi jalan ada bedanya, kan ?” tanya Pak Mamat kepada Damar yang sedang menghitung banyaknya eksemplar koran untuk dijual. “Yah, setelah tahu ilmunya mending jualan koran di depan kantor pos, Pak,” jawab Damar. “Lagian kalau pas capek saya bisa duduk-duduk di sekitar teras kantor pos dan dak menggangu lalu lintas.” Damar menegaskan kembali, bahwa jualan koran di depan kantor pos lebih menyenangkan ke mbang di tepi jalan. “Kalau jualan koran di depan Mall, sudah pernah kamu coba ?” Pak Mamat bertanya kembali. “Wah, kalau itu sih belum, Pak.” “Kamu mau mencobanya ?” tantang Pak Mamat. “Hmmm…belum kepikiran, Pak. Saya dak mau coba-coba. Lagian nama saya sudah terkenal di sekitar kantor pos,” jawab Damar. “Oh, ya.” Pak Mamat seolah tak percaya mendengar pengakuan Damar tersebut. “Terkenal sebagai apa, Mar ?” Pak Mamat bertanya lagi. “Ya, terkenal sebagai Damar si Penjual Koran,” jawab Damar enteng. “Bagus lah kalau begitu. Jangan menyerah kepada nasib. Dan pertahankan terus prestasi jualan koranmu. Nan kalau per harinya kamu bisa jual koran banyak, aku akan kasih bonus di akhir bulan.” Pak Mamat memberi semangat kepada Damar.
  • 78.
    78 “OK, Pak. Akumenan janjimu,” jawab Damar sambil berkemas membereskan beberapa lembar koran yang belum tertata rapi. *** Sebagai penjual koran eceran keberuntungan tak selalu berpihak kepada Damar. Memang upah yang didapat se ap hari Sabtu selalu melampaui upah di hari yang lain. Dan tak disangka tak dinyana, pada suatu hari ke ka Damar pulang ke rumah ia dicegat oleh Kang Suto. “Mau ke mana kamu, Mar ?” tanya Kang Suto. “Mau pulang ke rumah, Kang,” jawab Damar. “Eh, nan dulu. Kabarnya kamu menjualkan koran dari Pak Mamat, ya ?” Kang Suto, seorang preman kampung sedang beraksi mau minta upe kepada Damar. “Berapa duit kamu dapat dari Pak Mamat ?” Sambil memegang kerah bajunya Damar, Kang Suto berlagak sok jago meminta uang dari Damar. “Upah saya sedikit, Kang. Tolong jangan diambil uang saya. Itu buat bayar uang sekolah dan beli buku tulis.” Damar memelas di depan Kang Suto. Mata Kang Suto melotot tajam seper elang yang sedang memburu mangsanya. “Persetan dengan uang sekolah. Buat apa kamu sekolah kalau akhirnya cuma jadi tukang jual koran, ha !” Kang Suto tetap memaksa Damar untuk segera menyerahkan upah dari hasil jualan koran di hari itu. Sungguh sial nasib Damar hari itu. Tanpa memberikan perlawanan yang berar , semua upah Damar diberikan kepada Kang Suto. Dan Kang Suto pun tetap memberikan ancaman kepada Damar. Kalau ap minggu ia dak memberi upe kepada Kang Suto, dia diancam akan dibunuh oleh Kang Suto. Yah, Damar
  • 79.
    79 dak berdaya mendapatancaman dari Kang Suto. Andaikan ayahnya masih hidup, pas lah Damar melaporkan kejadian itu kepada ayahnya. Hingga keesokan harinya, ke ka Damar sudah sampai di rumah Pak Mamat, ia tak mampu bercerita tentang kejadian pemerasan uang yang menimpa dirinya. Damar tampak masih sedih dan kelihatan murung. Tidak seper biasanya Damar yang selalu bersemangat menjualkan koran Pak Mamat, hingga akhirnya Pak Mamat menegurnya. “Tumben kamu kurang bersemangat hari ini, Mar. Ada apa ?” tanya Pak Mamat. “Ah, gak ada apa-apa kok, Pak.” “Tapi mengapa kamu kelihatan murung ? Ayo ceritakan saja, apa masalah yang sedang kau hadapi. Mungkin saya bisa membantumu.” Pak Mamat datang mendekat menuju tempat Damar yang sedang membereskan lembaran koran. “Sudahlah, Pak. Lain hari saja ceritanya. Saya mau berangkat jualan koran. Doakan korannya habis terjual ya, Pak.” “Ya, ha -ha . Jangan pulang sampai larut malam. Jualkan saja semampumu. Malam hari kan kamu perlu is rahat dan belajar,” pesan Pak Mamat. Damar yang masih memendam kesedihannya akibat uangnya habis diminta Kang Suto tetap langsung berkemas untuk berjualan koran lagi. *** Hari ini tepat satu minggu semenjak kejadian Damar diperas uangnya oleh Kang Suto. Damar masih ingat ancaman yang diberikan oleh Kang Suto. Jika se ap minggu Damar dak
  • 80.
    80 memberikan upe ,maka Kang Suto mengancam akan membunuh Damar. Karena Damar masih teringat ancaman Kang Suto, maka Damar tak langsung pulang menuju ke rumah. Dia masih berputar mencari ide bagaimana supaya di tengah jalan dak dicegat oleh Kang Suto. Sambil berdoa, Damar pulang ke rumah dengan cara mengambil jalan memutar. Namun sungguh sial, Kang Suto pun tak kalah cerdik. Kang Suto ba- ba sudah ada di depan mata, ke ka Damar mengambil jalan memutar untuk pulang ke rumah. “Hehehe…mau ke mana lagi kamu bocah cilik ?” Kang Suto sambil berkacak pinggang menghadang langkah Damar yang hendak pulang menuju ke rumah. “Ayo serahkan uangmu atau kamu ma di tanganku ?” Kang Suto mengangkat dagu Damar memberi alterna f pilihan. “Jangan, Kang. Aku belum mau ma ,” jawab Damar. “Ya, kalau masih ingin hidup. Mana setoran minggu ini ?” paksa Kang Suto. Namun ke ka Damar hendak menyerahkan uang dari saku celananya kepada Kang Suto, ba- ba dari belakang punggung Kang Suto ada tangan seorang pemuda yang menepuk agak keras. “He, mau jadi jagoan kamu di kampung ini ?” tanya pemuda itu. “Jangan coba-coba ikut campur urusanku, ya…bocah ganteng ?” Kang Suto nampaknya meladeni ucapan pemuda ganteng yang hendak menolong Damar. “Lalu mau kau apakan bocah kecil tak berdaya itu ? Itu bukan lawanmu. Sini kalau berani, duel denganku !” Pemuda ganteng itu menantang Kang Suto untuk bertarung.
  • 81.
    81 Tak berapa lamaterjadilah pertarungan sengit antara Kang Suto dengan pemuda ganteng tadi. Tak menghabiskan banyak jurus, pemuda ganteng itu telah membuat Kang Suto terjungkal dan lari terbirit-birit. “Awas, jika kau masih berani mengganggu bocah ini. Aku akan selalu menjadi lawanmu,” ancam pemuda ganteng itu. Damar merasa telah ditolong dan telah diselamatkan oleh pemuda ganteng itu. Dia pun mengucapkan banyak terima kasih. Dan sesampai di rumah, Damar menceritakan kejadian itu kepada ibunya. Damar masih mengingat dengan jelas nama pemuda ganteng itu. Ya, nama pemuda itu adalah Yuda Krisna Muk . Seorang mahasiswa yang telah menjadi dewa penolong di dalam kehidupan Damar sebagai penjual koran eceran. ***
  • 82.
    82 Kumcer Agung BudiSantoso Kado Buat Elisa
  • 83.
    83 Api Cemburu By Agung B.Santoso Nada dering ponsel berdering begitu nyaring. “Ya, hallo dengan Widya di sini. Ada yang bisa saya bantu, Bapak ?” dengan ramah Widya merespon panggilan telpon yang masuk ke hpnya. Sudah hampir ga tahun Widya menjadi agen pemasaran KTA di bank swasta yang terkenal di kotanya. Dan nada panggil tadi ternyata telpon dari salah satu calon nasabah yang ingin mengajukan kredit di bank swasta tempat Widya bekerja. Tak menunggu lama Widya lantas segera meluncur ke kantor calon nasabah. Dewi Fortuna nampaknya sedang berpihak kepada Widya. “Begini Mbak Widya, bulan ini saya lagi ada keperluan mendesak. Maka saya menghubungi Mbak Widya guna pengajuan KTA,” ucap Pak Sony singkat tanpa basa basi.
  • 84.
    84 Sebenarnya Pak Sonybukanlah orang yang suka mengajukan kredit. Maka di sana sini dia masih butuh bantuan Mbak Widya karena prosedur dan tata cara pengajuan kredit belum begitu dipahami oleh Pak Sony. Dan Mbak Widya pun dengan sabar menjelaskan tata cara pengajuan KTA, hingga akhirnya proses pengajuan KTA pun telah menjadi aplikasi yang siap kirim. Pak Sony seorang HRD Manager di sebuah pabrik garmen terkesan sebagai orang yang supel dan ramah. Malah boleh dibilang usianya masih rela f muda. Terpaut sekitar 4 tahun dengan usia Mbak Widya. Dan pertemuan di kantor Pak Sony merupakan awal yang posi f bagi Widya. Widya mulai mendapat banyak referensi nama dari teman Pak Sony yang hoby mengajukan KTA. Widya pun merasa seper mendapat durian runtuh. Karena dia yakin jika di bulan ini aplikasi pengajuan KTA yang ia kirim melampaui target maka sudah tentu ia akan mendapat bonus dari bank tempat ia bekerja. *** Seminggu setelah KTA cair, Pak Sony kembali menghubingi Widya. Yah, sebenarnya sebagai ucapan terima kasih, Pak Sony mengajak Widya untuk makan malam di sebuah resto. Dan di situ Pak Sony memberikan sebuah kartu nama lengkap dengan foto pribadi yang menempel di samping alamat rumah dan alamat kantor. Tanpa ada perasaan yang bukan-bukan Widya pun segera memasukkan kartu nama itu ke dompetnya. Dan ia pun juga memberi kartu nama kepada Pak Sony sebagai tanda bahwa hubungan pertemanan ini bisa berlanjut kepada bisnis yang saling menguntungkan. Widya pun menganggap acara makan malam tersebut sebagai acara yang biasa. Karena Widya telah memiliki pacar sebelum ia bekerja sebagai agen pemasaran KTA sebuah bank swasta.
  • 85.
    85 “Jadi Mbak Widyasudah punya pacar, ya ?” selidik Pak Sony. “Ya, Pak,” jawab Widya. “Kami pacaran hampir 5 tahun. Dan sejauh ini gak pernah ada masalah.” “Syukurlah kalau begitu,” ucap Pak Sony dengan nada yang datar. Acara makan malam telah usai. Mereka pun kembali ke rumah masing-masing tanpa ada perasaan yang lebih dari sekedar relasi bisinis. Namun kejadian mendadak menjadi sangat panas ke ka Widya nge-date dengan cowoknya. Ya, Heri seorang cowok yang sudah hampir 5 tahun singgah di dalam kehidupan Widya. Secara gak sengaja ia membuka dompet Widya dan terkejut melihat satu kartu nama lengkap dengan foto pribadi milik Pak Sony. Heri sangat terkejut karena sebenarnya Widya gak pernah secara khusus menyimpan kartu nama se ap nasabah yang pernah ia datangi. Biasanya Widya hanya menyimpan kontak person di ponselnya saja. Tapi baru kali ini Heri menemukan kartu nama seorang cowok di dalam dompet Widya. “Wid, ini kartu nama siapa ?” tanya Heri penasaran. “O, itu. Kartu nama Pak Sony. Emang kenapa ?” Widya nampak heran dengan ulah cowoknya si Heri. “Gak biasanya kamu nyimpan kartu nama cowok. Kamu udah bosan dengan aku ya ?” “Oh, my God. Ada apa sih kok kamu kayaknya cemburu banget dengan kartu nama itu ?” balas Widya. “Yah, selama hampir lima tahun kita pacaran. Kan, cuma aku yang ada di ha mu. Ngapain kamu simpan kartu nama cowok ini ?”
  • 86.
    86 Pertengkaran mulai terjadi.Hanya karena masalah sepele Heri mulai menampakkan gelagat cemburu buta yang dak beralasan sama sekali. Widya sangat kesal. Heri pun tanpa basa basi meninggalkan Widya di resto sendirian. Akhirnya Widya pun pulang ke rumah dengan naik taksi. *** Gila, sungguh gila si Heri ini. Pikir Widya ke ka hari Senin berangkat ke kantor. Lalu ia curhat dengan Imel teman dekat Widya. “Masak sih, hanya karena kamu menyimpan kartu nama Pak Sony, cowokmu langsung ngambek ninggalin kamu di resto sendirian ?” tanya Imel. “Yah, si Heri kayaknya lagi keserupan tuh, Mel. Tadi malam aku telpon pun gak dibales.” “Cowokmu itu yang childish,” hibur Imel. Ya, hampir dua minggu hubungan cinta antara Widya dengan Heri agak renggang. Se ap Widya menghubungi Heri lewat telepon selalu panggilan dialihkan oleh Heri. Widya gak habis pikir. Hingga akhirnya ia pun menulis surat. Ya, nampaknya hanya surat saja yang bisa mencairkan suasana. Entah dibaca atau dak oleh Heri, yang jelas Widya sudah punya i kad baik untuk meluruskan masalah. Widya berharap Heri tak semudah itu mengakhiri kisah kasihnya yang berjalan hampir 5 tahun. *** Suara sepeda motor Pak Pos terdengar di kejauhan. “Apakah benar ini Jalan Seroja II No. 112 ?” tanya Pak Pos. Ibunya Heri mengiyakan. Ya, kedatangan surat Widya dak
  • 87.
    87 diterima langsung olehHeri. Karena Pak Pos datang di siang hari ke ka Heri masih bekerja dan belum pulang ke rumah. Lalu ke ka pukul 16.00 ibu Heri menyampaikan surat Widya ke tangan Heri. “Tuh, tadi siang ada surat dari Pak Pos,” ucap ibunya Heri. “Surat tagihan atau surat cinta ?” tanya Heri. “Baca sendiri sendiri saja. Kayaknya dikirim oleh Widya pacar kamu !” imbuh ibunya Heri. Ah, perempuan itu ngapain kirim surat segala pikir Heri. Kan, ketemu di kantor juga bisa. Lalu tanpa berpikir panjang Heri mulai merobek sampul surat dan membacanya. Ya, in dari surat Widya adalah agar Heri mau bertemu dengannya di café pukul 19.00 di malam Minggu. Heri pun menyanggupi. Nampaknya sudah reda api cemburu yang telah hinggap di dada Heri. Hingga tepat pukul 19.00 Heri mulai menghampiri meja café dengan nomor 21. “Sudah lama Wid ?” tanya Heri. “Sudah. Sudah 14 x 24 jam aku menan mu di sini, ” jawab Widya kesal. “Ah, masak sih. Emang kamu bolos kerja ya ?” Heri mulai sedikit tersenyum mencairkan suasana. “Habis gara-gara kartu nama Pak Sony saja kamu ngambek hingga 14 x 24 jam. Dasar !!” “Sudahlah, Wid. Aku hanya butuh penjelasanmu. Pak Sony itu bukan cowok barumu kan ?” tanya Heri. “Her, kamu itu yang keterlaluan. Aku tuh gak mungkin nyimpan cowok lain selain kamu,” jawab Widya.
  • 88.
    88 Setalah hampir 15menit Widya menjelaskan tentang siapa itu Pak Sony, akhirnya Heri hanya bisa manggut-manggut saja. Kecemburuan Heri terhadap kartu nama Pak Sony sudah tak beralasan lagi. Akhirnya mereka berdua pun cair kembali. Hubungan cinta yang sempat beku selama 2 minggu menjadi sirna. Dan Widya pun memberikan ancaman kepada Heri. “Awas jika malam ini kamu ngambek ninggalin aku di café sendirian, aku bakalan pacaran dengan Pak Sony !!” ancam Widya. Heri ma kutu. Dia sadar ternyata hubungannya dengan Widya yang hampir 5 tahun, belum mampu menjadikan ia sebagai seorang pria yang dewasa. Hmmmmmm…….Heri pun mencium kening Widya. ***
  • 89.
    89 Tentang Penulis Agung BudiSantoso, lahir di Semarang, 04 Juli 1975. Terlahir sebagai anak tunggal dan menyelesaikan studi hingga perguruan nggi negeri di Semarang. Pernah menjadi guru SMK, mengajar di kampus PTS di Semarang dan sekarang senang menulis di Kompasiana.com dengan nama pena Trojan Ganjen. Awal menulis di Kompasiana diperolehnya secara tak sengaja yaitu ke ka membeli buku yang berjudul “Gampang Menjadi Penulis Fiksi Cyber di Kolom Fiksiana, Kompasiana” karangan Imperial Jathee. Semenjak itu penulis merasa beruntung bisa belajar nulis secara otodidak dan saat ini menerbitkan buku kumpulan cerpen dan cermin yang pernah dipublish di Kompasiana. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail di agungbudisantoso@gmail.com
  • 90.