TERJALNYA JALAN HIDUPKU
KARYA : HENI HANDAYANI
@henihandayani14
Tubuhku serasa terhempas setelah seharian ku kerahkan tenagku
untuk bekerja. Pekerjaanku memang tak terlalu berat. Namun, perjalanan
dari rumah ke tempatku bekerja itulah yang membuat tenagaku selalu
terkuras habis sepulang bekerja. Semua itu ku jalani tanpa keluhan di hati.
Aku sadar benar apa yang aku jalani ini tak seberat pengorbanan orang
tuaku untuk menopang kesuksesanku kini. Oleh karena itulah, setiap tetes
peluh yang menetes tak berarti bagiku. Karena itu semua aku lakukan
untuk mengangkat derajat orang tuaku yang telah mempertaruhkan harga
diri mereka direndahkan oleh siapapun. Bukan maksudku untuk membalas
dendam. Aku hanya ingin orang tuaku dihormati layaknya orang tua pada
umumnya.
Masih teringat jelas ketika seorang tetanggaku berkata bahwa ibuku
di pasar tak hanya menjual tahu. Namun, di balik paras elok ibu, ternyata ia
juga menjual tubuhnya kepada lelaki pegawai pasar. Ketika itu usiaku masih
begitu belia, yaitu baru menginjak usia 12 tahun. Mereka mengatakn itu
ketika aku tengah berada di tengah-tengah mereka. Ku rasa itu memang
sengaja mereka lakukan. Mereka mungkin mengira bahwa anak seusiaku
waktu itu tak terlalu memedulikan ocehan orang dewasa seperti mereka.
Namun, dengan seringnya mereka mengolok-olok keluargaku seperti itulah
aku menjadi lebih paham tentang setiapperbincangan mereka. Itulah yang
membuatku tumbuh menjadi anak yang lebih dewasa daripadda anak
seusiaku waktu itu, mungkin karena beratnya beban hidup yang ku
tanggung bersama keluargaku. Cemoohan kepada keluargaku tak hanya
berasal dari para tetangga saja. Bahkan kerabatku pun tak jauh berbeda.
ingatanku mulai melayang pada suatu peristiwa memilukan yang
sebenarnya ku sendiri tak ingin mengenangnya. Peristiwa itu adalah ketika
ibuku melahirkan adik perempuanku. Memang persalinan ibu kali ini agak
susah. Sudah beberapa jam adikku belum juga lhir. Melihat ibu meronta
kesakitan, ayh pun tak tega dan berniat membawanya ke rumah sakit.
Karena keterbatasan biaya, ayah pun berniat meminjamnya kepada kerabat-
kerabatnya. Namun, jawaban yang mereka lontarkan sungguh memberikan
sayatan tajam bagi keluargaku. Mereka berkata bahwa kami tak akan bisa
mengembalikan pinjaman itu, jadi percuma saja meminjam. Ingin rasanya
aku menampar mulut itu. Namun, aku tak kuasa. Yang berkata demukian
adalah kakekku, orang tua ayahnya. Yang dapat ku lakukan hanyalah
meneteskan air mata. Hatiku sakit. Tapi, tentu tak sesakit hati ayahku. Aku
tak habis pikir dengan sikap mereka terhadap keluargaku. di saat ibuku di
ujung maut seprti itu, mereka masih saja mempertahan ego dan menghina
habis-habisan. Dimana hati mereka ?
Mengingat peristiwa-peristiwa seperti itu memang selalu membuatku
sedih. Bahkan tak jarang niat nakalku kembali menggoda benakku.
Kadang kala dendam menyusup halus ke relung batinku. Namun, segera
aku sadar apa yang dapat ku perbuat untuk membalasnya. Toh, Tuhan
punya cara sendiri untuk menentukan nasib hambaNya. Seketika itu niat
jahat itupun lenyap dari hatiku.
Sore itu ku rasakan lelah yang teramat sangat. Jadi, sebelum mandi,
ku rebahkan tubuhku ke kursi ruang tamu rumahku sejenak. Namun,
perhatian mulai tercuri oleh keberadaan sepucuk surat merah hati dengan foto
sepasang insan yang salah satunya ku kenal. Ya, aku mengenal sosok
wanita di foto itu. Dia Hana. Teman akrabku sewaktu SMA. Segera ku buka
surat itu. Ternyata itu undangan pernikahan. Aku tak terlalu terkejut
dengan kabar itu karena memang sejak dulu diantara kami berempat dialah
yang paling sering agresif untuk berhubungan dengan lawan jenis. Ketika
aku tengah membolak-balik surat undangan itu, sebuah pesan masuk ke
handphoneku. Ku buka dank u baca perlahan.
Sebenarnya aku enggan membalas pesan itu, tetapi karena khawatir dikira
sombong jadi kubalas pesan itu seperlunya.
Ya Allah sampai sekarang pun mereka masih sempat-sempatnya
mengghinaku ? Kapan mereka akn menghargaiku ? Sepertinya aku tak
pernah dianggap di depan mereka. Sepintas aku mengingat kenangan waktu
SMA dulu. Ketika itu kami berempat, Fita, Hana, Ajeng, dan aku adalah
sahabat karib ( menurutku ). Kemanapun kami selalu bersama-sama.
Karena itullah aku menganggap mereka berbeda dari orang-orang yang
selama ini ku kenal. Namun, anggapnku itu seolah terbantahkan dengan
Hai, teman. Besok tanggal 1 Juni jangan lupa ke resepsi
pernikahannya Hana ya.
Ajeng
Ya….Insyaallah….
Jangan pake jeans ya…….
Emangnya kenapa to ?
Kan yang nikah keluarga haji. Kalau yang nikah kamu ya
pake daster aja boleh.hehehe………….
perubahan sikap mereka terhadapku ketika kami hampir lulus SMA. Ketika
itu para siswa kelas XII ttengah sibuk-sibuknya mendaftar di perguruan
tinggi. Sebenarnya aku tak ingin ikut-ikutan mereka karena ku sadar
benar siapa aku dan bagaimana kondisi ekonomi keluargaku. namun, berkat
dorongan salah satu guru dan orang tuaku, akhirnya aku mau untuk
mendaftar di salah satu perguruan tinggi negeri. Melihat kondisi
keuanganku dapat dipastika aku mengambil jalur beasiswa. Namun, Tuhan
belum mengizinkanku untuk berkuliah di sana. Dan hasilnya aku pun tak
lulus ujian seleksi. Seketikka itu harapanku untuk melanjutkan ke jenjang
perguruan tinggi ku kubur dalam-dalam. Aku pun telah melayanggkan
beberapa surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan. Seelang beberapa
minggu, ada sebuah perusahaan elektronik mengirim surat panggilan
padaku. Aku pun berencana akan memenuhi panggilan itu esok hari. Ibu pun
tahu akan hal itu. Seketika itu ia mengelus kepalaku dan sepintas ku lihat
tetes air mata berusaha beliau tahan di pelupuk matanya.
“ Nduk, kamu yakin mau kerja ?” tanyanya
“ Ya Iya to Bu. Kalau nggak kerja ngapain Bu ? Biar Nurik bisa kuliah Bu.
Nggak seperti aku.” Kataku sambil tersenyum.
“ Bukan gitu Nduk. Tapi rasane ku ibu nggak yakin nduk. Ibu khawatir.”
Katanya memelas.
“ Ibu, jangan gitu to Bu. Wong anaknya mau kerja kok ditangisin to Bu.
Aku akan baik-baik saja Bu.” Kataku meyakinkan.
“ Nggak Nduk. Kami akan berusaha agar kamu bisa kuliah Nduk. Nanti ibu
akan telpon bapakmu. Sudah….pokoknya besok kamu jangan penuhi
panggilan itu.” Kata ibu tegas sambil bberlalu meninggalkanku.
Aku tercengang mendengar perkkataan ibu. Aku akan kuliah ? Dan
ternyata benar, mereka menyuruhku untuk mendaftar di salah satu
perguruan tiinggi yang dekat dengan tempatku berdiam. Awalnya aku tak
yakin dengan tiu semua. Perguruan tinggi itu swasta, jadi dapat dipastikan
biayanya akan sangat mahal. Aku tak tega jika harus membebbani mereka
lagi. Namun, karena desakan dari mereka yang tak kunjung henti
akhirnya aku menurut saja. Namun, mtak banyak temanku tak tahu akan
hal itu. Sepengetahuan mereka aku tengah bekerja. Dengan anggapan
demikian, tak seorangpun dari mereka bertiga yang mau mendekatiku atau
sekedar menegurku ketika bertemu. Sungguh sakit ku rasakan. Bahkan,
pernah suatu ketika Hana mengatakan hal yang membuatku teriris
mendengarnya.
“ Udah lah Mbak. Jangan terlalu ngoyo buat kuliah. Kayaknya kamu btidak
pantas kuliah. Lebih baik nyari kerja aja Mbak.” Katanya
Ucapan itu memang halus didengar, tetapi begitu kasar dirasakan. Kata-
kataitu begitu menyayat hatiku yang memang sejak dulu telah tersayat-
sayat.
Aku melanjutkan pendidikanku di fakultas keguruan dan ilmu
pendidikan. Aku amat menginginkan profesi itu. Dan kini aku telah
menjadi apa yang aku inginkan. Namun, mengapa teman-temanku masih
saja menghinaku. Ah entahlah, aku tak butuh pengakuan mereka. Yang
penting bagiku sekarang adalah tiada lagi yang menghina ayah ibuku lagi.
Tapi, apakah aku akan terus terhina seperti ini ? Apakah aku harus
memproklamirkan diri bahwa aku kini seorang guru di salah satu SMA
favorit barulah aku dapat dihargai ? Ku rasa semua itu tak perlu aku
lakukan. Biarlah waktu yang menjwabnya.
Waktu itupun akhirnya tiba. Resepsi pernikahan Hana pun
akhirnyya digelar. Sesuai permintaan Ajeng wktu itu, aku memakai rok
panjang. Setibanya disitu, aku melihat banyak teman-teman SMAku yang
hadir. Ku liihat juga Fita dan Ajeng yang membawa pasangan masing-
masing. Fita masih setia menggandeng Umam sebagai kekasihnya.
Sementarra Ajeng, aku tak tahu siapa lelaki yang menggenggam erat
jemarinya. Perlahan ku dekati mereka. Melihat kedatangaku mereka
memperlihhatkan sikap acuh tak acuh. Pemandangan sperti itu sudah biasa
ku lihat. Melihat itu semua, aku hanya bisa duduk di kurusi kosong yang
letaknya di samping mereka. Lama-lama aku agak risih dengan sikap
mereka yang seoolah tak menganggapku ada. Akhirnya aku tak ingin
berlama-lama di tempat itu. Segera ku bangkit dari tempat dudukku dan
beranjak ke pelaminan tempat sang mempelai berdiri. Ketika tiba giliranku
untuk memberi selamat pada ( mantan ) sahabatku itu, salah seorang gadis
ABG memanggilku.
“ Bu Ani. Ibu kenal Mbak Hana juga to ?” tanyanya.
Segera ku menoleh ke arahnya. Ternyata dia adalah Ninda, salah seorang
siswa di tempatku mengajar.
“ Iya Nin. Dia teman Ibu wakktu SMA dulu.
Seketika itu ku lihat wajah Hana memerah. Aku tak tahu apa sebabnya. Lalu
dia pun angkat bicara.
“ Lho Nin, kok kamu kenal Mbak Ani ?” tanyanya penasan.
“Ya kenall to Mbak. Bu Ani ini guru BK ku.” Kata Ninda sambil tersenyum.
“Lho Mbak, kamu kuliah ? Dimana ? Kok nggak pernah ccerita ? Sekarang
lagi sibuk apa ?” Tanya Hana beruntun.
Sepertinya wajah Hana kian memerah. Melihat itu aku tak ingin merusak
kebahagiaan yang tengah ia rajut bersama suaminya. Akhirnya aku
berbisik padanya.
“ Kapan-kapan kalau ketemu lagi aku certain Han. Semoga berbahagia….”
Kataku sambil berlalu meninggalkan pelaminan.
Sejak kejadian itu, mereka sering mengirim pesan padaku. Bahkan
tak jarang mereka berkunjung ke rumahku. Hufffftttt.......apakah kalian
harus tahu profesiku dulu baru kalian menghargaiku ? Mengapa di saat aku
terpuruk kalian justru menambah keterpurukan itu. Apakah ketika aku
terjatuh lagii, kalian akan melakukan sama seperti dulu yang pernah kalian
lakukan ? Waallahu A’lam. Sudahlah, itu hak kalian untuk melakukan
yang kalian inginkan. Namun, yang aku yakin bahwa Allah, ayah, Ibu,
dan adikku akan selalu ada untukku dimanapun roda kehidupanku
berputar. Mereka akan selalu bersamaku saat aku tengah mendaki terjalnya
jaln hiduupku.

Terjalnya jalan hidupku

  • 1.
    TERJALNYA JALAN HIDUPKU KARYA: HENI HANDAYANI @henihandayani14 Tubuhku serasa terhempas setelah seharian ku kerahkan tenagku untuk bekerja. Pekerjaanku memang tak terlalu berat. Namun, perjalanan dari rumah ke tempatku bekerja itulah yang membuat tenagaku selalu terkuras habis sepulang bekerja. Semua itu ku jalani tanpa keluhan di hati. Aku sadar benar apa yang aku jalani ini tak seberat pengorbanan orang tuaku untuk menopang kesuksesanku kini. Oleh karena itulah, setiap tetes peluh yang menetes tak berarti bagiku. Karena itu semua aku lakukan untuk mengangkat derajat orang tuaku yang telah mempertaruhkan harga diri mereka direndahkan oleh siapapun. Bukan maksudku untuk membalas dendam. Aku hanya ingin orang tuaku dihormati layaknya orang tua pada umumnya. Masih teringat jelas ketika seorang tetanggaku berkata bahwa ibuku di pasar tak hanya menjual tahu. Namun, di balik paras elok ibu, ternyata ia juga menjual tubuhnya kepada lelaki pegawai pasar. Ketika itu usiaku masih begitu belia, yaitu baru menginjak usia 12 tahun. Mereka mengatakn itu ketika aku tengah berada di tengah-tengah mereka. Ku rasa itu memang sengaja mereka lakukan. Mereka mungkin mengira bahwa anak seusiaku waktu itu tak terlalu memedulikan ocehan orang dewasa seperti mereka. Namun, dengan seringnya mereka mengolok-olok keluargaku seperti itulah aku menjadi lebih paham tentang setiapperbincangan mereka. Itulah yang membuatku tumbuh menjadi anak yang lebih dewasa daripadda anak seusiaku waktu itu, mungkin karena beratnya beban hidup yang ku tanggung bersama keluargaku. Cemoohan kepada keluargaku tak hanya
  • 2.
    berasal dari paratetangga saja. Bahkan kerabatku pun tak jauh berbeda. ingatanku mulai melayang pada suatu peristiwa memilukan yang sebenarnya ku sendiri tak ingin mengenangnya. Peristiwa itu adalah ketika ibuku melahirkan adik perempuanku. Memang persalinan ibu kali ini agak susah. Sudah beberapa jam adikku belum juga lhir. Melihat ibu meronta kesakitan, ayh pun tak tega dan berniat membawanya ke rumah sakit. Karena keterbatasan biaya, ayah pun berniat meminjamnya kepada kerabat- kerabatnya. Namun, jawaban yang mereka lontarkan sungguh memberikan sayatan tajam bagi keluargaku. Mereka berkata bahwa kami tak akan bisa mengembalikan pinjaman itu, jadi percuma saja meminjam. Ingin rasanya aku menampar mulut itu. Namun, aku tak kuasa. Yang berkata demukian adalah kakekku, orang tua ayahnya. Yang dapat ku lakukan hanyalah meneteskan air mata. Hatiku sakit. Tapi, tentu tak sesakit hati ayahku. Aku tak habis pikir dengan sikap mereka terhadap keluargaku. di saat ibuku di ujung maut seprti itu, mereka masih saja mempertahan ego dan menghina habis-habisan. Dimana hati mereka ? Mengingat peristiwa-peristiwa seperti itu memang selalu membuatku sedih. Bahkan tak jarang niat nakalku kembali menggoda benakku. Kadang kala dendam menyusup halus ke relung batinku. Namun, segera aku sadar apa yang dapat ku perbuat untuk membalasnya. Toh, Tuhan punya cara sendiri untuk menentukan nasib hambaNya. Seketika itu niat jahat itupun lenyap dari hatiku. Sore itu ku rasakan lelah yang teramat sangat. Jadi, sebelum mandi, ku rebahkan tubuhku ke kursi ruang tamu rumahku sejenak. Namun, perhatian mulai tercuri oleh keberadaan sepucuk surat merah hati dengan foto sepasang insan yang salah satunya ku kenal. Ya, aku mengenal sosok wanita di foto itu. Dia Hana. Teman akrabku sewaktu SMA. Segera ku buka surat itu. Ternyata itu undangan pernikahan. Aku tak terlalu terkejut
  • 3.
    dengan kabar itukarena memang sejak dulu diantara kami berempat dialah yang paling sering agresif untuk berhubungan dengan lawan jenis. Ketika aku tengah membolak-balik surat undangan itu, sebuah pesan masuk ke handphoneku. Ku buka dank u baca perlahan. Sebenarnya aku enggan membalas pesan itu, tetapi karena khawatir dikira sombong jadi kubalas pesan itu seperlunya. Ya Allah sampai sekarang pun mereka masih sempat-sempatnya mengghinaku ? Kapan mereka akn menghargaiku ? Sepertinya aku tak pernah dianggap di depan mereka. Sepintas aku mengingat kenangan waktu SMA dulu. Ketika itu kami berempat, Fita, Hana, Ajeng, dan aku adalah sahabat karib ( menurutku ). Kemanapun kami selalu bersama-sama. Karena itullah aku menganggap mereka berbeda dari orang-orang yang selama ini ku kenal. Namun, anggapnku itu seolah terbantahkan dengan Hai, teman. Besok tanggal 1 Juni jangan lupa ke resepsi pernikahannya Hana ya. Ajeng Ya….Insyaallah…. Jangan pake jeans ya……. Emangnya kenapa to ? Kan yang nikah keluarga haji. Kalau yang nikah kamu ya pake daster aja boleh.hehehe………….
  • 4.
    perubahan sikap merekaterhadapku ketika kami hampir lulus SMA. Ketika itu para siswa kelas XII ttengah sibuk-sibuknya mendaftar di perguruan tinggi. Sebenarnya aku tak ingin ikut-ikutan mereka karena ku sadar benar siapa aku dan bagaimana kondisi ekonomi keluargaku. namun, berkat dorongan salah satu guru dan orang tuaku, akhirnya aku mau untuk mendaftar di salah satu perguruan tinggi negeri. Melihat kondisi keuanganku dapat dipastika aku mengambil jalur beasiswa. Namun, Tuhan belum mengizinkanku untuk berkuliah di sana. Dan hasilnya aku pun tak lulus ujian seleksi. Seketikka itu harapanku untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi ku kubur dalam-dalam. Aku pun telah melayanggkan beberapa surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan. Seelang beberapa minggu, ada sebuah perusahaan elektronik mengirim surat panggilan padaku. Aku pun berencana akan memenuhi panggilan itu esok hari. Ibu pun tahu akan hal itu. Seketika itu ia mengelus kepalaku dan sepintas ku lihat tetes air mata berusaha beliau tahan di pelupuk matanya. “ Nduk, kamu yakin mau kerja ?” tanyanya “ Ya Iya to Bu. Kalau nggak kerja ngapain Bu ? Biar Nurik bisa kuliah Bu. Nggak seperti aku.” Kataku sambil tersenyum. “ Bukan gitu Nduk. Tapi rasane ku ibu nggak yakin nduk. Ibu khawatir.” Katanya memelas. “ Ibu, jangan gitu to Bu. Wong anaknya mau kerja kok ditangisin to Bu. Aku akan baik-baik saja Bu.” Kataku meyakinkan. “ Nggak Nduk. Kami akan berusaha agar kamu bisa kuliah Nduk. Nanti ibu akan telpon bapakmu. Sudah….pokoknya besok kamu jangan penuhi panggilan itu.” Kata ibu tegas sambil bberlalu meninggalkanku.
  • 5.
    Aku tercengang mendengarperkkataan ibu. Aku akan kuliah ? Dan ternyata benar, mereka menyuruhku untuk mendaftar di salah satu perguruan tiinggi yang dekat dengan tempatku berdiam. Awalnya aku tak yakin dengan tiu semua. Perguruan tinggi itu swasta, jadi dapat dipastikan biayanya akan sangat mahal. Aku tak tega jika harus membebbani mereka lagi. Namun, karena desakan dari mereka yang tak kunjung henti akhirnya aku menurut saja. Namun, mtak banyak temanku tak tahu akan hal itu. Sepengetahuan mereka aku tengah bekerja. Dengan anggapan demikian, tak seorangpun dari mereka bertiga yang mau mendekatiku atau sekedar menegurku ketika bertemu. Sungguh sakit ku rasakan. Bahkan, pernah suatu ketika Hana mengatakan hal yang membuatku teriris mendengarnya. “ Udah lah Mbak. Jangan terlalu ngoyo buat kuliah. Kayaknya kamu btidak pantas kuliah. Lebih baik nyari kerja aja Mbak.” Katanya Ucapan itu memang halus didengar, tetapi begitu kasar dirasakan. Kata- kataitu begitu menyayat hatiku yang memang sejak dulu telah tersayat- sayat. Aku melanjutkan pendidikanku di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Aku amat menginginkan profesi itu. Dan kini aku telah menjadi apa yang aku inginkan. Namun, mengapa teman-temanku masih saja menghinaku. Ah entahlah, aku tak butuh pengakuan mereka. Yang penting bagiku sekarang adalah tiada lagi yang menghina ayah ibuku lagi. Tapi, apakah aku akan terus terhina seperti ini ? Apakah aku harus memproklamirkan diri bahwa aku kini seorang guru di salah satu SMA favorit barulah aku dapat dihargai ? Ku rasa semua itu tak perlu aku lakukan. Biarlah waktu yang menjwabnya.
  • 6.
    Waktu itupun akhirnyatiba. Resepsi pernikahan Hana pun akhirnyya digelar. Sesuai permintaan Ajeng wktu itu, aku memakai rok panjang. Setibanya disitu, aku melihat banyak teman-teman SMAku yang hadir. Ku liihat juga Fita dan Ajeng yang membawa pasangan masing- masing. Fita masih setia menggandeng Umam sebagai kekasihnya. Sementarra Ajeng, aku tak tahu siapa lelaki yang menggenggam erat jemarinya. Perlahan ku dekati mereka. Melihat kedatangaku mereka memperlihhatkan sikap acuh tak acuh. Pemandangan sperti itu sudah biasa ku lihat. Melihat itu semua, aku hanya bisa duduk di kurusi kosong yang letaknya di samping mereka. Lama-lama aku agak risih dengan sikap mereka yang seoolah tak menganggapku ada. Akhirnya aku tak ingin berlama-lama di tempat itu. Segera ku bangkit dari tempat dudukku dan beranjak ke pelaminan tempat sang mempelai berdiri. Ketika tiba giliranku untuk memberi selamat pada ( mantan ) sahabatku itu, salah seorang gadis ABG memanggilku. “ Bu Ani. Ibu kenal Mbak Hana juga to ?” tanyanya. Segera ku menoleh ke arahnya. Ternyata dia adalah Ninda, salah seorang siswa di tempatku mengajar. “ Iya Nin. Dia teman Ibu wakktu SMA dulu. Seketika itu ku lihat wajah Hana memerah. Aku tak tahu apa sebabnya. Lalu dia pun angkat bicara. “ Lho Nin, kok kamu kenal Mbak Ani ?” tanyanya penasan. “Ya kenall to Mbak. Bu Ani ini guru BK ku.” Kata Ninda sambil tersenyum. “Lho Mbak, kamu kuliah ? Dimana ? Kok nggak pernah ccerita ? Sekarang lagi sibuk apa ?” Tanya Hana beruntun.
  • 7.
    Sepertinya wajah Hanakian memerah. Melihat itu aku tak ingin merusak kebahagiaan yang tengah ia rajut bersama suaminya. Akhirnya aku berbisik padanya. “ Kapan-kapan kalau ketemu lagi aku certain Han. Semoga berbahagia….” Kataku sambil berlalu meninggalkan pelaminan. Sejak kejadian itu, mereka sering mengirim pesan padaku. Bahkan tak jarang mereka berkunjung ke rumahku. Hufffftttt.......apakah kalian harus tahu profesiku dulu baru kalian menghargaiku ? Mengapa di saat aku terpuruk kalian justru menambah keterpurukan itu. Apakah ketika aku terjatuh lagii, kalian akan melakukan sama seperti dulu yang pernah kalian lakukan ? Waallahu A’lam. Sudahlah, itu hak kalian untuk melakukan yang kalian inginkan. Namun, yang aku yakin bahwa Allah, ayah, Ibu, dan adikku akan selalu ada untukku dimanapun roda kehidupanku berputar. Mereka akan selalu bersamaku saat aku tengah mendaki terjalnya jaln hiduupku.